Penulis T. Hasanuddin Sumiadi Rafnis Lukman Juhara Penyunting Endah Ariani Madusari Tim Review Petrus Purwandi Suharti Mangindaan Endah Ariani Madu Sari Burhanuddin Elina Syarif

M. Dalam rangka memperbaiki mutu dan profesionalitas mereka. kepala sekolah.KATA PENGANTAR Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Bahasa memiliki tugas dan tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas guru bahasa. Kritik dan saran untuk perbaikan sangat diperlukan dan dapat dikirimkan ke PPPPTK Bahasa. Telepon (021) 7271034. Maret 2010 Kepala Pusat. Dr. Jagakarsa. Dalam menjawab amanat Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. dan tenaga kependidikan lainnya.net Jakarta. pengawas sekolah. Jakarta 12640. PPPPTK Bahasa berperan serta secara aktif dalam proyek Better Education Through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU). NIP 19550720 198303 1 003 i . Sebagai suatu lembaga yang dikelola secara profesional. PPPPTK Bahasa menyediakan program pendidikan dan pelatihan berkualitas yang sejalan dengan reformasi pendidikan serta tuntutan globalisasi yang tertuang dalam program Education for All (EFA).Ed. Jalan Gardu. PPPPTK Bahasa meningkatkan kompetensi guru melalui penyediaan bahan ajar yang akan digunakan sebagai sarana untuk mencapai kompetensi yang diinginkan. Srengseng Sawah. Muhammad Hatta. PPPPTK Bahasa menyelenggarakan berbagai pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. dan email: admin@pppptkbahasa. Selain itu. Faksimili (021) 7271032. Pencapaian kompetensi tersebut dapat dilakukan melalui penggunaan bahan ajar yang telah disusun dalam kegiatan pelatihan di KKG dan MGMP.

........................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.................. 34 C....................... ii BAB I PENDAHULUAN ............ 1 A....... 16 A................................... Tujuan............ 3 A...... Sasaran ............................ Ekspresi Puisi..................... Pembelajaran Apresiasi Puisi ............................................... 8 D...... 17 C.................................................................... 58 ƒ SILABI ................. 21 A.................................................................................................... Aliran Sastra........................................................ 19 BAB IV EKSPRESI KARYA SASTRA............................. Pembelajaran Apresiasi Drama .......................................................... 38 BAB V PENELITIAN TINDAKAN KELAS KESASTRAAN........................................................................ Periodisasi Sastra Indonesia............ 51 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................................................................................... Pengertian Sastra.............. 45 BAB VI RANGKUMAN............... 59 ii ........................................ 2 BAB II DASAR-DASAR TEORI DAN SEJARAH SASTRA.................................................................. Genre Sastra ................................................................................... 4 C.............. i DAFTAR ISI ......................................... 3 B........... Pembelajaran Apresiasi Prosa........................ 1 D................................................................................. Alokasi Waktu........................................................................ Ekspresi Prosa ..................................................................................................................................................................................... Latar Belakang ............. 1 B............ 16 B.................................................................................................................... 21 B......................... 56 LAMPIRAN ƒ GLOSARIUM ........................................................................................................................................................................................... Ekspresi Drama............................................................................ 49 BAB VII PENILAIAN............. 10 BAB III PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA ............. 1 C................................................

Pembahasan kesusastraan dalam suplemen modul ini difokuskan pada pengertian sastra. Sebab. genre karya sastra.bentuk karya sastra dalam bentuk puisi. peserta KKG diharapkan dapat menguasai kompetensi yang berkaitan dengan: a. Tujuan Setelah mempelajari modul suplemen ini. pengertian sastra. Kesastraan – KKG 1 . pembelajaran apresiasi sastra. prosa. Latar Belakang Program Better Education Through Reformed Man Agement Upgradding (BERMUTU) merupakan salah satu program Depdiknas untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja guru dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar peserta didik pada satuan pendidikan. berbicara. membaca. Diharapkan waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menguasasi modul suplemen kesusastraan ini. B. seorang guru bahasa Indonesia juga dituntut memiliki kompetensi dan kegemaran dalam bersastra (menulis. aliran sastra. Oleh karena itu. maupun drama sesuai dengan standar kompetensi yang harus dicapai oleh siswa di SD. b. guru profesional adalalah guru yang mampu membimbing peserta didik mengapresiasi dan mengekspresikan pikiran dan perasaan dalam bentuk.BAB I PENDAHULUAN A. Alokasi Waktu Alokasi waktu yang disediakan untuk mempelajari modul suplemen bagi peserta KKG adalah 4 jam pelajaran (4 x 50 menit). Diperlukan suplemen modul yang relevan dengan kebutuhan pendidik dan peserta didik untuk menunjang kegiatan KKG dan MGMP. pembelajaran apresiasi sastra. periodisasi sastra. Sehingga dalam proses apresiasi maupun ekspresi sastra. dan aliran sastra. Selain itu. d. Kegiatan peningkatan kompetensi guru tersebut akan dilaksanakan dalam kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk guru SD dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk guru SMP Bahasa Indonesia. genre sastra. guru bahasa Indonesia diharapkan peka terhadap perkembangan konteks sastra. Pembelajaran sastra merupakan bagian dari pengajaran bahasa. Salah satu modul tersebut berkaitan dengan materi kesusastraan. periodisasi sastra Indonesia. baik secara tulis maupun lisan. dan ekspresi sastra. c. serta perasaannya dalam bentuk karya sastra sebagai bekal dalam membimbing peserta didik. para guru mampu menuangkan ide. dan mengekspresikan perasaan melalui karya satra. gagasan. dan mendengarkan). C.

D. Sasaran Sasaran modul suplemen ini adalah para guru SD peserta KKG Bahasa Indonesia Program BERMUTU yang tersebar di 16 provinsi di wilayah Indonesia. Kesastraan – KKG 2 .

Kenikmatan atau kesenangan itu. sosial. dengan membaca sastra. menghadirkan sintesis terhadap hal-hal yang bertentangan. sebuah ciptaan. melainkan suatu kecakapan dalam menggunakan bahasa yang berbentuk dan bernilai sastra. Menurut Luxemburg. bersifat otonom. dan mengandung pesan yang bersifat relatif. Melalui bahasa. dan karsa manusia juga sering disebut sebagai karya sastra. Oleh karena itu. sosial. sastra sebagai sebuah hasil cipta. Sastra memberikan wawasan yang umum tentang masalah manusiawi. sastra dapat ditentukan memiliki bentuk dan nilai sastra atau tidak. Pengertian Sastra Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008). 5. Menurut Wellek dan Warren (1989) sastra adalah sebuah karya seni yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. seperti keaslian. keartistikan. dan mengungkapkan sesuatu yang tidak terungkapkan dengan bahasa sehari-hari. arti kata sastra adalah “karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain. maupun intelektual dengan cara yang khusus. 2. Dalam keterlibatan itulah kemungkinan besar muncul kenikmatan estetis. Karya sastra berarti karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah. 4. Sastra dapat memberikan kesenangan atau kenikmatan kepada pembacanya. kreasi. keindahan dalam isi dan ungkapannya”. dan agama. dapat disimpulkan bahwa sastra adalah hasil cipta manusia dengan menggunakan media bahasa tertulis maupun lisan. Oleh karena itu. disampaikan secara khas. 6. psikologi. di mana pembaca terlibat secara total dengan apa yang dikisahkan. memiliki berbagai ciri keunggulan. bukan imitasi. Sebab. Perlu dikemukakan bahwa karya sastra umum mengungkapkan pengalaman dan realitas kehidupan manusia di samping dunia hayalan penulis yang bersifat estetik. rasa. Sehingga dalam membaca karya sastra terdapat proses penikmatan. Sebab. bahasa merupakan media sastra. penulisannya selalu melibatkan pikiran pada kehidupan sosial. dkk (1989) sastra juga memiliki manfaat terutama secara rohaniah. Berdasarkan uraian di atas. Sastra bukanlah seni bahasa belaka.BAB II DASAR – DASAR TEORI DAN SEJARAH SASTRA A. pembaca memperoleh wawasan yang dalam tentang masalah manusiawi. maupun Kesastraan – KKG 3 . otonomi sastra bersifat koheren(ada keselarasan bentuk dan isi). luapan emosi yang spontan. moral. dalam sastra muncul dalam bentuk ketegangan-ketegangan (suspense). 3. bersifat imajinatif.

1. Karya-karya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi antara lain: a. Angkatan Pujangga Baru. Periodisasi Sastra Indonesia Periodisasi sastra adalah penggolongan sastra berdasarkan pembabakan waktu dari awal kemunculan sampai dengan perkembangannya. Dilihat dari sejarahnya. f. Kesusastraan Lama. Kesusastraan Peralihan. Menggolongkan periodisasi sastra Indonesia sebagai berikut. Kesusastraan Baru mencakup kesusastraan pada zaman: a. periodisasi sastra juga dapat dilihat berdasarkan ciri-ciri sastra yang dikaitkan dengan situasi sosial. Pembaca sastra dimungkinkan untuk menginterpretasikan teks sastra sesuai dengan wawasannya sendiri. Kesastraan – KKG 4 . d.B.intelektual. dengan caranya yang khas. b. yaitu : 1. e. yang terdiri atas empat angkatan. b. c. 3. Angkatan Balai Pustaka. kesusastraan zaman Islam. Jepang. kesusastraan zaman Arab–Melayu. dan d. Syair Singapura Dimakan Api. Angkatan ’66. Mutakhir / Kesusastraan setelah tahun 1966 sampai sekarang. Jassin. c. Hikayat Abdullah. B. serta pandangan dan pemikiran pengarang terhadap masalah yang dijadikan objek karya kreatifnya. Kesusastraan Baru. Angkatan ’45. kesusastraan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat baru Indonesia. c. kesusastraan yang hidup di zaman Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jeddah. kesusastraan zaman purba. periode sastra Indonesia Modern. b. Selain berdasarkan tahun kemunculan. dll. Syair Abdul Muluk. H. d. yaitu: a. Angkatan ’66. sastra terdiri atas tiga bagian. B. 2. b. c. d. berikut ini dipaparkan secara berturut-turut tentang periode sastra menurut H. Angkatan ’45. Kesusastraan lama Indonesia dibagi menjadi: a. Untuk lebih jelas. Balai Pustaka / Angkatan ’20. Jassin. periode sastra Melayu Lama 2. kesusastraan zaman Hindu Budha. Selain klasifikasi di atas. kesusastraan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama dalam sejarah bangsa Indonesia. Pujangga Baru / Angkatan ’30.

Adapun ciriciri Angkatan Balai Pustaka adalah: menggunakan bahasa Indonesia yang masih terpengaruh oleh bahasa Melayu. 2. Roman ini menceritakan tentang pemuda yang bernama Samsul Bahri. karena salah satu roman yang sangat terkenal pada angkatan ini adalah Roman Siti Nurbaya. Walaupun Siti Nurbaya berasal dari keluarga kaya. Sastra Melayu Lama Sastra Melayu lama merupakan sastra Indonesia sebelum abad ke-20 dengan ciri-cirinya. Hikayat Sang Boma. hantu/setan. masih terpinggirkan atau belum mendapatkan kesetaraan. ayah Siti Nurbaya. Berikut ini dapat kita pelajari bersama sinopsis Roman Siti Nurbaya. persoalan yang diangkat persoalan adat kedaerahan dan kawin paksa. Sastra pada masa Sastra Melayu Lama contohnya: hikayat. Angkatan ini merupakan titik tolak kesustraan Indonesia. bersifat istana sentris. Sastra Indonesia Modern a. Kemudian. Samsul Bahri sangat mencintai Siti Nurbaya. Hikayat Mahabharata. ia tidak boleh meneruskan pendidikannya setamat dari sekolah rakyat. dan binatang jadi-jadian. dapat kita ketahui bahwa kaum perempuan di masa itu. dan sebagainya. Dengan licik ia beserta kaki tangannya berhasil menghancurkan perniagaan Baginda Sulaiman. dongeng tentang arwah. Angkatan Balai Pustaka disebut juga Angkatan Siti Nurbaya. akhirnya Datuk Maringgi berhasil menikahI Siti Nurbaya. Ia dengan terpaksa mengikuti keinginan Datuk Maringgi karena tidak rela ayahnya dipenjara. Syair Perahu dan Syair Si Burung Pungguk oleh Hamzah Fansuri dan Gurindam Dua Belas dan Syair Abdul Muluk oleh Raja Ali Haji.. Ketika terjadi perang antara Belanda dengan masyarakat Sumatera Barat. tetapi gagal. Hikayat Ramayana. Datuk Maringgi dengan keserakahannya menginginkan Siti Nurbaya untuk menjadi istrinya yang kesekian. umumnya bersifat anonim. semua tokoh penting dalam cerita ini meninggal dunia. Melalui cerita ini. keajaiban alam. dan Datuk Maringgi. peri. Hal ini disebabkan karena adanya anggapan perempuan Kesastraan – KKG 5 . Siti Nurbaya adalah roman yang ditulis oleh Marah Rusli. Karena terlibat utang yang tak akan terbayar oleh Baginda Sulaiman. berusaha untuk bunuh diri.1. dengan kekasihnya Siti Nurbaya. Mereka dimakamkan di Gunung Padang. dipengaruhi kehidupan tradisi sastra daerah/lokal. dan menceritakan hal-hal berbau mistis seperti dewa-dewi. Letnan Mas bertempur dengan Datuk Maringgih. Berbagai macam hikayat seperti. ia menyamar menjadi Letnan Mas setelah bergabung dengan Kompeni Belanda. Akhir cerita. dan cerita yang diangkat seputar romantisme. kejadian alam. antara lain menggunakan bahasa Melayu. Angkatan Balai Pustaka Angkatan Balai Pustaka lazim juga disebut Angkatan 20–an atau Angkatan Siti Nurbaya.

menceritakan kehidupan masyarakat kota. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual dan nasionalistik. Yusuf adalah seorang mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang menghargai wanita. Salah Pilih (Nur St. Karya berupa kumpulan puisi antara lain Percikan Permenungan (Rustam Effendi) dan Puspa Mega (Sanusi Pane). Muda Teruna (Adi Negoro) . emansipasi (struktur cerita/konflik sudah berkembang). Sensor dilakukan terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Maria adalah seorang mahasiswi periang. pada Angkatan Pujangga Baru Amir Hamzah diberi gelar sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru. Maria. Dengan demikian. seperti perkawinan yang digunakan untuk pelarian mencari perlindungan. perempuan dapat lebih dihargai kedudukannya di masyarakat. Dalam kisah Layar Terkembang.). Dengan susah payah beliau mampu menarik keluar puisi Melayu dari puri-puri Istana Melayu menuju ruang baru yang lebih terbuka. intelektualisme. Di sisi lain. dan materialisme. masalah yang datang harus dihadapi bukan dihindari dengan mencari pelarian. persoalan intelektual. aktif dalam perkumpulan dan memperjuangkan kemajuan wanita. yaitu: Yusuf. dan Tuti. Tuti adalah guru dan juga gadis pemikir yang berbicara seperlunya saja. Perempuan cukup mengabdi kepada suami atau mengurusi rumah tangga. Ciri-ciri sastra pada masa Angkatan Pujangga Baru antara lain sudah menggunakan bahasa Indonesia. Layar Terkembang merupakan kisah roman antara tiga muda-mudi. Sutan Takdir Alisjahbana ingin menyampaikan beberapa hal yaitu. Kasim dkk. senang akan pakaian bagus. Berikut ini dapat kita pelajari Roman Layar Terkembang. pengaruh tradisi dan adat masih sangat kuat. Selain itu. yaitu berupa roman dan kumpulan puisi. Angkatan Pujangga Baru Angkatan Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut. pengaruh barat mulai masuk dan berupaya melahirkan budaya nasional. Karya berupa roman antara lain Azab dan Sengsara (Merari Siregar). Iskandar) dan Dua Sejoli (M.tidak perlu bersekolah tinggi. dan memandang kehidupan dengan penuh kebahagian. Salah satu karya sastra terkenal dari Angkatan Pujangga Baru adalah Layar Terkembang karangan Sutan Takdir Alisjahbana. b. Berikut ini contoh lain karya sastra pada masa Angkatan Balai Pustaka. individualisme. yaitu Kesastraan – KKG 6 . romantisme. belas kasihan dan pelarian dari rasa kesepian atau demi status budaya sosial. sehingga siapa pun yang melanggarnya akan dijadikan bahan pembicaraan di masyarakat. Selain itu. perempuan harus memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat memberikan pengaruh yang sangat besar di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.” Beliau diberi gelar tersebut karena mampu menjembatani tradisi puisi Melayu yang ketat dengan bahasa Indonesia yang sedang berkembang. menonjolkan nasionalisme.

dan individualisme sastrawan lebih menonjol. yaitu lingkungan fasisme Jepang dan dilanjutkan dengan peperangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.bahasa Indonesia. Kata Hati dan Perbuatan (Trisno Sumardjo) Kesastraan – KKG 7 . Chairil menggambarkan pandangan dan semangat hidupnya yang menggebu-gebu. pengaruh unsur sastra asing lebih luas. Dalam puisi tersebut. Puisi yang dianggap maskot pembaharuan dalam sejarah perpuisian di Indonesia adalah puisi yang berjudul “ Aku” karya Chairil Anwar. dan revolusioner. antara lain: Tiga Menguak Takdir (Chairil Anwar-Asrul Sani-Rivai Apin). Berikut ini disajikan puisi “Aku” seutuhnya. yang menjadi citakan bersama. Aku Kalau sampai waktuku Kumau tak seorangpun kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih perih Dan aku akan lebih tidak peduli Aku mau hidup seribu tahun lagi (Chairil Anwar) Karya sastra pada masa Angkatan ’45. individualistis. Pembebasan Pertama (Amal Hamzah). Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (Chairil Anwar). corak isi lebih realis. Ciri-ciri Angkatan ’45 antara lain: terbuka. Angkatan ’45 dasar dari Indonesia yang sedang dicita- Angkatan ’45 lahir dalam suasana lingkungan yang sangat memprihatinkan dan serba keras. naturalis. Deru Campur Debu (Chairil Anwar). c.

dll) yang dianut sastrawan dalam menghasilkan karya sastra. school. Angkatan ini lahir di antara anak-anak muda dalam barisan perjuangan. anti kezaliman dan kebatilan. negara dan persatuan. yang mencerminkan keprihatinannya terhadap situasi negara di masa itu. Dalam bahasa Inggris. Hal tersebut diungkapkan dalam karya sastra pada masa Angkatan ’66 antara lain: Pabrik (Putu Wijaya). Para mahasiswa mengadakan demonstrasi besar-besaran menuntut ditegakkannya keadilan dan kebenaran. Ciri-ciri sastra pada masa Angkatan ’66 adalah bercorak perjuangan antitirani. absurd. serta pembelaan terhadap Pancasila. bercorak membela keadilan. politik. yaitu periods. Kata itu bermakna keyakinan yang dianut golongan-golongan pengarang yang sepaham. Depan Sekretaris Negara Setelah korban diusung Tergesa-gesa Keluar jalanan Kami semua menyanyi “ Gugur Bunga” Perlahan-lahan Prajurit ini Membuka baretnya Air mata tak tertahan Di puncak gayatri Menundukkan bendera Di belakangnya segumpal awan (Antologi Tirani) C. Kesastraan – KKG 8 . Ziarah (Iwan Simatupang). bangsa. Berikut ini disajikan puisi Taufik Ismail. arus kesadaran. (apa maksud dengan penambahan ini?) Aliran sastra pada dasarnya berupaya menggambarkan prinsip (pandangan hidup. dan lainnya. Angkatan ini mendobrak kemacetan-kemacetan yang disebabkan oleh pemimpin-pemimpin yang salah urus. mencintai nusa. protes sosial politik. ditimbulkan karena menentang paham-paham lama (Hadimadja. serta Tirani dan Benteng (Taufik Ismail).1972:9). generation dan movements.d. terdapat dua kata yang maknanya sangat berkaitan dengan aliran. Angkatan ‘66 Angkatan ’66 ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. seperti munculnya karya sastra beraliran surealis. arketipe. berontak terhadap ketidakadilan. age. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Aliran Sastra Kata aliran atau mazhab berasal dari kata stroming (bahasa Belanda) yang mulai muncul di Indonesia pada zaman Pujangga Baru. Banyak karya sastra pada angkatan yang sangat beragam dalam aliran sastra.

Pengikut aliran ini menganggap imajinasi lebih penting daripada aturan formal dan fakta. serta pengungkapan pikiran. Contoh karya sastra yang beraliran ini adalah sebagaian besar karya Amir Hamzah. Aliran ini dicirikan oleh minat pada alam dan cara hidup yang sederhana. Merahnya Merah karya Iwan Simatupang. (c) mistisisme. Idealisme adalah aliran romantik yang bertolak dari cita-cita yang dianut oleh penulisnya. Contoh karya sastra aliran ini misalnya Radio Masyarakat karya Rosihan Anwar. Dunia yang secara indrawi dapat kita cerap menunjukkan suatu dunia rohani yang tersembunyi di belakang dunia indrawi. Romantik idealisme adalah aliran kesusastraan yang mengutamakan perasaan yang melambung tinggi ke dalam fantasi dan cita-cita. yakni (1) idealisme. Hasil sastra Angkatan Pujangga Baru umumnya termasuk aliran ini. dan (2) materialisme. sehingga objek yang dikemukakan tidak lagi asli. Surealisme adalah aliran karya sastra yang melukiskan berbagai objek dan tanggapan secara serentak. Menurut aliran ini. Karya sastra bercorak surealis umumnya susah dipahami karena gaya pengucapannya yang melompat-lompat dan kadang terasa agak kacau.Tatengkeng. Dengarlah Keluhan Pohon Mangga karya Maria Amin dan Kisah Negara Kambing karya Alex Leo. Mistisisme selalu memaparkan keharuan dan kekaguman si penulis terhadap keagungan Maha Pencipta. Pada prinsipnya. Kesastraan – KKG 9 . Simbolik adalah aliran yang muncul sebagai reaksi atas realisme dan naturalisme. perhatian pada kepercayaan asli. (b) simbolik. tetapi telah bertambah dengan unsur perasaan si pengarang. dan Tumbang karya Trisno Sumardjo. Aliran ini kadangkadang berpadu dengan aliran idealisme dan realisme sehingga timbul aliran romantik idealisme. Bahrum Rangkuti. segala sesuatu yang terlihat di alam ini hanyalah merupakan bayangan dari bayangan abadi yang tidak terduga oleh pikiran manusia. aliran sastra dibedakan menjadi dua bagian besar.E. penekanan pada kespontanan dalam pikiran. Romantisisme adalah aliran karya sastra yang sangat mengutamakan perasaan. Pengarang berupaya menampilkan pengalaman batin secara simbolik.Dengan kata lain. Aliran idealisme ini dapat dibagi menjadi (a) romantisisme. dan (d) surealisme. Sementara romantik realisme mengutamakan perasaan yang bertolak dari kenyataan (contoh: puisi-puisi Chairil Anwar dan Asrul Sani). dan romantik realisme. dan J. aliran sangat erat hubungannya dengan sikap/jiwa pengarang dan objek yang dikemukakan dalam karangannya. tindakan. Contoh karya sastra yang beraliran ini misalnya Tinjaulah Dunia Sana. minat pada pemandangan alam. Mistisisme adalah aliran kesusastraan yang bersifat melukiskan hubungan manusia dengan Tuhan. Aliran ini selalu menggunakan simbol atau perlambang hewan atau tumbuhan sebagai pelaku dalam cerita.

Ada tiga paham yang berkembang dari aliran realisme (1) saintisme (hanya sains yang dapat menghasilkan pengetahuan yang benar). seperti: naturalisme. dan determinisme. Impresionisme adalah aliran kesusastraan yang memusatkan perhatian pada apa yang terjadi dalam batin tokoh utama. Realisme adalah aliran karya sastra yang berusaha menggambarkan/ memaparkan/ menceritakan sesuatu sebagaimana kenyataannya. D. Puisi Puisi adalah karya sastra yang khas penggunaan bahasanya dan memuat pengalaman yang disusun secara khas pula. dan drama. Dalam kesusastraan. 1. Aliran ini umumnya lebih objektif memandang segala sesuatu (tanpa mengikutsertakan perasaan). (2) positivisme ( menolak metafisika. Plato dalam teori mimetiknya pernah menyatakan bahwa sastra adalah tiruan kenyataan/ realitas. aliran ini dapat dibedakan atasrealisme dan naturalisme. Beberapa pengarang Pujangga Baru memperlihatkan impresionisme dalam beberapa karyanya. hanya pancaindra kita berpijak pada kenyataan). Kesastraan – KKG 10 . Susunan kata dalam puisi relatif lebih padat dibandingkan prosa. Realisme sosialis adalah aliran karya sastra secara realis yang digunakan pengarang untuk mencapai cita-cita perjuangan sosialis. yakni pengalaman kemanusiaan dalam segala wujud dan dimensinya. Impresionisme lebih mengutamakan pemberian kesan/pengaruh kepada perasaan daripada kenyataan atau keadaan yang sebenarnya. Pembagian tersebut semata-mata didasarkan atas perbedaan bentuk fisiknya saja. Berikut ini dipaparkan ketiga bentuk karya sastra tersebut. Demikian pula komponen–komponen yang turut membangun karya sastra tersebut. Sebagaimana kita tahu. bukan substansinya.Materialisme berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang bersifat kenyataan dapat diselidiki dengan akal manusia. dan (3) determinisme (segala sesuatu sudah ditentukan oleh sebab musabab tertentu). Genre Sastra Karya sastra menurut genre atau jenisnya terbagi atas puisi. Aliran ini berkembang dari realisme. Substansi karya sastra apa pun bentuknya tetap sama. Kehadiran kata-kata dan ungkapan dalam puisi diperhitungkan dari berbagai segi: makna. Berangkat dari inilah kemudian berkembang aliran-aliran. Naturalisme adalah aliran karya sastra yang ingin menggambarkan realitas secara jujur bahkan cenderung berlebihan dan terkesan jorok. Pengalaman batin yang terkandung dalam puisi disusun dari peristiwa yang telah diberi makna dan ditafsirkan secara estetik. Pengenalan terhadap ciri-ciri bentuk sastra ini memudahkan proses pemahaman terhadap maknanya. prosa.

waktu. puisi yang diciptakan oleh masyarakat lama. dan sikap penyair. seperti pantun. Fungsi emotif mengacu pada fungsi bahasa untuk menggambarkan. dan bukan terletak pada jumlah bait dan larik yang membangunnya. kata-kata puisi harus pula mampu membangkitkan tanggapan rasa pembacanya. Kontak ini bisa terjadi apabila pembaca memahami kode kebahasaan ataupun sistem tanda dalam puisi yang diapresiasi. Dari segi bentuknya kita mengenal puisi terikat dan puisi bebas. bentuk komunikasi dalam sastra juga bersifat khas karena (1) tidak mempunyai bentuk hubungan timbal balik antara penutur dan penanggap secara langsung. misalnya tempat. puisi bebas atau yang lebih dikenal sebagai puisi modern yang mulai muncul pada masa Pujangga Baru dan dipopulerkan oleh Angkatan 45 yang dipelopori oleh Chairil Anwar. dan (6) konatif (Jacobson. rasa. Puisi modern dilahirkan dalam semangat mencari kebebasan pengucapan pribadi. Dengan demikian. (5) metalingual. Puisi terikat dapat dikatakan sebagai puisi lama. karena komunikasi sastra tidak lagi terikat oleh konteks hubungan langsung. perasaan. Kata-kata dalam puisi harus mampu diboboti oleh gagasan yang ingin diutarakan penyair sehingga kata sebagai alat benar-benar difungsikan secara memadai. Kebebasan penyair untuk memperlakukan bahasa sebagai bahan puisi itu dalam istilah kesusastraan dikenal sebagai lisentia poetica. karya sastra puisi dapat disikapi sebagai salah satu ragam penggunaan bahasa dalam kegiatan komunikasi. peristiwa. membentuk dan mengekspresikan gagasan. (3) puitik. Kesastraan – KKG 11 . dan jangkauan simboliknya. benda ataupun kenyataan tertentu sejalan dengan gagasan. Akan tetapi. 1984:17). dan (3) berbeda dengan komunikasi lisan. (2) pemahaman pesannya telah mengalami otonomisasi karena pemahaman pesan tidak terjadi secara otomatis. Untuk mengapresiasi suatu puisi seorang pembaca harus menciptakan kontak. (4) fatis. dan peristiwa. dan kepadatan ucapan. Sebagai sistem tanda.. nada. Hanya melalui hubungan yang demikian komunikasi dapat berlangsung dan karya sastra mendapatkan maknanya. syair. (2) referensial. Puisi baru. Istilah ini menyiratkan adanya semacam kewenangan bagi penyair untuk mematuhi atau menyimpangi norma ketatabahasaan. keselarasan. Pematuhan dan penyimpangan ini haruslah mempertimbangkan tercapainya kepuitisannya. nilai puisi modern dapat dilihat pada keutuhan. Puisi modern dapat dianggap sebagai bentuk pengucapan puisi yang tidak menginginkan pola-pola estetika yang kaku atau patokan-patokan yang membelenggu kebebasan jiwa penyair. pendapat. ritme. Fungsi referensial mengacu pada fungsi bahasa untuk menggambarkan objek. dalam arti membaca teks sastra dan melakukan penghayatan. Gejala komunikasi seperti di atas dapat dihubungkan dengan sejumlah fungsi bahasa seperti fungsi (1) emotif.dan gurindam. rima.citraan. Di samping itu. dalam Teeuw.

dan sikap yang kita sampaikan. Kesastraan – KKG 12 . Unsur keindahan bunyi dalam puisi juga ditunjang oleh penggunaan unsur bunyi yang juga mempunyai berbagai macam karakteristik. Jelasnya suatu puisi akan memanfaatkan (1) bunyi bahasa. Fungsi fatis. Untuk memahami makna binatang jalang misalnya. Di dalam karya sastra penggunaan bahasa yang berkaitan dengan fungsi fatis bisa juga muncul apabila penggunaan bahasa itu hanya sekedar hiasan. imbauan. atau sekedar kelayakan saja. misal ketika kita membaca tulisan “Awas jalan licin” mungkin secara refleks kita akan mengurangi kecepatan dalam berkendaraan atau berjalan. pengertian tersirat. sarana pemandu bunyi. ataupun dorongan tertentu penanggapnya. Fungsi konatif berisi konsepsi bahwa peristiwa bahasa dalam komunikasi berfungsi menimbulkan efek. Dalam membaca karya sastra. dan nilai kehidupan. Selain komponen makro kita juga mendapatkan komponen mikro. misalnya dalam pernyataan Aku ini binatang jalang di tengah kumpulan terbuang. disonansi. tidak terikat. contoh dari pernyataan tersebut. dan irama. gagasan. seperti asonansi. sistem tanda yang terwujud dalam bentuk teks yang menjadi sarana kontak dengan pembaca (penerima). mengacu pada konsepsi bahwa bentuk kebahasaan yang digunakan dalam komunikasi juga bisa digunakan untuk fungsi mempertahankan hubungan. kita akan menemukan makna literal. ketika kita membawa keranjang belanjaan. tentang nilai kehidupan yang mendorong kesadaran batin pembaca untuk melakukan ataupun menghayati pemahaman yang diperoleh itu dalam kehidupan seharihari. konteks. tidak tergantung pada yang lain) dan sebagainya sebagai pemaknaan dari binatang jalang. Berdasarkan uraian di atas. Untuk memahami makna puisi. aliterasi. Contoh dari pernyataan di atas. (2) katakata atau diksi. yakni komponen yang membentuk puisi sebagai teks secara internal. Ketika membaca larik puisi Aku ini binatang jalang. Hal ini berguna untuk menciptakan kesan keakraban ataupun menciptakan bentuk-bentuk hubungan tertentu. dan (3) penggunaan gaya bahasa untuk menciptakan kontak dengan pembacanya. Makna literal merupakan makna yang digambarkan oleh kata-kata dalam puisi seperti lazim dipersepsikan dalam kehidupan sehari-hari. rima. kita mungkin mendapat pertanyaan. kuat. liar.perasaan. Fungsi puitik yakni fungsi bahasa untuk menggambarkan makna sebagaimana terdapat dalam lambang kebahasaan itu sendiri. “Dari pasar?” Kita tentunya hanya menjawab “Ya!” karena ujaran tersebut hanya untuk menciptakan keakraban atau hubungan sosial dan tidak mempunyai gagasan atau konsepsi apapun. pembaca dapat menggambarkannya sebagai (mahluk bernyawa. dapat kita pahami bahwa puisi sebagai suatu struktur makro keberadaannya terkait dengan penyair. misalnya. Contoh dari pernyataan di atas misalnya. fungsi konatif itu berkaitan dengan efek pemahaman. pendapat.

Untuk memahami nilai kehidupan tentu saja kita harus memahami makna yang terdapat dalam puisi tersebut. Novel adalah cerita fiksi yang mengisahkan perjalanan hidup para tokohnya dengan segala liku-liku perjalanan dan perubahan nasibnya. novelet. Prosa Prosa merupakan jenis karya sastra dengan ciri-ciri antara lain (1) bentuknya yang bersifat penguraian. Guna memahami pengertian tersiratnya kita mestilah memahami gambaran ciri singa ataupun harimau yang layak diperbandingkan atau dihubungkan dengan ciri yang tedapat pada manusia. menggambarkan aku seperti singa atau harimau memuat pengertian yang tersirat. (e) amanat. (f) sudut pandang. Namun. manfaat itu berlaku juga bagi kehidupan manusia pada umumnya.Yassin adalah cerpen. kata aku akan memberikan gambaran seseorang sebagai persona. (b) alur. novel. Sementara kata binatang jalang membentuk gambaran dari sesuatu yang disebut binatang jalang. Dengan begitu. Pembagian bentuk prosa seperti yang dikemukakan oleh H. dengan latar dan tahapan tertentu yang sering disebut dengan cerita rekaan. cerpen adalah cerita fiksi yang habis dibaca dalam sekali duduk. (g) dan gaya bahasa. tentu saja tidak memuat informasi ataupun pengertian bahwa ’aku ini merupakan hewan harimau”. Jadi jelas pemahaman nilai-nilai kehidupan memang benarbenar memiliki relevansi dengan kenyataan kehidupan sehari-hari. Unsur-unsur cerita rekaan antara lain sebagai berikut (a) tokoh dan penokohan. (d) tema. isi cerita. (c) latar. Larik puisi Aku ini binatang jalang. Menurutnya. misalnya penyair. Bentuk ini merupakan rangkaian peristiwa imajinatif yang diperankan oleh pelaku-pelaku cerita. sedangkan roman adalah cerita fiksi yang mengisahkan tokoh-tokohnya sejak kanak-kanak sampai tutup usia. Bentuk ini terbagi atas kategori cerita pendek. Kesastraan – KKG 13 . Apabila hal tersebut dilaksanakan dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari. tetapi mengambil ciri singa yang menggambarkan kekuatan. 2. dan roman. Jadi.B. keberanian. Dengan kata lain. seperti pengarang. telanjang. Gambaran bahwa aku merupakan binatang jalang hanya merupakan perbandingan atau metafora aku layaknya atau bagaikan binatang jalang. (2) adanya satuan-satuan makna dalam wujud alineaalinea. yang semuanya saling berhubungan sehingga membentuk satu cerita yang utuh. panjang pendeknya cerita tidak dapat dijadikan patokan. harimau. bahasa dan unsur-unsur fiksi. ia juga harus memiliki unsur-unsur. berkeliaran. dan (3) penggunaan bahasa yang cenderung longgar. sekarang ini istilah roman sudah jarang digunakan karena dianggap sama dengan novel. Dalam kesadaran batin pembaca mungkin akan muncul gambaran hewan yang disebut singa.misalnya. dan novel. atau hewan yang dapat dikategorikan sebagai binatang jalang. dan sebagainya. suka makan daging mentah. kita tidak akan mengangkat ciri singa yang mempunyai kaki empat. Sebagai cerita rekaan.

alur. karakter tokoh langsung ditunjukkan oleh pengarangnya melalui narasi. Jika dicermati secara saksama. Unsur-unsur ini harus ada karena akan menjadi kerangka dan isi karya tersebut. Drama Pada dasarnya drama tidak jauh berbeda dengan karya prosa fiksi. yakni (1) sastra. dan mencakup peristiwa yang terbatas pula.Cerpen biasanya memiliki alur tunggal. yakni aspek cerita dan aspek pementasan yang berhubungan dengan seni lakon atau teater. tokoh. Itulah sebabnya. Tujuan utama penulisan naskah drama adalah untuk dipentaskan. Kesastraan – KKG 14 . sebulan. misalnya sosial. misalnya semalam. Kualitas tokoh dalam cerpen jarang dikembangkan secara penuh. sudut pandang. Drama sebenarnya memiliki tiga dimensi. seperti: tema. Novel memungkinkan kita untuk menangkap perkembangan kejiwaan tokoh secara lebih komprehensif dan memungkinkan adanya penyajian secara panjang lebar mengenai permasalahan manusia. manusia dengan masyarakat. dan gaya bahasa. sebagaimana rumah. Peranan tokoh tidak statis. pelaku terbatas (jumlahnya sedikit). Sementara itu. manusia dengan alam semesta. Unsur-unsur pembangun karya sastra lazim disebut dengan unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Novel memiliki peluang yang cukup untuk mengeksplorasi karakter tokohnya dalam rentang waktu yang cukup panjang dan kronologi cerita yang bervariasi (ganda). (2) gerakan. juga dibangun oleh unsur-unsur yang mendukung keberadaannya. yakni pada tujuannya. politik. cerita pendek biasanya mencakup rentang waktu cerita yang pendek pula. Faktor ekstrinsik tidak menjadi penentu yang menggoyahkan karya sastra. unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berasal dari luar karya sastra. bagi pembaca. permasalahan yang diangkat menjadi tema-tema novel umumnya jauh lebih kompleks dan rumit bila dibandingkan dengan cerpen. Kesamaan itu berkaitan dengan aspek kesastraan yang terkandung di dalamnya. Semi (1988) menyatakan bahwa drama adalah cerita atau tiruan perilaku manusia yang dipentaskan. hal tersebut tetap penting untuk diketahui karena akan membantu pemahaman makna karya sastra. agama. ada perbedaan esensial yang membedakan antara karya drama dan karya prosa fiksi. Karena serba dibatasi. Akan tetapi. tokoh dalam cerpen biasanya langsung ditunjukkan karakternya. Keterbatasan dan keleluasaan juga membawa konsekuensi pada rincian-rincian yang sering menjadi bumbu cerita. Artinya. dan filsafat. latar. Novel memiliki durasi cerita yang lebih panjang dibandingkan dengan cerpen. atau setahun. Permasalahan hidup manusia yang menjadi sumber inspirasi penulis sangatlah rumit dan kompleks. ekonomi. Menurut Sumardjo dan Saini (1985) yang dimaksud dengan unsur intrinsik adalah unsurunsur yang berasal dari dalam karya sastra itu sendiri. mengingat tidak ada karya sastra yang lahir dari kekosongan budaya. deskripsi. seminggu. dan manusia dengan dirinya sendiri. amanat. Jika dipetakan pemasalahan itu meliputi hubungan antarmanusia dengan Tuhan. atau dialog. Di samping itu. Namun. drama memiliki dua aspek esensial. budaya. Demikianlah sebuah karya sastra. 3. sehari. tetapi bergerak dalam pergerakan waktu.

dan (3) ujaran. tetapi lebih daripada itu dalam penciptaan naskah drama sudah dipertimbangkan aspek-aspek pementasannya. Dalam hampir setiap naskah drama selalu ditemukan narasi. dan arahan tentang petunjuk lakuan atau akting. Oleh karena itu. dialog. Kesastraan – KKG 15 . naskah drama tidak disusun khusus untuk dibaca seperti cerpen atau novel.

digambarkan. dan teori sastra. (1) Pembelajaran sastra berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa pada budaya bangsa. dan tertekan. dan menulis.BAB III PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA A. dibahas hal-hal apa yang dikisahkan. dan sajak. serta hal-hal yang menarik dari puisi tersebut. serta bagaimana nada penuturannya. misalnya: sedih. Pembelajaran Apresiasi Puisi Pembelajaran apresiasi sastra meliputi pembelajaran apresiasi puisi. Pembelajaran apresiasi puisi dapat dilakukan dengan memadukannya dengan empat aspek keterampilan berbahasa. siswa tidak hanya sekadar sebagai penikmat hasil sastra (pembaca atau pendengar) saja namun siswa juga dituntut untuk kreatif menulis. Puisi yang telah dibaca didiskusikan dari berbagai segi yang menarik untuk didiskusikan. berbicara. juga apakah amanat dalam puisi tersebut tersirat ataukah tersurat. dibicarakan tentang apa yang ingin dibicarakan penyair melalui puisi tersebut. menciptakan puisi. rindu. aliran. pokok yang diungkapkan. misalnya: dibahas siapa yang bertutur dan kepada siapa dia bertutur. mendeklamasikan. sudut penuturan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut. sudut pandang. (3) Pembelajaran apresiasi sastra bukan pelajaran sejarah. (4) Pembelajaran apresiasi sastra adalah pembelajaran untuk memahami nilai kemanusiaan di dalam karya yang dapat dikaitkan dengan nilai kemanusiaan di dalam dunia nyata. Dalam pembelajaran apresiasi sastra. Tentang sudut penuturan. dan mendiskusikan tema. Setelah siswa membaca/mendeklamasikan puisi tentu siswa memperoleh pengalaman tentang isi. amanat. dan sebagainya. larik. dan drama. dibicarakan tentang perasaan yang terlibat di dalamnya. puisi. maupun drama. Misalnya: wujudnya. benci. keindahan bahasa. Tentang wujud puisi. membaca. bahasa. prosa. atau didialogkan. dibahas antara lain: bait. baik prosa. Tentang amanat. Tentang perasaan. (2) Pembelajaran sastra memberikan kepuasan batin dan pengayaan daya estetis melalui bahasa. Kegiatan yang dilakukan siswa antara lain berikut ini: (1) Puisi yang telah disiapkan guru (dapat juga yang telah ditulis oleh siswa) dibaca oleh siswa atau dideklamasikan siswa. dan gaya bahasa yang digunakan. yakni: mendengarkan. Pada pembelajaran apresiasi puisi yang berkaitan dengan tujuan tersebut dapat dilakukan dengan cara membaca. (2) Kesastraan – KKG 16 . perasaan yang terlibat di dalamnya. Ada beberapa prinsip dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra. gembira. tema. Tentang pokok yang diungkapkan.

apakah alur. tema. dapat juga dilakukan kegiatan menulis puisi yang sesuai dengan tema yang ditentukan atau dipilih siswa. tokoh. Untuk menulis puisi bukanlah pekerjaan yang mudah. Puisi yang mereka tulis dapat dipajang di majalah dinding atau majalah sekolah. Kebermaknaan sebuah puisi dapat dilakukan dengan memadukan bidang seni lain.(3) Setelah dilakukan pembahasan puisi tersebut dibaca lagi. atau memberi tanda bagian yang menarik perhatiannya di dalam cerpen yang dibacanya. Mengingat membaca cerpen memerlukan waktu yang cukup lama. (2) Membahas konflik yang terdapat dalam cerita pendek atau novel/ roman. persiapan siswa juga diperlukan. Pembelajaran Apresiasi Prosa Pembelajaran prosa yang ditawarkan antara lain sebagai berikut: (1) Membaca cerita pendek atau novel dan mendiskusikan cara penyampaian pesan atau amanat yang terdapat dalam karya sastra tersebut. teknik yang dapat dilakukan guru di sekolah adalah musikalisasi puisi. Pada waktu membaca. diperlukan dulu membaca di luar jam tatap muka di kelas (misalnya dengan tugas membaca di rumah). Keterpaduan lain yang dapat dilakukan adalah keterpaduan antara seni lukis dengan puisi. dinikmati lagi secara utuh. misalnya. guru harus memperhitungkan waktu yang tersedia dalam kegiatan pembelajaran tersebut. Kesastraan – KKG 17 . (4) Demikian kemungkinan penyajian bahan pengajaran puisi di sekolah. Hasil pembahasan puisi itu dihubungkan pula dengan kehidupan masingmasing siswa sehingga puisi menjadi lebih bermakna dalam kehidupan mereka sehari-hari. atau amanat dalam prosa tersebut. Selain itu. Misalnya. Gagasan pokok tersebut ibarat niat guru dalam membelajarkan siswa di dalam pembentukan moral. Untuk musikalisasi puisi ini diperlukan alat-alat musik yang dikuasai siswa. siswa ditugasi memberi tanda pada bagian-bagian yang perlu dipertanyakan. tetapi perlu motivasi yang tinggi oleh guru untuk membangkitkan semangat menulis puisi. Pada kegiatan tersebut guru menandai bagian mana yang akan didiskusikan dengan siswanya. Untuk pencapaian penulisan kreatif. Dengan demikian diharapkan pemahaman yang lebih tinggi lagi serta pemahaman yang lebih jelas tentang puisi yang akan dibaca. dapat ditulis dengan sebuah puisi yang berkaitan dengan bunga tersebut sehingga ekspresi kedua bidang seni lebih terasa. Selain persiapan guru. Kegiatan awal yang dilakukan guru adalah mempersiapkan cerpen atau novel yang akan digunakan sebagai bahan pembelajaran apresiasi prosa. Sebuah lukisan bunga. pembentukan kepribadian siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran sastra di dalam kurikulum. yaitu perpaduan antara seni musik dan seni sastra di kalangan siswa. B. sudut pandang. Hal lain yang penting adalah adanya gagasan pokok yang akan disampaikan kepada siswa yang merupakan acuan ke arah pembentukan moral mereka.

Dari sudut pandang siapa peristiwa itu diceritakan pengarang? b. dapat didiskusikan sebagai berikut: a. Apakah amanat tersebut secara tersurat atau tersirat? c. bawahan atau tambahan? b. dan suasana). di kelas berlangsung kegiatan diskusi tentang cerpen tersebut. Kelancaran diskusi tentang kesan yang dipelajari sangat tergantung pada aktivitas yang dilancarkan guru dalam menggiring pertanyaan-pertanyaan yang membangkitkan apresiasi siswa. Apakah amanat yang ada dalam cerita? b. Pertanyaan yang diajukan tidak hanya pertanyaan yang bersifat kognitif. Peristiwa cerita. Pada suasana apa peristiwa itu terjadi? 4. dapat dimulai dengan cara mengajukan pertanyaan berikut: a. tempat. Latar (waktu.Setelah guru dan siswa mempunyai kesiapan untuk pembelajaran cerpen. siapakah yang disebut sebagai tokoh protagonis dan antagonis? d. adakah tokoh seperti itu? 3. Mengapa disebut tokoh protagonis dan antagonis? e. Peristiwa apa yang dikemukakan pengarang untuk mengawali ceritanya? b. kegiatan diskusi dapat dilakukan sebagai berikut: a. Adakah hubungan antara peristiwa-peristiwa tersebut? 2. siapa tokoh utama. Apa peristiwa selanjutnya? c. Tokoh dan penokohan. Kesastraan – KKG 18 . diskusi dapat dilakukan dengan cara berikut: a. Apa yang menjadi bukti bahwa tema tersurat dalam cerita? 6. Rambu-rambu tersebut antara lain: 1. Melihat para tokoh. Apakah amanat tersebut dapat diterima dalam kehidupan sehari-hari? 7. tetapi juga pertanyaan yang bersifat afektif dan psikomotor. Apa tema cerita? b. Di mana peristiwa itu terjadi? b. diskusi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Hal ini tentunya guru sudah mempersiapkan rambu-rambu dalam kegiatan diskusi tersebut. Mengapa disebut sebagai tokoh utama atau tambahan? c. Di bagian mana tersirat tentang tema? c. Kapan peristiwa itu terjadi? c. Amanat. Dari sudut fungsiya. dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Kesan Apa kesan siswa tentang cerita yang didiskusikan merupakan pertanyaan untuk membangkitkan perasaan siswa terhadap isi cerita. Berapa lama peristiwa itu berlangsung? d. Jika dikaitkan dengan kehidupan nyata. Tema. Bukti-bukti apa yang memperlihatkan sudut pandang tersebut? 5. Sudut pandang.

C.

Pembelajaran Apresiasi Drama

Drama adalah salah satu genre sastra yang berada pada dua dunia seni, yaitu seni sastra dan seni pertunjukan atau teater. Orang yang melihat drama sebagai seni sastra menunjukkan perhatiannya pada seni tulis teks drama yang dinamakan juga dengan seni lakon. Teknik penulisan teks drama berbeda dengan teknik penulisan puisi atau prosa. Orang yang menganggap drama sebagai seni pertunjukan (teater) fokus perhatiannya ditujukan pada pertunjukannya atau pementasannya, tidak semata pada teksnya saja. Teks sastra menurut pandangan mereka hanyalah bagian dari seni pertunjukan yang harus berpadu dengan unsur lainnya, yaitu: gerak, suara, bunyi, musik, dan rupa. Bahkan sumber ekspresi seni pertunjukan tidak hanya teks drama melainkan juga teks-teks lainnya di luar unsur sastra, seperti: teks pidato, pledoi, dan penyidikan, berita di media massa, esai, dan lain-lain. Baik drama sebagai karya sastra maupun sebagai bagian dari kelengkapan teater, teks drama selalu mengarah pada pementasan. Hal inilah yang membedakan genre sastra drama dengan genre sastra puisi maupun prosa fiksi. Arah terhadap pementasan itu menyebabkan drama identik dengan pementasan. Berdasarkan pembelajaran yang ditawarkan, guru dapat merancang pembelajaran drama yang mengajak siswa beraktivitas dengan kegiatan drama. Misalnya, guru akan melaksanakan pembelajaran menulis pengalaman yang manarik dalam bentuk drama. Untuk menulis naskah drama tentunya diperlukan pemahaman tentang unsur-unsur yang terdapat di dalam teks drama. Sebagai sebuah teks sastra, drama merupakan suatu genre sastra yang mempunyai konvensi (kaidah) yang dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar. Pertama, yang berhubungan dengan kaidah bentuk, yaitu adanya alur dan pengaluran, tokoh dan penokohan, latar ruang dan waktu, serta perlengkapan (sarana). Kedua, yang berhubungan dengan kaidah stilistika, yaitu bahasa serta dialog yang digunakan sesuai dengan lingkungan sosial, watak yang diemban tokoh, serta amanat yang disampaikan melalui dialogdialog yang dikemukakan. Di sisi lain, mengemukakan, dalam memahami teks drama terdapat empat kualifikasi yang perlu diperhatikan. Keempat kualifikasi tersebut adalah: (1) isi dramatik, (2) bahasa dramatik, (3) bentuk dramatik, dan (4) struktur dramatik. Isi dramatik adalah gagasan yang akan dikemukakan dalam drama. Misalnya, “Sepandai-pandai tupai melompat sekali jatuh juga”. Dari gagasan tersebut, dapat dikembangkan sebuah drama bagaimana seseorang harus berjalan pada jalan yang benar, tidak sombong, karena manusia mempunyai kelemahan. Bahasa dramatik adalah bahasa drama yang digunakan, apakah bahasa prosaik, puitik, atau sosiologik yang akan digunakan.

Kesastraan – KKG

19

Bentuk dramatik adalah ragam ekspresi, gaya ekspresi, dan plot literer. Ragam ekspresi yang digunakan secara umum adalah tragedi, komedi, tragedi-komedi, melodrama, dan banyolan (force). Gaya ekspresi adalah visi dan pandangan penulis yang penuangannya sesuai dengan paham atau aliran yang dianut pengarang. Plot literer adalah plot yang terdapat dalam teks drama. Struktur dramatik adalah perkembangan antara konflik yang muncul, memuncak, dan berakhir. Penampilan bentuk fisik teks drama yang berbeda dengan teks pada fiksi adalah dialog. Melalui dialoglah berkembangnya jalan cerita. Penunjukan tentang latar yang dikehendaki dituliskan dengan rinci. Berdasarkan atas pandangan tentang struktur drama, siswa dapat mengembangkan pengalamannya yang menarik untuk dituliskan menjadi sebuah teks drama. Mereka bebas memilih tokoh yang akan dituangkan dalam dialognya. Demikian juga dengan latar yang dikehendakinya. Kebebasan berekspresi dalam drama akan dapat membangkitkan aktualisasi diri mereka.

Kesastraan – KKG

20

BAB IV EKSPRESI KARYA SASTRA
A. Ekspresi Puisi

1. Menulis Puisi Ekspresi tulis puisi adalah segala kegiatan yang memungkinkan kita mendapatkan pengalaman artistik dalam menulis puisi. Pada saat Anda menemukan peristiwa yang luar biasa, misalnya jatuhnya pesawat terbang, gerhana matahari total, atau gelapnya siang hari karena letusan sebuah gunung berapi, perasaan apa yang ingin Anda ungkapkan? Apabila Anda mendapatkan hadiah undian ratusan juta rupiah atau bertemu dengan saudara yang telah beberapa tahun menghilang, perasaan apa yang akan Anda luapkan? Sedih, gembira, bahagia, atau campuran dari semuanya? Pengalaman tersebut merupakan bahan berharga apabila diekspresikan melalui puisi. Barangkali kita tidak dengan sengaja menulisnya sebagai puisi karena hanya menuangkannya, misalnya, ke dalam buku harian. Cobalah buka kembali buku harian Anda. Mungkin Anda akan terkejut karena di sana Anda telah menguntai kata dan kalimat secara emotif. Hal itu tidak saja karena Anda telah mengekspresikan diri Anda sendiri, namun kondisi manusia sebagai homo ludens ‘makhluk bermain’ dan homo fabulans ‘makhluk bersastra’ mendorong kita untuk melakukan semua itu. Apabila kegiatan menulis buku harian itu kita lakukan sebagai pengisi waktu luang, kini kita akan mencoba berekspresi secara khusus, yaitu dengan menulis puisi lama dan modern. Kegiatan ini, meskipun khusus menulis puisi, hendaknya jangan dianggap terlalu serius. Yang penting adalah mengembangkan imajinasi dan emosi kreatif kita dengan sarana puisi yang sudah kita kenal, yaitu puisi lama dan puisi modern. a. Menulis Puisi Lama Puisi lama merupakan puisi yang terikat oleh syarat-syarat, seperti jumlah larik dalam setiap bait, jumlah suku kata dalam setiap larik, pola rima dan irama, serta muatan setiap bait. Silakan Anda perhatikan puisi lama berikut: dari mana datangnya lintah dari sawah turun ke kali dari mana datangnya cinta dari mata turun ke hati. Puisi di atas adalah salah satu bait puisi lama dalam bentuk pantun. Apabila Anda akan menulis puisi lama dengan bentuk demikian, syaratsyarat yang harus Anda patuhi adalah jumlah larik dalam setiap baitnya harus berjumlah empat, jumlah suku kata dalam setiap lariknya harus antara

Kesastraan – KKG

21

dan pantun berkait. namun dengan tambahan. syair. rubai. Perhatikanlah pantun berikut. dan mantra. pantun dapat terbagi ke dalam pantun biasa. Penyebutan puisi lama disebabkan adanya fenomena puisi setelahnya yang dianggap baru. amanat. Pantun biasa pun dapat selesai hanya dengan satu bait. kita akan menekuninya sebagian saja. sedangkan dua larik terakhir mesti memuat isi. Perhatikanlah beberapa karmina berikut: Kesastraan – KKG 22 . Meskipun bentuk puisi lama cukup banyak. Berdasarkan struktur dan persyaratannya. talibun. Namun. terutama yang masih memengaruhi penulisan puisi modern. Baitnya terdiri atas empat larik dengan rima akhir a-b-a-b. gurindam. syarat-syarat tersebut karena dijadikan sarana dalam berekspresi secara berulang-ulang. Pantun kilat atau karmina memiliki syarat-syarat serupa dengan pantun biasa. Di sisi lain. mantra. Pantun biasa adalah pantun seperti kita kenal lazimnya dan rincian persyaratannya telah kita singgung di atas. dan peribahasa.delapan dan dua belas. Setiap larik biasanya terdiri atas empat kata atau delapan sampai dengan 12 suku kata dan dengan ketentuan bahwa dua larik pertama selalu merupakan kiasan atau sampiran. nasihat. yang termasuk pantun biasa dan cukup populer karena dijadikan lirik sebuah lagu oleh Rhoma Irama: Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Perbedaan terjadi karena karmina sangat singkat. Karena tradisi ini menuntut orang mengingat dan menghafal. masnawi. pantun merupakan ragam puisi lama. demikian juga larik ke-2 dan larik ke-4). atau pesan pantun. sindiran. syair. dan teromba. yang lebih perlu Anda pahami adalah bahwa puisi lama merupakan pancaran masyarakat lama atau warisan budaya nenek moyang kita yang masih hidup dalam tradisi lisan. isinya berisi curahan perasaan. sementara isi atau maksud sesungguhnya terdapat dalam larik ketiga dan keempat. pantun kilat atau karmina. maka jadilah formula atau kaidah tetap yang menjadi ciri setiap bentuk puisi. yaitu pantun. dan dua larik pertama mesti memuat sampiran. makna. Bentuk lainnya yang juga termasuk puisi lama adalah bidal. seloka. maka wajar saja jika dalam puisi lama terkandung syarat-syarat tertentu. kithah. nazam. gazal. rimanya mesti berpola a-b-a-b (larik ke-1 dan larik ke-3 mesti sama. yaitu baitnya hanya terdiri atas dua larik sehingga sampiran dan isi terletak pada larik pertama dan kedua. (1) Pantun Seperti sudah disinggung sebelumnya.

Terlebih-lebih. Jangan lupa akan sembahyang. Pantun berkait. kita dapat menggantinya dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari. seperti berikut ini: Silau lentera di dalam tenda Tikus sawah di atap bambu Walau usia masihlah muda Lulus ujian tetaplah perlu. Kesastraan – KKG 23 . Siapa cepat tentu dapat. Contoh pantun di atas dapatlah dijadikan sebagian bukti. Ada budi ada balas. lelucon. Dalam acara rekreasi ke tempat objek wisata.Ada ubi ada talas. atau perpisahan. Anak ayam pulang ke kandang. kadang-kadang juga disebut dengan pantun berantai. aspek didikan dan hiburan sebagai fungsi sastra dalam mayarakat lampau kita tidak terpisahkan di dalamnya. dan banyolan yang dapat menyegarkan suasana. Di sela-sela kesibukan kuliah pun kita dapat membuat pantun. merupakan pantun yang sambung-bersambung antara bait satu dan bait berikutnya. larik kedua dan keempat setiap bait pantun akan muncul kembali pada larik pertama dan ketiga pada bait berikutnya: Tanam melati di rumah-rumah ubur-ubur sampingan dua Kalau mati kita bersama Satu kubur kita berdua. berbalas pantun melalui iringan gitar dapat pula dijadikan kegiatan pelepas lelah dan media berkenalan. dalam acara hiburan di salah satu televisi swasta. Satu dua tiga dan empat. tidak ada yang akan melarang apabila kita memanfaatkannya sebagai sarana pergaulan kini. Dengan catatan. Dengan pantun kita pun dapat memanfaatkan kelebihan dan kekurangan orang lain atau diri sendiri sebagai bahan gelak tawa. pantun yang bersifat humor telah menjadi paket acara tersendiri. ulang tahun. semua kita lakukan dengan tetap mengikuti formula dan syarat-syarat sebuah pantun. Ubur-ubur sampingan dua Tanam melati bersusun bangkai Satu kubur kita berdua Kalau boleh besusun bangkai Meskipun pantun merupakan puisi lama. Tentunya. Apabila kata-kata dalam contoh pantun tersebut dianggap terlalu arkais dan kemelayu-melayuan. Misalnya.

Seperti halnya pantun. Jangan lupa kita kuliah. apabila orang akan bercerita. maka antara bait yang satu dan bait lainnya biasanya terangkai sebuah cerita. maka syair berpola a-a-a-a. Syair Abdul Muluk. atau dapat juga rekaan semata dari pengarangnya. syair adalah pilihan yang tepat. Apabila pantun berpola a-b-a-b. Syair Bidasari.Burung perkutut di atas galah Bayu cendana dibuat bangku Tuntut ilmu tiada lelah Jadi sarjana cita-citaku Apabila formula pantun di atas dianggap cukup panjang. kita dapat memanfaatkan karmina sebagai alat pergaulan. Seorang ketua tingkat dapat pula menempelkan secarik kertas di papan pengumuman dengan karmina berikut: Makan kupat disiram kuah. Dengan kata lain. Akan tetapi. Syair Singapura Dimakan Api karya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Syair Ken Tambunan. Karena bait syair terdiri atas isi semata. dan Syair Yatim Nestapa. perbedaan pantun dan syair terletak juga pada pola rima. Jadi. (2) Syair Syair bersumber dari kesusastraan Arab dan tumbuh memasyarakat sekitar abad ke-13. misalnya Syair Perahu karya Hamzah Fansuri. Cerita yang dikemas dalam bentuk syair biasanya bersumber dari mitologi. syair tidak pernah menggunakan sampiran. syair memiliki empat larik dalam setiap baitnya. larik-larik yang terdapat dalam syair memuat isi syair tersebut. religi. Biasanya para remaja menuliskan catatan tambahan dalam surat yang dituliskannya kepada seorang teman dengan karmina berikut: Empat kali empat enam betas. Syair yang cukup terkenal yang merupakan khazanah sastra nusantara. sejarah. seiring dengan masuknya agama Islam ke nusantara. Marilah kita sejenak memperhatikan beberapa bait pengantar Syair Burung Pungguk: Bismillah itu mulia dikata Limpah rahmat terang cuaca Berkat Mohammad penghulu kita Ialah penghulu alam pendeta Al rahman itu sifat yang sani Maknanya murah amat mengasihani Kepada mumin hati nurani Di situlah tempat mengasihani Kesastraan – KKG 24 . setiap larik terdiri atas empat kata atau antara delapan sampai dengan dua belas suku kata. Syair Burung Pungguk. Sempat tidak sempat harus dibalas.

Meskipun formula mantra tidak sekaku pantun dan syair. terdapat rayuan dan perintah. terdapat kecenderungan esoteris (khusus) dari kata-katanya. hakikat mantra itu sendiri adalah doa yang diucapkan oleh seorang pawang dalam keadaan trance 'kerasukan'. Sebagai contoh marilah kita perhatikan mantra berikut ini. mementingkan keindahan bunyi atau permainan bunyi. Pulanglah engkau kepada rimba sekampung. a. Karena keunikan itulah kita tidak dapat membandingkan bentuknya dengan puisi yang telah kita singgung sebelumnya. Pulanglah engkau kepada gunung guntung. kita perlu juga mengetahuinya sehingga memudahkan kita untuk menyusunnya. baik dengan pantun maupun syair. Masyarakat zaman dulu percaya bahwa mantra itu mengandung kekuatan gaib. d. Di dalam mantra yang penting bukan makna kata demi kata. untuk kepentingan ekspresi. merupakan sesuatu yang tidak dipahami oleh manusia karena merupakan sesuatu yang serius. mantra hanya dapat dilontarkan oleh orang yang dianggap telah memiliki syarat-syarat tertentu. melainkan kekuatan bunyi yang bersifat sugestif. b. e.Al rahim itu pengasihan kita Kepada Allah puji semata Itulah Tuhan yang amat nyata Memberi hambanya berkata-kata Dengarkan tuan suatu rencana Dikarang oleh dagang yang hina Sajaknya janggal banyak tak kena Dari pada akal belum sempurna (3) Mantra Mantra adalah rangkaian kata yang mengandung rima dan irama. merupakan sesuatu yang utuh. yang biasa diucapkan pawang ketika mengusir anjing galak. menggunakan kesatuan pengucapan. Kesastraan – KKG 25 . Pulanglah engkau kepada sungai yang tiada berhulu. ciri-ciri mantra adalah sebagai berikut. tidak ada salahnya apabila kita mencoba untuk membuat mantra. f. Pulanglah engkau kepada kolam yang tiada berorang. Menurut Junus (1983:135). Terlebih-lebih. Karakteristik mantra memang sangat unik. c. Mantra biasanya diucapkan oleh seorang dukun atau pawang untuk melawan atau menandingi kekuatan gaib lainnya. Pulanglah engkau kepada mata air yang tiada kering. Namun. Pulanglah engkau kepada rimba yang besar. yang tidak dapat dipahami melalui bagian-bagiannya. Namun.

khususnya pantun dan mantra.Jikalau kau tiada mau kembali. Kehidupan bumi. Seperti sudah berabad-abad. tidak berkawan. Entah ke mana aku tak tahu. Dalam kesunyian malam waktu. yang kecil amat. Apakah puisi ini berbentuk syair? Syair memang tidak memiliki Kesastraan – KKG 26 . Tidak berpawang. Kita kini mempelajarinya sebagai kegiatan kreatif dalam penulisan puisi. maka ada juga yang menyebutnya dengan "puisi mutakhir" dan "puisi kontemporer". Seperti bisikan angin di daun. puisi tersebut sama dengan pantun. b. maka ada juga orang yang menyebutnya dengan "puisi bebas". Jauh di atas bintang kemilau. Tidak berpawang. Menulis Puisi Modern Puisi modern dianggap berbeda dengan puisi lama sehingga ada yang menyebutnya dengan "puisi baru". Dalam pertumbuhan awal puisi modern kita masih dapat melihat pengaruh puisi lama di dalamnya. apabila kita telaah lebih lanjut ternyata di dalamnya tidak terdapat sampiran. Entah ke mana aku tak tahu. sebagai alat ucap puitiknya. Kita belajar untuk membuat mantra bukan karena kemanjuran dan daya gaibnya sebab anggapan seperti itu hanya terdapat dalam keyakinan dan kepercayaan nenek moyang kita dahulu. syair. per larik lebih kurang empat kata atau delapan sampai dengan dua belas suku kata dan berpola rima akhir a-b-a-b. Suaraku hilang dalam udara. matilah engkau. Apabila kita perhatikan selintas. Selain itu puisi modern adalah puisi yang ditulis kini dan ada di sekitar kita kini. Dengan damai mereka meninjau. Puisi di atas terdiri dari empat larik setiap baitnya. Alun membawa bidukku perlahan. Aku bernyanyi dengan suara. dan mantra. Terlebih-lebih puisi modern yang akan kita bicarakan nanti masih memanfaatkan puisi lama. seperti tampak dalam puisi Sanusi Pane berikut: DIBAWA GELOMBANG Alun membawa bidukku perlahan. Namun. Dalam laut yang beralun-alun. Puisi lama dengan puisi modern meskipun berbeda tidaklah bertolak belakang sepenuhnya. Karena puisi modern tidak terikat lagi oleh syarat-syarat seperti pantun. Dalam kesunyian malam waktu. tdak berkawan.

Sering saya susah sesaat. sebab laguku menurut sukma. namun justru untuk menunjukkan keadaannya yang abstrak. seperti karya Sutardji Calzoum Bachri. Hal itu dapat dianggap sebagai ironi atau kritik terhadap puisi lama. Lemah laun lagu dengungan. musti merantut undangan mair. dalam puisi-puisi mutakhir kini. akan tetapi rima akhirnya mesti berpola a-a-a-a. Dengan demikian puisi ini memang menggambarkan manusia secara konkret. BUKAN BETA BIJAK BERPERI Bukan beta bijak berperi. dan Sitor Situmorang pun masih menampakkan pengaruh itu. puisi ini menyimbolkan hidup manusia. matnya digamat rasaian waktu. Susah sungguh saya sampaikan. dapat melemah bingkaian pantun. Gambaran manusia seperti itu tampaknya bukanlah khusus ditujukan kepada pengarangnya sendiri melainkan untuk manusia pada umumnya. baik pantun maupun syair. dan Kesastraan – KKG 27 . Para penyair setelahnya. isi puisi di atas bukanlah cerita melainkan tumpahan rasa sebagai manusia yang tengah terombang-ambing sendirian di atas perahu dan di laut lepas. Dengan kata lain. degup-degupan di dalam kalbu. Sanusi Pane dan Rustam Effendi adalah sastrawan yang tergolong ke dalam Angkatan Pujangga Baru. seperti Chairil Anwar. sebab terkurang lukisan mamang. Ibrahim Sattah. Bukan beta budak Negeri. Bukan beta bijak berlagu. seperti tampak dalam puisi Rustam Effendi berikut. Bahkan. Sarat saraf saya mungkiri Untai rangkaian seloka lama. beta buang beta singkiri. Di samping itu ada juga penyair modern yang menunjukkan pembaharuan puisi dengan sarana estetika puisi lama. Asrul Sani. dan "Lagu Gadis Itali". Sering saya sulit menekat. Bukan beta berbuat baru. Kecanggihan semacam ini tampaknya tidak pernah terdapat dalam puisi lama. sebab madahan tidak nak datang. Akan tetapi pengaruh puisi lama terhadap puisi modern tidaklah berhenti pada angkatan tersebut. “Mantera". hanya mendengar bisikan alun. Angkatan ini hidup sekitar tahun 1930-an sampai dengan awal tahun 40-an. seperti tampak pada puisi "Beta Patti Rajawane”. Pandai menggubah madahan syair. Selain itu.sampiran.

Saat mendapatkan ratusan nama yang berhak mendapatkan hadiah undian sebuah produk sabun di sebuah surat kabar. ketika tengadah ke langit malam hari. kita akan bersama-sama mencoba untuk melatih imajinasi dan daya kreatif kita dengan mengikuti latihan berikut. Penyair Abdul Hadi W. seseorang takjub pada ribuan bintang yang tertebar di atas langit. tidaklah sia-sia kreativitas yang telah kita lakukan. "Saya paling suka menulis puisi jika hujan sedang turun atau sambil melihat kolam air yang memantulkan bayang-bayang benda di atasnya atau langit". Uraian di atas menunjukkan kepada kita bahwa untuk sampai pada pemahaman puisi modern. ed. kita dapat memulainya dengan menulis puisi lama. Manusia dapat saling mengenal dan menyapa karena memiliki nama.M. Dengan kata lain. 1972 (2) Mengurai Nama Diri Nama adalah identitas pokok diri kita. bunga melati. bintang. Sekarang marilah kita mempersiapkan diri untuk membuat puisi modern. Jika penyair saja menyukai objek yang kasatmata sebagai ilham bagi puisi-puisinya apalagi kita yang baru mau belajar. dan air terjun dapat menjadi bahan pokok puisi kita. karena kita tengah berlatih menulis puisi. tentu Anda tidak bergembira Kesastraan – KKG 28 . Misalnya.Hamid Jabbar unsur-unsur lama itu tampak sekali. deskripsi kita hendaknya dibangun dengan menggunakan bahasa yang bersifat emotif. 1984: 8) pernah berujar. Semua itu dapat membuktikan bahwa para penyair modern tidak membuang begitu saja warisan para pendahulunya. bintang! Kapan kau terhampar di tanah agar manusia tak kehilangan arah. kita dapat bertolak dari puisi lama. Jadi.. Kemudian. ia mendeskripsikannya melalui puisi berikut: Bintang kemerlap jauh di atas sana tertebar di langit hitam Bintang bertebaran ribuan jumlah berhamburan melimpah ruah Bintang. Cara yang mudah adalah dengan mendeskripsikan seluk-beluk objek tersebut. Akan tetapi. sebelum sampai pada proses kreatif penciptaan yang bersifat idividual. mereka masih tetap mempertimbangkan tradisi para pendahulunya. (1) Mendeskripsikan Objek Konkret secara Emotif Objek konkret yang kita inderai seperti: kucing peliharaan. Namun. laut. gunung. serta titik tolak penciptaan puisinya. bahan pengalaman artistik dan estetik. Betapa kecewanya seseorang saat namanya tidak tercantum dalam daftar orang-orang yang berhak mengikuti ujian. Demikian pula untuk sampai pada penulisan puisi modern. melainkan menjadikannya sebagai sarana. (dalam Eneste.

Misalnya. Anda dapat saja menulis puisi berdasarkan tokoh tersebut.karena nama Anda tidak tercantum di dalamnya. Caranya. tokoh dalam sejarah. Mitologi. atau mitologi dapat juga kita jadikan bahan penulisan puisi. wayang. kembangkanlah imajinasi dan kreativitas Anda untuk melanjutkan setiap inisial atau huruf awal tersebut. aku undang semua teman dan saudara (3) Menulis Puisi Berdasarkan Tokoh dalam Sejarah. yaitu Arjuna Sasrabahu atau Sumantri Ngenger. Semua membuktikan bahwa kita sangat peduli dengan nama kita sendiri. orang yang bernama Rizal dapat mengurai namanya seperti berikut: R I Z A L Kemudian. atau dalam Karya Sastra Karya sastra cerpen. yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono. Sebaliknya. Ia menulis namanya di buku harian dengan mengurainya menjadi sebuah puisi. novel/roman. Puisi tersebut bersumber dari cerita wayang. Kepedulian terhadap nama diri dapat dimanfaatkan untuk belajar menulis puisi. Yang paling mudah adalah menguraikan keadaan atau pengalaman diri sendiri. Perhatikanlah puisi berikut. misalnya Rizal adalah seorang remaja yang sedang melamun untuk sampai pada hari ulang tahunnya yang ketujuh belas. Puisi tersebut dapat merupakan suara tokoh tersebut (tokoh menjadi aku lirik). Anda berteriak kegirangan manakala huruf A sejajar dengan nama Anda dalam sebuah daftar nilai ujian. drama. bahwa memang Kesastraan – KKG 29 . Apabila Anda menyenangi tokoh tertentu dalam sebuah novel. atau komentar kita mengenai tokoh tersebut. Anggap saja. atau puisi yang telah kita baca dapat juga dijadikan media dalam belajar menulis puisi. Raden Sumantri. Selain karya sastra. Riangnya hati ketika datang suatu hari ltulah ulang tahun yang telah lama dinanti Zikir dan syukur kepada-Nya Adalah tindakan yang paling utama Lalu. PESAN Tolong sampaikan kepada abangku. yaitu dengan menderetkan nama kita secara vertikal. Sebagian besar di antara kita tentu sudah mengetahui bahwa salah satu puisi Chairil Anwar yang berjudul "Diponegoro" atau puisi Amir Hamzah yang berjudul "Hang Tuah" bersumber dari mitos pahlawan.

rumah. kesedihan itu ia konpensasikan menjadi kegiatan kreatif sehingga ia mampu menciptakan sajak berikut: NISAN untuk neneknda Bukan kematian benar menusuk kalbu Keridlaanmu menerima segala tiba Tak kutahu setinggi itu atas debu Kesastraan – KKG 30 . seperti yang terjadi pada Zaini atau Herry Dim.kebetulan jantungku tertembus anak panahnya. baik yang menyedihkan maupun yang membahagiakan. ia sangat sedih. "Orang dapat menulis puisi ketika sedang jatuh cinta". kita dapat menyebut Sutardji Calzoum Bachri sebagai salah seorang penyair puisi konkret. Kata-kata tersebut. Apabila kita kini belajar menulis puisi konkret. Di Amerika pernah dilakukan oleh penyair E. dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya. Sebaliknya. meskipun belum tentu menghasilkan puisi yang bermutu dari segi estetik. memang bukan hal yang baru. Untuk puisi. Kemudian. kemudian tipografi dan kaligrafinya kita susun sehingga serupa dengan objek yang kita jadikan bahan penulisan puisi. apa yang terbayang dalam benak kita ketika membaca puisi Akhdiat berikut ini: ( ( (plung) ) ) Puisi yang dikonkretkan melalui gambar. Pengalaman itu tidak perlu Anda tunggu sampai datang karena Anda dapat menghadirkan kembali pengalaman yang telah lampau. tentu tujuannya bukan untuk membuat pembaharuan. tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya.. Ada sebagian penyair yang mengkonkretkan puisi dengan tambahan gambar atau membentuk tipografi puisi sesuai dengan keinginannya. aku hanya akan. Terlebih-lebih. Kami saling mencintai. (5) Menulis Puisi Berdasarkan Pengalaman Diri Kita sering kali mendengar kata-kata.. yang dikenal dengan puisi konkret. dapat Anda manfaatkan sebagai bahan berlatih dalam menulis puisi. Hal ini dapat kita mulai. atau "Kesedihan akan berkurang apabila dituangkan melalui puisi". Kalau kau bertemu dengannya. Ketika Chairil Anwar ditinggal nenek yang dicintainya. misalnya dengan membuat puisi tentang bunga. melainkan untuk merangsang dan mengembangkan imajinasi. ada juga pelukis yang menambahkan kata-kata ke dalam lukisannya. dan nanti apabila perang itu tiba.. Namun. manusia sebagai makhluk hidup tidak akan luput dari pengalaman. (4) Mengkonkretkan Puisi dengan Bantuan Gambar Kadang-kadang orang yang memiliki bakat lebih dari satu seni tidak akan pernah puas ketika dia membuat sebuah karya seni. Cummings sedangkan di di Prancis dilakukan oleh penyair Appolonaire.E. atau benda konkret lainnya.

Baca puisi adalah berdiri mematung dengan teks puisi di tangan serta berusaha tidak bergerak dan deklamasi adalah membaca puisi yang telah dihafal dengan tambahan gerak artifisial. Untuk meluncurkan antologi puisinya. biasanya orang langsung menghubungkan dengan kiprah Rendra sepulang dari Amerika. Bahkan. acara khusus yang bersifat kompetisi pun sering kali diselenggarakan.. seperti kata Saini K. Hari Pahlawan.Dan duka maha tuan bertakhta Beberapa cara latihan di atas tampaknya masih umum sebab tujuannya sekedar merangsang imajinasi agar dapat berkreasi dengan menulis puisi. Acara hari-hari besar. kecuali.. Akan tetapi. Dasar-Dasar dan Petunjuk dalam Membaca Puisi Apabila kita menyaksikan orang membaca puisi. olah sukma. adegan itu sebenarnya hanya merupakan tahap akhir yang tampak ke permukaan. seperti HUT RI. Baca puisi. pemahaman orang terhadap kedua istilah tersebut belumlah sama. merupakan oleh-oleh Rendra dari Negeri Paman Sam. Dalam membedakan kedua istilah itu. Membacakan Puisi Istilah "baca puisi" (poetry reading) sudah akrab di telinga kita. Apabila dasar-dasar ini telah kita kuasai. manfaatnya tak dapat diragukan sebab untuk belajar menulis puisi tidak ada jawaban lain. olah mimik.M. Menurut Preminger (1974:967--970). olah musikal. Namun. selanjutnya kita akan sampai pada proses pembacaan. Kedua istilah itu ada yang membedakannya secara hitam putih sehingga muncul fenomena yang aneh. baca puisi merupakan tradisi baru."Tulis!" 2. yaitu tradisi masyarakat yang telah mengenal dunia baca-tulis atau keberaksaraan. sementara puisi oral sebaliknya. Padahal. atau acara penarik simpati dan solidaritas terkadang juga diisi dengan baca puisi. Esten (1987) dan Gani (1989) menganggap deklamasi dan baca puisi merupakan fenomena seni yang berbeda. yaitu tradisi masyarakat yang masih berada dalam dunia keniraksaraan. Rendra sendiri tidak membedakan kedua istilah itu. di Barat pembedaan baca puisi tidak dihubungkan dengan deklamasi melainkan dikontraskan dengan puisi oral (oral poetry). olah gerak. Selain itu. penyair sering kali mengadakan acara baca puisi sebelum kritikus mengulasnya. Dalam proses pembacaan inilah kita berusaha mencapai kualitas baca puisi secara Kesastraan – KKG 31 . yang langsung menggilas tradisi deklamasi di tanah air. dasar-dasar baca puisi itu mencakup olah vokal. Apakah pembedaan itu memang demikian? Memang harus kita akui. yaitu "deklamasi". katanya. perdebatan acap kali muncul manakala baca puisi dikaitkan dengan istilah lainnya.. Kualitas tahap akhir ini bergantung pada tahap-tahap sebelumnya yang dapat kita sebut tahap dasar. dan wawasan kesastraan. Menurut Aritonang (1990). a.

b. Dalam membaca puisi. frase demi frase. rampak puisi memiliki beberapa keuntungan. Perhatikanlah judul puisi. apabila baca biasa dilakukan oleh seorang pembaca. Rampak Puisi Istilah rampak puisi tampaknya hanya dikenal di daerah Jawa Barat sebab merupakan analogi dari rampak kendang. interpolasi.optimal. Misalnya. yaitu membaca puitis. rima. Membaca nyaring (agar pembaca dapat mengatur daya vokal. perempuan yang menjerit. religius. kita tinggal menyesuaikan para pembaca dengan karakter tokoh: siapa yang menjadi narator. liris. suara batin Sukra. atau epik?). c. Perhatikanlah corak dan aliran sajak yang kita baca (imajis. dan kelompok koor. Carilah dan kejarlah makna yang masih tersembunyi. Sukra. tombak yang dihentakkan. b. dan bait demi bait). yaitu "paduan baca" puisi. d. a. Perbedaannya. e. timbre. "Penangkapan Sukra" secara rampak. Tafsiran kita terhadap puisi mesti dapat kita kembalikan kepada teks puisi itu sendiri. irama. b. kita dapat juga mengikuti petunjuk yang disaranka. dan diksi). Membaca puitis. sedangkkan dalam rampak puisi. pembaca puisi tunggal harus dapat membedakan narasi dan karakter tokoh. Sebagian pembaca dapat juga bertugas memberi efek suara tertentu. d. tempo. h. rampak puisi lazimnya dilakukan oleh lebih dari satu orang. c. Jawablah apa dan siapa yang dimaksud dengan kata ganti dan siapa yang mengucapkan kalimat yang diberi tanda kutip. Temukanlah pertalian makna tiap unit puisi (kata demi kata. atau suara keramaian orang. kuda. Barangkali istilah ini sepadan dengan istilah yang digunakan oleh Rusyana (1982). Hal itu dapat dimungkinkan apabila kita mengikuti tahap pembacaan sebagai berikut: a. g. Lihatlah kata-kata yang dominan. dalam membaca puisi epik atau naratif. Untuk sampai pada pembacaan puisi yang kita idam-idamkan.hal itu merupakan tugas bersama. Rampak puisi dapat dianggap sebagai varian dari baca puisi sebab pembacanya masih mengandalkan teks puisi. Membaca kritis (dengan mengoreksi pembacaan sebelumnya: segisegi apa yang masih kurang dan bagaimana cara mengatasinya). Membaca dalam hati (agar puisi tersebut terapresiasi secara penuh). seperti suara serigala. yang benar adalah makna yang sesuai dengan struktur bahasa. Dalam mencari dan menemukan makna. j. Selain itu. i. Selamilah makna konotatif. f. Putra Mahkota. larik demi larik. Tangkaplahpikiran yang ada dalam puisi dengan memparafrasekannya. sebut saja. Kesastraan – KKG 32 .

Dengan demikian. syarat utama yang harus kita lakukan adalah memahami terlebih dahulu konvensi drama pentas sehingga kita mesti menguasai penataan pentas (skeneri). Namun. Misalnya. Pembaca puisi hanya berusaha agar pembacaannya puitis dan agar tidak mengganggu pandangan penonton. rampak puisi tidak perlu memanfaatkan pentas secara optimal. dalam musikalisasi. grup Bimbo pernah menyanyikan lagu "Salju" yang bersumber dari puisi Wing Karjo atau "Sajadah Panjang" yang bersumber dari puisi Taufik Ismail. Contoh konkret musikalisasi puisi sebenarnya sudah kita kenali. Misalnya. Bukankah lagu juga bersumber dari lirik puisi? Syair atau lirik lagu biasanya dibuat setelah musik tercipta. yaitu karya sastra. aransemen musik mesti dapat menangkap karakter puisi yang digubah. Sepintas memang tidak terdapat perbedaan antara musikalisasi puisi dan lagu yang diiringi musik. para pembaca mestilah mengatur posisi bacanya sehingga "enak" dipandang.Namun. dan lainnya menjadi drama. Misalnya. Dramatisasi puisi memang mesti bertolak dari puisi. dapat juga pemusik menciptakan musik dan lirik lagunya secara bersamaan. Dengan demikian. Meskipun demikian. untuk menyelaraskan lirik dengan musik dapat saja kita mengubah atau mengganti kata-kata syair tersebut. Ade biasa membuat syair terlebih dahulu sebelum menyusun partitur musiknya. Puisi harus tetap utuh. Dalam hal ini. aransemen musik tidak boleh mengubah puisi. jika kita akan menampilkan dramatisasi puisi di atas pentas. puisi yang bersuasana muram dan sedih selayaknyalah apabila ditampilkan dalam nada dan irama musik yang bernuansa muram dan sedih pula. grup Bimbo tidak pernah mengkhususkan diri pada Kesastraan – KKG 33 . baik puisi. Jika perlu. Dalam musikalisasi puisi tidaklah demikian. Batasan kedua istilah tersebut adalah pengalihan karya sastra. antara puisi dan musik harus memiliki keselarasan. dramatisasi puisi dapat berarti "mendramakan puisi". Dramatisasi Puisi Dalam Kamus lstilah Sastra yang disunting oleh Sudjiman (1986) disebutkan bahwa dramatisasi sepadan dengan istilah "dramaan". Pendeknya. Musikalisasi Puisi Musikalisasi puisi adalah menggubah puisi menjadi sebuah lagu. agar puisi itu sesuai dengan kaidah pemanggungan. cerpen. maka dalam dramatisasi puisi pun demikian. Bahkan. Akan tetapi. Ebiet G. apabila dalam konvensi drama terdapat kramagung/teks samping/petunjuk pengarang dan wawancang/dialog/ cakapan. maka seyogianyalah apabila puisi tersebut ditransformasikan terlebih dahulu ke dalam drama. puisi mesti tunduk pada kaidah-kaidah drama. Di sinilah kita dituntut untuk lebih kreatif karena dalam musikalisasi puisi yang ideal. c. satu hal yang perlu diperhatikan. d. Dengan demikian. blocking dan acting yang benar. Hal itu disebabkan puisinya sudah tercipta dan merupakan salah satu bentuk seni. tidak ada keharusan bagi pemusik untuk tunduk kepada lirik lagu. Akan tetapi.

Kegiatan itu dapat kita lanjutkan dengan mencatat peristiwa penting. dan alat musik modern lainnya. Contoh yang sangat tepat untuk musikalisasi adalah album kaset Hujan Bulan Juni dan Hujan dalam Komposisi yang diproduksi oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia. seperti rebana. Kedua album ini memang khusus direkam untuk kepentingan musikalisasi puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono. Yang penting. Puisi-puisi yang mereka gubah barangkali karena dianggap sesuai dengan karakter musik mereka. Bukankah yang membuat menarik pementasan musikalisasi puisi kelompok Sanggar Matahari Jakarta dan Kiai Kanjeng-nya Emha Ainun Nadjib adalah musik etniknya juga? Kemudian. kecapi. Kita pun tidak perlu terpaku pada musikalisasi puisi yang telah ada. Anda memiliki kepekaan rasa sehingga dapat menyelaraskan karakter musik dengan puisi yang kita pilih sebagai lirik lagunya. Apabila kegiatan ini masih dianggap sulit. kita dapat melakukan kegiatan menulis secara sederhana. Ekspresi Prosa 1. gamelan. dan gendang dapat menghasilkan musikalisasi puisi yang eksotik dan ebih bernuansa warna lokal. Biarkanlah peserta lomba berkreativitas untuk memadukan karakter puisi dengan musik yang dimainkan. Untuk kepentingan apresiasi puisi. biola. Beberapa kegiatan yang telah kita lakukan dalam menulis puisi dapat kita manfaatkan juga untuk kepentingan menulis prosa. Alat musik etnik. tabrak lari. materi lomba tidak perlu puisi yang sudah dimusikalisasi karena ini akan menimbulkan pemajalan daya kreativitas. atau pencurian. apabila Anda mengadakan lomba musikalisasi puisi. Hal itu merupakan langkah awal yang baik. Peristiwa tersebut dapat kita kembangkan dengan melibatkan imajinasi kita sehingga tokohnya diberi karakter tertentu. Alat musik pun tidak harus selamanya gitar. peristiwanya dijalin lebih memikat. atau karya sastra lainnya. Misalnya novel Burung-Burung Manyar Kesastraan – KKG 34 . rebab. misalnya gempa bumi. Misalnya. memusikalisasi puisi dapat dijadikan kegiatan penguatan (reinforcement). bukankah unsurunsur etnik atau warna lokal juga merupakan bagian senyawa yang tak terpisahkan? B. dan latarnya dirinci secara detil. Para sastrawan acap kali menggunakan fakta cerita dalam sejarah atau mitologi sebagai teks dasar karyanya. yaitu menarasikan pengalaman yang telah kita lakukan dari bangun tidur hingga ketika akan tidur kembali. Menulis Prosa Menulis buku harian merupakan upaya pembiasaan agar kita memiliki kompetensi keterampilan menulis. mitologi. apabila kita hubungkan dengan karakter puisi Indonesia. gong. Kegiatan yang dimaksud adalah mendeskripsikan objek konkret secara emotif dan menulis cerpen berdasarkan tokoh dalam sejarah. khususnya cerpen. seperti agenda kerja atau agenda kegiatan sehari-hari.musikalisasi puisi. piano. Awalnya mungkin kita hanya menulis catatan penting.

2) Sadarilah bahwa cerpen yang konvensional selain menyertakan judul dan pengarangnya harus juga dilengkapi aspek formal cerpen lainnya. Resi Bisma yang dalam mitologi pewayangan dihormati. yaitu adanya narasi dan dialog tokoh. penceritaan. yaitu peristiwa disusun secara logis dan kronologis. Mangun Wijaya memunculkan tokoh-tokoh nyata ketika zaman revolusi kemerdekaan. yang dikenal dengan Perang Bubat.karya Y. cara ini menarik minat para pakar sastra sehingga memunculkan kajian sastra dengan menggunakan pendekatan resepsi sastra dan intertekstualitas. Mukanya yang dihiasi brewok dan cambang putih sudah kisut. satu hal yang perlu kita cermati. menanggapi. melainkan untuk mereaksi. seperti fakta cerita (alur. dan gaya bahasa). misalnya tidak lebih dari lima kata. Puteri Sunda yang menjadi martir dalam perang yang tidak seimbang antara Kerajaan Pajajaran dan Majapahit. dan dijunjung tinggi oleh pihak Kurawa dan Pandawa karena sebagai sesepuh Kerajaan Astina. udara dan air. maka kita harus mempehatikan hal-hal berikut: 1) Tentukanlah tema cerpen berdasarkan persoalan yang Anda kuasai. 2. Bahkan. baik oleh sendiri maupun oleh beberapa orang yang disebut dengan paduan Kesastraan – KKG 35 . yang melebur jasadnya setelah jutaan tahun yang lalu pralaya dalam perang Bharatayuda. Seno Gumira Ajidarma memunculkan tokoh-tokoh wayang dalam novel Kitab Omong Kosong. tokoh. atau Hermawan Aksan memunculkan kembali tokoh Diah Pitaloka.B. Jika cara ini yang kita pilih. Membacakan Prosa dan Paduan Baca Prosa Ekspresi prosa biasanya dilakukan dengan membacakan cerpen atau dongeng. disegani. sarana cerita (sudut pandang. menghadirkan suspense ‘rasa ingin tahu’ membuat surprise ‘kejutan’ dan menjalin seluruh unsur cerpen sehingga tampak utuh. Resi yang telah memikul pengorbanan yang dahsyat itu tiba-tiba muncul di Pasar Senen. seperti Amir Syarifudin. akan tetapi masih tetap memancarkan sinar yang jernih. 4) Padukanlah unsur-unsur cerpen dengan memperhatikan kaidah alur. Menulis prosa pun dapat kita lakukan dengan cara memperhatikan konvensi yang terdapat dalam sebuah karya prosa. kemudian konkretkan tema tersebut dengan judul yang menarik dan sesingkat mungkin. Bisma bangkit dari tanah. atau melakukan dialog dengan karya-karya sebelumnya. dalam novel tersebut dimunculkan secara ganjil dan lucu. dan latar). Tubuhnya yang tinggi besar dan sedikit bungkuk karena tua tampak agung ditancap oleh ribuan panah. 3) Kembangkanlah tema ke dalam unsur-unsur cerpen. Namun. Hal yang dilakukan sastrawan bukanlah untuk menjiplak karya yang sudah ada. Mari kita perhatikan salah satu penggalan cerpen karya Putu Wijaya berjudul “Bisma”.

yaitu memperhatikan kapan intonasi ditekan. 3. pembaca dapat menandai bagian-bagian yang mendapat penekanan tersebut dengan menggunakan alat tulis. Seperti halnya dramatisasi puisi. dan anggota tubuhnya untuk memperkuat karakter tokoh-tokoh dongeng. misalnya kita tidak perlu ragu untuk meralat atau merevisi bagian-bagian yang sudah kita tandai. tempo diperlambat atau dipercepat. pembacaan cerpen dapat diulang-ulang hingga sampai pada langkah yang keempat. namun dengan pembagian tugas yang jelas. membaca kritis harus dilakukan. Pembaca pun dapat berlanjut ke langkah yang ketiga. kedua karya itu harus dialihkan terlebih dahulu ke dalam naskah drama. kita dapat juga mengikuti teknik seperti dalam membacakan puisi. Langkah kedua adalah dengan membacakan cerpen secara nyaring. apabila kita akan mendramatisasi cerpen atau cerita rakyat. siapa yang akan menjadi narator dan siapa yang akan menjadi tokoh-tokoh dalam cerpen. misalnya tinta warna dan penggaris. Misalnya. Dalam langkah kedua ini kita dapat mencoba untuk mengucapkan narasi dan dialog-dialog cerpen sesuai dengan karakter masingmasing. seperti mite. narasi cerpen diubah menjadi petunjuk pemanggungan sehingga yang dialog Kesastraan – KKG 36 . Apabila juru dongeng atau pendongeng di daerah nusantara bercerita dengan bahasa daerah dan khazanah daerah masing masing. Mendongeng dan Mendramatisasi Prosa Mendongeng atau bercerita dapat menjadi kegiatan ekspresi prosa yang mengasyikkan sebab juru dongeng biasanya bertutur tanpa teks sehingga ia pun dapat memanfaatkan raut muka. Dengan demikian. dan setiap paragraf dalam cerpen tersebut dapat kita hidupkan dengan alat artikulasi kita. maka kita dapat memanfaatkan cerita rakyat se-Nusantara yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia sehingga sastra-sastra daerah itu dapat dikenal lebih luas dalam skala nasional. Bahan dongeng dapat berupa cerita rakyat. fabel. Namun. itu. Pertama. Selain mendramatisasi cerpen. Agar pembacaan tidak berubah-ubah. Hal serupa dengan langkah membacakan cerpen dapat juga kita lakukan dalam paduan baca cerpen. setiap kalimat dalam paragraf. tentu saja untuk sampai pada pembacaan cerpen yang estetis diperlukan latihan berulang-ulang. yaitu pembacaan cerpen yang estetis. Apabila mendongeng dilakukan secara perseorangan. dramatisasi prosa dapat dilakukan secara berkelompok. dan nada direndahkan atau ditinggikan. volume suara diperkecil atau diperbesar. ekspresi prosa dapat dilakukan dengan Dalam membacakan cerpen. cerpen kita baca dalam hati. gerak-gerik. Misalnya. dan cerita jenaka. legenda. Langkah pertama ini bertujuan agar kita dapat mengakrabi cerpen sehingga maknanya dapat kita selami. Kita upayakan agar setiap kata dalam kalimat. dramatisasi prosa pun harus mengikuti kaidah-kaidah yang terdapat dalam drama. Oleh sebab itu.baca cerpen. Misalnya.

PENJAGA KUBURAN NENEK PENJAGA KUBURAN NENEK PENJAGA KUBURAN Kesastraan – KKG 37 ." “Nenek begini segar. “Ya.” Dia berhenti sebentar. : Nenek begini segar. TAMPAK DI SEBUAH NISAN SEORANG NENEK SEDANG DUDUK. Nenek masih lama lagi akan hidup. “Benar. Nak. Nenek masih lama lagi akan hidup. Kalau saya nanti dikuburkan di sini. kau bersihkanlah kuburanku balk-baik. “Kuburan-kuburan disini bersih.tokoh-tokohnya tampak menonjol.” Kata penjaga kuburan itu.” (Motinggo Boesje dalam Hoerip. : Sepantasnya engkau masuk surga. ( menghapus air mata) Engkau sendiri bekerja di sini? : Ya. DAN MERENUNGI BATU NISAN ITU. Kalau saya nanti dikuburkan di sini. Nak. saya masih akan lama hidup ?” “Benar Nek. kau bersihkanlah kuburanku baik-baik. : Benar. kemudian dialihkan ke dalam teks drama. ''Kenapa Nenek menangis ?” Diangkatnya kepalanya pelan-pelan. Nak! (penjaga kuburan duduk di semen kuburan dekat Nenek) Kuburan-kuburan di sini bersih." “Sepantasnya engkau masuk surga. PENJAGA KUBURAN MENDEKATI NENEK PENJAGA KUBURAN NENEK : Kenapa Nenek menangis ? : ( memandang penjaga kuburan. "Kalaulah cucuku dapat bertanya seperti engkau itu. MENUNDUK. 1979c: 136) PANGGUNG MENYERUPAI TEMPAT PERKUBURAN. dipandangnya penjaga kuburan itu agak lama. dihapusnya air matanya. Berikut ini akan dikutip sebuah penggalan teks cerpen. Nak” Kemudian penjaga kuburan itu duduk di semen kuburan itu dan Nenek itu berkata. saya masih akan lama hidup ? : Benar. "Engkau sendiri bekerja di sini ?” tanyanya kemudian. Nek. Penjaga kuburan mendekatinya dan bertanya. suaranya gemetar) Kalaula cucuku dapat bertanya seperti engkau itu. dan suaranya yang gemetar dan tua itu berkata.

a. para pedagang kakilima dengan petugas Tibum Kesastraan – KKG 38 . benaknya pasti berusaha untuk memvisualisasi panggung. Ada dua buah naskah drama yang menarik Anda. para pemburu dengan pencinta lingkungan hidup.C. Bagaimana cara memecahkan masalah ini? Agar kontekstual. Naskah kedua sedikit sekali mencantumkan kramagung atau petunjuk pentasnya sehingga miskin dengan imajinasi visual. Contoh pertama telah kita singgung pada saat membicarakan Rendra dengan drama Perampok-nya. Naskah pertama merupakan naskah terjemahan dari bahasa asing sehingga belum kontekstual. misalnya sutradara. Membuat Dialog Imajiner Latihan menulis pun dapat Anda lakukan dengan membuat dialog imajiner berdasarkan situasi dramatik yang sangat Anda kenal. b. atau yang dijadikan bahan kurikulum di sekolah lebih banyak yang "enak" untuk dibaca daripada dipentaskan. kita dapat memulai untuk menulis drama. Keadaan ini mengakibatkan pihak yang akan mementaskan drama. yaitu dengan lebih mengkonkretkan naskah drama dengan floor-plan (penggambaran arah gerak pemain) dan promptbook (naskah yang sudah disunting sesuai dengan keperluan pementasan). naskah pertama dapat Anda adaptasi atau Anda sadur sesuai dengan konteks zaman dan tempat yang Anda inginkan dan naskah kedua dapat dikonkretkan dengan lebih memperjelas kramagungnya. dan Memvisualisasi Drama yang Sudah Ada Drama yang tersedia di perpustakaan. naskah drama hanyalah salah satu unsur teater sehingga kretaivitas sutradara lebih penting daripada otonomi pengarang drama. Berikut ini merupakan pelatihan praktis yang dimodifikasi dari Moody (1971: 88). sedangkan cohtoh kedua sering kali dilakukan oleh sutradara dalam proses produksinya. Mengadaptasi. c. Dalam teater. Anda membuat dialog antara dua pihak yang memiliki masalah atau konsep yang bertentangan: para buruh dengan majikannya. perlu menyunting terlebih dahulu naskah drama yang akan dipentaskan. akan tetapi terdapat dua masalah yang belum terpecahkan. di toko-toko buku. dan (3) menciptakan situasi dramatik dari berbagai sumber. Menyadur. Anggap saja bahwa Anda adalah seorang sutradara yang akan mewujudkan sebuah naskah drama ke dalam seni pertunjukan. Hal itu disebabkan tidak semua pengarang drama mengetahui seluk-beluk teater atau pemanggungan. yaitu (1) menggali nilai-nila dramatik (dari drama yang sudah ada). antara drama sebagai karya sastra di satu pihak dan teater di lain pihak merupakan bentuk seni yang memiliki kekhasan masing-nasing. Selain itu. (2) menulis dialog imajiner. meskipun ketika mereka menulis drama. Misalnya. Ekspresi Drama Beberapa Pelatihan Menulis Naskah Drama Dengan pengetahuan mengenai konvensi drama dan dengan ditambah keberanian.

kita harus kembali pada tujuan semula. apa gagasan dan filsafatnya. Dia tahu betul siapa Bung Karno. seperti jatuhnya pesawat terbang. Mendramakan Dramatik berbagai Sumber yang Mengandung Peristiwa Zaman kita kini adalah zaman informasi. Wellem Pattirajawane. pernah menampilkan monolog yang bersumber dari buku Indonesia Menggugat karangan Bung Karno. Oleh sebab itu. Anda mesti mampu melihat atau menemukan peristiwa dramatik di dalamnya. Misalnya. yang naskahnya bersumber dari berbagai tulisan di surat kabar. Sumber pencarian peristiwa dramatik. Namun. d. bagaimana dengan peristiwa besar. atau dapat juga kita memecahkan persoalan yang di tinjau dari dua sudut yang berbeda. Kesastraan – KKG 39 . Dengan catatan. peristiwa dramatik dapat Anda buat dengan membayangkan bahwa Anda adalah bagian dari penumpang yang selamat. cemas.P. bahkan profil seorang tokoh dapat mengandung peristiwa dramatik. tentunya tidak hanya berita dalam surat kabar. seorang aktor dari Teater Kecil. kelompok teater di Jakarta. pernah menampilkan monolog yang bersumber dari profil dan keberanian Adi Andojo sebagai hakim agung muda. apabila Anda membaca berita mengenai jatuhnya pesawat terbang Adam Airi atau Garuda. atau televisi. majalah. aktor dari Bengkel Teater Rendra.. pledoi pengadilan. esai. Anda membayangkan bahwa Andalah trouble maker-nya sehingga khawatir. setidaknya ada dua tahap yang harus dilalui. misalnya dengan mengemas bahan itu secara apik ke dalam dialog dan kramagung. kudeta berdarah. atau ketika Anda membaca berita terhentinya pertandingan sepak bola karena ulah penonton yang berlaku anarki. misalnya wawancara imajiner Christianto Wibisono dengan Bung Karno. Misalnya. Apabila peristiwa kecil dan remeh dapat menarik karena dikemas secara apik dalam pemberitaannya. dan meningganya kepala negara? Peristiwa-peristiwa seperti itu tentu dapat Anda jadikan bahan penulisan drama. Di media massa kadang-kadang terdapat rubrik yang berisi wawancara imajiner dengan tokoh-tokoh yang sudah meninggal. gempa bumi. Sebagai bukti. dan takut berkecamuk di dalam dada.atau Satpol P. namun segala sumber yang menarik Anda dan dipandang sebagai potensi dalam memunculkan peristiwa dramatik. yang kemudian ditata kembali dalam adegan demi adegan serta babak. Atau Adi Kurdi. yaitu Teater SAE pernah menampilkan drama berjudul Pertumbuhan di Meja Makan. segala bahan yang dipilih dibaktikan agar Anda terampil menulis drama. yaitu tahap persiapan dan tahap pelatihan. Wawancara itu dibuat karena pengarang (pewawancara) sangat mengenal subjek yang dibicarakan. terlebih-lebih jika orientasi kita pada pertunjukkan di atas panggung. Memainkan Drama Untuk sampai pada puncak pementasan drama. yaitu berlatih menulis drama. 1.

Tahap Persiapan (1) Memilih Naskah Drama Pemilihan naskah drama untuk pementasan bergantung kepada keperluan. Sebagai pencipta kondisi kerja teater. Iblis karya Mumammad Diponegoro. Domba-Domba Revolusi karya B. dan psikologi apresiasi. sutradara hendaknya membuat ploor-plane yang merupakan rencana pentas (gambar dari proyeksi skeneri). seperti masalah ruang dan bentuk. (2) Mendapatkan Izin Penulis Setiap karya yang diterbitkan biasanya dilindungi oleh undang-undang. busana. Sebagai seniman kreatif. berdasarkan pengamatan secara umum. tata suara. akan sangat antusias. atau Ashabul Kahfi karya Godi Suwarna. misalnya penata artisitik. Untuk kepentingan hari besar Islam. dan efek khusus. Anda telah sepakat untuk mementaskan drama Masyitoh. drama untuk kepentingan pentas yang sifatnya komersial sudah selayaknya dilengkapi dengan izin pengarang atau penerbit yang mewakilinya. baik secara tertulis maupun lisan. organisator. waktu mencukupi. Anda dapat memilih drama Nyaris karya N. Apabila Anda melanggarnya. Drama-drama yang dibuat untuk kepentingan latihan. yaitu buku kerja. (3) Memilih Sutradara Menurut Anirun (1987:33-35). Oleh sebab itu.a. Riantiarno. dan calon penonton. rias. dana tersedia. Soelarto. pemilihan itu pun mesti disesuaikan dengan kondisi yang ada. Dalam merayakan Hari Kemerdekaan. mengkonkretkan setting. atau Fajar Sidik karya Emil Sanosa. dan membantu atau bekerja sama dengan pekerja lainnya. maka sama saja dengan melanggar hak cipta orang lain. alangkah arifnya jika kita mengusahakan izin dari pengarangnya. membantu pemain mewujudkan perannya. dan seorang guru. Untuk mengkonkretkan konsep artistiknya. mengalihkan naskah menjadi prompt-book. meramalkan semua kondisi. agar tidak mendapatkan sanksi-sanksi di kemudian hari. Katakanlah. misalnya Anda dapat mementaskan drama Masyitoh karya Ajip Rosidi. yang berfungsi sebagai seniman kreatif dan pencipta kondisi kerja teater. Akan tetapi. jarak estetik. misalnya sebagai pelengkap atau lampiran dalam buku teks atau yang ditampilkan secara amatir di kelas tidaklah pelu mendapat izin. sutradara pada hakikatnya adalah seorang seniman. menguasai serta mampu menerapkan prinsip-prinsip estetis. sutradara berfungsi sebagai penafsir utama naskah. diplomat. Kesepakatan itu sebaiknya berdasarkan pertimbangan bahwa para pemainnya siap berlatih. properties. Akan tetapi. musik. ia pun bertugas untuk mengkoordinasikan kerja ensambel (bersama). namun hendaknya harus dipertimbangkan dari berbagai segi. Kesastraan – KKG 40 . bertanggung jawab pada penyelesaian bentuk. yang selain sebagai naskah suntingan berfungsi pula untuk mencatat dan merevisi segala kegiatan selama proses latihan.

tokoh utama mengalami perubahan baik dalam status. tidak bijaksana dan keliru menuju ke keadaan yang sebaliknya. Menurut teori ini. Apabila prinsip Aristoteles sulit diterapkan dalam drama yang akan dipentaskan. misalnya tampak pada drama Ken Arok karya Saini K. Tokoh Oeidiphus yang pada awalnya merupakan seorang raja yang gagah dan terhormat berubah menjadi seorang buta yang terhina. resolusi. Terakhir. Dalam pola belajar. b. Dengan apa pola peristiwa terwujud? Untuk menjawabnya. klimaks.. Drama konvensional biasanya dapat ditelaah dengan menggunakan prinsip Aristoteles. (2) pola belajar. Anda dapat saja menggunakan teori lain. Misalnya. keadaan. yang kemudian harus Anda temukan dalam naskah yang Anda analisis. Dalam pola perubahan.(4) Mempelajari atau Menganalisis Naskah Sebenarnya. Saini K.M. tugas mempelajari dan menganalisis naskah adalah tugas utama sutradara. Anda memahami kembali prinsip alur dan struktur drama menurut Aristoteles. Dalam pola kejayaan dan kejatuhan. pola-pola peristiwa muncul. Sehubungan dengan menganalisis naskah. konflikasi. dalam drama Yunanai yang terkenal karya Sophocles. Tahap Pelatihan atau Proses Produksi Hal-hal yang harus Anda perhatikan pada tahap proses produksi adalah sebagai berikut: Kesastraan – KKG 41 . dan (4) pola perjuangan melawan kejahatan. menawarkan teori atau teknik analis dengan memperlakukan naskah sebagai "pola peristiwa" (pattern of events). dan konklusi. Akan tetapi. Misalnya. misalnya. Anda dapat saja kembali pada bagian sebelumnya pada saat kita berbicara tentang konvensi dan kaidah umum drama. yaitu (1) pola perubahan. Ken Arok yang berjaya dengan membunuh Tunggul Ametung dan mengawini Ken Dedes akhirnya mesti jatuh tersungkur karena keris Empu Gandring yang ditusukkan oleh putera Tunggul Ametung.M. (3) pola kejayaan dan kejatuhan. naskah drama dapat dikelompokkan ke dalam empat pola peristiwa. Anda tinggal mengingat bahwa hakikat drama adalah konflik. Karena konflik yang melibatkan tokoh utama itulah. tokoh utama mengalami proses belajar dari kondisi tidak tahu. maka semua pihak dapat memberikan andil dalam mengutuhkan penafsiran naskah di atas panggung. sendiri. agar para pemain dan pekerja panggung lainnya dapat bekerja sama demi keberhasilan pementasan. yaitu dengan menemukan bagian eksposisi. maupun nasibnya. pola perjuangan melawan kejahatan merupakan pola yang sangat populer dan mudah Anda temukan sebab masalah yang diusungnya sangat kontras sehingga ibarat membedakan warna hitam dan putuh.

la dapat saja menghapus arah jalan atau keluar-masuk pemain yang telah ditulisnya di atas floor-plane untuk sampai pada bentuk yang diinginkan.. kecepatan tempo suara. olah tubuh. dan menguasai/menundukkan naskah dan ruang. Bagaimana ia mengatur blocking para pemain sehingga sampai pada blocking yang tepat. dilakukan agar permainan kita tidak datar. dilakukan agar kita dapat menahan tingkatan perkembangan sebelumnya (disebut juga dengan teknik menahan). tetapi memikat penonton. Demikian pula dengan promt-book. dilakukan agar kita dapat memberikan kesan pertama kepada penonton secara meyakinkan. menahan reaksi terhadap perkembangan alur.) dalam Tentang Bermain Drama atau Suyatna Anirun (1979) dalam Teknik Pemeranan. nada. terutama dengan teknik dinamika visual yang bersumber dari pengembangan jasmani. Tentu saja semua dilakukan setelah Anda mengikuti pelatihan dasar drama. dan membangun klimaks. imajinasi. mewujudkan naskah dalam gerak (blocking). dan tempo secara tepat. dilakukan agar kita dapat menonjolkan hasil penafsiran. sutradara tidak perlu membuat floo-rplane yang baku. c) Teknik pengembangan vokal dan tubuh. Karena revisi terus dilakukan. Agar sutradara dan pemain leluasa menggunakan prompt-book. b) Teknik memberi isi. f) Teknik timing atu ketepatan waktu. Di sinilah sutradara memfungsikan ploor-plane (gambar berupa rencana pentas) dan prompt-book-nya (naskah drama yang sudah disunting untuk kepentingan pelatihan) secara optimal.. dan mimik. dilakukan agar hubungan waktu antara gerakan jasmani dan dialog kita berjalan dengan tepat. yaitu dengan menahan intensitas emosi. Secara ringkas.. teknik gabungan. yaitu Kesastraan – KKG 42 . dan olah rasa atau sukma. dan teknik penempatan pemain... mengembangkan. (2) Pengembangan Pengembangan permainan dilakukan dengan memberi isi. panduan tersebut adalah sebagai berkut: a) Teknik muncul. berpindah tempat. d) Teknik membina puncak dan membangun klimaks. dilakukan agar kita dapat mengisi kalimat sesuai dengan tuntutan drama yang dipentaskan. yaitu dengan memberikan tekanan dinamik. sedangkan pengembangan tubuh dapat dilakukan dengan menaikkan/menurunkan tingkatan posisi jasmani. emosi.(1) Mencari bentuk Pencarian bentuk dilakukan dengan menganalisis naskah drama.. e) Teknik menonjolkan. sebaiknya buku kerja itu dibuat ke dalam ukuran folio sehingga dapat memuat catatan-catatan yang diperlukan selama pelatihan berlangsung. olah vokal. menggerakkan anggota badan. membacanya bersama sehingga dapat memilih peran yang tepat. Pengembangan vokal atau pengucapan dilakukan dengan menaikkan atau menurunkan volume. tinggi nada. teknik permainan bersama. seperti berlatih konsentrasi. berpaling. Di bawah ini akan diuraikan panduan yang dibuat oleh Rendra (1982.

dan kinetik (gerak) sehingga penonton dapat menyerap nilai-nilai pengalaman. dilakukan agar permainan tidak kedodoran. (5) Pergelaran Pergelaran atau pementasan merupakan puncak dari pelatihan yang kita lakukan. dan cahaya). atau sesudah katakata diucapkan. sesuai dengan tawaran dari Taylor (1988:20): Kesastraan – KKG 43 . h) Teknik mengatur waktu. dan jarak langkah. Keberhasilan pergelaran sangat bergantung kepada kerja sama serta kesolidan di antara para pendukungnya. warna. Misalnya. g) Teknik menakar bobot permainan. dilakukan agar kita bermain secara proporsional. sutradara harus melakukan koordinasi dan mengatur tempo serta irama permainan sehingga tampak tidak kedodoran. Oleh sebab itu. maka bagannya dapat disusun seperti berikut.dengan melakukan gerakan sebelum. apabila organisasi itu independen. (3) Pemantapan Dalam proses pemantapan. baik yang bersifat umum maupun estetik. visual (bentuk. Masalah utama yang dihadapi sutradara dan pekerja lainnya adalah menghayati dan mengkomunikasikan naskah yang diusungnya secara artistik. bahkan diperkuat daya ungkapnya dengan media audio (bunyi vokal dan musik). Dengan kata lain. kita harus dapat mengatasi bagaimana agar naskah sebagai medium verbal sastrawan dapat diterjemahkan. Oleh sebab itu. Agar sebuah produksi pergelaran terkelola secara rapi dan proporsional. (4) Pelatihan umum Pelatihan umum dilakukan manakala sutradara menganggap naskah yang sedang digarapnya itu telah layak pentas. pada latihan umum ini para pemain harus tampil utuh laiknya bermain di hadapan para penonton. seiring. Hafal naskah dan blocking belum tentu menghasilkan permainan yang penuh "greget" dan penuh atmosfer hidup. sutradara mesti peka dan mempertajam intuisi dan daya kritisnya sehingga permainan yang mantap dapat dihasilkan. tempo. kita dapat saja menggabungkan para pekerja drama dalam sebuah organisasi. irama.

Sutradara Pimpinan Teknik Pimpinan Panggung Pimpinan Produksi Perencanaan Panggung Perlengkapan Publikasi Dekorasi Crew Panggung Karcis Teknik Suara Tata Rias Program Teknisi Lampu Kostum/Busana Gedung Produksi Kesastraan – KKG 44 .

PTK Kesastraan adalah PTK yang dimaksudkan untuk memperbaiki kinerja pembelajaran kesastraan. Kolaborasi (kerjasama) antara praktisi pendidikan dan peneliti. cara kerja. dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru. Pengembangan Pembelajaran dalam PTK berorientasi pada pemecahan masalah pembelajaran (problem solving). yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan terhadap sistem. PTK juga bertujuan untuk memperbaiki kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesionalnya. (Carr dan Kemmis. 2003) Tujuan Utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas. 1991:2) Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri. Intinya. EMPAT KARAKTERISTIK PTK Karateristik/ciri utama PTK adalah adanya tindakan (action) yang nyata. isi. melalui refleksi diri. for example) in social (including educational) situations in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices. Ketiga. dalam McNiff. 2. terlalu teoritis dan tidak menyentuh tujuan pembelajaran sastra.. Kedua. pada kenyataannya pembelajaran sastra tidak dilakukan secara benar oleh guru. PTK dilakukan untuk memperbaiki kinerja guru. Kesastraan – KKG 45 . Masalah yang dibicarakan adalah masalah pembelajaran yang sifatnya spesifik dan kontekstual.BAB V PENELITIAN TINDAKAN KELAS KESASTRAAN PTK adalah penelitian tindakan (action research) yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki/meningkatkan mutu praktik pembelajaran. dan membosankan. atau situasi. sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat (Wardani. proses. their understanding of these practices and the situations (and) institutions) in which the practices are carried out. pembelajaran sastra kurang mendapat perhatian serius dari para guru. pembelajaran sastra dianggap sulit. Action research is a form of self-reflective inquiry undertaken by participants (teachers. ada empat karakteristik lain yang melekat pada PTK. students or participals. kompetensi. tidak menarik. Penelitian Tindakan merupakan suatu proses investigasi terkendali yang siklis dan bersifat reflektif mandiri. 3. karena pembelajaran sastra selama ini dianggap sebagai pembelajaran sampingan yang tidak penting.J. Keempat karakteristik itu adalah sebagai berikut. Mengapa PTK kesastraan perlu mendapat perhatian? Pertama. Dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Di samping itu. 1.

4. (4) Melaksanakan Tindakan. PROSEDUR PENGEMBANGAN PTK Prosedur pengembangan PTK dilakukan melalui kegiatan yang terencana. (5) Menganalisis data hasil observasi dan assesment serta interpretasi. dan Assesment. AKTIVITAS PENELITIAN TINDAKAN KELAS Aktivitas penelitian tindakan kelas dapat digambarkan sebagai berikut.(3) Merencanakan Tindakan. terarah. dan berkesinambungan. Observasi. Pengembangan PTK dilakukan dengan prosedur sebagai berikut (1) Identifikasi Masalah Pembelajaran. (2) Menganalisis dan merumuskan masalah pembelajaran. (6) Melakukan Refleksi dan merencanakan tindak lanjut untuk siklus berikutnya. Reflektif terhadap perubahan hasil tindakan. Apakah kompetensi awal siswa untuk mengikuti pembelajaran cukup memadai? Apakah proses pembelajaran yang dilakukan cukup efektif? Apakah sarana/prasarana pembelajaran cukup memadai? Apakah pemerolehan hasil pembelajaran cukup tinggi? Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas? Apakah ada unsur inovatif dalam pelaksanaan pembelajaran Bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan strategi inovatif tertentu? Kesastraan – KKG 46 . (1) IDENTIFIKASI MASALAH PEMBELAJARAN Pertanyaan-pertanyaan yang bisa membantu untuk mengidentifikasi masalah pembelajaran adalah sebagai berikut. Hasil reflektif dijadikan bahan pertimbangan untuk penyempurnaan rencana tindakan awal dalam siklus berikutnya.

(4) mendiskusikan rencana tindakan dengan teman sejawat. format bayangan (shadowing form) Kesastraan – KKG 47 . (3) mempersiapkan instrumen pengembangan. (5) mengkaji pendapat dan saran pakar pendidikan yang sudah dituangkan dalam bentuk program.(2) MENGANALISIS DAN MERUMUSKAN MASALAH PEMBELAJARAN Masalah yang diteliti harus masalah faktual. Kegiatan ini setidak-tidaknya akan menentukan validitas penelitian. pertanyaan yang harus dijawab adalah: Apakah alternatif tindakan yang dipilih dapat meningkatkan atau memperbaiki proses dan hasil pembelajaran? Contoh: Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa terhadap perbedaan pusi lama dan puisi baru dengan memberikan tugas kelompok ? Bagaimana meningkatkan ketrampilan siswa kelas VI dalam menghubungkan isi puisi dengan realitas alam. dan kesastraan. guru-guru). sebaiknya peneliti PTK melakukan hal-hal berikut: (1) gagas pendapat mengenai tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah (Kolaborasi guru-dosen. bagaimana guru mengelola kelas. (2) Instrumen untuk PROSES. (3) mengkaji hasilhasil penelitian yang relevan. Oleh karena itu. Masalah tersebut harus dapat dicari dan dididentifikasi jalan keluarnya. Masalah yang diteliti melalui PTK harus memiliki nilai strategis bagi peningkatan atau perbaikan proses dan hasil pembelajaran. bagaimana guru bertanya. Setelah itu. atau peneliti lain. (4) melakukan simulasi pelaksanaan tindakan Pengembangan Instrumen Salah satu kegiatan PTK yang perlu mendapat perhatian adalah pengembangan instrumen. sosial budaya. catatan anekdotal perilaku siswa (anecdotal record for observing students). pakar pendidikan. (2) mengkaji teori di bidang pembelajaran/pendidikan. dan masyarakat melalui diskusi? Bagaimana meningkatkan keterampilan siswa kelas VI dalam menemukan tema. dan (3) Instrumen untuk OUTPUT (evaluasi pencapaian hasil belajar) Instrumen untuk proses meliputi instrumen pengamatan terhadap guru (bagaimana guru mengajar. bagaimana interaksi guru-siswa. Artinya. bagaimana guru mengelola waktu. dsb) Instrumen pengamatan terhadap siswa meliputi tes diagnostik (diagnostict test). penokohan pada cerpen-cerpen dalam satu buku kumpulan cerpen melalui model pembelajaran inkuiri? (3) MERENCANAKAN TINDAKAN Sebelum merencanakan tindakan. bagaimana guru membuat penilaian. latar. (2) mempersiapkan sarana pembelajaran. masalah yang diteliti benar-benar terjadi dalam pembelajaran di kelas. Instrumen apa yang perlu dikembangkan? Yang perlu dikembangkan adalah (1) Instrumen untuk INPUT (bekal awal siswa). bagaimana guru membentuk kelompok. (6) melakukan refleksi diri mengenai pengalaman sebagai guru. guru mulai merencanakan tindakan dengan urutan kegiatan sebagai berikut (1) membuat skenario tindakan. Dengan demikian PTK membantu mencari alternatif pemecahan tindakan.

format peta kelas. data dokumen. Jika masih diperlukan siklus ke tiga maka tindakan yang dilakukan juga merupakan perbaikan tindakan dari siklus dua. (5) MENGANALISIS DATA Penelitian tindakan kelas lazimnya memerlukan data kualitatif dan data kuantitatif. Jika berhasil. (6) MELAKSANAKAN REFLEKSI Hasil analisis lalu dihubungkan dengan indikator keberhasilan dan indikator kinerja. Pada saat yang sama dilakukan observasi proses dengan menggunakan instrumen yang sudah didesain sebelumnya. tes dan asesmen alternative. Tindakan yang dilakukan merupakan perbaikan dari tindakan yang dilakukan pada siklus sebelumnya. Kedua macam data itu dianalisis berdasarkan cara analisis data kualitatif dan kuantitatif. Interpretasi terhadap analisis data dilakukan untuk menyimpulkan dampak tindakan. terutama perubahan yang terjadi terhadap dinamika kelompok dalam pembelajaran. (4) MELAKSANAKAN TINDAKAN Setelah merencanakan tindakan. lembar cek kompetensi Instrumen-instrumen di atas perlu dilengkapi dengan instrumen lain seperti pedoman pengamatan. lembar cek wawancara personalia sekolah. siklus bisa dihentikan. Jika belum. pedoman penilaian. observasi kelas terstruktur. pedoman wawancara. Begitu pula interaksi guru-siswa. Setelah itu melaksanakan penilaian (asesmen). dan siswa-siswa dan kondisi kelas. Hasil belajar non-kognitif juga diamati pada saat ini. kegiatan berikutnya adalah melaksanakan skenario pembelajaran dengan mengaplikasikan inovasi pembelajaran.Instrumen pengamatan untuk kelas meliputi format anecdotal organisasi kelas. Sebelum melanjutkan ke siklus berikutnya guru perlu melakukan refleksi. lanjutkan ke siklus berikutnya. Kesastraan – KKG 48 .

sastra selalu bersinggungan dengan pengalaman manusia yang lebih luas daripada yang bersifat estetik saja. Berbagai segi kehidupan dapat diungkapkan dalam karya sastra. dan (2) materialisme. Aliran idealisme ini dapat dibagi menjadi (a) romantisisme. moral. (4) Pembelajaran apresiasi sastra adalah pembelajaran untuk memahami nilai kemanusiaan di dalam karya yang dapat dikaitkan dengan nilai kemanusiaan di dalam dunia nyata. dan (2) dilihat dari kurikulum yang digunakan di sekolah. Berkaitan dengan maksud tersebut. Periodisasi sastra adalah penggolongan sastra berdasarkan pembabakan waktu dari awal kemunculan sampai dengan perkembangannya. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: (1) Pembelajaran sastra berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa pada budaya bangsa. Karya sastra menurut jenisnya terbagi atas puisi. Kesastraan – KKG 49 . Pada prinsipnya. bukan substansinya. Demikian pula komponen–komponen yang turut membangun karya sastra tersebut. yakni pengalaman kemanusiaan dalam segala wujud dan dimensinya. prosa. dan teori sastra. (c) mistisisme. (3) Pembelajaran apresiasi sastra bukan pelajaran sejarah. serta pandangan dan pemikiran pengarang terhadap masalah yang dijadikan objek karya kreatifnya. Ada beberapa prinsip dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra. Idealisme adalah aliran romantik yang bertolak dari cita-cita yang dianut oleh penulisnya. juga berdasarkan ciri-ciri sastra yang dikaitkan dengan situasi sosial.BAB VI RANGKUMAN Sastra bukanlah hanya seni bahasa. Periodisasi sastra. Jelasnya faktor yang menentukan adalah kenyataan bahwa sastra menggunakan bahasa sebagai medianya. segala sesuatu yang terlihat di alam ini hanyalah merupakan bayangan dari bayangan abadi yang tidak terduga oleh pikiran manusia. Menurut aliran ini. (2) Pembelajaran sastra memberikan kepuasan batin dan pengayaan daya estetis melalui bahasa. melainkan suatu kecakapan dalam menggunakan bahasa yang berbentuk dan bernilai sastra. selain berdasarkan tahun kemunculan. yakni (1) idealisme. aliran. psikologi. dan (d) surelisme. dan (b) memperoleh pengetahuan sastra. Pengenalan terhadap ciri-ciri bentuk sastra ini memudahkan proses pemahaman terhadap maknanya. (b) simbolik. Secara umum. Substansi karya sastra apa pun bentuknya tetap sama. Sastra selalu melibatkan pikiran pada kehidupan sosial. Pembagian tersebut semata-mata didasarkan atas perbedaan bentuk fisiknya saja. aliran sastra dibedakan menjadi dua bagian besar. Adapun tujuan pembelajaran sastra dapat dilihat dari dua sisi. yaitu: (1) dilihat secara umum. dan drama. dan agama. tujuan pembelajaran sastra adalah agar siswa: (a) memperoleh pengalaman bersastra.

Cara lain adalah dengan menarasikan sepenggal kehidupan kita. Jadi dalam hal ini siswa siswa mampu berekspresi sastra melalui pengekspresian karya sastra. seperti menulis puisi. cerpen. Selain itu juga bisa dilakukan dengan menulis surat kepada penulis hasil karya sastra tersebut. Kegiatan ekspresi sastra secara tertulis yang dapat kita lakukan adalah menulis karya sastra. Ekspresi sastra adalah kegiatan kreatif yang memungkinkan kita mendapatkan pengalaman artistik. menonton pementasan sastra. dan memainkan atau mementaskan naskah drama. berdeklamasi. dramatisasi cerpen. atau melakukan dialog dengan karya-karya sebelumnya. atau melibatkan tokoh-tokoh yang terdapat dalam sejarah. mitologi atau karya sastra lainnya. membaca cerpen. yaitu mampu membaca karya sastra secara puitis dan estetis. pengalaman tersebut dapat kita tuangkan ke dalam buku harian. yang dalam ilmu sastra dapat dijadikan bahan kajian resepsi sastra dan intertekstualitas. mementaskan drama. membaca kritis. mendeskripsikan pengalaman secara emotif. dan akhirnya sampai pada tujuan yang kita cita-citakan. cerpen. dan naskah drama. Sebagai langkah awal. Kesastraan – KKG 50 . Kegiatan pengekspresian tersebut dapat dilakukan dengan cara: menulis (puisi. Selain itu dapat dilakukan dengan cara membaca puisi dan cerpen serta terampil dalam memainkan sebuah naskah drama. mendengarkan pembacaan karya sastra. Dalam kegiatan ekspresi sastra secara tertulis. dll. Dalam kegiatan ekspresi sastra secara lisan. dramatisasi puisi. Sebelum berlatih dasar-dasar drama. kita dapat memanfaatkan pengalaman yang kita alami sendiri. Pengalaman tersebut dilakukan siswa dengan membaca hasil karya sastra. kegiatan ekspresi sastra secara lisan. kita dapat memanfaatkan dasar-dasar bermain drama sebagai sarana untuk meningkatkan peralatan suara dan anggota tubuh kita.Tujuan untuk memperoleh pengalaman bersastra dimaksudkan agar siswa memperoleh pengalaman berapresiasi dan berekspresi sastra. bahkan banyak sastrawan yang melakukannya untuk mereaksi. rampak puisi. musikalisasi puisi. Hal terakhir dilakukan bukan untuk menjiplak karya yang sudah ada. Empat teknik membaca tersebut yaitu: membaca dalam hati. dialog). mendongeng dengan bahan cerita rakyat. Hasil kreasi atau karya sastra dapat dipakai sebagai media dalam pembelajaran apresiasi sastra. baik secara tertulis maupun secara lisan. Sementara itu. bahkan ragawi atau kinestetik adalah membaca puisi. kita dapat meningkatkan daya apresiasi dan ekspresi kita secara optimal dengan empat teknik membaca. menanggapi. paduan baca cerpen. membaca nyaring.

Soal Latihan bahan ajar Untuk memantapkan pemahaman Anda terhadap materi kesusastraan. prosa. Sementara romantik realisme mengutamakan perasaan yang bertolak dari kenyataan (contoh: puisi-puisi Chairil Anwar dan Asrul Sani). H. Kunci Jawaban Sastra adalah bentuk seni yang dilahirkan dari keindahan penggunaan bahasa. Tiga genre sastra Indonesia. 2.Jassin mengelompokkan sastra Indonesia atas dua periode. yang bersumber dari cerpen. legenda. yang terdiri atas empat angkatan. Jassin. Periodisasi sastra menurut H. Jelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen! 6. keaslian gagasan yang diungkapkan. (2) Angkatan Pujangga Baru. (3) Angkatan’45. b) Periode sastra Indonesia Modern. Pengalaman batin yang 2. 3. jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini! 1.B. Jelaskan pengertian sastra! Sebutkan periodisasi sastra menurut H. dan kedalaman pesan yang disampaikan baik secara lisan maupun tulis.B. atau film yang pernah Anda tonton! B. dan drama. Tulislah sebuah cerpen dengan tema bebas. yaitu: (1) Angkatan Balai Pustaka.B. 1. Kesastraan – KKG 51 . yang bersumber dari peristiwa menyedihkan atau menyenangkan yang pernah Anda alami! 9. Puisi adalah karya sastra yang khas penggunaan bahasanya dan memuat pengalaman yang disusun secara khas pula. yang melibatkan tokoh-tokoh yang pernah Anda kenal. Jassin! Jelaskan pengertian aliran romantik idealisme dan berilah contoh karya sastra yang dipengaruhi aliran tersebut! 4. 3. yaitu: a) Periode sastra Melayu Lama. karya sastra.BAB VII PENILAIAN A. 4. Romantik idealisme adalah aliran kesusastraan yang mengutamakan perasaan yang melambung tinggi ke dalam fantasi dan cita-cita. Sebutkan dan jelaskan genre sastra Indonesia! 5. Jelaskan fungsi bahasa dalam karya sastra! 7. Tulislah sebuah naskah drama pendek dengan tema bebas. yaitu puisi. Hasil sastra Angkatan . Jelaskan karakteristik drama! 8. baik dalam sejarah. dan Angkatan’66. Tulislah sebuah puisi dengan tema bebas. Pujangga Baru umumnya termasuk aliran ini. maupun dalam kehidupan sehari-hari! 10.

5. dan (3) penggunaan bahasa yang cenderung longgar. dan gaya bahasa. Drama memiliki dua aspek esensial. Fungsi fatis. imbauan. b. peristiwa. dan sikap yang kita sampaikan. Rubrik penilaian (untuk soal no. Prosa merupakan jenis karya sastra dengan ciri-ciri antara lain: (1) bentuknya yang bersifat penguraian. Fungsi konatif berisi konsepsi bahwa peristiwa bahasa dalam komunikasi berfungsi menimbulkan efek. 7. ataupun dorongan tertentu penanggapnya. dengan latar dan tahapan tertentu yang sering disebut dengan cerita rekaan. Bentuk ini terbagi atas kategori cerita pendek. Fungsi bahasa dalam karya sastra adalah sebagai berikut: Fungsi emotif mengacu pada fungsi bahasa untuk menggambarkan. novelet. benda ataupun kenyataan tertentu sejalan dengan gagasan. Fungsi puitik yakni fungsi bahasa untuk menggambarkan makna sebagaimana terdapat dalam lambang kebahasaan itu sendiri. yaitu sastra. dan sikap penyair. amanat. Bentuk ini merupakan rangkaian peristiwa imajinatif yang diperankan oleh pelaku-pelaku cerita. sudut pandang. 9. 8. ujaran. perasaan. tokoh/ penokohan. perasaan. latar. dan gerak.terkandung dalam puisi disusun dari peristiwa yang telah diberi makna dan ditafsirkan secara estetik. pendapat. (2) adanya satuan-satuan makna dalam wujud alinea-alinea. pendapat. dan novel. Unsur-unsur intrinsik cerpen adalah tema. dan 10) Kesastraan – KKG 52 . alur. mengacu pada konsepsi bahwa bentuk kebahasaan yang digunakan dalam komunikasi juga bisa digunakan untuk fungsi mempertahankan hubungan guna menciptakan kesan keakraban ataupun menciptakan bentuk-bentuk hubungan tertentu. 6. Karakteristik karya sastra drama adalah: a. Fungsi referensial mengacu pada fungsi bahasa untuk menggambarkan objek. Drama memiliki tiga dimensi. yaitu aspek cerita dan aspek pementasan. Drama adalah Karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog para tokohnya berisi cerita atau tiruan perilaku manusia dengan tujuan untuk dipentaskan. membentuk dan mengekspresikan gagasan.

dan latar) 2) sarana cerita (sudut pandang. waktu dan sosial) Menggunakan 1) kaidah EYD 2) keajekan penulisan 3) ragam bahasa yang disesuaikan dengan dimensi tokoh dan latar Hanya memuat dua subaspek Hanya memuat satu subaspek Kesesuaian penggunaan bahasa cerpen Memuat ketiga subaspek. namun tidak lengkap (misalnya. dan keutuhan) dan penahapan plot (awal. simbolisme. kejutan. gaya bahasa. akhir) 2) dimensi tokoh (fisiologis. rasa ingin tahu.Soal nomor 8 (menulis puisi) dapat mengikuti rubrik penilaian sebagai berikut: Aspek Kelengkapan aspek formal cerpen 25 Memuat 1) judul 2) nama pengarang 3) dialog 4) narasi Memuat 1) fakta cerita (plot. tengah. namun tidak lengkap Hanya memuat dua subaspek Hanya memuat satu subaspek Kesastraan – KKG 53 . namun tidak lengkap Hanya memuat dua subaspek Hanya memuat satu subaspek Keterpaduan unsur/struktur cerpen Struktur disusun dengan memperhatikan 1) kaidah plot (kelogisan. 3) pengembangan tema yang relevan dengan judul Kriteria dan Skor 20 15 Hanya Hanya memuat memuat tiga dua subaspek subaspek 10 Hanya memuat satu subaspek Kelengkapan unsur intrinsik cerpen Memuat ketiga subaspek. tanpa disertai latar yang jelas) Memuat ketiga subaspek. fakta cerita hanya memuat plot dan tokoh. psiklogis. penceritaan. dan ironi). tokoh. dan sosiologis 3) dimensi latar (tempat.

fakta cerita hanya memuat plot dan tokoh. simbolisme. gaya bahasa. kejutan. dan sosiologis 3) dimensi latar (tempat. akhir) 2) dimensi tokoh (fisiologis. namun tidak lengkap Hanya memuat dua subaspek Keterpaduan unsur/struktur cerpen Struktur disusun dengan memperhatikan 1) kaidah plot (kelogisan. penceritaan. dan ironi). namun tidak lengkap (misalnya. psiklogis. 3) pengembangan tema yang relevan dengan judul Kriteria dan Skor 20 15 Hanya Hanya memuat tiga memuat dua subaspek subaspek 10 Hanya memuat satu subaspek Hanya memuat satu subaspek Kelengkapan unsur intrinsik cerpen Memuat ketiga subaspek. tengah. dan latar) 2) sarana cerita (sudut pandang. namun tidak lengkap Hanya memuat dua subaspek Hanya memuat satu subaspek Kesastraan – KKG 54 . dan keutuhan) dan penahapan plot (awal. tokoh.Soal nomor 9 (menulis cerpen) dapat mengikuti rubrik penilaian sebagai berikut: Aspek 25 Kelengkapan aspek formal cerpen Memuat 1) judul 2) nama pengarang 3) dialog 4) narasi Memuat 1) fakta cerita (plot. rasa ingin tahu. waktu dan sosial) Menggunakan 1) kaidah EYD 2) keajekan penulisan 3) ragam bahasa yang disesuaikan dengan dimensi tokoh dan latar Hanya memuat dua subaspek Hanya memuat satu subaspek Kesesuaian penggunaan bahasa cerpen Memuat ketiga subaspek. tanpa disertai latar yang jelas) Memuat ketiga subaspek.

3) kramagung dan wawancang. 2) informasi tokoh. namun tidak lengkap 2 Hanya memuat satu aspek Kelengkapan unsur intrinsik Memuat ketiga subaspek. dan adegan Memuat 1) fakta cerita (plot. namun tidak lengkap Hanya memuat dua subaspek Hanya memuat satu subaspek Kesesuaian penggunaan bahasa Memuat ketiga subaspek. dan latar) 2) sarana cerita (sudut pandang penceritaan. 4) pembagian babak. 3) pengembangan tema Struktur disusun dengan memperhatikan 1) kaidah dan penahapan plot. dan ironi).Soal nomor 10 (menulis naskah drama) dapat mengikuti rubrik penilaian sebagai berikut: Aspek 5 Kelengkapan aspek formal drama Memuat 1) judul.tokoh. gaya bahasa. namun tidak lengkap Hanya memuat dua suaspek Hanya memuat satu subaspek Keterpaduan unsur/struktur Memuat ketiga subaspek. nilai yang dicapai siswa dikalikan 5) Kesastraan – KKG 55 . namun tidak lengkap Hanya memuat dua subaspek Hanya memuat satu subaspek Skor tertinggi: 20 (untuk mencapai nilai 100. 2) dimensi tokoh 3) dimensi latar Menggunakan 1) kaidah EYD 2) keajekan penulisan 3) ragam bahasa yang disesuaikan dengan dimensi tokoh Kriteria dan Skor 4 3 Hanya Hanya memuat memuat tiga empat subaspek subaspek. simbolisme.

1981. XVIII. H. Jakarta: Gunung Agung.B. S.B. 2002. Jakarta: Pustaka Jaya. 2008. Metode Pengajaran Sastra. 1971.1988. Jakarta: Kesastraan – KKG 56 . 1972. Tifa Penyair dan Daerahnya. “Analisis Naskah Drama. Terjemahan Asrul Sani. Matra. Bandung: Institut Teknologi Bandung. Aliran Klasik. Bandung: Studiklub Teater: Bandung. The Teaching of Literature. Pramana. Jan Van dkk. Suyatna. 1982. B. Persiapan Seorang Aktor. Atmojo. Dramaturgi. B. Tim Penyusun Kamus. No. Rahmanto. Teeuw. 1992. Jakarta: Pustaka Jaya.DAFTAR PUSTAKA Anirun. Sudjiman. Tentang Bermain Drama. Bandung: Rosda. Diktat. Teknik Pemeranan. Jakarta: Gramedia.L. 1988. London: Longman Group LTD. dan Realisma. Jakarta: Pustaka Jaya . 1990. Sumiyadi. Lima Drama. Pendidikan Seni Teater Buku Guru Sekolah Dasar . 1980. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta: Depdikbud. Peristiwa Teater. Kamus Istilah Sastra. Moody. Bandung : Gunung Larang. Kemala. (Peny). Jakarta: Gramedia. Yus. 1986.” Kertas Kerja. Hadimadja. _________. 1986. RMA. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. 71. Soelarto. Pengantar Ilmu Sastra (Terjemahan Dick Hartoko). H. Jakarta: Gunung Agung. Wawancara dengan Arifin C. Padmodarmaya. Rendra. 1992. Romantik. Effendi. Metode Pengajaran Sastra. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Rusyana. A. “Drama sebagai Seni Sastra dan Pertunjukan” dalam Mimbar Pendidikan Bahasa dan Seni No. 1985. Jakarta: Pustaka Jaya. Stanislavski. Tanpa Tahun. Noer. Jakarta: Pustaka Jaya. Panuti. Harymawan. 1982. 1979. Aoh K. Jassin. Yogyakarta: Kanisius. "Saya selalu Takut". 1996. Luxemburg. _________. 1984.

Abdul Razak.Gramedia. 2000. Rene dan Austin Warren. Kesastraan – KKG 57 . Teori Kesusastraan (Terjemahan Melani Budianta). Jakarta: Gramedia. 1989. Jakarta: Balai Pustaka. Wellek. Kamus Istilah Sastra. Zaidan.

dan ragawi mendongeng menuturkan cerita rakyat baik dengan kata-kata sendiri. maupun dengan cara menghafalnya musikalisasi puisi menggubah puisi menjadi sebuah lagu dengan mempertimbangkan keselarasan antara karakter puisi dan musik yang mengiringinya paduan baca cerpen membacakan cerpen secara padu sehingga menimbulkan suara yang indah dan sesuai dengan isi dan karakter cerpen rampak puisi membacakan puisi secara serempak atau secara padu sehingga menimbulkan suara yang indah dan sesuai dengan isi dan karakter puisi Kesastraan – KKG 58 . penghargaan. dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra drama ragam satra dalam bentuk dialog yang dimaksudkan untuk dipertujukkan di atas pentas. mengubah teks cerpen menjadi teks drama dialog kata-kata atau kalimat yang diucapkan oleh tokoh dalam sebuah drama ekspresi sastra segala kegiatan yang memungkinkan artistik sastra kita yang mendapatkan pengalaman diungkapkan baik secara lisan. dramatisasi puisi mendramakan puisi. kepekaan pikiran kritis.GLOSARIUM apresiasi sastra kegiatan menggauli karya sastra secara sungguhsungguh sehingga tumbuh pengertian. mengubah teks puisi menjadi teks drama dramatisasi cerpen mendramakan cerpen. tertulis.

2 Menjelaskan jenis dan bentuk karya sastra Materi Pengertian sastra Strategi Penulisan Pemaparan tentang pengertian sastra Penilaian Teknik:Tes tulis Bentuk: Uraian Ciri-ciri sastra Pemaparan tentang ciriciri sastra Periodesasi Pemaparan tentang sastra Indonesia periodisasi sastra Indonesia Aliran dalam sastra Genre sastra Pemaparan tentang aliran sastra Pemaparan tentang pengertian sastra imajinatif Pemaparan tentang jenis dan bentuk sastra imajinatif Teknik. Menjelaskan genre sastra 2. Kompetensi Mampu menjelaskan dasardasar teori dan sejarah sastra Indikator 1.2 Menjelaskan ciri-ciri sastra 1.1 Menjelaskan pengertian sastra 1. Tes tulis Bentuk: Uraian Teknik:Tes tulis Bentuk: uraian Teknik:Tes tulis Bentuk: uraian Teknik:Tes tulis Bentuk: uraian Teknik:Tes tulis Bentuk: uraian Puisi Prosa Drama 4. 1.4 Menjelaskan aliran sastra 2. Pembelajaran mengapresiasi karya sastra 4.SILABI Mata Diklat : Kesusastraan (KKG) No.1 Menjelaskan genra sastra 2.3 Menjelaskan periodisasi sastra 1.1 Mengapresiasi puisi Apresiasi Puisi Pemaparan tentang mengapresiasi puisi Teknik :Unjuk kerja Bentuk:lisan/tulisan Kesastraan – KKG 59 .

Kompetensi Indikator 4.No. Mengekspresikan karya sastra 5.2 Menulis dan membacakan prosa Pemaparan tentang Penulisan dan pembacaanPuisi menulis dan membacakan puisi Penulisan dan pembacaan prosa .1 Menulis dan membacakan puisi 5.3 Mengapresiasi drama Materi Apresiasi prosa Strategi Penulisan Pemaparan tentang mengapresiasi prosa Pemaparan tentang mengapresiasi drama Penilaian Teknik: Unjuk kerja Bentuk: lisan/tulisan Teknik: Unjuk kerja Bentuk: lisan/tulisan Teknik: Unjuk kerja Bentuk: tulisan/lisan Apresiasi drama 5. Penulisan dan pemeranan naskah drama Pemaparan tentang menulis dan membacakan prosa Teknik:Unjuk kerja Bentuk: tulisan/lisan 5.3 Menulis dan bermain drama Pemaparan tentang menulis dan bermain drama Teknik:Unjuk kerja Bentuk: tulisan/lisan Kesastraan – KKG 60 .2 Mengapresiasi prosa 4.

Kesastraan – KKG 61 .