P. 1
Ciputra

Ciputra

|Views: 196|Likes:
Published by Dedi Panjaitan
Buku Ciputra Way
Buku Ciputra Way

More info:

Published by: Dedi Panjaitan on Apr 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/27/2014

pdf

text

original

1

Pengantar Menurut Louis Gerstner, mantan CEO dari IBM, ada empat jenis manusia, yaitu: 1. Those to whom things happen (seseorang yang hanya mampu menerima kejadian tanpa kepedulian khusus atau dalam bahasa Betawinya, blo'on). 2. Those who watch things happen (seseorang yang hanya mampu melihat dan mengamati suatu kejadian tanpa mampu berbuat apa-apa yang produktif, tapi sekadar mencela). 3. Those who do not even know things are happening (seseorang yang benar-benar na'if dan tidak menyadari kejadian sekelilingnya, bahkan tidak peduli). 4. Those who make things happen (seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mewujudkan sesuatu, di mana sebelumnya orang lain tidak mampu bahkan untuk memikirkannya apalagi mewujudkannya). Dari keempat jenis manusia tersebut di atas, yang akan dibahas hanyalah jenis yang keempat yaitu, Those who make things happen. Salah satu contoh yang cukup menarik adalah kemampuan Ir. Ciputra mengubah suatu daerah yang sebelumnya kambing pun enggan hidup, menjadi suatu kawasan hunian yang prestisius di Surabaya Barat, yang dikenal dengan sebutan " Citra Raya". Kisahnya begini: Di Surabaya Barat terdapat daerah kosong seluas kurang lebih 1,500 ha yang dikenal dengan nama daerah Lakar Santri, yang merupakan daerah yang sulit dikembangkan untuk usaha agraris secara ekonomis karena sangat kering sehingga tumbuh-tumbuhan pun sangat terbatas yang mampu bertahan hidup. Dengan pandangan jauh ke depan dan didukung oleh pengenalan teknologi terapan yang memadai, Ir. Ciputra dengan bantuan menantunya, Harun Hajadi yang melaksanakan proyek, membuat perencanaan untuk membangun real-estate pada tahun 1993 sebagai sebuah self contained city yang dilengkapi dengan pada golf bertaraf internasional 27 lubang (holes), sekolah nasinoal dan international, fasilitas-fasilitas ibadah, waterpark terbesar di Indonesia, perumahan high density maupun low density, taman-taman bermain, pasar tradisional maupun supermarket, infrastruktur bertaraf international seperti water-treatment plat serta fasilitasfasilitas lainnya. Modal awal untuk membangun real-eastate tersebut direncanakan sebesar RP 60 miliar dan mengharapkan dukungan perbankan, dalam hal ini adalah Bank Rakyat Indonesia, sebesar RP2,5 miliar. Pada waktu permohonan dukungan pinjaman dimohonkan ke BRI, baik Direktur Kredit Korporasi pada waktu itu yaitu Djokosantoso Moelijono maupun Direktur Utamanya, Iwan Prawiranata, meminta penjelasan selengkap-lengkapnya mengenai proyek tersebut sebagai bagian dari penjelasan atas feasibility study yang telah disusun. Hal ini sangat diperlukan mengingat calon lahan yang akan dibangun sebenarnya mengandung risiko karena kering dan sulitnya sumber daya air, padahal tidaklah mungkin suatu real-estate dibangun tanpa air. Justru di sini kunci dari . Perlukah Pendidikan Formal Bagi Seorang Entrepreneur? Sebagi manusia pembelajar, entrepreneur belajar dari semua hal, bahkan dari tempat-tempat yang banyak orang mungkin tidak membayangkannya sebagai tempat belajar. Ciputra belajar dari bawahannya, Ciputra belajar dari persoalan yang dihadapinya, bahkan Ciputra belajar dari semua orang yang pernah berhubungan dengannya. Pengakuan semacam ini tampaknya memang sudah umum kita dengar dari banyak entrepreneur sukses. Sayangnya, hal ini acapkali menghadirkan penafsiran ekstrem tentang pendidikan. Karena demikian besarnya penekanan pentingnya belajar dari segala hal, muncullah anggapan bahwa ternyata belajar menjadi entrepreneur tidak perlu berbekal pendidikan formal. Sekolah formal sebagai tempat belajar yang sangat mendasar dianggap tidak penting lagi. Apalagi aneka buku yang sering mempertanyakan arti pentingnya sekolah. Seolaholah karena secara spesifik sekolah formal tidak mengajarkan bagaimana cara berbisnis, maka untuk menjadi entrepreneur pun dianggap tidak perlu dibekali dengan pendidikan. keberhsilan seorang Ciputra, yaitu make things happen melalui terapan teknologi. Dia menggunakan sumber air sungai Brantas yang dipompa ke dalam empat kolam besar dengan masingmasig olahan kebersihan dan dengan penggunaan yang berbeda. Untuk kolam pertama tidak ada treatment khusus karena dipergunakan untuk menyirami lahan, dengan memanfaatkan pupuk-pupuk organik yang terbawa oleh aliran sungai. Baru mulai kolam besar kedua sampai dengan keempat diadakan pengolahan pembersihan air di mana pada kolam keempat sudah layak minum. Proyek ini berjalan dengan baik dan pada tahun 1997, pinjamanya kepada BRI telah dilunasi secara tertib. Saat ini, Citra Raya sudah dikembangkan seluas 600 ha dengan sejumlah 8000 redensial serta lapangan golf bertaraf internasional dengan tantangan lapangan yang cukup menjanjikan. Dalam usahanya untuk meningkatkan citranya di kota kedua terbesar di Indonesia, tahun 2003 " Citra Raya Kota Mandiri" memposisikan dirinya (repositioned) menjadi " Citra Raya, the Singapore of Surabaya". Langkah ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat Surabaya dan dalam usaha mewujudkan impian ini pengembang membaginya dalam tiga tahapan, yaitu tahun pertama mengk ampanyekan tahap CLEAN (BERSIH), tahun kedua tahap GREEN (HIJAU) dan tahun ketiga dan seterusnya menjadi tahap MODERN sesuai dengan karakter dari kota Singapura. Tahap CLEAN sudah berhasil direalisasikan sehingga, Citra Raya dapat menyatakan dirinya sebagai kota terbersih di seluruh Indonesia sama dengan kebersihan kota Singapura. Selanjutnya, tahun 2005, Citra Raya telah memanam lebih dari 100.000 pohon dalam usahanya untuk segera dapat mewujudkan tahapan GREEN. Pada tahun 2006 ini, Citra Raya telah mulai memasuki tahapan MODERN, di mana bangunanbangunan baru yang didukung oleh fasilitas teknologi yang canggih akan mampu mendukung orientasi sebagai kota yang memenuhi kaidah MODERN. Kisah di atas menggambarkan kebenaran dari kata-kata Louis Gerstner tersebut di atas, bagaimana seorang pemimpin itu mampu mewujudkan sesuatu yang orang lain mungkin sulit melaksanakannya. Ir. Ciputra telah membuktikan bahwa dirinya memiliki kapasitas tersebut. Bayangkan saja, lahan yang dibangun tersebut sudah ada sejak ratusan tahun sebelumnya tanpa ada yang mampu memanfaatkan secara ekonomis maupun ekologis karena merupakan lahan yang tidak produktif, namun dengan kepiawaian serta kepakaran dan kepemimpinan seorang Ciputra, lahan tersebut dapat menjadi hunian yang prestisius. Kemungkinan waktu mendapatkan izin pembebasantanah dan pengembangan dari Pemerintah Daerah pada masa pemutusan proyek, nilai tanah tersebut tidak sampai RP5000,/per meter persegi secara rata-rata, sementara sekarang ini kalau Anda berkeinginan membeli tanah Citra Raya, Anda harus berani membuka kocek seharga jutaan/per meter persegi. Tidaklah heran kalau sebelum pembangunan real-estate dahulu di awal tahun 1990-an kambing pun tidak bisa hidup di sana karena tidak mau,sekarang pun si kambing pasti juga tidak bisa berkeliaran di lapangan golf karena tidak boleh.

2
Ciputra bukan entrepreneur dalam golongan demikian. Ciputra tidak pernah menisbikan peranan pendidikan formal, bahkan ia termasuk tokoh bisnis yang bukan saja menaruh perhatian, tetapi terlibat aktif dalam aneka yayasan yang menaungi sejumlah sekolah-sekolah berkualitas. Ciputra antara lain telah terlibat dalam Yayasan Pendidikan Jaya, Yayasan Tarumanagara, Yayasan Prasetya Mulya, Yayasan Don Bosco, dan Yayasan Ir Ciputra, dan sejumlah yayasan lainnya, yang kesemuanya telah mendidik sedikitnya 25 ribu orang di negeri ini. Bagi Ciputra, memang ada manusia yang menjadi sukses sebagai entrepreneur tanpa bekal pendidikan formal yang memadai, barangkali karena mereka diberi bakat yang luar biasa. Namun, dari pengalamannya selama empat dasawarsa menjadi entrepreneur, Ciputra memahami bahwa pada akhirnya mengandalkan bakat saja tidak cukup. Bakat harus ditopang oleh ilmu dan pengalaman. Apalagi bila seseorang ingin menjadi entrepreneur yang sukses hingga mencapai prestasi puncak. “Kalau hanya mengandalkan bakat, Anda juga bisa sukses, tetapi dugaan saya hanya sampai tingkat menengah saja. Tidak akan berhasil secara optimal.” kata Ciputra. Ciputra tidak setuju pada pandangan yang mengatakan entrepreneur tidak perlu pendidikan formal. Modal optimisme dan keberanian mencoba dianggap sudah cukup. Ciputra sama sekali tak menyetujui pendapat demikian. Bahwa seorang entrepreneur sering mengandalkan intuisinya dalam mengambil keputusan, bagi Ciputra sama sekali bukan pembenaran untuk tidak menempuh pendidikan. Sebab intuisi bagi Ciputra sangat berkaitan dengan pengetahuan. Intuisi muncul berkat tempaan pengalaman. Dan, salah satu sumber pengalaman adalah dari pendidikan. “Bagaimana Anda menjadi entrepreneur jika tidak ada pengalaman, dan bagaimana Anda dapat pengalaman tanpa ilmu? Bagaimana Anda mendapat pengalaman tanpa mencarinya? Itu seperti Anda menembak orang tanpa peluru. Tidak akan berhasil. Pengalaman harus diciptakan dan pengalaman bisa menolong kita meraih keunggulan.” Bagi Ciputra jelas, bahwa “Orang yang bodoh ada dua macam. Pertama, mereka yang merasa dirinya pintar dan karenanya tidak m au mendengarkan pendapat orang lain lagi. Kedua, mereka yang tidak mau meniru perbuatan baik yang telah dilakukan orang lain karena enggan mengakui keunggulan orang lain.” Kisah Scott Smigler yang belum lama berselang dimuat di majalah Entrepreneur barangkali adalah satu contoh lagi tentang pentingnya pendidikan bagi seorang entrepreneur. Smigler adalah seorang mahasiswa asal Amerika Serikat yang berusia 22 tahun dengan indeks prestasi 3,7. Tanpa meninggalkan bangku kuliah ia berhasil membangun bisnis beromzet setara dengan Rp2,4 miliar per tahun tanpa meninggalkan bangku kuliah. Mahasiswa jurusan keuangan di Bentley College, di Waltham, Amerika Serikat ini ketika lulus dari sekolah lanjutan atas, mendirikan Exclusive Concepts Inc, sebuah perusahaan yang menyediakan jasa professional desain web dan solusi marketing online bagi perusahaan-perusahaan yang sedang bertumbuh. Mulanya ia menjalankannya sendirian dari kamar belajarnya di rumah orang tuanya. Dengan membangun reputasi sebagai penyedia jasa yang kompeten dan professional, ia meraih kepercayaan pelanggannya lewat promosi mulut ke mulut. Kini ia telah merambah lebih jauh dengan membuka kantor di Burlington, Massachusetts. Dengan dibantu lima orang staf, ia mencatat omzet US $ 300 ribu atau lebih dari RP2,4 miliar pada 2003. sambil secara penuh mengelola bisnisnya, ia tetap menekuni studinya di Bentley College dengan indeks prestasi 3,7 dan mendirikan Entrepreneurship Society di sekolah itu. Dan setiap minggu ia menyisihkan waktu puluhan jam untuk memberi nasihat kepada para entrepreneur di segala usia. Yang menarik, tak satu pun nasihat Smigler yang mengecilkan arti pendidikan, dan bahkan ia tetap melanjutkan pendidikannya kendati ia telah berhasil sebagai entrepreneur. Kata Smigler, lingkungan bisnis berubah cepat. Pendidikan adalah salah satu factor penting menuju sukses. “ Tidak benar bahwa menambah pengetahuan lewat pendidikan hanya membuang waktu. Justru sangatlah mungkin untuk membesarkan perusahaan sambil Anda mengisi ‘aki’ dengan mengikuti pendidikan. Dalam jangka panjang Anda akan mengetahui manfaatnya.” Maka bila ada nasihat tentang pendidikan dari Ciputra untuk orang-orang muda yang menyiapkan diri menjadi entrepreneur, itu adalah sebuah pesan untuk tidak pernah menyia-nyiakan pendidikan formal yang sudah ditempuh. Jangan tinggalkan, tetapi justru gunakanlah pendidikan untuk mempelajari lebih banyak hal demi mewujudkan impian sebagai entrepreneur. Seperti Ciputra yang mengejar ilmu dengan membaca majalah-majalah terbaik, buku-buku terbaik, dan mengikuti seminar-seminar di seluruh dunia. Hadir di berbagai kongres real estat dunia, baik sebagai peserta maupun pembicara. Mencoba menggali pelajaran dari tokoh-tokoh terbaik dunia, seperti ketika mengunjungi Jack Welch, tokoh yang luar biasa dari kelompok bisnis General Electrict, di New York, Amerika Serikat. “ JANGAN TINGGALKAN, TETAPI JUSTRU GUNAKANLAH PENDIDIKAN FORMAL UNTUK MEMPELAJARI LEBIH BANYAK HAL DEMI MEWUJUDKAN IMPIAN SEB AGAI ENREPRENEUR.” Bab I : Bakat Entrepreneur Bisa Dikembangkan oleh Siapa Saja Hits : 2446 PDF Cetak E-mail Kita perlu memahami bahwa bagi Ciputra, ada perbedaan mendasar antara seorang entrepreneur dengan seorang pemilik dan pengelola usaha [bisnis] biasa. Ia menjelaskan bahwa, “Entrepreneur adalah seseorang yang inovatif dan mampu mewujudkan cita-cita kreatifnya ke dunia nyata. Entrepreneur akan mampu mengubah padang ilalang menjadi kota baru, atau mengubah tempat pembuangan sampah menjadi resor yang indah. Entrepreneur bias mengubah kawasan kumuh menjadi wilayah gedung pencakar langit tempat ribuan yang bekerja dan beraktivitas. Bahkan di tangan seorang entrepreneur, kotoran dan barang rongsokan diubah menjadi emas.” Bagi Ir. Ciputra, sedikitnya ada tiga cirri utama seorang entrepreneur. Pertama, seorang entrepreneur mampu melihat peluang bisnis yang tidak dilihat atau tidak diperhitungkan oleh orang lain. Ia melihat kemungkinan dan memiliki visi untuk menciptakan sesuatu yang baru yang memicu semangatnya untuk bertindak. Kedua, seorang entrepreneur adalah orang yang bertindak untuk melakukan inovasi, mengubah keadaan yang tidak/kurang menyenangkan menjadi keadaan seperti yang ia inginkan. Tindakanlah yang membuat entrepreneur menjadi innovator. Ketiga, seorang entrepreneur adalah pengambil risiko, baik risiko yang bersifat financial [baca: rugi], maupun risiko yang bersifat mental [baca:dianggap gagal]. Dengan tiga cirri pokok tersebut, seorang entrepreneur sejat i seperti seorang “perintis kawasan baru”, “ penjelajah rimba raya”, atau juga “ pendaki gunung” yang selalu mencari puncak-puncak taklukan baru. Mereka bermimpi, maju bergerak menuju tantangan dan tidak gentar memikul risiko. Ringkasnya entrepreneur sejati berani rugi, berani malu dan juga berani terkenal. Dalam pandangan Ciputra, orang yang memiliki atau mengelola sebuah bisnis, belum tentu seorang entrepreneur. Orang bias memiliki suatu bisnis dengan meniru bisnis yang sudah berhasil, seperti banyak dilakukan dalam system waralaba. Dalam konteks ini seseorang menjadi pebisnis atau pengusaha, karena memiliki bisnis. Atau orang bias menjadi pemilik dan pengelola bisnis karena warisan dari orangtua, dari keluarga dan kerabatnya. Pebisnis model ini tidak memulai dengan visi, tidak melakukan tindakan-tindakan inovatif, dan juga tidak mengambil risiko yang besar. “Mereka itu bias disebut sebagai pebisnis atau pengusaha, tapi saya kira bukan entrepreneur seperti yang saya maksudkan,” kata Ciputra menegaskan pandangannya. Jadi, menurut Ciputra, seorang entrepreneur pastilah pebisnis dan pengusaha yang handal. Namun, seorang pebisnis atau pengusaha, belum tentu memenuhi kualifikasi untuk bias disebut sebagai entrepreneur. Kalau demikian, apakah untuk menjadi Entrepreneur dibutuhkan bakat khusus? Kalau yang kita maksud adalah entrepreneur sekaliber Ir. Ciputra, maka sudah pasti factor bakat merupakan salah satu factor yang memengaruhi kesuksesannya. Bakat, yakni sifat bawaan lahir, telah mendorong Ciputra kecil meninggalkan Desa Papaya, Kecamatan Bumbulan, menuju kota Gorontalo agar bias melanjutkan pendidikan SMPnya. Dengan cita-cita membara untuk menjadi seorang arsitek, ia meninggalkan Gorontalo untuk melanjutkan sekolahnya ke Manado, dan kemudian menuju pulau Jawa untuk masuk ke Fakultas Arsitektur, Institut Teknologi Bandung. Semua langkah itu menunjukkan adanya cita-cita yang besar, ada visi, dan keberanian mengambil risiko yang tidak dilakukan oleh kebanyakan kawankawannya di masa remaja dulu.

3
Bakat Ciputra kemudian berkembang dan terasah oleh lingkungannya. Impian-impian Ciputra bergerak secara dinamis mengikuti proses pembelajarannya. Lalu usaha mendirikan biro konsultan, berlanjut dengan pendirian PT Perentijana Djaja, kemudian PT Pembangunan Jaya, adalah tempat di mana Ciputra melatih dirinya agar siap menjadi entrepreneur property dalam skala dunia. Jadi, di samping soal bakat, sukses Ciputra juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang kondusif dan kesempatan-kesempatan berlatih pada tahap-tahap kehidupannya. Pentingnya factor lingkungan yang kondusif dan latihan untuk mengembangkan potensi dan mengasah bakat-bakat kaum muda di Indonesia, bahkan telah membuat didirikannya Universitas Ciputra di Surabaya, yang memilih tema utama Creating World Class Entrepreneur. Ciputra menyadari bahwa ada kondisi yang harus diciptakan untuk mendorong dan memperbesar kemungkinan lahirnya para entrepreneur baru yang membangun dan mengharumkan nama Indonesia di masa depan. Ciputra sendiri menemukan bakat atau talenta terbaiknya sebagai entrepreneur lewat proses pembelajaran yang berkelanjutan. Oleh karena itu, ia suka bicara soal pentingnya orang mau belajar. Ia sendiri tidak pernah mengangap dirinya sebagai orang jenius dalam segala bidang, tetapi sebagai orang yang mau belajar. Dengan kata lain, ia tidak merasa kalau orang berbakat maka tidak perlu belajar lagi. Justru ia merasa bahwa orang yang berbakat akan senang belajar dari sumber-sumber terbaik. Kata Ciputra, “Entrepreneur yang paling berbakat pun tetap manusia biasa. Dan Anda tidak harus menjadi orang jenius dalam semua bidang untuk menjadi entrepreneur sukses. Setahu saya, Li Kha Sing juga bukan orang jenius di segala bidang. Namun ia berhasil menjadi entrepreneur sukses, baik di negerinya maupun di mancanegara. Kita hanya perlu jenius dalam bidang yang sesuai dengan bakat dan pilihan hidup kita. Dan untuk itu kita harus te rus belajar.” Bagi Ciputra, entrepreneur yang berkemungkinan sukses biasanya adalah seseorang yang tidak cepat puas, yang ingin mengetahui sesuatu lebih banyak lagi sampai ia dapat memahami dan mewujudkan sesuatu dari yang baru diketahuinya itu. Cirri-ciri semacam ini, sebagaimana dikatakan Roodney Overton, seorang penulis lebih dari 25 buku laris tentang panduan berbisnis, memang sangat menentukan bagi keberhasilan seorang entrepreneur. Seorang entrepreneur menurut Roodney, harus mempunyai ‘a burning desire to realize, actualize and turn (your) ideas into reality.’ Semangat belajar seorang entrepreneur adalah semangat yang tidak berhenti sekadar belajar, tetapi harus mempunyai visi yang jauh ke depan disertai tindakan yang konkret. Ia harus mempunyai antusiasme yang tidak terbatas akan ideidenya, yang mungkin saja tidak dimengerti orang lain. Ciputra adalah orang yang tak pernah berhenti bekerja dan belajar demi menciptakan sesuatu yang lebih bernilai. Ia bahkan tidak malu belajar dan merasa bangga serta berterima kasih jika ada banyak orang yang mengajarkan sesuatu yang baru kepadanya. Tidak hanya ketika dia masih merangkak dari bawah, tetapi juga sampai saat ini, ketika dia telah menjadi salah satu tokoh terkemuka di Indonesia. Misalnya, belum lama ini, Pak Ci membuat konsep mal untuk sebuah proyek di Solo. Untuk mendapatkan pendapat kedua, dia memanggil manajer pemasaran dan manajer operasi di perusahaan itu. Kedua manajer itu memang mempunyai latar belakang pendidikan arsitektur. Ciputra meminta mereka menilai konsep mal yang dia buat. Ternyata mereka kurang puas. Mereka menganggap konsep bikinan Ciputra mempunyai banyak kelemahan. Masing-masing dari mereka mempunyai pendapat sendiri tentang kelemahan konsep itu. Sampai hamper sebulan lebih, dengan memasukkan saran-saran yang diajukan oleh para manajer itu, konsep tersebut masih dianggap kurang di sana sini. Akhirnya Ciputra membentuk sebuah tim untuk merumuskan konsep yang unggul yang terdiri dari dua orang manajer dan sebuah biro konsultan, sampai lahirlah sebuah konsep yang terbaik. “ Sungguh saya senang, karena mereka berhasil membuat satu konsep baru yang jauh lebih baik,” kata Ciputra. Ini merupakan satu bukti bahwa Ciputra bukan seorang yang merasa paling pintar, melainkan orang yang mau belajar, terbuka dan mau mengakui keunggulan orang lain. Orang yang percaya bahwa ada orang yang punya pikiran sama baik, dan terkadang lebih baik dari dirinya. Orang-orang muda yang akan maupun tengah menyiapkan diri menjadi entrepreneur layaknya mencatat karakter demikian itu. Rasa ingin tahu yang besar untuk mewujudkan atau menciptakan sesuatu yang lebih baik dan bernilai mengharuskan seorang entrepreneur sebagai manusia pembelajar, tak pernah berhenti belajar. Kembali ke soal bakat, bagaimana jika orang merasa hanya memiliki sedikit bakat untuk menjadi entrepreneur? Untuk kasus semacam ini Ciputra memberikan dua anjuran. Pertama, jadilah professional [pegawai] dengan kemampuan entrepreneurship. Orang seperti Jack Welch, yang pernah memimpin perusahaan No. 9 terbesar di dunia – General Electrics yang legendaris itu—adalah contoh professional dengan kemampuan entrepreneurship yang handal. Memilih menjadi nahkoda sebuah “kapal bisnis” skala dunia, juga merupakan suatu prestasi yang mengagumkan, bukan? Jadi potensi entrepreneurship tetap perlu dikembangkan, sekalipun berada dalam konteks organisasi bisnis yang bukan milik sendiri. Para profesional dengan kemampuan entrepreneurship ini umumnya disebut sebagai intrapreneur. Kedua, mulailah dengan merintis bisnis dalam skala kecil. Atau bias meneruskan bisnis keluarga yang telah lebih dulu ada, lalu mengembangkannya. Bias juga “meniru” bisnis orang lain atau mengambil bisnis waralaba. Lalu secara bertahap cobalah untuk lebih maju dengan membangun visi dan mengambil risiko yang lebih besar. Dalam pandangan penulis, menjadi pebisnis dan pengusaha dalam skala kecil menengah justru sangat diperlukan dalam konteks membangun Indonesia ke depan. Sebab yang terpenting adalah menciptakan lapangan kerja, pertama-tama bagi diri sendiri, dan kemudian belajar mempekerjakan orang. Bagaimana jika orang merasa tak berbakat, tetapi ingin memiliki bisnis sendiri? Pertanyaan ini bersifat paradoks. Sebab, bakat seseorang umumnya menumbuhkan minatnya terhadap sesuatu. Seperti bakat Pak Ci sebagai entrepreneur dalam industri property membuatnya amat berminat melihat, mendengar, bermimpi, dan memperbincangkan hal-hal yang bertalian dengan dunia properti. Jadi, jika seseorang berminat untuk memiliki bisnis sendiri, maka minatnya itu sendiri harus dimengerti sebagai bakat dan potensinya. Sehingga, tak usah pusing soal apakah kita berbakat atau tidak. Sepanjang ada hasrat besar untuk menjadi entrepreneur, anggap saja itu merupakan petunjuk bahwa kita berbakat. Lalu cobalah membangun visi, mencari cara menginovasi dan menciptakan suatu produk, dan belajar mengambil risiko tahap demi tahap. Bulatkan tekad untuk menjadi pengusaha, menjadi pebisnis, menjadi entrepreneur. Untuk diingat—1 “ENTREPRENEUR YANG PALING BERBAKAT PUN TETAP MANUSIA BIASA. DAN ANDA TIDAK HARUS MENJADI ORANG JENIUS DALAM SEMUA BIDANG UNTU K MENJADI ENTREPRENEUR SUKSES. SETAHU SAYA, LI KHA SING JUGA BUKAN ORANG JENIUS DI SEGALA BIDANG. NAMUN IA BERHASIL MENJADI ENTREPRENEUR SUKSES, BAIK DI NEGERINYA MAUPUN DI MANCANEGARA. KITA HANYA PERLU JENIUS DALAM BIDANG YANG SESUAI DENGAN BAKAT DAN PILIHAN HIDUP KITA. DAN UNTUK ITU KITA HARUS TERUS BELAJAR.” Siapakah Entrepreneur Itu? Ini merupakan pertanyaan yang sangat klasik. Hampir semua kajian mengenai entrepreneurship, terutama yang bersifat akademis, mencoba menawarkan aneka ragam definisi dan pengertian mengenai sosok manusia yang disebut entrepreneur ini. Semua kajian, perdebatan, dan polemic di seputar definisi entrepreneur itu, sekurang-kurangnya menunjukkan besarnya peranan yang mereka mainkan. Para entrepreneur tidak saja berperan dalam memajukan perekonomian, tetapi juga membangun peradaban suatu bangsa melalui karya-karya kreatif mereka yang dinikmati masyarakat banyak. Multi peran yang dimainkan oleh entrepreneur membuat sosoknya menjadi sulit untuk dipenjara ke dalam sebuah definisi yang lengkap dan tuntas. Berikut ini sejumlah pengertian yang ditawarkan para ahli dari waktu ke waktu. Di paruh pertama abad ke-18, Richard Cantillon [1730], seseorang yang disebut-sebut sebagai pencetus istilah “ entrepreneur”, pernah mengatakan bahwa inti dari kegiatan entrepreneur adalah menanggung risiko. Mereka membeli barang tertentu hari ini, lalu menjualnya esok hari dengan harga yang tak pasti [baca: belum pasti untung]. Ibarat seorang pedagang membeli sejumlah barang di pasar tanah Abang dan Mangga Dua, dan kemudian menjualnya kembali esok hari kepada konsumennya di pasar Bekasi dan Depok. Tak ada kepastian memperoleh keuntungan, namun risiko itu akan ditempuh oleh seorang entrepreneur. Tegasnya, Cantillon mengatakan bahwa entrepreneur adalah a self-employed person with uncertain returns.

4
Menurut ekonom Jean-Baptiste Say [1810], entrepreneur adalah seorang coordinator produksi dengan kemampuan manajerial. Ia bias dikatakan sebagai the pivot on which everything turns, pusat dari bergeraknya segala sesuatu. Di tangan entrepreneur, sesuatu yang masih bersifat ide-ide yang, abstrak, mewujud menjadi sesuatu dapat dinikmati banyak orang. Lebih jauh, Joseph Schumpeter [1910] mendefinisikan entrepreneur sebagai seorang innovator yang kreatif. Dan sebagai inovator yang kreatif, mereka dilihat sebagai orang yang menyimpang secara social. Mereka menyimpang karena memilih jalur yang berbeda dengan julur yang dipilih oleh kebanyakan anggota masyarakat lainnya. Ketika kebanyakan anggota masyarakat ingin menjadi pekerja, entrepreneur memilih untuk berusaha sendiri dan kemudian mengembangkan usahanya dengan mempekerjakan orang lain. Ketika kebanyakan anggota masyarakat mengikatkan dirinya dengan jam kerja tertentu, seorang entrepreneur merelakan dirinya bekerja tanpa batas waktu yang jelas. Ketika kebanyakan anggota masyarakat berpikir kea rah barat, entrepreneur berpikir kea rah timur, utara, dan selatan. Mereka ingin berkarya, ingin menjadi kaya, ingin menampilkan sisi terbaik dari dirinya. Mereka adalah orang-orang yang menyimpang dalam arti positif, a creative innovator. Selanjutnya, D.C. McClellan[1961] berpendapat bahwa entrepreneur adalah seseorang yang memiliki kebutuhan tinggi untuk berprestasi. Dan Robert L. Budner [1962] melengkapi definisi McClellan dengan mengatakan bahwa entrepreneur adalah seseorang yang memiliki toleransi tinggi terhadap ketidakpastian. Orvis F. Collins [1964] menambahkan bahwa entrepreneur itu adalah orang yang memiliki kebutuhan tinggi untuk otonom, Mandiri sekaligus bebas tak diperintah orang lain. Kemudian, Jose Carlos Jarillo-Moss menawarkan definisi entrepreneur sebagai orang-orang yang merasakan adanya peluang, mengejar peluang yang cocok dengan dirinya, dan percaya bahwa keberhasilan merupakan sesuatu yang bias dicapai. Pengertian ini menonjolkan kepekaan dan kemampuan seorang entrepreneur memilih bidang usaha yang cocok, yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, yang sejalan dengan ilmu yang dikuasainya. Entrepreneur bukanlah orang-orang yang memilih semua usaha di segala bidang. Mereka mempelajarinya, mereka mengamatinya dari dekat, mencari informasi dan data-data yang ingin mereka ketahui, lalu bergerak dengan intuisi serta pengetahuannya itu untuk membangun usaha. Dalam bidang yang telah dipilihnya, sorang entrepreneur memiliki keyakinan diri yang kuat bahwa mereka akan berhasil. Itu sebabnya para entrepreneur umumnya tidak mudah menyerah. Hambatan dan masalah justru membuat mereka penasaran dan merasa tertantang untuk mengatasinya. Entrepreneur juga bias dipandang sebagai orang yang memperbarui atau melakukan revolusi terhadap pola-pola produksi dengan mengeksploitasi suatu penemuan, atau suatu kemungkinan teknologi yang belum pernah dicoba dalam memproduksi suatu komoditas, baik itu dalam cara yang lama maupun dalam cara baru. Perubahan-perubahan yang direalisasikan para entrepreneur ini membuka sumber pasok mau pun outlet baru bagi suatu produk dan jasa, dengan implikasi terjadinya reorganisasi suatu industri. Semua definisi dan pengertian yang disampaikan di atas memperlihatkan kepada kita berbagai sisi dari sosk yang sama, sosok seorang entrepreneur. Dan semua pengertian itu mewujud dalam pribadi orang-orang seperti Ciputra. Ya. Ciputra adalah seorang entrepreneur. Ia berani mengambil risiko. Ia mampu bertahan dalam ketidakpastian. Ia sangat kreatif dalam mengolah gagasan. Ia punya ambisi yang sangat kuat untuk menorehkan prestasinya di bidang bisnis, kesenian, dan pendidikan. Ia memilih bidang-bidang bisnis yang sesuai dengan ilmunya. Sejak masa mudanya, Ciputra terus bergerak maju, langkah demi langkah, dipandu keyakinannya untuk berhasil, untuk memberikan nilai tambah kepada masyarakat yang menikmati karya-karyanya. Pertanyaannya sekarang, apakah Ciputra, dan orang-orang sekaliber dirinya, memang dilahirkan dengan bakat besar sebagai entrepreneur? Bab I : Pengalaman Ciputra Sangat Berguna Bagi Entrepreneur Muda Hits : 1603 PDF Cetak E-mail Barangkali ada yang bertanya, apa yang dapat digali dari seorang Ciputra untuk dibagikan kepada orang-orang yang masih hijau dalam dunia bisnis? Bisakah mereka yang digolongkan sebagai entrepreneur junior pun mungkin belum patut, belajar langsung dari Ciputra? Bukankah Ciputra telah menjadi seorang konglomerat papan atas, taipan, supra-entrepreneur yang mungkin telah berada di ‘ langit yang ketujuh’dan hanya cocok bicara tentang proyek triliunan rupiah? Sementara para entrepreneur baru, orang muda yang berminat menjadi pebisnis, memerlukan petunjuk yang harus cukup sederhana agar bias dilakukan, bukan? Tidakkah akan terjadi kesenjangan yang luar biasa? Pertanyaan-pertanyaan itu sangat wajar di tengah banyaknya persepsi dan pencitraan yang disematkan kepada tokoh sekaliber Ciputra. Namun, yang sering dilupakan orang adalah perjalanan Ciputra menjadi pengusaha papan atas di tanah Air bukanlah sebuah proses instan apalagi melalui jalan pintas. Buku-buku tentang dirinya telah bercerita bagaimana dia merintis bisnis mulai dari awal, sama seperti kebanyakan pebisnis pemula di mana pun di dunia ini. Dengan kata lain, titik berangkat Ciputra dalam berbisnis tidak jauh berbeda dengan titik berangkat para anak-anak muda dan pebisnis pemula yang akan menjadi pembaca buku ini. Tantangan-tantangan yang dihadapi Ciputra dari dulu sampai sekarang sangat mungkin juga akan berulang, baik dalam versi serupa maupun dalam berbagai bentuk lain, menghampiri para anak-anak muda yang merintis bisnis atau merencanakan berbisnis. Bagaimana Ciputra mengatasi berbagai tantangan itu, itulah yang ingin dibagikan melalui buku ini. Pertanyaan tentang bagaimana manfaat pengalaman seorang Cipura dibagikan kepada para anak-anak muda yang ingin jadi entrepreneur juga akan making terjawab bila kita sempat membaca buku karya George H. Ross bersama Andrew James McLean, yang belum lama ini terbit. Buku itu berjudul Trump Strategies for Real Estate. Kita mengenal Donald Trump, multimiliarder di bisnis properti negeri Paman Sam, dan belakangan ini lebih popular lagi lewat acara televisinya, Apprentice. Sudah dapat ditebak jika buku itu bercerita tentang strategi Trump dalam berinvestasi dan mengembangkan bisnis real estate. Yang menarik, ternyata Ross dan McLean mempersembahkan buku itu bukan bagi para pengusaha besar sekelas Trump, melainkan kepada investor-investor kecil yang ingin belajar meraih sukses dari apa yang dilakukan oleh para pengusaha besar. Memang Ross kelihatannya juga menangkap keraguan, apa kiranya yang dapat dipelajari para investor kecil dari seorang pengusaha caliber raksasa seperti Trump. Dan, Ross, yang sudah menjadi penasihat Trump selama puluhan tahun, percaya bahwa sesungguhnya bukan skala bisnis yang jadi soal penting, melainkan bagaimana strategi dalam berinvestasi dan mengembangkan bisnis. Itulah sebabnya, Ross dan McLean mengatakan bahwa prinsip berbisnis yang sukses di bisnis berskala raksasa juga berlaku di bisnis-bisnis berskala kecil lainnya. Prinsip bisnis yang berlaku pada proyek pencakar langit milik Trump bernilai US $300 juta dolar, menurut Ross, berlaku juga bagi bisnis-bisnis kecil yang digeluti oleh banyak orang. Maka jika di negeri Paman Sam ada Trump yang membagikan pengalamannya kepada para investor kecil, pengalaman dan pengetahuan bisnis Ciputra yang telah teruji di Indonesia juga seharusnya bernilai guna untuk dibagikan kepada para generasi muda. Anak-anak muda Indonesia sejak dini harus diperkenalkan kepada dunia entrepreneur, karena sejarah membuktikan para entrepreneurlah yang kerap kali menjadi motor perubahan. Bukan hanya di tengah kejayaan ekonomi, tetapi terutama ketika ekonomi berada pada saat-saat sulit. Pada saat yang sama, di tengah makin terbuka luasnya kebebasan di berbagai bidang, anak-anak muda kita cenderung makin Mandiri dalam menentukan pilihanpilihan masa depannya, termasuk makin Mandiri terhadap pengaruh paradigma-paradigma yang sudah mapan. Beberapa tahun lalu sebuah survey yang dilakukan Harian Kompas dengan responden para siswa sekolah lanjutan menunjukkan makin banyak para remaja kita yang bercita-cita jadi pebisnis. Ini menunjukkan bahwa para anak muda kita makin berani dan realistis terhadap tantangan mengambil risiko dalam memilih bidang-bidang yang akan mereka jadikan tumpuan hidup di masa depan. Mereka tidak lagi terpaku pada profesi-profesi mapan di masa lalu.

5
Belajar dari mereka yang berpengalaman banyak dan telah membuktikan pencapaianny, merupakan salah satu cara terbaik untuk memulai langkah menjadi entrepreneur. Itu pula yang ingin ditawarkan di sini. Buku ini akan membahas aneka hal mendasar dalam berbisnis dengan pengalaman Ciputra sebagai fundamennya. Buku ini mengajak pembaca memahami dunia entrepreneur, mulai dari mengenali siapa yang disebut entrepreneur dan bekal apa yang setidaknya dipenuhi sebelum memasuki dunia itu. Menjadi Entrepreneur Seperti Ciputra Kita semua pernah mendengar nama Ciputra. Ia tak perlu diperkenalkan lagi Kiprahnya sebagai entrepreneur lebih dari empat dasawarsa, telah menghasilkan aneka karya monumental yang menyebabkan dirinya dijuluki innovator dan pionir di bisnis yang digelutinya. Karya-karya itu telah berbicara sendiri tentang Ciputra. Pria yang dilahirkan di Parigi, Sulawesi Selatan, 24 Agustus 1931, menjadi tokoh bisnis terkemuka berkat berbagai pencapaiannya yang istimewa, untuk tidak menyebutnya sangat luar biasa. Majalah Forbes bahkan pernah mencatatkan namanya sebagai satu dari 10 tokoh bisnis yang berhasil di Indonesia. Barangkali fakta berikut ini dapat membantu menyegarkan ingatan tentang Ciputra: Tiga grup bisnis terdepan di bisnis properti telah lahir berkat ide dan entrepreneurship pengusaha yang akrab dipanggil Pak Ci ini. Kelompok-kelompok bisnis yang kita kenal dewasa ini dengan nama Pembangunan Jaya, Metropolitan Development, dan Ciputra Development adlah tempat-tempat di mana keringat dan pemikiran Pak Ci dapat kita saksikan sampai kini. Ia juga masih tetap mempunyai pertalian dengan ketiga kelompok bisnis itu. Di grup bisnis yang disebut terakhir, ia duduk sebagai Presiden Komisaris sekarang ini. Sedangkan di dua yang pertama, Ciputra duduk sebagai Komisaris dan Presiden Komisaris. Ciputra telah menunjukkan kualitasnya dalam menangani berbagai proyek raksasa. Sebagian besar proyek-proyek itu dikategorikan sebagai pelopor. Proyek Senen, sebagai contoh. Pusat perbelanjaan modern seluas 8 hektar di kawasan Jakarta Pusat itu adalah yang pertama di Indonesia. Dan setelah itu Ciputra masih melahirkan puluhan proyek perbelanjaan lainnya yang tidak kalah besar arti kepeloporannya. Taman Impian Jaya Ancol, pusat rekreasi yang sangat digemari dan jadi impian anak-anak sentero Indonesia, adalah juga buah karya Ciputra. Itu merupakan taman rekreasi terbesar pertama di tanah Air dan masuk 10 besar di dunia. Taman itu bahkan memberi inspirasi bagi banyak orang untuk menirunya dan menerapkannya di proyek-proyek lain. Sesungguhnya presiden pertama Indonesia Ir. Soekarnolah yang memiliki gagasan pembangunan Taman Impian Jaya Ancol. Ia memerintahkan Gubernur Soemarno yang kemudian diteruskan Gubernur Ali Sadikin untuk mewujudkan proyek besar ini. Kedua gubernur DKI Jakarta inilah yang kemudian memberi kepercayaan kepada Ir. Ciputra melaui PT Pembangunan Jaya Ancol untuk membuat perencanaan, membangun sekaligus mengelola proyek Taman Impian Jaya Ancol hingga berkembang pesat dan menjadi besar seperti sekarang. Di samping itu, Ciputra juga melahirkan sejumlah proyek di bidang perhotelan. Sedikitnya sudah tujuh hotel bertaraf internasional, di dalam dan luar negeri, yang terwujud dari sentuhan tangan putra ketiga pasangan Tjie Sim Poe dan Lie Eng Nio ini. Dengan semua proyek-proyek inovatif yang berhasil ditanganinya, tak mengherankan jika orang-orang menobatkan Ir. Ciputra sebagai Sang Maestro properti. Ia amat sangat pantas menerima gelar kehormatan semacam itu. Apalagi Ciputra tidak saja mempelopori lahirnya pusat-pusat pembelanjaan modern, ataupun pusatpusat rekreasi dan hotel-hotel berskala internasional di dalam dan luar negeri. Ia, yang paling penting dan terutama, adalah Sang Maestro properti yang membangun kota-kota baru dan beragam produk property lainnya, di dalam dan di luar negeri. Dalam berbagai skala, ia telah menyentuh proses pembangunan 22 kota baru , seperti Pondok Indah, Bintaro Jaya, Bumi Serpong Damai, dan Citra Raya Surabaya. Ia membangun Ciputra International City di Hanoi-Vietnam, sebuah proyek real estat terbesar di Negara tersebut. Grup Ciputra juga sudah memulai pembangunan sebuah kota baru di Calcutta, India, dan tahun-tahun terakhir ini sedang dalam proses perundingan dengan mitra kerja local untuk membangun sejumlah kota-kota lain di Kamboja, Malaysia, China, dan Emirat Arab. Yang menarik ia juga banyak terlibat dalam pengembangan pendidikan. Terdapat 12 fasilitas pendidikan mulai dari Taman Kanak hingga jenjang Universitas yang ia dirikan atau ikut serta mengembangkan. Bukan hanya itu Ir. Ciputra juga memimpin Klub Bulu Tangkis Jaya Raya, peraih berbagai medali emas internasional untuk Indonesia. Kecintaannya terhadap seni lukis dan patung telah memberikan inspirasi untuk mempersembahkan Patung Diponegoro kepada Pemerintah dan warga DKI Jakarta. Semua pencapaian Ciputra menunjukkan adanya the spirit of excellence yang hidup, tumbuh, dan berkembang dalam jiwanya. Ia selalu menginginkan yang terbaik dari apa yang dikerjakannya. Ia tidak mudah puas dengan apa yang telah dicapainya, tetapi cenderung menantang dirinya untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang lebih unggul, sesuatu yang mendatangkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat di mana ia berkarya. If better is possible, good is not enough, begitulah pola piker Ciputra. Ibarat pendaki gunung,Ciputra memilih gunung-gunung tertinggi untuk didaki dan terus mendaki hingga ia berhasil menaklukkan gunung tersebut. Lalu ia mengembara mencari gunung yang lebih tinggi untuk ditaklukkan kembali. Begitu seterusnya. Dalam bahasa Paul Stoltz, penemu konsep Adversity Quotient, Ciputra adalah sosok Pendaki [Climber] sejati. Ia selalu mencoba mengubah hambatan menjadi peluang dan tak pernah menyerah kecuali sampai ke puncak-puncak gunung yang diinginkannya. Mungkin itu sebabnya nama Ciputra dikenal dan dibicarakan bukan hanya di negeri sendiri. Di kancah bisnis internasional, Ciputra yang merupakan pendiri Real Estate Indonesia [REI] adalah orang Indonesia pertama yang pernah menjabat ketua Federasi Real Estate Dunia (FIABCI). Penghargaan dari Pemerintah Indonesia dan mencanegara menghiasi jalan hidupnya. Banyak lagi karya dan penghargaan yang ia peroleh dan semua itu berbicara tentang Ciputra. Prestasi dan karya-karya ayah dari empat anak ini tentu bias diuraikan lebih panjang dan lebih rinci, jika kita ingin mempelajari kisah hidupnya yang amat dinamis. Ada banyak sisi kehidupan Ciputra yang menarik untuk diamati. Entah sebagai arsitek, seniman, maestroproperti, kolektor patung dan lukisan, WNI keturunna, ayahmertua-kakek, pemeluk agama Kristen, dan sebagainya. Namun buku ini tidak ditulis untuk memaparkan kisah hidup Ciputra secara keseluruhan. Ini bukan biografi Ciputra. Buku ini bahkan tidak berusaha menceritakan perjalanan bisnis Ciputra dari awal hingga meraih sukses. Yang justru menjadi perhatian utama penulis buku ini adalah bagaimana meminjam perspektif dan pengalaman Ciputra yang amat kaya itu, untuk memberikan semacam inspirasi, pelajaran, dan panduan yang memotivasi para entrepreneur muda dan entrepreneur pemula. Khususnya bagi mereka yang ingin memulai bisnis, yang sedang merencankan suatu bisnis, atau yang sudah mulai berbisnis tapi masih sering kebingungan menentukan langkah selanjutnya. Sumber inspirasi yang utama memang Ciputra, yang menyediakan sejumlah waktu untuk diganggu oleh penulis berulang kali. Namun, sekali lagi, buku ini bukan kisah hidup Ciputra. Buku ini adalah buku tentang bisnis, tentang entrepreneurship, yang meminjam pengalaman dan kaca mata seorang Ciputra sebagai pebisnis dan entrepreneur andal. Bab II : Kekuatan Luar Biasa Mimpi Bahkan Saat Terjaga Hits : 2754 PDF Cetak E-mail Ciputra selalu punya mimpi. Mimpi it uterus menerus menghuni benaknya ketika bangun, tidur, dan terjaga lagi. Dalam rinciannya, mimpi-mimpi itu tidak selalu persis. Tetapi garis besarnya sangat jelas. Ia ingin selalu menciptakan aneka ragam bangunan yang indah dipandang, kuat dan kokoh, disenangi siapa saja yang berada di dalamnya, dan bernilai guna bagi sebanyak mungkin orang. Mimpi-mimpi semacam itu menjadi bagian dirinya sejak memutuskan terjun sebagai

6
enterpreneur selepas menyelesaikan studinya di jurusan arsitektur ITB. Hingga kinipun ketika ia telah ditempatkan sebagai salah seorang pelopor bisnis property di tanah Air, Ciputra tetap mengembangkan mimpi-mimpinya. “Saya selalu bermipi. Dalam mimpi saya itu saya melihat taman yang begitu indah, sehingga ketika bangun, saya tidak dapat lag i menggambarkan bagaimana indahnya taman dalam mimpi saya itu. Begitu indahnya sehingga ketika saya ingin menjelaskannya kepada siapapun, saya bahkan tidak puas dengan penjelasan saya. Oleh karena dalam keadaan sadar saya tidak mampu menggambarkan yang seindah mimpi saya itu,” tuturnya kepada penulis buku ini. Ketika mengatakan itu, suaranya meninggi penuh semangat, tetapi tarikan napasnya berat seolah ia tak dapat menjelaskan semua yang ada di dalam pikirannya. Ke dalam bahasa yang lebih akademis, para pakar manajemen bisnis kerap member istilah lain pada mimpi-mimpi yang dimiliki seorang enterpreneur seperti Ciputra. Mereka menyebutnya sebagai visi bisnis. Per definisi, visi adalah suatu ketidakpuasan yang mendalam menegnai realitas faktual masa kini yang dibarengi dengan suatu pandangan yang amat tajam mengenai kemingkinan menciptakan realitas baru di masa depan, yang mendasar lebih baik. Dalam perspektif bisnis, Ciputra melihat adanya gedung-gedung, pertokoan-pertokoan, sampai supermall-supermall, interior bangunan, berbagai taman rekreasi, pemukiman-pemukiman penduduk dari berbagai lapisan social ekonomi, hotel-hotel berbintang yang menjulang, dan bahkan kota-kota yang ada di sekitarnya. Terhadap apa yang dilihatnya itu, ia merasa sangat tidak puas. Ia merasa seharusnya semua itu bisa tertata lebih indah, lebih nyaman, lebih ramai, lebih tinggi, lebih luas atau lebih hidup. Dan rasa tidak puas karena belum melihat sesuatu yang terbaik itu merasuk hingga kea lam bawah sadarnya, dan muncul dalam bentuk mimpimimpi yang luar biasa. Jadi, impian Ciputra muncul karena ia melihat banyak hal yang tidak memuaskan dirinya sebagai seorang arsitek sekaligus enterpreneur andal yang memiliki pengalaman luas dalam industry property. Ia bermimpi karena jiwanya melihat kemungkinan-kemungkinan untuk mengubah keadaan yang tidak memuaskan itu ke arah yang lebih baik. Namun, Ciputra tidak berhenti pada mimpi-mimpi dalam tidurnya. Ketika terjaga, ia dengan amat yakin melihat berbagai cara untuk merealisasikan hamper semua mimpi-mimpinya itu. Ia bergerak, melihat-lihat berbagai lokasi yang mungkin bisa dipilih untuk mewujudkan mimpi yang satu, menghubungi berbagai pihak yang bersedia dan bisa diajak bekerja sama untuk membuat proyek yang lain, mengumpulkan orang-orang pintar yang diyakini dapat membantunya mengubah impian menjadi kenyataan, dan seterusnya. Jadi, impiannya membuat Ciputra justru seperti mendapat pasokan energy dalam jumlah besar dan makin menumbuhkan gairah dan semangatnya dalam mengerjakan semua itu. Harus diakui bahwa mimpi-mimpi Pak Ci terkadang demikian luar biasa, bahkan kerap tak terjangkau oleh pikirannya pada saat ia memimpikannya. Namun ia sudah sangat terlatih untuk mendaki gunung-gunung impiannya dan tidak mau berhenti jika belum mencapai puncak pendakiannya itu. Kalaupun upaya merealisasikan hal itu akan memerlukan waktu lima, sepuluh, atau bahkan dua puluh tahun, ia akan terus mengerjakannya dengan bersemangat. Segala pikirannya terpusat pada focus tunggal, yakni mereaalisasikan apa yang telah ia tetapkan untuk direalisasikan. Sebagaimana pernah diakui oleh Budi Karya Sumadi, visi yang disampaikan Ciputra terkadang seperti mengawang-awang dan sulit diraih dalam pandangan orang lain. Namun Pak Ci selalu mengajarkan bahwa, “Bagi seorang pekerja keras, meskip un itu di langit, harus tetap kita kejar. Andai tidak terpenuhi, kita sedang dalam proses kesana.” Semua visi atau mimpi-mimpi besar Ciputra, selalu terkait dengan bidang usaha yang sekaligus bidang pengabdiannya, yakni sebagai pembangun dan pengembang kota-kota baru. Ia melihat dunia di sekitarnya dalam perspektif itu. Ia menempatkan dirinya untuk tenggelam dalam dunia pembangunan kota-kota baru. Bagi Ciputra tak ada hal lain yang lebih menarik dibandingkan soal ide dan gagasan yang mengarah pada proses pembangunan kota-kota baru. Ia bermimpi tentang kota-kota baru. Ia bangun untuk memikirkan kota-kota baru. Ia makan sambil mengolah gagasan tentang kota-kota baru. Ia berjalan bersama orang-orang yang akan menolongnya membangun kota-kota baru. Ia bernapas dengan semua gagasan untuk menciptakan kota-kota baru. Ia merasa bangga dengan rancangan kota-kota baru yang pernah ia kerjakan. Sebagai contoh, adalah masterplan proyek Ciputra Hanoi International City, demikian nama yang diberikan masyarakat kota Hanoi untuk proyek kota baru dengan luas 315 ha. Ciputra mengatakan bahwa itulah proyek real estat terindah di Hanoi. Namun bila ia ditanya manakah proyek terbaik yang ia lakukan maka jawabannya sangat gamblang : “My next project…” Tidak heran bila ia sampai sekarang terus bermimpi membangun kota-kota baru. Begitulah, Ciputra mengajarkan kepada setiap enterpreneur tentang pentingnya memilih bidang usaha yang bisa membuat kita menemukan mimpi-mimpi terbaik. Bidang usaha yang cocok dengan minat, pendidikan, dan bakat-bakat terbaik kita. Bidang usaha yang menumbuhkan mimpi-mimpi, dimana mimpi-mimpi itu justru sekaligus memasok energy dan membuat kita tetap bersemangat untuk berusaha, terutama jika sejumlah tantangan menghambat langkah ke depan. Bidang usaha yang benar-benar sesuai dengan anatomi kejiwaan kita, sehingga kita tak pernah sungkan atau ragu untuk tetap focus berusaha, sekalipun itu memerlukan waktu 5,10, bahkan 20 tahun. Bidang usaha yang membuat kita dengan senang hati dan penuh suka-cita rela bekerja keras, dan bukannya mencoba mencari jalan pintas yang melecehkan harkat dan martabat kemanusiaan kita. Bidang usaha yang membuat kita bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik, dan menjadi enterpreneur sejati yang pantas dibanggakan oleh masyarakat dan bangsa Indonesia. “CIPUTRA MENGAJARKAN KEPADA SETIAP ENTERPRENEUR TENTANG PENTINGNYA MEMILIH BIDANG USAHA YANG BISA MEMBUAT KITA MENEMUKAN MIMPIMIMPI TERBAIK KITA SENDIRI. BIDANG USAHA, YANG COCOK DENGAN MINAT PENDIDIKAN, DAN BAKAT-BAKAT TERBAIK KITA. BIDANG USAHA YANG MENUMBUHKAN MIMPI-MIMPI, DI MANA MIMPI-MIMPI ITU JUSTRU SEKALIGUS MEMASOK ENERGI DAN MEMBUAT KITA TETAP BERSEMANGAT UNTUK BERUSAHA, TERUTAMA JIKA SEJUMLAH TANTANGAN MENGHAMBAT LANGKAH KE DEPAN” Bab II : Menggali Ide-Ide Bisnis Hits : 2316 PDF Cetak E-mail Dalam lebih dari empat dasawarsa menggeluti dunia bisnis property, Ciputra membuat perbedaan di setiap langkahnya. Perbincangan tentang dunia arsitektur dan property selalu menyebut nama Ciputra sebagai salah seorang yang memberi warna baru di dalamnya. Bukan hanya karena skala proyeknya yang sering kali di atas yang dapat dipikirkan kebanyakan orang, tetapi terutama karena ia menciptakan langkah-langkah inovatif dalam proyek-proyek yang ia kerjakan. Maka, wajar jika Ciputra mendapat predikat innovator atas karya-karyanya. Ir. Ciputra memang dikenal sebagai orang yang tidak pernah kehabisan ide bisnis. Antonius Tanan, salah seorang eksekutif professional di Grup Ciputra, ketika menulis tentang Perjalanan bisnis Ciputra dalam buku Menjadi Manusia Unggul yang Disertai Tuhan (2004), menyebut bahwa inovasi adalah trade mark Ciputra. “ Ia adalah seorang yang tidak pernah lelah untuk mencipta dan berinovasi, bahakan sampai pada usia 75 tahun seperti sekarang. Ide-ide baru yang unik bahkan provokatif tidak sedikit muncul darinya bila Anda berbincang dengannya,” tulis Antonius Tanan. Tidak mudah membayangkan bagaimana seseorang sanggup untuk terus bertekun di sebuah bisnis yang sama selama empat decade dan tak pernah bosan menggulirkan ide-ide baru. Tetapi Ciputra memang tak pernah kehabisan ide. Ia bahkan kerap menjadi provokator bagi jajaran manajemen di Grup Ciputra maupun di kelompok bisnis lain yang lebih dulu ia dirikan, untuk menggali dan memunculkan ide-ide baru. “ Terkadang kami merasa jenuh dalam memenuhi ekspektasi Pak Ci. Tetapi itu semua sangat berarti bagi kami. Itu membuat kami tangguh dan teruji,” kata Budi Karya Sumadi, CEO PT Pembangunan Jaya Ancol, e ksekutif yang pernah mendapat gemblengan Ciputra. Walaupun penilaian orang sedemikian rupa terhadap Pak Ci, ia selalu membantah bila dikatakan seorang jenius. Menurut dia, modal paling mendasar yang ia punyai ketika memulai bisnis adalah semangat dan kepercayaan diri. Selebihnya adalah keyakinan bahwa bekerja keras dan upaya yang sungguh-sungguh akan membuahkan hasil. Dengan semangat demikian, Ciputra menggali, bergumul, dan bekerja dengan ide-ide bisnis yang dimilikinya. Ia tak pernah kehilangan ide, bahkan sering kali tak henti-hentinya menyodorkan ide baru, sehingga banyak orang tak dapat mengejar apa yang dipikirkannya. “Kita sadar bahwa persaingan semakin ketat. Karena itu saya selalu menekankan pentingnya inovasi. Kita haurs menciptakan sesuatu yang baru,” kata Ciputra suatu ketika. Bagaimana Ciputra menemukan ide-ide bisnis? Bagaimana pula ia mengelola dan mengembangkan ide-ide tersebut? Bagaimana ia membangun keyakinan tentang adanya peluang pada setiap langkah bisnisnya? Apakah semua itu datang begitu saja dalam mimpi-mimpinya? Apa arti sebuah mimpi bagi Ciputra? Dan, bagaimana ia mewujudkan mimpi-mimpinya itu ketika berhadapan dengan dunia nyata?

7
Bagi entrepreneur yang tidak mempunyai kepercayaan diri yang besar seperti Pak Ci; yang merasa kurang mampu mendapatkan ide-ide bisnis; yang kadang merasa terbentur atau takut mencoba menerjuni bisnis dengan alasan tak punya idea tau konsep bisnis untuk dijalankan; yang menganggap dunia bisnis telah penuh sesak dan tak ada kesempatan lagi bagi seorang pemula untuk menggarapnya; pemaparan berikut ini mungkin akan sangat berguna untuk disimak dengan saksama. Boks 2 : Sekolah Bagi Pebisnis Pemula Hits : 2361 PDF Cetak E-mail Tyler Gardner mencintai kayu. Anak lelaki kelahiran Bozeman, California ini, meraut, memahat, memaku dan menukanginya menjadi berbagai bentuk kerajinan. Di usia Sembilan, salah satu karyanya telah menarik perhatian orang untuk dijadikan bisnis. Tetapi menjadi pedagang tampaknya masih jauh dari pikirannya. Mengerjakan berbagai peralatan rumah tangga tampaknya masih sekadar hobi baginya. Ketika ia mulai duduk di bangku sekolah lanjutan atas, ia mulai berkenalan dengan pengetahuan bisnis. Di sekolahnya ada proyek bernama REAL, Rural Entrepreneurship through Action Learning. Pelajar yang terlibat dalam proyek itu melakukan simulasi bagaimana memulai dan mengelola perusahaan sendiri. Mereka diajari banyak hal mulai dari melakukan survey pasar hingga membuat rencana bisnis. Selepas dari sana ia mulai berpikir menjalankan bisnis sendiri. Dibantu ayahnya yang juga ahli dalam kerajinan kayu, di usia 15 ia mendirikan Ty’s Custom Furniture. Hanya dalam seminggu ia berhasil menjual dua karya pertamanya, sebuah meja computer dan rak buku. Setelah itu sepanjang tahun tak henti-hentinya pesanan mendatangi perusahaan yang ia kelola sendirian itu. Dengan modal kartu nama yang disebar di berbagai tempat, namanya cepat tenar. Produk perusahaannya, seperti meja, lemari, rak buku, dan berbagai karya buku lainnya, dikenal orang berkat promosi dari mulut ke mulut. Begitu sibuk dan seriusnya ia, sehingga pada masa-masa awal ia mengaku menghabiskan 16 hingga 20 jam sehari bekerja dan memikirkan perusahaannya. Ketenaran itu membawa berkah lain. Pencapaiannya di usia muda membuat ia diundang di berbagai forum di Amerika Serikat untuk bercerita tentang bagaimana memulai bisnis.

Boks 1: Ciputra Dan Entrepreneurship Sejak Dini Hits : 2187 PDF Cetak E-mail “Motivasi adalah modal lain yang sangat penting untuk menjadi entrepreneur. Dan, itu akan sangat baik jika dipupuk sejak dini. Sebagian besar entrepreneur yang sukses berlatar belakang keluarga pebisnis. Dengan sendirinya, nilai-nilai bagaimana berbisnis dengan baik, sengaja atau tidak sengaja, telah diajarkan sejak dini di lingkungan keluarga. “Saya lahir dari keluarga yang menerjuni bisnis. Sejak kecil saya sudah melihat dari pagi sampai malam ibu-bapak saya berdagang dan saya ikut membantunya. Itu membawa alam bawah sadar saya kepada cita-cita ingin menjadi pengusaha suatu saat kelak. Menjadi pengusaha yang berperan di Indonesia dan kemudian ditingkatkan ke seluruh dunia. Itu sebabnya ketika saya menyelesaikan kuliah selama tujuh tahun dan menjadi arsitek, saya sudah membulatkan hati untuk menjadi entrepre-neur dengan profesi arsitek sebagai pintu masuknya. Kebulatan hati itu memang tidak dating tiba-tiba, tetapi secara bertahap. Makin hari makin bulat dan makin kuat. “Lingkungan keluarga adalah pilar yang penting untuk membangun motivasi menjadi entrepreneur. Itu juga menjelaskan mengapa ad a suku-suku bangsa tertentu di tanah Air yang selalu dianalogikan sebagai suku bangsa penghasil entrepreneur terhebat. Saya sering bertanya dalam hati mengapa banyak pengusaha di Indonesia setelah mencapai prestasi tertentu lalu berhenti? Tetapi ada juga yang tak pernah berhenti untuk mencapai hal-hal baru? Saya menduga mungkin karena nilai-nilai yang diajarkan oleh lingkungannya memang demikian. Mereka dididik sejak kecil untuk terus Mandiri dan harus berhasil. Dia tidak hanya membandingkan dirinya dengan sekelilingnya, tetapi dengan orang-orang tersukses di dunia dalam bidang bisnis yang sesuai dengannya. Jika dia berbisnis, dia membandingkan dirinya dengan Li Kha Sing. Sebelum jadi seperti Li Kha Sing, tidak boleh berhenti. “Itu sebabnya saya berpendapat sangat baik jika sejak masih kecil kita mengajarkan anak-anak kita mengenali bisnis, mengenali pekerjaan kita. Dulu setiap hari Minggu ketika saya tidak ke gereja saya selalu membawa anak-anak meninjau proyek, termasuk proyek di Ancol. Dan saya menceritakan rincian proyek itu kepada mereka. Dengan begitu mereka mengerti nilai-nilai berbisnis dan kemudian kalau bisa, mereka tertarik mengurus bisnis. Dan sekarang mereka semua memang terlibat dalam bisnis yang saya geluti yaitu properti. Sampai saat ini saya duduk dalam ruangan yang sama dengan 4 anak saya dan 2 menantu saya. Anak-anak saya juga tinggal berdekatan dengan saya bahkan ada yang masih tinggal serumah dengan saya. Dengan cara ini kami dapat melakukan komunikasi bisnis secara terus menerus. “Ini mungkin berbeda dengan cara orang-orang sekarang membesarkan anak-anak mereka. Salah seorang teman saya yang sukses menjadi pengembang [developer], mengeluh karena tidak ada anaknya yang jadi pengusaha. Semua jadi professional di bidang lain. Mengapa? Sebab anak-anaknya sejak kecil tinggal dan belajar di Singapura dan tidak pernah dia ajari meninjau proyek dan belajar bisnis sejak dini. Akibatnya, semua anak-anaknya jadi profesional. Ada yang menjadi dokter, ada yang bekerja pada perusahaan besar, tetapi tidak ada yang jadi pengusaha. Dia piker kalau anak mau sukses harus sekolah di Singapura. Padahal, bukan. Sekolah yang sesungguhnya justru dimulai dirumah, lalu di lingkungan sehari-hari, di sekolah kehidupan. “Orang-orang Tionghoa yang pergi meninggalkan tanah leluhurnya pindah ke berbagai Negara Asia memang sejak kecil diajarkan untuk selalu bekerja keras. Seolaholah diberi nasihat begini: ‘Kalau kamu tidak bekerja keras, kamu akan menjadi warga negara kelas dua, kamu akan mati lapar. Nama bisa diubah. Tapi mata kamu tidak bisa diubah Yang bisa mengubah kamu adalah bila kamu berhasil.’” “Itu menjadi pemicu *trigger+. Itu menjadikan dorongan bagi tiap orang untuk maju jika ingin menjadi warga negara terhormat. Itu dipompa terus.dan memang, lingkungan adalah tempat membentuk motivasi terbaik, yang kemudian menjadi dorongan untuk selalu bekerja keras.” Bab I : Entrepreneur Tidak Saja Butuh Kepintaran tapi Juga Kebijaksanaan Hits : 1950 PDF Cetak E-mail Pengalaman dan perjalanan hidup Ciputra menunjukkan bahwa pendidikan dan ilmu menjadikan orang pintar. Entrepreneur yang berbekal pendidikan dan pengalaman juga semakin lama akan semakin pintar. Tetapi di atas kepintaran, Ciputra percaya ada kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaanlah seorang entrepreneur dapat menghindarkan diri dari kesalahan yang tidak perlu. Dalam merintis dan mengelola bisnis, seorang entrepreneur sering kali dihadapkan pada tantangan untuk hanya mendengarkan dirinya sendiri dan tidak mau mendengar nasihat dari lingkungannya. Orang-orang seperti ini bagi Ciputra digolongkan sebagai orang pintar tetapi kurang bijaksana. Orang pintar yang bijaksana di mata Ciputra adalah orang yang tidak menganggap dirinya di atas orang lain meskipun kepintarannya pada kenyataannya memang demikian. Seorang entrepreneur yang bijaksana di mata Ciputra adalah pemimpin yang bijaksana di mata Ciputra adalah pemimpin yang menyadari bahwa dirinya tidak mengetahui segala hal. Gaya kepemimpinan Jack Welch, mantan CEO legendaris General Electric, menginspirasikan Ciputra dalam menjalankan peranannya sebagai entrepreneur. Welch pernah mengatakan, walaupun ia seorang CEO, ia tidak tahu semua hal mengenai GE. Oleh karena itu Jack mengatakan ia hanya mengontrol sumber daya manusia [SDM] dan keuangan. Sehingga manakala Welch mengunjungi perusahaan-perusahaan di lingkungan GE ia selalu membawa orang keuangan di sebelah kanannya dan di sebelah kirinya orang SDM.

8
Di titik ini, kita juga dapat mengatakan bahwa kepemimpinan adalah salah satu unsur penting dari seorang entrepreneur. Pada dasarnya setiap orang yang memilih menjadi entrepreneur, ia juga akan menjalankan peran kepemimpinan atau sebagai seorang Chief Executive Officer (CEO) di bisnis yang ia bangun. Dengan demikian seorang entrepreneur jika ingin sukses harus juga memupuk kebijaksanaan dalam peran dirinya sebagai pemimpin. Dalam mengambil keputusan seorang entrepreneur tidak hanya menyandarkan diri pada perhitungan rasionya, tetapi juga mendengar dan menjajaki berbagai sudut pandang. Inilah yang oleh Jeffrey J. Fox, penulis buku laris di Amerika Serikat, How to Become CEO, sebagai prinsip Stop, Looks and Listen. Seorang pemimpin, menurut Fox, menyempatkan diri merenung. Dia tidak ‘membunuh’ orang lewat bibirnya. “ Ia berpikir, mempertimbangkan, mengamati dengan saksama, mencari bukti, dan mendengarkan. Ia berhenti sejenak untuk mengamati. Ia berhenti sejenak untuk mengamati. Ia berhenti mengatakan sesuatu sebelum salah bertindak. Ia berhenti sebelum mengambil keputusan tersembunyi. Ia melihat dan terus mendengarkan.” Mendengarkan memang suatu hal yang sulit bagi orang-orang yang agresif, energik, dan pintar. Tetapi seorang pemimpin, termasuk para entrepreneur, harus melatih diri sendiri untuk selalu dapat menerima keadaan. “Anda harus mendengarkan apa yang bahkan tidak diungkapkan dengan kata -kata. Anda harus mendengarkan pelanggan, pemasok, kolega, pesaing, dan semua orang,” tulis Fox. Dan untuk menjadi pendengar yang baik, seo rang entrepreneur harus belajar, karena memang hal itu dapat dipelajari dan bisa dilatih. “ Ketika seseorang bicara, berhentilah dari aktivitas yang sedang An da kerjakan, lihat kepada orang yang bicara dan dengarkanlah. Seorang pendengar yang baik biasanya juga adalah teman bicara yang baik,” tulis Fox. Ciputra telah mempraktikkannya. Lebih dari itu, sepanjang 40 tahun lebih perjalanan hidupnya sebagai entrepreneur, Ciputra tak pernah jemu untuk berhenti sejenak, melihat dan mendengarkan, entah itu dari para bawahan, kolega, dan terutama pelanggan-pelanggan perusahaannya. Tidak perlu dipertanyakan bila salah satu nasihat yang ingin disampaikannya bila salah satu nasihat yang ingin disampaikannya kepada para anak-anak muda yang mempersiapkan diri atau dalam perjalanan menjadi entrepreneur, adalah selalulah bersikap bijaksana. Pintar itu penting, tetapi sediakan waktu untuk berhenti sejenak, melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh orang lain. “TIDAK ADA KATA TERLALU CEPAT ATAU TERLALU LAMBAT UNTUK MENJADI ENTREPRENEUR. YANG PENTING, PELAJARILAH SEGALA HAL UNTUK MEWUJUDKAN MIMPI DAN SETIAP PELAJARAN ITU HARUS BERORIENTASI PADA TINDAKAN DAN EKSEKUSI" Boks 3 : Impian Ciputra Membangun Taman Wisata Raksasa Hits : 2230 PDF Cetak E-mail “Saya senang bisa mengubah Ancol dari tempat jin buang anak menjadi Taman Impian. Daerah Grogol yang dianggap pusat copet se-Jakarta, kita tata menjadi mal dan hotel terkemuka. Stadion olahraga yang terbengkalai di Semarang, kita bangun menjadi landmark kota Semarang dengan mal dan hotel yang bagus. tanah yang terbengkalai di Pondok Indah kita bangun menjadi pemukiman yang terkenal. tanahtandus yang tidak dilirik orang di Surabaya kita bangun menjadi Citra Raya, kota Internasional terbaik di Jawa timur. Bekas kebun karet yang dianggap terlalu jauh dari Jakarta, kita bangun menjadi Bumi Serpong Damai, kota Mandiri terbagus di Indonesia. Di luar negeri, seperti Hanoi, kita juga sudah membangun kota. Jadi, kita sudah melakukan banyak inovasi yang hasilnya banyak diminati masyarakat luas. “Namun, masih ada suatu proyek yang saya idam-idamkan. Sebuah kawasan wisata terpadu yang besar dan lengkap. Kawasan wisata terpadu itu yang saya harapkan akan berlokasi di gunung. Rekreasi di laut sudah ada, Taman Impian Jaya Ancol, yang modalnya adalah laut dan permainan modern. Yang saya idam-idamkan ini modalnya adalah gunung, udara yang sejuk, dan pemandangan alam yang asli. Flora dan fauna. Di Bogor sebenarnya kita punya tiga taman obat. Tetapi terpisah-pisah. Nah, taman wisata yang saya impikan itu nantinya adalah sebuah taman yang lengkap. Semua unsur alam akan saya jadikan satu. Saya yakin orang-orang pasti dating dan berlibur ke sana. “ini bukan pemikiran yang istimewa. Lihat saja dulu toko-toko berserakan. Lalu orang membangun shopping center, dengan maksud menyatukan toko-toko sekaligus menjadikannya sarana rekreasi. Taman Wisata Terpadu yang saya idamkan juga demikian. Saya berharap segera mendapatkan lokasi untuk itu. Saya harus cari lahan di pegunungan, yang sedikitnya mempunyai ketinggian 600 meter, sebab dengan demikian temperature udara sudah mencapai 20-25 derajat Celcius. Luasnya harus di atas 1000 hektar. “Nantinya, Taman Wisata Terpadu itu menjadi tempat pemukiman juga. Menjadi satu kota yang baru, dengan rekreasi yang menjadi pusatnya. Kawasan itu akan dibuat dengan aneka tema. Sekarang ini yang terpikir oleh kami baru 16 tema. Dulunya hanya 12, seiring dengan masukan public, bertambah terus. Nantinya saya harapkan akan ada 20 tema. Mengapa proyek ini begitu memenuhi pikiran saya? Karena saya yakin kalau ada satu tempat, dimana tersedia udara sejuk dan mudah terjangkau, orang akan jadikan itu tempat wisata. Dan, ini memang cita-cita saya yang lahir setelah saya membangun Dunia Fantasi. Ini cita-cita yang sudah lama terkristalisasi. Sebelum krisis ekonomi datang, saya sudah memikirkan ini. Bayangkanlah anda datang ke suatu tempat, di mana di situ ada kebun binatang, kebun benih, dan ada kolam renang yang airnya sudah dipanaskan. Bukankah itu akan menyenangkan? “Jika proyek ini terwujud, ini mungkin proyek pertama di Indonesia dengan skala dan bentuk yang demikian. Sebuah inovasi, yang merupakan ramuan dari berbagai hal-hal terbaik, penemuan dan penambahan hal baru. Selain rekreasi, kita tambahkan juga nilai edukasi disana. Di tempat itu aka nada sekolah dan akan saya bangun kurang lebih tiga Universitas. Mengapa Universitas harus di Jakarta? Mengapa tidak di Gunung yang sejuk itu, sehingga tidak perlu ada AC dan mahasiswa dapat berekreasi setelah capek belajar? “di proyek itu juga saya punya ide untuk membangun shopping mall. Saya akan bangun danau buatan di sekelilingnya dan mall berada di sepanjang pinggiran danau. Pengunjung dapat berjalan- jalan di sana, bisa ;ula melihat-lihat toko, makan di restoran dan sebagainya.” Bab II : Inovasi dengan Meniru Secara Kreatif Hits : 2607 PDF Cetak E-mail Seseorang menetapkan pilihan menjadi entrepreneur dapat disebabkan adanya dorongan ingin men-ciptakan sesuatu yang baru, yang sebelumnya tidak pernah ada; atau ingin melakukan sesuatu secara berbeda dari apa yang dilakukan kebanyakan orang. Inilah yang dimaksudkan orang dengan peran entrepreneur sebagai pelaku inovasi atau inovator. Inovasi itu sendiri diperlukan bukan hanya karena adanya dorongan yang bersifat idealistik, melainkan juga untuk meraih pangsa pasar. Soalnya dalam persaingan yang ketat dibutuhkan terobosan-terobosan yang menyebabkan sebuah produk atau jasa berbeda dan lebih baik dari lainnya. Tentu saja meniru yang dimaksudkan Ciputra bukan dalam konteks mencontek atau seperti mem fotokopi. “Bukan meniru yang ikut-ikutan..” demikian yang dikatakannya. Meniru yang dimaksudkannya adalah meniru dengan menggali kebaikan-kebaikan yang ada pada yang ditiru untuk kemudian ditingkatkan lagi. Peniruan semacam itu dapat membuka kemungkinan terciptanya sebuah inovasi baik dalam bentuk inovasi produk maupun inovasi proses. Dalam hal ini, Pak Ci selalu teringat pada cerita tentang gereja di Rusia. Gereja itu merupakan salah satu yang terbesar di sana. Namanya Gereja Juru Selamat. Di zaman Komunis, Pemerintah Rusia (waktu itu Uni Soviet) meruntuhkannya untuk membangun sebuah gedung konferensi. Fondasi gereja itu mereka gali dan diganti sama sekali dengan yang baru. Anehnya, mereka tak pernah berhasil membangun gedung konferensi yang mereka inginkan itu karena fondasi yang mereka bangun selalu runtuh. Mereka gagal bahkan sampai ketika rezim Komunis jatuh dan Rusia terpecah belah menjadi beberapa negara yang lebih kecil. Lalu ketika Rusia menjadi negara demokrasi, pembangunan gedung konferensi itu dihentikan. Pihak swasta kemudian berinisiatif mengumpulkan dana untuk membangun kembali gereja itu. Mereka membangunnya benar-benar meniru yang asli. Mereka menelusuri struktur bangunan, merekareka ulang gambargambarnya dengan maksud sepenuhnya ingin mendirikan lagi sebuah gedung gereja yang sama persis dengan yang asli. Ternyata mereka berhasil. Dan, kalau gereja yang lama dulunya dibangun dalam 40 tahun, gereja baru yang meniru gereja lama itu hanya membutuhkan waktu 5 tahun. Mengapa? Karena pembangunan yang terkemudian ini meniru, tetapi meniru untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dengan menggunakan teknologi mutakhir.

9
Di Indonesia Ciputra sering dikatakan telah melakukan tujuh inovasi di bidang property/arsitektur. Salah satu inovasinya yang dianggap fenomenal adalah Taman Impian Jaya Ancol yang merupakan taman rekreasi pertama yang menggunakan berbagai tema. Ternyata belakangan ini Taman Impian Jaya Ancol beserta Dunia Fantasi-nya ditiru oleh pengembang lain. Itu ditiru bukan untuk membuat taman rekreasi, melainkan untuk membuat perumahan dengan berbagai tema rekreatif, seperti yang dapat dilihat di kota-kota lain di Indonesia. “Itu bagus. Kita ditiru berarti bagus. Dan kita kejar lagi. Kita harus berpikir lagi untuk bikin perubahan, bekerja keras lagi. Sekarang saya sedang membangun cita-cita untuk membuat taman rekreasi dengan tema flora dan fauna yang lima kali lebih besar dari Taman Impian jaya Ancol,” kata Ciputra. Proses meniru praktik-praktik terbaik, lalu mengambil puncak-puncak pencapaian itu dan meramunya menjadi sesuatu yang lebih baik, bagi Pak Ci dapat digolongkan sebagai sebuah inovasi. Inovasi di sini erarti sesuatu yang baru, berbeda, bernilai lebih, dan lain daripada pendahulunya meskipun mungkin hasil-hasil yang dicapai itu berbasiskan pendahulu yang ditiru dan diramu itu. Salah satu yang kini sedang ia gagas dan menjadi bagian dari mimpi dan ide bisnis Pak Ci adalah sebuah Taman Wisata Terpadu berskala raksasa, di atas lahan lebih dari 3000 hektar. Taman Wisata itu akan terletak di pegunungan yang modal utamanya adalah adalah gunung, udara yang sejuk, dan pemandangan alam yang asli, flora dan fauna. Semangat Pak Ci untuk mencipta sesuatu yang baru yang lebih bernilai dari yang sudah ada, tampak pada obsesinya untuk mewujudkan taman ini. “Anda lihat di Thailand, ada kebun benih seluas 300 ha. Itu tempat orang berwisata. Di Bogor juga ada tiga taman ob at. Di puncak ad ataman buah dan Taman Safari. Tetapi terpisah-pisah. Nah, taman wisata yang saya idam-idamkan itu nantinya adalah sebuah taman yang lengkap. Semua unsure alam akan saya jadikan satu. Saya yakin orang-orang pasti akan dating dan berlibur ke sana,” kata Pak Ci (Lihat boks). Proses inovasi Ciputra mungkin lebih jelas dipahami dengan meminjam gagasan Paul Geroski dan Costas Markides. Beberapa waktu yang lalu, dua orang ilmuwan dari London Business School ini meluncurkan sebuah studi di jurnal Strategy Business dengan judul Colonist and Consolidator. Di sini mereka menyitir ada dua pengertian inovasi. Yang pertama adalah inovasi dalam bentuk invensi atau temuan baru. Ini dapat berarti sebuah penemuan yang menciptakan produk dan jasa yang sebelumnya tidak pernah ada atau dapat juga temuan terhadap suatu teknologi untuk menciptakan atau memproses sesuatu. Inovasi kedua, menurut Geroski dan Markides adalah proses merealisasikan sebuah temuan baru menjadi produk komersial yang dapat diterima pasar. Jika jenis inovasi pertama sering kali dicirikan oleh kehadiran temuan itu sebagai menciptakan sesuatu dari yang sebelumnya tidak ada, inovasi jenis kedua lebih karena terdepan dalam mencapai pasar (komersialisasi). Peran entrepreneur sebagai inovator tampaknya lebih dominan pada jenis inovasi yang kedua. Sedangkan pada inovasi jenis pertama para ilmuwanlah yang jadi penentunya. Menurut Geroski dan Markides, dalam inovasi jenis kedua yang terjadi sesungguhnya adalah proses belajar, baik oleh para entrepreneur sebagai produsen maupun para konsumen sebagai sumber ide bisnis. Selanjutnya, perkembangan pasar sebagai pendorong inovasi jenis kedua, menurut Geroski dan Markides, berlangsung dalam dua tahap.Tahap pertama adalah fase eksplorasi yang dipenuhi ketidakpastian di mana muncul perusahaan-perusahaan pionir yang dalam istilah Geroski dan Markieds disebut perusahaan kolonis, perusahaan penjelajah ide-ide dan temuan. Sedangkan fase kedua adalah ketika perusahaan-perusahaan pionir saling bersaing dengan model bisnis masing-masing sambil belajar dari bertemunya permintaan dan penawaran di pasar yang sedang bertumbuh. Pada tahap ini, perusahaan yang menjadi pemenang adalah perusahaan yang bertipe konsolidator, perusahaan yang mampu mengkonsolidasikan praktik-praktik terbaik untuk menghasilkan produk yang secara komersial terdepan memasuki pasar. Menurut Geroski dan Markides, apa yang dilakukan perusahaan konsolidator ini dapat juga disebut sebagai inovasi. Studi Geroski dan Markides ini dengan sendirinya membenarkan pendapat Ciputra bahwa inovasi juga adalah proses meniru dan meramu berbagai praktik-praktik terbaik untuk menghasilkan produk atau jasa yang baru yang lebih baik dan bernilai dari yang ditirunya. Studi Geroski dan Markides memang lebih menggambarkan proses inovasi di kalangan korporasi. Namun, para entrepreneur pun dapat belajar darinya dalam skala dan bisnis yang diminatinya. “MENIRU ADALAH PROSES INOVATIF JIKA YANG KITA LAKUKAN ADALAH MENIRU PRAKTIK-PRAKTIK TERBAIK, MENGAMBIL PUNCAK-PUNCAK PENCAPAIAN ITU DAN MERAMUNYA MENJADI SESUATU YANG LEBIH BAIK DAN LEBIH BERNILAI SESUAI DENGAN KONTEKS USAHA KITA SENDIRI.” Bab II : Melirik Praktik-Praktik Terbaik Hits : 1564 PDF Cetak E-mail Jika ingin sedikit berteori, ide-ide bisnis yang menggelayut di benak seorang calon entrepreneur pada prinsipnya harus melewati tujuh langkah untuk benar-benar menjadi sebuah produk atau jasa yang diluncurkan ke pasar secara komersial. Menurut Overton, menggali ide bisnis atau mulai dari mimpi adalah tahap paling awal dari langkah seorang calon entrepreneur. Langkah kedua adalah menyaring ide-ide bisnis itu berdasarkan kapabilitas pribadi dirinya di satu sisi dan potensi pasarnya di sisi lain. Langkah ketiga adalah mengembangkan konsep bisnis dan menguji konsep tersebut. Keempat, menyusun strategi pemasaran. Kelima, melakukan analisis bisnis. Keenam, merancang pengembangan produk. Ketujuh melakukan uji pasaran. Terakhir adalah tahap komersialisasi (Lihat denah). Major Strategies in New Product Development Idea Generation---- Screening ---- Concept Development and Testing ---- Marketing Strategy ---- Business Analysis ---- Product Development ---- Market Testing ---Commercialisation (Sumber: Rodney Overton, Are You an Entrepreneur? Wharton Books, 2002) Bagi seorang calon entrepreneur yang tidak biasa dengan alat-alat analisis akademis, langkah-langkah itu bisa jadi terkesan sangat rumit dan memakan waktu. Untungnya, selalu ada jalan bilamana ada kemauan. Ciputra telah menjalankan semua proses di atas dalam seluruh sepak terjangnya sebagai entrepreneur. Pak Ci menamai jalan lain itu sebagai Meniru yang Terbaik. Apa maksudnya? “Pelajarilah hal-hal terbaik, dan tirulah itu,” kata Pak Ci. Dalam strategi perusahaan, cara ini kerap disebut sebagai metode benchmarking,yakni suatu langkah untuk mencapai hasil terbaik dengan menetapkan suatu batu penjuru yang akan diacu, ditiru bahkan bila memungkinkan, dilampaui. Sang batu penjuru itu pada umumnya adalah praktik-praktik terbaik yang sudah teruji membuat suatu perusahaan mencapai hasil terbaik pula di bidangnya. Bagi Pak Ci, dalam mengawali langkah menjadi entrepreneur, seseorang harus mengarahkan pikirannya kepada praktik-praktik terbaik yang pernah ada di bidang yang ingin digeluti sang calon entrepreneur. Sebagai contoh, bila seseorang ingin terjun di bisnis properti dan ingin menjalankan sebuah proyek tertentu, tak bisa lain, sang calon entrepreneur itu haurs banyak belajar tentang praktik-praktik terbaik yang pernah ada dalam mengelola proyek serupa. Bila perlu, sang calon entrepreneur harus mencari perusahaan terbaik yang pernah menjalankan proyek serupa dan mempelajari secara tuntas praktik-praktik yang mereka jalankan.

10
“ Dalam dunia property, misalnya, saya selalu menganjurkan agar tirulah proyek yang secara fisik terlihat baik, cash flow-nya baik, terjual dengan baik, dan lokasi proyek adalah daerah yang punya potensi untuk maju,” kata Pak Ci. Tak peduli apakah ketika ia dulu masih di tahap awal sebaga i entrepreneur maupun setelah kini menangani proyek-proyek raksasa, ia tak pernah kehilangan rasa tertarik terhadap apa saja yang terbaik. Jika ada proyek property yang menonjol di suatu daerah tertentu, Pak Ci tak pernah alpa untuk melihat dan menyelidikinya. “Kami melakukan analisis terhadap proyek-proyek semacam itu. Kami bedah semua back-groundnya,” tambah Pak Ci. Bagi Pak Ci, meniru adalah bagian dari pekerjaan seorang entrepreneur. Hal itu makin ia yakini setelah ia membaca buku karya Malcolm Gladwell (2001) dengan judul Tipping Point, How Little Things Can Make A Big Difference. Dalam buku yang menjadi international best seller itu ia belajar bahwa ada hal-hal kecil yang bisa berdampak jauh lebih besar salah satunya bagi Ciputra adalah kegiatan “meniru” secara kreatif. Ciputra juga belajar tentang hal ini dari pebisnis sukses lain antara lain Sam Walton, pemilik dan pendiri Wal Mart, jaringan supermarket terbesar sekarang di Amerika Serikat. Sebagai entrepreneur, Sam mempelajari dan meniru habis-habisan apa yang dilakukan oleh pesaingnya, K-Mart, yang menjadi pemimpin pasar kala itu. Sam Walton meniru semua yang dilakukan K-Mart mulai dari bagaimana mendesain outlet, menetapkan harga, melayani pelanggan, bahkan sampai pada bagaimana barang-barang K-Mart ditata. K-Mart kala itu dianggap yang terhebat dan Sam berprinsip semua yang terbaik harus ditirunya. Apa hasilnya? Sekarang Wal Mart-lah yang paling hebat, mengalahkan K-Mart yang dulu ditirunya. Dari cerita Sam Walton itu, Pak Ci mengambil benang merah filosofinya: Jangan malu meniru, tetapi tirulah yang terbaik untuk menjadikan Anda lebih baik lagi. Itu sangat dia yakini. Pak Ci, di umurnya yang kini hamper 75 tahun, selalu menyempatkan diri meninjau pameranproperti, pembukaan pusat perbelanjaan baru, atau property yang sangat menonjol dan menarik perhatiannya. “ Setiap Shopping Centre yang baik, saya pergi melihatnya,” kata Pak Ci. Dan, Pak Ci belajar dan mengambil tindakan dari apa yang dilihatnya itu. Belum lama ini, misalnya. Pak Ci meninjau pameran property di Jakarta yang membuat banyak orang bertanya-tanya buat apa dia ke acara yang penuh sesak itu. Sehabis dari pameran, ia langsung ke sebuah proyek Grup Ciputra di Barat Jakarta. Ia langsung bertanya kepada stafnya di proyek tersebut mengapa proyek itu tidak ikut diapmerkan di pameran properti tadi. Rupanya Pak Ci melihat banyak juga pengembang lain memamerkan proyeknya yang belum jadi dan seharusnya itu dapat ditiru. Atas pertanyaan itu Pak Ci mendapat jawaban bahwa proyek itu masih dalam persiapan. Pak Ci tidak puas dengan jawaban itu. Sebab, proyek tersebut sudah mempunyai rumah contoh, sementara dalam pameran ada yang belum punya rumah contoh sudah ikut berjualan. Stafnya kemudian berkilah bahwa mereka tidak ikut pameran karena proyek itu belum di-launching. Pak Ci lalu menjelaskan bahwa justru karena belum di-launching proyek itu harus dipasarkan sebagai prelaunching. “Sebab orang terkadang lebih tertarik pada pre-launching daripada launching, karena pada pre-launching biasanya diberi diskon,” kata Pak Ci. Ini adalah contoh bagaimana Pak Ci dengan cepat belajar dan mengambil tindakan dari sebuah praktik terbaik untuk diterapkan dalam bisnisnya. Ia menegaskan kepada stafnya bahwa jangan ragu meniru yang baik dari competitor. Competitor juga meniru dari apa yang telah kita buat dan mengkombinasikannya dengan hal-hal lain yang mereka anggap baik. Jadi, kalau kita tidak menarik pelajaran dari competitor, maka kita yang akan dirugikan. Menurut Pak Ci, kata meniru, apalagi mencontek, memang sering kali berkonotasi negative di masyarakat Indonesia. Karena itu harus dijelaskan bahwa meniru bagi seorang calon entrepreneur bukan dalam pengertian menirunya secara mentah seperti menyontek di bangku sekolah. Meniru yang dia maksud adalah termasuk mempelajari semua latar belakang dari yang ditiru lalu kemudian meniru untuk menciptakan hasil yang lebih baik. Misalnya, seorang entrepreneur tertarik membangun gedung tinggi, ia semestinya mencari batu penjuru gedung tinggi terbaik yang pernah ada setidaknya di lingkungan terdekatnya. Ia, misalnya, harus tahu mengapa gedung itu dibangun lebih tinggi dari yang lain, mengapa tempat parkir untuk shopping mall-nya harus di bawah, dan seterusnya. Inilah yang oleh Pak Ci dikatakan sebagai meniru dengan mata, pikiran, dan hati seorang entrepreneur. Meniru untuk kemudian harus mempertang-gungjawabkannya dalam bentuk karya yang lebih sukses dan lebih baik. Jelaslah, dari Pak Ci kita belajar bahwa seorang calon entrepreneur harus membiasakan diri tertarik pada praktik-praktik bisnis terbaik, di lingkungan terdekatnya atau di mana saja. Praktik-praktik terbaik itu bukan saja untuk dipelajari, tetapi lebih dari itu untuk ditiru dan dijalankan. Dan memang harus diakui dalam banyak hal, praktik-praktik terbaik itu ada di luar negeri, terutama Amerika Serikat yang menjadi pelopor inovasi di bidang properti. “SEORANG CALON ENTREPRENEUR HARUS MEMBIASAKAN DIRI TERTARIK PADA PRAKTIK-PRAKTIK BISNIS TERBAIK, DI LINGKUNGAN TERDEKATNYA ATAU PUN DI MANA SAJA. PRAKTIK-PRAKTIK TERBAIK ITU BUKAN SAJA UNTUK DIPELAJARI TETAPI LEBIH DARI ITU UNTUK DITIRU DAN DIJALANKAN SESUAI KONTEKS BISNIS YANG ADA.” Bab II : Mencatat Setiap Ide Bisnis Hits : 1903 PDF Cetak E-mail Mimpi seorang enterpreneur, atau visi bisnisnya, akan menjadi suluh di gelap malam yang terus menyala sebagai penerang dalam mencari maupun menggali ide-ide bisnis. Ia menjadi dasar yang kuat untuk menemukan dan memilih ide bisnis yang tepat. Sesungguhnya pengalaman para enterpreneur menunjukkan ide bisnis dapat ditemukan dimana saja. Ide bisnis dapat muncul dalam perjalanan ketika Anda membaca sebuah harian sore di masa liburan. Ia mungkin muncul manakala mengikuti sebuah pameran industry. Barangkali pula dari perbincangan dengan seorang rekan yang membutuhkan sesuatu dari dia dan lantas Anda menangkapnya sebagai peluang bisnis. Bahkan, apa yang dilakukan pesaing pun sebenarnya dapat menjadi sebuah ide bisnis yang baik. Mien R. Uno seorang kawan baik Ir. Ciputra selalu teringat kebiasaan Ir. Ciputra untuk membawa tape recorder ke mana-mana untuk merekam ide-ide yang melintas di kepalanya. Menggali dan mengumpulkan ide bisnis yang didorong oleh mimpi sang enterpreneur, menurut Rodney Overton [2002] adalah salah satu tahap paling awal dari suatu bisnis. Ada berbagai cara orang untuk mengumpulkannya. Namun Overton mengatakan walaupun ide bisnis ada yang muncul secara tiba-tiba, pencarian ideide bisnis sebaiknya dilakukan secara sistematis. Overton mengatakan, pada dasarnya ada empat sumber ide-ide bisnis. Pertama, inspirasi. Banyak orang yang mempersepsikan inspirasi secara salah. Ada yang menganggapnya sebagai sesuatu yang muncul sesewaktu, diberikan atau dihadiahkan oleh entah apa. Dan karena itu butuh proses khusyuk untuk mendapatkannya. Maka ada istilah ‘mencari inspirasi’ yang diartikan pula sebagai pergi menyendiri ke suatu tempat termenung-menung sambil menunggu ilham. Padahal inspirasi tidaklah sedramatis itu. kemampuan seorang enterpreneur mendapatkan inspirasi sangat ditentukan oleh pengalaman, wawasan, motivasi, dan terutama kapabilitas seorang enterpreneur itu. Sebagai contoh yang bagus kita dapat baca dari cerita tentang Josephine Tjen (Jacky Ambadar dkk., 2005). Tjen awalnya bekerja sebagai piñata rambut yang punya kegemaran membuat kerajinan tangan di waktu senggangnya. Suatu hari ia membaca sebuah buku tentang kerajinan membuat boneka Jepang. Ia lantas mendapat inspirasi menerjuni bisnis kerajinan tangan yang kemudian ia wujudkan dengan membuat boneka pengantin Jawa. Contoh ini menunjukkan bahwa sebuah buku dapat menginspirasi bagi Tjen, tetapi buku itu mungkin tak akan bicara apa-apa seandainya sebelumnya Tjen tidak punya kegemaran yang berkaitan dengan kerajinan tangan. Sumber ide bisnis lainnya, menurut Overton, adalah peristiwa kebetulan (serendipity). Peristiwa-peristiwa yang tidak terduga itu bahkan bisa terjadi karena kekeliruan yang kemudian melahirkan ide bisnis. Metode vulkanisasi bahan karet yang sangat berfaedah di industry ban, misalnya, ditemukan secara kebetulan

11
karena adanya kesalahan. Bahan karet yang kala itu dianggap kurang bernilai karena terlalu fleksibel-keras di musim dingin tetapi gampang meleleh di musim panastiba-tiba jadi berharga akibat seorang narapidana, Charles Goodyear, melakukan kesalahan dalam eksperimennya yang gagal. Campuran karet dan belerang tak sengaja tumpah ke pendiangan yang menyala. Dan ternyata campuran itu kembali menjadi keras setelah didinginkan. Dan begitulah dari sana Goodyear berhasil menemukan proses vulkanisasi bahan karet yang kemudian digunakan di segenap penjuru dunia [Jaya Suprana,1997]. Sumber ide bisnis ketiga adalah konsumen. Manusia sebagai konsumen memiliki aneka kebutuhan yang merupakan sumber ide bisnis yang tak berkesudahan untuk digali. Apakah dengan berbagai metode canggih atau dengan menggunakan penalaran sederhana, semua itu dapat dilakukan untuk menggali ide bisnis dengan titik berangkat konsumen. Sebagai contoh, karena semakin banyaknya kaum ibu-ibu muda yang bekerja purnawaktu dan tidak sepenuhnya dapat mempercayai pembantu rumah tangga, di Jakarta, bermunculanlah program child day care, sejenis bisnis penitipan anak balita bagi ibu yang bekerja. Keempat, teknik-teknik formal. Ada berbagai teknik formal dalam menggali ide-ide bisnis. Apakah itu dengan melakukan survey pasar, focus group discussion, dan sejenisnya. Berbagai riset yang diselenggarakan asosiasi bisnis, atau laporan-laporan ilmiah di industry tertentu, kantor-kantor merek dan paten, adalah contohcontoh sumber ide bisnis dengan menggunakan teknik-teknik formal. Kategorisasi di atas tentu saja bukan sebuah pengkotak-kotakan yang kaku, melainkan suatu alat penjelas untuk menggambarkan bagaimana enterpreneur menggali ide-ide bisnis. Pak Ci menggali ide-ide bisnis dari apa dan siapa saja yang mungkin ia temukan. Apakah itu sebuah perjalanan bisnis ke luar negri-seperti ketika di Dubai dan berbagai Negara lain di Eropa beberapa waktu lalu- ataukah kunjungan ke sebauh proyek di pelosok negeri ini, itu semua sering kali mendatangkan inspirasi baginya untuk mendapatkan ide-ide bisnis. Mengamati apa yang dilakukan oleh competitor juga memicu ide-ide bisnis bagi Pak Ci. Pak Ci selalu mengantongi sebuah buku catatan kecil, tempat dia mencatat hal-hal menarik yang ia temukan, disamping untuk menuliskan apa saja yang harus ia kerjakan hari itu. Ide-ide bisnis yang ia catat itu, ia baca kembali manakala ia punya waktu yang cukup. ide itu ia bicarakan dengan para stafnya untuk menguji kemungkinan untuk direalisasikan. Sama seperti Pak Ci, seorang calon enterpreneur harus membiasakan diri mencatat ide-ide bisnis, entah dengan cara apa. Segudang ide bisnis lebih baik ketimbang tidak mempunyainya. Sebab ia akan sangat berguna manakala Anda membutuhkannya. “IDE BISNIS DAPAT DATANG DENGAN BERBAGAI CARA PADA WAKTU DAN TEMPAT YANG TAK TERDUGA. SUPAYA TIDAK MUDAH HILANG, BIASAKANLAH MENCATAT IDE-IDE TERSEBUT. SEBUAH IDE BISNIS YANG TEPAT BISA BERNILAI SANGAT MAHAL” Bab II : Mimpi Adalah Wujud Dari Keinginan Hits : 2460 PDF Cetak E-mail Stephen R. Covey, ikon kepemimpinan personal dan interpersonal yang menulis The Seven Habits of Highly Effective People [1989], pernah mengingatkan bahwa semua proses penciptaan berlangsung melalui dua tahap. Pertama, segala sesuatu diciptakan secara mental di alam pikiran dan perasaan seseorang. Kedua, penciptaan secara fisik. Sebagai seorang arsitek, Ciputra paham betul tentang hal itu. Semua gedung, supermall, hotel, taman dan kota-kota yang dibangunnya merupakan proses penciptaan tahap dua saja. Sebab sebelum semua itu terwujud sehingga bisa dilihat oleh mata telanjang, bangunan-bangunan itu telah dilihat oleh Pak Ci di dalam imajinasinya. Lalu semuanya di tuangkan menjadi cetak biru yang memandu proses pembangunan secara fisik. Secara mental, imajinasi Ciputra terus berkembang untuk membangun kota-kota baru. Imajinasi itu berkembang subur karena sesuai dengan apa yang benar-benar diinginkannya, sesuai dengan minat-minat terbaiknya, sesuai dengan kekuatan-kekuatan yang menjadi cirri khas keunikan pribadinya. Dengan kata lain, Ciputra memimpikan hal-hal yang diinginkannya, dan menginginkan hal-hal yang dimimpikannya. Memiliki visi atau impian dan kemudian menginginkan impian itu menjadi kenyataan, akan mendorong orang pada tindakan. Seperti kisah Bruce Jenner, atlet dasalomba yang meraih medali emas di olimpiade 1976. Dalam buku yang ditulis Jenner bersama Mark Seal [1996], diceritakan demikian: Dia berdiri diatas panggung seperti sebuah personifikasi kemenangan dan kejayaan, seseoarang sedang dimahkotai sebagai Atlet Terbesar Dunia diiringi music lagu kebangsaan dan tepuk tangan yang gegap gempita. namanya adalah Nikolay Avilov, dari Rusia [yang sekarang terpecah menjadi beberapa Negara], dan dia baru saja memecahkan rekor dunia baru untuk dasalomba, dengan poin [angka] 8454. Dengan kepala tegak, pundak ditark ke belakang, dia berdiri seperti sebuah patung heroic saat para pejabat penyelenggara kejuaraan itu mengalungkan medali emas di lehernya, dan dunia bersorak-sorai memuji keberhasilan diiringi lagu nasional Sovyet. Waktu itu adalah lomba Olimpiade 1972 di Jerman, dan saya beruntung telah berhasil masuk ke dalam tim yang akan dipertandingkan. Selama ini saya selalu termasuk atlet yang tidak diandalkan, yang kakinya berotot, anak muda yang biasa-biasa, yang masa remajanya dihabiskan untuk melawan perasaan rendah diri dan kesukaran membaca yang disebut disleksia. Sang atlet yang prestasinya hanya sedikit di atas rata-rata, yang kemenangannya lebih banyak disebabkan oleh kebulatan tekad daripada kemampuan alamiahnya. Saya berdiri di pinggir stadion, di tempat di mana selama upacara pembukaan seminggu sebelumnya, beribu-ribu burung merpati putih dilepaskan ke udara bebas, yang menyimbolkan perdamaian bagi para penonton yang hadir di balkon yang kotoran-kotoran burung tersebut menghujani dan menodai seragam putih-putih para atlet. Tetapi, ketika saya sedang mengamati orang Rusia yang didewakan itu dimahkotai, saya tiba-tiba merasakan suatu pengalaman yang kemudian mengubah hidup saya. Saya melihat diri saya sendiri bediri di atas podium kemenangan itu pada olimpiade yang akan dating, yang akan berlangsung empat tahun lagi. Secara tiba-tiba saya mengetahui: jika saya dapat memenangkan Medali Emas, maka saya akan berdiri disana. Kemenangan itu terasa begitu dekat, seakan-akan saya dapat menjangkau dan memungutnya. “Apa yang mengangkat para pemenang dalam kehidupan mereka,” saya bertanya dalam hati sambil menonton upacara itu, “dan apa yang membuat mereka kalah? Mengapa satu orang berdiri di atas podium kemenangan, sedangkan yang lain berdiri diatas tanah yang penuh bercak-bercak kotoran burung? Apa yang membuat seseorang dapat menjadi juara dan orang lain menjadi pemain abadi yang tak pernah memenangkan perlombaan?” Saya memutuskan ba hwa perbedaannya adalah focus total yang tidak terpecahkan pada satu tujuan tunggal. Segera setelah menyadari hal itu, saya berubah dari hanya sebagai “pemimpi” menjadi seorang yang terobsesi untuk “melakukan tindakan”. Saya telah berubah dari seorang yang cepat puas dengan prestasi lumayan, menjadi seseorang yang hanay akan puas kalau memperoleh prestasi terbaik. Begitulah. Sebuah impian yang mendorong tindakan telah membuat Bruce Jenner mengalami transformasi. Ia bahkan memulai latiham pertama untuk menjadi juara dasalomba di Olimpiade berikutnya, tetapi pada hari itu juga. Ia tidak membuang-buang waktu dan berlatih dengan keras setiap hari sejak ia mendapatkan visi itu. Ia mengaku, “Saya mengabdikan setiap jam setiap hari, selama 365 hari dalam setahun, untuk berlatih menyongsong dasalomba itu, m enyisihkan segala hal lainnya, sampai saya telah memenangkan setiap pertandingan itu seribu kali dalam pikiran saya.” Jenner telah menciptakan kemenangan dalam pikiran dan imajinasinya. Apakah jenner kemudian berhasil menjadi juara dan meraih impiannya? “Saya tidak berhenti berolah raga sampai suatu malam, tan ggal 30 Juli 1976, ketika Avilov turun ke peringkat ketiga, saya berdiri di atas podium kemenangan itu, menerima medali emas dasalomba. Saat itu adalah ulang tahun ke-200 [bisential] Amerika Serikat dan ketika seluruh negri sedang semarak dengan warna merah, putih, dan biru, saya tidak hanya membawa pulang medali emas, tetapi juga menciptakan suatu rekor baru-poin 8.634-untuk cabang olahraga dasalomba. Saya dimahkotai sebagai Atlet Terbesar Dunia, dan kehidupan saya berubah menjadi padat dengan perayaan”. Proses Bruce Jenner meraih medali emas Olimpiade dan sekaligus membukukan rekor baru di atas, boleh jadi menggambarkan proses yang dialami oleh Ciputra dalam meraih suksesnya sebagai enterpreneur sejati. Dimulai dengan melihat sesuatu yang menarik minatnya, dilanjutkan dengan munculnya impian dan imajinasi untuk meraih sesuatu yang diyakini bisa dicapai, diikuti dengan kesediaan mendisiplin diri dan bekerja keras dengan focus tunggal untuk berhasil mendapatkan apa yang diinginkan, lalu kemudian menikmati hasil kerja keras itu dan memutuskan langkah berikut, merajut impian yang lebih besar dan lebih baik. Apakah kita sungguh-sungguh ingin menjadi enterpreneur? Apakah kita menginginkan hal itu sedemikian rupa sehingga sampai terbawa kea lam mimpi? Apakah impian itu kemudian menjadi visi yang mendorong kita untuk bertindak secara tekun, bekerja keras, dan percaya bahwa keberhasilan hanyalah soal waktu? “MIMPIKANLAH APA YANG ANDA INGINKAN. INGINKANLAH APA YANG ANDA IMPIKAN. BANGUNLAH KEYAKINAN BAHWA ITU BISA ANDA PEROLEH MELAL UI KERJA KERAS YANG TERFOKUS. CERITAKANLAH KEPADA DIRI SENDIRI DAN TEMAN-TEMAN DEKAT APA YANG ANDA IMPIKAN DAN KERJAKAN. DAN BERTINDAKLAH MULAI SAAT INI UNTUK MEWUJUDKANNYA.” Bab III : Kapan Sebaiknya Mengatakan YA? Hits : 1009 PDF Cetak E-mail

12
Pada tahun 1980, 200 rumah pertama di Bintaro Jaya selesai pembangunannya. Proyek ini bersama proyek Jaya Ancol adalah cikal-bakal perkembangan kota-kota baru di Jakarta bahkan di Indonsia. Cerita tentang kota baru Bintaro Jaya adalah sebuah kisah sukses, namun juga sebuah contoh kapan sebaiknya seorang entrepreneur mengatakan “Ya”. Sebagaimana diceritakan oleh Bondan Winarno, proyek ini sebenarnya kurang diperhitungkan banyak pihak. tanah yang menjadi lokasi kota baru itu semula adalah milik patungan antara Metropolitan Development dan Jaya Obayashi. Karena Obayashi di Jepang mengalami banyak masalah di bidang property di Jepang, mereka tidak berniat meneruskan rencana mengembangkan properti di Indonesia. Lahan itu kemudian sepenuhnya dimiliki Metropolitan. Dan karena yang disebut belakangan ini sedang berkonsentrasi pada proyek-proyek pengembangan lain, akhirnya Ciputra mengajukan usul kepada Dewan Direksi Pembangunan Jaya untuk mengambil alih lahan tersebut. Ciputra melalui Pembangunan Jaya menyiapkan rencana mengembangkan apa yang kala itu disebut Kota Satelit Bintaro Jaya. Dan, keputusannya mengatakan “YES, GO”, ternyata berbuah hasil menakjubkan. Keberhasilan Bintaro Jaya kemudian diikuti dengan munculnya kota-kota baru lainnya di Indonesia. Di Grup Jaya beberapa kali ia mengambil keputusan YA/TIDAK dengan tegas. Contoh ketika mengambil alih proyek Ancol yang terbengkalai, direksi lain tidak setuju. Mereka mengatakan proyek ini tidak mungkin berhasil dengan macammacam alasan. Tetapi Ir. Ciputra dengan insting entrepreneur menggunakan haknya sebagai Direktur Utama untuk mengatakan YA. Terbukti kelak proyek ini sukses luar biasa. Berikutnya pada waktu PT Pembangunan Jaya selesai membangun fase pertama proyek Senen seluas 7 hektar dan akan masuk ke fase kedua. Ciptra merasa proyek Senen sangat politis dan tidak komersial lagi, maka meski ditentang oleh direksi yang lain, ia tegas mengatakan NO. Bagaimana Ciputra samapi pada keputusan ya atau tidak? Apa yang dapat dipelajari seorang calon entrepreneur dari hal ini? Jawaban yang klise dan sudah diucapkan oleh banyak orang berulang-ulang adalah ini merupakan bukti dari bekerjanya sebuah visi. Menurut Bondan, visi membangun kota baru sebagai kawasan pemukiman terpadu adalah perwujudan dari cita-cita lama Ciputra untuk melakukan perencanaan yang lengkap dan menyeluruh. Jika real estat berskala kecil membuat pengembang selalu berpindah-pindah lahan yang memecahkan konsentrasi sang pengembang itu sendiri, real estat berskala besar justru memunculkan komitmen berjangka panjang dan pengerahan sumber daya yang besar. Panangian Simanjuntak melihat cerita sukses Ciputra adalah dikarenakan kemampuannya melihat jauh ke depan ketika orang lain belum melihatnya. Itulah yang menurut dia membuat Ciputra disebut entrepreneur yang visioner. Keberanian untuk berbeda tetapi bukan karena hanya ingin berbeda melainkan karena melihat peluang yang tak dilihat orang lain. Wartawan Kompas, Abun Sanda, melihat visinya membawa Ciputra ke posisi yang mirip dengan bunyi iklan mobil BMW, always staying a step ahead, selalu selangkah di depan. Bagaimana untuk bisa selalu selangkah di depan? Dengan membaca pasar. Property, sama seperti banyak bisnis lainnya, menurut Ciputra, mempunyai siklus, siklus naik dan siklus menurun. Ciputra selalu berprinsip masukilah pasar dengan memperhatikan siklus dan jangan justru tergulung oleh siklus. Ketika pasar masih terlihat belum matang, Ciputra justru selalu menjadi yang terdepan menggarapnya seperti yang ia lakukan ketika mengembangkan kota baru Bintaro Jaya. Prinsip ini juga yang masih tetap dijalankan Ciputra hingga sekarang, ketika Grup Ciputra menjalankan ekspansinya ke mancanegara. Salah satu pertimbangan Ciputra mengatakan Ya ketika akan menggarap bisnis baru di satu negara adalah dengan mencermati seberapa maju pembangunan property di negeri itu. Kalau pasarnya belum matang, pembangunan properti belum ramai, Ciputra justru akan masuk. Soalnya dengan demikian pesaing belum banyak. Pada saat yang sama, potensi pengusaha lokal untuk diajak bermitra masih sangat besar. Pertimbangan lain Ciputra untuk mengatakan YA, terutama untuk sebuah bisnis baru di mancanegara adalah mata uang. Sebagai contoh dalam rangka ekspansi, Grup Ciputra mempertimbangkan semua negara tujuan investasi yang potensial di seluruh dunia. RRC, Indic, Vietnam, negara-negara Timur Tengah, bahkan Libia, masuk dalam pertimbangan Ciputra. Ciputra mengakui RRC adalah negara tujuan investasi yang paling baik. Namun, dengan mempertimbangkan nilai uang RRC yang jauh lebih kuat disbanding nilai Rupiah, ia menunda berinvestasi ke sana. “ Kami selalu memilih investasi di mana bisnis property baru mulai berkembang,” kata Ciputra. Dengan demikian biaya investasi tidak terlalu mahal dan persaingan tidak terlalu ketat. Pertimbangan seperti itulah yang akhirnya membuat Ciputra memilih ekspansi ke Vietnam. Selanjutnya Ciputra mengincar Kamboja, sedangkan investasi di India sudah berjalan. Menurut Ciputra, setelah sukses di Asia Timur, dia mempertimbangkan ekspansi ke seluruh Asia. Itulah yang membuat dia kini tertarik mengamati Timur Tengah. “Ada enam negara teluk. Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Yaman, dan Omman. Sekarang saya lebih memilih negara-negara ini sebagai tujuan investasi. Belum terlambat,” katanya. Dalam hemat Ciputra, ekspansi ke mancanegara merupakan salah satu strategi yang menyelamatkan grupnya dari badai krisis tempo hari. “Seandainya kami tidak ekspansi ke luar negeri, kami mungkin sudah lesu,” kata dia. Ciputra ingin Grup Ciputra kelak bergerak ke seluruh dunia. Dala m jangka yang tidak terlalu lama, ia berharap pendapatan Grup Ciputra dari luar negeri dan pasar domestic akan berbagi sama porsi, 50:50. Ada rasionalitas di balik target ini. “Harga di luar negeri tinggi. Walaupun tenaga yang kita masukkan 20%, tetapi sales yang masuk itu sudah 50%. Anda lihat itu? Apalagi di Timur Tengah. Satu proyek di sana sama dengan 10 proyek kita di sini.” Ciputra memang banyak menaruh perhatian pada pasar Timur Tengah. Menurut dia, negara-negara teluk mempunyai hari depan yang baik, karena masyarakat negara-negara itu makin modern. Selain itu Ciputra melihat harga minyak akan terus tinggi, sehingga dolar akan terus melimpah di sana. Dan selama harga minyak tinggi, negara teluk akan menjadi negara yang paling kaya. Menurut dia, 80% itu, setengahnya dating dari negara-negara teluk. Puluhan miliar dolar mengalir setiap tahun ke negara-negara teluk yang moderat. Itulah yang menyebabkan negara-negara ini dalam perkiraan Ciputra akan berkembang luar biasa. Perlunya mempertimbangkan siklus dalam bisnis property adalah juga kiat Ciputra meminimalkan risiko. Siklus properti di berbagai negara berbeda-beda. Ekspansi ke mancanegara dengan mendahului siklus, bagi Ciputra adalah salah satu cara untuk tetap bertahan. Dengan menebar investasi di berbagai negara, Ciputra berharap dapat menghindari gelombang siklus yang mungkin menghan-tamnya. “Kalau kita bertahan di satu tempat, maka kalau ada gelombang krisis dating, kita bisa tergulung oleh gelombang tersebut. Dengan berekspansi ke luar negeri, kita bisa pergi dan meniti gelombang yang lain. Gelombang itu bisa berarti kesempatan, bisa pula krisis. Yang pasti kita tetap berusaha mendahului gelombang tersebut,” kata dia. PRINSIP #5: CERMATLAH MEMBACA PASAR. JADILAH YANG TERDEPAN DALAM MENGANTISIPASI SIKLUS. MASUKILAH PASAR YANG BELUM MATANG. Bab III : Meyakinkan Mitra Hits : 1545 PDF Cetak E-mail Meyakinkan Mitra Dalam upaya meyakinkan mitranya, Ciputra tidak pernah berhenti memikirkan dan menggali manfaat yang bakal didapatkan mitranya itu dari proyek yang akan mereka garap bersama-sama. Nasihat yang lazim dalam negosiasi, sebagaimana dituliskan dalam berbagai buku adalah, “pelajarilah posisi pihak lawan dan cari tahu apa yang mereka inginkan.” Donald Trump, misalnya, mengatakan, “Jika kita mempelajari kepentingan pihak lawan, kita dapat men yusun sebuah transaksi yang

13
dapat memenuhi kepentingan mereka. Jika Anda mendapatkan apa sesungguhnya yang mereka inginkan dan mereka anggap penting, Anda akan dapat memenuhi keinginan mereka.” Ciputra memahami hal ini. Namun, ia melangkah lebih jauh daripada Donald Trump. Bagi Ciputra, memikirkan manfaat yang bakal diperoleh mitra bisnisnya dalam sebuah proyek kerja sama, bukan hanya demi memenangkan perundingan melainkan untuk manfaat yang jauh lebih penting bagi kedua belah pihak, yakni kelanggengan proyek tersebut. Sebab mitra bisnis yang puas adalah rekomendasi yang terbaik untuk mendapatkan mitra bisnis berikutnya. Itulah sesungguhnya yang ia lakukan ketika pertama kali mendekati Pemda DKI Jaya untuk bermitra. Ciputra dating dengan konsep membangun Jakarta Raya sebagai ibu kota negara dengan memanfaatkan lahan yang dimiliki Pemda DKI Jaya. Bahkan dalam akta pendirian PT Pembangunan Jaya, disebutkan bahwa tujuan didirikannya perusahaan itu adalah untuk membantu peremajaan kota serta untuk meningkatkan perolehan pendapatan daerah. Bagaimana para mitranya menyatakan kepuasannya bekerja sama dengan Ciputra di PT Pembangunan Jaya agaknya dapat dibaca dari kesan-kesan sejumlah Gubernur DKI tentang perusahaan itu. Gubernur Soemarno, yang meninggal tahun 1991, dalam perayaan ulang tahunnya ke-75, menulis pesan kepada para Pemda DKI agar PT Pembangunan Jaya sebagai hasil kerja sama nyata antara Pemerintah dan swasta tetap dipertahankan statusnya sebagai swasta 100%. Menurut Soemarno, Pembangunan Jaya “… telah terbukti keberhasilannya dalam rangka pelaksanaan pembangunan di ibukota khususnya dan nasional umumnya.” Ali Sadikin, ketika masih menjabat Gubernur DKI Jaya, juga mengungkapkan kesan senada. “Jaya adalah perusahaan yang bisa saya pakai untuk membangun Jakarta. Oleh karena itu, akan saya bina agar perusahaan ini menjadi perusahaan besar seperti Mitsubishi dan Marubeni. Proyek-proyek Pemerintah Daerah DKI Jaya akan diserahkan kepada PT Pembangunan Jaya.” Surjadi Sudirdja, Gubernur DKI lainnya di masa Pemerintahan Soeharto, juga mengakui hal serupa. “Pimpinan DKI ketika itu (pad a saat pendiriannya. Red) telah dengan tepat menemukan bagaimana caranya memberdayakan Jakarta. Pembangunan Jaya lahir pada masa instabilitas yang dialami bangsa kita pra-1965. Tingkat kemakmuran bangsa kita waktu itu masih rendah. Kelahiran Pembangunan Jaya merupakan hal yang strategis.” Mengenang kemitraan itu, Ciputra sendiri mempunyai kesan yang sangat mendalam. Menurut dia, kemitraan bukan sekadar persoalan memenangkan sebuah perundingan, melainkan pertaruhan reputasi. Ketika Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta, Ciputra menghadap sang Gubernur dan ditanyai apa komitmen Ciputra terhadap proyek-proyek yang digagasnya. Ciputra menjawabnya bukan hanya dengan ucapan tetapi dengan pekerjaan-pekerjaannya. Semua proyek dia kerjakan sampai selesai, bahkan menurut Ciputra 25 tahun waktu terbaik dalam hidupnya ia dedikasikan untuk Grup Pembangunan Jaya. Akibat reputasinya, Bang Ali berterima kasih kepada Ciputra, sama halnya dengan Ciputra berterima kasih kepada semua Gubernur DKI Jakdarta. Walaupun Ciput ra “hanya” kebagian 3% saham di perusahaan itu sebagai imbalan kerja kerasnya, dia lebih melihat manfaat yang lain. “Yang lebih hebat dari 3% itu adalah pengala man dan kepuasan hidup serta rekomendasi untuk bisnis yang saya dapatkan,” katanya mantap. Sekarang sahamnya sudah menjadi 15% karena Ciputra berhasil membeli saham-saham dari pemegang saham lain yang kebetulan dijual oleh ahli warisnya. Tni tentu terjadi karena para mitra percaya padanya. Delapan orang gubernur DKI ia layani selama lebih dari 40 tahun. Dan ditegaskannya, “Saya memakai filosofi bahwa saya adalah kuda dan jokinya adalah para gubernur tersebut. Jika mau dipakai, maka saya harus menjadi kuda yang baik”. Dengan filosofi bahwa saya adalah kuda dan joki nya adalah para gubernur tersebut. Jika mau dipakai, maka saya harus menjadi kuda yang baik”. Dengan filosofi itu Pak Ci tidak mengalami konflik dengan satu gubernur pun. Jika ada perbedaan pandangan, Pak Ci mencoba menahan diri dan bersikap bijak mengusahakan pemahaman bersama. Ia bersyukur bahwa semuanya berakhir dengan baik. Kemitraan semacam inilah yang sekarang sedang ia gumuli dalam rangka mewujudkan Taman Wisata impiannya (Lihat boks Bab1). Setelah melalui pencarian yang lama, dengan penjajakan ke aneka lokasi, akhirnya Ciputra menemukan sebuah alternative lokasi yang ia anggap cocok dengan proyek yang menjadi impiannya itu. Bagaimana Ciputra cara meyakinkan pemilik lahan itu? Jawabannya sama persis dengan langkah yang ia tempuh ketika meyakinkan P emerintah DKI Jakarta. “Saya dating kepada pemilik lahan itu dan saya katakana bahwa saya ingin bekerja sama dengan mereka. Saya ingin mengulang sukses Taman Impian Jaya Ancol dengan strategi berbeda…” “Ketika saya dating kepada Gubernur, saya tunjukkan manfaat Taman Wisata Terpadu bagi daerah,” kata Ciputra. Taman Wisata raksasa itu, dalam visi Ciputra, akan memberikan multimanfaat yang tak berkesudahan. Skalanya yang demikian besar bukan saja menempatkannya sebagai proyek pelopor yang membanggakan daerah sekitarnya, tetapi juga untuk kepentingan negara. Paling sedikit akan dibangun 16 objek wisata di taman itu, dan taman wisata jenis ini akan menjadi yang pertama di dunia. Agar dikunjungi banyak orang dari dalam dan luar negeri, Ciputra terus memikirkan siang dan malam, unsure-unsur apa saja yang harus ada supaya orang benar-benar tertarik untuk dating dan dating kembali. “Saya telah beberapa kali menghadiri World Expo di luar negeri. Tetapi saya berpikir, suatu saat Indonesia juga harus mampu m enyelenggarakan World Expo. Apakah itu World Expo dalam bidang industri, teknologi, bidang flora dan fauna, bidang kelautan, kita harus yakin kita dapat melakukannya. Nah, di Taman Wisata itu saya juga akan membangun arena yang mampu menyelenggarakan World Expo”, paparnya antusias. Dengan mengemukakan ini, Ciputra sekali lagi menunjukkan cara seorang entrepreneur meyakinkan mitranya tentang manfaat yang bakal didapat-kannya dari sebuah proyek kerja sama. Para calon entrepreneur barangkali dapat memetik pelajaran ini. Apa pun bisnis yang akan Anda geluti, langsung atau tidak, secara formal maupun tidak resmi, sesungguhnya Anda harus menjalin kemitraan. Entah itu dengan rekan bisnis, dengan pemasok, dengan kreditor, bahkan dengan pelanggan. Kemitraan adalah bagian dari bisnis dan pelajaran dari Ciputra menunjukkan kemitraan itu harus dijalin Dengan mengutamakan manfaat kepada kedua belah pihak dan dilaksanakan dengan komitmen penuh. PRINSIP #4: YAKINKANLAH MITRA BISNIS ANDA DENGAN MEMBERIKAN MANFAAT NYATA, BUKAN JANJI-JANJI. DAN SELALULAH MENJAGA KOMITMEN UNTUK MEMBRIKAN MANFAAT BAGI KEDUA BELAH PIHAK AGAR REPUTASI TERJAGA DAN HUBUNGAN BISA LANGGENG. Bab III : Mencari Mitra Bisnis Hits : 3129 PDF Cetak E-mail “Mencari mitra bisnis tak ubahnya seperti mencari istri.” Ini adalah jawaban yang tampaknya sangat disukai Ciputra ketika ditanyakan bagaimana cara mencari mitra bisnis. Mitra bisnis yang tepat akan menentukan kelanggengan sebuah hubungan kemitraan. Dan, mitra bisnis bagi Ciputra, pada mulanya tak pernah dating sendiri. Baru setelah menjadi terkenal kemudian ada juga yang dating sendiri ingin bermitra dengan kita. Pada pokoknya, mitra bisnis adalah sesuatu yang harus dicari dan ditemukan, sama seperti seseorang yang ingin mencari jodoh. Salah satu contoh keseriusan Ciputra dalam mencari mitra bisnis adalah dalam upayanya mengembangkan bisnis Grup Ciputra di luar negeri. Menurut dia, langkah pertama yang selalu ia lakukan adalah mencari koneksi. Setidaknya ada empat jalur yang ia gunakan dalam pencarian itu, secara formal maupun nonformal. Pertama, melalui jalur professional, yakni melalui agen-agen real estate di negara yang akan dituju. Kedua, melalui individu atau relasi bisnis di negara bersangkutan. Ketiga, melalui Kedutaan Besar negara dimaksud di Indonesia. Dan, keempat, melalui perwakilan Pemerintah Indonesia di sana. Semua jalur dicoba.

14
Dalam upaya mengembangkan bisnis ke negara-negara teluk, dirinya dan sejumlah staf telah menjajaki berbagai kemungkinan menjalin kemitraan dengan pebisnis di sana. Ada tiga golongan yang potensial menjadi mitra bisnis di negara-negara Arab, sebagaimana ia mengutip nasihat Trump. Pertama, adalah Raja; kedua adalah Syekh yang punya hubungan dengan Pemerintah; dan ketiga, Syekh yang menjadi pengusaha. Sama seperti ia mengharuskan dirinya menelihara reputasi dalam menjalin kemitraan, Ciputra menempatkan integritas sebagai criteria tertinggi dalam memilih rekan berbisnis. Itu pula yang menyebabkan acapkali beberapa langkah pengembangan bisnisnya di luar negeri memakan waktu yang relatif panjang. Di Vietnam, misalnya, setelah dua tahun proses penjajakan, barulah peletakan batu pertama sebuah proyek kota baru yang digarapnya dapat terlaksana. Sebagai seorang entrepreneur yang sama-sama menggeluti bidang properti,Ciputra mencatat pendapat Donald Trump dalam menilai calon mitra bisnis. Donald Trump pernah berkata, “Apa yang Anda lakukan ketika Anda berhubungan dengan mitra bisnis yang menurut Anda tidak dapat diperc aya? Hentikan saja. Suatu rasa percaya tidak dapat dan tidak akan pernah dapat dibangun ulang. Tidak pernah. Walaupun mitra bisnis Anda berjanji tidak akan melakukannya kembali, namun ketika suatu rasa percaya Anda itu dilanggar, hal itu tak akan pernah dapat dikoreksi. Sama seperti seorang suami yang mencurangi istrinya, lalu kemudian mengatakan, ‘saya tidak akan melakukannya lagi,’ maka adalah aneh bila si istri masih dapat memercayainya.” Ciputra menyetujui sebagian besar nasihat Trump itu, kecuali satu hal: Trump lahir dan dibesarkan di negara maju di mana berbagai ketidak-pastian dapat dieliminasi dalam menilai integritas seseorang. Namun, di negara-negara sedang berkembang, Ciputra berpendapat bahwa meneliti integritas seorang mitra bisnis membutuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Pengalaman Ciputra menunjukkan tak sekali dua kunjungannya ke luar negeri harus diperpanjang waktunya karena ketidaksiapan calon mitranya untuk berunding. Bahkan kadang kala ia sudah jauh-jauh dating dari Indonesia ke suatu negara, tetapi janji untuk berunding tiba-tiba dibatalkan. Dalam hal ini, Ciputra menekankan arti pentingnya ketabahan bagi seorang entrepreneur dalam mencari partner yang benar-benar tepat. “ Kita harus sabar, dan mencoba memahami, misalnya mengapa calon mitra kita lambat memberi respons. Apakah ia mungkin sibuk? Apakah peraturan yang belum ada sehingga menghalanginya untuk membuat kesepakatan?” kata Ciputra. Ciputra menyadari dalam upaya menjalin kemitraan selalu ada godaan untuk menyelesaikannya dengan cepat dan “menaklukkan” lawan dengan mudah. Namun ia sendiri tidak pernah melayani godaan semacam itu. Ciputra berprinsip menjalankan bisnis dan juga kemitraan bukan pekerjaan instan seketika. Ia perlu waktu dan kerendahan hati. “Kalau Anda yang membutuhkan, Anda yang harus merendahkan diri. Walaupun Anda pengusaha besar, kalau Anda yang butuh, harus Anda yang merendahkan diri. Sebaliknya, jika Anda dibutuhkan, jangan sombong. Suatu waktu Anda mungkin akan membutuhkan dia.” Menurut Ciputra seorang entrepreneur tidak boleh melupakan orang yang pernah membantu dirinya atau punorang yang pernah menjadi sahabatnya. Sekali Anda melupakan orang yang pernah menolong Anda, atau dia yang menjadi sahabat Anda, ia dapat amat dendam. Atau, dia menganggap Anda melupakannya. Maka seorang musuh telah tercipta, padahal bagi seorang entrepreneur, menurut Ciputra, satu musuh terlalu banyak, 1000 teman masih kurang. Salah seorang yang ia tetap kenang akan jasa dan pengaruh yang pernah diberikan adalah Bang Ali, mantan Gubernur DKI Jakarta. PRINSIP #3: MENCARI MITRA BISNIS SEPERTI MENCARI ISTRI. TAK PERLU TERGESA-GESA, NAMUN GUNAKAN SEMUA JALUR YANG MUNGKIN UNTUK MEMPEROLEH INFORMASI SELUAS-LUASNYA. JIKA MASIH RAGU, BERSABARLAH; JIKA ANDA YANG PERLU, RENDAH HATILAH. TETAPLAH MEMPERJELAS KRITERIA DARI MITRA BISNIS YANG KITA CARI. Bab III : Dari Mana Memulai Bisnis? Hits : 3128 PDF Cetak E-mail Di tahun ketiga kuliahnya di ITB, Ciputra mulai merintis langkah menjadi entrepreneur. Motifnya sangat biasa, sebagaimana motif yang juga pernah kita dengar dari entrepreneur lain: ingin menutupi biaya kuliah yang tidak lagi mampu disediakan oleh ibunya. Bagi dia, pilihan bisnis tidak banyak yang tersedia kala itu. Satu-satunya yang dapat ia andalkan adalah pengetahuan, pengalaman, dan kawan-kawannya. Pada awalnya ia bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan konsultan namun semangat entrepreneurnya berkobar terus sehingga kemudian bersama Budi Brasali dan Ismael Sofyan ia bersepakat membuka perusahaan konsultan Biro Arsitek Daya Cipta yang masih ada sampai sekarang dengan nama PT Perentjana Djaja. Pengalaman berbisnis sebenarnya tidak banyak tetapi ia sudah mengenal dunia dagang ketika ikut membantu ibunya di tempat kelahirannya. Hingga kini, PT Perentjana Djaja masih beroperasi dan dapat dikatakan perusahaan ini pembuka jalan bagi langkah-langkah entrepreneurship Ciputra selanjutnya. Jika kita bertanya dari mana seharusnya memulai bisnis, maka pengalaman Ciputra memberikan jawaban yang sederhana: mulailah dari apa yang ada pada diri kita; mulailah dari apa yang bisa kita lakukan. Coba sadari pengetahuan apa yang kita miliki, atau keahlian apa yang sesungguhnya bisa dijadikan pijakan awal, dan adakah kawan-kawan yang bisa diajak ikut berbisnis? Kelihatannya mengatakan hal ini memang sangat mudah. Namun sesungguhnya dibutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan. Ketika pertama kali memutuskan untuk menjadi entrepreneur, Ciputra pun pernah mengaku kalau ia sempat ragu-ragu. Bahwa Ciputra dapat mengatasi keraguan itu, menurut dia sendiri, adalah karena kepercayaan dirinya yang besar. Dari mana asal mula rasa percaya diri yang besar itu? Jika kita meminjam teori Roymond W.Y. Kao, rasa percaya diri tumbuh bersama pengalaman-pengalaman sukses dalam berbagai skala. Misalnya, orang menjadi lebih percaya diri ketika ia berhasil naik kelas, berhasil masuk kelompok lima besar, berhasil masuk ke sekolah atau perguruan tinggi terkemuka, berhasil menjadi juara tertentu dalam bidang kesenian, olahraga, atau lomba-lomba lainya, dan sebagainya. Semakin banyak pengalaman berhasilnya, maka semakin mudah membentuk kepercayaan diri seseorang. Pengalaman berhasil membuat orang terdorong untuk mencari tantangan yang lebih besar, mencoba untuk menguji diri sendiri, mencari tahu batas-batas kemampuannya sendiri. Bahwa motif awal usaha Ciputra adalah untuk mampu membiayai diri sendiri menunjukkan bahwa suatu bisnis bisa dimulai dengan alasan-alasan yang sangat pragmatis dan sederhana. Dalam hal ini Ciputra tidak sendirian. Bill Hewlett dan Dave Packard, pendiri Hewlett Packard(HP),perusahaan yang usianya kini sudah menginjak tahun ke-67, menunjukkan hal yang mirip. HP yang dalam buku laris karya James C. Collins dan Kerry I Porras berjudul Built to Last, Successful Habits of Visionary Companies [1994] dianggap sebagai salah satu perusahaan visioner di dunia, ternyata didirikan oleh orang-orang yang memulai bisnis dengan alasan yang sangat sederhana. Beginilah Hewlett dan Packard menceritakannya. “Ketika pada suatu saat saya berbicara dengan orang-orang di sekolah bisnis, professor manajemen merasa terkejut ketika saya mengatakan bahwa saya tidak mempunyai rencana ketika usaha kami dimulai-kami hanyalah orang-orang yang oportunistik. Kami melakukan apa saja yang akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Kami pernah membuat sebuah penanda pelanggaran pada permainan bowling, memodifikasi sebuah jam untuk menggerakkan teleskop, suatu alat tempat kencing yang dapat memancarkan air secara otomatis, dan sebuah mesin penggetar yang mampu menurunkan berat badan. Itulah keadaan kami pada saat itu, dengan modal US$500, mencoba memproduksi apa saja yang dibuat orang yang mungkin bisa kami buat.” Adakalanya calon entrepreneur dikacaukan oleh dua hal yang seolah-olah bertentangan. Di satu sisi seorang entrepreneur seperti Ciputra sering digambarkan sebagai entrepreneur yang mengawali langkahnya dengan mimpi, cita-cita, atau visi yang besar. Di sisi lain, langkah-langkah awal yang diambilnya justru terkesan

15
sangat biasa, tidak sebanding dengan visi yang luar biasa itu. Sebagian besar mimpi Ciputra yang kemudian mewujud dalam karya-karyanya, adalah tentang membangun proyek-proyek berskala raksasa, mulai dari taman rekreasi terbesar hingga kota-kota baru yang fenomenal. Tetapi jika kita amati langkah awalnya memulai bisnis, ternyata ia tak berbeda dengan entrepreneur lain yang memulainya dari alasan-alasan yang sangat sederhana, semisal untuk menutup biaya kuliah. Lalu, apa sebenarnya yang membedakan seorang entrepreneur sejati dan entrepreneur biasa-biasa saja? Apa yang dapat jadi pelajaran bagi para calon entrepreneur dalam hal ini? Barangkali di sini lah kembali visi besar itu berbicara. Seorang entrepreneur sejati mengambil langkah-langkah kecil di awal perjalanannya, tetapi dengan selalu dalam kerangka mewujudkan mimpi yang menjelma menjadi visi. Ini pula yang menurut Rhenald Khasali, penulis buku Change [2005] membedakan mimpi seorang entrepreneur sejati dengan mimpi seorang seniman amatiran. Seorang entrepreneur sejati, dalam hemat Rhenald, segera bangkit dari mimpi-mimpi dan bertindak tanpa berharap akan datangnya mukjizat begitu saja. Sedangkan seniman amatir hanya akan bermimpi tanpa bertindak. Mimpi seorang entrepreneur berorientasi pada tindakan, sekecil apa pun itu. Sedangkan mimpi seorang mediocre tinggal sebagai mimpi belaka. Ciputra mempunyai cara sendiri menggambarkan Dream Big, Start Small. Katanya, “Membangun sebuah perusahaan adalah b agaikan membangun sebuah air terjun artifisial. Satu per satu bungkah batu-batu besar kita letakkan. Dengan cermat kita atur dan kita seimbangkan peletakannya, sehingga kekuatan alam kemudian menciptakan alur air yang estetis menuju ke satu titik pelimbahan,” *Bondan Winarno, 1996+. Keputusan Ciputra untuk mendirikan konsultan perencanaan Biro Daja Cipta—kemudian menjadi PT Perentjana Daja Cipta -- ketika masih kuliah, hanyalah salah satu bungkah batu yang kemudian menopang visi besarnya membangun pencapaian-pencapaian besar lainnya dalam perjalanannya sebagai entrepreneur. Visinya terus memandunya sehingga ketika di tengah perjalanan bersama Biro Daja Cipta, ia memutuskan bungkah batu lainnya. Dan itulah keputusan penting berikutnya, yakni menyerahkan pengelolaan perusahaan itu kepada kawannya dan ia memutuskan menjadi pengembang [developer]. Visi dan keberaniannya memasuki dunia bisnis lewat Biro Daja Cipta telah memberi pelajaran baginya, bahwa jika ia tetap bertahan dengan perusahaan konsultannya, gerak langkahnya kurang leluasa karena seorang konsultan biasanya menunggu pekerjaan sedangkan dengan menjadi seorang pengembang ia bisa aktif menciptakan pekerjaan. Maka Pak Ci memutuskan menerjuni bisnis properti. PRINSIP #1: MULAILAH DARI APA YANG ADA PADA DIRI KITA; MULAILAH DARI APA YANG BISA KITA LAKUKAN. COBA SADARI PENGETAHUAN APA YANG KITA MILIKI, ATAU KEAHLIAN APA YANG SESUNGGUHNYA BISA DIJADIKAN PIJAKAN AWAL, DAN ADAKAH KAWAN-KAWAN YANG BISA DIAJIAK IKUT BERBISNIS ? MULAILAH DARI LANGKAH-LANGKAH KECIL, SAMBIL MERAJUT VISI DAN MIMPI BESAR BERIKUTNYA. Bab III : Sepuluh Keputusan Bersejarah Hits : 3143 PDF Cetak E-mail Sejumlah ahli manajemen mengatakan bahwa manusia dewasa rata-rata membuat 300 keputusan per hari, dari yang sepele sampai yang penting dan menentukan hidup mereka. Artinya, setiap tahun orang dewasa—anggap saja usia 18 tahun ke atas—membuat sekitar 109.500 keputusan dalam hidupnya. Jika asumsi di atas diterapkan dalam kehidupan Ciputra yang telah melewati usia 74 tahun, maka patut diduga Pak Ci telah membuat lebih dari 6.132.000 keputusan. Jumlah keputusan yang luar biasa banyak dan karenanya tentu sulit diingat. Namun, pada kenyataannya, Ciputra menganggap hanya ada sepuluh keputusan yang sangat menentukan dan bersifat historis sehingga dia dikenal orang seperti sekarang ini. Hanya ada sepuluh keputusan fundamental yang membuatnya disebutsebut sebagai pelopor dan innovator dalam industri property, juga pengusaha yang tahan banting lintas generasi di panggung bisnis di tanah Air. [Sambil membaca keputusan-keputusan penting yang diambil Ciputra, baik juga bila kita menelaah kembali keputusan-keputusan penting macam apa yang pernah kita ambil dan membuat kita berada pada keadaan kita yang sekarang’. Keputusan historis pertama adalah mengejar ilmu pengetahuan sampai ke Pulau Jawa. Keputusan ini dibuat ketika ia masih menjelang remaja, berusia 12 tahun. Karena kepahitan hidup di masa kecil, dan kehilangan ayah yang meninggal di tahanan tentara pendudukan Jepang, Ciputra bertekad untuk kembali ke sekolah. Ia memutuskan menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi, belajar dengan sungguh-sungguh untuk menjadi yang terbaik. Prestasinya di sekolah menengah memantapkan hatinya untuk tidak ragu harus merantau jauh dari Sulawesi sampai ke Pulau Jawa, guna memasuki perguruan tinggi yang berkualitas. Pada masa sekolah menengah itu juga ia memutuskan untuk dibaptis menjadi seorang Kristen. Inilah hal-hal yang kemudian membawa Ciputra sampai ke Institut Teknologi Bandung (ITB), perguruan tinggi teknik paling bergengsi di Indonesia pada masa itu, dan mungkin juga masih yang terbaik hingga saat ini. Keputusan histories kedua adalah menikahi Dian Sumeler dan sebagai konsekuensinya Ciputra harus bekerja sambil kuliah untuk menopang keluarga. Mereka menikah di Bandung tahun 1954, saat Ciputra berusia 23 tahun dan masih kuliah di ITB. Dari pernikahan ini lahirlah empat orang anak, yakni Rina Ciputra, Junita Ciputra, Candra Ciputra, dan Cakra Ciputra. Inilah cikal-bakal pendiri Grup Ciputra. Keputusan historis ketiga adalah mendirikan usaha biro konsultan Daja Cipta yang kemudian menjadi PT Perentjana Djaja. Ini dilakukan Ciputra ketika masih kuliah di tingkat tiga ITB, bersama dua orang temannya, Budi Brasali dan Ismail Sofyan. Ia mendirikan usaha ini dengan meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai karyawan dan keputusan ini sekaligus mempersiapkan wadah bisnis masa depan. Jadi, dengan dorongan untuk bertahan hidup, ia memulai suatu usaha yang ternyata kelak membawanya ke kancah bisnis dalam skala yang luar biasa. Keputusan historis keempat diambilnya tahun 1960. Pada tahun tersebut Ciputra memutuskan menjadi pengembang [developer]dan menyerahkan pengelolaan perusahaan konsultan perencanaan kepada dua orang rekannya. Sebagai arsitek muda berusia 31 tahun dan dan baru tamat, ia berhasil meyakinkan Soemarno Sosroatmodjo, Gubernur Jakarta kala itu, untuk mendirikan sebuah perusahaan patungan dalam bidang property antara dirinya dan pihak lain, termasuk Hasyim Ning [Dasaat], yaitu PT Pembangunan Jaya. Maka dibangunlah Proyek Pasar Senen. Lima tahun berikutnya ia berhasil meyakinkan Gubernur Ali Sadikin untukmendirikan PT Pembangunan Jaya Ancol yang merupakan usaha patungan antara PT Pembangunan Jaya dengan Pemda DKI. Sampai saat ini Ciputra sangat mengagumi Gubernur Ali Sadikin, ia banyak belajar dari tokoh public ini yang bagi pribadi Ciputra Gubernur Ali Sadikin adalah contoh pemimpin yang memiliki visi jauh kedepan, tegas dan berani. Selama 35 tahun kemudian, Ciputra menjadi Chief Executive Officer [CEO] perusahaan ini dengan prestasi yang membanggakan. Kedua perusahaan tersebut adalah contoh dari sangt sedikit perusahaan yang dimiliki Pemda DKI yang mencapai perkembangan luar biasa, baik dalam aset maupun pertumbuhan pendapatan. Ciputra meninggalkan Pembangunan Jaya dalam keadaan sehat sekali, bahkan terus berkembang di tangan kader-kader profesional dan sistem manajemen yang terbukti langgeng hingga kini. Keputusan historis kelima adalah ketika Ciputra bersama-sama dengan beberapa temannya di PT Perendjana Djaja; Budi Brasali, dan Ismail Sofyan, ditambah teman lainnya, Sukrisman dan Secakusuma, mendirikan Grup Metropolitan Development. Perusahaan ini menjadi salah satu grup bisnis property terkemuka yang sukses membangun Wisma Metropolitan, Wisma WTC, Hotel Horizon, Metropolitan Mal, Pondok Indah, Puri Indah, dan lain-lain. Keputusan ini meningkatkan skala bisnis dengan kerja sama yang diperluas. Sampai sekarang, Ciputra masih menjadi presiden komisaris di kelompok usaha ini. Keputusan historis keenam adalah pada usia 50 tahun (1981) ia mendirikan Grup Bisnis Ciputra, sebuah grup bisnis yang ia dirikan bersama istri dan empat orang anaknya yang baru tamat dari luar negeri. Melalui grup ini, pengembangan bisnis terfokus pada bidang properti dan melakukan pengembangan pasar ke kota-kota besar di luar Jawa. Pengembangan pasar itu lebih difokuskan pula pada membangun kota-kota baru dan proyek-proyek komersial.

16
Keputusan histories kedelapan adalah keputusan untuk memercayai campur tangan Tuhan terhadap masa depan bisnisnya. Ia memulai sebah hidup baru dalam kehidupan iman Kristennya. Keputusan yang diambil pada saat Indonesia dihantam krisis ekonomi tahun 1998 silam itu membuat Ciputra dengan tegar menghadapi proses restrukturisasi utang-piutangnya. Ketika sejumlah konglomerat memilih untuk pindah ke luar negeri, Ciputra memutuskan tetap tinggal di Indonesia. Ia menunjukkan integritas pribadinya ketika menghadapi badai-badai kehidupan yang luar biasa. Keputusan histories kesembilan adalah mengem-bangkan pelayanan sosial dalam bidang pendidikan dengan mendirikan sejumlah sekolah dari tingkat dasar hingga universitas. Keputusan histories kesepuluh adalah memilih strategi untuk focus pada bisnis properti dan mengarahkan Grup Ciputra menjadi multi national corporation [MNC]. Strategi konglomerasi yang memasuki aneka ragam bidang bisnis digantikan dengan fokus hanya pada bisnis properti, tetapi meluas ke berbagai negara. Pengembangan pasar properti dilakukan ke mancanegara, meski lokasi kantor pusat operasi tetap di Indonesia. Grup Ciputra sudah lebih dari 10 tahun membuka usaha di Vietnam dan tahun 2004 lalu mulai membuka bisnis di India juga. Dalam waktu dekat, Kamboja, Cina, dan Timur Tengah menjadi lahan pengembangan usaha berikutnya. Strategi yang akan ditempuh adalah bekerja sama dengan pemilik tanah, memanfaatkan kekuatan brand Ciputra, sehingga perusahaan mendapatkan fee dari brand value dan technical expertise. Sepuluh keputusan bersejarah di atas menjadi pijakan yang kokoh bagi kiprah Ciputra selanjutnya. Dan tentu saja semua tidak berlangsung mulus begitu saja. Ada banyak masalah dan tantangan yang harus dilewati agar kelompok bisnis yang didirikannya tetap langgeng. Seperti Bill “ Microsoft” Gates yang pernah—dalam satu hari—kehilangan 1,76 miliar dolar dan keluarga Walton, pemilik Wal Mart, yang pernah mengalami kerugian 1,64 miliar dolar ketika saham-saham mereka menyusut secara tiba-tiba dalam perdagangan bursa saham di awal millennium baru lalu, demikian juga Ciputra pernah melewati masa-masa kelam yang sangat mencekam. Semua bisnis yang dibangunnya puluhan tahun dipertaruhkan ketika krisis ekonomi mendera Indonesia di tahun 1997. Pada tahun-tahun yang kelam itu, hamper tak ada konglomerat di negeri ini yang bisa tidur nyenyak. Sebagian konglomerat malah kabur ke mancanegara, dan sebagian lagi dikejar sebagai tersangka oleh aparat negara. Meski bisnis Ciputra juga mengalami goncangan luar biasa, terutama karena utang-utangnya saat itu, namun ia akhirnya berhasil bangkit. Ia merupakan satu dari hanya sedikit taipan Indonesia yang berhasil merestrukturisasi pinjaman kelompok bisnisnya tanpa banyak memunculkan kontroversi, apalagi menarik perhatian media. Sebagaimana pernah diulas oleh sebuah majalah eksekutif yang terbit di Jakarta, pada tahun 2004, tujuh tahun setelah krisis moneter 1997, ketiga kelompok bisnis yang ia dirikan--Pembangunan Jaya, Metropolitan, dan Grup Ciputra – sudah mencapai nilai omzet tiga kali omzet sebelum krisis. Dalam 1-2 tahun lagi ia harapkan omzet ketiga grup itu sudah mencapai RP 10 triliun dan terus berkembang. Banyak pujian ditujukan kepadanya dalam bentuk penyematan secara resmi maupun tak resmi berbagai predikat. Sekali waktu ia disebut sebagai seorang entrepreneur yang visinoer. Kala lain disanjung sebagai pelopor dan inovator. Semua itu mengacu pada satu keunggulan Ciputra, yakni keahliannya dalam memilih dan menggarap bisnis-bisnis baru. Banyak proyek yang ditanganinya adalah proyek yang sebelumnya masih asing, bukan hanya di lokasi tempat proyek itu berada, tetapi juga di industrinya. Ketika ia mulai membangun proyek Taman Impian Jaya Ancol, misalnya, orang bahkan tak pernah membayangkan kawasan yang disebut sebagai tempat jin buang anak itu akan dapat berkembang sedemikian rupa. Tetapi Ciputra telah membayangkannya sebagai pantai emas. Lalu kepeloporannya membangun kota-kota baru mengukuhkan dirinya sebagai entrepreneur yang tak pernah berhenti mendaki puncak pencapaian. Ia bukan hanya memanfaatkan peluang, tetapi juga menciptakan peluang-peluang bisnis baru. Kawasan Bintaro yang merupakan salah satu kota baru hasil ciptaannya, semula bahkan tak dianggap istimewa oleh berbagai pihak, termasuk oleh Obayashi, perusahaan Jepan yang pada awalnya menjadi pemilik lahan di kawasan itu. Ciputra berhasil mengembangkannya. Bintaro menjadi cikal-bakal tumbuhnya kota-kota baru di Indonesia. Agaknya tak akan pernah ada yang dapat secara sempurna menggambarkan kepiawaian Ciputra menciptakan bisnis-bisnis baru, karena Ciputra sendiri kerap kali tak berminat lagi berbicara tentang apa yang telah ia lakukan mengingat demikian banyaknya karya-karyanya. “ Don’t ask me about the past, let’s talk about tomorrow.” Katanya tiap kali, seperti menirukan syair lagu. Namun sebagai sebuah sketsa, beberapa catatan berikut tampaknya dapat memberi gambaran kiprahnya. Sampai tahun 2005, ia telah membangun 22 kota baru di dalam dan luar negeri, dengan luas puluhan ribu hektar. Sejauh ini tidak mudah menemukan orang yang pernah membangun lebih banyak kota dibandingkan Ciputra yang bahkan masih terus ingin membangun kota-kota berikutnya. Jika dirinci, apa yang ada dalam lingkaran jejaring bisnis Ciputra mencakup antara lain:

Ratusan ribu unit rumah Jutaan meter persegi pusat-pusat pembelanjaan Ratusan ribu meter persegi ruang perkantoran Ribuan kamar hotel Ratusan hektar fasilitas rekreasi

Begitulah, selama lebih dari 40 tahun sejak ia mendirikan Grup Jaya, Grup Metropolitan, dan Grup Ciputra, pencapaiannya terus dan masih terus bertambah. Ketiga Grup ini saja telah membangun 22 proyek kota-kota baru di dalam dan di luar negeri dengan keseluruhan luas perencanaan mencapai puluhan ribu hektar. Dalam kurun waktu itu pula setiap dua tahun grup ini menghasilkan satu proyek perumahan, tidak termasuk proyek-proyek komersial seperti mal dan hotel. Ke depan Grup Ciputra sedang meningkatkan derap majunya yaitu dengan mematok target dua proyek kota baru setiap tahun disamping proyek-proyek komersial lainnya. Sebagian kota baru itu dimulai oleh pengembang lain, dank arena mengalami berbagai macam kesulitan akhirnya mandek dan ditawarkan untuk diselamatkan oleh Ciputra. Cerita tentang Ciputra sebagai entrepreneur pencipta bisnis-bisnis baru tentu akan membawa kita kepada pertanyaan, jika seorang Ciputra dapat mencapai semua itu, dari manakah seorang calon entrepreneur yang ingin seperti dia dapat memulainya? Apakah ada yang dapat dipetik dari pengalaman Ciputra dalam hal ini? Bab ini akan mencoba menjawabnya. Bab III : Memulai Bisnis Baru: Sepuluh Prinsip Bisnis Ciputra Hits : 7712 PDF Cetak E-mail “Entrepreneurship” , kata Raymond W.Y. Kao *1995+, “…adalah proses melakukan sesuatu yang baru *kreatif+ dan sesuatu yang berb eda [inovatif] dengan tujuan menciptakan kesejahteraan untuk individu dan memberi nilai tambah bagi masyarakat.” Dengan demikian, seorang entrepreneur dipahami sebagai “ a person who undertakes a wealth-creating and value-adding process, through incubating ideas, assembling resources and making things happen”. Sosok Ciputra sangatlah cocok dengan definisi Kao tersebut. Sebagaimana telah kita pelajari sebelumnya, Ciputra melakukan baik hal yang kreatif [baru], maupun halhal yang inovatif [berbeda], sehingga karya-karyanya diterima dan dinikmati oleh masyarakat luas. Kita belajar bagaimana ia dengan mudah terinspirasi dan termotivasi oleh apa yang dilihatnya-terutama perjalanannya di mancanegara—lalu membangun impian dan visi yang kuat, ditambah tekad membaja untuk mewujudkan keinginannya, dengan memanfaatkan segala sumberdaya, pengetahuan, bakat, dan pengalaman yang menunjang. Kita juga telah mempelajari bagaimana menggali ide-ide bisnis, dengan berkaca pada pengalaman Ciputra yang tak pernah kehabisan ide selama lebih dari empat dasawarsa berkarya. Itu semua dimulai dari visi yang menjadi suluh penerang dalam menggali ide-ide bisnis, yang datang atau terciptanya dimungkinkan lewat

17
berbagai saluran. Apakah itu inspirasi, secara kebetulan atau bahkan dari eksperimen yang gagal, pengenalan dan pemahaman akan kebutuhan konsumen mau pun lewat teknik-teknik formal ilmiah. Semuanya mengerucut pada satu hal, yakni ide-ide bisnis yang kreatif, yang menjadikan praktik-praktik terbaik di berbagai bidang sebagai batu penjurunya untuk menghasilkan ide-ide bisnis yang inovatif dan lebih bernilai lagi. Sekarang, untuk siapa saja yang berminat menjadi entrepreneur, yang hasratnya sudah membara untuk memulai, menciptakan dan menggarap bisnis baru, apa yang masih bisa kita pelajari dari seorang Ciputra? Mungkin ini: kita bisa belajar dari keputusan-keputusan bersejarah yang diambil oleh Ciputra, yang membawanya kepada keadaannya yang sekarang; dan kita bisa menarik hikmah dari sepuluh prinsip bisnis yang dipraktikkan Ciputra selama lebih 40 tahun berkarya. Epilog : Day by Day with a Successful Entrepreneur Hits : 1200 PDF Cetak E-mail Di awal penulisan buku ini, kami berangkat dari konsep yang sederhana. Yakni, merekam pemikiran dan pengalaman Ciputra sebagai entrepreneur, memadankannya dengan pemikiran tentang entrepreneurship dari berbagai tokoh, pakar, dan referensi lainnya, kemudian menyusunnya kembali dalam alur yang lebih sistematis sehingga memudahkan para calon entrepreneur-yang kami harapkan menjadi pembaca utama buku ini—menangkapnya. Konsep ini membuat kami sejak awal membatasi diri untuk hanya mencatat dan menganalisis pemikiran dan pengalaman Ciputra dalam berbisnis. Kami berusaha untuk tidak melibatkan pengamatan dan analisis terhadap hal-hal yang bersifat human interest dari Pak Ci. Namun, di pertengahan pengerjaan buku ini, kami mendapati banyak hal yang menarik dari pribadi seorang Ciputra, yang turut—atau bahkan menjadi dominant— menyumbang karakternya sebagai entrepreneur tangguh. Hal itu kami sadari terutama setelah kami beberapa kali berbincang dengan eksekutif dan stafnya, yang menceritakan tentang berbagai hal yang jarang diungkap orang tentang Ciputra. Ketertarikan kami terhadap berbagai aspek pribadi Ciputra juga makin besar setelah beberapa kali melakukan wawancara dengan dia, baik di kantor maupun di rumahnya. Kami juga berkesempatan mengikuti aktivitas Ciputra secara dekat, day by day, dalam sebuah perjalanan bisnis ke kota Manado selama tiga hari. Kami berpendapat, aneka hal yang bersifat human interest dari Pak Ci terlalu berharga untuk dibuang karena ternyata semua itu memberi pengaruh penting bagi langkah Pak Ci dalam membangun bisnisnya, baik dahulu maupun sekarang. Lagipula, sebagaimana biasanya mengenai human interest tokoh yang populer, aspekaspek semacam ini dalam diri Pak Ci juga mempunyai daya tarik tinggi yang kami duga sangat diminati para pembaca. Itulah yang mendorong kami menyajikan epilog ini. Sebenarnya, ada alasan lain yang lebih mendasar. Selain untuk mendudukkan pemikiran dan diri Pak Ci lebih utuh, bagian ini juga kami maksudkan menjadi pertanggungjawaban kami untuk men-disclose penilaian subjektif kami atas Pak Ci, sebuah posisi yang sering dimintakan dari para penulis buku mengenai seorang tokoh. Bab III : Selamat Berjuang, Jangan Lihat ke Belakang Hits : 1172 PDF Cetak E-mail Jumat, 14 Oktober 2011 20:10 Dalam kitab Perjanjian Lama dikisahkan tentang Lot dan istrinya, yang harus meninggalkan Sodom dan Gomorah setelah kota itu dikutuk Tuhan dengan cara membakarnya. Tuhan berkata kepada Lot agar mereka meninggalkan kota itu, berjalan terus dan tidak boleh menoleh ke belakang. Namun dikisahkan kemudian, karena tak dapat merelakan kejayaan masa lalu , sang istri mengabaikan larangan itu. Ia menoleh ke belakang. Dan, jadilah tubuhnya membeku menjadi patung. Kisah ini sengaja kami petik untuk menekankan sebuah keyakinan Ciputra bahwa sekali seorang entrepreneur memutuskan membuka bisnis baru, ia tak boleh berpikir gagal. Sekali sebuah langkah diambil, tidak ada alasan untuk berpikir mundur lagi. Pikiran seorang entrepreneur, menurut Ciputra, harus tertuju pada keberhasilan. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana menjadikan tantangan dapat ditaklukkan dengan berbagai ikhtiar untuk satu hasil yang membanggakan. Kata-kata dan pikiran memiliki kekuatan/kuasa, sebab itu ucapkan kata-kata yang optimis kepada mitra kerja dan mitra bisnis kita. Bagi Ciputra, apa yang mendominasi pikiran seorang entrepreneur, itu pula yang akan menjadi kenyataan. Jika seorang entrepreneur meluangkan banyak waktu untuk berpikir tentang kemungkinan gagal, maka itu pula yang bakal terjadi. Sebaliknya, jika seorang entrepreneur memikirkan dan yakin akan berhasil, keberhasilanlah yang akan ia dapatkan. Berpikir optimistis, bagi Ciputra, adalah bekal yang sangat bernilai untuk berhasil. Setiap kali berbicara kepada staf maupun para pelanggannya, Ciputra selalu membagikan optimismenya. Kepada para stafnya Ciputra kerap kali menanyakan targettarget yang ingin mereka capai. Dalam suatu pertemuan kami mendengarkan dialog sebagai berikut: Ciputra: Saya gembira melihat persiapan Anda dalam peluncuran produk properti kita kali ini. Kelihatannya semuanya beres. Eksekutif: Sejauh ini tidak ada masalah Pak. Sekarang sudah ada beberapa calon pelanggan yang menelepon kami. Mereka bertanya apakah kita melayani transaksi dalam acara nanti. Ciputra: Tentu Anda katakana kita juga melakukan transaksi di acara itu, bukan? Eksekutif: Ya, Pak. Ciputra: Kalau saya melihat persiapan kita, saya berharap kita akan mencatat penjualan yang besar dalam acara nanti. Sekarang yang terjual sudah berapa banyak? 60%? Eksekutif: Ya, berkisar pada angka itu Pak. Ciputra: Berarti pada saat acara nanti berapa Anda harapkan? Bisa 80%? Eksekutif: Mudah-mudahan, Pak. Ciputra: Saya sudah melihat persiapan Anda dan para staf. Tampaknya kita akan lebih sukses kali ini. Saya yakin kita dapat mencapai angka penjualan 80%. Eksekutif: Mudah-mudahan, Pak. Ciputra: (Tertawa). Jangan Anda katakan mudah-mudahan. Anda harus mengatakan saya bisa. Harus demikian. Apa yang Anda pikirkan itulah yang akan terjadi. Kalau Anda mengatakan Anda bisa, itu akan bisa. Kita harus yakin. Begitu, ya? Lantas, apakah seorang entrepreneur tidak boleh berpikir untuk gagal? Apakah seorang entrepreneur tidak boleh mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan gagal?

18
Ciputra bukan tak pernah memperhitungkan risiko itu. Namun sekali ia mengambil keputusan, Ciputra menganggap kegagalan sebagai salah satu dari bagian perjalanan yang belum rampung. Dalam kata-kata Ciputra, jika ia gagal, itu berarti ia kembali ke titik nol, kepada posisi awal. Dan, itu sebenarnya bukan sebuah hal buruk, apalagi aib. Ciputra percaya sebuah kegagalan adalah proses belajar yang harus dilalui, dan seorang entrepreneur tak boleh memenuhi pikirannya dengan kemungkinan gagal. Maka pesan serupa itulah yang tampaknya harus disampaikan kepada Anda, para entrepreneur yang akan dan sedang memulai bisnis. Keberhasilan seyogianya memenuhi pikiran Anda dan menjadi penggerak Anda untuk memikirkan cara guna mencapainya. Berpikir tentang kegagalan sama halnya seperti istri Lot yang melihat ke belakang dan tidak memperoleh apa-apa. Sebaliknya, sukses sudah menjadi bagian Anda sejak langkah pertama Anda ayunkan. Selamat berjuang menjadi entrepreneur. PRINSIP #10: JANGAN MEMIKIRKAN KEMUNGKINAN GAGAL. PUSATKAN PERHATIAN PADA UPAYA MENCAPAI HASIL TERBAIK. DAN BILA BELUM JUGA BERHASIL, UPAYAKAN LAGI SAMPAI BERHASIL. Bab III : Apakah Entrepreneur Memerlukan Organisasi? Hits : 1113 PDF Cetak E-mail Ciputra dengan tegas menjawab YA atas pertanyaan ini. Sekuat apa pun visi seorang entrepreneur, sehebat apa pun kemampuannya bernegosiasi untuk menghasilkan sebuah deal bisnis, pada akhirnya sang entrepreneur harus bekerja melalui organisasinya pula. Ciputra percaya seorang entrepreneur yang visioner harus membangun perusahaan yang visioner pula. Dan, itu memang telah terbukti dari caranya membangun bisnis. Ciputra dengan entrepreneurship dan kepemimpinannya, telah menghasilkan tiga perusahaan yang dikenal sebagai perusahaan dengan organisasi bercitra modern. Grup Pembangunan Jaya, Grup Metropolitan, dan Grup Ciputra adalah tiga grup yang sering kali dijadikan contoh kasus kelompok-kelompok usaha yang berhasil melakukan transformasi melalui konsep-konsep manajemen modern. Ciputra mengatakan, keberhasilan sejumlah taipan kelas dunia-dan kegagalan mereka juga—sangat berkaitan dengan organisasi. Bagi Ciputra, seorang entrepreneur belum dapat dikatakan berhasil jika ia tidak mampu membangun organisasi dan bekerja melalui organisasinya. Ketika kami menanyakan apa yang membedakan dua tokoh yang sering menjadi subjek pembicaraannya, yakni Donald Trump dan Li Kha Sing, Ciputra menjawab bahwa Donald Trump lebih banyak bekerja lewat dirinya pribadi, sementara Li Kha Sing membangun dan bekerja lewat organisasi. Dan, Ciputra memilih lebih ingin seperti Li Kha Sing dibandingkan Donald Trump. Setelah membangun Grup Pembangunan Jaya dan Grup Metropolitan, dengan sengaja dan secara sadar Ciputra membangun Grup Ciputra dengan melibatkan putraputri serta menantunya, dengan dukungan para eksekutif professional pilihan. Ciputra mengatakan walaupun itu sebuah perusahaan milik keluarga, ia ingin bekerja melalui organisasi yang secara kebetulan saja diisi oleh sejumlah anggota keluarga bersama para eksekutif professional lainnya. Itu salah satu sebab semua perusahaan yang ia bina menjadi perusahaan public yang dikelola secara professional. Di Grup bisnis ini, Ciputra mematok standar yang tinggi bagi orang-orangnya sehingga Ciputra dengan tegas dapat berkata bahwa biasanya orang yang terbaik sudah dengan sendirinya diberikan tanggung jawab yang besar, sedangkan mereka yang biasa-biasa saja dengan sendirinya pula mendapatkan posisi lain yang sesuai dengan kapasitasnya. Ciputra membanggakan sebagian besar eksekutifnya loyal kepada perusahaan ditandai dengan rasio keluar masuk mereka yang tergolong rendah. Bahkan pada beberapa kasus, eksekutif yang sempat berhenti bekerja karena krisis ekonomi 1997-1998 lalu dan mereka yang pindah ke grup bisnis lain, bergabung kembali ketika Grup Ciputra kembali berekspansi pascakrisis. Pentingnya organisasi yang solid bagi Ciputra terlihat pula dari keputusannya membangun Grup Ciputra dari nol dengan melibatkan anggota keluarganya. Sebenarnya Ciputra dapat saja mengajak anggota keluarganya bergabung dengan grup bisnis yang sebelumnya sudah ia bangun, misalnya, ke Grup Pembangunan Jaya atau Grup Metropolitan. Namun, Ciputra menyadari kemungkinan disharmoni yang timbul karena keterlibatan anggota keluarga. Justru itulah sebabnya Ciputra membangun Grup Ciputra yang tumbuh dan besar bersama orang-orang di dalamnya, yakni Ciputra, putra-putri dan menantunya, beserta para eksekutif profesionalnya. Apa pelajaran dari hal ini bagi seorang entrepreneur pemula? Pesannya sederhana saja, yakni jangan lupa membangun organisasi sejak dari awal menjadi entrepreneur. Memang betul adakalanya seseorang itu bertipe dealmaker, dengan keahlian yang luar biasa dalam bernegosiasi dan mencari peluang bisnis. Namun hendaknya itu tidak membuat seorang entrepreneur terlena untuk tidak membangun organisasi. Kelanggengan bisnis sangat ditentukan seberapa kuat organisasi yang mendukungnya. Dan seorang entrepreneur mutlak memerlukannya. Ia membedakan antara entrepreneur dan peneliti. Entrepreneur memerlukan organisasi, sementara peneliti hanya memerlukan laboratorium. PRINSIP #9: SEORANG ENTREPRENEUR YANG SUKSES, MEMBANGUN DAN BEKERJA LEWAT ORGANISASINYA. DALAM TAHAP APA PUN BISNIS ANDA, USAHAKAN MEMBANGUN ORGANISASI.

Bab III : Entrepreneur Juga Harus Menjadi Pemasar Tangguh Hits : 887 PDF Cetak E-mail Ketika memulai bisnis baru, sangat wajar jika seorang entrepreneur menjadi superstar, memegang semua peran. Karena keterbatasan sumber daya dan juga masih kecilnya skala bisnis, sang entrepreneur menjadi segala-galanya. Ia pemimpin, ia direktur keuangan, ia direktur sumber daya manusia, dan ia juga direktur pemasaran. Akan tetapi bukan hanya karena alasan keterbatasan sumber daya dan juga masih kecilnya skala bisnis, sang entrepreneur menjadi segala-galanya. Ia pemimpin, ia direktur keuangan, ia direktur sumber daya manusia, dan ia juga direktur pemasaran. Akan tetapi bukan hanya karena alasan keterbatasan semacam ini seorang entrepreneur menjadi pemasar bagi ide maupun bisnis yang dirintisnya. Seorang entrepreneur haurs menjadi pemasar yang tangguh karena tidak ada orang lain yang dapat melakukannya lebih baik. Jangan salah paham. Pemasar dimaksud di sini bukan sekadar bagaimana mengkomunikasikan suatu produk baru atau menciptakan dealbisnis.entrepreneur sebagai pemasar lebih luas daripada itu. Tugasnya sebagai pemasar terutama adalah meyakinkan sebanyak mungkin orang untuk menerima kehadiran bisnis baru yang dirintisnya sekaligus membuka bahkan menciptakan pasar bagi bisnis tersebut. Pemasar dalam pengertian ini bukan hanya diukur dari hasil jangka pendek yang diperolehnya meliainkan pasar jangka panjang dalam wujud kinerja yang berkesinambungan. Dalam perjalanan hidupnya sebagai entrepreneur, Ciputra tak pernah berhenti memasarkan ide-ide bisnis yang ada dalam pikirannya dan selanjutnya tak bosanbosannya pula memasarkan bisnis-bisnis baru yang dirintisnya. Ciputra tak pernah kehabisan energi dan waktu untuk menemui sebanyak mungkin orang dan menceritakan apa yang tengah ia kerjakan. Setiap kali ada kesempatan berbicara dengan orang, ia memanfaatkannya untuk meyakinkan siapa saja yang ditemuinya tentang betapa bernilainya bisnis yang dirintisnya. Ia selalu mengundang mereka untuk melihat dan membuktikannya. Ciputra terus bicara dan memasarkan, tak kenal menyerah, bahkan ketika ia tahu tidak semua orang menaruh minat pada apa yang dibicarakannya.

19
Sebelum dan ketika Ciputra merintis sebuah bisnis baru, ia selalu mencari cara untuk dapat bertemu dengan orang-orang yang ia perkirakan berkepentingan dengan bisnis itu. Ia, misalnya, tak pandang mengenal kata kalah untuk dapat menemui pejabat pemerintah dalam meyakinkan mereka bahwa proyek yang ia tangani akan memberi sumbangan yang besar bagi perekonomian di wilayah pemerintahan yang ditemuinya. Dalam sebuah kesempatan kami menanyakan kepadanya apa gunanya pertemuan semacam itu dan apakah ia akan didengarkan. Ciputra menjawab, apakah ia didengarkan atau tidak, tidak menjadi persoalan baginya. Yang penting ia telah membagikan apa yang ia anggap baik bagi pendengarnya dari bisnis baru yang ia kerjakan. Ia telah melakukan tugas yang menjadi bagiannya. Tugas para pendengarnyalah untuk mempertimbangkan apakah cerita yang didengarnya benar-benar bernilai atau tidak. Ciputra juga tak kenal menyerah menemui para calon pelanggan lewat berbagai forum yang menurutnya dapat menjembatani pertemuan itu. Entah dalam forum resmi maupun tidak resmi, seminar ilmiah maupun acara-acara yang bersifat rekreasi, ia manfaatkan untuk dapat memasarkan bisnis baru yang ia rancang kepada sebanyak mungkin orang. Ciputra mempunyai banyak cara dalam mencari alasan untuk memasarkan ide bisnis maupun bisnis baru yang ia garap. Dan, ini pula yang menyebabkan kami beralasan untuk mengatakan seorang entrepreneur seharusnya membekali diri dengan teknik-teknik berkomunikasi, sebagaimana Ciputra mempelajarinya dan kemudian mempraktikkannya. Salah satu cara yang kerap dilakukan Ciputra adalah memulai cerita dari buku yang dibacanya. Dengan menceritakan sebagian dari isi buku, selanjutnya dari sana ia menarik analogi pada bisnis yang dijalankannya. Dengan demikian ia mempunyai cara untuk memasarkan ide maupun bisnis baru yang dirintisnya dan mendapatkan umpan balik. Ciputra tidak menemui kesulitan dalam memasarkan apa yang ada di benaknya, bahkan dalam situasi yang demikian membosankannya. Ciputra dapat bercerita kepada orang-orang yang baru dikenalnya sebaik caranya berbual-bual dengan sahabat karibnya. Pernah suatu kali, kami bersamanya hendak menghadap Gubernur Propinsi Sulawesi Utara untuk melakukan audiensi. Tamu sang gubernur ternyata sangat banyak yang menyebabkan Ciputra dan kami tertahan di ruang tunggu, bersama-sama dengan tamu yang lain. Yang menakjubkan, hanya dalam beberapa menit, kami telah mendapati Ciputra asyik bercerita tentang salah satu proyeknya di propinsi itu. Satu per satu tamu yang duduk di sekitarnya makin menaruh perhatian pada cerita Ciputra, seraya makin rileks dari ketegangan menunggu giliran menghadap Pak Gubernur. Ciputra, seperti kemudian ia ceritakan kepada kami dalam perjalanan pulang di dalam mobil, mengetahui bahwa tidak semua orang yang mendengarkan ceritanya itu benar-benar menaruh perhatian pada apa yang ‘dipasarkan’nya. Namun, Ciputra tak memandang itu sebagai sesuatu yang buruk. Baginya, satu saja dari 10 orang yang mendengarkannya dapat benar-benar is yakinkan, itu sudah memuaskan hatinya. Sebab hal itu akan memberi kontribusi yang besar dalam jangka panjang bagi bisnis baru yang dirintisnya. Ia mengatakan bahwa bisnis harus dipromosikan dengan tekun di mana saja dan kapan saja. Dalam sebuah acara makan siang bersama Ciputra di sebuah restoran, kami menyaksikan Ciputra meninggalkan meja makan karena ia diberitahu ada satu keluarga yang merupakan pembeli salah satu rumah di sebuah kota baru yang dibangun Grup Ciputra, sedang makan di restoran yang sama. Ciputra menemui mereka dan setelah saling basa-basi perkenalan singkat, Ciputra menghabiskan waktu cukup lama bercerita tentang keistimewaan kota baru dimaksud. Ciputra tidak lupa menanyai pelanggan tersebut apa lagi yang bisa dilakukannya untuk membuat kota baru itu lebih bernilai bagi penghuninya. Dan Ciputra mencatatnya. Ia kemudian kembali ke meja makan tempat kami sudah menghabiskan separuh dari hidangan yang disajikan. Ia menceritakan kembali apa yang dicatatnya, dan menekankan kepada para eksekutifnya agar hal tersebut diperhatikan. Ia menegaskan bahwa sebagian dari kesalahan pengusaha adalah tidak mau tahu pendapat pelanggannya. Yang disebutkan terakhir ini memberikan satu arti lagi tentang pentingnya seorang entrepreneur menjadi pemasar yang tangguh. Ia menjadi pemasar bukan hanya kepada orang-orang yang dianggap sebagai orang luar, melainkan juga kepada orang-orangnya sendiri. Ciputra juga memasarkan ide bisnis maupun bisnis baru yang dirintisnya kepada orang-orang di dalam perusahaannya. Sebab, hanya dengan demikian dirinya dapat menggalang optimisme di sekitar karyawannya, agar mereka juga menjadi pemasar yang andal bagi ide bisnis maupun bisnis baru yang mereka jalankan itu.

PRINSIP #8: SEORANG ENTREPRENEUR JUGA ADALAH PEMASAR YANG TANGGUH. IA TAK KENAL LELAH MENCERITAKAN DAN MEYAKINKAN SEBANYAK MUNGKIN ORANG PADA SAAT KAPAN PUN TENTANG BETAPA BERNILAINYA BISNIS BARU YANG IA GARAP. Bab III : Piawai Menggunakan Intuisi Hits : 1314 PDF Cetak E-mail Intuisi sesungguhnya sesuatu yang kerap kali sulit dijelaskan. Berbagai kamus menerangkan singkat saja mengenai intuisi. Intuisi biasanya dijelaskan sebagai bisikan kalbu atau suara hati. Sesuatu yang berada di luar jangkauan pikiran dan logika. Penjelasan yang lebih panjang mengatakan intuisi adalah sebuah kemampuan yang dengan cepat memahami dan mengetahui sesuatu tanpa memerlukan atau didasarkan pada penjelasan maupun studi yang masuk akal [A.S. Hornby, 1974]. Sebuah definisi lain menerangkan intuisi merupakan suatu proses melihat ke dalam (inner looking), mengetahui sesuatu tanpa memerlukan bukti-bukti pendahuluan. Intuisi merupakan sesuatu pengetahuan untuk memutuskan baik atau buruk namun bukan dalam pengertian moral, melainkan apa yang terbaik dan menguntungkan. Definisi lain yang menarik mengatakan intuisi berbeda dengan akal sehat (common sense). Jika akal sehat mengambil keputusan berdasarkan filosofi pribadi dan perspektif seseorang, intuisi bekerja berdasarkan perasaan yang kuat, kata hati yang sulit untuk dijelaskan. Disebutkan pula ada berbagai cara orang untuk mendapatkan ‘pencerahan’ melalui intuisi. Proses semacam berkontemplasi sejenak , tidur dan menunggu mimpi, menyendiri ke satu tempat adalah berbagai contoh yang dianggap cara-cara berbagai individu untuk mendapatkan suara hati atau intuisi. Ciputra dikenal sebagai entrepreneur yang sukses, antara lain karena mempunyai intuisi yang tajam. Namun, pernyataan semacam ini tampaknya harus mendapat penjelasan lebih lanjut. Intuisi Ciputra yang selama ini diakui banyak menunjukkan kebenarannya tampaknya lebih mengacu pada keputusan-keputusannya yang acapkali tidak terjangkau oleh para stafnya pada saat kebanyakan maupun oleh para stafnya pada saat keputusan itu diambil, namun pada saatnya kelak, ternyata keputusan itu terbukti merupakan keputusan yang terbaik. Apakah itu diputuskan berdasarkan suatu bisikan kalbu, ilham dari langit, atau sesuatu yang di luar pikiran rasional, tampaknya ini masih harus diperdebatkan. Soalnya Ciputra termasuk sosok entrepreneur yang rasional, berpikiran modern dan terbuka serta mempunyai latar belakang akademis yang kuat. Ketika kami menanyakan hal ini, Ciputra menerangkan intuisi sebagai kata hati yang didasarkan pada pengetahuan dan pengalamannya sebagai entrepreneur. Menurut dia, intuisinya tidak terlepas dari adanya satu dorongan dari dalam dirinya yang sukar diterangkan, yakni suatu dorongan berupa kombinasi untuk ingin maju dan ingin memukti kan dirinya mampu, dorongan ingin mewujudkan mimpi yang kemudian menyatu menjadi semacam kata hati yang sukar ditolak. Dengan kata lain, intuisi Ciputra adalah perpaduan antara akal sehat (common sense)yang diasah dan ditempa oleh pengalaman, dipadukan dengan visinya yang kuat menyebabkan keputusan-keputusan Ciputra sering kali melampaui pemikiran orang-orang di sekitarnya. Ciputra percaya, intuisi dapat diasah melalui pengetahuan dan pengalaman serta tekad yang kuat untuk tidak berhenti belajar. Sebaliknya, Ciputra tampaknya kurang percaya bahwa intuisi adalah semacam hadiah, indra

20
keenam yang hanya diberikan kepada orang-orang tertentu. Ciputra percaya intuisi adalah sebuah ketrampilan yang dapat dipelajari lalu menjadi semacam bagian dari diri seseorang. Tetapi intuisi bagi Ciputra bukanlah sesuatu yang bersifat supernatural, apalagi gaib. Apakah seseorang itu adalah entrepreneur pemula atau entrepreneur yang sudah berpengalaman panjang, pada suatu ketika memang dituntut untuk menggunakan intuisinya dalam memutuskan sesuatu. Seorang entrepreneur adakalanya dihadapkan pada keharusan untuk mengambil keputusan di saat informasi yang tersedia tidak mencukupi untuk mengambil keputusan. Pada saat semacam ini, sering kali yang menadi dasar pengambilan keputusan adalah akal sehat (common sense), namun ada kalanya pula dengan common sense sendiri ternyata tetap saja dirinya ragu mengambil keputusan. Pada saat semacam inilah sang entrepreneur harus mengandalkan intuisinya. Bagi Ciputra, semakin berpengalaman seorang entrepreneur, semakin banyak ia belajar dari praktik berbisnis, semakin sering pula dia akan menghadapi saat-saat mengambil keputusan secara intuitif. Pengalaman dan latihan semacam ini, menurut Ciputra sangat baik bagi seorang entrepreneur dalam mengasah intuisinya. Kami sempat mengalami bagaimana Ciputra menggunakan intuisinya ketika memutuskan sesuatu. Dalam sebuah perbincangannya dengan sejumlah orang di Manado, Ciputra diberi informasi bahwa ada sebidang tanah yang cukup luas di posisi yang strategis di kota itu. Bagi seorang Ciputra sebenarnya informasi semacam ini bukan hal yang istimewa. Sebagai seorang yang terkenal sebagai pengembang kota-kota baru, tawaran semacam ini adalah semacam bumbu-bumbu perbincangan yang selalu datang menghampirinya. Namun dalam perbincangan kali ini, ada sesuatu yang menyebabkan intuisinya bicara untuk melihat lokasi tanah yang dimaksud. Menurut Ciputra, ada dorongan dari dalam dirinya untuk berbuat sesuatu untuk kota Manado yang menyebabkan ia memutuskan untuk meninjau lokasi tersebut. Di sini, intuisi itu agaknya didorong oleh keinginannya untuk berbuat sesuatu, merasa tertantang oleh tawaran yang dihadapkan pada dirinya. Sebenarnya mengingat jadwalnya yang padat, kami yang mendampingi Ciputra lebih memilih untuk tidak meninjau lokasi tersebut, yang baik kami maupun Ciputra, sebenarnya tidak mempunyai gambaran yang jelas. Alamat yang kami dapatkan hanya nama jalan dan nomornya. Namun Ciputra menuruti kata hatinya. Pada saat tiba di lokasi, lagi-lagi Ciputra mendengarkan intuisinya. Walaupun lokasi tanah dimaksud terletak di pinggir jalan raya, dari sudut pandang kami ia tidak memberikan janji apa-apa. Remput ilalang yang menumbuhinya sudah demikian tinggi, sementara pagar seng yang membentengi lokasi dimaksud tidak terurus. Ketika kami dan Ciputra turun dari mobil untuk melihat dari dekat, kami sesungguhnya sudah lelah, dan merasa lebih baik untuk tak melanjutkannya saja. Ciputra tidak. Ia mendekat dan mencoba masuk ke lokasi lewat celah pagar yang sempit. Sebagaimana dugaan kami, sebidang tanah kosong itu meemang sudah demikian tidak terurus. Rumput dan semak yang tinggi menghalangi pandangan dan berkalikali kaki kami terjerat dan masuk lobang saat melangkah. Ketika yang kami temui sebuah jalan buntu berbukit, Ciputra memutuskan berhenti dan kami keluar dari lokasi tersebut, masuk ke dalam mobil. Kami mengira Ciputra sudah menyerah. Tetapi ternyata tidak. Ia berkata kepada supir yang membawa kami agar sekali lagi mengitari lokasi tersebut untuk mencari pintu masuk dari arah berlawanan. Mobil kami kembali mengitari lokasi tersebut, tetapi setelah terhambat oleh pasar dan jalanan yang cukup macet, akhirnya kami kembali ke tempat semula. Ciputra turun lagi dari mobil, dan mengelilingi sekali lagi lokasi tersebut. Kami mengikuti langkahnya dari belakang hingga Ciputra berjalan mendekati sebuah warung yang terletak di pojok jalan. Di sana ada seorang pria di dalam bedeng tempat dia menjadi penyedia jasa sablon. Kepada pria itu Ciputra bertanya dari mana jalan menuju lokasi tersebut. Dan, ternyata jalan ke dalam lokasi itu justru melalui pintu belakang bedeng tersebut. Kami kemudian masuk lewat pintu itu, dan mendapati jalan bekas aspal yang cukup luas di dalam lokasi. Semakin kami masuk ke dalam lokasi lewat “jalan yang benar” itu, semakin kami menyadari bahwa lokasi itu ternyata “lokasi emas”. Selain tempatnya strategis, lokasi itu terletak di dataran yang sangat tinggi, sebuah keunggulan di sebuah kota Manado yang terkenal dengan tanahnya yang bergelombang. Kami berpendapat, Ciputra lebih mengikuti intuisinya ketika memutuskan meninjau lokasi ini maupun di saat ia ingin mencari cara memasuki lokasi tersebut. Intuisinya itu barangkali adalah perpaduan dari pengetahuan dan pengalamannya sebagai entrepreneur di bidang properti, plus keinginannya yang kuat untuk mewujudkan sesuatu di tanah tersebut. Yang menarik, meskipun Ciputra sudah diakui mempunyai intuisi yang kuat dalam pengambilan keputusan, ia tampaknya tak menjadikannya alat untuk semenamena mengambil keputusan. Pada berbagai kesempatan ia mengkongfirmasi sendiri intuisinya itu dengan bertanya kepada para staf, kolega, kawan-kawan pebisnis lainnya, dan juga kepada anggota keluarganya sendiri. Walaupun secara intuitif Ciputra telah mengambil keputusan, ia selalu mendiskusikan keputusannya tersebut dengan para stafnya maupun orang lain. Barangkali ini merupakan cara Ciputra untuk mendorong orang-orang di sekitarnya untuk memahami keputusannya itu sekaligus sebagai ajakan untuk ikut melaksanakan keputusan tersebut. PRINSIP #7: ADA KALANYA SEORANG ENTREPRENEUR HARUS MENGGUNAKAN INTUISINYA DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN. INTUISI DAPAT DILATIH DAN DIPELAJARI BERDASARKAN PENGALAMAN. SEMAKIN SERING SEORANG ENTREPRENEUR DIHADAPAKAN PADA KEHARUSAN MENGAMBIL KEPUTUSAN PADA SAAT SULIT, SEMAKIN TAJAM INTUISINYA. Bab III : Kapan Sebaiknya Mengatakan TIDAK? Hits : 1926 PDF Cetak E-mail Memulai bisnis baru bukan berarti hanya persoalan kapan mengatakan YA. Memulai bisnis baru juga dapat berarti kapan sebaiknya mengatakan TIDAK, dan mencari alternatif lain. Bukan hanya untuk meminimalkan risiko, tetapi juga untuk meraih potensi keuntungan yang lebih besar di masa depan. Ketika membangun gedung perkantoran World Trade Center di Jalan Sudirman Jakarta lewat Grup Metropolitan, banyak orang mempertanyakan keputusan Ciputra untuk membeli lebih banyak tanah hanya untuk tempat parkir. Ciputra tidak mengikuti kebiasaan gedung lain di area itu yang membangun fasilitas parkir dalam gedung, sehingga tidak perlu tanah besar. Keputusan Ciputra untuk mengatakan TIDAK dalam hal ini ternyata sangat tepat. Soalnya dengan demikian Ciputra masih mempunyai persediaan lahan untuk perluasan WTC seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan gedung perkantoran. Manakala pengembang lain seperti sesak napas karena tak punya lahan lagi di kawasan itu, Ciputra mempunyai keleluasaan untuk pengembangan. Terbukti, WTC kini telah berkembang dari awalnya hanya satu blok, menjadi empat blok, bahkan bisa menjadi tujuh blok. Ciputra memang dikenal sebagai pengembang properti yang sejak lama mempersiapkan dengan seksama bank tanah [land banking] bagi pengembangan bisnisnya. Ia tidak mau latah mengikuti apa yang sedang jadi tren karena ia selalu melihat kemungkinan lain. Baik ketika memimpin Grup Jaya maupun sekarang dalam mengelola Grup Ciputra. Salah satu contoh bagaimana Pak Ci mengambil keputusan untuk mengatakan TIDAK adalah tindakannya untuk tidak terburu-buru ikut membangun properti di kawasan Casablanca Jakarta. Ketika banyak pengembang properti membangun perkantoran di kawasan itu sebelum krisis, Ciputra seolah diam saja dan membiarkan lahan itu ‘diam’ untuk sementara. Dan, kini orang mengakui kebenaran keputusan Ciputra. Harga tanah di kawasan itu meningkat terus. Ketika orang ribut-ribut

21
berbicara tentang kelebihan pasok properti komersial, khususnya untuk perkantoran dan trade center, Ciputra kini dapat lebih leluasa menentukan konsep pembangunan kondominium di kawasan itu. Pada tahun 1982, tingkat hunian perkantoran milik Grup Jaya, Gedung Jaya di Jl. Thamrin Jakarta, sudah mencapai 100%. Untuk itu, kelompok bisnis ini merancang untuk membangun Gedung Jaya II di belakangnya. Persiapan pembangunannya sudah demikian matang. Bank yang berkomitmen untuk mendanainya juga sudah siap. Namun, dalam satu rapat, Ciputra membatalkan rencana pembangunan gedung tersebut. Sejumlah eksekutif yang sudah lama mempersiapkan proyek itu bertanya-tanya dan sempat kecewa dengan keputusan Ciputra. Di antaranya Tanto Kurniawan, eksekutif Jaya yang kala itu diserahi tugas merancang pembangunan gedung tersebut. “Saya sungguh tidak bisa menerima keputusan itu. Saya sudah bekerja setahaun lebih untuk mempersiapkannya.” Tetapi pada akhirnya Tanto justru dapat menerima keputusan Ciputra. Dengan mempertimbangkan siklus properti perkantoran, Ciputra membatalkan proyek itu karena menurut dia, akan terjadi kelebihan pasok ruang perkantoran pada tahun 1983-1984 sehingga hasil yang bakal diperoleh tidak sebagus yang ditampilkan dalam studi kelayakan. Walau sempat kecewa, Tanto akhirnya mengakui kebenaran keputusan Ciputra. Dan ketika pada tahun 1996 Tanto sebagai Direktur Utama Jaya properti dimintai komentar tentang cerita ini, Tanto lagi-lagi mengakui tepatnya keputusan Ciputra. Kelemahan permintaan itu memang terjadi dan mencapai titik paling rendah pada 1984. Alasan lain yang membuat Ciputra membatalkan proyek itu adalah karena lahan yang direncanakan membangun Gedung Jaya tidak cukup luas dan menyangkut pembebasan tanah yang rumit. Padahal bagi Ciputra, Net Present Value (NPV) dari properti property perkantoran hanya terbantu bila lahannya luas. Harga tanah terus naik sedangkan harga bangunannya sendiri tiap tahun mengalami depresiasi. Sering kali seorang calon entrepreneur tergoda untuk berpikir sangat jangka pendek dan lupa berpikir strategis jangka panjang. Keputusan Ciputra untuk membuat land banking dapat dikatakan sebuah keputusan strategis walaupun dalam praktik pengambilan keputusan itu jangka pendek sering kali hadir dalam bentuk kata TIDAK. Bagi Ciputra, sebuah bisnis tidak dapat dibangun dalam satu hari. Ia adalah proses yang memerlukan waktu. Apa pelajaran yang dapat diambil para calon entrepreneur dari hal ini? Ciputra sampai kepada keputusan YES atau NO selalu dengan data pendukung. Ia berbicara dengan banyak orang sebelum mengambil keputusan, termasuk dengan para stafnya di lapangan. “Kalau dihitung, seorang direktur saya menelepon saya paling-paling sekali dalam seminggu. Tetapi saya menelepon mereka, bisa lebih dari tiga kali sehari. Itu sangat wajar. Bukan hanya mereka yang membutuhkan saya, saya juga membutuhkan mereka,” begitu Ciputra memberi penjelasan. Tentu saja Ciputra jugalah yang pada akhirnya mengambil keputusan dan memikul tanggung jawab atas keputusan itu. Adakalanya ia harus memutuskan walaupun hanya ia sendiri yang meyakini keputusan itu. Dan, ketika banyak suara menentang, tetapi Ciputra yakin akan keputusannya itu, di sinilah ia menggunakan intuisinya. Ciputra dikenal mempunyai intuisi yang tajam. Dan, inilah yang membuat keputusan-keputusannya sering kali tidak terduga, tetapi diakui kebenarannya di masa depan. Pertanyaannya, bagaimana mengasah intuisi dan bagaimana Ciputra menggunakannya? Subbab berikut akan membahasnya. PRINSIP #6 KETEPATAN MENGATAKAN NO SAMA PENTINGNYA DENGAN KETEPATAN MENGATAKAN YES. JANGAN TAKUT MENUNDA MENGGARAP SEBUAH BISNIS BARU JIKA ANDA YAKIN KEPUTUSAN ITU MENDATANGKAN HASIL LEBIH BAIK DI MASA DEPAN.

Epilog;Berpikir Holistik, Cermat pada Detail PDF Cetak E-mail Ketika berdiskusi dengan Ciputra, salah satu yang menonjol dari caranya memandang masalah adalah ketertarikannya untuk melihat solusi dari berbagai aspek yang saling terkait. Hal-hal yang mengganggu perhatiannya selalu ia pikirkan berulang, ia dalami, ia rangkaikan dengan pemikiran lain, dan dengan begitu ia kemudian mendapat pemahaman yang lebih menyeluruh. Pak Ci sering kali menyebut cara berpikir seperti itu sebagai cara berpikir seperti itu sebagai cara berpikir holistik. Maka tak perlu heran bila saat berbicara tentang Dubai, dan Pak Ci merasa terganggu oleh rasa ingin tahunya mengapa di restoran tempat ia makan di Dubai tidak satu pun pelayan restoran yang berasal dari Indonesia—padahal banyak dari pegawai restoran itu berasal dari Filipina, Thailan, Malaysia, mau pun India—ia lalu bersemangat bicara tentang pendidikan. Sebab, menurut dia, salah satu kelemahan TKI Indonesia adalah ketidakmampuan berbahasa Inggris. Pendidikan di Indonesia tidak memberi bekal yang cukup dalam hal ini sehingga TKI Indonesia di Dubai hanya terbatas pada peker-jaan-pekerjaan domestik. Tidak mampu bersaing menjadi pegawai restoran melawan tenaga kerja dari kawasan Asia Tenggara lainnya. Cara berpikir holistik seperti inilah barangkali yang mendorong dia menjadi pelopor pembukaan kota-kota baru. rumah atau perumahan bagi Ciputra adalah sebuah konsep holistik. Bukan sekadar tempat tinggal, apalagi ‘asrama’ untuk tidur belaka. Ko ta-kota baru yang dibangun Pak Ci selalu dengan konsep sebuah pemukiman tempat sebuah keluarga dan komunitasnya merajut masa depan. Yang ia jual bukan rumahbelaka, tetapi pemukiman beserta perangkat pendukungnya. Bagi mereka yang berpikir ‘Lalu apa yang akan saya dapat hari ini?’ mungkin akan kurang sabar bila mendengar rencana-rencana Pak Ci. Sebab yang Pak Ci pikirkan kebanyakan merupakan sebuah kerja besar, kerja yang panjang, dan kerja yang melibatkan banyak pekerjaan-pekerjaan kecil. Ketika orang lain membicarakan ironisnya nasib TKI, Pak Ci berbicara tentang pendidikan Bahasa Inggris. Ketika orang lain berbicara tentang rumah, ia bicara tentang kota baru. Dan ketika orang banyak berbicara tentang kemiskinan, ia berbicara tentang institusi agama, termasuk gereja yang harus menebar optimisme. Orang mengenal Pak Ci sebagai seorang pengusaha property yang selalu berbicara tentang proyek-proyek besar. Tetapi kami mendapati itu tak menyebabkan dirinya abai terhadap detail. Ia mengagumi proyek-proyek properti yang megah, indah, dan terbaik. Tetapi yang selalu ia perhatikan pertama kali adalah hal-hal kecil dari proyek yang ia kagumi itu. Ini barangkali sebuah cara yang paling mudah baginya untuk menguji apakah hal besar yang dikaguminya itu juga dapat dikagumi dalam bentuknya yang lebih kecil. Beberapa tahun yang lalu, dalam sebuah acara di Jakarta Convention Center, para undangan yang terdiri dari para elit politik, pejabat, dan pengusaha tampak berjubel. Mereka berbincang satu sama lain, beranjangsana dari satu tempat ke tempat lain sambil menikmati kopi dan hidangan sarapan lainnya. Yang menarik, kami mendapati Pak Ci berbincang serius dengan putrid sulungnya, Rina Ciputra. Pak Ci kemudian mengajak Rina ke sebuah sudut dan Pak Ci tampak menunjuknunjuk ke langit-langit JCC. Rupanya Pak Ci tengah mendiskusikan arsitektur JCC tersebut. Ketika kami bersama Pak Ci keluar dari hotel tempat kami menginap, sambil menunggu mobil yang akan membawa kami berangkat ia mengarahkan pandangan ke lantai dan kemudian berkata, “Ubin hotel ini bagus”. Ia meneliti satu per satu, berkeliling di seputar lobi, lalu berkata kepada seorang stafnya, “ Kelihatannya kita bisa memakai ubin seperti ini di proyek kita.” Ia bahkan mencari manajer hotel itu dan bertanya di mana mereka membeli ubin tersebut.

22
Seusai meninjau proyek kota baru Citraland di Manado yang terkenal dengan semboyan The Village of Blessings, salah satu yang segera menarik perhatiannya adalah patung angsa yang berbaris di pintu masuk. Ia memberi catatan kepada para stafnya bahwa patung-patung angsa yang berwarna putih itu masih ‘terlalu biasa.’ Ia menyarankan patung-patung itu diberi cat yang lebih cerah dan ramai. Ketika makan di restoran yang menghadap ke pantai, Pak Ci memandang ke laut dan mengajak kami mengarahkan pandangan ke dua perahu kecil yang berhenti di tengah laut. Ia bertanya, sedang apa perahu itu di sana. Tak satu pun kami yang mempunyai ide menjawab pertanyaan itu, dan kami menduga rasa penasaran Pak Ci itu hanyalah rasa ingin tahu seorang turis belaka. Tetapi kami salah. Pak Ci benar-benar ingin tahu. Ia memanggil pelayan restoran dan bertanya apa yang biasanya dilakukan orang di atas perahu yang berhenti di tengah laut pada hari siang bolong begitu. Sayangnya, sang pelayan pun tak tahu. Ketika pelayan yang lain mendekati kami ia juga melontarkan pertanyaan yang sama. Saying, sampai kami selesai bersantap, tak ada yang dapat memberikan jawaban. Tetapi kami mencatat dalam hati, Pak Ci memang benar-benar seseorang yang ingin tahu tentang detail, lebih dari kebanyakan orang. Epilog : Disiplin kepada Orang Lain, Disiplin kepada Diri Sendiri Hits : 1831 PDF Cetak E-mail Kesan kami yang lain, Pak Ci tak segan-segan menegur orang lain yang ia anggap salah. Bahkan jika orang itu belum ia kenal. Hanya saja, ia punya kiat tentang hal ini. “ Jangan menegur orang dengan marah. Kalau menegur orang sambil bercanda, sambil tersenyum, biasanya orang itu akan dapat menerima. Malah dia jadi senang,” kata dia. Entah bagaimanan kejadiannya, pada suatu acara sarapan pagi, kami tengah mendengar Pak Ci memberikan pandangan-pandangannya, tetapi kami menangkap perhatiannya tidak tertuju kepada kami—melainkan ke meja di belakang kami. Awalnya kami tak terlalu hirau. Namun, lama-lama kami merasa ingin tahu juga apa yang menyebabkan Pak Ci harus menaruh perhatian ke meja tersebut. Lalu Pak Ci berbisik, “Bapak itu aneh. Makan dengan sendok di tangan kiri, garpu di tangan kanan. Dan, kelihatannya dia bukan kidal,” kata Pak Ci. Kami terdiam. Namun kami pun segera menyadari adanya suara berisik dari belakang, suara sendok dan garpu beradu tak teratur sehingga berdenting-denting. Pak Ci masih sempat meneruskan pembica-raannya, tetapi kemudian tampaknya ia tak tahan lagi. Lalu sambil tertawa ia memberi isyarat dengan kedua tangannya kepada Bapak yang duduk di meja belakang. Seolah mengatakan agar cara si Bapak memegang sendok dan garpu diubah. Si Bapak yang kena tegur ternyata lambat laun mengerti dan kemudian tertawa. Ia mengubah caranya memegang sendok. Dan, kejadian itu berakhir dengan happy ending. Kuncinya “Lakukanlah dengan ramah dan penuh kasih….” Demikian ujarnya. Kepekaan terhadap keteraturan dan disiplin tentu saja bukan hanya Pak Ci perlakukan kepada orang orang lain. Terlebih-lebih adalah kepada dirinya sendiri. Itu sebabnya, di usianya yang sudah 74 tahun, Pak Ci kelihatan sangat sehat untuk orang seusianya. Dia tidak mempunyai kemewahan untuk memantangkan satu jenis makanan tertentu. Dan, ini karena disiplin. Semboyan yang selalu ia ulang-ulang perihal makanan adalah, “Saya tidak memakan segalanya, maka saya bisa memakan segalanya.” Dalam satu kesempatan, kami tiba di tempat menginap bersama Pak Ci setelah usai makan siang. Dua jam ke depan, Pak Ci dijadwalkan akan berbicara dalam sebuah seminar. Pak Ci kelihatan masih segar dan bersemangat untuk berbincang-bincang. Tapi seorang eksekutif yang mendampinginya meminta Pak Ci beristirahat saja, karena satu jam lagi, aka nada mobil yang menjemputunya ke tempat seminar. Kami melihat Pak Ci berpikir sebentar, lalu mengiy akan. “kalau saya turutkan kata hati, saya masih ingin mengobrol dengan Anda. Tapi saya harus istirahat. Sebenarnya saya tidak mengantuk. Saya tidak ingin tidur. Tapi saya harus tidur.” Disiplin semacam inilah tampaknya yang membuat Pak Ci di usianya yang tergolong lanjut masih mampu berbicara dari satu seminar ke seminar lain—kerap kali dalam posisi berdiri setidaknya satu jam. Ia masih membaca banyak buku. Makalah-makalah yang ia sampaikan di dalam berbagai seminar, setelah mendapat masukan dari para stafnya, masih ia baca dengan teliti dan membuat koreksi di mana perlu. Pak Ci juga mempunyai semacam catatan harian yang ia kantongi, tempat dia mencatat apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Sebuah telepon genggam yang tidak terlalu advanced menggantung di dadanya, alat yang ia gunakan berbicara dengan siapa saja ia ingin bicara. Kami menilai ini sebuah cara hidup yang efisien sekaligus disiplin pribadi yang tinggi. Epilog : Ciputra yang Efisien Hits : 1558 PDF Cetak E-mail Barangkali kami akan memulai penilaian tentang Pak Ci dengan mengatakan bahwa salah satu hal yang menonjol dari diri Pak Ci adalah sosok kesehariannya yang efisien. Kami dengan sengaja menggunakan kata efisien, walaupun orang lain mungkin lebih memilih menggunakan kata sederhana (karena gaya kepemimpinan Ciputra memang sangat merakyat). Soalnya sosok keseharian yang sederhana kerap dicurigai sebagai tindakan untuk sekadar populer. Atau, di titik ekstrem yang lain, kesederhanaan juga acap ditafsirkan sebagai antihidup mewah atau antihidup senang. Yang kami dapati dari diri Pak Ci adalah sosok keseharian yang sederhana karena memang dengan sosok yang demikianlah ia dapat menjalankan aktivitasnya sebagai entrepreneur dengan efisien dan efektif. Bukan karena ingin populer. Yang pertama kali menarik perhatian kami saat mengikuti aktivitas Ciputra adalah ia tak punya rombongan ‘staf pengiring’dalam jumlah besar, bahkan sekalipun ia bepergian jauh. Juga, tak ada bodyguard! Ini mengejutkan kami karena di Indonesia sudah umum seorang pengusaha sekaliber dia didampingi oleh sekelompok ‘pembantu dekat’ yang siap tempur membantu sang bos. Bahkan menjelang dan pascakrisis, cukup umum melihat seorang taipan bisnis bepergian didampingi sejumlah pengawal pribadi. (Ini bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di kawasan Asia Tenggara). Perasaan tidak aman pada sejumlah pengusaha memang adalah salah satu ekses dari krisis ekonomi yang sempat berkepanjangan. Jadi, sangat wajar jika seorang taipan dikawal bodyguard. Tetapi Ciputra tak mempunyai bodyguard. Pada tahun 2000 Ciputra sempat mendapat pengawalan 24 jam dari kepolisian, ini memang sesuai dengan saran pihak berwenang sehubungan dengan situasi keamanan pada saat itu. Pihak kepolisian menyediakan beberapa orang anggotanya untuk mendampingi Pak Ci, terutama dalam berbagai acara di luar kantor. Namun, Ciputra mendapat pengawalan semacam ini Cuma enam bulan. Setelah itu, atas kesepakatan bersama, jasa pengawalan itu diakhiri. Mengapa? Rupanya dikawal ke mana-mana justru mendatangkan berbagai kerepotan, setidaknya bagi Ciputra. Ciputra kerap kali lupa bahwa dirinya mempunyai pengawal. Akibatnya, ia sering melanggar prosedur standar pengawalan yang harus dijalankan seseorang yang mendapat pengawalan. Sebagai contoh, usai menuntaskan acaranya di suatu gedung atau hotel, Ciputra seharusnya tidak boleh langsung keluar dari lobi gedung meminta car call memanggilkan mobilnya. Prosedur standar adalah Ciputra harus menunggu di dalam lobi, dan membiarkan pengawalnya membereskan urusan tetek-bengek memanggil mobil. Tetapi, begitulah Ciputra. Ia masih selalu berpikir dia “bukan siapa-siapa” dan kalau bisa melakukannya sendiri, mengapa haurs meminta orang lain melakukannnya? Bagi Ciputra, tergantung pada orang lain sangat merepotkan. Karena itulah ia tak punya pengawal. Sosok keseharian yang efisien dari Ciputra, dalam hemat kami tercermin pula dari jarangnya ia terlihat didampingi oleh staf dalam jumlah besar. Kami bahkan mendapat kesan, ia tak punya staf khusus yang mendampinginya ke mana saja dia pergi, kecuali eksekutif fungsional, semisal direktur SDM dan direktur keuangan. Rupanya bagi Pak Ci adalah mubazir untuk mempunyai serombongan ‘dayang -dayang’ sebab dalam kunjungannya ke berbagai perusahaan toh ia juga akan didampingi staf dari perusahaan setempat. Bahkan kadang ia merasa tidak perlu didampingi karena ia sadar bahwa ia bukan seorang eksekutif operasional lagi. Tidak heran bila Pak Ci tampaknya dengan mudah menjalin komunikadi dengan para stafnya di tingkat mana pun, membuat gaya kepemimpinannya lebih efisien lagi.

23
Bepergian dengan Ciputra tak bedanya dengan bepergian bersama kolega. Membawa sendiri tas kerjanya, kubu yang ia baca, atau makalah yang akan ia sampaikan, bukan hal luar biasa bagi Pak Ci, walau hal itu kerap membuat kikuk staf yang menyertainya. (Satu hal yang mengkhawatirkan stafnya adalah usia Pak Ci yang tidak muda lagi, sehingga mereka tengah memikirkan menyediakan seorang staf untuk ‘menjaganya’. Tapi ini pun tampaknya butuh upaya keras untuk diwujudkan). Ketika sarapan pagi di restoran hotel, jangan harap Anda bakal bisa menebak di mana ia akan duduk. Sering kali kami berharap Pak Ci akan duduk di posisi yang telah disediakan demi menghormatinya. Ternyata kami salah. Sebab Pak Ci justru memilih tempat duduk yang lain, yang lebih membaur dengan yang hadir. Kami juga tidak melihat ada kemewahan dalam memilih kendaraan yang digunakannya. Dalam perjalanan bisnis di Manado yang menghadirkan sejumlah staf Grup Ciputra dari Jakarta, hanya tersedia dua mobil Kijang Innova, diperuntukkan bagi Ciputra dan para staf. Dan, dari dua mobil itu tidak satu pun yang disediakan khusus bagi Pak Ci. Dan untungnya, Pak Ci bahkan tak pernah hirau ia bakal naik mobil mana dan dengan siapa. Ia tetap menikmati perjalanan bisnisnya, membicarakan visi dan mimpimimpinya, dengan siapa pun dia bepergian. Kami kira salah satu yang paling berbahagia bepergian dengan Pak Ci adalah Ibu Ciputra sendiri. Soalnya kami menduga Ibu Ci tak perlu repot dengan terlalu banyak koper untuk pakaian Pak Ci. Dalam hal ini kami berpendapat Pak Ci adalah orang yang superefisien. Entah disadarinya atau tidak, Pak Ci kami dapati memakai kemeja batik yang ia pakai sehari sebelumnya untuk bertemu Gubernur Sulawesi Utara keesokan harinya. Sementara sejumlah stafnya sudah berganti pakaian dua atau tiga kali, Pak Ci tetap mengenakan baju yang sama. Dr. Ir. Ciputra - Konklusi 10 Momen Dulu ia bekerja di ladang mencari makan hanya untuk dirinya dan keluarganya sendiri sekarang melalui profesinya ribuan orang mendapat kesempatan kerja dan ratusan ribu anggota keluarga mendapatkan nafkah dan masa depannya. Dulu ia tinggal di rumah sederhana sekarang ia telah menjadi pengembang yang membangun lebih dari 20 pengembangan perumahan skala kota untuk lebih dari 100.000 ribu hunian dan akan tinggal disana ratusan ribu penduduk. Dulu ia hanya seorang anak dari sebuah keluarga sederhana sekarang ia dapat menyumbang dana melalui pendidikan dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Dulu ia anak desa sekarang ia warga dunia yang terhormat, menjadi wakil Indonesia pertama menjadi pimpinan organisasi real estat dunia… Apakah profesi yang dipilihnya sehingga begitu besar dampak dan pengaruh kehidupannya pada masyarakat ..? Sejak masa muda Dr. Ir. Ciputra telah memilih menjadi seorang ENTREPRENEUR. Ia memilih dan juga membayar harga. Ia memimpikan dan juga bekerja keras. Keinginannya tidak hanya dipendam tapi sungguhsungguh dipikirkan dan diperjuangkan. Tidak heran bila sekarang ia menikmati hasilnya. Bukankah dapat kita simpulkan kembali betapa pentingnya peran para entrepreneur bagi masa depan bangsa kita…? Perhitungkanlah pilihan profesi ini dalam hidup Anda dan bukalah pikiran dan harapan Anda pada keajaiban dan keindahan masa depan. Seandainya Anda bertanya sendiri kepada Dr. Ir. Ciputra apa rahasia keberhasilannya maka saya yakin inilah yang akan dikataka nnya: “Coba bayangkan, nasib seperti apakah yang pantas terjadi pada seorang anak yang menjadi yatim di usia 12, dari keluarga sederhana, tinggal di sebuah desa kecil, di pedalaman pulau Sulawesi, 150 km dari Gorontalo, jauh dari kemajuan kota besar, jauh dari kemewahan fasilitas pendidikan…….., tanpa kasih -karunia Tuhan saya tidak akan menjadi siapa-siapa, namun kasih karunia Tuhan tidak dapat berkarya dengan efektif bila kita sendiri menutup diri akan pimpinan Tuhan dan tidak bersedia bekerja dengan seluruh kekuatan, sepenuh hati dan segenap pikiran. We Do the BEST and GOD does the REST “. pengalaman Ciputra sebagai entrepreneur yang terutama ditujukan kepada orang-orang muda calon entrepreneur dan para entrepreneur pemula. Buku ini dikerjakan dengan bahan utama wawancara dengan Ciputra dengan dukungan data dan dokumen pendukung tertulis lainnya. Buku ini telah memasuki cetakan ke11. Berikut ini adalah artikel di harian Bisnis Indonesia, 30 Juli 2006 tentang buku ini: Buku Kecil Kisah Raja Properti Membicarakan geliat bisnis properti dalam negeri tidak akan bisa melepaskan diri untuk tidak menyebut nama Presiden Komisaris PT Ciputra Development Tbk, Ciputra. Sukses Ciputra sejak awal memang bermula dari sekadar jualan gagasan, kerja keras, optimisme, dan rajin membina relasi sehingga mampu menjadi salah satu raksasa pengembang. Hingga kini sudah 22 kota baru di berbagai kota besar mendapat sentuhan tangannya. Perusahaan binaan Ciputra dapat dilihat di pasar dalam bentuk perumahan low rise ataupun high rise, mal, hotel, lapangan golf, perkantoran, rumah sakit, rumah ibadah, resor yang tersebar di dalam dan luar negeri. Lalu apa yang bisa dipetik dari perjalanan hidup Ciputra hingga menjadi salah satu bos besar pengembang? Jawabannya ada di buku kecil seukuran saku setebal 162 halaman ini. Kalau dikatakan untuk menjadi entrepereneur harus dari keluarga kaya maka Ciputra pantas menjawab tidak! dengan garis tebal, sebab dia bukan terlahir dari keluarga pengusaha. Ciputra kecil atau Tjie Tjin Hoan malah berasal dari keluarga sederhana di desa kecil Parigi, Sulteng. Ketika berusia 12 tahun, dia malah sudah kehilangan ayahnya yang meninggal di tahanan tentara pendudukan Jepang karena tuduhan palsu dianggap mata-mata Belanda. Demi mendapatkan masa depan yang lebih baik, bebas kemiskinan dan kemelaratan. anak bungsu dari tiga bersaudara dari keluarga Tjie Siem Poe itu kembali ke bangku sekolah walau terlambat. Ciputra baru masuk kelas 3 SD pada usia 12 tahun. Kalau dikatakan untuk menjadi pengusaha diperlukan modal besar. Lagi-lagi Ciputra akan menggeleng dengan tegas. Dia merintis usaha pengembang sejak kuliah di tingkat IV jurusan arsitektur ITB. Modal ide Usaha yang berkantor di sebuah garasi itu dilakukannya dengan dua teman kuliahnya untuk menutup biaya hidup yang tidak dapat disediakan ibunya dan demi persiapan masa depan. Artinya, usaha itu dilakukan tanpa modal yang mencukupi. Bahkan saat itu dia harus menanggung hidup orang lain yaitu Dian Sumeler, yang dinikahinya. Perkenalannya dengan Dian diawali ketika Ciputra sekolah SMA di Manado usai lulus dari tingkat SMP di Gorontalo. Selepas lulus dari ITB pada 1960, Ciputra berhasil meyakinkan Gubernur DKI-ketika itu-Soemarno untuk mendirikan perusahaan patungan dengan dirinya dan pihak swasta lain, yaitu PT Pembangunan Jaya. Ketika itu sesungguhnya dia hanya memiliki gagasan. Tidak sebidang tanah atau modal dia miliki. Hanya ide yang dia miliki untuk dijual pada para pemilik modal dan Pemda DKI Jakarta yang kemudian berkongsi mendirikan PT Pembangunan Jaya. Hal yang sama dilakukan anak dari keluarga sederhana di desa kecil Parigi, Sulteng itu saat menggagas Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) yang pada masa itu daerah Ancol dikenal sebagai kawasan ‘jin buang anak’. Meski sukses di PT Pembangunan Jaya, Ciputra tidak juga puas jiwa pengusaha selalu menuntut kemandirian. Untuk itu di usia 40 tahun dia mendirikan PT Metropolitan Development pada 1971.

24
Belum merasa cukup pada 1980, di usia 50 tahun, Ciputra mendirikan Grup Ciputra bersama istri dan keempat anaknya yang baru tamat kuliah di luar negeri. Inovasi, insting dan kemauan melakukan suatu hal yang belum dipikirkan pesaing juga dilakukannya dengan penuh keberanian yang dipertanyakan banyak pengembang lain. Sebut saja saat dia memutuskan untuk melebarkan sayap ke luar negeri. Sejak 1990 dia melakukan investasi di Singapura dan Hawai melalui Metropolitan Group. Pada 1990 Ciputra Group membangun proyek patungan hotel bintang 5 dan sebuah kota mandiri Ciputra International City di Hanoi, Vietnam sekaligus proyek real estat terbesar di Vietnam. Keberhasilan itu membuat Ciputra dipercaya untuk membangun kota baru di Kalkuta, India, Kamboja, Malaysia, China, Uni Emirat Arab. Pendek kata bagi Ciputra melalui buku ini berusaha menularkan jurus-jurus kesuksesannya yang disebutnya tak lepas dari berkat karunia Tuhan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->