BAB II KONFIGURASI POLITIK PEMERINTAHAN SBY-JK TAHUN 2004-2009

1. Kekuasaan Eksekutif Setelah mengalami perubahan sebanyak empat kali maka terjadi pula perubahan kekuasaan eksekutif yang sangat drastis. Ini merupakan implikasi dari terauma masa orde baru yang mana lembaga eksekutif sangat dominan. Sehingga masyarakat sipil dan organisasi masyarakat menginginkan penyempurnaan batasan kekusaan lembaga eksekutif. Berikut adalah kekuasaan eksekutif menurut UUD 1945 Pasal 4 ayat (1) menyebutkan bahwa Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar. Dalam kewenangannya sebagai kepala pemerintahan tentu juga presiden juga menjabat sebagai kepala Negara. Ini menanadakan bahwa Negara Indonesia menganut sistem

presidensialisme. Kekuasaan Presiden sebagai kepala negara hanyalah kekuasaan administratif, simbolis dan terbatas yang merupakan suatu kekuasaan disamping kekuasaan utamanya sebagai kepala pemerintahan. Pasal 5 ayat (1) menyebutkan bahwa Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Dalam kewenangan presiden tersebut hanya sebatas mengajukan rancangan undang-undang dan membahasnya bersaman. Akan tetapi pemegang kekuasaan membentuk undang-undang berada pada lembaga legislatif. Pada awalnya sebelum mengalami perubahan presiden memegang kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan

Universitas Sumatera Utara

Rakyat. Dari perubahan tersebut terjadi pergeseran kekuasaan membentuk undangundang yang semula berada pada presiden ke lembaga DPR. Presiden hanya berhak mengajukan undang-undang. Pasal 5 ayat (2) berbunyi Presiden menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya. Setelah rancangan undangundang mendapat persetujuan bersama oleh eksekutif dan legislatif menjadi undangundang, maka presiden menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-undang tersebut. Pasal 10 mengatakan bahwa Presiden memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Presiden sebagai kepala pemerintahan sekaligus sebagai kepala Negara memegang kendali atau sebagai panglima tertinggi atas angkatan bersenjata. Pasal 11 ayat (1) berbunyi Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain. 39 Dalam hal ini kewenangan presiden masih terikat juga oleh kewenangan legislatif berupa bentuk persetujuan. Semua hal diatas tidak berlaku tanpa persetuajuan lembaga legislatif. Pasal 11 ayat (2), Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara, dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. 40 Tidak semua perjanjian internasional diharuskan mendapat persetujuan dari DPR. Jelas disebutkan

39 40

Perubahan keempat UUD 1945 Perubahan ketiga UUD 1945

Universitas Sumatera Utara

Syarat-syarat dan akibatnya keadaan bahaya ditetapkan dengan undang-undang. Pasal 14 ayat (1) Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung.bahwa perjanjian internasional yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat seperti kedaulatan Negara. Demikian halnya dengan penerimaan penempatan duta besar Negara lain. keuangan Negara dan perjanjian yang mengharuskan pembentukan undang-undang baru seperti ratifikasi perjanian internasional. Pasal 12 berisis Presiden menyatakan keadaan bahaya.41 Serta ayat (3) Presiden menerima penempatan duta negara lain dengan menperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat. DPR melakukan semacam uji kelayakan dan menyampaikan hasil uji kelayakan tersebut kepada presiden sebagai bahan pertimbangan presiden untuk mengambil keputusan tentang pengangkatan duta besar tersebut. 43 Dalam hal ini presiden memegang kekuasaan dalam hal kehakiman berupa pemberian grasi dan rehabilitasi. Kewenangan presiden dalam menyatakan keadaan bahaya tentu dengan alasan yang kuat seperti dalam menyataka darurat militer atau darurat sipil Pasal 13 ayat (1) Presiden mengangkat duta dan konsul dan ayat (2) dalam hal mengangkat duta. Presiden memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat. 41 42 Perubahan pertama UUD 1945 Perubahan pertama UUD 1945 43 Perubahan pertama UUD 1945 Universitas Sumatera Utara . 42 Dalam mekanisme pemberian pertimbangan DPR selama ini adalah melakukan pemanggilan satu perstau calon duta besar yang diajukan presiden. Presiden seyogianya memberikan pemberitahuan sebelumnya kepada DPR dalam penerimaan duta besar Negara lain sehingga DPR dapat memberikan pertimbangan.

dan lainnya. Jika sebelumnya ada lembaga Negara yang memberikan pertimbangan kepada presiden yang setingkat dengan presiden yaitu Dewan Pertimbangan Agung. dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan undang-undang. tanda jasa. 50 45 Perubahan pertama UUD 1945 46 Perubahan pertama UUD 1945 47 Perubahan keempat UUD 1945 Universitas Sumatera Utara . 47 Dewan pertimbangan inilah yang sering disebut Wantimpres yang pada masa pemerintahan SBY-JK beranggotakan sembilan orang yaitu: Ali Alatas. Jakarta. Sinar Grafika. Yenny Wahid. Namun lembaga itu dihapus dan dibuat Wantimpres yang secara langsung melekat pada lembaga presiden Pasal 17 yat (2) menyatakan bahwa Menteri-menteri itu diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Grasi merupakan dihapuskannya sanksi hukuman terhadap narapidana demikian juga rehabilitasi merupakan pemulihan nama baik seseorang yang rusak akibat putusan pengadilan. Pembentukan kabinet merupakan hak prerogatif dari presiden. Ini merupakan kewenangan mutlak yang dimiliki presiden. T. hal. 45 Dalam memberi amnesty dan abolisi memperhatikan pertimangan DPR karena ini bersifat politis.B Silalahi.Akan tetapi pemberian grasi dan rehabilitasi tersebut dengan memperhatikan pertimbangan daru Mahkamah Agung. 46 Pasal 16 berbunyi Presiden membentuk suatu dewan pertimbangan yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden. 2009. yang selanjutanya diatur dalam undang-undang. Rachmawati Soekarno Putri. Dalam 44 Jimly Asshiddiqie. A. Komentar Atas Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 44 Pasal 14 ayat (2) Presiden memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat. Sjahrir. Emil Salim.Gani. Pasal 15 menyatakan bahwa Presiden memberi gelar.

pembentukan kabinet Indonesia Bersatu SBYJK sangat kental dengan pembentukan kabinet dalam sistem pemerintahan parlementer. op cit. sementara kebijakan yang bersangkutan sudah sangat mendesak dibutuhkan segera.pembentukan kabinet. 48 Apabila Perpu tersebut ditolak oleh DPR maka otomatis Perpu tersebut batal demi hukum. Presiden terbebas dari intervensi partai politik dan lebih mengedepankan profesionalisme dan kemampuan daripada akomodatif terhadapa kepentingan partai politik. Namun dalam kenyataannya. presiden memiliki kekuasaan tunggal dalam menyususn kabinetnya. 70 Universitas Sumatera Utara . Presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang. maka timbullah keadaan yang disebut kegentingan yang memaksa. 48 Jimly. Pasal 20 ayat (2) Setiap rancangan undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama. akan tetapi waktu yang tersedia tidak mencukupi. Komentar. presiden dapat menetapkan peraturan pemerintah pengganti undangundang yang mengharuskan Presiden menetapkan sesuatu kebujakan atau melakukan suatu tindakan yang melanggar undang-undang yang sah. Dalam hal darurat. hal. Untuk itulah pasal ini memberikan fasilitas konstitusional kepada presiden untuk menerbitkan perpu yang dari segi bentuknya adalah PP. Pasal 20 ayat (4) Presiden mengesahkan rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama untuk menjadi undang-undang. Untuk itu perlu diadakan perubahan undang-undang itu. tetaoi berisi materi yang seharusnya diatur dalam UU. Pasal 22 ayat (1) Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa.

49 Dalam hal ini presiden melalui amanat presiden memberikan wewenang kepada Menteri Keuangan dalam menyusun RAPBN dan membahasnya bersama DPR untuk mendapat persetujuan bersama menjadi undang-undang. 49 50 Perubahan ketiga UUD 1945 Perubahan ketiga UUD 1945 51 Perubahan ketiga UUD 1945 Universitas Sumatera Utara . Pasal 24B ayat (3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 23F ayat (1) Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden. Undang-undang RAPBN akan selalu datang dari presiden sebagai pelaksana anggaran. dan tiga orang oleh Presiden. Sembilan orang anggota hakim konstitusi yang ditetapkan oleh Presiden tersebut adalah yang diajukan masing-masing tiga orang oleh Mahkamah Agung. Dalam pasal 24A ayat (3) presiden memiliki kewenangan untuk menetapkan hakim agung dari calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk mendapatkan persetujuan. 51 Dalam pasal 24C ayat (3) presiden memiliki kewenangan untuk menunjuk tiga orang calon hakim konstitusi dan menetapkan sembilan orang anggota hakim konstitusi. DPR akan memilih calon yang telah ditentukan oleh presiden dan setelah itu diresmikan oleh presiden. tiga orang oleh Dewan Perwakilan Rakyat.Pasal 23 ayat (2) Rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara diajukan oleh Presiden untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah. 50 Presiden membentuk panitia seleksi untuk memilih calon anggota BPK untuk diajukan ke DPR.

Kompromi politik dalam penyusunan dan perombakan kabinet selama pemerintahan SBY-JK selalu disertai maneuver dan intervensi partai politik yang tergabubg dalam koalisi pendukung pemerintah. Partai Amanat Nasional juga menempatkan dua kadernya di kabinet yaitu Hatta Radjasa sebagai Menteri Perhubungan dan Bambang Sudibyo sebagai Menteri Pendidikan Nasional. Op cit. Intervensi partai politik terhadap presiden terlihat bila Presiden Yudhoyono berencana mencopot seorang menteri dari partai politik. Model lain.1. Demikian juga dengan Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Bulan Bintang Yang masing-masing menempatkan kadernya 2 orang di kabinet serta PKPI mendapatkan 1 kursi kabinet. partai itu 52 Hanta Yuda.2. 52 Dalam pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sangat jelas ada kompromi politik antara SBY dan partai politik pendukung pemerintah. SBY-JK mengakomodasi kepentingan partai tersebut dengan menempatkan kader-kader partai tersebut di kabinetnya. Partai politik tersebut mengancam akan mencabut dukungannya kepada pemerintah. 134 Universitas Sumatera Utara . Partai Persatuan Pembangunan menempatkan dua kadernya di kabinet yaitu Suryadarma Ali sebagai Menteri Koprasi dan Usaha Menengah dan Bachtiar Chamsah sebagai menteri sosial. Presiden-Partai Politik Pola relasi kekuasaan presiden dan partai politik pada era pemerintahan SBYJK yang memiliki kekuatan signifikan di DPR sangat dipengaruhi sejauh mana intervensi partai politik terhadap Presiden Yudhoyono dan sebaliknya sejauh mana presiden mengakomodasi kepentingan partai politik dalam komposisi dan proses penyususnan kabinet. apabila ada menteri tidak loyal kepada partainya. hal.

Presiden-DPR Pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla merupakan hasil pemilihan secara langsung oleh rakyat. Pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar 1945 pasal 6A : (1) Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat. (3) Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari lima puluh persen dari jumlah suara dalam pemilihan umum dengan sedikitnya dua puluh persen suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia. 1. dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden. 53 Ibid. 53 Dengan demikian kekuasaan Presiden Yudhoyono tersandera oleh kepentingan pragmatis partai politik yang ingin mendapatkan jatah kekuasaan.3. 153 Universitas Sumatera Utara .mendesak presiden agar menteri tersebut dicopot dari kabinet. Sebagai bukti bahwa karakteristik presidensialisme pada pemerintahan SBY-JK telah terpenuhi dalam pemilihan langsung oleh rakyat. (2) Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum. Jika tidak diganti. partai tersebut mengancam menarik dukungannya kepada presiden. Pada pemerintahan sebelumnya pemilihan presiden dilakukan oleh parlemen. Pemerintahan tersebut merupakan pemerintahan pertama di Indonesia hasil dari pemilihan langsung oleh rakyat. hal. Dan hal ini tidak dapat diabaikan oleh presiden karena hal itu menjadi keharusan dalam sistem pemerintahan yang menganut paham multi partai.

(5) Tata cara pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden lebih lanjut diatur dalam undang-undang.(4) Dalam hal tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang memperoleh suara rakyat terbanyak dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden. 54 Ini untuk menguatkan sistem presidensialisme dan menjaga keberlangsungan pemerintahan selama masa jabatannya. Model pemilihan presiden secara langsung ini merupakan hasil amandemen ketiga Undang-Undang Dasar 1945 sebagai bentuk penyempurnaan sistem pemerintahan presidensial. Mungkin ini akibat dari kita menganut sistem banyak partai. 54 Perubahan ketiga UUD 1945 Universitas Sumatera Utara . Pemerintahan SBY-JK sering sekali mendapat tekanan dari DPR dalam pemerintah melaksanakan kebijakannya. Tidak seperti sistem parlementer keberlangsungan pemerintahan sangat rawan sekali akibat dari kepentingan-kepentingan partai politik di parlemen. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 7C menyebutkan presiden tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat. Implikasi dari pemilihan presiden secara langsung adalah hubungan presiden dan parlemen hanya sebatas pengawasan dan keseimbangan. Namun dalam prakteknya pemerintahan SBY-JK selalu di bawah ancaman pemakzulan oleh DPR dalam mekanisme check and balances. Presiden dan parlemen sebagai lembaga mandiri menjalankan kekuasaan masing-masing. Akan tetapi ini semua tidak terlepas dari kompleksnya kepentingan yang terangkum dalam lembaga DPR. Antara kedua lembaga tersebut tidak dapat saling membubarkan.

Namun dalam pelaksanaan sistem pemerintahan presidensial dalam pemerintahan SBY-JK terlihat sekali bahwa DPR sangat dominan. Presiden sebagai lembaga pelaksana undangundang tidak lagi mendominasi kekuasaan sebagiaman terjadi sebelum UndangUndang Dasar 1945 diamandemen. Sebagai contoh ketika Presiden SBY menunjuk Jenderal Sutanto sebagai calon tunggal Kapolri sangat banyak pertentangan dari kalangan DPR karena membuat mereka tidak memungkinkan melakukan deal-deal politik dengan calon.Setelah amandemen Undang-Undang Dasar 1945. Ini telihat dalam penunjukan Kapolri dan Pangliam TNI yang dalam strukutur setingkat dengan menteri dan berada di bawah presiden harus mendapat persetujuan DPR. Rapuhnya ikatan koalisi juga sangat terlihat dalam pemerintahan SBY-JK terutama dalam hal menyangkut kebijakan pemerintah. Demikian juga dengan penunjukan duta besar juga harus mendapat persetujuan DPR. Banyaknya hak interpelasi yang digunakan DPR menandakan ikatan koalisi sangat cair dan tidak dapat mengamankan jalannya kebijakan pemerintahan. Dan yang Universitas Sumatera Utara . relasi kedua lembaga tersebut semakin mandiri dan setara. Demikian juga dengan calon Panglima TNI ketika itu Jenderal Endriartono Sutarto yang juga dalam hal ini Presiden mengajukan calon tunggal. Dalam proses penunjukan Kapolri dan Panglima TNI terjadi dinamika yang sangat keras sekali antara Presiden dan DPR. Presiden hanya sebatas melaksanakan undangundang dan sedikit terlibat dalam pembahasan undang-undang dan parlemen melaksankan kekuasaan membuat undang-undang dan menjalankan fungsi kontrol bagi pemerintah terhadap pelaksanaan undang-undang tersebut. Akan tetapi mereka sebaliknya mengabaikan ikatan koalisi dan melakukan tekanan terhadapa pemerintah.

yang sehari-hari dilakukan oleh Badan Pekerja KNIP. Pemerintah menegaskan pendiriannya yang telah diambil beberapa waktu yang lalu. Mohammad Hatta juga pernah mengeluarkan Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945 tentang anjuran kepada rakyat untuk membentuk partai-partai politik. bahwa: Universitas Sumatera Utara . supaya diberikan kesempatan kepada rakyat seluas-luasnya untuk mendirikan partai-partai politik. dengan restriksi bahwa partai-partai politik itu hendaknya memperkuat perjuangan kita mempertahankan kemerdekaan dan menjamin keamanan masyarakat. X tanggal 16 Oktober 1945 yang menyatakan bahwa Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sebelum terbentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat diserahi kekuasaan eksekutif.paling memojokkan pemerintah adalah lolosnya hak angket DPR terhadap kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. X. 2.1. yang isinya berbunyi sebagai berikut: Berhubung dengan usul Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat kepada Pemerintah. walaupun pemakzulan tersebut masih melalui pengadilan di Mahkamah Konstitusi. Selain mengeluarkan Maklumat No. Partai politik di Indonesia Politik kepartaian di Indonesia dimulai sejak Wakil Presiden Mohammad Hatta mengeluarkan Maklumat No. Potensi pemakzulan oleh DPR juga sangat jelas adanya. Partai Politik Indonesia dan Sistem Kepartaian 2. Ini juga menandakan terjadinya kontrol DPR terhadap pemerintah yang terlalu kuat yang membuat pemerintahan SBY-JK berjalan tidak efektif.

yang dipimpin oleh Sutan Syahrir. berdiri 10 November 1945. Probowinoto. PBI (Partai Buruh Indonesia). berdiri 20 November 1945. PSI (Partai Sosialis Indonesia). 7. yang dipimpin oleh Sutan Dewanis. Soekiman Wirjosandjoyo. Amir Sjarifuddin. yang dipimpin oleh Dr. 3. 2. 4. yang dipimpin oleh Sutan Syahrir. berdiri 8 November 1945. Pemerintah berharap supaya partai-partai politik itu telah tersusun. sebelum dilangsungkannya pemilihan anggota Badan-badan Perwakilan Rakyat pada bulan Januari 1946. Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). yang dipimpin oleh Mr. PRS (Partai Rakyat Sosialis). yang dipimpin oleh Ds. PSI dan PRS kemudian bergabung dengan nama Partai Sosialis. yang dipimpin oleh Njono. Yusuf.1. berdiri 7 November 1945. Amir Sjarifuddin. yaitu: 1. 6. Moch. pada Desember 1945. PKI (Partai Komunis Indonesia). Universitas Sumatera Utara . 5. berdirilah 10 partai politik. Pemerintah menyukai timbulnya partai-partai politik karena dengan adanya partaipartai itulah dapat dipimpin ke jalan yang teratur segala aliran paham yang ada dalam masyarakat. berdiri 7 November 1945. berdiri 8 November 1945. 2. Partai Rakyat Jelata. dan Oei Hwee Goat. Parkindo (Partai Kristen Indonesia). Dengan anjuran itu. berdiri 10 November 1945. yang dipimpin oleh Mr.

berdiri 8 Desember 1945. Kasimo. stabilitas Universitas Sumatera Utara . dan Serikat Rakyat Indonesia. yang dipimpin oleh J. Akan tetapi pada perkembangan berikutnya. yang masing-masing telah berdiri antara bulan November dan Desember 1945.”Dengan adanya tiga organisasi kekuatan sosial politik tersebut. maka sejak pemilu tahun 1971 sampai 1997 hanya diikuti oleh tiga partai saja. pemilihan umum hanya dapat diikuti oleh ketiga partai tersebut.8. Sejak keluarnya maklumat tersebut.B. Permai (Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia). berdiri 17 Desember 1945. diharapkan agar partai-partai politik dan Golkar benar-benar dapat menjamin terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa. Seperti dalam salah satu konsideran UU No. Penguasa Orde baru berkeinginan untuk menjaga stabilitas perpolitikan dengan cara fusi partai tersebut. Assa. PNI didirikan sebagai hasil penggabungan antara PRI (Partai Rakyat Indonesia).J. 10. Jika pada pemilu sebelumnya diikuti oleh banyak partai. PKRI (Partai Katholik Republik Indonesia). yang dipimpin oleh I. yang dipimpin oleh Sidik Djojosukarto. satu hal yang cukup menyakitkan bagi nafas demokrasi dan politik kepartaian adalah kebijakan penciutan partai politik atau fusi partai yang dibuat oleh rezim Orde Baru. yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP). berdiri 29 Januari 1946. 9. Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Golongan Karya (Golkar) Pada masa rentang itu. Gerakan Republik Indonesia. 3/1975 mengenai Partai Politik dan Golkar disebutkan. partai poiltik di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat sampai pada pemilu 1971. PNI (Partai Nasional Indonesia).

Anas Urbaningrum. Djohermansyah Djohan dan Luthfi Mutty. tingkat kompetensi para anggota perwakilan sebagai anggota 55 Koirudin. Affan Gafar. Kedua. Ramlan Surbakti. Ada beberapa hal yang mempengaruhi keberlanjutan dari sebuah partai politik yaitu. Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi. Ketiga. Sentralisasi kepemimpinan partai ke dalam tangan Dewan Pimpinan Pusat memberikan pengaruh yang tidak sedikit. pertama. Sampai pada pemilu tahun 2004 yang melahirkan parlemen tahun 2004. hal. 2004. 4546 Universitas Sumatera Utara . Dengan demikian partai politik dihadapkan pada kenyataan yang dapat menjaga eksistensi mereka sebagai partai politik. Andi Malaranggeng.nasional serta terlaksananya proses percepatan pembangunan. Ini akibat dari dikeluarkannya paket revisi undang-undang politik salah satunya adalah undangundang partai politik yang dirancang oleh tim tujuh yang beranggotakan Ryaas Rasyid. Dari hal itu jelas sekali pemerintah ingin mengkooptasi kebebasan yang seharusnya dimiliki partai politik dengan dalih stabilitas nasional. massa anggota yang kelak diperkuat dengan massa pemilih meski keduanya tidak selalu sama. pemilih tidak dengan sendirinya anggota. Yogyakart. tingkat kompetensi pengurus. 55 Akan tetapi peranan partai politik dalam sistem politik di Indonesia kembali mencuat seiring dengan jatunya pemerintahan Orde Baru. parati-partai politik semakin berperan sejalan dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik. Perpecahan sendiri sudah merupakan pertanda jenis kepemimpinan partai yang bersangkutan. Partai-partai politik di Indonesia semakin bebas untuk berekspresi dan berserikat. Pustaka Pelajar. Partai-partai baru yang bermunculan dengan susah payah mencari konstituen dengan berbagai ideologi dan cara pandang terahadap demokrasi.

57 kartelisasi partai politik dapat dilihat dalamkomposisi kabinet SBY-JK tahun 2004. Gramedia. 2004. Jakarta. hal. 12 57 Kuskridho Ambardi. Mengungkap Politik Kartel. Partai-Partai Politik Indonesia. tidak ada pertanggungjawaban horizontal antara parlemen dan pemerintah. Tabel 2. Keempat. Ideologi dan Program 2004-2009. 2009. Adapun komposisi kabinet tersebut adalah sebagai berikut.1 Jatah Partai Poltik di Kabinet Indonesia Bersatu pasca Reshufle II Parpol Demokrat Golkar Jatah Menteri di Kabinet Indonesia Bersatu Menteri Negara-PAN: Taufik Effendi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata: Jero Wacik Menko Kesra: Aburizal Bakrie Menteri Perindustrian: Fahmi Idris Menteri Negara PPN: Paskah Suzetta Menteri Hukum dan HAM: Andi Matalatta Menteri Sosial: Bachtiar Chamsyah Menteri Koperasi dan UKM: Suryadarma Ali Menteri Pertanian: Anton Apriyantono Menpora: Adhyaksa Dault Menpera: Muhammad Yusuf Ashari Menhub: Hatta Radjasa Mendiknas: Bambang Sudibyo Menteri Negara PDT: Lukman Edy PPP PKS PAN PKB 56 Daniel Dhakidae. Ini tercermin dari komposisi kabinet Pemerintahan SBY-JK.parlemen. Kompas Media Nusantara. Kelima. 6 Universitas Sumatera Utara . Menurut Kuskridho Ambardi partai-partai politik malah membentuk kartel yang menghalangi munculnya oposisi. Tanpa kehadiran oposisi di parlemen. kemampuan eksekutif dan potensi melakukan pekerjaan eksekutif dari sumber daya di dalam partai. tingkat penguasaan sumber daya finansial. setelah perombakan kabinet yang kedua. 56 Partai-partai politik Indonesia pada era pemerintahan SBY-JK gagal menjalankan fungsi pengawasan dan perimbangan di tingkat pemerintahan. hal. Jakarta. ada 8 partai politik yang tergabung dalam koalisi pendukung pemerintah dari berbagai macam ideologi.

S. Puncaknya. Sejak reformasi tahun 1999 dukungan terhadap keberadaan sistem multi partai datang dari berbagai lapisan masyarakat. mereka bertindak seragam sebagai satu kelompok tunggal demi kepentingan bersama. Akhirnya. Kesepakatan yang dicapai di antara partai-partai di DPR itu jelasjelas mengingkari gagasan tentang sistem kepartaian yang kompetitif. Op cit 249 Universitas Sumatera Utara . 2. 58 58 Kuskridho. Sebelum pemerintahan Orde Baru sebenarnya Negara kita telah menganut sistem multi partai. mengaburkan oposisi dan membuat hasil pemilu tak lagi menjadi faktor penentu koalisi.Kaban PKPI Meteri Negara PP: Meutia Hatta Sumber: Hanta Yuda.Op cit hal.Menakertrans: Erman Suparno PBB Menhut: M. Ini memelihara sistem kepartaian yang terkartelisasi.2. Dimulai tahun 1945 sampai tahun 1971. Koalisis jenis ini kemudian berpadu dalam pembentukan kabinet dimana semua partai kecuali PDIP dan PDS bergabung dalam kabinet. semua partai di DPR merekayasa satu mekanisme untuk mendistribusikan keuntungan politik dalam bentuk pembagian posisi ketua komisi. membentuk koalisi secara permisif. 150 Bagaimanan partai-partai peserta pemilu 2004 secara kolektif mengabaikan perbedaan ideologis. Namun sistem multi partai hilang akibat kebijakan fusi partai yang dibuat Rezim Soeharto. Sitem Kepartaian Semangat untuk membangun sistem multi partai yang bermartabat di mulai sejak berakhirnya pemerintahan Orde Baru. mencair dan kemudian berubah menjadi koalisi kemenangan-minimal. Semua indicator kartelisasi tersbut tercermin pada pilpres 2004 ketika berbagai koalisi berbasis ideology muncul.

Partai. 60 Untuk konteks pemilihan umum 2004 partai politik peserta pemilu adalah sebanyak 24 partai. Yogyakarta. 2 Hanta Yuda. Dalam sistem ini sangat sulit mendapatkan suara mayoritas pemenang pemilu dan hal itu memang betul dan terjadi di pemilu Indonesia tahun 2004 yang lalu. desain sistem pemilihan proporsional dalam beberapa sejarah pemilihan umum (faktor penopang). Sementara kemajemukan masyarakat merupakan suatu yang bersifat harus diterima dalam struktur masyarakat indonesia. 59 60 Bambang Cipto. Pustaka Pelajar. Op cit. 2000. tingginya tingkat pluralitas masyarakat (faktor pembentuk). dukungan sejarah sosio-kultural masyarakat (faktor pendorong). hal. Namun ada juga masyarakt yang resah dengan banyaknya partai baru yang muncul pada saat itu yang mencapai ratusan partai politik akhirnya bukan memperlancar arus reformasi. Berikut ini merupakan partai politik peserta pemilu tahun 2004 beserta perolehan suara masing-masing partai. Faktor ini yang menyebabkan keharusan bagi penerapan sistem multi partai. hal 102 Universitas Sumatera Utara . Pertama. 59 Banyak faktor yang mempengaruhi sistem kepartaian di suatu Negara. Sebagian masyarakat menyambut gembira dengan penuh antusias dan dengan cepat menjadikan kemunculan partai-partai politik baru sebagai sarana untuk menyalurkan kembali naluri politik yang selama ini dikekang oleh rezim Soeharto. Kekuasaan dan Militersisme. ada tiga faktor penyebab sistem multi partai sulit dihindari. Ketiga. Melihat jumlah partai sebanyak itu kita menganut sistem multi partai yang ekstrim. Kedua. Untuk konteks politik Indonesia.Banyak partai yang bemunculan menumbuhkan harapan dan kecemasan. tetapi sebaliknya mengganggu proses reformasi.

998 2.15 7.629 11.13 2.764 8.11 1.kpu.56 100 Jlh kursi DPR 24.77 0.073.313.989.296 672.462. Tidak ada partai politik yang memperoleh suara mayoritas sehingga sulit membentuk pemerintahan tanpa koalisi di parlemen.45 7.324 2.57 8.08 0.455 1.303.414.44 2. Ada 10 fraksi di DPR RI yaitu: Universitas Sumatera Utara .id Persen 21.62 2.325.34 6.290 1.74 0.916 636.26 1.455.139 923.81 0.026.2 Partai Politik Peserta Pemilu Tahun 2004 Beserta Perolehan Suara No Partai politik Perolehan Suara Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Total Partai Golongan Karya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Partai Kebangkitan Bangsa Partai Persatuan Pembangunan Partai Demokrat Partai Keadilan Sejahtera Partai Amanat Nasional Partai Bulan Bintang Partai Bintang Reformasi Partai Damai Sejahtera Partai Karya Peduli Bangsa Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan Partai Nasional Banteng Kemerdekaan Partai Patriot Pancasila Partai Nasional Indonesia Marhaenisme Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia Partai Pelopor Partai Penegak Demokrasi Indonesia Partai Merdeka Partai Sarikat Indonesia Partai Perhimpunan Indonesia Baru Partai Persatuan Daerah Partai Buruh Sosial Demokrat Sumber: www.16 1.764.159 895.970.654 1.480.58 0.020 7.79 0.414 128 109 52 58 57 45 52 11 13 12 2 1 5 1 0 1 0 2 1 0 0 0 0 0 550 Berdasarkan data tersebut di atas maka partai politik yang memiliki wakil yang duduk di parlemen ada 17 partai politik.60 0.254 2.399.564 9.757 21. Dalam perkembangan selanjutnya bahwa di parlemen partai politik membuat fraksi masing-masing atau bergabung dengan partai tertentu untuk membentuk satu fraksi.932 855.59 0.952 657.240 1.Tabel 2.248.230.424.610 878.95 0.44 2.056 113.58 18.75 0.541 679.811 842.go.487 2.53 10.225 8.

Gabungan keempat partai tersebut hanya mencakup112 kursi dari 550 kursi. Kenyataan ini akan sangat rawan bila pemerintahan SBY-JK tidak melakukan koalisi di DPR. Partai Persatuan Pembangunan dan berikutnya Partai Golkar sehubungan dengan kemenangan Jusuf Kalla dalam Universitas Sumatera Utara . SBY-JK yang awal pencalonanya hanya didukung oleh Partai Demokrat. Partai Bulan Bintang dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia dan pada putaran kedua bergabung Partai Keadilan Sejahtera belum mendapat dukungan mayoritas di DPR. Bergabunglah Partai Amanat Nasional.id % 23 20 10 10 10 9 8 4 2 2 Kursi 129 109 58 57 53 52 45 20 14 13 Melihat data di atas sangat mungkin dan suatu keharusan pemerintahaan SBYJK membuat koalisi di parlemen untuk menopang pemerintahan mereka.go.dpr. Partai kebangkitan Bangsa.. Dan atas dasar itulah dalam perkembangannya pemerintahan SBY-JK mengakomodasi kepentingan partai politik yang bersedia memberikan dukungan terhadap keberlangsungan pemerintahan mereka dan di sisi lain partai-partai politik melakukan intervensi terhadap presiden dalam penyusunan kabinet.Tabel 2.3 Kelompok Fraksi di DPR RI Tahun 2004-2009 No Kelompok Fraksi 1 Fraksi Partai Golkar (F-PG) 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Fraksi PDI Perjuangan (F-PDIP) Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP) Fraksi Partai Demokrat (F-PD) Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-KB) Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi (Fraksi Gabungan) Fraksi Partai Bintang Reformasi (F-PBR) Fraksi Partai Damai Sejahtera (F-PDS) Sumber: www.

sering kali sistem presidensial terjebak dalam pemerintahaan yang terbelah antara pemegang kekuasaan legislatif dan pemegang kekuasaan eksekutif. 2010. 231 Universitas Sumatera Utara . Dengan demikian hanya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Damai Sejahtera yang berada di luar pendukung pemerintah. Indikasi presidensialisme yang kompromis di era pemerintahan SBY tergolong dalam presidensialisme setengah hati terlihat dari beberapa aspek kompromi eksternal berikut ini: Pertama. Biasanya. 62 Berdasarkan fakta bahwa masih sangat kentalnya kompromi-kompromi politik dalam pelaksanaan kekuasaan presiden dalam Pemerintahan SBY-JK maka kita belum melihat sistem pemerintahan presidensial murni dalam pemerintahan tersebut. Bila mayoritas anggota DPR menenukan pilihan politik yang berbeda dengan presiden. Hal ini tentu berimplikasi terhadap kekuasaan internal hak prerogatif presiden semakin tereduksi. Op cit hal.perebutan ketua umum Partai Golkar. Dia juga menemukan bahwa ada empat kompromi dalam struktur internal kekuasaan kepresidenan di era Pemerintahan SBY-JK.269 Hanta yuda. hal. kompromi dalam pembentukan dan perombakan kabinet yang tidak terlepas dari intervensi partai-partai politik mitra koalisi pemerintahan SBY-JK dan akomdasi pemerintah terhadap kepentingan partai 61 62 Saldi Isra. Raja Grafindo Persada. Pergeseran Fungsi Legislatif. dukungan legislatif semakin sulit didapat jika sistem pemerintahaan presidensial dibangun dalam sistem multi partai. ketika presiden mengakomodasi kepentingan partai politik yang mengintervensi presiden itu sendiri dalam penyususnan kabinet merupakan bentuk kompromi eksternal. Jakarta. 61 Menurut Hanta Yuda.

Pemerintah masih sangat rentan pemakzulan oleh DPR karena alasan politis atau disebabkan kebijakan pemerintah yang ditentang DPR. Kedua. adanya kontrol parlemen terhadap pemerintah secara berlebihan yang mengakibatkan jalannya pemerintahan kurang efektif. Adanya dualisme loyalita para menteri Kabinet Indonesia Bersatu dari unsure partai politik. di sisi lain Komposisi Kabinet Loyalitas Menteri 63 64 Ibid. Ketiga.4 kompromi Internal Presidensialisme Era Pemerintahan SBY-JK Aspek Kompromi Hak Prerogatif Presiden Praktek dan Karakteristik Kompromi Hak prerogatif Presiden Yudhoyono untuk menyusun/merombak kabinet tereduksi akibat intervensi partai politik. rapuhnya ikatan koalisi partai pendukung pemerintah. Persnalitas dan gaya kepemimpinan presiden cenderung akomodatif terhadap partai politik dan pertimbangan presiden dalam mengangkat menteri cenderung lebih dominant karena factor tawar-menawar disbanding faktor kompetensi dan profesionalitas. 233 Universitas Sumatera Utara . Koalisi yang terbangun sangat cair dan sarat dengan kepentingan sesaat partai anggota koalisi. perjalanan pemerintahan SBY-JK rentan dengan ancaman pemakzulan dari DPR.politik tersebut berupa kursi di kabinet. 64 Tabel 2. Adapun kompromi internal Era Pemerintahan SBY-JK dapat kita lihat dalam tabel ini. Kabinet koalisi yang dibentuk oleh Presiden Yudhoyono terdiri atas koalisi delapan partai politik. Tereduksinya hak prerogatif presiden ini merupakan akibat dari kuatnya intervensi partai politik yang juga didukung oleh gaya kepemimpinan presiden yang cenderung akomodatif dan kurang percaya diri dalam menghadapi interpensi partai politik. hal 134 Ibid hal. Sementara komposisi antara unsusr parpol dan nonparpol dalam kabinet Indonesia Bersatu relatif seimbang. Satu sisi loyalitas kepada presiden sebagai kepala pemerintahan. Dan keempat. Penggunaan hak prerogatih presiden dalam pembentukan kabinet selalu disertai intervensi elite-elite partai politik. 63 Ada juga kompromi internal yang dilakukan oleh pemerintahan SBY-JK.

loyalitas kepada parpol asalnya juga. 3. Pola hubungan presiden dan wakil presiden bersifat persaingan. Potensi dualisme itu semakin memuncak menjelang pelaksanaan Pemilu 2009 karena para menteri juga berkepentingan untuk membesarkan partainya masing-masing Hubungan Presiden dan Relasi politik Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Wakil Presiden Jusuf Kalla mengalami keretakan dan semakin menguat menjelang tahun terakhir masa kepemimpina mereka. Dualisme loyalitas ini merupakan implikasi dari pola rekrutmen menteri dari unsur partai politik dan proses pengangkatnnya cenderung atas pertimbangan akomodatif presiden terhadap rekomendasi dari partai politik. Bahkan beberapa anggota kbinet juga sebagai ketua umum partai dan memegang jabatan strategis lainnya di partai politik. tugas dan fungsi dari Dewan Perwakilan Rakyat semakin kuat. Presidensialisme yang diterapkan belumlah presidensialisme efektif dimana hak prerogatif presiden dilakukan dilaksanakan sepenuhnya oleh presiden tanpa intervensi partai politik. baik secara terselubung maupun terbuka. Kekuasaan Dewan Perwakilan Rakyat Setelah mengalami perubahan Undang-Undang Dasar 1945. Kondisi ininjuga memeiliki kecenderungan terjadinya persaingan terbuka antara presiden dan wakil presiden menjelang pemilu legislative.nkeretakan dan disharmonisasi itu akan semakin terbuka. sementara Demokrat hanya 10%. Salah satu penyulut disharmonisasi ini adalah implikasi dari posisi politik wakil Presiden lebih kuat daripada Presiden Yudhoyono di parlemen. apalagi jika keduanya memutuskan untuk berpisah di pemilihan presiden selanjutnya. Golkar menguasai 23% kursi di DPR. Universitas Sumatera Utara . Ini dilakukan untuk dapat melakukan kontrol yang kuat terhadap lembaga eksekutif yang melaksanakan jalannya pemerintahan. Berdasarkan keempat aspek kompromi internal tersebut jelas bahwa penerapan sistem pemerintahan presidensialisme dalam pemerintahan YudhoyonoKalla masih setengah hati.

Kekuasaan Dewan Perwakilan Rakyat menurut Undang-Undang Dasar 1945 adalah : Pasal 7B ayat (1) menyaebutkan bahwa Usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi untuk memeriksa. 67 65 66 Perubahan ketiga UUD 1945 Perubahan keempat UUD 1945 67 Perubahan pertama UUD 1945 Universitas Sumatera Utara . membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain. dalam menerima penempatan duta Negara lain (pasal 13 ayat 3) dan pertimbangan dalam pemberian amnesti dan abolisi (pasal 14 ayat 2) Pasal 20 ayat (1) menyebutkan Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. korupsi. mengadili. dan/atau pendapat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. dan memutus pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. penyuapan. 66 Pemberian pertimbangan kepada Presiden dalam pengangkatan duta (pasal 13 ayat 2). tindak pidana berat lainnya. 65 Dalam konteks ini Dewan Perwakilan Rakyat dengan kewenangannya dapat mengusulkan pemberhentian Presiden dan/atau wakil presiden Dalam pasal 11 ayat (1) dan ayat (2) disebutkan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat memiliki kewenangan untuk memberikan persetujuan dalam menyatakan perang. atau perbuatan tercela.

Dalam hal ini pula yang menyebabkan perlunya koalisi pendukung pemerintah untuk memuluskan proses legislasi berupa pembentukan Undang-undang. fungsi anggaran dan fungsi pengawasan. Fungsi kontrol yang dijalankan badan legislatif untuk mencegah pemerintah menjalankan kekuasaannya secara sewenang-wenang. Dalam pemerintahan Presiden Yudhoyono. 69 Dalam menjalankan fungsinya tersebut. Misalnya. Legislatif turut serta dalam penuyusan Anggaran Pendapatan Belanja Negara untuk mencapai 68 69 Perubahan kedua UUD 1945 Saldi Isra. dalam DPR juga sangat dinamis dan cair karena membawa berbagai macam kepentingan dari partai politik.Pasal 20A ayat (1) menyebutkan Dewan Perwakilan Rakyat memiliki fungsi legislasi. Dalam menjalankan fungsi legislasi tidak serta-merta hanya dijalankan oleh DPR akan tetapi bersama-sama dengan presiden. hal 276 Universitas Sumatera Utara . Sangat jauh dari target yang ditetapkan yaitu 55 rancangan undang-undang. ketegangan yang terjadi antara DPR dan Presiden sejak awal pemerintahannya berdampak terhadap jumlah undang-undang yang dihasilkan. Op cit. Atas dasar itulah maka melekat hak pada legislatif yaitu hak inisiatif yaitu hak untuk melakukan perubahan undang-undang yang diusulkan pemerintah. Fungsi Anggaran dapat kita lihat dalam penyusunan RAPBN. pada tahun 2005 proses legislasi hanya menghasilkan 14 undang-undang. 68 Fungsi legislasi yaitu sebagai pembuat kebijakan dan undang-undang yang sebagai patron pihak eksekutif untuk melaksanakan tugas. Badan legislatif menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah agar program-program yang dicanangkan pemerintah berjalan sesuai dengan harapan rakyat.

dan hak menyatakan pendapat. Hak menyatakan pendapat biasanya berujung kepada pemakzulan terhadap pemerintah yang melakukan pelanggaran tersebut. Hak ini digunakan sebelumnya karena ada kecurigaan legislatif terhadap kebijakan eksekutuif yang terindikasi tidak tepat dan melanggar undang-undang Hak menyatakan pendapat merupakan lanjutan dari hak angket. maka legislative menggunakan hak tersebut. hak angket. 71 70 71 Perubahan kedua UUD 1945 Perubahan kedua UUD 1945 Universitas Sumatera Utara . Hal ini dilaksanakan untuk memastikan kebijakan eksekutif tersebut tidak mencederai rasa keadilan rakyat banyak dan tetap sesuai dengan undang-undang. Hak Angket merupakan hak untuk langsung melakukan penyelidikan terhadap kebijakan yang telah dilaksanakan oleh eksekutif. (2) Dalam melaksanakan fungsinya. Pada umumnya anggota DPR membawa ususlan-usulan proyek dari daerah yang diwakilinya. Apabila dalam penyelidikan legislatif memang ditemukan pelanggaran. Demikian juga untuk memastikan bahwa anggaran yang akan dilaksanakan tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat banyak. 70 Hak Interpelasi merupaka hak untuk meminta keterangan kepada eksekutuf terkait dengan kebijakan yang dijalankannya. selain hak yang diatur dalam pasal-pasal lain Undang-Undang Dasar ini.kemakmuran rakyat banyak. Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai hak mengajukan pertanyaan. menyampaikan usul dan pendapat. Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai hak interpelasi. (3) Selain hak yang diatur dalam pasal-pasal lain Undang-Undang Dasar ini. serta hak imunitas.

Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak dan masih banyak lagi. Seperti dalam pemilihan anggota komisi-komisi yang ada di Negara Indonesia. Komisi Pemilihan Umum. Komisi Pengawas Persaingan Usaha.Pasal 21 Anggota Dewan Perwakilan Rakyat berhak mengajukan usul rancangan undang-undang. 72 Perubahan pertama UUD 1945 Universitas Sumatera Utara . dalam hal ini Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Komisi Penyiaran Indonesia. Komisi Pemberantasan Korupsi. 72 Pasal 22 ayat (2) Dewan Perwakilan Rakyat berhak memberikan persetujuan atas peraturam pemerintah pengganti undang-undang Banyak sekali kekuasaan Dewan Perwakilan Rakyat yang tidak tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful