Apakah Shalat Berjama’ah di Masjid Wajib ataukah Sunnah?

3 Votes Shalat Berjama‘ah di Masjid Sebagian besar tulisan di bawah ini yang awal, saya salin dari buku karya Al Jauziyah, Ibnul Qoyyim. Kitabush-shalah wa hukmu tarikiha, Terjemahan Bahasa Indonesia: Rahasia dibalik Shalat. Hal: 119-150. Jakarta: Pustaka Azzam, Cetakan Kesembilan Agustus 2005. Apakah sah shalat seseorang yang melaksanakannya sendirian, sedangkan ia mampu untuk melaksanakan shalat berjama‘ah? Pembahasan tentang masalah ini ditetapkan atas 2 pokok permasalahan: 1. Apakah shalat berjama‘ah itu wajib hukumnya, ataukah sunnah saja? 2. Jika shalat berjama‘ah itu wajib, apakah ia merupakan syarat sahnya shalat atakah keshahihan shalat berjama‘ah dapat menyebabkan dosa jika ditinggalkan? Pembahasan permasalahan pertama Para ahli fiqih berselisih pendapat dalam hal ini, diantara para ahli fiqih yang menyatakan bahwa shalat berjama‘ah itu wajib adalah ‗Atha bin Abu Rabah, Hasan Al -Bashry, Abu ‗Amru Al-Auza‘iy, Abu Tsaur, Imam Ahmad dalam madzhabnya, serta tulisan/karangan Imam Syafi‘i dalam ―Mukhtashar Al-Mazany‖ tentang shalat berjama‘ah. Beliau berkata, ―Tidak ada keringanan dalam meninggalkan shalat berjama‘ah kecuali bagi mereka yang berhalangan.‖ (Ringkasan ―Al -Muzanniy‖ yang dengan sungguh-sungguh ummu 1/109) Bnu Al-Mundzir berkata dalam ―Kitab Al -Ausath‖, ―Orang buta sekalupun wajib melaksanakan shalat berjama‘ah, walaupun rumah mereka berjauhan dari masjid.‖ Hal ini menunjukkan akan wajibnya shalat berjama‘ah: Sesungguhnya menghadiri shalat berjama‘ah itu wajib hukumnya bukan sunnah. Dalam satu hadits diriwayatkan bahwa Ibnu Ummi Maktum bertanya kepada Rasulullah saw, ―Wahai Rasulullah sesungguhnya jarak antara rumahku dan masjid dibatasi oleh pohon, dapatkah aku jadikan alasan untuk melaksanakan shalat di rumah saja?‖ Rasulullah berkata, ―Apakah kamu mendengar Iqamah?‖ Ia berkata, ―Ya.‖ Rasulullah bersabda lagi, ―Maka datanglah kamu ke masjid dan shalat berjama‘ahlah kamu di sana.‖

Ibnu Mundzir berkata, ―Ditakutkan dapat menyebabkan kenifakan bagi mereka yang meninggalkan shalat Isya‘ adn Subuh berjama‘ah. Kemudian dalam pertengahan babnya dijelaskan: Banyak Hadits menunjukkan wajibnya shalat berjama‘ah bagi mereka yang tidak berhalangan untuk melaksanakannya. Dalil yang menunjukkan adalah perkataan Ibnu Munzir tentang Ibnu Ummi Maktum yang cacat, ―Tiada keringanan bagimu (dalam shalat berjama‘ah)‖. Jika seorang buta saja tidak mendapatkan keringanan dalam shalat berjama‘ah, apalagi bagi orang yang dapat melihat. Ia berkata, ― Rasulullah pernah mengancam akan membakar orang yang tidak melaksanakan shalat berjama‘ah. Saya ingin menjelaskan tentang wajibnya shalat berjama‘ah, karena tidak diperbolehkan (melaksanakan shalat secara sendiri-sendiri) maka Rasulullah mengancam mereka yang menggantikan yang sunnah dan bukan fardhu. Ia berkata: Hadits Abu Hurairah menguatkan hal tersebut, ― Sesungguhnya seorang laki-laki keluar dari masjid setelah muadzin mengumandangkan adzan. Ia berkata, ―Orang itu telah mengingkari Abu Qasim (Rasulullah saw).‖ (Ibnu Majah dalam ―Masajid dan Jama‘ahjama‘ah‖, 793 Abu Dawud dalam ―Shalat‖, 551 Daruquthni/ 1 420 dan dibenarkan oleh Hakim, 1/245 dan Ibnu Hibban, 2064 dan lengkaplah pendapat mereka, ―Kecuali bagi mereka yang udzur‖) Walaupun orang menghadapi pilihan untuk meninggalkan shalat berjama‘ah atau mendatanginya, tidak boleh (tidak ada alasan) bagi orang yang meninggalkan apa yang tidak wajib baginya hadir untuk berbuat ingkar (dengan meninggalkan shalat berjama‘ah), karena ketika Allah SWT memerintahkan untuk shalat berjama‘ah dalam keadaan takut, maka hal ini menunjukkan bahwa dalam keadaan aman hal itu lebih diwajibkan. Hadits-hadits yang telah disebutkan dalam tulisan bab-bab Rukhshah tentang meninggalkan shalat berjama‘ah bagi mereka yang mempunya i udzur untuk melaksanakannya, menunjukkan atas wajibnya shalat berjam‘ah bagi mereka yang memilik udzur, walapun keadaan udzur dan tidak udzur adalah sama saja, secara maknawai dalam bab-ba udzur belum ditemukan Rukhshah (keringanan) untuk meninggalkans shalat berjama‘ah. Dalil yang menegaskan wajibnya shalat berjama‘ah adalah sabda Rasulullah saw, ―Barangsiapa mendengar panggilan untuk shalat dan ia tidak menjawabnya maka tidak sah shalat yang ia lakukan.‖ (HR. Muslim dalam ―Al-Masajid‖ 665, diriwayatkan oleh yang lainlain). Kemudian hadits ini mengarahkan ke arah tujuan tersebut kemudian ia berkata: Syafi‘i berkata: Allah SWT mengingatkan sahalat dengan adzan, firman Allah SWT, ― Dan jika kalian dipanggil untuk melaksanakan shalat.‖ (QS. Al-Maidah: 87) dan firman Allah SWT, ―Jika dipanggil untuk melaksanakan shalat di hari Jum‘at maka bersegeralah kamu untuk mengingat Allah.‖ (QS. Al-Jumu‘ah: 9), dan Rasulullah menjadikan adzan sebagai hal yang sunnah untuk memanggil shalat yang lima waktu, karena sifatnya yang demikian (adzan merupakan panggilan untuk melaksanakan shalat), maka tidak diperbolehkan untuk shalat yang lima waktu itu selain berjama‘ah, sehingga tidak ada shalat yang didirkan selain dengan shalat berjama‘ah, tidak ada keringanan bagi mereka yan g dapat melaksanakan shalat berjama‘ah untuk meninggalkannya kecuali bagi mereka yang mempunyai udzur. Jika seseorang meninggalkan shalat berjama‘ah kemudian melaksanakan shalat sendirian, maka tidak diwajibkan atasnya untuk mengulang shalat kembali, baik ia melaksanakan shalat sebelum imam maupun sesudahnya, kecuali shalat jum‘at, karena barangsiapa secara sengaja melaksanakan shalat sebelum imam, maka dia wajib untuk mengulanginya, karena

An-Nisa: 102). Demikiianlah penjelasan Ibnu Al-Mundzir mengenai shalat berjama‘ah. ‖ (QS. tetapi mereka berpendapat bahwa meninggalkannya merupakan dosa. (dalam keadaan) pandangan mereke tunduk ke bawah. Madzhab Hanafi dan Maliki berpendapat: shalat berjama‘ah itu sunnah muakad. 2. Dalil pertama: Perintah Allah SWT kepada mereka untuk shalat berjama‘ah. sedangkan mereka mensahkan (membenarkan) shalat yang tanpa berjama‘ah. Dal h al ini mereka bertentangan dengan orang yang mengatakan bahwa.‖ (QS. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan sejahtera. 2.‖ Di Bawah ini merupakan penjelasan orang yang mengatakan wajb: Orang-orang yang meawjibkan shalat berjama‘ah berkata: Allah SWT berfirman. Maka ayat tersebut merupakan dalil bahwa shalat berjama‘ah hukumnya fardhu ‗ain. Hal ini dapat dilihat dari tiga aspek. lalu shalatlah mereka denganmu. Firman Allah SWT. Karena Allah tidak mengabaikan perintah untuk shalat berjama‘ah pada kelompok yang kedua sebagaimana yang diperintahkan kepada kelompok pertama untuk melaksanakan shalat berjama‘ah pula. Al-Qalam: 42-43). kemudian Allah mengulangi perintah tersebut untuk kedua kalinya bagi kelompok yang kedua. ―Hendaklah datang golongan yang kedua belum shalat. karena jika demikian halnya. Bentuk pembuktiannya adalah sebagai berikut: 1. maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang segolongan yang kedua yang belum sholat. ― Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan bersama-sama. ―Sesungguhnya shalat berjama‘ah itu wajib lafdzy. Tidaklah tepat jika dikatakan bahwa shalat berjama‘ah itu sunnah. . kemudian Allah memerintahkan kelompok kedua untuk melaksanakkannya juga. yaitu: 1. lalu sholatlah mereka denganmu…. Dalil kedua: Firman Allah SWT: ٍ۬ ٌَّ‫ُُۡ ر‬ُٙ‫َش٘م‬ ۡ٠َ ْ ُٔ‫وب‬ ٍ۬ ‫ع‬ ۡ َ٠ ‫َل‬ َ َ‫د ف‬ ۡ ‫ ُۡذع‬٠ٚ ۡ َ٠(٤٢) ‫خ‬ ۡ ‫ ُۡذع‬٠ ‫ا‬ٛ َ ‫لَ ۡذ‬ٚ َ ۖ‫د‬ ُّ ٌ‫ ٱ‬ٌَِٝ‫َْ إ‬َٛ ُّ ٌ‫ ٱ‬ٌَِٝ‫َْ إ‬َٛ ُ ‫ص ٰـ‬ َُْٛ‫ع‬١‫َط‬ َ ۡ ‫شُُ٘ۡ ر‬ َ َٓ‫ُىؾَفُ ع‬ َ ‫عخً أَ ۡث‬ َ‫ؾ‬ ِ ‫غز‬ ِ ُٛ‫غج‬ ِ ِ ‫خ ٰـ‬ ِ ُٛ‫غج‬ َ ‫بق‬ َ َٛ َّْٛ َ ُُۡ٘ٚ(٤٣) ُ ٍِ‫ع ٰـ‬ َ ―Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud. Tidak tepat pula kalau dikatakan shalat berjama‘ah itu fardh kifayah.menghadiri shalat jum‘at adalah wajib. maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata. maka mereka tidak kuasa. karena menjadi tidak relevan dengan apa yang dilakukan oleh kelompok yang pertama. pastilah kelompok pertama memiliki udzur untuk tidak melaksanakan shalat berjama‘ah dengan alasan akan adanya rasa takut. lagi mereka diliputi kehinaan. Allah memerin tahkan untuk shalat berjama‘ah kepada kelompok pertama. 3. kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan rakaat). Allah tidak memberikan keringanan-keringanan bagi mereka untuk meninggalkannya walaupundalam keadaan takut.― Bukti ini menunjukkan bahwa shalat berjama‘ah itu fadhu ‗ain.

dikarenakan antara keadaan mereka dan sujud. Inilah yang dipahami oleh golongan orang yang paling mengetahui dan paling memahami apa yang dimaksud dengan ―Manjawab Panggilan‖. ―Apakah kamu mendengar seruan hayya ‗alash shalah dan hayya ‗alal falah (Mariah shalat dan marila mencapai kebahagiaan)?‖ Ia berkata. ―Apakah kamu mendengar panggilan (adzan). kemudian ia meminta Rasulullah memberikan keringanan kepadanya. Hal ini menjelaskan bahwa sesungguhnya menjawabapa yang diperintahkan di sini adalah melaksanakan shalat berjama‘ah. aku tidaklah memiliki penuntun jalan untuk menuntunku datan ke masjid. ia berkata. Rasulullah bersabda. 63). ―Hayyahala (Penuhilah kedua ajakan itu). Seseorang lelaki buta datang kepada Nabi seraya bertanya. ketika mereka dipanggil untuk bersujud di dunia. Bahwasanya menjawab panggilan (untuk shalat berjama‘ah) adalah wajib.‖ (HR. Ketika ia berpaling (hendak berlalu pergi) Rasulullah memanggilnya kembai dan berkata. mereka enggan untuk menjawab panggilan tersebut. (Diriwayatkan oleh Thabari 43/29) dari Ibrahim at-Taimy an Sa‘id bin Jabir dan ditetapkan oleh Suyuti dalam Daruquthni yang terkenal 8/256. Baihaqi dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mardiyah berita-berita dari Ka‘ab). ia berkata. Ibnu Mundzir berkata dalam kitab Al -Ausath. demikianlah Nabi saw menjelasakan jawabannya. mereka itu adalah para sahabat radhiallahu‘anhum. maka jawaban dari panggilan itu adalah datang ke masjid untuk memenuhi tuntunan shalat berjama‘ah. hal ini menunjukkan bahwa jaawban yang diminta dari perintah tersebut adalah mendatangi masjid untuk menunaikan shalat berjama‘ah. Bahwa yang dimaksud dengan menjawab panggilan di sini adalah menghadiri shalat berjama‘ah. Jika demikian halnya. sesungguhnya kota (Madinah) itu bnyak sekali hal yang mengerikan dan binatang buas. Muslim meriwayatkan dalm shahihnya dari Abu Hurairah. Hadits Ibnu Ummi Maktum juga membutikannya. ―Barangsiapa yang mendengar . sedangkan yang meninggalkan shalat berjama‘ah tidak menjawab panggilan tersebut. Muslim ―Al -Masaajid wa Mawadli‘ Al Shalah‖. ―Wahai Rasulullah. hayya ‗alal falah‖.‖ Rasululla bersabda. ―Ya.‖ Rasulullah berkata. 2. ―Ya.‖ Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Imam Ahmad (Lafadz ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam ―Al -Shalat‖ 553 dan Nasa‘i dalam ―Imamah‖ 2/110 dan Ahmad 3/423 serta Ibnu Majah dalam ―Al-Masajid‖ 792. jika ia mendengar panggilan (seruan adzan). dan bukan mengerjakan shalat di rumahnya sendiri. ―Hayya ‗alash shalah. Dalil di atas membuktikan dua hal: 1. Tidak sedikit ulama salaf yang mengatakan bahwa yang dimaksud dalam firman Allah. Ia tidak menjawab panggilan tersebut dengan melaksanakan shalat di rumahnya.Aspek yang dapat dijadikan dall shalat berjama‘ah adalah: sesungguhnya Allah SWT member hukuman di hari kiamat. ― Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan yang sejahtera‖ adalah perataan Mu‘adzin. Hayyahala adalah kalimat perintah yang artinya adalah terimalah dan jawablah.‖ Ia berkata. ―Wahai Rasulullah. ―Maka Jawablah. Dibenarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1480). ―Kami meriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud dan Abu Musa sesungguhnya keduanya berkata.

Seperti Allah SWT menamakannya dengan sujud (sujuudan). dan untuk beribadah kepada-Nya. akan tetapi perintah tersebut dikhususkan kepada Maryam saja. dan shalat diibaratkan dengan ruku karena ruku merupakan salah satu rukun shalat. dan tidak menerima dengan baik dan tidak menerimanya. Al-Baqarah: 43). Dalil ketiga: Firman Allah SWT: ْ ‫وع‬ ْ ُ‫ءار‬ ْ ّ َّ ٌ‫ا ٱ‬ٛ ۡ ٚ َ ‫ٱس‬ َ‫ض‬ ٰ‫و‬ ٰ ٍَ‫ص‬ َّ ٌ‫ا ٱ‬ٛ َٓ١‫ع‬ َِ ِ‫و‬ ِ ‫ع ٱٌشَّٳ‬ ُ ١ِ‫أَل‬ٚ َ َ‫ح‬ٛ َٚ َ َ‫ح‬ٛ َ َ ‫ا‬ُٛ ―Dan dirikanlah shalat. ―Hai Maryam. aka mereka menjadi berdosa. dan tidak meninggalkannya. maka orang yang mendapatkan perintah tersebut harus mengaplikasikannya sesuai dengan sifat dan kondisi tersebut. kecuali bagi mereka yang berhalangan. karena ibunya pernah bernadzar untuk menjadikan Maryam sebagai hama yang selalu tunduk dan patuh kepada Allah. dan shalat ini diibaratkan dengan rukun-rukunnya dan wajib-wajibnya. tunaikanlah zakat dan ruku‘lah beserta orang-orang yang ruku‖ (QS. ― Barangsiapa yang mendengar panggilan (seruan adzan) dan ia tidak menjawab. taatlah kepada Tuhanmu. Dan . yang dimaksud ruku disini adalah shalat.‖ Hal ini dan banyak lagi dalil yang lainnya menunjukkan bahwa para sahabat menjawab panggilan tersebut dengan menghadiri shalat berjama‘ah. Firman Allah SWT.‖ (Diriwayatkn oleh Al-Baihaqi ―As-Sunan Al-Kubra: 3/57). yang tidak lain dari melaksanakannya bersama para jama‘ah yang melaksanakan shalat dan kebersamaan itu mengandung makna tersebut. dan ruku‘lah bersama orang-orang yang ruku‘. ―Dan dirikanlah shalat. Dan ketika Allah SWT memilih Maryam dan mensucikannya di atas semua wanita yang ada di dunia.‖ (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam ―As-Sunan Al-Kubar‖ 3/174). Al-Baqarah: 43). maka sesungguhnya tidak diterima salatnya. ―Mengisi kedua telinga anak manusia dengan timah yang terkumpul lebih baik bagi seorang anak manusia daripada ia mendengar seruan (panggilan untuk shalat) kemudian ia tidak menjawab panggilan tersebut. Berberda dengan firman Allah SWT. Jika dikatakan bahwa kewajiban shalat berjama‘ah ini menjadi batal dengan firman Allah SWT. dan diriwayatkan dari Aisyah sesungguhnya ia berkata.‖ (QS. Maka diperintahkan kepadanya untuk ruku‘ bersama orang-orang yang ruku‘. Konteks dari ayat tersebut adalah sesunguhnya Allah SWT memerintahkan mereka untuk ruku.‖ (QS. Maka wanita tidak diwajibkan untuk hadir dalam shalat berjama‘ah.panggilan (seruan adzan) kemudian tidak menjawabnya. maka mestilah firman Allah SWT ― ma‘ar raki‘in‖ mempunya pengertian lain. suju dan ruku‘lah bersama orang-orang yang ruku‘. sedangkan mereka yang meninggalkan shalat berjama‘ah tidak menjawab panggilan tersebut. Dalam hal ini Maryam memiliki kekhususan yang tidak dimiliki oleh wanita lain. Ia berkata. Ali Imran: 43). Dijelaskan ayat ini tidak menunjukkan bahwa seorang wanita tidak diperintahkan untuk shalat berjama‘ah. serta mengabdi untuk memakmurkan masjid. Jika perintah yang terikat (Al-Amru Al-Muqayyad) ditetapkan berdasarkan bentuk sifat dan kondisi tertentu. maupun pujian-pujian (tasbiihan). tunaikanlah zakat. 3. quraanan. Allah memerintahkannya untuk selalu ta‘at kepada perintah -Nya dengan perintah yang khusus dan lain dari wanita pada umumnya. Dari Abu Hurairah ia berkata.

Maka hal itu tidaklah dapat dipahami kecuali kumpulnya mereka untuk melaksanakan shalat. sesungguhnya aku sangat ingin memerintahkan (orang-orang) untuk mengumpulkan kayu bakar lalu dinyalakan. akan tetapi menunjukkan akan keharusan untuk melakukan perintah tersebut. sedan g ―marmatami‖ mempunyai pengertian antaranya: yang ada di antara dua kuku kambing yang dibuang atau selainnya). sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: ْ ٍَٝ‫ع‬ ْ َ‫ْ أ‬ ْ ُ‫صَلَح‬ ًّ ٌ‫ً ا‬ ُ ّ ْ َ‫ذ أ‬ ْ َ‫ٌَم‬ٚ‫ا‬ َ ‫ّب‬ َّ ِ‫ إ‬ٚ ْ ِ‫َّٕب فِم‬ ْ‫ح‬ ْ َ٠ ٌَْٛٚ َّ ٌ‫شثِب‬ َٓ١ َ ‫ح‬ ً‫ج‬ َ ْ‫صَلَحُ اي‬ َِ ّْ َ ٌَْٛٚ َ َ‫ثم‬ َ ‫ح‬ ِ ‫عؾَب‬ ِ ٌ‫ا‬ ِ َ‫صَل‬ ُ ‫ْآ‬ ُ ٍَ‫ع‬ ُ ٌ‫ا‬ ِ َ‫صَل‬ َ ‫ء‬ َ ٛ َ ‫ّب‬ َ ‫ش‬ ِ ١ِ‫ِب ف‬ َ َ ٘‫ذ‬ َ ُ٘ َْٛ‫َلَر‬ َٙ َ َّْٛ ِ ْ‫فَج‬ ُ ْ َ٠َ‫ق ال‬ ْ َ‫ُ أ‬ ِْ ُ َ ٙ‫ؾ‬ ْ ٍَ‫ع‬ َّ ٌ‫َْ ا‬ٚ‫ذ‬ ‫حطَت‬ ُ ‫س‬ ِّ ‫ح‬ َ ‫ش‬ َ َ ٍَِ‫ٔط‬ َ ‫ُ ف َأ‬ ْٙ َ ٓ ْ ُ ٙ‫ع‬ َِ َ ‫ش‬ َ ُ٠ ً‫جَل‬ َ ‫ش‬ َِ َّ ُ‫بط ث‬ َّ ُ‫َ ث‬ ِ َ َ‫ُ حُض‬ ِِ ُ‫ُآ‬ ِ١ َ ‫جبي‬ َ ‫ك‬ َ ‫ْ َ فَزُمَب‬َٛ‫ ل‬ٌَِٝ‫صَلَحَ إ‬ ِ ٌَّٕ‫ ثِب‬ٍِّٟ‫ص‬ ِ ِ ‫ ث‬ٟ‫ع‬ َّ ‫بس‬ ْ َُٙ‫ر‬ُٛ١ُ‫ث‬ ِ ٌٕ‫ُ ثِب‬ ―Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafiq adalah shalat isya (berjama‘ah) dan shalat subuh (berjama‘ah). Maka jika dikatakan keadaan mereka yang diperintahkan untuk ruku‘ bersama orang-orang yang ruku‘. ―Hai orang-orang yang beriman bertawakallah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. kemudian aku berangkat bersama beberapa orang yang membawa ikatan kayu bakar (yang menyala) menuju kepada orang-orang yang tidak mengikuti shalat (berjama‘ah). sesungguhnya Rasulullah saw bersabda. Dari hadits yang sama pendapat keduanya dan Bukhari berpendapat seperti itu. Sebagaimana firman Allah SWT. Shahih Bukhari dalam ―Adzan‖ 744. Dalil keempat: Yang ditetapkan di dalam kitab Shahihain – dengan lafadz Bukhari – Dari Abu Hurairah. apalagi dalam shalat. ―Hai Maryam.‖ (Kedua Imam. taatlah kepada Tuhanmu. Muslim dan Bukhari. lalu aku memerintahkan seseorang laki-laki untuk mengimami mereka. atau memotong daging. kemudian aku memerintahkan shalat sehingga dikumandangkanlah adzan untuk itu. ―Demi Dzat yang mana jiwaku berada di tangan-Nya. kebersamaan (kata ma‘a) yang dimaksud menuntut keikutsertaan dan keterlibatan dalam melakukan pekerjaan dan bukan hanya sebatas mengiringi.(ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata.‖ (HR. . Maka jika dikatakan shalatlah engkau bersama jama‘ah. dan ‗Arq = tulang dan daging. Ali Imran: 42-43). Dari Abu Hurairah r. mensucikan kamu. niscaya ia akan mengikuti jama‘ah shalat Isya. atau aku telah melaksanakan sha lat bersama dengan jama‘ah. dan melebihkan kamu atas segala wanita di duni (yang semasa denganmu). Sungguh. Hai Maryam. dan lafadz dari Muslim. lalu aku membakar rumah mereka dengan api itu. sementara aku mencari orang-orang (yang tidak mengikuti shalat berjama‘ah) dan aku bakar rumah mereka. kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami mereka.‖ (QS. dan pertalian disini lebih ditekankan kepada keikutsertaan. sepakat atas keshahihan hadits ini. suju dan ruku‘lah bersama orang-orang yang sujud. Dijelaskan bahwa hakekat kebersamaan adalah pertalian antara apa yang sesudahnya dengan apa-apa yang sebelumnya. Demi Dzat yang mana jiwaku berada di tanganNya. seandainya seseorang di antara mereka mengetahui bahwa ia akan mendapatkan potongan daging yang gemuk atau dua binatang buruan yang baik.a. sesungguhnya Allah telah memilih kamu. Muslim dalam ―Al-Masajid‖ 751. seandainya merek mengetahui (hikmah) yang ada dalam keduanya niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. aku ingin memerintahkan (orang-orang) untuk melaksanakan shalat sehingga shalat itu didirikan.‖ (QS. At-Taubah: 119). tidak secara harfiah menunjukkan kewajiban untuk ruku‘ seperti mereka. 657). 4.

Niscaya . dikarenakan kepura-puraan (kemunafikan) mereka.‖ Mereka juga berkata bahwa Nabi saw berniat untuk membakar rumah-rumah mereka. Mereka yang mengatakan tidak wajib mengemukakan beberapa alasan yang menunjukkan tidak wajibnya shalat berjama‘ah ditinjau dari beberapa aspek: a. menerangkan bahwa hal itu ditujukan kepada mereka yang meninggalkan shalat ber jama‘ah. ―Sesungguhnya ancaman tersebut ditujukan kepada mereka yang meninggalkan shalat Jum‘at. c. Maka dalam hal ini tidak ada pertentangan di antar kedua hadits tersebut.‖ (HR. Secara gamblan hadits Abu Hurairah r. karena meninggalkan shalat berjama‘ah. Orang-orang yang mewajibkan shalat berjama‘ah berkata. Musnad Imam Ahmad. menunjukkan bahwa hal itu juga ditujukan kepada mereka yang meninggalkan shalat jum‘at.a.Dari Imam Ahmad dari Nabi Muhammad saw. bahkan jika seandainya shalat berjama‘ah itu wajib. Sesungguhnya hukuman tidak harus demikian. kemudian aku akan membakar rumah laki laki yang melaksanakan shalat jum‘at di rumah mereka. Dan hadits Ibnu Mas‘ud r. aku melaksanakan shalat isya. Kalau seandainya pembakaran tersebut dibolehkan/dilaksanakan maka hal itu menunjukkan akan wajibnya shalat berjama‘ah. 2/367). ―Dalil -dalil yang Anda sebutkan tidak mengandung petunjuk yang membatalkan hadits yang mengisyaratkan wajibnya shalat berjama‘ah: Perkataan kalian. dan hal itu secara jelas terdapat di awal dan akhir hadits.a.‖ Alangkah sulitnya untuk menguatkan/menetapkan pendapat tersebut! Dimanakah syarat-syarat naskh (penghapusan) yang mengharuskan adanya hukum pengganti dari hukum yang digantikannya. sesungguhnya Nabi Muhammad saw bersabda kepada kaumnya yang meninggalkan shalat Jum‘at. Shahih Muslim dalam ―AlMasajid wa Mawadi‘u Al-Shalah‖ 652) b. ―Sesungguhnya hal itu dihapuskan. ‖ (HR. Mereka berkata.a. kemudian dihapuskan dengan adanya hukuman yang berupa hukuman denda tersebut. atau haram sekalipun.‖ Memang benar bahwa ancaman tersebut d itujukan kepada mereka yang meninggalkan shalat Jum‘at tetapi juga sekaligus ditujukan kepada mereka yang meninggalkan shalat berjama‘ah. Sedangkan perkataan kaian. ―Kalau di rumah itu tidak ada wanita dan anak-anak. Ketiga: Dalam hal ini Nabi hanya mengancam saja tanpa berniat untuk melaksanakan ancamannya. Dalil yang memperkuatnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Musim dalam shahihnya dari hadits Abdullah bin Mas‘ud r. ketika Nabi tidak melaksanakan ancamannya. hal itu menunjukkan bahwa pembakaran tidak boleh dilaksanakan. Kedua: Sesungguhnya hal ini boleh dilakukan ketika hukuman denda berupa materi dijalankan. ―Hadits di atas menunjukkan batalnya wajib shalat berjama‘ah. bukan berarti meninggalkan hal yang wajib (dalam hal ini shalat fardhu). dan aku perintahkan para pemuda untuk membakar apa yang ada di dalam rumah itu. Pertama: Sesungguhnya ancaman tersebut ditujukan kepada orang-orang yang meninggalkan shalat jum‘at. ― Telah aku perintahkan laik-laki untuk shalat berjama‘ah. bukan lantaran karena mereka meninggalkan shalat berjama‘ah.

yaitu. karena beliau ragu -ragu apakah ia meninggalkannya atau tidak. Sebagaiman jika al -Had (Hukum Syari‘at) dijatuhkan kepada wanit yang hamil. hal ini tidak dapat dilakukan. yaitu mencakup rumah yang di dalamnya terdapat orang yang tidak diwajibkan atas mereka shalat berjama‘ah yang terdiri dari para wanita dan anak-anak.kalian dan semua penghuni bumi ini tidak akan mempunyai cara untuk menetapkan statement tersebut.‖ Adapun pendapat kalian yang menyebutkan. kemudian mereka meninggalkan shalat berjama‘ah. maka apabila seandainya mereka membakar untuk melaksanakan hukuman kepada mereka yang tidak diwajibkan untuk melaksanakan shalat berjama‘ah. hal ini jelas akan menimbulkan pertentangan. mereka akan berdalih dengan menggunakan Ijma‘. agar hukuman tersebut tidak berakibat kepada kehamilannya. dan sebaliknya menjaga Mansukh yang hukumnya telah tidak berlaku lagi. Telah banyak orang yang menjadikan Naskh dan Ijma‘ sebagai cara untuk menghapuskan sunnah-sunnah yang tetap dari Rasulullah saw dan ini bukanlah hal yang sepele. mereka kemudian mena‘wilkannya (sesuai dengan madzhab mereka). Akan tetapi banyak dari generasi selanjutnya yang jika melihat hadits yang bertentangan dengan madzhab mereka. . ―Sesungguhnya kaum ini lebih takut kepada Rasulullah saw daripada mendengarkan perkataan tersebut. Bahkan ummat Islam menentang cara-cara seperti ini. Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan sunnah-sunnah Rasulullah saw yang benar dengan menggunakan dan jangan pula meninggalkannya dengan menggunakan Naskh kecuali ada Naasikh (yang menghapuskannya) yang benar dan jelas yang datang setelah itu yang diambil dan dijaga oleh ummat manusia. mereka berdalih bahwa dalil tersebut telah di-Mansukh-kan. Bahwa hadits itu menunjukkan adanya ketidakwajiban shalat berjama‘ah. Sebagian ulama telah memberikan jawaban yang lain. Wajib berjama‘ah dan wajib memberikan hukuman kepada orang-orang berbuat maksiat dan memeranginya. Satu hal yang tidak mungkin dinisbatkan dan tidak pula dituduhkan kepada Rasulullah saw adalah bahwa beliau ragu-ragu memberikan hukuman kepada sekelompok kaum Muslimin dengan membakar rumah-rumah mereka karena meninggalkan suatu amalan sunnah yang belum diwajibkan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka. Maka dalam hal ini meninggalkan yang lebih rendah dari kedua kewajiban tersebut karena mendahulukan yang lebih tinggi. Imam Syafi‘i dan Imam Ahmad adalah merupakan orang-orang yang sangat menentang cara-cara seperti itu dengan taufik Allah SWT. maka hukuman itu tidak dilakukan (ditunda) sampai wanita itu melahirkan. Jika datang kepada mereka dalil yang mematahkan pendapat mereka. seperti halnya pada shalat khauf. Juga kalaulah ia shalat sendirian maka pastilah di sana ada dua kewajiban yaitu. dan jika mereka menemukan sunnah Rasulullah saw yang benar dan jelas.ik A Cara demikian bukanlah cara yang sepatutnya dilakukan oleh ummat Islam. tetapi beliau shalat berjama‘ah dengan para sahabatnya yang pergi bersamanya ke rumah itu. Dan Rasulullah saw selamanya tidak bermaksud untuk melakukan apa yang tidak boleh dilaksanakan. Jika ummat ini meninggalkan Naasikh yang seharusnya dijaga. maka tidak ada lagi yang tersissa dari agama ini. Sesugguhnya Nabi tidaklah melaksanakan niatnya untuk orang yang dilarang yang telah dikabarkan bahwa Rasullah saw telah mencegahnya untuk melakukan hal itu. dan jika mendapatkan pertentangan yang tidak memungkinkan mereka untuk menggunakan Ijma‘. dan Rasulullah saw belum memberitahukan bahwa beliau pernah melakukan shalat sendirian. mereka tidak akan membatalkannya dengan ta‘wil dan tidak pula dengan Ijma‘ serta Naskh.

―Barangsiapa mendengar adzan dan tidak ada udzur apapun yang menghalanginya dari keikutsertaannya. maka shalat yang sudah dilaksanakannya tidak akan diterima. Pertama adalah pembatalan apa yang diekspresikan oleh Rasulullah saw dan menghubungkan hukuman karena meninggalkan shalat berjama‘ah. Jadi bagaimana jika seorang ahli syara menerangkan bahwasanya tidak ada keringanan bagi seorang hamba yang tidak berjama‘ah karena lemah dan jau dari masjid dan tidak dilindungi oleh pemimpinnya. Orang-orang yang menolak diwajibkannya shalat Jama‘ah berpendapat: Ini perkara yang disukai bukan perkara yang diwajibkan. ―Apakah engkau mendengar adzan?‖ Ia berkata.Adapun pendapat anda yang menyebutkan: Bahwa Beliau saw bermaksud memberi hukuman kepada mereka karena keingkaran mereka bukan karena mereka meninggalkan shalat berjama‘ah. Rasulullah saw bersabda. Perkataan Nabi saw yang menyebutkan.‖ Rasulullah saw berkata lagi. kadang disebut Abdullah dan kadang disebut Amru. Dalil Kelima : Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab ―Shahih‖ -nya: Bahwa seorang laki-laki buta berkata.‖Tidak ada keringanan bagimu‖ artinya kalau engkau mau mendapat keutamaan berjama‘ah.‖ Mereka berkata. Lalu ia meminta Rasulullah saw untuk memberikan keringanan baginya. ―Tidak ada keringanan bagimu‖ maka lebih -lebih bagi orang yang melihat tidak ada keringanan baginya. ―Tidak ada keringanan bagimu‖. 6. dipanggilnya ia oleh Rasulullah saw dan berkata. ―Ya. tetapi karena perbuatan mereka yang tidak terlihat. Orang yang mewajibkan berpendapat: Perintah itu berarti suatu keharusan. Ketika dikatakan kepada Ibnu Ummi Maktum yang kenyataannya buta. ―Ya. ―Ketakutan atau sakit. 5. Dalil Keenam : Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Abu Hatim dan Ibnu Hibban dalam hadits shahihnya dari Abbas berkata. sedangkan yang tersembunyi dari mereka diserahkan kepada Allah. dan ―Sunan‖ Abu Dawud dari Amru bin Ummi Maktum berkata.‖ . Dalam ―Musnad‖ Imam Ahmad. Ada lagi yang berpendapat: Hal ini telah dimansukh.‖ Rasulullah saw menjawab. Abu Bakar bin Mundzir berpendapat bahwa perintah untuk berjama‘ah kepada orang yang buat dan yang rumahnya jauh merupakan dalil yang menunjukkan bahwa shalat berjama‘ah itu wajib bukan sunnah. maka sesungguhnya tidaklah orang-orang munafik itu dihukum karena nifak mereka. Ketika ia berpaling. ―Udzur apa?‖ Nabi saw bersabda. Maka hal ini perlu dilihat dua hal. hanya saja ia menguatkan bahwa maksudnya kemaksiatan dan bukan kekafiran seperti yang dimaksud oleh Pengarang). ―Penuhilah (datanglah untuk shalat)‖. Kedua mengekspresikan apa yang dibatalkannya. Orang ini adalah Ibnu Ummi Maktum dan ada perbedaan pendapat mengenai namanya. ―Wahai Rasulullah. (Yang berpendapat bahwa maksudnya adalah keinginan orang-orang munafik adalah Syafi‘i dan lain-lain sebagaimana di dalam ―Al-Majmu‖ 4/192. ―Aku berkata wahai Rasulullah aku orang lemah yang jauh dari masjid dan aku punya pemimpin tapi tidak melindungiku. ―Apakah engkau mendengar adzan?‖ Ia berkata. Maka kalaulah seorang hamba itu kebingungan antara shalat sendirian atau berjama‘ah pasti yang paling bingung ini adalah orang seperti yang buta itu. aku tidak memilki seorangpun yang dapat menuntunku ke masjid. dan dikuatkan oleh Al -Hafidz Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadits ini dalam ―Fathul Baari‖. maka lakukanlah. apakah ada keringanan buatku untuk shalat di rumahku?‖ Rasulullah saw bersabda.

tiada lain baginya kecuali Allah akan menulis setiap langkahnya dengan kebaikan dan derajatnya ditingkatkan. tidak sampai kepada Rasulullah saw. kalau engkau meninggakan sunnah Nabi berarti engkau sesat. Pertama: Bahwa hadits ini diriwayatkan dari Ma‘ariku yang merupakn seorang budak dan ia lemah di kalangan mereka. Dan engkau telah menyaksikan orang-orang yang tidak suka berjama‘ah adalah orang yang munafik yang nyata kemunafikannya. Maka aspek pembuktiannya adalah: Bahwasanya meninggalkan jama‘ah itu merupakan salah satu tanda dari orang-oarng munafik yang nyata kemunafikannya. dan dilihangkan darinya kejelekan. [Ibnu Hazm dalam AlMahalli 4/190] Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir Ali bin Abdul Aziz kepada kami. dari Said bin Jabir dari Ibnu Abbas dengan hadits yang marfu‘ (sampai kepada Rasulullah saw). maka benar apa yang datang dari Ibnu Abbas tanpa ada keraguan. 7.Orang-orang yang tidak mewajibkannya berpendapat bahwa hadits ini mempunyai dua cacat: a. dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw bersabda. ia berkata. dia akan mencabutnya. karena shalat-shalat itu termasuk jalan-jalan petunjuk. [Hadits ini diriwayatkan berdasarkan jalur riwayat Hasyim dari Syu'bah yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban 2064 dari Baihaqi 3/174]. dan sesungguhnya salah satu jalan itu adalah shalat di masjid yang di dalamnya dikumandangkan adzan. Orang-orang yang mewajibkannya berpendapat bahwa: Qosim Ibnu Asbagh dalam kitabnya berkata: Ismai‘il bin Ishak al-Qadli telah menceritakan kepada kami. dan sesungguhnya kalau engkau shalat di rumah-rumah kalian seperti halnya yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mau berjama‘ah berarti engkau meninggalkan sunnah Nabi kalian. Dalam lafadz: ―Sesungguhnya Rasulullah mengajari kita jalan untuk mencapai hidayah. Seseorang yang bersuci kemudian memperbaiki kesuciannya. Dan tidaklah seseorang telah didatangi dan diberi petujunjuk di antara dua orang sehingga ia berdiri di shaf (dalam shalat berjama‘ah). dari Said bin Jubair. Syu‘bah menceritakan kepada kami. ‖ [Muslim dalam Al-Masajid dan Mawadi Al Shalah 654]. dari Syu‘bah dari Huda bin Tsabit. kemudian menuju masjid dari masjid-masjid yang ada. Hasyim menceritakan kepada kami. dari Habib bin (Abi) Tsabit. Mereka mengatakan Ma‘arik yang merupakan seorang budak telah meriwayatkan kepadanya Abi Ishak As-Sabi‘i berdasarkan kemuliaannya. Dalil Ketujuh : Apa yang diriwayatkan Muslim dalam Kitab Shahihnya dari Abdullah bin Mas‘ud r. dan tanda-tanda kemunafikan itu dengan (tidak ?)meninggalkan hal-hal yang disukai dan (tidak ?) melakukan . Amr bin Auf menceritakan kepada kami. ―Barang siapa yang merasa senang untuk dipertemukan pada hari kiamat dalam keadaan muslim.a. maka tidak punya pahala shalat kecuali karena adanya udzur. Sulaiman bin Harb menceritakan kepada kami. Kalau mungkin tidak benar. ―Barang siapa mendengar adzan dan tidak menjawab. Kedua : Hadits itu diketahui dari Ibnu Abbas dan berhenti padanya. yaitu bahwa riwaya tersebut merupakan perkataan sahabat yang tidak dibantah oleh sahabat yang lain. b.‖ [Hadits ini diriwayatkan oleh riwayat Muslim sebagaimana dikemukakan sebelumnya]. maka hendaknya menjaga shalat lima waktu yang selalu diserukan (di-adzan-i).‖ dan cukuplah bagi Anda kebenaran hadits ini dengan isnad tersebut.

kemudian beliau lihat seseorang shalat sendirian di belakang shaf. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para ahli sunnah. karena tidak ada shalat bagi orang yang shalat sendirian di belakang shaf. ―Kami keluar hingga menghadap Rasululllah saw dan kami mengucapkan sumpah setia kami kepada beliau lalu kami shalat di belakang beliau. dan yang pling berhak menjadi imam adalah orang yang paling baik bacaannya. [Ahmad 2/228. Maka. Abu Hatim ibnu Hibban dalam hadits shahihnya dan diperbaiki At-Tirmidzi. Maka shalat menyendiri dari jama‘ah dan di luar tempat jama‘ah adalah batal. Dalil ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw memerintahkan berjama‘ah dan peri ntahnya itu adalah wajib. kemudian Rasulullah saw melihat seorang shalat sendirian di belakang shaf.‖ [Muslim dalam Al-Masajid wa Mawadli 627]. Dijelaskan olehnya bahwa batasan menyendiri adalah shalat sendirian. dalam Az-Zawaid disebutkan. Oleh karena itu. beliau menyuruh orang yang melakukan seperti itu untuk mengulangi shalatnya. ―Hadits ini ditetapkan oleh Ahmad dan Ishak. Ibnu Hibban 1003. Pendapat orang-orang yang membatalkan wajibnya shalat berjama‘ah adalah sebagai berikut: Anda tidak mungkin menggunakan hadits itu sebagai dalil kecuali setelah menetapkan batalnya shalat menyendiri dibelakang shaf. dan Ibnu Hibban 2198 dan 2199. Ini merupakan pendapat yang rancu yang . Konteks dalil ini menunjukkan bahwasanya Rasulullah saw membatalkan shalat seseorang yang keluar dari shaf sedang ia dalam keadaan berjama‘ah dan menyuruhnya mengulangi shalatnya sedangkan beliau tidak pernah shalat menyendiri kecuali di tempat yang khusus. ―Jika mereka bertiga. Dalil kesembilan : Bahwa Rasulullah menyuruh seseorang yang shalat sendirian di belakang shaf untuk mengulangi shalatnya. Ibnu Mundzir berkata.‖ Orang yang meninggalkannya dan yang shalat di rumahnya disebut orang yang meninggalkan sunnah yang merupakan cara Rasulullah saw. orang yag mengamati tanda-tanda orang munafiq di dalam sunnah. maka hendaknya menjaga shalat lima waktu yang selalu dipanggil dengannya. kalaulah shalat sendirian itu sah. dan dihasankan. Pengertian ini telah ditegaskan dengan perkataannya.‖ Ia berkata.‖ Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Hibban dan pada Riwayat Imama Ahmad diriwayatkan. seperti meninggalkan shalat dhuha. tidak shalat bagi seseorang yang shalat di belakang shaf‖. ― Saya shalat di belakang Rasulullah saw. ―Ulangi shalatmu. Dari Ali bin Syaiban berkata. shalat malam dan puasa sunnah senin dan kamis. semuanya dalam masalah shalat]. Turmudzi 230 dan 231. maka Rasulullah tidak akan menganggap shalatnya tidak sah atau dianggap tidak ada. ia berkata. Abu Dawud 682. dan maksudnya bukan sunnah yang hanya dianjurkan melaksanakannya bagi yang berkehendak saja. maka beliau berhenti sehingga menemuinya dan bekata kepadanya. Dalil kedelapan : Apa yang diriwayatkn Muslim dalam Kitab Shahihnya dari Abi Sa‘id Al Khudzry. ― Barang siapa yang senang akan dipertemukan dengan Allah pada hari kiamat dalam keadaan muslim. serta dibenarkan pula oleh Ibnu Khuzaimah 1569]. 8.yang dibenci. Rasulullah saw bersabda. maka hendaknya salah seorang di antara mereka menjadi imam. yang selalu dilaksanakannya dan syariatnya yang disyariatkan bagi ummatnya. ―Ulangi shalatmu. 9. dan yang tidak berkehendak boleh meninggalkannya tidak sesat dan tidak pula sebagai bagian dari tanda-tanda kemunafikn.‖ [Ahmad 4/23. ia akan mendapatkannya baik meninggalkan yang wajib atau mengerjakan yang haram. kemudia ia berhenti mendekatinya sampai ia menghadapinya kemudian berkata. sanadnya shahih dan rawi-rawinya dapat dipercaya. ―Kemudian kami shalat di belakangnya shalat yang lain lalu beliau mengqadha shalat. Ibnu Majah1004.

bagaimana mendahulukan seorang yang meninggalkan sunnah? Ini telah disebutkan oleh mayoritas dari kalangan pemuka tabi‘in. tetapi seandainya seorang wanita berdiri sendiri di belakang shaf wanita yang lain. Mereka mengatakan: Abu Bakar pernah melakukan ihram menyendiri di belakang shaf kemudian ia berjalan memasuki shaf dan Nabi saw tidak menyuruh untuk mengulanginya. meskipun ditinggalkan oleh orang-orang yang meninggalkannya. bahkan membenarkan ihramnya yang sendirian. dan melakukan seperti yang telah dilakukannya. Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa‘i. Abu Bakar bin Mundzir. kemudian Rasulullah menariknya dan menempatkannya di sebelah kanan Rasulullah [AlBukhari dalam Adzan 699. sementara dalam diri Rasulullah saw terdapat sunnahsunnahnya yang shahih dan jelas. Maka mana letak kerancuan itu. Apakah hal ini bukan sesuatu yang rancu. dan ini terjadi pada shalat nafl (sunnah). dan Rasulullah tidak menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya. Thawus. Dalam hadits Jabr dalam masalah fardhu disebutkan bahwa ia berdiri di sebelh kiri Rasulullah. Jibril maju dan Rasulullah berdiri di belakangnya. kemudian ia menariknya dan menempatkannya di sebelah kanannya. kemudian shalat dzuhur ketika matahari bergeser dan mendatanginya ketika bayangan seperti ukuran dirinya. Mereka juga mengatakan: Ibnu Abbs telah melakukan ihram di sebelah kiri Rasulullah saw. atau semacam ta‘wil yang membolehkan untuk meninggalkannya bagi yang lainnya. dan salah satu dari dua pendapat itu ditemukan pada mazhab Ahmad. Adapun pendapat kalian: Sesungguhnya ini adalah pendapat yang keliru dan rancu. maka Malaikat Jibril maju ke depan dan Rasulullah saw di belakangnya dan orang-orang di belakang Rasulullah saw. Rasulullah pernah melakukan shalat di belakang Jibril dengan mengikutiya. sementara mereka mengatakan hal itu adalah sunnah? Adapun bantahan Anda mengenai posisi wanita. [Muslim dalam Al-Zuhud wa Al-Raqa'iq dari haditsny yang panjan 3010]. dan Rasulullah didatangi malaikat Jibril dan mengajarinya waktu-waktu shalat. Muslim dalam Shalat Al-Musafirin 763]. maka itu adalah bantahan yang paling rusak. [Al-Bukhari dalam Adzan 783]. Maka. dan juga Al-Auza‘i – diceritakan oleh Thahawy – Ishak bin Rahawiyah. mereka adalah Sa‘id bin Jubair. Kemudian orang-orang yang mewajibkannya berpendapat bahwa yang menarik dari pertentangan terhadap hadits-hadits yang shahih dan yang jelas seperti itu adalah tidak adanya pertentangan antara hadits-hadits itu dari segi apapun. [An-Nasa'i dalam AlMawaqit 1/255]. maka sah shalatnya. Imam Ahmad. Pendapat lain menyebutkan. dan Muhammad bin Ishak bin Huzaimah. dan orang di belakang Rasulullah. meninggalkan sunnah-sunnah tersebut bukan berarti hal-hal tersebut tidak diketahui oleh orang-orang yang meninggalkannya. karena itu merupakan posisi wanita yang telah disyariatkan baginya. Ibnu Abi Laila. Waki‘. maka shalatnya tidak sah seperti .bertentangan dengan jumhur ulama. Ibrahim An-Nakha‘i. Hamad. Dikatakan juga bahwa kalaulah seorang wanita berdiri sendirian di belakang shaf wanita. dan yang lainnya seperti Hikam. Hasan bin Shalih. sehingga kalau sampai seorang perempuan berada di shaf laki-laki maka hal itu akan merusak shalat laki-laki yang berada di belakang wanita itu sebagaimana dikemukakan Abu Hanifah. sementara ijma‘ ulama telah menetapkan sahnya shalat wanita sendirian di belakang shaf. Bukan seperti itu.

Mengenai kisah Abu Bakar. yaitu: Pertama. alasannya berdasarkan riwayat yang mengatakan bahwa. dan pada saat itu Jibril a. tetapi semata -mata beliau menahan dengan cara seperti itu agar bisa tetap tegak dalam ruku‘. Sebagaimana Nabi saw pernah shalat bersama kaum muslimin. Telah terjadi perbedaan pendapat mengenai hadits yang diriwayatkan dari Imam Ahmad. dan agar mereka mengambil pelajaran (mencontohnya) shalatnya. maka itu adalah jawaban yang benar. berdasarkan nash hadits riwayat Ibrahim bin Harits dan Muhammad bin Hakam. dan para sahabat di belakangnya. dan Al Baihaqi ―As-Sunanul Kubra‖ 2/90). demikian menurut Qadhi Abu Ya‘la dalam tanggapannya. maka Nabi saw akan meminta penjelasan kepadanya. Adapun tentang kisah shalat Rasulullah saw di belakang Jibril. ―Sesungguhnya Nabi saw tidak memerintahkan untuk mengulang shalatnya. berdasarkan keumuman sabda Rasulullah saw. Menurutku masih ada jawaban yang lainnya. tetapi tidak demikian jika ia menyendiri dari shaf wanita lainnya.‖ Sa‘id bin Manshur dalam kitab sunannya dari Zaid bin Tsabit. ―Tidak ada shalat bagi seseorang yang shalat di belakang shaf‖. Hal itu dilakukan dengan tujuan mendidik. setelah imam mengangkat kepalanya dari ruku‘. maka shalatnya sah. maka beliau berdiri di hadapan kaum muslimin. dengan tujuan agar mereka (kaum muslimin) bisa melihat kesempurnaan shalat yang dilakukan beliau. Hal itu dianggap sah secara mutlak. karena orang yang tidak melakukan ruku‘ dalam shaf dianggap tidak dihitung raka‘atnya. dan tidak ada cara lain yang bisa dia lakukan selain dengan cara seperti itu. dan beliau berdiri di atas mimbar. hadits ini berlaku secara umum.‖ (Imam Malik ―Al-Muwaththa‖ 1/165. kemudian dia berjalan sambil ruku‘ sebelum masuk shaf. dia berkata. Beliau sendiria disempurnakan oleh Jibril.halnya laki-laki menyendiri di belakang shaf laki-laki. Sesungguhnya hal itu tidak sah. kemudian berjalan sambil ruku‘ dan melakukannya berulang. Kedua. dan beliau tidak melarang seseorang yang menjadi imam bagi orang lain. dia membedakan antara orang yang melakukan ruku‘ sebelum memasuki shaf dengan orang yang yang melakukan ruku‘ di dalam shaf. kisah tersebut bukan menceritakan bahwa beliau mengangkat kepalanya dari ruku‘ sebelum beliau memasuki shaf (barisan shalat). Dari hadits ini dipahami seandainya seorang wanit berdirian sendirian di belakang shaf laki-laki. tentang orang yang melakukan ruku‘ sebelum masuk dalam shaf. ―Sesungguhnya dia melakukan ruku‘ sebelum memasuki shaf. Hal ini disamakan . seandainya hal ini dianggap menyalahi. sehingga dia dapat memperkirakan sudah sampai kepada shaf atau tidak. dan tidak memintanya untuk menjelaskan apakah dia memasuki shaf sebelum mengangkat kepalanya dari ruku‘ atau tidak. Ath-Thahawi ―Syahru Ma‘anil Atsar‖ 1/398. maka jawaban mengenai hal ini adalah bahwa kisah itu telah terjadi pada masa awal diperintahkannya shalat. sedangkan kisah Rasulullah saw yang memerintahkan kepada seseorang yang shalat di belakang shaf sendirian untuk mengulanginya pada masa belakang setelah kisah Jibril. yaitu bahwa sesungguhnya Nabi saw pada waktu itu adalah Imam kaum muslimin. yaitu ketika Jibril mengajari waktu-waktu shalat. Dalam masalah ini ada tiga pendapat. berdiri pada tempat yang lebih tinggi dari mereka (makmum).s lebih depan dengan tujuan agar lebih berhasil mengajari Nabi saw dibandingkan seandainya dia berdiri di samping Nabi saw.

Dengan demikian maka tidak ada seorangpun yang menganggapnya.dan Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya. 11. dan yang meninggalkan tanda-tanda shalat berjama‘ah tersebut. Hal ini merupakan perbuatan yang dirasakan sangat berat dan menyusahkan. dan keduanya takbiratul ihram secara terpisah. kemudian pandangan Abu Hurairah mengikutinya sampai orang tersebut keluar dari masjid. takbiratul ihram dianggap sah. Menurut sebagian para sahabt hadits ini shahih. Akan tetapi yang satu lagi tidak seperti itu. maka orang yang melakukan takbiratul ihram sendirian. Seandainya diperkirakan bahwa takbiratul ihram yang dilakukan keduanya seperti itu. Dalil kesepuluh : hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab sunannya. dari haditsnya Abi Darda. ―Orang itu benar-benar telah berdosa kepada Abal Qasim (Rasulullah saw). ―Rasulullah saw bersabda. akan tetapi hal itu dihilangkan kepada orang yang bodoh. dan keadaan semacam inilah yang dialami Abu Bakar. Dalil kesebelas : hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan beliau menganggap hadits ini shahih.‖ Dalam satu riwayat dikatakan.dengan orang yang melakukan ruku‘ padahal imam sudah sujud. dia berkata. ―Tiada terdapat tiga orang berkumpul di kampung yang tidak dikumandangkan adzan dan tidak didirikan shalat berjama‘ah. sehingga harus sepakat terlebih dahulu dengan orang ada disampingnya.‖ (Abu Dawud ―Bab Shalat‖ 574. dan sabda Nabi saw. Seorang laki-laki berdiri dan berjalan keluar dari masjid. maa seseorang tidak akan melakukan takbiratul ihram. Sisi keadilan (argumentasi) dari hadits tersebut: sesungguhnya Rasulullah saw mengabarkan tentang menguasainya syaithan kepada mereka dengan sebab meninggalkan shalat berjama‘ah yang ditandai dengan adzan dan iqamah. kemudian Rasulullah saw memindahkan keduanya di saat permulaan berdiri keduanya. Larangan itu apabila adanya kerusakan. maka tentu syaithan tidak akan menguasai orang yang meninggalkan shalat berjama‘ah. orang lain yang berdiri bersamanya itu melakukan takbiratul ihramnya sebelum ruku‘ . Seandainya shalat berjama‘ah itu dianggap sunat sehingga seseorang boleh memilih antara mengerjakan atau meninggalkannya. kemudian seorang muadzin mengumandangkan adzan. dan An -Nasa‘i ―Bab Imamah‖ 2/106-107). Sebagaimana kedua hadits ini telah dikemukakan dalam pembahasan hukum shalat berjama‘ah. Ketiga. seandainya dia tahu bahwa hal itu dilarang. maka shalatnya dianggap tidak sah. melainkan mereka telah dijajah oleh Syaithan. . sehingga yang dihitungan adalah ruku‘nya itu sendiri. Seandainya kita menganggap bahwa takbiratul ihramnya dua makmum itu harus serempak dalam memulai takbir dan mengakhirinya. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui. dan dimasukkan dalam shalat. ― Kami duduk di masjid. akan tetapi dia melakukannya setelah ruku‘. Abu Hurairah berkata. ―Kamu tidak perlu mengulanginya‖. sehingga shalatnya dianggap sah. tetapi keduanya berdiri disamping Rasulullah saw. jika tidak mengetahui. Imam Ahmad 5/196. dari haditsnya Abi Sya‘tsail Maharibi. ―Saya mendengar Abu Hurairah berkata ketika dia melihat seseorang yang dengan tergesa-gesa keluar dari masjid setelah dikumandangkan adzan: ―Orang itu benar-benar telah berdosa kepada Abal Qasim (Rasulullah saw). maka shalatnya dianggap sah berdasarkan sikap Abu Bakar. dia berkata. dengan tidak diperintahkan mengulanginya. karena serigala itu hanya dapat menerkam binatang (kambing) yang terpisah jauh dari kawan-kawannya. Hal ini pertama-tama dilakukan bukan ketika keduanya telah melakukan shalat. 10. Adapun kisah Ibnu Abbas dan Jabir dalam meninggalkan urusan keduanya dengan memulai shalat. maka kerjakanlah olehmu shalat berjama‘ah.

(Hadits riwayat Al-Hakim 1/246. ―Apa yang menghalangi kamu shalat bersama kami? bukankah kamu seorang muslim?‖. Mas‘ar telah menceritakan kepada kami. maka apabila mereka mendirikan shalat.Sisi keadilan (argumentasi) dari hadits ini adalah sesungguhnya Abu Hurairah telah mengkatagorikan orang tersebut berdosa kepada Rasulullah saw disebabkan dia keluar dari masjid setelah dikumandangkan adzan. ―Barangsiapa yang mendengar panggilan shalat (adzan). ‖ (Ibnu Hazm. Sebagaimana hadits ini telah dikemukakan sebelumnya. ―Barangsiapa yang mendengar panggilan shalat (adzan). Rasulullah saw telah memerintahkan shalat berjama‘ah kepada orang yang telah melakukan shalat sendirian. maka tidak ada shalat baginya‖. ―Seandainya seseorang itu bebas memil ih dalam meninggalkan shalat berjama‘ah atau melakukannya. Sulaiman bin Al -Mughirah telah menceritakan kepada kami. Imam Ahmad berkata. Barangsiapa yang mengatakan bahwa shalat berjama‘ah itu sunat. dia berkata. dari Abu Mus Al-Hilali. dia boleh shalat sendirian. dia telah menshahihkan hadits ini. kemudian kamu berdua mendatangi suatu masjid yang di dalamnya sedang dilakukan shalat berjama‘ah. ‖ (At-Turmudzi ―Bab Shalat‖ 219. maka shalatlah kamu berdua beserta jama‘ah yang lainnya. dari Ai Burdah. Namun seandainya Rasulullah saw dan para sahabatnya melihat orang yang melakukan perbuatan semacam ini. bahkan dia akan diperbolehkan duduk tanpa melakukan shalat berjama‘ah dengan imam dan jama‘a h yang lainnya. kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut. dari Abi Musa Al-Asy‘ari. Yaitu: Sebagaimana perkataan Ibnu Mas‘ud telah kami kemukakan. beliau menganggap hadits ini hasan shahih. dalam ―Al-Mahali‖ 4/195). Dalil keduabelas : Ijma‘ para sahabat r. 12. ―Jika kamu berdua telah melakukan shalat dalam perjalanan kamu berdua. yakni beliau melarang seseorang yang tidak mau melakukan shalat berjama‘ah. maka Abu Hurairah tidak akan menganggapnya telah berdosa orang yang meninggalkan sesuatu yang tidak diwajibkan kepadanya untuk melakukannya. Waki‘ telah menceritakan kepada kami. dia berkata. dan kami akan mengungkapkan tentang nash kesepakatan tersebut. Dan orang yang mengatakan bahwa shalat berjama‘ah itu su nat. kemudian dia tidak memenuhi pangilan tersebut itu tanpa alasan syar‘i. An-Nasai ―Bab Imamah‖ 2/112-113 dan Imam Ahmad 4/160-161). kami berpendapat bahwa tidak ada yang menolak perkataan Ibnu Mas‘ud itu selain orang munafik yang benar -benar telah diketahui kemunafikannya. Imam Adz-Dzahabi dan Imam Baihaqi telah menyepakatinya . dari Abi Al-Hushain. dari Ibnu Mas‘ud. Imam Ahmad berkata. maka Abu Hurairah tidak akan menganggap orang yang keluar dari masjid setelah dikumandangkan adzan dan dia shalat sendiri itu telah berdosa kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan beliau telah mengingkari (melarang) perbuatan yang masih di bawah perbuatan itu. maka seseorang akan diperbolehkan keluar dari masjid setelah muadzin mengumandangkan adzan dan iqamah. karena dia meninggalkan shalat berjama‘ah. Ketika dia membahas kewajiban shalat berjama‘ah dan dia berkata. karena shalat tersebut bagi kamu menjadi shalat sunnat. maka tidak ada shalat baginya. Ibnu Mundzir telah berhujah (berargumentasi) dengan hadits ini dalam kitabnya. Beliau bersabda. jika dia mau lakukan dan jika dia tidak mau tinggalkan. Beliau bersabda. karena sudah merasa cukup dengan shalat yang dia lakukan ketika dalam perjalanan. maka beliau dan para sahabatnya benar-benar akan melarangnya.a. Waki‘ telah menceritakan kepada kami. kemudian dia datang ke masjid yang sedang dilakukan shalat berjama‘ah.

dari Sa‘id bin Jabir. dari Abi Najih Al Maki. Ad-Daaruquthni 1/420 dan Al-Baihaqi 3/57). Ibnu Hibban 2064. pendapat yang mengatakan bahwa berjama‘ah itu hukumnya fardhu (kewajiban).‖ Abdur Razzaq berkata. Baihaqi 3/57 dan 174.sebagai hadits marfu‘ (sanadnya sampai kepada Nabi saw) dan mauquf(sanadnya sampai kepada sahabat) 3/174 dan lihat kitab ―Majmu‘uz Zawaid‖ 2/32).‖ (Al-Mahali 4/195). kecuali di masjid―. ―Hal itu hukumnya sunnat. Pendapat ini banyak dianut oleh para ulama mutaak hirin dan dari para pengikut Imam Ahmad. ― Tidak ada shalat bagi orang yang bertetangga dengan masjid. terdapat dua pandangan yang tepat: Pertama. ―Orang yang mendengar panggilan shalat (adzan)‖. maka tidak ada shalat baginya (kecuali di masjid). Dikatakan. Apakah berjama‘ah itu merupakan syarat sah shalat atau tidak? Dalam menanggapi pertanyaan tesebut. Hasyim telah menceritakan k epada kami. Waki‘ telah menceritakan kepada kami dari Sufyan dari Manshur dari ‗Adi bin Tsabit dari ‗Aisyah Ummil Mu‘minin r. dan AlBaihaqi 3/57). dari Anas. dari Ibnu Abbas. ―Dua telinga keturunan Adam yang dimasuki peluru yang menyakitkan lebih baik daripada orang yang mendengar panggilan adzan kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut.a. (Abdur Razzaq 1/498. Apakah Berjama‘ah Merupakan Syarat Sah Shalat atau Tidak. dia berkata. ―Barangsiapa yang mendengar panggilan shalat (adzan). ―Memenuhi panggilan shalat itu hukumnya fardhu. ― Barangsiapa yang mendengar panggilan shalat (adzan) kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut tanpa adanya alasan syar‘i. maka tidak ada shalat baginya. dia berkata. kecuali bagi orang yang mempunyai alasan syar‘i. Imam Ahmad berkata. dari Abi Hurairah. dan Al-Hafizh telah mendha‘ifkan hadits tersebut dalam kitab ―Takhlishul Habir‖ 2/32). Sa‘id bin Manshur berkata. dan dia termasuk orang yang bertetangga dengan masjid serta dalam keadaan sehat. ― Barangsiapa yang mendengar panggilan shalat (adzan). Waki‘ berkata. Manshur telah mengabarkan kepada kami dari Hasan bin Ali. kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut tanpa adanya alasan syar‘i. dia berkata. dan Al-Baihaqi 3/57). dia berkata. dia berkata.‖ Seandainya ada seseorang yang mengatakan bahwa. tidak ada alasan syar‘i. ―Siapakah yang dimaksud dengan orang yang bertetangga dengan masjid itu?‖ Ali menjawab.‖ (Ibnu Majah 793. dari Harits. dari Ali. (Hadits Riwayat Abdur Razzaq 1/497. kemudian dia tidak mendatanginya. Ad-Daruquthni 1/420. dari Abi Ishaq. maka dia tidak menemukan kebaikan dan dia tidak termasuk orang yang menghendaki kebaikan tersebut‖. Dan beban itu baru akan terlepas dengan melakukan shalat berjama‘ah itu sendiri. Dari Abdir Rahman bin Hushain. dan saya . Waki‘ berkata. dari ‗Adi bin Tsabit. dan berdosa meninggalkannya. maka shalatnya tidak akan melewati kepalanya (tidak akan diterima). Syu‘bah telah menceritakan kepada kami.‖ (Abdur Razzaq 11/498. ―Barangsiapa yang mendengar panggilan shalat (adzan).a. Imam Ahmad berkata. dia berkata. Dalam masalah ini Imam Ahmad bertitik tolak pada pendapat Imam Hanbal yang mengatakan bahwa. Waki‘ telah menceritakan kepada kami dari Sufyan dari Abi Hayan atTaimi dari bapaknya dari Ali r.

Dan hanya sah ibadah seorang hamba itu apabila melakukan hala-hal yang diperintahkan kepadanya. tinggalkan. tentu berjama‘ah itu tidak akan diwajibkan. ―Dan tidak diterimanya itu. . kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut.‖ Adapun kelompok yang menolak pendapat tersebut di atas.melakukannya di rumahku. Pendapat yang mengatakan bahwa berjama‘ah itu hukumnya sunnat. maka Rasulullah saw tidak akan bersabda. maka tidak sah shalatnya orang yang melakukannya sendirian.‖ Mereka berkata. terbagi ke dalam tiga pendapat. ―Seluruh dalil yang telah kami sebutkan yang menerangkan tentang kewajiban bejama‘ah. Dan shalatnya peminum khamar (minuman keras) tidak diterima selama empat puluh hari. menunjukkan bahwa berjama‘ah itu merupakan syarat sah dalam shalat. yang mengatakan bahwa. ―Seandainya shalat itu dianggap sah tanpa berjama‘ah.‖ Dan seandainya shalat itu sah tanpa berjama‘ah. yaitu: 1.‖ Mereka berkata. terhalangnya diterimanya shalat pada orang tersebut disebabkan perbuatannya yang melakukan hal yang diharamkan. maka meninggalkannya bagi para mukallaf (akil baligh) menyebabkan dia masih dalam ikatan kewajiban tersebut (harus melakukannya). maka shalat yang dia lakukan tidak akan diterima. ―Berjama‘ah itu merupakan syarat sahnya shalat. Dan pendapat tersebut adalah pendapatnya Daud dan para pengikutnya. Karena apabila berjama‘ah merupakan kewajiban. ―Seandainya sah shalat orang yang melakuk an shalat sendiri. Kedua. ―Sesungguhnya dia (orang yang melakukan shalat sendirian) akan masuk neraka. Dan hal ini telah dipilih oleh Abul Wafa bin ‗Aqil dan Abul Hasan At Tamimi.‖ Sebagimana telah diceritakan Al Qadhi dari sebagian para sahabat. ―Tidak ada shalat baginya (yang tidak berjama‘ah). Mereka berkata. maka menjadi batal pahala shalatnya. pendapat yang dikemukakan oleh Abul Hasan Az-Za‘farani di dalam kitab Al-Iqna‘. baik karena tidak dilakukannya satu rukun atau satu syarat. dan jika tidak berkehendak. Ibnu Hazam berkata.‖ (Al Mahali 4/196) Dan kami akan mengungkap argumentasi kedua pendapat tersebut: Orang-orang yang mensyaratkan berjama‘ah dalam shalat berkata. ‖ Maka hal ini bertentangan dengan hadits. Sama halnya dengan ketika diterimanya wudhu itu dikaitkan dengan keharusan bersuci dari hadats. ―Barangsiapa yang mendengar seruan adzan. kerjakan.‖ Mereka berkata. tidak secara otomatis menolak diterimanya shalat dari seorang hamba yang sedang melarikan diri. Dan dalil-dalil yang mewajibkan tentang itu secara lengkap telah kami kemukakan. seperti shalat witir dan lain-lain. Jika berkehendak. dimana melakukan shalat witir dan shalat sunnat lainnya hukumnya boleh. ―Seandainya sah shalatnya orang yang munfarid (shalat sendiri). maka hal itu secara otomatis menjadi syarat sahnya wudhu.‖ Ketika diterimanya shalat itu dikaitkan dengan berjama‘ah. yang menyertai shalat. tentu Ibnu Abbas tidak akan berkata. maka hal itu menunjukkan kepada syarat sahnya shalat. ―Pendapat tersebut adalah pendapat seluruh pengikut aliran kami. maka para sahabat Rasulullah saw tidak akan berkata.

selalu dido‘akan oleh para malakaikat selamat dia berada di tempat shalatnya itu tidak berhadats. Beliu bersabda kepada mereka. di belakang suatu kaum.2. dan At-Turmudzi ―Shalat‖ 219. maka seakan-akan dia shalat sat malam penuh. tiada dia melangkahkan kaki selangkah melainkan terangkat baginya satu derajat dan dihapus darinya satu dosa.‖Shalat berjama‘ah itu lebih utama dari shalat sendiri dengan keutamaan dua puluh tujuh derajat. kemudian beliau memanggil keduanya. Malaikat berdoa‘a. dan beliau menganggap hadits tersebut). ―Kami telah shalat di tempat kami. Namun demikian masih dianggap sah shalat yang tidak dilakukan se cara berjama‘ah. kemudian saya shalat Subuh bersama beliau di masjid Khaif (di Mina). setelah selesai shalat beliau berpaling ke belakang. ―Maka telah diserupakan pelaksanaan shalat berjama‘ah dengan sesuatu (shalat) yang bukan wajib. dia berkata. ―Yazid bin Al-Aswad. ―Seandainya shalat sendiri itu dianggap batal. ―Saya hadir bersama Nabi Saw dalam suatu keperluan. dan keduanya menghadap beliau dalam keadaan gemetar daging rusuknya.‖ (An-Nasa‘i ―Al-Imamah‖ 2/112-123. Dan barangsiapa yang shalat Subuh berjama‘ah. sesungguhnya Nabi saw telah bersabda. ―Janganlah kamu berbuat demikian. karena t idak logis membandingkan antara yang sah dengan yang batal. atau tanpa adanya penyerupan hukum dengan tujuan sebagai penguat (ta‘kid). kemudian kamu bertemu imam yang belum shalat. Jika ada suatu kelompok yang mengerjakannya. Abu Dawud ―Al-Shalat‖ 575. dan bila ia shalat. ―Dalam shahih Muslim dari haditsnya Utsman bin Affan. ―Barangsiapa yang melakukan shalat Isya dengan berjama‘ah. maka tidak akan ada perbandingan keutamaan antara shalat sendiri dengan shalat berjama‘ah.‖ Mereka berkata. Dalam shahih Bukhari dan Muslim telah diungkapkan dari haditsnya Ibnu Umar. Ya Allah limpahkan rahmat kepadanya. dan hukum yang ada dalam perbuatan yang diserupakan seperti hukum yang ada dalam perbuatan yang diserupai.‖(Muslim ―Al-Masajid wa Mawadhi‘ as-Shalah‖ 656). kemudian dia keluar menuju masjid untuk melakukan shalat. dia berkata. Mereka berkata.‖ (Al Bukhari ―Al-Adzan‖ 645.‖ (Al-Bukhari ―Al-Adzan‖ 647 dan Muslim ―Al-Masajid‖ 649). ―Shalat seseorang yang dilakukan dengan berjama‘ah dilipatgandakan dari shalat sendirian di rumah atau di pasar dengan dua puluh lima kali lipat. . maka seakan-akan dia melakukan shalat setengah malam. Pendapat yang mengatakan bahwa berjama‘ah itu hukumnya fardhu‘ kifayah. Dan dia tetap dianggap shalat selama dia menantikan shalat. karena yang demikian itu jadi (shalat) sunnat buatmu. dan beliau melihat ada dua orang yang tidak melakukan shalat. Ya Allah kasihinilah dia. Apabila kamu telah shalat di tempat kamu.‖ Mereka berkata. maka hendaklah amu shalat bersamanya. Yang demikian itu karena jika seseorang menyempurnak wudhu. Mereka berkata. Dan dalam shahih Bukhari dan Muslim telah diungkapkan dari Abi Hurairah dari Nabi saw. ―Apa yang menghalangi kamu berdua shalat bersama kami?‖ Mereka menjawab. Allahummar hamhu. maka gugurlah kewajiban tersebut dari yang lainnya. Pendapat yang mengatakan bahwa berjama‘ah itu fardhu ‗ain. ―Rasulullah saw telah bersabda. dan Muslim ―AlMasajid‖ 650).‖ Beliau bersabda. 3. Allahumma sholli ‗alaihi.

kemudian beliau shalat dan saya tidak shalat. ―Saya mendatangi Ibnu Umar yang sedang duduk di ubin. Dalam satu pokok bahasan telah dikemukakan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Karena keutamaan itu merupakan hasil perbandingan antara yang diunggulkan ٍ۬ ١‫ٓ ِم‬ ًّ ٍ۬ َ‫غزَم‬ ً‫َل‬ ۡ َ ‫أ‬ٚ ِۡ َ ‫ح‬ ُّ َِ ُ‫غ‬ َ ‫شا‬ dengan yang diungguli dari segala segi. dia berkata.‖ (―AlMusnad‖ 4/319 dan 321. seperempatnya. Dan firman Allah ta‘ala.R Imam Ahmad). ۡ ُ‫جَّٕخ‬ ُ ٌ‫ٱ‬ َ َ‫ً أ‬ ۡ ُ‫― ل‬Katakanlah. Dan masih banyak firman Allah yang semacam itu. Ahmad 2/19 dan Ahmad Syakir telah menshahihkan hadits tersebut 4689. AnNasa‘i ―Al-Imamah‖ 2/114. maka shalatlah kamu beserta mereka dan jadikanlah shalatmu itu sebagai shalat sunnat. Pengertian yang dimaksud: Mengulangi satu shalat dengan dua kali berjama‘ah). tentu shalat yang kedua tidak akan dianggap sebagai shalat sunnat. say telah shalat dalam perjalanan. hanya merupakan satu segi dari beberapa segi yang ada pada shalat berjama‘ah. An-Nasa‘i dalam kitab Al-Kubra dari Tuhfatul Asyraf 10356 dan Ibnu Hibban ―Al-Shalat‖ 1889). Jika kita menganalisa dua orang yang sama-sama melakukan shalat fardhu. Abu Dawud ―Al-Shalat‖ 796. Keberadaan shalat sendiri itu merupakan satu bagian dari dua puluh tujuh bagian dari shalat secara keseluruhan. ―Keutamaan itu tidak mengharuskan lepasnya tanggungan (kewajiban) dari segala segi. Abi Dzar. Saya berkata. ―Saya datang kepada Rasulullah saw dalam waktu shalat. ― Sesungguhnya seseorang yang melakukan shalat.‖ (Al-Furqan: 24). ―Seandainya tidak sah shalat yang pertama (shalat dua orang tersebut di atas. sehingga mencapai sepersepuluhnya. Dalam beberapa kitab Sunan diungkapkan dari Rasulullah saw. laksana antara langit dan bumi.‖ Beliau bersabda. ―Apakah kamu tidak shalat?‖ Saya menjawab. Kelompok yang mewajibkan berjama‘ah berkata. baik bersifat mutlak atau bersifat membatasi. dimana shalat salah seorang di antara keduanya itu lebih utama dari shalat yang lainnya dengan . Dua orang laki-laki yang berdiri dalam shaf (barisan shalat) yang sama dan diantara shalat keduanya itu terdapat yang lebih utama. ―Sesungguhnya saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda.Mereka berkata. ― Dari Sulaiman seorang budak yang dimerdekakan oleh Maimunah. yang dilakukan di tempat tinggalnya). ―Apabila kamu datang. Dan keberadaan shalat berjama‘ah yang dianggap perbuatan sunnat. dan Abdullah bin Umar. yang tidak bisa menggugurkan kefardhu‘an shalat berjama‘ah. maka pahalanya tidak ditulis baginya kecuali setengahnya. sepertlimanya. Beliau bersabda kepadaku. setelah itu saya datang kepadamu.‖ (Abu Dawud ―Al-Shalat‖ 579. Sebagaimana hadits tersebut telah dikemukakan sebelumnya. ―Apa yang menghalangi engkau shalat bersama orang-orang?‖ Dia menjawab. Apa (adzab) yang demikian itukah yang baik َ ‫ه‬ ‫ذ‬ َ ِ ٌ‫رٳ‬ َ ََۡ‫ش أ‬١ۡ ‫خ‬ ِ ٍۡ ‫خ‬ atau surga yang kekal…‖ (Al-Furqan: 15).‖ Dari Mahjan bin Al-Adra‘. sedangkan orang-orang yang sedang melakukan shalat di masjid. ٍ۬ ١ۡ ‫خ‬ ۡ ُ‫ح ٰـت‬ ۡ َ‫أ‬ ۡ َ٠ ‫خ‬ َ ‫ٮز‬ ‫ش‬ َ ٌ‫ٱ‬ َ ‫ص‬ ِ َّٕ‫ج‬ َٛ ِِ ‖Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya. ―Ya Rasulullah. Dalam hadits Ibnu Umar dikatakan. ―Janganlah kalian shalat dua kali dalam satu hari untuk satu shalat. Seperti firman Allah. dia berkata. sepertiganya.‖ (H. Tujuannya adalah melaksanakan kewajiban keduanya dan diantara keduanya itu ada keutamaan yang dikandung oleh keduanya.

tetap baginya mendapatkan pahala yang sempurna. Maka jawabannya adalah keutamaan itu ada apabila yang dibandingkan itu antara dua shalat yang sah. ―Allah ta‘ala mengutamakan orang yang mampu melaksanakan dari orang yang tidak mampu.‖ Perumpamaan shalat tersebut. walaupun Allah tidak sampai menyiksanya. namun hanya satu bagian. Begitu juga dengan shalat yang dilakukan sendirian. dia berkata. Beliau bersabda. maka dia hanya mendapatkan satu bagian. kemudian dia sakit atau dipenjara atau sedang berpergian dan dia tidak bisa melakukan berjama‘ah karena adanya alasan syar‘i tersebut. baginya hanya mendapat satu bagian (pahala). ―Barangsiapa yang melakukan shalat sambil berdiri. yaitu dengan ketentuan terhindarnya dari siksaan. Hal ini semata-mata ucapan orang-orang yang tidak mau menjadikan berjama‘ah itu sebagai sya rat sah shalat. Jika dia terbiasa shalat berjama‘ah. Karena keabsahan yang mutlak itu adalah terciptanya pengaruh dari suatu perbuatan dan tercapainya apa yang dikehendaki. Mereka berkata. Begitu juga perumpamaan shalat sendiri dengan shalat berjama‘ah. Dengan demikian maka hal itu dianggap jauh sekali dari kebenaran dan kesempurnaan. walaupun dia terlepas dari beban (kewajiban). ―Saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang shalat seseorang yang dilakukan dambil duduk. dengan mengatakan bahwa.‖ Dalam shahih Bukhari dari Imran bin Hushain.‖ Mereka akan menjawab dengan mengatakan. bahwa tidak ada shalat bagi orang yang mendengar seruan adzan. ―Hal ini sudah pasti dan tidak bisa ditawar -tawar lagi. kalaupun perbuatan itu menghasilkan sesuatu berupa pahala. hal itu baru dianggap sah apabila adanya alasan-alasan syar‘i. Padahal shalat berjama‘ah itu lebih utama dari shalatnya itu apabila dilihat dari segi kedua perbuatan itu. tetapi dilihat dari segi niatnya. dan pahala baginya sesuai dengan ukuran yang satu bagian itu. kecuali apa yang engkau pikirkan (mengerti) dari shalat itu. Lebih jauh Rasulullah saw bersabda. maka baginya setengah dari pahala orang yang berdiri. karena nash-nash hadits shahih sangat jelas sekali. Maka yang dimaksud dengan baginya mendapat satu bagian pahala itu bagi orang yag melakukan shalat sendiri karena adanya alasan syar‘i?‖ Mereka berkata.‖ Adapun kesempurnaan pahala itu bukan dilihat dari segi perbuatannya. mereka akn menampakkan kembali pertentangannya. Hal ini telah meniadakan pengaruhnya yang sangat besar dan tidak tercapainya apa yang dikehendaki secara jelas. Dengan demikian maka sempurnalah pahala baginya. . maka itu lebih utama. walaupun dia terlepas dari beban (kewajiban) shalat. Dan shalat seseorang yagn dilakukan sendirian. kemudian dia shalat sendirian. ―Sesungguhnya dia itu tidak berhak mendapatkan pahala yang sempurna dari segi perbuatannya kecuali hanya mendapat satu bagian pahala. Sebagaimana telah dikatakan oleh para sahabat Rasulullah saw. Adapun apabila tidak ada alasan syar‘i maka shalatnya dianggap tidak sah. padahal keduanya sama-sama melakukan shalat fardhu. Adapun orang-orang yang menjadikan berjama‘ah itu sebagai syarat sah shalat dan tidak sah shalatnya seseorang yang tidak berjama‘ah. Seandainya mereka menganggapi pernyataan tersebut di atas. Hal itu hanya diistilahkan oleh para fuqaha (ahli hukum Islam). apabila seseorang shalat dan dia tidak mengerti dari shalatnya itu. ―Tidak ada bagian (pahala) dari shalatmu.perbandingan sepuluh pahala. Hal itu semata-mata karena Allah memberikan keutamaan itu kepada orang yang dikehendaki-Nya. ―Sesungguhnya orang yang terkena alasan syar‘i. dan barangsiapa yang melakukannya sambil dudu. oleh pembuat syara‘ (Allah) tidak dinamakan dengan sah.

atau seseorang yang shalat sambil duduk karena sakit. padahal saya mampu melakukan shalat berjama‘h. Sebagaimana Rasulullah saw telah bersabda kepada Imran.‖ Seandainya mereka itu melakukan hal itu. di luar jama‘ah yang biasa mereka lakukan. kemudian alasan -alasan syar‘i tersebut hilang setelah selesai melakukan shalatnya.‖ Seandainya hal itu dikabarkan kepada Nabi saw. maka dia tidak akan mendapatkan pahala sunnat. maka seakan-akan ia berpuasa setahun penuh. Maka tidak dilarang menyerupakan sesuatu yang wajib dengan sesuatu yang disunnatkan dari segi pelipatgandaan pahala terhadap sesuatu yang wajib yang sedikit sehingga pahala dari perbuatan wajib yang sedikit itu mencapai (sama) dengan pahala perbuatan sunnat yang banyak. Apabila shalat yang dilakukannya shalat sunnat. ― Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dan ditambah dengan enam hari dari bulan Syawal. tidak pernah melakukan hal itu. Adapun argumentasi kamu yang bertitik tolak dari haditsnya Utsman bin Affan.‖ (Muslim ―Puasa‖ 1164. Ibnu Hibban ―Puasa‖ 1716 dan Abu Dawud ―Puasa‖ 2433 dan lafadz hadits tersebut di at as adalah lafadznya Abu Dawud).dan barangsiapa yang melakukannya sambil tiduran. Karena tidak pernah satu hari pun dalam setahun Rasulullah saw dan para sahabat Nabi saw yang nota bene senang melakukan berbagai macam ibadah dan kebaikan. Pertama. maka ia tidak akan mendapatkan pahala sedikitpun.‖ (Bukhari 1117). Begitu juga argumentasimu yan bertitik tolak kepada haditsnya Yazid bin Al-Aswad. Telah diserupakan perbuatan (puasa setahun) itu dengan puasa yang wajib. Imran bin Hushain ini adalah perawi kedua hadits tersebut dan dia juga yang menanyakan kedua permasalahan tersebut kepada Nabi saw. Barangsiapa yang melakukan shalat sendirian karena ada alasan syar‘i kemudian alasan syar‘i itu hilang setelah selesai melakukannya (shalat). maka lakukanlah sambil tiduran. ―Sesungguhnya seseorang telah shalat sendirian. Bahkan yang benar itu adalah sesungguhnya berpuasa setahun penuh itu hukumnya adalah makruh. Hal ini ditujukan bagi orang-orang yang melakukannya karena adanya alasan-alasan syar‘i. ―Shalatlah duduk. Dengan demikian telah diserupakan puasa yang makruh (puasa setahun penuh) dengan puasa yang wajib (puasa Ramadhan). Sebagaimana tidak perlu mengulang shalatnya kalau seseorang shalat dan bersuci (berwudhu‘) -nya dengan ta‘yamum. Dan nampak sekali dalil yang bertentangan bagi kamu seperti dalam gambaran sabda Rasulullah saw. Mahjan bin Al-Adra‘.‖ (Bukhari ―Mengqoshor Shalat‖ 1115). Begitu juga Ibnu Umar tidak pernah mengatakan. ―Saya shalat sendiri.‖ Dapat kami katakan bahwa Ibnu Umar tidak pernah meninggalkan shalat berjama‘ah di saat dia bisa melakukannya. Oleh karena itu mayoritas ulama melarang sambil tiduran kecuali bagi orang yang tidak mampu melakukannya sambil duduk. . ―Sesungguhnya tidak ada shalat baginya. jika kamu tidak mampu. maka dia tidak perlu mengulangi shalatnya. padahal dia mampu melakukan shalat berjama‘ah. Puasa setahun penuh itu bukan wajib. maka beliau tidak akan menetapkannya. maka seakan-akan dia melakukan shalat setengah malam.‖ Termasuk argumentasi yang cacat. Atau hal itu mereka lakukan karena adanya alasan-alasan syar‘i pada saat datangnya waktu shalat. Begitu juga tidak perlu mengulang shalat orang yang melakukan shalat dalam keadaan telanjang dan setelah selesai shalat dia menemukan penutup aurat. maka baginya setengah pahala dari pahala orang yang duduk. ―Barangsiapa yang shalat Isya dengan berjama‘ah. Dan kami katakan sebagaimana para sahabat Rasulullah saw berkata. At-Turmudzi ―Puasa‖ 759. Abi Dzar dan Ubadah. Sebenarnya tidak ada satupun diantara mereka yang mengemukakan bahwa. dan beliau akan mengingkarinya. maka harus dilihat dari dua segi. Jika tidak ada alasan syar‘i. sesungguhnya mereka melakukan shalat berjama‘ah dengan jama‘ah lain.

dan mendahulukan shala t (jama‘ taqdim) hanya karena pertimbangan semata-mata. Kedua. yaitu: pertama. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa segi: Pertama. maka sangat mungkin sekali setiap orang yang ada di rumah melakukan shalat dengan sendiri-sendiri. Adapun pendapat yang ketiga hanya penambah dari pendapat yang pertama yang khusus dianut oleh pengikut madzhab Syafi‘i. Ketiga. Mustahil sekali meninggalkan satu rukun shalat. . maka tidak diperbolehkan meninggalkan yang wajib. Seandainya shalat berjama‘ah itu hukumnya sunnat. maka shalatlah dia dengan berjama‘ah walaupun tidak sambil berdiri. Menurut pendapat yang ketiga adalah shalat berjama‘ah yang dilakukan di masjid itu hukumnya fardhu kifayah.‖ dimana Nabi saw menganggap shalat berjama‘ah (yakni shalat kedua orang setelah selesai melakukan shalat sendirian) sebagai shalat sunnat bagi kedua orang tersebut. seandainya keduanya ikut serta pada waktu itu mengerjakannya di masjid bersama-sama dengan Nabi saw. Pendapat ini dianut oleh madzhab Hanafi dan madzhab Maliki dan pendapat ini pun merupakan salah satu pendapat yang dianut oleh pengikut madzhab Syafi‘i. sesungguhnya orang yang sakit yang tidak mampu berdiri dan dalam shalat berjama‘ah dan dia mampu berdiri dalam shalat sendirian. sesungguhnya menjama‘ shalat karena alasan tujuan hukumnya jaiz (diperbolehkan). shalat berjama‘ah itu tidak boleh dilakukan di rumah kecuali ada alasan syar‘i. Pendapat yang pertama didasarkan kepada hadits yang berkaitan dengan. Dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk. sesungguhnya shalat berjama‘ah dalam kondisi ketakukan dilakukan dengan cara mafaraqah (berpisah dari shalatnya) imam dan mereka (si makmum) melakukan beberapa hal (perbuatan) dalam shalat tersebut dan pada pertengahan shalat si makmum meninggalkan imamnya dalam keadaan sendiri (sedangkan si makmum menyelesaikan shalatnya). Begitu juga yang dikatakan oleh hadits Mahjan bin Al-Adra‘ dan hadist Abdullah bin Umar.Mereka berkata. Mustahil sekali melakukan hal ini dan meninggalkan perbuatan yang lainnya hanya semata-mata pertimbangan sunnat semata yang nota bene perbuatan tersebut terserah mau dikerjakan atau tidak. shalat berjama‘ah itu boleh dilakukan di rumah. sebagaimana telah dikemukakan dalam pembahasan sebelumnya. hal ini semata-mata untuk menjaga berjama‘ah. Jika bukan ditujukan untuk menjaga berjama‘ah. Rasulullah saw tidak mengingkari keabsahan shalat yang dilakukan oleh keduanya dalam perjalanan. Apakah Masjid ditentukan untuk melaksanakan shalat berjama‘ah atau tidak? Apakah shalat berjama‘ah itu boleh dilakukan di rumahnya atau mesti di masjid? Dalam menjawab permasalahan tersebut pada dasarnya ada dua pendapat yang dikemukakan oleh para ulama. Padahal sa ngat memungkinkan sekali seandainya mereka melakukan shalat secara sendiri-sendiri tanpa harus melakukan berjama‘ah. ― Dua orang lakilaki yang melakukan shalat dalam perjalanan. ―Hukum-hukum syara‘ (agama) telah menunjukan bahwa shalat berjama‘ah itu hukumnya fardhu bagi setiap orang. Hal ini dilakukan semata-mata supaya terlaksananya shalat berjama‘ah. hanya karena pertimbangan sunnat semata-mata. kedua.

maka beliau shalat sambil duduk. ―Aku tidak akan mengizinkanmu. maka akan aku bakar mereka dan rumah-rumah mereka. Dan masih dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abi Dzar.‖ Dan dalam lafadz hadist Abu Dawud dikatakan. maka shalatlah kamu. ― Saya bertanya kepada Nabi sawa. ‖ Beliau bersabda. berarti kamu telah meninggalkan sunnah (kebiasaan) Nabimu dan jika kamu telah meninggalkan sunnah Nabimu. ― Rasulullah saw datang ke suatu masjid. ― Seluruh permukaan bumi yang bersih bagiku diperbolehkan untuk dijadikan sebagai masjid dan alat bersuc. kemudian Masjidil Aqsa. kemudian tempat dimana saja ka mu mendapati waktu shalat. tidak lama kemudian datang waktu shalat. Ibnu Mas‘ud berkata. Dalam satu hadits shahih dari Nabi saw. masjid apa yang pertama kali dibangun di muka bumi ini?‖ Beliau menjawab.‖ (Bukhari ―Al-Shalat‖ 380 dan Muslim ―Al-Masajid‖ 659). kemudian aku pergi keluar dan aku tidak akan membiarkan orang-orang yang tinggal dalam rumahnya dan tidak datang shalat. ―Apakah engkau mengizinkan aku untuk shalat di rumahku?‖ Rasulullah saw menjawab. menyapu bawahnya dengan mengepelnya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik.‖ (Bukhari ―Al-Adzan‖ 689 dan Muslim ―Al-Shalat‖ 411). ― Rasulullah saw jatuh dari tempat tidur. ―Sesungguhnya aku ingin sekali menyuruh sesorang untuk mengimami orang-orang.. ―Tidak ada shalat bagi orang yang bertetangga dengan masjid kecuali di masjid. maka robek sikut tangannya yang sebelah kanan.Dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik. ―Seandainy kamu shalat di rumah-rumahmu sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat (berjama‘ah) dan melakukannya di rumah. ― Nabi saw adalah sebaik-baiknya manusia dari segi akhlaknya. karena tempat itu menjadi masjid.‖ (Bukhari ―AtTayammum‖ 335 dan Muslim ―Al-Masajid‖ 521). kemudian beliau berdiri dan kami berdiri di belakangnya dan beliau shalat bersama kami. kemudian beliau bersabda. beliau melihat kaum sedikit sekali.‖ (HR Darul Quthni. terkadang ketika datang waktu shalat beliau masih berada di rumah kami. ―Nabi saw telah mendatangi suatu kaum yang sedang shalat. ‖ Sebagaimana hal ini telah dikemukakan sebelumnya. dia berkata. berarti kamu sesat. Dalam ―Musnad‖ Imam Ahmad. ―Kemudian aku mendatangi suatu kaum yang melakukan shalat-shalat di rumah-rumah mereka tanpa alasan (syar‘i). kemudian beliau memerintahkan untuk menghamparkan permadan.‖ Sebagaimana hadits ini telah dikemukakan sebelumnya.‖ (Bukhari ―Bab Hadits-hadist para Nabi‖ 3425 dan Muslim ―Al-Shalat‖ 520). Pendapat kedua didasarkan kepada beberapa hadits yang menunjukan wajibnya shalat berjama‘ah kaerna sesungguhnya perintah mendatangi masj id dalam hadits-hadits tersebut jelas sekali. dia berkata. . Dari Jabir bin Abdullah dia berkata. beliau bersabda. kemudian kami masuk ke rumahnya dengan tujuan menengok beliau. dia berkata. Namun hadits ini dianggap dha‘if). dia berkata. ―Masjidil Haram. kecuali aku akan membakar rumah mereka dan sekalian dengan mereka.‖ Ibnu Ummi Maktum – seorang laki-laki buta – berkata kepada Rasulullah saw. ―Ada air (banjir) yang menghalangi kami. beliau bertanya. dari Ibnu Ummi Maktum. ―Apa yang menyebabkan engkau meninggalkan shalat (berjama‘ah)?‖ Mereka menjawab.

jelaslah baginya bahwa melaksanakan shalat di masjid itu hukumnya fardhu ‗ain. teman atau lainnya.sesungguhnya mengerjakan shalat di rumah diperbolehkan bagi seseorang jika di masjid sudah ada yang melaksanakannya. pembantu. Sedangkan menurut riwayat lain hukumnya fardhu ‗ain. maka sangat memungkinkan sekali untuk melaksanakan shalat berjama‘ah. karena shalat (berjama‘ah) di masjid itu merupakan syi‘ar dan simbol t erbesar agama Islam. Dan meninggalkannya berarti secara total telah menghancurkan syi‘ar agama tersebut dan menghilangkan pengaruh yang mendasar dari pelaksanaan shalat yang berdampak pada berbagai tingkah laku.‖ Karena berdasarkan sabda Rasulullah saw. ―Tidak ada shalat bagi orang yang bertetangga dengan masjid kecuali di masjid‖. menunjukkan tidak adanya kesempurnaan sama sekali di antara keduana (shalat sendiri dan shalat berjama‘ah yang dilakukan di rumah). tidak diperbolehkannya meninggalkan persyar atannya yaitu waktu shalat. Jadi menurut pendapat ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa shalat berjama‘ah itu hukumnya fardhu. Karena setiap orang pada umumnya memiliki istri.Pengertian tentang hadits tersebut sebagaimana telah dijelaskan dari Ali bin Abi Thalib dan para sahabat lainnya. berarti kamu telah meninggalkan sunanh Nabimu dan jika kamu meninggalkan sunnah Nabimu berarti kamu telah sesat. Seandainya yang diwajibkan itu hanya berjama‘ah semata.‖ Hal ini didasarkan kepada pendapat yang dipilih oleh Ibnu Aqil dalam pembahasan hukum orang yang meninggalkan shalat berjama‘ah. kecuali apabila ada hal -hal yang membolehkannya untuk meninggalkan shalat jum‘at dan shalat berjama‘ah. Bertitik tolak pada hadits. yaitu: Abul Barakat dalam syarah kitabnya berkata. maka boleh menjama‘ dua shalat disebabkan oleh hujan deras. ―Tidak ada shalat bagi orang yang bertetangga dengan masjid kecuali di masjid. anak.‖ Abu Barakat berkata. baik fardhu kifayah maupun fardhu ‗ain. ―Sessungguhnya pengertian dari riwayat hadits itu – hanya Alla yang Maha Tahu . Dengan demikian maka Abdullah bin Mas‘ud tel ah berkata. ―Shalat seseorang yang dilakukan dengan berjama‘ah dilipatgandakan dari shalatnya yang dilakukan di rumah dan di pasar dengan dua puluh lima kali lipat. sebagaimana shalatnya orang yang tidak datang (ke masjid) dan melakukannya di rumahnya. Hal ini dapat dilihat kembali dalam dalil kedua belas tentang hukum shalat berjama‘ah. maka tidak akan diperbolehkan menjama‘ shalat hanya karena alasan hujan deras. Tidak .‖ Barangsiapa yang betul-betul ingin mengamalkan hadits. tanpa harus mengerjakannya di masjid. Dia telah memilih nahyi (larangan) dan dia memperkuat pendapatnya itu dengan sabda Rasulullah saw. Adapun mengenai shah dan tidaknya shalat orang yang meninggalkan shalat (berjama‘ah di masjid) dan melakukannya di rumah tanpa alasan syar‘i terdapat dua pendapa. ―Seandainya kamu shalat di rumah-rumahmu.‖ Dia menganggap sabda Rasulullah saw. ―Riwayat hadits yang pertama yang dipilih oleh teman -teman kami. maka ketika diperbolehkan menjama‘ shalat. maka shalatnya tidak sah apabila dilakukan tanpa alasan syar‘i. menganggap bahwa mendatangi masjid untuk shalat berjama‘ah itu hukumnya tidak wajib. ―Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat (berjama‘ah di masjid) dan melakukan berjama‘ahnya di rumah. maka shalat yang dilakukan di masjid itu hukumnya fardhu khifayah menurut riwayat ini. Karena kebanyakan orang pada umumnya mampu melaksanakan shalat berjama‘ah di rumahnya masing -masing. ―Bertitik tolak pada pendapat tersebut. Abul Barakat berkata.‖ Abu Barakat berkata. Pendapat ini menurut saya jauh sekali dari kebenaran jika melihat segi lahiriah teks hadits.

dan menganjurkan penduduk Mekah aga tetap berpegang teguh agama Islam. Maka Allah akan memberikannya cahaya yang sempurna pada hari kiamat ketika mereka menyebrangi gelapnya jembatan shirat yang lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang ketika menuju Surga sedangkan di bawahnya adalah Neraka.‖ Para sahabat Rasulullah saw berterima kasih kepda Atab atas tindakannya itu. Amal Perbuatan Yang Memudahkan Mukmin Menyeberangi Jembatan Neraka http://www. ―Wahai penduduk Mekah. Ihsan Tanjung dari Eramuslim. Suhail menasehati mereka yang kemudia dilanjutkan oleh Atab bin Asyad. Dimana orang mu‘min membawa cahaya. orang tersebut berjalan dalam kegelapan malam.eramuslim. Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam melukiskan jembatan itu sebagai lebih tipis dari sehelai rambut dan lebih tajam dari sebilah pedang. kecuali apabila ada alasana syar‘i. amat syahdu. dan bertambah tinggi penghormatan para sahabat kepadanya. mengerikan.com. sama hukumnya dengan meninggalkan berjama‘ah tanpa adanya alasan syar‘i. sehingga memanggil-manggil orang mu‘min agar memberikan sebagaian cahayanya. Dibagian ini saya sisipkan Murrotal ayat tersebut yang dibawakan oleh Salma Utaybi.mendatangi masjid tanpa adanya alasan syar‘i. ada yang sukses namun terluka kena sabetan duri-duri dan besi-besi kait yang merobek sebagian anggota tubuhnya sementara ada yang gagal sehingga terjatuh dan terjerembab dengan wajahnya terlebih dahulu masuk ke dalam api menyala-nyala Neraka Jahannam.htm Sebagaimana sudah kita ketahui setiap Ahli Tauhid sebelum berhak mencapai pintu gerbang surga diharuskan melewati ujian berat yaitu menyeberangi jembatan yang membentang di atas Neraka Jahannam. dihayati. Artikel tersebut diambil dari tulisan Ust. ————————– Berikut artikel tambahan tentang kenikmatan orang yang rajin shalat berjama‘ah di Masjid. . dia ber kata. ada ilustrasi yang pas di video tersebut yang diambil dari youtube.com/suara-langit/kehidupan-sejati/amal-perbuatan-yangmemudahkan-mukmin-menyeberangi-jembatan-neraka. Suhail bin Amar menasehati mereka dan Atab bin Asyad pegawai (staf) Suhail pergi ke Mekah dengan penuh ketakutan dari penduduk Mekah.com. terutama ketika mendatangi shalat Isya dan Subuh di malam hari. demi Allah seandainya sampai kepadaku ada di antara kamu yang meninggalkan shalat berjama‘ah di masjid. menggetarkan hati. Ketika Rasulullah saw wafat dan berita kewafatannya itu sampai kepada penduduk Mekah. dan orang munafik kehilangan cahaya di atas jembatan shirat tersebut. Kemudian Suhail mengajaknya keluar . Orang yang berpegang teguh kepada agama Allah akan berpendapat bahwa tidak diperbolehkan bagi seseorang meninggalkan shalat berjama‘ah di masjid. Pendapat ini sesuai dengan semua hadits dan atsar (pendapat para sahabat Nabi saw). maka akan aku penggal lehernya. di-artikel tersebut ada bahasan di Al Quran surat Al-Hadid ayat 12-16 yang menceritakan peristiwa di atas jembatan shirat. Hanya Allah yang mengetahui k ebenarannya. Ada mereka yang sukses menyeberanginya.

Selamatkanlah.ْ َّ ‫ء‬ ُ‫خ‬ ُ ْ‫َأ‬٠ ‫غه‬ ِْ َ‫و‬ ِْ ْ‫ق‬ ِْ َ ٗ َ ٗ ُّ ‫ح‬ ُّ ‫د‬ ْ ٍَ‫ع‬ ْ ٍَ‫ع‬ َّ ٌ‫ٓ ا‬ َّ‫ٓ اٌؼ‬ ‫ن‬ َ ٚ َ ُ‫إٌَّبط‬ٚ َ ‫ْف‬ َ َ‫جغْش أ‬ َ ‫ح‬ َ ٚ َ َ ‫أ‬ٚ َ ِ ٌٚ ِ ْ‫وبٌطَّش‬ ِ١ ِ١ ِ ١‫غ‬ ِ ‫ذ‬ ِ ‫ق‬ َ ‫ف‬ َ ُ‫َّللا‬ َ ‫ٓ ؽَب‬ َ ُ‫ت‬١ٌِ‫َل‬ َ ‫ش‬ ِ ُ َ َْٚ‫ز‬ َ ََّٕٙ‫ج‬ ِ ْ‫اٌجَش‬ ِ ‫ع‬ ْ ْ َ َّ ُ ِّ ِّ ُ ُ ْ َّ َ َ َ َِ َ ِ‫َّلئ‬ َ‫ش‬ َٚ َٚ َ ٌ‫ذ ا‬ ْ‫خ‬ ‫ظ‬ ِّ ٌ‫ا‬ٚ َ ‫بس‬ َ ِ ْ ٍ‫ع‬ َ ِّ‫سة‬ َ ُ ْ ٍ‫ع‬ َ ِّ‫سة‬ َ ٌَْٛٛ‫َم‬٠ ‫ىخ‬ َ ‫وأ‬ َ ِ ُ ‫ُ فَٕبج‬ ِ ‫وب‬ ِ ٠ٚ‫ب‬ ُٚ ُ ‫ػ‬ُٚ‫ِخذ‬ َ ٍُ ‫غ‬ َ ٌَُّ َ ‫ة‬ َ ً َ ‫ح‬٠ِّ َ ٍٝ‫ع‬ ِ ١ َٚ َ ٌ‫ا‬ٚ ِ ‫ج‬ ِ ٌٕ‫ ا‬ِٟ‫َّس ف‬ٛ‫ى‬ ِ ‫وبٌش‬ ِٗٙ َ ِ ْ‫ج‬ٚ ―Dan Neraka Jahannam itu memiliki jembatan yang lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Namun pertanyaannya ialah bagaimana hal itu bisa tercapai? Apa syarat-syarat agar seorang Mukmin berhak menikmati kesuksesan tersebut? Sebenarnya dalam hadits lain Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam telah mengisyaratkan sebagian jawabannya. Di atasnya ada besi-besi yang berpengait dan duri-duri yang mengambil siapa saja yang dikehendaki Allah.‖ (QS Al-Hadid ayat 13) Dan berdoalah orang-orang beriman: ‖Ya Rabb kami.‖(QS At-Tahrim ayat 8) Ketika itulah setiap orang tidak akan ingat orang lain. Dan bila ia termasuk mukmin sejati cahaya yang diterimanya itu akan setia menemani dan menyinari dirinya sepanjang penyeberangan itu hingga sampai ke ujung menjelang pintu surga. apalagi kalau ia termasuk orang munafik.‖ (HR Ahmad 23649) Setiap orang yang mengaku beriman sudah barang tentu berharap dirinya masuk ke dalam golongan mereka yang selamat menyeberanginya sehingga berhak masuk Surga dan dijauhkan dari azab api neraka.‖ (HR Thabrani 11079) Di antara solusinya ialah seorang mukmin mesti mengupayakan agar dirinya kelak memiliki cukup cahaya agar mampu menyeberangi kegelapan dan panasnya neraka. Mereka menyeru kepada orang-orang beriman: ‖Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kamu. ada yang laksana kuda yang berlari kencang dan ada yang laksana onta berjalan. Allah-pun segera merampas cahaya orang-orang munafiq. Rabbi sallim. selamatkanlah. maka mereka akan berteriak panik dan memohon kepada orang-orang beriman sejati agar dibagi sebagian cahaya yang setia menemani mukmin sejati itu. Sungguh gambaran mengerikan yang dengan jelas diuraikan Allah di dalam ayat-ayat berikut ini: َّ ُ‫شض‬ ْ ُ ٠ ٞ‫ز‬ َ ٓ ِْ َ ‫ٌَُٗ أَجْ ش‬ٚ ُ٠‫ش‬ َ ُ١َ‫غًٕب ف‬ َ ‫ح‬ َ ‫َّللاَ لَشْ ضًب‬ ِ ‫ضب‬ ِ ٌَّ‫را ا‬ َ ٌَُٗ َُٗ‫عف‬ َ ِ ‫و‬ ِ ‫م‬ . Sebab pada saat akan menyeberangi jembatan tersebut setiap orang dibekali Allah cahaya agar mampu melihat jalan yang sedang ditelusurinya di atas jembatan tersebut. sempurnakanlah untuk kami cahaya kami. Begitu cahaya orang-orang munafik itu mendadak dipadamkan Allah. ada yang tercabik-cabik lalu diselamatkan dan juga ada yang digulung dalam neraka di atas wajahnya. ada yang laksana kilat dan ada yang laksana angin. Dan manusia di atas jembatan itu ada yang (melintas) laksana kedipan mata. ْ َ َّ ْ َّ ْ ِْ ْ‫ع‬ ُ ٟ‫ط‬ َّ ‫ع‬ ْ‫ع‬ ْ َ٠ ٌَٝ‫عب‬ ِْ َّ ِ‫ِٓإ‬ َّ ِ ‫ فَئ‬،‫اط‬ ْ َ ‫خ ث ِأ‬ ْ ُ٠ ً َّ ‫و‬ َّ ‫ج‬ ٓ ً‫ز‬ َ ُ ٕٗ َ َ‫َّللا‬ َ ْٙ َ ٌَّٕ‫ ا‬ُٛ‫ذع‬ َ َ‫َّللاَ ر‬ َ ٚ َ ‫د اٌص‬ َّ َ‫أ‬ٚ ِ ‫ِب‬ ِ‫د‬ ِ ‫ع ج َب‬ ِ ٍَٝ‫ع‬ ِ ‫شا‬ ِ ُ ِِ ِ‫ؤ‬ ُ ً ِ ‫ع‬ ِ ‫ِّش‬ َ ،ٖ َ ‫ض‬ ِ ِ‫ّبئ‬ َ‫ع‬ َ ‫َب‬١ِ‫اٌم‬ َ َْٛ٠ ‫بط‬ ْ ْ ْ َّ ُ ُ ُ ُ َ َ َ ُ ُ ُ ِْ ْ ‫ فَئِرا ا‬،‫سا‬ َّ ‫و‬ٚ َّ ‫و‬ٚ ٍٝ‫ع‬ ً ٛٔ ‫َِٕبفِك‬ ً ٛٔ ‫َِٕخ‬ ً ٛٔ َْٛ‫َّٕبفِم‬ َّٓ َ ‫ْ ا‬َٚٛ َ ٛٔ ُ‫ت َّللا‬ َ ٍ‫ع‬ َ ‫ط‬ َ َ ‫ فَمَب‬،‫د‬ ُ ٌ‫س ا‬ ِ ‫اٌصِّشا‬ ُ ً ِ‫ؤ‬ ُ ً ُ ٌ‫ي ا‬ ِ ‫َّٕبفِمَب‬ ُ ٌ‫ا‬ٚ َ ‫عز‬ َ ،‫سا‬ َ ،‫سا‬ َ َٓ١ِ‫افِم‬ َ َ ْ َ ْ ْ ْ ‫حذًا ا‬ ْ ُ ْ ُ َ ُ َ ُ ُ َ َ ْ ْ َ َ ْ‫ظ‬ َّ ‫َٔب‬ُٚ‫ٔظُش‬ ‫أ‬ ‫ذ‬ ‫ح‬ ‫أ‬ ٌ ‫ر‬ ‫ذ‬ ٕ ‫ع‬ ‫ش‬ ُ ‫و‬ ‫ز‬ ٠ ‫َل‬ ‫ف‬ ‫ٔب‬ ‫س‬ ٛ ٔ ‫َب‬ ٕ ٌ ُ ّ ‫ر‬ ‫أ‬ ‫َب‬ ٕ ‫ث‬ ‫س‬ ٕ ِ ‫ؤ‬ ّ ٌ‫ا‬ ‫ي‬ ‫ب‬ ‫ل‬ ٚ ُ ‫و‬ ‫س‬ٛ ٔ ٓ ِ ‫ج‬ ‫ز‬ ‫م‬ ٔ َ‫ه‬ َ َْٛ َ َ ِ ِ َ َ ِْ َ ِ ُ َ َ ْ ِ ِ ِ ―Allah akan memanggil umat manusia di akhirat nanti dengan nama-nama mereka ada tirai penghalang dari-Nya. Dan para malaikat berkata: ‖Rabbi sallim. Namun jika ia termasuk orang yang imannya bermasalah lantaran begitu banyak dosanya.‖ ( ‖Ya Allah. Adapun di atas jembatan Allah memberikan cahaya kepada setiap orang beriman dan orang munafiq.‖) Maka ada yang selamat. maka di tengah perjalanan menyeberangi jembatan Allah tiba-tiba padamkan cahaya yang menemaninya sehingga ia dibiarkan dalam kegelapan dan akibatnya ia menjadi tersesat dan terjatuh ke dalam api neraka. Bila mereka telah berada di tengah jembatan.

Dikatakan (kepada mereka): ―Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)‖. mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahankesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai- . dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.‖ (QS Al-Hadid ayat 11-15) Lalu apakah amal perbuatan yang akan menyebabkan seorang mukmin memiliki cukup cahaya untuk sukses menyeberangi jembatan itu? Ternyata. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali. Dialah tempat berlindungmu. tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah. sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. di antaranya ialah kesungguhan seorang mukmin untuk bertaubat dari dosa-dosa yang selama ini dia kerjakan. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Inilah yang disebut dengan aktifitas Taubatan Nasuhan (Taubat Yang Murni). (yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mu‘min laki -laki dan perempuan. dan dia akan memperoleh pahala yang banyak. (dikatakan kepada mereka): ―Pada hari ini ada berita gembira untukmu. Itulah keberuntungan yang banyak. bertaubatlah kepada Allah dengan Taubatan Nasuhan (taubat yang semurni-murninya). Tempat kamu ialah neraka. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mu‘min) seraya berkata: ―Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?‖ Mereka menjawab: ―Benar. Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ―Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu‖. Perhatikanlah ayat Allah berikut ini: َّ ٌَِٝ‫ا إ‬ُٛ‫ث‬ُٛ‫ا ر‬ُِٕٛ ْ ‫َب‬ِٙ‫ٓ رَحْ ز‬ ُ ِ‫ِّئَبر‬١‫ع‬ ُٕ ْ‫ع‬ ُ ُّ‫سث‬ ْ َ‫اَل‬ ُ ٍَ‫خ‬ ْ َ‫ُ أ‬ ِْ ْ ُ٠ٚ َ ُ٠ ْ ُ ُ ‫َب‬ٙٔ ً ُٛ‫ْ ثَخً َٔص‬َٛ‫َّللاِ ر‬ َ ‫ش‬ َ ‫حب‬ ْ‫ى‬ َ ُ ْ‫ى‬ َ ِّ‫ىف‬ ْ‫ى‬ َ ٝ‫غ‬ َ ‫ع‬ َ ُ ْ‫ى‬ ِ ٌَّ‫َب ا‬ُّٙ٠َ‫َب أ‬٠‫س‬ ِ ٞ‫ش‬ ِ ‫ذ‬ َ َ َ َ‫َٓ آ‬٠‫ز‬ َ َْٛ٠ ِ ْ‫جَّٕبد رَج‬ َ َ َ َّ َّ ُ َ ُ ْ ُ ْ ْ َّ َّ ُ ُ َ َ ُ َ َ ُ ْ ْ ْ ْ ْ‫ش‬ َّ ٌ ٛ ‫م‬ ٠ ُ ٙ ٔ ‫ب‬ ّ ٠ ‫أ‬ ‫ث‬ ٚ ُ ٙ ٠ ‫ذ‬ ٠ ‫أ‬ ١ ‫ث‬ ٝ ‫ع‬ ‫غ‬ ٠ ُ ٘ ‫س‬ ُ ٛ ٔ ُ ٗ ‫ع‬ ِ ‫ا‬ٛ ٕ ِ ‫آ‬ ‫ز‬ ٌ ‫ا‬ ٚ ٟ ‫ج‬ ٕ ٌ‫ا‬ ‫َّللا‬ ٞ ‫ض‬ ‫ُخ‬ ٠ ‫ال‬ ً ‫و‬ ٝ ٍ ‫ع‬ ‫ه‬ ٔ ‫إ‬ ‫َب‬ ٕ ٌ ‫ف‬ ‫غ‬ ‫ا‬ ٚ ‫َب‬ ٔ ‫س‬ٛ ٔ ‫َب‬ ٕ ٌ ُ ّ ‫ر‬ ‫أ‬ ‫َب‬ ٕ ‫ث‬ ‫س‬ ِّ َْٛ َ ْ ِ ِ َ ِ َ ْ ِ ِ َٓ َ َ َ ْ َ َ ِ ََ ِْ َ ِ َ َ َ َٓ٠ ِ َ َّ ِ ُ ِ ‫ش‬٠‫ذ‬ ْ ‫ؽ‬ ِ َ‫ء ل‬َٟ ‖Hai orang-orang yang beriman. (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya. Taubatan Nasuha inilah yang akan menyebebkan seorang mukmin memperoleh cahaya yang disempurnakan untuk sukses menyeberangi jambatan Neraka. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir.َ‫َٓ أ‬١ ْ ٚ ْ ٜ‫ش‬ ْ ُ ْ ‫َب‬ِٙ‫ٓ رَحْ ز‬ ْ ُ‫ُ ث‬ ْ َ‫اَل‬ ُ ‫شا‬ ّْ ّْ ِْ َ ‫س‬ ْ َ‫ُ ث‬ ْ َ٠ ‫د‬ ْ َ ‫ثِأ‬ٚ ْ ُ ُٛٔ ٝ‫ع‬ ُ ‫َب‬ٙٔ ْ ُ٘‫س‬ َ‫غ‬ َ َ‫َ ر‬ َ َ َ‫ؾ‬ ْٙ ْٙ ِ ‫َِٕب‬ ِ‫ؤ‬ ُ ٌ‫ا‬ ِ‫ؤ‬ ُ ٌ‫ا‬ ِ ِ ٌ‫خ ب‬ ِ ٞ‫ش‬ ُ‫و‬ ِ٠ َ َٓ١ِِٕ َ ُ ِ ِٔ‫ّ ب‬ ِ ٠‫ذ‬ َ َْٛ٠ ‫َب‬ٙ١ِ‫َٓ ف‬٠‫ذ‬ َ َْٛ١ٌ‫ا‬ َ٠ ِ ْ‫جَّٕبد رَج‬ ْ ْ ْ ْ َّ َ ُ ُ ُ ُ ُ َ َ َ ‫ا‬ِٕٛ ُ ٛ‫َم‬٠ َ َ ِ ٌ‫ر‬ َ ٌ‫ْ ص ا‬ٛ‫ اٌف‬ٛ ِ ٌٍِ ‫َّٕبفِمبد‬ ُ ٌ‫ا‬ٚ ُ ٌ‫ي ا‬ ُ ١‫ظ‬ ِ ‫ع‬ َ َْٛ‫َّٕبفِم‬ َ ُ٘ ‫ه‬ َ ‫َٓ آ‬٠‫ز‬ َ َْٛ٠ ُ ْ َ‫ُ ف‬ ْ َٔ ‫َٔب‬ُٚ‫ٔظُش‬ ُ‫ء‬ ُ ‫س‬ٛ ْ ‫ساا‬ ِْ ‫ق‬ ً ُٛٔ ‫ا‬ُٛ‫ّغ‬ ْ‫و‬ َٚ َ ٠ ْ‫و‬ ِ َ‫بٌز‬ ِ ْ‫مزَجِظ‬ َ ‫سا‬ َ ‫ا‬ُٛ‫جع‬ ِ ْ‫ً اس‬ ِ ُ ِ ُٔ ٓ ِْ ْ َ‫ة ث‬ ٗ ُ٘ ْ َُٕٙ١ َ ‫ُش‬ ِ ٍَِ‫ٓ لِج‬ ِ ُٖ‫ش‬ ِ ‫ظَب‬ٚ ِ ١ِ‫طُُٕٗ ف‬ ِ ‫س ٌَُٗ ثَبة ثَب‬ُٛ‫ُ ثِغ‬ َ ُ ‫ّخ‬ َ ْ‫ٗ اٌشَّح‬ ِ ‫فَض‬ ْ ْ َ‫ُ فَز‬ ُ َّٕ‫ى‬ ُ‫ع‬ ُ َٔ ُ َ‫ع‬ ْ‫ى‬ ُ ْ ُ ‫ٕز‬ ْ‫ى‬ ْ‫ى‬ َِ ْ ٌََ‫ُ أ‬ ْ َُُٙٔٚ‫َُٕبد‬٠ ُ‫زاة‬ َ ٌ‫ا‬ ِ َ ٌٚ َ ٍََٝ‫ا ث‬ٌُٛ‫ُ لَب‬ َ ٓ ْ ُ ُ‫غ‬ ْ َ‫ أ‬َّٝ‫حز‬ ُ‫ر‬ ْ‫ش‬ َ ٚ ْ َ‫اسْ ر‬ٚ َّ ‫غ‬ ُ ْ ُ‫َشثَّصْ ز‬ َ ‫ر‬ٚ ْ‫ى‬ َ ُ‫ٔف‬ َ ٟ ْ ُ ‫جز‬ ُّ ِٔ‫ِب‬ ُ‫ى‬ َ ُ َ ُ َ َ َ‫اَل‬ ْ َ‫س ف‬ ْ ِ‫بَّلل‬ َّ ِ‫ُ ث‬ َّ ‫ش‬ ُ‫خ‬ ُٕ ِْ ُ‫ش‬ َٚ ْ ِ‫ُ ف‬ ْ ٠ ‫ال‬ َ َ َ ‫ُؤ‬ َ ٌ‫ا‬ َ ٚ َّ ‫غ‬ ‫ال‬ ُ ُٚ‫غش‬ ُِ ْ‫ى‬ ْ‫و‬ ْ َ‫ء أ‬ َ ِ ‫ز‬ َ ‫َخ‬٠‫ذ‬ َ ِ‫َّللا‬ َ ‫جب‬ َ َْٛ١ٌ‫ب‬ ْ ‫ظ‬ ْ ِ‫ث‬ٚ ُ ‫ال‬ ُ ‫ا‬ٚ َ ِْٛ َ َٓ٠‫ز‬ ‫ش‬ ُ ١‫ص‬ ُ ‫ُ إٌَّب‬ َ ‫ئ‬ ْ‫و‬ ِ ّ ِ ‫س‬ ُ‫و‬ ِ ٌَّ‫َِٓ ا‬ ِ َ ُ َ ْ‫ِأ‬ َ ٌ‫ا‬ َ ٟ َ ٘ َ ‫ا‬ُٚ‫وفَش‬ ‖Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Bukan taubat musiman alias taubat yang tidak menyebabkan seseorang benar-benar meninggalkan perbuatan dosa yang dilakukannya.

ada pula yang melintas secepat angin. hingga tibalah saat orang yang cahayanya ada di jari jempol kedua kakinya melintas. satu kakinya jatuh dan satu kakinya lagi menggantung. dalam pendengaranku. di sebelah bawahku.‖ (HR Bukhary 5841) Ketiga. seorang Mukmin akan sukses menyeberangi jembatan neraka bila ia melindungi sesama mukmin dari kejahatan orang Munafik. dan ada pula yang berjalan dengan cepat. Nabi bersabda: ْ َ ْ ٌَِٝ‫ُ إ‬ ُّ ِٟ‫َٓ ف‬١ِ‫ؾبئ‬ َّ ّ ِّ َ‫خث‬ ‫ؾشْ ا‬ َ ّ ِِ ِ ‫بج‬ ِّ ‫س اٌزَّب‬ٛ ِ ‫غ‬ ِ ٍَ‫اٌظ‬ َ ‫َب‬١ِ‫اٌم‬ َ َْٛ٠ َ َ ٌ‫ا‬ َ ٌْ ِ ٌُّٕ‫ذ ثِب‬ ―Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan menuju masjid-masjid dalam kegelapan dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat. kedua sisinya terkena api neraka. َّ ‫ث‬ ً ٍَِ َ ‫ع‬ ِْ ِْ ِْ ّٟ َ َ‫ي ث‬ َ ‫ساُٖ لَب‬ َ ُ‫َِٕبفِك أ‬ َ ٓ ِ ْ‫َح‬٠ ‫ىب‬ ُ ٓ ِ ‫ِٕ ً ب‬ ِ‫ؤ‬ ُ ّٝ َ ُ‫َّللا‬ َ‫ح‬ َ ْ َ ِْ ِْ ُ ٠‫ُش‬ ْ ِ ُ َ ‫َبس‬ ْ ‫ّب ثِؾ‬ َ ٓ ِ ‫خ‬ ِِ ُ ِٝ ً ٍِ‫غ‬ َ َ ََّٕٙ‫ج‬ َ ‫َب‬١ِ‫اٌم‬ َ َْٛ٠ ُّٗ َ ْ‫ذ ٌَح‬ َ‫س‬ َٚ ِ ٔٓ ِ ٠ ‫ء‬َٟ َّ ُٗ‫غ‬ ْ َ٠ َّٝ‫حز‬ َ ْ‫ؽ‬ ‫بي‬ َ ُ‫َّللا‬ َ َ‫ّب ل‬ َ ‫خش‬ َ ُ َ ‫ْش‬ َ َ ‫حج‬ َ ٗ َّ ِ ِ ‫ُج‬ ِ ِ‫َُٕٗ ث‬١ ِ ٍَٝ‫ع‬ َ ََّٕٙ‫ج‬ ِ ‫جغ‬ .sungai. dari Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam. ada pula yang melintas secepat kedipan mata. beliau bersabda: ‖Shirath itu setajam pedang dan sangat menggelincirkan.‖ Beliau melanjutkan: ‖Lalu mereka melintas sesuai dengan cahaya yang mereka miliki.‖ Kedua. pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia.‖ (HR Ibnu Majah 773) Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam seringkali ketika berjalan menuju ke masjid berdoa dengan doa sebagai berikut: ‫سً ا‬ُٛٔ ٟ‫ع‬ ً ُٛٔ ٞ‫ش‬ ً ُٛٔ ِٟ‫ لَ ٍْج‬ِٟ‫عًْ ف‬ ْ‫ع‬ َ ِٟ‫ف‬ٚ َ َ‫ ث‬ِٟ‫ف‬ٚ َ ْ‫ُ اج‬ َّ ٌٍَُّٙ‫ا‬ ِّ َ ‫سا‬ َ ‫سا‬ ِ ‫ص‬ ْ ‫ع‬ٚ ْ ‫ع‬ٚ ً ُٛٔ ِٟٕ١ّ َ َ٠ َٓ ِ‫رَحْ ذ‬ٚ ِ َ٠ َٓ َ ‫سً ا‬ُٛٔ ِٟ‫ْ ل‬َٛ‫ف‬ٚ َ ‫سً ا‬ُٛٔ ٞ‫بس‬ َ ‫سا‬ َ ِ ‫غ‬ ْ ٚ ‫سً ا‬ُٛٔ ٌِٟ ًْ‫ع‬ ً ُٛٔ ِٟ‫خٍَف‬ ً ُٛٔ َ ْ‫اج‬ٚ ِ ‫ِب‬ َ ‫سا‬ َ ‫سً ا‬ُٛٔ ِٟ َ ‫سا‬ َ َ ‫أ‬ٚ ―Ya Allah jadikanlah cahaya dalam hatiku. di sebelah kiriku. maka Allah akan menghukumnya dalam bentuk ia ditahan di atas jembatan neraka hingga dosa ucapannya menjadi bersih. (QS AtTahrim ayat 8 ) Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud. satu tangannya jatuh. Maka di antara mereka ada yang melintas secepat meteor. dan satu tangannya lagi menggantung. di belakangku dan jadikanlah aku bercahaya. sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. di depanku. Dan sebaliknya barangsiapa yang mengucapkan perkataan buruk untuk mencemarkan seorang Muslim. Mereka melintas sesuai amal perbuatan mereka. sambil mereka mengatakan: ―Ya Tuhan kami. dalam penglihatanku. di sebelah kananku. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu‖. sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. di sebelah atasku. ada pula yang melintas seperti orang berlari. seorang Mukmin akan dijamin memiliki cukup cahaya saat menyeberangi jembatan di atas Neraka jika ia rajin berjalan ke masjid dalam kegelapan untuk menegakkan sholat wajibnya semata ingin meraih keridhaan Allah.

bersihkanlah hati kami dari kemunafikan. Ibnu Ishak berkata. dan ‗amal perbuatan kami dari riya dan lisan kami dari dusta serta pandangan mata kami dari khianat. Allah akan mengutus malaikat untuk melindungi daging orang itu –pada hari Kiamat. ————Berikut Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir At-Taubah Ayat 18 tentang Para Pemakmur Masjid sebagai berikut: ۡٚ ُ ٰٓ ٰ ‫غ‬ ۡ َ ۡ َ٠ ۖ َِٓ ْ ُٔٛ‫ى‬ َّ ِ‫َِٓ ث‬ َّ ‫ذ‬ َّ ‫ال‬ َّ ِ‫ؼ إ‬ ِۡ ُ َ٠ َْ‫ه أ‬ َّ ٌ‫ ٱ‬َٝ‫ءار‬ ۡ َ٠ ‫ِب‬ ۡ َ١ٌ‫ٱ‬ َّ ِ‫ٌَُۡإ‬ٚ ٰ‫ڪ‬ ٰ ٍَ‫ص‬ َّ ٌ‫َ ٱ‬ ُّ ْ َ ‫ض‬ َ‫ج‬ َ ‫ٮ‬ َ ِ َ ‫خ‬ َ ‫ع‬ َ َ‫ف‬ ِ َ‫ٱَل‬ ُ‫ع‬ ِ ‫ا‬ٛ َ َ‫ح‬ٛ َٚ َ َ‫ح‬ٛ َ ‫ش‬ َ ِ‫ٲَّلل‬ َ ٓ ِٛ ِ ‫غ ٰـ‬ َ ‫أَلَب‬ٚ َ ‫ءا‬ َ ِ‫ٱَّلل‬ َ ‫ش‬ َ َ‫ٱَّلل‬ ِ ‫خ‬ ِ ٰٓ‫ْ ٌَ ٰـ‬ٚ‫ أ‬ٝ ۡ ۡ َ َٓ٠‫ذ‬ ِ ‫ز‬ّٙ ُ ٌ‫ٱ‬ Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. At Tawbah: 18) Allah Ta‘ala mempersaksikan keimanan para pemakmur masjid. maka Allah akan menahannya di atas jembatan neraka jahannam hingga orang itu dibersihkan dari dosa perkataan buruknya. maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. Na‘udzubillahi min dzalika…! ْ َِٓ ْ َ‫ أ‬ٚ ْ َ‫ ا‬ٚ َ ٌ‫ا‬ ٌِّٓ‫َِٓ ا‬ ِّ ٌ‫َِٓ ا‬ َّ ٌٍََُّٙ‫َِٓ ا‬ ِ ‫ثََٕب‬ٍُُٛ‫ِّشْ ل‬َٙ‫ُ ط‬ ِ ‫ََُٕٕب‬١‫ع‬ ِ‫ى‬ ِ ‫غَٕزََٕب‬ ِ ٌْ َ‫ أ‬ٚ ِ ‫ّبٌََٕب‬ َ ‫زة‬ َ ‫َبء‬٠‫ش‬ َ ‫فَبق‬ َ‫ع‬ َ ْ ْ ُ ‫ِب ر‬ ْ ‫اٌخ‬ ْ ‫ُ خَ بئَِٕخَ اَل‬ ْ َ‫ه ر‬ ‫س‬ُٚ‫ف اٌصُّ ذ‬ َ َِّٔ‫َبَٔخ إ‬٠ْ ِ ‫خ‬ ُ ٍَ‫ع‬ َ ُٓ١‫ع‬ َ ٚ ِ Ya Allah. Al-Hafid Abud Bakar al-Bazar meriwayatkan dari Tsabit bin Anas. Semoga Allah bersihkan hati kita bersama dari penyakit kemunafikan. maka persaksikanlah dia dengan keimanan. serta tetap mendirikan shalat. sebagaimana Imam Ahmad meriwayatkan dari Abi Said Al-Khudri bahwa Rasulullah saw bersabda. Sebab kemunafikan akan menyebabkan cahaya seseorang tiba-tiba padam saat menyeberangi jembatan neraka sehingga ia menjadi tergelincir lalu jatuh ke dalam api neraka yang menyalanyala.‖ (HR. ―Sesungguhnya para pemakmur masjid itu hanyalah ahli Allah. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu khianat pandangan mata dan apa yang disembunyikan hati. Barangsiapa menuduh seorang Muslim dengan tujuan ingin mencemarkannya. dia berkata. Ibnu Marwadih.‖ (HR. dan al-Hakim di dalam Mustadraknya. Tirmidzi) Semua kata ‗Asa (Mudah-mudahan) di dalam Al Quran berarti wajib.―Barangsiapa melindungi seorang Mukmin dari kejahatan orang Munafik. ―Kata ‗Asa (mudah-mudahan) dari Allah berarti benar .‖ (HR Abu Dawud 4239) Saudaraku. Ahmad) Hadist senada diriwayatkan oleh Tirmidzi.dari neraka jahannam. ―Jika kamu melihat seseorang yang biasa ke masjid. menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. (QS. Semoga Allah masukkan kita bersama ke dalam golongan Mukmin sejati. Rasulullah saw bersabda. sungguh kita semua sangat membutuhkan cahaya yang mencukupi untuk menyeberangi jembatan neraka dengan selamat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful