P. 1
Fantom Obstetri Acer Dan Cover

Fantom Obstetri Acer Dan Cover

|Views: 57|Likes:
Published by Rizki Yuniar W
Fantom Obstetri Acer Dan Cover
Fantom Obstetri Acer Dan Cover

More info:

Published by: Rizki Yuniar W on Apr 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/13/2013

pdf

text

original

FANTOM OBSTETRI
Fantom Obstetri:Simulasi mengelola kasus obstetri seperti menghadapi pasien yang sebenarnya.  Setiap kasus persalinan yang datang dengan keluhan utama harusdilengkapi data subyektif & obyektif yang diperlukan untuk membuat suatu analisa /diagnosis kerja /kesimpulan sementara sebagai dasar perencanaan tindakan. Data subyektif dan obyektif didapat penolong secara aktif dari penguji yang bertindak seolah-olah sebagai pasien yang pasif.

PEDOMAN DALAM FANTOM OBSTETRI
       Bahasa Indonesia yg baik, benar & lengkap Kataasing di Indonesia-kan Pengucapan lengkap jangan disingkat : VT, KK, KPD Memakai rekam medis Subyektif Obyektif Analisa Perencanaan (SOAP) Kiriman dukun: sdh diapakan? Kiriman bidan: Surat? Diagnosis? Sudah diapakan? Sudah diberikan obat apa? Bersikap tut wuri handayani: pada umumnya kehamilan dan persalinan akan berjalan dengan baik, hindari sikap berlebihan yang akan merugikan ibu& bayi, sikap menunggu/mewaspadai dan waspada terhadap petunjuk/indikasi akan terjadi bahaya harus bertindak cepat & tepat, jangan sampai terlambat . Simulasi / fantom obstetri perlu persiapan: o Penguasaan ilmu kebidanan fisiologismaupun patologis o Penguasaan rekam medis (SOAP)dan informed consent o Pengenalan alat pemeriksaan &tindakan obstetri o Ketrampilan pemeriksaan diagnostik &tindakan obstetri o Kecepatan & ketepatan berpikir utk melakukan analisa permasalahan & menentukan tindakanyg tepat sesuai: indikasi, indikasi kontra, syarat& prosedur o Untuk berbuat sesedikit mungkin perlu pengetahuan yang sebanyak mungkin.

CARA PENGUMPULAN DATA UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN KLINIK :
  Data utama : keluhan utama & riwayat persalinan ini Data subyektif : yang diperoleh dari anamnesis tentang apa yang dirasakan, yang sedang dan telah dialami ibu dan informasi tambahan yang diceritakan oleh keluarganya tentang ibu jika ibu kesakitan atau tidak sadar Data obyektif : yang diperoleh dari pemeriksaan fisik melalui serangkaian upaya sistematik dan terfokus pada ibu atau bayi barulahir Analisa untuk menetapkan kesimpulan klinik / diagnosis kerja / keputusan klinik yang tepat 

 

Menilai adanya kebutuhan dan kesiapan menghadapi masalah segera :  Mampu mendeteksi situasi yang mengancam keselamatan jiwa ibu dan bayinya  Mengenal klinik terdekat dan konsultasi pada tasan dan rumah sakit tentang masalah yang dihadapi

Perencanaan asuhan & intervensi
   Dari kajian data yang diperoleh Sesuai sumberdaya & kemampuan yang dimiliki Dijelaskan dengan baik kepada ibu & keluarganya

Contoh rencana asuhan kala I : Tunggu & pengawasan
   DJJ, frekuensi & lamanya his, nadi, setiap ½ jam Pembukaan serviks, penurunan bagian bawah, tekanan darah, suhu, produksi urin setiap 4 jam Lama menunggu sesuai kurva Friedman atau sesuai partograf untuk mencapai pembukaan lengkap Sesuai kurva Friedman : Primipara : T = (9-n) x ½ + 1 jam Multipara : T = (9-n) x ¼ + ½ jam T = waktu tunggu n= pembukaan (cm) dimana n > 3 (sdh masuk fase aktif) Lama kala I rata-rata: Primipara 13,5 jam yaitu 8,6 jam fase laten + 4,9 jam fase aktif Multipara 7,5 jam yaitu 5,2 jam fase laten + 3,2 jam fase aktif

Penguasaan asuhan persalinan dan tindakan fantom untuk mahasiswa kebidanan adalah pada instalasi pelayanan kebidanan tingkat pertama (persalinan oleh bidan dan atau dokter umum, baik di bidan praktek swasta (BPS), rumah bersalin, puskesmas, maupun rumah sakit tipe D. Bila didapatkan kelainan / penyakit yang bisa menimbulkan komplikasi harus dirujuk ke instalasi kebidanan tingkat kedua yang minimal mempunyai fasilitas PONED atau langsung dirujuk ke instalasi pelayanan kebidanan di rumah sakit yang mempunyai fasilitas PONEK.

REKAM MEDIS METODE SOAP:
     Pemeriksaan awal cepat: untuk mengetahui ada kegawatdaruratan Pemeriksaan lengkap: metode SOAP

PERNYATAAN &PERTANYAAN FANTOM OBSTETRI
PERNYATAAN: Gravida 1 Para 0 Abortus 0 39 minggu hamil, keluar air dari jalan lahir.  Pemeriksaan awal & cepat tanda kegawatdaruratan: o AAirway: jalan nafas terganggu? Nadi? o BBreathing: sesak nafas? Frekuensi nafas? o CCirculation: perdarahan? Syok? Anemia gravis? Tensi, Suhu, o DDisfungsi: kejang, kesadaran menurun, kesakitan hebat,  Kegawatdaruratan yang ditemukan: . . . . . . . . . . . .  Tindakan segera untuk kegawatdarutan: . . . . . . . .

Subyektif:
Keluhan utama : yg menyebabkan pasien minta pertolongan Riwayat perjalanan penyakit sekarang: sesuai tahapan kehamilan /persalinan yang mengarahkan pada persalinan fisiologis / patologis Anamnesis untuk melengkapi data subyektif pendukung; riwayat haid, perkawinan, reproduksi, obstetri, KB, operasi & penyakit lama, penyakit keluarga, gizi, sosek, keluhan sistema Allo anamnesis: anamnesis pengganti bila pasien tidak dapat ditanya secara baik. Pemeriksaan fisik /Status Praesens Tgl…….Jam ….: Status generalis / interna:keadaan umum, tanda vital/ jantung paru, ekstremitas.. Status obstetrikus : abdomen, alat genitalia, secara inspeksi, palpasi Leopold I-IV, His, Perkusi, Auskultasi (DJJ), Inspekulo vagina, pemeriksaan dalam vagina (jalan lahir lunak, keras, Skor Bishop), pemeriksaan colok rektal b/p. Pemeriksaan penunjang: o Laboratorium : darah, urine o USG dengan indikasi /rutin, BNO / X-foto (>34 minggu), KTG dengan indikasi

   

DILANJUTKAN PERTANYAAN & PEMERIKSAAN LENGKAP:
Pertanyaan subyektif:  Datang sendiri atau kiriman/diantar bidan?  Dikirim karena: ... ? Sudah dilakukan apa?  Penyebab / keluhan utama kedatangan: kenceng-kenceng sering, keluar lendir darah, keluar air, perdarahan, pusing, kejang, tidak merasa gerak anak, kehamilan sudah lewat waktu belum melahirkan.  Sudah merasa kenceng sering, teratur disertai rasa sakit yang dijalarkan dari pinggang ke perut bawah? Sejak kapan?  Sudah keluar darah lendir melalui jalan lahir: sejak kapan?  Masih merasa gerak anak?  Apa sudah ingin mengejan: sejak kapan? Pertanyaan tentang:  Pemeriksaan Ante Natal (ANC): Periksa terakhir, keluhan /kelainan,pesan  Riiwayat haid: HPHT  Riwayat perkawinan?  Riwayat obstetri: Persalinan berapa kali? Kelainan2 persalinan?  Riwayat penyakit /trauma /operasi? trauma panggul,operasi uterus?  Riwayat penyakit keluarga: Epilepsi, lahir cacat, asma, kembar, Diabetes Mellitus?  Keluhan Lokal/sistemik: kepala pusing/kepala sakit?pandangankabur/kunang-kunang?  Mimisan, pendengaran gemrebeg, tenggorokan sakit menelan, leher kaku, sesak berdebar, batuk lama, mual, muntah, nyeri ulu hati,kencing lancar,kejang, pegal, gelisah,kesadaran menurun, bengkak kaki,

Obyektif:

RESUME
Ringkasan apa yg didapat pada subyektif, obyektif, yang dianggap penting untuk menegakkan analisa/ diagnosis kerja / kesimpulan sementara.

Analisa / diagnosis kerja:
 Wanita, umur ..tahun. Gravida ..Para ..Abortus .. Umur kehamilan ..minggu. Hamil tunggal / ganda, intra /ekstra uterine, hidup / mati. Letak kepala / sungsang / lintang. Bagian bawah: kepala / bokong/ … , punggung kanan/kiri. Inpartu kala I ..jam Inpartu Kala II ..jam.. menit Penyulit : . . . . . . Penyulit lain: . . . . . . . .

  

Risiko yang mungkin terjadi : . . . . . . . . . Prognosis : . . . . . . . . . . Perencanaan Terapi:
  Perencanaan terapi medikamentosa Perencanaan tindakan obstetrik: pervaginam / perabdominal

Pemeriksaan Obyektif
Status internus:  Keadaan umum: kesadaran, status gizi, pucat, kesakitan, gelisah, kejang?  Tanda vital: nadi, pernafasan, suhu, TB, BB?  Kepala:  Leher  Thoraks  Abdomen:  Ekstremitas: edema, varises, refleks patella? Status obstetrikus:  Abdomen:  Inspeksi: buncit, mengkilat?  Palpasi: Leopold I-IV, his, bagian anak teraba waktu kontraksi?  Auskultasi: DJJ: frekwensi, punktum maksimumberapa, dimana?  Genitalia: edema, varises,  UPL / UPD, Osborn, taksiran berat janin  Pemeriksaan penunjang: Laboratorium: darah, urine, Test air ketuban RESUME: ANALISA / KESIMPULAN SEMENTARA/ DIAGNOSIS KERJA:  Wanita, umur ..tahun. Gravida ..Para ..Abortus .. Umur kehamilan ..minggu. Hamil tunggal / ganda, intra /ekstra uterine, hidup / mati. letak kepala / sungsang / lintang. Bagian bawah: kepala / bokong/punggung kanan/kiri.  Inpartu kala I ..jam,  Inpartu Kala II ..jam .. menit  Penyulit : . . . . . .  Penyulit lain: . . . . . . . . RISIKO YANG MUNGKIN TERJADI: PROGNOSIS: RENCANA PENGELOLAAN:  Terapi medikamentosa  Tindakan obstetri

SIKAP DALAM FANTOM OBSTETRI:
SIKAP UTAMADALAM FANTOM:
Hanya ada 4 sikap:  Pemeriksaan dalam vagina: atas indikasi . . .?  Tunggu & pengawasan: berapa lama?  Pimpin mengejan: berapa lama?  Ambil tindakan atau akhiri persalinan: atas indikasi ? Caranya?

SIKAP ANTARA DALAM FANTOM :
Pelengkap sebelum sikap utama dilaksanakan, agar diagnosis lebih jelas, dan penentuan tindakan/sikap utama menjadi lebih pasti:  Perbaikan his, pasang infuse, kosongkan kandung kemih  Pecah Kulit Ketuban  Reposisi tali pusat  Pemeriksaan penunjang (USG,BNO, KTG/Laborat)  Terapi medikamentosa.

SIKAP UTAMA DALAM FANTOM OBSTETRI
PEMERIKSAAN DALAM VAGINA (PDV = Vaginal toucher)
Pemeriksaan dalam vagina (PDV): pemeriksaan raba dengan memasukkan jari (telunjuk & jari tengah) ke dalam vagina guna mengetahui keadaan alat genital eksterna & interna. Indikasi: a. Dalam kehamilan: Umum: dengan pemeriksaan luar tidak didapatkan hasil yang jelas. Khusus:  Primi 36 mg, kepala belum masuk PAP  Riwayat obstetri jelek: curiga panggul sempit, lahir mati, riwayat seksio sesar  Letak janin tidak jelas  Kelainan letak: mengetahuipenyebab b. Dalam persalinan: Umum:  Pemeriksaan luar tidak jelas  Data dasar bagi pemantauan partograf Khusus:  Kelainan letak : mengetahui penyebab  KK pecah kepala masih tinggi: penumbungan?  Akan mengambil tindakan  Partus tak berjalan sebagaimana diharapkan  Kemajuan persalinan dibandingkan partograf telah berada di luar batas normal.

Syarat pemeriksaan dalam vagina:  Vulva dan introitus vagina tak ada infeksi  Tehnik aseptik dan antiseptik: desinfeksi dengan kapas sublimat / desinfektan lain dan pemeriksa memakai sarung tangan steril. Indikasi kontra:  Curiga plasenta previa Komplikasi:  Infeksi  Trauma  Perasaan nyeri, tidak nyaman oleh parturien

Prosedur pemeriksaan dalam vagina (PDV):
     Penderita litotomi Kandung kemih dan rektum kosongkan Vulva toilet Pakai masker, topi, celemek, jas steril Cuci tangan dengan metode 7 langkah atau metode Furbringer,dengan air mengalir:  10 menit air sabun  3 menit alkohol 70%  2 menit sublimat Pakai sarung tangan steril kanan Dengan tangan kanan kita ambil 3 kapas sublimat 1%? 2 kapas dijatuhkan pada tangan kiri untuk labium minus 1 kapas dipegang tangan kanan untuk membersihkan vulva dari atas ke bawah 1 kali, lalu buang Vulva: tumor, varises, edema? Jari tengah tangan kanan masukkan ke dalam introitus vagina, ditekankan pada komisura posterior Jari telunjuk pelan-pelan diluruskan bersama dengan jari tengah masuk vagina Tangan kiri diletakkan di atas perut pada fundus uteri Yang diperiksa pada PDV:  Vagina: supel, striktura, tumor?  Jaringan otot antara vagina & jaringan sekitar  Kandung kencing , rektum, uretra: batu?  Servik: tebal, pembukaan, konsistensi?  Kulit ketuban: pecah / belum? Menonjol?  Presentasi:  Penurunan anak? Hodge?  UPD:  Promontorium: CD, CV = CD – 1,5 cm  Linea terminalis, inominata, dinding samping, spina iskiadika, lengkung sakrum, mobilitas tulang koksigeus, arkus pubis

PENILAIAN PEMERIKSAAN DALAM VAGINA UMUM:
         Vulva dan uretra Vagina: supel, striktura, tumor, dll Otot antara vagina dan sekitarnya (vesika urinaria dan rektum) Serviks uteri: konsistensi, posisi, penipisan, pembukaan, Kulit ketuban: raba kulit ketuban utuh, pecah,(positif /negatif) , menonjol/tidak Presentasi janin dan penurunannya (bidang Hodge atau stasiun) Titik petunjuk (point of direction) Vesika urinaria danrektum: kosong /terisi, massa tumor, dll Ukuran panggul dalam: AP, PTP, PBP

        

UKURAN PANGGUL DALAM:
  Padaprimipara & belum pernah melahirkan bayi normal, Dinilai ukuran dan bentuknya,

Pintu atas panggul (PAP):  Promontorium tidak teraba  Linea inominata teraba kurang dari setengah lingkaran Pintu tengah panggul (PTP):  Spina isiadika tidak menonjol  Kelengkungansakrum cukup  Dinding samping pelvis sejajar Pintu bawah panggul (PBP):  Arkus pubis lebih dari 90  Mobilitas tulang koksigeus cukup Penurunan janin: turunnya bagian bawah janin ditentukan dengan Bidang Hodge I – IV Stasion pelvis: stasion 0 yaitu bidang setinggi spina Iskiadika, stasion -5 s.d +3

PDV  cara pengakhiran Tes air ketuban dengan kertas lakmus: air ketuban bersifat basa merah jadi biru Pemakaian partograf: - PIMPIN MENGEJAN        Harus diikuti penentuan waktu lama pimpin mengejan. perhatikan denyut jantung janin.Jumlah urin . disproporsi feto pelvik. Nadi 4. Tehnik pimpinan mengejan: lithotomi.Air ketuban: jernih .Kontraksi uterus /HIS . Setiap selesai satu tahapan sikap pengamatan harus ditanyakan hasil pengawasan 10 seperti pada waktu operan jaga. Indikasi Pinard Indikasi obstetri: deep tranversa arrest. vulva anus membuka dan perineum menonjol saat ada His)  lakukan pemeriksaan dalam vagina: lengkap 10 cm:pimpin mengejan Bila terdapat penurunan kualitas dan kuantitas kontraksi uterus / his maka tergantung hasil PDV. makrosomia pada ibu DM Indikasi waktu: partus lama.Pemeriksaan dalam vagina . partus lama.Tulang kepala: molase. indikasi ibu/anak/ waktu Selama pimpin mengejan pengamatan 9 Pimpin mengejan pada waktu ada his. Pengeluaran pervaginam 9. Kontraksi Uterus / HIS 7. Bila ada tanda gawat janin: akhiri pervaginam (ekstraksi forsep/vakum) / perabdominal Bila terdapat tanda Inpartu kala II: ibu ingin mengejan. IUGR. Keadaan umum 2. eklamsia/PEB hamil 37 mg. perdarahan ante partum. tali pusat pendek. waktu&obstetri:     Indikasi ibu:ruptura uteri imminens.   Terdapat Band’l ring maka terdapat ancaman robekan rahim (ruptura uteri iminens) . penumbungan / presentasi ganda.  Air ketuban keruh. Suhu 5. persalinan harus diakhiri. Denyut Jantung janin 8. multipara dibatasi 1 jam. riwayat infertilitas. Tekanan darah 3. partus tak maju. Tanda-tanda inpartu Kala II Evaluasi setiap 4 jam bila pembukaan < 6 cm. keruh. tentukan sumber perdarahan inspekulo :plasenta previa marginalis/parsialis. Ibu kelelahan. . posisi oksipitalis anterior direkta.bila pembukaan > 6cm harus dilakukan perbaikan His dengan cara pecah kulit ketuban . disproporsi kepala panggul.Penurunan kepala . . lutut ditarik ke atas lateral semaksimal mungkin.i. solusi plasenta hamil cukup bulan. Bila ada penyimpangan dari 10 pengamatan yang memberikan indikasi untuk tindakan pengakhiran persalinan. Posisi UUK: tranverse position. gawat janin karena lilitan tali pusat erat.TUNGGU & PENGAWASAN   Harus diikuti dengan batasan waktu yang ditentukan.  Air ketuban bau busuk / pus: infeksi intra uterin  akhiri persalinan. Terdapat pengeluaran pervaginam:  Air ketuban: PDV untuk menilai kemajuan persalinan. dekompensasi kordis III-IV. bila > 6 cm tergantung pembukaan. primipara dibatasi maksimal 2½ jam atau selama masih ada kemajuan persalinan Jika tak maju tindakan a. Indikasi janin: gawat janin.Denyut jantung janin . Tanda cincin retraksi pathologis (Bandl’s Ring ) 10. maka dilakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan persalinan bisa pervaginam atau harus perabdominal. partus tak maju. penyakit paru kronik/berat.  Pengeluaran darah: jumlah&warna darah. kehijauan atau mekonium: tanda gawat janin intra uterin. Bila his tidak membaik maka dilakukan drip oksitosin 5U/500 cc D5% dengan tetesan mulai 8 tetes /menit naik secara bertahap setiap 15 menit sampai his adekuat maksimal 20 tetes. perlu pengamatan DJJ. posisi oksipitoposterior melintang’.Tekanan darah . sesuai Partograf/ kurva Friedman Pemantauan 10 tanda obyektif: 1. indikasi Pinard (bagian kepala di dasar panggul selama 2 jam) Bila waktu pimpinan mengejan terlampaui: partus macet     AKHIRI PERSALINAN: Indikasi ibu. anak.   . vasa previa  Bagian kecil janin atau tali pusat. partus macet.Kulit Ketuban: utuh/pecah . deep tranverse arrest. plasenta previadengan perdarahan banyak. Pernafasan 6. atau air ketuban habis.

indikasi. 14.  Macam persalinan pada presentasi kepala anak mati: spontan. bahaya d. 4. 2. prosedur b. prosedur. syarat. sutura sagitalis melintang di atas / sebelum H III. periksa apakah ada mekonium atau darah (lebih banyak dari bercak bercampur darah yang normal). Pegang ujung klem di antara ujung jari pemeriksaan. seksio sesarea. Dengan menggunakan tangan yang lain. Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam larutan klorin 0. versi ekstraksi. ekstraksi forsep. lakukan pemeriksaan dalam dengan hati-hati.5 %. 13. 12. Prosedur amniotomi: 1. jangan pecahkan selaput ketuban. Jika mekonium atau darah terlihat. ekstraksi vakum/forsep bila baru saja mati. Biarkan jari tangan pemeriksaan tetap di dalam vagina untuk mengetahui penurunan kepala janin dan memastikan bahwa tali pusat atau bagian kecil dari bayi tidak teraba. Raba dengan hatihati selaput ketuban untuk memastikan bahwa kepala telah masuk dengan baik (masuk ke dalam panggul) dan bahwa talipusat dan / atau bagian-bagian tubuh yang kecil dari bayi (misalkan tangan) tidak bisa dipalpasi. dengan lembut ke dalam vagina dan pandu klem dengan jari dari tangan yang digunakan untuk pemeriksaan hingga mencapai selaput ketuban. Catatan : Pemeriksaan dalam yang dilakukan di antara kontraksi seringkali lebih nyaman untuk ibu. hasilnya:  Jika air ketuban baik.  Tranversa arrest: pembukaanlengkap.Perbaikan his dengan drip oksitosin. Tapi jika selaput ketuban tidak dapat diraba diantara kontraksi. Pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril Di antara kontraksi. 5. ekstraksi vakum. Gunakan tangan yang lain untuk mengambil klem dan menempatkannya ke dalam larutan klorin 0. Peringan kala II: Indikasi. Cuci kedua tangan Segera periksa ulang DJJ Catat pada patograf waktu dilakukannya pemecahan selaput ketuban. .  Macam persalinan pada presentasikepala anak hidup: spontan. 9.  Partus tak maju: tak ada kemajuan persalinan sebelum pembukaan lengkap (kala I)  Partus macet : tak ada kemajuan persalinan setelah pembukaan lengkap Intervensi pada partus tak berjalan seperti yang diharapkan: . akhiri persalinan . tempatkan klem setengah Kocher atau setengah Kelly disinfeksi tingkat tinggi atau steril. 11. SIKAP ANTARA DALAM FANTOM OBSTETRI a.  Putaran paksi dalam  Indikasi Pinard: mengakhiri persalinan pada pembukaan lengkap kepala masih di dasar panggul (> H III) 2 jam tak lahir. Perbaikan his 10. tunggu sampai kekuatan kontraksi berikutnya mendorong cairan ketuban menekan selaput ketuban dan membuatnya lebih mudah untuk dipalpasi dan dipecahkan. lihat tabel untuk langkah-langkah gawat darurat. AMNIOTOMI Indikasi :  Induksi partus ( menimbulkan HIS )  Memperbaiki his ( pada pembukaan > 6 cm )  Masuk kala II ( akan dipimpin mengejan )  Akan melakukan ekstraksi forsep & ekstraksi vakum. hal ini juga akan mencegah air ketuban menyemprot pada saat selaput ketuban dipecahkan Biarkan air ketuban membasahi jari tangan yang digunakan untuk pemeriksaan.Cara pengakhiran: yang dinilai untuk menentukan tindakan:  Persalinan pervaginam atau perabdominal: pembukaan.5 % untuk didekontaminasi. Amniotomi: pecah kulit ketuban: indikasi.5 % selama 10 menit. sutura sagitalis melintang telah melewati H III sudah dipimpin mengejan 1 jam. dan lain – lain. Versi luar: macam. keluarkan tangan pemeriksa secara lembut dari dalam vagina Evaluasi warna cairan ketuban. 7. 8. jika tali pusat atau bagian-bagian yang kecil dari bayi bisa dipalpasi. Catatan : Seringkali lebih mudah untuk memecahkan selaput ketuban di antara kontraksi ketika selaput ketuban tidak tegang. Setelah memastikan penurunan kepala dan tidak ada tali pusat dan bagian-bagian tubuh bayi yang kecil.. Tujuannya keselamatan ibu & anak. warna air ketuban dan DJJ. tunggu . lalu lepaskan sarung tangan dan biarkan terendam di larutan klorin 0. macam tindakan e. embriotomi.Pecah kulit ketuban .  Deep tranversa arrest: pembukaan lengkap. jam  Jika darah: mungkin vasa previa. 3.Kosongkan kandung kemih /rektum. telah dipimpin mengejan 1 jam. seksio sesarea. akhiri persalinan  Jika mekoneum: DJJ melambat/cepat: gawat janin. normal: lanjutkan. gerakkan jari dan tangan lembut gosokkan klem pada selaput ketuban dan pecahkan. penurunan bagian bawah anak  Dalam menentukan tindakan harus dipilih dulu yang teringan sampai terberat. Membahas bersama ibu dan keluarganya dan jawab pertanyaan apapun yang mereka ajukan Dengarkan denyut jantung janin (DJJ) dan catat pada partograf Cuci kedua tangan Pecah kulit ketuban pada pembukaan hampir lengkap / lebih 8 cm: sudah tak berfungsi lagi untuk pembukaan. Perbaikan his c. 6. indikasi kontra.

Pembagian his menurut faal:    His    His pembukaan: membuka serviks uteri His pengeluaran: mendorong anak disertai ibu ingin mengjan His pelepasan uri: melepaskan dan mengeluarkan plasenta normal mempunyai 3 gradasi yang meningkat: Dominansi fudus: mulai dari fundus menyebar ke bawah. kekuatannya makin lama makin kuat dan biasanya ibu akan merasakan makin lama makin sakit dan pembukaan serviks bertambah.Keadaan trauma kapitis / observasi komosio serebri . tak teratur. makin lama makin sering. Frekuensi dan lamanya :  Kala I awal (fase laten): sejak kontraksi 2 kali dalam 10 menit. kontraksi bersama  Relaksasi:  Perhatikan adanya Cincin Band’l sebagai tanda ruptura uteri imminens:  Penderita kesakitan.Ekstraksi vakum . ke bawah makin pendek. ekstraksi total (bokong & kaki) Profilaksis Pinnard Penjahitan ruptura jalan lahir: perineum. ekstraksi forsep Embriotomi: kraniotomi.Dekompensasi kordis gr I – II .Preeklamsi berat .Asma bronkhiale . Kekuatan kontraksi fundus: makin ke bawah makin kurang Waktu berlangsung his di fundus paling lama.Ekstraksi forsep . Kontraksi Braxton Hicks: kontraksi uterus yang terjadi sejak hamil 12 minggu. Pada waktu inpartu his kuat 2-3 menit lama 40 detik. RENCANA PERINGAN KALA II Indikasi: keadaan yangdapat membahayakan ibu bila mengejan terlalu kuat: . histerotomi  Tindakan pada distosia bahu . eksterna dan aorta Pungsi hidrosefalus Pungsi Douglas Kuretase sisa plasenta Pengeluaran plasenta manual Seksio Sesarea.Febris yang tinggi Macam tindakan: . versi ekstraksi Ekstraksi vakum.TB paru lama . rata – rata 6 – 7  (25 – 30)  Kala I akhir / kala II: 2 .  Sifat tak teratur  Tak punya pengaruh pada serviks His yang adekuat: a. tak sakit.3 (40 –60) c.Bekas seksio sesarea . His palsu / his pendahuluan:  Pada akhir kehamilan sebelum persalinan dimulai  Peningkatan daripada Braxton Hicks yang dimulai minggu 12 kehamilan. Relaksasi cukup Pada prinsipnya his yang baik ialah his yang frekuensinya makin lama makin sering. spondilotomi Kompresi bimanual: interna. portio Versi luar. Kekuatan kontraksi : sedemikian hingga bagian janin tak teraba waktu his b.PERBAIKAN HIS His : kontraksi otot rahim pada persalinan. vagina. simetri. parsial ekstraksi. sesarean histerektomi. dekapitasi. eviserasi/eksenterasi. durasinya makin lama makin panjang. akhir kala I tiap 3 menit  Lama his  Kekuatan his:  Kesempurnaan his:dominasi fundus. kleidotomi. permulaan persalinan tiap ¼ jam. sakit di bawah cekungan  Cekungan antara pusat dan simfisis lebih mendekati pusat  Kandung kemih kosongkan  Nadi cepat dan kecil PROSEDUR PADA FANTOM OBSTETRIK PROSEDUR DIAGNOSTIK:(lihat praktek ANC)                       Pemeriksaan Leopold Pemeriksaan his Pengukuran taksiran berat janin Pemeriksaan janin intra /ekstra uteri Pengukuran denyut jantung janin Test Osborn& Monro Kerr Pemeriksaan dalam vagina PROSEDUR OBSTETRI Amniotomi Episiotomi Induksi persalinan & akselerasi persalinan Persalinan sungsang: Bracht. sinkron kanan-kiri.Versi ekstraksi pada gemeli anak kedua. Penilainan his:  Interval.

maka induksi diulang 24 jam kemudian. atau diisi 10 U oksitosin dengan jumlah tetesan setengah tetesansemula dan dinaikkan 4 tetes tiap 15 menit sampai maksimal 20 tetes / menit. Bila sampai botol ke – 2 habis tidak terjadi pembukaan servik. dinaikkan 4 tetes tiap 15 menit sampai maksimal 20 tetes / menit  Bila botol I habis belum inpartu. kemudian diulangi lagi SKOR BISHOPPELVIK : SKOR .Bekas SC .Penipisan .Posisi 0 0 0 – 30 % kaku/keras posterior 1 1 – 2 cm 40 – 50 % medium medial 2 3 3 – 4 cm 60 – 70 % lunak anterior 5 – 6 cm 80 % .Kepala telah masuk PAP (H III) Bila servik belum cukup matang (skor Bishops <5 ) maka dapat diusahakanmeningkatkan kematangan dengan priming secara: . Pelepasan kulit ketuban Melepas KK dari serviks pada kehamilan aterm dapat merangsang timbulnya HIS. Indikasi anak : .Dilatasi .Kelainan letak: lintang.Tumor yang menghalangi jalan lahir . .Grande Multi . b.INDUKSI PERSALINAN Induksi persalinan: usaha untuk menimbulkan proses persalinan.Serotinus Indikasi kontra : a. dan infus oksitosin tersebut diatas dianggap sebagai priming. b.Intra uterine fetal death (IUFD) . sungsang letak kaki .Digital:Tiap hari dimasuki 1 jari.Presentasi belakang kepala .Preeklamsi / eklamsia .  Bila botol ke II gagal.Kelainan presentasi : muka. Amniotomi: pemecahan kulit ketuban Pemecahan kulit ketuban pada kehamilan aterm / hampir aterm akan merangsang timbulnya his dengan syarat servik telah matang. 3.Bekas myomektomi . Drip oksitosin:  5 U oksitosin dalam 500 cc D 5 % mulai 8 tetes / menit. Mutlak : . Relatif: .Gemelli anak I dengan kelainan letak.Skor Bishop pelvik 5 (servic cukup matang) . penderita diistirahatkan 24 jam.Disproporsi Kepala Panggul (CPD) .Konsistensi . 2.Fetus yang terlalu besar . Prosedur induksi : 1. .Perdarahan antepartum .Hidramnion akut. sehingga lama – lama menjadi lembut .Kehamilan hampir / telah aterm .Obat:Misoprostol 25 mcg pervaginam dapat diulang 4 kali dengan jarak 6 jam .Dekompensasi Kordis NYHA grade I / II Induksi akan memiliki kemungkinan berhasilpada : .Bekas SC dengan persangkaan CPD. Cara ini kemungkinan berhasil bila: o Kehamilan aterm o Bagian terbawah janin sudah cakap (“engaged”) Cara melakukan : Dengan sarung tangan steril.Inkompatibilitas rhesus . jari telunjuk dimasukkan kedalam osteum uteri Kulit ketuban dilepas dari servik sedikit demi sedikit sampai sejauh jari dapat dimasukkan. sedang pada kehamilan hampir aterm dapat lebih membuka dan melembutkan serviks.Jadi cara ini tak dapat dilakukan pada servik yang belum membuka dan kaku. INDIKASI: a.Diabetes Mellitus . teruskan dengan botol II yang berisi 5 U dengan tetesan tetap. dahi .KPD umur kehamilan > 36 minggu.Pengawasan baik .Kematian intauterin yang membakat pada kehamilan aterm . Indikasi ibu: .Seringkali langsung dilakukan induksi dengandrip oksitosinsebagai priming.

- Macam versi: Menurut letak tangan penolong: . Bahaya versi luar VERSI EKSTRAKSI(Pedalic Version) Biasanya versi dalam.) ) . Syarat – syarat: Prosedur versi luar: Prosedurversi ekstraksi: - . Setelah kepala tepat diatas PAP.Versi dalam: tangan masuk rongga uterus - Menurut putarannya: Versi Sephalik  jadi let – kep . Versi Pedalik  jadi let –su / kaki.Presentasi – kepalakelainan : letak muka . 15 menit sesudah versi luar. Indikasi:kelainan letak : . prinsipnya ialah merubah letak anak menjadi letak membujur yang mempunyai prognosis persalinan lebih baik. yakni memegang kaki anak ditarik melalui kanalis servikalis. Sesudahnya penderita diberi gurita / stagen. letak dahi. biasanya diikuti ekstraksi kaki (versi ekstraksi) Indikasi versi ekstraksi: . DJJ dimonitor.VERSI Versi adalah tindakan mengubah letak anak. Terjadi bila tali pusatpendek. tekan kebawah supaya kepala masuk PAP dan tak bergerak lagi. Bila tetap tak berhasil dinyatakan gagal. Bila DJJ menjadi buruk kembalikan ke posisi semula  versi luar belum berhasil. juga tangan tak boleh dingin) Setelah berhasil lepas dari PAP kemudian posisi penolong dirubah menghadap muka ibu. dengan dua tangan bagian bawah janin diangkat sehingga lepas dari PAP (agar tak geli diberi talk. kemudian janin tersebut diputar dengan arah putaran ke arah perut janin (agar kepala tetap flexi) sudut putaran terkecil dilakukan secara bertahap pada saat Indikasi kontra: Bekas seksio sesarea Ruptura uteri iminens Panggul sempit / sempit ringan Pembukaan lengkap KK ( + ) / ( .Let – li menjadi pres – kep atau pres – bo / let – su .Servikmenutup atau membuka < 2 cm .Pres – bo / let – su menjadi pres – kep Syarat versi luar : .Dinding perut tidak begitu tebal / mudah terangsang ibu relaks sesudah ada kontraksi Keadaan ini kita putar terus sampai akhirnya kepala janin sampai PAP.Bagian bawah anak belum masuk PAP atau sudah masuk tapi dapat didorongke atas (H – I – II / III ( .Letak – lintang .Tak ada disprporsi kepala panggul / CPD . Kalau tali pusat panjang. bila membelit sampai 2 kali atau lebih atau ada simpul mati pada tali pusat. Lepasnya plasenta lebih awal / solusio plasenta.) asal kurang dari ½ jam Bagian bawah anak belum masuk PAP atau sudah masuk tapi masih dapat didorong keatas ( H II (-) ) Tak ada disproporsi kepala panggul.Waktu pelaksanaan: pada primipara / multipara mulai 36 minggu . preeklamsia berat / eklamsia Plasenta previa Reptura uteri iminens Rektum dan vesika urinaria dikosongkan Penderita tidurkan terlentang dengan kaki sedikit difleksikan (Trendelenburg) Penolong berdiri sebelah kanan dan menghadap arah kaki ibu. Tangan kemudian kita ubah letaknya dimana yang tadinya pegang kepala sekarang memegang bokong dan sebaliknya. . Kontra indikasi: Gemelli Bekas seksio sesarea Hipertensi.Ada indikasi untuk mengakhiri persalinan atau memperingan kala II. Berbaring litotomi dan posisi Trendelenburg Vesika urinaria dan rektum harus dikosongkan Narkose dalam  beri infus Tangan yang dimasukkan adalah yang dekat kaki anak misal: kaki sebelah kiri  yang dimasukkan tangan kanan . Istirahatkan selama 24 jam kemudian dapat diulang lagi sampai 3 kali.Versi luar: dariluar dinding perut .KK ( + ) . Menjadi letak kepala yangtidak normal.Air ketuban masih cukup . Kemudian satu tangan menahan bagian bokong dan tangan yang satunya pada bagian kepala janin.

kaki depan ( S – A )  Dorso – interior ------kaki belakang ( I – P )  Dorso – posterior ----kaki atas ( P – S ) o Kalau sukar mencapai satu kaki maka kita boleh pegang dua kaki sekaligus EPISIOTOMI Episiotomi adalah tindakan menggunting perineum ibu dengan tujuan untuk mempermudah pengeluaran janin pada persalinan kala II. Persalinan buatan 3.bulbokavernosus saja. Ruptura perinei 2. tetapi penjahitan kembali harus lebih saksama untuk menghindari terjadinya dispareuni dan agar penyembuhan berbentuk baik. kulit. Primigravida 2.    . karenanya bila tidak terpaksa sekali tindakan ini tidak dilakukan. Dispareuni Macam episiotomi : ada tiga : 1. transversus perinei superfisialis dan sebagian m. m. Episiotomi median Tindakan ini akan menggunting dinding vagina. Episiotomi lateral (baik kanan maupun kiri) jarang dilakukan. Persalinan prematur Syarat : Bagian bawah janin sudah berada di dasar panggul. Episiotomi mediolateral ( baik kiri maupun kanan )jarang berlanjut menjadi ruptura perinei. Cara memegang kaki : o Langsung  punggung – perut – kaki o Tak langsung  punggung – bokong – paha – kaki. karena kurang memenuhi tujuan untuk memperlebar jalan lahir lunak.Versi berhasil bila : o Kaki dilepaskan tidak akan masuk lagi o Kepala sudah di fundus uteri o Dilanjutkan dengan ekstraksi kaki Bahaya versi ekstraksi : . inpartu kala II dengan bayi pertama sudah lahir.Tali pusat terjepit . sfingterani eksternus. Komplikasi yang dapat terjadi : 1. Hematoma 5. 3.Cara memutar : o Pasif ( tangan dalam : hanya membimbing ) o Aktif ( tangan luar : menekan menuju fundus ) . m. Indikasi : 1. 2. Pada pengelolaan kehamilan ganda mungkin dapat dilakukan dalam keadaan terpaksa:  Untuk anak ke dua gemeli dengan letak-lintang.Fraktura ektremitas  Tindakan versi ekstraksi sekarang sudah jarang dilakukan karena angka morbiditas dan mortalitas untuk janin cukup tinggi.  Bila akan dilakukan seksio sesarea masih menunggu persiapan (waktu) maka bila memenuhi syarat versi ekstraksi dapat dikerjakan. Introitus vagina kaku 6. Penyembuhan tidak perprimam 6.- Tangan masuk secara tangan obstetri(obstetric hand) dan pada waktu ini tangan yang satu menahan fundus uteri (untuk menghindari ruptura uteri) Kaki yang harus dipegang (agar posisi anak menjadi tengkurap): o Let – kep  yang diambil kaki depan o Let – lin   Dorso – superior ----.Untuk anak : . . Bekas ruptura perinei 4. bayi kedua letak lintang dengan tanda – tanda gawat janin.Untuk ibu : o Infeksi o Perdarahan o Ruptura uteri o Laserasijalan lahir o Syok .Asfiksia . Perineum tinggi 5. Episiotomi mediolateral Seperti pada episiotomi mediana tetapi tanpa mengenai m. o Setelah kaki dipegang ( antara jari tengah ( antara jari tengah dan telunjuk ) disini tunggu fase relaksasi. Perdarahan (rata-rata perdarahan yang terjadi sebanyak 120 cc) 3. Episiotomi mediolateral ini paling sering dilakukan terutama pada persalinan buatan dan janin yang besar. bulbokavernosus. Episiotomi lateral Tindakan ini hanya akan menggunting dinding vagina kulit dan m. sfingterani eksternus. Infeksi 4.   Episiotomi median mudah berlanjut menjadi ruptura perinei total tetapipenyembuhan umumnya baik dan jarang mengakibatkan dispareuni.

 Kulit perineum dijahit dengan benang yang dapat diserap atau yang tidak dapat diserap (diambil setelah 5-6 hari). Untuk menghindari paparan lokhia. Bila perlu dapat diberi cairan antiseptik.  Kemudian luka dinding vagina dijahit mulai dari ujung kranial sampai introitus vaginae dengan menghindari terjadinya dead space.  Bila diperlukan anestesi. maka dapat dilakukan anestesi lokal baik dengan cara infiltrasi maupun dengan cara blok nervus pudendus. transversus perinei superfisialis dan m.Prosedur episiotomi:  Sebelum episiotomi dilakukan. m. vulva harus dibersihkan terlebih dahulu dan kemudian diberi cairan antiseptik. sfingter ani eksternus) dijahit terlebih dahulu dengan benang yang mudah diserap. histerotomi)  Edema vulva  Ibu lemah mengejan Janin  Gawat janin  Tali pusat /tangan/ kaki menumbung  Presentasi ganda Obstetri:  Indikasi Pinard  Deep tranversa arrest. ibu dianjurkan memakai pembalut yang menyerap. miomektomi. sedikitnya H III+ Kepala janin harus dapat dipasangi mangkuk Ketuban sudah pecah ayau dipecah PERSALINAN PERCOBAAN(Trial of Labor)    Pada letak kepala dan pada primipara dengan panggul sempit ringan Evaluasi dari permulaan persalinan sampai 18 jam harus pembukaan lengkap Bila pembukaan lengkap dilanjutkan Test of Labor: o Evaluasi dari pembukaan lengkap dan kepala bayi dengan bagian terbesar sudah masuk pintu atas panggul sampai terjadi persalinan pervaginam dalam waktu 2 jam Berhasil jika bisa persalinan pervaginam  . Gunting yang dipergunakan pada episiotomi ini sebaiknya gunting tajam yang berujung tumpul agar bagian bawah janin tidak tertusuk.  Penjahitan kembali harus dilakukan dengan seksama setelah memastikan tidak terjadi perdarahan aktif (menghindari hematom dan infeksi). Badan perineum (m. posisi oksiput posterior persisten  Kala II lebih 5 jam Indikasi kontra  Disproporsi kepala panggul Syarat:     Pembukaan serviks lengkap Kepala janin sudah cakap (engaged). EKSTRAKSI VAKUM Ekstraksi vakum: persalinan buatan di mana janin dilahirkan dengan ekstraksi tekanan negatif pada kepalanya dengan menggunakan ekstraktor vakum. Bagian ekstraktor vakum:  Mangkuk  Rantai penghubung  Pipa penghubung  Pipa penghubung  Botol  Pompa penghisap  Pemegang Indikasi: Ibu  Eklamsia / preeklamsia berat  Ruptura uteri membakat  Penyakit jantung.  Perawatan perineum selanjutnya hanyalah menjaga agar daerah perineum tersebut tetap bersih. paru dan penyakit sistemik yang berat  Bekas perlukaan dinding rahim (seksio sesarea. bulbokavernosus.

arah putaran paksi dalam dan koordinasi dengan pengejanan ibu.Perlahan ini supaya dapat membentuk kaput suksedaneum dengan baik. Sekitar vulva ditutup dengan kain steril Setelah semua peralatan ekstraktor vakum terpasang. Selama ekstraksi ini jari-jari tangan kiri memutar ubun-ubun kecil menyesuaikan dengan putaran paksi dalam.3kg/cm2.  Terlepasnya mangkuk dapat disebabkan karena:  Kaput suksedaneum buatan tidak terbentuk sempurna  Ekstraksi terlalu kuat dan atau salah arah  Adanya jaringan yang terjepit di antara mangkuk dan kepala janin  Kerjasama antara dua tangan operator tidak baiki: arah ekstraksi.Pada umumnya dipakai mangkuk dengan diameter terbesar atau sedang. Setelah kepala lahir.Bila ubun-ubun kecil sudah berada di bawah simfisis.  Sebab-sebab obstetri: disproporsi kepala panggul yang tidak diketahui sebelumnya.      Ekstraksi vakum dianggap gagal bila:mangkuk terlepas 3 kali atau lebih. arah tarikan berangsur-angsur dinaikkan keatas sehingga kepala lahir. Dilakukan penghisapan dengan tekanan negatif -0. dinaikkan pelan2 sampai mencapai -0.7kg/cm2. KOMPLIKASI YANG DAPAT TERJADI: Ibu:  Perdarahan pasca salin  Laserasi jalan lahir  Infeksi . janin belum lahir. lilitan tali pusat yang erat. dilakukan pemasangan mangkuk dengan tonjolan penunjuk dipasang diatas titik petunjuk kepala janin.Prosedur ekstraksi vakum   Ibu dalam posisi litotomi dan dilakukan desinfeksi daerah genitalia (vulva toilet).Ibu jari dan jari telunjuk serta jari tangan kiri operator menahan mangkuk supaya tetap melekat pada kepala janin. mangkuk kemudian dilepas. tekanan negatif dihilangkan dengan cara membuka katup udara.  Bila mangkuk lepas. Bersamaan dengan timbulnya his. ibu dipimpin mengejan dan ekstraksi dilakukan dengan cara menarik pemegang sesuai dengan sumbu panggul. dikhawatirkan kelainan neurologi akibat ekstraksi yang terlalu lama. Dilakukan periksa dalam vagina untuk menentukan apakah ada bagian jalan lahir atau kulit ketuban yang terjepit di antara kepala janin dan mangkuk. dan adanya cincin kontraksi lokal. Janin dilahirkan seperti pada persalinan normal dan plasenta umumnya dilahirkan secara aktif.  Dalam waktu 15 menit dilakukan ekstraksi vakum. harus diteliti kemungkinan-kemungkinan di atas dan diusahakan koreksi. tali pusat terlalu pendek.

dikenal beberapa tipe. Kunci Norwegia. Forsep Piper digunakan untuk melahirkan kepala yang tertinggal pada persalinan sungsang. 3. Tipe khusus. Kedua tangkai dikunci dengan cara saling dikaitkan. Umumnya bagian ini mempunyai lekukan tempat jari operator berada. Contoh forsep tipe Elliot adalah forsep Naegele. Daun forsep. EKSTRAKSI FORSEP Ekstraksi forsep adalah persalinan buatan dengan cara mengadakan rotasi.Janin:  Laserasi  Sefalhematoma sampai hematoma subdural  Nekrosis kulit kepala yang dapat menyebabkan alopesia  Fraktura tulang tengkorak  Cedera pada muka janin  Paresis nervus fasialis Keuntungan ekstraksi vakum dibanding ekstraksi forsep:  Tidak memerlukan pembiusan  Pemasangan lebih mudah  Lesi jalan lahir ibu tidak banyak terjadi. B. Kedua tangkai dikunci dengan cara disekrup setelah kedua tangkai disilangkan. 2. 1. D. C. Tipe Elliot. 4. 2.  Memerlukan kerja sama dengan ibu yang bersalin. Ditandai dengan tangkai yang terbuka sehingga memberi kemungkinan untuk dipasang pada kepala janin yang sudah mengalami molase atau yang mempunyai kaput suksedaneum. Bagian ini umumnya mempunyai lubang kecuali pada forsep Tucker-McLane. Dipergunakan untuk keadaan serta tujuan khusus. Kunci forsep: A. b. misalnya: a. Forsep tipe Elliot ini sebaiknya dipergunakan pada kepala janin yang belum didapati adanya kaputsuksedaneum atau yang belum mengalami molase hebat. Kedua tangkai dikunci dengan cara mengaitkan pasak yang terdapat pada satu tangkai disilangkan. Tipe forsep : berdasarkan bentuknya. Tangkai forsep. Tangkai forsep yang terbuka adalah yang pangkalnya jauh satu dengan yang lain misal: forsep Simpson. Forsep Kielland digunakan bila kepala janin masih tinggi (mengambang). Ditandai dengan tangkai yang tertutup sehingga lengkung kepala forsep mencakup kepala janin lebih luas. 3. Kunci Jerman. sedangkan yang tertutup misal seperti yang terdapat pada forsepNaegele dan forsep Tucker-McLane. c. demikian juga sebaliknya forsep kanan adalah forsep yang dipegang oleh tangan kanan operator dan ditempatkan dalam panggul kanan ibu. Kunci Perancis. Pemegang forsep: Bagian yang dipegang operator saat melakukan ekstraksi forsep. Forsep kiri adalah yang dipegang oleh tangan kiri operator dan ditempatkan dalam panggul kiri ibu. Bagian ini merupakan bagian yang mencekam kepala janin dan mempunyai 2 lengkungan yaitu: lengkung kepala dan lengkung panggul. Bagian yang terdapat di antara daun dan kunci forsep. Tipe Simpsom. Kunci Inggris. Bagian forsep: 1. Kedua tangkai dikunci dengan cara saling menggeserkan (sliding) kedua tangkainya. Kerugian ekstraksi vakum dibanding ekstraksi forsep:  Kelainan janin yang tidak segera terlihat (neurologis)  Tidak dapat digunakan untuk melindungi kepala janin preterm  Memerlukan waktu lebih lama untuk mengakhiri persalinan sehingga pada umumnya tidak dilakukan untuk menolong gawat janin. Forsep Barton digunakan terutama untuk melakukan rotasi. . ekstraksi atau kombinasi keduanya dengan alat forsep yang dipasang pada kepala janin sehingga janin lahir. Alat forsep terdiri atas sepasang (kiri dan kanan).

Forsep rendah ini merupakan ekstraksi forsep yang paling sedikit memberikan risiko bahkan dikatakan bahwa forsep rendah dapat melindungi kepala janin dari trauma waktu melalui jalan lahir. Pada pelaksanaan forsep tengah ini operator harus benar-benar mengetahui anatomi panggul serta presentasi kepala janin agar dapat melakukan rotasi dan ekstraksi yang sesuai dengan gerakan kardinal kepala janin waktu melalui panggul. sedikitnya H III+  Kepala janin harus dapat dipegang dengan forsep  Ketuban sudah pecah atau dipecah. Janin  Gawat janin  Tangan/kaki menumbung  Presentasi ganda  Talipusat menumbung 3. preeklamsia berat  Ruptura uteri membakat  Penyakit jantung. Hal ini penting ditekankan karena bila rotasi dan ekstraksi tidak sesuai dengan gerakan kardinal kepala janin maka ekstraksi forsep akan mengalami kegagalan atau akan terjadi trauma baik pada ibu maupun janinnya. Sekarang ini pada umumnya sudah tidak dilakukan lagi karena komplikasi berat yang sering terjadi baik pada ibu maupun pada janinnya. 2. Forsep rendah. Obstetri:  Indikasi Pinnard. Ekstraksi forsep pada kepala janin yang masih berada di atas pintu atas panggul.)  Edema vulva  Ibu dalam keadaan lemah untuk mengejan. histerotomi.Penggunaan forsep berdasarkan penurunan kepala: 1. Persisten Occiput Posterior Position  Kala II lebih dari 5 jam Indikasi kontra: Disproporsi janin-panggul Syarat:  Pembukaan serviks lengkap  Kepala janin sudah cakap (engaged). Forsep tinggi. paru-paru dan penyakit sistem yang berat  Bekas perlukaan dinding rahim (seksio sesarea. dll. Indikasi 1. 2. . 3. miomektomi. Dilakukan bila lingkaran kepala janin sudah melewati pintu atas panggul (engaged). Deep Tranverse Arrest . Dilakukan pada kepala janin yang sudah mencapai pintu bawah panggul dengan sutura sagitalis dalam posisi antero-posterior. Forsep tengah. Ibu:  Eklamsia. misalnya pada persalinan prematur.

maka forsep kiri dipasang terlebih dulu (berada pada ruang panggul bagian depan) kemudian baru forsep kanan ditempatkan di kanan belakang (miring terhadap panggul dan melintang terhadap kepala janin). Ekstraksi forsep percobaan. maka ekstraksi forsep dapat dilanjutkan pada langkah berikutnya. Persiapan: Tahap persiapan meliputi persiapan alat (forsep yang mau dipakai. Forsep kiri dipegang dengan tangan kiri operator seperti memegang pensildengan tangkai forsep berada dilipat paha kanan ibu. Jika dari evaluasi ini tidak didapatkan adanya jaringan yang terjepit. Daun forsep kanan kemudian dimasukkan ke dalam vagina di antara 4 jari tangan operator yang melindungi dinding kanan vagina dan kepala janin sehingga daun forsep berada pada sagital ibu. forsep ditarik ke atas yaitu pada waktu kepala janin keluar pintu dengan suboksiput sebagai hipomoklion) Episiotomi pada umumnya dilakukan waktu permulaan langkah ini dan saat kepala janin keluar pintu. Bila ujung-ujung jari telunjuk dan jari tengah tersebut menjauhi bagian terbawah kepala janin . mempersiapkan ibu yang akan menjalani tindakan. tangan kiri operator menahan perineum. Pada keadaan ini dapat dipergunakan forsep Simpson. 1. maka forsep terpaksa dikeluarkan lagi dan diadakan reevaluasi karena ada kemungkinan kesalahan penentuan presentasi kepala janin atau kesalahan dalam menempatkan daun forsep Evaluasi penempatan daun forsep Untuk evaluasi penempatan daun forsep. berarti ekstraksi percobaan berhasil dan ekstraksi forsep dapat dilanjutkan. Mengunci forsep Karena tangkai forsep kanan berada di atas tangkai forsep kiri maka kedua tangkai dipersilangkan agar dapat dikunci dengan tepat. tangkai forsep menyesuaiakan agar daun forsep berada melintang terhadap kepala janin.  Penempatan daun forsep  Mengunci forsep  Evaluasi penempatan daun forsep  Ekstraksi forsep percobaan  Pelaksanaan rotasi dan ekstraksi  Melepas forsep Contoh kasus ekstraksi vakum pada presentasi belakang kepala dengan ubun-ubun kecil di kanan depan. Tetapi bila saat dilakukan ekstraksi ujung-ujung jari tersebut tetap menyentuh bagian terbawah kepala janin. kemudian dilakukan ekstraksi percobaan dengan kedua tangan operator. diletakkan di atas lipat paha kiri ibu. perlu dilakukan periksa dalam vagina guna menentukan apakah ada jaringan (kulit ketuban atau serviks uteri) yang terjepit di antara daun forsep dankepala janin. Tangkai forsep kanan dipegang oleh tangan kanan operator seperti memegang pensil. peralatan jahit dan anestesi). Empat jari tangan kanan operator dimasukkan ke dalam vagina bagian kiri antara dinding vagina kiri dengan kepala janin. Penempatan daun forsep. maka operator harus menyesuaikan diri dengan memutar forsep sedemikian rupa sehingga ubun-ubun kecil berada di bawah simfisis yaitu dengan cara mengayun tangkai forsep agar daun forsep bergerak ke kiri depan sambil mengikuti sumbu panggul. peralatan persalinan. tehnik dan pembenahan kembali. Gambar 3. Berdasar hal tersebut. A . Oleh karena ubun-ubun kecil berada di kanan depan. Teknik pelaksanaan: Terdapat 7 langkah yang harus dilaksanakan dalam pelaksanaan ekstraksi forsep:  Operator merencanakan pemasangan ekstraksi forsep berdasarkan bagian presentasi janin serta merencanakn bagaimana pelaksanaan ekstraksi forsep akan dilaksanakan. Setelah itu kepala janin diputar sehingga ubun-ubun kecilberada di bawah simfisis (forsep kiri menjadi berada di kiri belakang panggul dan forsep kanan berada di kanan depan panggul ibu). 5. Naegele atau Tucker-McLane. Ekstraksi forsep percobaan dilakukan dengan cara kedua tangan operator menggenggam tangkai forsep dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan diluruskan di atas kunci agar dapat mencapai bagian terbawah kepala janin. berarti ekstraksi percobaaan tidak berhasil atau dengan perkataan lain bahwa forsep tidak mencekam kepala janin dengan baik. Operator membayangkan letak kepala janin pada pintu bawah panggul dilihat dari kaudal ibu. persiapan janin (resusitasi dan perawatan bayi baru lahir). . Setelah itu daun forsep kanan ini digeser ke belakang (tangkai forsep mengikuti) sehingga terletak melintang terhadap kepala janin dan miring terhadap panggul ibu. 4. kepala janin mencapai H IV-. Daun forsep digeser ke panggul bagian depan. Gambar pemasangan dan rotasi forseps pada ubun-ubun kecil kanan depan 2.PROSEDUR EKSTRAKSI FORSEP Meliputi persiapan. Daun forsep kiri kemudian dimasukkan ke dalam vaginadengan pertolongan ke empat jari tangan serta dorongan ibu jari tangan kanan operator sampai daun forsep mencekam kepala janin. 6. Apabila penguncian forsep tidak dapat dilakukan dengan tepat. B . Setelah itu baru dilakukan ekstraksi forsep dengan arah tarikan sesuai dengan sumbu panggul ibu (mula-mula ditarik curam ke bawah kemudian mendatar dan pada saat kepala janin membukapintu. Pelaksanaan rotasi dan ekstraksi Gerak kardinal kepala janin pada dasar panggul merupakan putaran paksi dalam di mana ubun-ubun kecil yang berada pada kanan depan akan bergerak ke bawah simfisis.

tetapi bila ibu hanya mendapat analgetika dan anestesia lokal. Ekstraksi forsep tengah yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan persalinan pada panggul tengah. Rotasi dengan forsep Kielland. Adanya. Rotasi dengan forsep Barton. maka pelaksanaan ekstraksi forsep tidak perlu didahului dengan rotasi kepala janin. Prinsip ekstraksi forsep cara Mohrer ini adalah dengan cara memutar kepala janin sehingga ubun-ubun kecil ke belakang (anak lahir pada posisi oksiput posterior) 3. Operator belum menguasai penggunaan forsep Komplikasi: seperti pada ekstraksi vakum . kemudian disusul dengan pemasangan forsep pada panggul bagian belakang yaitu melintang/hampir melintn terhadap kepala. Bahu depan dilahirkan terlebih dulu baru kemudian bahu belakang dan menyusul kemudian badan seluruhnya. 4. maka terdapat beberapa macam cara ekstraksi forsep. Cara Muhrer. Forsep yang berada pada panggul depan dipasang lebih dulu (seperti cara Lange). Cara Smellie & Scanzoni. forsep dilepas dan kepala janindibiarkan melakukan putaran paksi luar. Setelah forsep terpasang kemudian dilakukan rotasi dengan mengingat sumbu dan lengkung panggul. C . setelah itu baru dilakukan ekstraksi 2. mula-mula menintang terhadap panggul baru kemudian digeser ke depan sehingga miring terhadap panggul baru kemudian digeser ke depan sehingga miring terhadap panggul tetapi melintang / hampir melintang terhadap kepala. tetapi forsep percobaan ini sekarang sudah tidak dilakukan lagi karena seksio sesarea memberi hasil yang lebih baik. Seperti pada persalinan buatan lainnya.7. Memutar kepala janin sehingga ubun-ubun kecil yang semula melintang menjadi berada di bawah simfisis. Dilakukan bila ubun-ubun kecil berada di belakang. Pembukaan serviks yang belum sempurna c. Memutar kepala janin sehingga ubun-ubun kecil yang sudah dalam posisi melintang tersebut menjadi berada di bawah simfisis (seperti cara Lange) Gambar pemasangan dan rotasi forsep pada ubun-ubun kecil kanan lintang 5. Adanya lingkaran kontriksi uterus e. Kesalahan menenukan titik petunjuk kepala janin d. Bila ubun-ubun kecil tidak berada di bawah simfisis. Episiotomi perineum dijahit lapis demi lapis yaitu dengan cara badan perineum dijahit terlebih dulu baru kemudian dinding vagina dan kulit perineum. Ekstraksi forsep cara Smellie& Scanzoni ini terdiri dari dua tahap tindakan: a. yaitu: 1. Pada keadaan ini forsep dipasang miring terhadap kepala dan miring terhadap panggul. disproporsikepala panggul yang tidak diketahui sebelumnya b. Cara Lange. Dilakukan bila ubun-ubun kecil berada di belakang (dorsal). Forsep belakang dipasang berlawanan dengan forsep depan. Forsep depan dipasang terlebih dulu. Daun forsep Barton yang berengsel dipasang di panggul bagian depan sedangkan daun forsep yang tidak bergerak dipasang di panggul bagian belakang. Forsep kemudian diputar dengan tujuan agar ubun-ubun kecil berada di bawah simfisis. Dilakukan bila ubun-ubun kecil melintang di dalam panggul. Tali pusat diklem dan dipotong. tetapi ternyata rotasi dengan forsep ini banyak menyebabkan janin menderita bahkan sampai menyebabkankematian janin. Bila bayi lahir dalam keadaan asfiksia. Secara teoritis forsep Kielland dapat dengan mudah memutar kepala janin. sehingga tidaklagi dipergunakan untuk tujuan rotasi. Memutar kepala janin ke depan sehingga ubun-ubun kecil menjadi melintang b. Bila usaha persalinan dengan forsep tidak berhasil walaupun teknik yang dilakukan sudah memenuhi syarat. Forsep gagal. Pembenahan kembali Bila ibu berada di bawah narkose maka umumnya operator terpaksa melakukan pengambilan plasenta secara manual. maka hendaknya pemotongan tali pusat agak panjang agar lebih memudahkan pemasangan infus umbilikal guna pemberian cairan parenteral. Melepas forsep Setelah kepala janin lahir. Beberapa penyebab forsep gagal di antaranya: a. Beberapa macam ekstraksi forsep: Apabila ubun-ubun kecil sudah berada dibawah simfisis. Forsep percobaan dan forsep gagal Forsep percobaan. maka operator sebaiknya melakukan pengelolaan aktif kala III yaitu dengan memberikan uterotonika (I.) pada waktu kepala janin lahir dan melakukan perasat Brandt-Andrews guna melahirkan plasenta.V. pasca ekstraksi forsep ibu harus senantiasa diawasi karena kemungkinan terjadinya perdarahan pasca persalinan.

Irisan kemudian diperlebar dengan gunting sampai kurang lebih sepanjang 12 cm. Plasenta dilahirkan secara manual kemudian segera disuntikkan uterotonika ke dalam miometrium dan intravena. Partus tak maju 8 . Disproporsi janin panggul 6 . Ruptura uteri membakat 7 . Luka insisi dinding uterus dijahit kembali dengan cara: o Lapisan I : Miometrium tepat di atas endometrium dijahit secara silang dengan menggunakan benang katgut kromik nomer 01 atau 02. Perlebar insisi dengan gunting sampai sepanjang kurang lebih 12 cm. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis. Eksplorasi kedua adneksa dan bersihkan rongga perut dan sisa-sisa darah dan air ketuban. Setelah kavum uteri terbuka. Setelah janin lahir seluruhnya.     . Saat mengunting lindungi janin dengan dua jari operator. tali pusat diklem (2 tempat) dan dipotong di antara kedua klem tersebut. Gawat janin Indikasi kontra (relatif)     Infeksi intra uterin Janin mati Syok / anemiaberat yang belum diatasi Kelainan kongenital berat Seksio sesarea klasik /korporal Seksio sesarea transperitoneal profunda Seksio sesarea ekstraperitoneal Histerektomi sesarean (Cesarean hysterectomy) SEKSIO SESAREA KLASIK / KORPORAL  Buat insisi membujur secara tajam dengan pisau pada garis tengah korpus uteri di atas segmen bawah rahim. Setelah kavum uteri terbuka. 3. Tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi 3 . Jenis: 1. Janin dilahirkan dengan meluncurkan kepala janin keluar melalui irisan tersebut. Indikasi A. Stenosis serviks uteri atau vagina 4 . Indikasi Janin 1 . Indikasi Ibu: 1 . Badan janin dilahirkan dengan mengaitkan kedua ketiaknya.       SEKSIO SESAREA TRANSPERITONEAL PROFUNDA   Plika vesiko uterina di atas segmen bawah rahim dilepaskan secara melintang. Incoordinate uterine action B. Saat menggunting. kulit ketuban dipecah dan janin dilahirkan dengan cara meluncurkan kepala janin melalui irisan tersebut. lindungi janin dengan dua jari operator. kepala defleksi)  Letak dahi dan letak muka dengan dagu di belakang  Presentasi ganda  Kelainan letak pada gemelli anak pertama 2 . 2. Kelainan letak  Letak lintang  Letak sungsang (janin besar. o Lapisan III: dilakukan reperitonealisasi dengan cara peritoneum dijahit dengan benang yang sama. Setelah janin dilahirkan seluruhnya. kemudian secara tumpul disisihkan ke arah bawah dan samping. Buat insisi secara tajam dengan pisau pada segmen bawah rahim kurang lebih 1 cm di bawah irisan plika vesiko uterina. tali pusat diklem (2 tempat) dan dipotong di antara kedua klem tersebut. kulit ketuban dipecah.SEKSIO SESAREA Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin melalui dinding perut dan dinding uterus. 4. o Lapisan II : lapisan miometrium di atasnya dijahit secara kasur horisontal (Lambert) dengan benang yang sama. Plasenta previa 5 . Plasenta dilahirkan secara manual kemudian segera disuntikkan uterotonika ke dalam miometrium dan intravena. Panggul sempit 2 .

tetapi sekarang sudah sangat jarang dilakukan sehubungan dengan makin efektifnya antibiotika yang kita gunakan. Uterus kemudian diangkat di atas kedua klem yang pertama. Perdarahan yang terdapat pada irisan uterus dihentikan dengan menggunakan klem secukupnya. maka dapat dilakukan tindakan seperti teknik seksio sesarea transperitoneal profunda. Kedua adneksa dan ligamentum rotundum dijahitkan pada tunggul serviks uteri. Bila sudah. . o Lapisan II : lapisan miometrium di atasnya dijahit secara kasur horisontal (Lambert) dengan benang yang sama. Jahit cabang arteri uterina yang diklem menggunakan benang sutera nomer 2. Satu klem juga ditempatkan di atas kedua klem tersebut. Indikasi janin: Cacad bawaan yang berat Janin mati   Prosedur Tentukan apakah sudah terbentuk segmen bawah rahim. o Lapisan III: dilakukan reperitonealisasi dengan cara peritoneum dijahit dengan benang yang sama. Segmen bawah rahim diiris melintang seperti pada Seksio Sesarea transperitoneal profunda demikian jugacara menutupnya. Kedua adneksa dan ligamentum rotunda dilepaskan dari uterus. Perdarahan pada tunggul serviks uteri diatasi. HISTEREKTOMI SESAREAN(Caesarean Hysterectomy)           Irisan uterus dilakukan seperti pada seksio sesarea klasik/korporal demikian juga cara melahirkan janinnya. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis HISTEROTOMI Histerotomi adalah suatu pembedahan untuk melahirkan isi uterus melalui dinding perut dan dinding uterus tanpa mengharapkan hasil konsepsi yang hidup. Bila segmen bawah rahimbelum terbentuk maka dilakukan tindakan seperti seksio sesarea klasik. Dilakukan reperitonealisasi serta eksplorasi daerah panggul dan visera abdominis Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis. Tunggulserviks uteri ditutup dengan jahitan (menggunakankatgut kromik nomer 1 atau 2) dengan sebelumnya diberi cairan antiseptik. Seksio sesarea ekstraperitoneal ini terutama dilakukan pada kasus infeksi intrauterin . Peritoneum kemudian digeser ke kranial agar terbebas dan dinding kranial agar terbebas dari dinding kranial vesika urinaria.   Luka insisi dinding uterus dijahit kembali dengan cara: o Lapisan I : miometrium tepat di atas endometrium dijahit secara silang dengan menggunakan benang katgut kromik nomer 01 atau 02. Indikasi: Indikasi Ibu: Dekompensasio kordis Hipertensi esensial yang berat Penyakit ginjal menahun dengan kemunduran fungsi ginjal Psikosis yang berat Mola hidatidosa SEKSIO SESAREA EKSTRAPERITONEAL  Dinding perut diiris hanya sampai pada peritoneum. Kedua cabang arteria uterina yang menuju ke korpus uteri di klem (2) pada tepi segmen bawah rahim. Eksplorasi kedua adneksa dan bersihkan rongga perut dari sisa-sisa darah dan air ketuban.

sehingga janin dapat dengan mudah lahir pervaginam  Dekapitasi: tindakan untuk memisahkan kepala janin dan tubuhnya dengan cara memotong leher janin. Setelah kepala lahir badan janin dilahirkan sebagaimana mestinya. ujung perforator dimasukkan ke lubang perforasi. Persetujuan tertulis dan informed concent. Ekstraksi bisa dilakukan dengan cunam mozeoux. Di bawah lindungan tangan kiri yang di dalam. hidrops fetalis. kecuali pada: hidrosefalus. mula-mula tangan kiri dimasukkan ke dalam jalan lahir. seorang asisten menahan kepala janin dari luar. Setelah suboksiput di bawah simfisis dilakukan elevasi ke atas untuk melahirkan kepala. yaitu bagian yang melengkung. Kemudian perforator Naegele dimasukkan secara horisontal denganbga lengkung menghadap ke atas. Melubangi kepala janin dapat pula dilakukan secara langsung dengan perforator Naegele dengan cara seperti tersebut di atas. Bagian yang melengkung kemudian diarahkan ke muka. Seorang asisten memegang sendok jantan. ruptura uteri iminens. penyakit jantung/paru. dibuka ditutup lagi. Prosedur kraniotomi: 1. 8. 6. kemudian diputar 90 derajat. 3. atau UUK yang tahanannya kecil. 5. atau kepala janin sudah di pintu bawah panggul (Hodge IV). anak besar. Setelah semua persiapan selesai. dimasukkan ke dalam jalan lahir sedemikian rupa sehingga daun kranioklas betina berada di muka janin. . guna melindungi kandung kemih dan ureter. dalam keadaan tertutup. Syarat:  Janin mati. kemudian sendok betina dimasukkan seperti memasukkan cunam/forsep. pasang duk steril  Kosongkan kandung kencing  Pasang infus bila diperlukan  Berikan narkose bila diperlukan. sungsang macet. kulit kepala janin secara langsung dijepit selebar dan sedalam mungkin dengan 2 cunam mozeoux. Indikasi:  Janin mati ibu dalam keadaan bahaya (maternal distress): persalinan lama. atau hendak melakukan kleidotomi pada distosia bahu. dengan bagian yang bergerigi. Jenis embriotomi:  Kranioklasi : tindakan untuk memperkecil ukuran kepala janin dan mengeluarkan isi tengkorak. maka arah perforator harus tegaklurus dengan permukaan kepala janin. 4. Sendok jantan dipegang oleh tangan kanan secara horizontal. Penolong:  Cuci tangan  Sarung tangan  Baju operasi  Masker dan kacamata penolong Persiapan pelaksanaan: KRANIOTOMI: Kraniotomi biasanya disusul dengan ekstraksi kepala. lubang perforasidiperlebar dengan cara membuka menutup ujung perforator beberapa kali. dengan dilindungi tangan yang didalam seperti pada saat memasukkan. Cara dengan memakai spekulum.  Tidak ada tumor jalan lahir yang menghalangi persalinan pervaginam Persiapan Ibu:  Tidur posisi litotomi pada meja ginekologi  Desinfeksi vulva. preeklamsia dan eklamsia  Janin mati yang tidak mungkin lahir spontan pervaginam: letak lintang. Alat yang digunakan:  Perforator Naegele. Bila menggunakan kranioklas. dimana kulit kepala masih cukup kuat. 7. Satu di atas lobang perforasi dan satu di bawah. menghadap ke atas dan dimasukkan ke dalam lubang perforasi sejauh mungkin. EMBRIOTOMI Embriotomi: suatu persalinan buatan dengan cara merusak atau memotong bagian-bagian tubuh janin agar dapat lahir pervaginam tanpa melukai ibu. vagina dan sekitar. bila maserasi janin masih tingkat 1. guna mengecilkan lingkar bahu. Kemudian dilakukan tarikan searah sumbu panggul.  Pembukaan serviks >7 cm  Selaput ketuban sudahpecah / dipecah. Setelah ujung perforator masuk dalam tengkorak janin. atau dilakukan menggunakan dengan 2 buah cunam mozeoux.  Eviserasi: tindakan merusak dinding thoraks untuk mengeluarkan organ viscera  Eksenterasi: tindakan merusak dinding abdomen untuk mengeluarkan organ abdomen  Spondilotomi: tindakan memotong ruas tulang belakang  Pungsi : tindakan untuk mengeluarkan cairan dari tubuh janin. dan diputar lagi ke posisi semula untuk dikeluarkan. dengan skalpel.  Konyugata vera lebih besar dari 6 cm. sutura sagitalis. Tangan kiri penolong dimasukkan ke dalam jalan lahir secara obstetrik dan diletakkan di bawah simfisis. Agar perforator tidak meleset pada waktu ditusukkan pada kepala janin.  Kranioklas Braun  Cunam Mozeoux  Spekulum Sims. 2. Tindakan ini dikenal dengan perforasi kranioklasi. sambil mengikuti putaran paksi dalam. Mula-mula dibuat lubang pada UUB. Cairan tidak perlu dikeluarkan oleh karena akan keluar sendiri pada saat ekstraksi.  Kleidotomi: tindakan untuk memotong atau mematahkan 1 atau 2 klavikula.

Diketahui dengan bunyi tulang yang berderak. KLEIDOTOMI Dikerjakan pada distosia bahu Peralatan:  Gunting Siebold  Spekulum Sims Prosedur: 1. dengan ibu jari berada di depan leher dan jari-jari lain berada di belakangnya. Setelah hasil pemeriksaan ulang baik. Setelah badan janin mengecil . Stelah suboksiput di bawah simfisis dilakukan elevasi ke atas untukmelahirkan kepala bayi. kemudian mengambil satu tangan janin dibawa keluar vagina. dan langsung mencekam leher. dan kepala dilahirkan secara Mauriceau. EVISERASI /EKSENTERASI Dilakukan pada:  Letak lintang dimana leher sukar dicapai  Kelainan bawaan : hidrop fetalis. dan ditarik oleh seorang asisten ke arah bokong. DEKAPITASI Dilakukan pada letak lintang Peralatan:  Pengait Braun  Gunting Siebold  Spekulum Sims Prosedur dekapitasi: 1. Dengan spekulum terpasang dalam vagina. Bila janin letak lintang disertai tangan menumbung. Setelah kepala lahir. Tangan penolong yang dekat dengan leher . dll. Gergaji dinaik-turunkan sampai leher putus kemudian badan dan kepala dilahirkan seperti tersebut di atas. melalui lubang yang dibuat organ-organ visera dan abdomen dikeluarkan. kranioklas ditutup serapat mungkin. Kemudian dilakukan ekstraksi dengan memegang tangkai kranioklas. tangan lain memotong klavikula dengan gunting Siebold secara avue sehingga patah. Pada saat yang bersamaan seorang asisten menekan kepala. secara avue (melihat secara langsung) dengan memasang spekulum Sims pada vagina. 4. Memotong leher janin dapat dilakukan dengan gergaji Gigli. 3. Dipasang spekulum pada dinding vagina bawah. 4. perforasi dibuat pada foramen magnum. 2. dan pengait dikaitkan pada leher. yang dapat dikerjakan dari arah belakang atau dari arah muka. Peralatan:  Gunting Siebold  Spekulum Sims  Cunam abortus atau Tang Bend Prosedur: 1. 2. badan janin dilahirkan terlebih dulu dengan menarik tangan janin. dan langsung memegang klavikula terendah (klavikula posterior). pada letak lintang badan janin dikeluarkan dengan versi ekstraksi. Dengan cunam abortus atau tang Bend yang bergigi. 10. untuk memeriksa apakah ada jalan lahir yang terjepit dan apakahkranioklas sudah terpasang dengan baik. kemudian kepala dilahirkan seperti pada persalinan letak sungsang. 5. Kulit danotot-otot leher dipotong sedikit demi sedikit. kunci kranioklas dibuka dankepala dilahirkan seperti biasanya. dapat dipotong klavikula yang lain. 2. Setelah kepala terpisah dengan badan janin. Satu tangan penolong dimasukkan ke dalam jalan lahir. sehingga tulang leher patah. di bawah mulut. Dengan pengait ini mula-mula leher janin ditarik kuat ke bawah danpengait Braun diputar ke arah kepala janin. . 11.9. kemudian secara avue dinding thoraks atau dinding abdomen dilubangi sehingga menembus rongga thoraks atau abdomen. Kedua sendok kranioklas ditutup. Satu tangan penolong dimasukkan ke dalam jalan lahir. 6. Bersamaan dengan itu kepala janin dipegang kuat oleh seorang asisten. Bila dengan 1 klavikula yang terpotong bahu belum lahir. Arah tarikan searah dengan sumbu panggul dan mengikuti gerakan putaran paksi dalam. Setelah semua persiapan selesai. Lengan janin ditarik ke bawah menjauhi perut janin. Untuk memutuskan jaringan-jaringan lunak dapat dipakai gunting Seold. 3. Pada letak sungsang tertinggal (after coming head). Pengait Braun dimasukkan ke dalam jalan lahir dengan ujung menghadap ke bawah dengan cara menelusuri tangan dan ibu jari penolong yang berada di leher. dilakukan pemeriksaan dalam ulang. dimasukkan ke jalan lahir. lengan yang menumbung ini diikat dengan tali atau kasa perban.

Salah satu tangan penolong . sehingga cairan otak akan mengalir keluar. saat skapula janin terlihat pada vulva . dapat digunakan cunam Muzeaux untuk ekstraksi pada kulit kepala. kemudian dalam vagina dipasang spekulum. DORONGAN / EKSPRESI KRISTELLER Dorongan Kristeller adalah dorongan tangan penolong persalinan pada fundus uteri dengan arah menuju panggul yang bertujuan untuk membantu persalinan kala II. Bagian bawah janin sudah berada di dasar panggul 2. Bekas perlukaan dinding rahim (relatif) PUNGSI KEPALA Dilakukan pada hidrosefalus. Dengan satu atau kedua lengan lurus. selanjutna dilakukan pungsi dengan menusukkan jarum pada kepala janin. telapak tangan diletakkan pada fundus uteri dan mengadakan dorongan bersamaan dengan his serta pengejanan ibu. ruas-ruas tulang belakang dipotong sampai putus. Kemudian dilakukan aspirasi sedikit untuk membuktikan benar tidaknya cairan otak yang keluar. sedapat mungkin pada sutura atau ubun-ubun. kemudian baru bagian tubuh atas janin. Untuk mempercepat lahirnya kepala. Ruptura perinei Prosedur: Penolong duduk di sebelah kiri dada ibu. Syarat : 1. Dikerjakan pada pembukaan 4 cm. Ruptura uteri 3. dilanjutkan pada bagian perut sampai seluruh badan janin dilahirkan lebih dulu dengan menarik kedua kaki. kulit kepala dijepit dengan cunam Muzeoux/Willett. Dengan gunting Siebold dan dengan lindungan tangan yang di dalam. 3. Peralatan:  Spekulum Sims  Cunam Willett/Muzeaux Prosedur: 1. menghadap ke arah panggul. dipasang spekulum vagina.Kemajuan persalinan yang lambat 2.Ibu kelelahan . Ibu kesakitan 2. 2. Indikasi : 1. His adekuat Indikasi kontra: 1. Pada persalinan sungsang: dilakukan saat bokong membuka pintu dengan tujuan untuk memperlancar persalinan kala II dan agar lengan janin tidak menjungkit. Pada persalinan letak kepala . dimana kepala sangat tinggi sukar dilakukan dekapitasi Peralatan:  Gunting Sebold  Spekulum Sims Prosedur: 1. 2. Komplikasi yang dapat terjadi : 1. saat kepala janin keluar pintu.  Pada persalinan letak sungsang. sehingga kepala mengecil dan dapat dilahirkan pervaginam. Dorongan Kristeller dihentikan bila:  Pada persalinan letak kepala. Kemudian semprit dilepas. dimasukkan ke dalam jalan lahir. Disproporsi kepala panggul 2.SPONDILOTOMI Dilakukan pada letak lintang.

 Kaca mata pelindung PROSEDUR PERSALINAN NORMAL               Mengosongkan kandung kemih. bokong. Persalinan fisiologis: sama dengan persalinan normal ibu berusia 20-30 tahun. tenaga mengejan  Pasage: jalanlahir (panggul). o Duk steril.5 jam  Multipara : 7. untuk memperkuat his. dengan tangan kiri Ibu disuruh berhenti mengejan Ekstensi perlahan-lahan dengan suboksiput sebagai hipomoklion. antibiotika. berat. lalu ke atas sampai bahu belakang lahir Kemudian tarikan sejajar sampai perut. tumor. sehingga lahirlah dahi. kaki.  Sepatu boot. keringkan. pembukaan 2 cm. kelainan kongenital. hidung. tetes mata. letak belakang kepala kala I:  Menunggu sesuai kurve Friedman / partograf  Menyiapkan alat-alat:  Ibu : o Episiotomi & jahit set (primi) o Set persalinan normal: klem tali pusat.DASAR PERSALINAN Persalinan / partus : Serangkaian proses di mana hasil konsepsi genap bulan atau hampir genap bulan dikeluarkan dari tubuh ibu. mulut dan dagu. Disamping faktor: penolong. muka anak diusap dengan handuk kecil Kemudian kita memegang kepala anak dihadapkan sesuai bagian-bagian kecil anak Dengan tangan kiri di atas dan tangan kanan di bawah (pada letak pungggung kiri) kepala anak kita tarik ke bawah sampai bahu depan lahir. antibiotika   Anak: o Resusitasi set: klem talipusat. Lakukan manajemen aktif kala III: Rawat anak. tak ada komplikasi ibu dan anak. lahir. Persiapan persalinan normal. UUK belakang o Sinsipital: letak puncak o Presentasi dahi (brow) o Presentasi muka (face)  Presentasi bokong  Presentasi bahu Lama inpartu: Kala I:  Primipara : 13. striktur  Passanger: keadaan janin (presentasi.  Sarung tangan. setiap 4 jam/penuh. Persalinan spontan: persalinan yang berlangsung hanya dengan kekuatan ibu sendiri.5 jam Kala II:  Primipara: 60 menit  Multipara: 30 menit Mulainya inpartu: ada his yang teratur. Prognosis persalinan tergantung:  Power: his. memudahkan anak keluar/mencegah luka Rektum: memperkuat his dan menjaga asepsis karena feses keluar Pengawasan 10 Desinfeksi vulva ibu: rambut pubis? Memimpin mengejan waktu ada his Mengawasi DJJ setiap selesai mengejan Mula-mula anak membuka pintu: terlihat kepala waktu ada his Kepala keluar pintu. peralatan. dengan paritas kurang dari 5. klem tali pusat Lakukan Inisiasi Menyusu Dini     . rigid. handuk kecil. terlihat kepala waktu ada / tidak ada his Dilakukan episiotomi bila diperlukan saat kepala tampak sebesar telur bebek Menahan perineum dengan tangan kanan dan membantu fleksi kepala anak sampai suboksiput di bawah simfisis. perlak. bedong. Persalinan normal: Persalinan yang berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri.  Masker. UUK lintang. sedot lendir o Obat anak: vit K. bungkus handuk kering. letak belakang kepala. povidon iodin o Handuk lebar. berlangsung kurang dari 18 jam (WHO). Macam presentasi  Presentasi kepala: o Vertex (oksipital): UUK depan. Operator:  Celemek. genap bulan. o Obat-obatan: uterotonika. bayi satu.

cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering 5. Pakai sarung tangan DTT pada tangan yang akan digunakan untuk periksa dalam 6. Pakai celemek plastik 4.lepaskan dan rendam dalam larutan klorin 0. tentramkan hati ibu & keluarganya Berikan kesempatan untuk ditemani suami & keluarga yang lain Ajarkan suami & keluarga mengenai bagaimana bisa membantu dan mendukung selama persalinan Laksanakan pencegahan infeksi yang baik Hargai privasi ibu Beri kesempatan mencoba berbagai posisi selama persalinan dan kelahiran bayi Anjurkan ibu untuk minum dan makan sepanjang menginginkan Hargai dan perbolehkan praktik tradisional sepanjang tidak merugikan ibu & bayi Persiapan persalinan & kelahiran bayi : perlengkapan yang perlu disiapkan penolong &keluarga Hindari tindakan berlebihan dan mungkin membahayakan: episiotomi. MEMASTIKAN PEMBUKAAN LENGKAP DAN KEADAAN JANIN BAIK 7. istirahat & tidur cukup & mobilisasi segera  Perawatan tali pusat yang bersih  Tidak perlu dipijat perut. Pastikan kelengkapan peralatan. Mengenali gejala dan tanda kala dua  Ibu merasa ada dorongan kuat dan meneran  Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan vagina  Perineum tampak menonjol  Vulva dan sfingter ani membuka II. besarkan hatinya. Lakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap. Periksa denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi / saat relaksasi uterus untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (120-160 x / menit)  Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal  Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam.5% selama 10 menit. DJJ dan semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf   . jamu. lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh bayi  Menggelar kain di atas perut ibu dan tempat resusitasi serta ganjal bahu bayi  Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai di dalam partus set 3. hargai ibu sesuai martabat Jelaskan semua asuhan dan proses persalinan yang akan dilakukan kepada ibu & keluarganya Beri kesempatan ibu untuk bertanya dan hilangkan kekhawatiran Berikan dukungan. MENYIAPKAN PERTOLONGAN PERSALINAN 2. lilitan tali diperut & pantat. Membantu memulai pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah lahir (Inisiasi Menyusu Dini) Rencana rujukan bila diperlukan: kemana.5 %→ langkah no. menyekanya dengan hati-hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang dibasahi air DTT  Jika introitus vagina. Membersihkan vulva dan perineum. pilis dahi & perut. Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan yang dipakai.ASUHAN SAYANG IBU DALAM PROSES PERSALINAN :               Panggil ibu sesuai namanya. bahan dan obat-obatan esensial untuk menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu dan bayi baru lahir. 9) 8.5 % kemudian lepaskan dan rendam dalam keadaan terbalik dalam larutan 0. pencukuran & klisma Rencana pasca salin  Bayi diserahkan pada ibu sesegera mungkin. campuh vagina. kapan ? BAKSOKUDA ASUHAN PERSALINAN NORMAL(& Inisiasi Menyusu Dini) I. Masukkan oksitosin ke dalam tabung suntik (gunakan tangan yang memakai sarung tangan DTT dan steril (pastikan tidak terjadi kontaminasi pada alat suntik) III. didoakan  Inisiasi menyusu dini & rawat gabung  Nutrisi tanpa pantangan (mutih & nganyep).  Bila selaput ketuban dalam pecah dan pembukaan sudah lengkap maka lakukan amniotomi 9. bersihkan dengan seksama dari arah depan ke belakang  Buang kapas atau kasa pembersih (terkontaminasi) dalam wadah yang tersedia  Ganti sarung tangan jika terkontaminasi (dekontaminasi. Untuk asfiksia → tempat datar dan keras. perineum atau anus terkontaminasi tinja. Dekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0. 2 kain dan 1 handuk bersih dan kering. keadaan keluarga setelah dirawat. Cuci kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan 10.

Periksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat dan ambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi. Setelah tubuh dan lengan lahir. tidak bernapas atau megap-megap lakukan langkah resusitasi (lanjut ke langkah resusitasi pada asfiksia bayi baru lahir) 26. Periksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus (hamil tunggal) 28. Anjurkan ibu untuk meneran perlahan atau bernafas cepat dan dangkal 20. Pemotongan dan pengikatan tali pusat  Dengan satu tangan. lanjutkan pemantauan kondisi dan kenyamanan ibu dan janin (ikuti pedoman penatalaksanaan fase aktif) dan dokumentasikan semua temuan yang ada  Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana peran mereka untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu untuk meneran secara benar 12. jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus berkontraksi baik 29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir. kepala. jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit V. geser tangan bawah ke arah perineum ibu untuk menyanggah kepala. Biarkan bayi di atas perut ibu.IV. (bila ada rasa ingin meneran dan terjadi kontraksi yang kuat. Anjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi. Pakai sarung tangan DTT pada kedua tangan VI. Tangan yang lain menahan kepala bayi untuk menahan posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala. PENANGANAN BAYI BARU LAHIR 25. lengan dan siku sebelah bawah. pegang secara biparental. Pegang kedua mata kaki (masukkan telunjuk diantara kaki dan pegang masing-masing mata kaki dengan ibu jari dan jari-jari lainnya) VII. 27. Tunggu kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan Lahirnya Bahu 22. Laksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ada dorongan kuat untuk meneran :  Bimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan efektif  Dukung dan beri semangat pada saat meneran dan perbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai  Bantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya (kecuali posisi berbaring terlentang dalam waktu yang lama)  Anjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi  Anjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat untuk ibu  Berikan cukup asupan cairan per-oral (minum)  Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai  Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera lahir setelah 120 menit (2jam) meneran (primigravida) atau 60 menit (1 jam) meneran (multigravida) 14. dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut)  Ikat tali pusat dengan benag DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya  Lepaskan klem dan masukkan dalam wadah yang telah disediakan  . Minta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran. Setelah kedua bahu lahir. bantu ibu keposisi setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan dan pastikan ibu merasa nyaman) 13. dan segera lanjutkan proses kelahiran bayi  Jika tali pusat melilit leher secara longgar. 31. penelusuran tangan atas berlanjut ke punggung. klem tali pusat di dua tempat dan potong di antara dua klem tersebut 21. PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI Lahirnya Kepala 19. Apakah bayi menangis kuat dan /atau bernapas tanpa kesulitan ? b. Lakukan penilaian (selintas) : a. lepaskan lewat bagian atas kepala bayi Jika tali pusat melilit leher secara kuat. tungkai dan kaki. berjongkok atau mengambil posisi yang nyaman. bokong. pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi). PERSIAPAN PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI 15. Beritahukan bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik dan bantu ibu dalam menemukan posisi yang nyaman dan sesuai dengan keinginannya  Tunggu hingga timbul rasa ingin meneran. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang lengan dan siku sebelah atas 24. jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm 16. suntikan oksitosin 10 unit IM (intramuskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin) 30. Keringkan tubuh bayi  Keringkan bayi mulai dari muka. Letakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian di bawah bokong ibu 17. Ganti handuk basah dengan handuk / kain yang kering. Buka tutup partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan 18. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar. Setelah 2 menit pasca persalinan. dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka vulva maka lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi dengan kain bersih dan kering. MENYIAPKAN IBU &KELUARGA UNTUK MEMBANTU PROSES BIMBINGAN MENERAN 11. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama. Letakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu. Dengan lembut gerakkan kepala ke arah bawah dan distal hingga bahu depan muncul di bawah arkus pubis dan kemudian gerakkan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang 23. Anjurkan ibu untuk berjalan. Apakah bayi bergerak dengan aktif ? Jika bayi tidak menangis.

Beri dosis ulangan oksitosin 10 unit IM 2. pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta  Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat : 1. Biarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam. Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan  Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama 2 jam pertama pasca persalinan  Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal 50. Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik.  Jika selaput ketuban robek. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif. dan vitamin K1 1mg intramuskular di paha kiri anterolateral 45.5) Kebersihan dan Keamanan 51. Saat plasenta muncul di introitus vagina.32. Lakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan. Jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi lahir atau bila terjadi perdarahan. lakukan masase uterus. Setelah uterus berkontraksi. Setelah satu jam. di tepi atas simfisis. Luruskan bahu bayi sehingga bayi menempel di dada / perut ibu. suami atau anggota keluarga untuk melakukan stimulasi puting susu Mengeluarkan Plasenta 37. Tangan lain menegangkan tali pusat 36. Minta keluarga untuk menyiapkan rujukan 4. untuk mendeteksi. letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus teraba keras)  Lakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidak berkontraksi setelah 15 detik masase IX. Letakkan bayi agar ada kontak kulit ibu ke kulit bayi Letakkan bayi tengkurap di dada ibu. lahirkan plasenta dengan kedua tangan. segera lakukan plasenta manual 38. segera lakukan penjahitan X. Bayi dan pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh. Periksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun. Masukkan plasenta ke dalam kantung plastik atau tempat khusus 41. Letakkan satu tangan di atas kain pada perut ibu. Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi di kepala bayi VIII. Cuci dan bilas peralatan setelah didekontaminasi 52. minta ibu. Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam 43. melakukan asuhan yang sesuai untuk menatalaksana atonia uteri 47. Menyusu pertama biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit. pakai sarung tangan DTT atau steril untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jari-jari tangan atau klem DTT atau steril untuk mengeluarkan bagian selaput yang tertinggal Rangsangan Taktil (Masase) Uterus 39. minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian ke arah atas. mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial)  Jika tali pusat bertambah panjang. lakukan penimbangan / pengukuran bayi. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir. Ajarkan ibu / keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi 48. Lakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh 3. Pindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva 35.  Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusu dini dalam waktu 30-60 menit. Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0. beri tetes mata antibiotik profilaksis. Lanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam  2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan  Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pascapersalinan  Setiap 20-30 menit pada jam kedua pascapersalinan  Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik. MELAKUKAN PROSEDUR PASCA PERSALINAN 42. Periksa kembali bayi untuk pastikan bahwa bayi bernafas dengan baik (40-60 kali/ menit) serta suhu tubuh normal (36. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah 49. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai . hentikan penegangan tali pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi prosedur di atas  Jika uterus tidak segera berkontraksi. PENATALAKSANAAN AKTIF PERSALINAN KALA TIGA 34. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban perpilin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang telah disediakan. tegangkan tali pusat ke arah bawah sambil tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang atas (dorso-kranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversio uteri).5 % untuk dekontaminasi (10 menit).5-37. Bayi cukup menyusu dari satu payudara  Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah berhasil menyusu 44. MENILAI PERDARAHAN 40. Setelah satu jam pemberian Vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral  Letakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu bisa disusukan  Letakkan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum berhasil menyusu di dalam satu jam pertama dan biarkan sampai bayi berhasil menyusu Evaluasi 46. Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya 5. Usahakan kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari puting payudara ibu 33. Lakukan penegangan dan dorongan dorso-kranial hingga plasenta terlepas.

lendir dan darah. Bantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering 54. terapi dengan oksitosin  Inersia uteri hipertonik: his tidak teratur. nyeri hebat. nadi naik. Anjurkan keluarga untuk memberi ibu minuman dan makanan yang diinginkannya 55.53. tak nyeri. Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0. Celupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0. penderita disuruh berjalan – jalan  Pecah KK (bila pembukaan > 6 cm)  Drip Oksitoksin 5 U dalam 500 cc D 5% mulai 8 tetes dinaikkan 4 tetes tiap 15 menit sampai his adekuat. rektum.5 % balikkan bagian dalam ke luar dan rendam dalam larutan klorin 0. Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir Dokumentasi 58. Bersihkan ibu dengan menggunakan air DTT. terapi sedatif Bila his mundur. Bantu ibu memberikan ASI . suhu badan  Tanda infeksi alat genital (edema& bau): vulva. kontraksi keras. Pastikan ibu merasa nyaman. kembung karena kekurangan Kalium Obyektif:  Tanda vital: tensi turun. portio uteri eksternum Sikap: akhiri persalinan dengan  Perbaikan keadaan umum  PDV: untuk ambil tindakan . perlu tindakan perbaikan his mulai dari yang teringan :  Perbaiki keadaan umum ibu dengan Infus glukosa 10%  Kosongkan VU. max 20 tetes per menit PERSALINAN LAMA Persalinan lebih 24 jam mulai dari kala I Penyebab persalinan lama:  Inersia uteri karena anemia (power)  Kelainan letak/bentuk anak:  Kelainan jalan lahir: tumor.5 % 56. Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang). dehidrasi  Meterorismus. disproporsi kepala panggul Bahaya persalinan lama:  Kelelahan  Perdarahan pasca salin  Infeksi  Gawat janin: asfiksia  Ruptura uteri  Fistula Tanda: Subyektif  Keadaan umum lemah.5% selama 10 menit 57. periksa tanda vital dan asuhan kala IV PERSALINAN PATOLOGIS / PENYULIT PERSALINAN INERSIA UTERI: Inertia uteri: kelainan dalam kontraksi sehingga tidak timbul pembukaan Pembagian inersia uteri:  Saat timbulnya:  Inersia uteri primer: saat fase laten  Inersia uteri sekunder: saat fase aktif  Kekuatan kontraksi:  Inersia uteri hipotonik: kontraksi mengurang. Bersihkan sisa cairan ketuban.

terasa sakit Diagnosa banding:  Liquor yang palsu berasal dari peradangan: endometritis.Pencegahan dan pengobatan persalinan lama  Jangan paksa ibu bersalin karena false labor: serviks memanjang. HIDRORE AMNIOTIKA: Hidrore amniotika: pengeluaran cairan sedikit/ merembes. bila ada indikasi. inersia uteri. Penyebab:  Pecahnya korion & amnion pada hamil muda (32 minggu) Tanda :  Keluar cairan merembes  Tinggi fundus uteri tak sesuai dengan umur kehamilan. lebih kecil dari umur kehamilan  Pergerakan anak lebih sering. ketika hamil muda atau sebelum inpartu. KK (+).  Jika ada indikasi seksio sesarea KETUBAN PECAH AWAL Kulit ketuban pecah waktu inpartu sebelum pembukaan 7 cm  Bahaya: penumbungan. syarat terpenuhi. macet  Gawat janin  Infeksi fetal  Penumbungan tali pusat. Tanpa indikasi kontra. anggota badan janin  Syok obstetri: emboli air ketuban Komplikasi:  Imaturitas / prematuritas  Kelainan kongenital . vaginitis Terapi:  Akhiri persalinan bila ada indikasi. pecah KK  Jika inersia uteri: lakukan perbaikan his dengan drip oksitosin. pembukaan (-)  PDV: pembukaan dan penurunan  Ukur: Ukuran panggul dalam/luar. KETUBAN PECAH DINI Ketuban pecah dini: kulit ketuban pecah sebelum inpartu Fungsi air ketuban saat kehamilan:  Bantalan bagi fetus terhadap goncangan  Memungkinkan gerak anak  Membuat suhu konstan  Menyamakan tekanan dari tali pusat dan fetus  Menghindari perlekatan fetus dengan amnion  Dalam jumlah sedikit diminum Fungsi air ketuban saat persalinan:  Menyamakan tekanan pada fetus dan kontraksi uterus  Mengurangi luas plasenta side yang terlepas  Membantu menahan kuman masuk  Membantu pembukaan Mikroskopis cairan ketuban:  Sel amnion  Verniks kaseosa  Lanugo Risiko ketuban pecah dini:  Persalinan kering  Persalinan lama: penurunan sulit.  Letak anak dengan rontgen/usg  Rektum dan kandung kemih kosongkan  Jika pembukaan > 4cm. servisitis.

 Asfiksia  Trauma (perdarahan intrakranial. TALI PUSAT TERKEMUKA Diagnosis:  Pada letak kepala tak masuk PAP  Gerak janin cepat  Bising tali pusat  PDV meraba tali pusat Tindakan:  Pembukaan belum lengkap :  Usahakan KK tetap positif  Ibu posisi Trendelenberg  Miring ke samping yang berlawanan dengan letak talipusat  Tunggu sampai pembukaan lengkap:  Pecah KK  Dari luar tekan kepala anak masuk PAP  Berhasil jika: o Denyut jantung Janin baik o Tak menumbung Jika tak berhasil ekstraksi vakum Macam letak sungsang:     Presentasi bokong sempurna (Complete Breech Presentation): bokong kaki Presentasi bokong murni (Frank Breech) Presentasi bokong tak sempurna (Incomplete Breech) : satu kaki menjulur ke bawah Presentasi kaki Macam persalinan sungsang: Persalinan per vaginam:  Spontan (Bracht): bayi dilahirkan dengan kekuatan ibu sendiri  Semi spontan / partial extraction:persalinan yang dibantu (Assisted breech delivery / Partial breech extraction). Penyebab morbiditas dan mortalitas persalinan sungsang seperti tersebut di atas terutama diakibatkan oleh persiapan jalan lahir yang tidak sempurna dikarenakan pada letak sungsang bagian presentasi adalah bagian yang lunak (bokong). manual aids: o Muller o Klasik o Lovset o Melahirkan kepala : Mauriceau  Full Breech extraction: Bayi dilahirkan dengan proses.  Perdarahan pasca persalinan dan atau trauma jalan lahir. Indonesia 3500 gr Perjalanan persalinan dikatakan baik bila setiap cm penambahan pembukaan kala I butuh waktu tidak lebih 2 jam. karena :  Prematuritas. . dorongan Kristeller.KELAINAN TALIPUSAT Normal panjang: 30 – 50 cm PDV: pada jam? Berdenyut? Kelainan:  Talipusat terkemuka: kulit ketuban (+)  Tali pusat menumbung: kulit ketuban (-) LETAK SUNGSANG Pada persalinan sungsang morbiditas dan mortalitas bayi lebih besar dibandingkan dengan persalinan letak kepala. forsep  Semua sungsang dengan presentasi kaki semuanya harus seksio sesarea.memakai tenaga penolong seluruhnya. Tidak boleh mendorong dan tidak boleh menarik / ekstraksi. o Posisi Trendelenberg o 1 tangan masuk vagina o Tidak berhasil seksio sesarea  Pembukaan hampir lengkap: o Koromelas o Ekstraksi vakum  Pembukaan lengkap: kepala belum masuk PAP : ekstraksi vakum  Multipara pembukaan lengkap: kepala masuk. Sudah tak dipakai lagi o Ekstraksi kaki o Ekstraksi bokong Persalinan per abdominam:  Semua presentasi sungsang yang alami penyulit dan ada indikasi akhiri persalinan tetapi syarat pervaginam tidak memenuhi  Semua presentasi kaki Pedoman penting persalinan sungsang menurut ALARM:     Batasan berat pervaginam: maksimal di Kanada 4000 gr. paresis dan fraktura). Harus bertindak dengan lembut (gentle) TALI PUSAT MENUMBUNG Letak kepala:  Pembukaan kecil: o Reposisi. serta bokong dan kaki janin lebih mudah terangsang di luar badan ibu.

terjadi fleksi lateral badan janin sehingga trokanter belakang melewati perineum. mulut dan akhirnya seluruh kepala. Pada waktu tali pusat lahir dan teregang. segera kendorkan tali pusat tersebut.Cuci tangan dan memakai sarung tangan steril. Saat trokanter depan berada di bawah simfisis.  Bahu masuk pintu atas panggul dengan diameter biakromial miring / melintang. kening dan verteks melewati perinium. misalnya bahu depan berada pada kuadran kanan depan.  Kepala masuk pintu atas panggul dalam keadaan fleksi dengan oksiput misalnya berada pada kuadran kiri depan.  Syarat persalinan sungsang cara Bracht :  Jalan lahir luas dan bayi tidak besar. muka. Segera setelah bokong lahir. Karena kontraksi uterus dan pengejanan ibu. .Forsep Piper / Naegele steril. Pada waktu bahu depan berada di bawah simfisis. Di dasar panggul bahu mengadakan putaran paksi dalam sehingga diameter biakromial terletak anteroposterior. o Alat-alat perawatan tali pusat Persiapan penolong : . Persalinan sungsang spontan:   Persalinan sungsang spontan penuh (tidak memerlukan bantuan penolong samasekali) Persalinan sungsang cara Bracht :  Prinsip persalinan sungsang cara Bracht ini adalah membantu agar sumbu janin sesuai dengan sumbu panggul ibu sehingga kekuatan his dan pengejanan ibu menjadi efektif. Bila perlu boleh dilakukan dorongan cara Kristeller untuk mencegah tangan janin menjungkit Persalinan sungsang pervaginam Syarat :  Pembukaan benar-benar lengkap  Kulit ketuban sudah pecah  His adekuat Selain itu untuk persalinan sungsang pervaginam juga diperlukan penilaian menurut Zatuchni-Andros dan Gimovsky. Persalinan sungsang spontan Mekanisme persalinan sungsang :  Bokong janin masuk pintu atas panggul dengan diameter bitrokanter miring / melintang. lakukan episiotomi (dengan anestesi lokal sebelumnya ) 3. dagu berada pada kuadran kanan belakang dengan diameter suboksipito-bregmatika dalam keadaan miring / melintang. Indikasi kontra :  Terdapat disproporsi janin – panggul  Kepala janin defleksi (star gazing fetus). Saat suboksiput berada di bawah simfisis. Di dasar panggul ini terjadi putaran paksi dalam sehingga garis pangkal paha (bitrokanter) menempati posisi antero-posterior pada pintu bawah panggul. penolong berdiri didepan vulva.  Faktor kekuatan ibu cukup (adekuat)  Persiapan sebelum melakukan persalinan sungsang dengan cara Bracht: Persiapan ibu : o Desinfeksidaerah genitalia (vulva toilet). topi dan masker. o Kalau perlu pasang infus Persiapan bayi : o Peralatan resusitasi. Saat ada his. dapat dilakukan embriotomi secara perforasi – kranioklasi melalui foramen magnum. Saat bokong membuka vulva. Kepala turun ke dasar panggul dalam keadaan fleksi. bokong dicekam dengan cara kedua ibu jari penolong sejajar sumbu panggul. 6. sedang jari-jari yang lain memegang belakang panggul 4.Memakai jas. Kaki.  . Lahirnya bokong diikuti kedua kaki dan kemudianterjadi putaran paksi luar yaitu badan janin berputar sehingga perut ke belakang dan punggung ke depan. ibu dipimpin mengejan 2. Ibu dalam posisi litotomi. bahu belakang melewati perineum diikuti dengan fleksi lateral badan janin sehingga bahu depan dan lengan depan lepas dari bawah simfisis. dada. Prosedur persalinan sungsang cara Bracht : 1.  Bayi pertama pada persalinan ganda. kepala lahir dalam keadaan fleksi dengan dagu. Segera setelah bahu lahir.Bila bayi mati: selain cara tersebut di atas bila terjadi persalinan macet kepala tertinggal (After Coming Head). bokong turun sampai mencapai dasar panggul. bahu dan lengan. Di dasar panggul ini terjadi putaran paksi dalam yaitu daerah suboksiput berputar sehingga sutura sagitalis dalam posisi anteroposterior. 5. bahu mengadakan putaran paksi luar dengan demikian diameter biakromial menjadi lintang. Persiapan alat-alat : .Peralatan partus (termasuk peralatan jahit dan kain / duk steril) . bokong dan badan janin diangkat dengan kedua tangan penolong dan disesuaikan dengan sumbu panggul ibu (melengkung ventro – kranial kearah perut ibu ) sehingga berturut–turut lahir pusat. dagu.

manipulasi terhadap janin hanya sedikit.  Multigravida 1. pertolongan bokong sampai tulang belikat terdapat pada vulva (di sini pertolongan sesuai dengan cara Bracht) Tahap II. Cara Lovset : Karena memutar bahu janin dengan cara Klasik pada umumnya sukar dan berat.3 / lebih rendah -1 / lebih rendah < 37 mgg < 3175 gr >2 > 4 cm Bila skor : < 4 = Persalinan dianjurkan dengan seksio sesarea 4 = Dilakukan reevaluasi. angkat kedua kaki bayi ke depan berlawanan dengan letak bahu belakang sehingga lengan belakang keluar. Bila persyaratan di atas tidak terpenuhi maka pilihan persalinan dengan seksio sesarea. Taksiran berat janin antara 2000 – 4000 gram 3. Angkat kedua kaki janin sesuai dengan posisi bahu depan. mengharuskan kita menolong dengan cara lain misalnya cara klasik. pengawasan persalinan yang ketat. C. 7. Perjalanan kala I harus sesuai dengan kurve Friedman. Persalinan sungsang yang dibantu(assisted breech delivery / partial breech extraction ) Paling sering dilakukan. sehingga komplikasi pada janin maupun ibu juga tidak banyak didapatkan.  Pada persalinan sungsang cara Bracht ini. maka Lovset mengajukan cara untuk memutar bahu yang lebih mudah yaitu dengan cara dua tangan penolong mencekam dada dengan kedua ibu jari sejajar dan berdekatan dengan punggung janin kemudian diputar sesuai dengan tujuan tindakan yang dikehendaki. Pengawasan ketat keadaan janin selama persalinan 6. misalnya pada keadaan lengan menjungkit / lengan tengkuk. keluarkan lengan dengan cara mengusap lengan atas janin dengan dua jari tangan penolong berfungsi sebagai spalk. Setelah lengan keluar. pegang kedua kaki dengan tangan yang lain dan ayun (ke bawah kemudian ke atas lagi) sehingga bahu depan menjadi bahu belakang dengan demikian kedua kaki berada pada daerah yang berlawanan dengan bahu. Ukuran dan bentuk panggul baik 5. Melahirkan kepala yang tertinggal (after coming head) Sebelum melakukan tindakan ini. mengeluarkan bahu dan lengan sesuai dengan letak bahu dan lengan janin Tahap III.Keterangan :  Pemilihan kasus yang akan ditolong dengan cara Bracht ini harus cermat sesuai dengan syarat tersebut diatas. Dengan dua jari telusuri lengan atas yang berlawanan (belakang) dan usap lengan atas tersebut dengan tujuan mengeluarkan lengan belakang.  Primigravida 1 cm / jam. Cara Klasik : Cara klasik terutama dilakukan bila kedua lengan tidak berada di depan badan janin. diupayakan agar lengan janin menjadi lengan menjungkit (keluar dari daerah tengkuk) dengan cara memutar badan janin menjauhi lengan tengkuk. Cara Mueller : Apabila kedua lengan berada di depan badan janin maka persalinan cara Mueller dapat dilakukan. Prinsip mengeluarkan lengan secara klasik adalah bahwa lengan janin diletakkan pada panggul bagian belakang karena daerah ini lebih luas bila dibandingkan dengan panggul bagian depan. Terdapat 3 (tiga) tahap prinsip persalinan sungsang dengan bantuan yaitu : .    Tahap I. Pada keadaan lengan tengkuk. dapat lahirpervaginam tetapi masih mungkin tindakan operatif. Jika lengan belum keluar. lakukan periksa dalam vagina untuk mengetahui posisi dagu janin sebagai titik petunjuk (point of direction).3 cm / jam. Prinsip cara Mueller adalah mengeluarkan lengan depan terlebih dahulu dengan badan janin ditarik ke arah yang berlawanan. Setelah keluar. 5 = Persalinan diharapkan dapat pervaginam Cara penilaian lain adalah menurut Gimovsky yang menyatakan bahwa persalinan sungsang pervaginam cukup aman jika : 1.Sebelum melakukan pertolongan sebaiknya dilakukan penilaian keberhasilan persalinan sungsang. Kepala janin tidak dalam keadaan defleksi. mengeluarkan kepala sesuai dengan letak janin Mengeluarkan bahu dan lengan janin: A. B. Pada setiap persalinan sungsang pervaginam harus tetap dipersiapkan operasi setiap saat bila diperlukan 2. Cara ini dilakukan bila lengan janin dalam keadaan menjungkit. Banyak metode untuk keperluan penilaian ini diantaranya skor indeks Zatuchni dan Andros : Nilai 1 0 Paritas PrimigravidaMultipara 2 Umur kehamilan > 39 minggu 38 mgg Taksiran Berat Janin > 3630 gr 3629 – 3176 gr Persalinan sungsang 0 1 sebelumnya (> 2500 gr) Pembukaan 2 cm 3 cm Penurunan tinggi . Umur kehamilan antara 36 – 42 minggu 4. Kegagalan menolong dengan cara Bracht.

2. 3. forsep diputar sesuai dengan sumbu panggul di mana daun forsep berada dengan tujuan agar dagu berada di belakang kemudian tangkai forsep ditarik sesuai dengan sumbu panggul. dilakukan tarikan dengan suboksiput sebagai hipomoklion sambil menahan perineum. Prosedur : 1. dilakukan traksi sampai suboksiput lahir di bawah simfisis. Indikasi ekstraksi sungsang : o Ibu : sama dengan ekstraksi forsep o Janin : Gawat janin. Sebelumnya. Jari tengah operator dimasukkan kedalam mulut atau ditempatkan diatas maksila janin. tali pusat menumbung o Obstetri : Kala II lebih dari 5 jam. Dilakukan bantuan tekanan pada kepala janin di atas simfisis agar kepala janin dapat masuk panggul. 2. Yang pertama adalah yang berada di depan kepala terlebih dahulu baru kemudian masukkan forsep untuk yang berada di ruang panggul belakang. C. Tangan operator yang berhadapan dengan muka janin ditempatkan di bawah janin (untuk menopang badan janin) dengan kedua kaki janin berada di kiri dan kanan lengan operator tersebut. Cara Mauriceau (Veit-Smelie) :  Pada cara Mauriceau (Veit-Smelie) ini kepala janin diupayakan agar tetap dalam keadaan fleksi serta pemutaran kepala janin tersebut sesuai dengan putaran paksi dalam. Setelah lutut dan sebagian paha keluar. kemudian badan janin ditarik ke bawah (operator jongkok) 2. paha janin sampai lutut guna mengadakan abduksi pada janin sehingga kaki janin keluar. Ulangi lagi periksa dalam vagina untuk mengetahui apakah ada jaringan yang terjepit 5. Cara pengeluaran kepala dengan forsep : Forsep yang dipergunakan sebaiknya forsep Piper yang mempunyai tangkai melengkung. Cara Prague (Praha) terbalik : Cara ini khusus dilakukan bila dagu janin berada di depan dan sukar untuk diputar di belakang.namun bila tidak adadapat digunakan forsep Naegele atau Kielland. Cara Naujoks : Teknik ini dilakukan bila kepala masih tinggi (di atas pintu atas panggul). Kunci tangkai forsep di depan badan janin 4. Bila berhasil. Kedua kaki janin kemudian diangkat ke atas dan ke depan perut ibu sehingga kepala janin lahir dengan submentum sebagai hipomoklion D. 2. tangan operator yang berada pada posisi yang sama dengan os sakrum dimasukkan ke dalam vagina untuk menelusuri bokong. Selanjutnya proses pengeluaran kepala adalah seperti cara Maurieau di atas. Satu tangan operator berada di bawah punggung janin dengan jari tangan mencekam bahu dari belakang. Selama melakukan tindakan ini. lakukan periksa dalam vagina untuk mengetahui posisi dagu sebagai titik petunjuk 2. Prosedur : 1. Selain itu tangan operator ini juga dapat mengadakan putaran paksi dalam kepala janin sesuai dengan penurunan janin dalam panggul. Bila satu atau dua kaki janin sudah berada di luar vulva kaki tersebut dipegang dengan dua tangan operator pada betis dengan kedua ibu jari berada pada punggung betis. pegangan dialihkan pada paha dengan kedua ibu jari pada punggung paha. Teknik pelaksanaan : 1.  Prosedur : 1. Adakan tarikan percobaan. Seringkali diperlukan tekanan diatas simfisis langsung pada kepala janin (perasat deSnoow) untuk membantu pengeluaran kepala janin tersebut. Cara Naujoks sedapat mungkin dihindari oleh karena sering menyebabkan komplikasi berat pada janin. B. Badan janin sedikit demi sedikit ke atas dengan suboksiput sebagai hipomoklion 4. Posisi tangan operator ini berguna untuk memastikan agar kepala janin tetap dalam keadaan fleksi (kalau perlu operator jongkok). Tangan operator yang lain mencekam bahu janin dari arah punggung dan gunakan terutama untuk mengadakan traksi 3. Kepala janin dimasukkan ke dalam panggul dengan posisi dagu di samping yaitu dengan cara kedua tangan operator mencekam bahu ke arah depan dan belakang. persalinan macet Prosedur Bila kaki janin masih terdapat di dalam vagina. Pada waktu suboksiput berada di bawah simfisis. Tangan operator yang lain memegang kedua kaki janin dan mengangkatnya ke atas. Ekstraksi sungsang(total breech extraction) A.   1. sedangkan jari telunjuk dan jari manis mencekam fosa kanina. Kemudian dilakukan traksi ke bawah (sesuai dengan arah sumbu panggul). . Setelah itu masukkan forsep di antara janin dan jalan lahir.A. fundus uteri ditahan oleh tangan operator yang lain. Setelah putaran paksi selesai. Dilakukan traksi ke bawah sehingga submentum berada di bawah simfisis. Ekstraksi kaki :  Dilakukan bila ada indikasi untuk mengakhiri persalinan dengan bagian terbawah janin adalah kaki dan memenuhi syarat untuk persalinan sungsang serta tidak ada indikasi kontra.

paha. Bila pusat sudah berada di luar vulva. siku dan bahu) 5. Sebelum itu. di lakukan periksa dalam vagina untuk menentukan letak lengan janin. perut. menjungkit atau di belakang tengkuk (nuchal arm). Catatan :  Tindakan profilaksis Pinard adalah tindakan untuk menurunkan satu atau dua kaki janin pada letak bokong (frank Breech) dengan tujuan agar bila perlu dapat dilakukan ekstraksi kaki. Terpapar risiko anestesi yang lebih berat 3. Aspirasi cairan amnion 3. 2. jari telunjuk tangan operator yang lain dipasang pada lipat paha belakang janin untuk membantu ekstraksi hingga bokong berada di luar vulva. kemudian mengikuti putaran paksi dalam bahu. Risiko terjadinya komplikasi lebih banyak 4. Dislokasi sendi (lutut. Komplikasi yang dapat terjadi : A. Setelah ujung tulang belikat terlihat. Pengeluaran janin selanjutnya adalah sesuai dengan persalinan sungsang yang dibantu. . Putaran kaki menyesuaikan dengan putaran paksi dalam bokong dan badan janin. Kerusakan jaringan saraf (susunan saraf pusat. Sebagaimana pertolongan persalinan sungsang yang lain. Fraktura (paha. Seksio sesarea dalam persalinan sungsang: 1. sering diperlukan bantuan dorongan cara Kristeller. paha. robekan jalan lahir) 2. sternokleidomastoideus) 4. terutama terjadinya perdarahan intrakranial. yaitu apakah tetap berada di depan dada. Infeksi B.  Cara ini sudah jarang dilakukan karena sering menyebabkan komplikasi berat pada janin. 6. trokanter belakang serta kemudian punggung janin akan bergerak ke arah depan. Ibu : 1. Asfiksia 2. sakrum akan berada di samping. Bila trokanter depan sudah berada di bawah simfisis. Perdarahan pasca persalinan (atonia uteri. 4. Janin : 1. Arah ekstraksi berubah ke atas (ventral ibu) untuk mengeluarkan trokanter belakang 4. lengan atas dan bawah. 4. maka kemungkinan terjadinya ruptura uteri (dengan segala konsekuensinya) menjadi lebih tinggi. 3. Persalinan dengan seksio sesarea mempunyai konsekuensi : 1. Jika ibu kurang memperoleh bimbingan antenatal. tulang belakang dan klavikula) 6. Jari telunjuk tangan operator yang berhadapan dengan os sakrum dikaitkan pada lipat paha depan janin. hendaknya dipastikan pula bahwa serviks sudah tidak teraba lagi pada jalan lahir. 3. Skor Zatuchni-Andros < 3 Tidak memenuhi syarat persalinan sungsang yang aman sesuai dengan kriteria Gimovsky Pada persalinan sungsang prematur dengan berat badan janin < 2000 gr (atau sesuai dengan batas minimal kemampuan pengelolaan bayi prematur setempat) Kepala janin defleksi / hiperekstensi Pertumbuhan janin yang sangat terhambat Terdapat kematian perinatal sebelumnya terutama bila disertai dengan trauma kelahiran Ekstraksi bokong Ekstraksi bokong adalah mengakhiri persalinan dengan menarik bokong janin yang sudah berada di dasar panggul . tali pusat dikendorkan. bahu dan m. 5. Ekstraksi kemudian diteruskan dengan cara menempatkan kedua tangan pada bokong janin dengan kedua ibu jari berada di atas sakrum dan kedua ujung jari tangan berada di atas lipat paha janin.Dilakukan traksi ke arah bawah lagi (operator jongkok) dengan tujuan untuk menyesuaikan arah traksi dengan sumbu panggul ibu. salah satu bahu akan ke depan. Prosedur : 1. Kemudian dilakukan ekstraksi curam ke bawah (bila perlu tangan operator yang lain memegang pergelangan tangan yang mengikat tadi untuk memberikan tambahan kekuatan ekstraksi). yang berarti untuk pengeluaran bokong janin. Persalinan berikutnya berpeluang dilakukan dengan seksio sesarea lebih besar 5. Trauma otot (betis. Ekstraksi dilakukan dengan punggung janin di depan. sebaiknya sudah dilakukan episiotomi yang cukup lebar. Ekstraksi kemudian mengikuti putaran paksi dalam persalinan sungsang sesuai dengan ekstraksi kaki seperti tersebut di atas. Dilakukan periksa dalam vagina untuk memastikan titik petunjuk (os sakrum). Biaya lebih banyak 2. 2. 3. paresis pleksus brakialis dan nervus fasialis). Trauma jalan lahir 3. Pada ekstraksi bokong sampai tulang belikat.

biasanya janin sudah mati. spasme otot leher dan sebagainya. LETAK PUNCAK KEPALA Merupakan kelainan letak kepala dimana bagian terendah adalah puncak kepala/ UUB Diagnosis:  Saat hamil sulit didiagnosis  Saat persalinan: UUB di bagian terendah.Embriotomi: o Dekapitasi o Kleidotomi o Eviserasi o Spondilotomi o Eksenterasi . Etiologi: Merupakan faktor-faktor yang menyebabkan defleksi kepala atau menghalangi fleksi kepala. dilakukan ekstraksi forsep. perlu seksio sesarea.LETAK LINTANG Letak lintang kasep: letak lintang yang lengan tangan sudah keluar.Auskultasi: DJJ terjelas di pihak bagian-bagian kecil janin . UUK sukar diraba Mekanisme kelahiran kepala:  Bagian terendah puncak kepala  Putaran paksi dalam: UUB berputar ke simfisis.Palpasi: Leopold II tahanan terkuat dirasakan di pihak bagian-bagian kecil janin .Letak uterus yang miring .Dagu tetap di belakang setelah di pimpin mengejan beberapa saat (tidak ada kemajuan dalam rotasi internal) atau sering disebut Persisten Mento Posterior maka: o Seksio sesarea bila janin hidup o Perforasi bila janin mati Catatan: Bila janin lahir pervaginam.Lilitan tali pusat pada leher janin . Pengelolaan :   Dapat ditunggu kelahiran spontan Episiotomi (karena kepala lahir dengan diameter fronto ocksipitalis yang lebih besar dari diameter oksipito bregmatika sehingga menyebabkan perlukaan perineum yang luas.Plasenta previa .Dagu di depan: diharapkan spontan atau bila perlu ekstraksi forsep. dan kepala sudah di dasar panggul.Kelainan bawaan janin. mulut.Lahir spontan o Conduplicatio corpore o Evolutio Spontanea .Kesempitan panggul . misal: tumor leher depan . . bahu sudah masuk segmen bawah rahim.  Kelahiran kepala: UUB lahir kemudian dengan glabellasebagai hipomoklion kepala fleksi sehingga oksiput lahir Etiologi:  Kelainan bentuk panggul  Multiparitas (otot panggul lembek)  Kelainan bentuk kepala janin. maka janin akan melalui PBP dengan diameter suboksipito bregmatika yang lebih besar dari diameter oksipito bregmatika. .  Bila 1 jam dipimpin mengejan tak lahir.Periksa dalam: teraba dagu.Dagu dibelakang: diharapkan rotasi spontan dagu ke arah depan dan persalinan berlangsung spontan . pinggir orbita dahi.Bila didapatkan derajat kesempitan panggul dengan disproporsi.Versi Ekstraksi . tidak mungkin didorong ke dalam atau ditarik ke luar.Janin besar .Multiparitas dan perut gantung .Seksio Sesarea LETAK MUKA Diagnosis : .Bila panggul normal: .Foetal death: tonus otot hilang  defleksi . hidung. Macam persalinan letak lintang: Anak hidup: .Seksio Sesarea Anak mati: . . . Pengelolaan: Persalinan dengan presentasi muka harus diteliti kemungkinan disproporsi kepala panggul (DKP=CPD) dengan pelvimetri rontgen .

. sutura sagitalis melintang kepala turun H III-. posisi UUK lintang atau posterior Pengelolaan: . diharapkan terjadi putaran paksi yang benar. putaran paksi dalam berlangsung sehingga UUK berputar ke depan sampai di bawah simfisis bila kepala sampai di dasar panggul . . kemudian kepala didorong masuk PAP dengan tekanan dari luar. pinggir orbita. dsb. KELAINAN PUTARAN PAKSI PADA LETAK KEPALA Pada persalinan normal pada letak belakang kepala.Keadaan dimana tahanan panggul terhadap kepala berlebihan sehingga kepala tidak berputar sebagaimana diharapkan . kepala masih tinggi.Pada letak sungsang dapat terjadi presentasi dengan tangan menumbung Presentasi ganda jarang ditemukan. .Pada lengan menumbung dan kelihatan menghalangi turunnya kepala perlu dilakukan reposisi. Ini mengakibatkan kematianperinatal tinggi dan perlakuan luas dari perineum. .Deep Tranverse Arrest : pembukaan lengkap.Diagnosis ditegakkan dengan PDV: bagian terendah UUK turun H III+ atau H III-IV. janin kecil. sebagian UUB. UUK di belakang.Pastikan ada tidaknya DKP . Tangan penolong dimasukkan ke dalam vagina mendorong lengan janin ke atas melewati kepalanya.Keadaan yang menyebabkan kurangnya tahanan yang adekuat dari panggul sehingga tidak menimbulkan putaran paksi yang diharapkan. maka tak dapat diharapkan bahwa kedudukan kepala akan berubah. mulut. Dalam hal ini pengelolaannya seperti pada tali pusat menumbung. Maka sebaiknya dilakukan seksio sesarea. misal kelemahan otot dasar panggul pada multiparitas.Letak dahi menetap persisten. Sekali-kali tak boleh dilakukan ekspresi Kristeller atau pemberian atau pemberian uterotonika untuk meningkatkan his karena dapat menimbulkan ruptura uteri. dipimpin mengejan 1 jam tidak lahir. panggul android Diagnosis: . misal DKP. panggul sempit. Dalam peristiwa putaran paksi dalam ini dapat timbul kelainan: . . dibantu episiotomi Bayi genap bulan terdapat 2 kemungkinan: . pangkal hidung o Tidak teraba : hidung.Bila presentasi ganda karena panggul sempit maka dilakukan seksio sesarea.LETAK DAHI Diagnosis:  Palpasi : idem letak muka  Auskultasi : idem letak muka  PDV: o Teraba sutura frontalis. .Keadaan di manaputaran paksi dalam macet.Dugaan kelainan putaran paksi timbul bila terjadi kemacetan persalinan kala II pada waktu kepala sudah atau hampir berada di dasar panggul. .Dipimpin mengejan bila tak ada DKP. dengan pengawasan 9 secara teliti . . sehingga UUK tidak sampai di bawah simfisis. disebut Posisi Oksiput Posterior Direkta(=Presentatio Occiput Posterior Directa)pembukaan lengkap kepala masih di atas PAP.Letak dahi bersifat sementara. sehingga dapat diharapkan persalinan spontan bila tak ada DKP (CPD) .Bila dalam 1 jam posisi kepala tersebut menetap (Deep Tranversa Arrest atau Posisi Oksipitalis Posterior Persisten).Kadang presentasi ganda disertai penumbungan tali pusat. PRESENTASI GANDA Dikatakan letak majemukbila di samping bagian terbawah janin terdapat ekstremitas. dagu Etiologi: pada dasarnyasama dengan letak muka Pengelolaan: Bayi kecil: biasanya dapat lahir pervaginam.Pada letak kepala dapat terjadi: o Presentasi ganda dengan tangan menumbung o Presentasi ganda dengan lengan menumbung o Presentasi ganda dengan kaki menumbung . sutura sagitalis melintang kepala turun HIII+ telah dipimpin mengejan 1 jam tetap melintang. Diagnosis: PDV teraba ekstremitas di samping bagian bawah janin Pengelolaan: . sebagian sutura sagitalis. Dalam keadaan demikian persalinanakan macet dan perlu diadakan pertolongan aktif dengan ekstraksi forsep.Pada tangan menumbung biasanya tidak diperlukan tindakan . Presentasi ganda terjadi karena PAP tidak diisi secara sempurna oleh kepala atau bokong janin. kepala kecil.Posisi Oksiput Posterior Persisten (Positio Occipitalis Posterior Persisten): bila kepala di dasar panggul. tapi melintang disebut Posisi Oksiput Melintang (Occiput Tranverse Position) Keadaan dimana UUK tidak berputar ke depan tetapi ke arah sakrum sehingga disebut juga putaran paksi yang keliru.Tranverse Arrest: pembukaan lengkap. sangat sulit lahir pervaginam karena diameter mentooksipitalis sulit melewati PAP sehingga untuk cakap (engaged) harus melaluimolase hebat. .Bila UUK berputar ke depan disebut Posisi Oksiput Anterior Direkta (=Presentatio Occiput Anterior Directa)pada pembukaan lengkap kepala masih diatas PAP . Etiologi: . Paling sering adalah tangan atau lengan di samping kepala. dipimpin mengejan 1 jam masih melintang kepala tidak di turun.

kecuali edem anasarka. Sikap terhadap HDK: Pencegahan: ANC.HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN KEHAMILAN GANDA / GEMELLI Diagnosis pasti:  Teraba minimal 3 bagian besar janin 2 kepala. posisikan anak menjadi presentasi kepala dan pimpin mengejan setelah pembukaan lengkap dan his baik. Pedoman menurut Alarm:  Bila anak I letak lintang / presentasi bokong seksio sesarea.  Terdapat 2 DJJ dengan perbedaan frekuensi lebih dari 10x/menit  USG / Rontgen foto mendapatkan 2 janin dengan 2 punggung. Preeklamsia –eklamsia: hipertensi dan proteinuria yang didapatkan setelahumur kehamilan 20 minggu. kunang-kunang. o Adanya protein  300 mg dalam 24 jam produksi urin. maka dapat disebut hipertensi transien. dan hipertensi tidak menghilang setelah 12 minggu pasca persalinan. penemuan dini  Penemuan dini dan edukasi  Perawatan pada pusat pelayanan  Pencegahan penyakit HDK  Manajemen medis: perawatan & medis mencegah berlanjut:  Pemeriksaan tensi berkala.  Proteinuria: o Adanya protein  30 mg/liter dari urine tengah. Hipertensi gestasional: timbulnya hipertensi pada kehamilan yang tidak disertai proteinuria hingga 12 minggu pasca persalinan. kelainan letak. berat badan.  Melahirkan anak ke 2 tidak harus segera lahir / tidak dibatasi waktu. di bawah 20 minggu umur kehamilan. Lakukan palpasi dan auskultasi. prolapsus tali pusat  Retensio plasenta & perdarahan post partum     Hipertensi kronik: hipertensi yg didapat sebelum kehamilan. Bila hipertensi menghilang setelah 12 minggu persalinan.) Komplikasi pada anak/ prognosis pada anak dubia karena:  Solusio plasenta: hipo/afibrinogemia  Gangguan sirkulasi fetal:  Kerusakan pada vili khorialis  prematuritas. 2 bokong dan atau 1 atau 2 punggung. proteinuri. Prinsip pengelolaan kehamilan ganda:  Pasang infus  Boleh per vaginam bila: o Anak I letak kepala dengan UUK depan o Anak I pertama sungsang hati-hati bahaya interlocking bila kantong amnion hanya 1. Hipertensi kronik dengan superimposed preeklamsia: hipertensi kronik yang disertai proteinuria. gangguan visual (kabur.  Perdarahan intrakranial  Gawat janin (Fetal Distres) Kematian ibu mendadak karena:    Kegagalan jantung Edema pulmonum Perdarahan serebri  Uremia . diukur 2 kali selang 4 jam setelah penderita istirahat. solusio plasenta. acak. o Dengan memakai “dipstick”  Edema tungkai tidak dipakai lagi sebagai kriteria hipertensi dalam kehamilan. Istilah:  Hipertensi: timbulnya desakan darah sistolik  140 mmHg dan diastolik  90 mmHg.  Melahirkan anak ke 2 pada letak lintang kalau ada tanda-tanda gawat janin boleh dilakukan versi ekstraksi bila tidak ada disproporsi janin panggul (feto pelvic disproportion) Komplikasi:  Posisi mengunci (interlocking)  Kolusi / compaction  Hidramnion dan kontraksi hipotonik  Plasenta previa.

Dipyridamole 7. karoten N. Vitamin prenatal 4. edema. tidak terbukti mencegah preeklamsia b. Ht. Tirah baring tidak terbukti mencegah terjadinya preeklamsia 4. Di Indonesia tirah baring masih diperlukan. meskipun belum terbukti bermanfaat untuk mencegah preeklamsia 4. Macam pencegahan: A. Hipertensi yang menetap selama > 2 minggu b. darah lengkap.  Kontrol tiap 4 jam: tensi. konsul interne/mata. jeruk) o Cukup protein. tidak dimasukkan dalam kriteria diagnostikpreeklamsia. Tidak mutlak harus tirah baring. Zinc : 200 mg / hari 5. Pencegahan dengan non medikal 1. Elemen logam berat : Zinc. dapat dipakai sebagai suplemen pada risiko tinggi terjadinya preeklamsia. Aspirin dosis rendah : rata – rata dibawah 100 mg / hari. urin Kriteria Eden:  Koma > 6jam  Kejang > 10 x /hari  Oliguri: < 400 cc/hr  Albuminuria: > 10gr / 24 jam  Tensi: sistolik > 200 mmHg  Nadi : > 120 /menitSuhu: > 40 C  Edema: menghilang: jelek Prinsip keperawatan: (nursing)  Rawat inap: tirah baring. tenang. vitamin E. Adanya gejala atau tanda 1 (satu) atau lebih preeklamsia berat 2. 2.  Umur: > 35 tahun lebih jelek  Tekanan darah: makin tinggi makin jelek  Kejadian eklamsi: lebih jelek  Cepat tidak pertolongan  Keluaran urin: anuri/oliguri lebih jelek  Komplikasi: paru. Diet reguler : tidak perlu diet khusus 3. Anti hipertensi tidak terbukti mencegah terjadinya preeklamsia 3. gangguan serebral/visual  Urine tampung.Asetilsistein. CoQ10 N – Asetilsistein. Obat anti thrombotik : a. Minyak ikan yang kaya dengan asam lemak tidak jenuh. vitamin E. Antioksidan : vitamin C. jantung. nadi. Esbach. cukup cahaya melihat pasien kejang/sianosis. Diuretik : tidak terbukti mencegah terjadinya preeklamsia bahkan memperberat hipovolemia 2. Suplementasi diet yang mengandung : a. otak lebih jelek  Respons terhadap terapi: tensi. Obat-obat antioksidan : vitamin c. PREEKLAMSIA RINGAN Preeklamsia ringan adalah sindroma spesifik kehamilan dengan penurunan perfusi pada organ-organ akibat vasospasme dan aktivasi endothel. hati. asam lipoik c. B. Indikasi preeklamsia ringan dirawat inap a. Pemeriksaan dan monitoring pada ibu . misalnya omega 3 b. Magnesium 365 mg / hari 6. ginjal. magnesium kalsium 3. kalori 1800 o Cukup cairan: 2000-3000 cc/hr (diuresis + 1. Pengelolaan Pengelolaan secara rawat jalan (ambulatoir) 1. asam lipoik. Restriksi garam : tidak terbukti dapat mencegah terjadinya preeklamsia 2.5 liter) Pencegahan Upaya untuk mencegah terjadinya preeklamsia pada wanita hamil yang mempunyai risiko terjadinya preeklamsia.< 160/110 mmHg Kenaikan tekanan sistolik > 30 mmHg dan kenaikan tekanandiastolik > 15 mmHg. Tidak perlu pemberian diuretik.Prognosis tergantung:  Paritas: multipara lebih jelek  Waktu timbul: lebih muda kehamilan lebih jelek drpd intra/pasca partum.  Diet: o Rendah garam: 3g /hr o Cukup KCl: buah2an pisang. karoten. dianjurkan ambulasi sesuai keinginan-nya. Proteinuria menetap selama > 2 minggu c. Tidak perlu restriksi konsumsi garam 5. isolasi. Kunjungan ke rumah sakit tiap minggu Pengelolaan secara rawat inap (hospitalisasi) . Kalsium : 1500 – 2000 mg / hari. Edema : lokal pada tungkai tidak dimasukkan dalam kriteria diagnostik kecuali anasarka. tetapi perlu observasi yang cermat b. Proteinuria : > 300 mg/24 jam jumlah urine atau dipstick : > 1 + c. Hasil test laboratorium yang abnormal d. Mencegah persalinan preterm Di Indonesia tirah baring masih diperlukan pada mereka yang mempunyai risiko tinggi terjadinya preeklamsia. Pencegahan dengan medikamentosa 1. Tekanan darah : > 140/90 mmHg -. anthihipertensi dan sedativum 6.1. Kriteria diagnostik: a.

bila NST non reaktif d. kemudian boleh dipulangkan 6. c. dan pandangan kabur  Gangguan fungsi hepar : peningkatan alanine atau aspartate amino transferase  Hemolisis mikroangiopatik  Trombositopenia : < 100. Pemberian terapi medikamentosa a. Infus Ringer Laktat atau Ringer Destrose 5 % d. Pengamatan dengan cermat gejala preeklamsia dengan impendingeklamsia :  Nyeri kepala frontal atau oksipital  Gangguan visus  Nyeri kuadran kanan atas perut  Nyeri epigastrium 3.  Ekspektatif. asam urat. Pengamatan gerakan janin setiap hari b. setiap 3-4 minggu e. Terapi medikamentosa  Pada dasarnya sama dengan terapi ambulatoar  Bila terdapat perbaikan gejala dan tanda-tanda preeklamsia dan umur Kehamilan > 37 minggu. agresif : bila umur kehamilan > 37 mgg. artinya : kehamilan dipertahankan selama mungkin sambil memberikan terapi medikamentosa  Aktif. Bagian lain atas indikasi a. Protenuria dengan dipstick pada waktu masuk dan sekurangnya diikuti 2 hari setelahnya b. Bagian penyakit jantung. Pemeriksaan kesejahteraan janin a. Evaluasi pertumbuhan janin dengan USG. Pemeriksaan laboratorium a. nyeri kepala. Tirah baring miring ke kiri secara intermiten c. skotomata. Umur kehamilan > 37 minggu  Matang pada taksiran tanggal persalinan dapat dipertimbangkan dilakukan induksi persalinan b. dan 3. kehamilan dapat dipertahankan sampai aterm b. ibu masih perlu diobservasi selama 2-3 hari. Hematokrit dan trombosit : 2 x seminggu c. dilakukan pengelolaan dasar sebagai berikut : i. Menentukan rencana sikap terhadap kehamilannya : yang tergantung pada umur kehamilan. konservatif : bila umur kehamilan < 37 mgg . Profil biofisik janin. Test fungsi ginjal dengan pengukuran kreatinin serum. artinya kehamilan diakhiri setelah mendapat terapi medikamentosa untuk stabilisasi ibu. Pengelolaan obstetrik: tergantung umur kehamilan a. Test fungsi hepar 2 x semingu d. Nyeri dapat sebagai gejala awal ruptur hepar  Gangguan otak dan visus : perubahan kesadaran. Pemberian anti kejang MgSO4 sebagai pencegahan dan terapi kejang . 000 cell/mm  Sindroma HELLP Pembagian preeklamsia berat   Preeklamsia berat tanpa impending eklamsia Preeklamsia berat dengan impending eklamsia: o Nyeri kepala o Mata kabur o Mual dan muntah o Nyeri epigastrium o Nyeri kuadran kanan atas abdomen Dasar pengelolaan preeklamsia berat: pada kehamilan dengan penyulit apapun pada ibunya. Rencana terapi pada penyulitnya : yaitu terapi medikamentosa dengan pemberian obat-obatan untuk penyulitnya ii. Bila penderita belum inpartu : a. Ultrasound Doppler arteri umbilikalis. Bagian penyakit mata 2. Segera masuk rumah sakit b.Pengukuran tekanan darah setiap 4 jam kecuali ibu tidur Pengamatan yang cermat adanya edema pada muka dan abdomen Penimbangan berat badan pada waktu ibu masuk rumah sakit dan penimbangan dilakukan setiap hari d. dan BUN e. Umur kehamilan kehamilan < 37 minggu  Bila tanda dan gejala tidak memburuk. NST 2 x seminggu c. Konsultasi: selama dirawat dirumah sakit dilakukan konsultasi pada : 1. b. PREEKLAMSIA BERAT Preeklamsia berat ialah preeklamsia dengan salah satu atau lebih subyektif dan obyektif dibawah ini :  Tekanan darah: pasien dalam keadaan istirahat tekanan sistolik > 160 mmHg dan tekanan diastolik > 90 mmHg  Proteinuria > 5 gr / jumlah urine selama 24 jam atau dipstick : 4 +  Oliguria: produksi urine < 400-500 cc/24 jam  Kenaikan kreatinin serum  Edema paru dan sianosis  Nyeri epigastrium dan nyeri kuadran atas kanan abdomen: disebabkan terengangnya kapsula Glisone. arteri uterina 5. Pengukuran produksi urine setiap 3 jam (tidak perlu dengan kateter tetap) 4. Bila penderita sudah inpartu: perjalanan persalinan dapat diikuti dengan grafik Friedman atau Partograf WHO 7.

e. tetapi cukup intramuskuler  Pemberian glukokortikosteroidsdiberikan pada umur kehamilan 32-34 minggu selama 48 jam. maka masih dirawat 2-3 hari lagi. g. ekspektatif Tujuan : 1. f. ketuban pecah dini. Dosis lanjutansebagai dosis pemeliharaan (maintenance dose) Anti hipertensi  Diberikan bila tensi > 180 /110 atau MAP > 126  Jenis obat: Nifedipine : 10-20 mg oral.  Tanda dan gejala impending eklamsia  Gangguan fungsi hepar  Gangguan fungsi ginjal  Dicurigai terjadi solusio plasenta  Timbulnya onset partus. Meningkatkan kesejahteraan bayi baru lahir tanpa mempengaruhi keselamatan ibu Indikasi :kehamilan < 37 minggu tanpa disertai tanda &gejalaimpending eklamsia a. Dosis awal(initial dose):sebagai loading dose b. kecuali ada indikasi untuk bedah caesar. pendarahan  Indikasi Janin  Umur kehamilan > 37 minggu  IUGR berat berdasarkan pemeriksaan USG  NST nonreaktif dan profil biofisik abnormal  Timbulnya oligohidramnion Terapi medikamentosa: Lihat terapi medikamentosa di atas : Sikap terhadap kehamilannya: perawatan konservatif dan agresif Perawatan konservatif . b. Pemberian Mg SO4 dibagi : a. baru diizinkan pulang.  Diuretikum diberikan hanya atas indikasi :  Edema paru  Payah jantung kongestif  Edema anasarka Diet: diberikan secara seimbang. Perawatan di rumah sakit 1) Pemeriksaan & monitoring tiap hari terhadap gejala klinik sebagai berikut:  Nyeri kepala .  Tekanan darah diturunkan secara bertahap : o Penurunan awal 25 % dari tekanan sistolik o Tekanan darah diturunkan mencapai :  < 160 / 105 Diuretikum: tidak dibenarkan diberikan secara rutin. Penderita boleh dipulangkan :  Bila penderita telah bebas dari gejala-gejala preeklamsia berat  Masih tetap dirawat 3 hari lagi baru diizinkan pulang d. hanya tidak diberikan loading dose intravena.  Pemberian MgSO4 sama seperti pemberian MgSO4 seperti tersebut di atas. maka persalinan diutamakan pervaginam. diulangi setelah 30 menit. hindari protein dan kalori yang berlebih  Penglihatan kabur  Nyeri perut kuadran kanan atas  Nyeri epigastrium  Kenaikan berat badan dengan cepat 2) Menimbang berat badan pada waktu masuk rumah sakit & diikuti tiap hari 3) Mengukur proteinuria ketika masuk rumah sakit dan diulangi tiap 2 hari 4) Pengukuran tekanan darah sesuai standar yang telah ditentukan 5) Pemeriksaan laboratorium sesuai ketentuan 6) Pemeriksaan USG sesuai standar di atas. kehamilan dipertahankan sampai kehamilan aterm  Bila penderita inpartu. Mempertahankan kehamilan. Cara persalinan :  Bila penderita tidak inpartu. khususnya pemeriksaan: ukuran biometrik janin. volume air ketuban c. Terapi medikamentosa :  Lihat terapi medikamentosa seperti di atas  Bila penderita sudah kembali menjadi preeklamsia ringan. maksimum 120 mg dalam 24 jam  Nifedipine tidak dibenarkan diberikan dibawah lidah (sublingual) karena absorbsi yang terbaik adalah melalui saluran pencernaan. agresif Tujuan : terminasi kehamilan Indikasi :  Indikasi ibu :  Kegagalan terapi medikamentosa :  Setelah 6 jam sejak dimulai pengobatan medikamentosa terjadi kenaikan darah yang persisten. sehingga mencapai umur kehamilan yang memenuhi syarat janin dapat dilahirkan 2.  Setelah 24 jam sejak dimulainya pengobatan medikamentosa terjadi kenaikan tekanan darah yang persisten. karena :  Memperberat penurunan perfusi plasenta  Memperberat hipovolemia  Meningkatkan hemokonsentrasi. perjalanan persalinan diikuti seperti lazimnya (misalnya dengan grafik Friedman)  Bila penderita inpartu. Perawatan aktif .

anestesi. nenotalogi  Tergantung situasi klinis. Hematologik  DIC  Thrombositopenia . dilakukan konsultasi ke bagian : o Pelayanan intensif. Circulation) c. neurologi. khususnya hipertensi krisis h. Terapi suportif untuk stabilisasi pada ibu b. o jika kejang + 20 mg per infus . Mengatasi dan mencegah kejang g. Bila tidak. Breathing. pelan2  Diuretik: bila edema pulmonum  Antihipertensi: parenteral . bolus. Sistem syaraf pusat  Perdarahan intrakranial  Thrombosis vena sentral  Hipertensi ensefalopati  Edema cerebri  Edema retina  Makular atau retina detachment  Kebutaan kortek . dan harus disusul dengan seksio sesarea Indikasi seksiosesarea  Tidak ada indikasi untuk persalinan pervaginam  Induksi persalinan gagal  Terjadi maternal distres  Terjadi fetal distres  Bila umur kehamilan < 33 minggu Bila penderita sudah inpartu  Perjalanan persalinan diikuti dengan grafik Friedman  Memperpendek kala II  Seksio sesarea dilakukan bila :  Maternal distres dan fetal distres  Primigravida direkomendasikan pembedahan caesar  Anestesia : regional anestesia. induksi persalinan dianggap gagal. nefrologi. Tidak dianjurkan general anestesia Penyulit ibu 1.Cara persalinan : sedapat mungkin persalinan diarahkan pervaginam  Penderita belum inpartu  Dilakukan induksi persalinan bila skor Bishop >8  Bila perlu dilakukan pematangan serviks dengan misoprostol Induksi persalinan harus sudah mencapai kala II dalam waktu 24 jam. Pastikan jalan nafas atas tetap terbuka d.2 Gastrointestinal – hepatik  Hematoma subskapular hepar  Ruptur kapsul hepar . Koreksi hipoksemia dan asidemia f. Mengatasi dan mencegah penyulit.3 Ginjal  Gagal ginjal akut  Nekrosis tubular akut . Selalu diingat ABC (Airway. patologi klinik EKLAMSIA Eklamsia ialah preeklamsia yang disertai dengan kejang tonik – klonik disusul dengan koma Pengelolaan Eklamsia Dasar-dasar pengelolaan Eklamsia a. 5. epidural anestesia. Mengatasi dan mencegah kejang e. Melahirkan janin pada saat yang tepat dengan cara persalinan yang tepat Terapi Medikamentosa: lihat terapi medikamentosa pada preeklamsia berat :  MgSO4: o Syarat pemberian MgSO4:  Refleks Patella +  Urine > 100 cc dalam 3 jam  Pernafasan > 16 /menit  Sedia antidotum : 1 gram Glukonas Kalsikus dalam 10 cc aqua  Diazepam : Intravena 20 mg dalam glukosa 5% 500 cc ivfd .4. Kardiopulmoner  Edema paru : kardiogenik atau nonkardiogenik  Depresi atau arrest pernafasan    Serangan jantung (Cardiac arrest) Iskemia miokardium Asites Penyulit janin  IUGR  Solusio plasenta  IUFD  Kematian neonatal  Penyulit akibat prematuritas  Serebal palsi Konsultasi  Obgin : fetomaternal.

tekanan (tiap ½ jam). dapat di ubah dalam posisiTrendelenburg. pemeriksaan Esbach: protein /24 jam). Tempat tidur aman: pagar pengaman tempat tidur harus dipasang dan terkunci dengan kuat& tangan & kaki diikat g. Oksigen i.  HIPERTENSI KRONIK DALAM KEHAMILAN Hipertensi kronik dalam kehamilan ialah hipertensi yang didapatkan sebelum kehamilan atau sebelum umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi tidak menghilang setelah 12 minggu pasca persalinan Etiologi hipertensi kronik dalam kehamilan:  Primer (idiopatik) : 90 %  Sekunder : 10 % yang berhubungan dengan penyakit ginjal. penyakit endokrin (diabetes mellitus). Perawatan koma a. Perhatikan nutrisi Perawatan khusus yang harus berkonsultasi dengan bagian lain Konsultasi ke bagian lain perlu dilakukan bila terjadi penyulit sebagai berikut : edema paru. pernafasan His. Pemberian obat anti kejang terakhir 2. usaha darah. yaitu setelah : 1. Cara persalinan: bila sudah diputuskan untuk melakukan tindakan aktif terhadap kehamilannya. koral) m. Tempat tidur penderita harus cukup lebar. Penjaga/ pengawas 1 orang h. Urine tampung & DC untuk: volume urine (ada tidaknya oliguri) menentukan pemberian cairan ( + 1 1/2 liter). fundus okuli. PPV. Pemberian obat-obat anti hipertensi terakhir 4. sebagai tanda kerusakan organ. hematokrit. melihatsianosis) b.  Ada komplikasi/ indikasi : perabdominam e. Usahakan jalan nafas atas tetap terbuka c. DJJ. berarti sikap terhadap kehamilannya adalah aktif. ureum: DD/ renal hipofungsi. Kejang terakhir 3. diuresis (DC). induksi persalinan o Respon pengobatan: bebas kejang. Tidak ada komplikasi :  Akhiri persalinan o Syarat pervaginam terpenuhi: spontan.Perawatan kejang a. Band’l ring. nadi. sebelum 20 minggu kehamilan Hipertensi ringan < 20 minggu kehamilan dengan  Pernah preeklamsia  Umur ibu > 40 tahun  Hipertensi > 4 tahun  Adanya kelainan ginjal  Adanya diabetes mellitus (klas B – klas F)  Kardiomiopati  Meminum obat anti hipertensi sebelum hamil . b. penyakit hipertensi dan vaskuler Berdasarkan risiko yang mungkin timbul. Tempatkan penderita di ruang isolasi atau ruang khusus dengan lampu terang(tidak diperkenankan ditempatkan di ruangan gelap. Infus set k. Pemantauan: KU. silinder. maka hipertensi kronik dibagi:  Risiko rendah : hipertensi ringan tanpa disertai kerusakan organ  Risiko tinggi : hipertensi berat atau hipertensi ringan disertai dengan perubahan patologis. Saat pengakhiran kehamilan. Stabilisasi dicapai selambat-lambatnya dalam : 4-8 jam. kejang. refleks. Kriteria risiko tinggi pada hipertensi kronik dalam kehamilan : Hipertensi berat :  tekanan sistolik > 160 mmHg dan / atau  tekanan diastolik > 110 mmHg. dan posisi kepala lebih tinggi c. diperlukannya katerisasi arteria pulmonalis Pengelolaan obstetri eklamsia a. Fiksasi badan harus kendor agar waktu kejang tidak terjadi fraktur f. Derajad kedalaman koma diukur dengan ”Glasgow. induksi persalinan o Kala II: peringan kala II dengan ektraksi forsep/ ekstraksi vakum o Kala III: pencegahan perdarahan pasca salin. Darah : lengkap & Ht. Penghisap lendir j. tanda persalinan. klinis maupun biologis. Siap sudip lidah (tongue spatel)—Sisipkan antara lidah dan gigi rahang atas e. Hindari dekubitus d. grande multi. Penderita mulai sadar (dapat dinilai dari Glasgow-Coma-Scale yang meningkat) d. ialah bila sudah terjadi stabilisasi (pemulihan) hemodinamika dan metabolisme ibu c. Rendahkan kepala kebawah: diaspirasi lendir dalam orofaring guna mencegah aspirasi pneumonia d. Sikap dasar pengelolaan eklamsia : harus diakhiri (terminasi) tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin.Coma Scale” b. Perawatan pasca persalinan  Tetap dimonitor tanda vital  Pemeriksaan laboratorium lengkap 24 jam pasca persalinan. oliguria renal. pemeriksaan urin lengkap (sedimen: hyalin. maka dipilih cara persalinan yang memenuhi syarat pada saat tersebut. setelah salah satuatau lebih keadaan seperti dibawah ini. fungsi ginjal l.

Risiko rendah hipertensi : 1) Ibu sehat dengan tekanan diastolik menetap > 100 MMHg 2) Dengan disfungsi organ dan tekanan diastolik > 90 mmHg b. dalam slow release tablet Pengelolaan terhadap kehamilannya   Sikap terhadap kehamilannya pada hipertensi kronik ringan : konservatif yaitu dilahirkan sedapat mungkin pervaginam pada kehamilan aterm Sikap terhadap kehamilannya pada hipertensi kronik berat : aktif. hematokrit.Klasifikasi hipertensi kronik Klasifikasi Sistolik (mmHg) Normal < 120 Prehipertensi 120 – 139 Hipertensi Stadium I 140 – 159 Hipertensi Stadium II > 160 Distolik (mmHg) <80 80 – 89 90 -99 >110 Hipertensi kronik dengan superimposed preeklamsia Pengelolaan hipertensi kronik dengan superimpesed preeklamsia sama dengan pengelolaan preeklamsia berat Pengelolaan hipertensi kronik dalam kehamilan Tujuan pengobatan hipertensi kronik dalam kehamilan ialah  Menekan risiko pada ibu terhadap kenaikan tekanan darah  Menghindari pemberian obat-obat yang membahayakan janin Pemeriksaan laboratorium  Pemeriksaan (test) klinik spesialistik  ECG  Erchocardiography  Ophtalmology  USG ginjal  Pemeriksaan (test) laboratorium  Fungsi ginjal : -creatinine serum. Obat antihipertensi 1) Pilihan pertama : Methyldopa : 0.5 – 3. BUN serum.Bila dicurigai IUGR dimonitor dengan NST dan profil biosifik Hipertensi kronik dalam kehamilan dengan penyulit kardiovaskuler atau penyakit ginjal perlu mendapat perhatian khusus Pengobatan medikamentosa Indikasi pemberian antihipertensi adalah a.0 g/hari. proteinuria 24 jam  Fungsi hepar  Hematologik : . trombosit Pemeriksaan kesejahteraan janin  Ultrasonography : . asam urat. dibagi dalam 2 -3 dosis 2) Pilihan kedua : Nifedipine : 30 -120 g/hari.USG untuk data dasar diambil dalam 18 -20 minggu kehamilan .Diulangi pada umur kehamilan 28 -32 mgg dan diikuti setiap bulan . yaitu segera kehamilan diakhiri (diterminasi)  Anestesi : regional anestesi .Hb.

 Medikamentosa: o Spasmolitik( HCl papaverin). makin lama makin banyak.retraksi SBR jelek.  Kematiankarena asfiksia intrauterine Komplikasi yang mungkin terjadi setelah anak lahir:  Perdarahan banyak ok. ada tahanan lunak. perdarahan banyak: Seksio Sesarea klasik Pasang cunam Willet Geusz: pembukaan lengkap. induksi persalinan. lateralis: tahanan tak teratur  Plasenta letak rendah: tahanan sebagian Diagnosis: Subyektif:  Perdarahan pervaginam pada kehamilan > 28 minggu.4 + 2 cm =4. Inspekulo: singkirkan perdarahan dari polip.  Bisa bersamaan dengan kontraksi / his. kepala H III. diharapkan persalinan pervaginam Seksio sesarea: PP totalis: aterm.4 cm. Ekstraksi Braxton Hicks: turunkan 1 kaki sampai bokong. Obyektif:   Kelainan letak anak. diikat dengan tampon. perlekatan letak abnormal.  Maka prosentase-nya: 4.  Laserasi SBR /serviks Jika pembukaan 6 cm teraba plasenta 40%: 40/100 x 6 cm = 2. diberi beban 0. plasenta lepas sebagian demi sebagian. perlekatan luas. plasenta halangi penurunan kepala anak. KU ibu baik. periksa Ht. Karena plasenta tak dapat ikut delatasi. sehingga plasenta lebih luas dan edematus Macam Plasenta Previa:  Plasenta previa totalis  Plasenta previa partialis: marginal. sebagian lepas sebagian melekat. sedatif.4 /10 x 100% = 44% Yang bisa dilahirkan pervaginam bila prosentase plasenta : < 40%   TINDAKAN: tergantung: . merupakan upaya plasenta mendapatkan nutrisi yang baik dan cukup. darah berasal dari ostium uteri:  Perdarahan sedikit: perbaiki keadaan umum. usaha darah  Perdarahan banyak: siapkan kamar bedah untuk PDV dan siap pembedahan Pemeriksaan dalam vagina di ruang bedah: masuk kanalis servikalis.  Tidak nyeri.PERDARAHAN ANTE PARTUM PLASENTA PREVIA Plasenta Previa: keadaan dimana plasenta letak sedemikian rupa dibagian bawah uterus sehingga ostium Uteri Internum tertutup sebagian atau seluruhnya. plasenta melekat pada erat pada kulit ketuban. karena infeksi dinding luar dan dalam rahim.4 cm Diperkirakan pada pembukaan lengkap:  Plasenta yang teraba 2. perdarahan sedikit2.  Perdarahan pertama tidak hebat. antara kepala dan jari kemudian seluruh permukaan Ultrasonografi: terlihat plasenta diantara kepala dan segmen bawah rahim o o o o o o o o o o Macam plasenta previa Keadaan umum ibu: Umur kehamilan: tunggu sampai aterm bila tidak berdarah Letak anak Penurunan kepala Jumlah perdarahan Anak hidup/mati Faktor 3P Paritas Infertilitas      Pecah kulit ketuban: PP lateralis/ marginalis/ letak rendah perdarahan berhenti.5-2kg. Penyebab: Vaskularisasi endometrium daerah fundus yang kurang baik. Bila usia kehamilan < 36 minggu:  Rawat . analgetika o Progesteron KOMPLIKASI : Ibu:  Perdarahan pasca salin dini : syok  Anemia &endometritis Anak:  Prematur. waktu pembekuan/perdarahan. kepala tak masuk PAP pada hamil 36 minggu. varises. segmen bawah rahim tertarik keatas. menimbulkan perdarahan. tirah baring  Usaha darah.

perdarahan. darah tetap mengalir keluar (eksternal) atau tetap di dalam rahim di belakang plasenta (internal). Hb. mengatasi syok & perdarahan  Pemberian fibrinogen: 10 g fibrin bila afibrin/hipo. tdk bisa menghentikan perdarahan. otot rusak: mioglobin lepas. tensi turun. kerusakan pada ginjal. tranfusi. darah diserap miometrium. mendadak  Sakit perut terus menerus. mengendap di ginjal. perbaikan his. Diagnosis: Subyektif  Perdarahan pervaginam trimester III. pecah kulit ketuban o Seksio sesarea Prognosis tergantung:  Luas plasenta yang terlepas  Jumlah perdarahan  Derajat fibrinogenemia  Derajat apopleksi uteroplasenter  Perdarahan internal atau eksternal  Kecepatan pertolongan: persalinan & transfusi Derajat solusio plasenta: 0 s. Belum pernah perdarahan Gejala mendadak Presentasi anak sudah turun DJJ -.d III Derajat  Perlekatan plasenta:  Perdarahan eksternal  Tetani uteri  Uterus keras  Syok maternal  Gawat janin  Gangguan koagulasi 0 I 30% + II 45% + /+/+/III 15% +/+ + + + 10% + + + +  - Perbedaan solusio plasenta dan plasenta previa: Solusio Plasenta Plasenta Previa           Gelisah Sakt hebat terutama yg tersembunyi Uterus kayu/keras Fundus meninggi PPV: sekaligus. pembuluh darah terbuka. versi ekstraksi  Tali pusat pendek  Hipertensi kronik  Tekanan vena cava inferior  Hidramnion. dinding rahim tidak bisa kontraksi. tinggi fundus uteri. diabsorbsi dinding uterus sehingga tak bisa kontraksi dan warna kehitaman. sebelumnya ukur fibrin dengan darah 5 cc dalam tabung: membeku tidak? Tindakan obstetri: o Konservatif: tunggu 6 jam inpartu.  Kegagalan ginjal akut: adanya hematoma uteroplasenter. gerak anak Kulit Ketuban menonjol & tegang Tenang Tak sakit .  Periksa waktu pembekuan/ perdarahan. Pernah perdarahan Dapat mendadak/ pelan2 Kepala belum turun/kelainan letak DJJ +.nyeri bersama his Uterus relaks Tonus tetap Selalu banyak. akral dingin  Anak: fetal distres/ anak mati  Anemia Komplikasi: Segera:  Perdarahan  Syok hipovolemia – hipofibrinogenemi Lambat:  Hipo / afibrinogenemia: utroplasenter apoplexi: ok hematoma uteroplasenter membutuhkan fibrinogen utk proses pembekuan darah yang terjad  Utrus couvelair: perdarahan dalam dinding uterus dan bawah peritoneum. nyeri  Tanda syok: nadi cepat. Ht.  Usaha darah.SOLUSIO PLASENTA Solusio plasenta: lepasnya sebagian atau seluruh plasentadengan implantasi normal sebelum anak lahir pada umur kehamilan 20 minggu atau lebih Etiologi:  Trauma karena tindakan versi luar. Terapi:  Ukur lingkar perut tiap ¼ jam. Karena masih ada janin. o Aktif: induksi persalinan. gerak anak + Kulit ketuban lunak . gemelli Patofisiologi: Plasenta lepas. ke pembuluh darah.  Riwayat hipertensi berat  Gerak anak tidak terasa Obyektif:  Perut tegang.

sehingga pembuluh darah tersebut tetap terbuka. bekuan darah. 6. Atonia uteri 2. KU ibu yang jelek. Etiologi perdarahan pasca partum setelah plasenta lahir : 1. Perdarahan ante partum: plasenta previa. Pemakaian anestesi yang terlalu lama / dalam. kelainan uterus 7. sehingga tidak diketahui adanya PPP. misalnya anemia. Kehamilan miometrium: mioma uteri. Kandung kemih yang penuh. hidramnion. Retensio plasentae PERDARAHAN PASCA PARTUM : Perdarahan pasca partum ialah perdarahan pervaginam yang jumlahnya melebihi 500 cc terjadi dalam waktu 24 jam pertama setelah janin lahir. Partus lama atau partus kasep (exhaustion) 5. malnutrisi. Mekanisme terjadinya perdarahan :  Perdarahan ini berasal dari tempat plasenta.Perbedaan perdarahan tersembunyi (conceal) dan terbuka (reveal): Perdarahan tersembunyi  Perdarahan tampak sedikit  Syok tak sesuai darah yg keluar  Uterus keras  Nyeri hebat  Plasenta lepas semua  Ada HDK  Kejadian 20%  Bahaya >> Perdarahan reveal Perdarahan pervaginam banyak Syok sesuai darah keluar Uterus kontraksi kuat Nyeri kurang hebat Plasenta lepas sebagian Tidak ada HDK Kejadian 80% Bahaya << PENYULIT KALA IIIPERSALINAN Penyulit yang timbul pada kala III yang memerlukan tindakan: 1. syok. Partus presipitatus 8. Grandemultipara. Keregangan (overdistention) dari rahim misalnya akibat dari kehamilan kembar. Gangguan mekanis: sisa plasenta. Sisa plasenta 4. . Penyebab: 1.Darah akan terus mengalir melalui bekas melekatnyaplasenta ke kavum uteri dan seterusnya keluar pervaginam. kontraksi uterus lemah.  Kadang-kadang darah tersebut tidak dapat keluar pervaginam tetapi mengumpul dalam kavum uteri. dll 2. Inversio uteri ATONIA UTERI Atonia uteri ialah keadaan uterus tidak berkontraksi setelah anak lahir. 9. Jarak persalinan berturut-turut yang terlalu pendek 4. Perdarahan pasca partum (PPP) 2. 11. anak besar dan sebagainya. KP kronis.Bila tonus uterus tidak ada. solusio plasenta 10. gemeli. Trauma jalan lahir 3. 3. maka spiral arteries yang seharusnya menutup akibat kontraksi uterus tersebut tidak terjadi.

Lama kelamaan akan timbul gejala-gejala perdarahan umum seperti anemia. nafas pendek. Pencegahan : Pencegahan terjadinya PPP ini kadang masih dapat dilakukan. Uterus dalam keadaan lembek (tidak mempunyai tonus atau kontraksi). Kosongkan buli-buli dengan melakukan kateterisasi b. jatuh dalam syok. Hindari partus lama atau partus kasep 5. 2. Kosongkan rektum dan buli-buli pada tiap persalinan 4.Perdarahan ini kadang-kadang tidak keluar pervaginam dan mengumpul dalam kavum uteri.merangsang terbentuknya thrombus .  Anoksia otak: pemberian O2 yang cukup bila penderita jatuh syok.  Dekompensasikordis: monitoring CVP sehingga tak terlalu banyak cairan yang diberikan. atau i. Sekarang tidak dianjurkan. sehingga aliran darah ke rahim kurang  Kompresi Goth Piskacak: menekan dengan satu tangan seperti pegangan Pawlik pada bagian bawah rahim  Gabungan kompresi diatas       Perbaiki keadaan umum dengan memberi cairan dan darah Bila tidak ada sisa plasenta. kesadaran hilang dan akhirnya meninggal Pada PPP ini rata-rata penderita meninggal sebelum 2 jam post partum.Mengantuk. Jadi dalam garis besarnya. Pada waktu ada kontraksi darah akan memancar keluar 4.v. Perdarahan tersebut terjadi terus menerus sebelum perdarahan tersebut dapat diatasi. sedangkan plasenta lengkap. Usaha sementara b. Penanggulangan komplikasi :  Infeksi post partum : pemberian antibiotika yang adekwat sebagai profilaksis maupun sebagai terapi bila sudah ada infeksi. 5.Pandangan kabur . Bila fundus uteri masih akan dipertahankan. Bila pada waktu mengambil tampon terjadi perdarahan. baru tampak bila darah tersebut dikeluarkan. hipogastrika.Penderita tampak anemis. Perdarahan pervaginam lebih 500cc.menutup pembuluh darah yang terbuka .Gambaran klinik : . . .PPP terjadinya tidak mendadak. dilakukan tindakan yang lebih aktif dengan laparotomi. 2. Tampon ini bermaksud : . Restorasi dari darah dan cairan yang hilang 4.Melebihi 30 % dari seluruh volume darah timbul gejala-gejala perdarahan yang jelas : . Pituitrin secara drip i. pengambilan tamon ditunda selama 24 jam lagi. 3. Bila tidak. satu tangan dari luar menekan uterus supaya hiperantefleksi. Kematian yang lebih cepat tejadi pada penderita yang keadaan sebelumnya sudah jelek.m Bila kontraksi uterus baik tetapi masih terjadi perdarahan. Tindakan sementara untuk menghentikan perdarahan.merangsang uterus untuk berkontraksi .karena pertolongan yang kurang cepat atau kurang adekuat (tak ada darah dan sebagainya). Usaha menghentikan perdarahan secepat mungkin : a. Manajemen aktif kala III Perawatan: 1. Bila setelah pemberian uteronika kontraksi uterus masih belum adekwat dan perdarahan masih terjadi. syok. perawatan terhadap PPP : 1. .Pada pemeriksaan: tensi turun.Bila dengan tamponade tersebut masih terjadi perdarahan. dilakukan ligasi a. Usaha yang ditujukan pada sebabnya 3. Penanggulangan komplikasi . Pengembalian fungsi organ-organ 5. .  Kompresi aorta abdominalis  Kompresi bimanual: satu tinju pada fornik anterior.  Memperbaiki fungsi ginjal: pengukuran produksi urine. diberikan uterotonika dengan gol. lakukan tampon utero-vaginal. Batasi pemakaian anestesi 6. dilakukan histerektomi.Tampon diangkat setelah 24 jam.kelelahan. misalnya : 1. Bila terjadi PPP : a. Usaha prevensi dan persiapan penanggungan secara cepat. menguap . Diagnosis PPP karena atonia uteri : 1.Tampon yang dipakai berukuran 10 cm x 10m. sisa plasenta atau kelainan pembekuan darah. Pada pemeriksaan inspekulo tidak ada robekan. Perbaikan keadaan umum selama antenatal 2. 2.Perasaan lemah . Sebaiknya persiapan untuk perawatan PPP sudah disediakan pada setiap kasus yang diharapkan akan mengalami PPP. misalnya: anemia. difikirkan kemungkinan perdarahan yang berasal dari robekan jalan lahir. nadi meningkat. Hindarkan adanya ibu dengan risiko tinggi dengan KB 3. jumlah cairan yang sesuai untuk meningkatkan produksi urine ini.

Prognosis : 1.  Selama melakukan pemijatan ini tangan kiri kadang-kadang meremas korpus uteri kearah bawah agar bekuan darah dapat dikeluarkan. Penekanan aorta : . Prognosis lebih baikbila pertolongan lebih cepat.  Dalam melakukan pemijatan ini rahim hendaknya dikeluarkan dari rongga pelvis.  Tindakan ini dapat dilakukan sampai maksimum ½ jam.  Apakah dari kain tampon yang berada di luar vagina terjadi rembesan darah. meskipun dengan tranfusi masif. dan ini berarti telah terjadi perdarahan yang cukup banyak. Prosedur pada perawatan atonia uteri meliputi 1.  Kandung kemih dipasang kateter menetap. maka tangan kanan meremas-remas SBR.  Bahan yang dipakai untuk tamponade ini ialah gulungan kasa berukuran 10cm x 10 m dan sudah dibubuhi lodoform.Pada waktu kehamilan.  Bila tamponade gagal. Bila terjadi rembesan darah. Dengan adanya tranfusi darah yang baik maka prognosisnya lebih baik 2. maka maka harus diperhatikan :  Apakah fundus uteri bertambah tinggi  Bila fundus uteri bertambah tinggi berarti telah terjadi perdarahan banyak yang mengumpul dalam ruangan antara tamponade dan fundus uteri. tidakan ini dianggap gagal. dan bila setelah waktu ini perdarahan masih tetap berlangsung.Untuk mengetahui ini. Hipogastrika 7. sebagian kain tampon dikeluarkan diluar vagina. dan harus disusul dengan tindakan yang lebih aktif.Infeksi puerperalis . Kompresi bimanual internal & eksternal & aorta 2. ginjal dan sebagainya sehingga penderita menjadi invalid atau meninggal 3.Anemia postpartum .uterina dengan cunam Henkel 6. Menjepit a. Penekanan aorta 5. sehingga rahim tertekuk kedepan.  Untuk memadatkan tampon ini dapat juga dipakai jari-jari tangan. kelenjarendokrin tersebut mudah mengalami iskemia.  Kain tampon dimasukkan sedikit demi sedikit mulai dari fundus uteri kearah bawah sedapat mungkin. Memijat rahim secara Dickinson 3. Ligasi a. Sambil tangan kiri melakukan pemijatan pada rahim kearah ruas-ruas tulang belakang.  Tangan penolong yang lainmenekan fundus uteri kearah depan bawah.  Tindakan ini dapat dilakukan sampai ½ jam dan bila tetap terjadi perdarahan maka tindakan ini dianggap gagal.  Dengan cara ini maka rahim dirangsang untuk berkontraksi dan vena-vena dalam rahim akan terjepit.  Tangan yang diluar melakukan masase secara aktif pada rahim. Perdarahan yang banyak. penolong harus tetap mengawasi apakah masih terjadi perdarahan dari rahim. prognosisnya lebih jelek. Memijat rahim secara Dickinson  Penolong berdiri disebelah kanan ibu dan menghadap ke perut ibu.  Tangan kanan penolong pada sisi ulnar diletakkan diatas simfisis. kasa tampon dijepit sedemikian rupa sehingga ujung cunam selalu terbalut oleh tampon tersebut. Histerektomi Kompresi bimanual  Kandung seni dikosongkan dulu.Sindroma Sheehan: disebabkan karena nekrosis kelenjarpituitari anterior. genggaman ditekankan pada fornik anterior vagina dan dinding depan rahim. Tangan kiri penolong diletakkan diatas fundus uteri dan mencengkam korpus uteri.  Dalam memakai tamponade rahim untuk menghentikan perdarahan. satu tangan penolong dimasukkan jalan lahir dan dengan posisi menggenggam. sering mengakibatkan timbulnya kelainan pembekuan darah sehingga perdarahan lebih sulit diatasi.  Tangan penolong yang diluar diletakkan di fundus uteri dan tetap menahan fundus uteri selama pemasangan tampon dikerjakan. misalnya melakukan ligasi a. sebab bila pertolongan terlambat dapat terjadi perubahan yang ireversibel pada otak. Pemasangan tamponade dalam rongga rahim  Kandung seni dikosongkan.  Dengan cunam tampon.Bila terjadi komplikasi sebagai akibat tranfusi.  Bila dalam observasi didapatkan 1 atau 2 gejala tersebut maka tindakan tamponade rahim dianggap gagal. berarti tampon sudah seluruhnya basah. Pemasangan tamponade dalam rongga rahim 4. Dipasang spekulum pada vagina 2 buah  Bibir depan servik dijepit dengancunam muzeaux. maka tidak boleh dilakukan pemasangan tamponade lagi. 4.Terdiri dari :  Kegagalan laktasi  Amenore yang persisten  Atrofi mamma  Hilangnya rambut ketiak dan pubis  Superinvolusio uteri  Hipothiroidism  Insufisiensi kortex adrenalis Sindroma ini tidak tergantung pada jumlah perdarahan yang terjadi. Hipogastrika atau histerektomi. Post partum dan nifasnya : . Jari-jari tangan kanan ini menggenggam SBR. dan ditarik kearah depan atas.

 Penekanan harus dilakukan secara intermiten.  Demikian pula dengan cara yang sama dilakukan penjepitan pada parametrium yang berlawanan.  Untuk memperkuat tekanan. . Dengan alat penekan aorta Dengan genggaman tangan :  Penolong berdiri disebelah kanan dan menghadap kearah kaki. femoralis.  Tehnik :dipasang 2 spekulum didepan dan dibelakang.SBR makinlama makin tipis. Jenis trauma jalan lahir. Tangan kiri atau kanan penolong digenggamkan dan kemudian genggaman tersebut ditekankan pada daerah aorta diatas fundus uteri (kira-kira setinggi Lumbal IV).Inkompleta: lapisan otot sudah robek. Ruptura uteri pada bekas Seksio Sesarea: karena penyembuhan bekas irisan yang kurang baik mudah robek terutama pada Seksio Sesarea klasik.Ruptura vagina .  Bibir servik ditarik kearah kanan. .Kompleta: seluruh lapisan uterus robek sehingga ada hubungan langsung antara kavum uteri dan kavum peritonei. nafas pendek. .Ruptura servik uteri .  Oleh karena itu tindakan ini hanyalah suatu tindakan darurat dan sementara dalam menunggu tindakan lain yang lebih radikal.  Penyulit yang paling berbahaya dari tindakan ini adalah terjepitnya ureter.Ligamentum rotundum kanan-kiri teregang dengan insersi yang tinggi pada uterus.Pada pemeriksaan dalam vagina biasanya sudah terjadi kaput suksedaneum.Kontraksi uterus yang kuat tidak diikuti oleh kemajuan persalinan yang sesuai. atau edema seviks karena terjepit.Penekanan aorta merupakan tindakan sementara dalam menunggu tindakan aktif lain. Karena kontraksi yang kuat padainduksi persalinan atau perbaikan his. kemudian penderita lebih lega dan tenang. Bisa terjadi sebelum atau selama inpartu. hal ini tergantung lokasi dan besar kecilnya trauma. versi ekstraksi. Gejala klinik: Sebelum terjadi ruptura uteri sudah dapat dilihat gejala ancaman ruptura uteri (ruptura uteri iminens): . TRAUMA JALAN LAHIR : Pada trauma jalan lahir tak semuanya menimbulkan perdarahan post partum.Ruptura uteri .  Tekanan dilakukan sedemikian rupa sehingga membantu aliran darah dalam aorta.Penderita merasa nyeri di daerah SBR . tapi peritoneum masih utuh. nadi cepat. kemudian pada parametrium kiri setinggi forniks dilakukan penjepitan dengan cunam Henkel dalam arah tangensial kearah rahim. .  Tehniknya sama seperti dengan genggaman tangan  Penekanan juga harus secara intermiten Menjepit a. yang dapat diketahui dengan memegang nadi a.  Bibir depan dan belakang servik dijepit dengan cunam bundar.Penekanan aorta dapat langsung melalui dinding abdomen dan dapat dilakukan dengan cara : a. uterina pada percabangannya menjadi ramus asendens dan desendens ditepi lateral rahim dalam parametrium.Penderita gelisah. uterina dengan cunam Henkel  Prinsipmenjepit a. Macam ruptura uteri: .  Bagian yang dipakai untuk menekan aorta ini adalah ruas kedua atau ketiga. . pada tindakan ekstraksi forsep/ vakum. Dengan alat penekan aorta :  Alat penekan aorta mempunyai bentuk bermacam-macam. Setelah terjadi ruptura uteri: penderita merasa ada yang pecah di dalam perutnya. tangan penolong yang lain dapat ditekankan padapergelangan tangan tadi disertai dengan tekanan gaya berat badan yang sedikit dibongkokkan. terlihat lekukan lingkaran retraksi yang makin lama makin tinggi yang disebut cincin atau lingkaran Bandl yang nyeri bila dipegang. SBR makin tipis sehingga bila tidak ditolong akan robek Ruptura uteri violenta: disebabkan trauma benda tajam pada waktu menolong persalinan dengn SBR yang sudah tipis. .Denyut jantung janin tidak teratur. letak lintang.Ruptura perinei RUPTURA UTERI Pembagian:  Ruptura uteri spontanea: : terjadi secara spontan  Ruptura utei violenta: terjadikarena adana trauma  Ruptura uteri yang terjadipada bekas irisan SC Mekanisme: Ruptura uteri spontanea: disebabkan oleh turunnya bagian anak terhalang.Ruptura vulvae . Genggaman tangan b. . . cepat atau lambat. misal pada disproporsi kepala panggul. embriotomi atau dorongan Kristeller yang terlalu kuat.

bagian terendah anak mudah didorong ke atas.Kadang-kadang ada perdarahan pervaginam .Curiga panggul sempit pada tinggi badan sekitar 140 cm.Menyebabkan hematom parametrium yang luas. Prosedur menjahit :  Didalam vagina dipasang spekulum Sim 2 .Grande multigravida .Transfusi .Umumnya memanjang .Laparotomi segera untuk menghentikan perdarahan . atau tidak teraba sama sekali karena sudah berada dalam rongga perut. sehingga pertumbuhan lebih sempurna. Pencegahan: Pada pemeriksaan antenatal sudah dapat ditentukan risiko tinggi untuk ruptura uteri: .  Penjahitan kembali tak usah terlalu rapat. hipogastrika. . . sepsis.Perdarahan bisa cepat bila mengenai pembuluh darah besar. dianjurkan melakukan ligasi a.Antibiotika dosisi tinggi .Bekas Seksio Sesarea atau bedah rahim . Bahaya komplikasi : 1. 3.Umumnya dikerjakan histerektomi krena merupakan sumber infeksi . Robekan biasanya terjadi pada jam 3 dan 9.Pada ruptura uterikemungkinanterjadi peritonitis.Perdarahan pervaginam . terutama pada permulaan trimester II sehingga terjadi abortus atau partus imaturus. dan teraba usus danomentum.Perdarahan pervaginam yang arteriil dan memancar sedangkan kontraksi uterus baik . uterina atau cabang besar ikut terputus. Untuk ini servik harus ditarik keluar dengan tang ovum atau tang cincin. Perdarahan pada robekan servik terjadi sangat cepat.Bila robekan sedikit dan masih ingin punya anak dilakukan histeroraphi (penjahitan kembali robekan) RUPTURA SERVIK UTERI :  Pada setiap persalinan akan terjadi robekan-robekan kecil pada servik.DJJ tidak terdengar lagi karena bayi mati. Penyembuhan yang tidak sempurna dari robekan servik dapat mengakibatkan :striktura servik dan konglutinatio servik Perawatan :  Penting adalah mencegah terjadinya robekan tersebut. 4.Pada pemeriksaan ruptura uteri: . tetapi pada umumnya tidak menyebabkan perdarahan.Bila tidak segera ditolong sering menimbulkan kematian 2. Diagnosis: . Jangan boleh mengejan sebelum pembukaan lengkap.  Jahitan diusahakan proksimal dari robekan sehingga pembuluh darah yang telah mengalami retraksi ikut terjahit. terutama bila a. Perdarahan akibat robekan servik ini dapat : . Infeksi: robekan servik terletak pada daerah yang dekat dengan mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi. dan sebagainya. 1. . uterina. Semua usaha untuk melahirkan anak sebelum pembukaan lengkap supaya dihindarkan. Penyebab terjadinya : .Perdarahan terus terjadi meskipun kontraksi uterus baik. . Bentuk ruptura servik . bisa juga lambat atau sedikit.Pada palpasi dapat diraba bagian-bagian anak dengan mudah dibawah kulit perut ibu.Bisa pula teraba robekan pada SBR.Ada yang melingkar Ruptura servik yang mengenai jam 3 atau 9 akan memberi perdarahan hebat.Hidrosefalus Pengelolaan .Partus buatan .Pada plasenta previa dimana servik sangat rapuh .Pertolongan persalinan sebelumlengkap misalnya: mengejan sebelum waktunya. asidosis. uterina atau cabangnya.  Pada prinsipnya semua robekan servik yang melebihi 1 cm harus dijahit kembali. Servik inkompeten:robekan servik yang tidak dijahit menyebabkan servik tak dapat menutup dengan sempurna.Inspekulo : didapat robekan servik dan pada eksplorasi robekan mungkin menjalar sampai SBR atau vagina. Darah yang keluar pervaginam adalah darah arteri dan memancar.Tanda-tanda syok hipovolemik karena perdarahan intra abdominal . striktura servik . Pemakaian uterotonika pada kala I harus dengan observasi yang sempurna 3. . FE.  Bila terjadi robekan yang melebar ke parametrium atau terjadi hematoma parametrial.Pada pemeriksaan dalam vagina.Pemakaian uterotonika ada kala I Klinis : Robekan servik ini biasanya memberi perdarahan setelah anak lahir. .  Robekan yang luas (lebih dari 1 cm) pada servik dapat menyebabkan terputusnya a. sebab harus memperhatikan involusi dari servik.  Pada dasarnya ruptura servikkarena seriks belum terbuka lengkap.Keadaan umum diperbaiki dengan infus untuk keseimbangan elektrolit cairan .Kelainan letak yang sukar dikoreksi .Kontraksi uterus berkurang dan menghilang .Persalinan yang berlangsung cepat . 2. robekan ini merupakan port d’entre kuman. cacad pada kaki (pincang) .Edemaservik pada partus lama. sebab pada tempat tersebut mengalir cabang a.

TRAUMA VAGINA : Trauma pada vagina dapat berbentuk :  Hematoma  Laserasi  Ruptura vagina yang dalam  Fistula Cara perawatan :  Hematoma  Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah disekitar vagina.  Luka dijahit dengan benang catgut chromic. 2. sehingga seluruh bibir servik dapat dieksplorasi dengan baik. terjadi akibat gesekan antara janin dengan vulva.  Tempat yang terkena ialah : o Preputium klitoridis o Dinding media labia minora  Perawatannya cukup dengan memberi desinfektan.  Bila terjadi hematoma semacam ini : 1. untuk mengetahui adanya robekan servik. tapi kadang-kadang sampai terjadi perdarahan yang hebat dan syok Perdarahan yang terjadi pada episiotomi saja rata-rata 230 cc. TRAUMA VULVA Laserasi :  Bentuk trauma ini superfisial. bila perlu dijahit atau diberi penekan  Hematoma yang luas dapat mengakibatkan: 1.Ruptura vagina . Perasaan nyeri yang hebat 2. Syok 3.  Bila terjadi perdarahan banyak harus dilakukan penjahitan dengan benang catgut halus. Cara menjahit : Pada vagina dipasang spekulum Sims 1 atau 2 diletakkan sedemikian rupa sehingga ruptura vagina tampak jelas.  Lecet pada mukosa vagina  Perawatan cukup dengan diberi desinfektan. harus dilakukan insisi unntuk mengeluarkan darah. bila bekuan darah tidak dievakuasi dapat timbul keradangan dan akhirnya terbentuk abses. o Klinis hampir seperti robekan servik.  Lapisan pertama harus mengenai dasar luka. simpul. uterina yang besar. terutama bila terdapat robekan pada fasia. dijahit dengan benang catgut halus dan memakai jarum bulat. Komplikasi .  Dilakukan penghentian sumber perdarahan dengan ligasi.  Ruptura vagina  Terjadi akibat :  Persalinan buatan (forsep)  Kelahiran spontan pada janin besar.  Bentuk ruptura vagina umumnya sagital. Yang paling penting ialah jahitan pertama harus mengenai ujung luka servik. Diagnosis: dengan pemeriksaan inspekulo.  Pada hematoma yang besar.  Bila hematoma kecil dapat dibiarkan  Bila hematoma besar harus dilakukan insisi dan semua bekuan darah dikeluarkan. Kadangkala mukosa servik mengalami perdarahan difundus uteri.  Ujung luka sebelah kranial harus terjahit dengan sempurna. Dapat dilakukan penekanan sehingga tidak terjadi perdarahan lebih lanjut. dan dapat ekstensi keatas sampai servik.  Kolporeksis : o Robekan vagina bagian atas pada daerah fornik.  Luka pada vulva sering menimbulkan perlekatan: konglunasio vulvae.Prolapsus vagina. Kecuali bila terjadi pada bagian atas dan menyebabkan terputusnya cabang a. maka cunam bundar dipindah setahap demi setahap melingkari bibir servik. maka robekan harus dijahit dengan benang katgut besar memakai jarum bundar secara simpul. karena adanya lecet pada mukosa tersebut. Ruptura perinei dibagi 3 tingkat :  Ruptura perinei tingkat I:Robekan pada mucosa vagina dan kulit perineum .Perdarahan . Hipofibrinogenemia 4.  Bila lecet agak dalam dan berdarah.  Bila ruptura cukup dalam harus dijahit 2 lapis. Bila besar. lebih-lebih bila dilakukan ekspresi Kristeller. Merupakan tempat berbiaknya bakteri Trauma Perineum :     Merupakan tempat yang paling sering mengalami trauma akibat persalinan. paling atas. Untuk keadaan ini tak perlu dilakukan penjahitan. Bila didapat robekan memanjang (sagital). o Perdarahan pada robekan vagina ini tidak sehebat robekan servik.    Bibir servik dijepit dengan 2 cunam bundar. Hematoma  Pada daerah vulva ini sering terjadi robekan pembuluh darah dengan akibat vulva hematoma yang luas dan nyeri. Perdarahan akibat robekan perineum ini biasanya tak banyak.

sfinter ani eksterna.Inkontinensia alvi . ani eksterna. kanalis servikalis telah membuka. m. tersebut putus  Rupturasentralis: perineum beserta lapisan ototnya robek tapi kulit perineum masih utuh.  Bila mukosa rektum ikut robek maka harus dijahit lebih dahulu dengan benang katgut kromik halus secara simpul. Jahitan harus mencapai dasar luka.Dilatator Hegar .Ketika dimasukkan kedalam kavum uteri alat kuret dalam posisi mendatar. Setelah bersih.  Kemudian m.Spekulum Sim . sfinter ani eksterna.Pethidin + Diazepam .Anestesi : . dikeluarkan lebih dahulu dengan cunam abortus.Sebelum memulai menjahit harus ditemukan dulu kedua pangkal m. levator ani. sfinter ani externus.  Ruptura perinei tingkat II (Ruptura perinei subtotalis): robekan pada otot dasar panggul seperti m. Komplikasi : . kerokan dihentikan.Sodium Penthotal . maka mulai dilakukan pengerokan secara teratur. Kavum uteri dianggap bersih bila tidak tampak lagi jaringan yang keluar. Kemudian kulit dijahit dengan benang sutera dan memakai jarum tajam.Prosedur :  Desinfeksi daerah vulva dan vagina  Kandung seni dikosongkan  Pasang spekulum Sim pada dinding bawah vagina. SISA PLASENTA : Merupakan sebab PPP setelah 24 jam persalinan (disebut juga perdarahan nifas sekunder).Alat kuret .  Tangan kiri penolong menahan fundus uteri    Setelah alat kuret dimasukkan dan sambil memegang cunam servik telah menyentuh fundus uteri. Perawatan :  Perbaiki keadaan umum: infus. kemudian arah kerokan dibalik berlawanan dengan arah jarum jam.Cunam servik . cairan desinfektan . Mula-mula arah kerokan sesuai dengan arah jarum jam.  Bila sisa plasenta besar dan banyak.Cunam tampon . Perawatan : Robekan perineum harus dijahit kembali lapis demi lapis. levator ani. sambil memegang cunam servik  Dimasukkan alat kuret dengan dipegang oleh tangan kanan. Pada waktu tindakan ini tangan kiri penolong menahan fundus uteri. alat : . maka tidak perlu dilakukan dilatasi. m.  Ruptura perinei tingkat III: yang robek selain m. Tetapi bila masih tertutup maka perlu dilakukan dilatasi berangsur-angsur dari busi Hegar terkecil sampai ukuran yang diperlukan.  Ruptura perinei tingkat III (Ruptura perinei totalis): robekan pada m. Luka dijahit 2 lapis dengan benang catgut halus secara simpul atau jelujur dengan jarum bundar.Cunam abortus .Sonde rahim . Prosedur penjahitan :  Ruptura perinei tingkat I: robekan dijahit dengan benangkatgut kromik secara simpul dan memakai jarum bundar  Ruptura perinei tingkat II : yang kena adalah m. levator ani.Perdarahan . Ada yang membagi sebagai :  Ruptura perinei subtotalis: bila hanya sebagian.  Otot ini dijahit dengan benang katgut kromik secara simpul. perinei transversa.Dispareunia . Pada abortus inkompletus atau PPP.Infeksi .Persiapan.Prolaps vagina / uteri . dijepit antara ibu jari dan jari telunjuk.Kasa. dan cairan/darah berbuih.levator ani dijahit seperti menjahit pada ruptura perinei tingkat II. dan dipegang seorang asisten  Bibir dengan servik dipegang / dijepit dengan cunam servik  Lakukan sondase rahim: menentukan arah korpus uteri dan besar /panjang rahim  Bila kanalis servikalis sudah terbuka. tranfusi  Bersihkan kavum uteri: kuretase Tehnik kuretase : . bulbokavernosa atau m. juga terkena m. yang terpotong. rongga vagina dibersihkan dari sisadarah.yang robek  Ruptura perinei totalis: bila seluruh lingkungan muskulus.  Penjahitan harus dilakukan secara cermat agar otot tersebut tersambung dengan baik.

bila kasus berasal dari luar rumah sakit Bila keadaan umum penderita sudah layak untuk melakukan tindakan.  Perdarahan dapat terjadi banyak atau sedikit tergantung plasenta yang sudah lepas. Vili khorialis yang melekatnya lebih dalam : a. Pengelolaan: Bila tak terjadi perdarahan. pemakaian narkose. Atonia uteri. keluarnya fundus uteri melalui ostium uteri sampai ke vagina. Faktor predisposisi :  Atonia uteri  Implantasi plasenta pada fundus uteri  Ostium uteri yang longgar Sebab terjadinya:  Partus yang terlalu cepat (partus presipitatus)  Ekspresi Crede  Tarikan pada tali pusat. Prognosis: bila pertolongan terlambat. .  Adanya tarikan dan keregangan peritoneum menyebabkan nyeri hebat sampai syok. Kontraksi uterus yang hipertonik. Kita dapat memperbaiki keadaan umum penderita bila diperlukan. atau fundus uteri tidak dapat diraba lagi 4. maka kita tak perlu bertindak tergesa-gesa. Pl asenta perkreta : sampai menembus perimetrium 6. kalau perlu transfusi 4. baru dilakukan pertolongan untuk melahirkan plasenta. maka reposisinya jauh lebih sukar. Pasang tamponadeutero-vaginal 6. Plasenta Fenestrata b. pemberian uterotonika dan sebagainya. pucat dan tampak sakit 2. 3.  Bila tak berhasil dilakukan reposisi. Pimpinan kala III yang salah : memijat rahim yang tidak merata.Dengan demikian maka terdapat kebocoran darah ibu yang semestinya masuk ke dalam ruang intervilosa. 5. Derajat syoknya tak sesuai dengan jumlah perdarahan yang terjadi 3. misalnya : o Infus atau tranfusi o Pemberian antibiotika o Pemberian antipiretika o Pemberian ATS. dilakukan operasi secara Huntington dan Spinelli (kronis). gemeli dan sebagainya.  Sebelum reposisi plasenta dapat dilepaskan dulu dengan maksud memudahkan reposisi. Lakukan reposisi 5. Pemberian uterotonika 7. Syok yang lama dan menjadi ireversibel 2. 2. Plasenta Bilobata. makin sukar reposisinya. sedangkan kontraksi uterus tidak dapat sempurna Etiologi : 1. yang menyebabkan cincin konstriksi (constriction ring bukan retraction ring): Hour glass contraction 4. sedangkan bagian lain masih melekat.  Bila plasenta tidak dilepaskan lebih dahulu. Antibiotika. Pada retensio plasentae ini dapat disertai perdarahan banyak atau sedikit. Plasentaakreta : sampai stratum Basalis endometrium b. Plasentainkreta : sampai miometrium c. Pemberian narkotika untuk menghilangkan rasa nyeri yang hebat (Pethidin 100 mg atau Morphin 10 -15 mg) 2. Diagnosis: 1. Pasang infus. Pada pemeriksaan dalam dan inspekulo terdapat suatu tonjolan / tumor pada vagina yang ternyata uterus yang terbalik. Infeksi 3. Bahaya yang terjadi : 1. Plasenta Suksenturiata. Mekanisme kelahiran plasenta dibagi 2 tahap: 1.  Retensio plasenta dengan perdarahan: Menunjukkan bahwa sudah ada bagian plasenta yang sudah lepas. prognosanya jelek. Makin lama inversio tersebut terjadi. Tahap separasi : plasenta lepas dari insersinya 2. RETENSIO PLASENTAE : Retensio plasentae:keadaan dimana plasenta tak dapat lahir setelah ½ jam kelahiran bayi. sebagai lanjutan inertia yang sudah ada sebelumnya atau yang terjadi pada kala III: partus lama.INVERSIO UTERI : Inversio uteri : keadaan dimana uterus terbalik kedalam (inverse) demikian rupa sehingga lapisan endometrium yang tadinya merupakan lapisan dalam menjadi lapisan luar. Didapatkan cekungan pada fundus uteri. tetapi bahaya perdarahan lebih banyak. Pengelolaan: 1. Bila perlu diberikan anestesi umum 3. pijatan sebelum plasenta lepas. Plasenta Membranasea c. kalau perlu ATS Prosedur reposisi :  Bila inversio tersebut baru terjadi dapat dicoba reposisi secara manual. Penderita post partum yang mengalami syok. sukar lepas karena plasenta yang lebar dan tipis (plasenta yangprematur imaturatau plasenta membranasea).  Terjadinya inversio uteri ini dapat akut dapat pula perlahan-lahan dimulai dengan invaginasi. Kelainan bentuk plasenta sehingga plasenta atau sebagian plasenta sukar lepas : a. Plasenta Spuria. Plasenta yang adesif. Tahap ekspulsi : plasenta lahir Pembagian retensio plasenta berdasarkan prognosis dan perawatannya:  Retensio plasenta tanpa perdarahan: Terjadi bila belum ada bagian plasenta yang lepas atau seluruh plasenta sudah lepas tetapi plasenta terjepit dalan rahim.

robekan jalan lahir  Emboli udara  Perdarahan yang banyak (kurang pengalaman) . William’s atau Dublin  Cara Brandt Andrews (Controlled traction of the cord): Uterus ditengahkan. Perdarahan profus pada kala III. dimulai dari tempat plasenta yang sudah lepas sampai seluruh placenta lepas. Penolong berdiri disamping kanan penderita menghadap perut ibu. Bahaya plasenta manual:  Infeksi  Salah jalan masuk menembus fornik posterior yang lunak  Perforasi uterus. Rahim ditekan searah sumbu rahim sehingga plasenta dapat dilahirkan. Perdarahan antepartum Tehnik :  Ibu diberi narkose untuk relaksasi rahim. Plasenta manual : Plasenta manual:melahirkan plasenta dengan cara memasukkan tangan penolong kedalam kavum uteri. melepaskan dari insersio dan mengeluarkannya. Kosongkan kandung seni 3. Cara untuk melahirkan plasenta : . . Dengan tangan kanan penolong rahim dipegang sedemikian rupa sehingga rahim berada diantara telapak tangan dan ibujari. misal plasenta increta atau perkreta. 2. Dengan masase pada fundus uteri dan tarikan ringan maka plasenta dapat dilahirkan. Semua tindakan plasenta manual harus dilakukan narkose yang dalam. lakukan histerektomi.Tangan kanan meregangkan tali pusat sedangkan tangan kiri mencengkam kanalis servikalis diantara ibu jari dan jari lain.Bila ostium uteri eksternum sudah demikian sempitnya. atonia uteri.Bila plasenta belum lepas maka pelepasan dimulai dari tepi plasenta. Bila plasenta belum lepas maka plasenta dilahirkan secara: a. Pada waktu uterus berkontraksi. Retensio plasenta 3.Tangan dimasukkan secara obstetrik maksudnya supaya udara tidak seperti dipompakan masuk kavumuteri untuk mencegah timbulnya emboli udara. b.Bila disertai perdarahan. d. Tindakan pada retensio plasenta: 1. 4.  Tangan kiri meregangkan tali pusat.Pengeluaran plasenta secara manual (dengan narkose) . Indikasi : 1.Cara dari luar :  Dicoba mengeluarkan plasenta dengan cara normal:Cara Calkins. untuk mengetahui ini dapat dipakai tehnik : Klein. rahim diperas untuk melepaskan dan melahirkan plasenta. Tehnik Calkins : Tangan kanan penolong meregangkan tali pusat sedang tangan yang lain melakukan masase pada fundus uteri dan mendorong ringan. sehingga dengan narkose yang dalampun tangan tak dapat masuk dapat dilakukan histerotomi untuk melahirkan plasentanya. sedang plasenta belum lahir.  Tangan kiri dengan sisi ulnar melepaskan plasenta dari dinding rahim. Pasang infus dan tranfusi bila perlu 2.Uterus dipegang atau ditekan suprasimphisis dan diarahkan pada arah yang berlawanan dengan regangan tali pusat. Tehnik Brandt Andrew : Mula-mula kandung seni dikosongkan. Bila plasenta telah lepas maka plasenta dapat dilahirkan secara : o Calkins o Brand o Crede 5. maka kita harus bertindak cepat untuk mengeluarkan plasenta. tangan kanan menelusuri tali pusat dimasukkan secara obstetrik sampai mencapai insersionya. Tangan kiri mengurut kanalis servicalis kearah atas bersamaan itu tali pusat ditarik keluar sehingga plasenta lahir c. Perdarahan lebih dari 500 cc sebelum plasenta lahir 5. Periksa dari luar apakah tahap separasi telah terjadi. Tehnik Crede : Penolong berdiri disamping kiri penderita menghadap kaki ibu. Kutsner atau Strassmann.Bila plasenta tak dapat dilepaskan dari rahim.  Jika plasenta sudah dilepaskan seluruhnya. 4. Cara ini dapat diulang 3 kali dengan antara ½ jam. maka dengan tangan yang didalam plasenta dikeluarkan. disamping memperbaiki keadaan umum penderita. tali pusat direngangkan.  Cara Crede : Tangannya / jari dibagian posterior rahim sedang ibu jari dibagian anterior rahim. . Setelah persalinan pembedahan pervaginam yang memakai narkose.

2 mg IM / IV sesudah plasenta lahir. dimana setelah kepala lahir.Pimpinan kala III yang salah sebagai penyebab perdarahan pasca partum:    Setelah anak lahir. Diagnosis:  Adanya tanda retraksi kepala (head retraction sign) atau tanda kepala penyu (turtle sign).  Bentuk panggul platipeloid/panggul picak. Cara yang sering dipakai : 1. Menarik pada tali pusat 4. dan berusaha untuk mempercepat separasi ini. Faktor predisposisi:  Ibu berumur lanjut  Diabetes Mellitus  Ibu gemuk / obesitas  Kehamilan lewat waktu  Berat badan berlebihan selama hamil  Riwayat melahirkan bayi besar dan distosia bahu sebelumnya. Pengelolaan:  Cepat kenali masalahnya dan lakukan serangkaian geakan atau perasat untuk mengakhiri persalinan melalui vagina.  Bila gagal lakukan perasat Mc Roberts  Bila gagal lakukan Woods Screw  Bila gagal lakukan lahirkan lengan posterior lebih dulu. kepala janin terutama dagu tertarik rapat kembali terhadap perineum. Kadang akibat tindakan tersebut diatas. Memeras uterus 3. Tahapan pengelolaan:  Mobilisasi semua tenaga yang ada.Segala sesuatu yang maksudnya mempercepat kala III sering malahan menimbulkan kesukaran dan memperlambat kala III tersebut.  Bila gagal patahkan lengan klavikula posterior atau humerus atau melakukan perasat Zavanelli     UTEROTONIKA Uterotonika: obat yang langsung berpengaruh pada kontraksi uterus pada miometrium Terdiri 2 macam:  Ergot (alkaloid): dari claviceps purpurea. Kesulitan dalam melahirkan bahu depan pada saat melakukan tarikan curam kebawah pada kepala bayi. Seorang pemimpin partus kadang kala tidak sabar. Separasi ini rata-rata terjadi 10 menit setelah anak lahir. plasenta malah terjepit dalam kavum uteri. Memijat-mijat uterus 2. maka terjadi sebagian plasenta dengan kontraksi uterus yang tidak merata dengan akibat terjadi perdarahan yang berasal dari bagian plasenta yang lepas tadi. tetapi sering tidak sabar untuk menunggu 2-3 menit dalam melahirkan plasenta. Akibat dari tindakan-tindakan tersebut. tepat.  Dilakukan penekanan suprapubik oleh pembantu. Seorang pemimpin partus seharusnya bertindak sabar. usahakanmembuat tarikan ringan pada kepala janin. maka uterus mengadakan retraksi dan kontraksi akibatnya terjadi separasi plasenta. penuh ketrampilan dan bijak untuk mencegah terjadinya trauma yang berat atau kematian dari janin. . DISTOSIA BAHU Macetnya persalinan letak kepala disebabkan tertahannya bahu depan pada simfisis. Catatan :Pemimpin partus biasanya menunggu 2-3 jam sebelum anak lahir. rumput yang tumbuh pada gandum hitam: ergometrin . bersamaan dengan dilakukan tarikan normal curam ke bawah pada kepala janin. metil ergonovin  Ekstrak hipofise posterior: oksitosin Perbedaan ergometrin dan oksitosin: Ergometrin Oksitosin Kontraksi miometriumTetanik Intermiten Relaksasi (-) (+) Efek Cepat Setelah 5-10 menit Saat pemberian Sesudah plasenta lahir Setelah anak lahir Pengaruh tekanan darah Menaikkan tekanan Tak menaikkan tekanan Cara pemberian:  Oksitosin: diberikan 10 U IM / IV setelah kepala lahir sebagai manajemen aktif kala III untuk mencegah perdarahan pasca salin  Metil ergometrin: diberikan 0. Perasat ini harus dilakukan secara cepat. Memberikan uterotonika dan sebagainya.  Diagnosis dapat juga dibuat ketika penolong mendapatkan tahanan pada saat melakukan tarikan curam ke bawah secara normal pada kepala bayi tidak berhasil melahirkan bahu depan. kosongkan kandung kemihbila penuh.

 Kematian janin Pencegahan:  Kenali adanya makrosomia dengan akurat dan tepat  Kenali adanya beberapa faktor risik GAWAT JANIN Gawat janin (fetal distress): janin dalam keadaan gawat sehingga memerlukan tindakan darurat untuk menyelamatkan. reguler  Pengawasan kala I: tiap ¼ jam  Pengawasan Kala II: tiap 5 menit  Mulai terdengar 18 -20 minggu. . diselingi 5”  Frekwensi normal: 120 -150 / menit.  Dengan Dopler (Ultrasound Ehoscopy) terdengar:  DJJ  Gerak anak  Gambaran bentuk anak Diagnosa banding DJJ: Ibu:  Denyut jantung ibu (80/menit)  Bising usus: tak teratur suaranya  Arteri uterine: sama dengan frekwensi ibu) Anak:  Bising tali pusat . pada tali pusat terjepit.  Walau gawat janin merupakan indikasi untuk segera mengakhiri persalinan tetapi sebaiknya tetap harus dicari penyebab perubahan akut yang terjadi pada janin sambil memberikan oksigen dan menempatkan ibu berbaring miring ke kiri. imatur. suara meniup sesuai DJJ. prematur o Kelainan kongenital: cacat bawaan/ mental akibat hipoksi otak  Persalinan: o Inersia uteri o Persalinan lama o Persalinan tak maju  Pasca salin: o Atonia uteri o Perdarahan pasca salin o Infeksi Penderita anemia karena perdarahan dan di bawah 9gr %.2  Terjadi deselerasi lambat pada penggunaan kardiotokograf intrapartum.Komplikasi: Ibu:  Trauma atau robekan jalan lahir  Perdarahan  Infeksi Janin:  Asfiksia  Fraktur pada tulang klavikula atau humerus  Cidera pada pleksus brakhialis. diusahakan darah untuk transfusi. ANEMIA KEHAMILAN Pengaruh anemia pada  Kehamilan: o Abortus. Perlu diperhatikan:  Penentuan denyut jantung janin harus dilakukan saat tidak ada his.  Penilaian frekwensi tiap 5”. Tanda: bila didapatkan satu atau lebih tanda dibawah ini:  Denyut jantung janin menjadi tidak teratur: beda >2 (12-9-11)  Denyut jantung janin menjadi terlalu lambat (< 100x/ menit)  Denyut jantung janin memjadi terlalu cepat (frekuensi lebih dari 160 x menit)  Terjadi pengeluaran mekonium pada janin bukan letak sungsang  pH darah janin kurang atau sama dengan 7.

inkubator. o Kelainan jalan lahir: serviks inkompeten o Ketuban pecah dini Persalinan prematur banyak ditemukan pada perempuan dengan sosial ekonomi rendah. ANC teratur. Etiologi: sering tidak jelas. bayi besar pada ibu DM.: o Perlengkapan untuk bayi prematur: alat resusitasi. Pengelolaan: o Prinsip: kehamilan dipertahankan sampai aterm o Mencegah berlangsungnya persalinan dengan mencegah his: o Posisi Trendelenburg untuk mengurangi tekanan kepala pada SBR sehingga rangsangan terhadap uterus untuk berkontraksi berkurang o Obat-obatan:  Sedatif: luminal. o Injeksi vitamin K 1 mg setelah bayi lahir. berat badan janin antara 1000 -2500 gram. o Dilakukan episiotomi untuk menghindari perlukaan kelahiran atau perdarahan otak karena tengkorak janin lebih lunak. pasang duk steril  Inspekulo vagina. hidramnion.HIDROSEFALUS Hidrosefalus: timbulnya cairan serebro spinalis pada ventrikel otak: 1500 – 5000 cc sehingga kepala membesar Bahaya ibu: ruptura uteri Diagnosis:  Tanda Disproporsi kepala panggul (DKP):  Tes Osborn (+)  Tes Muller Monru Kerr (+)  Kemungkinan adanya spina bifida  PDV: sutura melebar  Fenomena pingpong: tulang ditekan terasa kreg-kreg seperti memencet bola pingpong/ telur penyu  Rontgen/USG: kepala lebih besar.  Keluarkan cairan sampai habis dan jarum dikeluarkan  Diharapkan anak lahir pervaginam. PERSALINAN IMATUR / PREMATUR IMINENS PARTUS IMATUR: Pengeluaran buah kehamilan pada umur 20 -28 minggu. Pengeluaran plasenta sering terhambat. atau berat badan janin 500 – 1000 gram. maka pertolongan persalinan dilakukan seperti biasa dengan memperhatikan sbb. diazepam  Tokolitik: isoksuprin o Bila persalinan prematur tak dapat dicegah. tulang kranium tipis. cari sutura  Dengan dipimpin jari jarum pungsi ditusukkan ke sutura. vulva toilet. biasanya anak tak berumur panjang  Pada letak sungsang perforasi melalui foramen magnum. - . Pencegahan dengan makanan bergizi. kemungkinan: o Gangguan gizi dan anemi o Pekerjaan fisik yang berat o Preeklamsi o Peregangan uterus lebih dari umur kehamilan pada gemelli. istirahat cukup. Mekanisme persalinan imatur berlangsung melalui tahap-tahap seperti persalinan biasa. PARTUS PREMATUR: Persalinan yang berlangsung pada kehamilan umur 28 – 37 minggu. Terapi Prinsip terapi: untuk keselamatan ibu & anak atas permintaan keluarga Dilakukan pungsi kepala  Penderita litothomi. dll.

m. Injeksi pethidin 50 mg untuk mengurangi nyeri. Infus garam faali / plasma ekspander untuk mencegah syok. Tidak perlu diusahakan menaikkan tensi hingga normal. sebelum dikirim pasang infus NaCl atau plasma expander. Fundus uteri ditahan dengan tangan atau kantong pasir untuk menambah kompresi (kalau perlu) Pasang kateter tetap agar kontraksi uterus tidak terganggu isi VU.  Penderita tidur posisi Trendelenberg. Perdarahan Postpartum (Atonia Uteri) Abortus dengan Perdarahan Banyak Partus Lama Kehamilan Ektopik terganggu Ruptura Uteri Imminens Mola Hidatidosa dengan Perdarahan    Ruptura Uteri     . Infus garam faali untuk mencegah syok. Injeksi pethidin untuk mengurangi nyeri (kalau perlu). Injeksi pethidin 50 mg atau morfin 15 mg i. VU diisi cairan garam faali 200 cc.m. Infus NaCl atau ekspander. Tali Pusat Menumbung dengan Janin Masih Hidup Agar tali pusat tak terjepit kepala :  Mengolakkan kepala kesamping. Injeksi pethidin 50 mg atau morfin 15 mg i. tidak boleh di VT atau pasang tampon. Injeksi methergin agar uterus berkontraksi dan perdarahan berkurang. Bila diagnosa klinik solutio placentae:Injeksi morfin 15mg / pethidin 50mg untuk mengurangi nyeri. Suntik oksitosin 10 U i.  Pasang kateter tetap. dan oksitisin 10 U i.  Jika tali pusat berada diluar vulva. Injeksi pethidin 50 mg i. kateter diklem sehingga VU tetap terisi. dengan oksitosin 10 U (drip).m. Beri penenang.m. Injeksi antibiotika. Pasang infus NaCl atau Dextrose 5% untuk mengatasi dehidrasi. Disiapkan paket persalinan bila terjadi persalinan di jalan.v. Infus NaCl atau D 5% untuk mengatasi dehidrasi. misal luminal 50 mg. Suntik antibiotika. dan methergin 1 ampul agar perdarahan berkurang. Pada letak kepala dengan janin mati dilakukan perforasi untuk mengecilkan kepala. Injeksi methergin 1 ampul i. tali pusat dibungkus kasa steril setelah didesinfeksi.CARA MENGIRIM PENDERITA KEBIDANAN DENGAN PENYULIT Perdarahan Antepartum   Bila diagnosa klinik tak jelas harus dianggap plasenta previa. untuk melemahkan his dan mengurangi nyeri. Infus garam faali / plasma expander. Infus garam faali / plasma expander untuk mencegah syok. Injeksi antibiotika untuk mencegah infeksi. Pasang sudip lidah untuk menghindari perlukaan lidah bila timbul kejang. Injeksi antibiotika bila ada tanda-tanda infeksi. Infus garam faali / plasma ekspander untuk menjaga perdarahan selama perjalanan. agar rahim berkontraksi. Suntikan antibiotika spektrum luas untuk mencegah infeksi.m. Pasang kateter tetap dan ukur diuresis. cukup 90-100 mmHg sistolik agar perdarahan tidak bertambah deras. Retensio Placentae              Eklamsi           Injeksi sulfas magnecius 10 gr atau valium 40 mg + 40 mg dalam 500cc D 5% drip untuk mencegah kejang lagi. agar penderita istirahat.

kemungkinan ruptura/ robekan  Berikan uterotonika dan antibiotik  Perhatikan kontraksi uterus dan keadaan umum ibu. seluruh plasenta dicakup. Bila tidak dalam tindakan versi ekstraksi bisa dengan diberi pembiusan ringan Tangan aseptik Satu tangan sikap obstetrik menyusuri tali pusat sampai insersio tali pusat Tangan lain menahan fundus uteri Cari tepi plasenta dengan tangan pinggir ulnair (bukan dengan ujung jari/kuku). tidak bias mengejan. plasenta dilepas pelan-pelan dari dinding uterus (seperti membuka lembaran buku)  Jika sudah lepas semua.  Lanjutkan eksplorasi uterus. Mengapa harus tangan obstetri?  Tangan menyusuri tali pusat sampai mencapai plasenta  Dilatasi serviks terdapat pembuluh darah kecil dan besar  Menghindari emboli udara yang dapat sebabkan kematian. perdarahan setelah manipulasi / tindakan Pada tindakan versi ekstraksi dengan pembiusan: penderita belum sadar.DAFTAR SINGKATAN PDV DKP KPD Pemeriksaan dalam vagina Disproporsi kepala panggul Ketuban pecah dini DIABETES MELLITUS Kehamilan diakhiri minggu ke 37 : adanya diabetogenik  Bayi akan bertambah besar  Mudah terjadi kematian intrauterin/ kelainan kongenital  Mudah terjadi asidosis PENYAKIT JANTUNG PENGELUARAN PLASENTA MANUAL: Guna:    Cara:      Mempercepat pengeluaran plasenta Eksplorasi adanya luka-luka.  Bila ada his tangan yang mencakup plasenta dikeluarkan. . pengeluaran tidak mungkin spontan.

kardinal yang akan dijepit harus dapat dilihat secara visual 3. 2 buah 2.. 4 buah 3.. Mobilitas serviks cukup sehingga bisa difixasi dengan baik 2... Spekulum. informed concent VERSI LUAR pungsi douglas distosia bahu TINDAKAN HENKEL : Tindakan Henkel adalah usaha menghentikan/mengurangi perdarahan dari uterus dengan cara menjepit a............... Daerah lig... 2 buah Tehnik : Setelah persiapan selesai : 1....... Setelah pemberian uterotonik yang adekwat kontraksi uterus masih lemah 2..... Tang ring ............. Klem Henkel dipasang pada sudut batas portio – vagina selateral dan sejauh serta seatraumatis mungkin................ Laserasi Syarat: 1.... uterina didaerah ligamentumkardinale dari arah vagina......... 7 buah 4.. Vagina dibersihkan dari gumpalan darah sebisanya 3... Kedua spekulum dipasang dan dipegang asisten 2...... Tang tampon.... Bibir portio atas dan bawah dijepit dengan tang ring demikian juga sudut kanan dan kiri portio...... Klem Henkel.. 4................ Sebagai pelengkap tindakan tamponade uterus Kontra indikasi : 1....Contoh: rekam medis........ Tang ring ditarik kearah yang berlawanan dengan bagian yang akan dipasang klem Henkel... Laserasi uterus 2. Indikasi : Setiap perdarahan dari uterus : 1...  MAP < 125 . Parametrium tak ada kelainan Alat yang diperlukan : 1...

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->