P. 1
Bab i Aliran Qodariyah

Bab i Aliran Qodariyah

|Views: 13|Likes:
Published by Ibnu So'im

More info:

Published by: Ibnu So'im on Apr 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/15/2013

pdf

text

original

1

BAB I
PENDAHULUAN


Perkembangan pemikiran teologi dalam dunia Islam kian hari kian
menjamur, tak pelak kadang hal ini menimbulkan berbagai pertentangan
pemahaman antar kelompok, masing-masing kelompok mempertahankan
pendapatnya masing-masing dengan dalil-dalil yang begitu meyakinkan baik dalil
tersebut bersumber dari nash-nash agama (Naqli) maupun yang bersumber dari
pemikiran rasional (Aqli) semuanya mengklaim bahwa mereka yang paling benar
diantara pemahaman kelompok yang lain.
Perbedaan pemahaman ini sudah terjadi dari sejak masa-masa keemasan
Islam, terutama pada tahun 70 Hijriyah dimana pada waktu itu muncul dua
golongan besar yang mempertentangkan tentang takdir dan kekuasaan manusia
dalam segala tindak tanduknya. Kedua golongan ini dikenal dengan istilah
Qadariyah dan Jabariyah, dimana kedua golongan ini sama-sama
mempertahankan pendapatnya masing-masing yang jauh bersimpangan diantara
keduanya, bahkan kalau bisa dikatakan kedua golongan ini di ibaratkan langit dan
bumi.


2

BAB II
PEMBAHASAN
ALIRAN QODARIYAH


A. ASAL-USUL MUNCULNYA ALIRAN QODARIYAH
Qodariyah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata qadara yang
mempunyai arti kemampuan dan kekuatan. Adapun menurut pengertian
terminology, Qodariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala
tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan. Aliran ini berpendapat bawah
tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya. Ia dapat berbuat
sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa Qodariyah dipakai
untuk nama suatu aliran yang memberikan penekanan atas kebebasan dan
kekuatan manusia dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dalam hal ini,
Harun Nasution menegaskan bahwa kaum Qodariyah berasal dari pengertian
bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melakukan
kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa
tunduk pada qadar Tuhan.
Menurut Ahmad Amin, ada ahli teologi yang mengatakan bahwa
qodariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad Al-Jauhani dan Ghailan
Ad-Dimasyqy. Ma’bad adalah seorang taba’I yang dapat dipercaya dan pernah
berguru pada Hasan Al-Basri. Adapun Ghailan adalah seorang orator berasal
3

dari Damaskus dan ayahnya menjadi maula Usman bin Affan. Ibnu Nabatah
dalam kitabnya syarh Al-Uyun, seperti dikutip Ahmad Amin, memberikan
informasi lain bahwa yang pertama sekali memunculkan faham qodariyah
adalah orang Irak yang semua beragama Kristen kemudian masuk Islam dan
balik lagi keagama Kristen. Dari orang inilah, Ma’bad dan Ghailan mengambil
faham ini. Orang Irak yang dimaksud sebagaimana dikatakan oleh
Muhammad Ibnu Syu’ib yang memperoleh informasi dair Al-Auzai adalah
Susan.
Berkaitan dengan persoalan pertama kalinya qodariyah muncul, ada
baiknya bila meninjau kembali pendapat Ahmad Amin yang menyatakan
kesulitan untuk menentukannya. Para peneliti sebelumnya pun belum sepakat
mengenai hal ini karena penganut Qodariyah ketika itu banyak sekali.
Sebagian terdapat di Irak dengan bukti bahwa gerakan ini terjadi pada
pengajaran Hasan Al-Basri. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Nabatah bahwa
yang mencetuskan pendapat pertama tentang masalah ini adalah seorang
Kristen dari Irak yang telah masuk Islam pendapatnya itu diambil oleh Ma’bad
dan Ghailan. Sebagian lain berpendapat bahwa faham ini muncul di
Damaskus. Diduga disebabkan oleh pengaruh orang-orang Kristen yang
banyak dipekerjakan di istana-istana khalifah.
Faham qodariyah mendapat tantangan keras dari umat Islam ketika itu.
Ada beberapa hal yang mengakibatkan terjadinya reaksi keras ini, diantaranya
adalah:
4

1. Seperti pendapat Harun Nasution, karena masyarakat Arab sebelum
Islam kelahirannya dipengaruhi oleh paham fatalis. Kehidupan bangsa
Arab ketika itu seerba sederhana dan jauh dari pengetahuan. Mereka
selalu terpaksa mengalah kepada keganasan alam, panas yang
menyengat, serta tanah dan gunungnya yang gundul. Mereka merasa
dirinya lemah dan tak mampu menghadapi kesukaran hidup yang
ditimbulkan oleh alam sekelilingnya.
2. Tantangan dari pemerintah ketika itu, tantangan ini sangat mungkin
terjadi karena para pejabat pemerintahan menganut faham Jabariyah.
Ada kemungkinan juga pejabat pemerintah menganggap gerakan
faham Qodariyah sebagai suatu usaha menyebarkan faham dinamis
dan daya kritis rakyat, yang pada gilirannya mampu mengkritik
kebijakan-kebijakan mereka yang dianggap tidak sesuai dan bahkan
dapat menggulingkan mereka dari tahta kerajaan.

B. DOKTRIN-DOKTRIN ALIRAN QODARIYAH
Dalam kitab Al-Milal wa An-Nihal, pembahasan masalah Qodariyah
disatukan dengan pembahasan tentang doktrin-doktrin Mu’tazilah, sehingga
perbedaan antara kedua aliran ini kurang begitu jelas. Ahmad Amin juga
menjelaskan bahwa doktrin qodariyah lebih luas dikupas oleh kalangan
Mu’tazilahi sebab faham ini juga menjadikan salah satu doktrin Mu’tazilah.
Akibatnya, seringkali orang menamakan Qodariyah dengan Mu’tazilah karena
kedua aliran ini sama-sama percaya bahwa manusia mempunyai kemampuan
untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan Tuhan.
5

Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghailan tentang doktrin Qodariyah
bahwa manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya. Manusia sendirilah
yang melakukan baik atas kehendak dan kekuasaan sendiri dan manusia
sendiri pula yang melaksanakan atau menjauhi perbuatan-perbuatan jahat atas
kemauan dan dayanya sendiri. Salah seorang pemuka qadariyah yang lain,
An-Nazzam, mengemukakan bahwa manusia hidup mempunyai daya. Selagi
hidup manusia mempunyai daya. Ia berkuasa atas segala perbuatannya.
Dari beberapa penjelasan diatas, maka dapat dipahami bahwa doktrin
qodariyah pada dasarnya menyatakan bahwa segala tingkah laku manusia
dilakukan atas kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk
melakukan segala perbuatannya atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik
maupun berbuat jahat. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas
kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memperoleh hukuman atas
kejahatan yang diperbuatnya.
Faham takdir dalam pandangan Qadariyah bukanlah dalam pengertian
takdir yang umum dipakai oleh bangsa Arab ketika itu, yaitu faham yang
mengatakan bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu. Dalam
perbuatan-perbuatanya, manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah
ditentukan sejak azali terhadap dirinya. Dalam faham qadariyah, takdir itu
hanya ketentuan Allah yang diciptakan-Nya bagi alam semesta beserta
seluruh isinya, sejak azali yaitu hukum yang dalam istilah Al-Qur’an adalah
sunatullah.

6

Secara alamiah sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak
dapat diubah. Manusia dalam dimensi fisiknya tidak dapat berbuat lain,
kecuali mengikuti hokum alam. Misalnya, manusia ditakdirkan oleh Tuhan
tidak mempunyai sirip seperti ikan yang mampu berenang dilautan lepas.
Demikian juga, manusia tidak mempunyai kekuatan seperti gajah yang
mampu membawa barang berates kilogram, dan lain-lain sebagainya.s
Akan tetapi, manusia ditakdirkan mempunyai daya pikir yang kreatif.
Demikian juga anggota tubuh lainnya dapat berlatih sehingga dapat tampil
membuat sesuatu. Dengan daya pikir yang kreatif dan anggota tubuh yang
dapat dilatih trampil, manusia dapat meniru apa yagn dimiliki ikan sehingga
dia dapat juga berenang di laut lepas.
Dengan pemahaman seperti inilah kaum Qodariyah berpendapat bahwa
tidak ada alas an yang tepat untuk menyadarkan segala perbuatan manusia
kepada perbuatan Tuhan. Doktrin-doktrin ini mempunyai tempat pijakan
dalam doktrin s Islam sendiri. Banyak surat Al-Qur’an yang dapat mendukung
pendapat tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
÷¬~4Ò O-E·^¯- }g` ¯¦7¯)Þ·O W
}E©·· 47.E- }g`u·NO·U·· ;4`4Ò
47.E- ¯O¬¼'¯4O·U·· _ .^^)³
4^;³4-;NÒ¡ 4×-g©)U-¬Ug¯ -O4^
EO~4ÞÒ¡ ¯ªjgj± E_¬~g1-4O÷· _
p)³4Ò W-O¬V1´¯4-¯OEC W-O¬¦4¯NC
¡7.E©) ÷;_÷©^¯~E O÷O;=EC
EÞON_+O^¯- _ ¬w^-)
C·-4OO¯¯- ;ª47.Ec4Ò
³E¼·>¯ON` ^g_÷

Artinya: “Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka
Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa
7

yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi
orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika
mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air
seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang
paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (Q.S. Al-Kahfi: 29).

.O©·¯4ÒÒ¡ ª7¯u-4±=Ò¡ ¬O4l1´G`
;³·~ ®7+¯:=Ò¡ Og¯OÞUuVg)`
u®7+·U¬~ _O^+Ò¡ -EOE- W ¯¬~ 4O¬-
;}g`
g³4gN ¯ª7¯´O¬¼^Ò¡ ¯ Ep)³ -.-
_OÞ>4N ÷]7 ¡7¯/E* EOCg³·~
^¯g)÷
Artinya: “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan
Uhud), Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada
musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana
datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu
sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Ali
Imran: 165).

+O·¯ ¬e4l´]³E¬N` }g)` ÷×u-4
gOuCE³4C ;}g`4Ò ·gOg¼·UE=
+O4^OO¬E¼^4·© ;}g` @O^`Ò¡ *.- ¯
·])³ -.- ºº +O´)O4¯NC 4` `¬¯O·³)
_/4®EO W-Ò+O´)O4¯NC 4`
¯ªjg´O¬¼^Ò) ¯ .-·O)³4Ò E1-4OÒ¡
+.-
±¬¯O·³) -w7EO÷c ºE·· E14O4` +O·¯ _
4`4Ò ¦÷_·¯ }g)` ·gOg^Ò÷1 }g`
·-4Ò ^¯¯÷

Artinya: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya
bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah
Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga
mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila
Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang
dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain
Dia.” (Q.S. Ar-Ra’d: 11).

}4`4Ò ¯U´O'¯4C V©^¦)³ E©^^)¯··
+O+l´O'¯4C _OÞ>4N ·gO´O^¼4^ _
8

4p~E4Ò +.- ©1)U4N V©1´¯EO
^¯¯¯÷

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan dosa, Maka Sesungguhnya ia
mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. dan Allah Maha
mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. An-Nisa’: 111).




BAB III
KESIMPULAN


Dari pembahasan makalah diatas, maka dapat penulis simpulkan bahwa
Pada tahun 70 hijriyah muncul golongan yang banyak menentang kebijakan-
kebijakan pemerintah dan doktrin yang berlaku pada waktu itu, kelompok ini
menentang pendapat yang menyatakan bahwa segala pekerjaan dan tindak tanduk
manusia semuanya bergantung pada takdir, mereka berpendapat bahwa tuhan
tidak tahu menahu tentang apa yang dikerjakan oleh makhluknya, semuanya
tergantung pada manusia sendiri.
Faham ini pertama kali disebar-luaskan oleh Ma’bad al-Juhani dan Ghailan
ad Dimasyqi, keduanya diyakini mendapatkan faham ini dari seorang Kristen
yang masuk Islam bernama Susan, namun pendapat ini oleh sebagian ulama’
ditentang karena dianggap hanya sebuah rekayasa dari orang-orang yang
keberatan dengan faham ini.
9

Faham ini jelas sekali mempunyai pijakan berfikir yang jelas, namun
demikian tidak sedikit pijakan-pijakan lain yang menentang faham ini, jadi
dengan demikian faham ini tidak bisa disalahkan pun tidak bisa dibenarkan, akan
tetapi sebenarnya faham ini bisa kolaborasikan dengan pemahaman yang
menentang faham ini (Jabariyah) yaitu semuanya memang Tuhan yang menetukan
akan tetapi manusia juga memilki andil dalam perbuatannya yaitu usaha.

DAFTAR PUSTAKA


Abdul Rozak, Rosihan Anwar, Ilmu Kalam: Untuk UIN, STAIN, dan STAIS,
Bandung: Pustaka Setia, 2000.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->