MAKALAH METODE BERMAIN PERAN (ROLE PLAYING

)

Disusun Oleh: Fajar Kurnia Aji (29015040)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA 2013

1

Rumusan Masalah Berdasarkan uraian identifikasi di atas. Bermain peran merupakan salah satu alternative yang dapat ditempuh. Melalui peran. Apa manfaat bermain peran dalam pembelajaran? 2. maka terdapat beberapa permasalahan yaitu: 1. B. bermain peran diarahkan pada pemecahan masalah yang menyangkut hubungan antar manusia. analisis. terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik. dan diskusi. melalui diskusi kelas. BAB II 2 . Untuk mengetahui manfaat pembelajaran dengan model bermain peran. Dalam hal ini.BAB I PENDAHULUAN A. Hasil penelitian dan percobaan yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa bermain peran merupakan salah satu model yang dapat digunakan secara efektif dalam pembelajaran. serta langkah-langkah identifikasi masalah. penemuan dan inkuiri. Seorang pemeran harus mampu menghayati peran yang dimainkannya. Tujuan 1. 2. pemeranan. Untuk mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran dengan model bermain peran. Pemecahan masalah pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai cara. melainkan memilih variasi lain yang sesuai. Untuk kepentingan tersebut. Hal-hal apakah yang perlu diperhatikan dalam bermain peran? C. baik yang berkaitan dengan mata pelajaran maupun yang menyangkut hubungan social. tidak terpaku pada cara tertentu yang monoton. sejumlah peserta didik bertindak sebagai pemeran dan yang lainnya sebagai pengamat. Latar Belakang Dalam pembelajaran guru dan peserta didik sering dihadapkan pada berbagai masalah. Tanya jawab antara guru dan peserta didik. Bermain peran dalam pembelajaran merupakan usaha untuk memecahkan masalah melalui peragaan. Guru yang kreatif senantiasa mencari pendekatan baru dalam memecahkan masalah. peserta didik berinteraksi dengan orang lain yang juga membawakan peran tertentu sesuai dengan tema yang dipilih.

dalam psikodrama bobot emosional lebih ditonjolkan daripada bobot intelektual. E. sedangkan dalam psikodrama. Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok.Pd. M. Mulyasa. bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya. tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Keempat asumsi tersebut sebagai berikut: a. Bermain peran dalam konteks pembelajaran memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan kegiatan utama dan integral dari pembelajaran. Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan analogi mengenai situasi kehidupan nyata. para peserta didik dapat menampilkan respons emosional sambil belajar dari respons orang lain. c. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu. Perbedaan lainnya. Secara implisit bermain peran mendukung sustau situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi “di sini pada saat ini”.PEMBAHASAN 1. Tewrhadap analogy yang diwujudkan dalam bermain peran. sedangkan pada bermain peran peran keduanya memegang peranan yang sangat penting dalam pembelajaran. Mengungkapkan perasaan untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari psikodrama (jenis bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan). Denagn demikian. Oleh sebab 3 . Dengan demikian. Manfaat Bermain Peran Menurut Dr. Kedua. (2004:141) terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai sosial. para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. pemeranan dan keterlibatan emosional pengamat itulah yang paling utama. terdapat perbedaan penekanan antara bermain peran dalam konteks pembelajaran dengan psikodrama. b. Namun demikian. para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal.

berupa sikap. yakni (a) kualitas pemeranan. para peserta didik sulit untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya. Kesembilan tahap tersebut dijelaskan sebagai berikut. Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi. menjelaskan masalah. menafsirkan cerita dan mengeksplorasi isu-isu. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi masalah. para pserta didik dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain. model mengajar ini berusaha mengurangi peran guru yang teralu mendominasi pembelajaran dalam pendekatan tradisional. perasaan dan system keyakinan. nilai. (g). (f). dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Masalah dapat diangkat dari kehidupan peserta didik. (d). menarik dan merangsang rasa ingin tahu peserta didik. (b) analisis dalam diskusi. Hal-Hal yang Diperhatikan dalam Bermain Peran Terdapat tiga hal yang menentukan kualitas dan keefektifan bermain peran sebagai model pembelajaran. (i). (c). dan memiliki hasrat untuk mengetahui bagaimana masalah yang hangat dan aktual. Bermain 4 . serta memungkinkan berbagai alternative pemecahan. Tanpa bantuan orang lain. agar dapat merasakan masalah itu hadir dihadapan mereka. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik agar tertarik pada masalah karena itu tahap ini sangat penting dalam bermain peran dan paling menentukan keberhasilan. (b). apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah. a. 2. (e).itu. serta menjelaskan peran yang akan dimainkan. (h). Model bermain peran mendorong peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan masalah sambil menyimak secara seksama bagaimana orang lain berbicara mengenai masalah yang sedang dihadapi. d. langsung menyangkut kehidupan peserta didik. (c) pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi kehidupan nyata. Menurut Shaftel (1967) mengemukakan sembilan tahap bermain peran yang dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran: (a). Dengan demikian. Menghangatkan Suasana dan Memotivasi Peserta Didik Menghangatkan suasana kelompok termasuk mengantarkan peserta didik terhadap masalah pembelajaran yang perlu dipelajari.

Dalam hal ini. Jika para peserta didik tidak menyambut tawaran tersebut. b. Guru membantu peserta didik menyiapkan adegan-adegan dengan mengajukan pertanyaan. Memilih Partisipan/Peran Memilih peran dalam pembelajaran. Persiapan ini penting untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi seluruh peserta didik. c. tahap ini peserta didik dan guru mendeskripsikan berbagai watak atau karakter. Menurut Sharfel dan Shaftel (1967). dan apa yang harus mereka kerjakan. pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. bagaimana mereka merasakan. kemudian para peserta didik diberi kesempatan secara sukarela untuk menjadi pemeran.peran akan berhasil apabila peserta didik menaruh minat dan memperhatikan masalah yang diajukan guru. dan mereka siap untuk memainkannya. sebaiknya pengamat dipersiapkan secara matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar semua peserta didik turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif mendiskusikannya. Misalnya menilai apakah peran yang dimainkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya? Bagaimana keefektifan perilaku yang ditunjukkan pemeran? Apakah pemeran dapat menghayati peran yang dimainkan? 5 . agar pengamat turut terlibat. tidak perlu ada dialog khusus karena para peserta didik dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. Menyusun Tahap-Tahap Peran Menyususn tahap-tahap peran. Menyiapkan Pengamat Menyiapkan pengamat. misalnya di mana pemeranan dilakukan. apakah tempat sudah dipersiapkan. mereka perlu diberi tugas. apa yang mereka suka. guru dapat menunjuk salah seorang peserta didik yang pantas dan mampu memerankan posisi tertentu. dan sebagainya. d.

dan apa yang seharusnya mereka perankan telah dicoba lakukan. baik secara emosional maupun secara intelektual. diskusi akan mudah dimulai jika pemeran dan pengamat telah terlibat dalam bermain peran. dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan diskusi mengenai alternative pemeranan. pada tahap ini para peserta didik mulai beraksi secara spontan. h. dan pemecahan masalah pada tahap ini mungkin sudah lebih jelas. tak perlu memakan waktu yang terlalu lama. Sebaliknya pemeranan dihentikan pada saat terjadinya pertentangan agar memancing permasalahan untuk didiskusikan. Pemeranan Tahap pemeranan. Para peserta didik menyetujui cara tertentu untuk memecahkan masalah. apakah cukup tepat untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Shaftel dan Shfatel (1967) mengemukakan bahwa pemeranan cukup dilakukan secara singkat. diskusi dan evaluasi pada tahap ini sama seperti pada tahap enam. Pemeranan dapat berhenti apabila para peserta didik telah merasa cukup. Perubahan ini memungkinkan adanya perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah. sesuai dengan peran masing-masing. f. hanya dimaksudkan untuk menganalisis hasil pemeranan ulang. sesuai tingkat kesulitan dan kompleksitas masalah yang diperankan serta jumlah peserta didik yang dilibatkan. Setiap perubahan peran akan mempengaruhi peran lainnya. Dengan melontarkan sebuah pertanyaan. Diskusi dan Evaluasi Tahap Dua Diskusi dan evaluasi tahap dua. meskipun dimungkinkan adanya 6 . Merka berusaha memainkan setiap peran seperti benarbenar dialaminya.e. g. Adakalanya para peserta didik keasyikan bermain peran sehingga tanpa disadari telah mamakan waktu yang terlampau lama. Mungkin ada perubahan peran watak yang dituntut. Mungkin proses bermain peran tidak berjalan mulus karena para peserta didik ragu dengan apa yang harus dikatakan akan ditunjukkan. Diskusi mungkin dimulai dengan tafsirkan mengenai baik tidaknya peran yang dimainkan selanjutnya mengarah pada analisis terhadap peran yang ditampilkan. Pemeranan Ulang Pemeranan ulang. para peserta didik akan segera terpancing untuk diskusi. Dalam hal ini guru perlu menilai kapan bermain peran dihentikan. Diskusi dan Evaluasi Diskusi dan evaluasi pembelajaran.

Proses ini mewarnai seluruh kegiatan bermain peran. Membagi Pengalaman dan Mengambil Kesimpulan Membagi pengalaman dan pengambilan kesimpulan. guru. Pada tahap ini para peserta didik saling mengemukakan pengalaman hidupnya dalam berhadapan dengan orang tua.peserta didik yang belum menyetujuinya. BAB III KESIMPULAN 7 . Semua pengalaman peserta didik dapat diungkap atau muncul secara spontan. teman dan sebagainya. yang ditegaskan lagi pada tahap akhir. tahap ini tidak harus menghasilkan generalisasi secara langsung karena tujuan utama bermain peran ialah membantu para peserta didik untuk memperoleh pengalaman berharga dalam hidupnya melalui kegiatan interaksional dengan temannya. Mareka bercermin pada orang lain untuk lebih memahami dirinya. i. Hal ini mengandung implikasi bahwa yang paling penting dalam bermain peran ialah terjadinya saling tukar pengalaman. Kesepakatan bulat tidak perlu dicapai karena tidak ada cara yang pasti dalam menghadapi masalah kehidupan.

Kegiatan pembelajaran partisipatif meliputi pembinaan keakraban. 8 . 3. 2. identifikasi kebutuhan. dan penilaian terhadap proses. 4. kepekaan topic yang diangkat sebagai masalah. Kelas dapat diibaratkan sebagai suatu kehidupan social tempat para peserta didik belajar mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat orang lain. latar belakang social budaya. sumber dan kemungkinan hambatan. Beberapa factor yang perlu diperhatikan dalam memilih topic masalah dalam bermain peran agar memadai bagi peserta didik. kerumitan masalah. perumusan tujuan belajar. antara lain usia peserta didik. dan pengalaman peserta didik dalam bermain peran. pelaksanaan kegiatan pembelajaran. 1.Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut di atas. Melalui model pembelajaran bermain peran para peserta didik dapat berlatih untuk menerapkan prinsip-prinsip demokrasi. tujuan belajar. Faktor yang perlu diperhatikan dalam penggunaan teknik pembelajaran partisipatif yakni factor manusia. penyusunan program pembelajaran. bahan belajar. maka dapat dapat disimpulkan ke dalam beberapa hal berikut. hasil serta dampak kegiatan belajar. waktu dan fasilitas belajar serta factor sarana belajar.

A. E. Tilaar. White.DAFTAR PUSTAKA Mulyasa. John.R. Manajemen Pendidikan Nasional. Kogan Page. 2004. 1990. Bandung: Remaja Rosdakarya. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1994. Educational and The Good Life. School Based Curriculum Development and Teacher Education. London: Educational Studies. H. 9 . 1976. Kajian Pendidikan Masa Depan. Skillbeck. Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK. Mimeograph: OECD. Malcolm.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful