Pembagian Waris Menurut Islam

oleh Muhammad Ali ash-Shabuni

PENGANTAR PENERBIT HUKUM waris Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. telah mengubah hukum waris Arab pra-Islam dan sekaligus merombak struktur hubungan kekerabatannya, bahkan merombak sistem pemilikan masyarakat tersebut atas harta benda, khususnya harta pusaka. Sebelumnya, dalam masyarakat Arab ketika itu, wanita tidak diperkenankan memiliki harta benda --kecuali wanita dari kalangan elite-- bahkan wanita menjadi sesuatu yang diwariskan. Islam merinci dan menjelaskan --melalui Al-Qur'an Al-Karim-- bagian tiap-tiap ahli waris dengan tujuan mewujudkan keadilan didalam masyarakat. Meskipun demikian, sampai kini persoalan pembagian harta waris masih menjadi penyebab timbulnya keretakan hubungan keluarga. Ternyata, disamping karena keserakahan dan ketamakan manusianya, kericuhan itu sering disebabkan oleh kekurangtahuan ahli waris akan hakikat waris dan cara pembagiannya. Kekurangpedulian umat Islam terhadap disiplin ilmu ini memang tidak kita pungkiri, bahkan Imam Qurtubi telah mengisyaratkannya: "Betapa banyak manusia sekarang mengabaikan ilmu faraid." Atas dasar itulah kami terpacu untuk menerbitkan buku Pembagian Waris menurut Islam. Mudah-mudahan apa yang kami persembahkan kepada pembaca menjadi suatu amal kebajikan dan menjadi bukti ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Penerbit

1

SAMPUL BELAKANG Dalam praktik kehidupan sehari-hari, persoalan waris sering kali menjadi krusial yang terkadang memicu pertikaian dan menimbulkan keretakan hubungan keluarga. Penyebab utamanya ternyata keserakahan dan ketamakan manusia, di samping karena kekurang-tahuan pihak-pihak yang terkait mengenai hukum pembagian waris. Padahal, Allah SWT di dalam Al-Qur'an mengatur pembagian waris secara lengkap. Sementara itu, di sisi lain, kita jumpai kenyataan bahwa beberapa kalangan --termasuk para pelajar di sekolah-sekolah Islam---menganggap faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka) sebagai momok yang menakutkan. Berawal dari beberapa keprihatinan itulah buku ini diwujudkan, yang sebelumnya hanya merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris pada Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. Muhammad Ali ash-Shabuni, penulis buku ini, berusaha menghilangkan kesan "seram" tentang disiplin ilmu ini dengan cara menyederhanakan berbagai istilah dan rumusan perhitungan yang selama ini dianggap sebagai kendala. Bukan hanya itu, sistematika penyajiannya pun sangat sederhana dan tidak bertele-tele. Kesederhanaan metode dan gaya bertutur memang menjadi keunggulan buku ini. ISBN 979-561-321-9

2

MUKADIMAH Segala puji bagi Allah, pengatur alam semesta, seluruh isi langit dan bumi. Dialah Yang Maha Kekal, tidak akan rusak dan tidak akan mati, yang telah berfirman dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan." (Maryam: 40) Semoga shalawat dan salam tetap Allah anugerahkan kepada sang pembawa cahaya, perintis kemanusiaan dan penunjuk jalan, junjungan kita Muhammad saw. Dengannyalah Allah SWT menghilangkan kesesatan dan kegelapan, dan dengannyalah Allah mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada alam yang terang benderang. Semoga shalawat dan salam juga Allah berikan kepada seluruh kerabatnya, para sahabatnya, dan siapa pun yang mengikuti jejaknya. Buku ini merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris yang pernah saya berikan kepada para mahasiswa Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. Kemudian saya tergerak untuk mengumpulkan dan menyatukannya hingga menjadi buku dengan harapan dapat dimanfaatkan secara lebih luas. Buku ini saya susun dengan sistematika yang sangat sederhana dan tidak bertele-tele. Saya bermohon kepada Allah semoga buku ini dapat bermanfaat khususnya bagi para mahasiswa, dan umumnya bagi seluruh kaum muslim yang memiliki keinginan untuk mengetahui dengan pasti mengenai faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua doa dan Maha Mampu untuk memenuhinya. Mekah, Jumadil Akbir 1389 H Muhammad Ali ash-Shabuni

3

PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN A. Syarat Waris G. AYAT-AYAT WARIS A. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga E. Ahli Waris dari Golongan Wanita III. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris II. Penjelasan B. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah B. Sebab-sebab Adanya Hak Waris E. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam IV. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga  Masalah 'Umariyyatan F. Derajat Ahli Waris C.DAFTAR ISI Pembagian Waris Menurut Islam oleh Muhammad Ali Ash-Shabuni PENGANTAR MUKADIMAH I. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan D. Macam-macam 'Ashabah 4 . Penggugur Hak Waris  Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub  Contoh Pertama  Contoh Kedua H. Bentuk-bentuk Waris D. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki I. WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM A. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam C. DEFINISI 'ASHABAH A. Definisi Waris  Pengertian Peninggalan  Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan B. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat C. Dalil Hak Waris Para 'Ashabah B. Rukun Waris F. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris D.

Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek F. Pengertian Kakek yang Sahih B. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek D. MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A. Latar Belakang Terjadinya 'Aul C. PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A.kan  Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan  Beberapa Contoh Masalah 'Aul 5          . Definisi al-'Aul B. Macam-macam al-Hujub  Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman  Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman  Saudara Laki-laki yang Berkah  Saudara Laki-laki yang Merugikan C.'Ashabah bin nafs Hukum 'Ashabah bin nafs Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah ma'al Ghair Dalil 'Ashabah ma'al Ghair C. Tentang Kasus Kolektif  Perbedaan Pendapat Para Fuqaha  Persyaratan Masalah Kolektif  Beberapa Kaidah Penting VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA A. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. Masalah al-Akdariyah VII. Definisi al-Hujub B. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara C.Tentang Mazhab Jumhur  Hukum Keadaan Pertama  Makna Pembagian  Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek  Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang  Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek  Hukum Keadaan Kedua E. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair  Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? V.

HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham C. PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN A. Pembagian Harta Peninggalan  Masalah Dinariyah ash-Shughra  Masalah Dinariyah al-Kubra IX. HUKUM MUNASAKHAT A. Definisi Munasakhat B. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci 6 . Cara Pembagian Waris Para Kerabat  Menurut Ahlur-Rahmi  Menurut Ahlut-Tanzil  Menurut Ahlul Qarabah  Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah  Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah D. Cara Mentashih Pokok Masalah C. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd H. Definisi Dzawil Arham B. At-Takharuj min at-Tarikah  Tata Cara Pelaksanaannya X. Macam-macam ar-Radd  Hukum Keadaan Pertama  Hukum Keadaan Kedua  Hukum keadaan Ketiga  Hukum keadaan Keempat VIII. Rincian Amaliah al-Munasakhat C. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd G. Tentang Tashih  Definisi Tashih  Definisi at-Tamaatsul  Definisi at-Tadaakhul  Definisi at-Tawaafuq  Definisi at-Tabaayun B. HAK WARIS DZAWIL ARHAM A. Definisi ar-Radd E. Syarat-syarat ar-Radd F. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham XI. Definisi Banci B.D.

Definisi  Hukum Orang yang Hilang B. Hak Waris Orang Hilang D. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya  Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci D. DAN TERTIMBUN A. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati C. Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun  Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun 7 . Definisi Hamil E. Keadaan Janin  Keadaan Pertama  Keadaan Kedua  Keadaan Ketiga  Keadaan Keempat  Keadaan Kelima XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan F. TENGGELAM.C.

Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. supaya kamu tidak sesat. AYAT-AYAT WARIS ALLAH SWT berfirman "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak setiap ahli waris.menegaskan dan merinci nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan asas ilmu faraid. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. Ini adalah ketetapan dari Allah. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. juga menjelaskan keadaan setiap ahli waris. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. jika ia tidak mempunyai anak. Jika seseorang mati. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak mernberi mudarat (kepada ahli waris). Maha Suci Allah. Tetapi jika saudarasaudara seibu itu lebih dari seorang. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. jika mereka tidak mempunyai anak. dan kapan pula ia menerimanya secara 'ashabah. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. maka ia memperoleh separo harta. Oleh sebab itu. di dalamnya berisi aturan dan tata cara yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara lengkap." (an-Nisa': 176) A. maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. meniadakan 8 . jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). Jika kamu mempunyai anak.I. Selain itu. maka ibunya mendapat sepertiga. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya." (an-Nisa': 11) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). Bahkan dengan aturan yang sangat jelas dan sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris dengan adil serta penuh kebijaksanaan. orang yang dianugerahi pengetahuan dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui bagian setiap ahli waris. baik laki-laki maupun perempuan. sekaligus mengenali hikmah Allah Yang Maha Bijaksana itu. jika anak perempuan itu seorang saja. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meningal dunia. Penjelasan Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut --yang kesemuanya termaktub dalam surat an-Nisa'-. kapan ia menerima bagiannya secara "tertentu". Dia menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. jika yang meninggal itu mempunyai anak. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah. maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. maka ibunya mendapat seperenam." (anNisa': 12) "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Yaitu. kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu.

Maka setelah peristiwa penaklukan kota Mekah. bersabda: "Pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada orang lain. kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama).. dan induk ayat-ayat Ilahi. Oleh karenanya faraid memiliki martabat yang sangat agung. Telah masyhur dalam sejarah permulaan datangnya Islam. Sungguh mengagumkan pandangan mereka mengenai ilmu waris ini. Di antara kita mungkin ada yang bertanya-tanya dalam hati. namun justru saudara mereka yang senasab tidak mendapatkan warisan. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal. bahwa pada masa itu kaum muslim saling mewarisi harta masing-masing disebabkan hijrah dan rasa persaudaraan yang dipertemukan oleh Rasulullah saw. serta tidak membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati orang-orang yang lemah. penguat hukum. selain dari ketiga ayat yang saya sebutkan pada awal pembahasan. sangat disayangkan kebanyakan manusia (terutama pada masa kini) mengabaikan dan melecehkannya.Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin. kaum muslim telah benar-benar mantap menjalankan ajaran-ajarannya.kezaliman di kalangan mereka. Allah me-mansukh-kan (menghapuskan) hukum pewarisan yang disebabkan hijrah dan persaudaraan.. adakah ayat lain yang berkenaan dengan waris selain dari ketiga ayat tersebut? Di dalam Al-Qur'an memang ada beberapa ayat yang menyebutkan masalah hak waris bagi para kerabat (nasab). Yakni penjabaran kandungan ayat yang bagi kita sudah sangat jelas: membagi dan adil. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. seperti kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Keadaan demikian berjalan terus hingga Islam menjadi agama yang kuat. maka betapa tinggi dan agung penguasaan para sahabat tentang masalah faraid ini." (alAhzab: 6) Itulah ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah hak waris. Meskipun demikian. namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut. akan tetapi tentang besar-kecilnya hak waris yang mesti diterima mereka tidak dijelaskan secara rinci. dan kaidahkaidah agama telah begitu mengakar dalam hati setiap muslim. " (HR Daruquthni) Lebih jauh Imam Qurthubi mengatakan. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. "Apabila kita telah mengetahui hakikat ilmu ini. dengan hukum pewarisan yang disebabkan nasab dan kekerabatan. yakni wanita dan anak-anak. Pada permulaan datangnya Islam. kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling mewarisi. Mereka lebih berhak daripada orang mukmin umumnya dan kaum Muhajirin.. 9 . baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetaplan. Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah). dan ilmu ini pun bakal sirna hingga akan muncul fitnah. menutup ruang gerak para pelaku kezaliman. Pada ayat kedua dan ketiga (al-Anfal: 75 dan al-Ahzab: 6) ditegaskan bahwa kerabat pewaris (sang mayit) lebih berhak untuk mendapatkan bagian dibandingkan lainnya yang bukan kerabat atau tidak mempunyai tali kekerabatan dengannya." (al-Anfal: 75) ". Maha Suci Allah Yang Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum dan syariat-Nya. Hal ini tercermin dalam hadits berikut.. " (an-Nisa': 7) ". Adapun dalam ayat pertama (an-Nisa': 7) Allah SWT dengan tegas menghilangkan bentuk kezaliman yang biasa menimpa dua jenis manusia lemah.Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Allah SWT menyantuni keduanya dengan rahmat dan kearifan-Nya serta dengan penuh keadilan. Di antaranya adalah firman Allah berikut: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mesti ia terima). serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. hingga kedudukannya menjadi separo ilmu. yakni dengan mengembalikan hak waris mereka secara penuh."1 Perlu kita ketahui bahwa semua kitab tentang waris yang disusun dan ditulis oleh para ulama merupakan penjelasan dan penjabaran dari apa yang terkandung dalam ketiga ayat tersebut. dari Abdullah Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw. Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa ketiga ayat tersebut merupakan salah satu rukun agama..

Dengan demikian. padahal kaum wanita jauh lebih banyak membutuhkannya. Dan ketika telah dikaruniai anak. pangan. suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya. namun mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga. 4. Artinya. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf . karena di samping memang lemah. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: ". Masih tentang kajian ayat-ayat tersebut. di antaranya sebagai berikut: 1. khususnya dalam hal sandang. mereka juga sangat membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu saya utarakan beberapa hikmah adanya syariat yang telah Allah tetapkan bagi kaum muslim. Sebab. kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki.. dan sandang. siapa pun yang memiliki tanggung jawab besar --hingga harus mengeluarkan pembiayaan lebih banyak-. Kendatipun hukum Islam telah menetapkan bahwa bagian kaum laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada bagian kaum wanita. Sementara kaum wanita tidaklah demikian. dan papan. Secara logika. seluruhnya dibebankan hanya pada pundak kaum laki-laki. Islam telah menyelimuti kaum wanita dengan rahmat dan keutamaannya. dan dalam hal nafkahnya kaum wanita wajib diberi oleh ayahnya. sedangkan rinciannya terdapat dalam ayat-ayat yang saya nukilkan terdahulu (an-Nisa': 11-12 dan 176). ayat tersebut tidaklah secara rinci dan detail menjelaskan jumlah besar-kecilnya hak waris para kerabat. pengobatan jika anak sakit (termasuk istri) dan lainnya. Sementara di sisi lain Allah membatalkan hak saling mewarisi di antara kaum muslim yang disebabkan persaudaraan dan hijrah. Dengan demikian. kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris. baik untuk keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya). 5. Kaum wanita tidak diwajibkan memberi nafkah kepada siapa pun di dunia ini. Syariat Islam tidak mewajibkan kaum wanita untuk membelanjakan harta miliknya meski sedikit.maka dialah yang lebih berhak untuk mendapatkan bagian yang lebih besar pula. anaknya. ia berkewajiban untuk memberinya sandang. berupa memberikan hak waris kepada kaum wanita melebihi apa yang digambarkan. Kebutuhan pendidikan anak. Kaum laki-laki diwajibkan untuk membayar mahar kepada istrinya. yang pasti hak waris telah Allah tetapkan bagi kerabat pewaris karena hubungan nasab. menyediakan tempat tinggal baginya. atau siapa saja yang mampu di antara kaum lakilaki kerabatnya. kebutuhan kaum laki-laki untuk mendapatkan dan memiliki harta jauh lebih besar dan banyak dibandingkan kaum wanita. selama masih ada suaminya." (al-Baqarah: 233) 10 . mengapa bagian kaum laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita. mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya dalam hati. ingin sekali saya sebutkan hikmah-hikmah tersebut sebanyak mungkin. Meskipun demikian. 3. saudara laki-lakinya. tanpa membedakan antara yang kecil dan yang besar. serta siapa saja yang diwajibkan atasnya untuk memberi nafkah dari kerabatnya. 2. Kalau saja tidak karena rasa takut membosankan. Nafkah (pengeluaran) kaum laki-laki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita. laki-laki ataupun wanita. tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah.. dan papan. kaum lelakilah yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga dan kerabatnya. pangan.Dalam ayat tersebut Allah dengan keadilan-Nya memberikan hak waris secara imbang. Kaum wanita selalu harus terpenuhi kebutuhan dan keperluannya. Juga tanpa membedakan bagian mereka yang banyak maupun sedikit.dan kaum wanita.. Sebab. Jika kita pakai istilah dalam ushul fiqh ayat ini disebut mujmal (global). Ketentuan ini tetap berlaku sekalipun wanita tersebut kaya raya dan hidup dalam kemewahan. tampak secara jelas bahwa kaum wanita justru lebih banyak mengenyam kenikmatan dan lebih enak dibandingkan kaum laki-laki. Itulah beberapa hikmah dari sekian banyak hikmah yang terkandung dalam perbedaan pembagian antara kaum lakilaki --dua kali lebih besar-.. Sebaliknya. memberinya makan. maupun pewaris itu rela atau tidak rela. minum.

Untuk lebih menjelaskan permasalahan tersebut perlu saya ketengahkan satu contoh kasus supaya hikmah Allah dalam menetapkan hukum-hukum-Nya akan terasa lebih jelas dan nyata. Contoh yang dimaksud di sini ialah tentang pembagian hak kaum laki-laki yang banyaknya dua kali lipat dari bagian kaum wanita. Seseorang meninggal dan mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Ternyata orang tersebut meninggalkan harta, misalnya sebanyak Rp 3 juta. Maka, menurut ketetapan syariat Islam, laki-laki mendapatkan Rp 2 juta sedangkan anak perempuan mendapatkan Rp 1 juta. Apabila anak laki-laki tersebut telah dewasa dan layak untuk menikah, maka ia berkewajiban untuk membayar mahar dan semua keperluan pesta pernikahannya. Misalnya, ia mengeluarkan semua pembiayaan keperluan pesta pernikahan itu sebesar Rp 20 juta. Dengan demikian, uang yang ia terima dari warisan orang tuanya tidak tersisa. Padahal, setelah menikah ia mempunyai beban tanggung jawab memberi nafkah istrinya. Adapun anak perempuan, apabila ia telah dewasa dan layak untuk berumah tangga, dialah yang mendapatkan mahar dari calon suaminya. Kita misalkan saja mahar itu sebesar Rp 1 juta. Maka anak perempuan itu telah memiliki uang sebanyak Rp 2 juta (satu juta dari harta warisan dan satu juta lagi dari mahar pemberian calon suaminya). Sementara itu, sebagai istri ia tidak dibebani tanggung jawab untuk membiayai kebutuhan nafkah rumah tangganya, sekalipun ia memiliki harta yang banyak dan hidup dalam kemewahan. Sebab dalam Islam kaum laki-lakilah yang berkewajiban memberi nafkah istrinya, baik berupa sandang, pangan, dan papan. Jadi, harta warisan anak perempuan semakin bertambah, sedangkan harta warisan anak laki-laki habis. Dalam keadaan seperti ini manakah di antara kaum laki-laki dan kaum wanita yang lebih banyak menikmati harta dan lebih berbahagia keadaannya? Laki-laki ataukah wanita? Inilah logika keadilan dalam agama, sehingga pembagian hak laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada hak kaum wanita. 1 Tafsir al-Qurthubi, juz V, hlm. 56. B. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam Sebelum Islam datang, kaum wanita sama sekali tidak mempunyai hak untuk menerima warisan dari peninggalan pewaris (orang tua ataupun kerabatnya). Dengan dalih bahwa kaum wanita tidak dapat ikut berperang membela kaum dan sukunya. Bangsa Arab jahiliah dengan tegas menyatakan, "Bagaimana mungkin kami memberikan warisan (harta peninggalan) kepada orang yang tidak bisa dan tidak pernah menunggang kuda, tidak mampu memanggul senjata, serta tidak pula berperang melawan musuh." Mereka mengharamkan kaum wanita menerima harta warisan, sebagaimana mereka mengharamkannya kepada anak-anak kecil. Sangat jelas bagi kita bahwa sebelum Islam datang bangsa Arab memperlakukan kaum wanita secara zalim. Mereka tidak memberikan hak waris kepada kaum wanita dan anak-anak, baik dari harta peninggalan ayah, suami, maupun kerabat mereka. Barulah setelah Islam datang ada ketetapan syariat yang memberi mereka hak untuk mewarisi harta peninggalan kerabat, ayah, atau suami mereka dengan penuh kemuliaan, tanpa direndahkan. Islam memberi mereka hak waris, tanpa boleh siapa pun mengusik dan menentangnya. Inilah ketetapan yang telah Allah pastikan dalam syariat-Nya sebagai keharusan yang tidak dapat diubah. Ketika turun wahyu kepada Rasulullah saw. --berupa ayat-ayat tentang waris-- kalangan bangsa Arab pada saat itu merasa tidak puas dan keberatan. Mereka sangat berharap kalau saja hukum yang tercantum dalam ayat tersebut dapat dihapus (mansukh). Sebab menurut anggapan mereka, memberi warisan kepada kaum wanita dan anak-anak sangat bertentangan dengan kebiasaan dan adat yang telah lama mereka amalkan sebagai ajaran dari nenek moyang. Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan sebuah kisah yang bersumber dari Abdullah Ibnu Abbas r.a.. Ia berkata: "Ketika ayat-ayat yang menetapkan tentang warisan diturunkan Allah kepada RasulNya --yang mewajibkan agar memberikan hak waris kepada laki-laki, wanita, anak-anak, kedua orang tua, suami, dan istri-- sebagian bangsa Arab merasa kurang senang terhadap ketetapan tersebut. Dengan nada keheranan sambil mencibirkan mereka mengatakan: 'Haruskah memberi seperempat bagian kepada kaum wanita (istri) atau seperdelapan.' Memberikan anak perempuan setengah bagian harta peninggalan? Juga haruskah memberikan warisan kepada anak-anak ingusan? Padahal mereka tidak ada yang dapat memanggul senjata untuk berperang melawan musuh, dan tidak pula dapat andil membela kaum kerabatnya. Sebaiknya kita tidak perlu membicarakan hukum tersebut. Semoga saja Rasulullah melalaikan dan mengabaikannya, atau kita meminta kepada beliau agar berkenan untuk mengubahnya.' Sebagian
11

dari mereka berkata kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah, haruskah kami memberikan warisan kepada anak kecil yang masih ingusan? Padahal kami tidak dapat memanfaatkan mereka sama sekali. Dan haruskah kami memberikan hak waris kepada anak-anak perempuan kami, padahal mereka tidak dapat menunggang kuda dan memanggul senjata untuk ikut berperang melawan musuh?'" Inilah salah satu bentuk nyata ajaran syariat Islam dalam menyantuni kaum wanita; Islam telah mampu melepaskan kaum wanita dari kungkungan kezaliman zaman. Islam memberikan hak waris kepada kaum wanita yang sebelumnya tidak memiliki hak seperti itu, bahkan telah menetapkan mereka sebagai ashhabul furudh (kewajiban yang telah Allah tetapkan bagian warisannya). Kendatipun demikian, dewasa ini masih saja kita jumpai pemikiran yang kotor yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang berhati buruk. Mereka beranggapan bahwa Islam telah menzalimi kaum wanita dalam hal hak waris, karena hanya memberikan separo dari hak kaum laki-laki. Anggapan mereka semata-mata dimaksudkan untuk memperdaya kaum wanita tentang hak yang mereka terima. Mereka berpura-pura akan menghilangkan kezaliman yang menimpa kaum wanita dengan cara menyamakan hak kaum wanita dengan hak kaum laki-laki dalam hal penerimaan warisan. Mereka yang memiliki anggapan demikian sama halnya menghasut kaum wanita agar mereka menjadi pembangkang dan pemberontak dengan menolak ajaran dan aturan hukum dalam syariat Islam. Sehingga pada akhirnya kaum wanita akan menuntut persamaan hak penerimaan warisan yang sama dan seimbang dengan kaum laki-laki. Yang sangat mengherankan dan sulit dicerna akal sehat ialah bahwa mereka yang berpura-pura prihatin tentang hak waris kaum wanita, justru mereka sendiri sangat bakhil terhadap kaum wanita dalam hal memberi nafkah. Subhanallah! Sebagai bukti, mereka bahkan menyuruh kaum wanita untuk bekerja demi menghidupi diri mereka, di antara mereka bekerja di ladang, di kantor, di tempat hiburan, bar, kelab malam, dan sebagainya. Corak pemikiran seperti ini dapat dipastikan merupakan hembusan dari Barat yang banyak diikuti oleh orang-orang yang teperdaya oleh kedustaan mereka. Kultur seperti itu tidak menghormati kaum wanita, bahkan tidak menempatkan mereka pada timbangan yang adil. Budaya mereka memandang kaum wanita tidak lebih sebagai pemuas syahwat. Mereka sangat bakhil dalam memberikan nafkah kepada kaum wanita, dan mengharamkan wanita untuk mengatur harta miliknya sendiri, kecuali dengan seizin kaum laki-laki (suaminya). Lebih dari itu, budaya mereka mengharuskan kaum wanita bekerja guna membiayai hidupnya. Kendatipun telah nyata demikian, mereka masih menuduh bahwa Islam telah menzalimi dan membekukan hak wanita. C. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris Banyak riwayat yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat-ayat waris, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Suatu ketika istri Sa'ad bin ar-Rabi' datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa kedua orang putrinya. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, kedua putri ini adalah anak Sa'ad bin ar-Rabi' yang telah meninggal sebagai syuhada ketika Perang Uhud. Tetapi paman kedua putri Sa'ad ini telah mengambil seluruh harta peninggalan Sa'ad, tanpa meninggalkan barang sedikit pun bagi keduanya." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Semoga Allah segera memutuskan perkara ini." Maka turunlah ayat tentang waris yaitu (an-Nisa': 11). Rasulullah saw. kemudian mengutus seseorang kepada paman kedua putri Sa'ad dan memerintahkan kepadanya agar memberikan dua per tiga harta peninggalan Sa'ad kepada kedua putri itu. Sedangkan ibu mereka (istri Sa'ad) mendapat bagian seperdelapan, dan sisanya menjadi bagian saudara kandung Sa'ad. Dalam riwayat lain, yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabari, dikisahkan bahwa Abdurrahman bin Tsabit wafat dan meninggalkan seorang istri dan lima saudara perempuan. Namun, seluruh harta peninggalan Abdurrahman bin Tsabit dikuasai dan direbut oleh kaum laki-laki dari kerabatnya. Ummu Kahhah (istri Abdurrahman) lalu mengadukan masalah ini kepada Nabi saw., maka turunlah ayat waris sebagai jawaban persoalan itu. Masih ada sederetan riwayat sahih yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat waris ini. Semua riwayat tersebut tidak ada yang menyimpang dari inti permasalahan, artinya bahwa turunnya ayat waris sebagai penjelasan dan ketetapan Allah disebabkan pada waktu itu kaum wanita tidak mendapat bagian harta warisan. D. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris Pertama:
12

Firman Allah yang artinya "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan," menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut:

1. Apabila pewaris (orang yang meninggal) hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak
perempuan, maka harta peninggalannya dibagi untuk keduanya. Anak laki-laki mendapat dua bagian, sedangkan anak perempuan satu bagian.

2. Apabila ahli waris berjumlah banyak, terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan, maka bagian untuk lakilaki dua kali lipat bagian anak perempuan.

3. Apabila bersama anak (sebagai ahli waris) ada juga ashhabul furudh, seperti suami atau istri, ayah atau ibu,
maka yang harus diberi terlebih dahulu adalah ashhabul furudh. Setelah itu barulah sisa harta peninggalan yang ada dibagikan kepada anak. Bagi anak laki-laki dua bagian, sedangkan bagi anak perempuan satu bagian.

4. Apabila pewaris hanya meninggalkan satu anak laki-laki, maka anak tersebut mewarisi seluruh harta
peninggalan. Meskipun ayat yang ada tidak secara sharih (tegas) menyatakan demikian, namun pemahaman seperti ini dapat diketahui dari kedua ayat yang ada. Bunyi penggalan ayat yang dikutip sebelumnya (Butir 1) rnenunjukkan bahwa bagian laki-laki adalah dua kali lipat bagian anak perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat (artinya) "jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta". Dari kedua penggalan ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa bila ahli waris hanya terdiri dari seorang anak lakilaki, maka ia mendapatkan seluruh harta peninggalan pewaris.

5. Adapun bagian keturunan dari anak laki-laki (cucu pewaris), jumlah bagian mereka sama seperti anak,
apabila sang anak tidak ada (misalnya meninggal terlebih dahulu). Sebab penggalan ayat (artinya) "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu", mencakup keturunan anak kandung. Inilah ketetapan yang telah menjadi ijma'. Kedua: Hukum bagian kedua orang tua. Firman Allah (artinya): "Dan untuk dua orang ibu-hapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam." Penggalan ayat ini menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut:

1. Ayah dan ibu masing-masing mendapatkan seperenam bagian apabila yang meninggal mempunyai
keturunan.

2. Apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, maka ibunya mendapat bagian sepertiga dari harta yang
ditinggalkan. Sedangkan sisanya, yakni dua per tiga menjadi bagian ayah. Hal ini dapat dipahami dari redaksi ayat yang hanya menyebutkan bagian ibu, yaitu sepertiga, sedangkan bagian ayah tidak disebutkan. Jadi, pengertiannya, sisanya merupakan bagian ayah.

3. Jika selain kedua orang tua, pewaris mempunyai saudara (dua orang atau lebih), maka ibunya mendapat
seperenam bagian. Sedangkan ayah mendapatkan lima per enamnya. Adapun saudara-saudara itu tidaklah mendapat bagian harta waris dikarenakan adanya bapak, yang dalam aturan hukum waris dalam Islam dinyatakan sebagai hajib (penghalang). Jika misalnya muncul pertanyaan apa hikmah dari penghalangan saudara pewaris terhadap ibu mereka --artinya bila tanpa adanya saudara (dua orang atau lebih) ibu mendapat sepertiga bagian, sedangkan jika ada saudara kandung pewaris ibu hanya mendapatkan seperenam bagian? Jawabannya, hikmah adanya hajib tersebut dikarenakan ayahlah yang menjadi wali dalam pernikahan mereka, dan wajib memberi nafkah mereka. Sedangkan ibu tidaklah demikian. Jadi, kebutuhannya terhadap harta lebih besar dan lebih banyak dibandingkan ibu, yang memang tidak memiliki kewajiban untuk membiayai kehidupan mereka. Ketiga:
13

lebih adil.Utang orang yang meninggal lebih didahulukan daripada wasiat. agar manusia tidak melecehkan wasiat dan jiwa manusia tidak menjadi kikir (khususnya para ahli waris). maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. Apabila seorang suami meninggal dan dia tidak mempunyai anak (keturunan). Bagian suami: 1. Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. jika mereka tidak mempunyai anak. cara ataupun aturan pembagiannya. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: "Sesungguhnya kalian telah membaca firman Allah [tulisan Arab] dan Rasulullah telah menetapkan dengan menunaikan utang-utang orang yang meninggal. utang tersebut akan tetap dituntut oleh orang yang mempiutanginya. Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." Penggalan ayat tersebut menjelaskan tentang hukum waris bagi suami dan istri. maka suami mendapat bagian separo dari harta yang ditinggalkan istrinya. sehingga bila yang berutang meninggal." Secara zhahir wasiat harus didahulukan ketimbang membayar utang orang yang meninggal. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. siapa pun orangnya. siapakah yang dapat membuat aturan dan undang-undang yang lebih baik. Sedangkan wasiat hanyalah suatu amalan sunnah yang dianjurkan. Keempat: Firman Allah (artinya) "orang tuamu dan anak-anakmu. Apabila seorang istri meninggal dan ia mempunyai keturunan (anak). Jadi. Namun. lalu barulah melaksanakan wasiatnya. Bagian istri: 1.. karena bagaimanapun bentuk usaha manusia untuk mewujudkan keadilan tidaklah akan mampu melaksanakannya secara sempurna. kalaupun tidak ditunaikan tidak akan ada orang yang menuntutnya. Keenam: 14 . 2. 2. Maha Suci Dzat-Nya. kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. kemudian barulah melaksanakan wasiat bila memang ia berwasiat sebelum meninggal. dan lebih relevan bagi umat manusia dan kemanusiaan selain Allah? Kelima: Firman Allah (artinya) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu. secara hakiki. Bagi suami atau istri masing-masing mempunyai dua cara pembagian. Bahkan tidak akan dapat merealisasikan pembagian yang adil seperti yang telah ditetapkan dalam ayat-ayat Allah." Hikmah mendahulukan pembayaran utang dibandingkan melaksanakan wasiat adalah karena utang merupakan keharusan yang tetap ada pada pundak orang yang utang. Apabila seorang istri meninggal dan tidak mempunyai keturunan (anak). Inilah yang diamalkan Rasulullah saw. maka suami mendapat bagian seperempat dari harta yang ditinggalkan. maka istri mendapat bagian seperdelapan. utang-utang pewaris terlebih dahulu ditunaikan. Manusia tidak akan tahu manakah di antara orang tua dan anak yang lebih dekat atau lebih besar kemanfaatannya terhadap seseorang. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya." Penggalan ayat ini dengan tegas memberi isyarat bahwa Allah yang berkompeten dan paling berhak untuk mengatur pembagian harta warisan. Pembagian yang ditentukan-Nya pasti adil. Selain itu. baik ketika ia masih hidup ataupun sesudah mati. Apabila seorang suami meninggal dan dia mempunyai anak (keturunan). Hal ini tidak diserahkan kepada manusia. yang mempiutangi akan menuntut para ahli warisnya. tetapi Allah. utanglah yang mesti terlebih dahulu ditunaikan. maka Allah SWT mendahulukan penyebutannya. Jika kamu mempunyai anak. Bila demikian. Di sisi lain. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. maka bagian istri adalah seperempat.

saudara laki-laki mendapat bagian yang sama dengan bagian saudara perempuan. dapat dipastikan bahwa pengertian kata ikhwah dalam ayat tersebut (an-Nisa': 12) adalah 'saudara seibu'. Pengertian inilah yang disepakati oleh ulama. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. sedangkan untuk kata yang sama di dalam akhir surat an-Nisa' memiliki pengertian 'saudara kandung' atau 'saudara seayah'. dan Allah terbebas dari kekeliruan tersebut. Jika yang meninggal mempunyai saudara seibu dua orang atau lebih. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. Kata kalaalah diambil dari kata al-kalla yang bermakna 'lemah'. maka karena dariku dan dari setan. Menurut saya. Ayat tersebut menunjukkan dengan tegas bahwa apabila wasiat dan utang nyata-nyata mengandung kemudaratan. Sementara itu. atau dengan kata lain dia tidak mempunyai pokok dan cabang. dan yang kedua pada akhir surat anNisa'. tidak mencakup saudara kandung dan tidak pula saudara laki-laki atau saudara perempuan "seayah lain ibu". Jadi. Kalaalah adalah orang yang meninggal yang tidak mempunyai ayah dan anak. Sedangkan utang yang dimaksud berdampak negatif. Yang pertama dalam ayat ini. bagi satu saudara mendapat seperenam bagian. Adapun bila pendapat ini salah. Dalam ayat yang disebut terakhir ini. pengertian istilah ikhwah dalam ayat ini harus dibedakan dengan pengertian ikhwah yang terdapat dalam ayat akhir surat an-Nisa' untuk meniadakan pertentangan antara dua ayat. seseorang yang berwasiat untuk menyedekahkan hartanya lebih dari sepertiga. Adapun yang dijadikan dalil oleh ulama ialah bahwa Allah SWT telah menjelaskan --dalam firman-Nya-.a. Ulama sepakat (ijma') bahwa kalaalah ialah seseorang yang mati namun tidak mempunyai ayah dan tidak memiliki keturunan. sedangkan bila dua atau lebih ia mendapat bagian dua per tiga. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.tentang hak waris saudara dari pewaris sebanyak dua kali. ayat akhir surat an-Nisa' menjelaskan bahwa saudara perempuan. Firman-Nya (artinya): "Jika seseorang mati. jika sendirian. " Ketujuh: Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sudah dibayar utangnya dengan tidak membebani mudarat (kepada ahli waris)". Sebab yang zhahir dari firman-Nya [tulisan Arab] menunjukkan adanya keharusan untuk dibagi dengan rata sama besar-kecilnya. baik laki-laki maupun perempuan.. maka bagian yang diperolehnya adalah seperenam. baik wasiat atau utang yang dapat menimbulkan mudarat (berdampak negatif) pada ahli waris tidak wajib dilaksanakan. mendapat separo harta peninggalan. B. Dampak negatif mengenai wasiat yang dimaksudkan di sini. Dengan demikian. maka wajib untuk tidak dilaksanakan. ia berkata: "Saya mempunyai pendapat mengenai kalaalah. yang artinya 'apabila orang itu lemah dan hilang kekuatannya'. sedangkan bila jumlah saudaranya banyak maka mendapatkan sepertiga dari harta peninggalan dan dibagi secara rata. 15 . Apabila pendapat saya ini benar maka hanyalah dari Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. karena saudara kandung atau saudara seayah kedudukannya lebih dekat --dalam urutan nasab-dibandingkan saudara seibu. Sementara itu. Oleh karenanya. mereka mendapatkan dua per tiga bagian dan dibagi secara rata. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). misalnya. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq r. Rincian Beberapa Keadaan Bagian Saudara Seibu A. misalnya seseorang yang mengakui mempunyai utang padahal sebenamya ia tidak berutang. " Yang dimaksud ikhwah (saudara) dalam penggalan ayat ini (an-Nisa': 12) adalah saudara laki-laki atau saudara perempuan "seibu lain ayah". Makna Kalaalah Pengertian kalaalah ialah seseorang meninggal tanpa memiliki ayah ataupun keturunan. Jadi. Jadi. Kata ini misalnya digunakan dalam kalimat kalla ar-rajulu.Hukum yang berkenaan dengan hak waris saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. maka Allah menetapkan bagian keduanya lebih besar dibandingkan saudara seibu. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. Apabila seseorang meninggal dan mempunyai satu orang saudara laki-laki seibu atau satu orang saudara perempuan seibu.

Apabila pewaris mempunyai banyak saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan atau seayah. Apabila seseorang meninggal dan hanya mempunyai satu orang saudara kandung perempuan ataupun seayah. jika ternyata tidak ada saudara laki-laki yang sekandung atau saudara perempuan yang sekandung. Apabila pewaris mempunyai dua orang saudara kandung perempuan atau seayah ke atas. D. A. dan ia tidak mempunyai ayah atau anak.Hukum Keadaan Saudara Kandung atau Seayah Firman Allah SWT dalam surat an-Nisa': 176 mengisyaratkan adanya beberapa keadaan tentang bagian saudara kandung atau saudara seayah. 16 . Begitulah hukum bagi saudara seayah. maka bagi ahli waris yang laki-laki mendapatkan dua kali bagian saudara perempuan. Apabila saudara kandungnya banyak --lebih dari satu-. Apabila seorang saudara kandung perempuan meninggal. maka seluruh harta peninggalannya menjadi bagian saudara kandung laki-lakinya. bila ternyata pewaris (yang meninggal) tidak mempunyai ayah atau anak. maka bagian ahli waris adalah dua per tiga dibagi secara rata. dan tidak mempunyai ayah atau anak. B.maka dibagi secara rata sesuai jumlah kepala. maka ahli waris mendapat separo harta peninggalan. C.

Hal demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah SWT. ibu. Di antaranya Allah berfirman: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud ." (al-Qashash: 58) Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw. atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu. Dan Kami adalah pewarisnya. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang 17 . apakah dia sebagai anak.II. Oleh karena itu. sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits Rasulullah saw. Di samping bahwa harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok masyarakat. paman.: 'Ulama adalah ahli waris para nabi'.. Ayat-ayat Al-Qur'an banyak menegaskan hal ini. Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan pembagian waris. tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris. cucu. suami. Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun. Definisi Waris Al-miirats. Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta. dan ijma' para ulama sangat sedikit. dengan catatan tidak boleh berlebihan.. WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM SYARIAT Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan adil. atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya. demikian pula sabda Rasulullah saw. tanah." (an-Naml: 16) ". dari seluruh kerabat dan nasabnya. Dapat dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu hukum secara detail dan rinci.. Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain'. Syariat Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya. A. Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang. tetapi mencakup harta benda dan non harta benda. Jadi. baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal. atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya).. kecuali hukum waris ini. istri.. Pengertian Peninggalan Pengertian peninggalan yang dikenal di kalangan fuqaha ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris. baik berupa harta (uang) atau lainnya. Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup. dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsan-miiraatsan. besar atau kecil. atau dari suatu kaum kepada kaum lain. ayah. baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang). baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus gadai). Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan Dari sederetan hak yang harus ditunaikan yang ada kaitannya dengan harta peninggalan adalah: 1. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia. kakek. pada prinsipnya segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan.

" 18 . Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. Bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkannya. 3. tentunya bila sebelumnya mayit tidak berwasiat kepada ahli waris untuk membayarnya.a. sejak wafatnya hingga pemakamannya. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya. termasuk diambil untuk membayar utangnya. baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya. dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang yang sudah meninggal. menurut mereka. ketika menjawab pertanyaan Sa'ad bin Abi Waqash r. Adapun jika utang tersebut berkaitan dengan Allah SWT. Keduanya wajib ditunaikan secara bersamaan sebelum seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada setiap ahli waris.. dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. dan sepertiga itu banyak. sedangkan kewajiban ibadah gugur jika seseorang telah meninggal dunia. menurut saya. ia tetap akan dikenakan sanksi kelak pada hari kiamat sebab ia tidak menunaikan kewajiban ketika masih hidup. bersabda: ".: "Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan. seperti belum membayar zakat. atau belum menunaikan nadzar. baik pewaris mewasiatkan ataupun tidak. meskipun kewajiban tersebut dinyatakan telah gugur bagi orang yang sudah meninggal. maka di kalangan ulama ada sedikit perbedaan pandangan. Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya. Bahkan menurut pandangan ulama mazhab Syafi'i hal tersebut wajib ditunaikan sebelum memenuhi hak yang berkaitan dengan hak sesama hamba. Kalangan ulama mazhab Hanafi beralasan bahwa menunaikan hal-hal tersebut merupakan ibadah.dibutuhkan mayit. Sedangkan jumhur ulama yang menyatakan bahwa ahli waris wajib untuk menunaikan utang pewaris terhadap Allah beralasan bahwa hal tersebut sama saja seperti utang kepada sesama manusia. Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. Akan tetapi. Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu. Hanya saja mazhab ini lebih mengutamakan agar mendahulukan utang yang berkaitan dengan sesama hamba daripada utang kepada Allah. serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan mayit. seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu. --pada waktu itu Sa'ad sakit dan berniat menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal. Sepertiga. Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli warisnya untuk menunaikannya sebelum harta warisan (harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya. Menurut jumhur ulama. Di antaranya. Hal ini tentu saja merupakan keputusan Allah SWT. tetapi termasuk hak yang menyangkut harta peninggalan pewaris. Pendapat mazhab ini. Sementara itu. maka wasiatnya tidak wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli warisnya. Namun. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa hak yang berhubungan dengan Allah wajib ditunaikan oleh ahli warisnya sama seperti mereka diwajibkan menunaikan utang piutang pewaris yang berkaitan dengan hak sesama hamba. ulama mazhab Hambali menyamakan antara utang kepada sesama hamba dengan utang kepada Allah. pembelian kain kafan. Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga meminta-minta kepada orang. hal ini merupakan amalan yang tidak memerlukan niat karena bukan termasuk ibadah mahdhah. Padahal. atau belum memenuhi kafarat (denda). biaya pemakaman. biaya memandikan. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah saw. Artinya. bila sang mayit berwasiat. Rasulullah saw. 2." Maksud hadits ini adalah utang piutang yang bersangkutan dengan sesama manusia. maka wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya.. Karena itu wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. pengamalan suatu ibadah harus disertai dengan niat dan keikhlasan.

paman kandung.4. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yang menerima sisa harta warisan yang telah dibagikan. Misalnya anak laki-laki pewaris. bibi (saudara ayah). dan seterusnya. saudara kandung pewaris. maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya. Setelah ashhabul furudh. juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim. dan lainnya). maka istri mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya. sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan dibandingkan lainnya. ayah. seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya. Misalnya. Catatan: Pada ayat waris. Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan. bibi (saudara ibu). sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya. baru kemudian melaksanakan wasiat. misalnya ibu. diantaranya agar ahli waris menjaga dan benarbenar melaksanakannya. Oleh karena itu. 5. ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan. As-Sunnah.setelah ashhabul furudh menerima bagian). 19 . 3. Padahal secara syar'i. Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan kepada ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya. Dengan demikian. Misalnya. cucu laki-laki dari anak perempuan. Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah. dan ijma'. barulah ashabat nasabiyah menerima bagian. bila pewaris tidak mempunyai kerabat sebagai ashhabul furudh. Tambahan hak waris bagi suami atau istri. istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. Yang dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun perempuan). dan sebagai 'ashabah. 2. seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan. Itulah sebabnya wasiat lebih didahulukan penyebutannya dalam susunan ayat tersebut. Bahkan. Adapun suami atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada. 4. suami. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur'an. 6. tidak pula 'ashabah. didahulukannya penyebutan wasiat tentu mengandung hikmah. kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang berhak menerima sisa harta waris --jika ada-. cucu dari anak laki-laki pewaris. Ashabah karena sebab. Hal ini tentu saja berbeda dengan utang piutang. Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri). wasiat memang lebih dahulu disebutkan daripada soal utang piutang. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang meninggal. Derajat Ahli Waris Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan derajat dan urutan. As-Sunnah. para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan. paman (saudara ibu). persoalan utang piutang hendaklah terlebih dahulu diselesaikan. Misalnya. Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur'an. Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris yang masih memiliki kaitan rahim --tidak termasuk ashhabul furudh juga 'ashabah. Ashabat nasabiyah. Tetapi pada masa kini sudah tidak ada lagi. maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh masing-masing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri. B. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan derajatnya: 1. Ashhabul furudh. jika ternyata tidak ada ahli waris lainnya. Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan. istri. Sebab wasiat tidak ada yang menuntut hingga kadang-kadang seseorang enggan menunaikannya. Maka. Mewariskan kepada kerabat. dan cucu perempuan dari anak perempuan. Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa. dan kesepakatan para ulama (ijma').

baik berupa uang. saudara. Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian. Pewaris. yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. 3. Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan. anak. dan sebagainya. bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki. 20 . 2. tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya. tanah.maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untuk kemaslahatan umum. yaitu kekerabatan karena sebab hukum. Misalnya. C. Al-Wala. Bentuk-bentuk Waris A. B. Adapun pernikahan yang batil atau rusak. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. Baitulmal (kas negara). dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya. D. yakni orang yang meninggal dunia. atau lainnya. Yang dimaksud di sini ialah orang lain. seperti kedua orang tua. D. Hak waris secara tambahan. Sebab-sebab Adanya Hak Waris Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris: 1. E. yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan. seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. C. Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab). Pada bagian berikutnya butir-butir tersebut akan saya jelas secara detail. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara seorang laki-laki dan perempuan. paman. Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris. Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari pihak ayah).7. artinya bukan salah seorang dan ahli waris. 8. Rukun Waris Rukun waris ada tiga: 1. Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat --seperti yang saya jelaskan-. 3. dan seterusnya. Ahli waris. 2. baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi. Pernikahan. Harta warisan. Hak waris secara pertalian rahim. Hakwaris secara fardh (yang telah ditentukan bagiannya). Disebut juga wala al-'itqi dan wala an-ni'mah.

Akan tetapi harus dinyatakan apakah ia sebagai saudara kandung. jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling mewarisi meninggal dalam satu peristiwa --atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu meninggal-. ada yang berhak menerima warisan karena sebagai ahlul furudh. sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi. serta ada yang tidak terhalang. atau saudara seibu. manusia yang masih hidup tetap dianggap mampu untuk mengendalikan seluruh harta miliknya. mereka adalah golongan orang yang tidak dapat saling mewarisi. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia.maka di antara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang mereka miliki ketika masih hidup. Para fuqaha menyatakan. kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa seseorang adalah saudara sang pewaris. ada yang karena 'ashabah. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal). sehingga pembagi mengetahui dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris. Syarat Kedua: Masih hidupnya para ahli waris Maksudnya. termasuk jumlah bagian masing-masing. Syarat Ketiga: Diketahuinya posisi para ahli waris Dalam hal ini posisi para ahli waris hendaklah diketahui secara pasti. Budak 21 . istri. Syarat Waris Syarat-syarat waris juga ada tiga: 1. tertimpa puing. kerabat. Hal ini harus diketahui secara pasti. dalam hukum waris perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan jumlah yang diterima.-ialah bahwa seseorang telah meninggal dan diketahui oleh seluruh ahli warisnya atau sebagian dari mereka. karena bagaimanapun keadaannya. atau vonis yang ditetapkan hakim terhadap seseorang yang tidak diketahui lagi keberadaannya. dan sebagainya. Sebagai contoh. 2. saudara seayah. Syarat Pertama: Meninggalnya pewaris Yang dimaksud dengan meninggalnya pewaris --baik secara hakiki ataupun secara hukum-. 3. kecuali setelah ia meninggal. Hak kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup. ada yang terhalang hingga tidak mendapatkan warisan (mahjub). misalnya suami. Sebagai contoh. G. Misalnya. atau tenggelam. Hal seperti ini oleh kalangan fuqaha digambarkan seperti orang yang sama-sama meninggal dalam suatu kecelakaan kendaraan. sehingga hakim memvonisnya sebagai orang yang telah meninggal. dalam hal ini ada tiga: 1. Mereka masing-masing mempunyai hukum bagian.F. Penggugur Hak Waris Penggugur hak waris seseorang maksudnya kondisi yang menyebabkan hak waris seseorang menjadi gugur. Sebab. orang yang hilang yang keadaannya tidak diketahui lagi secara pasti. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti.

dengan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak). sekalipun hanya memberikan kesaksian palsu dalam pelaksanaan hukuman rajam. yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi orang kafir. Baik budak itu sebagai qinnun (budak murni). Pembunuhan Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya). Alasan mereka adalah bahwa Islam ya'lu walaayu'la 'alaihi (unggul. atau membayar kafarat. apakah dapat mewarisinya ataukah tidak. tetapi tidak boleh mewariskan kepada orang kafir." (Bukhari dan Muslim) Jumhur ulama berpendapat demikian. atau bahkan hanya membenarkan kesaksian para saksi lain dalam pelaksanaan qishash atau hukuman mati pada umumnya. maka ia tidak berhak mendapatkan warisan." Ada perbedaan di kalangan fuqaha tentang penentuan jenis pembunuhan. Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak. membayar diyat.a. Mazhab Hambali berpendapat bahwa pembunuhan yang dinyatakan sebagai penggugur hak waris adalah setiap jenis pembunuhan yang mengharuskan pelakunya diqishash.Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya. dalam haditsnya. maka dia tidak mendapatkan bagiannya. Wallahu a'lam. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. yakni murtad. Sebagian ulama ada yang menambahkan satu hal lagi sebagai penggugur hak mewarisi. mazhab Hanafi menentukan bahwa pembunuhan yang dapat menggugurkan hak waris adalah semua jenis pembunuhan yang wajib membayar kafarat. 3. " Dari pemahaman hadits Nabi tersebut lahirlah ungkapan yang sangat masyhur di kalangan fuqaha yang sekaligus dijadikan sebagai kaidah: "Siapa yang menyegerakan agar mendapatkan sesuatu sebelum waktunya. dalam sabdanya: "Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir. hanya pembunuhan yang disengaja atau yang direncanakan yang dapat menggugurkan hak waris. Sedangkan menurut mazhab Hanafi. Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengaku bersandar pada pendapat Mu'adz bin Jabal r. pendapat mazhab Hambali yang paling adil. Orang yang telah keluar dari Islam dinyatakan sebagai orang murtad. Sementara itu. Bahkan kalangan ulama mazhab Hanafi sepakat mengatakan: "Seluruh harta peninggalan orang murtad diwariskan kepada kerabatnya yang muslim. Sedangkan menurut mazhab Syafi'i. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat. Sebab. karenanya orang murtad tidak dapat mewarisi orang Islam. pembunuhan dengan segala cara dan macamnya tetap menjadi penggugur hak waris. 22 . menurut mereka. Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw. Ibnu Mas'ud. semua jenis budak merupakan penggugur hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak mempunyai hak milik. secara langsung menjadi milik tuannya. termasuk keempat imam mujtahid. seperti ditegaskan Rasulullah saw. dan lainnya. bolehkah seorang muslim mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad? Menurut mazhab Maliki. Misalnya. atau mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya. dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim. Perbedaan Agama Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim.: "Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta orang yang dibunuhnya. seorang muslim dapat saja mewarisi harta kerabatnya yang murtad. Maksudnya. 2. Karena itu. Menurut saya. orang yang murtad berarti telah keluar dari ajaran Islam sehingga secara otomatis orang tersebut telah menjadi kafir." Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq. Alhasil. Selain itu tidak tergolong sebagai penggugur hak waris. Dalam hal ini ulama membuat kesepakatan bahwa murtad termasuk dalam kategori perbedaan agama. Syafi'i. tidak ada yang mengunggulinya). dan Hambali (jumhur ulama) bahwa seorang muslim tidak berhak mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad. di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan mengenai kerabat orang yang murtad. mudabbar (budak yang telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal). apa pun agamanya. Ali bin Abi Thalib. bahwa antara muslim dan kafir tidaklah dapat saling mewarisi.

sisa harta yang ada. Seseorang yang tergolong ke dalam salah satu sebab dari ketiga hal yang dapat menggugurkan hak warisnya. (2) cucu laki-laki (dari anak laki-laki). baik yang bertaraf nasional ataupun internasional. Sebagai contoh. Jadi. H. (15) laki-laki yang memerdekakan budak. Padahal pada masa sekarang tidak kita temui baitulmal yang dikelola secara rapi. Maka kakek dan saudara seayah dalam hal ini disebut dengan istilah mahjub. Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat bagian seperempat harta yang ada. (13) anak laki-laki paman seayah. (6) saudara laki-laki seayah. (14) suami. ada baiknya saya jelaskan perbedaan makna antara kedua istilah tersebut. ibu.mahjub oleh adanya ahli waris yang lebih dekat dan kuat dibandingkan mereka.Menurut penulis. dan anak --dalam hal ini. (3) bapak. (8) anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki. menjadi hak saudara kandung sebagai 'ashabah Dalam hal ini anak tidak mendapatkan bagian disebabkan ia sebagai ahli waris yang mahrum. Contoh Pertama Seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri. (9) anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu. maka bagian istri seperdelapan. (10) paman (saudara kandung bapak). Ahli Waris dari Golongan Laki-laki Ahli waris (yaitu orang yang berhak mendapatkan warisan) dari kaum laki-laki ada lima belas: (1) anak laki-laki. yaitu ayah pewaris. (4) kakek (dari pihak bapak). serta saudara kandung. Kalau saja anak itu tidak membunuh pewaris. karena harta warisan yang tidak memiliki ahli waris itu harus diserahkan kepada baitulmal. Contoh Kedua Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan ayah. Untuk lebih memperjelas gambaran tersebut. seperti membunuh atau berbeda agama. Maka saudara kandung tidak mendapatkan warisan dikarenakan ter. yang terkadang membingungkan sebagian orang yang sedang mempelajari faraid. yaitu 7/8. (11) paman (saudara bapak seayah). menjadi hak sang anak sebagai 'ashabah. (5) saudara kandung laki-laki. 23 . karena pewaris dianggap tidak memiliki anak. Kemudian sisanya. Begitu juga halnya dengan saudara seayah. di kalangan fuqaha dikenal dengan istilah mahrum. (12) anak laki-laki dari paman (saudara kandung ayah). sedangkan saudara kandung tidak mendapatkan bagian disebabkan sebagai ahli waris yang mahjub dengan adanya anak pewaris. Jika terjadi hal demikian. saya sertakan contoh kasus dari keduanya. Karena itu. yaitu tiga per empat harta yang ada. Sedangkan mahjub adalah hilangnya hak waris seorang ahli waris disebabkan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya atau lebih kuat kedudukannya. pendapat ulama mazhab Hanafi lebih rajih (kuat dan tepat) dibanding yang lainnya. saudara kandung. Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub Ada perbedaan yang sangat halus antara pengertian al-mahrum dan al-mahjub. yaitu ayah. maka kakek tidak mendapatkan bagian warisannya dikarenakan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya dengan pewaris. adanya kakek bersamaan dengan adanya ayah. atau saudara seayah dengan adanya saudara kandung. anak kita misalkan sebagai pembunuh. ia tidak memperoleh bagian disebabkan adanya saudara kandung pewaris. (7) saudara laki-laki seibu.

(8) saudara perempuan seibu. (3) anak perempuan (dari keturunan anak laki-laki). (10) perempuan yang memerdekakan budak. Demikian pula yang dimaksud dengan nenek --baik ibu dari ibu maupun ibu dari bapak-. (4) nenek (ibu dari ibu). yang penting laki-laki dan dari keturunan anak laki-laki. Begitu pula yang dimaksud dengan kakek.Catatan Bagi cucu laki-laki yang disebut sebagai ahli waris di dalamnya tercakup cicit (anak dari cucu) dan seterusnya. (5) nenek (ibu dari bapak). Ahli Waris dari Golongan Wanita Adapun ahli waris dari kaum wanita ada sepuluh: (1) anak perempuan. (2) ibu. yang penting perempuan dari keturunan anak laki-laki. dan seterusnya. (9) istri. Catatan Cucu perempuan yang dimaksud di atas mencakup pula cicit dan seterusnya. 24 . I. (7) saudara perempuan seayah.dan seterusnya. (6) saudara kandung perempuan.

anak perempuan.. dan tidak pula mempunyai keturunan. Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki. dan hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. baik anak laki-laki maupun perempuan. mencakup anak dan anak laki-laki dari keturunan anak. dan hal ini telah menjadi kesepakatan ulama. dengan empat syarat: a. baik anak laki-laki maupun anak perempuan." (an-Nisa': 12) 2. seperdelapan (1/8). PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN JUMLAH bagian yang telah ditentukan Al-Qur'an ada enam macam. Dalilnya adalah firman Allah: "dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang. Maka firman-Nya "yushikumullahu fi auladikum". dan bagi kalian (para suami) mendapat separo dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. maka ia mendapat separo harta warisan yang ada". cucu perempuan keturunan anak laki-laki. b. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki. dengan dua syarat: a. Rinciannya seperti berikut: 1. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek.. c. Kini mari kita kenali pembagiannya secara rinci. dengan tiga syarat: a. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya . Anak perempuan (kandung) mendapat bagian separo harta peninggalan pewaris. dan saudara perempuan seayah. dan tidak pula anak. Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tersebut sebagai cucu tunggal). c. baik keturunan laki-laki ataupun keturunan perempuan. siapa saja ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dengan bagian yang berhak ia terima. Dalilnya adalah firman Allah: ". penj. Sebab cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki sama kedudukannya dengan anak kandung perempuan bila anak kandung perempuan tidak ada. Dalilnya sama dengan Butir 4 (an-Nisa': 176). baik anak keturunan itu dari suami tersebut ataupun bukan... Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki.. dengan tiga syarat: a. 3. Bila kedua persyaratan tersebut tidak ada. bila mereka (para istri) tidak mempunyai anak . b. b. A. c. Saudara kandung perempuan akan mendapat bagian separo harta warisan. Apabila ia hanya seorang diri. dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan. Kelima ashhabul furudh tersebut ialah suami.. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan mendapat bagian separo. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah Ashhabul furudh yang berhak mendapatkan separo dari harta waris peninggalan pewaris ada lima. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaituj: jika seorang meninggal dunia. 25 . Pewaris tidak mempunyai saudara kandung perempuan. Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan. dan seperenam (1/6). yaitu setengah (1/2). Dalilnya sama saja dengan dalil bagian anak perempuan (sama dengan nomor 2). 4.III.).'" (an-Nisa': 176) 5. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak. Dalilnya adalah firman Allah berikut: "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Saudara perempuan seayah akan mendapat bagian separo dari harta warisan peninggalan pewaris. dua per tiga (2/3). d. Apabila anak perempuan itu adalah anak tunggal. b. maka anak perempuan pewaris tidak mendapat bagian setengah. sepertiga (1/3). Pewaris tidak mempunyai anak laki-laki (berarti anak perempuan tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki). satu dari golongan laki-laki dan empat lainnya perempuan. seperempat (1/4). saudara kandung perempuan. Ia hanya seorang diri (tidak mempunyai saudara perempuan).

. Jika kamu mempunyai anak. 4. Seorang istri akan mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan suaminya dengan satu syarat. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih. baik seorang maupun lebih akan mendapatkan seperdelapan dari harta peninggalan suaminya. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuh." (an-Nisa': 12) Ada satu hal yang patut diketahui oleh kita --khususnya para penuntut ilmu-. sekalipun seorang suami meninggalkan istri lebih dari satu.tentang bagian istri. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak .. Jadi.. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya É" (an-Nisa': 12) 2. yaitu suami dan istri. wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu . maka mereka tetap mendapat seperempat harta peninggalan suami mereka. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. Ketentuan ini terikat oleh syarat-syarat seperti berikut: 1. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan Dari sederetan ashhabul furudh yang berhak memperoleh bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri. baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri yang lain. Rinciannya sebagai berikut: 1. Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan istrinya dengan satu syarat. Dalilnya firman Allah berikut: 26 . Dalilnya adalah firman Allah SWT: ".. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat Adapun kerabat pewaris yang berhak mendapat seperempat (1/4) dari harta peninggalannya hanya ada dua.. baik anak tersebut lahir dari rahimnya ataupun dari rahim istri lainnya. yaitu dengan digunakannya kata lahunna (dalam bentuk jamak) yang bermakna 'mereka perempuan'. 3. baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya ataupun dari suami lain (sebelumnya). Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga Ahli waris yang berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3) dari harta peninggalan pewaris ada empat.B. bagian mereka tetap seperempat dari harta peninggalan. dan semuanya terdiri dari wanita: 1.. yakni anak laki-laki dari pewaris. Istri. Hal ini berdasarkan firman Allah di atas. yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-lakinya. Hal ini berdasarkan firman Allah berikut: ".." (an-Nisa': 12) D. Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih.. bila suami mempunyai anak atau cucu. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidak mempunyai saudara laki-laki. C. baik suami meninggalkan seorang istri ataupun empat orang istri. yaitu apabila suami tidak mempunyai anak/cucu.. 2. Yang dimaksud dengan "istri mendapat seperempat" adalah bagi seluruh istri yang dinikahi seorang suami yang meninggal tersebut. Dengan kata lain. Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah berikut: ".. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih.

melainkan 'dua anak perempuan atau lebih'. atau saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). Dan dalilnya sama. yaitu ijma' para ulama bahwa ayat "." (an-Nisa': 11) Ada satu hal penting yang mesti kita ketahui agar tidak tersesat dalam memahami hukum yang ada dalam Kitabullah. Persyaratan yang harus dipenuhi bagi dua saudara perempuan seayah untuk mendapatkan bagian dua per tiga hampir sama dengan persyaratan dua saudara kandung perempuan. Dalilnya adalah firman Allah: ". Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki maupun perempuan). Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw. Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga dengan syarat: 1... ayah. Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan syarat sebagai berikut: a. Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai saudara laki-laki seayah. Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal .. atau kakek. hanya di sini (saudara seayah) ditambah dengan keharusan adanya saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan).. Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan bahwa makna ayat itsnataini adalah 'dua anak perempuan atau lebih'. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. hal ini merupakan kesepakatan para ulama. 2. Pewaris tidak mempunyai anak kandung. Wallahu a'lam. maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan . yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa'ad bin ar-Rabi' r..." (an-Nisa': 176) mencakup saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah. Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian dua per tiga (2/3). tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. 27 . 3.... b. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua.. orang yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah "anak perempuan lebih dari dua" jelas tidak benar dan menyalahi ijma' para ulama. Wallahu a'lam. dengan persyaratan sebagai berikut: a. c. Sedangkan saudara perempuan seibu tidaklah termasuk dalam pengertian ayat tersebut.". Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu tidak mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah." (an-Nisa': 176) 4. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan. Bila pewaris tidak mempunyai anak. baik laki-laki atau perempuan. c. c. b. --sebagaimana diungkapkan dalam bab sebelum ini. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . b.. yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan) yang seibu. juga tidak mempunyai ayah atau kakek. Jadi. Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga Adapun ashhabul furudh yang berhak mendapatkan warisan sepertiga bagian hanya dua. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan persyaratan sebagai berikut: a. E. atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki.a. Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak perempuan lebih dari dua'..

" (an-Nisa': 11) Catatan: Lafazh ikhwatun bila digunakan dalam faraid (ilmu tentang waris) tidak berarti harus bermakna 'tiga atau lebih'. Sebab Allah SWT telah menjelaskan hukum yang berkaitan dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan sekandung dalam akhir surat an-Nisa'. akan mendapat bagian sepertiga dengan syarat sebagai berikut: 1. Kesimpulannya. yang dalam hal ini bagian saudara laki-laki dua kali lipat bagian saudara perempuan. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu . 28 .2.. Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan). maka ibunya mendapat seperenam. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. dan pembagiannya sama rata baik yang laki-laki maupun perempuan. bagian saudara laki-laki dan perempuan seibu bila telah memenuhi syarat-syarat di atas ialah sepertiga.. juga tidak mempunyai ayah atau kakak. Adapun dalilnya adalah firman Allah: ".. maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan) É" (at-Tahrim: 4) Kemudian saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. Dalil lain yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah firman Allah berikut: "Jika kamu berdua bertobat kepada Allah. Jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. Namun. Juga menjelaskan hukum yang berkaitan dengan bagian saudara laki-laki dan perempuan seayah dalam ayat yang sama. maka ibunya mendapat sepertiga. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja).. satu sebagai imam dan satu lagi sebagai makmum. Sebab dalam bahasa bentuk jamak terkadang digunakan dengan makna 'dua orang'. Jumlah saudara yang seibu itu dua orang atau lebih.. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki ataupun perempuan). lafazh ini bermakna 'dua atau lebih'. dua orang atau lebih.. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.. Kata bersekutu menunjukkan kebersamaan. dan jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja)." (an-Nisa': 12) Catatan Yang dimaksud dengan kalimat "walahu akhun au ukhtun" dalam ayat tersebut adalah 'saudara seibu'. sebagaimana makna yang masyhur dalam bahasa Arab --sebagai bentuk jamak. 2. ada hal lain yang perlu kita tekankan di sini yakni tentang firman "fahum syurakaa 'u fits tsulutsi" (mereka bersekutu dalam yang sepertiga). Pembagian mereka berbeda dengan bagian para saudara laki-laki/perempuan kandung dan seayah. mereka harus membagi sama di antara saudara laki-laki dan perempuan seibu tanpa membedakan bahwa laki-laki harus memperoleh bagian yang lebih besar daripada perempuan. Selain itu.. Dalilnya adalah firman Allah: ". Karena itu seluruh ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "akhun au ukhtun" dalam ayat itu adalah saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. yang berarti sah dilakukan hanya oleh dua orang. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang.." (an-Nisa': 11) Juga firman-Nya: ".. Misalnya dalam istilah shalat jamaah.. baik saudara itu sekandung atau seayah ataupun seibu. Yakni..

Kemudian ayah mendapat seluruh sisa yang ada. Hal ini tentunya bertentangan dengan kaidah dasar faraid yang telah ditegaskan dalam Al-Qur'an dalam bagian ayat "lidzdzakari mitslu hazhzhil untsayain". sedangkan ibu mendapat bagian tiga per empat dari sisa setelah diambil hak istri. Dengan demikian. Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Jumlah Bagian Nilai 29 . ibu. Agar lebih jelas. ibu. hak ayah menjadi dua kali lipat dari bagian yang diterima ibu. Ibu mendapat sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil bagian suami. Disebut 'umariyyatan sebab kedua hal ini dilakukan oleh Umar bin Khathab dan disepakati oleh jumhur sahabat ridhwanullah 'alaihim. Suami mendapat bagian setengah (1/2) dari seluruh harta warisan yang ada. berkaitan dengan ini ada dua istilah yang muncul dan dikenal di kalangan fuqaha. dan ayah.Masalah 'Umariyyatan Pada asalnya. Contoh Kedua Seorang suami meninggal dunia dan ia meninggalkan istri. maka ibunya mendapat sepertiga". yakni 'umariyyatan dan al-gharawaini.berdasarkan pemahaman bagian ayat (artinya) "jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). dan ayah. Untuk lebih jelas lagi saya berikan tabelnya: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Suami Ibu Ayah 1/2 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian suami Seluruh sisa peninggalan sebagai 'ashabah Jumlah Bagian Nilai 3 1 2 Dalam contoh kasus ini ibu mendapatkan bagian sepertiga dari sisa setelah diambil bagian suami pewaris. Dalam kasus ini. Karenanya untuk tetap menegakkan kaidah dasar tersebut. setelah sebelumnya dikurangi bagian suami atau istri. Istri mendapat bagian seperempat (1/4) dari seluruh harta peninggalan suaminya. saya sertakan contohnya. Sedangkan al-gharawaini bermakna 'dua bintang cemerlang'. Akan tetapi. Contoh Pertama Seorang istri wafat dan meninggalkan suami. sebab bila ia memperoleh sepertiga dari seluruh harta yang ada maka ia akan mendapat bagian dua kali lipat bagian ayah. karena kedua istilah ini sangat masyhur. Sedangkan bagian ayah adalah sisa harta yang ada sebagai 'ashabah. ibu hanya diberi sepertiga bagian dari sisa harta warisan yang ada. seorang ibu akan mendapat bagian sepertiga dari seluruh harta peninggalan pewaris bila ia mewarisi secara bersamaan dengan bapak --seperti telah saya jelaskan--. ibu mendapat bagian sepertiga dari harta warisan setelah diambil hak suami pewaris.

30 . 3. Seorang ayah akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Jadi.Istri Ibu Ayah 1/4 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian istri Mendapat bagian seluruh sisa peninggalan yang ada sebagai 'ashabah 1 1 2 Dari kedua contoh tersebut tampak oleh kita bahwa pada hakikatnya bagian ibu pada tabel pertama adalah seperenam (1/6). (7) saudara laki-laki dan perempuan seibu. baik sekandung. F. Jadi. baik anak laki-laki atau anak perempuan. dengan dua syarat: a. tepatnya masa Umar bin Khathab r. Mereka adalah (1) ayah.. (5) saudara perempuan seayah. ataupun seibu. (3) ibu. Sedangkan pendapat yang kedua diutarakan oleh Ibnu Abbas r. yang kemudian diambil oleh jumhur ulama serta dikokohkan oleh Umar bin Khathab dengan menyatakan bahwa bagian ibu adalah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri. Wallahu a'lam.a. Dan untuk dua orang ibu bapak. Menurutnya. Seorang kakek (bapak dari ayah) akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki dari keturunan anak --dengan syarat ayah pewaris tidak ada. ibu tetap mendapat bagian sepertiga (1/3) dari seluruh harta yang ditinggalkan suami atau istri (anaknya). Ibu akan memperoleh seperenam (1/6) bagian dari harta yang ditinggalkan pewaris. (6) nenek asli. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam Adapun asbhabul furudh yang berhak mendapat bagian seperenam (1/6) ada tujuh orang. Pendapat pertama dintarakan oleh Zaid bin Tsabit r." (an-Nisa': 11) 2. Bila pewaris mempunyai dua orang saudara atau lebih. Adapun penyebutannya dengan istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri adalah karena menyesuaikan adab qur'ani. Dalilnya firman Allah (artinya): "jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. (4) cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang terkenal. sedangkan pada tabel kedua adalah seperempat (1/4)... seayah. b. Sebab yang disebutkan di dalam Al-Qur'an hanya "wawaritsahu abawahu". maka ibunya mendapat seperenam É" (an-Nisa': 11).a. apa yang dipahami Zaid dan dipilih oleh jumhur ulama serta ditetapkan oleh Umar bin Khathab itulah pendapat yang sahih. dalam keadaan demikian salah seorang kakek akan menduduki kedudukan seorang ayah. Bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. baik saudara laki-laki ataupun perempuan.. Masalah 'umariyyatan ini pernah terjadi pada masa sahabat.a. jika yang meninggal itu mempunyai anak .. Bahkan Ibnu Abbas menyanggah pendapat Zaid bin Tsabit: "Apakah memang ada di dalam Al-Qur'an istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri?" Zaid menanggapinya dengan mengatakan: "Di dalam Kitabullah juga tidak disebutkan bahwa bagian ibu sepertiga dari seluruh harta peninggalan yang ada bila ibu bersama-sama mewarisi dengan salah satu suami atau istri. (2) kakek asli (bapak dari ayah). Dalilnya firman Allah (artinya): ". 1. kecuali dalam tiga keadaan yang akan saya rinci dalam bab tersendiri. menurut hemat saya..

Dan persyaratannya adalah bila pewaris tidak mempunyai pokok (yakni kakek) dan tidak pula cabang (yakni anak. sang penanya kembali menemui Abu Musa al-Asy'ari dan memberi tahu permasalahannya. Dalilnya adalah firman Allah (artinya) "jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. cucu perempuan dari keturunan anak laki-lakinya. Sebab jika lebih dari satu orang. Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). dan sekaligus menjadi penggugur (penghalang) hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris. ditanya tentang masalah warisan seseorang yang meninggalkan seorang anak perempuan. yang jelas seperenam itu dibagikan secara rata kepada mereka. dan sisanya menjadi bagian saudara perempuan pewaris. maka saudara perempuan seayah mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna dari dua per tiga (2/3). Dalam keadaan demikian. Hal ini berlandaskan pada apa yang telah ditetapkan di dalam hadits sahih dan ijma' seluruh sahabat. sang penanya pergi mendatangi Ibnu Mas'ud. Abu Musa kemudian menjawab: "Bagi anak perempuan mendapat bagian separo (1/2). Hal ini hukumnya sama denga keadaan jika cucu perempuan keturunan anak laki-laki bersamaan dengan adanya anak perempuan." Mendengar jawaban Ibnu Mas'ud. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris mendapat seperenam (1/6). maka tidak ada sisa kecuali seperenam (1/6) yang memang merupakan hak saudara perempuan seayah.4. Nenek asli mendapatkan bagian seperenam (1/6) ketika pewaris tidak lagi mempunyai ibu. bila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan seayah atau lebih. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya bahwa Abu Musa al-Asy'ari r. 7. Sebab bila ada anak laki-laki. apabila yang meninggal (pewaris) mempunyai satu anak perempuan. Maka Ibnu Mas'ud berkata: "Aku akan memutuskan seperti apa yang pernah diputuskan Rasulullah saw. baik laki-laki atau perempuan). anak-anak perempuan itu berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3). Jadi. Saudara perempuan seayah satu orang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). 6. 5. dan bagi cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai pelengkap 2/3." Merasa kurang puas dengan jawaban Abu Musa. sebagai pelengkap dua per tiga (2/3). pewaris juga tidak mempunyai anak perempuan lebih dari satu orang.. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta". apabila pewaris mempunyai seorang saudara kandung perempuan. Ketentuan demikian baik nenek itu hanya satu ataupun lebih (dari jalur ayah maupun ibu). dan saudara perempuan. maka anak tersebut menjadi penggugur hak sang cucu. dan yang setengah sisanya menjadi bagian saudara perempuan. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). Kemudian Abu Musa berkata: "Janganlah sekali-kali kalian menanyaiku selama sang alim ada di tengah-tengah kalian. bagi anak perempuan separo (1/2) harta peninggalan pewaris.a. Saudara laki-laki atau perempuan seibu akan mendapat bagian masing-masing seperenam (1/6) bila mewarisi sendirian. Selain itu. anak perempuan tersebut mendapat bagian setengah (1/2). Sebab ketika saudara perempuan kandung memperoleh setengah (1/2) bagian." Catatan Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian seperenam (1/6) dengan syarat bila pewaris tidak mempunyai anak laki-laki. 31 .

Wallahu a'lam. untuk menuntut hak warisnya.Ashhabus Sunan meriwayatkan bahwa seorang nenek datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r." Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengatakan kepada Abu Bakar: "Suatu ketika aku pernah menjumpai Rasulullah saw." Mendengar pernyataan al-Mughirah itu Abu Bakar kemudian memanggil nenek tadi dan memberinya seperenam (1/6). dan tunggulah hingga aku menanyakannya kepada para sahabat Rasulullah saw. Abu Bakar menjawab: "Saya tidak mendapati hakmu dalam Al-Qur'an maka pulanglah dulu. memberikan hak seorang nenek seperenam (1/6).a. 32 .

sedang kami golongan (yang kuat). Sebagai contoh. Ayat tersebut juga telah menegaskan bahwa bila pewaris tidak mempunyai anak. Kemudian. dan paman (saudara kandung ayah). Dari sini dapat kita pahami bahwa sisa setelah diambil bagian ibu. maka seluruh harta peninggalannya menjadi milik kedua orang tua. anak laki-laki. Dengan demikian. di antaranya dalam firman Allah berikut: "Mereka berkata: 'Jika ia benar-benar dimakan serigala. jika yang meninggal itu mempunyai anak. dua per tiganya (2/3) menjadi hak ayah. Dalil Al-Qur'an yang lainnya ialah (artinya) "jika seorang meninggal dunia.menguatkan dan melindungi. ayat tersebut tidak menjelaskan berapa bagian ayah. A. maka ibunya mendapat sepertiga" (an-Nisa': 11). dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). makna kalimat "wahuwa yaritsuha" memberi isyarat bahwa seluruh harta peninggalan menjadi haknya. Pada ayat ini tidak disebutkan bagian saudara kandung. Dalil Hak Waris Para 'Ashabah Dalil yang menyatakan bahwa para 'ashabah berhak mendapatkan waris kita dapati di dalam Al-Qur'an dan AsSunnah. DEFINISI 'ASHABAH KATA 'ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak bapak. jika ia tidak mempunyai anak. Namun. Namun. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. maka ibu mendapat bagian sepertiga (1/3). Selain itu.IV. Sedangkan pengertian 'ashabah menurut istilah para fuqaha ialah ahli waris yang tidak disebutkan banyaknya bagian di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan tegas. Inilah makna 'ashabah. yang disebutkan justru saudara kandung akan menguasai (mendapatkan bagian) seluruh harta peninggalan yang ada bila ternyata pewaris tidak mempunyai keturunan. Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah apa yang disabdakan Rasulullah saw. dikarenakan mereka --yakni kerabat bapak-." (an-Nisa': 176). maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. kata ini sering kali digunakan. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. Demikian juga di dalam Al-Qur'an. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Disebut demikian. Inilah pengertian 'ashabah dari segi bahasa. Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan berasal dari pihak ayah.: 33 . Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah (artinya): "dan untuk dua orang ibu bapak.'" (Yusuf: 14) Maka jika dalam faraid kerabat diistilahkan dengan 'ashabah hal ini disebabkan mereka melindungi dan menguatkan. penerimaan ayah disebabkan ia sebagai 'ashabah. Pengertian 'ashabah yang sangat masyhur di kalangan ulama faraid ialah orang yang menguasai harta waris karena ia menjadi ahli waris tunggal. Tetapi bila pewaris tidak mempunyai anak. sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi. ia juga menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing. Dalam ayat ini disebutkan bahwa bagian kedua orang tua (ibu dan bapak) masing-masing mendapatkan seperenam (1/6) apabila pewaris mempunyai keturunan. Dalam kalimat bahasa Arab banyak digunakan kata 'ushbah sebagai ungkapan bagi kelompok yang kuat.

Ada satu keistimewaan dalam hadits ini menyangkut kata yang digunakan Rasulullah dengan menyebut "dzakar" setelah kata "rajul". Oleh sebab itu. mencakup ayah. dan seterusnya. Sebab. kakek. Adapun saudara laki-laki yang seibu tidak termasuk 'ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul furudh. ayah dari kakak. mencakup seluruh laki-laki keturunan anak laki-laki mulai cucu. termasuk keturunan mereka. Arah bapak. Catatan Dalam dunia faraid. 34 . anak laki-laki keturunan saudara laki-laki seayah. cicit. seorang tuan (pemilik budak) dapat menjadi ahli waris bekas budak yang dimerdekakannya apabila budak tersebut tidak mempunyai keturunan. mencakup paman (saudara laki-laki ayah) kandung maupun yang seayah. dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama. 'Ashabah bin nafs 'Ashabah bin nafs. sedangkan kata "rajul" jelas menunjukkan makna seorang laki-laki. Jenis 'ashabah yang kedua ini disebabkan memerdekakan budak. Arah paman. jangan sampai menafsirkan kata ini hanya untuk orang dewasa dan cukup umur. " (HR Bukhari) Hadits ini menunjukkan perintah Rasulullah saw. dan seterusnya. yang pasti hanya dari pihak laki-laki. termasuk keturunan mereka. bayi laki-laki pun berhak mendapatkan warisan sebagai 'ashabah dan menguasai seluruh harta warisan yang ada jika dia sendirian. mempunyai empat arah. maka yang dimaksud adalah 'ashabah bin nafs. dan seterusnya. dan seterusnya. agar memberikan hak waris kepada ahlinya. namun hanya yang lakilaki. misalnya ayah dari bapak. saudara laki-laki seayah. (2) 'ashabah bil ghair (menjadi 'ashabah karena yang lain). Hal ini dimaksudkan untuk menghindari salah paham. anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki. hendaklah diberikan kepada orang laki-laki yang paling utama dari 'ashabah. yaitu: 1. Arah anak. mencakup saudara kandung laki-laki. Arah ini hanya terbatas pada saudara kandung laki-laki dan yang seayah. Inilah rahasia makna sabda Rasulullah saw. Arah saudara laki-laki. 4. Maka jika masih tersisa. Sedangkan 'ashabah nasabiyah terbagi tiga yaitu: (1) 'ashabah bin nafs (nasabnya tidak tercampur unsur wanita). apabila lafazh 'ashabah disebutkan tanpa diikuti kata lainnya (tanpa dibarengi bil ghair atau ma'al ghair). 3. yaitu laki-laki yang nasabnya kepada pewaris tidak tercampuri kaum wanita. 2. dan seterusnya. B. Macam-macam 'Ashabah 'Ashabah terbagi dua yaitu: 'ashabah nasabiyah (karena nasab) dan 'ashabah sababiyah (karena sebab)."Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada yang berhak. dan (3) 'ashabah ma'al ghair (menjadi 'ashabah bersamasama dengan yang lain). dalam hal penggunaan kata "dzakar".

saudara kandung perempuan. maka saudara seayahlah yang mendapat warisan. Sebab ia lebih dekat kedudukannya dari pada anak saudara kandung. seorang istri wafat dan meninggalkan suami.Keempat arah 'ashabah bin nafs tersebut kekuatannya sesuai urutan di atas. Bila salah satunya secara tunggal (sendirian) menjadi ahli waris seorang yang meninggal dunia. Contoh lain. Pengecualiannya. anak lebih dekat kepada pewaris dibandingkan cucu laki-laki. yang menjadi 'ashabah adalah anak laki-laki. maka para 'ashabah pun tidak mendapat bagian. atau akan menerima sisa harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh bagian masing-masing. Misalnya. Hukum 'Ashabah bin nafs Telah saya jelaskan bahwa 'ashabah bi nafsihi mempunyai empat arah. Dalam hal ini hak warisnya secara 'ashabah diberikan kepada anak. sedangkan cucu tidak mendapatkan bagian apa pun. seseorang wafat dan meninggalkan anak laki-laki. Dalam keadaan demikian. dan arah ayah lebih kuat daripada arah saudara. Sebagai misal. Sebab cucu akan menduduki posisi anak bila anak tidak ada. seseorang wafat dan meninggalkan anak serta cucu keturunan anak lakilaki. Sedangkan ayah termasuk ashhabul furudh dikarenakan mewarisi bersama-sama dengan anak laki-laki. Saudara seayah tidak mendapat bagian disebabkan ashhabul furudh telah menghabiskannya. Dan bila setelah dibagikan kepada ashhabul furudh ternyata tidak ada sisanya. Arah anak lebih didahulukan (lebih kuat) daripada arah ayah. ayah. Sang suami mendapat bagian setengah (1/2). maka cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya. maka cara pentarjihannya (pengunggulannya) sebagai berikut: Pertama: Pertarjihan dari Segi Arah Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa 'ashabah bin nafsih. maka pengunggulannya dilihat dari segi arah. Sebab arah anak lebih didahulukan daripada arah yang lain. maka ia berhak mengambil seluruh warisan yang ada. saudara laki-laki seayah. Apabila anak tidak ada. Rinciannya. bila antara saudara kandung laki-laki maupun saudara laki-laki seayah berhadapan dengan kakak. saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan waris dikarenakan arahnya lebih jauh. dan saudara kandung. Kedua: Pentarjihan secara Derajat Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa orang 'ashabah bi nafsihi. maka pentarjihannya dengan melihat derajat mereka. siapakah di antara mereka yang paling dekat derajatnya kepada pewaris. dan derajat kekuatan hak warisnya sesuai urutannya. Adapun bila para 'ashabah bin nafs lebih dari satu orang. insya Allah akan saya paparkan pada bab tersendiri. Keadaan seperti ini disebut pentarjihan menurut derajat kedekatannya dengan pewaris. bila seseorang wafat dan meninggalkan saudara laki-laki seayah dan anak dari saudara kandung. Sebagai misal. 35 . Arah anak lebih didahulukan dibandingkan yang lain. Namun bila ternyata pewaris mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh. maka sebagai 'ashabah mendapat sisa harta setelah dibagikan kepada ashhabul furudh. kemudian mereka pun dalam satu arah. Sementara itu. Anak akan mengambil seluruh harta peninggalan yang ada. Sebab. saudara perempuan mendapat bagian setengah (1/2).

ada dua landasan mengapa garis anak lebih didahulukan. Sebagai contoh. Tidak sedikit orang tua yang menjadi pengecut hanya disebabkan menjaga kemaslahatan keturunannya pada hari depannya. maka pentarjihannya dengan melihat manakah di antara mereka yang paling kuat kekerabatannya dengan pewaris. dalam sebuah haditsnya "al-waladu mabkhalah majbanah" (anak dapat membuat seseorang berlaku bakhil dan pengecut).karena sangat khawatir terhadap masa depan anaknya. jika yang meninggal itu mempunyai anak. bahwa kaidah tersebut hanya dipakai untuk selain dua arah. Jika demikian berarti wanita tersebut sebagai 'ashabah bi nafsihi. mereka takut berhadapan dengan musuh atau siapa pun yang mengganggu kemudahan jalan rezekinya. Catatan Perlu untuk digarisbawahi dalam hal pentarjihan dari segi kuatnya kekerabatan di sini. demi kepentingan masa depan anaknya. paman kandung lebih kuat daripada paman seayah. orang tua berusaha bekerja keras untuk memperoleh harta dan berhemat dalam membelanjakannya. Firman-Nya (artinya) "dan untuk dua orang ibu-bapak. sangat kikir dalam membelanjakan hartanya. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa garis anak lebih didahulukan daripada garis bapak. tidak sedikit orang tua yang bersikap bakhil. Dengan demikian. saudara kandung lebih kuat daripada seayah. Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? Satu pertanyaan yang sangat wajar dan mesti diketahui jawaban serta hikmah di dalamnya. Wallahu a'lam. bagi masingmasingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Dengan demikian. baik dalam hal keselamatannya maupun kehidupan masa depannya. sedangkan bagian anak tidak disebutkan. Berdasarkan posisi ini sebaiknya garis anak tidak didahulukan daripada garis ayah. dan seterusnya. Artinya. setelah masing-masing dari ashhabul furudh telah mendapatkan bagiannya. Oleh sebab itu. Sedangkan secara aqli." (an-Nisa: 11). bila budak yang dibebaskannya tidak mempunyai keturunan (kerabat). Sebab. Karena itu mereka tidak segan-segan menimbun harta dan kekayaan demi menyenangkan keturunan pada masa mendatang. Dalam ayat tersebut Allah SWT menjadikan ayah sebagai ashhabul furudh bila pewaris mempunyai anak. 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya 'Ashabah bi ghairihi hanya terbatas pada empat orang ahli waris yang kesemuanya wanita: 36 . Makna hadits tersebut sangat jelas bahwa orang tua menjadi kikir --bahkan pengecut-. Bahkan. yakni arah anak dan arah bapak. pentarjihan menurut kuatnya kekerabatan hanya digunakan untuk arah saudara dan arah paman. keduanya memiliki posisi sederajat dari segi kedekatan nasab pada seseorang. jelaslah bahwa anak akan mendapatkan seluruh sisa harta peninggalan pewaris. semuanya demi kesejahteraan keturunannya. sedangkan yang kedua berupa dalil aqli. ayah sebagai pokok dan anak merupakan cabang.Ketiga: Pentarjihan Menurut Kuatnya Kekerabatan Bila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat banyak 'ashabah bi nafsihi yang sama dalam arah dan derajatnya. Namun demikian. Landasan pertama berupa dalil AlQur'an. Maka sangat tepat apa yang disabdakan Rasulullah saw. Catatan Satu hal yang mesti kita ketahui bahwa 'ashabah bi nafsihi harus dari kalangan laki-laki. anak dari saudara kandung lebih kuat daripada anak dari saudara seayah. manusia pada umumnya merasa khawatir terhadap anak (keturunannya). sedangkan dari kalangan wanita hanyalah wanita pemerdeka budak. Inilah alasan bahwa hati seseorang cenderung lebih dekat kepada anaknya dibandingkan kepada ayahnya.

Kedua: laki-laki yang menjadi 'ashabah (penguat) harus yang sederajat. Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah bi Ghairihi tidak akan terwujud kecuali dengan beberapa persyaratan berikut: Pertama: haruslah wanita yang tergolong ashhabul furudh. Misalnya.sama rata. bahkan ia berfungsi sebagai pen-tahjib (penghalang) hak waris cucu. 2. Selain itu.1. Mereka berpendapat bahwa kata ikhwatan tidak mencakup saudara laki-laki atau perempuan yang seibu. Sebagai contoh. hak waris mereka pun antara laki-laki dan perempuan-. berdasarkan firman-Nya (artinya): "maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu" (an-Nisa': 12). Sebab saudara kandung perempuan lebih kuat kekerabatannya daripada saudara laki-laki seayah. dan akan menjadi 'ashabah bila mempunyai saudara laki-laki. disebabkan hak waris mereka berdasarkan fardh (termasuk ashhabul furudh) bukan sebagai 'ashabah. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan" (an-Nisa': 176). Misalnya. Ketiga: laki-laki yang menjadi penguat harus sama kuat dengan ahli waris perempuan shahibul fardh. 37 . akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki). Sebab dalam keadaan demikian. baik sederajat dengannya atau bahkan lebih di bawahnya. saudara laki-laki seayah tidak dapat men-ta'shih saudara kandung perempuan. maka tidak akan menjadi 'ashabah bi ghairih. 4. dikarenakan anak laki-laki tidak sederajat dengan cucu perempuan. bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Bila wanita tersebut bukan dari ashhabul furudh. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. anak perempuan dari saudara laki-laki tidak dapat menjadi 'ashabah bi ghairih dengan adanya saudara kandung laki-laki dalam deretan ahli waris. saudara kandung perempuan. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "ikhwatan" dalam ayat tersebut adalah saudara laki-laki dan saudara kandung perempuan dan yang seayah. anak laki-laki tidak dapat menjadi pen-ta'shih (penguat) cucu perempuan. anak perempuan saudara laki-laki bukanlah termasuk ashhabul furudh. ia berhak mendapatkan bagian dua per tiga (2/3) bila menerima bersama saudara perempuannya. Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Dalil bagi hak waris para 'ashabah bi ghairih adalah firman Allah (artinya): "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan" (an-Nisa': 11). Saudara kandung perempuan akan menjadi 'ashabah bila bersama saudara kandung laki-laki. Catatan Setiap perempuan ahli waris berhak mendapat bagian setengah (1/2) jika sendirian. Saudara perempuan seayah akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya. dan pembagiannya. 3. dan saudara perempuan seayah). tidaklah dapat menguatkan saudara kandung perempuan disebabkan tidak sederajat. atau anak laki-laki pamannya (yakni cucu laki-laki keturunan anak laki-laki). Anak perempuan. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara laki-lakinya. Begitu juga anak laki-laki keturunan saudara laki-laki. Kaidah ini hanya berlaku bagi keempat ahli waris dari kalangan wanita yang saya sebutkan (yakni anak perempuan. Dan juga berlandaskan firman-Nya (artinya): "dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan.

108): "Adapun saudara perempuan (kandung dan seayah) menjadi 'ashabah jika berbarengan dengan anak perempuan adalah agar bagian saudara perempuan terkena pengurangan. Sebab bila kita berikan hak waris saudara perempuan secara fardh." Penanya itu pun kembali kepada Abu Musa al-Asy'ari dan menceritakan apa yang telah diputuskan Ibnu Mas'ud. Jenis 'ashabah ini di kalangan ulama dikenal dengan istilah 'ashabah ma'al ghair. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan --atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki dan seterusnya-.Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi Adapun sebab penamaan 'ashabah bi ghairihi adalah karena hak 'ashabah keempat wanita itu bukanlah karena kedekatan kekerabatan mereka dengan pewaris. Satu hal yang perlu diketahui dalam masalah ini. sedangkan bagian anak perempuan tidak terkena pengurangan. bagian anak perempuan setengah (1/2) dan bagian cucu perempuan keturunan anak lakilaki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). Jadi..a." Dalil 'Ashabah ma'al Ghair Yang menjadi landasan bagi hak waris 'ashabah ma'al ghair adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya. maka akan naiklah pokok pembagiannya dan hak bagian anak perempuan akan berkurang.. sedangkan sisanya menjadi hak saudara perempuan kandung atau seayah." Dari penjelasan Ibnu Mas'ud dapat disimpulkan bahwa hak saudara perempuan bila mewarisi bersama-sama dengan anak perempuan mengambil sisa harta pembagian yang ada. Abu Musa menjawab: "Bagian anak perempuan separo. Bila para 'ashabah bi nafsihi itu tidak ada. seperti yang ditegaskan dalam kitab Hasyiyatul Bajuri (hlm. bahwa Abu Musa al-Asy'ari ditanya tentang hak waris anak perempuan. karena itu dijadikanlah saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah agar terkena pengurangan. dan dijawab: "Aku akan memvonis seperti apa yang diajarkan Rasulullah saw. Catatan Sangat penting untuk diketahui bersama bahwa bila seorang saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah ma'al ghair. akan tetapi karena adanya 'ashabah lain ('ashabah bi nafsihi). 'Ashabah ma'al Ghair 'Ashabah ma'al Ghair ini khusus bagi para saudara kandung perempuan maupun saudara perempuan seayah apabila mewarisi bersamaan dengan anak perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki. di segi lain tidaklah mungkin hak saudara perempuan itu digugurkan. maka ia menjadi seperti saudara kandung laki-laki sehingga dapat menghalangi hak waris saudara seayah. seperti saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah mereka." Penanya itu lalu pergi menanyakannya kepada Ibnu Mas'ud r. 38 . dan saudara perempuan (sekandung atau seayah). Kemudian. dan bagian saudara perempuan separo.akan menjadi 'ashabah. maka keempat wanita tersebut mendapat hak warisnya secara fardh. Hal ini berarti saudara kandung perempuan atau saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. Lalu Abu Musa berkata: "Janganlah kalian menanyakannya kepadaku selama sang alim (Ibnu Mas'ud) berada bersama kalian.

dan saudara laki-laki seayah. dapat pula menggugurkan hak waris yang di bawah mereka.baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Maka pembagiannya seperti dalam tabel berikut: Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Suami Cucu perempuan Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/4 1/2 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 1 2 1 0 39 . Untuk lebih menjelaskan masalah tersebut saya sertakan contoh seperti berikut: Contoh Pertama Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan anak perempuan. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung perempuan disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. dua orang saudara kandung perempuan. Begitu juga saudara perempuan seayah. cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. apabila menjadi 'ashabah ma'al ghair ketika mewarisi bersama anak perempuan pewaris. Contoh Kedua Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. dan saudara laki-laki seayah. Selain itu. maka pembagiannya adalah sebagai berikut: Pokok masalahnya dari 2 Keterangan Anak perempuan Saudara kandung perempuan'ashabah ma'al ghair Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/2 1/2 gugur Nilai 1 1 0 Keterangan Bagian anak perempuan adalah setengah secara fardh. maka kekuatannya sama seperti saudara laki-laki seayah hingga menjadi penggugur keturunan saudaranya dan seterusnya. seperti anak keturunan saudara (keponakan). yang kekuatannya seperti saudara kandung laki-laki. saudara perempuan. Sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah. paman kandung ataupun yang seayah.

dan ibu mendapatkan seperenam. kemudian sisanya yaitu seperempat-menjadi hak dua saudara kandung perempuan pewaris sebagai 'ashabah ma'al ghair. Sedangkan bagian saudara laki-laki seayah gugur karena adanya dua saudara kandung. cucu perempuan keturunan anak laki-laki.Keterangan Suami memperoleh seperempat bagian karena pewaris mempunyai cabang ahli warisnya. dan paman kandung (saudara dari ayah kandung). Sedangkan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian setengah secara fardh. saudara perempuan seayah. dan anak laki-laki saudara laki-laki (kemenakan). Sedangkan anak saudara laki-laki ter-mahjub oleh saudara perempuan seayah. Contoh Keempat Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Anak perempuan Cucu perempuan Ibu Saudara perempuan seayah Keterangan Anak perempuan mendapat bagian setengah sebagai fardh. Contoh Ketiga Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak perempuan. seorang ibu. saudara perempuan seayah. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 3 Keterangan Dua anak perempuan Saudara perempuan seayah Anak saudara laki-laki Jumlah Bagian 2/3 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 2 1 0 Keterangan Dua orang anak perempuan mendapatkan dua per tiga dan sisanya untuk saudara perempuan seayah disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. Sedangkan sisanya untuk 40 Jumlah Bagian 1/2 1/6 1/6 'ashabah ma'al ghair Nilai 3 1 1 1 . cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam bagian sebagai penyempurna dua per tiga.

Inilah perbedaan keduanya. dan sisanya untuk suami sebagai 'ashabah karena ia anak paman kandung. Akan tetapi. atau satu dari arah fardh dan yang kedua dari arah karena rahim. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair Dari uraian sebelumnya dapat kita ketahui bahwa 'ashabah bil ghair adalah setiap wanita ahli waris yang termasuk ashhabul furudh. 41 .saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. seperti anak laki-laki. Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? Kita mungkin sering mendengar pertanyaan seperti itu. Begitulah seterusnya. anak perempuan atau cucu perempuan keturunan anak lakilaki mendapat bagian secara fardh. Bahkan anak perempuan pewaris menjadi penggugur hak saudara (laki-laki/perempuan) seibu sehingga tidak dapat menjadi 'ashabah. Agar persoalan ini lebih jelas. pada 'ashabah bil ghair selalu ada sosok 'ashabah bi nafsih. Adapun 'ashabah ma'al ghair adalah para saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan. bibi (saudara ibu) yang salah satunya menjadi istrinya. dan hak lainnya ialah ikut mendapat bagian sisa yang ada karena ikatan rahim. anak perempuan menjadi 'ashabah bila bersama saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki pewaris). Contoh lain: seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan dua anak perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: sang istri mendapat bagian seperempat sebagai fardh-nya karena adanya ikatan perkawinan. secara ringkas. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. pada 'ashabah bil ghair para 'ashabah bi nafsih menggandeng kaum wanita ashhabul furudh menjadi 'ashabah dan menggugurkan hak fardh-nya. kemudian saudara perempuan sekandung atau seayah mendapatkan sisanya. saya sertakan contoh: Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang nenek. Tampak semakin jelas perbedaan antara dua macam 'ashabah itu. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Misalnya. dan akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara laki-lakinya. Maka pembagiannya sebagai berikut: Untuk nenek seperenam (1/6). saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). dan seorang suami. saudara laki-laki seibu. dan tentu saja hal ini memerlukan jawaban. Jadi. yang juga merupakan anak paman kandung pewaris. Seorang saudara perempuan sekandung atau seayah tidak menerima bagian seperti bagian anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. misalnya ia sebagai ashhabul furudh dan juga sebagai 'ashabah. Dalam hal ini bagi yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. C. Sedangkan dalam 'ashabah ma'al ghair tidak terdapat sosok 'ashabah bi nafsih. Catatan Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu tidak berhak menjadi ahli waris bila pewaris mempunyai anak perempuan. suami setengah (1/2) sebagai fardh-nya. karena kekuatannya seperti saudara laki-laki seayah sehingga ia menggugurkan paman kandung. Maka dapat ditegaskan bahwa seseorang bisa saja mendapatkan warisan dari dua arah yang berlainan. dan dalam hal ini mereka mendapatkan bagian sisa seluruh harta peninggalan sesudah ashhabul furudh mengambil bagian masing-masing. Sedangkan 'ashabah ma'al ghair tidaklah demikian. Saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah menjadi 'ashabah bil ghair dengan adanya saudara kandung lakilaki ataupun saudara laki-laki seayah.

42 .

tidak dapat melihat Tuhan mereka di hari kiamat nanti. Definisi al-Hujub Al-hujub dalam bahasa Arab bermakna 'penghalang' atau 'penggugur'. maka yang dimaksud adalah hujub hirman. bentuk isim fa'il (subjek) untuk kata hajaba adalah hajib dan bentuk isim maf'ul (objek) ialah mahjub. PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A. Macam-macam al-Hujub Al-hujub terbagi dua. Al-hujub bil washfi berarti orang yang terkena hujub tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan. Hak waris mereka menjadi gugur atau terhalang. Ini merupakan hal mutlak dan tidak akan dipakai dalam pengertian hujub nuqshan. dalam bahasa Arab juga kita kenal kata hajib yang bermakna 'tukang atau penjaga pintu'. Misalnya. Hujub hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang. terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu. Jadi. dan seterusnya. dan al-hujub bi asy-syakhshi (karena orang lain). terhalangnya hak waris saudara seayah karena adanya saudara kandung. 43 . Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman: "Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka" (alMuthaffifin: 15) Yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum kuffar yang benar-benar akan terhalang. B. Adapun pengertian al-hujub menurut kalangan ulama faraid adalah menggugurkan hak ahli waris untuk menerima waris. disebabkan ia menghalangi orang untuk memasuki tempat tertentu tanpa izin guna menemui para penguasa atau pemimpin. Demikian juga seperti penghalangan bagian seorang suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi seperempat. sang istri dari seperempat menjadi seperdelapan karena pewaris mempunyai anak. Sedangkan al-hujub bi asy-syakhshi yaitu gugurnya hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. Al-hujub bi asy-syakhshi terbagi dua: hujub hirman dan hujub nuqshan. penghalangan terhadap hak waris ibu yang seharusnya mendapatkan sepertiga menjadi seperenam disebabkan pewaris mempunyai keturunan (anak). dan seterusnya. Adapun hujub nuqshan (pengurangan hak) yaitu penghalangan terhadap hak waris seseorang untuk mendapatkan bagian yang terbanyak. Selain itu. yakni al-hujub bil washfi (sifat/julukan). terhalangnya hak waris seorang kakek karena adanya ayah. Satu hal yang perlu diketahui di sini.V. baik secara keseluruhannya atau sebagian saja disebabkan adanya orang yang lebih berhak untuk menerimanya. dan al-mahjub berarti orang yang terhalang mendapatkan warisan. misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad. Misalnya. Maka makna al-hajib menurut istilah ialah orang yang menghalangi orang lain untuk mendapatkan warisan. terhalangnya hak waris cucu karena adanya anak. dalam dunia faraid apabila kata al-hujub disebutkan tanpa diikuti kata lainnya.

suami. dan seterusnya).Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman Ada sederetan ahli waris yang tidak mungkin terkena hujub hirman. Sepupu laki-laki (anak paman seayah) akan terhalangi dengan adanya sepupu laki-laki (anak paman kandung) dan dengan adanya sosok yang menghalangi sepupu laki-laki (anak paman kandung). Keenam orang tersebut adalah anak kandung laki-laki. Paman kandung (saudara laki-laki ayah) akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki dari saudara laki-laki. Cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. cucu kandung laki-laki. ayah. Sepupu kandung laki-laki (anak paman kandung) akan terhalangi oleh adanya paman seayah. cucu. maka semuanya harus mendapatkan warisan. dan istri. dan terhalang dengan adanya ayah serta keturunan laki-laki (anak. dan juga oleh kakek yang lebih dekat dengan pewaris. 4. sebelas terdiri dari laki-laki dan lima dari wanita. dan juga oleh sosok yang menghalangi paman seayah. Adapun ahli waris dari laki-laki sebagai berikut: 1. akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki. 6. cicit. 3. 5. juga terhalang oleh saudara kandung perempuan yang menjadi 'ashabah ma'al Ghair. anak kandung perempuan. 11. Demikian juga para cucu akan terhalangi oleh cucu yang paling dekat (lebih dekat). 8. Paman seayah akan terhalangi dengan adanya sosok yang menghalangi paman kandung. cucu. kakek. Saudara kandung laki-laki akan terhalang oleh adanya ayah. dan seterusnya) dan juga oleh cabang (anak. Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap mendapatkan hak waris. cicit. Keponakan laki-laki (anak saudara kandung laki-laki) akan terhalangi dengan adanya ayah dan kakek. Sedangkan lima ahli waris dari kelompok wanita adalah: 44 . Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu akan terhalangi oleh pokok (ayah. 10. dan seterusnya) baik anak laki-laki maupun anak perempuan. cucu. Kakek (bapak dari ayah) akan terhalang oleh adanya ayah. anak lakilaki. 9. ditambah dengan adanya keponakan (anak lakilaki dari keturunan saudara kandung laki-laki). cicit. juga terhalangi oleh adanya sosok yang menghalangi keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seayah. dan keturunan laki-laki (anak. serta oleh saudara laki-laki seayah. Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman Sederetan ahli waris yang dapat terkena hujub hirman ada enam belas. dan juga dengan adanya paman kandung. ibu. Keponakan laki-laki (anak dari saudara laki-laki seayah) akan terhalangi dengan adanya orang-orang yang menghalangi keponakan (dari anak saudara kandung laki-laki). Saudara laki-laki seayah akan terhalang dengan adanya saudara kandung laki-laki. 2. Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau bahkan keenamnya. dan seterusnya). 7.

Maka pembagiannya seperti berikut: suami seperempat (1/4) bagian. Padahal. Saudara Laki-laki yang Merugikan Kalau sebelumnya saya jelaskan tentang saudara laki-laki yang membawa berkah. kecuali bila adanya 'ashabah. dan seterusnya) juga oleh adanya cabang (anak. Pertama: Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. kakek. juga terhalang oleh adanya ayah dan keturunan (anak. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3) karena merupakan bagian wanita. Saudara Laki-laki yang Berkah Apabila anak perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). Saudara kandung perempuan akan terhalangi oleh adanya ayah. 3. apabila saudara laki-laki itu tidak ada. ayah juga seperenam (1/6) bagian. ibu. cucu. anak perempuan setengah. dan seterusnya) baik laki-laki ataupun perempuan. Keadaan seperti ini dinamakan sebagai saudara yang berkah. dan seterusnya (semuanya laki-laki).1. ahli waris wanita itu akan mendapatkan waris. maka cucu laki-laki dapat menyeret cucu perempuan itu sebagai 'ashabah. Nenek (baik ibu dari ibu ataupun dari bapak) akan terhalangi dengan adanya sang ibu. 45 . Selain itu. Saudara perempuan seayah akan terhalangi dengan adanya saudara kandung perempuan jika ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. yang sebelumnya tidak mendapat fardh. sebab tanpa keberadaannya para saudara kandung perempuan itu tidak akan menerima hak waris mereka. dan seterusnya. cicit. gugurlah hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Cucu perempuan (keturunan anak laki-laki) akan terhalang oleh adanya anak laki-laki. Selain itu. juga akan terhalangi oleh adanya dua orang anak perempuan atau lebih. dan cucu perempuan dari anak laki-laki. maka kini saya akan menjelaskan kebalikannya. Kemudian. Kecuali bila ia mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki keturunan anak lakilaki) yang sederajat ataupun yang lebih rendah dari derajat cucu perempuan. cicit. 2. gugurlah hak waris para saudara perempuan seayah. Keadaan seperti ini dalam faraid disebut sebagai kerabat yang berkah atau saudara laki-laki yang berkah. Saudara perempuan seibu akan terhalangi oleh adanya sosok laki-laki (ayah. Disebut saudara laki-laki yang merugikan karena keberadaannya menyebabkan ahli waris dari kalangan wanita tidak mendapatkan warisan. yakni saudara laki-laki yang merugikan. 4. anak perempuan. baik cucu itu hanya seorang ataupun lebih. kecuali jika ada 'ashabah. apabila saudara kandung perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). cucu. khusus kalangan laki-laki) serta terhalang oleh adanya dua orang saudara kandung perempuan bila keduanya menyempurnakan bagian dua per tiga (2/3). 5. anak. Agar lebih jelas saya berikan beberapa contoh kasus. cicit. ibu seperenam (1/6) bagian. cucu perempuan tidak akan mendapat warisan. Disebut demikian karena tanpa cucu lakilaki. kecuali bila ada saudara laki-laki seayah. bapak. Sebab saudara laki-laki seayah itu akan menggandengnya menjadi 'ashabah. cucu.

(artinya): "Berikanlah hak waris kepada ashhabul furudh." Namun demikian. ibu mendapat seperenam (1/6) bagian disebabkan pewaris mempunyai dua orang saudara lakilaki atau lebih. dan dua orang saudara seibu mendapat bagian sepertiga (1/3). sesuatu yang keluar dan menyimpang dari kaidah aslinya. yakni adanya cucu laki-laki keturunan dari anak laki-laki. tabi'in. Para ulama menyandarkan kaidah ini pada hadits Rasulullah saw. C. serta cucu laki-laki dan perempuan dari keturunan anak laki-laki. Berdasarkan kaidah yang berlaku. saudara perempuan seayah akan mendapat waris bila tidak mempunyai saudara laki-laki seayah yang masih hidup. keberadaan saudara laki-laki dari cucu perempuan keturunan anak laki-laki itu merugikannya. saudara kandung laki-laki sebenamya memiliki kekerabatan lebih kuat dibandingkan saudara laki-laki seibu. ibu seperenam (1/6) bagian. bila mempunyai saudara laki-laki seayah. di sisi lain masalah ini telah memancing perbedaan pendapat sejak masa para sahabat. dan imam mujtahidin. Sedangkan dalam contoh kedua. cucu perempuan dirugikan --tidak mendapat waris-. Contoh pertama tidak merugikan karena memang tidak ada cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. seorang wanita wafat dan meninggalkan seorang suami. ibu. Maka. tabi'in. sedangkan cucu laki-laki dan perempuan tidak mendapat bagian. dalam masalah ini ternyata terjadi sesuatu yang kontradiktif. dalam contoh berikut saya sertakan saudara laki-laki yang merugikan. sedangkan anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian karena tidak ada pen-ta'shih. Itulah contoh tentang saudara laki-laki yang merugikan. tetapi pada kasus ini justru terjadi sebaliknya. masalah ini merupakan kasus kolektif. hingga mereka mendapat sepertiga (1/3) bagian dan dibagikan secara rata di 46 . dan sisanya diberikan kepada kerabat laki-laki yang lebih dekat. Masalah ini dikenal juga dengan istilah "kasus musytarakah" (kasus kolektif). sehingga cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3). dan dua orang saudara kandung laki-laki (atau lebih dari dua orang). Karena. serta para imam mujtahidin --dalam contoh kasus seperti ini-. selain sebagai masalah yang menyimpang dari kaidah aslinya. Maka pembagiannya seperti berikut: suami memperoleh seperempat (1/4) bagian karena istri mempunyai anak (keturunan). Sementara itu. Tentang Kasus Kolektif Menurut kaidah yang biasa dikenal dan dipakai ulama faraid. ayah. Sedangkan saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan bagian karena ia sebagai 'ashabah --sedangkan harta waris yang dibagikan telah habis. Inilah rahasia mengapa ulama faraid mengistilahkannya sebagai "saudara laki-laki yang merugikan". pembagian harta waris dimulai dengan ashhabul furudh. Kedua: Untuk lebih memperjelas. misalnya posisi cucu perempuan keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara perempuan seayah dan posisi cucu laki-laki keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara laki-laki seayah.Seandainya dalam kasus ini terdapat cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. dua saudara laki-laki seibu (atau lebih dari dua orang). anak perempuan. ayah seperenam (1/6) bagian. maka gugurlah hak cucu perempuan tersebut. Oleh sebab itu. Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. juga karena para sahabat. maka saudara perempuan seayah tidak mendapat bagian apa-apa. Pembagiannya adalah seperti berikut: suami mendapat setengah (1/2) bagian dikarenakan pewaris tidak mempunyai anak secara fardh. Ilustrasi seperti itu dapat kita ubah susunan ahli warisnya. Namun.karena ia mempunyai saudara laki-laki yang sederajat. ibu. Contoh permasalahannya sebagai berikut. kemudian baru kepada para 'ashabah.menyatakan bahwa saudara kandung laki-laki disamakan dengan saudara laki-laki yang seibu.

Sebab bila perempuan. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa hak waris pada saudara kandung dikolektifkan dengan hak waris para saudara laki-laki seibu. 2. dan masalahnya pun akan naik. Selain itu. Di samping itu. dan Yammiyah. Ibnu Abbas. masalah ini diajukan kembali kepadanya. Utsman. sungguh mustahil bila ayah kami dianggap keledai atau batu yang terbuang di sungai. Saudara kandung itu harus saudara laki-laki. dan lainnya. karena Umar bin Khathab pernah memvonis masalah ini --juga pernah dikenal dengan sebutan Himariyah. proteslah salah seorang ahli warisnya: "Wahai Amirul Mukminin. Umar baru pertama kali menjumpai kasus seperti ini dan memvonis: saudara kandung tidak mendapat bagian hak waris sedikit pun. Bukankah kami ini anak dari seorang ibu?" Umar menyimak perkataan orang itu dan berpikir bahwa apa yang diucapkannya benar dan tepat. 3.. Diriwayatkan bahwa masalah musytarakah ini pernah diajukan ke hadapan Umar bin Khathab r. maka akan mewarisi secara fardh. Ibnu Mas'ud. sedangkan pendapat yang kedua diikuti dan dianut oleh mazhab Maliki dan Syafi'i. Maka ia memvonis dengan memberi hak kepada mereka (saudara seibu dan saudara sekandung) secara bersamaan dan dibagi sama rata.a. Contohnya adalah sebagai berikut: Asal masalah dari enam 6 naik menjadi 18 Keterangan Suami 1/2 harta waris yang ada secara fardh Ibu 1/6 harta waris yang ada secara fardh Saudara seibu 1/3 secara fardh dan dibagi merata dengan saudara kandung Saudara kandung dapat hak waris. serta kekolektifan ini akan batal. Pendapat ini pernah dilakukan oleh Abu Bakar. masalah ini juga menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama. masalah ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan "umariyah". Perbedaan Pendapat Para Fuqaha Dalam masalah musytarakah (kolektif) ini ada dua kubu pendapat yang masyhur dalam hal membagi hak waris sebagaimana contoh kasus tersebut. Ketika ia hendak memvonis seperti tahun lalu. Jumlah saudara seibu dua orang atau lebih. dan lainnya. baik laki-laki atau perempuan. sejak masa para sahabat. sebab bila saudara seayah maka gugurlah haknya secara ijma'. Pendapat pertama menyatakan bahwa hak waris saudara kandung digugurkan sebagaimana mengikuti kaidah yang ada. karena dianggap seperti saudara seibu dengan mendapat bagian sepertiga (1/3) dibagi adil Jumlah Bagian 3 1 2 Nilai 9 3 4 2 Persyaratan Masalah Kolektif 1. Kemudian pada tahun berikutnya. Dan dalam hal ini tidak berbeda apakah hanya satu orang atau banyak. Pendapat ini dilakukan oleh Zaid bin Tsabit. dan imam mujtahidin. Ali. Saudara yang ada benar-benar saudara kandung.antara mereka (termasuk saudara kandung laki-laki). 47 . Hajariyah. Pendapat pertama dianut dan diikuti oleh mazhab Hanafi dan Hambali. tabi'in.

hak waris banul akhyaf digugurkan dengan adanya anak perempuan pewaris. Hal ini berdasarkan firman Allah (artinya) "mereka bersekutu dalam yang sepertiga. Menurut mazhab Abu Hanifah hak mereka juga digugurkan oleh adanya kakek pewaris. Kaidah yang lain ialah bahwa banul akhyaf mendapatkan hak waris secara merata pembagiannya antara yang lakilaki dengan yang perempuan. Hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama.Beberapa Kaidah Penting Hak waris banul a'yan (saudara kandung laki-laki/perempuan). Sedangkan menurut ketiga imam mazhab yang lain tidaklah demikian. dan banul 'allat (saudara laki-laki/perempuan seayah). dan ayah. cucu laki-laki (keturunan anak laki-laki). Masih menurut mazhab Hanafi. serta banul akhyaf (saudara laki-laki/perempuan seibu) akan gugur (terhalangi) oleh adanya anak laki-laki pewaris. cucu perempuan keturunan anak laki-laki pewaris." 48 . dan seterusnya.

maka hendaklah ia memvonis masalah waris antara kakek yang sahih dengan para saudara. menurut mereka. Pengertian Kakek yang Sahih Makna kakek yang sahih ialah kakek yang nasabnya terhadap pewaris tidak tercampuri jenis wanita. Sedangkan kakek yang berasal garis wanita disebut sebagai kakek yang rusak nasabnya.VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA A. Dengan demikian. masalah ini memerlukan ijtihad. Dia menjelaskannya di dalam Al-Qur'an dengan detail agar tidak terjadi kezaliman dan perbuatan aniaya di kalangan umat manusia. masalah yang sangat dikhawatirkan itu hilang setelah munculnya ijtihad para salaf ash-shalih dan para imam mujtahidin. Hal ini akan memudahkan setiap orang yang ingin mengetahuinya sambil bersandar kepada ijtihad yang dianggapnya lebih rajih (kuat dan tepat) serta dapat dijadikannya sandaran dalam berfatwa. itulah kakek yang sahih. Terlebih lagi dalam masalah yang berkenaan dengan materi. Perbedaan tersebut dapat digolongkan ke dalam dua mazhab. bahkan mereka cenderung sangat takut untuk memberi fatwa yang berkenaan dengan masalah ini. sama seperti perbedaan yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. mayoritas sahabat sangat berhati-hati dalam memvonis masalah ini. dan memberikan hak waris kepada orang yang sebenamya tidak berhak. khususnya para ahli waris. Oleh karena itu. Hal ini didasarkan sesuai dengan kaidah yang ada di dalam faraid: "bilamana unsur wanita masuk ke dalam nasab laki-laki. karena jika salah berarti mereka akan merugikan orang yang sebenarnya mempunyai hak untuk menerima warisan. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara Baik Al-Qur'an maupun hadits Nabawi tidak menjelaskan tentang hukum waris bagi kakek yang sahih dengan saudara kandung ataupun saudara seayah. Namun bila tidak termasuki unsur wanita. karena tidak ada nash Al-Qur'an atau hadits Nabi yang menjelaskannya. Ibnu Mas'ud r. Perlu saya tekankan bahwa masalah waris sangatlah berbahaya dan sensitif. 49 ..a. dalam hal ini pernah mengatakan: "Bertanyalah kalian kepada kami tentang masalah yang sangat pelik sekalipun. Akan tetapi di sisi lain." Ketakutan dan kehati-hatian para sahabat dalam memvonis masalah hak waris kakek dan saudara itu tentu sangat beralasan. misalnya ayahnya ibu." Pernyataan serupa juga ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib: "Barangsiapa yang ingin diceburkan ke dalam neraka Jahanam. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek Para imam mazhab berbeda pendapat mengenai hak waris kakak bila bersamaan dengan saudara. namun janganlah kalian tanyakan kepadaku tentang masalah warisan kakak yang sahih dengan saudara. misalnya ayah dari bapak dan seterusnya. Karena itu Allah SWT tidak membiarkan begitu saja hukum yang berkenaan dengan masalah hak kepemilikan materi ini. mereka merasa sangat takut kalau-kalau berlaku zalim dan aniaya. Ijtihad dan pendapat tersebut dijaga serta dibukukan secara lengkap dan detail beserta dalildalilnya. ijtihad ini sangat mengkhawatirkan mereka. maka kakek menjadi rusak nasabnya. Namun demikian. atau ayah dari ibunya ayah. C." B. atau hukum tentang hak kepemilikan.

Kakek tidaklah menggugurkan hak waris para saudara kandung dan yang seayah. sebelum arah yang lebih dahulu hilang atau habis. sedangkan saudara adalah cabang dari ayah. D. maka ia mempunyai dua keadaan. kemudian barulah arah paman. sama seperti halnya ayah. Kakek merupakan pokok dari ayah. Mereka beralasan bahwa kakek akan mengganti kedudukan ayah bila telah tiada. maka yang lebih didahulukan adalah arah anak (keturunan). Lebih lanjut golongan yang pertama ini menyatakan bahwa arah ayah --mencakup kakek dan seterusnya-. dan sebagainya. kemudian arah ayah. Ibnu Mas'ud. misalnya saja warisan pewaris ini dibagikan atau diberikan kepada para kakek. Karena itu hak waris para saudara akan terhalangi karena adanya arah kakek. sama seperti gugurnya hak waris oleh saudara bila ada ayah. kemudian saudara. seperti istri atau ibu. Pendapat ini diikuti oleh mazhab Hanafi.terhadap harta jauh lebih besar ketimbang para kakek. Keadaan pertama: kakek mewarisi hanya bersamaan dengan para saudara. dan Ibnu Umar. tidak mendapat warisan dari saudaranya yang meninggal. karena kakek merupakan bapak yang paling 'tinggi'. Ali bin Abi Thalib. saudara seayah. Ibnu Abbas. Imam Syafi'i. Hal ini sama dengan memberikan hak waris kepada para saudara kandung kemudian di antara mereka ada yang tidak diberi. Dengan demikian para paman menjadi ahli waris. seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya.Mazhab pertama: mereka menyatakan bahwa para saudara --baik saudara kandung. kemudian ia wafat. dan diikuti oleh kedua orang murid Abu Hanifah. Yakni. maka yang didahulukan adalah arah anak. asy-Syi'bi. karena itu tidaklah layak untuk mengutamakan yang satu dari yang lain karena mereka sama derajatnya.Tentang Mazhab Jumhur Untuk lebih menjelaskan pendapat yang rajih --yakni pendapat jumhur ulama-. Mazhab kedua: berpendapat bahwa para saudara kandung laki-laki/perempuan dan saudara laki-laki seayah berhak mendapat hak waris ketika bersamaan dengan kakek. Mazhab ini merupakan pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq. dan masingmasing memiliki hukum tersendiri. Alasan lain yang dikemakakan mazhab ini ialah bahwa kebutuhan para saudara --yang jelas lebih muda daripada kakek&emdash. yakni Zaid bin Tsabit.lebih didahulukan daripada arah saudara. demikian juga saudara. bila ternyata 'ashabah banyak arahnya. yaitu Imam Malik. dan Imam Ahmad bin Hambal. yaitu Muhammad dan Abu Yusuf. Sebagai gambaran. Misalnya. Kedekatan kakek terhadap pewaris melewati ayah. atau anak perempuan. ataupun seibu-. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur sahabat dan tabi'in. Sekali-kali arah itu tidak akan berubah atau berpindah kepada arah yang lain. dan barulah arah paman. maka harta peninggalannya akan berpindah kepada anak-anaknya yang berarti paman para saudara. Bila kita mengutamakan yang satu dan mencegah yang lain berarti telah melakukan kezaliman tanpa alasan yang dapat diterima. Bila 'ashabah itu ada arah saudara dan arah paman maka yang didahulukan adalah arah saudara. Alasan yang dikemukakan golongan kedua ini ialah bahwa derajat kekerabatan saudara dan kakek dengan pewaris sama. Pendapat ini dianut oleh ketiga imam. jika 'ashabah itu ada anak dan ayah.maka saya perlu mengatakan bahwa sesungguhnya jika kakak mewarisi bersamaan dengan saudara. tidak ada ahli waris lain dari ashhabul furudh. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kaidah yang masyhur di kalangan fuqaha. sedangkan para saudara tadi hanya kebagian tangis. 50 .terhalangi (gugur) hak warisnya dengan adanya kakek. dan Ahli Madinah ridhwanullah 'alaihim.

Kakek dengan dua orang saudara kandung perempuan. 2.Keadaan kedua: kakak mewarisi bersama para saudara dan ashhabul furudh yang lain. dan kedua dengan cara mendapatkan sepertiga (1/3) harta warisan. maka bagi kakek dipilihkan perkara yang afdhal baginya --agar lebih banyak memperoleh harta warisan-. 3. ia mendapatkan bagian yang sama dengan bagian saudara kandung laki-laki. Kakek dengan saudara kandung laki-laki. dan bila mendapatkan 1/3 harta warisan lebih baik maka itulah yang menjadi haknya. Kakek dengan saudara kandung perempuan. Pertama dengan cara pembagian. Hukum Keadaan Pertama Bila seseorang wafat dan meninggalkan kakek serta saudara-saudara tanpa ashhabul furudh yang lain. Makna Pembagian Makna pembagian menurut ulama faraid adalah kakek dikategorikan seperti saudara kandung. Pada keadaan kedua kakek mendapat setengah (1/2). maka diberikan dengan memilih cara mendapat sepertiga (1/3) harta waris yang ada. itulah yang menjadi bagiannya. Berarti kakek mendapatkan bagian dua kali lipat bagian para saudara perempuan sekandung. 5. Adapun penjelasannya seperti berikut: Pada keadaan pertama kakak mendapat dua per tiga (2/3). Kelima keadaan tersebut sebagai berikut: 1. Pada keadaan keempat kakek mendapat setengah (1/2). istri. dan anak perempuan. Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek Ada lima keadaan yang lebih menguntungkan kakek bila menggunakan cara pembagian. 51 . maka ia menempati posisi yang sama seperti saudara kandung laki-laki. Mana di antara kedua cara tersebut yang lebih baik bagi kakek. Kakek dengan saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan.dari dua pilihan yang ada. Kakek dengan tiga orang saudara kandung perempuan. Bila cara pembagian tersebut kemungkinan merugikan kakek. Bila pembagian lebih baik baginya maka hendaklah dengan cara pembagian. seperti ibu. Apabila kakek berhadapan dengan saudara perempuan kandung. 4. Pada keadaan ketiga kakek mendapat dua per lima (2/5).

maka itulah bagian kakek. 3. yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian wanita. Dalam hal ini kakek mendapat sepertiga (1/3). Kalau jumlah harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh tidak tersisa kecuali seperenam atau bahkan kurang. Ketiga keadaan itu sebagai berikut: 1. dan para saudara kandung digugurkan atau dikurangi haknya. dengan pembagian. Kalau saja dalam keadaan seperti itu kita gunakan cara pembagian.maka hukumnya sama dengan hukum yang saya jelaskan di atas. Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek Selain dari delapan keadaan yang saya kemukakan itu.bagian sang kakek lebih menguntungkannya. 52 . maka tetaplah kakek diberi bagian seperenam (1/6) secara fardh. dan sisanya dibagikan kepada para saudara. seseorang wafat dan meninggalkan seorang kakek dan tiga orang saudara. Hukum Keadaan Kedua Bila kebersamaan antara kakek dengan para saudara dibarengi pula dengan adanya ashhabul furudh yang lain --yakni ahli waris lainnya-. atau menerima seperenam (1/6) dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris. Ketetapan ini telah menjadi kesepakatan bulat imam mujtahid. bagian kakek tidaklah boleh kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. Misalnya. maka hendaknya dibagi dengan cara itu. Kakek dengan seorang saudara kandung laki-laki dan dua orang saudara kandung perempuan. 2.maka bagi kakek dapat memilih salah satu dari tiga pilihan yang paling menguntungkannya. Adapun bila cara pembagian --setelah para ashhabul furudh mengambil bagiannya-. Catatan Hukum tentang hak waris saudara laki-laki dan perempuan seayah ketika bersama dengan kakek --tanpa saudara kandung laki-laki atau perempuan-. Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang Ada tiga keadaan yang menyebabkan kakek mendapatkan bagian yang sama baik secara pembagian ataupun dengan mengambil sepertiga harta waris yang ada. Kakek dengan dua orang saudara kandung laki-laki. maka kakek akan dirugikan karena akan menerima kurang dari sepertiga harta warisan. Dan jika sepertiga (1/3) sisa harta waris yang ada malah lebih menguntungkannya. Yaitu. Yang pasti. Kakek dengan empat orang saudara kandung perempuan.Pada keadaan kelima kakek mendapat dua per lima (2/5). menerima sepertiga (1/3). Sebab bagian tersebut adalah bagiannya yang telah ditentukan syariat. Dan hal ini pun dengan syarat bagiannya tidak kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. maka pemberian sepertiga (1/3) kepada sang kakek lebih menguntungkannya. Kelima keadaan itu lebih menguntungkan kakek jika menggunakan cara pembagian. atau seorang kakek dan lima saudara kandung perempuan atau lebih.

Maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat seperempat (1/4). Pada bagian ini akan dijelaskan bagian kakek jika ia tidak hanya bersama dengan saudara kandung. 53 . kakek. Hal ini telah disepakati ulama mujtahid. maka saudara seayah mahjub. tetapi sekaligus bersama dengan saudara seayah. Pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan dengan cara pembagian. dan saudara kandung laki-laki. ia mendapatkan sepertiga dari sisa harta setelah diambil hak sang ibu.Contoh Keadaan Kedua Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan suami. kakek. dan empat saudara kandung laki-laki. kakek. Pembagiannya sebagai berikut: bagi anak perempuan setengah (1/2).sebab jika saudara kandung dan seayah bersama-sama. lima anak perempuan mendapat dua per tiga (2/3). seluruh sisa harta waris yang ada hanya menjadi hak para saudara kandung -. Untuk keadaan seperti ini. anak perempuan setengah (1/2). dan sisanya dibagikan kepada para saudara kandung perempuan sesuai jumlah orangnya secara rata. ibu mendapatkan seperenam (1/6). mereka dianggap satu jenis. kakek mendapat sepertiga (1/3) dari sisa harta yang ada. E. kakek seperenam (1/6). nenek. dengan ketentuan bagi laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. Apabila pemberian dilakukan secara pembagian. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. kakek. Contoh kelima: seseorang wafat dan meninggalkan dua orang istri. Sebab dengan pembagian ia mendapatkan bagian lebih dari seperenam (1/6). ulama faraid menyatakan bahwa para saudara seayah dikategorikan sama dengan saudara kandung. dan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). Berarti kakek mendapat sepertiga (1/3) dari lima per enam (5/6). Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. keberadaan saudara seayah dalam keadaan seperti ini dikategorikan sebagai merugikan kakek. sedangkan empat saudara laki-laki tidak mendapatkan apa-apa. dan sisanya dibagi dua. seorang anak perempuan. dan sang kakek juga seperenam. Sedangkan sepuluh saudara kandung perempuan tidak mendapatkan apa-apa sebab ashhabul furudh telah menghabiskan bagian yang ada. seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. suami. dan kakek mendapat seperenam (1/6). Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek Persoalan yang saya jelaskan sebelumnya berkisar mengenai bagian kakek bila hanya bersamaan dengan saudara kandung. dan sisanya dibagikan kepada saudara laki-laki dan perempuan. kakak. dan tiga saudara kandung perempuan. haknya menjadi gugur. Maka pembagiannya seperti berikut: suami faradh-nya setengah (1/2) karena pewaris tidak mempunyai anak. dua saudara kandung laki-laki dan dua saudara kandung perempuan. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan. Meskipun setelah kakek mendapatkan bagian. Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan lima anak perempuan. Maka pembagiannya sebagai berikut: untuk kedua orang istri seperdelapan (1/8). nenek seperenam (1/6). Dalam contoh kedua ini bagian kakek lebih menguntungkan. ibu. dan sepuluh saudara kandung perempuan. yakni kakak seperempat dan saudara kandung laki-laki juga seperempat.

saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. Oleh sebab itu. yakni merugikan kakek pada cara pembagian. Maka pembagiannya seperti berikut: saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. Jumlah sepertiga (1/3) bagi kakek dalam contoh kasus ini sesuai dengan kaidah yang ada: "hendaklah kakek diberi dengan salah satu dari dua cara yang paling menguntungkannya. dan seorang saudara perempuan seayah. dan dua orang saudara perempuan seayah. Karena sebagaimana telah saya kemukakan bahwa keberadaan para saudara laki-laki/perempuan seayah sebagai perugi. sebab saudara perempuan seayah gugur haknya oleh adanya saudara laki-laki kandung. dan sisanya diberikan kepada saudara kandung laki-laki. dalam masalah ini kita berikan nasib (bagian) saudara perempuan seayah sebanyak dua per enam (2/6). sedangkan saudara laki-laki seayah terhalangi oleh adanya ahli waris yang lebih kuat dan dekat. maka para saudara laki-laki seayah akan mendapatkan bagian sisa harta yang ada. tentu hal ini akan merugikannya karena ia akan menerima bagian kurang dari sepertiga (1/3) harta waris yang ada. karena itu bagian kakek sepertiga (1/3). yakni saudara kandung laki-laki. Sisanya barulah untuk mereka. Maka pembagiannya sebagai berikut: kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. Agar persoalan ini tidak terlalu kabur dan membingungkan saya sertakan beberapa contoh kasus. kakek. saya berikan haknya dengan cara yang paling menguntungkannya. Dalam hal ini saudara perempuan seayah gugur sebab ada saudara kandung. saudara laki-laki dikategorikan sebagai ahli waris. kakek. Kebetulan dalam kasus ini kedua cara pemberian waris bagi kakek menghasilkan bagian yang sama. Kemudian. kakek memperoleh dua per enam (2/6) bagian. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung perempuan. setelah diambil hak saudara kandung perempuan (1/2) dan hak kakek (1/3). yaitu sepertiga. dan itu menjadi bagian saudara laki-laki kandung. tanpa menggunakan cara pembagian. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. saya langsung memberikan hak kakek sepertiga (1/3). Pada contoh kedua ini. seorang saudara kandung laki-laki. sedangkan sisanya diberikan kepada para saudara laki-laki dan perempuan seayah --dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. dan saudara kandung laki-laki memperoleh dua per tiga (2/3) bagian. Kalaulah pemberian kepada kakak dalam contoh ini menggunakan cara pembagian. hak saudara kandung laki-laki dua per tiga (2/3).keberadaan saudara laki-laki/perempuan seayah merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. yaitu sepertiga (1/3).Akan tetapi. Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan kakek. Catatan Pada contoh ketiga --seperti telah diutarakan-. mendapat sepertiga harta waris atau dengan cara pembagian". sedangkan saudara laki-laki seayah mahjub (terhalangi) karena adanya saudara kandung laki-laki. Bila kita lihat secara seksama akan tampak oleh kita 54 . jika saudara seayah mewarisi bersama kakek dan seorang saudara kandung perempuan. dan keberadaannya hanya merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. seorang saudara laki-laki seayah. Setelah itu saya berikan hak waris saudara kandung perempuan setengah secara fardh. karena ia lebih kuat dan lebih dekat kekerabatannya terhadap pewaris dibandingkan para saudara laki-laki/perempuan seayah. Dalam contoh pertama.

55 . dan seterusnya). bukan dengan cara menerima sepertiga (1/3) sisa harta waris setelah diambil ashhabul furudh -. seperti yang telah disepakati seluruh imam mujtahid. cucu. Masalahnya 12 Keterangan Bagian ibu 1/6 secara fardh Bagian kakek 2/6 secara pembagian dengan saudara kandung laki-laki Bagian saudara kandung (sisanya) Bagian saudara perempuan seayah mahjub Nilai 2 4 6 0 Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. bila seseorang meninggal dan hanya meninggalkan kakek serta anak saudaranya. yakni tidak mempunyai pokok (ayah dan seterusnya) dan tidak pula mempunyai cabang (anak. dan dua orang saudara seayah. kakek. saudara kandung perempuan. Masalah al-Akdariyah Istilah al-akdariyah muncul karena masalah ini berkaitan dengan salah seorang wanita dari bani Akdar. Di samping itu. sedangkan bagian dua orang saudara seayah sisanya. Misalnya. maka seluruh warisannya menjadi hak kakek. Sebab. cicit. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu memperoleh seperenam (1/6) bagian. Dan hak waris saudara seibu hanyalah bila pewaris sebagai kalalah. maka seluruh warisan merupakan bagian kakek. hal lain yang telah menjadi ijma' seluruh fuqaha ialah bahwa hak waris dari keturunan para saudara kandung ataupun seayah menjadi gugur karena adanya kakek. kakek dapat menggugurkan hak waris saudara seibu.dalam contoh ini adalah ibu. kakek sepertiga (1/3). Tabelnya sebagai berikut: Masalahnya 12 dan naik menjadi 36 Keterangan Bagian ibu 1/6 Bagian kakek 1/3 (sisa setelah diambil ibu) Bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) Bagian dua orang saudara laki-laki seayah (sisanya) Catatan Apabila pewaris hanya meninggalkan kerabat seperti kakek dan saudara-saudara laki-laki/perempuan seibu saja. dan saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2).bahwa yang lebih menguntungkan kakek dalam hal ini adalah cara pembagian. Nilai 6 10 18 2 F. Barangkali untuk lebih memperjelas masalah ini perlu pula saya sertakan tabelnya.

ibu enam (6) bagian. Kemudian ia menyatukan hak saudara kandung perempuan dengan saham kakak.disebabkan masalah ini cukup mengotori mazhab Zaid bin Tsabit (sosok sahabat yang sangat dipuji Rasulullah akan kemahirannya dalam faraid. memvonis dengan menyalahi kaidah yang ada. sehingga menjadikannya sebagai keputusan ijtihad dalam fiqih kedua imam tersebut. kakek delapan (8) bagian. dan saudara kandung perempuan empat (4) bagian. Oleh sebab itu. Akan tetapi. dan seorang saudara kandung perempuan. bagian.a. dan pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan (9) bagian. dan sisanya hanya seperenam (1/6) yang tidak lain sebagai bagian kakek yang tidak mungkin digugurkan --karena merupakan haknya secara fardh.Sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa penyebutan masalah ini dengan istilah al-akdariyah --yang artinya 'kotor' atau 'mengotori'-. dalam kasus ini Zaid bin Tsabit r. Masalahnya adalah dari enam (6) Keterangan Suami mendapat setengah (1/2) secara fardh Ibu mendapat sepertiga (1/3) secara fardh Kakek mendapat seperenam (1/6) sisanya/fardh-nya Saudara kandung perempuan mahjub Adapun tabel setelah ditashih menurut al-akdariyah seperti berikut: Masalahnya naik dari enam (6) menjadi dua puluh tujuh (27) Keterangan Bagian suami menjadi Bagian ibu menjadi Bagian kakek menjadi Bagian saudara kandung perempuan menjadi Nilai 9 6 8 4 Nilai 3 2 1 0 56 . kakek. dan menaikkan masalahnya dari enam (6) menjadi sembilan (9). Sebab.). dari mulai yang sesuai dengan kaidah aslinya hingga setelah ditashih. Permasalahannya seperti berikut: bila seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. ibu. Dalam hal ini Imam Malik dan Imam Syafi'i mengikuti apa yang pernah dilakukan Zaid bin Tsabit. ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. Dia memberi saudara kandung setengah (1/2) bagian. dan membaginya menjadi bagian laki-laki dua kali lipat bagian wanita. sudah semestinya bagian saudara kandung perempuan digugurkan karena tidak ada sisa harta waris. Dia pernah menghadapi masalah waris dan memvonisnya dengan melakukan sesuatu yang bertentangan (menyimpang) dari kaidah-kaidah faraid yang masyhur. Berikut ini saya sertakan tabelnya. Apabila berpegang pada kaidah yang telah disepakati seluruh fuqaha --termasuk di dalamnya Zaid bin Tsabit sendirimaka pembagiannya adalah dengan menggugurkan hak saudara kandung perempuan. Setelah ditashih. masalahnya menjadi dua puluh tujuh (27). suami mendapat setengah (1/2). penj.

57 . Bila ada salah satu yang diubah. Wallahu a'lam.Catatan Dalam masalah al-akdariyah ini sosok ahli waris mutlak tidak dapat diubah. maka berarti telah keluar dari hukum tersebut.

bila aku berikan terlebih dahulu hak kedua saudara kandung perempuan pewaris maka akan berkuranglah nashib (bagian) suami. Yang masyhur dalam ilmu faraid. padahal di antara mereka ada yang belum menerima bagian.meski bagian mereka menjadi berkurang. Sebab bila aku berikan hak suami. Menghadapi kenyataan demikian Umar kebingungan. dan siapa yang diakhirkan. bagian yang mesti diterima suami adalah setengah (1/2)." Umar kemudian mengajukan persoalan ini kepada para sahabat Rasulullah saw. sampai masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r." (an-Nisa': 3) Al-'aul juga bermakna 'naik' atau 'meluap'. Di antara mereka ada Zaid bin Tsabit dan menganjurkan kepada Umar agar menggunakan 'aul. Ibnu Abbas berkata: "Orang yang pertama kali menambahkan pokok masalah (yakni 'aul) adalah Umar bin Khathab. Dia berkata: "Sungguh aku tidak mengerti. seperti tampak dalam kalimat ini: 'alaa al-miizaan yang berarti 'berat timbangannya'. pastilah saudara kandung perempuan pewaris akan dirugikan karena berkurang bagiannya. Dikatakan 'alaa al-ma'u idzaa irtafa'a yang artinya 'air yang naik meluap'.a. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. berarti fardh-nya telah melebihi peninggalan pewaris. Begitu pula halnya dengan ashhabul furudh yang lain. Sedangkan definisi al-'aul menurut istilah fuqaha yaitu bertambahnya jumlah bagian fardh dan berkurangnya nashib (bagian) para ahli waris.VII.tidak pernah terjadi. seperti yang difirmankan-Nya: ". suami tersebut tetap menuntut haknya untuk menerima setengah dari harta waris yang ditinggalkan istri.a..." Secara lebih lengkap. begitupun dua orang saudara kandung perempuan. di antaranya bermakna azh-zhulm (aniaya) dan tidak adil. Definisi al-'Aul Al-'aul dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti. Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta yang dibagikan habis. Dan hal itu ia lakukan ketika fardh yang harus diberikan kepada ahli waris bertambah banyak. sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). riwayatnya dituturkan seperti berikut: seorang wanita wafat dan meninggalkan suami dan dua orang saudara kandung perempuan. Misalnya bagian seorang suami yang semestinya mendapat setengah (1/2) dapat berubah menjadi sepertiga (1/3) dalam keadaan tertentu. MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A. kasus 'aul atau penambahan --sebagai salah satu persoalan dalam hal pembagian waris-. Umar menerima anjuran Zaid dan berkata: 58 . bagian mereka dapat berkurang manakala pokok masalahnya naik atau bertambah.. Masalah 'aul pertama kali muncul pada masa khalifah Umar bin Khathab r. seperti bila pokok masalahnya dinaikkan dari semula enam (6) menjadi sembilan (9). Dalam keadaan seperti ini kita harus menaikkan atau menambah pokok masalahnya sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul furudh yang ada -. Begitu juga sebaliknya. Maka dalam hal ini seorang suami yang semestinya mendapat bagian 3/6 (setengah) hanya memperoleh 3/9 (sepertiga). B.. mereka tetap menuntut dua per tiga yang menjadi hak waris keduanya. siapakah di antara kalian yang harus didahulukan. Dengan demikian. Latar Belakang Terjadinya 'Aul Pada masa Rasulullah saw. Namun demikian. Al-'aul bisa juga berarti 'bertambah'.

Lebih dari angka itu tidak bisa. dan saudara kandung perempuan. atau sepuluh. atau tujuh belas (17). dan saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari delapan (8). sebab pokok masalahnya cocok atau tepat dengan bagian para ashhabul furudh. 59 . sedangkan sisanya (yakni 3/4) dibagi dua antara saudara kandung laki-laki dengan saudara kandung perempuan. angka-angka pokok masalah yang dapat di-'aul-kan ialah angka enam (6). sedangkan saudara kandung perempuan menerima sisanya. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari empat (4). namun hanya untuk angka ganjilnya. sedangkan yang empat tidak dapat. sembilan. yaitu dua (2). dan sisanya menjadi bagian ayah. Ketiga pokok masalah yang dapat di-'aul-kan adalah enam (6). yakni tiga per delapan (3/8). Sebagai misal. ketiga pokok masalah itu masing-masing berbeda dan mempunyai sifat tersendiri. dan dua puluh empat (24). berarti mendapat bagian satu (1). yakni dapat naik menjadi tujuh. Berarti pokok masalah enam (6) hanya dapat dinaikkan empat kali saja. dan menjadilah hukum tentang 'aul (penambahan) fardh ini sebagai keputusan yang disepakati seluruh sahabat Nabi saw. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. bagian istri seperdelapan (1/8) berarti satu bagian. Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. anak perempuan. Namun. Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya. Lebih jelasnya. Pembagiannya: ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. anak setengah (1/2) berarti empat bagian. delapan. dan ayah dua bagian. Bagian suami setengah berarti satu (1). Maka dalam masalah ini tidak menggunakan 'aul. seseorang wafat dan meninggalkan ayah dan ibu. bagian istri seperempat (1/4) berarti satu (1) bagian. tiga (3). Sebagai contoh pokok yang dapat di-'aul-kan: seseorang wafat dan meninggalkan suami serta seorang saudara kandung perempuan. Contoh kasus yang lain. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. dan bagian saudara kandung perempuan setengah. Sedangkan pokok masalah yang tidak dapat di-'aul-kan ada empat. lima belas (15). saudara kandung laki-laki. Lebih dari itu tidak bisa. Dalam contoh ini pokok masalahnya tiga (3). Maka angka dua belas (12) hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. dua belas (12)." Para sahabat menyepakati langkah tersebut. Kemudian pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan hingga tujuh belas (17). pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan ke tiga belas (13). Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua (2). angka enam (6) hanya dapat di-'aul-kan hingga angka sepuluh (10)."Tambahkanlah hak para ashhabul furudh akan fardh-nya.kan Pokok masalah yang ada di dalam ilmu faraid ada tujuh. dua belas (12). dan dua puluh empat (24). C. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pokok masalah dalam contoh-contoh yang saya kemukakan semuanya tidak dapat di-'aulkan. empat (4). Tiga di antaranya dapat di-'aul-kan. dan delapan (8). Contoh lain. jadi ibu mendapat satu bagian.

Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. Dalam contoh tersebut jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. dua orang saudara perempuan seayah. Bila demikian. ibu. 5. anak perempuan. asal pokok masalah enam dinaikkan menjadi delapan. bagian dua orang saudara seayah dua per tiga (2/3) berarti empat. dan bagian dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. ibu. Maka pembagianya seperti berikut: pokok masalahnya enam (6). Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. sehingga jumlah bagian sesuai dengan pokok masalahnya. bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. 2. bagian ayah seperenam (1/6) berarti satu bagian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. dan dua orang saudara laki-laki seibu. sedangkan bagian saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. ibu seperenam (1/6) berarti satu. Sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat bagian. Beberapa Contoh Masalah 'Aul 1. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. dan seorang saudara perempuan seibu. saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya enam. perlu kita simak contoh-contohnya. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Karena itu kita harus menaikkan pokok masalahnya yang semula enam menjadi sepuluh. Dalam contoh ini tidak ada 'aul.Sedangkan pokok masalah dua puluh empat (24) hanya dapat di-'aul-kan kepada dua puluh tujuh (27) saja. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. Oleh karena itu. jumlah bagian (fardh-nya) cocok dengan pokok masalahnya. sedangkan bagian cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga-. Seseorang wafat dan meninggalkan ayah. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari enam (6). karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi sembilan. ibu. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah al-mubahalah.berarti satu bagian. Untuk lebih menjelaskan dan memantapkan pemahaman kita terhadap pokok-pokok masalah yang di-'aul-kan. jumlah bagiannya telah melebihi jumlah pokok masalah. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. dan dua orang saudara perempuan seibu. sedangkan saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. Dengan demikian. Dalam contoh ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalahnya. 4. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. yaitu enam banding sepuluh (6:10). Seseorang wafat dan meninggalkan suami. dua orang saudara kandung perempuan. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. sedangkan bagian dua orang saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. yaitu delapan per enam (8/6). 3. sebab masalahnya sesuai dengan fardh yang ada. saudara kandung perempuan. karenanya pokok masalah enam harus dinaikkan menjadi tujuh (7). Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah syuraihiyah. Masalah ini dikenal dengan sebutan masalah marwaniyah. bagian anak perempuan tiga per enam (3/6) berarti tiga bagian. Dalam contoh kasus ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalah. dan saudara perempuan seibu. 60 . dan itu pun hanya pada satu masalah faraid yang memang masyhur di kalangan ulama faraid dengan sebutan "masalah almimbariyyah".

sedangkan saudara perempuan seayah seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua pertiga-. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dua belas (12). dan empat orang saudara perempuan seibu. dan bagian keempat saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) yang berarti empat bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. Karena itu pokok masalahnya harus di-'aul-kan dari dua belas menjadi tujuh belas. ibu. Contoh 'Aul Dua Puluh Empat (24) Pokok masalah dua puluh empat (24) --sebagaimana telah saya jelaskan-. Karena itu kita harus meng-'aul-kan pokok masalahnya hingga sesuai 61 . lima belas (15). saudara kandung perempuan memperoleh setengah (1/2) berarti enam bagian. Dalam contoh tersebut tampak sangat jelas bahwa jumlah bagian yang diterima atau yang menjadi hak ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalahnya. berarti delapan bagian. sedangkan bagian dua orang saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti delapan bagian. sedangkan bagian kedua nenek adalah seperenam (1/6) yang berarti dua bagian. bagian ibu seperenam (1/6) berarti dua bagian. Contoh masalah ini seperti berikut: seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. yaitu menjadi tiga belas (13). pokok masalah ini hanya ada dalam kasus yang oleh ulama faraid dikenal dengan masalah al-mimbariyah. yaitu lima belas bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. anak perempuan mendapat setengah (1/2) berarti dua belas bagian. Mereka menyebutnya demikian karena Ali bin Abi Thalib ketika memvonis masalah ini sedang berada di atas mimbar (podium).hanya dapat di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh (27). Jumlah bagian dalam contoh ini telah melebihi pokok masalah. dan dua orang saudara kandung perempuan. delapan orang saudara perempuan seayah. istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti tiga bagian. atau tujuh belas (17). Berikut ini saya berikan contoh-contohnya: 1. ayah. ibu mendapat seperenam (1/6) berarti dua bagian. seorang saudara perempuan seayah. dan bagian saudara perempuan seibu juga seperenam (1/6) berarti dua bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan istri. Ayah mendapat seperenam (1/6) berarti empat bagian. yaitu tiga belas. Selain itu.Contoh 'Aul Pokok Masalah Dua Belas (12) Seperti telah saya kemukakan bahwa pokok masalah dua belas hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. sedangkan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga (2/3)-. Maka pembagiannya seperti ini: pokok masalahnya dua puluh empat (24). 3. Karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi lima belas (15). Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. anak perempuan. dan seorang saudara perempuan seibu. Karena itu harus dinaikkan menjadi tiga belas (13) sehingga tepat sesuai dengan jumlah bagian yang ada. bagi kedelapan saudara perempuan seayah dua per tiga (2/3)-nya. Bagian ketiga orang istri adalah seperempat (1/4) berarti tiga bagian. dua orang nenek. Dalam contoh ini tampak jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya.berarti dua bagian. ibu. 2. yakni tujuh belas berbanding dua belas. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dua belas (12). Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga.berarti empat bagian. Dalam contoh ini tampak dengan jelas bahwa jumlah bagian ashhabul furudh telah melampaui pokok masalahnya. seorang saudara kandung perempuan. ibu memperoleh seperenam (1/6) berarti empat bagian. ibu. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua belas (12).

Definisi ar-Radd Ar-radd dalam bahasa Arab berarti 'kembali/kembalikan' atau juga bermakna 'berpaling/palingkan'. adanya ashhabul furudh 2. tetapi ternyata harta warisan itu masih tersisa --sementara itu tidak ada sosok kerabat lain sebagai 'ashabah-. palingkanlah/halaulah tipu daya mereka terhadapku). 4. Syarat-syarat ar-Radd Ar-radd tidak akan terjadi dalam suatu keadaan. dan tidak ada 'aul. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperdelapan (1/8) dan yang lain sisanya. kemudian yang lain berhak mendapatkan sisanya. dalam suatu keadaan (dalam pembagian hak waris) para ashhabul furudh telah menerima haknya masing-masing. Bila dalam pembagian waris tidak ada ketiga syarat tersebut maka kasus ar-radd tidak akan terjadi. ada sisa harta waris. atau dua orang ahli waris yang masingmasing berhak mendapatkan bagian setengah (1/2). Seperti terdapat dalam firman Allah berikut: "Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari. dan dalam hal ini tidak ada 'aul. kecuali bila terwujud tiga syarat seperti di bawah ini: 1. D." (al-Ahzab: 25) Dalam sebuah doa disebutkan "Allahumma radda kaidahum 'annii" (Ya Allah. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperdelapan dan yang lainnya setengah.dengan jumlah bagian yang harus diberikan kepada para ashhabul furudh. mengikuti jejak mereka semula. dan tidak dapat di-'aul-kan. " (al-Kahfi: 64) "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan . 2.. 3. 62 . Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapatkan bagian setengah (1/2) dari harta waris. maka pokok masalahnya dari dua (2). maka pokok masalahnya dari delapan. dan tidak ada 'aul. Sebagai misal. maka pokok masalahuya dari empat (4). atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperempat (1/4) dan yang lain berhak mendapat setengah (1/2). Sekali lagi ditegaskan. Ar-radd merupakan kebalikan dari al-'aul. Catatan 1.maka sisa harta waris itu diberikan atau dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh sesuai dengan bagian mereka masing-masing. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lainnya dua per tiga (2/3). maka pokok masalahnya dari tiga (3). Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lain sisanya. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dan yang lain sisanya. Adapun ar-radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya/lebihnya jumlah bagian ashhabul furudh.' Lalu keduanya kembali.. E. dalam masalah almimbariyyah ini pokok masalah dua puluh empat hanya bisa di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh. tidak adanya 'ashabah 3.

seseorang wafat dan hanya meninggalkan tiga anak perempuan. G. akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab). maka pokok masalahnya dari tiga. saudara laki-laki seibu Adapun mengenai ayah dan kakek.dan dalam keadaan itu tidak terdapat suami atau istri. saudara perempuan seayah 5. suami atau istri bagaimanapun keadaannya tidak mendapat bagian tambahan dari sisa harta waris yang ada. H. Dan kekerabatan ini akan putus karena kematian. saudara perempuan seibu 8. karena keduanya akan menerima waris sebagai 'ashabah. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. Sebab. 63 . sesuai jumlah ahli waris. dan tanpa adanya suami atau istri 2. adanya ahli waris pemilik bagian yang sama. Dan pembagiannya pun secara fardh dan ar-radd. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd Adapun ahli waris dari ashhabul furudh yang tidak bisa mendapatkan ar-radd hanyalah suami dan istri. adanya pemilik bagian yang sama. maka cara pembagiannya dihitung berdasarkan jumlah ahli waris. dan tanpa suami atau istri 3. maka pokok masalahnya dari sepuluh. cucu perempuan keturunan anak laki-laki 3. maka dari itu mereka (suami dan istri) tidak berhak mendapatkan ar-radd. ibu kandung 6. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap bertele-tele dan agar lebih cepat sampai pada tujuan dengan cara yang paling mudah. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. Sebab dalam keadaan bagaimanapun.-maka tidak mungkin ada ar-radd. Adapun ashhabul furudh yang dapat menerima ar-radd hanya ada delapan orang: 1. kecuali suami dan istri. suami atau istri tidak mendapatkan bagian sebagai tambahan. dan seterusnya)-. sekalipun keduanya termasuk ashhabul furudh dalam beberapa keadaan tertentu. mereka tidak bisa mendapatkan ar-radd. yaitu adanya ikatan tali pernikahan. Karena itu pembagian hak masing-masing sesuai jumlah mereka. Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab. semuanya berhak mendapat bagian setengah. Artinya. bila seseorang wafat dan hanya meninggalkan sepuluh saudara kandung perempuan. disebabkan mereka merupakan ahli waris dari bagian yang sama.F. bila dalam pembagian hak waris terdapat salah satunya --ayah atau kakek-. dan dengan adanya suami atau istri 4. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd Ar-radd dapat terjadi dan melibatkan semua ashhabul furudh. atau seperempat. anak perempuan 2. nenek sahih (ibu dari bapak) 7. dan masing-masing mempunyai cara atau hukum tersendiri. dan sisanya mereka terima secara ar-radd. bagian mereka sesuai fardh adalah dua per tiga (2/3). dan dengan adanya suami atau istri Hukum Keadaan Pertama Apabila dalam suatu keadaan ahli warisnya hanya terdiri dari sahib fardh dengan bagian yang sama --yakni dari satu jenis saja (misalnya. Contoh lain. Maka apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat kelebihan atau sisa dari harta waris. Keempat macam itu: 1. saudara kandung perempuan 4. Sebagai misal. Macam-macam ar-Radd Ada empat macam Ar-radd. Mereka hanya mendapat bagian sesuai bagian yang menjadi hak masing-masing.

Misal lain. dan setelah ditashih pokok masalahnya menjadi empat puluh. Sebagai misal. Maka pokok masalahnya empat. bagi ibu seperenam (1/6). Hukum keadaan Ketiga Apabila para ahli waris semuanya dari sahib fardh (bagian) yang sama. dan itulah pokok masalahnya. 2. yakni sesuai jumlah kepala. serta saudara laki-laki seibu. 3. maka kaidah yang berlaku ialah kita jadikan pokok masalahnya dari sahib fardh yang tidak dapat ditambah (di-radd-kan) dan barulah sisanya dibagikan kepada yang lain sesuai dengan jumlah per kepala. Maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. Hitungan ini perlu pentashihan. seseorang wafat dan meninggalkan suami dan dua anak perempuan.maka cara pembagiannya dihitung dan nilai bagiannya. Maka pokok masalahnya dari empat. Sebagai misal. Begitu seterusnya. angka ini diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan (tidak berhak untuk ditambah). dan saudara perempuan seibu. saudara perempuan seayah. Pokok masalahnya adalah delapan. karena angka itu diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. berarti masing-masing menerima tujuh bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang nenek. diambil dari istri sebagai sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. yang bagiannya dalam keadaan demikian seperempat (1/4). dan sisanya (yakni 3/4) merupakan bagian kedua anak perempuan dan dibagi secara rata. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan serta saudara perempuan seayah. saudara kandung perempuan. Maka pokok masalahnya dari dua. Maka pokok masalahnya lima. karena jumlah bagiannya ada empat. hitungan (bagiannya) sebagai berikut: ibu mendapatkan seperdelapan dari empat puluh. Maka pembagiannya. disertai salah satu dari suami atau istri. Misal lain. disebabkan bagiannya sama. Berarti bila pokok masalahnya dari empat (4). dan itulah pokok masalahnya. karena jumlah bagiannya adalah lima. bukan dari jumlah ahli waris (per kepala). Contoh lain. sedangkan sisanya --tiga per empat (3/4)-. serta seorang saudara perempuan seibu. Seseorang wafat meninggalkan seorang anak perempuan serta seorang cucu perempuan keturunan anak laklaki. sedangkan sisanya tujuh per delapan (7/8) merupakan bagian kelima anak perempuan dan dibagi secara merata di antara mereka. yakni tiga. Maka jumlah bagiannya adalah lima. 4. berarti mendapat satu bagian. Dalam hal ini pokok masalahnya dari empat. seseorang wafat dan meningalkan seorang nenek dan saudara perempuan seibu. 64 . Seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. untuk kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). dan sisanya (tiga per empat) dibagikan kepada anak secara merata. Maka pokok masalahnya dari empat. Di sini tampak jumlah bagiannya tiga. karena jumlah bagiannya empat. Hukum Keadaan Kedua Apabila dalam suatu keadaan terdapat bagian ahli waris yang beragam --dan tidak ada salah satu dari suami atau istri-. dua orang saudara laki-laki seibu. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Pembagiannya: istri mendapatkan seperempat (1/4) bagian. serta lima orang anak perempuan. berarti lima bagian. dan itulah angka yang dijadikan pokok masalah. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri dan empat anak perempuan. Maka suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri.dibagi secara merata untuk keempat anak perempuan pewaris. yang penting tidak ada salah satu dari suami atau istri. seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu. 5. sedangkan sisanya --tiga puluh lima bagian-dibagikan secara merata kepada kelima anak perempuan pewaris. Contoh lain. Maka jumlah bagiannya adalah lima. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian berarti satu. serta seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Contoh-contoh keadaan kedua 1. yaitu istri. anak perempuan.

yakni tiga bagian. Kini. Angka tiga tersebut berarti tamaatsul (sama) dalam kedua ilustrasi. Seperti kita ketahui bahwa antara tujuh dan lima itu tabaayun (berbeda). Untuk lebih memperjelas masalah yang rumit ini perlu saya sertakan contoh kasusnya: Seseorang wafat dan meninggalkan istri. Sedangkan dalam ilustrasi kedua --menyertakan suami/istri-. Karenanya tidak lagi memerlukan tashih. Sedangkan sisanya dua belas bagian dibagikan secara merata kepada keempat anak perempuan pewaris. Setelah itu barulah kita lihat kedua ilustrasi tersebut dengan salah satu dari tiga kriteria yang ada. dan ibu. berarti ia mendapat lima (5) bagian.asal pokok masalahnya dari enam. Sehingga pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4) dari enam belas berarti empat bagian. yakni istri. dan di dalamnya terdapat pula suami atau istri. Dengan melihat kedua ilustrasi tersebut. Maka hasil perkalian antara kedua pokok masalah itu adalah pokok masalah bagi kedua ilustrasi tersebut. dan pada persoalan kedua kita menyertakan suami atau istri. dengan ar-radd menjadi dari lima (yakni dari jumlah bagian yang ada). Contoh lain: seseorang wafat meninggalkan istri. maka sisanya tujuh per delapan (7/8). Ilustrasi ini juga merupakan tamaatsul (sama) dengan masalah ar-radd. yakni seperempat (1/4). maka menurut kaidah yang berlaku kita harus menjadikannya dalam dua masalah. Bagian istri seperempat (1/4) berarti memperoleh satu bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami dan istri: Pokok masalahnya dari enam. Pada ilustrasi pertama --tanpa menyertakan suami/istri-. 65 . tawaafuq (sepadan). dan cukuplah kita jadikan ilustrasi masalah kedua itu sebagai pokok masalah. dan tabaayun (perbedaan). dan sisa ini merupakan bagian dua anak perempuan dengan ibu. Maka pembagiannya sebagai berikut: bagian kedua anak perempuan adalah hasil perkalian antara empat (bagiannya dalam ilustrasi pertama) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian pada ilustrasi kedua) berarti dua puluh delapan (28) bagian. yaitu diambil dari bagian sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Kemudian bila istri mendapat bagiannya. mana yang paling tepat.Dalam contoh ini juga harus ada pentashihan pada pokok masalahnya. maka sisa harta waris tinggal tiga bagian. Ilustrasi kedua menyertakan suami atau istri: Pokok masalahnya dari empat. dan dengan ar-radd menjadi dari lima. nenek. secara fardh dan radd. Bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) = 2 bagian. yakni yang seperdelapan. Apabila istri mengambil bagiannya. setiap anak memperoleh tiga bagian. Sedangkan ketiga kriteria yang dimaksud ialah tamaatsul (kemiripan). Pada persoalan pertama kita tidak menyertakan suami atau istri. Bagian nenek seperenam (1/6) berarti satu bagian.asal pokok masalahnya dari delapan. dua orang anak perempuan. Dengan demikian. dan dua orang saudara perempuan seibu. karena itulah jumlah bagian yang ada. Oleh karena itu. Kemudian langkah berikutnya kita kalikan pokok masalah kedua (delapan) dengan pokok masalah pertama (lima). Hukum keadaan Keempat Apabila dalam suatu keadaan terdapat ashhabul furudh yang beragam bagiannya. Kemudian kita buat diagramnya secara terpisah. kita dapati bagian yang sama antara bagian nenek dan bagian dua saudara perempuan seibu. setelah kita kenali pokok masalah dari kedua ilustrasi masalah tersebut. Sisanya. Bagian kedua anak perempuan dan ibu adalah sisa setelah diambil bagian istri --yang tersisa tiga puluh lima (35) bagian. merupakan bagian nenek dan kedua saudara perempuan seibu. yakni tiga bagian. pokok masalah yang mulanya empat (4) naik menjadi enam belas (16). yaitu istri. maka bagian istri adatah seperdelapan dari empat puluh bagian yang ada. karena merupakan fardh orang yang tidak dapat di-radd-kan.

menjadi 5 Bagian kedua anak perempuan 2/3 Bagian ibu seperenam (1/6) Jumlah bagian Ilustrasi kedua dengan menyertakan suami/istri Pokok masalah dari delapan. diambil dari ahlul fardh yang tak dapat diradd Bagian istri 1/8. ditambah bagian kedua anak perempuan.Adapun bagian ibu adalah hasil perkalian antara bagiannya dalam ilustrasi pertama (satu bagian) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian dalam ilustrasi kedua) berarti tujuh (7) bagian. berarti Bagian dua anak perempuan dan ibu Setelah tashih bagian anak perempuan Bagian ibu 1 7 4x7 4x7 28 7 Setelah tashih menjadi setelah tashih Berarti Berarti 4 1 5 40 5 66 . ditambah bagian ibu adalah 5 + 28 + 7 = 40. dari jumlah keseluruhan antara bagian istri. Lihat tabel berikut : Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami/istri Pokok masalahnya aslinya dari 65. Jadi. dengan radd.

maka pokok masalahnya dihitung per kepala --jika semuanya hanya dari laki-laki. yang berarti usaha untuk mengetahui pokok masalah. maka pokok masalahnya dari sepuluh. Misalnya. begitu seterusnya. Dalam hal ini. maka pokok masalahnya sebelas. bagian suami setengah (1/2) dan bagian saudara kandung perempuan juga setengah (1/2). misalnya ada yang berhak setengah. Karena itu. ahli warisnya dari sahib fardh setengah (1/2) dan seperempat (1/4). seperempat (1/4). atau semuanya hanya dari ashhabul furudh. seperenam.). hingga pembagiannya benar-benar adil. 67 . Misalnya. Kemudian. maka satu anak laki-laki kita hitung dua kepala (hitungan). Bila semuanya berhak sepertiga (1/3).maka pokok masalahnya dari delapan (8). berarti itulah pokok masalahnya. Persoalan "pokok masalah" ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah at-ta'shil. seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami dan saudara kandung perempuan. baiklah kita simak kaidah yang telah diterapkan oleh para ulama ilmu faraid. maka pokok masalahnya dari empat (4). Misalnya. dan seperenam (1/6). PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN MENGETAHUI pokok masalah merupakan suatu keharusan bagi kita yang mengkaji ilmu faraid. sepertiga (1/3). bila dalam suatu keadaan. dua laki-laki dan tiga perempuan. maka pokok masalahnya dari empat atau delapan. kita harus mengetahui apakah ahli waris yang ada semuanya hanya termasuk 'ashabah. bila mayit meninggalkan lima anak perempuan dan tiga anak laki-laki. dan sebagainya-. yang perlu diketahui adalah bagaimana dapat memperoleh angka pembagian hak setiap ahli waris tanpa melalui pemecahan yang rumit. penj. atau gabungan antara 'ashabah dengan ashhabul furudh. tanpa mengurangi atau melebihkan hak masing-masing. Sebab. Misal lain. yakni antara angka-angka yang mutamatsilah (sama) atau yang mutadaakbilah (saling berpadu). Apabila para ashhabul furudh hanya terdiri dari bagian yang pertama saja (yakni 1/2. maka pokok masalahnya dari lima. dan demikian seterusnya. Hal ini agar kita dapat mengetahui secara pasti bagian setiap ahli waris. Untuk memperjelas masalah ini. Contoh lain. Bila ternyata ahli waris yang ada terdiri dari anak laki-laki dan perempuan. jika ternyata ahli waris yang ada semuanya dari ashhabul furudh yang sama. Untuk mengetahui pokok masalah. Maka pokok masalahnya berarti tujuh (7). seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak laki-laki. Atau seseorang wafat meninggalkan sepuluh saudara kandung laki-laki. Hal ini diambil dari kaidah qur'aniyah: bagian anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan. terlebih dahulu perlu kita ketahui siapa-siapa ahli warisnya.kita harus mengalikan dan mencampur antara beberapa kedudukan. atau yang mutabaayinah (saling berbeda). Sedangkan jika para ahli waris yang ditinggalkan pewaris terdiri dari banyak bagian --yakni tidak dari satu jenis. dan seperdelapan (1/8). Kaidah ini sangat mudah sekaligus mempermudah kita untuk memahami pokok masalah ketika ahli waris terdiri dari berbagai sahib fardh yang mempunyai bagian berbeda-beda. Para ulama faraid membagi kaidah tersebut menjadi dua bagian: Pertama: bagian setengah (1/2). Pokok masalahnya juga dihitung dari jumlah per kepala. seperempat (1/4). maka pokok masalahnya dari tiga (3). Artinya. dan seperdelapan (1/8) --atau hanya seperempat dengan seperdelapan-. 1/8). Maka pokok masalahnya dari dua (2). Misalnya. bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari para sahib fardh setengah (1/2). 1/4. seseorang wafat dan hanya meninggalkan lima orang anak. Kedua: bagian dua per tiga (2/3). dan satu wanita satu kepala. berarti pokok masalahnya dari angka yang paling besar. Apabila seluruh ahli waris yang ada semuanya dari 'ashabah.maka pokok masalahnya dari enam (6). Bila semuanya seperempat (1/4) atau seperdelapan (1/8). Secara umum dapat dikatakan bahwa bila ahli waris semuanya sama --misalnya masing-masing berhak mendapat seperenam (1/6)-.VIII. para ulama ilmu faraid tidak mau menerima kecuali angka-angka yang jelas dan benar (maksudnya tanpa menyertakan angka-angka pecahan.

1/3. Dari contoh tersebut tampak ada campuran antara kelompok pertama (yakni 1/2) dengan sepertiga (1/3) dan seperenam (1/6). saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). maka pokok masalahnya dari enam (6). Misalnya. perlu saya utarakan beberapa contoh. ia akan mendapat sisa yang ada setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. 3. ibu sepertiga (1/3). sahib fardh seperempat (1/4) yang merupakan kelompok pertama-. dan paman kandung. pokok masalah pada contoh tersebut dari enam. Berdasarkan kaidah yang ada. maka pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). ibu. Bila tidak tersisa. Maka pembagiannya sebagai berikut: suami mendapat setengah (1/2). dan 1/6) diperlukan kaidah yang lain untuk mengetahui pokok masalahnya. seseorang wafat dan meninggalkan suami. Akan tetapi. jika dalam suatu keadaan ahli warisnya bercampur antara sahib fardh kelompok pertama (1/2. pokok masalahnya dari dua belas (12). Apabila dalam suatu keadaan. sebagai 'ashabah Nilai 3 1 2 0 Contoh lain. Angka tersebut merupakan hasil perkalian antara empat (yang merupakan bagian istri) dengan tiga (sebagai bagian kedua saudara laki-laki seibu). Maka dalam hal ini hendaklah diambil angka penyebut yang terbesar.dengan seperenam (1/6) dan sepertiga (1/3). dan 1/8) dengan kelompok kedua (2/3. 1/4. sahib fardh seperdelapan (1/8) yang merupakan kelompok pertama-. Pada contoh ini tampak ada campuran antara bagian seperempat (1/4) --yang termasuk kelompok pertama-. yang merupakan kelompok kedua.bercampur dengan seluruh kelompok kedua. Apabila dalam suatu keadaan. dua orang saudara laki-laki seibu. atau semuanya. Lihat diagram: Pokok masalah dari enam (6) Keterangan Suami setengah (1/2) Saudara laki-laki seibu seperenam (1/6) Ibu sepertiga (1/3) Paman kandung. saudara laki-laki seibu. Maka pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4).bercampur dengan seluruh kelompok kedua atau salah satunya. dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3).bercampur dengan salah satu dari kelompok kedua. Tabelnya tampak berikut ini: Pokok masalah dari dua belas (12) Keterangan Istri seperempat (1/4) Ibu seperenam (1/6) Dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) Saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah (sisanya) Nilai 3 2 4 3 68 . Kaidah yang dimaksud seperti tersebut di bawah ini: 1. Maka berdasarkan kaidah. sahib fardh setengah (1/2) --yang merupakan kelompok pertama-. Untuk lebih memperjelas kaidah tersebut. seseorang wafat dan meninggalkan istri. sedangkan paman sebagai 'ashabah. 2. dan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. ibu. maka pokok masalahnya dari enam (6). maka pokok masalahnya dari dua belas (12). Apabila dalam suatu keadaan. atau salah satunya. Sebab angka tiga merupakan bagian dari angka enam. maka ia tidak berhak menerima harta waris. dan seorang saudara laki-laki kandung.Begitu juga bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari sahib fardh sepertiga (1/3) dengan seperenam (1/6) atau dua per tiga (2/3) dengan seperenam (1/6). ibu seperenam (1/6).

dan bagian ibu seperenam (1/6). Apabila pokok masalah --harta waris-. atau jumlah bagian ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalah. lawan kata dari "keluar". Tentang Tashih Agar kita dapat memahami dan menelusuri rincian pentashihan pokok masalah. Pada contoh ini tampak ada percampuran antara seperdelapan (1/8) sebagai kelompok pertama dengan seperenam (1/6) sebagai kelompok kedua. kemudian kita kalikan dengan angka yang lain dengan sempurna. Sedangkan menurut ulama faraid adalah pembagian angka yang besar oleh angka yang lebih kecil. seseorang wafat dan meninggalkan istri. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. A. dan at-tabaayun (berbeda/saling berjauhan). maka kita harus mengetahui nisbahnya (koneksi) dengan keempat istilah perhitungan. angka delapan belas (18) dengan angka enam (6). (8 : 2 x 6 = 24). angka delapan (8) dengan angka empat (4).dalam suatu pembagian waris cocok (sesuai) dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. at-tamaatsul (kemiripan/kesamaan). Atau setengah dari delapan (yakni empat) kali enam (6). anak perempuan. dan lima sama dengan lima. Misalnya. Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8). sebagai 'ashabah (sisa) berarti berarti berarti berarti 3 12 4 4 1 Angka dua puluh empat (24) yang dijadikan sebagai pokok masalah timbul sebagai hasil perkalian antara setengah dari enam (yakni 3) dengan delapan (6 : 2 x 8 = 24). Namun. maka dalam hal ini memerlukan pentashihan pokok masalahnya. Definisi at-Tamaatsul At-Tamaatsul dalam bahasa Arab berarti at-tasyabuh. Maka berdasarkan kaidah yang ada. dan seterusnya.Misal lain. Sedangkan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. ibu. Hal seperti ini disebabkan setengah dari dua angka tersebut (yakni enam dan delapan) ada selisih. Sedangkan menurut ulama ilmu faraid berarti mewujudkan jumlah yang kurang dari bagian setiap ahli waris tanpa pecahan dalam pembagiannya. at-tadaakhul (saling terkait/saling bercampur). Definisi Tashih Tashih dalam bahasa Arab berarti 'menghilangkan penyakit'. Begitulah seterusnya. 69 . sehingga dari pembagian itu tidak ada lagi angka atau jumlah yang tersisa. Definisi at-Tadaakhul At-Tadaakhul dalam bahasa Arab berasal dari kata dakhala. at-tawaafuq (saling bertautan). karenanya ia mendapat sisa harta waris bila ternyata masih tersisa. angka dua puluh tujuh (27) dengan angka sembilan (9). cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). Yaitu. yakni 'sama bentuknya'. pokok masalah pada contoh ini dari dua pulah empat (24). dan saudara kandung laki-laki. yakni 'masuk'. anak perempuan setengah (1/2). angka tiga berarti sama dengan tiga. Berikut ini tabelnya: Pokok masalah dari 24 Bagian istri seperdelapan (1/8) Bagian anak perempuan setengah (1/2) Cucu perempuan dari anak laki-laki seperenam (1/6) Bagian ibu seperenam (1/6) Saudara kandung laki-laki. bila harta waris tersebut kurang dari jumlah bagian yang mesti diterima setiap ahli waris. Misalnya. karenanya kita ambil setengah dari salah satu angka tadi. maka kita tidak perlu menggunakan cara-cara yang berbelit dan memusingkan. yang satu tidak lebih banyak atau lebih sedikit dari yang lain. Sedangkan menurut ulama faraid berarti sama dalam jumlah atau nilai.

Pada hakikatnya. sebagai bagian khusus yang berkaitan dengan setiap bagian pada pokok masalah. Cara pentashihan yang biasa dilakukan para ulama faraid seperti berikut: langkah pertama. bila jumlah per kepalanya jauh lebih sedikit dari jumlah bagian ahli waris yang ada --jumlah pokok masalahnya sudah habis. perlu saya kemukakan contoh kasus sehingga pembaca dapat lebih memahaminya. Hal ini merupakan satu perhatian yang sangat baik dari para ulama faraid dalam usaha mereka mewujudkan kemaslahatan yang menyeluruh. demikian seterusnya. ibu. tetapi ada ahli waris yang belum mendapat bagian-.Definisi at-Tawaafuq At-Tawaafuq dalam bahasa Arab berarti 'bersatu'. Untuk lebih memperjelas masalah ini. maka disebut tabaayun. dan tidak pula dapat dibagi oleh bilangan lain (ketiga). maka hasil dari perkalian itu yang menjadi pokok masalah sebenamya. Adapun bila terjadi mubayaanah (ada selisih) maka kalikan jumlah per kepalanya dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya.maka kita harus melihat apakah ada kecocokan di antara kedua hal itu ataukah tidak. Angka 12 dengan angka 30 sama-sama dapat dibagi oleh angka 6. Bila jumlah per kepala setelah dibagi cocok dan pas dengan jumlah bagian setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. dan tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki. B. angka 5 dengan 9. at-tawaafuq. penj. dan bagiannya 2/3 dari 6. kalangan ulama faraid tidak mau menerima permasalahan pembagian waris kecuali dengan angka-angka yang pasti (maksudnya tanpa pecahan. maka setiap anak berhak mendapat bagian sesuai dengan jumlah per kepalanya. sebagaimana yang dikehendaki ad-Din al-Islam. Definisi at-Tabaayun At-Tabaayun dalam bahasa Arab berarti tabaa'ud. dan at-tabaayun. maka kita perlu mengetahui kapan kita dapat atau memungkinkan untuk mentashih pokok masalah? Dan apa tujuannya. Apabila angka yang besar dibagi angka yang lebih kecil. Cara Mentashih Pokok Masalah Setelah kita ketahui dengan baik makna-makna at-tamaatsul. oleh ulama faraid disebut dengan juz'us sahm. yakni saling berjauhan atau saling berbeda. empat anak perempuan. (Misalnya. Inilah yang disebut "pentashihan pokok masalah" oleh kalangan ulama faraid.maka kedua bilangan itu ada tawaafuq.). kita bandingkan pengertiannya dengan istilah lainnya. dengan cara mengalikan jumlah per kepala dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. Apabila angka yang besar tidak dapat dibagi angka yang kecil --tetapi dibagi angka yang lain-. angka 8 dengan 6 keduanya dapat dibagi oleh angka 2. Tetapi apabila kedua bilangan itu sama. Bila ada kesesuaian antara bagian tiap ahli waris dengan jumlah per kepalanya. sehingga tidak mengurangi ataupun menambahkan. Sedangkan apabila suatu angka tidak dapat dibagi oleh bilangan lain. Misalnya angka 7 dengan angka 4. maka kedua bilangan itu tadaakhul. Misalnya. melihat bagian setiap ahli waris dan jumlah per kepalanya. attadaakhul. maka inilah yang sempurna dan sangat diharapkan. maka ada kesamaan. Contoh amaliah tentang pentashihan pokok masalah Seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. Selain itu. Sang ayah seperenam berarti satu bagian. Sebab setiap anak mendapat bagian satu). Bagian keempat anak perempuan ialah dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. angka 8 dengan 11. Hal ini dimaksudkan agar dapat mewujudkan keadilan yang optimal dalam pembagian tersebut. maka di antara kedua bilangan tersebut adalah mutamaatsilan. ayah. Maksudnya. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Namun. berarti 4. Sedangkan mengenai bagian untuk mengalikan pokok masalah atau meng-'aul-kan dengan tujuan mentashih pokok masalah. Sedangkan menurut istilah ilmu faraid ialah setiap dua angka yang dapat dibagi angka ketiga. Untuk mengetahui secara tepat pengertian tabaayun. sehingga menurut mereka di antara kedua bilangan itu ada tadaakhul. Angka 8 dengan 20 sama-sama dapat dibagi oleh angka 4. Sedangkan menurut kalangan ulama ilmu faraid ialah setiap bilangan yang satu dengan lainnya tidak dapat membagi. untuk mewujudkan keadilan mereka berusaha mengetahui jumlah bagian yang merupakan hak setiap ahli waris. dan sang ibu juga 70 .

kemudian di-'aul-kan menjadi tujuh (7). Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. dan kita kalikan dengan pokok masalah setelah di-'aul-kan yakni angka sembilan (9). maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan bagian (9). dan bagian kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). maka setiap orang mendapat satu bagian. bagian anak perempuan 1/2 berarti enam (6) bagian.). Bagi kedua saudara perempuan seibu dua bagian. Dalam contoh tersebut kita lihat jumlah anak perempuan ada empat (4). tahulah kita bahwa contoh masalah tersebut cenderung (bernisbat) pada at-tamaatsul. Hasil dari perkalian itulah yang akhirnya menjadi pentashihan pokok masalah. kemudian di-'aul-kan menjadi sembilan (9).seperenam berarti satu bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). anak perempuan. Berarti kesesuaian pembagian tersebut tidak memerlukan pentashihan pokok masalah. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. berarti empat bagian. Sebab jumlah per kepalanya sesuai dengan jumlah yang dibagikan. Bagian suami 1/4 berarti tiga (3) bagian. seseorang wafat dan meninggalkan suami. dan kedua saudara laki-laki seibu mendapat enam bagian (9 + 12 + 6 = 27). Bagian kedelapan anak perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. Sedangkan tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tidak mendapat bagian (mahjub karena anak pewaris lebih dari dua orang. dan saudara kandung laki-laki. Setelah pentashihan. dan bagian saudara kandung laki-laki satu bagian (sisanya) sebagai 'ashabah bin nafsihi. Kita lihat dalam contoh di atas ada at-tawaafuq antara jumlah per kepala anak perempuan dengan jumlah bagian yang mereka peroleh. yakni angka enam (6). Contoh lain. seseorang wafat dan meninggalkan suami. maka tiap orang mendapat satu bagian. dan paman kandung. dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 sebagai penyempurna 2/3 berarti 2 bagian. Kemudian kita ambil separo jumlah per kepala mereka. berarti tiga (3). sebab bagian yang mesti dibagikan kepada mereka (keempat anak perempuan itu) tidak lagi memerlukan pecahan-pecahan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). ibu. Seseorang wafat dan meninggalkan delapan (8) anak perempuan. Dengan demikian. kemudian bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. yaitu dua (2). keenam saudara kandung perempuan mendapat dua belas bagian. Inilah tabelnya: 3 12 3 6 2 1 Suami 1/4 Anak perempuan 1/2 Tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) 36 9 18 6 3 71 . Seseorang wafat dan meninggalkan ibu. sedangkan bagian keenam saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). kita lihat bahwa pokok masalahnya tidak memerlukan pentashihan. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. dan sisanya (satu bagian) adalah bagian paman kandung sebagai 'ashabah. Sehingga dalam pembagiannya akan dengan pas dan mudah. Angka dua itulah yang menurut istilah ulama faraid sebagai bagian dari bagian juz'us sahm kemudian bagian dari bagian itu dikalikan dengan pokok masalah. Misal lain. dan empat saudara kandung perempuan. Contoh lain yang at-tamaatsul. sedangkan bagian keempat saudara kandung perempuan adalah dua per tiga (2/3) yang berarti empat (4) bagian. berarti 3 x 9 = 27. Bila kita perhatikan baik-baik contoh ini. dua saudara perempuan seibu. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahuya dari enam (6). dan dua orang saudara laki-laki seibu. Itulah tashih pokok masalah. setiap anak menerima satu bagian. Karena itu tidak lagi memerlukan pentashihan pokok masalah. Maka 2 x 6 = 12. Bagi keempat saudara kandung perempuan empat bagian. Dalam contoh di atas kita lihat ada tawaafuq antara jumlah bagian yang diterima para saudara kandung perempuan dengan jumlah per kepala mereka. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12. enam saudara kandung perempuan. dan bagian yang mereka peroleh juga empat. berarti dua bagian. Contoh masalah yang at-tawaafuq. tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. yaitu dua (2). penj.

kedua nenek 1/6-nya = 4. Misal lain. Tujuh anak perempuan mendapat 2/3-nya = 16. Angka itu merupakan pokok masalah setelah pentashihan. yakni 3 x 12 = 36. tujuh anak perempuan. ayah. maka angka 36 itu berarti pokok masalah hasil pentashihan. empat saudara kandung laki-laki. dua orang nenek. Inilah tabelnya: 5 27 3 16 4 4 - 24 Istri 1/8 Lima anak perempuan 2/3 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Saudara kandung laki-laki (mahjub) 135 15 80 20 20 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian kelima anak perempuan tidak bisa dibagi oleh jumlah per kepala mereka. Angka tersebut (yakni 28) merupakan juz'us sahm. Kemudian juz'us sahm tersebut kita kalikan dengan pokok masalahnya (28 x 24 = 672) hasilnya itulah yang menjadi pokok masalah setelah pentashihan.Berdasarkan tabel tersebut kita lihat antara bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki dengan jumlah per kepala mereka (yakni 2 dengan 3) ada tabaayun (perbedaan). Maka bagian masing-masing seperti berikut: pokok masalahnya dari 24. sedangkan bagian saudara kandung laki-laki mahjub (terhalang). dan saudara laki-laki seibu. seorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. dan empat saudara kandung laki-laki (sisanya) yaitu 1 sebagai 'ashabah. Contoh lain. 72 . seseorang wafat dan meninggalkan istri. Ketiga istri mendapat 1/8 = 3. dan jumlah per kepala mereka ada perbedaan (tabaayun). ayah memperoleh 1/6 berarti 4. yakni 27 x 5 = 135. lima anak perempuan. begitu juga dengan bagian keempat saudara kandung yang hanya satu bagian. sedangkan saudara seibu mahjub. karenanya kita kalikan angka 3 dengan pokok masalahnya. Untuk mentashih pokok masalah dari contoh ini. Perhatikan tabel berikut: 28 24 3 16 4 1 - 3 istri bagiannya 1/8 7 anak perempuan 2/3 2 orang nenek 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) Saudara laki-lah seibu (mahjub 672 84 448 112 28 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian anak perempuan (16) dengan jumlah per kepala mereka (7) ada perbedaan (tabaayun). Karenanya di antara keduanya ada tabaayun (perbedaan). Dan angka lima (5) itulah yang dinamakan juz'us sahm. kita kalikan jumlah per kepala anak perempuan (yakni 7) dengan jumlah per kepala saudara kandung (yakni 4). Kemudian kita kalikan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan (yakni 27) dengan jumlah per kepala mereka. kemudian di-'aul-kan menjadi 27. Bagian istri 1/8 = 3. ibu. dan ibu mendapat 1/6 yang berarti 4. dan saudara kandung lakilaki. berarti 7 x 4 = 28. kelima anak perempuan mendapat bagian 2/3 yang berarti 16. Pentashihan seperti ini dapat diterapkan dalam contoh-contoh yang lain.

anak perempuan. x x x x Tabelnya seperti berikut: 2 12 6 3 2 2 bagian istri Anak perempuan Ibu Ayah ('ashabah) 3 bagian 12 bagian 4 bagian 5 bagian 20 dinar 20 dinar 20 dinar 20 dinar Total 24 Cucu perempuan keturunan anak laki-laki Suami 1/4 Ibu 1/6 2 saudara perempuan kandung ('ashabah ma'al ghair) 1/2 1/4 1/6 1 24 12 6 4 Adapun nilai per bagian. dan ibu. Cucu perempuan mendapatkan 1/2 yang berarti 12 bagian.C. ayah. Semua peninggalan itulah yang harus dibagikan kepada ahli waris yang ada sesuai dengan hak bagian yang harus mereka terima. keturunan anak laki-laki x 40 dinar 2 Suami 6 x 40 dinar Ibu 4 x 40 dinar Dua saudara kandung perempuan 2 x 40 dinar = 480 dinar = 240 dinar = 160 dinar = 80 dinar 73 . benda. namun yang paling masyhur di kalangan ulama faraid ada dua -. kemudian kita bagi dengan angka pokok masalahnya atau tashihnya. Maka hasilnya merupakan bagian masing-masing ahli waris. Adapun nilai (harga) per bagiannya didapat dari hasil pembagi harta waris yang ada (480 dinar) dibagi pokok masalah (24). istri mendapatkan 1/8 yang berarti 3 bagian. dan ibu memperoleh 1/6 yang berarti 4 bagian. sedangkan sisanya (yakni 5 bagian) merupakan hak ayah sebagai 'ashabah. suami. Cara kedua: kita ketahui terlebih dahulu bagian setiap ahli waris secara menyeluruh. Cara pertama: kita ketahui nilai (harga) setiap bagiannya. Cucu pr. Contoh Cara Pertama Seseorang wafat dan meninggalkan istri. ibu. baik berupa harta.dalam hal yang berkenaan dengan harta yang dapat ditransfer. suami mendapatkan 1/4 yang berarti 6 bagian. bagian masing-masing ahli waris: 1 Jadi. = 60 dinar = 240 dinar = 80 dinar = 100 dinar = 480 dinar Contoh lain. 960 dinar: 24 = 40 dinar. atau tanah. Sedangkan harta waris yang ada sebanyak 960 dinar. Jadi. ibu mendapatkan 1/6 berarti 4 bagian. berarti 480: 24 = 20 dinar adalah harga per bagian. Hal ini kita lakukan dengan cara mengalikan bagian tiap-tiap ahli waris dengan jumlah (nilai) harta peninggalan yang ada. Maka hasilnya merupakan bagian dari masing-masing ahli waris. Sedangkan harta peninggalannya sebanyak 480 dinar. Jadi. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-tashikkan-kan menjadi 24. Sedangkan sisanya (dua bagian) untuk dua saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah ma'al ghair. kemudian kita kalikan dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. Pembagian Harta Peninggalan At-tarikah (peninggalan) dalam bahasa Arab bermakna seluruh jenis kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. anak perempuan 1/2 berarti 12 bagian. Untuk mengetahui pembagian harta waris kepada setiap ahlinya ada beberapa cara yang harus ditempuh.

000 dinar = 1.000 dinar. seseorang wafat dan meninggalkan suami.Total = 960 dinar Contoh lain. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian di-'aul-kan (dinaikkan) menjadi 9. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan.900 dinar.300 dinar 74 . dan nenek. berarti bagian anak perempuan 4 bagian (masing-masing satu bagian). dan sisanya dibagikan kepada enam (6) anak. Sedangkan harta peninggalan seluruhnya 9. seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. dan tiga saudara kandung laki-laki.100 dinar 3 Saudara perempuan kandung : x 1. sedangan nenek mendapat 1/6 berarti satu (1). dua saudara laki-laki seibu. Sang ayah mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian ditashih menjadi 12. dan harta peninggalannya 3.000 dinar Contoh lain.100 dinar = 3.000 dinar = 500 dinar = 500 dinar = 3. sedangkan saudara kandung laki-laki mahjub. ibu mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian. saudara kandung perempuan 1/2 berarti 3. dua saudara laki-laki seibu memperoleh 1/3 berarti 2.100 dinar : Jadi. Perhatikan tabel berikut: 6 Suami Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seibu Nenek 1/2 1/2 1/3 1/6 9 3 3 2 1 Adapun nilai per bagiannya adalah 9.900: 9 = 1. Suami x 1. ibu.300 dinar = 3. Suami mendapat 1/2 yang berarti 3. dua anak laki-laki.000:12 = 250 dinar : Jadi bagian 4 anak perempuan 4 : dua anak laki-laki 4 : ibu 2 : ayah 2 x 250 dinar x 250 dinar x 250 dinar x 250 dinar Total = 1. saudara kandung perempuan. ayah. sedangkan bagian anak laki-laki juga 4 bagian (masing-masing 2 bagian). Simak tabel berikut: 2 6 4 3 1 1 - Empat anak perempuan Dua anak laki-laki Ayah Ibu Tiga saudara kandung laki-laki (mahjub) 1/6 1/6 - 12 4 4 2 2 Adapun nilai per bagiannya adalah 3.

dan dua anak perempuan 2/3 (berarti 8 bagian). dua anak perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung.100 dinar = 2. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) 1 2 4 6 2 x 240:24 dinar x 240:24 dinar x 240:24 dinar x 240:24 dinar 1/2 1/6 1/4 24 12 4 6 2 . ibu. 3 cucu perempuan keturunan anak lakilaki.200 dinar = 2. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapatkan 1/2 (berarti 12 bagian). Suami Ibu Dua anak perempuan : 3 : 2 : 8 x 585:13 dinar x 585:13 dinar x 585:13 dinar Total = 135 dinar = 90 dinar = 360 dinar 585 dinar Contoh lain.100 dinar x 1. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). Sedangkan kedudukan para cucu dalam hal ini sebagai 'ashabah. suami.Dua saudara laki-laki seibu Nenek 3 : 2 : 1 x 1. Suami mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). 12 6 2 3 1 = 120 dinar = 40 dinar = 60 dinar = 20 dinar 75 Cucu pr.000 dinar Bila seseorang wafat dan meninggalkan suami. ket. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) Cucu pr. sehingga mereka tidak memperoleh bagian karena harta waris telah habis dibagikan kepada ashhabul furudh. Perhatikan tabel berikut: 12 13 Suami 1/4 3 Ibu 1/6 2 Dua anak perempuan 2/3 8 Tiga cucu perempuan 'ashabah Dua cucu perempuan Jad i.200 dinar Total = 9. sedangkan harta warisnya berjumlah 240 dinar. ket. satu cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. suami mendapatkan 1/4 (berarti 6 bagian). maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 13. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. sedangkan harta yang ditinggalkan sejumlah 585 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian ditashih menjadi 24. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). ibu. dan dua saudara kandung 2 bagian sebagai 'ashabah.

mahjub. ibu mendapatkan 1/6 (berarti satu bagian). seibu Masalah Dinariyah al-Kubra Adapun masalah ad-dinariyah al-kubra memiliki pengertian bahwa ahli waris yang ada sebagian terdiri dari ashhabul furudh dan sebagian lagi dari 'ashabah. seseorang wafat meninggalkan istri. dan empat (4) saudara perempuan seibu. dan sisanya --dua bagian-. ('ashabah) Saudara perempuan seayah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 24 kemudian setelah ditashih menjadi 600. yakni istilah ad-dinariyah ash-shughra dan ad-dinariyah al-kubra. saudara laki-laki seayah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6. dan sebagian lagi ada yang mendapatkan lebih dari itu. seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Dua saudara laki-laki seayah (mahjub) Masalah Dinariyah ash-Shughra Ada dua masalah yang dikenal oleh kalangan ulama faraid. dan seorang saudara kandung perempuan. Harta peninggalannya: 17 dinar. Sedangkan ahli waris yang lain ter. sedangkan keempat saudara perempuan seibu mendapatkan 1/3 (berarti 4 bagian). Contoh masalah ini sebagai berikut: misalnya.menjadi hak kedua saudara perempuan kandung sebagai 'ashabah. dengan demikian masing-masing mendapat satu dinar. Masing-masing ahli waris di antara mereka ada yang hanya mendapatkan bagian satu (1) dinar. dua (2) orang nenek. pr. Hal seperti ini di kalangan ulama faraid disebut ad-dinariyah al-kubra. pr. ibu. seseorang wafat dan meninggalkan tiga (3) orang istri. cucu perempuan 1/2 (berarti 3 bagian). Tiga orang istri mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). Istri 76 . kedelapan saudara perempuan seayah mendapatkan 2/3 (berarti 8 bagian). Berikut ini tabelnya: 12 1/ 4 1/ 6 2/ 3 1/ 3 17 3 2 8 4 masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar 1/6 1/2 6 1 3 2 - Total Ke-3 istri Kedua nenek Ke-8 sdr. dua orang nenek mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). Contoh masalahnya. delapan (8) saudara perempuan seayah. anak laki-laki Dua saudara kandung pr. jumlah bagian seluruh ahli warisnya pun 17. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Sedangkan harta peninggalan sebanyak 1. Maka kasus seperti ini disebut ad-dinariyah ashshughra. dua anak perempuan.= 240 dinar Misal lain. Jumlah harta peninggalannya ada 17 dinar.500 dinar. Ad-dinariyah ash-shughra memiliki pengertian seluruh ahli warisnya terdiri atas kaum wanita. saudara perempuan seayah. sebagian ada yang mendapatkan dua (2) dinar. seayah Ke-4 sdr. Inilah tabelnya: Ibu Cucu pr. dua belas saudara kandung laki-laki. dua saudara kandung perempuan. ket. Adapun pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 17. dan setiap ahli waris hanya menerima satu dinar. Sedangkan harta peninggalannya 600 dinar.

mendapatkan 1/8 (berarti 3 bagian), ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian), kedua anak perempuan memperoleh 2/3 (16 bagian), dan sisanya satu (1) bagian merupakan bagian ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah. Jadi, bagian Istri Ibu Kedua perempuan : 3 : 4 : anak 1 6 x 600:24 dinar x 600:24 dinar x 600:24 dinar = 75 dinar = 100 dinar = 400 dinar

Total = 575 dinar Sedangkan ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan mendapat sisanya, yakni 25 dinar sebagai 'ashabah, dengan ketentuan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Dengan demikian, yang 24 dinar dibagikan kepada ke-12 saudara kandung laki-laki dan masing-masing mendapat dua (2) dinar, dan yang satu (1) dinar bagian saudara kandung perempuan. Berikut ini tabelnya: 25 24 3 4 16 600 75 100 100 24 1

Istri 1/8 Ibu 1/6 Kedua anak perempuan 2/3 12 saudara kandung laki-laki 1 1 saudara kandung perempuan ('ashabah) Masalah ad-dinariyah al-kubra ini pernah terjadi pada zaman al-Qadhi Syuraih (seseorang mengajukan masalah kepadanya). Akhirnya Syuraih memvonis dengan memberikan hak saudara kandung perempuan pewaris hanya satu (1) dinar. Tetapi, wanita tersebut kemudian mengadukan hal itu kepada Imam Ali bin Abi Thalib r.a. yang menyebutkan bahwa Syuraih telah menzhaliminya, mengurangi hak warisnya hingga memberinya satu dinar dari peninggalan saudaranya yang 600 dinar itu. Kendatipun wanita tersebut tidak menyebutkan seluruh ahli waris yang berhak menerima warisan, namun dengan ketajaman dan keluasan ilmunya, Ali bin Abi Thalib bertanya, "Barangkali saudaramu yang wafat itu meninggalkan istri, dua anak perempuan, ibu, 12 saudara kandung laki-laki, dan kemudian engkau?" Wanita tersebut menjawab, "Ya, benar." Ali berkata, "Itulah hakmu tidak lebih dan tidak kurang." Kemudian Ali bin Abi Thalib r.a. memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa hakim Syuraih telah berlaku adil dan benar dalam memvonis perkara yang diajukannya. Wallahu a'lam bish shawab.

77

IX. HUKUM MUNASAKHAT A. Definisi Munasakhat Al-munasakhat dalam bahasa Arab berarti 'memindahkan' dan 'menghilangkan', misalnya dalam kalimat nasakhtu alkitaba yang bermakna 'saya menukil (memindahkan) kepada lembaran lain'; nasakhat asy-syamsu ash-zhilla yang berarti 'sinar matahari menghilangkan bayang-bayang'. Makna yang pertama --yakni memindahkan/menukil-- sesuai dengan firman Allah SWT berikut: "... Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." (al-Jatsiyah: 29) Sedangkan makna yang kedua sesuai dengan firman berikut: "Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?" (al-Baqarah: 106) Adapun pengertian al-munasakhat menurut istilah ulama faraid ialah meninggalnya sebagian ahli waris sebelum pembagian harta waris sehingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya yang lain. Bila salah seorang ahli waris meninggal, sedangkan ia belum menerima hak warisnya (karena memang belum dibagikan), maka hak warisnya berpindah kepada ahli warisnya. Karenanya di sini akan timbul suatu masalah yang oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan al-jami'ah. Al-munasakhat mempunyai tiga macam keadaan: Keadaan pertama: sosok ahli waris yang kedua adalah mereka yang juga merupakan sosok ahli waris yang pertama. Dalam kasus seperti ini masalahnya tidak berubah, dan cara pembagian warisnya pun tidak berbeda. Misalnya, ada seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak. Kemudian salah seorang dari kelima anak itu ada yang meninggal, tetapi yang meninggal itu tidak mempunyai ahli waris kecuali saudaranya yang empat orang, maka seluruh harta waris yang ada hanya dibagikan kepada keempat anak yang tersisa, seolah-olah ahli waris yang meninggal itu tidak ada dari awalnya. Keadaan kedua: para ahli waris dari pewaris yang kedua adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama, namun ada perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab mereka terhadap pewaris. Misalnya, seseorang mempunyai dua orang istri. Dari istri yang pertama mempunyai keturunan seorang anak laki-laki. Sedangkan dari istri kedua mempunyai keturunan tiga anak perempuan. Ketika sang suami meninggal, berarti ia meningalkan dua orang istri dan empat anak (satu laki-laki dan tiga perempuan). Kemudian, salah seorang anak perempuan itu meninggal sebelum harta waris peninggalan ayahnya dibagikan. Maka ahli waris anak perempuan ini adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama (ayah). Namun, dalam kedua keadaan itu terdapat perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab kepada pewaris. Pada keadaan yang pertama (meninggalnya ayah), anak laki-laki menduduki posisi sebagai anak. Tetapi dalam keadaan yang kedua (meninggalnya anak perempuan), anak laki-laki terhadap yang meninggal berarti merupakan saudara laki-laki seayah, dan yang perempuan sebagai saudara kandung perempuan. Jadi, dalam hal ini pembagiannya akan berbeda, dan mengharuskan kita untuk mengamalkan suatu cara yang disebut oleh kalangan ulama faraid sebagai masalah al-jami'ah. Keadaan ketiga: para ahli waris dari pewaris kedua bukan ahli waris dari pewaris pertama. Atau sebagian ahli warisnya termasuk sosok yang berhak untuk menerima waris dari dua arah, yakni dari pewaris pertama dan dari pewaris kedua. Dalam hal seperti ini kita juga harus melakukan teori al-jama'iyah, sebab pembagian bagi tiap-tiap ahli waris yang ada berbeda dan berlainan.

B. Rincian Amaliah al-Munasakhat Sebelum kita melakukan rincian tentang amaliah al-munasakhat, kita terlebih dahulu harus melakokan langkahlangkah berikut:
78

1. Mentashihkan masalah pewaris yang pertama dengan memberikan hak waris kepada setiap ahlinya, termasuk
hak ahli waris yang meninggal.

2. Merinci masalah baru, khususnya yang berkenaan dengan kematian pewaris kedua, tanpa mempedulikan
masalah pertama. 3. Membandingkan antara bagian pewaris kedua dalam masalah pertama, dengan pentashihan masalah dan para ahli warisnya dalam masalah kedua. 4. Perbandingan antara keduanya itu dalam kecenderungannya terhadap ketiga nisbat, yaitu al-mumatsalah, almuwafaqah, dan al-mubayanah. Bila antara keduanya --yakni antara bagian pewaris yang kedua dan masalah ahli warisnya yang lain-- ada mumatsalah (kesamaan), maka dibenarkan kedua masalah hanya dengan tashih yang pertama (lihat tabel). Sebagai contoh, seseorang wafat dan meninggalkan tiga anak perempuan, dua saudara kandung perempuan, dan seorang saudara kandung laki-laki. Kemudian salah seorang saudara kandung perempuan itu meninggal. Berarti ia meninggalkan seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari tiga (3). Ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (2 bagian). Dan sisanya (satu bagian) merupakan hak para 'ashabah (yakni dua saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung lakilaki). Kemudian kita lihat jumlah per kepalanya ada tabayun (perbedaan), maka 3 x 4 = 12. Kemudian angka ini kita kaLikan dengan pokok masalahnya, berarti 3 x 12 = 36. Bilangan inilah yang kemudian menjadi pokok masalah hasil pentashihan. Jadi, pembagiannya seperti berikut: ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (24 bagian), dan sisanya (12 bagian) dibagikan untuk dua orang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki, dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian anak perempuan, jadi setiap saudara kandung perempuan mendapat tiga (3) bagian, dan saudara laki-laki kandung enam (6) bagian. Kemudian, kita lihat antara bagian pewaris kedua (yaitu 3) dengan pokok masalahnya (juga dari 3) ada kesamaan (tamatsul). Karena itu, al-jami'ah di sini sama dengan hasil pentashihan pada masalah yang pertama (yakni dari 36). Kemudian, hak waris/bagian saudara kandung perempuan yang meninggal (3 bagian) hanya dibagikan kepada ahli waris, yaitu seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Kemudian, hasil pembagian itu ditambahkan pada hasil bagian mereka yang pertama. Maka, bagian saudara kandung perempuan menjadi empat (4): tiga (3) bagian --yang diperolehnya dari masalah pertama-- ditambah dengan bagian yang berasal dari saudara kandung perempuan yang meninggal, yaitu satu (1) bagian (3 + 1 = 4). Sedangkan saudara kandung laki-laki mendapatkan dua (2) bagian, yang kemudian ditambahkan dengan perolehannya dari peninggalan pada masalah pertama, yaitu enam (6) bagian. Maka saudara laki-laki kandung memperoleh delapan (8) bagian. Adapun tiga anak perempuan pewaris pertama, dalam masalah kedua ini tidak mendapatkan hak waris, disebabkan kedudukannya hanyalah sebagai keponakan pewaris kedua, yakni anak perempuan dari saudara laki-laki pewaris kedua. Karena itu, mereka mahjub. Berikut ini saya sertakan tabelnya: Jumlah kepala 12 3 anak pr. 2/3 Sdr. kandung pr. Sdr. kandung pr. Sdr. kandung lk. Tashih masalah ke I 3 2 3 1 6 36 24 3 meninggal Sdr. kandung pr. Sdr. kandung lk. al-Jami'ah 3 1 2 36 24 3+1=4 6+2=8

Contoh lain, seseorang wafat dan meninggalkan istri, ayah, ibu, cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Kemudian cucu tersebut meninggal dengan meninggalkan suami, ibu, tiga anak perempuan, dan dua anak laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut:

79

keturunan anak lk. cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/2 (12 bagian). dan ini merupakan juz'us sahm (bagian dari bagian hak waris). Maka hasil dari perkalian itu (yakni 15 x 13 = 195) merupakan al-jami'ah (penyatuan) antara dua masalah. karenanya kita kalikan pokok masalah pertama (yakni 15) dengan pokok masalah yang kedua (yakni 13). Kandung perempuan (2/3) Ibu 1/6 12 meninggal 39 26 26 10 4 18 6 80 . yaitu dua puluh empat (24). Kemudian. Kemudian. yang berarti bagian pewaris kedua hanya dibagikan kepada ahli warisnya. Jumlah semuanya adalah dua puluh empat (24) bagian. Oleh sebab itu. Suami mendapatkan seperempat (1/4) berarti tiga bagian. dan saudara laki-laki seibu. kaidah yang berlaku di kalangan ulama faraid adalah kita menjadikan pokok masalah pertama sebagai al-jami'ah. antara masalah yang pertama dengan masalah yang kedua ada mubayanah (perbedaan). kita tidak lagi membuat al-jami'ah yang baru. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua belas (12) kemudian di-'aul-kan menjadi lima belas (15). ibu 1/6 (4 bagian). 1/2 Suami 1/4 meninggal Contoh yang memiliki kasus al-mubayanah: seseorang wafat dan meninggalkan suami. ibu. Untuk lebih meyakinkan kebenaran masalah kedua ini. dan dua anak perempuan. berarti dua bagian. istri. berarti 3 x 13 = 39. yang mendapat tiga bagian) di atas pokok masalah kedua. Dalam keadaan demikian. Lalu kita tempatkan bagian pewaris yang kedua (suami. kita lihat al-jami'ah dalam masalah ini sama dengan pokok masalah pertama. Kemudian suami wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. Lihat tabel berikut: 13 15 3 2 2 8 3 13 6 2 12 Suami 1/4 Ayah 1/6 Ibu 1/6 2 anakperempuan (2/3) Sdr. Jumlahnya lima belas (15) bagian. Juz'us sahm ini kemudian kita kalikan dengan bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. Maka angka 39 ini merupakan jumlah bagian seluruh ahli waris dalam masalah kedua. sedangkan sisanya (lima bagian) merupakan bagian ayah sebagai jumlah 'ashabah. ibu.Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). kita lihat hasil perkaliannya: perkalian antara juz'us sahm yaitu tiga (3) dengan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan. Hal ini karena kita dapati bagian pewaris kedua (cucu perempuan keturunan anak laki-laki) dalam masalah pertama ada tamatsul (kesamaan) dengan pokok masalah yang kedua. tetapi cukup menjadikan al-jami'ah yang pertama itu berlaku pada masalah kedua. Ayah mendapatkan seperenam (1/6) berarti dua bagian. Kemudian dua anak perempuan mendapatkan dua per tiga (2/3) berarti delapan (8) bagian. maka akan merupakan hasil bagian ahli waris dari al-jami'ah (penyatuan dari dua masalah). Sedangkan pokok masalah yang kedua dari dua belas (12) yang di-'aul-kan menjadi tiga belas (13). Berikut ini tabelnya: Pokok Masalah I 24 3 4 5 Pokok Masalah II 12 12 3 al-Jami'ah 24 3 4 5 3 Istri 1/8 Ibu 1/6 Ayah ('ashabah) Cucu pr. Istri mendapatkan 1/4 (3 bagian). ayah. begitu juga dengan bagian ibu yakni seperenam (1/6).

Numadhir binti al-Asbagh. 2/3 2 sdr. seseorang wafat meninggalkan suami. salah seorang istrinya.ialah seratus ribu dirham. Dan hasilnya dinamakan al-jami'ah kedua. dan ibu. Ketika ia wafat. Perhatikan tabel berikut: 2 6 Suami 1/2 Sdr. Misalnya. 81 . adalah seorang sahabat yang mempunyai empat orang istri. laki-laki seibu 1/6 3 2 9 6 Catatan Kemungkinan besar dapat pula terjadi adanya al-jami'ah lebih dari satu. saudara seibu 1/3 3 1 2 3 1 1 1 meninggal 2 4 3 1 1 1 meninggal 1 4 2 7 7 7 3 1 2 6 1 6 7 1 2 3 6 7 1 4 2 8 8 8 4 C. seibu 1/6 Paman ('ashabah) Anak perempuan 1/2 Cucu pr. lk. Untuk menjelaskan hal ini perlu kiranya saya kemukakan contoh tentang bentuk al-jami'ah yang lebih dari satu ini. dan bagian itu diberikan kepada ahli waris yang lain. Kasus seperti ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah "pengunduran diri" atau "menggugurkan diri dari hak warisnya". dalam suatu keadaan pembagian waris salah seorang ahli warisnya wafat sebelum pembagian. Dalam hal ini dia hanya meminta imbalan berupa sejumlah uang atau barang tertentu dari salah seorang ahli waris lainnya ataupun dari harta peninggalan yang ada.Istri 1/4 Sdr. Hal ini dalam syariat Islam dibenarkan dan diperbolehkan. Jumlah yang diambilnya --sebagaimana disebutkan dalam riwayat-. menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil hak waris sekadar seperempat dari seperdelapan yang menjadi haknya. dua saudara kandung perempuan. Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf r. kemudian ada lagi yang meninggal. dan tashih ketiga pada posisi kedua.pr. Maka jika terjadi hal seperti ini. kandung pr. saudara perempuan seibu. Kemudian anak perempuan juga meninggal. takni kita tempatkan tashih kedua pada posisi pertama. atau siapa saja yang ditunjuknya. Misalnya. At-Takharuj min at-Tarikah Yang dimaksud dengan at-takharuj min at-tarikah ialah pengunduran diri seorang ahli waris dari hak yang dimilikinya untuk mendapatkan bagian (secara syar'i).a. Kemudian suami wafat dan meninggalkan anak perempuan. ayah. dan seterusnya. dan dua saudara laki-laki seibu. 1/6 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Nenek 1/6 2 sdr. dan seterusnya. dan meninggalkan nenek. Syariat Islam juga memperbolehkan apabila salah seorang ahli waris menyatakan diri tidak akan mengambil hak warisnya. kita tetap harus menempuh cara seperti yang telah kita tempuh dalam almunasakhat. al-jami'ah ketiga. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dan seterusnya. dan paman kandung (saudara ayah).

000: 21 = 2. anak perempuan.000 Bagian anak perempuan adalah 12 x 2.000.3 = 21) merupakan pokok masalah bagi hak ayah dan anak perempuan.000. dan menggugurkan haknya untuk menerima bagian dari harta yang berjumlah Rp 42 juta itu.000 Cara kedua: apabila salah seorang ahli waris menyerahkan atau menggugurkan hakuya lalu memberikannya kepada salah seorang ahli waris lainnya.000 Bagian ayah 9 x 2.Tata Cara Pelaksanaannya Apabila salah seorang ahli waris ada yang menyatakan mengundurkan diri. pokok masalahnya dari delapan. Kemudian sebagai misal.000 = 42.000.000. dan sisanya --yakni tujuh bagian-adalah bagian anak perempuan. kemudian kita hilangkan (ambil) hak istri. Lalu sisanya (yakni 24 . Dalam keadaan demikian. kemudian keluarkanlah bagian ahli waris yang mengundurkan diri.000. dan setelah ditashih menjadi empat puluh. Dengan demikian. dan bagian setiap anak laki-laki empat belas (14) bagian. 82 .000 Total = 24. ia menyatakannya kepada seluruh ahli waris yang ada. ia hanya memberitahukannya kepada salah seorang dari ahli waris yang ditunjuknya dan bersepakat bersama.000. dan dua anak laki-laki. Perhatikan tabel berikut: Pokok masalah 8 Isteri 1/8 Anak laki laki ('ashabah) Anak laki laki ('ashabah) Anak perempuan ('ashabah) Tashih 40 5 14 14 7 40 5 14 14+14 - 1 7 Maka. Lalu jumlah bagian kedua ahli waris itulah yang menjadi pokok masalahnya. Sebagai contoh. dan istri. yakni seperdelapan dari dua puluh empat. maka pembagiannya hanya dengan cara melimpahkan bagian hak ahli waris yang mengundurkan diri itu kepada bagian orang yang diberi.000 + 18. maka warisan harta tersebut hanya dibagikan kepada anak perempuan dan ayah. Misalnya. seorang anak perempuan. sedangkan bagian anak perempuan dilimpahkan kepada salah seorang saudara laki-laki yang diberinya hak bagian. dan uang sebanyak Rp 42 juta. Cara pertama: kenalilah pokok masalahnya.000. seseorang wafat dan meninggalkan seorang isteri. sehingga seolah-olah ia telah menerima bagiannya. dan cara kedua. Pertama. Kemudian istri menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil rumah. dan sisanya dibagikan kepada ahli waris yang ada. dengan imbalan sesuatu yang telah disepakati oleh keduanya. hak anak perempuan itu diberikan kepada salah seorang saudara lakilakinya yang ia tunjuk sebelumnya. pewaris meninggalkan sebuah rumah.000 = 24. maka ada dua cara yang dapat menjadi pilihannya. berarti tiga (3) saham. Rincian pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). warisan itu hanya dibagikan kepada istri dan kedua anak laki-laki. Maka jumlah sisa bagian yang ada itulah pokok masalahnya. seseorang wafat dan meninggalkan ayah. Kemudian dari pokok masalah itu dibagikan untuk hak ayah dan anak perempuan. Istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti lima (5) bagian. Kemudian anak perempuan itu menggugurkan haknya dan memberikannya kepada salah seorang dari saudara laki-lakinya.000. atau menyatakan hanya akan mengambil sebagian saja dari hak warisnya. Kemudian.000 = 18. hasilnya seperti berikut: Nilai per bagian adalah 42. Maka.000.

Allah berfirman: ".a. dzawil arham adalah ahli waris yang mempunyai tali kekerabatan dengan pewaris. baik dalam Al-Qur'an ataupun Sunnah. baik datangnya dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. keponakan laki-laki dari saudara perempuan. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham Para imam mujtahid berbeda pendapat dalam masalah hak waris dzawil arham. tidak dibenarkan jika harta tersebut diberikan kepada dzawil arham. dalam sebagian riwayat darinya. dan bukan pula termasuk dari para 'ashabah. B. dan Ibnu Abbas r.X.. dzawil arham adalah mereka yang bukan termasuk ashhabul furudh dan bukan pula 'ashabah. Juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal rahimahumullah. lafazh rahim tersebut umum digunakan dengan makna 'kerabat'. maka seketika itu dilimpahkan kepada baitulmal kaum muslim untuk disalurkan demi kepentingan masyarakat Islam pada umumnya. sebab mereka memiliki kekerabatan dengan pewaris. Pengertian ini tentu saja disandarkan karena adanya rahim yang menyatukan asal mereka. dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Ibnu Mas'ud. Di antara mereka yang berpendapat demikian ialah Zaid bin Tsabit r. cucu laki-laki dari anak perempuan. Kedua: golongan kedua ini berpendapat bahwa dzawil arham (kerabat) berhak mendapat waris. Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh Imam Malik dan Syafi'i (golongan pertama) ialah: 83 . HAK WARIS DZAWIL ARHAM A. Dengan demikian. Definisi Dzawil Arham Arham adalah bentuk jamak dari kata rahmun. bila tidak ada ashhabul furudh. dan lainnya) Adapun lafazh dzawil arham yang dimaksud dalam istilah fuqaha adalah kerabat pewaris yang tidak mempunyai bagian/hak waris yang tertentu. paman (saudara laki-laki ibu). Lebih jauh mereka mengatakan bahwa bila harta waris tidak ada ashhabul furudh atau 'ashabah yang mengambilnya. Muslim. ataupun 'ashabah yang menerima harta pewaris. Karena itu mereka lebih diutamakan untuk menerima harta tersebut daripada baitulmal.a. maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi (HR Bukhari. Kemudian dikembangkan menjadi 'kerabat'.. dan sebagainya. Lebih jauh golongan kedua ini mengatakan bahwa dzawil arham adalah lebih berhak untuk menerima harta waris dibandingkan lainnya. Pendapat ini merupakan jumhur ulama. Jadi. Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama: golongan ini berpendapat bahwa dzawil arham atau para kerabat tidak berhak mendapat waris. Dengan demikian. baik dalam bahasa Arab ataupun dalam istilah syariat Islam.. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. bersabda: "Barangsiapa yang berkehendak untuk dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya. namun mereka tidak mewarisinya secara ashhabul furudh dan tidak pula secara 'ashabah. di antaranya Umar bin Khathab. dan Ali bin Abi Thalib. Maksudnya. Misalnya. yang asalnya dalam bahasa Arab berarti 'tempat pembentukan/menyimpan janin dalam perut ibu'. bibi (saudara perempuan ayah atau ibu). dan juga merupakan pendapat dua imam. sama halnya dengan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain. " (an-Nisa': 1) "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muhammad: 22) Rasulullah saw. yaitu Malik dan Syafi'i rahimahumullah.

bila diserahkan kepada kerabatnya.bila diserahkan ke baitulmal akan dapat mewujudkan kemaslahatan umum. Harta peninggalan. menjawab: "Sesungguhnya Jibril telah memberitahukan kepadaku bahwa dari keduanya tidak ada hak menerima waris sedikit pun. Dan dalam hal ini tidak ada satu pun nash yang pasti dan kuat yang menyatakan wajibnya dzawil arham untuk mendapat waris. maka yang dapat saling mewarisi hanyalah antara sesama kerabat (dzawil arham). para ''ashabah. dan logika. Memang sangat jelas betapa dekatnya kekerabatan saudara perempuan ayah ataupun saudara perempuan ibu dibandingkan kerabat lainnya.. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. yakni Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Adapun golongan kedua.. dan hanya kalangan mereka saja yang merasakannya. Jadi.beliau saw. para 'ashabah. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan." (an-Nisa': 7) Melalui ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa kaum laki-laki dan wanita mempunyai hak untuk menerima warisan yang ditinggalkan kerabatnya. Hal seperti ini menurut syariat Islam adalah batil. Seperti yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan dzawil arham adalah para kerabat. Rasulullah saw. atas dasar inilah maka para kerabat pewaris lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang baitulmal. baik sedikit ataupun banyak. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dan harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Padahal dalam kaidah ushul fiqih telah ditegaskan bahwa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan daripada kemaslahatan pribadi." 2. Namun sebaliknya. para kerabatlah yang paling berhak untuk menerima harta peninggalan seorang pewaris. tidak mungkin dan tidak dibenarkan bila kita memberikan hak waris kepada kerabat lain. Hal ini juga berdasarkan firman-Nya yang lain: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. maka tidak pula kepada kerabat yang lain. As-Sunnah. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah: ". bila ternyata tidak ada ahli warisnya secara sah dan benar --baik dari ashhabul furudh-nya ataupun para 'ashabahnya-.1.merekalah yang lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang yang bukan kerabat. Dengan demikian. Maka jika keduanya tidak berhak untuk menerima harta waris. baik ashhabul furudh. lafazh arham yang berarti kerabat adalah umum. Atas dasar inilah maka baitulmal lebih diutamakan untuk menyimpan harta waris yang tidak ada ashhabul furudh dan 'ashabahnya ketimbang para kerabat. maka berikanlah harta waris itu kepada kerabatnya dan janganlah mendahulukan yang lain. atau selain dari keduanya-. menyatakan bahwa dzawil arham atau para kerabat berhak mendapatkan waris. Pendek kata. 84 . Di sini. tidak memberikan hak waris kepada para bibi. Bila pewaris mempunyai kerabat dan kebetulan ia meninggalkan harta waris. Ayat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa yang disebut kerabat --siapa pun mereka. Asal pemberian hak waris atau asal penerimaan hak waris adalah dengan adanya nash syar'i dan qath'i dari AlQur'an atau Sunnah. sedangkan bibi tidak mendapatkannya. Hal demikian dalam dunia fiqih dikenal dengan istilah tarjih bilaa murajjih yang berarti batil. 3. sebab umat Islam akan ikut merasakan faedah dan kegunaannya. mereka (dzawil arham) berhak untuk menerima warisan. kerabat lain pun demikian. Dengan dasar ini dapat dipetik pengertian bahwa karena Rasulullah saw. mereka mendasari pendapatnya itu dengan Al-Qur'an. 2." (al-Anfal: 75) Makna yang mendasar dari dalil ini ialah bahwa Allah SWT telah menyatakan atau bahkan menegaskan dalam KitabNya bahwa para kerabat lebih berhak untuk mendapatkan atau menerima hak waris daripada yang lain. Dengan turunnya ayat ini. Oleh karena itu. Kemudian sebagaimana dinyatakan oleh mayoritas ulama bahwa ayat di atas me-mansukh (menghapus) kebiasaan pada awal munculnya Islam. serta selain keduanya. bila kita memberikan hak waris kepada mereka (dzawil arham) berarti kita memberikan hak waris tanpa dilandasi dalil pasti dan kuat. Sebab. makna kata itu mencakup kerabat yang mempunyai hubungan rahim atau lebih umumnya hubungan darah. termasuk ashhabul furudh. maka kegunaan dan faedahnya akan sangat minim. pada masa itu kaum muslimin saling mewarisi disebabkan menolong dan hijrah. ketika ditanya tentang hak waris bibi --baik dari garis ayah maupun dari ibu-. Jadi.

ikatan dari dua arah sudah barang tentu akan lebih kuat dibandingkan ikatan satu arah. dan imam mujtahidin. untuk memberikan kepada paman Sahal tersebut. kelompok pertama berpendapat lebih mengutamakan baitulmal ketimbang kerabat. Kemudian Rasul pun memberikan harta warisan peninggalan Tsabit kepada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir. Umar menanggapi masalah itu dan memerintahkan kepada Abu Ubaidah untuk memberikan harta peninggalan Sahal kepada pamannya. kelompok kedua (jumhur ulama) ini menyanggah dalil yang dikemukakan oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i bahwa hadits itu kemungkinannya ada sebelum turunnya ayat di atas. Umar bin Khathab r. Tidak ada jawaban lain untuk pertanyaan seperti itu kecuali: "telah lama tiada". Setelah membandingkan kedua pendapat itu. kita dapat menyimpulkan bahwa pendapat jumhur ulama (kelompok kedua) lebih rajih (kuat dan akurat). ikatannya dari dua arah. juga tampak lebih adil apalagi jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan dewasa ini. baitulmal harus terjamin pengelolaannya. dari ayah dan dari ibu.a adalah seorang khalifah Islam yang dikenal sangat mengu tamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Di samping dalil yang mereka kemukakan lebih kuat dan akurat. "Apakah engkau mengetahui nasab orang ini?" Qais menjawab. Kalaulah baitulmal lebih berhak untuk menampung harta peninggalan pewaris yang tidak mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh dan 'ashabah-nya. Jadi. Sebagai contoh. Oleh sebab itu. yang bukan dari ashhabul furudh dan bukan pula termasuk 'ashabah. Sedangkan Sahal tidak mempunyai kerabat kecuali hanya paman. Adapun dalil logikanya seperti berikut: sesungguhnya para kerabat jauh lebih berhak untuk menerima harta warisan daripada baitulmal. Karena sesungguhnya aku telah mendengar bahwa Rasulullah saw. Terlebih lagi pada masa kita sekarang ini. dan amanah. dalam hal ini ia mempunyai dua ikatan: ikatan Islam dan ikatan rahim. Ketika Tsabit bin ad-Dahjah meninggal dunia. dan tepat guna dalam menyalurkan harta baitulmal. Inilah usaha untuk menyatukan dua hadits yang sepintas bertentangan. adil dalam memberi kepada setiap yang berhak. Keponakan laki-laki dari anak saudara perempuan tidak lain hanyalah merupakan kerabat. sementara di sisi lain mereka mensyaratkan keberadaan baitulmal dengan persyaratan khusus. sedangkan saudara seayah hanya dari ayah. Sebab. akan hak waris kepada dzawil arham menunjukkan dengan tegas dan pasti bahwa para kerabat berhak menerima harta waris bila ternyata pewaris tidak mempunyai ashhabul furudh yang berhak untuk menerimanya atau para 'ashabah. yaitu ikatan Islam --karena pewaris seorang muslim. dalam riwayat ini dikisahkan. Di antaranya.jawaban Rasulullah saw. ketika musuh-musuh Islam berhasil memutus kelangsungan hidup khilafah Islam dengan memporakporandakan 85 . dimanakah adanya baitulmal yang demikian. Permasalahan ini sama seperti dalam kasus adanya saudara kandung laki-laki dengan saudara laki-laki seayah dalam suatu keadaan pembagian harta waris. "Yang kami ketahui orang itu dikenal sebagai asing nasabnya. maka Rasulullah saw. yaitu Abu Lubabah bin Abdul Mundir. Berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris.merupakan dalil yang kuat bahwa kerabat lebih berhak menerima harta waris peninggalan pewaris ketimbang baitulmal. Alasannya. dan kami tidak mengetahui kerabatnya.a.a. Abu Ubaidah menceritakan bahwa Sahal bin Hunaif telah meninggal karena terkena anak panah yang dilepaskan seseorang.Adapun dalil dari Sunnah Nabawiyah adalah seperti yang diberitakan dalam sebuah riwayat masyhur. adil. bertanya kepada Qais bin Ashim. Maka muncul pertanyaan. yang dalam hal ini seluruh harta waris menjadi hak saudara kandung laki-laki. yakni saudara laki-laki ibunya.--. karena memang merupakan pendapat mayoritas sahabat. bersabda: "(Saudara laki-laki ibu) berhak menerima waris bagi mayit yang tidak mempunyai keturunan atau kerabat yang berhak untuk menerimanya. Dan hal ini terbukti seperti yang banyak dikisahkan dalam kitab-kitab tarikh. khususnya pada masa kita sekarang ini. Atau. bahwa suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mengajukan persoalan kepada Umar. maka Umar bin Khathab pasti tidak akan memerintahkan kepada Abu Ubaidah Ibnul Jarrah r." Atsar ini --yang di dalamnya Umar al-Faruq memberitakan sabda Rasulullah saw. tentang hak waris bibi ketika itu disebabkan ada ashhabul furudh atau ada 'ashabah-nya. mungkin juga bahwa bibi (baik dari ayah atau ibu) tidak berhak mendapat waris ketika berbarengan dengan ashhabul furudh atau para 'ashabah. kecuali hanya anak laki-laki dari saudara perempuannya. tabi'in. Sebab. Di samping itu. karena ikatan antara baitulmal dan pewaris hanya dari satu arah. Dalam suatu atsar diriwayatkan dari Umar bin Khathab r. yang jelas --jika melihat konteks hadits yang pernah dikemukakan-. Dengan pemberian Rasulullah saw.

1/2. dan keponakan perempuan keturunan saudara laki-laki seayah. namun kesemuanya tidak mempunyai imam. dan keponakan laki-laki keturunan saudara laki-laki seibu. sedangkan saudara laki-laki seayah tidak mendapat bagian (mahjub) disebabkan saudara kandung perempuan di sini sebagai 'ashabah. ketika pengelolaan baitulmal tidak lagi teratur sehingga terjadi penyalahgunaan. Mazhab ini dikenal dengan sebutan ahlur-rahmi disebabkan orang-orang yang menganut pendapat ini tidak mau membedakan antara satu ahli waris dengan ahli waris yang lain dalam hal pembagian. kemudian membagi-baginya menjadi negeri dan wilayah yang tidak memiliki kekuatan. tanpa membedakan jauh-dekatnya kekerabatan. Menurut Ahlut-Tanzil Golongan ini disebut ahlut-tanzil dikarenakan mereka mendudukkan keturunan ahli waris pada kedudukan pokok (induk) ahli waris asalnya. Sdr. Untuk memperjelas pemahaman tentang mazhab ini perlu saya kemukakan contoh-contoh seperti berikut: 1. 86 . mereka akan membagikan hak ahli waris yang ada sesuai dengan bagian ahli waris yang lebih dekat. Sungguh tepat apa yang digambarkan seorang penyair dalam sebuah bait syairnya: "Setiap jamaah di kalangan kita mempunyai iman. yakni pokoknya. dan tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dengan perempuan. C. Dengan demikian. Inilah gambarannya: Anak kandung pr. karena itu ia mendapatkan sisanya. tanpa melebihkan atau mengurangi salah seorang dari ahli waris yang ada. 1. persatuan dan kesatuan muslimin. Hal ini dapat terlihat tentunya dengan melihat dan mempertimbangkan kemaslahatan yang ada. ahlur-rahmi menyatakan bahwa semua kerabat berhak mendapat waris secara rata. Dengan demikian. dan saudara laki-laki seayah. seseorang wafat dan meninggalkan seorang cucu perempuan keturunan anak perempuan. dapat kita katakan bahwa kedua kelompok ulama tersebut pada akhirnya bersepakat untuk lebih mengutamakan pemberian harta waris kepada kerabat ketimbang baitulmal. dan dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok pendapat.barisan. 2. Misalnya. Sdr. Cara Pembagian Waris Para Kerabat Di antara fuqaha terjadi perbedaan pendapat mengenai tata cara memberikan hak waris kepada para kerabat. 1/2. para ulama dari mazhab Maliki dan mazhab Syafi'i mutakhir memberikan fatwa dengan mendahulukan para kerabat ketimbang baitulmal. Inilah pendapat mazhab Imam Ahmad bin Hambal. laki-laki seayah mahjub. bahkan dhaif dan tertolak. seorang keponakan perempuan dari saudara perempuan. dari mulai akhir abad ketiga Hijriah hingga masa kita dewasa ini. Maka dalam hal ini mereka mendapatkan bagian waris secara rata. mereka juga tidak menganggap kuat serta lemahnya kekerabatan seseorang. Yang menjadi landasan mereka ialah bahwa seluruh ahli waris menyatu haknya karena adanya ikatan kekerabatan. saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian." Melihat kenyataan demikian. Menurut Ahlur-Rahmi Mengenai cara pembagian hak waris para kerabat. Mazhab ini tidak masyhur. Karenanya tidak ada satu pun dari ulama atau para imam mujtahid vang mengakuinya apalagi mengikuti pendapat ini dengan alasan telah sangat nyata bertentangan dengan kaidah syar'iyah yang masyhur dalam disiplin ilmu mawarits. keponakan laki-laki keturunan saudara kandung perempuan. Oleh karena itu. Maka keadaan ini dapat dikategorikan sama dengan meninggalkan anak perempuan. bibi (saudara perempuan ayah). Mereka tidak memperhitungkan ahli waris yang ada (yang masih hidup). tetapi melihat pada yang lebih dekat dari ashhabul furudh dan para 'ashabahnya. Bila seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak perempuan. bibi (saudara perempuan ibu). pembagiannya seperti berikut: anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. saudara kandung perempuan. juga merupakan pendapat para ulama mutakhir dari kalangan Maliki dan Syafi'i. khususnya setelah abad ketiga Hijriah. kandung pr.

Inilah gambarnya: Sdr. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua kakek pewaris atau kedua nenek pewaris. Dalam praktiknya sama seperti membagi hak waris para 'ashabah. Hal demikian dikarenakan sama saja dengan pewaris meninggalkan saudara kandung perempuan. Keempat golongan tersebut adalah: 1. saudara perempuan seibu. Maka. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu. Yang bernisbat kepada pewaris sebagai berikut: 87 . seayah 1/6. dan paman kandung. Hal ini. Lebih jauh akan dijelaskan hak masing-masing golongan dan cabang tersebut akan hak warisnya. Sebagaimana telah diungkapkan. sdr. kemudian barulah yang lebih kuat di antara kerabat yang ada. mazhab ketiga ini telah mengelompokkan dan membagi dzawil arham menjadi empat golongan. dan keputusan yang dilakukan Ibnu Mas'ud menunjukkan betapa kuatnya pendapat mereka. Sebab. Adapun yang dijadikan dalil oleh mazhab ahlut-tanzil ini ialah riwayat yang marfu' (sampai sanadnya) kepada Rasulullah saw. adalah bahwa memberikan hak waris kepada dzawil arham tidak dibenarkan kecuali dengan berlandaskan pada nash-nash umum --yang justru tidak memberikan rincian mengenai besarnya bagian mereka masing-masing dan tidak ada pentarjihan secara jelas. 3. juga berlandaskan fatwa Ibnu Mas'ud r.. berarti yang paling berhak di antara mereka (para 'ashabah) adalah yang paling dekat kepada pewaris dari segi dekat dan kuatnya kekerabatan. ketika ia menerima pengaduan tentang pembagian waris seseorang yang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak wanita. dan sepertiga lagi diberikannya kepada bibi (dari pihak ibu). kemudian menjadikan masing-masing golongan mempunyai cabang dan keadaannya. Pr.a. Maka pembagiannya seperti berikut: keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan mendapatkan setengah (1/2) bagian. rincian besarnya bagian ashhabul furudh dan para 'ashabah telah dijelaskan. pelaksanaannya tetap mengikuti kaidah umum pembagian waris: bagian laki-laki adalah dua kali bagian wanita. sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada jalan lain untuk mengenali dan menuntaskan masalah ini kecuali dengan mengembalikan atau menisbatkannya kepada pokok ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya kepada pewaris. seibu paman kand.jauh lebih utama dan bahkan lebih berhak.a.2. 4. Selain itu. keponakan perempuan keturunan saudara perempuan seayah. yang tampak sangat logis. Selain itu. dan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. saudara perempuan seayah. keponakan perempuan keturunan dari saudara perempuan seayah mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). Menurut Ahlul Qarabah Adapun mazhab ketiga menyatakan bahwa hak waris para dzawil arham ditentukan dengan melihat derajat kekerabatan mereka kepada pewaris.maka beliau memberi bibi (dari pihak ayah) dengan dua per tiga (2/3) bagian. kand. pr. 3. yaitu melihat siapa yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan pewaris. Maka Ibnu Mas'ud memberikan setengah bagian untuk cucu perempuan dan setengah bagian lainnya untuk keponakan perempuan. yakni dengan melihat kepada yang lebih dekat derajat kekerabatannya kepada pewaris. Oleh karena itu. Seseorang wafat dan meninggalkan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. dan diikuti oleh para ulama mazhab Hanafi. pr. 1/6. Mazhab ini merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib r. Lebih jauh mazhab ini menyatakan bahwa hadits Rasulullah saw. dan sepupu perempuan anak dari paman kandung juga mendapatkan seperenam (1/6) bagian sebagai 'ashabah. menurut mereka. 1/6 Begitulah cara pembagiannya. 2. dan sepupu perempuan keturunan paman kandung (saudara laki-laki seayah). keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu mendapatkan seperenam (1/6) bagian secara fardh. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris. dilakukan dengan mengqiyaskannya pada hak para 'ashabah. Ketika beliau memberi hak waris kepada seorang bibi (saudara perempuan ayah) dan bibi (saudara perempuan ibu) kebetulan saat itu tidak ada ahli waris lainnya-. dalam hal melaksanakan pembagian waris untuk dzawil arham mazhab ini membaginya secara kelompok. Di samping itu. Adapun dalih orang-orang yang memperkuat mazhab kedua ini. Orang-orang (ahli waris) yang bernisbat kepada pewaris. Orang-orang yang dinisbati kekerabatan oleh pewaris. 3/6. dengan mengembalikan kepada pokoknya --karena memang lebih mendekatkan posisinya kepada pewaris-. sdr.

Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan di atas (Butir e) dan seterusnya. keturunan dari pamannya (saudara laki-laki ibu). Keturunan dari saudara laki-laki seibu dan seterusnya. seayah. e. baik laki-laki ataupun perempuan. dan seterusnya. Sedangkan oleh ahlul qarabah yang dijadikan anggapan ialah "dekatnya dengan kekerabatan". baik yang kandung. Keturunan dari bibi (saudara perempuan ayah). Yang bernisbat kepada kedua kakek atau nenek dari pihak ayah ataupun ibu: a. maka pokoknya: ayah. Keturunan saudara kandung perempuan. Juga pamannya (saudara ayah) yang seibu (mencakup semua paman dan bibi dari ibu. Kemudian paman dan bibi --baik dari ayah maupun ibu-. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan itu dan seterusnya. Buyut laki-laki dari keturunan cucu perempuan dan keturunan anak laki-laki. dan seterusnya seperti ibu dari ayahnya ibu. c. Yang dinisbati oleh pewaris: a. dan seterusnya. Itulah keenam kelompok yang bernisbat kepada kedua kakek dan kedua nenek pewaris. Jika tidak ada juga. Yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris: a. dan seterusnya. d. Keturunan perempuan dari saudara kandung laki-laki. dan bibi (saudara perempuan ibu). maka barulah keturunan paman (dari pihak ayah dan ibu). atau seayah. baik yang kandung maupun yang seayah). Cucu laki-laki keturunan anak perempuan. Juga semua pamannya dan bibinya (paman dan bibi dari ayah). keturunan bibinya (saudara perempuan ibu). keturunan paman (saudara laki-laki ayah) yang seibu. Bibi (saudara perempuan ayah) pewaris. Dengan demikian. baik keturunan laki-laki ataupun perempuan. baik laki-laki ataupun perempuan. Kakek yang bukan sahih. dan seterusnya). ayah dari ayahnya ibu (kakek dari ibu). dan tidak pula mendahulukan antara satu dari yang lain. b. misalnya keturunan laki-laki dan perempuan dari bibi sang ayah. dan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita sebagaimana yang berlaku pula dalam kalangan ahlul 'ashabah. Nenek yang bukan sahih. Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah Dari uraian-uraian sebelumnya. Jika tidak ada. dan juga paman nenek. seayah.. dan seterusnya seperti ayah dari ibu. atau seibu. Bila mereka tidak ada. Paman kakak yang seibu. c. ibu dari ibu ayahnya ibu. dan seterusnya. menurut ahlul qarabah. atau yang seayah. seibu.a.dengan mengqiyas pada jalur 'ashabah. f. kakek. baik bibi kandung. dan seterusnya.dari kakek dan nenek. cucu. yang pertama kali berhak menerima waris adalah keturunan pewaris (anak. Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah Telah saya kemukakan bahwa ahlul qarabah ini mengelompokkan dan memberikan urutan --dalam pembagian hak waris-. maka barulah keturunan 88 . Kemudian paman (saudara lakilaki ibu) pewaris. b. 2. dan paman (saudara ayah) ibu. atau yang seibu. Bila mereka tidak ada. Ahlut-tanzil tidak menyusun secara berurutan kelompok per kelompok. b. b. ternyata kita menemukan beberapa perbedaan yang jelas antara mazhab ahlut-tanzil dengan ahlul qarabah: 1. ataupun seibu. maka barulah keturunan saudara laki-laki (keponakan). Bibi dari ayah pewaris. Sedangkan ahlul qarabah menyusun secara berurutan dan mendahulukan satu dari yang lain sebagai analogi dari 'ashabah bi nafsihi. Dasar yang dianggap oleh ahlut-tanzil dalam mendahulukan satu dari yang lain adalah "dekatnya keturunan" dengan sang ahli waris shahibul fardh atau 'ashabah.

maka pembagiannya sebagai berikut: a. seorang anak perempuan dari anak paman yang lain (kandung). Sebab 'ashabah akan mengambil seluruh hak waris yang ada. d. tetapi sisanya pun akan mereka ambil karena merupakan hak mereka secara radd. seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan dari anak paman kandung. seperti anak perempuan dari paman kandung atau seayah. sisa harta waris akan diberikan kepada dzawil arham. maka ia akan menerima sisanya. 89 . Tidak ada shahibul fardh. Artinya. maka para 'ashabah akan menerima sisa harta waris yang ada. Sedangkan kita ketahui bahwa kedudukan ahli waris secara ar-radd dalam penerimaan waris lebih didahulukan dibandingkan dzawil arham. Sedangkan jika dia berbarengan dengan salah satu dari suami atau istri. dan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan. Dan bila ada shahibul fardh. sedangkan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan melalui dzawil arham. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham 1. D. Apabila ada kesamaan pada kedekatan derajat kekerabatan. maka yang lebih berhak untuk dintamakan adalah yang paling dekat dengan pewaris lewat shahibul fardh atau 'ashabah. Sebab. pewaris meninggalkan ahli waris cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. maka pembagiannya dilakukan secara merata. orang yang wafat ini meninggalkan tiga putri keturunan anak paman kandung. semua ahli waris dari dzawil arham berhak menerima bagian. keduanya memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris sama-sama sebagai cucu. Apabila segi derajat dan kedekatannya kepada pewaris sama. Tidak ada penta'shib ('ashabah). Dan bila bersamaaan dengan ahli waris lain. 2. dan sisanya diberikan kepada dzawil arham. maka dalam keadaan seperti ini kita harus mengutamakan keponakan kandung. Beberapa Catatan Penting: Apabila dzawil arham (baik laki-laki maupun perempuan) seorang diri menjadi ahli waris. Mengutamakan dekatnya kekerabatan. apabila shahibul fardh hanya terdiri dari suami atau istri saja. seseorang wafat dan meninggalkan anak perempuan dari saudara kandung laki-laki (yakni keponakan kandung) dengan anak perempuan dari saudara laki-laki seayah (keponakan bukan kandung). Apabila dalam suatu keadaan terjadi persamaan. setelah diambil hak para shahibul fardh. maka ia akan menerima seluruh harta waris. Atau dengan redaksi lain. seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. dan seorang anak perempuan dari anak paman kandung yang lain. mereka tidak sekadar mengambil bagiannya. tampak ada kesamaan derajat di antara kedua ahli waris. Misalnya. Sebab kedudukan hak suami atau istri secara radd itu sesudah kedudukan dzawil arham. Hanya saja. karena ketiganya memiliki derajat yang sama dari segi kekerabatan. maka yang didahulukan adalah cucu perempuan dari anak perempuan. jika ada shahibul fardh. bila ternyata tidak ada shahibul fardh. Misalnya. Begitu seterusnya. b. maka yang lebih didahulukan adalah cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Misalnya. Dalam contoh ini. Maka harta warisnya dibagi secara merata di antara mereka. Dengan demikian. maka ia akan menerima hak warisnya secara fardh. Dengan demikian. Begitulah seterusnya. Yang demikian itu disebabkan keponakan kandung lebih kuat kekerabatannya. c.mereka yang sederajat dengan mereka. Misalnya. Namun. berdasarkan urutan tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok ahli waris yang lebih awal disebutkan dapat menggugurkan kelompok berikutnya. dengan anak cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. maka haruslah mengutamakan mana yang lebih kuat kedekatan kekerabatannya. cucu perempuan keturunan anak laki-laki bernasab kepada pewaris lewat ahli waris. dan berarti seluruh harta waris menjadi haknya.

penj. pada prinsipnya yang banyak diamalkan adalah pandangan mazhab ahlut-tanzil sebagai mazhab Imam Ahmad. sekalipun dzawil arham itu keturunan saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. Penutup Itulah sekelumit mengenai hak waris para dzawil arham menurut mazhab ahlul qarabah yang merupakan mazhab imam Ali bin Abi Thalib r. 90 . dan para ulama mazhab Hanafi. Namun. saya tidak mengemukakannya di sini sebab akan bertele-tele dan menjenuhkan. Oleh karenanya. bagian laki-laki dua kali lebih besar bagian perempuan. terutama antara Imam Abi Yusuf dan Imam Muhammad (keduanya murid dan teman dekat Abu Hanifah. Pendapat ini banyak diterapkan di sebagian negara Arab dan negara Islam lainnya.a.Catatan lain Di antara persoalan yang perlu saya kemukakan di sini ialah bahwa dalam pemberian hak waris terhadap para dzawil arham . bagi yang menghendaki pengetahuan lebih luas dalam masalah ini dapat merujuknya pada kitab-kitab fiqih. seperti halnya dalam pembagian para 'ashabah.). yang kemudian dianut oleh ulama muta'akhirin mazhab Maliki dan Syafi'i ---karena dari segi pengamalannya memang lebih mudah. Sebenamya. Selain itu. di kalangan ulama mazhab ini banyak dijumpai perbedaan tentang cara pembagian masing-masing kelompok tadi.

" B. atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. Sebab. bahwa Rasulullah saw. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak. maka ia sebagai laki-laki.-disebut sebagai musykil. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh. penj. Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling (lebih) sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau wanita. Amir pun menjadi gelisah dan tidak tidur sepanjang malam karena memikirkannya. Definisi Banci Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari kata khanatsa berarti 'lunak' atau 'melunak'. khanatsa wa takhannatsa. bahwa ada seorang wanita melahirkan anak dengan dua jenis kelamin. dan tidak menerima vonis tersebut. Di samping melalui cara tersebut.a.). yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang laki-laki menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok. Akhirnya Amir memberitahukan persoalan tersebut kepada budaknya. ia dinyatakan sebagai perempuan. tetapi bila keluar dari vagina. kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi. misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang "air kecil". lihatlah jalan keluarnya air seni. Karenanya dalam hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw. Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu orang-orang Arab meninggalkannya. ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita. bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan. dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya. Amir kemudian memvonisnya sebagai laki-laki dan perempuan. Maka dengan segera ia menemui kaumnya untuk mengganti vonis yang telah dijatuhkannya. setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas. Bila keluar dari penis. Misalnya. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini: 1. dan vonislah dengan cara melihat dari mana keluar air seninya. Melihat sang majikan gelisah. adanya dua jenis kelamin pada seseorang --atau bahkan sama sekali tidak ada-. artinya tidak ada kejelasan." Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit). Namun.XI. apakah ia tumbuh kumis. Oleh karena itu. atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian." Ternyata vonis ini diterima secara aklamasi. bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan. Suatu ketika ia dikunjungi kaumnya yang mengadukan suatu peristiwa. dan sebagainya. Ia berkata: "Wahai kaumku. Dikisahkan bahwa Amir bin adz-Dzarb dikenal sebagai seorang yang bijak pada masa jahiliah. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina. Misalnya. dikukuhkanlah vonis tersebut. Bila urinenya keluar dari penis." Amir merasa puas dengan gagasan tersebut. apakah tumbuh payudaranya. apakah ia haid atau hamil. dan budak wanita itu berkata: "Cabutlah keputusan tadi. Ketika Islam datang. 91 . budak wanita yang dimiliki Amir dan dikenal sangat cerdik menanyakan sebab-sebab yang menggelisahkan majikannya. maka ia divonis sebagai khuntsa musykil. maka ia divonis sebagai laki-laki dan mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. bagaimana cara ia bermimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani. maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil. maka beliau menjawab dengan sabdanya: "Lihatlah dari tempat keluarnya air seni. bersabda: "Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi'i serta pendapat mayoritas sahabat.

seperti dalam masalah al-munasakhat. bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita). maka pokok masalahnya dari lima (5). Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci 1. C. menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat (24). Bahkan. 3. Seseorang wafat meninggalkan seorang suami. Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masing-masing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. kemudian di-'aul-kan menjadi delapan (8). Bahkan dalam mazhab Imam Syafi'i. bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya. atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya. bagian setiap ahli waris dan banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan. dan seorang anak banci. Sisa harta waris yaitu tiga (3) kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti. sedangkan bagian anak perempuan empat (4). Bagian anak laki-laki adalah delapan (8). ibu. dan saudara laki-laki banci. kemudian disatukan dan dibagi menjadi dua. Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan (9) bagian. maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita. dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit. ibu enam (6) bagian. saudara laki-laki banci tiga (3) bagian.hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya --keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita. Pokok masalahnya dari enam (6) bila banci itu dikategorikan sebagai wanita. maka hasilnya menjadi hak/bagian banci.2. Maksudnya. Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki. seorang anak perempuan.'aul-kan. Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas. atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris. Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi'i. Mazhab Maliki berpendapat. maka pokok masalahnya dari enam (6) tanpa harus di. dan sisanya kita bekukan. pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. Dan al-jami'ah (penyatuan) dari keduanya. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya Untuk banci --menurut pendapat yang paling rajih-. 2. Mazhab Syafi'i berpendapat. sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat (4). maka divonis sebagai laki-laki. Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris. maka gugurlah hak warisnya. Kemudian kita menyatukan (al-jami'ah) antara dua masalah. Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki. Inilah tabelnya: 6 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci 8 3 2 3 6 3 2 1 24 9 6 4 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci kandung 92 . Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan fuqaha mawarits mu'amalah bil adhar-yaitu jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit. dan bagian anak banci lima (5).

3. maka kita nyatakan bahwa ahli waris dalam keadaan hidup pada saat pewaris wafat. apakah bayi tersebut akan lahir selamat atau tidak. Dalam masalah hamil ini ada beberapa hukum yang berkaitan dengan hak waris. demikian juga jika ia lahir dalam keadaan mati. 1/2 Banci lk. kdg. maka mustahil bagi kita untuk menentukan jumlah bagian waris yang harus diterimanya. Dikatakan: "al-mar'atu haamil ma haamilatun idsaa kaanat hublaa" (wanita itu hamil apabila ia sedang mengandung janin). seayah 1/6 7 3 3 1 14 6 6 - Suami 1/2 Sdr.. Secara ringkas dapat dikatakan. dan penyatuan dari keduanya menjadi empat belas (14). Setelah itu. dan satu atau kembar. 1/2 Sdr." (al-Ahqaf: 15) Sedangkan menurut istilah fuqaha. karena belum dapat diketahui secara pasti keadaannya. pr. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Namun demikian. maka kita nyatakan bahwa ahli waris tidak ada ketika pewaris wafat. pr. tidak tertutup kemungkinan kita dihadapkan pada keadaan darurat --menyangkut kemaslahatan sebagian ahli waris-. Adapun sisanya. Maka pembagiannya seperti berikut: Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki.Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima (5) bagian dibekukan sementara. dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas.yang mengharuskan kita untuk segera membagi harta warisan dalam bentuk awal. para pakar faraid menjelaskan hukum-hukum khusus secara rinci dengan menyertakan berbagai pertimbangan demi menjaga kemaslahatan ahli waris yang ada. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya. yaitu janin yang dikandung dalam perut ibunya. yakni dua (2) bagian dibekukan. Bagian suami enam (6). dan pada kesempatan ini saya hanya akan utarakan secara global. saudara kandung perempuan enam (6) bagian. Setelah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup.telah saya kemukakan bahwa salah satu syarat yang harus terpenuhi oleh ahli waris adalah keberadaannya (hidup) ketika pewaris wafat. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan: 93 . sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh (7). bagi janin yang masih di dalam kandungan ibunya belum dapat ditentukan hak waris yang diterimanya. Definisi Hamil Al-hamlu (hamil) dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata hamalat. Hanya kepada Allah saya memohon pertolongan. E. selama janin yang dikandung belum dapat diketahui dengan pasti keadaannya. kdg. barulah kita bagikan kepada masing-masing ahli waris secara lengkap setelah kelahiran bayi. pr. sedangkan yang banci tidak diberikan haknya. Ini tabelnya: 2 1 1 6 Suami 1/2 Sdr. saudara kandung perempuan. Pada pembahasan sebelumnya --tentang persyaratan hak waris/mewarisi-. maka pokok masalahnya dua (2). D. untuk mengetahui secara pasti kita harus menunggu setelah bayi itu lahir. baik laki-laki maupun perempuan. Berkaitan dengan hal ini. Karena itu.. laki-laki atau perempuan. ibunya mengandungnya dengan susah payah. dan saudara laki-laki seayah banci. Dengan demikian. dan melahirkannya dengan susah payah (pula) .

2. mau menyusui ibunya. F. dan ibu yang sedang hamil dari ayah tiri pewaris. bayi yang baru keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan. menurut mazhab Hanafi. atau yang semacamnya. Sebagai ahli waris dalam segala keadaannya baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Keadaan Janin Ada lima keadaan bagi janin dalam kaitannya dengan hak mewarisi. 94 . Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah r. 4. Bila gerakan itu hanya sejenak --seperti gerakan hewan yang dipotong-. Dan tanda kehidupan yang tampak jelas bagi bayi yang baru lahir adalah jika bayi tersebut menangis. Bukan sebagai ahli waris dalam keadaan apa pun.a. Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat. ibu sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil hak istri. Adapun mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam kandungan maksimal empat tahun. Berarti bila janin itu lahir ia menjadi saudara laki-laki seibu pewaris. Kelima keadaan tersebut: 1. Keadaan Pertama Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yangada secara langsung. atau ketika keluar dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil. dan bukan sebagai ahli waris dalam keadaan berkelamin ganda (banci). maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan. Sebagai ahli waris tunggal." Pernyataan Aisyah r. hal ini bisa ditandai dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian pewaris. atau ada ahli waris lain namun ia majhub (terhalang) hak warisnya karena adanya janin.a..maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup.: "Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati). baik janin tersebut berkelamin laki-laki ataupun perempuan. Sedangkan persyaratan kedua dinyatakan sah dengan keluarnya bayi dalam keadaan nyata-nyata hidup. bersin. atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati. 3. Karenanya harta waris yang ada hanya dibagikan kepada istri seperempat (1/4). Sebagai misal. 5. Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup. Adapun menurut mazhab Syafi'i dan Hambali. tersebut dapat dipastikan bersumber dari penjelasan Rasulullah saw. 2. jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris. ia tidak berhak mewarisi." (HR Nasa'i dan Tirmidzi) Namun. sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan. Sebagai ahli waris yang tidak berbeda hak warisnya. disebabkan janin tersebut tidak termasuk ahli waris dalam segala kondisi.1. Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya. Pernyataan ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad. Pendapat inilah yang paling akurat dalam mazhab Imam Ahmad. Dalam keadaan demikian berarti mahjub hak warisnya oleh adanya ayah pewaris. ayah. tanpa harus menunggu kelahiran janin yang ada di dalam kandungan. Dengan demikian. seperti yang disinyalir para ulama mazhab Hambali. baik sebagai laki-laki ataupun perempuan. dan ia dianggap tidak ada. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Sebagai ahli waris dalam keadaan memiliki kelamin (laki-laki atau perempuan). Bahkan.: "Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun sekalipun berada dalam falkah mighzal. dan sisanya menjadi bagian ayah sebagai 'ashabah. Pokok masalahnya dari empat (4). apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati. maka tidak berhak mendapatkan waris.

pr. Tabelnya seperti berikut: 6 Suami 1/2 Ibu 1/6 3 sdr. maka dialah yang berhak untuk mendapatkan sisa harta yang dibekukan tadi. dan sisanya yang dua per tiga (2/3) dibekukan hingga janin yang ada di dalam kandungan itu lahir. Sebab kedudukannya sebagai keponakan laki-laki (anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki).Keadaan Kedua Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yang ada dengan menganggap bahwa janin yang dikandung adalah salah satu dari ahli waris. ayah seperenam (1/6). maka harta yang dibekukan tadi dibagikan lagi kepada ahli waris yang ada. apabila yang lahir anak perempuan. Bila yang lahir anak laki-laki. 95 .pr. ia akan lebih banyak memperoleh bagian daripada bayi perempuan. jika bayi itu masuk kategori laki-laki. namun bila ternyata laki-laki yang lahir. kita lihat sisanya yang menjadi bagian bayi yang masih dalam kandungan. seibu 1/3 Sdr. dan kita bekukan untuk janin dari bagian yang maksimal. Namun. bila janin dikategorikan sebagai anak laki-laki. Atau terkadang terjadi sebaliknya. Maka dalam keadaan demikian ia tidak berhak mendapatkan waris. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil. maka sisa harta waris yang dibekukan tadi diberikan dan dibagikan kepada ahli waris yang ada. Sebab.seayah (hamil) 1/2 9 3 1 1 1 Sisanya tiga (3). berarti menjadi saudara laki-laki seayah. untuk sementara dibekukan hingga janin telah dilahirkan. boleh jadi. Sebagai contoh. Pembagiannya seperti berikut: apabila istri ayah tersebut melahirkan bayi laki-laki. bila lahir dan ternyata bukan termasuk dari ahli waris. seseorang wafat dan meninggalkan istri. dan pokok masalahnya dari enam (6) di-'aul-kan menjadi sembilan (9). paman (saudara ayah). dan sisanya merupakan bagian anak laki-laki sebagai 'ashaloub. Keadaan Ketiga Apabila janin yang ada di dalam kandungan sebagai ahli waris dalam segala keadaannya --hanya saja hak waris yang dimilikinya berbeda-beda (bisa laki-laki dan bisa perempuan)-. Dalam keadaan demikian.maka dalam keadaan demikian hendaknya kita berikan dua ilustrasi. berarti ia menjadi saudara perempuan seayah. oleh karenanya ia lebih utama dibanding kedudukan paman kandung. maka hak warisnya diberikan kepadanya. maka sisa harta waris yang dibekukan itu menjadi hak paman. maka dalam hal ini ia berhak mendapat bagian separo (1/2). dan hendaknya kita lakukan pembagian dengan dua cara dengan memberikan bagian ahli waris yang ada lebih sedikit dari bagian-bagian masing-masing. ibu. Setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. seseorang wafat dan meninggalkan istri. hendaknya kita berikan bagian yang lebih banyak dari jumlah maksimal kedua bagiannya. dan bagian istri seperdelapan (1/8). dan istri ayah yang sedang hamil. Namun. maka sisa bagian yang dibekukan menjadi bagiannya. Contoh lain. karena tidak ada sisa dari harta waris setelah diambil para ashhabul furudh yang ada. Jadi. dan ipar perempuan yang sedang hamil (istri saudara kandung laki-laki). dan ayah. Bila yang lahir bayi perempuan. Sebagai misal. bila ternyata bayi tersebut perempuan. berarti kedudukannya sebagai anak laki-laki pewaris. namun untuk sementara bagiannya dibekukan hingga kelahirannya. maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperempat (1/4). Sebab keponakan perempuan (anak perempuan keturunan saudara laki-laki) termasuk dzawil arham. Namun. tiga saudara perempuan seibu. dan pembagiannya seperti berikut: ibu seperenam (1/6). Setelah janin lahir dengan selamat. ibu.

Istri 1/8 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Janin lk. 1/2 24 3 5 4 12 24 3 4 4 12 Bila bagian janin dalam kandungan tidak berubah baik sebagai laki-laki maupun perempuan. dengan begitu ia akan mengambil seluruh sisa harta waris yang ada karena ia sebagai 'ashabah. Maka bagian istri adalah seperdelapan (1/8). 1/2 Sdr. Sebab kedudukannya sebagai saudara laki-laki seibu atau saudara perempuan seibu dengan pewaris. Dengan demikian. maka bagian warisnya tetap seperenam (1/6). akan menggugurkan hak waris saudara laki-laki pewaris yang seibu tadi. dan kita berikan bagian para ahli waris yang ada secara sempurna. pr. dibekukan. saudara perempuan seayah. dan akan mendapat bagian separo (1/2) harta \varis yang ada. Inilah tabelnya. maka ia sebagai cucu perempuan dari keturunan anak lakilaki. maka dialah yang akan mengambil hak warisnya. Sebab. Sebagai misal. Keadaan Keempat 24 3 4 4 13 Istri 1/8 Ayah 'ashabah Ibu 1/6 Janin pr. Sebagai misal. Bila janin itu lahir dengan hidup normal. dan ibu yang hamil dari ayah lain (ayah tiri pewaris). seibu 1/6 Keadaan Kelima Apabila tidak ada ahli waris lain selain janin yang di dalam kandungan. Karenanya. kdg. namun jika ia lahir dalam keadaan mati. 6 3 1 1 1 6 3 1 1 1 Sdr. baik ia laki-laki ataupun perempuan. Maka janin yang masih dalam kandungan merupakan pokok ahli waris. seayah 1/6 Ibu (hamil) 1/6 (Janin) sdr. dan saudara laki-laki tidak mendapat bagian bila janin yang dikandung tadi laki-laki. 'ashabah Sisanya satu (1). maka harta waris yang ada akan dibagikan kepada seluruh ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Dan bila janin tadi lahir sebagai perempuan. maka kita sisihkan bagian warisnya. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. pr. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil dan saudara kandung laki-laki. sbg. seibu 1/6 Sdr. seayah 1/6 Ibu (Janin) sdr. baik kelak lahir sebagai laki-laki atau perempuan. Contoh lain. seseorang wafat dan meninggalkan menantu perempuan yang sedang hamil (istri dan anak lakilakinya) dan saudara laki-laki seibu. dan sisanya akan dibagikan sebagai tambahan (ar-radd) bila ternyata tidak ada 'ashabah. anak perempuan 96 . atau ada ahli waris lain akan tetapi mahjub haknya karena adanya janin. kedudukan bayi akan tetap mendapat hak waris seperenam (1/6). maka dalam keadaan seperti ini kita tangguhkan pembagian hak warisnya hingga tiba masa kelahiran janin tersebut. bila janin tadi lahir sebagai laki-laki berarti kedudukannya sebagai cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. Apabila janin telah keluar dari rahim ibunya. Akan tetapi. bila bayi tersebut perempuan maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. kdg. pr. dalam kedua keadaannya. pr. 1/2 Sdr. baik sebagai laki-laki ataupun sebagai perempuan.

dan sisanya merupakan bagian saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. 97 .setengah (1/2) bagian.

terputus beritanya. Karena 98 ." (Yusuf: 72) Sedangkan menurut istilah para fuqaha. Dalam riwayat lain. TENGGELAM. pendapat yang paling sahih menurut anggapan Imam Syafi'i ialah bahwa batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan. dan aku menjamin terhadapnya. yaitu empat bulan sepuluh hari.telah mati. Bila usai masa idahuya. Hukum Orang yang Hilang Para fuqaha telah menetapkan beberapa hukum yang berkenaan dengan orang yang hilang/menghilang. di antaranya: istrinya tidak boleh dinikahi/dinikahkan. kemudian divonisnya sebagai orang yang telah mati. maka mulailah ia untuk menghitung idahnya sebagaimana lazimaya istri yang ditinggal mati suaminya. Sedangkan dalam mazhab Syafi'i dinyatakan bahwa batas waktu orang yang hilang adalah sembilan puluh tahun. maka ia dapat diputuskan sebagai orang yang sudah meninggal. antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. cukup dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim. maka hendaknya dia bersabar. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak dikenal rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan melihat orang yang sebaya di wilayahnya --tempat dia tinggal. maka sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh tahun untuk menunggu. hingga benar-benar tampak dugaan yang sebaliknya (yakni benar-benar sudah mati). Hal ini didasarkan pada lafazh hadits secara umum yang menyatakan bahwa umur umat Muhammad saw. tentang wanita yang suaminya hilang dan tidak diketahui rimbanya. yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebaya di wilayahnya. Kadang-kadang bisa juga ditetapkan sebagai orang yang masih hidup berdasarkan asalnya." B. disebutkan bahwa istri dari orang yang hilang di wilayah Islam --hingga tidak dikenal rimbanya-. dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta. dari Imam Malik. Apabila orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada. Namun. Ali berkata: "Dia adalah seorang istri yang tengah diuji.a. Dikatakan faqadtu asy-syai'a idzaa adha'tuhu (saya kehilangan bila tidak mengetahui di mana sesuatu itu berada). DAN TERTIMBUN A. hartanya tidak boleh diwariskan. dan tidak diketahui rimbanya. dan hak kepemilikannya tidak boleh diusik. sampai benar-benar diketahui keadaannya dan jelas apakah ia masih hidup atau sudah mati. maka ia diperbolehkan untuk menikah lagi. dan hakim pun telah memvonisnya sebagai orang yang dianggap telah mati. al-mafqud berarti orang yang hilang. Atau telah berlalu selama waktu tertentu dan diperkirakan secara umum -. menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan pulah tahun (90). Dalam riwayat lain.XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG.dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dan dugaan yang dapat mengenali keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana dan prasarana yang ada. Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang hilang belum juga diketemukan atau dikenali rimbanya. dan tidak halal untuk dinikahi hingga ia mendapatkan berita yang meyakinkan akan kematian suaminya. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah tujuh puluh tahun (70). Definisi Al-mafqud dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna 'hilang'. Akan tetapi. Yang demikian itu berdasarkan ucapan Ali bin Abi Thalib r. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini terutama para ulama dari mazhab yang empat. Kita juga bisa simak firman Allah SWT berikut: "Penyeru-penyeru itu berkata: 'Kami kehilangan piala raja. Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu. apakah dia masih hidup atau sudah mati. dari Abu Hanifah.

dan ia boleh menikah lagi setelah masa idah yang dijalaninya selesai. Bukan sebagai hajib (penghalang) bagi ahli waris yang ada. ia dapat menempuh masa idahnya. maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya. Dan bila ternyata telah divonis oleh hakim sebagai orang yang telah meninggal. seorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati. dan dua saudara perempuan seayah. Sebagai contoh. dan anak laki-laki yang hilang. mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang yang hilang itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti jika terjadi peperangan. dan di antara ahli warisnya ada yang hilang tidak dikenal rimbanya. Demikian juga istrinya. Misal lain. Maksudnya. sesudah berlalunya waktu tertentu --kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut. akan berbeda halnya dengan orang yang hilang bukan dalam keadaan yang demikian. Pertama. Kedua. Karena itu. dengan alasan berbedanya keadaan wilayah dan personel. maka itulah yang berlaku. dalam hal ini ijtihad dan usaha seorang hakim sangat berperan guna mencari kemungkinan dan tanda-tanda kuat yang dapat menuntunnya kepada vonis: masih hidup atau sudah mati. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung laki-laki. Sebab. menunggu sampai diperkirakan umurnya mencapai sembilan puluh tahun Sebab sebagian besar umur manusia tidak mencapai atau tidak melebihi sembilan puluh tahun. Apabila setelah empat tahun belum juga diketemukan atau belum diketahui beritanya. tetapi bahkan sama berhak mendapat waris sesuai dengan bagian atau fardh-nya (yakni termasuk ashhabul fardh) Pada keadaan pertama: seluruh harta warisan peninggalan pewaris dibekukan --tidak diberikan kepada ahli waris-untuk sementara hingga ahli waris yang hilang muncul atau diketahui tempatnya. ahli waris yang ada berhak untuk menerima bagian yang paling sedikit di antara dua keadaan orang yang hilang (sebagai ahli waris yang hidup atau yang mati. bila ternyata hakim telah memvonisnya sebagai orang yang telah mati. saudara kandung perempuan. Bila ahli waris yang hilang ternyata masih hidup. maka cara pemberian hak warisnya ada dua keadaan: Ahli waris yang hilang sebagai hajib hirman bagi ahli waris yang lain. maka dialah yang berhak untuk menerima atau mengambil seluruh harta warisnya. Inilah pendapat yang lebih mendekatkan kepada wujud kemaslahatan. Menurut hemat penulis. saudara laki-laki seayah. Kapan saja hakim memvonisnya. Karenanya untuk sementara harta waris yang ada dibekukan hingga hakikat keberadaannya nyata dengan jelas.menurut Imam Syafi'i. pendapat mazhab Hambali dalam hal ini lebih rajih (lebih tepat). Posisi anak laki-laki dalam hal ini sebagai "penghalang" atau hajib hirman apabila masih hidup. Misalnya. seluruh harta waris yang ada untuk sementara dibekukan hingga anak laki-laki yang hilang telah muncul. atau mirip dengan pembagian hak waris banci). Karena itu. Sementara itu. Hak Waris Orang Hilang Apabila seseorang wafat dan mempunyai ahli waris. atau menjadi salah seorang penumpang kapal yang tenggelam-. Namun. seperti pergi untuk berniaga. C. Namun. dan pendapat inilah yang dipilih az-Zaila'i (ulama mazhab Hanafi) dan disepakati oleh banyak ulama lainnya. Sedangkan pada keadaan kedua. orang yang hilang pada saat peperangan dan pertempuran.maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat tahun. maka harta waris tadi dibagikan kepada seluruh ahli waris yang ada dan masing-masing mendapatkan sesuai dengan bagian atau fardh-nya. apabila hilangnya orang itu bukan dalam kemungkinan meninggal. bila ahli waris yang ada --siapa saja di antara mereka-. maka Imam Ahmad dalam hal ini memiliki dua pendapat. memang tidak tepat jika hal ini hanya disandarkan pada batas waktu tertentu. seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung laki-laki. atau banyak perampok dan penjahat. menyerahkan seluruhnya kepada ijtihad hakim. maka barulah harta waris tadi dibagikan untuk ahli waris yang ada.yang dalam dua keadaan orang 99 . Posisi saudara kandung bila masih hidup adalah sebagai haiib bagi seluruh ahli waris yang ada. atau untuk menuntut ilmu. melancong.

seseorang wafat dan maninggalkan istri. lk. yaitu bagian ibu seperenam (1/6). bagian istri adalah seperempat (1/4). saudara kandung. Tabelnya sebagai berikut: 4 2 1 7 8 4 1 8 6 7 56 3 24 yang dibekukan 4 2 16 yang dibekukan 9 2 16 yang dibekukan 9 - Anggapan msh. ibu seperenam (1/6). kdg. dan yang kedua dalam kategori sudah meninggal. Dalam keadaan demikian. Sebab bila ahli waris yang hilang tadi telah divonis hakim sebagai orang yang telah meninggal. Contoh-contoh Kasus Seseorang wafat dan meninggalkan suami. pr Anggapan sdh. maka bagian masing-masing ahli waris itu seperti berikut: 1 Anggapan msh. lk. mati Suami 1/2 Sdr. Namun. dan sisanya (yakni yang seperenam) lagi untuk sementara dibekukan hingga ahli waris yang hilang telah nyata benar keadaannya. Kemudian kita menggunakan cara al-jami'ah (menyatukan) kedua cara tadi. maka mereka diberi lebih sedikit di antara kedua keadaan tadi. pr Sdr. hdp. tampak ada penyatuan antara ahli waris yang tidak berbeda bagian warisnya dalam dua keadaan orang yang hilang --yaitu bagian istri seperempat (1/4)--dengan ahli waris yang berbeda hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi. maka pembagiannya sebagai berikut: Dalam hal ini kita harus memboat dua cara pembagian. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. ibu. atau telah divonis sebagai orang yang sudah meninggal. mati Istri 1/4 24 3 12 24 3 6 yang dibekukan 3 100 . dengan sendirinya tidak berhak untuk mendapatkan harta waris sedikit pun. pr 2/3 Sdr. hendaknya ia diberi hak waris secara sempurna (tanpa dikurangi atau dilebihkan. kdg. dan saudara kandung lakilaki yang hilang. Namun. pr Sdr. kemudian membekukan sisanya. bagi siapa saja yang tidak berhak untuk mendapatkan waris dalam dua keadaan orang yang hilang. Suami 1/2 Sdr. ibu. maka ibu akan mendapat bagian sepertiga (1/3). kdg. hlg Misal lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. Sebagai contoh. saudara laki-laki seayah. kdg. bagi ahli waris yang berbeda bagian hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi (yakni keadaan hidup dan matinya). Istri 1/8 2 Anggapan sdh. kdg. saudara kandung perempuan. Sedangkan saudara laki-laki yang sesyah tidak mendapat hak waris apa pun. kdg. dan cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. atau tanpa ada yang dibekukan).yang hilang tadi sama bagian hak warisnya. Dari sinilah kita keluarkan hak waris masing-masing. yang pertama dalam kategori orang yang hilang tadi masih hidup. hlg 1 1 1 Sdr. hdp. Dalam contoh tersebut.

seibu 1/6 2 4 yang dibekukan 4 Sepupu. mati Suami 1/4 Cucu pr.pr. lk. Semua yang menimpa mereka terasa sebagai sesuatu yang ringan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. (hilang) 8 1 3 4 Anggapan sdh. 'ashabah Cucu pr. ujian. Maka rincian pembagiannya seperti berikut: Anggapan msh. (hilang) yang dibekukan 12 Demikianlah beberapa contoh tentang hak waris yang di antara ahli warisnya ada yang hilang atau belum diketahui keadaannya. hdp. saudara laki-laki seibu. (mahjub) Anak lk. 'ashabah Anak lk. maka bagian masing-masing seperti berikut: Anggapan msh. seseorang wafat dan meninggalkan suami. lk.lk. dan cobaan. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki.anak. lk. D. dan berpegang teguh pada salah satu rukunnya --yaitu iman kepada qadha dan qadar-Nya. (hilang) 4 4 1 1 2 2 yang dibekukan 2 1 1 yang dibekukan 1 - Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri.seibu (mahjub) Sepupu. Sayangnya. anak paman kandung (sepupu). Hanya orang-orang mukmin yang ternyata tetap bersabar dalam menghadapi musibah.dr.pr.kdg. hdp. Suami 1/4 Cucu pr. Sehingga hal ini sering kali membuat manusia bertekuk lutut dan tidak berdaya. sangat sedikit di antara kita yang mau mengambil i'tibar (pelajaran). 'ashabah 7 14 yang dibekukan 5 Cucu pr. (mahjub) Sdr.kdg.dr. (hilang) Jumlah yang dibekukan 17 Contoh lain. sementara lisan 101 . Istri 1/8 Sdr. mahjub Cucu lk.lk.lk. tanpa diduga.kdg.Ibu 1/6 Sdr. Terkadang kejadian dan musibah itu tiba-tiba datangnya.lk. Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Betapa banyak kejadian dan musibah yang kita alami dalam kehidupan di dunia ini. bahkan sebagian manusia berani melakukan hal-hal yang menyimpang jauh dari kebenaran dalam menghadapinya. (hilang) 4 17 Ibu 1/3 Sdr.anak.'ashabah 4 8 yang dibekukan 4 5 10 yang dibekukan 10 Cucu lk.lk. karena mereka selalu melekatkan kehidupannya dengan iman. (hilang) 4 1 3 Anggapan sdh. saudara kandung perempuan. 1/2 Sdr. dan anak laki-laki yang hilang. mati Istri 1/4 12 24 3 6 yang dibekukan 3 Sdr.

. apabila dua orang bersaudara tenggelam secara bersamaan lalu yang seorang meninggal seketika dan yang seorang lagi meninggal setelah beberapa saat kemudian. Maka seluruh harta peninggalan yang ada segera dibagikan kepada ahli waris dari kerabat yang masih hidup. dan sisanya merupakan bagian sepupu tadi sebagai 'ashabah. anak perempuan. Maka jika di antara mereka ada yang mempunyai keturunan. menurut para ulama. maka yang mati kemudian inilah yang berhak menerima hak waris. Kadangkadang manusia tertawa dan merasa lapang dada. sekalipun masa hidup yang kedua hanya sejenak setelah kematian saudaranya yang pertama.mereka --jika menghadapi musibah-. dan anak laki-laki paman kandung (sepupu yang pertama disebutkan). Apabila hal ini telah diketahui dengan pasti. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah. maka tidak ada hak waris di antara keduanya atau mereka tidak saling mewarisi. sehingga sebagian anggota keluarga mereka menjadi korban. sedangkan yang satunya lagi meninggalkan dua anak perempuan. Begitulah seterusnya. bagaimana cara pelaksanaan pemberian hak waris kepada masingmasing ahli waris? Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Kaidah yang berlaku dalam pembagian hak waris orang yang tenggelam dan tertimbun yaitu dengan menentukan mana di antara mereka yang lebih dahulu meninggal. begitupun sang suami telah mempunyai istri lain dan mempunyai anak laki-laki. Suami-istri itu masing-masing mempunyai harta. anak perempuan yang pertama setengah (1/2). serta yang meninggal seketika karena kecelakaan dan bencana lainnya. Hal ini sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama faraidh yang menyebutkan: "Tidak ada hak saling mewarisi bagi kedua saudara yang mati karena tenggelam secara bersamaan. yakni dengan memberikan hak waris kepada orang yang meninggal kemudian. Perhatikan firman Allah SWT berikut: ". Misal lain. Sebagai contoh." Hal demikian. hal ini telah memenuhi syarat hak mewarisi.'" (al-Baqarah: 155-156) Bukan sesuatu yang mustahil jika dalam suatu waktu dua orang bersaudara bepergian bersama-sama menggunakan pesawat terbang atau kapal laut. pembagian waris lebih mudah dilaksanakan. suami-istri meninggal secara bersamaan dan mempunyai tiga anak laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: Harta istri yang meninggal untuk anaknya. Adapun bagian kedua anak perempuan (dari yang kedua) adalah dua per tiga (2/3). tetapi dalam sekejap keadaan dapat berubah sebaliknya.senantiasa mengucapkan: "sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepadaNyalah kita kembali". Sebagai contoh.. disebabkan tidak terpenuhinya salah satu persyaratan dalam mendapatkan hak waris. Sedangkan jika keduanya sama-sama tenggelam atau terbakar secara bersamaan kemudian mati tanpa diketahui mana yang lebih dahulu meninggal. Misalnya. dan anak paman kandung (sepupu). Maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8) bagian. Yang satu meninggalkan istri. mereka mengucapLan 'Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'un. dan sisanya untuk bagian sepupu sebagai 'ashabah. Atau mungkin saja terjadi bencana alam yang mengakibatkan rumah yang mereka huni runtuh. dua orang bersaudara mati secara berbarengan. lalu mengalami kecelakaan. Oleh karenanya tidak ada sikap yang lebih baik kecuali berlaku sabar dan berserah diri kepada-Nya. sedangkan harta suami yang meninggal seperdelapannya (1/8) merupakan bagian istrinya yang masih hidup. Kemudian sang istri pernah mempunyai anak laki-laki dari suaminya yang dahulu. maka kepemilikan harta waris tadi berpindah kepada ahli warisnya yang berhak. dan tidak pula bagi kedua saudara yang mati karena tertimbun reruntuhan. yaitu hidupnya ahli waris pada saat kematian pewaris. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Menurut ulama faraid. Setelah orang kedua (yang meninggal kemudian) meninggal. Begitulah kehidupan dunia yang selalu silih berganti. dan sisanya adalah untuk anak laki-lakinya dari istri yang masih hidup 102 . tentulah akan muncul persoalan dalam kaitannya dengan kewarisan.

amin.itu. Kemudian. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan banyak manfaat bagi para penuntut ilmu faraid. dan saya akhiri pembahasan ini dengan pujian kepada Rabb semesta alam. seperenamnya (1/6) diberikan atau merupakan bagian saudara laki-laki mereka yang seibu. TAMAT 103 . dan sisanya merupakan bagian saudara laki-lakinya yang seayah dengan mereka. harta ketiga anak laki-laki. Pembahasan tentang hak waris-mewarisi bagi orang-orang yang mati tenggelam atau tertimbun reruntuhan atau musibah lainnya merupakan bagian terakhir dari buku ini. Allahlah yang memberi taufik dan petunjuk kepada kita.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful