P. 1
Terapi tertawa

Terapi tertawa

5.0

|Views: 237|Likes:
Published by kirana 5451
TERAPI TERTAWA
TERAPI TERTAWA

More info:

Categories:Types, Speeches
Published by: kirana 5451 on Apr 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/25/2015

pdf

text

original

Terapi tertawa Terapi tertawa adalah suatu terapi untuk mencapai kegembiraan di dalam hati yang dikeluarkan melalui

mulut dalam bentuk suara tawa, senyuman yang menghias wajah, perasaan hati yang lepas dan bergembira, dada yang lapang, peredaran darah yang lancar sehingga bisa mencegah penyakit, memelihara kesehatan, serta menghilangkan stres (robinson,1990;Dahl dan O’Neal,1993) Teori senam tertawa Hipotesis fisiologis menyatakan bahwa tertawa melepaskan hormon endorfin ke dalam sirkulasi sehingga tubuh menjadi lebih nyaman dan rileks. Hormon endorfin disebut juga sebagai morfin tubuh yang menimbulkan efek sensasi nyaman dan sehat (Potter, 2005). Saat tertawa, tidak hanya hormon endorfin saja yang keluar tetapi banyak hormon positif lainnya yang muncul. Keluarnya hormon positif ini akan menyebabkan lancarnya peredaran darah dalam tubuh sehingga fungsi kerja organ berjalan dengan normal. Simon (1990) menunjukkan bahwa humor dapat memengaruhi persepsi individu lansia tentang kesehatan dan moral, berkaitan dengan proses penuaan yang lancar. Peneliti dari LomaLinda University, California, mengungkapkan bahwa tertawa dapat dijadikan terapi untuk sejumlah penyakit, diantaranya serangan jantung dan juga diabetes, hipertensi, dan kolesterol yang tinggi. Kemudian dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok diberikan standar pengobatan diabetes yang sama. Pada kelompok pertama secara rutin diberi stimulasi berupa terapi humor, klien diminta menonton sebuah program komedi ataufilm yang dianggapnya lucu selama 30 menit setiap hari. Sementara kelompok kedua, terapi tertawa ini tidak diberikan. Semua klien kemudian dipantau dan diawasi perkembangannya selama 12 bulan. Setelah selama satu tahun menjalani terapi, peneliti menemukan bahwa klien pada kelompok pertama menunjukkan peningkatan kolesterol baik (HDL) sebesar 26%, sementara pada kelompok kedua, peningkatan kolesterolbaik hanya naik sebesar 3%. Indikasi senam tertawa Terapi tertawa diberikan pada klien untuk meringankan penyakit bronkitis, asma dan migren. Tertawa bisa meningkatkan kapasitas paru-paru dan kadar oksigen dalam darah. Kontraindikasi Terapi tertawa menurut Hulse (1994) tidak diberikan pada klien dengan : Wasir akut, jantung dengan sesak napas, pasca operasi, hamil, flu, TBC dan glaukoma. Karena saat tertawa, muncul tekanan-tekanan dalam abdomen Klien yang mudah tersinggung.

Teknik senam tertawa Persiapan Persiapan alat dan lingkungan:

1. 3. Lakukan lima kali berturut-turut. Siang merupakan waktu yang kurang baik untuk tertawa. lalu hembuskan secara perlahan melalui mulut. Terapi tertawa hendaknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari. leaflet. lakukan kembali dengan menyuarakan (huu-huu-huu) 5. tahan napas selama 15 ddetik dengan pernapasan perut. Perawat kemudian tertawa lebar (haa-haa-hii-hii-huu-huu)dan diikuti oleh anggota kelompok. 2. Diusahakan ada seorang pemandu yang memimpin jalannya terapi. gambar. Pertama perawat mengemukakan pada kelompok bahwa terapi akan dimulai. 2. Ruangan yang nyaman dan tenang Persiapan klien: klien yang sehat dan tidak mempunyai jenis penyakit pada kontraindikasi Prosedur 1. Kriteria evaluasi Kelompok dapat merasakan manfaat setelah melakukan terapi tertawa. Tertawa ini bisa berlangsung selama 15 menit. Lembar balik. Bila kurang kompak. kembali tertawa (dengan menyuarakan hi-hi-hii) 4. Gerakan perawat hendaknya luwes atau tidak kaku. . Setelah lima menit. manfaatnya dapat dirasakanselama sebulan kemudian. Lakukan 1-2 kali dan 3-4 kali seminggu. Lakukan pemanasan dengan cara menghirup napas melalui hidung.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->