SEMANTIK

Oleh: Ratih Nurhayati K1210041 B

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

Yang dibicarakan adalah makna leksem-leksem(satuan-satuan) bahasa yang bermakna. Suatu studi semantik yang objek penelitiannya berupa morfologis dan sintaksis termasuk semantik gramatikal. semantik gramatikal. Berdasarkan komponen bahasa yang dijadikan objek atau sasaran dalam studi atau penelitian. Kita mengenal semantik leksikal. dan fonetik. Sub sistem semantik dan fonetik bersifat periperal. yaitu sub sistem gramatika. dan semantik (Chaer. Sistem bahasa ini terdiri dari lima sub sistem. fonologi. yang menjadi objek berupa leksikon atau kosa kata bahasa tersebut. Sebab kedua komponen itu merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. dan sebagainya. morfofonemik. seorang tokoh strukturalis menyatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem yang kompleks dari kebiasaan-kebiasaan. Bapak linguistik modern. kita dapat membedakan berbagai jenis semantik. kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti. Kata semantik kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. gramatika. “Semantik” pertama kali digunakan oleh seorang filolog Perancis bernama Michel Breal pada tahun 1883. dan lain-lain. Oleh karena itu. Makna leksikal adalah makna unsur-unsur bahasa sebagai lambang benda. yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa: fonologi. Dalam semantik leksikal. . yang berarti studi linguistik tanpa disertai dengan studi semantik. Ferdinand de Saussure dalam teorinya menyatakan bahwa tanda linguistik (Signe Linguistique) terdiri dari komponen signifian dan signifie. JENIS SEMANTIK Objek studi semantik adalah makna bahasa. peristiwa. semantik. Makna-makna yang terdapat dalam tataran gramatikal disebut makna gramatikal. Hocket. tidak ada artinya. 1994: 2). semantik kalimat.PENGERTIAN SEMANTIK Kata semantik berasal dari bahasa Yunani sema yang artinya tanda atau lambang (sign).

Semantik sintaktikal adalah semantik yang objek penelitiannya atau studi semantik tersebut berupa hal-hal yang berhubungan dengan sintaktis. JENIS MAKNA Makna Lekskal. Oleh karena itu. dan sebagainya. Misalnya pada kata “lapala” dalam bentuk bentuk kalimat bentuk : . dan komponen signifie (yang diartikan) berupa pengertian atau konsep (yang dimiliki oleh signifian). tetapi bukan semantik leksikal karena makna leksikalnya tidak berubah dan juga bukan semantik gramatikal karena yang dipersoalkan adalah unsur leksikal belaka. Gramatikal. Verhaar juga menyatakan ada satu jenis semantik lagi yaitu semantik maksud. dan Kontekstual Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun. objektif. Makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal. HAKIKAT MAKNA Menurut de Saussure setiap tanda linguistik terdiri dari komponen signifian (yang mengartikan) yang wujudnya berupa runtunan bunyi. seperti afiksasi. Misalnya dalam proses afikasi perfiks ber – dengan dasar baju melahirkan makna gramatikal “memakai baju”. Verhaar(1983:126) berpendapat bahwa semantik kalimat adalah semua yang termasuk semantik tetapi tidak termasuk dalam semantik gramatikal atau semantik leksikal. misalnya tentang peran agentif. komposisi. Pemakaian kata-kata secara metaforis tentu masih ada yang menyangkut masalah semantik. atau kalimatisasi. Verhaar memberikan penjelasan mengenai semantik maksud dengan menampilkan kalimat yang memakai kata-kata secara metaforis. Jadi menurut Ferdinand de Saussure makna adalah “pengertian” atau “konsep” yang terdapat pada sebuah tanda linguistik. masalah semantik seperti kasus metafora disebut semantik maksud. Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada dalam satu konteks. Makna leksikal dapat pula diartikan makna yang ada dalam kamus. reduplikasi.

merah. besok. Konotasi netral misal kurus. Misalnya kata kuda. kata-kata yang disebut kata penunjuk. melainkan dapat berpindah dari maujud satu ke maujud lain disebut kata-kata deiktik. dan makna kolakotif. Makna denotatif sama dengan makna leksikal. seperti sekarang. misalnya di sini. Misal kata “babi” bermakna binatang yang biasa diternakkan dan diambil dagingnya. Makna konotasi ada tiga. Yang termasuk katakata deiktik adalah kata-kata promira (dia. afektif. katakata yang menyatakan ruang. Oleh Leech (1976) ke dalam makna asosiasi ini dimasukkan juga yang disebut akna konotatif. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. makna konseptual sama dengan makna leksikal. denotatif dan makna referensial. atau acuannya dalam dunia nyata. dan konotasi negatif misalnya kerempeng. Kata “kepala” pada kedua kalimat di atas memiliki makna yang berbeda. Misalnya kata “merah” berasosiasi dengan berani. dan gambar. konotasi positif misalnya ramping. karena tidak mempunyai referens. Makna Denotatif dan Konotatif Makna denotatif adalah makna asli. di sana. Makna konotatif termasuk dalam makna asosiatif karena berasosiasi dengan nilai rasa terhadap kata itu. Kata-kata yang acuannya tidak menetap pada satu maujud. kata-kata yang menyatakan waktu. seperti ini dan itu. Makna Referensial dan Non-referensial Sebuah kata bermakna referensial kalau ada referensnya. kamu). Makna stalistika berkenaan .a) Rambut di kepala nenek putih semua b) Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu. Makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotatif. stilistika. atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Jadi. saya. Sebaliknya kata-kata seperti dan. Kata kuda memiliki makna konseptual “sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai”.

Makna Kata dan Makna Istilah Makna kata masih bersifat umum. a. Contoh idiom adalah membanting tulang. kita membedakan penggunaan kata rumah. “Tutup mulut kalian !” bentaknya kepada kami b. Misalnya. Makna istilah mempunyai makna yang pasti. pondok. hanya cocok atau berkolakasi dengan kata yang memiliki ciri “pria”. istana. dan wisma yang semuanya memberi asosiasi yang berbeda terhadap penghuninya. Peribahasa memiliki makna yang masih bisa ditelusuri dari makna unsurunsurnya karena adanya “asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa. sehingga kata tersebut hanya cocok untuk digunakan berpasangan dengan kata tertentu. Misalnya kata “kuping” dalam bidang kedokteran adalah bagian yang terletak di luar. mohon diam sebentar !” katanya kepada kami Makna kolakotif berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata dari sejumlah kata-kata yang bersinonim. Misalnya pada kedua kalimat di bawah ini memiliki makna afektif yang berbeda.dengan pembedaan penggunaan kata sehubungan dengan perbedaan bidang sosial atau bidang kegiatan. “Coba. kediaman. contohnya. Contoh : seperti anjing dengan kucing artinya dua orang yang tidak bisa akur. Makna afektif berkenaan dengan perasaan pembicara terhadap lawan bicara. Misalnya. kondominium. meja hijau. tidak meragukan meskipun tanpa konteks kalimat. Makna kata menjadi jelas jika kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya. baik secara leksikal maupun gramatikal. Makna Idiom dan Peribahasa Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya. kasar. . kata “tampan” sesungguhnya bersinonim dengan kata cantik. dan tidak jelas. Idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. buku putih yang bermakna “buku yang memuat keterangan resmi mengenai suatu kasus” kata “buku” masih memiliki makna leksikalnya. jelas. vila. sedangkan telinga bagian yang terletak di dalam.

sedangkan kata “surya” hanya cocok digunakan pada ragam sastra. faktor sosial. Misalnya uang dan duit. Kelima. faktor wilayah. Ketidaksamaan makna ujaran dikarenakan beberapa faktor. misalnya kata “saya” digunakan oleh siapa saja kepada siapa saja. Kedua.RELASI MAKNA Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa yang lain. antonim yang bersifat relatif atau bergradasi yaitu antonim yang batas antara satu dengan yang lainnya tidak dapat ditentukan secara jelas. “saya” digunakan secara umum. Contoh : betul bersinonim dengan benar. komandan tidak. faktor waktu. Dilihat dari sifat hubungannya. bidang kegiatan. Sinonim Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan kesamaan makna antara ujaran yang satu dengan ujaran yang lainnya. Ketiga. faktor nuansa makna. antonim dibedakan atas beberapa jenis. Contoh : baik berantonim buruk. Hulubalang berpengertian klasik. Misalnya kata “melihat” memiliki makna umum. Keempat. Misalnya kata “beta” untuk wilayah Indonesia bagian timur. “aku” digunakan terhadap teman sebaya. antara lain : Pertama. faktor keformalan. batasnya itu dapat bergerak menjadi lebih atau kurang. Antonim Antonim adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan. kata “melirik” memiliki makna melihat dengan sudut mata. antara lain : Pertama. Keenam. antonim yang bersifat mutlak. Misalnya kata “hulubalang” dengan kata “komandan”. Contohnya kata hidup berantonim secara mutlak dengan kata mati. Misalnya kata “matahari” bias digunakan dalam kegiatan apa saja atau umum. Kedua. .

antonim yang bersifat hierarkial yaitu antonim yang kedua satuan jaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang atau hierarki. Contohnya : kata gram dan kilogram. antonim majemuk yaitu antonim yang memiliki pasangan lebih dari satu. tiarap. tanpa memperhatikan ejaannya.Ketiga. Homografi mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografi atau ejaannya. Contoh kata “kepala” pada frase berikut : a. Teras yang maknanya inti dan teras yang maknanya serambi. kepala surat c. Misalnya kata “teras”. Polisemi Polisemi adalah kata yang memiliki makna lebih dari satu. Dalam homonimi ada yang disebut homofoni dan homografi. Keempat. tidur. tetapi ucapan dan maknanya tidak sama. . menjual dengan membeli. Homofini adalah kesamaan bunyi antara dua satuan ujaran. jongkok dan bersila. antonim yang bersifat relasional yaitu antonim yang munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain. kepala meja d. Misalnya kata “bisa” yang bermakna “sanggup” dan “bisa” yang bermakna racun ular. kepala kantor b. Contohnya “bang” dengan bank. Misalnya kata berdiri berantonim dengan kata duduk. Kelima. Misalnya suami dengan isteri. kepala manusia Homonimi Homonimi adalah dua buah kata satu satuan ujaran yang bentuknya sama maknanya berbeda.

. perkembangan sosial budaya. Misalnya kata “sastra” mulanya bermakna “tulisan” lalu berubah menjadi bermakna “bacaan”. kata “tuan” diganti dengan kata “bapak” yang terasa lebih demokratis. jendela dan pintu hanya bagian atau komponen dari rumah. Misalnya. Kedua. Dalam kata jendela. atau (2) buku itu memuat sejarah zaman baru. karena dalam bahasa tulis unsur suprasegmental tidak dapat digambarkan dengan akurat. Burung berhiponim merpati. dan rumah. Namanya yang tepat adalah partonimi atau meronimi. bentuk “buku sejarah baru” dapat ditaksirkan menjadi (1) buku sejarah itu baru terbit. untuk menyebut orang yang dihormati. digunakan kata “tuan”. Contoh merpati berhiponim dengan burung. antara lain : Pertama.Hiponimi Hiponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Misalnya pada zaman feudal dulu. tetapi secara diakronis (masa yang relatif lama) kemungkinan bisa berubah. Hal ini disebabkan beberapa faktor. perkembangan iptek. Redudansi Redudansi adalah penggunaan unsur segmental dalam bentuk suatu ujaran yang berlebih-lebihan. Kini. pintu. berlebih-lebihan PERUBAHAN MAKNA Secara sinkronis (masa yang relatif singkat). makna sebuah kata tetap sama. Ambiquiti atau Ketaksaan Ambiquiti adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda yang terjadi pada bahasa tulis. Misalnya kesamaan makna dalam kalimat “Bola itu ditendang oleh Dika” dengan “Bola itu ditendang Dika” kata “oleh” inilah yang dianggap sebagai redundans.

lalu menjadi bermakna “B”. Misalnya kata “pedas” yang seharusnya ditanggap oleh alat indra perasa lidah menjadi ditanggap oleh alat pendengar telinga. Misalnya kata “amplop” yang berarti sampul surat dan yang berarti “uang sogok”. Keempat. artinya makna yang dimiliki sekarang jauh berbeda dengan makna aslinya. Kelima. membuat”. Perubahan makna meluas. Perubahan makna yang “menghaluskan” disebut eufemia/eufemisme. Umpamanya kata saudara yang sudah disinggung di depan. sehingga dengan demikian bila disebut ujaran itu maka yang dimaksud adalah sesuatu yang lain yang berkenaan dengan ujaran itu. Perubahan makan yang bersifat “mengkasarkan” misalnya kata “kalah” digantu dengan “masuk kotak”. Perubahan makna secara total. topi. Misalnya kata “menggarap” dari bidang pertanian digunakan juga dalam bidang lain dengan makna “mengerjakan. dasi dan sebagainya. artinya kalau tadinya kata bermakna “A”. misalnya kata “Baju” mulanya bermakna pakaian. Kemudian maknanya berkembang menjadi „siapa saja yang sepertalian . sekarang bermakna karya cipta. tetapi juga celana. Misalnya kata “seni” pada mulanya hanya berkenaan dengan air seni. artinya kalau tadinya kata bermakna umum menjadi bermakna khusus. pada mlanya hanya bermakna „seperut‟ atau „sekandungan‟. seperti sarjana pendidikan.Ketiga. JENIS PERUBAHAN Meluas Yang dimaksud dengan perubahan makna meluas adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata (leksem) yang pada mulanya hanya memiliki sebuah „makna‟. tetapi kemudian karena berbagai faktor menjadi memilki makna-makna lain. Ada juga perubahan makna yang “menghaluskan” misalnya kata “pemecatan” diganti PHK. pertukaran tanggapan indra. Perubahan makna menyempit. sepatu. perubahan makna yang “mengkasarkan” disebut disfemia. perkembangan pemakaian kata. seperti pada ujaran “kata-katanya sangat pedas”. Misalnya kata “sarjana” tadinya bermakna “orang cerdik” tetapi kini hanya bermakna “lulusan perguruan tinggi” saja. adanya asosiasi yaitu hubungan antara sebuah bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain berkenaan dengan bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain yang berkenaan dengan bentuk ujaran itu.

Dalam pembicaraan mengenai penghalusan ini kita berhadapan dengan gejala ditampilkannya kata-kata atau bentuk-bentuk yang dianggap memiliki makna yang lebih halus. Misalnya kata „penjara‟ diganti dengan ungkapan „lembaga pemasyarakatan‟ Pengasaran (disfemia) . Memang ada kemungkinan makna yang dimiliki sekarang masih ada sangkut pautnya dengan makan asal.darah‟. Hanya konsep makna mengenai kata atau bentuk itu yang berubah. Perubahan Total Yang dimaksud dengan perubahan total adalah berubahnya sama sekali makna sebuah kata dari makna asalnya. Penghalusan (ufemia) Dalam pembicaraan mengenai pembicaraan makna yang meluas. anak paman pun disebut saudara. atau berubah secara total. menyempi. seperti tampak pada sarjana sastra. Misalnya pada kata sarjana yang paada mulanya berarti „orang pandai‟ atau „cendekiawan‟. kita berhadapan dengan sebuah kata atau sebuah bentuk yang tetap. Akibatnya. tetapi sangkut pautnya ini tampaknya sudah jauh sekali. dan sarjana hukum. Menyempit Yang dimaksud dengan perubahan menyempit adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas. atau lebih sopan daripada yang akan digantikan. Lebih jauh lagi selanjutnya siapa pun yang masih mempunyai kesamaan asal-usul disebut juga saudara. kemudian hanya berarti ‟orang yang lulus dari perguruan tinggi‟. sarjana ekonomi. Misalnya. kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja. kata ceramah pada mulanya berarti „cerewet‟ atau „banyak cakap‟ tetapi kini berarti „pidato atau uraian‟ mengenai suatu ahl yang disampaikan di depan orang banyak. Malah kini siapa pun dapat disebut saudara. Kecenderungan untuk menghaluskan makna kata tampaknya merupakan gejala umum dalam masyarakat bahasa Indonesia.

maka dalam kalimat itu akan hadir sebuah subjek . putih. karena kata-kata yang berada dalam satu kelompok set itu bisa saling disubtitusikan. kalau verbanya berupa kata kerja membaca. perahu. bahasa Indonesia memberi keterangan perbandingan. Misalnya dalam kalimat “tiang layer perahu nelayan itu patah dihantam badai !”. kuning. menurut Chafe. biru. Kelompok set menunjuk pada hubungan paradigmatik. hijau. Untuk mengatakan nuansa warna yang berbeda. verbalah yang menentukan kehadiran konstituan lain dalam sebuah kalimat. dan merah bata. berdasarkan siswat hubungan semantisnya dapat dibedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set. Kata layar. semantif field) atau median leksikal adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu. Kata-kata yang mengelompok dalam satu medan makna. Komponen Makna Makna yang dimiliki oleh setiap kata terdiri dari sejumlah komponen makna yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Kesesuaian Semantik dan Sintaktik Menurut Chafe (1970) inti sebuah kalimat adalah pada predikat atau verba. merah jambu. kata remaja merupakan tahap erkembangan dari kanak-kanak menjadi dewasa. dan badai yang merupakan kata-kata dalam satu kolokasi. nelayan. satu tempat atau lingkungan yang sama. Kolokasi menunjuk pada hubungan sintagmantik yang terdapat antara kata-kata atau unsurunsur leksikal itu. Umpanyanya. coklat.Pengasaran atau disfemia adalah usaha untuk mengganti makna yang maknanya halus atau biasa dengan kata yang bermakna kasar yang biasanya dilakukan orang dalam situasi yang tidak ramah atau untuk menunjukkan kejengkelan. MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA Medan Makna Medan makna (semantic domain. seperti merah darah. Misalnya medan warna dalam bahasa Indonesia mengenal nama-nama merah. hitam. Misalnya kata mencaplok dipakai untuk mengganti kata mengambil dengan begitu saja.

Jakarta:PT.Rineka Cipta Suwandi. Selain itu juga harus hadir objek nomina yang memiliki komponen makna bacaan. Abdul.berupa nomina pelaku dan berkomponen makna manusia.com/2010/04/16/semantik-bahasaindonesia-rangkuman/.1990.1995. bacaan.Surakarta:UNS Press Semantik Bahasa Indonesia Rangkuman(online). Diakses tanggal 28 Agustus 2011 .http://elyhamdan. sebab verba membaca juga memiliki komponen makna.Sarwiji.Semantik Pengantar Kajian Makna. Sumber : Chaer.Pengantar Semantik Bahasa Indonesia.wordpress.