Pembagian Waris Menurut Islam

oleh Muhammad Ali ash-Shabuni

PENGANTAR PENERBIT HUKUM waris Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. telah mengubah hukum waris Arab pra-Islam dan sekaligus merombak struktur hubungan kekerabatannya, bahkan merombak sistem pemilikan masyarakat tersebut atas harta benda, khususnya harta pusaka. Sebelumnya, dalam masyarakat Arab ketika itu, wanita tidak diperkenankan memiliki harta benda --kecuali wanita dari kalangan elite-- bahkan wanita menjadi sesuatu yang diwariskan. Islam merinci dan menjelaskan --melalui Al-Qur'an Al-Karim-- bagian tiap-tiap ahli waris dengan tujuan mewujudkan keadilan didalam masyarakat. Meskipun demikian, sampai kini persoalan pembagian harta waris masih menjadi penyebab timbulnya keretakan hubungan keluarga. Ternyata, disamping karena keserakahan dan ketamakan manusianya, kericuhan itu sering disebabkan oleh kekurangtahuan ahli waris akan hakikat waris dan cara pembagiannya. Kekurangpedulian umat Islam terhadap disiplin ilmu ini memang tidak kita pungkiri, bahkan Imam Qurtubi telah mengisyaratkannya: "Betapa banyak manusia sekarang mengabaikan ilmu faraid." Atas dasar itulah kami terpacu untuk menerbitkan buku Pembagian Waris menurut Islam. Mudah-mudahan apa yang kami persembahkan kepada pembaca menjadi suatu amal kebajikan dan menjadi bukti ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Penerbit

1

SAMPUL BELAKANG Dalam praktik kehidupan sehari-hari, persoalan waris sering kali menjadi krusial yang terkadang memicu pertikaian dan menimbulkan keretakan hubungan keluarga. Penyebab utamanya ternyata keserakahan dan ketamakan manusia, di samping karena kekurang-tahuan pihak-pihak yang terkait mengenai hukum pembagian waris. Padahal, Allah SWT di dalam Al-Qur'an mengatur pembagian waris secara lengkap. Sementara itu, di sisi lain, kita jumpai kenyataan bahwa beberapa kalangan --termasuk para pelajar di sekolah-sekolah Islam---menganggap faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka) sebagai momok yang menakutkan. Berawal dari beberapa keprihatinan itulah buku ini diwujudkan, yang sebelumnya hanya merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris pada Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. Muhammad Ali ash-Shabuni, penulis buku ini, berusaha menghilangkan kesan "seram" tentang disiplin ilmu ini dengan cara menyederhanakan berbagai istilah dan rumusan perhitungan yang selama ini dianggap sebagai kendala. Bukan hanya itu, sistematika penyajiannya pun sangat sederhana dan tidak bertele-tele. Kesederhanaan metode dan gaya bertutur memang menjadi keunggulan buku ini. ISBN 979-561-321-9

2

MUKADIMAH Segala puji bagi Allah, pengatur alam semesta, seluruh isi langit dan bumi. Dialah Yang Maha Kekal, tidak akan rusak dan tidak akan mati, yang telah berfirman dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan." (Maryam: 40) Semoga shalawat dan salam tetap Allah anugerahkan kepada sang pembawa cahaya, perintis kemanusiaan dan penunjuk jalan, junjungan kita Muhammad saw. Dengannyalah Allah SWT menghilangkan kesesatan dan kegelapan, dan dengannyalah Allah mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada alam yang terang benderang. Semoga shalawat dan salam juga Allah berikan kepada seluruh kerabatnya, para sahabatnya, dan siapa pun yang mengikuti jejaknya. Buku ini merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris yang pernah saya berikan kepada para mahasiswa Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. Kemudian saya tergerak untuk mengumpulkan dan menyatukannya hingga menjadi buku dengan harapan dapat dimanfaatkan secara lebih luas. Buku ini saya susun dengan sistematika yang sangat sederhana dan tidak bertele-tele. Saya bermohon kepada Allah semoga buku ini dapat bermanfaat khususnya bagi para mahasiswa, dan umumnya bagi seluruh kaum muslim yang memiliki keinginan untuk mengetahui dengan pasti mengenai faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua doa dan Maha Mampu untuk memenuhinya. Mekah, Jumadil Akbir 1389 H Muhammad Ali ash-Shabuni

3

Dalil Hak Waris Para 'Ashabah B. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris D. WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM A. Penggugur Hak Waris  Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub  Contoh Pertama  Contoh Kedua H. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam C. Penjelasan B. Ahli Waris dari Golongan Wanita III. Rukun Waris F. Sebab-sebab Adanya Hak Waris E. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam IV. Bentuk-bentuk Waris D. Syarat Waris G. Macam-macam 'Ashabah 4 . PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN A. AYAT-AYAT WARIS A. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah B. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan D. Derajat Ahli Waris C. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris II.DAFTAR ISI Pembagian Waris Menurut Islam oleh Muhammad Ali Ash-Shabuni PENGANTAR MUKADIMAH I. Definisi Waris  Pengertian Peninggalan  Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan B. DEFINISI 'ASHABAH A. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat C. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga  Masalah 'Umariyyatan F. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga E. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki I.

MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A.Tentang Mazhab Jumhur  Hukum Keadaan Pertama  Makna Pembagian  Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek  Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang  Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek  Hukum Keadaan Kedua E. Tentang Kasus Kolektif  Perbedaan Pendapat Para Fuqaha  Persyaratan Masalah Kolektif  Beberapa Kaidah Penting VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA A. Definisi al-Hujub B. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair  Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? V. Macam-macam al-Hujub  Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman  Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman  Saudara Laki-laki yang Berkah  Saudara Laki-laki yang Merugikan C. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek D.kan  Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan  Beberapa Contoh Masalah 'Aul 5          . Masalah al-Akdariyah VII. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara C. Pengertian Kakek yang Sahih B. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul.'Ashabah bin nafs Hukum 'Ashabah bin nafs Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah ma'al Ghair Dalil 'Ashabah ma'al Ghair C. PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A. Latar Belakang Terjadinya 'Aul C. Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek F. Definisi al-'Aul B.

Pembagian Harta Peninggalan  Masalah Dinariyah ash-Shughra  Masalah Dinariyah al-Kubra IX. PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN A. HUKUM MUNASAKHAT A. Definisi Dzawil Arham B. HAK WARIS DZAWIL ARHAM A.D. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. Definisi Munasakhat B. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd H. Syarat-syarat ar-Radd F. At-Takharuj min at-Tarikah  Tata Cara Pelaksanaannya X. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd G. Tentang Tashih  Definisi Tashih  Definisi at-Tamaatsul  Definisi at-Tadaakhul  Definisi at-Tawaafuq  Definisi at-Tabaayun B. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci 6 . Definisi ar-Radd E. Macam-macam ar-Radd  Hukum Keadaan Pertama  Hukum Keadaan Kedua  Hukum keadaan Ketiga  Hukum keadaan Keempat VIII. Definisi Banci B. Cara Mentashih Pokok Masalah C. Rincian Amaliah al-Munasakhat C. Cara Pembagian Waris Para Kerabat  Menurut Ahlur-Rahmi  Menurut Ahlut-Tanzil  Menurut Ahlul Qarabah  Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah  Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah D. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham XI. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham C.

DAN TERTIMBUN A. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan F. Hak Waris Orang Hilang D. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati C. Definisi  Hukum Orang yang Hilang B.C. Definisi Hamil E. Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun  Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun 7 . Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya  Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci D. TENGGELAM. Keadaan Janin  Keadaan Pertama  Keadaan Kedua  Keadaan Ketiga  Keadaan Keempat  Keadaan Kelima XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG.

Jika kamu mempunyai anak. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. AYAT-AYAT WARIS ALLAH SWT berfirman "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu. Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak setiap ahli waris. Oleh sebab itu. maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan." (anNisa': 12) "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Jika seseorang mati. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. kapan ia menerima bagiannya secara "tertentu". SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (an-Nisa': 176) A. orang yang dianugerahi pengetahuan dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui bagian setiap ahli waris. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. maka ibunya mendapat seperenam. meniadakan 8 . baik laki-laki maupun perempuan. di dalamnya berisi aturan dan tata cara yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara lengkap. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak mernberi mudarat (kepada ahli waris). Tetapi jika saudarasaudara seibu itu lebih dari seorang. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. jika mereka tidak mempunyai anak. bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. dan kapan pula ia menerimanya secara 'ashabah. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah. sekaligus mengenali hikmah Allah Yang Maha Bijaksana itu. juga menjelaskan keadaan setiap ahli waris. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang." (an-Nisa': 11) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Bahkan dengan aturan yang sangat jelas dan sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris dengan adil serta penuh kebijaksanaan. Penjelasan Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut --yang kesemuanya termaktub dalam surat an-Nisa'-. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. jika ia tidak mempunyai anak. Selain itu. maka ibunya mendapat sepertiga. Maha Suci Allah. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. jika yang meninggal itu mempunyai anak. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). Dia menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia. jika anak perempuan itu seorang saja. supaya kamu tidak sesat. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan asas ilmu faraid. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meningal dunia. kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu.I. Yaitu. Ini adalah ketetapan dari Allah.menegaskan dan merinci nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. maka ia memperoleh separo harta. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan.

namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut. Di antaranya adalah firman Allah berikut: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya..kezaliman di kalangan mereka." (al-Anfal: 75) ". Sungguh mengagumkan pandangan mereka mengenai ilmu waris ini.. maka betapa tinggi dan agung penguasaan para sahabat tentang masalah faraid ini. akan tetapi tentang besar-kecilnya hak waris yang mesti diterima mereka tidak dijelaskan secara rinci. Adapun dalam ayat pertama (an-Nisa': 7) Allah SWT dengan tegas menghilangkan bentuk kezaliman yang biasa menimpa dua jenis manusia lemah. Maha Suci Allah Yang Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum dan syariat-Nya. Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa ketiga ayat tersebut merupakan salah satu rukun agama. "Apabila kita telah mengetahui hakikat ilmu ini..Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Mereka lebih berhak daripada orang mukmin umumnya dan kaum Muhajirin. bahwa pada masa itu kaum muslim saling mewarisi harta masing-masing disebabkan hijrah dan rasa persaudaraan yang dipertemukan oleh Rasulullah saw. Meskipun demikian. " (an-Nisa': 7) "."1 Perlu kita ketahui bahwa semua kitab tentang waris yang disusun dan ditulis oleh para ulama merupakan penjelasan dan penjabaran dari apa yang terkandung dalam ketiga ayat tersebut. kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). bersabda: "Pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada orang lain. dan ilmu ini pun bakal sirna hingga akan muncul fitnah. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal. Allah me-mansukh-kan (menghapuskan) hukum pewarisan yang disebabkan hijrah dan persaudaraan. adakah ayat lain yang berkenaan dengan waris selain dari ketiga ayat tersebut? Di dalam Al-Qur'an memang ada beberapa ayat yang menyebutkan masalah hak waris bagi para kerabat (nasab). Di antara kita mungkin ada yang bertanya-tanya dalam hati. kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling mewarisi. menutup ruang gerak para pelaku kezaliman. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah SWT menyantuni keduanya dengan rahmat dan kearifan-Nya serta dengan penuh keadilan. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Telah masyhur dalam sejarah permulaan datangnya Islam. Keadaan demikian berjalan terus hingga Islam menjadi agama yang kuat. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetaplan. seperti kaum Muhajirin dengan kaum Anshar.. serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. namun justru saudara mereka yang senasab tidak mendapatkan warisan. Oleh karenanya faraid memiliki martabat yang sangat agung. serta tidak membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati orang-orang yang lemah. Pada ayat kedua dan ketiga (al-Anfal: 75 dan al-Ahzab: 6) ditegaskan bahwa kerabat pewaris (sang mayit) lebih berhak untuk mendapatkan bagian dibandingkan lainnya yang bukan kerabat atau tidak mempunyai tali kekerabatan dengannya. dan kaidahkaidah agama telah begitu mengakar dalam hati setiap muslim. dan induk ayat-ayat Ilahi. " (HR Daruquthni) Lebih jauh Imam Qurthubi mengatakan. Pada permulaan datangnya Islam. yakni wanita dan anak-anak. 9 . selain dari ketiga ayat yang saya sebutkan pada awal pembahasan. Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah). yakni dengan mengembalikan hak waris mereka secara penuh. penguat hukum. Yakni penjabaran kandungan ayat yang bagi kita sudah sangat jelas: membagi dan adil. kaum muslim telah benar-benar mantap menjalankan ajaran-ajarannya.Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin. Maka setelah peristiwa penaklukan kota Mekah. dengan hukum pewarisan yang disebabkan nasab dan kekerabatan.. Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mesti ia terima). Hal ini tercermin dalam hadits berikut. hingga kedudukannya menjadi separo ilmu. sangat disayangkan kebanyakan manusia (terutama pada masa kini) mengabaikan dan melecehkannya. dari Abdullah Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw." (alAhzab: 6) Itulah ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah hak waris.

pengobatan jika anak sakit (termasuk istri) dan lainnya. 4.dan kaum wanita. Itulah beberapa hikmah dari sekian banyak hikmah yang terkandung dalam perbedaan pembagian antara kaum lakilaki --dua kali lebih besar-. kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris. Ketentuan ini tetap berlaku sekalipun wanita tersebut kaya raya dan hidup dalam kemewahan. Sebab. karena di samping memang lemah. saudara laki-lakinya. minum. Islam telah menyelimuti kaum wanita dengan rahmat dan keutamaannya. memberinya makan. 3." (al-Baqarah: 233) 10 . Kaum wanita tidak diwajibkan memberi nafkah kepada siapa pun di dunia ini. namun mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga.maka dialah yang lebih berhak untuk mendapatkan bagian yang lebih besar pula. yang pasti hak waris telah Allah tetapkan bagi kerabat pewaris karena hubungan nasab. atau siapa saja yang mampu di antara kaum lakilaki kerabatnya. 5. Kaum laki-laki diwajibkan untuk membayar mahar kepada istrinya. mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya dalam hati. dan papan. Secara logika... 2. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: ". baik untuk keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya). tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah..Dalam ayat tersebut Allah dengan keadilan-Nya memberikan hak waris secara imbang. Meskipun demikian. Sementara kaum wanita tidaklah demikian. ingin sekali saya sebutkan hikmah-hikmah tersebut sebanyak mungkin. mengapa bagian kaum laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita. Jika kita pakai istilah dalam ushul fiqh ayat ini disebut mujmal (global). pangan. kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki. Syariat Islam tidak mewajibkan kaum wanita untuk membelanjakan harta miliknya meski sedikit. ayat tersebut tidaklah secara rinci dan detail menjelaskan jumlah besar-kecilnya hak waris para kerabat. menyediakan tempat tinggal baginya. serta siapa saja yang diwajibkan atasnya untuk memberi nafkah dari kerabatnya. kebutuhan kaum laki-laki untuk mendapatkan dan memiliki harta jauh lebih besar dan banyak dibandingkan kaum wanita. dan papan. seluruhnya dibebankan hanya pada pundak kaum laki-laki. Dengan demikian. tanpa membedakan antara yang kecil dan yang besar. suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya. dan sandang. Dan ketika telah dikaruniai anak. sedangkan rinciannya terdapat dalam ayat-ayat yang saya nukilkan terdahulu (an-Nisa': 11-12 dan 176). Kebutuhan pendidikan anak. dan dalam hal nafkahnya kaum wanita wajib diberi oleh ayahnya. Kaum wanita selalu harus terpenuhi kebutuhan dan keperluannya. Sementara di sisi lain Allah membatalkan hak saling mewarisi di antara kaum muslim yang disebabkan persaudaraan dan hijrah. ia berkewajiban untuk memberinya sandang. Dengan demikian. Juga tanpa membedakan bagian mereka yang banyak maupun sedikit. khususnya dalam hal sandang. Kendatipun hukum Islam telah menetapkan bahwa bagian kaum laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada bagian kaum wanita. Nafkah (pengeluaran) kaum laki-laki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita. pangan. di antaranya sebagai berikut: 1. anaknya. berupa memberikan hak waris kepada kaum wanita melebihi apa yang digambarkan. laki-laki ataupun wanita. padahal kaum wanita jauh lebih banyak membutuhkannya.. tampak secara jelas bahwa kaum wanita justru lebih banyak mengenyam kenikmatan dan lebih enak dibandingkan kaum laki-laki. Kalau saja tidak karena rasa takut membosankan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf . Sebaliknya. Masih tentang kajian ayat-ayat tersebut. mereka juga sangat membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu saya utarakan beberapa hikmah adanya syariat yang telah Allah tetapkan bagi kaum muslim. selama masih ada suaminya. siapa pun yang memiliki tanggung jawab besar --hingga harus mengeluarkan pembiayaan lebih banyak-. Artinya. Sebab. maupun pewaris itu rela atau tidak rela. kaum lelakilah yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga dan kerabatnya.

Untuk lebih menjelaskan permasalahan tersebut perlu saya ketengahkan satu contoh kasus supaya hikmah Allah dalam menetapkan hukum-hukum-Nya akan terasa lebih jelas dan nyata. Contoh yang dimaksud di sini ialah tentang pembagian hak kaum laki-laki yang banyaknya dua kali lipat dari bagian kaum wanita. Seseorang meninggal dan mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Ternyata orang tersebut meninggalkan harta, misalnya sebanyak Rp 3 juta. Maka, menurut ketetapan syariat Islam, laki-laki mendapatkan Rp 2 juta sedangkan anak perempuan mendapatkan Rp 1 juta. Apabila anak laki-laki tersebut telah dewasa dan layak untuk menikah, maka ia berkewajiban untuk membayar mahar dan semua keperluan pesta pernikahannya. Misalnya, ia mengeluarkan semua pembiayaan keperluan pesta pernikahan itu sebesar Rp 20 juta. Dengan demikian, uang yang ia terima dari warisan orang tuanya tidak tersisa. Padahal, setelah menikah ia mempunyai beban tanggung jawab memberi nafkah istrinya. Adapun anak perempuan, apabila ia telah dewasa dan layak untuk berumah tangga, dialah yang mendapatkan mahar dari calon suaminya. Kita misalkan saja mahar itu sebesar Rp 1 juta. Maka anak perempuan itu telah memiliki uang sebanyak Rp 2 juta (satu juta dari harta warisan dan satu juta lagi dari mahar pemberian calon suaminya). Sementara itu, sebagai istri ia tidak dibebani tanggung jawab untuk membiayai kebutuhan nafkah rumah tangganya, sekalipun ia memiliki harta yang banyak dan hidup dalam kemewahan. Sebab dalam Islam kaum laki-lakilah yang berkewajiban memberi nafkah istrinya, baik berupa sandang, pangan, dan papan. Jadi, harta warisan anak perempuan semakin bertambah, sedangkan harta warisan anak laki-laki habis. Dalam keadaan seperti ini manakah di antara kaum laki-laki dan kaum wanita yang lebih banyak menikmati harta dan lebih berbahagia keadaannya? Laki-laki ataukah wanita? Inilah logika keadilan dalam agama, sehingga pembagian hak laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada hak kaum wanita. 1 Tafsir al-Qurthubi, juz V, hlm. 56. B. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam Sebelum Islam datang, kaum wanita sama sekali tidak mempunyai hak untuk menerima warisan dari peninggalan pewaris (orang tua ataupun kerabatnya). Dengan dalih bahwa kaum wanita tidak dapat ikut berperang membela kaum dan sukunya. Bangsa Arab jahiliah dengan tegas menyatakan, "Bagaimana mungkin kami memberikan warisan (harta peninggalan) kepada orang yang tidak bisa dan tidak pernah menunggang kuda, tidak mampu memanggul senjata, serta tidak pula berperang melawan musuh." Mereka mengharamkan kaum wanita menerima harta warisan, sebagaimana mereka mengharamkannya kepada anak-anak kecil. Sangat jelas bagi kita bahwa sebelum Islam datang bangsa Arab memperlakukan kaum wanita secara zalim. Mereka tidak memberikan hak waris kepada kaum wanita dan anak-anak, baik dari harta peninggalan ayah, suami, maupun kerabat mereka. Barulah setelah Islam datang ada ketetapan syariat yang memberi mereka hak untuk mewarisi harta peninggalan kerabat, ayah, atau suami mereka dengan penuh kemuliaan, tanpa direndahkan. Islam memberi mereka hak waris, tanpa boleh siapa pun mengusik dan menentangnya. Inilah ketetapan yang telah Allah pastikan dalam syariat-Nya sebagai keharusan yang tidak dapat diubah. Ketika turun wahyu kepada Rasulullah saw. --berupa ayat-ayat tentang waris-- kalangan bangsa Arab pada saat itu merasa tidak puas dan keberatan. Mereka sangat berharap kalau saja hukum yang tercantum dalam ayat tersebut dapat dihapus (mansukh). Sebab menurut anggapan mereka, memberi warisan kepada kaum wanita dan anak-anak sangat bertentangan dengan kebiasaan dan adat yang telah lama mereka amalkan sebagai ajaran dari nenek moyang. Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan sebuah kisah yang bersumber dari Abdullah Ibnu Abbas r.a.. Ia berkata: "Ketika ayat-ayat yang menetapkan tentang warisan diturunkan Allah kepada RasulNya --yang mewajibkan agar memberikan hak waris kepada laki-laki, wanita, anak-anak, kedua orang tua, suami, dan istri-- sebagian bangsa Arab merasa kurang senang terhadap ketetapan tersebut. Dengan nada keheranan sambil mencibirkan mereka mengatakan: 'Haruskah memberi seperempat bagian kepada kaum wanita (istri) atau seperdelapan.' Memberikan anak perempuan setengah bagian harta peninggalan? Juga haruskah memberikan warisan kepada anak-anak ingusan? Padahal mereka tidak ada yang dapat memanggul senjata untuk berperang melawan musuh, dan tidak pula dapat andil membela kaum kerabatnya. Sebaiknya kita tidak perlu membicarakan hukum tersebut. Semoga saja Rasulullah melalaikan dan mengabaikannya, atau kita meminta kepada beliau agar berkenan untuk mengubahnya.' Sebagian
11

dari mereka berkata kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah, haruskah kami memberikan warisan kepada anak kecil yang masih ingusan? Padahal kami tidak dapat memanfaatkan mereka sama sekali. Dan haruskah kami memberikan hak waris kepada anak-anak perempuan kami, padahal mereka tidak dapat menunggang kuda dan memanggul senjata untuk ikut berperang melawan musuh?'" Inilah salah satu bentuk nyata ajaran syariat Islam dalam menyantuni kaum wanita; Islam telah mampu melepaskan kaum wanita dari kungkungan kezaliman zaman. Islam memberikan hak waris kepada kaum wanita yang sebelumnya tidak memiliki hak seperti itu, bahkan telah menetapkan mereka sebagai ashhabul furudh (kewajiban yang telah Allah tetapkan bagian warisannya). Kendatipun demikian, dewasa ini masih saja kita jumpai pemikiran yang kotor yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang berhati buruk. Mereka beranggapan bahwa Islam telah menzalimi kaum wanita dalam hal hak waris, karena hanya memberikan separo dari hak kaum laki-laki. Anggapan mereka semata-mata dimaksudkan untuk memperdaya kaum wanita tentang hak yang mereka terima. Mereka berpura-pura akan menghilangkan kezaliman yang menimpa kaum wanita dengan cara menyamakan hak kaum wanita dengan hak kaum laki-laki dalam hal penerimaan warisan. Mereka yang memiliki anggapan demikian sama halnya menghasut kaum wanita agar mereka menjadi pembangkang dan pemberontak dengan menolak ajaran dan aturan hukum dalam syariat Islam. Sehingga pada akhirnya kaum wanita akan menuntut persamaan hak penerimaan warisan yang sama dan seimbang dengan kaum laki-laki. Yang sangat mengherankan dan sulit dicerna akal sehat ialah bahwa mereka yang berpura-pura prihatin tentang hak waris kaum wanita, justru mereka sendiri sangat bakhil terhadap kaum wanita dalam hal memberi nafkah. Subhanallah! Sebagai bukti, mereka bahkan menyuruh kaum wanita untuk bekerja demi menghidupi diri mereka, di antara mereka bekerja di ladang, di kantor, di tempat hiburan, bar, kelab malam, dan sebagainya. Corak pemikiran seperti ini dapat dipastikan merupakan hembusan dari Barat yang banyak diikuti oleh orang-orang yang teperdaya oleh kedustaan mereka. Kultur seperti itu tidak menghormati kaum wanita, bahkan tidak menempatkan mereka pada timbangan yang adil. Budaya mereka memandang kaum wanita tidak lebih sebagai pemuas syahwat. Mereka sangat bakhil dalam memberikan nafkah kepada kaum wanita, dan mengharamkan wanita untuk mengatur harta miliknya sendiri, kecuali dengan seizin kaum laki-laki (suaminya). Lebih dari itu, budaya mereka mengharuskan kaum wanita bekerja guna membiayai hidupnya. Kendatipun telah nyata demikian, mereka masih menuduh bahwa Islam telah menzalimi dan membekukan hak wanita. C. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris Banyak riwayat yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat-ayat waris, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Suatu ketika istri Sa'ad bin ar-Rabi' datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa kedua orang putrinya. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, kedua putri ini adalah anak Sa'ad bin ar-Rabi' yang telah meninggal sebagai syuhada ketika Perang Uhud. Tetapi paman kedua putri Sa'ad ini telah mengambil seluruh harta peninggalan Sa'ad, tanpa meninggalkan barang sedikit pun bagi keduanya." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Semoga Allah segera memutuskan perkara ini." Maka turunlah ayat tentang waris yaitu (an-Nisa': 11). Rasulullah saw. kemudian mengutus seseorang kepada paman kedua putri Sa'ad dan memerintahkan kepadanya agar memberikan dua per tiga harta peninggalan Sa'ad kepada kedua putri itu. Sedangkan ibu mereka (istri Sa'ad) mendapat bagian seperdelapan, dan sisanya menjadi bagian saudara kandung Sa'ad. Dalam riwayat lain, yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabari, dikisahkan bahwa Abdurrahman bin Tsabit wafat dan meninggalkan seorang istri dan lima saudara perempuan. Namun, seluruh harta peninggalan Abdurrahman bin Tsabit dikuasai dan direbut oleh kaum laki-laki dari kerabatnya. Ummu Kahhah (istri Abdurrahman) lalu mengadukan masalah ini kepada Nabi saw., maka turunlah ayat waris sebagai jawaban persoalan itu. Masih ada sederetan riwayat sahih yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat waris ini. Semua riwayat tersebut tidak ada yang menyimpang dari inti permasalahan, artinya bahwa turunnya ayat waris sebagai penjelasan dan ketetapan Allah disebabkan pada waktu itu kaum wanita tidak mendapat bagian harta warisan. D. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris Pertama:
12

Firman Allah yang artinya "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan," menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut:

1. Apabila pewaris (orang yang meninggal) hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak
perempuan, maka harta peninggalannya dibagi untuk keduanya. Anak laki-laki mendapat dua bagian, sedangkan anak perempuan satu bagian.

2. Apabila ahli waris berjumlah banyak, terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan, maka bagian untuk lakilaki dua kali lipat bagian anak perempuan.

3. Apabila bersama anak (sebagai ahli waris) ada juga ashhabul furudh, seperti suami atau istri, ayah atau ibu,
maka yang harus diberi terlebih dahulu adalah ashhabul furudh. Setelah itu barulah sisa harta peninggalan yang ada dibagikan kepada anak. Bagi anak laki-laki dua bagian, sedangkan bagi anak perempuan satu bagian.

4. Apabila pewaris hanya meninggalkan satu anak laki-laki, maka anak tersebut mewarisi seluruh harta
peninggalan. Meskipun ayat yang ada tidak secara sharih (tegas) menyatakan demikian, namun pemahaman seperti ini dapat diketahui dari kedua ayat yang ada. Bunyi penggalan ayat yang dikutip sebelumnya (Butir 1) rnenunjukkan bahwa bagian laki-laki adalah dua kali lipat bagian anak perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat (artinya) "jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta". Dari kedua penggalan ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa bila ahli waris hanya terdiri dari seorang anak lakilaki, maka ia mendapatkan seluruh harta peninggalan pewaris.

5. Adapun bagian keturunan dari anak laki-laki (cucu pewaris), jumlah bagian mereka sama seperti anak,
apabila sang anak tidak ada (misalnya meninggal terlebih dahulu). Sebab penggalan ayat (artinya) "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu", mencakup keturunan anak kandung. Inilah ketetapan yang telah menjadi ijma'. Kedua: Hukum bagian kedua orang tua. Firman Allah (artinya): "Dan untuk dua orang ibu-hapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam." Penggalan ayat ini menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut:

1. Ayah dan ibu masing-masing mendapatkan seperenam bagian apabila yang meninggal mempunyai
keturunan.

2. Apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, maka ibunya mendapat bagian sepertiga dari harta yang
ditinggalkan. Sedangkan sisanya, yakni dua per tiga menjadi bagian ayah. Hal ini dapat dipahami dari redaksi ayat yang hanya menyebutkan bagian ibu, yaitu sepertiga, sedangkan bagian ayah tidak disebutkan. Jadi, pengertiannya, sisanya merupakan bagian ayah.

3. Jika selain kedua orang tua, pewaris mempunyai saudara (dua orang atau lebih), maka ibunya mendapat
seperenam bagian. Sedangkan ayah mendapatkan lima per enamnya. Adapun saudara-saudara itu tidaklah mendapat bagian harta waris dikarenakan adanya bapak, yang dalam aturan hukum waris dalam Islam dinyatakan sebagai hajib (penghalang). Jika misalnya muncul pertanyaan apa hikmah dari penghalangan saudara pewaris terhadap ibu mereka --artinya bila tanpa adanya saudara (dua orang atau lebih) ibu mendapat sepertiga bagian, sedangkan jika ada saudara kandung pewaris ibu hanya mendapatkan seperenam bagian? Jawabannya, hikmah adanya hajib tersebut dikarenakan ayahlah yang menjadi wali dalam pernikahan mereka, dan wajib memberi nafkah mereka. Sedangkan ibu tidaklah demikian. Jadi, kebutuhannya terhadap harta lebih besar dan lebih banyak dibandingkan ibu, yang memang tidak memiliki kewajiban untuk membiayai kehidupan mereka. Ketiga:
13

maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: "Sesungguhnya kalian telah membaca firman Allah [tulisan Arab] dan Rasulullah telah menetapkan dengan menunaikan utang-utang orang yang meninggal. Apabila seorang suami meninggal dan dia tidak mempunyai anak (keturunan). maka istri mendapat bagian seperdelapan. maka suami mendapat bagian separo dari harta yang ditinggalkan istrinya. siapakah yang dapat membuat aturan dan undang-undang yang lebih baik. kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Di sisi lain. sehingga bila yang berutang meninggal. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. Bagian istri: 1. Selain itu. Sedangkan wasiat hanyalah suatu amalan sunnah yang dianjurkan.Utang orang yang meninggal lebih didahulukan daripada wasiat. agar manusia tidak melecehkan wasiat dan jiwa manusia tidak menjadi kikir (khususnya para ahli waris)." Secara zhahir wasiat harus didahulukan ketimbang membayar utang orang yang meninggal. Bagian suami: 1. baik ketika ia masih hidup ataupun sesudah mati. Apabila seorang istri meninggal dan ia mempunyai keturunan (anak). Inilah yang diamalkan Rasulullah saw. Maha Suci Dzat-Nya." Penggalan ayat tersebut menjelaskan tentang hukum waris bagi suami dan istri. utang-utang pewaris terlebih dahulu ditunaikan. cara ataupun aturan pembagiannya. maka Allah SWT mendahulukan penyebutannya. Jika kamu mempunyai anak. tetapi Allah. Jadi. Manusia tidak akan tahu manakah di antara orang tua dan anak yang lebih dekat atau lebih besar kemanfaatannya terhadap seseorang. karena bagaimanapun bentuk usaha manusia untuk mewujudkan keadilan tidaklah akan mampu melaksanakannya secara sempurna. utanglah yang mesti terlebih dahulu ditunaikan. dan lebih relevan bagi umat manusia dan kemanusiaan selain Allah? Kelima: Firman Allah (artinya) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu. 2. utang tersebut akan tetap dituntut oleh orang yang mempiutanginya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. lalu barulah melaksanakan wasiatnya. siapa pun orangnya." Hikmah mendahulukan pembayaran utang dibandingkan melaksanakan wasiat adalah karena utang merupakan keharusan yang tetap ada pada pundak orang yang utang. Apabila seorang suami meninggal dan dia mempunyai anak (keturunan). maka suami mendapat bagian seperempat dari harta yang ditinggalkan. Pembagian yang ditentukan-Nya pasti adil. Bila demikian. yang mempiutangi akan menuntut para ahli warisnya. kemudian barulah melaksanakan wasiat bila memang ia berwasiat sebelum meninggal. Apabila seorang istri meninggal dan tidak mempunyai keturunan (anak). kalaupun tidak ditunaikan tidak akan ada orang yang menuntutnya. Keenam: 14 . Bagi suami atau istri masing-masing mempunyai dua cara pembagian. Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Bahkan tidak akan dapat merealisasikan pembagian yang adil seperti yang telah ditetapkan dalam ayat-ayat Allah. maka bagian istri adalah seperempat.. Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. jika mereka tidak mempunyai anak. 2. Hal ini tidak diserahkan kepada manusia. secara hakiki. Namun. Keempat: Firman Allah (artinya) "orang tuamu dan anak-anakmu. lebih adil." Penggalan ayat ini dengan tegas memberi isyarat bahwa Allah yang berkompeten dan paling berhak untuk mengatur pembagian harta warisan. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu.

maka wajib untuk tidak dilaksanakan. dan Allah terbebas dari kekeliruan tersebut. misalnya. sedangkan bila jumlah saudaranya banyak maka mendapatkan sepertiga dari harta peninggalan dan dibagi secara rata. Jadi. " Yang dimaksud ikhwah (saudara) dalam penggalan ayat ini (an-Nisa': 12) adalah saudara laki-laki atau saudara perempuan "seibu lain ayah". sedangkan bila dua atau lebih ia mendapat bagian dua per tiga. Apabila pendapat saya ini benar maka hanyalah dari Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Firman-Nya (artinya): "Jika seseorang mati. maka Allah menetapkan bagian keduanya lebih besar dibandingkan saudara seibu. baik laki-laki maupun perempuan. tidak mencakup saudara kandung dan tidak pula saudara laki-laki atau saudara perempuan "seayah lain ibu". Dengan demikian. Kata ini misalnya digunakan dalam kalimat kalla ar-rajulu. Ayat tersebut menunjukkan dengan tegas bahwa apabila wasiat dan utang nyata-nyata mengandung kemudaratan. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). Dalam ayat yang disebut terakhir ini. " Ketujuh: Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sudah dibayar utangnya dengan tidak membebani mudarat (kepada ahli waris)". Apabila seseorang meninggal dan mempunyai satu orang saudara laki-laki seibu atau satu orang saudara perempuan seibu. Rincian Beberapa Keadaan Bagian Saudara Seibu A. Jadi. bagi satu saudara mendapat seperenam bagian. Kalaalah adalah orang yang meninggal yang tidak mempunyai ayah dan anak. jika sendirian. baik wasiat atau utang yang dapat menimbulkan mudarat (berdampak negatif) pada ahli waris tidak wajib dilaksanakan. ayat akhir surat an-Nisa' menjelaskan bahwa saudara perempuan. Adapun bila pendapat ini salah. Dampak negatif mengenai wasiat yang dimaksudkan di sini. ia berkata: "Saya mempunyai pendapat mengenai kalaalah.tentang hak waris saudara dari pewaris sebanyak dua kali. Sementara itu. pengertian istilah ikhwah dalam ayat ini harus dibedakan dengan pengertian ikhwah yang terdapat dalam ayat akhir surat an-Nisa' untuk meniadakan pertentangan antara dua ayat. dan yang kedua pada akhir surat anNisa'. Menurut saya. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dapat dipastikan bahwa pengertian kata ikhwah dalam ayat tersebut (an-Nisa': 12) adalah 'saudara seibu'. Jika yang meninggal mempunyai saudara seibu dua orang atau lebih. Kata kalaalah diambil dari kata al-kalla yang bermakna 'lemah'. Oleh karenanya. sedangkan untuk kata yang sama di dalam akhir surat an-Nisa' memiliki pengertian 'saudara kandung' atau 'saudara seayah'. mereka mendapatkan dua per tiga bagian dan dibagi secara rata. Makna Kalaalah Pengertian kalaalah ialah seseorang meninggal tanpa memiliki ayah ataupun keturunan.Hukum yang berkenaan dengan hak waris saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. Sedangkan utang yang dimaksud berdampak negatif. Adapun yang dijadikan dalil oleh ulama ialah bahwa Allah SWT telah menjelaskan --dalam firman-Nya-. Ulama sepakat (ijma') bahwa kalaalah ialah seseorang yang mati namun tidak mempunyai ayah dan tidak memiliki keturunan. Sebab yang zhahir dari firman-Nya [tulisan Arab] menunjukkan adanya keharusan untuk dibagi dengan rata sama besar-kecilnya. maka bagian yang diperolehnya adalah seperenam. saudara laki-laki mendapat bagian yang sama dengan bagian saudara perempuan. Sementara itu. Pengertian inilah yang disepakati oleh ulama. mendapat separo harta peninggalan. B. Jadi. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. maka karena dariku dan dari setan.. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). karena saudara kandung atau saudara seayah kedudukannya lebih dekat --dalam urutan nasab-dibandingkan saudara seibu. atau dengan kata lain dia tidak mempunyai pokok dan cabang. Yang pertama dalam ayat ini. yang artinya 'apabila orang itu lemah dan hilang kekuatannya'. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. misalnya seseorang yang mengakui mempunyai utang padahal sebenamya ia tidak berutang. 15 . seseorang yang berwasiat untuk menyedekahkan hartanya lebih dari sepertiga.

B. jika ternyata tidak ada saudara laki-laki yang sekandung atau saudara perempuan yang sekandung. C. 16 . Begitulah hukum bagi saudara seayah. Apabila pewaris mempunyai banyak saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan atau seayah. maka bagi ahli waris yang laki-laki mendapatkan dua kali bagian saudara perempuan. maka bagian ahli waris adalah dua per tiga dibagi secara rata.Hukum Keadaan Saudara Kandung atau Seayah Firman Allah SWT dalam surat an-Nisa': 176 mengisyaratkan adanya beberapa keadaan tentang bagian saudara kandung atau saudara seayah.maka dibagi secara rata sesuai jumlah kepala. bila ternyata pewaris (yang meninggal) tidak mempunyai ayah atau anak. Apabila saudara kandungnya banyak --lebih dari satu-. Apabila seseorang meninggal dan hanya mempunyai satu orang saudara kandung perempuan ataupun seayah. Apabila pewaris mempunyai dua orang saudara kandung perempuan atau seayah ke atas. Apabila seorang saudara kandung perempuan meninggal. dan tidak mempunyai ayah atau anak. dan ia tidak mempunyai ayah atau anak. maka ahli waris mendapat separo harta peninggalan. D. maka seluruh harta peninggalannya menjadi bagian saudara kandung laki-lakinya. A.

atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu. Dapat dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu hukum secara detail dan rinci. baik berupa harta (uang) atau lainnya." (al-Qashash: 58) Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw. ibu. istri. pada prinsipnya segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan. besar atau kecil.. Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan pembagian waris. demikian pula sabda Rasulullah saw. kecuali hukum waris ini. Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup. dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsan-miiraatsan. dan ijma' para ulama sangat sedikit. Di samping bahwa harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok masyarakat. ayah. tanah. baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus gadai).: 'Ulama adalah ahli waris para nabi'. sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits Rasulullah saw. A. suami. atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i. paman. Jadi. Di antaranya Allah berfirman: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud . baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang). Ayat-ayat Al-Qur'an banyak menegaskan hal ini. atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya). dari seluruh kerabat dan nasabnya. cucu. kakek. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris." (an-Naml: 16) ". Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain'. apakah dia sebagai anak. Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun.. tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM SYARIAT Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan adil.. Definisi Waris Al-miirats.II. Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta. Dan Kami adalah pewarisnya. Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan Dari sederetan hak yang harus ditunaikan yang ada kaitannya dengan harta peninggalan adalah: 1. Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang.. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia. Pengertian Peninggalan Pengertian peninggalan yang dikenal di kalangan fuqaha ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya. Syariat Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya. tetapi mencakup harta benda dan non harta benda.. baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal. Hal demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah SWT. atau dari suatu kaum kepada kaum lain. dengan catatan tidak boleh berlebihan. Oleh karena itu. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang 17 .

Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris. 2. bersabda: "." Maksud hadits ini adalah utang piutang yang bersangkutan dengan sesama manusia. Artinya. Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya. Akan tetapi. sejak wafatnya hingga pemakamannya. maka di kalangan ulama ada sedikit perbedaan pandangan. serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. 3. Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli warisnya untuk menunaikannya sebelum harta warisan (harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya. Adapun jika utang tersebut berkaitan dengan Allah SWT. Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa hak yang berhubungan dengan Allah wajib ditunaikan oleh ahli warisnya sama seperti mereka diwajibkan menunaikan utang piutang pewaris yang berkaitan dengan hak sesama hamba.a. maka wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. Sepertiga. dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang yang sudah meninggal.dibutuhkan mayit. Karena itu wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya.. menurut saya. sedangkan kewajiban ibadah gugur jika seseorang telah meninggal dunia. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah saw. ketika menjawab pertanyaan Sa'ad bin Abi Waqash r. Menurut jumhur ulama. Di antaranya. meskipun kewajiban tersebut dinyatakan telah gugur bagi orang yang sudah meninggal. Namun. biaya memandikan. ia tetap akan dikenakan sanksi kelak pada hari kiamat sebab ia tidak menunaikan kewajiban ketika masih hidup. Bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkannya. menurut mereka. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. Padahal. pengamalan suatu ibadah harus disertai dengan niat dan keikhlasan. baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya. pembelian kain kafan. atau belum menunaikan nadzar. Pendapat mazhab ini. Sementara itu. tentunya bila sebelumnya mayit tidak berwasiat kepada ahli waris untuk membayarnya. seperti belum membayar zakat. Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan mayit. Sedangkan jumhur ulama yang menyatakan bahwa ahli waris wajib untuk menunaikan utang pewaris terhadap Allah beralasan bahwa hal tersebut sama saja seperti utang kepada sesama manusia." 18 . --pada waktu itu Sa'ad sakit dan berniat menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal. tetapi termasuk hak yang menyangkut harta peninggalan pewaris. Kalangan ulama mazhab Hanafi beralasan bahwa menunaikan hal-hal tersebut merupakan ibadah. Bahkan menurut pandangan ulama mazhab Syafi'i hal tersebut wajib ditunaikan sebelum memenuhi hak yang berkaitan dengan hak sesama hamba. dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. ulama mazhab Hambali menyamakan antara utang kepada sesama hamba dengan utang kepada Allah. atau belum memenuhi kafarat (denda). biaya pemakaman. Keduanya wajib ditunaikan secara bersamaan sebelum seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada setiap ahli waris. termasuk diambil untuk membayar utangnya. dan sepertiga itu banyak. bila sang mayit berwasiat. hal ini merupakan amalan yang tidak memerlukan niat karena bukan termasuk ibadah mahdhah.: "Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan. seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu. Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga meminta-minta kepada orang. Hanya saja mazhab ini lebih mengutamakan agar mendahulukan utang yang berkaitan dengan sesama hamba daripada utang kepada Allah. Hal ini tentu saja merupakan keputusan Allah SWT.. Rasulullah saw. Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu. baik pewaris mewasiatkan ataupun tidak. maka wasiatnya tidak wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli warisnya.

dan kesepakatan para ulama (ijma'). 4. As-Sunnah. 3. paman kandung. Misalnya anak laki-laki pewaris. suami. Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah. dan seterusnya. bibi (saudara ibu). dan sebagai 'ashabah. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang meninggal. maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya. dan cucu perempuan dari anak perempuan. Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur'an. diantaranya agar ahli waris menjaga dan benarbenar melaksanakannya. sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan dibandingkan lainnya. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan derajatnya: 1.setelah ashhabul furudh menerima bagian). misalnya ibu. Oleh karena itu. As-Sunnah. Ashabat nasabiyah. 19 . Bahkan. saudara kandung pewaris. Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri). paman (saudara ibu). Mewariskan kepada kerabat. didahulukannya penyebutan wasiat tentu mengandung hikmah. Adapun suami atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada. Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan. Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris yang masih memiliki kaitan rahim --tidak termasuk ashhabul furudh juga 'ashabah. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yang menerima sisa harta warisan yang telah dibagikan. Hal ini tentu saja berbeda dengan utang piutang. kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang berhak menerima sisa harta waris --jika ada-. cucu dari anak laki-laki pewaris. wasiat memang lebih dahulu disebutkan daripada soal utang piutang. Derajat Ahli Waris Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan derajat dan urutan. Setelah ashhabul furudh. Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan kepada ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya. Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan. persoalan utang piutang hendaklah terlebih dahulu diselesaikan. Sebab wasiat tidak ada yang menuntut hingga kadang-kadang seseorang enggan menunaikannya. Ashhabul furudh. Yang dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun perempuan). Ashabah karena sebab. tidak pula 'ashabah. seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya. barulah ashabat nasabiyah menerima bagian. Itulah sebabnya wasiat lebih didahulukan penyebutannya dalam susunan ayat tersebut. dan lainnya). bila pewaris tidak mempunyai kerabat sebagai ashhabul furudh. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur'an. Catatan: Pada ayat waris. 6. Tetapi pada masa kini sudah tidak ada lagi. istri. Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa. istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. dan ijma'.4. para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan. Tambahan hak waris bagi suami atau istri. bibi (saudara ayah). Padahal secara syar'i. sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya. seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan. maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri. 5. ayah. Misalnya. ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan. maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh masing-masing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. Dengan demikian. B. 2. juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim. Misalnya. Maka. jika ternyata tidak ada ahli waris lainnya. Misalnya. maka istri mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya. cucu laki-laki dari anak perempuan. baru kemudian melaksanakan wasiat.

maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untuk kemaslahatan umum. 2. D. Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian. Pernikahan. 3. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. 8. B. Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan. Baitulmal (kas negara). D. atau lainnya. yakni orang yang meninggal dunia. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi. seperti kedua orang tua. Pewaris. artinya bukan salah seorang dan ahli waris. dan sebagainya. Pada bagian berikutnya butir-butir tersebut akan saya jelas secara detail. Misalnya. tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris.7. baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan. Hak waris secara pertalian rahim. yaitu kekerabatan karena sebab hukum. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya. Adapun pernikahan yang batil atau rusak. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari pihak ayah). saudara. Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat --seperti yang saya jelaskan-. yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. anak. yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara seorang laki-laki dan perempuan. bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki. dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya. Hakwaris secara fardh (yang telah ditentukan bagiannya). Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab). Bentuk-bentuk Waris A. dan seterusnya. C. yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan. Al-Wala. Yang dimaksud di sini ialah orang lain. C. Rukun Waris Rukun waris ada tiga: 1. Sebab-sebab Adanya Hak Waris Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris: 1. tanah. paman. E. 3. 20 . baik berupa uang. Ahli waris. Hak waris secara tambahan. Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris. Disebut juga wala al-'itqi dan wala an-ni'mah. 2. Harta warisan. sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya.

Mereka masing-masing mempunyai hukum bagian. Hal ini harus diketahui secara pasti. pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup. ada yang karena 'ashabah. Syarat Kedua: Masih hidupnya para ahli waris Maksudnya. misalnya suami. saudara seayah. serta ada yang tidak terhalang. Budak 21 . Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia. istri.F. sehingga hakim memvonisnya sebagai orang yang telah meninggal. tertimpa puing. G. 2. dan sebagainya. kecuali setelah ia meninggal. Akan tetapi harus dinyatakan apakah ia sebagai saudara kandung. Syarat Ketiga: Diketahuinya posisi para ahli waris Dalam hal ini posisi para ahli waris hendaklah diketahui secara pasti. termasuk jumlah bagian masing-masing. Syarat Waris Syarat-syarat waris juga ada tiga: 1.-ialah bahwa seseorang telah meninggal dan diketahui oleh seluruh ahli warisnya atau sebagian dari mereka. sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi. kerabat. Hal seperti ini oleh kalangan fuqaha digambarkan seperti orang yang sama-sama meninggal dalam suatu kecelakaan kendaraan.maka di antara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang mereka miliki ketika masih hidup. sehingga pembagi mengetahui dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris. Sebagai contoh. orang yang hilang yang keadaannya tidak diketahui lagi secara pasti. atau saudara seibu. Penggugur Hak Waris Penggugur hak waris seseorang maksudnya kondisi yang menyebabkan hak waris seseorang menjadi gugur. karena bagaimanapun keadaannya. Syarat Pertama: Meninggalnya pewaris Yang dimaksud dengan meninggalnya pewaris --baik secara hakiki ataupun secara hukum-. kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa seseorang adalah saudara sang pewaris. atau tenggelam. dalam hal ini ada tiga: 1. jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling mewarisi meninggal dalam satu peristiwa --atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu meninggal-. Sebagai contoh. mereka adalah golongan orang yang tidak dapat saling mewarisi. dalam hukum waris perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan jumlah yang diterima. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal). 3. Sebab. ada yang berhak menerima warisan karena sebagai ahlul furudh. Para fuqaha menyatakan. manusia yang masih hidup tetap dianggap mampu untuk mengendalikan seluruh harta miliknya. ada yang terhalang hingga tidak mendapatkan warisan (mahjub). atau vonis yang ditetapkan hakim terhadap seseorang yang tidak diketahui lagi keberadaannya. Misalnya. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti. Hak kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun.

a. Orang yang telah keluar dari Islam dinyatakan sebagai orang murtad. orang yang murtad berarti telah keluar dari ajaran Islam sehingga secara otomatis orang tersebut telah menjadi kafir. pendapat mazhab Hambali yang paling adil. dalam sabdanya: "Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir. Maksudnya. maka ia tidak berhak mendapatkan warisan. Baik budak itu sebagai qinnun (budak murni). atau mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya. Dalam hal ini ulama membuat kesepakatan bahwa murtad termasuk dalam kategori perbedaan agama. mazhab Hanafi menentukan bahwa pembunuhan yang dapat menggugurkan hak waris adalah semua jenis pembunuhan yang wajib membayar kafarat. Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw. Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengaku bersandar pada pendapat Mu'adz bin Jabal r. 3. Karena itu. Syafi'i.Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya. Sebab. apa pun agamanya. membayar diyat. 2. menurut mereka. tidak ada yang mengunggulinya). sekalipun hanya memberikan kesaksian palsu dalam pelaksanaan hukuman rajam. karenanya orang murtad tidak dapat mewarisi orang Islam. atau bahkan hanya membenarkan kesaksian para saksi lain dalam pelaksanaan qishash atau hukuman mati pada umumnya. di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan mengenai kerabat orang yang murtad. mudabbar (budak yang telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal). Sedangkan mazhab Maliki berpendapat. Sedangkan menurut mazhab Hanafi. atau membayar kafarat. hanya pembunuhan yang disengaja atau yang direncanakan yang dapat menggugurkan hak waris. seorang muslim dapat saja mewarisi harta kerabatnya yang murtad. Ali bin Abi Thalib. Misalnya. yakni murtad. apakah dapat mewarisinya ataukah tidak." (Bukhari dan Muslim) Jumhur ulama berpendapat demikian. Pembunuhan Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya)." Ada perbedaan di kalangan fuqaha tentang penentuan jenis pembunuhan. maka dia tidak mendapatkan bagiannya. Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak. secara langsung menjadi milik tuannya. Perbedaan Agama Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim. Menurut saya. pembunuhan dengan segala cara dan macamnya tetap menjadi penggugur hak waris." Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq. Sedangkan menurut mazhab Syafi'i. termasuk keempat imam mujtahid. Mazhab Hambali berpendapat bahwa pembunuhan yang dinyatakan sebagai penggugur hak waris adalah setiap jenis pembunuhan yang mengharuskan pelakunya diqishash. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. Alhasil. " Dari pemahaman hadits Nabi tersebut lahirlah ungkapan yang sangat masyhur di kalangan fuqaha yang sekaligus dijadikan sebagai kaidah: "Siapa yang menyegerakan agar mendapatkan sesuatu sebelum waktunya. bolehkah seorang muslim mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad? Menurut mazhab Maliki. Ibnu Mas'ud. tetapi tidak boleh mewariskan kepada orang kafir. bahwa antara muslim dan kafir tidaklah dapat saling mewarisi. Sementara itu. Bahkan kalangan ulama mazhab Hanafi sepakat mengatakan: "Seluruh harta peninggalan orang murtad diwariskan kepada kerabatnya yang muslim. dan lainnya. dan Hambali (jumhur ulama) bahwa seorang muslim tidak berhak mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad. semua jenis budak merupakan penggugur hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak mempunyai hak milik. dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim. Alasan mereka adalah bahwa Islam ya'lu walaayu'la 'alaihi (unggul. yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi orang kafir. dalam haditsnya. Sebagian ulama ada yang menambahkan satu hal lagi sebagai penggugur hak mewarisi. Wallahu a'lam. seperti ditegaskan Rasulullah saw. 22 . Selain itu tidak tergolong sebagai penggugur hak waris.: "Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta orang yang dibunuhnya. dengan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak).

Begitu juga halnya dengan saudara seayah. karena pewaris dianggap tidak memiliki anak. Sedangkan mahjub adalah hilangnya hak waris seorang ahli waris disebabkan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya atau lebih kuat kedudukannya. Maka kakek dan saudara seayah dalam hal ini disebut dengan istilah mahjub. Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat bagian seperempat harta yang ada.Menurut penulis. Karena itu. menjadi hak saudara kandung sebagai 'ashabah Dalam hal ini anak tidak mendapatkan bagian disebabkan ia sebagai ahli waris yang mahrum. dan anak --dalam hal ini. yaitu 7/8. Maka saudara kandung tidak mendapatkan warisan dikarenakan ter. Jadi. (5) saudara kandung laki-laki. (13) anak laki-laki paman seayah. ibu. H. Kemudian sisanya. saya sertakan contoh kasus dari keduanya. (6) saudara laki-laki seayah. Jika terjadi hal demikian. (15) laki-laki yang memerdekakan budak. yaitu ayah pewaris. karena harta warisan yang tidak memiliki ahli waris itu harus diserahkan kepada baitulmal. Kalau saja anak itu tidak membunuh pewaris. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki Ahli waris (yaitu orang yang berhak mendapatkan warisan) dari kaum laki-laki ada lima belas: (1) anak laki-laki. Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub Ada perbedaan yang sangat halus antara pengertian al-mahrum dan al-mahjub. ada baiknya saya jelaskan perbedaan makna antara kedua istilah tersebut. Contoh Kedua Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan ayah. anak kita misalkan sebagai pembunuh. sedangkan saudara kandung tidak mendapatkan bagian disebabkan sebagai ahli waris yang mahjub dengan adanya anak pewaris. saudara kandung. atau saudara seayah dengan adanya saudara kandung. maka kakek tidak mendapatkan bagian warisannya dikarenakan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya dengan pewaris. Sebagai contoh. Padahal pada masa sekarang tidak kita temui baitulmal yang dikelola secara rapi. adanya kakek bersamaan dengan adanya ayah. 23 . di kalangan fuqaha dikenal dengan istilah mahrum. (4) kakek (dari pihak bapak). (9) anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu. (10) paman (saudara kandung bapak).mahjub oleh adanya ahli waris yang lebih dekat dan kuat dibandingkan mereka. (11) paman (saudara bapak seayah). seperti membunuh atau berbeda agama. baik yang bertaraf nasional ataupun internasional. (7) saudara laki-laki seibu. (12) anak laki-laki dari paman (saudara kandung ayah). yaitu ayah. ia tidak memperoleh bagian disebabkan adanya saudara kandung pewaris. serta saudara kandung. Untuk lebih memperjelas gambaran tersebut. yaitu tiga per empat harta yang ada. (2) cucu laki-laki (dari anak laki-laki). pendapat ulama mazhab Hanafi lebih rajih (kuat dan tepat) dibanding yang lainnya. (8) anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki. yang terkadang membingungkan sebagian orang yang sedang mempelajari faraid. Contoh Pertama Seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri. menjadi hak sang anak sebagai 'ashabah. maka bagian istri seperdelapan. Seseorang yang tergolong ke dalam salah satu sebab dari ketiga hal yang dapat menggugurkan hak warisnya. sisa harta yang ada. (14) suami. (3) bapak.

Catatan Bagi cucu laki-laki yang disebut sebagai ahli waris di dalamnya tercakup cicit (anak dari cucu) dan seterusnya. Demikian pula yang dimaksud dengan nenek --baik ibu dari ibu maupun ibu dari bapak-. I. dan seterusnya. Catatan Cucu perempuan yang dimaksud di atas mencakup pula cicit dan seterusnya.dan seterusnya. (4) nenek (ibu dari ibu). 24 . (3) anak perempuan (dari keturunan anak laki-laki). (2) ibu. (9) istri. Begitu pula yang dimaksud dengan kakek. (10) perempuan yang memerdekakan budak. (6) saudara kandung perempuan. (8) saudara perempuan seibu. (7) saudara perempuan seayah. Ahli Waris dari Golongan Wanita Adapun ahli waris dari kaum wanita ada sepuluh: (1) anak perempuan. (5) nenek (ibu dari bapak). yang penting laki-laki dan dari keturunan anak laki-laki. yang penting perempuan dari keturunan anak laki-laki.

baik anak laki-laki maupun anak perempuan. seperdelapan (1/8). dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan. yaitu setengah (1/2). PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN JUMLAH bagian yang telah ditentukan Al-Qur'an ada enam macam. Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaituj: jika seorang meninggal dunia. Dalilnya sama saja dengan dalil bagian anak perempuan (sama dengan nomor 2). Pewaris tidak mempunyai saudara kandung perempuan. A. dengan dua syarat: a. satu dari golongan laki-laki dan empat lainnya perempuan. c. baik anak laki-laki maupun perempuan. Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tersebut sebagai cucu tunggal).. 4. Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki. b. siapa saja ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dengan bagian yang berhak ia terima. Saudara perempuan seayah akan mendapat bagian separo dari harta warisan peninggalan pewaris. mencakup anak dan anak laki-laki dari keturunan anak. anak perempuan. Sebab cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki sama kedudukannya dengan anak kandung perempuan bila anak kandung perempuan tidak ada. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek. Ia hanya seorang diri (tidak mempunyai saudara perempuan). b. dan saudara perempuan seayah.. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah Ashhabul furudh yang berhak mendapatkan separo dari harta waris peninggalan pewaris ada lima. Rinciannya seperti berikut: 1. Dalilnya adalah firman Allah berikut: "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Dalilnya sama dengan Butir 4 (an-Nisa': 176). Anak perempuan (kandung) mendapat bagian separo harta peninggalan pewaris. Kini mari kita kenali pembagiannya secara rinci. dengan tiga syarat: a. saudara kandung perempuan. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. b. d.. b. baik anak keturunan itu dari suami tersebut ataupun bukan. dua per tiga (2/3). Saudara kandung perempuan akan mendapat bagian separo harta warisan. 25 . dan seperenam (1/6).). penj. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan mendapat bagian separo. Maka firman-Nya "yushikumullahu fi auladikum". Apabila anak perempuan itu adalah anak tunggal. bila mereka (para istri) tidak mempunyai anak . dan tidak pula mempunyai keturunan. maka ia mendapat separo harta warisan yang ada". cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Kelima ashhabul furudh tersebut ialah suami. dan bagi kalian (para suami) mendapat separo dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian. Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan.. Pewaris tidak mempunyai anak laki-laki (berarti anak perempuan tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. Bila kedua persyaratan tersebut tidak ada. dan tidak pula anak. Dalilnya adalah firman Allah: ". c. Apabila ia hanya seorang diri. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak..'" (an-Nisa': 176) 5. dan hal ini telah menjadi kesepakatan ulama.III. baik keturunan laki-laki ataupun keturunan perempuan. maka anak perempuan pewaris tidak mendapat bagian setengah. c. dan hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama." (an-Nisa': 12) 2.. sepertiga (1/3). maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya . 3. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki). dengan empat syarat: a. seperempat (1/4). dengan tiga syarat: a. Dalilnya adalah firman Allah: "dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang.

Ketentuan ini terikat oleh syarat-syarat seperti berikut: 1. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya É" (an-Nisa': 12) 2. baik suami meninggalkan seorang istri ataupun empat orang istri. dan semuanya terdiri dari wanita: 1. yaitu suami dan istri. baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya ataupun dari suami lain (sebelumnya).. Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih. yakni anak laki-laki dari pewaris. Dalilnya firman Allah berikut: 26 .tentang bagian istri. sekalipun seorang suami meninggalkan istri lebih dari satu. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuh. yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-lakinya. 3. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan Dari sederetan ashhabul furudh yang berhak memperoleh bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri. wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu .. Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih.. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih. yaitu dengan digunakannya kata lahunna (dalam bentuk jamak) yang bermakna 'mereka perempuan'.. C. maka mereka tetap mendapat seperempat harta peninggalan suami mereka." (an-Nisa': 12) Ada satu hal yang patut diketahui oleh kita --khususnya para penuntut ilmu-. yaitu apabila suami tidak mempunyai anak/cucu. Hal ini berdasarkan firman Allah di atas.. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah berikut: ". bila suami mempunyai anak atau cucu. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih. Istri." (an-Nisa': 12) D. bagian mereka tetap seperempat dari harta peninggalan. Hal ini berdasarkan firman Allah berikut: ".. Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan istrinya dengan satu syarat. 2.. Yang dimaksud dengan "istri mendapat seperempat" adalah bagi seluruh istri yang dinikahi seorang suami yang meninggal tersebut.. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga Ahli waris yang berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3) dari harta peninggalan pewaris ada empat. baik seorang maupun lebih akan mendapatkan seperdelapan dari harta peninggalan suaminya. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidak mempunyai saudara laki-laki.. Rinciannya sebagai berikut: 1. 4. Dalilnya adalah firman Allah SWT: ". baik anak tersebut lahir dari rahimnya ataupun dari rahim istri lainnya. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat Adapun kerabat pewaris yang berhak mendapat seperempat (1/4) dari harta peninggalannya hanya ada dua. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak . Jadi. Jika kamu mempunyai anak. Dengan kata lain. Seorang istri akan mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan suaminya dengan satu syarat.B. baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri yang lain..

juga tidak mempunyai ayah atau kakek. Pewaris tidak mempunyai anak kandung.. hanya di sini (saudara seayah) ditambah dengan keharusan adanya saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal ." (an-Nisa': 176) 4." (an-Nisa': 176) mencakup saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah. b. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki..a.. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. --sebagaimana diungkapkan dalam bab sebelum ini. Dan dalilnya sama. b. c. Dalilnya adalah firman Allah: "..". Jadi. Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian dua per tiga (2/3). E. Wallahu a'lam. orang yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah "anak perempuan lebih dari dua" jelas tidak benar dan menyalahi ijma' para ulama.. atau saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. dengan persyaratan sebagai berikut: a. yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan) yang seibu. baik laki-laki atau perempuan. Bila pewaris tidak mempunyai anak... c. b. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu tidak mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa'ad bin ar-Rabi' r. Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai saudara laki-laki seayah.. Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw. c. maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan .. 2. Sedangkan saudara perempuan seibu tidaklah termasuk dalam pengertian ayat tersebut. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan. melainkan 'dua anak perempuan atau lebih'. 3. hal ini merupakan kesepakatan para ulama. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Persyaratan yang harus dipenuhi bagi dua saudara perempuan seayah untuk mendapatkan bagian dua per tiga hampir sama dengan persyaratan dua saudara kandung perempuan. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki maupun perempuan)." (an-Nisa': 11) Ada satu hal penting yang mesti kita ketahui agar tidak tersesat dalam memahami hukum yang ada dalam Kitabullah.. Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak perempuan lebih dari dua'. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan persyaratan sebagai berikut: a. 27 . Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan syarat sebagai berikut: a. atau kakek.. Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga dengan syarat: 1. Wallahu a'lam.. yaitu ijma' para ulama bahwa ayat ". Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga Adapun ashhabul furudh yang berhak mendapatkan warisan sepertiga bagian hanya dua. Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan. ayah. atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan bahwa makna ayat itsnataini adalah 'dua anak perempuan atau lebih'.

2. bagian saudara laki-laki dan perempuan seibu bila telah memenuhi syarat-syarat di atas ialah sepertiga. 28 . maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu . Sebab Allah SWT telah menjelaskan hukum yang berkaitan dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan sekandung dalam akhir surat an-Nisa'.. mereka harus membagi sama di antara saudara laki-laki dan perempuan seibu tanpa membedakan bahwa laki-laki harus memperoleh bagian yang lebih besar daripada perempuan.. dan jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). dua orang atau lebih. juga tidak mempunyai ayah atau kakak. Kesimpulannya. akan mendapat bagian sepertiga dengan syarat sebagai berikut: 1. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.. Adapun dalilnya adalah firman Allah: ". Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. Jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan). tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). yang dalam hal ini bagian saudara laki-laki dua kali lipat bagian saudara perempuan. maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan) É" (at-Tahrim: 4) Kemudian saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu." (an-Nisa': 12) Catatan Yang dimaksud dengan kalimat "walahu akhun au ukhtun" dalam ayat tersebut adalah 'saudara seibu'. Pembagian mereka berbeda dengan bagian para saudara laki-laki/perempuan kandung dan seayah. maka ibunya mendapat sepertiga. Karena itu seluruh ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "akhun au ukhtun" dalam ayat itu adalah saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. Sebab dalam bahasa bentuk jamak terkadang digunakan dengan makna 'dua orang'.. Dalil lain yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah firman Allah berikut: "Jika kamu berdua bertobat kepada Allah. Jumlah saudara yang seibu itu dua orang atau lebih.. dan pembagiannya sama rata baik yang laki-laki maupun perempuan. maka ibunya mendapat seperenam. Dalilnya adalah firman Allah: "... sebagaimana makna yang masyhur dalam bahasa Arab --sebagai bentuk jamak. baik saudara itu sekandung atau seayah ataupun seibu.... Juga menjelaskan hukum yang berkaitan dengan bagian saudara laki-laki dan perempuan seayah dalam ayat yang sama. Yakni. Selain itu. 2.." (an-Nisa': 11) Catatan: Lafazh ikhwatun bila digunakan dalam faraid (ilmu tentang waris) tidak berarti harus bermakna 'tiga atau lebih'." (an-Nisa': 11) Juga firman-Nya: ". lafazh ini bermakna 'dua atau lebih'. satu sebagai imam dan satu lagi sebagai makmum. Misalnya dalam istilah shalat jamaah. yang berarti sah dilakukan hanya oleh dua orang. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. ada hal lain yang perlu kita tekankan di sini yakni tentang firman "fahum syurakaa 'u fits tsulutsi" (mereka bersekutu dalam yang sepertiga). Namun.. Kata bersekutu menunjukkan kebersamaan. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki ataupun perempuan).

sebab bila ia memperoleh sepertiga dari seluruh harta yang ada maka ia akan mendapat bagian dua kali lipat bagian ayah. yakni 'umariyyatan dan al-gharawaini. ibu. maka ibunya mendapat sepertiga". Hal ini tentunya bertentangan dengan kaidah dasar faraid yang telah ditegaskan dalam Al-Qur'an dalam bagian ayat "lidzdzakari mitslu hazhzhil untsayain". dan ayah. Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Jumlah Bagian Nilai 29 . berkaitan dengan ini ada dua istilah yang muncul dan dikenal di kalangan fuqaha. setelah sebelumnya dikurangi bagian suami atau istri. saya sertakan contohnya. karena kedua istilah ini sangat masyhur. Agar lebih jelas. Istri mendapat bagian seperempat (1/4) dari seluruh harta peninggalan suaminya. ibu. ibu mendapat bagian sepertiga dari harta warisan setelah diambil hak suami pewaris. Suami mendapat bagian setengah (1/2) dari seluruh harta warisan yang ada. Kemudian ayah mendapat seluruh sisa yang ada. Dengan demikian. ibu hanya diberi sepertiga bagian dari sisa harta warisan yang ada. Dalam kasus ini. Disebut 'umariyyatan sebab kedua hal ini dilakukan oleh Umar bin Khathab dan disepakati oleh jumhur sahabat ridhwanullah 'alaihim. sedangkan ibu mendapat bagian tiga per empat dari sisa setelah diambil hak istri. Sedangkan bagian ayah adalah sisa harta yang ada sebagai 'ashabah. Akan tetapi. Sedangkan al-gharawaini bermakna 'dua bintang cemerlang'. Ibu mendapat sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil bagian suami. Contoh Kedua Seorang suami meninggal dunia dan ia meninggalkan istri. dan ayah. Karenanya untuk tetap menegakkan kaidah dasar tersebut. Contoh Pertama Seorang istri wafat dan meninggalkan suami. Untuk lebih jelas lagi saya berikan tabelnya: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Suami Ibu Ayah 1/2 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian suami Seluruh sisa peninggalan sebagai 'ashabah Jumlah Bagian Nilai 3 1 2 Dalam contoh kasus ini ibu mendapatkan bagian sepertiga dari sisa setelah diambil bagian suami pewaris.Masalah 'Umariyyatan Pada asalnya. seorang ibu akan mendapat bagian sepertiga dari seluruh harta peninggalan pewaris bila ia mewarisi secara bersamaan dengan bapak --seperti telah saya jelaskan--.berdasarkan pemahaman bagian ayat (artinya) "jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). hak ayah menjadi dua kali lipat dari bagian yang diterima ibu.

Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam Adapun asbhabul furudh yang berhak mendapat bagian seperenam (1/6) ada tujuh orang. (5) saudara perempuan seayah. Bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki keturunan anak laki-laki.a. Bahkan Ibnu Abbas menyanggah pendapat Zaid bin Tsabit: "Apakah memang ada di dalam Al-Qur'an istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri?" Zaid menanggapinya dengan mengatakan: "Di dalam Kitabullah juga tidak disebutkan bahwa bagian ibu sepertiga dari seluruh harta peninggalan yang ada bila ibu bersama-sama mewarisi dengan salah satu suami atau istri. Masalah 'umariyyatan ini pernah terjadi pada masa sahabat. baik sekandung. 3." (an-Nisa': 11) 2. (4) cucu perempuan keturunan anak laki-laki. (7) saudara laki-laki dan perempuan seibu. Jadi. Sebab yang disebutkan di dalam Al-Qur'an hanya "wawaritsahu abawahu". yang kemudian diambil oleh jumhur ulama serta dikokohkan oleh Umar bin Khathab dengan menyatakan bahwa bagian ibu adalah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri. kecuali dalam tiga keadaan yang akan saya rinci dalam bab tersendiri. (6) nenek asli. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Pendapat pertama dintarakan oleh Zaid bin Tsabit r..a. Dalilnya firman Allah (artinya): "jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. seayah.Istri Ibu Ayah 1/4 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian istri Mendapat bagian seluruh sisa peninggalan yang ada sebagai 'ashabah 1 1 2 Dari kedua contoh tersebut tampak oleh kita bahwa pada hakikatnya bagian ibu pada tabel pertama adalah seperenam (1/6). (3) ibu. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang terkenal.. Menurutnya. (2) kakek asli (bapak dari ayah). Ibu akan memperoleh seperenam (1/6) bagian dari harta yang ditinggalkan pewaris. Dan untuk dua orang ibu bapak. b. baik saudara laki-laki ataupun perempuan. jika yang meninggal itu mempunyai anak . Wallahu a'lam. apa yang dipahami Zaid dan dipilih oleh jumhur ulama serta ditetapkan oleh Umar bin Khathab itulah pendapat yang sahih. Bila pewaris mempunyai dua orang saudara atau lebih.. Dalilnya firman Allah (artinya): ".. Seorang kakek (bapak dari ayah) akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki dari keturunan anak --dengan syarat ayah pewaris tidak ada. 1. Mereka adalah (1) ayah.. baik anak laki-laki atau anak perempuan. dengan dua syarat: a. 30 . maka ibunya mendapat seperenam É" (an-Nisa': 11). menurut hemat saya. dalam keadaan demikian salah seorang kakek akan menduduki kedudukan seorang ayah. tepatnya masa Umar bin Khathab r. Adapun penyebutannya dengan istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri adalah karena menyesuaikan adab qur'ani. F. Sedangkan pendapat yang kedua diutarakan oleh Ibnu Abbas r. ibu tetap mendapat bagian sepertiga (1/3) dari seluruh harta yang ditinggalkan suami atau istri (anaknya). Jadi..a. sedangkan pada tabel kedua adalah seperempat (1/4). Seorang ayah akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak. ataupun seibu.

Dalam keadaan demikian. Maka Ibnu Mas'ud berkata: "Aku akan memutuskan seperti apa yang pernah diputuskan Rasulullah saw.. Saudara laki-laki atau perempuan seibu akan mendapat bagian masing-masing seperenam (1/6) bila mewarisi sendirian. anak perempuan tersebut mendapat bagian setengah (1/2). dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris mendapat seperenam (1/6). Nenek asli mendapatkan bagian seperenam (1/6) ketika pewaris tidak lagi mempunyai ibu. dan sekaligus menjadi penggugur (penghalang) hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris." Catatan Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian seperenam (1/6) dengan syarat bila pewaris tidak mempunyai anak laki-laki. ditanya tentang masalah warisan seseorang yang meninggalkan seorang anak perempuan. maka anak tersebut menjadi penggugur hak sang cucu. dan bagi cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai pelengkap 2/3. sang penanya kembali menemui Abu Musa al-Asy'ari dan memberi tahu permasalahannya.4. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta". Sebab bila ada anak laki-laki. cucu perempuan dari keturunan anak laki-lakinya. Sebab jika lebih dari satu orang. pewaris juga tidak mempunyai anak perempuan lebih dari satu orang. dan sisanya menjadi bagian saudara perempuan pewaris. 6. yang jelas seperenam itu dibagikan secara rata kepada mereka. sang penanya pergi mendatangi Ibnu Mas'ud. 31 . Sebab ketika saudara perempuan kandung memperoleh setengah (1/2) bagian. Jadi. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). dan yang setengah sisanya menjadi bagian saudara perempuan." Merasa kurang puas dengan jawaban Abu Musa. Abu Musa kemudian menjawab: "Bagi anak perempuan mendapat bagian separo (1/2). Selain itu. sebagai pelengkap dua per tiga (2/3). bila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan seayah atau lebih. 7. maka tidak ada sisa kecuali seperenam (1/6) yang memang merupakan hak saudara perempuan seayah. Dan persyaratannya adalah bila pewaris tidak mempunyai pokok (yakni kakek) dan tidak pula cabang (yakni anak. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya bahwa Abu Musa al-Asy'ari r. Hal ini hukumnya sama denga keadaan jika cucu perempuan keturunan anak laki-laki bersamaan dengan adanya anak perempuan. apabila pewaris mempunyai seorang saudara kandung perempuan. Dalilnya adalah firman Allah (artinya) "jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. baik laki-laki atau perempuan). Kemudian Abu Musa berkata: "Janganlah sekali-kali kalian menanyaiku selama sang alim ada di tengah-tengah kalian. bagi anak perempuan separo (1/2) harta peninggalan pewaris. dan saudara perempuan. Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). Hal ini berlandaskan pada apa yang telah ditetapkan di dalam hadits sahih dan ijma' seluruh sahabat." Mendengar jawaban Ibnu Mas'ud. anak-anak perempuan itu berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3). apabila yang meninggal (pewaris) mempunyai satu anak perempuan. Ketentuan demikian baik nenek itu hanya satu ataupun lebih (dari jalur ayah maupun ibu).a. maka saudara perempuan seayah mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna dari dua per tiga (2/3). 5. Saudara perempuan seayah satu orang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6).

a.Ashhabus Sunan meriwayatkan bahwa seorang nenek datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r. memberikan hak seorang nenek seperenam (1/6). Abu Bakar menjawab: "Saya tidak mendapati hakmu dalam Al-Qur'an maka pulanglah dulu. Wallahu a'lam. dan tunggulah hingga aku menanyakannya kepada para sahabat Rasulullah saw. 32 ." Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengatakan kepada Abu Bakar: "Suatu ketika aku pernah menjumpai Rasulullah saw. untuk menuntut hak warisnya." Mendengar pernyataan al-Mughirah itu Abu Bakar kemudian memanggil nenek tadi dan memberinya seperenam (1/6).

Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah (artinya): "dan untuk dua orang ibu bapak.IV. Demikian juga di dalam Al-Qur'an. Dalil Hak Waris Para 'Ashabah Dalil yang menyatakan bahwa para 'ashabah berhak mendapatkan waris kita dapati di dalam Al-Qur'an dan AsSunnah. ayat tersebut tidak menjelaskan berapa bagian ayah.: 33 . sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. makna kalimat "wahuwa yaritsuha" memberi isyarat bahwa seluruh harta peninggalan menjadi haknya. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. Sedangkan pengertian 'ashabah menurut istilah para fuqaha ialah ahli waris yang tidak disebutkan banyaknya bagian di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan tegas. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Dari sini dapat kita pahami bahwa sisa setelah diambil bagian ibu. kata ini sering kali digunakan. anak laki-laki. sedang kami golongan (yang kuat). jika yang meninggal itu mempunyai anak. Sebagai contoh. Dalam kalimat bahasa Arab banyak digunakan kata 'ushbah sebagai ungkapan bagi kelompok yang kuat. A. Pada ayat ini tidak disebutkan bagian saudara kandung. jika ia tidak mempunyai anak. Dalil Al-Qur'an yang lainnya ialah (artinya) "jika seorang meninggal dunia. Inilah makna 'ashabah. Tetapi bila pewaris tidak mempunyai anak. ia juga menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing.menguatkan dan melindungi. Inilah pengertian 'ashabah dari segi bahasa. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. yang disebutkan justru saudara kandung akan menguasai (mendapatkan bagian) seluruh harta peninggalan yang ada bila ternyata pewaris tidak mempunyai keturunan. di antaranya dalam firman Allah berikut: "Mereka berkata: 'Jika ia benar-benar dimakan serigala. maka ibu mendapat bagian sepertiga (1/3). dan paman (saudara kandung ayah). dua per tiganya (2/3) menjadi hak ayah. Ayat tersebut juga telah menegaskan bahwa bila pewaris tidak mempunyai anak. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Pengertian 'ashabah yang sangat masyhur di kalangan ulama faraid ialah orang yang menguasai harta waris karena ia menjadi ahli waris tunggal. Selain itu." (an-Nisa': 176). maka seluruh harta peninggalannya menjadi milik kedua orang tua. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). Kemudian. Dengan demikian. Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan berasal dari pihak ayah. DEFINISI 'ASHABAH KATA 'ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak bapak. Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah apa yang disabdakan Rasulullah saw.'" (Yusuf: 14) Maka jika dalam faraid kerabat diistilahkan dengan 'ashabah hal ini disebabkan mereka melindungi dan menguatkan. Namun. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. maka ibunya mendapat sepertiga" (an-Nisa': 11). Namun. penerimaan ayah disebabkan ia sebagai 'ashabah. Disebut demikian. Dalam ayat ini disebutkan bahwa bagian kedua orang tua (ibu dan bapak) masing-masing mendapatkan seperenam (1/6) apabila pewaris mempunyai keturunan. dikarenakan mereka --yakni kerabat bapak-.

Arah bapak. 3. Inilah rahasia makna sabda Rasulullah saw. hendaklah diberikan kepada orang laki-laki yang paling utama dari 'ashabah. Arah ini hanya terbatas pada saudara kandung laki-laki dan yang seayah. anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki. Arah saudara laki-laki. Ada satu keistimewaan dalam hadits ini menyangkut kata yang digunakan Rasulullah dengan menyebut "dzakar" setelah kata "rajul". anak laki-laki keturunan saudara laki-laki seayah. mencakup paman (saudara laki-laki ayah) kandung maupun yang seayah. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari salah paham. termasuk keturunan mereka. namun hanya yang lakilaki. Arah paman. 2. Macam-macam 'Ashabah 'Ashabah terbagi dua yaitu: 'ashabah nasabiyah (karena nasab) dan 'ashabah sababiyah (karena sebab). Arah anak. yaitu: 1. 4. dan seterusnya. apabila lafazh 'ashabah disebutkan tanpa diikuti kata lainnya (tanpa dibarengi bil ghair atau ma'al ghair). Maka jika masih tersisa. cicit. Jenis 'ashabah yang kedua ini disebabkan memerdekakan budak. mencakup ayah. misalnya ayah dari bapak. sedangkan kata "rajul" jelas menunjukkan makna seorang laki-laki. (2) 'ashabah bil ghair (menjadi 'ashabah karena yang lain). yang pasti hanya dari pihak laki-laki. kakek. 'Ashabah bin nafs 'Ashabah bin nafs. dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama. seorang tuan (pemilik budak) dapat menjadi ahli waris bekas budak yang dimerdekakannya apabila budak tersebut tidak mempunyai keturunan. bayi laki-laki pun berhak mendapatkan warisan sebagai 'ashabah dan menguasai seluruh harta warisan yang ada jika dia sendirian. Sebab. ayah dari kakak. Oleh sebab itu. jangan sampai menafsirkan kata ini hanya untuk orang dewasa dan cukup umur. yaitu laki-laki yang nasabnya kepada pewaris tidak tercampuri kaum wanita. mencakup seluruh laki-laki keturunan anak laki-laki mulai cucu. dan seterusnya. " (HR Bukhari) Hadits ini menunjukkan perintah Rasulullah saw. maka yang dimaksud adalah 'ashabah bin nafs. saudara laki-laki seayah. dan seterusnya. dan seterusnya. mencakup saudara kandung laki-laki. B. mempunyai empat arah. Sedangkan 'ashabah nasabiyah terbagi tiga yaitu: (1) 'ashabah bin nafs (nasabnya tidak tercampur unsur wanita). dan (3) 'ashabah ma'al ghair (menjadi 'ashabah bersamasama dengan yang lain). 34 . dan seterusnya. dalam hal penggunaan kata "dzakar". Catatan Dalam dunia faraid. Adapun saudara laki-laki yang seibu tidak termasuk 'ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul furudh. agar memberikan hak waris kepada ahlinya. termasuk keturunan mereka."Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada yang berhak.

Contoh lain. saudara kandung perempuan. Dan bila setelah dibagikan kepada ashhabul furudh ternyata tidak ada sisanya. maka saudara seayahlah yang mendapat warisan. dan arah ayah lebih kuat daripada arah saudara. Dalam keadaan demikian. seseorang wafat dan meninggalkan anak serta cucu keturunan anak lakilaki. sedangkan cucu tidak mendapatkan bagian apa pun. Dalam hal ini hak warisnya secara 'ashabah diberikan kepada anak. Adapun bila para 'ashabah bin nafs lebih dari satu orang. saudara perempuan mendapat bagian setengah (1/2). Bila salah satunya secara tunggal (sendirian) menjadi ahli waris seorang yang meninggal dunia. maka cara pentarjihannya (pengunggulannya) sebagai berikut: Pertama: Pertarjihan dari Segi Arah Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa 'ashabah bin nafsih. Sang suami mendapat bagian setengah (1/2). Arah anak lebih didahulukan (lebih kuat) daripada arah ayah. saudara laki-laki seayah. maka sebagai 'ashabah mendapat sisa harta setelah dibagikan kepada ashhabul furudh. maka pentarjihannya dengan melihat derajat mereka. kemudian mereka pun dalam satu arah. Hukum 'Ashabah bin nafs Telah saya jelaskan bahwa 'ashabah bi nafsihi mempunyai empat arah. saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan waris dikarenakan arahnya lebih jauh. Arah anak lebih didahulukan dibandingkan yang lain. Rinciannya. atau akan menerima sisa harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh bagian masing-masing. Kedua: Pentarjihan secara Derajat Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa orang 'ashabah bi nafsihi. Sebab. anak lebih dekat kepada pewaris dibandingkan cucu laki-laki.Keempat arah 'ashabah bin nafs tersebut kekuatannya sesuai urutan di atas. Sementara itu. Sebab ia lebih dekat kedudukannya dari pada anak saudara kandung. seorang istri wafat dan meninggalkan suami. Pengecualiannya. maka pengunggulannya dilihat dari segi arah. Sedangkan ayah termasuk ashhabul furudh dikarenakan mewarisi bersama-sama dengan anak laki-laki. maka ia berhak mengambil seluruh warisan yang ada. Sebagai misal. bila seseorang wafat dan meninggalkan saudara laki-laki seayah dan anak dari saudara kandung. maka para 'ashabah pun tidak mendapat bagian. seseorang wafat dan meninggalkan anak laki-laki. Sebab arah anak lebih didahulukan daripada arah yang lain. dan derajat kekuatan hak warisnya sesuai urutannya. Sebagai misal. yang menjadi 'ashabah adalah anak laki-laki. Misalnya. Sebab cucu akan menduduki posisi anak bila anak tidak ada. ayah. Saudara seayah tidak mendapat bagian disebabkan ashhabul furudh telah menghabiskannya. dan saudara kandung. Apabila anak tidak ada. bila antara saudara kandung laki-laki maupun saudara laki-laki seayah berhadapan dengan kakak. maka cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya. Namun bila ternyata pewaris mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh. Keadaan seperti ini disebut pentarjihan menurut derajat kedekatannya dengan pewaris. 35 . siapakah di antara mereka yang paling dekat derajatnya kepada pewaris. insya Allah akan saya paparkan pada bab tersendiri. Anak akan mengambil seluruh harta peninggalan yang ada.

Dalam ayat tersebut Allah SWT menjadikan ayah sebagai ashhabul furudh bila pewaris mempunyai anak. Maka sangat tepat apa yang disabdakan Rasulullah saw.karena sangat khawatir terhadap masa depan anaknya. tidak sedikit orang tua yang bersikap bakhil. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa garis anak lebih didahulukan daripada garis bapak. Sedangkan secara aqli. keduanya memiliki posisi sederajat dari segi kedekatan nasab pada seseorang. sedangkan dari kalangan wanita hanyalah wanita pemerdeka budak.Ketiga: Pentarjihan Menurut Kuatnya Kekerabatan Bila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat banyak 'ashabah bi nafsihi yang sama dalam arah dan derajatnya. Makna hadits tersebut sangat jelas bahwa orang tua menjadi kikir --bahkan pengecut-. demi kepentingan masa depan anaknya. Sebagai contoh. maka pentarjihannya dengan melihat manakah di antara mereka yang paling kuat kekerabatannya dengan pewaris. bila budak yang dibebaskannya tidak mempunyai keturunan (kerabat). saudara kandung lebih kuat daripada seayah. ada dua landasan mengapa garis anak lebih didahulukan. bahwa kaidah tersebut hanya dipakai untuk selain dua arah. baik dalam hal keselamatannya maupun kehidupan masa depannya. ayah sebagai pokok dan anak merupakan cabang. setelah masing-masing dari ashhabul furudh telah mendapatkan bagiannya. Artinya. Namun demikian. sedangkan bagian anak tidak disebutkan. Jika demikian berarti wanita tersebut sebagai 'ashabah bi nafsihi. sedangkan yang kedua berupa dalil aqli. Catatan Perlu untuk digarisbawahi dalam hal pentarjihan dari segi kuatnya kekerabatan di sini. Inilah alasan bahwa hati seseorang cenderung lebih dekat kepada anaknya dibandingkan kepada ayahnya. Tidak sedikit orang tua yang menjadi pengecut hanya disebabkan menjaga kemaslahatan keturunannya pada hari depannya. orang tua berusaha bekerja keras untuk memperoleh harta dan berhemat dalam membelanjakannya. Karena itu mereka tidak segan-segan menimbun harta dan kekayaan demi menyenangkan keturunan pada masa mendatang. Bahkan. jika yang meninggal itu mempunyai anak. Oleh sebab itu. Catatan Satu hal yang mesti kita ketahui bahwa 'ashabah bi nafsihi harus dari kalangan laki-laki. mereka takut berhadapan dengan musuh atau siapa pun yang mengganggu kemudahan jalan rezekinya. Dengan demikian. Landasan pertama berupa dalil AlQur'an. semuanya demi kesejahteraan keturunannya. Berdasarkan posisi ini sebaiknya garis anak tidak didahulukan daripada garis ayah. dan seterusnya. Firman-Nya (artinya) "dan untuk dua orang ibu-bapak. jelaslah bahwa anak akan mendapatkan seluruh sisa harta peninggalan pewaris." (an-Nisa: 11). Wallahu a'lam. paman kandung lebih kuat daripada paman seayah. anak dari saudara kandung lebih kuat daripada anak dari saudara seayah. yakni arah anak dan arah bapak. manusia pada umumnya merasa khawatir terhadap anak (keturunannya). pentarjihan menurut kuatnya kekerabatan hanya digunakan untuk arah saudara dan arah paman. Sebab. sangat kikir dalam membelanjakan hartanya. Dengan demikian. dalam sebuah haditsnya "al-waladu mabkhalah majbanah" (anak dapat membuat seseorang berlaku bakhil dan pengecut). 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya 'Ashabah bi ghairihi hanya terbatas pada empat orang ahli waris yang kesemuanya wanita: 36 . bagi masingmasingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? Satu pertanyaan yang sangat wajar dan mesti diketahui jawaban serta hikmah di dalamnya.

Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "ikhwatan" dalam ayat tersebut adalah saudara laki-laki dan saudara kandung perempuan dan yang seayah. maka tidak akan menjadi 'ashabah bi ghairih. dikarenakan anak laki-laki tidak sederajat dengan cucu perempuan. anak perempuan saudara laki-laki bukanlah termasuk ashhabul furudh. tidaklah dapat menguatkan saudara kandung perempuan disebabkan tidak sederajat. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara laki-lakinya. hak waris mereka pun antara laki-laki dan perempuan-. Dan juga berlandaskan firman-Nya (artinya): "dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. Begitu juga anak laki-laki keturunan saudara laki-laki. Mereka berpendapat bahwa kata ikhwatan tidak mencakup saudara laki-laki atau perempuan yang seibu. Sebab saudara kandung perempuan lebih kuat kekerabatannya daripada saudara laki-laki seayah. bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Kaidah ini hanya berlaku bagi keempat ahli waris dari kalangan wanita yang saya sebutkan (yakni anak perempuan. akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki). 3. Catatan Setiap perempuan ahli waris berhak mendapat bagian setengah (1/2) jika sendirian. dan saudara perempuan seayah).1. bahkan ia berfungsi sebagai pen-tahjib (penghalang) hak waris cucu. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dan pembagiannya. 2. saudara kandung perempuan. Saudara perempuan seayah akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya. Ketiga: laki-laki yang menjadi penguat harus sama kuat dengan ahli waris perempuan shahibul fardh. saudara laki-laki seayah tidak dapat men-ta'shih saudara kandung perempuan. Kedua: laki-laki yang menjadi 'ashabah (penguat) harus yang sederajat. anak perempuan dari saudara laki-laki tidak dapat menjadi 'ashabah bi ghairih dengan adanya saudara kandung laki-laki dalam deretan ahli waris.sama rata. baik sederajat dengannya atau bahkan lebih di bawahnya. Misalnya. Anak perempuan. 37 . Sebab dalam keadaan demikian. Bila wanita tersebut bukan dari ashhabul furudh. atau anak laki-laki pamannya (yakni cucu laki-laki keturunan anak laki-laki). dan akan menjadi 'ashabah bila mempunyai saudara laki-laki. anak laki-laki tidak dapat menjadi pen-ta'shih (penguat) cucu perempuan. berdasarkan firman-Nya (artinya): "maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu" (an-Nisa': 12). 4. Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Dalil bagi hak waris para 'ashabah bi ghairih adalah firman Allah (artinya): "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan" (an-Nisa': 11). ia berhak mendapatkan bagian dua per tiga (2/3) bila menerima bersama saudara perempuannya. disebabkan hak waris mereka berdasarkan fardh (termasuk ashhabul furudh) bukan sebagai 'ashabah. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan" (an-Nisa': 176). Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah bi Ghairihi tidak akan terwujud kecuali dengan beberapa persyaratan berikut: Pertama: haruslah wanita yang tergolong ashhabul furudh. Saudara kandung perempuan akan menjadi 'ashabah bila bersama saudara kandung laki-laki. Misalnya. Selain itu. Sebagai contoh.

. saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan --atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki dan seterusnya-. Abu Musa menjawab: "Bagian anak perempuan separo." Dari penjelasan Ibnu Mas'ud dapat disimpulkan bahwa hak saudara perempuan bila mewarisi bersama-sama dengan anak perempuan mengambil sisa harta pembagian yang ada. Kemudian." Penanya itu lalu pergi menanyakannya kepada Ibnu Mas'ud r. Sebab bila kita berikan hak waris saudara perempuan secara fardh. Jenis 'ashabah ini di kalangan ulama dikenal dengan istilah 'ashabah ma'al ghair.. di segi lain tidaklah mungkin hak saudara perempuan itu digugurkan. Satu hal yang perlu diketahui dalam masalah ini. bagian anak perempuan setengah (1/2) dan bagian cucu perempuan keturunan anak lakilaki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3)." Dalil 'Ashabah ma'al Ghair Yang menjadi landasan bagi hak waris 'ashabah ma'al ghair adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya. seperti yang ditegaskan dalam kitab Hasyiyatul Bajuri (hlm." Penanya itu pun kembali kepada Abu Musa al-Asy'ari dan menceritakan apa yang telah diputuskan Ibnu Mas'ud. sedangkan bagian anak perempuan tidak terkena pengurangan. 'Ashabah ma'al Ghair 'Ashabah ma'al Ghair ini khusus bagi para saudara kandung perempuan maupun saudara perempuan seayah apabila mewarisi bersamaan dengan anak perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki. bahwa Abu Musa al-Asy'ari ditanya tentang hak waris anak perempuan. Catatan Sangat penting untuk diketahui bersama bahwa bila seorang saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah ma'al ghair. Hal ini berarti saudara kandung perempuan atau saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. maka keempat wanita tersebut mendapat hak warisnya secara fardh. Lalu Abu Musa berkata: "Janganlah kalian menanyakannya kepadaku selama sang alim (Ibnu Mas'ud) berada bersama kalian. maka akan naiklah pokok pembagiannya dan hak bagian anak perempuan akan berkurang.a. Bila para 'ashabah bi nafsihi itu tidak ada. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dan dijawab: "Aku akan memvonis seperti apa yang diajarkan Rasulullah saw. karena itu dijadikanlah saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah agar terkena pengurangan. seperti saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah mereka. sedangkan sisanya menjadi hak saudara perempuan kandung atau seayah.akan menjadi 'ashabah.Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi Adapun sebab penamaan 'ashabah bi ghairihi adalah karena hak 'ashabah keempat wanita itu bukanlah karena kedekatan kekerabatan mereka dengan pewaris. 108): "Adapun saudara perempuan (kandung dan seayah) menjadi 'ashabah jika berbarengan dengan anak perempuan adalah agar bagian saudara perempuan terkena pengurangan. akan tetapi karena adanya 'ashabah lain ('ashabah bi nafsihi). 38 . dan saudara perempuan (sekandung atau seayah). maka ia menjadi seperti saudara kandung laki-laki sehingga dapat menghalangi hak waris saudara seayah. dan bagian saudara perempuan separo. Jadi.

apabila menjadi 'ashabah ma'al ghair ketika mewarisi bersama anak perempuan pewaris. Maka pembagiannya seperti dalam tabel berikut: Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Suami Cucu perempuan Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/4 1/2 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 1 2 1 0 39 . dua orang saudara kandung perempuan. seperti anak keturunan saudara (keponakan). dan saudara laki-laki seayah. yang kekuatannya seperti saudara kandung laki-laki. dan saudara laki-laki seayah. maka pembagiannya adalah sebagai berikut: Pokok masalahnya dari 2 Keterangan Anak perempuan Saudara kandung perempuan'ashabah ma'al ghair Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/2 1/2 gugur Nilai 1 1 0 Keterangan Bagian anak perempuan adalah setengah secara fardh. cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Begitu juga saudara perempuan seayah. saudara perempuan. Untuk lebih menjelaskan masalah tersebut saya sertakan contoh seperti berikut: Contoh Pertama Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan anak perempuan. dapat pula menggugurkan hak waris yang di bawah mereka. paman kandung ataupun yang seayah. Selain itu. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung perempuan disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. Sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah.baik yang laki-laki maupun yang perempuan. maka kekuatannya sama seperti saudara laki-laki seayah hingga menjadi penggugur keturunan saudaranya dan seterusnya. Contoh Kedua Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami.

Keterangan Suami memperoleh seperempat bagian karena pewaris mempunyai cabang ahli warisnya. Sedangkan anak saudara laki-laki ter-mahjub oleh saudara perempuan seayah. Sedangkan bagian saudara laki-laki seayah gugur karena adanya dua saudara kandung. saudara perempuan seayah. dan paman kandung (saudara dari ayah kandung). kemudian sisanya yaitu seperempat-menjadi hak dua saudara kandung perempuan pewaris sebagai 'ashabah ma'al ghair. saudara perempuan seayah. Sedangkan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian setengah secara fardh. Contoh Keempat Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak perempuan. Sedangkan sisanya untuk 40 Jumlah Bagian 1/2 1/6 1/6 'ashabah ma'al ghair Nilai 3 1 1 1 . dan anak laki-laki saudara laki-laki (kemenakan). cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Contoh Ketiga Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak perempuan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam bagian sebagai penyempurna dua per tiga. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 3 Keterangan Dua anak perempuan Saudara perempuan seayah Anak saudara laki-laki Jumlah Bagian 2/3 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 2 1 0 Keterangan Dua orang anak perempuan mendapatkan dua per tiga dan sisanya untuk saudara perempuan seayah disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. seorang ibu. dan ibu mendapatkan seperenam. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Anak perempuan Cucu perempuan Ibu Saudara perempuan seayah Keterangan Anak perempuan mendapat bagian setengah sebagai fardh.

dan dalam hal ini mereka mendapatkan bagian sisa seluruh harta peninggalan sesudah ashhabul furudh mengambil bagian masing-masing. suami setengah (1/2) sebagai fardh-nya. atau satu dari arah fardh dan yang kedua dari arah karena rahim. saudara laki-laki seibu. Sedangkan dalam 'ashabah ma'al ghair tidak terdapat sosok 'ashabah bi nafsih. Sedangkan 'ashabah ma'al ghair tidaklah demikian. karena kekuatannya seperti saudara laki-laki seayah sehingga ia menggugurkan paman kandung. Jadi. Maka pembagiannya sebagai berikut: Untuk nenek seperenam (1/6). misalnya ia sebagai ashhabul furudh dan juga sebagai 'ashabah. Seorang saudara perempuan sekandung atau seayah tidak menerima bagian seperti bagian anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. dan tentu saja hal ini memerlukan jawaban. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair Dari uraian sebelumnya dapat kita ketahui bahwa 'ashabah bil ghair adalah setiap wanita ahli waris yang termasuk ashhabul furudh. anak perempuan atau cucu perempuan keturunan anak lakilaki mendapat bagian secara fardh. Bahkan anak perempuan pewaris menjadi penggugur hak saudara (laki-laki/perempuan) seibu sehingga tidak dapat menjadi 'ashabah. Agar persoalan ini lebih jelas. anak perempuan menjadi 'ashabah bila bersama saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki pewaris). 41 . Akan tetapi. seperti anak laki-laki. saya sertakan contoh: Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang nenek. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). pada 'ashabah bil ghair para 'ashabah bi nafsih menggandeng kaum wanita ashhabul furudh menjadi 'ashabah dan menggugurkan hak fardh-nya. Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? Kita mungkin sering mendengar pertanyaan seperti itu. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Maka dapat ditegaskan bahwa seseorang bisa saja mendapatkan warisan dari dua arah yang berlainan. dan seorang suami. secara ringkas. kemudian saudara perempuan sekandung atau seayah mendapatkan sisanya.saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. dan sisanya untuk suami sebagai 'ashabah karena ia anak paman kandung. yang juga merupakan anak paman kandung pewaris. pada 'ashabah bil ghair selalu ada sosok 'ashabah bi nafsih. Adapun 'ashabah ma'al ghair adalah para saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan. Inilah perbedaan keduanya. Tampak semakin jelas perbedaan antara dua macam 'ashabah itu. dan akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara laki-lakinya. Maka pembagiannya seperti berikut: sang istri mendapat bagian seperempat sebagai fardh-nya karena adanya ikatan perkawinan. dan hak lainnya ialah ikut mendapat bagian sisa yang ada karena ikatan rahim. Saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah menjadi 'ashabah bil ghair dengan adanya saudara kandung lakilaki ataupun saudara laki-laki seayah. Catatan Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu tidak berhak menjadi ahli waris bila pewaris mempunyai anak perempuan. Begitulah seterusnya. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. Dalam hal ini bagi yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. Contoh lain: seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan dua anak perempuan. Misalnya. C. bibi (saudara ibu) yang salah satunya menjadi istrinya.

42 .

terhalangnya hak waris seorang kakek karena adanya ayah. B. Adapun pengertian al-hujub menurut kalangan ulama faraid adalah menggugurkan hak ahli waris untuk menerima waris. sang istri dari seperempat menjadi seperdelapan karena pewaris mempunyai anak. bentuk isim fa'il (subjek) untuk kata hajaba adalah hajib dan bentuk isim maf'ul (objek) ialah mahjub. baik secara keseluruhannya atau sebagian saja disebabkan adanya orang yang lebih berhak untuk menerimanya. Macam-macam al-Hujub Al-hujub terbagi dua. PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A. misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad. terhalangnya hak waris saudara seayah karena adanya saudara kandung. Hujub hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang. dan al-mahjub berarti orang yang terhalang mendapatkan warisan. terhalangnya hak waris cucu karena adanya anak.V. dalam dunia faraid apabila kata al-hujub disebutkan tanpa diikuti kata lainnya. Adapun hujub nuqshan (pengurangan hak) yaitu penghalangan terhadap hak waris seseorang untuk mendapatkan bagian yang terbanyak. Maka makna al-hajib menurut istilah ialah orang yang menghalangi orang lain untuk mendapatkan warisan. 43 . Jadi. Al-hujub bi asy-syakhshi terbagi dua: hujub hirman dan hujub nuqshan. dalam bahasa Arab juga kita kenal kata hajib yang bermakna 'tukang atau penjaga pintu'. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman: "Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka" (alMuthaffifin: 15) Yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum kuffar yang benar-benar akan terhalang. Al-hujub bil washfi berarti orang yang terkena hujub tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan. Satu hal yang perlu diketahui di sini. Selain itu. dan seterusnya. disebabkan ia menghalangi orang untuk memasuki tempat tertentu tanpa izin guna menemui para penguasa atau pemimpin. Definisi al-Hujub Al-hujub dalam bahasa Arab bermakna 'penghalang' atau 'penggugur'. tidak dapat melihat Tuhan mereka di hari kiamat nanti. dan al-hujub bi asy-syakhshi (karena orang lain). maka yang dimaksud adalah hujub hirman. Hak waris mereka menjadi gugur atau terhalang. dan seterusnya. Ini merupakan hal mutlak dan tidak akan dipakai dalam pengertian hujub nuqshan. Misalnya. yakni al-hujub bil washfi (sifat/julukan). penghalangan terhadap hak waris ibu yang seharusnya mendapatkan sepertiga menjadi seperenam disebabkan pewaris mempunyai keturunan (anak). terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu. Sedangkan al-hujub bi asy-syakhshi yaitu gugurnya hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. Demikian juga seperti penghalangan bagian seorang suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi seperempat. Misalnya.

dan keturunan laki-laki (anak. juga terhalangi oleh adanya sosok yang menghalangi keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seayah. dan juga oleh sosok yang menghalangi paman seayah. 7. 10. cicit. Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu akan terhalangi oleh pokok (ayah. 2. anak lakilaki. cucu kandung laki-laki. serta oleh saudara laki-laki seayah. maka semuanya harus mendapatkan warisan. 4. Saudara kandung laki-laki akan terhalang oleh adanya ayah. Paman kandung (saudara laki-laki ayah) akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki dari saudara laki-laki. Kakek (bapak dari ayah) akan terhalang oleh adanya ayah. dan juga dengan adanya paman kandung. cucu. kakek. 5. Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap mendapatkan hak waris. Sedangkan lima ahli waris dari kelompok wanita adalah: 44 . ditambah dengan adanya keponakan (anak lakilaki dari keturunan saudara kandung laki-laki). anak kandung perempuan. Cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. cucu. dan terhalang dengan adanya ayah serta keturunan laki-laki (anak. Sepupu kandung laki-laki (anak paman kandung) akan terhalangi oleh adanya paman seayah. ayah. suami. dan seterusnya) baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Keenam orang tersebut adalah anak kandung laki-laki. cucu. Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman Sederetan ahli waris yang dapat terkena hujub hirman ada enam belas. Saudara laki-laki seayah akan terhalang dengan adanya saudara kandung laki-laki. 11.Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman Ada sederetan ahli waris yang tidak mungkin terkena hujub hirman. cicit. sebelas terdiri dari laki-laki dan lima dari wanita. Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau bahkan keenamnya. Keponakan laki-laki (anak dari saudara laki-laki seayah) akan terhalangi dengan adanya orang-orang yang menghalangi keponakan (dari anak saudara kandung laki-laki). Keponakan laki-laki (anak saudara kandung laki-laki) akan terhalangi dengan adanya ayah dan kakek. 9. akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki. Adapun ahli waris dari laki-laki sebagai berikut: 1. 3. dan seterusnya). ibu. cicit. dan istri. Demikian juga para cucu akan terhalangi oleh cucu yang paling dekat (lebih dekat). 6. dan juga oleh kakek yang lebih dekat dengan pewaris. Sepupu laki-laki (anak paman seayah) akan terhalangi dengan adanya sepupu laki-laki (anak paman kandung) dan dengan adanya sosok yang menghalangi sepupu laki-laki (anak paman kandung). dan seterusnya) dan juga oleh cabang (anak. dan seterusnya). 8. Paman seayah akan terhalangi dengan adanya sosok yang menghalangi paman kandung. juga terhalang oleh saudara kandung perempuan yang menjadi 'ashabah ma'al Ghair.

cicit. Saudara kandung perempuan akan terhalangi oleh adanya ayah. Selain itu. dan seterusnya (semuanya laki-laki). ibu. Saudara perempuan seibu akan terhalangi oleh adanya sosok laki-laki (ayah. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3) karena merupakan bagian wanita. cucu perempuan tidak akan mendapat warisan. cucu. 4. sebab tanpa keberadaannya para saudara kandung perempuan itu tidak akan menerima hak waris mereka. dan cucu perempuan dari anak laki-laki. apabila saudara laki-laki itu tidak ada. gugurlah hak waris para saudara perempuan seayah.1. khusus kalangan laki-laki) serta terhalang oleh adanya dua orang saudara kandung perempuan bila keduanya menyempurnakan bagian dua per tiga (2/3). dan seterusnya) baik laki-laki ataupun perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: suami seperempat (1/4) bagian. yang sebelumnya tidak mendapat fardh. 45 . baik cucu itu hanya seorang ataupun lebih. bapak. 3. ibu seperenam (1/6) bagian. kecuali bila adanya 'ashabah. Kecuali bila ia mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki keturunan anak lakilaki) yang sederajat ataupun yang lebih rendah dari derajat cucu perempuan. 5. Pertama: Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. anak perempuan. cucu. kecuali jika ada 'ashabah. Sebab saudara laki-laki seayah itu akan menggandengnya menjadi 'ashabah. juga terhalang oleh adanya ayah dan keturunan (anak. Saudara perempuan seayah akan terhalangi dengan adanya saudara kandung perempuan jika ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. maka kini saya akan menjelaskan kebalikannya. Keadaan seperti ini dinamakan sebagai saudara yang berkah. juga akan terhalangi oleh adanya dua orang anak perempuan atau lebih. anak. Padahal. dan seterusnya. Saudara Laki-laki yang Berkah Apabila anak perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). Nenek (baik ibu dari ibu ataupun dari bapak) akan terhalangi dengan adanya sang ibu. Agar lebih jelas saya berikan beberapa contoh kasus. ayah juga seperenam (1/6) bagian. apabila saudara kandung perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). Saudara Laki-laki yang Merugikan Kalau sebelumnya saya jelaskan tentang saudara laki-laki yang membawa berkah. ahli waris wanita itu akan mendapatkan waris. Disebut saudara laki-laki yang merugikan karena keberadaannya menyebabkan ahli waris dari kalangan wanita tidak mendapatkan warisan. anak perempuan setengah. gugurlah hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Keadaan seperti ini dalam faraid disebut sebagai kerabat yang berkah atau saudara laki-laki yang berkah. Disebut demikian karena tanpa cucu lakilaki. yakni saudara laki-laki yang merugikan. dan seterusnya) juga oleh adanya cabang (anak. Cucu perempuan (keturunan anak laki-laki) akan terhalang oleh adanya anak laki-laki. kecuali bila ada saudara laki-laki seayah. Kemudian. kakek. cicit. cucu. cicit. 2. Selain itu. maka cucu laki-laki dapat menyeret cucu perempuan itu sebagai 'ashabah.

maka gugurlah hak cucu perempuan tersebut. Itulah contoh tentang saudara laki-laki yang merugikan. Ilustrasi seperti itu dapat kita ubah susunan ahli warisnya. Namun. hingga mereka mendapat sepertiga (1/3) bagian dan dibagikan secara rata di 46 . Maka pembagiannya seperti berikut: suami memperoleh seperempat (1/4) bagian karena istri mempunyai anak (keturunan). dan imam mujtahidin. serta cucu laki-laki dan perempuan dari keturunan anak laki-laki. yakni adanya cucu laki-laki keturunan dari anak laki-laki. maka saudara perempuan seayah tidak mendapat bagian apa-apa. ayah. saudara perempuan seayah akan mendapat waris bila tidak mempunyai saudara laki-laki seayah yang masih hidup. Contoh pertama tidak merugikan karena memang tidak ada cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Masalah ini dikenal juga dengan istilah "kasus musytarakah" (kasus kolektif). sedangkan cucu laki-laki dan perempuan tidak mendapat bagian. dan dua orang saudara kandung laki-laki (atau lebih dari dua orang).karena ia mempunyai saudara laki-laki yang sederajat. tabi'in. Tentang Kasus Kolektif Menurut kaidah yang biasa dikenal dan dipakai ulama faraid." Namun demikian. seorang wanita wafat dan meninggalkan seorang suami.menyatakan bahwa saudara kandung laki-laki disamakan dengan saudara laki-laki yang seibu. misalnya posisi cucu perempuan keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara perempuan seayah dan posisi cucu laki-laki keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara laki-laki seayah. Pembagiannya adalah seperti berikut: suami mendapat setengah (1/2) bagian dikarenakan pewaris tidak mempunyai anak secara fardh. ibu mendapat seperenam (1/6) bagian disebabkan pewaris mempunyai dua orang saudara lakilaki atau lebih. ibu. tetapi pada kasus ini justru terjadi sebaliknya. keberadaan saudara laki-laki dari cucu perempuan keturunan anak laki-laki itu merugikannya. saudara kandung laki-laki sebenamya memiliki kekerabatan lebih kuat dibandingkan saudara laki-laki seibu. Maka. (artinya): "Berikanlah hak waris kepada ashhabul furudh. tabi'in. Oleh sebab itu. sedangkan anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian karena tidak ada pen-ta'shih. Berdasarkan kaidah yang berlaku. pembagian harta waris dimulai dengan ashhabul furudh. dalam masalah ini ternyata terjadi sesuatu yang kontradiktif. dan sisanya diberikan kepada kerabat laki-laki yang lebih dekat. anak perempuan. juga karena para sahabat. Sedangkan saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan bagian karena ia sebagai 'ashabah --sedangkan harta waris yang dibagikan telah habis. di sisi lain masalah ini telah memancing perbedaan pendapat sejak masa para sahabat. ibu seperenam (1/6) bagian. kemudian baru kepada para 'ashabah. dalam contoh berikut saya sertakan saudara laki-laki yang merugikan. ibu.Seandainya dalam kasus ini terdapat cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Contoh permasalahannya sebagai berikut. cucu perempuan dirugikan --tidak mendapat waris-. C. dan dua orang saudara seibu mendapat bagian sepertiga (1/3). Inilah rahasia mengapa ulama faraid mengistilahkannya sebagai "saudara laki-laki yang merugikan". ayah seperenam (1/6) bagian. dua saudara laki-laki seibu (atau lebih dari dua orang). Sementara itu. Kedua: Untuk lebih memperjelas. sesuatu yang keluar dan menyimpang dari kaidah aslinya. selain sebagai masalah yang menyimpang dari kaidah aslinya. serta para imam mujtahidin --dalam contoh kasus seperti ini-. Sedangkan dalam contoh kedua. Para ulama menyandarkan kaidah ini pada hadits Rasulullah saw. Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. sehingga cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3). masalah ini merupakan kasus kolektif. Karena. bila mempunyai saudara laki-laki seayah.

Ali. Ibnu Mas'ud. baik laki-laki atau perempuan. dan imam mujtahidin. masalah ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan "umariyah". Diriwayatkan bahwa masalah musytarakah ini pernah diajukan ke hadapan Umar bin Khathab r. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa hak waris pada saudara kandung dikolektifkan dengan hak waris para saudara laki-laki seibu. karena Umar bin Khathab pernah memvonis masalah ini --juga pernah dikenal dengan sebutan Himariyah. tabi'in. 3. sungguh mustahil bila ayah kami dianggap keledai atau batu yang terbuang di sungai. karena dianggap seperti saudara seibu dengan mendapat bagian sepertiga (1/3) dibagi adil Jumlah Bagian 3 1 2 Nilai 9 3 4 2 Persyaratan Masalah Kolektif 1. Ketika ia hendak memvonis seperti tahun lalu.antara mereka (termasuk saudara kandung laki-laki). Pendapat ini pernah dilakukan oleh Abu Bakar. Jumlah saudara seibu dua orang atau lebih. maka akan mewarisi secara fardh. Utsman. Pendapat pertama menyatakan bahwa hak waris saudara kandung digugurkan sebagaimana mengikuti kaidah yang ada.. sebab bila saudara seayah maka gugurlah haknya secara ijma'. Umar baru pertama kali menjumpai kasus seperti ini dan memvonis: saudara kandung tidak mendapat bagian hak waris sedikit pun. Pendapat ini dilakukan oleh Zaid bin Tsabit. Saudara yang ada benar-benar saudara kandung. dan lainnya. masalah ini juga menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama. dan lainnya. serta kekolektifan ini akan batal. 47 . dan Yammiyah. 2. Selain itu. Contohnya adalah sebagai berikut: Asal masalah dari enam 6 naik menjadi 18 Keterangan Suami 1/2 harta waris yang ada secara fardh Ibu 1/6 harta waris yang ada secara fardh Saudara seibu 1/3 secara fardh dan dibagi merata dengan saudara kandung Saudara kandung dapat hak waris. Dan dalam hal ini tidak berbeda apakah hanya satu orang atau banyak. Ibnu Abbas. Maka ia memvonis dengan memberi hak kepada mereka (saudara seibu dan saudara sekandung) secara bersamaan dan dibagi sama rata. Pendapat pertama dianut dan diikuti oleh mazhab Hanafi dan Hambali. sejak masa para sahabat. Sebab bila perempuan. sedangkan pendapat yang kedua diikuti dan dianut oleh mazhab Maliki dan Syafi'i. masalah ini diajukan kembali kepadanya. Kemudian pada tahun berikutnya. proteslah salah seorang ahli warisnya: "Wahai Amirul Mukminin. Di samping itu.a. Bukankah kami ini anak dari seorang ibu?" Umar menyimak perkataan orang itu dan berpikir bahwa apa yang diucapkannya benar dan tepat. Perbedaan Pendapat Para Fuqaha Dalam masalah musytarakah (kolektif) ini ada dua kubu pendapat yang masyhur dalam hal membagi hak waris sebagaimana contoh kasus tersebut. Saudara kandung itu harus saudara laki-laki. dan masalahnya pun akan naik. Hajariyah.

Beberapa Kaidah Penting Hak waris banul a'yan (saudara kandung laki-laki/perempuan)." 48 . Sedangkan menurut ketiga imam mazhab yang lain tidaklah demikian. Hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama. hak waris banul akhyaf digugurkan dengan adanya anak perempuan pewaris. cucu laki-laki (keturunan anak laki-laki). Menurut mazhab Abu Hanifah hak mereka juga digugurkan oleh adanya kakek pewaris. dan ayah. Kaidah yang lain ialah bahwa banul akhyaf mendapatkan hak waris secara merata pembagiannya antara yang lakilaki dengan yang perempuan. Hal ini berdasarkan firman Allah (artinya) "mereka bersekutu dalam yang sepertiga. Masih menurut mazhab Hanafi. cucu perempuan keturunan anak laki-laki pewaris. dan banul 'allat (saudara laki-laki/perempuan seayah). dan seterusnya. serta banul akhyaf (saudara laki-laki/perempuan seibu) akan gugur (terhalangi) oleh adanya anak laki-laki pewaris.

Dengan demikian. Hal ini akan memudahkan setiap orang yang ingin mengetahuinya sambil bersandar kepada ijtihad yang dianggapnya lebih rajih (kuat dan tepat) serta dapat dijadikannya sandaran dalam berfatwa." B. Pengertian Kakek yang Sahih Makna kakek yang sahih ialah kakek yang nasabnya terhadap pewaris tidak tercampuri jenis wanita. Karena itu Allah SWT tidak membiarkan begitu saja hukum yang berkenaan dengan masalah hak kepemilikan materi ini. maka hendaklah ia memvonis masalah waris antara kakek yang sahih dengan para saudara. karena tidak ada nash Al-Qur'an atau hadits Nabi yang menjelaskannya. Dia menjelaskannya di dalam Al-Qur'an dengan detail agar tidak terjadi kezaliman dan perbuatan aniaya di kalangan umat manusia. Perlu saya tekankan bahwa masalah waris sangatlah berbahaya dan sensitif. Ijtihad dan pendapat tersebut dijaga serta dibukukan secara lengkap dan detail beserta dalildalilnya. maka kakek menjadi rusak nasabnya." Pernyataan serupa juga ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib: "Barangsiapa yang ingin diceburkan ke dalam neraka Jahanam. Akan tetapi di sisi lain. Perbedaan tersebut dapat digolongkan ke dalam dua mazhab. khususnya para ahli waris. misalnya ayahnya ibu. mayoritas sahabat sangat berhati-hati dalam memvonis masalah ini. Ibnu Mas'ud r. misalnya ayah dari bapak dan seterusnya. 49 . Namun bila tidak termasuki unsur wanita. Sedangkan kakek yang berasal garis wanita disebut sebagai kakek yang rusak nasabnya. dan memberikan hak waris kepada orang yang sebenamya tidak berhak. itulah kakek yang sahih. atau hukum tentang hak kepemilikan. Hal ini didasarkan sesuai dengan kaidah yang ada di dalam faraid: "bilamana unsur wanita masuk ke dalam nasab laki-laki. menurut mereka.a." Ketakutan dan kehati-hatian para sahabat dalam memvonis masalah hak waris kakek dan saudara itu tentu sangat beralasan. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek Para imam mazhab berbeda pendapat mengenai hak waris kakak bila bersamaan dengan saudara. Namun demikian.VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA A. masalah ini memerlukan ijtihad. Terlebih lagi dalam masalah yang berkenaan dengan materi. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara Baik Al-Qur'an maupun hadits Nabawi tidak menjelaskan tentang hukum waris bagi kakek yang sahih dengan saudara kandung ataupun saudara seayah. atau ayah dari ibunya ayah. mereka merasa sangat takut kalau-kalau berlaku zalim dan aniaya. masalah yang sangat dikhawatirkan itu hilang setelah munculnya ijtihad para salaf ash-shalih dan para imam mujtahidin. C. sama seperti perbedaan yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. ijtihad ini sangat mengkhawatirkan mereka. karena jika salah berarti mereka akan merugikan orang yang sebenarnya mempunyai hak untuk menerima warisan. Oleh karena itu. namun janganlah kalian tanyakan kepadaku tentang masalah warisan kakak yang sahih dengan saudara.. dalam hal ini pernah mengatakan: "Bertanyalah kalian kepada kami tentang masalah yang sangat pelik sekalipun. bahkan mereka cenderung sangat takut untuk memberi fatwa yang berkenaan dengan masalah ini.

dan Ibnu Umar. sedangkan saudara adalah cabang dari ayah. sama seperti gugurnya hak waris oleh saudara bila ada ayah. 50 . Misalnya. jika 'ashabah itu ada anak dan ayah. Bila 'ashabah itu ada arah saudara dan arah paman maka yang didahulukan adalah arah saudara. kemudian arah ayah. sama seperti halnya ayah. demikian juga saudara. seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. kemudian saudara. yaitu Muhammad dan Abu Yusuf. Ali bin Abi Thalib. bila ternyata 'ashabah banyak arahnya. Ibnu Mas'ud. tidak mendapat warisan dari saudaranya yang meninggal.Tentang Mazhab Jumhur Untuk lebih menjelaskan pendapat yang rajih --yakni pendapat jumhur ulama-. D. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kaidah yang masyhur di kalangan fuqaha. Ibnu Abbas. Kedekatan kakek terhadap pewaris melewati ayah. maka yang didahulukan adalah arah anak. maka yang lebih didahulukan adalah arah anak (keturunan). kemudian ia wafat. Pendapat ini diikuti oleh mazhab Hanafi. seperti istri atau ibu. Mereka beralasan bahwa kakek akan mengganti kedudukan ayah bila telah tiada. maka harta peninggalannya akan berpindah kepada anak-anaknya yang berarti paman para saudara. Bila kita mengutamakan yang satu dan mencegah yang lain berarti telah melakukan kezaliman tanpa alasan yang dapat diterima.lebih didahulukan daripada arah saudara.maka saya perlu mengatakan bahwa sesungguhnya jika kakak mewarisi bersamaan dengan saudara. dan diikuti oleh kedua orang murid Abu Hanifah. saudara seayah.terhadap harta jauh lebih besar ketimbang para kakek. atau anak perempuan. sebelum arah yang lebih dahulu hilang atau habis. yaitu Imam Malik. Imam Syafi'i. tidak ada ahli waris lain dari ashhabul furudh. Yakni. Mazhab kedua: berpendapat bahwa para saudara kandung laki-laki/perempuan dan saudara laki-laki seayah berhak mendapat hak waris ketika bersamaan dengan kakek. maka ia mempunyai dua keadaan. Mazhab ini merupakan pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq. dan masingmasing memiliki hukum tersendiri. dan sebagainya. Kakek tidaklah menggugurkan hak waris para saudara kandung dan yang seayah. ataupun seibu-. sedangkan para saudara tadi hanya kebagian tangis. Sekali-kali arah itu tidak akan berubah atau berpindah kepada arah yang lain. dan barulah arah paman. misalnya saja warisan pewaris ini dibagikan atau diberikan kepada para kakek. karena kakek merupakan bapak yang paling 'tinggi'. Dengan demikian para paman menjadi ahli waris. Karena itu hak waris para saudara akan terhalangi karena adanya arah kakek. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur sahabat dan tabi'in. asy-Syi'bi. Kakek merupakan pokok dari ayah. Alasan yang dikemukakan golongan kedua ini ialah bahwa derajat kekerabatan saudara dan kakek dengan pewaris sama. Pendapat ini dianut oleh ketiga imam. karena itu tidaklah layak untuk mengutamakan yang satu dari yang lain karena mereka sama derajatnya. Lebih lanjut golongan yang pertama ini menyatakan bahwa arah ayah --mencakup kakek dan seterusnya-. dan Imam Ahmad bin Hambal. Sebagai gambaran. Hal ini sama dengan memberikan hak waris kepada para saudara kandung kemudian di antara mereka ada yang tidak diberi. kemudian barulah arah paman.terhalangi (gugur) hak warisnya dengan adanya kakek. yakni Zaid bin Tsabit. Keadaan pertama: kakek mewarisi hanya bersamaan dengan para saudara.Mazhab pertama: mereka menyatakan bahwa para saudara --baik saudara kandung. Alasan lain yang dikemakakan mazhab ini ialah bahwa kebutuhan para saudara --yang jelas lebih muda daripada kakek&emdash. dan Ahli Madinah ridhwanullah 'alaihim.

51 . Bila cara pembagian tersebut kemungkinan merugikan kakek. Kakek dengan saudara kandung perempuan. Hukum Keadaan Pertama Bila seseorang wafat dan meninggalkan kakek serta saudara-saudara tanpa ashhabul furudh yang lain. 4. Pertama dengan cara pembagian. Pada keadaan keempat kakek mendapat setengah (1/2). Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek Ada lima keadaan yang lebih menguntungkan kakek bila menggunakan cara pembagian. 3. istri. maka bagi kakek dipilihkan perkara yang afdhal baginya --agar lebih banyak memperoleh harta warisan-. Bila pembagian lebih baik baginya maka hendaklah dengan cara pembagian.Keadaan kedua: kakak mewarisi bersama para saudara dan ashhabul furudh yang lain. Adapun penjelasannya seperti berikut: Pada keadaan pertama kakak mendapat dua per tiga (2/3). dan kedua dengan cara mendapatkan sepertiga (1/3) harta warisan. dan bila mendapatkan 1/3 harta warisan lebih baik maka itulah yang menjadi haknya. Pada keadaan kedua kakek mendapat setengah (1/2). 2. itulah yang menjadi bagiannya. Kakek dengan tiga orang saudara kandung perempuan. Berarti kakek mendapatkan bagian dua kali lipat bagian para saudara perempuan sekandung. ia mendapatkan bagian yang sama dengan bagian saudara kandung laki-laki. maka diberikan dengan memilih cara mendapat sepertiga (1/3) harta waris yang ada. dan anak perempuan. Mana di antara kedua cara tersebut yang lebih baik bagi kakek. 5. Kelima keadaan tersebut sebagai berikut: 1. maka ia menempati posisi yang sama seperti saudara kandung laki-laki. seperti ibu. Apabila kakek berhadapan dengan saudara perempuan kandung. Makna Pembagian Makna pembagian menurut ulama faraid adalah kakek dikategorikan seperti saudara kandung. Pada keadaan ketiga kakek mendapat dua per lima (2/5).dari dua pilihan yang ada. Kakek dengan saudara kandung laki-laki. Kakek dengan saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan. Kakek dengan dua orang saudara kandung perempuan.

yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian wanita. Yaitu. dan para saudara kandung digugurkan atau dikurangi haknya. menerima sepertiga (1/3).bagian sang kakek lebih menguntungkannya.Pada keadaan kelima kakek mendapat dua per lima (2/5). Ketiga keadaan itu sebagai berikut: 1. Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek Selain dari delapan keadaan yang saya kemukakan itu. maka itulah bagian kakek. seseorang wafat dan meninggalkan seorang kakek dan tiga orang saudara. Yang pasti. atau menerima seperenam (1/6) dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris. Kakek dengan empat orang saudara kandung perempuan. 52 . Kalau jumlah harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh tidak tersisa kecuali seperenam atau bahkan kurang. maka kakek akan dirugikan karena akan menerima kurang dari sepertiga harta warisan. 3. Ketetapan ini telah menjadi kesepakatan bulat imam mujtahid. Kalau saja dalam keadaan seperti itu kita gunakan cara pembagian. dengan pembagian. Dan hal ini pun dengan syarat bagiannya tidak kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. maka pemberian sepertiga (1/3) kepada sang kakek lebih menguntungkannya. Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang Ada tiga keadaan yang menyebabkan kakek mendapatkan bagian yang sama baik secara pembagian ataupun dengan mengambil sepertiga harta waris yang ada. Misalnya.maka hukumnya sama dengan hukum yang saya jelaskan di atas. Kakek dengan dua orang saudara kandung laki-laki. atau seorang kakek dan lima saudara kandung perempuan atau lebih. Adapun bila cara pembagian --setelah para ashhabul furudh mengambil bagiannya-. bagian kakek tidaklah boleh kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. Kelima keadaan itu lebih menguntungkan kakek jika menggunakan cara pembagian. maka hendaknya dibagi dengan cara itu. Dalam hal ini kakek mendapat sepertiga (1/3). Sebab bagian tersebut adalah bagiannya yang telah ditentukan syariat. Hukum Keadaan Kedua Bila kebersamaan antara kakek dengan para saudara dibarengi pula dengan adanya ashhabul furudh yang lain --yakni ahli waris lainnya-. 2. dan sisanya dibagikan kepada para saudara. Dan jika sepertiga (1/3) sisa harta waris yang ada malah lebih menguntungkannya. Catatan Hukum tentang hak waris saudara laki-laki dan perempuan seayah ketika bersama dengan kakek --tanpa saudara kandung laki-laki atau perempuan-. maka tetaplah kakek diberi bagian seperenam (1/6) secara fardh.maka bagi kakek dapat memilih salah satu dari tiga pilihan yang paling menguntungkannya. Kakek dengan seorang saudara kandung laki-laki dan dua orang saudara kandung perempuan.

seluruh sisa harta waris yang ada hanya menjadi hak para saudara kandung -. ibu. dan kakek mendapat seperenam (1/6). yakni kakak seperempat dan saudara kandung laki-laki juga seperempat. lima anak perempuan mendapat dua per tiga (2/3). Pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan dengan cara pembagian. dan empat saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya sebagai berikut: untuk kedua orang istri seperdelapan (1/8). Maka pembagiannya seperti berikut: suami faradh-nya setengah (1/2) karena pewaris tidak mempunyai anak.Contoh Keadaan Kedua Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan suami.sebab jika saudara kandung dan seayah bersama-sama. Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek Persoalan yang saya jelaskan sebelumnya berkisar mengenai bagian kakek bila hanya bersamaan dengan saudara kandung. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan. anak perempuan setengah (1/2). kakek seperenam (1/6). kakek. Sebab dengan pembagian ia mendapatkan bagian lebih dari seperenam (1/6). dan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). dan saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. seorang anak perempuan. ulama faraid menyatakan bahwa para saudara seayah dikategorikan sama dengan saudara kandung. Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan lima anak perempuan. dengan ketentuan bagi laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. dan sepuluh saudara kandung perempuan. kakek. maka saudara seayah mahjub. Untuk keadaan seperti ini. Berarti kakek mendapat sepertiga (1/3) dari lima per enam (5/6). E. haknya menjadi gugur. keberadaan saudara seayah dalam keadaan seperti ini dikategorikan sebagai merugikan kakek. Hal ini telah disepakati ulama mujtahid. Contoh kelima: seseorang wafat dan meninggalkan dua orang istri. dan sang kakek juga seperenam. dan tiga saudara kandung perempuan. nenek. Meskipun setelah kakek mendapatkan bagian. sedangkan empat saudara laki-laki tidak mendapatkan apa-apa. dan sisanya dibagikan kepada saudara laki-laki dan perempuan. ibu mendapatkan seperenam (1/6). Pembagiannya sebagai berikut: bagi anak perempuan setengah (1/2). Maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat seperempat (1/4). kakek mendapat sepertiga (1/3) dari sisa harta yang ada. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Pada bagian ini akan dijelaskan bagian kakek jika ia tidak hanya bersama dengan saudara kandung. tetapi sekaligus bersama dengan saudara seayah. seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. mereka dianggap satu jenis. ia mendapatkan sepertiga dari sisa harta setelah diambil hak sang ibu. kakek. nenek seperenam (1/6). Sedangkan sepuluh saudara kandung perempuan tidak mendapatkan apa-apa sebab ashhabul furudh telah menghabiskan bagian yang ada. kakak. Dalam contoh kedua ini bagian kakek lebih menguntungkan. dan sisanya dibagikan kepada para saudara kandung perempuan sesuai jumlah orangnya secara rata. dua saudara kandung laki-laki dan dua saudara kandung perempuan. dan sisanya dibagi dua. 53 . suami. kakek. Apabila pemberian dilakukan secara pembagian.

Maka pembagiannya seperti berikut: saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. tanpa menggunakan cara pembagian. Bila kita lihat secara seksama akan tampak oleh kita 54 . dan sisanya diberikan kepada saudara kandung laki-laki. Kebetulan dalam kasus ini kedua cara pemberian waris bagi kakek menghasilkan bagian yang sama. dan saudara kandung laki-laki memperoleh dua per tiga (2/3) bagian. karena ia lebih kuat dan lebih dekat kekerabatannya terhadap pewaris dibandingkan para saudara laki-laki/perempuan seayah. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung perempuan. dan dua orang saudara perempuan seayah. sedangkan saudara laki-laki seayah terhalangi oleh adanya ahli waris yang lebih kuat dan dekat. Catatan Pada contoh ketiga --seperti telah diutarakan-. maka para saudara laki-laki seayah akan mendapatkan bagian sisa harta yang ada. Agar persoalan ini tidak terlalu kabur dan membingungkan saya sertakan beberapa contoh kasus. karena itu bagian kakek sepertiga (1/3). Pada contoh kedua ini. kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. kakek memperoleh dua per enam (2/6) bagian. sedangkan saudara laki-laki seayah mahjub (terhalangi) karena adanya saudara kandung laki-laki. kakek. yakni saudara kandung laki-laki. Oleh sebab itu. saudara laki-laki dikategorikan sebagai ahli waris. dan seorang saudara perempuan seayah. Dalam contoh pertama. seorang saudara laki-laki seayah. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. kakek. hak saudara kandung laki-laki dua per tiga (2/3). yakni merugikan kakek pada cara pembagian. seorang saudara kandung laki-laki. yaitu sepertiga (1/3). Kalaulah pemberian kepada kakak dalam contoh ini menggunakan cara pembagian. Karena sebagaimana telah saya kemukakan bahwa keberadaan para saudara laki-laki/perempuan seayah sebagai perugi.Akan tetapi. sebab saudara perempuan seayah gugur haknya oleh adanya saudara laki-laki kandung. yaitu sepertiga. Setelah itu saya berikan hak waris saudara kandung perempuan setengah secara fardh. mendapat sepertiga harta waris atau dengan cara pembagian". dan itu menjadi bagian saudara laki-laki kandung. Dalam hal ini saudara perempuan seayah gugur sebab ada saudara kandung. Kemudian. dan keberadaannya hanya merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. tentu hal ini akan merugikannya karena ia akan menerima bagian kurang dari sepertiga (1/3) harta waris yang ada. setelah diambil hak saudara kandung perempuan (1/2) dan hak kakek (1/3). Sisanya barulah untuk mereka. jika saudara seayah mewarisi bersama kakek dan seorang saudara kandung perempuan. dalam masalah ini kita berikan nasib (bagian) saudara perempuan seayah sebanyak dua per enam (2/6). Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian.keberadaan saudara laki-laki/perempuan seayah merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. saya berikan haknya dengan cara yang paling menguntungkannya. sedangkan sisanya diberikan kepada para saudara laki-laki dan perempuan seayah --dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Jumlah sepertiga (1/3) bagi kakek dalam contoh kasus ini sesuai dengan kaidah yang ada: "hendaklah kakek diberi dengan salah satu dari dua cara yang paling menguntungkannya. Maka pembagiannya sebagai berikut: kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. saya langsung memberikan hak kakek sepertiga (1/3). Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan kakek.

dalam contoh ini adalah ibu. cucu. Barangkali untuk lebih memperjelas masalah ini perlu pula saya sertakan tabelnya. Tabelnya sebagai berikut: Masalahnya 12 dan naik menjadi 36 Keterangan Bagian ibu 1/6 Bagian kakek 1/3 (sisa setelah diambil ibu) Bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) Bagian dua orang saudara laki-laki seayah (sisanya) Catatan Apabila pewaris hanya meninggalkan kerabat seperti kakek dan saudara-saudara laki-laki/perempuan seibu saja. saudara kandung perempuan. yakni tidak mempunyai pokok (ayah dan seterusnya) dan tidak pula mempunyai cabang (anak. maka seluruh warisannya menjadi hak kakek. dan seterusnya). bila seseorang meninggal dan hanya meninggalkan kakek serta anak saudaranya. Misalnya. Dan hak waris saudara seibu hanyalah bila pewaris sebagai kalalah. kakek sepertiga (1/3). sedangkan bagian dua orang saudara seayah sisanya. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu memperoleh seperenam (1/6) bagian. kakek dapat menggugurkan hak waris saudara seibu. cicit. bukan dengan cara menerima sepertiga (1/3) sisa harta waris setelah diambil ashhabul furudh -. hal lain yang telah menjadi ijma' seluruh fuqaha ialah bahwa hak waris dari keturunan para saudara kandung ataupun seayah menjadi gugur karena adanya kakek. Masalahnya 12 Keterangan Bagian ibu 1/6 secara fardh Bagian kakek 2/6 secara pembagian dengan saudara kandung laki-laki Bagian saudara kandung (sisanya) Bagian saudara perempuan seayah mahjub Nilai 2 4 6 0 Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. Di samping itu. dan dua orang saudara seayah. 55 . Sebab. Nilai 6 10 18 2 F. dan saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2). maka seluruh warisan merupakan bagian kakek.bahwa yang lebih menguntungkan kakek dalam hal ini adalah cara pembagian. Masalah al-Akdariyah Istilah al-akdariyah muncul karena masalah ini berkaitan dengan salah seorang wanita dari bani Akdar. seperti yang telah disepakati seluruh imam mujtahid. kakek.

memvonis dengan menyalahi kaidah yang ada. Setelah ditashih.a.). masalahnya menjadi dua puluh tujuh (27). dan pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan (9) bagian.disebabkan masalah ini cukup mengotori mazhab Zaid bin Tsabit (sosok sahabat yang sangat dipuji Rasulullah akan kemahirannya dalam faraid. sehingga menjadikannya sebagai keputusan ijtihad dalam fiqih kedua imam tersebut. Masalahnya adalah dari enam (6) Keterangan Suami mendapat setengah (1/2) secara fardh Ibu mendapat sepertiga (1/3) secara fardh Kakek mendapat seperenam (1/6) sisanya/fardh-nya Saudara kandung perempuan mahjub Adapun tabel setelah ditashih menurut al-akdariyah seperti berikut: Masalahnya naik dari enam (6) menjadi dua puluh tujuh (27) Keterangan Bagian suami menjadi Bagian ibu menjadi Bagian kakek menjadi Bagian saudara kandung perempuan menjadi Nilai 9 6 8 4 Nilai 3 2 1 0 56 . ibu enam (6) bagian. ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. Kemudian ia menyatukan hak saudara kandung perempuan dengan saham kakak. dan membaginya menjadi bagian laki-laki dua kali lipat bagian wanita. Dia pernah menghadapi masalah waris dan memvonisnya dengan melakukan sesuatu yang bertentangan (menyimpang) dari kaidah-kaidah faraid yang masyhur. Dalam hal ini Imam Malik dan Imam Syafi'i mengikuti apa yang pernah dilakukan Zaid bin Tsabit. kakek delapan (8) bagian. penj. Dia memberi saudara kandung setengah (1/2) bagian. bagian. dan menaikkan masalahnya dari enam (6) menjadi sembilan (9). Akan tetapi. dalam kasus ini Zaid bin Tsabit r. dari mulai yang sesuai dengan kaidah aslinya hingga setelah ditashih. dan saudara kandung perempuan empat (4) bagian. suami mendapat setengah (1/2). kakek. Oleh sebab itu. Permasalahannya seperti berikut: bila seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami.Sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa penyebutan masalah ini dengan istilah al-akdariyah --yang artinya 'kotor' atau 'mengotori'-. dan seorang saudara kandung perempuan. ibu. sudah semestinya bagian saudara kandung perempuan digugurkan karena tidak ada sisa harta waris. Sebab. Apabila berpegang pada kaidah yang telah disepakati seluruh fuqaha --termasuk di dalamnya Zaid bin Tsabit sendirimaka pembagiannya adalah dengan menggugurkan hak saudara kandung perempuan. Berikut ini saya sertakan tabelnya. dan sisanya hanya seperenam (1/6) yang tidak lain sebagai bagian kakek yang tidak mungkin digugurkan --karena merupakan haknya secara fardh.

maka berarti telah keluar dari hukum tersebut. 57 . Bila ada salah satu yang diubah.Catatan Dalam masalah al-akdariyah ini sosok ahli waris mutlak tidak dapat diubah. Wallahu a'lam.

MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A. Di antara mereka ada Zaid bin Tsabit dan menganjurkan kepada Umar agar menggunakan 'aul. Dikatakan 'alaa al-ma'u idzaa irtafa'a yang artinya 'air yang naik meluap'. bila aku berikan terlebih dahulu hak kedua saudara kandung perempuan pewaris maka akan berkuranglah nashib (bagian) suami.meski bagian mereka menjadi berkurang. Begitu juga sebaliknya.. Yang masyhur dalam ilmu faraid. Masalah 'aul pertama kali muncul pada masa khalifah Umar bin Khathab r. Maka dalam hal ini seorang suami yang semestinya mendapat bagian 3/6 (setengah) hanya memperoleh 3/9 (sepertiga). Misalnya bagian seorang suami yang semestinya mendapat setengah (1/2) dapat berubah menjadi sepertiga (1/3) dalam keadaan tertentu. seperti yang difirmankan-Nya: "." (an-Nisa': 3) Al-'aul juga bermakna 'naik' atau 'meluap'.. sampai masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r. Latar Belakang Terjadinya 'Aul Pada masa Rasulullah saw. Definisi al-'Aul Al-'aul dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti. Menghadapi kenyataan demikian Umar kebingungan.a. Dan hal itu ia lakukan ketika fardh yang harus diberikan kepada ahli waris bertambah banyak. Sebab bila aku berikan hak suami. di antaranya bermakna azh-zhulm (aniaya) dan tidak adil. Begitu pula halnya dengan ashhabul furudh yang lain. Umar menerima anjuran Zaid dan berkata: 58 . kasus 'aul atau penambahan --sebagai salah satu persoalan dalam hal pembagian waris-. riwayatnya dituturkan seperti berikut: seorang wanita wafat dan meninggalkan suami dan dua orang saudara kandung perempuan. mereka tetap menuntut dua per tiga yang menjadi hak waris keduanya. Al-'aul bisa juga berarti 'bertambah'. Dengan demikian. bagian mereka dapat berkurang manakala pokok masalahnya naik atau bertambah.. suami tersebut tetap menuntut haknya untuk menerima setengah dari harta waris yang ditinggalkan istri.a. Dia berkata: "Sungguh aku tidak mengerti. Ibnu Abbas berkata: "Orang yang pertama kali menambahkan pokok masalah (yakni 'aul) adalah Umar bin Khathab." Secara lebih lengkap. bagian yang mesti diterima suami adalah setengah (1/2). sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). seperti bila pokok masalahnya dinaikkan dari semula enam (6) menjadi sembilan (9). begitupun dua orang saudara kandung perempuan. seperti tampak dalam kalimat ini: 'alaa al-miizaan yang berarti 'berat timbangannya'. Dalam keadaan seperti ini kita harus menaikkan atau menambah pokok masalahnya sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul furudh yang ada -. pastilah saudara kandung perempuan pewaris akan dirugikan karena berkurang bagiannya. siapakah di antara kalian yang harus didahulukan.VII. berarti fardh-nya telah melebihi peninggalan pewaris. Sedangkan definisi al-'aul menurut istilah fuqaha yaitu bertambahnya jumlah bagian fardh dan berkurangnya nashib (bagian) para ahli waris. Namun demikian.. Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta yang dibagikan habis. dan siapa yang diakhirkan." Umar kemudian mengajukan persoalan ini kepada para sahabat Rasulullah saw. padahal di antara mereka ada yang belum menerima bagian.tidak pernah terjadi. B. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

sembilan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Ketiga pokok masalah yang dapat di-'aul-kan adalah enam (6). Contoh kasus yang lain. empat (4). dua belas (12). bagian istri seperdelapan (1/8) berarti satu bagian. yakni dapat naik menjadi tujuh. sedangkan saudara kandung perempuan menerima sisanya. ketiga pokok masalah itu masing-masing berbeda dan mempunyai sifat tersendiri. dan dua puluh empat (24). dan saudara kandung perempuan. Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua (2). angka-angka pokok masalah yang dapat di-'aul-kan ialah angka enam (6). Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pokok masalah dalam contoh-contoh yang saya kemukakan semuanya tidak dapat di-'aulkan. seseorang wafat dan meninggalkan ayah dan ibu. Sedangkan pokok masalah yang tidak dapat di-'aul-kan ada empat. Berarti pokok masalah enam (6) hanya dapat dinaikkan empat kali saja. lima belas (15). Tiga di antaranya dapat di-'aul-kan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari delapan (8). dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. Namun. namun hanya untuk angka ganjilnya. dan dua puluh empat (24). Sebagai misal. dan bagian saudara kandung perempuan setengah." Para sahabat menyepakati langkah tersebut. pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan ke tiga belas (13). Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. atau tujuh belas (17). Dalam contoh ini pokok masalahnya tiga (3). sedangkan sisanya (yakni 3/4) dibagi dua antara saudara kandung laki-laki dengan saudara kandung perempuan. anak setengah (1/2) berarti empat bagian. Lebih dari itu tidak bisa. Bagian suami setengah berarti satu (1). bagian istri seperempat (1/4) berarti satu (1) bagian. Maka dalam masalah ini tidak menggunakan 'aul. Contoh lain. atau sepuluh. dan delapan (8).kan Pokok masalah yang ada di dalam ilmu faraid ada tujuh."Tambahkanlah hak para ashhabul furudh akan fardh-nya. jadi ibu mendapat satu bagian. Kemudian pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan hingga tujuh belas (17). angka enam (6) hanya dapat di-'aul-kan hingga angka sepuluh (10). Lebih jelasnya. dan menjadilah hukum tentang 'aul (penambahan) fardh ini sebagai keputusan yang disepakati seluruh sahabat Nabi saw. tiga (3). yakni tiga per delapan (3/8). delapan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari empat (4). yaitu dua (2). 59 . dan saudara kandung perempuan. dan sisanya menjadi bagian ayah. Sebagai contoh pokok yang dapat di-'aul-kan: seseorang wafat dan meninggalkan suami serta seorang saudara kandung perempuan. sedangkan yang empat tidak dapat. sebab pokok masalahnya cocok atau tepat dengan bagian para ashhabul furudh. anak perempuan. Pembagiannya: ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. C. dan ayah dua bagian. saudara kandung laki-laki. Lebih dari angka itu tidak bisa. dua belas (12). berarti mendapat bagian satu (1). Maka angka dua belas (12) hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja.

5. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. Dengan demikian. Karena itu kita harus menaikkan pokok masalahnya yang semula enam menjadi sepuluh. ibu seperenam (1/6) berarti satu. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Beberapa Contoh Masalah 'Aul 1. karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi sembilan.berarti satu bagian. ibu. sedangkan bagian dua orang saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. sedangkan saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Dalam contoh ini tidak ada 'aul. sebab masalahnya sesuai dengan fardh yang ada. saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. bagian dua orang saudara seayah dua per tiga (2/3) berarti empat. sedangkan bagian cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga-. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah syuraihiyah. ibu. Sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Dalam contoh ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalahnya. jumlah bagian (fardh-nya) cocok dengan pokok masalahnya. Seseorang wafat dan meninggalkan ayah. sedangkan bagian saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. 3. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya enam. sehingga jumlah bagian sesuai dengan pokok masalahnya. karenanya pokok masalah enam harus dinaikkan menjadi tujuh (7). Bila demikian. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. dua orang saudara kandung perempuan. 60 . dan saudara perempuan seibu. dan dua orang saudara perempuan seibu. bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. dan bagian dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. saudara kandung perempuan. 4. dan seorang saudara perempuan seibu. dua orang saudara perempuan seayah. asal pokok masalah enam dinaikkan menjadi delapan. jumlah bagiannya telah melebihi jumlah pokok masalah. bagian ayah seperenam (1/6) berarti satu bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6).Sedangkan pokok masalah dua puluh empat (24) hanya dapat di-'aul-kan kepada dua puluh tujuh (27) saja. dan itu pun hanya pada satu masalah faraid yang memang masyhur di kalangan ulama faraid dengan sebutan "masalah almimbariyyah". Maka pembagianya seperti berikut: pokok masalahnya enam (6). Oleh karena itu. saudara kandung perempuan. Dalam contoh tersebut jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. ibu. Untuk lebih menjelaskan dan memantapkan pemahaman kita terhadap pokok-pokok masalah yang di-'aul-kan. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah al-mubahalah. anak perempuan. Masalah ini dikenal dengan sebutan masalah marwaniyah. yaitu delapan per enam (8/6). Dalam contoh kasus ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalah. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. 2. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. bagian anak perempuan tiga per enam (3/6) berarti tiga bagian. yaitu enam banding sepuluh (6:10). dan dua orang saudara laki-laki seibu. perlu kita simak contoh-contohnya. Seseorang wafat dan meninggalkan suami.

pokok masalah ini hanya ada dalam kasus yang oleh ulama faraid dikenal dengan masalah al-mimbariyah. berarti delapan bagian. lima belas (15). ibu. 3.Contoh 'Aul Pokok Masalah Dua Belas (12) Seperti telah saya kemukakan bahwa pokok masalah dua belas hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. Maka pembagiannya seperti ini: pokok masalahnya dua puluh empat (24). Karena itu kita harus meng-'aul-kan pokok masalahnya hingga sesuai 61 . Seseorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. Selain itu. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua belas (12). Ayah mendapat seperenam (1/6) berarti empat bagian. Karena itu harus dinaikkan menjadi tiga belas (13) sehingga tepat sesuai dengan jumlah bagian yang ada. Berikut ini saya berikan contoh-contohnya: 1. Dalam contoh ini tampak jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti tiga bagian. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. yaitu tiga belas. Karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi lima belas (15). Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. bagi kedelapan saudara perempuan seayah dua per tiga (2/3)-nya. delapan orang saudara perempuan seayah.hanya dapat di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh (27). ayah. 2. ibu. ibu memperoleh seperenam (1/6) berarti empat bagian. anak perempuan mendapat setengah (1/2) berarti dua belas bagian. Bagian ketiga orang istri adalah seperempat (1/4) berarti tiga bagian. Karena itu pokok masalahnya harus di-'aul-kan dari dua belas menjadi tujuh belas. bagian ibu seperenam (1/6) berarti dua bagian. Contoh 'Aul Dua Puluh Empat (24) Pokok masalah dua puluh empat (24) --sebagaimana telah saya jelaskan-. dan seorang saudara perempuan seibu. Dalam contoh tersebut tampak sangat jelas bahwa jumlah bagian yang diterima atau yang menjadi hak ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalahnya. Mereka menyebutnya demikian karena Ali bin Abi Thalib ketika memvonis masalah ini sedang berada di atas mimbar (podium). Jumlah bagian dalam contoh ini telah melebihi pokok masalah. dan bagian saudara perempuan seibu juga seperenam (1/6) berarti dua bagian. anak perempuan. seorang saudara kandung perempuan. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga.berarti empat bagian.berarti dua bagian. sedangkan bagian dua orang saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti delapan bagian. ibu. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dua belas (12). ibu mendapat seperenam (1/6) berarti dua bagian. yaitu lima belas bagian. seorang saudara perempuan seayah. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. saudara kandung perempuan memperoleh setengah (1/2) berarti enam bagian. dan dua orang saudara kandung perempuan. dan bagian keempat saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) yang berarti empat bagian. atau tujuh belas (17). yakni tujuh belas berbanding dua belas. yaitu menjadi tiga belas (13). dan empat orang saudara perempuan seibu. sedangkan bagian kedua nenek adalah seperenam (1/6) yang berarti dua bagian. Dalam contoh ini tampak dengan jelas bahwa jumlah bagian ashhabul furudh telah melampaui pokok masalahnya. Contoh masalah ini seperti berikut: seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Seseorang wafat dan meninggalkan istri. sedangkan saudara perempuan seayah seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua pertiga-. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dua belas (12). dua orang nenek. sedangkan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga (2/3)-.

Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lain sisanya. Bila dalam pembagian waris tidak ada ketiga syarat tersebut maka kasus ar-radd tidak akan terjadi. dan tidak ada 'aul. maka pokok masalahnya dari dua (2). " (al-Kahfi: 64) "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan . dan tidak dapat di-'aul-kan.' Lalu keduanya kembali. atau dua orang ahli waris yang masingmasing berhak mendapatkan bagian setengah (1/2). Seperti terdapat dalam firman Allah berikut: "Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari. Sekali lagi ditegaskan. D. Catatan 1. dalam masalah almimbariyyah ini pokok masalah dua puluh empat hanya bisa di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh. ada sisa harta waris. maka pokok masalahnya dari delapan. kecuali bila terwujud tiga syarat seperti di bawah ini: 1. maka pokok masalahuya dari empat (4). Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperdelapan (1/8) dan yang lain sisanya.. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperdelapan dan yang lainnya setengah. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lainnya dua per tiga (2/3).maka sisa harta waris itu diberikan atau dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh sesuai dengan bagian mereka masing-masing." (al-Ahzab: 25) Dalam sebuah doa disebutkan "Allahumma radda kaidahum 'annii" (Ya Allah.dengan jumlah bagian yang harus diberikan kepada para ashhabul furudh. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dan yang lain sisanya. dan dalam hal ini tidak ada 'aul. Definisi ar-Radd Ar-radd dalam bahasa Arab berarti 'kembali/kembalikan' atau juga bermakna 'berpaling/palingkan'. palingkanlah/halaulah tipu daya mereka terhadapku).. maka pokok masalahnya dari tiga (3). tetapi ternyata harta warisan itu masih tersisa --sementara itu tidak ada sosok kerabat lain sebagai 'ashabah-. 3. dalam suatu keadaan (dalam pembagian hak waris) para ashhabul furudh telah menerima haknya masing-masing. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapatkan bagian setengah (1/2) dari harta waris. adanya ashhabul furudh 2. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperempat (1/4) dan yang lain berhak mendapat setengah (1/2). Sebagai misal. kemudian yang lain berhak mendapatkan sisanya. mengikuti jejak mereka semula. Adapun ar-radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya/lebihnya jumlah bagian ashhabul furudh. Syarat-syarat ar-Radd Ar-radd tidak akan terjadi dalam suatu keadaan. 4. E. 62 . dan tidak ada 'aul. 2. Ar-radd merupakan kebalikan dari al-'aul. tidak adanya 'ashabah 3.

Dan kekerabatan ini akan putus karena kematian. G. adanya pemilik bagian yang sama. akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab). cucu perempuan keturunan anak laki-laki 3. sekalipun keduanya termasuk ashhabul furudh dalam beberapa keadaan tertentu. ibu kandung 6. bila dalam pembagian hak waris terdapat salah satunya --ayah atau kakek-. karena keduanya akan menerima waris sebagai 'ashabah. suami atau istri tidak mendapatkan bagian sebagai tambahan. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. dan tanpa suami atau istri 3. bila seseorang wafat dan hanya meninggalkan sepuluh saudara kandung perempuan. Sebagai misal. dan seterusnya)-. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap bertele-tele dan agar lebih cepat sampai pada tujuan dengan cara yang paling mudah. Artinya. dan dengan adanya suami atau istri Hukum Keadaan Pertama Apabila dalam suatu keadaan ahli warisnya hanya terdiri dari sahib fardh dengan bagian yang sama --yakni dari satu jenis saja (misalnya. Sebab dalam keadaan bagaimanapun. saudara laki-laki seibu Adapun mengenai ayah dan kakek. adanya ahli waris pemilik bagian yang sama.dan dalam keadaan itu tidak terdapat suami atau istri. disebabkan mereka merupakan ahli waris dari bagian yang sama. dan masing-masing mempunyai cara atau hukum tersendiri. anak perempuan 2. saudara perempuan seibu 8. dan dengan adanya suami atau istri 4. Adapun ashhabul furudh yang dapat menerima ar-radd hanya ada delapan orang: 1. 63 . Maka apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat kelebihan atau sisa dari harta waris.-maka tidak mungkin ada ar-radd. Sebab. yaitu adanya ikatan tali pernikahan. dan tanpa adanya suami atau istri 2. semuanya berhak mendapat bagian setengah. maka pokok masalahnya dari tiga. bagian mereka sesuai fardh adalah dua per tiga (2/3). Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab. nenek sahih (ibu dari bapak) 7. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. atau seperempat. maka pokok masalahnya dari sepuluh. Mereka hanya mendapat bagian sesuai bagian yang menjadi hak masing-masing. Dan pembagiannya pun secara fardh dan ar-radd.F. suami atau istri bagaimanapun keadaannya tidak mendapat bagian tambahan dari sisa harta waris yang ada. mereka tidak bisa mendapatkan ar-radd. saudara kandung perempuan 4. H. Karena itu pembagian hak masing-masing sesuai jumlah mereka. Contoh lain. kecuali suami dan istri. saudara perempuan seayah 5. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd Ar-radd dapat terjadi dan melibatkan semua ashhabul furudh. maka dari itu mereka (suami dan istri) tidak berhak mendapatkan ar-radd. maka cara pembagiannya dihitung berdasarkan jumlah ahli waris. sesuai jumlah ahli waris. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd Adapun ahli waris dari ashhabul furudh yang tidak bisa mendapatkan ar-radd hanyalah suami dan istri. Keempat macam itu: 1. seseorang wafat dan hanya meninggalkan tiga anak perempuan. Macam-macam ar-Radd Ada empat macam Ar-radd. dan sisanya mereka terima secara ar-radd.

dan itulah pokok masalahnya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. karena jumlah bagiannya empat. untuk kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). Maka jumlah bagiannya adalah lima. yang penting tidak ada salah satu dari suami atau istri. karena jumlah bagiannya adalah lima. Hukum Keadaan Kedua Apabila dalam suatu keadaan terdapat bagian ahli waris yang beragam --dan tidak ada salah satu dari suami atau istri-. 3. hitungan (bagiannya) sebagai berikut: ibu mendapatkan seperdelapan dari empat puluh. Seseorang wafat meninggalkan seorang anak perempuan serta seorang cucu perempuan keturunan anak laklaki. Contoh lain. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri dan empat anak perempuan. sedangkan sisanya --tiga per empat (3/4)-. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang nenek. 5. serta seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. seseorang wafat dan meningalkan seorang nenek dan saudara perempuan seibu. berarti masing-masing menerima tujuh bagian. sedangkan sisanya tujuh per delapan (7/8) merupakan bagian kelima anak perempuan dan dibagi secara merata di antara mereka. serta lima orang anak perempuan. suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian berarti satu. Pokok masalahnya adalah delapan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. yakni tiga. Misal lain. seseorang wafat dan meninggalkan suami dan dua anak perempuan. serta seorang saudara perempuan seibu. angka ini diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan (tidak berhak untuk ditambah). bagi ibu seperenam (1/6). karena angka itu diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. serta saudara laki-laki seibu. dan sisanya (yakni 3/4) merupakan bagian kedua anak perempuan dan dibagi secara rata. Berarti bila pokok masalahnya dari empat (4). Seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. dan itulah pokok masalahnya. dan saudara perempuan seibu. dan setelah ditashih pokok masalahnya menjadi empat puluh. 4. Maka pokok masalahnya dari empat. berarti lima bagian. Begitu seterusnya. Sebagai misal. saudara kandung perempuan. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan.dibagi secara merata untuk keempat anak perempuan pewaris. Di sini tampak jumlah bagiannya tiga. bukan dari jumlah ahli waris (per kepala). Maka pokok masalahnya empat. Pembagiannya: istri mendapatkan seperempat (1/4) bagian. Maka jumlah bagiannya adalah lima. maka kaidah yang berlaku ialah kita jadikan pokok masalahnya dari sahib fardh yang tidak dapat ditambah (di-radd-kan) dan barulah sisanya dibagikan kepada yang lain sesuai dengan jumlah per kepala. Maka suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian. berarti mendapat satu bagian. Maka pokok masalahnya dari empat. anak perempuan. Dalam hal ini pokok masalahnya dari empat. Maka pokok masalahnya dari dua. yakni sesuai jumlah kepala. Maka pembagiannya.Misal lain.maka cara pembagiannya dihitung dan nilai bagiannya. Hukum keadaan Ketiga Apabila para ahli waris semuanya dari sahib fardh (bagian) yang sama. diambil dari istri sebagai sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Maka pokok masalahnya lima. Contoh lain. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan serta saudara perempuan seayah. 2. Hitungan ini perlu pentashihan. sedangkan sisanya --tiga puluh lima bagian-dibagikan secara merata kepada kelima anak perempuan pewaris. Sebagai misal. 64 . saudara perempuan seayah. seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu. disertai salah satu dari suami atau istri. Maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. dan itulah angka yang dijadikan pokok masalah. yaitu istri. disebabkan bagiannya sama. dan sisanya (tiga per empat) dibagikan kepada anak secara merata. Contoh-contoh keadaan kedua 1. yang bagiannya dalam keadaan demikian seperempat (1/4). karena jumlah bagiannya ada empat. dua orang saudara laki-laki seibu.

Bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) = 2 bagian. yakni tiga bagian. berarti ia mendapat lima (5) bagian.Dalam contoh ini juga harus ada pentashihan pada pokok masalahnya. mana yang paling tepat. Untuk lebih memperjelas masalah yang rumit ini perlu saya sertakan contoh kasusnya: Seseorang wafat dan meninggalkan istri. tawaafuq (sepadan). dan tabaayun (perbedaan). Kemudian langkah berikutnya kita kalikan pokok masalah kedua (delapan) dengan pokok masalah pertama (lima). Maka pembagiannya sebagai berikut: bagian kedua anak perempuan adalah hasil perkalian antara empat (bagiannya dalam ilustrasi pertama) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian pada ilustrasi kedua) berarti dua puluh delapan (28) bagian. Kemudian bila istri mendapat bagiannya. yakni tiga bagian. Contoh lain: seseorang wafat meninggalkan istri. pokok masalah yang mulanya empat (4) naik menjadi enam belas (16).asal pokok masalahnya dari delapan. yakni istri. 65 . Seperti kita ketahui bahwa antara tujuh dan lima itu tabaayun (berbeda). karena merupakan fardh orang yang tidak dapat di-radd-kan. Ilustrasi ini juga merupakan tamaatsul (sama) dengan masalah ar-radd. dan di dalamnya terdapat pula suami atau istri. yakni yang seperdelapan. Maka pembagiannya seperti berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami dan istri: Pokok masalahnya dari enam. yakni seperempat (1/4). Sedangkan dalam ilustrasi kedua --menyertakan suami/istri-. Oleh karena itu. nenek. dan ibu. dan dua orang saudara perempuan seibu. Dengan melihat kedua ilustrasi tersebut. Kini. Karenanya tidak lagi memerlukan tashih. yaitu istri. kita dapati bagian yang sama antara bagian nenek dan bagian dua saudara perempuan seibu. Bagian kedua anak perempuan dan ibu adalah sisa setelah diambil bagian istri --yang tersisa tiga puluh lima (35) bagian. Hukum keadaan Keempat Apabila dalam suatu keadaan terdapat ashhabul furudh yang beragam bagiannya. Pada ilustrasi pertama --tanpa menyertakan suami/istri-. dan sisa ini merupakan bagian dua anak perempuan dengan ibu. maka sisa harta waris tinggal tiga bagian. Dengan demikian. Maka hasil perkalian antara kedua pokok masalah itu adalah pokok masalah bagi kedua ilustrasi tersebut. maka sisanya tujuh per delapan (7/8). dan pada persoalan kedua kita menyertakan suami atau istri. dua orang anak perempuan. karena itulah jumlah bagian yang ada. Setelah itu barulah kita lihat kedua ilustrasi tersebut dengan salah satu dari tiga kriteria yang ada. Bagian istri seperempat (1/4) berarti memperoleh satu bagian. merupakan bagian nenek dan kedua saudara perempuan seibu.asal pokok masalahnya dari enam. maka bagian istri adatah seperdelapan dari empat puluh bagian yang ada. dengan ar-radd menjadi dari lima (yakni dari jumlah bagian yang ada). Sehingga pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4) dari enam belas berarti empat bagian. setiap anak memperoleh tiga bagian. dan dengan ar-radd menjadi dari lima. Apabila istri mengambil bagiannya. Bagian nenek seperenam (1/6) berarti satu bagian. Sedangkan ketiga kriteria yang dimaksud ialah tamaatsul (kemiripan). Sisanya. setelah kita kenali pokok masalah dari kedua ilustrasi masalah tersebut. secara fardh dan radd. Pada persoalan pertama kita tidak menyertakan suami atau istri. dan cukuplah kita jadikan ilustrasi masalah kedua itu sebagai pokok masalah. yaitu diambil dari bagian sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Sedangkan sisanya dua belas bagian dibagikan secara merata kepada keempat anak perempuan pewaris. maka menurut kaidah yang berlaku kita harus menjadikannya dalam dua masalah. Angka tiga tersebut berarti tamaatsul (sama) dalam kedua ilustrasi. Kemudian kita buat diagramnya secara terpisah. Ilustrasi kedua menyertakan suami atau istri: Pokok masalahnya dari empat.

ditambah bagian ibu adalah 5 + 28 + 7 = 40. berarti Bagian dua anak perempuan dan ibu Setelah tashih bagian anak perempuan Bagian ibu 1 7 4x7 4x7 28 7 Setelah tashih menjadi setelah tashih Berarti Berarti 4 1 5 40 5 66 . ditambah bagian kedua anak perempuan. dari jumlah keseluruhan antara bagian istri. Lihat tabel berikut : Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami/istri Pokok masalahnya aslinya dari 65. diambil dari ahlul fardh yang tak dapat diradd Bagian istri 1/8.Adapun bagian ibu adalah hasil perkalian antara bagiannya dalam ilustrasi pertama (satu bagian) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian dalam ilustrasi kedua) berarti tujuh (7) bagian. Jadi. menjadi 5 Bagian kedua anak perempuan 2/3 Bagian ibu seperenam (1/6) Jumlah bagian Ilustrasi kedua dengan menyertakan suami/istri Pokok masalah dari delapan. dengan radd.

Hal ini agar kita dapat mengetahui secara pasti bagian setiap ahli waris. sepertiga (1/3). Misalnya. atau yang mutabaayinah (saling berbeda). Hal ini diambil dari kaidah qur'aniyah: bagian anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami dan saudara kandung perempuan.VIII. seseorang wafat dan hanya meninggalkan lima orang anak. Artinya. Pokok masalahnya juga dihitung dari jumlah per kepala. Atau seseorang wafat meninggalkan sepuluh saudara kandung laki-laki. Kaidah ini sangat mudah sekaligus mempermudah kita untuk memahami pokok masalah ketika ahli waris terdiri dari berbagai sahib fardh yang mempunyai bagian berbeda-beda. atau semuanya hanya dari ashhabul furudh. kita harus mengetahui apakah ahli waris yang ada semuanya hanya termasuk 'ashabah. maka pokok masalahnya dari lima. begitu seterusnya. Apabila para ashhabul furudh hanya terdiri dari bagian yang pertama saja (yakni 1/2. Untuk mengetahui pokok masalah. yakni antara angka-angka yang mutamatsilah (sama) atau yang mutadaakbilah (saling berpadu). ahli warisnya dari sahib fardh setengah (1/2) dan seperempat (1/4). dan sebagainya-. berarti itulah pokok masalahnya. dan demikian seterusnya. penj. 1/4. dua laki-laki dan tiga perempuan. yang perlu diketahui adalah bagaimana dapat memperoleh angka pembagian hak setiap ahli waris tanpa melalui pemecahan yang rumit. seperempat (1/4). seperenam. bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari para sahib fardh setengah (1/2). maka satu anak laki-laki kita hitung dua kepala (hitungan). dan seperenam (1/6). Contoh lain.). Persoalan "pokok masalah" ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah at-ta'shil. Bila semuanya seperempat (1/4) atau seperdelapan (1/8). seperempat (1/4). Bila ternyata ahli waris yang ada terdiri dari anak laki-laki dan perempuan. jika ternyata ahli waris yang ada semuanya dari ashhabul furudh yang sama. maka pokok masalahnya dari sepuluh. maka pokok masalahnya dari empat atau delapan. Misalnya. Kedua: bagian dua per tiga (2/3).maka pokok masalahnya dari enam (6). maka pokok masalahnya sebelas. Misal lain. Untuk memperjelas masalah ini. Secara umum dapat dikatakan bahwa bila ahli waris semuanya sama --misalnya masing-masing berhak mendapat seperenam (1/6)-. tanpa mengurangi atau melebihkan hak masing-masing. Para ulama faraid membagi kaidah tersebut menjadi dua bagian: Pertama: bagian setengah (1/2). Kemudian. hingga pembagiannya benar-benar adil.kita harus mengalikan dan mencampur antara beberapa kedudukan. 1/8). Apabila seluruh ahli waris yang ada semuanya dari 'ashabah.maka pokok masalahnya dari delapan (8). baiklah kita simak kaidah yang telah diterapkan oleh para ulama ilmu faraid. dan satu wanita satu kepala. atau gabungan antara 'ashabah dengan ashhabul furudh. Misalnya. Sebab. berarti pokok masalahnya dari angka yang paling besar. bila dalam suatu keadaan. maka pokok masalahnya dihitung per kepala --jika semuanya hanya dari laki-laki. bagian suami setengah (1/2) dan bagian saudara kandung perempuan juga setengah (1/2). Dalam hal ini. Misalnya. 67 . maka pokok masalahnya dari tiga (3). PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN MENGETAHUI pokok masalah merupakan suatu keharusan bagi kita yang mengkaji ilmu faraid. misalnya ada yang berhak setengah. dan seperdelapan (1/8). dan seperdelapan (1/8) --atau hanya seperempat dengan seperdelapan-. Bila semuanya berhak sepertiga (1/3). Karena itu. para ulama ilmu faraid tidak mau menerima kecuali angka-angka yang jelas dan benar (maksudnya tanpa menyertakan angka-angka pecahan. Maka pokok masalahnya berarti tujuh (7). seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak laki-laki. Maka pokok masalahnya dari dua (2). yang berarti usaha untuk mengetahui pokok masalah. Sedangkan jika para ahli waris yang ditinggalkan pewaris terdiri dari banyak bagian --yakni tidak dari satu jenis. maka pokok masalahnya dari empat (4). bila mayit meninggalkan lima anak perempuan dan tiga anak laki-laki. terlebih dahulu perlu kita ketahui siapa-siapa ahli warisnya.

Berdasarkan kaidah yang ada. dan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. 1/3.bercampur dengan salah satu dari kelompok kedua. ibu seperenam (1/6).dengan seperenam (1/6) dan sepertiga (1/3). sahib fardh seperdelapan (1/8) yang merupakan kelompok pertama-.bercampur dengan seluruh kelompok kedua. ia akan mendapat sisa yang ada setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. seseorang wafat dan meninggalkan suami. perlu saya utarakan beberapa contoh. dan 1/6) diperlukan kaidah yang lain untuk mengetahui pokok masalahnya. Maka dalam hal ini hendaklah diambil angka penyebut yang terbesar. maka pokok masalahnya dari dua belas (12). ibu. Apabila dalam suatu keadaan. sahib fardh seperempat (1/4) yang merupakan kelompok pertama-. maka pokok masalahnya dari enam (6). sahib fardh setengah (1/2) --yang merupakan kelompok pertama-. Bila tidak tersisa. maka pokok masalahnya dari enam (6). sebagai 'ashabah Nilai 3 1 2 0 Contoh lain. 3. Untuk lebih memperjelas kaidah tersebut. maka pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). pokok masalahnya dari dua belas (12). dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). 2. Pada contoh ini tampak ada campuran antara bagian seperempat (1/4) --yang termasuk kelompok pertama-. Lihat diagram: Pokok masalah dari enam (6) Keterangan Suami setengah (1/2) Saudara laki-laki seibu seperenam (1/6) Ibu sepertiga (1/3) Paman kandung. Misalnya. Angka tersebut merupakan hasil perkalian antara empat (yang merupakan bagian istri) dengan tiga (sebagai bagian kedua saudara laki-laki seibu). Apabila dalam suatu keadaan. jika dalam suatu keadaan ahli warisnya bercampur antara sahib fardh kelompok pertama (1/2. atau semuanya. maka ia tidak berhak menerima harta waris. Akan tetapi. ibu. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). dan 1/8) dengan kelompok kedua (2/3. yang merupakan kelompok kedua. dan seorang saudara laki-laki kandung. Kaidah yang dimaksud seperti tersebut di bawah ini: 1. sedangkan paman sebagai 'ashabah. atau salah satunya. dan paman kandung. saudara laki-laki seibu. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Maka pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4).bercampur dengan seluruh kelompok kedua atau salah satunya. pokok masalah pada contoh tersebut dari enam. Apabila dalam suatu keadaan. Dari contoh tersebut tampak ada campuran antara kelompok pertama (yakni 1/2) dengan sepertiga (1/3) dan seperenam (1/6). 1/4. Sebab angka tiga merupakan bagian dari angka enam. ibu sepertiga (1/3). Tabelnya tampak berikut ini: Pokok masalah dari dua belas (12) Keterangan Istri seperempat (1/4) Ibu seperenam (1/6) Dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) Saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah (sisanya) Nilai 3 2 4 3 68 . Maka pembagiannya sebagai berikut: suami mendapat setengah (1/2). dua orang saudara laki-laki seibu.Begitu juga bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari sahib fardh sepertiga (1/3) dengan seperenam (1/6) atau dua per tiga (2/3) dengan seperenam (1/6). Maka berdasarkan kaidah.

Definisi at-Tamaatsul At-Tamaatsul dalam bahasa Arab berarti at-tasyabuh. anak perempuan setengah (1/2). dan seterusnya. atau jumlah bagian ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalah. maka kita tidak perlu menggunakan cara-cara yang berbelit dan memusingkan. Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8). angka delapan (8) dengan angka empat (4). karenanya ia mendapat sisa harta waris bila ternyata masih tersisa. cucu perempuan keturunan anak laki-laki.Misal lain. kemudian kita kalikan dengan angka yang lain dengan sempurna. Apabila pokok masalah --harta waris-. Hal seperti ini disebabkan setengah dari dua angka tersebut (yakni enam dan delapan) ada selisih. Sedangkan menurut ulama faraid berarti sama dalam jumlah atau nilai. Maka berdasarkan kaidah yang ada. at-tamaatsul (kemiripan/kesamaan). A. Definisi at-Tadaakhul At-Tadaakhul dalam bahasa Arab berasal dari kata dakhala. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Pada contoh ini tampak ada percampuran antara seperdelapan (1/8) sebagai kelompok pertama dengan seperenam (1/6) sebagai kelompok kedua. Sedangkan menurut ulama ilmu faraid berarti mewujudkan jumlah yang kurang dari bagian setiap ahli waris tanpa pecahan dalam pembagiannya. bila harta waris tersebut kurang dari jumlah bagian yang mesti diterima setiap ahli waris. Sedangkan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. angka delapan belas (18) dengan angka enam (6). Begitulah seterusnya. sehingga dari pembagian itu tidak ada lagi angka atau jumlah yang tersisa. lawan kata dari "keluar". Misalnya. at-tawaafuq (saling bertautan). Atau setengah dari delapan (yakni empat) kali enam (6). Yaitu. yang satu tidak lebih banyak atau lebih sedikit dari yang lain. angka tiga berarti sama dengan tiga. ibu. yakni 'sama bentuknya'. dan bagian ibu seperenam (1/6). Tentang Tashih Agar kita dapat memahami dan menelusuri rincian pentashihan pokok masalah. at-tadaakhul (saling terkait/saling bercampur). yakni 'masuk'. Misalnya. pokok masalah pada contoh ini dari dua pulah empat (24). 69 . dan at-tabaayun (berbeda/saling berjauhan). (8 : 2 x 6 = 24). maka kita harus mengetahui nisbahnya (koneksi) dengan keempat istilah perhitungan. sebagai 'ashabah (sisa) berarti berarti berarti berarti 3 12 4 4 1 Angka dua puluh empat (24) yang dijadikan sebagai pokok masalah timbul sebagai hasil perkalian antara setengah dari enam (yakni 3) dengan delapan (6 : 2 x 8 = 24). cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). maka dalam hal ini memerlukan pentashihan pokok masalahnya. angka dua puluh tujuh (27) dengan angka sembilan (9). anak perempuan. Definisi Tashih Tashih dalam bahasa Arab berarti 'menghilangkan penyakit'. Berikut ini tabelnya: Pokok masalah dari 24 Bagian istri seperdelapan (1/8) Bagian anak perempuan setengah (1/2) Cucu perempuan dari anak laki-laki seperenam (1/6) Bagian ibu seperenam (1/6) Saudara kandung laki-laki. Sedangkan menurut ulama faraid adalah pembagian angka yang besar oleh angka yang lebih kecil. dan lima sama dengan lima.dalam suatu pembagian waris cocok (sesuai) dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. Namun. dan saudara kandung laki-laki. karenanya kita ambil setengah dari salah satu angka tadi.

Contoh amaliah tentang pentashihan pokok masalah Seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. Sedangkan menurut istilah ilmu faraid ialah setiap dua angka yang dapat dibagi angka ketiga. ayah. dan bagiannya 2/3 dari 6. maka disebut tabaayun. maka kita perlu mengetahui kapan kita dapat atau memungkinkan untuk mentashih pokok masalah? Dan apa tujuannya. attadaakhul. Untuk lebih memperjelas masalah ini. Angka 8 dengan 20 sama-sama dapat dibagi oleh angka 4. Pada hakikatnya. Sedangkan menurut kalangan ulama ilmu faraid ialah setiap bilangan yang satu dengan lainnya tidak dapat membagi. maka ada kesamaan. angka 8 dengan 6 keduanya dapat dibagi oleh angka 2. angka 5 dengan 9. ibu.maka kita harus melihat apakah ada kecocokan di antara kedua hal itu ataukah tidak. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Bagian keempat anak perempuan ialah dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. Bila jumlah per kepala setelah dibagi cocok dan pas dengan jumlah bagian setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Sang ayah seperenam berarti satu bagian. Cara pentashihan yang biasa dilakukan para ulama faraid seperti berikut: langkah pertama. Angka 12 dengan angka 30 sama-sama dapat dibagi oleh angka 6. sebagai bagian khusus yang berkaitan dengan setiap bagian pada pokok masalah. dan sang ibu juga 70 . berarti 4. Sedangkan apabila suatu angka tidak dapat dibagi oleh bilangan lain. penj. Inilah yang disebut "pentashihan pokok masalah" oleh kalangan ulama faraid.). Sebab setiap anak mendapat bagian satu). maka hasil dari perkalian itu yang menjadi pokok masalah sebenamya. Maksudnya. at-tawaafuq. Adapun bila terjadi mubayaanah (ada selisih) maka kalikan jumlah per kepalanya dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. melihat bagian setiap ahli waris dan jumlah per kepalanya. sebagaimana yang dikehendaki ad-Din al-Islam. tetapi ada ahli waris yang belum mendapat bagian-. Apabila angka yang besar dibagi angka yang lebih kecil. bila jumlah per kepalanya jauh lebih sedikit dari jumlah bagian ahli waris yang ada --jumlah pokok masalahnya sudah habis. Misalnya angka 7 dengan angka 4. dengan cara mengalikan jumlah per kepala dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya.maka kedua bilangan itu ada tawaafuq. dan tidak pula dapat dibagi oleh bilangan lain (ketiga). Namun. Misalnya. Hal ini merupakan satu perhatian yang sangat baik dari para ulama faraid dalam usaha mereka mewujudkan kemaslahatan yang menyeluruh. Tetapi apabila kedua bilangan itu sama. maka inilah yang sempurna dan sangat diharapkan. Bila ada kesesuaian antara bagian tiap ahli waris dengan jumlah per kepalanya. Cara Mentashih Pokok Masalah Setelah kita ketahui dengan baik makna-makna at-tamaatsul. maka kedua bilangan itu tadaakhul. Selain itu. sehingga tidak mengurangi ataupun menambahkan. demikian seterusnya. Hal ini dimaksudkan agar dapat mewujudkan keadilan yang optimal dalam pembagian tersebut. yakni saling berjauhan atau saling berbeda. maka di antara kedua bilangan tersebut adalah mutamaatsilan. maka setiap anak berhak mendapat bagian sesuai dengan jumlah per kepalanya. oleh ulama faraid disebut dengan juz'us sahm. kalangan ulama faraid tidak mau menerima permasalahan pembagian waris kecuali dengan angka-angka yang pasti (maksudnya tanpa pecahan. perlu saya kemukakan contoh kasus sehingga pembaca dapat lebih memahaminya. sehingga menurut mereka di antara kedua bilangan itu ada tadaakhul. Apabila angka yang besar tidak dapat dibagi angka yang kecil --tetapi dibagi angka yang lain-. dan at-tabaayun.Definisi at-Tawaafuq At-Tawaafuq dalam bahasa Arab berarti 'bersatu'. B. untuk mewujudkan keadilan mereka berusaha mengetahui jumlah bagian yang merupakan hak setiap ahli waris. angka 8 dengan 11. Sedangkan mengenai bagian untuk mengalikan pokok masalah atau meng-'aul-kan dengan tujuan mentashih pokok masalah. dan tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki. empat anak perempuan. Definisi at-Tabaayun At-Tabaayun dalam bahasa Arab berarti tabaa'ud. Untuk mengetahui secara tepat pengertian tabaayun. (Misalnya. kita bandingkan pengertiannya dengan istilah lainnya.

Contoh lain. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Kita lihat dalam contoh di atas ada at-tawaafuq antara jumlah per kepala anak perempuan dengan jumlah bagian yang mereka peroleh. Maka 2 x 6 = 12. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. Contoh masalah yang at-tawaafuq. dan paman kandung. tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. maka tiap orang mendapat satu bagian. dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 sebagai penyempurna 2/3 berarti 2 bagian. enam saudara kandung perempuan. Bila kita perhatikan baik-baik contoh ini. Berarti kesesuaian pembagian tersebut tidak memerlukan pentashihan pokok masalah. Itulah tashih pokok masalah. dua saudara perempuan seibu. kemudian di-'aul-kan menjadi tujuh (7). tahulah kita bahwa contoh masalah tersebut cenderung (bernisbat) pada at-tamaatsul. kita lihat bahwa pokok masalahnya tidak memerlukan pentashihan. berarti empat bagian. berarti tiga (3). penj. dan sisanya (satu bagian) adalah bagian paman kandung sebagai 'ashabah. keenam saudara kandung perempuan mendapat dua belas bagian. dan dua orang saudara laki-laki seibu. dan bagian saudara kandung laki-laki satu bagian (sisanya) sebagai 'ashabah bin nafsihi. kemudian di-'aul-kan menjadi sembilan (9). dan bagian yang mereka peroleh juga empat. Seseorang wafat dan meninggalkan delapan (8) anak perempuan. dan bagian kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). Seseorang wafat dan meninggalkan ibu. sedangkan bagian keenam saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). kemudian bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian.seperenam berarti satu bagian. Inilah tabelnya: 3 12 3 6 2 1 Suami 1/4 Anak perempuan 1/2 Tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) 36 9 18 6 3 71 . Bagi kedua saudara perempuan seibu dua bagian. bagian anak perempuan 1/2 berarti enam (6) bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). sedangkan bagian keempat saudara kandung perempuan adalah dua per tiga (2/3) yang berarti empat (4) bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12. yakni angka enam (6). Setelah pentashihan. berarti dua bagian. Bagi keempat saudara kandung perempuan empat bagian. maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan bagian (9). Karena itu tidak lagi memerlukan pentashihan pokok masalah. yaitu dua (2). Sehingga dalam pembagiannya akan dengan pas dan mudah. sebab bagian yang mesti dibagikan kepada mereka (keempat anak perempuan itu) tidak lagi memerlukan pecahan-pecahan. dan kita kalikan dengan pokok masalah setelah di-'aul-kan yakni angka sembilan (9). Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Dalam contoh tersebut kita lihat jumlah anak perempuan ada empat (4). seseorang wafat dan meninggalkan suami. Sedangkan tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tidak mendapat bagian (mahjub karena anak pewaris lebih dari dua orang. berarti 3 x 9 = 27. dan empat saudara kandung perempuan. Misal lain. Bagian suami 1/4 berarti tiga (3) bagian. Bagian kedelapan anak perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. Contoh lain yang at-tamaatsul. yaitu dua (2). anak perempuan. Dalam contoh di atas kita lihat ada tawaafuq antara jumlah bagian yang diterima para saudara kandung perempuan dengan jumlah per kepala mereka. Hasil dari perkalian itulah yang akhirnya menjadi pentashihan pokok masalah. maka setiap orang mendapat satu bagian. Dengan demikian.). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahuya dari enam (6). dan kedua saudara laki-laki seibu mendapat enam bagian (9 + 12 + 6 = 27). seseorang wafat dan meninggalkan suami. ibu. Kemudian kita ambil separo jumlah per kepala mereka. Sebab jumlah per kepalanya sesuai dengan jumlah yang dibagikan. setiap anak menerima satu bagian. dan saudara kandung laki-laki. Angka dua itulah yang menurut istilah ulama faraid sebagai bagian dari bagian juz'us sahm kemudian bagian dari bagian itu dikalikan dengan pokok masalah.

dan saudara laki-laki seibu. kedua nenek 1/6-nya = 4. maka angka 36 itu berarti pokok masalah hasil pentashihan. Dan angka lima (5) itulah yang dinamakan juz'us sahm. dan jumlah per kepala mereka ada perbedaan (tabaayun). sedangkan saudara seibu mahjub. Perhatikan tabel berikut: 28 24 3 16 4 1 - 3 istri bagiannya 1/8 7 anak perempuan 2/3 2 orang nenek 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) Saudara laki-lah seibu (mahjub 672 84 448 112 28 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian anak perempuan (16) dengan jumlah per kepala mereka (7) ada perbedaan (tabaayun). berarti 7 x 4 = 28. Tujuh anak perempuan mendapat 2/3-nya = 16. kita kalikan jumlah per kepala anak perempuan (yakni 7) dengan jumlah per kepala saudara kandung (yakni 4). seseorang wafat dan meninggalkan istri. sedangkan bagian saudara kandung laki-laki mahjub (terhalang). Angka itu merupakan pokok masalah setelah pentashihan. kemudian di-'aul-kan menjadi 27. dan saudara kandung lakilaki. kelima anak perempuan mendapat bagian 2/3 yang berarti 16. karenanya kita kalikan angka 3 dengan pokok masalahnya. dan ibu mendapat 1/6 yang berarti 4. Misal lain. ibu. Contoh lain. Untuk mentashih pokok masalah dari contoh ini. Kemudian juz'us sahm tersebut kita kalikan dengan pokok masalahnya (28 x 24 = 672) hasilnya itulah yang menjadi pokok masalah setelah pentashihan. tujuh anak perempuan.Berdasarkan tabel tersebut kita lihat antara bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki dengan jumlah per kepala mereka (yakni 2 dengan 3) ada tabaayun (perbedaan). Karenanya di antara keduanya ada tabaayun (perbedaan). ayah memperoleh 1/6 berarti 4. Inilah tabelnya: 5 27 3 16 4 4 - 24 Istri 1/8 Lima anak perempuan 2/3 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Saudara kandung laki-laki (mahjub) 135 15 80 20 20 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian kelima anak perempuan tidak bisa dibagi oleh jumlah per kepala mereka. lima anak perempuan. Maka bagian masing-masing seperti berikut: pokok masalahnya dari 24. yakni 27 x 5 = 135. Bagian istri 1/8 = 3. ayah. Pentashihan seperti ini dapat diterapkan dalam contoh-contoh yang lain. seorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. Angka tersebut (yakni 28) merupakan juz'us sahm. yakni 3 x 12 = 36. dua orang nenek. dan empat saudara kandung laki-laki (sisanya) yaitu 1 sebagai 'ashabah. Kemudian kita kalikan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan (yakni 27) dengan jumlah per kepala mereka. 72 . empat saudara kandung laki-laki. begitu juga dengan bagian keempat saudara kandung yang hanya satu bagian. Ketiga istri mendapat 1/8 = 3.

Sedangkan harta peninggalannya sebanyak 480 dinar. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. 960 dinar: 24 = 40 dinar. ibu mendapatkan 1/6 berarti 4 bagian. namun yang paling masyhur di kalangan ulama faraid ada dua -. Contoh Cara Pertama Seseorang wafat dan meninggalkan istri. kemudian kita kalikan dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris. Maka hasilnya merupakan bagian masing-masing ahli waris. Pembagian Harta Peninggalan At-tarikah (peninggalan) dalam bahasa Arab bermakna seluruh jenis kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. Semua peninggalan itulah yang harus dibagikan kepada ahli waris yang ada sesuai dengan hak bagian yang harus mereka terima. sedangkan sisanya (yakni 5 bagian) merupakan hak ayah sebagai 'ashabah. Cucu pr. istri mendapatkan 1/8 yang berarti 3 bagian. dan ibu. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-tashikkan-kan menjadi 24. Jadi. berarti 480: 24 = 20 dinar adalah harga per bagian. Cucu perempuan mendapatkan 1/2 yang berarti 12 bagian. Hal ini kita lakukan dengan cara mengalikan bagian tiap-tiap ahli waris dengan jumlah (nilai) harta peninggalan yang ada. anak perempuan. Sedangkan harta waris yang ada sebanyak 960 dinar. Cara kedua: kita ketahui terlebih dahulu bagian setiap ahli waris secara menyeluruh. x x x x Tabelnya seperti berikut: 2 12 6 3 2 2 bagian istri Anak perempuan Ibu Ayah ('ashabah) 3 bagian 12 bagian 4 bagian 5 bagian 20 dinar 20 dinar 20 dinar 20 dinar Total 24 Cucu perempuan keturunan anak laki-laki Suami 1/4 Ibu 1/6 2 saudara perempuan kandung ('ashabah ma'al ghair) 1/2 1/4 1/6 1 24 12 6 4 Adapun nilai per bagian. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung perempuan. bagian masing-masing ahli waris: 1 Jadi. Sedangkan sisanya (dua bagian) untuk dua saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah ma'al ghair. suami mendapatkan 1/4 yang berarti 6 bagian. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Adapun nilai (harga) per bagiannya didapat dari hasil pembagi harta waris yang ada (480 dinar) dibagi pokok masalah (24). suami. Cara pertama: kita ketahui nilai (harga) setiap bagiannya.dalam hal yang berkenaan dengan harta yang dapat ditransfer. keturunan anak laki-laki x 40 dinar 2 Suami 6 x 40 dinar Ibu 4 x 40 dinar Dua saudara kandung perempuan 2 x 40 dinar = 480 dinar = 240 dinar = 160 dinar = 80 dinar 73 . atau tanah. anak perempuan 1/2 berarti 12 bagian. kemudian kita bagi dengan angka pokok masalahnya atau tashihnya. Maka hasilnya merupakan bagian dari masing-masing ahli waris. Jadi.C. dan ibu memperoleh 1/6 yang berarti 4 bagian. ayah. ibu. baik berupa harta. benda. Untuk mengetahui pembagian harta waris kepada setiap ahlinya ada beberapa cara yang harus ditempuh. = 60 dinar = 240 dinar = 80 dinar = 100 dinar = 480 dinar Contoh lain.

saudara kandung perempuan. Simak tabel berikut: 2 6 4 3 1 1 - Empat anak perempuan Dua anak laki-laki Ayah Ibu Tiga saudara kandung laki-laki (mahjub) 1/6 1/6 - 12 4 4 2 2 Adapun nilai per bagiannya adalah 3. seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan.000 dinar = 1. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian ditashih menjadi 12. berarti bagian anak perempuan 4 bagian (masing-masing satu bagian).000 dinar Contoh lain. dua saudara laki-laki seibu memperoleh 1/3 berarti 2. ibu mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian.100 dinar = 3. saudara kandung perempuan 1/2 berarti 3. dan tiga saudara kandung laki-laki.000 dinar = 500 dinar = 500 dinar = 3.100 dinar 3 Saudara perempuan kandung : x 1. ayah. dan harta peninggalannya 3.900: 9 = 1. dan nenek.Total = 960 dinar Contoh lain.100 dinar : Jadi. sedangan nenek mendapat 1/6 berarti satu (1). dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan.900 dinar.300 dinar = 3. Suami mendapat 1/2 yang berarti 3.000 dinar. Sang ayah mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian. dua anak laki-laki. dan sisanya dibagikan kepada enam (6) anak. sedangkan bagian anak laki-laki juga 4 bagian (masing-masing 2 bagian).300 dinar 74 . seseorang wafat dan meninggalkan suami. dua saudara laki-laki seibu. Suami x 1. Sedangkan harta peninggalan seluruhnya 9. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian di-'aul-kan (dinaikkan) menjadi 9. sedangkan saudara kandung laki-laki mahjub.000:12 = 250 dinar : Jadi bagian 4 anak perempuan 4 : dua anak laki-laki 4 : ibu 2 : ayah 2 x 250 dinar x 250 dinar x 250 dinar x 250 dinar Total = 1. Perhatikan tabel berikut: 6 Suami Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seibu Nenek 1/2 1/2 1/3 1/6 9 3 3 2 1 Adapun nilai per bagiannya adalah 9. ibu.

sedangkan harta warisnya berjumlah 240 dinar. suami.000 dinar Bila seseorang wafat dan meninggalkan suami.Dua saudara laki-laki seibu Nenek 3 : 2 : 1 x 1. dua anak perempuan. Suami mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). Sedangkan kedudukan para cucu dalam hal ini sebagai 'ashabah. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian).200 dinar = 2. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian ditashih menjadi 24. 3 cucu perempuan keturunan anak lakilaki. Suami Ibu Dua anak perempuan : 3 : 2 : 8 x 585:13 dinar x 585:13 dinar x 585:13 dinar Total = 135 dinar = 90 dinar = 360 dinar 585 dinar Contoh lain. sehingga mereka tidak memperoleh bagian karena harta waris telah habis dibagikan kepada ashhabul furudh. sedangkan harta yang ditinggalkan sejumlah 585 dinar. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung.100 dinar x 1. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) Cucu pr. satu cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. ibu. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 13. ket. suami mendapatkan 1/4 (berarti 6 bagian). dan dua saudara kandung 2 bagian sebagai 'ashabah. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) 1 2 4 6 2 x 240:24 dinar x 240:24 dinar x 240:24 dinar x 240:24 dinar 1/2 1/6 1/4 24 12 4 6 2 .200 dinar Total = 9. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian).100 dinar = 2. ibu. dan dua anak perempuan 2/3 (berarti 8 bagian). cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapatkan 1/2 (berarti 12 bagian). ket. 12 6 2 3 1 = 120 dinar = 40 dinar = 60 dinar = 20 dinar 75 Cucu pr. Perhatikan tabel berikut: 12 13 Suami 1/4 3 Ibu 1/6 2 Dua anak perempuan 2/3 8 Tiga cucu perempuan 'ashabah Dua cucu perempuan Jad i.

sedangkan keempat saudara perempuan seibu mendapatkan 1/3 (berarti 4 bagian). yakni istilah ad-dinariyah ash-shughra dan ad-dinariyah al-kubra. Sedangkan ahli waris yang lain ter. dan sebagian lagi ada yang mendapatkan lebih dari itu. seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Hal seperti ini di kalangan ulama faraid disebut ad-dinariyah al-kubra. dan setiap ahli waris hanya menerima satu dinar. dua saudara kandung perempuan. seibu Masalah Dinariyah al-Kubra Adapun masalah ad-dinariyah al-kubra memiliki pengertian bahwa ahli waris yang ada sebagian terdiri dari ashhabul furudh dan sebagian lagi dari 'ashabah.mahjub. jumlah bagian seluruh ahli warisnya pun 17. dan seorang saudara kandung perempuan.500 dinar. Berikut ini tabelnya: 12 1/ 4 1/ 6 2/ 3 1/ 3 17 3 2 8 4 masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar 1/6 1/2 6 1 3 2 - Total Ke-3 istri Kedua nenek Ke-8 sdr. anak laki-laki Dua saudara kandung pr. ('ashabah) Saudara perempuan seayah. ibu. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6. Sedangkan harta peninggalan sebanyak 1. Ad-dinariyah ash-shughra memiliki pengertian seluruh ahli warisnya terdiri atas kaum wanita.menjadi hak kedua saudara perempuan kandung sebagai 'ashabah. Sedangkan harta peninggalannya 600 dinar. Istri 76 . dengan demikian masing-masing mendapat satu dinar. pr. Inilah tabelnya: Ibu Cucu pr. Contoh masalahnya. delapan (8) saudara perempuan seayah. ibu mendapatkan 1/6 (berarti satu bagian). pr. dua orang nenek mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). cucu perempuan 1/2 (berarti 3 bagian). saudara perempuan seayah. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Tiga orang istri mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). kedelapan saudara perempuan seayah mendapatkan 2/3 (berarti 8 bagian). dan empat (4) saudara perempuan seibu. Jumlah harta peninggalannya ada 17 dinar. ket. Masing-masing ahli waris di antara mereka ada yang hanya mendapatkan bagian satu (1) dinar. saudara laki-laki seayah. seseorang wafat dan meninggalkan tiga (3) orang istri. Harta peninggalannya: 17 dinar. dua belas saudara kandung laki-laki. seseorang wafat meninggalkan istri. sebagian ada yang mendapatkan dua (2) dinar. Dua saudara laki-laki seayah (mahjub) Masalah Dinariyah ash-Shughra Ada dua masalah yang dikenal oleh kalangan ulama faraid. Maka kasus seperti ini disebut ad-dinariyah ashshughra. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 24 kemudian setelah ditashih menjadi 600. dan sisanya --dua bagian-. Adapun pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 17. dua anak perempuan.= 240 dinar Misal lain. dua (2) orang nenek. Contoh masalah ini sebagai berikut: misalnya. seayah Ke-4 sdr.

mendapatkan 1/8 (berarti 3 bagian), ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian), kedua anak perempuan memperoleh 2/3 (16 bagian), dan sisanya satu (1) bagian merupakan bagian ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah. Jadi, bagian Istri Ibu Kedua perempuan : 3 : 4 : anak 1 6 x 600:24 dinar x 600:24 dinar x 600:24 dinar = 75 dinar = 100 dinar = 400 dinar

Total = 575 dinar Sedangkan ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan mendapat sisanya, yakni 25 dinar sebagai 'ashabah, dengan ketentuan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Dengan demikian, yang 24 dinar dibagikan kepada ke-12 saudara kandung laki-laki dan masing-masing mendapat dua (2) dinar, dan yang satu (1) dinar bagian saudara kandung perempuan. Berikut ini tabelnya: 25 24 3 4 16 600 75 100 100 24 1

Istri 1/8 Ibu 1/6 Kedua anak perempuan 2/3 12 saudara kandung laki-laki 1 1 saudara kandung perempuan ('ashabah) Masalah ad-dinariyah al-kubra ini pernah terjadi pada zaman al-Qadhi Syuraih (seseorang mengajukan masalah kepadanya). Akhirnya Syuraih memvonis dengan memberikan hak saudara kandung perempuan pewaris hanya satu (1) dinar. Tetapi, wanita tersebut kemudian mengadukan hal itu kepada Imam Ali bin Abi Thalib r.a. yang menyebutkan bahwa Syuraih telah menzhaliminya, mengurangi hak warisnya hingga memberinya satu dinar dari peninggalan saudaranya yang 600 dinar itu. Kendatipun wanita tersebut tidak menyebutkan seluruh ahli waris yang berhak menerima warisan, namun dengan ketajaman dan keluasan ilmunya, Ali bin Abi Thalib bertanya, "Barangkali saudaramu yang wafat itu meninggalkan istri, dua anak perempuan, ibu, 12 saudara kandung laki-laki, dan kemudian engkau?" Wanita tersebut menjawab, "Ya, benar." Ali berkata, "Itulah hakmu tidak lebih dan tidak kurang." Kemudian Ali bin Abi Thalib r.a. memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa hakim Syuraih telah berlaku adil dan benar dalam memvonis perkara yang diajukannya. Wallahu a'lam bish shawab.

77

IX. HUKUM MUNASAKHAT A. Definisi Munasakhat Al-munasakhat dalam bahasa Arab berarti 'memindahkan' dan 'menghilangkan', misalnya dalam kalimat nasakhtu alkitaba yang bermakna 'saya menukil (memindahkan) kepada lembaran lain'; nasakhat asy-syamsu ash-zhilla yang berarti 'sinar matahari menghilangkan bayang-bayang'. Makna yang pertama --yakni memindahkan/menukil-- sesuai dengan firman Allah SWT berikut: "... Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." (al-Jatsiyah: 29) Sedangkan makna yang kedua sesuai dengan firman berikut: "Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?" (al-Baqarah: 106) Adapun pengertian al-munasakhat menurut istilah ulama faraid ialah meninggalnya sebagian ahli waris sebelum pembagian harta waris sehingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya yang lain. Bila salah seorang ahli waris meninggal, sedangkan ia belum menerima hak warisnya (karena memang belum dibagikan), maka hak warisnya berpindah kepada ahli warisnya. Karenanya di sini akan timbul suatu masalah yang oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan al-jami'ah. Al-munasakhat mempunyai tiga macam keadaan: Keadaan pertama: sosok ahli waris yang kedua adalah mereka yang juga merupakan sosok ahli waris yang pertama. Dalam kasus seperti ini masalahnya tidak berubah, dan cara pembagian warisnya pun tidak berbeda. Misalnya, ada seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak. Kemudian salah seorang dari kelima anak itu ada yang meninggal, tetapi yang meninggal itu tidak mempunyai ahli waris kecuali saudaranya yang empat orang, maka seluruh harta waris yang ada hanya dibagikan kepada keempat anak yang tersisa, seolah-olah ahli waris yang meninggal itu tidak ada dari awalnya. Keadaan kedua: para ahli waris dari pewaris yang kedua adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama, namun ada perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab mereka terhadap pewaris. Misalnya, seseorang mempunyai dua orang istri. Dari istri yang pertama mempunyai keturunan seorang anak laki-laki. Sedangkan dari istri kedua mempunyai keturunan tiga anak perempuan. Ketika sang suami meninggal, berarti ia meningalkan dua orang istri dan empat anak (satu laki-laki dan tiga perempuan). Kemudian, salah seorang anak perempuan itu meninggal sebelum harta waris peninggalan ayahnya dibagikan. Maka ahli waris anak perempuan ini adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama (ayah). Namun, dalam kedua keadaan itu terdapat perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab kepada pewaris. Pada keadaan yang pertama (meninggalnya ayah), anak laki-laki menduduki posisi sebagai anak. Tetapi dalam keadaan yang kedua (meninggalnya anak perempuan), anak laki-laki terhadap yang meninggal berarti merupakan saudara laki-laki seayah, dan yang perempuan sebagai saudara kandung perempuan. Jadi, dalam hal ini pembagiannya akan berbeda, dan mengharuskan kita untuk mengamalkan suatu cara yang disebut oleh kalangan ulama faraid sebagai masalah al-jami'ah. Keadaan ketiga: para ahli waris dari pewaris kedua bukan ahli waris dari pewaris pertama. Atau sebagian ahli warisnya termasuk sosok yang berhak untuk menerima waris dari dua arah, yakni dari pewaris pertama dan dari pewaris kedua. Dalam hal seperti ini kita juga harus melakukan teori al-jama'iyah, sebab pembagian bagi tiap-tiap ahli waris yang ada berbeda dan berlainan.

B. Rincian Amaliah al-Munasakhat Sebelum kita melakukan rincian tentang amaliah al-munasakhat, kita terlebih dahulu harus melakokan langkahlangkah berikut:
78

1. Mentashihkan masalah pewaris yang pertama dengan memberikan hak waris kepada setiap ahlinya, termasuk
hak ahli waris yang meninggal.

2. Merinci masalah baru, khususnya yang berkenaan dengan kematian pewaris kedua, tanpa mempedulikan
masalah pertama. 3. Membandingkan antara bagian pewaris kedua dalam masalah pertama, dengan pentashihan masalah dan para ahli warisnya dalam masalah kedua. 4. Perbandingan antara keduanya itu dalam kecenderungannya terhadap ketiga nisbat, yaitu al-mumatsalah, almuwafaqah, dan al-mubayanah. Bila antara keduanya --yakni antara bagian pewaris yang kedua dan masalah ahli warisnya yang lain-- ada mumatsalah (kesamaan), maka dibenarkan kedua masalah hanya dengan tashih yang pertama (lihat tabel). Sebagai contoh, seseorang wafat dan meninggalkan tiga anak perempuan, dua saudara kandung perempuan, dan seorang saudara kandung laki-laki. Kemudian salah seorang saudara kandung perempuan itu meninggal. Berarti ia meninggalkan seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari tiga (3). Ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (2 bagian). Dan sisanya (satu bagian) merupakan hak para 'ashabah (yakni dua saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung lakilaki). Kemudian kita lihat jumlah per kepalanya ada tabayun (perbedaan), maka 3 x 4 = 12. Kemudian angka ini kita kaLikan dengan pokok masalahnya, berarti 3 x 12 = 36. Bilangan inilah yang kemudian menjadi pokok masalah hasil pentashihan. Jadi, pembagiannya seperti berikut: ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (24 bagian), dan sisanya (12 bagian) dibagikan untuk dua orang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki, dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian anak perempuan, jadi setiap saudara kandung perempuan mendapat tiga (3) bagian, dan saudara laki-laki kandung enam (6) bagian. Kemudian, kita lihat antara bagian pewaris kedua (yaitu 3) dengan pokok masalahnya (juga dari 3) ada kesamaan (tamatsul). Karena itu, al-jami'ah di sini sama dengan hasil pentashihan pada masalah yang pertama (yakni dari 36). Kemudian, hak waris/bagian saudara kandung perempuan yang meninggal (3 bagian) hanya dibagikan kepada ahli waris, yaitu seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Kemudian, hasil pembagian itu ditambahkan pada hasil bagian mereka yang pertama. Maka, bagian saudara kandung perempuan menjadi empat (4): tiga (3) bagian --yang diperolehnya dari masalah pertama-- ditambah dengan bagian yang berasal dari saudara kandung perempuan yang meninggal, yaitu satu (1) bagian (3 + 1 = 4). Sedangkan saudara kandung laki-laki mendapatkan dua (2) bagian, yang kemudian ditambahkan dengan perolehannya dari peninggalan pada masalah pertama, yaitu enam (6) bagian. Maka saudara laki-laki kandung memperoleh delapan (8) bagian. Adapun tiga anak perempuan pewaris pertama, dalam masalah kedua ini tidak mendapatkan hak waris, disebabkan kedudukannya hanyalah sebagai keponakan pewaris kedua, yakni anak perempuan dari saudara laki-laki pewaris kedua. Karena itu, mereka mahjub. Berikut ini saya sertakan tabelnya: Jumlah kepala 12 3 anak pr. 2/3 Sdr. kandung pr. Sdr. kandung pr. Sdr. kandung lk. Tashih masalah ke I 3 2 3 1 6 36 24 3 meninggal Sdr. kandung pr. Sdr. kandung lk. al-Jami'ah 3 1 2 36 24 3+1=4 6+2=8

Contoh lain, seseorang wafat dan meninggalkan istri, ayah, ibu, cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Kemudian cucu tersebut meninggal dengan meninggalkan suami, ibu, tiga anak perempuan, dan dua anak laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut:

79

dan ini merupakan juz'us sahm (bagian dari bagian hak waris). Lalu kita tempatkan bagian pewaris yang kedua (suami. istri. kaidah yang berlaku di kalangan ulama faraid adalah kita menjadikan pokok masalah pertama sebagai al-jami'ah. Dalam keadaan demikian. keturunan anak lk. berarti dua bagian. karenanya kita kalikan pokok masalah pertama (yakni 15) dengan pokok masalah yang kedua (yakni 13). ibu 1/6 (4 bagian). dan dua anak perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua belas (12) kemudian di-'aul-kan menjadi lima belas (15). ayah. Kemudian dua anak perempuan mendapatkan dua per tiga (2/3) berarti delapan (8) bagian. antara masalah yang pertama dengan masalah yang kedua ada mubayanah (perbedaan). ibu. dan saudara laki-laki seibu. Jumlahnya lima belas (15) bagian. Oleh sebab itu. Maka hasil dari perkalian itu (yakni 15 x 13 = 195) merupakan al-jami'ah (penyatuan) antara dua masalah. Hal ini karena kita dapati bagian pewaris kedua (cucu perempuan keturunan anak laki-laki) dalam masalah pertama ada tamatsul (kesamaan) dengan pokok masalah yang kedua. Ayah mendapatkan seperenam (1/6) berarti dua bagian. yang mendapat tiga bagian) di atas pokok masalah kedua. yaitu dua puluh empat (24). Kemudian suami wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. Untuk lebih meyakinkan kebenaran masalah kedua ini. Kemudian. begitu juga dengan bagian ibu yakni seperenam (1/6). maka akan merupakan hasil bagian ahli waris dari al-jami'ah (penyatuan dari dua masalah). Istri mendapatkan 1/4 (3 bagian). cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/2 (12 bagian). berarti 3 x 13 = 39. yang berarti bagian pewaris kedua hanya dibagikan kepada ahli warisnya. Suami mendapatkan seperempat (1/4) berarti tiga bagian. ibu. Sedangkan pokok masalah yang kedua dari dua belas (12) yang di-'aul-kan menjadi tiga belas (13). kita lihat hasil perkaliannya: perkalian antara juz'us sahm yaitu tiga (3) dengan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan. tetapi cukup menjadikan al-jami'ah yang pertama itu berlaku pada masalah kedua. Jumlah semuanya adalah dua puluh empat (24) bagian. Berikut ini tabelnya: Pokok Masalah I 24 3 4 5 Pokok Masalah II 12 12 3 al-Jami'ah 24 3 4 5 3 Istri 1/8 Ibu 1/6 Ayah ('ashabah) Cucu pr. Kemudian.Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). 1/2 Suami 1/4 meninggal Contoh yang memiliki kasus al-mubayanah: seseorang wafat dan meninggalkan suami. Kandung perempuan (2/3) Ibu 1/6 12 meninggal 39 26 26 10 4 18 6 80 . Juz'us sahm ini kemudian kita kalikan dengan bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. sedangkan sisanya (lima bagian) merupakan bagian ayah sebagai jumlah 'ashabah. kita lihat al-jami'ah dalam masalah ini sama dengan pokok masalah pertama. kita tidak lagi membuat al-jami'ah yang baru. Lihat tabel berikut: 13 15 3 2 2 8 3 13 6 2 12 Suami 1/4 Ayah 1/6 Ibu 1/6 2 anakperempuan (2/3) Sdr. Maka angka 39 ini merupakan jumlah bagian seluruh ahli waris dalam masalah kedua.

81 . 2/3 2 sdr. dan paman kandung (saudara ayah). ayah. Syariat Islam juga memperbolehkan apabila salah seorang ahli waris menyatakan diri tidak akan mengambil hak warisnya. Misalnya. Perhatikan tabel berikut: 2 6 Suami 1/2 Sdr. Ketika ia wafat. dan dua saudara laki-laki seibu. dan seterusnya. seibu 1/6 Paman ('ashabah) Anak perempuan 1/2 Cucu pr. dan meninggalkan nenek. al-jami'ah ketiga. takni kita tempatkan tashih kedua pada posisi pertama.a. Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf r. Numadhir binti al-Asbagh. dan seterusnya. dan ibu. Dalam hal ini dia hanya meminta imbalan berupa sejumlah uang atau barang tertentu dari salah seorang ahli waris lainnya ataupun dari harta peninggalan yang ada. saudara perempuan seibu. Kasus seperti ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah "pengunduran diri" atau "menggugurkan diri dari hak warisnya". kita tetap harus menempuh cara seperti yang telah kita tempuh dalam almunasakhat. menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil hak waris sekadar seperempat dari seperdelapan yang menjadi haknya. Hal ini dalam syariat Islam dibenarkan dan diperbolehkan. Jumlah yang diambilnya --sebagaimana disebutkan dalam riwayat-. Dan hasilnya dinamakan al-jami'ah kedua. salah seorang istrinya. adalah seorang sahabat yang mempunyai empat orang istri. Maka jika terjadi hal seperti ini. laki-laki seibu 1/6 3 2 9 6 Catatan Kemungkinan besar dapat pula terjadi adanya al-jami'ah lebih dari satu. dan seterusnya. dua saudara kandung perempuan.Istri 1/4 Sdr. At-Takharuj min at-Tarikah Yang dimaksud dengan at-takharuj min at-tarikah ialah pengunduran diri seorang ahli waris dari hak yang dimilikinya untuk mendapatkan bagian (secara syar'i). 1/6 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Nenek 1/6 2 sdr. lk. seseorang wafat meninggalkan suami. Kemudian suami wafat dan meninggalkan anak perempuan. kemudian ada lagi yang meninggal. Misalnya. dalam suatu keadaan pembagian waris salah seorang ahli warisnya wafat sebelum pembagian. saudara seibu 1/3 3 1 2 3 1 1 1 meninggal 2 4 3 1 1 1 meninggal 1 4 2 7 7 7 3 1 2 6 1 6 7 1 2 3 6 7 1 4 2 8 8 8 4 C. Kemudian anak perempuan juga meninggal.ialah seratus ribu dirham. kandung pr.pr. dan bagian itu diberikan kepada ahli waris yang lain. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. atau siapa saja yang ditunjuknya. Untuk menjelaskan hal ini perlu kiranya saya kemukakan contoh tentang bentuk al-jami'ah yang lebih dari satu ini. dan tashih ketiga pada posisi kedua.

000. Lalu jumlah bagian kedua ahli waris itulah yang menjadi pokok masalahnya.000 Bagian ayah 9 x 2. Sebagai contoh. pokok masalahnya dari delapan. Misalnya. seorang anak perempuan. Kemudian. Perhatikan tabel berikut: Pokok masalah 8 Isteri 1/8 Anak laki laki ('ashabah) Anak laki laki ('ashabah) Anak perempuan ('ashabah) Tashih 40 5 14 14 7 40 5 14 14+14 - 1 7 Maka. Kemudian istri menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil rumah.Tata Cara Pelaksanaannya Apabila salah seorang ahli waris ada yang menyatakan mengundurkan diri. Maka jumlah sisa bagian yang ada itulah pokok masalahnya.000.000. dan menggugurkan haknya untuk menerima bagian dari harta yang berjumlah Rp 42 juta itu. Kemudian anak perempuan itu menggugurkan haknya dan memberikannya kepada salah seorang dari saudara laki-lakinya. kemudian keluarkanlah bagian ahli waris yang mengundurkan diri. Rincian pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24).000 + 18. Cara pertama: kenalilah pokok masalahnya. dan istri. Dalam keadaan demikian.000.000. seseorang wafat dan meninggalkan seorang isteri. anak perempuan. pewaris meninggalkan sebuah rumah. Lalu sisanya (yakni 24 . ia hanya memberitahukannya kepada salah seorang dari ahli waris yang ditunjuknya dan bersepakat bersama.000 = 42. 82 . maka ada dua cara yang dapat menjadi pilihannya. Dengan demikian.000. Kemudian dari pokok masalah itu dibagikan untuk hak ayah dan anak perempuan. Kemudian sebagai misal. sedangkan bagian anak perempuan dilimpahkan kepada salah seorang saudara laki-laki yang diberinya hak bagian. dan dua anak laki-laki.000. dan bagian setiap anak laki-laki empat belas (14) bagian. seseorang wafat dan meninggalkan ayah. maka pembagiannya hanya dengan cara melimpahkan bagian hak ahli waris yang mengundurkan diri itu kepada bagian orang yang diberi. maka warisan harta tersebut hanya dibagikan kepada anak perempuan dan ayah. dan sisanya dibagikan kepada ahli waris yang ada. yakni seperdelapan dari dua puluh empat. dengan imbalan sesuatu yang telah disepakati oleh keduanya. Istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti lima (5) bagian. dan uang sebanyak Rp 42 juta. berarti tiga (3) saham. dan cara kedua. kemudian kita hilangkan (ambil) hak istri.000. hak anak perempuan itu diberikan kepada salah seorang saudara lakilakinya yang ia tunjuk sebelumnya. ia menyatakannya kepada seluruh ahli waris yang ada. hasilnya seperti berikut: Nilai per bagian adalah 42. atau menyatakan hanya akan mengambil sebagian saja dari hak warisnya.000: 21 = 2.000 Bagian anak perempuan adalah 12 x 2.000 = 18.000.3 = 21) merupakan pokok masalah bagi hak ayah dan anak perempuan. dan setelah ditashih menjadi empat puluh.000 Cara kedua: apabila salah seorang ahli waris menyerahkan atau menggugurkan hakuya lalu memberikannya kepada salah seorang ahli waris lainnya. warisan itu hanya dibagikan kepada istri dan kedua anak laki-laki. Pertama.000 Total = 24. Maka. dan sisanya --yakni tujuh bagian-adalah bagian anak perempuan.000 = 24. sehingga seolah-olah ia telah menerima bagiannya.

sebab mereka memiliki kekerabatan dengan pewaris. Pendapat ini merupakan jumhur ulama. dan Ali bin Abi Thalib. Muslim. namun mereka tidak mewarisinya secara ashhabul furudh dan tidak pula secara 'ashabah. Di antara mereka yang berpendapat demikian ialah Zaid bin Tsabit r. keponakan laki-laki dari saudara perempuan.a. dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Karena itu mereka lebih diutamakan untuk menerima harta tersebut daripada baitulmal. dzawil arham adalah mereka yang bukan termasuk ashhabul furudh dan bukan pula 'ashabah.. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. bibi (saudara perempuan ayah atau ibu). dan lainnya) Adapun lafazh dzawil arham yang dimaksud dalam istilah fuqaha adalah kerabat pewaris yang tidak mempunyai bagian/hak waris yang tertentu.a. HAK WARIS DZAWIL ARHAM A. Juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal rahimahumullah. cucu laki-laki dari anak perempuan. Maksudnya. Lebih jauh golongan kedua ini mengatakan bahwa dzawil arham adalah lebih berhak untuk menerima harta waris dibandingkan lainnya. di antaranya Umar bin Khathab. paman (saudara laki-laki ibu). Dengan demikian. lafazh rahim tersebut umum digunakan dengan makna 'kerabat'. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain. Kemudian dikembangkan menjadi 'kerabat'. dan juga merupakan pendapat dua imam. Lebih jauh mereka mengatakan bahwa bila harta waris tidak ada ashhabul furudh atau 'ashabah yang mengambilnya. Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama: golongan ini berpendapat bahwa dzawil arham atau para kerabat tidak berhak mendapat waris. bersabda: "Barangsiapa yang berkehendak untuk dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya. Allah berfirman: ".. Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh Imam Malik dan Syafi'i (golongan pertama) ialah: 83 . baik dalam bahasa Arab ataupun dalam istilah syariat Islam.X. baik dalam Al-Qur'an ataupun Sunnah. " (an-Nisa': 1) "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muhammad: 22) Rasulullah saw. Ibnu Mas'ud.. tidak dibenarkan jika harta tersebut diberikan kepada dzawil arham. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham Para imam mujtahid berbeda pendapat dalam masalah hak waris dzawil arham. dzawil arham adalah ahli waris yang mempunyai tali kekerabatan dengan pewaris. ataupun 'ashabah yang menerima harta pewaris. dalam sebagian riwayat darinya. dan bukan pula termasuk dari para 'ashabah. Pengertian ini tentu saja disandarkan karena adanya rahim yang menyatukan asal mereka. Misalnya. yang asalnya dalam bahasa Arab berarti 'tempat pembentukan/menyimpan janin dalam perut ibu'. dan sebagainya. sama halnya dengan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. maka seketika itu dilimpahkan kepada baitulmal kaum muslim untuk disalurkan demi kepentingan masyarakat Islam pada umumnya. baik datangnya dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. Kedua: golongan kedua ini berpendapat bahwa dzawil arham (kerabat) berhak mendapat waris. Jadi. dan Ibnu Abbas r. Definisi Dzawil Arham Arham adalah bentuk jamak dari kata rahmun. maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi (HR Bukhari. bila tidak ada ashhabul furudh. yaitu Malik dan Syafi'i rahimahumullah. Dengan demikian. B.

Bila pewaris mempunyai kerabat dan kebetulan ia meninggalkan harta waris. Dengan demikian. lafazh arham yang berarti kerabat adalah umum. sebab umat Islam akan ikut merasakan faedah dan kegunaannya. maka yang dapat saling mewarisi hanyalah antara sesama kerabat (dzawil arham). baik sedikit ataupun banyak. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. tidak memberikan hak waris kepada para bibi. dan logika.beliau saw. Pendek kata.merekalah yang lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang yang bukan kerabat. Di sini.. Adapun golongan kedua. serta selain keduanya." (an-Nisa': 7) Melalui ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa kaum laki-laki dan wanita mempunyai hak untuk menerima warisan yang ditinggalkan kerabatnya. menjawab: "Sesungguhnya Jibril telah memberitahukan kepadaku bahwa dari keduanya tidak ada hak menerima waris sedikit pun. maka tidak pula kepada kerabat yang lain. para 'ashabah. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. para ''ashabah. Harta peninggalan. yakni Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. makna kata itu mencakup kerabat yang mempunyai hubungan rahim atau lebih umumnya hubungan darah. Ayat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa yang disebut kerabat --siapa pun mereka." (al-Anfal: 75) Makna yang mendasar dari dalil ini ialah bahwa Allah SWT telah menyatakan atau bahkan menegaskan dalam KitabNya bahwa para kerabat lebih berhak untuk mendapatkan atau menerima hak waris daripada yang lain. maka berikanlah harta waris itu kepada kerabatnya dan janganlah mendahulukan yang lain. para kerabatlah yang paling berhak untuk menerima harta peninggalan seorang pewaris. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dan harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Dengan turunnya ayat ini." 2. Jadi. kerabat lain pun demikian. 2. As-Sunnah. mereka (dzawil arham) berhak untuk menerima warisan. Oleh karena itu. atas dasar inilah maka para kerabat pewaris lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang baitulmal. Hal seperti ini menurut syariat Islam adalah batil. Padahal dalam kaidah ushul fiqih telah ditegaskan bahwa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan daripada kemaslahatan pribadi. 3.1. Hal ini juga berdasarkan firman-Nya yang lain: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Kemudian sebagaimana dinyatakan oleh mayoritas ulama bahwa ayat di atas me-mansukh (menghapus) kebiasaan pada awal munculnya Islam.. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah: ". Dengan dasar ini dapat dipetik pengertian bahwa karena Rasulullah saw. Memang sangat jelas betapa dekatnya kekerabatan saudara perempuan ayah ataupun saudara perempuan ibu dibandingkan kerabat lainnya. 84 . tidak mungkin dan tidak dibenarkan bila kita memberikan hak waris kepada kerabat lain. Maka jika keduanya tidak berhak untuk menerima harta waris.bila diserahkan ke baitulmal akan dapat mewujudkan kemaslahatan umum. Namun sebaliknya. dan hanya kalangan mereka saja yang merasakannya. Atas dasar inilah maka baitulmal lebih diutamakan untuk menyimpan harta waris yang tidak ada ashhabul furudh dan 'ashabahnya ketimbang para kerabat. Jadi. maka kegunaan dan faedahnya akan sangat minim. atau selain dari keduanya-. pada masa itu kaum muslimin saling mewarisi disebabkan menolong dan hijrah. termasuk ashhabul furudh. bila kita memberikan hak waris kepada mereka (dzawil arham) berarti kita memberikan hak waris tanpa dilandasi dalil pasti dan kuat. Asal pemberian hak waris atau asal penerimaan hak waris adalah dengan adanya nash syar'i dan qath'i dari AlQur'an atau Sunnah. mereka mendasari pendapatnya itu dengan Al-Qur'an. bila ternyata tidak ada ahli warisnya secara sah dan benar --baik dari ashhabul furudh-nya ataupun para 'ashabahnya-. ketika ditanya tentang hak waris bibi --baik dari garis ayah maupun dari ibu-. baik ashhabul furudh. Hal demikian dalam dunia fiqih dikenal dengan istilah tarjih bilaa murajjih yang berarti batil. bila diserahkan kepada kerabatnya. menyatakan bahwa dzawil arham atau para kerabat berhak mendapatkan waris. Dan dalam hal ini tidak ada satu pun nash yang pasti dan kuat yang menyatakan wajibnya dzawil arham untuk mendapat waris. Seperti yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan dzawil arham adalah para kerabat. Sebab. Rasulullah saw. sedangkan bibi tidak mendapatkannya.

Dalam suatu atsar diriwayatkan dari Umar bin Khathab r.a. Di antaranya. Setelah membandingkan kedua pendapat itu. Adapun dalil logikanya seperti berikut: sesungguhnya para kerabat jauh lebih berhak untuk menerima harta warisan daripada baitulmal. tentang hak waris bibi ketika itu disebabkan ada ashhabul furudh atau ada 'ashabah-nya. Umar menanggapi masalah itu dan memerintahkan kepada Abu Ubaidah untuk memberikan harta peninggalan Sahal kepada pamannya. "Apakah engkau mengetahui nasab orang ini?" Qais menjawab. dalam riwayat ini dikisahkan. adil. khususnya pada masa kita sekarang ini.merupakan dalil yang kuat bahwa kerabat lebih berhak menerima harta waris peninggalan pewaris ketimbang baitulmal. Oleh sebab itu. ketika musuh-musuh Islam berhasil memutus kelangsungan hidup khilafah Islam dengan memporakporandakan 85 . yakni saudara laki-laki ibunya. Sebagai contoh. ikatannya dari dua arah. Keponakan laki-laki dari anak saudara perempuan tidak lain hanyalah merupakan kerabat. Permasalahan ini sama seperti dalam kasus adanya saudara kandung laki-laki dengan saudara laki-laki seayah dalam suatu keadaan pembagian harta waris. dimanakah adanya baitulmal yang demikian. Abu Ubaidah menceritakan bahwa Sahal bin Hunaif telah meninggal karena terkena anak panah yang dilepaskan seseorang. bersabda: "(Saudara laki-laki ibu) berhak menerima waris bagi mayit yang tidak mempunyai keturunan atau kerabat yang berhak untuk menerimanya. juga tampak lebih adil apalagi jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan dewasa ini. Inilah usaha untuk menyatukan dua hadits yang sepintas bertentangan.a adalah seorang khalifah Islam yang dikenal sangat mengu tamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Tidak ada jawaban lain untuk pertanyaan seperti itu kecuali: "telah lama tiada". Di samping itu. yang dalam hal ini seluruh harta waris menjadi hak saudara kandung laki-laki. yaitu ikatan Islam --karena pewaris seorang muslim. Kalaulah baitulmal lebih berhak untuk menampung harta peninggalan pewaris yang tidak mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh dan 'ashabah-nya. yang jelas --jika melihat konteks hadits yang pernah dikemukakan-. Atau. untuk memberikan kepada paman Sahal tersebut. Sedangkan Sahal tidak mempunyai kerabat kecuali hanya paman. bertanya kepada Qais bin Ashim. Alasannya. dan tepat guna dalam menyalurkan harta baitulmal. Terlebih lagi pada masa kita sekarang ini. Berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris. maka Rasulullah saw. dalam hal ini ia mempunyai dua ikatan: ikatan Islam dan ikatan rahim. mungkin juga bahwa bibi (baik dari ayah atau ibu) tidak berhak mendapat waris ketika berbarengan dengan ashhabul furudh atau para 'ashabah. karena memang merupakan pendapat mayoritas sahabat. dan amanah.Adapun dalil dari Sunnah Nabawiyah adalah seperti yang diberitakan dalam sebuah riwayat masyhur. kelompok pertama berpendapat lebih mengutamakan baitulmal ketimbang kerabat. baitulmal harus terjamin pengelolaannya." Atsar ini --yang di dalamnya Umar al-Faruq memberitakan sabda Rasulullah saw. Di samping dalil yang mereka kemukakan lebih kuat dan akurat. sementara di sisi lain mereka mensyaratkan keberadaan baitulmal dengan persyaratan khusus. Maka muncul pertanyaan. sedangkan saudara seayah hanya dari ayah. bahwa suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mengajukan persoalan kepada Umar. Ketika Tsabit bin ad-Dahjah meninggal dunia.jawaban Rasulullah saw. yaitu Abu Lubabah bin Abdul Mundir. maka Umar bin Khathab pasti tidak akan memerintahkan kepada Abu Ubaidah Ibnul Jarrah r. yang bukan dari ashhabul furudh dan bukan pula termasuk 'ashabah. ikatan dari dua arah sudah barang tentu akan lebih kuat dibandingkan ikatan satu arah. akan hak waris kepada dzawil arham menunjukkan dengan tegas dan pasti bahwa para kerabat berhak menerima harta waris bila ternyata pewaris tidak mempunyai ashhabul furudh yang berhak untuk menerimanya atau para 'ashabah. Umar bin Khathab r.--. Jadi. kecuali hanya anak laki-laki dari saudara perempuannya. kelompok kedua (jumhur ulama) ini menyanggah dalil yang dikemukakan oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i bahwa hadits itu kemungkinannya ada sebelum turunnya ayat di atas. tabi'in. Kemudian Rasul pun memberikan harta warisan peninggalan Tsabit kepada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir. karena ikatan antara baitulmal dan pewaris hanya dari satu arah. adil dalam memberi kepada setiap yang berhak. dan imam mujtahidin. Sebab. Karena sesungguhnya aku telah mendengar bahwa Rasulullah saw. dari ayah dan dari ibu. dan kami tidak mengetahui kerabatnya. Dengan pemberian Rasulullah saw. "Yang kami ketahui orang itu dikenal sebagai asing nasabnya. Dan hal ini terbukti seperti yang banyak dikisahkan dalam kitab-kitab tarikh. Sebab.a. kita dapat menyimpulkan bahwa pendapat jumhur ulama (kelompok kedua) lebih rajih (kuat dan akurat).

ahlur-rahmi menyatakan bahwa semua kerabat berhak mendapat waris secara rata. tanpa melebihkan atau mengurangi salah seorang dari ahli waris yang ada. saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. Inilah pendapat mazhab Imam Ahmad bin Hambal. Sdr. para ulama dari mazhab Maliki dan mazhab Syafi'i mutakhir memberikan fatwa dengan mendahulukan para kerabat ketimbang baitulmal. mereka akan membagikan hak ahli waris yang ada sesuai dengan bagian ahli waris yang lebih dekat. Mazhab ini dikenal dengan sebutan ahlur-rahmi disebabkan orang-orang yang menganut pendapat ini tidak mau membedakan antara satu ahli waris dengan ahli waris yang lain dalam hal pembagian. dan keponakan perempuan keturunan saudara laki-laki seayah. Menurut Ahlur-Rahmi Mengenai cara pembagian hak waris para kerabat. yakni pokoknya. 1/2. Sdr. khususnya setelah abad ketiga Hijriah. bahkan dhaif dan tertolak." Melihat kenyataan demikian. 1. bibi (saudara perempuan ayah). tetapi melihat pada yang lebih dekat dari ashhabul furudh dan para 'ashabahnya. dan dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok pendapat. Mereka tidak memperhitungkan ahli waris yang ada (yang masih hidup). dan saudara laki-laki seayah. Cara Pembagian Waris Para Kerabat Di antara fuqaha terjadi perbedaan pendapat mengenai tata cara memberikan hak waris kepada para kerabat. sedangkan saudara laki-laki seayah tidak mendapat bagian (mahjub) disebabkan saudara kandung perempuan di sini sebagai 'ashabah. keponakan laki-laki keturunan saudara kandung perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang cucu perempuan keturunan anak perempuan. tanpa membedakan jauh-dekatnya kekerabatan. 1/2. Dengan demikian. saudara kandung perempuan. pembagiannya seperti berikut: anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. kandung pr. Maka dalam hal ini mereka mendapatkan bagian waris secara rata. ketika pengelolaan baitulmal tidak lagi teratur sehingga terjadi penyalahgunaan. juga merupakan pendapat para ulama mutakhir dari kalangan Maliki dan Syafi'i. Mazhab ini tidak masyhur. Hal ini dapat terlihat tentunya dengan melihat dan mempertimbangkan kemaslahatan yang ada. kemudian membagi-baginya menjadi negeri dan wilayah yang tidak memiliki kekuatan. Untuk memperjelas pemahaman tentang mazhab ini perlu saya kemukakan contoh-contoh seperti berikut: 1. dan tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dengan perempuan. C. dan keponakan laki-laki keturunan saudara laki-laki seibu. Dengan demikian. dapat kita katakan bahwa kedua kelompok ulama tersebut pada akhirnya bersepakat untuk lebih mengutamakan pemberian harta waris kepada kerabat ketimbang baitulmal. bibi (saudara perempuan ibu). Karenanya tidak ada satu pun dari ulama atau para imam mujtahid vang mengakuinya apalagi mengikuti pendapat ini dengan alasan telah sangat nyata bertentangan dengan kaidah syar'iyah yang masyhur dalam disiplin ilmu mawarits. Oleh karena itu. 2. Inilah gambarannya: Anak kandung pr. persatuan dan kesatuan muslimin. 86 .barisan. laki-laki seayah mahjub. karena itu ia mendapatkan sisanya. Yang menjadi landasan mereka ialah bahwa seluruh ahli waris menyatu haknya karena adanya ikatan kekerabatan. Menurut Ahlut-Tanzil Golongan ini disebut ahlut-tanzil dikarenakan mereka mendudukkan keturunan ahli waris pada kedudukan pokok (induk) ahli waris asalnya. Sungguh tepat apa yang digambarkan seorang penyair dalam sebuah bait syairnya: "Setiap jamaah di kalangan kita mempunyai iman. dari mulai akhir abad ketiga Hijriah hingga masa kita dewasa ini. Maka keadaan ini dapat dikategorikan sama dengan meninggalkan anak perempuan. Bila seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak perempuan. mereka juga tidak menganggap kuat serta lemahnya kekerabatan seseorang. namun kesemuanya tidak mempunyai imam. seorang keponakan perempuan dari saudara perempuan. Misalnya.

keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu mendapatkan seperenam (1/6) bagian secara fardh. seayah 1/6. 1/6 Begitulah cara pembagiannya. Sebab. Selain itu. Maka Ibnu Mas'ud memberikan setengah bagian untuk cucu perempuan dan setengah bagian lainnya untuk keponakan perempuan. Orang-orang (ahli waris) yang bernisbat kepada pewaris. Di samping itu.. Adapun dalih orang-orang yang memperkuat mazhab kedua ini. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua kakek pewaris atau kedua nenek pewaris. sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada jalan lain untuk mengenali dan menuntaskan masalah ini kecuali dengan mengembalikan atau menisbatkannya kepada pokok ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya kepada pewaris. 3/6. kemudian menjadikan masing-masing golongan mempunyai cabang dan keadaannya. Maka pembagiannya seperti berikut: keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan mendapatkan setengah (1/2) bagian. Selain itu.2. dan sepupu perempuan anak dari paman kandung juga mendapatkan seperenam (1/6) bagian sebagai 'ashabah. saudara perempuan seayah. juga berlandaskan fatwa Ibnu Mas'ud r.jauh lebih utama dan bahkan lebih berhak. 3.a. Lebih jauh mazhab ini menyatakan bahwa hadits Rasulullah saw. dan sepertiga lagi diberikannya kepada bibi (dari pihak ibu). kemudian barulah yang lebih kuat di antara kerabat yang ada. Ketika beliau memberi hak waris kepada seorang bibi (saudara perempuan ayah) dan bibi (saudara perempuan ibu) kebetulan saat itu tidak ada ahli waris lainnya-. dilakukan dengan mengqiyaskannya pada hak para 'ashabah. pr. dan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. Mazhab ini merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib r. yaitu melihat siapa yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan pewaris. 1/6. kand. Inilah gambarnya: Sdr.a.maka beliau memberi bibi (dari pihak ayah) dengan dua per tiga (2/3) bagian. Hal demikian dikarenakan sama saja dengan pewaris meninggalkan saudara kandung perempuan. Maka. yakni dengan melihat kepada yang lebih dekat derajat kekerabatannya kepada pewaris. keponakan perempuan keturunan dari saudara perempuan seayah mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). sdr. Hal ini. Yang bernisbat kepada pewaris sebagai berikut: 87 . keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu. dan keputusan yang dilakukan Ibnu Mas'ud menunjukkan betapa kuatnya pendapat mereka. rincian besarnya bagian ashhabul furudh dan para 'ashabah telah dijelaskan. seibu paman kand. 2. adalah bahwa memberikan hak waris kepada dzawil arham tidak dibenarkan kecuali dengan berlandaskan pada nash-nash umum --yang justru tidak memberikan rincian mengenai besarnya bagian mereka masing-masing dan tidak ada pentarjihan secara jelas. dengan mengembalikan kepada pokoknya --karena memang lebih mendekatkan posisinya kepada pewaris-. yang tampak sangat logis. pr. Seseorang wafat dan meninggalkan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris. ketika ia menerima pengaduan tentang pembagian waris seseorang yang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak wanita. saudara perempuan seibu. Pr. mazhab ketiga ini telah mengelompokkan dan membagi dzawil arham menjadi empat golongan. dan diikuti oleh para ulama mazhab Hanafi. Oleh karena itu. Menurut Ahlul Qarabah Adapun mazhab ketiga menyatakan bahwa hak waris para dzawil arham ditentukan dengan melihat derajat kekerabatan mereka kepada pewaris. Keempat golongan tersebut adalah: 1. Adapun yang dijadikan dalil oleh mazhab ahlut-tanzil ini ialah riwayat yang marfu' (sampai sanadnya) kepada Rasulullah saw. keponakan perempuan keturunan saudara perempuan seayah. Dalam praktiknya sama seperti membagi hak waris para 'ashabah. dan sepupu perempuan keturunan paman kandung (saudara laki-laki seayah). Lebih jauh akan dijelaskan hak masing-masing golongan dan cabang tersebut akan hak warisnya. Sebagaimana telah diungkapkan. dalam hal melaksanakan pembagian waris untuk dzawil arham mazhab ini membaginya secara kelompok. sdr. pelaksanaannya tetap mengikuti kaidah umum pembagian waris: bagian laki-laki adalah dua kali bagian wanita. Orang-orang yang dinisbati kekerabatan oleh pewaris. berarti yang paling berhak di antara mereka (para 'ashabah) adalah yang paling dekat kepada pewaris dari segi dekat dan kuatnya kekerabatan. dan paman kandung. menurut mereka. 3. 4.

dan paman (saudara ayah) ibu. dan seterusnya. ayah dari ayahnya ibu (kakek dari ibu). 2. ternyata kita menemukan beberapa perbedaan yang jelas antara mazhab ahlut-tanzil dengan ahlul qarabah: 1. Kemudian paman dan bibi --baik dari ayah maupun ibu-. Sedangkan ahlul qarabah menyusun secara berurutan dan mendahulukan satu dari yang lain sebagai analogi dari 'ashabah bi nafsihi. f. baik keturunan laki-laki ataupun perempuan. Jika tidak ada. Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah Telah saya kemukakan bahwa ahlul qarabah ini mengelompokkan dan memberikan urutan --dalam pembagian hak waris-. ataupun seibu. d. seayah. Itulah keenam kelompok yang bernisbat kepada kedua kakek dan kedua nenek pewaris. Dasar yang dianggap oleh ahlut-tanzil dalam mendahulukan satu dari yang lain adalah "dekatnya keturunan" dengan sang ahli waris shahibul fardh atau 'ashabah. yang pertama kali berhak menerima waris adalah keturunan pewaris (anak. Keturunan perempuan dari saudara kandung laki-laki. c. c. Sedangkan oleh ahlul qarabah yang dijadikan anggapan ialah "dekatnya dengan kekerabatan". seibu. atau seibu. Jika tidak ada juga. dan bibi (saudara perempuan ibu). keturunan dari pamannya (saudara laki-laki ibu). maka barulah keturunan paman (dari pihak ayah dan ibu).dengan mengqiyas pada jalur 'ashabah. kakek. baik laki-laki ataupun perempuan. Bila mereka tidak ada. Keturunan dari bibi (saudara perempuan ayah). Nenek yang bukan sahih. ibu dari ibu ayahnya ibu. Yang dinisbati oleh pewaris: a. Juga semua pamannya dan bibinya (paman dan bibi dari ayah). dan seterusnya. Bila mereka tidak ada.. cucu. keturunan bibinya (saudara perempuan ibu). Kakek yang bukan sahih. dan seterusnya seperti ibu dari ayahnya ibu. Kemudian paman (saudara lakilaki ibu) pewaris. b. Bibi (saudara perempuan ayah) pewaris. menurut ahlul qarabah. Yang bernisbat kepada kedua kakek atau nenek dari pihak ayah ataupun ibu: a. b. dan seterusnya. atau seayah. Keturunan saudara kandung perempuan. maka barulah keturunan saudara laki-laki (keponakan). e. dan seterusnya). Yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris: a. maka barulah keturunan 88 . Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan di atas (Butir e) dan seterusnya. Buyut laki-laki dari keturunan cucu perempuan dan keturunan anak laki-laki. Keturunan dari saudara laki-laki seibu dan seterusnya. Ahlut-tanzil tidak menyusun secara berurutan kelompok per kelompok. misalnya keturunan laki-laki dan perempuan dari bibi sang ayah. dan tidak pula mendahulukan antara satu dari yang lain. seayah. baik yang kandung maupun yang seayah). maka pokoknya: ayah. baik bibi kandung. b. atau yang seayah. Cucu laki-laki keturunan anak perempuan. Dengan demikian. baik yang kandung. keturunan paman (saudara laki-laki ayah) yang seibu. baik laki-laki ataupun perempuan. atau yang seibu. dan juga paman nenek. dan seterusnya. Paman kakak yang seibu. Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah Dari uraian-uraian sebelumnya. dan seterusnya seperti ayah dari ibu. dan seterusnya.a. Bibi dari ayah pewaris. Juga pamannya (saudara ayah) yang seibu (mencakup semua paman dan bibi dari ibu. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan itu dan seterusnya. b.dari kakek dan nenek. dan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita sebagaimana yang berlaku pula dalam kalangan ahlul 'ashabah.

Dan bila ada shahibul fardh. Begitu seterusnya. 2. Apabila ada kesamaan pada kedekatan derajat kekerabatan. seseorang wafat dan meninggalkan anak perempuan dari saudara kandung laki-laki (yakni keponakan kandung) dengan anak perempuan dari saudara laki-laki seayah (keponakan bukan kandung). 89 . maka yang lebih berhak untuk dintamakan adalah yang paling dekat dengan pewaris lewat shahibul fardh atau 'ashabah. Mengutamakan dekatnya kekerabatan. semua ahli waris dari dzawil arham berhak menerima bagian. Sedangkan kita ketahui bahwa kedudukan ahli waris secara ar-radd dalam penerimaan waris lebih didahulukan dibandingkan dzawil arham. dan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan. Maka harta warisnya dibagi secara merata di antara mereka.mereka yang sederajat dengan mereka. seperti anak perempuan dari paman kandung atau seayah. Dalam contoh ini. b. Dengan demikian. Artinya. sedangkan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan melalui dzawil arham. Yang demikian itu disebabkan keponakan kandung lebih kuat kekerabatannya. tampak ada kesamaan derajat di antara kedua ahli waris. Sebab kedudukan hak suami atau istri secara radd itu sesudah kedudukan dzawil arham. Sebab 'ashabah akan mengambil seluruh hak waris yang ada. maka dalam keadaan seperti ini kita harus mengutamakan keponakan kandung. Apabila dalam suatu keadaan terjadi persamaan. Tidak ada penta'shib ('ashabah). Dan bila bersamaaan dengan ahli waris lain. Tidak ada shahibul fardh. pewaris meninggalkan ahli waris cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. orang yang wafat ini meninggalkan tiga putri keturunan anak paman kandung. maka yang lebih didahulukan adalah cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. maka yang didahulukan adalah cucu perempuan dari anak perempuan. maka pembagiannya sebagai berikut: a. dan berarti seluruh harta waris menjadi haknya. maka ia akan menerima seluruh harta waris. cucu perempuan keturunan anak laki-laki bernasab kepada pewaris lewat ahli waris. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham 1. seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan dari anak paman kandung. maka ia akan menerima hak warisnya secara fardh. Begitulah seterusnya. setelah diambil hak para shahibul fardh. Atau dengan redaksi lain. seorang anak perempuan dari anak paman yang lain (kandung). sisa harta waris akan diberikan kepada dzawil arham. d. keduanya memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris sama-sama sebagai cucu. Misalnya. D. maka pembagiannya dilakukan secara merata. maka haruslah mengutamakan mana yang lebih kuat kedekatan kekerabatannya. bila ternyata tidak ada shahibul fardh. Beberapa Catatan Penting: Apabila dzawil arham (baik laki-laki maupun perempuan) seorang diri menjadi ahli waris. jika ada shahibul fardh. karena ketiganya memiliki derajat yang sama dari segi kekerabatan. c. Dengan demikian. dan sisanya diberikan kepada dzawil arham. apabila shahibul fardh hanya terdiri dari suami atau istri saja. Sebab. berdasarkan urutan tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok ahli waris yang lebih awal disebutkan dapat menggugurkan kelompok berikutnya. Hanya saja. Misalnya. Misalnya. Misalnya. tetapi sisanya pun akan mereka ambil karena merupakan hak mereka secara radd. Sedangkan jika dia berbarengan dengan salah satu dari suami atau istri. maka para 'ashabah akan menerima sisa harta waris yang ada. maka ia akan menerima sisanya. dengan anak cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. mereka tidak sekadar mengambil bagiannya. Apabila segi derajat dan kedekatannya kepada pewaris sama. Namun. dan seorang anak perempuan dari anak paman kandung yang lain.

di kalangan ulama mazhab ini banyak dijumpai perbedaan tentang cara pembagian masing-masing kelompok tadi. Sebenamya. bagi yang menghendaki pengetahuan lebih luas dalam masalah ini dapat merujuknya pada kitab-kitab fiqih. yang kemudian dianut oleh ulama muta'akhirin mazhab Maliki dan Syafi'i ---karena dari segi pengamalannya memang lebih mudah.Catatan lain Di antara persoalan yang perlu saya kemukakan di sini ialah bahwa dalam pemberian hak waris terhadap para dzawil arham . Penutup Itulah sekelumit mengenai hak waris para dzawil arham menurut mazhab ahlul qarabah yang merupakan mazhab imam Ali bin Abi Thalib r.). bagian laki-laki dua kali lebih besar bagian perempuan. penj. sekalipun dzawil arham itu keturunan saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. Pendapat ini banyak diterapkan di sebagian negara Arab dan negara Islam lainnya. seperti halnya dalam pembagian para 'ashabah. Selain itu. saya tidak mengemukakannya di sini sebab akan bertele-tele dan menjenuhkan. 90 . dan para ulama mazhab Hanafi.a. Oleh karenanya. Namun. terutama antara Imam Abi Yusuf dan Imam Muhammad (keduanya murid dan teman dekat Abu Hanifah. pada prinsipnya yang banyak diamalkan adalah pandangan mazhab ahlut-tanzil sebagai mazhab Imam Ahmad.

kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi.). maka ia divonis sebagai khuntsa musykil. budak wanita yang dimiliki Amir dan dikenal sangat cerdik menanyakan sebab-sebab yang menggelisahkan majikannya. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini: 1. adanya dua jenis kelamin pada seseorang --atau bahkan sama sekali tidak ada-. bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki." Amir merasa puas dengan gagasan tersebut. Suatu ketika ia dikunjungi kaumnya yang mengadukan suatu peristiwa. bahwa ada seorang wanita melahirkan anak dengan dua jenis kelamin. Ia berkata: "Wahai kaumku. setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil. dan tidak menerima vonis tersebut. 91 . khanatsa wa takhannatsa. Sebab. dan sebagainya. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak. Bila keluar dari penis. maka ia sebagai laki-laki. apakah ia tumbuh kumis.a. apakah ia haid atau hamil. Ketika Islam datang. Karenanya dalam hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw. Oleh karena itu. artinya tidak ada kejelasan. Namun. bagaimana cara ia bermimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani. ia dinyatakan sebagai perempuan. yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang laki-laki menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi'i serta pendapat mayoritas sahabat. Amir pun menjadi gelisah dan tidak tidur sepanjang malam karena memikirkannya. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling (lebih) sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau wanita. Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya. Amir kemudian memvonisnya sebagai laki-laki dan perempuan." Ternyata vonis ini diterima secara aklamasi. Definisi Banci Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari kata khanatsa berarti 'lunak' atau 'melunak'." B. dan vonislah dengan cara melihat dari mana keluar air seninya. lihatlah jalan keluarnya air seni. dikukuhkanlah vonis tersebut." Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit). dan budak wanita itu berkata: "Cabutlah keputusan tadi. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh. maka beliau menjawab dengan sabdanya: "Lihatlah dari tempat keluarnya air seni. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r. bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan. ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian. Maka dengan segera ia menemui kaumnya untuk mengganti vonis yang telah dijatuhkannya. Dikisahkan bahwa Amir bin adz-Dzarb dikenal sebagai seorang yang bijak pada masa jahiliah. atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu orang-orang Arab meninggalkannya. dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya.-disebut sebagai musykil. Melihat sang majikan gelisah. Akhirnya Amir memberitahukan persoalan tersebut kepada budaknya. ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina. misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang "air kecil". tetapi bila keluar dari vagina. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. maka ia divonis sebagai laki-laki dan mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. penj. Misalnya. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan. Misalnya. Bila urinenya keluar dari penis. atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil. apakah tumbuh payudaranya. bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan. Di samping melalui cara tersebut.XI.

Dan al-jami'ah (penyatuan) dari keduanya. bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita). saudara laki-laki banci tiga (3) bagian. bagian setiap ahli waris dan banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. sedangkan bagian anak perempuan empat (4). Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan fuqaha mawarits mu'amalah bil adhar-yaitu jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit. ibu enam (6) bagian. Sisa harta waris yaitu tiga (3) kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti. 2. Seseorang wafat meninggalkan seorang suami. ibu. Bahkan. Kemudian kita menyatukan (al-jami'ah) antara dua masalah. maka gugurlah hak warisnya. bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya. maka divonis sebagai laki-laki. Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki. Mazhab Maliki berpendapat. dan sisanya kita bekukan. seperti dalam masalah al-munasakhat. Pokok masalahnya dari enam (6) bila banci itu dikategorikan sebagai wanita. Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. seorang anak perempuan. maka pokok masalahnya dari enam (6) tanpa harus di. maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki.'aul-kan. maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris. kemudian di-'aul-kan menjadi delapan (8). dan seorang anak banci. Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas. 3. atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris. kemudian disatukan dan dibagi menjadi dua. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya Untuk banci --menurut pendapat yang paling rajih-.2. Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masing-masing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. Inilah tabelnya: 6 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci 8 3 2 3 6 3 2 1 24 9 6 4 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci kandung 92 . sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat (4). Maksudnya. Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki. menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat (24). Bahkan dalam mazhab Imam Syafi'i. Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan (9) bagian. Bagian anak laki-laki adalah delapan (8). dan saudara laki-laki banci. dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit. dan bagian anak banci lima (5). Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci 1. Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi'i. C. Mazhab Syafi'i berpendapat. maka hasilnya menjadi hak/bagian banci. mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan.hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya --keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita. atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya. maka pokok masalahnya dari lima (5).

pr. Dalam masalah hamil ini ada beberapa hukum yang berkaitan dengan hak waris. Pada pembahasan sebelumnya --tentang persyaratan hak waris/mewarisi-.. 1/2 Banci lk. Secara ringkas dapat dikatakan. Ini tabelnya: 2 1 1 6 Suami 1/2 Sdr. bagi janin yang masih di dalam kandungan ibunya belum dapat ditentukan hak waris yang diterimanya. maka kita nyatakan bahwa ahli waris dalam keadaan hidup pada saat pewaris wafat. Bagian suami enam (6). pr. dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas. kdg. kdg. Namun demikian. laki-laki atau perempuan. Adapun sisanya. Hanya kepada Allah saya memohon pertolongan. demikian juga jika ia lahir dalam keadaan mati. para pakar faraid menjelaskan hukum-hukum khusus secara rinci dengan menyertakan berbagai pertimbangan demi menjaga kemaslahatan ahli waris yang ada. dan penyatuan dari keduanya menjadi empat belas (14). dan satu atau kembar. sedangkan yang banci tidak diberikan haknya. karena belum dapat diketahui secara pasti keadaannya. maka kita nyatakan bahwa ahli waris tidak ada ketika pewaris wafat. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya. dan pada kesempatan ini saya hanya akan utarakan secara global. tidak tertutup kemungkinan kita dihadapkan pada keadaan darurat --menyangkut kemaslahatan sebagian ahli waris-. saudara kandung perempuan. Berkaitan dengan hal ini. pr. untuk mengetahui secara pasti kita harus menunggu setelah bayi itu lahir.telah saya kemukakan bahwa salah satu syarat yang harus terpenuhi oleh ahli waris adalah keberadaannya (hidup) ketika pewaris wafat. Maka pembagiannya seperti berikut: Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki. dan melahirkannya dengan susah payah (pula) . barulah kita bagikan kepada masing-masing ahli waris secara lengkap setelah kelahiran bayi. saudara kandung perempuan enam (6) bagian. maka mustahil bagi kita untuk menentukan jumlah bagian waris yang harus diterimanya. D. dan saudara laki-laki seayah banci. Dengan demikian. Definisi Hamil Al-hamlu (hamil) dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata hamalat. ibunya mengandungnya dengan susah payah. E. seayah 1/6 7 3 3 1 14 6 6 - Suami 1/2 Sdr.Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima (5) bagian dibekukan sementara. selama janin yang dikandung belum dapat diketahui dengan pasti keadaannya. 1/2 Sdr. apakah bayi tersebut akan lahir selamat atau tidak. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan: 93 ." (al-Ahqaf: 15) Sedangkan menurut istilah fuqaha. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. maka pokok masalahnya dua (2). Setelah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup. Setelah itu. Dikatakan: "al-mar'atu haamil ma haamilatun idsaa kaanat hublaa" (wanita itu hamil apabila ia sedang mengandung janin). 3. baik laki-laki maupun perempuan. yaitu janin yang dikandung dalam perut ibunya. Karena itu. sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh (7). yakni dua (2) bagian dibekukan..yang mengharuskan kita untuk segera membagi harta warisan dalam bentuk awal.

Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah r. hal ini bisa ditandai dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut. maka tidak berhak mendapatkan waris. atau ada ahli waris lain namun ia majhub (terhalang) hak warisnya karena adanya janin. Sebagai ahli waris tunggal. atau yang semacamnya. Sebagai ahli waris yang tidak berbeda hak warisnya. Berarti bila janin itu lahir ia menjadi saudara laki-laki seibu pewaris. Pernyataan ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad.maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw." Pernyataan Aisyah r. 2. Bila gerakan itu hanya sejenak --seperti gerakan hewan yang dipotong-. 5. tersebut dapat dipastikan bersumber dari penjelasan Rasulullah saw.a. Sedangkan persyaratan kedua dinyatakan sah dengan keluarnya bayi dalam keadaan nyata-nyata hidup. dan ia dianggap tidak ada. Sebagai ahli waris dalam segala keadaannya baik sebagai laki-laki maupun perempuan.1. seseorang wafat dan meninggalkan istri. dan bukan sebagai ahli waris dalam keadaan berkelamin ganda (banci). Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup. apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati. F. Kelima keadaan tersebut: 1. Dalam keadaan demikian berarti mahjub hak warisnya oleh adanya ayah pewaris.: "Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun sekalipun berada dalam falkah mighzal. baik sebagai laki-laki ataupun perempuan. jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris. Sebagai misal. Pendapat inilah yang paling akurat dalam mazhab Imam Ahmad. disebabkan janin tersebut tidak termasuk ahli waris dalam segala kondisi. atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati.a." (HR Nasa'i dan Tirmidzi) Namun. maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan. Dengan demikian. bayi yang baru keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan. Dan tanda kehidupan yang tampak jelas bagi bayi yang baru lahir adalah jika bayi tersebut menangis. Sebagai ahli waris dalam keadaan memiliki kelamin (laki-laki atau perempuan). ibu sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil hak istri. Karenanya harta waris yang ada hanya dibagikan kepada istri seperempat (1/4). Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat. bersin. Bukan sebagai ahli waris dalam keadaan apa pun. atau ketika keluar dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil. 94 . Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya. baik janin tersebut berkelamin laki-laki ataupun perempuan. dan sisanya menjadi bagian ayah sebagai 'ashabah. menurut mazhab Hanafi. Adapun mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam kandungan maksimal empat tahun.: "Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati). 3. seperti yang disinyalir para ulama mazhab Hambali. Pokok masalahnya dari empat (4). Keadaan Janin Ada lima keadaan bagi janin dalam kaitannya dengan hak mewarisi. tanpa harus menunggu kelahiran janin yang ada di dalam kandungan. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian pewaris. Adapun menurut mazhab Syafi'i dan Hambali. 2. ia tidak berhak mewarisi. Keadaan Pertama Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yangada secara langsung. mau menyusui ibunya. sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan. dan ibu yang sedang hamil dari ayah tiri pewaris. 4. Bahkan. ayah..

maka dialah yang berhak untuk mendapatkan sisa harta yang dibekukan tadi. bila janin dikategorikan sebagai anak laki-laki. Bila yang lahir bayi perempuan. dan sisanya merupakan bagian anak laki-laki sebagai 'ashaloub. Namun. Sebab. Tabelnya seperti berikut: 6 Suami 1/2 Ibu 1/6 3 sdr. Setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. Jadi. maka sisa harta waris yang dibekukan itu menjadi hak paman. namun untuk sementara bagiannya dibekukan hingga kelahirannya. ibu. dan kita bekukan untuk janin dari bagian yang maksimal. maka sisa harta waris yang dibekukan tadi diberikan dan dibagikan kepada ahli waris yang ada. Atau terkadang terjadi sebaliknya. Maka dalam keadaan demikian ia tidak berhak mendapatkan waris. namun bila ternyata laki-laki yang lahir. boleh jadi.seayah (hamil) 1/2 9 3 1 1 1 Sisanya tiga (3). seseorang wafat dan meninggalkan istri. Sebagai contoh.maka dalam keadaan demikian hendaknya kita berikan dua ilustrasi. dan bagian istri seperdelapan (1/8). seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil. 95 . Namun. Setelah janin lahir dengan selamat. maka hak warisnya diberikan kepadanya. Sebab keponakan perempuan (anak perempuan keturunan saudara laki-laki) termasuk dzawil arham. kita lihat sisanya yang menjadi bagian bayi yang masih dalam kandungan. jika bayi itu masuk kategori laki-laki. karena tidak ada sisa dari harta waris setelah diambil para ashhabul furudh yang ada. apabila yang lahir anak perempuan. maka sisa bagian yang dibekukan menjadi bagiannya. ayah seperenam (1/6). Bila yang lahir anak laki-laki. bila lahir dan ternyata bukan termasuk dari ahli waris. oleh karenanya ia lebih utama dibanding kedudukan paman kandung. dan pembagiannya seperti berikut: ibu seperenam (1/6). Sebagai misal. dan ayah. Sebab kedudukannya sebagai keponakan laki-laki (anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki). Pembagiannya seperti berikut: apabila istri ayah tersebut melahirkan bayi laki-laki. berarti menjadi saudara laki-laki seayah. dan ipar perempuan yang sedang hamil (istri saudara kandung laki-laki).Keadaan Kedua Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yang ada dengan menganggap bahwa janin yang dikandung adalah salah satu dari ahli waris. ia akan lebih banyak memperoleh bagian daripada bayi perempuan. Dalam keadaan demikian. Keadaan Ketiga Apabila janin yang ada di dalam kandungan sebagai ahli waris dalam segala keadaannya --hanya saja hak waris yang dimilikinya berbeda-beda (bisa laki-laki dan bisa perempuan)-. Namun. untuk sementara dibekukan hingga janin telah dilahirkan. dan istri ayah yang sedang hamil. dan pokok masalahnya dari enam (6) di-'aul-kan menjadi sembilan (9).pr. berarti kedudukannya sebagai anak laki-laki pewaris. maka harta yang dibekukan tadi dibagikan lagi kepada ahli waris yang ada. hendaknya kita berikan bagian yang lebih banyak dari jumlah maksimal kedua bagiannya. seseorang wafat dan meninggalkan istri. maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperempat (1/4). Contoh lain. maka dalam hal ini ia berhak mendapat bagian separo (1/2). dan sisanya yang dua per tiga (2/3) dibekukan hingga janin yang ada di dalam kandungan itu lahir. berarti ia menjadi saudara perempuan seayah. dan hendaknya kita lakukan pembagian dengan dua cara dengan memberikan bagian ahli waris yang ada lebih sedikit dari bagian-bagian masing-masing. bila ternyata bayi tersebut perempuan. paman (saudara ayah). ibu. tiga saudara perempuan seibu. seibu 1/3 Sdr. pr.

seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil dan saudara kandung laki-laki. Bila janin itu lahir dengan hidup normal. 1/2 Sdr. Dan bila janin tadi lahir sebagai perempuan. maka harta waris yang ada akan dibagikan kepada seluruh ahli waris yang berhak untuk menerimanya. atau ada ahli waris lain akan tetapi mahjub haknya karena adanya janin. namun jika ia lahir dalam keadaan mati. baik ia laki-laki ataupun perempuan. kedudukan bayi akan tetap mendapat hak waris seperenam (1/6). Keadaan Keempat 24 3 4 4 13 Istri 1/8 Ayah 'ashabah Ibu 1/6 Janin pr. Inilah tabelnya. dengan begitu ia akan mengambil seluruh sisa harta waris yang ada karena ia sebagai 'ashabah. kdg. anak perempuan 96 . sbg. kdg. Sebagai misal. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. maka ia sebagai cucu perempuan dari keturunan anak lakilaki. Maka bagian istri adalah seperdelapan (1/8). Sebab kedudukannya sebagai saudara laki-laki seibu atau saudara perempuan seibu dengan pewaris. seibu 1/6 Keadaan Kelima Apabila tidak ada ahli waris lain selain janin yang di dalam kandungan. 1/2 24 3 5 4 12 24 3 4 4 12 Bila bagian janin dalam kandungan tidak berubah baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Sebagai misal. 'ashabah Sisanya satu (1). pr. bila bayi tersebut perempuan maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. pr. Karenanya. Sebab. dan sisanya akan dibagikan sebagai tambahan (ar-radd) bila ternyata tidak ada 'ashabah. pr. pr. dalam kedua keadaannya. maka dalam keadaan seperti ini kita tangguhkan pembagian hak warisnya hingga tiba masa kelahiran janin tersebut. seseorang wafat dan meninggalkan menantu perempuan yang sedang hamil (istri dan anak lakilakinya) dan saudara laki-laki seibu. Dengan demikian. bila janin tadi lahir sebagai laki-laki berarti kedudukannya sebagai cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. seayah 1/6 Ibu (Janin) sdr. dan akan mendapat bagian separo (1/2) harta \varis yang ada. Apabila janin telah keluar dari rahim ibunya. seayah 1/6 Ibu (hamil) 1/6 (Janin) sdr. maka dialah yang akan mengambil hak warisnya. 1/2 Sdr. dan ibu yang hamil dari ayah lain (ayah tiri pewaris). 6 3 1 1 1 6 3 1 1 1 Sdr. Contoh lain. dan saudara laki-laki tidak mendapat bagian bila janin yang dikandung tadi laki-laki. baik sebagai laki-laki ataupun sebagai perempuan. maka kita sisihkan bagian warisnya. dan kita berikan bagian para ahli waris yang ada secara sempurna.Istri 1/8 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Janin lk. Maka janin yang masih dalam kandungan merupakan pokok ahli waris. dibekukan. baik kelak lahir sebagai laki-laki atau perempuan. seibu 1/6 Sdr. maka bagian warisnya tetap seperenam (1/6). saudara perempuan seayah. Akan tetapi. akan menggugurkan hak waris saudara laki-laki pewaris yang seibu tadi.

97 .setengah (1/2) bagian. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah.

maka ia diperbolehkan untuk menikah lagi. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak dikenal rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan melihat orang yang sebaya di wilayahnya --tempat dia tinggal. maka sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh tahun untuk menunggu. cukup dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim. Kadang-kadang bisa juga ditetapkan sebagai orang yang masih hidup berdasarkan asalnya. menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan pulah tahun (90). pendapat yang paling sahih menurut anggapan Imam Syafi'i ialah bahwa batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan. Yang demikian itu berdasarkan ucapan Ali bin Abi Thalib r. dan tidak halal untuk dinikahi hingga ia mendapatkan berita yang meyakinkan akan kematian suaminya. Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu. Atau telah berlalu selama waktu tertentu dan diperkirakan secara umum -.XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG. hingga benar-benar tampak dugaan yang sebaliknya (yakni benar-benar sudah mati). TENGGELAM. tentang wanita yang suaminya hilang dan tidak diketahui rimbanya. Apabila orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada.a. Definisi Al-mafqud dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna 'hilang'. al-mafqud berarti orang yang hilang. sampai benar-benar diketahui keadaannya dan jelas apakah ia masih hidup atau sudah mati. Hukum Orang yang Hilang Para fuqaha telah menetapkan beberapa hukum yang berkenaan dengan orang yang hilang/menghilang. yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebaya di wilayahnya. Bila usai masa idahuya. Kita juga bisa simak firman Allah SWT berikut: "Penyeru-penyeru itu berkata: 'Kami kehilangan piala raja. Dalam riwayat lain. Dalam riwayat lain. Ali berkata: "Dia adalah seorang istri yang tengah diuji.telah mati. Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang hilang belum juga diketemukan atau dikenali rimbanya. dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta. maka ia dapat diputuskan sebagai orang yang sudah meninggal. Dikatakan faqadtu asy-syai'a idzaa adha'tuhu (saya kehilangan bila tidak mengetahui di mana sesuatu itu berada). kemudian divonisnya sebagai orang yang telah mati. di antaranya: istrinya tidak boleh dinikahi/dinikahkan. maka mulailah ia untuk menghitung idahnya sebagaimana lazimaya istri yang ditinggal mati suaminya. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini terutama para ulama dari mazhab yang empat. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah tujuh puluh tahun (70). DAN TERTIMBUN A. dari Imam Malik. apakah dia masih hidup atau sudah mati. yaitu empat bulan sepuluh hari. Akan tetapi. Sedangkan dalam mazhab Syafi'i dinyatakan bahwa batas waktu orang yang hilang adalah sembilan puluh tahun. terputus beritanya. disebutkan bahwa istri dari orang yang hilang di wilayah Islam --hingga tidak dikenal rimbanya-." (Yusuf: 72) Sedangkan menurut istilah para fuqaha. dari Abu Hanifah. dan hak kepemilikannya tidak boleh diusik. maka hendaknya dia bersabar. hartanya tidak boleh diwariskan. Namun. dan aku menjamin terhadapnya. Karena 98 . antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. dan tidak diketahui rimbanya.dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dan dugaan yang dapat mengenali keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana dan prasarana yang ada. dan hakim pun telah memvonisnya sebagai orang yang dianggap telah mati." B. Hal ini didasarkan pada lafazh hadits secara umum yang menyatakan bahwa umur umat Muhammad saw.

dan pendapat inilah yang dipilih az-Zaila'i (ulama mazhab Hanafi) dan disepakati oleh banyak ulama lainnya. ahli waris yang ada berhak untuk menerima bagian yang paling sedikit di antara dua keadaan orang yang hilang (sebagai ahli waris yang hidup atau yang mati. Karena itu. maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya. sesudah berlalunya waktu tertentu --kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut. dan di antara ahli warisnya ada yang hilang tidak dikenal rimbanya. maka cara pemberian hak warisnya ada dua keadaan: Ahli waris yang hilang sebagai hajib hirman bagi ahli waris yang lain. maka itulah yang berlaku. orang yang hilang pada saat peperangan dan pertempuran. Misalnya. dengan alasan berbedanya keadaan wilayah dan personel. bila ternyata hakim telah memvonisnya sebagai orang yang telah mati. maka harta waris tadi dibagikan kepada seluruh ahli waris yang ada dan masing-masing mendapatkan sesuai dengan bagian atau fardh-nya. seluruh harta waris yang ada untuk sementara dibekukan hingga anak laki-laki yang hilang telah muncul. Sebab. Karenanya untuk sementara harta waris yang ada dibekukan hingga hakikat keberadaannya nyata dengan jelas. dan ia boleh menikah lagi setelah masa idah yang dijalaninya selesai. bila ahli waris yang ada --siapa saja di antara mereka-. Sedangkan pada keadaan kedua. atau banyak perampok dan penjahat. Bila ahli waris yang hilang ternyata masih hidup. Sementara itu. Hak Waris Orang Hilang Apabila seseorang wafat dan mempunyai ahli waris. Pertama. dalam hal ini ijtihad dan usaha seorang hakim sangat berperan guna mencari kemungkinan dan tanda-tanda kuat yang dapat menuntunnya kepada vonis: masih hidup atau sudah mati. dan dua saudara perempuan seayah. melancong.yang dalam dua keadaan orang 99 . Inilah pendapat yang lebih mendekatkan kepada wujud kemaslahatan. atau untuk menuntut ilmu. menyerahkan seluruhnya kepada ijtihad hakim. mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang yang hilang itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti jika terjadi peperangan. seorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati. maka Imam Ahmad dalam hal ini memiliki dua pendapat. C. Karena itu. Dan bila ternyata telah divonis oleh hakim sebagai orang yang telah meninggal.maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat tahun. atau mirip dengan pembagian hak waris banci). atau menjadi salah seorang penumpang kapal yang tenggelam-. Bukan sebagai hajib (penghalang) bagi ahli waris yang ada. akan berbeda halnya dengan orang yang hilang bukan dalam keadaan yang demikian. apabila hilangnya orang itu bukan dalam kemungkinan meninggal. Sebagai contoh. Misal lain. ia dapat menempuh masa idahnya.menurut Imam Syafi'i. maka dialah yang berhak untuk menerima atau mengambil seluruh harta warisnya. Apabila setelah empat tahun belum juga diketemukan atau belum diketahui beritanya. Namun. memang tidak tepat jika hal ini hanya disandarkan pada batas waktu tertentu. Maksudnya. pendapat mazhab Hambali dalam hal ini lebih rajih (lebih tepat). seperti pergi untuk berniaga. Kedua. Demikian juga istrinya. saudara laki-laki seayah. Namun. Menurut hemat penulis. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung laki-laki. tetapi bahkan sama berhak mendapat waris sesuai dengan bagian atau fardh-nya (yakni termasuk ashhabul fardh) Pada keadaan pertama: seluruh harta warisan peninggalan pewaris dibekukan --tidak diberikan kepada ahli waris-untuk sementara hingga ahli waris yang hilang muncul atau diketahui tempatnya. dan anak laki-laki yang hilang. seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung laki-laki. Posisi anak laki-laki dalam hal ini sebagai "penghalang" atau hajib hirman apabila masih hidup. menunggu sampai diperkirakan umurnya mencapai sembilan puluh tahun Sebab sebagian besar umur manusia tidak mencapai atau tidak melebihi sembilan puluh tahun. Kapan saja hakim memvonisnya. saudara kandung perempuan. Posisi saudara kandung bila masih hidup adalah sebagai haiib bagi seluruh ahli waris yang ada. maka barulah harta waris tadi dibagikan untuk ahli waris yang ada.

pr 2/3 Sdr. Sebagai contoh. ibu seperenam (1/6). mati Istri 1/4 24 3 12 24 3 6 yang dibekukan 3 100 . yaitu bagian ibu seperenam (1/6). dan sisanya (yakni yang seperenam) lagi untuk sementara dibekukan hingga ahli waris yang hilang telah nyata benar keadaannya. Contoh-contoh Kasus Seseorang wafat dan meninggalkan suami. hlg Misal lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. saudara kandung perempuan. kdg. pr Sdr. Sedangkan saudara laki-laki yang sesyah tidak mendapat hak waris apa pun. maka pembagiannya sebagai berikut: Dalam hal ini kita harus memboat dua cara pembagian. atau telah divonis sebagai orang yang sudah meninggal. hlg 1 1 1 Sdr. maka ibu akan mendapat bagian sepertiga (1/3). dan cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. Tabelnya sebagai berikut: 4 2 1 7 8 4 1 8 6 7 56 3 24 yang dibekukan 4 2 16 yang dibekukan 9 2 16 yang dibekukan 9 - Anggapan msh.yang hilang tadi sama bagian hak warisnya. kdg. Dalam contoh tersebut. tampak ada penyatuan antara ahli waris yang tidak berbeda bagian warisnya dalam dua keadaan orang yang hilang --yaitu bagian istri seperempat (1/4)--dengan ahli waris yang berbeda hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi. bagian istri adalah seperempat (1/4). bagi siapa saja yang tidak berhak untuk mendapatkan waris dalam dua keadaan orang yang hilang. hendaknya ia diberi hak waris secara sempurna (tanpa dikurangi atau dilebihkan. Namun. seseorang wafat dan maninggalkan istri. dengan sendirinya tidak berhak untuk mendapatkan harta waris sedikit pun. Dalam keadaan demikian. maka bagian masing-masing ahli waris itu seperti berikut: 1 Anggapan msh. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. Sebab bila ahli waris yang hilang tadi telah divonis hakim sebagai orang yang telah meninggal. dan saudara kandung lakilaki yang hilang. kdg. lk. ibu. Suami 1/2 Sdr. pr Anggapan sdh. lk. hdp. Namun. ibu. saudara kandung. Dari sinilah kita keluarkan hak waris masing-masing. Kemudian kita menggunakan cara al-jami'ah (menyatukan) kedua cara tadi. maka mereka diberi lebih sedikit di antara kedua keadaan tadi. dan yang kedua dalam kategori sudah meninggal. saudara laki-laki seayah. bagi ahli waris yang berbeda bagian hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi (yakni keadaan hidup dan matinya). kdg. atau tanpa ada yang dibekukan). kdg. kemudian membekukan sisanya. mati Suami 1/2 Sdr. hdp. yang pertama dalam kategori orang yang hilang tadi masih hidup. Istri 1/8 2 Anggapan sdh. pr Sdr. kdg.

mahjub Cucu lk. mati Istri 1/4 12 24 3 6 yang dibekukan 3 Sdr. (mahjub) Sdr.dr. (hilang) 4 17 Ibu 1/3 Sdr. dan berpegang teguh pada salah satu rukunnya --yaitu iman kepada qadha dan qadar-Nya.seibu (mahjub) Sepupu. D. lk. seseorang wafat dan meninggalkan suami. Hanya orang-orang mukmin yang ternyata tetap bersabar dalam menghadapi musibah. (mahjub) Anak lk.lk. lk. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. 1/2 Sdr. Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Betapa banyak kejadian dan musibah yang kita alami dalam kehidupan di dunia ini. sangat sedikit di antara kita yang mau mengambil i'tibar (pelajaran). seibu 1/6 2 4 yang dibekukan 4 Sepupu.lk.dr.kdg.lk. Semua yang menimpa mereka terasa sebagai sesuatu yang ringan.kdg. tanpa diduga. 'ashabah Cucu pr.pr.lk. hdp.lk. karena mereka selalu melekatkan kehidupannya dengan iman.Ibu 1/6 Sdr. Sayangnya. saudara kandung perempuan. (hilang) Jumlah yang dibekukan 17 Contoh lain. ujian.'ashabah 4 8 yang dibekukan 4 5 10 yang dibekukan 10 Cucu lk. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. hdp. saudara laki-laki seibu. 'ashabah Anak lk. Terkadang kejadian dan musibah itu tiba-tiba datangnya. (hilang) yang dibekukan 12 Demikianlah beberapa contoh tentang hak waris yang di antara ahli warisnya ada yang hilang atau belum diketahui keadaannya. 'ashabah 7 14 yang dibekukan 5 Cucu pr. maka bagian masing-masing seperti berikut: Anggapan msh. Sehingga hal ini sering kali membuat manusia bertekuk lutut dan tidak berdaya.pr.anak.kdg. dan cobaan. (hilang) 4 1 3 Anggapan sdh. (hilang) 8 1 3 4 Anggapan sdh. lk. bahkan sebagian manusia berani melakukan hal-hal yang menyimpang jauh dari kebenaran dalam menghadapinya. sementara lisan 101 . Maka rincian pembagiannya seperti berikut: Anggapan msh. mati Suami 1/4 Cucu pr. anak paman kandung (sepupu). Istri 1/8 Sdr. dan anak laki-laki yang hilang.anak. Suami 1/4 Cucu pr. (hilang) 4 4 1 1 2 2 yang dibekukan 2 1 1 yang dibekukan 1 - Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri.

dan anak paman kandung (sepupu). sekalipun masa hidup yang kedua hanya sejenak setelah kematian saudaranya yang pertama.senantiasa mengucapkan: "sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepadaNyalah kita kembali". Setelah orang kedua (yang meninggal kemudian) meninggal. Misal lain. suami-istri meninggal secara bersamaan dan mempunyai tiga anak laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8) bagian. Yang satu meninggalkan istri.'" (al-Baqarah: 155-156) Bukan sesuatu yang mustahil jika dalam suatu waktu dua orang bersaudara bepergian bersama-sama menggunakan pesawat terbang atau kapal laut. dua orang bersaudara mati secara berbarengan. Kadangkadang manusia tertawa dan merasa lapang dada. sedangkan yang satunya lagi meninggalkan dua anak perempuan." Hal demikian. Apabila hal ini telah diketahui dengan pasti. Atau mungkin saja terjadi bencana alam yang mengakibatkan rumah yang mereka huni runtuh. lalu mengalami kecelakaan. hal ini telah memenuhi syarat hak mewarisi. bagaimana cara pelaksanaan pemberian hak waris kepada masingmasing ahli waris? Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Kaidah yang berlaku dalam pembagian hak waris orang yang tenggelam dan tertimbun yaitu dengan menentukan mana di antara mereka yang lebih dahulu meninggal. dan sisanya adalah untuk anak laki-lakinya dari istri yang masih hidup 102 . Begitulah seterusnya. tetapi dalam sekejap keadaan dapat berubah sebaliknya. apabila dua orang bersaudara tenggelam secara bersamaan lalu yang seorang meninggal seketika dan yang seorang lagi meninggal setelah beberapa saat kemudian.. Maka jika di antara mereka ada yang mempunyai keturunan. Maka seluruh harta peninggalan yang ada segera dibagikan kepada ahli waris dari kerabat yang masih hidup. dan sisanya untuk bagian sepupu sebagai 'ashabah. maka tidak ada hak waris di antara keduanya atau mereka tidak saling mewarisi. Kemudian sang istri pernah mempunyai anak laki-laki dari suaminya yang dahulu. disebabkan tidak terpenuhinya salah satu persyaratan dalam mendapatkan hak waris. tentulah akan muncul persoalan dalam kaitannya dengan kewarisan. mereka mengucapLan 'Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'un. Hal ini sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama faraidh yang menyebutkan: "Tidak ada hak saling mewarisi bagi kedua saudara yang mati karena tenggelam secara bersamaan. maka yang mati kemudian inilah yang berhak menerima hak waris. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Sedangkan jika keduanya sama-sama tenggelam atau terbakar secara bersamaan kemudian mati tanpa diketahui mana yang lebih dahulu meninggal. anak perempuan yang pertama setengah (1/2). Adapun bagian kedua anak perempuan (dari yang kedua) adalah dua per tiga (2/3).. Suami-istri itu masing-masing mempunyai harta. Sebagai contoh. Misalnya. dan tidak pula bagi kedua saudara yang mati karena tertimbun reruntuhan. Maka pembagiannya seperti berikut: Harta istri yang meninggal untuk anaknya. yakni dengan memberikan hak waris kepada orang yang meninggal kemudian. Oleh karenanya tidak ada sikap yang lebih baik kecuali berlaku sabar dan berserah diri kepada-Nya. sehingga sebagian anggota keluarga mereka menjadi korban. Sebagai contoh. menurut para ulama. maka kepemilikan harta waris tadi berpindah kepada ahli warisnya yang berhak. begitupun sang suami telah mempunyai istri lain dan mempunyai anak laki-laki. serta yang meninggal seketika karena kecelakaan dan bencana lainnya. anak perempuan. dan sisanya merupakan bagian sepupu tadi sebagai 'ashabah. yaitu hidupnya ahli waris pada saat kematian pewaris.mereka --jika menghadapi musibah-. sedangkan harta suami yang meninggal seperdelapannya (1/8) merupakan bagian istrinya yang masih hidup. Menurut ulama faraid. pembagian waris lebih mudah dilaksanakan. Perhatikan firman Allah SWT berikut: ". (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah. Begitulah kehidupan dunia yang selalu silih berganti. dan anak laki-laki paman kandung (sepupu yang pertama disebutkan).

Pembahasan tentang hak waris-mewarisi bagi orang-orang yang mati tenggelam atau tertimbun reruntuhan atau musibah lainnya merupakan bagian terakhir dari buku ini. harta ketiga anak laki-laki. dan saya akhiri pembahasan ini dengan pujian kepada Rabb semesta alam.itu. dan sisanya merupakan bagian saudara laki-lakinya yang seayah dengan mereka. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan banyak manfaat bagi para penuntut ilmu faraid. Allahlah yang memberi taufik dan petunjuk kepada kita. seperenamnya (1/6) diberikan atau merupakan bagian saudara laki-laki mereka yang seibu. amin. Kemudian. TAMAT 103 .