SEMANTIK

Oleh: Ratih Nurhayati K1210041 B

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

peristiwa. yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa: fonologi. semantik kalimat. Ferdinand de Saussure dalam teorinya menyatakan bahwa tanda linguistik (Signe Linguistique) terdiri dari komponen signifian dan signifie. yang menjadi objek berupa leksikon atau kosa kata bahasa tersebut. dan lain-lain. Oleh karena itu. kita dapat membedakan berbagai jenis semantik. Bapak linguistik modern. morfofonemik. semantik. yaitu sub sistem gramatika. JENIS SEMANTIK Objek studi semantik adalah makna bahasa. Sub sistem semantik dan fonetik bersifat periperal. tidak ada artinya. Makna leksikal adalah makna unsur-unsur bahasa sebagai lambang benda. Sistem bahasa ini terdiri dari lima sub sistem. Yang dibicarakan adalah makna leksem-leksem(satuan-satuan) bahasa yang bermakna. Suatu studi semantik yang objek penelitiannya berupa morfologis dan sintaksis termasuk semantik gramatikal. dan semantik (Chaer. fonologi. 1994: 2). Dalam semantik leksikal. seorang tokoh strukturalis menyatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem yang kompleks dari kebiasaan-kebiasaan. Hocket. . yang berarti studi linguistik tanpa disertai dengan studi semantik. Berdasarkan komponen bahasa yang dijadikan objek atau sasaran dalam studi atau penelitian. Sebab kedua komponen itu merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kita mengenal semantik leksikal. dan sebagainya.PENGERTIAN SEMANTIK Kata semantik berasal dari bahasa Yunani sema yang artinya tanda atau lambang (sign). kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti. semantik gramatikal. gramatika. dan fonetik. Kata semantik kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Makna-makna yang terdapat dalam tataran gramatikal disebut makna gramatikal. “Semantik” pertama kali digunakan oleh seorang filolog Perancis bernama Michel Breal pada tahun 1883.

misalnya tentang peran agentif. Misalnya pada kata “lapala” dalam bentuk bentuk kalimat bentuk : . Makna leksikal dapat pula diartikan makna yang ada dalam kamus. Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada dalam satu konteks. Misalnya dalam proses afikasi perfiks ber – dengan dasar baju melahirkan makna gramatikal “memakai baju”.Semantik sintaktikal adalah semantik yang objek penelitiannya atau studi semantik tersebut berupa hal-hal yang berhubungan dengan sintaktis. Pemakaian kata-kata secara metaforis tentu masih ada yang menyangkut masalah semantik. atau kalimatisasi. reduplikasi. Oleh karena itu. JENIS MAKNA Makna Lekskal. komposisi. HAKIKAT MAKNA Menurut de Saussure setiap tanda linguistik terdiri dari komponen signifian (yang mengartikan) yang wujudnya berupa runtunan bunyi. Verhaar memberikan penjelasan mengenai semantik maksud dengan menampilkan kalimat yang memakai kata-kata secara metaforis. dan komponen signifie (yang diartikan) berupa pengertian atau konsep (yang dimiliki oleh signifian). Jadi menurut Ferdinand de Saussure makna adalah “pengertian” atau “konsep” yang terdapat pada sebuah tanda linguistik. Gramatikal. seperti afiksasi. tetapi bukan semantik leksikal karena makna leksikalnya tidak berubah dan juga bukan semantik gramatikal karena yang dipersoalkan adalah unsur leksikal belaka. masalah semantik seperti kasus metafora disebut semantik maksud. Verhaar juga menyatakan ada satu jenis semantik lagi yaitu semantik maksud. dan sebagainya. Makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal. objektif. Verhaar(1983:126) berpendapat bahwa semantik kalimat adalah semua yang termasuk semantik tetapi tidak termasuk dalam semantik gramatikal atau semantik leksikal. dan Kontekstual Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun.

Oleh Leech (1976) ke dalam makna asosiasi ini dimasukkan juga yang disebut akna konotatif. atau acuannya dalam dunia nyata. kamu). Kata “kepala” pada kedua kalimat di atas memiliki makna yang berbeda. makna konseptual sama dengan makna leksikal. Misal kata “babi” bermakna binatang yang biasa diternakkan dan diambil dagingnya. Makna konotasi ada tiga. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Konotasi netral misal kurus. melainkan dapat berpindah dari maujud satu ke maujud lain disebut kata-kata deiktik. seperti sekarang.a) Rambut di kepala nenek putih semua b) Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu. dan konotasi negatif misalnya kerempeng. Makna denotatif sama dengan makna leksikal. Yang termasuk katakata deiktik adalah kata-kata promira (dia. Kata-kata yang acuannya tidak menetap pada satu maujud. Makna stalistika berkenaan . atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. stilistika. Jadi. denotatif dan makna referensial. di sana. misalnya di sini. kata-kata yang disebut kata penunjuk. dan gambar. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Makna Denotatif dan Konotatif Makna denotatif adalah makna asli. Makna konotatif termasuk dalam makna asosiatif karena berasosiasi dengan nilai rasa terhadap kata itu. saya. dan makna kolakotif. Misalnya kata kuda. Sebaliknya kata-kata seperti dan. afektif. Misalnya kata “merah” berasosiasi dengan berani. merah. besok. Makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotatif. konotasi positif misalnya ramping. seperti ini dan itu. Kata kuda memiliki makna konseptual “sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai”. karena tidak mempunyai referens. Makna Referensial dan Non-referensial Sebuah kata bermakna referensial kalau ada referensnya. kata-kata yang menyatakan waktu. katakata yang menyatakan ruang.

kediaman. istana. Misalnya. kasar. hanya cocok atau berkolakasi dengan kata yang memiliki ciri “pria”. pondok. contohnya. Contoh : seperti anjing dengan kucing artinya dua orang yang tidak bisa akur. Misalnya kata “kuping” dalam bidang kedokteran adalah bagian yang terletak di luar. sehingga kata tersebut hanya cocok untuk digunakan berpasangan dengan kata tertentu. Makna Kata dan Makna Istilah Makna kata masih bersifat umum. Misalnya. tidak meragukan meskipun tanpa konteks kalimat. “Tutup mulut kalian !” bentaknya kepada kami b. Makna afektif berkenaan dengan perasaan pembicara terhadap lawan bicara.dengan pembedaan penggunaan kata sehubungan dengan perbedaan bidang sosial atau bidang kegiatan. Makna Idiom dan Peribahasa Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya. dan tidak jelas. Peribahasa memiliki makna yang masih bisa ditelusuri dari makna unsurunsurnya karena adanya “asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa. a. baik secara leksikal maupun gramatikal. sedangkan telinga bagian yang terletak di dalam. Idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. vila. dan wisma yang semuanya memberi asosiasi yang berbeda terhadap penghuninya. kita membedakan penggunaan kata rumah. Makna istilah mempunyai makna yang pasti. Makna kata menjadi jelas jika kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya. buku putih yang bermakna “buku yang memuat keterangan resmi mengenai suatu kasus” kata “buku” masih memiliki makna leksikalnya. Misalnya pada kedua kalimat di bawah ini memiliki makna afektif yang berbeda. kondominium. Contoh idiom adalah membanting tulang. mohon diam sebentar !” katanya kepada kami Makna kolakotif berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata dari sejumlah kata-kata yang bersinonim. “Coba. jelas. kata “tampan” sesungguhnya bersinonim dengan kata cantik. meja hijau. .

antara lain : Pertama. sedangkan kata “surya” hanya cocok digunakan pada ragam sastra. “saya” digunakan secara umum. Contoh : baik berantonim buruk. Misalnya kata “hulubalang” dengan kata “komandan”. Misalnya uang dan duit. komandan tidak. Kedua. Keenam. bidang kegiatan. Sinonim Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan kesamaan makna antara ujaran yang satu dengan ujaran yang lainnya. Dilihat dari sifat hubungannya. faktor wilayah. misalnya kata “saya” digunakan oleh siapa saja kepada siapa saja. batasnya itu dapat bergerak menjadi lebih atau kurang. antonim yang bersifat relatif atau bergradasi yaitu antonim yang batas antara satu dengan yang lainnya tidak dapat ditentukan secara jelas. Antonim Antonim adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan. kata “melirik” memiliki makna melihat dengan sudut mata. Ketiga. antonim dibedakan atas beberapa jenis. Contohnya kata hidup berantonim secara mutlak dengan kata mati. faktor sosial. faktor waktu. Misalnya kata “beta” untuk wilayah Indonesia bagian timur. Kelima.RELASI MAKNA Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa yang lain. faktor keformalan. antonim yang bersifat mutlak. faktor nuansa makna. Misalnya kata “melihat” memiliki makna umum. antara lain : Pertama. “aku” digunakan terhadap teman sebaya. Kedua. Keempat. Contoh : betul bersinonim dengan benar. Ketidaksamaan makna ujaran dikarenakan beberapa faktor. Misalnya kata “matahari” bias digunakan dalam kegiatan apa saja atau umum. . Hulubalang berpengertian klasik.

Contohnya : kata gram dan kilogram. kepala surat c. Homografi mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografi atau ejaannya. Homofini adalah kesamaan bunyi antara dua satuan ujaran. kepala manusia Homonimi Homonimi adalah dua buah kata satu satuan ujaran yang bentuknya sama maknanya berbeda. Misalnya suami dengan isteri. Contoh kata “kepala” pada frase berikut : a. antonim yang bersifat relasional yaitu antonim yang munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain.Ketiga. kepala kantor b. Keempat. Misalnya kata “teras”. jongkok dan bersila. . Polisemi Polisemi adalah kata yang memiliki makna lebih dari satu. antonim majemuk yaitu antonim yang memiliki pasangan lebih dari satu. Kelima. tidur. tiarap. Teras yang maknanya inti dan teras yang maknanya serambi. Contohnya “bang” dengan bank. Misalnya kata “bisa” yang bermakna “sanggup” dan “bisa” yang bermakna racun ular. antonim yang bersifat hierarkial yaitu antonim yang kedua satuan jaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang atau hierarki. menjual dengan membeli. kepala meja d. Misalnya kata berdiri berantonim dengan kata duduk. Dalam homonimi ada yang disebut homofoni dan homografi. tanpa memperhatikan ejaannya. tetapi ucapan dan maknanya tidak sama.

Misalnya. bentuk “buku sejarah baru” dapat ditaksirkan menjadi (1) buku sejarah itu baru terbit. . Misalnya kesamaan makna dalam kalimat “Bola itu ditendang oleh Dika” dengan “Bola itu ditendang Dika” kata “oleh” inilah yang dianggap sebagai redundans.Hiponimi Hiponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. atau (2) buku itu memuat sejarah zaman baru. Redudansi Redudansi adalah penggunaan unsur segmental dalam bentuk suatu ujaran yang berlebih-lebihan. Kini. Misalnya pada zaman feudal dulu. Burung berhiponim merpati. Dalam kata jendela. pintu. Kedua. untuk menyebut orang yang dihormati. antara lain : Pertama. Ambiquiti atau Ketaksaan Ambiquiti adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda yang terjadi pada bahasa tulis. dan rumah. makna sebuah kata tetap sama. berlebih-lebihan PERUBAHAN MAKNA Secara sinkronis (masa yang relatif singkat). Hal ini disebabkan beberapa faktor. Contoh merpati berhiponim dengan burung. Misalnya kata “sastra” mulanya bermakna “tulisan” lalu berubah menjadi bermakna “bacaan”. Namanya yang tepat adalah partonimi atau meronimi. jendela dan pintu hanya bagian atau komponen dari rumah. perkembangan sosial budaya. perkembangan iptek. kata “tuan” diganti dengan kata “bapak” yang terasa lebih demokratis. tetapi secara diakronis (masa yang relatif lama) kemungkinan bisa berubah. karena dalam bahasa tulis unsur suprasegmental tidak dapat digambarkan dengan akurat. digunakan kata “tuan”.

perkembangan pemakaian kata. Misalnya kata “sarjana” tadinya bermakna “orang cerdik” tetapi kini hanya bermakna “lulusan perguruan tinggi” saja. tetapi juga celana. Misalnya kata “menggarap” dari bidang pertanian digunakan juga dalam bidang lain dengan makna “mengerjakan. misalnya kata “Baju” mulanya bermakna pakaian. Perubahan makan yang bersifat “mengkasarkan” misalnya kata “kalah” digantu dengan “masuk kotak”. adanya asosiasi yaitu hubungan antara sebuah bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain berkenaan dengan bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain yang berkenaan dengan bentuk ujaran itu. Kelima. pada mlanya hanya bermakna „seperut‟ atau „sekandungan‟. artinya makna yang dimiliki sekarang jauh berbeda dengan makna aslinya. lalu menjadi bermakna “B”. seperti pada ujaran “kata-katanya sangat pedas”. Ada juga perubahan makna yang “menghaluskan” misalnya kata “pemecatan” diganti PHK. Misalnya kata “pedas” yang seharusnya ditanggap oleh alat indra perasa lidah menjadi ditanggap oleh alat pendengar telinga. sehingga dengan demikian bila disebut ujaran itu maka yang dimaksud adalah sesuatu yang lain yang berkenaan dengan ujaran itu.Ketiga. sekarang bermakna karya cipta. dasi dan sebagainya. topi. tetapi kemudian karena berbagai faktor menjadi memilki makna-makna lain. perubahan makna yang “mengkasarkan” disebut disfemia. Umpamanya kata saudara yang sudah disinggung di depan. artinya kalau tadinya kata bermakna umum menjadi bermakna khusus. Kemudian maknanya berkembang menjadi „siapa saja yang sepertalian . artinya kalau tadinya kata bermakna “A”. Misalnya kata “seni” pada mulanya hanya berkenaan dengan air seni. JENIS PERUBAHAN Meluas Yang dimaksud dengan perubahan makna meluas adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata (leksem) yang pada mulanya hanya memiliki sebuah „makna‟. Keempat. pertukaran tanggapan indra. Perubahan makna secara total. Perubahan makna meluas. seperti sarjana pendidikan. Perubahan makna menyempit. sepatu. Perubahan makna yang “menghaluskan” disebut eufemia/eufemisme. Misalnya kata “amplop” yang berarti sampul surat dan yang berarti “uang sogok”. membuat”.

Misalnya pada kata sarjana yang paada mulanya berarti „orang pandai‟ atau „cendekiawan‟. tetapi sangkut pautnya ini tampaknya sudah jauh sekali. anak paman pun disebut saudara. Kecenderungan untuk menghaluskan makna kata tampaknya merupakan gejala umum dalam masyarakat bahasa Indonesia. Hanya konsep makna mengenai kata atau bentuk itu yang berubah. kata ceramah pada mulanya berarti „cerewet‟ atau „banyak cakap‟ tetapi kini berarti „pidato atau uraian‟ mengenai suatu ahl yang disampaikan di depan orang banyak. Memang ada kemungkinan makna yang dimiliki sekarang masih ada sangkut pautnya dengan makan asal. kita berhadapan dengan sebuah kata atau sebuah bentuk yang tetap. kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja. Misalnya kata „penjara‟ diganti dengan ungkapan „lembaga pemasyarakatan‟ Pengasaran (disfemia) . kemudian hanya berarti ‟orang yang lulus dari perguruan tinggi‟. seperti tampak pada sarjana sastra. dan sarjana hukum. Misalnya.darah‟. atau berubah secara total. Dalam pembicaraan mengenai penghalusan ini kita berhadapan dengan gejala ditampilkannya kata-kata atau bentuk-bentuk yang dianggap memiliki makna yang lebih halus. Perubahan Total Yang dimaksud dengan perubahan total adalah berubahnya sama sekali makna sebuah kata dari makna asalnya. atau lebih sopan daripada yang akan digantikan. Menyempit Yang dimaksud dengan perubahan menyempit adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas. menyempi. Akibatnya. Malah kini siapa pun dapat disebut saudara. Penghalusan (ufemia) Dalam pembicaraan mengenai pembicaraan makna yang meluas. sarjana ekonomi. Lebih jauh lagi selanjutnya siapa pun yang masih mempunyai kesamaan asal-usul disebut juga saudara.

Kata-kata yang mengelompok dalam satu medan makna. hijau. verbalah yang menentukan kehadiran konstituan lain dalam sebuah kalimat. Kata layar. berdasarkan siswat hubungan semantisnya dapat dibedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set. Misalnya dalam kalimat “tiang layer perahu nelayan itu patah dihantam badai !”. hitam. biru. semantif field) atau median leksikal adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu. Komponen Makna Makna yang dimiliki oleh setiap kata terdiri dari sejumlah komponen makna yang membentuk keseluruhan makna kata itu. bahasa Indonesia memberi keterangan perbandingan. Umpanyanya. perahu. coklat. Kelompok set menunjuk pada hubungan paradigmatik. Misalnya medan warna dalam bahasa Indonesia mengenal nama-nama merah. kata remaja merupakan tahap erkembangan dari kanak-kanak menjadi dewasa. nelayan. kalau verbanya berupa kata kerja membaca. maka dalam kalimat itu akan hadir sebuah subjek . menurut Chafe. karena kata-kata yang berada dalam satu kelompok set itu bisa saling disubtitusikan. MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA Medan Makna Medan makna (semantic domain. Kesesuaian Semantik dan Sintaktik Menurut Chafe (1970) inti sebuah kalimat adalah pada predikat atau verba. putih.Pengasaran atau disfemia adalah usaha untuk mengganti makna yang maknanya halus atau biasa dengan kata yang bermakna kasar yang biasanya dilakukan orang dalam situasi yang tidak ramah atau untuk menunjukkan kejengkelan. merah jambu. kuning. Misalnya kata mencaplok dipakai untuk mengganti kata mengambil dengan begitu saja. dan merah bata. satu tempat atau lingkungan yang sama. Untuk mengatakan nuansa warna yang berbeda. Kolokasi menunjuk pada hubungan sintagmantik yang terdapat antara kata-kata atau unsurunsur leksikal itu. seperti merah darah. dan badai yang merupakan kata-kata dalam satu kolokasi.

Jakarta:PT.com/2010/04/16/semantik-bahasaindonesia-rangkuman/.1995. Abdul.1990. bacaan.wordpress. Selain itu juga harus hadir objek nomina yang memiliki komponen makna bacaan.Rineka Cipta Suwandi.Surakarta:UNS Press Semantik Bahasa Indonesia Rangkuman(online). Sumber : Chaer.http://elyhamdan.Sarwiji.berupa nomina pelaku dan berkomponen makna manusia. Diakses tanggal 28 Agustus 2011 .Semantik Pengantar Kajian Makna.Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. sebab verba membaca juga memiliki komponen makna.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful