P. 1
otda-pelayanan-publik

otda-pelayanan-publik

|Views: 36|Likes:
Published by kodiakexo

More info:

Published by: kodiakexo on Apr 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/29/2013

pdf

text

original

PERANAN DAN TUGAS UTAMA PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PELAYANAN PUBLIK (Suatu Analisis Akademik dan Empirik Mengenai

Implementasi Kebijakan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Menurut Versi UU No. 32 Tahun 2004 dalam Mendukung Hubungan antar Pemerintahan dan Mendorong Kerjasama antar Daerah dalam upaya mewujudkan pelayanan public yang baik)1 Oleh: Prof.Dr. H. Zaidan Nawawi2 1. Latar Belakang Pilosofis.
Pembahasan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah dilandasi asumsi bahwa hubungan antara orang yang memerintah dan orang yang diperintah, sama halnya dengan hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah merupakan masalah klasik dalam ilmu politik. Paradigma lama yang memandang masih kuatnya hubungan sub-ordinasi antara pemerintah dan rakyat, nampaknya sudah mulai luntur yang dalam paradigma baru cendurung menghendaki hubungan yang setara antara pemerintah dan rakyat. Peranan pemerintah tidak lagi membawahi dan memerintah, melainkan lebih mengarahkan dan memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan rakyat. Persoalan utamanya bersumber pada seberapa bebas masyarakat (baca: pemerintah daerah) bergerak atau berinitiatif dalam lingkungan kekuasaan negara, dan seberapa besar pula masyarakat daerah dapat mempengaruhi kebijakan negara dan atau pemerintahan daerah yang pada giliranya kebijakan itu akan berujung kepada pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Atas dasar inilah konsep desentralisasi dan otonomi dapat dipandang, baik sebagai fenomena politik maupun administrasi negara. Walaupun Pemerintahan Negara Republik Indonesia tidak menganut “faham negara integralistik”3, namun penyelenggaraan Pemerintahan negara di bawah regime demokrasi terpimpin dan regime orde baru pada masa yang lalu, demikian pula pada masa-masa pemerintahan selanjutnya, menunjukkan betapa kuatnya “faham negara integralistik” yang mempengaruhi penyelenggaraan sistem pemerintahan negara, dimana negara memiliki kemauan dan kepentingan yang
1 2

“Faham Negara Integralistik” adalah suatu faham yang memandang kepentingan individu dan kepentingan masyarakat harus dilihat secara keseluruhan (integral), tidak terpisah sendirisendiri, dengan kata lain setiap kepentingan apapaun selalu harus dikaitkan dengan kepentingan Negara secara keseluruhan.
3

1

sering berbeda dengan kepentingan warganya, yang dapat melakukan intervensi kedalam kehidupan masyarakat, sekalipun hal itu didedikasikan untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat itu sendiri4. Kondisi seperti ini dimungkinkan terjadi, karena setiap kebijakan yang ditetapkan sebagai kebijakan publik, sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh sikap, perilaku, dan value judgement dari para penyelenggara negara (human behaviour and value judgement), yang pada gilirannya dipandang sebagai “pembenaran hukum” dan sebagai alat pemaksa yang harus ditaati oleh rakyat. Dalam “faham negara integralistik”, negara mempunyai kekuasaan mutlak, dimana kedaulatan negara mengatasi kedaulatan rakyat. Semua bagian - bagian dalam keseluruhan diarahkan kepada persatuan dan kesatuan, bagi negara yang terpenting adalah keseluruhan bukan bagian - bagian. Itulah faham negara integralistik yang sering dipraktekkan oleh para penyelenggara kekuasaan pemerintahan negara. Ide faham “Negara integralistik” ini semula diekspose dan direkomendasikan oleh Prof. Dr. Supomo pada sidang BUPKI tanggal 15 Mei 1945 dengan mengemukakan 3 (tiga) pilihan yang diusulkan untuk dijadikan dasar Negara, apabila Indonesia telah merdeka, yaitu faham: (1) Individualisme; (2) Kolektivisme; dan (3) Integralistik Para Pendiri Negara (The Founding Fathers) kurang sefaham dengan ide negara integralistik ini yang akan dijadikan konsep dasar negara, karena faham ini menonjolkan sifat totalitarian dari negara yang tidak selaras dengan ide kekeluargaan yang bersifat egalitarian. Ide kekeluargaan menghendaki posisi sejajar antara fihak fihak yang berinteraksi, termasuk antara negara dan masyarakatnya. 5 Hal ini dapat terlihat dari pasal - pasal dalam UUD 1945 yang secara ideatif bertolak belakang dengan gagasan faham negara integralistik tersebut, misalnya pasal 28 yang menjamin hak - hak azasi manusia 6, dan pasal 18 yang menghormati dan menghargai sifat - sifat khusus dari daerah - daerah yang ada di Indonesia. 7 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa UUD 1945 sebenarnya berusaha mengatur keseimbangan antara individualisme dan kolektivisme, UUD 1945 menganut kedaulatan rakyat, dan bukan kedaulatan negara.
Alfred Stepan, The State and Society, Peru in comparative perspective, Princeton, NJ: Princeton UP, 1978, hlm. 26-27 5 Ide tentang negara integralistik ini dipaparkan oleh Soepomo dalam sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, ketika membahas dasar negara apabila kelak Indonesia merdeka. Pembahasan yang sangat tajam mengenai penyimpangan gagasan Soepomo ini, dapat dilihat dalam karya Marsilam Simanjuntak, Pandangan Negara Integralistik, Jakarta: Grafiti, 1994. 6 Pasal 28 UUD 1945 yang tadinya hanya 1 pasal, setelah amandemen kedua berubah menjadi 10 Pasal, yaitu 28A, 28B, 28C, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I, dan 28J 7 Pasal 18 UUD 1945 yang tadinya hanya satu pasal berubah menjadi 3 (tiga) pasal, yaitu pasal 18, 18A, 18B setelah terjadi amandemen kedua.
4

2

Dari kenyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan faham negara integralistik sering lebih banyak bersifat politis daripada hukum tata negara. 8 Namun, apabila dikaitkan dengan konteks desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, maka fenomena ini sebenarnya sudah terjadi sejak awal penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Situasi inilah yang sedikit - banyak mempengaruhi penyelenggaraan otonomi daerah di Indonesia, baik sebagai suatu fenomena politik maupun fenomena administrasi yang seharusnya ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat. Salah satu argumentasi dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah mendekatkan pemerintah dalam bentuk Pemerintah Daerah kepada masyarakat, agar pemerintah daerah memahami keinginan, aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian tingkat kesejahteraan masyarakat akan sangat tergantung kepada tingkat ”pelayanan publik” yang disediakan oleh pemerintah daerah. Paradigma ”otonomi daerah” menurut semangat UU No. 32 Tahun 2004 adalah ”otonomi masyarakat”, dalam arti Pemerintah Daerah sebagai perwujudan dari ”otonomi masyarakat” dituntut untuk lebih mampu mensejahterakan masyarakat melalui pelayanan publik dibanding dengan pemerintah pusat yang jaraknya lebih jauh kepada masyarakat. Motivasi yang mendorong tumbangnya rejim orde baru oleh gerakan reformasi dengan dipelopori oleh para mahasiswa pada pertengahan tahun 1998 adalah karena melihat fenomena penyelenggaraan pemerintahan negara berorientasi kepada format politik totalitarian, sehingga tidak mencerminkan dan menjamin terwujudnya keadilan, demokrasi dan kesejahteraan bagi rakyat banyak. Salah satu kebijakan politik yang menjadi sumber kelemahan dan mendorong terjadinya krisis multidimensi yang mengancam keutuhan negara bangsa adalah diterapkannya sistem pemerintahan negara yang terlalu sentralistik dengan mengabaikan prinsip - prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, baik langsung maupun melalui kontrol perwakilan rakyat, serta pemerataan dan keadilan, yang pada gilirannya kebhinekaan dalam segala bidang kehidupan yang menjadi sumber potensi dan keanekaragaman daerah, terabaikan pula. Kebijakan politik tersebut, tidak hanya berdampak terbelenggunya aspirasi, oto-aktivitas dan kreativitas masyarakat setempat, melainkan juga mematikan sumber potensi dan sumber daya di daerah, terutama sumberdaya manusianya, yang pada gilirannya pula pelayanan publik dalam upaya mensejahterakan masyarakat tidak terselenggara dengan optimal.
8

Marsilam Simanjuntak, op.cit., hlm. 247.

3

2. Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan. Prinsip penyelenggaraan pemerintahan, bisa dilihat dari dua aspek, yaitu: Pertama, prinsip penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan atau dianut oleh suatu negara bangsa (Nation State) sebagai satu kebijakan, seperti sentralisasi, desentralisasi, dekonsentrasi, devolusi, parlementair, presidensiil dlsb. Tergantung dari sistem mana yang dianut oleh suatu Negara Bangsa (Nation State) tersebut. Sistem ini berkaitan dengan kebijakan pembagian kekuasaan (Division of Power) di dalam lingkungan kekuasaan pemerintahan negara, baik secara horisontal (Capital Division of Power) antara lembaga-lembaga negara yang ada, maupun secara vertikal antara Pusat dan Daerah (Areal Division of Power). Di dalan Negara Kesatuan (Unitary State), secara vertikal terdapat ”Satuan Pemerintahan Nasional” (Pemerintah Pusat) dan ”Satuan Pemerintahan SubNational” (Pemerintahan Daerah), sedangkan secara horisontal terdapat Badanbadan/Lembaga Legislatif, Eksekutif, dan Judicatif. Kekuasaan atau kewenangan dibagi (”diberikan; toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada satuan pemerintahan daerah yang dibentuk dengan Undang-undang, namun kedaulatan (souvereignty) yang melekat kepada Negara dan Bangsa tidak dibagi kepada pemerintah daerah. Satuan Pemerintahan Sub Nasional merupakan hasil pembentukan dan pengembangan pemerintahan. Karenanya, kewenangan pemerintahan sub nasional dapat ditambah, dikurangi atau bahkan dapat dihapuskan melalui proses hukum dan per-undang-undangan. Kedudukan satuan pemerintahan sub nasional, karenanya pula adalah ”tergantung” (dependent) kepada pemerintah nasional. Karena itu pula ia berada di bawah (sub ordinated) pemerintah nasional. Sistem pemerintahan NKRI tidak menganut paham ”sentralisme” dalam kekuasaan, melainkan mengakui dan menganut prinsip ”desentralisasi” dalam pemerintahan. Sesuai dengan amanat UUD, dalam rangka menjalankan prinsip desentralisasi di wilayah NKRI dibentuk daerah-daerah Provinsi, dan di wilayah provinsi dibentuk daerah-daerah kabupaten/kota sebagai daerah otonom. Secara juridis, politis dan administratif, daerah otonom mempunyai kewenangan ”otonomi daerah” yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada masyarakat setempat dalam wilayah tertentu sesuai dengan aspirasi dan otoaktivitas masyarakat sendiri untuk menentukan nasibnya sendiri, yang dijalankan oleh pemerintahan daerah yang mempunyai kewenangan dan berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri . Dengan kata lain ”daerah otonom” mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan perundang-undangan. Dalam menjalankan penyelenggaraan pemerintahan, tidak sepenuhnya dilaksanakan secara ”desentralistik”, tetapi ada beberapa bagian yang tetap

4

dilaksanakan secara ”sentral”, karena pertimbangan pencapaian tujuan (doelmatig), dayaguna dan hasilguna, serta karena sifat dan coraknya yang tidak bisa lain harus diselenggarakan secara sentral. Pertimbangannya didasarkan kepada kriteria eksternalitas, akuntabilitas, efisiensi dan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan, seperti dianut di dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai pengganti UU No. 22 Tahun 1999. Kedua, dalam koridor Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 yang sering terabaikan dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam kaitannya dengan pelayanan publik adalah prinsip penyelenggaraan pemerintahan dari aspek ”kepatutan pemerintahanan” (”Behoorlijk Bestuur”), karena aspek ini seringkali dipengaruhi oleh ”perilaku” (behaviour) dan value judgement dari para penyelenggara negara. Prinsipprinsip tersebut seperti, antara lain: Vrijbestuur; Nach Freies Ermessen, Preventieve Rechtszorg; Omnipresence dan Van zelf principles, serta prinsip-prinsip umum penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik, sering terabaikan. Walaupun UU No. 32 Tahun 2004 mencantumkan asas-asas kepatutan dengan merujuk kepada UU No. 28 Tahun 1999,9 tetapi tidak secara imperatif mengkaitkannya dengan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem. Bahkan suatu kekeliruan yang cukup mendasar dalam UU No. 32 Tahun 2004 tersebut yang membedakan antara asas penyelenggaraan sistem pemerintahan di pusat dengan asas penyelenggaraan sistem pemerintahan pada pemerintahan daerah, yang menekankan bahwa dalam menyelenggarakan pemerintahan, pemerintah menggunakan asas-asas desentralisasi, tugas pembantuan, dan dekonsentrasi, sesuai dengan peraturan perundang-undangan,10 sedangkan penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintahan daerah menggunakan asas ”otonomi dan tugas pembantuan”11 sebagai asas penyelenggaraan pemerintahan di daerah, padahal ”otonomi dan tugas pembantuan” merupakan hak dan wewenang (bukan asas) yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat yang merupakan manifestasi atau perwujudan dianutnya asas desentralisasi dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Oleh karena itu, betapapun baiknya sistem penyelenggaraan pemerintahan yang dianut oleh suatu negara bangsa, kalau tidak dibarengi dengan penegakkan ”asas-asas kepatutan pemerintahan” yang dilakukan oleh para penyelenggara negara, maka kepentingan masyarakat dalam bentuk pelayanan publik untuk mensejahterakan masyarakat, tetap akan sulit untuk dapat diwujudkan. Dalam kedudukannya sebagai Daerah Otonom, dan dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah, dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat, ditegaskan dalam UU No. 32 Tahun 2004, bahwa Daerah berkewajiban untuk:12
Lihat Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004 Lihat Pasal 20 ayat (2) UU No. 32 Tahun 2004. 11 Ayat (3) Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004. 12 Lihat Pasal 22 UU No.32 Tahun 2004.
9 10

5

dalam menerapkan asas ”Omnipresence dan Van zelf principles” yang pada dasarnya memandang bahwa pemerintahan itu berada di mana-mana. d. Preventieve Rechtszorg adalah suatu prinsip dalam pemerintahan yang menyatakan bahwa peranan dan tugas utama pemerintahan adalah menjaga agar supaya anggota masyarakat mentaati tertib hukum dan mencegah (to prevent) agar supaya masyarakat tidak melanggar aturan-aturan hukum yang berlaku. Dengan demikian. kewenangan yang diberikan kepada masyarakat dalam bentuk otonomi 6 . menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. Jadi. m. g. k. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. melindungi masyarakat. b. Salah satu argumen dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah bahwa perangkat pemerintahan daerah dengan kewenangan-kewenangan otonominya harus mampu menyediakan pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. menjaga persatuan. l. sekalipun tidak secara terus menerus diawasi oleh pemerintah. namun ketika rakyat memerlukan pertolongan atau bantuan. f. maka dengan sendirinya (van zelf) merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk membantunya. sehingga disini terjadi ”kewajiban yang berimbang” antara pemerintah dan masyarakat.a. n. contohnya: penggusuran kios-kios PKL di jalan-jalan trotoir. sehingga pada intinya prinsip ini mewajibkan kepada masyarakat untuk tetap mentaati peraturan perundang-undangan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah. kewajiban lain yang diatur dalam perundang-undangan Misalnya. Essensi Pelayanan Publik. e. kesatuan dan kerukunan nasional. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. dlsb. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. mewujudkan keadilan dan pemerataan. h. intinya adalah ”tidak patut” (onbehoorlijk) apabila para aktor penyelenggara negara membiarkan anggota masyarakat untuk melanggar hukum kemudian ditindak (represif). Prinsip ini berkaitan dengan prinsip Omnipresence dan Van Zelf principles. i. c. melestarikan lingkungan hidup. melestarikan nilai sosial budaya. dan o. mengembangkan sistem jaminan sosial. mengembangkan kehidupan demokrasi. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. tidak terikat kepada ruang dan waktu. mengelola administrasi kependudukan. 3. j.

Misalnya. tapi relatif kecil sekali dibandingkan kebutuhan-kebutuhan yang merupakan ”corecompetence” di perkotaan. haruslah mampu memanifestasikan ”pelayanan publik” yang berkorelasi atau yang ”relevant” dengan kebutuhan masyarakat. sehingga benar-benar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat? Untuk itulah rakyat membayar pajak dan mempercayakan penggunaan pajak tersebut kepada wakil-wakil rakyat yang dipilih melalui mekanisme Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah. ”Derasnya arus urbanisasi ke Jakarta seiring dengan kembalinya arus mudik Lebaran. Jakarta 2005. hlm. seperti pengaturan untuk KPT. sekolah.Kelompok dari Goods adalah barang-barang atau fasilitas publik yang dihasilkan Pedmda seperti pasar. Apabila dikaitkan dengan posisi Pemerintah Daerah sebagai lembaga yang memperoleh ”legitimasi” dari rakyat untuk menyelenggarakan ”good and regulations” tersebut. dalam penyelenggaraan otonomi daerah menurut semangat UU No. Depdagri. rumah sakit dsb. Sedangkan dalam kelompok Regulations yang dihasilkan umumnya yang bersifat ’Regulatory” atau Pengaturan. merupakan bentuk kegagalan konsistensi Indonesia sebagai negara agraris. perindustrian atau peternakan. Dari dasar pemikiran ini lahir konsep yang sangat dikenal sebagai ”No Tax Without Representation” 14 Dalam pada itu. Walaupun urusan-urusan tersebut ada di perkotaan. Akte Kelahiran. IMB. jembatan. pertanian. Izin usaha . 13 ”Pada dasarnya output Pemda adalah untuk menghasilkan ”good and regulations” untuk kepentingan publik. Grand design implementasi otonomi daerah dalam koridor UU nomor 32 tahun 2004.50 14 Ibid. pertanyaanya adalah: ” Sejauh mana Pemerintah Daerah mampu mempertanggungjawabkan kuantitas dan kualitas output yang dihasilkannya. adalah tidak logis atau tidak riil-rasional. KK. ditekankan kepada kegiatan urusanurusan yang berkaitan dengan urusan kehutanan. dengan perkataan lain seberapapun luasnya otonomi daerah yang diberikan. kalau Pemerintahan Daerah yang murni perkotaan.daerah itu adalah suatu ”alat” (means) untuk mencapai ”tujuan” (end) dalam wujud pelayanan publik guna mensejahterakan masyarakat. hlm. pertambangan. dan bagimana dampaknya yang ditimbulkan oleh pelayanan publik tersebut. Oleh karena itu argumen pertama untuk menentukan pelayanan publik yang diperlukan oleh masyarakat adalah Pemerintah Daerah perlu mengidentifikasi apa-apa saja input (masukan) sesuai kebutuhan masyarakat untuk diolah menjadi output (produk) yang perlu dihasilkan oleh Pemerintah Daerah sehingga menjadi outcome yang dapat memenuhi pelayanan publik yang disediakan oleh Pemerintah Daerah. 32 Tahun 2004 yang menganut prinsip ”otonomi nyata dan bertanggungjawab” mengisyaratkan bahwa Pemerintahan Daerah dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat. jalan. 50 13 7 . dlsb. bagaimanapun juga harus dikaitkan dengan ”kebutuhan riil masyarakat di daerah”. pengaturan tata tertib dan ketentraman.

setidaknya ada dua pendekatan yang bisa dipakai dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu. Sedangkan. b. Dari pemanfaatan lahan akan terlihat sektor mana yang dikembangkan di daerah yang bersangkutan. Dengan demikian. industri. baik oleh penentu kebijakan di daerah maupun di pusat. akan terlihat sektor mana yang paling menyerap tenaga kerja penduduk daerah ybs. di sisi lain berbagai persoalan di pedesaan seperti minimnya infrastruktur dan kesulitan lahan terus terjadi. peternakan.Salah satu akan persoalan yang mendasari adalah sempitnya akses petani kecil dan buruh tani terhadap tanah serta infrastruktur pertanian” 15 Kondisi ini semakin parah karena kebijakan pembangunan yang menitik beratkan kepada ”pertumbuhan” (growth) masih tetap menenmpatkan kota-kota besar seperti Jakarta sebagai pusat pertumbuhan. Pemanfaatan lahan. kekeringan menyebabkan banyak lahan terlantar. terutama dalam mencari akar permasalahannya. buat apa kebijakan desentralisasi dengan memberikan otonomi yang luas dan bertanggung jawab kepada Daerah kalau bukan untuk mensejahterakan rakyat di pedesaan? Pertanyaan inilah yang harus terjawab. Untuk menentukan core-competence suatu daerah. Dari data statistik mata pencaharian penduduk. 8 . seperti : pelayanan kesehatan. sbb: Pertama. jalan. transportasi perkotaan. hlm 3. Komposisi penduduk menurut mata pencahariannya.3. Kedua. sehingga tidak mengherankan jika warga desa terus mengalir ke kota untuk mencari nasib. 29 Oktober 2006. relokasi pedagang kaki lima. Beberapa warga desa yang ikut bersama pemudik balik ke Jakarta mengaku.16 Kalau begitu. Penentuan core-competence ini didasarkan kepada perhitungan terhadap apa yang menjadi unggulan suatu daerah yang pengembangannya akan berdampak sangat besar terhadap pembangunan sosial ekonomi daerah ybs. bisa diukur dari 3 indikator sbb: a. pendidikan. Pemerintah Daerah sudah seharusnya memberikan perhatian untuk pengembangan sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja penduduk terbanyak. pariwisata dlsb. Ibid. fasilitas untuk pejalan kaki (trotoir). dan listrik di pedesaan menyebabkan parahnya kehidupan ekonomi di pedesaan. misalnya core-competence di bidang pertanian. tiadanya jaringan irigasi. karena kondisi lahan di desa mereka sangat memprihatinkan. pendekatan atas dasar sektor unggulan (”core-competence”) daerah. hlm. lingkungan air minum. “Kegagalan Negara Agraris”. 15 16 Dipetik dari harian Kompas. fasilitas pencegah dan pemadam kebakaran. bahwa mengadu nasib ke Jakarta. yaitu kebutuhan daerah untuk melakukan kewenangan yang berdasarkan pertimbangan urusan-urusan ”unggulan” yang akan dilakukan daerah tersebut untuk memajukan daerahnya masing-masing. pendekatan isi otonomi yang berorientasi kepada penyediaan pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan pokok (Basic needs) masyarakat. resetlement daerah2 kumuh dlsb.

dengan mengacu kepada pendekatan core-competence. atau dilakukan kemitraan antara Pem. dan juga urusan yang berkaitan dengan pengembangan corecompetence daerah ybs. karena 17 18 Ibid. 32 Tahun 2004 ditegaskan bahwa urusan itu adalah urusan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. namun Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota sebaiknya pro-aktif mengambil initiatif dan oto-aktivitas dalam menentukan option tersebut. atau diserahkan sepenuhnya kepada swasta (private). sesuai dengan kondisi. 18 Walaupun pelaksanaan ketentuan tersebut dijanjikan dalam UU 32/2004 akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. terutama yang menyangkut dengan pelayanan publik.c. apakah suatu urusan tersebut akan sepenuhnya dilakukan oleh Pemerintahan Daerah sendiri public). 9 . hlm 52 Lihat Pasal 14 ayat (2) UU No. sektor-sektor mana yang menjadi andalan daerah yang bersangkutan untuk dikembangkan. 32 Tahun 2004 beserta penjelasannya.. maka isi otonomi daerah dari satu daerah akan berbeda dengan daerah lainnya. Pertimbangan dari ketiga faktor tersebut akan memberikan gambaran kepada Pemerintah Daerah.. maka Pemerintahan Daerah haruslah berhati-hati dalam menentukan urusan-urusan mana saja yang akan dijadikan ruang lingkup otonominya.Daerah dengan Swasta (public private partnership) . Akan tetapi. kesehatan. fasilitas umum dlsb. dilihat sektor mana yang mempunyai ”forward linkage” dan ”backward linkage” terbesar. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. perlu menjadi perfhatian bahwa urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan (option) dalam UU No. Disamping itu. terutama dampaknya terhadap kegiatan penduduk. dalam bentuk infrastruktur. Dari kondisi tersebut. Keleluasaan (diskresi) yang cukup luas yang diberikan kepada Daerah oleh UU No. transportasi dlsb. lingkungan.17 Dalam pada itu. Dari setiap sektor yang ada dalam komposisi PDRB. sehingga pemahaman sektor unggulan tsb akan menjadi acuan bagi Daerah dalam menentukan isi otonomi atas dasar corecompetence daerah ybs. harus juga menjadi perhatian Pemerintahan Daerah untuk menentukan pilihan (option) yang paling optimal dalam melaksanakan urusan otonominya. kekhasan. Dari komposisi PDRB dapat dilihat sektor mana yang memberikan kontribusi paling besar terhadap perekonomian daerah. bukan juga berarti bahwa Pemerintahan Daerah dapat mengenyampingkan urusan-urusan yang merupakan pelayanan terhadap kebutuhan pokok (basic services) masyarakat seperti: pendidikan. sudah barang tentu termasuk fasilitas pelayanan umum yang harus disediakan oleh pemerintah. Komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).32 Tahun 2004 untuk menentukan isi otonominya. tergantung dari sektor mana yang akan dikembangkan sebagai core competence diluar kewenangan yang menjadi kewajiban untuk penyediaan basic services.

kewenangan. dan d. maka dalam UU No. dan c. Ketiga. b. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. 22 Tahun 1999 dinyatakan bahwa antara Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. maupun peningkatan kerjasama antar daerah. b. bidang pelayanan umum. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dalam bidang pelayanan umum. pembiayaan bersama atas kerjasama antar daerah. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. dan c. yaitu hubungan dalam bidang keuangan. meliputi: a. pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. c. Mendorong Hubungan Pemerintahan dan Kerjasama antar Daerah. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. Keempat.kesempatan. 32 Tahun 2004 dengan tegas dinyatakan bahwa terdapat hubungan pemerintahan yang mencakup 3 (tiga) hal. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama. Initiatif tersebut bisa dilakukan. 4. Kalau dalam UU No. fasilitasi pelaksanaan kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. yang kesemuanya meliputi hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. pengelolaan perizinan bersama dalam bidang pelayanan umum. dan antar Pemerintahan daerah. pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah. kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. b. Kedua. tanggung jawab. dan c. meliputi: a. b. 10 . pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah. dan bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. dan penentuan standar pelayanan minimal. meliputi: a. serta kewenangan untuk mengatur dan mengurus pemerintahan sendiri dan kepentingan masyarakat setempat secara undang-undang telah diberikan kepada pemerintahan/masyarakat daerah. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pelayanan umum. meliputi: a. sehingga pola hubungan tersebut menjadi sbb: Pertama. baik melalui pengembangan hubungan pemeriantahan.

dan c. Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. Keenam.Kelima. konservasi. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. yang pengaturannya sesuai dengan perundang-undangan. dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi diperuntukkan untuk Kabupaten/Kota. budi daya dan pelestarian. pengaturan administrasi. Konstatasi adanya kesenjangan antara niat (willingness. ikut serta dalam pemeliharaan. meliputi: a. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil. meliputi: eksplorasi. diukur dari garis pantai kearah laut lepas dan/atau kearah perairan kepulauan untuk provinsi. pengendalian dampak. Ketentuan tersebut diatas. political will) 11 . b. Yang dimaksud dengan ”nelayan kecil” disini adalah nelayan masyarakat tradisional Indonesia yang menggunakan bahan dan alat penangkapan ikan secara tradisional. kerjasama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antar pemerintahan daerah. eksploitasi. tidak berlaku bagi penangkapan ikan oleh nelayan kecil. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tersebut. tannggung jawab. Kesenjangan antara niat dan realitas. dan ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. pemeliharaan. dan c. penegakkan hukum terhadap perauran yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewsenangannya oleh pemerintah. pengelolaan peridzinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. kewenangan. dan untuk Kabupaten/Kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. keamanan. meliputi: a. dan terhadapnya tidak dikenakan surat idzin usaha. b. pemanfaatan. maka kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tsb dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antara 2 (dua) provinsi tersebut. dimana daerah akan memperoleh bagi hasil atas pengelolaan sumber daya di bawah dasar dan/atau di dasar laut. dan bebas dari pajak. dan bebas manangkap ikan di seluruh pengelolaan perikanan dalam wilayah Republik Indonesia. dan pengelolaan kekayaan laut. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. 5. pengaturan tata ruang. ditentukan paling jauh 12 (duabelas) mil laut. Daerah yang memiliki ”wilayah laut” diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah.

“Politik” adalah panglima di masa orde lama dan “stabilitas” adalah panglima di masa orde baru. Rabu. dimana Indonesia berada di peringkat ke-111 di antara 175 negara di dunia. tetapi yang kurang diperhatikan adalah merumuskan atau membuat fondasi tahapan seperti apa yang harus dilalui untuk menjadi bangsa yang besar itu. Dalam sejarah bangsa ini. tetapi pekerjaan besar. sumber-sumber daya alam dan sumber daya lainnya dlsb.8867/Tahun XXXVI. praktek perkoncoan dan kronisme pun tidak bisa dihindarkan. dan jatuh bangunnya sistem pemerintahan yang berganti . baik mengusir penjajah.asalan. berdasarkan asas desentralisasi. Keduanya telah mengorbankan kualitas manusia Indonesia 19 Dampaknya. dan 19 Editorial Media Indonesia. seorang yang gandrung akan persatuan dan selalu bergelora bicara masa depan bangsa.). Dalam tumpang tindih garis batas wilayah negara dan keluarga. 12 . sedangkan Malaysia yang dulu hampir seluruhnya belajar dari kita. Penggantinya H. sejauh ini perwujudan asas ini masih senggang dari idealisasi yang diharapkan.M. beberapa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daeah Kabupaten/Kota. Pengelola negara yang mestinya melayani publik. seharusnya kita bisa mengatasi segala persoalan yang besar pula. Kita juga telah memperlihatkan kepada dunia atas kemampuan kita mngintegrasikan seluruh wilayah dan masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah yang amat luas ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai bangsa yang besar. meredam berbagai pemberontakan. Namun. pekerjaan yang genius.undangan serta komitmen politik pemerintah yang sangat jelas menginginkan terwujudnya otonomi daerah dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan di Indonesia.negara di Asean.Pemerintah Indonesia dan realitas di lapangan dalam melaksanakan asas desentralisasi dan otonomi daerah. Ia hidup dalam mimpi mimpi dan gagasan besar.Soeharto. menggerakan sejarah persatuan dengan doktrin dan kekuatan tentara. kita melihat kenyataan selalu bisa keluar dari berbagai kemelut bangsa. kualitas manusia Indonesia terburuk di antara negara . kini di urutan ke-76. sehingga dalam realisasi manajemen pemerintahan terdapat beberapa Keppres yang dikeluarkan yang dalam praktek mengalahkan kekuatan Undang-undang. yang seharusnya sudah bisa direalisasikan di daerah. Politik menjadi “tertib” sebab semuanya dalam bingkai dan kontrol negara. Bung Karno. berawal dari perkembangan konfigurasi politik yang mendasari piranti perundang . Baik Bung Karno maupun Pak Harto kurang memperhatikan aspek pembngunan manusia (human development). Ini bukan kerja yang asal . nyatanya masih tetap ditangani oleh pusat dengan dalih eksternalitas dan akuntabilitas tergolong kepada kepentingan nasional (seperti: petanahan. Misalnya. adalah sangat mudah difahami kalau menurut ukuran Human Development Index (HDI). berkat pimpinan negara yang lalu. memposisikan dirinya sebagai pihak yang harus dilayani. 16 Maret 2005/No.ganti. Pengelolaan negara dan keluarga pun menjadi wilayah yang sulit dibedakan.

yang hampir kolaps pada Sidang Dewan Kontituante yang gagal membentuk UUD tetap. serta menghapuskan dualisme dalam pemerintahan. Alasannya.1 juta. dan keburu dipangkas dengan dikeluarkannya Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959 yang merombak secara fundamental Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 hanya dengan sebuah “Penetapan Presiden” tanpa meminta persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Kondisi kemiskinan seperti ini setara dengan keadaan 15 tahun yang lalu. mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. upaya pemerintah untuk menghapuskan “dualisme” dalam penyelenggaraan pemerintahan.1950 melalui sistem pemerintahanan yang parlementer dan dilandasi oleh faham demokrasi yang sangat liberal. Namun. pada masa rezim Orde Lama dengan menggunakan semangat Demokrasi Terpimpin. Editorial Media Indonesia.Undang Nomor 1 Tahun 1957. kini penduduk miskin mencapai 36. sekalipun “Penetapan Presiden” mempunyai derajat lebih rendah daripada Undang-undang.Undang Nomor 1 Tahun 1957 yang didasarkan kepada UUDS . Apakah dengan melalui Undang . 13 . melalui kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia menuju kepada proses penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Good governance). dengan dalih atas dasar semangat Demokrasi Terpimpin. yang sesungguhnya faham ini. namun dasarnya adalah Dekrit Presiden yang menyelamatkan kesatuan dan persatuan bangsa. Rezim Orde Lama. dan yang berpihak kepada rakyat. setelah keluar Dekrit Presiden 5 Juli 1959.20 Inilah salah satu masalah cukup mendasar yang menjadi tantangan kita dalam menghadapi krisis multidimensi.Undang Nomor 22 Tahun 1948. menurut Badan Pusat Statistik 2004.Filipina di urutan ke-98. Dalam pada itu. disamping untuk menghapus dualisme pemerintahan yang marasuk penyelenggaraan pemerintahan pada masa Undang . dengan dikeluarkannya Undang .praktek sentralisasi.Undang Nomor 1 Tahun 1957 umurnya tidak panjang.Undang Nomor 1 Tahun 1957 menjadi “sistem pemerintahan tunggal” (Eenhoofdig-bestuur) dengan mengangkat dan mendudukan Kepala Daerah sebagai “alat daerah” dan sekaligus sebagai “alat pusat”. tampak sebenarnya adanya semacam kesinambungan upaya mewujudkan desentralisasi yang selalu berakhir dengan munculnya praktek . Dengan kebijakan ini. Undang . sekali lagi secara konstitutional tidak dianut di dalam UUD 1945. kembali terjebak dalam pola “sentralisasi” yang merombak “sistem pemerintahan kolegial” (collegial bestuur) yang dianut dalam Undang . Melalui kajian sejarah administrasi pemerintahan di Indonesia.Undang Nomor 6 Tahun 1959. Undang . hanya berhasil menghapuskan “dualisme struktural” 20 Ibid. 6. Pengecualian terjadi pada masa berlakunya Undang .Undang Nomor 1 Tahun 1945. Itulah era Demokrasi Terpimpin dengan semangat “Faham Negara Intergralistik”. Melihat sekilas perspektif historis.

Konsekuensinya. Maka keluarlah Undang .Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini pemerintah bertekad untuk mewujudkan Otonomi Daerah. syarat . Tampaknya. yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dengan keputusan politik tersebut. dikehendaki agar pelaksanaan Otonomi Daerah ini tidak mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. ternyata kembali terjebak dengan kecendurungan awal munculnya sentralisasi pelaksanaan 14 .sama dengan asas dekonsentras i. Itulah era pemerintahan yang disebut “Executive heavy” atau sering juga disebut “Strong Executive System”. Maka lahirlah konsep “otonomi nyata dan bertanggung jawab”. Prinsip Otonomi yang seluas .syarat semacam ini yang memunculkan kendala baru bagi perwujudan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia.Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini. kedudukan dan peranan Kepala Daerah semakin diperkuat dan semakin dominan. Perbantuan Pegawai Negeri dan Penyerahan Keuangannya kepada Pemerintah Daerah diletakkan kembali di tangan Kepala Derah dalam kedudukannya sebagai “alat pusat”. yang digelar melalui UU No. demikian pula paradigma yang menyatakan bahwa azas desentralisasi dilaksanakan bersama . dengan upaya mewujudkan asas desentralisasi pemerintahan. pada era rezim Orde Baru diambil keputusan politik yang menetapkan Demokrasi Pancasila sebagai landasan berpolitik bangsa. Pemerintah Indonesia tampaknya sangat menyadari kausalitas ini.saja. karena justru penyelenggaraan pemerintahan dalam pelaksanaan fungsi “dekonsentrasi” yang menyangkut fungsi “pemerintahan umum” (“Algemene bestuur”) yang menurut Undang . terlihat adanya kausalitas antara sistem politik dan pemerintahan yang berlaku. Dengan demikian. Oleh karena itu. karena berdasarkan pengalaman konsep ini sangat rawan disintegrasi dan dikhawatirkan akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan demikian pula.pokok Pemerintahan di Daerah. Melalui konsep Undang .Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok . pemberian otonomi daerah dalam wujud hak dan kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sendiri. seluruh tatanan pemerintahan harus disesuaikan dengan isi dan semangat Demokrasi Pancasila.Undang Nomor 6 Tahun 1959 tentang Penyerahan Tugas Tugas Pemerintah Pusat dalam bidang Pemerintahan Umum. Itulah pula sebabnya. Melalaui Undang . 18 Tahun 1965 tidak dianut lagi. banyak kritikan yang dilontarkan kepada rezim pemerintahan pada saat itu.luasnya. serta kerangka besar dalam pembangunan nasional. disesuaikan dengan kemampuan daerah. sedangkan dualisme dalam fungsi (dualism in function) tetap tidak terhapuskan. menemukan bahwa UU Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang menitik beratkan pelaksanaan otonomi daerah pada Daerah Tingkat II. Penelitian yang terus menerus saya lakukan. Otonomi daerah dipandang lebih merupakan “kewajiban” daripada “hak”. terutama setelah dikeluarkannya PenPres Nomor 6 Tahun 1959 dipandang sebagai “retreat from autonomy”. ataupun membahayakan kesinambungan gerak pembangunan nasional. harus disusun Undang – Undang yang menjadi landasan penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia. Namun.

lambatnya dalam waktu 2 (dua) tahun sejak dikeluarkannya PP tersebut. 15 .” Sebelum terjadi perubahan Undang . sedangkan Daerah Tingkat II perkembangan otonominya tetap tersendat . dengan lebih menonjolkan kepada keberpihakan kepada rakyat. dilihat dari sisi hubungan kelembagaan antara Eksekutif dan Legislatif ternyata adanya hubungan kemitraan yang sebenarnya kurang tepat (hubungan yang tidak sejajar).tegas menyatakan bahwa kebijakan peletakan titik berat otonomi daerah pada Daerah Tingkat II sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengurangi keberadaan dan peranan Pemerintah Daerah Tingkat I. menyebutkan bahwa “Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat.angsur selambat . Namun. namun keinginan politik ini tidak bisa direalisasikan. Perumusan “Otonomi Daerah” yang merupakan pergeseran paradigma yang berpihak kepada rakyat.lagi penonjolan wajah “Eksekutif heavy” dalam era konfigurasi politik menurut Undang . Peraturan Pemerintah inipun tidak berjalan mulus. bersih. dalam era Undang . Ini adalah lagi . dengan menekankan bahwa titik .Undang Nomor 5 Tahun 1974 hampir . yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II. kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang . karena lagi-lagi Pemerintah Pusat tidak konsekuen dengan kebijakannya yang mestinya Pemerintah Pusat menyerahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Pemerintah Daerah dengan mengutamakan penyerahannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. eksistensi Daerah Tingkat I sebagai “daerah otonom” tetap kuat. karena didominasi oleh wewenang Kepala Daerah/ Kepala Wilayah yang sangat kuat.hampir tidak berfungsi.berat otonomi diletakkan pada Daerah Tingkat II. Pemerintah Daerah Tingkat I yang secara imperatif dalam PP tsb diwajibkan untuk secara berangsur . dengan menggeser paradigma “Executive heavy” kepada “Legislative heavy”.Undang ini bertahan selama lebih dari 25 tahun. tidak berjalan dengan baik. karena Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan Undang .Undang Nomor 22 Tahun 1999. yang dalam prakteknya dekonsentrasi lebih menonjol dan sangat dominan. dimana DPRD sebagai penyalur aspirasi rakyat dalam pengembangan demokrasi dan sebagai alat kontrol.Undang Nomor 5 Tahun 1974.sendat. menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat……….administrasi pemerintahan di Indonesia. Kemudian. karena PP tersebut tegas . boleh dikatakan tidak berjalan sama sekali. yang diletakkan di tangan Kepala Daerah dalam kedudukannya sebagai Kepala Wilayah. menyerahkan lebih lanjut kewenangan otonominya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. dst. bertanggung jawab dan demokratis. Dengan demikian.Undang Nomor 5 Tahun 1974 baru dapat dikeluarkan 18 (delapan belas) tahun kemudian. Demikian pula. Walaupun Undang . dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat.undangan politik dan pemerintahan.

Kalau bertanggung jawab kepada rakyat. Sedangkan DPRD sendiri tidak jelas bertangungg jawab kepada siapa.nya ditolak atau karena sebab . apakah karena LPJ . Pengalaman menunjukkan. kembali terjebak kepada nuansa “re-sentralisasi” dalam penyelenggaraan otonomi daerah. melainkan kewenangan untuk memberhentidkan Kepala Daerah tersebut berada pada Presiden.mana. Disamping itu. tetapi di pasal lain menegaskan bahwa kedudukan DPRD dan Kepala Daerah adalah sejajar sebagai mitra . sehingga mencerminkan gejala bahwa kewenangan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah.Undang Nomor 22 Tahun 1999 diganti dengan Undang . banyak perilaku 16 .sebab lain yang kecendurungan menunjukkan kekuasaan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah. Inilah pula. idenya ingin mengembangkan strategi baru yang lebih dinamis. ada orang yang bangkrut setelah tidak terpilih menjadi Kepala Daerah. ketika salah satu calon yang diajukan oleh Parpol ditolak oleh KPUD.dimana Kepala Daerah dipilih dan ditetapkan oleh DPRD. salah satu alasan mengapa Undang . Namun tidak jarang pula terjadi konflik vertikal. terutama setelah salah satu “calon terpilih” dinyatakan menang dalam Pilkada tersebut. bahwa sering terjadi ”impeachment” terhadap Kepala Daerah hanya dengan keputusan DPRD.Undang Nomor 22 Tahun 1999. meskipun menurut jiwa dan semangat Undang .pasal dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 (pasal 56 s/d pasal 119) mengatur tentang Pemilihan Kepala Daerah secara langsung.Undang Nomor 32 Tahun 2004. sebaliknya orang yang terpilih sebagai Kepala Daerah. Hubungan Eksekutif – Legislatif Daerah. uang terhamburkan dimana . Dengan demikian. belum lagi terjadinya “money politic” yang berlebih . kenyataan di lapangan banyak kericuhan terjadi dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah. Pergantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang . tidak terdapat mekanisme yang jelas bagaimana bentuk pertanggung jawaban DPRD tersebut.Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang tujuannya antara lain untuk mengembalikan dan mewujudkan keseimbangan dari “Legislatif heavy” kepada “Eksekutif heavy” dan keseimbangan antara hubungan kekuasaan pusat dan daerah.Undang Nomor 22 Tahun 1999 pemberhentian Kepala Daerah tidak sepenuhnya berada dalam kompetensi DPRD.kerja. Namun. terjadi konflik horizontal dimana . dimana hampir 30% pasal . 7.mana hanya untuk memenangkan jabatan Kepala Daerah. kondisi tersebut tidak memungkinkan adanya “kemitraan” yang sejajar dan kecendurungan secara realitas posisi DPRD lebih kuat daripada Kepala Daerah.lebihan. Inilah suatu paradigma yang cenderung lebih menjukkan “Legislative heavy” dalam sistem Pemerintahan Daerah yang berjalan menurut Undang . dan bertanggung jawab kepada DPRD. daripada diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat. menjadi kebingungan bagaimana mengembalikan uang biaya Pilkada yang jumlahnya milyaran rupiah itu. Kebijakan Pilkada yang membawa anarkhisme.

Di parlemen hampir setiap minggu kita mendengar tentang ancaman angket dan interpelasi. Penunjukan KPUD sebagai Pelaksana Pemilihan Kepala Daerah secara Langsung (PILKADA) adalah kurang tepat.l. Apa saja yang dirasa tidak sesuai dengan pikiran individu atau kelompok diributkan.masyarakat pemilih menjadi anarchist. mengecam. Indonesia tidak lagi hanya bangsa yang gaduh.1 17 . Di jalan raya demonstrasi oleh warga dan anggota LSM tidak pernah putus. dengan dalih pencerminan “demokrasi”. Semua ini hanya bisa diperoleh apabila kita menampilkan wajah yang menawan dan bersahabat. antara lain: a. dan merusak. merusak gedung .olah pemerintah tidak mampu lagi untuk menyelesaikannya. Kita sekarang muncul sebagai bangsa yang gaduh. yang berjudul “Wajah Seram Indonesia”. Sekarang. a.akhir ini. Kelemahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dalam penyelenggaraan Pilkada. pembakaran kamp milik PT Newmont di NTB. Tidak wajah garang yang selalu mengepal tinju dan menghunus pedang…………….orang di bagian dunia yang lain. dan disusul sekarang dengan aksi . Pekan-pekan ini. Demonstrasi menentang PT Freeport di Papua yang berujung kematian tiga anggota Polri dan satu TNI. sbb: “Wajah Indonesia berubah total akhir .akan Indonesia begitu hebatnya. citra Indonesia tidak lagi sekedar bangsa yang gaduh.” 21 8. Para elite bangsa sekarang tenggelam dalam keyakinan super . tetapi anarkistis. karena tugas dan kewenangan KPU (KPUD) adalah melaksanakan Pemilu. dst.aksi menentang Exxon Mobile di Blok Cepu. hlm. Kita membutuhkan modal. Setiap hari kita memaki. entah di jalan . wajah Indonesia ditampar-tampar oleh Negara. bahkan seolah .kuat seakan . Ada beberapa kelemahan terdapat dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berdampak kerancuan dalam implementasi Pilkada. dan teknologi. Sedikit saya mengutip Editorial Media Indonesia. dan banyak lagi persoalan persoalan yang muncul yang mencerminkan seolah .jalan. 21 Maret 2006.dst. keahlian. tetapi nyatanya kaostik dan anarkhis.gebuk oleh rakyatnya sendiri atas nama demokrasi. karena ketidak puasan hasil Pilkada. mengusir. entah di parlemen. Bangsa yang tidak menghargai perjanjian dan komitmen.olah ada kesan bahwa tidak ada satu badan publikpun yang semestinya bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan persoalan tersebut. Di Era Orde Baru.gedung dan sarana pemerintahan. di era reformasi wajah Indonesia digebuk . memperburuk wajah kita. demi keamanan dan pembangunan. 21 Editorial Media Indonesia. dan bukan melaksanakan Pilkada. sehingga tidak memerlukan lagi orang . sehingga membawa dampak instabilitas dalam pemerintahan dan ketidak tentraman dalam masyarakat. Padahal Indonesia sangat miskin dan lemah.

kalau pemilihan Kepala Daerah dilakukan secara langsung. Pemerintahan Daerah. Materi Workshop. Pasal 57 UU No. Masalahnya sering calon yang mendapatkan suara terbanyak.beda. 2004. DPRD akan dipilih dengan sistem proportional terbuka. pers dll yang bertanggung jawab kepada Pemerintah cq.32/2004 menyatakan bahwa Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diselenggarakan oleh KPUD yang bertanggung jawab kepada DPRD. sehingga skenario format hubungan yang akan terjadi adalah sebagai berikut:22 Pertama. tidak memenuhi treshold BPP yang diunjuk mewakili parpol di DPR atau DPRD dan menimbulkan konflik internal di tubuh parpol.undangan tentang Pilkada sebagaimana tertuang dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pelaksanaannya. Pemerintahan Daerah. Panitia Pengawas Pilkada tidak berfungsi secara optimal. 3-4. Kalau pemilih tidak memilih nama. ideenya. d. kurang sekali disosialisasikan kepada masyarakat luas. hlm. termasuk Tim Suksesnya dll. yang berarti Elite Parpol yang akan memegang peranan utama menentukan siapa yang akan didudukkan di lembaga legislatif daerah. serta konsekuensi konsekuensi yang bakal terjadi pada Pilkada. Penyelenggaraan Pilkada merupakan kompetensi Pemerintah cq. ini berarti ada tanda gambar dan sekali gus daftar nama caleg. KPUD. Sesungguhnya.unsurnya terdiri dari tokoh masyarakat. dan karenanya perlu dibentuk Panitia/ Komisi Pemilihan Kepala Daerah yang unsur . maka diharapkan akan merubah perimbangan hubungan antara Eksekutif dan Legislatif daerah. Maraknya “politik . 9. e. Upaya menyeimbangkan hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah.b. namun Pasal tsb dalam judicial . sehingga. Hasil Pemilu 5 April 2004 juga menunjukkan bahwa hanya 2 orang anggota DPR di tingkat Nasional yang benar-benar terpilih yang memenuhi “Bilangan Pembagi Pemilih” (BPP). LAPI. sehingga dalam pelaksanaannya menimbulkan multi . perguruan tinggi. c. para calon Kepala Daerah. Kalau rakyat lebih banyak memilih I Made Suwandi.interpretasi dan persepsi yang berbeda . maka alternatifnya adalah menusuk tanda gambar. 22 18 . sehingga masyarakat kurang memahami aturan main.jawab kepada siapa.uang” hampir di seluruh lini penyelenggaraan Pilkada. “ Implikasi Pemilihan Kepala Daerah Langsung” (Dalam koridor UU 32 Tahun 2004). semangat dan jiwa. KPUD tidak jelas bertanggung . baik di kalangan masyarakat. f.review dicabut oleh Mahkamah Konstitusi. dalam menyelenggarakan Pilkada. Sosialisasi dan diseminasi peraturan perundang .

cara “money politics” dalam pemilihan Kepala Daerah.tanda gambar dan bukan orang. Namun. akan terjadi pergeseran (shift) titik berat kekuatan politik yang tadinya ke DPRD (“Legislative heavy”) akan bergeser kepada Kepala Deerah (“Executive heavy”). dimana di kalangan masyarakat Indonesia masih kental cara . Lantas mekanismenya bagaimana kalau Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada rakyat. demikian juga sebaliknya rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk menjatuhkan Kepala Daerah dengan cara . Kondisi ini. Kalau Kepala Daerah dipilih secara langsung. jelas akan lebih memperkuat posisi Kepala Daerah. kepada siapa Kepala Daerah harus bertanggung jawab? Karena Kepala Derah dipilih langsung oleh rakyat. Kepala Derah dapat diberhentikan oleh rakyat apabila diatas 50% pemilih menyatakan tidak menghendaki lagi Kepala Daerah ybs. maka dengan imbalan uang. seperti di Amerika. sedang akuntabilitas kolektif akan lebih menonjol. dan apakah rakyat bisa memberhentikan Kepala Derah apabila rakyat tidak menyukai atau mempercayainya lagi. dimana pendidikan politik rakyat belum mantap. Ini adalah akibat akuntabilitas Kepala Daerah yang lebih kuat dibandingkan dengan DPRD. karena Kepala Derah pun akan mengklaim dirinya sebagai wakil rakyat yang dipilih secara langsung. Dengan demikian. akan berjalan baik. pemerintahan yang tidak stabil sudah barang tentu akan mengganggu stabilitas keamanan dan counter .pidana. supaya mereka menyadari bahwa sekali mereka memilih Kepala Daerah maka mereka akan menanggung segala konsekuensi dari pilihannya tersebut.productive terhadap laju pertumbuhan dan investasi. pelaksanaan demokrasi tendensinya anarkhis.cara yang sama. akibatnya. Kedua. tidak lagi Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD sekalipun DPRD mempunyai posisi sebagai wakil rakyat. seperti di Amerika. maka sudah bisa dipastikan akan terjadi instabilitas dalam pemerintahan daerah. dimana akuntabilitas Kepala Daerah lebih bersifat individu dibanding dengan akuntabilitas DPRD yang bersifat kolegial. Persoalannya sekarang. maka seyogyanya ia (Kepala Daerah) bertanggung jawab langsung kepada rakyat. Sebagai konsekuensinya. apabila pendidikan politik rakyat sudah mantap. rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk memilih seseorang calon Kepala Derah. artinya rakyat akan memberikan legitimasi politik secara langsung kepada orang yang dipilihnya. ini berarti bahwa Kepala Daerah akan mendapatkan legitimasi penuh dari rakyat pemilih. Karenanya perlu penegasan dan difahami oleh rakyat bahwa pemberhentian Kepala Derah hanya dapat dilakukan apabila ybs melakukan tindak .negara maju. Akibatnya. Di negara . Karena itu. Kondisi tersebut akan diperkuat lagi dengan adanya dukungan perangkat daerah kepada Kepala Daerah. Dengan kata lain akuntabilitas Kepala Daerah akan lebih kuat dibanding dengan akuntabilitas DPRD. Ini berarti. akuntabilitas individu akan berkurang. mengundurkan diri atau tidak lagi mampu 19 . konsekuensi dari pemilihan langsung. kalau cara . maka baik DPRD maupun Kepala Daerah akan bertanggung jawab langsung kepada rakyat pemilih. yang pada gilirannya kondisi tersebut akan menciptakan krisis yang berkepanjangan. dalam rangka pemilihan Kepala Derah perlu adanya sosialisasi dan pendidikan politik yang intensif bagi rakyat pemilih.cara tersebut diterapkan di Indonesia.

Untuk memberikan keleluasaan kepada Daerah di bidang manajemen kepegawaian. dan fungsi anggaran dalam menetapkan dan mendayagunakan potensi anggaran daerah. dan “integrated system” diterapkan dalam rangka menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan otonomi daerah. development dan appraisal dari PNS Daerah.tertib dan kode .Undang Nomor 22 Tahun 1999. serta ethik dan moral. anggota DPRD dapat di re-call oleh pimpinan Parpolnya. kalau kualitas anggota DPRD tetap seperti sekarang. terutama yang menyangkut kejelasan antara “pejabat politik” (Kepala Daerah dan DPRD) dengan “Pejabat non . a. perlu digerakkan agar mampu menjadi “pressures and supporters”. karena bagaimanapun juga posisi 20 . maka akan sulit bagi DPRD untuk mengimbangi kekuatan dan kinerja eksekutif yang didukung oleh perangkat daerah yang professional. diberikan kepada daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. Keempat. Pejabat politik adalah pejabat yang bertugas merumuskan dan menetapkan “kebijakan publik”. tanpa adanya kemajuan yang berarti. baik kepada DPRD maupun kepada Kepala Daerah melalui upaya revitalisasi LSM. Ketiga. anggaran dan kontrol. fungsi legislasi dalam membuat kebijakan. Demikian juga dengan posisi DPRD. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susduk.hak tersebut secara effektif. Namun. dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Parpol. misalnya banyak kasus terjadi pemberhentian Sekda oleh Kepala Daerah/ DPRD tanpa alasan yang jelas. placement.holders” utama dalam penyelenggaraan otonomi daerah.banyak akan mampu mengimbangi kekuatan Eksekutif. untuk menciptakan “check and balances” yang seimbang. DPRD yang lemah. sesuai dengan hak-haknya sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang . Forum Komunikasi.undangan. harus ada perubahan yang signifikan terhadap konstruksi pemerintahan daerah. terjadi kecendurungan kooptasi oleh kekuatan politik di daerah.l. sehingga akan menciptakan kondisi “Executive heavy” seperti terjadi puluhan tahun pada masa orde baru. Dalam pada itu ada Badan Kehormatan dalam lembaga DPRD yang nantinya akan menerima komplain dari masyarakat tentang anggota DPRD dan dapat memberhentikan anggota DPRD apabila anggota DPRD terbukti melanggar tata .etik DPRD. maka rakyat sebagai “stake . sedangkan pejabat karir adalah pejabat yang melaksanakan/ mengoperasionalkan kebijakan tersebut kedalam bentuk pelayanan publik atau pemenuhan kebutuhan publik. maka Daerah sebaiknya dilibatkan dalam proses rekrutmen. dengan diberikannya kewenangan manajemen kepegawaian sebagaimana diatur dalam Pasal 76 Undang . artinya unsur . Oleh karena itu. baik dari pihak Kepala Daerah maupun dari DPRD.politik” (Pejabat karier). maka diharapkan DPRD sedikit .undangan. Dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terdapat masalah kepegawaian daerah. Organisasi professi dll yang berbasis demokrasi. professionalisme.unsur “separated system” dalam manajemen kepegawaian. Apabila mereka mampu mempergunakan kewenangan dan hak .menjalankan tugasnya sebagai Kepala Derah sebagaimana ditentukan dalam perundang . berpotensi untuk melemahkan fungsi kontrol terhadap eksekutif. DPRD diharapakan akan tetap mempunyai otoritas di bidang legislasi.

Berbagai upaya dan terobosan politik telah banyak dilakukan dalam rangka membangun pemerintahan daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat. beberapa pokok-pokok pikiran tentang pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan otonomi daerah sebagai bahan masukan dalam Seminar ini untuk didiskusikan lebih lanjut.undangan politik dan pemerintahan. Demikian.UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. Undang . Penutup. 3.Undang Nomor 22 Tahun 1948. 10 Nopember 2006. Pemerintah NKRI telah berhasil mengundangkan berbagai perundang . Dengan melihat perspektif historis ketata-negaraan Indonesia. Kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang .PNS tetap harus difungsikan sebagai perekat negara dan bangsa disamping professionalisme pegawai yang perlu terus ditingkatkan. Terima kasih atas perhatiannya. APRESIASI KEBIJAKAN DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH MENURUT PERSPEKTIF UNDANG . serta berpihak kepada rakyat. 10. bersih dan bertanggung jawab. dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat. Jakarta.undangan pemerintahan daerah yang diwarnai dengan berbagai perkembangan konfigurasi politik sejak lahirnya Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1945. Undang - 21 .

dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan (“disintegrasi”) karena terkotak . 6 Tahun 1959. PenPres No. 5 Tahun 1960. Undang . masih mengandung berbagai kelemahan dan masalah. kolusi dan nepotisme (KKN) akan merajalela di daerah. baik secara konsep akademik maupun operasional signifikan dalam upaya menerapkan prinsip . egoisme kedaerahan yang sempit. sampai kepada paket kebijakan terakhir. yang pada gilirannya akan mengakibatkan lemahnya persatuan dan kesatuan bangsa. yang akhirnya daerah yang merasa sangat kuat akan tidak peduli terhadap daerah lainnya.prinsip demokrasi. dan tidak terkendalinya oleh pemerintah pusat. Undang . Namun demikian.Undang Nomor 1 Tahun 1957. dikhawatirkan akan memindahkan birokrasi pusat ke daerah dengan segala ekses -eksenya seperti korupsi. dan masih berbau “status quo”. Undang Undang Nomor 6 Tahun 1959.Undang Nomor 32 Tahun 1956. masih setengah hati. baik ditinjau dari tataran konsep maupun tataran operasional.prinsip akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. bersih. Hal tersebut. pemerataan dan keadilan.Undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 sebagai produk kebijakan politik desentralisasi dan otonomi daerah pada masa pemerintahan transisi. Bahkan ada yang beranggapan bahwa dengan otonomi daerah ini.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. ada pula yang beranggapan bahwa Undang . Ada yang menganggap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terlalu luas memberikan kewenangan kepada daerah.Undang Nomor 18 Tahun 1965.Undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang . Yang menjadi fokus pertanyaan adalah apakah kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang dituangkan dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 itu. Undang . Penetapan Presiden (PenPres) No.Undang ini masih jauh dari harapan. Apalagi Undang – Undang 22 . tidak dapat dipungkiri bahwa paket Undang . serta menjamin tetap terjaga dan terpeliharanya Negara Kesatuan Republik Indonesia. timbulnya raja . yaitu Undang . adalah suatu prasyarat yang harus terjawab dalam upaya menjalankan “keinginan politik” (political will”) pemerintah untuk menjadikan Daerah Otonom yang mandiri berdasarkan prinsip . pemerintah yang menamakan dirinya sebagai “pemerintah orde reformasi” nyatanya tidak reformis dan dalam memberikan otonomi kepada daerah. Berbagai pendapat dan pandangan telah banyak dilontarkan orang terhadap kelahiran Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999. sehingga dengan keleluasaan (“discretionary power”) yang diberikan kepada Daerah. peningkatan daya saing daerah. berwibawa dan bertanggung jawab (“Good Governance”) serta berpihak kepada rakyat. Namun sebaliknya.raja kecil di daerah dlsb. terutama dalam mewujudkan pemerintahan daerah yang baik.Undang Nomor 5 Tahun 1979.kotaknya antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. sehingga timbul kesenjangan antar daerah dan laju pertumbuhan antar daerah. arogansi kekuasaan. peran serta masyarakat. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah.

karakteristik desentralisasi dan otonomi daerah yang diterapkan dalam suatu negara. desentralisasi dan otonomi yang kini semakin nyaring terdengar. dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan keuangan antara pusat dan daerah telah diganti dengan Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004. ditinjau dari perspektif nasional. Konsep hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah menjadi penting untuk dikaji. dan otonomi khusus – semuanya sangat ditentukan oleh seberapa jauh kekuasaan dan wewenang Pande Radja Silalahi. dianggapnya masih terlalu berorientasi ke pusat. Dalam pada itu.Nomor 25 Tahun 1999 dengan segala peraturan pelaksanaannya. otonomi terbatas. terutama Daerah Kabupaten/Kota. sangat ditentukan oleh format pengaturan distribusi kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah. Inilah sesungguhnya yang didambakan oleh daerah sejak lama. karena ia merupakan salah satu komponen utama dari fondasi yang menopang keberadaan “bangunan” desentralisasi dan otonomi daerah. sehingga daerah bisa mengatur dan mengurus kepentingan masyrakat setempat. Inilah pula antara lain salah satu pertimbangan mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah yang baru berumur kurang dari 5 (lima) tahun telah diganti dengan Undang – Undang yang baru. antara lain. Kategorisasi.23 Maraknya korupsi di daerah. karena sebagian besar kewenangan dan sumber keuangan telah diserahkan kepada daerah. seperti – desentralisasi politik. Namun. hlm. No.87. kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 adalah merupakan angin segar dan sangat menguntungkan daerah. pemerintah pusat yang telah memberikan kewenangan yang luas kepada daerah sebagaimnana ditetapkan dalam Pasal 7 ayat (1) dan Pasal 11 Undang – Undang Nomorr 22 Tahun 1999. sebagian masyarakat beranggapan bahwa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 mampu menjawab tuntutan demokrasi. justru merasa sangat risau dan khawatir terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. maupun para anggota badan Legislatif (DPRD) membuktikan kebenaran anggapan masyarakat tersebut. adanya arogansi pusat dengan pencerminan pembagian sumber . “Implikasi Kebijakan Ekonomi Pemerintah Pusat dan Pembangunan Ekonomi di Daerah”. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. 23 23 . Demikian pula. tidak adil dan sangat berat ke pusat. baik yang dilakukan oleh para pejabat Eksekutif.1.sumber keuangan yang tidak proportional. otonomi luas. sementara sebagian lainnya justru menganggap kedua UU tersebut sebagai sumber malapetaka bagi beberapa daerah tertentu dan bahkan bagi Indonesia. dalam Jurnal CSIS. Tahun XXXIX/2000. karena sisa kewenangannya sangat dibatasi. otonomi daerah yang diberikan kepada daerah Propinsi sangat terbatas yang hanya meliputi kewenangan yang bersifat lintas kabupaten/ kota sebagaimana diatur dalam Pasal 9 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 25/2000. Ditinjau dari perspektif Daerah. Dengan kata lain. desentralisasi administrasi.

Undang yang secara materiil sudah diserahkan kepada Daerah ybs. deconcentration. otonomi dan medebewind. ditinjau dari tataran teoritis. 2002. desentralisasi administratif (adminisrative decentralization).11. Walaupun begitu.24 Oleh karena itu. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. hampir setiap negara bangsa (nation state) menganut desentralisasi sebagai suatu asas dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. hlm. seperti decenralization. desentralisasi fungsional. devolution. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI). dan 11 serta penjelasannya) harus ada “pengakuan” (“erkennen”) dari Pemerintah sampai sekarang belum dijalankan secara tuntas sampai dicabutnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 oleh Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 . Berbagai definisi tentang desentralisasi dan otonomi telah banyak dikemukakan oleh para penulis yang sudah barang tentu pada umumnya didasarkan pada sudut pandang yang berbeda. Pusat Penelitian Politik. Akan tetapi. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis. Suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan pula merupakan alternatif dari sentralisasi. pengertian desentralisasi tersebut sering dikacaukan (interchangeably) dengan istilah .11 25 Ibid.. Walaupun demikian.sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara. 8. melainkan merupakan sub .yang dimiliki oleh pemerintah daerah. desentralisasi politik (political decentralization). dan sebagainya.22 Tahun 1999: Tinjauan Kritis atas Konsep Hubungan Kekuasaan Pusat – Daerah”. karakteristik hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah telah didudukkan sebagai variabel penting yang membedakan dua konsep antara perspektif “desentralisasi politik” (“political decentralization perspective”) dan perspectif “desentralisasi administrative” (“administrative decentralization perspective”) 25 Salah satu hal yang amat penting dan mungkin terlupakan adalah bahwa urusan/kewenangan yang sudah dimiliki oleh Daerah otonom sejak pembentukannya dengan Undang . desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie). Syarif Hidayat. desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri. TINJAUAN TEORITIS: PANDANGAN TENTANG DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH. Konsep desentralisasi sering dibahas dalam konteks pembahasan mengenai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. yang menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 (Pasal 7. 4. 24 24 . hlm. dalam “Evaluasi Implementasi Otonomi Daerah”. Karenanya suatu negara bangsa merupakan genus dari species desentralisasi dan sentralisasi.istilah lainnya. “Evaluasi UU No. desentralisasi jabatan (ambtelijke decentralisatie). beberapa batasan perlu diajukan sebagai bahan perbandingan dan bahasan dalam upaya menemukan pengertian yang mendasar tentang pelaksanaan otonomi daerah sebagai manifestasi dari politik desentralisasi. Pada masa sekarang.

Kepada pejabatnya oleh departemen pusat dilimpahkan wewenang dan tanggung jawab bidang tertentu yang bertindak sebagai perwakilan departemen pusat untuk melaksanakan fungsi bidang tertentu yang bersifat administratif tanpa menerima penyerahan penuh kekuasaan (final authority). New York: UN. dimana sebagian kekuasaan yang diserahkan kepada badan politik di daerah itu merupakan kekuasaan penuh untuk mengambil keputusan. 26 25 . New York: United Nations.batas rencana dan sumber pembiayaan yang sudah ditentukan. Current Concept and Pracice with Special Reference to Developing Countries. hal ini berbeda dengan devolution.organ di daerah. Para pejabat tersebut bekerja dalam batas . Division for Public Administration.. 28Jadi. Disini. Pertanggungjawaban akhir tetap berada pada departemen pusat (the arrangement is administrative in nature and implies no transfer of final authority from the ministry. Sifatnya adalah penyerahan nyata berupa fungsi dan kekuasaan. Department of Economics and Social Affair. delegation) to field offices or by devolution to local authorities or local bodies”26 Batasan ini dimaksudkan untuk menjelaskan proses penyerahan wewenang dari pusat kepada organ di daerah melalui dua cara. sedangkan devolution kepada badan . Desentralisasi administratif adalah suatu delegasi wewenang pelaksanaan yang diberikan kepada pejabat pusat di tingkat lokal.Salah satu batasan tentang desentralisasi yang sering dibahas adalah: “decentralization refers to the transfer of authority away from the national capital whether by deconcentration (i. hlm. tidak dijelaskan isi dan keluasan kewenangan tersebut serta konsekuensi-konsekuensi apa penyerahan itu bagi organ . 28 Ibid. 29 Ibid. Batasan itu lebih memfokuskan kepada bentuk . 1962. whose responsibility continues). 27 United Nations. Kalau deconcentration melalui delegasi kekuasaan kepada pejabat pejabatnya di daerah. 1961.e. kewenangan dan tanggung jawab tertentu dalam mengembangkan kebijaksanaan pemberian jasa dan pelayanan di United Nations.macam decentralization.64. hlm.badan politik di daerah yang disebut pemerintah daerah. There are two principal forms of decentralization of governmental powers and functions are deconcentration to area offices of administration and devolution to state and local authorities. yaitu melalui deconcentration atau devolution. Decentralization for National and Local Development. Handbook of Public Administration. karena itu adalah kompetensinya politik desentralisasi. hlm.29 Dalam kenyatannya memang ada dua bentuk decentralization. yaitu yang bersifat administatif (administative decentralization) dan yang bersifat politik (political decentralization). Dengan demikian bentuk devolution merupakan type of arrangement having a political as well as an administrative character. baik secara politik maupun administrasi.bentuk atau macam .27 Yang dimaksud dengan area offices of administration adalah suatu perangkat wilayah yang berada di luar kantor pusat.3. bukan hanya sekedar pelimpahan.64. Technical Assistant Progame. namun juga memiliki keleluasaan. Departement of Economic and Social Affair.

jika pemerintah lokal semata . bahkan kebanyakan orang sekarang mempersoalkan kapan dan bagaimana peletakkan otonomi Bryant. terjemahan Rusyant “Manajemen Pembangunan untuk Negara Berkembang”.30 Pengertian ini lebih menekankan kepada dampak atau konsekuensi penyerahan wewenang untuk mengambil keputusan dan kontrol oleh badan . Pemerintah Pusat malah mungkin memperoleh respek dan kepercayaan karena menyerahkan proyek dan sumber daya kepada unit lokal. 31 Ibid. Makalah disajikan dalam diskusi terbatas.mata hanya ditugaskan untuk mengikuti kebijakan nasional.. Sedangkan desentralisasi politik. bahwa hak .215-216. kekuasaan pada tingkat nasional tidak dengan sendirinya akan menyusut. kemampuan untuk mengembangkan otoritasnya akan meningkat. hlm. “Pidato Pengarahan pada Pembukaan Sespanas-Seskoad. mulai dari penetapan peraturan-peraturan yang sifatnya pro .33 saya justru berpendapat sebaliknya. Jika suatu badan lokal diserahi tanggung jawab dan sumber daya. dimana kekuasaan dan pengaruh cendurung bertumpu pada sumber daya. 5-6 September 1992. jika suatu unit lokal diberi kesempatan untuk meningkatkan kekuasaannya.keputusan yang lebih substansial. Bandung. maka para pemuka dan warga masyarakat akan mempunyai investasi kecil saja di dalamnya.tahan..1.tingkat lokal. baik secara politik maupun administrasi merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kapasitas lokal. Konsep desentralisasi yang menekankan kepada salah satu cara untuk memberdayakan kapasitas lokal. 32 Ibid.badan otonom daerah yang menuju kepada pemberdayaan (empowerment) kapasitas lokal. Pendayagunaan Otonomi Daerah yang Bertitik Berat pada Daerah Tingkat II dan Implikasinya pada Manajemen Pembangunan. dapat didjadikan titik tolak pemikiran dalam rangka mengembangkan penyelenggaraaan otonomi daerah di Indonesia. White. karena kekhawatiran timbulnya disintegrasi dalam pelaksanaan otonomi daerah. Sebaliknya. bahwa desentralisasi. Subarda. diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Sumber Daya Manusia dan Lingkungan. resistensi dan pembangkangan daerah terhadap pusat. dalam Ateng Syafrudin. yang sesungguhnya hal itu dikarenakan “konflik kepentingan” antara individu-individu di Pusat dan Daerah. 20 Januari 1992. Bandung: Unpad. jutru akan menimbulkan “disintegrasi”. Managing Development in the Third World. 213-214. terutama untuk mempengaruhi elit birokrasi dan pengambil keputusan di pusat yang nampaknya belum sepenuh hati rela menyerahkan berbagai kewenangan dan sumber daya kepada daerah. yaitu wewenang pembuatan keputusan dan kontrol tertentu terhadap sumber . 30 26 . hlm..32 Dengan demikian. Kewenangan itu bervariasi. Kalau ada orang yang berpendapat bahwa pemberian otonomi kepada daerah dapat menimbulkan disintegrasi dan karenanya harus diwaspadai. 1987.sumber daya yang diberikan kepada badan badan pemerintah regional dan lokal.215.forma sampai kepada keputusan . hlm.hak dan kewenangan otonomi daerah yang ditahan . Carolie dan Louise G. 33 Midjaja. hlm. dan dengan demikian akan meningkatkan pengaruh serta legitimasinya. 31 Akan tetapi. Jakarta: LP3ES. Yang perlu menjadi perhatian disini adalah.

Beverly Hills. local government.governmental institutions. decentralization dalam bentuk deconcentration.35 Oleh karena itu. dalam Rondinelli. devolution to local government. Selanjutnya dikatakan bahwa kewenangan dan tanggung jawab yang diberikan lebih banyak berupa shifting of workload from a central government ministry or agency headquarters to its own field staff located in offices outside of the national capital without transferring to them the authority to make decisions or to exercise discretion in carrying them out. maka sudah bisa dibayangkan tidak akan mendorong kepada pemberdayaan masyarakat lokal.34 Sejalan dengan pendapat Bryant. California. Rondinelli. saya akan lebih memfokuskan kepada bentuk yang ketiga yang ada relevansinya atau setidaknya sebagai perbandingan dengan kebijakan desentralisasi di Indonesia. meskipun harus tetap disesuaikan dengan prinsip . keempat bentuk decentralization ini merupakan species dari genus decentralization. baik di pusat maupun di daerah tanpa mengikutsertakan masyarakat lokal. Rondinelli membedakan 4 (empat) bentuk decentralization. karena dalam deconcentration semua keputusan sudah ditetapkan. Pendapat ini tidak berbeda dengan pendapat Bryant.. Bentuk yang kedua tidak akan saya bahas. 1988. 34 35 hlm. Shabbir.” Dengan batasan ini. Menurutnya. Ateng Syafrudin. bukan mepersoalkan kekhawatiran disintegrasi. 27 . 18-19. pada hakekatnya hanya merupakan pembagian kewenangan dan tanggung jawab administratif antara departemen pusat dengan pejabat pusat di lapangan. local adminisrative units. Konsekuensi dari devolution ini. Rondinelli (1988) lebih luas memaparkan konsep decentralization dengan memberikan batasan sebagai berfikut: “the transfer of planning. yaitu: deconcentration. delegation to semi . Ibid. decision making. Dengan demikian. Policy Implementation in Developing Countries. Bentuk ketiga dari decentralization yang lebih relevan dengan perkembangan politik dan pemerintahan di Indonesia adalah devolution to local government.prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. sebagai bentuk pertama. and Cheema. Dennis A. semi-autonomous and parastatal organizations.prinsip pembagian kewenangan dan prinsip . SAGE Publications Inc. or non -governmental organizations. G.autonomous and parastatal agencies. kalau suatu sistem pemerintah daerah yang kebijakannya lebih mengutamakan deconcentration daripada devolution. and non . or administrative authority from the central government to its field organizations.pada daerah tingkat lokal itu akan dilaksanakan.unit atau badan badan pemerintahan di luar pemerintah pusat dengan menyerahkan sebagian fungsi tertentu untuk dilaksanakan secara independen (mandiri). “Implementing Decentralization Policies: An Introduction. Decentralization and Development. Dennis A. Pemerintah pusat membentuk unit . G. Shabbir. and Cheema.

Ada beberapa karakteristik bentuk devolution sebagai berikut: Pertama. Kalau kita bandingkan dengan sistem di Indonesia. bahwa kedudukan pemerintah daerah adalah “tergantung” (dependent) dan karenanya Pemerintah Daerah berada “dibawah” (subordinated) Pemerintah Pusat. mandiri (independent) dan secara tegas terpisah dari tingkat .sumber daya untuk mendukung pelaksanaan tugas . Keempat. ciri . pemerintah daerah ini mempunyai pengaruh dan kewibawaan terhadap warganya (credibility. Dengan memperhatikan ciri . dan mempunyai wewenang untuk melakukan tugas . Sedangkan ciri yang Kelima. Oleh karena itu. melihat perlunya dikembangkan cara .ciri karakteristik tersebut. Ketiga. unit pemerintahan daerah tersebut berstatus sebagai badan hukum dan berwenang mengelola dan memanfaatkan sumber . misalnya kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya nasional. dengan didorong oleh tiga hal kekuatan sebagai berikut: Pertama.cara baru dalam 28 . bagi daerah di Indonesia masih sangat terbatas. justru kita tidak memiliki kesetaraan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. oleh karena kita masih melihat bahwa segala keinginan atau tuntutan masyarakat seringkali tidak diajukan kepada pemerintah daerah setempat.tugas umum pemerintahan.unit organisasi lainnya dalam suatu sistem pemerintahan. Konsep decentralization ini didasarkan kepada adanya perhatian yang semakin besar untuk memberikan keleluasaan decentralization dalam kewenangan perencanaan. boleh dikatakan mirip dengan Indonesia. vertrauwen). namun ciri yang Keempat adalah justru menjadi “tantangan” bagi pemerintah daerah di Indonesia pada umumnya.batas wilayah yang jelas dan legal. terdapat hubungan kesetaraan dan saling menguntungkan melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta unit . pengambilan keputusan dan administrasi yang pada tahun 1970-an . Kedua. melihat kenyataan hasil yang tidak memuaskan akibat perencanaan pembangunan dan kontrol administrasi secara terpusat yang berjalan sekitar tahun 1950 dan 1960-an. unit pemerintahan bersifat otonom. unit pemerintahan daerah tersebut diakui oleh warganya sebagai suatu lembaga yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan mereka. karena prinsip desentralisasi yang dianut dalam NKRI. Kelima. melainkan langsung ke Pusat karena kurangnya “keterpercayaan” terhadap pemerintah daerah setempat yang dipandangnya tidak bakalan dapat menyelesaikan permasalahan di daerah.tugas umum pemerintahan.tingkat pemerintahan. sehingga prinsip ini tidak sejalan dengan prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI.ciri Kesatu dan Ketiga. unit pemerintahaan tersebut diakui mempunyai batas . disebut sebagai the second wave of decentralization. nampaknya ada beberapa hal kemiripan kebijakan desentralisasi yang sedang dilancarkan di Indonesia. Kedua. Pemerintah pusat tidak melakukan pengawasan langsung terhadapnya. namun dalam beberapa hal masih terdapat perbedaan. terutama dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.

Menurut versi kontinental. Desentralisasi ini adalah sistem untuk mewujudkan asas demokrasi yang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk ikut serta dalam proses penyelenggaraan kekuasaan negara. 36 29 . sehingga dengan demikian. 36 Dengan demikian. melainkan decentralization sebagai genus dan mempunyai species yang bermacam . 2001. “Hubungan antara Pusat dan Daerah berdasarkan Azas Desentralisasi Menurut UUD 1945”.mata. Sementara deconcentration yang dalam hal ini oleh Mawhood telah dipersamakan dengan administrative decentralization. dalam Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. adalah pemberian (pemasrahan) kekuasaan dari atas kebawah di dalam rangka kepegawaian.macam. ternyata decentralization tidak berdiri sendiri. sehingga semakin sulit untuk mencapai efisiensi dan efektifitas apabila semua perencanaan dan kegiatan pembangunan dipusatkan pada pemerintah pusat.24. dapat dipahami bahwa pengertian decentralisatie sebagai “staatskundige decentralisatie” (desentralisasi ketatanegaraan) merupakan pelimpahan kekuasaan pemerintahan dari pusat kepada daerah . Menurut konsep ini.19. yaitu autonomie dan medebewind atau zelfbestuur.daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri (daerah .daerah otonom). Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPPI). desentralisasi lazim dibagi dalam dua macam: Pertama. hlm. pada prinsipnya sama mendudukan decentralization sebagai genus dengan species yang bermacam-macam. Ketiga. Yang dimaksud dengan ambtelijke decentralisatie. Sedangkan yang dimaksud dengan staatskundige decentralisatie merupakan pemberian kekuasaan untuk mengatur bagi daerah di dalam lingkungannya guna mewujudkan asas demokrasi pemerintahan negara.mengelola program dan proyek serta administrasi pembangunan yang meliputi strategi pertumbuhan dan pemerataan yang dijalankan selama tahun 1970-an. decentralisatie tsb mempunyai dua wajah. 1990. Namun Mawhood (1987 : 9) dengan tegas mengatakan bahwa decentralization adalah devolution of power from central to local governments. melihat kenyataan kehidupan masyarakat semakin kompleks. melainkan memisahkan antara decentralization dan deconcentration. 37 Didiskusikan dalam Bagir Manan.37 Dalam hubungan ini. didefinisikan sebagai the ransfer of administrative responsibility from central to local government. Bandung. hanya dengan istilah yang berbeda. “Desentralisasi dan Otonomi Daerah: Perspektif Teoritis dan Perbandingan”. Kalau kita bandingkan dengan versi kontinental. yaitu ambtelijke decentralisatie dan staatskundige decentralisatie yang dibagi lagi menjadi territoriale decentralisatie dan functionele decentralisatie. desentralisasi digolongkan menjadi dua. dalam Paradigma Baru Otonomi Daerah. Dari berbagai batasan dan pengertian yang dikemukakan diatas. hlm. dekonsentrasi (deconcentration) atau ambtelijke decentralisatie adalah pelimpahan kekuasaan dari alat perlengkapan negara tingkat lebih atas kepada bawahannya guna Diana Conyers (1984). Disertasi Untuk Memperoleh Gelar Doktor Dalam Ilmu Hukum pada Universitas Padjadjaran. kegiatan pemerintahan semakin meluas. guna kelancaran pekerjaan semata . Mawhood tidak menjadikan decentralization sebagai genus dengan species devolution dan deconcentration.

melancarkan pelaksanaan tugas pemerintahan. Kedua. 39 Ibid. desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) atau juga disebut “desentralisasi politik” (politieke decentralisatie) adalah pelimpahan kekuasaan perundangan dan pemerintahan (regelende en bestuurende bevoegheid) kepada daerah . Akan tetapi. Schrieke yang mengatakan bahwa autonomie adalah eigen meesterschap. baik ditinjau dari perspektif akademik. rakyat dengan mempergunakan berbagai saluran tertentu (perwakilan) ikut serta di dalam pemerintahan.15.. menurut perkembangan sejarahnya di Indonesia. hlm. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang menyatakan otonomi adalah asas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah “misleading” dan dikhawatirkan akan menyesatkan. van het de Grondwet noemt.daerah otonom di dalam lingkungannya. van der Pot bahwa autonomie betekent anders dan het woord zou doen vermoeden-regeling en bestuur van eigen zaken.badan tersebut dengan initiatifnya sendiri dapat mengurus rumah tangganya dengan jalan mengadakan peraturan .W. b) desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie). Bandung: Binacipta.undangan lainnya yang tingkatnya lebih tinggi. eigen huishouding. 40 Ibid.golongan yang bersangkutan sendiri.peraturan daerah yang tidak boleh bertentangan dengan Undang . Dalam desentralisasi semacam ini rakyat tidak diikut sertakan. Di dalam desentralisasi politik atau ketatanegaraan ini. otonomi itu selain berarti perundangan (wetgeving). kotamadya dan seterusnya. maupun dari tataran Koesoemahatmadja. Hal ini berbeda dengan pendapat J.Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah asas penyelenggaraan dalam pemerintahan daerah. zelfstandigheid. juga berarti pemerintahan (bestuur). 38 30 .39 Dengan diberikannya hak dan kekuasaan perundangan/ pengaturan dan pemerintahan kepada badan . “Pengantar Ke Arah Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia”. seperti propinsi.38 Kedua pandangan ini membagi desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) menjadi dua macam. yaitu: otonomi (autonomie) dan medebewind atau zelfbestuur.badan otonom. badan . 1979. Seperti dikatakan C. hlm. Desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) ini dibagi lagi menjadi dua macam: a) desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie).16. Kewajiban pemerintah dalam hubungan ini hanyalah memberikan pengesahan atas segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh golongan-golongan kepentingan tersebut. yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah masing masing (otonom). dan bukan onafhankelijkheid.J.kepentingan tertentu diselenggarakan oleh golongan .14.Undang dasar atau perundang . dan dengan jalan menyelenggarakan kepentingan umum. Otonomi berarti pengundangan sendiri (zelfwetgeving).. 40 Dengan demikian. Di dalam desentralisasi semacam ini dikehendaki agar kepentingan . yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus sesuatu atau beberapa kepentingan tertentu. adalah kurang tepat kalau dikatakan bahwa otonomi dan medebewind (tugas pembantuan) sebagaimana ditegaskan dalam Undang . hlm.

cit. Daerah otonom yang diminta bantuan itu tidak berada di bawah perintah dari dan tidak pula dapat diminta pertanggungjawaban oleh pemerintah pusat/ daerah yang lebih tinggi. wewenang dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat.kepentingan dari pusat atau daerah . 41 Dengan demikian.tugas medebewind.cara penyelesaian tugas tersebut. Pertama. 42 Ibid. pemberian kepercayaan dan wewenang untuk memikirkan dan menetapkan sendiri cara . 42 Kemudian mengenai medebewind atau zelfbestuur. hlm.. sebagai konsekuensi dianutnya asas desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) sebagai suatu sistem dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. Kalau dikatakan. tidak beralih menjadi urusan rumah tangga daerah yang dimintakan bantuan.43 Selanjutnya dikatakan. otonomi dapat diartikan sebagai kesempatan untuk menggunakan prakarsa sendiri atas segala macam nilai yang dikuasai untuk mengurus kepentingan umum (penduduk). hlm. urusan . hlm. Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu merupakan wujud pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan. Dalam menjalankan tugas .alat perlengkapan daerah yang lebih bawah. Dengan perkataan lain. op. maka di dalamnya terkandung dua aspek utama. Bandung: Binacipta. Karena. bahwa otonomi itu bermakna kebebasan atau kemandirian (zelfstandigheid) tetapi bukan kemerdekaan (onafhankelijkheid). “Het Staatsrecht der Zelfregelende Gemeenschappen” Surut Otonomi Daerah”. 25 43 Koesoemahatmadja. Kedua. sebagai sanksinya pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan hanya dapat menghentikan perbuatan dari daerah yang dimintakan bantuan. Akan tetapi.operasional. bahwa “Jika ternyata ada daerah yang tidak menjalankan tugas bantuannya atau tidak begitu baik melakukan tugasnya. pemberian tugas dan kewenangan untuk menyelesaikan suatu urusan. otonomi itu merupakan manifestasi atau perwujudan kewenangan yang diberikan (“toekennen”) oleh pemerintah pusat. 41 dalam Ateng Syafrudin.23. diartikan sebagai pemberian kemungkinan kepada pemerintah pusat/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih atas untuk minta bantuan kepada pemerintah daerah/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih rendah agar menyelenggarakan tugas atau urusan pemerintah pusat atau rumah tangga (daerah yang tingkatannya lebih atas) tersebut. Di Belanda medebewind atau zelfbestuur diartikan sebagai pembantu penyelenggaraan kepentingan .daerah yang tingkatannya lebih atas oleh alat . “Pasang 31 . 1983. otonomi adalah hak.21.wakil dari yang diperintah.urusan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah masih tetap merupakan urusan pusat cq daerah yang lebih atas. bagaimana cara daerah otonom yang dimintakan bantuan itu. dalam melakukan bantuannya itu diserahkan sepenuhnya kepada daerah itu sendiri. Istilah zelfbestuur adalah terjemahan dari selfgovernment yang di Inggris diartikan sebagai segala kegiatan pemerintahan di tiap bagian dari Inggris yang dilakukan oleh wakil . untuk selanjutnya dipertimbangkan tentang pelaksanaan kepentingan atasan termaksud dengan jalan Logeman.

sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia.Undang Nomor 22 Tahun 1999 disebut dengan tugas pembantuan. seperti telah disinggung dimuka. disertai dengan pembiayaan. Jakarta: Yayasan Pariba. 2001. semuanya disediakan oleh pemerintah pusat. 46 E. di dalam konsep tugas pembantuan yang perlu disediakan oleh pemerintah pusat adalah hanya pembiayaan. op. walaupun suatu negara bangsa menganut asas desentralisasi. hlm. Padahal. dapat dikatakan bahwa lahirnya ide desentralisasi merupakan sebuah “anti . dekonsentrasi dan tugas pembantuan merupakan speciesnya. Dengan perkataan lain. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis.lain. karena kalau itu rumusannya berarti “dekonsentrasi” bukan tugas pembantuan. Karenanya. sarana dan prasarana. yaitu suatu penugasan dari pemerintah kepada daerah dan desa untuk melaksanakan tugas tertentu. 47. 46 Karenanya pula.bagian urusan tertentu yang tetap dikelola secara sentral (terpusat). Dengan menyimak berbagai batasan dan pengertian desentralisasi seperti diuraikan diatas. melainkan merupakan sub .21-22 Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. karena dalam konsep itu pembiayaan. “Otonomi Daerah. namun tidak semua urusan kewenangan diserahkan kepada daerah otonom. saya dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar melihat karena kecendurungan sentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. hlm. karena yang ditugaskan berkewajiban untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkannya. Pengertian tugas pembantuan versi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menurut pandangan saya adalah keliru. menurut pandangan saya suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan merupakan alternatif dari sentralisasi. sedangkan sentralisasi. Jadi..27-28.thesa” dari sentralisasi. sedangkan peralatan dan personil justru merupakan kewajiban pemerintah daerah dalam upaya membantu pelaksanaan tugas tertentu dari pemerintah pusat atau pem erintah daerah yang lebih tinggi tingkatannya. hlm. 44 45 32 . Koswara. maka dilancarkan ide desentralisasi dengan berbagai corak dan bentuknya. yaitu negara bangsa (nation state).45 Padahal. melainkan ada bagian . Untuk Demokrasi dan Kemandirian Rakyat”. Seperti ditegaskan dalam tulisan Syarif Hidayat (2001 : 27-28) bahwa secara prinsipal. Ibid. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. desentralisasi. dengan tidak mengurangi hak pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan untuk menuntut kerugian dari daerah yang melalaikan kewajibannya. serta sumber daya manusia. Masalahnya.” 44 Berbeda dengan konsep medebewind menurut versi Indonesia yang menurut Undang . antara yang menugaskan (pemerintah pusat) dan yang ditugaskan ada hubungan sub . dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskan.ordinasi..cit. suatu negara bangsa merupakan genusnya. bagaimana mencari keseimbangan diantara species tersebut. bahwa desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri.

pemerataan dan keadilan. Respons juridis . Tiara Wacana. setidaknya ada enam pemikiran dasar dalam pembentukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999: Pertama. “Politik Pembangunan.Sejarah ketatanegaraan Indonesia mencatat upaya yang terus-menerus mencari “titik . Terjadi pergeseran antara “dua kutub nilai”. serta memperhatikan heteroginitas daerah dan perbedaan setempat. serta meletakkan hubungan kemitraan dan kesejajaran institutional antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan Kepala Daerah. 5. dan Strategi”.1. Yogyakarta: PT.politik pada suatu waktu 47. terutama dalam perwujudan akuntabilitas publik yang mendudukan Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Melihat perspektif Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.menerus menjadi dilema. Kedua.aktivitas masyarakat. sehingga akan mewujudkan nilai dan bentuk “sentripetal”. dengan tujuan untuk menciptakan kerjasama yang erat antara Moeljarto. Konsep. Ketiga. T. hlm.. pemberian keleluasaan yang pada hakekatnya diberikan kepada masyarakat daerah sebagai kesatuan masyarakat hukum. 47 33 . maupun sebagai badan pengawas atas pelaksanaan kebijakan daerah yang dijalankan oleh Kepala Daerah. memberdayakan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. baik sebagai badan legislative daerah.keseimbangan” yang tepat dalam meletakkan bobot desentralisasi dan sentralisasi. Pemikiran dasar terbentuknya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. dalam rangka menjalankan prinsi . dalam rangka membangun prinsip keterpercayaan (akseptabilitas dan kredibilitas). 5.prinsip partisipasi dan transparansi. dan dilain pihak menekankan “nilai desentralisasi dan otonomi daerah” yang akan melahirkan nilai dan bentuk “sentrifugal”.formal terhadap dilemma ini bervariasi dari waktu ke waktu. Sebuah Analisis. dan pergeseran kedua nilai ini terus . EVALUASI PELAKSANAAN UNDANG – UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. yaitu “nilai pembangunan bangsa dan integritas nasional” disatu pihak yang menekankan pentingnya “sentralisasi”. dilaksanakan atas dasar prinsip-prinsip demokrasi. Arah. peranserta dan oto . sebagai upaya mewujudkan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraaan otonomi daerah dalam rangka penetapan kebijakan desentralisasi dengan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menjadikan “daerah otonom” yang mandiri dalam naungan sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. serta penyalur aspirasi masyarakat sebagai sarana pengembangan demokrasi. memantapkan hubungan antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah. Keempat. 1987. tergantung kepada konfigurasi .

kedua institusi tersebut. yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. seperti badan otorita. 7) Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislative daerah. Keenam. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. serta antar -Daerah. keadilan. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas.daerah. kawasan pariwisata dan semacamnya. baik di dalam negeri. dengan 34 . kawasan pelabuhan. kawasan pertambangan. Sejalan dengan dasar pemikiran tersebut diatas. kawasan kehutanan. pemerataan serta potensi dan keanekaragaman Daerah. kawasaan industri. maupun tantangan persaingan global . kawasan perkebunan. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 semangatnya mengandung prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah sebagai berikut: 1) Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. baik sebagai fungsi legislasi. sebagai kesatuan masyarakat hukum terrendah. 8) Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. sehingga asas dekonsentrasi dalam lingkungan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dianut lagi. menjaga dan memelihara stabilitas pemerintahan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat.prinsip Good Governance. dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi. 9) Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. yang mau tidak mau pengaruhnya akan sangat dirasakan oleh daerah . tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah. yang memiliki hak asal . tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa dengan disertai pembiayaan. Kelima. Dari keenam pemikiran dasar tersebut secara signifikan dan potensial telah tertampung dijalankannya prinsip . 4) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara. kawasan perumahan. 5) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah Otonom. 3) Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. untuk mendudukan kembali posisi “Desa” atau dengan nama lain. 6) Pada kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain. fungsi pengawasan maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah. sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah.usul dan otonomi asli. kawasan perkotaan baru. untuk mengantisipasi perkembangan keadaan. 2) Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi yang luas. berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonom. nyata dan bertanggung jawab.

beda dan mengarah kepada sikap dan tindakan yang akan membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa.ordinasi dari Pemerintahan nasional.pasal Undang . pembinaan dan pengawasan pemerintah pusat. kemerdekaan atau ketidak tergantungan). berbeda dengan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang lebih cendurung menganut “The Structural Efficiency Model”. Dari prinsip . bukan berarti kembali kepada paradigma lama seperti dalam Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 dimana Gubernur berperan kuat sebagai “interventionist”. self-determination. onafhankelijkheid. nyata dan bertanggung jawab. dan karenanya harus terjamin bahwa pelaksanaan otonomi daerah itu tidak keluar dari rambu . adalah dengan mendjadikan daerah Provinsi sekaligus sebagai Wilayah Administrasi. maupun dalam implementasinya tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda . hendaknya dijaga benar .rambu dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. perbedaan setempat dan keanekaragaman daerah (“democratic. bimbingan dan fasilitasi kepada daerah kabupaten/ kota yang berada dalam wilayah administrasi provinsi yang bersangkutan.prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah tersebut di atas. perlu ditekankan bahwa dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah menurut Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. baik dalam memahami pasal . local differences and system diversity). sikap emosional dan tuntutan yang berlebih . yang ditinjau dari segi tujuannya atau valuesnya. Dalam hubungan ini.aspek demokrasi. tetap merupakan sub . model ini lebih menekankan kepada aspek . yang pada dasarnya untuk terwujudnya kemandirian daerah. Walaupun kebijakan desentralisasi yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini telah melahirkan pemberian otonomi yang luas.kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya. Jadi. namun posisi kemandirian daerah otonom seperti itu tidak berarti bahwa Daerah-daerah itu akan berkotak . pengendalian.sistem dan sub . dan dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat yang berperan untuk menjaga keseimbangan dan memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka NKRI. terutama bagi Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Salah satu konstruksi untuk menjaga dan menjamin penyelenggaraan otonomi daerah yang demikian itu.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tersebut. demikian pula sikap dan perilaku birokrasi pusat yang enggan untuk bergeser dari paradigma lama dalam memperlakukan pembagian 35 . Oleh karena itu. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini lebih condong menganut kepada “The Local Democratic Model”.lebihan dan kurang proporsional dari Daerah. memberikan pengendalian. melainkan keleluasaan otonomi yang diberikan kepada Daerah ini. dapat disimpulkan bahwa ada “keinginan politik” (“political will”) yang kuat dari Pemerintah Pusat untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah yang semula sangat sentralistik dan bercorak “centripetal” menjadi desentralistik yang bersifat “centrifugal”.kotak.Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. terlepas dan bebas dari supervisi. Dalam pada itu.benar agar gerakan pergeseran pendulum tersebut. (dalam pengertian independent.

Dengan melihat hasil evaluasi seperti itu. yang diproyeksikan akan berlangsung dalam tahun 2002-2003. Amanat UU 22/1999 menyebutkan bahwa selama dua tahun diproyeksikan persiapan segala peraturan perundangan organik Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Tahapan stabilisasi.benturan baik yuridis. pengembangan demokrasi. maka pelaksanaan otonomi daerah secara formal menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dimulai Januari 2001.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak serta merta berjalan mulus seperti yang diharapkan. maupun psikologis serta sosio . mengingat kebijakan tentang tahun fiskal yang baru. melainkan terdapat benturan . melainkan pula akan mengaburkan makna pemberian otonomi yang luas. Tahapan instalasi.2. yang justru dimaksudkan untuk memperkuat integrasi. sebab kalau tidak. sebaiknya sejauh mungkin dieliminir. persatuan dan kesatuan bangsa. walaupun secara teoritis pada dasarnya implementasi otonomi daerah seharusnya sudah dapat berlangsung di 36 . yang pada akhirnya ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. ketiga. pemerataan dan keadilan. nyata dan bertanggungjawab. Kedua. yang diproyeksikan tahun 2004–2007. Realisasi Undang . bahkan menurut perspektif Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai pengganti Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diupayakan untuk mewujudkan peningkatan “daya saing daerah”. yaitu mulai Januari sampai Desember. hal tersebut bukan saja akan mengaburkan makna persatuan dan kesatuan bangsa. sehingga secara efektif pelaksanaan otonomi daerah menurut semangat Undang Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 akan dimulai pada Mei 2001. Realisasi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. yaitu: Pertama. politik. Pelaksanaan kebijakan desentralisasi berdasarkan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah berlangsung sejak Januari 2001 dengan tahapan-tahapan yang prosesnya sudah ditetapkan secara makro.kewenangan pusat kepada daerah. dan terakhir Keempat. Ini prinsip transparansi yang harus dijaga benar dalam penyelenggaraaan pemerintahan daerah. Tahapan inisisasi yang dilakukan selama tahun 2001. agar tidak menyimpang dari upaya mewujudkan Good Governance. 5. Namun.kultural yang menghambat jalannya pelaksanaan otonomi daerah. dimana setelah tahun 2007 diharapkan lay-out atau bentangan daerah otonom secara lebih nyata dapat dilihat di seluruh wilayah daerah otonom di Indonesia. Tahapan konsolidasi.

jeopardize stability and might be accompanied by more corruption. 48 37 . Jakarta. maupun selaku Wakil Pemerintah.l. 1998. dan 218. 208. baik dalam rangka dekonsentrasi.mata sebagai wahana untuk menjatuhkan Kepala Daerah . menambah rumitnya hubungan kewenangan antara pusat dan daerah. IIP Press. dipandang sepenuhnya menjadi kewenangan daerah.departemen Sektoral. Demikian pula. Koswara. juga karena Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diluncurkan dan diberlakukan begitu saja. Inilah salah satu alasan yang menjadi kritikan Remy Proud’homme (1998: 2) 49 yang antara lain menyatakan bahwa memberikan desentralisasi yang luas kepada daerah “ can increase disparities”.masing. Hubungan DPRD dengan Kepala Daerah yang sering menimbulkan ketegangan. “The Dangers of Decentralizartion”.undangan Sektoral yang belum disesuaikan dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. tanpa ada sosialisasi Dalam UU yang baru (UU 32/2004) ketentuan mengenai “tidak adanya hubungan hierarkhis” sudah dihapus.tingkat pemerintahan. disamping karena penafsiran terhadap pasal-pasal Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut diartikan secara “letterlijk” dan dengan berbagai persepsi yang bermacam . disamping menyebutkan bahwa decentralization can undermine efficiency. dimana Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak secara tegas mengatur kewenangan Propinsi dan Kabupaten/ Kota. tanpa melihat sifat dan coraknya serta ruang lingkup urusan pemerintahan di Daerah. 4 tahun berjalan dalam praktik memunculkan hubungan yang kurang harmonis antara Gubernur dan Bupati/Walikota di beberapa kasus tertentu. karena Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Angggaran hanya dilihat semata . namun dalam praktiknya. 202. dapat ditafsirkan bahwa semua kewenangan pemerintahan diluar yang dikecualikan. atau sebagai ruang yang potensial untuk mengadakan kolusi antara DPRD dengan Kepala Daerah. “Teori Pemerintahan Daerah. masih timbul persoalan . Ketentuan yang menyatakan tidak adanya hubungan hierarki 48 antara Propinsi dan Kabupaten/Kota. hlm. dalam E. dan Departemen . Belum sinkronnya peraturan perundang . sesuai kehendaknya masing . (2) (3) (4) (5) Persoalan tersebut muncul.persoalan yang mengemuka di lapangan. dengan diletakannya otonomi daerah pada Daerah Kabupaten/ Kota dan diberikan otonomi yang luas sebagaimana dinyatakan dalam pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. karena ketidak tegasan meletakkan fungsi dan kewenangan Gubernur dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. antara lain: (1) Menyangkut pengaturan prinsip-prinsip dasar dan distribusi kewenangan diantara tingkat . 2003. 49 Remy Prud’homme.daerah.macam. hampir selama k. Kedudukan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kurang berfungsi.

Departemen (LPND) yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral/ Teknis.Undang. Padahal Presiden menurut UUD (Pasal 5.Undang Dasar 1945. penjelasan Pasal 18 (lama). namun tidak jelas apakah dengan demikian kedudukan Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah. atau dalam kedudukan selaku Wakil Pemerintah apakah Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah? Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 hanya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Wilayah Administrasi adalah “daerah administrasi” menurut Undang .pasal dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang tidak jelas. Sebab. bahwa Daerah . banyak penjelasan Pasal . 38 .daerah itu bersifat autonom (Streek en locale rechtsgemeenschappen) atau bersifat administrative belaka. baik dalam hal menafsirkan sesuatu pasal maupun rambu . tanpa ada guide . (6) Isu lain yang menonjol adalah menyangkut kedudukan dan peran Gubernur. Dalam kedudukan sebagai “Wakil Pemerintah” menurut Undang .rambu yang mestinya jadi acuan bagi pelaksanaan UU tersebut. baik bagi perangkat pemerintah daerah maupun bagi perangkat pemerintah pusat.Undang yang baru.lines dan rambu . (b) Koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. dekonsentrasi fungsional) di wilayah dalam yurisdiksi tertentu sebagai “lingkungan kerjanya”. sehingga PP tersebut merupakan “umbrella” yang memuat guide . (7) Demikian pula kewenangan dekonsentrasi bagi instansi vertikal tidak dengan tegas dinyatakan bahwa instansi vertikal adalah perangkat Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non .lines sebagai acuan. walaupun hanya terbatas kepada 3 (tiga) hal sebagai berikut: (a) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/ kota. maupun dan terutama dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah dalam kaitannya dengan pelaksanaan asas dekonsentrasi tidak jelas dan tidak secara eksplisit menggambarkan lingkup dekonsentrasi di Propinsi. melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku wakil pemerintah (dalam konteks “Integrated Perfectoral System”). sebelum peraturan pelaksananaan (peraturan organik) dikeluarkan.rambu bagi pelaksanaan secara operasional di lapangan. dan tidak hanya berkoordinasi dengan Gubernur. Di dalam UUD 1945. meskipun dalam penjelasannya disebutkan “cukup jelas”. baik sebagai Kepala Daerah Otonom Propinsi. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. Lazimnya “daerah administrasi” yang menganut “Split model” yang dikepalai oleh seorang Kepala Wilayah. ayat 2) mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan PP tentang mulai diberlakukannya suatu Undang .dan diseminasi terlebih dahulu. tugas dan wewenang Gubernur lebih tegas. Walaupun Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menyatakan secara eksplisit bahwa Daerah Propinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi.

dan pemersatu bangsa.tugas dekonsentrasi tidak dipertanggungjawabkan kepada DPRD.tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada DPRD. meskipun PP 39/2001 tentang penyelenggaraan dekonsentrasi merupakan tindak lanjut dan peraturan organik dari Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. ketentuan Pasal 4 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa daerah-daerah Provinsi. benar .benar secara operasional dapat diselenggarakan secara baik. penyelaras. sebab kalau kewenangan pemerintah pusat dilaksanakan oleh perangkat daerah otonom adalah tugas pembantuan.dinas daerah propinsi berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur selaku Kepala Daerah Otonom Propinsi.tindih pertanggungjawaban kepada Presiden dan DPRD. melakukan supervisi dan memfasilitasi .sini masih menimbulkan kerancuan untuk dapat secara otomatis dijalankan oleh Gubernur selaku Wakil Pemerintah. yang semestinya melekat pada Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Pasal 9 ayat (3) dan Pasal 12. terutama Pasal 8 ayat (2).jawabkan oleh Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kepada Presiden. Ketentuan itu tidak tepat dan menimbulkan masalah serta bertentangan dengan konsep dekonsentrasi itu sendiri. namun disana .tugas “dekonsentrasi” sebagaimana termaksud dalam Pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 39 Tahun 2003 sama sekali tidak disinggung lagi dalam Undang – Undang yang baru (Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004). dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak tercantum lagi. mengawasi. Mudah . Sebab.psikologis yang tidak menguntungkan menyangkut hubungan antara Gubernur dan Bupati/ Walikota. sehingga akan timbul tumpang . yang ternyata membawa dampak politis . Kabupaten dan Kota masingmasing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain. melainkan dipertanggung . Demikian pula.kelamahan yang terdapat dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. dan bukan dekonsentrasi. Gubernur memang seharusnya mempunyai kewenangan untuk mengkoordinasikan.mudahan peraturan pelaksanaan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 nanti. yang pada gilirannya fungsi dan peranan Gubernur yang diharapkan akan menjadi koordinator. dinas . menurut pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 pelaksanaannya dilakukan oleh dinas . misalnya saja disebutkan bahwa pelimpahan sebagian kewenangan kepada Gubernur “mesti ditetapkan dengan Keputusan Presiden”.dinas daerah propinsi. terutama menyangkut “Tata Cara Pelimpahan Wewenang dan Penyelenggaraan Kewenangan”. Dalam pada itu. sehinga penyelenggaraan manajemen pemerintahan di daerah akan lebih efektif dan efisien. Menyangkut penyelenggaraan dekonsentrasi. penyeimbang. Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah dalam konteks “Integrated Prefectoral System”. sedangkan tugas . Tugas . Dalam hubungan dengan penyelenggaraan dekonsentrasi. akan mengadakan penyesuaian terhadap kelemah .Koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. yang selanjutnya pelaksanaan tugas . agar Daerah mampu menjalankan otonominya secara optimal. dengan tidak adanya (c) 39 .

undangan normatif.pasal 1.prinsip manajemen pemerintahan yang efektif. maupun Inplementasi. (5) Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. DPD dan DPRD. (2). VI/MPR?2002. yaitu menjalankan kewenangan Pusat untuk menjaga dan memelihara agar kebijakan dan jalannya penyelenggaraan pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota tidak menyimpang dan tidak bertentangan dengan kepentingan umum. (6) Keputusan MPR No. (5) Ketetapan MPR No. diantaranya: (1) Undang – Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi.undang lainnya. 18. (4) Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. (1) UUD 1945 telah diamandemen. 22D. melainkan juga akan merapuhkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. (2) Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 33 dan 34. diantaranya adalah sebagai berikut: a. yang erat kaitannya dengan penyelenggaraan sistem pemerintahan daerah. Beberapa Ketetapan MPR yang berkaitan dengan pemerintahan daerah. Instrumen. Dengan melihat hasil evaluasi terhadap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan pelaksanaannya telah mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. (2) Ketetapan MPR No. yaitu: (1) Ketetapan MPR No.undangan yang lebih tinggi. 18B. baik ditinjau dari perspektif Konsep.undangan. 20. terutama pasal-pasal yang terkait langsung dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. 5. maka dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan yang kompleks dalam kaitan dengan mensinergikan kepentingan antar tingkat pemerintahan sebagai suatu kesatuan sistem dalam Negara Kesatuan RI. (3) Ketetapan MPR No. kepentingan nasional ataupun peraturan perundang . (7) 40 .3. (3) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. 5/MPR/2003. (6) Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang . 5. 21. terutama dalam menjalankan “Tutelage Power”. Kolusi. IV/MPR/2000. 23E ayat 24 ayat (1). XV?MPR/1988. Beberapa pertimbangan perlunya perubahan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. (3) Perlunya penyerasian dan penyelarasan dengan Undang . DPR. dan Nepotisme. yang pada gilirannya bukan saja akan mengganggu penyelenggaraan prinsip . Adapun beberapa pertimbangan yang melatar . 18A.ketegasan pengaturan mengenai tugas dan kewenangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. yaitu: Pasal . 31 ayat (1). terutama menyangkut perundang . IV/MPR/1999.belakangi mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 perlu dirubah atau diganti. Dari perspektif perundang-undangan. I/MPR/2003. (4) Ketetapan MPR No.

Dalam pengelolaan kewenangan sering memunculkan friksi. Dari perspektif Implementasi. ovelapping. • • d. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 memberi kuasa kepada pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi tanpa diberikan rambu . Dalam pada itu. baik yang diterbitkan pemerintah maupun daerah. sehingga sering menimbulkan penafsiran yang berbeda.undnagan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya. Dari perspektif Konsep. sehingga daerah berprakarsa membuat pengaturan sendiri dengan wewenang yang diberikan Tap MPR IV/2000. IV/2000. sehingga terjadi pembengkakan struktur yang tidak effisien.rambu yang jelas. c. sehingga sering menimbulkan konflik dan penafsiran yang berbeda. Karena pemberian otonomi yang luas yang tidak terkendali.Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara. sehingga banyak daerah mengambil prakarsa sendiri dalam membuat peraturan daerah dengan wewenang yang diberikan TAP MPR No. redundent dan conflict of interest antar tingkat pemerintahan.  Dari perspektif Instrumen. sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong terselenggaranya otonomi daerah secara transparan atau terdapat peraturan organik yang menyimpang dari esensi UU pokoknya.undangan. Sistem pengelolaan kepegawaian yang didasarkan kepada separated system menimbulkan ekses . namun tanpa diberikan rambu . Penyusunan pengaturan perundang .ekses 41 . baik yang diterbitkan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. b. belum sinkronnya berbagai peraturan perundang undangan.rambu. (8) Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. sehingga cendurung mengurangi dan mengganggu pelayanan umum. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah memberi kuasa kepada Pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi. Belum harmonisnya berbagai peraturan perundang . Penyusunan peraturan perundang . sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong otonomi daerah. pembentukan lembaga pemerintahan daerah sering kurang memperhatikan atau kurang berorientasi kepada peningkatan pelayanan masyarakat.undangan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya.

serta perlunya kepastian hukum terhadap persamaan kedudukan seluruh warga negara. Pertimbangan lain. misalnya peletakan dasar sistem informasi manajemen dalam segala bidang.undangan sektoral yang belum disesuaikan. Dalam pada itu. Pengaruh Lingkungan strategis. akibat belum memadainya pedoman yang diperlukan dan adanya berbagai perundang . e. Demokratisasi dan Hak Asasi Manusia. bangsa dan negara yang lebih tinggi. memerlukan landasan peran serta dan mekanisme penyaluran aspirasi masyarakat.sejajaran antara DPRD dan Kepala Daerah. f.ethnosentrisme dan terbatasnya mobilitas pegawai dalam pengembangan karier.larut yang sudah barang tentu akan menimbulkan “ketidak stabilan” dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. sehingga memerlukan arahan yang jelas sebagai kebijakan pemerintah yang perlu dituangkan dalam undang undang. karena dalam prakteknya DPRD sering mendominasi Kepala Daerah. bahwa perkembangan tuntutan demokratisasi dan Hak Azasi Manusia (HAM) yang semakin menonjol dalam berbagai aspek kehidupan. atau bahkan sering dijadikan ajang “politik uang” dalam penerimaan atau penolakan LPJ tersebut. Kerjasama antara DPRD dan Kepala Daerah yang mestinya diarahkan untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. secara operasional kurang berjalan dengan baik.4. seperti globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas menuntut efisiensi dan daya saing masyarakat. Timbulnya kebijakan sektoral di daerah yang tidak sejalan dengan semangat otonomi daerah. sebagai tindak lanjut Pasal 112 dan 133 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Disamping itu. adalah juga yang mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. penetapan APBD lebih banyak berorientasi kepada menutup untuk keperluan aparat daerah dan DPRD daripada untuk keperluan pelayanan publik. misalnya dalam Laporan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD sering dipergunakan sebagai ajang politik untuk menjatuhkan Kepala Daerah dan bukan untuk menilai performance Kepala Daerah menurut ukuran Renstra. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat merupakan tantangan untuk menyesuaikan sistem dan prosedur manajemen pemerintahan daerah. 5. yang pada gilirannya membawa dampak penurunan terhadap pelayanan masyarakat. Demikian pula. Paradigma baru pembagian urusan pemerintahan 42 . hubungan kemitra . dalam praktek sering dijadikan sebagai praktek “kolusi” atau pertentangan kepentingan yang berlarut . yang menjadi pertimbangan lainnya adalah pengaruh lingkungan strategis.

Kedua: Akuntabilitas.5. dimana dalam strata pemerintahan daerah. sedangkan dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak dengan tegas menyatakan tentang letak atau titik . karena paradigma yang dianutnya adalah konsep “pembagian urusan pemerintahan” yang bersifat “concurrent”. Dengan demikian. adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya. apabila dampaknya regional menjadi kewenangan provinsi. Pembagian urusan yang bersifat “Concurrent”. yaitu suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/ akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama disemua tingkat pemerintahan. untuk mendapatkan ketepatan. dilaksanakan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.4. baik yang menyangkut “urusan wajib” maupun “urusan pilihan”. ada bagian urusan yang diserahkan kepada provinsi. maupun sarana. baik personil. kalau Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan tegas menyatakan bahwa letak otonomi adalah pada Daerah Kabupaten/Kota dalam memfungsikan pelayanan kepada masyarakat. dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut. maka akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin. maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan kabupaten/ kota. Ketiga: Efisiensi. apabila suatu bagian 43 . Apabila dampak yang ditimbulkan itu bersifat lokal.Peletakkan Otonomi Daerah dan pembagian urusan yang bersifat Concurrent. adalah suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tiangkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/ dekat dari urusan yang ditangani tersebut. Mengenai strategi hubungan kekuasaan antara pusat dan daerah.berat otonomi itu diletakkan. Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. Artinya. dan ada pula bagian urusan yang diserahkan kepada kabupaten/ kota. pemerintah daerah provinsi. Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang bersifat concurrent tersebut secara proporsional antara pemerintah pusat. didasarkan kepada 4 (empat) kriteria yang meliputi: Pertama: Eksternalitas. daerah kabupaten/ kota. Kenapa letak otonomi tidak dinyatakan dengan tegas. kabupaten/ kota merupakan pemerintahan daerah yang paling dekat kepada masyarakat. dan apabila nasional menjadi kewenangan pemerintah pusat. sebab baik Daerah Provinsi maupun Daerah Kabupaten/ Kota mempunyai kedudukan yang sama sebagai Daerah Otonom.1.

yaitu ajaran tentang pembagian urusan kewenangan dalam 3 lingkungan kekuasaan. dan kurang memberikan E.. Dalam kaitan dengan ajaran “ de drie kringenleer” ini. maka bagian urusan tersebut diserahkan kepada daerah Provinsi dan/ atau Kabupaten/ Kota. Dalam ajaran ini ada yang disebut “taak verdeling” antara pusat dan daerah. Kewenangan setiap daerah meliputi tugas tugas yang ditentukan satu per satu secara nominatif. maupun pada penyerahan . Jadi apa yang tidak tercantum dalam rincian itu.masing lingkungan kekuasaan bersikap dan bertindak jurisdiksi . Disamping itu. op.positive dan jurisdiksi negatif51. sehingga terjadi model piramid terbalik. maka bagian urusan tersebut tetap ditangani oleh pemerintah pusat. di Negeri Belanda sendiri teori ini sudah tidak dipakai lagi. hanya sifat dan gradasi yang berbeda yang ditentukan oleh 4 (empat) kriteria tersebut diatas. dengan perkataan lain daerah yang berszangkutan tidak mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kegiatan di luar yang sudah diperinci atau yang secara a priori telah ditetapkan. dan daerah kabupaten/ kota mempunyai kewenangan urusan yang sama.cit. Sebaliknya. dan saling mendukung secara sinergis sebagai satu kesatuan sistem yang menyeluruh. 50 51 44 . perumus Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 cendurung menggunakan teori atau ajaran dari negeri Belanda yang sering disebut “de drie kringenleer” .urusan dalam penanganannya dipastikan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna dilaksanakan oleh daerah Provinsi dan/ atau Daerah Kabupaten/ Kota dibandingkan apabila ditangani oleh pemerintah pusat. disamping adanya kewenangan “pilihan” (option) yang didasarkan kepada konsep concurrent tadi.50 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 memperinci secara tegas “urusan wajib” yang menjadi kewenangan daerah. pada masa Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 kita menggunakan ajaran ‘Rumah Tangga Materiil” (Materiele Huishoudingsleer). Keserasian hubungan.penyerahan selanjutnya. hlm 73-74 Sikap dan tindakan Jurisdiksi-positif dan/atau Jurisdiksi-negatif.dependent). Keempat. dimana antara pemerintah pusat dan daerah terdapat pembagian tugas yang diperinci secara tegas. bersifat saling berhubungaan (interconnection). Koswara. baik di dalam undang . antara lain sering terjadi duplikasi. Sebenarnya. akan sangat dipengaruhi oleh potensi sumber daya dari sebagian urusan yang akan diserahkan itu. apabila suatu bagian urusan tertentu akan lebih berdayaguna dan berhasilguna bila ditangani oleh pemerintah pusat.undang pembentukannya. saling tergantung (inter . kejumbuhan (overlapping) sulit untuk dihindarkan. kecendurungan terjadi sharing ratio dalam pembagian kewenangan yang sering membias keatas. tidak termasuk kepada urusan rumah tangga daerah. adalah bahwa pengelolaan bagian urusan pemerintahan yang dikerjakan oleh tingkat pemerintahan yang berbeda. yaitu suatu sistem dalam penyerahan kewenangan dalam rangka otonomi daerah. demikian pula kevaccuman pemerintahan sering terjadi karena ada kecendurungan masing . daerah provinsi. yaitu antara pemerintah pusat. karena mengandung beberapa kelemahan. Sadar atau tidak.

Pasal 18A ayat (1) hanya menyatakan bahwa “Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan 45 . setidak .Undang Nomor 5 Tahun 1974 maupun dalam Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak dipergunakan lagi. namun Ketetapan MPR itu sendiri perlu dikaji.tidaknya terdapat tiga persoalan yang prinsip. misalnya Pasal 18 ayat (5) hanya menyatakan bahwa “Pemerintah Daerah menjalankan otonomi seluas . karena pada umumnya mereka sudah established. Kalau dibandingkan dengan negeri Belanda dan Inggris atau di negara .Undang Nomor 5 Tahun 1974. kecuali kalau ditetapkan secara pasti (clear cut) mana soal . karena berdasarkan pengalaman istilah tersebut ternyata dapat menimbulkan kecendurungan pemikiran yang dapat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan dan tidak serasi dengan maksud dan tujuan pemberian otonomi kepada Daerah. perlu adanya klarifikasi terhadap TAP MPR tersebut.RI Nomor IV/MPRRI/2000 Tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. provinsi. maupun operasional. yaitu Pasal . Kalau yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat terhadap Daerah Propinsi. terutama keseimbangan antara kekuasaan Pemerintah Pusat dengan kekuasaan Pemerintah Daerah disemua tingkat pemerintahan. dimana istilah itu baik dalam Undang .keleluasaan (descretion) kepada daerah untuk berinisiatif dan berinovasi. baik dari segi pendidikan maupun dari strata sosialnya. baik aparatur maupun masyarakatnya tergolong kepada kaum menengah. Dalam prakteknya konsep ini sulit dioperasionalkan. namun tidak ada satu ayatpun yang secara ekplisit mengatur tentang pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah. Tap MPR di atas dapat dikatakan sebagai upaya politik untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah pada “titik keseimbangan” (equilibrium). politik. sedangkan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. baik secara akademik. 18A dan 18B yang meliputi 11 (sebelas) ayat. Walaupun pengembangan paradigma baru yang dituangkan ke dalam Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 berasal dari ide Ketetapan MPR . Dengan demikian. dan kabupaten/ kota. Penggunaan istilah “otonomi seluas . dimana teori ini dapat digunakan secara efektif.Undang Nomor 18 Tahun 1965.negara maju lainnya akan sangat berbeda.pasal 18.undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat” . kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang .luasnya. juridis.luasnya” berarti kembali kepada paradigma Undang . Demikian pula. meskipun Pasal 18 UUD 1945 diperluas menjadi tiga Pasal. yaitu: Pertama. karena faktor pendidikan dan rasionalitas SDM aparatur pemerintah daerah di Indonesia yang relatif masih rendah. ajaran ini tidak mendorong daerah untuk berprakarsa dan mengembangkan potensi wilayahnya diluar urusan yang tercantum dalam undang undang pembentukannya. terutama mengenai apa yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat dan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. Namun.soal yang masuk lingkungan pemerintah pusat. Kabupaten dan Kota sama dengan system penyerahan kewenangan otonomi proporsional bertingkat berarti kembali kepada paradigma lama sebagaimana dianut dalam Undang .

atau antara provinsi dan kabupaten dan kota. ayat (1) yang dibagi adalah “Negara Kesatuan Republik Indonesia”.4. dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. menyangkut Pembagian Daerah. disamping asas desentralisasi dan asas tugas pembantuan.pemerintahan daerah provinsi. daerah kabupaten. tetap berlaku sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari batang tubuh UUD 1945. karena saya tetap berpegang kepada Pasal 1 ayat (1) yang dalam Perubahan Pertama UUD 1945. karena secara eksplisit menyatakan “NKRI dibagi”.daerah provinsi. kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. yang diatur dengan undang undang”. saya tidak berpretensi untuk menganggap bahwa Perubahan Kedua UUD 1945 yang menyangkut Pasal 18 ayat (1) sebagai Pasal yang bernuansa “Federasi”. yang tiap . “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah .” 5. dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan”.tiap provinsi. Undang . Kedua. kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang . karena otonomi bukan asas melainkan “hak.Undang Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan bahwa Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. maupun dalam tataran operasional. Ketiga.2.undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah”. Penekanan terhadap terminologi “asas otonomi” dikhawatirkan akan menimbulkan “misleading” dalam penafsiran. Ada sementara anggapan orang bahwa Pasal 18 baru ayat (1) ini bernuansa “Federasi”. karena tidak lazim dipakai. baik dalam tataran konsep akademik. wewenang dan kewajiban” untuk mengatur dan mengurus sendiri pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada daerah. Dalam perubahan kedua UUD 1945 tidak lagi mengenal “Pembagian Daerah” seperti halnya dalam Pasal 18 lama. Politik luar negeri. karena dalam Pasal 18 baru.undang ditentukan menjadi urusan pemerintah pusat. sehingga ketiga persoalan diatas bisa diklarifikasikan (clarified) dengan baik. yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 1 ayat (1) : “Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik. karena semangatnya sudah ditampung dalam berbagai perubahan/tambahan Pasal dalam UUD 1945 yang baru. tidak diadakan perubahan. diatur dengan undang . Pasal 18 baru UUD 1945 tidak menganut lagi asas dekonsentrasi dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan di daerah. Namun Penjelasan Pasal 18 UUD 1945 lama dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 18 ayat (2) hanya menyatakan bahwa “Pemerintahan daerah provinsi. Walaupun demikian. kecuali apabila Penjelasan Pasal 18 lama. yang bunyi selengkapnya adalah sebagai berikut.Asas penyelenggaraan pemerintahan. kabupaten dan kota. 46 . Pasal 10 ayat (3) menegaskan bahwa yang menjadi urusan Pemerintah yang dikecualikan tersebut adalah: a.

mestinya diadakan judicial review oleh Mahkamah Konstitusi. Padahal. Moneter dan fiskal nasional. mestinya sebagian urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) tersebut dimungkinkan untuk diserahkan kepada daerah melalui asas “desentralisasi”. Agama. tugas pembantuan.Undang Nomor 32 Tahun 2004. Ayat (4) menyebutkan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah. b. Mengenai penetapan asas penyelenggaraan pemerintahan. atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa. d. c. melainkan suatu hak. Selanjutnya ayat (5) menegaskan bahwa dalam urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Padahal asas . Yustisi. karena otonomi dan tugas pembantuan bukan asas. tetapi kalau itu merupakan kekeliruan. Pada Pemerintah pusat menggunakan asas . karena dalam UU tsb asas penyelenggaraan pemerintahan diatur dengan menetapkan bahwa antara penyelenggaraan pemerintahan di Pusat dan di Daerah berbeda. dan dekonsentrasi. Pertahanan. menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 agak rancuh mengaturnya. jangan sampai perundang .undangan di bawahnya ikut keliru.52 6. Disamping itu.32/2004. Keamanan. dan f. otonomi dan tugas pembantuan sebagai “asas” adalah misleading. e. Walaupun kata-kata asas otonomi dan tugas pembantuan itu berasal dari UUD (setelah diamandemen).b. Pemerintah dapat: a. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah atau: c. Dari uraian Pasal 10 ini dapat diartikan bahwa tidak ada kemungkinan daerah akan memperoleh tambahan kewenangan dari Pemerintah selain dari yang sudah ditetapkan dalam Pasal 13 dan 14 Undang .asas desentralisasi. 52 DAMPAK PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH Lihat Pasal 20 ayat (2) dan (3) UU No. 47 .asas tersebut merupakan suatu kebijakan (“policy”) yang berlaku baik di pusat maupun di daerah sebagai satu kesatuan sistem yang tidak bisa dipisahkan. wewenang dan kewajibansebagai manifestasi atau perwujudan atau konkritisasi dianutnya asas desentralisasi dalam NKRI. sedang penyelenggaraan pemerintahan di daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. tidak hanya melalui “tugas pembantuan”.

anggaran dan pengawasan. Walaupun kita melihat secara potensial dampak positif dari pelaksanaan otonomi daerah. kemungkinan munculnya konflik kepentingan antar Daerah dan antara Daerah dan pusat yang berkaitan dengan pendayagunaan sumber daya alam. f. munculnya kreativitas dan inovasi Daerah untuk mengembangkan pembangunan daerahnya. dan pelaksanaan maupun dalam proses evaluasi dan pengawasan. meningkatnya gairah birokrasi pemerintahan Daerah. Partisipasi aktif masyarakat dalam proses kepemerintahan. baik dalam proses penentuan kebijakan.2. b. dikhawatirkan akan menimbulkan dampak ekonomi biaya tinggi. keinginan bagi Daerah Otonom untuk meningkatkan penghasilan asli Daerah (PAD) yang berlebihan. yang pada gilirannya akan menimbulkan “keterpercayaan” masyarakat kepada pemerintah daerah. g. dalam arti peningkatan Akuntabilitas. pemberian pelayanan umum kepada masyarakat semakin meningkat. Dampak Positif Sesuai dengan tujuan pemberian otonomi daerah. karena kompetisi professional. bersih. 6. sehingga keinginan untuk mewujudkan pemerintahan yang baik. terpercaya dan akuntabel (“Good Governance”) semakin sangat didambakan oleh masyarakat.6. memberatkan masyarakat. a. e. namun perlu juga mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi secara negatif dalam pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang . munculnya semangat kedaerahan yang menjadi faktor pendorong yang kuat bagi pengembangan daerahnya.l. meningkatnya pengawasan atas jalannya pemerintahan Daerah. baik kualitas maupun kuantitas. meningkatnya peranan DPRD sebagai wahana demokrasi dan penyalur aspirasi rakyat dalam menjalankan fungsi legislasi. 48 . serta terbukanya peluang karier yang lebih tinggi.1. akan semakin meningkat. baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun DPRD. Dampak negatif. dan kurang terjaminnya kelestarian lingkungan (tidak transparan dan tidak akuntabel). d. h. karena adanya keleluasaan untuk mengambil keputusan. c. diharapkan pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 membawa dampak positif yang secara umum dapat dikategorikan sebagai berikut: a. sejalan dengan meningkatnya tuntutan dari masyarakat akan pelayanan yang lebih baik. sbb: a.Undang ini. b. Perkembangan proses demokrasi dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan akan meningkat.

7. sikap dan perilaku birokrasi pusat yang cenderung untuk tetap mempertahankan statusquo. PROSPEK OTONOMI DAERAH MELALUI SOLUSI ALTERNATIF Upaya penyempurnaan/penggantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 bukan semata .masing merasa mempunyai kompetensi sendiri . tetapi juga untuk menegaskan visi dan misi yang jelas dalam menetapkan format dan sistem pemerintahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.. penataan kembali sistem dan mekanisme penyelenggaraan pemerintahan.sistem pemerintahan daerah secara sinergis. 2) 49 .sendiri. yang memungkinkan terjadinya segmentasi antar Daerah (tidak transparan). karena lemahnya antara perencanaan pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota. ataupun Pusat. serta daya saing daerah. diarahkan kepada substansi yang bersifat strategis. seperti: hubungan pusat dan daerah. pembagian kewenangan dan urusan pada tingkat . terutama dalam mempertahankan kewenangan pusat yang enggan menyerahkannya kepada Daerah (tidak transparan). dan Pusat. Daerah Propinsi. pengembangan demokrasi dan peningkatan kemandirian daerah.c.Undang Sektoral yang bersangkutan. karena masing . seperti sumber daya air. d. sehingga akan mengganggu kepada makna persatuan dan kesatuan bangsa. e. lautan. Yang terpenting adalah bagaimana upaya mengembangkan satu kesatuan sistem antara sistem pemerintahan nasional dan sub . hendaknya Pemerintah secara transparan dan tidak menyimpang dari tujuan untuk kebaikan bangsa dan negara. kemungkinan terjadi pengaturan daerah yang over regulated atau benturan antara peraturan daerah di tingkat Daerah Kabupaten/ Kota dengan Daerah Propinsi. terjadinya multi-interpretasi. penegasan prinsip . munculnya egoisme kedaerahan yang sempit yang mendorong atau menjurus kepada eksklusivisme daerah dan proteksionisme kedaerahan.prinsip penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baik (“Good Governance”). sehingga para pejabat birokrasi Departemen Sektoral pusat masih berpegang kepada Undang . terutama untuk mewujudkan komitmen kebijakan desentralisasi. hutan.undangan sektoral pusat dengan Undang Undang tentang pemerintahan daerah.mata untuk mengatasi masalah yang timbul. sehingga integritas dan sinergitas tidak terjamin. f.tingkat pemerintahan yang berbeda. baik terhadap jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 maupun terhadap pasal . belum sinkronnya perundang . Dalam pada itu. penegasan hirarki dalam sistem pemerintahan. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. dan belum menyesuaikan dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq. 1). Dengan penyempurnaan tersebut.pasal didalamnya yang tidak atau kurang jelas. lingkungan hidup dlsb.

sehingga pada gilirannya akan mengurangi bertumpuknya “beban” (burden) pada pemerintah pusat.Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tetap harus di arahkan kepada upaya pencapaian kemandirian pemerintah daerah yang berorientasi kepada pelayanan. terutama dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus dan permasalahan di daerah.daerah terpelihara dengan baik. daya saing daerah. maupun hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah sebagaimana selama ini terjadi. 3) Terjadinya penggantian Undang . hubungan pusat . serta prinsip . maupun dan terutama dari aspek “Nach Freies Ermessen” yang seharusnya melekat pada diri seorang Gubernur. sebaiknya Pemerintah Pusat mengatur lebih lanjut dengan memberikan penugasan dan kewenangan yang tegas kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah. dan pengembangan demokrasi. sehingga segala persoalan yang terjadi di Daerah.prinsip perilaku “Good Governance” di semua tingkat pemerintahan. baik antara pusat dan daerah. tidak mendukungnya. Ini adalah sebagai konsekuensi didudukannya Gubernur sebagai Wakil Pemerintah dalam rangka menjalankan tugas . dapat diwujudkan. sangat disayangkan perundang . kepada Gubernur dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah diberikan keleluasaan untuk menjalankan tugas “pemerintahan umum” (algemene 4) 5) i. akuntabilitas. Demikian pula. Dalam hubungan ini. baik dari aspek “teori sisa” (Residual Theory). Untuk lebih memantapkan penyelenggaraan otonomi daerah. dapat dituntaskan oleh Gubernur dalam kedudukan ia (Gubernur) sebagai Wakil Pemerintah (representative of the President). maka secara transparan perlu mengoptimalkan peranan dan fungsi Gubernur selaku Wakil Pemerintah. sehingga nasib dan kepentingan rakyat terabaikan.menarik pembagian kekuasaan. Ditinjau dari aspek asas kepatutan penyelenggaraan pemerintahan (Berhoorlijk Bestuur) seharusnya ia (Gubernur) memiliki kewenangan “Vrijbestuur”. Kalau saja. tanpa dilandasi dasar hukum kewenangan yang kuat. pemberdayaan. serta efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan. tidak lagi sebagai ajang tarik .sehingga tercipta stabilitas. serta diperlukan secara proporsional bagi semua level pemerintahan. keutuhan dan kesatuan bangsa tetap terjaga. 6) 50 . hendaknya dapat diselesaikan secara tuntas oleh Gubernur. harus ditempatkan pada proporsi waktu dan situasi yang tepat untuk menghindarkan kerancuhan. sehingga tidak memungkinkan Gubernur untuk bertindak pro aktif. baik yang bersifat lokal maupun regional. instabilitas dan stagnasi jalannya penyelenggaraan pemerintahan daerah.isu strategis dan penting.tugas dekonsentras Namun.undangan yang ada. isu . dan ketegangan -ketegangan dan kerancuan di daerah yang selama ini sering terjadi. dimana pemerintahan daerah seharusnya menjadi “backbone” dari stabilitas pemerintahan nasional. dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

dimana kedudukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c.tugas yang dikecualikan menurut Pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. maka diharapkan ia (Gubernur) akan mampu untuk mentuntaskan segala persoalan yang terjadi di daerah.siuran penyelenggaraan pemerintahan di daerah. maka seyogyanya sebagai tindak lanjut Pasal 38 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. yaitu tugas . baik yang terbit sebelum maupun sesudah terbitnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c.undangan Sekotral lainnya. harus ada penegasan bahwa Instansi Vertikal dimaksud adalah perangkat Departemen dan/ atau LPND yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral. sedangkan pemerintah daerah 8) 9) 10) 51 . yang posisinya tidak hanya wajib berkoordinasi dengan Gubernur.instansi pemerintah dan pemerintah daerah.menarik kewenangan dan tarik menarik kepentingan.menerus agar segala peraturan perundang . tidak ada. guna memberdayakan masyarakat sendiri.bestuur) di daerahnya melalui asas “Vrijbestuur”. Teknis. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dimaksudkan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan oto . Kewenangan dekonsentrasi yang dijalankan oleh Instansi Vertikal (“dekonsentrasi fungsional”).q. selaras dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. serta mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin stabilitas dan kelancaran penyelenggaraan pemerintahan di daerah secara baik". yang pada gilirannya akan mengakibatkan terhambatnya kelancaran pelaksanaan otonomi daerah yang seharusnya dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat setempat. Seluruh peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar penyelenggaraan tugas-tugas substantif Departemen Sektoral/ Departemen Teknis.aktivitas masyarakat.undangan dan peraturan daerah dijalankan oleh instansi . harus dengan sendirinya menyesuaikan dengan semangat Undang – Undang tersebut. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan terjadinya kesimpang . melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah (dalam konteks “Integrated Prefectoral System”). 7) Mengingat pengaturan lebih lanjut yang menegaskan kedudukan dan tugas serta kewenangan Gubernur selaku Wakil Pemerintah. karena adanya tarik . dengan dasar hukum yang tegas. Fungsional) di wilayah dalam jurisdiksi tertentu.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 itu sendiri seharusnya berkedudukan sebagai “batu penjuru” (“corner stone”) bagi perundang . segera dikeluarkan Instruksi Presiden yang intinya menugaskan dan memberikan keleluasaan kepada Gubernur untuk “mengusahakan secara terus . Pasal 10 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. Pelaksanaan otonomi daerah.q.

baik antara Pemerintah.Undang Nomor 32 Tahun 2004 sekarang. sehingga kelemahan dan kekurang sempurnaan Pasal pasal dan instrumen yang ada. dengan kemungkinan memberikan alternatif solusinya. Dalam mengantisipasi perubahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. kesatuan pandang. partai politik. sehingga hasil perubahan itu akan menghasilkan produk Undang .administratif. sehingga baik dari segi akademik. sehingga tidak terjadi upaya-upaya manipulasi untuk menonjolkan masing . baik di pusat maupun di daerah. benar benar dapat dipertanggungjawabkan. kesatuan pemahaman dan kesatuan interpretasi. maupun bagi para pejabat di pusat dan di daerah. politik dan operasional. 3 April 2006. kalangan perguruan tinggi.Undang Nomor 32 Tahun 2004 kita tidak seharusnya a priori untuk segera merobah Undang . 8. hendaknya semua komponen penyelenggara pemerintahan. 12) Menyikapi kelemahan dan atau kelebihan Undang . 11) Perlu mensosialisasikan dan mendesiminasikan Undang . sambil mewacanakan berbagai aspek permasalahanya. memiliki kesatuan sikap. lembaga masyarakat. 52 .Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan turut serta mensosialisasikannya. dan pelayan publik terabaikan. Dalam pada itu. dan para praktisi operasional dan disosialisakan kepada masyarakat luas. Jakarta. juridis. perlu merubah paradigma pemerintahan dari birokrasi yang berpola pikir (mindset) bernuansa “dilayani” menjadi “melayani”. hendaknya disikapi secara positif dan penuh kearifan.Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan peraturan pelaksanaannya agar terdapat interpretasi dan persepsi yang sama.Undang yang bisa diimplementasikan dengan persepsi dan interpretasi yang sama antara Pusat dan Daerah. yang pada gilirannya hanya akan merugikan kepentingan rakyat banyak. baik dari segi konsep akademik dan juridis. Berdasarkan hal tersebut. harus ada persiapan yang matang dan keterbukaan sedemikian rupa. PENUTUP Demikian beberapa pemikiran tentang penyelenggaraan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah untuk dikembangkan dan didiskusikan lebih lanjut. baik bagi masyarakat.masing kepentingan yang akan mengakibatkan terjadinya konflik kepentingan dan konflik kewenangan. melainkan kita perlu memahami substansi dan semangat Undang .berperan mendorong dan memfasilitasinya. maupun empirik .

E. Koswara Kertapradja 53 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->