Teori Belajar Dan Implikasinya Dalam Pembelajaran

A. Pandangan Teori Behaviorisme tentang Belajar Teori behaviorisme merupakan salah satu bidang kajian psikologi eksperimental yang kemudian diadopsi oleh dunia pendidikan. Meskipun dikemudian hari muncul berbagai aliran baru sebagai reaksi terhadap behaviorisme, namun harus diakui bahwa teori ini telah mendominasi argumentasi tentang fenomena belajar manusia hingga penghujung abad 20. Menurut teori behaviorisme, belajar dipandang sebagai perubahan tingkah laku, dimana perubahan tersebut muncul sebagai respons terhadap berbagai stimulus yang datang dari luar diri subyek. Secara teoritik, belajar dalam konteks behaviorisme melibatkan empat unsur pokok yaitu: drive, stimulus, response dan reinforcement. Apa yang dimaksudkan dengan drive yaitu suatu mekanisme psikologis yang mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhannya melalui aktivitas belajar. Stimulus yaitu ransangan dari luar diri subyek yang dapat menyebabkan terjadinya respons. Response adalah tanggapan atau reaksi terhadap rangsangan atau stimulus yang diberikan. Dalam perspektif behaviorisme, respons biasanya muncul dalam bentuk perilaku yang kelihatan. Reinforcement adalah penguatan yang diberikan kepada subyek belajar agar ia merasakan adanya kebutuhan untuk memberikan respons secara berkelanjutan. Pada bagian berikut ini secara berturut-turut akan dideskripsikan secara ringkas pandangan empat tokoh behaviorisme yakni Ivan Petrovich Pavlov, Edward Thorndike, Watson, dan Skiner. Upaya mengedepankan teori empat tokoh ini tidak dimaksudkan untuk mengabaikan pandangan para behavioris lainnya, melainkan semata-mata didasarkan pada pertimbangan bahwa teori behaviorisme Pavlov, Thorndike, Watson dan Skiner paling banyak dirujuk dalam dunia pendidikan. Disamping itu, pandangan Pavlov, Thorndike, Watson, dan Skiner umumnya telah digunakan secara luas sebagai asumsi dalam pengembangan model-model pembelajaran, maupun dalam mempreskripsikan strategi pembelajaran yang berbasis pada teori behaviorisme. A.1. Teori Classical Conditioning Ivan Pavlov Teori belajar Pavlov dikenal juga dengan istilah Classical Conditioning. Dengan menggunakan kata kunci conditioning, Pavlov hendak menekankan bahwa tidak semua stimulus dapat dianggap sebagai variabel anteseden dari peristiwa belajar. Stimulus yang tidak menyebabkan terjadinya aktivitas disebut sebagai stimulus fisiologis terutama melalui sistem reseptor. Bagi Pavlov, stimulus ini hanya melahirkan refleks dan karena itu tidak dapat dikatagorikan sebagai respons belajar. Stimulus fisiologis biasanya hanya dapat memunculkan refleks, sehingga diperlukan adanya stimulus yang terkondisi untuk merubah refleks menjadi aktivitas belajar. Dengan demikian, respons belajar, lanjut Pavlov, hanya terjadi melalui stimulus yang terkondisi dan terkontrol. Proses terjadinya respons belajar melalui stimulus yang terkondisi menurut Pavlov, bersifat gradual sehingga diperlukan adanya reinforcement, untuk pemantapan respons belajar, menghindari terjadinya extinction, atau menghilangnya respons belajar yang diharapkan serta mencegah terjadinya spontaneous recovery dalam waktu yang relatif singkat. Dalam argumentasi Pavlov ini terlihat bahwa aktivitas belajar berlansung dalam suatu proses evolusi melalui stimulus terkondisi yang dirancang secara sistematis dan dikontrol secara ketat untuk mendapat perilaku belajar yang memadai. A.2. Teori Operant Conditioning Skiner Teori belajar Skiner lebih dikenal dengan sebutan operant conditioning theory. Secara garis besar teori Skiner memiliki

A. Dengan asumsi semacam ini terlihat sekali bahwa Watson sangat berkepentingan untuk mensejajarkan teorinya dengan natural science yang sangat berorientasi pada fakta empirik yang bersifat kuantitatif. Watson cenderung mengabaikan berbagai proses perubahan mental yang mungkin saja terjadi dalam belajar. sebab menurutnya proses perubahan mental yang tidak tampak menyebabkan adanya kesulitan untuk menentukan apakah seseorang telah belajar atau belum. (2) pada awal proses belajar perlu ada reinforcement serta kontrol terhadap reinforcement yang diberikan. yaitu ketika seseorang memberikan respons belajar secara benar. (3) reinforcement perlu segera diberikan begitu terlihat adanya respons belajar yang benar. A. maka pembelajaran kemudian dipandang sebagai sebuah aktivitas alih pengetahuan (transfer of knowledge) oleh guru kepada . namun harus diakui bahwa teorinya telah memberikan inspirasi kepada para behaviorist yang datang sesudahnya. A.3. Kendati Thorndike tidak mengajukan prosedur pengukuran perilaku dalam teorinya. maka reinforcement selang-seling diberikan ketika terjadi penurunan respons belajar. Tipe reinforcement ini dapat dibagi menjadi ratio yaitu pemberian reinforcement berdasarkan jumlah respons yang diberikan serta interval yaitu pemberian reinforcement menurut rentang waktu tertentu. Implikasi Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran Berangkat dari asumsi bahwa belajar merupakan perubahan perilaku sebagai akibat interaksi antara stimulus dengan respons.persamaan dengan teori Pavlov. Menurut Watson kegagalan utama Thorndike adalah membuka peluang kepada proses mental yang tidak dapat diamati. Menurut teori koneksionisme belajar merupakan perubahan perilaku sebagai akibat interaksi antara stimulus dengan respons. sehingga bagi Watson teori Thorndike tidak memiliki justifikasi empirik untuk sebuah teori ilmiah. Pemberian reinforcement biasanya dilakukan pada awal proses belajar. perubahan perilaku belajar dapat berwujud perilaku yang konkret dan dapat diamati (observable behavior) serta perilaku yang tidak tampak dan tidak dapat diamati (hidden behavior). Akibat dari penekanan terhadap obsevable behavior semacam ini. Starting point analisis Skiner lebih diarahkan pada persoalan reinforcement. namun aksentuasi analisisnya berbeda. Pengabaian Watson tersebut lebih didasarkan pada pertimbangan teknis pengukuran perilaku. Dalam perspektif teori Skiner reinforcement perlu diberikan secara terus menerus maupun secara selang-seling dalam jangka waktu tertentu agar diperoleh hasil belajar yang memadai. (4) subyek belajar perlu diberi kesempatan untuk melakukan generalisasi.5. Hal penting yang dapat dipelajari dari teori belajar Skiner yaitu (1) prosers belajar hendaknya dirancang untuk jangka waktu yang pendek beradasarkan tingkah laku yang dipelajari sebelumnya. Jika contineous reinforcement diberikan pada awal peoses belajar. Bagi Thorndike. Teori Koneksionisme Edward Thorndike Teori belajar Edward Thorndike sering disebut juga Connectionism Theory.4. dan diskriminasi stimuli sebab hal ini akan memperbesar kemungkinan keberhasilan. Teori Behaviorisme Watson Watson adalah salah seorang behaviorist yang datang sesudah Thorndike. Perspektif teori Watson lebih ditekankan pada perubahan tingkah laku belajar yang harus dapat diamati (observable behavior).

Bahkan dalam derajat tertentu. para penganut teori kognitif membangun agumentasinya bahwa antara stimulus dan respons terdapat dimensi psikologis yang menyebabkan terjadinya perubahan mental dan akibat dari perbuhan inilah menyebabkan orang merespons suatu stimulus yang diberikan. c)Strategi pembelajaran lebih ditekankan pada perolehan keterampilan yang terisolasi dengan akumulasi fakta yang berbasis pada logika liner. Dalam perspektif semacam ini. f)Evaluasi lebih ditekankan pada respons pasif melalui sistem paper and pencil test dan menuntut hanya ada satu jawaban yang benar. Bagi para penganut teori kognitif. Pada awalnya. Jika terjadi perubahan perilaku yang tidak sesuai maka hal tersebut dipandang sebagai error behavior yang perlu diberikan ganjaran. teori kognitif juga merupakan bidang kajian psikologi yang banyak digunakan untuk menjelaskan fenomena belajar manusia. stimulus bukanlah variabel tunggal yang menyebabkan terjadinya respons melaikan terdapat variabel moderator tertentu yang turut mempengaruhi kemunculan suatu respons.Pandangan Teori Kognitif tentang Belajar Sama halnya dengan behviorisme. persepsi) yang menyebabkan orang memberikan respons terhadap sebuah stimulus belajar. Pembelajaran dengan demikian dirancang secara seragam dan berlaku untuk semua konteks. namun dalam perkembangan selanjutnya. tanpa mempersoalkan perbedaan karakteristik siswa maupun konteks sosial dimana siswa hidup. Kedudukan siswa dalam konteks pembelajaran behaviorisme menjadi “orang yang tidak tahu apa-apa” dan karena itu perlu diberitahu oleh guru. Meskipun dipandang sebagai sebuah teori sintesis. Kontrol belajar dalam pembelajaran behavioristik tidak memberi peluang bagi siswa untuk berekspresi menurut potensi yang dimilikinya melainkan menurut apa yang ditentukan. psikologi kognitif dipandang sebagai sebuah sintesis antara psikologi behaviorisme dan psikologi Gestalt. d)Pembelajaran mengikuti aturan kurikulum secara ketat dan belah lebih ditekankan pada keterampilan mengungkapkan kembali apa yang dipelajari. B. persepsi.Mengacu pada kerangka . e)Kegagalan dalam belajar atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum.siswa. evaluasi lebih ditekankan pada hasil dan bukan pada proses. maka secara ringkas implikasi teori behavioristik dalam pembelajaran dapat dideskripsikan sebagai berikut: a)Pembelajaran adalah upaya alih pengetahuan dari guru kepada siswa. mental. atau sintesis antara keduanya. b)Tujuan pembelajaran lebih ditekankan pada bagaimana menambah pengetahuan. Dengan demikian perubahan perilaku siswa mesti bersesuaian dengan apa yang dikehendaki oleh guru. Teori belajar kognitif merupakan salah satu teori yang muncul sebagai reaksi terhadap kelemahan mendasar dalam teori behaviorisme yang lebih mementingkan perubahan perilaku yang tampak. dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. motivasi dan sebagainya. terlihat bahwa peran guru dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Mengacu pada berbagai argumentasi yang telah dipaparkan. Dalam perspektif ini. Dalam beberapa literatur. justru teori belajar kognitif dipandang sebagai anti tesis terhadap teori belajar behaviorisme yang terlalu mekanistik sehingga tidak dapat dipakai sebagai teori yang representatif dalam menjelaskan fenomena belajar manusia. emosi. Dengan demikian. belajar bukan hanya sekadar inteaksi antara stimulus dan respons melainkan melibatkan juga aspek psikologis lain (mental. Variabel moderator inilah yang disebut sebagai faktor intenal seperti emosi. teori belajar kognitif mampu menunjukkan substansi kajian yang sama sekali berbeda dari behaviorisme.

Emil Bruner. Ausebel. proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yakni: ASIMILASI. manakala informasi atau pengetahuan baru yang diterima sesorang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bersesuaian (diasimilasikan) dengan struktur kognitif yang telah dimiliki sebelumnya. Switserland). konsep. 1)ASIMILASI adalah proses penyesuian persepsi. proses penyeimbangan berkelanjutan antara asimilasi dan akomodasi.1. Berdasarkan asumsi itulah. 1997). B. dan David P. Menurut Burner.berpikir tersebut para penganjur teori kognitif berpendapat bahwa belajar merupakan proses pembentukan dan perubahan persepsi akibat interaksi yang sustainable antara individu dengan lingkungan. Perubahan dimaksud terjadi. Kompleksitas pengetahuan dan struktur kognitif tidak dengan sendirinya menyebabkan terjadinya asimiliasi secara mulus. Skema pada prinsipnya tidak statis melainkan selalu mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan kognitif manusia. berminat dalam bidang filsafat dan baru pada tahun 1940 ia menekuni bidang Psikologi. belajar adalah proses perubahan secara kualitatif dalam struktur kognitif. Dalam konteks seperti ini struktur kongitif perlu disesuaiakan dengan pengetahuan baru yang diterima. Dalam kasus tertentu asimilasi mungkin saja tidak terjadi karena informasi baru yang diperoleh tidak bersesuaian dengan stuktur kognitif yang sudah ada. Teori Perkembangan Kognitif Piaget Jean Piaget merupakan salah satu ilmuan berkebangsaan Prancis (lahir di Neuchetel. stuktur mental atau kognitif yang menyebabkan seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengoordinasikan lingkungan sekitarnya (Suparno. Burner melihat perkembangan kognitif manusia berkaitan dengan kebudayaan. Berkaitan dengan belajar. dan mendapat gelar Ph. B. Penekanan Piaget tentang betapa pentingnya fungsi kognitif dalam belajar didasarkan pada tahap perkembangan kognitif manusia yang dikategorikan dalam suatu struktur hirarkhis terdiri dari enam jenjang. terutama bahasa yang biasanya digunakan. Menurut Paiget. 2)AKOMODASI yaitu. Piaget berpendapat bahwa belajar merupakan proses menyesuaikan pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang telah dipunyai seseorang. 3)EQUILIBRASI yaitu. Berikut ini dipaparkan pemikiran tiga tokoh garda depan dalam teori belajar kognitif yang sangat berjasa dalam mengembangkan teori ini. atau (2) memodifikasi skema yang telah ada agar cocok dengan pengetahuan yang baru diperoleh. Proses semacam ini disebut akomodasi. pengalaman dan pengetahuan baru ke dalam skema yang telah dimiliki seseorang. Bagi Piaget. mulai dari tahap sensori-motorik sampai tahap berpikir universal. dalam bidang ilmu Hewan. Teori Kognitif Bruner Berbeda dengan Piaget. Piaget membangun teorinya berdasarkan pada konsep Skema yaitu. perubahan skemata ke dalam situasi yang baru. Hal ini dapat dilakukan dengan cara: (1) membentuk skema baru yang cocok dengan pengetahuan yang baru diperoleh. perkembangan kognitif seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan. perkembangan kongitif manusia terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya memandang . AKOMODASI dan EQUILIBRASI.2. Bagi Bruner.D. Ketiga tokoh dimaksud yakni Jean Piaget.

(2) berfungsi sebagai mnemonic (jembatan penghubung) antara apa yang sedang dipelajari “saat ini” dengan apa yang “akan” dipelajari siswa. yaitu kerangka abstraksi atau ringkasan konseptual dari apa yang harus dipelajari berkaitan dengan penegetahuan yang telah dimiliki siswa sebelumnya. Bruner berpendapat bahwa pembelajaran dapat dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu seorang anak sampai mencapai tahap perkembangan tertentu. Agar belajar menjadi lebih bermakna. Belajar menurut Ausebel diartikan sebagai proses asimilasi pengetahuan baru dengan pengetahuan lama yang telah terdapat dalam struktur kognitif seseorang. demikian lanjut Ausebel. Dengan logika lain. perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan melalui materi yang dirancang sesuai dengan karakteristik kultural siswa. Ausebel merupakan salah satu tokoh garda depan dalam psikologi kognitif yang juga menaruh perhatian pada masalah belajar manusia. tahap dimana individu melakukan berbagai aktivitas yang berhubungan dengan usahanya memahami lingkungan.lingkungan. Dalam konteks berpikir yang demikian. makin meningkat pula ketidaktergantungan individu terhadap stimulus yang diberikan. . •Pertumbuhan seseorang tergantung pada perkembangan kemampuan internal untuk menyimpan dan memproses informasi. tahap dimana individu memiliki gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi oleh bahasa dan logika. Meskipun kedua syarat tersebut telah terpenuhi. •Tahap IKONIK yaitu. Ketiga tahap dimaksud meliputi: •Tahap ENAKTIF yaitu. •Perkembangan kongitif meningkatkan kemampuan siswa memikirkan beberapa alternatif secara serentak. Apabila bahan pembelajaran didesain secara baik.3. tahap individu memahami lingkungannya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. karena masih diperlukan adanya advance organizer. maka individu dapat belajar meskipun usianya belum memadai. Teori Belajar Bermakna Ausebel Sama halnya dengan Piaget dan Bruner. B. maka ada dua hal yang patut diperhatikan yaitu: (a) materi yang dipelajari haruslah merupakan materi yang bermakna sesuai dengan struktur kognitif siswa. •Tahap SIMBOLIK yaitu. Gagne dan Berliner menyimpulkan beberapa prinsip yang mendasari teori Bruner sebagai berikut: •Makin tinggi tingkat perkembangan intelektual seseorang. (b) aktivitas belajar semestinya berlangsung dalam kondisi belajar yang bermakna. •Untuk mengembangkan kognitif seseorang diperlukan interaksi yang intensif antara guru dan siswa. serta memberikan perhatian kepada beberapa stimulus dan situasi sekaligus. •Perkembangan intelektual meliputi peningkatan kemampuan untuk untuk mengutarakan pendapat dan gagasan melalui simbol. namun belajar belum dapat terjadi secara bermakna. Dalam konteks demikian aspek motivasional menjadi sangat penting. Bagi Ausebel advance organizer dapat memeberikan tiga manfaat penting yaitu: (1) dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi yang akan dipelajari oleh siswa. sebab tidak akan terjadi asimilasi pengetahuan baru jika siswa tidak memiliki keinginan dan pengetahuan bagaimana melakukannya.

dan alami. teori ini mendapat pengaruh dari disiplin psikologi terutama psikologi kognitif Piaget yang berhubungan dengan mekanisme psikologis yang mendorong terbentuknya pengetahuan. dan bukan sebaliknya sebagai beban. Implikasi Teori Kognitifisme dalam Pembelajaran Bagi para penganut aliran kognitifisme. Konstruksi makna ini dipengaruhi oleh pengertian yang telah ia punyai. sedangkan Ausebel lebih menekankan pada struktur kognitif. C. B. Terdapat empat keasamaan antara teori Bruner dan Ausebel yaitu: •Keduanya menekankan pada makna dan pemahaman.(3) mampu membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah. waluapun Bruner lebih menkankan pada stuktur ilmu. Jika ditelaah secara mendalam. ♣Setiap usaha mengkonseptualisasikan matari pembelajaran hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan siswa belajar. maka tampak bahwa terdapat beberapa persamaan antara pandangan Ausebel dan Bruner meskipun aksentuasinya berbeda. baik Bruner maupun Ausebel sama-sama menekankan pentingnya belajar konsep dan prinsip. Makna diciptakan siswa dari apa yang mereka lihat. rasakan. ♣Pembelajaran hendaknya dirancang sesuai dengan pengalaman belajar siswa dengan memperhatikan tahap-tahap perkembangannya. ♣Konstruksi makna merupakan suatu proses yang berlangsung terus-menerus seumur hidup. Teori ini berasal dari disiplin filsafat.Pandangan Teori Konstruktivisme tentang Belajar Menurut asalnya. Menurut teori ini pembentukan pengetahuan terjadi sebagai hasil konstruksi manusia atas realitas yang dihadapinya. ♣Materi pelajaran hendaknya dirancang dengan memperhatikan sequencing penyajian secara logis. khususnya filsafat ilmu. Proses tersebut dicirikan oleh beberapa hal sebagai berikut: ♣Belajar berarti membentuk makna. •Sama-sama menekankan tentang struktur. •Esensi belajar bukan hanya pengulangan secara verbatim. Pada tataran filsafat. ♣Belajar bukan kegiatan mengumpulkan fakta melainkan lebih berorientasi pada pengembangan berpikir dan pemikiran dengan cara membentuk pengertian yang baru. dengar. Menurut kaum konstruktivis. walaupun penekanan Bruner lebih pada masalah discovery secara induktif dan Ausebel pada internalisasi secara deduktif. Dalam perkembangan kemudian. belajar merupakan proses aktif siswa mengkostruksi pengetahuan.4. •Proses belajar mestinya belangsung dalam dan berhubungan dengan situasi konkrit. teori konstruktivime bukanlah teori pendidikan. teori ini membahas mengenai bagaimana proses terbentuknya pengetahuan manusia. Belajar bukanlah hasil dari perkembangan melainkan perkembangan itu . pembelajaran dipandang sebagai upaya memberikan bantuan kepada siswa untuk memperoleh informasi atau pengetahuan baru melalui proses discovery dan internalisasi. Agar discovery dan internalisasi dapat berlangsung secara benar maka perlu diperhatikan beberapa prinsip pembelajaran yang perlu sebagai berikut: ♣Setiap siswa perlu dimotivasi oleh guru agar merasa bahwa belajar merupakan suatu kebutuhan. ♣Pembelajaran hendaknya dimulai dari hal-hal yang konkrit ke hal-hal yang abstrak.

♣Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skemata seseorang dalam keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut. Argumentasi para konstruktivis memperlihatkan bahwa sebenarnya teori belajar konstrukvisme telah banyak mendapat pengaruh dari psikologi kognitif. mencari kejelasan. Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut dapat ditarik sebuah inferensi bahwa menurut teori konstruktivisme belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengabstraksi pengalaman sebagai hasil interaksi antara siswa dengan realitas baik realitas pribadi. asimilasi. membuat makna. bersikap kritis. Suatu perkembangan yang menuntun penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang. ♣Memberikan sejumlah kegiatan yang dapat merangsang keingintahuan siswa dan mendorong mereka untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya serta mengkomukasikan-nya secara ilmiah. belajar yang bermakna terjadi melalui refleksi. Mengajar berarti partisipasi aktif guru bersama-sama siswa dalam membangun pengetahuan. melainkan suatu penciptaan suasana yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. proses belajar serta hasil belajar yang diperolehnya. ♣Memonitor. dan mengadakan justifikasi. Guru hendaknya menciptakan rangsangan belajar melalui penyediaan situasi problematik yang memungkinkan siswa belajar memecahkan masalah.sendiri. Sebagai fasilitator dan mediator tugas guru dapat dijabarkan sebagai berikut: ♣Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab dalam merencanakan aktivitas belajar. konstruksi atau pemaknaan terhadap realitas adalah berlajar itu sendiri. Walaupun mendapat pengaruh psikologi kognitif. guru berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan sebagaimana mestinya. Dengan asumsi seperti ini. Dalam konteks yang demikian. bukan suatu proses mekanis untuk mengumpulkan fakta. sebetulnya substansi konstrukvisme terletak pada pengakuan akan hekekat manusia sebagai homo creator yang dapat mengkonstruksi realitasnya sendiri. sehingga dalam batas tertentu aliran ini dapat disebut juga neokognitif. belajar adalah suatu proses organik untuk menemukan sesuatu. Beberapa faktor seperti pengalaman. Implikasi Teori Konstruktivisme dalam Pembelajaran Bagi kaum konstruktivis. maupun realitas sosial. Dengan demikian menjadi jelas bahwa memberi kuliah atau ceramah bukanlah tugas utama guru. mengevaluasi dan menunjukkan tingkat perkembangan berpikir siswa. ♣Menyediakan sarana belajar yang merangsang siswa berpikir secara produktif. dan internalisasi). Situasi disekuilibrium merupakan situasi yang baik untuk belajar. C. pemecahan konflik pengertian dan selalu terjadi pembaharuan terhadap pengertian yang tidak lengkap. kemampuan kognitif dan lingkungan sangat berpengaruh dalam proses konstruksi makna. alam.1. Menurut prinsip konstruktivisme. ♣Hasil belajar siswa tergantung pada apa yang sudah diketahuinya. namun harus diakui bahwa stressing point teori ini bukan terletak pada berberapa konsep psikologi kognitif yang diadopsinya (pengalaman. Dalam konteks demikian. Proses ini adalah proses yang aktif dan dinamis. Bagi kaum konstruktivis.melainkan pada konstuksi pengetahuan. Guru dapat menunjukkan dan . Proses konstruksi pengetahuan berlangsung secara pribadi maupun sosial. pengetahuan awal. Jadi mengajar adalah belajar itu sendiri. Konstruksi pengetahuan yang dimaksudkan dalam pandangan konstruktivisme yaitu pemaknaan realitas yang dilakukan setiap orang ketika berinteraksi dengan lingkungan. ♣Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman belajar dengan dunia fisik dan lingkungan siswa. mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru kepada siswa.

(Ditulis Oleh Drs. M.com/2010/05/09/teori-belajar-dan-implikasinya-dalam-pembelajaran/ .mempertanyakan sejauh mana pengetahuan siswa untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan dengan pengetahuan yang dimilikinya.Pd .Dalam buku “Wawasan Pembelajaran” halaman 1-15) http://edukasi.Agustinus Maniyeni.kompasiana.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful