P. 1
Kebahasaan KKG - Revisi 2010

Kebahasaan KKG - Revisi 2010

|Views: 5|Likes:
Published by Ahmad Dhaifullah

More info:

Published by: Ahmad Dhaifullah on Apr 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/05/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. Latar Belakang
  • B. Tujuan
  • C. Alokasi Waktu
  • D. Sasaran
  • A. Konsep Kebahasaan
  • 1. Hakikat Bahasa
  • 2. Fungsi Bahasa
  • B. Unsur-unsur Kebahasaan
  • 1. Fonologi
  • 2. Morfologi
  • 3. Sintaksis
  • 4. Semantik
  • 5. Kosakata
  • BAB III KEBAHASAAN DALAM PEMBELAJARAN BERBAHASA
  • A. Kebahasaan dalam Pembelajaran Mendengarkan
  • B. Kebahasaan dalam Pembelajaran Berbicara
  • C. Kebahasaan dalam Pembelajaran Membaca
  • D. Kebahasaan dalam Pembelajaran Menulis
  • PENELITIAN TINDAKAN KELAS KEBAHASAAN
  • A. Pengertian PTK
  • B. Tujuan PTK
  • C. Empat Karakteristik PTK
  • E. Prosedur Pengembangan PTK
  • BAB V RANGKUMAN
  • BAB VI PENILAIAN
  • DAFTAR PUSTAKA
  • GLOSARIUM

Penulis Abd. Rohim H.S. Ririk Ratnasari Siti Yulaika Ida Darningsih Penyunting Endang Kurniawan Tim Review Dr. Petrus Purwadi,M.S. Drs. Burhanuddin,M.Hum Endah Madusari,M.Pd Suharti Mangindaan,S.S.

KATA PENGANTAR
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Bahasa memiliki tugas dan tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas guru bahasa, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan tenaga kependidikan lainnya. Dalam rangka memperbaiki mutu dan profesionalitas mereka, PPPPTK Bahasa berperan serta secara aktif dalam proyek Better Education Through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU). Sebagai suatu lembaga yang dikelola secara profesional, PPPPTK Bahasa menyediakan program pendidikan dan pelatihan berkualitas yang sejalan dengan reformasi pendidikan serta tuntutan globalisasi yang tertuang dalam program Education for All (EFA). Selain itu, PPPPTK Bahasa meningkatkan kompetensi guru melalui penyediaan bahan ajar yang akan digunakan sebagai sarana untuk mencapai kompetensi yang diinginkan. Dalam menjawab amanat Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, PPPPTK Bahasa menyelenggarakan berbagai pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. Pencapaian kompetensi tersebut dapat dilakukan melalui penggunaan bahan ajar yang telah disusun dalam kegiatan pelatihan di KKG dan MGMP. Kritik dan saran untuk perbaikan sangat diperlukan dan dapat dikirimkan ke PPPPTK Bahasa, Jalan Gardu, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta 12640, Telepon (021) 7271034, Faksimili (021) 7271032, dan email: admin@pppptkbahasa.net Jakarta, Maret 2010 Kepala Pusat,

Dr. Muhammad Hatta, M.Ed. NIP 19550720 198303 1 003

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................. i DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... 1 A. Latar Belakang .................................................................................. 1 B. Tujuan................................................................................................ 2 C. Alokasi Waktu.................................................................................... 2 D. Sasaran ............................................................................................. 3

BAB II KEBAHASAAN ...................................................................................... 4 A. Konsep Kebahasaan......................................................................... 4 1. Hakikat Bahasa............................................................................ 4 2. Fungsi Bahasa ............................................................................. 4 3. Ragam Bahasa ............................................................................ 4 B. Unsur-unsur Kebahasaan ................................................................. 6 1. Fonologi ....................................................................................... 6 2. Morfologi .................................................................................... 10 3. Sintaksis..................................................................................... 20 4. Semantik .................................................................................... 24 5. Kosakata .................................................................................... 29 BAB III KEBAHASAAN DALAM PEMBELAJARAN BERBAHASA............... 34 A. Kebahasaan dalam Pembelajaran Mendengarkan......................... 34 B. Kebahasaan dalam Pembelajaran Berbicara ................................. 35 C. Kebahasaan dalam Pembelajaran Membaca................................. 36 D. Kebahasaan dalam Pembelajaran Menulis .................................... 37 BAB IV PENELITIAN TINDAKAN KELAS KEBAHASAAN ...........................40 A. Pengertian PTK .......................................................................... 40 B. Tujuan PTK .................................................................................40 C. Empat Karakteristik PTK ............................................................ 40 D. Aktivitas PTK ............................................................................ . 41 E. Prosedur Pengembangan PTK .................................................. 41 BAB V RANGKUMAN ....................................................................................... 44 BAB VI PENILAIAN........................................................................................... 46 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 50 GLOSARIUM...................................................................................................... 51

ii

BAB I PENDAHULUAN A. Begitu pula pada pembelajaran kebahasaan yang menunjukkan seluruh kegiatan pembelajaran direncanakan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang hendak dicapai agar dikuasai oleh siswa. yaitu mendengarkan. Latar Belakang Pembelajaran bahasa Indonesia pada prinsipnya menitikberatkan pada upaya untuk meningkatkan kognitif. Pembelajaran masalah kebahasaan hendaknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi di lingkungan siswa. dan menulis. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). afektif. Keempat keterampilan berbahasa tersebut tidak dapat disampaikan dengan baik tanpa adanya dukungan kebahasaan karena antara yang satu dengan yang lainnya saling terkait. Hal itu dimaksudkan agar para siswa memiliki kemampuan pemahaman dan penerapan tentang kebahasaan. Selain itu. Seorang guru bahasa Indonesia yang kompeten harus menguasai materi kebahasaan dan dapat mengajarkannya kepada siswa secara intensif dan berkesinambungan. Keterpaduan itu tampak dalam berbagai hal. berbicara. di antaranya keterpaduan ranah pembelajaran. sebab penguasaan masalah kebahasaan akan membekali seorang guru dalam mengenali dan meluruskan kesalahankesalahan masalah kebahasaan. Guru bahasa Indonesia harus menguasai masalah kebahasaan bahasa Indonesia. khususnya pada pembelajaran bahasa Indonesia mengisyaratkan bahwa proses pembelajaran bahasa Indonesia dititikberatkan pada kegiatan yang berorientasi pada keterampilan berbahasa. pembelajaran masalah kebahasaan hendaknya disesuaikan dengan prinsip pembelajaran pada umumnya. sehingga mampu dan terampil dalam berbahasa Indonesia. Salah satu prinsip pembelajaran bahasa Indonesia adalah bahwa pembelajaran itu disampaikan secara terpadu. Tanpa bekal tersebut. Walaupun penekanan harus Kebahasaan – KKG 1 . tentu seorang guru tidak dapat berbuat apa-apa dalam menghadapi kesalahan-kesalahan berbahasa yang diperbuat oleh siswa. Pembelajaran masalah kebahasaan juga harus berorientasi pada kompetensi yang harus dikuasai siswa. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran kebahasaan dilakukan secara terintegrasi dalam keempat keterampilan berbahasa. membaca. dan psikomotor para siswa agar mampu melakukan suatu tindakan. Untuk mencapai kompetensi itu dibutuhkan seorang guru bahasa Indonesia yang kompeten.

Kedua. Antara teori dan praktik ada perbandingan yang harmonis. semantik. 2. ragam bahasa. indikator. Memahami pembelajaran kebahasaan yang dipadukan dalam pembelajaran keterampilan mendengarkan. dan keterampilan menulis. Beberapa hal yang perlu diperthatikan adalah sebagai berikut. fonologi. 1. Kebahasaan – KKG 2 . Memahami konsep-konsep kebahasaan Memahami unsur-unsur kebahasaan yang berkaitan dengan fonologi. membaca. dan kosakata. materi pembelajaran. Alokasi Waktu Alokasi waktu yang digunakan untuk mempelajari modul ini dalam pelatihan adalah 4 jam pelajaran (4X50 menit). morfologi. B. guru harus dapat memadukan pembelajaran kebahasaan ke dalam pembelajaran keterampilan berbahasa. sintaksis. dan kosa kata (leksikon) bahasa Indonesia. peserta KKG diharapkan dapat menguasai kompetensi yang berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut. fungsi bahasa. dan kondisi siswa. sintaksis. keterampilan berbicara. guru harus dapat memilih masalah kebahasaan yang perlu diajarkan untuk meningkatkan kompetensi berbahasa siswa. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas. Ketiga. Fokus pembelajaran dapat diarahkan pada salah satu aspek keterampilan berbahasa. Tujuan Setelah mempelajari modul suplemen ini. perlu diperhatikan beberapa hal sebelum seorang guru melaksanakan kegiatan pembelajaran. guru harus menguasai konsep-konsep materi kebahasaan. Perbandingan tersebut tergantung pada kompetensi dasar. Demikian juga dengan keterpaduan keterampilan berbahasa. 3. C. dan menulis dalam bahasa Indonesia. tetapi segi kognitif dan afektif tidak bisa diabaikan. semantik. tetapi dalam pelaksanaannya keempat aspek keterampilan berbahasa itu diajarkan secara terpadu menjadi kesatuan yang utuh. Pertama.diarahkan kepada segi penumbuhan psikomotor atau keterampilan berbahasa siswa. morfologi. namun kaidah-kaidah kebahasaan harus tetap diperhatikan. Meskipun pembelajaran bahasa dimaksudkan agar siswa memiliki kompetensi berbicara. yaitu hakikat bahasa. keterampilan membaca.

Sasaran Modul ini ditujukan untuk guru-guru SD. peserta pelatihan di KKG bahasa Indonesia pada program BERMUTU Kebahasaan – KKG 3 .D.

Namun. Oleh karena itu. digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama. Sebagai sebuah sistem. Sesuai dengan kedudukannya. atau bahasa Melayu dialek Medan. Dialek dan Ragam Bahasa Pada kenyataannya setiap bahasa dapat muncul dalam berbagai varian. dengan menggunakan bahasa komunikasi dapat berlangsung lebih baik dan lebih sempurna. dan mengidentifikasi diri. c) media untuk menampung kebudayaan nasional. maupun tata kalimat. Konsep Kebahasaan 1. 1998: 1) 2. tata bentuk kata. (Abdul Chair. b) alat pemersatu pelbagai suku bangsa di Indonesia. maka komunikasi dapat terganggu. kaidah. berkomunikasi. dikenallah bahasa Melayu dialek Ambon. bersifat arbitrer. Berdasarkan pengertian di atas. Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi negara. (Abdul Chair. maka bahasa terbentuk oleh suatu aturan. Varian bahasa yang didasarkan pada pemakainya disebut sebagai dialek. yaitu berbagai bahasa yang digunakan di daerah tertentu sehingga ia membedakan bahasa yang digunakan di suatu daerah dengan bahasa yang digunakan di daerah yang lain meski mereka berasal dari satu bahasa. Kebahasaan – KKG 4 . bahasa Indonesia berfungis sebagai: a) alat untuk menjalankan administrasi negara. kaidah atau pola ini dilanggar. Fungsi Bahasa Fungsi bahasa yang terutama adalah sebagai alat untuk bekerja sama atau berkomunikasi di dalam kehidupan manusia. dialek Jakarta (Betawi). Bila aturan.BAB II KEBAHASAAN A. lambang-lambang. dalam bahasa Indonesia terdapat bermacammacam dialek. 1. Untuk berkomunikasi sebenarnya dapat juga digunakan cara lain. Beberapa dialek dalam bahasa Indonesia itu antara lain adalah sebagai berikut. Dialek regional. misalnya dengan isyarat. baik dalam tata bunyi. atau pola-pola tertentu. 1998: 2) 3. Hakikat Bahasa Bahasa adalah suatu sistem berupa lambang bunyi. Varian bahasa yang didasarkan pada pemakaiannya disebut sebagai ragam bahasa. gambar atau kode-kode tertentu lainnya.

tata bahasa. 1. pengelompokan ragam bahasa dapat dilakukan dengan memperhatikan pokok pembicaraan. ragam lisan.2. atau pilihan dan kekayaan kata. Berikut ini adalah contoh ragam bahasa Indonesia berdasarkan pokok pembicaraan dan hubungan antarpembicara. terdiri dari: a) ragam teknis b) ragam undang-undang c) ragam catatan d) ragam surat-menyurat Dalam kenyataannya. Sedangkan ragam bahasa dalam bahasa Indonesia jumlahnya tak terbatas. kita masing-masing memiliki ciri-ciri khas pribadi dalam pelafalan. ragam tulis. dan hubungan antarpembicara. Idiolek. terdiri dari: a) ragam percakapan b) ragam pidato c) ragam kuliah d) ragam panggung B. Contohnya dialek wanita dan dialek remaja. Dialek sosial. yaitu dialek yang digunakan pada kurun waktu tertentu. yaitu keseluruhan ciri bahasa seseorang. Dialek temporal. Ragam bahasa menurut pokok pembicaraan meliputi: a) b) c) d) ragam undang-undang ragam jurnalistik ragam ilmiah ragam sastra 2. Contohnya dialek Melayu zaman Sriwijaya dan dialek Melayu zaman Abdullah. bahasa baku tidak dapat digunakan untuk segala keperluan. 4. Sekalipun kita semua berbahasa Indonesia. 3. tetapi hanya untuk: a) b) c) d) komunikasi resmi wacana teknis pembicaraan di depan khalayak ramai pembicaraan dengan orang yang dihormati Kebahasaan – KKG 5 . Ragam bahasa menurut hubungan antarpembicara dibagi atas: A. yaitu dialek yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu atau yang menandai tingkat masyarakat tertentu. perantara pembicaraan. Namun.

yaitu /t/ dan /d/. AM. Fonemik adalah ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti. alat ucap yang menimbulkan getaran. Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan menganalisa bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tuturn. -ema = mengandung arti). Seseorang mampu memahami bunyi bahasa yang didengarnya apabila bunyi itu keluar (terujar) dengan benar. dan bagaimana menghasilkan tiap-tiap bunyi itu dengan tepat menurut kebiasaan masyarakat bahasa itu. Perhatikanlah pasangan kata /tari/ dan /dari/.). yang dapat membedakan arti. Perbedaan makna itu disebabkan oleh keberadaan fonem /t/ dan /d/. Fonologi Definisi Fonologi Fonologi adalah ilmu bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran suatu bahasa. Oleh sebab itu. Pembentukan Bunyi Bahasa Bunyi bahasa merupakan sebuah rangkaian bunyi yang dikeluarkan oleh penutur. yaitu: fonetik dan fonemik. Sasaran fonetik adalah mempelajari segala macam bunyi ujaran yang dapat dihasilkan oleh alat-alat ucap. Satuan bunyi ujaran yang terkecil. kedua kata itu memiliki makna yang berbeda. (Moeliono. Bunyi itu dipahami melalui proses mendengar. /t/ dan /d/ dapat disebut sebagai fonem yang berbeda karena terbukti dapat membedakan makna.B. Berikut penjelasan keduanya. a. Sekarang. Pada pasangan kata itu hanya ada satu bunyi yang berbeda. Fonetik mempelajari bagaimana menghasilkan bunyibunyi tersebut dengan alat ucap manusia. Proses pembentukan bunyi bahasa dimulai dengan memanfaatkan pernapasan sebagai sumber tenaganya. Bagaimana dengan /s/ dan /h/ apakah keduanya fonem yang berbeda? Untuk membuktikan keduanya fonem berbeda perhatikanlah pasangan kata /dasi/ dan /dahi/. dan rongga pengubah getaran. disebut fonem (fon = bunyi. pasangan kata /puas/ dan /buas/ dapat membuktikan bahwa fonem /p/ berbeda dengan fonem /b/. Dalam pembentukan bunyi bahasa ada tiga faktor utama yang terlibat: sumber tenaga. b. 1988: 37) Kebahasaan – KKG 6 . dan Soenjono Dardjowidjojo (peny. Benar. carilah contoh pasangan kata yang dapat membuktikan bahwa /p/ dan /b/ adalah dua fonem yang berbeda. Fonologi dapat dibagi atas dua bidang. Meskipun hanya berbeda satu bunyi. Unsur-unsur Kebahasaan 1.

Rongga Mulut 17. (2) keterampilan dan kemampuan alat bicara dalam melakukan artikulasi. mulut. e. Berikut ini adalah gambar alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi ujaran. Untuk menghasilkan bunyi bahasa yang benar menurut kaidah bunyi bahasa. Jenis dan macam vokal tidak bergantung pada kuat dan lembutnya getaran udara. Gigi Atas (dentum) 4. Ujung Lidah (apex) 10. Trakea c. Rongga Kerongkongan (pharynx) 16. Tengah Lidah (medium) 13. seorang penutur harus mengetahui artikulator (alat ucap) apa saja yang terlibat dalam proses artikulasi. Kebahasaan – KKG 7 . Bibir Bawah (labium) 3. tinggi-rendahnya lidah. 1) Vokal dan Konsonan Vokal Vokal adalah bunyi ujaran yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan. Rongga Hidung 18. o. Pangkal Lidah (dorsum) 14. dan maju-mundurnya lidah. Langit-Langit Lunak (velum) 8. Bibir Atas (labium) 2. Anak Tekak (uvula) 9. tetapi bergantung pada posisi atau bentuk bibir. Depan Lidah 11. u. Pangkal Tenggorokan (larynx) 21. ə/.Untuk menghasilkan bunyi bahasa yang benar. Yang termasuk fonem vokal dalam bahasa Indonesia ialah /a. Epiglotis 19. Pita Suara 20. i. (3) kemampuan mengatur pernapasan untuk mengalirkan udara ke rongga tenggorokan. diperlukan: (1) alat bicara yang normal. 1. Daun Lidah (laminum) 12. Langit-Langit Keras (palatum) 7. Akar Lidah (radika) 15. Gigi Bawah (dentum) 5. dan hidung. Gusi (alveolum) 6.

transfer. Bila dua vokal berurutan itu diucapkan dalam satuan waktu yang berlainan. h. dan [gr]. Keduanya berada pada batas antara dua buah suku kata. f. w. y. 2) Deret Konsonan Deret konsonan adalah dua buah konsonan yang letaknya berdampingan. (Gorys Keraf. dan lain-lain. Meskipun kata tari dan transfer diawali dengan bunyi konsonan [t]. 1999: 24). dan naik. maka itu dua vokal berurutan itu bukanlah diftong. Jika mendapat imbuhan me. namun kata transfer jika mendapat imbuhan memenjadi mentransfer. p. entah seluruhnya atau sebagian. d. c. bunyi [au]dan [ai] dalam: kaum. harimau. Misalnya. bangau. tetapi tidak berada pada sebuah suku kata. namun perlu diingat bahwa [tr] pada kata transfer adalah kluster. p. 1) Kluster. Misalnya. dan Suku Kata Kluster Kluster adalah konsonan rangkap yang diucapkan dalam satu kesatuan waktu. a) Artikulator dan titik artikulasi b) Jenis halangan udara yang dijumpai c) Bergetar-tidaknya pita suara d) Jalan keluar udara dari rongga ujaran Yang termasuk fonem konsonan dalam bahasa Indonesia adalah /b. Deret Konsonan. (Gorys Keraf. v. x. ramai. t. Deret konsonan merupakan dua buah konsonan yang terletak pada suku kata yang berlainan. kata tari jika mendapat imbuhan me. r. n. s.2) Konsonan Konsonan adalah bunyi ujaran yang terjadi karena udara yang keluar dari paruparu mendapat halangan. l. pantai. t. e. raut. misalnya program. Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa bunyi kluster. j. [pr]. m. q. Kedua konsonan itu tidak diucapkan dalam satu kesatuan waktu.menjadi menari. Diftong Diftong adalah dua vokal berurutan yang diucapkan dalam satu kesatuan waktu. meskipun menurut kaidah bahasa Indonesia kata-kata yang diawali konsonan [k. g. z d. bait. traktir. laut. [kr]. Deret konsonan tampak pada bunyi Kebahasaan – KKG 8 . s] luluh jika mendapat imbuhan me-. Kata yang berkluster dalam bahasa Indonesia. bunyi [au] dan [ai] pada kata-kata: pulau. Contoh dua vokal berurutan yang tidak bisa disebut diftong terdapat pada katakata berikut.kluster tidak luluh. k. kait. dan lantai. Konsonan dapat dibedakan berdasarkan faktor-faktor berikut. mau. 1999: 25). misalnya [tr].

terutama jika terjadi pergantian baris. 3) Suku Kata Suku kata adalah satu ujaran terkecil dari sebuah kata . dan bunyi konsonan [r dan t] pada kata arti dan harta. seperti suku kata ma. Dengan dasar itu. dan kenali adalah cap-lok. tang-gung.dan -ta pada kata mata. Bila di tengah kata ada tiga Kebahasaan – KKG 9 . 2) Pemenggalan Kata Pemenggalan itu diperlukan terutama apabila kita harus memisahkan sebuah kata dalam tulisan. Pemenggalan dilakukan terhadap kata-kata yang berkedudukan sebagai kata dasar. kita harus membubuhkan tanda hubung (-) di antara suku-suku kata itu dengan tidak didahului atau diikuti oleh spasi. Sekurang-kurangnya satu suku kata terdiri dari satu vokal. Bila di tengah kata dasar ada dua vokal. pu-ing. lam-bat. Kata ini diucapkan dalam dua hembusan napas. sedangkan pemenggalan lebih berhubungan dengan penulisan. cap-lok. contoh : si-kat.konsonan [k dan t] pada kata pakta. Suku kata adalah bagian kata yang diucapkan dalam satu hembusan napas.dan -tang. dan ke-na-li. Suku kata tertutup adalah suku kata yang diakhiri dengan konsonan seperti suku kata -lam pada kata malam. Penyukuan adalah proses mencari suku-suku kata.dan -tang. f. de-ngan. penyukuan terhadap kata-kata caplok. Suku kata terbuka adalah suku kata yang diakhiri dengan vokal. contoh: pin-dah. Dalam bahasa Indonesia ada dua jenis suku kata. yaitu da. kata datang. akta. Contoh. sa-at. Penyukuan berhubungan pengucapan. Suku kata atau imbuhan yang terdiri atas sebuah fonem tidak boleh dipenggal agar tidak terdapat satu huruf pada ujung atau awal baris. Bila di tengah kata ada dua konsonan berurutan. pemenggalan dilakukan di antara dua vokal tersebut. ja-lan. suku kata la. Pemberian tanda hubung tidak dibenarkan jika diletakkan di bawah akhir suku yang hendak dipisah. Oleh karena itu kata datang dikatakan terdiri atas dua suku kata: da. contoh: ba-ik. Bila di tengah kata ada konsonan di antara dua vokal. dengan. 1) Penyukuan dan Pemenggalan Kata Penyukuan Istilah penyukuan kata dibedakan dari istilah pemenggalan kata. pemenggalan dilakukan di antara kedua fonem tersebut. dan suku kata –gus pada kata bagus. yaitu suku kata terbuka dan suku kata tertutup. maka pemenggalan dilakukan sebelum konsonan tersebut.dan -ri pada kata lari. Apabila kita ingin memenggal sebuah kata. ha-nyut.

2. dan <i>. /a/. Grafem berkaitan dengan huruf. /a/. /d/. <u>. 2008:2). Misalnya untuk menyatakan benda yang dipakai untuk duduk yang bernama "kursi". yakni <l>. /g/ dan /i/ = 4 fonem sangat terdiri atas fonem /s/. dan mengucapkannya pun /kursi/. kita menulis kata kursi yang terdiri dari grafem <k>. yaitu morfem bebas dan morfem terikat. contoh: mem-be-lok. hubungan satu-lawan-satu seperti itu tidak selalu kita temukan. <a>.konsonan atau lebih yang berdekatan. /a/. Sisipan tidak dipenggal berdasarkan imbuhan karena sisipan dianggap bagian dari kata. Kebahasaan – KKG 10 . am-bruk. ge-ri-gi. /a/. sedangkan fonem berkaitan dengan bunyi. Fonem dan Grafem Fonem adalah satuan terkecil dari bunyi bahasa yang membedakan arti. in-struksi. Pemenggalan pada kata kompleks. pe-ngum-pul-an. Kata ladang terdiri atas enam grafem. Akan tetapi. Dari segi grafem kata kursi terdiri atas lima satuan. te-lun-juk. Morfologi Definisi Morfologi Morfologi ialah ilmu bahasa yang mempelajari tentang seluk-beluk kata dan cara pembentukannya. dan /ŋ/ karena grafem <n> dan <g> hanya mewakili satu fonem /ŋ/ saja. maka pemenggalan dilakukan di antara konsonan pertama dan kedua. Morfem ada dua macam. /ng/. 1) Konsep-konsep Dasar dalam Morfologi Morfem Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang mengandung makna (Zaenal Arifin. <s>. <d>. meskipun imbuhan itu mengalami perubahan bentuk. b. dilakukan dengan cara memisahkan unsurunsurnya atau di antara suku-suku kata tersebut. <n>. Contoh: pagi terdiri atas fonem /p/. a. Dari segi bunyinya perkaatan yang sama itu hanya terdiri atas lima fonem. mem-ba-tu. <a>. bang-krut. contoh: ge-me-tar. <r>. Pemenggalan pada kata berimbuhan dilakukan dengan cara memisahkan imbuhan dengan kata dasarnya. dan <g>. yakni /l/. /a/ dan /t/ = 5 fonem Grafem adalah pelambang fonem yang berbentuk huruf. Seringkali represenasi tertulis kedua konsep ini sama. Contoh: kilometer = kilo-meter atau ki-lo-me-ter fotografi = foto-grafi atau fo-to-gra-fi g. contoh: kon-trak. dan dari segi fonem juga ada lima satuan.

Afiks dalam bahasa Indonesia terdiri atas: (a) awalan (prefiks): ber-. ke-. ter-. sebaliknya bila memasuki lingkungan kata yang berfonem awal /r/ atau suku kata pertamanya mengandung /er/. me-. 2) Alomorf Alomorf adalah variasi bentuk dari sebuah morfem. (b) sisipan/di tengah ( infiks) : -em-. yakni (1) dasar bebas. Kebahasaan – KKG 11 . Bentuk ber. -kan. Pengimbuhan atau afiksasi adalah proses penambahan imbuhan (afiks) pada kata.Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri sebagai kata. Morfem terikat adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata. dan me. me-i. di. be. (c) akhiran (sufiks): -i. hanya akan bermakna bila muncul bersama morfem lainnya. Variasi bentuk itu muncul disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang dimasukinya (Gorys Keraf.misalnya. di-. Morfem ber-.berubah menjadi be-. lihat. Dalam satu kasus. ber.memasuki hampir semua lingkungan. dalam realisasinya dapat berubah menjadi ber-. dan Makna Lazimnya. kata di dalam bahasa Indonesia terdiri atas kata dasar dan kata jadian. Sebuah kata jadian dapat dibentuk dari dua macam dasar. misalnya: berber-layar ber-satu ber-diri ber-kartu ber-tunas 3) bebe-rasa be-rambut be-derma be-kerja be-terbangan belbel-ajar Bentuk. dapat berdiri sendiri sebagai kata. memandang. dilihat. 1991: 43). dan (d) imbuhan gabung (konfiks) pe-an. dan (2) dasar terikat. -an. pandang. di-. Morfem bebas seperti morfem di. Morfem terikat baru memiliki makna setelah bergabung dengan morfem bebas. pe-. -er-. -nya.. seperti pada kata berlari. ber. dan bel. ke-an.berubah menjadi bel-.adalah contoh morfem terikat. Morfem ber-. -el-. Fungsi. Semua dasar itu akan berubah bentuk dan maknanya apabila mengalami pengimbuhan (afiksasi). se-. me-kan. lari.dalam lingkungan tertentu. Morfem ber. dan orang. atau me-. ber-an.

seperti bersatu (menjadi satu).berubah menjadi be-.berubah menjadi bel-. (g) menjadi kelompok. tetapi dapat memiliki pelengkap atau keterangan. seperti beranak (memiliki anak) (b) menghasilkan atau mengeluarkan. mengendarai atau naik.+ bom > mengebom Kebahasaan – KKG 12 . seperti berkereta (naik kereta). Kalimat yang predikatnya berupa kata kerja berawalan ber. Misalnya. (f) memakai atau mengenakan. Misalnya: me. (e) mendapat. b) Prefiks atau Awalan me- (1) Bentuk Dalam pemakaiannya dapat bernasalisasi menjadi men-.+ daki > mendaki me.a) Prefiks atau Awalan ber- (1) Bentuk Pada umumnya morfem ber. ber. seperti berapi (mengeluarkan api). (d) melakukan pekerjaan untuk diri sendiri (resiprokal). meng-.+ ganggu > mengganggu me. bekerja sebagai. kata kuda (kata benda) jika diberi awalan ber.+ bawa > membawa me.memiliki makna seperti berikut.+ sapu > menyapu me. Dalam satu kasus.menjadi berternak (kata kerja).berfungsi sebagai pembentuk kata kerja (prefiks verbal). dapat di-….dirangkaikan saja di depan sebuah kata dengan tidak mengalami perubahan apapun. kata ternak (kata benda) jika diberi awalan ber. Bila kata dasar diawali dengan fonem /r/ atau suku kata pertamanya mengandung /er/ maka ber. atau dikenai. meny-.tidak memiliki objek. Ber + kuda > berkuda ber + raja > beraja Ber + kerja > bekerja ber + ternak > beternak Ber + lari > berlari ber + ajar > belajar (2) Fungsi Awalan ber.menjadi berkuda (kata kerja). seperti bertani (melakukan pekerjaan tani). mem-. (c) biasa melakukan. (3) Makna Kata kerja berawalan ber. seperti berjemur (menjemur dirinya). (a) memiliki atau mempunyai. seperti gayung bersambut (gayung mendapat sambutan). menggunakan. bertindak sebagai. menge-.

(3) Makna Awalan di. awalan di. mengecat (e) Memakan. Prefiks ini berkaitan dengan prefiks verbal aktif meng-. seperti dipinjam dan dipajang (yang dituliskan serangkai dengan dasar atau kata yang dilekatinya) sering dikacaukan dengan penulisan di sebagai kata depan.memiliki makna sebagai berikut: (a) dikenai laku atau dikenai tindakan. dan sebagainya. menyirih (f) Menuju: mengudara. merenda (d) Menggunakan bahan: mengapur.menjadi menyapu (kata kerja). menulis. (c) dibuat atau dijadikan. (3) Makna Makna awalan me. Misalnya.adalah sebagai berikut: (a) Melakukan: membaca.sebagai awalan. Akan tetapi. seperti dipagari (diberi pagar).berfungsi membentuk kata kerja. kata ditiru merupakan bentuk pasif dari kata meniru. seperti dihukum (dikenai tindakan hukum). (2) Fungsi Awalan di. seperti digulai (dibuat/dijadikan gulai). Misalnya kata diambil merupakan bentuk pasif dari kata mengambil. mengail (c) Membuat: menggambar. Kebahasaan – KKG 13 . penulisan di. dari segi ejaan.berfungsi sebagai pembentuk kata kerja pasif. memanas c) Prefiks atau Awalan di- (1) Bentuk Ketika dilekatkan pada bentuk dasar. kata bom (kata benda) jika diberi awalan me.ternyata tidak mengalami persoalan morfologis karena awalan itu tidak mengalami perubahan bentuk.menjadi mengebom (kata kerja). seperti di pasar dan di rumah (yang dituliskan terpisah dari dasar atau dari kata yang mengikutinya). seperti diparang (dipotong). meminum. kata sapu (kata benda) jika diberi awalan me. (b) dikenai dengan.sering disebut prefiks verbal pasif. menghisap: merokok. Oleh karena itu prefiks di. melaut (g) Menjadi: memutih.(2) Fungsi Awalan me. (d) diberi atau dilengkapi dengan. kata dicangkuli merupakan bentuk pasif dari kata mencangkuli. mengantuk (b) Menggunakan alat: menggergaji kayu.

Hal itu tampak pada kata seperti kepada dan ketua.itu pun seperti yang terjadi pada awalan ber-.. Pertama sebagai pembentuk kata kerja. (3) Makna Awalan ke. sebagai pembentuk kata bilangan (tingkat dan kumpulan). Prefiks ke. Hal ini.dalam bahasa Indonesia memiliki memiliki dua fungsi. misalnya pada kata ketiga. kehendak. dan sebagainya. dan ketua. awalan perdapat berfungsi sebagai pembentuk kata benda dari kata kerja yang berawalan ber-.d) Prefiks atau Awalan ke- (1) Bentuk Awalan ke.harus dibedakan dari kata depan ke yang berstatus kata. dll. bila ia membentuk kata benda: kekasih.mengalami perubahan bentuk ketika dilekatkan pada bentuk dasar. pedagang. ketua.. dan sebagainya. perdua. (b) Menyatakan orang atau sesuatu yang di. perberat. Kedua.tidak mengalami perubahan bentuk ketika dilekatkan pada bentuk dasar. Perubahan bentuk awalan per. Kedua fungsi prefiks ke. (2) Fungsi Awalan per. pelajar. Kedua. kedua. misalnya pada kata kekasih.itu adalah sebagai berikut. Kebahasaan – KKG 14 . dalam beberapa kasus ke. seperti ketiga (di/pada urutan ketiga). kehendak. Hal itu tampak pada kata seperti pertapa. Pertama. Bentuk dan makna awalan per. dan sebagainya. (2) Fungsi Setidaknya terdapat dua fungsi prefiks ke-. dalam beberapa kata.berfungsi sebagai pembentuk kata benda.memiliki makna seperti berikut: (a) di urutan atau pada urutan.berkaitan dengan bentuk dan makna awalan ber-. e) Prefiks atau Awalan per- (1) Bentuk Awalan per. misalnya tampak pada kata pertinggi.

Hal itu tampak pada kata seperti: pemalas. seperti perintih (yang mengeluarkan rintihan). pembuat. seperti pembaca puisi yang pandai (yang pandai membaca puisi). kata benda berawalan pe..memiliki makna seperti berikut. dll.. pendidik. awalan per. dll. (b) membagi jadi.berfungsi sebagai pembentuk kata benda yang bertalian bentuk dan maknanya dengan awalan me-. pengajar.memiliki makna orang yang ber. (e) yang mengeluarkan (suara).(3) Makna Sebagai pembentuk kata kerja. pem-. dll. (a) yang melakukan. pelaku. pelajar memiliki makna orang yang belajar.. dan pengebom. Misalnya. dan pedagang memiliki makna orang yang berdagang. (c) yang menggunakan atau yang memakai. f) Prefiks atau Awalan pe- (1) Bentuk Awalan pe. Kebahasaan – KKG 15 .memiliki makna seperti berikut.dilekatkan pada dasar berupa kata sifat. (2) Fungsi Awalan pe. dll.bertalian bentuk dan maknanya dengan kata kerja berawalan me-. dan penge-.mengalami perubahan bentuk sesuai dengan proses nasalisasi pada bentuk kata kerja yang menjadi dasar pembentukan kata berawalan pe-.. seperti pembajak sawah (yang menggunakan bajak). (d) yang menghasilkan atau yang membaur. penari. seperti penenun (yang menghasilkan tenunan). (b) yang menjadi atau yang menjadikan. Sebagai pembentuk kata benda dari kata kerja yang berawalan ber-. ‘(orang) yang menulis’ disebut penulis. awalan per. seperti perindah (jadikan lebih indah). seperti perdua (bagi dua). (3) Makna Awalan pe. alomorf dari prefiks pe-. pen-. dll. (a) (men) jadikan lebih’ (biasanya awalan per. dll. pertapa memiliki makna orang yang bertapa. yaitu pe-. Perhatikan bahwa ‘orang yang mengarang’ disebut pengarang. Dengan demikian. peng-. seperti pemerah bibir (yang menjadikan bibir merah). Artinya. dll.

seperti setahuku (menurut yang aku tahu).dan tel-. seperti seizinku (dengan izinku). seperti sepandai (yang sama pandai dengan gurunya). dll. (b) seluruh. seperti pemulung (yang mencari/mengumpulkan barang hasil memulung). (b) seturut atau menurut.yang berupa klitik (dari kata esa) bermakna: (a) satu. dll. sekamar. Adapun fungsi awalan se. seperti pengecat (yang melengkapi dengan cat). (c) setelah. memiliki makna seperti berikut: (a) dengan. secepatnya. (h) yang mencari atau ‘yang mengumpulkan.sebagai pembentuk adverbial (prefiks adverbial). seperti sekamar (satu kamar). Awalan se. Kebahasaan – KKG 16 .yang kedua adalah membentuk adverbial. seperti se-Indonesia (seluruh Indonesia) (c) sama atau sampai. g) Prefiks atau Awalan se- (1) Bentuk Awalan se. dan sedatangnya. dan sekampung. (2) Fungsi Fungsi awalan se. seperti sepeninggalmu (setelah kamu pergi).memiliki variasi bentuk te. h) Prefiks atau Awalan ter- (1) Bentuk Awalan ter. seperti seenaknya.tidak mengalami perubahan bentuk apabila dirangkaikan dengan kata yang lain. (g) yang menuju.yang pertama adalah membentuk kllitika (dari kata esa). seperti pendarat (yang menuju darat). setibanya. (3) Makna Awalan se.(f) yang memberi atau yang melengkapi dengan. seperti sedekah. Perubahan bentuk itu dapat digambarkan sebagai berikut. dll.

i) Bentuk Ulang atau Kata Ulang (Reduplikasi) Bentuk ulang atau kata ulang adalah sebuah bentuk gramatikal yang berujud penggandaan sebagian atau seluruh bentuk dasar sebuah kata (Gorys Keraf.sebagai pembentuk kata sifat (prefiks adjektival).sebagai pembentuk kata kerja memiliki makna seperti berikut. Contoh: lemah-lembut. lauk-pauk. baik vokal maupun konsonan. mondar-mandir. dll. (b) telah mengalami. dll. (1) Jenis kata ulang (a) Kata ulang murni. sorak-sorai.ter. saudara-saudara (b) Kata ulang berubah bunyi. ter-.+ (r). Contoh : lari-lari. serbaserbi. Kata ulang berubah konsonan. dll. Contoh: bolak-balik. terdiri atas : Kata ulang berubah vokal. yaitu pengulangan seluruh bentuk dasar kata. seperti terasa dan terawat + suku pertama mengandung fonem /er-/. seperti terbuka (dalam keadaan terbuka). ramah-tamah Kata ulang berubah vokal dan konsonan. seperti tepercaya dan teperdaya tel. (3) Makna Awalan ter.+ (anjur) (2) Fungsi Awalan ter. riuh-rendah Kebahasaan – KKG 17 . Pertama. (c) dapat (biasanya didahului oleh kata tidak atau dilengkapi dengan akhiran – kan). vokal ter- + te.+ (selain /r/ dan { anjur }). Contoh: sayur-mayur. sebagai pembentuk kata kerja (prefiks verbal).dalam bahasa Indonesia memiliki dua fungsi sebagai berikut. 1991:149). (a) telah dilakukan dan dalam keadaan. seperti tidak terangkat (tidak dapat diangkat). awalan ter. seperti terkencing-kencing ( sampai tiba-tiba kencing). adik-adik. menderita keadaan atau kejadian (dengan tidak sengaja atau dengan tiba-tiba). Kedua. yaitu kata ulang ulang yang bagian perulangannya mengalami perubahan bunyi.

sepeda. kehijau-hijauan. tindakan. duduk Verba dapat diketahui lewat perilaku semantik dan sintaksis serta bentuk morfologisnya. (d) Kata ulang berimbuhan. buku. verba memiliki ciri berikut. cinta-mencintai. (j) Menyatkan kumpulan. Contoh : kekanak-kanakan. (c) Menyatakan menyerupai. tali-temali. Contoh : hormat-menghormati. mengangguk-angguk. yaitu pengulangan kata yang terjadi hanya pada sebagian bentuk dasar.(c) Kata ulang sebagian (dwipurwa). (2) Makna kata ulang (a) Menyatakan banyak. tanamtanaman. (e) Menyatakan melemahkan arti. benda. Contoh : dua-dua. kuda-kudaan. khayal. Kata benda konkrit yaitu kata benda yang dapat ditangkap oleh panca indra. mencoret-coret. Contoh : makan. siku-siku. pekerjaan. Contoh : tinggi-tinggi. (k) Menyatakan agak. anak-anak. atau segala sesuatu yang dibendakan. Contoh : tulis-menulis. (i) Menyatakan intensitas kualitatif (menegaskan). seperti meja. 2) Kata Kerja (Verba) Kata kerja adalah kata yang menyatakan perbuatan. Kata benda abstrak yaitu kata benda yang tak dapat ditangkap panca indra. Kata benda bisa dikelompokkan atas kata benda abstrak dan kata benda konkrit. yaitu kata ulang yang mendapat imbuhan. bersalam-salaman. (f) Menyatakan bersifat seperti. Contoh : sayur-mayur. cantik-cantik. (d) Menyatakan saling. Contoh : rumah-rumah. tolong menolong. lauk-pauk. lari. seperti ilmu. tiga-tiga. Contoh : kuda-kuda. sifat. atau keadaan. c. ragu-ragu. Contoh : kemerah-merahan. (g) Menyatakan berulang-ulang (terus-menerus). Contoh :sakit-sakitan. meja-meja (b) Menyatakan bermacam-macam. bermaaf-maafan. Contoh: sayur-sayuran. 1) Kategori Kata dalam Bahasa Indonesia Kata Benda (Nomina) Kata benda adalah semua kata yang merupakan nama diri. kebarat-baratan. Kebahasaan – KKG 18 . (h) Menyatakan berhubungan dengan. rumah-rumahan. Pada umumnya. Contoh : melambai-lambai. besar-besar.

Pada umumnya kata benda merangkaikan kata benda dengan kata lain. a) Kata Depan (Preposisi) Disebut juga kata perangkai. yaitu dari. dan *terpingsan. verba tidak dapat bergabung dengan kata petunjuk kesangatan. tidak ada kat *terhidup. bagi. Keterangan atau atribut dapat berupa deskripsi mengenai kualitas atau keanggotaan. Verba juga dapat berfungsi lain di luar predikat. kata keterangan (adverbia).a) Verba berfungsi sebagai predikat atau inti predikat kalimat. Verba yang bermakna keadaan tidak dapat diberi prefiks ter. dan kata penghubung (konyungsi). berfungsi sebagai perangkai kata kelompok kata dalam kalimat. Kata tugas dapat dibagi atas: preposisi (kata depan). Contoh: di. *teramati. proses. Adjektiva dapat berfungsi predikatif ataupun adverbial. Secara inheren. dari. atau keadaan yang bukan sifat atau bukan kualitas’. Jadi. 1991: 107). Adjektiva dapat digunakan untuk menyatakan tingkat kualitas dan tingkat bandingan acuan nomina yang diterangkan (Zaenal Arifin. ke. 2008: 85) Kata Sifat (Adjektiva) b) c) d) 3) Adalah kata yang menyatakan sifat dan keadaan suatu benda atau yang dibendakan. murah hati Fungsi adjektiva di dalam kalimat adalah memberikan keterangan lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina (menjadi atribut bagi nomina). verba mengandung makna ‘perbuatan (aksi). Fungsi predikatif dan adverbial itu dapat mengacu ke suatu keadaan. di (2) Menyatakan waktu. 2008: 98-99). jauh. antara. daripada. (Zaenal Arifin. gelap. yaitu pada (3) Menyatakan alat yaitu dengan Kebahasaan – KKG 19 . Contoh : manis. besar. Secara umum. 4) Kata Tugas Kata tugas yaitu kata-kata yang bertugas memperluas kalimat inti menjadi kalimat luas dan sekaligus berfungsi menandai realsi antara kata-kata penuh dalam sebuah kalimat (Gorys keraf. kepada Fungsi kata depan: (1) Menyatakan tempat. untuk.untuk menyatakan makna ‘paling’.

Klausa dan Kalimat 1) Frasa Satuan gramatikal frasa adalah satuan yang secara potensial terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak mempunyai ciri-ciri proposisi sebuah kalimat (atau klausa). buat. mungkin. Menurut Elson dan Pickett (1987) “a phrase is a unit potentially composed of two or more words. tetapi. frasa tidak didefinisikan selalu terdiri atas dua atau lebih kata tetapi dikatakan yang secara potensial terdiri atas dua kata atau lebih. b. belum.(4) Mengantarkan objek tak langsung yaitu bagi. ketika. karena. tentang. sekali. separuh. Unsur dalam satuan gramatika adalah juga satuan pada tingkatan di bawahnya. Hakikat Frasa. bahwa. Sintaksis Definisi Sintaksis Sintaksis adalah cabang linguistik yang mempelajari pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata. Ini Kebahasaan – KKG 20 . Yang pertama. setelah. serta. atau antara satuan-satuan yang lebih besar itu dalam suatu bahasa. Jadi sebuah frasa mungkin terdiri atas sebuah kata dan modifikatornya bersifat opsional. Jadi bidang sintaksis menyelidiki semua hubungan antara kata dan antar kelompok kata (atau antar frasa). Sebuah frasa selalu mempunyai sebuah inti meskipun modifikatornya seringkali tidak disebutkan. but which does not have the propositional characteristics of a sentence” Ada hal yang perlu ditegaskan dari pendapat Elson dan Pickett di atas. sedang. atau dengan satuan-satuan yang lebih besar. Satuan terkecil dalam bidang ini ialah kata. Contoh : barangkali. Frasa mempunyai ciri proposisi sebuah kalimat. dan kepada b) Kata Keterangan (Adverbia) Kata keterangan adalah kata yang digunakan untuk memberi penjelasan pada kalimat atau bagian kalimat dan tidak bersifat menerangkan keadaan. akan. Dengan demikian rentang analisis studi sintaksis mencakup kata hingga kalimat. cukup. masih. c) Kata Penghubung (Konjungsi) Kata penghubung yaitu kata yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata. kecuali. memang. a. hanya. atau kata dengan kalimat. Sintaksis mempelajari hubungan gramatikal di luar batas kata tetapi di dalam satuan yang disebut kalimat. Contoh : dan. cuma. jika. 3. klausa dengan kalimat.

Contoh : Ibuku tertawa. Ada tiga macam kalimat majemuk: kalimat majemuk setara. Jadi ada kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih.berarti bahwa frasa tidak mempunyai predikat meskipun sebuah frasa merupakan pengisi unsur-unsur kalimat. c. Di samping konstituen predikat. Oleh karena itu klausa disebut juga konstruksi yang predikatif. kalimat majemuk rapatan. Oleh karena itu. mempunyai pola intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa. kalimat tunggal hanya memiliki satu pola kalimat dengan satu predikat. 3) Kalimat Kalimat dibedakan dari klausa karena kalimat dianggap sebagai sebuah ujaran yang sudah final. ( pola S-P) Nenekku berjualan pisang (pola S-P-Pel) Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas satu klausa. dan pelengkap. S P O Adik menangis. objek. dan kalimat majemuk bertingkat. S P 3) Kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki dua klausa atau lebih. pada dasarnya 2) Klausa Klausa adalah satuan gramatikal berupa kelompok kata yang sekurangkurangnya terdiri dari subjek dan predikat. Contoh : Ayah membaca koran. Di sini tampak jelas bahwa klausa merupakan cikal bakal kalimat. dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat. 1) Jenis-jenis Kalimat Kalimat sederhana adalah kalimat yang terbentuk dari klausa yang sederhana. Konstituen paling penting pada sebuah klausa ialah predikat. Kalimat tunggal dapat berwujud kalimat sederhana atau kalimat inti. 2) Kebahasaan – KKG 21 . Klausa adalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. kalimat majemuk memiliki dua atau lebih pola kalimat. Konstituen keterangan dikatakan sebagai konstituen bukan inti (pinggiran). Kridalaksana (1984) menjelaskan bahwa kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri. ada konstituen lain yang juga dikatakan sebagai konstituen inti yaitu subjek. Sebuah kalimat dapat terdiri atas lebih dari satu klausa. Oleh karena itu.

Anak yang berpita merah itu mempelajari seni tradisional. Ciri-ciri kalimat aktif : a) Suyek melakukan pekerjaan b) Predikatnya berawalan me. Kalimat berita diakhiri tanda titik. Perluasan itu membentuk pola klausa yang baru. Contoh : 1. Pendidikan dasar sudah berjalan lancar. Asep dan Anto pandai bermain basket Kalimat majemuk bertingkat merupakan perluasan dari kalimat tunggal yang membentuk satu atau lebih klausa. objek dikenai pekerjaan 5) 6) Kebahasaan – KKG 22 . Kakak sedang membaca buku ketika ayah pulang dari Kantor [perluasan keterangan waktu). Contoh : Ayah membaca koran dan ibu memasak di dapur.Kalimat majemuk setara yaitu kalimat hubungan antar klausanya sederajat atau setara. Contoh : Asep pandai bermain basket.atau berc) Kalau ada objeknya. Contoh : Siapa yang melakukan semua ini? Di mana mereka berbulan madu? Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan pekerjaan. Anto pandai bermain basket. Kalimat tanya adalah kalimat yang isinya mengharapkan reaksi atau jawaban dari pendengar atau pembaca. Rina hendak berlibur ke Jakarta atau ke Bandung? Bukan Ari yang melakukan itu. tapi Dodi. 4) Kalimat berita adalah kalimat yang isinya menyatakan berita atau pernyataan untuk diketahui oleh orang lain. 2. Anita mempelajari seni tradisional. Kalimat majemuk rapatan yaitu kalimat majemuk setara yang bagianbagiannya dirapatkan dengan cara menghilangkan salah satu unsur klausa yang sama. Contoh: Seluruh warga kini sadar untuk membayar pajak. Kakak sedang membaca buku.

Ciri-ciri kalimat pasif adalah: a) Subjek dikenai pekerjaan a) Predikat berawalan di/ter b) Obyek menjadi pelaku Contoh: Buku dibaca Rina di ruang tamu S P O KT Kalimat langsung adalah kalimat yang langsung diucapkan oleh si pembicara atau menirukan ucapan si pembicara. 2) Kesejajaran. Bagian kutipan (bunyi bicara) diapit oleh tanda petik. Ciri-ciri kalimat efektif : 1) Kesatuan gagasan. penggunaan frase dan bentuk kata memiliki kesamaan fungsi dan bentuknya. Kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk memunculkan gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pembicara atau penulis kalimat itu misalnya. antara kalimat kutipan dan pengiring (si pembicara) dipisahkan dengan tanda koma. Contoh : Ibu berkata bahwa kita harus membersihkan halaman. yaitu kesepadanan strukur. dan keterangan. Ayah bertanya kepada Ahmad tentang hasil ujiannya. 2008: 74-75). kalimat efektif dapat dipandang sebagai kalimat yang lebih dari baku (baku plus). Kata ayah. maksudnya subjek. dan kelogisan bahasa. Bagian kutipan dalam kalimat langsung merupakan kalimat berita. Dengan demikian. predikat dan unsur lainnya saling mendukung dan membentuk kesatuan tunggal. Kebahasaan – KKG 23 . Ahmad?” Kalimat tak langsung adalah kalimat yang menceritakan kembali ucapan orang lain. kata Ibu. (Zaenal Arifin. kehematan kata.Contoh : Rina membaca buku di ruang tamu S P O Kt 7) Kalimat pasif adalah kalimat yang subyeknya dikenai pekerjaan. tetapi menghendaki tataran yang lebih tinggi dan luas daripada itu. kecermatan penalaran. predikat. (Zaenal Arifin. Contoh : “Kita harus membersihkan halaman”. kepaduan gagasan. Kalimat Efektif 8) 9) d. melalui kalimat yang efektif gagasan pembicara atau penulis. gagasan itu dapat diterima oleh pembaca atau pendengar secara utuh. ketegasan makna.”Bagaimana hasil ujianmu . 2008: 74) Kalimat efektif tidak sekadar menghadirkan subjek. objek. keparalelan bentuk.

dapat Kebahasaan – KKG 24 . setiap kata memiliki fungsi yang jelas tidak menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Semantik Definisi Semantik dan Makna Berdasarkan asal katanya semantik berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda) yang berarti “tanda” atau ”lambang”. Kelogisan. Citra mental/konsep buku Lambang [buku] referen/objek (semua objek yang disebut buku) Gambar segitiga makna Ogden & Richard Makna kata buku adalah lambang konsep tentang buku yang tersimpan dalam otak kita yang dilambangkan dengan kata buku. a.3) 4) 5) 4. menonjolkan bagian yang terpenting dalam kalimat. terdiri atas lambang bunyi [b-u-k-u] dan konsep atau citra mental (objek) yang dinamakan buku. Penekanan. kaitan antara lambang. citra mental atau konsep. dan referen atau objek dapat dijelaskan dalam gambar berikut.(Abdul Chaer. Kehematan. Kata semantik ini kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. 1994:2) Sebuah kata. Yang dimaksud lambang di sini adalah tanda linguistik. Menurut Ogden dan Richard (1923) dalam karya klasiknya tentang “teori segitiga semantik”. misalnya buku. kalimat harus mudah dipahami. Dengan demikian. Dengan kata lain bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau tentang arti. sedangkan kata kerjanya adalah semaio yang berarti “menandai” atau “melambangkan”.

reduplikasi. perasaan. Makna leksikal seniman adalah ‘orang yang menciptakan karya seni’. Makna denotatif sering juga disebut dengan makna denotasional. makna konseptual. 1) Jenis-jenis makna Makna Leksikal dan Gramatikal Makna kosakata yang dikuasi seseorang merupakan bagian utama memori semantik yang tersimpan dalam otak. yang disebut makna denotatif atau sering juga disebut dengan makna deskriptif atau makna leksikal yang merupakan relasi kata dengan konsep. 2) Makna Denotatif dan Konotatif Pembedaan makna denotatif dan konotatif didasarkan pada ada atau tidaknya ‘nilai rasa’ pada sebuah kata. (Abdul Chaer. pendengaran. melahirkan makna ‘dapat’. terutama yang disebut kata penuh mempunyai makna denotatif. penciuman. keadaan di dunia nyata karena dalam kata terkandung pula cara pandang suatu masyarakat bahasa terhadap realitas. yaitu kaitan antara konsep dan tanda bahasa yang melambangkannya. dan pengalaman lainnya. papan itu terangkat. persitiwa. melahirkan makna gramatikal ‘tidak sengaja’. dan kompisisi. peristiwa atau keadaan yang dilambangkan dengan kata tersebut. Gambar di atas menunjukkan bahwa di antara lambang bahasa dan konsep terdapat hubungan langsung sedangkan lambang bahasa dengan referen atau objeknya tidak berhubungan langsung (digambarkan dengan garis putus-putus) karena harus melalui konsep. Jadi. karena dilihat dari sudut pengamatan yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan. sedangkan dalam kalimat Ketika balok itu ditarik. tetapi tidak setiap kata itu mempunyai makna konotatif. benda. baik positif maupun negatif. atau makna kognitif.disimpulkan bahwa semantik mengkaji makna tanda bahasa. kata tidak sekadar merupakan etiket yang ditempelkan pada benda-benda. Selanjutnya dijelaskan bahwa sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai ’nilai rasa’. 1994:65). Proses afiksasi awalan terpada kata terangkat pada kalimat Batu seberat itu terangkat juga oleh adik. b. Makna leksikal biasanya dioposisikan dengan makna gramatikal. Setiap kata. Makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatikal seperti proses afiksasi. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa dan realitas bukanlah hal yang identik. makna denotatif menyangkut Kebahasaan – KKG 25 .

Dalam pembelajaran kebahasaan di sekolah dasar makna ini disebut juga dengan kata populer dan kata kajian. 1) Sinonimi Sinonimi adalah relasi makna antarkata (frasa atau kalimat) yang maknanya sama atau mirip. dan bahasa asing.informasi-informasi faktual objektif. Relasi Makna Di setiap bahasa. antonimi ini disebut bertaraf karena antara panas dengan dingin masih ada kata-kata seperti hangat dan suam- Kebahasaan – KKG 26 . makna denotatif sering juga disebut dengan makna sebenarnya. Akan tetapi. seringkali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan lainnya dengan satuan bahasa yang lain. bahasa nasional. Di dalam suatu bahasa sangat jarang ditemukan dua kata yang bersinonim secara mutlak. Ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya kata-kata yang bersinonim. 3) Makna Kata dan Makna Istilah Pembedaan makna kata dan istilah berdasarkan ketepatan makna kata itu dalam penggunaannya secara umum dan secara khusus. Bentuk relasi makna tersebut dapat berwujud sebagai berikut. Dalam penggunaan bahasa secara umum acapkali kata-kata itu digunakan secara tidak cermat sehingga maknanya bersifat umum. Oleh karena itulah. kata-kata itu digunakan secara cermat sehingga maknanya pun menjadi tepat. termasuk bahasa Indonesia. Sebagai contoh kukul (bahasa Jawa) bersinonim dengan jerawat (bahasa Indonesia) 2) Antonimi Antonim atau oposisi adalah relasi antarkata yang bertentangan atau berkebalikan maknanya. Dalam bidang kedokteran misalnya kata tangan dan lengan digunakan sebagai istilah untuk pengertian yang berbeda. c. seperti kata-kata yang berasal dari daerah. Makna kata sebagai istilah atau kata kajian memang dibuat setepat mungkin untuk menghindari kesalahpahaman dalam bidang ilmu atau kegiatan tertentu. dalam penggunaan secara khusus dalam bidang kegiatan tertentu. Istilah antonimi digunakan untuk oposisi makna dalam pasangan leksikal bertaraf seperti panas dengan dingin.

dsb). Di Kebahasaan – KKG 27 . Di dalam kamus kata-kata yang termasuk homofon muncul sebagai lema (entri) yang terpisah. Misalnya. Perkataan seperti Saya tidak ingin mandi dengan air dingin tidak berarti Saya ingin mandi dengan air panas. seperti yang disebut di atas. Di dalam penyusunan kamus. ta. Oposisi makna pasangan leksikal tidak bertaraf yang maknanya bertentangan disebut oposisi komplementer.ber n 1tempat keluar (air atau zat cair). Misalnya kata tahu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia muncul sebagai dua lema. seperti kata suami dengan kata isteri. Relasi antarkata ada juga yang maknanya berkebalikan atau beroposisi rasional. Contoh homograf adalah kata tahu yang berarti makanan yang berhomograf dengan kata tahu yang berarti paham dan buku yang berarti kitab berhomograf dengan buku yang berarti tempat pertemuan atau dua ruas. sum.hu n makanan dari kedelai putih yang digiling halus-halus. seperti jantan dengan betina. kata-kata yang berhomonimi muncul sebagai lema (entri yang terpisah). sedangkan kata masa yang berarti waktu berhomofon dengan massa yang berarti jumlah besar yang menjadi satu kesatuan. 2 asal (dl berbagai arti) Dilihat dari relasi gramatikalnya. relasi sintagmatik dan paradigmatik. Sebagai contoh hubungan makna antara saya membaca dan buku dalam kalimat saya membaca buku.hu v mengerti sesudah melihat (menyaksikan. sumur. kata sumber dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia muncul sebagai satu lema. sedangkan yang dilafalkan sama tetapi makna berbeda disebut homofon. direbus dan dicetak 4) Polisemi Polisemi berkaitan dengan kata atau frasa yang memiliki beberapa makna yang berhubungan. 1 2 ta. 3) Homonimi Himonimi adalah relasi makna antarkata yang ditulis atau dilafalkan sama tetapi maknanya berbeda . ada dua jenis relasi makna. Relasi makna sintagmatis adalah relasi antarmakna kata dalam satu frasa atau kalimat (hubungan horizontal). Hubungan antarmakna ini disebut polisemi. mengalami. Kata-kata yang ditulis sama tetapi maknanya berbeda disebut homograf.suam kuku. sedangkan kata yang berpolisemi muncul sebagai satu lema namun dengan beberapa penjelasan. tetapi dengan beberapa penjelasan seperti berikut.

adanya asosiasi makna. Hubungan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. Saya membeli bunga . kemudian hanya berarti orang yang lulus perguruan tinggi. Kebahasaan – KKG 28 ..untuk hadiah ulang tahun ibu saya. adanya penyingkatan.. Sebagai contoh kata saudara pada mulanya hanya bermakna ’seperut’ atau ’sekandung’. akibat terjadinya proses gramatikal. adanya perbedaan bidang pemakaian. anggrek... d. pertukaran tanggapan indera. aster. dan tulip merupakan relasi paradigmatis. serta pengembangan istilah. relasi paradigmatis adalah relasi antarmakna kata yang menduduki gatra sintaktis yang sama dan dapat saling menggantikan dalam satu konteks tertentu (hubungan vertikal). tetapi kemudian karena berbagai faktor menjadi memiliki makna-makna lain. Perubahan Makna Perubahan makna dalam suatu bahasa sangat mungkin muncul sesuai denga perkembangan pemikiran masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan.. Perubahan makna kata terjadi karena adanya perkembangan dalam ilmu dan teknologi. Jenis perubahan makna antara lain: 1) Meluas Perubahan makna meluas adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata atau leksem yang pada mulanya hanya memiliki sebuah ’makna’... perkembangan sosial dan budaya. mawar anggrek aster tulip relasi makna antara kata mawar. kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja.sisi lain. 2) Menyempit Perubahan makna menyimpit adalah gejala pada sebuah kata yang mulanya mempunyai cakupan makna yang cukup luas.. kemudian maknanya berkembang menajdi siapa saja yang sepertalian sehingga paman pun bisa disebut sebagai saudara. Misalnya kata sarjana yang pada mulanya berarti ’orang yang pandai’ atau ’cendikiawan’.

kata jenis ini terbentuk dari jenis kata yang lain. sebab kata itulah yang merupakan perwujudan bahasa. fungsi/tujuan. apabila dalam peyorasi makna kata yang tadinya halus atau biasa berubah menjadi kasar dalam ameliorasi kata yang awalnya bermakna kasar menjadi halus.3) Peyorasi/pengasaran Peyorasi yaitu usaha untuk mengganti kata yang maknanya halus atau bermakna biasa menjadi kasar maknanya. ilham. Kosakata Kata merupakan unsur yang paling penting di dalam bahasa. melalui kata seseorang dapat mengungkapkan seluruh ekspresi dan isi hatinya. 4) Penghalusan/ameliorasi Penghalusan atau ameliorasi yaitu kecenderungan untuk menghaluskan makna kata lebih halus atau lebih sopan dari kata yang digantikannya. Konsep dan peran yang dimiliki tergantung dari jenis. seseorang harus memiliki kosakata yang luas. bui untuk menggantikan kata penjara. kata-kata abstrak ada juga yang berbentuk kata berimbuhan. Dengan kata lain. 5. Misalnya ungkapan masuk kotak dipakai untuk mengganti kata kalah. Tanpa kata mungkin tidak ada bahasa. serta penggunaannya di dalam kalimat. Kata-kata abstrak ini ada yang berbentuk kata dasar. untuk memahami dunia sekitarnya. semakin mudah ia dalam mengungkapkan isi hatinya. Begitu pula sebaliknya. Semakin banyak seseorang memiliki perbendaharaan kata atau kosakata. Selain itu. tabiat. Ameliorasi merupakan kebalikan dari peyorasi. Konsep-konsep tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. Usaha atau pengasaran ini biasanya dilakukan orang dalam situasi tidak ramah atau untuk menunjukkan kejengkelan. a. Contoh : kekuatan pemanadangan = ke-an + kuat = pe-an + pandang Kebahasaan – KKG 29 . Sebab itulah setiap orang dituntut untuk selalu menambah perbendaharaan kata atau kosakata yang dimilkinya. rasa. Contoh pramuniaga untuk penjaga toko. dan akan semakin mudah pula ia memahami dunia sekitarnya. contoh : ide. Kata Abstrak dan Konkrit Kata abstrak yaitu kata-kata yang menunjukkan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau diraba. Setiap kata mengandung konsep makna dan mempunyai peran di dalam pelaksanaan bahasa. atau makna kata-kata itu.

atau cara menjalankan dan berbuat. objek. gerak-gerik. dorong. kata benda dibedakan atas kata benda bentuk dasar dan kata benda turunan. kata benda menduduki fungsi sebagai subjek. Ibu yang baik hati Jenis-jenis kata benda Kata benda ada yang berjenis kata benda konkrit dan abstrak. lari. Dapat diikuti kata sifat dengan menggunakan “yang” Kakak yang baik hati. Kata kerja Kata kerja adalah jenis kata yang menyatakan perbuatan/pekerjaan. Kata kerja berimbuhan adalah kata kerja yang terbentuk dari jenis kata lain melalui proses pengimbuhan. tahun Kata benda turunan yaitu kata benda yang terbentuk dari jenis kata lain yang mengalami proses pengimbuhan. Contoh . S P O Pel Tidak dapat didahului oleh kata ingkar “tidak”. tindakan. Kata benda bentuk dasar yaitu kata benda yang berbentuk kata dasar. Ciri-ciri kata benda : Pada kalimat yang berpredikat kata kerja. gambar. Tidak ibu yang membelikan baju.kesombongan pelajaran b. atau pelengkap. makan. Contoh : pergi. Contoh : keindahan = ke-an + indah (kata sifat) perjalanan = per-an + jalan (kata kerja) c. Selain itu. 2) Kebahasaan – KKG 30 . Kata Benda = ke-an + sombong = pe-an + ajar Kata benda yaitu kata-kata yang merupakan nama-nama setiap benda atau segala sesuatu yang dibendakan. belum mengalami pengimbuhan. Bentuk kata kerja terdiri atas: 1) Kata kerja dasar adalah kata kerja yang berbentuk kata dasar. Contoh : Ibu membelikan adik baju baru.

Contoh: Perpustakaan adalah gudang ilmu. Contoh: b) c) Kebahasaan – KKG 31 . P=kt kerja 2) O Kata kerja intransitif yaitu kata kerja yang dalam penggunaannya tidak memerlukan objek. P d. Contoh : Andi mengendarai mobil dengan hati-hati. yaitu sebagai berikut. T Adik bernyanyi gembira. Mereka telah menjadi sampah masyarakat Perumpamaan yaitu perbandingan dua hal dengan menggunakan kata pembanding.Contoh : mencangkul = me+ cangkul (kata benda) mengeras = me+ keras ( kata sifat) Jenis-jenis kata kerja terdiri atas : 1) Kata kerja transitif yaitu kata kerja aktif yang dalam penggunaanya memerlukan objek. Contoh: Nyiur melambai di pantai. Badai mengamuk dan merobohkan rumah-rumah penduduk Metafora yaitu perbandingan singkat dua hal yang memiliki sifat yang sama. Pel Majas atau Gaya Bahasa Majas atau gaya bahasa adalah bahasa berkias yang disusun untuk meningkatkan efek dan asosiasi tertentu (Yayat Sudaryat.2008:92). P ket. Contoh : Ayah tidur di ruang tamu. Terdapat berbagai jenis majas. 1) a) Majas Perbandingan Personifikasi yaitu majas yang membandingkan benda mati seolah-olah hidup memiliki sifat seperti manusia.

pembuat/pengarang. tempat. atau julukan. pertemuan sudah dimulai sejam yang lalu. Inversi yaitu majas yang menggunakan pengubahan susunan kalimat. Contoh : Indonesia berhasil merebut medali emas dalam kejuaraan tersebut.majas yang digunakan untuk merendahkan diri. d) Alegori yaitu majas yang membandingkan hal-hal yang bertautan dalam satu kesatuan yang utuh. Majas Pertautan Metonomia yaitu menyebutkan benda/orang dengan nama jenis. Contoh: Terimalah pemberian yang tidak berharga ini sebagai kenang-kenangan dariku.Semangatnya keras bagai baja Mereka begitu rukun seperti kerbau dengan burung bangau. Saya terkejut setengah mati begitu melihat kedatangannya. Contoh: Selamat menempuh bahtera keluarga. 2) a) b) c) 3) a) b) c) d) Kebahasaan – KKG 32 . Contoh : Kami ditugaskan membuat sinopsis Laskar Pelangi. atau peristiwa yang sudah dikenal oleh umum. Ironi yaitu majas yang digunakan untuk menyindir. semoga selalu tabah dalam menghadapi badai dan gelombang dalam samudra kehidupan. Litotes yaitu . Alusio yaitu majas yang menyebut atau menunjuk pada tokoh. Majas Pertentangan Hiperbola yaitu majas yang mengandung pernyataan melebih-lebihkan Contoh: Suaranya menggelegar memecah kesunyian. Contoh: Cepat sekali kau datang. Contoh: Kami mengunjungi Kota Pahlawan Apakah setiap guru harus bernasib seperti Umar Bakri ? Kami teringat pada Peristiwa Semanggi Sinekdok yaitu majas yang menyebutkan nama bagian dari sesuatu sebagai pengganti keseluruhan atau sebaliknya. merek.

Tertawalah mereka ketika mendengar guarauanku. Paralelisme yaitu majas pengulangan yang terdapat dalam puisi. selamat datang bunga bangsaku. Contoh : Sunyi itu duka Sunyi itu kudus Sunyi itu lupa Sunyi itu lampus b) Kebahasaan – KKG 33 . Contoh: Selamat datang pahlawanku. 4) a) Majas Perulangan Repetisi yaitu majas yang mengulang kata sebagai penegasan. selamat datang pujaanku.Contoh : Terang sekali bulan malam ini.

target diucapkan tarjet. guru harus telaten memeriksa pekerjaan siswa atau tulisan siswa jika pembelajaran menggunakan metode imlah. Satu kebiasaan jelek yang sering terjadi pada perilaku para guru adalah memberikan Kebahasaan – KKG 34 . kursi diucapkan korsi. kita menghendaki perubahan konsep dari mengajarkan tentang bahasa menjadi mengajarkan berbahasa. seperti menyimak. dan menulis. strategi diucapkan stratehi. Rekaman suara baik berupa pidato. atau suara penyiar radio/televisi bisa menjadi media pembelajaran fonologi melalui mendengarkan. zaman diucapkan jaman. Pembelajaran mendengarkan melalui penyampaian pesan secara berantai juga baik dilaksanakan. Dikte bisa dilakukan dengan memakai alat tape recorder. keadaan seperti itu sulit untuk diperbaiki. Oleh karena itu. berbicara. cerita legenda. para siswa langsung diminta untuk mengucapkan kata yang baru disimaknya/didengarnya itu. Tentu saja kata-kata yang dipesankan itu disediakan sedemikian rupa sehingga mengandung bunyi-bunyi yang cenderung dipakai secara salah oleh masyarakat. Misalnya. pengucapan kata-kata secara benar hendaknya menjadi prioritas dalam pembelajaran mendengarkan. Jika kita mengajarkan kebahasaan secara khusus dengan nama mata pelajaran kebahasaan kepada para siswa berarti kita kembali ke masa silam ketika pengajaran bahasa masih berkonsep mengajarkan tentang bahasa. Kebahasaan dalam Pembelajaran Mendengarkan Dalam masyarakat sering kita jumpai penggunaan kata-kata terutama dalam bentuk tulisan yang tidak sesuai dengan bentuk sebenarnya dari kata tersebut. Oleh karena itu. Akan lebih berbahaya jika keadaan itu sudah mendarah daging dan menjadi kaidah kebenaran. Dalam upaya evaluasi. Setelah menerima pesan. Kenyataan ini disebabkan oleh penyimakan/mendengarkan yang kurang tepat ketika kata itu diucapkan oleh orang lain. dalam modul ini. membaca. pembelajaran kebahasaan tidak disendirikan menjadi satu bidang kajian melainkan diintegrasikan dengan pembelajaran keterampilan berbahasa. Metode imlah (dikte) tampaknya menjadi satu alternatif pembelajaran fonologi melalui mendengarkan. kata variasi sering diucapkan fariasi atau pariasi. A. Akibatnya.BAB III KEBAHASAAN DALAM PEMBELAJARAN BERBAHASA Pembelajaran kebahasaan di sekolah dasar diintegrasikan pada pembelajaran keterampilan berbahasa. dongeng. Padahal dengan kurikulum yang baru.

Mengapa pembetulan spontan itu harus dilakukan? Jawabannya adalah (1) agar si pembicara tidak lagi melakukan kesalahan hal yang sama. dalam pembelajarannya pun tentu ada hubungan yang erat sekali. Di sinilah ketelitian guru dalam memeriksa pekerjaan siswa sangat diharapkan. Jika perkataan itu harus ditulis. Artinya. Satu cara lain memperbaiki kesalahan pengucapan pada saat berbicara adalah teknik tegur langsung. Bunyi (h) cenderung melemah dalam kondisi seperti ini. Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat berbicara bisa diperbaiki sepanjang pikirannya masih sehat. ide. Aspek-aspek ini sangat berdampak pada pemahaman pendengar. Pikiran atau otak adalah tempat pemahaman kaidah. kata toko (toko) dengan tokoh (tOkOh). Jika saja keduanya diucapkan dengan (o) semua atau dengan (O) semua. Kebahasaan dalam Pembelajaran Berbicara Berbicara dan mendengarkan dalam praktiknya tidak bisa dipisahkan. pembelajaran berbicara tidak bisa ditinggalkan begitu saja.. si penyimak/pendengar secara serta merta langsung membetulkan kata tersebut. jelas akan memunculkan pemahaman makna lain pada suatu masyarakat bahasa. (da-han). seruan. ataukah hanya sekedar berita atau informasi. “Kita harus tahu saikeloji anak agar . dan (ni-hll). Misalnya. (2) karena belum ada hakim bahasa secara independen. pikiran. Begitu pula dengan (h) yang berada pada posisi awal kata akan cenderung diucapkan secara jelas. pola. Jika Anda mengatakan perahu dan tahun maka Anda akan menyuarakannya dengan (pe-ra-u) dan (ta-un). bunyi (h) terdengar jelas. Begitu pula dengan perkataan yang menyamakan antara vokal dengan variannya. hubungan antara suara yang keluar dengan apa yang ada dalam hati atau otak erat sekali. Dengan demikian. Kebahasaan – KKG 35 . Yang menjadi hakim bahasa selama ini adalah dirinya sendiri dan teman bicaranya. Berbicara pada dasarnya adalah menyuarakan kata hati. Kata-kata itu akan diucapkan dengan (mo-hon). Misalnya. B. Pendengar akan bisa membedakan apakah perkataan itu berupa pertanyaan. Oleh karena itu.. irama. begitu pula sebaliknya. antara yang benar dan yang salah juga tidak ada bedanya. struktur dan segala macam yang berupa pengetahuan. dan intonasi. Si penyimak ketika mendengar kata saikeloji langsung mengatakan “psikologi”. kata si pembicara.”. dahan. dan gagasan. Berbeda halnya dengan kata mohon. jika seseorang mengucapkan kata secara salah. Jika kita mendengarkan pasti ada yang berbicara. Setiap pembicaraan pasti mengandung nada.kelonggaran yang berlebihan kepada para siswa sehingga muncul kesan negatif bahwa antara yang menulis dan yang tidak menulis sama saja. Dalam kaitannya dengan ejaan. akan lahirlah pemahaman tetang penulisan tanda baca secara benar. dan nihil.

dan memahami tulisan. Berdasarkan maknanya. tanda-tanda yang lain pun tidak kalah pentingnya. Dari uraian di atas.000. lagu. Kesalahan penulisan tanda baca akan menyebabkan kesalahan pemaknaan. di situ bukanlah gelar sarjana melainkan singkatan nama dari Sujarwo. tulisan tersebut akan dipahami bahwa Sujarwo seorang sarjana hukum. Kebahasaan dalam Pembelajaran Membaca Membaca adalah mengkaji.H. jika tertulis Sujarwo S. penggunaan tanda baca ini berpengaruh sekali terhadap makna yang dikandung oleh sebuah kalimat bahasa Indonesia. Berdasarkan bentuknya kedua kalimat di atas hanya dibedakan oleh penggunaan tanda titik dan koma. sedangkan pada kalimat kedua bermakna uang saya tinggal satu rupiah. Misalnya. Lain halnya. Dalam membaca pemahaman itu. Kesalahan penulisan tanda baca yang harus dipahami benar penggunaannya dalam tulisan. atau mungkin yang lain. mungkin pula Sastro Hudoyo.00.penghentian mapun kesalahan pengucapan kata.000. meneliti. Dengan demikian. yaitu dengan cara simakan antarsiswa. siswa diajak memahami makna kata-kata sulit dan memcoba menggunakannya kembali dalam kalimat yang Kebahasaan – KKG 36 . dalam penulisan gelar di belakang nama orangnya. S.H. akan berbeda pemahaman orang dengan. mungkin Sandika Hadi. Uang saya tinggal Rp 1.C.H. yang akan dipahai bahwa S. Misalnya. Selain penggunaan tanda koma.00. tanpak bahwa penggunaan tanda koma sangat penting dalam tulisan. seperti Sujarwo. Tulisan yang dibaca tidak hanya terdiri atas huruf-huruf tetapi juga terdiri atas tanda-tanda baca yang harus dipahami benar penggunaannya dalam tulisan. Jika penulisannya seperti itu. Tahapan kedua dari kegiatan membaca bagi para siswa adalah membaca pemahaman. Dengan cara itu. tanda titik untuk angka. karena kalau salah lihat bisa berakibat fatal terutama pada pemahaman makna kata. siswa bisa mengoreksi secara langsung kesalahan baca yang dilakukan temannya baik kesalahan intonasi. Uang saya tinggal Rp 1. Pembelajaran membaca bagi para siswa. kalimat pertama bermakna uang saya itu seribu rupiah. hendaknya dimulai dengan pelatihan membaca nyaring. Oleh karena itu. Perhatikan contoh berikut ini. dalam membaca diperlukan kecermatan yang luar biasa.

Tidak mudah orang Kebahasaan – KKG 37 . peran pertanyaan yang berhubungan dengan bacaan sangat penting. para siswa diarahkan pada keterampilan membaca cepat. Penulisan huruf kapital merupakan salah satunya. Dalam upaya memahami bacaan itu.mereka buat sendiri. evaluasi pembelajaran membaca hendaknya tidak hanya terfokus pada keterampilan mengucapkan kata-kata tetapi juga harus diperhatikan pemahaman dan kecepatan siswa dalam membaca. Media lain yang bisa dipakai adalah layer televisi. Untuk tingkat lanjut. Dengan demikian. kemudian mereka harus memilih kata-kata yang benar. Setelah itu. para siswa dihadapkan pada wacana-wacana sederhana yang mudah dipahami sambil dicatat kecepatan membacanya. sedangkan menulis adalah menghurufkan pemahaman seseorang. Kebahasaan dalam Pembelajaran Menulis Menulis dan membaca ibarat dua keping yang tidak bisa dipisahkan. Media. para siswa tidak merasa bosan selama kegiatan membaca. atau prosa. Sehubungan dengan penggunaan media di atas. dari segi jenisnya bisa berupa wacana biasa. drama. tayangan televisi itu dapat digunakan untuk melatih dan mengukur kemampuan membaca siswa. kalau membaca adalah menafsirkan apa yang tertulis. Keterampilan membaca cepat ini dimulai dengan membaca deretan kata yang hampir sama. Masalah fonologi yang bisa diajarkan melalui pembelajaran menulis banyak sekali. Para siswa dibimbing oleh guru membaca dengan cepat disertai pemahaman yang memadai. Televisi biasanya menayangkan film-film asing yang diterjemahkan secara tertulis ke dalam bahasa Indonesia. atau bahan yang bisa digunakan untuk kegiatan membaca adalah yang pertama wacana. Yang menjadi inti dari keduanya adalah tulisan. Para siswa dianggap berhasil dalam belajarnya jika mereka sudah bisa mencapai target kecepatan dan prosentase pemahaman yang sudah ditentukan. Kecepatan tayang tulisan-tulisan itu sudah diukur dan ditentukan sedemikian rupa oleh para ahli sesuai dengan kemampuan orang membaca secara cepat. Oleh karena itu. Kemudian. puisi. D. alat. para siswa digiring menuju pemahaman makna bacaan yang sebenarnya. yang berbeda beberapa fonem saja. Bedanya. Wacana yang disediakan hendaknya bervariasi mulai dari yang mudah sampai ke yang sukar. Wacana-wacana tersebut bisa dibuat dengan kreativitas guru yang bersangkutan. Melalui pertanyaanpertanyaan itu. baru disediakan wacana-wacana yang cukup sulit.

bulan. Masalah lain dari fonologi yang bisa diajarkan melalui menulis adalah pemenggalan kata. Sedangkan cakupan semantik hanyalah makna atau arti yang berkenaan dengan bahasa sebagai alat komunikasi verbal. dan majalah sekolah. Para siswa hendaknya dibiasakan bahkan bisa diwajibkan oleh gurunya untuk memiliki buku harian.HK. atlit.memahami penulisan huruf kapital ini. zaman. kwartal. Kata-kata seperti efektifitas. M.SC. sebab makna-makna yang terdapat dalam bahasa bunga. sistim. Buktinya. Aditya. masih saja didapati kesalahan penulisan huruf kapital baik pada awal kalimat.. Kata ca-plok. Sudibyo. Bc. Selain hal di atas. Namun istilah semantik lebih umum digunakan dalam studi linguistik karena istilah-istilah yang lainnya itu mempunyai cakupan objek yang lebih luas. dan gelar. prestasi yang diperoleh. Jadi. bahasa warna dan bahasa prangko itu. sememik. konsekwen. padahal yang betul cap-lok.HK. pemenggalan kata sering tertukar dengan penyukuan kata. Dengan kata lain yang disebut bahasa bunga. Apakah semantik juga mempelajari makna-makna seperti yang terdapat dalam ungkapan bahasa bunga. bahasa warna dan bahasa prangko? Tentu saja tidak. sistem. dan hal lain yang tertuang dalam buku harian itu.. kode morse. Kebahasaan – KKG 38 . Misalnya.Sc. kata april sering pula dipenggal menjadi a-pril. hari. dan kwitansi. 2001:31-32). analisis. jaman. Media pembelajaran yang cukup efektif dan tepat guna untuk kegiatan menulis para siswa adalah buku harian. Penerapan Semantik dalam Menulis Dalam linguistik terdapat pula istilah seperti semiotika. yakni mencakup makna tanda atau lambang pada umumnya. tempat. BC. bisa dipamerkan melalui majalah dinding atau majalah sekolah. analisa. tehnik. jadual. jadwal. semasiologi. bahasa warna dan bahasa prangko itu tidaklah termasuk sistem tanda bunyi bahasa. Bentuk-bentuk yang baku dari kata-kata tersebut adalah efektivitas. teknik. penyebutan nama orang. kuitansi masing-masing sering muncul pada tulisan-tulisan ilmiah. dan semik untuk merujuk pada bidang studi yang mempelajari makna atau arti suatu tanda atau lambang. seharusnya Drs. M. pengajaran menulis juga hendaknya ditekankan pada ketelitian penulisan huruf terutama penulisan kata-kata serapan. semiologi. (Diding Wahyudin. Aditya. konsekuen. atlet. padahal itu adalah deret konsonan. Sudibyo. Termasuk tanda-tanda lalu lintas. Dalam praktiknya. pada penulisan gelar Drs. hanyalah perlambang belaka yang diturunkan bukan dari tanda linguistik. kuartal. majalah dinding. padahal yang benar adalah ap-ril. Hal-hal menarik. /pl/ dan /pr/ pada kedua kata tersebut sering dianggap kluster. dan tanda-tanda dalam ilmu Matematika.

Dalam hal ini kita memang harus berhati-hati memakai kata bahasa itu. Coba perhatikan apa arti kata bahasa pada kalimat-kalimat berikut: Mereka belajar bahasa Arab. Anda dapat melihat bahwa kata bahasa memiliki banyak arti. dan makna bahasa yang ada pada nomor (3) bahasa bunga bukanlah ‘bahasa’ seperti yang dimaksud pada nomor (1) bahasa Arab. Dari keenam contoh itu. (5) dan (6). Dalam bahasa Indonesia tampaknya kata bahasa menanggung beban makna yang cukup berat. Kebahasaan – KKG 39 . Jangan marah. 1995: 3). (Abdul Chair. Kiranya antara sesama pemimpin itu tidak ada kesatuan bahasa. Sang Raja tidak tahu bahasa Sang Permaisuri ‘lah tiada. Coba Anda simak apa arti kata bahasa pada nomor (2). Katakanlah dengan bahasa bunga! Bahasa Sutan Takdir Alijahbana tidak sama dengan bahasa Idrus.bukan sesuatu yang lingual atau perseolan lingual. melainkan persoalan semiotika. anak itu memang tidak tahu bahasa. (4).

their understanding of these practices and the situations (and) institutions) in which the practices are carried out. yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan terhadap sistem.BAB IV PENELITIAN TINDAKAN KELAS KEBAHASAAN A. karena pembelajaran kebahasaan selama ini dianggap sebagai pembelajaran sampingan yang tidak penting. dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru. dalam McNiff. terlalu teoritis dan tidak menyentuh tujuan pembelajaran bahasa. melalui refleksi diri. C. PTK juga bertujuan untuk memperbaiki kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesionalismenya. Empat Karakteristik PTK Karateristik/ciri utama PTK adalah adanya tindakan (action) yang nyata. Pengertian PTK PTK adalah penelitian tindakan (action research) yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki/ meningkatkan mutu praktik pembelajaran. sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat (Wardani. 1991:2) Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri. for example) in social (including educational) situations in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices. Keempat karakteristik itu adalah sebagai berikut. Kedua. pembelajaran kebahasaan kurang mendapat perhatian serius dari para guru. PTK dilakukan untuk memperbaiki kinerja guru. Tujuan PTK Tujuan Utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas. Mengapa PTK kebahasaan perlu mendapat perhatian? Pertama. kompetensi. dan membosankan. tidak menarik. proses.J. Di samping itu.. pembelajaran kebahasaan dianggap sulit. (Carr dan Kemmis. Ketiga. Dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Penelitian Tindakan merupakan suatu proses investigasi terkendali yang siklis dan bersifat reflektif mandiri. PTK Kebahasaan adalah PTK yang dimaksudkan untuk memperbaiki kinerja pembelajaran yang berkaitan dengan kebahasaan. 2003) B. atau situasi. pada kenyataannya pembelajaran kebahasaan tidak dilakukan secara benar oleh guru. ada empat karakteristik lain yang melekat pada PTK. isi. Intinya. Kebahasaan – KKG 40 . students or participals. Action research is a form of self-reflective inquiry undertaken by participants (teachers. cara kerja.

(2) Menganalisis dan merumuskan masalah pembelajaran. (5) Menganalisis data hasil observasi dan assesment serta interpretasi. Pengembangan Pembelajaran dalam PTK berorientasi pada pemecahan masalah pembelajaran (problem solving). (4) Melaksanakan Tindakan. Aktivitas Penelitian Tindakan Kelas Aktivitas penelitian tindakan kelas dapat digambarkan sebagai berikut. Kebahasaan – KKG 41 .(3) Merencanakan Tindakan. dan berkesinambungan. 2. dan Assesment. Prosedur Pengembangan PTK Prosedur pengembangan PTK dilakukan melalui kegiatan yang terencana.1. 3. Observasi. Reflektif terhadap perubahan hasil tindakan. D. Pengembangan PTK dilakukan dengan prosedur sebagai berikut (1) Identifikasi Masalah Pembelajaran. Kolaborasi (kerjasama) antara praktisi pendidikan dan peneliti. terarah. 4. Masalah yang dibicarakan adalah masalah pembelajaran yang sifatnya spesifik dan kontekstual. (1) Identifikasi Masalah Pembelajaran Pertanyaan-pertanyaan yang bisa membantu untuk mengidentifikasi masalah pembelajaran adalah sebagai berikut. Hasil reflektif dijadikan bahan pertimbangan untuk penyempurnaan rencana tindakan awal dalam siklus berikutnya. E. (6) Melakukan Refleksi dan merencanakan tindak lanjut untuk siklus berikutnya.

sebaiknya peneliti PTK melakukan hal-hal berikut: (1) gagas pendapat mengenai tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah (Kolaborasi guru-dosen. Oleh karena itu.Apakah kompetensi awal siswa untuk mengikuti pembelajaran cukup memadai? Apakah proses pembelajaran yang dilakukan cukup efektif? Apakah sarana/prasarana pembelajaran cukup memadai? Apakah pemerolehan hasil pembelajaran cukup tinggi? Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas? Apakah ada unsur inovatif dalam pelaksanaan pembelajaran Bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan strategi inovatif tertentu? (2) Menganalisis dan Merumuskan Masalah Pembelajaran Masalah yang diteliti harus masalah faktual.u/ siswa kelas IV dengan menggunakan kartu kata? Bagaimana meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat kalimat efektif siswa kelas VI melalui model pembelajaran inkuiri? (3) Merencanakan Tindakan Sebelum merencanakan tindakan. Kegiatan ini setidak-tidaknya akan menentukan Kebahasaan – KKG 42 . Masalah yang diteliti melalui PTK harus memiliki nilai strategis bagi peningkatan atau perbaikan proses dan hasil pembelajaran. (6) melakukan refleksi diri mengenai pengalaman sebagai guru. pertanyaan yang harus dijawab adalah: Apakah alternatif tindakan yang dipilih dapat meningkatkan atau memperbaiki proses dan hasil pembelajaran? Contoh: Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa terhadap perbedaan konsep kalimat tunggal dan kalimat majemuk dengan memberikan tugas kelompok ? Bagaimana meningkatkan kemampuan siswa melafalkan konsonan /p. guru mulai merencanakan tindakan dengan urutan kegiatan sebagai berikut (1) membuat skenario tindakan. (2) mempersiapkan sarana pembelajaran. f/ dan vokal /o. (4) melakukan simulasi pelaksanaan tindakan Pengembangan Instrumen Salah satu kegiatan PTK yang perlu mendapat perhatian adalah pengembangan instrumen. dan kebahasaan. (2) mengkaji teori di bidang pembelajaran/pendidikan. pakar pendidikan. (3) mempersiapkan instrumen pengembangan. Dengan demikian PTK membantu mencari alternatif pemecahan tindakan. (4) mendiskusikan rencana tindakan dengan teman sejawat. Artinya. (5) mengkaji pendapat dan saran pakar pendidikan yang sudah dituangkan dalam bentuk program. masalah yang diteliti benar-benar terjadi dalam pembelajaran di kelas. Masalah tersebut harus dapat dicari dan dididentifikasi jalan keluarnya. Setelah itu. (3) mengkaji hasil-hasil penelitian yang relevan. atau peneliti lain. guru-guru).

Tindakan yang dilakukan merupakan perbaikan dari tindakan yang dilakukan pada siklus sebelumnya. dan siswa-siswa dan kondisi kelas. bagaimana interaksi guru-siswa. format bayangan (shadowing form) Instrumen pengamatan untuk kelas meliputi format anecdotal organisasi kelas. siklus bisa dihentikan. bagaimana guru mengelola waktu. bagaimana guru bertanya. format peta kelas. bagaimana guru mengelola kelas. Hasil belajar non-kognitif juga diamati pada saat ini. dsb) Instrumen pengamatan terhadap siswa meliputi tes diagnostik (diagnostict test). dan (3) Instrumen untuk OUTPUT (evaluasi pencapaian hasil belajar) Instrumen untuk proses meliputi instrumen pengamatan terhadap guru (bagaimana guru mengajar. Interpretasi terhadap analisis data dilakukan untuk menyimpulkan dampak tindakan. (2) Instrumen untuk PROSES. (6) Melaksanakan Refleksi Hasil analisis lalu dihubungkan dengan indikator keberhasilan dan indikator kinerja. lanjutkan ke siklus berikutnya. Jika masih diperlukan siklus ke tiga maka tindakan yang dilakukan juga merupakan perbaikan tindakan dari siklus dua. Pada saat yang sama dilakukan observasi proses dengan menggunakan instrumen yang sudah didesain sebelumnya. Instrumen apa yang perlu dikembangkan? Yang perlu dikembangkan adalah (1) Instrumen untuk INPUT (bekal awal siswa). lembar cek kompetensi Instrumen-instrumen di atas perlu dilengkapi dengan instrumen lain seperti pedoman pengamatan. Jika belum. Jika berhasil. pedoman wawancara.validitas penelitian. Setelah itu melaksanakan penilaian (asesmen). bagaimana guru membentuk kelompok. pedoman penilaian. Kebahasaan – KKG 43 . Kedua macam data itu dianalisis berdasarkan cara analisis data kualitatif dan kuantitatif. Begitu pula interaksi guru-siswa. data dokumen. observasi kelas terstruktur. kegiatan berikutnya adalah melaksanakan skenario pembelajaran dengan mengaplikasikan inovasi pembelajaran. catatan anekdotal perilaku siswa (anecdotal record for observing students). lembar cek wawancara personalia sekolah. Sebelum melanjutkan ke siklus berikutnya guru perlu melakukan refleksi. terutama perubahan yang terjadi terhadap dinamika kelompok dalam pembelajaran. tes dan asesmen alternative. (5) Menganalisis Data Penelitian tindakan kelas lazimnya memerlukan data kualitatif dan data kuantitatif. bagaimana guru membuat penilaian. (4) Melaksanakan Tindakan Setelah merencanakan tindakan.

berkomunikasi. Dengan kata lain. maupun kalimat. Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang kata dan cara pembentukan kata. Sintaksis adalah cabang linguistik yang mempelajari pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata. Bila aturan. yaitu morfem bebas dan morfem terikat. Fonologi terdiri atas dua bidang. Ada dua macam morfem. Varian bahasa yang didasarkan pada pemakaiannya disebut sebagai ragam bahasa Fonologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran suatu bahasa. lambang-lambang gambar atau kode-kode tertentu lainnya. Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan menganalisis bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tuturan. kaidah. tata bentuk kata. dan mengidentifikasi diri. serta mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia. Fungsi bahasa yang terutama adalah sebagai alat untuk bekerja sama atau berkomunikasi di dalam kehidupan manusia bermasyarakat. Varian bahasa yang didasarkan pada pemakainya disebut sebagai dialek. atau dengan satuan-satuan yang lebih besar. baik dalam tata bunyi. Kebahasaan – KKG 44 . Pada kenyataannya setiap bahasa dapat muncul dalam berbagai varian. Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri. digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama. Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang mengandung makna. alomorf dan kata dasar. Satuan terkecil dalam bidang ini ialah kata. maka bahasa terbentuk oleh suatu aturan. atau pola-pola tertentu. kaidah atau pola ini dilanggar. Konsep-konsep yang gayut dengan morfologi antara lain konsep tentang: morfem. Sebagai sebuah sistem. Untuk berkomunikasi sebenarnya dapat juga digunakan cara lain. misalnya isyarat. bersifat arbitrer.BAB V RANGKUMAN Bahasa adalah suatu sistem lambang berupa bunyi. Tetapi dengan bahasa komunikasi dapat berlangsung lebih baik dan lebih sempurna. Semantik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Fonemik adalah ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti. yaitu: fonetik dan fonemik. maka komunikasi dapat terganggu. atau antara satuan-satuan yang lebih besar itu dalam suatu bahasa.

jika kesalahan itu berulang-ulang ditemuinya perlu ada perbaikan wacana sehingga tidak mengganggu pemahaman. Rekaman bisa membantu menyempurnakan ucapan pembicaraan. berhati-hatilah dalam berbicara. dan bicara terencana. Hanya. pedang ini juga bisa menjadi bumerang jika penggunaannya tidak benar. sintaksis. Para siswa harus dibiming untuk selalu berkonsentrasi pada saat menyimak. fonologi. bicara spontan. ketika membaca siswa tahu bahwa di dalam wacana yang dibacanya itu terdapat kesalahan cetak. Tetapi sebaliknya. simantik dan kosakata adalah dengan cara membiasakan diri menuliskan apa saja dalam buku harian. Kata-kata yang diucapkan jangan sampai keliru karena bisa mencelakakan diri sendiri. Dalam hal ini. morfologi. Metode pembelajaran yang disarankan adalah dengan tegur langsung.semantik adalah bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau tentang arti. tidak kalah pentingnya adalah kepekaan pendengar untuk membedakan satu bunyi dengan bunyi lainnya. Pedang ini akan bermanfaat jika dipakai oleh orang yang sesuai. Ketelitian seseorang dalam membaca sangat membantu dalam pemahaman wacana. Cara terbaik mengarjakan menulis agar tulisannya bagus sesuai dengan kaidah ejaan. Oleh karena itu. Penyimakan sebuah satuan bahasa berhubungan erat dengan cara kejelasan pengucapan satuan tersebut. Ada yang mengatakan bahwa berbicara adalah pedang yang sangat tajam. Paling tidak. masih banyak media lain yang biasa dipakai untuk berlatih menulis. Kebahasaan – KKG 45 . Akan tetapi. Pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang penulis adalah tata cara penulisan. Selain itu. terlalu teliti pun tidak baik akibatnya karena hal itu bisa menyebabkan kecepatan membaca menjadi rendah. Menulis adalah kegiatan yang kompleks. Metode dikte dapat dijadikan ancangan pembelajaran fonologi melalui menyimak.

Kebahasaan – KKG 46 . A. dan semivokal C. proses artikulasi C. bunyi konsonan C. bunyi oral Berikut ini diftong dalam bahasa Indonesia. bunnyi diftong Bunyi yang keluar melalui hidung disebut …. kecuali …. [oi] C. 6. [br]. Berikut ini proses terjadinya bunyi bahasa. [nt]. [rb] B. [tr] D. [ei] Berikut ini bunyi rangkap. A. bunyi oral dan nasal B. bunyi monoftong D. bunyi keras dan lunak D. A. bunyi nasal D. [ai] B. B. proses penyimakan B. kecuali …. C. A. [sl] C. bunyi luncuran B. [ai] 2. [pl]. [pr]. [kr]. bunyi vocal.BAB VI PENILAIAN Soal Pilihlah salah satu jawaban yang Anda anggap paling benar dengan cara memberi tanda silang (x) pada huruf A. 5. [au]. dan D! 1. proses aliran udara Berikut ini yang merupakan pembedaan bunyi bahasa berdasarkan ada tidaknya hambatan pada alat bicara adalah …. 3. konsonan. 4. bunyi kluster C. [mp]. [oi]. kecuali …. [au] D. proses fonasi D. A. A. bunyi tunggal dan rangkap Bunyi vokal tunggal dapat juga disebut …. bunyi vokal B.

Kebahasaan – KKG 47 . vokal tinggi-tengah-bulat B. konsonan getar Pembentukkan konsonan bisa dilakukan d engan cara-cara berikut. bergetar tidaknya pita suara D. mem-ba-ca-kan D. A. satuan kata secara fonologis D. kecuali …. 13. lidah dalam posisi serendah mungkin B. satuan kata dari seg medium C. konsonan nasal C. kecuali …. menggerakkan lidah bagaian tengah C. A. A. suku kata selalu mempunyai vocal C. A. tempat artukulasi C. A. konsonan hambat B. gugus berada pada satu suku kata Penyukuan dan pemengalan kata berada dalam hal…. 12. 11. 10. me-nga-lih-kan B. A. vokal rendah-depan-tak bulat C. diftong berada pada suku kata yang berbeda B. me-mi-sah-kan C. vokal madya-tengah tak bulat D. Vokal [a] termasuk ke dalam bunyi …. konsonan tidak pernah menjadi inti suku kata D. vokal madya-belakang-bulat Berikut ini pembentukkan konsonan berdasarkan cara artikulasi. A. konsonan palatal D. bentuk bibir dibulatkan 8. mengangkat lidah dalam ketinggian sepertiganya D. cara artikulasi B. me-ne-rus-kan Vokal bulat merupakan vokal yang dihasilkan dengan cara …. kecuali …. 9. satuan kata secara grafemis Pemisahan imbuhan yang tidak benar terdapat pada kata ….7. satuan kata secara gramatikal B. bentuk bibir Berikut ini pernyataan yang benar.

penulisan C. membaca dan menulis D. Hasan Hamid Syafri. B. berpidato D.. Faiz Asyraf Rafif.. A.14. penandaan Kecermatan penulisan huruf besar. Berikut ini adalah media yang biasa dipakai dalam pembelajaran fonologi melalui menyimak. Camat Drs. C. permainan drama C. wawancara Penyampaian pesan secara berantai dapat dipakai sebagai strategi pembelajaran fonologi dalam .. 17. MA melihat kecelakaan itu dengan jelas. 19. A. tahu 15. menyimak dan berbicara B.. membaca dan berbicara C. A. A. A. rekaman cerita legenda C. membaca dan menulis B. Pembelajaran fonologi melalui kegiatan berbicara bias dalam bentuk. Kebahasaan – KKG 48 . tahun D. M.. pengingatan B... kata dan nama gelar bisa ditemui dalam kegiatan .. A. pelafalan D. D. A. 20. kecuali…. menyimak dan membaca C. pembacaan puisi B. membuat pengumuman D.. Aminudin. menulis dan menyia 18.Ed. Fonem /h/ yang diucapkan secara jelas terdapat pada kata . MSi akan dipromosikan menjadi Walikota. menyimak dan berbicara D. kecuali .. Ir. Syahrudin. akan melanjutkan kuliah di Malaysia... tayangan TV Penulisan singkatan gelar di bawah ini yang tepat adalah …. dahan C. 16. DR. menyimak dan membaca Di bawah ini hal-hal yang berkenaan dengan fonologi. SH lulus dari Universitas Islam Jakarta. kecuali …. H. penjahit B. dongeng B.

C Kebahasaan – KKG 49 .KUNCI JAWABAN 1. B 8. C 5. C 19. B 17. A 20. A 2. D 10. D 16. A 13. D 6. C 9. C 15. D 14. C 4. B 18. A 7. B 3. A 11. B 12.

1994. Mansur. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Bumi Aksara. Brebes: PT Intan Pariwara. 2008. 2008. dan Fungsi. Soedjito. Bandung: Angkasa. Wahyudin R.1995. Sintaksis. Jakarta: Grasindo. 2008. Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif. Ende Plores.1997. Lamudin. Keraf. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kosakata Bahasa Indonesia. Surabaya. 2007.M. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia.. Linguistik Umum. Bahasa Indonesia. Komposisi Mulia. Zaenal Arifin dan Junaiyah H. Tatabentuk Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia. Bentuk. Jakarta: Rineka Cipta Finoza. AM.1999. Abdul. Moeliono. Makna. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta. Raharjo. Fonologi Departemen Pendidikan Nasional. Pengajaran Kosakata. 2004. 1991. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. dan Soenjono Dardjowidjojo (peny. Morfologi. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Mansoer. 1988. 1993.. prima Ebta Bahasa Indonesia SMA. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Sri H. Diding. Muslich. 1992. 2001. Hanry. ----------. Gorys.1990.). Linguistik Terapan. Jakarta: Gramedia Widiasarana. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Nusa Indah. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia. Bahan Ajar Diklat Tingkat Lanjut Bahasa Indonesia bagi Guru SD.DAFTAR PUSTAKA Chaer.1998. Jakarta : Balai Pustaka. -----------. Jakarta: Diksi Insan Guntur Tarigan. Pateda. Jakarta: Grasi Kebahasaan – KKG 50 . -----------.

bidang studi dalam lingusitik yang mempelajari makna atau tentang arti. satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif ilmu bahasa tentang seluk-beluk bentuk kata.GLOSARIUM alomorf : anggota satu morfem yang wujudnya berbeda. kata kerja adjektif fonologi : : frasa : morfologi semantik : : sintagmatik sintaksis : : verba : Kebahasaan – KKG 51 . cabang linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech). tetapi mempunyai fungsi dan makna yang sama kata sifat bagian dari tata bahasa atau ilmu bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran suatu bahasa. relasi antarmakna kata dalam satu frasa secara horizontal.

Kebahasaan – KKG 52 .

Kebahasaan – KKG 1 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->