P. 1
Segi Praktis Pembacaan EKG

Segi Praktis Pembacaan EKG

|Views: 362|Likes:
Published by proudtobe12a

More info:

Published by: proudtobe12a on Apr 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/13/2014

pdf

text

original

Langkah – langkah Pembacaan dan pemahaman EKG untuk mahasiswa kedokteran Oleh : Akmarawita Kadir Pada Buku singkat

ini, diharapkan mahasiswa sudah mengetahui dasar-dasar EKG, sehingga dalam membaca buku singkat ini dapat dengan mudah mengerti dan dapat menginterpretasikan hasil dari pemeriksaan EKG secara praktis. Banyak teknik yang ditemukan pada sumber pembelajaran mengenai pembacaan EKG, tetapi kadang terasa sukar untuk dimengerti. Oleh karena perlunya teknik pembacaan yang praktis dan mudah dimengerti oleh mahasiswa. Berikut adalah urutan yang perlu diketahui oleh mahasiswa dalam melakukan interpretasi EKG. Urutan ini sebaiknya di hafalkan dan dimenterti oleh para mahasiswa. Urutan tersebut adalah : 1. 2. 3. 4. PEMBACAAN IDENTITAS, WAKTU, TEKANAN DARAH, NADI FREKUENSI IRAMA INTERVAL a. PR b. QRS c. QT 5. AKSIS a. P b. QRS 6. INVERSI GELOMBANG T (ISKEMIA / INFRAK) 7. ELEVASI ST (INFARK AKUT) 8. DEPRESI ST (ISKEMIA ATAU INFARK) 9. GELOMBANG Q (INFARK) 10. HIPERTROFI a. Atrium kiri b. Atrium kanan c. Ventrikel kiri (LVH) d. Ventrikel kanan (RVH) 11. KESIMPULAN a. Kelainan EKG pada…… b. Diagnosa EKG……. 12. KETERANGAN

1.

IDENTITAS, WAKTU, TEKANAN DARAH DAN NADI

Setelah kita selesai dalam melakukan pemeriksaan EKG, penting untuk mengecek Identitas, karena sangat berbahaya apabila hasil pemeriksaan EKG yang kita periksa tanpa identisas, minimal pada kertas EKG terdapat Nama, umur, dan jenis kelamin. Identitas ini juga sebagai penunjang dalam hasil interpretasi EKG. Misalnya Umur yang menggambarkan bahwa kelainan infark lebih banyak didapatkan pada umur diatas 50an, sedangkan jenis kelamin, di suatu daerah, laki-laki lebih banyak yang merokok dari pada wanita. Menuliskan Tanggal dan waktu pada lembar EKG juga sangat penting disebabkan karena perlunya mengkros check apakah kelainan EKG yang didapat sesuai dengan gejala yang terjadi pada waktu itu. Tekanan darah dan nadi tentu saja dapat dipakai sebagai pemeriksaan penunjang pada interpretasi EKG.

2.

FREKUENSI

Frekuensi jantung adalah jumlah kontraksi jantung per menit sehingga kita sebut juga heart rate. Nomal berkisar antara 60 – 100 denyut per menit. Frekuensi jantung adalah tanda vital dan hampir selalu relevan secara klinis Ada 2 cara yang sering digunakan dalam mengukur Frekuensi yaitu : a. Perhitungan dengan rumus Garis vertikal pada EKG adalah garis waktu. Garis-garis vertikal yang lebih terang berjarak 0,04 detik (satu kotak kecil). Garis vertikal yang lebih gelap berjarak 0,2 detik (satu kotak besar)

-

Kecepatan rekaman standar adalah 25 mm/detik, jadi 1mm = 1/25 = 0,04 detik  5 x 0,04 detik = 0,2 detik /5 mm. Dalam 1 detik direkam = 25 mm Dalam 1 menit direkam = 60 x 25 mm = 1500 mm Berarti Heart Rate adalah :
HR = 1500 / interval (mm)

Cara yang paling tepat mengukur Frekuensi jantung adalah dengan mengukur interval R – R. Interval R – R adalah jarak dari satu gelombang R ke gelombang R berikutnya. Ketika mengukur interval R – R, ambillah permulaan satu kompleks QRS, dan hitung jumlah kotak kecil sampai permulaan kompleks QRS berikutnya.

Metode perhitungan Frekuensi jantung ini valid jika Frekuensi jantung teratur

Berikut adalah tabel Frekuensi jantung tanpa melakukan perhitungan (sudah di hitung dan di buat tabel)
Jumlah kotak kecil 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Frekuensi Jantung 300 250 214 188 167 150 136 125 115 107 100 94 88 83 79 75 71 68 65 63 69 58 56 54 52 50 48 47 45 44 43

Bila interval R – R tidak teratur, cara terbaik memperkirakan Frekuensi jantung adalah dengan menghitung jumlah kompleks QRS dalam blok waktu 6 detik dan mengalikan jumlah ini dengan 10. Hasilnya adalah Frekuensi dalam denyut permenit. Garis waktu vertikal hitam (terlihat sebagai perubahan sandapatn) menandai 3 detik secara tepat. Pada contoh dibawah ini ada 6 kompleks QRS dalam blok 6 detik. Kalikan 6 kompleks (dalam 6 detik) dengan 10 menghasilkan Frekuensi Ventrikel (jantung) 60 (selama 60 detik).

b. Perhitungan dengan jumlah kotak Perhitungan ini perlu teknik menghapal jumlah kotak pada interval R – R dalam grafik yaitu : 1 kotak 2 kotak 3 kotak 4 kotak 5 kotak 6 kotak 300 x/menit 150 x/menit 100 x/menit 75 x/menit 60 x/menit 50 x /menit

Hasil yang didapat adalah masih dalam bentuk kasar, untuk lebih pasti maka hasil dari jumlah kotak ini dibagi dengan total detik pada interval R – R. Lihat contoh di bawah ini :

3.

IRAMA

a. Irama Sinus (irama normal) : Kisaran normalnya adalah 60 – 100 x/menit b. Takikardi sinus : Frekuensi sinus lebih besar dari 100 x/menit. Nilai maksimum yang khas dibatasi oleh umur pasien (220 – umur pasien). Jadi apabila ada pasien dengan umur 60 tahun, maka heart rate maksimumnya adalah 220 – 60 = 160 x/menit. Jadi apabila orang tersebut melakukan pemeriksaan EKG setelah Exercise, Emosi, ataukejadian yang memperngaruhi heart rate dan dalam pemeriksan dihasilkan heart rate sebesar 120 x/menit, maka orang tersebut iramanya masih dianggap normal. Pada keadaan patologis, bila HR 140 – 250 x/menit disebut juga takikardia abnormal, bila HR 250 – 350 x/menit maka disebut sebagai flutter (arterial flutter) sedangkan apabila HR > 350 x/menit maka disebut fibrilasi atrium / ventrikel c. Bradikardi sinus : Frekuensi sinus kurang dari 60 x/menit d. Aritmia sinus : irama sinus yang tidak teratur.

4.

INTERVAL

Setelah menghitung Frekuensi jantung / heart rate, pengukuruan berikutnya adalah mengevaluasi interval PR, QRS, dan QT. Interval-interval ini diukur hanya pada sadapan ekstremitas (sadapan bidang frontal : I, II, III, aVR, aVR, dan aVF). Interval – interval ini tidak pernah diukur di sadapan prekordial (sadapan bidang horizontal : V1, V2, V3, V4, V5, dan V6).

Jangan memeriksa interval pada bidang horizontal, yang diperiksa hanya pada bidang frontal. a. INTERVAL PR Interval PR merupakan jarak antara permulaan gelombang P ke permulaan Depolarisasi Ventrikel, kompleks QRS. Interval PR menggambarkan jumlah waktu yang diperlukan impuls litrik menjalr dari nodus SA melalui atrium ke dan melalui nodus AV serta berakhir pada permulaan deoplarisasi ventrikel. Normal interval PR adalah 0,12 detik – 0,20 detik.

1. Nodus sinus membangkitkan impuls listrik 2. Impuls menjalar melalui dan memdepolarisasi atrium. Ketika sel-sel atrium mengalami depolarisasi, mereka menyebabkan gelombang P tampak pada EKG. 3. Impuls dengan lambat menjalar melalui nodus AV, kemudian terus melalui berkas HIS kanan dan kiri. Akhirnya ia mendepolarisasi ventrikel yang nyebabakan kompleks QRS tampak Pada EKG.

KEADAAN PATOLOGIS YANG PENTING PADA INTERVAL PR : - BLOK AV DERAJAT 1 Interval PR yang panjang > 0,20 detik menandakan adanya perlambatan melalui nodus AV. Koduksi lambat melalui nodus AV memperpanjang interval PR sampai lebih dari 0,20 detik. Ini disebut blok AV derajat 1 kemungkinan disebabkan oleh : - Iskemia - Toksisitas obat - Penyakit degenerative

- SINDROMA WPW (dari nama Dr. Wolff, Parkinson, dan White) Interval PR yang < 0,12 detik menunjukkan adanya jalan pintas yang memungkinkan impuls litrik melintasi sistem konduksi AV normal. Ini disebiut laluran pintas AV, atau disebut juga sindroma WPW.

b. INTERVAL QRS Interval QRS mengukur jarak dari permulaan kompleks QRS sampai akhir kompleks QRS. Interval ini menunjukkan jumlah waktu yang diperlukan impuls listrik untuk mendepolarisasi ventrikel. Normal : < 0,09 detik

Impuls secara perlahan berjalan menuju nodus AV, kemudian menjalar melalui berkas His, berkas kanan dan kiri. Akhirnya ia mendepolarisasi ventrikel. Pada contoh ini, interval QRS adalah 2 kotak. Setiap kotak = 0,04 detik. Karenanya lama interval QRS ini adalah 2x0,04 detik = 0,08 detik. Berarti Interval QRS dalam batas normal
Interval QRS

Cabang berkas (Bundle of His) kanan dan kiri normal rata-rata mampu mendepolarisasi ventrikel kanan dan kiri dalam waktu rata-rata 0,08 – 0,09 detik. Lebih lama dari itu (0,09; 0,10) menunjukkan kelambatan konduksi. Yang disebut sebagai IVCD (Intraventricular conduction delay). Jika interval QRS mencapai 0,12 detik atau lebih, terdapat block bundle of his (blok cabang berkas)

Right bundle branch

Left bundle branch

Interval QRS 4 kotal kecil, atau 0,16 detik. Ini menunjukkan blok cabang berkas / Block Bundle Branch (BBB)

c. INTERVAL QT Interval terakhir yang kita ukur adalah interval QT. Interval ini mengukur jarak dari permulaan kompleks QRS ke akhir gelombang T. QT menggambarkan waktu yang dibutuhkan ventrikel untuk berdepolarisasi dan kemudian bersiap kembali atau berepolarisasi untuk siklus berikutnya (electrical systole duration) . Depolarisasi dan Repolarisasi memerlukan lingkungan : - Oksigen - Kalium - Kalsium dan - Fungsi ototom yang normal. - Pengaruh obat (diuritik, antiaritimia, digitalis)

Angka normal Interval QT = bergantung pada Frekuensi jantung (heart rate) o Makin cepat heart rate, makin pendek interval QT. o Makin lambat heart rate, makin panjang interval QT o Interval QT pada kisaran normal menberikan QTc (QT correction) pada kisaran yang diharapkan o QT panjang harus dijelaskan dan dicari penyebabnya o QT pada kisaran berbahaya, harus segera dievaluasi (elektrolitnya, obat-obatan) Interval QT yang panjang atau pendek menunjukkan keadaan patologis, secara khas karena pengaruh obat, ketidakseimbangan elketrolit, atau toksisitas.

Berikut adalah tabel menentukan QTc :
QT interval 1. Durasi electrical systole 2. Awal Q – akhir T 3. Tergantung HR 4. Dikoreksi dengan QTc Contoh : Bila QTobserv = 0.5 dan RR=0.8 det maka QTcorrected = 0.57 det

Berikut adalah tabel QT yang telah disesuaikan dengan sejumlah HR.

iiiiiiiNGAT : YANG DIUKUR PADA INTERVAL PR, QRS, DAN ST HANYA PADA SANDAPAN BIDANG FRONTAL SAJA (I, II, III, aVR, aVL, aVF)

5.

AKSIS

EKG 12 – Sandapan menampakkan gaya-gaya listrik jantung di atas lembar grafik. Setiap gaya listrik datang dari dan memberi informasi mengenai berbagai bagian jantung. Dan setiap gaya listrik yang mewakili daerah jantung tertentu mempunyai arah dan besaran yang normal. Gaya – Gaya listrik, termasuk gaya-gaya yang tergambar pada EKG mempunyai dua ukuran yang berbeda : - Besaran Menjelaskan ukuran gaya. Misalnya , gaya listrik dapat sangat besar seperti petir yang hebat, atau kecil seperti sentuhan listrik statis (voltase yang kecil) - Arah (vektor) Menjelaskan ke mana gaya diarahkan. Misalnya, petir hebat yang datang ke arah saya atau menjauhi dari saya. Atau misalnya naik Kereta Api dari Jakarta ke Surabaya. Maka KA datang ke arah Surabaya dan Menjauhi Jakarta.

Positif = mengarah (arah panah) Negatif = menjauh

Arah defleksi (gelombang pada gambaran EKG) ditentukan oleh : a. Arah Penyebaran Impuls b. Letak Elektrode

Electrical axis

ECG wave deflection

Apabila menjauhi penyebaran impuls (s) atau menjauhi electrode pada daerah potensial (-) dan mendekati electrode pada daerah potensial (+) maka arah defleksi akan ke atas.

Apabila menjauhi electrode pada daerah potensial (+) atau menjauhi (s) dan mendekati electrode pada daerah potensial (-) maka arah defleksi akan ke bawah.

Sedangkan apabila gaya tidak bergerak mentarah ataupun menjauh maka arah defleksi akan bifasik = isoelektrik.

A. AKSIS QRS Ventrikel kanan dan kiri berdepolarisasi pada saat yang sama, menghasilkan dua gaya listrik yang bergerak berlawanan arah. Karena ventrikel kiri normalnya menghasilkan gaya yang lebih besar. Aksis kombinasinya mengarah ke kiri dan posterior. Setiap arah dan besaran lain akan dianggap abnormal.

Hanya dengan mengkombinasi sebagian informasi pada suatu sandapan dengan sadapan lain pada EKG, gambar gaya listrik tiga dimensi komplit akan muncul (bayangkan jantung sedang di sadap dariberbagi sisi = I, II, III, aVR, aVL, dan aVF dengan kamera). Aksis listrik pada EKG diukur pada : - Gelombang P - Kompleks QRS - Gelombang T - Dan Gaya-gaya lain di seluruh jantung
Electrical axis overview DIAGRAM AKSIS QRS BIDANG FRONTAL

Bila mengukur aksis atau arah suatu gaya pada bidang frontal, mulailah dengan menggambar sadapan, seperti ditunjukkan di bawah ini yang menggambarkan pandangan frontal jantung.

Dari keadaan sebelumnya urutan dalam menentukan aksis pada bidang frontal : a. Beri tanda pada sadapan seperti pada gambar a dan b di bawah ini :

Einthoven's triangle

b. Gabungkan antara a dan b Untuk memberikan cara yang mudah dan dapat dimengerti untuk menggambarkan arah / vektor maka, berilah tanda setiap sadapan dengan derajat. Mulai dari sadapan I yaitu 0⁰ , sehingga tampak seperti gambar di bawah ini :

Dengan mengkombinasi informasi dari setiap sadapan ini (I, II, III, aVR, aVL, aVF) arah setiap gaya dapat ditentukan. Untuk memastikan bagian jantung mana yang diwakili ole diagram tersebut bayangkan jantung ditumpangkan di atasnya. Ini membantu memvisualisasi arah gaya yang bergerak melalui jantung.

Dapat kita simpul kan dalam hal ini sistem sumbu pada bidang frontal adalah:

posisi jantung = 0⁰ I = garis mendatar= 0 ⁰ = TEGAK LURUS PADA aVF II = membentuk sudut + 60 ⁰ = TEGAK LURUS PADA aVL III = membentuk sudut + 120 ⁰ = TEGAK LURUS aVR aVR = -150⁰ = TEGAK LURUS PADA III aVL = - 30⁰ = TEGAK LURUS PADA II aVF = + 90⁰ = TEGAK LURUS PADA I

Keterangan : Normal Axis: from -30 degrees to +105 degrees Right Axis Deviation: from + 105 degrees to ± 180 degrees Extreme Right Axis Deviation: from ± 180 degrees to -90 degrees Left Axis Deviation: from -90 degrees to -30 degrees

c. Gunakan konsep positif = mengarah, negatif = menjauh pada perhitungan aksis P, QRS, ST dan T Contoh pada sandapan I diawah ini :

-

Gelombang P pada sadapan I ke atas atau positif, berarti mengarah ke kiri, pada sadapan I.

I

-

Segmen ST disadapan I mengarah ke bawah atau negatif. Negatif = menjauh sehingga segmen ST harus mengarah ke kanan dari sandapan I (ingat sadapan I tegak lurus dengan aVF)

I

aVF

d. Ada kejadian khusus saat kompleks tidak negatif atau tidak positif. Ini disebut kompleks isoelektrik = ekuivalen (bila yang positif sama denga yang negatif). Pada kasus ini, aksis / gaya tidak bergerak mengarah atau tidak menjauh. Contoh pada sandapan aVF terdapat kompleks QRS yang Isoelektrik / ekuivalen, maka aksis aVF akan tegak lurus dengan sandapan I QRS ini merupakan contoh kompleks isolelektrik. Dimana nilai (tingi dan lebar) gelombang R = nilai gelombang S

Pada kasus ini, aksis akan tegak lurus di sadapan I pada aVF), yang berarti gaya tidak bergerak mengarah atau tidak bergerak menjauh. (Ingat..sadapan I tegak lurus pada aVF)
I

e. Dalam menentukan aksis atau arah suatu gelombang atau kompleks, segmen, lihatlah selalu sandapan I pertama kali, kemudian dilanjutkan dengan sadapan aVF. Dan sadapan Ekuivalen di sadapan yang mana?.... Lalu untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, aksis dapat dipersempit dengan melihat sadapan II, III, aVR, aVL.

Contoh 1 : Temukan aksis QRS pada bidang frontal EKG di bawah ini :

Arah QRS pada sadapan I = positif, jadi hasilnya adalah (sadapan I tegak lurus dengan aVF dan mengarah ke positif) :

I

Arah QRS pada sadapan aVF = positif, jadi hasilnya adalah mengarah ke bawah (sadapan aVF tegak lurus dangan sadapan I dan mengarah ke positif)

aVF

dari sadapan I dan aVF, aksis QRS terletak pada kuadran kiri bawah, secara matematis aksis > 0⁰ dan kurang dari 90⁰ (kita menggabungkan panah-panah pada satu diagram untuk menghitung aksis), sehingga mendapat diagram seperti di bawah ini :

I

aVF

untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat cari kompleks QRS yang ekuivalen dalam hal ini ada di sadapan III. Dari penggabungan antara I, III, dan aVF maka arah vektor tegak lurus di sadapan III pada aVR, dan mengarah ke quadran kiri bawah. (ingat ..sadapan III tegak lurus pada aVR)

Apabila tidak ditemukan yang ekuivalen / isoelektrik, maka aksis dapat dipersempit dengan melihat / menganalisa sadapan di II, III, aVR, aVL.

Kesimpulan : a. Sadapan I positif b. Sadapan aVF positif c. Sadapan III isoelektrik / ekuivalen Aksis Kompleks QRS pada bidang Frontal pada EKG contoh 1 adalah positif 30⁰

Dapat disimpulkan arah kompleks QRS dalam batas normal, karena masih dalam range antara -30⁰ dan + 105 ⁰. Contoh 2 Tentukan aksis QRS pada bidang frontal untuk EKG dibawah ini :

Dari gambar EKG pada contoh 2, kita tentukan sadapan I dan aVF terlebih dahulu :

Setelah itu kita lihat sadapan yang ekuivalen, ternyata tidak ada sadapan yang ekuivalen/isoelektrik. Sadapan aVR tidak isoelektrik, melainian positif karena walaupun tinggi gelombang R dan S sama, tetapi besarnya berbeda, perhatikan gambar dibawah ini :

Komplkes QRS = Positif, mengarah ke aVR yang positif, aVR adalah tegak lurus dengan sadapan III.

Kesimpulan pada soal contoh 2 a) Sadapan I positif b) Sadapan aVF negatif c) Sadapan aVR positif

Aksis Kompleks QRS pada bidang Frontal pada EKG diatas adalah negatif (-)75⁰ Berarti dalam keadaan Left aksis deviation.

DIAGRAM AKSIS QRS BIDANG HORISONGAL Aksis dapat juga dihitung pada bidang horizontal. Bidang frontal menyatakan pada kita bahwa gaya ke atas, ke bawah, ke kiri atau ke kanan. Namun bidang frontal tidak menyatakan pada kita apakah gaya listrik bergerak ke depan (anterior) atau ke belakang (posterior). Sadapan horizontal (chest lead) yang juga disebut sadapan Prekordial / V, memungkinkan perhitungan dengan penambahan dimensi anterior dan posterior. Sadapan pada bidang horizontal diatur secara berbeda dengan sadapan bidang frontal, mereka disebut V1 sampai V6. Sadapan pada bidang horizontal diatur mulai pada pukul 3, yaitu 0⁰, arah berlawanan jarum jam (counter clock wise / CCW) dianggap negatif. Arah searah jarum jam (clock wise / CW ) dianggap positif. Biasanya dalam menentukan Aksis horizontal, melihat Kompleks QRS yang Isoelektrik / Ekuivalen terletak di mana ? B

Pengamatan normal dari kompleks QRS yang Ekuivalen adalah sebagai berikut : Kompleks QRS Ekuivalen Pada : V5 – V6 V3 – V4 V1 – V2 Pengamatan : Counter clock wise (CCW) Normal (garis transisi / ekuivalen / isoelektrik) Clock wise (CW)

KONSEP PATOLGIS KOMPLEKS QRS DI SUMBU HORISONTAL Sering kita tidak mengetahui apa maksud dari CCW dan CW, biasanya apabila terjadi deviasi maka kemungkinan adanya block bundle branch (BBB) ada dua macam BBB yaitu Righ Block Bundle Branch (RBBB) dan Left Block Bundle Branc (LBBB). Normalnya, impuls listrik mulai di SA nodus. Impuls ini menjalar melalui atrium, memulai depolarisasi atrium. Kemudian impuls berlanjut dan melewati nodus AV dan menjalar ke dalam berkas His. Akhirnya Impuls menjalar dengan cepat turun pada cabang-cabang berkas kanan dan kiri dan menebarkan Impuls, sehingga menyebabkan ventrikl berrdeplarisasi yang kita lihat sebagai kompleks QRS.

Gaya Awal Pada bidang horizontal depolarisasi septal menghasilkan gaya-gaya awal, yaitu ke anterior dan ke kanan. Ini digambar kan pada EKG sebagai gelombang r awal di V1 dan gelombang awal q di V6 (q kecil awal di V6 dan gelombang r kecil awal di V1 = menandakan gaya bergerak ke anterior dan ke kanan).

Gaya Utama Gaya utama pada Kompleks QRS normal menggambarkan depolarisasi simultan ventrikel kanan dan kiri oleh cabang-cabang berkas kanan dan kiri. Karena ventrikel kiri mempunyai massa yang jauh lebih besar daripada ventrikel kanan, gaya utmanya mengarah ke ventrikel kiri. Pada bidang horizontal, gaya utama mengarah ke posterior dan kiri. Ia menghasilkan gelombang S di V1 dan gelombang R di V6

Itulah sebabnya maka pada Kompleks QRS, dari V1 ke V6 : - Tinggi Gelombang R dari kecil di V1 dan seterusnya membesar sampai di V6 - Tinggi Gelombang S dari besar di V1 dan seterusnya mengecil sampai di V6

AKSIS GELOMBANG P

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->