P. 1
Peran keluarga

Peran keluarga

|Views: 47|Likes:
Published by anathasia_christine

More info:

Published by: anathasia_christine on Apr 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/10/2013

pdf

text

original

http://arsi13ners.blogspot.com/2008/08/peran-keluargadalam-penanganan-klien.

html Selasa, 05 Agustus 2008
Peran keluarga dalam penanganan klien gangguan jiwa
Latar belakang penelitian: Angka kekambuhan klien skizofrenia diperkirakan akan kambuh 50% pada tahun pertama, 70% pada tahun kedua dan 100% pada tahun kelima setelah pulang dari rumah sakit. Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa frekuensi kekambuhan klien skizofrenia meningkat sekitar 75% dan peran serta keluarga dalam merawat klien skizofrenia kurang. Tujuan penelitian: Mengetahui bagaimana hubungan antara peran serta keluarga dengan frekuensi kekambuhan klien skizofrenia. Metode penelitian: Desain penelitian non eksperimental bersifat deskriptif dengan pendekatan crossectional yang merupakan jenis penelitian kuantitatif. Sampel yang diambil adalah keluarga yang pernah melakukan kunjungan ke Puskesmas Kasihan I Bantul untuk memeriksakan anggota keluarganya yang menderita skizofrenia, cara pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling sebanyak 30 responden dan dengan cara mengunjungi rumah keluarga. Variabel dalam penelitian ini adalah peran serta keluarga sebagai variabel bebas dan frekuensi kekambuhan sebagai variabel terikat. Metode pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner mengenai peran serta keluarga dan frekuensi kekambuhan. Hasil disajikan dengan skoring untuk analisa data menggunakan uji korelasi. Hasil penelitian : Ada hubungan yang bermakna antara peran serta keluarga dengan frekuensi kekambuhan klien skizofrenia di wilayah kerja Puskesmas Kasihan I Bantul. Peran serta keluarga berdasarkan aspek melibatkan klien dalam kunjungan rutin ke Puskesmas sebanyak 50% (cukup), aspek keteraturan keluarga dalam mengontrol pengobatan sebanyak 50% (cukup), dan aspek memberikan dukungan mental-emosional sebanyak 70% (baik). Frekuensi kekambuhan klien skizofrenia sebanyak 73,3% jarang kambuh. Kesimpulan : Ada hubungan yang bermakna antara peran serta keluarga dengan frekuensi kekambuhan klien skizofrenia di wilayah kerja Puskesmas Kasihan I Bantul. Saran ditujukan untuk pihak Puskesmas Kasihan I Bantul agar memberikan asuhan keperawatan yang berfokus pada keluarga dan melalukan home visit atau kunjungan rumah sehingga dapat mengetahui keadaan sesungguhnya sehingga dapat dijadikan bahan evaluasi dalam perawatan selanjutnya secara optimal.

http://akperpku.ac.id/soslearning/index.php?do=/blog/237/pentingnya-peran-keluarga-danmasyarakat-pada-pasien-dengan-skizofrenia/

Pentingnya Peran Keluarga dan Masyarakat pada Pasien dengan Skizofrenia
by Ani Nurjanah Actions Pentingnya peran keluarga dan masyarakat pada pasien dengan skizofrenia Salah satu kendala dalam upaya penyembuhan penderita gangguan jiwa skizofrenia adalah adanya stigma dalam keluarga dan masyarakat . masih banyak keluarga dan masyarakat yang menganggap bahwa gangguan jiwa skizofrenia sebagai penyakit yang memalukan dan membawa aib bagi keluarga. Banyak di antara mereka yang masih berpendapat bahwa gangguan jiwa skizofrenia bukan merupakan penyakit yang mudah di sembuhkan secara medis . mereka berpendapat bahwa skizofrenia ini akibat dari di langgarnya larangan (tabu), guna-guna ,teluh, santet, kemasukan setan , kemasukan roh jahat (evil spirit ), kutukan (curse ) dan lain sejenisnya yang berlandasan keyakinan spiritual.sebagai konsekuensi kepercayaan tersebut banyak pasien dengan gangguan jiwa skizofrenia yang tidak di bawa berobat ke dokter jiwa/ psikiatri melainkan di sembunyikan, di isolasi, di kucilkan , bahkan ada yang di pasung. Untuk menghilangkan stigma pada keluarga dan masyarakat terhadap gangguan jiwa skizofrenia ini, maka berbagai upaya penyuluhan dan sosialisasi kesehatan jiwa di mana salah satu di antaranya adalah gangguan jiwa skizofrenia perlu di berikan oleh para dokter (psikiatri), psikolog, dan para ahli di bidang kesehatan jiwa masyarakat. Suatu program pendidikan kesehatan jiwa masyarakat perlu di susun dan di berikan kepada keluarga dan masyarakat . tujuan dari program pendidikan ini selain untuk menghilangkan stigma juga memberikan pengetahuan kepada keluarga dan masyarakat tentang hal ikhwal gangguan jiwa skizofrenia itu sendiri. Antara lain di harapkan pihak keluarga dapat berperan serta serta (social partipation and involvement ) dalam upaya pencegahan , terapi dan rehabilitasi, dapat menerima kembali mereka ke keluarga dan masyarakat, tidak merasa “phobia” dan tidak bertindak diskriptif. Sebagai bentuk kepedulian terhadap para penderita gangguan jiwa skizofrenia, peran serta keluarga dan masyarakat dapat di wujudkan dengan membentuk perkumpulan / perhimpunan kesehatan jiwa semacam organisasi lembaga swadaya masyarakat ( LSM )baik di tingkat local maupun nasional. LSM kesehatan jiwa ini selain menyantuni penderita dan keluarga juga memberikan pelayanan dalam bentuk penyuluhan , seminar, symposium dan sejenisnya. LSM kesehatan jiwa ini merupakan lembaga atau forum komunikasi, informasi dan edukasi (KIE), dan untuk maksud itu dapat menerbitkan bulletin secara berkala yang yang di tujukan tidak hanya pada keluarga penderita yang bersangkutan tetapi juga kepada masyarakat luas. Di tingkat internasional LSM kesehatan jiwa yang mengkhususkan diri pada gangguan jiwa skizofrenia salah satu diantaranya adalah world fellowship of schizophrenia and allied disorders (WFSAD) yang berkedudukan di Toronto, Canada. Sebagai kesimpulan dapat dikemukakan disini bahwa keberhasilan terapi obat psikofarmaka dan jenis

terapi lainnya, tetapi juga peran serta keluarga dan masyarakat turut menentukan. Secara umum, program komprehensif dari psikoedukasi adalah sebagai berikut: a.Komponen didaktik, berupa pendidikan kesehatan, yang menyediakan informasi tentang penyakit dan sistem kesehatan jiwa. b.Komponen ketrampilan, yang menyediakan pelatihan tentang komunikasi, penyelesaian konflik, pemecahan masalah, asertif, manajemen perilaku dan manajemen stress. c.Komponen emosional, memberi kesempatan ventilasi dan berbagi perasaan disertai dukungan emosional. Mobilisasi sumber daya yang dibutuhkan, khusus pada keadaan krisis. d.Komponen sosial, peningkatan penggunaan jejaring formal dan non formal. Peningkatan kontak dengan jejaring sumber daya dan sistem pendukung yang ada di masyarakat akan menguntungkan keluarga dan klien. Hal – hal yang dilakukan pada saat melakukan psikoedukasi keluarga antara lain : •Mengidentifikasi bagaimana reaksi anggota keluarga terhadap keadaan pasien yang menderita gangguan jiwa. •Mengidentifikasi faktor penyebab gangguan jiwa yang diderita oleh pasien •Mengidentifikasi tanda dan gejala prodormal gangguan jiwa yang terjadi pada pasien. •Mengajarkan kepada keluarga bagaimana strategi koping yang dapat diterapkan. •Menjelaskan kepada keluarga tentang psikobiologi penyakit jiwa, diagnosis dan pengobatannya, reaksi keluarga, trauma keluarga, pencegahan kambuh, guideline keluarga. •Melakukan pemecahan masalah secara terstruktur.

DAFTAR PUSTAKA 1. Hertz MI, Lamberti JS, Mintz J, Scott R, O’Dell SP, Mc Cartan L, et al. Program for Relapse Prevention in Schizophrenia. A Controlled Study. Arch Gen Psychiatry. 2000;57:277-283. 2. Geddes J. Prevention of Relapse in Schizophrenia. The New England Journal of Medicine. Volume 346:56-58. 3. Dixon LB, Lehman AF. Family Interventions for Schizophrenia. Schizophrenia Bulletin 1995, 21(4):631643.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->