Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Kemampuan lulusan suatu jenjang pendidikan sesuai dengan tuntutan penerapan kurikulum berbasis kompetensi mencakup tiga ranah, yaitu kemampuan berpikir, keterampilan melakukan pekerjaan, dan perilaku. Setiap peserta didik memiliki potensi pada ketiga ranah tersebut, namun tingkatannya satu sama lain berbeda. Ada peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir tinggi dan perilaku amat baik, namun keterampilannya rendah. Demikian sebaliknya ada peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir rendah, namun memiliki keterampilan yang tinggi dan perilaku amat baik. Ada pula peserta didik yang kemampuan berpikir dan keterampilannya sedang/biasa, tapi memiliki perilaku baik. Jarang sekali peserta didik yang kemampuan berpikirnya rendah, keterampilan rendah, dan perilaku kurang baik. Peserta didik seperti itu akan mengalami kesulitan bersosialisasi dengan masyarakat, karena tidak memiliki potensi untuk hidup di masyarakat. Ini menunjukkan keadilan Tuhan YME, setiap manusia memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi kemampuan untuk hidup di masyarakat. Kemampuan berpikir merupakan ranah kognitif yang meliputi kemampuan menghapal, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Kemampuan psikomotor, yaitu keterampilan yang berkaitan dengan gerak, menggunakan otot seperti lari, melompat, menari, melukis, berbicara, membongkar dan memasang peralatan, dan sebagainya. Kemampuan afektif berhubungan dengan minat dan sikap yang dapat berbentuk tanggung jawab, kerjasama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur, menghargai pendapat orang lain, dan kemampuan mengendalikan diri. Semua kemampuan ini harus menjadi bagian dari tujuan pembelajaran di sekolah, yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran yang tepat. Masalah afektif dirasakan penting oleh semua orang, namun implementasinya masih kurang. Hal ini disebabkan merancang pencapaian tujuan pembelajaran afektif tidak semudah seperti pembelajaran kognitif dan psikomotor. Satuan pendidikan harus merancang kegiatan pembelajaran yang tepat agar tujuan pembelajaran afektif dapat dicapai. Keberhasilan pendidik melaksanakan pembelajaran ranah afektif dan keberhasilan peserta didik mencapai kompetensi afektif perlu dinilai. Oleh karena itu perlu dikembangkan acuan pengembangan perangkat penilaian ranah afektif serta penafsiran hasil pengukurannya. B. Tujuan Buku pengembangan perangkat penilaian afektif ini disusun agar pendidik: 1. memiliki kesamaan pemahaman mengenai ranah afektif dan cara penilaiannya 2. mampu mengembangkan perangkat penilaian afektif C. Ruang Lingkup Buku ini berisi tentang hakikat penilaian afektif dan pengembangan perangkat penilaian afektif. 1

Dalam pembelajaran sains. dan sebagainya. peserta didik memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus. 2 . kecepatan belajar. atau nilai. semangat persatuan. namun belum banyak tindakan yang dilakukan pendidik secara sistematik untuk meningkatkan minat peserta didik. Menurut Popham (1995). yaitu: receiving (attending). Tugas pendidik mengarahkan perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif. di dalamnya ada komponen sikap ilmiah. Tipikal berpikir berkaitan dengan ranah kognitif. misalnya kelas. dan hasil afektif. organization. Orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit untuk mencapai keberhasilan belajar secara optimal. misalnya. Tingkat receiving Pada tingkat receiving atau attending. sikap. Untuk itu semua dalam merancang program pembelajaran. Misalnya pendidik mengarahkan peserta didik agar senang membaca buku. 1.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif BAB II PENILAIAN RANAH AFEKTIF A. musik. Sikap ilmiah adalah komponen afektif. satuan pendidikan harus memperhatikan ranah afektif. Hakikat Pembelajaran Afektif Hasil belajar menurut Bloom (1976) mencakup prestasi belajar. dan characterization. B. valuing. Oleh karena itu untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Selain itu ikatan emosional sering diperlukan untuk membangun semangat kebersamaan. dan perasaan. Tingkatan Ranah Afektif Menurut Krathwohl (1961) bila ditelusuri hampir semua tujuan kognitif mempunyai komponen afektif. Seseorang yang berminat dalam suatu mata pelajaran diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. berbuat. Tingkatan ranah afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima. Walaupun para pendidik sadar akan hal ini. minat. kegiatan. rasa sosial. Andersen (1981) sependapat dengan Bloom bahwa karakteristik manusia meliputi cara yang tipikal dari berpikir. Oleh karena itu semua pendidik harus mampu membangkitkan minat semua peserta didik untuk mencapai kompetensi yang telah ditentukan. pendidik harus memperhatikan karakteristik afektif peserta didik. tipikal berbuat berkaitan dengan ranah psikomotor. ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan. semangat nasionalisme. dalam merancang program pembelajaran dan kegiatan pembelajaran bagi peserta didik. Ketiga ranah tersebut merupakan karakteristik manusia sebagai hasil belajar dalam bidang pendidikan. sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. emosi. buku. dan tipikal perasaan berkaitan dengan ranah afektif. Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi oleh kondisi afektif peserta didik. responding. dan sebagainya. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tertentu.

Valuing atau penilaian berbasis pada internalisasi dari seperangkat nilai yang spesifik. perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Misalnya pengembangan filsafat hidup. Sebagian orang kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain. berkeinginan memberi respons. atau kepuasan dalam memberi respons. Misalnya senang pada pelajaran dimaknai positif. Pertama. Misalnya senang membaca buku. dan sebagainya. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan perilaku yang konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama. dan sebagainya. 1981:4). Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada pemerolehan respons. Kesenangan ini akan menjadi kebiasaan. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi. Tingkat valuing Valuing melibatkan penentuan nilai. Tingkat characterization Tingkat ranah afektif tertinggi adalah characterization nilai. yaitu kebiasaan yang positif. misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka. dan sosial. konflik antar nilai diselesaikan. Target mengacu pada objek. 5. keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat internalisasi dan komitmen. senang dengan kebersihan dan kerapian. 2. Karakteristik Ranah Afektif Pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif (Andersen. C. Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif senang bekerjasama. dan hal ini yang diharapkan. dan target. Kedua. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi sistem nilai. nilai satu dengan nilai lain dikaitkan. sampai pada tingkat komitmen. dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten. Pada tingkat ini peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. maka karakteristik afektif berada dalam suatu skala yang kontinum. yaitu sebagai bagian dari perilakunya. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat. penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Dalam tujuan pembelajaran. Tingkat organization Pada tingkat organization. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk. emosi. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas. sedang kecemasan dimaknai negatif. misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan. 3. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena khusus tetapi ia juga bereaksi. Derajat rentangannya mulai dari menerima suatu nilai. yaitu hal-hal yang menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus. Tingkat responding Responding merupakan partisipasi aktif peserta didik. senang bertanya. aktivitas. senang membantu teman. arah. atau ide 3 . 4.

menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas. Ada 5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting. Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek. pemahaman. matematika. tujuan yang ingin dicapai. dan konsistensi terhadap sesuatu. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. ada beberapa kemungkinan target. Kadang-kadang target ini diketahui oleh seseorang namun kadang-kadang tidak diketahui. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bila kecemasan merupakan karakteristik afektif yang ditinjau. Peserta didik mungkin bereaksi terhadap sekolah. nilai. 1999). 2. situasi sosial. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi. atau pembelajaran. pendidik. dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. 4 . harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583). Sikap Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Penilaian minat dapat digunakan untuk: a. yaitu sikap.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif sebagai arah dari perasaan. minat. Peserta didik tersebut cenderung sadar bahwa target kecemasannya adalah tes. Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran. konsep diri. b. Tiap unsur ini bisa merupakan target dari kecemasan. c. minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik. 1. misalnya bahasa Inggris. kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. d. aktivitas. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran. Seringkali peserta didik merasa cemas bila menghadapi tes di kelas. situasi. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif. e. mengelompokkan peserta didik yang memiliki minat sama. mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya. mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. keteguhan. minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus. dan moral. kondisi pembelajaran. atau orang. konsep. dan sebagainya. Minat Menurut Getzel (1966). Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham.

dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. yaitu mulai dari rendah sampai tinggi. • Peserta didik dapat mencari materi sendiri.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif f. atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. • Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik. • Melatih kejujuran dan kemandirian peserta didik. • Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya. Nilai Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan. yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Konsep Diri Menurut Smith. g. hasilnya dapat untuk instropeksi pembelajaran yang dilakukan. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut. meningkatkan motivasi belajar peserta didik. sedangkan nilai mengacu pada keyakinan. Target. • Peserta didik memahami kemampuan dirinya. • Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik. tindakan. dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum. dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. • Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki. 3. acuan dalam menilai kemampuan peserta didik secara keseluruhan dan memilih metode yang tepat dalam penyampaian materi. • Mempermudah pendidik untuk melaksanakan remedial. mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik. • Peserta didik mampu menilai dirinya. Arah konsep diri bisa positif atau negatif. arah. • Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai. • Pendidik memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik. • Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain. 5 . Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik. konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. bahan pertimbangan menentukan program sekolah. h. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. • Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input peserta didik. • Peserta didik dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat. • Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran. i. • Peserta didik dapat mengetahui ketuntasan belajarnya. Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi. 4. • Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya.

Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Jadi moral berkaitan dengan prinsip. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang. sikap. sikap. yaitu nilai adalah suatu objek. atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. aktivitas. membohongi orang lain. Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7). • Kebebasan: peserta didik harus yakin bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan yang bertanggung jawab secara maksimal kepada semua orang. dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat. dan keyakinan seseorang. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu. aktivitas. target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Ranah afektif lain yang penting adalah: • Kejujuran: peserta didik harus belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain. dan kepuasan. • Adil: peserta didik harus berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam memperoleh pendidikan. nilai. atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek. Moral Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang perkembangan moral anak. Misalnya menipu orang lain. • Integritas: peserta didik harus mengikatkan diri pada kode nilai. Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif Target nilai cenderung menjadi ide. 6 . Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema hipotetikal atau dugaan. 5. bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak. misalnya moral dan artistik. yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat. dan kepuasan.

yaitu instrumen (1) sikap. 3. 11. (3) konsep diri. 8. para pengelola pendidikan harus mempertimbangkan rasional teoritis dan program sekolah. afektif. nilai. Isi dan validitas konstruk ranah afektif tergantung pada definisi operasional yang secara langsung mengikuti definisi konseptual. 4. B. Masalah yang timbul adalah bagaimana ranah afektif akan diukur. 5. perilaku seseorang merupakan fungsi dari watak (kognitif. 7. 9. (4) nilai. dan psikomotor) dan karakteristik lingkungan saat perilaku atau perbuatan ditampilkan. 2. 10. Namun hal ini menuntut kejujuran dalam mengungkap karakteristik afektif diri sendiri. 1. Penggunaan metode observasi berdasarkan pada asumsi bahwa karateristik afektif dapat dilihat dari perilaku atau perbuatan yang ditampilkan dan/atau reaksi psikologi. Menurut Andersen (1980) ada dua metode yang dapat digunakan untuk mengukur ranah afektif. yaitu metode observasi dan metode laporan diri. (2) minat. dan (5) moral. konsep diri. minat. Metode laporan diri berasumsi bahwa yang mengetahui keadaan afektif seseorang adalah dirinya sendiri. 6.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif BAB III PENGEMBANGAN PERANGKAT PENILAIAN AFEKTIF A. dan moral. Menurut Lewin (dalam Andersen. 1980). 7 . yaitu: 1. menentukan spesifikasi instrumen menulis instrumen menentukan skala instrumen menentukan pedoman penskoran menelaah instrumen merakit instrumen melakukan ujicoba menganalisis hasil ujicoba memperbaiki instrumen melaksanakan pengukuran menafsirkan hasil pengukuran Spesifikasi instrumen Ditinjau dari tujuannya ada lima macam instrumen pengukuran ranah afektif. Jadi tindakan atau perbuatan seseorang ditentukan oleh watak dirinya dan kondisi lingkungan. Pengembangan Instrumen Penilaian Afektif Instrumen penilaian afektif meliputi lembar pengamatan sikap. Pengukuran Ranah Afektif Dalam memilih karakterisitik afektif untuk pengukuran. Ada 11 (sebelas) langkah dalam mengembangkan instrumen penilaian afektif.

Peserta didik melakukan evaluasi secara objektif terhadap potensi yang ada dalam dirinya. Hal-hal yang bersifat positif diperkuat sedangkan yang bersifat negatif dikurangi dan akhirnya dihilangkan. Instrumen moral Instrumen moral bertujuan untuk mengungkap moral. d. Hasil pengukuran sikap berguna untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat. Karakteristik potensi peserta didik sangat penting untuk menentukan jenjang karirnya.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif a. c. e. Definisi operasional ini kemudian dijabarkan menjadi sejumlah indikator. misalnya terhadap kegiatan sekolah. merupakan matrik yang berisi spesifikasi instrumen yang akan ditulis. Tiap indikator bisa dikembangkan dua atau lebih instrumen. Sikap terhadap mata pelajaran bisa positif bisa negatif. yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan minat peserta didik terhadap mata pelajaran. Instrumen konsep diri Instrumen konsep diri bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Hasil pengamatan dan hasil kuesioner menjadi informasi tentang moral seseorang. 8 . mata pelajaran. dan sebagainya. Indikator merupakan pedoman dalam menulis instrumen. Selanjutnya mengembangkan definisi operasional berdasarkan kompetensi dasar. (3) bentuk dan format instrumen. Langkah pertama dalam menentukan kisi-kisi adalah menentukan definisi konseptual yang berasal dari teori-teori yang diambil dari buku teks. Kisi-kisi (blue-print). kegiatan berikutnya adalah menyusun kisi-kisi instrumen. yaitu kompetensi yang dapat diukur. Informasi moral seseorang diperoleh melalui pengamatan terhadap perbuatan yang ditampilkan dan laporan diri melalui pengisian kuesioner. b. Instrumen minat Instrumen minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat peserta didik terhadap mata pelajaran. (2) kisi-kisi instrumen. dan (4) panjang instrumen. Informasi yang diperoleh berupa nilai dan keyakinan yang positif dan yang negatif. Informasi kekuatan dan kelemahan peserta didik digunakan untuk menentukan program yang sebaiknya ditempuh. Dalam menyusun spesifikasi instrumen perlu memperhatikan empat hal yaitu (1) tujuan pengukuran. Instrumen nilai Instrumen nilai bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan peserta didik. Setelah menetapkan tujuan pengukuran afektif. pendidik. Instrumen sikap Instrumen sikap bertujuan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap suatu objek.

baik-buruk. Sikap bisa positif bisa negatif. Kata-kata yang sering digunakan pada pertanyaan sikap menyatakan arah perasaan seseorang. a. Cara yang mudah untuk mengetahui sikap peserta didik adalah melalui kuesioner. Kisi-Kisi Instrumen Afektif No 1 2 3 4 5 Indikator Jumlah butir Pertanyaan/Pernyataan Skala Penilaian ranah afektif peserta didik dilakukan dengan menggunakan instrumen penilaian afektif sebagai berikut. menerima-menolak. Pertanyaan tentang sikap meminta responden menunjukkan perasaan yang positif atau negatif terhadap suatu objek. diingini-tidak diingini.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif 2. ƒ Membaca buku matematika ƒ Mempelajari matematika ƒ Melakukan interaksi dengan guru matematika ƒ Mengerjakan tugas matematika ƒ Melakukan diskusi tentang matematika ƒ Memiliki buku matematika Contoh pernyataan untuk kuesioner: ƒ Saya senang membaca buku matematika ƒ Tidak semua orang harus belajar matematika ƒ Saya jarang bertanya pada guru tentang pelajaran matematika ƒ Saya tidak senang pada tugas pelajaran matematika ƒ Saya berusaha mengerjakan soal-soal matematika sebaik-baiknya ƒ Memiliki buku matematika penting untuk semua peserta didik b. Penulisan instrumen Tabel 1. Objek bisa berupa kegiatan atau mata pelajaran. Instrumen sikap Definisi konseptual: Sikap merupakan kecenderungan merespon secara konsisten baik menyukai atau tidak menyukai suatu objek. misalnya kegiatan sekolah. Instrumen minat Instrumen minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat peserta didik terhadap suatu mata pelajaran yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan minat peserta didik terhadap mata pelajaran 9 . Definisi operasional: sikap adalah perasaan positif atau negatif terhadap suatu objek. Contoh indikator sikap terhadap mata pelajaran matematika misalnya. Instrumen sikap bertujuan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap suatu objek. atau suatu kebijakan. menyenangi-tidak menyenangi.

Informasi kekuatan dan kelemahan peserta didik digunakan untuk menentukan program yang sebaiknya ditempuh oleh peserta didik.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif tersebut. dan keterampilan untuk tujuan mendapatkan perhatian atau penguasaan. Instrumen konsep diri Instrumen konsep diri bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. aktivitas. Definisi konsep: konsep diri merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri yang menyangkut keunggulan dan kelemahannya. 10 . Contoh indikator minat terhadap pelajaran matematika: ƒ Memiliki catatan pelajaran matematika. Definisi operasional: Minat adalah keingintahuan seseorang tentang keadaan suatu objek. • Saya berusaha selalu hadir pada pelajaran matematika c. Definisi konseptual: Minat adalah keinginan yang tersusun melalui pengalaman yang mendorong individu mencari objek. ƒ Saya mampu membuat karangan yang baik ƒ Saya merasa sulit mengikuti pelajaran fisika ƒ Saya bisa bermain sepak bola dengan baik ƒ Saya mampu membuat karya seni yang baik ƒ Saya perlu waktu yang lama untuk memahami pelajaran fisika. ƒ Berusaha memahami matematika ƒ Memiliki buku matematika ƒ Mengikuti pelajaran matematika Contoh pernyataan untuk kuesioner: • Catatan pelajaran matematika saya lengkap • Catatan pelajaran matematika saya terdapat coretan-coretan tentang hal-hal yang penting • Saya selalu menyiapkan pertanyaan sebelum mengikuti pelajaran matematika • Saya berusaha memahami mata pelajaran matematika • Saya senang mengerjakan soal matematika. Contoh indikator konsep diri: ƒ Memilih mata pelajaran yang mudah dipahami ƒ Memiliki kecepatan memahami mata pelajaran ƒ Menunjukkan mata pelajaran yang dirasa sulit ƒ Mengukur kekuatan dan kelemahan fisik Contoh pernyataan untuk instrumen: ƒ Saya sulit mengikuti pelajaran matematika ƒ Saya mudah memahami bahasa Inggris ƒ Saya mudah menghapal suatu konsep. konsep. Definisi operasional konsep diri adalah pernyataan tentang kemampuan diri sendiri yang menyangkut mata pelajaran.

minat. Untuk mengetahui keadaan ranah afektif peserta didik. Hal-hal yang positif ditingkatkan sedang yang negatif dikurangi dan akhirnya dihilangkan. • Saya berkeyakinan bahwa peserta didik yang ikut bimbingan tes cenderung akan diterima di perguruan tinggi. Tindakan seseorang terhadap sesuatu merupakan refleksi dari nilai yang dianutnya. Informasi yang diperoleh berupa nilai dan keyakinan yang positif dan yang negatif.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif d. Instrumen nilai bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan individu. Nilai seseorang pada dasarnya terungkap melalui bagaimana ia berbuat atau keinginan berbuat. Kemungkinan ada yang berkeyakinan bahwa prestasi peserta didik sulit ditingkatkan atau ada yang berkeyakinan bahwa guru sulit melakukan perubahan. • Saya berkeyakinan bahwa kinerja pendidik sudah maksimal. konsep diri. Pengamatan karakteristik afektif peserta didik dilakukan di tempat dilaksanakannya kegiatan pembelajaran. Instrumen nilai Nilai merupakan konsep penting dalam pembentukan kompetensi peserta didik. yaitu yang berkaitan dengan penilaian baik dan buruk. Definisi konseptual: Nilai adalah keyakinan terhadap suatu pendapat. ada yang menyukai pelajaran seni tari dan ada yang tidak. 11 . Kegiatan yang disenangi peserta didik di sekolah dipengaruhi oleh nilai (value) peserta didik terhadap kegiatan tersebut. dan nilai dapat digali melalui pengamatan. Contoh indikator nilai adalah: ƒ Memiliki keyakinan akan peran sekolah ƒ Menyakini keberhasilan peserta didik ƒ Menunjukkan keyakinan atas kemampuan guru. Misalnya keyakinan akan kemampuan peserta didik dan kinerja guru. • Saya berkeyakinan bahwa perubahan selalu membawa masalah. Semua ini dipengaruhi oleh nilai peserta didik. sikap dan aktivitas atau tindakan seseorang. Selain melalui kuesioner ranah afektif peserta didik. ƒ Mempertahankan keyakinan akan harapan masyarakat Contoh pernyataan untuk kuesioner tentang nilai peserta didik: • Saya berkeyakinan bahwa prestasi belajar peserta didik sulit untuk ditingkatkan. atau objek. Misalnya. Definisi operasional nilai adalah keyakinan seseorang tentang keadaan suatu objek atau kegiatan. • Saya berkeyakinan sekolah tidak akan mampu mengubah tingkat kesejahteraan masyarakat. kegiatan. sikap. • Saya berkeyakinan bahwa hasil yang dicapai peserta didik adalah atas usahanya. ada peserta didik yang menyukai pelajaran keterampilan dan ada yang tidak. dan pendidik harus mencatat setiap perilaku yang muncul dari peserta didik yang berkaitan dengan indikator tersebut. perlu ditentukan dulu indikator substansi yang akan diukur. Nilai berkaitan dengan keyakinan.

• Kesulitan orang lain merupakan tanggung jawabnya sendiri. saya selalu meminta bantuan orang lain. Contoh indikator moral sesuai dengan definisi tersebut adalah: ƒ Memegang janji ƒ Memiliki kepedulian terhadap orang lain ƒ Menunjukkan komitmen terhadap tugas-tugas ƒ Memiliki Kejujuran Contoh pernyataan untuk instrumen moral • Bila saya berjanji pada teman. 5. • Bila berjanji kepada orang yang lebih tua. Instrumen Moral Instrumen ini bertujuan untuk mengetahui moral peserta didik. Dst Saya senang belajar Sejarah Pelajaran sejarah bermanfaat Saya berusaha hadir tiap ada jam pelajaran sejarah Saya berusaha memiliki buku pelajaran Sejarah Pelajaran sejarah membosankan 6 5 4 3 2 1 Contoh skala Likert: Sikap terhadap pelajaran matematika 1 2 3 4 5 Pelajaran matematika bermanfaat Pelajaran matematika sulit Tidak semua harus belajar matematika Pelajaran matematika harus dibuat mudah Sekolah saya menyenangkan SS SS SS SS SS S S S S S TS TS TS TS TS STS STS STS STS STS 12 . saya tidak harus menepatinya. • Bila ada orang yang bercerita. 3. dan Skala Beda Semantik. • Bila bertemu teman. tidak harus menepati. • Bila berjanji pada anak kecil. 3.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif e. Skala Likert. • Bila bertemu guru. saya selalu menyapanya walau ia tidak melihat saya. saya tidak selalu mempercayainya. saya berusaha menepatinya. • Bila ada orang lain yang menghadapi kesulitan. walau ia tidak melihat saya. • Bila menghadapi kesulitan. walau tidak seluruhnya benar. saya selalu memberikan salam. Contoh Skala Thurstone: Minat terhadap pelajaran sejarah 7 1. 2. 4. • Saya selalu bercerita hal yang menyenangkan teman. saya berusaha membantu. Skala Instrumen Penilaian Afektif Skala yang sering digunakan dalam instrumen penelilaian afektif adalah Skala Thurstone.

Sistem penskoran Sistem penskoran yang digunakan tergantung pada skala pengukuran. Untuk skala Likert. pada awalnya skor tertinggi tiap butir 5 dan terendah 1. tertinggi 7 terendah 1. c) butir peranyaaan/pernyataan tidak bias. Telaah dilakukan oleh pakar dalam bidang yang diukur dan akan lebih baik bila ada pakar penilaian. b) bahasa yang digunakan komunikatif dan menggunakan tata bahasa yang benar. d) format instrumen menarik untuk dibaca. 5. yaitu dengan mencari rerata (mean) dan simpangan baku skor. Telaah instrumen Kegiatan pada telaah instrumen adalah menelaah apakah: a) butir pertanyaan/ pernyataan sesuai dengan indikator. e) pedoman menjawab atau mengisi instrumen jelas. dan f) jumlah butir dan/atau panjang kalimat pertanyaan/pernyataan sudah tepat sehingga tidak menjemukan untuk dibaca/dijawab. Skor perolehan perlu dianalisis untuk tingkat peserta didik dan tingkat kelas. Selanjutnya ditafsirkan hasilnya untuk mengetahui minat masing-masing peserta didik dan minat kelas terhadap suatu mata pelajaran. Apabila digunakan skala Thurstone. Dalam pengukuran sering terjadi kecenderungan responden memilih jawaban pada katergori tiga 3 (tiga) untuk skala Likert. Hasil telaah selanjutnya digunakan untuk memperbaiki instrumen. agar jelas sikap atau minat responden. Bahasa yang digunakan adalah yang sesuai dengan tingkat pendidikan responden. struktur pertanyaan. Demikian pula untuk instrumen dengan skala beda semantik. 13 b c d e f g Membosankan Mudah Sia-sia Menjemukan Sedikit . yaitu tingkat kejemuan dalam mengisi instrumen.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif Keterangan: SS : Sangat setuju S : Setuju TS : Tidak setuju STS : Sangat tidak setuju Contoh skala beda Semantik: Pelajaran ekonomi a Menyenangkan Sulit Bermanfaat Menantang Banyak 4. Telaah bisa juga dilakukan oleh teman sejawat bila yang diinginkan adalah masukan tentang bahasa dan format instrumen. maka skor tertinggi untuk tiap butir 7 dan skor terendah 1. Lama pengisian instrumen sebaiknya tidak lebih dari 30 menit. Untuk menghindari hal tersebut skala Likert dimodifikasi dengan hanya menggunakan 4 (empat) pilihan. Langkah pertama dalam menulis suatu pertanyaan/ pernyataan adalah informasi apa yang ingin diperoleh. Panjang instrumen berhubungan dengan masalah kebosanan.

Contoh pertanyaan yang bias: Sebagian besar pendidik setuju semua peserta didik yang menempuh ujian akhir lulus. bisa berasal dari satu sekolah atau lebih. waktu yang diperlukan untuk mengisi instrumen. Selain itu sebaiknya responden juga diberi minuman agar tidak lelah. positif atau negatif. dan waktu yang diperlukan untuk mengisi instrumen. dan pengetikan. Merakit instrumen Setelah instrumen diperbaiki selanjutnya instrumen dirakit. Format instrumen harus dibuat menarik dan tidak terlalu panjang. atau diberi batasan garis empat persegi panjang.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif dan pemilihan kata-kata. Perbaikan dilakukan terhadap konstruksi instrumen. yaitu: a. Apakah saudara setuju bila semua peserta didik yang mengikuti ujian lulus semua? Contoh pertanyaan yang tidak bias: Sebagian pendidik setuju bahwa tidak semua peserta didik harus lulus. Waktu yang digunakan disarankan bukan waktu saat responden sudah lelah. namun sebagian lain tidak setuju. cara pengisian atau cara menjawab instrumen. 6. yaitu kalimat yang digunakan. sehingga walau ada batasan waktu namun tidak terlalu ketat. 14 . d. sesuai dengan tujuan penilaian apakah kepada peserta didik. maka sampelnya juga peserta didik SMA. Pertanyaan yang diajukan jangan sampai bias. Gunakan kata-kata yang sederhana sesuai dengan tingkat pendidikan responden b. Ujicoba instrumen Setelah dirakit instrumen diujicobakan kepada responden. Perlu diingat bahwa pengisian instrumen penilaian afektif bukan merupakan tes. kejelasan kalimat yang digunakan. Hasil telaah instrumen digunakan untuk memperbaiki instrumen. Untuk itu dipilih sampel yang karakteristiknya mewakili populasi yang ingin dinilai. Pada saat ujicoba yang perlu dicatat adalah saran-saran dari responden atas kejelasan pedoman pengisian instrumen. Setiap sepuluh pertanyaan sebaiknya dipisahkan dengan cara memberi spasi yang lebih. yaitu menentukan format tata letak instrumen dan urutan pertanyaan/ pernyataan. Apakah saudara setuju bila semua peserta didik yang menempuh ujian akhir lulus semua? Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan kata-kata untuk suatu kuesioner. Bila yang ingin dinilai adalah peserta didik SMA. Hindari pertanyaan yang bias. 7. kepada guru atau orang tua peserta didik. sehingga responden tertarik untuk membaca dan mengisinya. yaitu mengarahkan jawaban responden pada arah tertentu. Hindari pertanyaan hipotetikal atau pengandaian. Pertanyaannya jangan samar-samar c. Urutkan pertanyaan/pernyataan sesuai dengan tingkat kemudahan dalam menjawab atau mengisinya. Sampel yang diperlukan minimal 30 peserta didik.

Pengisian instrumen dimulai dengan penjelasan tentang tujuan pengisian. Kriteria yang digunakan tergantung pada skala dan jumlah butir pertanyaan/pernyataan yang digunakan. Untuk itu butir pertanyaan/pernyataan instrumen harus diperbaiki. namun hasil ujicoba empirik tidak baik.70. dan jawaban responden bervariasi dari 1 sampai 7. Jika menggunakan skala instrumen 1 sampai 7.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif Agar responden mengisi instrumen dengan akurat sesuai harapan. 10. Perbaikan termasuk mengakomodasi saran-saran dari responden ujicoba. Waktu pelaksanaan bukan pada waktu responden sudah lelah. Bisa saja hasil telaah instrumen baik. maka butir instrumen ini tergolong tidak baik. waktu yang diperlukan agar tidak jenuh adalah 30 menit atau kurang. Tempat duduk juga diatur agar responden tidak terganggu satu sama lain. maka butir pertanyaan/pernyataan pada instrumen ini dapat dikatakan baik. Bila daya beda butir instrumen lebih dari 0. 8. manfaat bagi responden. maka sebaiknya instrumen dirancang sedemikian rupa sehingga waktu yang diperlukan mengisi instrumen tidak terlalu lama. Diusahakan agar responden tidak saling bertanya pada responden yang lain agar jawaban kuesioner tidak sama atau homogen. misalnya pada pilihan nomor 3. Skor untuk butir pertanyaan/pernyataan yang sifatnya positif: Sangat setuju . berdasarkan analisis hasil ujicoba. 11. Perbaikan instrumen Perbaikan dilakukan terhadap butir-butir pertanyaan/pernyataan yang tidak baik. Indikator lain yang diperhatikan adalah indeks keandalan yang dikenal dengan indeks reliabilitas. dan pedoman pengisian instrumen. Untuk menafsirkan hasil pengukuran diperlukan suatu kriteria.30.Sangat tidak setuju. Batas indeks reliabilitas minimal 0. Penafsiran hasil pengukuran Hasil pengukuran berupa skor atau angka. Instrumen sebaiknya dilengkapi dengan pertanyaan terbuka. butir instrumen tergolong baik. Pelaksanaan pengukuran Pelaksanaan pengukuran perlu memperhatikan waktu dan ruangan yang digunakan.Setuju . Ruang untuk mengisi instrumen harus memiliki cahaya (penerangan) yang cukup dan sirkulasi udara yang baik. Oleh karena itu diusahakan agar indeks keandalan instrumen minimal 0. Namun apabila jawabannya hanya pada satu pilihan jawaban saja.70. Indikator yang digunakan adalah besarnya daya beda. Berdasarkan pengalaman. (4) (3) (2) (1) 15 . Analisis hasil ujicoba Analisis hasil ujicoba meliputi variasi jawaban tiap butir pertanyaan/ pernyataan. Misalkan digunakan skala Likert yang berisi 10 butir pertanyaan/ pernyataan dengan 4 (empat) pilihan untuk mengukur sikap peserta didik. kesalahan pengukuran akan melebihi batas.Tidak setuju . Bila indeks ini lebih kecil dari 0. 9.70.

rendah (kurang). Berdasarkan kategori ini dapat ditentukan minat atau sikap peserta didik. Skor batas bawah kategori sangat tinggi atau sangat baik adalah: 0. Selanjutnya dapat dicari sikap dan minat kelas terhadap mata pelajaran tertentu. No.Tidak setuju . (1) (2) (3) (4) Skor tertinggi untuk instrumen tersebut adalah 10 butir x 4 = 40. Tabel 2. Kategorisasi sikap atau minat peserta didik untuk 10 butir pernyataan. Skor yang tergolong pada kategori sangat rendah atau sangat kurang adalah kurang dari 20. 3.80 x 40 = 36. 2. 1. 4. Kategorisasi sikap atau minat kelas Skor rata-rata kelas Lebih besar dari 35 28 sampai 35 20 sampai 27 Kurang dari 20 Kategori Sikap atau Minat Sangat tinggi/Sangat baik Tinggi/Baik Rendah/Kurang Sangat rendah/Sangat kurang Keterangan: 1. dan batas atasnya 40. 3. 1. tinggi (baik). dan skor batas atasnya adalah 27. dan skor batas atasnya adalah 35. 2. 16 . dan batas atasnya 40. dan sangat rendah (sangat kurang).Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif Sebaliknya untuk pertanyaan/pernyataan yang bersifat negatif Sangat setuju . Skor batas bawah pada kategori rendah atau kurang adalah: 0. Rata-rata skor kelas: jumlah skor semua peserta didik dibagi jumlah peserta didik di kelas ybs. 4.Setuju . Skor batas bawah kategori sangat tinggi atau sangat baik adalah: 0. Skor peserta didik Lebih besar dari 35 28 sampai 35 20 sampai 27 Kurang dari 20 Kategori Sikap atau Minat Sangat tinggi/Sangat baik Tinggi/Baik Rendah/Kurang Sangat rendah/Sangat kurang Keterangan Tabel 2: 1. 2. Tabel 3 No. dan skor terendah 10 butir x 1 = 10. yaitu sangat tinggi (sangat baik). 3.Sangat tidak setuju. Penentuan kategori hasil pengukuran sikap atau minat dapat dilihat pada tabel berikut. 4. 2. Skor ini dikualifikasikan misalnya menjadi empat kategori sikap atau minat. Skor batas bawah pada kategori tinggi atau baik adalah: 0.50 x 40 = 20.70 x 40 = 28.80 x 40 = 36. dengan rentang skor 10 – 40.

Definisi konseptual kemudian diturunkan menjadi sejumlah indikator. seperti mata pelajaran. Skor batas bawah pada kategori rendah atau kurang adalah: 0.50 x 40 = 20. Dengan demikian informasi yang diperoleh akan lebih akurat. Prosedurnya sama. dan skor batas atasnya adalah 35. Observasi Penilaian ranah afektif peserta didik selain menggunakan kuesioner juga bisa dilakukan melalui observasi atau pengamatan. Skor yang tergolong pada kategori sangat rendah atau sangat kurang adalah kurang dari 20. kerajinan dalam mengerjakan tugas-tugas. 17 . sehingga kebijakan yang ditempuh akan lebih tepat. Indikator ini menjadi isi pedoman observasi. peserta didik harus berusaha mempertahankannya. Hasil observasi akan melengkapi informasi dari hasil kuesioner. Misalnya indikator peserta didik berminat pada mata pelajaran matematika adalah kehadiran di kelas.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif 3. Skor batas bawah pada kategori tinggi atau baik adalah: 0. Sedang bila sikap atau minat peserta didik tergolong tinggi. kerapihan dan kelengkapan catatan. yaitu dimulai dengan penentuan definisi konseptual dan definisi operasional. dan skor batas atasnya adalah 27. Tabel 3 menujukkan minat atau sikap kelas terhadap suatu mata pelajaran. Jadi satuan pendidikan akan memiliki peta minat kelas dan selanjutnya dikaitkan dengan profil prestasi belajar. Dalam pengukuran sikap atau minat kelas diperlukan informasi tentang minat atau sikap setiap peserta didik terhadap suatu objek. Hasil pengukuran minat kelas untuk semua mata pelajaran berguna untuk membuat profil minat kelas. 5. banyaknya bertanya. 4. C. Pada Tabel 2 dapat diketahui minat atau sikap tiap peserta didik terhadap tiap mata pelajaran. Bila sikap peserta didik tergolong rendah. Umumnya peserta didik yang berminat pada mata pelajaran tertentu prestasi belajarnya untuk mata pelajaran tersebut baik. maka peserta didik harus berusaha meningkatkan sikap dan minatnya dengan bimbingan pendidik.70 x 40 = 28.

Menentukan definisi konseptual atau konstruk yang akan diukur. 1. indeks beda. Demikian juga untuk instrumen yang direncanakan untuk mengukur ranah afektif yang lain. Instrumen yang dibuat harus ditelaah oleh teman sejawat untuk mengetahui keterbacaan. dan bahasa yang digunakan. 2. Hasil ujicoba digunakan untuk memperbaiki instrumen. Hasil telaah digunakan untuk memperbaiki instrumen. Penafsiran hasil pengukuran menggunakan dua kategori yaitu positif atau negatif. dan indeks keandalan instrumen. Menentukan definisi operasional 3. Hal yang penting pada instrumen afektif adalah besarnya indeks keandalan instrumen yang dikatakan baik adalah minimal 0.70. Positif berarti minat peserta didik tinggi atau sikap peserta didik terhadap suatu objek baik.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif BAB IV PENUTUP Cukup banyak ranah afektif yang penting untuk dinilai. sedang negatif berarti minat peserta didik rendah atau sikap peserta didik terhadap objek kurang. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan instrumen afektif sebagai berikut. Ranah afektif yang penting dikembangkan adalah sikap dan minat peserta didik. Selanjutnya instrumen tersebut di ujicoba di lapangan. Menentukan indikator 4. Namun yang perlu diperhatikan adalah kemampuan pendidik untuk melakukan penilaian. substansi yang ditanyakan. Menulis instrumen. Hasil ujicoba akan menghasilkan informasi yang berupa variasi jawaban. Untuk itu pada tahap awal dicari komponen afektif yang bisa dinilai oleh pendidik dan pada tahun berikutnya bisa ditambah ranah afektif lain untuk dinilai. 18 .

(1977). Wendy. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. & Yen. P. Gilbert. (1986). L. Yen. R. Instrument development in the affective domain. Robert. California: Brooks/Cole Publishing Company. New York: John Wiley & Sons. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. (1981). Introduction measurement theory. Boston: Allyn and Bacon. London: Biddles Ltd. John. W. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Gable. behaviour. London: Sage Publications. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan.. Belief. Andersen. Measurement and evaluation in psychology and education. Philip. K. Ross. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. (1986). Robert. (1979). (1980). & Shaver. Assessing affective characteristic in the schools. and education. Columbia University. (1980). Traub.Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif DAFTAR PUSTAKA Allen. Mary. Robinson. Principles of educational and psychological measurement and evaluation. Lorin. Elizabeth. P. (1994). Thorndike. Mueller. E. Straughan. (1989). Boston: Kluwer-Nijhoff Publishing. J. Measures of social psychological attitudes. California: Wadsworth Publishing Company. Michigan: The Institute of Social Research... Guilfordand King’s Lynn. 19 . Sax. D. Reliability for the social sciences. M. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan. New York: Teachers College. Belmont. R. Berkeley. Measuring social attitudes. & Hagen.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful