MANUAL PLASENTA

Posted on October 13, 2012by samoke2012

MANUAL PLASENTA Oleh Eko Prabowo Pengertian Manual plasenta adalah prosedur pelepasan plasenta dari tempat implantasinya pada dinding uterus dan mengeluarkannya dari kavum uteri secara manual yaitu dengan melakukan tindakan invasi dan manipulasi tangan penolong persalinan yang dimasukkan langsung kedalam kavum uteri. Pada umumnya ditunggu sampai 30 menit dalam lahirnya plasenta secara spontan atau dgn tekanan ringan pada fundus uteri yang berkontraksi. Bila setelah 30 mnenit plasenta belum lepas sehingga belum dapat dilahirkan atau jika dalam waktu menunggu terjadi perdarahan yang banyak, pasenta sebaiknya dikeluarkan dengan segera. Manual plasenta merupakan tindakan operasi kebidanan untuk melahirkan retensio plasenta. Teknik operasi plasenta manual tidaklah sukar, tetapi harus diperkirakan bagaimana persiapkan agar tindakan tersebut dapat menyelamatkan jiwa penderita. Etiologi Indikasi pelepasan plasenta secara manual adalah pada keadaan perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc yang tidak dapat dihentikan dengan uterotonika dan masase, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir dan tali pusat putus. Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir. Hampir sebagian besar gangguan pelepasan plasenta disebabkan oeh gangguan kontraksi uterus. Manual plasenta dilakukan karena indikasi retensio plasenta yang berkaitan dengan : 1. Plasenta belum lepas dari dinding uterus dikarenakan: A. Plasenta adhesive yaitu kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta B. Plasenta akreta yaitu implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian lapisan miometrium

Plasenta inkreta. E. Manual plasenta dalam keadaan darurat dengan indikasi perdarahan di atas 400 cc dan teriadi retensio plasenta (setelah menunggu ½ jam). meliputi pertanyaan tentang periode prenatal. Seandainya masih terdapat kesempatan penderita retensio plasenta dapat dikirim ke puskesmas atau rumah sakit sehingga mendapat pertolongan yang adekuat. sehingga perdarahan tidak terjadi. yaitu implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus. Serta riwayat pospartum sekarang dimana plasenta tidak lepas secara spontan atau timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan. Plasenta inkarserata.  Kemungkinan implantasi plasenta terlalu dalam. Retensio plasenta tanpa perdarahan dapat diperkirakan   Darah penderita terlalu banyak hilang. 4. 2. paritas. yaitu implantasi jonjot korion placenta hingga mencapai/memasuki miometrium D. Plasenta belum lahir setelah menunggu selama setengah jam. Plasenta perkreta. Anamnesis.C. Dalam melakukan rujukan penderita dilakukan persiapan dengan memasang infuse dan memberikan cairan dan dalam persalinan diikuti oleh tenaga yang dapat memberikan pertolongan darurat. akan tetapi belum dilahirkan dan dapat terjadi perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya 3. yaitu tertahannya plasenta didalam kavum uteri yang disebabkan oleh konstriksi ostium uteri. Keseimbangan baru berbentuk bekuan darah. Plasenta sudah lepas. meminta informasi mengenai episode perdarahan postpartum sebelumnya. Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan. . Fisiologi Manual plasenta dapat segera dilakukan apabila :     Terdapat riwayat perdarahan postpartum berulang. Terjadi perdarahan postpartum melebihi 400 cc Pada pertolongan persalinan dengan narkosa. serta riwayat multipel fetus dan polihidramnion. Pemeriksaan Pada Manual Plasenta 1.

Placenta tidak segera lahir > 30 menit. Tindakan ini tidaklah selalu berhasil dan tidak boleh dilakukan secara kasar. penderita disiapkan pada posisi litotomi.2. atau diinfus NaCl atau Ringer Laktat. dan dengan meletakkan 4 jari dibelakang uterus dan ibu jari didepannya. Pada pemeriksaan pervaginam. Anestesi ini berguna untuk mengatasi rasa nyeri. Teknik Manual Plasenta Untuk mengeluarkan plasenta yang belum lepas jika masih ada waktu dapat mencoba teknik menurut Crede yaitu uterus dimasase perlahan sehingga berkontraksi baik. Setelah tangan yang di . Anestesi diperlukan kalau ada constriction ring dengan memberikan suntikan diazepam 10 mg intramuskular. Jika pada waktu melewati serviks dijumpai tahanan dari lingkaran kekejangan (constrition ring). ini dapat diatasi dengan mengembangkan secara perlahan-lahan jari tangan yang membentuk kerucut tadi. Gambar 1. plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis servikalis tetapi secara parsial atau lengkap menempel di dalam uterus. Keadaan umum penderita diperbaiki sebesar mungkin. uterus dipencet di antara jari-jari tersebut dengan maksud untuk melepaskan plasenta dari dinding uterus dan menekannya keluar. Meregang tali pusat dengan jari-jari membentuk kerucut Dengan ujung jari menelusuri tali pusat sampai plasenta. 3. tangan kiri diletakkan di atas fundus uteri dari luar dinding perut ibu sambil menahan atau mendorong fundus itu ke bawah. Operator berdiri atau duduk dihadapan vulva dengan salah satu tangannya (tangan kiri) meregang tali pusat. Perdarahan yang lama > 400 cc setelah bayi lahir. 4. Sementara itu. Sebelum mengerjakan manual plasenta. tangan yang lain (tangan kanan) dengan jari-jari dikuncupkan membentuk kerucut.

Pada perdarahan kala tiga. . sementara tangan yang di luar tetap menahan fundus uteri supaya jangan ikut terdorong ke atas. Ujung jari menelusuri tali pusat. dan lakukan masase uterus. Mengeluarkan plasenta Setelah plasenta berhasil dikeluarkan. biasanya telah ada bagian pinggir plasenta yang terlepas. Dengan gerakan tangan seperti mengikis air. lakukan eksplorasi untuk mengetahui kalau ada bagian dinding uterus yang sobek atau bagian plasenta yang tersisa. telusurilah permukaan fetalnya ke arah pinggir plasenta. Setelah plasenta keluar. kejadian robekan uterus (perforasi) dapat dihindarkan.dalam sampai ke plasenta. Gambar 3. selipkan bagian ulnar dari tangan yang berada di dalam antara dinding uterus dengan bagian plasenta yang telah terlepas itu. gunakan kedua tangan untuk memeriksanya. plasenta dapat dilepaskan seluruhnya (kalau mungkin). segera berikan uterotonik (oksitosin) satu ampul intramuskular. Pada waktu ekplorasi sebaiknya sarung tangan diganti yang baru. tangan kiri diletakkan di atas fundus —Melalui celah tersebut. Lakukan inspeksi dengan spekulum untuk mengetahui ada tidaknya laserasi pada vagina atau serviks dan apabila ditemukan segera di jahit. Gambar 2. Dengan demikian.

. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta. ialah apabila ditemukan plasenta akreta. Komplikasi Kompikasi dalam pengeluaran plasenta secara manual selain infeksi / komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah yang dilakukan. multiple organ failure yang berhubungan dengan kolaps sirkulasi dan penurunan perfusi organ dan sepsis. Dalam hal ini villi korialis menembus desidua dan memasuki miometrium dan tergantung dari dalamnya tembusan itu dibedakan antara plasenta inakreta dan plasenta perkreta. Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi sekunder. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus. dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan.Jika setelah plasenta dikeluarkan masih terjadi perdarahan karena atonia uteri maka dilakukan kompresi bimanual sambil mengambil tindakan lain untuk menghetikan perdarahan dan memperbaiki keadaan ibu bila perlu. Plasenta dalam hal ini tidak mudah untuk dilepaskan melainkan sepotong demi sepotong dan disertai dengan perdarahan. Jika disadari adanya plasenta akreta sebaiknya usaha untuk mengeluarkan plasenta dengan tangan dihentikan dan segera dilakukan histerektomi dan mengangkat pula sisa-sisa dalam uterus. jaringan dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta.

Cairan dan selang infuse sudah terpasang. sarrung kaki dan penutup perut bawah . Perut bawah dan lipat paha sudah dibersihkan. Persetujuan diberikan setelah pasien diberikan penjelasan yang lengkap dan objektif tentang diagnosis penyakit. Siapkan kain alas bokong. Uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi C. B.PROSEDUR KLINIK MANUAL PLASENTA Persetujuan Tindakan Medik Informed consent merupakan perstujuan dari pasien dan keluarga terhadap tindakan medic yang akan dilakukan terhadap dirinya oleh dokter/bidan. Persiapan Sebelum Tindakan 1. tujuan dan pilihan tindakan yang akan dilakukan. Pasien A. upaya penyembuhan.

Atropine Sulfas 0. Analgetika (Phetidin 1-2 mg/kg BB. Larutan Antiseptik (Povidon Iodin 10%) viii.  Pastikan kateter masuk kedalam kandung kemih dengan benar.55 mg/ml iv. Uteretonika (Oksitosin. Tindakan Penetrasi Ke Kavum Uteri A.9% dan RL vi.Ergometrin. C. . B. masker dan kaca mata : 3 set Sarung tangan DTT/steril : sebaiknya sarung tangan panjang Alas kaki (sepatu boot karet) : 3 pasang Instrument Kocher: 2. Jepit tali pusat dengan kocher kemudian tegakan tali pusat sejajar lantai. 1. D. Tramadol 12 mg/kg BB) ii. pelapis plastic.25-0. 1. Cairan NaCl 0. Oksigen dengan regulator 2. B. Spuit 5 ml dan jarum suntik no 23G Mangkok tempat plasenta : 1 Kateter karet dan urine bag : 1 Benang kromk 2/0 : 1 rol Partus set Pencegahan Infeksi Sebelum Tindakan Sebelum melakukan tindakan sebaiknya mencuci tangan terlebih dahulu dengan sabun dan air yang mengalir untuk mencegah infeksi.  Cabut kateter setelah kandung kemih dikosongkan. 1) 2) 3) 4) 5) Baju kamar tindakan.D. Medikamentosa i. Penolong A. Ketamin Hcl 0. Intruksikan asisten untuk memberikan sedatif dan analgetik melalui karet infuse. Prostaglandin) v. Mengeringkan tangan dengan handuk bersih lalu pasang sarung tangan DTT/steril. Lakukan kateterisasi kandung kemih. Infuse Set vii. Sedative (Diazepam 10 mg) iii.5 mg/kg BBT.

B.2. masukan tangan ke dalam kavum uteri sehingga mencapai tempat implantasi plasenta. Setelah tangan mencapai pembukaan serviks. 6. D. Mengeluarkan Plasenta A. D. lakukan hal yang sama (dinding tangan pada dinding kavun uteri) tetapi tali pusat berada di bawah telapak tangan kanan. dengan punggung tangan mengahadap ke dinding dalam uterus. Tentukan implantasi plasenta. Melepas Plasenta dari Dindig Uterus A. Instruksikan asisten yang memegang kocher untuk menarik tali pusat sambil tangan dalam menarik plasenta ke luar (hindari percikan darah). Dekontaminasi Pasca Tindakan . Buka tangan obstetric menjadi seperti memberi salam (ibu jari merapat ke pangkal jari telunjuk). F. pindahkan tangan ke bagian depan tal pusat dengan punggung tangan menghadap ke atas. Sementara satu tangan masih berada di kavum uteri. temukan tepi plasenta yang paling bawah B. Bila berada di belakang. tali pusat tetap di sebelah atas. Catatan : Sambil melakukan tindakan. Pindahkan tangan luar ke supra simfisis untuk menahan uterus pada saat plasenta dikeluarkan. Perhatikan kontraksi uterus dan jumlah perdarahan yang keluar 2. Sambil menahan fundus uteri. 4. lepaskan plasenta dari tempat implantasinya dengan jalan menyelipkan ujung jari di antara plasenta dan dinding uterus. C. minta asisten untuk memegang kocher kemudian tangan lain penolong menahan fundus uteri. Lakukan sedikit pendorongan uterus (dengan tangan luar) ke dorsokranial setelah plasenta lahir. C. Bila dibagian depan. lakukan eksplorasi ulangan untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang masih melekat pada dinding uterus. Bila plasenta di bagian belakang. Letakan plasenta ke dalam tempat yang telah disediakan. Kemudian gerakan tangan kanan ke kiri dan kanan sambil bergeser ke cranial sehingga semua permukaan maternal plasenta dapat dilepaskan. E. E. Bila plasenta di bagian depan. 3. perhatikan keadaan ibu (pasien). lakukan penanganan yang sesuai bila terjadi penyuliit. Secara obstetric maukkan satu tangan (punggung tangan ke bawah) kedalam vagina dengan menelusuri tali pusat bagian bawah. 5. 1.

E. C. segera lakukan tindakan dan instruksi apabila masih diperlukan. B. Catat kondisi pasien dan buat laporan tindakan d dalam kolom yang tersedia. 1.Alat-alat yang digunakan untuk menolong di dekontaminasi. D. Beritahukan pada pasien dan keluarganya bahwa tindakan telah seesai tetapi pasien masih memerlukan perawatan. lama perawatan dan apa yang perlu dilaporkan. Perawatan Pascatindakan A. Periksa kembali tanda vital pasien. termasuk sarung tangan yang telah di guanakan penolong ke dalam larutan antiseptic 1.(Di Rumah Sakit) F. Cuci Tangan Pascatindakan Mencuci kedua tangan setelah tindakan untuk mencegah infeksi. Buat instruksi pengobatan lanjutan dan hal-hal penting untuk dipantau. klik link berikut untuk unduh materi MANUAL PLASENTA . Jelaskan pada petugas tentang perawatan apa yang masih diperlukan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful