Perubahan Iklim Global

Perubahan iklim global merupakan malapetaka yang akan datang! Kita telah mengetahui sebabnya - yaitu manusia yang terus menerus menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas bumi. Kita sudah mengetahui sebagian dari akibat pemanasan global ini - yaitu mencairnya tudung es di kutub, meningkatnya suhu lautan, kekeringan yang berkepanjangan, penyebaran wabah penyakit berbahaya, banjir besar-besaran, coral bleaching dan gelombang badai besar. Kita juga telah mengetahui siapa yang akan terkena dampak paling besar - Negara pesisir pantai, Negara kepulauan, dan daerah Negara yang kurang berkembang seperti Asia Tenggara. Pengertian perubahan iklim Yang dimaksud dengan perubahan iklim adalah perubahan variabel iklim, khususnya suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu yang panjang antara 50 sampai 100 tahun (inter centenial). Disamping itu harus dipahami bahwa perubahan tersebut disebabkan oleh kegiatan manusia (anthropogenic), khususnya yang berkaitan dengan pemakaian bahan bakar fosil dan alih-guna lahan. Jadi perubahan yang disebabkan oleh faktor-faktor alami, seperti tambahan aerosol dari letusan gunung berapi, tidak diperhitungkan dalam pengertian perubahan iklim. Dengan demikian fenomena alam yang menimbulkan kondisi iklim ekstrem seperti siklon yang dapat terjadi di dalam suatu tahun (inter annual) dan El-Nino serta La-Nina yang dapat terjadi di dalam sepuluh tahun (inter decadal) tidak dapat digolongkan ke dalam perubahan iklim global. Kegiatan manusia yang dimaksud adalah kegiatan yang telah menyebabkan peningkatan konsentrasi GRK di atmosfer, khususnya dalam bentuk karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrous oksida (N2O). Gas-gas inilah yang selanjutnya menentukan peningkatan suhu udara, karena sifatnya yang seperti kaca, yaitu dapat meneruskan radiasi gelombang-pendek yang tidak bersifat panas, tetapi menahan radiasi gelombang-panjang yang bersifat panas seperti terlihat pada Gambar 1. Akibatnya atmosfer bumi makin memanas dengan laju yang setara dengan laju perubahan konsentrasi GRK.

maka uap air bukanlah GRK yang efektif.7-4. CH4.286. Peningkatan suhu rata-rata bumi sebesar 0.9 menjadi 3.5 oC telah dicatat. dan 115 tahun. sedang pada tahun 1990 konsentrasinya telah meningkat menjadi 353 ppm. 15. 4. sementara pada dekade sebelumnya adalah sebesar 1400 juta ton/tahun. Namun demikian karena keberadaan (life time) H2O sangat singkat (2-3 hari). Sementara itu untuk CO2. Dalam kondisi demikian berbagai model sirkulasi global memperkirakan peningkatan suhu bumi antara 1. CH4. Uap air (H2O) pun sebenarnya merupakan GRK yang dapat dirasakan pengaruhnya ketika menjelang turun hujan. Udara terasa panas karena radiasi gelombang-panjang tertahan uap air atau mendung yang menggantung di atmosfer. Konsekuensi-nya adalah bahwa kelestarian . dan 61 Gg. Perubahan pola dan distribusi hujan Pola dan distribusi curah hujan terjadi dengan kecenderungan bahwa daerah kering akan menjadi makin kering dan daerah basah menjadi makin basah. maka diperkirakan pada tahun 2100 konsentrasi CO2 akan meningkat dua kali lipat dibanding zaman industri.199. distribusi hama dan penyakit tanaman dan manusia. yaitu sekitar 580 ppm. Dengan pola konsumsi energi dan pertumbuhan ekonomi seperti sekarang. Pada zaman praindustri (sebelum tahun 1850) konsentrasi CO2 masih sekitar 290 ppm. dan N2O keberadaannya di atmosfer berturut-turut adalah 100. dan N2O di Indonesia pada tahun 1994 berturut-turut adalah 952. Demikian pula halnya dengan N2O meskipun kecil juga mengalami penurunan dari 3. Sedang CH4 justru mengalami penurunan dari 37 juta ton/tahun pada dekade terdahulu menjadi 22 juta ton/tahun pada dekade terakhir.8 juta ton/tahun. Peningkatan suhu bumi Dalam 100 tahun terakhir suhu bumi terlihat mulai ditentukan oleh peningkatan CO2 di atmosfer. Sementara itu tingkat emisi CO2.5 oC (Gambar 2). produktivitas tanaman. distribusi vegetasi alami dan keanekaragaman hayati.Pertumbuhan emisi dan konsentrasi gas rumahkaca Menurut IPCC (2001) dalam dekade terakhir ini pertumbuhan CO2 adalah sebesar 2900 juta ton/tahun. Peningkatan yang besar terjadi pada daerah lintang tinggi. sehingga akan menimbulkan berbagai perubahan lingkungan global yang terkait dengan pencairan es di kutub.

Ciri dari pola ini adalah adanya musim hujan dan kemarau yang tajam dan masing-masing berlangsung selama kurang lebih 6 bulan. Kedua. tetapi juga periode daerah itu mengalami surplus atau defisit. Namun dengan adaptasi yang tingkatnya lanjut. daerah yang dekat dengan ekuator dipengaruhi oleh sistem ekuator dengan pola hujan yang memiliki dua puncak (bimodal).Maret sebagai musim hujan dan April – September sebagai musim kemarau. ekuatorial dan lokal. surplus air hanya sekitar 30% dengan periode defisit yang lebih pendek dibanding jika iklim tidak berubah (Murdiyarso. pupuk. 1994). peningkatan asimilasi tersebut tidak signifikan dibanding respirasi yang juga meningkat. Dengan kata lain stabilisasi produksi pangan pada iklim yang berubah akan memakan biaya yang sangat tinggi.3 persen jika . perubahan iklim (dengan konsentrasi CO2 atmosfer 2 kali lipat dibanding konsentrasi pada zaman pra-industri yang hanya 280 ppm) akan menyebabkan DAS tersebut tidak mengalami defisit sementara surplusnya meningkat dua kali lipat. daerah yang sangat dipengaruhi oleh monsun memiliki pola hujan dengan satu pucak (unimodal). Perubahan iklim (khususnya suhu dan curah hujan) tidak hanya menyebabkan perubahan volume defisit atau surplus air. insektisida/pestisida) tambahan. yaitu pada bulan Maret dan Oktober saat matahari berada di dekat ekuator. Di beberapa tempat di negara maju (lintang tinggi) peningkatan konsentrasi CO2 akan meningkatkan produktivitas karena asimilasi meningkat. Dalam suatu studi hidrologi daerah aliran sungai (DAS) di daerah ekuatorial seperti Sulawesi. dunia akan mengalami penurunan produksi pangan hingga 7 persen. yaitu Oktober . Di Indonesia dengan skenario konsentrasi CO2 dua kali lipat dari saat ini produksi padi akan meningkat hingga 2. artinya biayanya tinggi. Dampak perubahan iklim Sektor pertanian akan terpengaruh melalui penurunan produktivitas pangan yang disebabkan oleh peningkatan sterilitas serealia. tetapi di daerah tropis yang sebagian besar negara berkembang. yaitu pola monsun (monsoonal).sumberdaya air juga akan terganggu. Ketiga. produksi pangan dapat distabilkan. Sedang DAS di daerah monsun seperti Jawa. dicirikan oleh bentuk pola hujan unimodal dengan puncak yang terbalik dibandingkan dengan pola hujan monsun yang disebutkan di atas. penurunan areal yang dapat diirigasi dan penurunan efektivitas penyerapan hara serta penyebaran hama dan penyakit. Di Indonesia dikenal 3 macam pola distribusi hujan. Secara keseluruhan jika adaptasi tidak dilakukan. pemberian input (bibit. daerah dengan pola hujan lokal. Pertama. misalnya dengan meningkatkan sarana irigasi.

air tanah dan bentuk reservoir lainnya. Daerah pegunungan akan kehilangan banyak spesies vegetasi aslinya dan digantikan oleh spesies vegetasi dataran rendah.. Jika kebakaran hutan makin sering dijumpai di Indonesia. Sebagai konsekuensinya kejadian banjir akan meningkat karena menurunnya daya tampung sungai akibat peningkatan limpasan permukaan dan menurunnya daya tampung sungai dan waduk akibat peningkatan erosi dan sedimentasi. sebab sebagian besar (kalau tidak seluruhnya) kejadian kebakaran hutan disebabkan oleh aktivitas manusia yang berkaitan dengan pembukaan lahan. Pada beberapa daerah aliran sungai (DAS) penting di Indonesia ketersediaan air permukaan diperkirakan akan meningkat karena meningkatnya suplus dan menurunnya defisit. terutama pada daerah perkotaan. Tetapi jika sistem irigasi tidak mengalami perbaikan produksi padi akan mengalami penurunan hingga 4. terutama mereka yang berpendapatan dan berpendidikan atau berketerampilan rendah. agak sulit menghubungkan antara kejadian tersebut dengan perubahan iklim. .4 persen (Matthews et al. Meningkatnya jumlah penduduk memberikan tekanan pada penyediaan air. Di DAS Citarum. bukan perubahan iklim dalam arti seperti yang diuraikan di atas. 1995). Dampak perubahan iklim yang menyebabkan perubahan suhu dan curah hujan akan memberikan pengaruh terhadap ketersediaan air dari limpasan permukaan. Selanjutnya stabilitas tanah di daerah pegunungan juga terganggu dan sulit mempertahankan keberadaan vegetasi aslinya. dan di DAS Saadang. Sulawesi Selatan 132% (Murdiyarso.irigasi dapat dipertahankan. Dampak ini tidak begitu nyata di daerah lintang rendah atau daerah berelevasi rendah. Pada tahun 2080 akan terdapat 2 hingga 3. Bahwa kejadiannya bersamaan dengan kejadian El-Nino karena fenomena ini memberikan kondisi cuaca yang kering yang mempermudah terjadinya kebakaran. Bersamaan dengan itu kondisi sumberdaya air yang berasal dari pegunungan juga akan mengalami gangguan. Suhu yang lebih hangat akan menyebabkan pergeseran spesies vegetasi dan ekosistem. Namun seperti diuraikan di atas El-Nino adalah fenomena alam yang terkait dengan peristiwa iklim ekstrem dalam variabilitas iklim.5 milyar orang akan mengalami kekurangan air. di DAS Brantas Jawa Timur 34%. Saat ini sudah banyak penduduk perkotaan yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. 1994). Jawa Barat peningkatan tersebut mencapai 32%.

Kenaikan muka laut hingga 1. di mana lebih dari 50 persen diantaranya merupakan pantai landai.Transmisi beberapa penyakit menular sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim. peningkatan tersebut berkisar antara 13 hingga 94 cm dalam 100 tahun mendatang. Indonesia cukup rentan terhadap kenaikan muka-laut seperti negara-negara yang berpantai landai seperti Bangladesh. . Dalam 100 tahun terakhir. IPCC (1998) memperkirakan bahwa dengan makin lebarnya selang suhu di mana vektor dan parasit penyakit dapat hidup telah menyebabkan peningkatan jumlah kasus malaria di Asia hingga 27 persen. Penjangkitan VBD bahkan terjadi lagi di daerah-daerah lama yang selama ini sudah dinyatakan bebas. Parasit dan vektor penyakit sangat peka terhadap faktor-faktor iklim. khususnya suhu dan kelembaban.Secara global catatan bencana banjir menunjukkan peningkatan yang signifikan selama 40 tahun terakhir dengan kerugian ekonomis ditaksir sekitar US$ 300 milyar pada dekade terakhir dibanding hanya US$ 50 milyar pada dekade tahun 1960-an. Demikian juga penambahan volume air laut juga terjadi akibat melelehnya gletser dan es di kedua kutub bumi. Hal ini disebabkan karena penggunaan bahan kimia dalam jangka panjang telah menimbulkan daya tahan vektor. Tetapi hanya dengan kenaikan 1 m dampak sosial-ekonomi terhadap pertanian pantai di beberapa kabupaten di Jawa Barat bagian utara sudah sangat besar (Parry et al. Dengan panjang pantainya yang lebih dari 80. Dari berbagai skenario.5 m dapat berpengaruh terhadap 17 juta penduduk Bangladesh. demam berdarah hingga 47 persen dan kaki gajah hingga 17 persen. 1992). demam berdarah (dengeue) dan kaki gajah (schistosomiosis) perlu diwaspadai karena transmisi penyakit seperti ini akan makin meningkat dengan perubahan iklim. tetapi perubahan tersebut dapat dihubungkan dengan peningkatan suhu yang selama ini terjadi.VBDs) seperti malaria. Di Indonesia daerah-daerah baru yang menjadi semakin hangat juga memberi kesempatan penyebaran vektor dan parasitnya. Dalam 100 tahun perubahan suhu telah meningkatkan pemuaian volume air laut dan meningkatkan ketinggiannya. Disamping itu predator bagi vektor tersebut juga ikut terbasmi. Kawasan pesisir merupakan daerah yang paling rentan dari akibat kenaikan muka-laut. Di banyak negara tropis penyakit ini merupakanpenyebab kematian utama. mukalaut telah naik antara 10-25 cm.000 km. Penyakit yang tersebar melalui vektor (vector-borne diseases.. Meskipun kenyataannya sangat sulit mengukur perubahan muka-laut.

Hal ini dapat mencegah perubahan iklim yang dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih parah kepada ekosistem dunia dan penduduk yang tinggal didalamnya. minyak bumi dan gas bumi selain itu juga ada sebab lainnya yaitu : atmosfer bumi dipenuhi oleh gas rumah kaca (GRK). seperti karbon dioksida dan metana. dan menggunakan angkutan umum jika jarak nya jauh. yang menuju kearah meningkatnya suhu iklim dunia. Akibat dari pemanasan global yaitu: mencairnya tudung es di kutub. Sementara gas metana terjadi akibat aktivitas pembuangan sampah. Menggunakan kipas angin atau ventilasi daripada AC dapat mencegah pemanasan global karena lebih menghemat energi. yang dihasilkan oleh manusia.. Gas karbondioksida terjadi akibat proses pembakaran bahan bakar fosil dengan tujuan untuk menghasilkan energi dan juga akibat kebakaran hutan. Negara kepulauan. 3. Proses perubahan iklim : Selama bertahun-tahun kita telah terus menerus melepaskan karbondioksida ke atmosfir dengan menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batubara.untuk mengurangi emisi dari kendaraan. Memanfaatkan lahan kosong untuk menanam pohon adalah langkah efektif untuk mencegah pemanasan global. Mematikan listrik jika tidak digunakan dan menggunakan lampu TL/Neon daripada lampu pijar dapat mengurangi emisi gas karbon yang dihasilkan. Nah untuk lebih jelasnya lagi anda bisa melihat gambar dibawah ini : Cara menanggulangi perubahan iklim : Mengurangan emisi gas rumah kaca yang sistematis dan radikal . 4.PERUBAHAN IKLIM Perubahan iklim global merupakan malapetaka yang akan datang! Sebab-sebab perubahan iklim : manusia yang terus menerus menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batu bara. gas bumi dan minyak bumi. 2.Musim kering akan semakin kering dan musim penghujan akan lebih basah Yang terkena dampak paling besar : Negara pesisir pantai. coral bleaching dan gelombang badai besar. meningkatnya suhu lautan. kekeringan yang berkepanjangan. Berjalan kaki atau bersepeda pancal jika bepergian jarak dekat. dan daerah Negara yang kurang berkembang seperti Asia Tenggara. dan perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi juga mematikan. 1. . penyebaran wabah penyakit berbahaya. Hal ini telah menyebabkan meningkatnya selimut alami dunia. banjir besar-besaran.

dapat mencegah pemanasan global karena mengurangi emisi industri.Menggunakan kedua sisi kertas dapat mencegah pemanasan global karena mengurangi penebangan pohon di hutan. 7.botol minuman sendiri dll. 8.5. Menggunakan sapu tangan dari pada tisu dapat mencegah pemanasan global karena mengurangi penebangan pohon. . Membawa tas belanja sendiri dari rumah. 6.Mendaur ular sampah organik menjadi kompos dapat mencegah pemanasan global karena berkurangnya pembentukan gas metana.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful