MATERI KONSEP DAN TEORI PEMEROLEHAN BAHASA KONSEP DAN TEORI PEMEROLEHAN BAHASA

PENDAHULUAN Pembeciraan mengenai hipotesis-hipotesis pemerolehan bahasa yang kemudian melahirkan teori-teori tentang pemerolehan bahasa memang telah banyak dibahas dan dikaji para ahli sejak awal tahun 1900-an dan bahkan pada tahun 1845 telah muncul metode “Grammar Translation Metshod”. Dimana pada tahun 1900-an dan 1940 sampai 1950-an lahir kelompok Strukturalisme dan Behaviorisme yang tokoh-tokohnya antara lain John Lock, John B. Watson (1878-1958), dan B.F.Skinner (1904-1990). Lalu kemudian muncul lagi kelompok Rasionalisme dan Kognitivisme Psikologi pada tahun 1960-an dan 1970-an yang dipelopori oleh Noam Chomsky (1928-sekarang). Kemudian lahir lagi kelompok yang menamakan diri sebagai kaum Konstruktivisme pada tahun 1980-an, 1990-an dan awal 2000 (Brown, 2000:12). Para ahli, bahkan masih terus melakukan penyempurnaan dan mencari jawaban terhadap pertanyaan–pertanyaan yang belum terjawab oleh teori-teori sebelumnya, termasuk kita (dosen dan mahasiswa yang bergelut dalam bidang bahasa) merupakan orang yang terlibat dalam usaha ini. Dengan kata lain kita memiliki rasa ingin tahu dan perhatian besar (curiosity and interest) terhadap persoalan ini. Dari teori-teori tersebut diatas tentu akan menghasilkan metode atau pendekatan dalam pengajaran bahasa sebagai manfaat praktis (practical significance) teori-teori tersebut. Mulai dari metode tertua “Grammar Translation Method” (1845-1900) sampai dengan yang ada sekarang ini, yang kita kenal dengan istilah “Communicative Approaches” (1985-sekarang) yang diawali oleh munculnya “Hipotesis Krashen” kemudian menjadi teori yang paling banyak dijadikan acuan dalam pengajaran bahasa, khususnya bahasa kedua (second language acquisition). Pertanyaanya adalah “How important is the theory need to know and understand?” Jawabanya adalah seperti yang dikatakan Freeman dan Long (1994) bahwa teori dapat meluruskan cara kita melihat suatu persoalan (Ghazali, 2000:13). Lebih lanjut Freeman dan Long (1994) menjelaskan ada dua macam sifat teori. Pertama, adalah teori yang bersumber dari hasil pengamatan empirik yang biasanya dirumuskan setelah setelah sebuah penelitian diulang beberapa kali kemudian dari pengulangan tersebut didapatkan hasil yang konsisten dan tentu saja didalamnya terdapat rumusan-rumusan, sehingga munculah apa yang disebut dengan “teori”. Kedua, adalah teori semestinya tidak sekedar berisi rumusan kaidah-kaidah ( bank of informations) yang diperoleh dari hasil pengamatan empirik, tetapi lebih dari itu, teori harus dapat dipakai untuk memahami gejala yang kita hadapi secara jernih dan jelas. Dengan kata lain teori tersebut dapat memberikan prediksi terhadap keadaan yang akan datang secara tepat (Ghazali, 2000: 13-14). Dengan demikian bahwa mengetahui dan memahami teori itu sangat penting dan bahkan mendesak, terutama bagi kita semua sebagai masyarakat ilmiah. Dengan demikian kita akan mudah menentukan metode atau pendekatan pengajaran yang lebih baik. Sesuai dengan tuntutan zaman sekarang ini, kita sebagai (guru dan dosen) dituntut untuk lebih mampu memberdayakan peserta didik dengan metode pengajaran dan pembelajaran yang lebih komunikatif, bersahabat, dan menyenangkan yang pada akhirnya peserta didik tidak merasa bosan

