TUGAS PKN

Sistem Pemerintahan Periode 1950-1959 dan 1959-1966

Oleh: Duhita Kumala Fitri Nurinayati Nur Syakirah Ria Puspita Wuri Prewita Dewi

SMA NEGERI 13 JAKARTA

Bentuk negara ”negara kesatuan” sesuai dengan cita-cita rakyat Indonesia melalui para politisi kita terdahulu setelah melampaui masa berlakunya RIS.. dalam suatu piagam negara yang berbentuk Republik Kesatuan. 11/1950.” .Sistem pemerintahan parlementer dan kabinet ministerial yang semu” .Persamaan yang dianut dalam konstitusi RIS 1949 dengan UUDS 1950: • Adanya presiden dan perdana menteri. serta menteri negara • Menganut sistem parlementer dan kabinet ministerial semu • Kedudukan seorang presiden tidak dapat diganggu gugat .Ciri-ciri: • Pengangkatan perdana menteri dilakukan oleh presiden • Perdana menteri memiliki kekuasaan yang terbatas pada kekuasaan memimpin sidang dewan menteri • Pembentukan kabinet dilakukan oleh presiden melalui formatur kabinet • Kedudukan kepala negara merangkap sebagai kepala pemerintahan . Negara kesatuan pada masa berlakunya UUDS 1950 terdiri dari daerah besar dan kecil yang masing-masing memiliki hak otonomi yang merupakan otonomi yang luas.” . • Ayat (2) ”Presiden dan wakil presiden dipilih menurut aturan yang diterapkan dengan Undang-undang” • Ayat (3) ”Untuk pertama kali Wakil Presiden diangkat oleh presiden atas anjuran yang diajukan DPR” .Sistem Pemerintahan Periode 1950-1959 Dengan berlakunya Undang-undang Darurat No.. . berdasarkan ketentuan pasal 45 UUDS 1950: • Ayat (1) ”Presiden ialah Kepala Negara”.Kelengkapan negara: • Presiden dan wakil presiden • Menteri-menteri • Dewan Perwakilan Rakyat • Mahkamah Agung • Dewan Pengawas Keuangan 2) Sistem pemerintahan menurut UUDS 1950 . ketiga negara bagian tersebut kembali menjadi Negara Kesatuan RI (NKRI) bersamaan dengan berlakunya UUDS tanggal 17 Agustus 1950.. 1) Bentuk Negara dan Pemerintahan menurut UUDS 1950 .Bentuk pemerintahan republik..Bentuk negara dilandasi: • ketentuan pasal 1 ayat (1) UUDS 1950: ”Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat ialah suatu negara hukum yang demokratis dan membentuk kesatuan” • Alinea keempat Mukadimah UUDS 1950 ”. sebagaimana ditegaskan dalam ketentuan pasal 131 ayat (2) UUDS 1950 ”Kepada daerah-daerah diberikan otonomi seluas-luasnya untuk mengurus rumah tangganya sendiri.

Dampak negatif sistem perlementer dan kabinet ministerial: • Sistem parlementer dan kabinet ministerial selama masa ini labil. dan menteri –menteri. pada tanggal 5 Juli 1959 presiden mengeluarkan ’Dekrit Presiden 5 Juli 1959’. Karena konstituante tersebut tidak berhasil membentuk UUD yang dimaksud. Tanggal 15 Desember 1955 diadakan pemilu untuk memilih anggota Dewan Konstituante untuk membentuk UUD pengganti UUDS 1950. isinya: • Pembubaran konstituante • Berlakunya kembali UUD 1945 • Tidak berlakunya UUDS 1950 • Pembentukan MPRS dan DPAS dalam waktu singkat . wakil presiden. • Hasil sidang kabinet harus dilaporkan kepada presiden. terbukti dgn jatuh-bangunnya kabinet pada masa ini mulai dari kabinet Natsir hingga Kabinet Djuanda. Beberapa pergedaan prinsip dalam konstitusi RIS dengan UUDS 1950: • Kosntitusi RIS tidak mengatur mengenai wewenang presiden untuk membubarkan DPR. dalam UUDS 195 diatur dalam pasal 84 UUDS 1950 • Dlam konstitusi RIS diatur bahwa dalam hal presiden berhalangan maka perdana menteri yang menggantikannya. perdana menteri. Sedangkan dalam UUDS 1950 yang menggantikannya adalah wakil presiden. • Pelaksanaan pemerintahan menjadi terganggu dan pembangunan pun terhambat serta timbul berbagai masalah seperti penyalahgunaan situasi oleh oknum tertentu. dan meluasnya pengaruh PKI hingga puncaknya peristiwa G 30 S. Tanggal 29 September 1955 diselenggarakan pemilu untuk memilih anggota DPR. timbul kerusuhan di berbagai daerah.• - - - Adanya larangan rangkap jabatan bagi presiden. karena tidak sesuai dengan nilai kenegaraan yang tumbuh-berkembang di Indonesia.

Dipicu peristiwa G 30 S. XXXIII/MPRS/1967 tentang pencabutan kekuasaan Pemerintah Negara dari Presiden Soekarno dan Mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden. (6) Tidak berfungsinya parlemen (DPR) terhadap pemerintah dalam melaksanakan pengawasan.d 11 Maret 1966): (1) Dibubarkannya DPR hasil pemilu 1955 oleh presiden pada tahun 1960 karena RAPBN yang diajukan pemerintah tidak disetujui oleh DPR. Sidang Istimewa MPR mengangkat Jenderal Soeharto menjadi Presidan RI (Tap MPRS No. bentuk pemerintahan republik. Sosialisme Indonesia. melahirkan Tritura (tiga tuntutan rakyat). Kemudian presiden membentuk DPR-Gotong Royong tanpa pemilu. yaitu: • Bubarkan PKI • Bersihkan Kabinet dari unsur-unsur PKI (bubarkan kabinet Dwikora) • Turunkan harga barang-barang Sebagai jawabannya. (2) Pembentukan MPRS oleh presiden tanpa proses pemilu. sistem pemerintahan presidensial Berlaku sistem ”demokrasi terpimpin”. tak hanya eksekutif. melainkan berdasarkan Penpres. (3) Pada tanggal 17 Agustus 1960 presiden dalam pidato kenegaraannnya menetapkan ”Manipol Usdek” (Manifesto Politi. tapi meliputi semua kekuasaan legislatif dan kekuasaan lainnya. Demokrasi Terpimpin. Dalam periode ini kekuasaan presiden terlalu luas. Penyimpangan-penyimpangan sistem pemerintahan presidensial pada masa ”Orde lama (5 juli 1959 s.) - - - . Ekonomi Terpimpin dan Keperibadian Nasional) sebagai pengganti GBHN yang harusnya dibentuk oleh MPR.Sistem Pemerintahan Periode 1959-1966 Berlakunya kembali UUD 1945 : bentuk negara kesatuan. UUD 1945. (4) Sentralisasi Kekuasaan dan pengkultusan atas diri Bung Karno sebagai presiden seumur hidup (TAP MPRS No. rakyat berunjuk rasa dipelopori oleh segenap pemuda dan mahasiswa. III/MPRS/1963) (5) Pmberian status ketua MPRS merangkap sebagai Menko kabinet yang ada di bawah kekuasaan dan tunduk kepada presiden. pada tanggal 11 Maret 1966 Presiden Soekarno memberikan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) kepata Letjen Soeharto yang isinya memberikan wewenang kepadanya untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin dan memulihkan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat serta menjaga stabilitas jalannya roda pemerintahan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful