Penulis Abd. Rohim H.S. Ririk Ratnasari Siti Yulaika Ida Darningsih Penyunting Endang Kurniawan Tim Review Dr. Petrus Purwadi,M.S. Drs. Burhanuddin,M.Hum Endah Madusari,M.Pd Suharti Mangindaan,S.S.

KATA PENGANTAR
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Bahasa memiliki tugas dan tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas guru bahasa, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan tenaga kependidikan lainnya. Dalam rangka memperbaiki mutu dan profesionalitas mereka, PPPPTK Bahasa berperan serta secara aktif dalam proyek Better Education Through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU). Sebagai suatu lembaga yang dikelola secara profesional, PPPPTK Bahasa menyediakan program pendidikan dan pelatihan berkualitas yang sejalan dengan reformasi pendidikan serta tuntutan globalisasi yang tertuang dalam program Education for All (EFA). Selain itu, PPPPTK Bahasa meningkatkan kompetensi guru melalui penyediaan bahan ajar yang akan digunakan sebagai sarana untuk mencapai kompetensi yang diinginkan. Dalam menjawab amanat Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, PPPPTK Bahasa menyelenggarakan berbagai pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. Pencapaian kompetensi tersebut dapat dilakukan melalui penggunaan bahan ajar yang telah disusun dalam kegiatan pelatihan di KKG dan MGMP. Kritik dan saran untuk perbaikan sangat diperlukan dan dapat dikirimkan ke PPPPTK Bahasa, Jalan Gardu, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta 12640, Telepon (021) 7271034, Faksimili (021) 7271032, dan email: admin@pppptkbahasa.net Jakarta, Maret 2010 Kepala Pusat,

Dr. Muhammad Hatta, M.Ed. NIP 19550720 198303 1 003

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................. i DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... 1 A. Latar Belakang .................................................................................. 1 B. Tujuan................................................................................................ 2 C. Alokasi Waktu.................................................................................... 2 D. Sasaran ............................................................................................. 3

BAB II KEBAHASAAN ...................................................................................... 4 A. Konsep Kebahasaan......................................................................... 4 1. Hakikat Bahasa............................................................................ 4 2. Fungsi Bahasa ............................................................................. 4 3. Ragam Bahasa ............................................................................ 4 B. Unsur-unsur Kebahasaan ................................................................. 6 1. Fonologi ....................................................................................... 6 2. Morfologi .................................................................................... 10 3. Sintaksis..................................................................................... 20 4. Semantik .................................................................................... 24 5. Kosakata .................................................................................... 29 BAB III KEBAHASAAN DALAM PEMBELAJARAN BERBAHASA............... 34 A. Kebahasaan dalam Pembelajaran Mendengarkan......................... 34 B. Kebahasaan dalam Pembelajaran Berbicara ................................. 35 C. Kebahasaan dalam Pembelajaran Membaca................................. 36 D. Kebahasaan dalam Pembelajaran Menulis .................................... 37 BAB IV PENELITIAN TINDAKAN KELAS KEBAHASAAN ...........................40 A. Pengertian PTK .......................................................................... 40 B. Tujuan PTK .................................................................................40 C. Empat Karakteristik PTK ............................................................ 40 D. Aktivitas PTK ............................................................................ . 41 E. Prosedur Pengembangan PTK .................................................. 41 BAB V RANGKUMAN ....................................................................................... 44 BAB VI PENILAIAN........................................................................................... 46 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 50 GLOSARIUM...................................................................................................... 51

ii

khususnya pada pembelajaran bahasa Indonesia mengisyaratkan bahwa proses pembelajaran bahasa Indonesia dititikberatkan pada kegiatan yang berorientasi pada keterampilan berbahasa. dan psikomotor para siswa agar mampu melakukan suatu tindakan. Tanpa bekal tersebut. Pembelajaran masalah kebahasaan hendaknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi di lingkungan siswa. pembelajaran masalah kebahasaan hendaknya disesuaikan dengan prinsip pembelajaran pada umumnya. Salah satu prinsip pembelajaran bahasa Indonesia adalah bahwa pembelajaran itu disampaikan secara terpadu. Walaupun penekanan harus Kebahasaan – KKG 1 . Latar Belakang Pembelajaran bahasa Indonesia pada prinsipnya menitikberatkan pada upaya untuk meningkatkan kognitif. Untuk mencapai kompetensi itu dibutuhkan seorang guru bahasa Indonesia yang kompeten. sehingga mampu dan terampil dalam berbahasa Indonesia. Hal itu dimaksudkan agar para siswa memiliki kemampuan pemahaman dan penerapan tentang kebahasaan. membaca. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pelaksanaan kegiatan pembelajaran kebahasaan dilakukan secara terintegrasi dalam keempat keterampilan berbahasa. Selain itu. di antaranya keterpaduan ranah pembelajaran. sebab penguasaan masalah kebahasaan akan membekali seorang guru dalam mengenali dan meluruskan kesalahankesalahan masalah kebahasaan. afektif. berbicara. yaitu mendengarkan. dan menulis. Guru bahasa Indonesia harus menguasai masalah kebahasaan bahasa Indonesia. Begitu pula pada pembelajaran kebahasaan yang menunjukkan seluruh kegiatan pembelajaran direncanakan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang hendak dicapai agar dikuasai oleh siswa. Keterpaduan itu tampak dalam berbagai hal. Seorang guru bahasa Indonesia yang kompeten harus menguasai materi kebahasaan dan dapat mengajarkannya kepada siswa secara intensif dan berkesinambungan. Pembelajaran masalah kebahasaan juga harus berorientasi pada kompetensi yang harus dikuasai siswa. tentu seorang guru tidak dapat berbuat apa-apa dalam menghadapi kesalahan-kesalahan berbahasa yang diperbuat oleh siswa. Keempat keterampilan berbahasa tersebut tidak dapat disampaikan dengan baik tanpa adanya dukungan kebahasaan karena antara yang satu dengan yang lainnya saling terkait.BAB I PENDAHULUAN A.

2. materi pembelajaran. guru harus dapat memadukan pembelajaran kebahasaan ke dalam pembelajaran keterampilan berbahasa. dan kosa kata (leksikon) bahasa Indonesia. guru harus menguasai konsep-konsep materi kebahasaan. guru harus dapat memilih masalah kebahasaan yang perlu diajarkan untuk meningkatkan kompetensi berbahasa siswa. Beberapa hal yang perlu diperthatikan adalah sebagai berikut. 3. namun kaidah-kaidah kebahasaan harus tetap diperhatikan. ragam bahasa. dan kondisi siswa. fonologi. morfologi. dan kosakata. Kedua. Perbandingan tersebut tergantung pada kompetensi dasar. tetapi dalam pelaksanaannya keempat aspek keterampilan berbahasa itu diajarkan secara terpadu menjadi kesatuan yang utuh. Pertama. Meskipun pembelajaran bahasa dimaksudkan agar siswa memiliki kompetensi berbicara. indikator. Memahami pembelajaran kebahasaan yang dipadukan dalam pembelajaran keterampilan mendengarkan. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas. Antara teori dan praktik ada perbandingan yang harmonis. peserta KKG diharapkan dapat menguasai kompetensi yang berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut. B. tetapi segi kognitif dan afektif tidak bisa diabaikan. dan menulis dalam bahasa Indonesia. Memahami konsep-konsep kebahasaan Memahami unsur-unsur kebahasaan yang berkaitan dengan fonologi. yaitu hakikat bahasa. dan keterampilan menulis. keterampilan membaca. Tujuan Setelah mempelajari modul suplemen ini. semantik. Fokus pembelajaran dapat diarahkan pada salah satu aspek keterampilan berbahasa. keterampilan berbicara.diarahkan kepada segi penumbuhan psikomotor atau keterampilan berbahasa siswa. membaca. Demikian juga dengan keterpaduan keterampilan berbahasa. sintaksis. sintaksis. perlu diperhatikan beberapa hal sebelum seorang guru melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kebahasaan – KKG 2 . 1. fungsi bahasa. morfologi. semantik. Ketiga. C. Alokasi Waktu Alokasi waktu yang digunakan untuk mempelajari modul ini dalam pelatihan adalah 4 jam pelajaran (4X50 menit).

Sasaran Modul ini ditujukan untuk guru-guru SD. peserta pelatihan di KKG bahasa Indonesia pada program BERMUTU Kebahasaan – KKG 3 .D.

(Abdul Chair. Untuk berkomunikasi sebenarnya dapat juga digunakan cara lain. b) alat pemersatu pelbagai suku bangsa di Indonesia. Fungsi Bahasa Fungsi bahasa yang terutama adalah sebagai alat untuk bekerja sama atau berkomunikasi di dalam kehidupan manusia. Beberapa dialek dalam bahasa Indonesia itu antara lain adalah sebagai berikut. baik dalam tata bunyi. Konsep Kebahasaan 1. dalam bahasa Indonesia terdapat bermacammacam dialek. atau pola-pola tertentu. atau bahasa Melayu dialek Medan. Hakikat Bahasa Bahasa adalah suatu sistem berupa lambang bunyi. 1998: 1) 2. Varian bahasa yang didasarkan pada pemakaiannya disebut sebagai ragam bahasa. dialek Jakarta (Betawi). Dialek dan Ragam Bahasa Pada kenyataannya setiap bahasa dapat muncul dalam berbagai varian. maka bahasa terbentuk oleh suatu aturan.BAB II KEBAHASAAN A. Varian bahasa yang didasarkan pada pemakainya disebut sebagai dialek. c) media untuk menampung kebudayaan nasional. bersifat arbitrer. dengan menggunakan bahasa komunikasi dapat berlangsung lebih baik dan lebih sempurna. Berdasarkan pengertian di atas. Kebahasaan – KKG 4 . kaidah. dikenallah bahasa Melayu dialek Ambon. yaitu berbagai bahasa yang digunakan di daerah tertentu sehingga ia membedakan bahasa yang digunakan di suatu daerah dengan bahasa yang digunakan di daerah yang lain meski mereka berasal dari satu bahasa. bahasa Indonesia berfungis sebagai: a) alat untuk menjalankan administrasi negara. Sesuai dengan kedudukannya. tata bentuk kata. (Abdul Chair. gambar atau kode-kode tertentu lainnya. maupun tata kalimat. berkomunikasi. kaidah atau pola ini dilanggar. 1. 1998: 2) 3. lambang-lambang. digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama. Bila aturan. maka komunikasi dapat terganggu. Sebagai sebuah sistem. Namun. dan mengidentifikasi diri. Oleh karena itu. misalnya dengan isyarat. Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi negara. Dialek regional.

Contohnya dialek wanita dan dialek remaja. Ragam bahasa menurut hubungan antarpembicara dibagi atas: A. Ragam bahasa menurut pokok pembicaraan meliputi: a) b) c) d) ragam undang-undang ragam jurnalistik ragam ilmiah ragam sastra 2. kita masing-masing memiliki ciri-ciri khas pribadi dalam pelafalan. atau pilihan dan kekayaan kata. Namun. dan hubungan antarpembicara. Berikut ini adalah contoh ragam bahasa Indonesia berdasarkan pokok pembicaraan dan hubungan antarpembicara. Sekalipun kita semua berbahasa Indonesia. 1. bahasa baku tidak dapat digunakan untuk segala keperluan. yaitu dialek yang digunakan pada kurun waktu tertentu. pengelompokan ragam bahasa dapat dilakukan dengan memperhatikan pokok pembicaraan. terdiri dari: a) ragam teknis b) ragam undang-undang c) ragam catatan d) ragam surat-menyurat Dalam kenyataannya. Idiolek. perantara pembicaraan. ragam lisan. Sedangkan ragam bahasa dalam bahasa Indonesia jumlahnya tak terbatas. yaitu dialek yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu atau yang menandai tingkat masyarakat tertentu.2. 3. Dialek sosial. tata bahasa. terdiri dari: a) ragam percakapan b) ragam pidato c) ragam kuliah d) ragam panggung B. 4. tetapi hanya untuk: a) b) c) d) komunikasi resmi wacana teknis pembicaraan di depan khalayak ramai pembicaraan dengan orang yang dihormati Kebahasaan – KKG 5 . ragam tulis. Dialek temporal. yaitu keseluruhan ciri bahasa seseorang. Contohnya dialek Melayu zaman Sriwijaya dan dialek Melayu zaman Abdullah.

Proses pembentukan bunyi bahasa dimulai dengan memanfaatkan pernapasan sebagai sumber tenaganya. yang dapat membedakan arti. Benar. AM.B. Bagaimana dengan /s/ dan /h/ apakah keduanya fonem yang berbeda? Untuk membuktikan keduanya fonem berbeda perhatikanlah pasangan kata /dasi/ dan /dahi/. Sekarang. Pembentukan Bunyi Bahasa Bunyi bahasa merupakan sebuah rangkaian bunyi yang dikeluarkan oleh penutur. Perbedaan makna itu disebabkan oleh keberadaan fonem /t/ dan /d/. Perhatikanlah pasangan kata /tari/ dan /dari/. Fonetik mempelajari bagaimana menghasilkan bunyibunyi tersebut dengan alat ucap manusia. alat ucap yang menimbulkan getaran. Bunyi itu dipahami melalui proses mendengar. dan rongga pengubah getaran. 1988: 37) Kebahasaan – KKG 6 . Fonemik adalah ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti. Meskipun hanya berbeda satu bunyi. Sasaran fonetik adalah mempelajari segala macam bunyi ujaran yang dapat dihasilkan oleh alat-alat ucap. Fonologi Definisi Fonologi Fonologi adalah ilmu bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran suatu bahasa. Berikut penjelasan keduanya. Fonologi dapat dibagi atas dua bidang. Satuan bunyi ujaran yang terkecil. carilah contoh pasangan kata yang dapat membuktikan bahwa /p/ dan /b/ adalah dua fonem yang berbeda. pasangan kata /puas/ dan /buas/ dapat membuktikan bahwa fonem /p/ berbeda dengan fonem /b/. -ema = mengandung arti).). yaitu: fonetik dan fonemik. dan Soenjono Dardjowidjojo (peny. Oleh sebab itu. yaitu /t/ dan /d/. a. Pada pasangan kata itu hanya ada satu bunyi yang berbeda. Dalam pembentukan bunyi bahasa ada tiga faktor utama yang terlibat: sumber tenaga. Unsur-unsur Kebahasaan 1. (Moeliono. disebut fonem (fon = bunyi. kedua kata itu memiliki makna yang berbeda. Seseorang mampu memahami bunyi bahasa yang didengarnya apabila bunyi itu keluar (terujar) dengan benar. Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan menganalisa bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tuturn. b. dan bagaimana menghasilkan tiap-tiap bunyi itu dengan tepat menurut kebiasaan masyarakat bahasa itu. /t/ dan /d/ dapat disebut sebagai fonem yang berbeda karena terbukti dapat membedakan makna.

Yang termasuk fonem vokal dalam bahasa Indonesia ialah /a. Gigi Bawah (dentum) 5. tinggi-rendahnya lidah. Bibir Bawah (labium) 3. Berikut ini adalah gambar alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi ujaran. 1) Vokal dan Konsonan Vokal Vokal adalah bunyi ujaran yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan. Gusi (alveolum) 6. (3) kemampuan mengatur pernapasan untuk mengalirkan udara ke rongga tenggorokan. e. Pita Suara 20. mulut. Depan Lidah 11. Pangkal Tenggorokan (larynx) 21. tetapi bergantung pada posisi atau bentuk bibir. (2) keterampilan dan kemampuan alat bicara dalam melakukan artikulasi. Anak Tekak (uvula) 9. Untuk menghasilkan bunyi bahasa yang benar menurut kaidah bunyi bahasa. Rongga Mulut 17. ə/. Langit-Langit Lunak (velum) 8. Akar Lidah (radika) 15. Pangkal Lidah (dorsum) 14. o. seorang penutur harus mengetahui artikulator (alat ucap) apa saja yang terlibat dalam proses artikulasi. Ujung Lidah (apex) 10. Bibir Atas (labium) 2. Rongga Hidung 18. Langit-Langit Keras (palatum) 7. Tengah Lidah (medium) 13. i. dan maju-mundurnya lidah. Kebahasaan – KKG 7 . Daun Lidah (laminum) 12. diperlukan: (1) alat bicara yang normal. Rongga Kerongkongan (pharynx) 16. Gigi Atas (dentum) 4. Epiglotis 19. Jenis dan macam vokal tidak bergantung pada kuat dan lembutnya getaran udara.Untuk menghasilkan bunyi bahasa yang benar. dan hidung. Trakea c. 1. u.

p. ramai. Diftong Diftong adalah dua vokal berurutan yang diucapkan dalam satu kesatuan waktu. k. Konsonan dapat dibedakan berdasarkan faktor-faktor berikut. Misalnya. Bila dua vokal berurutan itu diucapkan dalam satuan waktu yang berlainan. Deret Konsonan. v. j. misalnya program. 1) Kluster. l. Deret konsonan merupakan dua buah konsonan yang terletak pada suku kata yang berlainan. y. q. mau. Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa bunyi kluster. harimau. bunyi [au]dan [ai] dalam: kaum. s] luluh jika mendapat imbuhan me-. f. dan naik. raut. (Gorys Keraf. [pr]. kait. s. Meskipun kata tari dan transfer diawali dengan bunyi konsonan [t]. t.kluster tidak luluh. laut. bait. Keduanya berada pada batas antara dua buah suku kata. [kr]. 2) Deret Konsonan Deret konsonan adalah dua buah konsonan yang letaknya berdampingan. w. x. dan lantai. kata tari jika mendapat imbuhan me. c. m. a) Artikulator dan titik artikulasi b) Jenis halangan udara yang dijumpai c) Bergetar-tidaknya pita suara d) Jalan keluar udara dari rongga ujaran Yang termasuk fonem konsonan dalam bahasa Indonesia adalah /b. z d. misalnya [tr]. namun perlu diingat bahwa [tr] pada kata transfer adalah kluster. traktir. Deret konsonan tampak pada bunyi Kebahasaan – KKG 8 . e. g. pantai. Misalnya. entah seluruhnya atau sebagian. transfer. h. p. Kedua konsonan itu tidak diucapkan dalam satu kesatuan waktu. dan Suku Kata Kluster Kluster adalah konsonan rangkap yang diucapkan dalam satu kesatuan waktu. bangau. Jika mendapat imbuhan me. Kata yang berkluster dalam bahasa Indonesia. tetapi tidak berada pada sebuah suku kata. dan [gr]. maka itu dua vokal berurutan itu bukanlah diftong. n. namun kata transfer jika mendapat imbuhan memenjadi mentransfer. r. 1999: 24). 1999: 25). dan lain-lain.menjadi menari. Contoh dua vokal berurutan yang tidak bisa disebut diftong terdapat pada katakata berikut. d. (Gorys Keraf. t.2) Konsonan Konsonan adalah bunyi ujaran yang terjadi karena udara yang keluar dari paruparu mendapat halangan. bunyi [au] dan [ai] pada kata-kata: pulau. meskipun menurut kaidah bahasa Indonesia kata-kata yang diawali konsonan [k.

1) Penyukuan dan Pemenggalan Kata Penyukuan Istilah penyukuan kata dibedakan dari istilah pemenggalan kata. Suku kata terbuka adalah suku kata yang diakhiri dengan vokal. tang-gung. Suku kata tertutup adalah suku kata yang diakhiri dengan konsonan seperti suku kata -lam pada kata malam. Suku kata atau imbuhan yang terdiri atas sebuah fonem tidak boleh dipenggal agar tidak terdapat satu huruf pada ujung atau awal baris. de-ngan. Contoh. Pemberian tanda hubung tidak dibenarkan jika diletakkan di bawah akhir suku yang hendak dipisah. 2) Pemenggalan Kata Pemenggalan itu diperlukan terutama apabila kita harus memisahkan sebuah kata dalam tulisan. Dengan dasar itu.dan -tang. pemenggalan dilakukan di antara dua vokal tersebut.dan -ri pada kata lari. 3) Suku Kata Suku kata adalah satu ujaran terkecil dari sebuah kata .dan -ta pada kata mata. sedangkan pemenggalan lebih berhubungan dengan penulisan. contoh: ba-ik. ja-lan.konsonan [k dan t] pada kata pakta. penyukuan terhadap kata-kata caplok. kita harus membubuhkan tanda hubung (-) di antara suku-suku kata itu dengan tidak didahului atau diikuti oleh spasi. Bila di tengah kata ada konsonan di antara dua vokal. Oleh karena itu kata datang dikatakan terdiri atas dua suku kata: da. sa-at. Suku kata adalah bagian kata yang diucapkan dalam satu hembusan napas. contoh: pin-dah. terutama jika terjadi pergantian baris. cap-lok. seperti suku kata ma. yaitu da. pu-ing. Pemenggalan dilakukan terhadap kata-kata yang berkedudukan sebagai kata dasar. kata datang. akta. f. Apabila kita ingin memenggal sebuah kata. lam-bat. dan suku kata –gus pada kata bagus. Bila di tengah kata ada dua konsonan berurutan. Penyukuan berhubungan pengucapan. Bila di tengah kata ada tiga Kebahasaan – KKG 9 . yaitu suku kata terbuka dan suku kata tertutup.dan -tang. Penyukuan adalah proses mencari suku-suku kata. Kata ini diucapkan dalam dua hembusan napas. dan kenali adalah cap-lok. Bila di tengah kata dasar ada dua vokal. maka pemenggalan dilakukan sebelum konsonan tersebut. Sekurang-kurangnya satu suku kata terdiri dari satu vokal. suku kata la. pemenggalan dilakukan di antara kedua fonem tersebut. dan bunyi konsonan [r dan t] pada kata arti dan harta. contoh : si-kat. dengan. ha-nyut. Dalam bahasa Indonesia ada dua jenis suku kata. dan ke-na-li.

/g/ dan /i/ = 4 fonem sangat terdiri atas fonem /s/. maka pemenggalan dilakukan di antara konsonan pertama dan kedua. <n>. Morfologi Definisi Morfologi Morfologi ialah ilmu bahasa yang mempelajari tentang seluk-beluk kata dan cara pembentukannya. bang-krut. sedangkan fonem berkaitan dengan bunyi. <u>. <d>. 2. /a/. /a/. Grafem berkaitan dengan huruf. Contoh: pagi terdiri atas fonem /p/. Contoh: kilometer = kilo-meter atau ki-lo-me-ter fotografi = foto-grafi atau fo-to-gra-fi g.konsonan atau lebih yang berdekatan. mem-ba-tu. dan dari segi fonem juga ada lima satuan. Seringkali represenasi tertulis kedua konsep ini sama. yakni <l>. 2008:2). kita menulis kata kursi yang terdiri dari grafem <k>. yakni /l/. meskipun imbuhan itu mengalami perubahan bentuk. pe-ngum-pul-an. ge-ri-gi. hubungan satu-lawan-satu seperti itu tidak selalu kita temukan. contoh: ge-me-tar. /a/. Sisipan tidak dipenggal berdasarkan imbuhan karena sisipan dianggap bagian dari kata. <a>. a. Misalnya untuk menyatakan benda yang dipakai untuk duduk yang bernama "kursi". contoh: mem-be-lok. Akan tetapi. 1) Konsep-konsep Dasar dalam Morfologi Morfem Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang mengandung makna (Zaenal Arifin. yaitu morfem bebas dan morfem terikat. Morfem ada dua macam. Fonem dan Grafem Fonem adalah satuan terkecil dari bunyi bahasa yang membedakan arti. Pemenggalan pada kata kompleks. Kata ladang terdiri atas enam grafem. b. /ng/. in-struksi. <r>. Kebahasaan – KKG 10 . <a>. /d/. dan /ŋ/ karena grafem <n> dan <g> hanya mewakili satu fonem /ŋ/ saja. am-bruk. /a/ dan /t/ = 5 fonem Grafem adalah pelambang fonem yang berbentuk huruf. Dari segi bunyinya perkaatan yang sama itu hanya terdiri atas lima fonem. contoh: kon-trak. Dari segi grafem kata kursi terdiri atas lima satuan. /a/. Pemenggalan pada kata berimbuhan dilakukan dengan cara memisahkan imbuhan dengan kata dasarnya. dan <g>. te-lun-juk. <s>. dan <i>. dilakukan dengan cara memisahkan unsurunsurnya atau di antara suku-suku kata tersebut. dan mengucapkannya pun /kursi/.

Morfem ber-.misalnya. be. ke-. dan me. me-i. dan bel. ber. pe-. di-. pandang. Dalam satu kasus. Kebahasaan – KKG 11 . di. Morfem ber-. -nya. kata di dalam bahasa Indonesia terdiri atas kata dasar dan kata jadian. Morfem ber. Variasi bentuk itu muncul disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang dimasukinya (Gorys Keraf. 2) Alomorf Alomorf adalah variasi bentuk dari sebuah morfem. di-. -an. ter-. ber. ber-an. dan orang. dilihat. -kan. seperti pada kata berlari. Fungsi. Morfem terikat adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata. me-kan. dan Makna Lazimnya. memandang. Afiks dalam bahasa Indonesia terdiri atas: (a) awalan (prefiks): ber-. Morfem terikat baru memiliki makna setelah bergabung dengan morfem bebas.berubah menjadi be-. dapat berdiri sendiri sebagai kata. Sebuah kata jadian dapat dibentuk dari dua macam dasar. lihat. me-. -er-. atau me-. yakni (1) dasar bebas..Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri sebagai kata.memasuki hampir semua lingkungan.berubah menjadi bel-. Morfem bebas seperti morfem di. dan (2) dasar terikat. misalnya: berber-layar ber-satu ber-diri ber-kartu ber-tunas 3) bebe-rasa be-rambut be-derma be-kerja be-terbangan belbel-ajar Bentuk. hanya akan bermakna bila muncul bersama morfem lainnya. -el-.dalam lingkungan tertentu. (b) sisipan/di tengah ( infiks) : -em-. ke-an. sebaliknya bila memasuki lingkungan kata yang berfonem awal /r/ atau suku kata pertamanya mengandung /er/. (c) akhiran (sufiks): -i. se-. Pengimbuhan atau afiksasi adalah proses penambahan imbuhan (afiks) pada kata. lari.adalah contoh morfem terikat. 1991: 43). Semua dasar itu akan berubah bentuk dan maknanya apabila mengalami pengimbuhan (afiksasi). dan (d) imbuhan gabung (konfiks) pe-an. dalam realisasinya dapat berubah menjadi ber-. Bentuk ber.

(3) Makna Kata kerja berawalan ber. Misalnya: me.+ bom > mengebom Kebahasaan – KKG 12 . seperti bertani (melakukan pekerjaan tani). seperti berjemur (menjemur dirinya).menjadi berternak (kata kerja).a) Prefiks atau Awalan ber- (1) Bentuk Pada umumnya morfem ber. seperti berkereta (naik kereta). ber. seperti beranak (memiliki anak) (b) menghasilkan atau mengeluarkan.berubah menjadi bel-. seperti berapi (mengeluarkan api). mengendarai atau naik.+ daki > mendaki me. menge-. meny-.memiliki makna seperti berikut. meng-. (f) memakai atau mengenakan.tidak memiliki objek. (a) memiliki atau mempunyai. Bila kata dasar diawali dengan fonem /r/ atau suku kata pertamanya mengandung /er/ maka ber. seperti bersatu (menjadi satu). b) Prefiks atau Awalan me- (1) Bentuk Dalam pemakaiannya dapat bernasalisasi menjadi men-. Misalnya. kata ternak (kata benda) jika diberi awalan ber.berubah menjadi be-. menggunakan. kata kuda (kata benda) jika diberi awalan ber. (c) biasa melakukan. dapat di-….+ sapu > menyapu me. atau dikenai. Ber + kuda > berkuda ber + raja > beraja Ber + kerja > bekerja ber + ternak > beternak Ber + lari > berlari ber + ajar > belajar (2) Fungsi Awalan ber. mem-.dirangkaikan saja di depan sebuah kata dengan tidak mengalami perubahan apapun. bekerja sebagai. Kalimat yang predikatnya berupa kata kerja berawalan ber. (g) menjadi kelompok. seperti gayung bersambut (gayung mendapat sambutan). tetapi dapat memiliki pelengkap atau keterangan. bertindak sebagai.menjadi berkuda (kata kerja). (e) mendapat. Dalam satu kasus. (d) melakukan pekerjaan untuk diri sendiri (resiprokal).+ ganggu > mengganggu me.+ bawa > membawa me.berfungsi sebagai pembentuk kata kerja (prefiks verbal).

menyirih (f) Menuju: mengudara. kata dicangkuli merupakan bentuk pasif dari kata mencangkuli. seperti dihukum (dikenai tindakan hukum). Akan tetapi. (b) dikenai dengan. (3) Makna Makna awalan me. awalan di. merenda (d) Menggunakan bahan: mengapur.memiliki makna sebagai berikut: (a) dikenai laku atau dikenai tindakan. kata sapu (kata benda) jika diberi awalan me. mengantuk (b) Menggunakan alat: menggergaji kayu. seperti di pasar dan di rumah (yang dituliskan terpisah dari dasar atau dari kata yang mengikutinya). seperti dipinjam dan dipajang (yang dituliskan serangkai dengan dasar atau kata yang dilekatinya) sering dikacaukan dengan penulisan di sebagai kata depan. Oleh karena itu prefiks di. melaut (g) Menjadi: memutih. menghisap: merokok. (2) Fungsi Awalan di. Kebahasaan – KKG 13 . penulisan di.berfungsi sebagai pembentuk kata kerja pasif. menulis. (d) diberi atau dilengkapi dengan. Prefiks ini berkaitan dengan prefiks verbal aktif meng-. mengecat (e) Memakan.menjadi mengebom (kata kerja).(2) Fungsi Awalan me. kata ditiru merupakan bentuk pasif dari kata meniru. seperti dipagari (diberi pagar). dari segi ejaan.ternyata tidak mengalami persoalan morfologis karena awalan itu tidak mengalami perubahan bentuk.sering disebut prefiks verbal pasif.menjadi menyapu (kata kerja).adalah sebagai berikut: (a) Melakukan: membaca. mengail (c) Membuat: menggambar. kata bom (kata benda) jika diberi awalan me.sebagai awalan. seperti digulai (dibuat/dijadikan gulai). meminum. (3) Makna Awalan di.berfungsi membentuk kata kerja. Misalnya kata diambil merupakan bentuk pasif dari kata mengambil. dan sebagainya. (c) dibuat atau dijadikan. Misalnya. seperti diparang (dipotong). memanas c) Prefiks atau Awalan di- (1) Bentuk Ketika dilekatkan pada bentuk dasar.

awalan perdapat berfungsi sebagai pembentuk kata benda dari kata kerja yang berawalan ber-. misalnya pada kata kekasih. dalam beberapa kasus ke. perdua.itu pun seperti yang terjadi pada awalan ber-. Kedua. misalnya tampak pada kata pertinggi. Prefiks ke. kedua. seperti ketiga (di/pada urutan ketiga). perberat. e) Prefiks atau Awalan per- (1) Bentuk Awalan per.memiliki makna seperti berikut: (a) di urutan atau pada urutan. Perubahan bentuk awalan per. dan ketua. dll. pedagang.dalam bahasa Indonesia memiliki memiliki dua fungsi. kehendak. bila ia membentuk kata benda: kekasih. kehendak. Hal itu tampak pada kata seperti pertapa. Hal ini. (b) Menyatakan orang atau sesuatu yang di. Kedua fungsi prefiks ke.berfungsi sebagai pembentuk kata benda.harus dibedakan dari kata depan ke yang berstatus kata. Kedua.berkaitan dengan bentuk dan makna awalan ber-. Pertama sebagai pembentuk kata kerja. dalam beberapa kata.itu adalah sebagai berikut. Kebahasaan – KKG 14 . Hal itu tampak pada kata seperti kepada dan ketua.tidak mengalami perubahan bentuk ketika dilekatkan pada bentuk dasar. misalnya pada kata ketiga. Bentuk dan makna awalan per. dan sebagainya. (2) Fungsi Setidaknya terdapat dua fungsi prefiks ke-.. ketua. sebagai pembentuk kata bilangan (tingkat dan kumpulan). (3) Makna Awalan ke. (2) Fungsi Awalan per.mengalami perubahan bentuk ketika dilekatkan pada bentuk dasar. pelajar. dan sebagainya.d) Prefiks atau Awalan ke- (1) Bentuk Awalan ke. Pertama.. dan sebagainya.

Kebahasaan – KKG 15 . dll. seperti perindah (jadikan lebih indah). pengajar. seperti perdua (bagi dua). Dengan demikian. dan pedagang memiliki makna orang yang berdagang. (2) Fungsi Awalan pe. (e) yang mengeluarkan (suara). (3) Makna Awalan pe. Artinya. dan pengebom. Sebagai pembentuk kata benda dari kata kerja yang berawalan ber-. seperti pembajak sawah (yang menggunakan bajak). seperti perintih (yang mengeluarkan rintihan). dll. kata benda berawalan pe.berfungsi sebagai pembentuk kata benda yang bertalian bentuk dan maknanya dengan awalan me-. yaitu pe-. (b) yang menjadi atau yang menjadikan.memiliki makna orang yang ber. awalan per. dll. pelaku. seperti pemerah bibir (yang menjadikan bibir merah). pelajar memiliki makna orang yang belajar. (d) yang menghasilkan atau yang membaur. pembuat. seperti pembaca puisi yang pandai (yang pandai membaca puisi). Misalnya. dll.. (a) (men) jadikan lebih’ (biasanya awalan per.bertalian bentuk dan maknanya dengan kata kerja berawalan me-. f) Prefiks atau Awalan pe- (1) Bentuk Awalan pe. (a) yang melakukan.. pertapa memiliki makna orang yang bertapa. (c) yang menggunakan atau yang memakai. pendidik.mengalami perubahan bentuk sesuai dengan proses nasalisasi pada bentuk kata kerja yang menjadi dasar pembentukan kata berawalan pe-. Perhatikan bahwa ‘orang yang mengarang’ disebut pengarang. dll. Hal itu tampak pada kata seperti: pemalas. penari. dll.memiliki makna seperti berikut.memiliki makna seperti berikut. peng-.. pem-. seperti penenun (yang menghasilkan tenunan). dll. ‘(orang) yang menulis’ disebut penulis.dilekatkan pada dasar berupa kata sifat.. pen-. dan penge-. (b) membagi jadi. awalan per.(3) Makna Sebagai pembentuk kata kerja. alomorf dari prefiks pe-.

tidak mengalami perubahan bentuk apabila dirangkaikan dengan kata yang lain. h) Prefiks atau Awalan ter- (1) Bentuk Awalan ter.sebagai pembentuk adverbial (prefiks adverbial). seperti sepandai (yang sama pandai dengan gurunya). memiliki makna seperti berikut: (a) dengan. seperti setahuku (menurut yang aku tahu). Perubahan bentuk itu dapat digambarkan sebagai berikut.yang berupa klitik (dari kata esa) bermakna: (a) satu.memiliki variasi bentuk te. dll. Kebahasaan – KKG 16 .(f) yang memberi atau yang melengkapi dengan. dan sedatangnya. seperti sepeninggalmu (setelah kamu pergi). setibanya. dan sekampung. dll. Adapun fungsi awalan se. seperti sekamar (satu kamar). seperti se-Indonesia (seluruh Indonesia) (c) sama atau sampai. (h) yang mencari atau ‘yang mengumpulkan.yang pertama adalah membentuk kllitika (dari kata esa). (2) Fungsi Fungsi awalan se. (g) yang menuju. Awalan se. seperti sedekah. seperti pendarat (yang menuju darat).dan tel-. (b) seturut atau menurut.yang kedua adalah membentuk adverbial. dll. (3) Makna Awalan se. seperti pemulung (yang mencari/mengumpulkan barang hasil memulung). secepatnya. sekamar. seperti seenaknya. (c) setelah. g) Prefiks atau Awalan se- (1) Bentuk Awalan se. seperti pengecat (yang melengkapi dengan cat). (b) seluruh. seperti seizinku (dengan izinku).

terdiri atas : Kata ulang berubah vokal. yaitu kata ulang ulang yang bagian perulangannya mengalami perubahan bunyi. 1991:149). sebagai pembentuk kata kerja (prefiks verbal). (a) telah dilakukan dan dalam keadaan. saudara-saudara (b) Kata ulang berubah bunyi. baik vokal maupun konsonan. sorak-sorai. i) Bentuk Ulang atau Kata Ulang (Reduplikasi) Bentuk ulang atau kata ulang adalah sebuah bentuk gramatikal yang berujud penggandaan sebagian atau seluruh bentuk dasar sebuah kata (Gorys Keraf. seperti tepercaya dan teperdaya tel. mondar-mandir. (c) dapat (biasanya didahului oleh kata tidak atau dilengkapi dengan akhiran – kan). dll. Contoh: sayur-mayur. lauk-pauk. dll. Contoh : lari-lari.sebagai pembentuk kata sifat (prefiks adjektival).+ (selain /r/ dan { anjur }). (1) Jenis kata ulang (a) Kata ulang murni. ter-.ter.+ (r). Contoh: lemah-lembut. ramah-tamah Kata ulang berubah vokal dan konsonan. seperti tidak terangkat (tidak dapat diangkat). Contoh: bolak-balik. Pertama. seperti terasa dan terawat + suku pertama mengandung fonem /er-/. riuh-rendah Kebahasaan – KKG 17 . dll. (b) telah mengalami.sebagai pembentuk kata kerja memiliki makna seperti berikut. (3) Makna Awalan ter. awalan ter. vokal ter- + te. Kata ulang berubah konsonan.+ (anjur) (2) Fungsi Awalan ter. Kedua. menderita keadaan atau kejadian (dengan tidak sengaja atau dengan tiba-tiba). seperti terkencing-kencing ( sampai tiba-tiba kencing). adik-adik. yaitu pengulangan seluruh bentuk dasar kata. seperti terbuka (dalam keadaan terbuka).dalam bahasa Indonesia memiliki dua fungsi sebagai berikut. serbaserbi.

Contoh : makan. Contoh : rumah-rumah. rumah-rumahan. tali-temali. (d) Menyatakan saling. mengangguk-angguk. Kata benda abstrak yaitu kata benda yang tak dapat ditangkap panca indra. Contoh : melambai-lambai. verba memiliki ciri berikut. 2) Kata Kerja (Verba) Kata kerja adalah kata yang menyatakan perbuatan. Contoh : kemerah-merahan. Contoh : tulis-menulis. atau segala sesuatu yang dibendakan. tiga-tiga. atau keadaan. Contoh : dua-dua. Contoh : kekanak-kanakan. sepeda. bermaaf-maafan. (k) Menyatakan agak. seperti meja. duduk Verba dapat diketahui lewat perilaku semantik dan sintaksis serta bentuk morfologisnya. kebarat-baratan. meja-meja (b) Menyatakan bermacam-macam.(c) Kata ulang sebagian (dwipurwa). yaitu pengulangan kata yang terjadi hanya pada sebagian bentuk dasar. pekerjaan. (2) Makna kata ulang (a) Menyatakan banyak. (j) Menyatkan kumpulan. anak-anak. Contoh : kuda-kuda. (f) Menyatakan bersifat seperti. buku. seperti ilmu. benda. khayal. tindakan. tolong menolong. Pada umumnya. Contoh :sakit-sakitan. siku-siku. 1) Kategori Kata dalam Bahasa Indonesia Kata Benda (Nomina) Kata benda adalah semua kata yang merupakan nama diri. ragu-ragu. Contoh : tinggi-tinggi. (c) Menyatakan menyerupai. (e) Menyatakan melemahkan arti. (h) Menyatakan berhubungan dengan. sifat. Kata benda bisa dikelompokkan atas kata benda abstrak dan kata benda konkrit. besar-besar. Contoh : hormat-menghormati. Contoh: sayur-sayuran. kuda-kudaan. cinta-mencintai. tanamtanaman. cantik-cantik. lari. lauk-pauk. (d) Kata ulang berimbuhan. bersalam-salaman. (g) Menyatakan berulang-ulang (terus-menerus). yaitu kata ulang yang mendapat imbuhan. kehijau-hijauan. Kata benda konkrit yaitu kata benda yang dapat ditangkap oleh panca indra. mencoret-coret. Kebahasaan – KKG 18 . (i) Menyatakan intensitas kualitatif (menegaskan). c. Contoh : sayur-mayur.

Keterangan atau atribut dapat berupa deskripsi mengenai kualitas atau keanggotaan. Adjektiva dapat berfungsi predikatif ataupun adverbial. murah hati Fungsi adjektiva di dalam kalimat adalah memberikan keterangan lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina (menjadi atribut bagi nomina). yaitu dari. Adjektiva dapat digunakan untuk menyatakan tingkat kualitas dan tingkat bandingan acuan nomina yang diterangkan (Zaenal Arifin. a) Kata Depan (Preposisi) Disebut juga kata perangkai. dan kata penghubung (konyungsi). 2008: 85) Kata Sifat (Adjektiva) b) c) d) 3) Adalah kata yang menyatakan sifat dan keadaan suatu benda atau yang dibendakan. berfungsi sebagai perangkai kata kelompok kata dalam kalimat. Contoh : manis. Verba juga dapat berfungsi lain di luar predikat. Secara inheren. 4) Kata Tugas Kata tugas yaitu kata-kata yang bertugas memperluas kalimat inti menjadi kalimat luas dan sekaligus berfungsi menandai realsi antara kata-kata penuh dalam sebuah kalimat (Gorys keraf. Verba yang bermakna keadaan tidak dapat diberi prefiks ter. di (2) Menyatakan waktu. Kata tugas dapat dibagi atas: preposisi (kata depan). kata keterangan (adverbia). jauh. Pada umumnya kata benda merangkaikan kata benda dengan kata lain. yaitu pada (3) Menyatakan alat yaitu dengan Kebahasaan – KKG 19 . dan *terpingsan. dari. *teramati. daripada. Contoh: di. tidak ada kat *terhidup. 2008: 98-99). untuk. besar. proses. (Zaenal Arifin.untuk menyatakan makna ‘paling’. bagi. ke. kepada Fungsi kata depan: (1) Menyatakan tempat. Fungsi predikatif dan adverbial itu dapat mengacu ke suatu keadaan. verba tidak dapat bergabung dengan kata petunjuk kesangatan. Jadi. Secara umum. gelap. atau keadaan yang bukan sifat atau bukan kualitas’. 1991: 107). verba mengandung makna ‘perbuatan (aksi).a) Verba berfungsi sebagai predikat atau inti predikat kalimat. antara.

setelah. karena. Dengan demikian rentang analisis studi sintaksis mencakup kata hingga kalimat. hanya. atau kata dengan kalimat. masih. sedang. cuma. Hakikat Frasa. Sintaksis mempelajari hubungan gramatikal di luar batas kata tetapi di dalam satuan yang disebut kalimat. klausa dengan kalimat. Sebuah frasa selalu mempunyai sebuah inti meskipun modifikatornya seringkali tidak disebutkan. separuh. 3. Yang pertama. ketika. tetapi. Satuan terkecil dalam bidang ini ialah kata. Jadi sebuah frasa mungkin terdiri atas sebuah kata dan modifikatornya bersifat opsional. atau dengan satuan-satuan yang lebih besar. Contoh : dan. akan. bahwa. Klausa dan Kalimat 1) Frasa Satuan gramatikal frasa adalah satuan yang secara potensial terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak mempunyai ciri-ciri proposisi sebuah kalimat (atau klausa). but which does not have the propositional characteristics of a sentence” Ada hal yang perlu ditegaskan dari pendapat Elson dan Pickett di atas. atau antara satuan-satuan yang lebih besar itu dalam suatu bahasa. tentang. a. belum. Contoh : barangkali. frasa tidak didefinisikan selalu terdiri atas dua atau lebih kata tetapi dikatakan yang secara potensial terdiri atas dua kata atau lebih. Sintaksis Definisi Sintaksis Sintaksis adalah cabang linguistik yang mempelajari pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata. mungkin. Menurut Elson dan Pickett (1987) “a phrase is a unit potentially composed of two or more words. Ini Kebahasaan – KKG 20 . memang. Unsur dalam satuan gramatika adalah juga satuan pada tingkatan di bawahnya. c) Kata Penghubung (Konjungsi) Kata penghubung yaitu kata yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata. Jadi bidang sintaksis menyelidiki semua hubungan antara kata dan antar kelompok kata (atau antar frasa). kecuali. dan kepada b) Kata Keterangan (Adverbia) Kata keterangan adalah kata yang digunakan untuk memberi penjelasan pada kalimat atau bagian kalimat dan tidak bersifat menerangkan keadaan. b. Frasa mempunyai ciri proposisi sebuah kalimat. buat. jika. sekali. cukup.(4) Mengantarkan objek tak langsung yaitu bagi. serta.

Klausa adalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. S P 3) Kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki dua klausa atau lebih. kalimat majemuk rapatan. pada dasarnya 2) Klausa Klausa adalah satuan gramatikal berupa kelompok kata yang sekurangkurangnya terdiri dari subjek dan predikat. Kalimat tunggal dapat berwujud kalimat sederhana atau kalimat inti. mempunyai pola intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa. Ada tiga macam kalimat majemuk: kalimat majemuk setara. objek. dan pelengkap. ada konstituen lain yang juga dikatakan sebagai konstituen inti yaitu subjek. 1) Jenis-jenis Kalimat Kalimat sederhana adalah kalimat yang terbentuk dari klausa yang sederhana. Contoh : Ibuku tertawa. Konstituen paling penting pada sebuah klausa ialah predikat. 2) Kebahasaan – KKG 21 . dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat. Kridalaksana (1984) menjelaskan bahwa kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri. dan kalimat majemuk bertingkat. Jadi ada kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih. Oleh karena itu klausa disebut juga konstruksi yang predikatif. S P O Adik menangis. ( pola S-P) Nenekku berjualan pisang (pola S-P-Pel) Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas satu klausa.berarti bahwa frasa tidak mempunyai predikat meskipun sebuah frasa merupakan pengisi unsur-unsur kalimat. Oleh karena itu. Di samping konstituen predikat. Sebuah kalimat dapat terdiri atas lebih dari satu klausa. c. Konstituen keterangan dikatakan sebagai konstituen bukan inti (pinggiran). Di sini tampak jelas bahwa klausa merupakan cikal bakal kalimat. Contoh : Ayah membaca koran. kalimat tunggal hanya memiliki satu pola kalimat dengan satu predikat. Oleh karena itu. 3) Kalimat Kalimat dibedakan dari klausa karena kalimat dianggap sebagai sebuah ujaran yang sudah final. kalimat majemuk memiliki dua atau lebih pola kalimat.

Contoh : Ayah membaca koran dan ibu memasak di dapur. Perluasan itu membentuk pola klausa yang baru. objek dikenai pekerjaan 5) 6) Kebahasaan – KKG 22 . Contoh : 1. Contoh : Siapa yang melakukan semua ini? Di mana mereka berbulan madu? Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan pekerjaan. Anita mempelajari seni tradisional. Kakak sedang membaca buku.Kalimat majemuk setara yaitu kalimat hubungan antar klausanya sederajat atau setara. Ciri-ciri kalimat aktif : a) Suyek melakukan pekerjaan b) Predikatnya berawalan me.atau berc) Kalau ada objeknya. tapi Dodi. Rina hendak berlibur ke Jakarta atau ke Bandung? Bukan Ari yang melakukan itu. Contoh: Seluruh warga kini sadar untuk membayar pajak. Kalimat majemuk rapatan yaitu kalimat majemuk setara yang bagianbagiannya dirapatkan dengan cara menghilangkan salah satu unsur klausa yang sama. Kalimat berita diakhiri tanda titik. 4) Kalimat berita adalah kalimat yang isinya menyatakan berita atau pernyataan untuk diketahui oleh orang lain. Anto pandai bermain basket. Contoh : Asep pandai bermain basket. 2. Asep dan Anto pandai bermain basket Kalimat majemuk bertingkat merupakan perluasan dari kalimat tunggal yang membentuk satu atau lebih klausa. Kalimat tanya adalah kalimat yang isinya mengharapkan reaksi atau jawaban dari pendengar atau pembaca. Kakak sedang membaca buku ketika ayah pulang dari Kantor [perluasan keterangan waktu). Pendidikan dasar sudah berjalan lancar. Anak yang berpita merah itu mempelajari seni tradisional.

ketegasan makna. 2) Kesejajaran. kalimat efektif dapat dipandang sebagai kalimat yang lebih dari baku (baku plus). maksudnya subjek.”Bagaimana hasil ujianmu .Contoh : Rina membaca buku di ruang tamu S P O Kt 7) Kalimat pasif adalah kalimat yang subyeknya dikenai pekerjaan. 2008: 74) Kalimat efektif tidak sekadar menghadirkan subjek. objek. yaitu kesepadanan strukur. Kata ayah. Bagian kutipan dalam kalimat langsung merupakan kalimat berita. kecermatan penalaran. predikat. keparalelan bentuk. Kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk memunculkan gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pembicara atau penulis kalimat itu misalnya. predikat dan unsur lainnya saling mendukung dan membentuk kesatuan tunggal. dan kelogisan bahasa. Ayah bertanya kepada Ahmad tentang hasil ujiannya. (Zaenal Arifin. Kalimat Efektif 8) 9) d. kepaduan gagasan. Contoh : Ibu berkata bahwa kita harus membersihkan halaman. Bagian kutipan (bunyi bicara) diapit oleh tanda petik. antara kalimat kutipan dan pengiring (si pembicara) dipisahkan dengan tanda koma. Contoh : “Kita harus membersihkan halaman”. Dengan demikian. melalui kalimat yang efektif gagasan pembicara atau penulis. Kebahasaan – KKG 23 . gagasan itu dapat diterima oleh pembaca atau pendengar secara utuh. kata Ibu. kehematan kata. 2008: 74-75). Ahmad?” Kalimat tak langsung adalah kalimat yang menceritakan kembali ucapan orang lain. dan keterangan. (Zaenal Arifin. penggunaan frase dan bentuk kata memiliki kesamaan fungsi dan bentuknya. tetapi menghendaki tataran yang lebih tinggi dan luas daripada itu. Ciri-ciri kalimat efektif : 1) Kesatuan gagasan. Ciri-ciri kalimat pasif adalah: a) Subjek dikenai pekerjaan a) Predikat berawalan di/ter b) Obyek menjadi pelaku Contoh: Buku dibaca Rina di ruang tamu S P O KT Kalimat langsung adalah kalimat yang langsung diucapkan oleh si pembicara atau menirukan ucapan si pembicara.

Kelogisan. Penekanan. dan referen atau objek dapat dijelaskan dalam gambar berikut. citra mental atau konsep. Dengan demikian. dapat Kebahasaan – KKG 24 . Citra mental/konsep buku Lambang [buku] referen/objek (semua objek yang disebut buku) Gambar segitiga makna Ogden & Richard Makna kata buku adalah lambang konsep tentang buku yang tersimpan dalam otak kita yang dilambangkan dengan kata buku. Menurut Ogden dan Richard (1923) dalam karya klasiknya tentang “teori segitiga semantik”. setiap kata memiliki fungsi yang jelas tidak menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Dengan kata lain bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau tentang arti. Semantik Definisi Semantik dan Makna Berdasarkan asal katanya semantik berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda) yang berarti “tanda” atau ”lambang”. Kata semantik ini kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya.3) 4) 5) 4. kalimat harus mudah dipahami. terdiri atas lambang bunyi [b-u-k-u] dan konsep atau citra mental (objek) yang dinamakan buku. Kehematan. menonjolkan bagian yang terpenting dalam kalimat.(Abdul Chaer. Yang dimaksud lambang di sini adalah tanda linguistik. misalnya buku. sedangkan kata kerjanya adalah semaio yang berarti “menandai” atau “melambangkan”. 1994:2) Sebuah kata. kaitan antara lambang. a.

Makna leksikal seniman adalah ‘orang yang menciptakan karya seni’. 1) Jenis-jenis makna Makna Leksikal dan Gramatikal Makna kosakata yang dikuasi seseorang merupakan bagian utama memori semantik yang tersimpan dalam otak. 2) Makna Denotatif dan Konotatif Pembedaan makna denotatif dan konotatif didasarkan pada ada atau tidaknya ‘nilai rasa’ pada sebuah kata. kata tidak sekadar merupakan etiket yang ditempelkan pada benda-benda. atau makna kognitif. melahirkan makna gramatikal ‘tidak sengaja’. terutama yang disebut kata penuh mempunyai makna denotatif. melahirkan makna ‘dapat’. dan pengalaman lainnya. Makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatikal seperti proses afiksasi. karena dilihat dari sudut pengamatan yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan. Selanjutnya dijelaskan bahwa sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai ’nilai rasa’. b. tetapi tidak setiap kata itu mempunyai makna konotatif. baik positif maupun negatif. reduplikasi. sedangkan dalam kalimat Ketika balok itu ditarik. Setiap kata. perasaan. 1994:65).disimpulkan bahwa semantik mengkaji makna tanda bahasa. dan kompisisi. Proses afiksasi awalan terpada kata terangkat pada kalimat Batu seberat itu terangkat juga oleh adik. Jadi. yaitu kaitan antara konsep dan tanda bahasa yang melambangkannya. pendengaran. penciuman. yang disebut makna denotatif atau sering juga disebut dengan makna deskriptif atau makna leksikal yang merupakan relasi kata dengan konsep. Makna leksikal biasanya dioposisikan dengan makna gramatikal. makna konseptual. Makna denotatif sering juga disebut dengan makna denotasional. Gambar di atas menunjukkan bahwa di antara lambang bahasa dan konsep terdapat hubungan langsung sedangkan lambang bahasa dengan referen atau objeknya tidak berhubungan langsung (digambarkan dengan garis putus-putus) karena harus melalui konsep. makna denotatif menyangkut Kebahasaan – KKG 25 . papan itu terangkat. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa dan realitas bukanlah hal yang identik. peristiwa atau keadaan yang dilambangkan dengan kata tersebut. keadaan di dunia nyata karena dalam kata terkandung pula cara pandang suatu masyarakat bahasa terhadap realitas. (Abdul Chaer. benda. persitiwa.

Istilah antonimi digunakan untuk oposisi makna dalam pasangan leksikal bertaraf seperti panas dengan dingin. Di dalam suatu bahasa sangat jarang ditemukan dua kata yang bersinonim secara mutlak. dalam penggunaan secara khusus dalam bidang kegiatan tertentu. Oleh karena itulah. kata-kata itu digunakan secara cermat sehingga maknanya pun menjadi tepat. seringkali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan lainnya dengan satuan bahasa yang lain. Dalam penggunaan bahasa secara umum acapkali kata-kata itu digunakan secara tidak cermat sehingga maknanya bersifat umum. dan bahasa asing. Dalam bidang kedokteran misalnya kata tangan dan lengan digunakan sebagai istilah untuk pengertian yang berbeda. antonimi ini disebut bertaraf karena antara panas dengan dingin masih ada kata-kata seperti hangat dan suam- Kebahasaan – KKG 26 . bahasa nasional. c. termasuk bahasa Indonesia. 3) Makna Kata dan Makna Istilah Pembedaan makna kata dan istilah berdasarkan ketepatan makna kata itu dalam penggunaannya secara umum dan secara khusus. makna denotatif sering juga disebut dengan makna sebenarnya. 1) Sinonimi Sinonimi adalah relasi makna antarkata (frasa atau kalimat) yang maknanya sama atau mirip. Ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya kata-kata yang bersinonim. Sebagai contoh kukul (bahasa Jawa) bersinonim dengan jerawat (bahasa Indonesia) 2) Antonimi Antonim atau oposisi adalah relasi antarkata yang bertentangan atau berkebalikan maknanya. Bentuk relasi makna tersebut dapat berwujud sebagai berikut.informasi-informasi faktual objektif. Makna kata sebagai istilah atau kata kajian memang dibuat setepat mungkin untuk menghindari kesalahpahaman dalam bidang ilmu atau kegiatan tertentu. Dalam pembelajaran kebahasaan di sekolah dasar makna ini disebut juga dengan kata populer dan kata kajian. seperti kata-kata yang berasal dari daerah. Relasi Makna Di setiap bahasa. Akan tetapi.

sumur. dsb). Misalnya. Perkataan seperti Saya tidak ingin mandi dengan air dingin tidak berarti Saya ingin mandi dengan air panas. sum. sedangkan kata yang berpolisemi muncul sebagai satu lema namun dengan beberapa penjelasan. Kata-kata yang ditulis sama tetapi maknanya berbeda disebut homograf. Contoh homograf adalah kata tahu yang berarti makanan yang berhomograf dengan kata tahu yang berarti paham dan buku yang berarti kitab berhomograf dengan buku yang berarti tempat pertemuan atau dua ruas. sedangkan kata masa yang berarti waktu berhomofon dengan massa yang berarti jumlah besar yang menjadi satu kesatuan. seperti jantan dengan betina. mengalami. kata-kata yang berhomonimi muncul sebagai lema (entri yang terpisah). relasi sintagmatik dan paradigmatik. ta. Hubungan antarmakna ini disebut polisemi. 1 2 ta.hu n makanan dari kedelai putih yang digiling halus-halus. seperti kata suami dengan kata isteri. Oposisi makna pasangan leksikal tidak bertaraf yang maknanya bertentangan disebut oposisi komplementer. ada dua jenis relasi makna. Sebagai contoh hubungan makna antara saya membaca dan buku dalam kalimat saya membaca buku. 3) Homonimi Himonimi adalah relasi makna antarkata yang ditulis atau dilafalkan sama tetapi maknanya berbeda . direbus dan dicetak 4) Polisemi Polisemi berkaitan dengan kata atau frasa yang memiliki beberapa makna yang berhubungan. seperti yang disebut di atas. Di dalam kamus kata-kata yang termasuk homofon muncul sebagai lema (entri) yang terpisah.ber n 1tempat keluar (air atau zat cair). Di Kebahasaan – KKG 27 .suam kuku. Relasi makna sintagmatis adalah relasi antarmakna kata dalam satu frasa atau kalimat (hubungan horizontal). sedangkan yang dilafalkan sama tetapi makna berbeda disebut homofon. tetapi dengan beberapa penjelasan seperti berikut. Relasi antarkata ada juga yang maknanya berkebalikan atau beroposisi rasional.hu v mengerti sesudah melihat (menyaksikan. 2 asal (dl berbagai arti) Dilihat dari relasi gramatikalnya. Misalnya kata tahu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia muncul sebagai dua lema. kata sumber dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia muncul sebagai satu lema. Di dalam penyusunan kamus.

Saya membeli bunga . perkembangan sosial dan budaya.sisi lain... Jenis perubahan makna antara lain: 1) Meluas Perubahan makna meluas adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata atau leksem yang pada mulanya hanya memiliki sebuah ’makna’. relasi paradigmatis adalah relasi antarmakna kata yang menduduki gatra sintaktis yang sama dan dapat saling menggantikan dalam satu konteks tertentu (hubungan vertikal). 2) Menyempit Perubahan makna menyimpit adalah gejala pada sebuah kata yang mulanya mempunyai cakupan makna yang cukup luas. aster. adanya asosiasi makna.. Perubahan Makna Perubahan makna dalam suatu bahasa sangat mungkin muncul sesuai denga perkembangan pemikiran masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan. Kebahasaan – KKG 28 . Hubungan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. Misalnya kata sarjana yang pada mulanya berarti ’orang yang pandai’ atau ’cendikiawan’. pertukaran tanggapan indera... dan tulip merupakan relasi paradigmatis. kemudian hanya berarti orang yang lulus perguruan tinggi. Sebagai contoh kata saudara pada mulanya hanya bermakna ’seperut’ atau ’sekandung’. d. adanya penyingkatan. tetapi kemudian karena berbagai faktor menjadi memiliki makna-makna lain. anggrek. Perubahan makna kata terjadi karena adanya perkembangan dalam ilmu dan teknologi.. kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja. akibat terjadinya proses gramatikal. mawar anggrek aster tulip relasi makna antara kata mawar.untuk hadiah ulang tahun ibu saya.. serta pengembangan istilah. kemudian maknanya berkembang menajdi siapa saja yang sepertalian sehingga paman pun bisa disebut sebagai saudara.. adanya perbedaan bidang pemakaian.

Semakin banyak seseorang memiliki perbendaharaan kata atau kosakata. seseorang harus memiliki kosakata yang luas. 4) Penghalusan/ameliorasi Penghalusan atau ameliorasi yaitu kecenderungan untuk menghaluskan makna kata lebih halus atau lebih sopan dari kata yang digantikannya. Setiap kata mengandung konsep makna dan mempunyai peran di dalam pelaksanaan bahasa. fungsi/tujuan. Begitu pula sebaliknya.3) Peyorasi/pengasaran Peyorasi yaitu usaha untuk mengganti kata yang maknanya halus atau bermakna biasa menjadi kasar maknanya. Ameliorasi merupakan kebalikan dari peyorasi. dan akan semakin mudah pula ia memahami dunia sekitarnya. apabila dalam peyorasi makna kata yang tadinya halus atau biasa berubah menjadi kasar dalam ameliorasi kata yang awalnya bermakna kasar menjadi halus. kata-kata abstrak ada juga yang berbentuk kata berimbuhan. untuk memahami dunia sekitarnya. sebab kata itulah yang merupakan perwujudan bahasa. Selain itu. Kosakata Kata merupakan unsur yang paling penting di dalam bahasa. 5. Dengan kata lain. Konsep dan peran yang dimiliki tergantung dari jenis. Kata Abstrak dan Konkrit Kata abstrak yaitu kata-kata yang menunjukkan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau diraba. semakin mudah ia dalam mengungkapkan isi hatinya. contoh : ide. serta penggunaannya di dalam kalimat. Misalnya ungkapan masuk kotak dipakai untuk mengganti kata kalah. kata jenis ini terbentuk dari jenis kata yang lain. atau makna kata-kata itu. a. bui untuk menggantikan kata penjara. Contoh : kekuatan pemanadangan = ke-an + kuat = pe-an + pandang Kebahasaan – KKG 29 . ilham. melalui kata seseorang dapat mengungkapkan seluruh ekspresi dan isi hatinya. tabiat. Sebab itulah setiap orang dituntut untuk selalu menambah perbendaharaan kata atau kosakata yang dimilkinya. rasa. Tanpa kata mungkin tidak ada bahasa. Konsep-konsep tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. Kata-kata abstrak ini ada yang berbentuk kata dasar. Contoh pramuniaga untuk penjaga toko. Usaha atau pengasaran ini biasanya dilakukan orang dalam situasi tidak ramah atau untuk menunjukkan kejengkelan.

Contoh . kata benda menduduki fungsi sebagai subjek.kesombongan pelajaran b. Kata benda bentuk dasar yaitu kata benda yang berbentuk kata dasar. Kata kerja berimbuhan adalah kata kerja yang terbentuk dari jenis kata lain melalui proses pengimbuhan. Contoh : Ibu membelikan adik baju baru. Ciri-ciri kata benda : Pada kalimat yang berpredikat kata kerja. Contoh : keindahan = ke-an + indah (kata sifat) perjalanan = per-an + jalan (kata kerja) c. Bentuk kata kerja terdiri atas: 1) Kata kerja dasar adalah kata kerja yang berbentuk kata dasar. tindakan. 2) Kebahasaan – KKG 30 . lari. atau pelengkap. gerak-gerik. tahun Kata benda turunan yaitu kata benda yang terbentuk dari jenis kata lain yang mengalami proses pengimbuhan. S P O Pel Tidak dapat didahului oleh kata ingkar “tidak”. Kata Benda = ke-an + sombong = pe-an + ajar Kata benda yaitu kata-kata yang merupakan nama-nama setiap benda atau segala sesuatu yang dibendakan. belum mengalami pengimbuhan. makan. Kata kerja Kata kerja adalah jenis kata yang menyatakan perbuatan/pekerjaan. Selain itu. Contoh : pergi. Dapat diikuti kata sifat dengan menggunakan “yang” Kakak yang baik hati. Ibu yang baik hati Jenis-jenis kata benda Kata benda ada yang berjenis kata benda konkrit dan abstrak. atau cara menjalankan dan berbuat. objek. Tidak ibu yang membelikan baju. dorong. gambar. kata benda dibedakan atas kata benda bentuk dasar dan kata benda turunan.

Badai mengamuk dan merobohkan rumah-rumah penduduk Metafora yaitu perbandingan singkat dua hal yang memiliki sifat yang sama. P ket. Terdapat berbagai jenis majas. Contoh: Perpustakaan adalah gudang ilmu. Contoh : Andi mengendarai mobil dengan hati-hati. Contoh : Ayah tidur di ruang tamu. Pel Majas atau Gaya Bahasa Majas atau gaya bahasa adalah bahasa berkias yang disusun untuk meningkatkan efek dan asosiasi tertentu (Yayat Sudaryat. Contoh: b) c) Kebahasaan – KKG 31 . P d. T Adik bernyanyi gembira. Contoh: Nyiur melambai di pantai. Mereka telah menjadi sampah masyarakat Perumpamaan yaitu perbandingan dua hal dengan menggunakan kata pembanding. 1) a) Majas Perbandingan Personifikasi yaitu majas yang membandingkan benda mati seolah-olah hidup memiliki sifat seperti manusia. yaitu sebagai berikut. P=kt kerja 2) O Kata kerja intransitif yaitu kata kerja yang dalam penggunaannya tidak memerlukan objek.2008:92).Contoh : mencangkul = me+ cangkul (kata benda) mengeras = me+ keras ( kata sifat) Jenis-jenis kata kerja terdiri atas : 1) Kata kerja transitif yaitu kata kerja aktif yang dalam penggunaanya memerlukan objek.

atau peristiwa yang sudah dikenal oleh umum. 2) a) b) c) 3) a) b) c) d) Kebahasaan – KKG 32 . Contoh: Terimalah pemberian yang tidak berharga ini sebagai kenang-kenangan dariku. atau julukan. Alusio yaitu majas yang menyebut atau menunjuk pada tokoh. merek. Contoh: Selamat menempuh bahtera keluarga. pertemuan sudah dimulai sejam yang lalu. d) Alegori yaitu majas yang membandingkan hal-hal yang bertautan dalam satu kesatuan yang utuh. Contoh: Cepat sekali kau datang.majas yang digunakan untuk merendahkan diri. Majas Pertautan Metonomia yaitu menyebutkan benda/orang dengan nama jenis. pembuat/pengarang. Saya terkejut setengah mati begitu melihat kedatangannya. Contoh : Kami ditugaskan membuat sinopsis Laskar Pelangi. Inversi yaitu majas yang menggunakan pengubahan susunan kalimat. semoga selalu tabah dalam menghadapi badai dan gelombang dalam samudra kehidupan. tempat. Contoh: Kami mengunjungi Kota Pahlawan Apakah setiap guru harus bernasib seperti Umar Bakri ? Kami teringat pada Peristiwa Semanggi Sinekdok yaitu majas yang menyebutkan nama bagian dari sesuatu sebagai pengganti keseluruhan atau sebaliknya. Ironi yaitu majas yang digunakan untuk menyindir. Contoh : Indonesia berhasil merebut medali emas dalam kejuaraan tersebut. Majas Pertentangan Hiperbola yaitu majas yang mengandung pernyataan melebih-lebihkan Contoh: Suaranya menggelegar memecah kesunyian. Litotes yaitu .Semangatnya keras bagai baja Mereka begitu rukun seperti kerbau dengan burung bangau.

Tertawalah mereka ketika mendengar guarauanku. Contoh: Selamat datang pahlawanku. selamat datang pujaanku.Contoh : Terang sekali bulan malam ini. selamat datang bunga bangsaku. 4) a) Majas Perulangan Repetisi yaitu majas yang mengulang kata sebagai penegasan. Contoh : Sunyi itu duka Sunyi itu kudus Sunyi itu lupa Sunyi itu lampus b) Kebahasaan – KKG 33 . Paralelisme yaitu majas pengulangan yang terdapat dalam puisi.

guru harus telaten memeriksa pekerjaan siswa atau tulisan siswa jika pembelajaran menggunakan metode imlah. Oleh karena itu. seperti menyimak. dan menulis. kita menghendaki perubahan konsep dari mengajarkan tentang bahasa menjadi mengajarkan berbahasa. membaca. para siswa langsung diminta untuk mengucapkan kata yang baru disimaknya/didengarnya itu. Dalam upaya evaluasi. pembelajaran kebahasaan tidak disendirikan menjadi satu bidang kajian melainkan diintegrasikan dengan pembelajaran keterampilan berbahasa. Jika kita mengajarkan kebahasaan secara khusus dengan nama mata pelajaran kebahasaan kepada para siswa berarti kita kembali ke masa silam ketika pengajaran bahasa masih berkonsep mengajarkan tentang bahasa. berbicara.BAB III KEBAHASAAN DALAM PEMBELAJARAN BERBAHASA Pembelajaran kebahasaan di sekolah dasar diintegrasikan pada pembelajaran keterampilan berbahasa. dongeng. Oleh karena itu. cerita legenda. pengucapan kata-kata secara benar hendaknya menjadi prioritas dalam pembelajaran mendengarkan. Akibatnya. Pembelajaran mendengarkan melalui penyampaian pesan secara berantai juga baik dilaksanakan. Metode imlah (dikte) tampaknya menjadi satu alternatif pembelajaran fonologi melalui mendengarkan. zaman diucapkan jaman. target diucapkan tarjet. Padahal dengan kurikulum yang baru. Tentu saja kata-kata yang dipesankan itu disediakan sedemikian rupa sehingga mengandung bunyi-bunyi yang cenderung dipakai secara salah oleh masyarakat. Misalnya. Dikte bisa dilakukan dengan memakai alat tape recorder. A. Rekaman suara baik berupa pidato. Kebahasaan dalam Pembelajaran Mendengarkan Dalam masyarakat sering kita jumpai penggunaan kata-kata terutama dalam bentuk tulisan yang tidak sesuai dengan bentuk sebenarnya dari kata tersebut. Kenyataan ini disebabkan oleh penyimakan/mendengarkan yang kurang tepat ketika kata itu diucapkan oleh orang lain. kata variasi sering diucapkan fariasi atau pariasi. dalam modul ini. atau suara penyiar radio/televisi bisa menjadi media pembelajaran fonologi melalui mendengarkan. Akan lebih berbahaya jika keadaan itu sudah mendarah daging dan menjadi kaidah kebenaran. strategi diucapkan stratehi. keadaan seperti itu sulit untuk diperbaiki. kursi diucapkan korsi. Satu kebiasaan jelek yang sering terjadi pada perilaku para guru adalah memberikan Kebahasaan – KKG 34 . Setelah menerima pesan.

Pendengar akan bisa membedakan apakah perkataan itu berupa pertanyaan. dalam pembelajarannya pun tentu ada hubungan yang erat sekali.. seruan. Begitu pula dengan perkataan yang menyamakan antara vokal dengan variannya. Kebahasaan dalam Pembelajaran Berbicara Berbicara dan mendengarkan dalam praktiknya tidak bisa dipisahkan. ide. jika seseorang mengucapkan kata secara salah. dahan. (2) karena belum ada hakim bahasa secara independen. Artinya. bunyi (h) terdengar jelas. dan gagasan. si penyimak/pendengar secara serta merta langsung membetulkan kata tersebut. “Kita harus tahu saikeloji anak agar . Pikiran atau otak adalah tempat pemahaman kaidah. pembelajaran berbicara tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Misalnya.”. antara yang benar dan yang salah juga tidak ada bedanya. Kebahasaan – KKG 35 . Dalam kaitannya dengan ejaan. dan nihil. Oleh karena itu. hubungan antara suara yang keluar dengan apa yang ada dalam hati atau otak erat sekali. (da-han). Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat berbicara bisa diperbaiki sepanjang pikirannya masih sehat.kelonggaran yang berlebihan kepada para siswa sehingga muncul kesan negatif bahwa antara yang menulis dan yang tidak menulis sama saja. B. Bunyi (h) cenderung melemah dalam kondisi seperti ini. Aspek-aspek ini sangat berdampak pada pemahaman pendengar. Yang menjadi hakim bahasa selama ini adalah dirinya sendiri dan teman bicaranya. Mengapa pembetulan spontan itu harus dilakukan? Jawabannya adalah (1) agar si pembicara tidak lagi melakukan kesalahan hal yang sama. jelas akan memunculkan pemahaman makna lain pada suatu masyarakat bahasa. Berbicara pada dasarnya adalah menyuarakan kata hati. Jika kita mendengarkan pasti ada yang berbicara. akan lahirlah pemahaman tetang penulisan tanda baca secara benar. Dengan demikian. Si penyimak ketika mendengar kata saikeloji langsung mengatakan “psikologi”. begitu pula sebaliknya. irama. Jika saja keduanya diucapkan dengan (o) semua atau dengan (O) semua. struktur dan segala macam yang berupa pengetahuan. Setiap pembicaraan pasti mengandung nada. Jika perkataan itu harus ditulis. Begitu pula dengan (h) yang berada pada posisi awal kata akan cenderung diucapkan secara jelas. Satu cara lain memperbaiki kesalahan pengucapan pada saat berbicara adalah teknik tegur langsung. Kata-kata itu akan diucapkan dengan (mo-hon). dan intonasi. pikiran. ataukah hanya sekedar berita atau informasi. kata si pembicara. Berbeda halnya dengan kata mohon. Jika Anda mengatakan perahu dan tahun maka Anda akan menyuarakannya dengan (pe-ra-u) dan (ta-un). dan (ni-hll).. Di sinilah ketelitian guru dalam memeriksa pekerjaan siswa sangat diharapkan. pola. kata toko (toko) dengan tokoh (tOkOh). Misalnya.

yaitu dengan cara simakan antarsiswa.H. akan berbeda pemahaman orang dengan.C. tanda-tanda yang lain pun tidak kalah pentingnya. siswa diajak memahami makna kata-kata sulit dan memcoba menggunakannya kembali dalam kalimat yang Kebahasaan – KKG 36 . karena kalau salah lihat bisa berakibat fatal terutama pada pemahaman makna kata. mungkin pula Sastro Hudoyo. Perhatikan contoh berikut ini. tanpak bahwa penggunaan tanda koma sangat penting dalam tulisan. di situ bukanlah gelar sarjana melainkan singkatan nama dari Sujarwo.00.H.H. dan memahami tulisan. lagu. kalimat pertama bermakna uang saya itu seribu rupiah. yang akan dipahai bahwa S.000. atau mungkin yang lain. Dengan demikian. Pembelajaran membaca bagi para siswa. dalam penulisan gelar di belakang nama orangnya. Kesalahan penulisan tanda baca yang harus dipahami benar penggunaannya dalam tulisan. Dari uraian di atas. Selain penggunaan tanda koma. Dalam membaca pemahaman itu.00. Tahapan kedua dari kegiatan membaca bagi para siswa adalah membaca pemahaman. Berdasarkan bentuknya kedua kalimat di atas hanya dibedakan oleh penggunaan tanda titik dan koma. Kesalahan penulisan tanda baca akan menyebabkan kesalahan pemaknaan. Kebahasaan dalam Pembelajaran Membaca Membaca adalah mengkaji. S. Uang saya tinggal Rp 1. hendaknya dimulai dengan pelatihan membaca nyaring. Misalnya. mungkin Sandika Hadi. Lain halnya.000.penghentian mapun kesalahan pengucapan kata. Uang saya tinggal Rp 1. dalam membaca diperlukan kecermatan yang luar biasa. Jika penulisannya seperti itu. tanda titik untuk angka. penggunaan tanda baca ini berpengaruh sekali terhadap makna yang dikandung oleh sebuah kalimat bahasa Indonesia. Berdasarkan maknanya. seperti Sujarwo. Oleh karena itu. Tulisan yang dibaca tidak hanya terdiri atas huruf-huruf tetapi juga terdiri atas tanda-tanda baca yang harus dipahami benar penggunaannya dalam tulisan. jika tertulis Sujarwo S. siswa bisa mengoreksi secara langsung kesalahan baca yang dilakukan temannya baik kesalahan intonasi. Dengan cara itu. meneliti. tulisan tersebut akan dipahami bahwa Sujarwo seorang sarjana hukum. Misalnya. sedangkan pada kalimat kedua bermakna uang saya tinggal satu rupiah.

mereka buat sendiri. Keterampilan membaca cepat ini dimulai dengan membaca deretan kata yang hampir sama. Bedanya. Kecepatan tayang tulisan-tulisan itu sudah diukur dan ditentukan sedemikian rupa oleh para ahli sesuai dengan kemampuan orang membaca secara cepat. Media. alat. Media lain yang bisa dipakai adalah layer televisi. Wacana yang disediakan hendaknya bervariasi mulai dari yang mudah sampai ke yang sukar. Para siswa dianggap berhasil dalam belajarnya jika mereka sudah bisa mencapai target kecepatan dan prosentase pemahaman yang sudah ditentukan. Televisi biasanya menayangkan film-film asing yang diterjemahkan secara tertulis ke dalam bahasa Indonesia. Dalam upaya memahami bacaan itu. Sehubungan dengan penggunaan media di atas. kemudian mereka harus memilih kata-kata yang benar. Para siswa dibimbing oleh guru membaca dengan cepat disertai pemahaman yang memadai. Untuk tingkat lanjut. para siswa dihadapkan pada wacana-wacana sederhana yang mudah dipahami sambil dicatat kecepatan membacanya. kalau membaca adalah menafsirkan apa yang tertulis. para siswa tidak merasa bosan selama kegiatan membaca. yang berbeda beberapa fonem saja. dari segi jenisnya bisa berupa wacana biasa. tayangan televisi itu dapat digunakan untuk melatih dan mengukur kemampuan membaca siswa. Penulisan huruf kapital merupakan salah satunya. Kemudian. sedangkan menulis adalah menghurufkan pemahaman seseorang. baru disediakan wacana-wacana yang cukup sulit. atau prosa. evaluasi pembelajaran membaca hendaknya tidak hanya terfokus pada keterampilan mengucapkan kata-kata tetapi juga harus diperhatikan pemahaman dan kecepatan siswa dalam membaca. peran pertanyaan yang berhubungan dengan bacaan sangat penting. atau bahan yang bisa digunakan untuk kegiatan membaca adalah yang pertama wacana. Tidak mudah orang Kebahasaan – KKG 37 . Wacana-wacana tersebut bisa dibuat dengan kreativitas guru yang bersangkutan. Kebahasaan dalam Pembelajaran Menulis Menulis dan membaca ibarat dua keping yang tidak bisa dipisahkan. para siswa digiring menuju pemahaman makna bacaan yang sebenarnya. D. drama. Oleh karena itu. Yang menjadi inti dari keduanya adalah tulisan. Dengan demikian. Masalah fonologi yang bisa diajarkan melalui pembelajaran menulis banyak sekali. Setelah itu. para siswa diarahkan pada keterampilan membaca cepat. puisi. Melalui pertanyaanpertanyaan itu.

teknik. pada penulisan gelar Drs. bisa dipamerkan melalui majalah dinding atau majalah sekolah. jadual. tehnik. 2001:31-32). Dalam praktiknya.. dan gelar. konsekwen. kuitansi masing-masing sering muncul pada tulisan-tulisan ilmiah. zaman. bahasa warna dan bahasa prangko itu tidaklah termasuk sistem tanda bunyi bahasa. Namun istilah semantik lebih umum digunakan dalam studi linguistik karena istilah-istilah yang lainnya itu mempunyai cakupan objek yang lebih luas. semiologi. semasiologi. bahasa warna dan bahasa prangko itu. jadwal. analisis. konsekuen. dan majalah sekolah. Buktinya. BC. analisa. sememik. padahal yang benar adalah ap-ril. Sudibyo. kwartal. padahal yang betul cap-lok. Apakah semantik juga mempelajari makna-makna seperti yang terdapat dalam ungkapan bahasa bunga. hanyalah perlambang belaka yang diturunkan bukan dari tanda linguistik. dan semik untuk merujuk pada bidang studi yang mempelajari makna atau arti suatu tanda atau lambang. Termasuk tanda-tanda lalu lintas. Kata-kata seperti efektifitas. Aditya. tempat. bahasa warna dan bahasa prangko? Tentu saja tidak. dan tanda-tanda dalam ilmu Matematika.SC. Kata ca-plok. Para siswa hendaknya dibiasakan bahkan bisa diwajibkan oleh gurunya untuk memiliki buku harian.memahami penulisan huruf kapital ini. jaman. dan hal lain yang tertuang dalam buku harian itu. dan kwitansi. padahal itu adalah deret konsonan. prestasi yang diperoleh. majalah dinding. masih saja didapati kesalahan penulisan huruf kapital baik pada awal kalimat. Dengan kata lain yang disebut bahasa bunga. Media pembelajaran yang cukup efektif dan tepat guna untuk kegiatan menulis para siswa adalah buku harian. Penerapan Semantik dalam Menulis Dalam linguistik terdapat pula istilah seperti semiotika. Jadi. atlet. sistem. Selain hal di atas. /pl/ dan /pr/ pada kedua kata tersebut sering dianggap kluster. Bc. M.Sc. Kebahasaan – KKG 38 . Masalah lain dari fonologi yang bisa diajarkan melalui menulis adalah pemenggalan kata. Sudibyo. bulan. sebab makna-makna yang terdapat dalam bahasa bunga. kuartal. Sedangkan cakupan semantik hanyalah makna atau arti yang berkenaan dengan bahasa sebagai alat komunikasi verbal. kata april sering pula dipenggal menjadi a-pril.HK. pemenggalan kata sering tertukar dengan penyukuan kata. sistim. kode morse. Hal-hal menarik. Misalnya. yakni mencakup makna tanda atau lambang pada umumnya.. Aditya.HK. pengajaran menulis juga hendaknya ditekankan pada ketelitian penulisan huruf terutama penulisan kata-kata serapan. hari. M. Bentuk-bentuk yang baku dari kata-kata tersebut adalah efektivitas. seharusnya Drs. penyebutan nama orang. atlit. (Diding Wahyudin.

Kebahasaan – KKG 39 . (4). Coba perhatikan apa arti kata bahasa pada kalimat-kalimat berikut: Mereka belajar bahasa Arab. dan makna bahasa yang ada pada nomor (3) bahasa bunga bukanlah ‘bahasa’ seperti yang dimaksud pada nomor (1) bahasa Arab. 1995: 3). Dari keenam contoh itu. Coba Anda simak apa arti kata bahasa pada nomor (2). anak itu memang tidak tahu bahasa. Jangan marah. Dalam hal ini kita memang harus berhati-hati memakai kata bahasa itu. (Abdul Chair.bukan sesuatu yang lingual atau perseolan lingual. Sang Raja tidak tahu bahasa Sang Permaisuri ‘lah tiada. melainkan persoalan semiotika. (5) dan (6). Kiranya antara sesama pemimpin itu tidak ada kesatuan bahasa. Anda dapat melihat bahwa kata bahasa memiliki banyak arti. Katakanlah dengan bahasa bunga! Bahasa Sutan Takdir Alijahbana tidak sama dengan bahasa Idrus. Dalam bahasa Indonesia tampaknya kata bahasa menanggung beban makna yang cukup berat.

Keempat karakteristik itu adalah sebagai berikut. kompetensi. sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat (Wardani.J. for example) in social (including educational) situations in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices. yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan terhadap sistem. pembelajaran kebahasaan dianggap sulit. Kedua. Mengapa PTK kebahasaan perlu mendapat perhatian? Pertama. atau situasi. pembelajaran kebahasaan kurang mendapat perhatian serius dari para guru.BAB IV PENELITIAN TINDAKAN KELAS KEBAHASAAN A. Di samping itu. tidak menarik. terlalu teoritis dan tidak menyentuh tujuan pembelajaran bahasa. Dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah.. pada kenyataannya pembelajaran kebahasaan tidak dilakukan secara benar oleh guru. cara kerja. melalui refleksi diri. ada empat karakteristik lain yang melekat pada PTK. (Carr dan Kemmis. Penelitian Tindakan merupakan suatu proses investigasi terkendali yang siklis dan bersifat reflektif mandiri. dalam McNiff. Tujuan PTK Tujuan Utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas. Ketiga. 2003) B. Action research is a form of self-reflective inquiry undertaken by participants (teachers. karena pembelajaran kebahasaan selama ini dianggap sebagai pembelajaran sampingan yang tidak penting. PTK dilakukan untuk memperbaiki kinerja guru. dan membosankan. PTK juga bertujuan untuk memperbaiki kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesionalismenya. proses. Kebahasaan – KKG 40 . isi. PTK Kebahasaan adalah PTK yang dimaksudkan untuk memperbaiki kinerja pembelajaran yang berkaitan dengan kebahasaan. 1991:2) Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri. Empat Karakteristik PTK Karateristik/ciri utama PTK adalah adanya tindakan (action) yang nyata. dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru. Intinya. C. students or participals. Pengertian PTK PTK adalah penelitian tindakan (action research) yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki/ meningkatkan mutu praktik pembelajaran. their understanding of these practices and the situations (and) institutions) in which the practices are carried out.

(5) Menganalisis data hasil observasi dan assesment serta interpretasi. (2) Menganalisis dan merumuskan masalah pembelajaran. Kebahasaan – KKG 41 . Prosedur Pengembangan PTK Prosedur pengembangan PTK dilakukan melalui kegiatan yang terencana. (6) Melakukan Refleksi dan merencanakan tindak lanjut untuk siklus berikutnya. Observasi. 3. (4) Melaksanakan Tindakan.(3) Merencanakan Tindakan. Pengembangan Pembelajaran dalam PTK berorientasi pada pemecahan masalah pembelajaran (problem solving). Aktivitas Penelitian Tindakan Kelas Aktivitas penelitian tindakan kelas dapat digambarkan sebagai berikut. E. D. terarah. Masalah yang dibicarakan adalah masalah pembelajaran yang sifatnya spesifik dan kontekstual. dan Assesment. Hasil reflektif dijadikan bahan pertimbangan untuk penyempurnaan rencana tindakan awal dalam siklus berikutnya. Pengembangan PTK dilakukan dengan prosedur sebagai berikut (1) Identifikasi Masalah Pembelajaran. Reflektif terhadap perubahan hasil tindakan. dan berkesinambungan. 2. 4. Kolaborasi (kerjasama) antara praktisi pendidikan dan peneliti. (1) Identifikasi Masalah Pembelajaran Pertanyaan-pertanyaan yang bisa membantu untuk mengidentifikasi masalah pembelajaran adalah sebagai berikut.1.

Masalah yang diteliti melalui PTK harus memiliki nilai strategis bagi peningkatan atau perbaikan proses dan hasil pembelajaran. f/ dan vokal /o. (4) mendiskusikan rencana tindakan dengan teman sejawat.Apakah kompetensi awal siswa untuk mengikuti pembelajaran cukup memadai? Apakah proses pembelajaran yang dilakukan cukup efektif? Apakah sarana/prasarana pembelajaran cukup memadai? Apakah pemerolehan hasil pembelajaran cukup tinggi? Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas? Apakah ada unsur inovatif dalam pelaksanaan pembelajaran Bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan strategi inovatif tertentu? (2) Menganalisis dan Merumuskan Masalah Pembelajaran Masalah yang diteliti harus masalah faktual. Masalah tersebut harus dapat dicari dan dididentifikasi jalan keluarnya. (2) mempersiapkan sarana pembelajaran. (5) mengkaji pendapat dan saran pakar pendidikan yang sudah dituangkan dalam bentuk program. pertanyaan yang harus dijawab adalah: Apakah alternatif tindakan yang dipilih dapat meningkatkan atau memperbaiki proses dan hasil pembelajaran? Contoh: Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa terhadap perbedaan konsep kalimat tunggal dan kalimat majemuk dengan memberikan tugas kelompok ? Bagaimana meningkatkan kemampuan siswa melafalkan konsonan /p. (4) melakukan simulasi pelaksanaan tindakan Pengembangan Instrumen Salah satu kegiatan PTK yang perlu mendapat perhatian adalah pengembangan instrumen. guru mulai merencanakan tindakan dengan urutan kegiatan sebagai berikut (1) membuat skenario tindakan. pakar pendidikan. sebaiknya peneliti PTK melakukan hal-hal berikut: (1) gagas pendapat mengenai tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah (Kolaborasi guru-dosen. (3) mempersiapkan instrumen pengembangan. Oleh karena itu. (6) melakukan refleksi diri mengenai pengalaman sebagai guru. dan kebahasaan. atau peneliti lain. Setelah itu. guru-guru). Kegiatan ini setidak-tidaknya akan menentukan Kebahasaan – KKG 42 . (3) mengkaji hasil-hasil penelitian yang relevan. Dengan demikian PTK membantu mencari alternatif pemecahan tindakan.u/ siswa kelas IV dengan menggunakan kartu kata? Bagaimana meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat kalimat efektif siswa kelas VI melalui model pembelajaran inkuiri? (3) Merencanakan Tindakan Sebelum merencanakan tindakan. masalah yang diteliti benar-benar terjadi dalam pembelajaran di kelas. Artinya. (2) mengkaji teori di bidang pembelajaran/pendidikan.

Setelah itu melaksanakan penilaian (asesmen). (2) Instrumen untuk PROSES. lanjutkan ke siklus berikutnya. pedoman wawancara. format bayangan (shadowing form) Instrumen pengamatan untuk kelas meliputi format anecdotal organisasi kelas. bagaimana guru mengelola kelas. kegiatan berikutnya adalah melaksanakan skenario pembelajaran dengan mengaplikasikan inovasi pembelajaran. pedoman penilaian. Begitu pula interaksi guru-siswa. Kebahasaan – KKG 43 . dsb) Instrumen pengamatan terhadap siswa meliputi tes diagnostik (diagnostict test). Pada saat yang sama dilakukan observasi proses dengan menggunakan instrumen yang sudah didesain sebelumnya. (5) Menganalisis Data Penelitian tindakan kelas lazimnya memerlukan data kualitatif dan data kuantitatif. (6) Melaksanakan Refleksi Hasil analisis lalu dihubungkan dengan indikator keberhasilan dan indikator kinerja. observasi kelas terstruktur. Sebelum melanjutkan ke siklus berikutnya guru perlu melakukan refleksi. bagaimana interaksi guru-siswa. bagaimana guru membentuk kelompok.validitas penelitian. catatan anekdotal perilaku siswa (anecdotal record for observing students). Instrumen apa yang perlu dikembangkan? Yang perlu dikembangkan adalah (1) Instrumen untuk INPUT (bekal awal siswa). lembar cek kompetensi Instrumen-instrumen di atas perlu dilengkapi dengan instrumen lain seperti pedoman pengamatan. bagaimana guru membuat penilaian. siklus bisa dihentikan. Jika masih diperlukan siklus ke tiga maka tindakan yang dilakukan juga merupakan perbaikan tindakan dari siklus dua. format peta kelas. bagaimana guru bertanya. Jika berhasil. Jika belum. Tindakan yang dilakukan merupakan perbaikan dari tindakan yang dilakukan pada siklus sebelumnya. bagaimana guru mengelola waktu. Kedua macam data itu dianalisis berdasarkan cara analisis data kualitatif dan kuantitatif. terutama perubahan yang terjadi terhadap dinamika kelompok dalam pembelajaran. data dokumen. dan siswa-siswa dan kondisi kelas. tes dan asesmen alternative. dan (3) Instrumen untuk OUTPUT (evaluasi pencapaian hasil belajar) Instrumen untuk proses meliputi instrumen pengamatan terhadap guru (bagaimana guru mengajar. lembar cek wawancara personalia sekolah. Hasil belajar non-kognitif juga diamati pada saat ini. Interpretasi terhadap analisis data dilakukan untuk menyimpulkan dampak tindakan. (4) Melaksanakan Tindakan Setelah merencanakan tindakan.

misalnya isyarat. maka komunikasi dapat terganggu. Satuan terkecil dalam bidang ini ialah kata.BAB V RANGKUMAN Bahasa adalah suatu sistem lambang berupa bunyi. tata bentuk kata. kaidah. bersifat arbitrer. Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang mengandung makna. Fonemik adalah ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti. Fonologi terdiri atas dua bidang. maupun kalimat. yaitu: fonetik dan fonemik. Pada kenyataannya setiap bahasa dapat muncul dalam berbagai varian. Varian bahasa yang didasarkan pada pemakainya disebut sebagai dialek. yaitu morfem bebas dan morfem terikat. Fungsi bahasa yang terutama adalah sebagai alat untuk bekerja sama atau berkomunikasi di dalam kehidupan manusia bermasyarakat. Bila aturan. lambang-lambang gambar atau kode-kode tertentu lainnya. atau dengan satuan-satuan yang lebih besar. serta mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia. atau pola-pola tertentu. Dengan kata lain. Kebahasaan – KKG 44 . Varian bahasa yang didasarkan pada pemakaiannya disebut sebagai ragam bahasa Fonologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran suatu bahasa. baik dalam tata bunyi. dan mengidentifikasi diri. Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan menganalisis bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tuturan. Tetapi dengan bahasa komunikasi dapat berlangsung lebih baik dan lebih sempurna. Ada dua macam morfem. digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama. berkomunikasi. Sebagai sebuah sistem. maka bahasa terbentuk oleh suatu aturan. Semantik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang kata dan cara pembentukan kata. Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri. Konsep-konsep yang gayut dengan morfologi antara lain konsep tentang: morfem. kaidah atau pola ini dilanggar. atau antara satuan-satuan yang lebih besar itu dalam suatu bahasa. alomorf dan kata dasar. Untuk berkomunikasi sebenarnya dapat juga digunakan cara lain. Sintaksis adalah cabang linguistik yang mempelajari pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata.

tidak kalah pentingnya adalah kepekaan pendengar untuk membedakan satu bunyi dengan bunyi lainnya. Ketelitian seseorang dalam membaca sangat membantu dalam pemahaman wacana. masih banyak media lain yang biasa dipakai untuk berlatih menulis. jika kesalahan itu berulang-ulang ditemuinya perlu ada perbaikan wacana sehingga tidak mengganggu pemahaman. Metode dikte dapat dijadikan ancangan pembelajaran fonologi melalui menyimak. Kebahasaan – KKG 45 . Selain itu. sintaksis. simantik dan kosakata adalah dengan cara membiasakan diri menuliskan apa saja dalam buku harian. Pedang ini akan bermanfaat jika dipakai oleh orang yang sesuai. pedang ini juga bisa menjadi bumerang jika penggunaannya tidak benar. Menulis adalah kegiatan yang kompleks. Oleh karena itu. Hanya. Cara terbaik mengarjakan menulis agar tulisannya bagus sesuai dengan kaidah ejaan. dan bicara terencana. morfologi. Akan tetapi. Para siswa harus dibiming untuk selalu berkonsentrasi pada saat menyimak. ketika membaca siswa tahu bahwa di dalam wacana yang dibacanya itu terdapat kesalahan cetak. Rekaman bisa membantu menyempurnakan ucapan pembicaraan. Metode pembelajaran yang disarankan adalah dengan tegur langsung. Penyimakan sebuah satuan bahasa berhubungan erat dengan cara kejelasan pengucapan satuan tersebut.semantik adalah bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau tentang arti. Ada yang mengatakan bahwa berbicara adalah pedang yang sangat tajam. bicara spontan. berhati-hatilah dalam berbicara. fonologi. terlalu teliti pun tidak baik akibatnya karena hal itu bisa menyebabkan kecepatan membaca menjadi rendah. Dalam hal ini. Kata-kata yang diucapkan jangan sampai keliru karena bisa mencelakakan diri sendiri. Tetapi sebaliknya. Pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang penulis adalah tata cara penulisan. Paling tidak.

5. proses fonasi D. A. proses aliran udara Berikut ini yang merupakan pembedaan bunyi bahasa berdasarkan ada tidaknya hambatan pada alat bicara adalah …. [ai] 2. 3. 4. bunyi monoftong D. B. [pl]. bunyi nasal D. A. [ai] B. [oi]. A. C. bunnyi diftong Bunyi yang keluar melalui hidung disebut …. kecuali …. kecuali …. dan D! 1. [sl] C. bunyi vocal. 6.BAB VI PENILAIAN Soal Pilihlah salah satu jawaban yang Anda anggap paling benar dengan cara memberi tanda silang (x) pada huruf A. A. proses penyimakan B. bunyi oral Berikut ini diftong dalam bahasa Indonesia. A. A. bunyi oral dan nasal B. dan semivokal C. [au]. [rb] B. [oi] C. bunyi tunggal dan rangkap Bunyi vokal tunggal dapat juga disebut …. [tr] D. [mp]. bunyi luncuran B. konsonan. bunyi keras dan lunak D. Kebahasaan – KKG 46 . kecuali …. [kr]. bunyi konsonan C. Berikut ini proses terjadinya bunyi bahasa. bunyi vokal B. bunyi kluster C. [br]. [ei] Berikut ini bunyi rangkap. [nt]. proses artikulasi C. [au] D. [pr].

A. kecuali …. konsonan tidak pernah menjadi inti suku kata D. satuan kata dari seg medium C. kecuali …. 12. konsonan nasal C. 10. vokal tinggi-tengah-bulat B. mem-ba-ca-kan D. konsonan hambat B. cara artikulasi B. A. Kebahasaan – KKG 47 . vokal madya-belakang-bulat Berikut ini pembentukkan konsonan berdasarkan cara artikulasi. vokal rendah-depan-tak bulat C. satuan kata secara fonologis D. suku kata selalu mempunyai vocal C. satuan kata secara gramatikal B. bergetar tidaknya pita suara D. 11. konsonan palatal D. Vokal [a] termasuk ke dalam bunyi …. me-ne-rus-kan Vokal bulat merupakan vokal yang dihasilkan dengan cara …. vokal madya-tengah tak bulat D. me-mi-sah-kan C. bentuk bibir dibulatkan 8. kecuali …. lidah dalam posisi serendah mungkin B. tempat artukulasi C. konsonan getar Pembentukkan konsonan bisa dilakukan d engan cara-cara berikut. me-nga-lih-kan B. diftong berada pada suku kata yang berbeda B. mengangkat lidah dalam ketinggian sepertiganya D. A. satuan kata secara grafemis Pemisahan imbuhan yang tidak benar terdapat pada kata …. 13.7. menggerakkan lidah bagaian tengah C. A. 9. bentuk bibir Berikut ini pernyataan yang benar. gugus berada pada satu suku kata Penyukuan dan pemengalan kata berada dalam hal…. A. A. A.

kata dan nama gelar bisa ditemui dalam kegiatan . A.. membaca dan menulis B. H. DR.. rekaman cerita legenda C. akan melanjutkan kuliah di Malaysia. 16.... Aminudin. Hasan Hamid Syafri. Camat Drs. menyimak dan membaca Di bawah ini hal-hal yang berkenaan dengan fonologi. dahan C..Ed. penandaan Kecermatan penulisan huruf besar. menyimak dan berbicara B.. MA melihat kecelakaan itu dengan jelas. kecuali . kecuali…. A.. dongeng B. tahun D. Ir. membuat pengumuman D. SH lulus dari Universitas Islam Jakarta. wawancara Penyampaian pesan secara berantai dapat dipakai sebagai strategi pembelajaran fonologi dalam . menyimak dan berbicara D. 19. D. Fonem /h/ yang diucapkan secara jelas terdapat pada kata . 17. 20. tahu 15. menulis dan menyia 18. membaca dan berbicara C. permainan drama C. MSi akan dipromosikan menjadi Walikota. pengingatan B.. pembacaan puisi B. B. tayangan TV Penulisan singkatan gelar di bawah ini yang tepat adalah ….. Kebahasaan – KKG 48 . Berikut ini adalah media yang biasa dipakai dalam pembelajaran fonologi melalui menyimak. C. penulisan C.14. Faiz Asyraf Rafif. A. menyimak dan membaca C. M.. penjahit B. A. kecuali …. membaca dan menulis D. berpidato D. A. pelafalan D. Syahrudin. Pembelajaran fonologi melalui kegiatan berbicara bias dalam bentuk. A.. A.

B 18. B 12.KUNCI JAWABAN 1. D 16. D 10. A 20. B 8. C 9. D 14. C 19. B 3. A 7. D 6. A 11. A 13. B 17. C 5. C 4. C 15. C Kebahasaan – KKG 49 . A 2.

prima Ebta Bahasa Indonesia SMA. Nusa Indah. Jakarta: Grasindo. Pateda. Jakarta. 2007. ----------. Fonologi Departemen Pendidikan Nasional. Bahasa Indonesia. Linguistik Terapan. Hanry. Soedjito. Kosakata Bahasa Indonesia.M. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara. Sri H. Bahan Ajar Diklat Tingkat Lanjut Bahasa Indonesia bagi Guru SD. Zaenal Arifin dan Junaiyah H. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan. 1991. dan Soenjono Dardjowidjojo (peny. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Jakarta: Rineka Cipta Finoza.. Bandung: Angkasa. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.. Lamudin. Moeliono.1999. Pengajaran Kosakata. 2008. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: Rineka Cipta.). Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif. 1993.1995. -----------. Abdul. Gorys. Muslich. 2008.1997. Morfologi.1998. Makna. Wahyudin R. Bentuk. Jakarta: Diksi Insan Guntur Tarigan. 2008. 2004.1990. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Widiasarana. Linguistik Umum. -----------. Komposisi Mulia. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia. Diding. Mansoer. Surabaya. 1992. Brebes: PT Intan Pariwara. 1994. Sintaksis. AM. 1988. Tatabentuk Bahasa Indonesia. Keraf. 2001.DAFTAR PUSTAKA Chaer. Jakarta : Balai Pustaka. Mansur. dan Fungsi. Jakarta: Grasi Kebahasaan – KKG 50 . Ende Plores. Raharjo.

satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif ilmu bahasa tentang seluk-beluk bentuk kata. cabang linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech). relasi antarmakna kata dalam satu frasa secara horizontal. bidang studi dalam lingusitik yang mempelajari makna atau tentang arti. tetapi mempunyai fungsi dan makna yang sama kata sifat bagian dari tata bahasa atau ilmu bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran suatu bahasa. kata kerja adjektif fonologi : : frasa : morfologi semantik : : sintagmatik sintaksis : : verba : Kebahasaan – KKG 51 .GLOSARIUM alomorf : anggota satu morfem yang wujudnya berbeda.

Kebahasaan – KKG 52 .

Kebahasaan – KKG 1 .