yang bisa menimbulkan salah pengertian kita terutama karena kemiripan pengucapannya adalah sifat pemerolehan yaitu nurture atau nature. Karena alat ini berlaku semesta. Pelopor moderen dalam pandangan ini adalah seorang psikolog dari Universitas Harvard yaitu. diantaranya. yakni. Lebih rinci mengenai aspek perbedaan keduanya bisa dilihat pada Ellis (1990) dalam bukunya “Instructed Second Language Acquisition”. belajar di kelas/di luar (indoor dan outdoor class) dan diajarkan oleh guru. .F.dan bahkan merasa terzalimi karena tidak mendapatkan sesuatu yang lebih (sesuai dengan tuntutan zaman dimana mereka akan hidup) disebabkan oleh guru atau dosenya yang hanya mengajar dengan gaya “turun temurun”. Pemahaman Istilah (Acquisition dan Learning. nature dan nurture. dan Competence dan Performance) Sebelum kita berbicara tentang teori pemerolehan bahasa. serta istilah kompetensi (competence) dan performasi (performance). Skinner. maka kemudian Chomsky merumuskan teorinya dengan istilah Universal Grammar (tatabahasa semesta). Sedangkan istilah nature adalah lahir dari teori Innatisme yang dipelopori oleh Noam Chomsky (1960an) yang mengatakn bahwa manusia dilahirkan dengan Innate Properties (bekal kodrati) yaitu bersama Faculties of the Mind (kapling minda) yang salah satu bagiannya khusus untuk memperoleh bahasa. Jadi perkembangan pemerolehan bahasa anak akan seiring dengan pertumbuhan faktor biologisnya (Ghazali: 2000 dan Dardjowidjojo: 2005). Wilkins (1974) dalam Ellis (1990:41) memberikan pengertian terhadap perbedaan istilah pemerolehan dan pembelajaran seperti berikut: The term acquisition is the process where language is acquired as a result of natural and largely random exposure to language while the term learning is the process where the exposure is structured through language teaching. B. Meskipun masih banyak pengertian lain yang diberikan para ahli mengenai kedua istilah tersebut. Nurhadi. that acquisition and learning were synonymous with informal and formal language learning context. Istilah tersebut memang lahir dari kedua tokoh yang berlainan aliran dan bidang kajian yang berbeda pula. Namun demikian ada juga yang menggunakan istilah “pemerolehan bahasa kedua” (second language acquisition) seperti Krashen (1972). URAIAN SINGKAT: A. In other word. yaitu Language Acquisition Device (piranti pemerolehan bahasa). Disamping kedua istilah diatas. dan lain-lain. dimana istilah nurture merupakan kesimpulan dari teori Behaviorisme yang mengatakan bahwa otak manusia dilahirkan seperti tabulrasa (blank slate/piring kosong) dimana blank slate ini akan diisi oleh alam sekitarnya. sebaiknya kita menyamakan persepsi kita terhadap beberapa istilah penting yang biasanya dipergunakan dalam topik semacam ini yang bisa saja menimbulkan salah pengertian (misconception) diantara kita. istilah pemerolehan (acquisition) danpembelajaran (learning). namun kita dapat membedakan keduanya dan menarik kesimpulan bahwa “pemerolehan” merupakan proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya (native language/mother tongue) sedangkan “pembelajaran” adalah proses yang dilakukan (umumnya dewasa) dalam tatanan yang formal. Nature dan Nurture.

Sejalan dengan anggapan diatas mereka (kaum behaviorisme) menganggap bahwa pengetahuan linguistik terdiri hanya dari rangkaian hubungan – hubungan yang dibentuk dengan cara pembelajaran “stimulus – respons”. Tetapi tetap saja apa yang mereka usahakan tidak mampu menjawab faktor kreatifitas dalam penggunaan bahasa serta bagaimana kompetensi bahasa digunakan untuk membuat dan memahami kalimat-kalimat baru yang belum . B. kecuali orang tersebut mengalami language disorders seperti dyslexia dan aphasia. Chomsky (1960) mengatakan bahwa: “Competence: What we know .Our deep structure . Watson seorang tokoh terkemuka alisan Behaviorisme dalam Psikologi. Teori Behaviorisme Teori ini mulanya. Teori – Teori Pemerolehan Bahasa 1. Dalam pengertian lain bisa juga dikatakan bahwa yang disebut dengan kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. 2003:167).Our surface structure .17 salah satu tokoh Empirisme yaitu John Lock yang kemudian dianut dan disebarluaskan oleh John B. Chomsky menganggap bahwa kaum behaviorisme tidak mampu menjelaskan proses pemerolehan bahasa itu sendiri. sedangkan performasi merupakan kemampuan memahami dan melahirkan atau menerbitkan kalimat-kalimat baru (Chaer. terilhami oleh seorang filusuf Inggris yang hidup pada abad ke. karena tanpa bekal kodrati makhluk tidak mungkin anak dapat berbahasa sedangkan nurture diperlukan.What we are capable of doing while Performance: What we show . Kritik dari Chomsky ini mengundang reaksi dari pengikut kaum behaviorisme seperti Jenkin dengan teori mediasinya dengan mengatakan bahwa: “Learners receive linguistic input from speakers in their environment and they form associations between words and object or events” . 2002:173). 2003:237).What we do ” (Elliot. yang nanti akan diisi dengan pengalaman-pengalaman. Mereka mengklaim bahwa otak bayi waktu dilahirkan sama sekali seperti kertas kosong/piring kosong (tabularasa/blank slate). Watson dalam berbagai tulisan mereka di jurnal-jurnal ilmiah (Encarta Encyclopedia:2006). karena tanpa input dari alam sekitar bekal yang kodrati itu tidak akan terwujud (Dardjowidjojo. Meskipun sebelumnya telah dijelaskan oleh seorang filusuf dan juga negarawan asal Inggris yang bernama Francis Bacon di awal abad ke-17 baru kemudia dimunculkan oleh Lock dan John B. Anggapan ini kemudian mendapat kritik dari para ahli lain terutama dari Chomsky pakar teori transformasi generative. Dengan kata lain bahwa semua pengetahuan dalam bahasa manusia yang tampak dalam perilaku berbahasa adalah merupakan hasil dari integrasi peristiwa-peristiwa linguistik yang diamati dan dialami manusia (Chaer.Meskipun terjadi perbedaan sifat pemerolehan seperti disebutkan diatas. Sehingga ketika seseorang memiliki kompetensi berbahasa yang baik dan benar maka sudah bisa dipastikan orang tersebut akan sukses dalam performasinya (spoken&written language). dimana bahasa diasumsikan sebagai sekumpulan tabiat-tabiat atau perilaku-perilaku yang kemudian ditulis pada tabularasa otak anak. 1996:7-9). namun antara Nurture dan Nature sama-sama saling mendukung. Dari teori Universal Grammar Chomsky tersebut diatas muncul istilah competence dan performance. Nature diperlukan.

kalimat. barulah ia kemudian menerapkan kemampuan bahasanya (linguistic knowledge). Perbedaan dan kesamaanya dengan teori Chomsky yaitu: . organ bicara. Sehingga kalimat-kalima yang belum pernah didengar sebelumnya akan tetap mampu di ujarkan secara benar dan konsisten karena ada LAD/PPB tersebut. Teori Innetisme Teori ini dipelopori oleh Noam Chomsky pada awal tahun 1960-an sebagai bantahan terhadap teori belajar bahasa yang dilontarkan oleh kaum behaviorisme tersebut. kata. 2. 1977). frasa. Anak tidak dilahirkan sebagai tabularasa. dan seterusnya (Clark&Clark. dll) yang pada akhirnya mampu mempelajari kaidah tata bahasa. Mereka mengatakan bahwa anak lebih dahulu mengembangkan pengetahuan dunia secara umum (nonlinguistic knowledge). artinya anak memperoleh bahasa seperti dia memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan. Pemerolehan bahasa bukan didasarkan pada nurture (pemerolehan itu ditentukan oleh alam lingkungan) tetapi pada nature.pernah dibuatnya. yaitu “Language Acquisition Device”. Dengan demikian. Noam Chomsky berkesimpulan bahwa teori behaviorisme tidak mampu menjelaskan proses pemerolehan bahasa dan kompetensi linguistiknya. Kemudian kemampuan itu tumbuh dan berkembang sejalan dengan bertumbuhan biologis anak (otak. Lebih lanjut Chomsky mengatakan bahwa lingkungan hanya berfungsi sebagai pemberi masukan dan Language Acquisition Device itulah yang akan mengolah masukan (input) dan menentukan apa yang dikuasai lebih dahulu seperti bunyi. kemudian memancing para teoritis (1970-an) untuk kembali mengembangkan teori kognitif yang semula dikenal dalam ilmu psikologis. Teori Kognitivisme Berawal dari pernyataan Jean Piaget (1926) yang berunyi “ logical thinking underlies both linguistic and nonlinguistic developments” . begitu pula dengan pengikutnya yang lain seperti Bloomfield and Skinner yang mendasari pada hipotesis tabularasa dan teori stimulus-respons. Dalam kaitannya dengan perkembangan kemampuan berbahasa. bahwa kemampuan yang dimiliki manusia telah terprogram secara biologis agar manusia dapat belajar bahasa. Pemetaan tersebut terjadi melalui proses asosiasi (bagaimana proses asosiasi ini terjadi silakan lihat Chaer. kaum kognitivisme mengatakan bahwa anak harus lebih dahulu memiliki kemampuan memetakan pikiran logis terhadap kategori dan hubungan yang ada dalam bahasa. 2002). untuk menerangkan pertumbuhan kemampuan berbahasa yang mereka anggap belum memuaskan dari penjelasan Chomsky diatas. tetapi telah dibekali dengan Innate Properties (bekal kodrati) yaitu Faculties of the Mind (kapling minda) yang salah satu bagiannya khusus untk memperoleh bahasa. 3. karena alat tersebut berlaku semesta maka kemudian Chomsky merumuskan teorinya dengan istilah Universal Grammar (tatabahasa semesta).

Jadi. bukan berarti tanpa kritik. Teori ini banyak dipengaruhi oleh hasil penelitian psikolinguistik experimental dan psikologi kognitif.1 2 Perbedaan INNATISME Kemampuan kognitif telah terprogram sebelum ia dilahirkan Berbicara mengenai kemampuan belajar KOGNITIVISME Kemampuan kognitif itu tumbuh akibat anak berinteraksi dengan lingkungannya Berbicara tentang kemampuan berpikir logis Peran berpikir logis sangat penting Kemampuan berpikir logis merupakan ciri unik yang hanya dimiliki manusia Aspek berpikir logis mestinya berkembang lebih dahulu sebelum anak mengembangkan bahasa 3 Peran berpikir logis tidak penting Kemampuan belajar bahasa merupakan ciri 4 unik yang hanya dimiliki manusia Perkembangan knowledge of 5 language berkembang secara terpisah dari 1 Persamaa n 2 3 perkembangan berpikir logis bahasanya Sama-sama memiliki pandangan tentang pertumbuhan kemampuan bahasa Sama – sama berpendapat bahwa apa yang diperoleh anak adalah categories and rules of language Sama – sama menyetujui bahwa kedua pengetahuan itu ( categories and rules of language) terletak didalam otak pembelajar bahasa Sumber: Ghazali (2000). Terlepas dari segala kelebihan yang melekat pada teori interaksionis ini. 1999:43). Teresa Pica (1994). keduanya ikut mengambil peran dalam proses pemerolehan bahasa kedua. baik Hatch (1992). sehingga perlu kembali merujuk ke teori innatisme. Teori Interaksionisme Teori ini berpandangan bahwa baik faktor psikologis maupun sosial. since what the learners need is not a simplification of linguistic form but an opportunity to interact with other speakers. Karena dengan adanya kondisi demikian akan membantu pembelajar bahasa untuk mendapatkan akses pada pengetahuan baru tentang bahasa target. maupun antara kelompok dengan kelompok lain dan seterusnya sehingga membentuk “conversations”. antara individu dengan kelompok. dan Michael Long (1983) mengatakan bahwa “much of L2 acquisition takes place through conversational interaction. 5. Owens (1992) 4. tentu saja hal ini akan terjadi bila didukung penuh oleh si interlocutor (orang yang diajak bicara) (Lightbown & Spada. kritiknya adalah bahwa ada banyak hal yang mesti diketahui oleh pembelajar yang tidak ada bersama input itu. yang dialami oleh teori sebelumnya. Teori Pemerolehan Bahasa Kedua dari Krashen (Second Language Acquisition) . in way which lead them make adaptation” (Lightbown & Spada. Kaum Interaksionis menekankan pentingnya interaksi yang berlangsung antara individu. Antara lain. 1999:43). seperti prinsip-prinsip bawaan yang dikatakan Chomsky. seperti.

Pemakai bahasa mengetahui structure yang diperlukan pada saat ia berinteraksi. Biasanya hal ini dilakukan dalam situasi yang formal. 2. 2). Kelima hipotesis itu adalah sebagai berikut: 1. Tentu saja peran learned system sebagai penyunting akan sukses bila memenuhi tiga macam kondisi berikut: 1). 2002). 2000 dan Chaer. 4. Acquired system mengacu ke proses bawah sadar yang dikembangkan oleh seorang anak ketika belajar bahasa pertmanya (native language). Sedangkan learned system mengacu pada usaha anak untuk menguasai structure sederhana bahasa kedua. Identifying the elements that begin and end sentences. Kedua hal tersebut adalah acquired system dan learned system. Hipotesis Pemerolehan-Pembelajaran (Acquisition-Learning Hypothesis) Hipotesis ini menyatakan bahwa ada dua sistem belajar bahasa kedua. Acquired system itu akan bertindak sebagai pengambil inisiatif dalam performasi. 4. Sedangkan pengetahuan yang didapat dari learned system berperan sebagai penyunting dan pengoreksi apabila ada kesalahan dalam structure. tetapi berikut hanya akan dibahas lima diantaranya yang dianggap paling berpengaruh dalam proses pemerolehan bahasa kedua/target.2.Ada Sembilan hipotesis yang diajukan Stephan Krashen mengenai pemerolehan bahasa kedua (Ghazali. Hipotesis Masukan (Input Hypothesis) Hipotesis ini menerangkan tentang proses pemerolehan bahasa pada pembelajar bahasa kedua. 3. Selama proses pemerolehan ini biasanya anak tidak terlalu fokus dengan structure. Pemakai bahasa memusatkan perhatiannya pada language structure yang diperlukan. Pemerolehan itu dapat terjadi apabila masukan (input) itu dapat dipahami (comprehensible). 3). yaitu. Hipotesis Monitor (Monitor Hypothesis) Hipotesis ini menjelaskan bagaimana hubungan anatara acquired system dan learned system tersebut diatas. Untuk memahami input itu pembelajar bisa dibantu dengan penguasaan tatabahasa yang telah . melalui empat tahap: 1. Urutan yang dimaksud bersifat alamiah. 3. setiap sistem terpisah satu sama lain namun saling terkait. tetapi lebih pada meaning. Comprehensible input itu bisa didapatkan melalui tuturan dan bacaan yang dapat dipahami maknanya. Hipotesis Urutan Alamiah (Natural Order Hypothesis) Hipotesis ini menyatakan bahawa dalam proses pemerolehan bahasa anak-anak memperolehan unsurunsur bahasa menurut urutan tertentu yang dapat diprediksi sebelumnya. Pemakai bahasa memiliki waktu yang memadai/tidak terburu-buru. Stringing words together based on meaning and not syntax. Identifying the different elements within sentences and can rearrange them to produce questions. Producing single words.

dan rasa takut (anxiety). Teori Behaviorisme lebih banyak menekankan pada “Say what I say” (imitation. 5. Sedangkan teori Interaksionis lebih pada aspek sosial “there is a little help from your friends” (conversational interaction). penjelasan atau gambar-gambar dan struktur tersebut dipahami dan bantuan penerjemahan. Tentu saja. antara lain: fokus pada makna daripada bentuk. Kemudian teori Kognitif berusaha menggabungkan kedua teori sebelumnya yaitu teori Behaviorisme dan Innetisme. maka akan terjadi mental block (saluran mental yang buntu) sehingga akan menghambat proses pemerolehan bahasanya. Yang terakhir adalah hipotesis pemerolehan bahasa kedua dari Krasen yang bila kita perhatikan waktu kemunculannya adalah setelah teori-teori yang disebutkan diatas yaitu sekitar tahun 1970-an hingga saat sekarang ini masih sangat mendominasi dunia pengajaran bahasa. Krasen menekankan pengajaran. reinforcement. namun penekanannya dititikberatkan pada aspek kognitif (the power of logical thinking) sesuai dengan pernyataan Jean Piaget yang berunyi “ logical thinking underlies both linguistic and nonlinguistic developments”. . Teori Innetisme mengatakan “It’s all in your mind” (Language Acquisition Device). dan ciptakan suasana kelas yang membangkitkan motivasi pembelajar untuk memaksimalkan proses pemerolehan bahasa kedua atau bahasa target. ciptakan suasana kelas yang lebih komunikatif dan bermakna.diperoleh sebelumnya. ini merupakan usaha keras para ahli. Namun. KESIMPULAN Terlepas dari segala bentuk kelebihan dan kekurangan yang dimiliki masing-masing teori diatas. baik ahli bahasa sendiri maupun ahli psikologi untuk menemukan jawaban terhadap permasalahan berbahasa (language teaching and learning) yang begitu kompleks. tidak membahas metode pengajaran bahasa. pengetahuan tentang dunia. practice. Faktor-faktor tersebut yaitu: motivasi ( motivation). and habit formation). Serta hindari segala bentuk hukuman atas kegagalan pembelajar karena itu akan mematikan kreatifitas mereka (performance). setiap teori yang ada memiliki metode dan tempat tersendiri didalam pengajaran bahasa sesuai dengan karakteristiknya masing-masing serta fenomena yang ditemukannya. pusatkan pembelajaran pada siswa sehingga meraka merasa bebas mengungkapkan apa yang telah diperoleh tanpa dikoreksi lebih dahulu. yang mana tujuan akhirnya adalah bagaimana mereka menemukan metode pengajaran bahasa yang lebih baik sesuai tuntutan zaman. keyakinan diri (self-confidence). Sebliknya jika ia masih memiliki rasa takut (anxiety) untuk mengungkapkan sesuatu yang diperolehnya atau melakukan latihan. Mental block itu akan menghambat comprehensible input ke dalam Language Acquisition Device. Hipotesis Saringan Afektif (Affective Filter Hypothesis) Hipetesis ini menekankan akan pentingnya faktor dalam diri pembelajar bahasa (external factors) dalam mensukseskan pemerolehan bahasanya. dalam pembahasan diatas hanya mengidentifikasi teori–teori seputar pemerolehan bahasa. Jika pembelajar memiliki motivasi dan kepercayaan diri yang tinggi maka ia akan memiliki peluang lebih besar untuk sukses.

Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Chaer. Owens. New York: Harcourt Brace Jovanovich. Inc. Psychology and Language: An Introduction to Psycholinguistics. Encarta Encyclopedia Dari website: http://gorontalo-education.html . Cambridge: Basil Blackwell. Patsy M&Spada. H. 1999. 1977. Psikolinguistik: Kajian Teoritik. Clark. Instructed Second Language Acquisition. Ellis. Abdul. Rod. Eve V. Herbert H. Douglas. 2000. Jakarta: Yayasan Obor. Robert E JR. Inc Ghazali.com/2012/10/materi-konsep-dan-teoripemerolehan_4678. Jakarta: Rineka Cipta. 2005. 2002. Nina. New Yersy: Prentice-Hall. 2000. Syukur. Soenjono. Electronic Book. Inc. How Language are Learned. Language Development. Dardjowidjojo. Pemerolehan dan Pengajaran Bahasa Kedua.&Clark. Oxford: University Press. Jakarta: Dikti Depdiknas.blogspot. Principles of Language Learning and Teaching. New York: Macmillan Publishing Company. 1992. 2006. Lightbown.DAFTAR PUSTAKA Brown. 1990.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful