P. 1
Pembagian Waris Menurut Islam

Pembagian Waris Menurut Islam

|Views: 35|Likes:
Published by Ari Mei Saputra
islam
islam

More info:

Published by: Ari Mei Saputra on Apr 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2013

pdf

text

original

Pembagian Waris Menurut Islam

oleh Muhammad Ali ash-Shabuni

PENGANTAR PENERBIT HUKUM waris Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. telah mengubah hukum waris Arab pra-Islam dan sekaligus merombak struktur hubungan kekerabatannya, bahkan merombak sistem pemilikan masyarakat tersebut atas harta benda, khususnya harta pusaka. Sebelumnya, dalam masyarakat Arab ketika itu, wanita tidak diperkenankan memiliki harta benda --kecuali wanita dari kalangan elite-- bahkan wanita menjadi sesuatu yang diwariskan. Islam merinci dan menjelaskan --melalui Al-Qur'an Al-Karim-- bagian tiap-tiap ahli waris dengan tujuan mewujudkan keadilan didalam masyarakat. Meskipun demikian, sampai kini persoalan pembagian harta waris masih menjadi penyebab timbulnya keretakan hubungan keluarga. Ternyata, disamping karena keserakahan dan ketamakan manusianya, kericuhan itu sering disebabkan oleh kekurangtahuan ahli waris akan hakikat waris dan cara pembagiannya. Kekurangpedulian umat Islam terhadap disiplin ilmu ini memang tidak kita pungkiri, bahkan Imam Qurtubi telah mengisyaratkannya: "Betapa banyak manusia sekarang mengabaikan ilmu faraid." Atas dasar itulah kami terpacu untuk menerbitkan buku Pembagian Waris menurut Islam. Mudah-mudahan apa yang kami persembahkan kepada pembaca menjadi suatu amal kebajikan dan menjadi bukti ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Penerbit

1

SAMPUL BELAKANG Dalam praktik kehidupan sehari-hari, persoalan waris sering kali menjadi krusial yang terkadang memicu pertikaian dan menimbulkan keretakan hubungan keluarga. Penyebab utamanya ternyata keserakahan dan ketamakan manusia, di samping karena kekurang-tahuan pihak-pihak yang terkait mengenai hukum pembagian waris. Padahal, Allah SWT di dalam Al-Qur'an mengatur pembagian waris secara lengkap. Sementara itu, di sisi lain, kita jumpai kenyataan bahwa beberapa kalangan --termasuk para pelajar di sekolah-sekolah Islam---menganggap faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka) sebagai momok yang menakutkan. Berawal dari beberapa keprihatinan itulah buku ini diwujudkan, yang sebelumnya hanya merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris pada Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. Muhammad Ali ash-Shabuni, penulis buku ini, berusaha menghilangkan kesan "seram" tentang disiplin ilmu ini dengan cara menyederhanakan berbagai istilah dan rumusan perhitungan yang selama ini dianggap sebagai kendala. Bukan hanya itu, sistematika penyajiannya pun sangat sederhana dan tidak bertele-tele. Kesederhanaan metode dan gaya bertutur memang menjadi keunggulan buku ini. ISBN 979-561-321-9

2

MUKADIMAH Segala puji bagi Allah, pengatur alam semesta, seluruh isi langit dan bumi. Dialah Yang Maha Kekal, tidak akan rusak dan tidak akan mati, yang telah berfirman dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan." (Maryam: 40) Semoga shalawat dan salam tetap Allah anugerahkan kepada sang pembawa cahaya, perintis kemanusiaan dan penunjuk jalan, junjungan kita Muhammad saw. Dengannyalah Allah SWT menghilangkan kesesatan dan kegelapan, dan dengannyalah Allah mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada alam yang terang benderang. Semoga shalawat dan salam juga Allah berikan kepada seluruh kerabatnya, para sahabatnya, dan siapa pun yang mengikuti jejaknya. Buku ini merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris yang pernah saya berikan kepada para mahasiswa Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. Kemudian saya tergerak untuk mengumpulkan dan menyatukannya hingga menjadi buku dengan harapan dapat dimanfaatkan secara lebih luas. Buku ini saya susun dengan sistematika yang sangat sederhana dan tidak bertele-tele. Saya bermohon kepada Allah semoga buku ini dapat bermanfaat khususnya bagi para mahasiswa, dan umumnya bagi seluruh kaum muslim yang memiliki keinginan untuk mengetahui dengan pasti mengenai faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua doa dan Maha Mampu untuk memenuhinya. Mekah, Jumadil Akbir 1389 H Muhammad Ali ash-Shabuni

3

Kajian terhadap Ayat-ayat Waris II. Ahli Waris dari Golongan Wanita III. Penggugur Hak Waris  Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub  Contoh Pertama  Contoh Kedua H. Penjelasan B. Dalil Hak Waris Para 'Ashabah B. Rukun Waris F. DEFINISI 'ASHABAH A. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam C. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat C.DAFTAR ISI Pembagian Waris Menurut Islam oleh Muhammad Ali Ash-Shabuni PENGANTAR MUKADIMAH I. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam IV. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga E. PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN A. AYAT-AYAT WARIS A. Sebab-sebab Adanya Hak Waris E. Bentuk-bentuk Waris D. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki I. Derajat Ahli Waris C. Definisi Waris  Pengertian Peninggalan  Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan B. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga  Masalah 'Umariyyatan F. Macam-macam 'Ashabah 4 . Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris D. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah B. WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM A. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan D. Syarat Waris G.

Definisi al-Hujub B. Tentang Kasus Kolektif  Perbedaan Pendapat Para Fuqaha  Persyaratan Masalah Kolektif  Beberapa Kaidah Penting VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA A. Latar Belakang Terjadinya 'Aul C. Definisi al-'Aul B. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek D. PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A.'Ashabah bin nafs Hukum 'Ashabah bin nafs Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah ma'al Ghair Dalil 'Ashabah ma'al Ghair C. MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. Macam-macam al-Hujub  Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman  Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman  Saudara Laki-laki yang Berkah  Saudara Laki-laki yang Merugikan C. Masalah al-Akdariyah VII. Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek F. Pengertian Kakek yang Sahih B. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara C. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair  Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? V.Tentang Mazhab Jumhur  Hukum Keadaan Pertama  Makna Pembagian  Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek  Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang  Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek  Hukum Keadaan Kedua E.kan  Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan  Beberapa Contoh Masalah 'Aul 5          .

Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci 6 . Definisi Munasakhat B. Pembagian Harta Peninggalan  Masalah Dinariyah ash-Shughra  Masalah Dinariyah al-Kubra IX. Syarat-syarat ar-Radd F. Definisi Banci B. Macam-macam ar-Radd  Hukum Keadaan Pertama  Hukum Keadaan Kedua  Hukum keadaan Ketiga  Hukum keadaan Keempat VIII. HUKUM MUNASAKHAT A. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd H. PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN A. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham C. At-Takharuj min at-Tarikah  Tata Cara Pelaksanaannya X. Rincian Amaliah al-Munasakhat C. Definisi ar-Radd E. Cara Pembagian Waris Para Kerabat  Menurut Ahlur-Rahmi  Menurut Ahlut-Tanzil  Menurut Ahlul Qarabah  Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah  Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah D. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham XI. Tentang Tashih  Definisi Tashih  Definisi at-Tamaatsul  Definisi at-Tadaakhul  Definisi at-Tawaafuq  Definisi at-Tabaayun B. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. HAK WARIS DZAWIL ARHAM A.D. Definisi Dzawil Arham B. Cara Mentashih Pokok Masalah C. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd G.

Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya  Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci D. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati C. Definisi Hamil E. Definisi  Hukum Orang yang Hilang B. TENGGELAM. DAN TERTIMBUN A. Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun  Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun 7 . Keadaan Janin  Keadaan Pertama  Keadaan Kedua  Keadaan Ketiga  Keadaan Keempat  Keadaan Kelima XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG. Hak Waris Orang Hilang D. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan F.C.

sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak mernberi mudarat (kepada ahli waris). jika ia tidak mempunyai anak." (an-Nisa': 176) A. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. orang yang dianugerahi pengetahuan dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui bagian setiap ahli waris. AYAT-AYAT WARIS ALLAH SWT berfirman "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. jika mereka tidak mempunyai anak. maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak setiap ahli waris. bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. maka ia memperoleh separo harta. supaya kamu tidak sesat. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). Yaitu. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. dan kapan pula ia menerimanya secara 'ashabah. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. di dalamnya berisi aturan dan tata cara yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara lengkap. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. baik laki-laki maupun perempuan. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Penjelasan Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut --yang kesemuanya termaktub dalam surat an-Nisa'-. Dia menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia. juga menjelaskan keadaan setiap ahli waris. Maha Suci Allah. maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meningal dunia. jika yang meninggal itu mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak. Oleh sebab itu. dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. Selain itu. Ini adalah ketetapan dari Allah. meniadakan 8 . Bahkan dengan aturan yang sangat jelas dan sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris dengan adil serta penuh kebijaksanaan.menegaskan dan merinci nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. kapan ia menerima bagiannya secara "tertentu". Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan asas ilmu faraid. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu.I. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). maka ibunya mendapat seperenam. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah. Jika seseorang mati." (an-Nisa': 11) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu. maka ibunya mendapat sepertiga. sekaligus mengenali hikmah Allah Yang Maha Bijaksana itu. jika anak perempuan itu seorang saja. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu." (anNisa': 12) "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Tetapi jika saudarasaudara seibu itu lebih dari seorang.

"Apabila kita telah mengetahui hakikat ilmu ini. kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling mewarisi. Allah me-mansukh-kan (menghapuskan) hukum pewarisan yang disebabkan hijrah dan persaudaraan. yakni dengan mengembalikan hak waris mereka secara penuh. seperti kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. penguat hukum. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. dan kaidahkaidah agama telah begitu mengakar dalam hati setiap muslim. dari Abdullah Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw. bahwa pada masa itu kaum muslim saling mewarisi harta masing-masing disebabkan hijrah dan rasa persaudaraan yang dipertemukan oleh Rasulullah saw. bersabda: "Pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada orang lain. Di antara kita mungkin ada yang bertanya-tanya dalam hati. serta tidak membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati orang-orang yang lemah. Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mesti ia terima). dengan hukum pewarisan yang disebabkan nasab dan kekerabatan. menutup ruang gerak para pelaku kezaliman. Maha Suci Allah Yang Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum dan syariat-Nya. 9 ."1 Perlu kita ketahui bahwa semua kitab tentang waris yang disusun dan ditulis oleh para ulama merupakan penjelasan dan penjabaran dari apa yang terkandung dalam ketiga ayat tersebut. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetaplan. kaum muslim telah benar-benar mantap menjalankan ajaran-ajarannya. sangat disayangkan kebanyakan manusia (terutama pada masa kini) mengabaikan dan melecehkannya. Telah masyhur dalam sejarah permulaan datangnya Islam. namun justru saudara mereka yang senasab tidak mendapatkan warisan. Di antaranya adalah firman Allah berikut: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Sungguh mengagumkan pandangan mereka mengenai ilmu waris ini. Pada permulaan datangnya Islam.. " (an-Nisa': 7) ".Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin.. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Oleh karenanya faraid memiliki martabat yang sangat agung. dan ilmu ini pun bakal sirna hingga akan muncul fitnah." (al-Anfal: 75) ". Allah SWT menyantuni keduanya dengan rahmat dan kearifan-Nya serta dengan penuh keadilan. " (HR Daruquthni) Lebih jauh Imam Qurthubi mengatakan. Mereka lebih berhak daripada orang mukmin umumnya dan kaum Muhajirin. serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. Pada ayat kedua dan ketiga (al-Anfal: 75 dan al-Ahzab: 6) ditegaskan bahwa kerabat pewaris (sang mayit) lebih berhak untuk mendapatkan bagian dibandingkan lainnya yang bukan kerabat atau tidak mempunyai tali kekerabatan dengannya." (alAhzab: 6) Itulah ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah hak waris. Adapun dalam ayat pertama (an-Nisa': 7) Allah SWT dengan tegas menghilangkan bentuk kezaliman yang biasa menimpa dua jenis manusia lemah. Maka setelah peristiwa penaklukan kota Mekah. adakah ayat lain yang berkenaan dengan waris selain dari ketiga ayat tersebut? Di dalam Al-Qur'an memang ada beberapa ayat yang menyebutkan masalah hak waris bagi para kerabat (nasab). selain dari ketiga ayat yang saya sebutkan pada awal pembahasan.... namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut. Keadaan demikian berjalan terus hingga Islam menjadi agama yang kuat. Meskipun demikian. Hal ini tercermin dalam hadits berikut. maka betapa tinggi dan agung penguasaan para sahabat tentang masalah faraid ini. akan tetapi tentang besar-kecilnya hak waris yang mesti diterima mereka tidak dijelaskan secara rinci. Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa ketiga ayat tersebut merupakan salah satu rukun agama. hingga kedudukannya menjadi separo ilmu.kezaliman di kalangan mereka.Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah). dan induk ayat-ayat Ilahi. Yakni penjabaran kandungan ayat yang bagi kita sudah sangat jelas: membagi dan adil. kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). yakni wanita dan anak-anak. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal.

karena di samping memang lemah. Kaum laki-laki diwajibkan untuk membayar mahar kepada istrinya. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf . Meskipun demikian. laki-laki ataupun wanita.. tampak secara jelas bahwa kaum wanita justru lebih banyak mengenyam kenikmatan dan lebih enak dibandingkan kaum laki-laki. memberinya makan. ingin sekali saya sebutkan hikmah-hikmah tersebut sebanyak mungkin. dan papan. Kaum wanita selalu harus terpenuhi kebutuhan dan keperluannya. Dengan demikian. 2. seluruhnya dibebankan hanya pada pundak kaum laki-laki. di antaranya sebagai berikut: 1. pengobatan jika anak sakit (termasuk istri) dan lainnya. Artinya. sedangkan rinciannya terdapat dalam ayat-ayat yang saya nukilkan terdahulu (an-Nisa': 11-12 dan 176). kebutuhan kaum laki-laki untuk mendapatkan dan memiliki harta jauh lebih besar dan banyak dibandingkan kaum wanita. mereka juga sangat membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu saya utarakan beberapa hikmah adanya syariat yang telah Allah tetapkan bagi kaum muslim. Sebaliknya. ayat tersebut tidaklah secara rinci dan detail menjelaskan jumlah besar-kecilnya hak waris para kerabat. Kaum wanita tidak diwajibkan memberi nafkah kepada siapa pun di dunia ini. 3. Ketentuan ini tetap berlaku sekalipun wanita tersebut kaya raya dan hidup dalam kemewahan. suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya. maupun pewaris itu rela atau tidak rela. Secara logika.. pangan. namun mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga. kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki. Dan ketika telah dikaruniai anak. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: ". Kendatipun hukum Islam telah menetapkan bahwa bagian kaum laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada bagian kaum wanita. 5. khususnya dalam hal sandang. Dengan demikian. Itulah beberapa hikmah dari sekian banyak hikmah yang terkandung dalam perbedaan pembagian antara kaum lakilaki --dua kali lebih besar-." (al-Baqarah: 233) 10 . selama masih ada suaminya. Sebab.. yang pasti hak waris telah Allah tetapkan bagi kerabat pewaris karena hubungan nasab. anaknya. pangan.. kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris. dan papan. Syariat Islam tidak mewajibkan kaum wanita untuk membelanjakan harta miliknya meski sedikit. atau siapa saja yang mampu di antara kaum lakilaki kerabatnya.maka dialah yang lebih berhak untuk mendapatkan bagian yang lebih besar pula. Sebab. Masih tentang kajian ayat-ayat tersebut. Juga tanpa membedakan bagian mereka yang banyak maupun sedikit.Dalam ayat tersebut Allah dengan keadilan-Nya memberikan hak waris secara imbang. ia berkewajiban untuk memberinya sandang. dan dalam hal nafkahnya kaum wanita wajib diberi oleh ayahnya.dan kaum wanita. padahal kaum wanita jauh lebih banyak membutuhkannya. mengapa bagian kaum laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita. kaum lelakilah yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga dan kerabatnya. minum. Kalau saja tidak karena rasa takut membosankan. berupa memberikan hak waris kepada kaum wanita melebihi apa yang digambarkan. Jika kita pakai istilah dalam ushul fiqh ayat ini disebut mujmal (global). menyediakan tempat tinggal baginya. dan sandang. tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah. serta siapa saja yang diwajibkan atasnya untuk memberi nafkah dari kerabatnya. 4. Nafkah (pengeluaran) kaum laki-laki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita. Islam telah menyelimuti kaum wanita dengan rahmat dan keutamaannya. Sementara di sisi lain Allah membatalkan hak saling mewarisi di antara kaum muslim yang disebabkan persaudaraan dan hijrah. mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya dalam hati. Kebutuhan pendidikan anak. saudara laki-lakinya. tanpa membedakan antara yang kecil dan yang besar. Sementara kaum wanita tidaklah demikian. siapa pun yang memiliki tanggung jawab besar --hingga harus mengeluarkan pembiayaan lebih banyak-. baik untuk keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya).

Untuk lebih menjelaskan permasalahan tersebut perlu saya ketengahkan satu contoh kasus supaya hikmah Allah dalam menetapkan hukum-hukum-Nya akan terasa lebih jelas dan nyata. Contoh yang dimaksud di sini ialah tentang pembagian hak kaum laki-laki yang banyaknya dua kali lipat dari bagian kaum wanita. Seseorang meninggal dan mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Ternyata orang tersebut meninggalkan harta, misalnya sebanyak Rp 3 juta. Maka, menurut ketetapan syariat Islam, laki-laki mendapatkan Rp 2 juta sedangkan anak perempuan mendapatkan Rp 1 juta. Apabila anak laki-laki tersebut telah dewasa dan layak untuk menikah, maka ia berkewajiban untuk membayar mahar dan semua keperluan pesta pernikahannya. Misalnya, ia mengeluarkan semua pembiayaan keperluan pesta pernikahan itu sebesar Rp 20 juta. Dengan demikian, uang yang ia terima dari warisan orang tuanya tidak tersisa. Padahal, setelah menikah ia mempunyai beban tanggung jawab memberi nafkah istrinya. Adapun anak perempuan, apabila ia telah dewasa dan layak untuk berumah tangga, dialah yang mendapatkan mahar dari calon suaminya. Kita misalkan saja mahar itu sebesar Rp 1 juta. Maka anak perempuan itu telah memiliki uang sebanyak Rp 2 juta (satu juta dari harta warisan dan satu juta lagi dari mahar pemberian calon suaminya). Sementara itu, sebagai istri ia tidak dibebani tanggung jawab untuk membiayai kebutuhan nafkah rumah tangganya, sekalipun ia memiliki harta yang banyak dan hidup dalam kemewahan. Sebab dalam Islam kaum laki-lakilah yang berkewajiban memberi nafkah istrinya, baik berupa sandang, pangan, dan papan. Jadi, harta warisan anak perempuan semakin bertambah, sedangkan harta warisan anak laki-laki habis. Dalam keadaan seperti ini manakah di antara kaum laki-laki dan kaum wanita yang lebih banyak menikmati harta dan lebih berbahagia keadaannya? Laki-laki ataukah wanita? Inilah logika keadilan dalam agama, sehingga pembagian hak laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada hak kaum wanita. 1 Tafsir al-Qurthubi, juz V, hlm. 56. B. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam Sebelum Islam datang, kaum wanita sama sekali tidak mempunyai hak untuk menerima warisan dari peninggalan pewaris (orang tua ataupun kerabatnya). Dengan dalih bahwa kaum wanita tidak dapat ikut berperang membela kaum dan sukunya. Bangsa Arab jahiliah dengan tegas menyatakan, "Bagaimana mungkin kami memberikan warisan (harta peninggalan) kepada orang yang tidak bisa dan tidak pernah menunggang kuda, tidak mampu memanggul senjata, serta tidak pula berperang melawan musuh." Mereka mengharamkan kaum wanita menerima harta warisan, sebagaimana mereka mengharamkannya kepada anak-anak kecil. Sangat jelas bagi kita bahwa sebelum Islam datang bangsa Arab memperlakukan kaum wanita secara zalim. Mereka tidak memberikan hak waris kepada kaum wanita dan anak-anak, baik dari harta peninggalan ayah, suami, maupun kerabat mereka. Barulah setelah Islam datang ada ketetapan syariat yang memberi mereka hak untuk mewarisi harta peninggalan kerabat, ayah, atau suami mereka dengan penuh kemuliaan, tanpa direndahkan. Islam memberi mereka hak waris, tanpa boleh siapa pun mengusik dan menentangnya. Inilah ketetapan yang telah Allah pastikan dalam syariat-Nya sebagai keharusan yang tidak dapat diubah. Ketika turun wahyu kepada Rasulullah saw. --berupa ayat-ayat tentang waris-- kalangan bangsa Arab pada saat itu merasa tidak puas dan keberatan. Mereka sangat berharap kalau saja hukum yang tercantum dalam ayat tersebut dapat dihapus (mansukh). Sebab menurut anggapan mereka, memberi warisan kepada kaum wanita dan anak-anak sangat bertentangan dengan kebiasaan dan adat yang telah lama mereka amalkan sebagai ajaran dari nenek moyang. Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan sebuah kisah yang bersumber dari Abdullah Ibnu Abbas r.a.. Ia berkata: "Ketika ayat-ayat yang menetapkan tentang warisan diturunkan Allah kepada RasulNya --yang mewajibkan agar memberikan hak waris kepada laki-laki, wanita, anak-anak, kedua orang tua, suami, dan istri-- sebagian bangsa Arab merasa kurang senang terhadap ketetapan tersebut. Dengan nada keheranan sambil mencibirkan mereka mengatakan: 'Haruskah memberi seperempat bagian kepada kaum wanita (istri) atau seperdelapan.' Memberikan anak perempuan setengah bagian harta peninggalan? Juga haruskah memberikan warisan kepada anak-anak ingusan? Padahal mereka tidak ada yang dapat memanggul senjata untuk berperang melawan musuh, dan tidak pula dapat andil membela kaum kerabatnya. Sebaiknya kita tidak perlu membicarakan hukum tersebut. Semoga saja Rasulullah melalaikan dan mengabaikannya, atau kita meminta kepada beliau agar berkenan untuk mengubahnya.' Sebagian
11

dari mereka berkata kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah, haruskah kami memberikan warisan kepada anak kecil yang masih ingusan? Padahal kami tidak dapat memanfaatkan mereka sama sekali. Dan haruskah kami memberikan hak waris kepada anak-anak perempuan kami, padahal mereka tidak dapat menunggang kuda dan memanggul senjata untuk ikut berperang melawan musuh?'" Inilah salah satu bentuk nyata ajaran syariat Islam dalam menyantuni kaum wanita; Islam telah mampu melepaskan kaum wanita dari kungkungan kezaliman zaman. Islam memberikan hak waris kepada kaum wanita yang sebelumnya tidak memiliki hak seperti itu, bahkan telah menetapkan mereka sebagai ashhabul furudh (kewajiban yang telah Allah tetapkan bagian warisannya). Kendatipun demikian, dewasa ini masih saja kita jumpai pemikiran yang kotor yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang berhati buruk. Mereka beranggapan bahwa Islam telah menzalimi kaum wanita dalam hal hak waris, karena hanya memberikan separo dari hak kaum laki-laki. Anggapan mereka semata-mata dimaksudkan untuk memperdaya kaum wanita tentang hak yang mereka terima. Mereka berpura-pura akan menghilangkan kezaliman yang menimpa kaum wanita dengan cara menyamakan hak kaum wanita dengan hak kaum laki-laki dalam hal penerimaan warisan. Mereka yang memiliki anggapan demikian sama halnya menghasut kaum wanita agar mereka menjadi pembangkang dan pemberontak dengan menolak ajaran dan aturan hukum dalam syariat Islam. Sehingga pada akhirnya kaum wanita akan menuntut persamaan hak penerimaan warisan yang sama dan seimbang dengan kaum laki-laki. Yang sangat mengherankan dan sulit dicerna akal sehat ialah bahwa mereka yang berpura-pura prihatin tentang hak waris kaum wanita, justru mereka sendiri sangat bakhil terhadap kaum wanita dalam hal memberi nafkah. Subhanallah! Sebagai bukti, mereka bahkan menyuruh kaum wanita untuk bekerja demi menghidupi diri mereka, di antara mereka bekerja di ladang, di kantor, di tempat hiburan, bar, kelab malam, dan sebagainya. Corak pemikiran seperti ini dapat dipastikan merupakan hembusan dari Barat yang banyak diikuti oleh orang-orang yang teperdaya oleh kedustaan mereka. Kultur seperti itu tidak menghormati kaum wanita, bahkan tidak menempatkan mereka pada timbangan yang adil. Budaya mereka memandang kaum wanita tidak lebih sebagai pemuas syahwat. Mereka sangat bakhil dalam memberikan nafkah kepada kaum wanita, dan mengharamkan wanita untuk mengatur harta miliknya sendiri, kecuali dengan seizin kaum laki-laki (suaminya). Lebih dari itu, budaya mereka mengharuskan kaum wanita bekerja guna membiayai hidupnya. Kendatipun telah nyata demikian, mereka masih menuduh bahwa Islam telah menzalimi dan membekukan hak wanita. C. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris Banyak riwayat yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat-ayat waris, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Suatu ketika istri Sa'ad bin ar-Rabi' datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa kedua orang putrinya. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, kedua putri ini adalah anak Sa'ad bin ar-Rabi' yang telah meninggal sebagai syuhada ketika Perang Uhud. Tetapi paman kedua putri Sa'ad ini telah mengambil seluruh harta peninggalan Sa'ad, tanpa meninggalkan barang sedikit pun bagi keduanya." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Semoga Allah segera memutuskan perkara ini." Maka turunlah ayat tentang waris yaitu (an-Nisa': 11). Rasulullah saw. kemudian mengutus seseorang kepada paman kedua putri Sa'ad dan memerintahkan kepadanya agar memberikan dua per tiga harta peninggalan Sa'ad kepada kedua putri itu. Sedangkan ibu mereka (istri Sa'ad) mendapat bagian seperdelapan, dan sisanya menjadi bagian saudara kandung Sa'ad. Dalam riwayat lain, yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabari, dikisahkan bahwa Abdurrahman bin Tsabit wafat dan meninggalkan seorang istri dan lima saudara perempuan. Namun, seluruh harta peninggalan Abdurrahman bin Tsabit dikuasai dan direbut oleh kaum laki-laki dari kerabatnya. Ummu Kahhah (istri Abdurrahman) lalu mengadukan masalah ini kepada Nabi saw., maka turunlah ayat waris sebagai jawaban persoalan itu. Masih ada sederetan riwayat sahih yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat waris ini. Semua riwayat tersebut tidak ada yang menyimpang dari inti permasalahan, artinya bahwa turunnya ayat waris sebagai penjelasan dan ketetapan Allah disebabkan pada waktu itu kaum wanita tidak mendapat bagian harta warisan. D. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris Pertama:
12

Firman Allah yang artinya "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan," menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut:

1. Apabila pewaris (orang yang meninggal) hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak
perempuan, maka harta peninggalannya dibagi untuk keduanya. Anak laki-laki mendapat dua bagian, sedangkan anak perempuan satu bagian.

2. Apabila ahli waris berjumlah banyak, terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan, maka bagian untuk lakilaki dua kali lipat bagian anak perempuan.

3. Apabila bersama anak (sebagai ahli waris) ada juga ashhabul furudh, seperti suami atau istri, ayah atau ibu,
maka yang harus diberi terlebih dahulu adalah ashhabul furudh. Setelah itu barulah sisa harta peninggalan yang ada dibagikan kepada anak. Bagi anak laki-laki dua bagian, sedangkan bagi anak perempuan satu bagian.

4. Apabila pewaris hanya meninggalkan satu anak laki-laki, maka anak tersebut mewarisi seluruh harta
peninggalan. Meskipun ayat yang ada tidak secara sharih (tegas) menyatakan demikian, namun pemahaman seperti ini dapat diketahui dari kedua ayat yang ada. Bunyi penggalan ayat yang dikutip sebelumnya (Butir 1) rnenunjukkan bahwa bagian laki-laki adalah dua kali lipat bagian anak perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat (artinya) "jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta". Dari kedua penggalan ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa bila ahli waris hanya terdiri dari seorang anak lakilaki, maka ia mendapatkan seluruh harta peninggalan pewaris.

5. Adapun bagian keturunan dari anak laki-laki (cucu pewaris), jumlah bagian mereka sama seperti anak,
apabila sang anak tidak ada (misalnya meninggal terlebih dahulu). Sebab penggalan ayat (artinya) "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu", mencakup keturunan anak kandung. Inilah ketetapan yang telah menjadi ijma'. Kedua: Hukum bagian kedua orang tua. Firman Allah (artinya): "Dan untuk dua orang ibu-hapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam." Penggalan ayat ini menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut:

1. Ayah dan ibu masing-masing mendapatkan seperenam bagian apabila yang meninggal mempunyai
keturunan.

2. Apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, maka ibunya mendapat bagian sepertiga dari harta yang
ditinggalkan. Sedangkan sisanya, yakni dua per tiga menjadi bagian ayah. Hal ini dapat dipahami dari redaksi ayat yang hanya menyebutkan bagian ibu, yaitu sepertiga, sedangkan bagian ayah tidak disebutkan. Jadi, pengertiannya, sisanya merupakan bagian ayah.

3. Jika selain kedua orang tua, pewaris mempunyai saudara (dua orang atau lebih), maka ibunya mendapat
seperenam bagian. Sedangkan ayah mendapatkan lima per enamnya. Adapun saudara-saudara itu tidaklah mendapat bagian harta waris dikarenakan adanya bapak, yang dalam aturan hukum waris dalam Islam dinyatakan sebagai hajib (penghalang). Jika misalnya muncul pertanyaan apa hikmah dari penghalangan saudara pewaris terhadap ibu mereka --artinya bila tanpa adanya saudara (dua orang atau lebih) ibu mendapat sepertiga bagian, sedangkan jika ada saudara kandung pewaris ibu hanya mendapatkan seperenam bagian? Jawabannya, hikmah adanya hajib tersebut dikarenakan ayahlah yang menjadi wali dalam pernikahan mereka, dan wajib memberi nafkah mereka. Sedangkan ibu tidaklah demikian. Jadi, kebutuhannya terhadap harta lebih besar dan lebih banyak dibandingkan ibu, yang memang tidak memiliki kewajiban untuk membiayai kehidupan mereka. Ketiga:
13

maka suami mendapat bagian seperempat dari harta yang ditinggalkan. maka suami mendapat bagian separo dari harta yang ditinggalkan istrinya. karena bagaimanapun bentuk usaha manusia untuk mewujudkan keadilan tidaklah akan mampu melaksanakannya secara sempurna. Selain itu.. kemudian barulah melaksanakan wasiat bila memang ia berwasiat sebelum meninggal. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. 2. Sedangkan wasiat hanyalah suatu amalan sunnah yang dianjurkan. Bahkan tidak akan dapat merealisasikan pembagian yang adil seperti yang telah ditetapkan dalam ayat-ayat Allah. yang mempiutangi akan menuntut para ahli warisnya. Apabila seorang istri meninggal dan ia mempunyai keturunan (anak). Keenam: 14 . Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: "Sesungguhnya kalian telah membaca firman Allah [tulisan Arab] dan Rasulullah telah menetapkan dengan menunaikan utang-utang orang yang meninggal. dan lebih relevan bagi umat manusia dan kemanusiaan selain Allah? Kelima: Firman Allah (artinya) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu. Apabila seorang istri meninggal dan tidak mempunyai keturunan (anak). maka istri mendapat bagian seperdelapan." Hikmah mendahulukan pembayaran utang dibandingkan melaksanakan wasiat adalah karena utang merupakan keharusan yang tetap ada pada pundak orang yang utang. siapakah yang dapat membuat aturan dan undang-undang yang lebih baik. utang tersebut akan tetap dituntut oleh orang yang mempiutanginya. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. Manusia tidak akan tahu manakah di antara orang tua dan anak yang lebih dekat atau lebih besar kemanfaatannya terhadap seseorang. Pembagian yang ditentukan-Nya pasti adil." Penggalan ayat ini dengan tegas memberi isyarat bahwa Allah yang berkompeten dan paling berhak untuk mengatur pembagian harta warisan. sehingga bila yang berutang meninggal. Jadi. Bagi suami atau istri masing-masing mempunyai dua cara pembagian. Apabila seorang suami meninggal dan dia tidak mempunyai anak (keturunan). maka bagian istri adalah seperempat. Maha Suci Dzat-Nya. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Inilah yang diamalkan Rasulullah saw. Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Keempat: Firman Allah (artinya) "orang tuamu dan anak-anakmu. lebih adil. agar manusia tidak melecehkan wasiat dan jiwa manusia tidak menjadi kikir (khususnya para ahli waris). lalu barulah melaksanakan wasiatnya. siapa pun orangnya. Namun. Jika kamu mempunyai anak. Hal ini tidak diserahkan kepada manusia. Di sisi lain." Secara zhahir wasiat harus didahulukan ketimbang membayar utang orang yang meninggal. jika mereka tidak mempunyai anak. utanglah yang mesti terlebih dahulu ditunaikan. kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Bila demikian. Bagian istri: 1. baik ketika ia masih hidup ataupun sesudah mati." Penggalan ayat tersebut menjelaskan tentang hukum waris bagi suami dan istri. maka Allah SWT mendahulukan penyebutannya. Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Apabila seorang suami meninggal dan dia mempunyai anak (keturunan). 2. secara hakiki. cara ataupun aturan pembagiannya. Bagian suami: 1. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. tetapi Allah.Utang orang yang meninggal lebih didahulukan daripada wasiat. utang-utang pewaris terlebih dahulu ditunaikan. kalaupun tidak ditunaikan tidak akan ada orang yang menuntutnya.

Makna Kalaalah Pengertian kalaalah ialah seseorang meninggal tanpa memiliki ayah ataupun keturunan. seseorang yang berwasiat untuk menyedekahkan hartanya lebih dari sepertiga. ia berkata: "Saya mempunyai pendapat mengenai kalaalah. misalnya. karena saudara kandung atau saudara seayah kedudukannya lebih dekat --dalam urutan nasab-dibandingkan saudara seibu. Dampak negatif mengenai wasiat yang dimaksudkan di sini. Apabila pendapat saya ini benar maka hanyalah dari Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. saudara laki-laki mendapat bagian yang sama dengan bagian saudara perempuan. bagi satu saudara mendapat seperenam bagian. 15 . ayat akhir surat an-Nisa' menjelaskan bahwa saudara perempuan. mendapat separo harta peninggalan. Rincian Beberapa Keadaan Bagian Saudara Seibu A. yang artinya 'apabila orang itu lemah dan hilang kekuatannya'. Adapun yang dijadikan dalil oleh ulama ialah bahwa Allah SWT telah menjelaskan --dalam firman-Nya-. sedangkan bila jumlah saudaranya banyak maka mendapatkan sepertiga dari harta peninggalan dan dibagi secara rata. Adapun bila pendapat ini salah. mereka mendapatkan dua per tiga bagian dan dibagi secara rata. Sementara itu. jika sendirian. Dengan demikian. Apabila seseorang meninggal dan mempunyai satu orang saudara laki-laki seibu atau satu orang saudara perempuan seibu. Pengertian inilah yang disepakati oleh ulama. Sedangkan utang yang dimaksud berdampak negatif. B. pengertian istilah ikhwah dalam ayat ini harus dibedakan dengan pengertian ikhwah yang terdapat dalam ayat akhir surat an-Nisa' untuk meniadakan pertentangan antara dua ayat. Jadi. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. baik wasiat atau utang yang dapat menimbulkan mudarat (berdampak negatif) pada ahli waris tidak wajib dilaksanakan. maka bagian yang diperolehnya adalah seperenam. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. Jika yang meninggal mempunyai saudara seibu dua orang atau lebih. baik laki-laki maupun perempuan. Kata ini misalnya digunakan dalam kalimat kalla ar-rajulu. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). Sebab yang zhahir dari firman-Nya [tulisan Arab] menunjukkan adanya keharusan untuk dibagi dengan rata sama besar-kecilnya. Kata kalaalah diambil dari kata al-kalla yang bermakna 'lemah'.Hukum yang berkenaan dengan hak waris saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. Kalaalah adalah orang yang meninggal yang tidak mempunyai ayah dan anak. Dalam ayat yang disebut terakhir ini. " Ketujuh: Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sudah dibayar utangnya dengan tidak membebani mudarat (kepada ahli waris)". dan yang kedua pada akhir surat anNisa'. dapat dipastikan bahwa pengertian kata ikhwah dalam ayat tersebut (an-Nisa': 12) adalah 'saudara seibu'. maka karena dariku dan dari setan. Ulama sepakat (ijma') bahwa kalaalah ialah seseorang yang mati namun tidak mempunyai ayah dan tidak memiliki keturunan.tentang hak waris saudara dari pewaris sebanyak dua kali. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq r. Jadi. Ayat tersebut menunjukkan dengan tegas bahwa apabila wasiat dan utang nyata-nyata mengandung kemudaratan.a. Jadi. atau dengan kata lain dia tidak mempunyai pokok dan cabang. tidak mencakup saudara kandung dan tidak pula saudara laki-laki atau saudara perempuan "seayah lain ibu". Sementara itu. Firman-Nya (artinya): "Jika seseorang mati. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). maka Allah menetapkan bagian keduanya lebih besar dibandingkan saudara seibu. Oleh karenanya. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. sedangkan bila dua atau lebih ia mendapat bagian dua per tiga. " Yang dimaksud ikhwah (saudara) dalam penggalan ayat ini (an-Nisa': 12) adalah saudara laki-laki atau saudara perempuan "seibu lain ayah".. dan Allah terbebas dari kekeliruan tersebut. misalnya seseorang yang mengakui mempunyai utang padahal sebenamya ia tidak berutang. maka wajib untuk tidak dilaksanakan. sedangkan untuk kata yang sama di dalam akhir surat an-Nisa' memiliki pengertian 'saudara kandung' atau 'saudara seayah'. Yang pertama dalam ayat ini. Menurut saya.

maka bagian ahli waris adalah dua per tiga dibagi secara rata.maka dibagi secara rata sesuai jumlah kepala. jika ternyata tidak ada saudara laki-laki yang sekandung atau saudara perempuan yang sekandung. bila ternyata pewaris (yang meninggal) tidak mempunyai ayah atau anak. D. Apabila pewaris mempunyai dua orang saudara kandung perempuan atau seayah ke atas. Apabila seseorang meninggal dan hanya mempunyai satu orang saudara kandung perempuan ataupun seayah. Apabila pewaris mempunyai banyak saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan atau seayah. B. dan ia tidak mempunyai ayah atau anak. dan tidak mempunyai ayah atau anak. maka bagi ahli waris yang laki-laki mendapatkan dua kali bagian saudara perempuan. A. Apabila saudara kandungnya banyak --lebih dari satu-. Apabila seorang saudara kandung perempuan meninggal. maka seluruh harta peninggalannya menjadi bagian saudara kandung laki-lakinya.Hukum Keadaan Saudara Kandung atau Seayah Firman Allah SWT dalam surat an-Nisa': 176 mengisyaratkan adanya beberapa keadaan tentang bagian saudara kandung atau saudara seayah. Begitulah hukum bagi saudara seayah. C. 16 . maka ahli waris mendapat separo harta peninggalan.

WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM SYARIAT Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan adil. dan ijma' para ulama sangat sedikit. kecuali hukum waris ini. Dan Kami adalah pewarisnya. A. Dapat dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu hukum secara detail dan rinci. dengan catatan tidak boleh berlebihan. Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta. kakek. besar atau kecil. demikian pula sabda Rasulullah saw. atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya. tanah. atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i. dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsan-miiraatsan. atau dari suatu kaum kepada kaum lain. baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang)." (an-Naml: 16) ". baik berupa harta (uang) atau lainnya. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris.. suami... apakah dia sebagai anak. baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus gadai). Definisi Waris Al-miirats. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang 17 . tetapi mencakup harta benda dan non harta benda. Di samping bahwa harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok masyarakat.: 'Ulama adalah ahli waris para nabi'. pada prinsipnya segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan. Jadi.II. cucu. Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang. dari seluruh kerabat dan nasabnya. tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. ibu. paman. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia. Pengertian Peninggalan Pengertian peninggalan yang dikenal di kalangan fuqaha ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris. baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal. atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya)." (al-Qashash: 58) Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw. Ayat-ayat Al-Qur'an banyak menegaskan hal ini. Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan pembagian waris. Di antaranya Allah berfirman: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud . Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup. Syariat Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya. Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun. Hal demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah SWT. sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits Rasulullah saw. Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan Dari sederetan hak yang harus ditunaikan yang ada kaitannya dengan harta peninggalan adalah: 1. ayah. Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain'. istri. Oleh karena itu...

Di antaranya." Maksud hadits ini adalah utang piutang yang bersangkutan dengan sesama manusia. bila sang mayit berwasiat.: "Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah saw. dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang yang sudah meninggal. Menurut jumhur ulama. Artinya. Hal ini tentu saja merupakan keputusan Allah SWT. Namun. --pada waktu itu Sa'ad sakit dan berniat menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal. Adapun jika utang tersebut berkaitan dengan Allah SWT. Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga meminta-minta kepada orang. pembelian kain kafan. Rasulullah saw. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa hak yang berhubungan dengan Allah wajib ditunaikan oleh ahli warisnya sama seperti mereka diwajibkan menunaikan utang piutang pewaris yang berkaitan dengan hak sesama hamba. pengamalan suatu ibadah harus disertai dengan niat dan keikhlasan. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya. meskipun kewajiban tersebut dinyatakan telah gugur bagi orang yang sudah meninggal. Sedangkan jumhur ulama yang menyatakan bahwa ahli waris wajib untuk menunaikan utang pewaris terhadap Allah beralasan bahwa hal tersebut sama saja seperti utang kepada sesama manusia.. Bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkannya. menurut mereka.. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. maka wasiatnya tidak wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli warisnya. Pendapat mazhab ini. Keduanya wajib ditunaikan secara bersamaan sebelum seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada setiap ahli waris. Karena itu wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli warisnya untuk menunaikannya sebelum harta warisan (harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya. Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya. ketika menjawab pertanyaan Sa'ad bin Abi Waqash r. maka wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. dan sepertiga itu banyak. serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. 3. Hanya saja mazhab ini lebih mengutamakan agar mendahulukan utang yang berkaitan dengan sesama hamba daripada utang kepada Allah. ia tetap akan dikenakan sanksi kelak pada hari kiamat sebab ia tidak menunaikan kewajiban ketika masih hidup. 2. Sepertiga. sejak wafatnya hingga pemakamannya. bersabda: ". seperti belum membayar zakat. Akan tetapi. Padahal. Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. Sementara itu.a. termasuk diambil untuk membayar utangnya. Bahkan menurut pandangan ulama mazhab Syafi'i hal tersebut wajib ditunaikan sebelum memenuhi hak yang berkaitan dengan hak sesama hamba. baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya. tentunya bila sebelumnya mayit tidak berwasiat kepada ahli waris untuk membayarnya.dibutuhkan mayit. atau belum memenuhi kafarat (denda). Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu." 18 . seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu. hal ini merupakan amalan yang tidak memerlukan niat karena bukan termasuk ibadah mahdhah. tetapi termasuk hak yang menyangkut harta peninggalan pewaris. sedangkan kewajiban ibadah gugur jika seseorang telah meninggal dunia. atau belum menunaikan nadzar. Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan mayit. Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris. biaya memandikan. biaya pemakaman. menurut saya. baik pewaris mewasiatkan ataupun tidak. maka di kalangan ulama ada sedikit perbedaan pandangan. Kalangan ulama mazhab Hanafi beralasan bahwa menunaikan hal-hal tersebut merupakan ibadah. ulama mazhab Hambali menyamakan antara utang kepada sesama hamba dengan utang kepada Allah.

6. 19 . didahulukannya penyebutan wasiat tentu mengandung hikmah. Catatan: Pada ayat waris. As-Sunnah. istri. Derajat Ahli Waris Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan derajat dan urutan. tidak pula 'ashabah. bibi (saudara ibu). 2. Misalnya. Oleh karena itu. Tambahan hak waris bagi suami atau istri. cucu dari anak laki-laki pewaris. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan derajatnya: 1. Maka. wasiat memang lebih dahulu disebutkan daripada soal utang piutang. Misalnya. Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris yang masih memiliki kaitan rahim --tidak termasuk ashhabul furudh juga 'ashabah. paman (saudara ibu). 3. dan seterusnya. dan lainnya). 5. Itulah sebabnya wasiat lebih didahulukan penyebutannya dalam susunan ayat tersebut. misalnya ibu. As-Sunnah. Padahal secara syar'i. Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan kepada ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya. Setelah ashhabul furudh. Ashhabul furudh. diantaranya agar ahli waris menjaga dan benarbenar melaksanakannya. Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri). bila pewaris tidak mempunyai kerabat sebagai ashhabul furudh. Mewariskan kepada kerabat. dan sebagai 'ashabah. dan cucu perempuan dari anak perempuan. Ashabah karena sebab. bibi (saudara ayah). Dengan demikian. Sebab wasiat tidak ada yang menuntut hingga kadang-kadang seseorang enggan menunaikannya. maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri. B. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yang menerima sisa harta warisan yang telah dibagikan. 4. Yang dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun perempuan). saudara kandung pewaris. Misalnya. Ashabat nasabiyah. Bahkan. Tetapi pada masa kini sudah tidak ada lagi. maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya.setelah ashhabul furudh menerima bagian). Misalnya anak laki-laki pewaris. paman kandung. ayah. Adapun suami atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada. jika ternyata tidak ada ahli waris lainnya. suami. sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan dibandingkan lainnya. Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa. juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim. cucu laki-laki dari anak perempuan. Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah. seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya. sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya. Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan. dan kesepakatan para ulama (ijma'). Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur'an. dan ijma'. Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang meninggal. seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan. maka istri mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya. ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan. maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh masing-masing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. barulah ashabat nasabiyah menerima bagian. istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. Hal ini tentu saja berbeda dengan utang piutang. baru kemudian melaksanakan wasiat. persoalan utang piutang hendaklah terlebih dahulu diselesaikan. Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur'an. kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang berhak menerima sisa harta waris --jika ada-. para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan.4.

seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab). yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara seorang laki-laki dan perempuan. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi. Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian. anak. 3. Sebab-sebab Adanya Hak Waris Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris: 1. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya. 8. dan sebagainya. yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris. 20 . Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat --seperti yang saya jelaskan-. Misalnya. E. Rukun Waris Rukun waris ada tiga: 1. paman. dan seterusnya. Hak waris secara tambahan. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya. seperti kedua orang tua. Bentuk-bentuk Waris A. dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya. C. 2. Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan. tanah. Hakwaris secara fardh (yang telah ditentukan bagiannya). Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari pihak ayah). baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan. Adapun pernikahan yang batil atau rusak. yakni orang yang meninggal dunia. bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki.maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untuk kemaslahatan umum. Yang dimaksud di sini ialah orang lain. Baitulmal (kas negara). Pewaris. atau lainnya. Harta warisan. Ahli waris. Disebut juga wala al-'itqi dan wala an-ni'mah. yaitu kekerabatan karena sebab hukum. C. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. Pernikahan. Pada bagian berikutnya butir-butir tersebut akan saya jelas secara detail. 2.7. baik berupa uang. D. yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan. B. saudara. 3. D. Al-Wala. artinya bukan salah seorang dan ahli waris. Hak waris secara pertalian rahim.

atau saudara seibu. Misalnya.maka di antara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang mereka miliki ketika masih hidup. sehingga hakim memvonisnya sebagai orang yang telah meninggal. Hak kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. karena bagaimanapun keadaannya. manusia yang masih hidup tetap dianggap mampu untuk mengendalikan seluruh harta miliknya. saudara seayah. 3. ada yang terhalang hingga tidak mendapatkan warisan (mahjub). pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup. Sebab. Mereka masing-masing mempunyai hukum bagian. dalam hal ini ada tiga: 1. Sebagai contoh. G. Syarat Kedua: Masih hidupnya para ahli waris Maksudnya. mereka adalah golongan orang yang tidak dapat saling mewarisi. 2. atau tenggelam.-ialah bahwa seseorang telah meninggal dan diketahui oleh seluruh ahli warisnya atau sebagian dari mereka. misalnya suami. orang yang hilang yang keadaannya tidak diketahui lagi secara pasti. dalam hukum waris perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan jumlah yang diterima. Syarat Waris Syarat-syarat waris juga ada tiga: 1. Hal ini harus diketahui secara pasti. Syarat Ketiga: Diketahuinya posisi para ahli waris Dalam hal ini posisi para ahli waris hendaklah diketahui secara pasti. Syarat Pertama: Meninggalnya pewaris Yang dimaksud dengan meninggalnya pewaris --baik secara hakiki ataupun secara hukum-. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia. Penggugur Hak Waris Penggugur hak waris seseorang maksudnya kondisi yang menyebabkan hak waris seseorang menjadi gugur. istri. serta ada yang tidak terhalang. jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling mewarisi meninggal dalam satu peristiwa --atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu meninggal-. Hal seperti ini oleh kalangan fuqaha digambarkan seperti orang yang sama-sama meninggal dalam suatu kecelakaan kendaraan. sehingga pembagi mengetahui dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris. termasuk jumlah bagian masing-masing. ada yang berhak menerima warisan karena sebagai ahlul furudh. atau vonis yang ditetapkan hakim terhadap seseorang yang tidak diketahui lagi keberadaannya. kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa seseorang adalah saudara sang pewaris.F. Sebagai contoh. Para fuqaha menyatakan. dan sebagainya. tertimpa puing. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal). Budak 21 . ada yang karena 'ashabah. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti. sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi. kecuali setelah ia meninggal. kerabat. Akan tetapi harus dinyatakan apakah ia sebagai saudara kandung.

dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim. orang yang murtad berarti telah keluar dari ajaran Islam sehingga secara otomatis orang tersebut telah menjadi kafir. yakni murtad. dalam haditsnya. Wallahu a'lam. atau membayar kafarat. Alhasil. yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi orang kafir. apa pun agamanya. hanya pembunuhan yang disengaja atau yang direncanakan yang dapat menggugurkan hak waris. 22 . pendapat mazhab Hambali yang paling adil. dengan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak). Maksudnya. mazhab Hanafi menentukan bahwa pembunuhan yang dapat menggugurkan hak waris adalah semua jenis pembunuhan yang wajib membayar kafarat. seorang muslim dapat saja mewarisi harta kerabatnya yang murtad. dan Hambali (jumhur ulama) bahwa seorang muslim tidak berhak mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad. secara langsung menjadi milik tuannya. Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak. tidak ada yang mengunggulinya).a. atau bahkan hanya membenarkan kesaksian para saksi lain dalam pelaksanaan qishash atau hukuman mati pada umumnya. Selain itu tidak tergolong sebagai penggugur hak waris. karenanya orang murtad tidak dapat mewarisi orang Islam." Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq. Ibnu Mas'ud. Sedangkan menurut mazhab Hanafi. Baik budak itu sebagai qinnun (budak murni). mudabbar (budak yang telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal). Dalam hal ini ulama membuat kesepakatan bahwa murtad termasuk dalam kategori perbedaan agama. atau mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya.: "Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta orang yang dibunuhnya. seperti ditegaskan Rasulullah saw. 2. Ali bin Abi Thalib. Syafi'i." (Bukhari dan Muslim) Jumhur ulama berpendapat demikian. maka dia tidak mendapatkan bagiannya." Ada perbedaan di kalangan fuqaha tentang penentuan jenis pembunuhan. Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw. sekalipun hanya memberikan kesaksian palsu dalam pelaksanaan hukuman rajam. tetapi tidak boleh mewariskan kepada orang kafir. 3. semua jenis budak merupakan penggugur hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak mempunyai hak milik. pembunuhan dengan segala cara dan macamnya tetap menjadi penggugur hak waris. Karena itu. " Dari pemahaman hadits Nabi tersebut lahirlah ungkapan yang sangat masyhur di kalangan fuqaha yang sekaligus dijadikan sebagai kaidah: "Siapa yang menyegerakan agar mendapatkan sesuatu sebelum waktunya. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat. dalam sabdanya: "Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir. Misalnya. Pembunuhan Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya). membayar diyat.Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya. bahwa antara muslim dan kafir tidaklah dapat saling mewarisi. apakah dapat mewarisinya ataukah tidak. Menurut saya. dan lainnya. Mazhab Hambali berpendapat bahwa pembunuhan yang dinyatakan sebagai penggugur hak waris adalah setiap jenis pembunuhan yang mengharuskan pelakunya diqishash. Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengaku bersandar pada pendapat Mu'adz bin Jabal r. Orang yang telah keluar dari Islam dinyatakan sebagai orang murtad. Sementara itu. Alasan mereka adalah bahwa Islam ya'lu walaayu'la 'alaihi (unggul. Sedangkan menurut mazhab Syafi'i. Perbedaan Agama Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. bolehkah seorang muslim mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad? Menurut mazhab Maliki. di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan mengenai kerabat orang yang murtad. Sebagian ulama ada yang menambahkan satu hal lagi sebagai penggugur hak mewarisi. Bahkan kalangan ulama mazhab Hanafi sepakat mengatakan: "Seluruh harta peninggalan orang murtad diwariskan kepada kerabatnya yang muslim. termasuk keempat imam mujtahid. menurut mereka. Sebab. maka ia tidak berhak mendapatkan warisan.

pendapat ulama mazhab Hanafi lebih rajih (kuat dan tepat) dibanding yang lainnya. di kalangan fuqaha dikenal dengan istilah mahrum. ia tidak memperoleh bagian disebabkan adanya saudara kandung pewaris. (4) kakek (dari pihak bapak). (13) anak laki-laki paman seayah. Karena itu. sedangkan saudara kandung tidak mendapatkan bagian disebabkan sebagai ahli waris yang mahjub dengan adanya anak pewaris. sisa harta yang ada. Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub Ada perbedaan yang sangat halus antara pengertian al-mahrum dan al-mahjub. (12) anak laki-laki dari paman (saudara kandung ayah). yaitu tiga per empat harta yang ada. (10) paman (saudara kandung bapak). (5) saudara kandung laki-laki. menjadi hak sang anak sebagai 'ashabah. menjadi hak saudara kandung sebagai 'ashabah Dalam hal ini anak tidak mendapatkan bagian disebabkan ia sebagai ahli waris yang mahrum. maka kakek tidak mendapatkan bagian warisannya dikarenakan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya dengan pewaris. dan anak --dalam hal ini. Untuk lebih memperjelas gambaran tersebut. Sebagai contoh. maka bagian istri seperdelapan. (8) anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki. Seseorang yang tergolong ke dalam salah satu sebab dari ketiga hal yang dapat menggugurkan hak warisnya. Kemudian sisanya. baik yang bertaraf nasional ataupun internasional. (15) laki-laki yang memerdekakan budak. saya sertakan contoh kasus dari keduanya. karena pewaris dianggap tidak memiliki anak. (6) saudara laki-laki seayah. Contoh Kedua Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan ayah. (11) paman (saudara bapak seayah). (2) cucu laki-laki (dari anak laki-laki). Maka kakek dan saudara seayah dalam hal ini disebut dengan istilah mahjub. yaitu 7/8. Kalau saja anak itu tidak membunuh pewaris. ada baiknya saya jelaskan perbedaan makna antara kedua istilah tersebut. yang terkadang membingungkan sebagian orang yang sedang mempelajari faraid. (9) anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu. saudara kandung. Padahal pada masa sekarang tidak kita temui baitulmal yang dikelola secara rapi. anak kita misalkan sebagai pembunuh. Sedangkan mahjub adalah hilangnya hak waris seorang ahli waris disebabkan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya atau lebih kuat kedudukannya. atau saudara seayah dengan adanya saudara kandung. (7) saudara laki-laki seibu. adanya kakek bersamaan dengan adanya ayah. (14) suami. karena harta warisan yang tidak memiliki ahli waris itu harus diserahkan kepada baitulmal.Menurut penulis. Maka saudara kandung tidak mendapatkan warisan dikarenakan ter. serta saudara kandung. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki Ahli waris (yaitu orang yang berhak mendapatkan warisan) dari kaum laki-laki ada lima belas: (1) anak laki-laki. Jadi. 23 . Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat bagian seperempat harta yang ada. Begitu juga halnya dengan saudara seayah. yaitu ayah. H. ibu. (3) bapak. Jika terjadi hal demikian. seperti membunuh atau berbeda agama. yaitu ayah pewaris.mahjub oleh adanya ahli waris yang lebih dekat dan kuat dibandingkan mereka. Contoh Pertama Seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri.

yang penting perempuan dari keturunan anak laki-laki. Demikian pula yang dimaksud dengan nenek --baik ibu dari ibu maupun ibu dari bapak-. (3) anak perempuan (dari keturunan anak laki-laki). (10) perempuan yang memerdekakan budak. (6) saudara kandung perempuan. (2) ibu. (8) saudara perempuan seibu.dan seterusnya. Ahli Waris dari Golongan Wanita Adapun ahli waris dari kaum wanita ada sepuluh: (1) anak perempuan.Catatan Bagi cucu laki-laki yang disebut sebagai ahli waris di dalamnya tercakup cicit (anak dari cucu) dan seterusnya. I. (4) nenek (ibu dari ibu). 24 . (9) istri. (5) nenek (ibu dari bapak). yang penting laki-laki dan dari keturunan anak laki-laki. (7) saudara perempuan seayah. Catatan Cucu perempuan yang dimaksud di atas mencakup pula cicit dan seterusnya. dan seterusnya. Begitu pula yang dimaksud dengan kakek.

baik anak keturunan itu dari suami tersebut ataupun bukan. yaitu setengah (1/2). Dalilnya adalah firman Allah berikut: "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). dan seperenam (1/6). Apabila ia hanya seorang diri.). dengan tiga syarat: a. dengan empat syarat: a. Rinciannya seperti berikut: 1. Dalilnya adalah firman Allah: ".. dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan. Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki.. saudara kandung perempuan. b. Pewaris tidak mempunyai anak laki-laki (berarti anak perempuan tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. dan bagi kalian (para suami) mendapat separo dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian.. Kelima ashhabul furudh tersebut ialah suami. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. seperempat (1/4). Dalilnya sama saja dengan dalil bagian anak perempuan (sama dengan nomor 2). mencakup anak dan anak laki-laki dari keturunan anak. dengan tiga syarat: a. dan saudara perempuan seayah. Anak perempuan (kandung) mendapat bagian separo harta peninggalan pewaris. dan hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. c. b. penj. c. baik anak laki-laki maupun perempuan. dan tidak pula mempunyai keturunan. Saudara perempuan seayah akan mendapat bagian separo dari harta warisan peninggalan pewaris. Kini mari kita kenali pembagiannya secara rinci. 25 . maka anak perempuan pewaris tidak mendapat bagian setengah.III. baik anak laki-laki maupun anak perempuan. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan.. d. Sebab cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki sama kedudukannya dengan anak kandung perempuan bila anak kandung perempuan tidak ada.'" (an-Nisa': 176) 5. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan mendapat bagian separo. dua per tiga (2/3). seperdelapan (1/8). anak perempuan. dengan dua syarat: a. sepertiga (1/3). c. satu dari golongan laki-laki dan empat lainnya perempuan. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki. Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek.. Apabila anak perempuan itu adalah anak tunggal. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki). siapa saja ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dengan bagian yang berhak ia terima. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya . Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah Ashhabul furudh yang berhak mendapatkan separo dari harta waris peninggalan pewaris ada lima. Maka firman-Nya "yushikumullahu fi auladikum".. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaituj: jika seorang meninggal dunia. Dalilnya sama dengan Butir 4 (an-Nisa': 176). Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki. 4. b. Ia hanya seorang diri (tidak mempunyai saudara perempuan). 3." (an-Nisa': 12) 2. b. dan hal ini telah menjadi kesepakatan ulama. maka ia mendapat separo harta warisan yang ada". dan tidak pula anak. Dalilnya adalah firman Allah: "dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak. A. Saudara kandung perempuan akan mendapat bagian separo harta warisan. baik keturunan laki-laki ataupun keturunan perempuan. Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tersebut sebagai cucu tunggal). Pewaris tidak mempunyai saudara kandung perempuan. bila mereka (para istri) tidak mempunyai anak . PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN JUMLAH bagian yang telah ditentukan Al-Qur'an ada enam macam. Bila kedua persyaratan tersebut tidak ada.

" (an-Nisa': 12) D.. yaitu apabila suami tidak mempunyai anak/cucu.tentang bagian istri. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak . sekalipun seorang suami meninggalkan istri lebih dari satu. 2. 4....B. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat Adapun kerabat pewaris yang berhak mendapat seperempat (1/4) dari harta peninggalannya hanya ada dua. Jika kamu mempunyai anak. yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-lakinya. baik suami meninggalkan seorang istri ataupun empat orang istri.. dan semuanya terdiri dari wanita: 1.. baik anak tersebut lahir dari rahimnya ataupun dari rahim istri lainnya. wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu . maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuh. Seorang istri akan mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan suaminya dengan satu syarat. baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya ataupun dari suami lain (sebelumnya). C. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih. maka mereka tetap mendapat seperempat harta peninggalan suami mereka. Dalilnya firman Allah berikut: 26 . Rinciannya sebagai berikut: 1. Ketentuan ini terikat oleh syarat-syarat seperti berikut: 1. baik seorang maupun lebih akan mendapatkan seperdelapan dari harta peninggalan suaminya.. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan Dari sederetan ashhabul furudh yang berhak memperoleh bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri. Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih. Istri. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidak mempunyai saudara laki-laki. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah berikut: ". Jika istri-istrimu itu mempunyai anak.. Hal ini berdasarkan firman Allah di atas. bila suami mempunyai anak atau cucu. yaitu suami dan istri. Dalilnya adalah firman Allah SWT: ". Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih. Hal ini berdasarkan firman Allah berikut: ". bagian mereka tetap seperempat dari harta peninggalan. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih. Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan istrinya dengan satu syarat. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga Ahli waris yang berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3) dari harta peninggalan pewaris ada empat. baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri yang lain. Yang dimaksud dengan "istri mendapat seperempat" adalah bagi seluruh istri yang dinikahi seorang suami yang meninggal tersebut. yakni anak laki-laki dari pewaris.. Jadi.." (an-Nisa': 12) Ada satu hal yang patut diketahui oleh kita --khususnya para penuntut ilmu-. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya É" (an-Nisa': 12) 2. yaitu dengan digunakannya kata lahunna (dalam bentuk jamak) yang bermakna 'mereka perempuan'. 3. Dengan kata lain.

Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan bahwa makna ayat itsnataini adalah 'dua anak perempuan atau lebih'. Dalilnya adalah firman Allah: ". yaitu ijma' para ulama bahwa ayat "." (an-Nisa': 176) mencakup saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah. Bila pewaris tidak mempunyai anak. b. b. 2. b. Sedangkan saudara perempuan seibu tidaklah termasuk dalam pengertian ayat tersebut. Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga Adapun ashhabul furudh yang berhak mendapatkan warisan sepertiga bagian hanya dua. Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki maupun perempuan). Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga dengan syarat: 1. melainkan 'dua anak perempuan atau lebih'. c. Persyaratan yang harus dipenuhi bagi dua saudara perempuan seayah untuk mendapatkan bagian dua per tiga hampir sama dengan persyaratan dua saudara kandung perempuan. atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Jadi.. Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian dua per tiga (2/3). Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki.. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu tidak mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah. E. baik laki-laki atau perempuan. Pewaris tidak mempunyai anak kandung. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan. c. hal ini merupakan kesepakatan para ulama.... hanya di sini (saudara seayah) ditambah dengan keharusan adanya saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan).. maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan . dengan persyaratan sebagai berikut: a. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang..." (an-Nisa': 176) 4... Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai saudara laki-laki seayah. c. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal .a. ayah. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . orang yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah "anak perempuan lebih dari dua" jelas tidak benar dan menyalahi ijma' para ulama. Wallahu a'lam. atau saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). Wallahu a'lam. yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan) yang seibu."." (an-Nisa': 11) Ada satu hal penting yang mesti kita ketahui agar tidak tersesat dalam memahami hukum yang ada dalam Kitabullah.. Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan syarat sebagai berikut: a. --sebagaimana diungkapkan dalam bab sebelum ini. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa'ad bin ar-Rabi' r. juga tidak mempunyai ayah atau kakek. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan persyaratan sebagai berikut: a. Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw.. 27 . atau kakek. Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak perempuan lebih dari dua'. Dan dalilnya sama. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. 3. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua.

Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki ataupun perempuan). dan jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). mereka harus membagi sama di antara saudara laki-laki dan perempuan seibu tanpa membedakan bahwa laki-laki harus memperoleh bagian yang lebih besar daripada perempuan." (an-Nisa': 11) Catatan: Lafazh ikhwatun bila digunakan dalam faraid (ilmu tentang waris) tidak berarti harus bermakna 'tiga atau lebih'... Jumlah saudara yang seibu itu dua orang atau lebih. Yakni. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara.. satu sebagai imam dan satu lagi sebagai makmum. ada hal lain yang perlu kita tekankan di sini yakni tentang firman "fahum syurakaa 'u fits tsulutsi" (mereka bersekutu dalam yang sepertiga)... yang dalam hal ini bagian saudara laki-laki dua kali lipat bagian saudara perempuan. Pembagian mereka berbeda dengan bagian para saudara laki-laki/perempuan kandung dan seayah." (an-Nisa': 11) Juga firman-Nya: ". Misalnya dalam istilah shalat jamaah. Jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. dua orang atau lebih.2. juga tidak mempunyai ayah atau kakak. bagian saudara laki-laki dan perempuan seibu bila telah memenuhi syarat-syarat di atas ialah sepertiga. baik saudara itu sekandung atau seayah ataupun seibu. Juga menjelaskan hukum yang berkaitan dengan bagian saudara laki-laki dan perempuan seayah dalam ayat yang sama. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). sebagaimana makna yang masyhur dalam bahasa Arab --sebagai bentuk jamak. Sebab dalam bahasa bentuk jamak terkadang digunakan dengan makna 'dua orang'. lafazh ini bermakna 'dua atau lebih'." (an-Nisa': 12) Catatan Yang dimaksud dengan kalimat "walahu akhun au ukhtun" dalam ayat tersebut adalah 'saudara seibu'. 28 . Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan). 2. maka ibunya mendapat seperenam. Selain itu. Sebab Allah SWT telah menjelaskan hukum yang berkaitan dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan sekandung dalam akhir surat an-Nisa'. Kata bersekutu menunjukkan kebersamaan. yang berarti sah dilakukan hanya oleh dua orang.. maka ibunya mendapat sepertiga. maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan) É" (at-Tahrim: 4) Kemudian saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. Namun. Dalilnya adalah firman Allah: ". Karena itu seluruh ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "akhun au ukhtun" dalam ayat itu adalah saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. Adapun dalilnya adalah firman Allah: "... maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu ... Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. Kesimpulannya. dan pembagiannya sama rata baik yang laki-laki maupun perempuan. Dalil lain yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah firman Allah berikut: "Jika kamu berdua bertobat kepada Allah.. akan mendapat bagian sepertiga dengan syarat sebagai berikut: 1.. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.

saya sertakan contohnya. karena kedua istilah ini sangat masyhur. Contoh Pertama Seorang istri wafat dan meninggalkan suami. Istri mendapat bagian seperempat (1/4) dari seluruh harta peninggalan suaminya. Suami mendapat bagian setengah (1/2) dari seluruh harta warisan yang ada. seorang ibu akan mendapat bagian sepertiga dari seluruh harta peninggalan pewaris bila ia mewarisi secara bersamaan dengan bapak --seperti telah saya jelaskan--. ibu mendapat bagian sepertiga dari harta warisan setelah diambil hak suami pewaris. ibu hanya diberi sepertiga bagian dari sisa harta warisan yang ada. dan ayah. sebab bila ia memperoleh sepertiga dari seluruh harta yang ada maka ia akan mendapat bagian dua kali lipat bagian ayah. Karenanya untuk tetap menegakkan kaidah dasar tersebut. Hal ini tentunya bertentangan dengan kaidah dasar faraid yang telah ditegaskan dalam Al-Qur'an dalam bagian ayat "lidzdzakari mitslu hazhzhil untsayain". hak ayah menjadi dua kali lipat dari bagian yang diterima ibu. Sedangkan al-gharawaini bermakna 'dua bintang cemerlang'.Masalah 'Umariyyatan Pada asalnya. sedangkan ibu mendapat bagian tiga per empat dari sisa setelah diambil hak istri. Agar lebih jelas.berdasarkan pemahaman bagian ayat (artinya) "jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). Akan tetapi. Sedangkan bagian ayah adalah sisa harta yang ada sebagai 'ashabah. berkaitan dengan ini ada dua istilah yang muncul dan dikenal di kalangan fuqaha. Kemudian ayah mendapat seluruh sisa yang ada. maka ibunya mendapat sepertiga". ibu. Dalam kasus ini. yakni 'umariyyatan dan al-gharawaini. Untuk lebih jelas lagi saya berikan tabelnya: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Suami Ibu Ayah 1/2 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian suami Seluruh sisa peninggalan sebagai 'ashabah Jumlah Bagian Nilai 3 1 2 Dalam contoh kasus ini ibu mendapatkan bagian sepertiga dari sisa setelah diambil bagian suami pewaris. Ibu mendapat sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil bagian suami. setelah sebelumnya dikurangi bagian suami atau istri. ibu. Disebut 'umariyyatan sebab kedua hal ini dilakukan oleh Umar bin Khathab dan disepakati oleh jumhur sahabat ridhwanullah 'alaihim. dan ayah. Contoh Kedua Seorang suami meninggal dunia dan ia meninggalkan istri. Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Jumlah Bagian Nilai 29 . Dengan demikian.

Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam Adapun asbhabul furudh yang berhak mendapat bagian seperenam (1/6) ada tujuh orang. 1. kecuali dalam tiga keadaan yang akan saya rinci dalam bab tersendiri. Jadi. ibu tetap mendapat bagian sepertiga (1/3) dari seluruh harta yang ditinggalkan suami atau istri (anaknya). Bila pewaris mempunyai dua orang saudara atau lebih.. 30 . Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang terkenal. maka ibunya mendapat seperenam É" (an-Nisa': 11). Ibu akan memperoleh seperenam (1/6) bagian dari harta yang ditinggalkan pewaris. Wallahu a'lam. Adapun penyebutannya dengan istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri adalah karena menyesuaikan adab qur'ani. menurut hemat saya. (7) saudara laki-laki dan perempuan seibu. (4) cucu perempuan keturunan anak laki-laki. (3) ibu. yang kemudian diambil oleh jumhur ulama serta dikokohkan oleh Umar bin Khathab dengan menyatakan bahwa bagian ibu adalah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri. Pendapat pertama dintarakan oleh Zaid bin Tsabit r. jika yang meninggal itu mempunyai anak ." (an-Nisa': 11) 2. tepatnya masa Umar bin Khathab r.. sedangkan pada tabel kedua adalah seperempat (1/4). b. dengan dua syarat: a.Istri Ibu Ayah 1/4 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian istri Mendapat bagian seluruh sisa peninggalan yang ada sebagai 'ashabah 1 1 2 Dari kedua contoh tersebut tampak oleh kita bahwa pada hakikatnya bagian ibu pada tabel pertama adalah seperenam (1/6). Jadi. 3.a. baik saudara laki-laki ataupun perempuan. (5) saudara perempuan seayah. Dalilnya firman Allah (artinya): ".. ataupun seibu. (2) kakek asli (bapak dari ayah). Sedangkan pendapat yang kedua diutarakan oleh Ibnu Abbas r.. (6) nenek asli. Mereka adalah (1) ayah.. Dan untuk dua orang ibu bapak. apa yang dipahami Zaid dan dipilih oleh jumhur ulama serta ditetapkan oleh Umar bin Khathab itulah pendapat yang sahih. Seorang kakek (bapak dari ayah) akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki dari keturunan anak --dengan syarat ayah pewaris tidak ada. Seorang ayah akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak.. Menurutnya.a. dalam keadaan demikian salah seorang kakek akan menduduki kedudukan seorang ayah. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. seayah. baik anak laki-laki atau anak perempuan. Masalah 'umariyyatan ini pernah terjadi pada masa sahabat. Dalilnya firman Allah (artinya): "jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. F.a. Sebab yang disebutkan di dalam Al-Qur'an hanya "wawaritsahu abawahu". Bahkan Ibnu Abbas menyanggah pendapat Zaid bin Tsabit: "Apakah memang ada di dalam Al-Qur'an istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri?" Zaid menanggapinya dengan mengatakan: "Di dalam Kitabullah juga tidak disebutkan bahwa bagian ibu sepertiga dari seluruh harta peninggalan yang ada bila ibu bersama-sama mewarisi dengan salah satu suami atau istri. Bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. baik sekandung.

Hal ini berlandaskan pada apa yang telah ditetapkan di dalam hadits sahih dan ijma' seluruh sahabat. Selain itu. Dalam keadaan demikian. Saudara laki-laki atau perempuan seibu akan mendapat bagian masing-masing seperenam (1/6) bila mewarisi sendirian. maka tidak ada sisa kecuali seperenam (1/6) yang memang merupakan hak saudara perempuan seayah. anak-anak perempuan itu berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3).a. maka saudara perempuan seayah mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna dari dua per tiga (2/3). dan sisanya menjadi bagian saudara perempuan pewaris. dan sekaligus menjadi penggugur (penghalang) hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris. apabila pewaris mempunyai seorang saudara kandung perempuan. Jadi. Sebab bila ada anak laki-laki." Catatan Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian seperenam (1/6) dengan syarat bila pewaris tidak mempunyai anak laki-laki. 31 . cucu perempuan dari keturunan anak laki-lakinya. yang jelas seperenam itu dibagikan secara rata kepada mereka. baik laki-laki atau perempuan).4. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya bahwa Abu Musa al-Asy'ari r. Maka Ibnu Mas'ud berkata: "Aku akan memutuskan seperti apa yang pernah diputuskan Rasulullah saw. sebagai pelengkap dua per tiga (2/3). dan yang setengah sisanya menjadi bagian saudara perempuan. 5. dan bagi cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai pelengkap 2/3. Saudara perempuan seayah satu orang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris mendapat seperenam (1/6). tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). sang penanya kembali menemui Abu Musa al-Asy'ari dan memberi tahu permasalahannya. Hal ini hukumnya sama denga keadaan jika cucu perempuan keturunan anak laki-laki bersamaan dengan adanya anak perempuan. anak perempuan tersebut mendapat bagian setengah (1/2)." Merasa kurang puas dengan jawaban Abu Musa. dan saudara perempuan.. Ketentuan demikian baik nenek itu hanya satu ataupun lebih (dari jalur ayah maupun ibu). bila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan seayah atau lebih. 6. Kemudian Abu Musa berkata: "Janganlah sekali-kali kalian menanyaiku selama sang alim ada di tengah-tengah kalian. apabila yang meninggal (pewaris) mempunyai satu anak perempuan. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta". maka anak tersebut menjadi penggugur hak sang cucu. Nenek asli mendapatkan bagian seperenam (1/6) ketika pewaris tidak lagi mempunyai ibu. bagi anak perempuan separo (1/2) harta peninggalan pewaris. Dan persyaratannya adalah bila pewaris tidak mempunyai pokok (yakni kakek) dan tidak pula cabang (yakni anak. Abu Musa kemudian menjawab: "Bagi anak perempuan mendapat bagian separo (1/2)." Mendengar jawaban Ibnu Mas'ud. Sebab ketika saudara perempuan kandung memperoleh setengah (1/2) bagian. ditanya tentang masalah warisan seseorang yang meninggalkan seorang anak perempuan. pewaris juga tidak mempunyai anak perempuan lebih dari satu orang. sang penanya pergi mendatangi Ibnu Mas'ud. 7. Sebab jika lebih dari satu orang. Dalilnya adalah firman Allah (artinya) "jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak.

Abu Bakar menjawab: "Saya tidak mendapati hakmu dalam Al-Qur'an maka pulanglah dulu. dan tunggulah hingga aku menanyakannya kepada para sahabat Rasulullah saw. 32 . memberikan hak seorang nenek seperenam (1/6). Wallahu a'lam." Mendengar pernyataan al-Mughirah itu Abu Bakar kemudian memanggil nenek tadi dan memberinya seperenam (1/6). untuk menuntut hak warisnya.a." Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengatakan kepada Abu Bakar: "Suatu ketika aku pernah menjumpai Rasulullah saw.Ashhabus Sunan meriwayatkan bahwa seorang nenek datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r.

dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan).IV. sedang kami golongan (yang kuat). maka seluruh harta peninggalannya menjadi milik kedua orang tua.'" (Yusuf: 14) Maka jika dalam faraid kerabat diistilahkan dengan 'ashabah hal ini disebabkan mereka melindungi dan menguatkan. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah (artinya): "dan untuk dua orang ibu bapak.menguatkan dan melindungi. dan paman (saudara kandung ayah). Sedangkan pengertian 'ashabah menurut istilah para fuqaha ialah ahli waris yang tidak disebutkan banyaknya bagian di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan tegas. dikarenakan mereka --yakni kerabat bapak-. Dengan demikian. anak laki-laki. jika yang meninggal itu mempunyai anak. Selain itu. dua per tiganya (2/3) menjadi hak ayah. Pada ayat ini tidak disebutkan bagian saudara kandung. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. maka ibu mendapat bagian sepertiga (1/3). makna kalimat "wahuwa yaritsuha" memberi isyarat bahwa seluruh harta peninggalan menjadi haknya. Inilah pengertian 'ashabah dari segi bahasa. Pengertian 'ashabah yang sangat masyhur di kalangan ulama faraid ialah orang yang menguasai harta waris karena ia menjadi ahli waris tunggal. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Dalam kalimat bahasa Arab banyak digunakan kata 'ushbah sebagai ungkapan bagi kelompok yang kuat. yang disebutkan justru saudara kandung akan menguasai (mendapatkan bagian) seluruh harta peninggalan yang ada bila ternyata pewaris tidak mempunyai keturunan. Namun. penerimaan ayah disebabkan ia sebagai 'ashabah. ia juga menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing. Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan berasal dari pihak ayah. Namun. Inilah makna 'ashabah. sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi. Dari sini dapat kita pahami bahwa sisa setelah diambil bagian ibu. di antaranya dalam firman Allah berikut: "Mereka berkata: 'Jika ia benar-benar dimakan serigala. Dalil Al-Qur'an yang lainnya ialah (artinya) "jika seorang meninggal dunia. jika ia tidak mempunyai anak. Sebagai contoh. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). ayat tersebut tidak menjelaskan berapa bagian ayah. Tetapi bila pewaris tidak mempunyai anak. A. Dalam ayat ini disebutkan bahwa bagian kedua orang tua (ibu dan bapak) masing-masing mendapatkan seperenam (1/6) apabila pewaris mempunyai keturunan. Demikian juga di dalam Al-Qur'an. kata ini sering kali digunakan. Disebut demikian. Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah apa yang disabdakan Rasulullah saw. Kemudian." (an-Nisa': 176).: 33 . Dalil Hak Waris Para 'Ashabah Dalil yang menyatakan bahwa para 'ashabah berhak mendapatkan waris kita dapati di dalam Al-Qur'an dan AsSunnah. Ayat tersebut juga telah menegaskan bahwa bila pewaris tidak mempunyai anak. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. DEFINISI 'ASHABAH KATA 'ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak bapak. maka ibunya mendapat sepertiga" (an-Nisa': 11). maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya.

jangan sampai menafsirkan kata ini hanya untuk orang dewasa dan cukup umur. hendaklah diberikan kepada orang laki-laki yang paling utama dari 'ashabah. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari salah paham. Ada satu keistimewaan dalam hadits ini menyangkut kata yang digunakan Rasulullah dengan menyebut "dzakar" setelah kata "rajul". Oleh sebab itu. anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki. 3. agar memberikan hak waris kepada ahlinya. dan seterusnya. dan seterusnya. Arah anak. namun hanya yang lakilaki. Maka jika masih tersisa. mempunyai empat arah. Arah bapak. kakek. Macam-macam 'Ashabah 'Ashabah terbagi dua yaitu: 'ashabah nasabiyah (karena nasab) dan 'ashabah sababiyah (karena sebab)."Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada yang berhak. 'Ashabah bin nafs 'Ashabah bin nafs. seorang tuan (pemilik budak) dapat menjadi ahli waris bekas budak yang dimerdekakannya apabila budak tersebut tidak mempunyai keturunan. dan seterusnya. bayi laki-laki pun berhak mendapatkan warisan sebagai 'ashabah dan menguasai seluruh harta warisan yang ada jika dia sendirian. termasuk keturunan mereka. dan (3) 'ashabah ma'al ghair (menjadi 'ashabah bersamasama dengan yang lain). yaitu laki-laki yang nasabnya kepada pewaris tidak tercampuri kaum wanita. Arah paman. 4. yang pasti hanya dari pihak laki-laki. misalnya ayah dari bapak. (2) 'ashabah bil ghair (menjadi 'ashabah karena yang lain). mencakup saudara kandung laki-laki. cicit. 34 . B. 2. dan seterusnya. Jenis 'ashabah yang kedua ini disebabkan memerdekakan budak. anak laki-laki keturunan saudara laki-laki seayah. dalam hal penggunaan kata "dzakar". ayah dari kakak. Sedangkan 'ashabah nasabiyah terbagi tiga yaitu: (1) 'ashabah bin nafs (nasabnya tidak tercampur unsur wanita). Catatan Dalam dunia faraid. Inilah rahasia makna sabda Rasulullah saw. dan seterusnya. mencakup paman (saudara laki-laki ayah) kandung maupun yang seayah. mencakup ayah. sedangkan kata "rajul" jelas menunjukkan makna seorang laki-laki. " (HR Bukhari) Hadits ini menunjukkan perintah Rasulullah saw. Sebab. dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama. yaitu: 1. Arah saudara laki-laki. termasuk keturunan mereka. maka yang dimaksud adalah 'ashabah bin nafs. mencakup seluruh laki-laki keturunan anak laki-laki mulai cucu. Adapun saudara laki-laki yang seibu tidak termasuk 'ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul furudh. apabila lafazh 'ashabah disebutkan tanpa diikuti kata lainnya (tanpa dibarengi bil ghair atau ma'al ghair). saudara laki-laki seayah. Arah ini hanya terbatas pada saudara kandung laki-laki dan yang seayah.

Sebab ia lebih dekat kedudukannya dari pada anak saudara kandung. seorang istri wafat dan meninggalkan suami. bila antara saudara kandung laki-laki maupun saudara laki-laki seayah berhadapan dengan kakak. saudara laki-laki seayah. Sang suami mendapat bagian setengah (1/2). Dalam keadaan demikian.Keempat arah 'ashabah bin nafs tersebut kekuatannya sesuai urutan di atas. Pengecualiannya. Sebab. Sedangkan ayah termasuk ashhabul furudh dikarenakan mewarisi bersama-sama dengan anak laki-laki. Saudara seayah tidak mendapat bagian disebabkan ashhabul furudh telah menghabiskannya. maka saudara seayahlah yang mendapat warisan. Apabila anak tidak ada. atau akan menerima sisa harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh bagian masing-masing. 35 . insya Allah akan saya paparkan pada bab tersendiri. Sebagai misal. dan derajat kekuatan hak warisnya sesuai urutannya. maka cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya. dan saudara kandung. maka sebagai 'ashabah mendapat sisa harta setelah dibagikan kepada ashhabul furudh. dan arah ayah lebih kuat daripada arah saudara. Kedua: Pentarjihan secara Derajat Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa orang 'ashabah bi nafsihi. Rinciannya. Sebab arah anak lebih didahulukan daripada arah yang lain. Bila salah satunya secara tunggal (sendirian) menjadi ahli waris seorang yang meninggal dunia. Sebagai misal. Arah anak lebih didahulukan dibandingkan yang lain. seseorang wafat dan meninggalkan anak laki-laki. Anak akan mengambil seluruh harta peninggalan yang ada. sedangkan cucu tidak mendapatkan bagian apa pun. saudara perempuan mendapat bagian setengah (1/2). Arah anak lebih didahulukan (lebih kuat) daripada arah ayah. anak lebih dekat kepada pewaris dibandingkan cucu laki-laki. siapakah di antara mereka yang paling dekat derajatnya kepada pewaris. Dan bila setelah dibagikan kepada ashhabul furudh ternyata tidak ada sisanya. yang menjadi 'ashabah adalah anak laki-laki. maka cara pentarjihannya (pengunggulannya) sebagai berikut: Pertama: Pertarjihan dari Segi Arah Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa 'ashabah bin nafsih. Misalnya. maka pengunggulannya dilihat dari segi arah. Namun bila ternyata pewaris mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh. ayah. Dalam hal ini hak warisnya secara 'ashabah diberikan kepada anak. Adapun bila para 'ashabah bin nafs lebih dari satu orang. saudara kandung perempuan. Hukum 'Ashabah bin nafs Telah saya jelaskan bahwa 'ashabah bi nafsihi mempunyai empat arah. Contoh lain. Keadaan seperti ini disebut pentarjihan menurut derajat kedekatannya dengan pewaris. maka para 'ashabah pun tidak mendapat bagian. Sebab cucu akan menduduki posisi anak bila anak tidak ada. saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan waris dikarenakan arahnya lebih jauh. Sementara itu. kemudian mereka pun dalam satu arah. maka pentarjihannya dengan melihat derajat mereka. bila seseorang wafat dan meninggalkan saudara laki-laki seayah dan anak dari saudara kandung. seseorang wafat dan meninggalkan anak serta cucu keturunan anak lakilaki. maka ia berhak mengambil seluruh warisan yang ada.

baik dalam hal keselamatannya maupun kehidupan masa depannya. dan seterusnya. Wallahu a'lam. Dalam ayat tersebut Allah SWT menjadikan ayah sebagai ashhabul furudh bila pewaris mempunyai anak. pentarjihan menurut kuatnya kekerabatan hanya digunakan untuk arah saudara dan arah paman.karena sangat khawatir terhadap masa depan anaknya. Bahkan." (an-Nisa: 11). Sedangkan secara aqli. sangat kikir dalam membelanjakan hartanya. anak dari saudara kandung lebih kuat daripada anak dari saudara seayah. orang tua berusaha bekerja keras untuk memperoleh harta dan berhemat dalam membelanjakannya.Ketiga: Pentarjihan Menurut Kuatnya Kekerabatan Bila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat banyak 'ashabah bi nafsihi yang sama dalam arah dan derajatnya. dalam sebuah haditsnya "al-waladu mabkhalah majbanah" (anak dapat membuat seseorang berlaku bakhil dan pengecut). jelaslah bahwa anak akan mendapatkan seluruh sisa harta peninggalan pewaris. Dengan demikian. Oleh sebab itu. bila budak yang dibebaskannya tidak mempunyai keturunan (kerabat). Namun demikian. bagi masingmasingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. semuanya demi kesejahteraan keturunannya. jika yang meninggal itu mempunyai anak. sedangkan yang kedua berupa dalil aqli. ada dua landasan mengapa garis anak lebih didahulukan. 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya 'Ashabah bi ghairihi hanya terbatas pada empat orang ahli waris yang kesemuanya wanita: 36 . keduanya memiliki posisi sederajat dari segi kedekatan nasab pada seseorang. Landasan pertama berupa dalil AlQur'an. tidak sedikit orang tua yang bersikap bakhil. Karena itu mereka tidak segan-segan menimbun harta dan kekayaan demi menyenangkan keturunan pada masa mendatang. manusia pada umumnya merasa khawatir terhadap anak (keturunannya). Makna hadits tersebut sangat jelas bahwa orang tua menjadi kikir --bahkan pengecut-. ayah sebagai pokok dan anak merupakan cabang. saudara kandung lebih kuat daripada seayah. yakni arah anak dan arah bapak. Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? Satu pertanyaan yang sangat wajar dan mesti diketahui jawaban serta hikmah di dalamnya. Jika demikian berarti wanita tersebut sebagai 'ashabah bi nafsihi. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa garis anak lebih didahulukan daripada garis bapak. Artinya. sedangkan bagian anak tidak disebutkan. Dengan demikian. Tidak sedikit orang tua yang menjadi pengecut hanya disebabkan menjaga kemaslahatan keturunannya pada hari depannya. paman kandung lebih kuat daripada paman seayah. Maka sangat tepat apa yang disabdakan Rasulullah saw. Catatan Satu hal yang mesti kita ketahui bahwa 'ashabah bi nafsihi harus dari kalangan laki-laki. Sebab. demi kepentingan masa depan anaknya. maka pentarjihannya dengan melihat manakah di antara mereka yang paling kuat kekerabatannya dengan pewaris. mereka takut berhadapan dengan musuh atau siapa pun yang mengganggu kemudahan jalan rezekinya. Firman-Nya (artinya) "dan untuk dua orang ibu-bapak. bahwa kaidah tersebut hanya dipakai untuk selain dua arah. Catatan Perlu untuk digarisbawahi dalam hal pentarjihan dari segi kuatnya kekerabatan di sini. Berdasarkan posisi ini sebaiknya garis anak tidak didahulukan daripada garis ayah. Sebagai contoh. Inilah alasan bahwa hati seseorang cenderung lebih dekat kepada anaknya dibandingkan kepada ayahnya. sedangkan dari kalangan wanita hanyalah wanita pemerdeka budak. setelah masing-masing dari ashhabul furudh telah mendapatkan bagiannya.

dan saudara perempuan seayah). anak perempuan dari saudara laki-laki tidak dapat menjadi 'ashabah bi ghairih dengan adanya saudara kandung laki-laki dalam deretan ahli waris. dan pembagiannya. Ketiga: laki-laki yang menjadi penguat harus sama kuat dengan ahli waris perempuan shahibul fardh. tidaklah dapat menguatkan saudara kandung perempuan disebabkan tidak sederajat. Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Dalil bagi hak waris para 'ashabah bi ghairih adalah firman Allah (artinya): "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan" (an-Nisa': 11). Misalnya. 4. baik sederajat dengannya atau bahkan lebih di bawahnya.1. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. hak waris mereka pun antara laki-laki dan perempuan-. dikarenakan anak laki-laki tidak sederajat dengan cucu perempuan. Sebab saudara kandung perempuan lebih kuat kekerabatannya daripada saudara laki-laki seayah. dan akan menjadi 'ashabah bila mempunyai saudara laki-laki. Selain itu. anak perempuan saudara laki-laki bukanlah termasuk ashhabul furudh. maka tidak akan menjadi 'ashabah bi ghairih. bahkan ia berfungsi sebagai pen-tahjib (penghalang) hak waris cucu. 3. saudara laki-laki seayah tidak dapat men-ta'shih saudara kandung perempuan. Kedua: laki-laki yang menjadi 'ashabah (penguat) harus yang sederajat. ia berhak mendapatkan bagian dua per tiga (2/3) bila menerima bersama saudara perempuannya. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara laki-lakinya. Begitu juga anak laki-laki keturunan saudara laki-laki. Misalnya. Sebagai contoh. Anak perempuan. 37 . atau anak laki-laki pamannya (yakni cucu laki-laki keturunan anak laki-laki). bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. saudara kandung perempuan. Dan juga berlandaskan firman-Nya (artinya): "dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. Saudara perempuan seayah akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya. Bila wanita tersebut bukan dari ashhabul furudh. anak laki-laki tidak dapat menjadi pen-ta'shih (penguat) cucu perempuan. akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki). Sebab dalam keadaan demikian. berdasarkan firman-Nya (artinya): "maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu" (an-Nisa': 12). maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan" (an-Nisa': 176). Saudara kandung perempuan akan menjadi 'ashabah bila bersama saudara kandung laki-laki. disebabkan hak waris mereka berdasarkan fardh (termasuk ashhabul furudh) bukan sebagai 'ashabah.sama rata. Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah bi Ghairihi tidak akan terwujud kecuali dengan beberapa persyaratan berikut: Pertama: haruslah wanita yang tergolong ashhabul furudh. Catatan Setiap perempuan ahli waris berhak mendapat bagian setengah (1/2) jika sendirian. 2. Mereka berpendapat bahwa kata ikhwatan tidak mencakup saudara laki-laki atau perempuan yang seibu. Kaidah ini hanya berlaku bagi keempat ahli waris dari kalangan wanita yang saya sebutkan (yakni anak perempuan. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "ikhwatan" dalam ayat tersebut adalah saudara laki-laki dan saudara kandung perempuan dan yang seayah.

" Dalil 'Ashabah ma'al Ghair Yang menjadi landasan bagi hak waris 'ashabah ma'al ghair adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya." Dari penjelasan Ibnu Mas'ud dapat disimpulkan bahwa hak saudara perempuan bila mewarisi bersama-sama dengan anak perempuan mengambil sisa harta pembagian yang ada. maka akan naiklah pokok pembagiannya dan hak bagian anak perempuan akan berkurang. bahwa Abu Musa al-Asy'ari ditanya tentang hak waris anak perempuan. bagian anak perempuan setengah (1/2) dan bagian cucu perempuan keturunan anak lakilaki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). dan bagian saudara perempuan separo.akan menjadi 'ashabah. dan saudara perempuan (sekandung atau seayah)." Penanya itu pun kembali kepada Abu Musa al-Asy'ari dan menceritakan apa yang telah diputuskan Ibnu Mas'ud. 38 . Sebab bila kita berikan hak waris saudara perempuan secara fardh. seperti yang ditegaskan dalam kitab Hasyiyatul Bajuri (hlm. Abu Musa menjawab: "Bagian anak perempuan separo. akan tetapi karena adanya 'ashabah lain ('ashabah bi nafsihi). cucu perempuan keturunan anak laki-laki. di segi lain tidaklah mungkin hak saudara perempuan itu digugurkan. Jenis 'ashabah ini di kalangan ulama dikenal dengan istilah 'ashabah ma'al ghair. 108): "Adapun saudara perempuan (kandung dan seayah) menjadi 'ashabah jika berbarengan dengan anak perempuan adalah agar bagian saudara perempuan terkena pengurangan. Hal ini berarti saudara kandung perempuan atau saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. Bila para 'ashabah bi nafsihi itu tidak ada." Penanya itu lalu pergi menanyakannya kepada Ibnu Mas'ud r. seperti saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah mereka. Kemudian. sedangkan bagian anak perempuan tidak terkena pengurangan.Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi Adapun sebab penamaan 'ashabah bi ghairihi adalah karena hak 'ashabah keempat wanita itu bukanlah karena kedekatan kekerabatan mereka dengan pewaris. maka ia menjadi seperti saudara kandung laki-laki sehingga dapat menghalangi hak waris saudara seayah. maka keempat wanita tersebut mendapat hak warisnya secara fardh. karena itu dijadikanlah saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah agar terkena pengurangan. Satu hal yang perlu diketahui dalam masalah ini. Catatan Sangat penting untuk diketahui bersama bahwa bila seorang saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah ma'al ghair. dan dijawab: "Aku akan memvonis seperti apa yang diajarkan Rasulullah saw. Jadi. Lalu Abu Musa berkata: "Janganlah kalian menanyakannya kepadaku selama sang alim (Ibnu Mas'ud) berada bersama kalian.. saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan --atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki dan seterusnya-.a. sedangkan sisanya menjadi hak saudara perempuan kandung atau seayah. 'Ashabah ma'al Ghair 'Ashabah ma'al Ghair ini khusus bagi para saudara kandung perempuan maupun saudara perempuan seayah apabila mewarisi bersamaan dengan anak perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki..

yang kekuatannya seperti saudara kandung laki-laki. paman kandung ataupun yang seayah. Untuk lebih menjelaskan masalah tersebut saya sertakan contoh seperti berikut: Contoh Pertama Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan anak perempuan. dan saudara laki-laki seayah. maka pembagiannya adalah sebagai berikut: Pokok masalahnya dari 2 Keterangan Anak perempuan Saudara kandung perempuan'ashabah ma'al ghair Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/2 1/2 gugur Nilai 1 1 0 Keterangan Bagian anak perempuan adalah setengah secara fardh. dan saudara laki-laki seayah. maka kekuatannya sama seperti saudara laki-laki seayah hingga menjadi penggugur keturunan saudaranya dan seterusnya. Begitu juga saudara perempuan seayah. dapat pula menggugurkan hak waris yang di bawah mereka.baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Maka pembagiannya seperti dalam tabel berikut: Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Suami Cucu perempuan Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/4 1/2 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 1 2 1 0 39 . Selain itu. seperti anak keturunan saudara (keponakan). apabila menjadi 'ashabah ma'al ghair ketika mewarisi bersama anak perempuan pewaris. cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Contoh Kedua Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. saudara perempuan. Sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung perempuan disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. dua orang saudara kandung perempuan.

Contoh Ketiga Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak perempuan. saudara perempuan seayah. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam bagian sebagai penyempurna dua per tiga. seorang ibu. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Sedangkan bagian saudara laki-laki seayah gugur karena adanya dua saudara kandung. kemudian sisanya yaitu seperempat-menjadi hak dua saudara kandung perempuan pewaris sebagai 'ashabah ma'al ghair. dan paman kandung (saudara dari ayah kandung). Sedangkan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian setengah secara fardh. dan ibu mendapatkan seperenam. Sedangkan anak saudara laki-laki ter-mahjub oleh saudara perempuan seayah. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 3 Keterangan Dua anak perempuan Saudara perempuan seayah Anak saudara laki-laki Jumlah Bagian 2/3 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 2 1 0 Keterangan Dua orang anak perempuan mendapatkan dua per tiga dan sisanya untuk saudara perempuan seayah disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. Contoh Keempat Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Anak perempuan Cucu perempuan Ibu Saudara perempuan seayah Keterangan Anak perempuan mendapat bagian setengah sebagai fardh. Sedangkan sisanya untuk 40 Jumlah Bagian 1/2 1/6 1/6 'ashabah ma'al ghair Nilai 3 1 1 1 . saudara perempuan seayah.Keterangan Suami memperoleh seperempat bagian karena pewaris mempunyai cabang ahli warisnya. dan anak laki-laki saudara laki-laki (kemenakan).

saudara laki-laki seibu. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Contoh lain: seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan dua anak perempuan. Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? Kita mungkin sering mendengar pertanyaan seperti itu. Misalnya. suami setengah (1/2) sebagai fardh-nya. Begitulah seterusnya. Maka dapat ditegaskan bahwa seseorang bisa saja mendapatkan warisan dari dua arah yang berlainan. bibi (saudara ibu) yang salah satunya menjadi istrinya. Bahkan anak perempuan pewaris menjadi penggugur hak saudara (laki-laki/perempuan) seibu sehingga tidak dapat menjadi 'ashabah. seperti anak laki-laki. 41 . dan seorang suami. dan tentu saja hal ini memerlukan jawaban. saya sertakan contoh: Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang nenek. Agar persoalan ini lebih jelas. kemudian saudara perempuan sekandung atau seayah mendapatkan sisanya. yang juga merupakan anak paman kandung pewaris. Inilah perbedaan keduanya. dan hak lainnya ialah ikut mendapat bagian sisa yang ada karena ikatan rahim. pada 'ashabah bil ghair para 'ashabah bi nafsih menggandeng kaum wanita ashhabul furudh menjadi 'ashabah dan menggugurkan hak fardh-nya. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. dan dalam hal ini mereka mendapatkan bagian sisa seluruh harta peninggalan sesudah ashhabul furudh mengambil bagian masing-masing. anak perempuan menjadi 'ashabah bila bersama saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki pewaris). Sedangkan 'ashabah ma'al ghair tidaklah demikian. secara ringkas. Saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah menjadi 'ashabah bil ghair dengan adanya saudara kandung lakilaki ataupun saudara laki-laki seayah. atau satu dari arah fardh dan yang kedua dari arah karena rahim. Seorang saudara perempuan sekandung atau seayah tidak menerima bagian seperti bagian anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Catatan Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu tidak berhak menjadi ahli waris bila pewaris mempunyai anak perempuan. Adapun 'ashabah ma'al ghair adalah para saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan. Tampak semakin jelas perbedaan antara dua macam 'ashabah itu. Sedangkan dalam 'ashabah ma'al ghair tidak terdapat sosok 'ashabah bi nafsih. pada 'ashabah bil ghair selalu ada sosok 'ashabah bi nafsih. dan sisanya untuk suami sebagai 'ashabah karena ia anak paman kandung. Jadi. Maka pembagiannya sebagai berikut: Untuk nenek seperenam (1/6). Dalam hal ini bagi yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. dan akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara laki-lakinya. Akan tetapi. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). anak perempuan atau cucu perempuan keturunan anak lakilaki mendapat bagian secara fardh. C. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair Dari uraian sebelumnya dapat kita ketahui bahwa 'ashabah bil ghair adalah setiap wanita ahli waris yang termasuk ashhabul furudh. misalnya ia sebagai ashhabul furudh dan juga sebagai 'ashabah. karena kekuatannya seperti saudara laki-laki seayah sehingga ia menggugurkan paman kandung. Maka pembagiannya seperti berikut: sang istri mendapat bagian seperempat sebagai fardh-nya karena adanya ikatan perkawinan.saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair.

42 .

Demikian juga seperti penghalangan bagian seorang suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi seperempat. 43 . terhalangnya hak waris seorang kakek karena adanya ayah. dan seterusnya. terhalangnya hak waris saudara seayah karena adanya saudara kandung. disebabkan ia menghalangi orang untuk memasuki tempat tertentu tanpa izin guna menemui para penguasa atau pemimpin. Adapun pengertian al-hujub menurut kalangan ulama faraid adalah menggugurkan hak ahli waris untuk menerima waris. Jadi. dalam dunia faraid apabila kata al-hujub disebutkan tanpa diikuti kata lainnya. B. baik secara keseluruhannya atau sebagian saja disebabkan adanya orang yang lebih berhak untuk menerimanya. misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad. Misalnya. dan al-hujub bi asy-syakhshi (karena orang lain). bentuk isim fa'il (subjek) untuk kata hajaba adalah hajib dan bentuk isim maf'ul (objek) ialah mahjub. Hujub hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang. dan seterusnya. terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu. Sedangkan al-hujub bi asy-syakhshi yaitu gugurnya hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. dalam bahasa Arab juga kita kenal kata hajib yang bermakna 'tukang atau penjaga pintu'. Selain itu. yakni al-hujub bil washfi (sifat/julukan). Maka makna al-hajib menurut istilah ialah orang yang menghalangi orang lain untuk mendapatkan warisan. Al-hujub bil washfi berarti orang yang terkena hujub tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan. Hak waris mereka menjadi gugur atau terhalang. dan al-mahjub berarti orang yang terhalang mendapatkan warisan. Definisi al-Hujub Al-hujub dalam bahasa Arab bermakna 'penghalang' atau 'penggugur'. penghalangan terhadap hak waris ibu yang seharusnya mendapatkan sepertiga menjadi seperenam disebabkan pewaris mempunyai keturunan (anak). Satu hal yang perlu diketahui di sini. Adapun hujub nuqshan (pengurangan hak) yaitu penghalangan terhadap hak waris seseorang untuk mendapatkan bagian yang terbanyak. terhalangnya hak waris cucu karena adanya anak. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman: "Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka" (alMuthaffifin: 15) Yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum kuffar yang benar-benar akan terhalang. PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A. tidak dapat melihat Tuhan mereka di hari kiamat nanti. Al-hujub bi asy-syakhshi terbagi dua: hujub hirman dan hujub nuqshan. Ini merupakan hal mutlak dan tidak akan dipakai dalam pengertian hujub nuqshan.V. Misalnya. Macam-macam al-Hujub Al-hujub terbagi dua. sang istri dari seperempat menjadi seperdelapan karena pewaris mempunyai anak. maka yang dimaksud adalah hujub hirman.

suami. 2. cucu kandung laki-laki. ditambah dengan adanya keponakan (anak lakilaki dari keturunan saudara kandung laki-laki). Cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. juga terhalangi oleh adanya sosok yang menghalangi keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seayah. juga terhalang oleh saudara kandung perempuan yang menjadi 'ashabah ma'al Ghair. cicit. 11. 9. cucu. Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman Sederetan ahli waris yang dapat terkena hujub hirman ada enam belas. dan seterusnya) dan juga oleh cabang (anak. serta oleh saudara laki-laki seayah.Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman Ada sederetan ahli waris yang tidak mungkin terkena hujub hirman. dan istri. 8. Paman kandung (saudara laki-laki ayah) akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki dari saudara laki-laki. Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap mendapatkan hak waris. Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu akan terhalangi oleh pokok (ayah. Kakek (bapak dari ayah) akan terhalang oleh adanya ayah. dan juga dengan adanya paman kandung. Sepupu kandung laki-laki (anak paman kandung) akan terhalangi oleh adanya paman seayah. kakek. 3. dan seterusnya). Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau bahkan keenamnya. cicit. Keponakan laki-laki (anak dari saudara laki-laki seayah) akan terhalangi dengan adanya orang-orang yang menghalangi keponakan (dari anak saudara kandung laki-laki). cicit. dan juga oleh sosok yang menghalangi paman seayah. 4. 6. cucu. dan terhalang dengan adanya ayah serta keturunan laki-laki (anak. Adapun ahli waris dari laki-laki sebagai berikut: 1. Paman seayah akan terhalangi dengan adanya sosok yang menghalangi paman kandung. Demikian juga para cucu akan terhalangi oleh cucu yang paling dekat (lebih dekat). ibu. Saudara kandung laki-laki akan terhalang oleh adanya ayah. 7. sebelas terdiri dari laki-laki dan lima dari wanita. akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki. cucu. Saudara laki-laki seayah akan terhalang dengan adanya saudara kandung laki-laki. Sedangkan lima ahli waris dari kelompok wanita adalah: 44 . 10. Keponakan laki-laki (anak saudara kandung laki-laki) akan terhalangi dengan adanya ayah dan kakek. dan seterusnya). Keenam orang tersebut adalah anak kandung laki-laki. 5. dan juga oleh kakek yang lebih dekat dengan pewaris. dan keturunan laki-laki (anak. maka semuanya harus mendapatkan warisan. dan seterusnya) baik anak laki-laki maupun anak perempuan. anak kandung perempuan. anak lakilaki. Sepupu laki-laki (anak paman seayah) akan terhalangi dengan adanya sepupu laki-laki (anak paman kandung) dan dengan adanya sosok yang menghalangi sepupu laki-laki (anak paman kandung). ayah.

apabila saudara laki-laki itu tidak ada. cucu.1. juga terhalang oleh adanya ayah dan keturunan (anak. Nenek (baik ibu dari ibu ataupun dari bapak) akan terhalangi dengan adanya sang ibu. Disebut saudara laki-laki yang merugikan karena keberadaannya menyebabkan ahli waris dari kalangan wanita tidak mendapatkan warisan. dan seterusnya (semuanya laki-laki). dan seterusnya) juga oleh adanya cabang (anak. Agar lebih jelas saya berikan beberapa contoh kasus. anak perempuan. cucu. sebab tanpa keberadaannya para saudara kandung perempuan itu tidak akan menerima hak waris mereka. 3. Pertama: Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. ahli waris wanita itu akan mendapatkan waris. Padahal. yakni saudara laki-laki yang merugikan. 5. kakek. cucu. dan cucu perempuan dari anak laki-laki. Disebut demikian karena tanpa cucu lakilaki. anak. cicit. Saudara Laki-laki yang Merugikan Kalau sebelumnya saya jelaskan tentang saudara laki-laki yang membawa berkah. Saudara perempuan seayah akan terhalangi dengan adanya saudara kandung perempuan jika ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. maka cucu laki-laki dapat menyeret cucu perempuan itu sebagai 'ashabah. dan seterusnya. Saudara kandung perempuan akan terhalangi oleh adanya ayah. Saudara perempuan seibu akan terhalangi oleh adanya sosok laki-laki (ayah. maka kini saya akan menjelaskan kebalikannya. dan seterusnya) baik laki-laki ataupun perempuan. Keadaan seperti ini dalam faraid disebut sebagai kerabat yang berkah atau saudara laki-laki yang berkah. gugurlah hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. anak perempuan setengah. cicit. Kecuali bila ia mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki keturunan anak lakilaki) yang sederajat ataupun yang lebih rendah dari derajat cucu perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: suami seperempat (1/4) bagian. baik cucu itu hanya seorang ataupun lebih. cicit. yang sebelumnya tidak mendapat fardh. Keadaan seperti ini dinamakan sebagai saudara yang berkah. khusus kalangan laki-laki) serta terhalang oleh adanya dua orang saudara kandung perempuan bila keduanya menyempurnakan bagian dua per tiga (2/3). Selain itu. Selain itu. 2. Sebab saudara laki-laki seayah itu akan menggandengnya menjadi 'ashabah. gugurlah hak waris para saudara perempuan seayah. kecuali bila ada saudara laki-laki seayah. Saudara Laki-laki yang Berkah Apabila anak perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). ibu seperenam (1/6) bagian. kecuali jika ada 'ashabah. Cucu perempuan (keturunan anak laki-laki) akan terhalang oleh adanya anak laki-laki. kecuali bila adanya 'ashabah. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3) karena merupakan bagian wanita. ayah juga seperenam (1/6) bagian. bapak. cucu perempuan tidak akan mendapat warisan. 45 . Kemudian. apabila saudara kandung perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). 4. juga akan terhalangi oleh adanya dua orang anak perempuan atau lebih. ibu.

Karena. masalah ini merupakan kasus kolektif. keberadaan saudara laki-laki dari cucu perempuan keturunan anak laki-laki itu merugikannya. sesuatu yang keluar dan menyimpang dari kaidah aslinya. Sedangkan saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan bagian karena ia sebagai 'ashabah --sedangkan harta waris yang dibagikan telah habis. hingga mereka mendapat sepertiga (1/3) bagian dan dibagikan secara rata di 46 . dalam masalah ini ternyata terjadi sesuatu yang kontradiktif. Contoh permasalahannya sebagai berikut. Pembagiannya adalah seperti berikut: suami mendapat setengah (1/2) bagian dikarenakan pewaris tidak mempunyai anak secara fardh. Itulah contoh tentang saudara laki-laki yang merugikan. serta para imam mujtahidin --dalam contoh kasus seperti ini-. Contoh pertama tidak merugikan karena memang tidak ada cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: suami memperoleh seperempat (1/4) bagian karena istri mempunyai anak (keturunan). ayah. Tentang Kasus Kolektif Menurut kaidah yang biasa dikenal dan dipakai ulama faraid. Berdasarkan kaidah yang berlaku.menyatakan bahwa saudara kandung laki-laki disamakan dengan saudara laki-laki yang seibu. sedangkan cucu laki-laki dan perempuan tidak mendapat bagian. dan dua orang saudara kandung laki-laki (atau lebih dari dua orang). ibu seperenam (1/6) bagian. Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. Inilah rahasia mengapa ulama faraid mengistilahkannya sebagai "saudara laki-laki yang merugikan". sehingga cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3). C. ibu mendapat seperenam (1/6) bagian disebabkan pewaris mempunyai dua orang saudara lakilaki atau lebih. dua saudara laki-laki seibu (atau lebih dari dua orang)." Namun demikian. Kedua: Untuk lebih memperjelas. seorang wanita wafat dan meninggalkan seorang suami. tetapi pada kasus ini justru terjadi sebaliknya. pembagian harta waris dimulai dengan ashhabul furudh. ayah seperenam (1/6) bagian. bila mempunyai saudara laki-laki seayah. ibu. maka gugurlah hak cucu perempuan tersebut. Sedangkan dalam contoh kedua. kemudian baru kepada para 'ashabah. Maka. saudara kandung laki-laki sebenamya memiliki kekerabatan lebih kuat dibandingkan saudara laki-laki seibu. ibu. dan imam mujtahidin. Para ulama menyandarkan kaidah ini pada hadits Rasulullah saw. di sisi lain masalah ini telah memancing perbedaan pendapat sejak masa para sahabat. saudara perempuan seayah akan mendapat waris bila tidak mempunyai saudara laki-laki seayah yang masih hidup. sedangkan anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian karena tidak ada pen-ta'shih. Ilustrasi seperti itu dapat kita ubah susunan ahli warisnya. misalnya posisi cucu perempuan keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara perempuan seayah dan posisi cucu laki-laki keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara laki-laki seayah. (artinya): "Berikanlah hak waris kepada ashhabul furudh. dan sisanya diberikan kepada kerabat laki-laki yang lebih dekat. anak perempuan. Oleh sebab itu. juga karena para sahabat. Sementara itu. serta cucu laki-laki dan perempuan dari keturunan anak laki-laki. dalam contoh berikut saya sertakan saudara laki-laki yang merugikan.Seandainya dalam kasus ini terdapat cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. tabi'in. yakni adanya cucu laki-laki keturunan dari anak laki-laki.karena ia mempunyai saudara laki-laki yang sederajat. cucu perempuan dirugikan --tidak mendapat waris-. tabi'in. Namun. selain sebagai masalah yang menyimpang dari kaidah aslinya. maka saudara perempuan seayah tidak mendapat bagian apa-apa. Masalah ini dikenal juga dengan istilah "kasus musytarakah" (kasus kolektif). dan dua orang saudara seibu mendapat bagian sepertiga (1/3).

Umar baru pertama kali menjumpai kasus seperti ini dan memvonis: saudara kandung tidak mendapat bagian hak waris sedikit pun. karena Umar bin Khathab pernah memvonis masalah ini --juga pernah dikenal dengan sebutan Himariyah. Pendapat pertama menyatakan bahwa hak waris saudara kandung digugurkan sebagaimana mengikuti kaidah yang ada. Saudara yang ada benar-benar saudara kandung. sedangkan pendapat yang kedua diikuti dan dianut oleh mazhab Maliki dan Syafi'i. sejak masa para sahabat. Maka ia memvonis dengan memberi hak kepada mereka (saudara seibu dan saudara sekandung) secara bersamaan dan dibagi sama rata. Diriwayatkan bahwa masalah musytarakah ini pernah diajukan ke hadapan Umar bin Khathab r. Selain itu. Pendapat ini pernah dilakukan oleh Abu Bakar. proteslah salah seorang ahli warisnya: "Wahai Amirul Mukminin. Perbedaan Pendapat Para Fuqaha Dalam masalah musytarakah (kolektif) ini ada dua kubu pendapat yang masyhur dalam hal membagi hak waris sebagaimana contoh kasus tersebut. Pendapat pertama dianut dan diikuti oleh mazhab Hanafi dan Hambali. Contohnya adalah sebagai berikut: Asal masalah dari enam 6 naik menjadi 18 Keterangan Suami 1/2 harta waris yang ada secara fardh Ibu 1/6 harta waris yang ada secara fardh Saudara seibu 1/3 secara fardh dan dibagi merata dengan saudara kandung Saudara kandung dapat hak waris. dan Yammiyah. maka akan mewarisi secara fardh. sungguh mustahil bila ayah kami dianggap keledai atau batu yang terbuang di sungai. sebab bila saudara seayah maka gugurlah haknya secara ijma'. Sebab bila perempuan. karena dianggap seperti saudara seibu dengan mendapat bagian sepertiga (1/3) dibagi adil Jumlah Bagian 3 1 2 Nilai 9 3 4 2 Persyaratan Masalah Kolektif 1. 47 . dan lainnya. 3. masalah ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan "umariyah". 2. Saudara kandung itu harus saudara laki-laki. masalah ini diajukan kembali kepadanya. Ibnu Mas'ud. Ketika ia hendak memvonis seperti tahun lalu. Utsman. Hajariyah. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa hak waris pada saudara kandung dikolektifkan dengan hak waris para saudara laki-laki seibu. serta kekolektifan ini akan batal. masalah ini juga menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ibnu Abbas. Kemudian pada tahun berikutnya. Ali. Pendapat ini dilakukan oleh Zaid bin Tsabit.antara mereka (termasuk saudara kandung laki-laki). Jumlah saudara seibu dua orang atau lebih. baik laki-laki atau perempuan. Dan dalam hal ini tidak berbeda apakah hanya satu orang atau banyak..a. Bukankah kami ini anak dari seorang ibu?" Umar menyimak perkataan orang itu dan berpikir bahwa apa yang diucapkannya benar dan tepat. Di samping itu. tabi'in. dan masalahnya pun akan naik. dan lainnya. dan imam mujtahidin.

Masih menurut mazhab Hanafi. Kaidah yang lain ialah bahwa banul akhyaf mendapatkan hak waris secara merata pembagiannya antara yang lakilaki dengan yang perempuan. hak waris banul akhyaf digugurkan dengan adanya anak perempuan pewaris.Beberapa Kaidah Penting Hak waris banul a'yan (saudara kandung laki-laki/perempuan). Hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama. Sedangkan menurut ketiga imam mazhab yang lain tidaklah demikian. dan banul 'allat (saudara laki-laki/perempuan seayah). cucu perempuan keturunan anak laki-laki pewaris." 48 . cucu laki-laki (keturunan anak laki-laki). Menurut mazhab Abu Hanifah hak mereka juga digugurkan oleh adanya kakek pewaris. serta banul akhyaf (saudara laki-laki/perempuan seibu) akan gugur (terhalangi) oleh adanya anak laki-laki pewaris. dan ayah. dan seterusnya. Hal ini berdasarkan firman Allah (artinya) "mereka bersekutu dalam yang sepertiga.

Namun demikian.a.. maka kakek menjadi rusak nasabnya. C. Hal ini didasarkan sesuai dengan kaidah yang ada di dalam faraid: "bilamana unsur wanita masuk ke dalam nasab laki-laki. ijtihad ini sangat mengkhawatirkan mereka. atau hukum tentang hak kepemilikan. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek Para imam mazhab berbeda pendapat mengenai hak waris kakak bila bersamaan dengan saudara. mereka merasa sangat takut kalau-kalau berlaku zalim dan aniaya. dan memberikan hak waris kepada orang yang sebenamya tidak berhak.VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA A. karena jika salah berarti mereka akan merugikan orang yang sebenarnya mempunyai hak untuk menerima warisan. Dia menjelaskannya di dalam Al-Qur'an dengan detail agar tidak terjadi kezaliman dan perbuatan aniaya di kalangan umat manusia. Karena itu Allah SWT tidak membiarkan begitu saja hukum yang berkenaan dengan masalah hak kepemilikan materi ini. 49 . misalnya ayah dari bapak dan seterusnya. Perbedaan tersebut dapat digolongkan ke dalam dua mazhab. itulah kakek yang sahih. misalnya ayahnya ibu. Pengertian Kakek yang Sahih Makna kakek yang sahih ialah kakek yang nasabnya terhadap pewaris tidak tercampuri jenis wanita. karena tidak ada nash Al-Qur'an atau hadits Nabi yang menjelaskannya. Ibnu Mas'ud r. Namun bila tidak termasuki unsur wanita. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara Baik Al-Qur'an maupun hadits Nabawi tidak menjelaskan tentang hukum waris bagi kakek yang sahih dengan saudara kandung ataupun saudara seayah." B." Ketakutan dan kehati-hatian para sahabat dalam memvonis masalah hak waris kakek dan saudara itu tentu sangat beralasan. menurut mereka. bahkan mereka cenderung sangat takut untuk memberi fatwa yang berkenaan dengan masalah ini. Hal ini akan memudahkan setiap orang yang ingin mengetahuinya sambil bersandar kepada ijtihad yang dianggapnya lebih rajih (kuat dan tepat) serta dapat dijadikannya sandaran dalam berfatwa. Dengan demikian. dalam hal ini pernah mengatakan: "Bertanyalah kalian kepada kami tentang masalah yang sangat pelik sekalipun. Akan tetapi di sisi lain. khususnya para ahli waris." Pernyataan serupa juga ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib: "Barangsiapa yang ingin diceburkan ke dalam neraka Jahanam. Sedangkan kakek yang berasal garis wanita disebut sebagai kakek yang rusak nasabnya. atau ayah dari ibunya ayah. namun janganlah kalian tanyakan kepadaku tentang masalah warisan kakak yang sahih dengan saudara. sama seperti perbedaan yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. mayoritas sahabat sangat berhati-hati dalam memvonis masalah ini. Ijtihad dan pendapat tersebut dijaga serta dibukukan secara lengkap dan detail beserta dalildalilnya. masalah ini memerlukan ijtihad. Oleh karena itu. Perlu saya tekankan bahwa masalah waris sangatlah berbahaya dan sensitif. masalah yang sangat dikhawatirkan itu hilang setelah munculnya ijtihad para salaf ash-shalih dan para imam mujtahidin. Terlebih lagi dalam masalah yang berkenaan dengan materi. maka hendaklah ia memvonis masalah waris antara kakek yang sahih dengan para saudara.

Sekali-kali arah itu tidak akan berubah atau berpindah kepada arah yang lain. karena kakek merupakan bapak yang paling 'tinggi'. Ibnu Mas'ud. jika 'ashabah itu ada anak dan ayah. atau anak perempuan. 50 . Kakek tidaklah menggugurkan hak waris para saudara kandung dan yang seayah.Mazhab pertama: mereka menyatakan bahwa para saudara --baik saudara kandung. sedangkan saudara adalah cabang dari ayah. Kedekatan kakek terhadap pewaris melewati ayah. karena itu tidaklah layak untuk mengutamakan yang satu dari yang lain karena mereka sama derajatnya. Mereka beralasan bahwa kakek akan mengganti kedudukan ayah bila telah tiada. Bila kita mengutamakan yang satu dan mencegah yang lain berarti telah melakukan kezaliman tanpa alasan yang dapat diterima. Pendapat ini diikuti oleh mazhab Hanafi. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kaidah yang masyhur di kalangan fuqaha. dan sebagainya.lebih didahulukan daripada arah saudara. kemudian saudara. Misalnya. sedangkan para saudara tadi hanya kebagian tangis. Lebih lanjut golongan yang pertama ini menyatakan bahwa arah ayah --mencakup kakek dan seterusnya-.Tentang Mazhab Jumhur Untuk lebih menjelaskan pendapat yang rajih --yakni pendapat jumhur ulama-. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur sahabat dan tabi'in. Alasan lain yang dikemakakan mazhab ini ialah bahwa kebutuhan para saudara --yang jelas lebih muda daripada kakek&emdash. seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. D. dan barulah arah paman.terhadap harta jauh lebih besar ketimbang para kakek. sama seperti halnya ayah. yaitu Imam Malik. dan Ibnu Umar. Mazhab ini merupakan pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq. demikian juga saudara. sebelum arah yang lebih dahulu hilang atau habis. tidak ada ahli waris lain dari ashhabul furudh.terhalangi (gugur) hak warisnya dengan adanya kakek. Kakek merupakan pokok dari ayah. Mazhab kedua: berpendapat bahwa para saudara kandung laki-laki/perempuan dan saudara laki-laki seayah berhak mendapat hak waris ketika bersamaan dengan kakek. Ibnu Abbas. kemudian barulah arah paman. sama seperti gugurnya hak waris oleh saudara bila ada ayah. Karena itu hak waris para saudara akan terhalangi karena adanya arah kakek.maka saya perlu mengatakan bahwa sesungguhnya jika kakak mewarisi bersamaan dengan saudara. tidak mendapat warisan dari saudaranya yang meninggal. yakni Zaid bin Tsabit. dan Imam Ahmad bin Hambal. saudara seayah. misalnya saja warisan pewaris ini dibagikan atau diberikan kepada para kakek. yaitu Muhammad dan Abu Yusuf. Pendapat ini dianut oleh ketiga imam. Bila 'ashabah itu ada arah saudara dan arah paman maka yang didahulukan adalah arah saudara. Dengan demikian para paman menjadi ahli waris. asy-Syi'bi. maka yang lebih didahulukan adalah arah anak (keturunan). Keadaan pertama: kakek mewarisi hanya bersamaan dengan para saudara. bila ternyata 'ashabah banyak arahnya. dan masingmasing memiliki hukum tersendiri. dan diikuti oleh kedua orang murid Abu Hanifah. seperti istri atau ibu. maka ia mempunyai dua keadaan. maka yang didahulukan adalah arah anak. Hal ini sama dengan memberikan hak waris kepada para saudara kandung kemudian di antara mereka ada yang tidak diberi. Yakni. Alasan yang dikemukakan golongan kedua ini ialah bahwa derajat kekerabatan saudara dan kakek dengan pewaris sama. ataupun seibu-. Imam Syafi'i. Sebagai gambaran. Ali bin Abi Thalib. maka harta peninggalannya akan berpindah kepada anak-anaknya yang berarti paman para saudara. dan Ahli Madinah ridhwanullah 'alaihim. kemudian arah ayah. kemudian ia wafat.

Pada keadaan keempat kakek mendapat setengah (1/2). Kakek dengan saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan. 2. ia mendapatkan bagian yang sama dengan bagian saudara kandung laki-laki. Bila cara pembagian tersebut kemungkinan merugikan kakek. Kelima keadaan tersebut sebagai berikut: 1.dari dua pilihan yang ada. Berarti kakek mendapatkan bagian dua kali lipat bagian para saudara perempuan sekandung. Pada keadaan ketiga kakek mendapat dua per lima (2/5). Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek Ada lima keadaan yang lebih menguntungkan kakek bila menggunakan cara pembagian. dan anak perempuan. Kakek dengan dua orang saudara kandung perempuan. Apabila kakek berhadapan dengan saudara perempuan kandung. 51 . istri. Mana di antara kedua cara tersebut yang lebih baik bagi kakek. seperti ibu. maka bagi kakek dipilihkan perkara yang afdhal baginya --agar lebih banyak memperoleh harta warisan-. dan kedua dengan cara mendapatkan sepertiga (1/3) harta warisan. 4. dan bila mendapatkan 1/3 harta warisan lebih baik maka itulah yang menjadi haknya.Keadaan kedua: kakak mewarisi bersama para saudara dan ashhabul furudh yang lain. Adapun penjelasannya seperti berikut: Pada keadaan pertama kakak mendapat dua per tiga (2/3). itulah yang menjadi bagiannya. Bila pembagian lebih baik baginya maka hendaklah dengan cara pembagian. Pertama dengan cara pembagian. Pada keadaan kedua kakek mendapat setengah (1/2). 3. Hukum Keadaan Pertama Bila seseorang wafat dan meninggalkan kakek serta saudara-saudara tanpa ashhabul furudh yang lain. Kakek dengan tiga orang saudara kandung perempuan. maka ia menempati posisi yang sama seperti saudara kandung laki-laki. Kakek dengan saudara kandung laki-laki. 5. Makna Pembagian Makna pembagian menurut ulama faraid adalah kakek dikategorikan seperti saudara kandung. Kakek dengan saudara kandung perempuan. maka diberikan dengan memilih cara mendapat sepertiga (1/3) harta waris yang ada.

Dan hal ini pun dengan syarat bagiannya tidak kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. Dalam hal ini kakek mendapat sepertiga (1/3). 2. Catatan Hukum tentang hak waris saudara laki-laki dan perempuan seayah ketika bersama dengan kakek --tanpa saudara kandung laki-laki atau perempuan-.maka bagi kakek dapat memilih salah satu dari tiga pilihan yang paling menguntungkannya. Kalau jumlah harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh tidak tersisa kecuali seperenam atau bahkan kurang. yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian wanita. 52 . menerima sepertiga (1/3). maka hendaknya dibagi dengan cara itu. 3. atau menerima seperenam (1/6) dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris. Ketetapan ini telah menjadi kesepakatan bulat imam mujtahid.bagian sang kakek lebih menguntungkannya. Yang pasti. bagian kakek tidaklah boleh kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. dan para saudara kandung digugurkan atau dikurangi haknya. maka kakek akan dirugikan karena akan menerima kurang dari sepertiga harta warisan. maka pemberian sepertiga (1/3) kepada sang kakek lebih menguntungkannya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang kakek dan tiga orang saudara. dengan pembagian. Adapun bila cara pembagian --setelah para ashhabul furudh mengambil bagiannya-. Sebab bagian tersebut adalah bagiannya yang telah ditentukan syariat. Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang Ada tiga keadaan yang menyebabkan kakek mendapatkan bagian yang sama baik secara pembagian ataupun dengan mengambil sepertiga harta waris yang ada. Dan jika sepertiga (1/3) sisa harta waris yang ada malah lebih menguntungkannya. Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek Selain dari delapan keadaan yang saya kemukakan itu.Pada keadaan kelima kakek mendapat dua per lima (2/5). maka itulah bagian kakek. Kelima keadaan itu lebih menguntungkan kakek jika menggunakan cara pembagian. maka tetaplah kakek diberi bagian seperenam (1/6) secara fardh. atau seorang kakek dan lima saudara kandung perempuan atau lebih.maka hukumnya sama dengan hukum yang saya jelaskan di atas. Hukum Keadaan Kedua Bila kebersamaan antara kakek dengan para saudara dibarengi pula dengan adanya ashhabul furudh yang lain --yakni ahli waris lainnya-. Kalau saja dalam keadaan seperti itu kita gunakan cara pembagian. Misalnya. Kakek dengan seorang saudara kandung laki-laki dan dua orang saudara kandung perempuan. Kakek dengan empat orang saudara kandung perempuan. Kakek dengan dua orang saudara kandung laki-laki. Yaitu. dan sisanya dibagikan kepada para saudara. Ketiga keadaan itu sebagai berikut: 1.

mereka dianggap satu jenis. anak perempuan setengah (1/2). keberadaan saudara seayah dalam keadaan seperti ini dikategorikan sebagai merugikan kakek. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat seperempat (1/4). kakek. lima anak perempuan mendapat dua per tiga (2/3). Pada bagian ini akan dijelaskan bagian kakek jika ia tidak hanya bersama dengan saudara kandung. dan empat saudara kandung laki-laki. E. yakni kakak seperempat dan saudara kandung laki-laki juga seperempat. dan sisanya dibagikan kepada saudara laki-laki dan perempuan. dan sang kakek juga seperenam. kakek seperenam (1/6).Contoh Keadaan Kedua Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan suami. kakak. sedangkan empat saudara laki-laki tidak mendapatkan apa-apa. ibu mendapatkan seperenam (1/6). Pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan dengan cara pembagian. ia mendapatkan sepertiga dari sisa harta setelah diambil hak sang ibu. Maka pembagiannya sebagai berikut: untuk kedua orang istri seperdelapan (1/8). Pembagiannya sebagai berikut: bagi anak perempuan setengah (1/2). kakek. Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan lima anak perempuan. dan tiga saudara kandung perempuan. dan sisanya dibagi dua. dan sisanya dibagikan kepada para saudara kandung perempuan sesuai jumlah orangnya secara rata. kakek. seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Untuk keadaan seperti ini. suami. ulama faraid menyatakan bahwa para saudara seayah dikategorikan sama dengan saudara kandung. 53 .sebab jika saudara kandung dan seayah bersama-sama. Meskipun setelah kakek mendapatkan bagian. seorang anak perempuan. dua saudara kandung laki-laki dan dua saudara kandung perempuan. haknya menjadi gugur. maka saudara seayah mahjub. Hal ini telah disepakati ulama mujtahid. nenek. seluruh sisa harta waris yang ada hanya menjadi hak para saudara kandung -. dengan ketentuan bagi laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. dan saudara kandung laki-laki. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. kakek. Sedangkan sepuluh saudara kandung perempuan tidak mendapatkan apa-apa sebab ashhabul furudh telah menghabiskan bagian yang ada. Sebab dengan pembagian ia mendapatkan bagian lebih dari seperenam (1/6). Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek Persoalan yang saya jelaskan sebelumnya berkisar mengenai bagian kakek bila hanya bersamaan dengan saudara kandung. Maka pembagiannya seperti berikut: suami faradh-nya setengah (1/2) karena pewaris tidak mempunyai anak. Contoh kelima: seseorang wafat dan meninggalkan dua orang istri. nenek seperenam (1/6). tetapi sekaligus bersama dengan saudara seayah. ibu. Dalam contoh kedua ini bagian kakek lebih menguntungkan. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. dan kakek mendapat seperenam (1/6). dan sepuluh saudara kandung perempuan. dan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). Apabila pemberian dilakukan secara pembagian. Berarti kakek mendapat sepertiga (1/3) dari lima per enam (5/6). kakek mendapat sepertiga (1/3) dari sisa harta yang ada.

Catatan Pada contoh ketiga --seperti telah diutarakan-. saya langsung memberikan hak kakek sepertiga (1/3). Dalam hal ini saudara perempuan seayah gugur sebab ada saudara kandung. Karena sebagaimana telah saya kemukakan bahwa keberadaan para saudara laki-laki/perempuan seayah sebagai perugi. Oleh sebab itu. maka para saudara laki-laki seayah akan mendapatkan bagian sisa harta yang ada. yakni merugikan kakek pada cara pembagian. jika saudara seayah mewarisi bersama kakek dan seorang saudara kandung perempuan. yakni saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. tentu hal ini akan merugikannya karena ia akan menerima bagian kurang dari sepertiga (1/3) harta waris yang ada. dan itu menjadi bagian saudara laki-laki kandung. mendapat sepertiga harta waris atau dengan cara pembagian". setelah diambil hak saudara kandung perempuan (1/2) dan hak kakek (1/3). Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung perempuan. Dalam contoh pertama. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. dalam masalah ini kita berikan nasib (bagian) saudara perempuan seayah sebanyak dua per enam (2/6). kakek memperoleh dua per enam (2/6) bagian. kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. hak saudara kandung laki-laki dua per tiga (2/3). yaitu sepertiga (1/3). karena itu bagian kakek sepertiga (1/3).Akan tetapi. Setelah itu saya berikan hak waris saudara kandung perempuan setengah secara fardh. dan dua orang saudara perempuan seayah. sebab saudara perempuan seayah gugur haknya oleh adanya saudara laki-laki kandung. dan keberadaannya hanya merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. Pada contoh kedua ini. yaitu sepertiga. kakek. Kalaulah pemberian kepada kakak dalam contoh ini menggunakan cara pembagian. saudara laki-laki dikategorikan sebagai ahli waris. dan saudara kandung laki-laki memperoleh dua per tiga (2/3) bagian.keberadaan saudara laki-laki/perempuan seayah merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. Kebetulan dalam kasus ini kedua cara pemberian waris bagi kakek menghasilkan bagian yang sama. saya berikan haknya dengan cara yang paling menguntungkannya. Kemudian. dan sisanya diberikan kepada saudara kandung laki-laki. Jumlah sepertiga (1/3) bagi kakek dalam contoh kasus ini sesuai dengan kaidah yang ada: "hendaklah kakek diberi dengan salah satu dari dua cara yang paling menguntungkannya. Maka pembagiannya sebagai berikut: kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. Sisanya barulah untuk mereka. seorang saudara kandung laki-laki. seorang saudara laki-laki seayah. Agar persoalan ini tidak terlalu kabur dan membingungkan saya sertakan beberapa contoh kasus. karena ia lebih kuat dan lebih dekat kekerabatannya terhadap pewaris dibandingkan para saudara laki-laki/perempuan seayah. tanpa menggunakan cara pembagian. sedangkan sisanya diberikan kepada para saudara laki-laki dan perempuan seayah --dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. sedangkan saudara laki-laki seayah terhalangi oleh adanya ahli waris yang lebih kuat dan dekat. dan seorang saudara perempuan seayah. sedangkan saudara laki-laki seayah mahjub (terhalangi) karena adanya saudara kandung laki-laki. Bila kita lihat secara seksama akan tampak oleh kita 54 . Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan kakek. kakek.

Barangkali untuk lebih memperjelas masalah ini perlu pula saya sertakan tabelnya. bila seseorang meninggal dan hanya meninggalkan kakek serta anak saudaranya. 55 . Tabelnya sebagai berikut: Masalahnya 12 dan naik menjadi 36 Keterangan Bagian ibu 1/6 Bagian kakek 1/3 (sisa setelah diambil ibu) Bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) Bagian dua orang saudara laki-laki seayah (sisanya) Catatan Apabila pewaris hanya meninggalkan kerabat seperti kakek dan saudara-saudara laki-laki/perempuan seibu saja. dan seterusnya). Nilai 6 10 18 2 F. kakek. Sebab. kakek sepertiga (1/3).dalam contoh ini adalah ibu. Masalahnya 12 Keterangan Bagian ibu 1/6 secara fardh Bagian kakek 2/6 secara pembagian dengan saudara kandung laki-laki Bagian saudara kandung (sisanya) Bagian saudara perempuan seayah mahjub Nilai 2 4 6 0 Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. kakek dapat menggugurkan hak waris saudara seibu. sedangkan bagian dua orang saudara seayah sisanya. dan saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2). dan dua orang saudara seayah. saudara kandung perempuan. Masalah al-Akdariyah Istilah al-akdariyah muncul karena masalah ini berkaitan dengan salah seorang wanita dari bani Akdar. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu memperoleh seperenam (1/6) bagian. cicit. Dan hak waris saudara seibu hanyalah bila pewaris sebagai kalalah. Di samping itu. Misalnya. maka seluruh warisan merupakan bagian kakek. bukan dengan cara menerima sepertiga (1/3) sisa harta waris setelah diambil ashhabul furudh -. maka seluruh warisannya menjadi hak kakek. hal lain yang telah menjadi ijma' seluruh fuqaha ialah bahwa hak waris dari keturunan para saudara kandung ataupun seayah menjadi gugur karena adanya kakek. seperti yang telah disepakati seluruh imam mujtahid. cucu. yakni tidak mempunyai pokok (ayah dan seterusnya) dan tidak pula mempunyai cabang (anak.bahwa yang lebih menguntungkan kakek dalam hal ini adalah cara pembagian.

ibu enam (6) bagian. dan sisanya hanya seperenam (1/6) yang tidak lain sebagai bagian kakek yang tidak mungkin digugurkan --karena merupakan haknya secara fardh.a. penj. Kemudian ia menyatukan hak saudara kandung perempuan dengan saham kakak.Sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa penyebutan masalah ini dengan istilah al-akdariyah --yang artinya 'kotor' atau 'mengotori'-. Setelah ditashih. sudah semestinya bagian saudara kandung perempuan digugurkan karena tidak ada sisa harta waris. Akan tetapi. Dia memberi saudara kandung setengah (1/2) bagian. Sebab. Berikut ini saya sertakan tabelnya. Masalahnya adalah dari enam (6) Keterangan Suami mendapat setengah (1/2) secara fardh Ibu mendapat sepertiga (1/3) secara fardh Kakek mendapat seperenam (1/6) sisanya/fardh-nya Saudara kandung perempuan mahjub Adapun tabel setelah ditashih menurut al-akdariyah seperti berikut: Masalahnya naik dari enam (6) menjadi dua puluh tujuh (27) Keterangan Bagian suami menjadi Bagian ibu menjadi Bagian kakek menjadi Bagian saudara kandung perempuan menjadi Nilai 9 6 8 4 Nilai 3 2 1 0 56 . dari mulai yang sesuai dengan kaidah aslinya hingga setelah ditashih. dalam kasus ini Zaid bin Tsabit r. bagian. suami mendapat setengah (1/2). dan menaikkan masalahnya dari enam (6) menjadi sembilan (9). dan seorang saudara kandung perempuan. Dalam hal ini Imam Malik dan Imam Syafi'i mengikuti apa yang pernah dilakukan Zaid bin Tsabit. kakek delapan (8) bagian. Apabila berpegang pada kaidah yang telah disepakati seluruh fuqaha --termasuk di dalamnya Zaid bin Tsabit sendirimaka pembagiannya adalah dengan menggugurkan hak saudara kandung perempuan. sehingga menjadikannya sebagai keputusan ijtihad dalam fiqih kedua imam tersebut. dan membaginya menjadi bagian laki-laki dua kali lipat bagian wanita. kakek. Dia pernah menghadapi masalah waris dan memvonisnya dengan melakukan sesuatu yang bertentangan (menyimpang) dari kaidah-kaidah faraid yang masyhur. Oleh sebab itu. dan saudara kandung perempuan empat (4) bagian. masalahnya menjadi dua puluh tujuh (27). ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian.).disebabkan masalah ini cukup mengotori mazhab Zaid bin Tsabit (sosok sahabat yang sangat dipuji Rasulullah akan kemahirannya dalam faraid. Permasalahannya seperti berikut: bila seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. ibu. memvonis dengan menyalahi kaidah yang ada. dan pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan (9) bagian.

Wallahu a'lam. maka berarti telah keluar dari hukum tersebut. Bila ada salah satu yang diubah.Catatan Dalam masalah al-akdariyah ini sosok ahli waris mutlak tidak dapat diubah. 57 .

Maka dalam hal ini seorang suami yang semestinya mendapat bagian 3/6 (setengah) hanya memperoleh 3/9 (sepertiga). Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta yang dibagikan habis. bila aku berikan terlebih dahulu hak kedua saudara kandung perempuan pewaris maka akan berkuranglah nashib (bagian) suami. dan siapa yang diakhirkan. Sebab bila aku berikan hak suami. Sedangkan definisi al-'aul menurut istilah fuqaha yaitu bertambahnya jumlah bagian fardh dan berkurangnya nashib (bagian) para ahli waris. Latar Belakang Terjadinya 'Aul Pada masa Rasulullah saw.. seperti yang difirmankan-Nya: ". sampai masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r. Di antara mereka ada Zaid bin Tsabit dan menganjurkan kepada Umar agar menggunakan 'aul. berarti fardh-nya telah melebihi peninggalan pewaris. MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A.tidak pernah terjadi. B. Dalam keadaan seperti ini kita harus menaikkan atau menambah pokok masalahnya sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul furudh yang ada -. pastilah saudara kandung perempuan pewaris akan dirugikan karena berkurang bagiannya.. Ibnu Abbas berkata: "Orang yang pertama kali menambahkan pokok masalah (yakni 'aul) adalah Umar bin Khathab. seperti tampak dalam kalimat ini: 'alaa al-miizaan yang berarti 'berat timbangannya'.VII. begitupun dua orang saudara kandung perempuan. bagian mereka dapat berkurang manakala pokok masalahnya naik atau bertambah.. kasus 'aul atau penambahan --sebagai salah satu persoalan dalam hal pembagian waris-. seperti bila pokok masalahnya dinaikkan dari semula enam (6) menjadi sembilan (9). bagian yang mesti diterima suami adalah setengah (1/2)." (an-Nisa': 3) Al-'aul juga bermakna 'naik' atau 'meluap'. di antaranya bermakna azh-zhulm (aniaya) dan tidak adil." Secara lebih lengkap." Umar kemudian mengajukan persoalan ini kepada para sahabat Rasulullah saw. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Begitu juga sebaliknya. Dikatakan 'alaa al-ma'u idzaa irtafa'a yang artinya 'air yang naik meluap'. siapakah di antara kalian yang harus didahulukan. Umar menerima anjuran Zaid dan berkata: 58 . Yang masyhur dalam ilmu faraid. padahal di antara mereka ada yang belum menerima bagian. Menghadapi kenyataan demikian Umar kebingungan. Dia berkata: "Sungguh aku tidak mengerti.a. mereka tetap menuntut dua per tiga yang menjadi hak waris keduanya. Masalah 'aul pertama kali muncul pada masa khalifah Umar bin Khathab r. Definisi al-'Aul Al-'aul dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti. sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3)..a. suami tersebut tetap menuntut haknya untuk menerima setengah dari harta waris yang ditinggalkan istri. Dan hal itu ia lakukan ketika fardh yang harus diberikan kepada ahli waris bertambah banyak. Dengan demikian. Namun demikian.meski bagian mereka menjadi berkurang. Begitu pula halnya dengan ashhabul furudh yang lain. Al-'aul bisa juga berarti 'bertambah'. Misalnya bagian seorang suami yang semestinya mendapat setengah (1/2) dapat berubah menjadi sepertiga (1/3) dalam keadaan tertentu. riwayatnya dituturkan seperti berikut: seorang wanita wafat dan meninggalkan suami dan dua orang saudara kandung perempuan.

Lebih dari angka itu tidak bisa.kan Pokok masalah yang ada di dalam ilmu faraid ada tujuh. sedangkan saudara kandung perempuan menerima sisanya. yakni dapat naik menjadi tujuh. Pembagiannya: ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. dan saudara kandung perempuan. namun hanya untuk angka ganjilnya. seseorang wafat dan meninggalkan ayah dan ibu. dan bagian saudara kandung perempuan setengah. Kemudian pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan hingga tujuh belas (17). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari empat (4). atau tujuh belas (17). 59 . Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua (2). Lebih jelasnya. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. atau sepuluh. empat (4). Dalam contoh ini pokok masalahnya tiga (3). tiga (3). C. anak perempuan. Contoh kasus yang lain. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. sedangkan yang empat tidak dapat. dan delapan (8). jadi ibu mendapat satu bagian. Maka angka dua belas (12) hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. dua belas (12). Lebih dari itu tidak bisa. dan sisanya menjadi bagian ayah. ketiga pokok masalah itu masing-masing berbeda dan mempunyai sifat tersendiri. dan ayah dua bagian. anak setengah (1/2) berarti empat bagian. Sebagai contoh pokok yang dapat di-'aul-kan: seseorang wafat dan meninggalkan suami serta seorang saudara kandung perempuan."Tambahkanlah hak para ashhabul furudh akan fardh-nya. Sedangkan pokok masalah yang tidak dapat di-'aul-kan ada empat. dan menjadilah hukum tentang 'aul (penambahan) fardh ini sebagai keputusan yang disepakati seluruh sahabat Nabi saw. Namun. yaitu dua (2). berarti mendapat bagian satu (1). angka-angka pokok masalah yang dapat di-'aul-kan ialah angka enam (6). Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. sebab pokok masalahnya cocok atau tepat dengan bagian para ashhabul furudh." Para sahabat menyepakati langkah tersebut. angka enam (6) hanya dapat di-'aul-kan hingga angka sepuluh (10). saudara kandung laki-laki. pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan ke tiga belas (13). dan dua puluh empat (24). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari delapan (8). sedangkan sisanya (yakni 3/4) dibagi dua antara saudara kandung laki-laki dengan saudara kandung perempuan. dua belas (12). bagian istri seperempat (1/4) berarti satu (1) bagian. Berarti pokok masalah enam (6) hanya dapat dinaikkan empat kali saja. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pokok masalah dalam contoh-contoh yang saya kemukakan semuanya tidak dapat di-'aulkan. Sebagai misal. bagian istri seperdelapan (1/8) berarti satu bagian. Tiga di antaranya dapat di-'aul-kan. Maka dalam masalah ini tidak menggunakan 'aul. Ketiga pokok masalah yang dapat di-'aul-kan adalah enam (6). delapan. yakni tiga per delapan (3/8). dan saudara kandung perempuan. Bagian suami setengah berarti satu (1). lima belas (15). Contoh lain. dan dua puluh empat (24). sembilan.

Maka pembagianya seperti berikut: pokok masalahnya enam (6). Beberapa Contoh Masalah 'Aul 1. 60 . Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah syuraihiyah. Karena itu kita harus menaikkan pokok masalahnya yang semula enam menjadi sepuluh. sehingga jumlah bagian sesuai dengan pokok masalahnya. Dalam contoh kasus ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalah. sebab masalahnya sesuai dengan fardh yang ada. saudara kandung perempuan. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah al-mubahalah. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. karenanya pokok masalah enam harus dinaikkan menjadi tujuh (7). Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. saudara kandung perempuan. dua orang saudara perempuan seayah. ibu. Dalam contoh tersebut jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. sedangkan saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Untuk lebih menjelaskan dan memantapkan pemahaman kita terhadap pokok-pokok masalah yang di-'aul-kan. Oleh karena itu. bagian anak perempuan tiga per enam (3/6) berarti tiga bagian. saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. Seseorang wafat dan meninggalkan ayah. yaitu enam banding sepuluh (6:10). dan bagian dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. dua orang saudara kandung perempuan. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Masalah ini dikenal dengan sebutan masalah marwaniyah. 4. Dalam contoh ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalahnya. jumlah bagiannya telah melebihi jumlah pokok masalah. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya enam. ibu seperenam (1/6) berarti satu. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Dalam contoh ini tidak ada 'aul. asal pokok masalah enam dinaikkan menjadi delapan. dan saudara perempuan seibu. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. sedangkan bagian dua orang saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. ibu. dan seorang saudara perempuan seibu. anak perempuan. bagian dua orang saudara seayah dua per tiga (2/3) berarti empat. dan itu pun hanya pada satu masalah faraid yang memang masyhur di kalangan ulama faraid dengan sebutan "masalah almimbariyyah". bagian ayah seperenam (1/6) berarti satu bagian. 5. yaitu delapan per enam (8/6). perlu kita simak contoh-contohnya. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari enam (6). ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian.berarti satu bagian. sedangkan bagian cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga-. Dengan demikian.Sedangkan pokok masalah dua puluh empat (24) hanya dapat di-'aul-kan kepada dua puluh tujuh (27) saja. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. 3. Sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat bagian. karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi sembilan. 2. Bila demikian. dan dua orang saudara laki-laki seibu. dan dua orang saudara perempuan seibu. ibu. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). jumlah bagian (fardh-nya) cocok dengan pokok masalahnya. sedangkan bagian saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian.

Selain itu. yaitu tiga belas. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Contoh masalah ini seperti berikut: seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. bagi kedelapan saudara perempuan seayah dua per tiga (2/3)-nya. Karena itu pokok masalahnya harus di-'aul-kan dari dua belas menjadi tujuh belas. yaitu lima belas bagian. yakni tujuh belas berbanding dua belas. Karena itu harus dinaikkan menjadi tiga belas (13) sehingga tepat sesuai dengan jumlah bagian yang ada. sedangkan saudara perempuan seayah seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua pertiga-. dan seorang saudara perempuan seibu. ibu memperoleh seperenam (1/6) berarti empat bagian. Dalam contoh tersebut tampak sangat jelas bahwa jumlah bagian yang diterima atau yang menjadi hak ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalahnya. 2. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dua belas (12). ayah. dan bagian saudara perempuan seibu juga seperenam (1/6) berarti dua bagian. Mereka menyebutnya demikian karena Ali bin Abi Thalib ketika memvonis masalah ini sedang berada di atas mimbar (podium). saudara kandung perempuan memperoleh setengah (1/2) berarti enam bagian. istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti tiga bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. ibu. seorang saudara kandung perempuan. delapan orang saudara perempuan seayah. Dalam contoh ini tampak jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. Contoh 'Aul Dua Puluh Empat (24) Pokok masalah dua puluh empat (24) --sebagaimana telah saya jelaskan-.Contoh 'Aul Pokok Masalah Dua Belas (12) Seperti telah saya kemukakan bahwa pokok masalah dua belas hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. dan bagian keempat saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) yang berarti empat bagian. Dalam contoh ini tampak dengan jelas bahwa jumlah bagian ashhabul furudh telah melampaui pokok masalahnya. anak perempuan. seorang saudara perempuan seayah. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua belas (12). lima belas (15). ibu. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dua belas (12). bagian ibu seperenam (1/6) berarti dua bagian. dan empat orang saudara perempuan seibu. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. sedangkan bagian dua orang saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti delapan bagian. sedangkan bagian kedua nenek adalah seperenam (1/6) yang berarti dua bagian. atau tujuh belas (17). 3.hanya dapat di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh (27). pokok masalah ini hanya ada dalam kasus yang oleh ulama faraid dikenal dengan masalah al-mimbariyah. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. Karena itu kita harus meng-'aul-kan pokok masalahnya hingga sesuai 61 . dua orang nenek. berarti delapan bagian. Bagian ketiga orang istri adalah seperempat (1/4) berarti tiga bagian. ibu. Berikut ini saya berikan contoh-contohnya: 1. yaitu menjadi tiga belas (13). anak perempuan mendapat setengah (1/2) berarti dua belas bagian. Karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi lima belas (15).berarti dua bagian. sedangkan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga (2/3)-. dan dua orang saudara kandung perempuan.berarti empat bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan istri. Ayah mendapat seperenam (1/6) berarti empat bagian. ibu mendapat seperenam (1/6) berarti dua bagian. Jumlah bagian dalam contoh ini telah melebihi pokok masalah. Maka pembagiannya seperti ini: pokok masalahnya dua puluh empat (24).

Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperdelapan (1/8) dan yang lain sisanya. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dan yang lain sisanya. dalam masalah almimbariyyah ini pokok masalah dua puluh empat hanya bisa di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh. maka pokok masalahnya dari tiga (3). Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapatkan bagian setengah (1/2) dari harta waris. kecuali bila terwujud tiga syarat seperti di bawah ini: 1. 62 . 4. dan tidak dapat di-'aul-kan. E. Seperti terdapat dalam firman Allah berikut: "Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari. " (al-Kahfi: 64) "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan . maka pokok masalahnya dari delapan. mengikuti jejak mereka semula." (al-Ahzab: 25) Dalam sebuah doa disebutkan "Allahumma radda kaidahum 'annii" (Ya Allah. tidak adanya 'ashabah 3.. Syarat-syarat ar-Radd Ar-radd tidak akan terjadi dalam suatu keadaan. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lainnya dua per tiga (2/3). Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lain sisanya. maka pokok masalahnya dari dua (2). ada sisa harta waris. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperempat (1/4) dan yang lain berhak mendapat setengah (1/2).maka sisa harta waris itu diberikan atau dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh sesuai dengan bagian mereka masing-masing. dalam suatu keadaan (dalam pembagian hak waris) para ashhabul furudh telah menerima haknya masing-masing. dan tidak ada 'aul.dengan jumlah bagian yang harus diberikan kepada para ashhabul furudh. adanya ashhabul furudh 2. Catatan 1. tetapi ternyata harta warisan itu masih tersisa --sementara itu tidak ada sosok kerabat lain sebagai 'ashabah-. Adapun ar-radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya/lebihnya jumlah bagian ashhabul furudh. palingkanlah/halaulah tipu daya mereka terhadapku). maka pokok masalahuya dari empat (4). 3.. Ar-radd merupakan kebalikan dari al-'aul. Sekali lagi ditegaskan. D. 2. Sebagai misal. Bila dalam pembagian waris tidak ada ketiga syarat tersebut maka kasus ar-radd tidak akan terjadi. dan dalam hal ini tidak ada 'aul. kemudian yang lain berhak mendapatkan sisanya. dan tidak ada 'aul. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperdelapan dan yang lainnya setengah. atau dua orang ahli waris yang masingmasing berhak mendapatkan bagian setengah (1/2).' Lalu keduanya kembali. Definisi ar-Radd Ar-radd dalam bahasa Arab berarti 'kembali/kembalikan' atau juga bermakna 'berpaling/palingkan'.

Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd Ar-radd dapat terjadi dan melibatkan semua ashhabul furudh. Sebagai misal. dan tanpa suami atau istri 3. ibu kandung 6. saudara laki-laki seibu Adapun mengenai ayah dan kakek. semuanya berhak mendapat bagian setengah. suami atau istri bagaimanapun keadaannya tidak mendapat bagian tambahan dari sisa harta waris yang ada. cucu perempuan keturunan anak laki-laki 3. karena keduanya akan menerima waris sebagai 'ashabah. Keempat macam itu: 1. bagian mereka sesuai fardh adalah dua per tiga (2/3). saudara kandung perempuan 4. kecuali suami dan istri. G. Sebab. Dan kekerabatan ini akan putus karena kematian. dan dengan adanya suami atau istri Hukum Keadaan Pertama Apabila dalam suatu keadaan ahli warisnya hanya terdiri dari sahib fardh dengan bagian yang sama --yakni dari satu jenis saja (misalnya. seseorang wafat dan hanya meninggalkan tiga anak perempuan. maka pokok masalahnya dari sepuluh. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd Adapun ahli waris dari ashhabul furudh yang tidak bisa mendapatkan ar-radd hanyalah suami dan istri. dan sisanya mereka terima secara ar-radd. bila seseorang wafat dan hanya meninggalkan sepuluh saudara kandung perempuan.F. Dan pembagiannya pun secara fardh dan ar-radd. anak perempuan 2. saudara perempuan seibu 8. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap bertele-tele dan agar lebih cepat sampai pada tujuan dengan cara yang paling mudah. maka dari itu mereka (suami dan istri) tidak berhak mendapatkan ar-radd.dan dalam keadaan itu tidak terdapat suami atau istri. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. Artinya. sekalipun keduanya termasuk ashhabul furudh dalam beberapa keadaan tertentu. Mereka hanya mendapat bagian sesuai bagian yang menjadi hak masing-masing. Macam-macam ar-Radd Ada empat macam Ar-radd. Sebab dalam keadaan bagaimanapun. suami atau istri tidak mendapatkan bagian sebagai tambahan. sesuai jumlah ahli waris. bila dalam pembagian hak waris terdapat salah satunya --ayah atau kakek-. akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab). dan masing-masing mempunyai cara atau hukum tersendiri. adanya ahli waris pemilik bagian yang sama. Karena itu pembagian hak masing-masing sesuai jumlah mereka. nenek sahih (ibu dari bapak) 7. Contoh lain. Maka apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat kelebihan atau sisa dari harta waris. saudara perempuan seayah 5. Adapun ashhabul furudh yang dapat menerima ar-radd hanya ada delapan orang: 1. Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab. H.-maka tidak mungkin ada ar-radd. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. 63 . adanya pemilik bagian yang sama. maka pokok masalahnya dari tiga. maka cara pembagiannya dihitung berdasarkan jumlah ahli waris. yaitu adanya ikatan tali pernikahan. dan tanpa adanya suami atau istri 2. mereka tidak bisa mendapatkan ar-radd. dan seterusnya)-. dan dengan adanya suami atau istri 4. atau seperempat. disebabkan mereka merupakan ahli waris dari bagian yang sama.

dan itulah pokok masalahnya. sedangkan sisanya tujuh per delapan (7/8) merupakan bagian kelima anak perempuan dan dibagi secara merata di antara mereka. dan itulah angka yang dijadikan pokok masalah. angka ini diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan (tidak berhak untuk ditambah). 2. Maka pokok masalahnya dari dua. Hukum keadaan Ketiga Apabila para ahli waris semuanya dari sahib fardh (bagian) yang sama. dan saudara perempuan seibu. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan suami dan dua anak perempuan. Pokok masalahnya adalah delapan. saudara perempuan seayah. Contoh lain. yang bagiannya dalam keadaan demikian seperempat (1/4). suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian berarti satu. Hitungan ini perlu pentashihan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri dan empat anak perempuan. Maka suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. berarti masing-masing menerima tujuh bagian. serta lima orang anak perempuan. Dalam hal ini pokok masalahnya dari empat. serta seorang saudara perempuan seibu. bukan dari jumlah ahli waris (per kepala). dan sisanya (tiga per empat) dibagikan kepada anak secara merata. Contoh lain. dan sisanya (yakni 3/4) merupakan bagian kedua anak perempuan dan dibagi secara rata. 64 . Sebagai misal. saudara kandung perempuan. Maka pokok masalahnya dari empat. Maka jumlah bagiannya adalah lima. 5. Misal lain. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang nenek. disertai salah satu dari suami atau istri. yang penting tidak ada salah satu dari suami atau istri.maka cara pembagiannya dihitung dan nilai bagiannya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. karena angka itu diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. berarti lima bagian. bagi ibu seperenam (1/6). Maka pokok masalahnya empat. Di sini tampak jumlah bagiannya tiga. Contoh-contoh keadaan kedua 1. Maka pokok masalahnya lima. Begitu seterusnya. Seseorang wafat meninggalkan seorang anak perempuan serta seorang cucu perempuan keturunan anak laklaki. dua orang saudara laki-laki seibu. karena jumlah bagiannya empat. Maka pokok masalahnya dari empat. Maka jumlah bagiannya adalah lima. dan setelah ditashih pokok masalahnya menjadi empat puluh. dan itulah pokok masalahnya. 3. 4. Sebagai misal. disebabkan bagiannya sama.dibagi secara merata untuk keempat anak perempuan pewaris. Berarti bila pokok masalahnya dari empat (4). Maka pembagiannya. seseorang wafat dan meningalkan seorang nenek dan saudara perempuan seibu. maka kaidah yang berlaku ialah kita jadikan pokok masalahnya dari sahib fardh yang tidak dapat ditambah (di-radd-kan) dan barulah sisanya dibagikan kepada yang lain sesuai dengan jumlah per kepala. berarti mendapat satu bagian. karena jumlah bagiannya adalah lima. serta seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. sedangkan sisanya --tiga per empat (3/4)-. untuk kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). yakni sesuai jumlah kepala. serta saudara laki-laki seibu. sedangkan sisanya --tiga puluh lima bagian-dibagikan secara merata kepada kelima anak perempuan pewaris. karena jumlah bagiannya ada empat. yaitu istri.Misal lain. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. diambil dari istri sebagai sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. yakni tiga. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan serta saudara perempuan seayah. Pembagiannya: istri mendapatkan seperempat (1/4) bagian. hitungan (bagiannya) sebagai berikut: ibu mendapatkan seperdelapan dari empat puluh. Hukum Keadaan Kedua Apabila dalam suatu keadaan terdapat bagian ahli waris yang beragam --dan tidak ada salah satu dari suami atau istri-. anak perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu.

Oleh karena itu. Setelah itu barulah kita lihat kedua ilustrasi tersebut dengan salah satu dari tiga kriteria yang ada. Bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) = 2 bagian. Angka tiga tersebut berarti tamaatsul (sama) dalam kedua ilustrasi. dan tabaayun (perbedaan). Dengan melihat kedua ilustrasi tersebut. maka sisa harta waris tinggal tiga bagian. yakni seperempat (1/4). Kemudian langkah berikutnya kita kalikan pokok masalah kedua (delapan) dengan pokok masalah pertama (lima). Sisanya. Bagian kedua anak perempuan dan ibu adalah sisa setelah diambil bagian istri --yang tersisa tiga puluh lima (35) bagian. setiap anak memperoleh tiga bagian. Pada persoalan pertama kita tidak menyertakan suami atau istri. yaitu diambil dari bagian sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. kita dapati bagian yang sama antara bagian nenek dan bagian dua saudara perempuan seibu.Dalam contoh ini juga harus ada pentashihan pada pokok masalahnya. Ilustrasi kedua menyertakan suami atau istri: Pokok masalahnya dari empat. Sehingga pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4) dari enam belas berarti empat bagian. Hukum keadaan Keempat Apabila dalam suatu keadaan terdapat ashhabul furudh yang beragam bagiannya. dan sisa ini merupakan bagian dua anak perempuan dengan ibu. Kemudian bila istri mendapat bagiannya. karena itulah jumlah bagian yang ada. dan di dalamnya terdapat pula suami atau istri. dan dua orang saudara perempuan seibu. maka bagian istri adatah seperdelapan dari empat puluh bagian yang ada. merupakan bagian nenek dan kedua saudara perempuan seibu. maka menurut kaidah yang berlaku kita harus menjadikannya dalam dua masalah. dengan ar-radd menjadi dari lima (yakni dari jumlah bagian yang ada). mana yang paling tepat. dua orang anak perempuan. dan pada persoalan kedua kita menyertakan suami atau istri. Sedangkan dalam ilustrasi kedua --menyertakan suami/istri-. Sedangkan ketiga kriteria yang dimaksud ialah tamaatsul (kemiripan). dan dengan ar-radd menjadi dari lima. Maka pembagiannya sebagai berikut: bagian kedua anak perempuan adalah hasil perkalian antara empat (bagiannya dalam ilustrasi pertama) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian pada ilustrasi kedua) berarti dua puluh delapan (28) bagian. dan ibu. Kemudian kita buat diagramnya secara terpisah. Seperti kita ketahui bahwa antara tujuh dan lima itu tabaayun (berbeda). yaitu istri. Pada ilustrasi pertama --tanpa menyertakan suami/istri-. tawaafuq (sepadan). Dengan demikian. 65 . dan cukuplah kita jadikan ilustrasi masalah kedua itu sebagai pokok masalah. yakni istri. maka sisanya tujuh per delapan (7/8). Bagian istri seperempat (1/4) berarti memperoleh satu bagian.asal pokok masalahnya dari delapan. Maka pembagiannya seperti berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami dan istri: Pokok masalahnya dari enam.asal pokok masalahnya dari enam. setelah kita kenali pokok masalah dari kedua ilustrasi masalah tersebut. pokok masalah yang mulanya empat (4) naik menjadi enam belas (16). secara fardh dan radd. Kini. Untuk lebih memperjelas masalah yang rumit ini perlu saya sertakan contoh kasusnya: Seseorang wafat dan meninggalkan istri. yakni tiga bagian. yakni yang seperdelapan. yakni tiga bagian. Ilustrasi ini juga merupakan tamaatsul (sama) dengan masalah ar-radd. berarti ia mendapat lima (5) bagian. Sedangkan sisanya dua belas bagian dibagikan secara merata kepada keempat anak perempuan pewaris. nenek. Apabila istri mengambil bagiannya. karena merupakan fardh orang yang tidak dapat di-radd-kan. Bagian nenek seperenam (1/6) berarti satu bagian. Karenanya tidak lagi memerlukan tashih. Maka hasil perkalian antara kedua pokok masalah itu adalah pokok masalah bagi kedua ilustrasi tersebut. Contoh lain: seseorang wafat meninggalkan istri.

dengan radd. Jadi. ditambah bagian kedua anak perempuan. diambil dari ahlul fardh yang tak dapat diradd Bagian istri 1/8. dari jumlah keseluruhan antara bagian istri. Lihat tabel berikut : Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami/istri Pokok masalahnya aslinya dari 65. menjadi 5 Bagian kedua anak perempuan 2/3 Bagian ibu seperenam (1/6) Jumlah bagian Ilustrasi kedua dengan menyertakan suami/istri Pokok masalah dari delapan. berarti Bagian dua anak perempuan dan ibu Setelah tashih bagian anak perempuan Bagian ibu 1 7 4x7 4x7 28 7 Setelah tashih menjadi setelah tashih Berarti Berarti 4 1 5 40 5 66 . ditambah bagian ibu adalah 5 + 28 + 7 = 40.Adapun bagian ibu adalah hasil perkalian antara bagiannya dalam ilustrasi pertama (satu bagian) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian dalam ilustrasi kedua) berarti tujuh (7) bagian.

Hal ini agar kita dapat mengetahui secara pasti bagian setiap ahli waris. dan satu wanita satu kepala. Untuk mengetahui pokok masalah. Sebab. Kedua: bagian dua per tiga (2/3). Artinya. Atau seseorang wafat meninggalkan sepuluh saudara kandung laki-laki. Contoh lain. maka pokok masalahnya dari tiga (3). dan seperdelapan (1/8) --atau hanya seperempat dengan seperdelapan-. Kemudian. misalnya ada yang berhak setengah.kita harus mengalikan dan mencampur antara beberapa kedudukan. 1/4. hingga pembagiannya benar-benar adil. Para ulama faraid membagi kaidah tersebut menjadi dua bagian: Pertama: bagian setengah (1/2). dan seperdelapan (1/8). Misalnya. Untuk memperjelas masalah ini. Misalnya. seperempat (1/4). berarti pokok masalahnya dari angka yang paling besar. seseorang wafat dan hanya meninggalkan lima orang anak. atau semuanya hanya dari ashhabul furudh. Bila ternyata ahli waris yang ada terdiri dari anak laki-laki dan perempuan. atau yang mutabaayinah (saling berbeda). bila dalam suatu keadaan. yang perlu diketahui adalah bagaimana dapat memperoleh angka pembagian hak setiap ahli waris tanpa melalui pemecahan yang rumit. baiklah kita simak kaidah yang telah diterapkan oleh para ulama ilmu faraid. Misalnya. seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak laki-laki. maka pokok masalahnya dari lima. dua laki-laki dan tiga perempuan. dan demikian seterusnya. yang berarti usaha untuk mengetahui pokok masalah. begitu seterusnya. Maka pokok masalahnya berarti tujuh (7). Pokok masalahnya juga dihitung dari jumlah per kepala. atau gabungan antara 'ashabah dengan ashhabul furudh. maka pokok masalahnya sebelas. dan seperenam (1/6). Misal lain. Sedangkan jika para ahli waris yang ditinggalkan pewaris terdiri dari banyak bagian --yakni tidak dari satu jenis. Maka pokok masalahnya dari dua (2). maka pokok masalahnya dari sepuluh. bagian suami setengah (1/2) dan bagian saudara kandung perempuan juga setengah (1/2). seperenam. 67 . yakni antara angka-angka yang mutamatsilah (sama) atau yang mutadaakbilah (saling berpadu). bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari para sahib fardh setengah (1/2). Karena itu. sepertiga (1/3).). ahli warisnya dari sahib fardh setengah (1/2) dan seperempat (1/4). Persoalan "pokok masalah" ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah at-ta'shil. berarti itulah pokok masalahnya. Kaidah ini sangat mudah sekaligus mempermudah kita untuk memahami pokok masalah ketika ahli waris terdiri dari berbagai sahib fardh yang mempunyai bagian berbeda-beda. PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN MENGETAHUI pokok masalah merupakan suatu keharusan bagi kita yang mengkaji ilmu faraid. seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami dan saudara kandung perempuan. dan sebagainya-. Dalam hal ini. Misalnya. maka pokok masalahnya dari empat (4). kita harus mengetahui apakah ahli waris yang ada semuanya hanya termasuk 'ashabah. maka pokok masalahnya dari empat atau delapan. Apabila para ashhabul furudh hanya terdiri dari bagian yang pertama saja (yakni 1/2. tanpa mengurangi atau melebihkan hak masing-masing. 1/8). para ulama ilmu faraid tidak mau menerima kecuali angka-angka yang jelas dan benar (maksudnya tanpa menyertakan angka-angka pecahan.maka pokok masalahnya dari enam (6).VIII. bila mayit meninggalkan lima anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Apabila seluruh ahli waris yang ada semuanya dari 'ashabah. terlebih dahulu perlu kita ketahui siapa-siapa ahli warisnya.maka pokok masalahnya dari delapan (8). Bila semuanya seperempat (1/4) atau seperdelapan (1/8). jika ternyata ahli waris yang ada semuanya dari ashhabul furudh yang sama. penj. maka satu anak laki-laki kita hitung dua kepala (hitungan). seperempat (1/4). Bila semuanya berhak sepertiga (1/3). Secara umum dapat dikatakan bahwa bila ahli waris semuanya sama --misalnya masing-masing berhak mendapat seperenam (1/6)-. maka pokok masalahnya dihitung per kepala --jika semuanya hanya dari laki-laki. Hal ini diambil dari kaidah qur'aniyah: bagian anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan.

seseorang wafat dan meninggalkan istri. Akan tetapi. Sebab angka tiga merupakan bagian dari angka enam. maka pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). 2. Pada contoh ini tampak ada campuran antara bagian seperempat (1/4) --yang termasuk kelompok pertama-. 1/3. 1/4. dan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. sahib fardh setengah (1/2) --yang merupakan kelompok pertama-. dan seorang saudara laki-laki kandung. sahib fardh seperdelapan (1/8) yang merupakan kelompok pertama-.bercampur dengan salah satu dari kelompok kedua. yang merupakan kelompok kedua. Maka berdasarkan kaidah. Tabelnya tampak berikut ini: Pokok masalah dari dua belas (12) Keterangan Istri seperempat (1/4) Ibu seperenam (1/6) Dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) Saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah (sisanya) Nilai 3 2 4 3 68 . sahib fardh seperempat (1/4) yang merupakan kelompok pertama-. ia akan mendapat sisa yang ada setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. dan paman kandung. Apabila dalam suatu keadaan. jika dalam suatu keadaan ahli warisnya bercampur antara sahib fardh kelompok pertama (1/2. Bila tidak tersisa. Apabila dalam suatu keadaan. Apabila dalam suatu keadaan. Maka pembagiannya sebagai berikut: suami mendapat setengah (1/2). Berdasarkan kaidah yang ada. Dari contoh tersebut tampak ada campuran antara kelompok pertama (yakni 1/2) dengan sepertiga (1/3) dan seperenam (1/6). Misalnya. atau salah satunya. ibu. dan 1/8) dengan kelompok kedua (2/3. dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3).Begitu juga bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari sahib fardh sepertiga (1/3) dengan seperenam (1/6) atau dua per tiga (2/3) dengan seperenam (1/6). maka pokok masalahnya dari dua belas (12). maka ia tidak berhak menerima harta waris. dan 1/6) diperlukan kaidah yang lain untuk mengetahui pokok masalahnya. Untuk lebih memperjelas kaidah tersebut. saudara laki-laki seibu. seseorang wafat dan meninggalkan suami. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). pokok masalahnya dari dua belas (12). pokok masalah pada contoh tersebut dari enam. maka pokok masalahnya dari enam (6). maka pokok masalahnya dari enam (6). perlu saya utarakan beberapa contoh.dengan seperenam (1/6) dan sepertiga (1/3). Lihat diagram: Pokok masalah dari enam (6) Keterangan Suami setengah (1/2) Saudara laki-laki seibu seperenam (1/6) Ibu sepertiga (1/3) Paman kandung. ibu. atau semuanya. ibu seperenam (1/6). sedangkan paman sebagai 'ashabah. Angka tersebut merupakan hasil perkalian antara empat (yang merupakan bagian istri) dengan tiga (sebagai bagian kedua saudara laki-laki seibu).bercampur dengan seluruh kelompok kedua. ibu sepertiga (1/3). 3. Maka pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4). dua orang saudara laki-laki seibu. Kaidah yang dimaksud seperti tersebut di bawah ini: 1.bercampur dengan seluruh kelompok kedua atau salah satunya. sebagai 'ashabah Nilai 3 1 2 0 Contoh lain. Maka dalam hal ini hendaklah diambil angka penyebut yang terbesar.

at-tamaatsul (kemiripan/kesamaan). Sedangkan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. yang satu tidak lebih banyak atau lebih sedikit dari yang lain. anak perempuan setengah (1/2). at-tadaakhul (saling terkait/saling bercampur). atau jumlah bagian ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalah. kemudian kita kalikan dengan angka yang lain dengan sempurna. maka kita harus mengetahui nisbahnya (koneksi) dengan keempat istilah perhitungan. Sedangkan menurut ulama faraid berarti sama dalam jumlah atau nilai. bila harta waris tersebut kurang dari jumlah bagian yang mesti diterima setiap ahli waris. karenanya kita ambil setengah dari salah satu angka tadi. Atau setengah dari delapan (yakni empat) kali enam (6). dan at-tabaayun (berbeda/saling berjauhan). angka tiga berarti sama dengan tiga. A. Hal seperti ini disebabkan setengah dari dua angka tersebut (yakni enam dan delapan) ada selisih.Misal lain. dan lima sama dengan lima. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dan bagian ibu seperenam (1/6). Berikut ini tabelnya: Pokok masalah dari 24 Bagian istri seperdelapan (1/8) Bagian anak perempuan setengah (1/2) Cucu perempuan dari anak laki-laki seperenam (1/6) Bagian ibu seperenam (1/6) Saudara kandung laki-laki. maka kita tidak perlu menggunakan cara-cara yang berbelit dan memusingkan. angka delapan belas (18) dengan angka enam (6). sehingga dari pembagian itu tidak ada lagi angka atau jumlah yang tersisa. dan seterusnya. Namun. ibu. Definisi at-Tadaakhul At-Tadaakhul dalam bahasa Arab berasal dari kata dakhala.dalam suatu pembagian waris cocok (sesuai) dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. Apabila pokok masalah --harta waris-. Misalnya. anak perempuan. angka delapan (8) dengan angka empat (4). yakni 'masuk'. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). (8 : 2 x 6 = 24). Misalnya. at-tawaafuq (saling bertautan). Yaitu. seseorang wafat dan meninggalkan istri. 69 . Tentang Tashih Agar kita dapat memahami dan menelusuri rincian pentashihan pokok masalah. Definisi Tashih Tashih dalam bahasa Arab berarti 'menghilangkan penyakit'. Begitulah seterusnya. Sedangkan menurut ulama faraid adalah pembagian angka yang besar oleh angka yang lebih kecil. Maka berdasarkan kaidah yang ada. dan saudara kandung laki-laki. maka dalam hal ini memerlukan pentashihan pokok masalahnya. pokok masalah pada contoh ini dari dua pulah empat (24). Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8). lawan kata dari "keluar". sebagai 'ashabah (sisa) berarti berarti berarti berarti 3 12 4 4 1 Angka dua puluh empat (24) yang dijadikan sebagai pokok masalah timbul sebagai hasil perkalian antara setengah dari enam (yakni 3) dengan delapan (6 : 2 x 8 = 24). Definisi at-Tamaatsul At-Tamaatsul dalam bahasa Arab berarti at-tasyabuh. Pada contoh ini tampak ada percampuran antara seperdelapan (1/8) sebagai kelompok pertama dengan seperenam (1/6) sebagai kelompok kedua. Sedangkan menurut ulama ilmu faraid berarti mewujudkan jumlah yang kurang dari bagian setiap ahli waris tanpa pecahan dalam pembagiannya. yakni 'sama bentuknya'. angka dua puluh tujuh (27) dengan angka sembilan (9). karenanya ia mendapat sisa harta waris bila ternyata masih tersisa.

tetapi ada ahli waris yang belum mendapat bagian-. Tetapi apabila kedua bilangan itu sama. Bila ada kesesuaian antara bagian tiap ahli waris dengan jumlah per kepalanya. Sedangkan menurut istilah ilmu faraid ialah setiap dua angka yang dapat dibagi angka ketiga. dan sang ibu juga 70 . maka kedua bilangan itu tadaakhul. ayah. Namun. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). angka 8 dengan 6 keduanya dapat dibagi oleh angka 2. angka 5 dengan 9. berarti 4. oleh ulama faraid disebut dengan juz'us sahm. maka inilah yang sempurna dan sangat diharapkan. maka kita perlu mengetahui kapan kita dapat atau memungkinkan untuk mentashih pokok masalah? Dan apa tujuannya. empat anak perempuan. Selain itu. dan tidak pula dapat dibagi oleh bilangan lain (ketiga). Misalnya. Untuk mengetahui secara tepat pengertian tabaayun. perlu saya kemukakan contoh kasus sehingga pembaca dapat lebih memahaminya. Bagian keempat anak perempuan ialah dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. Cara pentashihan yang biasa dilakukan para ulama faraid seperti berikut: langkah pertama. Apabila angka yang besar dibagi angka yang lebih kecil. ibu. maka disebut tabaayun. Bila jumlah per kepala setelah dibagi cocok dan pas dengan jumlah bagian setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. maka hasil dari perkalian itu yang menjadi pokok masalah sebenamya. dan tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Pada hakikatnya. Sedangkan apabila suatu angka tidak dapat dibagi oleh bilangan lain. sebagaimana yang dikehendaki ad-Din al-Islam. Inilah yang disebut "pentashihan pokok masalah" oleh kalangan ulama faraid.maka kedua bilangan itu ada tawaafuq. at-tawaafuq. Angka 8 dengan 20 sama-sama dapat dibagi oleh angka 4. maka setiap anak berhak mendapat bagian sesuai dengan jumlah per kepalanya. Apabila angka yang besar tidak dapat dibagi angka yang kecil --tetapi dibagi angka yang lain-. Sedangkan menurut kalangan ulama ilmu faraid ialah setiap bilangan yang satu dengan lainnya tidak dapat membagi. angka 8 dengan 11. sebagai bagian khusus yang berkaitan dengan setiap bagian pada pokok masalah. Misalnya angka 7 dengan angka 4. Sang ayah seperenam berarti satu bagian. bila jumlah per kepalanya jauh lebih sedikit dari jumlah bagian ahli waris yang ada --jumlah pokok masalahnya sudah habis.Definisi at-Tawaafuq At-Tawaafuq dalam bahasa Arab berarti 'bersatu'. melihat bagian setiap ahli waris dan jumlah per kepalanya. untuk mewujudkan keadilan mereka berusaha mengetahui jumlah bagian yang merupakan hak setiap ahli waris. attadaakhul. kalangan ulama faraid tidak mau menerima permasalahan pembagian waris kecuali dengan angka-angka yang pasti (maksudnya tanpa pecahan. Sebab setiap anak mendapat bagian satu). (Misalnya. Sedangkan mengenai bagian untuk mengalikan pokok masalah atau meng-'aul-kan dengan tujuan mentashih pokok masalah. dengan cara mengalikan jumlah per kepala dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. Angka 12 dengan angka 30 sama-sama dapat dibagi oleh angka 6. sehingga tidak mengurangi ataupun menambahkan.). Contoh amaliah tentang pentashihan pokok masalah Seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. sehingga menurut mereka di antara kedua bilangan itu ada tadaakhul. Hal ini merupakan satu perhatian yang sangat baik dari para ulama faraid dalam usaha mereka mewujudkan kemaslahatan yang menyeluruh. Hal ini dimaksudkan agar dapat mewujudkan keadilan yang optimal dalam pembagian tersebut. Maksudnya. demikian seterusnya. Untuk lebih memperjelas masalah ini. maka ada kesamaan. penj. dan bagiannya 2/3 dari 6. Adapun bila terjadi mubayaanah (ada selisih) maka kalikan jumlah per kepalanya dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. Cara Mentashih Pokok Masalah Setelah kita ketahui dengan baik makna-makna at-tamaatsul. kita bandingkan pengertiannya dengan istilah lainnya. yakni saling berjauhan atau saling berbeda.maka kita harus melihat apakah ada kecocokan di antara kedua hal itu ataukah tidak. Definisi at-Tabaayun At-Tabaayun dalam bahasa Arab berarti tabaa'ud. maka di antara kedua bilangan tersebut adalah mutamaatsilan. B. dan at-tabaayun.

yakni angka enam (6). seseorang wafat dan meninggalkan suami. Misal lain. Dengan demikian. maka tiap orang mendapat satu bagian.seperenam berarti satu bagian. dan kedua saudara laki-laki seibu mendapat enam bagian (9 + 12 + 6 = 27). berarti dua bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). kita lihat bahwa pokok masalahnya tidak memerlukan pentashihan. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. dan bagian kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). Contoh lain yang at-tamaatsul. Sehingga dalam pembagiannya akan dengan pas dan mudah. bagian anak perempuan 1/2 berarti enam (6) bagian. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan ibu. kemudian di-'aul-kan menjadi sembilan (9). dan kita kalikan dengan pokok masalah setelah di-'aul-kan yakni angka sembilan (9). ibu.). sedangkan bagian keenam saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). Karena itu tidak lagi memerlukan pentashihan pokok masalah. maka setiap orang mendapat satu bagian. Bagian suami 1/4 berarti tiga (3) bagian. seseorang wafat dan meninggalkan suami. Sebab jumlah per kepalanya sesuai dengan jumlah yang dibagikan. kemudian bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. Hasil dari perkalian itulah yang akhirnya menjadi pentashihan pokok masalah. penj. dan empat saudara kandung perempuan. Bila kita perhatikan baik-baik contoh ini. keenam saudara kandung perempuan mendapat dua belas bagian. dan bagian saudara kandung laki-laki satu bagian (sisanya) sebagai 'ashabah bin nafsihi. Setelah pentashihan. tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. setiap anak menerima satu bagian. yaitu dua (2). Sedangkan tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tidak mendapat bagian (mahjub karena anak pewaris lebih dari dua orang. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12. enam saudara kandung perempuan. Bagi kedua saudara perempuan seibu dua bagian. Inilah tabelnya: 3 12 3 6 2 1 Suami 1/4 Anak perempuan 1/2 Tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) 36 9 18 6 3 71 . Maka 2 x 6 = 12. Kemudian kita ambil separo jumlah per kepala mereka. dan dua orang saudara laki-laki seibu. sebab bagian yang mesti dibagikan kepada mereka (keempat anak perempuan itu) tidak lagi memerlukan pecahan-pecahan. dan paman kandung. Berarti kesesuaian pembagian tersebut tidak memerlukan pentashihan pokok masalah. dan sisanya (satu bagian) adalah bagian paman kandung sebagai 'ashabah. Dalam contoh di atas kita lihat ada tawaafuq antara jumlah bagian yang diterima para saudara kandung perempuan dengan jumlah per kepala mereka. Bagian kedelapan anak perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. tahulah kita bahwa contoh masalah tersebut cenderung (bernisbat) pada at-tamaatsul. Seseorang wafat dan meninggalkan delapan (8) anak perempuan. Bagi keempat saudara kandung perempuan empat bagian. maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan bagian (9). berarti empat bagian. Itulah tashih pokok masalah. anak perempuan. berarti 3 x 9 = 27. Contoh masalah yang at-tawaafuq. Angka dua itulah yang menurut istilah ulama faraid sebagai bagian dari bagian juz'us sahm kemudian bagian dari bagian itu dikalikan dengan pokok masalah. berarti tiga (3). Kita lihat dalam contoh di atas ada at-tawaafuq antara jumlah per kepala anak perempuan dengan jumlah bagian yang mereka peroleh. dan saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). yaitu dua (2). dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 sebagai penyempurna 2/3 berarti 2 bagian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. Contoh lain. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahuya dari enam (6). dan bagian yang mereka peroleh juga empat. kemudian di-'aul-kan menjadi tujuh (7). sedangkan bagian keempat saudara kandung perempuan adalah dua per tiga (2/3) yang berarti empat (4) bagian. dua saudara perempuan seibu. Dalam contoh tersebut kita lihat jumlah anak perempuan ada empat (4).

72 . dan saudara kandung lakilaki. Perhatikan tabel berikut: 28 24 3 16 4 1 - 3 istri bagiannya 1/8 7 anak perempuan 2/3 2 orang nenek 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) Saudara laki-lah seibu (mahjub 672 84 448 112 28 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian anak perempuan (16) dengan jumlah per kepala mereka (7) ada perbedaan (tabaayun). tujuh anak perempuan. kedua nenek 1/6-nya = 4. dua orang nenek. berarti 7 x 4 = 28. seseorang wafat dan meninggalkan istri. dan empat saudara kandung laki-laki (sisanya) yaitu 1 sebagai 'ashabah. Karenanya di antara keduanya ada tabaayun (perbedaan). Untuk mentashih pokok masalah dari contoh ini. Tujuh anak perempuan mendapat 2/3-nya = 16. Inilah tabelnya: 5 27 3 16 4 4 - 24 Istri 1/8 Lima anak perempuan 2/3 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Saudara kandung laki-laki (mahjub) 135 15 80 20 20 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian kelima anak perempuan tidak bisa dibagi oleh jumlah per kepala mereka. Dan angka lima (5) itulah yang dinamakan juz'us sahm. ayah memperoleh 1/6 berarti 4. ayah. maka angka 36 itu berarti pokok masalah hasil pentashihan. empat saudara kandung laki-laki. sedangkan saudara seibu mahjub. karenanya kita kalikan angka 3 dengan pokok masalahnya. kita kalikan jumlah per kepala anak perempuan (yakni 7) dengan jumlah per kepala saudara kandung (yakni 4). lima anak perempuan. Ketiga istri mendapat 1/8 = 3. dan jumlah per kepala mereka ada perbedaan (tabaayun). yakni 3 x 12 = 36. Maka bagian masing-masing seperti berikut: pokok masalahnya dari 24. Kemudian kita kalikan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan (yakni 27) dengan jumlah per kepala mereka. Bagian istri 1/8 = 3. ibu. dan ibu mendapat 1/6 yang berarti 4. yakni 27 x 5 = 135. kelima anak perempuan mendapat bagian 2/3 yang berarti 16.Berdasarkan tabel tersebut kita lihat antara bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki dengan jumlah per kepala mereka (yakni 2 dengan 3) ada tabaayun (perbedaan). Contoh lain. Misal lain. sedangkan bagian saudara kandung laki-laki mahjub (terhalang). dan saudara laki-laki seibu. Kemudian juz'us sahm tersebut kita kalikan dengan pokok masalahnya (28 x 24 = 672) hasilnya itulah yang menjadi pokok masalah setelah pentashihan. seorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. begitu juga dengan bagian keempat saudara kandung yang hanya satu bagian. Angka itu merupakan pokok masalah setelah pentashihan. Angka tersebut (yakni 28) merupakan juz'us sahm. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. Pentashihan seperti ini dapat diterapkan dalam contoh-contoh yang lain. kemudian di-'aul-kan menjadi 27.

Jadi. baik berupa harta. kemudian kita bagi dengan angka pokok masalahnya atau tashihnya. Sedangkan sisanya (dua bagian) untuk dua saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah ma'al ghair. dan ibu. x x x x Tabelnya seperti berikut: 2 12 6 3 2 2 bagian istri Anak perempuan Ibu Ayah ('ashabah) 3 bagian 12 bagian 4 bagian 5 bagian 20 dinar 20 dinar 20 dinar 20 dinar Total 24 Cucu perempuan keturunan anak laki-laki Suami 1/4 Ibu 1/6 2 saudara perempuan kandung ('ashabah ma'al ghair) 1/2 1/4 1/6 1 24 12 6 4 Adapun nilai per bagian. ayah. berarti 480: 24 = 20 dinar adalah harga per bagian. namun yang paling masyhur di kalangan ulama faraid ada dua -. istri mendapatkan 1/8 yang berarti 3 bagian. kemudian kita kalikan dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris. Untuk mengetahui pembagian harta waris kepada setiap ahlinya ada beberapa cara yang harus ditempuh. atau tanah. Sedangkan harta waris yang ada sebanyak 960 dinar. sedangkan sisanya (yakni 5 bagian) merupakan hak ayah sebagai 'ashabah. Sedangkan harta peninggalannya sebanyak 480 dinar. Cucu perempuan mendapatkan 1/2 yang berarti 12 bagian. ibu mendapatkan 1/6 berarti 4 bagian. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung perempuan. bagian masing-masing ahli waris: 1 Jadi. ibu. keturunan anak laki-laki x 40 dinar 2 Suami 6 x 40 dinar Ibu 4 x 40 dinar Dua saudara kandung perempuan 2 x 40 dinar = 480 dinar = 240 dinar = 160 dinar = 80 dinar 73 . Jadi. Maka hasilnya merupakan bagian masing-masing ahli waris. Pembagian Harta Peninggalan At-tarikah (peninggalan) dalam bahasa Arab bermakna seluruh jenis kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. dan ibu memperoleh 1/6 yang berarti 4 bagian. Semua peninggalan itulah yang harus dibagikan kepada ahli waris yang ada sesuai dengan hak bagian yang harus mereka terima. Adapun nilai (harga) per bagiannya didapat dari hasil pembagi harta waris yang ada (480 dinar) dibagi pokok masalah (24). anak perempuan 1/2 berarti 12 bagian. suami mendapatkan 1/4 yang berarti 6 bagian. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. Contoh Cara Pertama Seseorang wafat dan meninggalkan istri. Cara kedua: kita ketahui terlebih dahulu bagian setiap ahli waris secara menyeluruh. benda. = 60 dinar = 240 dinar = 80 dinar = 100 dinar = 480 dinar Contoh lain. 960 dinar: 24 = 40 dinar. anak perempuan. Cara pertama: kita ketahui nilai (harga) setiap bagiannya. suami. Hal ini kita lakukan dengan cara mengalikan bagian tiap-tiap ahli waris dengan jumlah (nilai) harta peninggalan yang ada. Maka hasilnya merupakan bagian dari masing-masing ahli waris. Cucu pr. cucu perempuan keturunan anak laki-laki.dalam hal yang berkenaan dengan harta yang dapat ditransfer.C. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-tashikkan-kan menjadi 24.

300 dinar = 3.000:12 = 250 dinar : Jadi bagian 4 anak perempuan 4 : dua anak laki-laki 4 : ibu 2 : ayah 2 x 250 dinar x 250 dinar x 250 dinar x 250 dinar Total = 1.000 dinar = 500 dinar = 500 dinar = 3. ibu. dan harta peninggalannya 3. dan nenek. saudara kandung perempuan. dua anak laki-laki. Simak tabel berikut: 2 6 4 3 1 1 - Empat anak perempuan Dua anak laki-laki Ayah Ibu Tiga saudara kandung laki-laki (mahjub) 1/6 1/6 - 12 4 4 2 2 Adapun nilai per bagiannya adalah 3. Sang ayah mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Suami mendapat 1/2 yang berarti 3.900 dinar. dua saudara laki-laki seibu. sedangkan bagian anak laki-laki juga 4 bagian (masing-masing 2 bagian). sedangkan saudara kandung laki-laki mahjub. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian di-'aul-kan (dinaikkan) menjadi 9. saudara kandung perempuan 1/2 berarti 3. berarti bagian anak perempuan 4 bagian (masing-masing satu bagian).000 dinar.900: 9 = 1. Sedangkan harta peninggalan seluruhnya 9. Suami x 1. ibu mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian.Total = 960 dinar Contoh lain.000 dinar Contoh lain. seseorang wafat dan meninggalkan suami. dua saudara laki-laki seibu memperoleh 1/3 berarti 2. seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. ayah.100 dinar = 3.100 dinar : Jadi. Perhatikan tabel berikut: 6 Suami Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seibu Nenek 1/2 1/2 1/3 1/6 9 3 3 2 1 Adapun nilai per bagiannya adalah 9. sedangan nenek mendapat 1/6 berarti satu (1).000 dinar = 1.300 dinar 74 . dan tiga saudara kandung laki-laki.100 dinar 3 Saudara perempuan kandung : x 1. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian ditashih menjadi 12. dan sisanya dibagikan kepada enam (6) anak.

suami. Suami mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). dua anak perempuan.100 dinar x 1.200 dinar = 2. Suami Ibu Dua anak perempuan : 3 : 2 : 8 x 585:13 dinar x 585:13 dinar x 585:13 dinar Total = 135 dinar = 90 dinar = 360 dinar 585 dinar Contoh lain. 12 6 2 3 1 = 120 dinar = 40 dinar = 60 dinar = 20 dinar 75 Cucu pr. sedangkan harta warisnya berjumlah 240 dinar. ibu. Sedangkan kedudukan para cucu dalam hal ini sebagai 'ashabah. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung.100 dinar = 2. Perhatikan tabel berikut: 12 13 Suami 1/4 3 Ibu 1/6 2 Dua anak perempuan 2/3 8 Tiga cucu perempuan 'ashabah Dua cucu perempuan Jad i.000 dinar Bila seseorang wafat dan meninggalkan suami.200 dinar Total = 9. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. sedangkan harta yang ditinggalkan sejumlah 585 dinar. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapatkan 1/2 (berarti 12 bagian). ket. ibu. suami mendapatkan 1/4 (berarti 6 bagian). ket. 3 cucu perempuan keturunan anak lakilaki. dan dua anak perempuan 2/3 (berarti 8 bagian). ibu mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian).Dua saudara laki-laki seibu Nenek 3 : 2 : 1 x 1. dan dua saudara kandung 2 bagian sebagai 'ashabah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian ditashih menjadi 24. satu cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. sehingga mereka tidak memperoleh bagian karena harta waris telah habis dibagikan kepada ashhabul furudh. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) Cucu pr. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 13. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) 1 2 4 6 2 x 240:24 dinar x 240:24 dinar x 240:24 dinar x 240:24 dinar 1/2 1/6 1/4 24 12 4 6 2 .

Harta peninggalannya: 17 dinar. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. saudara laki-laki seayah. seseorang wafat meninggalkan istri. Contoh masalah ini sebagai berikut: misalnya. Berikut ini tabelnya: 12 1/ 4 1/ 6 2/ 3 1/ 3 17 3 2 8 4 masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar 1/6 1/2 6 1 3 2 - Total Ke-3 istri Kedua nenek Ke-8 sdr. delapan (8) saudara perempuan seayah. ibu. Masing-masing ahli waris di antara mereka ada yang hanya mendapatkan bagian satu (1) dinar. dua belas saudara kandung laki-laki. Jumlah harta peninggalannya ada 17 dinar. pr. Contoh masalahnya. Sedangkan harta peninggalannya 600 dinar. Sedangkan harta peninggalan sebanyak 1. saudara perempuan seayah. seibu Masalah Dinariyah al-Kubra Adapun masalah ad-dinariyah al-kubra memiliki pengertian bahwa ahli waris yang ada sebagian terdiri dari ashhabul furudh dan sebagian lagi dari 'ashabah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 24 kemudian setelah ditashih menjadi 600. dan sebagian lagi ada yang mendapatkan lebih dari itu. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6. dan setiap ahli waris hanya menerima satu dinar. sedangkan keempat saudara perempuan seibu mendapatkan 1/3 (berarti 4 bagian). dengan demikian masing-masing mendapat satu dinar. dan empat (4) saudara perempuan seibu. sebagian ada yang mendapatkan dua (2) dinar. Adapun pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 17. Dua saudara laki-laki seayah (mahjub) Masalah Dinariyah ash-Shughra Ada dua masalah yang dikenal oleh kalangan ulama faraid. Ad-dinariyah ash-shughra memiliki pengertian seluruh ahli warisnya terdiri atas kaum wanita. seseorang wafat dan meninggalkan tiga (3) orang istri. ('ashabah) Saudara perempuan seayah. Sedangkan ahli waris yang lain ter. pr. dua saudara kandung perempuan. Hal seperti ini di kalangan ulama faraid disebut ad-dinariyah al-kubra. Maka kasus seperti ini disebut ad-dinariyah ashshughra. ibu mendapatkan 1/6 (berarti satu bagian).menjadi hak kedua saudara perempuan kandung sebagai 'ashabah. dan sisanya --dua bagian-. Inilah tabelnya: Ibu Cucu pr. dua (2) orang nenek. dan seorang saudara kandung perempuan.mahjub. jumlah bagian seluruh ahli warisnya pun 17.= 240 dinar Misal lain. kedelapan saudara perempuan seayah mendapatkan 2/3 (berarti 8 bagian).500 dinar. Istri 76 . yakni istilah ad-dinariyah ash-shughra dan ad-dinariyah al-kubra. dua anak perempuan. seayah Ke-4 sdr. seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Tiga orang istri mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). cucu perempuan 1/2 (berarti 3 bagian). anak laki-laki Dua saudara kandung pr. dua orang nenek mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). ket.

mendapatkan 1/8 (berarti 3 bagian), ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian), kedua anak perempuan memperoleh 2/3 (16 bagian), dan sisanya satu (1) bagian merupakan bagian ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah. Jadi, bagian Istri Ibu Kedua perempuan : 3 : 4 : anak 1 6 x 600:24 dinar x 600:24 dinar x 600:24 dinar = 75 dinar = 100 dinar = 400 dinar

Total = 575 dinar Sedangkan ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan mendapat sisanya, yakni 25 dinar sebagai 'ashabah, dengan ketentuan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Dengan demikian, yang 24 dinar dibagikan kepada ke-12 saudara kandung laki-laki dan masing-masing mendapat dua (2) dinar, dan yang satu (1) dinar bagian saudara kandung perempuan. Berikut ini tabelnya: 25 24 3 4 16 600 75 100 100 24 1

Istri 1/8 Ibu 1/6 Kedua anak perempuan 2/3 12 saudara kandung laki-laki 1 1 saudara kandung perempuan ('ashabah) Masalah ad-dinariyah al-kubra ini pernah terjadi pada zaman al-Qadhi Syuraih (seseorang mengajukan masalah kepadanya). Akhirnya Syuraih memvonis dengan memberikan hak saudara kandung perempuan pewaris hanya satu (1) dinar. Tetapi, wanita tersebut kemudian mengadukan hal itu kepada Imam Ali bin Abi Thalib r.a. yang menyebutkan bahwa Syuraih telah menzhaliminya, mengurangi hak warisnya hingga memberinya satu dinar dari peninggalan saudaranya yang 600 dinar itu. Kendatipun wanita tersebut tidak menyebutkan seluruh ahli waris yang berhak menerima warisan, namun dengan ketajaman dan keluasan ilmunya, Ali bin Abi Thalib bertanya, "Barangkali saudaramu yang wafat itu meninggalkan istri, dua anak perempuan, ibu, 12 saudara kandung laki-laki, dan kemudian engkau?" Wanita tersebut menjawab, "Ya, benar." Ali berkata, "Itulah hakmu tidak lebih dan tidak kurang." Kemudian Ali bin Abi Thalib r.a. memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa hakim Syuraih telah berlaku adil dan benar dalam memvonis perkara yang diajukannya. Wallahu a'lam bish shawab.

77

IX. HUKUM MUNASAKHAT A. Definisi Munasakhat Al-munasakhat dalam bahasa Arab berarti 'memindahkan' dan 'menghilangkan', misalnya dalam kalimat nasakhtu alkitaba yang bermakna 'saya menukil (memindahkan) kepada lembaran lain'; nasakhat asy-syamsu ash-zhilla yang berarti 'sinar matahari menghilangkan bayang-bayang'. Makna yang pertama --yakni memindahkan/menukil-- sesuai dengan firman Allah SWT berikut: "... Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." (al-Jatsiyah: 29) Sedangkan makna yang kedua sesuai dengan firman berikut: "Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?" (al-Baqarah: 106) Adapun pengertian al-munasakhat menurut istilah ulama faraid ialah meninggalnya sebagian ahli waris sebelum pembagian harta waris sehingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya yang lain. Bila salah seorang ahli waris meninggal, sedangkan ia belum menerima hak warisnya (karena memang belum dibagikan), maka hak warisnya berpindah kepada ahli warisnya. Karenanya di sini akan timbul suatu masalah yang oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan al-jami'ah. Al-munasakhat mempunyai tiga macam keadaan: Keadaan pertama: sosok ahli waris yang kedua adalah mereka yang juga merupakan sosok ahli waris yang pertama. Dalam kasus seperti ini masalahnya tidak berubah, dan cara pembagian warisnya pun tidak berbeda. Misalnya, ada seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak. Kemudian salah seorang dari kelima anak itu ada yang meninggal, tetapi yang meninggal itu tidak mempunyai ahli waris kecuali saudaranya yang empat orang, maka seluruh harta waris yang ada hanya dibagikan kepada keempat anak yang tersisa, seolah-olah ahli waris yang meninggal itu tidak ada dari awalnya. Keadaan kedua: para ahli waris dari pewaris yang kedua adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama, namun ada perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab mereka terhadap pewaris. Misalnya, seseorang mempunyai dua orang istri. Dari istri yang pertama mempunyai keturunan seorang anak laki-laki. Sedangkan dari istri kedua mempunyai keturunan tiga anak perempuan. Ketika sang suami meninggal, berarti ia meningalkan dua orang istri dan empat anak (satu laki-laki dan tiga perempuan). Kemudian, salah seorang anak perempuan itu meninggal sebelum harta waris peninggalan ayahnya dibagikan. Maka ahli waris anak perempuan ini adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama (ayah). Namun, dalam kedua keadaan itu terdapat perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab kepada pewaris. Pada keadaan yang pertama (meninggalnya ayah), anak laki-laki menduduki posisi sebagai anak. Tetapi dalam keadaan yang kedua (meninggalnya anak perempuan), anak laki-laki terhadap yang meninggal berarti merupakan saudara laki-laki seayah, dan yang perempuan sebagai saudara kandung perempuan. Jadi, dalam hal ini pembagiannya akan berbeda, dan mengharuskan kita untuk mengamalkan suatu cara yang disebut oleh kalangan ulama faraid sebagai masalah al-jami'ah. Keadaan ketiga: para ahli waris dari pewaris kedua bukan ahli waris dari pewaris pertama. Atau sebagian ahli warisnya termasuk sosok yang berhak untuk menerima waris dari dua arah, yakni dari pewaris pertama dan dari pewaris kedua. Dalam hal seperti ini kita juga harus melakukan teori al-jama'iyah, sebab pembagian bagi tiap-tiap ahli waris yang ada berbeda dan berlainan.

B. Rincian Amaliah al-Munasakhat Sebelum kita melakukan rincian tentang amaliah al-munasakhat, kita terlebih dahulu harus melakokan langkahlangkah berikut:
78

1. Mentashihkan masalah pewaris yang pertama dengan memberikan hak waris kepada setiap ahlinya, termasuk
hak ahli waris yang meninggal.

2. Merinci masalah baru, khususnya yang berkenaan dengan kematian pewaris kedua, tanpa mempedulikan
masalah pertama. 3. Membandingkan antara bagian pewaris kedua dalam masalah pertama, dengan pentashihan masalah dan para ahli warisnya dalam masalah kedua. 4. Perbandingan antara keduanya itu dalam kecenderungannya terhadap ketiga nisbat, yaitu al-mumatsalah, almuwafaqah, dan al-mubayanah. Bila antara keduanya --yakni antara bagian pewaris yang kedua dan masalah ahli warisnya yang lain-- ada mumatsalah (kesamaan), maka dibenarkan kedua masalah hanya dengan tashih yang pertama (lihat tabel). Sebagai contoh, seseorang wafat dan meninggalkan tiga anak perempuan, dua saudara kandung perempuan, dan seorang saudara kandung laki-laki. Kemudian salah seorang saudara kandung perempuan itu meninggal. Berarti ia meninggalkan seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari tiga (3). Ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (2 bagian). Dan sisanya (satu bagian) merupakan hak para 'ashabah (yakni dua saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung lakilaki). Kemudian kita lihat jumlah per kepalanya ada tabayun (perbedaan), maka 3 x 4 = 12. Kemudian angka ini kita kaLikan dengan pokok masalahnya, berarti 3 x 12 = 36. Bilangan inilah yang kemudian menjadi pokok masalah hasil pentashihan. Jadi, pembagiannya seperti berikut: ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (24 bagian), dan sisanya (12 bagian) dibagikan untuk dua orang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki, dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian anak perempuan, jadi setiap saudara kandung perempuan mendapat tiga (3) bagian, dan saudara laki-laki kandung enam (6) bagian. Kemudian, kita lihat antara bagian pewaris kedua (yaitu 3) dengan pokok masalahnya (juga dari 3) ada kesamaan (tamatsul). Karena itu, al-jami'ah di sini sama dengan hasil pentashihan pada masalah yang pertama (yakni dari 36). Kemudian, hak waris/bagian saudara kandung perempuan yang meninggal (3 bagian) hanya dibagikan kepada ahli waris, yaitu seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Kemudian, hasil pembagian itu ditambahkan pada hasil bagian mereka yang pertama. Maka, bagian saudara kandung perempuan menjadi empat (4): tiga (3) bagian --yang diperolehnya dari masalah pertama-- ditambah dengan bagian yang berasal dari saudara kandung perempuan yang meninggal, yaitu satu (1) bagian (3 + 1 = 4). Sedangkan saudara kandung laki-laki mendapatkan dua (2) bagian, yang kemudian ditambahkan dengan perolehannya dari peninggalan pada masalah pertama, yaitu enam (6) bagian. Maka saudara laki-laki kandung memperoleh delapan (8) bagian. Adapun tiga anak perempuan pewaris pertama, dalam masalah kedua ini tidak mendapatkan hak waris, disebabkan kedudukannya hanyalah sebagai keponakan pewaris kedua, yakni anak perempuan dari saudara laki-laki pewaris kedua. Karena itu, mereka mahjub. Berikut ini saya sertakan tabelnya: Jumlah kepala 12 3 anak pr. 2/3 Sdr. kandung pr. Sdr. kandung pr. Sdr. kandung lk. Tashih masalah ke I 3 2 3 1 6 36 24 3 meninggal Sdr. kandung pr. Sdr. kandung lk. al-Jami'ah 3 1 2 36 24 3+1=4 6+2=8

Contoh lain, seseorang wafat dan meninggalkan istri, ayah, ibu, cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Kemudian cucu tersebut meninggal dengan meninggalkan suami, ibu, tiga anak perempuan, dan dua anak laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut:

79

kaidah yang berlaku di kalangan ulama faraid adalah kita menjadikan pokok masalah pertama sebagai al-jami'ah. dan saudara laki-laki seibu. yang berarti bagian pewaris kedua hanya dibagikan kepada ahli warisnya. dan ini merupakan juz'us sahm (bagian dari bagian hak waris). dan dua anak perempuan. Maka hasil dari perkalian itu (yakni 15 x 13 = 195) merupakan al-jami'ah (penyatuan) antara dua masalah. maka akan merupakan hasil bagian ahli waris dari al-jami'ah (penyatuan dari dua masalah). kita tidak lagi membuat al-jami'ah yang baru. 1/2 Suami 1/4 meninggal Contoh yang memiliki kasus al-mubayanah: seseorang wafat dan meninggalkan suami. Hal ini karena kita dapati bagian pewaris kedua (cucu perempuan keturunan anak laki-laki) dalam masalah pertama ada tamatsul (kesamaan) dengan pokok masalah yang kedua. Suami mendapatkan seperempat (1/4) berarti tiga bagian. Kandung perempuan (2/3) Ibu 1/6 12 meninggal 39 26 26 10 4 18 6 80 . Untuk lebih meyakinkan kebenaran masalah kedua ini. Lihat tabel berikut: 13 15 3 2 2 8 3 13 6 2 12 Suami 1/4 Ayah 1/6 Ibu 1/6 2 anakperempuan (2/3) Sdr. Maka angka 39 ini merupakan jumlah bagian seluruh ahli waris dalam masalah kedua. antara masalah yang pertama dengan masalah yang kedua ada mubayanah (perbedaan).Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). sedangkan sisanya (lima bagian) merupakan bagian ayah sebagai jumlah 'ashabah. Dalam keadaan demikian. ibu. begitu juga dengan bagian ibu yakni seperenam (1/6). Jumlah semuanya adalah dua puluh empat (24) bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua belas (12) kemudian di-'aul-kan menjadi lima belas (15). kita lihat al-jami'ah dalam masalah ini sama dengan pokok masalah pertama. tetapi cukup menjadikan al-jami'ah yang pertama itu berlaku pada masalah kedua. ibu. Oleh sebab itu. kita lihat hasil perkaliannya: perkalian antara juz'us sahm yaitu tiga (3) dengan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan. yaitu dua puluh empat (24). Jumlahnya lima belas (15) bagian. yang mendapat tiga bagian) di atas pokok masalah kedua. cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/2 (12 bagian). Kemudian suami wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. berarti dua bagian. Sedangkan pokok masalah yang kedua dari dua belas (12) yang di-'aul-kan menjadi tiga belas (13). Berikut ini tabelnya: Pokok Masalah I 24 3 4 5 Pokok Masalah II 12 12 3 al-Jami'ah 24 3 4 5 3 Istri 1/8 Ibu 1/6 Ayah ('ashabah) Cucu pr. Kemudian. Kemudian. karenanya kita kalikan pokok masalah pertama (yakni 15) dengan pokok masalah yang kedua (yakni 13). ibu 1/6 (4 bagian). berarti 3 x 13 = 39. ayah. Istri mendapatkan 1/4 (3 bagian). Kemudian dua anak perempuan mendapatkan dua per tiga (2/3) berarti delapan (8) bagian. Ayah mendapatkan seperenam (1/6) berarti dua bagian. Juz'us sahm ini kemudian kita kalikan dengan bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. istri. Lalu kita tempatkan bagian pewaris yang kedua (suami. keturunan anak lk.

adalah seorang sahabat yang mempunyai empat orang istri.ialah seratus ribu dirham. Misalnya. kita tetap harus menempuh cara seperti yang telah kita tempuh dalam almunasakhat. dan seterusnya. atau siapa saja yang ditunjuknya. Numadhir binti al-Asbagh. Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf r. Kemudian suami wafat dan meninggalkan anak perempuan. dan paman kandung (saudara ayah). laki-laki seibu 1/6 3 2 9 6 Catatan Kemungkinan besar dapat pula terjadi adanya al-jami'ah lebih dari satu. dan bagian itu diberikan kepada ahli waris yang lain. seseorang wafat meninggalkan suami. Kasus seperti ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah "pengunduran diri" atau "menggugurkan diri dari hak warisnya". menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil hak waris sekadar seperempat dari seperdelapan yang menjadi haknya. dua saudara kandung perempuan. dan tashih ketiga pada posisi kedua. Jumlah yang diambilnya --sebagaimana disebutkan dalam riwayat-. 81 .Istri 1/4 Sdr. dalam suatu keadaan pembagian waris salah seorang ahli warisnya wafat sebelum pembagian. salah seorang istrinya. kandung pr. cucu perempuan keturunan anak laki-laki.a. Dan hasilnya dinamakan al-jami'ah kedua. Misalnya. dan dua saudara laki-laki seibu.pr. Ketika ia wafat. At-Takharuj min at-Tarikah Yang dimaksud dengan at-takharuj min at-tarikah ialah pengunduran diri seorang ahli waris dari hak yang dimilikinya untuk mendapatkan bagian (secara syar'i). al-jami'ah ketiga. saudara perempuan seibu. takni kita tempatkan tashih kedua pada posisi pertama. seibu 1/6 Paman ('ashabah) Anak perempuan 1/2 Cucu pr. Syariat Islam juga memperbolehkan apabila salah seorang ahli waris menyatakan diri tidak akan mengambil hak warisnya. dan seterusnya. lk. dan ibu. Kemudian anak perempuan juga meninggal. Maka jika terjadi hal seperti ini. saudara seibu 1/3 3 1 2 3 1 1 1 meninggal 2 4 3 1 1 1 meninggal 1 4 2 7 7 7 3 1 2 6 1 6 7 1 2 3 6 7 1 4 2 8 8 8 4 C. Dalam hal ini dia hanya meminta imbalan berupa sejumlah uang atau barang tertentu dari salah seorang ahli waris lainnya ataupun dari harta peninggalan yang ada. Hal ini dalam syariat Islam dibenarkan dan diperbolehkan. 2/3 2 sdr. dan seterusnya. 1/6 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Nenek 1/6 2 sdr. Untuk menjelaskan hal ini perlu kiranya saya kemukakan contoh tentang bentuk al-jami'ah yang lebih dari satu ini. Perhatikan tabel berikut: 2 6 Suami 1/2 Sdr. ayah. kemudian ada lagi yang meninggal. dan meninggalkan nenek.

seseorang wafat dan meninggalkan ayah. Kemudian. Lalu sisanya (yakni 24 .000 = 24. Lalu jumlah bagian kedua ahli waris itulah yang menjadi pokok masalahnya. dan cara kedua.000. Misalnya. dan bagian setiap anak laki-laki empat belas (14) bagian.000 + 18.000 Bagian anak perempuan adalah 12 x 2. Istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti lima (5) bagian. yakni seperdelapan dari dua puluh empat.000 Cara kedua: apabila salah seorang ahli waris menyerahkan atau menggugurkan hakuya lalu memberikannya kepada salah seorang ahli waris lainnya. Maka jumlah sisa bagian yang ada itulah pokok masalahnya.000 Bagian ayah 9 x 2. Sebagai contoh. ia hanya memberitahukannya kepada salah seorang dari ahli waris yang ditunjuknya dan bersepakat bersama. Dalam keadaan demikian. Kemudian dari pokok masalah itu dibagikan untuk hak ayah dan anak perempuan.3 = 21) merupakan pokok masalah bagi hak ayah dan anak perempuan. atau menyatakan hanya akan mengambil sebagian saja dari hak warisnya.000. Kemudian istri menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil rumah. Kemudian anak perempuan itu menggugurkan haknya dan memberikannya kepada salah seorang dari saudara laki-lakinya.000. kemudian keluarkanlah bagian ahli waris yang mengundurkan diri. dan sisanya --yakni tujuh bagian-adalah bagian anak perempuan.000: 21 = 2. Dengan demikian.000. dan setelah ditashih menjadi empat puluh.000.000. 82 . berarti tiga (3) saham. ia menyatakannya kepada seluruh ahli waris yang ada. anak perempuan. maka pembagiannya hanya dengan cara melimpahkan bagian hak ahli waris yang mengundurkan diri itu kepada bagian orang yang diberi. hak anak perempuan itu diberikan kepada salah seorang saudara lakilakinya yang ia tunjuk sebelumnya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang isteri.000. seorang anak perempuan. sehingga seolah-olah ia telah menerima bagiannya. dan istri. sedangkan bagian anak perempuan dilimpahkan kepada salah seorang saudara laki-laki yang diberinya hak bagian. maka ada dua cara yang dapat menjadi pilihannya. dengan imbalan sesuatu yang telah disepakati oleh keduanya. Maka. kemudian kita hilangkan (ambil) hak istri. warisan itu hanya dibagikan kepada istri dan kedua anak laki-laki. Kemudian sebagai misal.000 Total = 24. dan uang sebanyak Rp 42 juta. dan menggugurkan haknya untuk menerima bagian dari harta yang berjumlah Rp 42 juta itu. pewaris meninggalkan sebuah rumah. Pertama. hasilnya seperti berikut: Nilai per bagian adalah 42. Perhatikan tabel berikut: Pokok masalah 8 Isteri 1/8 Anak laki laki ('ashabah) Anak laki laki ('ashabah) Anak perempuan ('ashabah) Tashih 40 5 14 14 7 40 5 14 14+14 - 1 7 Maka.000 = 18. dan sisanya dibagikan kepada ahli waris yang ada.000 = 42.000. dan dua anak laki-laki.Tata Cara Pelaksanaannya Apabila salah seorang ahli waris ada yang menyatakan mengundurkan diri. Cara pertama: kenalilah pokok masalahnya. Rincian pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). maka warisan harta tersebut hanya dibagikan kepada anak perempuan dan ayah.000. pokok masalahnya dari delapan.

. Pengertian ini tentu saja disandarkan karena adanya rahim yang menyatukan asal mereka. Dengan demikian. Lebih jauh golongan kedua ini mengatakan bahwa dzawil arham adalah lebih berhak untuk menerima harta waris dibandingkan lainnya. Misalnya. dan Ibnu Abbas r. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. cucu laki-laki dari anak perempuan. Allah berfirman: ". Kedua: golongan kedua ini berpendapat bahwa dzawil arham (kerabat) berhak mendapat waris. sama halnya dengan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw.X. dan lainnya) Adapun lafazh dzawil arham yang dimaksud dalam istilah fuqaha adalah kerabat pewaris yang tidak mempunyai bagian/hak waris yang tertentu. paman (saudara laki-laki ibu). dan bukan pula termasuk dari para 'ashabah. dan Ali bin Abi Thalib. yaitu Malik dan Syafi'i rahimahumullah.. yang asalnya dalam bahasa Arab berarti 'tempat pembentukan/menyimpan janin dalam perut ibu'.. Jadi. maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi (HR Bukhari. Pendapat ini merupakan jumhur ulama. di antaranya Umar bin Khathab. bila tidak ada ashhabul furudh. Definisi Dzawil Arham Arham adalah bentuk jamak dari kata rahmun. Di antara mereka yang berpendapat demikian ialah Zaid bin Tsabit r. tidak dibenarkan jika harta tersebut diberikan kepada dzawil arham.a. Karena itu mereka lebih diutamakan untuk menerima harta tersebut daripada baitulmal. Juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal rahimahumullah. " (an-Nisa': 1) "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muhammad: 22) Rasulullah saw. ataupun 'ashabah yang menerima harta pewaris. Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh Imam Malik dan Syafi'i (golongan pertama) ialah: 83 . HAK WARIS DZAWIL ARHAM A. lafazh rahim tersebut umum digunakan dengan makna 'kerabat'. namun mereka tidak mewarisinya secara ashhabul furudh dan tidak pula secara 'ashabah. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain. Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama: golongan ini berpendapat bahwa dzawil arham atau para kerabat tidak berhak mendapat waris. bibi (saudara perempuan ayah atau ibu). keponakan laki-laki dari saudara perempuan. dan (peliharalah) hubungan silaturahim. dan juga merupakan pendapat dua imam. bersabda: "Barangsiapa yang berkehendak untuk dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya. Lebih jauh mereka mengatakan bahwa bila harta waris tidak ada ashhabul furudh atau 'ashabah yang mengambilnya. dzawil arham adalah mereka yang bukan termasuk ashhabul furudh dan bukan pula 'ashabah. Muslim. B. Dengan demikian. Kemudian dikembangkan menjadi 'kerabat'.a. Maksudnya. baik dalam bahasa Arab ataupun dalam istilah syariat Islam. baik datangnya dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. maka seketika itu dilimpahkan kepada baitulmal kaum muslim untuk disalurkan demi kepentingan masyarakat Islam pada umumnya. dan sebagainya. dalam sebagian riwayat darinya. dzawil arham adalah ahli waris yang mempunyai tali kekerabatan dengan pewaris. sebab mereka memiliki kekerabatan dengan pewaris. Ibnu Mas'ud. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham Para imam mujtahid berbeda pendapat dalam masalah hak waris dzawil arham. baik dalam Al-Qur'an ataupun Sunnah.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Kemudian sebagaimana dinyatakan oleh mayoritas ulama bahwa ayat di atas me-mansukh (menghapus) kebiasaan pada awal munculnya Islam." (al-Anfal: 75) Makna yang mendasar dari dalil ini ialah bahwa Allah SWT telah menyatakan atau bahkan menegaskan dalam KitabNya bahwa para kerabat lebih berhak untuk mendapatkan atau menerima hak waris daripada yang lain. termasuk ashhabul furudh. Dan dalam hal ini tidak ada satu pun nash yang pasti dan kuat yang menyatakan wajibnya dzawil arham untuk mendapat waris. Ayat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa yang disebut kerabat --siapa pun mereka. ketika ditanya tentang hak waris bibi --baik dari garis ayah maupun dari ibu-. menyatakan bahwa dzawil arham atau para kerabat berhak mendapatkan waris. Dengan turunnya ayat ini. para 'ashabah. Padahal dalam kaidah ushul fiqih telah ditegaskan bahwa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan daripada kemaslahatan pribadi. Maka jika keduanya tidak berhak untuk menerima harta waris. Di sini. Hal seperti ini menurut syariat Islam adalah batil. Rasulullah saw.bila diserahkan ke baitulmal akan dapat mewujudkan kemaslahatan umum. atau selain dari keduanya-. Namun sebaliknya. Jadi. Hal demikian dalam dunia fiqih dikenal dengan istilah tarjih bilaa murajjih yang berarti batil. maka kegunaan dan faedahnya akan sangat minim. Bila pewaris mempunyai kerabat dan kebetulan ia meninggalkan harta waris. 3. tidak mungkin dan tidak dibenarkan bila kita memberikan hak waris kepada kerabat lain. para ''ashabah.1. serta selain keduanya. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah: ". 2. Seperti yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan dzawil arham adalah para kerabat." (an-Nisa': 7) Melalui ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa kaum laki-laki dan wanita mempunyai hak untuk menerima warisan yang ditinggalkan kerabatnya. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. 84 . Dengan dasar ini dapat dipetik pengertian bahwa karena Rasulullah saw. sedangkan bibi tidak mendapatkannya. sebab umat Islam akan ikut merasakan faedah dan kegunaannya. makna kata itu mencakup kerabat yang mempunyai hubungan rahim atau lebih umumnya hubungan darah. Atas dasar inilah maka baitulmal lebih diutamakan untuk menyimpan harta waris yang tidak ada ashhabul furudh dan 'ashabahnya ketimbang para kerabat. lafazh arham yang berarti kerabat adalah umum. Jadi. baik sedikit ataupun banyak. Dengan demikian. tidak memberikan hak waris kepada para bibi. Pendek kata. Asal pemberian hak waris atau asal penerimaan hak waris adalah dengan adanya nash syar'i dan qath'i dari AlQur'an atau Sunnah. mereka (dzawil arham) berhak untuk menerima warisan. bila diserahkan kepada kerabatnya.. maka tidak pula kepada kerabat yang lain. As-Sunnah. kerabat lain pun demikian. baik ashhabul furudh. yakni Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad.merekalah yang lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang yang bukan kerabat." 2. Sebab. maka berikanlah harta waris itu kepada kerabatnya dan janganlah mendahulukan yang lain. bila kita memberikan hak waris kepada mereka (dzawil arham) berarti kita memberikan hak waris tanpa dilandasi dalil pasti dan kuat. pada masa itu kaum muslimin saling mewarisi disebabkan menolong dan hijrah. menjawab: "Sesungguhnya Jibril telah memberitahukan kepadaku bahwa dari keduanya tidak ada hak menerima waris sedikit pun. atas dasar inilah maka para kerabat pewaris lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang baitulmal. dan logika. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dan harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. dan hanya kalangan mereka saja yang merasakannya. Memang sangat jelas betapa dekatnya kekerabatan saudara perempuan ayah ataupun saudara perempuan ibu dibandingkan kerabat lainnya. Oleh karena itu. bila ternyata tidak ada ahli warisnya secara sah dan benar --baik dari ashhabul furudh-nya ataupun para 'ashabahnya-. Hal ini juga berdasarkan firman-Nya yang lain: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. mereka mendasari pendapatnya itu dengan Al-Qur'an. para kerabatlah yang paling berhak untuk menerima harta peninggalan seorang pewaris. Harta peninggalan. Adapun golongan kedua.beliau saw. maka yang dapat saling mewarisi hanyalah antara sesama kerabat (dzawil arham). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah..

dan amanah. Inilah usaha untuk menyatukan dua hadits yang sepintas bertentangan. dan kami tidak mengetahui kerabatnya. Sebab. akan hak waris kepada dzawil arham menunjukkan dengan tegas dan pasti bahwa para kerabat berhak menerima harta waris bila ternyata pewaris tidak mempunyai ashhabul furudh yang berhak untuk menerimanya atau para 'ashabah. Umar bin Khathab r. Kemudian Rasul pun memberikan harta warisan peninggalan Tsabit kepada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir.jawaban Rasulullah saw. kecuali hanya anak laki-laki dari saudara perempuannya. Di samping dalil yang mereka kemukakan lebih kuat dan akurat. khususnya pada masa kita sekarang ini.a. sedangkan saudara seayah hanya dari ayah. bersabda: "(Saudara laki-laki ibu) berhak menerima waris bagi mayit yang tidak mempunyai keturunan atau kerabat yang berhak untuk menerimanya.Adapun dalil dari Sunnah Nabawiyah adalah seperti yang diberitakan dalam sebuah riwayat masyhur. dalam hal ini ia mempunyai dua ikatan: ikatan Islam dan ikatan rahim. maka Rasulullah saw. dan imam mujtahidin. bahwa suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mengajukan persoalan kepada Umar. bertanya kepada Qais bin Ashim. dimanakah adanya baitulmal yang demikian. Jadi. ketika musuh-musuh Islam berhasil memutus kelangsungan hidup khilafah Islam dengan memporakporandakan 85 . yakni saudara laki-laki ibunya. ikatannya dari dua arah. kelompok kedua (jumhur ulama) ini menyanggah dalil yang dikemukakan oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i bahwa hadits itu kemungkinannya ada sebelum turunnya ayat di atas. juga tampak lebih adil apalagi jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan dewasa ini. yang bukan dari ashhabul furudh dan bukan pula termasuk 'ashabah. untuk memberikan kepada paman Sahal tersebut. dan tepat guna dalam menyalurkan harta baitulmal. "Apakah engkau mengetahui nasab orang ini?" Qais menjawab. karena memang merupakan pendapat mayoritas sahabat. Kalaulah baitulmal lebih berhak untuk menampung harta peninggalan pewaris yang tidak mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh dan 'ashabah-nya. tabi'in.--.a adalah seorang khalifah Islam yang dikenal sangat mengu tamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Sebagai contoh. tentang hak waris bibi ketika itu disebabkan ada ashhabul furudh atau ada 'ashabah-nya. Dengan pemberian Rasulullah saw. Permasalahan ini sama seperti dalam kasus adanya saudara kandung laki-laki dengan saudara laki-laki seayah dalam suatu keadaan pembagian harta waris. yang jelas --jika melihat konteks hadits yang pernah dikemukakan-. Atau. Ketika Tsabit bin ad-Dahjah meninggal dunia. Di samping itu. sementara di sisi lain mereka mensyaratkan keberadaan baitulmal dengan persyaratan khusus. Karena sesungguhnya aku telah mendengar bahwa Rasulullah saw. mungkin juga bahwa bibi (baik dari ayah atau ibu) tidak berhak mendapat waris ketika berbarengan dengan ashhabul furudh atau para 'ashabah. adil. yaitu ikatan Islam --karena pewaris seorang muslim. Sebab. Maka muncul pertanyaan. Oleh sebab itu. Adapun dalil logikanya seperti berikut: sesungguhnya para kerabat jauh lebih berhak untuk menerima harta warisan daripada baitulmal. dari ayah dan dari ibu. dalam riwayat ini dikisahkan.merupakan dalil yang kuat bahwa kerabat lebih berhak menerima harta waris peninggalan pewaris ketimbang baitulmal. Terlebih lagi pada masa kita sekarang ini. kita dapat menyimpulkan bahwa pendapat jumhur ulama (kelompok kedua) lebih rajih (kuat dan akurat). Sedangkan Sahal tidak mempunyai kerabat kecuali hanya paman. Berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris. Umar menanggapi masalah itu dan memerintahkan kepada Abu Ubaidah untuk memberikan harta peninggalan Sahal kepada pamannya. Keponakan laki-laki dari anak saudara perempuan tidak lain hanyalah merupakan kerabat. "Yang kami ketahui orang itu dikenal sebagai asing nasabnya. Setelah membandingkan kedua pendapat itu. Abu Ubaidah menceritakan bahwa Sahal bin Hunaif telah meninggal karena terkena anak panah yang dilepaskan seseorang. yang dalam hal ini seluruh harta waris menjadi hak saudara kandung laki-laki. Dan hal ini terbukti seperti yang banyak dikisahkan dalam kitab-kitab tarikh. adil dalam memberi kepada setiap yang berhak. karena ikatan antara baitulmal dan pewaris hanya dari satu arah. Tidak ada jawaban lain untuk pertanyaan seperti itu kecuali: "telah lama tiada". yaitu Abu Lubabah bin Abdul Mundir. Alasannya. ikatan dari dua arah sudah barang tentu akan lebih kuat dibandingkan ikatan satu arah. Dalam suatu atsar diriwayatkan dari Umar bin Khathab r. baitulmal harus terjamin pengelolaannya. Di antaranya. kelompok pertama berpendapat lebih mengutamakan baitulmal ketimbang kerabat.a." Atsar ini --yang di dalamnya Umar al-Faruq memberitakan sabda Rasulullah saw. maka Umar bin Khathab pasti tidak akan memerintahkan kepada Abu Ubaidah Ibnul Jarrah r.

mereka akan membagikan hak ahli waris yang ada sesuai dengan bagian ahli waris yang lebih dekat. yakni pokoknya. dan dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok pendapat. tanpa membedakan jauh-dekatnya kekerabatan. Misalnya. Maka keadaan ini dapat dikategorikan sama dengan meninggalkan anak perempuan. 1/2. kemudian membagi-baginya menjadi negeri dan wilayah yang tidak memiliki kekuatan. Untuk memperjelas pemahaman tentang mazhab ini perlu saya kemukakan contoh-contoh seperti berikut: 1. Oleh karena itu.barisan. Sdr. bibi (saudara perempuan ibu). dan keponakan perempuan keturunan saudara laki-laki seayah. Karenanya tidak ada satu pun dari ulama atau para imam mujtahid vang mengakuinya apalagi mengikuti pendapat ini dengan alasan telah sangat nyata bertentangan dengan kaidah syar'iyah yang masyhur dalam disiplin ilmu mawarits. Hal ini dapat terlihat tentunya dengan melihat dan mempertimbangkan kemaslahatan yang ada. bahkan dhaif dan tertolak. Mazhab ini tidak masyhur. Cara Pembagian Waris Para Kerabat Di antara fuqaha terjadi perbedaan pendapat mengenai tata cara memberikan hak waris kepada para kerabat. bibi (saudara perempuan ayah). dan saudara laki-laki seayah. mereka juga tidak menganggap kuat serta lemahnya kekerabatan seseorang. Maka dalam hal ini mereka mendapatkan bagian waris secara rata. persatuan dan kesatuan muslimin. Menurut Ahlur-Rahmi Mengenai cara pembagian hak waris para kerabat. Dengan demikian. Dengan demikian. sedangkan saudara laki-laki seayah tidak mendapat bagian (mahjub) disebabkan saudara kandung perempuan di sini sebagai 'ashabah. Sungguh tepat apa yang digambarkan seorang penyair dalam sebuah bait syairnya: "Setiap jamaah di kalangan kita mempunyai iman. dan tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dengan perempuan. 2. Menurut Ahlut-Tanzil Golongan ini disebut ahlut-tanzil dikarenakan mereka mendudukkan keturunan ahli waris pada kedudukan pokok (induk) ahli waris asalnya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang cucu perempuan keturunan anak perempuan. Sdr. Inilah pendapat mazhab Imam Ahmad bin Hambal. namun kesemuanya tidak mempunyai imam. Mazhab ini dikenal dengan sebutan ahlur-rahmi disebabkan orang-orang yang menganut pendapat ini tidak mau membedakan antara satu ahli waris dengan ahli waris yang lain dalam hal pembagian. ketika pengelolaan baitulmal tidak lagi teratur sehingga terjadi penyalahgunaan. karena itu ia mendapatkan sisanya. tetapi melihat pada yang lebih dekat dari ashhabul furudh dan para 'ashabahnya. keponakan laki-laki keturunan saudara kandung perempuan. saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. dapat kita katakan bahwa kedua kelompok ulama tersebut pada akhirnya bersepakat untuk lebih mengutamakan pemberian harta waris kepada kerabat ketimbang baitulmal. Bila seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak perempuan. Inilah gambarannya: Anak kandung pr. laki-laki seayah mahjub. 86 . tanpa melebihkan atau mengurangi salah seorang dari ahli waris yang ada. seorang keponakan perempuan dari saudara perempuan. khususnya setelah abad ketiga Hijriah. 1. C. juga merupakan pendapat para ulama mutakhir dari kalangan Maliki dan Syafi'i. dari mulai akhir abad ketiga Hijriah hingga masa kita dewasa ini. para ulama dari mazhab Maliki dan mazhab Syafi'i mutakhir memberikan fatwa dengan mendahulukan para kerabat ketimbang baitulmal. 1/2. pembagiannya seperti berikut: anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. Yang menjadi landasan mereka ialah bahwa seluruh ahli waris menyatu haknya karena adanya ikatan kekerabatan. saudara kandung perempuan. Mereka tidak memperhitungkan ahli waris yang ada (yang masih hidup)." Melihat kenyataan demikian. kandung pr. ahlur-rahmi menyatakan bahwa semua kerabat berhak mendapat waris secara rata. dan keponakan laki-laki keturunan saudara laki-laki seibu.

kemudian barulah yang lebih kuat di antara kerabat yang ada. Sebagaimana telah diungkapkan. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu mendapatkan seperenam (1/6) bagian secara fardh. seayah 1/6. Maka. adalah bahwa memberikan hak waris kepada dzawil arham tidak dibenarkan kecuali dengan berlandaskan pada nash-nash umum --yang justru tidak memberikan rincian mengenai besarnya bagian mereka masing-masing dan tidak ada pentarjihan secara jelas. saudara perempuan seibu.. Di samping itu. Mazhab ini merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib r. Maka pembagiannya seperti berikut: keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan mendapatkan setengah (1/2) bagian. dan sepupu perempuan anak dari paman kandung juga mendapatkan seperenam (1/6) bagian sebagai 'ashabah. pr. sdr.maka beliau memberi bibi (dari pihak ayah) dengan dua per tiga (2/3) bagian. Hal demikian dikarenakan sama saja dengan pewaris meninggalkan saudara kandung perempuan. keponakan perempuan keturunan dari saudara perempuan seayah mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). keponakan perempuan keturunan saudara perempuan seayah. dan sepupu perempuan keturunan paman kandung (saudara laki-laki seayah).a. Inilah gambarnya: Sdr. seibu paman kand. Hal ini. Pr. 3/6. Orang-orang (ahli waris) yang bernisbat kepada pewaris. menurut mereka.jauh lebih utama dan bahkan lebih berhak. yaitu melihat siapa yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan pewaris. rincian besarnya bagian ashhabul furudh dan para 'ashabah telah dijelaskan. Yang bernisbat kepada pewaris sebagai berikut: 87 . Orang-orang yang bernisbat kepada kedua kakek pewaris atau kedua nenek pewaris. Adapun dalih orang-orang yang memperkuat mazhab kedua ini. pelaksanaannya tetap mengikuti kaidah umum pembagian waris: bagian laki-laki adalah dua kali bagian wanita. Adapun yang dijadikan dalil oleh mazhab ahlut-tanzil ini ialah riwayat yang marfu' (sampai sanadnya) kepada Rasulullah saw. dan paman kandung. dan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. Selain itu. Oleh karena itu. 1/6. dan keputusan yang dilakukan Ibnu Mas'ud menunjukkan betapa kuatnya pendapat mereka. Ketika beliau memberi hak waris kepada seorang bibi (saudara perempuan ayah) dan bibi (saudara perempuan ibu) kebetulan saat itu tidak ada ahli waris lainnya-. Orang-orang yang dinisbati kekerabatan oleh pewaris. Lebih jauh mazhab ini menyatakan bahwa hadits Rasulullah saw. dalam hal melaksanakan pembagian waris untuk dzawil arham mazhab ini membaginya secara kelompok. berarti yang paling berhak di antara mereka (para 'ashabah) adalah yang paling dekat kepada pewaris dari segi dekat dan kuatnya kekerabatan. dilakukan dengan mengqiyaskannya pada hak para 'ashabah. dan sepertiga lagi diberikannya kepada bibi (dari pihak ibu). Sebab. sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada jalan lain untuk mengenali dan menuntaskan masalah ini kecuali dengan mengembalikan atau menisbatkannya kepada pokok ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya kepada pewaris. Selain itu. mazhab ketiga ini telah mengelompokkan dan membagi dzawil arham menjadi empat golongan. Lebih jauh akan dijelaskan hak masing-masing golongan dan cabang tersebut akan hak warisnya. yakni dengan melihat kepada yang lebih dekat derajat kekerabatannya kepada pewaris. juga berlandaskan fatwa Ibnu Mas'ud r. 3. Maka Ibnu Mas'ud memberikan setengah bagian untuk cucu perempuan dan setengah bagian lainnya untuk keponakan perempuan. Keempat golongan tersebut adalah: 1. ketika ia menerima pengaduan tentang pembagian waris seseorang yang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak wanita. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris. saudara perempuan seayah. 2. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu. Dalam praktiknya sama seperti membagi hak waris para 'ashabah. 3. Menurut Ahlul Qarabah Adapun mazhab ketiga menyatakan bahwa hak waris para dzawil arham ditentukan dengan melihat derajat kekerabatan mereka kepada pewaris. kand. sdr. 4. 1/6 Begitulah cara pembagiannya. dengan mengembalikan kepada pokoknya --karena memang lebih mendekatkan posisinya kepada pewaris-. dan diikuti oleh para ulama mazhab Hanafi. yang tampak sangat logis. pr.a. kemudian menjadikan masing-masing golongan mempunyai cabang dan keadaannya.2. Seseorang wafat dan meninggalkan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan.

baik laki-laki ataupun perempuan. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan itu dan seterusnya.dengan mengqiyas pada jalur 'ashabah. Bila mereka tidak ada. Keturunan dari saudara laki-laki seibu dan seterusnya. dan bibi (saudara perempuan ibu). baik keturunan laki-laki ataupun perempuan. Keturunan perempuan dari saudara kandung laki-laki. seibu. Bibi dari ayah pewaris. b. dan seterusnya seperti ayah dari ibu. maka barulah keturunan 88 . Sedangkan ahlul qarabah menyusun secara berurutan dan mendahulukan satu dari yang lain sebagai analogi dari 'ashabah bi nafsihi. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan di atas (Butir e) dan seterusnya. f. Juga pamannya (saudara ayah) yang seibu (mencakup semua paman dan bibi dari ibu. Yang dinisbati oleh pewaris: a. b.dari kakek dan nenek. b. baik yang kandung maupun yang seayah). Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah Telah saya kemukakan bahwa ahlul qarabah ini mengelompokkan dan memberikan urutan --dalam pembagian hak waris-. atau seayah. c. Itulah keenam kelompok yang bernisbat kepada kedua kakek dan kedua nenek pewaris. misalnya keturunan laki-laki dan perempuan dari bibi sang ayah. b. cucu. yang pertama kali berhak menerima waris adalah keturunan pewaris (anak. d. Kemudian paman (saudara lakilaki ibu) pewaris. kakek. atau yang seayah. Keturunan saudara kandung perempuan. Bibi (saudara perempuan ayah) pewaris. atau yang seibu. dan tidak pula mendahulukan antara satu dari yang lain. Buyut laki-laki dari keturunan cucu perempuan dan keturunan anak laki-laki. maka barulah keturunan paman (dari pihak ayah dan ibu). Ahlut-tanzil tidak menyusun secara berurutan kelompok per kelompok. Dengan demikian. baik laki-laki ataupun perempuan. Kemudian paman dan bibi --baik dari ayah maupun ibu-. ayah dari ayahnya ibu (kakek dari ibu). menurut ahlul qarabah. dan seterusnya. dan seterusnya). dan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita sebagaimana yang berlaku pula dalam kalangan ahlul 'ashabah. Jika tidak ada juga. ternyata kita menemukan beberapa perbedaan yang jelas antara mazhab ahlut-tanzil dengan ahlul qarabah: 1. keturunan dari pamannya (saudara laki-laki ibu). Cucu laki-laki keturunan anak perempuan. baik bibi kandung. dan seterusnya. Keturunan dari bibi (saudara perempuan ayah). Paman kakak yang seibu. dan seterusnya. Jika tidak ada. dan seterusnya. Yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris: a. seayah. dan paman (saudara ayah) ibu. maka pokoknya: ayah. seayah. Yang bernisbat kepada kedua kakek atau nenek dari pihak ayah ataupun ibu: a. ataupun seibu. dan seterusnya. Dasar yang dianggap oleh ahlut-tanzil dalam mendahulukan satu dari yang lain adalah "dekatnya keturunan" dengan sang ahli waris shahibul fardh atau 'ashabah. dan juga paman nenek. Sedangkan oleh ahlul qarabah yang dijadikan anggapan ialah "dekatnya dengan kekerabatan". keturunan bibinya (saudara perempuan ibu). Nenek yang bukan sahih. dan seterusnya seperti ibu dari ayahnya ibu. maka barulah keturunan saudara laki-laki (keponakan). Kakek yang bukan sahih. 2. e.a.. atau seibu. ibu dari ibu ayahnya ibu. Juga semua pamannya dan bibinya (paman dan bibi dari ayah). Bila mereka tidak ada. baik yang kandung. c. keturunan paman (saudara laki-laki ayah) yang seibu. Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah Dari uraian-uraian sebelumnya.

Namun. Yang demikian itu disebabkan keponakan kandung lebih kuat kekerabatannya. dan berarti seluruh harta waris menjadi haknya. dengan anak cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. Sebab 'ashabah akan mengambil seluruh hak waris yang ada. D. tampak ada kesamaan derajat di antara kedua ahli waris. jika ada shahibul fardh. Apabila segi derajat dan kedekatannya kepada pewaris sama. maka ia akan menerima seluruh harta waris. Begitu seterusnya. Misalnya. Begitulah seterusnya. Misalnya. Dengan demikian. Dan bila bersamaaan dengan ahli waris lain. maka ia akan menerima sisanya. Sebab kedudukan hak suami atau istri secara radd itu sesudah kedudukan dzawil arham. Apabila ada kesamaan pada kedekatan derajat kekerabatan. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham 1. Dalam contoh ini. 2. Tidak ada penta'shib ('ashabah). maka pembagiannya dilakukan secara merata. sisa harta waris akan diberikan kepada dzawil arham. seperti anak perempuan dari paman kandung atau seayah. Tidak ada shahibul fardh. dan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan. maka ia akan menerima hak warisnya secara fardh. d. maka para 'ashabah akan menerima sisa harta waris yang ada. maka yang didahulukan adalah cucu perempuan dari anak perempuan. orang yang wafat ini meninggalkan tiga putri keturunan anak paman kandung. Beberapa Catatan Penting: Apabila dzawil arham (baik laki-laki maupun perempuan) seorang diri menjadi ahli waris. bila ternyata tidak ada shahibul fardh.mereka yang sederajat dengan mereka. maka dalam keadaan seperti ini kita harus mengutamakan keponakan kandung. Artinya. Misalnya. Apabila dalam suatu keadaan terjadi persamaan. karena ketiganya memiliki derajat yang sama dari segi kekerabatan. berdasarkan urutan tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok ahli waris yang lebih awal disebutkan dapat menggugurkan kelompok berikutnya. 89 . Maka harta warisnya dibagi secara merata di antara mereka. maka yang lebih didahulukan adalah cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. seorang anak perempuan dari anak paman yang lain (kandung). semua ahli waris dari dzawil arham berhak menerima bagian. Sedangkan kita ketahui bahwa kedudukan ahli waris secara ar-radd dalam penerimaan waris lebih didahulukan dibandingkan dzawil arham. keduanya memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris sama-sama sebagai cucu. Mengutamakan dekatnya kekerabatan. Sedangkan jika dia berbarengan dengan salah satu dari suami atau istri. setelah diambil hak para shahibul fardh. b. seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan dari anak paman kandung. Sebab. dan sisanya diberikan kepada dzawil arham. apabila shahibul fardh hanya terdiri dari suami atau istri saja. dan seorang anak perempuan dari anak paman kandung yang lain. Dengan demikian. maka pembagiannya sebagai berikut: a. seseorang wafat dan meninggalkan anak perempuan dari saudara kandung laki-laki (yakni keponakan kandung) dengan anak perempuan dari saudara laki-laki seayah (keponakan bukan kandung). Atau dengan redaksi lain. seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Hanya saja. Dan bila ada shahibul fardh. pewaris meninggalkan ahli waris cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. tetapi sisanya pun akan mereka ambil karena merupakan hak mereka secara radd. maka yang lebih berhak untuk dintamakan adalah yang paling dekat dengan pewaris lewat shahibul fardh atau 'ashabah. maka haruslah mengutamakan mana yang lebih kuat kedekatan kekerabatannya. cucu perempuan keturunan anak laki-laki bernasab kepada pewaris lewat ahli waris. c. mereka tidak sekadar mengambil bagiannya. sedangkan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan melalui dzawil arham. Misalnya.

Sebenamya. seperti halnya dalam pembagian para 'ashabah. di kalangan ulama mazhab ini banyak dijumpai perbedaan tentang cara pembagian masing-masing kelompok tadi. yang kemudian dianut oleh ulama muta'akhirin mazhab Maliki dan Syafi'i ---karena dari segi pengamalannya memang lebih mudah. Penutup Itulah sekelumit mengenai hak waris para dzawil arham menurut mazhab ahlul qarabah yang merupakan mazhab imam Ali bin Abi Thalib r. saya tidak mengemukakannya di sini sebab akan bertele-tele dan menjenuhkan. pada prinsipnya yang banyak diamalkan adalah pandangan mazhab ahlut-tanzil sebagai mazhab Imam Ahmad. Pendapat ini banyak diterapkan di sebagian negara Arab dan negara Islam lainnya. Oleh karenanya. terutama antara Imam Abi Yusuf dan Imam Muhammad (keduanya murid dan teman dekat Abu Hanifah. Selain itu. penj.Catatan lain Di antara persoalan yang perlu saya kemukakan di sini ialah bahwa dalam pemberian hak waris terhadap para dzawil arham . bagian laki-laki dua kali lebih besar bagian perempuan. Namun.a. sekalipun dzawil arham itu keturunan saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. dan para ulama mazhab Hanafi. 90 .). bagi yang menghendaki pengetahuan lebih luas dalam masalah ini dapat merujuknya pada kitab-kitab fiqih.

maka beliau menjawab dengan sabdanya: "Lihatlah dari tempat keluarnya air seni. Maka dengan segera ia menemui kaumnya untuk mengganti vonis yang telah dijatuhkannya. Sebab. atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi'i serta pendapat mayoritas sahabat. penj. Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya. bagaimana cara ia bermimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani. maka ia divonis sebagai khuntsa musykil. Bila urinenya keluar dari penis. Misalnya.-disebut sebagai musykil. Ia berkata: "Wahai kaumku. 91 . maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil. dikukuhkanlah vonis tersebut. apakah ia tumbuh kumis. ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita.XI. khanatsa wa takhannatsa." B. dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya.a. Akhirnya Amir memberitahukan persoalan tersebut kepada budaknya. lihatlah jalan keluarnya air seni. Di samping melalui cara tersebut. Ketika Islam datang. Amir kemudian memvonisnya sebagai laki-laki dan perempuan. ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian. apakah tumbuh payudaranya. Misalnya. tetapi bila keluar dari vagina. bahwa ada seorang wanita melahirkan anak dengan dua jenis kelamin. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling (lebih) sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau wanita. maka ia sebagai laki-laki. Namun. bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan. bersabda: "Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini: 1. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak. maka ia divonis sebagai laki-laki dan mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina. dan sebagainya.). dan tidak menerima vonis tersebut. dan budak wanita itu berkata: "Cabutlah keputusan tadi. Amir pun menjadi gelisah dan tidak tidur sepanjang malam karena memikirkannya. ia dinyatakan sebagai perempuan. Karenanya dalam hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan. Oleh karena itu. adanya dua jenis kelamin pada seseorang --atau bahkan sama sekali tidak ada-. dan vonislah dengan cara melihat dari mana keluar air seninya. Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu orang-orang Arab meninggalkannya. apakah ia haid atau hamil. misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang "air kecil". setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas. Bila keluar dari penis. bahwa Rasulullah saw. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r. bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan. artinya tidak ada kejelasan. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil. yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang laki-laki menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok. Suatu ketika ia dikunjungi kaumnya yang mengadukan suatu peristiwa." Amir merasa puas dengan gagasan tersebut. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A." Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit). Definisi Banci Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari kata khanatsa berarti 'lunak' atau 'melunak'. kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi. budak wanita yang dimiliki Amir dan dikenal sangat cerdik menanyakan sebab-sebab yang menggelisahkan majikannya. atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. Melihat sang majikan gelisah. Dikisahkan bahwa Amir bin adz-Dzarb dikenal sebagai seorang yang bijak pada masa jahiliah." Ternyata vonis ini diterima secara aklamasi.

dan bagian anak banci lima (5). bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya. dan saudara laki-laki banci. bagian setiap ahli waris dan banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat (4). sedangkan bagian anak perempuan empat (4).2. atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris. Sisa harta waris yaitu tiga (3) kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti. Bahkan dalam mazhab Imam Syafi'i. 3. Pokok masalahnya dari enam (6) bila banci itu dikategorikan sebagai wanita. Mazhab Syafi'i berpendapat. Maksudnya. Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci 1. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki. dan seorang anak banci. atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya. Inilah tabelnya: 6 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci 8 3 2 3 6 3 2 1 24 9 6 4 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci kandung 92 . Bahkan. maka hasilnya menjadi hak/bagian banci. saudara laki-laki banci tiga (3) bagian. Kemudian kita menyatukan (al-jami'ah) antara dua masalah. menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat (24). dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit. maka divonis sebagai laki-laki. seperti dalam masalah al-munasakhat. Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan (9) bagian.'aul-kan. Mazhab Maliki berpendapat. C. Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masing-masing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan fuqaha mawarits mu'amalah bil adhar-yaitu jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit. 2. Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi'i. bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita). Seseorang wafat meninggalkan seorang suami. maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris. maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita. mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan.hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya --keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita. Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki. Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. maka pokok masalahnya dari enam (6) tanpa harus di. dan sisanya kita bekukan. Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas. ibu. kemudian di-'aul-kan menjadi delapan (8). Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki. Dan al-jami'ah (penyatuan) dari keduanya. kemudian disatukan dan dibagi menjadi dua. maka pokok masalahnya dari lima (5). Bagian anak laki-laki adalah delapan (8). ibu enam (6) bagian. seorang anak perempuan. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya Untuk banci --menurut pendapat yang paling rajih-. pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. maka gugurlah hak warisnya.

untuk mengetahui secara pasti kita harus menunggu setelah bayi itu lahir. barulah kita bagikan kepada masing-masing ahli waris secara lengkap setelah kelahiran bayi. 1/2 Sdr. 1/2 Banci lk. sedangkan yang banci tidak diberikan haknya. ibunya mengandungnya dengan susah payah.Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima (5) bagian dibekukan sementara.telah saya kemukakan bahwa salah satu syarat yang harus terpenuhi oleh ahli waris adalah keberadaannya (hidup) ketika pewaris wafat. karena belum dapat diketahui secara pasti keadaannya. Hanya kepada Allah saya memohon pertolongan. kdg. maka pokok masalahnya dua (2).yang mengharuskan kita untuk segera membagi harta warisan dalam bentuk awal. yakni dua (2) bagian dibekukan. Karena itu. Dengan demikian. maka mustahil bagi kita untuk menentukan jumlah bagian waris yang harus diterimanya. E. apakah bayi tersebut akan lahir selamat atau tidak. Setelah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup. demikian juga jika ia lahir dalam keadaan mati. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan: 93 .. Maka pembagiannya seperti berikut: Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki. Dikatakan: "al-mar'atu haamil ma haamilatun idsaa kaanat hublaa" (wanita itu hamil apabila ia sedang mengandung janin). Adapun sisanya. Namun demikian. dan pada kesempatan ini saya hanya akan utarakan secara global. selama janin yang dikandung belum dapat diketahui dengan pasti keadaannya." (al-Ahqaf: 15) Sedangkan menurut istilah fuqaha. bagi janin yang masih di dalam kandungan ibunya belum dapat ditentukan hak waris yang diterimanya. seayah 1/6 7 3 3 1 14 6 6 - Suami 1/2 Sdr. Setelah itu. laki-laki atau perempuan. pr. dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas. dan saudara laki-laki seayah banci. 3. tidak tertutup kemungkinan kita dihadapkan pada keadaan darurat --menyangkut kemaslahatan sebagian ahli waris-. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya. Definisi Hamil Al-hamlu (hamil) dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata hamalat. maka kita nyatakan bahwa ahli waris tidak ada ketika pewaris wafat. dan satu atau kembar. Secara ringkas dapat dikatakan. Bagian suami enam (6). saudara kandung perempuan. Ini tabelnya: 2 1 1 6 Suami 1/2 Sdr. pr. Berkaitan dengan hal ini.. kdg. saudara kandung perempuan enam (6) bagian. D. sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh (7). yaitu janin yang dikandung dalam perut ibunya. dan penyatuan dari keduanya menjadi empat belas (14). pr. Dalam masalah hamil ini ada beberapa hukum yang berkaitan dengan hak waris. Pada pembahasan sebelumnya --tentang persyaratan hak waris/mewarisi-. baik laki-laki maupun perempuan. para pakar faraid menjelaskan hukum-hukum khusus secara rinci dengan menyertakan berbagai pertimbangan demi menjaga kemaslahatan ahli waris yang ada. maka kita nyatakan bahwa ahli waris dalam keadaan hidup pada saat pewaris wafat. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. dan melahirkannya dengan susah payah (pula) .

a. 4. sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan. Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup.1. 2. 3. Sebagai ahli waris dalam keadaan memiliki kelamin (laki-laki atau perempuan). atau yang semacamnya. Dalam keadaan demikian berarti mahjub hak warisnya oleh adanya ayah pewaris. Sebagai ahli waris tunggal. Pendapat inilah yang paling akurat dalam mazhab Imam Ahmad. mau menyusui ibunya. Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya.a. bersin. atau ketika keluar dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil.maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup. 5. tersebut dapat dipastikan bersumber dari penjelasan Rasulullah saw. dan ibu yang sedang hamil dari ayah tiri pewaris. dan bukan sebagai ahli waris dalam keadaan berkelamin ganda (banci). ayah. Sebagai ahli waris dalam segala keadaannya baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Bila gerakan itu hanya sejenak --seperti gerakan hewan yang dipotong-. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. Bukan sebagai ahli waris dalam keadaan apa pun. Adapun menurut mazhab Syafi'i dan Hambali.: "Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati). seseorang wafat dan meninggalkan istri. Sebagai ahli waris yang tidak berbeda hak warisnya." Pernyataan Aisyah r. maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan. menurut mazhab Hanafi. Sebagai misal. apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati. Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat. Bahkan. Keadaan Pertama Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yangada secara langsung. tanpa harus menunggu kelahiran janin yang ada di dalam kandungan. disebabkan janin tersebut tidak termasuk ahli waris dalam segala kondisi. jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris. F. Berarti bila janin itu lahir ia menjadi saudara laki-laki seibu pewaris. ibu sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil hak istri. maka tidak berhak mendapatkan waris. baik sebagai laki-laki ataupun perempuan. Pokok masalahnya dari empat (4). Sedangkan persyaratan kedua dinyatakan sah dengan keluarnya bayi dalam keadaan nyata-nyata hidup. Dengan demikian.: "Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun sekalipun berada dalam falkah mighzal. Dan tanda kehidupan yang tampak jelas bagi bayi yang baru lahir adalah jika bayi tersebut menangis. ia tidak berhak mewarisi. hal ini bisa ditandai dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut. Pernyataan ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad. 2. Keadaan Janin Ada lima keadaan bagi janin dalam kaitannya dengan hak mewarisi. baik janin tersebut berkelamin laki-laki ataupun perempuan. atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian pewaris. Adapun mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam kandungan maksimal empat tahun. Karenanya harta waris yang ada hanya dibagikan kepada istri seperempat (1/4).. Kelima keadaan tersebut: 1. dan sisanya menjadi bagian ayah sebagai 'ashabah. seperti yang disinyalir para ulama mazhab Hambali. atau ada ahli waris lain namun ia majhub (terhalang) hak warisnya karena adanya janin." (HR Nasa'i dan Tirmidzi) Namun. dan ia dianggap tidak ada. 94 . bayi yang baru keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan. Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah r.

Sebagai contoh. untuk sementara dibekukan hingga janin telah dilahirkan. dan bagian istri seperdelapan (1/8). pr. Sebab keponakan perempuan (anak perempuan keturunan saudara laki-laki) termasuk dzawil arham. apabila yang lahir anak perempuan. hendaknya kita berikan bagian yang lebih banyak dari jumlah maksimal kedua bagiannya. dan istri ayah yang sedang hamil. maka harta yang dibekukan tadi dibagikan lagi kepada ahli waris yang ada. maka hak warisnya diberikan kepadanya. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil. maka dalam hal ini ia berhak mendapat bagian separo (1/2).seayah (hamil) 1/2 9 3 1 1 1 Sisanya tiga (3). maka dialah yang berhak untuk mendapatkan sisa harta yang dibekukan tadi. kita lihat sisanya yang menjadi bagian bayi yang masih dalam kandungan. Bila yang lahir bayi perempuan. maka sisa harta waris yang dibekukan itu menjadi hak paman. Setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. Tabelnya seperti berikut: 6 Suami 1/2 Ibu 1/6 3 sdr. Namun. dan hendaknya kita lakukan pembagian dengan dua cara dengan memberikan bagian ahli waris yang ada lebih sedikit dari bagian-bagian masing-masing. berarti kedudukannya sebagai anak laki-laki pewaris. dan pokok masalahnya dari enam (6) di-'aul-kan menjadi sembilan (9). 95 . Namun. ibu. ia akan lebih banyak memperoleh bagian daripada bayi perempuan. Sebab kedudukannya sebagai keponakan laki-laki (anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki). bila janin dikategorikan sebagai anak laki-laki. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Maka dalam keadaan demikian ia tidak berhak mendapatkan waris. Dalam keadaan demikian. Setelah janin lahir dengan selamat. Sebagai misal. dan kita bekukan untuk janin dari bagian yang maksimal. Contoh lain. seseorang wafat dan meninggalkan istri. jika bayi itu masuk kategori laki-laki. bila lahir dan ternyata bukan termasuk dari ahli waris. dan sisanya yang dua per tiga (2/3) dibekukan hingga janin yang ada di dalam kandungan itu lahir. boleh jadi. namun bila ternyata laki-laki yang lahir. Keadaan Ketiga Apabila janin yang ada di dalam kandungan sebagai ahli waris dalam segala keadaannya --hanya saja hak waris yang dimilikinya berbeda-beda (bisa laki-laki dan bisa perempuan)-. Atau terkadang terjadi sebaliknya. Bila yang lahir anak laki-laki. berarti ia menjadi saudara perempuan seayah. maka sisa harta waris yang dibekukan tadi diberikan dan dibagikan kepada ahli waris yang ada. oleh karenanya ia lebih utama dibanding kedudukan paman kandung. Pembagiannya seperti berikut: apabila istri ayah tersebut melahirkan bayi laki-laki. Sebab. namun untuk sementara bagiannya dibekukan hingga kelahirannya. Namun. dan ayah. dan ipar perempuan yang sedang hamil (istri saudara kandung laki-laki). berarti menjadi saudara laki-laki seayah.Keadaan Kedua Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yang ada dengan menganggap bahwa janin yang dikandung adalah salah satu dari ahli waris. ibu. dan sisanya merupakan bagian anak laki-laki sebagai 'ashaloub. Jadi. tiga saudara perempuan seibu. karena tidak ada sisa dari harta waris setelah diambil para ashhabul furudh yang ada. maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperempat (1/4). seibu 1/3 Sdr.maka dalam keadaan demikian hendaknya kita berikan dua ilustrasi. bila ternyata bayi tersebut perempuan. paman (saudara ayah). dan pembagiannya seperti berikut: ibu seperenam (1/6).pr. maka sisa bagian yang dibekukan menjadi bagiannya. ayah seperenam (1/6).

1/2 Sdr. dengan begitu ia akan mengambil seluruh sisa harta waris yang ada karena ia sebagai 'ashabah. namun jika ia lahir dalam keadaan mati. maka ia sebagai cucu perempuan dari keturunan anak lakilaki. Contoh lain. kdg. dalam kedua keadaannya. 6 3 1 1 1 6 3 1 1 1 Sdr. Inilah tabelnya. Apabila janin telah keluar dari rahim ibunya. Keadaan Keempat 24 3 4 4 13 Istri 1/8 Ayah 'ashabah Ibu 1/6 Janin pr. pr. bila janin tadi lahir sebagai laki-laki berarti kedudukannya sebagai cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. seibu 1/6 Sdr. dan akan mendapat bagian separo (1/2) harta \varis yang ada. anak perempuan 96 . Karenanya. dan sisanya akan dibagikan sebagai tambahan (ar-radd) bila ternyata tidak ada 'ashabah.Istri 1/8 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Janin lk. baik kelak lahir sebagai laki-laki atau perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan menantu perempuan yang sedang hamil (istri dan anak lakilakinya) dan saudara laki-laki seibu. 'ashabah Sisanya satu (1). saudara perempuan seayah. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil dan saudara kandung laki-laki. kdg. baik ia laki-laki ataupun perempuan. bila bayi tersebut perempuan maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. seayah 1/6 Ibu (hamil) 1/6 (Janin) sdr. maka dialah yang akan mengambil hak warisnya. atau ada ahli waris lain akan tetapi mahjub haknya karena adanya janin. akan menggugurkan hak waris saudara laki-laki pewaris yang seibu tadi. dibekukan. maka harta waris yang ada akan dibagikan kepada seluruh ahli waris yang berhak untuk menerimanya. seayah 1/6 Ibu (Janin) sdr. Bila janin itu lahir dengan hidup normal. Maka janin yang masih dalam kandungan merupakan pokok ahli waris. seibu 1/6 Keadaan Kelima Apabila tidak ada ahli waris lain selain janin yang di dalam kandungan. maka kita sisihkan bagian warisnya. Dengan demikian. 1/2 24 3 5 4 12 24 3 4 4 12 Bila bagian janin dalam kandungan tidak berubah baik sebagai laki-laki maupun perempuan. sbg. dan saudara laki-laki tidak mendapat bagian bila janin yang dikandung tadi laki-laki. maka dalam keadaan seperti ini kita tangguhkan pembagian hak warisnya hingga tiba masa kelahiran janin tersebut. Sebab kedudukannya sebagai saudara laki-laki seibu atau saudara perempuan seibu dengan pewaris. pr. dan ibu yang hamil dari ayah lain (ayah tiri pewaris). Maka bagian istri adalah seperdelapan (1/8). seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. dan kita berikan bagian para ahli waris yang ada secara sempurna. Akan tetapi. Dan bila janin tadi lahir sebagai perempuan. pr. kedudukan bayi akan tetap mendapat hak waris seperenam (1/6). pr. Sebab. Sebagai misal. Sebagai misal. maka bagian warisnya tetap seperenam (1/6). baik sebagai laki-laki ataupun sebagai perempuan. 1/2 Sdr.

setengah (1/2) bagian. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. 97 .

Sedangkan dalam mazhab Syafi'i dinyatakan bahwa batas waktu orang yang hilang adalah sembilan puluh tahun. dan hak kepemilikannya tidak boleh diusik. Namun. Hal ini didasarkan pada lafazh hadits secara umum yang menyatakan bahwa umur umat Muhammad saw. maka sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh tahun untuk menunggu. pendapat yang paling sahih menurut anggapan Imam Syafi'i ialah bahwa batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan.telah mati. maka ia diperbolehkan untuk menikah lagi. Karena 98 . Atau telah berlalu selama waktu tertentu dan diperkirakan secara umum -.dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dan dugaan yang dapat mengenali keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana dan prasarana yang ada. Hukum Orang yang Hilang Para fuqaha telah menetapkan beberapa hukum yang berkenaan dengan orang yang hilang/menghilang. maka mulailah ia untuk menghitung idahnya sebagaimana lazimaya istri yang ditinggal mati suaminya. DAN TERTIMBUN A. TENGGELAM. cukup dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim. Akan tetapi. dan tidak halal untuk dinikahi hingga ia mendapatkan berita yang meyakinkan akan kematian suaminya. maka ia dapat diputuskan sebagai orang yang sudah meninggal. sampai benar-benar diketahui keadaannya dan jelas apakah ia masih hidup atau sudah mati. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak dikenal rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan melihat orang yang sebaya di wilayahnya --tempat dia tinggal. Dalam riwayat lain. apakah dia masih hidup atau sudah mati. Apabila orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada.XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG." (Yusuf: 72) Sedangkan menurut istilah para fuqaha. terputus beritanya. dari Abu Hanifah. maka hendaknya dia bersabar. hartanya tidak boleh diwariskan. hingga benar-benar tampak dugaan yang sebaliknya (yakni benar-benar sudah mati). antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.a. Dalam riwayat lain. dan hakim pun telah memvonisnya sebagai orang yang dianggap telah mati. al-mafqud berarti orang yang hilang. Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu. dari Imam Malik. Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang hilang belum juga diketemukan atau dikenali rimbanya. Ali berkata: "Dia adalah seorang istri yang tengah diuji. tentang wanita yang suaminya hilang dan tidak diketahui rimbanya. yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebaya di wilayahnya. disebutkan bahwa istri dari orang yang hilang di wilayah Islam --hingga tidak dikenal rimbanya-. Kadang-kadang bisa juga ditetapkan sebagai orang yang masih hidup berdasarkan asalnya. Kita juga bisa simak firman Allah SWT berikut: "Penyeru-penyeru itu berkata: 'Kami kehilangan piala raja. Definisi Al-mafqud dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna 'hilang'." B. yaitu empat bulan sepuluh hari. Yang demikian itu berdasarkan ucapan Ali bin Abi Thalib r. Bila usai masa idahuya. menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan pulah tahun (90). Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini terutama para ulama dari mazhab yang empat. dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta. kemudian divonisnya sebagai orang yang telah mati. dan tidak diketahui rimbanya. di antaranya: istrinya tidak boleh dinikahi/dinikahkan. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah tujuh puluh tahun (70). Dikatakan faqadtu asy-syai'a idzaa adha'tuhu (saya kehilangan bila tidak mengetahui di mana sesuatu itu berada). dan aku menjamin terhadapnya.

Kedua. C. maka cara pemberian hak warisnya ada dua keadaan: Ahli waris yang hilang sebagai hajib hirman bagi ahli waris yang lain. saudara laki-laki seayah. dan anak laki-laki yang hilang. seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung laki-laki. orang yang hilang pada saat peperangan dan pertempuran. Karena itu. pendapat mazhab Hambali dalam hal ini lebih rajih (lebih tepat). Posisi saudara kandung bila masih hidup adalah sebagai haiib bagi seluruh ahli waris yang ada. Kapan saja hakim memvonisnya. Inilah pendapat yang lebih mendekatkan kepada wujud kemaslahatan. maka dialah yang berhak untuk menerima atau mengambil seluruh harta warisnya. apabila hilangnya orang itu bukan dalam kemungkinan meninggal. Namun. atau banyak perampok dan penjahat. seluruh harta waris yang ada untuk sementara dibekukan hingga anak laki-laki yang hilang telah muncul. maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya.yang dalam dua keadaan orang 99 . tetapi bahkan sama berhak mendapat waris sesuai dengan bagian atau fardh-nya (yakni termasuk ashhabul fardh) Pada keadaan pertama: seluruh harta warisan peninggalan pewaris dibekukan --tidak diberikan kepada ahli waris-untuk sementara hingga ahli waris yang hilang muncul atau diketahui tempatnya. atau menjadi salah seorang penumpang kapal yang tenggelam-. atau untuk menuntut ilmu. sesudah berlalunya waktu tertentu --kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut. maka barulah harta waris tadi dibagikan untuk ahli waris yang ada.maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat tahun. Hak Waris Orang Hilang Apabila seseorang wafat dan mempunyai ahli waris. Misalnya. maka Imam Ahmad dalam hal ini memiliki dua pendapat. maka itulah yang berlaku. seperti pergi untuk berniaga. dan dua saudara perempuan seayah. Posisi anak laki-laki dalam hal ini sebagai "penghalang" atau hajib hirman apabila masih hidup. melancong. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung laki-laki. seorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati. Apabila setelah empat tahun belum juga diketemukan atau belum diketahui beritanya. Karena itu. atau mirip dengan pembagian hak waris banci). ia dapat menempuh masa idahnya. menunggu sampai diperkirakan umurnya mencapai sembilan puluh tahun Sebab sebagian besar umur manusia tidak mencapai atau tidak melebihi sembilan puluh tahun. Sebagai contoh. Demikian juga istrinya. Sementara itu.menurut Imam Syafi'i. Pertama. Bukan sebagai hajib (penghalang) bagi ahli waris yang ada. Namun. Misal lain. dengan alasan berbedanya keadaan wilayah dan personel. maka harta waris tadi dibagikan kepada seluruh ahli waris yang ada dan masing-masing mendapatkan sesuai dengan bagian atau fardh-nya. dan pendapat inilah yang dipilih az-Zaila'i (ulama mazhab Hanafi) dan disepakati oleh banyak ulama lainnya. dan ia boleh menikah lagi setelah masa idah yang dijalaninya selesai. Bila ahli waris yang hilang ternyata masih hidup. bila ahli waris yang ada --siapa saja di antara mereka-. Menurut hemat penulis. Sedangkan pada keadaan kedua. bila ternyata hakim telah memvonisnya sebagai orang yang telah mati. ahli waris yang ada berhak untuk menerima bagian yang paling sedikit di antara dua keadaan orang yang hilang (sebagai ahli waris yang hidup atau yang mati. dalam hal ini ijtihad dan usaha seorang hakim sangat berperan guna mencari kemungkinan dan tanda-tanda kuat yang dapat menuntunnya kepada vonis: masih hidup atau sudah mati. Dan bila ternyata telah divonis oleh hakim sebagai orang yang telah meninggal. akan berbeda halnya dengan orang yang hilang bukan dalam keadaan yang demikian. menyerahkan seluruhnya kepada ijtihad hakim. mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang yang hilang itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti jika terjadi peperangan. Sebab. Karenanya untuk sementara harta waris yang ada dibekukan hingga hakikat keberadaannya nyata dengan jelas. Maksudnya. saudara kandung perempuan. memang tidak tepat jika hal ini hanya disandarkan pada batas waktu tertentu. dan di antara ahli warisnya ada yang hilang tidak dikenal rimbanya.

ibu. kemudian membekukan sisanya. saudara kandung. bagian istri adalah seperempat (1/4). maka mereka diberi lebih sedikit di antara kedua keadaan tadi. Namun. bagi ahli waris yang berbeda bagian hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi (yakni keadaan hidup dan matinya). kdg. ibu. pr Sdr. maka pembagiannya sebagai berikut: Dalam hal ini kita harus memboat dua cara pembagian. Sebagai contoh. dan cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki.yang hilang tadi sama bagian hak warisnya. hdp. Istri 1/8 2 Anggapan sdh. dan sisanya (yakni yang seperenam) lagi untuk sementara dibekukan hingga ahli waris yang hilang telah nyata benar keadaannya. kdg. kdg. yang pertama dalam kategori orang yang hilang tadi masih hidup. Tabelnya sebagai berikut: 4 2 1 7 8 4 1 8 6 7 56 3 24 yang dibekukan 4 2 16 yang dibekukan 9 2 16 yang dibekukan 9 - Anggapan msh. kdg. mati Suami 1/2 Sdr. hlg 1 1 1 Sdr. kdg. lk. Dalam keadaan demikian. Sebab bila ahli waris yang hilang tadi telah divonis hakim sebagai orang yang telah meninggal. hdp. saudara laki-laki seayah. pr Anggapan sdh. bagi siapa saja yang tidak berhak untuk mendapatkan waris dalam dua keadaan orang yang hilang. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. saudara kandung perempuan. dan saudara kandung lakilaki yang hilang. Sedangkan saudara laki-laki yang sesyah tidak mendapat hak waris apa pun. hendaknya ia diberi hak waris secara sempurna (tanpa dikurangi atau dilebihkan. lk. atau telah divonis sebagai orang yang sudah meninggal. dan yang kedua dalam kategori sudah meninggal. tampak ada penyatuan antara ahli waris yang tidak berbeda bagian warisnya dalam dua keadaan orang yang hilang --yaitu bagian istri seperempat (1/4)--dengan ahli waris yang berbeda hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi. yaitu bagian ibu seperenam (1/6). maka bagian masing-masing ahli waris itu seperti berikut: 1 Anggapan msh. hlg Misal lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. Dalam contoh tersebut. pr 2/3 Sdr. pr Sdr. dengan sendirinya tidak berhak untuk mendapatkan harta waris sedikit pun. Kemudian kita menggunakan cara al-jami'ah (menyatukan) kedua cara tadi. Dari sinilah kita keluarkan hak waris masing-masing. ibu seperenam (1/6). Suami 1/2 Sdr. atau tanpa ada yang dibekukan). maka ibu akan mendapat bagian sepertiga (1/3). kdg. mati Istri 1/4 24 3 12 24 3 6 yang dibekukan 3 100 . Contoh-contoh Kasus Seseorang wafat dan meninggalkan suami. seseorang wafat dan maninggalkan istri. Namun.

D.dr. Maka rincian pembagiannya seperti berikut: Anggapan msh.kdg.pr. mahjub Cucu lk. mati Istri 1/4 12 24 3 6 yang dibekukan 3 Sdr. sementara lisan 101 . cucu perempuan keturunan anak laki-laki. karena mereka selalu melekatkan kehidupannya dengan iman. seseorang wafat dan meninggalkan suami.lk. saudara kandung perempuan.anak. (hilang) 8 1 3 4 Anggapan sdh.lk. hdp. ujian.'ashabah 4 8 yang dibekukan 4 5 10 yang dibekukan 10 Cucu lk.anak. Hanya orang-orang mukmin yang ternyata tetap bersabar dalam menghadapi musibah. (hilang) 4 1 3 Anggapan sdh.seibu (mahjub) Sepupu. lk. seibu 1/6 2 4 yang dibekukan 4 Sepupu.dr. Istri 1/8 Sdr. dan berpegang teguh pada salah satu rukunnya --yaitu iman kepada qadha dan qadar-Nya. bahkan sebagian manusia berani melakukan hal-hal yang menyimpang jauh dari kebenaran dalam menghadapinya. hdp. Terkadang kejadian dan musibah itu tiba-tiba datangnya. maka bagian masing-masing seperti berikut: Anggapan msh. (mahjub) Sdr. Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Betapa banyak kejadian dan musibah yang kita alami dalam kehidupan di dunia ini. saudara laki-laki seibu. dan anak laki-laki yang hilang. Sayangnya. lk. Sehingga hal ini sering kali membuat manusia bertekuk lutut dan tidak berdaya. Suami 1/4 Cucu pr.lk. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki.lk. anak paman kandung (sepupu). (hilang) yang dibekukan 12 Demikianlah beberapa contoh tentang hak waris yang di antara ahli warisnya ada yang hilang atau belum diketahui keadaannya. mati Suami 1/4 Cucu pr. (hilang) 4 4 1 1 2 2 yang dibekukan 2 1 1 yang dibekukan 1 - Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. 'ashabah Cucu pr. 'ashabah Anak lk.pr. dan cobaan.lk. (hilang) 4 17 Ibu 1/3 Sdr.kdg. tanpa diduga.kdg. lk. (hilang) Jumlah yang dibekukan 17 Contoh lain. sangat sedikit di antara kita yang mau mengambil i'tibar (pelajaran). Semua yang menimpa mereka terasa sebagai sesuatu yang ringan. 1/2 Sdr. 'ashabah 7 14 yang dibekukan 5 Cucu pr. (mahjub) Anak lk.Ibu 1/6 Sdr.

senantiasa mengucapkan: "sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepadaNyalah kita kembali". dan sisanya adalah untuk anak laki-lakinya dari istri yang masih hidup 102 . Yang satu meninggalkan istri.mereka --jika menghadapi musibah-. suami-istri meninggal secara bersamaan dan mempunyai tiga anak laki-laki. Kemudian sang istri pernah mempunyai anak laki-laki dari suaminya yang dahulu. tentulah akan muncul persoalan dalam kaitannya dengan kewarisan.'" (al-Baqarah: 155-156) Bukan sesuatu yang mustahil jika dalam suatu waktu dua orang bersaudara bepergian bersama-sama menggunakan pesawat terbang atau kapal laut. begitupun sang suami telah mempunyai istri lain dan mempunyai anak laki-laki. dan sisanya untuk bagian sepupu sebagai 'ashabah. Suami-istri itu masing-masing mempunyai harta.. dan anak laki-laki paman kandung (sepupu yang pertama disebutkan). disebabkan tidak terpenuhinya salah satu persyaratan dalam mendapatkan hak waris. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah. dan tidak pula bagi kedua saudara yang mati karena tertimbun reruntuhan. lalu mengalami kecelakaan. hal ini telah memenuhi syarat hak mewarisi. Atau mungkin saja terjadi bencana alam yang mengakibatkan rumah yang mereka huni runtuh. Maka jika di antara mereka ada yang mempunyai keturunan. bagaimana cara pelaksanaan pemberian hak waris kepada masingmasing ahli waris? Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Kaidah yang berlaku dalam pembagian hak waris orang yang tenggelam dan tertimbun yaitu dengan menentukan mana di antara mereka yang lebih dahulu meninggal. Sedangkan jika keduanya sama-sama tenggelam atau terbakar secara bersamaan kemudian mati tanpa diketahui mana yang lebih dahulu meninggal. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. dan anak paman kandung (sepupu). Sebagai contoh. sehingga sebagian anggota keluarga mereka menjadi korban. tetapi dalam sekejap keadaan dapat berubah sebaliknya. dan sisanya merupakan bagian sepupu tadi sebagai 'ashabah. Kadangkadang manusia tertawa dan merasa lapang dada. yaitu hidupnya ahli waris pada saat kematian pewaris. Misalnya. yakni dengan memberikan hak waris kepada orang yang meninggal kemudian. Sebagai contoh. Adapun bagian kedua anak perempuan (dari yang kedua) adalah dua per tiga (2/3). Maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8) bagian. maka kepemilikan harta waris tadi berpindah kepada ahli warisnya yang berhak. pembagian waris lebih mudah dilaksanakan. dua orang bersaudara mati secara berbarengan. Hal ini sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama faraidh yang menyebutkan: "Tidak ada hak saling mewarisi bagi kedua saudara yang mati karena tenggelam secara bersamaan. Setelah orang kedua (yang meninggal kemudian) meninggal. Begitulah kehidupan dunia yang selalu silih berganti." Hal demikian. sedangkan harta suami yang meninggal seperdelapannya (1/8) merupakan bagian istrinya yang masih hidup. sedangkan yang satunya lagi meninggalkan dua anak perempuan. serta yang meninggal seketika karena kecelakaan dan bencana lainnya. sekalipun masa hidup yang kedua hanya sejenak setelah kematian saudaranya yang pertama. Oleh karenanya tidak ada sikap yang lebih baik kecuali berlaku sabar dan berserah diri kepada-Nya. maka tidak ada hak waris di antara keduanya atau mereka tidak saling mewarisi. anak perempuan. mereka mengucapLan 'Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'un. maka yang mati kemudian inilah yang berhak menerima hak waris. anak perempuan yang pertama setengah (1/2). menurut para ulama. apabila dua orang bersaudara tenggelam secara bersamaan lalu yang seorang meninggal seketika dan yang seorang lagi meninggal setelah beberapa saat kemudian. Maka pembagiannya seperti berikut: Harta istri yang meninggal untuk anaknya. Menurut ulama faraid. Apabila hal ini telah diketahui dengan pasti. Begitulah seterusnya. Misal lain.. Perhatikan firman Allah SWT berikut: ". Maka seluruh harta peninggalan yang ada segera dibagikan kepada ahli waris dari kerabat yang masih hidup.

harta ketiga anak laki-laki. Pembahasan tentang hak waris-mewarisi bagi orang-orang yang mati tenggelam atau tertimbun reruntuhan atau musibah lainnya merupakan bagian terakhir dari buku ini. seperenamnya (1/6) diberikan atau merupakan bagian saudara laki-laki mereka yang seibu. Kemudian.itu. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan banyak manfaat bagi para penuntut ilmu faraid. Allahlah yang memberi taufik dan petunjuk kepada kita. amin. dan sisanya merupakan bagian saudara laki-lakinya yang seayah dengan mereka. TAMAT 103 . dan saya akhiri pembahasan ini dengan pujian kepada Rabb semesta alam.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->