Pembagian Waris Menurut Islam

oleh Muhammad Ali ash-Shabuni

PENGANTAR PENERBIT HUKUM waris Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. telah mengubah hukum waris Arab pra-Islam dan sekaligus merombak struktur hubungan kekerabatannya, bahkan merombak sistem pemilikan masyarakat tersebut atas harta benda, khususnya harta pusaka. Sebelumnya, dalam masyarakat Arab ketika itu, wanita tidak diperkenankan memiliki harta benda --kecuali wanita dari kalangan elite-- bahkan wanita menjadi sesuatu yang diwariskan. Islam merinci dan menjelaskan --melalui Al-Qur'an Al-Karim-- bagian tiap-tiap ahli waris dengan tujuan mewujudkan keadilan didalam masyarakat. Meskipun demikian, sampai kini persoalan pembagian harta waris masih menjadi penyebab timbulnya keretakan hubungan keluarga. Ternyata, disamping karena keserakahan dan ketamakan manusianya, kericuhan itu sering disebabkan oleh kekurangtahuan ahli waris akan hakikat waris dan cara pembagiannya. Kekurangpedulian umat Islam terhadap disiplin ilmu ini memang tidak kita pungkiri, bahkan Imam Qurtubi telah mengisyaratkannya: "Betapa banyak manusia sekarang mengabaikan ilmu faraid." Atas dasar itulah kami terpacu untuk menerbitkan buku Pembagian Waris menurut Islam. Mudah-mudahan apa yang kami persembahkan kepada pembaca menjadi suatu amal kebajikan dan menjadi bukti ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Penerbit

1

SAMPUL BELAKANG Dalam praktik kehidupan sehari-hari, persoalan waris sering kali menjadi krusial yang terkadang memicu pertikaian dan menimbulkan keretakan hubungan keluarga. Penyebab utamanya ternyata keserakahan dan ketamakan manusia, di samping karena kekurang-tahuan pihak-pihak yang terkait mengenai hukum pembagian waris. Padahal, Allah SWT di dalam Al-Qur'an mengatur pembagian waris secara lengkap. Sementara itu, di sisi lain, kita jumpai kenyataan bahwa beberapa kalangan --termasuk para pelajar di sekolah-sekolah Islam---menganggap faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka) sebagai momok yang menakutkan. Berawal dari beberapa keprihatinan itulah buku ini diwujudkan, yang sebelumnya hanya merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris pada Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. Muhammad Ali ash-Shabuni, penulis buku ini, berusaha menghilangkan kesan "seram" tentang disiplin ilmu ini dengan cara menyederhanakan berbagai istilah dan rumusan perhitungan yang selama ini dianggap sebagai kendala. Bukan hanya itu, sistematika penyajiannya pun sangat sederhana dan tidak bertele-tele. Kesederhanaan metode dan gaya bertutur memang menjadi keunggulan buku ini. ISBN 979-561-321-9

2

MUKADIMAH Segala puji bagi Allah, pengatur alam semesta, seluruh isi langit dan bumi. Dialah Yang Maha Kekal, tidak akan rusak dan tidak akan mati, yang telah berfirman dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan." (Maryam: 40) Semoga shalawat dan salam tetap Allah anugerahkan kepada sang pembawa cahaya, perintis kemanusiaan dan penunjuk jalan, junjungan kita Muhammad saw. Dengannyalah Allah SWT menghilangkan kesesatan dan kegelapan, dan dengannyalah Allah mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada alam yang terang benderang. Semoga shalawat dan salam juga Allah berikan kepada seluruh kerabatnya, para sahabatnya, dan siapa pun yang mengikuti jejaknya. Buku ini merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris yang pernah saya berikan kepada para mahasiswa Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. Kemudian saya tergerak untuk mengumpulkan dan menyatukannya hingga menjadi buku dengan harapan dapat dimanfaatkan secara lebih luas. Buku ini saya susun dengan sistematika yang sangat sederhana dan tidak bertele-tele. Saya bermohon kepada Allah semoga buku ini dapat bermanfaat khususnya bagi para mahasiswa, dan umumnya bagi seluruh kaum muslim yang memiliki keinginan untuk mengetahui dengan pasti mengenai faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua doa dan Maha Mampu untuk memenuhinya. Mekah, Jumadil Akbir 1389 H Muhammad Ali ash-Shabuni

3

Syarat Waris G. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam C. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat C. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah B. Bentuk-bentuk Waris D. Definisi Waris  Pengertian Peninggalan  Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan B. PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN A. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga  Masalah 'Umariyyatan F. Penggugur Hak Waris  Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub  Contoh Pertama  Contoh Kedua H. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki I. Derajat Ahli Waris C. Rukun Waris F. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga E. DEFINISI 'ASHABAH A. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris D. Dalil Hak Waris Para 'Ashabah B. Sebab-sebab Adanya Hak Waris E. AYAT-AYAT WARIS A. Macam-macam 'Ashabah 4 . Ahli Waris dari Golongan Wanita III. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris II. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan D. WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM A. Penjelasan B.DAFTAR ISI Pembagian Waris Menurut Islam oleh Muhammad Ali Ash-Shabuni PENGANTAR MUKADIMAH I. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam IV.

'Ashabah bin nafs Hukum 'Ashabah bin nafs Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah ma'al Ghair Dalil 'Ashabah ma'al Ghair C. Tentang Kasus Kolektif  Perbedaan Pendapat Para Fuqaha  Persyaratan Masalah Kolektif  Beberapa Kaidah Penting VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA A.kan  Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan  Beberapa Contoh Masalah 'Aul 5          . Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek F. Pengertian Kakek yang Sahih B. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. Masalah al-Akdariyah VII. Definisi al-'Aul B. Macam-macam al-Hujub  Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman  Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman  Saudara Laki-laki yang Berkah  Saudara Laki-laki yang Merugikan C. Latar Belakang Terjadinya 'Aul C. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara C. PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A. MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek D.Tentang Mazhab Jumhur  Hukum Keadaan Pertama  Makna Pembagian  Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek  Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang  Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek  Hukum Keadaan Kedua E. Definisi al-Hujub B. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair  Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? V.

Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd G. Macam-macam ar-Radd  Hukum Keadaan Pertama  Hukum Keadaan Kedua  Hukum keadaan Ketiga  Hukum keadaan Keempat VIII. Rincian Amaliah al-Munasakhat C. Definisi ar-Radd E. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham C. Pembagian Harta Peninggalan  Masalah Dinariyah ash-Shughra  Masalah Dinariyah al-Kubra IX. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd H. Definisi Banci B. Cara Pembagian Waris Para Kerabat  Menurut Ahlur-Rahmi  Menurut Ahlut-Tanzil  Menurut Ahlul Qarabah  Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah  Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah D. HUKUM MUNASAKHAT A. Cara Mentashih Pokok Masalah C. Tentang Tashih  Definisi Tashih  Definisi at-Tamaatsul  Definisi at-Tadaakhul  Definisi at-Tawaafuq  Definisi at-Tabaayun B.D. Definisi Dzawil Arham B. PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN A. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham XI. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci 6 . At-Takharuj min at-Tarikah  Tata Cara Pelaksanaannya X. Syarat-syarat ar-Radd F. Definisi Munasakhat B. HAK WARIS DZAWIL ARHAM A.

Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati C. DAN TERTIMBUN A. Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun  Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun 7 . Definisi Hamil E. Hak Waris Orang Hilang D. Keadaan Janin  Keadaan Pertama  Keadaan Kedua  Keadaan Ketiga  Keadaan Keempat  Keadaan Kelima XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG. TENGGELAM.C. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan F. Definisi  Hukum Orang yang Hilang B. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya  Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci D.

supaya kamu tidak sesat. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan asas ilmu faraid. maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak mernberi mudarat (kepada ahli waris). meniadakan 8 . Selain itu. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. orang yang dianugerahi pengetahuan dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui bagian setiap ahli waris. di dalamnya berisi aturan dan tata cara yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara lengkap. dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. baik laki-laki maupun perempuan. dan kapan pula ia menerimanya secara 'ashabah." (an-Nisa': 176) A. juga menjelaskan keadaan setiap ahli waris. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Maha Suci Allah. Tetapi jika saudarasaudara seibu itu lebih dari seorang. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. jika mereka tidak mempunyai anak. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. maka ibunya mendapat seperenam. Jika seseorang mati. maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. maka ibunya mendapat sepertiga. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. maka ia memperoleh separo harta. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. jika anak perempuan itu seorang saja.I. Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak setiap ahli waris." (an-Nisa': 11) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. sekaligus mengenali hikmah Allah Yang Maha Bijaksana itu. Jika kamu mempunyai anak. Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya. jika ia tidak mempunyai anak.menegaskan dan merinci nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Oleh sebab itu. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. jika yang meninggal itu mempunyai anak. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meningal dunia. Bahkan dengan aturan yang sangat jelas dan sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris dengan adil serta penuh kebijaksanaan. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. Ini adalah ketetapan dari Allah. Yaitu. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). kapan ia menerima bagiannya secara "tertentu". Penjelasan Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut --yang kesemuanya termaktub dalam surat an-Nisa'-. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Dia menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia." (anNisa': 12) "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu. AYAT-AYAT WARIS ALLAH SWT berfirman "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.

akan tetapi tentang besar-kecilnya hak waris yang mesti diterima mereka tidak dijelaskan secara rinci. kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). bersabda: "Pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada orang lain. kaum muslim telah benar-benar mantap menjalankan ajaran-ajarannya. selain dari ketiga ayat yang saya sebutkan pada awal pembahasan. sangat disayangkan kebanyakan manusia (terutama pada masa kini) mengabaikan dan melecehkannya.kezaliman di kalangan mereka. Pada permulaan datangnya Islam. dengan hukum pewarisan yang disebabkan nasab dan kekerabatan. yakni wanita dan anak-anak.. maka betapa tinggi dan agung penguasaan para sahabat tentang masalah faraid ini. Meskipun demikian. " (HR Daruquthni) Lebih jauh Imam Qurthubi mengatakan. dan kaidahkaidah agama telah begitu mengakar dalam hati setiap muslim. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetaplan. Keadaan demikian berjalan terus hingga Islam menjadi agama yang kuat. Adapun dalam ayat pertama (an-Nisa': 7) Allah SWT dengan tegas menghilangkan bentuk kezaliman yang biasa menimpa dua jenis manusia lemah. Di antara kita mungkin ada yang bertanya-tanya dalam hati. Yakni penjabaran kandungan ayat yang bagi kita sudah sangat jelas: membagi dan adil.. bahwa pada masa itu kaum muslim saling mewarisi harta masing-masing disebabkan hijrah dan rasa persaudaraan yang dipertemukan oleh Rasulullah saw. serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. dari Abdullah Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw. dan induk ayat-ayat Ilahi. Maka setelah peristiwa penaklukan kota Mekah. menutup ruang gerak para pelaku kezaliman."1 Perlu kita ketahui bahwa semua kitab tentang waris yang disusun dan ditulis oleh para ulama merupakan penjelasan dan penjabaran dari apa yang terkandung dalam ketiga ayat tersebut. Allah me-mansukh-kan (menghapuskan) hukum pewarisan yang disebabkan hijrah dan persaudaraan. Maha Suci Allah Yang Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum dan syariat-Nya. Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah). " (an-Nisa': 7) ". serta tidak membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati orang-orang yang lemah. seperti kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Sungguh mengagumkan pandangan mereka mengenai ilmu waris ini. Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa ketiga ayat tersebut merupakan salah satu rukun agama. adakah ayat lain yang berkenaan dengan waris selain dari ketiga ayat tersebut? Di dalam Al-Qur'an memang ada beberapa ayat yang menyebutkan masalah hak waris bagi para kerabat (nasab). hingga kedudukannya menjadi separo ilmu. Di antaranya adalah firman Allah berikut: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling mewarisi." (alAhzab: 6) Itulah ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah hak waris. 9 . Telah masyhur dalam sejarah permulaan datangnya Islam.. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal. Pada ayat kedua dan ketiga (al-Anfal: 75 dan al-Ahzab: 6) ditegaskan bahwa kerabat pewaris (sang mayit) lebih berhak untuk mendapatkan bagian dibandingkan lainnya yang bukan kerabat atau tidak mempunyai tali kekerabatan dengannya. Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mesti ia terima).Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut. "Apabila kita telah mengetahui hakikat ilmu ini. penguat hukum. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Mereka lebih berhak daripada orang mukmin umumnya dan kaum Muhajirin. namun justru saudara mereka yang senasab tidak mendapatkan warisan. Hal ini tercermin dalam hadits berikut. yakni dengan mengembalikan hak waris mereka secara penuh. Oleh karenanya faraid memiliki martabat yang sangat agung..Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin. dan ilmu ini pun bakal sirna hingga akan muncul fitnah." (al-Anfal: 75) ".. Allah SWT menyantuni keduanya dengan rahmat dan kearifan-Nya serta dengan penuh keadilan.

saudara laki-lakinya. ia berkewajiban untuk memberinya sandang. Kebutuhan pendidikan anak. padahal kaum wanita jauh lebih banyak membutuhkannya. Jika kita pakai istilah dalam ushul fiqh ayat ini disebut mujmal (global). kaum lelakilah yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga dan kerabatnya. yang pasti hak waris telah Allah tetapkan bagi kerabat pewaris karena hubungan nasab. Islam telah menyelimuti kaum wanita dengan rahmat dan keutamaannya. Dengan demikian. Artinya. Dan ketika telah dikaruniai anak. dan papan. Dengan demikian. berupa memberikan hak waris kepada kaum wanita melebihi apa yang digambarkan. Kaum wanita tidak diwajibkan memberi nafkah kepada siapa pun di dunia ini. tampak secara jelas bahwa kaum wanita justru lebih banyak mengenyam kenikmatan dan lebih enak dibandingkan kaum laki-laki. minum. atau siapa saja yang mampu di antara kaum lakilaki kerabatnya. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf . serta siapa saja yang diwajibkan atasnya untuk memberi nafkah dari kerabatnya. mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya dalam hati. Itulah beberapa hikmah dari sekian banyak hikmah yang terkandung dalam perbedaan pembagian antara kaum lakilaki --dua kali lebih besar-. pangan. Sebab. mengapa bagian kaum laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita. Syariat Islam tidak mewajibkan kaum wanita untuk membelanjakan harta miliknya meski sedikit. suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya. pangan. kebutuhan kaum laki-laki untuk mendapatkan dan memiliki harta jauh lebih besar dan banyak dibandingkan kaum wanita. Sebab. Masih tentang kajian ayat-ayat tersebut. menyediakan tempat tinggal baginya. Sementara kaum wanita tidaklah demikian. Kaum laki-laki diwajibkan untuk membayar mahar kepada istrinya. Kaum wanita selalu harus terpenuhi kebutuhan dan keperluannya.. seluruhnya dibebankan hanya pada pundak kaum laki-laki. anaknya. Kendatipun hukum Islam telah menetapkan bahwa bagian kaum laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada bagian kaum wanita. tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah. kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris. Secara logika. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: ". Sebaliknya. namun mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga. kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki. selama masih ada suaminya. karena di samping memang lemah. maupun pewaris itu rela atau tidak rela. dan papan. khususnya dalam hal sandang.Dalam ayat tersebut Allah dengan keadilan-Nya memberikan hak waris secara imbang. 2. dan sandang. laki-laki ataupun wanita. baik untuk keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya). mereka juga sangat membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu saya utarakan beberapa hikmah adanya syariat yang telah Allah tetapkan bagi kaum muslim. sedangkan rinciannya terdapat dalam ayat-ayat yang saya nukilkan terdahulu (an-Nisa': 11-12 dan 176). Ketentuan ini tetap berlaku sekalipun wanita tersebut kaya raya dan hidup dalam kemewahan. di antaranya sebagai berikut: 1. Sementara di sisi lain Allah membatalkan hak saling mewarisi di antara kaum muslim yang disebabkan persaudaraan dan hijrah. 3.. ingin sekali saya sebutkan hikmah-hikmah tersebut sebanyak mungkin. 5." (al-Baqarah: 233) 10 .. Juga tanpa membedakan bagian mereka yang banyak maupun sedikit. Nafkah (pengeluaran) kaum laki-laki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita. Meskipun demikian.. 4. memberinya makan.dan kaum wanita. Kalau saja tidak karena rasa takut membosankan. dan dalam hal nafkahnya kaum wanita wajib diberi oleh ayahnya.maka dialah yang lebih berhak untuk mendapatkan bagian yang lebih besar pula. pengobatan jika anak sakit (termasuk istri) dan lainnya. ayat tersebut tidaklah secara rinci dan detail menjelaskan jumlah besar-kecilnya hak waris para kerabat. siapa pun yang memiliki tanggung jawab besar --hingga harus mengeluarkan pembiayaan lebih banyak-. tanpa membedakan antara yang kecil dan yang besar.

Untuk lebih menjelaskan permasalahan tersebut perlu saya ketengahkan satu contoh kasus supaya hikmah Allah dalam menetapkan hukum-hukum-Nya akan terasa lebih jelas dan nyata. Contoh yang dimaksud di sini ialah tentang pembagian hak kaum laki-laki yang banyaknya dua kali lipat dari bagian kaum wanita. Seseorang meninggal dan mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Ternyata orang tersebut meninggalkan harta, misalnya sebanyak Rp 3 juta. Maka, menurut ketetapan syariat Islam, laki-laki mendapatkan Rp 2 juta sedangkan anak perempuan mendapatkan Rp 1 juta. Apabila anak laki-laki tersebut telah dewasa dan layak untuk menikah, maka ia berkewajiban untuk membayar mahar dan semua keperluan pesta pernikahannya. Misalnya, ia mengeluarkan semua pembiayaan keperluan pesta pernikahan itu sebesar Rp 20 juta. Dengan demikian, uang yang ia terima dari warisan orang tuanya tidak tersisa. Padahal, setelah menikah ia mempunyai beban tanggung jawab memberi nafkah istrinya. Adapun anak perempuan, apabila ia telah dewasa dan layak untuk berumah tangga, dialah yang mendapatkan mahar dari calon suaminya. Kita misalkan saja mahar itu sebesar Rp 1 juta. Maka anak perempuan itu telah memiliki uang sebanyak Rp 2 juta (satu juta dari harta warisan dan satu juta lagi dari mahar pemberian calon suaminya). Sementara itu, sebagai istri ia tidak dibebani tanggung jawab untuk membiayai kebutuhan nafkah rumah tangganya, sekalipun ia memiliki harta yang banyak dan hidup dalam kemewahan. Sebab dalam Islam kaum laki-lakilah yang berkewajiban memberi nafkah istrinya, baik berupa sandang, pangan, dan papan. Jadi, harta warisan anak perempuan semakin bertambah, sedangkan harta warisan anak laki-laki habis. Dalam keadaan seperti ini manakah di antara kaum laki-laki dan kaum wanita yang lebih banyak menikmati harta dan lebih berbahagia keadaannya? Laki-laki ataukah wanita? Inilah logika keadilan dalam agama, sehingga pembagian hak laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada hak kaum wanita. 1 Tafsir al-Qurthubi, juz V, hlm. 56. B. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam Sebelum Islam datang, kaum wanita sama sekali tidak mempunyai hak untuk menerima warisan dari peninggalan pewaris (orang tua ataupun kerabatnya). Dengan dalih bahwa kaum wanita tidak dapat ikut berperang membela kaum dan sukunya. Bangsa Arab jahiliah dengan tegas menyatakan, "Bagaimana mungkin kami memberikan warisan (harta peninggalan) kepada orang yang tidak bisa dan tidak pernah menunggang kuda, tidak mampu memanggul senjata, serta tidak pula berperang melawan musuh." Mereka mengharamkan kaum wanita menerima harta warisan, sebagaimana mereka mengharamkannya kepada anak-anak kecil. Sangat jelas bagi kita bahwa sebelum Islam datang bangsa Arab memperlakukan kaum wanita secara zalim. Mereka tidak memberikan hak waris kepada kaum wanita dan anak-anak, baik dari harta peninggalan ayah, suami, maupun kerabat mereka. Barulah setelah Islam datang ada ketetapan syariat yang memberi mereka hak untuk mewarisi harta peninggalan kerabat, ayah, atau suami mereka dengan penuh kemuliaan, tanpa direndahkan. Islam memberi mereka hak waris, tanpa boleh siapa pun mengusik dan menentangnya. Inilah ketetapan yang telah Allah pastikan dalam syariat-Nya sebagai keharusan yang tidak dapat diubah. Ketika turun wahyu kepada Rasulullah saw. --berupa ayat-ayat tentang waris-- kalangan bangsa Arab pada saat itu merasa tidak puas dan keberatan. Mereka sangat berharap kalau saja hukum yang tercantum dalam ayat tersebut dapat dihapus (mansukh). Sebab menurut anggapan mereka, memberi warisan kepada kaum wanita dan anak-anak sangat bertentangan dengan kebiasaan dan adat yang telah lama mereka amalkan sebagai ajaran dari nenek moyang. Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan sebuah kisah yang bersumber dari Abdullah Ibnu Abbas r.a.. Ia berkata: "Ketika ayat-ayat yang menetapkan tentang warisan diturunkan Allah kepada RasulNya --yang mewajibkan agar memberikan hak waris kepada laki-laki, wanita, anak-anak, kedua orang tua, suami, dan istri-- sebagian bangsa Arab merasa kurang senang terhadap ketetapan tersebut. Dengan nada keheranan sambil mencibirkan mereka mengatakan: 'Haruskah memberi seperempat bagian kepada kaum wanita (istri) atau seperdelapan.' Memberikan anak perempuan setengah bagian harta peninggalan? Juga haruskah memberikan warisan kepada anak-anak ingusan? Padahal mereka tidak ada yang dapat memanggul senjata untuk berperang melawan musuh, dan tidak pula dapat andil membela kaum kerabatnya. Sebaiknya kita tidak perlu membicarakan hukum tersebut. Semoga saja Rasulullah melalaikan dan mengabaikannya, atau kita meminta kepada beliau agar berkenan untuk mengubahnya.' Sebagian
11

dari mereka berkata kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah, haruskah kami memberikan warisan kepada anak kecil yang masih ingusan? Padahal kami tidak dapat memanfaatkan mereka sama sekali. Dan haruskah kami memberikan hak waris kepada anak-anak perempuan kami, padahal mereka tidak dapat menunggang kuda dan memanggul senjata untuk ikut berperang melawan musuh?'" Inilah salah satu bentuk nyata ajaran syariat Islam dalam menyantuni kaum wanita; Islam telah mampu melepaskan kaum wanita dari kungkungan kezaliman zaman. Islam memberikan hak waris kepada kaum wanita yang sebelumnya tidak memiliki hak seperti itu, bahkan telah menetapkan mereka sebagai ashhabul furudh (kewajiban yang telah Allah tetapkan bagian warisannya). Kendatipun demikian, dewasa ini masih saja kita jumpai pemikiran yang kotor yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang berhati buruk. Mereka beranggapan bahwa Islam telah menzalimi kaum wanita dalam hal hak waris, karena hanya memberikan separo dari hak kaum laki-laki. Anggapan mereka semata-mata dimaksudkan untuk memperdaya kaum wanita tentang hak yang mereka terima. Mereka berpura-pura akan menghilangkan kezaliman yang menimpa kaum wanita dengan cara menyamakan hak kaum wanita dengan hak kaum laki-laki dalam hal penerimaan warisan. Mereka yang memiliki anggapan demikian sama halnya menghasut kaum wanita agar mereka menjadi pembangkang dan pemberontak dengan menolak ajaran dan aturan hukum dalam syariat Islam. Sehingga pada akhirnya kaum wanita akan menuntut persamaan hak penerimaan warisan yang sama dan seimbang dengan kaum laki-laki. Yang sangat mengherankan dan sulit dicerna akal sehat ialah bahwa mereka yang berpura-pura prihatin tentang hak waris kaum wanita, justru mereka sendiri sangat bakhil terhadap kaum wanita dalam hal memberi nafkah. Subhanallah! Sebagai bukti, mereka bahkan menyuruh kaum wanita untuk bekerja demi menghidupi diri mereka, di antara mereka bekerja di ladang, di kantor, di tempat hiburan, bar, kelab malam, dan sebagainya. Corak pemikiran seperti ini dapat dipastikan merupakan hembusan dari Barat yang banyak diikuti oleh orang-orang yang teperdaya oleh kedustaan mereka. Kultur seperti itu tidak menghormati kaum wanita, bahkan tidak menempatkan mereka pada timbangan yang adil. Budaya mereka memandang kaum wanita tidak lebih sebagai pemuas syahwat. Mereka sangat bakhil dalam memberikan nafkah kepada kaum wanita, dan mengharamkan wanita untuk mengatur harta miliknya sendiri, kecuali dengan seizin kaum laki-laki (suaminya). Lebih dari itu, budaya mereka mengharuskan kaum wanita bekerja guna membiayai hidupnya. Kendatipun telah nyata demikian, mereka masih menuduh bahwa Islam telah menzalimi dan membekukan hak wanita. C. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris Banyak riwayat yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat-ayat waris, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Suatu ketika istri Sa'ad bin ar-Rabi' datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa kedua orang putrinya. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, kedua putri ini adalah anak Sa'ad bin ar-Rabi' yang telah meninggal sebagai syuhada ketika Perang Uhud. Tetapi paman kedua putri Sa'ad ini telah mengambil seluruh harta peninggalan Sa'ad, tanpa meninggalkan barang sedikit pun bagi keduanya." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Semoga Allah segera memutuskan perkara ini." Maka turunlah ayat tentang waris yaitu (an-Nisa': 11). Rasulullah saw. kemudian mengutus seseorang kepada paman kedua putri Sa'ad dan memerintahkan kepadanya agar memberikan dua per tiga harta peninggalan Sa'ad kepada kedua putri itu. Sedangkan ibu mereka (istri Sa'ad) mendapat bagian seperdelapan, dan sisanya menjadi bagian saudara kandung Sa'ad. Dalam riwayat lain, yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabari, dikisahkan bahwa Abdurrahman bin Tsabit wafat dan meninggalkan seorang istri dan lima saudara perempuan. Namun, seluruh harta peninggalan Abdurrahman bin Tsabit dikuasai dan direbut oleh kaum laki-laki dari kerabatnya. Ummu Kahhah (istri Abdurrahman) lalu mengadukan masalah ini kepada Nabi saw., maka turunlah ayat waris sebagai jawaban persoalan itu. Masih ada sederetan riwayat sahih yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat waris ini. Semua riwayat tersebut tidak ada yang menyimpang dari inti permasalahan, artinya bahwa turunnya ayat waris sebagai penjelasan dan ketetapan Allah disebabkan pada waktu itu kaum wanita tidak mendapat bagian harta warisan. D. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris Pertama:
12

Firman Allah yang artinya "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan," menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut:

1. Apabila pewaris (orang yang meninggal) hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak
perempuan, maka harta peninggalannya dibagi untuk keduanya. Anak laki-laki mendapat dua bagian, sedangkan anak perempuan satu bagian.

2. Apabila ahli waris berjumlah banyak, terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan, maka bagian untuk lakilaki dua kali lipat bagian anak perempuan.

3. Apabila bersama anak (sebagai ahli waris) ada juga ashhabul furudh, seperti suami atau istri, ayah atau ibu,
maka yang harus diberi terlebih dahulu adalah ashhabul furudh. Setelah itu barulah sisa harta peninggalan yang ada dibagikan kepada anak. Bagi anak laki-laki dua bagian, sedangkan bagi anak perempuan satu bagian.

4. Apabila pewaris hanya meninggalkan satu anak laki-laki, maka anak tersebut mewarisi seluruh harta
peninggalan. Meskipun ayat yang ada tidak secara sharih (tegas) menyatakan demikian, namun pemahaman seperti ini dapat diketahui dari kedua ayat yang ada. Bunyi penggalan ayat yang dikutip sebelumnya (Butir 1) rnenunjukkan bahwa bagian laki-laki adalah dua kali lipat bagian anak perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat (artinya) "jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta". Dari kedua penggalan ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa bila ahli waris hanya terdiri dari seorang anak lakilaki, maka ia mendapatkan seluruh harta peninggalan pewaris.

5. Adapun bagian keturunan dari anak laki-laki (cucu pewaris), jumlah bagian mereka sama seperti anak,
apabila sang anak tidak ada (misalnya meninggal terlebih dahulu). Sebab penggalan ayat (artinya) "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu", mencakup keturunan anak kandung. Inilah ketetapan yang telah menjadi ijma'. Kedua: Hukum bagian kedua orang tua. Firman Allah (artinya): "Dan untuk dua orang ibu-hapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam." Penggalan ayat ini menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut:

1. Ayah dan ibu masing-masing mendapatkan seperenam bagian apabila yang meninggal mempunyai
keturunan.

2. Apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, maka ibunya mendapat bagian sepertiga dari harta yang
ditinggalkan. Sedangkan sisanya, yakni dua per tiga menjadi bagian ayah. Hal ini dapat dipahami dari redaksi ayat yang hanya menyebutkan bagian ibu, yaitu sepertiga, sedangkan bagian ayah tidak disebutkan. Jadi, pengertiannya, sisanya merupakan bagian ayah.

3. Jika selain kedua orang tua, pewaris mempunyai saudara (dua orang atau lebih), maka ibunya mendapat
seperenam bagian. Sedangkan ayah mendapatkan lima per enamnya. Adapun saudara-saudara itu tidaklah mendapat bagian harta waris dikarenakan adanya bapak, yang dalam aturan hukum waris dalam Islam dinyatakan sebagai hajib (penghalang). Jika misalnya muncul pertanyaan apa hikmah dari penghalangan saudara pewaris terhadap ibu mereka --artinya bila tanpa adanya saudara (dua orang atau lebih) ibu mendapat sepertiga bagian, sedangkan jika ada saudara kandung pewaris ibu hanya mendapatkan seperenam bagian? Jawabannya, hikmah adanya hajib tersebut dikarenakan ayahlah yang menjadi wali dalam pernikahan mereka, dan wajib memberi nafkah mereka. Sedangkan ibu tidaklah demikian. Jadi, kebutuhannya terhadap harta lebih besar dan lebih banyak dibandingkan ibu, yang memang tidak memiliki kewajiban untuk membiayai kehidupan mereka. Ketiga:
13

Maha Suci Dzat-Nya. Inilah yang diamalkan Rasulullah saw. maka istri mendapat bagian seperdelapan. sehingga bila yang berutang meninggal. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. agar manusia tidak melecehkan wasiat dan jiwa manusia tidak menjadi kikir (khususnya para ahli waris). Keempat: Firman Allah (artinya) "orang tuamu dan anak-anakmu. jika mereka tidak mempunyai anak. Jadi. 2.Utang orang yang meninggal lebih didahulukan daripada wasiat. utang-utang pewaris terlebih dahulu ditunaikan. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: "Sesungguhnya kalian telah membaca firman Allah [tulisan Arab] dan Rasulullah telah menetapkan dengan menunaikan utang-utang orang yang meninggal. Apabila seorang suami meninggal dan dia mempunyai anak (keturunan)." Secara zhahir wasiat harus didahulukan ketimbang membayar utang orang yang meninggal. siapa pun orangnya. Apabila seorang istri meninggal dan tidak mempunyai keturunan (anak)." Penggalan ayat ini dengan tegas memberi isyarat bahwa Allah yang berkompeten dan paling berhak untuk mengatur pembagian harta warisan. Bahkan tidak akan dapat merealisasikan pembagian yang adil seperti yang telah ditetapkan dalam ayat-ayat Allah. yang mempiutangi akan menuntut para ahli warisnya. Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya.. Keenam: 14 . kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. baik ketika ia masih hidup ataupun sesudah mati. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. Bagian istri: 1." Penggalan ayat tersebut menjelaskan tentang hukum waris bagi suami dan istri. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. secara hakiki. Jika kamu mempunyai anak. Di sisi lain. maka suami mendapat bagian seperempat dari harta yang ditinggalkan. maka bagian istri adalah seperempat. dan lebih relevan bagi umat manusia dan kemanusiaan selain Allah? Kelima: Firman Allah (artinya) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu." Hikmah mendahulukan pembayaran utang dibandingkan melaksanakan wasiat adalah karena utang merupakan keharusan yang tetap ada pada pundak orang yang utang. maka Allah SWT mendahulukan penyebutannya. Bila demikian. siapakah yang dapat membuat aturan dan undang-undang yang lebih baik. Manusia tidak akan tahu manakah di antara orang tua dan anak yang lebih dekat atau lebih besar kemanfaatannya terhadap seseorang. Apabila seorang suami meninggal dan dia tidak mempunyai anak (keturunan). Pembagian yang ditentukan-Nya pasti adil. cara ataupun aturan pembagiannya. utanglah yang mesti terlebih dahulu ditunaikan. Namun. utang tersebut akan tetap dituntut oleh orang yang mempiutanginya. Hal ini tidak diserahkan kepada manusia. Bagian suami: 1. tetapi Allah. Sedangkan wasiat hanyalah suatu amalan sunnah yang dianjurkan. kemudian barulah melaksanakan wasiat bila memang ia berwasiat sebelum meninggal. Selain itu. 2. lalu barulah melaksanakan wasiatnya. lebih adil. kalaupun tidak ditunaikan tidak akan ada orang yang menuntutnya. karena bagaimanapun bentuk usaha manusia untuk mewujudkan keadilan tidaklah akan mampu melaksanakannya secara sempurna. Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. maka suami mendapat bagian separo dari harta yang ditinggalkan istrinya. Bagi suami atau istri masing-masing mempunyai dua cara pembagian. Apabila seorang istri meninggal dan ia mempunyai keturunan (anak).

sedangkan bila jumlah saudaranya banyak maka mendapatkan sepertiga dari harta peninggalan dan dibagi secara rata. ayat akhir surat an-Nisa' menjelaskan bahwa saudara perempuan. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq r. Sementara itu. Jika yang meninggal mempunyai saudara seibu dua orang atau lebih. Kata kalaalah diambil dari kata al-kalla yang bermakna 'lemah'. Apabila pendapat saya ini benar maka hanyalah dari Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dalam ayat yang disebut terakhir ini. mereka mendapatkan dua per tiga bagian dan dibagi secara rata. maka wajib untuk tidak dilaksanakan. misalnya. Rincian Beberapa Keadaan Bagian Saudara Seibu A. Kata ini misalnya digunakan dalam kalimat kalla ar-rajulu. Jadi. sedangkan untuk kata yang sama di dalam akhir surat an-Nisa' memiliki pengertian 'saudara kandung' atau 'saudara seayah'. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. bagi satu saudara mendapat seperenam bagian. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). maka karena dariku dan dari setan. jika sendirian. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. seseorang yang berwasiat untuk menyedekahkan hartanya lebih dari sepertiga. Makna Kalaalah Pengertian kalaalah ialah seseorang meninggal tanpa memiliki ayah ataupun keturunan.tentang hak waris saudara dari pewaris sebanyak dua kali. tidak mencakup saudara kandung dan tidak pula saudara laki-laki atau saudara perempuan "seayah lain ibu". Firman-Nya (artinya): "Jika seseorang mati. saudara laki-laki mendapat bagian yang sama dengan bagian saudara perempuan. dan Allah terbebas dari kekeliruan tersebut. Jadi. Jadi. Adapun yang dijadikan dalil oleh ulama ialah bahwa Allah SWT telah menjelaskan --dalam firman-Nya-. Adapun bila pendapat ini salah. Dengan demikian. Apabila seseorang meninggal dan mempunyai satu orang saudara laki-laki seibu atau satu orang saudara perempuan seibu.a. ia berkata: "Saya mempunyai pendapat mengenai kalaalah. karena saudara kandung atau saudara seayah kedudukannya lebih dekat --dalam urutan nasab-dibandingkan saudara seibu. Pengertian inilah yang disepakati oleh ulama. Ayat tersebut menunjukkan dengan tegas bahwa apabila wasiat dan utang nyata-nyata mengandung kemudaratan. maka bagian yang diperolehnya adalah seperenam. 15 . dapat dipastikan bahwa pengertian kata ikhwah dalam ayat tersebut (an-Nisa': 12) adalah 'saudara seibu'. " Yang dimaksud ikhwah (saudara) dalam penggalan ayat ini (an-Nisa': 12) adalah saudara laki-laki atau saudara perempuan "seibu lain ayah". pengertian istilah ikhwah dalam ayat ini harus dibedakan dengan pengertian ikhwah yang terdapat dalam ayat akhir surat an-Nisa' untuk meniadakan pertentangan antara dua ayat. B. maka Allah menetapkan bagian keduanya lebih besar dibandingkan saudara seibu. Sedangkan utang yang dimaksud berdampak negatif. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Ulama sepakat (ijma') bahwa kalaalah ialah seseorang yang mati namun tidak mempunyai ayah dan tidak memiliki keturunan. baik wasiat atau utang yang dapat menimbulkan mudarat (berdampak negatif) pada ahli waris tidak wajib dilaksanakan. yang artinya 'apabila orang itu lemah dan hilang kekuatannya'. mendapat separo harta peninggalan. sedangkan bila dua atau lebih ia mendapat bagian dua per tiga. Yang pertama dalam ayat ini. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). misalnya seseorang yang mengakui mempunyai utang padahal sebenamya ia tidak berutang. Dampak negatif mengenai wasiat yang dimaksudkan di sini. Oleh karenanya. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. Sementara itu. " Ketujuh: Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sudah dibayar utangnya dengan tidak membebani mudarat (kepada ahli waris)". Sebab yang zhahir dari firman-Nya [tulisan Arab] menunjukkan adanya keharusan untuk dibagi dengan rata sama besar-kecilnya.. Kalaalah adalah orang yang meninggal yang tidak mempunyai ayah dan anak. atau dengan kata lain dia tidak mempunyai pokok dan cabang. Menurut saya. baik laki-laki maupun perempuan. dan yang kedua pada akhir surat anNisa'.Hukum yang berkenaan dengan hak waris saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu.

Apabila seorang saudara kandung perempuan meninggal. Apabila pewaris mempunyai dua orang saudara kandung perempuan atau seayah ke atas. maka seluruh harta peninggalannya menjadi bagian saudara kandung laki-lakinya. C. A. jika ternyata tidak ada saudara laki-laki yang sekandung atau saudara perempuan yang sekandung. maka ahli waris mendapat separo harta peninggalan. maka bagi ahli waris yang laki-laki mendapatkan dua kali bagian saudara perempuan. dan tidak mempunyai ayah atau anak. Begitulah hukum bagi saudara seayah. B. Apabila seseorang meninggal dan hanya mempunyai satu orang saudara kandung perempuan ataupun seayah.maka dibagi secara rata sesuai jumlah kepala. maka bagian ahli waris adalah dua per tiga dibagi secara rata. Apabila saudara kandungnya banyak --lebih dari satu-. bila ternyata pewaris (yang meninggal) tidak mempunyai ayah atau anak. 16 . dan ia tidak mempunyai ayah atau anak. Apabila pewaris mempunyai banyak saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan atau seayah. D.Hukum Keadaan Saudara Kandung atau Seayah Firman Allah SWT dalam surat an-Nisa': 176 mengisyaratkan adanya beberapa keadaan tentang bagian saudara kandung atau saudara seayah.

. Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta. atau dari suatu kaum kepada kaum lain. baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal. Dan Kami adalah pewarisnya. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang 17 ..: 'Ulama adalah ahli waris para nabi'. ibu. besar atau kecil. tanah. dengan catatan tidak boleh berlebihan. tetapi mencakup harta benda dan non harta benda. Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup. WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM SYARIAT Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan adil." (al-Qashash: 58) Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw." (an-Naml: 16) ".. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia. dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsan-miiraatsan. dari seluruh kerabat dan nasabnya. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya. Di antaranya Allah berfirman: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud . baik berupa harta (uang) atau lainnya. pada prinsipnya segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan. Hal demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah SWT.. kakek. A. kecuali hukum waris ini. baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang). suami. paman. atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya). Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang.II. dan ijma' para ulama sangat sedikit. tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. apakah dia sebagai anak. sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits Rasulullah saw. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris. demikian pula sabda Rasulullah saw. ayah. Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain'. Di samping bahwa harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok masyarakat. Dapat dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu hukum secara detail dan rinci. atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i. Jadi. istri. cucu.. atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu. Ayat-ayat Al-Qur'an banyak menegaskan hal ini. Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan Dari sederetan hak yang harus ditunaikan yang ada kaitannya dengan harta peninggalan adalah: 1. Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan pembagian waris. Oleh karena itu. Syariat Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya. Pengertian Peninggalan Pengertian peninggalan yang dikenal di kalangan fuqaha ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris. Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun. baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus gadai). Definisi Waris Al-miirats.

Menurut jumhur ulama. Hal ini tentu saja merupakan keputusan Allah SWT. Sepertiga. Di antaranya. bersabda: ". tentunya bila sebelumnya mayit tidak berwasiat kepada ahli waris untuk membayarnya. 3. Adapun jika utang tersebut berkaitan dengan Allah SWT. 2. Artinya. Bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkannya. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa hak yang berhubungan dengan Allah wajib ditunaikan oleh ahli warisnya sama seperti mereka diwajibkan menunaikan utang piutang pewaris yang berkaitan dengan hak sesama hamba. dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang yang sudah meninggal. maka wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. Kalangan ulama mazhab Hanafi beralasan bahwa menunaikan hal-hal tersebut merupakan ibadah. ketika menjawab pertanyaan Sa'ad bin Abi Waqash r. baik pewaris mewasiatkan ataupun tidak. Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. sedangkan kewajiban ibadah gugur jika seseorang telah meninggal dunia. Akan tetapi. Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris. maka di kalangan ulama ada sedikit perbedaan pandangan. tetapi termasuk hak yang menyangkut harta peninggalan pewaris. bila sang mayit berwasiat. termasuk diambil untuk membayar utangnya. --pada waktu itu Sa'ad sakit dan berniat menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal. Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli warisnya untuk menunaikannya sebelum harta warisan (harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya. biaya pemakaman.: "Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan. dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. Pendapat mazhab ini." 18 .a. Karena itu wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya. atau belum memenuhi kafarat (denda). Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan mayit. menurut mereka. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. ia tetap akan dikenakan sanksi kelak pada hari kiamat sebab ia tidak menunaikan kewajiban ketika masih hidup. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya. serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah saw. pengamalan suatu ibadah harus disertai dengan niat dan keikhlasan. Sedangkan jumhur ulama yang menyatakan bahwa ahli waris wajib untuk menunaikan utang pewaris terhadap Allah beralasan bahwa hal tersebut sama saja seperti utang kepada sesama manusia. seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu." Maksud hadits ini adalah utang piutang yang bersangkutan dengan sesama manusia. ulama mazhab Hambali menyamakan antara utang kepada sesama hamba dengan utang kepada Allah. Namun. meskipun kewajiban tersebut dinyatakan telah gugur bagi orang yang sudah meninggal.. biaya memandikan. Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu. dan sepertiga itu banyak.dibutuhkan mayit. Sementara itu. Hanya saja mazhab ini lebih mengutamakan agar mendahulukan utang yang berkaitan dengan sesama hamba daripada utang kepada Allah. seperti belum membayar zakat. sejak wafatnya hingga pemakamannya. Rasulullah saw. Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga meminta-minta kepada orang. hal ini merupakan amalan yang tidak memerlukan niat karena bukan termasuk ibadah mahdhah. Keduanya wajib ditunaikan secara bersamaan sebelum seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada setiap ahli waris. menurut saya. Padahal. maka wasiatnya tidak wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli warisnya.. Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya. Bahkan menurut pandangan ulama mazhab Syafi'i hal tersebut wajib ditunaikan sebelum memenuhi hak yang berkaitan dengan hak sesama hamba. pembelian kain kafan. atau belum menunaikan nadzar.

setelah ashhabul furudh menerima bagian). maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya. sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan dibandingkan lainnya. Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah. As-Sunnah. As-Sunnah. Tambahan hak waris bagi suami atau istri. Catatan: Pada ayat waris. Setelah ashhabul furudh. Bahkan. Tetapi pada masa kini sudah tidak ada lagi. 3. sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya.4. seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya. Yang dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun perempuan). Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur'an. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang meninggal. bibi (saudara ayah). seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan. maka istri mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya. dan sebagai 'ashabah. Hal ini tentu saja berbeda dengan utang piutang. bila pewaris tidak mempunyai kerabat sebagai ashhabul furudh. wasiat memang lebih dahulu disebutkan daripada soal utang piutang. Dengan demikian. saudara kandung pewaris. jika ternyata tidak ada ahli waris lainnya. dan cucu perempuan dari anak perempuan. ayah. Sebab wasiat tidak ada yang menuntut hingga kadang-kadang seseorang enggan menunaikannya. Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur'an. maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri. dan kesepakatan para ulama (ijma'). persoalan utang piutang hendaklah terlebih dahulu diselesaikan. para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan. cucu dari anak laki-laki pewaris. Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan kepada ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya. cucu laki-laki dari anak perempuan. Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa. paman (saudara ibu). diantaranya agar ahli waris menjaga dan benarbenar melaksanakannya. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yang menerima sisa harta warisan yang telah dibagikan. 6. 5. 19 . kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang berhak menerima sisa harta waris --jika ada-. Derajat Ahli Waris Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan derajat dan urutan. dan ijma'. Mewariskan kepada kerabat. juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim. istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. bibi (saudara ibu). didahulukannya penyebutan wasiat tentu mengandung hikmah. dan lainnya). baru kemudian melaksanakan wasiat. 4. ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan. Misalnya anak laki-laki pewaris. suami. dan seterusnya. Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan. B. Misalnya. Maka. Ashhabul furudh. 2. Misalnya. Itulah sebabnya wasiat lebih didahulukan penyebutannya dalam susunan ayat tersebut. istri. Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan. Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri). Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris yang masih memiliki kaitan rahim --tidak termasuk ashhabul furudh juga 'ashabah. maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh masing-masing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. misalnya ibu. Ashabat nasabiyah. Padahal secara syar'i. Adapun suami atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada. Misalnya. tidak pula 'ashabah. barulah ashabat nasabiyah menerima bagian. paman kandung. Oleh karena itu. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan derajatnya: 1. Ashabah karena sebab.

Adapun pernikahan yang batil atau rusak. Disebut juga wala al-'itqi dan wala an-ni'mah. artinya bukan salah seorang dan ahli waris. dan sebagainya. tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan. Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari pihak ayah). Pada bagian berikutnya butir-butir tersebut akan saya jelas secara detail. 2. Pewaris. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya. Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan. yaitu kekerabatan karena sebab hukum. Hak waris secara pertalian rahim. seperti kedua orang tua. E. Bentuk-bentuk Waris A. Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian. 8. C. Yang dimaksud di sini ialah orang lain. Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris. dan seterusnya. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. 3.7. 2. D. Hak waris secara tambahan. Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat --seperti yang saya jelaskan-. 20 . baik berupa uang. yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara seorang laki-laki dan perempuan. seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. Al-Wala. C. atau lainnya. Hakwaris secara fardh (yang telah ditentukan bagiannya). Rukun Waris Rukun waris ada tiga: 1. yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya. D. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi. dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya. tanah. Pernikahan. Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab). Ahli waris. B.maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untuk kemaslahatan umum. Harta warisan. Misalnya. bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki. yakni orang yang meninggal dunia. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. Baitulmal (kas negara). paman. anak. baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan. Sebab-sebab Adanya Hak Waris Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris: 1. saudara. 3.

sehingga pembagi mengetahui dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris. G. Hal seperti ini oleh kalangan fuqaha digambarkan seperti orang yang sama-sama meninggal dalam suatu kecelakaan kendaraan. Budak 21 . atau vonis yang ditetapkan hakim terhadap seseorang yang tidak diketahui lagi keberadaannya. atau tenggelam. Para fuqaha menyatakan. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia. Misalnya. Penggugur Hak Waris Penggugur hak waris seseorang maksudnya kondisi yang menyebabkan hak waris seseorang menjadi gugur. Syarat Kedua: Masih hidupnya para ahli waris Maksudnya. sehingga hakim memvonisnya sebagai orang yang telah meninggal.F. karena bagaimanapun keadaannya. Hak kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. Sebab. Akan tetapi harus dinyatakan apakah ia sebagai saudara kandung. Syarat Pertama: Meninggalnya pewaris Yang dimaksud dengan meninggalnya pewaris --baik secara hakiki ataupun secara hukum-. misalnya suami. jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling mewarisi meninggal dalam satu peristiwa --atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu meninggal-.-ialah bahwa seseorang telah meninggal dan diketahui oleh seluruh ahli warisnya atau sebagian dari mereka. istri. atau saudara seibu. dan sebagainya. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal). ada yang karena 'ashabah. Sebagai contoh. tertimpa puing. 3. ada yang berhak menerima warisan karena sebagai ahlul furudh. termasuk jumlah bagian masing-masing. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti. kecuali setelah ia meninggal.maka di antara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang mereka miliki ketika masih hidup. dalam hal ini ada tiga: 1. Sebagai contoh. saudara seayah. kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa seseorang adalah saudara sang pewaris. Hal ini harus diketahui secara pasti. sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi. pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup. manusia yang masih hidup tetap dianggap mampu untuk mengendalikan seluruh harta miliknya. kerabat. Mereka masing-masing mempunyai hukum bagian. Syarat Waris Syarat-syarat waris juga ada tiga: 1. ada yang terhalang hingga tidak mendapatkan warisan (mahjub). Syarat Ketiga: Diketahuinya posisi para ahli waris Dalam hal ini posisi para ahli waris hendaklah diketahui secara pasti. serta ada yang tidak terhalang. orang yang hilang yang keadaannya tidak diketahui lagi secara pasti. mereka adalah golongan orang yang tidak dapat saling mewarisi. dalam hukum waris perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan jumlah yang diterima. 2.

pembunuhan dengan segala cara dan macamnya tetap menjadi penggugur hak waris. mudabbar (budak yang telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal). dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim. yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi orang kafir. pendapat mazhab Hambali yang paling adil. Maksudnya. Sedangkan menurut mazhab Syafi'i. 2. Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak. tidak ada yang mengunggulinya). Bahkan kalangan ulama mazhab Hanafi sepakat mengatakan: "Seluruh harta peninggalan orang murtad diwariskan kepada kerabatnya yang muslim. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat. Misalnya. Alhasil. Sedangkan menurut mazhab Hanafi. orang yang murtad berarti telah keluar dari ajaran Islam sehingga secara otomatis orang tersebut telah menjadi kafir. bahwa antara muslim dan kafir tidaklah dapat saling mewarisi. Menurut saya. maka dia tidak mendapatkan bagiannya. Ali bin Abi Thalib. bolehkah seorang muslim mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad? Menurut mazhab Maliki. hanya pembunuhan yang disengaja atau yang direncanakan yang dapat menggugurkan hak waris. dalam haditsnya. Karena itu. Sebagian ulama ada yang menambahkan satu hal lagi sebagai penggugur hak mewarisi. seorang muslim dapat saja mewarisi harta kerabatnya yang murtad. dan lainnya. membayar diyat. secara langsung menjadi milik tuannya. karenanya orang murtad tidak dapat mewarisi orang Islam. Orang yang telah keluar dari Islam dinyatakan sebagai orang murtad. Mazhab Hambali berpendapat bahwa pembunuhan yang dinyatakan sebagai penggugur hak waris adalah setiap jenis pembunuhan yang mengharuskan pelakunya diqishash." (Bukhari dan Muslim) Jumhur ulama berpendapat demikian. dengan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak). apakah dapat mewarisinya ataukah tidak. dan Hambali (jumhur ulama) bahwa seorang muslim tidak berhak mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad. Ibnu Mas'ud." Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq. Sementara itu. Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengaku bersandar pada pendapat Mu'adz bin Jabal r. atau mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya. mazhab Hanafi menentukan bahwa pembunuhan yang dapat menggugurkan hak waris adalah semua jenis pembunuhan yang wajib membayar kafarat. atau membayar kafarat.: "Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta orang yang dibunuhnya. Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw.a. 3. Baik budak itu sebagai qinnun (budak murni). di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan mengenai kerabat orang yang murtad. 22 . Perbedaan Agama Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim. termasuk keempat imam mujtahid. Wallahu a'lam. tetapi tidak boleh mewariskan kepada orang kafir. dalam sabdanya: "Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. Syafi'i. " Dari pemahaman hadits Nabi tersebut lahirlah ungkapan yang sangat masyhur di kalangan fuqaha yang sekaligus dijadikan sebagai kaidah: "Siapa yang menyegerakan agar mendapatkan sesuatu sebelum waktunya. atau bahkan hanya membenarkan kesaksian para saksi lain dalam pelaksanaan qishash atau hukuman mati pada umumnya.Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya. Selain itu tidak tergolong sebagai penggugur hak waris." Ada perbedaan di kalangan fuqaha tentang penentuan jenis pembunuhan. Alasan mereka adalah bahwa Islam ya'lu walaayu'la 'alaihi (unggul. yakni murtad. menurut mereka. Pembunuhan Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya). apa pun agamanya. Dalam hal ini ulama membuat kesepakatan bahwa murtad termasuk dalam kategori perbedaan agama. seperti ditegaskan Rasulullah saw. semua jenis budak merupakan penggugur hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak mempunyai hak milik. Sebab. sekalipun hanya memberikan kesaksian palsu dalam pelaksanaan hukuman rajam. maka ia tidak berhak mendapatkan warisan.

Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat bagian seperempat harta yang ada. maka kakek tidak mendapatkan bagian warisannya dikarenakan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya dengan pewaris. dan anak --dalam hal ini. ibu. maka bagian istri seperdelapan. saya sertakan contoh kasus dari keduanya. sedangkan saudara kandung tidak mendapatkan bagian disebabkan sebagai ahli waris yang mahjub dengan adanya anak pewaris. H. (7) saudara laki-laki seibu. (6) saudara laki-laki seayah. Jadi. Maka kakek dan saudara seayah dalam hal ini disebut dengan istilah mahjub. Begitu juga halnya dengan saudara seayah. (13) anak laki-laki paman seayah. serta saudara kandung. seperti membunuh atau berbeda agama. (10) paman (saudara kandung bapak). saudara kandung. Sedangkan mahjub adalah hilangnya hak waris seorang ahli waris disebabkan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya atau lebih kuat kedudukannya. pendapat ulama mazhab Hanafi lebih rajih (kuat dan tepat) dibanding yang lainnya. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki Ahli waris (yaitu orang yang berhak mendapatkan warisan) dari kaum laki-laki ada lima belas: (1) anak laki-laki. yang terkadang membingungkan sebagian orang yang sedang mempelajari faraid. Kemudian sisanya. (11) paman (saudara bapak seayah). Sebagai contoh. karena harta warisan yang tidak memiliki ahli waris itu harus diserahkan kepada baitulmal.mahjub oleh adanya ahli waris yang lebih dekat dan kuat dibandingkan mereka. Contoh Kedua Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan ayah. (15) laki-laki yang memerdekakan budak. Contoh Pertama Seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri. yaitu 7/8. Padahal pada masa sekarang tidak kita temui baitulmal yang dikelola secara rapi. (8) anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki. yaitu ayah pewaris. atau saudara seayah dengan adanya saudara kandung. Karena itu. menjadi hak saudara kandung sebagai 'ashabah Dalam hal ini anak tidak mendapatkan bagian disebabkan ia sebagai ahli waris yang mahrum. Maka saudara kandung tidak mendapatkan warisan dikarenakan ter. karena pewaris dianggap tidak memiliki anak. Seseorang yang tergolong ke dalam salah satu sebab dari ketiga hal yang dapat menggugurkan hak warisnya. Kalau saja anak itu tidak membunuh pewaris. (5) saudara kandung laki-laki.Menurut penulis. ia tidak memperoleh bagian disebabkan adanya saudara kandung pewaris. anak kita misalkan sebagai pembunuh. baik yang bertaraf nasional ataupun internasional. (12) anak laki-laki dari paman (saudara kandung ayah). (14) suami. (3) bapak. Jika terjadi hal demikian. (9) anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu. menjadi hak sang anak sebagai 'ashabah. Untuk lebih memperjelas gambaran tersebut. ada baiknya saya jelaskan perbedaan makna antara kedua istilah tersebut. yaitu tiga per empat harta yang ada. di kalangan fuqaha dikenal dengan istilah mahrum. (2) cucu laki-laki (dari anak laki-laki). 23 . sisa harta yang ada. (4) kakek (dari pihak bapak). yaitu ayah. Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub Ada perbedaan yang sangat halus antara pengertian al-mahrum dan al-mahjub. adanya kakek bersamaan dengan adanya ayah.

(8) saudara perempuan seibu. 24 . yang penting laki-laki dan dari keturunan anak laki-laki. Ahli Waris dari Golongan Wanita Adapun ahli waris dari kaum wanita ada sepuluh: (1) anak perempuan. (6) saudara kandung perempuan. (5) nenek (ibu dari bapak). (7) saudara perempuan seayah. Catatan Cucu perempuan yang dimaksud di atas mencakup pula cicit dan seterusnya. (10) perempuan yang memerdekakan budak.dan seterusnya. Begitu pula yang dimaksud dengan kakek. (2) ibu. Demikian pula yang dimaksud dengan nenek --baik ibu dari ibu maupun ibu dari bapak-.Catatan Bagi cucu laki-laki yang disebut sebagai ahli waris di dalamnya tercakup cicit (anak dari cucu) dan seterusnya. (9) istri. yang penting perempuan dari keturunan anak laki-laki. (3) anak perempuan (dari keturunan anak laki-laki). dan seterusnya. (4) nenek (ibu dari ibu). I.

maka anak perempuan pewaris tidak mendapat bagian setengah. 25 . Saudara perempuan seayah akan mendapat bagian separo dari harta warisan peninggalan pewaris. c. dan hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. Kini mari kita kenali pembagiannya secara rinci. Apabila ia hanya seorang diri. sepertiga (1/3). dan seperenam (1/6). Ia hanya seorang diri (tidak mempunyai saudara perempuan). dan bagi kalian (para suami) mendapat separo dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah Ashhabul furudh yang berhak mendapatkan separo dari harta waris peninggalan pewaris ada lima. satu dari golongan laki-laki dan empat lainnya perempuan. Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki.. dan tidak pula mempunyai keturunan. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan.. dan tidak pula anak. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki). dengan tiga syarat: a.'" (an-Nisa': 176) 5. 4. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan mendapat bagian separo. seperempat (1/4). Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan. Dalilnya adalah firman Allah: ". A. bila mereka (para istri) tidak mempunyai anak . penj. b. dengan dua syarat: a. Dalilnya sama saja dengan dalil bagian anak perempuan (sama dengan nomor 2). Anak perempuan (kandung) mendapat bagian separo harta peninggalan pewaris. Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tersebut sebagai cucu tunggal). d. baik anak keturunan itu dari suami tersebut ataupun bukan.. Sebab cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki sama kedudukannya dengan anak kandung perempuan bila anak kandung perempuan tidak ada. baik anak laki-laki maupun anak perempuan.). cucu perempuan keturunan anak laki-laki. b.." (an-Nisa': 12) 2. Dalilnya adalah firman Allah: "dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang. yaitu setengah (1/2). b. dengan empat syarat: a. Maka firman-Nya "yushikumullahu fi auladikum". Dalilnya adalah firman Allah berikut: "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Pewaris tidak mempunyai saudara kandung perempuan. Rinciannya seperti berikut: 1. dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan. Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki. b. seperdelapan (1/8). dengan tiga syarat: a. dan saudara perempuan seayah. maka ia mendapat separo harta warisan yang ada". maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya . Dalilnya sama dengan Butir 4 (an-Nisa': 176). Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki. Apabila anak perempuan itu adalah anak tunggal.. Saudara kandung perempuan akan mendapat bagian separo harta warisan. siapa saja ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dengan bagian yang berhak ia terima. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaituj: jika seorang meninggal dunia. PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN JUMLAH bagian yang telah ditentukan Al-Qur'an ada enam macam. dua per tiga (2/3). saudara kandung perempuan. baik keturunan laki-laki ataupun keturunan perempuan. dan hal ini telah menjadi kesepakatan ulama. c. 3. anak perempuan. c. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak. Pewaris tidak mempunyai anak laki-laki (berarti anak perempuan tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. Kelima ashhabul furudh tersebut ialah suami. baik anak laki-laki maupun perempuan.III. mencakup anak dan anak laki-laki dari keturunan anak. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek. Bila kedua persyaratan tersebut tidak ada..

Ketentuan ini terikat oleh syarat-syarat seperti berikut: 1. Hal ini berdasarkan firman Allah di atas. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat Adapun kerabat pewaris yang berhak mendapat seperempat (1/4) dari harta peninggalannya hanya ada dua.. C. Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih. Dalilnya firman Allah berikut: 26 . 4.B. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah berikut: "." (an-Nisa': 12) Ada satu hal yang patut diketahui oleh kita --khususnya para penuntut ilmu-. baik suami meninggalkan seorang istri ataupun empat orang istri. bila suami mempunyai anak atau cucu. dan semuanya terdiri dari wanita: 1. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-lakinya. Jadi. Hal ini berdasarkan firman Allah berikut: ". yaitu dengan digunakannya kata lahunna (dalam bentuk jamak) yang bermakna 'mereka perempuan'. Jika kamu mempunyai anak. baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri yang lain. Dengan kata lain." (an-Nisa': 12) D..tentang bagian istri. Seorang istri akan mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan suaminya dengan satu syarat. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan Dari sederetan ashhabul furudh yang berhak memperoleh bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri.. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih. yaitu suami dan istri. yaitu apabila suami tidak mempunyai anak/cucu.. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidak mempunyai saudara laki-laki. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuh. Yang dimaksud dengan "istri mendapat seperempat" adalah bagi seluruh istri yang dinikahi seorang suami yang meninggal tersebut. wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu .... Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak . Rinciannya sebagai berikut: 1.. Istri. baik anak tersebut lahir dari rahimnya ataupun dari rahim istri lainnya. 2. 3. Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan istrinya dengan satu syarat. Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih. baik seorang maupun lebih akan mendapatkan seperdelapan dari harta peninggalan suaminya. maka mereka tetap mendapat seperempat harta peninggalan suami mereka. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga Ahli waris yang berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3) dari harta peninggalan pewaris ada empat. sekalipun seorang suami meninggalkan istri lebih dari satu. yakni anak laki-laki dari pewaris... Dalilnya adalah firman Allah SWT: ". maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya É" (an-Nisa': 12) 2. baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya ataupun dari suami lain (sebelumnya). bagian mereka tetap seperempat dari harta peninggalan.

maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan . --sebagaimana diungkapkan dalam bab sebelum ini. b. atau kakek. Sedangkan saudara perempuan seibu tidaklah termasuk dalam pengertian ayat tersebut. melainkan 'dua anak perempuan atau lebih'. E. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang." (an-Nisa': 11) Ada satu hal penting yang mesti kita ketahui agar tidak tersesat dalam memahami hukum yang ada dalam Kitabullah.. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian dua per tiga (2/3). hanya di sini (saudara seayah) ditambah dengan keharusan adanya saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw. yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan) yang seibu. Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan bahwa makna ayat itsnataini adalah 'dua anak perempuan atau lebih'. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. Persyaratan yang harus dipenuhi bagi dua saudara perempuan seayah untuk mendapatkan bagian dua per tiga hampir sama dengan persyaratan dua saudara kandung perempuan... Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan. 3. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Dalilnya adalah firman Allah: ". yaitu ijma' para ulama bahwa ayat ". baik laki-laki atau perempuan. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki maupun perempuan).. atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki.. Wallahu a'lam.. Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai saudara laki-laki seayah. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa'ad bin ar-Rabi' r..a. Bila pewaris tidak mempunyai anak. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga Adapun ashhabul furudh yang berhak mendapatkan warisan sepertiga bagian hanya dua. Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki.. Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga dengan syarat: 1. juga tidak mempunyai ayah atau kakek. Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan syarat sebagai berikut: a. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. 27 . b.." (an-Nisa': 176) 4.. c. Pewaris tidak mempunyai anak kandung. Jadi. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan. c.. c. hal ini merupakan kesepakatan para ulama.. ayah. b. Wallahu a'lam. atau saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). 2. Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak perempuan lebih dari dua'. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu tidak mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah." (an-Nisa': 176) mencakup saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah. Dan dalilnya sama. dengan persyaratan sebagai berikut: a. Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. orang yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah "anak perempuan lebih dari dua" jelas tidak benar dan menyalahi ijma' para ulama.". Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan persyaratan sebagai berikut: a.

tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). Kesimpulannya. Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan).. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang." (an-Nisa': 12) Catatan Yang dimaksud dengan kalimat "walahu akhun au ukhtun" dalam ayat tersebut adalah 'saudara seibu'. Sebab dalam bahasa bentuk jamak terkadang digunakan dengan makna 'dua orang'... Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki ataupun perempuan). Adapun dalilnya adalah firman Allah: ". baik saudara itu sekandung atau seayah ataupun seibu. Sebab Allah SWT telah menjelaskan hukum yang berkaitan dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan sekandung dalam akhir surat an-Nisa'. dan jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). Selain itu. Yakni. ada hal lain yang perlu kita tekankan di sini yakni tentang firman "fahum syurakaa 'u fits tsulutsi" (mereka bersekutu dalam yang sepertiga)... yang dalam hal ini bagian saudara laki-laki dua kali lipat bagian saudara perempuan. dua orang atau lebih. Juga menjelaskan hukum yang berkaitan dengan bagian saudara laki-laki dan perempuan seayah dalam ayat yang sama. mereka harus membagi sama di antara saudara laki-laki dan perempuan seibu tanpa membedakan bahwa laki-laki harus memperoleh bagian yang lebih besar daripada perempuan. Karena itu seluruh ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "akhun au ukhtun" dalam ayat itu adalah saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. Dalilnya adalah firman Allah: ".. sebagaimana makna yang masyhur dalam bahasa Arab --sebagai bentuk jamak. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta..2. Jumlah saudara yang seibu itu dua orang atau lebih. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu .. maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan) É" (at-Tahrim: 4) Kemudian saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. 2. lafazh ini bermakna 'dua atau lebih'. bagian saudara laki-laki dan perempuan seibu bila telah memenuhi syarat-syarat di atas ialah sepertiga. dan pembagiannya sama rata baik yang laki-laki maupun perempuan. Dalil lain yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah firman Allah berikut: "Jika kamu berdua bertobat kepada Allah. Kata bersekutu menunjukkan kebersamaan..." (an-Nisa': 11) Catatan: Lafazh ikhwatun bila digunakan dalam faraid (ilmu tentang waris) tidak berarti harus bermakna 'tiga atau lebih'. akan mendapat bagian sepertiga dengan syarat sebagai berikut: 1. Pembagian mereka berbeda dengan bagian para saudara laki-laki/perempuan kandung dan seayah. satu sebagai imam dan satu lagi sebagai makmum. juga tidak mempunyai ayah atau kakak. yang berarti sah dilakukan hanya oleh dua orang. maka ibunya mendapat seperenam... Jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. maka ibunya mendapat sepertiga." (an-Nisa': 11) Juga firman-Nya: ". 28 . Namun. Misalnya dalam istilah shalat jamaah.

Dalam kasus ini. setelah sebelumnya dikurangi bagian suami atau istri. Contoh Pertama Seorang istri wafat dan meninggalkan suami. Sedangkan al-gharawaini bermakna 'dua bintang cemerlang'. hak ayah menjadi dua kali lipat dari bagian yang diterima ibu. Suami mendapat bagian setengah (1/2) dari seluruh harta warisan yang ada. saya sertakan contohnya. Ibu mendapat sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil bagian suami. karena kedua istilah ini sangat masyhur. Disebut 'umariyyatan sebab kedua hal ini dilakukan oleh Umar bin Khathab dan disepakati oleh jumhur sahabat ridhwanullah 'alaihim. ibu mendapat bagian sepertiga dari harta warisan setelah diambil hak suami pewaris. seorang ibu akan mendapat bagian sepertiga dari seluruh harta peninggalan pewaris bila ia mewarisi secara bersamaan dengan bapak --seperti telah saya jelaskan--.Masalah 'Umariyyatan Pada asalnya. dan ayah. Agar lebih jelas. sebab bila ia memperoleh sepertiga dari seluruh harta yang ada maka ia akan mendapat bagian dua kali lipat bagian ayah. Dengan demikian. sedangkan ibu mendapat bagian tiga per empat dari sisa setelah diambil hak istri. maka ibunya mendapat sepertiga". Akan tetapi. Kemudian ayah mendapat seluruh sisa yang ada. Contoh Kedua Seorang suami meninggal dunia dan ia meninggalkan istri. Hal ini tentunya bertentangan dengan kaidah dasar faraid yang telah ditegaskan dalam Al-Qur'an dalam bagian ayat "lidzdzakari mitslu hazhzhil untsayain". Karenanya untuk tetap menegakkan kaidah dasar tersebut. yakni 'umariyyatan dan al-gharawaini. dan ayah. ibu. ibu hanya diberi sepertiga bagian dari sisa harta warisan yang ada. Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Jumlah Bagian Nilai 29 .berdasarkan pemahaman bagian ayat (artinya) "jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). Istri mendapat bagian seperempat (1/4) dari seluruh harta peninggalan suaminya. Untuk lebih jelas lagi saya berikan tabelnya: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Suami Ibu Ayah 1/2 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian suami Seluruh sisa peninggalan sebagai 'ashabah Jumlah Bagian Nilai 3 1 2 Dalam contoh kasus ini ibu mendapatkan bagian sepertiga dari sisa setelah diambil bagian suami pewaris. Sedangkan bagian ayah adalah sisa harta yang ada sebagai 'ashabah. berkaitan dengan ini ada dua istilah yang muncul dan dikenal di kalangan fuqaha. ibu.

..a. Bila pewaris mempunyai dua orang saudara atau lebih. b. (5) saudara perempuan seayah. Bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. menurut hemat saya. (3) ibu. Bahkan Ibnu Abbas menyanggah pendapat Zaid bin Tsabit: "Apakah memang ada di dalam Al-Qur'an istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri?" Zaid menanggapinya dengan mengatakan: "Di dalam Kitabullah juga tidak disebutkan bahwa bagian ibu sepertiga dari seluruh harta peninggalan yang ada bila ibu bersama-sama mewarisi dengan salah satu suami atau istri. Dalilnya firman Allah (artinya): "jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara.a. (4) cucu perempuan keturunan anak laki-laki. baik sekandung.. kecuali dalam tiga keadaan yang akan saya rinci dalam bab tersendiri. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. 30 . sedangkan pada tabel kedua adalah seperempat (1/4). (7) saudara laki-laki dan perempuan seibu. Pendapat pertama dintarakan oleh Zaid bin Tsabit r. Mereka adalah (1) ayah. dengan dua syarat: a. 3. Dan untuk dua orang ibu bapak. ibu tetap mendapat bagian sepertiga (1/3) dari seluruh harta yang ditinggalkan suami atau istri (anaknya). Adapun penyebutannya dengan istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri adalah karena menyesuaikan adab qur'ani. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam Adapun asbhabul furudh yang berhak mendapat bagian seperenam (1/6) ada tujuh orang. (2) kakek asli (bapak dari ayah).. yang kemudian diambil oleh jumhur ulama serta dikokohkan oleh Umar bin Khathab dengan menyatakan bahwa bagian ibu adalah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri. tepatnya masa Umar bin Khathab r. Menurutnya. maka ibunya mendapat seperenam É" (an-Nisa': 11). F. 1. Ibu akan memperoleh seperenam (1/6) bagian dari harta yang ditinggalkan pewaris. Jadi. Sedangkan pendapat yang kedua diutarakan oleh Ibnu Abbas r. baik anak laki-laki atau anak perempuan. seayah. Wallahu a'lam. Masalah 'umariyyatan ini pernah terjadi pada masa sahabat.a. apa yang dipahami Zaid dan dipilih oleh jumhur ulama serta ditetapkan oleh Umar bin Khathab itulah pendapat yang sahih.. ataupun seibu. Seorang ayah akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak. Jadi. (6) nenek asli. Seorang kakek (bapak dari ayah) akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki dari keturunan anak --dengan syarat ayah pewaris tidak ada. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang terkenal. Dalilnya firman Allah (artinya): ". dalam keadaan demikian salah seorang kakek akan menduduki kedudukan seorang ayah. Sebab yang disebutkan di dalam Al-Qur'an hanya "wawaritsahu abawahu".Istri Ibu Ayah 1/4 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian istri Mendapat bagian seluruh sisa peninggalan yang ada sebagai 'ashabah 1 1 2 Dari kedua contoh tersebut tampak oleh kita bahwa pada hakikatnya bagian ibu pada tabel pertama adalah seperenam (1/6).. baik saudara laki-laki ataupun perempuan. jika yang meninggal itu mempunyai anak ." (an-Nisa': 11) 2.

dan sekaligus menjadi penggugur (penghalang) hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris. 7. maka tidak ada sisa kecuali seperenam (1/6) yang memang merupakan hak saudara perempuan seayah. 5. Dalilnya adalah firman Allah (artinya) "jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris mendapat seperenam (1/6). Dan persyaratannya adalah bila pewaris tidak mempunyai pokok (yakni kakek) dan tidak pula cabang (yakni anak. cucu perempuan dari keturunan anak laki-lakinya. dan saudara perempuan. Abu Musa kemudian menjawab: "Bagi anak perempuan mendapat bagian separo (1/2). dan sisanya menjadi bagian saudara perempuan pewaris." Catatan Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian seperenam (1/6) dengan syarat bila pewaris tidak mempunyai anak laki-laki. maka anak tersebut menjadi penggugur hak sang cucu. sang penanya pergi mendatangi Ibnu Mas'ud. anak perempuan tersebut mendapat bagian setengah (1/2). dan bagi cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai pelengkap 2/3. dan yang setengah sisanya menjadi bagian saudara perempuan." Mendengar jawaban Ibnu Mas'ud. sang penanya kembali menemui Abu Musa al-Asy'ari dan memberi tahu permasalahannya. Sebab bila ada anak laki-laki. Ketentuan demikian baik nenek itu hanya satu ataupun lebih (dari jalur ayah maupun ibu). Sebab ketika saudara perempuan kandung memperoleh setengah (1/2) bagian. apabila pewaris mempunyai seorang saudara kandung perempuan. apabila yang meninggal (pewaris) mempunyai satu anak perempuan. bagi anak perempuan separo (1/2) harta peninggalan pewaris. yang jelas seperenam itu dibagikan secara rata kepada mereka. Sebab jika lebih dari satu orang. 6. anak-anak perempuan itu berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3)." Merasa kurang puas dengan jawaban Abu Musa. bila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan seayah atau lebih. Jadi. Maka Ibnu Mas'ud berkata: "Aku akan memutuskan seperti apa yang pernah diputuskan Rasulullah saw.. Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). sebagai pelengkap dua per tiga (2/3). maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta". Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya bahwa Abu Musa al-Asy'ari r. Kemudian Abu Musa berkata: "Janganlah sekali-kali kalian menanyaiku selama sang alim ada di tengah-tengah kalian. Hal ini berlandaskan pada apa yang telah ditetapkan di dalam hadits sahih dan ijma' seluruh sahabat.a. Saudara perempuan seayah satu orang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6).4. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). maka saudara perempuan seayah mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna dari dua per tiga (2/3). ditanya tentang masalah warisan seseorang yang meninggalkan seorang anak perempuan. 31 . Selain itu. Nenek asli mendapatkan bagian seperenam (1/6) ketika pewaris tidak lagi mempunyai ibu. pewaris juga tidak mempunyai anak perempuan lebih dari satu orang. Dalam keadaan demikian. Saudara laki-laki atau perempuan seibu akan mendapat bagian masing-masing seperenam (1/6) bila mewarisi sendirian. baik laki-laki atau perempuan). Hal ini hukumnya sama denga keadaan jika cucu perempuan keturunan anak laki-laki bersamaan dengan adanya anak perempuan.

untuk menuntut hak warisnya. memberikan hak seorang nenek seperenam (1/6).a.Ashhabus Sunan meriwayatkan bahwa seorang nenek datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r." Mendengar pernyataan al-Mughirah itu Abu Bakar kemudian memanggil nenek tadi dan memberinya seperenam (1/6). Abu Bakar menjawab: "Saya tidak mendapati hakmu dalam Al-Qur'an maka pulanglah dulu. 32 . Wallahu a'lam." Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengatakan kepada Abu Bakar: "Suatu ketika aku pernah menjumpai Rasulullah saw. dan tunggulah hingga aku menanyakannya kepada para sahabat Rasulullah saw.

Sedangkan pengertian 'ashabah menurut istilah para fuqaha ialah ahli waris yang tidak disebutkan banyaknya bagian di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan tegas. Namun. Inilah makna 'ashabah. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. A.'" (Yusuf: 14) Maka jika dalam faraid kerabat diistilahkan dengan 'ashabah hal ini disebabkan mereka melindungi dan menguatkan. Dalam kalimat bahasa Arab banyak digunakan kata 'ushbah sebagai ungkapan bagi kelompok yang kuat. Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah apa yang disabdakan Rasulullah saw. sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi. Selain itu. Ayat tersebut juga telah menegaskan bahwa bila pewaris tidak mempunyai anak. yang disebutkan justru saudara kandung akan menguasai (mendapatkan bagian) seluruh harta peninggalan yang ada bila ternyata pewaris tidak mempunyai keturunan. Dalil Al-Qur'an yang lainnya ialah (artinya) "jika seorang meninggal dunia. Dengan demikian. dikarenakan mereka --yakni kerabat bapak-. Namun." (an-Nisa': 176). jika ia tidak mempunyai anak. Sebagai contoh. makna kalimat "wahuwa yaritsuha" memberi isyarat bahwa seluruh harta peninggalan menjadi haknya. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. dua per tiganya (2/3) menjadi hak ayah. Kemudian. di antaranya dalam firman Allah berikut: "Mereka berkata: 'Jika ia benar-benar dimakan serigala. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah (artinya): "dan untuk dua orang ibu bapak. jika yang meninggal itu mempunyai anak. Pengertian 'ashabah yang sangat masyhur di kalangan ulama faraid ialah orang yang menguasai harta waris karena ia menjadi ahli waris tunggal. Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan berasal dari pihak ayah. penerimaan ayah disebabkan ia sebagai 'ashabah. Disebut demikian.menguatkan dan melindungi. sedang kami golongan (yang kuat). kata ini sering kali digunakan. Pada ayat ini tidak disebutkan bagian saudara kandung. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. ayat tersebut tidak menjelaskan berapa bagian ayah. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. anak laki-laki. maka ibu mendapat bagian sepertiga (1/3). ia juga menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing.: 33 . Inilah pengertian 'ashabah dari segi bahasa. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). Tetapi bila pewaris tidak mempunyai anak. maka seluruh harta peninggalannya menjadi milik kedua orang tua. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). dan paman (saudara kandung ayah). Dalil Hak Waris Para 'Ashabah Dalil yang menyatakan bahwa para 'ashabah berhak mendapatkan waris kita dapati di dalam Al-Qur'an dan AsSunnah. maka ibunya mendapat sepertiga" (an-Nisa': 11). Dari sini dapat kita pahami bahwa sisa setelah diambil bagian ibu. DEFINISI 'ASHABAH KATA 'ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak bapak. Dalam ayat ini disebutkan bahwa bagian kedua orang tua (ibu dan bapak) masing-masing mendapatkan seperenam (1/6) apabila pewaris mempunyai keturunan. Demikian juga di dalam Al-Qur'an.IV.

Arah anak. sedangkan kata "rajul" jelas menunjukkan makna seorang laki-laki. Oleh sebab itu. dan seterusnya. mencakup seluruh laki-laki keturunan anak laki-laki mulai cucu. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari salah paham. Arah ini hanya terbatas pada saudara kandung laki-laki dan yang seayah. Sebab. dan seterusnya. anak laki-laki keturunan saudara laki-laki seayah. Arah bapak. misalnya ayah dari bapak. dan (3) 'ashabah ma'al ghair (menjadi 'ashabah bersamasama dengan yang lain). dalam hal penggunaan kata "dzakar"."Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada yang berhak. yaitu laki-laki yang nasabnya kepada pewaris tidak tercampuri kaum wanita. 34 . Adapun saudara laki-laki yang seibu tidak termasuk 'ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul furudh. (2) 'ashabah bil ghair (menjadi 'ashabah karena yang lain). hendaklah diberikan kepada orang laki-laki yang paling utama dari 'ashabah. 2. bayi laki-laki pun berhak mendapatkan warisan sebagai 'ashabah dan menguasai seluruh harta warisan yang ada jika dia sendirian. dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama. agar memberikan hak waris kepada ahlinya. namun hanya yang lakilaki. Maka jika masih tersisa. 3. mencakup saudara kandung laki-laki. Arah saudara laki-laki. 4. jangan sampai menafsirkan kata ini hanya untuk orang dewasa dan cukup umur. dan seterusnya. yang pasti hanya dari pihak laki-laki. dan seterusnya. termasuk keturunan mereka. 'Ashabah bin nafs 'Ashabah bin nafs. kakek. Ada satu keistimewaan dalam hadits ini menyangkut kata yang digunakan Rasulullah dengan menyebut "dzakar" setelah kata "rajul". mempunyai empat arah. Arah paman. yaitu: 1. cicit. Catatan Dalam dunia faraid. anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki. termasuk keturunan mereka. seorang tuan (pemilik budak) dapat menjadi ahli waris bekas budak yang dimerdekakannya apabila budak tersebut tidak mempunyai keturunan. ayah dari kakak. saudara laki-laki seayah. Jenis 'ashabah yang kedua ini disebabkan memerdekakan budak. maka yang dimaksud adalah 'ashabah bin nafs. " (HR Bukhari) Hadits ini menunjukkan perintah Rasulullah saw. dan seterusnya. apabila lafazh 'ashabah disebutkan tanpa diikuti kata lainnya (tanpa dibarengi bil ghair atau ma'al ghair). Sedangkan 'ashabah nasabiyah terbagi tiga yaitu: (1) 'ashabah bin nafs (nasabnya tidak tercampur unsur wanita). Inilah rahasia makna sabda Rasulullah saw. mencakup ayah. B. Macam-macam 'Ashabah 'Ashabah terbagi dua yaitu: 'ashabah nasabiyah (karena nasab) dan 'ashabah sababiyah (karena sebab). mencakup paman (saudara laki-laki ayah) kandung maupun yang seayah.

Sedangkan ayah termasuk ashhabul furudh dikarenakan mewarisi bersama-sama dengan anak laki-laki. bila seseorang wafat dan meninggalkan saudara laki-laki seayah dan anak dari saudara kandung. saudara laki-laki seayah. maka saudara seayahlah yang mendapat warisan. Hukum 'Ashabah bin nafs Telah saya jelaskan bahwa 'ashabah bi nafsihi mempunyai empat arah. atau akan menerima sisa harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh bagian masing-masing. 35 . maka para 'ashabah pun tidak mendapat bagian. seseorang wafat dan meninggalkan anak serta cucu keturunan anak lakilaki. Keadaan seperti ini disebut pentarjihan menurut derajat kedekatannya dengan pewaris. saudara kandung perempuan. Bila salah satunya secara tunggal (sendirian) menjadi ahli waris seorang yang meninggal dunia. maka sebagai 'ashabah mendapat sisa harta setelah dibagikan kepada ashhabul furudh. Sebab cucu akan menduduki posisi anak bila anak tidak ada. Dalam hal ini hak warisnya secara 'ashabah diberikan kepada anak. Arah anak lebih didahulukan dibandingkan yang lain. kemudian mereka pun dalam satu arah. saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan waris dikarenakan arahnya lebih jauh. saudara perempuan mendapat bagian setengah (1/2). Pengecualiannya. Saudara seayah tidak mendapat bagian disebabkan ashhabul furudh telah menghabiskannya. dan derajat kekuatan hak warisnya sesuai urutannya. bila antara saudara kandung laki-laki maupun saudara laki-laki seayah berhadapan dengan kakak. Rinciannya. Dan bila setelah dibagikan kepada ashhabul furudh ternyata tidak ada sisanya. dan arah ayah lebih kuat daripada arah saudara. maka cara pentarjihannya (pengunggulannya) sebagai berikut: Pertama: Pertarjihan dari Segi Arah Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa 'ashabah bin nafsih. insya Allah akan saya paparkan pada bab tersendiri. Arah anak lebih didahulukan (lebih kuat) daripada arah ayah. Sebagai misal. Sementara itu. dan saudara kandung. Kedua: Pentarjihan secara Derajat Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa orang 'ashabah bi nafsihi. Dalam keadaan demikian. Sebab arah anak lebih didahulukan daripada arah yang lain. Apabila anak tidak ada. seseorang wafat dan meninggalkan anak laki-laki. Adapun bila para 'ashabah bin nafs lebih dari satu orang. yang menjadi 'ashabah adalah anak laki-laki. seorang istri wafat dan meninggalkan suami. siapakah di antara mereka yang paling dekat derajatnya kepada pewaris. maka pengunggulannya dilihat dari segi arah. Contoh lain. sedangkan cucu tidak mendapatkan bagian apa pun. Misalnya. maka cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya. Sebab. ayah. Sebab ia lebih dekat kedudukannya dari pada anak saudara kandung.Keempat arah 'ashabah bin nafs tersebut kekuatannya sesuai urutan di atas. Anak akan mengambil seluruh harta peninggalan yang ada. maka pentarjihannya dengan melihat derajat mereka. Namun bila ternyata pewaris mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh. maka ia berhak mengambil seluruh warisan yang ada. Sang suami mendapat bagian setengah (1/2). anak lebih dekat kepada pewaris dibandingkan cucu laki-laki. Sebagai misal.

saudara kandung lebih kuat daripada seayah.Ketiga: Pentarjihan Menurut Kuatnya Kekerabatan Bila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat banyak 'ashabah bi nafsihi yang sama dalam arah dan derajatnya. semuanya demi kesejahteraan keturunannya. Landasan pertama berupa dalil AlQur'an. Bahkan. Sebab. dan seterusnya. paman kandung lebih kuat daripada paman seayah. Sebagai contoh. maka pentarjihannya dengan melihat manakah di antara mereka yang paling kuat kekerabatannya dengan pewaris. Namun demikian. keduanya memiliki posisi sederajat dari segi kedekatan nasab pada seseorang. demi kepentingan masa depan anaknya. Jika demikian berarti wanita tersebut sebagai 'ashabah bi nafsihi.karena sangat khawatir terhadap masa depan anaknya. Karena itu mereka tidak segan-segan menimbun harta dan kekayaan demi menyenangkan keturunan pada masa mendatang. sedangkan yang kedua berupa dalil aqli. ada dua landasan mengapa garis anak lebih didahulukan." (an-Nisa: 11). orang tua berusaha bekerja keras untuk memperoleh harta dan berhemat dalam membelanjakannya. Artinya. yakni arah anak dan arah bapak. setelah masing-masing dari ashhabul furudh telah mendapatkan bagiannya. Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? Satu pertanyaan yang sangat wajar dan mesti diketahui jawaban serta hikmah di dalamnya. sedangkan bagian anak tidak disebutkan. 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya 'Ashabah bi ghairihi hanya terbatas pada empat orang ahli waris yang kesemuanya wanita: 36 . anak dari saudara kandung lebih kuat daripada anak dari saudara seayah. bahwa kaidah tersebut hanya dipakai untuk selain dua arah. Oleh sebab itu. bila budak yang dibebaskannya tidak mempunyai keturunan (kerabat). Dalam ayat tersebut Allah SWT menjadikan ayah sebagai ashhabul furudh bila pewaris mempunyai anak. ayah sebagai pokok dan anak merupakan cabang. Firman-Nya (artinya) "dan untuk dua orang ibu-bapak. jelaslah bahwa anak akan mendapatkan seluruh sisa harta peninggalan pewaris. Inilah alasan bahwa hati seseorang cenderung lebih dekat kepada anaknya dibandingkan kepada ayahnya. Tidak sedikit orang tua yang menjadi pengecut hanya disebabkan menjaga kemaslahatan keturunannya pada hari depannya. tidak sedikit orang tua yang bersikap bakhil. Berdasarkan posisi ini sebaiknya garis anak tidak didahulukan daripada garis ayah. bagi masingmasingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Maka sangat tepat apa yang disabdakan Rasulullah saw. Catatan Satu hal yang mesti kita ketahui bahwa 'ashabah bi nafsihi harus dari kalangan laki-laki. sedangkan dari kalangan wanita hanyalah wanita pemerdeka budak. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa garis anak lebih didahulukan daripada garis bapak. Catatan Perlu untuk digarisbawahi dalam hal pentarjihan dari segi kuatnya kekerabatan di sini. dalam sebuah haditsnya "al-waladu mabkhalah majbanah" (anak dapat membuat seseorang berlaku bakhil dan pengecut). Makna hadits tersebut sangat jelas bahwa orang tua menjadi kikir --bahkan pengecut-. pentarjihan menurut kuatnya kekerabatan hanya digunakan untuk arah saudara dan arah paman. manusia pada umumnya merasa khawatir terhadap anak (keturunannya). jika yang meninggal itu mempunyai anak. Dengan demikian. Sedangkan secara aqli. Dengan demikian. sangat kikir dalam membelanjakan hartanya. baik dalam hal keselamatannya maupun kehidupan masa depannya. Wallahu a'lam. mereka takut berhadapan dengan musuh atau siapa pun yang mengganggu kemudahan jalan rezekinya.

Kedua: laki-laki yang menjadi 'ashabah (penguat) harus yang sederajat. saudara laki-laki seayah tidak dapat men-ta'shih saudara kandung perempuan. Saudara perempuan seayah akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya. akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki). Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Dalil bagi hak waris para 'ashabah bi ghairih adalah firman Allah (artinya): "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan" (an-Nisa': 11). Sebagai contoh. Mereka berpendapat bahwa kata ikhwatan tidak mencakup saudara laki-laki atau perempuan yang seibu. Sebab dalam keadaan demikian. saudara kandung perempuan. 4. Selain itu. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "ikhwatan" dalam ayat tersebut adalah saudara laki-laki dan saudara kandung perempuan dan yang seayah. disebabkan hak waris mereka berdasarkan fardh (termasuk ashhabul furudh) bukan sebagai 'ashabah. berdasarkan firman-Nya (artinya): "maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu" (an-Nisa': 12). dan akan menjadi 'ashabah bila mempunyai saudara laki-laki.sama rata. tidaklah dapat menguatkan saudara kandung perempuan disebabkan tidak sederajat. Sebab saudara kandung perempuan lebih kuat kekerabatannya daripada saudara laki-laki seayah. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan" (an-Nisa': 176). Begitu juga anak laki-laki keturunan saudara laki-laki. atau anak laki-laki pamannya (yakni cucu laki-laki keturunan anak laki-laki). 37 . hak waris mereka pun antara laki-laki dan perempuan-. Misalnya. anak perempuan saudara laki-laki bukanlah termasuk ashhabul furudh. bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. baik sederajat dengannya atau bahkan lebih di bawahnya. maka tidak akan menjadi 'ashabah bi ghairih. Kaidah ini hanya berlaku bagi keempat ahli waris dari kalangan wanita yang saya sebutkan (yakni anak perempuan. Ketiga: laki-laki yang menjadi penguat harus sama kuat dengan ahli waris perempuan shahibul fardh. Misalnya. dikarenakan anak laki-laki tidak sederajat dengan cucu perempuan. dan saudara perempuan seayah). Saudara kandung perempuan akan menjadi 'ashabah bila bersama saudara kandung laki-laki. Catatan Setiap perempuan ahli waris berhak mendapat bagian setengah (1/2) jika sendirian. 3. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. bahkan ia berfungsi sebagai pen-tahjib (penghalang) hak waris cucu. dan pembagiannya. Bila wanita tersebut bukan dari ashhabul furudh. Dan juga berlandaskan firman-Nya (artinya): "dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. 2. ia berhak mendapatkan bagian dua per tiga (2/3) bila menerima bersama saudara perempuannya. anak perempuan dari saudara laki-laki tidak dapat menjadi 'ashabah bi ghairih dengan adanya saudara kandung laki-laki dalam deretan ahli waris. anak laki-laki tidak dapat menjadi pen-ta'shih (penguat) cucu perempuan. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara laki-lakinya. Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah bi Ghairihi tidak akan terwujud kecuali dengan beberapa persyaratan berikut: Pertama: haruslah wanita yang tergolong ashhabul furudh. Anak perempuan.1.

Hal ini berarti saudara kandung perempuan atau saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. 38 . maka akan naiklah pokok pembagiannya dan hak bagian anak perempuan akan berkurang. sedangkan bagian anak perempuan tidak terkena pengurangan.akan menjadi 'ashabah. Kemudian. bagian anak perempuan setengah (1/2) dan bagian cucu perempuan keturunan anak lakilaki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3).Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi Adapun sebab penamaan 'ashabah bi ghairihi adalah karena hak 'ashabah keempat wanita itu bukanlah karena kedekatan kekerabatan mereka dengan pewaris. Abu Musa menjawab: "Bagian anak perempuan separo.." Dari penjelasan Ibnu Mas'ud dapat disimpulkan bahwa hak saudara perempuan bila mewarisi bersama-sama dengan anak perempuan mengambil sisa harta pembagian yang ada. sedangkan sisanya menjadi hak saudara perempuan kandung atau seayah. Jadi." Penanya itu lalu pergi menanyakannya kepada Ibnu Mas'ud r. Sebab bila kita berikan hak waris saudara perempuan secara fardh. Jenis 'ashabah ini di kalangan ulama dikenal dengan istilah 'ashabah ma'al ghair. Satu hal yang perlu diketahui dalam masalah ini. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Lalu Abu Musa berkata: "Janganlah kalian menanyakannya kepadaku selama sang alim (Ibnu Mas'ud) berada bersama kalian. maka keempat wanita tersebut mendapat hak warisnya secara fardh. di segi lain tidaklah mungkin hak saudara perempuan itu digugurkan. maka ia menjadi seperti saudara kandung laki-laki sehingga dapat menghalangi hak waris saudara seayah. akan tetapi karena adanya 'ashabah lain ('ashabah bi nafsihi). seperti yang ditegaskan dalam kitab Hasyiyatul Bajuri (hlm. karena itu dijadikanlah saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah agar terkena pengurangan. dan saudara perempuan (sekandung atau seayah). 'Ashabah ma'al Ghair 'Ashabah ma'al Ghair ini khusus bagi para saudara kandung perempuan maupun saudara perempuan seayah apabila mewarisi bersamaan dengan anak perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki.. bahwa Abu Musa al-Asy'ari ditanya tentang hak waris anak perempuan. saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan --atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki dan seterusnya-.a. 108): "Adapun saudara perempuan (kandung dan seayah) menjadi 'ashabah jika berbarengan dengan anak perempuan adalah agar bagian saudara perempuan terkena pengurangan." Dalil 'Ashabah ma'al Ghair Yang menjadi landasan bagi hak waris 'ashabah ma'al ghair adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya. seperti saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah mereka. dan bagian saudara perempuan separo. dan dijawab: "Aku akan memvonis seperti apa yang diajarkan Rasulullah saw." Penanya itu pun kembali kepada Abu Musa al-Asy'ari dan menceritakan apa yang telah diputuskan Ibnu Mas'ud. Catatan Sangat penting untuk diketahui bersama bahwa bila seorang saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah ma'al ghair. Bila para 'ashabah bi nafsihi itu tidak ada.

Maka pembagiannya seperti dalam tabel berikut: Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Suami Cucu perempuan Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/4 1/2 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 1 2 1 0 39 . Contoh Kedua Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. yang kekuatannya seperti saudara kandung laki-laki. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung perempuan disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. Sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah. paman kandung ataupun yang seayah. Untuk lebih menjelaskan masalah tersebut saya sertakan contoh seperti berikut: Contoh Pertama Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan anak perempuan. cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. dan saudara laki-laki seayah. Begitu juga saudara perempuan seayah. dapat pula menggugurkan hak waris yang di bawah mereka. maka kekuatannya sama seperti saudara laki-laki seayah hingga menjadi penggugur keturunan saudaranya dan seterusnya. maka pembagiannya adalah sebagai berikut: Pokok masalahnya dari 2 Keterangan Anak perempuan Saudara kandung perempuan'ashabah ma'al ghair Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/2 1/2 gugur Nilai 1 1 0 Keterangan Bagian anak perempuan adalah setengah secara fardh. Selain itu. seperti anak keturunan saudara (keponakan). dan saudara laki-laki seayah. saudara perempuan. apabila menjadi 'ashabah ma'al ghair ketika mewarisi bersama anak perempuan pewaris.baik yang laki-laki maupun yang perempuan. dua orang saudara kandung perempuan.

saudara perempuan seayah. Contoh Keempat Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Anak perempuan Cucu perempuan Ibu Saudara perempuan seayah Keterangan Anak perempuan mendapat bagian setengah sebagai fardh. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam bagian sebagai penyempurna dua per tiga. Sedangkan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian setengah secara fardh. seorang ibu. Sedangkan bagian saudara laki-laki seayah gugur karena adanya dua saudara kandung. Sedangkan sisanya untuk 40 Jumlah Bagian 1/2 1/6 1/6 'ashabah ma'al ghair Nilai 3 1 1 1 . Contoh Ketiga Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak perempuan. dan paman kandung (saudara dari ayah kandung). cucu perempuan keturunan anak laki-laki.Keterangan Suami memperoleh seperempat bagian karena pewaris mempunyai cabang ahli warisnya. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 3 Keterangan Dua anak perempuan Saudara perempuan seayah Anak saudara laki-laki Jumlah Bagian 2/3 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 2 1 0 Keterangan Dua orang anak perempuan mendapatkan dua per tiga dan sisanya untuk saudara perempuan seayah disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. dan anak laki-laki saudara laki-laki (kemenakan). Sedangkan anak saudara laki-laki ter-mahjub oleh saudara perempuan seayah. kemudian sisanya yaitu seperempat-menjadi hak dua saudara kandung perempuan pewaris sebagai 'ashabah ma'al ghair. dan ibu mendapatkan seperenam. saudara perempuan seayah.

dan tentu saja hal ini memerlukan jawaban. Dalam hal ini bagi yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. Sedangkan dalam 'ashabah ma'al ghair tidak terdapat sosok 'ashabah bi nafsih. saya sertakan contoh: Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang nenek. Saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah menjadi 'ashabah bil ghair dengan adanya saudara kandung lakilaki ataupun saudara laki-laki seayah.saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. Jadi. anak perempuan atau cucu perempuan keturunan anak lakilaki mendapat bagian secara fardh. dan akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara laki-lakinya. Inilah perbedaan keduanya. kemudian saudara perempuan sekandung atau seayah mendapatkan sisanya. Maka pembagiannya seperti berikut: sang istri mendapat bagian seperempat sebagai fardh-nya karena adanya ikatan perkawinan. pada 'ashabah bil ghair para 'ashabah bi nafsih menggandeng kaum wanita ashhabul furudh menjadi 'ashabah dan menggugurkan hak fardh-nya. dan dalam hal ini mereka mendapatkan bagian sisa seluruh harta peninggalan sesudah ashhabul furudh mengambil bagian masing-masing. pada 'ashabah bil ghair selalu ada sosok 'ashabah bi nafsih. Agar persoalan ini lebih jelas. misalnya ia sebagai ashhabul furudh dan juga sebagai 'ashabah. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). Sedangkan 'ashabah ma'al ghair tidaklah demikian. karena kekuatannya seperti saudara laki-laki seayah sehingga ia menggugurkan paman kandung. Misalnya. Contoh lain: seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan dua anak perempuan. suami setengah (1/2) sebagai fardh-nya. Adapun 'ashabah ma'al ghair adalah para saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan. atau satu dari arah fardh dan yang kedua dari arah karena rahim. C. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair Dari uraian sebelumnya dapat kita ketahui bahwa 'ashabah bil ghair adalah setiap wanita ahli waris yang termasuk ashhabul furudh. 41 . secara ringkas. bibi (saudara ibu) yang salah satunya menjadi istrinya. Maka dapat ditegaskan bahwa seseorang bisa saja mendapatkan warisan dari dua arah yang berlainan. yang juga merupakan anak paman kandung pewaris. Seorang saudara perempuan sekandung atau seayah tidak menerima bagian seperti bagian anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? Kita mungkin sering mendengar pertanyaan seperti itu. Catatan Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu tidak berhak menjadi ahli waris bila pewaris mempunyai anak perempuan. Akan tetapi. anak perempuan menjadi 'ashabah bila bersama saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki pewaris). Maka pembagiannya sebagai berikut: Untuk nenek seperenam (1/6). Tampak semakin jelas perbedaan antara dua macam 'ashabah itu. saudara laki-laki seibu. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. Bahkan anak perempuan pewaris menjadi penggugur hak saudara (laki-laki/perempuan) seibu sehingga tidak dapat menjadi 'ashabah. seperti anak laki-laki. dan hak lainnya ialah ikut mendapat bagian sisa yang ada karena ikatan rahim. Begitulah seterusnya. dan seorang suami. dan sisanya untuk suami sebagai 'ashabah karena ia anak paman kandung.

42 .

Maka makna al-hajib menurut istilah ialah orang yang menghalangi orang lain untuk mendapatkan warisan. dan seterusnya. Definisi al-Hujub Al-hujub dalam bahasa Arab bermakna 'penghalang' atau 'penggugur'. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman: "Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka" (alMuthaffifin: 15) Yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum kuffar yang benar-benar akan terhalang. 43 . PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A. Jadi. terhalangnya hak waris saudara seayah karena adanya saudara kandung. bentuk isim fa'il (subjek) untuk kata hajaba adalah hajib dan bentuk isim maf'ul (objek) ialah mahjub. Satu hal yang perlu diketahui di sini. Misalnya. dan seterusnya. maka yang dimaksud adalah hujub hirman. penghalangan terhadap hak waris ibu yang seharusnya mendapatkan sepertiga menjadi seperenam disebabkan pewaris mempunyai keturunan (anak). dan al-mahjub berarti orang yang terhalang mendapatkan warisan. tidak dapat melihat Tuhan mereka di hari kiamat nanti. Hujub hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang. Macam-macam al-Hujub Al-hujub terbagi dua. misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad. Al-hujub bi asy-syakhshi terbagi dua: hujub hirman dan hujub nuqshan. Selain itu. Demikian juga seperti penghalangan bagian seorang suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi seperempat. Misalnya. Sedangkan al-hujub bi asy-syakhshi yaitu gugurnya hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. yakni al-hujub bil washfi (sifat/julukan). terhalangnya hak waris cucu karena adanya anak. dalam dunia faraid apabila kata al-hujub disebutkan tanpa diikuti kata lainnya. baik secara keseluruhannya atau sebagian saja disebabkan adanya orang yang lebih berhak untuk menerimanya. Ini merupakan hal mutlak dan tidak akan dipakai dalam pengertian hujub nuqshan. Hak waris mereka menjadi gugur atau terhalang. B. terhalangnya hak waris seorang kakek karena adanya ayah. dan al-hujub bi asy-syakhshi (karena orang lain).V. dalam bahasa Arab juga kita kenal kata hajib yang bermakna 'tukang atau penjaga pintu'. Adapun hujub nuqshan (pengurangan hak) yaitu penghalangan terhadap hak waris seseorang untuk mendapatkan bagian yang terbanyak. Adapun pengertian al-hujub menurut kalangan ulama faraid adalah menggugurkan hak ahli waris untuk menerima waris. sang istri dari seperempat menjadi seperdelapan karena pewaris mempunyai anak. disebabkan ia menghalangi orang untuk memasuki tempat tertentu tanpa izin guna menemui para penguasa atau pemimpin. terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu. Al-hujub bil washfi berarti orang yang terkena hujub tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan.

dan seterusnya) baik anak laki-laki maupun anak perempuan. juga terhalangi oleh adanya sosok yang menghalangi keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seayah. Sedangkan lima ahli waris dari kelompok wanita adalah: 44 . Paman kandung (saudara laki-laki ayah) akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki dari saudara laki-laki. dan terhalang dengan adanya ayah serta keturunan laki-laki (anak. Keponakan laki-laki (anak dari saudara laki-laki seayah) akan terhalangi dengan adanya orang-orang yang menghalangi keponakan (dari anak saudara kandung laki-laki). cicit. dan seterusnya) dan juga oleh cabang (anak. 4. anak kandung perempuan. dan juga oleh kakek yang lebih dekat dengan pewaris. cicit. 6. cucu. dan juga oleh sosok yang menghalangi paman seayah. kakek. Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap mendapatkan hak waris. 10. dan seterusnya). Saudara laki-laki seayah akan terhalang dengan adanya saudara kandung laki-laki. dan juga dengan adanya paman kandung. maka semuanya harus mendapatkan warisan. 9. Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau bahkan keenamnya. sebelas terdiri dari laki-laki dan lima dari wanita. cucu. cicit. Sepupu laki-laki (anak paman seayah) akan terhalangi dengan adanya sepupu laki-laki (anak paman kandung) dan dengan adanya sosok yang menghalangi sepupu laki-laki (anak paman kandung). 5. ayah. 7. Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu akan terhalangi oleh pokok (ayah. 2. Saudara kandung laki-laki akan terhalang oleh adanya ayah. anak lakilaki. serta oleh saudara laki-laki seayah. 3. 8. 11. ditambah dengan adanya keponakan (anak lakilaki dari keturunan saudara kandung laki-laki). Sepupu kandung laki-laki (anak paman kandung) akan terhalangi oleh adanya paman seayah. Keenam orang tersebut adalah anak kandung laki-laki. Adapun ahli waris dari laki-laki sebagai berikut: 1. Cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman Sederetan ahli waris yang dapat terkena hujub hirman ada enam belas. cucu. juga terhalang oleh saudara kandung perempuan yang menjadi 'ashabah ma'al Ghair. Kakek (bapak dari ayah) akan terhalang oleh adanya ayah. dan keturunan laki-laki (anak. Paman seayah akan terhalangi dengan adanya sosok yang menghalangi paman kandung.Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman Ada sederetan ahli waris yang tidak mungkin terkena hujub hirman. Keponakan laki-laki (anak saudara kandung laki-laki) akan terhalangi dengan adanya ayah dan kakek. ibu. dan istri. cucu kandung laki-laki. suami. akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki. dan seterusnya). Demikian juga para cucu akan terhalangi oleh cucu yang paling dekat (lebih dekat).

Saudara Laki-laki yang Merugikan Kalau sebelumnya saya jelaskan tentang saudara laki-laki yang membawa berkah. Saudara perempuan seibu akan terhalangi oleh adanya sosok laki-laki (ayah. 45 . ibu. cucu. ayah juga seperenam (1/6) bagian. cucu. Disebut saudara laki-laki yang merugikan karena keberadaannya menyebabkan ahli waris dari kalangan wanita tidak mendapatkan warisan. anak. Kemudian. Saudara kandung perempuan akan terhalangi oleh adanya ayah. yakni saudara laki-laki yang merugikan. juga terhalang oleh adanya ayah dan keturunan (anak. 3. apabila saudara laki-laki itu tidak ada. juga akan terhalangi oleh adanya dua orang anak perempuan atau lebih. Cucu perempuan (keturunan anak laki-laki) akan terhalang oleh adanya anak laki-laki. dan seterusnya) juga oleh adanya cabang (anak. Kecuali bila ia mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki keturunan anak lakilaki) yang sederajat ataupun yang lebih rendah dari derajat cucu perempuan. kakek. ibu seperenam (1/6) bagian. 5. cicit. dan cucu perempuan dari anak laki-laki. maka kini saya akan menjelaskan kebalikannya. maka cucu laki-laki dapat menyeret cucu perempuan itu sebagai 'ashabah. kecuali bila ada saudara laki-laki seayah. yang sebelumnya tidak mendapat fardh. anak perempuan.1. apabila saudara kandung perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). Agar lebih jelas saya berikan beberapa contoh kasus. bapak. Padahal. kecuali bila adanya 'ashabah. Pertama: Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. ahli waris wanita itu akan mendapatkan waris. Sebab saudara laki-laki seayah itu akan menggandengnya menjadi 'ashabah. Keadaan seperti ini dalam faraid disebut sebagai kerabat yang berkah atau saudara laki-laki yang berkah. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3) karena merupakan bagian wanita. Saudara Laki-laki yang Berkah Apabila anak perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). kecuali jika ada 'ashabah. Saudara perempuan seayah akan terhalangi dengan adanya saudara kandung perempuan jika ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. khusus kalangan laki-laki) serta terhalang oleh adanya dua orang saudara kandung perempuan bila keduanya menyempurnakan bagian dua per tiga (2/3). dan seterusnya. 4. anak perempuan setengah. gugurlah hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Nenek (baik ibu dari ibu ataupun dari bapak) akan terhalangi dengan adanya sang ibu. cicit. Keadaan seperti ini dinamakan sebagai saudara yang berkah. Selain itu. Selain itu. Disebut demikian karena tanpa cucu lakilaki. sebab tanpa keberadaannya para saudara kandung perempuan itu tidak akan menerima hak waris mereka. dan seterusnya) baik laki-laki ataupun perempuan. dan seterusnya (semuanya laki-laki). gugurlah hak waris para saudara perempuan seayah. cicit. baik cucu itu hanya seorang ataupun lebih. Maka pembagiannya seperti berikut: suami seperempat (1/4) bagian. 2. cucu perempuan tidak akan mendapat warisan. cucu.

C. Sementara itu. Inilah rahasia mengapa ulama faraid mengistilahkannya sebagai "saudara laki-laki yang merugikan". ayah seperenam (1/6) bagian. Maka. Tentang Kasus Kolektif Menurut kaidah yang biasa dikenal dan dipakai ulama faraid. Pembagiannya adalah seperti berikut: suami mendapat setengah (1/2) bagian dikarenakan pewaris tidak mempunyai anak secara fardh.Seandainya dalam kasus ini terdapat cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. sedangkan anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian karena tidak ada pen-ta'shih. Itulah contoh tentang saudara laki-laki yang merugikan. dalam contoh berikut saya sertakan saudara laki-laki yang merugikan. Karena. anak perempuan. sedangkan cucu laki-laki dan perempuan tidak mendapat bagian. masalah ini merupakan kasus kolektif. dan dua orang saudara seibu mendapat bagian sepertiga (1/3). Sedangkan saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan bagian karena ia sebagai 'ashabah --sedangkan harta waris yang dibagikan telah habis. saudara kandung laki-laki sebenamya memiliki kekerabatan lebih kuat dibandingkan saudara laki-laki seibu. (artinya): "Berikanlah hak waris kepada ashhabul furudh. kemudian baru kepada para 'ashabah. ayah. di sisi lain masalah ini telah memancing perbedaan pendapat sejak masa para sahabat. Ilustrasi seperti itu dapat kita ubah susunan ahli warisnya. maka gugurlah hak cucu perempuan tersebut. sehingga cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3). ibu mendapat seperenam (1/6) bagian disebabkan pewaris mempunyai dua orang saudara lakilaki atau lebih. misalnya posisi cucu perempuan keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara perempuan seayah dan posisi cucu laki-laki keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara laki-laki seayah. seorang wanita wafat dan meninggalkan seorang suami. Namun. sesuatu yang keluar dan menyimpang dari kaidah aslinya. ibu seperenam (1/6) bagian. yakni adanya cucu laki-laki keturunan dari anak laki-laki. Berdasarkan kaidah yang berlaku. Para ulama menyandarkan kaidah ini pada hadits Rasulullah saw. Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. tabi'in. dan dua orang saudara kandung laki-laki (atau lebih dari dua orang). juga karena para sahabat. cucu perempuan dirugikan --tidak mendapat waris-. Masalah ini dikenal juga dengan istilah "kasus musytarakah" (kasus kolektif).menyatakan bahwa saudara kandung laki-laki disamakan dengan saudara laki-laki yang seibu. Contoh permasalahannya sebagai berikut. tetapi pada kasus ini justru terjadi sebaliknya. ibu. dan sisanya diberikan kepada kerabat laki-laki yang lebih dekat. maka saudara perempuan seayah tidak mendapat bagian apa-apa. tabi'in. serta cucu laki-laki dan perempuan dari keturunan anak laki-laki. selain sebagai masalah yang menyimpang dari kaidah aslinya. dalam masalah ini ternyata terjadi sesuatu yang kontradiktif. pembagian harta waris dimulai dengan ashhabul furudh. Oleh sebab itu. hingga mereka mendapat sepertiga (1/3) bagian dan dibagikan secara rata di 46 ." Namun demikian. Contoh pertama tidak merugikan karena memang tidak ada cucu laki-laki keturunan anak laki-laki.karena ia mempunyai saudara laki-laki yang sederajat. Maka pembagiannya seperti berikut: suami memperoleh seperempat (1/4) bagian karena istri mempunyai anak (keturunan). dan imam mujtahidin. bila mempunyai saudara laki-laki seayah. Kedua: Untuk lebih memperjelas. serta para imam mujtahidin --dalam contoh kasus seperti ini-. Sedangkan dalam contoh kedua. saudara perempuan seayah akan mendapat waris bila tidak mempunyai saudara laki-laki seayah yang masih hidup. ibu. dua saudara laki-laki seibu (atau lebih dari dua orang). keberadaan saudara laki-laki dari cucu perempuan keturunan anak laki-laki itu merugikannya.

Ibnu Mas'ud. sebab bila saudara seayah maka gugurlah haknya secara ijma'. dan lainnya. Hajariyah. Ali. karena dianggap seperti saudara seibu dengan mendapat bagian sepertiga (1/3) dibagi adil Jumlah Bagian 3 1 2 Nilai 9 3 4 2 Persyaratan Masalah Kolektif 1. tabi'in. masalah ini diajukan kembali kepadanya. Dan dalam hal ini tidak berbeda apakah hanya satu orang atau banyak. dan masalahnya pun akan naik. baik laki-laki atau perempuan. serta kekolektifan ini akan batal. Selain itu.. Jumlah saudara seibu dua orang atau lebih. 3. Bukankah kami ini anak dari seorang ibu?" Umar menyimak perkataan orang itu dan berpikir bahwa apa yang diucapkannya benar dan tepat. dan imam mujtahidin. maka akan mewarisi secara fardh. Perbedaan Pendapat Para Fuqaha Dalam masalah musytarakah (kolektif) ini ada dua kubu pendapat yang masyhur dalam hal membagi hak waris sebagaimana contoh kasus tersebut. Umar baru pertama kali menjumpai kasus seperti ini dan memvonis: saudara kandung tidak mendapat bagian hak waris sedikit pun. Ibnu Abbas. 47 . dan Yammiyah. proteslah salah seorang ahli warisnya: "Wahai Amirul Mukminin. Sebab bila perempuan. Kemudian pada tahun berikutnya. masalah ini juga menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama. sedangkan pendapat yang kedua diikuti dan dianut oleh mazhab Maliki dan Syafi'i. dan lainnya. sungguh mustahil bila ayah kami dianggap keledai atau batu yang terbuang di sungai. Diriwayatkan bahwa masalah musytarakah ini pernah diajukan ke hadapan Umar bin Khathab r. sejak masa para sahabat.a. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa hak waris pada saudara kandung dikolektifkan dengan hak waris para saudara laki-laki seibu. karena Umar bin Khathab pernah memvonis masalah ini --juga pernah dikenal dengan sebutan Himariyah. Pendapat ini dilakukan oleh Zaid bin Tsabit. Pendapat pertama dianut dan diikuti oleh mazhab Hanafi dan Hambali. Saudara kandung itu harus saudara laki-laki. Contohnya adalah sebagai berikut: Asal masalah dari enam 6 naik menjadi 18 Keterangan Suami 1/2 harta waris yang ada secara fardh Ibu 1/6 harta waris yang ada secara fardh Saudara seibu 1/3 secara fardh dan dibagi merata dengan saudara kandung Saudara kandung dapat hak waris. Pendapat pertama menyatakan bahwa hak waris saudara kandung digugurkan sebagaimana mengikuti kaidah yang ada. Ketika ia hendak memvonis seperti tahun lalu. masalah ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan "umariyah". Saudara yang ada benar-benar saudara kandung. Maka ia memvonis dengan memberi hak kepada mereka (saudara seibu dan saudara sekandung) secara bersamaan dan dibagi sama rata. Utsman.antara mereka (termasuk saudara kandung laki-laki). Pendapat ini pernah dilakukan oleh Abu Bakar. 2. Di samping itu.

cucu perempuan keturunan anak laki-laki pewaris. Masih menurut mazhab Hanafi. Menurut mazhab Abu Hanifah hak mereka juga digugurkan oleh adanya kakek pewaris. Hal ini berdasarkan firman Allah (artinya) "mereka bersekutu dalam yang sepertiga. dan banul 'allat (saudara laki-laki/perempuan seayah). serta banul akhyaf (saudara laki-laki/perempuan seibu) akan gugur (terhalangi) oleh adanya anak laki-laki pewaris. cucu laki-laki (keturunan anak laki-laki). Hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama. dan seterusnya.Beberapa Kaidah Penting Hak waris banul a'yan (saudara kandung laki-laki/perempuan). Sedangkan menurut ketiga imam mazhab yang lain tidaklah demikian." 48 . dan ayah. hak waris banul akhyaf digugurkan dengan adanya anak perempuan pewaris. Kaidah yang lain ialah bahwa banul akhyaf mendapatkan hak waris secara merata pembagiannya antara yang lakilaki dengan yang perempuan.

khususnya para ahli waris. Hal ini didasarkan sesuai dengan kaidah yang ada di dalam faraid: "bilamana unsur wanita masuk ke dalam nasab laki-laki." Ketakutan dan kehati-hatian para sahabat dalam memvonis masalah hak waris kakek dan saudara itu tentu sangat beralasan. itulah kakek yang sahih. Hal ini akan memudahkan setiap orang yang ingin mengetahuinya sambil bersandar kepada ijtihad yang dianggapnya lebih rajih (kuat dan tepat) serta dapat dijadikannya sandaran dalam berfatwa. misalnya ayahnya ibu..a. Sedangkan kakek yang berasal garis wanita disebut sebagai kakek yang rusak nasabnya. dalam hal ini pernah mengatakan: "Bertanyalah kalian kepada kami tentang masalah yang sangat pelik sekalipun. Namun demikian. Ibnu Mas'ud r. masalah ini memerlukan ijtihad. 49 . sama seperti perbedaan yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. ijtihad ini sangat mengkhawatirkan mereka. Karena itu Allah SWT tidak membiarkan begitu saja hukum yang berkenaan dengan masalah hak kepemilikan materi ini. namun janganlah kalian tanyakan kepadaku tentang masalah warisan kakak yang sahih dengan saudara. Dengan demikian. Akan tetapi di sisi lain. Oleh karena itu. maka hendaklah ia memvonis masalah waris antara kakek yang sahih dengan para saudara. maka kakek menjadi rusak nasabnya. bahkan mereka cenderung sangat takut untuk memberi fatwa yang berkenaan dengan masalah ini. misalnya ayah dari bapak dan seterusnya. Perbedaan tersebut dapat digolongkan ke dalam dua mazhab. Perlu saya tekankan bahwa masalah waris sangatlah berbahaya dan sensitif. masalah yang sangat dikhawatirkan itu hilang setelah munculnya ijtihad para salaf ash-shalih dan para imam mujtahidin. karena tidak ada nash Al-Qur'an atau hadits Nabi yang menjelaskannya. Ijtihad dan pendapat tersebut dijaga serta dibukukan secara lengkap dan detail beserta dalildalilnya. atau ayah dari ibunya ayah. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara Baik Al-Qur'an maupun hadits Nabawi tidak menjelaskan tentang hukum waris bagi kakek yang sahih dengan saudara kandung ataupun saudara seayah. mayoritas sahabat sangat berhati-hati dalam memvonis masalah ini.VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA A. dan memberikan hak waris kepada orang yang sebenamya tidak berhak. Namun bila tidak termasuki unsur wanita. atau hukum tentang hak kepemilikan. karena jika salah berarti mereka akan merugikan orang yang sebenarnya mempunyai hak untuk menerima warisan." Pernyataan serupa juga ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib: "Barangsiapa yang ingin diceburkan ke dalam neraka Jahanam. menurut mereka. mereka merasa sangat takut kalau-kalau berlaku zalim dan aniaya. Terlebih lagi dalam masalah yang berkenaan dengan materi." B. Pengertian Kakek yang Sahih Makna kakek yang sahih ialah kakek yang nasabnya terhadap pewaris tidak tercampuri jenis wanita. C. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek Para imam mazhab berbeda pendapat mengenai hak waris kakak bila bersamaan dengan saudara. Dia menjelaskannya di dalam Al-Qur'an dengan detail agar tidak terjadi kezaliman dan perbuatan aniaya di kalangan umat manusia.

Sebagai gambaran. kemudian arah ayah. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur sahabat dan tabi'in. Dengan demikian para paman menjadi ahli waris. seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. Imam Syafi'i. Keadaan pertama: kakek mewarisi hanya bersamaan dengan para saudara. Kakek merupakan pokok dari ayah. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kaidah yang masyhur di kalangan fuqaha. Karena itu hak waris para saudara akan terhalangi karena adanya arah kakek. kemudian saudara. Bila kita mengutamakan yang satu dan mencegah yang lain berarti telah melakukan kezaliman tanpa alasan yang dapat diterima. dan diikuti oleh kedua orang murid Abu Hanifah. dan Imam Ahmad bin Hambal. Pendapat ini diikuti oleh mazhab Hanafi. Ibnu Mas'ud. jika 'ashabah itu ada anak dan ayah. dan barulah arah paman. atau anak perempuan. Lebih lanjut golongan yang pertama ini menyatakan bahwa arah ayah --mencakup kakek dan seterusnya-. dan Ahli Madinah ridhwanullah 'alaihim. kemudian ia wafat.terhadap harta jauh lebih besar ketimbang para kakek. sedangkan saudara adalah cabang dari ayah. karena itu tidaklah layak untuk mengutamakan yang satu dari yang lain karena mereka sama derajatnya. maka harta peninggalannya akan berpindah kepada anak-anaknya yang berarti paman para saudara. D. seperti istri atau ibu. dan masingmasing memiliki hukum tersendiri. kemudian barulah arah paman. Mazhab kedua: berpendapat bahwa para saudara kandung laki-laki/perempuan dan saudara laki-laki seayah berhak mendapat hak waris ketika bersamaan dengan kakek.terhalangi (gugur) hak warisnya dengan adanya kakek. asy-Syi'bi. Kakek tidaklah menggugurkan hak waris para saudara kandung dan yang seayah. misalnya saja warisan pewaris ini dibagikan atau diberikan kepada para kakek. ataupun seibu-. tidak mendapat warisan dari saudaranya yang meninggal.Tentang Mazhab Jumhur Untuk lebih menjelaskan pendapat yang rajih --yakni pendapat jumhur ulama-. Yakni. Bila 'ashabah itu ada arah saudara dan arah paman maka yang didahulukan adalah arah saudara. Hal ini sama dengan memberikan hak waris kepada para saudara kandung kemudian di antara mereka ada yang tidak diberi. Mereka beralasan bahwa kakek akan mengganti kedudukan ayah bila telah tiada. dan sebagainya. karena kakek merupakan bapak yang paling 'tinggi'.lebih didahulukan daripada arah saudara. Mazhab ini merupakan pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq. Alasan yang dikemukakan golongan kedua ini ialah bahwa derajat kekerabatan saudara dan kakek dengan pewaris sama. 50 . Sekali-kali arah itu tidak akan berubah atau berpindah kepada arah yang lain. sama seperti halnya ayah.maka saya perlu mengatakan bahwa sesungguhnya jika kakak mewarisi bersamaan dengan saudara. Kedekatan kakek terhadap pewaris melewati ayah. sedangkan para saudara tadi hanya kebagian tangis. yakni Zaid bin Tsabit. sama seperti gugurnya hak waris oleh saudara bila ada ayah. bila ternyata 'ashabah banyak arahnya. saudara seayah. Ali bin Abi Thalib. dan Ibnu Umar. Pendapat ini dianut oleh ketiga imam. demikian juga saudara. Ibnu Abbas. Misalnya. sebelum arah yang lebih dahulu hilang atau habis.Mazhab pertama: mereka menyatakan bahwa para saudara --baik saudara kandung. maka ia mempunyai dua keadaan. tidak ada ahli waris lain dari ashhabul furudh. yaitu Muhammad dan Abu Yusuf. yaitu Imam Malik. maka yang lebih didahulukan adalah arah anak (keturunan). Alasan lain yang dikemakakan mazhab ini ialah bahwa kebutuhan para saudara --yang jelas lebih muda daripada kakek&emdash. maka yang didahulukan adalah arah anak.

seperti ibu. Apabila kakek berhadapan dengan saudara perempuan kandung. Pada keadaan keempat kakek mendapat setengah (1/2). Pada keadaan ketiga kakek mendapat dua per lima (2/5). 3. 2. maka ia menempati posisi yang sama seperti saudara kandung laki-laki. maka diberikan dengan memilih cara mendapat sepertiga (1/3) harta waris yang ada. dan anak perempuan. Berarti kakek mendapatkan bagian dua kali lipat bagian para saudara perempuan sekandung. Pertama dengan cara pembagian.dari dua pilihan yang ada. Hukum Keadaan Pertama Bila seseorang wafat dan meninggalkan kakek serta saudara-saudara tanpa ashhabul furudh yang lain. dan bila mendapatkan 1/3 harta warisan lebih baik maka itulah yang menjadi haknya. Kakek dengan saudara kandung laki-laki. Bila pembagian lebih baik baginya maka hendaklah dengan cara pembagian. Adapun penjelasannya seperti berikut: Pada keadaan pertama kakak mendapat dua per tiga (2/3). ia mendapatkan bagian yang sama dengan bagian saudara kandung laki-laki.Keadaan kedua: kakak mewarisi bersama para saudara dan ashhabul furudh yang lain. Kelima keadaan tersebut sebagai berikut: 1. 51 . Makna Pembagian Makna pembagian menurut ulama faraid adalah kakek dikategorikan seperti saudara kandung. 5. Kakek dengan saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan. Kakek dengan saudara kandung perempuan. dan kedua dengan cara mendapatkan sepertiga (1/3) harta warisan. Kakek dengan tiga orang saudara kandung perempuan. Kakek dengan dua orang saudara kandung perempuan. Bila cara pembagian tersebut kemungkinan merugikan kakek. istri. Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek Ada lima keadaan yang lebih menguntungkan kakek bila menggunakan cara pembagian. maka bagi kakek dipilihkan perkara yang afdhal baginya --agar lebih banyak memperoleh harta warisan-. itulah yang menjadi bagiannya. Mana di antara kedua cara tersebut yang lebih baik bagi kakek. Pada keadaan kedua kakek mendapat setengah (1/2). 4.

Pada keadaan kelima kakek mendapat dua per lima (2/5). Yang pasti. Ketiga keadaan itu sebagai berikut: 1. menerima sepertiga (1/3). Kakek dengan dua orang saudara kandung laki-laki. dan sisanya dibagikan kepada para saudara. atau seorang kakek dan lima saudara kandung perempuan atau lebih. Dalam hal ini kakek mendapat sepertiga (1/3). Kelima keadaan itu lebih menguntungkan kakek jika menggunakan cara pembagian. Kalau jumlah harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh tidak tersisa kecuali seperenam atau bahkan kurang. maka kakek akan dirugikan karena akan menerima kurang dari sepertiga harta warisan. Sebab bagian tersebut adalah bagiannya yang telah ditentukan syariat. Catatan Hukum tentang hak waris saudara laki-laki dan perempuan seayah ketika bersama dengan kakek --tanpa saudara kandung laki-laki atau perempuan-. atau menerima seperenam (1/6) dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris. dengan pembagian. maka pemberian sepertiga (1/3) kepada sang kakek lebih menguntungkannya. Kakek dengan seorang saudara kandung laki-laki dan dua orang saudara kandung perempuan. Kalau saja dalam keadaan seperti itu kita gunakan cara pembagian. Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek Selain dari delapan keadaan yang saya kemukakan itu.maka bagi kakek dapat memilih salah satu dari tiga pilihan yang paling menguntungkannya.bagian sang kakek lebih menguntungkannya. maka itulah bagian kakek.maka hukumnya sama dengan hukum yang saya jelaskan di atas. Misalnya. yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian wanita. Yaitu. Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang Ada tiga keadaan yang menyebabkan kakek mendapatkan bagian yang sama baik secara pembagian ataupun dengan mengambil sepertiga harta waris yang ada. maka hendaknya dibagi dengan cara itu. Dan hal ini pun dengan syarat bagiannya tidak kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. Dan jika sepertiga (1/3) sisa harta waris yang ada malah lebih menguntungkannya. Kakek dengan empat orang saudara kandung perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang kakek dan tiga orang saudara. 3. Ketetapan ini telah menjadi kesepakatan bulat imam mujtahid. Hukum Keadaan Kedua Bila kebersamaan antara kakek dengan para saudara dibarengi pula dengan adanya ashhabul furudh yang lain --yakni ahli waris lainnya-. dan para saudara kandung digugurkan atau dikurangi haknya. bagian kakek tidaklah boleh kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. maka tetaplah kakek diberi bagian seperenam (1/6) secara fardh. 52 . Adapun bila cara pembagian --setelah para ashhabul furudh mengambil bagiannya-. 2.

mereka dianggap satu jenis. yakni kakak seperempat dan saudara kandung laki-laki juga seperempat. Pada bagian ini akan dijelaskan bagian kakek jika ia tidak hanya bersama dengan saudara kandung. ia mendapatkan sepertiga dari sisa harta setelah diambil hak sang ibu. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. suami. Dalam contoh kedua ini bagian kakek lebih menguntungkan. tetapi sekaligus bersama dengan saudara seayah. Hal ini telah disepakati ulama mujtahid. dan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). kakek mendapat sepertiga (1/3) dari sisa harta yang ada. Berarti kakek mendapat sepertiga (1/3) dari lima per enam (5/6). dan saudara kandung laki-laki. Sebab dengan pembagian ia mendapatkan bagian lebih dari seperenam (1/6). dan kakek mendapat seperenam (1/6). lima anak perempuan mendapat dua per tiga (2/3). Untuk keadaan seperti ini. Contoh kelima: seseorang wafat dan meninggalkan dua orang istri. 53 . Maka pembagiannya seperti berikut: suami faradh-nya setengah (1/2) karena pewaris tidak mempunyai anak. nenek. dan tiga saudara kandung perempuan. seorang anak perempuan. kakek. ibu mendapatkan seperenam (1/6). keberadaan saudara seayah dalam keadaan seperti ini dikategorikan sebagai merugikan kakek.sebab jika saudara kandung dan seayah bersama-sama. Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek Persoalan yang saya jelaskan sebelumnya berkisar mengenai bagian kakek bila hanya bersamaan dengan saudara kandung. seluruh sisa harta waris yang ada hanya menjadi hak para saudara kandung -. dan sisanya dibagikan kepada saudara laki-laki dan perempuan. sedangkan empat saudara laki-laki tidak mendapatkan apa-apa. kakek. dan sisanya dibagi dua. maka saudara seayah mahjub. kakek. Apabila pemberian dilakukan secara pembagian. nenek seperenam (1/6). seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Maka pembagiannya sebagai berikut: untuk kedua orang istri seperdelapan (1/8). haknya menjadi gugur. dua saudara kandung laki-laki dan dua saudara kandung perempuan. Meskipun setelah kakek mendapatkan bagian. dan sepuluh saudara kandung perempuan. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. anak perempuan setengah (1/2). dan sang kakek juga seperenam. ibu. Pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan dengan cara pembagian. dan sisanya dibagikan kepada para saudara kandung perempuan sesuai jumlah orangnya secara rata. dengan ketentuan bagi laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat seperempat (1/4). Pembagiannya sebagai berikut: bagi anak perempuan setengah (1/2). E. Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan lima anak perempuan. kakek. ulama faraid menyatakan bahwa para saudara seayah dikategorikan sama dengan saudara kandung. kakek seperenam (1/6). dan empat saudara kandung laki-laki. Sedangkan sepuluh saudara kandung perempuan tidak mendapatkan apa-apa sebab ashhabul furudh telah menghabiskan bagian yang ada. kakak.Contoh Keadaan Kedua Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan suami. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan.

Kemudian. dan dua orang saudara perempuan seayah. Bila kita lihat secara seksama akan tampak oleh kita 54 . dan itu menjadi bagian saudara laki-laki kandung. yakni saudara kandung laki-laki. Kalaulah pemberian kepada kakak dalam contoh ini menggunakan cara pembagian. saya berikan haknya dengan cara yang paling menguntungkannya. Dalam contoh pertama. dan sisanya diberikan kepada saudara kandung laki-laki.Akan tetapi. sedangkan saudara laki-laki seayah terhalangi oleh adanya ahli waris yang lebih kuat dan dekat. Kebetulan dalam kasus ini kedua cara pemberian waris bagi kakek menghasilkan bagian yang sama. Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan kakek. seorang saudara laki-laki seayah. tanpa menggunakan cara pembagian. karena itu bagian kakek sepertiga (1/3). Maka pembagiannya seperti berikut: saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. seorang saudara kandung laki-laki. karena ia lebih kuat dan lebih dekat kekerabatannya terhadap pewaris dibandingkan para saudara laki-laki/perempuan seayah. Catatan Pada contoh ketiga --seperti telah diutarakan-. dan seorang saudara perempuan seayah. dalam masalah ini kita berikan nasib (bagian) saudara perempuan seayah sebanyak dua per enam (2/6). dan keberadaannya hanya merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. kakek. Oleh sebab itu. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung perempuan. Sisanya barulah untuk mereka. kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. dan saudara kandung laki-laki memperoleh dua per tiga (2/3) bagian. sebab saudara perempuan seayah gugur haknya oleh adanya saudara laki-laki kandung. Setelah itu saya berikan hak waris saudara kandung perempuan setengah secara fardh. hak saudara kandung laki-laki dua per tiga (2/3). Maka pembagiannya sebagai berikut: kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. maka para saudara laki-laki seayah akan mendapatkan bagian sisa harta yang ada. jika saudara seayah mewarisi bersama kakek dan seorang saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. yaitu sepertiga. Dalam hal ini saudara perempuan seayah gugur sebab ada saudara kandung. tentu hal ini akan merugikannya karena ia akan menerima bagian kurang dari sepertiga (1/3) harta waris yang ada. sedangkan sisanya diberikan kepada para saudara laki-laki dan perempuan seayah --dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. yaitu sepertiga (1/3). Karena sebagaimana telah saya kemukakan bahwa keberadaan para saudara laki-laki/perempuan seayah sebagai perugi. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. saya langsung memberikan hak kakek sepertiga (1/3). saudara laki-laki dikategorikan sebagai ahli waris.keberadaan saudara laki-laki/perempuan seayah merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. Pada contoh kedua ini. kakek memperoleh dua per enam (2/6) bagian. sedangkan saudara laki-laki seayah mahjub (terhalangi) karena adanya saudara kandung laki-laki. yakni merugikan kakek pada cara pembagian. Jumlah sepertiga (1/3) bagi kakek dalam contoh kasus ini sesuai dengan kaidah yang ada: "hendaklah kakek diberi dengan salah satu dari dua cara yang paling menguntungkannya. setelah diambil hak saudara kandung perempuan (1/2) dan hak kakek (1/3). kakek. Agar persoalan ini tidak terlalu kabur dan membingungkan saya sertakan beberapa contoh kasus. mendapat sepertiga harta waris atau dengan cara pembagian".

55 . Maka pembagiannya seperti berikut: ibu memperoleh seperenam (1/6) bagian. cicit. hal lain yang telah menjadi ijma' seluruh fuqaha ialah bahwa hak waris dari keturunan para saudara kandung ataupun seayah menjadi gugur karena adanya kakek. bukan dengan cara menerima sepertiga (1/3) sisa harta waris setelah diambil ashhabul furudh -. kakek sepertiga (1/3). dan seterusnya). kakek dapat menggugurkan hak waris saudara seibu. seperti yang telah disepakati seluruh imam mujtahid. bila seseorang meninggal dan hanya meninggalkan kakek serta anak saudaranya. Dan hak waris saudara seibu hanyalah bila pewaris sebagai kalalah. sedangkan bagian dua orang saudara seayah sisanya. Masalah al-Akdariyah Istilah al-akdariyah muncul karena masalah ini berkaitan dengan salah seorang wanita dari bani Akdar. Nilai 6 10 18 2 F.bahwa yang lebih menguntungkan kakek dalam hal ini adalah cara pembagian. kakek. saudara kandung perempuan. dan saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2). Di samping itu. yakni tidak mempunyai pokok (ayah dan seterusnya) dan tidak pula mempunyai cabang (anak. Tabelnya sebagai berikut: Masalahnya 12 dan naik menjadi 36 Keterangan Bagian ibu 1/6 Bagian kakek 1/3 (sisa setelah diambil ibu) Bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) Bagian dua orang saudara laki-laki seayah (sisanya) Catatan Apabila pewaris hanya meninggalkan kerabat seperti kakek dan saudara-saudara laki-laki/perempuan seibu saja. maka seluruh warisan merupakan bagian kakek. Sebab. Misalnya. cucu. dan dua orang saudara seayah. Barangkali untuk lebih memperjelas masalah ini perlu pula saya sertakan tabelnya. maka seluruh warisannya menjadi hak kakek.dalam contoh ini adalah ibu. Masalahnya 12 Keterangan Bagian ibu 1/6 secara fardh Bagian kakek 2/6 secara pembagian dengan saudara kandung laki-laki Bagian saudara kandung (sisanya) Bagian saudara perempuan seayah mahjub Nilai 2 4 6 0 Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu.

kakek. dan pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan (9) bagian.). dan seorang saudara kandung perempuan. sehingga menjadikannya sebagai keputusan ijtihad dalam fiqih kedua imam tersebut. ibu enam (6) bagian. Apabila berpegang pada kaidah yang telah disepakati seluruh fuqaha --termasuk di dalamnya Zaid bin Tsabit sendirimaka pembagiannya adalah dengan menggugurkan hak saudara kandung perempuan. dalam kasus ini Zaid bin Tsabit r. dari mulai yang sesuai dengan kaidah aslinya hingga setelah ditashih. Kemudian ia menyatukan hak saudara kandung perempuan dengan saham kakak. masalahnya menjadi dua puluh tujuh (27). Dalam hal ini Imam Malik dan Imam Syafi'i mengikuti apa yang pernah dilakukan Zaid bin Tsabit. Sebab.Sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa penyebutan masalah ini dengan istilah al-akdariyah --yang artinya 'kotor' atau 'mengotori'-. suami mendapat setengah (1/2).a.disebabkan masalah ini cukup mengotori mazhab Zaid bin Tsabit (sosok sahabat yang sangat dipuji Rasulullah akan kemahirannya dalam faraid. Oleh sebab itu. ibu. dan menaikkan masalahnya dari enam (6) menjadi sembilan (9). ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. Setelah ditashih. Dia pernah menghadapi masalah waris dan memvonisnya dengan melakukan sesuatu yang bertentangan (menyimpang) dari kaidah-kaidah faraid yang masyhur. Dia memberi saudara kandung setengah (1/2) bagian. Akan tetapi. penj. dan saudara kandung perempuan empat (4) bagian. dan sisanya hanya seperenam (1/6) yang tidak lain sebagai bagian kakek yang tidak mungkin digugurkan --karena merupakan haknya secara fardh. Masalahnya adalah dari enam (6) Keterangan Suami mendapat setengah (1/2) secara fardh Ibu mendapat sepertiga (1/3) secara fardh Kakek mendapat seperenam (1/6) sisanya/fardh-nya Saudara kandung perempuan mahjub Adapun tabel setelah ditashih menurut al-akdariyah seperti berikut: Masalahnya naik dari enam (6) menjadi dua puluh tujuh (27) Keterangan Bagian suami menjadi Bagian ibu menjadi Bagian kakek menjadi Bagian saudara kandung perempuan menjadi Nilai 9 6 8 4 Nilai 3 2 1 0 56 . kakek delapan (8) bagian. memvonis dengan menyalahi kaidah yang ada. dan membaginya menjadi bagian laki-laki dua kali lipat bagian wanita. Permasalahannya seperti berikut: bila seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. sudah semestinya bagian saudara kandung perempuan digugurkan karena tidak ada sisa harta waris. bagian. Berikut ini saya sertakan tabelnya.

maka berarti telah keluar dari hukum tersebut. 57 . Bila ada salah satu yang diubah. Wallahu a'lam.Catatan Dalam masalah al-akdariyah ini sosok ahli waris mutlak tidak dapat diubah.

Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta yang dibagikan habis. siapakah di antara kalian yang harus didahulukan. Al-'aul bisa juga berarti 'bertambah'. Dan hal itu ia lakukan ketika fardh yang harus diberikan kepada ahli waris bertambah banyak. Sebab bila aku berikan hak suami.tidak pernah terjadi. B. bagian mereka dapat berkurang manakala pokok masalahnya naik atau bertambah. Dengan demikian. Dia berkata: "Sungguh aku tidak mengerti. Yang masyhur dalam ilmu faraid. seperti bila pokok masalahnya dinaikkan dari semula enam (6) menjadi sembilan (9). Masalah 'aul pertama kali muncul pada masa khalifah Umar bin Khathab r. Namun demikian. Begitu pula halnya dengan ashhabul furudh yang lain.. dan siapa yang diakhirkan. bagian yang mesti diterima suami adalah setengah (1/2). riwayatnya dituturkan seperti berikut: seorang wanita wafat dan meninggalkan suami dan dua orang saudara kandung perempuan. kasus 'aul atau penambahan --sebagai salah satu persoalan dalam hal pembagian waris-. pastilah saudara kandung perempuan pewaris akan dirugikan karena berkurang bagiannya. Definisi al-'Aul Al-'aul dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti. suami tersebut tetap menuntut haknya untuk menerima setengah dari harta waris yang ditinggalkan istri... Dalam keadaan seperti ini kita harus menaikkan atau menambah pokok masalahnya sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul furudh yang ada -. Ibnu Abbas berkata: "Orang yang pertama kali menambahkan pokok masalah (yakni 'aul) adalah Umar bin Khathab.VII." Umar kemudian mengajukan persoalan ini kepada para sahabat Rasulullah saw. Dikatakan 'alaa al-ma'u idzaa irtafa'a yang artinya 'air yang naik meluap'. Misalnya bagian seorang suami yang semestinya mendapat setengah (1/2) dapat berubah menjadi sepertiga (1/3) dalam keadaan tertentu. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya." Secara lebih lengkap. sampai masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r. mereka tetap menuntut dua per tiga yang menjadi hak waris keduanya.a. begitupun dua orang saudara kandung perempuan.a.meski bagian mereka menjadi berkurang. Menghadapi kenyataan demikian Umar kebingungan. Begitu juga sebaliknya. MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A. sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). bila aku berikan terlebih dahulu hak kedua saudara kandung perempuan pewaris maka akan berkuranglah nashib (bagian) suami. Maka dalam hal ini seorang suami yang semestinya mendapat bagian 3/6 (setengah) hanya memperoleh 3/9 (sepertiga). Sedangkan definisi al-'aul menurut istilah fuqaha yaitu bertambahnya jumlah bagian fardh dan berkurangnya nashib (bagian) para ahli waris." (an-Nisa': 3) Al-'aul juga bermakna 'naik' atau 'meluap'. berarti fardh-nya telah melebihi peninggalan pewaris. Latar Belakang Terjadinya 'Aul Pada masa Rasulullah saw. di antaranya bermakna azh-zhulm (aniaya) dan tidak adil. padahal di antara mereka ada yang belum menerima bagian.. seperti tampak dalam kalimat ini: 'alaa al-miizaan yang berarti 'berat timbangannya'. seperti yang difirmankan-Nya: ". Umar menerima anjuran Zaid dan berkata: 58 . Di antara mereka ada Zaid bin Tsabit dan menganjurkan kepada Umar agar menggunakan 'aul.

dan dua puluh empat (24). Sebagai misal. Sedangkan pokok masalah yang tidak dapat di-'aul-kan ada empat. sedangkan sisanya (yakni 3/4) dibagi dua antara saudara kandung laki-laki dengan saudara kandung perempuan. anak setengah (1/2) berarti empat bagian. Contoh kasus yang lain. dan dua puluh empat (24). Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. C. Pembagiannya: ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. Maka dalam masalah ini tidak menggunakan 'aul. bagian istri seperempat (1/4) berarti satu (1) bagian. seseorang wafat dan meninggalkan ayah dan ibu. dan ayah dua bagian. empat (4). berarti mendapat bagian satu (1). sedangkan saudara kandung perempuan menerima sisanya. sedangkan yang empat tidak dapat. Lebih dari itu tidak bisa. Maka angka dua belas (12) hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. 59 . angka-angka pokok masalah yang dapat di-'aul-kan ialah angka enam (6). yaitu dua (2). namun hanya untuk angka ganjilnya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya."Tambahkanlah hak para ashhabul furudh akan fardh-nya. angka enam (6) hanya dapat di-'aul-kan hingga angka sepuluh (10). Berarti pokok masalah enam (6) hanya dapat dinaikkan empat kali saja. atau tujuh belas (17). Kemudian pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan hingga tujuh belas (17). yakni tiga per delapan (3/8). sembilan. lima belas (15). Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua (2). tiga (3). dan bagian saudara kandung perempuan setengah. Ketiga pokok masalah yang dapat di-'aul-kan adalah enam (6). anak perempuan. delapan. Dalam contoh ini pokok masalahnya tiga (3). Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pokok masalah dalam contoh-contoh yang saya kemukakan semuanya tidak dapat di-'aulkan. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari empat (4). dua belas (12). dan menjadilah hukum tentang 'aul (penambahan) fardh ini sebagai keputusan yang disepakati seluruh sahabat Nabi saw. Lebih jelasnya. saudara kandung laki-laki. dan saudara kandung perempuan. Contoh lain. Lebih dari angka itu tidak bisa. jadi ibu mendapat satu bagian. Tiga di antaranya dapat di-'aul-kan. Bagian suami setengah berarti satu (1). atau sepuluh. yakni dapat naik menjadi tujuh. ketiga pokok masalah itu masing-masing berbeda dan mempunyai sifat tersendiri. dan saudara kandung perempuan. Sebagai contoh pokok yang dapat di-'aul-kan: seseorang wafat dan meninggalkan suami serta seorang saudara kandung perempuan." Para sahabat menyepakati langkah tersebut. dua belas (12). bagian istri seperdelapan (1/8) berarti satu bagian. Namun.kan Pokok masalah yang ada di dalam ilmu faraid ada tujuh. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan ke tiga belas (13). dan delapan (8). sebab pokok masalahnya cocok atau tepat dengan bagian para ashhabul furudh. dan sisanya menjadi bagian ayah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari delapan (8).

Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. ibu. Dengan demikian. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. dan bagian dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. 60 . yaitu delapan per enam (8/6). Bila demikian. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah al-mubahalah. dan itu pun hanya pada satu masalah faraid yang memang masyhur di kalangan ulama faraid dengan sebutan "masalah almimbariyyah". Dalam contoh ini tidak ada 'aul. sebab masalahnya sesuai dengan fardh yang ada. perlu kita simak contoh-contohnya. sedangkan bagian dua orang saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya enam. sedangkan bagian saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Dalam contoh tersebut jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya.berarti satu bagian. 5. dan saudara perempuan seibu. saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. Seseorang wafat dan meninggalkan ayah. ibu. bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. Karena itu kita harus menaikkan pokok masalahnya yang semula enam menjadi sepuluh. sedangkan saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. 2. dan seorang saudara perempuan seibu. Sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat bagian. dan dua orang saudara laki-laki seibu. jumlah bagian (fardh-nya) cocok dengan pokok masalahnya. 4. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi sembilan. Oleh karena itu. Dalam contoh ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalahnya. Masalah ini dikenal dengan sebutan masalah marwaniyah. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. karenanya pokok masalah enam harus dinaikkan menjadi tujuh (7). dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. saudara kandung perempuan. ibu. sedangkan bagian cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga-. jumlah bagiannya telah melebihi jumlah pokok masalah. 3. bagian anak perempuan tiga per enam (3/6) berarti tiga bagian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. anak perempuan. Untuk lebih menjelaskan dan memantapkan pemahaman kita terhadap pokok-pokok masalah yang di-'aul-kan. Maka pembagianya seperti berikut: pokok masalahnya enam (6). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah syuraihiyah. bagian dua orang saudara seayah dua per tiga (2/3) berarti empat. dua orang saudara kandung perempuan. saudara kandung perempuan. Dalam contoh kasus ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalah. dua orang saudara perempuan seayah. bagian ayah seperenam (1/6) berarti satu bagian. Beberapa Contoh Masalah 'Aul 1. dan dua orang saudara perempuan seibu. yaitu enam banding sepuluh (6:10). asal pokok masalah enam dinaikkan menjadi delapan.Sedangkan pokok masalah dua puluh empat (24) hanya dapat di-'aul-kan kepada dua puluh tujuh (27) saja. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Seseorang wafat dan meninggalkan suami. ibu seperenam (1/6) berarti satu. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. sehingga jumlah bagian sesuai dengan pokok masalahnya.

dan empat orang saudara perempuan seibu. bagian ibu seperenam (1/6) berarti dua bagian. bagi kedelapan saudara perempuan seayah dua per tiga (2/3)-nya. 3. dan bagian saudara perempuan seibu juga seperenam (1/6) berarti dua bagian. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dua belas (12).berarti empat bagian. ibu. dan bagian keempat saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) yang berarti empat bagian. Jumlah bagian dalam contoh ini telah melebihi pokok masalah. ibu. atau tujuh belas (17). Selain itu. 2. ibu. sedangkan bagian kedua nenek adalah seperenam (1/6) yang berarti dua bagian. Dalam contoh ini tampak jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. Contoh 'Aul Dua Puluh Empat (24) Pokok masalah dua puluh empat (24) --sebagaimana telah saya jelaskan-. Karena itu pokok masalahnya harus di-'aul-kan dari dua belas menjadi tujuh belas. anak perempuan. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dua belas (12). Berikut ini saya berikan contoh-contohnya: 1. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Seseorang wafat dan meninggalkan istri. sedangkan bagian dua orang saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti delapan bagian. Karena itu harus dinaikkan menjadi tiga belas (13) sehingga tepat sesuai dengan jumlah bagian yang ada. Dalam contoh tersebut tampak sangat jelas bahwa jumlah bagian yang diterima atau yang menjadi hak ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalahnya. Mereka menyebutnya demikian karena Ali bin Abi Thalib ketika memvonis masalah ini sedang berada di atas mimbar (podium). yaitu menjadi tiga belas (13). Seseorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. dan seorang saudara perempuan seibu. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. lima belas (15).Contoh 'Aul Pokok Masalah Dua Belas (12) Seperti telah saya kemukakan bahwa pokok masalah dua belas hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. ibu mendapat seperenam (1/6) berarti dua bagian. ibu memperoleh seperenam (1/6) berarti empat bagian. Maka pembagiannya seperti ini: pokok masalahnya dua puluh empat (24). Karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi lima belas (15). Ayah mendapat seperenam (1/6) berarti empat bagian. Contoh masalah ini seperti berikut: seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. pokok masalah ini hanya ada dalam kasus yang oleh ulama faraid dikenal dengan masalah al-mimbariyah. Karena itu kita harus meng-'aul-kan pokok masalahnya hingga sesuai 61 . yakni tujuh belas berbanding dua belas. seorang saudara perempuan seayah. delapan orang saudara perempuan seayah. sedangkan saudara perempuan seayah seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua pertiga-. seorang saudara kandung perempuan. istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti tiga bagian. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua belas (12). dan dua orang saudara kandung perempuan. ayah. anak perempuan mendapat setengah (1/2) berarti dua belas bagian.berarti dua bagian. Bagian ketiga orang istri adalah seperempat (1/4) berarti tiga bagian.hanya dapat di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh (27). yaitu tiga belas. saudara kandung perempuan memperoleh setengah (1/2) berarti enam bagian. sedangkan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga (2/3)-. berarti delapan bagian. yaitu lima belas bagian. Dalam contoh ini tampak dengan jelas bahwa jumlah bagian ashhabul furudh telah melampaui pokok masalahnya. dua orang nenek.

kemudian yang lain berhak mendapatkan sisanya.. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lain sisanya. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperdelapan dan yang lainnya setengah. mengikuti jejak mereka semula.' Lalu keduanya kembali. maka pokok masalahnya dari delapan.maka sisa harta waris itu diberikan atau dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh sesuai dengan bagian mereka masing-masing. E. dalam masalah almimbariyyah ini pokok masalah dua puluh empat hanya bisa di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh. tidak adanya 'ashabah 3. dan tidak ada 'aul. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapatkan bagian setengah (1/2) dari harta waris. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dan yang lain sisanya. 62 ." (al-Ahzab: 25) Dalam sebuah doa disebutkan "Allahumma radda kaidahum 'annii" (Ya Allah. kecuali bila terwujud tiga syarat seperti di bawah ini: 1. maka pokok masalahnya dari dua (2). dan dalam hal ini tidak ada 'aul. Sebagai misal. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lainnya dua per tiga (2/3). Catatan 1. Definisi ar-Radd Ar-radd dalam bahasa Arab berarti 'kembali/kembalikan' atau juga bermakna 'berpaling/palingkan'. " (al-Kahfi: 64) "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan . palingkanlah/halaulah tipu daya mereka terhadapku). atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperempat (1/4) dan yang lain berhak mendapat setengah (1/2). Sekali lagi ditegaskan. atau dua orang ahli waris yang masingmasing berhak mendapatkan bagian setengah (1/2). dan tidak ada 'aul. maka pokok masalahuya dari empat (4). D. tetapi ternyata harta warisan itu masih tersisa --sementara itu tidak ada sosok kerabat lain sebagai 'ashabah-. Syarat-syarat ar-Radd Ar-radd tidak akan terjadi dalam suatu keadaan. 2. maka pokok masalahnya dari tiga (3). Adapun ar-radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya/lebihnya jumlah bagian ashhabul furudh. 3. adanya ashhabul furudh 2. ada sisa harta waris.. dalam suatu keadaan (dalam pembagian hak waris) para ashhabul furudh telah menerima haknya masing-masing. Seperti terdapat dalam firman Allah berikut: "Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperdelapan (1/8) dan yang lain sisanya. dan tidak dapat di-'aul-kan. Ar-radd merupakan kebalikan dari al-'aul. 4. Bila dalam pembagian waris tidak ada ketiga syarat tersebut maka kasus ar-radd tidak akan terjadi.dengan jumlah bagian yang harus diberikan kepada para ashhabul furudh.

semuanya berhak mendapat bagian setengah. Sebab. saudara laki-laki seibu Adapun mengenai ayah dan kakek. Artinya. Maka apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat kelebihan atau sisa dari harta waris. dan sisanya mereka terima secara ar-radd. Mereka hanya mendapat bagian sesuai bagian yang menjadi hak masing-masing. saudara kandung perempuan 4. maka pokok masalahnya dari sepuluh. seseorang wafat dan hanya meninggalkan tiga anak perempuan. Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab. bila dalam pembagian hak waris terdapat salah satunya --ayah atau kakek-. akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab). disebabkan mereka merupakan ahli waris dari bagian yang sama. suami atau istri bagaimanapun keadaannya tidak mendapat bagian tambahan dari sisa harta waris yang ada. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap bertele-tele dan agar lebih cepat sampai pada tujuan dengan cara yang paling mudah. Dan kekerabatan ini akan putus karena kematian. maka pokok masalahnya dari tiga. Sebab dalam keadaan bagaimanapun. ibu kandung 6. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd Adapun ahli waris dari ashhabul furudh yang tidak bisa mendapatkan ar-radd hanyalah suami dan istri. yaitu adanya ikatan tali pernikahan. maka dari itu mereka (suami dan istri) tidak berhak mendapatkan ar-radd. dan seterusnya)-. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. karena keduanya akan menerima waris sebagai 'ashabah. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. saudara perempuan seibu 8.dan dalam keadaan itu tidak terdapat suami atau istri. H. dan dengan adanya suami atau istri Hukum Keadaan Pertama Apabila dalam suatu keadaan ahli warisnya hanya terdiri dari sahib fardh dengan bagian yang sama --yakni dari satu jenis saja (misalnya. dan masing-masing mempunyai cara atau hukum tersendiri. adanya ahli waris pemilik bagian yang sama. suami atau istri tidak mendapatkan bagian sebagai tambahan. Adapun ashhabul furudh yang dapat menerima ar-radd hanya ada delapan orang: 1. dan tanpa suami atau istri 3. kecuali suami dan istri. Keempat macam itu: 1. bila seseorang wafat dan hanya meninggalkan sepuluh saudara kandung perempuan. adanya pemilik bagian yang sama. Macam-macam ar-Radd Ada empat macam Ar-radd. mereka tidak bisa mendapatkan ar-radd. Contoh lain. Sebagai misal. dan dengan adanya suami atau istri 4. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd Ar-radd dapat terjadi dan melibatkan semua ashhabul furudh.-maka tidak mungkin ada ar-radd. dan tanpa adanya suami atau istri 2. maka cara pembagiannya dihitung berdasarkan jumlah ahli waris. G. saudara perempuan seayah 5. anak perempuan 2. atau seperempat. cucu perempuan keturunan anak laki-laki 3. Dan pembagiannya pun secara fardh dan ar-radd. 63 . bagian mereka sesuai fardh adalah dua per tiga (2/3). sekalipun keduanya termasuk ashhabul furudh dalam beberapa keadaan tertentu. Karena itu pembagian hak masing-masing sesuai jumlah mereka. nenek sahih (ibu dari bapak) 7. sesuai jumlah ahli waris.F.

3. sedangkan sisanya tujuh per delapan (7/8) merupakan bagian kelima anak perempuan dan dibagi secara merata di antara mereka. dan sisanya (tiga per empat) dibagikan kepada anak secara merata. Seseorang wafat meninggalkan seorang anak perempuan serta seorang cucu perempuan keturunan anak laklaki. Maka pokok masalahnya dari empat. sedangkan sisanya --tiga per empat (3/4)-. diambil dari istri sebagai sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Contoh-contoh keadaan kedua 1. serta lima orang anak perempuan. sedangkan sisanya --tiga puluh lima bagian-dibagikan secara merata kepada kelima anak perempuan pewaris. serta saudara laki-laki seibu. saudara perempuan seayah. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. untuk kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3).dibagi secara merata untuk keempat anak perempuan pewaris. Pembagiannya: istri mendapatkan seperempat (1/4) bagian. Maka pembagiannya. karena angka itu diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. maka kaidah yang berlaku ialah kita jadikan pokok masalahnya dari sahib fardh yang tidak dapat ditambah (di-radd-kan) dan barulah sisanya dibagikan kepada yang lain sesuai dengan jumlah per kepala. anak perempuan. Maka pokok masalahnya dari dua. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang nenek. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Begitu seterusnya. dan itulah pokok masalahnya. dan saudara perempuan seibu. Pokok masalahnya adalah delapan. Maka jumlah bagiannya adalah lima. Sebagai misal. Hukum keadaan Ketiga Apabila para ahli waris semuanya dari sahib fardh (bagian) yang sama. suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian berarti satu. seseorang wafat dan meninggalkan suami dan dua anak perempuan. Dalam hal ini pokok masalahnya dari empat. dan itulah pokok masalahnya. 5. 4. Misal lain. yang penting tidak ada salah satu dari suami atau istri. Maka suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian. dan setelah ditashih pokok masalahnya menjadi empat puluh. dua orang saudara laki-laki seibu. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan serta saudara perempuan seayah. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. Maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. berarti mendapat satu bagian. Berarti bila pokok masalahnya dari empat (4). Hitungan ini perlu pentashihan. yang bagiannya dalam keadaan demikian seperempat (1/4). bagi ibu seperenam (1/6).Misal lain. berarti masing-masing menerima tujuh bagian. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri dan empat anak perempuan. angka ini diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan (tidak berhak untuk ditambah). karena jumlah bagiannya adalah lima. dan sisanya (yakni 3/4) merupakan bagian kedua anak perempuan dan dibagi secara rata. Sebagai misal. seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu. disertai salah satu dari suami atau istri. seseorang wafat dan meningalkan seorang nenek dan saudara perempuan seibu. berarti lima bagian. bukan dari jumlah ahli waris (per kepala). Di sini tampak jumlah bagiannya tiga. Maka jumlah bagiannya adalah lima. Maka pokok masalahnya empat.maka cara pembagiannya dihitung dan nilai bagiannya. hitungan (bagiannya) sebagai berikut: ibu mendapatkan seperdelapan dari empat puluh. yakni tiga. yakni sesuai jumlah kepala. karena jumlah bagiannya empat. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Contoh lain. Maka pokok masalahnya lima. karena jumlah bagiannya ada empat. Maka pokok masalahnya dari empat. disebabkan bagiannya sama. serta seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Hukum Keadaan Kedua Apabila dalam suatu keadaan terdapat bagian ahli waris yang beragam --dan tidak ada salah satu dari suami atau istri-. Contoh lain. 64 . serta seorang saudara perempuan seibu. dan itulah angka yang dijadikan pokok masalah. saudara kandung perempuan. 2. yaitu istri.

maka sisanya tujuh per delapan (7/8).asal pokok masalahnya dari enam. yaitu diambil dari bagian sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Sisanya. Bagian istri seperempat (1/4) berarti memperoleh satu bagian. yakni seperempat (1/4). 65 . dua orang anak perempuan. Sedangkan ketiga kriteria yang dimaksud ialah tamaatsul (kemiripan). dan di dalamnya terdapat pula suami atau istri. dan sisa ini merupakan bagian dua anak perempuan dengan ibu. yakni tiga bagian. maka bagian istri adatah seperdelapan dari empat puluh bagian yang ada. dan pada persoalan kedua kita menyertakan suami atau istri. yakni tiga bagian. Oleh karena itu. karena merupakan fardh orang yang tidak dapat di-radd-kan. maka menurut kaidah yang berlaku kita harus menjadikannya dalam dua masalah. Kemudian langkah berikutnya kita kalikan pokok masalah kedua (delapan) dengan pokok masalah pertama (lima). Bagian kedua anak perempuan dan ibu adalah sisa setelah diambil bagian istri --yang tersisa tiga puluh lima (35) bagian. Kemudian bila istri mendapat bagiannya. Kini. Bagian nenek seperenam (1/6) berarti satu bagian. tawaafuq (sepadan). yakni yang seperdelapan.asal pokok masalahnya dari delapan. dan dengan ar-radd menjadi dari lima. dan dua orang saudara perempuan seibu. Setelah itu barulah kita lihat kedua ilustrasi tersebut dengan salah satu dari tiga kriteria yang ada. Pada persoalan pertama kita tidak menyertakan suami atau istri. secara fardh dan radd. nenek. Dengan melihat kedua ilustrasi tersebut. Contoh lain: seseorang wafat meninggalkan istri. setelah kita kenali pokok masalah dari kedua ilustrasi masalah tersebut. Sedangkan sisanya dua belas bagian dibagikan secara merata kepada keempat anak perempuan pewaris. Maka pembagiannya seperti berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami dan istri: Pokok masalahnya dari enam.Dalam contoh ini juga harus ada pentashihan pada pokok masalahnya. Hukum keadaan Keempat Apabila dalam suatu keadaan terdapat ashhabul furudh yang beragam bagiannya. berarti ia mendapat lima (5) bagian. kita dapati bagian yang sama antara bagian nenek dan bagian dua saudara perempuan seibu. Apabila istri mengambil bagiannya. Dengan demikian. Ilustrasi kedua menyertakan suami atau istri: Pokok masalahnya dari empat. maka sisa harta waris tinggal tiga bagian. Ilustrasi ini juga merupakan tamaatsul (sama) dengan masalah ar-radd. Untuk lebih memperjelas masalah yang rumit ini perlu saya sertakan contoh kasusnya: Seseorang wafat dan meninggalkan istri. dan ibu. mana yang paling tepat. Angka tiga tersebut berarti tamaatsul (sama) dalam kedua ilustrasi. Pada ilustrasi pertama --tanpa menyertakan suami/istri-. dan tabaayun (perbedaan). dan cukuplah kita jadikan ilustrasi masalah kedua itu sebagai pokok masalah. Bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) = 2 bagian. Maka hasil perkalian antara kedua pokok masalah itu adalah pokok masalah bagi kedua ilustrasi tersebut. Kemudian kita buat diagramnya secara terpisah. pokok masalah yang mulanya empat (4) naik menjadi enam belas (16). yaitu istri. dengan ar-radd menjadi dari lima (yakni dari jumlah bagian yang ada). Sedangkan dalam ilustrasi kedua --menyertakan suami/istri-. Karenanya tidak lagi memerlukan tashih. Sehingga pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4) dari enam belas berarti empat bagian. Seperti kita ketahui bahwa antara tujuh dan lima itu tabaayun (berbeda). karena itulah jumlah bagian yang ada. Maka pembagiannya sebagai berikut: bagian kedua anak perempuan adalah hasil perkalian antara empat (bagiannya dalam ilustrasi pertama) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian pada ilustrasi kedua) berarti dua puluh delapan (28) bagian. merupakan bagian nenek dan kedua saudara perempuan seibu. setiap anak memperoleh tiga bagian. yakni istri.

berarti Bagian dua anak perempuan dan ibu Setelah tashih bagian anak perempuan Bagian ibu 1 7 4x7 4x7 28 7 Setelah tashih menjadi setelah tashih Berarti Berarti 4 1 5 40 5 66 . diambil dari ahlul fardh yang tak dapat diradd Bagian istri 1/8. dengan radd. ditambah bagian kedua anak perempuan. Jadi.Adapun bagian ibu adalah hasil perkalian antara bagiannya dalam ilustrasi pertama (satu bagian) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian dalam ilustrasi kedua) berarti tujuh (7) bagian. Lihat tabel berikut : Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami/istri Pokok masalahnya aslinya dari 65. menjadi 5 Bagian kedua anak perempuan 2/3 Bagian ibu seperenam (1/6) Jumlah bagian Ilustrasi kedua dengan menyertakan suami/istri Pokok masalah dari delapan. ditambah bagian ibu adalah 5 + 28 + 7 = 40. dari jumlah keseluruhan antara bagian istri.

seperempat (1/4). Persoalan "pokok masalah" ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah at-ta'shil. maka satu anak laki-laki kita hitung dua kepala (hitungan). seseorang wafat dan hanya meninggalkan lima orang anak. bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari para sahib fardh setengah (1/2). ahli warisnya dari sahib fardh setengah (1/2) dan seperempat (1/4). hingga pembagiannya benar-benar adil. misalnya ada yang berhak setengah. Atau seseorang wafat meninggalkan sepuluh saudara kandung laki-laki. Contoh lain. 67 . maka pokok masalahnya dari tiga (3). 1/8). Dalam hal ini. dan sebagainya-. Para ulama faraid membagi kaidah tersebut menjadi dua bagian: Pertama: bagian setengah (1/2). dan seperdelapan (1/8). Maka pokok masalahnya berarti tujuh (7). baiklah kita simak kaidah yang telah diterapkan oleh para ulama ilmu faraid. seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami dan saudara kandung perempuan. terlebih dahulu perlu kita ketahui siapa-siapa ahli warisnya. Bila semuanya berhak sepertiga (1/3). Misal lain. para ulama ilmu faraid tidak mau menerima kecuali angka-angka yang jelas dan benar (maksudnya tanpa menyertakan angka-angka pecahan. Hal ini diambil dari kaidah qur'aniyah: bagian anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan. Misalnya.maka pokok masalahnya dari delapan (8). bila mayit meninggalkan lima anak perempuan dan tiga anak laki-laki. dan seperdelapan (1/8) --atau hanya seperempat dengan seperdelapan-. atau gabungan antara 'ashabah dengan ashhabul furudh. Kemudian.maka pokok masalahnya dari enam (6). Misalnya. yang perlu diketahui adalah bagaimana dapat memperoleh angka pembagian hak setiap ahli waris tanpa melalui pemecahan yang rumit. maka pokok masalahnya dari empat (4). kita harus mengetahui apakah ahli waris yang ada semuanya hanya termasuk 'ashabah. seperempat (1/4). Secara umum dapat dikatakan bahwa bila ahli waris semuanya sama --misalnya masing-masing berhak mendapat seperenam (1/6)-. Bila semuanya seperempat (1/4) atau seperdelapan (1/8). bagian suami setengah (1/2) dan bagian saudara kandung perempuan juga setengah (1/2). maka pokok masalahnya dari sepuluh. Kedua: bagian dua per tiga (2/3). atau semuanya hanya dari ashhabul furudh. Artinya. begitu seterusnya. dan demikian seterusnya. Maka pokok masalahnya dari dua (2). Misalnya. berarti itulah pokok masalahnya. jika ternyata ahli waris yang ada semuanya dari ashhabul furudh yang sama. Bila ternyata ahli waris yang ada terdiri dari anak laki-laki dan perempuan. maka pokok masalahnya dihitung per kepala --jika semuanya hanya dari laki-laki. dua laki-laki dan tiga perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak laki-laki. 1/4. dan seperenam (1/6). Untuk memperjelas masalah ini. berarti pokok masalahnya dari angka yang paling besar. Untuk mengetahui pokok masalah. dan satu wanita satu kepala.VIII. Sebab. maka pokok masalahnya dari lima. atau yang mutabaayinah (saling berbeda). Sedangkan jika para ahli waris yang ditinggalkan pewaris terdiri dari banyak bagian --yakni tidak dari satu jenis. Karena itu. Apabila seluruh ahli waris yang ada semuanya dari 'ashabah. maka pokok masalahnya sebelas.). maka pokok masalahnya dari empat atau delapan. tanpa mengurangi atau melebihkan hak masing-masing. yang berarti usaha untuk mengetahui pokok masalah. penj. yakni antara angka-angka yang mutamatsilah (sama) atau yang mutadaakbilah (saling berpadu). PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN MENGETAHUI pokok masalah merupakan suatu keharusan bagi kita yang mengkaji ilmu faraid. Hal ini agar kita dapat mengetahui secara pasti bagian setiap ahli waris. bila dalam suatu keadaan. Kaidah ini sangat mudah sekaligus mempermudah kita untuk memahami pokok masalah ketika ahli waris terdiri dari berbagai sahib fardh yang mempunyai bagian berbeda-beda. Apabila para ashhabul furudh hanya terdiri dari bagian yang pertama saja (yakni 1/2. seperenam. sepertiga (1/3). Misalnya. Pokok masalahnya juga dihitung dari jumlah per kepala.kita harus mengalikan dan mencampur antara beberapa kedudukan.

Kaidah yang dimaksud seperti tersebut di bawah ini: 1. dan paman kandung. Akan tetapi. Sebab angka tiga merupakan bagian dari angka enam. Angka tersebut merupakan hasil perkalian antara empat (yang merupakan bagian istri) dengan tiga (sebagai bagian kedua saudara laki-laki seibu). atau semuanya. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Pada contoh ini tampak ada campuran antara bagian seperempat (1/4) --yang termasuk kelompok pertama-. seseorang wafat dan meninggalkan suami. maka ia tidak berhak menerima harta waris.bercampur dengan seluruh kelompok kedua. dan seorang saudara laki-laki kandung. Maka pembagiannya sebagai berikut: suami mendapat setengah (1/2). Untuk lebih memperjelas kaidah tersebut.bercampur dengan seluruh kelompok kedua atau salah satunya. maka pokok masalahnya dari dua belas (12).bercampur dengan salah satu dari kelompok kedua. jika dalam suatu keadaan ahli warisnya bercampur antara sahib fardh kelompok pertama (1/2. Maka dalam hal ini hendaklah diambil angka penyebut yang terbesar. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). ibu seperenam (1/6). maka pokok masalahnya dari enam (6). perlu saya utarakan beberapa contoh. dan 1/8) dengan kelompok kedua (2/3. sahib fardh seperdelapan (1/8) yang merupakan kelompok pertama-. 2. dan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. yang merupakan kelompok kedua. sedangkan paman sebagai 'ashabah. Berdasarkan kaidah yang ada. ibu sepertiga (1/3). Apabila dalam suatu keadaan. atau salah satunya. Lihat diagram: Pokok masalah dari enam (6) Keterangan Suami setengah (1/2) Saudara laki-laki seibu seperenam (1/6) Ibu sepertiga (1/3) Paman kandung. Maka pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4). 1/4. ia akan mendapat sisa yang ada setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. Apabila dalam suatu keadaan. Maka berdasarkan kaidah. 3. dua orang saudara laki-laki seibu. Tabelnya tampak berikut ini: Pokok masalah dari dua belas (12) Keterangan Istri seperempat (1/4) Ibu seperenam (1/6) Dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) Saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah (sisanya) Nilai 3 2 4 3 68 . pokok masalahnya dari dua belas (12). dan 1/6) diperlukan kaidah yang lain untuk mengetahui pokok masalahnya. pokok masalah pada contoh tersebut dari enam. 1/3. Bila tidak tersisa. Apabila dalam suatu keadaan. Misalnya. maka pokok masalahnya dari enam (6).dengan seperenam (1/6) dan sepertiga (1/3). ibu.Begitu juga bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari sahib fardh sepertiga (1/3) dengan seperenam (1/6) atau dua per tiga (2/3) dengan seperenam (1/6). maka pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). saudara laki-laki seibu. sahib fardh seperempat (1/4) yang merupakan kelompok pertama-. sebagai 'ashabah Nilai 3 1 2 0 Contoh lain. Dari contoh tersebut tampak ada campuran antara kelompok pertama (yakni 1/2) dengan sepertiga (1/3) dan seperenam (1/6). sahib fardh setengah (1/2) --yang merupakan kelompok pertama-. ibu. dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3).

at-tamaatsul (kemiripan/kesamaan). Hal seperti ini disebabkan setengah dari dua angka tersebut (yakni enam dan delapan) ada selisih. Apabila pokok masalah --harta waris-. Begitulah seterusnya. Namun. Sedangkan menurut ulama faraid berarti sama dalam jumlah atau nilai. (8 : 2 x 6 = 24). ibu. angka delapan (8) dengan angka empat (4). Yaitu. Misalnya.dalam suatu pembagian waris cocok (sesuai) dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. kemudian kita kalikan dengan angka yang lain dengan sempurna. sebagai 'ashabah (sisa) berarti berarti berarti berarti 3 12 4 4 1 Angka dua puluh empat (24) yang dijadikan sebagai pokok masalah timbul sebagai hasil perkalian antara setengah dari enam (yakni 3) dengan delapan (6 : 2 x 8 = 24). lawan kata dari "keluar". Atau setengah dari delapan (yakni empat) kali enam (6). Definisi at-Tadaakhul At-Tadaakhul dalam bahasa Arab berasal dari kata dakhala. dan at-tabaayun (berbeda/saling berjauhan). anak perempuan setengah (1/2). Misalnya. angka tiga berarti sama dengan tiga. sehingga dari pembagian itu tidak ada lagi angka atau jumlah yang tersisa. yakni 'masuk'. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). dan bagian ibu seperenam (1/6). atau jumlah bagian ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalah. seseorang wafat dan meninggalkan istri. angka delapan belas (18) dengan angka enam (6). anak perempuan. 69 . at-tadaakhul (saling terkait/saling bercampur). maka dalam hal ini memerlukan pentashihan pokok masalahnya. yang satu tidak lebih banyak atau lebih sedikit dari yang lain. Berikut ini tabelnya: Pokok masalah dari 24 Bagian istri seperdelapan (1/8) Bagian anak perempuan setengah (1/2) Cucu perempuan dari anak laki-laki seperenam (1/6) Bagian ibu seperenam (1/6) Saudara kandung laki-laki. Sedangkan menurut ulama ilmu faraid berarti mewujudkan jumlah yang kurang dari bagian setiap ahli waris tanpa pecahan dalam pembagiannya. dan seterusnya. at-tawaafuq (saling bertautan). Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8). pokok masalah pada contoh ini dari dua pulah empat (24).Misal lain. Sedangkan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. Sedangkan menurut ulama faraid adalah pembagian angka yang besar oleh angka yang lebih kecil. karenanya kita ambil setengah dari salah satu angka tadi. maka kita tidak perlu menggunakan cara-cara yang berbelit dan memusingkan. A. maka kita harus mengetahui nisbahnya (koneksi) dengan keempat istilah perhitungan. Maka berdasarkan kaidah yang ada. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. bila harta waris tersebut kurang dari jumlah bagian yang mesti diterima setiap ahli waris. Pada contoh ini tampak ada percampuran antara seperdelapan (1/8) sebagai kelompok pertama dengan seperenam (1/6) sebagai kelompok kedua. karenanya ia mendapat sisa harta waris bila ternyata masih tersisa. yakni 'sama bentuknya'. Definisi Tashih Tashih dalam bahasa Arab berarti 'menghilangkan penyakit'. angka dua puluh tujuh (27) dengan angka sembilan (9). Definisi at-Tamaatsul At-Tamaatsul dalam bahasa Arab berarti at-tasyabuh. dan lima sama dengan lima. dan saudara kandung laki-laki. Tentang Tashih Agar kita dapat memahami dan menelusuri rincian pentashihan pokok masalah.

attadaakhul. demikian seterusnya. kita bandingkan pengertiannya dengan istilah lainnya. Selain itu. Misalnya angka 7 dengan angka 4. maka hasil dari perkalian itu yang menjadi pokok masalah sebenamya.). Sedangkan mengenai bagian untuk mengalikan pokok masalah atau meng-'aul-kan dengan tujuan mentashih pokok masalah. dan at-tabaayun. Apabila angka yang besar dibagi angka yang lebih kecil. Bila ada kesesuaian antara bagian tiap ahli waris dengan jumlah per kepalanya. tetapi ada ahli waris yang belum mendapat bagian-. sebagaimana yang dikehendaki ad-Din al-Islam. dan bagiannya 2/3 dari 6. Hal ini dimaksudkan agar dapat mewujudkan keadilan yang optimal dalam pembagian tersebut. dengan cara mengalikan jumlah per kepala dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. B. dan tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki. maka kita perlu mengetahui kapan kita dapat atau memungkinkan untuk mentashih pokok masalah? Dan apa tujuannya. Sang ayah seperenam berarti satu bagian. Inilah yang disebut "pentashihan pokok masalah" oleh kalangan ulama faraid. Hal ini merupakan satu perhatian yang sangat baik dari para ulama faraid dalam usaha mereka mewujudkan kemaslahatan yang menyeluruh. Sedangkan menurut istilah ilmu faraid ialah setiap dua angka yang dapat dibagi angka ketiga. untuk mewujudkan keadilan mereka berusaha mengetahui jumlah bagian yang merupakan hak setiap ahli waris. Tetapi apabila kedua bilangan itu sama. ibu. sehingga tidak mengurangi ataupun menambahkan. angka 8 dengan 11. maka ada kesamaan. bila jumlah per kepalanya jauh lebih sedikit dari jumlah bagian ahli waris yang ada --jumlah pokok masalahnya sudah habis.maka kita harus melihat apakah ada kecocokan di antara kedua hal itu ataukah tidak. Pada hakikatnya. dan sang ibu juga 70 . kalangan ulama faraid tidak mau menerima permasalahan pembagian waris kecuali dengan angka-angka yang pasti (maksudnya tanpa pecahan. Untuk lebih memperjelas masalah ini.Definisi at-Tawaafuq At-Tawaafuq dalam bahasa Arab berarti 'bersatu'. maka setiap anak berhak mendapat bagian sesuai dengan jumlah per kepalanya. Sedangkan apabila suatu angka tidak dapat dibagi oleh bilangan lain. Apabila angka yang besar tidak dapat dibagi angka yang kecil --tetapi dibagi angka yang lain-. penj. sehingga menurut mereka di antara kedua bilangan itu ada tadaakhul. Sedangkan menurut kalangan ulama ilmu faraid ialah setiap bilangan yang satu dengan lainnya tidak dapat membagi. Adapun bila terjadi mubayaanah (ada selisih) maka kalikan jumlah per kepalanya dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. sebagai bagian khusus yang berkaitan dengan setiap bagian pada pokok masalah. Untuk mengetahui secara tepat pengertian tabaayun. maka inilah yang sempurna dan sangat diharapkan. Angka 12 dengan angka 30 sama-sama dapat dibagi oleh angka 6. Sebab setiap anak mendapat bagian satu). dan tidak pula dapat dibagi oleh bilangan lain (ketiga). maka disebut tabaayun. angka 5 dengan 9. ayah. Maksudnya. berarti 4. Cara Mentashih Pokok Masalah Setelah kita ketahui dengan baik makna-makna at-tamaatsul. maka kedua bilangan itu tadaakhul. Bagian keempat anak perempuan ialah dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian.maka kedua bilangan itu ada tawaafuq. at-tawaafuq. yakni saling berjauhan atau saling berbeda. perlu saya kemukakan contoh kasus sehingga pembaca dapat lebih memahaminya. melihat bagian setiap ahli waris dan jumlah per kepalanya. Bila jumlah per kepala setelah dibagi cocok dan pas dengan jumlah bagian setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Misalnya. Definisi at-Tabaayun At-Tabaayun dalam bahasa Arab berarti tabaa'ud. Cara pentashihan yang biasa dilakukan para ulama faraid seperti berikut: langkah pertama. maka di antara kedua bilangan tersebut adalah mutamaatsilan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Contoh amaliah tentang pentashihan pokok masalah Seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. oleh ulama faraid disebut dengan juz'us sahm. (Misalnya. empat anak perempuan. angka 8 dengan 6 keduanya dapat dibagi oleh angka 2. Namun. Angka 8 dengan 20 sama-sama dapat dibagi oleh angka 4.

kemudian di-'aul-kan menjadi sembilan (9). kemudian di-'aul-kan menjadi tujuh (7). ibu.). dan dua orang saudara laki-laki seibu. Hasil dari perkalian itulah yang akhirnya menjadi pentashihan pokok masalah. Bagian suami 1/4 berarti tiga (3) bagian. Berarti kesesuaian pembagian tersebut tidak memerlukan pentashihan pokok masalah. Itulah tashih pokok masalah. Contoh lain yang at-tamaatsul. dan empat saudara kandung perempuan. Kita lihat dalam contoh di atas ada at-tawaafuq antara jumlah per kepala anak perempuan dengan jumlah bagian yang mereka peroleh. tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Contoh masalah yang at-tawaafuq. yaitu dua (2). Maka 2 x 6 = 12. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12. penj. setiap anak menerima satu bagian. dan bagian saudara kandung laki-laki satu bagian (sisanya) sebagai 'ashabah bin nafsihi. dan paman kandung. Inilah tabelnya: 3 12 3 6 2 1 Suami 1/4 Anak perempuan 1/2 Tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) 36 9 18 6 3 71 . sebab bagian yang mesti dibagikan kepada mereka (keempat anak perempuan itu) tidak lagi memerlukan pecahan-pecahan. Karena itu tidak lagi memerlukan pentashihan pokok masalah. keenam saudara kandung perempuan mendapat dua belas bagian. maka setiap orang mendapat satu bagian. Misal lain. yakni angka enam (6). dan bagian kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). dua saudara perempuan seibu. Seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Setelah pentashihan. Sebab jumlah per kepalanya sesuai dengan jumlah yang dibagikan. seseorang wafat dan meninggalkan suami. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. berarti empat bagian. Dalam contoh tersebut kita lihat jumlah anak perempuan ada empat (4). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). enam saudara kandung perempuan. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahuya dari enam (6). berarti 3 x 9 = 27. Bila kita perhatikan baik-baik contoh ini. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). kita lihat bahwa pokok masalahnya tidak memerlukan pentashihan. sedangkan bagian keenam saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). dan kedua saudara laki-laki seibu mendapat enam bagian (9 + 12 + 6 = 27). seseorang wafat dan meninggalkan suami. maka tiap orang mendapat satu bagian. Bagi kedua saudara perempuan seibu dua bagian. yaitu dua (2). Bagian kedelapan anak perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. Sehingga dalam pembagiannya akan dengan pas dan mudah. bagian anak perempuan 1/2 berarti enam (6) bagian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 sebagai penyempurna 2/3 berarti 2 bagian. Contoh lain. maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan bagian (9). Dalam contoh di atas kita lihat ada tawaafuq antara jumlah bagian yang diterima para saudara kandung perempuan dengan jumlah per kepala mereka. anak perempuan. dan sisanya (satu bagian) adalah bagian paman kandung sebagai 'ashabah. Angka dua itulah yang menurut istilah ulama faraid sebagai bagian dari bagian juz'us sahm kemudian bagian dari bagian itu dikalikan dengan pokok masalah. Seseorang wafat dan meninggalkan delapan (8) anak perempuan. berarti dua bagian.seperenam berarti satu bagian. sedangkan bagian keempat saudara kandung perempuan adalah dua per tiga (2/3) yang berarti empat (4) bagian. dan bagian yang mereka peroleh juga empat. kemudian bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. berarti tiga (3). dan kita kalikan dengan pokok masalah setelah di-'aul-kan yakni angka sembilan (9). dan saudara kandung laki-laki. Kemudian kita ambil separo jumlah per kepala mereka. tahulah kita bahwa contoh masalah tersebut cenderung (bernisbat) pada at-tamaatsul. Dengan demikian. Bagi keempat saudara kandung perempuan empat bagian. Sedangkan tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tidak mendapat bagian (mahjub karena anak pewaris lebih dari dua orang.

Misal lain. dan saudara kandung lakilaki. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Dan angka lima (5) itulah yang dinamakan juz'us sahm. Bagian istri 1/8 = 3. yakni 27 x 5 = 135. ibu. Ketiga istri mendapat 1/8 = 3. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. lima anak perempuan. yakni 3 x 12 = 36. Kemudian juz'us sahm tersebut kita kalikan dengan pokok masalahnya (28 x 24 = 672) hasilnya itulah yang menjadi pokok masalah setelah pentashihan. Angka tersebut (yakni 28) merupakan juz'us sahm. kelima anak perempuan mendapat bagian 2/3 yang berarti 16. Angka itu merupakan pokok masalah setelah pentashihan. Untuk mentashih pokok masalah dari contoh ini. Perhatikan tabel berikut: 28 24 3 16 4 1 - 3 istri bagiannya 1/8 7 anak perempuan 2/3 2 orang nenek 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) Saudara laki-lah seibu (mahjub 672 84 448 112 28 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian anak perempuan (16) dengan jumlah per kepala mereka (7) ada perbedaan (tabaayun). ayah. seorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. sedangkan bagian saudara kandung laki-laki mahjub (terhalang). maka angka 36 itu berarti pokok masalah hasil pentashihan. Karenanya di antara keduanya ada tabaayun (perbedaan). empat saudara kandung laki-laki. dua orang nenek. Pentashihan seperti ini dapat diterapkan dalam contoh-contoh yang lain. tujuh anak perempuan. dan saudara laki-laki seibu. kedua nenek 1/6-nya = 4. dan empat saudara kandung laki-laki (sisanya) yaitu 1 sebagai 'ashabah. kita kalikan jumlah per kepala anak perempuan (yakni 7) dengan jumlah per kepala saudara kandung (yakni 4).Berdasarkan tabel tersebut kita lihat antara bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki dengan jumlah per kepala mereka (yakni 2 dengan 3) ada tabaayun (perbedaan). sedangkan saudara seibu mahjub. berarti 7 x 4 = 28. Kemudian kita kalikan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan (yakni 27) dengan jumlah per kepala mereka. begitu juga dengan bagian keempat saudara kandung yang hanya satu bagian. Tujuh anak perempuan mendapat 2/3-nya = 16. Inilah tabelnya: 5 27 3 16 4 4 - 24 Istri 1/8 Lima anak perempuan 2/3 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Saudara kandung laki-laki (mahjub) 135 15 80 20 20 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian kelima anak perempuan tidak bisa dibagi oleh jumlah per kepala mereka. Maka bagian masing-masing seperti berikut: pokok masalahnya dari 24. dan jumlah per kepala mereka ada perbedaan (tabaayun). kemudian di-'aul-kan menjadi 27. ayah memperoleh 1/6 berarti 4. dan ibu mendapat 1/6 yang berarti 4. karenanya kita kalikan angka 3 dengan pokok masalahnya. 72 . Contoh lain.

x x x x Tabelnya seperti berikut: 2 12 6 3 2 2 bagian istri Anak perempuan Ibu Ayah ('ashabah) 3 bagian 12 bagian 4 bagian 5 bagian 20 dinar 20 dinar 20 dinar 20 dinar Total 24 Cucu perempuan keturunan anak laki-laki Suami 1/4 Ibu 1/6 2 saudara perempuan kandung ('ashabah ma'al ghair) 1/2 1/4 1/6 1 24 12 6 4 Adapun nilai per bagian. suami. Cucu perempuan mendapatkan 1/2 yang berarti 12 bagian. namun yang paling masyhur di kalangan ulama faraid ada dua -. Sedangkan sisanya (dua bagian) untuk dua saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah ma'al ghair. Cucu pr. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung perempuan. Cara kedua: kita ketahui terlebih dahulu bagian setiap ahli waris secara menyeluruh. Untuk mengetahui pembagian harta waris kepada setiap ahlinya ada beberapa cara yang harus ditempuh.dalam hal yang berkenaan dengan harta yang dapat ditransfer. Maka hasilnya merupakan bagian dari masing-masing ahli waris. benda. keturunan anak laki-laki x 40 dinar 2 Suami 6 x 40 dinar Ibu 4 x 40 dinar Dua saudara kandung perempuan 2 x 40 dinar = 480 dinar = 240 dinar = 160 dinar = 80 dinar 73 . dan ibu memperoleh 1/6 yang berarti 4 bagian. 960 dinar: 24 = 40 dinar. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. Contoh Cara Pertama Seseorang wafat dan meninggalkan istri. Jadi. ayah. Adapun nilai (harga) per bagiannya didapat dari hasil pembagi harta waris yang ada (480 dinar) dibagi pokok masalah (24). atau tanah. anak perempuan 1/2 berarti 12 bagian. ibu mendapatkan 1/6 berarti 4 bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-tashikkan-kan menjadi 24. Hal ini kita lakukan dengan cara mengalikan bagian tiap-tiap ahli waris dengan jumlah (nilai) harta peninggalan yang ada. = 60 dinar = 240 dinar = 80 dinar = 100 dinar = 480 dinar Contoh lain. Sedangkan harta waris yang ada sebanyak 960 dinar. suami mendapatkan 1/4 yang berarti 6 bagian. dan ibu. Jadi. istri mendapatkan 1/8 yang berarti 3 bagian. Pembagian Harta Peninggalan At-tarikah (peninggalan) dalam bahasa Arab bermakna seluruh jenis kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. baik berupa harta. Cara pertama: kita ketahui nilai (harga) setiap bagiannya. ibu. kemudian kita bagi dengan angka pokok masalahnya atau tashihnya. kemudian kita kalikan dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Sedangkan harta peninggalannya sebanyak 480 dinar. sedangkan sisanya (yakni 5 bagian) merupakan hak ayah sebagai 'ashabah. berarti 480: 24 = 20 dinar adalah harga per bagian.C. Maka hasilnya merupakan bagian masing-masing ahli waris. bagian masing-masing ahli waris: 1 Jadi. anak perempuan. Semua peninggalan itulah yang harus dibagikan kepada ahli waris yang ada sesuai dengan hak bagian yang harus mereka terima.

Perhatikan tabel berikut: 6 Suami Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seibu Nenek 1/2 1/2 1/3 1/6 9 3 3 2 1 Adapun nilai per bagiannya adalah 9.000 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian di-'aul-kan (dinaikkan) menjadi 9. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Suami mendapat 1/2 yang berarti 3. dan tiga saudara kandung laki-laki. ibu. sedangkan bagian anak laki-laki juga 4 bagian (masing-masing 2 bagian).100 dinar : Jadi.100 dinar 3 Saudara perempuan kandung : x 1. sedangkan saudara kandung laki-laki mahjub.900: 9 = 1. saudara kandung perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. ayah.000:12 = 250 dinar : Jadi bagian 4 anak perempuan 4 : dua anak laki-laki 4 : ibu 2 : ayah 2 x 250 dinar x 250 dinar x 250 dinar x 250 dinar Total = 1.300 dinar 74 . Sedangkan harta peninggalan seluruhnya 9.Total = 960 dinar Contoh lain. saudara kandung perempuan 1/2 berarti 3. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian ditashih menjadi 12.100 dinar = 3.000 dinar = 500 dinar = 500 dinar = 3.300 dinar = 3.000 dinar = 1. dan sisanya dibagikan kepada enam (6) anak. Sang ayah mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian. berarti bagian anak perempuan 4 bagian (masing-masing satu bagian). dan harta peninggalannya 3. Suami x 1. dua saudara laki-laki seibu. sedangan nenek mendapat 1/6 berarti satu (1).000 dinar Contoh lain. dan nenek. Simak tabel berikut: 2 6 4 3 1 1 - Empat anak perempuan Dua anak laki-laki Ayah Ibu Tiga saudara kandung laki-laki (mahjub) 1/6 1/6 - 12 4 4 2 2 Adapun nilai per bagiannya adalah 3. dua saudara laki-laki seibu memperoleh 1/3 berarti 2. seseorang wafat dan meninggalkan suami. dua anak laki-laki.900 dinar. ibu mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian.

3 cucu perempuan keturunan anak lakilaki. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. sehingga mereka tidak memperoleh bagian karena harta waris telah habis dibagikan kepada ashhabul furudh.000 dinar Bila seseorang wafat dan meninggalkan suami. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian ditashih menjadi 24. sedangkan harta warisnya berjumlah 240 dinar. ket. Suami Ibu Dua anak perempuan : 3 : 2 : 8 x 585:13 dinar x 585:13 dinar x 585:13 dinar Total = 135 dinar = 90 dinar = 360 dinar 585 dinar Contoh lain. Suami mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian).100 dinar = 2. 12 6 2 3 1 = 120 dinar = 40 dinar = 60 dinar = 20 dinar 75 Cucu pr. dan dua anak perempuan 2/3 (berarti 8 bagian).200 dinar = 2. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapatkan 1/2 (berarti 12 bagian). anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) 1 2 4 6 2 x 240:24 dinar x 240:24 dinar x 240:24 dinar x 240:24 dinar 1/2 1/6 1/4 24 12 4 6 2 . ket.Dua saudara laki-laki seibu Nenek 3 : 2 : 1 x 1. ibu. satu cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. dan dua saudara kandung 2 bagian sebagai 'ashabah.200 dinar Total = 9. Sedangkan kedudukan para cucu dalam hal ini sebagai 'ashabah. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 13. sedangkan harta yang ditinggalkan sejumlah 585 dinar. ibu.100 dinar x 1. suami mendapatkan 1/4 (berarti 6 bagian). dua anak perempuan. Perhatikan tabel berikut: 12 13 Suami 1/4 3 Ibu 1/6 2 Dua anak perempuan 2/3 8 Tiga cucu perempuan 'ashabah Dua cucu perempuan Jad i. suami. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) Cucu pr.

dan sisanya --dua bagian-. seseorang wafat dan meninggalkan tiga (3) orang istri. dua saudara kandung perempuan. ibu. Masing-masing ahli waris di antara mereka ada yang hanya mendapatkan bagian satu (1) dinar. seseorang wafat meninggalkan istri. Adapun pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 17. dua belas saudara kandung laki-laki. sedangkan keempat saudara perempuan seibu mendapatkan 1/3 (berarti 4 bagian). Inilah tabelnya: Ibu Cucu pr. ket. Berikut ini tabelnya: 12 1/ 4 1/ 6 2/ 3 1/ 3 17 3 2 8 4 masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar 1/6 1/2 6 1 3 2 - Total Ke-3 istri Kedua nenek Ke-8 sdr. dan setiap ahli waris hanya menerima satu dinar. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Contoh masalahnya. Sedangkan ahli waris yang lain ter. ibu mendapatkan 1/6 (berarti satu bagian). sebagian ada yang mendapatkan dua (2) dinar. dan seorang saudara kandung perempuan. dengan demikian masing-masing mendapat satu dinar. pr. dua (2) orang nenek. jumlah bagian seluruh ahli warisnya pun 17. Istri 76 .= 240 dinar Misal lain. Maka kasus seperti ini disebut ad-dinariyah ashshughra. saudara perempuan seayah. seayah Ke-4 sdr. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6. dan empat (4) saudara perempuan seibu. Jumlah harta peninggalannya ada 17 dinar. Hal seperti ini di kalangan ulama faraid disebut ad-dinariyah al-kubra.500 dinar. dua anak perempuan. dua orang nenek mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). cucu perempuan 1/2 (berarti 3 bagian). Ad-dinariyah ash-shughra memiliki pengertian seluruh ahli warisnya terdiri atas kaum wanita. delapan (8) saudara perempuan seayah. kedelapan saudara perempuan seayah mendapatkan 2/3 (berarti 8 bagian). seibu Masalah Dinariyah al-Kubra Adapun masalah ad-dinariyah al-kubra memiliki pengertian bahwa ahli waris yang ada sebagian terdiri dari ashhabul furudh dan sebagian lagi dari 'ashabah.menjadi hak kedua saudara perempuan kandung sebagai 'ashabah. Tiga orang istri mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian).mahjub. yakni istilah ad-dinariyah ash-shughra dan ad-dinariyah al-kubra. dan sebagian lagi ada yang mendapatkan lebih dari itu. Harta peninggalannya: 17 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 24 kemudian setelah ditashih menjadi 600. Sedangkan harta peninggalannya 600 dinar. Sedangkan harta peninggalan sebanyak 1. anak laki-laki Dua saudara kandung pr. Contoh masalah ini sebagai berikut: misalnya. ('ashabah) Saudara perempuan seayah. Dua saudara laki-laki seayah (mahjub) Masalah Dinariyah ash-Shughra Ada dua masalah yang dikenal oleh kalangan ulama faraid. seseorang wafat dan meninggalkan ibu. pr. saudara laki-laki seayah.

mendapatkan 1/8 (berarti 3 bagian), ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian), kedua anak perempuan memperoleh 2/3 (16 bagian), dan sisanya satu (1) bagian merupakan bagian ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah. Jadi, bagian Istri Ibu Kedua perempuan : 3 : 4 : anak 1 6 x 600:24 dinar x 600:24 dinar x 600:24 dinar = 75 dinar = 100 dinar = 400 dinar

Total = 575 dinar Sedangkan ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan mendapat sisanya, yakni 25 dinar sebagai 'ashabah, dengan ketentuan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Dengan demikian, yang 24 dinar dibagikan kepada ke-12 saudara kandung laki-laki dan masing-masing mendapat dua (2) dinar, dan yang satu (1) dinar bagian saudara kandung perempuan. Berikut ini tabelnya: 25 24 3 4 16 600 75 100 100 24 1

Istri 1/8 Ibu 1/6 Kedua anak perempuan 2/3 12 saudara kandung laki-laki 1 1 saudara kandung perempuan ('ashabah) Masalah ad-dinariyah al-kubra ini pernah terjadi pada zaman al-Qadhi Syuraih (seseorang mengajukan masalah kepadanya). Akhirnya Syuraih memvonis dengan memberikan hak saudara kandung perempuan pewaris hanya satu (1) dinar. Tetapi, wanita tersebut kemudian mengadukan hal itu kepada Imam Ali bin Abi Thalib r.a. yang menyebutkan bahwa Syuraih telah menzhaliminya, mengurangi hak warisnya hingga memberinya satu dinar dari peninggalan saudaranya yang 600 dinar itu. Kendatipun wanita tersebut tidak menyebutkan seluruh ahli waris yang berhak menerima warisan, namun dengan ketajaman dan keluasan ilmunya, Ali bin Abi Thalib bertanya, "Barangkali saudaramu yang wafat itu meninggalkan istri, dua anak perempuan, ibu, 12 saudara kandung laki-laki, dan kemudian engkau?" Wanita tersebut menjawab, "Ya, benar." Ali berkata, "Itulah hakmu tidak lebih dan tidak kurang." Kemudian Ali bin Abi Thalib r.a. memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa hakim Syuraih telah berlaku adil dan benar dalam memvonis perkara yang diajukannya. Wallahu a'lam bish shawab.

77

IX. HUKUM MUNASAKHAT A. Definisi Munasakhat Al-munasakhat dalam bahasa Arab berarti 'memindahkan' dan 'menghilangkan', misalnya dalam kalimat nasakhtu alkitaba yang bermakna 'saya menukil (memindahkan) kepada lembaran lain'; nasakhat asy-syamsu ash-zhilla yang berarti 'sinar matahari menghilangkan bayang-bayang'. Makna yang pertama --yakni memindahkan/menukil-- sesuai dengan firman Allah SWT berikut: "... Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." (al-Jatsiyah: 29) Sedangkan makna yang kedua sesuai dengan firman berikut: "Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?" (al-Baqarah: 106) Adapun pengertian al-munasakhat menurut istilah ulama faraid ialah meninggalnya sebagian ahli waris sebelum pembagian harta waris sehingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya yang lain. Bila salah seorang ahli waris meninggal, sedangkan ia belum menerima hak warisnya (karena memang belum dibagikan), maka hak warisnya berpindah kepada ahli warisnya. Karenanya di sini akan timbul suatu masalah yang oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan al-jami'ah. Al-munasakhat mempunyai tiga macam keadaan: Keadaan pertama: sosok ahli waris yang kedua adalah mereka yang juga merupakan sosok ahli waris yang pertama. Dalam kasus seperti ini masalahnya tidak berubah, dan cara pembagian warisnya pun tidak berbeda. Misalnya, ada seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak. Kemudian salah seorang dari kelima anak itu ada yang meninggal, tetapi yang meninggal itu tidak mempunyai ahli waris kecuali saudaranya yang empat orang, maka seluruh harta waris yang ada hanya dibagikan kepada keempat anak yang tersisa, seolah-olah ahli waris yang meninggal itu tidak ada dari awalnya. Keadaan kedua: para ahli waris dari pewaris yang kedua adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama, namun ada perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab mereka terhadap pewaris. Misalnya, seseorang mempunyai dua orang istri. Dari istri yang pertama mempunyai keturunan seorang anak laki-laki. Sedangkan dari istri kedua mempunyai keturunan tiga anak perempuan. Ketika sang suami meninggal, berarti ia meningalkan dua orang istri dan empat anak (satu laki-laki dan tiga perempuan). Kemudian, salah seorang anak perempuan itu meninggal sebelum harta waris peninggalan ayahnya dibagikan. Maka ahli waris anak perempuan ini adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama (ayah). Namun, dalam kedua keadaan itu terdapat perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab kepada pewaris. Pada keadaan yang pertama (meninggalnya ayah), anak laki-laki menduduki posisi sebagai anak. Tetapi dalam keadaan yang kedua (meninggalnya anak perempuan), anak laki-laki terhadap yang meninggal berarti merupakan saudara laki-laki seayah, dan yang perempuan sebagai saudara kandung perempuan. Jadi, dalam hal ini pembagiannya akan berbeda, dan mengharuskan kita untuk mengamalkan suatu cara yang disebut oleh kalangan ulama faraid sebagai masalah al-jami'ah. Keadaan ketiga: para ahli waris dari pewaris kedua bukan ahli waris dari pewaris pertama. Atau sebagian ahli warisnya termasuk sosok yang berhak untuk menerima waris dari dua arah, yakni dari pewaris pertama dan dari pewaris kedua. Dalam hal seperti ini kita juga harus melakukan teori al-jama'iyah, sebab pembagian bagi tiap-tiap ahli waris yang ada berbeda dan berlainan.

B. Rincian Amaliah al-Munasakhat Sebelum kita melakukan rincian tentang amaliah al-munasakhat, kita terlebih dahulu harus melakokan langkahlangkah berikut:
78

1. Mentashihkan masalah pewaris yang pertama dengan memberikan hak waris kepada setiap ahlinya, termasuk
hak ahli waris yang meninggal.

2. Merinci masalah baru, khususnya yang berkenaan dengan kematian pewaris kedua, tanpa mempedulikan
masalah pertama. 3. Membandingkan antara bagian pewaris kedua dalam masalah pertama, dengan pentashihan masalah dan para ahli warisnya dalam masalah kedua. 4. Perbandingan antara keduanya itu dalam kecenderungannya terhadap ketiga nisbat, yaitu al-mumatsalah, almuwafaqah, dan al-mubayanah. Bila antara keduanya --yakni antara bagian pewaris yang kedua dan masalah ahli warisnya yang lain-- ada mumatsalah (kesamaan), maka dibenarkan kedua masalah hanya dengan tashih yang pertama (lihat tabel). Sebagai contoh, seseorang wafat dan meninggalkan tiga anak perempuan, dua saudara kandung perempuan, dan seorang saudara kandung laki-laki. Kemudian salah seorang saudara kandung perempuan itu meninggal. Berarti ia meninggalkan seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari tiga (3). Ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (2 bagian). Dan sisanya (satu bagian) merupakan hak para 'ashabah (yakni dua saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung lakilaki). Kemudian kita lihat jumlah per kepalanya ada tabayun (perbedaan), maka 3 x 4 = 12. Kemudian angka ini kita kaLikan dengan pokok masalahnya, berarti 3 x 12 = 36. Bilangan inilah yang kemudian menjadi pokok masalah hasil pentashihan. Jadi, pembagiannya seperti berikut: ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (24 bagian), dan sisanya (12 bagian) dibagikan untuk dua orang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki, dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian anak perempuan, jadi setiap saudara kandung perempuan mendapat tiga (3) bagian, dan saudara laki-laki kandung enam (6) bagian. Kemudian, kita lihat antara bagian pewaris kedua (yaitu 3) dengan pokok masalahnya (juga dari 3) ada kesamaan (tamatsul). Karena itu, al-jami'ah di sini sama dengan hasil pentashihan pada masalah yang pertama (yakni dari 36). Kemudian, hak waris/bagian saudara kandung perempuan yang meninggal (3 bagian) hanya dibagikan kepada ahli waris, yaitu seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Kemudian, hasil pembagian itu ditambahkan pada hasil bagian mereka yang pertama. Maka, bagian saudara kandung perempuan menjadi empat (4): tiga (3) bagian --yang diperolehnya dari masalah pertama-- ditambah dengan bagian yang berasal dari saudara kandung perempuan yang meninggal, yaitu satu (1) bagian (3 + 1 = 4). Sedangkan saudara kandung laki-laki mendapatkan dua (2) bagian, yang kemudian ditambahkan dengan perolehannya dari peninggalan pada masalah pertama, yaitu enam (6) bagian. Maka saudara laki-laki kandung memperoleh delapan (8) bagian. Adapun tiga anak perempuan pewaris pertama, dalam masalah kedua ini tidak mendapatkan hak waris, disebabkan kedudukannya hanyalah sebagai keponakan pewaris kedua, yakni anak perempuan dari saudara laki-laki pewaris kedua. Karena itu, mereka mahjub. Berikut ini saya sertakan tabelnya: Jumlah kepala 12 3 anak pr. 2/3 Sdr. kandung pr. Sdr. kandung pr. Sdr. kandung lk. Tashih masalah ke I 3 2 3 1 6 36 24 3 meninggal Sdr. kandung pr. Sdr. kandung lk. al-Jami'ah 3 1 2 36 24 3+1=4 6+2=8

Contoh lain, seseorang wafat dan meninggalkan istri, ayah, ibu, cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Kemudian cucu tersebut meninggal dengan meninggalkan suami, ibu, tiga anak perempuan, dan dua anak laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut:

79

Sedangkan pokok masalah yang kedua dari dua belas (12) yang di-'aul-kan menjadi tiga belas (13). yaitu dua puluh empat (24). kaidah yang berlaku di kalangan ulama faraid adalah kita menjadikan pokok masalah pertama sebagai al-jami'ah. kita lihat al-jami'ah dalam masalah ini sama dengan pokok masalah pertama. Juz'us sahm ini kemudian kita kalikan dengan bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. karenanya kita kalikan pokok masalah pertama (yakni 15) dengan pokok masalah yang kedua (yakni 13). tetapi cukup menjadikan al-jami'ah yang pertama itu berlaku pada masalah kedua. begitu juga dengan bagian ibu yakni seperenam (1/6). yang berarti bagian pewaris kedua hanya dibagikan kepada ahli warisnya. Berikut ini tabelnya: Pokok Masalah I 24 3 4 5 Pokok Masalah II 12 12 3 al-Jami'ah 24 3 4 5 3 Istri 1/8 Ibu 1/6 Ayah ('ashabah) Cucu pr. Kemudian. ibu 1/6 (4 bagian). Jumlahnya lima belas (15) bagian. Kemudian. Ayah mendapatkan seperenam (1/6) berarti dua bagian. istri. kita tidak lagi membuat al-jami'ah yang baru. Istri mendapatkan 1/4 (3 bagian). berarti dua bagian. kita lihat hasil perkaliannya: perkalian antara juz'us sahm yaitu tiga (3) dengan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan. ayah. Jumlah semuanya adalah dua puluh empat (24) bagian. Maka hasil dari perkalian itu (yakni 15 x 13 = 195) merupakan al-jami'ah (penyatuan) antara dua masalah. Lalu kita tempatkan bagian pewaris yang kedua (suami. dan saudara laki-laki seibu. sedangkan sisanya (lima bagian) merupakan bagian ayah sebagai jumlah 'ashabah. ibu. Oleh sebab itu. Kemudian dua anak perempuan mendapatkan dua per tiga (2/3) berarti delapan (8) bagian. Lihat tabel berikut: 13 15 3 2 2 8 3 13 6 2 12 Suami 1/4 Ayah 1/6 Ibu 1/6 2 anakperempuan (2/3) Sdr. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua belas (12) kemudian di-'aul-kan menjadi lima belas (15). Kandung perempuan (2/3) Ibu 1/6 12 meninggal 39 26 26 10 4 18 6 80 . Kemudian suami wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. dan dua anak perempuan. berarti 3 x 13 = 39. cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/2 (12 bagian). dan ini merupakan juz'us sahm (bagian dari bagian hak waris).Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). Hal ini karena kita dapati bagian pewaris kedua (cucu perempuan keturunan anak laki-laki) dalam masalah pertama ada tamatsul (kesamaan) dengan pokok masalah yang kedua. 1/2 Suami 1/4 meninggal Contoh yang memiliki kasus al-mubayanah: seseorang wafat dan meninggalkan suami. ibu. Untuk lebih meyakinkan kebenaran masalah kedua ini. Suami mendapatkan seperempat (1/4) berarti tiga bagian. maka akan merupakan hasil bagian ahli waris dari al-jami'ah (penyatuan dari dua masalah). antara masalah yang pertama dengan masalah yang kedua ada mubayanah (perbedaan). yang mendapat tiga bagian) di atas pokok masalah kedua. Maka angka 39 ini merupakan jumlah bagian seluruh ahli waris dalam masalah kedua. Dalam keadaan demikian. keturunan anak lk.

Istri 1/4 Sdr. lk. dalam suatu keadaan pembagian waris salah seorang ahli warisnya wafat sebelum pembagian. kandung pr.a. Dan hasilnya dinamakan al-jami'ah kedua. Maka jika terjadi hal seperti ini. Dalam hal ini dia hanya meminta imbalan berupa sejumlah uang atau barang tertentu dari salah seorang ahli waris lainnya ataupun dari harta peninggalan yang ada. 2/3 2 sdr. seseorang wafat meninggalkan suami. menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil hak waris sekadar seperempat dari seperdelapan yang menjadi haknya. Hal ini dalam syariat Islam dibenarkan dan diperbolehkan. 1/6 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Nenek 1/6 2 sdr. Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf r. seibu 1/6 Paman ('ashabah) Anak perempuan 1/2 Cucu pr. ayah. dan bagian itu diberikan kepada ahli waris yang lain. Misalnya. saudara seibu 1/3 3 1 2 3 1 1 1 meninggal 2 4 3 1 1 1 meninggal 1 4 2 7 7 7 3 1 2 6 1 6 7 1 2 3 6 7 1 4 2 8 8 8 4 C.ialah seratus ribu dirham.pr. dan paman kandung (saudara ayah). Kemudian anak perempuan juga meninggal. dua saudara kandung perempuan. dan seterusnya. Misalnya. adalah seorang sahabat yang mempunyai empat orang istri. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Kasus seperti ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah "pengunduran diri" atau "menggugurkan diri dari hak warisnya". laki-laki seibu 1/6 3 2 9 6 Catatan Kemungkinan besar dapat pula terjadi adanya al-jami'ah lebih dari satu. saudara perempuan seibu. dan ibu. At-Takharuj min at-Tarikah Yang dimaksud dengan at-takharuj min at-tarikah ialah pengunduran diri seorang ahli waris dari hak yang dimilikinya untuk mendapatkan bagian (secara syar'i). takni kita tempatkan tashih kedua pada posisi pertama. dan tashih ketiga pada posisi kedua. Kemudian suami wafat dan meninggalkan anak perempuan. Ketika ia wafat. dan dua saudara laki-laki seibu. kita tetap harus menempuh cara seperti yang telah kita tempuh dalam almunasakhat. Jumlah yang diambilnya --sebagaimana disebutkan dalam riwayat-. 81 . Perhatikan tabel berikut: 2 6 Suami 1/2 Sdr. dan seterusnya. kemudian ada lagi yang meninggal. Numadhir binti al-Asbagh. salah seorang istrinya. Untuk menjelaskan hal ini perlu kiranya saya kemukakan contoh tentang bentuk al-jami'ah yang lebih dari satu ini. Syariat Islam juga memperbolehkan apabila salah seorang ahli waris menyatakan diri tidak akan mengambil hak warisnya. dan seterusnya. atau siapa saja yang ditunjuknya. al-jami'ah ketiga. dan meninggalkan nenek.

82 . dan istri. seorang anak perempuan.000. dan setelah ditashih menjadi empat puluh. Lalu sisanya (yakni 24 . kemudian kita hilangkan (ambil) hak istri. Kemudian dari pokok masalah itu dibagikan untuk hak ayah dan anak perempuan.000 = 18. maka warisan harta tersebut hanya dibagikan kepada anak perempuan dan ayah. ia hanya memberitahukannya kepada salah seorang dari ahli waris yang ditunjuknya dan bersepakat bersama.000: 21 = 2. Kemudian sebagai misal. Kemudian anak perempuan itu menggugurkan haknya dan memberikannya kepada salah seorang dari saudara laki-lakinya.000. berarti tiga (3) saham. hasilnya seperti berikut: Nilai per bagian adalah 42. warisan itu hanya dibagikan kepada istri dan kedua anak laki-laki.000 Total = 24. pewaris meninggalkan sebuah rumah. dan dua anak laki-laki. Dalam keadaan demikian.000. seseorang wafat dan meninggalkan ayah. dengan imbalan sesuatu yang telah disepakati oleh keduanya. ia menyatakannya kepada seluruh ahli waris yang ada. Pertama.000 Cara kedua: apabila salah seorang ahli waris menyerahkan atau menggugurkan hakuya lalu memberikannya kepada salah seorang ahli waris lainnya. Cara pertama: kenalilah pokok masalahnya. dan uang sebanyak Rp 42 juta. yakni seperdelapan dari dua puluh empat.000.000. Lalu jumlah bagian kedua ahli waris itulah yang menjadi pokok masalahnya. Misalnya.000 = 24.000 + 18.000 = 42. Dengan demikian.000 Bagian anak perempuan adalah 12 x 2. maka pembagiannya hanya dengan cara melimpahkan bagian hak ahli waris yang mengundurkan diri itu kepada bagian orang yang diberi. Rincian pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24).Tata Cara Pelaksanaannya Apabila salah seorang ahli waris ada yang menyatakan mengundurkan diri.000. dan sisanya dibagikan kepada ahli waris yang ada. pokok masalahnya dari delapan. dan menggugurkan haknya untuk menerima bagian dari harta yang berjumlah Rp 42 juta itu.000 Bagian ayah 9 x 2. Perhatikan tabel berikut: Pokok masalah 8 Isteri 1/8 Anak laki laki ('ashabah) Anak laki laki ('ashabah) Anak perempuan ('ashabah) Tashih 40 5 14 14 7 40 5 14 14+14 - 1 7 Maka. dan sisanya --yakni tujuh bagian-adalah bagian anak perempuan. Maka jumlah sisa bagian yang ada itulah pokok masalahnya. maka ada dua cara yang dapat menjadi pilihannya.000. sedangkan bagian anak perempuan dilimpahkan kepada salah seorang saudara laki-laki yang diberinya hak bagian. Istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti lima (5) bagian. Kemudian istri menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil rumah. sehingga seolah-olah ia telah menerima bagiannya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang isteri. hak anak perempuan itu diberikan kepada salah seorang saudara lakilakinya yang ia tunjuk sebelumnya. dan bagian setiap anak laki-laki empat belas (14) bagian. kemudian keluarkanlah bagian ahli waris yang mengundurkan diri. dan cara kedua. Sebagai contoh.3 = 21) merupakan pokok masalah bagi hak ayah dan anak perempuan.000. atau menyatakan hanya akan mengambil sebagian saja dari hak warisnya. Kemudian.000. Maka. anak perempuan.

B. ataupun 'ashabah yang menerima harta pewaris. dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham Para imam mujtahid berbeda pendapat dalam masalah hak waris dzawil arham. " (an-Nisa': 1) "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muhammad: 22) Rasulullah saw. Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama: golongan ini berpendapat bahwa dzawil arham atau para kerabat tidak berhak mendapat waris. Muslim. Lebih jauh mereka mengatakan bahwa bila harta waris tidak ada ashhabul furudh atau 'ashabah yang mengambilnya. dalam sebagian riwayat darinya. keponakan laki-laki dari saudara perempuan. Karena itu mereka lebih diutamakan untuk menerima harta tersebut daripada baitulmal. Misalnya. sama halnya dengan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. lafazh rahim tersebut umum digunakan dengan makna 'kerabat'. yaitu Malik dan Syafi'i rahimahumullah. Jadi. dzawil arham adalah mereka yang bukan termasuk ashhabul furudh dan bukan pula 'ashabah. Ibnu Mas'ud. Kedua: golongan kedua ini berpendapat bahwa dzawil arham (kerabat) berhak mendapat waris. yang asalnya dalam bahasa Arab berarti 'tempat pembentukan/menyimpan janin dalam perut ibu'. dan sebagainya. HAK WARIS DZAWIL ARHAM A. Juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal rahimahumullah. Allah berfirman: ". Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh Imam Malik dan Syafi'i (golongan pertama) ialah: 83 . dan bukan pula termasuk dari para 'ashabah. Kemudian dikembangkan menjadi 'kerabat'. Pengertian ini tentu saja disandarkan karena adanya rahim yang menyatukan asal mereka. tidak dibenarkan jika harta tersebut diberikan kepada dzawil arham. cucu laki-laki dari anak perempuan.a. bila tidak ada ashhabul furudh. baik dalam Al-Qur'an ataupun Sunnah. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.. dan Ibnu Abbas r. Dengan demikian. maka seketika itu dilimpahkan kepada baitulmal kaum muslim untuk disalurkan demi kepentingan masyarakat Islam pada umumnya. Definisi Dzawil Arham Arham adalah bentuk jamak dari kata rahmun.. dan lainnya) Adapun lafazh dzawil arham yang dimaksud dalam istilah fuqaha adalah kerabat pewaris yang tidak mempunyai bagian/hak waris yang tertentu. Lebih jauh golongan kedua ini mengatakan bahwa dzawil arham adalah lebih berhak untuk menerima harta waris dibandingkan lainnya. sebab mereka memiliki kekerabatan dengan pewaris.. baik dalam bahasa Arab ataupun dalam istilah syariat Islam. bersabda: "Barangsiapa yang berkehendak untuk dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya. paman (saudara laki-laki ibu). Di antara mereka yang berpendapat demikian ialah Zaid bin Tsabit r. baik datangnya dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain. Maksudnya. Pendapat ini merupakan jumhur ulama. namun mereka tidak mewarisinya secara ashhabul furudh dan tidak pula secara 'ashabah. dzawil arham adalah ahli waris yang mempunyai tali kekerabatan dengan pewaris. dan juga merupakan pendapat dua imam. maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi (HR Bukhari.a. bibi (saudara perempuan ayah atau ibu). Dengan demikian.X. dan Ali bin Abi Thalib. di antaranya Umar bin Khathab.

Bila pewaris mempunyai kerabat dan kebetulan ia meninggalkan harta waris." (an-Nisa': 7) Melalui ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa kaum laki-laki dan wanita mempunyai hak untuk menerima warisan yang ditinggalkan kerabatnya. maka kegunaan dan faedahnya akan sangat minim. Harta peninggalan. 84 .merekalah yang lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang yang bukan kerabat. baik sedikit ataupun banyak. atau selain dari keduanya-. maka yang dapat saling mewarisi hanyalah antara sesama kerabat (dzawil arham). Adapun golongan kedua. Jadi. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. bila kita memberikan hak waris kepada mereka (dzawil arham) berarti kita memberikan hak waris tanpa dilandasi dalil pasti dan kuat. dan hanya kalangan mereka saja yang merasakannya. Sebab. 2. tidak memberikan hak waris kepada para bibi. Asal pemberian hak waris atau asal penerimaan hak waris adalah dengan adanya nash syar'i dan qath'i dari AlQur'an atau Sunnah. atas dasar inilah maka para kerabat pewaris lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang baitulmal. lafazh arham yang berarti kerabat adalah umum. menjawab: "Sesungguhnya Jibril telah memberitahukan kepadaku bahwa dari keduanya tidak ada hak menerima waris sedikit pun. baik ashhabul furudh. ketika ditanya tentang hak waris bibi --baik dari garis ayah maupun dari ibu-. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah: ". dan logika. Namun sebaliknya.beliau saw. para ''ashabah. Maka jika keduanya tidak berhak untuk menerima harta waris. bila diserahkan kepada kerabatnya. yakni Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. sedangkan bibi tidak mendapatkannya. Padahal dalam kaidah ushul fiqih telah ditegaskan bahwa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan daripada kemaslahatan pribadi. As-Sunnah.1. Memang sangat jelas betapa dekatnya kekerabatan saudara perempuan ayah ataupun saudara perempuan ibu dibandingkan kerabat lainnya. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. bila ternyata tidak ada ahli warisnya secara sah dan benar --baik dari ashhabul furudh-nya ataupun para 'ashabahnya-. maka berikanlah harta waris itu kepada kerabatnya dan janganlah mendahulukan yang lain. Dengan turunnya ayat ini. maka tidak pula kepada kerabat yang lain. Dengan dasar ini dapat dipetik pengertian bahwa karena Rasulullah saw. termasuk ashhabul furudh. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dan harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Ayat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa yang disebut kerabat --siapa pun mereka.. tidak mungkin dan tidak dibenarkan bila kita memberikan hak waris kepada kerabat lain. Di sini. makna kata itu mencakup kerabat yang mempunyai hubungan rahim atau lebih umumnya hubungan darah. mereka mendasari pendapatnya itu dengan Al-Qur'an.. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. para kerabatlah yang paling berhak untuk menerima harta peninggalan seorang pewaris." (al-Anfal: 75) Makna yang mendasar dari dalil ini ialah bahwa Allah SWT telah menyatakan atau bahkan menegaskan dalam KitabNya bahwa para kerabat lebih berhak untuk mendapatkan atau menerima hak waris daripada yang lain. Jadi. menyatakan bahwa dzawil arham atau para kerabat berhak mendapatkan waris. sebab umat Islam akan ikut merasakan faedah dan kegunaannya. 3. kerabat lain pun demikian. pada masa itu kaum muslimin saling mewarisi disebabkan menolong dan hijrah." 2. serta selain keduanya. Dan dalam hal ini tidak ada satu pun nash yang pasti dan kuat yang menyatakan wajibnya dzawil arham untuk mendapat waris. Oleh karena itu. Pendek kata. Dengan demikian. Rasulullah saw.bila diserahkan ke baitulmal akan dapat mewujudkan kemaslahatan umum. Kemudian sebagaimana dinyatakan oleh mayoritas ulama bahwa ayat di atas me-mansukh (menghapus) kebiasaan pada awal munculnya Islam. para 'ashabah. Atas dasar inilah maka baitulmal lebih diutamakan untuk menyimpan harta waris yang tidak ada ashhabul furudh dan 'ashabahnya ketimbang para kerabat. Hal demikian dalam dunia fiqih dikenal dengan istilah tarjih bilaa murajjih yang berarti batil. Hal ini juga berdasarkan firman-Nya yang lain: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Hal seperti ini menurut syariat Islam adalah batil. Seperti yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan dzawil arham adalah para kerabat. mereka (dzawil arham) berhak untuk menerima warisan.

tabi'in. Sedangkan Sahal tidak mempunyai kerabat kecuali hanya paman. yang bukan dari ashhabul furudh dan bukan pula termasuk 'ashabah. Ketika Tsabit bin ad-Dahjah meninggal dunia. "Apakah engkau mengetahui nasab orang ini?" Qais menjawab. Kemudian Rasul pun memberikan harta warisan peninggalan Tsabit kepada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir. karena memang merupakan pendapat mayoritas sahabat. dalam hal ini ia mempunyai dua ikatan: ikatan Islam dan ikatan rahim. Adapun dalil logikanya seperti berikut: sesungguhnya para kerabat jauh lebih berhak untuk menerima harta warisan daripada baitulmal. Karena sesungguhnya aku telah mendengar bahwa Rasulullah saw. Dalam suatu atsar diriwayatkan dari Umar bin Khathab r. Berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris. tentang hak waris bibi ketika itu disebabkan ada ashhabul furudh atau ada 'ashabah-nya. Abu Ubaidah menceritakan bahwa Sahal bin Hunaif telah meninggal karena terkena anak panah yang dilepaskan seseorang.a adalah seorang khalifah Islam yang dikenal sangat mengu tamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. kita dapat menyimpulkan bahwa pendapat jumhur ulama (kelompok kedua) lebih rajih (kuat dan akurat). maka Rasulullah saw. Permasalahan ini sama seperti dalam kasus adanya saudara kandung laki-laki dengan saudara laki-laki seayah dalam suatu keadaan pembagian harta waris. dan kami tidak mengetahui kerabatnya. Umar menanggapi masalah itu dan memerintahkan kepada Abu Ubaidah untuk memberikan harta peninggalan Sahal kepada pamannya. Dengan pemberian Rasulullah saw. Kalaulah baitulmal lebih berhak untuk menampung harta peninggalan pewaris yang tidak mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh dan 'ashabah-nya. bahwa suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mengajukan persoalan kepada Umar. Sebab. untuk memberikan kepada paman Sahal tersebut.merupakan dalil yang kuat bahwa kerabat lebih berhak menerima harta waris peninggalan pewaris ketimbang baitulmal. sementara di sisi lain mereka mensyaratkan keberadaan baitulmal dengan persyaratan khusus. Tidak ada jawaban lain untuk pertanyaan seperti itu kecuali: "telah lama tiada". yaitu ikatan Islam --karena pewaris seorang muslim. dan amanah. juga tampak lebih adil apalagi jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan dewasa ini. bersabda: "(Saudara laki-laki ibu) berhak menerima waris bagi mayit yang tidak mempunyai keturunan atau kerabat yang berhak untuk menerimanya. "Yang kami ketahui orang itu dikenal sebagai asing nasabnya. dari ayah dan dari ibu. baitulmal harus terjamin pengelolaannya.Adapun dalil dari Sunnah Nabawiyah adalah seperti yang diberitakan dalam sebuah riwayat masyhur. Dan hal ini terbukti seperti yang banyak dikisahkan dalam kitab-kitab tarikh. Jadi." Atsar ini --yang di dalamnya Umar al-Faruq memberitakan sabda Rasulullah saw. Setelah membandingkan kedua pendapat itu. Di antaranya. Maka muncul pertanyaan. Alasannya.a. Di samping itu. ikatan dari dua arah sudah barang tentu akan lebih kuat dibandingkan ikatan satu arah. kelompok pertama berpendapat lebih mengutamakan baitulmal ketimbang kerabat. adil dalam memberi kepada setiap yang berhak. dimanakah adanya baitulmal yang demikian. ketika musuh-musuh Islam berhasil memutus kelangsungan hidup khilafah Islam dengan memporakporandakan 85 . dan tepat guna dalam menyalurkan harta baitulmal. bertanya kepada Qais bin Ashim. Umar bin Khathab r. kecuali hanya anak laki-laki dari saudara perempuannya. karena ikatan antara baitulmal dan pewaris hanya dari satu arah. adil. yang jelas --jika melihat konteks hadits yang pernah dikemukakan-.jawaban Rasulullah saw. khususnya pada masa kita sekarang ini. yaitu Abu Lubabah bin Abdul Mundir. Sebab. Terlebih lagi pada masa kita sekarang ini. sedangkan saudara seayah hanya dari ayah. Keponakan laki-laki dari anak saudara perempuan tidak lain hanyalah merupakan kerabat.--. Atau. mungkin juga bahwa bibi (baik dari ayah atau ibu) tidak berhak mendapat waris ketika berbarengan dengan ashhabul furudh atau para 'ashabah. ikatannya dari dua arah. maka Umar bin Khathab pasti tidak akan memerintahkan kepada Abu Ubaidah Ibnul Jarrah r. dan imam mujtahidin.a. dalam riwayat ini dikisahkan. yakni saudara laki-laki ibunya. akan hak waris kepada dzawil arham menunjukkan dengan tegas dan pasti bahwa para kerabat berhak menerima harta waris bila ternyata pewaris tidak mempunyai ashhabul furudh yang berhak untuk menerimanya atau para 'ashabah. Inilah usaha untuk menyatukan dua hadits yang sepintas bertentangan. yang dalam hal ini seluruh harta waris menjadi hak saudara kandung laki-laki. Sebagai contoh. Oleh sebab itu. kelompok kedua (jumhur ulama) ini menyanggah dalil yang dikemukakan oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i bahwa hadits itu kemungkinannya ada sebelum turunnya ayat di atas. Di samping dalil yang mereka kemukakan lebih kuat dan akurat.

Dengan demikian. dan saudara laki-laki seayah. sedangkan saudara laki-laki seayah tidak mendapat bagian (mahjub) disebabkan saudara kandung perempuan di sini sebagai 'ashabah. ketika pengelolaan baitulmal tidak lagi teratur sehingga terjadi penyalahgunaan. Dengan demikian. Mazhab ini tidak masyhur." Melihat kenyataan demikian. mereka juga tidak menganggap kuat serta lemahnya kekerabatan seseorang. Yang menjadi landasan mereka ialah bahwa seluruh ahli waris menyatu haknya karena adanya ikatan kekerabatan. yakni pokoknya. 2. Sdr. Bila seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak perempuan. saudara kandung perempuan. Inilah gambarannya: Anak kandung pr. bibi (saudara perempuan ayah). Sdr. laki-laki seayah mahjub. Misalnya. bahkan dhaif dan tertolak. kemudian membagi-baginya menjadi negeri dan wilayah yang tidak memiliki kekuatan. dan tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dengan perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang cucu perempuan keturunan anak perempuan. Sungguh tepat apa yang digambarkan seorang penyair dalam sebuah bait syairnya: "Setiap jamaah di kalangan kita mempunyai iman. dapat kita katakan bahwa kedua kelompok ulama tersebut pada akhirnya bersepakat untuk lebih mengutamakan pemberian harta waris kepada kerabat ketimbang baitulmal.barisan. khususnya setelah abad ketiga Hijriah. tanpa melebihkan atau mengurangi salah seorang dari ahli waris yang ada. Maka keadaan ini dapat dikategorikan sama dengan meninggalkan anak perempuan. 1/2. dan dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok pendapat. keponakan laki-laki keturunan saudara kandung perempuan. bibi (saudara perempuan ibu). Karenanya tidak ada satu pun dari ulama atau para imam mujtahid vang mengakuinya apalagi mengikuti pendapat ini dengan alasan telah sangat nyata bertentangan dengan kaidah syar'iyah yang masyhur dalam disiplin ilmu mawarits. dari mulai akhir abad ketiga Hijriah hingga masa kita dewasa ini. juga merupakan pendapat para ulama mutakhir dari kalangan Maliki dan Syafi'i. Mereka tidak memperhitungkan ahli waris yang ada (yang masih hidup). kandung pr. 1. Maka dalam hal ini mereka mendapatkan bagian waris secara rata. para ulama dari mazhab Maliki dan mazhab Syafi'i mutakhir memberikan fatwa dengan mendahulukan para kerabat ketimbang baitulmal. 86 . namun kesemuanya tidak mempunyai imam. Menurut Ahlut-Tanzil Golongan ini disebut ahlut-tanzil dikarenakan mereka mendudukkan keturunan ahli waris pada kedudukan pokok (induk) ahli waris asalnya. Menurut Ahlur-Rahmi Mengenai cara pembagian hak waris para kerabat. dan keponakan laki-laki keturunan saudara laki-laki seibu. dan keponakan perempuan keturunan saudara laki-laki seayah. pembagiannya seperti berikut: anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. tetapi melihat pada yang lebih dekat dari ashhabul furudh dan para 'ashabahnya. Oleh karena itu. mereka akan membagikan hak ahli waris yang ada sesuai dengan bagian ahli waris yang lebih dekat. persatuan dan kesatuan muslimin. Mazhab ini dikenal dengan sebutan ahlur-rahmi disebabkan orang-orang yang menganut pendapat ini tidak mau membedakan antara satu ahli waris dengan ahli waris yang lain dalam hal pembagian. saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. ahlur-rahmi menyatakan bahwa semua kerabat berhak mendapat waris secara rata. Inilah pendapat mazhab Imam Ahmad bin Hambal. Hal ini dapat terlihat tentunya dengan melihat dan mempertimbangkan kemaslahatan yang ada. tanpa membedakan jauh-dekatnya kekerabatan. Cara Pembagian Waris Para Kerabat Di antara fuqaha terjadi perbedaan pendapat mengenai tata cara memberikan hak waris kepada para kerabat. C. 1/2. karena itu ia mendapatkan sisanya. seorang keponakan perempuan dari saudara perempuan. Untuk memperjelas pemahaman tentang mazhab ini perlu saya kemukakan contoh-contoh seperti berikut: 1.

dan sepupu perempuan anak dari paman kandung juga mendapatkan seperenam (1/6) bagian sebagai 'ashabah. Maka. menurut mereka. juga berlandaskan fatwa Ibnu Mas'ud r. Adapun yang dijadikan dalil oleh mazhab ahlut-tanzil ini ialah riwayat yang marfu' (sampai sanadnya) kepada Rasulullah saw. Mazhab ini merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib r. pelaksanaannya tetap mengikuti kaidah umum pembagian waris: bagian laki-laki adalah dua kali bagian wanita. Sebab. sdr. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris. ketika ia menerima pengaduan tentang pembagian waris seseorang yang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak wanita. Maka Ibnu Mas'ud memberikan setengah bagian untuk cucu perempuan dan setengah bagian lainnya untuk keponakan perempuan. Orang-orang yang dinisbati kekerabatan oleh pewaris. adalah bahwa memberikan hak waris kepada dzawil arham tidak dibenarkan kecuali dengan berlandaskan pada nash-nash umum --yang justru tidak memberikan rincian mengenai besarnya bagian mereka masing-masing dan tidak ada pentarjihan secara jelas. Keempat golongan tersebut adalah: 1. kand. 3. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua kakek pewaris atau kedua nenek pewaris. Oleh karena itu. dan sepupu perempuan keturunan paman kandung (saudara laki-laki seayah). yaitu melihat siapa yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan pewaris. 2. Seseorang wafat dan meninggalkan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. Pr.. Adapun dalih orang-orang yang memperkuat mazhab kedua ini. Ketika beliau memberi hak waris kepada seorang bibi (saudara perempuan ayah) dan bibi (saudara perempuan ibu) kebetulan saat itu tidak ada ahli waris lainnya-. dan diikuti oleh para ulama mazhab Hanafi. Hal ini. Orang-orang (ahli waris) yang bernisbat kepada pewaris. mazhab ketiga ini telah mengelompokkan dan membagi dzawil arham menjadi empat golongan. Lebih jauh mazhab ini menyatakan bahwa hadits Rasulullah saw. dan paman kandung. dengan mengembalikan kepada pokoknya --karena memang lebih mendekatkan posisinya kepada pewaris-. Inilah gambarnya: Sdr. dalam hal melaksanakan pembagian waris untuk dzawil arham mazhab ini membaginya secara kelompok. berarti yang paling berhak di antara mereka (para 'ashabah) adalah yang paling dekat kepada pewaris dari segi dekat dan kuatnya kekerabatan. dilakukan dengan mengqiyaskannya pada hak para 'ashabah. rincian besarnya bagian ashhabul furudh dan para 'ashabah telah dijelaskan.a. saudara perempuan seayah. pr. 1/6 Begitulah cara pembagiannya. sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada jalan lain untuk mengenali dan menuntaskan masalah ini kecuali dengan mengembalikan atau menisbatkannya kepada pokok ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya kepada pewaris. Selain itu. dan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. Sebagaimana telah diungkapkan. yang tampak sangat logis. keponakan perempuan keturunan dari saudara perempuan seayah mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). dan keputusan yang dilakukan Ibnu Mas'ud menunjukkan betapa kuatnya pendapat mereka. Yang bernisbat kepada pewaris sebagai berikut: 87 . 3/6. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu mendapatkan seperenam (1/6) bagian secara fardh. saudara perempuan seibu. kemudian menjadikan masing-masing golongan mempunyai cabang dan keadaannya. dan sepertiga lagi diberikannya kepada bibi (dari pihak ibu). seibu paman kand. Hal demikian dikarenakan sama saja dengan pewaris meninggalkan saudara kandung perempuan.jauh lebih utama dan bahkan lebih berhak.a. pr. sdr. seayah 1/6. 1/6. Di samping itu. 4. Lebih jauh akan dijelaskan hak masing-masing golongan dan cabang tersebut akan hak warisnya. yakni dengan melihat kepada yang lebih dekat derajat kekerabatannya kepada pewaris. keponakan perempuan keturunan saudara perempuan seayah. Selain itu.2. Menurut Ahlul Qarabah Adapun mazhab ketiga menyatakan bahwa hak waris para dzawil arham ditentukan dengan melihat derajat kekerabatan mereka kepada pewaris. kemudian barulah yang lebih kuat di antara kerabat yang ada.maka beliau memberi bibi (dari pihak ayah) dengan dua per tiga (2/3) bagian. 3. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu. Dalam praktiknya sama seperti membagi hak waris para 'ashabah. Maka pembagiannya seperti berikut: keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan mendapatkan setengah (1/2) bagian.

c. Yang dinisbati oleh pewaris: a. dan seterusnya). baik bibi kandung. Cucu laki-laki keturunan anak perempuan. Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah Telah saya kemukakan bahwa ahlul qarabah ini mengelompokkan dan memberikan urutan --dalam pembagian hak waris-. dan seterusnya seperti ibu dari ayahnya ibu. Kakek yang bukan sahih. dan seterusnya. ataupun seibu. cucu. Ahlut-tanzil tidak menyusun secara berurutan kelompok per kelompok.dengan mengqiyas pada jalur 'ashabah. ibu dari ibu ayahnya ibu. dan seterusnya. seibu.dari kakek dan nenek. atau seibu. Bila mereka tidak ada. dan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita sebagaimana yang berlaku pula dalam kalangan ahlul 'ashabah. Nenek yang bukan sahih. maka pokoknya: ayah. Itulah keenam kelompok yang bernisbat kepada kedua kakek dan kedua nenek pewaris. Jika tidak ada. Juga semua pamannya dan bibinya (paman dan bibi dari ayah). Keturunan saudara kandung perempuan. maka barulah keturunan paman (dari pihak ayah dan ibu). baik laki-laki ataupun perempuan. keturunan bibinya (saudara perempuan ibu). dan seterusnya.. dan tidak pula mendahulukan antara satu dari yang lain. c. Jika tidak ada juga. dan juga paman nenek. f. Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah Dari uraian-uraian sebelumnya. Bibi dari ayah pewaris. baik yang kandung. Buyut laki-laki dari keturunan cucu perempuan dan keturunan anak laki-laki. keturunan paman (saudara laki-laki ayah) yang seibu. Kemudian paman (saudara lakilaki ibu) pewaris. baik laki-laki ataupun perempuan. dan seterusnya. keturunan dari pamannya (saudara laki-laki ibu). atau seayah. Sedangkan oleh ahlul qarabah yang dijadikan anggapan ialah "dekatnya dengan kekerabatan". d.a. atau yang seayah. atau yang seibu. seayah. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan di atas (Butir e) dan seterusnya. maka barulah keturunan saudara laki-laki (keponakan). dan seterusnya seperti ayah dari ibu. Keturunan perempuan dari saudara kandung laki-laki. Yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris: a. dan paman (saudara ayah) ibu. ayah dari ayahnya ibu (kakek dari ibu). Dasar yang dianggap oleh ahlut-tanzil dalam mendahulukan satu dari yang lain adalah "dekatnya keturunan" dengan sang ahli waris shahibul fardh atau 'ashabah. yang pertama kali berhak menerima waris adalah keturunan pewaris (anak. Juga pamannya (saudara ayah) yang seibu (mencakup semua paman dan bibi dari ibu. Bibi (saudara perempuan ayah) pewaris. Dengan demikian. b. misalnya keturunan laki-laki dan perempuan dari bibi sang ayah. 2. dan seterusnya. Sedangkan ahlul qarabah menyusun secara berurutan dan mendahulukan satu dari yang lain sebagai analogi dari 'ashabah bi nafsihi. b. Bila mereka tidak ada. e. baik keturunan laki-laki ataupun perempuan. b. ternyata kita menemukan beberapa perbedaan yang jelas antara mazhab ahlut-tanzil dengan ahlul qarabah: 1. kakek. Keturunan dari bibi (saudara perempuan ayah). menurut ahlul qarabah. dan bibi (saudara perempuan ibu). Kemudian paman dan bibi --baik dari ayah maupun ibu-. Keturunan dari saudara laki-laki seibu dan seterusnya. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan itu dan seterusnya. maka barulah keturunan 88 . baik yang kandung maupun yang seayah). b. seayah. Paman kakak yang seibu. Yang bernisbat kepada kedua kakek atau nenek dari pihak ayah ataupun ibu: a.

Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham 1. Mengutamakan dekatnya kekerabatan. maka yang lebih didahulukan adalah cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. b. Begitu seterusnya. Artinya. Namun. jika ada shahibul fardh. Begitulah seterusnya. maka pembagiannya dilakukan secara merata. mereka tidak sekadar mengambil bagiannya. seorang anak perempuan dari anak paman yang lain (kandung). Beberapa Catatan Penting: Apabila dzawil arham (baik laki-laki maupun perempuan) seorang diri menjadi ahli waris. maka yang didahulukan adalah cucu perempuan dari anak perempuan. tampak ada kesamaan derajat di antara kedua ahli waris. 89 . berdasarkan urutan tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok ahli waris yang lebih awal disebutkan dapat menggugurkan kelompok berikutnya. Dengan demikian. sisa harta waris akan diberikan kepada dzawil arham. 2. Atau dengan redaksi lain. maka para 'ashabah akan menerima sisa harta waris yang ada. Misalnya. sedangkan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan melalui dzawil arham. Apabila dalam suatu keadaan terjadi persamaan.mereka yang sederajat dengan mereka. keduanya memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris sama-sama sebagai cucu. maka yang lebih berhak untuk dintamakan adalah yang paling dekat dengan pewaris lewat shahibul fardh atau 'ashabah. pewaris meninggalkan ahli waris cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. apabila shahibul fardh hanya terdiri dari suami atau istri saja. orang yang wafat ini meninggalkan tiga putri keturunan anak paman kandung. dan sisanya diberikan kepada dzawil arham. dan seorang anak perempuan dari anak paman kandung yang lain. maka haruslah mengutamakan mana yang lebih kuat kedekatan kekerabatannya. setelah diambil hak para shahibul fardh. Maka harta warisnya dibagi secara merata di antara mereka. seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan dari anak paman kandung. karena ketiganya memiliki derajat yang sama dari segi kekerabatan. seperti anak perempuan dari paman kandung atau seayah. Dan bila bersamaaan dengan ahli waris lain. semua ahli waris dari dzawil arham berhak menerima bagian. Apabila ada kesamaan pada kedekatan derajat kekerabatan. Sebab 'ashabah akan mengambil seluruh hak waris yang ada. Misalnya. Apabila segi derajat dan kedekatannya kepada pewaris sama. dengan anak cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. maka ia akan menerima hak warisnya secara fardh. Misalnya. Yang demikian itu disebabkan keponakan kandung lebih kuat kekerabatannya. D. bila ternyata tidak ada shahibul fardh. Dalam contoh ini. Sebab kedudukan hak suami atau istri secara radd itu sesudah kedudukan dzawil arham. Tidak ada penta'shib ('ashabah). maka dalam keadaan seperti ini kita harus mengutamakan keponakan kandung. tetapi sisanya pun akan mereka ambil karena merupakan hak mereka secara radd. dan berarti seluruh harta waris menjadi haknya. Dengan demikian. seseorang wafat dan meninggalkan anak perempuan dari saudara kandung laki-laki (yakni keponakan kandung) dengan anak perempuan dari saudara laki-laki seayah (keponakan bukan kandung). d. Hanya saja. maka pembagiannya sebagai berikut: a. cucu perempuan keturunan anak laki-laki bernasab kepada pewaris lewat ahli waris. Sebab. Sedangkan kita ketahui bahwa kedudukan ahli waris secara ar-radd dalam penerimaan waris lebih didahulukan dibandingkan dzawil arham. Misalnya. Sedangkan jika dia berbarengan dengan salah satu dari suami atau istri. maka ia akan menerima sisanya. dan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan. Tidak ada shahibul fardh. seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. maka ia akan menerima seluruh harta waris. c. Dan bila ada shahibul fardh.

bagi yang menghendaki pengetahuan lebih luas dalam masalah ini dapat merujuknya pada kitab-kitab fiqih. sekalipun dzawil arham itu keturunan saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu.a. Sebenamya. Penutup Itulah sekelumit mengenai hak waris para dzawil arham menurut mazhab ahlul qarabah yang merupakan mazhab imam Ali bin Abi Thalib r. Oleh karenanya.). bagian laki-laki dua kali lebih besar bagian perempuan. saya tidak mengemukakannya di sini sebab akan bertele-tele dan menjenuhkan. seperti halnya dalam pembagian para 'ashabah. terutama antara Imam Abi Yusuf dan Imam Muhammad (keduanya murid dan teman dekat Abu Hanifah. yang kemudian dianut oleh ulama muta'akhirin mazhab Maliki dan Syafi'i ---karena dari segi pengamalannya memang lebih mudah. pada prinsipnya yang banyak diamalkan adalah pandangan mazhab ahlut-tanzil sebagai mazhab Imam Ahmad. penj. Pendapat ini banyak diterapkan di sebagian negara Arab dan negara Islam lainnya. Selain itu. Namun. dan para ulama mazhab Hanafi.Catatan lain Di antara persoalan yang perlu saya kemukakan di sini ialah bahwa dalam pemberian hak waris terhadap para dzawil arham . 90 . di kalangan ulama mazhab ini banyak dijumpai perbedaan tentang cara pembagian masing-masing kelompok tadi.

dikukuhkanlah vonis tersebut. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi'i serta pendapat mayoritas sahabat. Ia berkata: "Wahai kaumku. Oleh karena itu. Maka dengan segera ia menemui kaumnya untuk mengganti vonis yang telah dijatuhkannya. Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya. Misalnya. Sebab. Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu orang-orang Arab meninggalkannya. Suatu ketika ia dikunjungi kaumnya yang mengadukan suatu peristiwa. misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang "air kecil". Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling (lebih) sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau wanita. dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya. dan budak wanita itu berkata: "Cabutlah keputusan tadi. budak wanita yang dimiliki Amir dan dikenal sangat cerdik menanyakan sebab-sebab yang menggelisahkan majikannya.-disebut sebagai musykil. apakah ia haid atau hamil. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r. khanatsa wa takhannatsa. Misalnya. Di samping melalui cara tersebut. Ketika Islam datang. bersabda: "Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita. dan tidak menerima vonis tersebut. maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil. bahwa ada seorang wanita melahirkan anak dengan dua jenis kelamin. dan vonislah dengan cara melihat dari mana keluar air seninya. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh." B.XI. Definisi Banci Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari kata khanatsa berarti 'lunak' atau 'melunak'. dan sebagainya. Bila keluar dari penis. maka ia sebagai laki-laki. yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang laki-laki menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok. tetapi bila keluar dari vagina. maka beliau menjawab dengan sabdanya: "Lihatlah dari tempat keluarnya air seni. setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas. Bila urinenya keluar dari penis." Ternyata vonis ini diterima secara aklamasi. Amir kemudian memvonisnya sebagai laki-laki dan perempuan.). Dikisahkan bahwa Amir bin adz-Dzarb dikenal sebagai seorang yang bijak pada masa jahiliah. ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian. Namun. maka ia divonis sebagai laki-laki dan mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. lihatlah jalan keluarnya air seni. 91 . kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi. bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan. bahwa Rasulullah saw." Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit). ia dinyatakan sebagai perempuan. bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan. Karenanya dalam hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil. Akhirnya Amir memberitahukan persoalan tersebut kepada budaknya. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. Amir pun menjadi gelisah dan tidak tidur sepanjang malam karena memikirkannya. apakah ia tumbuh kumis. adanya dua jenis kelamin pada seseorang --atau bahkan sama sekali tidak ada-. atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. artinya tidak ada kejelasan. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak.a." Amir merasa puas dengan gagasan tersebut. apakah tumbuh payudaranya. maka ia divonis sebagai khuntsa musykil. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini: 1. Melihat sang majikan gelisah. bagaimana cara ia bermimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani. atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. penj. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina.

Sisa harta waris yaitu tiga (3) kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti. Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi'i.hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya --keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita. maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita. bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya. dan saudara laki-laki banci. Kemudian kita menyatukan (al-jami'ah) antara dua masalah. bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita). sedangkan bagian anak perempuan empat (4). pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat (24). Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki. saudara laki-laki banci tiga (3) bagian. kemudian disatukan dan dibagi menjadi dua. ibu enam (6) bagian. Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. Maksudnya. dan bagian anak banci lima (5). dan seorang anak banci. maka divonis sebagai laki-laki. sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat (4). maka hasilnya menjadi hak/bagian banci. Bagian anak laki-laki adalah delapan (8). maka pokok masalahnya dari enam (6) tanpa harus di. atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya. Mazhab Maliki berpendapat. atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris. Pokok masalahnya dari enam (6) bila banci itu dikategorikan sebagai wanita. Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci 1.2.'aul-kan. Inilah tabelnya: 6 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci 8 3 2 3 6 3 2 1 24 9 6 4 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci kandung 92 . Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki. Bahkan dalam mazhab Imam Syafi'i. maka gugurlah hak warisnya. seperti dalam masalah al-munasakhat. Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas. Dan al-jami'ah (penyatuan) dari keduanya. bagian setiap ahli waris dan banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan. seorang anak perempuan. Seseorang wafat meninggalkan seorang suami. C. maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya Untuk banci --menurut pendapat yang paling rajih-. Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masing-masing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. Mazhab Syafi'i berpendapat. maka pokok masalahnya dari lima (5). kemudian di-'aul-kan menjadi delapan (8). Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki. Bahkan. 2. Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan fuqaha mawarits mu'amalah bil adhar-yaitu jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit. ibu. 3. Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan (9) bagian. dan sisanya kita bekukan. dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit.

Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima (5) bagian dibekukan sementara. dan penyatuan dari keduanya menjadi empat belas (14). 1/2 Sdr. yaitu janin yang dikandung dalam perut ibunya. apakah bayi tersebut akan lahir selamat atau tidak. Secara ringkas dapat dikatakan. maka kita nyatakan bahwa ahli waris tidak ada ketika pewaris wafat. Dikatakan: "al-mar'atu haamil ma haamilatun idsaa kaanat hublaa" (wanita itu hamil apabila ia sedang mengandung janin). 3. 1/2 Banci lk. selama janin yang dikandung belum dapat diketahui dengan pasti keadaannya. laki-laki atau perempuan. Pada pembahasan sebelumnya --tentang persyaratan hak waris/mewarisi-. Dalam masalah hamil ini ada beberapa hukum yang berkaitan dengan hak waris. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan: 93 . demikian juga jika ia lahir dalam keadaan mati. Berkaitan dengan hal ini. Setelah itu. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Bagian suami enam (6). Dengan demikian.yang mengharuskan kita untuk segera membagi harta warisan dalam bentuk awal. para pakar faraid menjelaskan hukum-hukum khusus secara rinci dengan menyertakan berbagai pertimbangan demi menjaga kemaslahatan ahli waris yang ada. maka mustahil bagi kita untuk menentukan jumlah bagian waris yang harus diterimanya. pr. Karena itu. baik laki-laki maupun perempuan. Setelah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup. dan saudara laki-laki seayah banci. bagi janin yang masih di dalam kandungan ibunya belum dapat ditentukan hak waris yang diterimanya. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya. sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh (7). sedangkan yang banci tidak diberikan haknya. pr. kdg. dan pada kesempatan ini saya hanya akan utarakan secara global. saudara kandung perempuan enam (6) bagian. yakni dua (2) bagian dibekukan. dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas. maka kita nyatakan bahwa ahli waris dalam keadaan hidup pada saat pewaris wafat. maka pokok masalahnya dua (2). kdg. Maka pembagiannya seperti berikut: Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki. untuk mengetahui secara pasti kita harus menunggu setelah bayi itu lahir.telah saya kemukakan bahwa salah satu syarat yang harus terpenuhi oleh ahli waris adalah keberadaannya (hidup) ketika pewaris wafat.. seayah 1/6 7 3 3 1 14 6 6 - Suami 1/2 Sdr. Definisi Hamil Al-hamlu (hamil) dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata hamalat. karena belum dapat diketahui secara pasti keadaannya. Hanya kepada Allah saya memohon pertolongan. E. saudara kandung perempuan. barulah kita bagikan kepada masing-masing ahli waris secara lengkap setelah kelahiran bayi. Ini tabelnya: 2 1 1 6 Suami 1/2 Sdr. pr." (al-Ahqaf: 15) Sedangkan menurut istilah fuqaha. Adapun sisanya. tidak tertutup kemungkinan kita dihadapkan pada keadaan darurat --menyangkut kemaslahatan sebagian ahli waris-. dan satu atau kembar. D. Namun demikian. ibunya mengandungnya dengan susah payah. dan melahirkannya dengan susah payah (pula) ..

94 . dan ia dianggap tidak ada. Dengan demikian.a. Adapun menurut mazhab Syafi'i dan Hambali. Dan tanda kehidupan yang tampak jelas bagi bayi yang baru lahir adalah jika bayi tersebut menangis. Sebagai ahli waris yang tidak berbeda hak warisnya. disebabkan janin tersebut tidak termasuk ahli waris dalam segala kondisi.maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup. 4. 2. atau ketika keluar dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil. 2. apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati. Sedangkan persyaratan kedua dinyatakan sah dengan keluarnya bayi dalam keadaan nyata-nyata hidup. dan bukan sebagai ahli waris dalam keadaan berkelamin ganda (banci). Sebagai ahli waris dalam segala keadaannya baik sebagai laki-laki maupun perempuan. atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati. Sebagai misal. Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup. hal ini bisa ditandai dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut. Bila gerakan itu hanya sejenak --seperti gerakan hewan yang dipotong-. seseorang wafat dan meninggalkan istri. atau ada ahli waris lain namun ia majhub (terhalang) hak warisnya karena adanya janin. Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya. seperti yang disinyalir para ulama mazhab Hambali. atau yang semacamnya. maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan. mau menyusui ibunya. Pernyataan ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad.: "Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun sekalipun berada dalam falkah mighzal. menurut mazhab Hanafi. 5. Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat. Kelima keadaan tersebut: 1. baik sebagai laki-laki ataupun perempuan. sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan. maka tidak berhak mendapatkan waris. Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah r.a. ayah." Pernyataan Aisyah r.: "Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati).1.. Berarti bila janin itu lahir ia menjadi saudara laki-laki seibu pewaris. 3. Sebagai ahli waris tunggal. Bukan sebagai ahli waris dalam keadaan apa pun. Sebagai ahli waris dalam keadaan memiliki kelamin (laki-laki atau perempuan). dan ibu yang sedang hamil dari ayah tiri pewaris. F. baik janin tersebut berkelamin laki-laki ataupun perempuan. bayi yang baru keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan. dan sisanya menjadi bagian ayah sebagai 'ashabah. Adapun mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam kandungan maksimal empat tahun. jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris. Pendapat inilah yang paling akurat dalam mazhab Imam Ahmad. tersebut dapat dipastikan bersumber dari penjelasan Rasulullah saw. ibu sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil hak istri. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. ia tidak berhak mewarisi." (HR Nasa'i dan Tirmidzi) Namun. Dalam keadaan demikian berarti mahjub hak warisnya oleh adanya ayah pewaris. Bahkan. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian pewaris. Karenanya harta waris yang ada hanya dibagikan kepada istri seperempat (1/4). Pokok masalahnya dari empat (4). tanpa harus menunggu kelahiran janin yang ada di dalam kandungan. Keadaan Pertama Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yangada secara langsung. bersin. Keadaan Janin Ada lima keadaan bagi janin dalam kaitannya dengan hak mewarisi.

paman (saudara ayah).maka dalam keadaan demikian hendaknya kita berikan dua ilustrasi. dan ayah. berarti kedudukannya sebagai anak laki-laki pewaris. Bila yang lahir anak laki-laki. dan bagian istri seperdelapan (1/8). apabila yang lahir anak perempuan. Tabelnya seperti berikut: 6 Suami 1/2 Ibu 1/6 3 sdr. Sebab. Namun. bila janin dikategorikan sebagai anak laki-laki. Jadi. tiga saudara perempuan seibu. jika bayi itu masuk kategori laki-laki. maka sisa bagian yang dibekukan menjadi bagiannya. ibu. Maka dalam keadaan demikian ia tidak berhak mendapatkan waris. bila lahir dan ternyata bukan termasuk dari ahli waris. dan kita bekukan untuk janin dari bagian yang maksimal. maka dalam hal ini ia berhak mendapat bagian separo (1/2). Namun. maka sisa harta waris yang dibekukan tadi diberikan dan dibagikan kepada ahli waris yang ada. dan istri ayah yang sedang hamil. maka harta yang dibekukan tadi dibagikan lagi kepada ahli waris yang ada. untuk sementara dibekukan hingga janin telah dilahirkan. dan sisanya merupakan bagian anak laki-laki sebagai 'ashaloub. Setelah janin lahir dengan selamat. Sebagai contoh. seseorang wafat dan meninggalkan istri. ia akan lebih banyak memperoleh bagian daripada bayi perempuan. berarti menjadi saudara laki-laki seayah. Bila yang lahir bayi perempuan.seayah (hamil) 1/2 9 3 1 1 1 Sisanya tiga (3). dan pembagiannya seperti berikut: ibu seperenam (1/6). Namun. dan sisanya yang dua per tiga (2/3) dibekukan hingga janin yang ada di dalam kandungan itu lahir. bila ternyata bayi tersebut perempuan. namun bila ternyata laki-laki yang lahir. karena tidak ada sisa dari harta waris setelah diambil para ashhabul furudh yang ada. Keadaan Ketiga Apabila janin yang ada di dalam kandungan sebagai ahli waris dalam segala keadaannya --hanya saja hak waris yang dimilikinya berbeda-beda (bisa laki-laki dan bisa perempuan)-. Dalam keadaan demikian. ibu. Sebagai misal. maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperempat (1/4). Atau terkadang terjadi sebaliknya. dan ipar perempuan yang sedang hamil (istri saudara kandung laki-laki). seseorang wafat dan meninggalkan istri. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil. maka hak warisnya diberikan kepadanya. Setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. namun untuk sementara bagiannya dibekukan hingga kelahirannya. kita lihat sisanya yang menjadi bagian bayi yang masih dalam kandungan. dan pokok masalahnya dari enam (6) di-'aul-kan menjadi sembilan (9). Contoh lain. dan hendaknya kita lakukan pembagian dengan dua cara dengan memberikan bagian ahli waris yang ada lebih sedikit dari bagian-bagian masing-masing. pr. maka dialah yang berhak untuk mendapatkan sisa harta yang dibekukan tadi. ayah seperenam (1/6). maka sisa harta waris yang dibekukan itu menjadi hak paman. Sebab kedudukannya sebagai keponakan laki-laki (anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki). berarti ia menjadi saudara perempuan seayah.pr. Pembagiannya seperti berikut: apabila istri ayah tersebut melahirkan bayi laki-laki. seibu 1/3 Sdr. hendaknya kita berikan bagian yang lebih banyak dari jumlah maksimal kedua bagiannya. oleh karenanya ia lebih utama dibanding kedudukan paman kandung. boleh jadi. Sebab keponakan perempuan (anak perempuan keturunan saudara laki-laki) termasuk dzawil arham.Keadaan Kedua Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yang ada dengan menganggap bahwa janin yang dikandung adalah salah satu dari ahli waris. 95 .

pr. Karenanya. Bila janin itu lahir dengan hidup normal. dengan begitu ia akan mengambil seluruh sisa harta waris yang ada karena ia sebagai 'ashabah. namun jika ia lahir dalam keadaan mati. baik sebagai laki-laki ataupun sebagai perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. Sebagai misal. dan ibu yang hamil dari ayah lain (ayah tiri pewaris). Sebab. Apabila janin telah keluar dari rahim ibunya. bila janin tadi lahir sebagai laki-laki berarti kedudukannya sebagai cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. bila bayi tersebut perempuan maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. maka dialah yang akan mengambil hak warisnya. Maka bagian istri adalah seperdelapan (1/8). dan akan mendapat bagian separo (1/2) harta \varis yang ada. Contoh lain. saudara perempuan seayah. pr. maka dalam keadaan seperti ini kita tangguhkan pembagian hak warisnya hingga tiba masa kelahiran janin tersebut. seibu 1/6 Sdr. 1/2 24 3 5 4 12 24 3 4 4 12 Bila bagian janin dalam kandungan tidak berubah baik sebagai laki-laki maupun perempuan. seibu 1/6 Keadaan Kelima Apabila tidak ada ahli waris lain selain janin yang di dalam kandungan. Sebagai misal. kdg. 6 3 1 1 1 6 3 1 1 1 Sdr. Dan bila janin tadi lahir sebagai perempuan. Akan tetapi. baik ia laki-laki ataupun perempuan. kdg. maka bagian warisnya tetap seperenam (1/6). 1/2 Sdr. dan sisanya akan dibagikan sebagai tambahan (ar-radd) bila ternyata tidak ada 'ashabah. 'ashabah Sisanya satu (1). maka ia sebagai cucu perempuan dari keturunan anak lakilaki. pr. akan menggugurkan hak waris saudara laki-laki pewaris yang seibu tadi. dan kita berikan bagian para ahli waris yang ada secara sempurna. seayah 1/6 Ibu (Janin) sdr. Keadaan Keempat 24 3 4 4 13 Istri 1/8 Ayah 'ashabah Ibu 1/6 Janin pr. Maka janin yang masih dalam kandungan merupakan pokok ahli waris. Dengan demikian. Sebab kedudukannya sebagai saudara laki-laki seibu atau saudara perempuan seibu dengan pewaris. seayah 1/6 Ibu (hamil) 1/6 (Janin) sdr. baik kelak lahir sebagai laki-laki atau perempuan. pr. maka harta waris yang ada akan dibagikan kepada seluruh ahli waris yang berhak untuk menerimanya. 1/2 Sdr. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil dan saudara kandung laki-laki. dan saudara laki-laki tidak mendapat bagian bila janin yang dikandung tadi laki-laki. dibekukan.Istri 1/8 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Janin lk. atau ada ahli waris lain akan tetapi mahjub haknya karena adanya janin. maka kita sisihkan bagian warisnya. kedudukan bayi akan tetap mendapat hak waris seperenam (1/6). anak perempuan 96 . seseorang wafat dan meninggalkan menantu perempuan yang sedang hamil (istri dan anak lakilakinya) dan saudara laki-laki seibu. Inilah tabelnya. dalam kedua keadaannya. sbg.

97 .setengah (1/2) bagian. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah.

DAN TERTIMBUN A. Namun. dari Imam Malik. dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta. kemudian divonisnya sebagai orang yang telah mati. maka ia diperbolehkan untuk menikah lagi. Kita juga bisa simak firman Allah SWT berikut: "Penyeru-penyeru itu berkata: 'Kami kehilangan piala raja. maka ia dapat diputuskan sebagai orang yang sudah meninggal.a. Hal ini didasarkan pada lafazh hadits secara umum yang menyatakan bahwa umur umat Muhammad saw. Atau telah berlalu selama waktu tertentu dan diperkirakan secara umum -. Hukum Orang yang Hilang Para fuqaha telah menetapkan beberapa hukum yang berkenaan dengan orang yang hilang/menghilang. Karena 98 . tentang wanita yang suaminya hilang dan tidak diketahui rimbanya. al-mafqud berarti orang yang hilang. Definisi Al-mafqud dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna 'hilang'. maka sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh tahun untuk menunggu. di antaranya: istrinya tidak boleh dinikahi/dinikahkan.dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dan dugaan yang dapat mengenali keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana dan prasarana yang ada." B.telah mati. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini terutama para ulama dari mazhab yang empat. dan aku menjamin terhadapnya. dan hak kepemilikannya tidak boleh diusik. antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. disebutkan bahwa istri dari orang yang hilang di wilayah Islam --hingga tidak dikenal rimbanya-. maka mulailah ia untuk menghitung idahnya sebagaimana lazimaya istri yang ditinggal mati suaminya. hingga benar-benar tampak dugaan yang sebaliknya (yakni benar-benar sudah mati). Sedangkan dalam mazhab Syafi'i dinyatakan bahwa batas waktu orang yang hilang adalah sembilan puluh tahun. pendapat yang paling sahih menurut anggapan Imam Syafi'i ialah bahwa batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan. Akan tetapi. yaitu empat bulan sepuluh hari. TENGGELAM. Yang demikian itu berdasarkan ucapan Ali bin Abi Thalib r. cukup dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim. terputus beritanya. yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebaya di wilayahnya. Bila usai masa idahuya. dan hakim pun telah memvonisnya sebagai orang yang dianggap telah mati. Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak dikenal rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan melihat orang yang sebaya di wilayahnya --tempat dia tinggal. dan tidak diketahui rimbanya. hartanya tidak boleh diwariskan. Dikatakan faqadtu asy-syai'a idzaa adha'tuhu (saya kehilangan bila tidak mengetahui di mana sesuatu itu berada). Apabila orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada. Ali berkata: "Dia adalah seorang istri yang tengah diuji. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah tujuh puluh tahun (70). menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan pulah tahun (90). maka hendaknya dia bersabar. Dalam riwayat lain. sampai benar-benar diketahui keadaannya dan jelas apakah ia masih hidup atau sudah mati. dari Abu Hanifah. Dalam riwayat lain." (Yusuf: 72) Sedangkan menurut istilah para fuqaha. Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang hilang belum juga diketemukan atau dikenali rimbanya.XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG. dan tidak halal untuk dinikahi hingga ia mendapatkan berita yang meyakinkan akan kematian suaminya. Kadang-kadang bisa juga ditetapkan sebagai orang yang masih hidup berdasarkan asalnya. apakah dia masih hidup atau sudah mati.

Dan bila ternyata telah divonis oleh hakim sebagai orang yang telah meninggal. maka itulah yang berlaku. pendapat mazhab Hambali dalam hal ini lebih rajih (lebih tepat). seperti pergi untuk berniaga. Karena itu.maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat tahun. maka cara pemberian hak warisnya ada dua keadaan: Ahli waris yang hilang sebagai hajib hirman bagi ahli waris yang lain. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung laki-laki. Namun. Apabila setelah empat tahun belum juga diketemukan atau belum diketahui beritanya. maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya. Hak Waris Orang Hilang Apabila seseorang wafat dan mempunyai ahli waris. Pertama. Karenanya untuk sementara harta waris yang ada dibekukan hingga hakikat keberadaannya nyata dengan jelas. Sementara itu. dengan alasan berbedanya keadaan wilayah dan personel. Inilah pendapat yang lebih mendekatkan kepada wujud kemaslahatan. menunggu sampai diperkirakan umurnya mencapai sembilan puluh tahun Sebab sebagian besar umur manusia tidak mencapai atau tidak melebihi sembilan puluh tahun. Maksudnya. akan berbeda halnya dengan orang yang hilang bukan dalam keadaan yang demikian. tetapi bahkan sama berhak mendapat waris sesuai dengan bagian atau fardh-nya (yakni termasuk ashhabul fardh) Pada keadaan pertama: seluruh harta warisan peninggalan pewaris dibekukan --tidak diberikan kepada ahli waris-untuk sementara hingga ahli waris yang hilang muncul atau diketahui tempatnya. Bukan sebagai hajib (penghalang) bagi ahli waris yang ada. atau untuk menuntut ilmu. Namun. apabila hilangnya orang itu bukan dalam kemungkinan meninggal. Sebab. seorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati. Karena itu. bila ahli waris yang ada --siapa saja di antara mereka-. C. saudara kandung perempuan. Kedua. atau banyak perampok dan penjahat. orang yang hilang pada saat peperangan dan pertempuran. seluruh harta waris yang ada untuk sementara dibekukan hingga anak laki-laki yang hilang telah muncul. maka dialah yang berhak untuk menerima atau mengambil seluruh harta warisnya. Menurut hemat penulis. atau mirip dengan pembagian hak waris banci). seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung laki-laki. maka harta waris tadi dibagikan kepada seluruh ahli waris yang ada dan masing-masing mendapatkan sesuai dengan bagian atau fardh-nya. menyerahkan seluruhnya kepada ijtihad hakim. maka Imam Ahmad dalam hal ini memiliki dua pendapat. Posisi anak laki-laki dalam hal ini sebagai "penghalang" atau hajib hirman apabila masih hidup. dan dua saudara perempuan seayah. melancong.yang dalam dua keadaan orang 99 . sesudah berlalunya waktu tertentu --kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut. saudara laki-laki seayah. memang tidak tepat jika hal ini hanya disandarkan pada batas waktu tertentu. Bila ahli waris yang hilang ternyata masih hidup. Demikian juga istrinya. Posisi saudara kandung bila masih hidup adalah sebagai haiib bagi seluruh ahli waris yang ada. ia dapat menempuh masa idahnya. dan di antara ahli warisnya ada yang hilang tidak dikenal rimbanya. Misalnya. mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang yang hilang itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti jika terjadi peperangan. dalam hal ini ijtihad dan usaha seorang hakim sangat berperan guna mencari kemungkinan dan tanda-tanda kuat yang dapat menuntunnya kepada vonis: masih hidup atau sudah mati. Sedangkan pada keadaan kedua. dan anak laki-laki yang hilang. maka barulah harta waris tadi dibagikan untuk ahli waris yang ada. Sebagai contoh. bila ternyata hakim telah memvonisnya sebagai orang yang telah mati. Misal lain. Kapan saja hakim memvonisnya. dan ia boleh menikah lagi setelah masa idah yang dijalaninya selesai.menurut Imam Syafi'i. dan pendapat inilah yang dipilih az-Zaila'i (ulama mazhab Hanafi) dan disepakati oleh banyak ulama lainnya. atau menjadi salah seorang penumpang kapal yang tenggelam-. ahli waris yang ada berhak untuk menerima bagian yang paling sedikit di antara dua keadaan orang yang hilang (sebagai ahli waris yang hidup atau yang mati.

maka pembagiannya sebagai berikut: Dalam hal ini kita harus memboat dua cara pembagian. saudara laki-laki seayah. kdg. Dalam keadaan demikian. kdg. maka bagian masing-masing ahli waris itu seperti berikut: 1 Anggapan msh. Namun. Istri 1/8 2 Anggapan sdh.yang hilang tadi sama bagian hak warisnya. ibu. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. pr Sdr. saudara kandung. Sedangkan saudara laki-laki yang sesyah tidak mendapat hak waris apa pun. Sebab bila ahli waris yang hilang tadi telah divonis hakim sebagai orang yang telah meninggal. seseorang wafat dan maninggalkan istri. hdp. pr Anggapan sdh. yang pertama dalam kategori orang yang hilang tadi masih hidup. pr Sdr. hdp. dan saudara kandung lakilaki yang hilang. Sebagai contoh. Contoh-contoh Kasus Seseorang wafat dan meninggalkan suami. pr 2/3 Sdr. kdg. dengan sendirinya tidak berhak untuk mendapatkan harta waris sedikit pun. ibu seperenam (1/6). yaitu bagian ibu seperenam (1/6). kdg. Tabelnya sebagai berikut: 4 2 1 7 8 4 1 8 6 7 56 3 24 yang dibekukan 4 2 16 yang dibekukan 9 2 16 yang dibekukan 9 - Anggapan msh. hlg 1 1 1 Sdr. maka mereka diberi lebih sedikit di antara kedua keadaan tadi. mati Suami 1/2 Sdr. hlg Misal lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. lk. Kemudian kita menggunakan cara al-jami'ah (menyatukan) kedua cara tadi. hendaknya ia diberi hak waris secara sempurna (tanpa dikurangi atau dilebihkan. lk. bagi siapa saja yang tidak berhak untuk mendapatkan waris dalam dua keadaan orang yang hilang. dan yang kedua dalam kategori sudah meninggal. mati Istri 1/4 24 3 12 24 3 6 yang dibekukan 3 100 . ibu. atau tanpa ada yang dibekukan). dan cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. kdg. bagian istri adalah seperempat (1/4). dan sisanya (yakni yang seperenam) lagi untuk sementara dibekukan hingga ahli waris yang hilang telah nyata benar keadaannya. bagi ahli waris yang berbeda bagian hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi (yakni keadaan hidup dan matinya). kemudian membekukan sisanya. saudara kandung perempuan. Suami 1/2 Sdr. Namun. maka ibu akan mendapat bagian sepertiga (1/3). Dari sinilah kita keluarkan hak waris masing-masing. tampak ada penyatuan antara ahli waris yang tidak berbeda bagian warisnya dalam dua keadaan orang yang hilang --yaitu bagian istri seperempat (1/4)--dengan ahli waris yang berbeda hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi. Dalam contoh tersebut. atau telah divonis sebagai orang yang sudah meninggal. kdg.

lk. Semua yang menimpa mereka terasa sebagai sesuatu yang ringan. Istri 1/8 Sdr. dan berpegang teguh pada salah satu rukunnya --yaitu iman kepada qadha dan qadar-Nya. 'ashabah Anak lk. (hilang) yang dibekukan 12 Demikianlah beberapa contoh tentang hak waris yang di antara ahli warisnya ada yang hilang atau belum diketahui keadaannya. seibu 1/6 2 4 yang dibekukan 4 Sepupu. lk. (hilang) Jumlah yang dibekukan 17 Contoh lain. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. lk. hdp. karena mereka selalu melekatkan kehidupannya dengan iman.lk.seibu (mahjub) Sepupu. anak paman kandung (sepupu). Sayangnya. mati Suami 1/4 Cucu pr. 'ashabah 7 14 yang dibekukan 5 Cucu pr. 1/2 Sdr. Terkadang kejadian dan musibah itu tiba-tiba datangnya. mahjub Cucu lk.anak.kdg. bahkan sebagian manusia berani melakukan hal-hal yang menyimpang jauh dari kebenaran dalam menghadapinya. tanpa diduga.kdg.lk. (hilang) 4 1 3 Anggapan sdh. dan anak laki-laki yang hilang. dan cobaan. (hilang) 4 17 Ibu 1/3 Sdr.Ibu 1/6 Sdr. Suami 1/4 Cucu pr.'ashabah 4 8 yang dibekukan 4 5 10 yang dibekukan 10 Cucu lk.anak. (mahjub) Sdr. hdp. Sehingga hal ini sering kali membuat manusia bertekuk lutut dan tidak berdaya. maka bagian masing-masing seperti berikut: Anggapan msh. Maka rincian pembagiannya seperti berikut: Anggapan msh.kdg. sementara lisan 101 . seseorang wafat dan meninggalkan suami. Hanya orang-orang mukmin yang ternyata tetap bersabar dalam menghadapi musibah. Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Betapa banyak kejadian dan musibah yang kita alami dalam kehidupan di dunia ini. D. saudara laki-laki seibu. 'ashabah Cucu pr. saudara kandung perempuan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. (mahjub) Anak lk. mati Istri 1/4 12 24 3 6 yang dibekukan 3 Sdr.lk. sangat sedikit di antara kita yang mau mengambil i'tibar (pelajaran).pr. ujian.dr.pr. lk.lk. (hilang) 8 1 3 4 Anggapan sdh.dr. (hilang) 4 4 1 1 2 2 yang dibekukan 2 1 1 yang dibekukan 1 - Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri.

dua orang bersaudara mati secara berbarengan. sekalipun masa hidup yang kedua hanya sejenak setelah kematian saudaranya yang pertama. Hal ini sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama faraidh yang menyebutkan: "Tidak ada hak saling mewarisi bagi kedua saudara yang mati karena tenggelam secara bersamaan. maka kepemilikan harta waris tadi berpindah kepada ahli warisnya yang berhak. dan sisanya untuk bagian sepupu sebagai 'ashabah. Maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8) bagian. dan anak laki-laki paman kandung (sepupu yang pertama disebutkan). (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah. dan anak paman kandung (sepupu). maka tidak ada hak waris di antara keduanya atau mereka tidak saling mewarisi. tetapi dalam sekejap keadaan dapat berubah sebaliknya. Begitulah kehidupan dunia yang selalu silih berganti. bagaimana cara pelaksanaan pemberian hak waris kepada masingmasing ahli waris? Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Kaidah yang berlaku dalam pembagian hak waris orang yang tenggelam dan tertimbun yaitu dengan menentukan mana di antara mereka yang lebih dahulu meninggal. pembagian waris lebih mudah dilaksanakan. Misalnya. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Begitulah seterusnya.. sedangkan yang satunya lagi meninggalkan dua anak perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: Harta istri yang meninggal untuk anaknya. dan sisanya adalah untuk anak laki-lakinya dari istri yang masih hidup 102 . apabila dua orang bersaudara tenggelam secara bersamaan lalu yang seorang meninggal seketika dan yang seorang lagi meninggal setelah beberapa saat kemudian. sehingga sebagian anggota keluarga mereka menjadi korban. serta yang meninggal seketika karena kecelakaan dan bencana lainnya. Kadangkadang manusia tertawa dan merasa lapang dada. sedangkan harta suami yang meninggal seperdelapannya (1/8) merupakan bagian istrinya yang masih hidup. Oleh karenanya tidak ada sikap yang lebih baik kecuali berlaku sabar dan berserah diri kepada-Nya. disebabkan tidak terpenuhinya salah satu persyaratan dalam mendapatkan hak waris. dan tidak pula bagi kedua saudara yang mati karena tertimbun reruntuhan. Apabila hal ini telah diketahui dengan pasti.senantiasa mengucapkan: "sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepadaNyalah kita kembali". Kemudian sang istri pernah mempunyai anak laki-laki dari suaminya yang dahulu. menurut para ulama. yakni dengan memberikan hak waris kepada orang yang meninggal kemudian.'" (al-Baqarah: 155-156) Bukan sesuatu yang mustahil jika dalam suatu waktu dua orang bersaudara bepergian bersama-sama menggunakan pesawat terbang atau kapal laut. begitupun sang suami telah mempunyai istri lain dan mempunyai anak laki-laki. Yang satu meninggalkan istri. Adapun bagian kedua anak perempuan (dari yang kedua) adalah dua per tiga (2/3). maka yang mati kemudian inilah yang berhak menerima hak waris.mereka --jika menghadapi musibah-. Suami-istri itu masing-masing mempunyai harta. Sedangkan jika keduanya sama-sama tenggelam atau terbakar secara bersamaan kemudian mati tanpa diketahui mana yang lebih dahulu meninggal. hal ini telah memenuhi syarat hak mewarisi. Maka jika di antara mereka ada yang mempunyai keturunan. Sebagai contoh. Perhatikan firman Allah SWT berikut: ". Atau mungkin saja terjadi bencana alam yang mengakibatkan rumah yang mereka huni runtuh. Misal lain. mereka mengucapLan 'Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'un. yaitu hidupnya ahli waris pada saat kematian pewaris. anak perempuan." Hal demikian. lalu mengalami kecelakaan. suami-istri meninggal secara bersamaan dan mempunyai tiga anak laki-laki.. dan sisanya merupakan bagian sepupu tadi sebagai 'ashabah. anak perempuan yang pertama setengah (1/2). Menurut ulama faraid. Maka seluruh harta peninggalan yang ada segera dibagikan kepada ahli waris dari kerabat yang masih hidup. Setelah orang kedua (yang meninggal kemudian) meninggal. tentulah akan muncul persoalan dalam kaitannya dengan kewarisan. Sebagai contoh.

itu. TAMAT 103 . Pembahasan tentang hak waris-mewarisi bagi orang-orang yang mati tenggelam atau tertimbun reruntuhan atau musibah lainnya merupakan bagian terakhir dari buku ini. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan banyak manfaat bagi para penuntut ilmu faraid. dan saya akhiri pembahasan ini dengan pujian kepada Rabb semesta alam. Kemudian. amin. dan sisanya merupakan bagian saudara laki-lakinya yang seayah dengan mereka. harta ketiga anak laki-laki. Allahlah yang memberi taufik dan petunjuk kepada kita. seperenamnya (1/6) diberikan atau merupakan bagian saudara laki-laki mereka yang seibu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful