P. 1
99510316 Praktikum Hukum Ohm

99510316 Praktikum Hukum Ohm

|Views: 81|Likes:
Published by Ruqayyah S

More info:

Published by: Ruqayyah S on Apr 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2013

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIKA DASAR II
“ HUKUM OHM “






Oleh

Nama : Yestri Hidayati
NPM : A1E011062
Semester : II. B
Tanggal Praktikum : Jum’at, 06 April 2012



UNIVERSITAS BENGKULU
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
LABORATORIUM PENGAJARAN FISIKA
2012
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam sebuah rangkaian listrik biasanya terdapat istilah yang dikenal dengan
arus listrik, tegangan dan hambatan.. Pada dasarnya sebuah rangkaian listrik
terjadi ketika sebuah penghantar mampu dialiri electron bebas secara terus
menerus. Aliran inilah yang disebut dengan arus. Sedangkan tegangan adalah
beda potensial yang ada di antara titik rangkaian listrik tersebut. Untuk
menemukan hubungan di antara istilah-istilah yang ada dalam sebuah rangkaian
listrik diperlukan sebuah praktikum yang dapat membuktikannya.
Dengan melakukan praktikum yang berjudul Hukum Ohm ini kita dapat
mengetahui dan mempelajari hubungan antara tegangan dan kuat arus pada suatu
rangkaian dan dapat digunakan untuk mengetahui sebuah hambatan listrik tanpa
harus menggunakan alat yang dinamakan ohmmeter.. Selain itu materi tentang
hukum ohm ini sangat berguna khususnya yang mendalami kelistrikan. Karena
dengan adanya hukum ohm kita dapat mengerti tentang kelistrikan. Untuk itu kita
harus mempelajari lebih dalam tentang Hukum Ohm dengan cara
mempraktekkannya dalam percobaan ini.

1.2 Rumusan Masalah
- Bagaimana hubungan antara tegangan dan kuat arus yang mengalir dalam
sebuah rangkaian?
1.3 Tujuan
- Mempelajari hubungan antara tegangan dan kuat arus yang mengalir
dalam sebuah rangkaian
1.4 Definisi Istilah
- Tegangan : perbedaan potensi listrik antara dua titik dalam rangkaian
listrik.
- Dielektrik : suatu bahan yang memiliki daya hantar arus yang sangat
kecil atau bahkan hampir tidak ada
- Polarisasi : suatu peristiwa perubahan arah getar gelombang pada
cahaya yang acak menjadi satu arah getar;
- Konduktor : adalah bahan yang di dalamnya banyak terdapat elektron
bebas mudah untuk bergerak.
- Semi-konduktor : (setengah penghantar) adalah suatu bahan yang
tidak layak disebut sebagai penghantar, juga tidak layak disebut sebagai
bukan penghantar (Isolator).
- Arus listrik : banyaknya muatan listrik yang mengalir tiap satuan waktu
- Resistor : rangkaian elektronika yang berfungsi sebagai penghambat
arus dan tegangan
- Resistansi : hambatan (perbandingan antara tegangan listrik dari suatu
komponen elektronik dengan arus listrik yang melewatinya.
1.5 Hipotesis
- Ada hubungan antara tegangan dan kuat arus listrik, di mana tegangan
sebanding dengan kuat arus.
1.6 Tinjauan Pustaka
Hukum Ohm
Ketika suatu medan listrik diberikan kepada sebuah dielektrik, akan terjadi
polarisasi terhadap dielektrik tersebut. Tetapi jika medan tersebut diberikan ke
daerah yang mempunyai muatan bebas, muatan tersebut akan bergerak dan timbul
suatu arus listrik sebagai ganti polarisasi medium tersebut.
Ketika muatan bebas ditunjukkan dalam sebuah benda seperti electron-
elektron dalam suatu logam, yang gerakannya merintangi interaksinya terhadap
ion-ion positif sehingga membentuk lattice Kristal logam. Ketika tidak terdapat
medan listrik eksternal , electron-elektron tersebut bergerak ke segala arah dan
tidak ada transportasi muatan netto atau arus listrik. Tetapi jika digunakan sebuah
medan listrik eksternal,terjadi aliran gerakan dari gerakan electron sembarang
sehingga terjadi arus listrik. Tampaknya alamiah untuk menganggap bahwa
kekuatan dari arus tersebut sesuai dengan intensitas medan listrik, dan bahwa
persesuaian ini merupakan konsekuensi langsung dari struktur internal logamnya.
Untuk membuktikan hubungan ini, dapat ditinjau dengan hukum Ohm, yang
menyatakan bahwa untuk suatu konduktor logam pada suhu konstan,
perbandingan antara perbedaan potensial ∆ V antara dua titik dari konduktor
dengan arus listrik I yang melalui konduktor tersebut adalah konstan. Konstan ini
disebut tahanan listrik (hambatan) R dari konduktor antara dua titik. Jadi hukum
Ohm bisa dinyatakan sebagai :

= R atau I=

V merupakan beda tegangan (beda potenssial), I adalah arus yang lewat
pada penghantar dan R hambatan dari penghantar. Persamaan (1)
menunjukkan bahwa Hukum Ohm berlaku jika hubungan antara V dan I
adalah linier.
Hukum ini diformulasikan oleh ahli fisika Jerman, George Ohm (1787-
1854), ternyata berlaku dengan ketelitian yang mencengangkan terhadap
konduktor pada cakupan harga ∆V, I dan suhu yang luas . Prinsip Ohm ini adalah
besarnya arus listrik yang mengalir melalui sebuah penghantar metal pada
rangkain, Ohm menentukan sebuah persamaan yang simple menjelaskan
hubungan antara tegangan, arus dan hambatan yang saling hubungan. Tetapi
beberapa zat terutama semi-konduktor , tidak mengikuti hukum Ohm. Sebuah
grafik menunjukkan hubungan antara V dan I yang diberikan hukum Ohm
menghasilkan garis lurus sebagaimana ditunjukkan gambar ini.
I
.
.
. ‘
0 ∆V
Dari persamaan yang di atas, kelihatan sekali bahwa R (hambatan) dinyatakan
dalam satuan SI sebagai Volt/ampere atau m
2
kg s
-1
C
-2
dan disebut Ohm (Ω). Jadi
satu Ohm adalah tahanan suatu konduktor yang dilewati arus satu ampere ketika
perbedaan potensialnya dijaga satu volt di ujung-ujung konduktor tersebut. Arus
dinyatakan dengan Ampere, bersimbol I. Tegangan dinyatakan dengan volt,
bersimbol V atau E (Alonso, 1979:76-77).
Hukum Ohm menggambarkan bagaimana arus, tegangan, dan tahanan
berhubungan. Hukum Ohm dapat diterapkan dalam rangkaian tahanan seri. Yang
dimaksud dengan rangkaian tahanan seri adalah tahanan dihubungkan ujung ke
ujung atau dalam suatu rantai.
Untuk mencari arus yang mengalir pada rangkaian seri dengan tahanan
lebih dari satu , diperlukan jumlah total nilai tahanan-tahanan tersebut. Hal ini
dapat dimengerti karena setiap tahanan yang ada pada rangkaian seri akan
memberikan hambatan bagi arus untuk mengalir (Hayt, 1991 )
Komponen Ohm dan Non-Ohm
Secara tegas, hukum ohm hanya berlaku untuk resistor karena pada resistor I
adalah sebanding dengan V untuk seluruh nilai I dan V. Komponen yang
memenuhi hukum kesebandingan I dan V disebut komponen ohmic, yang
dicirikan oleh grafik I– V berbentuk garis lurus condong ke atas melalui titik asal.
Dalam banyak komponen, hambatan yang didefinisikan oleh V = I.R tidaklah
konstan tetapi bergantung pada nilai-nilai V dan I. komponen-komponen seperti
ini sebut komponen non-ohmic grafik I terdapat V untuk komponen-komponen
seperti ini tidak linier.
Besarnya hambatan suatu penghantar ditentukan oleh panjang (I),
penampang (A) dan hambatan jenis (P) penghantar secara matematis hubangan
tesebut ditulis sebagai berikut :

Penampang kawat umumnya berbentuk lingkaran, sehingga luas penampang.
4
2
2
D
r A
t
t = =
Dengan r adalah jari-jari kawat dan D adalah diameter kawat keterangan :
- R : hambatan penghantar (ohm)
- t : Hambatan jenis penghantar (ohm mm
2
/m atau ohm m)
- P : panjang penghantar (m)
- A : luas panjang (m
2
)
A
L
R µ =
Hambatan jenis suatu bahan adalah hambatan suatu bahan yang panjang 1
m dan luas penampangnya 1 m
2
. misalnya hambatan jenis baja adalah 1,5 x 10
-7

ohm m. Artinya kawat baja dengan panjang 1 m dan luas penampang 1 m
2

mempunyai hambatan 0,15 ohm. Nilai hambatan jenis suatu penghantar
bergantung pada jenis penghantar dan suhu. Penghantar logam hambatan jenisnya
akan jika suhunya bertambah maka disesuaikan dengan perbesaran berikut :
( ) T t A + = o µ µ 1
Keterangan :
Pt : Hambatan jenis akhir
P : Hambatan jenis awal
o : koefisien suhu hambatan jenis
T A : perubahan suhu
Pada umumnya hambatan kawat juga akan naik jika suhunya bertambah dalam
suatu batas perubahah suhu tertentu, perubahan fraksi hambatan ( ) µo µ / A
dibandingkan dengan perubaha suhu ( T A ) sehingga :
T A =
A
o
µ
µ

Oleh karena hambatan penghantar sebanding dengan hambatan jenis,
maka didapat persamaan berikut :
RααΔ ΔR atau αΔT = =
A
R
R

(http://www.scribd.com/doc/)
Susunan Seri dan Paralel
Hambatan listrik suatu penghantar dapat disusun secara seri atau paralel.
Dan dapat pula disusun dengan cara gabungan antara susunan seri dan paralel.
A. Susunan Seri
Hambatan pengganti dari n hambatan listrik yang disusun secara seri dapat
dinyatakan dalam persamaan berikut :
R
5
= R
1
+ R
2
+ R
3
+ .. R
n
B. Susunan Paralel
Hambatan penganti dua komponen R
1
dan R
2
yang disusun secara paralel
dapat dihitung lebih cepat dengan persamaan khusus, yaitu :
2 1
2 1
jumlah
kali hasil
xR R
xR R
Rp = =
Secara umum untuk komponen-komponen yang disusun paralel, kebalikan atau
pengganti paralel sama dengan jumlah dari kebaikan tiap-tiap hambtan.
Penyerapan Daya
Beberapa kemasan resistor yang berbeda serta symbol rangkaian yang paling
umum digunakan untuk menggambarkan sebuah resistor. Perkalian antara v dan i
akan menghasilkan daya yang diserap oleh resistor. Jadi, v dan i dipilih untuk
memenuhi kesepakatan tanda pasif. Daya yang diserap secara fisika akan muncul
sebagai panas dan atau cahaya dan selalu berharga positif. Resistor (positif)
merupakan elemen pasif yang tidak dapat mengirimkan atau menyimpan daya.
Ungkapan lain untuk menunjukkan besarnya daya yang diserap adalah.
P= vi =i
2
R = v
2
/R
P : daya (watt)
V : tegangan (volt)
I : arus (ampere)



Contoh resistor

Konduktansi
Untuk resistor linear, rasio antara arus dan tegangan merupakan sebuah
bilangan konstan yaitu,

=

Di mana G disebut sebagai konduktansi. Satuan SI nya adalah Siemens (S).
Resistansi dapat digunakan sebagai dasar untuk mendefinisikan dua istilah
umum yaitu hubung singkat dan hubung terbuka. Kita definisikan hubung singkat
sebagai resistansi nol ohm, sehingga karena v= i R maka tegangan hubung singkat
haruslah sama dengan nol meskipun arusnya bernilai berapapun.sedangkan
hubung terbuka sebagai resistansi tak berhingga sehingga berdasarkan hukum
ohm arusnya haruslah sama dengan nol tanpa mempertimbangkan berapapun
besarnya tegangan hubung terbuka (Durbin, 2005 : 22-26).

BAB II
METODOLOGI
2.1 Alat dan Bahan
Nama Alat/Bahan Jumlah Nama Alat/Bahan Jumlah
Meter Dasar 90/Basicmeter 2 Potensiometer 50 kΩ 1
Kabel Penghubung Merah 3 Saklar 1 tutup 1
Kabel Penghubung Hitam 3 Jembatan Penghubung 1
Hambatan tetap 100 Ω 1 Catu Daya 1
Papan Rangkaian 1

2.2 Langkah Kerja
- Persiapan Percobaan
a. Buat rangkaian
b. Hubungkan cattu daya ke sumber tegangan (alat masih dalam keadaan
mati). Pilih tegangan keluaran pada posisi 3 volt DC
c. Hubungkan rangkaian ke catu daya (gunakan kabel penghubung)
- Langkah Percobaan
a. Hidupkan catu daya kemudian tutup saklar S
b. Atur potensiometer sehingga voltmeter menunjukkan tegangan sekitar 2
volt, kemudian baca kuat arus yang mengalir pada amperemeter dan catat
hasilnya ke dalam table pada hasil pengamatan
c. Atur lagi potensiometer sehingga voltmeter menunjukkan tegangan
sedikit lebih tinggi dari 2 voolt, baca kuat arus pada amperemeter dan
catat hasilnya ke dalam table hasil pengamatan
d. Ulangi langkah c dengan tegangan potensiometer yang berbeda,
kemudian catat hasilnya ke dalam table pada hasil pengamatan


2.3 Gambar Percobaan
- Gambar alat




Basicmeter Hambatan tetap 100 Ω




Kabel penghubung merah dan hitam Catu daya
- Gambar rangkaian

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Data
No Tegangan
sumber (v)
Tegangan
(10 volt)
Kuat arus (100 mA)

1
2
3
3 volt
6 volt
9 volt
3 volt
5.8 volt
8.4 volt
6 mA = 6 x 10
-3
A
12 mA = 12 x 10
-3
A
18 mA = 18 x 10
-3
A
500Ω
483Ω
467Ω

3.2 Perhitungan
Menghitung nilai hambatan R =

1. I= 6 mA = 6 x 10
-3
A, V= 3 V
R=

=


= 500Ω

2. I=12 mA = 12 x 10
-3
A, V=5.8 V
R=

=


= 483Ω

3. I=18 mA = 18 x 10
-3
A, V=8.4 V
R=

=


= 467Ω

3.3 Ralat
No Data (x) x-ẍ (x-ẍ)
2

1 500 16,67 277,89
2 483 -0,33 0,1089
3 467 -16,33 266,689
∑x = 1450

∑(x-ẍ)
2
= 544,6789

Ralat mutlak : ∆x=√

= 9,52
Ralat nisbi : ∆l =

=1,96 %
Keseksamaan : K = 100% - ∆l = 98,04%
3.4 Pembahasan

Hukum Ohm adalah besar arus listrik yang mengalir melalui sebuah
penghantar selalu berbanding lurus dengan beda potensial yang diterapkan
kepadanya. Praktikum kali ini yaitu Hukum Ohm yang bertujuan untuk
Mempelajari hubungan antara tegangan dan kuat arus yang mengalir dalam
sebuah rangkaian.
Percobaan ini dilakukan dengan sumber tegangan yang berbeda-beda,
diantaranya 3 V, 6 V, 9 V. Hal yang diamati dalam praktikum kali ini adalah
besarnya tegangan yang dihasilkan dengan menggunakan voltmeter (dengan batas
ukur 10 V) dan besarnya kuat arus yang dapat dilihat di amperemeter (batas ukur
100 mA) . dengan melakukan perhitungan dengan cara :



Berdasarkan praktikum dan perhitungan yang telah dilaksanakan untuk
sumber tegangan 3 V, arus yang diperoleh adalah 6 mA (6 x 10
-3
A), dengan
Tegangan 3 V.. Untuk sumber arus 6 V, arus yang diperoleh adalah 12 mA (12 x
10
-3
A), dengan tegangan 5.8 V. Sedangkan untuk sumber tegangan 9 V, arus
yang diperoleh adalah 18 mA (18 x 10
-3
A) dengan tegangan 8.4 V.
Dari data yang diperoleh selanjutnya kita dapat menentukan besarnya
hambatan. Nilai hambatan di dapat dengan membagi nilai tegangan dan kuat arus
atau dapat diformulasikan dengan rumus:
R =

Untuk sumber tegangan sebesar 3 volt nilai hambatan yang diperoleh adalah
500 Ω, sumber tegangan 6 volt nilai hambatannya 483 Ω dan nilai hambatan
untuk sumber tegangan 9 V adalah 467 Ω.
Nilai hambatan yang diperoleh dari 3 percobaan menunjukkan hasil yang tidak
terlalu berbeda jauh. Berdasarkan hasil perhitungan ralat nilai keseksamaan antara
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
3 5.8 8.4
I

(
k
u
a
t

a
r
u
s
)

m
A

V (tegangan ) Volt
ketiganya yaitu sebesar 98,04 %. Nilai hambatan biasanya bernilai konstan tetapi
dari percobaan keseksamaan tidak 100%, hal ini mungkin dikarenakan kesalahan
praktikan dalam percobaan atau dalam membaca ampermeter dan voltmeter.
Dari hasil yang diperoleh dari percobaan , maka dapat ditunjukkan bahwa
tegangan (V) berbanding dengan kuat arus listrik (I) di mana semakin besar
tegangan (V) maka semakin besar pula kuat arus (I) yang dihasilkan.. Hal ini
dapat ditunjukkan dengan kurva yang menanjak ke kanan dari grafik hubungan
antara V dan I. Sehingga hipotesis yang dibuat terbukti benar sebagaimana hasil
yang ditunjukkan dari percobaan hukum ohm ini.

3.5 Grafik








V∞ I

= R
V = beda potensial antara kedua ujung hambatan (V)
I = Kuat arus (A)
R = hambatan listrik (Ω)

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. tegangan (V) sebanding dengan kuat arus listrik (I) di mana semakin besar
tegangan (V) maka semakin besar pula kuat arus (I) yang dihasilkan
2. Hukum Ohm adalah Perbandingan antara perbedaan potensial ∆ V antara dua
titik dari konduktor dengan arus listrik I yang melalui konduktor tersebut
adalah konstan. Konstan ini disebut tahanan listrik (hambatan) R
3. Berdasarkan grafik diperoleh bahwa kuat arus (I) sebanding tegangan (V)
dimana grafiknya garis lurus condong ke atas,sehingga hipotesis terbukti
benar.

4.2 Saran
1. Hendaknya praktikan lebih menguasai langkah-langkah percobaan dan materi
yang diberi
2. Hendaknya praktikan tidak tergesa-gesa dalam mengambil/ memperoleh data
saat praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Alonso,dkk. 1979. Dasar-dasar Fisika Universitas. Jakarta: Erlangga
Durbin,dkk. 2005. Rangkaian Listrik. Jakarta: Erlangga
Hayt, Wiliam.1991. Rangkaian Listrik edisi keenam Jilid 1. Jakarta : Erlangga
http://www.scribd.com/doc/87526195


You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->