Pembagian Waris Menurut Islam

oleh Muhammad Ali ash-Shabuni

PENGANTAR PENERBIT HUKUM waris Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. telah mengubah hukum waris Arab pra-Islam dan sekaligus merombak struktur hubungan kekerabatannya, bahkan merombak sistem pemilikan masyarakat tersebut atas harta benda, khususnya harta pusaka. Sebelumnya, dalam masyarakat Arab ketika itu, wanita tidak diperkenankan memiliki harta benda --kecuali wanita dari kalangan elite-- bahkan wanita menjadi sesuatu yang diwariskan. Islam merinci dan menjelaskan --melalui Al-Qur'an Al-Karim-- bagian tiap-tiap ahli waris dengan tujuan mewujudkan keadilan didalam masyarakat. Meskipun demikian, sampai kini persoalan pembagian harta waris masih menjadi penyebab timbulnya keretakan hubungan keluarga. Ternyata, disamping karena keserakahan dan ketamakan manusianya, kericuhan itu sering disebabkan oleh kekurangtahuan ahli waris akan hakikat waris dan cara pembagiannya. Kekurangpedulian umat Islam terhadap disiplin ilmu ini memang tidak kita pungkiri, bahkan Imam Qurtubi telah mengisyaratkannya: "Betapa banyak manusia sekarang mengabaikan ilmu faraid." Atas dasar itulah kami terpacu untuk menerbitkan buku Pembagian Waris menurut Islam. Mudah-mudahan apa yang kami persembahkan kepada pembaca menjadi suatu amal kebajikan dan menjadi bukti ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Penerbit

1

SAMPUL BELAKANG Dalam praktik kehidupan sehari-hari, persoalan waris sering kali menjadi krusial yang terkadang memicu pertikaian dan menimbulkan keretakan hubungan keluarga. Penyebab utamanya ternyata keserakahan dan ketamakan manusia, di samping karena kekurang-tahuan pihak-pihak yang terkait mengenai hukum pembagian waris. Padahal, Allah SWT di dalam Al-Qur'an mengatur pembagian waris secara lengkap. Sementara itu, di sisi lain, kita jumpai kenyataan bahwa beberapa kalangan --termasuk para pelajar di sekolah-sekolah Islam---menganggap faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka) sebagai momok yang menakutkan. Berawal dari beberapa keprihatinan itulah buku ini diwujudkan, yang sebelumnya hanya merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris pada Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. Muhammad Ali ash-Shabuni, penulis buku ini, berusaha menghilangkan kesan "seram" tentang disiplin ilmu ini dengan cara menyederhanakan berbagai istilah dan rumusan perhitungan yang selama ini dianggap sebagai kendala. Bukan hanya itu, sistematika penyajiannya pun sangat sederhana dan tidak bertele-tele. Kesederhanaan metode dan gaya bertutur memang menjadi keunggulan buku ini. ISBN 979-561-321-9

2

MUKADIMAH Segala puji bagi Allah, pengatur alam semesta, seluruh isi langit dan bumi. Dialah Yang Maha Kekal, tidak akan rusak dan tidak akan mati, yang telah berfirman dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan." (Maryam: 40) Semoga shalawat dan salam tetap Allah anugerahkan kepada sang pembawa cahaya, perintis kemanusiaan dan penunjuk jalan, junjungan kita Muhammad saw. Dengannyalah Allah SWT menghilangkan kesesatan dan kegelapan, dan dengannyalah Allah mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada alam yang terang benderang. Semoga shalawat dan salam juga Allah berikan kepada seluruh kerabatnya, para sahabatnya, dan siapa pun yang mengikuti jejaknya. Buku ini merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris yang pernah saya berikan kepada para mahasiswa Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. Kemudian saya tergerak untuk mengumpulkan dan menyatukannya hingga menjadi buku dengan harapan dapat dimanfaatkan secara lebih luas. Buku ini saya susun dengan sistematika yang sangat sederhana dan tidak bertele-tele. Saya bermohon kepada Allah semoga buku ini dapat bermanfaat khususnya bagi para mahasiswa, dan umumnya bagi seluruh kaum muslim yang memiliki keinginan untuk mengetahui dengan pasti mengenai faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua doa dan Maha Mampu untuk memenuhinya. Mekah, Jumadil Akbir 1389 H Muhammad Ali ash-Shabuni

3

PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN A. Dalil Hak Waris Para 'Ashabah B. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris II. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah B. DEFINISI 'ASHABAH A. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga E. Bentuk-bentuk Waris D. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga  Masalah 'Umariyyatan F. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan D. Penjelasan B. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat C. WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM A. AYAT-AYAT WARIS A.DAFTAR ISI Pembagian Waris Menurut Islam oleh Muhammad Ali Ash-Shabuni PENGANTAR MUKADIMAH I. Ahli Waris dari Golongan Wanita III. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam IV. Macam-macam 'Ashabah 4 . Ahli Waris dari Golongan Laki-laki I. Sebab-sebab Adanya Hak Waris E. Syarat Waris G. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam C. Definisi Waris  Pengertian Peninggalan  Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan B. Rukun Waris F. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris D. Penggugur Hak Waris  Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub  Contoh Pertama  Contoh Kedua H. Derajat Ahli Waris C.

Definisi al-Hujub B. PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A. Tentang Kasus Kolektif  Perbedaan Pendapat Para Fuqaha  Persyaratan Masalah Kolektif  Beberapa Kaidah Penting VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA A. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara C.kan  Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan  Beberapa Contoh Masalah 'Aul 5          . Macam-macam al-Hujub  Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman  Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman  Saudara Laki-laki yang Berkah  Saudara Laki-laki yang Merugikan C. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek D. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair  Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? V. Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek F.'Ashabah bin nafs Hukum 'Ashabah bin nafs Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah ma'al Ghair Dalil 'Ashabah ma'al Ghair C. Masalah al-Akdariyah VII. Definisi al-'Aul B. Pengertian Kakek yang Sahih B. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A.Tentang Mazhab Jumhur  Hukum Keadaan Pertama  Makna Pembagian  Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek  Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang  Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek  Hukum Keadaan Kedua E. Latar Belakang Terjadinya 'Aul C.

Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham XI. Cara Pembagian Waris Para Kerabat  Menurut Ahlur-Rahmi  Menurut Ahlut-Tanzil  Menurut Ahlul Qarabah  Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah  Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah D. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd G. Tentang Tashih  Definisi Tashih  Definisi at-Tamaatsul  Definisi at-Tadaakhul  Definisi at-Tawaafuq  Definisi at-Tabaayun B. At-Takharuj min at-Tarikah  Tata Cara Pelaksanaannya X. Definisi Banci B. Syarat-syarat ar-Radd F. Definisi Munasakhat B. PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN A.D. Macam-macam ar-Radd  Hukum Keadaan Pertama  Hukum Keadaan Kedua  Hukum keadaan Ketiga  Hukum keadaan Keempat VIII. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham C. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci 6 . Cara Mentashih Pokok Masalah C. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. Pembagian Harta Peninggalan  Masalah Dinariyah ash-Shughra  Masalah Dinariyah al-Kubra IX. HUKUM MUNASAKHAT A. Rincian Amaliah al-Munasakhat C. HAK WARIS DZAWIL ARHAM A. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd H. Definisi Dzawil Arham B. Definisi ar-Radd E.

Hak Waris Orang Hilang D. Definisi  Hukum Orang yang Hilang B. Keadaan Janin  Keadaan Pertama  Keadaan Kedua  Keadaan Ketiga  Keadaan Keempat  Keadaan Kelima XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan F. TENGGELAM. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati C. DAN TERTIMBUN A. Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun  Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun 7 .C. Definisi Hamil E. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya  Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci D.

orang yang dianugerahi pengetahuan dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui bagian setiap ahli waris. maka ibunya mendapat seperenam. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). jika ia tidak mempunyai anak.menegaskan dan merinci nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). di dalamnya berisi aturan dan tata cara yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara lengkap. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. kapan ia menerima bagiannya secara "tertentu". Jika kamu mempunyai anak. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan asas ilmu faraid. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang." (anNisa': 12) "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). maka ibunya mendapat sepertiga. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. jika mereka tidak mempunyai anak. meniadakan 8 . kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Jika seseorang mati. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Bahkan dengan aturan yang sangat jelas dan sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris dengan adil serta penuh kebijaksanaan. Oleh sebab itu. maka ia memperoleh separo harta. Penjelasan Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut --yang kesemuanya termaktub dalam surat an-Nisa'-. Selain itu. jika yang meninggal itu mempunyai anak. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meningal dunia. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya." (an-Nisa': 176) A. Tetapi jika saudarasaudara seibu itu lebih dari seorang. Maha Suci Allah. AYAT-AYAT WARIS ALLAH SWT berfirman "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. juga menjelaskan keadaan setiap ahli waris. supaya kamu tidak sesat. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. dan kapan pula ia menerimanya secara 'ashabah. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. baik laki-laki maupun perempuan. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak setiap ahli waris. Yaitu. maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah. maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal." (an-Nisa': 11) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. Ini adalah ketetapan dari Allah. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan.I. sekaligus mengenali hikmah Allah Yang Maha Bijaksana itu. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak mernberi mudarat (kepada ahli waris). (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. Dia menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia. jika anak perempuan itu seorang saja.

penguat hukum. dan induk ayat-ayat Ilahi. bahwa pada masa itu kaum muslim saling mewarisi harta masing-masing disebabkan hijrah dan rasa persaudaraan yang dipertemukan oleh Rasulullah saw. Maka setelah peristiwa penaklukan kota Mekah. Yakni penjabaran kandungan ayat yang bagi kita sudah sangat jelas: membagi dan adil. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. dari Abdullah Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw. yakni dengan mengembalikan hak waris mereka secara penuh. " (an-Nisa': 7) ". Meskipun demikian. kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling mewarisi.. selain dari ketiga ayat yang saya sebutkan pada awal pembahasan.. kaum muslim telah benar-benar mantap menjalankan ajaran-ajarannya. sangat disayangkan kebanyakan manusia (terutama pada masa kini) mengabaikan dan melecehkannya. menutup ruang gerak para pelaku kezaliman. Telah masyhur dalam sejarah permulaan datangnya Islam. yakni wanita dan anak-anak. dan kaidahkaidah agama telah begitu mengakar dalam hati setiap muslim. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya.Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin. namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut.. Mereka lebih berhak daripada orang mukmin umumnya dan kaum Muhajirin." (al-Anfal: 75) ". dan ilmu ini pun bakal sirna hingga akan muncul fitnah. Adapun dalam ayat pertama (an-Nisa': 7) Allah SWT dengan tegas menghilangkan bentuk kezaliman yang biasa menimpa dua jenis manusia lemah. Pada ayat kedua dan ketiga (al-Anfal: 75 dan al-Ahzab: 6) ditegaskan bahwa kerabat pewaris (sang mayit) lebih berhak untuk mendapatkan bagian dibandingkan lainnya yang bukan kerabat atau tidak mempunyai tali kekerabatan dengannya. seperti kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. namun justru saudara mereka yang senasab tidak mendapatkan warisan. dengan hukum pewarisan yang disebabkan nasab dan kekerabatan. Di antara kita mungkin ada yang bertanya-tanya dalam hati. "Apabila kita telah mengetahui hakikat ilmu ini. Di antaranya adalah firman Allah berikut: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Sungguh mengagumkan pandangan mereka mengenai ilmu waris ini. " (HR Daruquthni) Lebih jauh Imam Qurthubi mengatakan. 9 . maka betapa tinggi dan agung penguasaan para sahabat tentang masalah faraid ini. Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa ketiga ayat tersebut merupakan salah satu rukun agama. Maha Suci Allah Yang Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum dan syariat-Nya. akan tetapi tentang besar-kecilnya hak waris yang mesti diterima mereka tidak dijelaskan secara rinci. Hal ini tercermin dalam hadits berikut. Allah me-mansukh-kan (menghapuskan) hukum pewarisan yang disebabkan hijrah dan persaudaraan.. bersabda: "Pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada orang lain. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetaplan. Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mesti ia terima). adakah ayat lain yang berkenaan dengan waris selain dari ketiga ayat tersebut? Di dalam Al-Qur'an memang ada beberapa ayat yang menyebutkan masalah hak waris bagi para kerabat (nasab). Allah SWT menyantuni keduanya dengan rahmat dan kearifan-Nya serta dengan penuh keadilan. Oleh karenanya faraid memiliki martabat yang sangat agung.kezaliman di kalangan mereka. serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. serta tidak membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati orang-orang yang lemah.. kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Pada permulaan datangnya Islam. Keadaan demikian berjalan terus hingga Islam menjadi agama yang kuat." (alAhzab: 6) Itulah ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah hak waris."1 Perlu kita ketahui bahwa semua kitab tentang waris yang disusun dan ditulis oleh para ulama merupakan penjelasan dan penjabaran dari apa yang terkandung dalam ketiga ayat tersebut.Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. hingga kedudukannya menjadi separo ilmu. Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).

pangan.Dalam ayat tersebut Allah dengan keadilan-Nya memberikan hak waris secara imbang. Nafkah (pengeluaran) kaum laki-laki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita. ia berkewajiban untuk memberinya sandang. serta siapa saja yang diwajibkan atasnya untuk memberi nafkah dari kerabatnya. Masih tentang kajian ayat-ayat tersebut. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf . selama masih ada suaminya. tanpa membedakan antara yang kecil dan yang besar. 3. sedangkan rinciannya terdapat dalam ayat-ayat yang saya nukilkan terdahulu (an-Nisa': 11-12 dan 176). Ketentuan ini tetap berlaku sekalipun wanita tersebut kaya raya dan hidup dalam kemewahan. tampak secara jelas bahwa kaum wanita justru lebih banyak mengenyam kenikmatan dan lebih enak dibandingkan kaum laki-laki. Dengan demikian. saudara laki-lakinya. Juga tanpa membedakan bagian mereka yang banyak maupun sedikit. berupa memberikan hak waris kepada kaum wanita melebihi apa yang digambarkan. ayat tersebut tidaklah secara rinci dan detail menjelaskan jumlah besar-kecilnya hak waris para kerabat. kebutuhan kaum laki-laki untuk mendapatkan dan memiliki harta jauh lebih besar dan banyak dibandingkan kaum wanita.. Syariat Islam tidak mewajibkan kaum wanita untuk membelanjakan harta miliknya meski sedikit. baik untuk keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya). minum. Sementara kaum wanita tidaklah demikian. atau siapa saja yang mampu di antara kaum lakilaki kerabatnya. ingin sekali saya sebutkan hikmah-hikmah tersebut sebanyak mungkin.maka dialah yang lebih berhak untuk mendapatkan bagian yang lebih besar pula. Dan ketika telah dikaruniai anak. Jika kita pakai istilah dalam ushul fiqh ayat ini disebut mujmal (global). namun mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga. Kendatipun hukum Islam telah menetapkan bahwa bagian kaum laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada bagian kaum wanita. Kaum laki-laki diwajibkan untuk membayar mahar kepada istrinya. Artinya. kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki. yang pasti hak waris telah Allah tetapkan bagi kerabat pewaris karena hubungan nasab. mengapa bagian kaum laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita. 5. siapa pun yang memiliki tanggung jawab besar --hingga harus mengeluarkan pembiayaan lebih banyak-. seluruhnya dibebankan hanya pada pundak kaum laki-laki. laki-laki ataupun wanita.. maupun pewaris itu rela atau tidak rela. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: ". 4. dan papan. menyediakan tempat tinggal baginya.dan kaum wanita. khususnya dalam hal sandang. dan dalam hal nafkahnya kaum wanita wajib diberi oleh ayahnya. Kaum wanita tidak diwajibkan memberi nafkah kepada siapa pun di dunia ini. tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah. Itulah beberapa hikmah dari sekian banyak hikmah yang terkandung dalam perbedaan pembagian antara kaum lakilaki --dua kali lebih besar-. Secara logika. kaum lelakilah yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga dan kerabatnya. dan papan. mereka juga sangat membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu saya utarakan beberapa hikmah adanya syariat yang telah Allah tetapkan bagi kaum muslim." (al-Baqarah: 233) 10 . Kaum wanita selalu harus terpenuhi kebutuhan dan keperluannya. suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya. Kalau saja tidak karena rasa takut membosankan. di antaranya sebagai berikut: 1. Islam telah menyelimuti kaum wanita dengan rahmat dan keutamaannya. memberinya makan. Sebaliknya.. Dengan demikian. Sementara di sisi lain Allah membatalkan hak saling mewarisi di antara kaum muslim yang disebabkan persaudaraan dan hijrah. kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris. dan sandang. pengobatan jika anak sakit (termasuk istri) dan lainnya. Kebutuhan pendidikan anak. Sebab.. Sebab. pangan. Meskipun demikian. anaknya. 2. padahal kaum wanita jauh lebih banyak membutuhkannya. mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya dalam hati. karena di samping memang lemah.

Untuk lebih menjelaskan permasalahan tersebut perlu saya ketengahkan satu contoh kasus supaya hikmah Allah dalam menetapkan hukum-hukum-Nya akan terasa lebih jelas dan nyata. Contoh yang dimaksud di sini ialah tentang pembagian hak kaum laki-laki yang banyaknya dua kali lipat dari bagian kaum wanita. Seseorang meninggal dan mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Ternyata orang tersebut meninggalkan harta, misalnya sebanyak Rp 3 juta. Maka, menurut ketetapan syariat Islam, laki-laki mendapatkan Rp 2 juta sedangkan anak perempuan mendapatkan Rp 1 juta. Apabila anak laki-laki tersebut telah dewasa dan layak untuk menikah, maka ia berkewajiban untuk membayar mahar dan semua keperluan pesta pernikahannya. Misalnya, ia mengeluarkan semua pembiayaan keperluan pesta pernikahan itu sebesar Rp 20 juta. Dengan demikian, uang yang ia terima dari warisan orang tuanya tidak tersisa. Padahal, setelah menikah ia mempunyai beban tanggung jawab memberi nafkah istrinya. Adapun anak perempuan, apabila ia telah dewasa dan layak untuk berumah tangga, dialah yang mendapatkan mahar dari calon suaminya. Kita misalkan saja mahar itu sebesar Rp 1 juta. Maka anak perempuan itu telah memiliki uang sebanyak Rp 2 juta (satu juta dari harta warisan dan satu juta lagi dari mahar pemberian calon suaminya). Sementara itu, sebagai istri ia tidak dibebani tanggung jawab untuk membiayai kebutuhan nafkah rumah tangganya, sekalipun ia memiliki harta yang banyak dan hidup dalam kemewahan. Sebab dalam Islam kaum laki-lakilah yang berkewajiban memberi nafkah istrinya, baik berupa sandang, pangan, dan papan. Jadi, harta warisan anak perempuan semakin bertambah, sedangkan harta warisan anak laki-laki habis. Dalam keadaan seperti ini manakah di antara kaum laki-laki dan kaum wanita yang lebih banyak menikmati harta dan lebih berbahagia keadaannya? Laki-laki ataukah wanita? Inilah logika keadilan dalam agama, sehingga pembagian hak laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada hak kaum wanita. 1 Tafsir al-Qurthubi, juz V, hlm. 56. B. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam Sebelum Islam datang, kaum wanita sama sekali tidak mempunyai hak untuk menerima warisan dari peninggalan pewaris (orang tua ataupun kerabatnya). Dengan dalih bahwa kaum wanita tidak dapat ikut berperang membela kaum dan sukunya. Bangsa Arab jahiliah dengan tegas menyatakan, "Bagaimana mungkin kami memberikan warisan (harta peninggalan) kepada orang yang tidak bisa dan tidak pernah menunggang kuda, tidak mampu memanggul senjata, serta tidak pula berperang melawan musuh." Mereka mengharamkan kaum wanita menerima harta warisan, sebagaimana mereka mengharamkannya kepada anak-anak kecil. Sangat jelas bagi kita bahwa sebelum Islam datang bangsa Arab memperlakukan kaum wanita secara zalim. Mereka tidak memberikan hak waris kepada kaum wanita dan anak-anak, baik dari harta peninggalan ayah, suami, maupun kerabat mereka. Barulah setelah Islam datang ada ketetapan syariat yang memberi mereka hak untuk mewarisi harta peninggalan kerabat, ayah, atau suami mereka dengan penuh kemuliaan, tanpa direndahkan. Islam memberi mereka hak waris, tanpa boleh siapa pun mengusik dan menentangnya. Inilah ketetapan yang telah Allah pastikan dalam syariat-Nya sebagai keharusan yang tidak dapat diubah. Ketika turun wahyu kepada Rasulullah saw. --berupa ayat-ayat tentang waris-- kalangan bangsa Arab pada saat itu merasa tidak puas dan keberatan. Mereka sangat berharap kalau saja hukum yang tercantum dalam ayat tersebut dapat dihapus (mansukh). Sebab menurut anggapan mereka, memberi warisan kepada kaum wanita dan anak-anak sangat bertentangan dengan kebiasaan dan adat yang telah lama mereka amalkan sebagai ajaran dari nenek moyang. Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan sebuah kisah yang bersumber dari Abdullah Ibnu Abbas r.a.. Ia berkata: "Ketika ayat-ayat yang menetapkan tentang warisan diturunkan Allah kepada RasulNya --yang mewajibkan agar memberikan hak waris kepada laki-laki, wanita, anak-anak, kedua orang tua, suami, dan istri-- sebagian bangsa Arab merasa kurang senang terhadap ketetapan tersebut. Dengan nada keheranan sambil mencibirkan mereka mengatakan: 'Haruskah memberi seperempat bagian kepada kaum wanita (istri) atau seperdelapan.' Memberikan anak perempuan setengah bagian harta peninggalan? Juga haruskah memberikan warisan kepada anak-anak ingusan? Padahal mereka tidak ada yang dapat memanggul senjata untuk berperang melawan musuh, dan tidak pula dapat andil membela kaum kerabatnya. Sebaiknya kita tidak perlu membicarakan hukum tersebut. Semoga saja Rasulullah melalaikan dan mengabaikannya, atau kita meminta kepada beliau agar berkenan untuk mengubahnya.' Sebagian
11

dari mereka berkata kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah, haruskah kami memberikan warisan kepada anak kecil yang masih ingusan? Padahal kami tidak dapat memanfaatkan mereka sama sekali. Dan haruskah kami memberikan hak waris kepada anak-anak perempuan kami, padahal mereka tidak dapat menunggang kuda dan memanggul senjata untuk ikut berperang melawan musuh?'" Inilah salah satu bentuk nyata ajaran syariat Islam dalam menyantuni kaum wanita; Islam telah mampu melepaskan kaum wanita dari kungkungan kezaliman zaman. Islam memberikan hak waris kepada kaum wanita yang sebelumnya tidak memiliki hak seperti itu, bahkan telah menetapkan mereka sebagai ashhabul furudh (kewajiban yang telah Allah tetapkan bagian warisannya). Kendatipun demikian, dewasa ini masih saja kita jumpai pemikiran yang kotor yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang berhati buruk. Mereka beranggapan bahwa Islam telah menzalimi kaum wanita dalam hal hak waris, karena hanya memberikan separo dari hak kaum laki-laki. Anggapan mereka semata-mata dimaksudkan untuk memperdaya kaum wanita tentang hak yang mereka terima. Mereka berpura-pura akan menghilangkan kezaliman yang menimpa kaum wanita dengan cara menyamakan hak kaum wanita dengan hak kaum laki-laki dalam hal penerimaan warisan. Mereka yang memiliki anggapan demikian sama halnya menghasut kaum wanita agar mereka menjadi pembangkang dan pemberontak dengan menolak ajaran dan aturan hukum dalam syariat Islam. Sehingga pada akhirnya kaum wanita akan menuntut persamaan hak penerimaan warisan yang sama dan seimbang dengan kaum laki-laki. Yang sangat mengherankan dan sulit dicerna akal sehat ialah bahwa mereka yang berpura-pura prihatin tentang hak waris kaum wanita, justru mereka sendiri sangat bakhil terhadap kaum wanita dalam hal memberi nafkah. Subhanallah! Sebagai bukti, mereka bahkan menyuruh kaum wanita untuk bekerja demi menghidupi diri mereka, di antara mereka bekerja di ladang, di kantor, di tempat hiburan, bar, kelab malam, dan sebagainya. Corak pemikiran seperti ini dapat dipastikan merupakan hembusan dari Barat yang banyak diikuti oleh orang-orang yang teperdaya oleh kedustaan mereka. Kultur seperti itu tidak menghormati kaum wanita, bahkan tidak menempatkan mereka pada timbangan yang adil. Budaya mereka memandang kaum wanita tidak lebih sebagai pemuas syahwat. Mereka sangat bakhil dalam memberikan nafkah kepada kaum wanita, dan mengharamkan wanita untuk mengatur harta miliknya sendiri, kecuali dengan seizin kaum laki-laki (suaminya). Lebih dari itu, budaya mereka mengharuskan kaum wanita bekerja guna membiayai hidupnya. Kendatipun telah nyata demikian, mereka masih menuduh bahwa Islam telah menzalimi dan membekukan hak wanita. C. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris Banyak riwayat yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat-ayat waris, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Suatu ketika istri Sa'ad bin ar-Rabi' datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa kedua orang putrinya. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, kedua putri ini adalah anak Sa'ad bin ar-Rabi' yang telah meninggal sebagai syuhada ketika Perang Uhud. Tetapi paman kedua putri Sa'ad ini telah mengambil seluruh harta peninggalan Sa'ad, tanpa meninggalkan barang sedikit pun bagi keduanya." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Semoga Allah segera memutuskan perkara ini." Maka turunlah ayat tentang waris yaitu (an-Nisa': 11). Rasulullah saw. kemudian mengutus seseorang kepada paman kedua putri Sa'ad dan memerintahkan kepadanya agar memberikan dua per tiga harta peninggalan Sa'ad kepada kedua putri itu. Sedangkan ibu mereka (istri Sa'ad) mendapat bagian seperdelapan, dan sisanya menjadi bagian saudara kandung Sa'ad. Dalam riwayat lain, yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabari, dikisahkan bahwa Abdurrahman bin Tsabit wafat dan meninggalkan seorang istri dan lima saudara perempuan. Namun, seluruh harta peninggalan Abdurrahman bin Tsabit dikuasai dan direbut oleh kaum laki-laki dari kerabatnya. Ummu Kahhah (istri Abdurrahman) lalu mengadukan masalah ini kepada Nabi saw., maka turunlah ayat waris sebagai jawaban persoalan itu. Masih ada sederetan riwayat sahih yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat waris ini. Semua riwayat tersebut tidak ada yang menyimpang dari inti permasalahan, artinya bahwa turunnya ayat waris sebagai penjelasan dan ketetapan Allah disebabkan pada waktu itu kaum wanita tidak mendapat bagian harta warisan. D. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris Pertama:
12

Firman Allah yang artinya "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan," menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut:

1. Apabila pewaris (orang yang meninggal) hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak
perempuan, maka harta peninggalannya dibagi untuk keduanya. Anak laki-laki mendapat dua bagian, sedangkan anak perempuan satu bagian.

2. Apabila ahli waris berjumlah banyak, terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan, maka bagian untuk lakilaki dua kali lipat bagian anak perempuan.

3. Apabila bersama anak (sebagai ahli waris) ada juga ashhabul furudh, seperti suami atau istri, ayah atau ibu,
maka yang harus diberi terlebih dahulu adalah ashhabul furudh. Setelah itu barulah sisa harta peninggalan yang ada dibagikan kepada anak. Bagi anak laki-laki dua bagian, sedangkan bagi anak perempuan satu bagian.

4. Apabila pewaris hanya meninggalkan satu anak laki-laki, maka anak tersebut mewarisi seluruh harta
peninggalan. Meskipun ayat yang ada tidak secara sharih (tegas) menyatakan demikian, namun pemahaman seperti ini dapat diketahui dari kedua ayat yang ada. Bunyi penggalan ayat yang dikutip sebelumnya (Butir 1) rnenunjukkan bahwa bagian laki-laki adalah dua kali lipat bagian anak perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat (artinya) "jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta". Dari kedua penggalan ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa bila ahli waris hanya terdiri dari seorang anak lakilaki, maka ia mendapatkan seluruh harta peninggalan pewaris.

5. Adapun bagian keturunan dari anak laki-laki (cucu pewaris), jumlah bagian mereka sama seperti anak,
apabila sang anak tidak ada (misalnya meninggal terlebih dahulu). Sebab penggalan ayat (artinya) "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu", mencakup keturunan anak kandung. Inilah ketetapan yang telah menjadi ijma'. Kedua: Hukum bagian kedua orang tua. Firman Allah (artinya): "Dan untuk dua orang ibu-hapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam." Penggalan ayat ini menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut:

1. Ayah dan ibu masing-masing mendapatkan seperenam bagian apabila yang meninggal mempunyai
keturunan.

2. Apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, maka ibunya mendapat bagian sepertiga dari harta yang
ditinggalkan. Sedangkan sisanya, yakni dua per tiga menjadi bagian ayah. Hal ini dapat dipahami dari redaksi ayat yang hanya menyebutkan bagian ibu, yaitu sepertiga, sedangkan bagian ayah tidak disebutkan. Jadi, pengertiannya, sisanya merupakan bagian ayah.

3. Jika selain kedua orang tua, pewaris mempunyai saudara (dua orang atau lebih), maka ibunya mendapat
seperenam bagian. Sedangkan ayah mendapatkan lima per enamnya. Adapun saudara-saudara itu tidaklah mendapat bagian harta waris dikarenakan adanya bapak, yang dalam aturan hukum waris dalam Islam dinyatakan sebagai hajib (penghalang). Jika misalnya muncul pertanyaan apa hikmah dari penghalangan saudara pewaris terhadap ibu mereka --artinya bila tanpa adanya saudara (dua orang atau lebih) ibu mendapat sepertiga bagian, sedangkan jika ada saudara kandung pewaris ibu hanya mendapatkan seperenam bagian? Jawabannya, hikmah adanya hajib tersebut dikarenakan ayahlah yang menjadi wali dalam pernikahan mereka, dan wajib memberi nafkah mereka. Sedangkan ibu tidaklah demikian. Jadi, kebutuhannya terhadap harta lebih besar dan lebih banyak dibandingkan ibu, yang memang tidak memiliki kewajiban untuk membiayai kehidupan mereka. Ketiga:
13

Bahkan tidak akan dapat merealisasikan pembagian yang adil seperti yang telah ditetapkan dalam ayat-ayat Allah. kemudian barulah melaksanakan wasiat bila memang ia berwasiat sebelum meninggal. Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Namun. Apabila seorang istri meninggal dan ia mempunyai keturunan (anak). maka bagian istri adalah seperempat. jika mereka tidak mempunyai anak. tetapi Allah. Jadi. 2. secara hakiki. Apabila seorang istri meninggal dan tidak mempunyai keturunan (anak). Hal ini tidak diserahkan kepada manusia. maka istri mendapat bagian seperdelapan. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Apabila seorang suami meninggal dan dia tidak mempunyai anak (keturunan). Selain itu. maka Allah SWT mendahulukan penyebutannya." Penggalan ayat tersebut menjelaskan tentang hukum waris bagi suami dan istri. yang mempiutangi akan menuntut para ahli warisnya. lalu barulah melaksanakan wasiatnya. agar manusia tidak melecehkan wasiat dan jiwa manusia tidak menjadi kikir (khususnya para ahli waris).. dan lebih relevan bagi umat manusia dan kemanusiaan selain Allah? Kelima: Firman Allah (artinya) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu." Hikmah mendahulukan pembayaran utang dibandingkan melaksanakan wasiat adalah karena utang merupakan keharusan yang tetap ada pada pundak orang yang utang. Bagian suami: 1. siapakah yang dapat membuat aturan dan undang-undang yang lebih baik. kalaupun tidak ditunaikan tidak akan ada orang yang menuntutnya. karena bagaimanapun bentuk usaha manusia untuk mewujudkan keadilan tidaklah akan mampu melaksanakannya secara sempurna. 2." Penggalan ayat ini dengan tegas memberi isyarat bahwa Allah yang berkompeten dan paling berhak untuk mengatur pembagian harta warisan. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. siapa pun orangnya. Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. lebih adil. Keenam: 14 . cara ataupun aturan pembagiannya." Secara zhahir wasiat harus didahulukan ketimbang membayar utang orang yang meninggal. maka suami mendapat bagian seperempat dari harta yang ditinggalkan. Manusia tidak akan tahu manakah di antara orang tua dan anak yang lebih dekat atau lebih besar kemanfaatannya terhadap seseorang. Inilah yang diamalkan Rasulullah saw. baik ketika ia masih hidup ataupun sesudah mati. Pembagian yang ditentukan-Nya pasti adil. utang-utang pewaris terlebih dahulu ditunaikan. kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Apabila seorang suami meninggal dan dia mempunyai anak (keturunan). Jika kamu mempunyai anak. Di sisi lain. Sedangkan wasiat hanyalah suatu amalan sunnah yang dianjurkan. Keempat: Firman Allah (artinya) "orang tuamu dan anak-anakmu. Maha Suci Dzat-Nya. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: "Sesungguhnya kalian telah membaca firman Allah [tulisan Arab] dan Rasulullah telah menetapkan dengan menunaikan utang-utang orang yang meninggal. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. utanglah yang mesti terlebih dahulu ditunaikan. Bila demikian. utang tersebut akan tetap dituntut oleh orang yang mempiutanginya.Utang orang yang meninggal lebih didahulukan daripada wasiat. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. sehingga bila yang berutang meninggal. Bagian istri: 1. maka suami mendapat bagian separo dari harta yang ditinggalkan istrinya. Bagi suami atau istri masing-masing mempunyai dua cara pembagian.

Sedangkan utang yang dimaksud berdampak negatif. Apabila seseorang meninggal dan mempunyai satu orang saudara laki-laki seibu atau satu orang saudara perempuan seibu. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.Hukum yang berkenaan dengan hak waris saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. " Ketujuh: Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sudah dibayar utangnya dengan tidak membebani mudarat (kepada ahli waris)". saudara laki-laki mendapat bagian yang sama dengan bagian saudara perempuan. 15 . Dampak negatif mengenai wasiat yang dimaksudkan di sini. misalnya. dan yang kedua pada akhir surat anNisa'. Dengan demikian. Ulama sepakat (ijma') bahwa kalaalah ialah seseorang yang mati namun tidak mempunyai ayah dan tidak memiliki keturunan. Jadi. Jika yang meninggal mempunyai saudara seibu dua orang atau lebih. maka karena dariku dan dari setan.a. bagi satu saudara mendapat seperenam bagian. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. misalnya seseorang yang mengakui mempunyai utang padahal sebenamya ia tidak berutang. dan Allah terbebas dari kekeliruan tersebut. maka wajib untuk tidak dilaksanakan. Pengertian inilah yang disepakati oleh ulama. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). pengertian istilah ikhwah dalam ayat ini harus dibedakan dengan pengertian ikhwah yang terdapat dalam ayat akhir surat an-Nisa' untuk meniadakan pertentangan antara dua ayat. Menurut saya. Yang pertama dalam ayat ini. Adapun yang dijadikan dalil oleh ulama ialah bahwa Allah SWT telah menjelaskan --dalam firman-Nya-. Sementara itu. Dalam ayat yang disebut terakhir ini. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. baik wasiat atau utang yang dapat menimbulkan mudarat (berdampak negatif) pada ahli waris tidak wajib dilaksanakan. Adapun bila pendapat ini salah. Kalaalah adalah orang yang meninggal yang tidak mempunyai ayah dan anak. mereka mendapatkan dua per tiga bagian dan dibagi secara rata. sedangkan bila jumlah saudaranya banyak maka mendapatkan sepertiga dari harta peninggalan dan dibagi secara rata. dapat dipastikan bahwa pengertian kata ikhwah dalam ayat tersebut (an-Nisa': 12) adalah 'saudara seibu'. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). Oleh karenanya. Jadi. Jadi. tidak mencakup saudara kandung dan tidak pula saudara laki-laki atau saudara perempuan "seayah lain ibu".tentang hak waris saudara dari pewaris sebanyak dua kali. sedangkan bila dua atau lebih ia mendapat bagian dua per tiga. atau dengan kata lain dia tidak mempunyai pokok dan cabang. Kata ini misalnya digunakan dalam kalimat kalla ar-rajulu.. " Yang dimaksud ikhwah (saudara) dalam penggalan ayat ini (an-Nisa': 12) adalah saudara laki-laki atau saudara perempuan "seibu lain ayah". Kata kalaalah diambil dari kata al-kalla yang bermakna 'lemah'. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq r. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. karena saudara kandung atau saudara seayah kedudukannya lebih dekat --dalam urutan nasab-dibandingkan saudara seibu. Makna Kalaalah Pengertian kalaalah ialah seseorang meninggal tanpa memiliki ayah ataupun keturunan. seseorang yang berwasiat untuk menyedekahkan hartanya lebih dari sepertiga. sedangkan untuk kata yang sama di dalam akhir surat an-Nisa' memiliki pengertian 'saudara kandung' atau 'saudara seayah'. B. Apabila pendapat saya ini benar maka hanyalah dari Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Firman-Nya (artinya): "Jika seseorang mati. mendapat separo harta peninggalan. yang artinya 'apabila orang itu lemah dan hilang kekuatannya'. ia berkata: "Saya mempunyai pendapat mengenai kalaalah. jika sendirian. Rincian Beberapa Keadaan Bagian Saudara Seibu A. maka Allah menetapkan bagian keduanya lebih besar dibandingkan saudara seibu. baik laki-laki maupun perempuan. maka bagian yang diperolehnya adalah seperenam. Sebab yang zhahir dari firman-Nya [tulisan Arab] menunjukkan adanya keharusan untuk dibagi dengan rata sama besar-kecilnya. Ayat tersebut menunjukkan dengan tegas bahwa apabila wasiat dan utang nyata-nyata mengandung kemudaratan. Sementara itu. ayat akhir surat an-Nisa' menjelaskan bahwa saudara perempuan.

Apabila seseorang meninggal dan hanya mempunyai satu orang saudara kandung perempuan ataupun seayah. Begitulah hukum bagi saudara seayah. maka ahli waris mendapat separo harta peninggalan. Apabila pewaris mempunyai banyak saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan atau seayah. maka bagi ahli waris yang laki-laki mendapatkan dua kali bagian saudara perempuan. 16 . jika ternyata tidak ada saudara laki-laki yang sekandung atau saudara perempuan yang sekandung. dan ia tidak mempunyai ayah atau anak. maka bagian ahli waris adalah dua per tiga dibagi secara rata.Hukum Keadaan Saudara Kandung atau Seayah Firman Allah SWT dalam surat an-Nisa': 176 mengisyaratkan adanya beberapa keadaan tentang bagian saudara kandung atau saudara seayah. dan tidak mempunyai ayah atau anak. B. A. Apabila seorang saudara kandung perempuan meninggal. Apabila pewaris mempunyai dua orang saudara kandung perempuan atau seayah ke atas.maka dibagi secara rata sesuai jumlah kepala. Apabila saudara kandungnya banyak --lebih dari satu-. C. D. bila ternyata pewaris (yang meninggal) tidak mempunyai ayah atau anak. maka seluruh harta peninggalannya menjadi bagian saudara kandung laki-lakinya.

baik berupa harta (uang) atau lainnya. dengan catatan tidak boleh berlebihan. sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits Rasulullah saw.. Definisi Waris Al-miirats." (an-Naml: 16) ". Oleh karena itu. Dapat dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu hukum secara detail dan rinci. dan ijma' para ulama sangat sedikit. Dan Kami adalah pewarisnya. Ayat-ayat Al-Qur'an banyak menegaskan hal ini.. atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya). Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang 17 . apakah dia sebagai anak. pada prinsipnya segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan. Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang. Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup. Syariat Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya. atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i. baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang). Pengertian Peninggalan Pengertian peninggalan yang dikenal di kalangan fuqaha ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris. demikian pula sabda Rasulullah saw. tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan." (al-Qashash: 58) Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw. tanah. cucu. Hal demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah SWT. Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan pembagian waris. besar atau kecil. atau dari suatu kaum kepada kaum lain. ayah.. Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta. baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal. tetapi mencakup harta benda dan non harta benda. Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain'.. ibu. kakek. Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan Dari sederetan hak yang harus ditunaikan yang ada kaitannya dengan harta peninggalan adalah: 1. Di antaranya Allah berfirman: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud . atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu. kecuali hukum waris ini. Di samping bahwa harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok masyarakat.: 'Ulama adalah ahli waris para nabi'. dari seluruh kerabat dan nasabnya. suami. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia. baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus gadai). dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsan-miiraatsan. A. WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM SYARIAT Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan adil. Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun. Jadi.. paman.II. istri.

ulama mazhab Hambali menyamakan antara utang kepada sesama hamba dengan utang kepada Allah. Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan mayit. Padahal. Namun. baik pewaris mewasiatkan ataupun tidak. pembelian kain kafan. dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. Rasulullah saw. Pendapat mazhab ini. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. biaya memandikan. maka wasiatnya tidak wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli warisnya. Menurut jumhur ulama. 2. bila sang mayit berwasiat. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya. Karena itu wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga meminta-minta kepada orang. tetapi termasuk hak yang menyangkut harta peninggalan pewaris. sedangkan kewajiban ibadah gugur jika seseorang telah meninggal dunia. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah saw. atau belum memenuhi kafarat (denda). sejak wafatnya hingga pemakamannya. Hanya saja mazhab ini lebih mengutamakan agar mendahulukan utang yang berkaitan dengan sesama hamba daripada utang kepada Allah.a. seperti belum membayar zakat. Keduanya wajib ditunaikan secara bersamaan sebelum seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada setiap ahli waris. atau belum menunaikan nadzar. biaya pemakaman. bersabda: ". Artinya.dibutuhkan mayit. menurut mereka. Adapun jika utang tersebut berkaitan dengan Allah SWT. menurut saya. Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu. Sedangkan jumhur ulama yang menyatakan bahwa ahli waris wajib untuk menunaikan utang pewaris terhadap Allah beralasan bahwa hal tersebut sama saja seperti utang kepada sesama manusia. maka di kalangan ulama ada sedikit perbedaan pandangan. seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu.. baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya. Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli warisnya untuk menunaikannya sebelum harta warisan (harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya.. termasuk diambil untuk membayar utangnya. 3. meskipun kewajiban tersebut dinyatakan telah gugur bagi orang yang sudah meninggal. Di antaranya. dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang yang sudah meninggal. ketika menjawab pertanyaan Sa'ad bin Abi Waqash r. Bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkannya. tentunya bila sebelumnya mayit tidak berwasiat kepada ahli waris untuk membayarnya. Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya. Hal ini tentu saja merupakan keputusan Allah SWT. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa hak yang berhubungan dengan Allah wajib ditunaikan oleh ahli warisnya sama seperti mereka diwajibkan menunaikan utang piutang pewaris yang berkaitan dengan hak sesama hamba." Maksud hadits ini adalah utang piutang yang bersangkutan dengan sesama manusia. Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. Akan tetapi.: "Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan. Bahkan menurut pandangan ulama mazhab Syafi'i hal tersebut wajib ditunaikan sebelum memenuhi hak yang berkaitan dengan hak sesama hamba." 18 . ia tetap akan dikenakan sanksi kelak pada hari kiamat sebab ia tidak menunaikan kewajiban ketika masih hidup. --pada waktu itu Sa'ad sakit dan berniat menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal. hal ini merupakan amalan yang tidak memerlukan niat karena bukan termasuk ibadah mahdhah. dan sepertiga itu banyak. Sepertiga. maka wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris. Kalangan ulama mazhab Hanafi beralasan bahwa menunaikan hal-hal tersebut merupakan ibadah. pengamalan suatu ibadah harus disertai dengan niat dan keikhlasan. Sementara itu.

kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang berhak menerima sisa harta waris --jika ada-. 5. Misalnya. paman kandung. Misalnya anak laki-laki pewaris. seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan. Hal ini tentu saja berbeda dengan utang piutang. Padahal secara syar'i. maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya. Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri). Setelah ashhabul furudh. diantaranya agar ahli waris menjaga dan benarbenar melaksanakannya. Ashhabul furudh. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur'an. Bahkan. Sebab wasiat tidak ada yang menuntut hingga kadang-kadang seseorang enggan menunaikannya. jika ternyata tidak ada ahli waris lainnya. dan cucu perempuan dari anak perempuan. Maka. dan sebagai 'ashabah. istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. baru kemudian melaksanakan wasiat. maka istri mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya. ayah. Mewariskan kepada kerabat. juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim. istri. Itulah sebabnya wasiat lebih didahulukan penyebutannya dalam susunan ayat tersebut.setelah ashhabul furudh menerima bagian). Tambahan hak waris bagi suami atau istri. saudara kandung pewaris. Misalnya. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan derajatnya: 1. Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan kepada ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya. Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris yang masih memiliki kaitan rahim --tidak termasuk ashhabul furudh juga 'ashabah. bila pewaris tidak mempunyai kerabat sebagai ashhabul furudh. misalnya ibu. Oleh karena itu. cucu dari anak laki-laki pewaris. didahulukannya penyebutan wasiat tentu mengandung hikmah. Yang dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun perempuan). Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yang menerima sisa harta warisan yang telah dibagikan. Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan. cucu laki-laki dari anak perempuan. Ashabat nasabiyah. Dengan demikian. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang meninggal. 19 . seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya. tidak pula 'ashabah. maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh masing-masing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. Ashabah karena sebab. maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri. dan seterusnya.4. wasiat memang lebih dahulu disebutkan daripada soal utang piutang. paman (saudara ibu). 2. 3. sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya. Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan. para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan. As-Sunnah. Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah. 4. dan ijma'. persoalan utang piutang hendaklah terlebih dahulu diselesaikan. ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan. suami. bibi (saudara ayah). sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan dibandingkan lainnya. Catatan: Pada ayat waris. Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa. 6. Adapun suami atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada. dan lainnya). Misalnya. Derajat Ahli Waris Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan derajat dan urutan. B. As-Sunnah. Tetapi pada masa kini sudah tidak ada lagi. Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur'an. bibi (saudara ibu). dan kesepakatan para ulama (ijma'). barulah ashabat nasabiyah menerima bagian.

Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat --seperti yang saya jelaskan-. Harta warisan.maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untuk kemaslahatan umum. seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan. C. Hak waris secara pertalian rahim. Hakwaris secara fardh (yang telah ditentukan bagiannya). Yang dimaksud di sini ialah orang lain.7. Baitulmal (kas negara). anak. C. 8. baik berupa uang. D. dan sebagainya. paman. Rukun Waris Rukun waris ada tiga: 1. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya. Pewaris. 3. Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris. bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki. 2. Hak waris secara tambahan. Disebut juga wala al-'itqi dan wala an-ni'mah. Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan. dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya. tanah. 3. yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. saudara. Ahli waris. Pernikahan. yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara seorang laki-laki dan perempuan. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari pihak ayah). Pada bagian berikutnya butir-butir tersebut akan saya jelas secara detail. yaitu kekerabatan karena sebab hukum. Misalnya. E. tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian. Sebab-sebab Adanya Hak Waris Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris: 1. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi. Bentuk-bentuk Waris A. yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan. Al-Wala. atau lainnya. seperti kedua orang tua. Adapun pernikahan yang batil atau rusak. 2. B. yakni orang yang meninggal dunia. Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab). 20 . dan seterusnya. artinya bukan salah seorang dan ahli waris. D.

Hal ini harus diketahui secara pasti.-ialah bahwa seseorang telah meninggal dan diketahui oleh seluruh ahli warisnya atau sebagian dari mereka. Hal seperti ini oleh kalangan fuqaha digambarkan seperti orang yang sama-sama meninggal dalam suatu kecelakaan kendaraan. Hak kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia. misalnya suami. karena bagaimanapun keadaannya. manusia yang masih hidup tetap dianggap mampu untuk mengendalikan seluruh harta miliknya. ada yang terhalang hingga tidak mendapatkan warisan (mahjub). kerabat. Akan tetapi harus dinyatakan apakah ia sebagai saudara kandung. 3. pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup. istri. Misalnya. dan sebagainya. orang yang hilang yang keadaannya tidak diketahui lagi secara pasti. jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling mewarisi meninggal dalam satu peristiwa --atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu meninggal-. dalam hukum waris perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan jumlah yang diterima. Mereka masing-masing mempunyai hukum bagian. mereka adalah golongan orang yang tidak dapat saling mewarisi. 2. Sebagai contoh. tertimpa puing. Syarat Waris Syarat-syarat waris juga ada tiga: 1. serta ada yang tidak terhalang. Budak 21 . dalam hal ini ada tiga: 1. kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa seseorang adalah saudara sang pewaris. atau saudara seibu. Penggugur Hak Waris Penggugur hak waris seseorang maksudnya kondisi yang menyebabkan hak waris seseorang menjadi gugur. atau tenggelam. sehingga hakim memvonisnya sebagai orang yang telah meninggal. atau vonis yang ditetapkan hakim terhadap seseorang yang tidak diketahui lagi keberadaannya. G. Syarat Kedua: Masih hidupnya para ahli waris Maksudnya. sehingga pembagi mengetahui dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris. ada yang berhak menerima warisan karena sebagai ahlul furudh. saudara seayah. Syarat Pertama: Meninggalnya pewaris Yang dimaksud dengan meninggalnya pewaris --baik secara hakiki ataupun secara hukum-. termasuk jumlah bagian masing-masing. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti. ada yang karena 'ashabah.maka di antara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang mereka miliki ketika masih hidup. Sebab. sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi.F. kecuali setelah ia meninggal. Sebagai contoh. Syarat Ketiga: Diketahuinya posisi para ahli waris Dalam hal ini posisi para ahli waris hendaklah diketahui secara pasti. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal). Para fuqaha menyatakan.

tetapi tidak boleh mewariskan kepada orang kafir. Syafi'i. Alhasil. Alasan mereka adalah bahwa Islam ya'lu walaayu'la 'alaihi (unggul. Ibnu Mas'ud. maka ia tidak berhak mendapatkan warisan.a. apakah dapat mewarisinya ataukah tidak. dengan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak). Bahkan kalangan ulama mazhab Hanafi sepakat mengatakan: "Seluruh harta peninggalan orang murtad diwariskan kepada kerabatnya yang muslim. atau mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya. yakni murtad. seperti ditegaskan Rasulullah saw. dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim. mudabbar (budak yang telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal)." Ada perbedaan di kalangan fuqaha tentang penentuan jenis pembunuhan. dan Hambali (jumhur ulama) bahwa seorang muslim tidak berhak mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad. Sebab. dan lainnya. yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi orang kafir. hanya pembunuhan yang disengaja atau yang direncanakan yang dapat menggugurkan hak waris. pendapat mazhab Hambali yang paling adil. " Dari pemahaman hadits Nabi tersebut lahirlah ungkapan yang sangat masyhur di kalangan fuqaha yang sekaligus dijadikan sebagai kaidah: "Siapa yang menyegerakan agar mendapatkan sesuatu sebelum waktunya. Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak. karenanya orang murtad tidak dapat mewarisi orang Islam. Misalnya. 22 . Maksudnya. Sebagian ulama ada yang menambahkan satu hal lagi sebagai penggugur hak mewarisi. Baik budak itu sebagai qinnun (budak murni). Sementara itu." Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq. atau membayar kafarat. atau bahkan hanya membenarkan kesaksian para saksi lain dalam pelaksanaan qishash atau hukuman mati pada umumnya. sekalipun hanya memberikan kesaksian palsu dalam pelaksanaan hukuman rajam.Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya. bolehkah seorang muslim mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad? Menurut mazhab Maliki. Selain itu tidak tergolong sebagai penggugur hak waris. maka dia tidak mendapatkan bagiannya. orang yang murtad berarti telah keluar dari ajaran Islam sehingga secara otomatis orang tersebut telah menjadi kafir. pembunuhan dengan segala cara dan macamnya tetap menjadi penggugur hak waris. Menurut saya. Wallahu a'lam. apa pun agamanya. 3. Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw. di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan mengenai kerabat orang yang murtad. Perbedaan Agama Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim. dalam haditsnya. secara langsung menjadi milik tuannya. termasuk keempat imam mujtahid. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. bahwa antara muslim dan kafir tidaklah dapat saling mewarisi. dalam sabdanya: "Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir.: "Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta orang yang dibunuhnya. mazhab Hanafi menentukan bahwa pembunuhan yang dapat menggugurkan hak waris adalah semua jenis pembunuhan yang wajib membayar kafarat. Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengaku bersandar pada pendapat Mu'adz bin Jabal r. menurut mereka. 2. Sedangkan menurut mazhab Syafi'i. semua jenis budak merupakan penggugur hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak mempunyai hak milik. tidak ada yang mengunggulinya). Orang yang telah keluar dari Islam dinyatakan sebagai orang murtad. membayar diyat." (Bukhari dan Muslim) Jumhur ulama berpendapat demikian. Pembunuhan Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya). Ali bin Abi Thalib. Dalam hal ini ulama membuat kesepakatan bahwa murtad termasuk dalam kategori perbedaan agama. seorang muslim dapat saja mewarisi harta kerabatnya yang murtad. Karena itu. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat. Sedangkan menurut mazhab Hanafi. Mazhab Hambali berpendapat bahwa pembunuhan yang dinyatakan sebagai penggugur hak waris adalah setiap jenis pembunuhan yang mengharuskan pelakunya diqishash.

serta saudara kandung. yaitu 7/8. saudara kandung.Menurut penulis. menjadi hak sang anak sebagai 'ashabah. Sebagai contoh. Jika terjadi hal demikian. (4) kakek (dari pihak bapak). H. ibu. anak kita misalkan sebagai pembunuh. Karena itu. yaitu ayah. (7) saudara laki-laki seibu. (14) suami. adanya kakek bersamaan dengan adanya ayah. karena pewaris dianggap tidak memiliki anak. yang terkadang membingungkan sebagian orang yang sedang mempelajari faraid. Sedangkan mahjub adalah hilangnya hak waris seorang ahli waris disebabkan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya atau lebih kuat kedudukannya. (9) anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu. (11) paman (saudara bapak seayah). karena harta warisan yang tidak memiliki ahli waris itu harus diserahkan kepada baitulmal. Kemudian sisanya. Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub Ada perbedaan yang sangat halus antara pengertian al-mahrum dan al-mahjub. Jadi. yaitu ayah pewaris. baik yang bertaraf nasional ataupun internasional. yaitu tiga per empat harta yang ada. (5) saudara kandung laki-laki. sisa harta yang ada. (13) anak laki-laki paman seayah. Seseorang yang tergolong ke dalam salah satu sebab dari ketiga hal yang dapat menggugurkan hak warisnya. ia tidak memperoleh bagian disebabkan adanya saudara kandung pewaris. Maka saudara kandung tidak mendapatkan warisan dikarenakan ter. (3) bapak. dan anak --dalam hal ini. Contoh Pertama Seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri. maka kakek tidak mendapatkan bagian warisannya dikarenakan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya dengan pewaris. (8) anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki. pendapat ulama mazhab Hanafi lebih rajih (kuat dan tepat) dibanding yang lainnya. Kalau saja anak itu tidak membunuh pewaris. Padahal pada masa sekarang tidak kita temui baitulmal yang dikelola secara rapi. menjadi hak saudara kandung sebagai 'ashabah Dalam hal ini anak tidak mendapatkan bagian disebabkan ia sebagai ahli waris yang mahrum. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki Ahli waris (yaitu orang yang berhak mendapatkan warisan) dari kaum laki-laki ada lima belas: (1) anak laki-laki. atau saudara seayah dengan adanya saudara kandung. di kalangan fuqaha dikenal dengan istilah mahrum. seperti membunuh atau berbeda agama. Begitu juga halnya dengan saudara seayah. Untuk lebih memperjelas gambaran tersebut. (6) saudara laki-laki seayah. maka bagian istri seperdelapan. sedangkan saudara kandung tidak mendapatkan bagian disebabkan sebagai ahli waris yang mahjub dengan adanya anak pewaris. Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat bagian seperempat harta yang ada. (12) anak laki-laki dari paman (saudara kandung ayah). 23 . ada baiknya saya jelaskan perbedaan makna antara kedua istilah tersebut. (10) paman (saudara kandung bapak). Maka kakek dan saudara seayah dalam hal ini disebut dengan istilah mahjub.mahjub oleh adanya ahli waris yang lebih dekat dan kuat dibandingkan mereka. Contoh Kedua Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan ayah. (15) laki-laki yang memerdekakan budak. saya sertakan contoh kasus dari keduanya. (2) cucu laki-laki (dari anak laki-laki).

(10) perempuan yang memerdekakan budak. (8) saudara perempuan seibu. I. (9) istri.dan seterusnya.Catatan Bagi cucu laki-laki yang disebut sebagai ahli waris di dalamnya tercakup cicit (anak dari cucu) dan seterusnya. Demikian pula yang dimaksud dengan nenek --baik ibu dari ibu maupun ibu dari bapak-. (6) saudara kandung perempuan. (5) nenek (ibu dari bapak). (7) saudara perempuan seayah. Ahli Waris dari Golongan Wanita Adapun ahli waris dari kaum wanita ada sepuluh: (1) anak perempuan. yang penting laki-laki dan dari keturunan anak laki-laki. Begitu pula yang dimaksud dengan kakek. 24 . (2) ibu. dan seterusnya. (4) nenek (ibu dari ibu). yang penting perempuan dari keturunan anak laki-laki. (3) anak perempuan (dari keturunan anak laki-laki). Catatan Cucu perempuan yang dimaksud di atas mencakup pula cicit dan seterusnya.

III. Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan. penj. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek. Sebab cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki sama kedudukannya dengan anak kandung perempuan bila anak kandung perempuan tidak ada. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan mendapat bagian separo. Dalilnya adalah firman Allah berikut: "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki). b. Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tersebut sebagai cucu tunggal). maka ia mendapat separo harta warisan yang ada". dengan tiga syarat: a. dan hal ini telah menjadi kesepakatan ulama. d. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah Ashhabul furudh yang berhak mendapatkan separo dari harta waris peninggalan pewaris ada lima. Saudara kandung perempuan akan mendapat bagian separo harta warisan.. maka anak perempuan pewaris tidak mendapat bagian setengah. Dalilnya sama dengan Butir 4 (an-Nisa': 176).. Apabila ia hanya seorang diri. dan bagi kalian (para suami) mendapat separo dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian. Kini mari kita kenali pembagiannya secara rinci. dua per tiga (2/3). yaitu setengah (1/2).. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki. baik anak keturunan itu dari suami tersebut ataupun bukan. dan tidak pula anak. Saudara perempuan seayah akan mendapat bagian separo dari harta warisan peninggalan pewaris. Maka firman-Nya "yushikumullahu fi auladikum". dengan empat syarat: a. 25 . Dalilnya adalah firman Allah: ". bila mereka (para istri) tidak mempunyai anak ." (an-Nisa': 12) 2. Rinciannya seperti berikut: 1. c.. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaituj: jika seorang meninggal dunia. Pewaris tidak mempunyai saudara kandung perempuan. sepertiga (1/3). dan seperenam (1/6).. c. Ia hanya seorang diri (tidak mempunyai saudara perempuan). seperempat (1/4). baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Anak perempuan (kandung) mendapat bagian separo harta peninggalan pewaris. A. seperdelapan (1/8). b. dengan dua syarat: a. Dalilnya sama saja dengan dalil bagian anak perempuan (sama dengan nomor 2).'" (an-Nisa': 176) 5. Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki. mencakup anak dan anak laki-laki dari keturunan anak. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. c. PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN JUMLAH bagian yang telah ditentukan Al-Qur'an ada enam macam. Pewaris tidak mempunyai anak laki-laki (berarti anak perempuan tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki. baik keturunan laki-laki ataupun keturunan perempuan. dengan tiga syarat: a. Apabila anak perempuan itu adalah anak tunggal. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak. dan tidak pula mempunyai keturunan. satu dari golongan laki-laki dan empat lainnya perempuan. saudara kandung perempuan. Kelima ashhabul furudh tersebut ialah suami. dan hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya . dan saudara perempuan seayah. baik anak laki-laki maupun perempuan. Bila kedua persyaratan tersebut tidak ada. siapa saja ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dengan bagian yang berhak ia terima. Dalilnya adalah firman Allah: "dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang. anak perempuan.. 4. 3. b. b.). dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan.

Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih.. yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-lakinya. Dalilnya adalah firman Allah SWT: ".. Yang dimaksud dengan "istri mendapat seperempat" adalah bagi seluruh istri yang dinikahi seorang suami yang meninggal tersebut. Jadi.." (an-Nisa': 12) D. Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih. dan semuanya terdiri dari wanita: 1. Ketentuan ini terikat oleh syarat-syarat seperti berikut: 1. yaitu dengan digunakannya kata lahunna (dalam bentuk jamak) yang bermakna 'mereka perempuan'. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih.B. bila suami mempunyai anak atau cucu. 3. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan Dari sederetan ashhabul furudh yang berhak memperoleh bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri. Dengan kata lain.tentang bagian istri. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri yang lain. baik seorang maupun lebih akan mendapatkan seperdelapan dari harta peninggalan suaminya. C. yaitu suami dan istri.. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak . bagian mereka tetap seperempat dari harta peninggalan. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah berikut: ". Rinciannya sebagai berikut: 1. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuh.." (an-Nisa': 12) Ada satu hal yang patut diketahui oleh kita --khususnya para penuntut ilmu-. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidak mempunyai saudara laki-laki. Jika kamu mempunyai anak. maka mereka tetap mendapat seperempat harta peninggalan suami mereka. Istri. baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya ataupun dari suami lain (sebelumnya). wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu . 4. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga Ahli waris yang berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3) dari harta peninggalan pewaris ada empat.. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya É" (an-Nisa': 12) 2... 2. Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan istrinya dengan satu syarat. baik anak tersebut lahir dari rahimnya ataupun dari rahim istri lainnya. Hal ini berdasarkan firman Allah di atas. yaitu apabila suami tidak mempunyai anak/cucu. Seorang istri akan mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan suaminya dengan satu syarat. yakni anak laki-laki dari pewaris. baik suami meninggalkan seorang istri ataupun empat orang istri. Dalilnya firman Allah berikut: 26 . Hal ini berdasarkan firman Allah berikut: ".. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih. sekalipun seorang suami meninggalkan istri lebih dari satu.. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat Adapun kerabat pewaris yang berhak mendapat seperempat (1/4) dari harta peninggalannya hanya ada dua.

Persyaratan yang harus dipenuhi bagi dua saudara perempuan seayah untuk mendapatkan bagian dua per tiga hampir sama dengan persyaratan dua saudara kandung perempuan.." (an-Nisa': 176) 4. --sebagaimana diungkapkan dalam bab sebelum ini. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan persyaratan sebagai berikut: a. Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan bahwa makna ayat itsnataini adalah 'dua anak perempuan atau lebih'. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan. Wallahu a'lam. 2. atau kakek. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa'ad bin ar-Rabi' r. Bila pewaris tidak mempunyai anak.. yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan) yang seibu. atau saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). hanya di sini (saudara seayah) ditambah dengan keharusan adanya saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). E. baik laki-laki atau perempuan. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Dan dalilnya sama. melainkan 'dua anak perempuan atau lebih'.. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu tidak mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah.. Pewaris tidak mempunyai anak kandung. hal ini merupakan kesepakatan para ulama. Dalilnya adalah firman Allah: ".". Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian dua per tiga (2/3). Wallahu a'lam. ayah. Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki... c. 27 .. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan. Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak perempuan lebih dari dua'.. Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai saudara laki-laki seayah. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . orang yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah "anak perempuan lebih dari dua" jelas tidak benar dan menyalahi ijma' para ulama. Jadi. atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki.a. Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan syarat sebagai berikut: a. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga Adapun ashhabul furudh yang berhak mendapatkan warisan sepertiga bagian hanya dua.. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. b. b." (an-Nisa': 11) Ada satu hal penting yang mesti kita ketahui agar tidak tersesat dalam memahami hukum yang ada dalam Kitabullah. Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga dengan syarat: 1. 3. Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki." (an-Nisa': 176) mencakup saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah. Sedangkan saudara perempuan seibu tidaklah termasuk dalam pengertian ayat tersebut. dengan persyaratan sebagai berikut: a. yaitu ijma' para ulama bahwa ayat "... maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan . c. b. c. Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki.. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki maupun perempuan). juga tidak mempunyai ayah atau kakek.

Jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak.. satu sebagai imam dan satu lagi sebagai makmum. Pembagian mereka berbeda dengan bagian para saudara laki-laki/perempuan kandung dan seayah... akan mendapat bagian sepertiga dengan syarat sebagai berikut: 1. Misalnya dalam istilah shalat jamaah. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. Kata bersekutu menunjukkan kebersamaan.. Dalil lain yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah firman Allah berikut: "Jika kamu berdua bertobat kepada Allah. Dalilnya adalah firman Allah: ". dua orang atau lebih. Yakni." (an-Nisa': 12) Catatan Yang dimaksud dengan kalimat "walahu akhun au ukhtun" dalam ayat tersebut adalah 'saudara seibu'. juga tidak mempunyai ayah atau kakak." (an-Nisa': 11) Catatan: Lafazh ikhwatun bila digunakan dalam faraid (ilmu tentang waris) tidak berarti harus bermakna 'tiga atau lebih'. lafazh ini bermakna 'dua atau lebih'. ada hal lain yang perlu kita tekankan di sini yakni tentang firman "fahum syurakaa 'u fits tsulutsi" (mereka bersekutu dalam yang sepertiga).. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki ataupun perempuan).. yang dalam hal ini bagian saudara laki-laki dua kali lipat bagian saudara perempuan. sebagaimana makna yang masyhur dalam bahasa Arab --sebagai bentuk jamak. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). 28 ..2. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Selain itu. dan jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan) É" (at-Tahrim: 4) Kemudian saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu." (an-Nisa': 11) Juga firman-Nya: ". Adapun dalilnya adalah firman Allah: ". Kesimpulannya. bagian saudara laki-laki dan perempuan seibu bila telah memenuhi syarat-syarat di atas ialah sepertiga. Sebab dalam bahasa bentuk jamak terkadang digunakan dengan makna 'dua orang'. yang berarti sah dilakukan hanya oleh dua orang.... dan pembagiannya sama rata baik yang laki-laki maupun perempuan. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu . Sebab Allah SWT telah menjelaskan hukum yang berkaitan dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan sekandung dalam akhir surat an-Nisa'. Jumlah saudara yang seibu itu dua orang atau lebih. 2. Namun. Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan). maka ibunya mendapat sepertiga. mereka harus membagi sama di antara saudara laki-laki dan perempuan seibu tanpa membedakan bahwa laki-laki harus memperoleh bagian yang lebih besar daripada perempuan.. maka ibunya mendapat seperenam. Karena itu seluruh ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "akhun au ukhtun" dalam ayat itu adalah saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. baik saudara itu sekandung atau seayah ataupun seibu. Juga menjelaskan hukum yang berkaitan dengan bagian saudara laki-laki dan perempuan seayah dalam ayat yang sama..

setelah sebelumnya dikurangi bagian suami atau istri. Suami mendapat bagian setengah (1/2) dari seluruh harta warisan yang ada. Kemudian ayah mendapat seluruh sisa yang ada. maka ibunya mendapat sepertiga". yakni 'umariyyatan dan al-gharawaini. Sedangkan bagian ayah adalah sisa harta yang ada sebagai 'ashabah. Dalam kasus ini. Untuk lebih jelas lagi saya berikan tabelnya: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Suami Ibu Ayah 1/2 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian suami Seluruh sisa peninggalan sebagai 'ashabah Jumlah Bagian Nilai 3 1 2 Dalam contoh kasus ini ibu mendapatkan bagian sepertiga dari sisa setelah diambil bagian suami pewaris. seorang ibu akan mendapat bagian sepertiga dari seluruh harta peninggalan pewaris bila ia mewarisi secara bersamaan dengan bapak --seperti telah saya jelaskan--. hak ayah menjadi dua kali lipat dari bagian yang diterima ibu. Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Jumlah Bagian Nilai 29 . karena kedua istilah ini sangat masyhur. Contoh Kedua Seorang suami meninggal dunia dan ia meninggalkan istri. Ibu mendapat sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil bagian suami. dan ayah. Sedangkan al-gharawaini bermakna 'dua bintang cemerlang'. dan ayah. berkaitan dengan ini ada dua istilah yang muncul dan dikenal di kalangan fuqaha. Disebut 'umariyyatan sebab kedua hal ini dilakukan oleh Umar bin Khathab dan disepakati oleh jumhur sahabat ridhwanullah 'alaihim. Dengan demikian. Agar lebih jelas. ibu mendapat bagian sepertiga dari harta warisan setelah diambil hak suami pewaris. sebab bila ia memperoleh sepertiga dari seluruh harta yang ada maka ia akan mendapat bagian dua kali lipat bagian ayah. saya sertakan contohnya. Istri mendapat bagian seperempat (1/4) dari seluruh harta peninggalan suaminya. ibu hanya diberi sepertiga bagian dari sisa harta warisan yang ada. Akan tetapi.berdasarkan pemahaman bagian ayat (artinya) "jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). ibu.Masalah 'Umariyyatan Pada asalnya. sedangkan ibu mendapat bagian tiga per empat dari sisa setelah diambil hak istri. ibu. Hal ini tentunya bertentangan dengan kaidah dasar faraid yang telah ditegaskan dalam Al-Qur'an dalam bagian ayat "lidzdzakari mitslu hazhzhil untsayain". Contoh Pertama Seorang istri wafat dan meninggalkan suami. Karenanya untuk tetap menegakkan kaidah dasar tersebut.

. apa yang dipahami Zaid dan dipilih oleh jumhur ulama serta ditetapkan oleh Umar bin Khathab itulah pendapat yang sahih. Sedangkan pendapat yang kedua diutarakan oleh Ibnu Abbas r. F. kecuali dalam tiga keadaan yang akan saya rinci dalam bab tersendiri. Jadi.Istri Ibu Ayah 1/4 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian istri Mendapat bagian seluruh sisa peninggalan yang ada sebagai 'ashabah 1 1 2 Dari kedua contoh tersebut tampak oleh kita bahwa pada hakikatnya bagian ibu pada tabel pertama adalah seperenam (1/6). (7) saudara laki-laki dan perempuan seibu. (2) kakek asli (bapak dari ayah). 3.. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang terkenal. (4) cucu perempuan keturunan anak laki-laki. baik sekandung. menurut hemat saya... 30 . sedangkan pada tabel kedua adalah seperempat (1/4). dalam keadaan demikian salah seorang kakek akan menduduki kedudukan seorang ayah. Bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Seorang ayah akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak. (5) saudara perempuan seayah. Masalah 'umariyyatan ini pernah terjadi pada masa sahabat. Dan untuk dua orang ibu bapak.. Bahkan Ibnu Abbas menyanggah pendapat Zaid bin Tsabit: "Apakah memang ada di dalam Al-Qur'an istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri?" Zaid menanggapinya dengan mengatakan: "Di dalam Kitabullah juga tidak disebutkan bahwa bagian ibu sepertiga dari seluruh harta peninggalan yang ada bila ibu bersama-sama mewarisi dengan salah satu suami atau istri. Menurutnya. baik saudara laki-laki ataupun perempuan.a. ibu tetap mendapat bagian sepertiga (1/3) dari seluruh harta yang ditinggalkan suami atau istri (anaknya). ataupun seibu. Pendapat pertama dintarakan oleh Zaid bin Tsabit r. yang kemudian diambil oleh jumhur ulama serta dikokohkan oleh Umar bin Khathab dengan menyatakan bahwa bagian ibu adalah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri. Wallahu a'lam. Bila pewaris mempunyai dua orang saudara atau lebih. 1. Sebab yang disebutkan di dalam Al-Qur'an hanya "wawaritsahu abawahu".. (6) nenek asli.a. Seorang kakek (bapak dari ayah) akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki dari keturunan anak --dengan syarat ayah pewaris tidak ada. b. (3) ibu. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Mereka adalah (1) ayah." (an-Nisa': 11) 2. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam Adapun asbhabul furudh yang berhak mendapat bagian seperenam (1/6) ada tujuh orang. baik anak laki-laki atau anak perempuan. Dalilnya firman Allah (artinya): "jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. Dalilnya firman Allah (artinya): ". dengan dua syarat: a.a. Adapun penyebutannya dengan istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri adalah karena menyesuaikan adab qur'ani. Ibu akan memperoleh seperenam (1/6) bagian dari harta yang ditinggalkan pewaris. jika yang meninggal itu mempunyai anak . Jadi. seayah. tepatnya masa Umar bin Khathab r. maka ibunya mendapat seperenam É" (an-Nisa': 11).

apabila yang meninggal (pewaris) mempunyai satu anak perempuan. maka saudara perempuan seayah mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna dari dua per tiga (2/3). Jadi." Catatan Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian seperenam (1/6) dengan syarat bila pewaris tidak mempunyai anak laki-laki.4." Mendengar jawaban Ibnu Mas'ud. Hal ini hukumnya sama denga keadaan jika cucu perempuan keturunan anak laki-laki bersamaan dengan adanya anak perempuan. Selain itu. Hal ini berlandaskan pada apa yang telah ditetapkan di dalam hadits sahih dan ijma' seluruh sahabat. Dalam keadaan demikian. Dalilnya adalah firman Allah (artinya) "jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). yang jelas seperenam itu dibagikan secara rata kepada mereka.a. 31 ." Merasa kurang puas dengan jawaban Abu Musa. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya bahwa Abu Musa al-Asy'ari r. apabila pewaris mempunyai seorang saudara kandung perempuan. bagi anak perempuan separo (1/2) harta peninggalan pewaris. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris mendapat seperenam (1/6). dan saudara perempuan. Abu Musa kemudian menjawab: "Bagi anak perempuan mendapat bagian separo (1/2). anak-anak perempuan itu berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3). maka tidak ada sisa kecuali seperenam (1/6) yang memang merupakan hak saudara perempuan seayah. sang penanya kembali menemui Abu Musa al-Asy'ari dan memberi tahu permasalahannya. sang penanya pergi mendatangi Ibnu Mas'ud. Dan persyaratannya adalah bila pewaris tidak mempunyai pokok (yakni kakek) dan tidak pula cabang (yakni anak. Ketentuan demikian baik nenek itu hanya satu ataupun lebih (dari jalur ayah maupun ibu). Nenek asli mendapatkan bagian seperenam (1/6) ketika pewaris tidak lagi mempunyai ibu. ditanya tentang masalah warisan seseorang yang meninggalkan seorang anak perempuan. 7. 5. Sebab ketika saudara perempuan kandung memperoleh setengah (1/2) bagian. dan yang setengah sisanya menjadi bagian saudara perempuan. Maka Ibnu Mas'ud berkata: "Aku akan memutuskan seperti apa yang pernah diputuskan Rasulullah saw. dan bagi cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai pelengkap 2/3. Kemudian Abu Musa berkata: "Janganlah sekali-kali kalian menanyaiku selama sang alim ada di tengah-tengah kalian. cucu perempuan dari keturunan anak laki-lakinya. dan sisanya menjadi bagian saudara perempuan pewaris. maka anak tersebut menjadi penggugur hak sang cucu. Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). pewaris juga tidak mempunyai anak perempuan lebih dari satu orang. Sebab jika lebih dari satu orang. 6. Saudara perempuan seayah satu orang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). anak perempuan tersebut mendapat bagian setengah (1/2). bila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan seayah atau lebih. sebagai pelengkap dua per tiga (2/3). dan sekaligus menjadi penggugur (penghalang) hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris.. Sebab bila ada anak laki-laki. baik laki-laki atau perempuan). maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta". Saudara laki-laki atau perempuan seibu akan mendapat bagian masing-masing seperenam (1/6) bila mewarisi sendirian.

dan tunggulah hingga aku menanyakannya kepada para sahabat Rasulullah saw. 32 ." Mendengar pernyataan al-Mughirah itu Abu Bakar kemudian memanggil nenek tadi dan memberinya seperenam (1/6).Ashhabus Sunan meriwayatkan bahwa seorang nenek datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r.a." Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengatakan kepada Abu Bakar: "Suatu ketika aku pernah menjumpai Rasulullah saw. memberikan hak seorang nenek seperenam (1/6). untuk menuntut hak warisnya. Wallahu a'lam. Abu Bakar menjawab: "Saya tidak mendapati hakmu dalam Al-Qur'an maka pulanglah dulu.

ayat tersebut tidak menjelaskan berapa bagian ayah. jika yang meninggal itu mempunyai anak. makna kalimat "wahuwa yaritsuha" memberi isyarat bahwa seluruh harta peninggalan menjadi haknya. Selain itu. Namun. maka seluruh harta peninggalannya menjadi milik kedua orang tua. Sebagai contoh. sedang kami golongan (yang kuat). cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Pada ayat ini tidak disebutkan bagian saudara kandung. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. Pengertian 'ashabah yang sangat masyhur di kalangan ulama faraid ialah orang yang menguasai harta waris karena ia menjadi ahli waris tunggal. Disebut demikian.: 33 . Inilah pengertian 'ashabah dari segi bahasa. ia juga menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing. Dalam ayat ini disebutkan bahwa bagian kedua orang tua (ibu dan bapak) masing-masing mendapatkan seperenam (1/6) apabila pewaris mempunyai keturunan. Ayat tersebut juga telah menegaskan bahwa bila pewaris tidak mempunyai anak. Demikian juga di dalam Al-Qur'an. Dalil Al-Qur'an yang lainnya ialah (artinya) "jika seorang meninggal dunia. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah apa yang disabdakan Rasulullah saw. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). Inilah makna 'ashabah. Tetapi bila pewaris tidak mempunyai anak. maka ibunya mendapat sepertiga" (an-Nisa': 11). penerimaan ayah disebabkan ia sebagai 'ashabah. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. dikarenakan mereka --yakni kerabat bapak-. sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi. kata ini sering kali digunakan. Namun. maka ibu mendapat bagian sepertiga (1/3).menguatkan dan melindungi. Dari sini dapat kita pahami bahwa sisa setelah diambil bagian ibu." (an-Nisa': 176). Dalam kalimat bahasa Arab banyak digunakan kata 'ushbah sebagai ungkapan bagi kelompok yang kuat. yang disebutkan justru saudara kandung akan menguasai (mendapatkan bagian) seluruh harta peninggalan yang ada bila ternyata pewaris tidak mempunyai keturunan. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Sedangkan pengertian 'ashabah menurut istilah para fuqaha ialah ahli waris yang tidak disebutkan banyaknya bagian di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan tegas. Dengan demikian. Dalil Hak Waris Para 'Ashabah Dalil yang menyatakan bahwa para 'ashabah berhak mendapatkan waris kita dapati di dalam Al-Qur'an dan AsSunnah. A.'" (Yusuf: 14) Maka jika dalam faraid kerabat diistilahkan dengan 'ashabah hal ini disebabkan mereka melindungi dan menguatkan. di antaranya dalam firman Allah berikut: "Mereka berkata: 'Jika ia benar-benar dimakan serigala. dan paman (saudara kandung ayah). Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan berasal dari pihak ayah. jika ia tidak mempunyai anak. dua per tiganya (2/3) menjadi hak ayah. Kemudian. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah (artinya): "dan untuk dua orang ibu bapak.IV. DEFINISI 'ASHABAH KATA 'ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak bapak. anak laki-laki.

dan seterusnya. B. Catatan Dalam dunia faraid. dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama. jangan sampai menafsirkan kata ini hanya untuk orang dewasa dan cukup umur. Adapun saudara laki-laki yang seibu tidak termasuk 'ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul furudh. mencakup saudara kandung laki-laki. seorang tuan (pemilik budak) dapat menjadi ahli waris bekas budak yang dimerdekakannya apabila budak tersebut tidak mempunyai keturunan. dan (3) 'ashabah ma'al ghair (menjadi 'ashabah bersamasama dengan yang lain). (2) 'ashabah bil ghair (menjadi 'ashabah karena yang lain). Arah paman. 34 . mencakup seluruh laki-laki keturunan anak laki-laki mulai cucu. 3. 2. Arah bapak. Macam-macam 'Ashabah 'Ashabah terbagi dua yaitu: 'ashabah nasabiyah (karena nasab) dan 'ashabah sababiyah (karena sebab). agar memberikan hak waris kepada ahlinya. mencakup ayah. yaitu laki-laki yang nasabnya kepada pewaris tidak tercampuri kaum wanita. kakek. namun hanya yang lakilaki. 4. 'Ashabah bin nafs 'Ashabah bin nafs. yang pasti hanya dari pihak laki-laki. bayi laki-laki pun berhak mendapatkan warisan sebagai 'ashabah dan menguasai seluruh harta warisan yang ada jika dia sendirian. mencakup paman (saudara laki-laki ayah) kandung maupun yang seayah. dalam hal penggunaan kata "dzakar". Inilah rahasia makna sabda Rasulullah saw. Sebab. Jenis 'ashabah yang kedua ini disebabkan memerdekakan budak. " (HR Bukhari) Hadits ini menunjukkan perintah Rasulullah saw. Arah anak. Maka jika masih tersisa. termasuk keturunan mereka. Ada satu keistimewaan dalam hadits ini menyangkut kata yang digunakan Rasulullah dengan menyebut "dzakar" setelah kata "rajul". anak laki-laki keturunan saudara laki-laki seayah. Arah saudara laki-laki. maka yang dimaksud adalah 'ashabah bin nafs. hendaklah diberikan kepada orang laki-laki yang paling utama dari 'ashabah. dan seterusnya. mempunyai empat arah. saudara laki-laki seayah. Arah ini hanya terbatas pada saudara kandung laki-laki dan yang seayah. apabila lafazh 'ashabah disebutkan tanpa diikuti kata lainnya (tanpa dibarengi bil ghair atau ma'al ghair)."Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada yang berhak. anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki. dan seterusnya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari salah paham. Oleh sebab itu. ayah dari kakak. dan seterusnya. yaitu: 1. cicit. Sedangkan 'ashabah nasabiyah terbagi tiga yaitu: (1) 'ashabah bin nafs (nasabnya tidak tercampur unsur wanita). termasuk keturunan mereka. sedangkan kata "rajul" jelas menunjukkan makna seorang laki-laki. dan seterusnya. misalnya ayah dari bapak.

saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan waris dikarenakan arahnya lebih jauh. maka cara pentarjihannya (pengunggulannya) sebagai berikut: Pertama: Pertarjihan dari Segi Arah Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa 'ashabah bin nafsih. dan derajat kekuatan hak warisnya sesuai urutannya. atau akan menerima sisa harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh bagian masing-masing. Sebagai misal. maka cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya. maka saudara seayahlah yang mendapat warisan. 35 . dan saudara kandung. maka ia berhak mengambil seluruh warisan yang ada. Adapun bila para 'ashabah bin nafs lebih dari satu orang. maka pengunggulannya dilihat dari segi arah. Rinciannya. Sebab cucu akan menduduki posisi anak bila anak tidak ada. kemudian mereka pun dalam satu arah. Kedua: Pentarjihan secara Derajat Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa orang 'ashabah bi nafsihi. seorang istri wafat dan meninggalkan suami. siapakah di antara mereka yang paling dekat derajatnya kepada pewaris. seseorang wafat dan meninggalkan anak laki-laki. ayah. Sebab. Apabila anak tidak ada.Keempat arah 'ashabah bin nafs tersebut kekuatannya sesuai urutan di atas. sedangkan cucu tidak mendapatkan bagian apa pun. Contoh lain. Anak akan mengambil seluruh harta peninggalan yang ada. anak lebih dekat kepada pewaris dibandingkan cucu laki-laki. Misalnya. yang menjadi 'ashabah adalah anak laki-laki. Sebab ia lebih dekat kedudukannya dari pada anak saudara kandung. bila antara saudara kandung laki-laki maupun saudara laki-laki seayah berhadapan dengan kakak. insya Allah akan saya paparkan pada bab tersendiri. saudara kandung perempuan. Dalam hal ini hak warisnya secara 'ashabah diberikan kepada anak. bila seseorang wafat dan meninggalkan saudara laki-laki seayah dan anak dari saudara kandung. Sedangkan ayah termasuk ashhabul furudh dikarenakan mewarisi bersama-sama dengan anak laki-laki. Hukum 'Ashabah bin nafs Telah saya jelaskan bahwa 'ashabah bi nafsihi mempunyai empat arah. Arah anak lebih didahulukan (lebih kuat) daripada arah ayah. Arah anak lebih didahulukan dibandingkan yang lain. seseorang wafat dan meninggalkan anak serta cucu keturunan anak lakilaki. Namun bila ternyata pewaris mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh. Sebab arah anak lebih didahulukan daripada arah yang lain. dan arah ayah lebih kuat daripada arah saudara. Dalam keadaan demikian. Keadaan seperti ini disebut pentarjihan menurut derajat kedekatannya dengan pewaris. Sementara itu. saudara laki-laki seayah. Bila salah satunya secara tunggal (sendirian) menjadi ahli waris seorang yang meninggal dunia. maka para 'ashabah pun tidak mendapat bagian. maka sebagai 'ashabah mendapat sisa harta setelah dibagikan kepada ashhabul furudh. Sang suami mendapat bagian setengah (1/2). Dan bila setelah dibagikan kepada ashhabul furudh ternyata tidak ada sisanya. maka pentarjihannya dengan melihat derajat mereka. Saudara seayah tidak mendapat bagian disebabkan ashhabul furudh telah menghabiskannya. Pengecualiannya. saudara perempuan mendapat bagian setengah (1/2). Sebagai misal.

pentarjihan menurut kuatnya kekerabatan hanya digunakan untuk arah saudara dan arah paman. bila budak yang dibebaskannya tidak mempunyai keturunan (kerabat). jika yang meninggal itu mempunyai anak. sedangkan dari kalangan wanita hanyalah wanita pemerdeka budak. sedangkan bagian anak tidak disebutkan. Sedangkan secara aqli. tidak sedikit orang tua yang bersikap bakhil. Jika demikian berarti wanita tersebut sebagai 'ashabah bi nafsihi. Catatan Perlu untuk digarisbawahi dalam hal pentarjihan dari segi kuatnya kekerabatan di sini. saudara kandung lebih kuat daripada seayah. Dengan demikian. Sebagai contoh. Sebab. Bahkan. maka pentarjihannya dengan melihat manakah di antara mereka yang paling kuat kekerabatannya dengan pewaris.Ketiga: Pentarjihan Menurut Kuatnya Kekerabatan Bila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat banyak 'ashabah bi nafsihi yang sama dalam arah dan derajatnya. manusia pada umumnya merasa khawatir terhadap anak (keturunannya). Catatan Satu hal yang mesti kita ketahui bahwa 'ashabah bi nafsihi harus dari kalangan laki-laki. orang tua berusaha bekerja keras untuk memperoleh harta dan berhemat dalam membelanjakannya. baik dalam hal keselamatannya maupun kehidupan masa depannya. Karena itu mereka tidak segan-segan menimbun harta dan kekayaan demi menyenangkan keturunan pada masa mendatang. semuanya demi kesejahteraan keturunannya. 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya 'Ashabah bi ghairihi hanya terbatas pada empat orang ahli waris yang kesemuanya wanita: 36 . demi kepentingan masa depan anaknya. dan seterusnya. ayah sebagai pokok dan anak merupakan cabang. Oleh sebab itu. Maka sangat tepat apa yang disabdakan Rasulullah saw. anak dari saudara kandung lebih kuat daripada anak dari saudara seayah. Artinya. Landasan pertama berupa dalil AlQur'an. bahwa kaidah tersebut hanya dipakai untuk selain dua arah. keduanya memiliki posisi sederajat dari segi kedekatan nasab pada seseorang. setelah masing-masing dari ashhabul furudh telah mendapatkan bagiannya. yakni arah anak dan arah bapak. Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? Satu pertanyaan yang sangat wajar dan mesti diketahui jawaban serta hikmah di dalamnya. Berdasarkan posisi ini sebaiknya garis anak tidak didahulukan daripada garis ayah. Makna hadits tersebut sangat jelas bahwa orang tua menjadi kikir --bahkan pengecut-. sangat kikir dalam membelanjakan hartanya. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa garis anak lebih didahulukan daripada garis bapak. Dengan demikian. mereka takut berhadapan dengan musuh atau siapa pun yang mengganggu kemudahan jalan rezekinya. paman kandung lebih kuat daripada paman seayah.karena sangat khawatir terhadap masa depan anaknya. Tidak sedikit orang tua yang menjadi pengecut hanya disebabkan menjaga kemaslahatan keturunannya pada hari depannya." (an-Nisa: 11). bagi masingmasingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. jelaslah bahwa anak akan mendapatkan seluruh sisa harta peninggalan pewaris. dalam sebuah haditsnya "al-waladu mabkhalah majbanah" (anak dapat membuat seseorang berlaku bakhil dan pengecut). Inilah alasan bahwa hati seseorang cenderung lebih dekat kepada anaknya dibandingkan kepada ayahnya. Namun demikian. Dalam ayat tersebut Allah SWT menjadikan ayah sebagai ashhabul furudh bila pewaris mempunyai anak. Wallahu a'lam. Firman-Nya (artinya) "dan untuk dua orang ibu-bapak. ada dua landasan mengapa garis anak lebih didahulukan. sedangkan yang kedua berupa dalil aqli.

anak perempuan saudara laki-laki bukanlah termasuk ashhabul furudh. dan saudara perempuan seayah). Bila wanita tersebut bukan dari ashhabul furudh. akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki). dan akan menjadi 'ashabah bila mempunyai saudara laki-laki. ia berhak mendapatkan bagian dua per tiga (2/3) bila menerima bersama saudara perempuannya. Kaidah ini hanya berlaku bagi keempat ahli waris dari kalangan wanita yang saya sebutkan (yakni anak perempuan. Begitu juga anak laki-laki keturunan saudara laki-laki. 4. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. anak laki-laki tidak dapat menjadi pen-ta'shih (penguat) cucu perempuan. Sebagai contoh.sama rata. Anak perempuan. 2. Misalnya. Mereka berpendapat bahwa kata ikhwatan tidak mencakup saudara laki-laki atau perempuan yang seibu. 37 . Sebab dalam keadaan demikian. atau anak laki-laki pamannya (yakni cucu laki-laki keturunan anak laki-laki). Misalnya. maka tidak akan menjadi 'ashabah bi ghairih. 3. saudara laki-laki seayah tidak dapat men-ta'shih saudara kandung perempuan. Ketiga: laki-laki yang menjadi penguat harus sama kuat dengan ahli waris perempuan shahibul fardh. dan pembagiannya. hak waris mereka pun antara laki-laki dan perempuan-. Kedua: laki-laki yang menjadi 'ashabah (penguat) harus yang sederajat. Saudara kandung perempuan akan menjadi 'ashabah bila bersama saudara kandung laki-laki. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "ikhwatan" dalam ayat tersebut adalah saudara laki-laki dan saudara kandung perempuan dan yang seayah. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan" (an-Nisa': 176). bahkan ia berfungsi sebagai pen-tahjib (penghalang) hak waris cucu. Catatan Setiap perempuan ahli waris berhak mendapat bagian setengah (1/2) jika sendirian. Dan juga berlandaskan firman-Nya (artinya): "dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. disebabkan hak waris mereka berdasarkan fardh (termasuk ashhabul furudh) bukan sebagai 'ashabah. berdasarkan firman-Nya (artinya): "maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu" (an-Nisa': 12). Selain itu. tidaklah dapat menguatkan saudara kandung perempuan disebabkan tidak sederajat. dikarenakan anak laki-laki tidak sederajat dengan cucu perempuan.1. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara laki-lakinya. Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Dalil bagi hak waris para 'ashabah bi ghairih adalah firman Allah (artinya): "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan" (an-Nisa': 11). saudara kandung perempuan. anak perempuan dari saudara laki-laki tidak dapat menjadi 'ashabah bi ghairih dengan adanya saudara kandung laki-laki dalam deretan ahli waris. Sebab saudara kandung perempuan lebih kuat kekerabatannya daripada saudara laki-laki seayah. Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah bi Ghairihi tidak akan terwujud kecuali dengan beberapa persyaratan berikut: Pertama: haruslah wanita yang tergolong ashhabul furudh. baik sederajat dengannya atau bahkan lebih di bawahnya. Saudara perempuan seayah akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya.

maka akan naiklah pokok pembagiannya dan hak bagian anak perempuan akan berkurang. dan bagian saudara perempuan separo. dan saudara perempuan (sekandung atau seayah).. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Catatan Sangat penting untuk diketahui bersama bahwa bila seorang saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah ma'al ghair. Sebab bila kita berikan hak waris saudara perempuan secara fardh. sedangkan sisanya menjadi hak saudara perempuan kandung atau seayah. Abu Musa menjawab: "Bagian anak perempuan separo. akan tetapi karena adanya 'ashabah lain ('ashabah bi nafsihi).akan menjadi 'ashabah." Dalil 'Ashabah ma'al Ghair Yang menjadi landasan bagi hak waris 'ashabah ma'al ghair adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya. Jenis 'ashabah ini di kalangan ulama dikenal dengan istilah 'ashabah ma'al ghair. Lalu Abu Musa berkata: "Janganlah kalian menanyakannya kepadaku selama sang alim (Ibnu Mas'ud) berada bersama kalian.. 'Ashabah ma'al Ghair 'Ashabah ma'al Ghair ini khusus bagi para saudara kandung perempuan maupun saudara perempuan seayah apabila mewarisi bersamaan dengan anak perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki. sedangkan bagian anak perempuan tidak terkena pengurangan. karena itu dijadikanlah saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah agar terkena pengurangan.a. seperti yang ditegaskan dalam kitab Hasyiyatul Bajuri (hlm. dan dijawab: "Aku akan memvonis seperti apa yang diajarkan Rasulullah saw. bahwa Abu Musa al-Asy'ari ditanya tentang hak waris anak perempuan. Jadi. maka keempat wanita tersebut mendapat hak warisnya secara fardh. maka ia menjadi seperti saudara kandung laki-laki sehingga dapat menghalangi hak waris saudara seayah. Kemudian." Dari penjelasan Ibnu Mas'ud dapat disimpulkan bahwa hak saudara perempuan bila mewarisi bersama-sama dengan anak perempuan mengambil sisa harta pembagian yang ada. 108): "Adapun saudara perempuan (kandung dan seayah) menjadi 'ashabah jika berbarengan dengan anak perempuan adalah agar bagian saudara perempuan terkena pengurangan. Bila para 'ashabah bi nafsihi itu tidak ada. di segi lain tidaklah mungkin hak saudara perempuan itu digugurkan." Penanya itu pun kembali kepada Abu Musa al-Asy'ari dan menceritakan apa yang telah diputuskan Ibnu Mas'ud. bagian anak perempuan setengah (1/2) dan bagian cucu perempuan keturunan anak lakilaki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan --atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki dan seterusnya-. Hal ini berarti saudara kandung perempuan atau saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. 38 . seperti saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah mereka." Penanya itu lalu pergi menanyakannya kepada Ibnu Mas'ud r.Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi Adapun sebab penamaan 'ashabah bi ghairihi adalah karena hak 'ashabah keempat wanita itu bukanlah karena kedekatan kekerabatan mereka dengan pewaris. Satu hal yang perlu diketahui dalam masalah ini.

dan saudara laki-laki seayah. maka kekuatannya sama seperti saudara laki-laki seayah hingga menjadi penggugur keturunan saudaranya dan seterusnya. Begitu juga saudara perempuan seayah. maka pembagiannya adalah sebagai berikut: Pokok masalahnya dari 2 Keterangan Anak perempuan Saudara kandung perempuan'ashabah ma'al ghair Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/2 1/2 gugur Nilai 1 1 0 Keterangan Bagian anak perempuan adalah setengah secara fardh. cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Selain itu. Untuk lebih menjelaskan masalah tersebut saya sertakan contoh seperti berikut: Contoh Pertama Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan anak perempuan. apabila menjadi 'ashabah ma'al ghair ketika mewarisi bersama anak perempuan pewaris. dapat pula menggugurkan hak waris yang di bawah mereka. saudara perempuan. Maka pembagiannya seperti dalam tabel berikut: Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Suami Cucu perempuan Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/4 1/2 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 1 2 1 0 39 . dua orang saudara kandung perempuan. paman kandung ataupun yang seayah.baik yang laki-laki maupun yang perempuan. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung perempuan disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. seperti anak keturunan saudara (keponakan). Sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah. Contoh Kedua Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. dan saudara laki-laki seayah. yang kekuatannya seperti saudara kandung laki-laki.

Contoh Ketiga Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak perempuan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam bagian sebagai penyempurna dua per tiga. kemudian sisanya yaitu seperempat-menjadi hak dua saudara kandung perempuan pewaris sebagai 'ashabah ma'al ghair. saudara perempuan seayah. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dan paman kandung (saudara dari ayah kandung). saudara perempuan seayah. dan ibu mendapatkan seperenam. Sedangkan bagian saudara laki-laki seayah gugur karena adanya dua saudara kandung. seorang ibu. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Anak perempuan Cucu perempuan Ibu Saudara perempuan seayah Keterangan Anak perempuan mendapat bagian setengah sebagai fardh. Sedangkan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian setengah secara fardh.Keterangan Suami memperoleh seperempat bagian karena pewaris mempunyai cabang ahli warisnya. Sedangkan anak saudara laki-laki ter-mahjub oleh saudara perempuan seayah. dan anak laki-laki saudara laki-laki (kemenakan). Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 3 Keterangan Dua anak perempuan Saudara perempuan seayah Anak saudara laki-laki Jumlah Bagian 2/3 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 2 1 0 Keterangan Dua orang anak perempuan mendapatkan dua per tiga dan sisanya untuk saudara perempuan seayah disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. Sedangkan sisanya untuk 40 Jumlah Bagian 1/2 1/6 1/6 'ashabah ma'al ghair Nilai 3 1 1 1 . Contoh Keempat Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak perempuan.

Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? Kita mungkin sering mendengar pertanyaan seperti itu. dan sisanya untuk suami sebagai 'ashabah karena ia anak paman kandung. Begitulah seterusnya. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair Dari uraian sebelumnya dapat kita ketahui bahwa 'ashabah bil ghair adalah setiap wanita ahli waris yang termasuk ashhabul furudh. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Sedangkan 'ashabah ma'al ghair tidaklah demikian. Maka dapat ditegaskan bahwa seseorang bisa saja mendapatkan warisan dari dua arah yang berlainan. secara ringkas.saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. Tampak semakin jelas perbedaan antara dua macam 'ashabah itu. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. Maka pembagiannya seperti berikut: sang istri mendapat bagian seperempat sebagai fardh-nya karena adanya ikatan perkawinan. Catatan Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu tidak berhak menjadi ahli waris bila pewaris mempunyai anak perempuan. saya sertakan contoh: Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang nenek. Sedangkan dalam 'ashabah ma'al ghair tidak terdapat sosok 'ashabah bi nafsih. dan hak lainnya ialah ikut mendapat bagian sisa yang ada karena ikatan rahim. dan akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara laki-lakinya. Misalnya. Bahkan anak perempuan pewaris menjadi penggugur hak saudara (laki-laki/perempuan) seibu sehingga tidak dapat menjadi 'ashabah. anak perempuan atau cucu perempuan keturunan anak lakilaki mendapat bagian secara fardh. 41 . seperti anak laki-laki. Inilah perbedaan keduanya. Agar persoalan ini lebih jelas. suami setengah (1/2) sebagai fardh-nya. anak perempuan menjadi 'ashabah bila bersama saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki pewaris). Maka pembagiannya sebagai berikut: Untuk nenek seperenam (1/6). pada 'ashabah bil ghair selalu ada sosok 'ashabah bi nafsih. saudara laki-laki seibu. bibi (saudara ibu) yang salah satunya menjadi istrinya. misalnya ia sebagai ashhabul furudh dan juga sebagai 'ashabah. dan dalam hal ini mereka mendapatkan bagian sisa seluruh harta peninggalan sesudah ashhabul furudh mengambil bagian masing-masing. yang juga merupakan anak paman kandung pewaris. dan seorang suami. Adapun 'ashabah ma'al ghair adalah para saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan. Contoh lain: seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan dua anak perempuan. C. Seorang saudara perempuan sekandung atau seayah tidak menerima bagian seperti bagian anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. atau satu dari arah fardh dan yang kedua dari arah karena rahim. Akan tetapi. Jadi. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). Dalam hal ini bagi yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. Saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah menjadi 'ashabah bil ghair dengan adanya saudara kandung lakilaki ataupun saudara laki-laki seayah. dan tentu saja hal ini memerlukan jawaban. pada 'ashabah bil ghair para 'ashabah bi nafsih menggandeng kaum wanita ashhabul furudh menjadi 'ashabah dan menggugurkan hak fardh-nya. karena kekuatannya seperti saudara laki-laki seayah sehingga ia menggugurkan paman kandung. kemudian saudara perempuan sekandung atau seayah mendapatkan sisanya.

42 .

Hak waris mereka menjadi gugur atau terhalang. Al-hujub bi asy-syakhshi terbagi dua: hujub hirman dan hujub nuqshan. Misalnya. dan seterusnya. Satu hal yang perlu diketahui di sini. PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A. dan al-hujub bi asy-syakhshi (karena orang lain). Hujub hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang. B. terhalangnya hak waris saudara seayah karena adanya saudara kandung. dalam bahasa Arab juga kita kenal kata hajib yang bermakna 'tukang atau penjaga pintu'. yakni al-hujub bil washfi (sifat/julukan). Adapun pengertian al-hujub menurut kalangan ulama faraid adalah menggugurkan hak ahli waris untuk menerima waris. Selain itu. Jadi. Al-hujub bil washfi berarti orang yang terkena hujub tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan. penghalangan terhadap hak waris ibu yang seharusnya mendapatkan sepertiga menjadi seperenam disebabkan pewaris mempunyai keturunan (anak).V. baik secara keseluruhannya atau sebagian saja disebabkan adanya orang yang lebih berhak untuk menerimanya. dan seterusnya. maka yang dimaksud adalah hujub hirman. terhalangnya hak waris cucu karena adanya anak. Demikian juga seperti penghalangan bagian seorang suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi seperempat. misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad. terhalangnya hak waris seorang kakek karena adanya ayah. dan al-mahjub berarti orang yang terhalang mendapatkan warisan. Definisi al-Hujub Al-hujub dalam bahasa Arab bermakna 'penghalang' atau 'penggugur'. Macam-macam al-Hujub Al-hujub terbagi dua. 43 . dalam dunia faraid apabila kata al-hujub disebutkan tanpa diikuti kata lainnya. Maka makna al-hajib menurut istilah ialah orang yang menghalangi orang lain untuk mendapatkan warisan. sang istri dari seperempat menjadi seperdelapan karena pewaris mempunyai anak. Misalnya. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman: "Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka" (alMuthaffifin: 15) Yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum kuffar yang benar-benar akan terhalang. Ini merupakan hal mutlak dan tidak akan dipakai dalam pengertian hujub nuqshan. terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu. Sedangkan al-hujub bi asy-syakhshi yaitu gugurnya hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. disebabkan ia menghalangi orang untuk memasuki tempat tertentu tanpa izin guna menemui para penguasa atau pemimpin. bentuk isim fa'il (subjek) untuk kata hajaba adalah hajib dan bentuk isim maf'ul (objek) ialah mahjub. tidak dapat melihat Tuhan mereka di hari kiamat nanti. Adapun hujub nuqshan (pengurangan hak) yaitu penghalangan terhadap hak waris seseorang untuk mendapatkan bagian yang terbanyak.

dan juga dengan adanya paman kandung. 3. cucu. Sepupu kandung laki-laki (anak paman kandung) akan terhalangi oleh adanya paman seayah. 11. sebelas terdiri dari laki-laki dan lima dari wanita. 6. cucu. ayah. 9. Demikian juga para cucu akan terhalangi oleh cucu yang paling dekat (lebih dekat). kakek. Sedangkan lima ahli waris dari kelompok wanita adalah: 44 . 5. 8. dan seterusnya). anak lakilaki. cicit. juga terhalangi oleh adanya sosok yang menghalangi keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seayah. Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu akan terhalangi oleh pokok (ayah. Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman Sederetan ahli waris yang dapat terkena hujub hirman ada enam belas. Keponakan laki-laki (anak saudara kandung laki-laki) akan terhalangi dengan adanya ayah dan kakek. Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau bahkan keenamnya. 10. 4. Keponakan laki-laki (anak dari saudara laki-laki seayah) akan terhalangi dengan adanya orang-orang yang menghalangi keponakan (dari anak saudara kandung laki-laki). ditambah dengan adanya keponakan (anak lakilaki dari keturunan saudara kandung laki-laki). dan seterusnya). 7. ibu. Saudara kandung laki-laki akan terhalang oleh adanya ayah. Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap mendapatkan hak waris. cucu. Paman seayah akan terhalangi dengan adanya sosok yang menghalangi paman kandung. Adapun ahli waris dari laki-laki sebagai berikut: 1. Sepupu laki-laki (anak paman seayah) akan terhalangi dengan adanya sepupu laki-laki (anak paman kandung) dan dengan adanya sosok yang menghalangi sepupu laki-laki (anak paman kandung). cicit. maka semuanya harus mendapatkan warisan. dan juga oleh kakek yang lebih dekat dengan pewaris.Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman Ada sederetan ahli waris yang tidak mungkin terkena hujub hirman. dan terhalang dengan adanya ayah serta keturunan laki-laki (anak. dan juga oleh sosok yang menghalangi paman seayah. Cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. dan istri. suami. cucu kandung laki-laki. Keenam orang tersebut adalah anak kandung laki-laki. dan seterusnya) baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Kakek (bapak dari ayah) akan terhalang oleh adanya ayah. juga terhalang oleh saudara kandung perempuan yang menjadi 'ashabah ma'al Ghair. dan keturunan laki-laki (anak. anak kandung perempuan. 2. serta oleh saudara laki-laki seayah. Paman kandung (saudara laki-laki ayah) akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki dari saudara laki-laki. Saudara laki-laki seayah akan terhalang dengan adanya saudara kandung laki-laki. cicit. akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki. dan seterusnya) dan juga oleh cabang (anak.

kecuali bila adanya 'ashabah. Keadaan seperti ini dalam faraid disebut sebagai kerabat yang berkah atau saudara laki-laki yang berkah. 5. baik cucu itu hanya seorang ataupun lebih. Pertama: Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. dan cucu perempuan dari anak laki-laki. Cucu perempuan (keturunan anak laki-laki) akan terhalang oleh adanya anak laki-laki. dan seterusnya (semuanya laki-laki). Saudara perempuan seibu akan terhalangi oleh adanya sosok laki-laki (ayah. Keadaan seperti ini dinamakan sebagai saudara yang berkah. ibu seperenam (1/6) bagian. ibu. juga terhalang oleh adanya ayah dan keturunan (anak. cucu. Padahal. Selain itu. kakek. bapak. cicit. yakni saudara laki-laki yang merugikan. anak perempuan setengah. maka cucu laki-laki dapat menyeret cucu perempuan itu sebagai 'ashabah. 45 . kecuali jika ada 'ashabah. yang sebelumnya tidak mendapat fardh. anak perempuan. anak. Agar lebih jelas saya berikan beberapa contoh kasus. Nenek (baik ibu dari ibu ataupun dari bapak) akan terhalangi dengan adanya sang ibu. 2. cicit. Sebab saudara laki-laki seayah itu akan menggandengnya menjadi 'ashabah. apabila saudara laki-laki itu tidak ada. khusus kalangan laki-laki) serta terhalang oleh adanya dua orang saudara kandung perempuan bila keduanya menyempurnakan bagian dua per tiga (2/3). ayah juga seperenam (1/6) bagian. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3) karena merupakan bagian wanita. maka kini saya akan menjelaskan kebalikannya. cucu. gugurlah hak waris para saudara perempuan seayah. dan seterusnya) baik laki-laki ataupun perempuan. Kecuali bila ia mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki keturunan anak lakilaki) yang sederajat ataupun yang lebih rendah dari derajat cucu perempuan. juga akan terhalangi oleh adanya dua orang anak perempuan atau lebih.1. Saudara Laki-laki yang Merugikan Kalau sebelumnya saya jelaskan tentang saudara laki-laki yang membawa berkah. Saudara Laki-laki yang Berkah Apabila anak perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). cucu. Kemudian. Maka pembagiannya seperti berikut: suami seperempat (1/4) bagian. Saudara kandung perempuan akan terhalangi oleh adanya ayah. sebab tanpa keberadaannya para saudara kandung perempuan itu tidak akan menerima hak waris mereka. 4. Saudara perempuan seayah akan terhalangi dengan adanya saudara kandung perempuan jika ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. 3. gugurlah hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. apabila saudara kandung perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). Disebut saudara laki-laki yang merugikan karena keberadaannya menyebabkan ahli waris dari kalangan wanita tidak mendapatkan warisan. cucu perempuan tidak akan mendapat warisan. kecuali bila ada saudara laki-laki seayah. dan seterusnya. ahli waris wanita itu akan mendapatkan waris. Selain itu. cicit. Disebut demikian karena tanpa cucu lakilaki. dan seterusnya) juga oleh adanya cabang (anak.

masalah ini merupakan kasus kolektif. Tentang Kasus Kolektif Menurut kaidah yang biasa dikenal dan dipakai ulama faraid. serta cucu laki-laki dan perempuan dari keturunan anak laki-laki. Sedangkan dalam contoh kedua. hingga mereka mendapat sepertiga (1/3) bagian dan dibagikan secara rata di 46 . dan imam mujtahidin. kemudian baru kepada para 'ashabah. ibu. saudara kandung laki-laki sebenamya memiliki kekerabatan lebih kuat dibandingkan saudara laki-laki seibu.Seandainya dalam kasus ini terdapat cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Oleh sebab itu. dan dua orang saudara seibu mendapat bagian sepertiga (1/3). maka gugurlah hak cucu perempuan tersebut.menyatakan bahwa saudara kandung laki-laki disamakan dengan saudara laki-laki yang seibu. ibu mendapat seperenam (1/6) bagian disebabkan pewaris mempunyai dua orang saudara lakilaki atau lebih. di sisi lain masalah ini telah memancing perbedaan pendapat sejak masa para sahabat.karena ia mempunyai saudara laki-laki yang sederajat. dan dua orang saudara kandung laki-laki (atau lebih dari dua orang). Berdasarkan kaidah yang berlaku. tabi'in. Itulah contoh tentang saudara laki-laki yang merugikan. sedangkan cucu laki-laki dan perempuan tidak mendapat bagian. ibu seperenam (1/6) bagian. dalam masalah ini ternyata terjadi sesuatu yang kontradiktif. seorang wanita wafat dan meninggalkan seorang suami. maka saudara perempuan seayah tidak mendapat bagian apa-apa. Pembagiannya adalah seperti berikut: suami mendapat setengah (1/2) bagian dikarenakan pewaris tidak mempunyai anak secara fardh. misalnya posisi cucu perempuan keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara perempuan seayah dan posisi cucu laki-laki keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara laki-laki seayah. bila mempunyai saudara laki-laki seayah. Inilah rahasia mengapa ulama faraid mengistilahkannya sebagai "saudara laki-laki yang merugikan". ayah seperenam (1/6) bagian. Contoh permasalahannya sebagai berikut. sesuatu yang keluar dan menyimpang dari kaidah aslinya. Karena. sedangkan anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian karena tidak ada pen-ta'shih. Maka. saudara perempuan seayah akan mendapat waris bila tidak mempunyai saudara laki-laki seayah yang masih hidup. ibu. juga karena para sahabat. pembagian harta waris dimulai dengan ashhabul furudh. (artinya): "Berikanlah hak waris kepada ashhabul furudh. sehingga cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3). dua saudara laki-laki seibu (atau lebih dari dua orang). Sedangkan saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan bagian karena ia sebagai 'ashabah --sedangkan harta waris yang dibagikan telah habis." Namun demikian. Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. anak perempuan. cucu perempuan dirugikan --tidak mendapat waris-. dan sisanya diberikan kepada kerabat laki-laki yang lebih dekat. yakni adanya cucu laki-laki keturunan dari anak laki-laki. Contoh pertama tidak merugikan karena memang tidak ada cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Kedua: Untuk lebih memperjelas. C. tabi'in. ayah. Sementara itu. Namun. Masalah ini dikenal juga dengan istilah "kasus musytarakah" (kasus kolektif). keberadaan saudara laki-laki dari cucu perempuan keturunan anak laki-laki itu merugikannya. Ilustrasi seperti itu dapat kita ubah susunan ahli warisnya. Para ulama menyandarkan kaidah ini pada hadits Rasulullah saw. serta para imam mujtahidin --dalam contoh kasus seperti ini-. tetapi pada kasus ini justru terjadi sebaliknya. dalam contoh berikut saya sertakan saudara laki-laki yang merugikan. Maka pembagiannya seperti berikut: suami memperoleh seperempat (1/4) bagian karena istri mempunyai anak (keturunan). selain sebagai masalah yang menyimpang dari kaidah aslinya.

maka akan mewarisi secara fardh. Ali. Ketika ia hendak memvonis seperti tahun lalu. Umar baru pertama kali menjumpai kasus seperti ini dan memvonis: saudara kandung tidak mendapat bagian hak waris sedikit pun.. masalah ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan "umariyah". 2. baik laki-laki atau perempuan. Perbedaan Pendapat Para Fuqaha Dalam masalah musytarakah (kolektif) ini ada dua kubu pendapat yang masyhur dalam hal membagi hak waris sebagaimana contoh kasus tersebut. proteslah salah seorang ahli warisnya: "Wahai Amirul Mukminin. dan Yammiyah. Jumlah saudara seibu dua orang atau lebih. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa hak waris pada saudara kandung dikolektifkan dengan hak waris para saudara laki-laki seibu. dan lainnya.a. Dan dalam hal ini tidak berbeda apakah hanya satu orang atau banyak. dan lainnya. masalah ini juga menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama. Contohnya adalah sebagai berikut: Asal masalah dari enam 6 naik menjadi 18 Keterangan Suami 1/2 harta waris yang ada secara fardh Ibu 1/6 harta waris yang ada secara fardh Saudara seibu 1/3 secara fardh dan dibagi merata dengan saudara kandung Saudara kandung dapat hak waris. tabi'in. sejak masa para sahabat. Pendapat pertama dianut dan diikuti oleh mazhab Hanafi dan Hambali. Ibnu Mas'ud. Utsman. dan imam mujtahidin. 47 . serta kekolektifan ini akan batal. Di samping itu. Pendapat pertama menyatakan bahwa hak waris saudara kandung digugurkan sebagaimana mengikuti kaidah yang ada. Diriwayatkan bahwa masalah musytarakah ini pernah diajukan ke hadapan Umar bin Khathab r. Hajariyah. Saudara kandung itu harus saudara laki-laki. Ibnu Abbas. Maka ia memvonis dengan memberi hak kepada mereka (saudara seibu dan saudara sekandung) secara bersamaan dan dibagi sama rata. sungguh mustahil bila ayah kami dianggap keledai atau batu yang terbuang di sungai. masalah ini diajukan kembali kepadanya. karena dianggap seperti saudara seibu dengan mendapat bagian sepertiga (1/3) dibagi adil Jumlah Bagian 3 1 2 Nilai 9 3 4 2 Persyaratan Masalah Kolektif 1. sebab bila saudara seayah maka gugurlah haknya secara ijma'. Bukankah kami ini anak dari seorang ibu?" Umar menyimak perkataan orang itu dan berpikir bahwa apa yang diucapkannya benar dan tepat. Pendapat ini pernah dilakukan oleh Abu Bakar. Sebab bila perempuan. dan masalahnya pun akan naik. karena Umar bin Khathab pernah memvonis masalah ini --juga pernah dikenal dengan sebutan Himariyah. Selain itu. Pendapat ini dilakukan oleh Zaid bin Tsabit. 3. Saudara yang ada benar-benar saudara kandung. sedangkan pendapat yang kedua diikuti dan dianut oleh mazhab Maliki dan Syafi'i. Kemudian pada tahun berikutnya.antara mereka (termasuk saudara kandung laki-laki).

" 48 . Masih menurut mazhab Hanafi. Kaidah yang lain ialah bahwa banul akhyaf mendapatkan hak waris secara merata pembagiannya antara yang lakilaki dengan yang perempuan.Beberapa Kaidah Penting Hak waris banul a'yan (saudara kandung laki-laki/perempuan). Hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama. dan banul 'allat (saudara laki-laki/perempuan seayah). hak waris banul akhyaf digugurkan dengan adanya anak perempuan pewaris. dan ayah. serta banul akhyaf (saudara laki-laki/perempuan seibu) akan gugur (terhalangi) oleh adanya anak laki-laki pewaris. cucu laki-laki (keturunan anak laki-laki). Menurut mazhab Abu Hanifah hak mereka juga digugurkan oleh adanya kakek pewaris. dan seterusnya. cucu perempuan keturunan anak laki-laki pewaris. Sedangkan menurut ketiga imam mazhab yang lain tidaklah demikian. Hal ini berdasarkan firman Allah (artinya) "mereka bersekutu dalam yang sepertiga.

. Namun bila tidak termasuki unsur wanita. Dia menjelaskannya di dalam Al-Qur'an dengan detail agar tidak terjadi kezaliman dan perbuatan aniaya di kalangan umat manusia. Perlu saya tekankan bahwa masalah waris sangatlah berbahaya dan sensitif. Perbedaan tersebut dapat digolongkan ke dalam dua mazhab. Namun demikian. Dengan demikian. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara Baik Al-Qur'an maupun hadits Nabawi tidak menjelaskan tentang hukum waris bagi kakek yang sahih dengan saudara kandung ataupun saudara seayah. 49 . mayoritas sahabat sangat berhati-hati dalam memvonis masalah ini. Ijtihad dan pendapat tersebut dijaga serta dibukukan secara lengkap dan detail beserta dalildalilnya. masalah yang sangat dikhawatirkan itu hilang setelah munculnya ijtihad para salaf ash-shalih dan para imam mujtahidin. Akan tetapi di sisi lain. sama seperti perbedaan yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. dan memberikan hak waris kepada orang yang sebenamya tidak berhak. misalnya ayah dari bapak dan seterusnya. menurut mereka. bahkan mereka cenderung sangat takut untuk memberi fatwa yang berkenaan dengan masalah ini." B. dalam hal ini pernah mengatakan: "Bertanyalah kalian kepada kami tentang masalah yang sangat pelik sekalipun. atau ayah dari ibunya ayah. karena tidak ada nash Al-Qur'an atau hadits Nabi yang menjelaskannya. ijtihad ini sangat mengkhawatirkan mereka.a. mereka merasa sangat takut kalau-kalau berlaku zalim dan aniaya. Pengertian Kakek yang Sahih Makna kakek yang sahih ialah kakek yang nasabnya terhadap pewaris tidak tercampuri jenis wanita. Sedangkan kakek yang berasal garis wanita disebut sebagai kakek yang rusak nasabnya. karena jika salah berarti mereka akan merugikan orang yang sebenarnya mempunyai hak untuk menerima warisan." Ketakutan dan kehati-hatian para sahabat dalam memvonis masalah hak waris kakek dan saudara itu tentu sangat beralasan." Pernyataan serupa juga ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib: "Barangsiapa yang ingin diceburkan ke dalam neraka Jahanam. itulah kakek yang sahih. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek Para imam mazhab berbeda pendapat mengenai hak waris kakak bila bersamaan dengan saudara. khususnya para ahli waris. Terlebih lagi dalam masalah yang berkenaan dengan materi. Hal ini akan memudahkan setiap orang yang ingin mengetahuinya sambil bersandar kepada ijtihad yang dianggapnya lebih rajih (kuat dan tepat) serta dapat dijadikannya sandaran dalam berfatwa. Hal ini didasarkan sesuai dengan kaidah yang ada di dalam faraid: "bilamana unsur wanita masuk ke dalam nasab laki-laki. Karena itu Allah SWT tidak membiarkan begitu saja hukum yang berkenaan dengan masalah hak kepemilikan materi ini.VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA A. namun janganlah kalian tanyakan kepadaku tentang masalah warisan kakak yang sahih dengan saudara. misalnya ayahnya ibu. maka kakek menjadi rusak nasabnya. C. Ibnu Mas'ud r. atau hukum tentang hak kepemilikan. maka hendaklah ia memvonis masalah waris antara kakek yang sahih dengan para saudara. Oleh karena itu. masalah ini memerlukan ijtihad.

karena itu tidaklah layak untuk mengutamakan yang satu dari yang lain karena mereka sama derajatnya.Tentang Mazhab Jumhur Untuk lebih menjelaskan pendapat yang rajih --yakni pendapat jumhur ulama-. tidak ada ahli waris lain dari ashhabul furudh. Mazhab kedua: berpendapat bahwa para saudara kandung laki-laki/perempuan dan saudara laki-laki seayah berhak mendapat hak waris ketika bersamaan dengan kakek. Ibnu Mas'ud. tidak mendapat warisan dari saudaranya yang meninggal. sama seperti gugurnya hak waris oleh saudara bila ada ayah. Ibnu Abbas. dan barulah arah paman.terhadap harta jauh lebih besar ketimbang para kakek. seperti istri atau ibu. maka yang lebih didahulukan adalah arah anak (keturunan). maka ia mempunyai dua keadaan.lebih didahulukan daripada arah saudara. Pendapat ini dianut oleh ketiga imam. sedangkan para saudara tadi hanya kebagian tangis. ataupun seibu-. Yakni. saudara seayah. sedangkan saudara adalah cabang dari ayah.maka saya perlu mengatakan bahwa sesungguhnya jika kakak mewarisi bersamaan dengan saudara. dan masingmasing memiliki hukum tersendiri. Imam Syafi'i. Mazhab ini merupakan pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq. Alasan yang dikemukakan golongan kedua ini ialah bahwa derajat kekerabatan saudara dan kakek dengan pewaris sama. dan Imam Ahmad bin Hambal. maka harta peninggalannya akan berpindah kepada anak-anaknya yang berarti paman para saudara. atau anak perempuan. demikian juga saudara. Lebih lanjut golongan yang pertama ini menyatakan bahwa arah ayah --mencakup kakek dan seterusnya-. Dengan demikian para paman menjadi ahli waris. Kakek tidaklah menggugurkan hak waris para saudara kandung dan yang seayah. sama seperti halnya ayah. dan diikuti oleh kedua orang murid Abu Hanifah. Sekali-kali arah itu tidak akan berubah atau berpindah kepada arah yang lain. maka yang didahulukan adalah arah anak. Pendapat ini diikuti oleh mazhab Hanafi. yaitu Muhammad dan Abu Yusuf. D. dan Ahli Madinah ridhwanullah 'alaihim. Mereka beralasan bahwa kakek akan mengganti kedudukan ayah bila telah tiada. Kedekatan kakek terhadap pewaris melewati ayah. seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. Kakek merupakan pokok dari ayah. sebelum arah yang lebih dahulu hilang atau habis. dan Ibnu Umar. 50 . Ali bin Abi Thalib. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur sahabat dan tabi'in. yakni Zaid bin Tsabit. kemudian ia wafat. karena kakek merupakan bapak yang paling 'tinggi'. asy-Syi'bi. Hal ini sama dengan memberikan hak waris kepada para saudara kandung kemudian di antara mereka ada yang tidak diberi. kemudian arah ayah.terhalangi (gugur) hak warisnya dengan adanya kakek. bila ternyata 'ashabah banyak arahnya. Alasan lain yang dikemakakan mazhab ini ialah bahwa kebutuhan para saudara --yang jelas lebih muda daripada kakek&emdash. misalnya saja warisan pewaris ini dibagikan atau diberikan kepada para kakek.Mazhab pertama: mereka menyatakan bahwa para saudara --baik saudara kandung. jika 'ashabah itu ada anak dan ayah. Misalnya. kemudian barulah arah paman. dan sebagainya. Sebagai gambaran. Bila 'ashabah itu ada arah saudara dan arah paman maka yang didahulukan adalah arah saudara. yaitu Imam Malik. Bila kita mengutamakan yang satu dan mencegah yang lain berarti telah melakukan kezaliman tanpa alasan yang dapat diterima. kemudian saudara. Karena itu hak waris para saudara akan terhalangi karena adanya arah kakek. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kaidah yang masyhur di kalangan fuqaha. Keadaan pertama: kakek mewarisi hanya bersamaan dengan para saudara.

itulah yang menjadi bagiannya. 5. maka ia menempati posisi yang sama seperti saudara kandung laki-laki. Bila cara pembagian tersebut kemungkinan merugikan kakek. Berarti kakek mendapatkan bagian dua kali lipat bagian para saudara perempuan sekandung. dan kedua dengan cara mendapatkan sepertiga (1/3) harta warisan. Pada keadaan keempat kakek mendapat setengah (1/2). istri. Pada keadaan kedua kakek mendapat setengah (1/2).Keadaan kedua: kakak mewarisi bersama para saudara dan ashhabul furudh yang lain. 3. maka diberikan dengan memilih cara mendapat sepertiga (1/3) harta waris yang ada. seperti ibu. Kakek dengan saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan. Makna Pembagian Makna pembagian menurut ulama faraid adalah kakek dikategorikan seperti saudara kandung. ia mendapatkan bagian yang sama dengan bagian saudara kandung laki-laki. 51 . Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek Ada lima keadaan yang lebih menguntungkan kakek bila menggunakan cara pembagian.dari dua pilihan yang ada. 2. Hukum Keadaan Pertama Bila seseorang wafat dan meninggalkan kakek serta saudara-saudara tanpa ashhabul furudh yang lain. Mana di antara kedua cara tersebut yang lebih baik bagi kakek. Bila pembagian lebih baik baginya maka hendaklah dengan cara pembagian. maka bagi kakek dipilihkan perkara yang afdhal baginya --agar lebih banyak memperoleh harta warisan-. Kakek dengan saudara kandung perempuan. Apabila kakek berhadapan dengan saudara perempuan kandung. Pertama dengan cara pembagian. 4. Adapun penjelasannya seperti berikut: Pada keadaan pertama kakak mendapat dua per tiga (2/3). dan bila mendapatkan 1/3 harta warisan lebih baik maka itulah yang menjadi haknya. dan anak perempuan. Kelima keadaan tersebut sebagai berikut: 1. Kakek dengan dua orang saudara kandung perempuan. Kakek dengan saudara kandung laki-laki. Kakek dengan tiga orang saudara kandung perempuan. Pada keadaan ketiga kakek mendapat dua per lima (2/5).

Kakek dengan dua orang saudara kandung laki-laki. menerima sepertiga (1/3).bagian sang kakek lebih menguntungkannya. maka pemberian sepertiga (1/3) kepada sang kakek lebih menguntungkannya. bagian kakek tidaklah boleh kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya.maka bagi kakek dapat memilih salah satu dari tiga pilihan yang paling menguntungkannya. Misalnya. Kakek dengan seorang saudara kandung laki-laki dan dua orang saudara kandung perempuan.Pada keadaan kelima kakek mendapat dua per lima (2/5).maka hukumnya sama dengan hukum yang saya jelaskan di atas. atau seorang kakek dan lima saudara kandung perempuan atau lebih. Catatan Hukum tentang hak waris saudara laki-laki dan perempuan seayah ketika bersama dengan kakek --tanpa saudara kandung laki-laki atau perempuan-. dengan pembagian. Yang pasti. maka hendaknya dibagi dengan cara itu. Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang Ada tiga keadaan yang menyebabkan kakek mendapatkan bagian yang sama baik secara pembagian ataupun dengan mengambil sepertiga harta waris yang ada. Kalau jumlah harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh tidak tersisa kecuali seperenam atau bahkan kurang. 3. Sebab bagian tersebut adalah bagiannya yang telah ditentukan syariat. seseorang wafat dan meninggalkan seorang kakek dan tiga orang saudara. 52 . Ketiga keadaan itu sebagai berikut: 1. maka kakek akan dirugikan karena akan menerima kurang dari sepertiga harta warisan. Kelima keadaan itu lebih menguntungkan kakek jika menggunakan cara pembagian. Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek Selain dari delapan keadaan yang saya kemukakan itu. maka tetaplah kakek diberi bagian seperenam (1/6) secara fardh. Dan jika sepertiga (1/3) sisa harta waris yang ada malah lebih menguntungkannya. Dan hal ini pun dengan syarat bagiannya tidak kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. dan para saudara kandung digugurkan atau dikurangi haknya. Kakek dengan empat orang saudara kandung perempuan. atau menerima seperenam (1/6) dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris. Yaitu. 2. maka itulah bagian kakek. Adapun bila cara pembagian --setelah para ashhabul furudh mengambil bagiannya-. dan sisanya dibagikan kepada para saudara. Hukum Keadaan Kedua Bila kebersamaan antara kakek dengan para saudara dibarengi pula dengan adanya ashhabul furudh yang lain --yakni ahli waris lainnya-. yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian wanita. Ketetapan ini telah menjadi kesepakatan bulat imam mujtahid. Dalam hal ini kakek mendapat sepertiga (1/3). Kalau saja dalam keadaan seperti itu kita gunakan cara pembagian.

Berarti kakek mendapat sepertiga (1/3) dari lima per enam (5/6). seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Meskipun setelah kakek mendapatkan bagian. E.Contoh Keadaan Kedua Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan suami. lima anak perempuan mendapat dua per tiga (2/3). kakek. Pada bagian ini akan dijelaskan bagian kakek jika ia tidak hanya bersama dengan saudara kandung. seluruh sisa harta waris yang ada hanya menjadi hak para saudara kandung -. dan tiga saudara kandung perempuan. dan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). dan sisanya dibagi dua. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. dengan ketentuan bagi laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. kakak. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. ibu. seorang anak perempuan. nenek seperenam (1/6). kakek. Maka pembagiannya sebagai berikut: untuk kedua orang istri seperdelapan (1/8). tetapi sekaligus bersama dengan saudara seayah. Sedangkan sepuluh saudara kandung perempuan tidak mendapatkan apa-apa sebab ashhabul furudh telah menghabiskan bagian yang ada. yakni kakak seperempat dan saudara kandung laki-laki juga seperempat. ia mendapatkan sepertiga dari sisa harta setelah diambil hak sang ibu. kakek. kakek seperenam (1/6). Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan lima anak perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat seperempat (1/4). dan kakek mendapat seperenam (1/6). dua saudara kandung laki-laki dan dua saudara kandung perempuan. kakek mendapat sepertiga (1/3) dari sisa harta yang ada. Maka pembagiannya seperti berikut: suami faradh-nya setengah (1/2) karena pewaris tidak mempunyai anak. sedangkan empat saudara laki-laki tidak mendapatkan apa-apa. Contoh kelima: seseorang wafat dan meninggalkan dua orang istri. ulama faraid menyatakan bahwa para saudara seayah dikategorikan sama dengan saudara kandung. maka saudara seayah mahjub. Dalam contoh kedua ini bagian kakek lebih menguntungkan. anak perempuan setengah (1/2). ibu mendapatkan seperenam (1/6). 53 .sebab jika saudara kandung dan seayah bersama-sama. Pembagiannya sebagai berikut: bagi anak perempuan setengah (1/2). dan sepuluh saudara kandung perempuan. dan saudara kandung laki-laki. Pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan dengan cara pembagian. haknya menjadi gugur. Untuk keadaan seperti ini. dan empat saudara kandung laki-laki. dan sisanya dibagikan kepada saudara laki-laki dan perempuan. dan sisanya dibagikan kepada para saudara kandung perempuan sesuai jumlah orangnya secara rata. Sebab dengan pembagian ia mendapatkan bagian lebih dari seperenam (1/6). Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek Persoalan yang saya jelaskan sebelumnya berkisar mengenai bagian kakek bila hanya bersamaan dengan saudara kandung. Hal ini telah disepakati ulama mujtahid. mereka dianggap satu jenis. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan. suami. dan sang kakek juga seperenam. nenek. keberadaan saudara seayah dalam keadaan seperti ini dikategorikan sebagai merugikan kakek. Apabila pemberian dilakukan secara pembagian. kakek.

kakek. tanpa menggunakan cara pembagian. Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan kakek.Akan tetapi. yaitu sepertiga. sedangkan sisanya diberikan kepada para saudara laki-laki dan perempuan seayah --dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. Jumlah sepertiga (1/3) bagi kakek dalam contoh kasus ini sesuai dengan kaidah yang ada: "hendaklah kakek diberi dengan salah satu dari dua cara yang paling menguntungkannya. Dalam hal ini saudara perempuan seayah gugur sebab ada saudara kandung. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung perempuan. saya berikan haknya dengan cara yang paling menguntungkannya. Dalam contoh pertama. Maka pembagiannya sebagai berikut: kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. seorang saudara laki-laki seayah. Oleh sebab itu. yaitu sepertiga (1/3). kakek. yakni saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. hak saudara kandung laki-laki dua per tiga (2/3). karena itu bagian kakek sepertiga (1/3). sedangkan saudara laki-laki seayah terhalangi oleh adanya ahli waris yang lebih kuat dan dekat. Pada contoh kedua ini. dan itu menjadi bagian saudara laki-laki kandung. yakni merugikan kakek pada cara pembagian. dan seorang saudara perempuan seayah. sedangkan saudara laki-laki seayah mahjub (terhalangi) karena adanya saudara kandung laki-laki. Kemudian.keberadaan saudara laki-laki/perempuan seayah merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. Kebetulan dalam kasus ini kedua cara pemberian waris bagi kakek menghasilkan bagian yang sama. seorang saudara kandung laki-laki. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. sebab saudara perempuan seayah gugur haknya oleh adanya saudara laki-laki kandung. dalam masalah ini kita berikan nasib (bagian) saudara perempuan seayah sebanyak dua per enam (2/6). saudara laki-laki dikategorikan sebagai ahli waris. karena ia lebih kuat dan lebih dekat kekerabatannya terhadap pewaris dibandingkan para saudara laki-laki/perempuan seayah. Bila kita lihat secara seksama akan tampak oleh kita 54 . Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. saya langsung memberikan hak kakek sepertiga (1/3). Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. dan keberadaannya hanya merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. tentu hal ini akan merugikannya karena ia akan menerima bagian kurang dari sepertiga (1/3) harta waris yang ada. dan sisanya diberikan kepada saudara kandung laki-laki. Kalaulah pemberian kepada kakak dalam contoh ini menggunakan cara pembagian. Karena sebagaimana telah saya kemukakan bahwa keberadaan para saudara laki-laki/perempuan seayah sebagai perugi. jika saudara seayah mewarisi bersama kakek dan seorang saudara kandung perempuan. Sisanya barulah untuk mereka. Setelah itu saya berikan hak waris saudara kandung perempuan setengah secara fardh. mendapat sepertiga harta waris atau dengan cara pembagian". dan dua orang saudara perempuan seayah. setelah diambil hak saudara kandung perempuan (1/2) dan hak kakek (1/3). dan saudara kandung laki-laki memperoleh dua per tiga (2/3) bagian. kakek memperoleh dua per enam (2/6) bagian. Catatan Pada contoh ketiga --seperti telah diutarakan-. maka para saudara laki-laki seayah akan mendapatkan bagian sisa harta yang ada. Agar persoalan ini tidak terlalu kabur dan membingungkan saya sertakan beberapa contoh kasus.

Misalnya.dalam contoh ini adalah ibu. kakek sepertiga (1/3). Tabelnya sebagai berikut: Masalahnya 12 dan naik menjadi 36 Keterangan Bagian ibu 1/6 Bagian kakek 1/3 (sisa setelah diambil ibu) Bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) Bagian dua orang saudara laki-laki seayah (sisanya) Catatan Apabila pewaris hanya meninggalkan kerabat seperti kakek dan saudara-saudara laki-laki/perempuan seibu saja. hal lain yang telah menjadi ijma' seluruh fuqaha ialah bahwa hak waris dari keturunan para saudara kandung ataupun seayah menjadi gugur karena adanya kakek. dan seterusnya). dan saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2). cucu.bahwa yang lebih menguntungkan kakek dalam hal ini adalah cara pembagian. Masalah al-Akdariyah Istilah al-akdariyah muncul karena masalah ini berkaitan dengan salah seorang wanita dari bani Akdar. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu memperoleh seperenam (1/6) bagian. maka seluruh warisannya menjadi hak kakek. seperti yang telah disepakati seluruh imam mujtahid. Barangkali untuk lebih memperjelas masalah ini perlu pula saya sertakan tabelnya. maka seluruh warisan merupakan bagian kakek. Di samping itu. kakek. yakni tidak mempunyai pokok (ayah dan seterusnya) dan tidak pula mempunyai cabang (anak. bukan dengan cara menerima sepertiga (1/3) sisa harta waris setelah diambil ashhabul furudh -. bila seseorang meninggal dan hanya meninggalkan kakek serta anak saudaranya. dan dua orang saudara seayah. Masalahnya 12 Keterangan Bagian ibu 1/6 secara fardh Bagian kakek 2/6 secara pembagian dengan saudara kandung laki-laki Bagian saudara kandung (sisanya) Bagian saudara perempuan seayah mahjub Nilai 2 4 6 0 Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. saudara kandung perempuan. Dan hak waris saudara seibu hanyalah bila pewaris sebagai kalalah. sedangkan bagian dua orang saudara seayah sisanya. Sebab. cicit. 55 . Nilai 6 10 18 2 F. kakek dapat menggugurkan hak waris saudara seibu.

disebabkan masalah ini cukup mengotori mazhab Zaid bin Tsabit (sosok sahabat yang sangat dipuji Rasulullah akan kemahirannya dalam faraid. Dalam hal ini Imam Malik dan Imam Syafi'i mengikuti apa yang pernah dilakukan Zaid bin Tsabit. dan membaginya menjadi bagian laki-laki dua kali lipat bagian wanita. Kemudian ia menyatukan hak saudara kandung perempuan dengan saham kakak. Dia pernah menghadapi masalah waris dan memvonisnya dengan melakukan sesuatu yang bertentangan (menyimpang) dari kaidah-kaidah faraid yang masyhur. sehingga menjadikannya sebagai keputusan ijtihad dalam fiqih kedua imam tersebut. bagian. dan saudara kandung perempuan empat (4) bagian. suami mendapat setengah (1/2). dalam kasus ini Zaid bin Tsabit r. Apabila berpegang pada kaidah yang telah disepakati seluruh fuqaha --termasuk di dalamnya Zaid bin Tsabit sendirimaka pembagiannya adalah dengan menggugurkan hak saudara kandung perempuan. dan pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan (9) bagian. Setelah ditashih. Berikut ini saya sertakan tabelnya. sudah semestinya bagian saudara kandung perempuan digugurkan karena tidak ada sisa harta waris. kakek. Masalahnya adalah dari enam (6) Keterangan Suami mendapat setengah (1/2) secara fardh Ibu mendapat sepertiga (1/3) secara fardh Kakek mendapat seperenam (1/6) sisanya/fardh-nya Saudara kandung perempuan mahjub Adapun tabel setelah ditashih menurut al-akdariyah seperti berikut: Masalahnya naik dari enam (6) menjadi dua puluh tujuh (27) Keterangan Bagian suami menjadi Bagian ibu menjadi Bagian kakek menjadi Bagian saudara kandung perempuan menjadi Nilai 9 6 8 4 Nilai 3 2 1 0 56 . Permasalahannya seperti berikut: bila seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. penj. Oleh sebab itu. masalahnya menjadi dua puluh tujuh (27). memvonis dengan menyalahi kaidah yang ada. dan sisanya hanya seperenam (1/6) yang tidak lain sebagai bagian kakek yang tidak mungkin digugurkan --karena merupakan haknya secara fardh. dari mulai yang sesuai dengan kaidah aslinya hingga setelah ditashih. ibu.Sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa penyebutan masalah ini dengan istilah al-akdariyah --yang artinya 'kotor' atau 'mengotori'-. ibu enam (6) bagian.). kakek delapan (8) bagian. ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. Sebab. Akan tetapi. dan seorang saudara kandung perempuan. Dia memberi saudara kandung setengah (1/2) bagian. dan menaikkan masalahnya dari enam (6) menjadi sembilan (9).a.

Wallahu a'lam. 57 . maka berarti telah keluar dari hukum tersebut.Catatan Dalam masalah al-akdariyah ini sosok ahli waris mutlak tidak dapat diubah. Bila ada salah satu yang diubah.

meski bagian mereka menjadi berkurang. seperti yang difirmankan-Nya: ". Yang masyhur dalam ilmu faraid. berarti fardh-nya telah melebihi peninggalan pewaris. bagian mereka dapat berkurang manakala pokok masalahnya naik atau bertambah. Di antara mereka ada Zaid bin Tsabit dan menganjurkan kepada Umar agar menggunakan 'aul. suami tersebut tetap menuntut haknya untuk menerima setengah dari harta waris yang ditinggalkan istri. Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta yang dibagikan habis. Menghadapi kenyataan demikian Umar kebingungan.. Maka dalam hal ini seorang suami yang semestinya mendapat bagian 3/6 (setengah) hanya memperoleh 3/9 (sepertiga). Begitu juga sebaliknya. sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3).a. Dalam keadaan seperti ini kita harus menaikkan atau menambah pokok masalahnya sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul furudh yang ada -. Dia berkata: "Sungguh aku tidak mengerti. seperti bila pokok masalahnya dinaikkan dari semula enam (6) menjadi sembilan (9). Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya." Umar kemudian mengajukan persoalan ini kepada para sahabat Rasulullah saw. begitupun dua orang saudara kandung perempuan. B. Ibnu Abbas berkata: "Orang yang pertama kali menambahkan pokok masalah (yakni 'aul) adalah Umar bin Khathab. Dengan demikian. Misalnya bagian seorang suami yang semestinya mendapat setengah (1/2) dapat berubah menjadi sepertiga (1/3) dalam keadaan tertentu. Definisi al-'Aul Al-'aul dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti. Namun demikian. seperti tampak dalam kalimat ini: 'alaa al-miizaan yang berarti 'berat timbangannya'. Latar Belakang Terjadinya 'Aul Pada masa Rasulullah saw. Sebab bila aku berikan hak suami. dan siapa yang diakhirkan.tidak pernah terjadi.. Begitu pula halnya dengan ashhabul furudh yang lain.. padahal di antara mereka ada yang belum menerima bagian. Dan hal itu ia lakukan ketika fardh yang harus diberikan kepada ahli waris bertambah banyak.a. Umar menerima anjuran Zaid dan berkata: 58 ." Secara lebih lengkap. Al-'aul bisa juga berarti 'bertambah'.VII. bagian yang mesti diterima suami adalah setengah (1/2). mereka tetap menuntut dua per tiga yang menjadi hak waris keduanya. di antaranya bermakna azh-zhulm (aniaya) dan tidak adil. siapakah di antara kalian yang harus didahulukan. sampai masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r. Sedangkan definisi al-'aul menurut istilah fuqaha yaitu bertambahnya jumlah bagian fardh dan berkurangnya nashib (bagian) para ahli waris. bila aku berikan terlebih dahulu hak kedua saudara kandung perempuan pewaris maka akan berkuranglah nashib (bagian) suami. Dikatakan 'alaa al-ma'u idzaa irtafa'a yang artinya 'air yang naik meluap'. riwayatnya dituturkan seperti berikut: seorang wanita wafat dan meninggalkan suami dan dua orang saudara kandung perempuan.. Masalah 'aul pertama kali muncul pada masa khalifah Umar bin Khathab r. MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A. pastilah saudara kandung perempuan pewaris akan dirugikan karena berkurang bagiannya." (an-Nisa': 3) Al-'aul juga bermakna 'naik' atau 'meluap'. kasus 'aul atau penambahan --sebagai salah satu persoalan dalam hal pembagian waris-.

Kemudian pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan hingga tujuh belas (17). tiga (3). saudara kandung laki-laki. Sebagai contoh pokok yang dapat di-'aul-kan: seseorang wafat dan meninggalkan suami serta seorang saudara kandung perempuan. Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. Pembagiannya: ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. dua belas (12). anak perempuan. 59 . Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua (2). berarti mendapat bagian satu (1). sebab pokok masalahnya cocok atau tepat dengan bagian para ashhabul furudh. dan delapan (8). dan saudara kandung perempuan. Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya. sedangkan saudara kandung perempuan menerima sisanya. dan bagian saudara kandung perempuan setengah. dan ayah dua bagian. Contoh lain. C. Sedangkan pokok masalah yang tidak dapat di-'aul-kan ada empat. angka-angka pokok masalah yang dapat di-'aul-kan ialah angka enam (6). anak setengah (1/2) berarti empat bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari empat (4). Ketiga pokok masalah yang dapat di-'aul-kan adalah enam (6). ketiga pokok masalah itu masing-masing berbeda dan mempunyai sifat tersendiri. Lebih dari angka itu tidak bisa. jadi ibu mendapat satu bagian. bagian istri seperempat (1/4) berarti satu (1) bagian. dan saudara kandung perempuan. Maka dalam masalah ini tidak menggunakan 'aul. Namun. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. yakni dapat naik menjadi tujuh. sedangkan sisanya (yakni 3/4) dibagi dua antara saudara kandung laki-laki dengan saudara kandung perempuan. pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan ke tiga belas (13). dan menjadilah hukum tentang 'aul (penambahan) fardh ini sebagai keputusan yang disepakati seluruh sahabat Nabi saw. lima belas (15). dan sisanya menjadi bagian ayah. Berarti pokok masalah enam (6) hanya dapat dinaikkan empat kali saja. yakni tiga per delapan (3/8). Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pokok masalah dalam contoh-contoh yang saya kemukakan semuanya tidak dapat di-'aulkan. dua belas (12). dan dua puluh empat (24). sembilan."Tambahkanlah hak para ashhabul furudh akan fardh-nya. atau sepuluh. Lebih dari itu tidak bisa. Contoh kasus yang lain. bagian istri seperdelapan (1/8) berarti satu bagian. atau tujuh belas (17). namun hanya untuk angka ganjilnya. yaitu dua (2). empat (4). delapan. seseorang wafat dan meninggalkan ayah dan ibu.kan Pokok masalah yang ada di dalam ilmu faraid ada tujuh. Maka angka dua belas (12) hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari delapan (8). sedangkan yang empat tidak dapat. Dalam contoh ini pokok masalahnya tiga (3)." Para sahabat menyepakati langkah tersebut. Lebih jelasnya. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. Bagian suami setengah berarti satu (1). dan dua puluh empat (24). Sebagai misal. angka enam (6) hanya dapat di-'aul-kan hingga angka sepuluh (10). Tiga di antaranya dapat di-'aul-kan.

dan dua orang saudara laki-laki seibu. Seseorang wafat dan meninggalkan ayah. Karena itu kita harus menaikkan pokok masalahnya yang semula enam menjadi sepuluh. sedangkan bagian saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. 4. sedangkan bagian cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga-. karenanya pokok masalah enam harus dinaikkan menjadi tujuh (7). Beberapa Contoh Masalah 'Aul 1. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian.berarti satu bagian. ibu seperenam (1/6) berarti satu. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya enam. saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. Bila demikian. saudara kandung perempuan. dan saudara perempuan seibu. dan itu pun hanya pada satu masalah faraid yang memang masyhur di kalangan ulama faraid dengan sebutan "masalah almimbariyyah". Dengan demikian. Dalam contoh tersebut jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. sehingga jumlah bagian sesuai dengan pokok masalahnya. 2. bagian anak perempuan tiga per enam (3/6) berarti tiga bagian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. ibu. jumlah bagian (fardh-nya) cocok dengan pokok masalahnya. anak perempuan. dua orang saudara kandung perempuan. asal pokok masalah enam dinaikkan menjadi delapan. karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi sembilan. dan seorang saudara perempuan seibu. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. dan dua orang saudara perempuan seibu. sebab masalahnya sesuai dengan fardh yang ada. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. Dalam contoh ini tidak ada 'aul. Oleh karena itu. perlu kita simak contoh-contohnya. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). 3. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). 5. ibu. sedangkan saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. ibu. dua orang saudara perempuan seayah. bagian ayah seperenam (1/6) berarti satu bagian. Dalam contoh kasus ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalah. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah al-mubahalah. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. saudara kandung perempuan. yaitu delapan per enam (8/6). Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah syuraihiyah. Sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat bagian. dan bagian dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. Untuk lebih menjelaskan dan memantapkan pemahaman kita terhadap pokok-pokok masalah yang di-'aul-kan. bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. bagian dua orang saudara seayah dua per tiga (2/3) berarti empat. Dalam contoh ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalahnya. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. sedangkan bagian dua orang saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. yaitu enam banding sepuluh (6:10). 60 .Sedangkan pokok masalah dua puluh empat (24) hanya dapat di-'aul-kan kepada dua puluh tujuh (27) saja. Maka pembagianya seperti berikut: pokok masalahnya enam (6). Seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. jumlah bagiannya telah melebihi jumlah pokok masalah. Masalah ini dikenal dengan sebutan masalah marwaniyah.

Selain itu. Contoh 'Aul Dua Puluh Empat (24) Pokok masalah dua puluh empat (24) --sebagaimana telah saya jelaskan-. Dalam contoh ini tampak dengan jelas bahwa jumlah bagian ashhabul furudh telah melampaui pokok masalahnya. yakni tujuh belas berbanding dua belas. yaitu lima belas bagian. Ayah mendapat seperenam (1/6) berarti empat bagian. berarti delapan bagian. anak perempuan. seorang saudara kandung perempuan. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua belas (12). Jumlah bagian dalam contoh ini telah melebihi pokok masalah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dua belas (12). sedangkan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga (2/3)-. dan empat orang saudara perempuan seibu. ibu. Karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi lima belas (15). Seseorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. atau tujuh belas (17). bagian ibu seperenam (1/6) berarti dua bagian.Contoh 'Aul Pokok Masalah Dua Belas (12) Seperti telah saya kemukakan bahwa pokok masalah dua belas hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. lima belas (15). Seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. ibu. 3. dan seorang saudara perempuan seibu. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. ibu mendapat seperenam (1/6) berarti dua bagian. Bagian ketiga orang istri adalah seperempat (1/4) berarti tiga bagian. dua orang nenek. sedangkan bagian kedua nenek adalah seperenam (1/6) yang berarti dua bagian. seorang saudara perempuan seayah. yaitu menjadi tiga belas (13). yaitu tiga belas. bagi kedelapan saudara perempuan seayah dua per tiga (2/3)-nya.hanya dapat di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh (27). Karena itu harus dinaikkan menjadi tiga belas (13) sehingga tepat sesuai dengan jumlah bagian yang ada. Contoh masalah ini seperti berikut: seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Karena itu kita harus meng-'aul-kan pokok masalahnya hingga sesuai 61 . Mereka menyebutnya demikian karena Ali bin Abi Thalib ketika memvonis masalah ini sedang berada di atas mimbar (podium). sedangkan saudara perempuan seayah seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua pertiga-. Seseorang wafat dan meninggalkan istri. dan bagian keempat saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) yang berarti empat bagian. saudara kandung perempuan memperoleh setengah (1/2) berarti enam bagian. ibu memperoleh seperenam (1/6) berarti empat bagian. Dalam contoh ini tampak jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. pokok masalah ini hanya ada dalam kasus yang oleh ulama faraid dikenal dengan masalah al-mimbariyah. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dua belas (12). Karena itu pokok masalahnya harus di-'aul-kan dari dua belas menjadi tujuh belas. dan dua orang saudara kandung perempuan. sedangkan bagian dua orang saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti delapan bagian. Maka pembagiannya seperti ini: pokok masalahnya dua puluh empat (24). Berikut ini saya berikan contoh-contohnya: 1. dan bagian saudara perempuan seibu juga seperenam (1/6) berarti dua bagian. delapan orang saudara perempuan seayah. Dalam contoh tersebut tampak sangat jelas bahwa jumlah bagian yang diterima atau yang menjadi hak ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalahnya.berarti empat bagian. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki.berarti dua bagian. ibu. ayah. 2. anak perempuan mendapat setengah (1/2) berarti dua belas bagian. istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti tiga bagian.

dan dalam hal ini tidak ada 'aul. Catatan 1. maka pokok masalahnya dari delapan." (al-Ahzab: 25) Dalam sebuah doa disebutkan "Allahumma radda kaidahum 'annii" (Ya Allah.dengan jumlah bagian yang harus diberikan kepada para ashhabul furudh. maka pokok masalahnya dari dua (2). tidak adanya 'ashabah 3. 2. dan tidak ada 'aul. 3. 4. Sekali lagi ditegaskan. tetapi ternyata harta warisan itu masih tersisa --sementara itu tidak ada sosok kerabat lain sebagai 'ashabah-.maka sisa harta waris itu diberikan atau dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh sesuai dengan bagian mereka masing-masing. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperdelapan (1/8) dan yang lain sisanya..' Lalu keduanya kembali. E. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperempat (1/4) dan yang lain berhak mendapat setengah (1/2). dalam masalah almimbariyyah ini pokok masalah dua puluh empat hanya bisa di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh. " (al-Kahfi: 64) "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan .. Ar-radd merupakan kebalikan dari al-'aul. mengikuti jejak mereka semula. atau dua orang ahli waris yang masingmasing berhak mendapatkan bagian setengah (1/2). Bila dalam pembagian waris tidak ada ketiga syarat tersebut maka kasus ar-radd tidak akan terjadi. dalam suatu keadaan (dalam pembagian hak waris) para ashhabul furudh telah menerima haknya masing-masing. Adapun ar-radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya/lebihnya jumlah bagian ashhabul furudh. Sebagai misal. dan tidak ada 'aul. ada sisa harta waris. palingkanlah/halaulah tipu daya mereka terhadapku). 62 . adanya ashhabul furudh 2. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapatkan bagian setengah (1/2) dari harta waris. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dan yang lain sisanya. Definisi ar-Radd Ar-radd dalam bahasa Arab berarti 'kembali/kembalikan' atau juga bermakna 'berpaling/palingkan'. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lainnya dua per tiga (2/3). dan tidak dapat di-'aul-kan. D. kemudian yang lain berhak mendapatkan sisanya. maka pokok masalahnya dari tiga (3). Syarat-syarat ar-Radd Ar-radd tidak akan terjadi dalam suatu keadaan. kecuali bila terwujud tiga syarat seperti di bawah ini: 1. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperdelapan dan yang lainnya setengah. maka pokok masalahuya dari empat (4). Seperti terdapat dalam firman Allah berikut: "Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lain sisanya.

karena keduanya akan menerima waris sebagai 'ashabah. kecuali suami dan istri. maka cara pembagiannya dihitung berdasarkan jumlah ahli waris. Dan pembagiannya pun secara fardh dan ar-radd. dan tanpa suami atau istri 3. dan dengan adanya suami atau istri Hukum Keadaan Pertama Apabila dalam suatu keadaan ahli warisnya hanya terdiri dari sahib fardh dengan bagian yang sama --yakni dari satu jenis saja (misalnya. Maka apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat kelebihan atau sisa dari harta waris. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd Ar-radd dapat terjadi dan melibatkan semua ashhabul furudh. suami atau istri bagaimanapun keadaannya tidak mendapat bagian tambahan dari sisa harta waris yang ada. mereka tidak bisa mendapatkan ar-radd. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. dan tanpa adanya suami atau istri 2.F. atau seperempat. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap bertele-tele dan agar lebih cepat sampai pada tujuan dengan cara yang paling mudah. Mereka hanya mendapat bagian sesuai bagian yang menjadi hak masing-masing. saudara perempuan seibu 8. bagian mereka sesuai fardh adalah dua per tiga (2/3). adanya ahli waris pemilik bagian yang sama. saudara kandung perempuan 4. Keempat macam itu: 1. cucu perempuan keturunan anak laki-laki 3. akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab). anak perempuan 2. Dan kekerabatan ini akan putus karena kematian.dan dalam keadaan itu tidak terdapat suami atau istri. ibu kandung 6. Adapun ashhabul furudh yang dapat menerima ar-radd hanya ada delapan orang: 1. Sebab. Sebagai misal. dan dengan adanya suami atau istri 4. suami atau istri tidak mendapatkan bagian sebagai tambahan. Sebab dalam keadaan bagaimanapun. maka dari itu mereka (suami dan istri) tidak berhak mendapatkan ar-radd. adanya pemilik bagian yang sama. Macam-macam ar-Radd Ada empat macam Ar-radd. Karena itu pembagian hak masing-masing sesuai jumlah mereka. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd Adapun ahli waris dari ashhabul furudh yang tidak bisa mendapatkan ar-radd hanyalah suami dan istri. dan masing-masing mempunyai cara atau hukum tersendiri. 63 . nenek sahih (ibu dari bapak) 7. sesuai jumlah ahli waris. dan seterusnya)-. sekalipun keduanya termasuk ashhabul furudh dalam beberapa keadaan tertentu. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. disebabkan mereka merupakan ahli waris dari bagian yang sama.-maka tidak mungkin ada ar-radd. dan sisanya mereka terima secara ar-radd. saudara perempuan seayah 5. saudara laki-laki seibu Adapun mengenai ayah dan kakek. bila seseorang wafat dan hanya meninggalkan sepuluh saudara kandung perempuan. Artinya. maka pokok masalahnya dari tiga. maka pokok masalahnya dari sepuluh. Contoh lain. Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab. H. G. seseorang wafat dan hanya meninggalkan tiga anak perempuan. semuanya berhak mendapat bagian setengah. yaitu adanya ikatan tali pernikahan. bila dalam pembagian hak waris terdapat salah satunya --ayah atau kakek-.

dibagi secara merata untuk keempat anak perempuan pewaris. Maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. maka kaidah yang berlaku ialah kita jadikan pokok masalahnya dari sahib fardh yang tidak dapat ditambah (di-radd-kan) dan barulah sisanya dibagikan kepada yang lain sesuai dengan jumlah per kepala. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. 64 . dan itulah angka yang dijadikan pokok masalah. karena jumlah bagiannya empat. dan itulah pokok masalahnya. Sebagai misal. hitungan (bagiannya) sebagai berikut: ibu mendapatkan seperdelapan dari empat puluh. 5. yakni sesuai jumlah kepala. Contoh lain. berarti lima bagian. Maka pembagiannya. Maka jumlah bagiannya adalah lima. seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu. Hitungan ini perlu pentashihan. untuk kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). 4. Seseorang wafat meninggalkan seorang anak perempuan serta seorang cucu perempuan keturunan anak laklaki. sedangkan sisanya --tiga puluh lima bagian-dibagikan secara merata kepada kelima anak perempuan pewaris. Di sini tampak jumlah bagiannya tiga. karena angka itu diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Maka pokok masalahnya lima. Hukum Keadaan Kedua Apabila dalam suatu keadaan terdapat bagian ahli waris yang beragam --dan tidak ada salah satu dari suami atau istri-. bagi ibu seperenam (1/6). diambil dari istri sebagai sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan serta saudara perempuan seayah. Misal lain. saudara kandung perempuan. serta saudara laki-laki seibu. angka ini diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan (tidak berhak untuk ditambah). Sebagai misal. dan setelah ditashih pokok masalahnya menjadi empat puluh. Maka suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian. sedangkan sisanya tujuh per delapan (7/8) merupakan bagian kelima anak perempuan dan dibagi secara merata di antara mereka. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Dalam hal ini pokok masalahnya dari empat. yaitu istri. anak perempuan. serta lima orang anak perempuan. Maka jumlah bagiannya adalah lima. seseorang wafat dan meninggalkan suami dan dua anak perempuan. Begitu seterusnya. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang nenek. berarti mendapat satu bagian. sedangkan sisanya --tiga per empat (3/4)-. Maka pokok masalahnya dari empat. Maka pokok masalahnya dari empat. serta seorang saudara perempuan seibu. dan saudara perempuan seibu. 3. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri dan empat anak perempuan. serta seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Berarti bila pokok masalahnya dari empat (4).Misal lain. yang bagiannya dalam keadaan demikian seperempat (1/4). disertai salah satu dari suami atau istri. suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian berarti satu. Maka pokok masalahnya dari dua. saudara perempuan seayah. dan itulah pokok masalahnya. Hukum keadaan Ketiga Apabila para ahli waris semuanya dari sahib fardh (bagian) yang sama. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. disebabkan bagiannya sama. bukan dari jumlah ahli waris (per kepala). Pokok masalahnya adalah delapan. 2. yang penting tidak ada salah satu dari suami atau istri. Contoh lain. Contoh-contoh keadaan kedua 1. karena jumlah bagiannya ada empat. Maka pokok masalahnya empat. berarti masing-masing menerima tujuh bagian. karena jumlah bagiannya adalah lima. dua orang saudara laki-laki seibu. seseorang wafat dan meningalkan seorang nenek dan saudara perempuan seibu. dan sisanya (tiga per empat) dibagikan kepada anak secara merata. Pembagiannya: istri mendapatkan seperempat (1/4) bagian.maka cara pembagiannya dihitung dan nilai bagiannya. yakni tiga. dan sisanya (yakni 3/4) merupakan bagian kedua anak perempuan dan dibagi secara rata.

merupakan bagian nenek dan kedua saudara perempuan seibu. Angka tiga tersebut berarti tamaatsul (sama) dalam kedua ilustrasi. Sisanya. Maka pembagiannya seperti berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami dan istri: Pokok masalahnya dari enam. maka sisanya tujuh per delapan (7/8). pokok masalah yang mulanya empat (4) naik menjadi enam belas (16).asal pokok masalahnya dari delapan. Hukum keadaan Keempat Apabila dalam suatu keadaan terdapat ashhabul furudh yang beragam bagiannya. maka bagian istri adatah seperdelapan dari empat puluh bagian yang ada. maka menurut kaidah yang berlaku kita harus menjadikannya dalam dua masalah. Ilustrasi ini juga merupakan tamaatsul (sama) dengan masalah ar-radd. Untuk lebih memperjelas masalah yang rumit ini perlu saya sertakan contoh kasusnya: Seseorang wafat dan meninggalkan istri. dan sisa ini merupakan bagian dua anak perempuan dengan ibu. Bagian istri seperempat (1/4) berarti memperoleh satu bagian. Bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) = 2 bagian. Ilustrasi kedua menyertakan suami atau istri: Pokok masalahnya dari empat. dengan ar-radd menjadi dari lima (yakni dari jumlah bagian yang ada). Bagian kedua anak perempuan dan ibu adalah sisa setelah diambil bagian istri --yang tersisa tiga puluh lima (35) bagian. Dengan melihat kedua ilustrasi tersebut. nenek. Maka pembagiannya sebagai berikut: bagian kedua anak perempuan adalah hasil perkalian antara empat (bagiannya dalam ilustrasi pertama) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian pada ilustrasi kedua) berarti dua puluh delapan (28) bagian. Kini. yaitu istri. Karenanya tidak lagi memerlukan tashih. Bagian nenek seperenam (1/6) berarti satu bagian. setiap anak memperoleh tiga bagian. dan dengan ar-radd menjadi dari lima. berarti ia mendapat lima (5) bagian. dan pada persoalan kedua kita menyertakan suami atau istri. Contoh lain: seseorang wafat meninggalkan istri. Kemudian kita buat diagramnya secara terpisah. Apabila istri mengambil bagiannya. Seperti kita ketahui bahwa antara tujuh dan lima itu tabaayun (berbeda). secara fardh dan radd. yakni tiga bagian. Oleh karena itu. 65 . tawaafuq (sepadan). yaitu diambil dari bagian sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Sedangkan sisanya dua belas bagian dibagikan secara merata kepada keempat anak perempuan pewaris. Sedangkan ketiga kriteria yang dimaksud ialah tamaatsul (kemiripan). yakni istri. Pada persoalan pertama kita tidak menyertakan suami atau istri. yakni yang seperdelapan. yakni tiga bagian. dan ibu. setelah kita kenali pokok masalah dari kedua ilustrasi masalah tersebut.Dalam contoh ini juga harus ada pentashihan pada pokok masalahnya. karena itulah jumlah bagian yang ada. Kemudian bila istri mendapat bagiannya. dan dua orang saudara perempuan seibu. kita dapati bagian yang sama antara bagian nenek dan bagian dua saudara perempuan seibu. Pada ilustrasi pertama --tanpa menyertakan suami/istri-. Sedangkan dalam ilustrasi kedua --menyertakan suami/istri-. yakni seperempat (1/4). karena merupakan fardh orang yang tidak dapat di-radd-kan. dua orang anak perempuan. maka sisa harta waris tinggal tiga bagian. Dengan demikian. Sehingga pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4) dari enam belas berarti empat bagian. Setelah itu barulah kita lihat kedua ilustrasi tersebut dengan salah satu dari tiga kriteria yang ada. Maka hasil perkalian antara kedua pokok masalah itu adalah pokok masalah bagi kedua ilustrasi tersebut. dan tabaayun (perbedaan). dan di dalamnya terdapat pula suami atau istri. dan cukuplah kita jadikan ilustrasi masalah kedua itu sebagai pokok masalah. Kemudian langkah berikutnya kita kalikan pokok masalah kedua (delapan) dengan pokok masalah pertama (lima). mana yang paling tepat.asal pokok masalahnya dari enam.

Lihat tabel berikut : Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami/istri Pokok masalahnya aslinya dari 65. menjadi 5 Bagian kedua anak perempuan 2/3 Bagian ibu seperenam (1/6) Jumlah bagian Ilustrasi kedua dengan menyertakan suami/istri Pokok masalah dari delapan. dari jumlah keseluruhan antara bagian istri. ditambah bagian ibu adalah 5 + 28 + 7 = 40.Adapun bagian ibu adalah hasil perkalian antara bagiannya dalam ilustrasi pertama (satu bagian) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian dalam ilustrasi kedua) berarti tujuh (7) bagian. diambil dari ahlul fardh yang tak dapat diradd Bagian istri 1/8. berarti Bagian dua anak perempuan dan ibu Setelah tashih bagian anak perempuan Bagian ibu 1 7 4x7 4x7 28 7 Setelah tashih menjadi setelah tashih Berarti Berarti 4 1 5 40 5 66 . ditambah bagian kedua anak perempuan. Jadi. dengan radd.

1/8). 1/4. bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari para sahib fardh setengah (1/2). atau semuanya hanya dari ashhabul furudh. maka pokok masalahnya dihitung per kepala --jika semuanya hanya dari laki-laki. Dalam hal ini. Para ulama faraid membagi kaidah tersebut menjadi dua bagian: Pertama: bagian setengah (1/2). Maka pokok masalahnya berarti tujuh (7). PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN MENGETAHUI pokok masalah merupakan suatu keharusan bagi kita yang mengkaji ilmu faraid. Kemudian. sepertiga (1/3). maka pokok masalahnya dari sepuluh.maka pokok masalahnya dari enam (6). Persoalan "pokok masalah" ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah at-ta'shil. dua laki-laki dan tiga perempuan. Contoh lain. Misalnya. dan satu wanita satu kepala.kita harus mengalikan dan mencampur antara beberapa kedudukan. bila mayit meninggalkan lima anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Misal lain. Untuk mengetahui pokok masalah. Sedangkan jika para ahli waris yang ditinggalkan pewaris terdiri dari banyak bagian --yakni tidak dari satu jenis. Hal ini diambil dari kaidah qur'aniyah: bagian anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan. terlebih dahulu perlu kita ketahui siapa-siapa ahli warisnya. Atau seseorang wafat meninggalkan sepuluh saudara kandung laki-laki. Bila semuanya berhak sepertiga (1/3). maka pokok masalahnya sebelas. bagian suami setengah (1/2) dan bagian saudara kandung perempuan juga setengah (1/2). Secara umum dapat dikatakan bahwa bila ahli waris semuanya sama --misalnya masing-masing berhak mendapat seperenam (1/6)-. jika ternyata ahli waris yang ada semuanya dari ashhabul furudh yang sama. penj. Apabila seluruh ahli waris yang ada semuanya dari 'ashabah. seperempat (1/4). atau gabungan antara 'ashabah dengan ashhabul furudh. dan demikian seterusnya. hingga pembagiannya benar-benar adil. para ulama ilmu faraid tidak mau menerima kecuali angka-angka yang jelas dan benar (maksudnya tanpa menyertakan angka-angka pecahan. Bila ternyata ahli waris yang ada terdiri dari anak laki-laki dan perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami dan saudara kandung perempuan. Misalnya. dan seperdelapan (1/8) --atau hanya seperempat dengan seperdelapan-. atau yang mutabaayinah (saling berbeda). Hal ini agar kita dapat mengetahui secara pasti bagian setiap ahli waris. yakni antara angka-angka yang mutamatsilah (sama) atau yang mutadaakbilah (saling berpadu). berarti pokok masalahnya dari angka yang paling besar. dan seperenam (1/6). kita harus mengetahui apakah ahli waris yang ada semuanya hanya termasuk 'ashabah. Karena itu. berarti itulah pokok masalahnya. tanpa mengurangi atau melebihkan hak masing-masing. Misalnya. seseorang wafat dan hanya meninggalkan lima orang anak. dan seperdelapan (1/8). 67 . maka pokok masalahnya dari tiga (3). bila dalam suatu keadaan. seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak laki-laki. maka pokok masalahnya dari lima. Pokok masalahnya juga dihitung dari jumlah per kepala. Apabila para ashhabul furudh hanya terdiri dari bagian yang pertama saja (yakni 1/2.). Artinya. begitu seterusnya. Bila semuanya seperempat (1/4) atau seperdelapan (1/8). maka pokok masalahnya dari empat (4). Kedua: bagian dua per tiga (2/3). Sebab.VIII. Kaidah ini sangat mudah sekaligus mempermudah kita untuk memahami pokok masalah ketika ahli waris terdiri dari berbagai sahib fardh yang mempunyai bagian berbeda-beda. Untuk memperjelas masalah ini. misalnya ada yang berhak setengah. Maka pokok masalahnya dari dua (2). ahli warisnya dari sahib fardh setengah (1/2) dan seperempat (1/4).maka pokok masalahnya dari delapan (8). baiklah kita simak kaidah yang telah diterapkan oleh para ulama ilmu faraid. seperenam. yang perlu diketahui adalah bagaimana dapat memperoleh angka pembagian hak setiap ahli waris tanpa melalui pemecahan yang rumit. seperempat (1/4). maka satu anak laki-laki kita hitung dua kepala (hitungan). dan sebagainya-. yang berarti usaha untuk mengetahui pokok masalah. maka pokok masalahnya dari empat atau delapan. Misalnya.

ibu. Pada contoh ini tampak ada campuran antara bagian seperempat (1/4) --yang termasuk kelompok pertama-. seseorang wafat dan meninggalkan suami. Maka berdasarkan kaidah. dan paman kandung. pokok masalah pada contoh tersebut dari enam. Apabila dalam suatu keadaan. maka pokok masalahnya dari enam (6). Lihat diagram: Pokok masalah dari enam (6) Keterangan Suami setengah (1/2) Saudara laki-laki seibu seperenam (1/6) Ibu sepertiga (1/3) Paman kandung. ia akan mendapat sisa yang ada setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. ibu. Angka tersebut merupakan hasil perkalian antara empat (yang merupakan bagian istri) dengan tiga (sebagai bagian kedua saudara laki-laki seibu). sahib fardh seperdelapan (1/8) yang merupakan kelompok pertama-. Misalnya. dan seorang saudara laki-laki kandung. ibu seperenam (1/6). 1/3. sahib fardh setengah (1/2) --yang merupakan kelompok pertama-. atau salah satunya. saudara laki-laki seibu. dua orang saudara laki-laki seibu. 3. Dari contoh tersebut tampak ada campuran antara kelompok pertama (yakni 1/2) dengan sepertiga (1/3) dan seperenam (1/6). Maka dalam hal ini hendaklah diambil angka penyebut yang terbesar.bercampur dengan salah satu dari kelompok kedua.bercampur dengan seluruh kelompok kedua. Tabelnya tampak berikut ini: Pokok masalah dari dua belas (12) Keterangan Istri seperempat (1/4) Ibu seperenam (1/6) Dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) Saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah (sisanya) Nilai 3 2 4 3 68 . dan 1/6) diperlukan kaidah yang lain untuk mengetahui pokok masalahnya. atau semuanya. Untuk lebih memperjelas kaidah tersebut.dengan seperenam (1/6) dan sepertiga (1/3). perlu saya utarakan beberapa contoh. Maka pembagiannya sebagai berikut: suami mendapat setengah (1/2). jika dalam suatu keadaan ahli warisnya bercampur antara sahib fardh kelompok pertama (1/2. 2. seseorang wafat dan meninggalkan istri. ibu sepertiga (1/3). Kaidah yang dimaksud seperti tersebut di bawah ini: 1. Akan tetapi.Begitu juga bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari sahib fardh sepertiga (1/3) dengan seperenam (1/6) atau dua per tiga (2/3) dengan seperenam (1/6). saudara laki-laki seibu seperenam (1/6).bercampur dengan seluruh kelompok kedua atau salah satunya. yang merupakan kelompok kedua. maka pokok masalahnya dari dua belas (12). sedangkan paman sebagai 'ashabah. Apabila dalam suatu keadaan. maka ia tidak berhak menerima harta waris. Bila tidak tersisa. maka pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). dan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. dan 1/8) dengan kelompok kedua (2/3. Berdasarkan kaidah yang ada. 1/4. pokok masalahnya dari dua belas (12). Sebab angka tiga merupakan bagian dari angka enam. maka pokok masalahnya dari enam (6). Maka pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4). dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). Apabila dalam suatu keadaan. sebagai 'ashabah Nilai 3 1 2 0 Contoh lain. sahib fardh seperempat (1/4) yang merupakan kelompok pertama-.

dan bagian ibu seperenam (1/6). sebagai 'ashabah (sisa) berarti berarti berarti berarti 3 12 4 4 1 Angka dua puluh empat (24) yang dijadikan sebagai pokok masalah timbul sebagai hasil perkalian antara setengah dari enam (yakni 3) dengan delapan (6 : 2 x 8 = 24). sehingga dari pembagian itu tidak ada lagi angka atau jumlah yang tersisa. at-tadaakhul (saling terkait/saling bercampur).Misal lain. angka dua puluh tujuh (27) dengan angka sembilan (9). Pada contoh ini tampak ada percampuran antara seperdelapan (1/8) sebagai kelompok pertama dengan seperenam (1/6) sebagai kelompok kedua. at-tawaafuq (saling bertautan). cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Hal seperti ini disebabkan setengah dari dua angka tersebut (yakni enam dan delapan) ada selisih. dan lima sama dengan lima. dan at-tabaayun (berbeda/saling berjauhan). Atau setengah dari delapan (yakni empat) kali enam (6). karenanya kita ambil setengah dari salah satu angka tadi. angka tiga berarti sama dengan tiga. Sedangkan menurut ulama faraid adalah pembagian angka yang besar oleh angka yang lebih kecil. anak perempuan. Tentang Tashih Agar kita dapat memahami dan menelusuri rincian pentashihan pokok masalah. Misalnya. Sedangkan menurut ulama faraid berarti sama dalam jumlah atau nilai. Definisi at-Tamaatsul At-Tamaatsul dalam bahasa Arab berarti at-tasyabuh. Definisi at-Tadaakhul At-Tadaakhul dalam bahasa Arab berasal dari kata dakhala. Yaitu. maka dalam hal ini memerlukan pentashihan pokok masalahnya. kemudian kita kalikan dengan angka yang lain dengan sempurna. ibu. Sedangkan menurut ulama ilmu faraid berarti mewujudkan jumlah yang kurang dari bagian setiap ahli waris tanpa pecahan dalam pembagiannya. A. angka delapan belas (18) dengan angka enam (6). 69 . maka kita tidak perlu menggunakan cara-cara yang berbelit dan memusingkan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8). maka kita harus mengetahui nisbahnya (koneksi) dengan keempat istilah perhitungan. dan saudara kandung laki-laki. yakni 'sama bentuknya'. lawan kata dari "keluar". anak perempuan setengah (1/2). Berikut ini tabelnya: Pokok masalah dari 24 Bagian istri seperdelapan (1/8) Bagian anak perempuan setengah (1/2) Cucu perempuan dari anak laki-laki seperenam (1/6) Bagian ibu seperenam (1/6) Saudara kandung laki-laki. Sedangkan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah.dalam suatu pembagian waris cocok (sesuai) dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. yakni 'masuk'. dan seterusnya. Begitulah seterusnya. yang satu tidak lebih banyak atau lebih sedikit dari yang lain. atau jumlah bagian ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalah. Namun. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Apabila pokok masalah --harta waris-. (8 : 2 x 6 = 24). angka delapan (8) dengan angka empat (4). Misalnya. pokok masalah pada contoh ini dari dua pulah empat (24). Definisi Tashih Tashih dalam bahasa Arab berarti 'menghilangkan penyakit'. Maka berdasarkan kaidah yang ada. bila harta waris tersebut kurang dari jumlah bagian yang mesti diterima setiap ahli waris. at-tamaatsul (kemiripan/kesamaan). karenanya ia mendapat sisa harta waris bila ternyata masih tersisa.

maka di antara kedua bilangan tersebut adalah mutamaatsilan. yakni saling berjauhan atau saling berbeda. maka kedua bilangan itu tadaakhul. Apabila angka yang besar tidak dapat dibagi angka yang kecil --tetapi dibagi angka yang lain-. Namun. Selain itu. Sebab setiap anak mendapat bagian satu). Untuk mengetahui secara tepat pengertian tabaayun. Hal ini dimaksudkan agar dapat mewujudkan keadilan yang optimal dalam pembagian tersebut. bila jumlah per kepalanya jauh lebih sedikit dari jumlah bagian ahli waris yang ada --jumlah pokok masalahnya sudah habis. angka 5 dengan 9. Bila ada kesesuaian antara bagian tiap ahli waris dengan jumlah per kepalanya. maka kita perlu mengetahui kapan kita dapat atau memungkinkan untuk mentashih pokok masalah? Dan apa tujuannya. sebagai bagian khusus yang berkaitan dengan setiap bagian pada pokok masalah. at-tawaafuq. Adapun bila terjadi mubayaanah (ada selisih) maka kalikan jumlah per kepalanya dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. Misalnya. Sang ayah seperenam berarti satu bagian. maka inilah yang sempurna dan sangat diharapkan. Bagian keempat anak perempuan ialah dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. ayah. Pada hakikatnya. Misalnya angka 7 dengan angka 4.maka kedua bilangan itu ada tawaafuq. demikian seterusnya. tetapi ada ahli waris yang belum mendapat bagian-. dan tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki. maka setiap anak berhak mendapat bagian sesuai dengan jumlah per kepalanya. Sedangkan apabila suatu angka tidak dapat dibagi oleh bilangan lain.). Apabila angka yang besar dibagi angka yang lebih kecil. berarti 4. Inilah yang disebut "pentashihan pokok masalah" oleh kalangan ulama faraid. Contoh amaliah tentang pentashihan pokok masalah Seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. oleh ulama faraid disebut dengan juz'us sahm. dan sang ibu juga 70 . Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). sehingga menurut mereka di antara kedua bilangan itu ada tadaakhul. Definisi at-Tabaayun At-Tabaayun dalam bahasa Arab berarti tabaa'ud. Sedangkan mengenai bagian untuk mengalikan pokok masalah atau meng-'aul-kan dengan tujuan mentashih pokok masalah. maka disebut tabaayun. Sedangkan menurut istilah ilmu faraid ialah setiap dua angka yang dapat dibagi angka ketiga. sebagaimana yang dikehendaki ad-Din al-Islam. kalangan ulama faraid tidak mau menerima permasalahan pembagian waris kecuali dengan angka-angka yang pasti (maksudnya tanpa pecahan. angka 8 dengan 6 keduanya dapat dibagi oleh angka 2. Bila jumlah per kepala setelah dibagi cocok dan pas dengan jumlah bagian setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. angka 8 dengan 11. Sedangkan menurut kalangan ulama ilmu faraid ialah setiap bilangan yang satu dengan lainnya tidak dapat membagi. melihat bagian setiap ahli waris dan jumlah per kepalanya. untuk mewujudkan keadilan mereka berusaha mengetahui jumlah bagian yang merupakan hak setiap ahli waris. maka ada kesamaan. attadaakhul. penj. dan at-tabaayun. Cara pentashihan yang biasa dilakukan para ulama faraid seperti berikut: langkah pertama. kita bandingkan pengertiannya dengan istilah lainnya. Tetapi apabila kedua bilangan itu sama. Maksudnya. dan tidak pula dapat dibagi oleh bilangan lain (ketiga). empat anak perempuan. (Misalnya. Untuk lebih memperjelas masalah ini.Definisi at-Tawaafuq At-Tawaafuq dalam bahasa Arab berarti 'bersatu'. sehingga tidak mengurangi ataupun menambahkan. dan bagiannya 2/3 dari 6. ibu. Angka 12 dengan angka 30 sama-sama dapat dibagi oleh angka 6. B. perlu saya kemukakan contoh kasus sehingga pembaca dapat lebih memahaminya. Cara Mentashih Pokok Masalah Setelah kita ketahui dengan baik makna-makna at-tamaatsul. dengan cara mengalikan jumlah per kepala dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. Angka 8 dengan 20 sama-sama dapat dibagi oleh angka 4. maka hasil dari perkalian itu yang menjadi pokok masalah sebenamya. Hal ini merupakan satu perhatian yang sangat baik dari para ulama faraid dalam usaha mereka mewujudkan kemaslahatan yang menyeluruh.maka kita harus melihat apakah ada kecocokan di antara kedua hal itu ataukah tidak.

Sedangkan tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tidak mendapat bagian (mahjub karena anak pewaris lebih dari dua orang. Bagian suami 1/4 berarti tiga (3) bagian. dan bagian kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). Sebab jumlah per kepalanya sesuai dengan jumlah yang dibagikan. dan bagian saudara kandung laki-laki satu bagian (sisanya) sebagai 'ashabah bin nafsihi. keenam saudara kandung perempuan mendapat dua belas bagian. berarti 3 x 9 = 27. dan bagian yang mereka peroleh juga empat. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahuya dari enam (6). Itulah tashih pokok masalah. maka setiap orang mendapat satu bagian. sebab bagian yang mesti dibagikan kepada mereka (keempat anak perempuan itu) tidak lagi memerlukan pecahan-pecahan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12. Bagian kedelapan anak perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. bagian anak perempuan 1/2 berarti enam (6) bagian. dua saudara perempuan seibu. Sehingga dalam pembagiannya akan dengan pas dan mudah. maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan bagian (9). seseorang wafat dan meninggalkan suami. tahulah kita bahwa contoh masalah tersebut cenderung (bernisbat) pada at-tamaatsul. kemudian bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian.seperenam berarti satu bagian. Hasil dari perkalian itulah yang akhirnya menjadi pentashihan pokok masalah. tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. berarti tiga (3). dan paman kandung. Contoh masalah yang at-tawaafuq. Dengan demikian. Contoh lain. dan saudara kandung laki-laki. Seseorang wafat dan meninggalkan delapan (8) anak perempuan. Inilah tabelnya: 3 12 3 6 2 1 Suami 1/4 Anak perempuan 1/2 Tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) 36 9 18 6 3 71 . setiap anak menerima satu bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. sedangkan bagian keempat saudara kandung perempuan adalah dua per tiga (2/3) yang berarti empat (4) bagian. Berarti kesesuaian pembagian tersebut tidak memerlukan pentashihan pokok masalah. sedangkan bagian keenam saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). Dalam contoh tersebut kita lihat jumlah anak perempuan ada empat (4). berarti empat bagian. Misal lain. yaitu dua (2). Setelah pentashihan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. yaitu dua (2). anak perempuan. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. berarti dua bagian. dan sisanya (satu bagian) adalah bagian paman kandung sebagai 'ashabah. dan kita kalikan dengan pokok masalah setelah di-'aul-kan yakni angka sembilan (9). penj. kemudian di-'aul-kan menjadi sembilan (9).). Bagi kedua saudara perempuan seibu dua bagian. yakni angka enam (6). Maka 2 x 6 = 12. dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 sebagai penyempurna 2/3 berarti 2 bagian. kita lihat bahwa pokok masalahnya tidak memerlukan pentashihan. Kita lihat dalam contoh di atas ada at-tawaafuq antara jumlah per kepala anak perempuan dengan jumlah bagian yang mereka peroleh. Dalam contoh di atas kita lihat ada tawaafuq antara jumlah bagian yang diterima para saudara kandung perempuan dengan jumlah per kepala mereka. maka tiap orang mendapat satu bagian. ibu. dan dua orang saudara laki-laki seibu. Kemudian kita ambil separo jumlah per kepala mereka. Contoh lain yang at-tamaatsul. Bagi keempat saudara kandung perempuan empat bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). enam saudara kandung perempuan. Angka dua itulah yang menurut istilah ulama faraid sebagai bagian dari bagian juz'us sahm kemudian bagian dari bagian itu dikalikan dengan pokok masalah. dan empat saudara kandung perempuan. dan kedua saudara laki-laki seibu mendapat enam bagian (9 + 12 + 6 = 27). kemudian di-'aul-kan menjadi tujuh (7). seseorang wafat dan meninggalkan suami. Bila kita perhatikan baik-baik contoh ini. Karena itu tidak lagi memerlukan pentashihan pokok masalah.

sedangkan bagian saudara kandung laki-laki mahjub (terhalang). maka angka 36 itu berarti pokok masalah hasil pentashihan. ayah. Tujuh anak perempuan mendapat 2/3-nya = 16. empat saudara kandung laki-laki. Karenanya di antara keduanya ada tabaayun (perbedaan). dua orang nenek. berarti 7 x 4 = 28. Ketiga istri mendapat 1/8 = 3. 72 . dan jumlah per kepala mereka ada perbedaan (tabaayun). seorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. Misal lain. dan empat saudara kandung laki-laki (sisanya) yaitu 1 sebagai 'ashabah. lima anak perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan istri. begitu juga dengan bagian keempat saudara kandung yang hanya satu bagian. kelima anak perempuan mendapat bagian 2/3 yang berarti 16. Perhatikan tabel berikut: 28 24 3 16 4 1 - 3 istri bagiannya 1/8 7 anak perempuan 2/3 2 orang nenek 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) Saudara laki-lah seibu (mahjub 672 84 448 112 28 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian anak perempuan (16) dengan jumlah per kepala mereka (7) ada perbedaan (tabaayun). Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. ayah memperoleh 1/6 berarti 4. karenanya kita kalikan angka 3 dengan pokok masalahnya. kita kalikan jumlah per kepala anak perempuan (yakni 7) dengan jumlah per kepala saudara kandung (yakni 4). Kemudian juz'us sahm tersebut kita kalikan dengan pokok masalahnya (28 x 24 = 672) hasilnya itulah yang menjadi pokok masalah setelah pentashihan. Dan angka lima (5) itulah yang dinamakan juz'us sahm. Untuk mentashih pokok masalah dari contoh ini. Maka bagian masing-masing seperti berikut: pokok masalahnya dari 24. ibu. sedangkan saudara seibu mahjub. kemudian di-'aul-kan menjadi 27.Berdasarkan tabel tersebut kita lihat antara bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki dengan jumlah per kepala mereka (yakni 2 dengan 3) ada tabaayun (perbedaan). dan saudara laki-laki seibu. Angka tersebut (yakni 28) merupakan juz'us sahm. Pentashihan seperti ini dapat diterapkan dalam contoh-contoh yang lain. yakni 27 x 5 = 135. tujuh anak perempuan. yakni 3 x 12 = 36. Contoh lain. kedua nenek 1/6-nya = 4. dan ibu mendapat 1/6 yang berarti 4. Bagian istri 1/8 = 3. Angka itu merupakan pokok masalah setelah pentashihan. Inilah tabelnya: 5 27 3 16 4 4 - 24 Istri 1/8 Lima anak perempuan 2/3 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Saudara kandung laki-laki (mahjub) 135 15 80 20 20 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian kelima anak perempuan tidak bisa dibagi oleh jumlah per kepala mereka. dan saudara kandung lakilaki. Kemudian kita kalikan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan (yakni 27) dengan jumlah per kepala mereka.

Cucu pr. Maka hasilnya merupakan bagian dari masing-masing ahli waris. anak perempuan. 960 dinar: 24 = 40 dinar. Cara kedua: kita ketahui terlebih dahulu bagian setiap ahli waris secara menyeluruh. Maka hasilnya merupakan bagian masing-masing ahli waris. atau tanah. baik berupa harta. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Sedangkan harta peninggalannya sebanyak 480 dinar. kemudian kita bagi dengan angka pokok masalahnya atau tashihnya. Pembagian Harta Peninggalan At-tarikah (peninggalan) dalam bahasa Arab bermakna seluruh jenis kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. kemudian kita kalikan dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-tashikkan-kan menjadi 24. = 60 dinar = 240 dinar = 80 dinar = 100 dinar = 480 dinar Contoh lain. ibu mendapatkan 1/6 berarti 4 bagian. Semua peninggalan itulah yang harus dibagikan kepada ahli waris yang ada sesuai dengan hak bagian yang harus mereka terima. Sedangkan harta waris yang ada sebanyak 960 dinar. Cara pertama: kita ketahui nilai (harga) setiap bagiannya. sedangkan sisanya (yakni 5 bagian) merupakan hak ayah sebagai 'ashabah. namun yang paling masyhur di kalangan ulama faraid ada dua -. ayah. x x x x Tabelnya seperti berikut: 2 12 6 3 2 2 bagian istri Anak perempuan Ibu Ayah ('ashabah) 3 bagian 12 bagian 4 bagian 5 bagian 20 dinar 20 dinar 20 dinar 20 dinar Total 24 Cucu perempuan keturunan anak laki-laki Suami 1/4 Ibu 1/6 2 saudara perempuan kandung ('ashabah ma'al ghair) 1/2 1/4 1/6 1 24 12 6 4 Adapun nilai per bagian. Contoh Cara Pertama Seseorang wafat dan meninggalkan istri. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. Sedangkan sisanya (dua bagian) untuk dua saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah ma'al ghair. ibu. benda. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung perempuan. Adapun nilai (harga) per bagiannya didapat dari hasil pembagi harta waris yang ada (480 dinar) dibagi pokok masalah (24). dan ibu memperoleh 1/6 yang berarti 4 bagian. Untuk mengetahui pembagian harta waris kepada setiap ahlinya ada beberapa cara yang harus ditempuh. berarti 480: 24 = 20 dinar adalah harga per bagian.dalam hal yang berkenaan dengan harta yang dapat ditransfer.C. dan ibu. suami mendapatkan 1/4 yang berarti 6 bagian. istri mendapatkan 1/8 yang berarti 3 bagian. Jadi. Hal ini kita lakukan dengan cara mengalikan bagian tiap-tiap ahli waris dengan jumlah (nilai) harta peninggalan yang ada. anak perempuan 1/2 berarti 12 bagian. Cucu perempuan mendapatkan 1/2 yang berarti 12 bagian. bagian masing-masing ahli waris: 1 Jadi. keturunan anak laki-laki x 40 dinar 2 Suami 6 x 40 dinar Ibu 4 x 40 dinar Dua saudara kandung perempuan 2 x 40 dinar = 480 dinar = 240 dinar = 160 dinar = 80 dinar 73 . Jadi. suami.

000 dinar = 500 dinar = 500 dinar = 3. seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. Sang ayah mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian. Sedangkan harta peninggalan seluruhnya 9.900: 9 = 1. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian ditashih menjadi 12. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian di-'aul-kan (dinaikkan) menjadi 9.Total = 960 dinar Contoh lain. ibu mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian.000:12 = 250 dinar : Jadi bagian 4 anak perempuan 4 : dua anak laki-laki 4 : ibu 2 : ayah 2 x 250 dinar x 250 dinar x 250 dinar x 250 dinar Total = 1.000 dinar Contoh lain. dan tiga saudara kandung laki-laki. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. ayah.300 dinar = 3.100 dinar : Jadi.100 dinar = 3. seseorang wafat dan meninggalkan suami.300 dinar 74 . Suami x 1. sedangkan bagian anak laki-laki juga 4 bagian (masing-masing 2 bagian). dua anak laki-laki. Perhatikan tabel berikut: 6 Suami Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seibu Nenek 1/2 1/2 1/3 1/6 9 3 3 2 1 Adapun nilai per bagiannya adalah 9. dan nenek. sedangan nenek mendapat 1/6 berarti satu (1).000 dinar.100 dinar 3 Saudara perempuan kandung : x 1. sedangkan saudara kandung laki-laki mahjub. Simak tabel berikut: 2 6 4 3 1 1 - Empat anak perempuan Dua anak laki-laki Ayah Ibu Tiga saudara kandung laki-laki (mahjub) 1/6 1/6 - 12 4 4 2 2 Adapun nilai per bagiannya adalah 3. dan sisanya dibagikan kepada enam (6) anak. ibu. saudara kandung perempuan 1/2 berarti 3. Suami mendapat 1/2 yang berarti 3.900 dinar. saudara kandung perempuan. berarti bagian anak perempuan 4 bagian (masing-masing satu bagian). dua saudara laki-laki seibu memperoleh 1/3 berarti 2. dan harta peninggalannya 3.000 dinar = 1. dua saudara laki-laki seibu.

Suami mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). suami mendapatkan 1/4 (berarti 6 bagian). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian ditashih menjadi 24.100 dinar = 2. Perhatikan tabel berikut: 12 13 Suami 1/4 3 Ibu 1/6 2 Dua anak perempuan 2/3 8 Tiga cucu perempuan 'ashabah Dua cucu perempuan Jad i. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian).200 dinar = 2. sedangkan harta yang ditinggalkan sejumlah 585 dinar. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) Cucu pr. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) 1 2 4 6 2 x 240:24 dinar x 240:24 dinar x 240:24 dinar x 240:24 dinar 1/2 1/6 1/4 24 12 4 6 2 . ibu.100 dinar x 1.Dua saudara laki-laki seibu Nenek 3 : 2 : 1 x 1. 12 6 2 3 1 = 120 dinar = 40 dinar = 60 dinar = 20 dinar 75 Cucu pr.200 dinar Total = 9. dan dua saudara kandung 2 bagian sebagai 'ashabah. sedangkan harta warisnya berjumlah 240 dinar.000 dinar Bila seseorang wafat dan meninggalkan suami. suami. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 13. ibu. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). 3 cucu perempuan keturunan anak lakilaki. satu cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. Sedangkan kedudukan para cucu dalam hal ini sebagai 'ashabah. Suami Ibu Dua anak perempuan : 3 : 2 : 8 x 585:13 dinar x 585:13 dinar x 585:13 dinar Total = 135 dinar = 90 dinar = 360 dinar 585 dinar Contoh lain. dan dua anak perempuan 2/3 (berarti 8 bagian). ket. ket. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapatkan 1/2 (berarti 12 bagian). seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung. sehingga mereka tidak memperoleh bagian karena harta waris telah habis dibagikan kepada ashhabul furudh. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dua anak perempuan.

Istri 76 . seseorang wafat dan meninggalkan tiga (3) orang istri. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 24 kemudian setelah ditashih menjadi 600. dan sebagian lagi ada yang mendapatkan lebih dari itu. Contoh masalahnya. cucu perempuan 1/2 (berarti 3 bagian). Jumlah harta peninggalannya ada 17 dinar. Contoh masalah ini sebagai berikut: misalnya. kedelapan saudara perempuan seayah mendapatkan 2/3 (berarti 8 bagian). ibu mendapatkan 1/6 (berarti satu bagian). Berikut ini tabelnya: 12 1/ 4 1/ 6 2/ 3 1/ 3 17 3 2 8 4 masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar 1/6 1/2 6 1 3 2 - Total Ke-3 istri Kedua nenek Ke-8 sdr. seibu Masalah Dinariyah al-Kubra Adapun masalah ad-dinariyah al-kubra memiliki pengertian bahwa ahli waris yang ada sebagian terdiri dari ashhabul furudh dan sebagian lagi dari 'ashabah. ibu. dua belas saudara kandung laki-laki. Hal seperti ini di kalangan ulama faraid disebut ad-dinariyah al-kubra. pr.menjadi hak kedua saudara perempuan kandung sebagai 'ashabah.mahjub. Harta peninggalannya: 17 dinar. Inilah tabelnya: Ibu Cucu pr. Maka kasus seperti ini disebut ad-dinariyah ashshughra. dan empat (4) saudara perempuan seibu. dan setiap ahli waris hanya menerima satu dinar. Ad-dinariyah ash-shughra memiliki pengertian seluruh ahli warisnya terdiri atas kaum wanita. Masing-masing ahli waris di antara mereka ada yang hanya mendapatkan bagian satu (1) dinar. Sedangkan harta peninggalannya 600 dinar. dua (2) orang nenek. jumlah bagian seluruh ahli warisnya pun 17. Sedangkan harta peninggalan sebanyak 1. saudara laki-laki seayah. Adapun pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 17. sedangkan keempat saudara perempuan seibu mendapatkan 1/3 (berarti 4 bagian). dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dua orang nenek mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). seayah Ke-4 sdr. ket. dengan demikian masing-masing mendapat satu dinar. yakni istilah ad-dinariyah ash-shughra dan ad-dinariyah al-kubra. sebagian ada yang mendapatkan dua (2) dinar. saudara perempuan seayah. Tiga orang istri mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). seseorang wafat dan meninggalkan ibu. pr. Dua saudara laki-laki seayah (mahjub) Masalah Dinariyah ash-Shughra Ada dua masalah yang dikenal oleh kalangan ulama faraid. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6. dan seorang saudara kandung perempuan. dan sisanya --dua bagian-. anak laki-laki Dua saudara kandung pr. dua saudara kandung perempuan.500 dinar.= 240 dinar Misal lain. seseorang wafat meninggalkan istri. Sedangkan ahli waris yang lain ter. dua anak perempuan. ('ashabah) Saudara perempuan seayah. delapan (8) saudara perempuan seayah.

mendapatkan 1/8 (berarti 3 bagian), ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian), kedua anak perempuan memperoleh 2/3 (16 bagian), dan sisanya satu (1) bagian merupakan bagian ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah. Jadi, bagian Istri Ibu Kedua perempuan : 3 : 4 : anak 1 6 x 600:24 dinar x 600:24 dinar x 600:24 dinar = 75 dinar = 100 dinar = 400 dinar

Total = 575 dinar Sedangkan ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan mendapat sisanya, yakni 25 dinar sebagai 'ashabah, dengan ketentuan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Dengan demikian, yang 24 dinar dibagikan kepada ke-12 saudara kandung laki-laki dan masing-masing mendapat dua (2) dinar, dan yang satu (1) dinar bagian saudara kandung perempuan. Berikut ini tabelnya: 25 24 3 4 16 600 75 100 100 24 1

Istri 1/8 Ibu 1/6 Kedua anak perempuan 2/3 12 saudara kandung laki-laki 1 1 saudara kandung perempuan ('ashabah) Masalah ad-dinariyah al-kubra ini pernah terjadi pada zaman al-Qadhi Syuraih (seseorang mengajukan masalah kepadanya). Akhirnya Syuraih memvonis dengan memberikan hak saudara kandung perempuan pewaris hanya satu (1) dinar. Tetapi, wanita tersebut kemudian mengadukan hal itu kepada Imam Ali bin Abi Thalib r.a. yang menyebutkan bahwa Syuraih telah menzhaliminya, mengurangi hak warisnya hingga memberinya satu dinar dari peninggalan saudaranya yang 600 dinar itu. Kendatipun wanita tersebut tidak menyebutkan seluruh ahli waris yang berhak menerima warisan, namun dengan ketajaman dan keluasan ilmunya, Ali bin Abi Thalib bertanya, "Barangkali saudaramu yang wafat itu meninggalkan istri, dua anak perempuan, ibu, 12 saudara kandung laki-laki, dan kemudian engkau?" Wanita tersebut menjawab, "Ya, benar." Ali berkata, "Itulah hakmu tidak lebih dan tidak kurang." Kemudian Ali bin Abi Thalib r.a. memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa hakim Syuraih telah berlaku adil dan benar dalam memvonis perkara yang diajukannya. Wallahu a'lam bish shawab.

77

IX. HUKUM MUNASAKHAT A. Definisi Munasakhat Al-munasakhat dalam bahasa Arab berarti 'memindahkan' dan 'menghilangkan', misalnya dalam kalimat nasakhtu alkitaba yang bermakna 'saya menukil (memindahkan) kepada lembaran lain'; nasakhat asy-syamsu ash-zhilla yang berarti 'sinar matahari menghilangkan bayang-bayang'. Makna yang pertama --yakni memindahkan/menukil-- sesuai dengan firman Allah SWT berikut: "... Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." (al-Jatsiyah: 29) Sedangkan makna yang kedua sesuai dengan firman berikut: "Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?" (al-Baqarah: 106) Adapun pengertian al-munasakhat menurut istilah ulama faraid ialah meninggalnya sebagian ahli waris sebelum pembagian harta waris sehingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya yang lain. Bila salah seorang ahli waris meninggal, sedangkan ia belum menerima hak warisnya (karena memang belum dibagikan), maka hak warisnya berpindah kepada ahli warisnya. Karenanya di sini akan timbul suatu masalah yang oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan al-jami'ah. Al-munasakhat mempunyai tiga macam keadaan: Keadaan pertama: sosok ahli waris yang kedua adalah mereka yang juga merupakan sosok ahli waris yang pertama. Dalam kasus seperti ini masalahnya tidak berubah, dan cara pembagian warisnya pun tidak berbeda. Misalnya, ada seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak. Kemudian salah seorang dari kelima anak itu ada yang meninggal, tetapi yang meninggal itu tidak mempunyai ahli waris kecuali saudaranya yang empat orang, maka seluruh harta waris yang ada hanya dibagikan kepada keempat anak yang tersisa, seolah-olah ahli waris yang meninggal itu tidak ada dari awalnya. Keadaan kedua: para ahli waris dari pewaris yang kedua adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama, namun ada perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab mereka terhadap pewaris. Misalnya, seseorang mempunyai dua orang istri. Dari istri yang pertama mempunyai keturunan seorang anak laki-laki. Sedangkan dari istri kedua mempunyai keturunan tiga anak perempuan. Ketika sang suami meninggal, berarti ia meningalkan dua orang istri dan empat anak (satu laki-laki dan tiga perempuan). Kemudian, salah seorang anak perempuan itu meninggal sebelum harta waris peninggalan ayahnya dibagikan. Maka ahli waris anak perempuan ini adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama (ayah). Namun, dalam kedua keadaan itu terdapat perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab kepada pewaris. Pada keadaan yang pertama (meninggalnya ayah), anak laki-laki menduduki posisi sebagai anak. Tetapi dalam keadaan yang kedua (meninggalnya anak perempuan), anak laki-laki terhadap yang meninggal berarti merupakan saudara laki-laki seayah, dan yang perempuan sebagai saudara kandung perempuan. Jadi, dalam hal ini pembagiannya akan berbeda, dan mengharuskan kita untuk mengamalkan suatu cara yang disebut oleh kalangan ulama faraid sebagai masalah al-jami'ah. Keadaan ketiga: para ahli waris dari pewaris kedua bukan ahli waris dari pewaris pertama. Atau sebagian ahli warisnya termasuk sosok yang berhak untuk menerima waris dari dua arah, yakni dari pewaris pertama dan dari pewaris kedua. Dalam hal seperti ini kita juga harus melakukan teori al-jama'iyah, sebab pembagian bagi tiap-tiap ahli waris yang ada berbeda dan berlainan.

B. Rincian Amaliah al-Munasakhat Sebelum kita melakukan rincian tentang amaliah al-munasakhat, kita terlebih dahulu harus melakokan langkahlangkah berikut:
78

1. Mentashihkan masalah pewaris yang pertama dengan memberikan hak waris kepada setiap ahlinya, termasuk
hak ahli waris yang meninggal.

2. Merinci masalah baru, khususnya yang berkenaan dengan kematian pewaris kedua, tanpa mempedulikan
masalah pertama. 3. Membandingkan antara bagian pewaris kedua dalam masalah pertama, dengan pentashihan masalah dan para ahli warisnya dalam masalah kedua. 4. Perbandingan antara keduanya itu dalam kecenderungannya terhadap ketiga nisbat, yaitu al-mumatsalah, almuwafaqah, dan al-mubayanah. Bila antara keduanya --yakni antara bagian pewaris yang kedua dan masalah ahli warisnya yang lain-- ada mumatsalah (kesamaan), maka dibenarkan kedua masalah hanya dengan tashih yang pertama (lihat tabel). Sebagai contoh, seseorang wafat dan meninggalkan tiga anak perempuan, dua saudara kandung perempuan, dan seorang saudara kandung laki-laki. Kemudian salah seorang saudara kandung perempuan itu meninggal. Berarti ia meninggalkan seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari tiga (3). Ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (2 bagian). Dan sisanya (satu bagian) merupakan hak para 'ashabah (yakni dua saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung lakilaki). Kemudian kita lihat jumlah per kepalanya ada tabayun (perbedaan), maka 3 x 4 = 12. Kemudian angka ini kita kaLikan dengan pokok masalahnya, berarti 3 x 12 = 36. Bilangan inilah yang kemudian menjadi pokok masalah hasil pentashihan. Jadi, pembagiannya seperti berikut: ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (24 bagian), dan sisanya (12 bagian) dibagikan untuk dua orang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki, dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian anak perempuan, jadi setiap saudara kandung perempuan mendapat tiga (3) bagian, dan saudara laki-laki kandung enam (6) bagian. Kemudian, kita lihat antara bagian pewaris kedua (yaitu 3) dengan pokok masalahnya (juga dari 3) ada kesamaan (tamatsul). Karena itu, al-jami'ah di sini sama dengan hasil pentashihan pada masalah yang pertama (yakni dari 36). Kemudian, hak waris/bagian saudara kandung perempuan yang meninggal (3 bagian) hanya dibagikan kepada ahli waris, yaitu seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Kemudian, hasil pembagian itu ditambahkan pada hasil bagian mereka yang pertama. Maka, bagian saudara kandung perempuan menjadi empat (4): tiga (3) bagian --yang diperolehnya dari masalah pertama-- ditambah dengan bagian yang berasal dari saudara kandung perempuan yang meninggal, yaitu satu (1) bagian (3 + 1 = 4). Sedangkan saudara kandung laki-laki mendapatkan dua (2) bagian, yang kemudian ditambahkan dengan perolehannya dari peninggalan pada masalah pertama, yaitu enam (6) bagian. Maka saudara laki-laki kandung memperoleh delapan (8) bagian. Adapun tiga anak perempuan pewaris pertama, dalam masalah kedua ini tidak mendapatkan hak waris, disebabkan kedudukannya hanyalah sebagai keponakan pewaris kedua, yakni anak perempuan dari saudara laki-laki pewaris kedua. Karena itu, mereka mahjub. Berikut ini saya sertakan tabelnya: Jumlah kepala 12 3 anak pr. 2/3 Sdr. kandung pr. Sdr. kandung pr. Sdr. kandung lk. Tashih masalah ke I 3 2 3 1 6 36 24 3 meninggal Sdr. kandung pr. Sdr. kandung lk. al-Jami'ah 3 1 2 36 24 3+1=4 6+2=8

Contoh lain, seseorang wafat dan meninggalkan istri, ayah, ibu, cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Kemudian cucu tersebut meninggal dengan meninggalkan suami, ibu, tiga anak perempuan, dan dua anak laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut:

79

Kemudian suami wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua belas (12) kemudian di-'aul-kan menjadi lima belas (15). Juz'us sahm ini kemudian kita kalikan dengan bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. dan saudara laki-laki seibu. istri. yaitu dua puluh empat (24). antara masalah yang pertama dengan masalah yang kedua ada mubayanah (perbedaan). yang berarti bagian pewaris kedua hanya dibagikan kepada ahli warisnya. kita lihat al-jami'ah dalam masalah ini sama dengan pokok masalah pertama. Suami mendapatkan seperempat (1/4) berarti tiga bagian. begitu juga dengan bagian ibu yakni seperenam (1/6). kaidah yang berlaku di kalangan ulama faraid adalah kita menjadikan pokok masalah pertama sebagai al-jami'ah. ibu. dan ini merupakan juz'us sahm (bagian dari bagian hak waris). Kemudian. Kemudian.Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). Oleh sebab itu. kita lihat hasil perkaliannya: perkalian antara juz'us sahm yaitu tiga (3) dengan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan. berarti dua bagian. kita tidak lagi membuat al-jami'ah yang baru. keturunan anak lk. Lihat tabel berikut: 13 15 3 2 2 8 3 13 6 2 12 Suami 1/4 Ayah 1/6 Ibu 1/6 2 anakperempuan (2/3) Sdr. Berikut ini tabelnya: Pokok Masalah I 24 3 4 5 Pokok Masalah II 12 12 3 al-Jami'ah 24 3 4 5 3 Istri 1/8 Ibu 1/6 Ayah ('ashabah) Cucu pr. cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/2 (12 bagian). Istri mendapatkan 1/4 (3 bagian). sedangkan sisanya (lima bagian) merupakan bagian ayah sebagai jumlah 'ashabah. Dalam keadaan demikian. ayah. Sedangkan pokok masalah yang kedua dari dua belas (12) yang di-'aul-kan menjadi tiga belas (13). Jumlah semuanya adalah dua puluh empat (24) bagian. Kandung perempuan (2/3) Ibu 1/6 12 meninggal 39 26 26 10 4 18 6 80 . 1/2 Suami 1/4 meninggal Contoh yang memiliki kasus al-mubayanah: seseorang wafat dan meninggalkan suami. Hal ini karena kita dapati bagian pewaris kedua (cucu perempuan keturunan anak laki-laki) dalam masalah pertama ada tamatsul (kesamaan) dengan pokok masalah yang kedua. karenanya kita kalikan pokok masalah pertama (yakni 15) dengan pokok masalah yang kedua (yakni 13). maka akan merupakan hasil bagian ahli waris dari al-jami'ah (penyatuan dari dua masalah). Untuk lebih meyakinkan kebenaran masalah kedua ini. Maka angka 39 ini merupakan jumlah bagian seluruh ahli waris dalam masalah kedua. Lalu kita tempatkan bagian pewaris yang kedua (suami. ibu. berarti 3 x 13 = 39. dan dua anak perempuan. Maka hasil dari perkalian itu (yakni 15 x 13 = 195) merupakan al-jami'ah (penyatuan) antara dua masalah. tetapi cukup menjadikan al-jami'ah yang pertama itu berlaku pada masalah kedua. yang mendapat tiga bagian) di atas pokok masalah kedua. ibu 1/6 (4 bagian). Kemudian dua anak perempuan mendapatkan dua per tiga (2/3) berarti delapan (8) bagian. Ayah mendapatkan seperenam (1/6) berarti dua bagian. Jumlahnya lima belas (15) bagian.

adalah seorang sahabat yang mempunyai empat orang istri. seseorang wafat meninggalkan suami. Kemudian suami wafat dan meninggalkan anak perempuan. dan seterusnya. seibu 1/6 Paman ('ashabah) Anak perempuan 1/2 Cucu pr. kemudian ada lagi yang meninggal. Dalam hal ini dia hanya meminta imbalan berupa sejumlah uang atau barang tertentu dari salah seorang ahli waris lainnya ataupun dari harta peninggalan yang ada. Numadhir binti al-Asbagh. dan dua saudara laki-laki seibu. Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf r. Misalnya. ayah. lk. atau siapa saja yang ditunjuknya. saudara perempuan seibu. dan ibu.Istri 1/4 Sdr. Jumlah yang diambilnya --sebagaimana disebutkan dalam riwayat-. Kemudian anak perempuan juga meninggal. At-Takharuj min at-Tarikah Yang dimaksud dengan at-takharuj min at-tarikah ialah pengunduran diri seorang ahli waris dari hak yang dimilikinya untuk mendapatkan bagian (secara syar'i). Syariat Islam juga memperbolehkan apabila salah seorang ahli waris menyatakan diri tidak akan mengambil hak warisnya. 1/6 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Nenek 1/6 2 sdr. Dan hasilnya dinamakan al-jami'ah kedua. al-jami'ah ketiga. laki-laki seibu 1/6 3 2 9 6 Catatan Kemungkinan besar dapat pula terjadi adanya al-jami'ah lebih dari satu. takni kita tempatkan tashih kedua pada posisi pertama. kita tetap harus menempuh cara seperti yang telah kita tempuh dalam almunasakhat. dan bagian itu diberikan kepada ahli waris yang lain.pr. dan tashih ketiga pada posisi kedua. Perhatikan tabel berikut: 2 6 Suami 1/2 Sdr. saudara seibu 1/3 3 1 2 3 1 1 1 meninggal 2 4 3 1 1 1 meninggal 1 4 2 7 7 7 3 1 2 6 1 6 7 1 2 3 6 7 1 4 2 8 8 8 4 C. 81 .a. dan seterusnya. dan meninggalkan nenek.ialah seratus ribu dirham. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dua saudara kandung perempuan. kandung pr. Untuk menjelaskan hal ini perlu kiranya saya kemukakan contoh tentang bentuk al-jami'ah yang lebih dari satu ini. Maka jika terjadi hal seperti ini. Ketika ia wafat. Hal ini dalam syariat Islam dibenarkan dan diperbolehkan. menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil hak waris sekadar seperempat dari seperdelapan yang menjadi haknya. 2/3 2 sdr. dan paman kandung (saudara ayah). dalam suatu keadaan pembagian waris salah seorang ahli warisnya wafat sebelum pembagian. dan seterusnya. Kasus seperti ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah "pengunduran diri" atau "menggugurkan diri dari hak warisnya". salah seorang istrinya. Misalnya.

000 + 18.000 = 24.000: 21 = 2. Dalam keadaan demikian. Pertama. seseorang wafat dan meninggalkan ayah. dan setelah ditashih menjadi empat puluh. hak anak perempuan itu diberikan kepada salah seorang saudara lakilakinya yang ia tunjuk sebelumnya.000. pokok masalahnya dari delapan. hasilnya seperti berikut: Nilai per bagian adalah 42. 82 . anak perempuan. kemudian kita hilangkan (ambil) hak istri. Kemudian dari pokok masalah itu dibagikan untuk hak ayah dan anak perempuan. maka ada dua cara yang dapat menjadi pilihannya. Maka. Sebagai contoh.000. dengan imbalan sesuatu yang telah disepakati oleh keduanya.000 Bagian ayah 9 x 2.000.000. kemudian keluarkanlah bagian ahli waris yang mengundurkan diri.000. berarti tiga (3) saham.000.000 Cara kedua: apabila salah seorang ahli waris menyerahkan atau menggugurkan hakuya lalu memberikannya kepada salah seorang ahli waris lainnya. Cara pertama: kenalilah pokok masalahnya. dan sisanya --yakni tujuh bagian-adalah bagian anak perempuan. Dengan demikian. sehingga seolah-olah ia telah menerima bagiannya. dan uang sebanyak Rp 42 juta. atau menyatakan hanya akan mengambil sebagian saja dari hak warisnya.Tata Cara Pelaksanaannya Apabila salah seorang ahli waris ada yang menyatakan mengundurkan diri. Lalu jumlah bagian kedua ahli waris itulah yang menjadi pokok masalahnya. sedangkan bagian anak perempuan dilimpahkan kepada salah seorang saudara laki-laki yang diberinya hak bagian.3 = 21) merupakan pokok masalah bagi hak ayah dan anak perempuan.000 = 18. warisan itu hanya dibagikan kepada istri dan kedua anak laki-laki. Maka jumlah sisa bagian yang ada itulah pokok masalahnya. Istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti lima (5) bagian. seseorang wafat dan meninggalkan seorang isteri.000 = 42. yakni seperdelapan dari dua puluh empat. dan cara kedua. maka warisan harta tersebut hanya dibagikan kepada anak perempuan dan ayah. Kemudian.000. dan menggugurkan haknya untuk menerima bagian dari harta yang berjumlah Rp 42 juta itu.000. Kemudian sebagai misal. Perhatikan tabel berikut: Pokok masalah 8 Isteri 1/8 Anak laki laki ('ashabah) Anak laki laki ('ashabah) Anak perempuan ('ashabah) Tashih 40 5 14 14 7 40 5 14 14+14 - 1 7 Maka. seorang anak perempuan. maka pembagiannya hanya dengan cara melimpahkan bagian hak ahli waris yang mengundurkan diri itu kepada bagian orang yang diberi. pewaris meninggalkan sebuah rumah. dan istri. dan dua anak laki-laki. Misalnya. Rincian pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). ia menyatakannya kepada seluruh ahli waris yang ada.000. Kemudian istri menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil rumah. Kemudian anak perempuan itu menggugurkan haknya dan memberikannya kepada salah seorang dari saudara laki-lakinya.000 Total = 24. dan sisanya dibagikan kepada ahli waris yang ada. Lalu sisanya (yakni 24 . ia hanya memberitahukannya kepada salah seorang dari ahli waris yang ditunjuknya dan bersepakat bersama. dan bagian setiap anak laki-laki empat belas (14) bagian.000 Bagian anak perempuan adalah 12 x 2.

dzawil arham adalah ahli waris yang mempunyai tali kekerabatan dengan pewaris. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain. lafazh rahim tersebut umum digunakan dengan makna 'kerabat'. dan (peliharalah) hubungan silaturahim. maka seketika itu dilimpahkan kepada baitulmal kaum muslim untuk disalurkan demi kepentingan masyarakat Islam pada umumnya. Dengan demikian. Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama: golongan ini berpendapat bahwa dzawil arham atau para kerabat tidak berhak mendapat waris. HAK WARIS DZAWIL ARHAM A. sama halnya dengan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. ataupun 'ashabah yang menerima harta pewaris. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham Para imam mujtahid berbeda pendapat dalam masalah hak waris dzawil arham.. B. baik dalam Al-Qur'an ataupun Sunnah. dan lainnya) Adapun lafazh dzawil arham yang dimaksud dalam istilah fuqaha adalah kerabat pewaris yang tidak mempunyai bagian/hak waris yang tertentu. Di antara mereka yang berpendapat demikian ialah Zaid bin Tsabit r. dan Ibnu Abbas r. Pengertian ini tentu saja disandarkan karena adanya rahim yang menyatukan asal mereka. dan bukan pula termasuk dari para 'ashabah... maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi (HR Bukhari. Kemudian dikembangkan menjadi 'kerabat'. Definisi Dzawil Arham Arham adalah bentuk jamak dari kata rahmun. dan sebagainya. " (an-Nisa': 1) "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muhammad: 22) Rasulullah saw. Ibnu Mas'ud. Kedua: golongan kedua ini berpendapat bahwa dzawil arham (kerabat) berhak mendapat waris.a. Karena itu mereka lebih diutamakan untuk menerima harta tersebut daripada baitulmal. dan juga merupakan pendapat dua imam. Pendapat ini merupakan jumhur ulama. Allah berfirman: ".a. baik datangnya dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. Muslim. baik dalam bahasa Arab ataupun dalam istilah syariat Islam. Lebih jauh mereka mengatakan bahwa bila harta waris tidak ada ashhabul furudh atau 'ashabah yang mengambilnya. keponakan laki-laki dari saudara perempuan. Jadi. yang asalnya dalam bahasa Arab berarti 'tempat pembentukan/menyimpan janin dalam perut ibu'. dan Ali bin Abi Thalib.X. Juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal rahimahumullah. Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh Imam Malik dan Syafi'i (golongan pertama) ialah: 83 . Lebih jauh golongan kedua ini mengatakan bahwa dzawil arham adalah lebih berhak untuk menerima harta waris dibandingkan lainnya. tidak dibenarkan jika harta tersebut diberikan kepada dzawil arham. paman (saudara laki-laki ibu). dalam sebagian riwayat darinya. yaitu Malik dan Syafi'i rahimahumullah. bila tidak ada ashhabul furudh. Maksudnya. Dengan demikian. cucu laki-laki dari anak perempuan. bersabda: "Barangsiapa yang berkehendak untuk dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. di antaranya Umar bin Khathab. sebab mereka memiliki kekerabatan dengan pewaris. namun mereka tidak mewarisinya secara ashhabul furudh dan tidak pula secara 'ashabah. Misalnya. bibi (saudara perempuan ayah atau ibu). dzawil arham adalah mereka yang bukan termasuk ashhabul furudh dan bukan pula 'ashabah.

yakni Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. mereka mendasari pendapatnya itu dengan Al-Qur'an. menjawab: "Sesungguhnya Jibril telah memberitahukan kepadaku bahwa dari keduanya tidak ada hak menerima waris sedikit pun. Adapun golongan kedua. Dengan turunnya ayat ini. Dengan demikian. Kemudian sebagaimana dinyatakan oleh mayoritas ulama bahwa ayat di atas me-mansukh (menghapus) kebiasaan pada awal munculnya Islam. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Maka jika keduanya tidak berhak untuk menerima harta waris.. Bila pewaris mempunyai kerabat dan kebetulan ia meninggalkan harta waris. bila ternyata tidak ada ahli warisnya secara sah dan benar --baik dari ashhabul furudh-nya ataupun para 'ashabahnya-." (an-Nisa': 7) Melalui ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa kaum laki-laki dan wanita mempunyai hak untuk menerima warisan yang ditinggalkan kerabatnya. makna kata itu mencakup kerabat yang mempunyai hubungan rahim atau lebih umumnya hubungan darah. tidak mungkin dan tidak dibenarkan bila kita memberikan hak waris kepada kerabat lain. Ayat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa yang disebut kerabat --siapa pun mereka. Dan dalam hal ini tidak ada satu pun nash yang pasti dan kuat yang menyatakan wajibnya dzawil arham untuk mendapat waris. baik ashhabul furudh. Jadi. dan logika." (al-Anfal: 75) Makna yang mendasar dari dalil ini ialah bahwa Allah SWT telah menyatakan atau bahkan menegaskan dalam KitabNya bahwa para kerabat lebih berhak untuk mendapatkan atau menerima hak waris daripada yang lain. bila kita memberikan hak waris kepada mereka (dzawil arham) berarti kita memberikan hak waris tanpa dilandasi dalil pasti dan kuat. As-Sunnah. atau selain dari keduanya-. dan hanya kalangan mereka saja yang merasakannya. maka tidak pula kepada kerabat yang lain. para ''ashabah.bila diserahkan ke baitulmal akan dapat mewujudkan kemaslahatan umum. baik sedikit ataupun banyak. Namun sebaliknya. mereka (dzawil arham) berhak untuk menerima warisan." 2. maka yang dapat saling mewarisi hanyalah antara sesama kerabat (dzawil arham). maka berikanlah harta waris itu kepada kerabatnya dan janganlah mendahulukan yang lain.merekalah yang lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang yang bukan kerabat.. tidak memberikan hak waris kepada para bibi. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah: ". bila diserahkan kepada kerabatnya. sedangkan bibi tidak mendapatkannya. sebab umat Islam akan ikut merasakan faedah dan kegunaannya. menyatakan bahwa dzawil arham atau para kerabat berhak mendapatkan waris. Pendek kata. Dengan dasar ini dapat dipetik pengertian bahwa karena Rasulullah saw. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. ketika ditanya tentang hak waris bibi --baik dari garis ayah maupun dari ibu-. Di sini. serta selain keduanya. atas dasar inilah maka para kerabat pewaris lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang baitulmal. para 'ashabah. maka kegunaan dan faedahnya akan sangat minim. 2. Hal seperti ini menurut syariat Islam adalah batil. lafazh arham yang berarti kerabat adalah umum. Jadi. Rasulullah saw. Harta peninggalan. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dan harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Asal pemberian hak waris atau asal penerimaan hak waris adalah dengan adanya nash syar'i dan qath'i dari AlQur'an atau Sunnah. Atas dasar inilah maka baitulmal lebih diutamakan untuk menyimpan harta waris yang tidak ada ashhabul furudh dan 'ashabahnya ketimbang para kerabat. Hal demikian dalam dunia fiqih dikenal dengan istilah tarjih bilaa murajjih yang berarti batil. Padahal dalam kaidah ushul fiqih telah ditegaskan bahwa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan daripada kemaslahatan pribadi. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah.beliau saw. Oleh karena itu. Seperti yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan dzawil arham adalah para kerabat. Sebab. termasuk ashhabul furudh. 3.1. Hal ini juga berdasarkan firman-Nya yang lain: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Memang sangat jelas betapa dekatnya kekerabatan saudara perempuan ayah ataupun saudara perempuan ibu dibandingkan kerabat lainnya. kerabat lain pun demikian. pada masa itu kaum muslimin saling mewarisi disebabkan menolong dan hijrah. 84 . para kerabatlah yang paling berhak untuk menerima harta peninggalan seorang pewaris.

dalam riwayat ini dikisahkan. sementara di sisi lain mereka mensyaratkan keberadaan baitulmal dengan persyaratan khusus. yang jelas --jika melihat konteks hadits yang pernah dikemukakan-. yang dalam hal ini seluruh harta waris menjadi hak saudara kandung laki-laki.a adalah seorang khalifah Islam yang dikenal sangat mengu tamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. kelompok pertama berpendapat lebih mengutamakan baitulmal ketimbang kerabat. tabi'in.merupakan dalil yang kuat bahwa kerabat lebih berhak menerima harta waris peninggalan pewaris ketimbang baitulmal. Karena sesungguhnya aku telah mendengar bahwa Rasulullah saw. Tidak ada jawaban lain untuk pertanyaan seperti itu kecuali: "telah lama tiada". yaitu Abu Lubabah bin Abdul Mundir." Atsar ini --yang di dalamnya Umar al-Faruq memberitakan sabda Rasulullah saw. Umar menanggapi masalah itu dan memerintahkan kepada Abu Ubaidah untuk memberikan harta peninggalan Sahal kepada pamannya. dan kami tidak mengetahui kerabatnya. tentang hak waris bibi ketika itu disebabkan ada ashhabul furudh atau ada 'ashabah-nya. Permasalahan ini sama seperti dalam kasus adanya saudara kandung laki-laki dengan saudara laki-laki seayah dalam suatu keadaan pembagian harta waris. adil dalam memberi kepada setiap yang berhak. Ketika Tsabit bin ad-Dahjah meninggal dunia. "Yang kami ketahui orang itu dikenal sebagai asing nasabnya. kita dapat menyimpulkan bahwa pendapat jumhur ulama (kelompok kedua) lebih rajih (kuat dan akurat). Oleh sebab itu. Dalam suatu atsar diriwayatkan dari Umar bin Khathab r. Adapun dalil logikanya seperti berikut: sesungguhnya para kerabat jauh lebih berhak untuk menerima harta warisan daripada baitulmal. sedangkan saudara seayah hanya dari ayah.a. dimanakah adanya baitulmal yang demikian. Kalaulah baitulmal lebih berhak untuk menampung harta peninggalan pewaris yang tidak mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh dan 'ashabah-nya. Alasannya.Adapun dalil dari Sunnah Nabawiyah adalah seperti yang diberitakan dalam sebuah riwayat masyhur. kecuali hanya anak laki-laki dari saudara perempuannya. kelompok kedua (jumhur ulama) ini menyanggah dalil yang dikemukakan oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i bahwa hadits itu kemungkinannya ada sebelum turunnya ayat di atas. Di samping itu. Maka muncul pertanyaan. Abu Ubaidah menceritakan bahwa Sahal bin Hunaif telah meninggal karena terkena anak panah yang dilepaskan seseorang. Kemudian Rasul pun memberikan harta warisan peninggalan Tsabit kepada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir. untuk memberikan kepada paman Sahal tersebut. yang bukan dari ashhabul furudh dan bukan pula termasuk 'ashabah.a. yaitu ikatan Islam --karena pewaris seorang muslim. yakni saudara laki-laki ibunya. Di samping dalil yang mereka kemukakan lebih kuat dan akurat. "Apakah engkau mengetahui nasab orang ini?" Qais menjawab. Terlebih lagi pada masa kita sekarang ini. khususnya pada masa kita sekarang ini. Sebab. ketika musuh-musuh Islam berhasil memutus kelangsungan hidup khilafah Islam dengan memporakporandakan 85 . dari ayah dan dari ibu. dan amanah. mungkin juga bahwa bibi (baik dari ayah atau ibu) tidak berhak mendapat waris ketika berbarengan dengan ashhabul furudh atau para 'ashabah. Jadi. bertanya kepada Qais bin Ashim. Sebagai contoh. dan tepat guna dalam menyalurkan harta baitulmal. Di antaranya. Dan hal ini terbukti seperti yang banyak dikisahkan dalam kitab-kitab tarikh. dan imam mujtahidin. Sebab. maka Rasulullah saw. adil. Setelah membandingkan kedua pendapat itu. maka Umar bin Khathab pasti tidak akan memerintahkan kepada Abu Ubaidah Ibnul Jarrah r. dalam hal ini ia mempunyai dua ikatan: ikatan Islam dan ikatan rahim. bahwa suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mengajukan persoalan kepada Umar. Sedangkan Sahal tidak mempunyai kerabat kecuali hanya paman. Keponakan laki-laki dari anak saudara perempuan tidak lain hanyalah merupakan kerabat.jawaban Rasulullah saw. ikatannya dari dua arah. ikatan dari dua arah sudah barang tentu akan lebih kuat dibandingkan ikatan satu arah. Umar bin Khathab r. Berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris. Inilah usaha untuk menyatukan dua hadits yang sepintas bertentangan. juga tampak lebih adil apalagi jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan dewasa ini. karena ikatan antara baitulmal dan pewaris hanya dari satu arah. baitulmal harus terjamin pengelolaannya. bersabda: "(Saudara laki-laki ibu) berhak menerima waris bagi mayit yang tidak mempunyai keturunan atau kerabat yang berhak untuk menerimanya. Atau.--. karena memang merupakan pendapat mayoritas sahabat. Dengan pemberian Rasulullah saw. akan hak waris kepada dzawil arham menunjukkan dengan tegas dan pasti bahwa para kerabat berhak menerima harta waris bila ternyata pewaris tidak mempunyai ashhabul furudh yang berhak untuk menerimanya atau para 'ashabah.

namun kesemuanya tidak mempunyai imam. Sungguh tepat apa yang digambarkan seorang penyair dalam sebuah bait syairnya: "Setiap jamaah di kalangan kita mempunyai iman. Sdr. Dengan demikian. laki-laki seayah mahjub. ahlur-rahmi menyatakan bahwa semua kerabat berhak mendapat waris secara rata. Menurut Ahlut-Tanzil Golongan ini disebut ahlut-tanzil dikarenakan mereka mendudukkan keturunan ahli waris pada kedudukan pokok (induk) ahli waris asalnya. yakni pokoknya. khususnya setelah abad ketiga Hijriah. C. dan keponakan perempuan keturunan saudara laki-laki seayah. Bila seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak perempuan. mereka juga tidak menganggap kuat serta lemahnya kekerabatan seseorang. bibi (saudara perempuan ibu). Menurut Ahlur-Rahmi Mengenai cara pembagian hak waris para kerabat. para ulama dari mazhab Maliki dan mazhab Syafi'i mutakhir memberikan fatwa dengan mendahulukan para kerabat ketimbang baitulmal. dan tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dengan perempuan. Inilah pendapat mazhab Imam Ahmad bin Hambal. 2." Melihat kenyataan demikian. kandung pr. Inilah gambarannya: Anak kandung pr. 1/2. Oleh karena itu. kemudian membagi-baginya menjadi negeri dan wilayah yang tidak memiliki kekuatan. dan saudara laki-laki seayah. Hal ini dapat terlihat tentunya dengan melihat dan mempertimbangkan kemaslahatan yang ada. dan keponakan laki-laki keturunan saudara laki-laki seibu. ketika pengelolaan baitulmal tidak lagi teratur sehingga terjadi penyalahgunaan. 1. bahkan dhaif dan tertolak. juga merupakan pendapat para ulama mutakhir dari kalangan Maliki dan Syafi'i. seseorang wafat dan meninggalkan seorang cucu perempuan keturunan anak perempuan. Dengan demikian. Sdr. Yang menjadi landasan mereka ialah bahwa seluruh ahli waris menyatu haknya karena adanya ikatan kekerabatan. Cara Pembagian Waris Para Kerabat Di antara fuqaha terjadi perbedaan pendapat mengenai tata cara memberikan hak waris kepada para kerabat. Maka keadaan ini dapat dikategorikan sama dengan meninggalkan anak perempuan. Mereka tidak memperhitungkan ahli waris yang ada (yang masih hidup). mereka akan membagikan hak ahli waris yang ada sesuai dengan bagian ahli waris yang lebih dekat. seorang keponakan perempuan dari saudara perempuan. Mazhab ini dikenal dengan sebutan ahlur-rahmi disebabkan orang-orang yang menganut pendapat ini tidak mau membedakan antara satu ahli waris dengan ahli waris yang lain dalam hal pembagian. bibi (saudara perempuan ayah). Karenanya tidak ada satu pun dari ulama atau para imam mujtahid vang mengakuinya apalagi mengikuti pendapat ini dengan alasan telah sangat nyata bertentangan dengan kaidah syar'iyah yang masyhur dalam disiplin ilmu mawarits. karena itu ia mendapatkan sisanya. saudara kandung perempuan. sedangkan saudara laki-laki seayah tidak mendapat bagian (mahjub) disebabkan saudara kandung perempuan di sini sebagai 'ashabah. pembagiannya seperti berikut: anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. Mazhab ini tidak masyhur. Misalnya. keponakan laki-laki keturunan saudara kandung perempuan.barisan. 1/2. tanpa membedakan jauh-dekatnya kekerabatan. 86 . dapat kita katakan bahwa kedua kelompok ulama tersebut pada akhirnya bersepakat untuk lebih mengutamakan pemberian harta waris kepada kerabat ketimbang baitulmal. Maka dalam hal ini mereka mendapatkan bagian waris secara rata. dari mulai akhir abad ketiga Hijriah hingga masa kita dewasa ini. tetapi melihat pada yang lebih dekat dari ashhabul furudh dan para 'ashabahnya. persatuan dan kesatuan muslimin. dan dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok pendapat. saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. Untuk memperjelas pemahaman tentang mazhab ini perlu saya kemukakan contoh-contoh seperti berikut: 1. tanpa melebihkan atau mengurangi salah seorang dari ahli waris yang ada.

Adapun yang dijadikan dalil oleh mazhab ahlut-tanzil ini ialah riwayat yang marfu' (sampai sanadnya) kepada Rasulullah saw. 1/6. Selain itu. 3. yakni dengan melihat kepada yang lebih dekat derajat kekerabatannya kepada pewaris. Adapun dalih orang-orang yang memperkuat mazhab kedua ini. seibu paman kand. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua kakek pewaris atau kedua nenek pewaris. dan sepupu perempuan keturunan paman kandung (saudara laki-laki seayah). keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu mendapatkan seperenam (1/6) bagian secara fardh. pelaksanaannya tetap mengikuti kaidah umum pembagian waris: bagian laki-laki adalah dua kali bagian wanita. pr. Maka.a. menurut mereka. Selain itu. Ketika beliau memberi hak waris kepada seorang bibi (saudara perempuan ayah) dan bibi (saudara perempuan ibu) kebetulan saat itu tidak ada ahli waris lainnya-. rincian besarnya bagian ashhabul furudh dan para 'ashabah telah dijelaskan. Menurut Ahlul Qarabah Adapun mazhab ketiga menyatakan bahwa hak waris para dzawil arham ditentukan dengan melihat derajat kekerabatan mereka kepada pewaris. Dalam praktiknya sama seperti membagi hak waris para 'ashabah. sdr. 2. dan sepupu perempuan anak dari paman kandung juga mendapatkan seperenam (1/6) bagian sebagai 'ashabah. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris. dan keputusan yang dilakukan Ibnu Mas'ud menunjukkan betapa kuatnya pendapat mereka. dan paman kandung. keponakan perempuan keturunan dari saudara perempuan seayah mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). Lebih jauh mazhab ini menyatakan bahwa hadits Rasulullah saw. Keempat golongan tersebut adalah: 1. Sebagaimana telah diungkapkan. Di samping itu. kemudian menjadikan masing-masing golongan mempunyai cabang dan keadaannya. dilakukan dengan mengqiyaskannya pada hak para 'ashabah. dan sepertiga lagi diberikannya kepada bibi (dari pihak ibu). Lebih jauh akan dijelaskan hak masing-masing golongan dan cabang tersebut akan hak warisnya. yaitu melihat siapa yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan pewaris. dalam hal melaksanakan pembagian waris untuk dzawil arham mazhab ini membaginya secara kelompok. Yang bernisbat kepada pewaris sebagai berikut: 87 . kemudian barulah yang lebih kuat di antara kerabat yang ada. Oleh karena itu. juga berlandaskan fatwa Ibnu Mas'ud r. 3. 4. sdr. dan diikuti oleh para ulama mazhab Hanafi.. 3/6. Inilah gambarnya: Sdr. Maka pembagiannya seperti berikut: keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan mendapatkan setengah (1/2) bagian. saudara perempuan seayah. dan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. berarti yang paling berhak di antara mereka (para 'ashabah) adalah yang paling dekat kepada pewaris dari segi dekat dan kuatnya kekerabatan. yang tampak sangat logis.maka beliau memberi bibi (dari pihak ayah) dengan dua per tiga (2/3) bagian. dengan mengembalikan kepada pokoknya --karena memang lebih mendekatkan posisinya kepada pewaris-. seayah 1/6. Hal ini. Pr. ketika ia menerima pengaduan tentang pembagian waris seseorang yang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak wanita. Maka Ibnu Mas'ud memberikan setengah bagian untuk cucu perempuan dan setengah bagian lainnya untuk keponakan perempuan. adalah bahwa memberikan hak waris kepada dzawil arham tidak dibenarkan kecuali dengan berlandaskan pada nash-nash umum --yang justru tidak memberikan rincian mengenai besarnya bagian mereka masing-masing dan tidak ada pentarjihan secara jelas. saudara perempuan seibu. Sebab. mazhab ketiga ini telah mengelompokkan dan membagi dzawil arham menjadi empat golongan. Orang-orang yang dinisbati kekerabatan oleh pewaris. Orang-orang (ahli waris) yang bernisbat kepada pewaris.jauh lebih utama dan bahkan lebih berhak.a. sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada jalan lain untuk mengenali dan menuntaskan masalah ini kecuali dengan mengembalikan atau menisbatkannya kepada pokok ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya kepada pewaris. kand. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu. pr. Seseorang wafat dan meninggalkan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. Hal demikian dikarenakan sama saja dengan pewaris meninggalkan saudara kandung perempuan. Mazhab ini merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib r. keponakan perempuan keturunan saudara perempuan seayah. 1/6 Begitulah cara pembagiannya.2.

maka barulah keturunan paman (dari pihak ayah dan ibu). keturunan bibinya (saudara perempuan ibu). Ahlut-tanzil tidak menyusun secara berurutan kelompok per kelompok. d. b. dan seterusnya. dan tidak pula mendahulukan antara satu dari yang lain. dan paman (saudara ayah) ibu. ayah dari ayahnya ibu (kakek dari ibu). maka barulah keturunan saudara laki-laki (keponakan).dengan mengqiyas pada jalur 'ashabah. Bila mereka tidak ada. dan seterusnya). Dengan demikian. ataupun seibu. atau seayah. Yang dinisbati oleh pewaris: a. baik bibi kandung. Nenek yang bukan sahih. Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah Telah saya kemukakan bahwa ahlul qarabah ini mengelompokkan dan memberikan urutan --dalam pembagian hak waris-. atau seibu. Jika tidak ada. Jika tidak ada juga. Paman kakak yang seibu. Buyut laki-laki dari keturunan cucu perempuan dan keturunan anak laki-laki. maka pokoknya: ayah. Yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris: a. atau yang seibu. seayah. Juga semua pamannya dan bibinya (paman dan bibi dari ayah). yang pertama kali berhak menerima waris adalah keturunan pewaris (anak. 2. ibu dari ibu ayahnya ibu. Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah Dari uraian-uraian sebelumnya. c. Bibi (saudara perempuan ayah) pewaris. f. dan seterusnya. b. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan di atas (Butir e) dan seterusnya. dan juga paman nenek.. dan seterusnya. baik yang kandung. cucu. dan bibi (saudara perempuan ibu). c. b.dari kakek dan nenek. kakek. Sedangkan oleh ahlul qarabah yang dijadikan anggapan ialah "dekatnya dengan kekerabatan". Keturunan dari bibi (saudara perempuan ayah). Kakek yang bukan sahih. seayah. misalnya keturunan laki-laki dan perempuan dari bibi sang ayah. baik laki-laki ataupun perempuan. Kemudian paman (saudara lakilaki ibu) pewaris. dan seterusnya. Cucu laki-laki keturunan anak perempuan. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan itu dan seterusnya. dan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita sebagaimana yang berlaku pula dalam kalangan ahlul 'ashabah. Keturunan saudara kandung perempuan. baik laki-laki ataupun perempuan. dan seterusnya seperti ibu dari ayahnya ibu. Kemudian paman dan bibi --baik dari ayah maupun ibu-. seibu. Keturunan dari saudara laki-laki seibu dan seterusnya. Bila mereka tidak ada. ternyata kita menemukan beberapa perbedaan yang jelas antara mazhab ahlut-tanzil dengan ahlul qarabah: 1. e. Yang bernisbat kepada kedua kakek atau nenek dari pihak ayah ataupun ibu: a. maka barulah keturunan 88 . baik yang kandung maupun yang seayah). b. Sedangkan ahlul qarabah menyusun secara berurutan dan mendahulukan satu dari yang lain sebagai analogi dari 'ashabah bi nafsihi. dan seterusnya seperti ayah dari ibu.a. Bibi dari ayah pewaris. menurut ahlul qarabah. baik keturunan laki-laki ataupun perempuan. dan seterusnya. keturunan dari pamannya (saudara laki-laki ibu). Dasar yang dianggap oleh ahlut-tanzil dalam mendahulukan satu dari yang lain adalah "dekatnya keturunan" dengan sang ahli waris shahibul fardh atau 'ashabah. Itulah keenam kelompok yang bernisbat kepada kedua kakek dan kedua nenek pewaris. Keturunan perempuan dari saudara kandung laki-laki. keturunan paman (saudara laki-laki ayah) yang seibu. Juga pamannya (saudara ayah) yang seibu (mencakup semua paman dan bibi dari ibu. atau yang seayah.

karena ketiganya memiliki derajat yang sama dari segi kekerabatan. Misalnya. Sebab. 89 . Dan bila ada shahibul fardh. seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan dari anak paman kandung.mereka yang sederajat dengan mereka. dan seorang anak perempuan dari anak paman kandung yang lain. c. d. Tidak ada shahibul fardh. Yang demikian itu disebabkan keponakan kandung lebih kuat kekerabatannya. mereka tidak sekadar mengambil bagiannya. semua ahli waris dari dzawil arham berhak menerima bagian. maka dalam keadaan seperti ini kita harus mengutamakan keponakan kandung. tetapi sisanya pun akan mereka ambil karena merupakan hak mereka secara radd. maka haruslah mengutamakan mana yang lebih kuat kedekatan kekerabatannya. Dengan demikian. apabila shahibul fardh hanya terdiri dari suami atau istri saja. Atau dengan redaksi lain. Namun. Artinya. sedangkan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan melalui dzawil arham. maka para 'ashabah akan menerima sisa harta waris yang ada. seorang anak perempuan dari anak paman yang lain (kandung). Sebab kedudukan hak suami atau istri secara radd itu sesudah kedudukan dzawil arham. seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Begitulah seterusnya. dan sisanya diberikan kepada dzawil arham. sisa harta waris akan diberikan kepada dzawil arham. maka ia akan menerima seluruh harta waris. Sedangkan jika dia berbarengan dengan salah satu dari suami atau istri. Misalnya. Begitu seterusnya. maka pembagiannya dilakukan secara merata. Tidak ada penta'shib ('ashabah). dan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan. Misalnya. Sedangkan kita ketahui bahwa kedudukan ahli waris secara ar-radd dalam penerimaan waris lebih didahulukan dibandingkan dzawil arham. Maka harta warisnya dibagi secara merata di antara mereka. seseorang wafat dan meninggalkan anak perempuan dari saudara kandung laki-laki (yakni keponakan kandung) dengan anak perempuan dari saudara laki-laki seayah (keponakan bukan kandung). Misalnya. Mengutamakan dekatnya kekerabatan. 2. dan berarti seluruh harta waris menjadi haknya. maka ia akan menerima hak warisnya secara fardh. jika ada shahibul fardh. Beberapa Catatan Penting: Apabila dzawil arham (baik laki-laki maupun perempuan) seorang diri menjadi ahli waris. Apabila segi derajat dan kedekatannya kepada pewaris sama. maka yang lebih berhak untuk dintamakan adalah yang paling dekat dengan pewaris lewat shahibul fardh atau 'ashabah. maka yang lebih didahulukan adalah cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Sebab 'ashabah akan mengambil seluruh hak waris yang ada. maka ia akan menerima sisanya. dengan anak cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. berdasarkan urutan tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok ahli waris yang lebih awal disebutkan dapat menggugurkan kelompok berikutnya. Dan bila bersamaaan dengan ahli waris lain. bila ternyata tidak ada shahibul fardh. maka yang didahulukan adalah cucu perempuan dari anak perempuan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki bernasab kepada pewaris lewat ahli waris. seperti anak perempuan dari paman kandung atau seayah. Dengan demikian. maka pembagiannya sebagai berikut: a. tampak ada kesamaan derajat di antara kedua ahli waris. pewaris meninggalkan ahli waris cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. b. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham 1. Hanya saja. keduanya memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris sama-sama sebagai cucu. Apabila ada kesamaan pada kedekatan derajat kekerabatan. Apabila dalam suatu keadaan terjadi persamaan. setelah diambil hak para shahibul fardh. Dalam contoh ini. orang yang wafat ini meninggalkan tiga putri keturunan anak paman kandung. D.

saya tidak mengemukakannya di sini sebab akan bertele-tele dan menjenuhkan. pada prinsipnya yang banyak diamalkan adalah pandangan mazhab ahlut-tanzil sebagai mazhab Imam Ahmad. Penutup Itulah sekelumit mengenai hak waris para dzawil arham menurut mazhab ahlul qarabah yang merupakan mazhab imam Ali bin Abi Thalib r. Oleh karenanya. Namun.a. Pendapat ini banyak diterapkan di sebagian negara Arab dan negara Islam lainnya. di kalangan ulama mazhab ini banyak dijumpai perbedaan tentang cara pembagian masing-masing kelompok tadi. dan para ulama mazhab Hanafi. seperti halnya dalam pembagian para 'ashabah. sekalipun dzawil arham itu keturunan saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu.). terutama antara Imam Abi Yusuf dan Imam Muhammad (keduanya murid dan teman dekat Abu Hanifah. bagian laki-laki dua kali lebih besar bagian perempuan. 90 .Catatan lain Di antara persoalan yang perlu saya kemukakan di sini ialah bahwa dalam pemberian hak waris terhadap para dzawil arham . penj. yang kemudian dianut oleh ulama muta'akhirin mazhab Maliki dan Syafi'i ---karena dari segi pengamalannya memang lebih mudah. Sebenamya. bagi yang menghendaki pengetahuan lebih luas dalam masalah ini dapat merujuknya pada kitab-kitab fiqih. Selain itu.

91 . ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita. Misalnya. Oleh karena itu. apakah tumbuh payudaranya." Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit). maka ia sebagai laki-laki. Maka dengan segera ia menemui kaumnya untuk mengganti vonis yang telah dijatuhkannya. Karenanya dalam hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw." B. apakah ia haid atau hamil.a. yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang laki-laki menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok. Definisi Banci Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari kata khanatsa berarti 'lunak' atau 'melunak'. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini: 1. bahwa ada seorang wanita melahirkan anak dengan dua jenis kelamin. tetapi bila keluar dari vagina. penj. Ia berkata: "Wahai kaumku. Suatu ketika ia dikunjungi kaumnya yang mengadukan suatu peristiwa.-disebut sebagai musykil. khanatsa wa takhannatsa. Misalnya. Dikisahkan bahwa Amir bin adz-Dzarb dikenal sebagai seorang yang bijak pada masa jahiliah. maka ia divonis sebagai khuntsa musykil. Sebab. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r. bagaimana cara ia bermimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani. dan vonislah dengan cara melihat dari mana keluar air seninya. Namun. Amir pun menjadi gelisah dan tidak tidur sepanjang malam karena memikirkannya. apakah ia tumbuh kumis. dan budak wanita itu berkata: "Cabutlah keputusan tadi. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh. kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi. Di samping melalui cara tersebut. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina.XI. Akhirnya Amir memberitahukan persoalan tersebut kepada budaknya. misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang "air kecil". Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu orang-orang Arab meninggalkannya. maka beliau menjawab dengan sabdanya: "Lihatlah dari tempat keluarnya air seni. bahwa Rasulullah saw. bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan. maka ia divonis sebagai laki-laki dan mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya. setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas. bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan. ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian. Ketika Islam datang. Bila urinenya keluar dari penis. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan. maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak." Amir merasa puas dengan gagasan tersebut. dan sebagainya. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A." Ternyata vonis ini diterima secara aklamasi. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling (lebih) sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau wanita. adanya dua jenis kelamin pada seseorang --atau bahkan sama sekali tidak ada-. Melihat sang majikan gelisah. dan tidak menerima vonis tersebut.). artinya tidak ada kejelasan. budak wanita yang dimiliki Amir dan dikenal sangat cerdik menanyakan sebab-sebab yang menggelisahkan majikannya. atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. bersabda: "Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya. Bila keluar dari penis. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil. lihatlah jalan keluarnya air seni. Amir kemudian memvonisnya sebagai laki-laki dan perempuan. atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. ia dinyatakan sebagai perempuan. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi'i serta pendapat mayoritas sahabat. dikukuhkanlah vonis tersebut.

Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. Bahkan. Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masing-masing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat (24). maka hasilnya menjadi hak/bagian banci. dan sisanya kita bekukan. pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris. atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris. Bahkan dalam mazhab Imam Syafi'i. dan seorang anak banci. Maksudnya. Kemudian kita menyatukan (al-jami'ah) antara dua masalah. 3. Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas. maka divonis sebagai laki-laki. Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan (9) bagian. kemudian disatukan dan dibagi menjadi dua. Bagian anak laki-laki adalah delapan (8). sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat (4). Seseorang wafat meninggalkan seorang suami. Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi'i. Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan fuqaha mawarits mu'amalah bil adhar-yaitu jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit. 2. dan bagian anak banci lima (5). kemudian di-'aul-kan menjadi delapan (8). bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita). Inilah tabelnya: 6 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci 8 3 2 3 6 3 2 1 24 9 6 4 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci kandung 92 . Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki. C. mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan. Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci 1. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki. Pokok masalahnya dari enam (6) bila banci itu dikategorikan sebagai wanita. maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita. dan saudara laki-laki banci. maka gugurlah hak warisnya. dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit. bagian setiap ahli waris dan banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. saudara laki-laki banci tiga (3) bagian. Mazhab Syafi'i berpendapat. seorang anak perempuan. atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya. Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki.2. maka pokok masalahnya dari enam (6) tanpa harus di. sedangkan bagian anak perempuan empat (4). ibu.'aul-kan.hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya --keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita. bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya. Dan al-jami'ah (penyatuan) dari keduanya. maka pokok masalahnya dari lima (5). seperti dalam masalah al-munasakhat. Sisa harta waris yaitu tiga (3) kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya Untuk banci --menurut pendapat yang paling rajih-. ibu enam (6) bagian. Mazhab Maliki berpendapat.

1/2 Banci lk. Dalam masalah hamil ini ada beberapa hukum yang berkaitan dengan hak waris. tidak tertutup kemungkinan kita dihadapkan pada keadaan darurat --menyangkut kemaslahatan sebagian ahli waris-.. baik laki-laki maupun perempuan. Bagian suami enam (6). dan pada kesempatan ini saya hanya akan utarakan secara global. dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas. yakni dua (2) bagian dibekukan. Adapun sisanya. maka pokok masalahnya dua (2). 3. dan saudara laki-laki seayah banci. para pakar faraid menjelaskan hukum-hukum khusus secara rinci dengan menyertakan berbagai pertimbangan demi menjaga kemaslahatan ahli waris yang ada. laki-laki atau perempuan. Ini tabelnya: 2 1 1 6 Suami 1/2 Sdr. pr. seayah 1/6 7 3 3 1 14 6 6 - Suami 1/2 Sdr. kdg. maka mustahil bagi kita untuk menentukan jumlah bagian waris yang harus diterimanya. maka kita nyatakan bahwa ahli waris dalam keadaan hidup pada saat pewaris wafat. maka kita nyatakan bahwa ahli waris tidak ada ketika pewaris wafat. Hanya kepada Allah saya memohon pertolongan. kdg. Definisi Hamil Al-hamlu (hamil) dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata hamalat.yang mengharuskan kita untuk segera membagi harta warisan dalam bentuk awal. demikian juga jika ia lahir dalam keadaan mati. karena belum dapat diketahui secara pasti keadaannya. yaitu janin yang dikandung dalam perut ibunya.Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima (5) bagian dibekukan sementara.telah saya kemukakan bahwa salah satu syarat yang harus terpenuhi oleh ahli waris adalah keberadaannya (hidup) ketika pewaris wafat. D. selama janin yang dikandung belum dapat diketahui dengan pasti keadaannya. untuk mengetahui secara pasti kita harus menunggu setelah bayi itu lahir. Maka pembagiannya seperti berikut: Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya. pr. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan: 93 . saudara kandung perempuan enam (6) bagian. Namun demikian. Setelah itu. Pada pembahasan sebelumnya --tentang persyaratan hak waris/mewarisi-. Karena itu. pr. 1/2 Sdr. apakah bayi tersebut akan lahir selamat atau tidak. dan melahirkannya dengan susah payah (pula) . Dengan demikian." (al-Ahqaf: 15) Sedangkan menurut istilah fuqaha. bagi janin yang masih di dalam kandungan ibunya belum dapat ditentukan hak waris yang diterimanya. Dikatakan: "al-mar'atu haamil ma haamilatun idsaa kaanat hublaa" (wanita itu hamil apabila ia sedang mengandung janin). dan penyatuan dari keduanya menjadi empat belas (14). sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh (7). saudara kandung perempuan. Secara ringkas dapat dikatakan. dan satu atau kembar.. sedangkan yang banci tidak diberikan haknya. barulah kita bagikan kepada masing-masing ahli waris secara lengkap setelah kelahiran bayi. E. Setelah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup. ibunya mengandungnya dengan susah payah. Berkaitan dengan hal ini. Seseorang wafat dan meninggalkan suami.

maka tidak berhak mendapatkan waris." Pernyataan Aisyah r. atau yang semacamnya. Pendapat inilah yang paling akurat dalam mazhab Imam Ahmad. dan ibu yang sedang hamil dari ayah tiri pewaris. menurut mazhab Hanafi.a. baik janin tersebut berkelamin laki-laki ataupun perempuan. maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan.maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup. Sebagai misal. Bila gerakan itu hanya sejenak --seperti gerakan hewan yang dipotong-. Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah r. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. bayi yang baru keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan. tersebut dapat dipastikan bersumber dari penjelasan Rasulullah saw. baik sebagai laki-laki ataupun perempuan. Sebagai ahli waris yang tidak berbeda hak warisnya. tanpa harus menunggu kelahiran janin yang ada di dalam kandungan. 2. Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup. Bahkan.1. Berarti bila janin itu lahir ia menjadi saudara laki-laki seibu pewaris. ia tidak berhak mewarisi. 2. Adapun mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam kandungan maksimal empat tahun. dan sisanya menjadi bagian ayah sebagai 'ashabah. atau ketika keluar dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil. Kelima keadaan tersebut: 1. mau menyusui ibunya. Dengan demikian.a. 5. apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati. Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat. Adapun menurut mazhab Syafi'i dan Hambali. seperti yang disinyalir para ulama mazhab Hambali. Sedangkan persyaratan kedua dinyatakan sah dengan keluarnya bayi dalam keadaan nyata-nyata hidup. dan bukan sebagai ahli waris dalam keadaan berkelamin ganda (banci). ayah. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian pewaris. jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris.. sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan. Dalam keadaan demikian berarti mahjub hak warisnya oleh adanya ayah pewaris. atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati. Pernyataan ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad. Keadaan Janin Ada lima keadaan bagi janin dalam kaitannya dengan hak mewarisi. ibu sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil hak istri. Sebagai ahli waris tunggal. Bukan sebagai ahli waris dalam keadaan apa pun. Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya. hal ini bisa ditandai dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut. Keadaan Pertama Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yangada secara langsung. Sebagai ahli waris dalam segala keadaannya baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Pokok masalahnya dari empat (4). Sebagai ahli waris dalam keadaan memiliki kelamin (laki-laki atau perempuan). bersin. Karenanya harta waris yang ada hanya dibagikan kepada istri seperempat (1/4). 3. 4. dan ia dianggap tidak ada. seseorang wafat dan meninggalkan istri. disebabkan janin tersebut tidak termasuk ahli waris dalam segala kondisi. Dan tanda kehidupan yang tampak jelas bagi bayi yang baru lahir adalah jika bayi tersebut menangis. F.: "Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun sekalipun berada dalam falkah mighzal. atau ada ahli waris lain namun ia majhub (terhalang) hak warisnya karena adanya janin. 94 ." (HR Nasa'i dan Tirmidzi) Namun.: "Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati).

Setelah janin lahir dengan selamat. dan pembagiannya seperti berikut: ibu seperenam (1/6). dan hendaknya kita lakukan pembagian dengan dua cara dengan memberikan bagian ahli waris yang ada lebih sedikit dari bagian-bagian masing-masing. namun bila ternyata laki-laki yang lahir. Maka dalam keadaan demikian ia tidak berhak mendapatkan waris. karena tidak ada sisa dari harta waris setelah diambil para ashhabul furudh yang ada. ibu. bila lahir dan ternyata bukan termasuk dari ahli waris. oleh karenanya ia lebih utama dibanding kedudukan paman kandung. untuk sementara dibekukan hingga janin telah dilahirkan. namun untuk sementara bagiannya dibekukan hingga kelahirannya. dan ayah. Sebab kedudukannya sebagai keponakan laki-laki (anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki). berarti ia menjadi saudara perempuan seayah. dan ipar perempuan yang sedang hamil (istri saudara kandung laki-laki).maka dalam keadaan demikian hendaknya kita berikan dua ilustrasi. Keadaan Ketiga Apabila janin yang ada di dalam kandungan sebagai ahli waris dalam segala keadaannya --hanya saja hak waris yang dimilikinya berbeda-beda (bisa laki-laki dan bisa perempuan)-. apabila yang lahir anak perempuan. Sebagai misal. dan sisanya yang dua per tiga (2/3) dibekukan hingga janin yang ada di dalam kandungan itu lahir. maka sisa harta waris yang dibekukan itu menjadi hak paman. Jadi.pr. maka dialah yang berhak untuk mendapatkan sisa harta yang dibekukan tadi. Atau terkadang terjadi sebaliknya. Dalam keadaan demikian. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil. seibu 1/3 Sdr. ia akan lebih banyak memperoleh bagian daripada bayi perempuan. bila ternyata bayi tersebut perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Namun. pr.Keadaan Kedua Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yang ada dengan menganggap bahwa janin yang dikandung adalah salah satu dari ahli waris. ibu. jika bayi itu masuk kategori laki-laki. maka sisa harta waris yang dibekukan tadi diberikan dan dibagikan kepada ahli waris yang ada. tiga saudara perempuan seibu. kita lihat sisanya yang menjadi bagian bayi yang masih dalam kandungan.seayah (hamil) 1/2 9 3 1 1 1 Sisanya tiga (3). maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperempat (1/4). seseorang wafat dan meninggalkan istri. maka sisa bagian yang dibekukan menjadi bagiannya. Sebab. maka dalam hal ini ia berhak mendapat bagian separo (1/2). dan istri ayah yang sedang hamil. Sebagai contoh. maka hak warisnya diberikan kepadanya. boleh jadi. berarti kedudukannya sebagai anak laki-laki pewaris. dan kita bekukan untuk janin dari bagian yang maksimal. dan pokok masalahnya dari enam (6) di-'aul-kan menjadi sembilan (9). ayah seperenam (1/6). Setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. paman (saudara ayah). hendaknya kita berikan bagian yang lebih banyak dari jumlah maksimal kedua bagiannya. Contoh lain. Namun. dan sisanya merupakan bagian anak laki-laki sebagai 'ashaloub. Namun. 95 . Pembagiannya seperti berikut: apabila istri ayah tersebut melahirkan bayi laki-laki. Tabelnya seperti berikut: 6 Suami 1/2 Ibu 1/6 3 sdr. berarti menjadi saudara laki-laki seayah. bila janin dikategorikan sebagai anak laki-laki. dan bagian istri seperdelapan (1/8). Bila yang lahir bayi perempuan. Sebab keponakan perempuan (anak perempuan keturunan saudara laki-laki) termasuk dzawil arham. maka harta yang dibekukan tadi dibagikan lagi kepada ahli waris yang ada. Bila yang lahir anak laki-laki.

akan menggugurkan hak waris saudara laki-laki pewaris yang seibu tadi. maka harta waris yang ada akan dibagikan kepada seluruh ahli waris yang berhak untuk menerimanya. maka dalam keadaan seperti ini kita tangguhkan pembagian hak warisnya hingga tiba masa kelahiran janin tersebut. atau ada ahli waris lain akan tetapi mahjub haknya karena adanya janin. dan saudara laki-laki tidak mendapat bagian bila janin yang dikandung tadi laki-laki. pr. maka kita sisihkan bagian warisnya. maka dialah yang akan mengambil hak warisnya. dan akan mendapat bagian separo (1/2) harta \varis yang ada. dan kita berikan bagian para ahli waris yang ada secara sempurna. bila janin tadi lahir sebagai laki-laki berarti kedudukannya sebagai cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. kdg. seseorang wafat dan meninggalkan menantu perempuan yang sedang hamil (istri dan anak lakilakinya) dan saudara laki-laki seibu. baik kelak lahir sebagai laki-laki atau perempuan. kdg. Inilah tabelnya. dan ibu yang hamil dari ayah lain (ayah tiri pewaris). Sebab. Maka bagian istri adalah seperdelapan (1/8). Sebagai misal. Contoh lain. maka bagian warisnya tetap seperenam (1/6). pr. seayah 1/6 Ibu (Janin) sdr. 1/2 Sdr. Maka janin yang masih dalam kandungan merupakan pokok ahli waris. dibekukan. Dengan demikian. Bila janin itu lahir dengan hidup normal. dalam kedua keadaannya. seayah 1/6 Ibu (hamil) 1/6 (Janin) sdr.Istri 1/8 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Janin lk. dengan begitu ia akan mengambil seluruh sisa harta waris yang ada karena ia sebagai 'ashabah. baik ia laki-laki ataupun perempuan. Keadaan Keempat 24 3 4 4 13 Istri 1/8 Ayah 'ashabah Ibu 1/6 Janin pr. Apabila janin telah keluar dari rahim ibunya. 1/2 Sdr. namun jika ia lahir dalam keadaan mati. Sebagai misal. saudara perempuan seayah. maka ia sebagai cucu perempuan dari keturunan anak lakilaki. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil dan saudara kandung laki-laki. Akan tetapi. kedudukan bayi akan tetap mendapat hak waris seperenam (1/6). seibu 1/6 Keadaan Kelima Apabila tidak ada ahli waris lain selain janin yang di dalam kandungan. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. 1/2 24 3 5 4 12 24 3 4 4 12 Bila bagian janin dalam kandungan tidak berubah baik sebagai laki-laki maupun perempuan. 'ashabah Sisanya satu (1). seibu 1/6 Sdr. 6 3 1 1 1 6 3 1 1 1 Sdr. pr. sbg. dan sisanya akan dibagikan sebagai tambahan (ar-radd) bila ternyata tidak ada 'ashabah. anak perempuan 96 . Sebab kedudukannya sebagai saudara laki-laki seibu atau saudara perempuan seibu dengan pewaris. Dan bila janin tadi lahir sebagai perempuan. bila bayi tersebut perempuan maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. baik sebagai laki-laki ataupun sebagai perempuan. pr. Karenanya.

setengah (1/2) bagian. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. 97 .

Dalam riwayat lain. dan tidak halal untuk dinikahi hingga ia mendapatkan berita yang meyakinkan akan kematian suaminya. disebutkan bahwa istri dari orang yang hilang di wilayah Islam --hingga tidak dikenal rimbanya-. Kita juga bisa simak firman Allah SWT berikut: "Penyeru-penyeru itu berkata: 'Kami kehilangan piala raja." (Yusuf: 72) Sedangkan menurut istilah para fuqaha. Namun. Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu. maka ia diperbolehkan untuk menikah lagi. maka sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh tahun untuk menunggu. dari Imam Malik. Karena 98 . yaitu empat bulan sepuluh hari. cukup dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim. menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan pulah tahun (90). Akan tetapi. TENGGELAM. Atau telah berlalu selama waktu tertentu dan diperkirakan secara umum -.telah mati. DAN TERTIMBUN A. Definisi Al-mafqud dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna 'hilang'. hartanya tidak boleh diwariskan. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak dikenal rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan melihat orang yang sebaya di wilayahnya --tempat dia tinggal. dan hak kepemilikannya tidak boleh diusik.XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG.a. dari Abu Hanifah. terputus beritanya. maka ia dapat diputuskan sebagai orang yang sudah meninggal. Hukum Orang yang Hilang Para fuqaha telah menetapkan beberapa hukum yang berkenaan dengan orang yang hilang/menghilang. Apabila orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah tujuh puluh tahun (70). dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta. Sedangkan dalam mazhab Syafi'i dinyatakan bahwa batas waktu orang yang hilang adalah sembilan puluh tahun. apakah dia masih hidup atau sudah mati. Kadang-kadang bisa juga ditetapkan sebagai orang yang masih hidup berdasarkan asalnya. Hal ini didasarkan pada lafazh hadits secara umum yang menyatakan bahwa umur umat Muhammad saw. dan tidak diketahui rimbanya. maka mulailah ia untuk menghitung idahnya sebagaimana lazimaya istri yang ditinggal mati suaminya. kemudian divonisnya sebagai orang yang telah mati. tentang wanita yang suaminya hilang dan tidak diketahui rimbanya. Dalam riwayat lain. di antaranya: istrinya tidak boleh dinikahi/dinikahkan. sampai benar-benar diketahui keadaannya dan jelas apakah ia masih hidup atau sudah mati. Ali berkata: "Dia adalah seorang istri yang tengah diuji. hingga benar-benar tampak dugaan yang sebaliknya (yakni benar-benar sudah mati). yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebaya di wilayahnya. al-mafqud berarti orang yang hilang. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini terutama para ulama dari mazhab yang empat. antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. maka hendaknya dia bersabar. dan aku menjamin terhadapnya.dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dan dugaan yang dapat mengenali keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana dan prasarana yang ada. dan hakim pun telah memvonisnya sebagai orang yang dianggap telah mati. Bila usai masa idahuya." B. Yang demikian itu berdasarkan ucapan Ali bin Abi Thalib r. Dikatakan faqadtu asy-syai'a idzaa adha'tuhu (saya kehilangan bila tidak mengetahui di mana sesuatu itu berada). Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang hilang belum juga diketemukan atau dikenali rimbanya. pendapat yang paling sahih menurut anggapan Imam Syafi'i ialah bahwa batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan.

dengan alasan berbedanya keadaan wilayah dan personel. tetapi bahkan sama berhak mendapat waris sesuai dengan bagian atau fardh-nya (yakni termasuk ashhabul fardh) Pada keadaan pertama: seluruh harta warisan peninggalan pewaris dibekukan --tidak diberikan kepada ahli waris-untuk sementara hingga ahli waris yang hilang muncul atau diketahui tempatnya. menyerahkan seluruhnya kepada ijtihad hakim. maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya. akan berbeda halnya dengan orang yang hilang bukan dalam keadaan yang demikian. memang tidak tepat jika hal ini hanya disandarkan pada batas waktu tertentu. maka barulah harta waris tadi dibagikan untuk ahli waris yang ada. bila ahli waris yang ada --siapa saja di antara mereka-. seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung laki-laki. Maksudnya. dan dua saudara perempuan seayah. Dan bila ternyata telah divonis oleh hakim sebagai orang yang telah meninggal. Karena itu. maka cara pemberian hak warisnya ada dua keadaan: Ahli waris yang hilang sebagai hajib hirman bagi ahli waris yang lain. Menurut hemat penulis. Inilah pendapat yang lebih mendekatkan kepada wujud kemaslahatan. Karenanya untuk sementara harta waris yang ada dibekukan hingga hakikat keberadaannya nyata dengan jelas. maka harta waris tadi dibagikan kepada seluruh ahli waris yang ada dan masing-masing mendapatkan sesuai dengan bagian atau fardh-nya. Hak Waris Orang Hilang Apabila seseorang wafat dan mempunyai ahli waris. ia dapat menempuh masa idahnya. Sebab.yang dalam dua keadaan orang 99 . melancong. Posisi anak laki-laki dalam hal ini sebagai "penghalang" atau hajib hirman apabila masih hidup. maka itulah yang berlaku. atau menjadi salah seorang penumpang kapal yang tenggelam-.maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat tahun. menunggu sampai diperkirakan umurnya mencapai sembilan puluh tahun Sebab sebagian besar umur manusia tidak mencapai atau tidak melebihi sembilan puluh tahun. Bila ahli waris yang hilang ternyata masih hidup. dan anak laki-laki yang hilang. atau untuk menuntut ilmu. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung laki-laki. pendapat mazhab Hambali dalam hal ini lebih rajih (lebih tepat). seluruh harta waris yang ada untuk sementara dibekukan hingga anak laki-laki yang hilang telah muncul. atau mirip dengan pembagian hak waris banci). apabila hilangnya orang itu bukan dalam kemungkinan meninggal. dan di antara ahli warisnya ada yang hilang tidak dikenal rimbanya. maka dialah yang berhak untuk menerima atau mengambil seluruh harta warisnya. Namun. C.menurut Imam Syafi'i. orang yang hilang pada saat peperangan dan pertempuran. Namun. Misal lain. Misalnya. bila ternyata hakim telah memvonisnya sebagai orang yang telah mati. dalam hal ini ijtihad dan usaha seorang hakim sangat berperan guna mencari kemungkinan dan tanda-tanda kuat yang dapat menuntunnya kepada vonis: masih hidup atau sudah mati. Posisi saudara kandung bila masih hidup adalah sebagai haiib bagi seluruh ahli waris yang ada. ahli waris yang ada berhak untuk menerima bagian yang paling sedikit di antara dua keadaan orang yang hilang (sebagai ahli waris yang hidup atau yang mati. Pertama. Karena itu. maka Imam Ahmad dalam hal ini memiliki dua pendapat. saudara kandung perempuan. saudara laki-laki seayah. mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang yang hilang itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti jika terjadi peperangan. sesudah berlalunya waktu tertentu --kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut. dan ia boleh menikah lagi setelah masa idah yang dijalaninya selesai. Apabila setelah empat tahun belum juga diketemukan atau belum diketahui beritanya. Kapan saja hakim memvonisnya. atau banyak perampok dan penjahat. Demikian juga istrinya. Sedangkan pada keadaan kedua. Sementara itu. dan pendapat inilah yang dipilih az-Zaila'i (ulama mazhab Hanafi) dan disepakati oleh banyak ulama lainnya. Sebagai contoh. seorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati. seperti pergi untuk berniaga. Bukan sebagai hajib (penghalang) bagi ahli waris yang ada. Kedua.

Sebab bila ahli waris yang hilang tadi telah divonis hakim sebagai orang yang telah meninggal. maka bagian masing-masing ahli waris itu seperti berikut: 1 Anggapan msh. yaitu bagian ibu seperenam (1/6). mati Suami 1/2 Sdr. hlg 1 1 1 Sdr. ibu seperenam (1/6). dan sisanya (yakni yang seperenam) lagi untuk sementara dibekukan hingga ahli waris yang hilang telah nyata benar keadaannya. saudara kandung perempuan. Istri 1/8 2 Anggapan sdh. atau tanpa ada yang dibekukan). bagi siapa saja yang tidak berhak untuk mendapatkan waris dalam dua keadaan orang yang hilang. Kemudian kita menggunakan cara al-jami'ah (menyatukan) kedua cara tadi. pr Anggapan sdh. dan yang kedua dalam kategori sudah meninggal. maka pembagiannya sebagai berikut: Dalam hal ini kita harus memboat dua cara pembagian. kdg. bagian istri adalah seperempat (1/4). kdg. Contoh-contoh Kasus Seseorang wafat dan meninggalkan suami. mati Istri 1/4 24 3 12 24 3 6 yang dibekukan 3 100 . hdp. kdg. maka mereka diberi lebih sedikit di antara kedua keadaan tadi. hendaknya ia diberi hak waris secara sempurna (tanpa dikurangi atau dilebihkan. Dari sinilah kita keluarkan hak waris masing-masing. pr 2/3 Sdr. Sebagai contoh. maka ibu akan mendapat bagian sepertiga (1/3). dan cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. tampak ada penyatuan antara ahli waris yang tidak berbeda bagian warisnya dalam dua keadaan orang yang hilang --yaitu bagian istri seperempat (1/4)--dengan ahli waris yang berbeda hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. seseorang wafat dan maninggalkan istri. Tabelnya sebagai berikut: 4 2 1 7 8 4 1 8 6 7 56 3 24 yang dibekukan 4 2 16 yang dibekukan 9 2 16 yang dibekukan 9 - Anggapan msh.yang hilang tadi sama bagian hak warisnya. saudara kandung. Dalam contoh tersebut. kdg. atau telah divonis sebagai orang yang sudah meninggal. ibu. kdg. Sedangkan saudara laki-laki yang sesyah tidak mendapat hak waris apa pun. hdp. pr Sdr. lk. dan saudara kandung lakilaki yang hilang. Dalam keadaan demikian. Namun. dengan sendirinya tidak berhak untuk mendapatkan harta waris sedikit pun. Suami 1/2 Sdr. hlg Misal lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. kdg. pr Sdr. Namun. ibu. lk. bagi ahli waris yang berbeda bagian hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi (yakni keadaan hidup dan matinya). kemudian membekukan sisanya. yang pertama dalam kategori orang yang hilang tadi masih hidup. saudara laki-laki seayah.

lk. mati Suami 1/4 Cucu pr. lk. ujian. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Sayangnya.pr.pr. lk. 'ashabah Anak lk. sangat sedikit di antara kita yang mau mengambil i'tibar (pelajaran).seibu (mahjub) Sepupu. (hilang) 4 17 Ibu 1/3 Sdr.lk. Hanya orang-orang mukmin yang ternyata tetap bersabar dalam menghadapi musibah. sementara lisan 101 . Terkadang kejadian dan musibah itu tiba-tiba datangnya.kdg.anak. Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Betapa banyak kejadian dan musibah yang kita alami dalam kehidupan di dunia ini.Ibu 1/6 Sdr. karena mereka selalu melekatkan kehidupannya dengan iman. mati Istri 1/4 12 24 3 6 yang dibekukan 3 Sdr. (hilang) yang dibekukan 12 Demikianlah beberapa contoh tentang hak waris yang di antara ahli warisnya ada yang hilang atau belum diketahui keadaannya.'ashabah 4 8 yang dibekukan 4 5 10 yang dibekukan 10 Cucu lk.dr. anak paman kandung (sepupu). bahkan sebagian manusia berani melakukan hal-hal yang menyimpang jauh dari kebenaran dalam menghadapinya. seibu 1/6 2 4 yang dibekukan 4 Sepupu. maka bagian masing-masing seperti berikut: Anggapan msh. (mahjub) Anak lk. Semua yang menimpa mereka terasa sebagai sesuatu yang ringan.lk. dan anak laki-laki yang hilang. seseorang wafat dan meninggalkan suami. 'ashabah 7 14 yang dibekukan 5 Cucu pr. Sehingga hal ini sering kali membuat manusia bertekuk lutut dan tidak berdaya. Maka rincian pembagiannya seperti berikut: Anggapan msh. cucu perempuan keturunan anak laki-laki.dr. D. saudara laki-laki seibu. Istri 1/8 Sdr. mahjub Cucu lk. (hilang) 4 4 1 1 2 2 yang dibekukan 2 1 1 yang dibekukan 1 - Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. tanpa diduga. (mahjub) Sdr. dan cobaan. 1/2 Sdr.lk. dan berpegang teguh pada salah satu rukunnya --yaitu iman kepada qadha dan qadar-Nya. (hilang) Jumlah yang dibekukan 17 Contoh lain. 'ashabah Cucu pr. hdp. hdp.anak. saudara kandung perempuan.lk.kdg. (hilang) 8 1 3 4 Anggapan sdh. (hilang) 4 1 3 Anggapan sdh. lk. Suami 1/4 Cucu pr.kdg.

sehingga sebagian anggota keluarga mereka menjadi korban.mereka --jika menghadapi musibah-. Sedangkan jika keduanya sama-sama tenggelam atau terbakar secara bersamaan kemudian mati tanpa diketahui mana yang lebih dahulu meninggal. menurut para ulama. lalu mengalami kecelakaan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. serta yang meninggal seketika karena kecelakaan dan bencana lainnya. Suami-istri itu masing-masing mempunyai harta. Atau mungkin saja terjadi bencana alam yang mengakibatkan rumah yang mereka huni runtuh. Perhatikan firman Allah SWT berikut: ". Oleh karenanya tidak ada sikap yang lebih baik kecuali berlaku sabar dan berserah diri kepada-Nya. dua orang bersaudara mati secara berbarengan. Misal lain. Begitulah kehidupan dunia yang selalu silih berganti. Sebagai contoh. maka kepemilikan harta waris tadi berpindah kepada ahli warisnya yang berhak. pembagian waris lebih mudah dilaksanakan.'" (al-Baqarah: 155-156) Bukan sesuatu yang mustahil jika dalam suatu waktu dua orang bersaudara bepergian bersama-sama menggunakan pesawat terbang atau kapal laut. Menurut ulama faraid. Begitulah seterusnya. dan sisanya untuk bagian sepupu sebagai 'ashabah.senantiasa mengucapkan: "sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepadaNyalah kita kembali". Misalnya. dan sisanya merupakan bagian sepupu tadi sebagai 'ashabah. Maka seluruh harta peninggalan yang ada segera dibagikan kepada ahli waris dari kerabat yang masih hidup. Hal ini sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama faraidh yang menyebutkan: "Tidak ada hak saling mewarisi bagi kedua saudara yang mati karena tenggelam secara bersamaan. Kadangkadang manusia tertawa dan merasa lapang dada. sedangkan yang satunya lagi meninggalkan dua anak perempuan. Sebagai contoh. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah. maka yang mati kemudian inilah yang berhak menerima hak waris." Hal demikian. tetapi dalam sekejap keadaan dapat berubah sebaliknya. yaitu hidupnya ahli waris pada saat kematian pewaris. bagaimana cara pelaksanaan pemberian hak waris kepada masingmasing ahli waris? Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Kaidah yang berlaku dalam pembagian hak waris orang yang tenggelam dan tertimbun yaitu dengan menentukan mana di antara mereka yang lebih dahulu meninggal. Kemudian sang istri pernah mempunyai anak laki-laki dari suaminya yang dahulu.. Setelah orang kedua (yang meninggal kemudian) meninggal. Adapun bagian kedua anak perempuan (dari yang kedua) adalah dua per tiga (2/3). anak perempuan. suami-istri meninggal secara bersamaan dan mempunyai tiga anak laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8) bagian. hal ini telah memenuhi syarat hak mewarisi. maka tidak ada hak waris di antara keduanya atau mereka tidak saling mewarisi. dan tidak pula bagi kedua saudara yang mati karena tertimbun reruntuhan. Maka jika di antara mereka ada yang mempunyai keturunan. tentulah akan muncul persoalan dalam kaitannya dengan kewarisan. Maka pembagiannya seperti berikut: Harta istri yang meninggal untuk anaknya. dan sisanya adalah untuk anak laki-lakinya dari istri yang masih hidup 102 . disebabkan tidak terpenuhinya salah satu persyaratan dalam mendapatkan hak waris. Yang satu meninggalkan istri. anak perempuan yang pertama setengah (1/2). Apabila hal ini telah diketahui dengan pasti. mereka mengucapLan 'Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'un. sedangkan harta suami yang meninggal seperdelapannya (1/8) merupakan bagian istrinya yang masih hidup. dan anak laki-laki paman kandung (sepupu yang pertama disebutkan). dan anak paman kandung (sepupu). begitupun sang suami telah mempunyai istri lain dan mempunyai anak laki-laki.. sekalipun masa hidup yang kedua hanya sejenak setelah kematian saudaranya yang pertama. yakni dengan memberikan hak waris kepada orang yang meninggal kemudian. apabila dua orang bersaudara tenggelam secara bersamaan lalu yang seorang meninggal seketika dan yang seorang lagi meninggal setelah beberapa saat kemudian.

dan sisanya merupakan bagian saudara laki-lakinya yang seayah dengan mereka. harta ketiga anak laki-laki. TAMAT 103 .itu. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan banyak manfaat bagi para penuntut ilmu faraid. dan saya akhiri pembahasan ini dengan pujian kepada Rabb semesta alam. Kemudian. seperenamnya (1/6) diberikan atau merupakan bagian saudara laki-laki mereka yang seibu. amin. Allahlah yang memberi taufik dan petunjuk kepada kita. Pembahasan tentang hak waris-mewarisi bagi orang-orang yang mati tenggelam atau tertimbun reruntuhan atau musibah lainnya merupakan bagian terakhir dari buku ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful