Pembagian Waris Menurut Islam

oleh Muhammad Ali ash-Shabuni

PENGANTAR PENERBIT HUKUM waris Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. telah mengubah hukum waris Arab pra-Islam dan sekaligus merombak struktur hubungan kekerabatannya, bahkan merombak sistem pemilikan masyarakat tersebut atas harta benda, khususnya harta pusaka. Sebelumnya, dalam masyarakat Arab ketika itu, wanita tidak diperkenankan memiliki harta benda --kecuali wanita dari kalangan elite-- bahkan wanita menjadi sesuatu yang diwariskan. Islam merinci dan menjelaskan --melalui Al-Qur'an Al-Karim-- bagian tiap-tiap ahli waris dengan tujuan mewujudkan keadilan didalam masyarakat. Meskipun demikian, sampai kini persoalan pembagian harta waris masih menjadi penyebab timbulnya keretakan hubungan keluarga. Ternyata, disamping karena keserakahan dan ketamakan manusianya, kericuhan itu sering disebabkan oleh kekurangtahuan ahli waris akan hakikat waris dan cara pembagiannya. Kekurangpedulian umat Islam terhadap disiplin ilmu ini memang tidak kita pungkiri, bahkan Imam Qurtubi telah mengisyaratkannya: "Betapa banyak manusia sekarang mengabaikan ilmu faraid." Atas dasar itulah kami terpacu untuk menerbitkan buku Pembagian Waris menurut Islam. Mudah-mudahan apa yang kami persembahkan kepada pembaca menjadi suatu amal kebajikan dan menjadi bukti ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Penerbit

1

SAMPUL BELAKANG Dalam praktik kehidupan sehari-hari, persoalan waris sering kali menjadi krusial yang terkadang memicu pertikaian dan menimbulkan keretakan hubungan keluarga. Penyebab utamanya ternyata keserakahan dan ketamakan manusia, di samping karena kekurang-tahuan pihak-pihak yang terkait mengenai hukum pembagian waris. Padahal, Allah SWT di dalam Al-Qur'an mengatur pembagian waris secara lengkap. Sementara itu, di sisi lain, kita jumpai kenyataan bahwa beberapa kalangan --termasuk para pelajar di sekolah-sekolah Islam---menganggap faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka) sebagai momok yang menakutkan. Berawal dari beberapa keprihatinan itulah buku ini diwujudkan, yang sebelumnya hanya merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris pada Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. Muhammad Ali ash-Shabuni, penulis buku ini, berusaha menghilangkan kesan "seram" tentang disiplin ilmu ini dengan cara menyederhanakan berbagai istilah dan rumusan perhitungan yang selama ini dianggap sebagai kendala. Bukan hanya itu, sistematika penyajiannya pun sangat sederhana dan tidak bertele-tele. Kesederhanaan metode dan gaya bertutur memang menjadi keunggulan buku ini. ISBN 979-561-321-9

2

MUKADIMAH Segala puji bagi Allah, pengatur alam semesta, seluruh isi langit dan bumi. Dialah Yang Maha Kekal, tidak akan rusak dan tidak akan mati, yang telah berfirman dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan." (Maryam: 40) Semoga shalawat dan salam tetap Allah anugerahkan kepada sang pembawa cahaya, perintis kemanusiaan dan penunjuk jalan, junjungan kita Muhammad saw. Dengannyalah Allah SWT menghilangkan kesesatan dan kegelapan, dan dengannyalah Allah mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada alam yang terang benderang. Semoga shalawat dan salam juga Allah berikan kepada seluruh kerabatnya, para sahabatnya, dan siapa pun yang mengikuti jejaknya. Buku ini merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris yang pernah saya berikan kepada para mahasiswa Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. Kemudian saya tergerak untuk mengumpulkan dan menyatukannya hingga menjadi buku dengan harapan dapat dimanfaatkan secara lebih luas. Buku ini saya susun dengan sistematika yang sangat sederhana dan tidak bertele-tele. Saya bermohon kepada Allah semoga buku ini dapat bermanfaat khususnya bagi para mahasiswa, dan umumnya bagi seluruh kaum muslim yang memiliki keinginan untuk mengetahui dengan pasti mengenai faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua doa dan Maha Mampu untuk memenuhinya. Mekah, Jumadil Akbir 1389 H Muhammad Ali ash-Shabuni

3

Ahli Waris dari Golongan Wanita III. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris II. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam IV. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga  Masalah 'Umariyyatan F. Rukun Waris F. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah B. Bentuk-bentuk Waris D. PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN A. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris D. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga E. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan D. Macam-macam 'Ashabah 4 . Sebab-sebab Adanya Hak Waris E. Definisi Waris  Pengertian Peninggalan  Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan B. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat C. Dalil Hak Waris Para 'Ashabah B. AYAT-AYAT WARIS A. DEFINISI 'ASHABAH A. Penjelasan B.DAFTAR ISI Pembagian Waris Menurut Islam oleh Muhammad Ali Ash-Shabuni PENGANTAR MUKADIMAH I. Penggugur Hak Waris  Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub  Contoh Pertama  Contoh Kedua H. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki I. WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM A. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam C. Syarat Waris G. Derajat Ahli Waris C.

PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A. Tentang Kasus Kolektif  Perbedaan Pendapat Para Fuqaha  Persyaratan Masalah Kolektif  Beberapa Kaidah Penting VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA A. MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A. Latar Belakang Terjadinya 'Aul C. Definisi al-Hujub B. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair  Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? V.Tentang Mazhab Jumhur  Hukum Keadaan Pertama  Makna Pembagian  Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek  Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang  Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek  Hukum Keadaan Kedua E.'Ashabah bin nafs Hukum 'Ashabah bin nafs Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah ma'al Ghair Dalil 'Ashabah ma'al Ghair C. Pengertian Kakek yang Sahih B. Masalah al-Akdariyah VII.kan  Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan  Beberapa Contoh Masalah 'Aul 5          . Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek F. Definisi al-'Aul B. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek D. Macam-macam al-Hujub  Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman  Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman  Saudara Laki-laki yang Berkah  Saudara Laki-laki yang Merugikan C. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara C.

HAK WARIS DZAWIL ARHAM A. Cara Pembagian Waris Para Kerabat  Menurut Ahlur-Rahmi  Menurut Ahlut-Tanzil  Menurut Ahlul Qarabah  Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah  Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah D. Cara Mentashih Pokok Masalah C. Rincian Amaliah al-Munasakhat C. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci 6 . Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham C. Syarat-syarat ar-Radd F. HUKUM MUNASAKHAT A. Macam-macam ar-Radd  Hukum Keadaan Pertama  Hukum Keadaan Kedua  Hukum keadaan Ketiga  Hukum keadaan Keempat VIII. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham XI. Pembagian Harta Peninggalan  Masalah Dinariyah ash-Shughra  Masalah Dinariyah al-Kubra IX. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd G. Definisi Munasakhat B. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd H. PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN A. Tentang Tashih  Definisi Tashih  Definisi at-Tamaatsul  Definisi at-Tadaakhul  Definisi at-Tawaafuq  Definisi at-Tabaayun B. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. Definisi Banci B. Definisi Dzawil Arham B. At-Takharuj min at-Tarikah  Tata Cara Pelaksanaannya X.D. Definisi ar-Radd E.

TENGGELAM. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati C. Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun  Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun 7 . Keadaan Janin  Keadaan Pertama  Keadaan Kedua  Keadaan Ketiga  Keadaan Keempat  Keadaan Kelima XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG. Hak Waris Orang Hilang D. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya  Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci D. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan F. Definisi  Hukum Orang yang Hilang B.C. DAN TERTIMBUN A. Definisi Hamil E.

kapan ia menerima bagiannya secara "tertentu". dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak mernberi mudarat (kepada ahli waris). jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. AYAT-AYAT WARIS ALLAH SWT berfirman "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan asas ilmu faraid. maka ibunya mendapat seperenam. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. supaya kamu tidak sesat. Selain itu. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. jika anak perempuan itu seorang saja. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. maka ibunya mendapat sepertiga. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. Tetapi jika saudarasaudara seibu itu lebih dari seorang. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Jika seseorang mati." (an-Nisa': 176) A. dan kapan pula ia menerimanya secara 'ashabah. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Yaitu.I. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah. meniadakan 8 . Jika kamu mempunyai anak. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Oleh sebab itu. orang yang dianugerahi pengetahuan dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui bagian setiap ahli waris. jika yang meninggal itu mempunyai anak. jika ia tidak mempunyai anak. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu. bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. di dalamnya berisi aturan dan tata cara yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara lengkap. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Bahkan dengan aturan yang sangat jelas dan sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris dengan adil serta penuh kebijaksanaan. Ini adalah ketetapan dari Allah. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meningal dunia. Dia menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia. jika mereka tidak mempunyai anak.menegaskan dan merinci nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Maha Suci Allah. baik laki-laki maupun perempuan. kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja)." (anNisa': 12) "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. sekaligus mengenali hikmah Allah Yang Maha Bijaksana itu. Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak setiap ahli waris. Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya. maka ia memperoleh separo harta. Penjelasan Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut --yang kesemuanya termaktub dalam surat an-Nisa'-. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja)." (an-Nisa': 11) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. juga menjelaskan keadaan setiap ahli waris.

akan tetapi tentang besar-kecilnya hak waris yang mesti diterima mereka tidak dijelaskan secara rinci. Allah me-mansukh-kan (menghapuskan) hukum pewarisan yang disebabkan hijrah dan persaudaraan. Di antaranya adalah firman Allah berikut: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Keadaan demikian berjalan terus hingga Islam menjadi agama yang kuat." (alAhzab: 6) Itulah ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah hak waris. Pada ayat kedua dan ketiga (al-Anfal: 75 dan al-Ahzab: 6) ditegaskan bahwa kerabat pewaris (sang mayit) lebih berhak untuk mendapatkan bagian dibandingkan lainnya yang bukan kerabat atau tidak mempunyai tali kekerabatan dengannya."1 Perlu kita ketahui bahwa semua kitab tentang waris yang disusun dan ditulis oleh para ulama merupakan penjelasan dan penjabaran dari apa yang terkandung dalam ketiga ayat tersebut.. serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada orang lain.. Maha Suci Allah Yang Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum dan syariat-Nya. Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa ketiga ayat tersebut merupakan salah satu rukun agama. seperti kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. sangat disayangkan kebanyakan manusia (terutama pada masa kini) mengabaikan dan melecehkannya. selain dari ketiga ayat yang saya sebutkan pada awal pembahasan. Pada permulaan datangnya Islam. bahwa pada masa itu kaum muslim saling mewarisi harta masing-masing disebabkan hijrah dan rasa persaudaraan yang dipertemukan oleh Rasulullah saw. adakah ayat lain yang berkenaan dengan waris selain dari ketiga ayat tersebut? Di dalam Al-Qur'an memang ada beberapa ayat yang menyebutkan masalah hak waris bagi para kerabat (nasab).. dari Abdullah Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw. serta tidak membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati orang-orang yang lemah.. "Apabila kita telah mengetahui hakikat ilmu ini. Mereka lebih berhak daripada orang mukmin umumnya dan kaum Muhajirin. penguat hukum. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal. Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah). Adapun dalam ayat pertama (an-Nisa': 7) Allah SWT dengan tegas menghilangkan bentuk kezaliman yang biasa menimpa dua jenis manusia lemah. Telah masyhur dalam sejarah permulaan datangnya Islam. Sungguh mengagumkan pandangan mereka mengenai ilmu waris ini. dan induk ayat-ayat Ilahi. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetaplan." (al-Anfal: 75) ". dan kaidahkaidah agama telah begitu mengakar dalam hati setiap muslim. Yakni penjabaran kandungan ayat yang bagi kita sudah sangat jelas: membagi dan adil. maka betapa tinggi dan agung penguasaan para sahabat tentang masalah faraid ini.. dengan hukum pewarisan yang disebabkan nasab dan kekerabatan. Hal ini tercermin dalam hadits berikut. kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling mewarisi. dan ilmu ini pun bakal sirna hingga akan muncul fitnah. " (HR Daruquthni) Lebih jauh Imam Qurthubi mengatakan. bersabda: "Pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada orang lain. Di antara kita mungkin ada yang bertanya-tanya dalam hati.kezaliman di kalangan mereka. namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut. Maka setelah peristiwa penaklukan kota Mekah. Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mesti ia terima). namun justru saudara mereka yang senasab tidak mendapatkan warisan.Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin.Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. yakni dengan mengembalikan hak waris mereka secara penuh. menutup ruang gerak para pelaku kezaliman. Meskipun demikian. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. yakni wanita dan anak-anak. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Oleh karenanya faraid memiliki martabat yang sangat agung. kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). kaum muslim telah benar-benar mantap menjalankan ajaran-ajarannya. hingga kedudukannya menjadi separo ilmu. " (an-Nisa': 7) ". 9 . Allah SWT menyantuni keduanya dengan rahmat dan kearifan-Nya serta dengan penuh keadilan.

di antaranya sebagai berikut: 1. Artinya. tanpa membedakan antara yang kecil dan yang besar. khususnya dalam hal sandang.dan kaum wanita.. kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki. dan papan. Sementara di sisi lain Allah membatalkan hak saling mewarisi di antara kaum muslim yang disebabkan persaudaraan dan hijrah. Kaum wanita tidak diwajibkan memberi nafkah kepada siapa pun di dunia ini. baik untuk keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya). ayat tersebut tidaklah secara rinci dan detail menjelaskan jumlah besar-kecilnya hak waris para kerabat.. mengapa bagian kaum laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita. kaum lelakilah yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga dan kerabatnya. tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah. berupa memberikan hak waris kepada kaum wanita melebihi apa yang digambarkan." (al-Baqarah: 233) 10 . kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris. ia berkewajiban untuk memberinya sandang. yang pasti hak waris telah Allah tetapkan bagi kerabat pewaris karena hubungan nasab. laki-laki ataupun wanita. Syariat Islam tidak mewajibkan kaum wanita untuk membelanjakan harta miliknya meski sedikit. suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya. Dan ketika telah dikaruniai anak. Kaum laki-laki diwajibkan untuk membayar mahar kepada istrinya. Kalau saja tidak karena rasa takut membosankan. atau siapa saja yang mampu di antara kaum lakilaki kerabatnya. Kaum wanita selalu harus terpenuhi kebutuhan dan keperluannya. saudara laki-lakinya. Kendatipun hukum Islam telah menetapkan bahwa bagian kaum laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada bagian kaum wanita. menyediakan tempat tinggal baginya. 4. mereka juga sangat membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu saya utarakan beberapa hikmah adanya syariat yang telah Allah tetapkan bagi kaum muslim. sedangkan rinciannya terdapat dalam ayat-ayat yang saya nukilkan terdahulu (an-Nisa': 11-12 dan 176). pengobatan jika anak sakit (termasuk istri) dan lainnya. anaknya. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf . dan dalam hal nafkahnya kaum wanita wajib diberi oleh ayahnya. Dengan demikian. Itulah beberapa hikmah dari sekian banyak hikmah yang terkandung dalam perbedaan pembagian antara kaum lakilaki --dua kali lebih besar-. Sebaliknya. Islam telah menyelimuti kaum wanita dengan rahmat dan keutamaannya. memberinya makan. maupun pewaris itu rela atau tidak rela. pangan. padahal kaum wanita jauh lebih banyak membutuhkannya. Ketentuan ini tetap berlaku sekalipun wanita tersebut kaya raya dan hidup dalam kemewahan. Sebab. mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya dalam hati. Secara logika. namun mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga. Dengan demikian. kebutuhan kaum laki-laki untuk mendapatkan dan memiliki harta jauh lebih besar dan banyak dibandingkan kaum wanita. Meskipun demikian. 5. siapa pun yang memiliki tanggung jawab besar --hingga harus mengeluarkan pembiayaan lebih banyak-. 2. ingin sekali saya sebutkan hikmah-hikmah tersebut sebanyak mungkin. minum.. pangan. Jika kita pakai istilah dalam ushul fiqh ayat ini disebut mujmal (global). Juga tanpa membedakan bagian mereka yang banyak maupun sedikit. tampak secara jelas bahwa kaum wanita justru lebih banyak mengenyam kenikmatan dan lebih enak dibandingkan kaum laki-laki.. Sebab.Dalam ayat tersebut Allah dengan keadilan-Nya memberikan hak waris secara imbang. 3.maka dialah yang lebih berhak untuk mendapatkan bagian yang lebih besar pula. serta siapa saja yang diwajibkan atasnya untuk memberi nafkah dari kerabatnya. Kebutuhan pendidikan anak. Nafkah (pengeluaran) kaum laki-laki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita. karena di samping memang lemah. Sementara kaum wanita tidaklah demikian. dan sandang. seluruhnya dibebankan hanya pada pundak kaum laki-laki. dan papan. Masih tentang kajian ayat-ayat tersebut. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: ". selama masih ada suaminya.

Untuk lebih menjelaskan permasalahan tersebut perlu saya ketengahkan satu contoh kasus supaya hikmah Allah dalam menetapkan hukum-hukum-Nya akan terasa lebih jelas dan nyata. Contoh yang dimaksud di sini ialah tentang pembagian hak kaum laki-laki yang banyaknya dua kali lipat dari bagian kaum wanita. Seseorang meninggal dan mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Ternyata orang tersebut meninggalkan harta, misalnya sebanyak Rp 3 juta. Maka, menurut ketetapan syariat Islam, laki-laki mendapatkan Rp 2 juta sedangkan anak perempuan mendapatkan Rp 1 juta. Apabila anak laki-laki tersebut telah dewasa dan layak untuk menikah, maka ia berkewajiban untuk membayar mahar dan semua keperluan pesta pernikahannya. Misalnya, ia mengeluarkan semua pembiayaan keperluan pesta pernikahan itu sebesar Rp 20 juta. Dengan demikian, uang yang ia terima dari warisan orang tuanya tidak tersisa. Padahal, setelah menikah ia mempunyai beban tanggung jawab memberi nafkah istrinya. Adapun anak perempuan, apabila ia telah dewasa dan layak untuk berumah tangga, dialah yang mendapatkan mahar dari calon suaminya. Kita misalkan saja mahar itu sebesar Rp 1 juta. Maka anak perempuan itu telah memiliki uang sebanyak Rp 2 juta (satu juta dari harta warisan dan satu juta lagi dari mahar pemberian calon suaminya). Sementara itu, sebagai istri ia tidak dibebani tanggung jawab untuk membiayai kebutuhan nafkah rumah tangganya, sekalipun ia memiliki harta yang banyak dan hidup dalam kemewahan. Sebab dalam Islam kaum laki-lakilah yang berkewajiban memberi nafkah istrinya, baik berupa sandang, pangan, dan papan. Jadi, harta warisan anak perempuan semakin bertambah, sedangkan harta warisan anak laki-laki habis. Dalam keadaan seperti ini manakah di antara kaum laki-laki dan kaum wanita yang lebih banyak menikmati harta dan lebih berbahagia keadaannya? Laki-laki ataukah wanita? Inilah logika keadilan dalam agama, sehingga pembagian hak laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada hak kaum wanita. 1 Tafsir al-Qurthubi, juz V, hlm. 56. B. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam Sebelum Islam datang, kaum wanita sama sekali tidak mempunyai hak untuk menerima warisan dari peninggalan pewaris (orang tua ataupun kerabatnya). Dengan dalih bahwa kaum wanita tidak dapat ikut berperang membela kaum dan sukunya. Bangsa Arab jahiliah dengan tegas menyatakan, "Bagaimana mungkin kami memberikan warisan (harta peninggalan) kepada orang yang tidak bisa dan tidak pernah menunggang kuda, tidak mampu memanggul senjata, serta tidak pula berperang melawan musuh." Mereka mengharamkan kaum wanita menerima harta warisan, sebagaimana mereka mengharamkannya kepada anak-anak kecil. Sangat jelas bagi kita bahwa sebelum Islam datang bangsa Arab memperlakukan kaum wanita secara zalim. Mereka tidak memberikan hak waris kepada kaum wanita dan anak-anak, baik dari harta peninggalan ayah, suami, maupun kerabat mereka. Barulah setelah Islam datang ada ketetapan syariat yang memberi mereka hak untuk mewarisi harta peninggalan kerabat, ayah, atau suami mereka dengan penuh kemuliaan, tanpa direndahkan. Islam memberi mereka hak waris, tanpa boleh siapa pun mengusik dan menentangnya. Inilah ketetapan yang telah Allah pastikan dalam syariat-Nya sebagai keharusan yang tidak dapat diubah. Ketika turun wahyu kepada Rasulullah saw. --berupa ayat-ayat tentang waris-- kalangan bangsa Arab pada saat itu merasa tidak puas dan keberatan. Mereka sangat berharap kalau saja hukum yang tercantum dalam ayat tersebut dapat dihapus (mansukh). Sebab menurut anggapan mereka, memberi warisan kepada kaum wanita dan anak-anak sangat bertentangan dengan kebiasaan dan adat yang telah lama mereka amalkan sebagai ajaran dari nenek moyang. Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan sebuah kisah yang bersumber dari Abdullah Ibnu Abbas r.a.. Ia berkata: "Ketika ayat-ayat yang menetapkan tentang warisan diturunkan Allah kepada RasulNya --yang mewajibkan agar memberikan hak waris kepada laki-laki, wanita, anak-anak, kedua orang tua, suami, dan istri-- sebagian bangsa Arab merasa kurang senang terhadap ketetapan tersebut. Dengan nada keheranan sambil mencibirkan mereka mengatakan: 'Haruskah memberi seperempat bagian kepada kaum wanita (istri) atau seperdelapan.' Memberikan anak perempuan setengah bagian harta peninggalan? Juga haruskah memberikan warisan kepada anak-anak ingusan? Padahal mereka tidak ada yang dapat memanggul senjata untuk berperang melawan musuh, dan tidak pula dapat andil membela kaum kerabatnya. Sebaiknya kita tidak perlu membicarakan hukum tersebut. Semoga saja Rasulullah melalaikan dan mengabaikannya, atau kita meminta kepada beliau agar berkenan untuk mengubahnya.' Sebagian
11

dari mereka berkata kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah, haruskah kami memberikan warisan kepada anak kecil yang masih ingusan? Padahal kami tidak dapat memanfaatkan mereka sama sekali. Dan haruskah kami memberikan hak waris kepada anak-anak perempuan kami, padahal mereka tidak dapat menunggang kuda dan memanggul senjata untuk ikut berperang melawan musuh?'" Inilah salah satu bentuk nyata ajaran syariat Islam dalam menyantuni kaum wanita; Islam telah mampu melepaskan kaum wanita dari kungkungan kezaliman zaman. Islam memberikan hak waris kepada kaum wanita yang sebelumnya tidak memiliki hak seperti itu, bahkan telah menetapkan mereka sebagai ashhabul furudh (kewajiban yang telah Allah tetapkan bagian warisannya). Kendatipun demikian, dewasa ini masih saja kita jumpai pemikiran yang kotor yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang berhati buruk. Mereka beranggapan bahwa Islam telah menzalimi kaum wanita dalam hal hak waris, karena hanya memberikan separo dari hak kaum laki-laki. Anggapan mereka semata-mata dimaksudkan untuk memperdaya kaum wanita tentang hak yang mereka terima. Mereka berpura-pura akan menghilangkan kezaliman yang menimpa kaum wanita dengan cara menyamakan hak kaum wanita dengan hak kaum laki-laki dalam hal penerimaan warisan. Mereka yang memiliki anggapan demikian sama halnya menghasut kaum wanita agar mereka menjadi pembangkang dan pemberontak dengan menolak ajaran dan aturan hukum dalam syariat Islam. Sehingga pada akhirnya kaum wanita akan menuntut persamaan hak penerimaan warisan yang sama dan seimbang dengan kaum laki-laki. Yang sangat mengherankan dan sulit dicerna akal sehat ialah bahwa mereka yang berpura-pura prihatin tentang hak waris kaum wanita, justru mereka sendiri sangat bakhil terhadap kaum wanita dalam hal memberi nafkah. Subhanallah! Sebagai bukti, mereka bahkan menyuruh kaum wanita untuk bekerja demi menghidupi diri mereka, di antara mereka bekerja di ladang, di kantor, di tempat hiburan, bar, kelab malam, dan sebagainya. Corak pemikiran seperti ini dapat dipastikan merupakan hembusan dari Barat yang banyak diikuti oleh orang-orang yang teperdaya oleh kedustaan mereka. Kultur seperti itu tidak menghormati kaum wanita, bahkan tidak menempatkan mereka pada timbangan yang adil. Budaya mereka memandang kaum wanita tidak lebih sebagai pemuas syahwat. Mereka sangat bakhil dalam memberikan nafkah kepada kaum wanita, dan mengharamkan wanita untuk mengatur harta miliknya sendiri, kecuali dengan seizin kaum laki-laki (suaminya). Lebih dari itu, budaya mereka mengharuskan kaum wanita bekerja guna membiayai hidupnya. Kendatipun telah nyata demikian, mereka masih menuduh bahwa Islam telah menzalimi dan membekukan hak wanita. C. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris Banyak riwayat yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat-ayat waris, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Suatu ketika istri Sa'ad bin ar-Rabi' datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa kedua orang putrinya. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, kedua putri ini adalah anak Sa'ad bin ar-Rabi' yang telah meninggal sebagai syuhada ketika Perang Uhud. Tetapi paman kedua putri Sa'ad ini telah mengambil seluruh harta peninggalan Sa'ad, tanpa meninggalkan barang sedikit pun bagi keduanya." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Semoga Allah segera memutuskan perkara ini." Maka turunlah ayat tentang waris yaitu (an-Nisa': 11). Rasulullah saw. kemudian mengutus seseorang kepada paman kedua putri Sa'ad dan memerintahkan kepadanya agar memberikan dua per tiga harta peninggalan Sa'ad kepada kedua putri itu. Sedangkan ibu mereka (istri Sa'ad) mendapat bagian seperdelapan, dan sisanya menjadi bagian saudara kandung Sa'ad. Dalam riwayat lain, yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabari, dikisahkan bahwa Abdurrahman bin Tsabit wafat dan meninggalkan seorang istri dan lima saudara perempuan. Namun, seluruh harta peninggalan Abdurrahman bin Tsabit dikuasai dan direbut oleh kaum laki-laki dari kerabatnya. Ummu Kahhah (istri Abdurrahman) lalu mengadukan masalah ini kepada Nabi saw., maka turunlah ayat waris sebagai jawaban persoalan itu. Masih ada sederetan riwayat sahih yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat waris ini. Semua riwayat tersebut tidak ada yang menyimpang dari inti permasalahan, artinya bahwa turunnya ayat waris sebagai penjelasan dan ketetapan Allah disebabkan pada waktu itu kaum wanita tidak mendapat bagian harta warisan. D. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris Pertama:
12

Firman Allah yang artinya "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan," menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut:

1. Apabila pewaris (orang yang meninggal) hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak
perempuan, maka harta peninggalannya dibagi untuk keduanya. Anak laki-laki mendapat dua bagian, sedangkan anak perempuan satu bagian.

2. Apabila ahli waris berjumlah banyak, terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan, maka bagian untuk lakilaki dua kali lipat bagian anak perempuan.

3. Apabila bersama anak (sebagai ahli waris) ada juga ashhabul furudh, seperti suami atau istri, ayah atau ibu,
maka yang harus diberi terlebih dahulu adalah ashhabul furudh. Setelah itu barulah sisa harta peninggalan yang ada dibagikan kepada anak. Bagi anak laki-laki dua bagian, sedangkan bagi anak perempuan satu bagian.

4. Apabila pewaris hanya meninggalkan satu anak laki-laki, maka anak tersebut mewarisi seluruh harta
peninggalan. Meskipun ayat yang ada tidak secara sharih (tegas) menyatakan demikian, namun pemahaman seperti ini dapat diketahui dari kedua ayat yang ada. Bunyi penggalan ayat yang dikutip sebelumnya (Butir 1) rnenunjukkan bahwa bagian laki-laki adalah dua kali lipat bagian anak perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat (artinya) "jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta". Dari kedua penggalan ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa bila ahli waris hanya terdiri dari seorang anak lakilaki, maka ia mendapatkan seluruh harta peninggalan pewaris.

5. Adapun bagian keturunan dari anak laki-laki (cucu pewaris), jumlah bagian mereka sama seperti anak,
apabila sang anak tidak ada (misalnya meninggal terlebih dahulu). Sebab penggalan ayat (artinya) "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu", mencakup keturunan anak kandung. Inilah ketetapan yang telah menjadi ijma'. Kedua: Hukum bagian kedua orang tua. Firman Allah (artinya): "Dan untuk dua orang ibu-hapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam." Penggalan ayat ini menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut:

1. Ayah dan ibu masing-masing mendapatkan seperenam bagian apabila yang meninggal mempunyai
keturunan.

2. Apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, maka ibunya mendapat bagian sepertiga dari harta yang
ditinggalkan. Sedangkan sisanya, yakni dua per tiga menjadi bagian ayah. Hal ini dapat dipahami dari redaksi ayat yang hanya menyebutkan bagian ibu, yaitu sepertiga, sedangkan bagian ayah tidak disebutkan. Jadi, pengertiannya, sisanya merupakan bagian ayah.

3. Jika selain kedua orang tua, pewaris mempunyai saudara (dua orang atau lebih), maka ibunya mendapat
seperenam bagian. Sedangkan ayah mendapatkan lima per enamnya. Adapun saudara-saudara itu tidaklah mendapat bagian harta waris dikarenakan adanya bapak, yang dalam aturan hukum waris dalam Islam dinyatakan sebagai hajib (penghalang). Jika misalnya muncul pertanyaan apa hikmah dari penghalangan saudara pewaris terhadap ibu mereka --artinya bila tanpa adanya saudara (dua orang atau lebih) ibu mendapat sepertiga bagian, sedangkan jika ada saudara kandung pewaris ibu hanya mendapatkan seperenam bagian? Jawabannya, hikmah adanya hajib tersebut dikarenakan ayahlah yang menjadi wali dalam pernikahan mereka, dan wajib memberi nafkah mereka. Sedangkan ibu tidaklah demikian. Jadi, kebutuhannya terhadap harta lebih besar dan lebih banyak dibandingkan ibu, yang memang tidak memiliki kewajiban untuk membiayai kehidupan mereka. Ketiga:
13

Namun. Bagian suami: 1. maka suami mendapat bagian separo dari harta yang ditinggalkan istrinya. Sedangkan wasiat hanyalah suatu amalan sunnah yang dianjurkan. Apabila seorang istri meninggal dan ia mempunyai keturunan (anak). Pembagian yang ditentukan-Nya pasti adil. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: "Sesungguhnya kalian telah membaca firman Allah [tulisan Arab] dan Rasulullah telah menetapkan dengan menunaikan utang-utang orang yang meninggal. jika mereka tidak mempunyai anak. agar manusia tidak melecehkan wasiat dan jiwa manusia tidak menjadi kikir (khususnya para ahli waris). siapakah yang dapat membuat aturan dan undang-undang yang lebih baik. Bagian istri: 1. Di sisi lain. kalaupun tidak ditunaikan tidak akan ada orang yang menuntutnya. secara hakiki. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. sehingga bila yang berutang meninggal. kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. siapa pun orangnya. Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya." Secara zhahir wasiat harus didahulukan ketimbang membayar utang orang yang meninggal. Inilah yang diamalkan Rasulullah saw. maka suami mendapat bagian seperempat dari harta yang ditinggalkan. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. 2." Hikmah mendahulukan pembayaran utang dibandingkan melaksanakan wasiat adalah karena utang merupakan keharusan yang tetap ada pada pundak orang yang utang. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. maka istri mendapat bagian seperdelapan. Bila demikian. baik ketika ia masih hidup ataupun sesudah mati. karena bagaimanapun bentuk usaha manusia untuk mewujudkan keadilan tidaklah akan mampu melaksanakannya secara sempurna. Jadi. cara ataupun aturan pembagiannya. Bahkan tidak akan dapat merealisasikan pembagian yang adil seperti yang telah ditetapkan dalam ayat-ayat Allah. Keenam: 14 . Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Apabila seorang suami meninggal dan dia mempunyai anak (keturunan)." Penggalan ayat ini dengan tegas memberi isyarat bahwa Allah yang berkompeten dan paling berhak untuk mengatur pembagian harta warisan.Utang orang yang meninggal lebih didahulukan daripada wasiat. Keempat: Firman Allah (artinya) "orang tuamu dan anak-anakmu. lebih adil. Jika kamu mempunyai anak. Hal ini tidak diserahkan kepada manusia. dan lebih relevan bagi umat manusia dan kemanusiaan selain Allah? Kelima: Firman Allah (artinya) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu. Maha Suci Dzat-Nya. Manusia tidak akan tahu manakah di antara orang tua dan anak yang lebih dekat atau lebih besar kemanfaatannya terhadap seseorang. Selain itu. Apabila seorang suami meninggal dan dia tidak mempunyai anak (keturunan). 2. yang mempiutangi akan menuntut para ahli warisnya. maka Allah SWT mendahulukan penyebutannya. utanglah yang mesti terlebih dahulu ditunaikan. lalu barulah melaksanakan wasiatnya." Penggalan ayat tersebut menjelaskan tentang hukum waris bagi suami dan istri.. Bagi suami atau istri masing-masing mempunyai dua cara pembagian. utang-utang pewaris terlebih dahulu ditunaikan. tetapi Allah. kemudian barulah melaksanakan wasiat bila memang ia berwasiat sebelum meninggal. utang tersebut akan tetap dituntut oleh orang yang mempiutanginya. maka bagian istri adalah seperempat. Apabila seorang istri meninggal dan tidak mempunyai keturunan (anak).

Pengertian inilah yang disepakati oleh ulama. Sedangkan utang yang dimaksud berdampak negatif. mereka mendapatkan dua per tiga bagian dan dibagi secara rata. baik laki-laki maupun perempuan. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). bagi satu saudara mendapat seperenam bagian. Rincian Beberapa Keadaan Bagian Saudara Seibu A. karena saudara kandung atau saudara seayah kedudukannya lebih dekat --dalam urutan nasab-dibandingkan saudara seibu. dapat dipastikan bahwa pengertian kata ikhwah dalam ayat tersebut (an-Nisa': 12) adalah 'saudara seibu'. yang artinya 'apabila orang itu lemah dan hilang kekuatannya'. maka bagian yang diperolehnya adalah seperenam. sedangkan bila dua atau lebih ia mendapat bagian dua per tiga. ia berkata: "Saya mempunyai pendapat mengenai kalaalah. dan Allah terbebas dari kekeliruan tersebut. Makna Kalaalah Pengertian kalaalah ialah seseorang meninggal tanpa memiliki ayah ataupun keturunan. Menurut saya. Apabila seseorang meninggal dan mempunyai satu orang saudara laki-laki seibu atau satu orang saudara perempuan seibu. " Ketujuh: Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sudah dibayar utangnya dengan tidak membebani mudarat (kepada ahli waris)". Jika yang meninggal mempunyai saudara seibu dua orang atau lebih. Adapun yang dijadikan dalil oleh ulama ialah bahwa Allah SWT telah menjelaskan --dalam firman-Nya-. B. maka wajib untuk tidak dilaksanakan.. baik wasiat atau utang yang dapat menimbulkan mudarat (berdampak negatif) pada ahli waris tidak wajib dilaksanakan. " Yang dimaksud ikhwah (saudara) dalam penggalan ayat ini (an-Nisa': 12) adalah saudara laki-laki atau saudara perempuan "seibu lain ayah". Adapun bila pendapat ini salah. sedangkan untuk kata yang sama di dalam akhir surat an-Nisa' memiliki pengertian 'saudara kandung' atau 'saudara seayah'. mendapat separo harta peninggalan. Kalaalah adalah orang yang meninggal yang tidak mempunyai ayah dan anak. Kata kalaalah diambil dari kata al-kalla yang bermakna 'lemah'. Jadi. Ulama sepakat (ijma') bahwa kalaalah ialah seseorang yang mati namun tidak mempunyai ayah dan tidak memiliki keturunan.a. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Yang pertama dalam ayat ini. Dengan demikian. Sementara itu. Jadi.tentang hak waris saudara dari pewaris sebanyak dua kali. atau dengan kata lain dia tidak mempunyai pokok dan cabang. Firman-Nya (artinya): "Jika seseorang mati. Jadi.Hukum yang berkenaan dengan hak waris saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. Dalam ayat yang disebut terakhir ini. Kata ini misalnya digunakan dalam kalimat kalla ar-rajulu. Ayat tersebut menunjukkan dengan tegas bahwa apabila wasiat dan utang nyata-nyata mengandung kemudaratan. misalnya seseorang yang mengakui mempunyai utang padahal sebenamya ia tidak berutang. maka karena dariku dan dari setan. Sebab yang zhahir dari firman-Nya [tulisan Arab] menunjukkan adanya keharusan untuk dibagi dengan rata sama besar-kecilnya. seseorang yang berwasiat untuk menyedekahkan hartanya lebih dari sepertiga. saudara laki-laki mendapat bagian yang sama dengan bagian saudara perempuan. tidak mencakup saudara kandung dan tidak pula saudara laki-laki atau saudara perempuan "seayah lain ibu". sedangkan bila jumlah saudaranya banyak maka mendapatkan sepertiga dari harta peninggalan dan dibagi secara rata. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). dan yang kedua pada akhir surat anNisa'. Apabila pendapat saya ini benar maka hanyalah dari Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. ayat akhir surat an-Nisa' menjelaskan bahwa saudara perempuan. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq r. Sementara itu. jika sendirian. maka Allah menetapkan bagian keduanya lebih besar dibandingkan saudara seibu. Oleh karenanya. Dampak negatif mengenai wasiat yang dimaksudkan di sini. 15 . misalnya. pengertian istilah ikhwah dalam ayat ini harus dibedakan dengan pengertian ikhwah yang terdapat dalam ayat akhir surat an-Nisa' untuk meniadakan pertentangan antara dua ayat. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak.

maka seluruh harta peninggalannya menjadi bagian saudara kandung laki-lakinya. 16 . Apabila seorang saudara kandung perempuan meninggal. C. Apabila saudara kandungnya banyak --lebih dari satu-.maka dibagi secara rata sesuai jumlah kepala. maka bagi ahli waris yang laki-laki mendapatkan dua kali bagian saudara perempuan. bila ternyata pewaris (yang meninggal) tidak mempunyai ayah atau anak. Apabila pewaris mempunyai banyak saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan atau seayah. maka bagian ahli waris adalah dua per tiga dibagi secara rata. Apabila seseorang meninggal dan hanya mempunyai satu orang saudara kandung perempuan ataupun seayah. Apabila pewaris mempunyai dua orang saudara kandung perempuan atau seayah ke atas. maka ahli waris mendapat separo harta peninggalan. dan tidak mempunyai ayah atau anak. A. B. Begitulah hukum bagi saudara seayah. dan ia tidak mempunyai ayah atau anak. D. jika ternyata tidak ada saudara laki-laki yang sekandung atau saudara perempuan yang sekandung.Hukum Keadaan Saudara Kandung atau Seayah Firman Allah SWT dalam surat an-Nisa': 176 mengisyaratkan adanya beberapa keadaan tentang bagian saudara kandung atau saudara seayah.

baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang).: 'Ulama adalah ahli waris para nabi'.II. Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya.. Oleh karena itu. kecuali hukum waris ini. Hal demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah SWT.. Jadi. baik berupa harta (uang) atau lainnya.. atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i. sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits Rasulullah saw. ibu. ayah. suami. Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan Dari sederetan hak yang harus ditunaikan yang ada kaitannya dengan harta peninggalan adalah: 1. dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsan-miiraatsan. cucu. atau dari suatu kaum kepada kaum lain.. istri. kakek. dan ijma' para ulama sangat sedikit. atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu. besar atau kecil. demikian pula sabda Rasulullah saw." (al-Qashash: 58) Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw. Ayat-ayat Al-Qur'an banyak menegaskan hal ini. tetapi mencakup harta benda dan non harta benda. Dapat dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu hukum secara detail dan rinci. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang 17 . A. dari seluruh kerabat dan nasabnya.. WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM SYARIAT Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan adil. tanah." (an-Naml: 16) ". Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta. pada prinsipnya segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan. Syariat Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya. Di antaranya Allah berfirman: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud . Pengertian Peninggalan Pengertian peninggalan yang dikenal di kalangan fuqaha ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris. Definisi Waris Al-miirats. paman. Di samping bahwa harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok masyarakat. Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup. atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya). dengan catatan tidak boleh berlebihan. Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan pembagian waris. Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang. tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia. Dan Kami adalah pewarisnya. apakah dia sebagai anak. Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain'. baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus gadai). baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal.

.a. termasuk diambil untuk membayar utangnya. Namun. seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu. Keduanya wajib ditunaikan secara bersamaan sebelum seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada setiap ahli waris. Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. pengamalan suatu ibadah harus disertai dengan niat dan keikhlasan. Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga meminta-minta kepada orang. maka wasiatnya tidak wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli warisnya. sedangkan kewajiban ibadah gugur jika seseorang telah meninggal dunia. pembelian kain kafan. Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan mayit. dan sepertiga itu banyak. biaya pemakaman. serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. hal ini merupakan amalan yang tidak memerlukan niat karena bukan termasuk ibadah mahdhah. tentunya bila sebelumnya mayit tidak berwasiat kepada ahli waris untuk membayarnya. Pendapat mazhab ini. dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang yang sudah meninggal. Di antaranya.: "Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan. Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya.dibutuhkan mayit. Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris. maka wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. ia tetap akan dikenakan sanksi kelak pada hari kiamat sebab ia tidak menunaikan kewajiban ketika masih hidup. Akan tetapi. bersabda: ". Hal ini tentu saja merupakan keputusan Allah SWT. maka di kalangan ulama ada sedikit perbedaan pandangan. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa hak yang berhubungan dengan Allah wajib ditunaikan oleh ahli warisnya sama seperti mereka diwajibkan menunaikan utang piutang pewaris yang berkaitan dengan hak sesama hamba. Rasulullah saw. ketika menjawab pertanyaan Sa'ad bin Abi Waqash r. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya. menurut saya. Padahal. meskipun kewajiban tersebut dinyatakan telah gugur bagi orang yang sudah meninggal. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. Sedangkan jumhur ulama yang menyatakan bahwa ahli waris wajib untuk menunaikan utang pewaris terhadap Allah beralasan bahwa hal tersebut sama saja seperti utang kepada sesama manusia. Sepertiga. baik pewaris mewasiatkan ataupun tidak. atau belum menunaikan nadzar. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah saw. 3. tetapi termasuk hak yang menyangkut harta peninggalan pewaris. Menurut jumhur ulama. Artinya." Maksud hadits ini adalah utang piutang yang bersangkutan dengan sesama manusia. baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya." 18 . atau belum memenuhi kafarat (denda). Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli warisnya untuk menunaikannya sebelum harta warisan (harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya. biaya memandikan. Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu. Sementara itu. Kalangan ulama mazhab Hanafi beralasan bahwa menunaikan hal-hal tersebut merupakan ibadah. Karena itu wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. --pada waktu itu Sa'ad sakit dan berniat menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal. sejak wafatnya hingga pemakamannya. 2. seperti belum membayar zakat. Hanya saja mazhab ini lebih mengutamakan agar mendahulukan utang yang berkaitan dengan sesama hamba daripada utang kepada Allah. Bahkan menurut pandangan ulama mazhab Syafi'i hal tersebut wajib ditunaikan sebelum memenuhi hak yang berkaitan dengan hak sesama hamba. Adapun jika utang tersebut berkaitan dengan Allah SWT. bila sang mayit berwasiat.. ulama mazhab Hambali menyamakan antara utang kepada sesama hamba dengan utang kepada Allah. menurut mereka. Bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkannya.

jika ternyata tidak ada ahli waris lainnya. dan ijma'. Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan kepada ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya. ayah. Misalnya. sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya. ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan. dan lainnya). didahulukannya penyebutan wasiat tentu mengandung hikmah. istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. Maka. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yang menerima sisa harta warisan yang telah dibagikan. dan cucu perempuan dari anak perempuan. Hal ini tentu saja berbeda dengan utang piutang. Tambahan hak waris bagi suami atau istri. maka istri mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya. dan seterusnya. Tetapi pada masa kini sudah tidak ada lagi. Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan. Sebab wasiat tidak ada yang menuntut hingga kadang-kadang seseorang enggan menunaikannya. Setelah ashhabul furudh. saudara kandung pewaris. paman (saudara ibu). misalnya ibu. juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim. sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan dibandingkan lainnya. Itulah sebabnya wasiat lebih didahulukan penyebutannya dalam susunan ayat tersebut. Adapun suami atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada. tidak pula 'ashabah. Ashhabul furudh. seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya. Misalnya anak laki-laki pewaris. Ashabat nasabiyah. suami. Misalnya. Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris yang masih memiliki kaitan rahim --tidak termasuk ashhabul furudh juga 'ashabah. Misalnya. Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri). cucu laki-laki dari anak perempuan. wasiat memang lebih dahulu disebutkan daripada soal utang piutang.setelah ashhabul furudh menerima bagian). 6. Mewariskan kepada kerabat. Dengan demikian. 5. bibi (saudara ibu). persoalan utang piutang hendaklah terlebih dahulu diselesaikan. istri. maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh masing-masing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. As-Sunnah. cucu dari anak laki-laki pewaris. Derajat Ahli Waris Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan derajat dan urutan. Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah. bila pewaris tidak mempunyai kerabat sebagai ashhabul furudh. 2. Padahal secara syar'i. dan kesepakatan para ulama (ijma'). Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan derajatnya: 1. Catatan: Pada ayat waris.4. Oleh karena itu. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur'an. 19 . Yang dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun perempuan). seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan. maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya. baru kemudian melaksanakan wasiat. 4. Bahkan. paman kandung. Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan. Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur'an. bibi (saudara ayah). kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang berhak menerima sisa harta waris --jika ada-. 3. Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa. diantaranya agar ahli waris menjaga dan benarbenar melaksanakannya. As-Sunnah. para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan. B. barulah ashabat nasabiyah menerima bagian. Ashabah karena sebab. dan sebagai 'ashabah. maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang meninggal.

Adapun pernikahan yang batil atau rusak. tanah. Pewaris. 20 . Bentuk-bentuk Waris A. E. B. dan sebagainya. Hak waris secara tambahan. Misalnya. Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab). baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan. D. 2. yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. dan seterusnya. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris. yaitu kekerabatan karena sebab hukum. Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian. Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari pihak ayah). sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya. C. C.7. Yang dimaksud di sini ialah orang lain. Rukun Waris Rukun waris ada tiga: 1. Baitulmal (kas negara). Pernikahan. yakni orang yang meninggal dunia. Disebut juga wala al-'itqi dan wala an-ni'mah. 2. seperti kedua orang tua. 8.maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untuk kemaslahatan umum. saudara. anak. Sebab-sebab Adanya Hak Waris Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris: 1. Harta warisan. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi. atau lainnya. baik berupa uang. artinya bukan salah seorang dan ahli waris. Al-Wala. paman. Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat --seperti yang saya jelaskan-. 3. yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara seorang laki-laki dan perempuan. Pada bagian berikutnya butir-butir tersebut akan saya jelas secara detail. bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki. Hak waris secara pertalian rahim. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya. Hakwaris secara fardh (yang telah ditentukan bagiannya). dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya. tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. D. seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. Ahli waris. Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. 3. yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan.

Hal seperti ini oleh kalangan fuqaha digambarkan seperti orang yang sama-sama meninggal dalam suatu kecelakaan kendaraan. ada yang karena 'ashabah. Hak kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. 3. misalnya suami. tertimpa puing. Akan tetapi harus dinyatakan apakah ia sebagai saudara kandung. sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi. istri. dan sebagainya. Hal ini harus diketahui secara pasti. kerabat. sehingga hakim memvonisnya sebagai orang yang telah meninggal. Budak 21 . termasuk jumlah bagian masing-masing. dalam hukum waris perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan jumlah yang diterima. Sebab. Sebagai contoh. manusia yang masih hidup tetap dianggap mampu untuk mengendalikan seluruh harta miliknya. dalam hal ini ada tiga: 1.-ialah bahwa seseorang telah meninggal dan diketahui oleh seluruh ahli warisnya atau sebagian dari mereka. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia.F. Mereka masing-masing mempunyai hukum bagian. Syarat Pertama: Meninggalnya pewaris Yang dimaksud dengan meninggalnya pewaris --baik secara hakiki ataupun secara hukum-. ada yang berhak menerima warisan karena sebagai ahlul furudh.maka di antara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang mereka miliki ketika masih hidup. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal). Syarat Ketiga: Diketahuinya posisi para ahli waris Dalam hal ini posisi para ahli waris hendaklah diketahui secara pasti. saudara seayah. Syarat Waris Syarat-syarat waris juga ada tiga: 1. orang yang hilang yang keadaannya tidak diketahui lagi secara pasti. atau saudara seibu. Para fuqaha menyatakan. G. sehingga pembagi mengetahui dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris. serta ada yang tidak terhalang. pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup. mereka adalah golongan orang yang tidak dapat saling mewarisi. 2. ada yang terhalang hingga tidak mendapatkan warisan (mahjub). Sebagai contoh. karena bagaimanapun keadaannya. Syarat Kedua: Masih hidupnya para ahli waris Maksudnya. Penggugur Hak Waris Penggugur hak waris seseorang maksudnya kondisi yang menyebabkan hak waris seseorang menjadi gugur. kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa seseorang adalah saudara sang pewaris. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti. kecuali setelah ia meninggal. Misalnya. jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling mewarisi meninggal dalam satu peristiwa --atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu meninggal-. atau vonis yang ditetapkan hakim terhadap seseorang yang tidak diketahui lagi keberadaannya. atau tenggelam.

: "Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta orang yang dibunuhnya. Sebagian ulama ada yang menambahkan satu hal lagi sebagai penggugur hak mewarisi. membayar diyat. 22 . apakah dapat mewarisinya ataukah tidak. Pembunuhan Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya). Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak. Sebab. dengan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak). 3. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. bahwa antara muslim dan kafir tidaklah dapat saling mewarisi. Syafi'i. bolehkah seorang muslim mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad? Menurut mazhab Maliki. dalam sabdanya: "Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir. Karena itu. 2. apa pun agamanya." Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq. dan Hambali (jumhur ulama) bahwa seorang muslim tidak berhak mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad. seperti ditegaskan Rasulullah saw. termasuk keempat imam mujtahid. atau mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya. pembunuhan dengan segala cara dan macamnya tetap menjadi penggugur hak waris." Ada perbedaan di kalangan fuqaha tentang penentuan jenis pembunuhan. yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi orang kafir. mudabbar (budak yang telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal). Alasan mereka adalah bahwa Islam ya'lu walaayu'la 'alaihi (unggul. tetapi tidak boleh mewariskan kepada orang kafir. tidak ada yang mengunggulinya). Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengaku bersandar pada pendapat Mu'adz bin Jabal r. Maksudnya. Misalnya.Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya. seorang muslim dapat saja mewarisi harta kerabatnya yang murtad. Dalam hal ini ulama membuat kesepakatan bahwa murtad termasuk dalam kategori perbedaan agama. yakni murtad. Baik budak itu sebagai qinnun (budak murni). Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw. Bahkan kalangan ulama mazhab Hanafi sepakat mengatakan: "Seluruh harta peninggalan orang murtad diwariskan kepada kerabatnya yang muslim. dan lainnya. Alhasil. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat. hanya pembunuhan yang disengaja atau yang direncanakan yang dapat menggugurkan hak waris. Sedangkan menurut mazhab Hanafi. Sementara itu. orang yang murtad berarti telah keluar dari ajaran Islam sehingga secara otomatis orang tersebut telah menjadi kafir. karenanya orang murtad tidak dapat mewarisi orang Islam. atau bahkan hanya membenarkan kesaksian para saksi lain dalam pelaksanaan qishash atau hukuman mati pada umumnya. Perbedaan Agama Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim. maka ia tidak berhak mendapatkan warisan. atau membayar kafarat. Mazhab Hambali berpendapat bahwa pembunuhan yang dinyatakan sebagai penggugur hak waris adalah setiap jenis pembunuhan yang mengharuskan pelakunya diqishash. dalam haditsnya. sekalipun hanya memberikan kesaksian palsu dalam pelaksanaan hukuman rajam. " Dari pemahaman hadits Nabi tersebut lahirlah ungkapan yang sangat masyhur di kalangan fuqaha yang sekaligus dijadikan sebagai kaidah: "Siapa yang menyegerakan agar mendapatkan sesuatu sebelum waktunya. di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan mengenai kerabat orang yang murtad. maka dia tidak mendapatkan bagiannya." (Bukhari dan Muslim) Jumhur ulama berpendapat demikian.a. Menurut saya. Ibnu Mas'ud. Selain itu tidak tergolong sebagai penggugur hak waris. semua jenis budak merupakan penggugur hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak mempunyai hak milik. Orang yang telah keluar dari Islam dinyatakan sebagai orang murtad. Sedangkan menurut mazhab Syafi'i. secara langsung menjadi milik tuannya. pendapat mazhab Hambali yang paling adil. Ali bin Abi Thalib. mazhab Hanafi menentukan bahwa pembunuhan yang dapat menggugurkan hak waris adalah semua jenis pembunuhan yang wajib membayar kafarat. dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim. Wallahu a'lam. menurut mereka.

Contoh Pertama Seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri. Jika terjadi hal demikian. (13) anak laki-laki paman seayah. yaitu ayah pewaris. Jadi. (4) kakek (dari pihak bapak). menjadi hak saudara kandung sebagai 'ashabah Dalam hal ini anak tidak mendapatkan bagian disebabkan ia sebagai ahli waris yang mahrum. (12) anak laki-laki dari paman (saudara kandung ayah).mahjub oleh adanya ahli waris yang lebih dekat dan kuat dibandingkan mereka. (14) suami. di kalangan fuqaha dikenal dengan istilah mahrum. saya sertakan contoh kasus dari keduanya. (7) saudara laki-laki seibu. menjadi hak sang anak sebagai 'ashabah. yaitu 7/8. ia tidak memperoleh bagian disebabkan adanya saudara kandung pewaris. Kemudian sisanya. sisa harta yang ada. pendapat ulama mazhab Hanafi lebih rajih (kuat dan tepat) dibanding yang lainnya. (9) anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu. Contoh Kedua Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan ayah. Kalau saja anak itu tidak membunuh pewaris. (10) paman (saudara kandung bapak). karena pewaris dianggap tidak memiliki anak. maka bagian istri seperdelapan. Karena itu. Seseorang yang tergolong ke dalam salah satu sebab dari ketiga hal yang dapat menggugurkan hak warisnya. Begitu juga halnya dengan saudara seayah. yang terkadang membingungkan sebagian orang yang sedang mempelajari faraid. (3) bapak. adanya kakek bersamaan dengan adanya ayah. dan anak --dalam hal ini. Maka kakek dan saudara seayah dalam hal ini disebut dengan istilah mahjub. baik yang bertaraf nasional ataupun internasional. Sedangkan mahjub adalah hilangnya hak waris seorang ahli waris disebabkan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya atau lebih kuat kedudukannya. seperti membunuh atau berbeda agama. yaitu ayah. (15) laki-laki yang memerdekakan budak. H. Sebagai contoh. (8) anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki. ibu. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki Ahli waris (yaitu orang yang berhak mendapatkan warisan) dari kaum laki-laki ada lima belas: (1) anak laki-laki. sedangkan saudara kandung tidak mendapatkan bagian disebabkan sebagai ahli waris yang mahjub dengan adanya anak pewaris. ada baiknya saya jelaskan perbedaan makna antara kedua istilah tersebut. atau saudara seayah dengan adanya saudara kandung. maka kakek tidak mendapatkan bagian warisannya dikarenakan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya dengan pewaris. yaitu tiga per empat harta yang ada. (2) cucu laki-laki (dari anak laki-laki). Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat bagian seperempat harta yang ada. anak kita misalkan sebagai pembunuh. karena harta warisan yang tidak memiliki ahli waris itu harus diserahkan kepada baitulmal. (6) saudara laki-laki seayah. Maka saudara kandung tidak mendapatkan warisan dikarenakan ter. Untuk lebih memperjelas gambaran tersebut. Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub Ada perbedaan yang sangat halus antara pengertian al-mahrum dan al-mahjub. Padahal pada masa sekarang tidak kita temui baitulmal yang dikelola secara rapi. serta saudara kandung. saudara kandung. (11) paman (saudara bapak seayah). (5) saudara kandung laki-laki.Menurut penulis. 23 .

(8) saudara perempuan seibu. (7) saudara perempuan seayah. (6) saudara kandung perempuan. yang penting perempuan dari keturunan anak laki-laki. (4) nenek (ibu dari ibu). Demikian pula yang dimaksud dengan nenek --baik ibu dari ibu maupun ibu dari bapak-. (9) istri. Catatan Cucu perempuan yang dimaksud di atas mencakup pula cicit dan seterusnya. Ahli Waris dari Golongan Wanita Adapun ahli waris dari kaum wanita ada sepuluh: (1) anak perempuan.Catatan Bagi cucu laki-laki yang disebut sebagai ahli waris di dalamnya tercakup cicit (anak dari cucu) dan seterusnya. (3) anak perempuan (dari keturunan anak laki-laki). (2) ibu.dan seterusnya. (5) nenek (ibu dari bapak). dan seterusnya. 24 . I. (10) perempuan yang memerdekakan budak. Begitu pula yang dimaksud dengan kakek. yang penting laki-laki dan dari keturunan anak laki-laki.

Sebab cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki sama kedudukannya dengan anak kandung perempuan bila anak kandung perempuan tidak ada. 25 . Maka firman-Nya "yushikumullahu fi auladikum". Kini mari kita kenali pembagiannya secara rinci. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah Ashhabul furudh yang berhak mendapatkan separo dari harta waris peninggalan pewaris ada lima. maka ia mendapat separo harta warisan yang ada". baik anak laki-laki maupun perempuan. baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Dalilnya sama saja dengan dalil bagian anak perempuan (sama dengan nomor 2). Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak. baik keturunan laki-laki ataupun keturunan perempuan. Pewaris tidak mempunyai anak laki-laki (berarti anak perempuan tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. dan tidak pula anak. bila mereka (para istri) tidak mempunyai anak . A.. Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki. c. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan mendapat bagian separo. Dalilnya adalah firman Allah: ". Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki. b.III. Pewaris tidak mempunyai saudara kandung perempuan. dengan dua syarat: a.. c. Bila kedua persyaratan tersebut tidak ada.'" (an-Nisa': 176) 5. dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan. Dalilnya adalah firman Allah berikut: "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). seperdelapan (1/8). dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. dan bagi kalian (para suami) mendapat separo dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian. dengan tiga syarat: a. dan hal ini telah menjadi kesepakatan ulama. anak perempuan. Ia hanya seorang diri (tidak mempunyai saudara perempuan). Apabila ia hanya seorang diri.). d. Saudara perempuan seayah akan mendapat bagian separo dari harta warisan peninggalan pewaris. Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tersebut sebagai cucu tunggal). sepertiga (1/3). seperempat (1/4). Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan. dan saudara perempuan seayah. b. Rinciannya seperti berikut: 1. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki). maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya . baik anak keturunan itu dari suami tersebut ataupun bukan. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaituj: jika seorang meninggal dunia. saudara kandung perempuan. mencakup anak dan anak laki-laki dari keturunan anak. dengan empat syarat: a.. Kelima ashhabul furudh tersebut ialah suami. siapa saja ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dengan bagian yang berhak ia terima." (an-Nisa': 12) 2. Dalilnya adalah firman Allah: "dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang.. dan hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. Apabila anak perempuan itu adalah anak tunggal. 4. dan tidak pula mempunyai keturunan. Dalilnya sama dengan Butir 4 (an-Nisa': 176). Saudara kandung perempuan akan mendapat bagian separo harta warisan. dengan tiga syarat: a. b. Anak perempuan (kandung) mendapat bagian separo harta peninggalan pewaris. 3.. satu dari golongan laki-laki dan empat lainnya perempuan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dua per tiga (2/3). c. maka anak perempuan pewaris tidak mendapat bagian setengah. Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki. penj. PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN JUMLAH bagian yang telah ditentukan Al-Qur'an ada enam macam.. b. yaitu setengah (1/2). dan seperenam (1/6).

Yang dimaksud dengan "istri mendapat seperempat" adalah bagi seluruh istri yang dinikahi seorang suami yang meninggal tersebut. bagian mereka tetap seperempat dari harta peninggalan. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah berikut: "... yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-lakinya. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih.. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuh... C." (an-Nisa': 12) D. Seorang istri akan mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan suaminya dengan satu syarat. yaitu suami dan istri.. baik anak tersebut lahir dari rahimnya ataupun dari rahim istri lainnya. 2. bila suami mempunyai anak atau cucu. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga Ahli waris yang berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3) dari harta peninggalan pewaris ada empat. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri yang lain. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya É" (an-Nisa': 12) 2. Ketentuan ini terikat oleh syarat-syarat seperti berikut: 1. yaitu dengan digunakannya kata lahunna (dalam bentuk jamak) yang bermakna 'mereka perempuan'. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan Dari sederetan ashhabul furudh yang berhak memperoleh bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri. Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan istrinya dengan satu syarat.tentang bagian istri. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat Adapun kerabat pewaris yang berhak mendapat seperempat (1/4) dari harta peninggalannya hanya ada dua.B. Hal ini berdasarkan firman Allah berikut: ". yakni anak laki-laki dari pewaris... 3. Jadi. yaitu apabila suami tidak mempunyai anak/cucu. baik suami meninggalkan seorang istri ataupun empat orang istri. 4. Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih." (an-Nisa': 12) Ada satu hal yang patut diketahui oleh kita --khususnya para penuntut ilmu-. Dalilnya adalah firman Allah SWT: ". Jika kamu mempunyai anak. Rinciannya sebagai berikut: 1. Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih. Hal ini berdasarkan firman Allah di atas.. maka mereka tetap mendapat seperempat harta peninggalan suami mereka. Dalilnya firman Allah berikut: 26 .. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak . sekalipun seorang suami meninggalkan istri lebih dari satu. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidak mempunyai saudara laki-laki. Istri. wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu . Dengan kata lain. baik seorang maupun lebih akan mendapatkan seperdelapan dari harta peninggalan suaminya. baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya ataupun dari suami lain (sebelumnya). dan semuanya terdiri dari wanita: 1.

hanya di sini (saudara seayah) ditambah dengan keharusan adanya saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). atau saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). Dalilnya adalah firman Allah: ".. yaitu ijma' para ulama bahwa ayat ". maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal .. Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. Wallahu a'lam.. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu tidak mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan persyaratan sebagai berikut: a. hal ini merupakan kesepakatan para ulama." (an-Nisa': 11) Ada satu hal penting yang mesti kita ketahui agar tidak tersesat dalam memahami hukum yang ada dalam Kitabullah. orang yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah "anak perempuan lebih dari dua" jelas tidak benar dan menyalahi ijma' para ulama. Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw. atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . baik laki-laki atau perempuan. Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan bahwa makna ayat itsnataini adalah 'dua anak perempuan atau lebih'.. juga tidak mempunyai ayah atau kakek.. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki.. Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai saudara laki-laki seayah. yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan) yang seibu. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. Dan dalilnya sama. c.a. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki maupun perempuan). c. melainkan 'dua anak perempuan atau lebih'. Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian dua per tiga (2/3). maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan . b. --sebagaimana diungkapkan dalam bab sebelum ini. Persyaratan yang harus dipenuhi bagi dua saudara perempuan seayah untuk mendapatkan bagian dua per tiga hampir sama dengan persyaratan dua saudara kandung perempuan. Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga dengan syarat: 1." (an-Nisa': 176) 4. 3. Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak perempuan lebih dari dua'. Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan.. Sedangkan saudara perempuan seibu tidaklah termasuk dalam pengertian ayat tersebut.. b. Jadi. ayah.. dengan persyaratan sebagai berikut: a.. Pewaris tidak mempunyai anak kandung. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa'ad bin ar-Rabi' r. b. 27 . Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan syarat sebagai berikut: a.. Bila pewaris tidak mempunyai anak. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga Adapun ashhabul furudh yang berhak mendapatkan warisan sepertiga bagian hanya dua.". Wallahu a'lam. 2. c. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan." (an-Nisa': 176) mencakup saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah. E. atau kakek. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang..

. satu sebagai imam dan satu lagi sebagai makmum. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki ataupun perempuan).. Juga menjelaskan hukum yang berkaitan dengan bagian saudara laki-laki dan perempuan seayah dalam ayat yang sama. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Dalil lain yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah firman Allah berikut: "Jika kamu berdua bertobat kepada Allah. dan pembagiannya sama rata baik yang laki-laki maupun perempuan. mereka harus membagi sama di antara saudara laki-laki dan perempuan seibu tanpa membedakan bahwa laki-laki harus memperoleh bagian yang lebih besar daripada perempuan. Pembagian mereka berbeda dengan bagian para saudara laki-laki/perempuan kandung dan seayah. maka ibunya mendapat seperenam." (an-Nisa': 12) Catatan Yang dimaksud dengan kalimat "walahu akhun au ukhtun" dalam ayat tersebut adalah 'saudara seibu'. sebagaimana makna yang masyhur dalam bahasa Arab --sebagai bentuk jamak. juga tidak mempunyai ayah atau kakak.. Karena itu seluruh ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "akhun au ukhtun" dalam ayat itu adalah saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. Adapun dalilnya adalah firman Allah: ". dua orang atau lebih.2.. Sebab dalam bahasa bentuk jamak terkadang digunakan dengan makna 'dua orang'. Misalnya dalam istilah shalat jamaah.. Jumlah saudara yang seibu itu dua orang atau lebih. Namun. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara.. dan jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan). Kata bersekutu menunjukkan kebersamaan. bagian saudara laki-laki dan perempuan seibu bila telah memenuhi syarat-syarat di atas ialah sepertiga." (an-Nisa': 11) Catatan: Lafazh ikhwatun bila digunakan dalam faraid (ilmu tentang waris) tidak berarti harus bermakna 'tiga atau lebih'." (an-Nisa': 11) Juga firman-Nya: ". Sebab Allah SWT telah menjelaskan hukum yang berkaitan dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan sekandung dalam akhir surat an-Nisa'.. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). yang dalam hal ini bagian saudara laki-laki dua kali lipat bagian saudara perempuan. Yakni. 2. maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan) É" (at-Tahrim: 4) Kemudian saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu . ada hal lain yang perlu kita tekankan di sini yakni tentang firman "fahum syurakaa 'u fits tsulutsi" (mereka bersekutu dalam yang sepertiga). maka ibunya mendapat sepertiga. baik saudara itu sekandung atau seayah ataupun seibu. Jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. Kesimpulannya.. Dalilnya adalah firman Allah: ". Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. Selain itu.. akan mendapat bagian sepertiga dengan syarat sebagai berikut: 1. 28 . lafazh ini bermakna 'dua atau lebih'.. yang berarti sah dilakukan hanya oleh dua orang...

ibu. Suami mendapat bagian setengah (1/2) dari seluruh harta warisan yang ada. maka ibunya mendapat sepertiga".Masalah 'Umariyyatan Pada asalnya. Sedangkan bagian ayah adalah sisa harta yang ada sebagai 'ashabah. sedangkan ibu mendapat bagian tiga per empat dari sisa setelah diambil hak istri. sebab bila ia memperoleh sepertiga dari seluruh harta yang ada maka ia akan mendapat bagian dua kali lipat bagian ayah.berdasarkan pemahaman bagian ayat (artinya) "jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). setelah sebelumnya dikurangi bagian suami atau istri. seorang ibu akan mendapat bagian sepertiga dari seluruh harta peninggalan pewaris bila ia mewarisi secara bersamaan dengan bapak --seperti telah saya jelaskan--. Akan tetapi. Contoh Kedua Seorang suami meninggal dunia dan ia meninggalkan istri. karena kedua istilah ini sangat masyhur. Sedangkan al-gharawaini bermakna 'dua bintang cemerlang'. dan ayah. ibu hanya diberi sepertiga bagian dari sisa harta warisan yang ada. dan ayah. Ibu mendapat sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil bagian suami. Dengan demikian. Hal ini tentunya bertentangan dengan kaidah dasar faraid yang telah ditegaskan dalam Al-Qur'an dalam bagian ayat "lidzdzakari mitslu hazhzhil untsayain". yakni 'umariyyatan dan al-gharawaini. saya sertakan contohnya. Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Jumlah Bagian Nilai 29 . Kemudian ayah mendapat seluruh sisa yang ada. ibu. Contoh Pertama Seorang istri wafat dan meninggalkan suami. hak ayah menjadi dua kali lipat dari bagian yang diterima ibu. Dalam kasus ini. Disebut 'umariyyatan sebab kedua hal ini dilakukan oleh Umar bin Khathab dan disepakati oleh jumhur sahabat ridhwanullah 'alaihim. Istri mendapat bagian seperempat (1/4) dari seluruh harta peninggalan suaminya. Untuk lebih jelas lagi saya berikan tabelnya: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Suami Ibu Ayah 1/2 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian suami Seluruh sisa peninggalan sebagai 'ashabah Jumlah Bagian Nilai 3 1 2 Dalam contoh kasus ini ibu mendapatkan bagian sepertiga dari sisa setelah diambil bagian suami pewaris. ibu mendapat bagian sepertiga dari harta warisan setelah diambil hak suami pewaris. Agar lebih jelas. Karenanya untuk tetap menegakkan kaidah dasar tersebut. berkaitan dengan ini ada dua istilah yang muncul dan dikenal di kalangan fuqaha.

dalam keadaan demikian salah seorang kakek akan menduduki kedudukan seorang ayah. Seorang ayah akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak.a. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Adapun penyebutannya dengan istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri adalah karena menyesuaikan adab qur'ani. seayah.. dengan dua syarat: a. Ibu akan memperoleh seperenam (1/6) bagian dari harta yang ditinggalkan pewaris.. Dalilnya firman Allah (artinya): "jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. Mereka adalah (1) ayah. b. (6) nenek asli. jika yang meninggal itu mempunyai anak . maka ibunya mendapat seperenam É" (an-Nisa': 11). Masalah 'umariyyatan ini pernah terjadi pada masa sahabat." (an-Nisa': 11) 2. 1. baik sekandung.. baik anak laki-laki atau anak perempuan. kecuali dalam tiga keadaan yang akan saya rinci dalam bab tersendiri. 30 .a. Bahkan Ibnu Abbas menyanggah pendapat Zaid bin Tsabit: "Apakah memang ada di dalam Al-Qur'an istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri?" Zaid menanggapinya dengan mengatakan: "Di dalam Kitabullah juga tidak disebutkan bahwa bagian ibu sepertiga dari seluruh harta peninggalan yang ada bila ibu bersama-sama mewarisi dengan salah satu suami atau istri. Jadi. Pendapat pertama dintarakan oleh Zaid bin Tsabit r. Sebab yang disebutkan di dalam Al-Qur'an hanya "wawaritsahu abawahu".Istri Ibu Ayah 1/4 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian istri Mendapat bagian seluruh sisa peninggalan yang ada sebagai 'ashabah 1 1 2 Dari kedua contoh tersebut tampak oleh kita bahwa pada hakikatnya bagian ibu pada tabel pertama adalah seperenam (1/6). (5) saudara perempuan seayah. Jadi. ataupun seibu. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang terkenal. apa yang dipahami Zaid dan dipilih oleh jumhur ulama serta ditetapkan oleh Umar bin Khathab itulah pendapat yang sahih. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam Adapun asbhabul furudh yang berhak mendapat bagian seperenam (1/6) ada tujuh orang. Bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. menurut hemat saya. (2) kakek asli (bapak dari ayah). sedangkan pada tabel kedua adalah seperempat (1/4). Bila pewaris mempunyai dua orang saudara atau lebih.. F. baik saudara laki-laki ataupun perempuan. Dalilnya firman Allah (artinya): ".a. (3) ibu. Seorang kakek (bapak dari ayah) akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki dari keturunan anak --dengan syarat ayah pewaris tidak ada. (4) cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Dan untuk dua orang ibu bapak. yang kemudian diambil oleh jumhur ulama serta dikokohkan oleh Umar bin Khathab dengan menyatakan bahwa bagian ibu adalah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri. tepatnya masa Umar bin Khathab r. Menurutnya. (7) saudara laki-laki dan perempuan seibu. Sedangkan pendapat yang kedua diutarakan oleh Ibnu Abbas r. ibu tetap mendapat bagian sepertiga (1/3) dari seluruh harta yang ditinggalkan suami atau istri (anaknya). Wallahu a'lam.. 3..

cucu perempuan dari keturunan anak laki-lakinya. 7.. Ketentuan demikian baik nenek itu hanya satu ataupun lebih (dari jalur ayah maupun ibu). dan sisanya menjadi bagian saudara perempuan pewaris. Sebab bila ada anak laki-laki. dan sekaligus menjadi penggugur (penghalang) hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris." Mendengar jawaban Ibnu Mas'ud. ditanya tentang masalah warisan seseorang yang meninggalkan seorang anak perempuan. Saudara perempuan seayah satu orang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). baik laki-laki atau perempuan). tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). sang penanya kembali menemui Abu Musa al-Asy'ari dan memberi tahu permasalahannya. Hal ini hukumnya sama denga keadaan jika cucu perempuan keturunan anak laki-laki bersamaan dengan adanya anak perempuan. Abu Musa kemudian menjawab: "Bagi anak perempuan mendapat bagian separo (1/2). maka saudara perempuan seayah mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna dari dua per tiga (2/3). anak perempuan tersebut mendapat bagian setengah (1/2). dan bagi cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai pelengkap 2/3. Kemudian Abu Musa berkata: "Janganlah sekali-kali kalian menanyaiku selama sang alim ada di tengah-tengah kalian. sang penanya pergi mendatangi Ibnu Mas'ud. Hal ini berlandaskan pada apa yang telah ditetapkan di dalam hadits sahih dan ijma' seluruh sahabat. maka anak tersebut menjadi penggugur hak sang cucu. Jadi. Maka Ibnu Mas'ud berkata: "Aku akan memutuskan seperti apa yang pernah diputuskan Rasulullah saw. Sebab ketika saudara perempuan kandung memperoleh setengah (1/2) bagian. 5. apabila pewaris mempunyai seorang saudara kandung perempuan. Selain itu. yang jelas seperenam itu dibagikan secara rata kepada mereka." Merasa kurang puas dengan jawaban Abu Musa. Sebab jika lebih dari satu orang. anak-anak perempuan itu berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3). bagi anak perempuan separo (1/2) harta peninggalan pewaris. bila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan seayah atau lebih. Saudara laki-laki atau perempuan seibu akan mendapat bagian masing-masing seperenam (1/6) bila mewarisi sendirian. pewaris juga tidak mempunyai anak perempuan lebih dari satu orang. sebagai pelengkap dua per tiga (2/3). Nenek asli mendapatkan bagian seperenam (1/6) ketika pewaris tidak lagi mempunyai ibu. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris mendapat seperenam (1/6)." Catatan Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian seperenam (1/6) dengan syarat bila pewaris tidak mempunyai anak laki-laki. Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya bahwa Abu Musa al-Asy'ari r. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta". Dan persyaratannya adalah bila pewaris tidak mempunyai pokok (yakni kakek) dan tidak pula cabang (yakni anak. 6. 31 . Dalilnya adalah firman Allah (artinya) "jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak.a. dan yang setengah sisanya menjadi bagian saudara perempuan. maka tidak ada sisa kecuali seperenam (1/6) yang memang merupakan hak saudara perempuan seayah. apabila yang meninggal (pewaris) mempunyai satu anak perempuan.4. Dalam keadaan demikian. dan saudara perempuan.

32 . Wallahu a'lam. Abu Bakar menjawab: "Saya tidak mendapati hakmu dalam Al-Qur'an maka pulanglah dulu." Mendengar pernyataan al-Mughirah itu Abu Bakar kemudian memanggil nenek tadi dan memberinya seperenam (1/6). dan tunggulah hingga aku menanyakannya kepada para sahabat Rasulullah saw.Ashhabus Sunan meriwayatkan bahwa seorang nenek datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r." Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengatakan kepada Abu Bakar: "Suatu ketika aku pernah menjumpai Rasulullah saw. memberikan hak seorang nenek seperenam (1/6). untuk menuntut hak warisnya.a.

Inilah pengertian 'ashabah dari segi bahasa. Ayat tersebut juga telah menegaskan bahwa bila pewaris tidak mempunyai anak. A. Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah apa yang disabdakan Rasulullah saw. Dalil Al-Qur'an yang lainnya ialah (artinya) "jika seorang meninggal dunia. dua per tiganya (2/3) menjadi hak ayah. ia juga menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing. Pada ayat ini tidak disebutkan bagian saudara kandung. Kemudian. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. sedang kami golongan (yang kuat). Dalam ayat ini disebutkan bahwa bagian kedua orang tua (ibu dan bapak) masing-masing mendapatkan seperenam (1/6) apabila pewaris mempunyai keturunan. Sedangkan pengertian 'ashabah menurut istilah para fuqaha ialah ahli waris yang tidak disebutkan banyaknya bagian di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan tegas. jika yang meninggal itu mempunyai anak.IV. makna kalimat "wahuwa yaritsuha" memberi isyarat bahwa seluruh harta peninggalan menjadi haknya. yang disebutkan justru saudara kandung akan menguasai (mendapatkan bagian) seluruh harta peninggalan yang ada bila ternyata pewaris tidak mempunyai keturunan. maka ibu mendapat bagian sepertiga (1/3). Inilah makna 'ashabah. dan paman (saudara kandung ayah). Namun. Tetapi bila pewaris tidak mempunyai anak. Dengan demikian. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). Dalam kalimat bahasa Arab banyak digunakan kata 'ushbah sebagai ungkapan bagi kelompok yang kuat." (an-Nisa': 176). di antaranya dalam firman Allah berikut: "Mereka berkata: 'Jika ia benar-benar dimakan serigala. penerimaan ayah disebabkan ia sebagai 'ashabah. Demikian juga di dalam Al-Qur'an. maka seluruh harta peninggalannya menjadi milik kedua orang tua. DEFINISI 'ASHABAH KATA 'ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak bapak. Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan berasal dari pihak ayah. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah (artinya): "dan untuk dua orang ibu bapak. maka ibunya mendapat sepertiga" (an-Nisa': 11). Dari sini dapat kita pahami bahwa sisa setelah diambil bagian ibu. Disebut demikian. ayat tersebut tidak menjelaskan berapa bagian ayah. Pengertian 'ashabah yang sangat masyhur di kalangan ulama faraid ialah orang yang menguasai harta waris karena ia menjadi ahli waris tunggal.: 33 . kata ini sering kali digunakan. sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi.menguatkan dan melindungi. anak laki-laki. Namun. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. jika ia tidak mempunyai anak. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Dalil Hak Waris Para 'Ashabah Dalil yang menyatakan bahwa para 'ashabah berhak mendapatkan waris kita dapati di dalam Al-Qur'an dan AsSunnah. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. Sebagai contoh.'" (Yusuf: 14) Maka jika dalam faraid kerabat diistilahkan dengan 'ashabah hal ini disebabkan mereka melindungi dan menguatkan. Selain itu. dikarenakan mereka --yakni kerabat bapak-. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan).

Oleh sebab itu. 'Ashabah bin nafs 'Ashabah bin nafs. Sedangkan 'ashabah nasabiyah terbagi tiga yaitu: (1) 'ashabah bin nafs (nasabnya tidak tercampur unsur wanita). maka yang dimaksud adalah 'ashabah bin nafs. Macam-macam 'Ashabah 'Ashabah terbagi dua yaitu: 'ashabah nasabiyah (karena nasab) dan 'ashabah sababiyah (karena sebab). ayah dari kakak. dalam hal penggunaan kata "dzakar". Arah bapak. Inilah rahasia makna sabda Rasulullah saw. dan seterusnya. seorang tuan (pemilik budak) dapat menjadi ahli waris bekas budak yang dimerdekakannya apabila budak tersebut tidak mempunyai keturunan. mencakup saudara kandung laki-laki. Adapun saudara laki-laki yang seibu tidak termasuk 'ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul furudh. Jenis 'ashabah yang kedua ini disebabkan memerdekakan budak. B. Arah anak. Catatan Dalam dunia faraid. dan seterusnya. agar memberikan hak waris kepada ahlinya. misalnya ayah dari bapak. termasuk keturunan mereka. Maka jika masih tersisa. mempunyai empat arah. dan (3) 'ashabah ma'al ghair (menjadi 'ashabah bersamasama dengan yang lain). dan seterusnya. Ada satu keistimewaan dalam hadits ini menyangkut kata yang digunakan Rasulullah dengan menyebut "dzakar" setelah kata "rajul". dan seterusnya. Arah ini hanya terbatas pada saudara kandung laki-laki dan yang seayah. Arah saudara laki-laki. 3. anak laki-laki keturunan saudara laki-laki seayah. yang pasti hanya dari pihak laki-laki. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari salah paham. mencakup ayah. dan seterusnya. kakek. apabila lafazh 'ashabah disebutkan tanpa diikuti kata lainnya (tanpa dibarengi bil ghair atau ma'al ghair). Sebab."Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada yang berhak. yaitu laki-laki yang nasabnya kepada pewaris tidak tercampuri kaum wanita. saudara laki-laki seayah. hendaklah diberikan kepada orang laki-laki yang paling utama dari 'ashabah. yaitu: 1. mencakup seluruh laki-laki keturunan anak laki-laki mulai cucu. bayi laki-laki pun berhak mendapatkan warisan sebagai 'ashabah dan menguasai seluruh harta warisan yang ada jika dia sendirian. sedangkan kata "rajul" jelas menunjukkan makna seorang laki-laki. cicit. 4. termasuk keturunan mereka. namun hanya yang lakilaki. jangan sampai menafsirkan kata ini hanya untuk orang dewasa dan cukup umur. Arah paman. 34 . anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki. (2) 'ashabah bil ghair (menjadi 'ashabah karena yang lain). mencakup paman (saudara laki-laki ayah) kandung maupun yang seayah. 2. dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama. " (HR Bukhari) Hadits ini menunjukkan perintah Rasulullah saw.

maka ia berhak mengambil seluruh warisan yang ada. siapakah di antara mereka yang paling dekat derajatnya kepada pewaris. Sebagai misal. saudara perempuan mendapat bagian setengah (1/2). Saudara seayah tidak mendapat bagian disebabkan ashhabul furudh telah menghabiskannya. Keadaan seperti ini disebut pentarjihan menurut derajat kedekatannya dengan pewaris. maka sebagai 'ashabah mendapat sisa harta setelah dibagikan kepada ashhabul furudh. Sebab ia lebih dekat kedudukannya dari pada anak saudara kandung. Sebab arah anak lebih didahulukan daripada arah yang lain. maka para 'ashabah pun tidak mendapat bagian. Sang suami mendapat bagian setengah (1/2). saudara laki-laki seayah.Keempat arah 'ashabah bin nafs tersebut kekuatannya sesuai urutan di atas. Sebab cucu akan menduduki posisi anak bila anak tidak ada. Dalam keadaan demikian. Sebab. saudara kandung perempuan. yang menjadi 'ashabah adalah anak laki-laki. Arah anak lebih didahulukan (lebih kuat) daripada arah ayah. seorang istri wafat dan meninggalkan suami. bila antara saudara kandung laki-laki maupun saudara laki-laki seayah berhadapan dengan kakak. Dalam hal ini hak warisnya secara 'ashabah diberikan kepada anak. Misalnya. dan arah ayah lebih kuat daripada arah saudara. maka pengunggulannya dilihat dari segi arah. maka cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya. Sebagai misal. maka saudara seayahlah yang mendapat warisan. atau akan menerima sisa harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh bagian masing-masing. saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan waris dikarenakan arahnya lebih jauh. Arah anak lebih didahulukan dibandingkan yang lain. maka pentarjihannya dengan melihat derajat mereka. Rinciannya. maka cara pentarjihannya (pengunggulannya) sebagai berikut: Pertama: Pertarjihan dari Segi Arah Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa 'ashabah bin nafsih. anak lebih dekat kepada pewaris dibandingkan cucu laki-laki. Hukum 'Ashabah bin nafs Telah saya jelaskan bahwa 'ashabah bi nafsihi mempunyai empat arah. seseorang wafat dan meninggalkan anak laki-laki. Kedua: Pentarjihan secara Derajat Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa orang 'ashabah bi nafsihi. Pengecualiannya. dan derajat kekuatan hak warisnya sesuai urutannya. Anak akan mengambil seluruh harta peninggalan yang ada. sedangkan cucu tidak mendapatkan bagian apa pun. 35 . Adapun bila para 'ashabah bin nafs lebih dari satu orang. Dan bila setelah dibagikan kepada ashhabul furudh ternyata tidak ada sisanya. ayah. Contoh lain. insya Allah akan saya paparkan pada bab tersendiri. Sedangkan ayah termasuk ashhabul furudh dikarenakan mewarisi bersama-sama dengan anak laki-laki. Bila salah satunya secara tunggal (sendirian) menjadi ahli waris seorang yang meninggal dunia. dan saudara kandung. kemudian mereka pun dalam satu arah. Sementara itu. Apabila anak tidak ada. seseorang wafat dan meninggalkan anak serta cucu keturunan anak lakilaki. bila seseorang wafat dan meninggalkan saudara laki-laki seayah dan anak dari saudara kandung. Namun bila ternyata pewaris mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh.

dalam sebuah haditsnya "al-waladu mabkhalah majbanah" (anak dapat membuat seseorang berlaku bakhil dan pengecut). sedangkan bagian anak tidak disebutkan. pentarjihan menurut kuatnya kekerabatan hanya digunakan untuk arah saudara dan arah paman. Karena itu mereka tidak segan-segan menimbun harta dan kekayaan demi menyenangkan keturunan pada masa mendatang. bahwa kaidah tersebut hanya dipakai untuk selain dua arah. saudara kandung lebih kuat daripada seayah. Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? Satu pertanyaan yang sangat wajar dan mesti diketahui jawaban serta hikmah di dalamnya. Jika demikian berarti wanita tersebut sebagai 'ashabah bi nafsihi. Dengan demikian. Landasan pertama berupa dalil AlQur'an. mereka takut berhadapan dengan musuh atau siapa pun yang mengganggu kemudahan jalan rezekinya. Artinya.karena sangat khawatir terhadap masa depan anaknya. Makna hadits tersebut sangat jelas bahwa orang tua menjadi kikir --bahkan pengecut-. jika yang meninggal itu mempunyai anak. keduanya memiliki posisi sederajat dari segi kedekatan nasab pada seseorang. bagi masingmasingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. jelaslah bahwa anak akan mendapatkan seluruh sisa harta peninggalan pewaris. maka pentarjihannya dengan melihat manakah di antara mereka yang paling kuat kekerabatannya dengan pewaris. baik dalam hal keselamatannya maupun kehidupan masa depannya. 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya 'Ashabah bi ghairihi hanya terbatas pada empat orang ahli waris yang kesemuanya wanita: 36 . bila budak yang dibebaskannya tidak mempunyai keturunan (kerabat). sedangkan yang kedua berupa dalil aqli. Sebab. Inilah alasan bahwa hati seseorang cenderung lebih dekat kepada anaknya dibandingkan kepada ayahnya. Maka sangat tepat apa yang disabdakan Rasulullah saw. Dalam ayat tersebut Allah SWT menjadikan ayah sebagai ashhabul furudh bila pewaris mempunyai anak. Catatan Perlu untuk digarisbawahi dalam hal pentarjihan dari segi kuatnya kekerabatan di sini. Wallahu a'lam. anak dari saudara kandung lebih kuat daripada anak dari saudara seayah. tidak sedikit orang tua yang bersikap bakhil. demi kepentingan masa depan anaknya. sangat kikir dalam membelanjakan hartanya. orang tua berusaha bekerja keras untuk memperoleh harta dan berhemat dalam membelanjakannya. semuanya demi kesejahteraan keturunannya. sedangkan dari kalangan wanita hanyalah wanita pemerdeka budak. Dengan demikian. Sebagai contoh. ayah sebagai pokok dan anak merupakan cabang. paman kandung lebih kuat daripada paman seayah. Namun demikian. Catatan Satu hal yang mesti kita ketahui bahwa 'ashabah bi nafsihi harus dari kalangan laki-laki. Berdasarkan posisi ini sebaiknya garis anak tidak didahulukan daripada garis ayah. Tidak sedikit orang tua yang menjadi pengecut hanya disebabkan menjaga kemaslahatan keturunannya pada hari depannya. yakni arah anak dan arah bapak. Oleh sebab itu. manusia pada umumnya merasa khawatir terhadap anak (keturunannya)." (an-Nisa: 11).Ketiga: Pentarjihan Menurut Kuatnya Kekerabatan Bila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat banyak 'ashabah bi nafsihi yang sama dalam arah dan derajatnya. ada dua landasan mengapa garis anak lebih didahulukan. Bahkan. Sedangkan secara aqli. setelah masing-masing dari ashhabul furudh telah mendapatkan bagiannya. dan seterusnya. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa garis anak lebih didahulukan daripada garis bapak. Firman-Nya (artinya) "dan untuk dua orang ibu-bapak.

dikarenakan anak laki-laki tidak sederajat dengan cucu perempuan. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan" (an-Nisa': 176). Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Dalil bagi hak waris para 'ashabah bi ghairih adalah firman Allah (artinya): "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan" (an-Nisa': 11). anak perempuan saudara laki-laki bukanlah termasuk ashhabul furudh. saudara laki-laki seayah tidak dapat men-ta'shih saudara kandung perempuan. maka tidak akan menjadi 'ashabah bi ghairih. Kaidah ini hanya berlaku bagi keempat ahli waris dari kalangan wanita yang saya sebutkan (yakni anak perempuan. akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki). cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dan pembagiannya. bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "ikhwatan" dalam ayat tersebut adalah saudara laki-laki dan saudara kandung perempuan dan yang seayah. Ketiga: laki-laki yang menjadi penguat harus sama kuat dengan ahli waris perempuan shahibul fardh. Kedua: laki-laki yang menjadi 'ashabah (penguat) harus yang sederajat. 3. Selain itu. disebabkan hak waris mereka berdasarkan fardh (termasuk ashhabul furudh) bukan sebagai 'ashabah. Bila wanita tersebut bukan dari ashhabul furudh. saudara kandung perempuan. berdasarkan firman-Nya (artinya): "maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu" (an-Nisa': 12). Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah bi Ghairihi tidak akan terwujud kecuali dengan beberapa persyaratan berikut: Pertama: haruslah wanita yang tergolong ashhabul furudh. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara laki-lakinya. hak waris mereka pun antara laki-laki dan perempuan-. Begitu juga anak laki-laki keturunan saudara laki-laki. Sebagai contoh. Catatan Setiap perempuan ahli waris berhak mendapat bagian setengah (1/2) jika sendirian. Sebab dalam keadaan demikian. anak laki-laki tidak dapat menjadi pen-ta'shih (penguat) cucu perempuan. baik sederajat dengannya atau bahkan lebih di bawahnya. atau anak laki-laki pamannya (yakni cucu laki-laki keturunan anak laki-laki).sama rata. Misalnya. 37 . bahkan ia berfungsi sebagai pen-tahjib (penghalang) hak waris cucu.1. Saudara perempuan seayah akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya. Mereka berpendapat bahwa kata ikhwatan tidak mencakup saudara laki-laki atau perempuan yang seibu. anak perempuan dari saudara laki-laki tidak dapat menjadi 'ashabah bi ghairih dengan adanya saudara kandung laki-laki dalam deretan ahli waris. dan saudara perempuan seayah). dan akan menjadi 'ashabah bila mempunyai saudara laki-laki. Dan juga berlandaskan firman-Nya (artinya): "dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. 4. Sebab saudara kandung perempuan lebih kuat kekerabatannya daripada saudara laki-laki seayah. Misalnya. ia berhak mendapatkan bagian dua per tiga (2/3) bila menerima bersama saudara perempuannya. 2. Saudara kandung perempuan akan menjadi 'ashabah bila bersama saudara kandung laki-laki. Anak perempuan. tidaklah dapat menguatkan saudara kandung perempuan disebabkan tidak sederajat.

maka keempat wanita tersebut mendapat hak warisnya secara fardh. Bila para 'ashabah bi nafsihi itu tidak ada. Satu hal yang perlu diketahui dalam masalah ini. Jadi. Jenis 'ashabah ini di kalangan ulama dikenal dengan istilah 'ashabah ma'al ghair. cucu perempuan keturunan anak laki-laki." Dari penjelasan Ibnu Mas'ud dapat disimpulkan bahwa hak saudara perempuan bila mewarisi bersama-sama dengan anak perempuan mengambil sisa harta pembagian yang ada. dan saudara perempuan (sekandung atau seayah).akan menjadi 'ashabah.a.Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi Adapun sebab penamaan 'ashabah bi ghairihi adalah karena hak 'ashabah keempat wanita itu bukanlah karena kedekatan kekerabatan mereka dengan pewaris. Lalu Abu Musa berkata: "Janganlah kalian menanyakannya kepadaku selama sang alim (Ibnu Mas'ud) berada bersama kalian.. seperti yang ditegaskan dalam kitab Hasyiyatul Bajuri (hlm.. saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan --atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki dan seterusnya-." Dalil 'Ashabah ma'al Ghair Yang menjadi landasan bagi hak waris 'ashabah ma'al ghair adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya." Penanya itu pun kembali kepada Abu Musa al-Asy'ari dan menceritakan apa yang telah diputuskan Ibnu Mas'ud. dan bagian saudara perempuan separo. sedangkan bagian anak perempuan tidak terkena pengurangan. Kemudian. akan tetapi karena adanya 'ashabah lain ('ashabah bi nafsihi). 'Ashabah ma'al Ghair 'Ashabah ma'al Ghair ini khusus bagi para saudara kandung perempuan maupun saudara perempuan seayah apabila mewarisi bersamaan dengan anak perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki. dan dijawab: "Aku akan memvonis seperti apa yang diajarkan Rasulullah saw. Hal ini berarti saudara kandung perempuan atau saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. seperti saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah mereka. maka ia menjadi seperti saudara kandung laki-laki sehingga dapat menghalangi hak waris saudara seayah. di segi lain tidaklah mungkin hak saudara perempuan itu digugurkan. karena itu dijadikanlah saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah agar terkena pengurangan. 38 . Sebab bila kita berikan hak waris saudara perempuan secara fardh. Catatan Sangat penting untuk diketahui bersama bahwa bila seorang saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah ma'al ghair. sedangkan sisanya menjadi hak saudara perempuan kandung atau seayah. 108): "Adapun saudara perempuan (kandung dan seayah) menjadi 'ashabah jika berbarengan dengan anak perempuan adalah agar bagian saudara perempuan terkena pengurangan. maka akan naiklah pokok pembagiannya dan hak bagian anak perempuan akan berkurang. Abu Musa menjawab: "Bagian anak perempuan separo." Penanya itu lalu pergi menanyakannya kepada Ibnu Mas'ud r. bahwa Abu Musa al-Asy'ari ditanya tentang hak waris anak perempuan. bagian anak perempuan setengah (1/2) dan bagian cucu perempuan keturunan anak lakilaki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3).

Sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah. apabila menjadi 'ashabah ma'al ghair ketika mewarisi bersama anak perempuan pewaris. Selain itu. saudara perempuan. cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. paman kandung ataupun yang seayah. dan saudara laki-laki seayah. dan saudara laki-laki seayah.baik yang laki-laki maupun yang perempuan. yang kekuatannya seperti saudara kandung laki-laki. Untuk lebih menjelaskan masalah tersebut saya sertakan contoh seperti berikut: Contoh Pertama Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan anak perempuan. Maka pembagiannya seperti dalam tabel berikut: Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Suami Cucu perempuan Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/4 1/2 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 1 2 1 0 39 . maka pembagiannya adalah sebagai berikut: Pokok masalahnya dari 2 Keterangan Anak perempuan Saudara kandung perempuan'ashabah ma'al ghair Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/2 1/2 gugur Nilai 1 1 0 Keterangan Bagian anak perempuan adalah setengah secara fardh. Contoh Kedua Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. dua orang saudara kandung perempuan. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung perempuan disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. seperti anak keturunan saudara (keponakan). maka kekuatannya sama seperti saudara laki-laki seayah hingga menjadi penggugur keturunan saudaranya dan seterusnya. Begitu juga saudara perempuan seayah. dapat pula menggugurkan hak waris yang di bawah mereka.

Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Anak perempuan Cucu perempuan Ibu Saudara perempuan seayah Keterangan Anak perempuan mendapat bagian setengah sebagai fardh.Keterangan Suami memperoleh seperempat bagian karena pewaris mempunyai cabang ahli warisnya. seorang ibu. Sedangkan bagian saudara laki-laki seayah gugur karena adanya dua saudara kandung. Sedangkan anak saudara laki-laki ter-mahjub oleh saudara perempuan seayah. saudara perempuan seayah. dan ibu mendapatkan seperenam. Contoh Keempat Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak perempuan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam bagian sebagai penyempurna dua per tiga. Sedangkan sisanya untuk 40 Jumlah Bagian 1/2 1/6 1/6 'ashabah ma'al ghair Nilai 3 1 1 1 . dan anak laki-laki saudara laki-laki (kemenakan). Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 3 Keterangan Dua anak perempuan Saudara perempuan seayah Anak saudara laki-laki Jumlah Bagian 2/3 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 2 1 0 Keterangan Dua orang anak perempuan mendapatkan dua per tiga dan sisanya untuk saudara perempuan seayah disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. kemudian sisanya yaitu seperempat-menjadi hak dua saudara kandung perempuan pewaris sebagai 'ashabah ma'al ghair. saudara perempuan seayah. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Contoh Ketiga Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak perempuan. Sedangkan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian setengah secara fardh. dan paman kandung (saudara dari ayah kandung).

Maka pembagiannya seperti berikut: sang istri mendapat bagian seperempat sebagai fardh-nya karena adanya ikatan perkawinan. dan sisanya untuk suami sebagai 'ashabah karena ia anak paman kandung. kemudian saudara perempuan sekandung atau seayah mendapatkan sisanya. Tampak semakin jelas perbedaan antara dua macam 'ashabah itu. dan tentu saja hal ini memerlukan jawaban. Seorang saudara perempuan sekandung atau seayah tidak menerima bagian seperti bagian anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Jadi. Inilah perbedaan keduanya. Sedangkan 'ashabah ma'al ghair tidaklah demikian. secara ringkas. anak perempuan atau cucu perempuan keturunan anak lakilaki mendapat bagian secara fardh. pada 'ashabah bil ghair para 'ashabah bi nafsih menggandeng kaum wanita ashhabul furudh menjadi 'ashabah dan menggugurkan hak fardh-nya. Saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah menjadi 'ashabah bil ghair dengan adanya saudara kandung lakilaki ataupun saudara laki-laki seayah. karena kekuatannya seperti saudara laki-laki seayah sehingga ia menggugurkan paman kandung. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. bibi (saudara ibu) yang salah satunya menjadi istrinya. Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? Kita mungkin sering mendengar pertanyaan seperti itu. Begitulah seterusnya. saudara laki-laki seibu. Maka dapat ditegaskan bahwa seseorang bisa saja mendapatkan warisan dari dua arah yang berlainan. dan seorang suami. anak perempuan menjadi 'ashabah bila bersama saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki pewaris).saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. Adapun 'ashabah ma'al ghair adalah para saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair Dari uraian sebelumnya dapat kita ketahui bahwa 'ashabah bil ghair adalah setiap wanita ahli waris yang termasuk ashhabul furudh. saya sertakan contoh: Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang nenek. 41 . dan hak lainnya ialah ikut mendapat bagian sisa yang ada karena ikatan rahim. Dalam hal ini bagi yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). Contoh lain: seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan dua anak perempuan. dan dalam hal ini mereka mendapatkan bagian sisa seluruh harta peninggalan sesudah ashhabul furudh mengambil bagian masing-masing. Bahkan anak perempuan pewaris menjadi penggugur hak saudara (laki-laki/perempuan) seibu sehingga tidak dapat menjadi 'ashabah. yang juga merupakan anak paman kandung pewaris. misalnya ia sebagai ashhabul furudh dan juga sebagai 'ashabah. atau satu dari arah fardh dan yang kedua dari arah karena rahim. Maka pembagiannya sebagai berikut: Untuk nenek seperenam (1/6). pada 'ashabah bil ghair selalu ada sosok 'ashabah bi nafsih. seperti anak laki-laki. Misalnya. C. Akan tetapi. suami setengah (1/2) sebagai fardh-nya. Agar persoalan ini lebih jelas. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. Catatan Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu tidak berhak menjadi ahli waris bila pewaris mempunyai anak perempuan. dan akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara laki-lakinya. Sedangkan dalam 'ashabah ma'al ghair tidak terdapat sosok 'ashabah bi nafsih.

42 .

PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A. yakni al-hujub bil washfi (sifat/julukan). 43 . Demikian juga seperti penghalangan bagian seorang suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi seperempat. Hujub hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang. Al-hujub bi asy-syakhshi terbagi dua: hujub hirman dan hujub nuqshan. bentuk isim fa'il (subjek) untuk kata hajaba adalah hajib dan bentuk isim maf'ul (objek) ialah mahjub. Definisi al-Hujub Al-hujub dalam bahasa Arab bermakna 'penghalang' atau 'penggugur'. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman: "Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka" (alMuthaffifin: 15) Yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum kuffar yang benar-benar akan terhalang. Ini merupakan hal mutlak dan tidak akan dipakai dalam pengertian hujub nuqshan. Misalnya. dan seterusnya. dan al-hujub bi asy-syakhshi (karena orang lain). dalam dunia faraid apabila kata al-hujub disebutkan tanpa diikuti kata lainnya. Sedangkan al-hujub bi asy-syakhshi yaitu gugurnya hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. sang istri dari seperempat menjadi seperdelapan karena pewaris mempunyai anak. terhalangnya hak waris saudara seayah karena adanya saudara kandung. maka yang dimaksud adalah hujub hirman. terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu. B. Selain itu. terhalangnya hak waris cucu karena adanya anak. disebabkan ia menghalangi orang untuk memasuki tempat tertentu tanpa izin guna menemui para penguasa atau pemimpin. Satu hal yang perlu diketahui di sini. dalam bahasa Arab juga kita kenal kata hajib yang bermakna 'tukang atau penjaga pintu'. dan al-mahjub berarti orang yang terhalang mendapatkan warisan. tidak dapat melihat Tuhan mereka di hari kiamat nanti.V. Jadi. penghalangan terhadap hak waris ibu yang seharusnya mendapatkan sepertiga menjadi seperenam disebabkan pewaris mempunyai keturunan (anak). baik secara keseluruhannya atau sebagian saja disebabkan adanya orang yang lebih berhak untuk menerimanya. Al-hujub bil washfi berarti orang yang terkena hujub tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan. terhalangnya hak waris seorang kakek karena adanya ayah. Maka makna al-hajib menurut istilah ialah orang yang menghalangi orang lain untuk mendapatkan warisan. Misalnya. Adapun pengertian al-hujub menurut kalangan ulama faraid adalah menggugurkan hak ahli waris untuk menerima waris. Adapun hujub nuqshan (pengurangan hak) yaitu penghalangan terhadap hak waris seseorang untuk mendapatkan bagian yang terbanyak. dan seterusnya. misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad. Macam-macam al-Hujub Al-hujub terbagi dua. Hak waris mereka menjadi gugur atau terhalang.

Cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. 2. dan juga oleh sosok yang menghalangi paman seayah. dan terhalang dengan adanya ayah serta keturunan laki-laki (anak. Keponakan laki-laki (anak saudara kandung laki-laki) akan terhalangi dengan adanya ayah dan kakek. dan juga dengan adanya paman kandung. Adapun ahli waris dari laki-laki sebagai berikut: 1. sebelas terdiri dari laki-laki dan lima dari wanita. cucu. dan seterusnya) baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Paman kandung (saudara laki-laki ayah) akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki dari saudara laki-laki. Sepupu kandung laki-laki (anak paman kandung) akan terhalangi oleh adanya paman seayah. dan keturunan laki-laki (anak. kakek. Saudara laki-laki seayah akan terhalang dengan adanya saudara kandung laki-laki. cicit. suami. dan seterusnya) dan juga oleh cabang (anak. 9. Paman seayah akan terhalangi dengan adanya sosok yang menghalangi paman kandung. 3. cicit. Keponakan laki-laki (anak dari saudara laki-laki seayah) akan terhalangi dengan adanya orang-orang yang menghalangi keponakan (dari anak saudara kandung laki-laki). 10. 4. cucu kandung laki-laki. cucu. Saudara kandung laki-laki akan terhalang oleh adanya ayah.Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman Ada sederetan ahli waris yang tidak mungkin terkena hujub hirman. ibu. Keenam orang tersebut adalah anak kandung laki-laki. Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap mendapatkan hak waris. cucu. cicit. Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau bahkan keenamnya. dan seterusnya). Sepupu laki-laki (anak paman seayah) akan terhalangi dengan adanya sepupu laki-laki (anak paman kandung) dan dengan adanya sosok yang menghalangi sepupu laki-laki (anak paman kandung). Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman Sederetan ahli waris yang dapat terkena hujub hirman ada enam belas. 11. 6. ayah. akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki. dan juga oleh kakek yang lebih dekat dengan pewaris. 7. maka semuanya harus mendapatkan warisan. anak kandung perempuan. 5. dan seterusnya). Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu akan terhalangi oleh pokok (ayah. anak lakilaki. Demikian juga para cucu akan terhalangi oleh cucu yang paling dekat (lebih dekat). juga terhalang oleh saudara kandung perempuan yang menjadi 'ashabah ma'al Ghair. ditambah dengan adanya keponakan (anak lakilaki dari keturunan saudara kandung laki-laki). serta oleh saudara laki-laki seayah. dan istri. 8. juga terhalangi oleh adanya sosok yang menghalangi keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seayah. Kakek (bapak dari ayah) akan terhalang oleh adanya ayah. Sedangkan lima ahli waris dari kelompok wanita adalah: 44 .

dan seterusnya (semuanya laki-laki). kecuali bila ada saudara laki-laki seayah. Disebut demikian karena tanpa cucu lakilaki. Saudara kandung perempuan akan terhalangi oleh adanya ayah. cucu. yang sebelumnya tidak mendapat fardh. cucu perempuan tidak akan mendapat warisan. apabila saudara kandung perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). juga terhalang oleh adanya ayah dan keturunan (anak. maka cucu laki-laki dapat menyeret cucu perempuan itu sebagai 'ashabah. Pertama: Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. Kecuali bila ia mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki keturunan anak lakilaki) yang sederajat ataupun yang lebih rendah dari derajat cucu perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: suami seperempat (1/4) bagian. juga akan terhalangi oleh adanya dua orang anak perempuan atau lebih. 3. 4. Selain itu. Saudara Laki-laki yang Merugikan Kalau sebelumnya saya jelaskan tentang saudara laki-laki yang membawa berkah. Saudara perempuan seayah akan terhalangi dengan adanya saudara kandung perempuan jika ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. Disebut saudara laki-laki yang merugikan karena keberadaannya menyebabkan ahli waris dari kalangan wanita tidak mendapatkan warisan.1. ibu seperenam (1/6) bagian. khusus kalangan laki-laki) serta terhalang oleh adanya dua orang saudara kandung perempuan bila keduanya menyempurnakan bagian dua per tiga (2/3). anak perempuan setengah. dan cucu perempuan dari anak laki-laki. dan seterusnya) juga oleh adanya cabang (anak. kecuali jika ada 'ashabah. cicit. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3) karena merupakan bagian wanita. 45 . gugurlah hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. dan seterusnya. Saudara perempuan seibu akan terhalangi oleh adanya sosok laki-laki (ayah. ibu. 5. Cucu perempuan (keturunan anak laki-laki) akan terhalang oleh adanya anak laki-laki. dan seterusnya) baik laki-laki ataupun perempuan. apabila saudara laki-laki itu tidak ada. anak. Agar lebih jelas saya berikan beberapa contoh kasus. kakek. gugurlah hak waris para saudara perempuan seayah. Keadaan seperti ini dalam faraid disebut sebagai kerabat yang berkah atau saudara laki-laki yang berkah. Keadaan seperti ini dinamakan sebagai saudara yang berkah. Padahal. yakni saudara laki-laki yang merugikan. Nenek (baik ibu dari ibu ataupun dari bapak) akan terhalangi dengan adanya sang ibu. ayah juga seperenam (1/6) bagian. Kemudian. Selain itu. cucu. ahli waris wanita itu akan mendapatkan waris. cicit. Sebab saudara laki-laki seayah itu akan menggandengnya menjadi 'ashabah. sebab tanpa keberadaannya para saudara kandung perempuan itu tidak akan menerima hak waris mereka. baik cucu itu hanya seorang ataupun lebih. kecuali bila adanya 'ashabah. cucu. cicit. maka kini saya akan menjelaskan kebalikannya. 2. bapak. Saudara Laki-laki yang Berkah Apabila anak perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). anak perempuan.

Contoh pertama tidak merugikan karena memang tidak ada cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Sementara itu. misalnya posisi cucu perempuan keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara perempuan seayah dan posisi cucu laki-laki keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara laki-laki seayah. ibu seperenam (1/6) bagian. yakni adanya cucu laki-laki keturunan dari anak laki-laki. Tentang Kasus Kolektif Menurut kaidah yang biasa dikenal dan dipakai ulama faraid. Kedua: Untuk lebih memperjelas. ibu. anak perempuan. sehingga cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3). bila mempunyai saudara laki-laki seayah. Oleh sebab itu. Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. serta cucu laki-laki dan perempuan dari keturunan anak laki-laki. masalah ini merupakan kasus kolektif. Maka. serta para imam mujtahidin --dalam contoh kasus seperti ini-. dan dua orang saudara seibu mendapat bagian sepertiga (1/3). saudara kandung laki-laki sebenamya memiliki kekerabatan lebih kuat dibandingkan saudara laki-laki seibu. sedangkan anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian karena tidak ada pen-ta'shih. sesuatu yang keluar dan menyimpang dari kaidah aslinya. hingga mereka mendapat sepertiga (1/3) bagian dan dibagikan secara rata di 46 . Para ulama menyandarkan kaidah ini pada hadits Rasulullah saw. ayah seperenam (1/6) bagian. dua saudara laki-laki seibu (atau lebih dari dua orang). seorang wanita wafat dan meninggalkan seorang suami. Karena. pembagian harta waris dimulai dengan ashhabul furudh. ayah. Ilustrasi seperti itu dapat kita ubah susunan ahli warisnya. (artinya): "Berikanlah hak waris kepada ashhabul furudh. kemudian baru kepada para 'ashabah. selain sebagai masalah yang menyimpang dari kaidah aslinya. Pembagiannya adalah seperti berikut: suami mendapat setengah (1/2) bagian dikarenakan pewaris tidak mempunyai anak secara fardh. tabi'in. Masalah ini dikenal juga dengan istilah "kasus musytarakah" (kasus kolektif). dan sisanya diberikan kepada kerabat laki-laki yang lebih dekat.karena ia mempunyai saudara laki-laki yang sederajat. Sedangkan saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan bagian karena ia sebagai 'ashabah --sedangkan harta waris yang dibagikan telah habis. sedangkan cucu laki-laki dan perempuan tidak mendapat bagian. C. dalam contoh berikut saya sertakan saudara laki-laki yang merugikan. maka gugurlah hak cucu perempuan tersebut. keberadaan saudara laki-laki dari cucu perempuan keturunan anak laki-laki itu merugikannya. juga karena para sahabat. ibu. Contoh permasalahannya sebagai berikut. di sisi lain masalah ini telah memancing perbedaan pendapat sejak masa para sahabat. cucu perempuan dirugikan --tidak mendapat waris-. tetapi pada kasus ini justru terjadi sebaliknya. dalam masalah ini ternyata terjadi sesuatu yang kontradiktif. saudara perempuan seayah akan mendapat waris bila tidak mempunyai saudara laki-laki seayah yang masih hidup. ibu mendapat seperenam (1/6) bagian disebabkan pewaris mempunyai dua orang saudara lakilaki atau lebih. Namun. Berdasarkan kaidah yang berlaku. dan dua orang saudara kandung laki-laki (atau lebih dari dua orang).menyatakan bahwa saudara kandung laki-laki disamakan dengan saudara laki-laki yang seibu." Namun demikian. Sedangkan dalam contoh kedua. Maka pembagiannya seperti berikut: suami memperoleh seperempat (1/4) bagian karena istri mempunyai anak (keturunan). Inilah rahasia mengapa ulama faraid mengistilahkannya sebagai "saudara laki-laki yang merugikan". Itulah contoh tentang saudara laki-laki yang merugikan. maka saudara perempuan seayah tidak mendapat bagian apa-apa.Seandainya dalam kasus ini terdapat cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. dan imam mujtahidin. tabi'in.

Umar baru pertama kali menjumpai kasus seperti ini dan memvonis: saudara kandung tidak mendapat bagian hak waris sedikit pun. Contohnya adalah sebagai berikut: Asal masalah dari enam 6 naik menjadi 18 Keterangan Suami 1/2 harta waris yang ada secara fardh Ibu 1/6 harta waris yang ada secara fardh Saudara seibu 1/3 secara fardh dan dibagi merata dengan saudara kandung Saudara kandung dapat hak waris. Ketika ia hendak memvonis seperti tahun lalu. Utsman. dan lainnya. karena dianggap seperti saudara seibu dengan mendapat bagian sepertiga (1/3) dibagi adil Jumlah Bagian 3 1 2 Nilai 9 3 4 2 Persyaratan Masalah Kolektif 1. 2. dan Yammiyah. Diriwayatkan bahwa masalah musytarakah ini pernah diajukan ke hadapan Umar bin Khathab r. dan lainnya.a. Ibnu Abbas. Pendapat pertama dianut dan diikuti oleh mazhab Hanafi dan Hambali. 47 . Saudara yang ada benar-benar saudara kandung. masalah ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan "umariyah". Pendapat ini dilakukan oleh Zaid bin Tsabit. sedangkan pendapat yang kedua diikuti dan dianut oleh mazhab Maliki dan Syafi'i. Maka ia memvonis dengan memberi hak kepada mereka (saudara seibu dan saudara sekandung) secara bersamaan dan dibagi sama rata.antara mereka (termasuk saudara kandung laki-laki). maka akan mewarisi secara fardh. Hajariyah. Kemudian pada tahun berikutnya. sejak masa para sahabat. baik laki-laki atau perempuan. sungguh mustahil bila ayah kami dianggap keledai atau batu yang terbuang di sungai. Perbedaan Pendapat Para Fuqaha Dalam masalah musytarakah (kolektif) ini ada dua kubu pendapat yang masyhur dalam hal membagi hak waris sebagaimana contoh kasus tersebut. Saudara kandung itu harus saudara laki-laki. tabi'in. masalah ini juga menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama. proteslah salah seorang ahli warisnya: "Wahai Amirul Mukminin. Ibnu Mas'ud. Jumlah saudara seibu dua orang atau lebih. Sebab bila perempuan. Di samping itu. serta kekolektifan ini akan batal. Pendapat ini pernah dilakukan oleh Abu Bakar. 3. dan imam mujtahidin. Dan dalam hal ini tidak berbeda apakah hanya satu orang atau banyak. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa hak waris pada saudara kandung dikolektifkan dengan hak waris para saudara laki-laki seibu.. Pendapat pertama menyatakan bahwa hak waris saudara kandung digugurkan sebagaimana mengikuti kaidah yang ada. sebab bila saudara seayah maka gugurlah haknya secara ijma'. Bukankah kami ini anak dari seorang ibu?" Umar menyimak perkataan orang itu dan berpikir bahwa apa yang diucapkannya benar dan tepat. masalah ini diajukan kembali kepadanya. karena Umar bin Khathab pernah memvonis masalah ini --juga pernah dikenal dengan sebutan Himariyah. Selain itu. dan masalahnya pun akan naik. Ali.

Beberapa Kaidah Penting Hak waris banul a'yan (saudara kandung laki-laki/perempuan)." 48 . Hal ini berdasarkan firman Allah (artinya) "mereka bersekutu dalam yang sepertiga. cucu perempuan keturunan anak laki-laki pewaris. serta banul akhyaf (saudara laki-laki/perempuan seibu) akan gugur (terhalangi) oleh adanya anak laki-laki pewaris. Masih menurut mazhab Hanafi. Menurut mazhab Abu Hanifah hak mereka juga digugurkan oleh adanya kakek pewaris. Hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama. dan ayah. cucu laki-laki (keturunan anak laki-laki). dan banul 'allat (saudara laki-laki/perempuan seayah). dan seterusnya. Sedangkan menurut ketiga imam mazhab yang lain tidaklah demikian. Kaidah yang lain ialah bahwa banul akhyaf mendapatkan hak waris secara merata pembagiannya antara yang lakilaki dengan yang perempuan. hak waris banul akhyaf digugurkan dengan adanya anak perempuan pewaris.

bahkan mereka cenderung sangat takut untuk memberi fatwa yang berkenaan dengan masalah ini. Ijtihad dan pendapat tersebut dijaga serta dibukukan secara lengkap dan detail beserta dalildalilnya. Ibnu Mas'ud r. dalam hal ini pernah mengatakan: "Bertanyalah kalian kepada kami tentang masalah yang sangat pelik sekalipun. Hal ini didasarkan sesuai dengan kaidah yang ada di dalam faraid: "bilamana unsur wanita masuk ke dalam nasab laki-laki." Pernyataan serupa juga ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib: "Barangsiapa yang ingin diceburkan ke dalam neraka Jahanam. atau hukum tentang hak kepemilikan." Ketakutan dan kehati-hatian para sahabat dalam memvonis masalah hak waris kakek dan saudara itu tentu sangat beralasan. Perlu saya tekankan bahwa masalah waris sangatlah berbahaya dan sensitif. masalah yang sangat dikhawatirkan itu hilang setelah munculnya ijtihad para salaf ash-shalih dan para imam mujtahidin.a. Namun bila tidak termasuki unsur wanita. Akan tetapi di sisi lain. sama seperti perbedaan yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. Sedangkan kakek yang berasal garis wanita disebut sebagai kakek yang rusak nasabnya. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara Baik Al-Qur'an maupun hadits Nabawi tidak menjelaskan tentang hukum waris bagi kakek yang sahih dengan saudara kandung ataupun saudara seayah. Pengertian Kakek yang Sahih Makna kakek yang sahih ialah kakek yang nasabnya terhadap pewaris tidak tercampuri jenis wanita." B. atau ayah dari ibunya ayah. maka hendaklah ia memvonis masalah waris antara kakek yang sahih dengan para saudara. karena jika salah berarti mereka akan merugikan orang yang sebenarnya mempunyai hak untuk menerima warisan..VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA A. Terlebih lagi dalam masalah yang berkenaan dengan materi. dan memberikan hak waris kepada orang yang sebenamya tidak berhak. Karena itu Allah SWT tidak membiarkan begitu saja hukum yang berkenaan dengan masalah hak kepemilikan materi ini. mayoritas sahabat sangat berhati-hati dalam memvonis masalah ini. 49 . Perbedaan tersebut dapat digolongkan ke dalam dua mazhab. misalnya ayahnya ibu. maka kakek menjadi rusak nasabnya. karena tidak ada nash Al-Qur'an atau hadits Nabi yang menjelaskannya. itulah kakek yang sahih. masalah ini memerlukan ijtihad. khususnya para ahli waris. Namun demikian. mereka merasa sangat takut kalau-kalau berlaku zalim dan aniaya. misalnya ayah dari bapak dan seterusnya. ijtihad ini sangat mengkhawatirkan mereka. menurut mereka. Dia menjelaskannya di dalam Al-Qur'an dengan detail agar tidak terjadi kezaliman dan perbuatan aniaya di kalangan umat manusia. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek Para imam mazhab berbeda pendapat mengenai hak waris kakak bila bersamaan dengan saudara. C. Dengan demikian. Oleh karena itu. Hal ini akan memudahkan setiap orang yang ingin mengetahuinya sambil bersandar kepada ijtihad yang dianggapnya lebih rajih (kuat dan tepat) serta dapat dijadikannya sandaran dalam berfatwa. namun janganlah kalian tanyakan kepadaku tentang masalah warisan kakak yang sahih dengan saudara.

50 . Ali bin Abi Thalib.terhadap harta jauh lebih besar ketimbang para kakek. yakni Zaid bin Tsabit. jika 'ashabah itu ada anak dan ayah. Alasan yang dikemukakan golongan kedua ini ialah bahwa derajat kekerabatan saudara dan kakek dengan pewaris sama. karena itu tidaklah layak untuk mengutamakan yang satu dari yang lain karena mereka sama derajatnya. saudara seayah. sama seperti gugurnya hak waris oleh saudara bila ada ayah. maka yang didahulukan adalah arah anak. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur sahabat dan tabi'in. Karena itu hak waris para saudara akan terhalangi karena adanya arah kakek. dan Ahli Madinah ridhwanullah 'alaihim. Yakni. sebelum arah yang lebih dahulu hilang atau habis. dan barulah arah paman. dan Imam Ahmad bin Hambal. ataupun seibu-. tidak ada ahli waris lain dari ashhabul furudh. karena kakek merupakan bapak yang paling 'tinggi'. Dengan demikian para paman menjadi ahli waris. Bila 'ashabah itu ada arah saudara dan arah paman maka yang didahulukan adalah arah saudara. Misalnya. maka ia mempunyai dua keadaan. demikian juga saudara. Mereka beralasan bahwa kakek akan mengganti kedudukan ayah bila telah tiada.lebih didahulukan daripada arah saudara. D.maka saya perlu mengatakan bahwa sesungguhnya jika kakak mewarisi bersamaan dengan saudara. Mazhab ini merupakan pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq. kemudian arah ayah. dan diikuti oleh kedua orang murid Abu Hanifah. Ibnu Abbas. seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. Kedekatan kakek terhadap pewaris melewati ayah. Kakek merupakan pokok dari ayah. Kakek tidaklah menggugurkan hak waris para saudara kandung dan yang seayah. atau anak perempuan. kemudian barulah arah paman. Lebih lanjut golongan yang pertama ini menyatakan bahwa arah ayah --mencakup kakek dan seterusnya-. kemudian saudara. Alasan lain yang dikemakakan mazhab ini ialah bahwa kebutuhan para saudara --yang jelas lebih muda daripada kakek&emdash. asy-Syi'bi. Sebagai gambaran. yaitu Muhammad dan Abu Yusuf. Bila kita mengutamakan yang satu dan mencegah yang lain berarti telah melakukan kezaliman tanpa alasan yang dapat diterima. Hal ini sama dengan memberikan hak waris kepada para saudara kandung kemudian di antara mereka ada yang tidak diberi. sama seperti halnya ayah. dan sebagainya. Ibnu Mas'ud. Sekali-kali arah itu tidak akan berubah atau berpindah kepada arah yang lain.Tentang Mazhab Jumhur Untuk lebih menjelaskan pendapat yang rajih --yakni pendapat jumhur ulama-. tidak mendapat warisan dari saudaranya yang meninggal. sedangkan para saudara tadi hanya kebagian tangis. dan masingmasing memiliki hukum tersendiri. bila ternyata 'ashabah banyak arahnya. kemudian ia wafat. Pendapat ini dianut oleh ketiga imam. Pendapat ini diikuti oleh mazhab Hanafi. seperti istri atau ibu.Mazhab pertama: mereka menyatakan bahwa para saudara --baik saudara kandung. Keadaan pertama: kakek mewarisi hanya bersamaan dengan para saudara. misalnya saja warisan pewaris ini dibagikan atau diberikan kepada para kakek. maka yang lebih didahulukan adalah arah anak (keturunan). Imam Syafi'i. dan Ibnu Umar. yaitu Imam Malik. maka harta peninggalannya akan berpindah kepada anak-anaknya yang berarti paman para saudara.terhalangi (gugur) hak warisnya dengan adanya kakek. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kaidah yang masyhur di kalangan fuqaha. sedangkan saudara adalah cabang dari ayah. Mazhab kedua: berpendapat bahwa para saudara kandung laki-laki/perempuan dan saudara laki-laki seayah berhak mendapat hak waris ketika bersamaan dengan kakek.

4. dan bila mendapatkan 1/3 harta warisan lebih baik maka itulah yang menjadi haknya. Hukum Keadaan Pertama Bila seseorang wafat dan meninggalkan kakek serta saudara-saudara tanpa ashhabul furudh yang lain. Adapun penjelasannya seperti berikut: Pada keadaan pertama kakak mendapat dua per tiga (2/3). Pertama dengan cara pembagian. itulah yang menjadi bagiannya. dan anak perempuan. Pada keadaan ketiga kakek mendapat dua per lima (2/5). ia mendapatkan bagian yang sama dengan bagian saudara kandung laki-laki. Bila cara pembagian tersebut kemungkinan merugikan kakek. maka ia menempati posisi yang sama seperti saudara kandung laki-laki. maka bagi kakek dipilihkan perkara yang afdhal baginya --agar lebih banyak memperoleh harta warisan-.Keadaan kedua: kakak mewarisi bersama para saudara dan ashhabul furudh yang lain. Apabila kakek berhadapan dengan saudara perempuan kandung. Mana di antara kedua cara tersebut yang lebih baik bagi kakek. Kakek dengan saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan. Bila pembagian lebih baik baginya maka hendaklah dengan cara pembagian. Kakek dengan dua orang saudara kandung perempuan. seperti ibu. Makna Pembagian Makna pembagian menurut ulama faraid adalah kakek dikategorikan seperti saudara kandung. 3. Kakek dengan saudara kandung laki-laki. Pada keadaan keempat kakek mendapat setengah (1/2). Kakek dengan tiga orang saudara kandung perempuan. 2.dari dua pilihan yang ada. 5. 51 . maka diberikan dengan memilih cara mendapat sepertiga (1/3) harta waris yang ada. Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek Ada lima keadaan yang lebih menguntungkan kakek bila menggunakan cara pembagian. Berarti kakek mendapatkan bagian dua kali lipat bagian para saudara perempuan sekandung. Kakek dengan saudara kandung perempuan. istri. Pada keadaan kedua kakek mendapat setengah (1/2). Kelima keadaan tersebut sebagai berikut: 1. dan kedua dengan cara mendapatkan sepertiga (1/3) harta warisan.

Kelima keadaan itu lebih menguntungkan kakek jika menggunakan cara pembagian. dan sisanya dibagikan kepada para saudara. Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek Selain dari delapan keadaan yang saya kemukakan itu. Ketiga keadaan itu sebagai berikut: 1.Pada keadaan kelima kakek mendapat dua per lima (2/5). atau seorang kakek dan lima saudara kandung perempuan atau lebih. Ketetapan ini telah menjadi kesepakatan bulat imam mujtahid. maka hendaknya dibagi dengan cara itu. 52 . Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang Ada tiga keadaan yang menyebabkan kakek mendapatkan bagian yang sama baik secara pembagian ataupun dengan mengambil sepertiga harta waris yang ada. yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian wanita. 3. Dan jika sepertiga (1/3) sisa harta waris yang ada malah lebih menguntungkannya.bagian sang kakek lebih menguntungkannya. dan para saudara kandung digugurkan atau dikurangi haknya. Dan hal ini pun dengan syarat bagiannya tidak kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. maka itulah bagian kakek. maka kakek akan dirugikan karena akan menerima kurang dari sepertiga harta warisan. Yang pasti. Sebab bagian tersebut adalah bagiannya yang telah ditentukan syariat. Yaitu. Misalnya. dengan pembagian. menerima sepertiga (1/3). Dalam hal ini kakek mendapat sepertiga (1/3). Hukum Keadaan Kedua Bila kebersamaan antara kakek dengan para saudara dibarengi pula dengan adanya ashhabul furudh yang lain --yakni ahli waris lainnya-. Kalau jumlah harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh tidak tersisa kecuali seperenam atau bahkan kurang. 2. maka pemberian sepertiga (1/3) kepada sang kakek lebih menguntungkannya. Catatan Hukum tentang hak waris saudara laki-laki dan perempuan seayah ketika bersama dengan kakek --tanpa saudara kandung laki-laki atau perempuan-.maka hukumnya sama dengan hukum yang saya jelaskan di atas. Kakek dengan empat orang saudara kandung perempuan. atau menerima seperenam (1/6) dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris. Kakek dengan seorang saudara kandung laki-laki dan dua orang saudara kandung perempuan.maka bagi kakek dapat memilih salah satu dari tiga pilihan yang paling menguntungkannya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang kakek dan tiga orang saudara. bagian kakek tidaklah boleh kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. maka tetaplah kakek diberi bagian seperenam (1/6) secara fardh. Kalau saja dalam keadaan seperti itu kita gunakan cara pembagian. Kakek dengan dua orang saudara kandung laki-laki. Adapun bila cara pembagian --setelah para ashhabul furudh mengambil bagiannya-.

kakek. Meskipun setelah kakek mendapatkan bagian. Dalam contoh kedua ini bagian kakek lebih menguntungkan.sebab jika saudara kandung dan seayah bersama-sama. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. dan sepuluh saudara kandung perempuan. seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Hal ini telah disepakati ulama mujtahid. Contoh kelima: seseorang wafat dan meninggalkan dua orang istri. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan. mereka dianggap satu jenis. kakak. kakek seperenam (1/6). Maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat seperempat (1/4). Sedangkan sepuluh saudara kandung perempuan tidak mendapatkan apa-apa sebab ashhabul furudh telah menghabiskan bagian yang ada. Pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan dengan cara pembagian. tetapi sekaligus bersama dengan saudara seayah. Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan lima anak perempuan. dan saudara kandung laki-laki. ia mendapatkan sepertiga dari sisa harta setelah diambil hak sang ibu. ibu. ulama faraid menyatakan bahwa para saudara seayah dikategorikan sama dengan saudara kandung. kakek. dan sang kakek juga seperenam. keberadaan saudara seayah dalam keadaan seperti ini dikategorikan sebagai merugikan kakek. nenek. Berarti kakek mendapat sepertiga (1/3) dari lima per enam (5/6). Apabila pemberian dilakukan secara pembagian. seorang anak perempuan. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. dan sisanya dibagikan kepada saudara laki-laki dan perempuan. dan kakek mendapat seperenam (1/6). suami. yakni kakak seperempat dan saudara kandung laki-laki juga seperempat. anak perempuan setengah (1/2).Contoh Keadaan Kedua Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan suami. dan tiga saudara kandung perempuan. Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek Persoalan yang saya jelaskan sebelumnya berkisar mengenai bagian kakek bila hanya bersamaan dengan saudara kandung. kakek. ibu mendapatkan seperenam (1/6). dan sisanya dibagi dua. kakek mendapat sepertiga (1/3) dari sisa harta yang ada. Sebab dengan pembagian ia mendapatkan bagian lebih dari seperenam (1/6). Untuk keadaan seperti ini. dan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). dan empat saudara kandung laki-laki. nenek seperenam (1/6). 53 . dua saudara kandung laki-laki dan dua saudara kandung perempuan. maka saudara seayah mahjub. sedangkan empat saudara laki-laki tidak mendapatkan apa-apa. lima anak perempuan mendapat dua per tiga (2/3). seluruh sisa harta waris yang ada hanya menjadi hak para saudara kandung -. kakek. haknya menjadi gugur. Pembagiannya sebagai berikut: bagi anak perempuan setengah (1/2). Maka pembagiannya sebagai berikut: untuk kedua orang istri seperdelapan (1/8). Maka pembagiannya seperti berikut: suami faradh-nya setengah (1/2) karena pewaris tidak mempunyai anak. dengan ketentuan bagi laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. dan sisanya dibagikan kepada para saudara kandung perempuan sesuai jumlah orangnya secara rata. E. Pada bagian ini akan dijelaskan bagian kakek jika ia tidak hanya bersama dengan saudara kandung.

sedangkan sisanya diberikan kepada para saudara laki-laki dan perempuan seayah --dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. setelah diambil hak saudara kandung perempuan (1/2) dan hak kakek (1/3). Karena sebagaimana telah saya kemukakan bahwa keberadaan para saudara laki-laki/perempuan seayah sebagai perugi. kakek memperoleh dua per enam (2/6) bagian. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung perempuan. saya langsung memberikan hak kakek sepertiga (1/3). Maka pembagiannya sebagai berikut: kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. Dalam contoh pertama. yaitu sepertiga (1/3).Akan tetapi. sedangkan saudara laki-laki seayah mahjub (terhalangi) karena adanya saudara kandung laki-laki. dan dua orang saudara perempuan seayah.keberadaan saudara laki-laki/perempuan seayah merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. dan keberadaannya hanya merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. seorang saudara laki-laki seayah. Dalam hal ini saudara perempuan seayah gugur sebab ada saudara kandung. Catatan Pada contoh ketiga --seperti telah diutarakan-. tentu hal ini akan merugikannya karena ia akan menerima bagian kurang dari sepertiga (1/3) harta waris yang ada. Kebetulan dalam kasus ini kedua cara pemberian waris bagi kakek menghasilkan bagian yang sama. mendapat sepertiga harta waris atau dengan cara pembagian". kakek. seorang saudara kandung laki-laki. tanpa menggunakan cara pembagian. Sisanya barulah untuk mereka. karena itu bagian kakek sepertiga (1/3). sebab saudara perempuan seayah gugur haknya oleh adanya saudara laki-laki kandung. maka para saudara laki-laki seayah akan mendapatkan bagian sisa harta yang ada. Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan kakek. Agar persoalan ini tidak terlalu kabur dan membingungkan saya sertakan beberapa contoh kasus. saya berikan haknya dengan cara yang paling menguntungkannya. Kalaulah pemberian kepada kakak dalam contoh ini menggunakan cara pembagian. dalam masalah ini kita berikan nasib (bagian) saudara perempuan seayah sebanyak dua per enam (2/6). dan itu menjadi bagian saudara laki-laki kandung. Oleh sebab itu. kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. yakni saudara kandung laki-laki. sedangkan saudara laki-laki seayah terhalangi oleh adanya ahli waris yang lebih kuat dan dekat. Jumlah sepertiga (1/3) bagi kakek dalam contoh kasus ini sesuai dengan kaidah yang ada: "hendaklah kakek diberi dengan salah satu dari dua cara yang paling menguntungkannya. Bila kita lihat secara seksama akan tampak oleh kita 54 . dan seorang saudara perempuan seayah. Maka pembagiannya seperti berikut: saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. saudara laki-laki dikategorikan sebagai ahli waris. dan saudara kandung laki-laki memperoleh dua per tiga (2/3) bagian. Pada contoh kedua ini. Setelah itu saya berikan hak waris saudara kandung perempuan setengah secara fardh. hak saudara kandung laki-laki dua per tiga (2/3). jika saudara seayah mewarisi bersama kakek dan seorang saudara kandung perempuan. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. karena ia lebih kuat dan lebih dekat kekerabatannya terhadap pewaris dibandingkan para saudara laki-laki/perempuan seayah. Kemudian. yaitu sepertiga. yakni merugikan kakek pada cara pembagian. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. kakek. dan sisanya diberikan kepada saudara kandung laki-laki.

Tabelnya sebagai berikut: Masalahnya 12 dan naik menjadi 36 Keterangan Bagian ibu 1/6 Bagian kakek 1/3 (sisa setelah diambil ibu) Bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) Bagian dua orang saudara laki-laki seayah (sisanya) Catatan Apabila pewaris hanya meninggalkan kerabat seperti kakek dan saudara-saudara laki-laki/perempuan seibu saja. Masalahnya 12 Keterangan Bagian ibu 1/6 secara fardh Bagian kakek 2/6 secara pembagian dengan saudara kandung laki-laki Bagian saudara kandung (sisanya) Bagian saudara perempuan seayah mahjub Nilai 2 4 6 0 Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. 55 . saudara kandung perempuan. Barangkali untuk lebih memperjelas masalah ini perlu pula saya sertakan tabelnya. dan dua orang saudara seayah. hal lain yang telah menjadi ijma' seluruh fuqaha ialah bahwa hak waris dari keturunan para saudara kandung ataupun seayah menjadi gugur karena adanya kakek. Di samping itu. dan seterusnya). bukan dengan cara menerima sepertiga (1/3) sisa harta waris setelah diambil ashhabul furudh -. maka seluruh warisan merupakan bagian kakek. cucu.bahwa yang lebih menguntungkan kakek dalam hal ini adalah cara pembagian. kakek sepertiga (1/3). kakek dapat menggugurkan hak waris saudara seibu. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu memperoleh seperenam (1/6) bagian. Misalnya. bila seseorang meninggal dan hanya meninggalkan kakek serta anak saudaranya. Dan hak waris saudara seibu hanyalah bila pewaris sebagai kalalah. seperti yang telah disepakati seluruh imam mujtahid. Masalah al-Akdariyah Istilah al-akdariyah muncul karena masalah ini berkaitan dengan salah seorang wanita dari bani Akdar.dalam contoh ini adalah ibu. kakek. sedangkan bagian dua orang saudara seayah sisanya. maka seluruh warisannya menjadi hak kakek. Nilai 6 10 18 2 F. Sebab. dan saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2). yakni tidak mempunyai pokok (ayah dan seterusnya) dan tidak pula mempunyai cabang (anak. cicit.

dan seorang saudara kandung perempuan. Akan tetapi. Permasalahannya seperti berikut: bila seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. Masalahnya adalah dari enam (6) Keterangan Suami mendapat setengah (1/2) secara fardh Ibu mendapat sepertiga (1/3) secara fardh Kakek mendapat seperenam (1/6) sisanya/fardh-nya Saudara kandung perempuan mahjub Adapun tabel setelah ditashih menurut al-akdariyah seperti berikut: Masalahnya naik dari enam (6) menjadi dua puluh tujuh (27) Keterangan Bagian suami menjadi Bagian ibu menjadi Bagian kakek menjadi Bagian saudara kandung perempuan menjadi Nilai 9 6 8 4 Nilai 3 2 1 0 56 . ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. dari mulai yang sesuai dengan kaidah aslinya hingga setelah ditashih. dan sisanya hanya seperenam (1/6) yang tidak lain sebagai bagian kakek yang tidak mungkin digugurkan --karena merupakan haknya secara fardh. kakek delapan (8) bagian. Kemudian ia menyatukan hak saudara kandung perempuan dengan saham kakak. suami mendapat setengah (1/2). sudah semestinya bagian saudara kandung perempuan digugurkan karena tidak ada sisa harta waris.). kakek. dan menaikkan masalahnya dari enam (6) menjadi sembilan (9). Apabila berpegang pada kaidah yang telah disepakati seluruh fuqaha --termasuk di dalamnya Zaid bin Tsabit sendirimaka pembagiannya adalah dengan menggugurkan hak saudara kandung perempuan.disebabkan masalah ini cukup mengotori mazhab Zaid bin Tsabit (sosok sahabat yang sangat dipuji Rasulullah akan kemahirannya dalam faraid. Berikut ini saya sertakan tabelnya. ibu. dan pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan (9) bagian. penj. memvonis dengan menyalahi kaidah yang ada. dan membaginya menjadi bagian laki-laki dua kali lipat bagian wanita. dalam kasus ini Zaid bin Tsabit r. Oleh sebab itu. Dia pernah menghadapi masalah waris dan memvonisnya dengan melakukan sesuatu yang bertentangan (menyimpang) dari kaidah-kaidah faraid yang masyhur. Sebab.Sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa penyebutan masalah ini dengan istilah al-akdariyah --yang artinya 'kotor' atau 'mengotori'-. Dalam hal ini Imam Malik dan Imam Syafi'i mengikuti apa yang pernah dilakukan Zaid bin Tsabit. dan saudara kandung perempuan empat (4) bagian. Setelah ditashih. bagian. masalahnya menjadi dua puluh tujuh (27). Dia memberi saudara kandung setengah (1/2) bagian.a. sehingga menjadikannya sebagai keputusan ijtihad dalam fiqih kedua imam tersebut. ibu enam (6) bagian.

maka berarti telah keluar dari hukum tersebut. 57 . Bila ada salah satu yang diubah.Catatan Dalam masalah al-akdariyah ini sosok ahli waris mutlak tidak dapat diubah. Wallahu a'lam.

dan siapa yang diakhirkan. Dia berkata: "Sungguh aku tidak mengerti. pastilah saudara kandung perempuan pewaris akan dirugikan karena berkurang bagiannya. Misalnya bagian seorang suami yang semestinya mendapat setengah (1/2) dapat berubah menjadi sepertiga (1/3) dalam keadaan tertentu." Secara lebih lengkap. MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A. riwayatnya dituturkan seperti berikut: seorang wanita wafat dan meninggalkan suami dan dua orang saudara kandung perempuan. Sebab bila aku berikan hak suami. kasus 'aul atau penambahan --sebagai salah satu persoalan dalam hal pembagian waris-. bagian mereka dapat berkurang manakala pokok masalahnya naik atau bertambah. siapakah di antara kalian yang harus didahulukan. Namun demikian. Ibnu Abbas berkata: "Orang yang pertama kali menambahkan pokok masalah (yakni 'aul) adalah Umar bin Khathab. sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). Di antara mereka ada Zaid bin Tsabit dan menganjurkan kepada Umar agar menggunakan 'aul. Maka dalam hal ini seorang suami yang semestinya mendapat bagian 3/6 (setengah) hanya memperoleh 3/9 (sepertiga). B..tidak pernah terjadi. bila aku berikan terlebih dahulu hak kedua saudara kandung perempuan pewaris maka akan berkuranglah nashib (bagian) suami. Yang masyhur dalam ilmu faraid." (an-Nisa': 3) Al-'aul juga bermakna 'naik' atau 'meluap'. Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta yang dibagikan habis. seperti yang difirmankan-Nya: ".meski bagian mereka menjadi berkurang. Begitu juga sebaliknya... suami tersebut tetap menuntut haknya untuk menerima setengah dari harta waris yang ditinggalkan istri.. seperti bila pokok masalahnya dinaikkan dari semula enam (6) menjadi sembilan (9). Dan hal itu ia lakukan ketika fardh yang harus diberikan kepada ahli waris bertambah banyak. begitupun dua orang saudara kandung perempuan. padahal di antara mereka ada yang belum menerima bagian." Umar kemudian mengajukan persoalan ini kepada para sahabat Rasulullah saw. Definisi al-'Aul Al-'aul dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti. bagian yang mesti diterima suami adalah setengah (1/2). mereka tetap menuntut dua per tiga yang menjadi hak waris keduanya.VII. Masalah 'aul pertama kali muncul pada masa khalifah Umar bin Khathab r. sampai masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r. di antaranya bermakna azh-zhulm (aniaya) dan tidak adil. Sedangkan definisi al-'aul menurut istilah fuqaha yaitu bertambahnya jumlah bagian fardh dan berkurangnya nashib (bagian) para ahli waris. seperti tampak dalam kalimat ini: 'alaa al-miizaan yang berarti 'berat timbangannya'. Al-'aul bisa juga berarti 'bertambah'. Menghadapi kenyataan demikian Umar kebingungan. Dikatakan 'alaa al-ma'u idzaa irtafa'a yang artinya 'air yang naik meluap'.a. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Begitu pula halnya dengan ashhabul furudh yang lain. Dalam keadaan seperti ini kita harus menaikkan atau menambah pokok masalahnya sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul furudh yang ada -. Dengan demikian.a. Latar Belakang Terjadinya 'Aul Pada masa Rasulullah saw. Umar menerima anjuran Zaid dan berkata: 58 . berarti fardh-nya telah melebihi peninggalan pewaris.

Lebih dari itu tidak bisa. Namun. seseorang wafat dan meninggalkan ayah dan ibu. pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan ke tiga belas (13). yakni dapat naik menjadi tujuh. dan sisanya menjadi bagian ayah. empat (4). Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya. Lebih dari angka itu tidak bisa. anak perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari empat (4). delapan. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua (2). bagian istri seperempat (1/4) berarti satu (1) bagian. Kemudian pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan hingga tujuh belas (17). sebab pokok masalahnya cocok atau tepat dengan bagian para ashhabul furudh. Sebagai misal. jadi ibu mendapat satu bagian. dua belas (12). Sedangkan pokok masalah yang tidak dapat di-'aul-kan ada empat. ketiga pokok masalah itu masing-masing berbeda dan mempunyai sifat tersendiri. Maka angka dua belas (12) hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. dan dua puluh empat (24). dan delapan (8). Contoh kasus yang lain. atau tujuh belas (17). dan saudara kandung perempuan. sembilan." Para sahabat menyepakati langkah tersebut. dan menjadilah hukum tentang 'aul (penambahan) fardh ini sebagai keputusan yang disepakati seluruh sahabat Nabi saw. Dalam contoh ini pokok masalahnya tiga (3). dan saudara kandung perempuan. lima belas (15). seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Sebagai contoh pokok yang dapat di-'aul-kan: seseorang wafat dan meninggalkan suami serta seorang saudara kandung perempuan. dua belas (12). 59 . namun hanya untuk angka ganjilnya. atau sepuluh. dan dua puluh empat (24). saudara kandung laki-laki. Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. sedangkan sisanya (yakni 3/4) dibagi dua antara saudara kandung laki-laki dengan saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari delapan (8)."Tambahkanlah hak para ashhabul furudh akan fardh-nya. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pokok masalah dalam contoh-contoh yang saya kemukakan semuanya tidak dapat di-'aulkan. Tiga di antaranya dapat di-'aul-kan. Pembagiannya: ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. sedangkan saudara kandung perempuan menerima sisanya. Lebih jelasnya. anak setengah (1/2) berarti empat bagian. dan bagian saudara kandung perempuan setengah. Ketiga pokok masalah yang dapat di-'aul-kan adalah enam (6).kan Pokok masalah yang ada di dalam ilmu faraid ada tujuh. dan ayah dua bagian. Maka dalam masalah ini tidak menggunakan 'aul. Contoh lain. sedangkan yang empat tidak dapat. yaitu dua (2). dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. berarti mendapat bagian satu (1). tiga (3). Berarti pokok masalah enam (6) hanya dapat dinaikkan empat kali saja. Bagian suami setengah berarti satu (1). bagian istri seperdelapan (1/8) berarti satu bagian. yakni tiga per delapan (3/8). Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. angka-angka pokok masalah yang dapat di-'aul-kan ialah angka enam (6). C. angka enam (6) hanya dapat di-'aul-kan hingga angka sepuluh (10).

Dalam contoh tersebut jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah syuraihiyah. Sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat bagian. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya enam. Dalam contoh kasus ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalah. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. sedangkan bagian cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga-. bagian dua orang saudara seayah dua per tiga (2/3) berarti empat. 3.berarti satu bagian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. yaitu delapan per enam (8/6). Seseorang wafat dan meninggalkan ayah. 5. Untuk lebih menjelaskan dan memantapkan pemahaman kita terhadap pokok-pokok masalah yang di-'aul-kan. dan bagian dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. bagian anak perempuan tiga per enam (3/6) berarti tiga bagian. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Dengan demikian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). karenanya pokok masalah enam harus dinaikkan menjadi tujuh (7). dan saudara perempuan seibu. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. jumlah bagian (fardh-nya) cocok dengan pokok masalahnya. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. ibu. sebab masalahnya sesuai dengan fardh yang ada. jumlah bagiannya telah melebihi jumlah pokok masalah. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. yaitu enam banding sepuluh (6:10). asal pokok masalah enam dinaikkan menjadi delapan. sehingga jumlah bagian sesuai dengan pokok masalahnya. Beberapa Contoh Masalah 'Aul 1. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. Masalah ini dikenal dengan sebutan masalah marwaniyah. anak perempuan. karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi sembilan. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. dan itu pun hanya pada satu masalah faraid yang memang masyhur di kalangan ulama faraid dengan sebutan "masalah almimbariyyah". Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah al-mubahalah. saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. dan dua orang saudara laki-laki seibu. 2. saudara kandung perempuan. Oleh karena itu. Bila demikian. Dalam contoh ini tidak ada 'aul. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). ibu. Dalam contoh ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalahnya.Sedangkan pokok masalah dua puluh empat (24) hanya dapat di-'aul-kan kepada dua puluh tujuh (27) saja. Maka pembagianya seperti berikut: pokok masalahnya enam (6). saudara kandung perempuan. dan dua orang saudara perempuan seibu. bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. dua orang saudara perempuan seayah. 4. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. ibu. sedangkan bagian saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. dua orang saudara kandung perempuan. ibu seperenam (1/6) berarti satu. sedangkan bagian dua orang saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. bagian ayah seperenam (1/6) berarti satu bagian. sedangkan saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. perlu kita simak contoh-contohnya. dan seorang saudara perempuan seibu. Karena itu kita harus menaikkan pokok masalahnya yang semula enam menjadi sepuluh. 60 .

sedangkan saudara perempuan seayah seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua pertiga-. dan bagian saudara perempuan seibu juga seperenam (1/6) berarti dua bagian. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dua belas (12). istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti tiga bagian. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua belas (12). Contoh 'Aul Dua Puluh Empat (24) Pokok masalah dua puluh empat (24) --sebagaimana telah saya jelaskan-. Mereka menyebutnya demikian karena Ali bin Abi Thalib ketika memvonis masalah ini sedang berada di atas mimbar (podium). delapan orang saudara perempuan seayah. yakni tujuh belas berbanding dua belas. anak perempuan. yaitu lima belas bagian. Bagian ketiga orang istri adalah seperempat (1/4) berarti tiga bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan istri.berarti empat bagian. yaitu menjadi tiga belas (13). ibu. saudara kandung perempuan memperoleh setengah (1/2) berarti enam bagian. sedangkan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga (2/3)-. 3. seorang saudara kandung perempuan. dan bagian keempat saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) yang berarti empat bagian. ibu memperoleh seperenam (1/6) berarti empat bagian. 2. ayah. yaitu tiga belas. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. bagi kedelapan saudara perempuan seayah dua per tiga (2/3)-nya. Contoh masalah ini seperti berikut: seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. dan dua orang saudara kandung perempuan. ibu. seorang saudara perempuan seayah. atau tujuh belas (17). sedangkan bagian kedua nenek adalah seperenam (1/6) yang berarti dua bagian.hanya dapat di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh (27). Maka pembagiannya seperti ini: pokok masalahnya dua puluh empat (24). Jumlah bagian dalam contoh ini telah melebihi pokok masalah. dan empat orang saudara perempuan seibu. ibu mendapat seperenam (1/6) berarti dua bagian. Karena itu harus dinaikkan menjadi tiga belas (13) sehingga tepat sesuai dengan jumlah bagian yang ada. lima belas (15). ibu. sedangkan bagian dua orang saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti delapan bagian. Karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi lima belas (15). anak perempuan mendapat setengah (1/2) berarti dua belas bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. Berikut ini saya berikan contoh-contohnya: 1. Dalam contoh ini tampak jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. Ayah mendapat seperenam (1/6) berarti empat bagian. berarti delapan bagian. bagian ibu seperenam (1/6) berarti dua bagian. pokok masalah ini hanya ada dalam kasus yang oleh ulama faraid dikenal dengan masalah al-mimbariyah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dua belas (12).Contoh 'Aul Pokok Masalah Dua Belas (12) Seperti telah saya kemukakan bahwa pokok masalah dua belas hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. Dalam contoh ini tampak dengan jelas bahwa jumlah bagian ashhabul furudh telah melampaui pokok masalahnya. Selain itu. Dalam contoh tersebut tampak sangat jelas bahwa jumlah bagian yang diterima atau yang menjadi hak ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalahnya. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. dua orang nenek. Karena itu pokok masalahnya harus di-'aul-kan dari dua belas menjadi tujuh belas. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. dan seorang saudara perempuan seibu. Karena itu kita harus meng-'aul-kan pokok masalahnya hingga sesuai 61 .berarti dua bagian.

palingkanlah/halaulah tipu daya mereka terhadapku). maka pokok masalahnya dari dua (2). atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lainnya dua per tiga (2/3). kemudian yang lain berhak mendapatkan sisanya. E. tidak adanya 'ashabah 3. Definisi ar-Radd Ar-radd dalam bahasa Arab berarti 'kembali/kembalikan' atau juga bermakna 'berpaling/palingkan'. dan dalam hal ini tidak ada 'aul. atau dua orang ahli waris yang masingmasing berhak mendapatkan bagian setengah (1/2). adanya ashhabul furudh 2. D. dalam suatu keadaan (dalam pembagian hak waris) para ashhabul furudh telah menerima haknya masing-masing. maka pokok masalahnya dari delapan.. " (al-Kahfi: 64) "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan . 2. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dan yang lain sisanya. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapatkan bagian setengah (1/2) dari harta waris. dalam masalah almimbariyyah ini pokok masalah dua puluh empat hanya bisa di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh. maka pokok masalahnya dari tiga (3). mengikuti jejak mereka semula.maka sisa harta waris itu diberikan atau dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh sesuai dengan bagian mereka masing-masing. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperdelapan (1/8) dan yang lain sisanya. Seperti terdapat dalam firman Allah berikut: "Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari. Bila dalam pembagian waris tidak ada ketiga syarat tersebut maka kasus ar-radd tidak akan terjadi. dan tidak ada 'aul. Ar-radd merupakan kebalikan dari al-'aul. Sebagai misal. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperempat (1/4) dan yang lain berhak mendapat setengah (1/2). kecuali bila terwujud tiga syarat seperti di bawah ini: 1. Catatan 1. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lain sisanya. dan tidak dapat di-'aul-kan.' Lalu keduanya kembali.. 3. Syarat-syarat ar-Radd Ar-radd tidak akan terjadi dalam suatu keadaan." (al-Ahzab: 25) Dalam sebuah doa disebutkan "Allahumma radda kaidahum 'annii" (Ya Allah. 62 . Sekali lagi ditegaskan. ada sisa harta waris. tetapi ternyata harta warisan itu masih tersisa --sementara itu tidak ada sosok kerabat lain sebagai 'ashabah-.dengan jumlah bagian yang harus diberikan kepada para ashhabul furudh. 4. Adapun ar-radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya/lebihnya jumlah bagian ashhabul furudh. dan tidak ada 'aul. maka pokok masalahuya dari empat (4). atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperdelapan dan yang lainnya setengah.

saudara perempuan seibu 8. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap bertele-tele dan agar lebih cepat sampai pada tujuan dengan cara yang paling mudah. yaitu adanya ikatan tali pernikahan.F. maka cara pembagiannya dihitung berdasarkan jumlah ahli waris. Dan pembagiannya pun secara fardh dan ar-radd. semuanya berhak mendapat bagian setengah.dan dalam keadaan itu tidak terdapat suami atau istri. dan sisanya mereka terima secara ar-radd. nenek sahih (ibu dari bapak) 7. maka dari itu mereka (suami dan istri) tidak berhak mendapatkan ar-radd. Sebab dalam keadaan bagaimanapun. 63 . dan tanpa adanya suami atau istri 2. Macam-macam ar-Radd Ada empat macam Ar-radd. dan tanpa suami atau istri 3. Mereka hanya mendapat bagian sesuai bagian yang menjadi hak masing-masing. dan masing-masing mempunyai cara atau hukum tersendiri. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. anak perempuan 2. kecuali suami dan istri. dan dengan adanya suami atau istri 4. maka pokok masalahnya dari sepuluh. Maka apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat kelebihan atau sisa dari harta waris.-maka tidak mungkin ada ar-radd. saudara kandung perempuan 4. saudara perempuan seayah 5. cucu perempuan keturunan anak laki-laki 3. karena keduanya akan menerima waris sebagai 'ashabah. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. Contoh lain. maka pokok masalahnya dari tiga. suami atau istri bagaimanapun keadaannya tidak mendapat bagian tambahan dari sisa harta waris yang ada. ibu kandung 6. saudara laki-laki seibu Adapun mengenai ayah dan kakek. H. Sebagai misal. mereka tidak bisa mendapatkan ar-radd. sesuai jumlah ahli waris. bila seseorang wafat dan hanya meninggalkan sepuluh saudara kandung perempuan. Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab. sekalipun keduanya termasuk ashhabul furudh dalam beberapa keadaan tertentu. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd Ar-radd dapat terjadi dan melibatkan semua ashhabul furudh. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd Adapun ahli waris dari ashhabul furudh yang tidak bisa mendapatkan ar-radd hanyalah suami dan istri. adanya pemilik bagian yang sama. Dan kekerabatan ini akan putus karena kematian. Karena itu pembagian hak masing-masing sesuai jumlah mereka. adanya ahli waris pemilik bagian yang sama. dan dengan adanya suami atau istri Hukum Keadaan Pertama Apabila dalam suatu keadaan ahli warisnya hanya terdiri dari sahib fardh dengan bagian yang sama --yakni dari satu jenis saja (misalnya. disebabkan mereka merupakan ahli waris dari bagian yang sama. akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab). dan seterusnya)-. Adapun ashhabul furudh yang dapat menerima ar-radd hanya ada delapan orang: 1. bila dalam pembagian hak waris terdapat salah satunya --ayah atau kakek-. suami atau istri tidak mendapatkan bagian sebagai tambahan. bagian mereka sesuai fardh adalah dua per tiga (2/3). atau seperempat. Sebab. seseorang wafat dan hanya meninggalkan tiga anak perempuan. G. Keempat macam itu: 1. Artinya.

Pembagiannya: istri mendapatkan seperempat (1/4) bagian. disebabkan bagiannya sama. 2. 4. Misal lain. yakni tiga. saudara kandung perempuan. Hukum keadaan Ketiga Apabila para ahli waris semuanya dari sahib fardh (bagian) yang sama. sedangkan sisanya --tiga puluh lima bagian-dibagikan secara merata kepada kelima anak perempuan pewaris. Begitu seterusnya. 3. dan itulah pokok masalahnya. disertai salah satu dari suami atau istri. yang bagiannya dalam keadaan demikian seperempat (1/4). yang penting tidak ada salah satu dari suami atau istri. Maka pokok masalahnya dari empat. 64 . anak perempuan. diambil dari istri sebagai sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Maka jumlah bagiannya adalah lima. maka kaidah yang berlaku ialah kita jadikan pokok masalahnya dari sahib fardh yang tidak dapat ditambah (di-radd-kan) dan barulah sisanya dibagikan kepada yang lain sesuai dengan jumlah per kepala. Contoh lain. seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu. bagi ibu seperenam (1/6). dan setelah ditashih pokok masalahnya menjadi empat puluh. dan sisanya (tiga per empat) dibagikan kepada anak secara merata. Sebagai misal. serta seorang saudara perempuan seibu. Maka suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian. yakni sesuai jumlah kepala. Contoh-contoh keadaan kedua 1. angka ini diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan (tidak berhak untuk ditambah). suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian berarti satu. Hukum Keadaan Kedua Apabila dalam suatu keadaan terdapat bagian ahli waris yang beragam --dan tidak ada salah satu dari suami atau istri-. Maka pokok masalahnya dari empat. hitungan (bagiannya) sebagai berikut: ibu mendapatkan seperdelapan dari empat puluh. seseorang wafat dan meninggalkan suami dan dua anak perempuan. serta seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Maka pokok masalahnya dari dua. berarti masing-masing menerima tujuh bagian. Seseorang wafat meninggalkan seorang anak perempuan serta seorang cucu perempuan keturunan anak laklaki. dua orang saudara laki-laki seibu. dan saudara perempuan seibu. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri dan empat anak perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. karena angka itu diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Maka pokok masalahnya lima. Maka jumlah bagiannya adalah lima. seseorang wafat dan meningalkan seorang nenek dan saudara perempuan seibu. sedangkan sisanya tujuh per delapan (7/8) merupakan bagian kelima anak perempuan dan dibagi secara merata di antara mereka. bukan dari jumlah ahli waris (per kepala). Hitungan ini perlu pentashihan. Maka pembagiannya. 5. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. berarti lima bagian. karena jumlah bagiannya empat. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang nenek. sedangkan sisanya --tiga per empat (3/4)-. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan serta saudara perempuan seayah. dan itulah pokok masalahnya. Dalam hal ini pokok masalahnya dari empat. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Maka pokok masalahnya empat. untuk kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). serta lima orang anak perempuan. Pokok masalahnya adalah delapan. dan sisanya (yakni 3/4) merupakan bagian kedua anak perempuan dan dibagi secara rata. Sebagai misal.maka cara pembagiannya dihitung dan nilai bagiannya. Di sini tampak jumlah bagiannya tiga. Contoh lain.dibagi secara merata untuk keempat anak perempuan pewaris. saudara perempuan seayah. serta saudara laki-laki seibu. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. Berarti bila pokok masalahnya dari empat (4). yaitu istri. berarti mendapat satu bagian. karena jumlah bagiannya ada empat. karena jumlah bagiannya adalah lima. Maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian.Misal lain. dan itulah angka yang dijadikan pokok masalah.

Maka pembagiannya seperti berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami dan istri: Pokok masalahnya dari enam. Setelah itu barulah kita lihat kedua ilustrasi tersebut dengan salah satu dari tiga kriteria yang ada. Maka hasil perkalian antara kedua pokok masalah itu adalah pokok masalah bagi kedua ilustrasi tersebut.asal pokok masalahnya dari delapan. yakni tiga bagian. Sisanya. Kemudian bila istri mendapat bagiannya. Bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) = 2 bagian. dan dua orang saudara perempuan seibu. yaitu diambil dari bagian sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. kita dapati bagian yang sama antara bagian nenek dan bagian dua saudara perempuan seibu. Sehingga pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4) dari enam belas berarti empat bagian. Pada persoalan pertama kita tidak menyertakan suami atau istri. Karenanya tidak lagi memerlukan tashih. merupakan bagian nenek dan kedua saudara perempuan seibu. pokok masalah yang mulanya empat (4) naik menjadi enam belas (16). Oleh karena itu. Angka tiga tersebut berarti tamaatsul (sama) dalam kedua ilustrasi. setiap anak memperoleh tiga bagian. Kini. Untuk lebih memperjelas masalah yang rumit ini perlu saya sertakan contoh kasusnya: Seseorang wafat dan meninggalkan istri. dan dengan ar-radd menjadi dari lima. Sedangkan ketiga kriteria yang dimaksud ialah tamaatsul (kemiripan). setelah kita kenali pokok masalah dari kedua ilustrasi masalah tersebut. Kemudian langkah berikutnya kita kalikan pokok masalah kedua (delapan) dengan pokok masalah pertama (lima). maka sisa harta waris tinggal tiga bagian. Sedangkan sisanya dua belas bagian dibagikan secara merata kepada keempat anak perempuan pewaris. Maka pembagiannya sebagai berikut: bagian kedua anak perempuan adalah hasil perkalian antara empat (bagiannya dalam ilustrasi pertama) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian pada ilustrasi kedua) berarti dua puluh delapan (28) bagian. secara fardh dan radd. yakni seperempat (1/4). nenek. dan tabaayun (perbedaan). dan sisa ini merupakan bagian dua anak perempuan dengan ibu. tawaafuq (sepadan).Dalam contoh ini juga harus ada pentashihan pada pokok masalahnya. dan pada persoalan kedua kita menyertakan suami atau istri. yakni istri. dua orang anak perempuan. Seperti kita ketahui bahwa antara tujuh dan lima itu tabaayun (berbeda). Dengan demikian. berarti ia mendapat lima (5) bagian. maka bagian istri adatah seperdelapan dari empat puluh bagian yang ada. dan cukuplah kita jadikan ilustrasi masalah kedua itu sebagai pokok masalah. maka menurut kaidah yang berlaku kita harus menjadikannya dalam dua masalah. Apabila istri mengambil bagiannya. yaitu istri. maka sisanya tujuh per delapan (7/8). Contoh lain: seseorang wafat meninggalkan istri. Ilustrasi kedua menyertakan suami atau istri: Pokok masalahnya dari empat. Hukum keadaan Keempat Apabila dalam suatu keadaan terdapat ashhabul furudh yang beragam bagiannya. Pada ilustrasi pertama --tanpa menyertakan suami/istri-. Sedangkan dalam ilustrasi kedua --menyertakan suami/istri-. yakni yang seperdelapan.asal pokok masalahnya dari enam. karena itulah jumlah bagian yang ada. dengan ar-radd menjadi dari lima (yakni dari jumlah bagian yang ada). karena merupakan fardh orang yang tidak dapat di-radd-kan. mana yang paling tepat. dan ibu. 65 . Ilustrasi ini juga merupakan tamaatsul (sama) dengan masalah ar-radd. Bagian nenek seperenam (1/6) berarti satu bagian. yakni tiga bagian. Bagian kedua anak perempuan dan ibu adalah sisa setelah diambil bagian istri --yang tersisa tiga puluh lima (35) bagian. Dengan melihat kedua ilustrasi tersebut. Kemudian kita buat diagramnya secara terpisah. Bagian istri seperempat (1/4) berarti memperoleh satu bagian. dan di dalamnya terdapat pula suami atau istri.

diambil dari ahlul fardh yang tak dapat diradd Bagian istri 1/8.Adapun bagian ibu adalah hasil perkalian antara bagiannya dalam ilustrasi pertama (satu bagian) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian dalam ilustrasi kedua) berarti tujuh (7) bagian. berarti Bagian dua anak perempuan dan ibu Setelah tashih bagian anak perempuan Bagian ibu 1 7 4x7 4x7 28 7 Setelah tashih menjadi setelah tashih Berarti Berarti 4 1 5 40 5 66 . ditambah bagian kedua anak perempuan. menjadi 5 Bagian kedua anak perempuan 2/3 Bagian ibu seperenam (1/6) Jumlah bagian Ilustrasi kedua dengan menyertakan suami/istri Pokok masalah dari delapan. dari jumlah keseluruhan antara bagian istri. Jadi. Lihat tabel berikut : Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami/istri Pokok masalahnya aslinya dari 65. dengan radd. ditambah bagian ibu adalah 5 + 28 + 7 = 40.

bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari para sahib fardh setengah (1/2). penj. maka pokok masalahnya dihitung per kepala --jika semuanya hanya dari laki-laki. Bila semuanya berhak sepertiga (1/3). yang perlu diketahui adalah bagaimana dapat memperoleh angka pembagian hak setiap ahli waris tanpa melalui pemecahan yang rumit. Hal ini agar kita dapat mengetahui secara pasti bagian setiap ahli waris. Artinya. Misalnya. yakni antara angka-angka yang mutamatsilah (sama) atau yang mutadaakbilah (saling berpadu). Atau seseorang wafat meninggalkan sepuluh saudara kandung laki-laki. Maka pokok masalahnya berarti tujuh (7). maka pokok masalahnya dari sepuluh. seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak laki-laki. Bila semuanya seperempat (1/4) atau seperdelapan (1/8). Misal lain. terlebih dahulu perlu kita ketahui siapa-siapa ahli warisnya. Dalam hal ini. berarti pokok masalahnya dari angka yang paling besar. berarti itulah pokok masalahnya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami dan saudara kandung perempuan. dan demikian seterusnya. Misalnya. maka satu anak laki-laki kita hitung dua kepala (hitungan). Hal ini diambil dari kaidah qur'aniyah: bagian anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan. sepertiga (1/3). Untuk memperjelas masalah ini. 1/8). Sedangkan jika para ahli waris yang ditinggalkan pewaris terdiri dari banyak bagian --yakni tidak dari satu jenis. maka pokok masalahnya dari empat (4). maka pokok masalahnya dari lima. Bila ternyata ahli waris yang ada terdiri dari anak laki-laki dan perempuan. Para ulama faraid membagi kaidah tersebut menjadi dua bagian: Pertama: bagian setengah (1/2). dua laki-laki dan tiga perempuan.kita harus mengalikan dan mencampur antara beberapa kedudukan. bagian suami setengah (1/2) dan bagian saudara kandung perempuan juga setengah (1/2). PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN MENGETAHUI pokok masalah merupakan suatu keharusan bagi kita yang mengkaji ilmu faraid. tanpa mengurangi atau melebihkan hak masing-masing. dan sebagainya-. Karena itu. dan seperdelapan (1/8) --atau hanya seperempat dengan seperdelapan-. yang berarti usaha untuk mengetahui pokok masalah. seperenam. dan satu wanita satu kepala.VIII. Persoalan "pokok masalah" ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah at-ta'shil. Apabila para ashhabul furudh hanya terdiri dari bagian yang pertama saja (yakni 1/2. 67 . Misalnya. atau semuanya hanya dari ashhabul furudh. kita harus mengetahui apakah ahli waris yang ada semuanya hanya termasuk 'ashabah. Sebab. misalnya ada yang berhak setengah. maka pokok masalahnya dari empat atau delapan. dan seperenam (1/6). Pokok masalahnya juga dihitung dari jumlah per kepala. maka pokok masalahnya sebelas.). dan seperdelapan (1/8). Maka pokok masalahnya dari dua (2). maka pokok masalahnya dari tiga (3). bila dalam suatu keadaan. seperempat (1/4). Contoh lain.maka pokok masalahnya dari enam (6). seperempat (1/4). baiklah kita simak kaidah yang telah diterapkan oleh para ulama ilmu faraid. para ulama ilmu faraid tidak mau menerima kecuali angka-angka yang jelas dan benar (maksudnya tanpa menyertakan angka-angka pecahan. Apabila seluruh ahli waris yang ada semuanya dari 'ashabah. Secara umum dapat dikatakan bahwa bila ahli waris semuanya sama --misalnya masing-masing berhak mendapat seperenam (1/6)-. jika ternyata ahli waris yang ada semuanya dari ashhabul furudh yang sama. seseorang wafat dan hanya meninggalkan lima orang anak. Kedua: bagian dua per tiga (2/3). Kemudian. Kaidah ini sangat mudah sekaligus mempermudah kita untuk memahami pokok masalah ketika ahli waris terdiri dari berbagai sahib fardh yang mempunyai bagian berbeda-beda. begitu seterusnya. ahli warisnya dari sahib fardh setengah (1/2) dan seperempat (1/4). hingga pembagiannya benar-benar adil. bila mayit meninggalkan lima anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Misalnya.maka pokok masalahnya dari delapan (8). atau yang mutabaayinah (saling berbeda). Untuk mengetahui pokok masalah. 1/4. atau gabungan antara 'ashabah dengan ashhabul furudh.

seseorang wafat dan meninggalkan istri. ibu sepertiga (1/3). maka pokok masalahnya dari dua belas (12). ia akan mendapat sisa yang ada setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. dan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah.bercampur dengan salah satu dari kelompok kedua. Maka pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4). 1/4. sahib fardh seperdelapan (1/8) yang merupakan kelompok pertama-. sahib fardh seperempat (1/4) yang merupakan kelompok pertama-.bercampur dengan seluruh kelompok kedua atau salah satunya. 3. pokok masalah pada contoh tersebut dari enam. Maka pembagiannya sebagai berikut: suami mendapat setengah (1/2). Sebab angka tiga merupakan bagian dari angka enam. atau semuanya. ibu. sahib fardh setengah (1/2) --yang merupakan kelompok pertama-. Akan tetapi. dan seorang saudara laki-laki kandung. Apabila dalam suatu keadaan. sebagai 'ashabah Nilai 3 1 2 0 Contoh lain. maka ia tidak berhak menerima harta waris. Lihat diagram: Pokok masalah dari enam (6) Keterangan Suami setengah (1/2) Saudara laki-laki seibu seperenam (1/6) Ibu sepertiga (1/3) Paman kandung. seseorang wafat dan meninggalkan suami. Berdasarkan kaidah yang ada. Dari contoh tersebut tampak ada campuran antara kelompok pertama (yakni 1/2) dengan sepertiga (1/3) dan seperenam (1/6). dua orang saudara laki-laki seibu. Maka berdasarkan kaidah. Bila tidak tersisa. Angka tersebut merupakan hasil perkalian antara empat (yang merupakan bagian istri) dengan tiga (sebagai bagian kedua saudara laki-laki seibu). saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). perlu saya utarakan beberapa contoh. ibu seperenam (1/6). dan paman kandung. Maka dalam hal ini hendaklah diambil angka penyebut yang terbesar. atau salah satunya. dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). 2. maka pokok masalahnya dari enam (6). jika dalam suatu keadaan ahli warisnya bercampur antara sahib fardh kelompok pertama (1/2. Apabila dalam suatu keadaan. dan 1/8) dengan kelompok kedua (2/3. Kaidah yang dimaksud seperti tersebut di bawah ini: 1. dan 1/6) diperlukan kaidah yang lain untuk mengetahui pokok masalahnya.dengan seperenam (1/6) dan sepertiga (1/3).Begitu juga bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari sahib fardh sepertiga (1/3) dengan seperenam (1/6) atau dua per tiga (2/3) dengan seperenam (1/6). sedangkan paman sebagai 'ashabah. saudara laki-laki seibu. Pada contoh ini tampak ada campuran antara bagian seperempat (1/4) --yang termasuk kelompok pertama-. maka pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). pokok masalahnya dari dua belas (12). yang merupakan kelompok kedua.bercampur dengan seluruh kelompok kedua. maka pokok masalahnya dari enam (6). Tabelnya tampak berikut ini: Pokok masalah dari dua belas (12) Keterangan Istri seperempat (1/4) Ibu seperenam (1/6) Dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) Saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah (sisanya) Nilai 3 2 4 3 68 . ibu. Apabila dalam suatu keadaan. Misalnya. Untuk lebih memperjelas kaidah tersebut. 1/3.

lawan kata dari "keluar". Maka berdasarkan kaidah yang ada. ibu. at-tamaatsul (kemiripan/kesamaan). Misalnya. Sedangkan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. yakni 'sama bentuknya'. pokok masalah pada contoh ini dari dua pulah empat (24). Yaitu. bila harta waris tersebut kurang dari jumlah bagian yang mesti diterima setiap ahli waris. atau jumlah bagian ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalah. yakni 'masuk'. at-tawaafuq (saling bertautan). angka delapan (8) dengan angka empat (4). Pada contoh ini tampak ada percampuran antara seperdelapan (1/8) sebagai kelompok pertama dengan seperenam (1/6) sebagai kelompok kedua. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). dan saudara kandung laki-laki. seseorang wafat dan meninggalkan istri. maka kita tidak perlu menggunakan cara-cara yang berbelit dan memusingkan. sehingga dari pembagian itu tidak ada lagi angka atau jumlah yang tersisa. Definisi at-Tadaakhul At-Tadaakhul dalam bahasa Arab berasal dari kata dakhala. Definisi Tashih Tashih dalam bahasa Arab berarti 'menghilangkan penyakit'. A. angka dua puluh tujuh (27) dengan angka sembilan (9). Namun. sebagai 'ashabah (sisa) berarti berarti berarti berarti 3 12 4 4 1 Angka dua puluh empat (24) yang dijadikan sebagai pokok masalah timbul sebagai hasil perkalian antara setengah dari enam (yakni 3) dengan delapan (6 : 2 x 8 = 24). 69 . dan seterusnya. karenanya kita ambil setengah dari salah satu angka tadi. Begitulah seterusnya.Misal lain. maka dalam hal ini memerlukan pentashihan pokok masalahnya. yang satu tidak lebih banyak atau lebih sedikit dari yang lain. (8 : 2 x 6 = 24). Tentang Tashih Agar kita dapat memahami dan menelusuri rincian pentashihan pokok masalah.dalam suatu pembagian waris cocok (sesuai) dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. Misalnya. angka tiga berarti sama dengan tiga. kemudian kita kalikan dengan angka yang lain dengan sempurna. dan lima sama dengan lima. Sedangkan menurut ulama ilmu faraid berarti mewujudkan jumlah yang kurang dari bagian setiap ahli waris tanpa pecahan dalam pembagiannya. Sedangkan menurut ulama faraid adalah pembagian angka yang besar oleh angka yang lebih kecil. angka delapan belas (18) dengan angka enam (6). cucu perempuan keturunan anak laki-laki. karenanya ia mendapat sisa harta waris bila ternyata masih tersisa. Sedangkan menurut ulama faraid berarti sama dalam jumlah atau nilai. anak perempuan setengah (1/2). at-tadaakhul (saling terkait/saling bercampur). Berikut ini tabelnya: Pokok masalah dari 24 Bagian istri seperdelapan (1/8) Bagian anak perempuan setengah (1/2) Cucu perempuan dari anak laki-laki seperenam (1/6) Bagian ibu seperenam (1/6) Saudara kandung laki-laki. dan bagian ibu seperenam (1/6). dan at-tabaayun (berbeda/saling berjauhan). Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8). Atau setengah dari delapan (yakni empat) kali enam (6). Definisi at-Tamaatsul At-Tamaatsul dalam bahasa Arab berarti at-tasyabuh. Apabila pokok masalah --harta waris-. anak perempuan. Hal seperti ini disebabkan setengah dari dua angka tersebut (yakni enam dan delapan) ada selisih. maka kita harus mengetahui nisbahnya (koneksi) dengan keempat istilah perhitungan.

Definisi at-Tabaayun At-Tabaayun dalam bahasa Arab berarti tabaa'ud. kita bandingkan pengertiannya dengan istilah lainnya. maka hasil dari perkalian itu yang menjadi pokok masalah sebenamya. ibu. Sang ayah seperenam berarti satu bagian.). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). angka 5 dengan 9. maka kita perlu mengetahui kapan kita dapat atau memungkinkan untuk mentashih pokok masalah? Dan apa tujuannya. Contoh amaliah tentang pentashihan pokok masalah Seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. Apabila angka yang besar tidak dapat dibagi angka yang kecil --tetapi dibagi angka yang lain-. (Misalnya. Pada hakikatnya. attadaakhul. dan tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Sedangkan mengenai bagian untuk mengalikan pokok masalah atau meng-'aul-kan dengan tujuan mentashih pokok masalah. demikian seterusnya. Untuk lebih memperjelas masalah ini. tetapi ada ahli waris yang belum mendapat bagian-. Sedangkan menurut kalangan ulama ilmu faraid ialah setiap bilangan yang satu dengan lainnya tidak dapat membagi. perlu saya kemukakan contoh kasus sehingga pembaca dapat lebih memahaminya. dan tidak pula dapat dibagi oleh bilangan lain (ketiga). angka 8 dengan 6 keduanya dapat dibagi oleh angka 2. maka ada kesamaan.maka kedua bilangan itu ada tawaafuq. empat anak perempuan. B. Adapun bila terjadi mubayaanah (ada selisih) maka kalikan jumlah per kepalanya dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. maka di antara kedua bilangan tersebut adalah mutamaatsilan. kalangan ulama faraid tidak mau menerima permasalahan pembagian waris kecuali dengan angka-angka yang pasti (maksudnya tanpa pecahan. sebagai bagian khusus yang berkaitan dengan setiap bagian pada pokok masalah. Bila jumlah per kepala setelah dibagi cocok dan pas dengan jumlah bagian setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. sehingga menurut mereka di antara kedua bilangan itu ada tadaakhul. sehingga tidak mengurangi ataupun menambahkan. dan bagiannya 2/3 dari 6. dan sang ibu juga 70 . ayah. untuk mewujudkan keadilan mereka berusaha mengetahui jumlah bagian yang merupakan hak setiap ahli waris. maka kedua bilangan itu tadaakhul. Misalnya angka 7 dengan angka 4. berarti 4. Angka 8 dengan 20 sama-sama dapat dibagi oleh angka 4. angka 8 dengan 11. Sedangkan apabila suatu angka tidak dapat dibagi oleh bilangan lain. at-tawaafuq. Hal ini dimaksudkan agar dapat mewujudkan keadilan yang optimal dalam pembagian tersebut. penj. dan at-tabaayun. Inilah yang disebut "pentashihan pokok masalah" oleh kalangan ulama faraid. Bagian keempat anak perempuan ialah dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. yakni saling berjauhan atau saling berbeda. Hal ini merupakan satu perhatian yang sangat baik dari para ulama faraid dalam usaha mereka mewujudkan kemaslahatan yang menyeluruh.Definisi at-Tawaafuq At-Tawaafuq dalam bahasa Arab berarti 'bersatu'. sebagaimana yang dikehendaki ad-Din al-Islam. Untuk mengetahui secara tepat pengertian tabaayun. Apabila angka yang besar dibagi angka yang lebih kecil. Sebab setiap anak mendapat bagian satu). maka setiap anak berhak mendapat bagian sesuai dengan jumlah per kepalanya. maka inilah yang sempurna dan sangat diharapkan. Tetapi apabila kedua bilangan itu sama.maka kita harus melihat apakah ada kecocokan di antara kedua hal itu ataukah tidak. Angka 12 dengan angka 30 sama-sama dapat dibagi oleh angka 6. Sedangkan menurut istilah ilmu faraid ialah setiap dua angka yang dapat dibagi angka ketiga. dengan cara mengalikan jumlah per kepala dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. Selain itu. Namun. Misalnya. Cara pentashihan yang biasa dilakukan para ulama faraid seperti berikut: langkah pertama. Bila ada kesesuaian antara bagian tiap ahli waris dengan jumlah per kepalanya. Maksudnya. oleh ulama faraid disebut dengan juz'us sahm. melihat bagian setiap ahli waris dan jumlah per kepalanya. bila jumlah per kepalanya jauh lebih sedikit dari jumlah bagian ahli waris yang ada --jumlah pokok masalahnya sudah habis. maka disebut tabaayun. Cara Mentashih Pokok Masalah Setelah kita ketahui dengan baik makna-makna at-tamaatsul.

Berarti kesesuaian pembagian tersebut tidak memerlukan pentashihan pokok masalah. Itulah tashih pokok masalah. seseorang wafat dan meninggalkan suami. kita lihat bahwa pokok masalahnya tidak memerlukan pentashihan. berarti dua bagian. dan bagian yang mereka peroleh juga empat. dan bagian kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). sedangkan bagian keempat saudara kandung perempuan adalah dua per tiga (2/3) yang berarti empat (4) bagian. setiap anak menerima satu bagian. berarti 3 x 9 = 27. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Sedangkan tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tidak mendapat bagian (mahjub karena anak pewaris lebih dari dua orang. kemudian di-'aul-kan menjadi sembilan (9). enam saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12. Kita lihat dalam contoh di atas ada at-tawaafuq antara jumlah per kepala anak perempuan dengan jumlah bagian yang mereka peroleh. Karena itu tidak lagi memerlukan pentashihan pokok masalah. Sehingga dalam pembagiannya akan dengan pas dan mudah. Misal lain. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahuya dari enam (6). sedangkan bagian keenam saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). Dalam contoh tersebut kita lihat jumlah anak perempuan ada empat (4).). Seseorang wafat dan meninggalkan ibu. dan paman kandung. yaitu dua (2). dan saudara kandung laki-laki. Bagi keempat saudara kandung perempuan empat bagian. dua saudara perempuan seibu. Contoh masalah yang at-tawaafuq. dan bagian saudara kandung laki-laki satu bagian (sisanya) sebagai 'ashabah bin nafsihi. berarti tiga (3). ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. berarti empat bagian. Dalam contoh di atas kita lihat ada tawaafuq antara jumlah bagian yang diterima para saudara kandung perempuan dengan jumlah per kepala mereka. dan kita kalikan dengan pokok masalah setelah di-'aul-kan yakni angka sembilan (9). Dengan demikian. maka tiap orang mendapat satu bagian. Bagi kedua saudara perempuan seibu dua bagian. Maka 2 x 6 = 12. sebab bagian yang mesti dibagikan kepada mereka (keempat anak perempuan itu) tidak lagi memerlukan pecahan-pecahan. ibu. keenam saudara kandung perempuan mendapat dua belas bagian. Sebab jumlah per kepalanya sesuai dengan jumlah yang dibagikan. maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan bagian (9). bagian anak perempuan 1/2 berarti enam (6) bagian. tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. penj.seperenam berarti satu bagian. kemudian bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. Setelah pentashihan. Bagian suami 1/4 berarti tiga (3) bagian. Contoh lain. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Inilah tabelnya: 3 12 3 6 2 1 Suami 1/4 Anak perempuan 1/2 Tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) 36 9 18 6 3 71 . tahulah kita bahwa contoh masalah tersebut cenderung (bernisbat) pada at-tamaatsul. Angka dua itulah yang menurut istilah ulama faraid sebagai bagian dari bagian juz'us sahm kemudian bagian dari bagian itu dikalikan dengan pokok masalah. anak perempuan. dan dua orang saudara laki-laki seibu. Hasil dari perkalian itulah yang akhirnya menjadi pentashihan pokok masalah. dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 sebagai penyempurna 2/3 berarti 2 bagian. dan empat saudara kandung perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan suami. maka setiap orang mendapat satu bagian. kemudian di-'aul-kan menjadi tujuh (7). Seseorang wafat dan meninggalkan delapan (8) anak perempuan. dan sisanya (satu bagian) adalah bagian paman kandung sebagai 'ashabah. Kemudian kita ambil separo jumlah per kepala mereka. Bila kita perhatikan baik-baik contoh ini. Bagian kedelapan anak perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. yakni angka enam (6). Contoh lain yang at-tamaatsul. dan kedua saudara laki-laki seibu mendapat enam bagian (9 + 12 + 6 = 27). Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. yaitu dua (2). Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian.

yakni 3 x 12 = 36. Maka bagian masing-masing seperti berikut: pokok masalahnya dari 24. Misal lain. dan jumlah per kepala mereka ada perbedaan (tabaayun). kedua nenek 1/6-nya = 4. ayah memperoleh 1/6 berarti 4. Bagian istri 1/8 = 3. dan saudara laki-laki seibu. dan empat saudara kandung laki-laki (sisanya) yaitu 1 sebagai 'ashabah. ibu. karenanya kita kalikan angka 3 dengan pokok masalahnya. yakni 27 x 5 = 135. lima anak perempuan. sedangkan saudara seibu mahjub. Angka itu merupakan pokok masalah setelah pentashihan. Angka tersebut (yakni 28) merupakan juz'us sahm. 72 . tujuh anak perempuan. kelima anak perempuan mendapat bagian 2/3 yang berarti 16. ayah. dan saudara kandung lakilaki. kita kalikan jumlah per kepala anak perempuan (yakni 7) dengan jumlah per kepala saudara kandung (yakni 4). Dan angka lima (5) itulah yang dinamakan juz'us sahm. Tujuh anak perempuan mendapat 2/3-nya = 16. Pentashihan seperti ini dapat diterapkan dalam contoh-contoh yang lain.Berdasarkan tabel tersebut kita lihat antara bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki dengan jumlah per kepala mereka (yakni 2 dengan 3) ada tabaayun (perbedaan). Karenanya di antara keduanya ada tabaayun (perbedaan). Contoh lain. Ketiga istri mendapat 1/8 = 3. Inilah tabelnya: 5 27 3 16 4 4 - 24 Istri 1/8 Lima anak perempuan 2/3 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Saudara kandung laki-laki (mahjub) 135 15 80 20 20 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian kelima anak perempuan tidak bisa dibagi oleh jumlah per kepala mereka. begitu juga dengan bagian keempat saudara kandung yang hanya satu bagian. maka angka 36 itu berarti pokok masalah hasil pentashihan. Kemudian kita kalikan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan (yakni 27) dengan jumlah per kepala mereka. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. dua orang nenek. seorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. dan ibu mendapat 1/6 yang berarti 4. empat saudara kandung laki-laki. Untuk mentashih pokok masalah dari contoh ini. Kemudian juz'us sahm tersebut kita kalikan dengan pokok masalahnya (28 x 24 = 672) hasilnya itulah yang menjadi pokok masalah setelah pentashihan. kemudian di-'aul-kan menjadi 27. berarti 7 x 4 = 28. Perhatikan tabel berikut: 28 24 3 16 4 1 - 3 istri bagiannya 1/8 7 anak perempuan 2/3 2 orang nenek 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) Saudara laki-lah seibu (mahjub 672 84 448 112 28 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian anak perempuan (16) dengan jumlah per kepala mereka (7) ada perbedaan (tabaayun). seseorang wafat dan meninggalkan istri. sedangkan bagian saudara kandung laki-laki mahjub (terhalang).

960 dinar: 24 = 40 dinar. baik berupa harta. keturunan anak laki-laki x 40 dinar 2 Suami 6 x 40 dinar Ibu 4 x 40 dinar Dua saudara kandung perempuan 2 x 40 dinar = 480 dinar = 240 dinar = 160 dinar = 80 dinar 73 . Pembagian Harta Peninggalan At-tarikah (peninggalan) dalam bahasa Arab bermakna seluruh jenis kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. dan ibu memperoleh 1/6 yang berarti 4 bagian. suami. Cucu pr. Contoh Cara Pertama Seseorang wafat dan meninggalkan istri. Jadi. istri mendapatkan 1/8 yang berarti 3 bagian. Cara pertama: kita ketahui nilai (harga) setiap bagiannya. Adapun nilai (harga) per bagiannya didapat dari hasil pembagi harta waris yang ada (480 dinar) dibagi pokok masalah (24). Semua peninggalan itulah yang harus dibagikan kepada ahli waris yang ada sesuai dengan hak bagian yang harus mereka terima. Maka hasilnya merupakan bagian masing-masing ahli waris. Sedangkan sisanya (dua bagian) untuk dua saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah ma'al ghair. Hal ini kita lakukan dengan cara mengalikan bagian tiap-tiap ahli waris dengan jumlah (nilai) harta peninggalan yang ada. = 60 dinar = 240 dinar = 80 dinar = 100 dinar = 480 dinar Contoh lain. benda. x x x x Tabelnya seperti berikut: 2 12 6 3 2 2 bagian istri Anak perempuan Ibu Ayah ('ashabah) 3 bagian 12 bagian 4 bagian 5 bagian 20 dinar 20 dinar 20 dinar 20 dinar Total 24 Cucu perempuan keturunan anak laki-laki Suami 1/4 Ibu 1/6 2 saudara perempuan kandung ('ashabah ma'al ghair) 1/2 1/4 1/6 1 24 12 6 4 Adapun nilai per bagian. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Sedangkan harta waris yang ada sebanyak 960 dinar. dan ibu. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. berarti 480: 24 = 20 dinar adalah harga per bagian.C. ibu mendapatkan 1/6 berarti 4 bagian. ayah. suami mendapatkan 1/4 yang berarti 6 bagian. kemudian kita bagi dengan angka pokok masalahnya atau tashihnya. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-tashikkan-kan menjadi 24. atau tanah. Untuk mengetahui pembagian harta waris kepada setiap ahlinya ada beberapa cara yang harus ditempuh. anak perempuan 1/2 berarti 12 bagian. Maka hasilnya merupakan bagian dari masing-masing ahli waris. sedangkan sisanya (yakni 5 bagian) merupakan hak ayah sebagai 'ashabah. Sedangkan harta peninggalannya sebanyak 480 dinar. Cucu perempuan mendapatkan 1/2 yang berarti 12 bagian. ibu. namun yang paling masyhur di kalangan ulama faraid ada dua -. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung perempuan. Cara kedua: kita ketahui terlebih dahulu bagian setiap ahli waris secara menyeluruh. kemudian kita kalikan dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris. bagian masing-masing ahli waris: 1 Jadi. anak perempuan. Jadi.dalam hal yang berkenaan dengan harta yang dapat ditransfer.

dua saudara laki-laki seibu memperoleh 1/3 berarti 2.Total = 960 dinar Contoh lain. Perhatikan tabel berikut: 6 Suami Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seibu Nenek 1/2 1/2 1/3 1/6 9 3 3 2 1 Adapun nilai per bagiannya adalah 9. Sedangkan harta peninggalan seluruhnya 9. berarti bagian anak perempuan 4 bagian (masing-masing satu bagian). dua saudara laki-laki seibu. seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan.000 dinar = 500 dinar = 500 dinar = 3. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian di-'aul-kan (dinaikkan) menjadi 9.100 dinar = 3. saudara kandung perempuan 1/2 berarti 3. Suami x 1. sedangan nenek mendapat 1/6 berarti satu (1). ibu mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian.000 dinar = 1. dan tiga saudara kandung laki-laki.100 dinar : Jadi. ibu. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan.300 dinar = 3. saudara kandung perempuan.900 dinar. Sang ayah mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian.100 dinar 3 Saudara perempuan kandung : x 1. ayah. sedangkan bagian anak laki-laki juga 4 bagian (masing-masing 2 bagian).000:12 = 250 dinar : Jadi bagian 4 anak perempuan 4 : dua anak laki-laki 4 : ibu 2 : ayah 2 x 250 dinar x 250 dinar x 250 dinar x 250 dinar Total = 1. Simak tabel berikut: 2 6 4 3 1 1 - Empat anak perempuan Dua anak laki-laki Ayah Ibu Tiga saudara kandung laki-laki (mahjub) 1/6 1/6 - 12 4 4 2 2 Adapun nilai per bagiannya adalah 3. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian ditashih menjadi 12.000 dinar Contoh lain. sedangkan saudara kandung laki-laki mahjub. dan sisanya dibagikan kepada enam (6) anak. dan harta peninggalannya 3.000 dinar. Suami mendapat 1/2 yang berarti 3. dan nenek.900: 9 = 1. seseorang wafat dan meninggalkan suami. dua anak laki-laki.300 dinar 74 .

seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 13. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) 1 2 4 6 2 x 240:24 dinar x 240:24 dinar x 240:24 dinar x 240:24 dinar 1/2 1/6 1/4 24 12 4 6 2 . dan dua saudara kandung 2 bagian sebagai 'ashabah. ibu. Suami mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian).100 dinar x 1.Dua saudara laki-laki seibu Nenek 3 : 2 : 1 x 1. dan dua anak perempuan 2/3 (berarti 8 bagian). anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) Cucu pr. suami.100 dinar = 2. 3 cucu perempuan keturunan anak lakilaki. suami mendapatkan 1/4 (berarti 6 bagian). dua anak perempuan. ibu. satu cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. sedangkan harta yang ditinggalkan sejumlah 585 dinar. Perhatikan tabel berikut: 12 13 Suami 1/4 3 Ibu 1/6 2 Dua anak perempuan 2/3 8 Tiga cucu perempuan 'ashabah Dua cucu perempuan Jad i. Sedangkan kedudukan para cucu dalam hal ini sebagai 'ashabah. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapatkan 1/2 (berarti 12 bagian). sedangkan harta warisnya berjumlah 240 dinar. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian).200 dinar = 2. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). sehingga mereka tidak memperoleh bagian karena harta waris telah habis dibagikan kepada ashhabul furudh. 12 6 2 3 1 = 120 dinar = 40 dinar = 60 dinar = 20 dinar 75 Cucu pr. ket. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. ket.000 dinar Bila seseorang wafat dan meninggalkan suami.200 dinar Total = 9. Suami Ibu Dua anak perempuan : 3 : 2 : 8 x 585:13 dinar x 585:13 dinar x 585:13 dinar Total = 135 dinar = 90 dinar = 360 dinar 585 dinar Contoh lain. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian ditashih menjadi 24.

seayah Ke-4 sdr. Masing-masing ahli waris di antara mereka ada yang hanya mendapatkan bagian satu (1) dinar. Contoh masalah ini sebagai berikut: misalnya. saudara perempuan seayah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6. seibu Masalah Dinariyah al-Kubra Adapun masalah ad-dinariyah al-kubra memiliki pengertian bahwa ahli waris yang ada sebagian terdiri dari ashhabul furudh dan sebagian lagi dari 'ashabah. dua anak perempuan.= 240 dinar Misal lain. kedelapan saudara perempuan seayah mendapatkan 2/3 (berarti 8 bagian). Tiga orang istri mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). cucu perempuan 1/2 (berarti 3 bagian). delapan (8) saudara perempuan seayah. dan sisanya --dua bagian-. Contoh masalahnya. pr. dua orang nenek mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). ket. ibu.mahjub. ('ashabah) Saudara perempuan seayah. anak laki-laki Dua saudara kandung pr. dan sebagian lagi ada yang mendapatkan lebih dari itu.500 dinar. Adapun pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 17. dengan demikian masing-masing mendapat satu dinar. Sedangkan ahli waris yang lain ter. yakni istilah ad-dinariyah ash-shughra dan ad-dinariyah al-kubra. sebagian ada yang mendapatkan dua (2) dinar. Jumlah harta peninggalannya ada 17 dinar. Sedangkan harta peninggalannya 600 dinar. dan empat (4) saudara perempuan seibu. sedangkan keempat saudara perempuan seibu mendapatkan 1/3 (berarti 4 bagian). seseorang wafat meninggalkan istri. dua (2) orang nenek. dua saudara kandung perempuan. dan seorang saudara kandung perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan ibu. saudara laki-laki seayah. seseorang wafat dan meninggalkan tiga (3) orang istri. Inilah tabelnya: Ibu Cucu pr. pr. Maka kasus seperti ini disebut ad-dinariyah ashshughra. jumlah bagian seluruh ahli warisnya pun 17. Harta peninggalannya: 17 dinar. dua belas saudara kandung laki-laki. Hal seperti ini di kalangan ulama faraid disebut ad-dinariyah al-kubra. Istri 76 . dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Ad-dinariyah ash-shughra memiliki pengertian seluruh ahli warisnya terdiri atas kaum wanita. Berikut ini tabelnya: 12 1/ 4 1/ 6 2/ 3 1/ 3 17 3 2 8 4 masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar 1/6 1/2 6 1 3 2 - Total Ke-3 istri Kedua nenek Ke-8 sdr. Sedangkan harta peninggalan sebanyak 1. dan setiap ahli waris hanya menerima satu dinar. Dua saudara laki-laki seayah (mahjub) Masalah Dinariyah ash-Shughra Ada dua masalah yang dikenal oleh kalangan ulama faraid. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 24 kemudian setelah ditashih menjadi 600. ibu mendapatkan 1/6 (berarti satu bagian).menjadi hak kedua saudara perempuan kandung sebagai 'ashabah.

mendapatkan 1/8 (berarti 3 bagian), ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian), kedua anak perempuan memperoleh 2/3 (16 bagian), dan sisanya satu (1) bagian merupakan bagian ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah. Jadi, bagian Istri Ibu Kedua perempuan : 3 : 4 : anak 1 6 x 600:24 dinar x 600:24 dinar x 600:24 dinar = 75 dinar = 100 dinar = 400 dinar

Total = 575 dinar Sedangkan ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan mendapat sisanya, yakni 25 dinar sebagai 'ashabah, dengan ketentuan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Dengan demikian, yang 24 dinar dibagikan kepada ke-12 saudara kandung laki-laki dan masing-masing mendapat dua (2) dinar, dan yang satu (1) dinar bagian saudara kandung perempuan. Berikut ini tabelnya: 25 24 3 4 16 600 75 100 100 24 1

Istri 1/8 Ibu 1/6 Kedua anak perempuan 2/3 12 saudara kandung laki-laki 1 1 saudara kandung perempuan ('ashabah) Masalah ad-dinariyah al-kubra ini pernah terjadi pada zaman al-Qadhi Syuraih (seseorang mengajukan masalah kepadanya). Akhirnya Syuraih memvonis dengan memberikan hak saudara kandung perempuan pewaris hanya satu (1) dinar. Tetapi, wanita tersebut kemudian mengadukan hal itu kepada Imam Ali bin Abi Thalib r.a. yang menyebutkan bahwa Syuraih telah menzhaliminya, mengurangi hak warisnya hingga memberinya satu dinar dari peninggalan saudaranya yang 600 dinar itu. Kendatipun wanita tersebut tidak menyebutkan seluruh ahli waris yang berhak menerima warisan, namun dengan ketajaman dan keluasan ilmunya, Ali bin Abi Thalib bertanya, "Barangkali saudaramu yang wafat itu meninggalkan istri, dua anak perempuan, ibu, 12 saudara kandung laki-laki, dan kemudian engkau?" Wanita tersebut menjawab, "Ya, benar." Ali berkata, "Itulah hakmu tidak lebih dan tidak kurang." Kemudian Ali bin Abi Thalib r.a. memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa hakim Syuraih telah berlaku adil dan benar dalam memvonis perkara yang diajukannya. Wallahu a'lam bish shawab.

77

IX. HUKUM MUNASAKHAT A. Definisi Munasakhat Al-munasakhat dalam bahasa Arab berarti 'memindahkan' dan 'menghilangkan', misalnya dalam kalimat nasakhtu alkitaba yang bermakna 'saya menukil (memindahkan) kepada lembaran lain'; nasakhat asy-syamsu ash-zhilla yang berarti 'sinar matahari menghilangkan bayang-bayang'. Makna yang pertama --yakni memindahkan/menukil-- sesuai dengan firman Allah SWT berikut: "... Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." (al-Jatsiyah: 29) Sedangkan makna yang kedua sesuai dengan firman berikut: "Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?" (al-Baqarah: 106) Adapun pengertian al-munasakhat menurut istilah ulama faraid ialah meninggalnya sebagian ahli waris sebelum pembagian harta waris sehingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya yang lain. Bila salah seorang ahli waris meninggal, sedangkan ia belum menerima hak warisnya (karena memang belum dibagikan), maka hak warisnya berpindah kepada ahli warisnya. Karenanya di sini akan timbul suatu masalah yang oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan al-jami'ah. Al-munasakhat mempunyai tiga macam keadaan: Keadaan pertama: sosok ahli waris yang kedua adalah mereka yang juga merupakan sosok ahli waris yang pertama. Dalam kasus seperti ini masalahnya tidak berubah, dan cara pembagian warisnya pun tidak berbeda. Misalnya, ada seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak. Kemudian salah seorang dari kelima anak itu ada yang meninggal, tetapi yang meninggal itu tidak mempunyai ahli waris kecuali saudaranya yang empat orang, maka seluruh harta waris yang ada hanya dibagikan kepada keempat anak yang tersisa, seolah-olah ahli waris yang meninggal itu tidak ada dari awalnya. Keadaan kedua: para ahli waris dari pewaris yang kedua adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama, namun ada perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab mereka terhadap pewaris. Misalnya, seseorang mempunyai dua orang istri. Dari istri yang pertama mempunyai keturunan seorang anak laki-laki. Sedangkan dari istri kedua mempunyai keturunan tiga anak perempuan. Ketika sang suami meninggal, berarti ia meningalkan dua orang istri dan empat anak (satu laki-laki dan tiga perempuan). Kemudian, salah seorang anak perempuan itu meninggal sebelum harta waris peninggalan ayahnya dibagikan. Maka ahli waris anak perempuan ini adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama (ayah). Namun, dalam kedua keadaan itu terdapat perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab kepada pewaris. Pada keadaan yang pertama (meninggalnya ayah), anak laki-laki menduduki posisi sebagai anak. Tetapi dalam keadaan yang kedua (meninggalnya anak perempuan), anak laki-laki terhadap yang meninggal berarti merupakan saudara laki-laki seayah, dan yang perempuan sebagai saudara kandung perempuan. Jadi, dalam hal ini pembagiannya akan berbeda, dan mengharuskan kita untuk mengamalkan suatu cara yang disebut oleh kalangan ulama faraid sebagai masalah al-jami'ah. Keadaan ketiga: para ahli waris dari pewaris kedua bukan ahli waris dari pewaris pertama. Atau sebagian ahli warisnya termasuk sosok yang berhak untuk menerima waris dari dua arah, yakni dari pewaris pertama dan dari pewaris kedua. Dalam hal seperti ini kita juga harus melakukan teori al-jama'iyah, sebab pembagian bagi tiap-tiap ahli waris yang ada berbeda dan berlainan.

B. Rincian Amaliah al-Munasakhat Sebelum kita melakukan rincian tentang amaliah al-munasakhat, kita terlebih dahulu harus melakokan langkahlangkah berikut:
78

1. Mentashihkan masalah pewaris yang pertama dengan memberikan hak waris kepada setiap ahlinya, termasuk
hak ahli waris yang meninggal.

2. Merinci masalah baru, khususnya yang berkenaan dengan kematian pewaris kedua, tanpa mempedulikan
masalah pertama. 3. Membandingkan antara bagian pewaris kedua dalam masalah pertama, dengan pentashihan masalah dan para ahli warisnya dalam masalah kedua. 4. Perbandingan antara keduanya itu dalam kecenderungannya terhadap ketiga nisbat, yaitu al-mumatsalah, almuwafaqah, dan al-mubayanah. Bila antara keduanya --yakni antara bagian pewaris yang kedua dan masalah ahli warisnya yang lain-- ada mumatsalah (kesamaan), maka dibenarkan kedua masalah hanya dengan tashih yang pertama (lihat tabel). Sebagai contoh, seseorang wafat dan meninggalkan tiga anak perempuan, dua saudara kandung perempuan, dan seorang saudara kandung laki-laki. Kemudian salah seorang saudara kandung perempuan itu meninggal. Berarti ia meninggalkan seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari tiga (3). Ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (2 bagian). Dan sisanya (satu bagian) merupakan hak para 'ashabah (yakni dua saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung lakilaki). Kemudian kita lihat jumlah per kepalanya ada tabayun (perbedaan), maka 3 x 4 = 12. Kemudian angka ini kita kaLikan dengan pokok masalahnya, berarti 3 x 12 = 36. Bilangan inilah yang kemudian menjadi pokok masalah hasil pentashihan. Jadi, pembagiannya seperti berikut: ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (24 bagian), dan sisanya (12 bagian) dibagikan untuk dua orang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki, dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian anak perempuan, jadi setiap saudara kandung perempuan mendapat tiga (3) bagian, dan saudara laki-laki kandung enam (6) bagian. Kemudian, kita lihat antara bagian pewaris kedua (yaitu 3) dengan pokok masalahnya (juga dari 3) ada kesamaan (tamatsul). Karena itu, al-jami'ah di sini sama dengan hasil pentashihan pada masalah yang pertama (yakni dari 36). Kemudian, hak waris/bagian saudara kandung perempuan yang meninggal (3 bagian) hanya dibagikan kepada ahli waris, yaitu seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Kemudian, hasil pembagian itu ditambahkan pada hasil bagian mereka yang pertama. Maka, bagian saudara kandung perempuan menjadi empat (4): tiga (3) bagian --yang diperolehnya dari masalah pertama-- ditambah dengan bagian yang berasal dari saudara kandung perempuan yang meninggal, yaitu satu (1) bagian (3 + 1 = 4). Sedangkan saudara kandung laki-laki mendapatkan dua (2) bagian, yang kemudian ditambahkan dengan perolehannya dari peninggalan pada masalah pertama, yaitu enam (6) bagian. Maka saudara laki-laki kandung memperoleh delapan (8) bagian. Adapun tiga anak perempuan pewaris pertama, dalam masalah kedua ini tidak mendapatkan hak waris, disebabkan kedudukannya hanyalah sebagai keponakan pewaris kedua, yakni anak perempuan dari saudara laki-laki pewaris kedua. Karena itu, mereka mahjub. Berikut ini saya sertakan tabelnya: Jumlah kepala 12 3 anak pr. 2/3 Sdr. kandung pr. Sdr. kandung pr. Sdr. kandung lk. Tashih masalah ke I 3 2 3 1 6 36 24 3 meninggal Sdr. kandung pr. Sdr. kandung lk. al-Jami'ah 3 1 2 36 24 3+1=4 6+2=8

Contoh lain, seseorang wafat dan meninggalkan istri, ayah, ibu, cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Kemudian cucu tersebut meninggal dengan meninggalkan suami, ibu, tiga anak perempuan, dan dua anak laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut:

79

berarti 3 x 13 = 39. Untuk lebih meyakinkan kebenaran masalah kedua ini. Kemudian suami wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. Oleh sebab itu. berarti dua bagian. Kemudian. antara masalah yang pertama dengan masalah yang kedua ada mubayanah (perbedaan). Suami mendapatkan seperempat (1/4) berarti tiga bagian. istri. ibu. yang mendapat tiga bagian) di atas pokok masalah kedua. dan ini merupakan juz'us sahm (bagian dari bagian hak waris). Maka angka 39 ini merupakan jumlah bagian seluruh ahli waris dalam masalah kedua. Hal ini karena kita dapati bagian pewaris kedua (cucu perempuan keturunan anak laki-laki) dalam masalah pertama ada tamatsul (kesamaan) dengan pokok masalah yang kedua. Istri mendapatkan 1/4 (3 bagian). Kandung perempuan (2/3) Ibu 1/6 12 meninggal 39 26 26 10 4 18 6 80 . Ayah mendapatkan seperenam (1/6) berarti dua bagian. 1/2 Suami 1/4 meninggal Contoh yang memiliki kasus al-mubayanah: seseorang wafat dan meninggalkan suami. tetapi cukup menjadikan al-jami'ah yang pertama itu berlaku pada masalah kedua. kita lihat hasil perkaliannya: perkalian antara juz'us sahm yaitu tiga (3) dengan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan. Dalam keadaan demikian. Sedangkan pokok masalah yang kedua dari dua belas (12) yang di-'aul-kan menjadi tiga belas (13). keturunan anak lk. Berikut ini tabelnya: Pokok Masalah I 24 3 4 5 Pokok Masalah II 12 12 3 al-Jami'ah 24 3 4 5 3 Istri 1/8 Ibu 1/6 Ayah ('ashabah) Cucu pr. begitu juga dengan bagian ibu yakni seperenam (1/6). yaitu dua puluh empat (24). Jumlah semuanya adalah dua puluh empat (24) bagian. ibu. Lalu kita tempatkan bagian pewaris yang kedua (suami. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua belas (12) kemudian di-'aul-kan menjadi lima belas (15). dan saudara laki-laki seibu. kaidah yang berlaku di kalangan ulama faraid adalah kita menjadikan pokok masalah pertama sebagai al-jami'ah. Kemudian dua anak perempuan mendapatkan dua per tiga (2/3) berarti delapan (8) bagian. Maka hasil dari perkalian itu (yakni 15 x 13 = 195) merupakan al-jami'ah (penyatuan) antara dua masalah. ayah. kita lihat al-jami'ah dalam masalah ini sama dengan pokok masalah pertama. cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/2 (12 bagian). Juz'us sahm ini kemudian kita kalikan dengan bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. yang berarti bagian pewaris kedua hanya dibagikan kepada ahli warisnya. Jumlahnya lima belas (15) bagian. maka akan merupakan hasil bagian ahli waris dari al-jami'ah (penyatuan dari dua masalah). karenanya kita kalikan pokok masalah pertama (yakni 15) dengan pokok masalah yang kedua (yakni 13). dan dua anak perempuan.Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). Kemudian. ibu 1/6 (4 bagian). kita tidak lagi membuat al-jami'ah yang baru. Lihat tabel berikut: 13 15 3 2 2 8 3 13 6 2 12 Suami 1/4 Ayah 1/6 Ibu 1/6 2 anakperempuan (2/3) Sdr. sedangkan sisanya (lima bagian) merupakan bagian ayah sebagai jumlah 'ashabah.

cucu perempuan keturunan anak laki-laki. 81 . dan seterusnya. dan tashih ketiga pada posisi kedua. lk. Kasus seperti ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah "pengunduran diri" atau "menggugurkan diri dari hak warisnya". ayah. dan seterusnya.ialah seratus ribu dirham. Kemudian suami wafat dan meninggalkan anak perempuan.pr. takni kita tempatkan tashih kedua pada posisi pertama.a. saudara perempuan seibu. Syariat Islam juga memperbolehkan apabila salah seorang ahli waris menyatakan diri tidak akan mengambil hak warisnya. saudara seibu 1/3 3 1 2 3 1 1 1 meninggal 2 4 3 1 1 1 meninggal 1 4 2 7 7 7 3 1 2 6 1 6 7 1 2 3 6 7 1 4 2 8 8 8 4 C. Jumlah yang diambilnya --sebagaimana disebutkan dalam riwayat-. al-jami'ah ketiga. kita tetap harus menempuh cara seperti yang telah kita tempuh dalam almunasakhat. 1/6 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Nenek 1/6 2 sdr. kandung pr. dua saudara kandung perempuan. Misalnya. Numadhir binti al-Asbagh. laki-laki seibu 1/6 3 2 9 6 Catatan Kemungkinan besar dapat pula terjadi adanya al-jami'ah lebih dari satu. atau siapa saja yang ditunjuknya. dan ibu. Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf r.Istri 1/4 Sdr. Misalnya. dan paman kandung (saudara ayah). Dalam hal ini dia hanya meminta imbalan berupa sejumlah uang atau barang tertentu dari salah seorang ahli waris lainnya ataupun dari harta peninggalan yang ada. Ketika ia wafat. Kemudian anak perempuan juga meninggal. dan bagian itu diberikan kepada ahli waris yang lain. adalah seorang sahabat yang mempunyai empat orang istri. Dan hasilnya dinamakan al-jami'ah kedua. dalam suatu keadaan pembagian waris salah seorang ahli warisnya wafat sebelum pembagian. salah seorang istrinya. Maka jika terjadi hal seperti ini. Hal ini dalam syariat Islam dibenarkan dan diperbolehkan. Untuk menjelaskan hal ini perlu kiranya saya kemukakan contoh tentang bentuk al-jami'ah yang lebih dari satu ini. 2/3 2 sdr. dan seterusnya. dan meninggalkan nenek. seseorang wafat meninggalkan suami. seibu 1/6 Paman ('ashabah) Anak perempuan 1/2 Cucu pr. At-Takharuj min at-Tarikah Yang dimaksud dengan at-takharuj min at-tarikah ialah pengunduran diri seorang ahli waris dari hak yang dimilikinya untuk mendapatkan bagian (secara syar'i). Perhatikan tabel berikut: 2 6 Suami 1/2 Sdr. kemudian ada lagi yang meninggal. menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil hak waris sekadar seperempat dari seperdelapan yang menjadi haknya. dan dua saudara laki-laki seibu.

Tata Cara Pelaksanaannya Apabila salah seorang ahli waris ada yang menyatakan mengundurkan diri. dan istri. ia hanya memberitahukannya kepada salah seorang dari ahli waris yang ditunjuknya dan bersepakat bersama.000 Total = 24. Kemudian. Lalu sisanya (yakni 24 . warisan itu hanya dibagikan kepada istri dan kedua anak laki-laki.000 Bagian ayah 9 x 2. Istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti lima (5) bagian.000. Cara pertama: kenalilah pokok masalahnya. hasilnya seperti berikut: Nilai per bagian adalah 42. dan setelah ditashih menjadi empat puluh. dan menggugurkan haknya untuk menerima bagian dari harta yang berjumlah Rp 42 juta itu.000 Cara kedua: apabila salah seorang ahli waris menyerahkan atau menggugurkan hakuya lalu memberikannya kepada salah seorang ahli waris lainnya. kemudian keluarkanlah bagian ahli waris yang mengundurkan diri. yakni seperdelapan dari dua puluh empat. dan uang sebanyak Rp 42 juta. berarti tiga (3) saham. sedangkan bagian anak perempuan dilimpahkan kepada salah seorang saudara laki-laki yang diberinya hak bagian. Kemudian istri menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil rumah. hak anak perempuan itu diberikan kepada salah seorang saudara lakilakinya yang ia tunjuk sebelumnya. kemudian kita hilangkan (ambil) hak istri. seseorang wafat dan meninggalkan seorang isteri. dan cara kedua. Kemudian anak perempuan itu menggugurkan haknya dan memberikannya kepada salah seorang dari saudara laki-lakinya.000. Misalnya. Maka. Sebagai contoh. dengan imbalan sesuatu yang telah disepakati oleh keduanya. pokok masalahnya dari delapan.000 Bagian anak perempuan adalah 12 x 2. dan sisanya --yakni tujuh bagian-adalah bagian anak perempuan. Dalam keadaan demikian. Rincian pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24).000 = 42. seseorang wafat dan meninggalkan ayah. Lalu jumlah bagian kedua ahli waris itulah yang menjadi pokok masalahnya. Maka jumlah sisa bagian yang ada itulah pokok masalahnya. pewaris meninggalkan sebuah rumah. anak perempuan.000 = 18. seorang anak perempuan.000.000 = 24. sehingga seolah-olah ia telah menerima bagiannya. Pertama. Perhatikan tabel berikut: Pokok masalah 8 Isteri 1/8 Anak laki laki ('ashabah) Anak laki laki ('ashabah) Anak perempuan ('ashabah) Tashih 40 5 14 14 7 40 5 14 14+14 - 1 7 Maka. Kemudian dari pokok masalah itu dibagikan untuk hak ayah dan anak perempuan.000. maka pembagiannya hanya dengan cara melimpahkan bagian hak ahli waris yang mengundurkan diri itu kepada bagian orang yang diberi.000. 82 .000: 21 = 2. ia menyatakannya kepada seluruh ahli waris yang ada. maka ada dua cara yang dapat menjadi pilihannya. maka warisan harta tersebut hanya dibagikan kepada anak perempuan dan ayah. dan dua anak laki-laki. dan bagian setiap anak laki-laki empat belas (14) bagian. Kemudian sebagai misal.000. dan sisanya dibagikan kepada ahli waris yang ada.000 + 18. atau menyatakan hanya akan mengambil sebagian saja dari hak warisnya.3 = 21) merupakan pokok masalah bagi hak ayah dan anak perempuan. Dengan demikian.000.000.000.

yang asalnya dalam bahasa Arab berarti 'tempat pembentukan/menyimpan janin dalam perut ibu'. sebab mereka memiliki kekerabatan dengan pewaris. Lebih jauh mereka mengatakan bahwa bila harta waris tidak ada ashhabul furudh atau 'ashabah yang mengambilnya. bibi (saudara perempuan ayah atau ibu). maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi (HR Bukhari. Kemudian dikembangkan menjadi 'kerabat'. Muslim. Lebih jauh golongan kedua ini mengatakan bahwa dzawil arham adalah lebih berhak untuk menerima harta waris dibandingkan lainnya. dan bukan pula termasuk dari para 'ashabah. yaitu Malik dan Syafi'i rahimahumullah.a. cucu laki-laki dari anak perempuan. namun mereka tidak mewarisinya secara ashhabul furudh dan tidak pula secara 'ashabah. Ibnu Mas'ud. maka seketika itu dilimpahkan kepada baitulmal kaum muslim untuk disalurkan demi kepentingan masyarakat Islam pada umumnya. bila tidak ada ashhabul furudh... dan sebagainya. baik dalam Al-Qur'an ataupun Sunnah. sama halnya dengan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. Juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal rahimahumullah. dalam sebagian riwayat darinya. " (an-Nisa': 1) "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muhammad: 22) Rasulullah saw. ataupun 'ashabah yang menerima harta pewaris. di antaranya Umar bin Khathab. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham Para imam mujtahid berbeda pendapat dalam masalah hak waris dzawil arham. dan (peliharalah) hubungan silaturahim. HAK WARIS DZAWIL ARHAM A. dan Ali bin Abi Thalib. Pendapat ini merupakan jumhur ulama. Definisi Dzawil Arham Arham adalah bentuk jamak dari kata rahmun. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. keponakan laki-laki dari saudara perempuan. baik dalam bahasa Arab ataupun dalam istilah syariat Islam. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain. baik datangnya dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. Misalnya. Pengertian ini tentu saja disandarkan karena adanya rahim yang menyatukan asal mereka. lafazh rahim tersebut umum digunakan dengan makna 'kerabat'. bersabda: "Barangsiapa yang berkehendak untuk dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya. Karena itu mereka lebih diutamakan untuk menerima harta tersebut daripada baitulmal. Maksudnya. B. Jadi. paman (saudara laki-laki ibu). Dengan demikian. Dengan demikian. dzawil arham adalah ahli waris yang mempunyai tali kekerabatan dengan pewaris. dan Ibnu Abbas r. Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh Imam Malik dan Syafi'i (golongan pertama) ialah: 83 .. dan lainnya) Adapun lafazh dzawil arham yang dimaksud dalam istilah fuqaha adalah kerabat pewaris yang tidak mempunyai bagian/hak waris yang tertentu. Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama: golongan ini berpendapat bahwa dzawil arham atau para kerabat tidak berhak mendapat waris. dzawil arham adalah mereka yang bukan termasuk ashhabul furudh dan bukan pula 'ashabah. dan juga merupakan pendapat dua imam. Kedua: golongan kedua ini berpendapat bahwa dzawil arham (kerabat) berhak mendapat waris. tidak dibenarkan jika harta tersebut diberikan kepada dzawil arham.a. Allah berfirman: ". Di antara mereka yang berpendapat demikian ialah Zaid bin Tsabit r.X.

termasuk ashhabul furudh. lafazh arham yang berarti kerabat adalah umum. yakni Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. para kerabatlah yang paling berhak untuk menerima harta peninggalan seorang pewaris. 3. Kemudian sebagaimana dinyatakan oleh mayoritas ulama bahwa ayat di atas me-mansukh (menghapus) kebiasaan pada awal munculnya Islam. baik sedikit ataupun banyak. bila kita memberikan hak waris kepada mereka (dzawil arham) berarti kita memberikan hak waris tanpa dilandasi dalil pasti dan kuat. maka kegunaan dan faedahnya akan sangat minim. 84 . bila diserahkan kepada kerabatnya. Hal ini juga berdasarkan firman-Nya yang lain: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Adapun golongan kedua. Asal pemberian hak waris atau asal penerimaan hak waris adalah dengan adanya nash syar'i dan qath'i dari AlQur'an atau Sunnah. menjawab: "Sesungguhnya Jibril telah memberitahukan kepadaku bahwa dari keduanya tidak ada hak menerima waris sedikit pun.beliau saw. Padahal dalam kaidah ushul fiqih telah ditegaskan bahwa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan daripada kemaslahatan pribadi. para ''ashabah. As-Sunnah. sedangkan bibi tidak mendapatkannya. Maka jika keduanya tidak berhak untuk menerima harta waris. baik ashhabul furudh. Hal seperti ini menurut syariat Islam adalah batil. dan hanya kalangan mereka saja yang merasakannya. maka berikanlah harta waris itu kepada kerabatnya dan janganlah mendahulukan yang lain. 2. para 'ashabah. Dengan demikian. Rasulullah saw.bila diserahkan ke baitulmal akan dapat mewujudkan kemaslahatan umum. Seperti yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan dzawil arham adalah para kerabat. pada masa itu kaum muslimin saling mewarisi disebabkan menolong dan hijrah. tidak mungkin dan tidak dibenarkan bila kita memberikan hak waris kepada kerabat lain. maka yang dapat saling mewarisi hanyalah antara sesama kerabat (dzawil arham).merekalah yang lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang yang bukan kerabat.. Namun sebaliknya. bila ternyata tidak ada ahli warisnya secara sah dan benar --baik dari ashhabul furudh-nya ataupun para 'ashabahnya-.. Bila pewaris mempunyai kerabat dan kebetulan ia meninggalkan harta waris. Memang sangat jelas betapa dekatnya kekerabatan saudara perempuan ayah ataupun saudara perempuan ibu dibandingkan kerabat lainnya. Oleh karena itu. tidak memberikan hak waris kepada para bibi. mereka (dzawil arham) berhak untuk menerima warisan. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. atau selain dari keduanya-. Pendek kata. Hal demikian dalam dunia fiqih dikenal dengan istilah tarjih bilaa murajjih yang berarti batil. kerabat lain pun demikian. Sebab. Atas dasar inilah maka baitulmal lebih diutamakan untuk menyimpan harta waris yang tidak ada ashhabul furudh dan 'ashabahnya ketimbang para kerabat. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah: ". Harta peninggalan. maka tidak pula kepada kerabat yang lain. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah." 2. sebab umat Islam akan ikut merasakan faedah dan kegunaannya. Dengan dasar ini dapat dipetik pengertian bahwa karena Rasulullah saw. serta selain keduanya. Jadi. ketika ditanya tentang hak waris bibi --baik dari garis ayah maupun dari ibu-. dan logika." (an-Nisa': 7) Melalui ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa kaum laki-laki dan wanita mempunyai hak untuk menerima warisan yang ditinggalkan kerabatnya. atas dasar inilah maka para kerabat pewaris lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang baitulmal. Di sini. Jadi. Ayat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa yang disebut kerabat --siapa pun mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. menyatakan bahwa dzawil arham atau para kerabat berhak mendapatkan waris. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dan harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Dan dalam hal ini tidak ada satu pun nash yang pasti dan kuat yang menyatakan wajibnya dzawil arham untuk mendapat waris. mereka mendasari pendapatnya itu dengan Al-Qur'an.1. makna kata itu mencakup kerabat yang mempunyai hubungan rahim atau lebih umumnya hubungan darah." (al-Anfal: 75) Makna yang mendasar dari dalil ini ialah bahwa Allah SWT telah menyatakan atau bahkan menegaskan dalam KitabNya bahwa para kerabat lebih berhak untuk mendapatkan atau menerima hak waris daripada yang lain. Dengan turunnya ayat ini.

bertanya kepada Qais bin Ashim.a. kelompok pertama berpendapat lebih mengutamakan baitulmal ketimbang kerabat. Kemudian Rasul pun memberikan harta warisan peninggalan Tsabit kepada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir. Ketika Tsabit bin ad-Dahjah meninggal dunia.a. ikatan dari dua arah sudah barang tentu akan lebih kuat dibandingkan ikatan satu arah. Sebab. kita dapat menyimpulkan bahwa pendapat jumhur ulama (kelompok kedua) lebih rajih (kuat dan akurat). Tidak ada jawaban lain untuk pertanyaan seperti itu kecuali: "telah lama tiada".--. untuk memberikan kepada paman Sahal tersebut. maka Rasulullah saw. dan kami tidak mengetahui kerabatnya. Setelah membandingkan kedua pendapat itu. Di samping itu. yang bukan dari ashhabul furudh dan bukan pula termasuk 'ashabah. Atau. ketika musuh-musuh Islam berhasil memutus kelangsungan hidup khilafah Islam dengan memporakporandakan 85 . Permasalahan ini sama seperti dalam kasus adanya saudara kandung laki-laki dengan saudara laki-laki seayah dalam suatu keadaan pembagian harta waris. dari ayah dan dari ibu. ikatannya dari dua arah. akan hak waris kepada dzawil arham menunjukkan dengan tegas dan pasti bahwa para kerabat berhak menerima harta waris bila ternyata pewaris tidak mempunyai ashhabul furudh yang berhak untuk menerimanya atau para 'ashabah. "Yang kami ketahui orang itu dikenal sebagai asing nasabnya. Karena sesungguhnya aku telah mendengar bahwa Rasulullah saw. adil. Umar bin Khathab r. Sebab. sedangkan saudara seayah hanya dari ayah. Dengan pemberian Rasulullah saw. Dalam suatu atsar diriwayatkan dari Umar bin Khathab r. Keponakan laki-laki dari anak saudara perempuan tidak lain hanyalah merupakan kerabat.Adapun dalil dari Sunnah Nabawiyah adalah seperti yang diberitakan dalam sebuah riwayat masyhur. baitulmal harus terjamin pengelolaannya. Terlebih lagi pada masa kita sekarang ini. yaitu ikatan Islam --karena pewaris seorang muslim. dimanakah adanya baitulmal yang demikian. Dan hal ini terbukti seperti yang banyak dikisahkan dalam kitab-kitab tarikh. maka Umar bin Khathab pasti tidak akan memerintahkan kepada Abu Ubaidah Ibnul Jarrah r. Di samping dalil yang mereka kemukakan lebih kuat dan akurat. Berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris. tabi'in. yang dalam hal ini seluruh harta waris menjadi hak saudara kandung laki-laki. bahwa suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mengajukan persoalan kepada Umar. mungkin juga bahwa bibi (baik dari ayah atau ibu) tidak berhak mendapat waris ketika berbarengan dengan ashhabul furudh atau para 'ashabah. dan imam mujtahidin. adil dalam memberi kepada setiap yang berhak. Kalaulah baitulmal lebih berhak untuk menampung harta peninggalan pewaris yang tidak mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh dan 'ashabah-nya.a adalah seorang khalifah Islam yang dikenal sangat mengu tamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Inilah usaha untuk menyatukan dua hadits yang sepintas bertentangan. Abu Ubaidah menceritakan bahwa Sahal bin Hunaif telah meninggal karena terkena anak panah yang dilepaskan seseorang. Di antaranya. yaitu Abu Lubabah bin Abdul Mundir.merupakan dalil yang kuat bahwa kerabat lebih berhak menerima harta waris peninggalan pewaris ketimbang baitulmal. Adapun dalil logikanya seperti berikut: sesungguhnya para kerabat jauh lebih berhak untuk menerima harta warisan daripada baitulmal. tentang hak waris bibi ketika itu disebabkan ada ashhabul furudh atau ada 'ashabah-nya. karena ikatan antara baitulmal dan pewaris hanya dari satu arah.jawaban Rasulullah saw. yang jelas --jika melihat konteks hadits yang pernah dikemukakan-. Umar menanggapi masalah itu dan memerintahkan kepada Abu Ubaidah untuk memberikan harta peninggalan Sahal kepada pamannya." Atsar ini --yang di dalamnya Umar al-Faruq memberitakan sabda Rasulullah saw. Jadi. Sebagai contoh. Alasannya. juga tampak lebih adil apalagi jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan dewasa ini. dalam riwayat ini dikisahkan. Sedangkan Sahal tidak mempunyai kerabat kecuali hanya paman. Oleh sebab itu. Maka muncul pertanyaan. "Apakah engkau mengetahui nasab orang ini?" Qais menjawab. khususnya pada masa kita sekarang ini. karena memang merupakan pendapat mayoritas sahabat. kecuali hanya anak laki-laki dari saudara perempuannya. yakni saudara laki-laki ibunya. dalam hal ini ia mempunyai dua ikatan: ikatan Islam dan ikatan rahim. bersabda: "(Saudara laki-laki ibu) berhak menerima waris bagi mayit yang tidak mempunyai keturunan atau kerabat yang berhak untuk menerimanya. kelompok kedua (jumhur ulama) ini menyanggah dalil yang dikemukakan oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i bahwa hadits itu kemungkinannya ada sebelum turunnya ayat di atas. dan amanah. dan tepat guna dalam menyalurkan harta baitulmal. sementara di sisi lain mereka mensyaratkan keberadaan baitulmal dengan persyaratan khusus.

pembagiannya seperti berikut: anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. ahlur-rahmi menyatakan bahwa semua kerabat berhak mendapat waris secara rata. 2. mereka akan membagikan hak ahli waris yang ada sesuai dengan bagian ahli waris yang lebih dekat. bahkan dhaif dan tertolak. dan keponakan laki-laki keturunan saudara laki-laki seibu. bibi (saudara perempuan ayah). karena itu ia mendapatkan sisanya. Dengan demikian. tetapi melihat pada yang lebih dekat dari ashhabul furudh dan para 'ashabahnya. ketika pengelolaan baitulmal tidak lagi teratur sehingga terjadi penyalahgunaan. Untuk memperjelas pemahaman tentang mazhab ini perlu saya kemukakan contoh-contoh seperti berikut: 1. para ulama dari mazhab Maliki dan mazhab Syafi'i mutakhir memberikan fatwa dengan mendahulukan para kerabat ketimbang baitulmal. kemudian membagi-baginya menjadi negeri dan wilayah yang tidak memiliki kekuatan. Cara Pembagian Waris Para Kerabat Di antara fuqaha terjadi perbedaan pendapat mengenai tata cara memberikan hak waris kepada para kerabat. Inilah pendapat mazhab Imam Ahmad bin Hambal. Mazhab ini dikenal dengan sebutan ahlur-rahmi disebabkan orang-orang yang menganut pendapat ini tidak mau membedakan antara satu ahli waris dengan ahli waris yang lain dalam hal pembagian. Sdr. dan keponakan perempuan keturunan saudara laki-laki seayah. Bila seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak perempuan. kandung pr. Menurut Ahlut-Tanzil Golongan ini disebut ahlut-tanzil dikarenakan mereka mendudukkan keturunan ahli waris pada kedudukan pokok (induk) ahli waris asalnya. dan dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok pendapat. dan saudara laki-laki seayah. Inilah gambarannya: Anak kandung pr. 1/2. 1/2. Yang menjadi landasan mereka ialah bahwa seluruh ahli waris menyatu haknya karena adanya ikatan kekerabatan. laki-laki seayah mahjub. 1. Sdr." Melihat kenyataan demikian. mereka juga tidak menganggap kuat serta lemahnya kekerabatan seseorang. yakni pokoknya. C. Mereka tidak memperhitungkan ahli waris yang ada (yang masih hidup). Mazhab ini tidak masyhur. tanpa melebihkan atau mengurangi salah seorang dari ahli waris yang ada. 86 . Maka keadaan ini dapat dikategorikan sama dengan meninggalkan anak perempuan. saudara kandung perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang cucu perempuan keturunan anak perempuan. keponakan laki-laki keturunan saudara kandung perempuan. juga merupakan pendapat para ulama mutakhir dari kalangan Maliki dan Syafi'i. Maka dalam hal ini mereka mendapatkan bagian waris secara rata. khususnya setelah abad ketiga Hijriah. Menurut Ahlur-Rahmi Mengenai cara pembagian hak waris para kerabat. Misalnya. Dengan demikian. bibi (saudara perempuan ibu). dari mulai akhir abad ketiga Hijriah hingga masa kita dewasa ini. Karenanya tidak ada satu pun dari ulama atau para imam mujtahid vang mengakuinya apalagi mengikuti pendapat ini dengan alasan telah sangat nyata bertentangan dengan kaidah syar'iyah yang masyhur dalam disiplin ilmu mawarits. seorang keponakan perempuan dari saudara perempuan. tanpa membedakan jauh-dekatnya kekerabatan. persatuan dan kesatuan muslimin. dapat kita katakan bahwa kedua kelompok ulama tersebut pada akhirnya bersepakat untuk lebih mengutamakan pemberian harta waris kepada kerabat ketimbang baitulmal. Oleh karena itu. dan tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dengan perempuan. sedangkan saudara laki-laki seayah tidak mendapat bagian (mahjub) disebabkan saudara kandung perempuan di sini sebagai 'ashabah. Sungguh tepat apa yang digambarkan seorang penyair dalam sebuah bait syairnya: "Setiap jamaah di kalangan kita mempunyai iman. Hal ini dapat terlihat tentunya dengan melihat dan mempertimbangkan kemaslahatan yang ada.barisan. namun kesemuanya tidak mempunyai imam. saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian.

sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada jalan lain untuk mengenali dan menuntaskan masalah ini kecuali dengan mengembalikan atau menisbatkannya kepada pokok ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya kepada pewaris. Pr. Sebagaimana telah diungkapkan. dan sepupu perempuan anak dari paman kandung juga mendapatkan seperenam (1/6) bagian sebagai 'ashabah. sdr. kemudian barulah yang lebih kuat di antara kerabat yang ada. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris.2. Seseorang wafat dan meninggalkan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. Oleh karena itu. Hal ini. adalah bahwa memberikan hak waris kepada dzawil arham tidak dibenarkan kecuali dengan berlandaskan pada nash-nash umum --yang justru tidak memberikan rincian mengenai besarnya bagian mereka masing-masing dan tidak ada pentarjihan secara jelas. Ketika beliau memberi hak waris kepada seorang bibi (saudara perempuan ayah) dan bibi (saudara perempuan ibu) kebetulan saat itu tidak ada ahli waris lainnya-. dalam hal melaksanakan pembagian waris untuk dzawil arham mazhab ini membaginya secara kelompok. 1/6. saudara perempuan seayah. dan paman kandung. dan diikuti oleh para ulama mazhab Hanafi. berarti yang paling berhak di antara mereka (para 'ashabah) adalah yang paling dekat kepada pewaris dari segi dekat dan kuatnya kekerabatan. dan sepupu perempuan keturunan paman kandung (saudara laki-laki seayah).a. dilakukan dengan mengqiyaskannya pada hak para 'ashabah. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua kakek pewaris atau kedua nenek pewaris. dan keputusan yang dilakukan Ibnu Mas'ud menunjukkan betapa kuatnya pendapat mereka. yakni dengan melihat kepada yang lebih dekat derajat kekerabatannya kepada pewaris. Hal demikian dikarenakan sama saja dengan pewaris meninggalkan saudara kandung perempuan. Lebih jauh mazhab ini menyatakan bahwa hadits Rasulullah saw. menurut mereka. yang tampak sangat logis.jauh lebih utama dan bahkan lebih berhak. Maka pembagiannya seperti berikut: keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan mendapatkan setengah (1/2) bagian. keponakan perempuan keturunan saudara perempuan seayah. dengan mengembalikan kepada pokoknya --karena memang lebih mendekatkan posisinya kepada pewaris-. Adapun dalih orang-orang yang memperkuat mazhab kedua ini. Menurut Ahlul Qarabah Adapun mazhab ketiga menyatakan bahwa hak waris para dzawil arham ditentukan dengan melihat derajat kekerabatan mereka kepada pewaris. pr. saudara perempuan seibu. Inilah gambarnya: Sdr. yaitu melihat siapa yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan pewaris. Selain itu. seibu paman kand. 3. Orang-orang (ahli waris) yang bernisbat kepada pewaris. Di samping itu. pr. kemudian menjadikan masing-masing golongan mempunyai cabang dan keadaannya.a. 4. keponakan perempuan keturunan dari saudara perempuan seayah mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3).. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu mendapatkan seperenam (1/6) bagian secara fardh. dan sepertiga lagi diberikannya kepada bibi (dari pihak ibu). Mazhab ini merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib r. rincian besarnya bagian ashhabul furudh dan para 'ashabah telah dijelaskan. ketika ia menerima pengaduan tentang pembagian waris seseorang yang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak wanita. Maka Ibnu Mas'ud memberikan setengah bagian untuk cucu perempuan dan setengah bagian lainnya untuk keponakan perempuan. Lebih jauh akan dijelaskan hak masing-masing golongan dan cabang tersebut akan hak warisnya. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu. 2. mazhab ketiga ini telah mengelompokkan dan membagi dzawil arham menjadi empat golongan. dan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. seayah 1/6. 3/6. Maka. Orang-orang yang dinisbati kekerabatan oleh pewaris. kand. sdr. Yang bernisbat kepada pewaris sebagai berikut: 87 . pelaksanaannya tetap mengikuti kaidah umum pembagian waris: bagian laki-laki adalah dua kali bagian wanita. Dalam praktiknya sama seperti membagi hak waris para 'ashabah. Selain itu. 1/6 Begitulah cara pembagiannya. 3. Adapun yang dijadikan dalil oleh mazhab ahlut-tanzil ini ialah riwayat yang marfu' (sampai sanadnya) kepada Rasulullah saw. juga berlandaskan fatwa Ibnu Mas'ud r. Keempat golongan tersebut adalah: 1. Sebab.maka beliau memberi bibi (dari pihak ayah) dengan dua per tiga (2/3) bagian.

c. dan seterusnya). b. Kemudian paman (saudara lakilaki ibu) pewaris. Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah Telah saya kemukakan bahwa ahlul qarabah ini mengelompokkan dan memberikan urutan --dalam pembagian hak waris-. f. Yang bernisbat kepada kedua kakek atau nenek dari pihak ayah ataupun ibu: a. misalnya keturunan laki-laki dan perempuan dari bibi sang ayah. Cucu laki-laki keturunan anak perempuan. Jika tidak ada juga. dan seterusnya. ataupun seibu. ibu dari ibu ayahnya ibu. dan seterusnya seperti ibu dari ayahnya ibu. ternyata kita menemukan beberapa perbedaan yang jelas antara mazhab ahlut-tanzil dengan ahlul qarabah: 1. Yang dinisbati oleh pewaris: a. d. c.dari kakek dan nenek. dan juga paman nenek. kakek. dan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita sebagaimana yang berlaku pula dalam kalangan ahlul 'ashabah. b. seayah. Keturunan dari saudara laki-laki seibu dan seterusnya. atau seibu. ayah dari ayahnya ibu (kakek dari ibu). seayah. dan seterusnya seperti ayah dari ibu. Nenek yang bukan sahih. Sedangkan oleh ahlul qarabah yang dijadikan anggapan ialah "dekatnya dengan kekerabatan". Juga semua pamannya dan bibinya (paman dan bibi dari ayah). Sedangkan ahlul qarabah menyusun secara berurutan dan mendahulukan satu dari yang lain sebagai analogi dari 'ashabah bi nafsihi. baik laki-laki ataupun perempuan. Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah Dari uraian-uraian sebelumnya. yang pertama kali berhak menerima waris adalah keturunan pewaris (anak. cucu. Yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris: a. Buyut laki-laki dari keturunan cucu perempuan dan keturunan anak laki-laki. atau yang seayah. dan seterusnya. Keturunan perempuan dari saudara kandung laki-laki. maka pokoknya: ayah. Juga pamannya (saudara ayah) yang seibu (mencakup semua paman dan bibi dari ibu. dan seterusnya. dan seterusnya. Bibi dari ayah pewaris. Bila mereka tidak ada. seibu. baik bibi kandung. Kemudian paman dan bibi --baik dari ayah maupun ibu-. baik keturunan laki-laki ataupun perempuan. baik yang kandung maupun yang seayah).dengan mengqiyas pada jalur 'ashabah. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan di atas (Butir e) dan seterusnya. e. keturunan dari pamannya (saudara laki-laki ibu). b. Kakek yang bukan sahih. dan paman (saudara ayah) ibu. Bila mereka tidak ada. Dengan demikian. baik laki-laki ataupun perempuan. 2. menurut ahlul qarabah. Itulah keenam kelompok yang bernisbat kepada kedua kakek dan kedua nenek pewaris. Jika tidak ada. Paman kakak yang seibu.. Ahlut-tanzil tidak menyusun secara berurutan kelompok per kelompok. Bibi (saudara perempuan ayah) pewaris.a. atau seayah. keturunan paman (saudara laki-laki ayah) yang seibu. baik yang kandung. dan tidak pula mendahulukan antara satu dari yang lain. b. maka barulah keturunan saudara laki-laki (keponakan). keturunan bibinya (saudara perempuan ibu). dan seterusnya. atau yang seibu. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan itu dan seterusnya. dan bibi (saudara perempuan ibu). Keturunan saudara kandung perempuan. Dasar yang dianggap oleh ahlut-tanzil dalam mendahulukan satu dari yang lain adalah "dekatnya keturunan" dengan sang ahli waris shahibul fardh atau 'ashabah. Keturunan dari bibi (saudara perempuan ayah). maka barulah keturunan 88 . maka barulah keturunan paman (dari pihak ayah dan ibu).

Apabila segi derajat dan kedekatannya kepada pewaris sama. maka pembagiannya sebagai berikut: a. pewaris meninggalkan ahli waris cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. Apabila ada kesamaan pada kedekatan derajat kekerabatan. Sebab. Artinya. Dengan demikian. 89 . dan sisanya diberikan kepada dzawil arham. Misalnya. tampak ada kesamaan derajat di antara kedua ahli waris. bila ternyata tidak ada shahibul fardh. Dalam contoh ini. 2. seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan dari anak paman kandung. maka yang didahulukan adalah cucu perempuan dari anak perempuan. orang yang wafat ini meninggalkan tiga putri keturunan anak paman kandung. Sedangkan kita ketahui bahwa kedudukan ahli waris secara ar-radd dalam penerimaan waris lebih didahulukan dibandingkan dzawil arham. b. semua ahli waris dari dzawil arham berhak menerima bagian. maka ia akan menerima seluruh harta waris. maka ia akan menerima hak warisnya secara fardh. sisa harta waris akan diberikan kepada dzawil arham. Dan bila ada shahibul fardh. Namun. Sebab kedudukan hak suami atau istri secara radd itu sesudah kedudukan dzawil arham. c. maka ia akan menerima sisanya. maka haruslah mengutamakan mana yang lebih kuat kedekatan kekerabatannya. dengan anak cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. Misalnya. karena ketiganya memiliki derajat yang sama dari segi kekerabatan. Maka harta warisnya dibagi secara merata di antara mereka. Sebab 'ashabah akan mengambil seluruh hak waris yang ada. tetapi sisanya pun akan mereka ambil karena merupakan hak mereka secara radd. keduanya memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris sama-sama sebagai cucu. seorang anak perempuan dari anak paman yang lain (kandung). dan seorang anak perempuan dari anak paman kandung yang lain. Hanya saja. Beberapa Catatan Penting: Apabila dzawil arham (baik laki-laki maupun perempuan) seorang diri menjadi ahli waris. berdasarkan urutan tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok ahli waris yang lebih awal disebutkan dapat menggugurkan kelompok berikutnya. Tidak ada shahibul fardh. Sedangkan jika dia berbarengan dengan salah satu dari suami atau istri. seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Misalnya. maka yang lebih didahulukan adalah cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Dengan demikian. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham 1. Apabila dalam suatu keadaan terjadi persamaan. Begitu seterusnya. dan berarti seluruh harta waris menjadi haknya. apabila shahibul fardh hanya terdiri dari suami atau istri saja. maka dalam keadaan seperti ini kita harus mengutamakan keponakan kandung. seperti anak perempuan dari paman kandung atau seayah. sedangkan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan melalui dzawil arham. Misalnya. Dan bila bersamaaan dengan ahli waris lain. setelah diambil hak para shahibul fardh. Mengutamakan dekatnya kekerabatan. dan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan. maka yang lebih berhak untuk dintamakan adalah yang paling dekat dengan pewaris lewat shahibul fardh atau 'ashabah. jika ada shahibul fardh. mereka tidak sekadar mengambil bagiannya. Atau dengan redaksi lain.mereka yang sederajat dengan mereka. Yang demikian itu disebabkan keponakan kandung lebih kuat kekerabatannya. Begitulah seterusnya. Tidak ada penta'shib ('ashabah). seseorang wafat dan meninggalkan anak perempuan dari saudara kandung laki-laki (yakni keponakan kandung) dengan anak perempuan dari saudara laki-laki seayah (keponakan bukan kandung). D. d. maka pembagiannya dilakukan secara merata. maka para 'ashabah akan menerima sisa harta waris yang ada. cucu perempuan keturunan anak laki-laki bernasab kepada pewaris lewat ahli waris.

dan para ulama mazhab Hanafi. pada prinsipnya yang banyak diamalkan adalah pandangan mazhab ahlut-tanzil sebagai mazhab Imam Ahmad. Selain itu. penj. yang kemudian dianut oleh ulama muta'akhirin mazhab Maliki dan Syafi'i ---karena dari segi pengamalannya memang lebih mudah. bagi yang menghendaki pengetahuan lebih luas dalam masalah ini dapat merujuknya pada kitab-kitab fiqih. seperti halnya dalam pembagian para 'ashabah. sekalipun dzawil arham itu keturunan saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. Namun. di kalangan ulama mazhab ini banyak dijumpai perbedaan tentang cara pembagian masing-masing kelompok tadi. 90 . terutama antara Imam Abi Yusuf dan Imam Muhammad (keduanya murid dan teman dekat Abu Hanifah. bagian laki-laki dua kali lebih besar bagian perempuan. Penutup Itulah sekelumit mengenai hak waris para dzawil arham menurut mazhab ahlul qarabah yang merupakan mazhab imam Ali bin Abi Thalib r.Catatan lain Di antara persoalan yang perlu saya kemukakan di sini ialah bahwa dalam pemberian hak waris terhadap para dzawil arham . saya tidak mengemukakannya di sini sebab akan bertele-tele dan menjenuhkan. Sebenamya. Oleh karenanya. Pendapat ini banyak diterapkan di sebagian negara Arab dan negara Islam lainnya.).a.

bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan. Suatu ketika ia dikunjungi kaumnya yang mengadukan suatu peristiwa. dan vonislah dengan cara melihat dari mana keluar air seninya." B. Karenanya dalam hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw. dan sebagainya. Amir pun menjadi gelisah dan tidak tidur sepanjang malam karena memikirkannya. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan. maka beliau menjawab dengan sabdanya: "Lihatlah dari tempat keluarnya air seni. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling (lebih) sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau wanita.-disebut sebagai musykil. Ia berkata: "Wahai kaumku. maka ia divonis sebagai khuntsa musykil. khanatsa wa takhannatsa. atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh. Sebab. Ketika Islam datang. 91 . Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu orang-orang Arab meninggalkannya. tetapi bila keluar dari vagina. Misalnya. bahwa Rasulullah saw. yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang laki-laki menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok." Ternyata vonis ini diterima secara aklamasi. ia dinyatakan sebagai perempuan. Amir kemudian memvonisnya sebagai laki-laki dan perempuan. adanya dua jenis kelamin pada seseorang --atau bahkan sama sekali tidak ada-. apakah ia tumbuh kumis. bagaimana cara ia bermimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina.XI. lihatlah jalan keluarnya air seni. atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya.). Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya. penj. Namun. Oleh karena itu. Definisi Banci Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari kata khanatsa berarti 'lunak' atau 'melunak'. Bila keluar dari penis. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi'i serta pendapat mayoritas sahabat. dan tidak menerima vonis tersebut. artinya tidak ada kejelasan. Dikisahkan bahwa Amir bin adz-Dzarb dikenal sebagai seorang yang bijak pada masa jahiliah." Amir merasa puas dengan gagasan tersebut. bersabda: "Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi. setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas. Maka dengan segera ia menemui kaumnya untuk mengganti vonis yang telah dijatuhkannya. apakah ia haid atau hamil." Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit). Akhirnya Amir memberitahukan persoalan tersebut kepada budaknya. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. Misalnya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r. bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan. ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian. Di samping melalui cara tersebut. maka ia sebagai laki-laki. ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita. maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil. budak wanita yang dimiliki Amir dan dikenal sangat cerdik menanyakan sebab-sebab yang menggelisahkan majikannya. maka ia divonis sebagai laki-laki dan mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. bahwa ada seorang wanita melahirkan anak dengan dua jenis kelamin. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini: 1. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil.a. Melihat sang majikan gelisah. misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang "air kecil". apakah tumbuh payudaranya. dikukuhkanlah vonis tersebut. Bila urinenya keluar dari penis. dan budak wanita itu berkata: "Cabutlah keputusan tadi.

C. Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masing-masing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. maka pokok masalahnya dari enam (6) tanpa harus di. maka divonis sebagai laki-laki. seorang anak perempuan. maka pokok masalahnya dari lima (5). kemudian di-'aul-kan menjadi delapan (8). 3. Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki. Bahkan. Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci 1. dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit. Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. Mazhab Syafi'i berpendapat. dan bagian anak banci lima (5). Maksudnya. Mazhab Maliki berpendapat. ibu. 2. bagian setiap ahli waris dan banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. kemudian disatukan dan dibagi menjadi dua. Sisa harta waris yaitu tiga (3) kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti. Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki. ibu enam (6) bagian. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya Untuk banci --menurut pendapat yang paling rajih-.hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya --keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita. Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi'i. Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas. Dan al-jami'ah (penyatuan) dari keduanya. dan saudara laki-laki banci. bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita). Pokok masalahnya dari enam (6) bila banci itu dikategorikan sebagai wanita. dan sisanya kita bekukan. Bahkan dalam mazhab Imam Syafi'i. seperti dalam masalah al-munasakhat. maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita. atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki. sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat (4). sedangkan bagian anak perempuan empat (4). Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan fuqaha mawarits mu'amalah bil adhar-yaitu jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit. dan seorang anak banci. Inilah tabelnya: 6 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci 8 3 2 3 6 3 2 1 24 9 6 4 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci kandung 92 .'aul-kan. Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan (9) bagian.2. atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris. saudara laki-laki banci tiga (3) bagian. Seseorang wafat meninggalkan seorang suami. maka gugurlah hak warisnya. bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya. Bagian anak laki-laki adalah delapan (8). menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat (24). Kemudian kita menyatukan (al-jami'ah) antara dua masalah. mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan. pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris. maka hasilnya menjadi hak/bagian banci.

saudara kandung perempuan enam (6) bagian.Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima (5) bagian dibekukan sementara. maka kita nyatakan bahwa ahli waris dalam keadaan hidup pada saat pewaris wafat. saudara kandung perempuan. dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas. maka pokok masalahnya dua (2). demikian juga jika ia lahir dalam keadaan mati. bagi janin yang masih di dalam kandungan ibunya belum dapat ditentukan hak waris yang diterimanya. kdg. Adapun sisanya. pr. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan: 93 . laki-laki atau perempuan. Ini tabelnya: 2 1 1 6 Suami 1/2 Sdr. apakah bayi tersebut akan lahir selamat atau tidak. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya. Dengan demikian. Maka pembagiannya seperti berikut: Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki. kdg. dan penyatuan dari keduanya menjadi empat belas (14). barulah kita bagikan kepada masing-masing ahli waris secara lengkap setelah kelahiran bayi. Bagian suami enam (6). sedangkan yang banci tidak diberikan haknya. E. Karena itu. dan saudara laki-laki seayah banci. 3. Secara ringkas dapat dikatakan. baik laki-laki maupun perempuan. Setelah itu..yang mengharuskan kita untuk segera membagi harta warisan dalam bentuk awal. Berkaitan dengan hal ini. dan melahirkannya dengan susah payah (pula) . D. dan satu atau kembar. pr." (al-Ahqaf: 15) Sedangkan menurut istilah fuqaha. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Namun demikian. karena belum dapat diketahui secara pasti keadaannya.telah saya kemukakan bahwa salah satu syarat yang harus terpenuhi oleh ahli waris adalah keberadaannya (hidup) ketika pewaris wafat. maka kita nyatakan bahwa ahli waris tidak ada ketika pewaris wafat. Dikatakan: "al-mar'atu haamil ma haamilatun idsaa kaanat hublaa" (wanita itu hamil apabila ia sedang mengandung janin). Pada pembahasan sebelumnya --tentang persyaratan hak waris/mewarisi-. Hanya kepada Allah saya memohon pertolongan. yakni dua (2) bagian dibekukan. 1/2 Sdr. 1/2 Banci lk. Setelah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup. dan pada kesempatan ini saya hanya akan utarakan secara global. Dalam masalah hamil ini ada beberapa hukum yang berkaitan dengan hak waris. tidak tertutup kemungkinan kita dihadapkan pada keadaan darurat --menyangkut kemaslahatan sebagian ahli waris-. untuk mengetahui secara pasti kita harus menunggu setelah bayi itu lahir. ibunya mengandungnya dengan susah payah. pr.. seayah 1/6 7 3 3 1 14 6 6 - Suami 1/2 Sdr. maka mustahil bagi kita untuk menentukan jumlah bagian waris yang harus diterimanya. selama janin yang dikandung belum dapat diketahui dengan pasti keadaannya. para pakar faraid menjelaskan hukum-hukum khusus secara rinci dengan menyertakan berbagai pertimbangan demi menjaga kemaslahatan ahli waris yang ada. yaitu janin yang dikandung dalam perut ibunya. sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh (7). Definisi Hamil Al-hamlu (hamil) dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata hamalat.

Bahkan..1. Sebagai ahli waris dalam keadaan memiliki kelamin (laki-laki atau perempuan). 2.: "Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati). 5.: "Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun sekalipun berada dalam falkah mighzal. dan ia dianggap tidak ada. Berarti bila janin itu lahir ia menjadi saudara laki-laki seibu pewaris. Dalam keadaan demikian berarti mahjub hak warisnya oleh adanya ayah pewaris. baik janin tersebut berkelamin laki-laki ataupun perempuan. Dengan demikian. Sebagai ahli waris tunggal. Bila gerakan itu hanya sejenak --seperti gerakan hewan yang dipotong-. Pokok masalahnya dari empat (4). Keadaan Janin Ada lima keadaan bagi janin dalam kaitannya dengan hak mewarisi. Adapun menurut mazhab Syafi'i dan Hambali. Keadaan Pertama Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yangada secara langsung. dan ibu yang sedang hamil dari ayah tiri pewaris. Kelima keadaan tersebut: 1. Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Dan tanda kehidupan yang tampak jelas bagi bayi yang baru lahir adalah jika bayi tersebut menangis. Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah r. Pernyataan ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad. bayi yang baru keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan. ayah. Sebagai ahli waris yang tidak berbeda hak warisnya.a. mau menyusui ibunya. Sebagai misal. maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan. Karenanya harta waris yang ada hanya dibagikan kepada istri seperempat (1/4). Bukan sebagai ahli waris dalam keadaan apa pun. disebabkan janin tersebut tidak termasuk ahli waris dalam segala kondisi. baik sebagai laki-laki ataupun perempuan. 4. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. atau yang semacamnya. ia tidak berhak mewarisi. sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan. Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat." Pernyataan Aisyah r. tanpa harus menunggu kelahiran janin yang ada di dalam kandungan. bersin. atau ada ahli waris lain namun ia majhub (terhalang) hak warisnya karena adanya janin. menurut mazhab Hanafi. F. Adapun mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam kandungan maksimal empat tahun. ibu sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil hak istri. apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati. atau ketika keluar dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil. 3. dan sisanya menjadi bagian ayah sebagai 'ashabah. atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati. Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup.a." (HR Nasa'i dan Tirmidzi) Namun. tersebut dapat dipastikan bersumber dari penjelasan Rasulullah saw. maka tidak berhak mendapatkan waris. Sedangkan persyaratan kedua dinyatakan sah dengan keluarnya bayi dalam keadaan nyata-nyata hidup. hal ini bisa ditandai dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut. dan bukan sebagai ahli waris dalam keadaan berkelamin ganda (banci). 2. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian pewaris.maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup. seperti yang disinyalir para ulama mazhab Hambali. jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris. Sebagai ahli waris dalam segala keadaannya baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Pendapat inilah yang paling akurat dalam mazhab Imam Ahmad. 94 .

Contoh lain. karena tidak ada sisa dari harta waris setelah diambil para ashhabul furudh yang ada. dan sisanya yang dua per tiga (2/3) dibekukan hingga janin yang ada di dalam kandungan itu lahir.maka dalam keadaan demikian hendaknya kita berikan dua ilustrasi. pr. Keadaan Ketiga Apabila janin yang ada di dalam kandungan sebagai ahli waris dalam segala keadaannya --hanya saja hak waris yang dimilikinya berbeda-beda (bisa laki-laki dan bisa perempuan)-. Bila yang lahir anak laki-laki. Setelah janin lahir dengan selamat. Sebab. Maka dalam keadaan demikian ia tidak berhak mendapatkan waris. dan bagian istri seperdelapan (1/8). untuk sementara dibekukan hingga janin telah dilahirkan. dan pembagiannya seperti berikut: ibu seperenam (1/6). oleh karenanya ia lebih utama dibanding kedudukan paman kandung. dan ipar perempuan yang sedang hamil (istri saudara kandung laki-laki). Jadi. maka sisa harta waris yang dibekukan itu menjadi hak paman.pr. ayah seperenam (1/6). ia akan lebih banyak memperoleh bagian daripada bayi perempuan. Namun. Sebab keponakan perempuan (anak perempuan keturunan saudara laki-laki) termasuk dzawil arham. jika bayi itu masuk kategori laki-laki. Sebab kedudukannya sebagai keponakan laki-laki (anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki). bila janin dikategorikan sebagai anak laki-laki. Tabelnya seperti berikut: 6 Suami 1/2 Ibu 1/6 3 sdr. dan hendaknya kita lakukan pembagian dengan dua cara dengan memberikan bagian ahli waris yang ada lebih sedikit dari bagian-bagian masing-masing. Namun. dan kita bekukan untuk janin dari bagian yang maksimal. apabila yang lahir anak perempuan. kita lihat sisanya yang menjadi bagian bayi yang masih dalam kandungan. boleh jadi. dan pokok masalahnya dari enam (6) di-'aul-kan menjadi sembilan (9). ibu. Sebagai misal. paman (saudara ayah). maka sisa harta waris yang dibekukan tadi diberikan dan dibagikan kepada ahli waris yang ada. dan sisanya merupakan bagian anak laki-laki sebagai 'ashaloub. maka dalam hal ini ia berhak mendapat bagian separo (1/2). berarti menjadi saudara laki-laki seayah. seibu 1/3 Sdr. maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperempat (1/4).seayah (hamil) 1/2 9 3 1 1 1 Sisanya tiga (3). berarti ia menjadi saudara perempuan seayah. tiga saudara perempuan seibu. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Bila yang lahir bayi perempuan. hendaknya kita berikan bagian yang lebih banyak dari jumlah maksimal kedua bagiannya. bila ternyata bayi tersebut perempuan. Dalam keadaan demikian. berarti kedudukannya sebagai anak laki-laki pewaris. maka dialah yang berhak untuk mendapatkan sisa harta yang dibekukan tadi. namun untuk sementara bagiannya dibekukan hingga kelahirannya.Keadaan Kedua Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yang ada dengan menganggap bahwa janin yang dikandung adalah salah satu dari ahli waris. namun bila ternyata laki-laki yang lahir. maka harta yang dibekukan tadi dibagikan lagi kepada ahli waris yang ada. Setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. maka hak warisnya diberikan kepadanya. dan istri ayah yang sedang hamil. Atau terkadang terjadi sebaliknya. maka sisa bagian yang dibekukan menjadi bagiannya. dan ayah. Pembagiannya seperti berikut: apabila istri ayah tersebut melahirkan bayi laki-laki. 95 . seseorang wafat dan meninggalkan istri. Sebagai contoh. ibu. Namun. bila lahir dan ternyata bukan termasuk dari ahli waris. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil.

Dan bila janin tadi lahir sebagai perempuan. Apabila janin telah keluar dari rahim ibunya. Inilah tabelnya. baik ia laki-laki ataupun perempuan. dan sisanya akan dibagikan sebagai tambahan (ar-radd) bila ternyata tidak ada 'ashabah. dan akan mendapat bagian separo (1/2) harta \varis yang ada. 1/2 Sdr. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil dan saudara kandung laki-laki. Dengan demikian. Bila janin itu lahir dengan hidup normal. Contoh lain. saudara perempuan seayah. seayah 1/6 Ibu (Janin) sdr. dalam kedua keadaannya. akan menggugurkan hak waris saudara laki-laki pewaris yang seibu tadi. bila bayi tersebut perempuan maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. Sebab. Sebagai misal. maka ia sebagai cucu perempuan dari keturunan anak lakilaki. bila janin tadi lahir sebagai laki-laki berarti kedudukannya sebagai cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. Maka janin yang masih dalam kandungan merupakan pokok ahli waris. seibu 1/6 Keadaan Kelima Apabila tidak ada ahli waris lain selain janin yang di dalam kandungan. Akan tetapi. pr. maka kita sisihkan bagian warisnya. pr. maka dalam keadaan seperti ini kita tangguhkan pembagian hak warisnya hingga tiba masa kelahiran janin tersebut.Istri 1/8 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Janin lk. 'ashabah Sisanya satu (1). pr. dan saudara laki-laki tidak mendapat bagian bila janin yang dikandung tadi laki-laki. 6 3 1 1 1 6 3 1 1 1 Sdr. 1/2 24 3 5 4 12 24 3 4 4 12 Bila bagian janin dalam kandungan tidak berubah baik sebagai laki-laki maupun perempuan. maka dialah yang akan mengambil hak warisnya. Maka bagian istri adalah seperdelapan (1/8). dan kita berikan bagian para ahli waris yang ada secara sempurna. atau ada ahli waris lain akan tetapi mahjub haknya karena adanya janin. baik sebagai laki-laki ataupun sebagai perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. Karenanya. dibekukan. maka harta waris yang ada akan dibagikan kepada seluruh ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Sebagai misal. anak perempuan 96 . namun jika ia lahir dalam keadaan mati. seibu 1/6 Sdr. maka bagian warisnya tetap seperenam (1/6). seseorang wafat dan meninggalkan menantu perempuan yang sedang hamil (istri dan anak lakilakinya) dan saudara laki-laki seibu. kdg. baik kelak lahir sebagai laki-laki atau perempuan. pr. Sebab kedudukannya sebagai saudara laki-laki seibu atau saudara perempuan seibu dengan pewaris. sbg. 1/2 Sdr. seayah 1/6 Ibu (hamil) 1/6 (Janin) sdr. dengan begitu ia akan mengambil seluruh sisa harta waris yang ada karena ia sebagai 'ashabah. Keadaan Keempat 24 3 4 4 13 Istri 1/8 Ayah 'ashabah Ibu 1/6 Janin pr. dan ibu yang hamil dari ayah lain (ayah tiri pewaris). kdg. kedudukan bayi akan tetap mendapat hak waris seperenam (1/6).

setengah (1/2) bagian. 97 . dan sisanya merupakan bagian saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah.

maka ia dapat diputuskan sebagai orang yang sudah meninggal. Bila usai masa idahuya. maka hendaknya dia bersabar." B. TENGGELAM. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah tujuh puluh tahun (70). hartanya tidak boleh diwariskan. DAN TERTIMBUN A. Definisi Al-mafqud dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna 'hilang'. sampai benar-benar diketahui keadaannya dan jelas apakah ia masih hidup atau sudah mati. Atau telah berlalu selama waktu tertentu dan diperkirakan secara umum -." (Yusuf: 72) Sedangkan menurut istilah para fuqaha. cukup dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim. dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta. pendapat yang paling sahih menurut anggapan Imam Syafi'i ialah bahwa batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan. maka sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh tahun untuk menunggu. Hal ini didasarkan pada lafazh hadits secara umum yang menyatakan bahwa umur umat Muhammad saw. Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang hilang belum juga diketemukan atau dikenali rimbanya. maka mulailah ia untuk menghitung idahnya sebagaimana lazimaya istri yang ditinggal mati suaminya. Dikatakan faqadtu asy-syai'a idzaa adha'tuhu (saya kehilangan bila tidak mengetahui di mana sesuatu itu berada). Yang demikian itu berdasarkan ucapan Ali bin Abi Thalib r. Hukum Orang yang Hilang Para fuqaha telah menetapkan beberapa hukum yang berkenaan dengan orang yang hilang/menghilang. hingga benar-benar tampak dugaan yang sebaliknya (yakni benar-benar sudah mati). dan hak kepemilikannya tidak boleh diusik. terputus beritanya. dari Imam Malik. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak dikenal rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan melihat orang yang sebaya di wilayahnya --tempat dia tinggal.a. Dalam riwayat lain. maka ia diperbolehkan untuk menikah lagi. dari Abu Hanifah. kemudian divonisnya sebagai orang yang telah mati. Kita juga bisa simak firman Allah SWT berikut: "Penyeru-penyeru itu berkata: 'Kami kehilangan piala raja. di antaranya: istrinya tidak boleh dinikahi/dinikahkan. yaitu empat bulan sepuluh hari. dan tidak diketahui rimbanya. disebutkan bahwa istri dari orang yang hilang di wilayah Islam --hingga tidak dikenal rimbanya-. Ali berkata: "Dia adalah seorang istri yang tengah diuji. apakah dia masih hidup atau sudah mati.XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG. Sedangkan dalam mazhab Syafi'i dinyatakan bahwa batas waktu orang yang hilang adalah sembilan puluh tahun. Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu. Apabila orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini terutama para ulama dari mazhab yang empat. al-mafqud berarti orang yang hilang. tentang wanita yang suaminya hilang dan tidak diketahui rimbanya. menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan pulah tahun (90). antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. dan hakim pun telah memvonisnya sebagai orang yang dianggap telah mati. dan aku menjamin terhadapnya. dan tidak halal untuk dinikahi hingga ia mendapatkan berita yang meyakinkan akan kematian suaminya.dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dan dugaan yang dapat mengenali keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana dan prasarana yang ada.telah mati. Akan tetapi. Namun. Karena 98 . Kadang-kadang bisa juga ditetapkan sebagai orang yang masih hidup berdasarkan asalnya. Dalam riwayat lain. yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebaya di wilayahnya.

Kedua. Sementara itu. tetapi bahkan sama berhak mendapat waris sesuai dengan bagian atau fardh-nya (yakni termasuk ashhabul fardh) Pada keadaan pertama: seluruh harta warisan peninggalan pewaris dibekukan --tidak diberikan kepada ahli waris-untuk sementara hingga ahli waris yang hilang muncul atau diketahui tempatnya. maka dialah yang berhak untuk menerima atau mengambil seluruh harta warisnya. dan pendapat inilah yang dipilih az-Zaila'i (ulama mazhab Hanafi) dan disepakati oleh banyak ulama lainnya. menyerahkan seluruhnya kepada ijtihad hakim. Karena itu. Kapan saja hakim memvonisnya.yang dalam dua keadaan orang 99 . apabila hilangnya orang itu bukan dalam kemungkinan meninggal. seluruh harta waris yang ada untuk sementara dibekukan hingga anak laki-laki yang hilang telah muncul. Pertama. maka Imam Ahmad dalam hal ini memiliki dua pendapat. memang tidak tepat jika hal ini hanya disandarkan pada batas waktu tertentu. Posisi anak laki-laki dalam hal ini sebagai "penghalang" atau hajib hirman apabila masih hidup. Karena itu. maka cara pemberian hak warisnya ada dua keadaan: Ahli waris yang hilang sebagai hajib hirman bagi ahli waris yang lain. Menurut hemat penulis. atau banyak perampok dan penjahat. atau untuk menuntut ilmu. ia dapat menempuh masa idahnya. Hak Waris Orang Hilang Apabila seseorang wafat dan mempunyai ahli waris. dan di antara ahli warisnya ada yang hilang tidak dikenal rimbanya. seorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati. atau mirip dengan pembagian hak waris banci). Karenanya untuk sementara harta waris yang ada dibekukan hingga hakikat keberadaannya nyata dengan jelas. melancong. maka itulah yang berlaku. dan dua saudara perempuan seayah. dengan alasan berbedanya keadaan wilayah dan personel. Sedangkan pada keadaan kedua. Demikian juga istrinya. Posisi saudara kandung bila masih hidup adalah sebagai haiib bagi seluruh ahli waris yang ada. maka harta waris tadi dibagikan kepada seluruh ahli waris yang ada dan masing-masing mendapatkan sesuai dengan bagian atau fardh-nya. dan anak laki-laki yang hilang.maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat tahun. seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung laki-laki. menunggu sampai diperkirakan umurnya mencapai sembilan puluh tahun Sebab sebagian besar umur manusia tidak mencapai atau tidak melebihi sembilan puluh tahun. akan berbeda halnya dengan orang yang hilang bukan dalam keadaan yang demikian. pendapat mazhab Hambali dalam hal ini lebih rajih (lebih tepat). atau menjadi salah seorang penumpang kapal yang tenggelam-. maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya. Sebab. mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang yang hilang itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti jika terjadi peperangan. dan ia boleh menikah lagi setelah masa idah yang dijalaninya selesai. Apabila setelah empat tahun belum juga diketemukan atau belum diketahui beritanya. sesudah berlalunya waktu tertentu --kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung laki-laki. dalam hal ini ijtihad dan usaha seorang hakim sangat berperan guna mencari kemungkinan dan tanda-tanda kuat yang dapat menuntunnya kepada vonis: masih hidup atau sudah mati. Dan bila ternyata telah divonis oleh hakim sebagai orang yang telah meninggal. orang yang hilang pada saat peperangan dan pertempuran. Namun. Namun. bila ternyata hakim telah memvonisnya sebagai orang yang telah mati. Misal lain. seperti pergi untuk berniaga. Sebagai contoh. saudara kandung perempuan. ahli waris yang ada berhak untuk menerima bagian yang paling sedikit di antara dua keadaan orang yang hilang (sebagai ahli waris yang hidup atau yang mati. Bila ahli waris yang hilang ternyata masih hidup. Inilah pendapat yang lebih mendekatkan kepada wujud kemaslahatan. bila ahli waris yang ada --siapa saja di antara mereka-. Bukan sebagai hajib (penghalang) bagi ahli waris yang ada. maka barulah harta waris tadi dibagikan untuk ahli waris yang ada. saudara laki-laki seayah.menurut Imam Syafi'i. Maksudnya. C. Misalnya.

pr Sdr. pr Sdr. dan cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. Sebab bila ahli waris yang hilang tadi telah divonis hakim sebagai orang yang telah meninggal. Namun. kdg. maka mereka diberi lebih sedikit di antara kedua keadaan tadi.yang hilang tadi sama bagian hak warisnya. hdp. kdg. hlg 1 1 1 Sdr. Contoh-contoh Kasus Seseorang wafat dan meninggalkan suami. saudara kandung perempuan. bagi siapa saja yang tidak berhak untuk mendapatkan waris dalam dua keadaan orang yang hilang. maka pembagiannya sebagai berikut: Dalam hal ini kita harus memboat dua cara pembagian. Kemudian kita menggunakan cara al-jami'ah (menyatukan) kedua cara tadi. maka ibu akan mendapat bagian sepertiga (1/3). saudara kandung. atau tanpa ada yang dibekukan). pr 2/3 Sdr. kemudian membekukan sisanya. mati Suami 1/2 Sdr. atau telah divonis sebagai orang yang sudah meninggal. ibu. Namun. Tabelnya sebagai berikut: 4 2 1 7 8 4 1 8 6 7 56 3 24 yang dibekukan 4 2 16 yang dibekukan 9 2 16 yang dibekukan 9 - Anggapan msh. dan yang kedua dalam kategori sudah meninggal. dan saudara kandung lakilaki yang hilang. tampak ada penyatuan antara ahli waris yang tidak berbeda bagian warisnya dalam dua keadaan orang yang hilang --yaitu bagian istri seperempat (1/4)--dengan ahli waris yang berbeda hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi. hendaknya ia diberi hak waris secara sempurna (tanpa dikurangi atau dilebihkan. bagi ahli waris yang berbeda bagian hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi (yakni keadaan hidup dan matinya). mati Istri 1/4 24 3 12 24 3 6 yang dibekukan 3 100 . hlg Misal lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. yaitu bagian ibu seperenam (1/6). hdp. kdg. pr Anggapan sdh. ibu. Dalam contoh tersebut. bagian istri adalah seperempat (1/4). dan sisanya (yakni yang seperenam) lagi untuk sementara dibekukan hingga ahli waris yang hilang telah nyata benar keadaannya. maka bagian masing-masing ahli waris itu seperti berikut: 1 Anggapan msh. kdg. lk. Suami 1/2 Sdr. lk. dengan sendirinya tidak berhak untuk mendapatkan harta waris sedikit pun. Dalam keadaan demikian. Sedangkan saudara laki-laki yang sesyah tidak mendapat hak waris apa pun. Dari sinilah kita keluarkan hak waris masing-masing. kdg. ibu seperenam (1/6). saudara laki-laki seayah. kdg. yang pertama dalam kategori orang yang hilang tadi masih hidup. Sebagai contoh. Istri 1/8 2 Anggapan sdh. seseorang wafat dan maninggalkan istri.

(hilang) 4 1 3 Anggapan sdh. 'ashabah 7 14 yang dibekukan 5 Cucu pr. lk. dan berpegang teguh pada salah satu rukunnya --yaitu iman kepada qadha dan qadar-Nya. saudara kandung perempuan. mati Suami 1/4 Cucu pr. (hilang) 4 17 Ibu 1/3 Sdr.dr. (hilang) 8 1 3 4 Anggapan sdh. cucu perempuan keturunan anak laki-laki.lk.anak. hdp. Terkadang kejadian dan musibah itu tiba-tiba datangnya. (hilang) 4 4 1 1 2 2 yang dibekukan 2 1 1 yang dibekukan 1 - Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. lk.kdg. karena mereka selalu melekatkan kehidupannya dengan iman. bahkan sebagian manusia berani melakukan hal-hal yang menyimpang jauh dari kebenaran dalam menghadapinya. (hilang) Jumlah yang dibekukan 17 Contoh lain. dan cobaan. saudara laki-laki seibu. 'ashabah Anak lk.'ashabah 4 8 yang dibekukan 4 5 10 yang dibekukan 10 Cucu lk. Semua yang menimpa mereka terasa sebagai sesuatu yang ringan. hdp. 1/2 Sdr. Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Betapa banyak kejadian dan musibah yang kita alami dalam kehidupan di dunia ini.anak.lk.kdg.kdg. seseorang wafat dan meninggalkan suami. mahjub Cucu lk. Sayangnya. Istri 1/8 Sdr. 'ashabah Cucu pr. (hilang) yang dibekukan 12 Demikianlah beberapa contoh tentang hak waris yang di antara ahli warisnya ada yang hilang atau belum diketahui keadaannya.lk. seibu 1/6 2 4 yang dibekukan 4 Sepupu. D. ujian. Suami 1/4 Cucu pr.Ibu 1/6 Sdr. tanpa diduga.seibu (mahjub) Sepupu. mati Istri 1/4 12 24 3 6 yang dibekukan 3 Sdr. sementara lisan 101 . Hanya orang-orang mukmin yang ternyata tetap bersabar dalam menghadapi musibah. (mahjub) Anak lk.lk. sangat sedikit di antara kita yang mau mengambil i'tibar (pelajaran).lk. anak paman kandung (sepupu). Maka rincian pembagiannya seperti berikut: Anggapan msh.dr.pr.pr. Sehingga hal ini sering kali membuat manusia bertekuk lutut dan tidak berdaya. maka bagian masing-masing seperti berikut: Anggapan msh. (mahjub) Sdr. dan anak laki-laki yang hilang. lk. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki.

dan sisanya untuk bagian sepupu sebagai 'ashabah. suami-istri meninggal secara bersamaan dan mempunyai tiga anak laki-laki. tentulah akan muncul persoalan dalam kaitannya dengan kewarisan. Yang satu meninggalkan istri. sedangkan yang satunya lagi meninggalkan dua anak perempuan. Sebagai contoh. begitupun sang suami telah mempunyai istri lain dan mempunyai anak laki-laki. maka tidak ada hak waris di antara keduanya atau mereka tidak saling mewarisi. Setelah orang kedua (yang meninggal kemudian) meninggal. tetapi dalam sekejap keadaan dapat berubah sebaliknya. Perhatikan firman Allah SWT berikut: ". Sedangkan jika keduanya sama-sama tenggelam atau terbakar secara bersamaan kemudian mati tanpa diketahui mana yang lebih dahulu meninggal.. hal ini telah memenuhi syarat hak mewarisi. yaitu hidupnya ahli waris pada saat kematian pewaris. dua orang bersaudara mati secara berbarengan. Maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8) bagian. Atau mungkin saja terjadi bencana alam yang mengakibatkan rumah yang mereka huni runtuh.senantiasa mengucapkan: "sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepadaNyalah kita kembali". (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah. Adapun bagian kedua anak perempuan (dari yang kedua) adalah dua per tiga (2/3). dan anak paman kandung (sepupu). pembagian waris lebih mudah dilaksanakan. lalu mengalami kecelakaan." Hal demikian. Maka pembagiannya seperti berikut: Harta istri yang meninggal untuk anaknya. sekalipun masa hidup yang kedua hanya sejenak setelah kematian saudaranya yang pertama. Kadangkadang manusia tertawa dan merasa lapang dada. Maka jika di antara mereka ada yang mempunyai keturunan. maka kepemilikan harta waris tadi berpindah kepada ahli warisnya yang berhak. dan anak laki-laki paman kandung (sepupu yang pertama disebutkan). Sebagai contoh. bagaimana cara pelaksanaan pemberian hak waris kepada masingmasing ahli waris? Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Kaidah yang berlaku dalam pembagian hak waris orang yang tenggelam dan tertimbun yaitu dengan menentukan mana di antara mereka yang lebih dahulu meninggal. sehingga sebagian anggota keluarga mereka menjadi korban. mereka mengucapLan 'Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'un. maka yang mati kemudian inilah yang berhak menerima hak waris.. serta yang meninggal seketika karena kecelakaan dan bencana lainnya. yakni dengan memberikan hak waris kepada orang yang meninggal kemudian. Misal lain. dan sisanya adalah untuk anak laki-lakinya dari istri yang masih hidup 102 . Begitulah seterusnya. Misalnya. Hal ini sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama faraidh yang menyebutkan: "Tidak ada hak saling mewarisi bagi kedua saudara yang mati karena tenggelam secara bersamaan. sedangkan harta suami yang meninggal seperdelapannya (1/8) merupakan bagian istrinya yang masih hidup. Suami-istri itu masing-masing mempunyai harta. menurut para ulama. dan sisanya merupakan bagian sepupu tadi sebagai 'ashabah. Oleh karenanya tidak ada sikap yang lebih baik kecuali berlaku sabar dan berserah diri kepada-Nya.'" (al-Baqarah: 155-156) Bukan sesuatu yang mustahil jika dalam suatu waktu dua orang bersaudara bepergian bersama-sama menggunakan pesawat terbang atau kapal laut. apabila dua orang bersaudara tenggelam secara bersamaan lalu yang seorang meninggal seketika dan yang seorang lagi meninggal setelah beberapa saat kemudian. Kemudian sang istri pernah mempunyai anak laki-laki dari suaminya yang dahulu. dan tidak pula bagi kedua saudara yang mati karena tertimbun reruntuhan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Maka seluruh harta peninggalan yang ada segera dibagikan kepada ahli waris dari kerabat yang masih hidup. Apabila hal ini telah diketahui dengan pasti. anak perempuan yang pertama setengah (1/2). Begitulah kehidupan dunia yang selalu silih berganti. anak perempuan. Menurut ulama faraid.mereka --jika menghadapi musibah-. disebabkan tidak terpenuhinya salah satu persyaratan dalam mendapatkan hak waris.

TAMAT 103 . seperenamnya (1/6) diberikan atau merupakan bagian saudara laki-laki mereka yang seibu. Allahlah yang memberi taufik dan petunjuk kepada kita. Kemudian.itu. dan sisanya merupakan bagian saudara laki-lakinya yang seayah dengan mereka. harta ketiga anak laki-laki. Pembahasan tentang hak waris-mewarisi bagi orang-orang yang mati tenggelam atau tertimbun reruntuhan atau musibah lainnya merupakan bagian terakhir dari buku ini. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan banyak manfaat bagi para penuntut ilmu faraid. dan saya akhiri pembahasan ini dengan pujian kepada Rabb semesta alam. amin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful