P. 1
khotbah Nikah

khotbah Nikah

|Views: 61|Likes:
Published by Affan Hasyim

More info:

Published by: Affan Hasyim on Apr 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/20/2013

pdf

text

original

1

KHUTBAH NIKAH
Oleh:
Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah
disampaikan untuk perkawinan

ANGGUN REZA TAUFIQ
dengan
VIRDIANA RAMADHANI


Masjid Kampus UGM
Minggu, 8 Mei 2011

2
Saudara Pengantin yang Berbahagia
Pada hari ini, Jum‟at, tanggal 21 Desember 2011,
bertepatan tanggal 6 Syawwal 1422 H, saudara
berdua mulai mulai memasuki tahapan baru dalam
menempuh karier kehidupan sebagai hamba Allah,
yaitu tahapan kehidupan berkeluarga dengan diawali
akad nikah („aqd al-nikah). Nikah adalah ibadah.
Nikah adalah Sunnah Rasul. Rasulullah Saw.
bersabda:
ىتىس هع بغ ر همف ىتىس ح اكىلا سيلف ىىم

Nikah merupakan “kontrak sosial” antara seorang
pria dan wanita untuk hidup bersama, yang dilandasi
dengan niat ibadah untuk membangun dan membina
rumah tangga. Nikah atau perkawinan merupakan
اظيلغ اق اثيم , yakni “perjanjian yang berat”; dalam
arti, perjanjian yang sungguh-sungguh, tidak main-
main, bahkan “sekali untuk selamanya”. Islam tidak
menganjurkan hidup membujang dan tidak pula
menganjurkan memilih pasangan hidup dari satu
jenis kelamin. Kalau pun sudah memilih lawan jenis,
Islam juga tidak menganjurkan berganti-ganti
pasangan sesuai keinginan dan selera hawa nafsu,
karena berganti-ganti pasangan penuh risiko sosial,
kesehatan, maupun ekonomi.
Setelah saudara berdua menandatangani kontrak
sosial/akta nikah (اظيلغ اقاثيم), etika atau tata
pergaulan antara suami istri otomatis berubah.
3
Suami atau istri tidak bebas lagi seperti sediakala
ketika masih bujangan. Kalau akan pergi
meninggalkan rumah, mesti izin atau memberitahu
terlebih dahulu: ke mana pergi, sampai kapan, jam
berapa pulang, dan begitu seterusnya. Meskipun
saudara berdua telah hidup berkeluarga secara
mandiri, terpisah dari kedua orang tua, namun
saudara berdua juga tetap dituntut untuk tetap
selalu berbakti dan menghormati orang tua masing-
masing. Janganlah karena perkawinan ini,
menjadikan alasan untuk tidak lagi berbakti kepada
orang tua, karena ajaran Islam yang lebih
berorientasi kepada extented family masih tetap
menekankan perlunya اسحا هي دلاىلابو هيدلاىل ارب ;او dan
begitu seterusnya.

Saudara Pengantin yang Berbahagia
Ada 2 ayat al-Qur‟an yang dapat direnungkan
ulang maknanya dalam kesempatan khutbah nikah
ini. Yaitu, Surah al-Nisa Ayat 1 dan Surah al-Rum
ayat 21. Jika diperhatikan secara cermat memang
sangat mengagumkan titah Ilahi dalam menciptakan
manusia di muka bumi. Bermilyar manusia telah lahir
kemudian meninggal dan masih akan lahir bermilyar
manusia yang lain. Kesemuanya bermula dari berkah
keputusan Allah Swt. yang menciptakan “ دحاو سفو ة “.
Dari ةدحاو سفو , baik laki-laki maupun perempuan,
kemudian dijadikan berpasang-pasangan atau dalam
4
ikatan perkawinan yang suci/sakral, yang kemudian
membentuk institusi keluarga. Dari institusi keluarga
tersebut muncullah generasi baru لاجر سوو اريثك ءا ا
yang berujung pada kehidupan manusia di muka bumi
dengan berbagai kompeksitasnya.
Dalam fase ةدحاو سفو, manusia diberi kesempatan
untuk meraih cita-cita luhur lewat proses
pendidikan. Pria secara otonom dan gigih meraih
cita-citanya dan begitu pula wanita. Terminal
terakhir atau sementara, seperti yang telah kedua
mempelai lakukan adalah menyelesaikan pendidikan
tinggi untuk bekal kehidupan berikutnya.
Selepas menempuh perjalanan “pribadi” secara
otonom yang cukup panjang, lewat sekolah dan
kuliah, belum lagi ditambah pengalaman-pengalaman
berorganisasi, mulai malam hari ini saudara berdua
akan segera memasuki fase kehidupan berkeluarga.
Sebuah fase baru dalam ritme kehidupan manusia
yang mempertemukan antara dua jenis individu yang
berbeda jenis kelamin, berbeda latar belakang
pendidikan, keluarga, mungkin juga kulturbudaya
dan adat-kebiasaan, berbeda cita-cita, dan
keinginan. Perbedaan dari segi tersebut hendak
dilebur menjadi satu dan membentuk institusi baru
yang disebut keluarga. Dari keluarga yang “sehat”
dan “sejahtera” akan muncul institusi yang lebih
besar, yaitu institusi “masyarakat” yang terdiri dari
“ اريثكلاجر ءاسوو ا “ (manusia laki-laki dan perempuan
5
yang banyak, bahkan bermilyar yang menghuni bumi
ini).
Proses dari ةدحاو سفو menjadi لاجر اريثك ءاسوو ا
dilukiskan dengan indah dalam al-Qur‟an Surah al-
Nisa ayat 1 :
ميج ّ رل ا ن اطي
ّ
شلا هم ل اب ذىعأ :
Og¬³Ò^4C +EEL¯-
W-O¬³4>- Nª7¯+4O
Og~-.- 7¯·³ÞU·· }g)`
¯·^¼^^ ±EE³gÞ4Ò 4-ÞUE=4Ò
Ogu+g` E_E_uÒEe O+44Ò
4©×gu+g` Lº~E}jO
-LOOg1E w7.=O)e4Ò _
W-O¬³E>-4Ò -.-
Og~-.- 4pO7¯47.=O·>
·gO) 4¯~4Þ¯O·-4Ò _
Ep)³ -.- 4p~E ¯ª7¯^OÞU4×
4:1g~4O ^¯÷
Saudara Pengantin yang Berbahagia
Ajaran Islam sangat menaruh perhatian pada
institusi keluarga. Sampai-sampai ada hadis yang
menyatakan :
لا َ فصو لمكتسا دقف ُ دبعلا
َ
جّ وزت اذإ د
ِ
فص
ّ
ىلا ىف
َ
ا ق
ّ
تيلف هي
)ثي دحلا( ىق ابلا
“Apabila seseorang sudah menikah maka berarti ia
telah menyempurnakan separo dari agama. Maka
hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam menjaga
separo agama yang masih sisa itu”.

6
Saudara Pengantin yang Berbahagia
Betapa pentingnya institusi keluarga dalam Islam,
sehingga muncul hadis-hadis pendukung, yang agak
bias gender, tetapi dapat diinterpretasikan ulang
sesuai dengan perkembangan zaman seperti :
ا ْ ىجّ وزت لو
ّ
ههي دري نأ
ّ
ههىسح ىسعف
ّ
ههىسحل ء اس
ّ
ىلا ا ْ ىج ّ وزتل
ىسعف
ّ
ههل اىمل هي
ّ
دلا ىلعاىجوزت هكلو
ّ
ههيغطي نأ
ّ
ههلاىمأ .
و ل ( لضفأ هي د ثاذ ء اد ْ ىس
ُ
ءامرخ
ٌ
تم ل ا دبع هع ًجام هبا ياور ا هب
رمع )
“Janganlah kamu mengawini wanita/pria karena
kecantikannya/kegantengannya. Mungkin sekali
kecantikannya atau kegantengannya itulah yang
menjerumuskan mereka. Janganlah kamu mengawini
wanita atau memilih pria pasangannya bagi wanita
karena semata-mata hartanya. Mungkin sekali
hartanya itulah yang menjadikan mereka jahat.
Tetapi kawinilah wanita atau pilihlah pria karena
agama mereka. Sesungguhnya seorang wanita atau
pria yang buruk roman mukanya lagi hitam kulitnya
tetapi dia berakhlak (beragama) mulia, maka itulah
justru yang lebih utama (Riwayat Ibn Majah).

Hukum keluarga begitu detail dan rinci diatur
dalam kehidupan Islam, karena Islam memang sangat
menaruh perhatian pada institusi keluarga, sejak dari
proses kelahiran, pendidikan, perkawinan, kematian,
dan warisan.
7
Kehidupan keluarga ingin mensinergikan dua
unsur yang berbeda. Al-Qur‟an mengingatkan adanya
dua proses yang perlu dilalui oleh yang lebih
memenuhi tuntutan legal formal calon pengantin:
pertama, adalah upacara “ دقع حاكىلا “ dengan
memenuhi syarat dan rukunnya, seperti yang saudara
berdua lakukan pada hari ini. Inilah proses semacam
kontrak sosial yang dilandasi dengan niat ibadah.
Sedang proses kedua adalah proses yang
membutuhkan waktu cukup lama, bahkan sepanjang
hidup manusia hidup berkeluarga. Proses kedua lebih
berdimensi psikologis dan spiritual. Seperti yang
disebut dalam Surah al-Rum ayat 21, kata kuncinya
ada tiga: yaitu Mawaddah, Rahmah, dan Sakinah.
Sepintas lalu tiga kata tersebut seperti mengandung
arti yang sama, tetapi jika didalami sesungguhnya
mengandung arti yang berbeda.

1. Mawaddah (to love each other)
Mawaddah artinya saling mencintai atau
menyayangi antara yang satu dengan lainnya.
Masa perkenalan pertama antara calon kedua
mempelai mungkin adalah masa-masa yang paling
indah. Dalam masa ini tidak jarang para remaja
terlena menjadi layu sebelum berkembang, karena
melampaui batas-batas kewajaran yang ditentukan
agama. Bagi calon pengantin yang berproses secara
wajar pun masih banyak ujian yang akan dihadapi,
8
sebelum hidup berkeluarga itu tumbuh dengan sehat.
Dalam masa “bulan madu” selama 3-6 bulan,
mungkin hal-hal yang buruk masih dapat diredam dan
ditutup-tutupi sedemikian rupa oleh kedua belah
pihak, bahkan juga oleh kedua mertua. Namun
setelah 6 bulan lewat, sifat-sifat asli mulai tampak:
keras, pelit, dermawan, judes, ringan tangan, sosial,
egois, disiplin, malas, rajin, pemarah, sebar, cuek,
dan begitu seterusnya.
Proses memupuk sifat mawaddah yang
sesungguhnya ada dalam fase ini. Jika perkawinan
tidak dilandasi sifat mawaddah, maka proses
pembinaan keluarga yang sehat, besar kemungkinan
tidak dapat dilanjutkan, di sini diperlukan
kemampuan pendekatan psikologis dan manajemen
konflik yng tinggi, seperti proses “adaptasi”,
“kompromi-kompromi”, dan belajar “menahan
diri”. Saling mengerti, saling memahami,
mengurangi egoisme kepriaan dan egoisme
kewanitaan secara terus menerus sehingga mencapai
derajat tawazun (delicate balance). Jika dipupuk
secara terus-menerus “Sifat Mawaddah” ini akan
semakin matang dan mencapai titik klimaksnya
ketika kedua mempelai dikaruniai keturunan atau
anak. Ketegangan akan semakin menjadi-jadi jika
manajemen konflik tidak dipupuk, dan akan semakin
menurun dengan sendirinya karena perhatian telah
9
terbagi dan beralih kepada si kecil, buah
perkawinan.

2. Rahmah
Rahmah adalah relive from suffering through
sympaty; to show human understanding for one
another; love & respect one-another.
Kehidupan keluarga terus berkembang sesuai
tantangan yang dihadapi oleh suami maupun istri dan
juga anak. Dalam waktu 10-15 tahun, kesibukan dan
mungkin karier istri atau suami telah berubah. Dan
status sosial pun otomatis berubah pula. Belum lagi,
jika ekonomi telah stabil dan mapan.
Bentuk dan pola ketegangan mulai antara suami-
istri pun ikut-ikut berubah sesuai dengan pola-pola
perubahan sosial dan ekonomi yang dilaluinya. Untuk
itu, al-Qur‟an mengingatkan perlunya dipupuk jiwa
dan sifat rahmah, yakni tidak lagi sebatas mencintai
dan menyayangi (mawaddah), tetapi lebih dari itu.
Perlu dipupuk rasa saling simpati dan
menghormati, mungkin juga saling mengagumi antara
kedua belah pihak. Ucapan “terima kasih”, PF, juga
permohonan maaf dari dan untuk kedua belah pihak,
rasa memilki dan bertanggung jawab yang
disampaikan secara simpatik perlu terus-menerus
dipupuk dan dibiasakan. Dengan begitu rasa
ketertinggalan yang sering dirasakan oleh salah satu
pasangan suami-istri yang secara ekonomi dan sosial
10
telah mapan dapat terobati. Dan rasa “keterasingan”
antara keduanya dapat dijembatani.

Saudara Pengantin yang Berbahagia
Rupanya al-Qur‟an belum dan merasa cukup
hanya memberi bekal suami-istri dengan dua untai
kata, yaitu “mawaddah” dan “rahmah”. Al-Qur‟an
masih perlu menambahnya dengan kata kunci ketiga
yang sangat penting yaitu “sakinah” (to be become
tranquil; peaceful; God-inspired peace of mind).
Percuma saja pemupukan sifat “mawaddah” dan
“rahmah” kalau tidak didukung oleh “kebutuhan”
dan “kesadaran” (consciouness) yang mendalam akan
perlunya kedamaian, ketentraman, keharmonisan,
kekompakan, kehangantan, keadilan, kejujuran,
keterbukaan, yang diinspirasikan dan berlandaskan
pada spiritualitas ketuhanan. Ujung-ujungnya
spiritualitas ketuhanan yang maha lembut, yang
maha pengasih dan maha penyayang perlu dijadikan
sumber ilham dan inspirasi yang agung untuk
menempuh hidup baru sesuai yang dicita-citakan
oleh mempelai berdua.
Keterpaduan antara ketiga sifat esensial dalam
kehidupan berkeluarga, yaitu mawaddah, rahmah,
dan sakinah merupakan salah satu kunci
keberhasilan membina kehidupan keluarga. Semoga
saudara mempelai berdua khususnya dan kita semua
11
dapat mengambil hikmah dari khutbah nikah yang
singkat ini. Amin ya Rabbal ‘alamin..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->