A.

Model belajar-mengajar mipa Model pembelajaran: pola aktivitas siswa yang direncanakan atau dibuat skenarionya oleh guru selama kegiatan pembelajaran, sehingga pembelajaran menjadi aktif, dengan cara inovatif, mengembangkan kreativitas, efektif dalam pencapaian sk-kd, dalam situasi nyaman dan menyenangkan. Model belajar-mengajar adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar-mengajar. Mengajar adalah membantu para pelajar memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berpikir, dan sarana untuk mengekspresikan dirinya dan cara-cara belajar bagaimana belajar (joyce dan weil, 1986). Unsur-unsur suatu model belajar-mengajar : 1. Sintaks 2. Sistem sosial 3. Prinsip reaksi 4. Sistem pendukung 5. Dampak instruksional dan pengiring a. Sintaks : Sintaks ialah tahap-tahap kegiatan dari model. Prinsip reaksi ialah pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya guru melihat dan memperlakukan para pelajar. Sistem pendukung ialah segala sarana, bahan dan alat yang diperlukan untuk melaksanakan model tersebut. Dampak instruksional ialah hasil belajar yang dicapai langsung dengan cara mengarahkan para pelajar pada tujuan yang diharapkan. Dampak pengiring ialah hasil belajar lainnya yang dihasilkan oleh suatu proses belajar-mengajar sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami langsung oleh para pelajar tanpa pengarahan langsung dari guru. Macam-macam model belajar-mengajar mipa 1. 2. 3. 4. Model pencapaian konsep Model sinektik Model investigasi kelompok Model pertemuan kelas

Model pencapaian konsep - Sintaks - Sistem sosial - Prinsip reaksi - Sistem pendukung - Dampak instruksional dan pengiring

Sintaks model pencapaian konsep Fase pertama: penyajian data dan identifikasi konsep

Fase ketiga: menganalisis strategi berpikir Siswa mengungkapkan pemikirannya. 2. Konsep-konsep yang spesifik 4. Penalaran induktif 5. Berikan bantuan kepada para pelajar dalam mempertimbangkan hipotesis yang satu dari yang lainnya. 7. 1.  Prinsip-prinsip pengelolaan/reaksi Berikan dukungan dengan menitikberatkan pada sifat hipotesis dari diskusi-diskusi yang berlangsung. Siswa mendiskusikan hipotesis dan ciri-ciri konsep. Guru menegaskan hipotesis. Kepekaan terhadap penalaran logis dalam komunikasi . Fase kedua: mengetes pencapaian konsep Siswa mengidentifikasi tambahan contoh yang tidak diberi label dengan menyatakan ya atau bukan. Siswa membuat dan mengetes hipotesis. nama konsep.3 3. tetepi dapat dikembangkan menjadi kegiatan dialog bebas. Berikan bantuan kepada para pelajar dalam mendiskusikan dan menilai strategi berpikir yang mereka pakai. Pusatkan perhatian para pelajar terhadap contoh-contoh yang spesifik. Siswa membuat definisi tentang konsep atas dasar ciri-ciri utama/esensial. Siswa membandingkan ciri-ciri dalam contoh positif dan contoh negatif. Kesadaran akan pilihan pandangan 6. Siswa mendiskusikan tipe dan jumlah hipotesis.- Fase kedua: mengetes pencapaian konsep. dan menyatakan kembali definisi konsep sesuai dengan ciri-ciri yang esensial. Fase ketiga: menganalisis strategi berpikir.  Sistem sosial Guru mengendalikan terhadap aktivitas. Toleransi terhadap ketidaktentuan logika. Interaksi antar pelajar digalakkan oleh guru. Hakikat konsep 2. Strategi pembentukan konsep 3. Dampak instruksional (1-4) dan pengiring (5-7) 1.  Sistem pendukung Bahan-bahan dan data yang terpilih dan terorganisasikan dalam bentuk unit-unit yang berfungsi memberikan contoh-contoh. Fase pertama: penyajian data dan identifikasi konsep Guru menyajikan contoh yang sudah diberi label.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful