P. 1
Makalah Perah

Makalah Perah

|Views: 821|Likes:
Published by Asykhiya Ahmad

More info:

Published by: Asykhiya Ahmad on Apr 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/09/2014

pdf

text

original

1.

PENDAHULUAN

1.2 Latar Belakang Ambing adalah bagian tubuh yang paling penting dalam sapi perah karena ambing merupakan tempet produksi susu dan alat pengeluarannya,sehingga keberadaan ambing pada sapi perah sangat perlu dipelihara dan dijaga dengan baik agar dapat berfungsi dengan baik dan dapat menghasilkan susu yang banyak,pertumbuhan atau perkembangan ambing,terdapat banyak factor factor yang dapat mempenngaruhi jenis dan kualitas ambing diantaranya ,bangsa,pakan periode laktasi masa laktasi hal ini dapat mempengaruhi perkembangan ambing, Ambing juga sangat perludiperhatikan dan dirawat dengan baik agar tedik tirjangkit mastitis yang dapaat mengurangi produksi sapi tersebut dalam satu ambing sapi dibagi menjadi empat bagian yaitu bagian depan kanan , depan kiri,belakang kanan dan belakang kiri dan masing masing memiliki kemampuan menampung susu yang berbeda beda karena susu sapiperah menyerupai perahu dan lebih besar bagianbelakang,sehingga produksi susu ambing belakang lebih tinggi dibandingkan poduksi ambing depan sehingga terlhat ambingbagian

belakang lebih besar dan persentasi penampungannya yaitu 60% belakang berbanding 40% depan,untuk mengetahui hal tersebut lebih lanjut maka prtlu dilakukan praktikum tentang sapi perah cara pemerahannya dan pengamatan produksi susu perkuartir nya untuk menjelaskan hasil kuliah dikelas. Anatomi ambing dilakukan dengan melakukan pengamatan bagian-bagian ambing awetan sapi dara dan sapi laktasi. Hasil pengamatan antara sapi dara dan sapi laktasi terlihat bahwa ukuran ambing sapi dara baik panjang ambing, jarak antar puting baik depan kanan, depan kiri, belakang kanan, dan belakang kiri lebih kecil dibandingkan dengan sapi laktasi. Sesuai pendapat Syarif dan Sumoprastowo (1990) hal ini disebabkan susunan penyokong ambing dara masih berupa perlemakan dan bagian-bagiannya masih belum terlihat jelas. Kelenjar-

kelenjar ambing juga belum bias menghasilkan susu, dikarenakan sapi perah tersebut belum bunting maupun melahirkan. 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui bentuk ambing sapi perah yang baik dan tidak 2. Untuk mengamati perbedaan antara ambing yang satu dan yang lain 3. Mampu membedakan produksi susu ambing yang baik dan yang kurang baik.

1.4

Manfaat Mahasiswa dapat membedakan mana ambing yang baik dan ambing yang

benar.

II.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ambing terdiri dari 4 bagian yang masing-masing terletak di daerah inguinal caudal dari umbilicus dan meluas ke belakang di antara kedua paha. Pada kulitnya terdapat bulu kecuali pada putting. Ambing terpisah menjadi bagian kanan dan kiri oleh central ligament. Masing-masing terdiri dari 2 kuartir, kuartir depan dan belakang dipisahkan oleh lapisan tipis (fine membrane). Lapisan pemisah ini menyebabkan setiap kuartir ambing berdiri sendiri terutama pada kenampakan secara eksterior. Perbedaannya terletak pada ukuran ambing dan struktur atau anatomi bagian dalamnya, yaitu belum sempurnanya kerja sel-sel penghasil susu (Soebronto,1985). Vena mammaria pada ambing sapi laktasi tampak jelas karena sapi laktasi sudah dapat memproduksi susu.Siklus estrus yang berulang, menyebabkan perkembangan jaringan kelenjar susu lebih cepat. Bila sapi dara telah mengalami beberapa kali siklus estrus, maka duktusnya memperlihatakan banyak cabang dalam ambing (Frandson, 1992). Kelenjar mamae atau ambing sapi terdiri dari empat bagian. Kulit ambing ditutupio rambuhalus tetapi putting sama sekali tidak tertutup rambut. Tiap bagian itu, dilihat dari segi jaringan kelenjarnya, merupakan suatu kesatuan yang terpisah. Separo bagian kiri, masing masing terdiri dari satu quarter cranial ambing (depan) dan satu quarter cauda ambing, dan masing masing bagian tersebut lebih kurang merupakan kesatuan sendiri sendiri. Separo bagian ambing yang satu tidak tergantung pada separo bagian ambing yang lain, khususnya dalam hal suplai darah, suplai saraf dan apartus suspensoris. Pemisahan ambing menjdai dua bagian bagian kearah ventral ditandai dengan adanya kerutan longitudingal pada lekukan intermamae, keadang kadang kea rah ventral terhadap kerutan tranversal diantara dua quarter ambing dari masing masing separo bagian yang lain. Pembagian ambing menjadi empat bagian meliputi jaringan kelenjar dan system salura, yang lebih kurang mirip dua buah pohon yang saling berdekatan dimana ranting sertsa dahannya bertaut, namun

masing masing mempunyai ciri ciri sendiri. Jadi semua susu berasal dari putting dan diproduksi oleh jaringan kelenjar mamae dari masing masing satu kuarter ambing. Bagaimanapun suplai darah, suplai saraf, aliran vena, dan aliran limfatika, untuk bagian bagiannya tersebut adalah sama. Lowe (1981) menyatakan bahwa didalam ambing susu disekresikan oleh unit-unit. Sekretoris individual yang bentuknya menyerupai buah anggur dan disebut alveolis. Unit - unit kecil ini berukuran diameter 0,1 sampai 0,3 milimeter dan terdiri dari suatu lapisan dalam sel-sel epitel yang menyelubungi suatu rongga yang disebut lumen. Sel-sel epitel tersebut mensekresikan susu dengan cara menyerap zat-zat dari dalam darah dan mensintesisnya menjadi susu. Susu hasil sintensis kemudian disekresikan ke dalam lumen alveolus yang apabila dalam keadaan penuh berisi sekitar 1/5 tetes. Sekelompok alveolus yang berbentuk seperti setangkai buah anggur disebut lobul. Gillespie (1989) menyatakan bahwa mengukur tinggi ambing ditujukan hanya pada bentuk organ ambing yang normal bukan pada organ ambing yang kurang baik penampilannya seperti ambing yang kendur turun ke bawah, tidak semetris, tidak proporsional, tidak seimbang, dan terkena penyakit. Baker (1983) menyatakan bahwa puting merupakan saluran yang paling terakhir yang akan dilewati oleh air susu dan akan keluar menetes diujung puting. Selanjutnya Anonim (1990) menyatakan bahwa bentuk serta ukuran puting yang terdiri dari empat buah haruslah sama dan letaknya simestris. Puting yang besar akan mempermudah pemerahan. Kinerja dan fungsi dari puting ini diawali dari sisterna kelenjar dimana sisterna kelenjar ini merupakan titik pengumpulan dari semua saluran dan mampu menampung 1 kilogram susu. Sistem kelenjar kemudian mengalirkan susu ke cincin anular putting 6 bagian atas, menuju kesisterna puting atau rongga yang ada didalam puting. Bocornya susu dari rongga puting dapat dicegah dan dihalangi oleh adanya otot otot sfingter yang melingkar dan menutup saluran. Saluran inilah merupakan piniu bukaan dan sistem puting sebelum muncul keruang bebas diluar puting (Campbell and Marshall, 1975).

Adanya rangsangan yang timbul akibat dari berbagai rangsangan seperti rangsangan terhadap puting, rangsangan penglihatan serta rangsangan sensori lainnya yang berhubungan dengan pemerahan dimana rangsangan tersebut itu diteruskan oleh impuls syaraf lalu menuju ke korda spinalis sehingga menyebabkan terlepasnya hormon oksitosin dari lobus posterior kelenjar pitiutery dan masuk kedalam aliran darah. Oksitosin mencapai ambing dalam beberapa detik dan menyebabkan timbulnya konrraksi jaringan alveoli dan saluran kecil sehingga mendorong air susu keluar dari tempatnya didalam ambing lalu keluar melalui puting (Gillespie, 1989). Pada saat pemerahan, puting yang kecil kurang begitu menguntungkan dalam pengeluaran air susu, sebab hal ini terjadi karena saluran pada puting yang sempit dam kecil. Putting yang kecil sangat bermasalah dalam menggunakan mesin pemerah (Lowe, 1981). Ukuran ambing yang semakin besar memberikan indikasi meningkatnya jumlah produksi susu. Hal ini didasari bahwa ambing merupakan organ penampung air susu dimana jumlah air susu yang ditampung banyak maka akan memberikan perubahan benruk dan ukuran pada organ ambing. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gillespie (1989) bahwa ukuran ambing yang besar akan memberikan kapasitas produksi air susu yang besar pula. Terdapat korelasi positif dan hubungan sangat nyata antara lingkar ambing dengan produksi susu. Campbell dan Marshall (1975) menyatakan bahwa ukuran panjang ambing akan bergeser apabila organ ambing ini memproduksi susu yang banyak. Peristiwa ini terjadi karena ruang penampang air susu didalam ambing terus dipenuhi oleh air susu yang disekresikan oleh kelenjar alveoli sehingga memaksa untuk melar dan membesar yang memberikan dampak terus bertambahnya ukuran panjang ambing tersebut. Volume ambing yang besar memiliki produktivitas susu yang tinggi dibandingkan volume ambing yang berukuran kecil, ambing terdiri dari dua bagian yang terpisah dimana ambing yang ideal harus sama besar (simetris) dengan jarak antar puting yang agak berjauhan. Bentuk ambing ini mampu menghasilkan susu secara maksimal (Anonim, 2009). Baker (1983) menyatakan

bahwa dengan bentuk ambing yang simestris menjamin banyaknya produksi susu.

proporsional serta besar, akan

Setelah produksi susu mencapai puncaknya harus diperhatikan laju penurunan produksi susu atau persislensinya sehingga tetap memproduksi susu dengan bauk. Persisiensi produksi susu mempunyai kaitan dengan perpanjangan masa hidup dan kemampuan perlambatan laju penyusutan sel-sel sekretoris kelenjar ambing (Atabany, 2001). Pernah dilakukan suatu eksperimaen yang mengisolasi ambingsapi perah, yang dilakukan dengan cara operasi. Separuh dari ambing tersebut dicelupkan kedalam darah dari seekor sapi, sesaat setelah sapi itu menerima stimulus berupa penyusuan, separuh ambing lainnya dicelupkan pada darah yang berasal dari sapi yang tidak mengalami rangsangan. Dari eksperimen ini didapati hasil dari bahwa separuh ambing yang pertama menghasilkan susu yang jauh lebih banyak dibandingkandengan separuh ambing yang kedua (Frandson, 1986). Pada dasarnya seluruh susu yang didapatdari satu kali pemerahan, berada didalam kelenjar mamae pada awal pemerahan atau awal penyusuan. Pencucian ambing merangsang pengeluaran susu dalam waktu sekitar satu menit. Hal ini akan membentuk tekanan didalam kelenjar yang kemudian secara perlahan perlahan menurun meski tidak ada susu yang diperah keluar, sekalipu. Pengaruh pengeluaran (let down) tersebut akan berakhir pada 15 menit, yang disebabkan oleh inaktivasi atau pelepasan (disipasi) oksitosin. Pada mulanya dianggap bahwa sapi perah akan memnghailkanjumlah produksi susu terbesar apabila apabila sapi itu diperah dengan cara regular tiap 8 atau 12 jam. Akan tetapi penurunan hasil hanmpir tidak berarti apabila sapi itu diperah dengan menggunakan interval yang tidak teratur. Selanjutnya interval pemerahan yang tidak sama Nampak tidak memberikan pengaruh yang jelek terhadap kesehatan ambing atau perkembangan timbulnya ketosis. Hal serupa juga didapati pada domba (Frandson, 1986). Sebaliknya telah diketahui bahwa pemberian tambahan cahaya

merangsang laktasi maupun pertumbnuhan sapi. Hal ini dilaporkan oleh Peter dkk (1978). Mereka mendapatkan bahwa cahaya selama 16 jam tiap hari (114-207

luks) meningkatkan pertambahan berat badan dan produksi susu antara 10 sampai 15% pada sapi perah Holstein, dibandingkan dengan sapi periode pencahayaan normal antara 9 samapi 12 jam. Peratambhan tersebut dicapai tanpa penambahan jumlah konsumsi makanan. Mereka juga mencatat adanya peningkatan konsentrasi prolaktin di dalam darah. Disamping itu anak anak domba juga tumbuh sekurang kurangnya 21% lebuih cepat 16 jam pada periode pencahayaan dibandingkan dengan pencahayaan 8 jam. Hasil tersebut memberikan kesan bahwa cahaya juga mempengaruhi fungsi hipofisial gonadal, karena konsentrasi LH (lutinizing hormone) juga bertumbuh bervariasi berdasar pada lamanya pencahayaan. Produksi susu juga dapat diturunkan atau dalam beberapa hal dihentikan dengan cara membuang satu atau lebih kelenjar kelenjar berikut ini : hipofisis, kelenjar adrenal, ovary, dan kelenjar tiroid. Meskipun hipofisis diperlukan untuk laktasi, penyuntikan ACTH pada sapi nampaknya menyebabkan penurunan

sementara dalam produksi susu. Sebaliknya, penyuntikan ACTH akan meningkatkan produksi susu pada sapi perah. Tiroidektomi menurunkan produksi susu, tetapi tiroksin akan mengambalikan produksi ketingkat normal pada hewan hewan yang mengalami tiroidektomi dan bahkan akan meningkatkan produksi susu pada sapi sapi yang normal (Frandson, 1986).

III. 3.1 kesimpulan

KESIMPULAN DAN SARAN

Volume ambing yang besar memiliki produktivitas susu yang tinggi dibandingkan volume ambing yang berukuran kecil, ambing terdiri dari dua bagian yang terpisah dimana ambing yang ideal harus sama besar (simetris) dengan jarak antar puting yang agak berjauhan. Hubungan antara dimensi ambing dan putting dengan produksi susu yang dihasilkan sapi perah menunjukkan korelasi positif dan sangat erat, pada lingkar putting menunjukkan korelasi positif dan sangat erat.

DAFTAR PUSTAKA Atabany, & I. Komala. 2008. Penampilan produksi susu dan reproduksi sapi Friesian Holstein di Balai Pengembangan Pembibitan Ternak Sapi Perah Cikole, Lembang. “Jurnal” Teknologi Peternakan dan Veteriner. 137-145. Baker C.G.J.1983.Cascading rotary dryers. In Mujumdar (ed) Proc.Drying'83. Hemisphere Publishing, Washington, USA, 2,1-48. CAMPBELL,J.R. and R.T. MARSHALL . 1975. The Science of Providing Milk for Aleut . McGraw-Hill Book. Company, New York. Frandson, RD. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Gillespie AJR, Lugo AE. 1989. Biomass Estimation Methods for. Tropical Forest with Aplication to Forest Inventory Data. Forest. Science;35:881-902. Lowe, A.V.1981. The Law of The Sea. Rev. ed. Menchester University Press. Peter, et al . 1978. Building for Energy Conservation. John Wiley & Sons, New. York. Subronto.2003.Penyakit Mastitis pada Kambing. UGM press. Yogyakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->