P. 1
Panduan Penatalaksanaan Bedah Onkologi

Panduan Penatalaksanaan Bedah Onkologi

|Views: 482|Likes:
Published by gustian_ballack
Bedah Onkologi
Bedah Onkologi

More info:

Published by: gustian_ballack on Apr 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/27/2014

pdf

text

original

PROTOKOL

PERABOI
2003

1

PROTOKOL
PENATALAKSANAAN KASUS
BEDAH ONKOLOGI
2003

PERHIMPUNAN AHLI BEDAH
ONKOLOGI INDONESIA
( PERABOI )
2004

2

PROTOKOL PENATALAKSANAAN KASUS
PERABOI 2003

Diterbitkan oleh :
PERABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia)

Edisi I Cetakan I 2004

Hak Cipta pada :
PERABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia)
d/a Sub Bagian/SMF Bedah Onkologi, Kepala & Leher
Bagian/SMF Ilmu Bedah FK UNPAD/Perjan RSHS
Jl. Pasteur 36 Bandung 40161
Telpon/Fax 022-2034655
e-mail : peraboibdg@yahoo.com

DILARANG MEMPERBANYAK TANPA IZIN PERABOI

ISBN :
ISSN :

Pengantar

3

KONSEP SAMBUTAN KETUA PP PERABOI 2000-2003

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Pertama-tama saya panjatkan puji syukur ke hadirat Illahi atas
kemudahan yang dilimpahkanNya mulai dari perumusan protocol
sampai terbitnya protokol ini.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa penanganan kanker
haruslah direncanakan sebaik mungkin karena penanganan
pertama adalah kesempatan yang terbaik buat penderita untuk
mencapai tingkat kesembuhan yang optimal, penanganan kedua
dan seterusnya tidak mungkin dapat memperbaiki kesalahan pada
tindakan pertama.
Masih banyak penanganan kanker yang tidak sesuai dengan prinsip-
prinsip Bedah Onkologi yang berakibat terjadinya kekambuhan
atau residif, baik local maupun sistemik.

Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas, Pengurus Pusat
Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI) Periode
2000-2003 menyususn Protokol Penatalaksanaan Kanker yang
meliputi kanker payudara, tiroid, rongga mulut, kelenjar liur, kulit
dan sarkoma jaringan lunak.

Saya ucapkan terima kasih banyak dan penghargaan setinggi-
tingginya kepada para sejawat yang berperan aktif dalam
penyusunan protocol ini, semoga segala jerih payah sejawat
mendapat ganjaran yang berlimpah dari Yang Maha Kuasa.

Akhir kata, semoga Protokol Peraboi ini dapat dimanfaatkan oleh
seluruh sejawat yang berperan dalam pengelolaan kanker.

Wassalamu alaikum wr. Wb.

Dr. Zafiral Azdi Albar, SpB(K)Onk

Sambutan

4

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Sambutan

Sambutan

Daftar Isi

Protokol Penatalaksanaan Kanker Payudara

Protokol Penatalaksanaan Tumor / Kanker
Tiroid

Protokol Penatalaksanaan Tumor / Kanker
Kelenjar Liur

Protokol Penatalaksanaan Kanker Rongga
Mulut

Protokol Penatalaksanaan Kanker Kulit

Protokol Penatalaksanaan Sarkoma Jaringan
Lunak

5

PROTOKOL PENATALAKSANAAN KANKER
PAYUDARA

6

Tim Perumus Protokol Penatalaksanaan Kanker Payudara

Ketua

: Dr. Muchlis Ramli, SpB(K)Onk

Anggota

: Dr. Azamris, SpB(K)Onk
Dr. Burmansyah, SpB(K)Onk
Dr. Djoko Dlidir, SpB(K)Onk
Dr. Djoko Handojo, SpB(K)Onk
Dr. Dradjat R. Suardi, SpB(K)Onlk
Dr. Eddy H, Tanggo, SpB(K)Onk
Dr. I.B. Tjakra W. Manuaba, SpB(K)Onk
Dr. Idral Darwis, SpB(K)Onk
Dr. Teguh Aryandono, SpB(K)Onk
Dr. Zafiral Azdi Albar, SpB(K)Onk

PROTOKOL PENATALAKSANAAN KANKER
PAYUDARA

I. PENDAHULUAN

Kanker payudara merupakan kanker dengan insidens tertinggi No.2
di Indonesia dan terdapat kecenderungan dari tahun ke tahun
insidens ini meningkat; seperti halnya diluar negeri (Negara
Barat). Angka kejadian Kanker Payudara di AS misalnya 92/100.000
wanita pertahun dengan mortalitas yang cukup tinggi 27/100.000
atau 18% dari kematian yang dijumpai pada wanita. Di Indonesia
berdasarkan “Pathological Based Registration“ Kanker Payudara
mempunyai insidens relatif 11,5%. Diperkirakan di Indonesia
mempunyai insidens minimal 20.000 kasus baru pertahun; dengan
kenyataan bahwa lebih dari 50% kasus masih berada dalam
stadium lanjut.

Disisi lain kemajuan “Iptekdok“ serta ilmu dasar biomolekuler,
sangat berkembang dan tentunya mempengaruhi tata cara
penanganan kanker payudara itu sendiri mulai dari deteksi dini,
diagnostik dan terapi serta rehabilitasi dan follow up.

Dalam upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan, Perhimpunan
Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI) telah mempunyai
protokol penanganan kanker payudara (tahun 1990). Protokol ini
dimaksudkan pula untuk dapat :
Menyamakan persepsi penanganan dari semua dokter yang
berkecimpung dalam Kanker Payudara atau dari senter
Bertukar informasi dalam bahasa yang sama
Digunakan untuk penelitian dalam aspek keberhasilan
terapi
Mengukur mutu pelayanan

Kemajuan Iptekdok yang cepat seperti dijelaskan diatas, membuat
PERABOI perlu mengantisipasi keadaan ini dengan sebaik-baiknya
melalui revisi Protokol Kanker Payudara 1988 dengan Protokol
Kanker Payudara PERABOI 2002.

7

Kanker Payudara

II. KLASIFIKASI HISTOLOGIK WHO / JAPANESE BREAST
CANCER SOCIETY :

Untuk kanker payudara dipakai klasifikasi histologik berdasarkan :
•WHO Histological classification of breast tumors
•Japanese Breast Cancer Society (1984) Histological
classification of breast tumors

Malignant ( Carcinoma )
1.Non invasive carcinoma
a)Non invasive ductal carcinoma
b)Lobular carcinoma in situ
2. Invasive carcinoma
a)Invasive ductal carcinoma
a1.

Papillobular carcinoma

a2.

Solid-tubular carcinoma

a3.

Scirrhous carcinoma

b) Special types
b1.

Mucinous carcinoma

b2.

Medullary carcinoma

b3.

Invasive lobular carcinoma

b4.

Adenoid cystic carcinoma

b5.

Squamous ceel carcinoma

b6.

Spindel cell carcinoma

b7.

Apocrine carcinoma

b8.

Carcinoma with cartilaginous and or
osseous metaplasia

b9.

Tubular carcinoma

b10.

Secretory carcinoma

b11.

Others

c). Paget’s dsease.

III. KLASIFIKASI STADIUM TNM ( UICC / AJCC ) 2002

Stadium kanker payudara ditentukan berdasarkan TNM system dari
UICC/AJC tahun 2002 adalah sebagai berikut :

T = ukuran tumor primer

Ukuran T secara klinis , radiologis dan mikroskopis adalah sama.
Nilai T dalam cm, nilai paling kecil dibulatkan ke angka 0,1 cm.

Tx

: Tumor primer tidak dapat dinilai.

T0

: Tidak terdapat tumor primer.

Tis

: Karsinoma in situ.

Tis(DCIS)

: Ductal carcinoma in situ.

Tis (LCIS)

: Lobular carcinoma in situ.

Tis (Paget's)

: Penyakit Paget pada puting tanpa
adanya tumor.

Catatan :
Penyakit Paget dengan adanya tumor dikelompokkan sesuai
dengan ukuran tumornya.

T1

: Tumor dengan ukuran diameter terbesarnya
2 cm atau kurang.
T1mic: Adanya mikroinvasi ukuran 0,1 cm atau
kurang.

T1a

: Tumor dengan ukuran lebih dari 0,1 cm
sampai 0,5 cm.

T1b

: Tumor dengan ukuran lebih dari 0,5 cm
sampai 1 cm.

T1c

: Tumor dengan ukuran lebih dari 1 cm sampai
2 cm.

T2

: Tumor dengan ukuran diameter terbesarnya
lebih dari 2 cm sampai 5 cm.

T3

: Tumor dengan ukuran diameter terbesar
lebih dari 5 cm.

T4

: Ukuran tumor berapapun dengan ekstensi
langsung ke dinding dada atau kulit.

T4a

: Ekstensi ke dinding dada tidak termasuk otot
pektoralis.

T4b

: Edema ( termasuk peau d'orange ), ulserasi,
nodul satelit pada kulit yang terbatas pada
1 payudara.

T4c

: Mencakup kedua hal diatas.

T4d

: Mastitis karsinomatosa.

N = Kelenjar getah bening regional.

Klinis :

Nx

: Kgb regional tidak bisa dinilai ( telah
diangkat sebelumnya ).

N0

: Tidak terdapat metastasis kgb.

8

N1

: Metastasis ke kgb aksila ipsilateral yang
mobil.

N2

: Metastasis ke kgb aksila ipsilateral terfiksir,
berkonglomerasi, atau adanya pembesaran
kgb mamaria interna ipsilateral ( klinis* )
tanpa adanya metastasis ke kgb aksila.

N2a

: Metastasis pada kgb aksila terfiksir atau
berkonglomerasi atau melekat ke struktur
lain.

N2b

: Metastasis hanya pada kgb mamaria interna
ipsilateral secara klinis * dan tidak terdapat
metastasis pada kgb aksila.

N3

: Metastasis pada kgb infraklavikular
ipsilateral dengan atau tanpa metastasis
kgb aksila atau klinis terdapat metastasis
pada kgb mamaria interna ipsilateral klinis
dan metastasis pada kgb aksila ; atau metastasis
pada kgb supraklavikula ipsilateral dengan atau
tanpa metastasis pada kgb aksila / mamaria
interna.

N3a

: Metastasis ke kgb infraklavikular ipsilateral.

N3b

: Metastasis ke kgb mamaria interna dan kgb
aksila.

N3c

: Metastasis ke kgb supraklavikula.

Catatan :
* Terdeteksi secara klinis : terdeteksi dengan pemeriksaan fisik
atau secara imaging ( diluar limfoscintigrafi ).

Patologi (pN) a

pNX

: Kgb regional tidak bisa dinilai (telah diangkat
sebelumnya atau tidak diangkat)

pN0

: Tidak terdapat metastasis ke kgb secara
patologi , tanpa pemeriksaan tambahan untuk "isolated
tumor cells" ( ITC ).

Catatan :
ITC adalah sel tumor tunggal atau kelompok sel kecil dengan
ukuran tidak lebih dari 0,2 mm yang biasanya hanya terdeteksi
dengan pewarnaan imunohistokimia (IHC) atay metode molekular
lainnya tapi masih dalam pewarnaan H&E. ITC tidak selalu

menunjukkan adanya aktifitas keganasan seperti proliferasi atau
reaksi stromal.

pN0(i-)

: Tidak terdapat metastsis kgb secara
histologis , IHC negatif.

pN0(i+)

: Tidak terdapat metastasis kgb secara
histologis, IHC positif, tidak terdapat
kelompok IHC yang lebih dari 0,2 mm.

pN0(mol-)

: Tidak terdapat metastasis kgb secara
histologis, pemeriksaan molekular negatif (
RT-PCR) b
.

pN0(mol + )

: Tidak terdapat metastasis kgb secara
histologis, pemeriksaan molekular positif
(RT-PCR).

Catatan :
a: klasifikasi berdasarkan diseksi kgb aksila dengan atau tanpa
pemeriksaan sentinel node. Klasifikasi berdasarkan hanya pada
diseksi sentinel node tanpa diseksi kgb aksila ditandai dengan (sn)
untuk sentinel node, contohnya : pN0(i+) (sn).
b: RT-PCR : reverse transcriptase / polymerase chain reaction.

pN1

: Metastasis pada 1-3 kgb aksila dan atau
kgb mamaria interna (klinis negatif*)
secara mikroskopis yang terdeteksi
dengan sentinel node diseksi.

pN1mic

: Mikrometastasis (lebih dari 0,2 mm
sampai 2,0 mm).

pN1a

: Metastasis pada kgb aksila 1 - 3 buah.

pN1b

: Metastasis pada kgb mamaria interna
(klinis negatif*) secara mikroskopis
terdeteksi melalui diseksi sentinel node.

pN1c

: Metastasis pada 1-3 kgb aksila dan kgb
mamaria interna secara mikroskopis
melalui diseksi sentinel node dan secara
klinis negatif (jika terdapat lebih dari 3
buah kgb aksila yang positif, maka kgb
mamaria interna diklasifikasikan sebagai
pN3b untuk menunjukkan peningkatan
besarnya tumor).

pN2

: Metastasis pada 4-9 kgb aksila atau
secara klinis terdapat pembesaran kgb

9

mamaria interna tanpa adanya metastasis
kgb aksila.

pN2a

: Metastasis pada 4-9 kgb aksila (paling
kurang terdapat 1 deposit tumor lebih dari
2,0 mmm).

pN2b

: Metastasis pada kgb mamaria interna
secara klinis tanpa metastasis kgb aksila.

pN3

: Metastasis pada 10 atau lebih kgb aksila ;
atau infraklavikula atau metastasis kgb
mamaria interna (klinis) pada 1 atau lebih
kgb aksila yang positif ; atau pada
metastasis kgb aksila yang positif lebih
dari 3 dengan metastasis mikroskopis kgb
mamaria interna negatif ; atau pada kgb
supraklavikula.

pN3a

: Metastasis pada 10 atau lebih kgb aksila
(paling kurang satu deposit tumor lebih
dari 2,0 mm), atau metastasis pada kgb
infraklavikula.

pN3b

: Metastasis kgb mamaria interna
ipsilateral (klinis) dan metastasis pada
kgb aksila 1 atau lebih; atau metastasis
pada kgb aksila 3 buah dengan terdapat
metastasis mikroskopis pada kgb mamaria
interna yang terdeteksi dengan diseksi
sentinel node yang secara klinis negatif

pN3c

: Metastasis pada kgb supraklavikula
ipsilateral.

Catatan :
* tidak terdeteksi secara klinis / klinis negatif : adalah tidak
terdeteksi dengan pencitraan (kecuali limfoscintigrafi) atau
dengan pemeriksaan fisik.

M : metastasis jauh.

Mx

: Metastasis jauh belum dapat dinilai.

M0

: Tidak terdapat metastasis jauh.

M1

: Terdapat metastasis jauh.

Grup stadium :

Stadium

0

:

Tis

N0

M0

Stadium

1

:

T1*

N0

M0

Stadium

IIA

:

T0

N1

M0

T1*

N1

M0

T2

N0

M0

Stadium

IIB

:

T2

N1

M0

T3

N0

M0

Stadium

IIIA

:

T0

N2

M0

T1

N2

M0

T2

N2

M0

T3

N1

M0

T3

N2

M0

Stadium

IIIB

:

T4

N0

M0

T4

N1

M0

T4

N2

M0

Stadium

IIIc

:

Any TN3

M0

Stadium

IV

:

AnyT

Any NM1

Catatan :

* T1: termasuk T1 mic

Kesimpulan perubahan pada TNM 2002 :

1.Mikrometastasis dibedakan antara "isolated tumor cells"
berdasarkan ukuran dan histologi aktifitas keganasan.
2.Memasukkan penilaian sentinel node dan pewarnaan
imunohistokimia atau pemeriksaan molekular.
3.Klasifikasi mayor pada status kgb tergantung pada jumlah
kgb aksila yang positif dengan pewarnaan H&E atau
imunohistokimia.
4.Klasifikasi metastasis pada kgb infraklavikula ditambahkan
sebagai N3.
5.Penilaian metastasis pada kgb mamaria interna
berdasarkan ada atau tidaknya metastasis pada kgb aksila.
Kgb mamaria interna positif secara mikroskopis yang
terdeteksi melalui sentinel node dengan menggunakan
limfoscintigrafi tapi pada pemeriksaan pencitraan dan
klinis negatif diklasifikasikan sebagai N1. Metastasis
secara makroskopis pada kgb mamaria interna yang
terdeteksi secara pencitraan (kecuali limfoskintigrafi) atau
melalui pemeriksaan fisik dikelompokkan sebagai N2 jika
tidak terdapat metastasis pada kgb aksila, namun jika

10

terdapat metastasis kgb aksila maka dikelompokkan
sebagai N3.
6.Metastasis pada kgb supraklavikula dikelompokkan sebagai

N3.

Tipe Histopatologi

In situ carcinoma
NOS ( no otherwise specified )
Intraductal
Paget’s disease and intraductal

Invasive Carcinomas
NOS
Ductal
Inflammatory
Medulary , NOS
Medullary with lymphoid stroma
Mucinous
Papillary ( predominantly micropapillary pattern )
Tubular
Lobular
Paget’s disease and infiltrating
Undifferentiated
Squamous cell
Adenoid cystic
Secretory
Cribriform

G : gradasi histologis

Seluruh kanker payudara kecuali tipe medulare harus dibuat
gradasi histologisnya. Sistim gradasi histologis yang
direkomendasikan adalah menurut “The Nottingham combined
histologic grade“ ( menurut Elston-Ellis yang merupakan modifikasi
dari Bloom-Richardson ). Gradasinya adalah menurut sebagai
berikut :

GX

: Grading tidak dapat dinilai.

G1

: Low grade.

G2

: Intermediate grade.

G3

: High grade.

Stadium klinik (cTNM) harus dicantumkan pada setiap diagnosa
KPD atau suspect KPD. pTNM harus dicantumkan pada setiap
hasil pemeiksaan KPD yang disertai dengan cTNM

IV. PROSEDUR DIAGNOSTIK

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->