Apa saja contoh penyelesaian masalah internasional melalui arbitrase?

Di Indonesia sendiri, arbitrase nasional merupakan salah satu primadona penyelesaian sengketa bagi para pelaku usaha pada khususnya, karena sering kali prosedur persidangan di Indonesia memakan waktu yang begitu lama untuk menyelesaikan sebuah kasus, dan juga belum tentu majelis hakim yang memeriksa perkara tersebut mengerti permasalahan kasus yang ditanganinya, belum lagi biaya immateril yang harus ditanggung para pihak sebagai akibat pemeriksaan perkara yang terbuka untuk umum, yang dapat berupa keterbongkarnya rahasia perusahaan ke publik, merusak nama baik perusahaan dan lain-lain. Undang-undang No. 30 Tahun 1999 mengenai Arbitrase di Indonesia, juga turut mengakui arbitrase internasional di dalam kancah perundang-undangan nasional, di antaranya Pasal 1 butir 9, yang berbunyi, Putusan Arbitrase Internasional adalah putusan yang dijatuhkan oleh suatu lembaga arbitrase atau arbiter perseorangan di luar wilayah hukum Republik Indonesia atau putusan suatu lembaga arbitrase atau arbiter perorangan yang menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai suatu putusan arbitrase internasional. Pengertian putusan arbitrase internasional – menurut hukum Indonesia- mengandung dua hal, yaitu putusan arbitrase internasional yang dijatuhkan di luar wilayah Republik Indonesia, dan yang diambil di dalam negeri yang dianggap sebagai putusan arbitrase internasional. Jadi di sini ada persoalan anggapan, apakah yang dianggap sebagai putusan arbitrase internasional? Hal ini tidak jelas disebutkan. Undangundang aquo terkesan hanya mengatur soal putusan arbitrase internasional yang dijatuhkan di luar wilayah Republik Indonesia, sedangkan putusan arbitrase atau arbiter perorangan dalam negeri yang dianggap sebagai putusan arbitrase internasional tidak diatur. Pilihan penyelesaian sengketa melalui arbitrase dimaksudkan para pihak untuk mendapatkan penyelesaian sengketa yang cepat, murah dan efektif. Kesepakatan para pihak tersebut diharapkan tidak akan diingkari – sesuai dengan asas pacta sunt servanda – mana kala ada sengketa, untuk menyelesaikannya melalui jalur arbitrase. Namun demikian, pihak yang dikalahkan dalam arbitrase, sering kali men challenge keputusan arbitrase, baik atas dasar bahwa arbitrase tidak memiliki kewenangan dalam memutuskan materi yang menjadi objek sengketa, atau para arbiter bertindak tidak sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan, cover both side atau impartialitas. Lebih jauh lagi, sering keputusan murni bisnis dalam arbitrase, dikaitkan dengan penekanan atau campur tangan politis negara kuat tertentu yang menekan salah satu pihak yang berperkara. Contoh kasus atau masalah internasional yang penyelesaiannya melalui arbitrase adalah kasus Pertamina vs Karaha Bodas Company yaitu kasus hukum perdata Internasional di bidang hukum kontrak Internasional yang menarik. Sayangnya putusan Pengadilan di Indonesia mengenai pembatalan kasus tersebut tidak komprehensif dari sisi legal. Menurut Hikmahanto Juwana, dalam kasus tersebut Putusan Arbitrase Internasional tidak dapat dibatalkan oleh pengadilan nasional. Kalaupun pengadilan nasional melakukan pembatalan, pengadilan di negara lain yang sedang dimintakan untuk melaksanakan putusan arbitrase dapat saja tidak terikat, bahkan mengabaikannya.

Karena mereka berpendapat. penyelesaian sengketa bisnis melalui peradilan resmi. 4. 3. 2. Putusan Arbitrase Asing hanya diakui serta dapat dilaksanakan di dalam wilayah hukum Republik Indonesia apabila memenuhi syarat sebagai berikut: 1. Di samping itu. . kalangan dunia bisnis beranggapan penyelesaian sengketa di bidang bisnis. pada umumnya memakan waktu lama disebabkan faktor prosedur sistem peradilan sangat kompleks dan berbelit. Putusan-putusan Arbitrase Asing tersebut dalam angka 1 hanya terbatas pada putusan-putusan yang menurut ketentuan hukum Indonesia termasuk dalam ruang lingkup Hukum Dagang. Pelaksanaan didasarkan atas asas timbal balik (resiprositas).. kurang dipahami oleh para hakim jika dibanding dengan mereka yang berkecimpung dengan dunia bisnis itu sendiri. commercial arbitration sudah dianggap a business executive's court sebagai alternatif penyelesaian sengketa.>> wewenang menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan Pengakuan serta Pelaksanaan Putusan Arbitase Asing adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Putusan itu dijatuhkan oleh suatu Badan Arbitrase ataupun Arbiter perorangan di suatu Negara yang dengan Negara Indonesia ataupun bersama-sama dengan Negara Indonesia terikat dalam suatu konvensi Internasional perihal pengakuan serta Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing.. Putusan-putusan Arbitrasse Asing tersebut dalam angka 1 hanya dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas pada putusan-putusan yang tidak bertentangan dengan ketertiban umum. Merekapun berpendapat bahwa penyelesaian sengketa di bidang bisnis melalui peradilan sebagai more complex and time consuming procedures of the official court system. Suatu putusan Arbitrase Asing dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh E Selanjutnya bagi dunia maju.Yang diberi .

” Dengan demikian arbitrase tidak dapat diterapkan untuk masalah-masalah dalam lingkup hukum keluarga. mediasi. pengadilan dan arbitrase. lembaga tersebut juga dapat memberikan pendapat yang mengikat mengenai suatu hubungan hukum tertentu dalam hal belum timbul sengketa.[2] Untuk menyelesaikan sengketa ada beberapa cara yang bisa dipilih.Arbitrase Arbitrase Archived Posts from this Category September 17. Sengketa yang perlu diantisipasi adalah mengenai bagaimana cara melaksanakan klausul-klausul perjanjian. yaitu melalui negosiasi. apa isi perjanjian ataupun disebabkan hal lainnya. .” Dalam Pasal 5 Undang-undang No. Pengadilan [15] Comments KEMUNGKINAN DIAJUKANNYA PERKARA DENGAN KLAUSUL ARBITRASE KE MUKA PENGADILAN[1] I. Pengertian arbitrase termuat dalam pasal 1 angka 8 Undang Undang Arbitrase dan Alternatif penyelesaian sengketa Nomor 30 tahun 1999: “Lembaga Arbitrase adalah badan yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu. 2006 Klausul Arbitrase dan Pengadilan Posted by Pan Mohamad Faiz under Arbitrase. Pendahuluan Dalam suatu hubungan bisnis atau perjanjian. selalu ada kemungkinan timbulnya sengketa.30 tahun 1999 disebutkan bahwa: ”Sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase hanyalah sengketa di bidang perdagangan dan hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa.

Pada dasarnya arbitrase dapat berwujud dalam 2 (dua) bentuk. 2. yaitu:[6] 1. maka timbul beberapa pertanyaan : 1. and is intended to avoid the formalities. the delay.Arbitase hanya dapat diterapkan untuk masalah-masalah perniagaan.[5] Dalam jurisprudensi. Definisi Arbitrase Menurut Black‟s Law Dictionary: “Arbitration. ketentuan mengenai arbitrase diatur dalampasal 615 s/d 651 Reglemen Acara Perdata (Rv). Klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa (Factum de compromitendo). Selain itu. Pengaturan Mengenai Arbitrase A. Oleh karena itu tidak dapat dilakukan perlawanan dalam bentuk upaya hukum apapun. an arrangement for taking an abiding by the judgement of selected persons in some disputed matter. arbitrase merupakan pilihan yang paling menarik guna menyelesaikan sengketa sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka.[4] Putusan Arbitrase bersifat mandiri. Apakah Pengadilan berwenang memeriksa perkara yang sudah dijatuhkan putusan arbitrasenya? 2. atau Suatu perjanjian Arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa (Akta Kompromis). Pada praktek saat ini juga masih dijumpai pengadilan negeri yang melayani gugatan pihak yang kalah dalam arbitrase. Sebelum UU Arbitrase berlaku. pada penjelasanpasal 3 ayat(1) Undang-Undang No. Setiap pendapat yang berlawanan terhadap pendapat hukum yang diberikan tersebut berarti pelanggaran terhadap perjanjian (breach of contract – wanprestasi). Pendapat hukum yang diberikan lembaga arbitrase bersifat mengikat (binding) oleh karena pendapat yang diberikan tersebut akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian pokok (yang dimintakan pendapatnya pada lembaga arbitrase tersebut).14 Tahun 1970 tentang Pokok- . Bagi pengusaha.Menurut Pasal 1 angka 1 Undang Undang Nomor 30 tahun 1999 Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar pengadilan umum yang didasarkan pada Perjanjian Arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. final dan mengikat (seperti putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap) sehingga ketua pengadilan tidak diperkenankan memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase nasional tersebut. klausula arbitase banyak digunakan sebagai pilihan penyelesaian sengketa. kita mengetahui ada suatu kasus yaitu Arrest Artist de Labourer dimana perkara tersebut diajukan ke Pengadilan Negeri padahal sudah memuat klausul arbitrase untuk penyelesaian sengketanya. Melihat permasalahan diatas. Sejauh mana keterkaitan antara pengadilan dengan lembaga arbitrase? II. the expense and vexation of ordinary litigation”. instead of carrying it to establish tribunals of justice.[3] Dalam banyak perjanjian perdata.

penanaman modal.30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa atau UNCITRAL Arbitarion Rules. karena semula Arbitrase ini diatur dalam pasal 615 s/d 651 reglement of de rechtvordering. Arbitrase Ad-hoc dilaksanakan berdasarkan aturan-aturan yang sengaja dibentuk untuk tujuan arbitrase. Objek Arbitrase Objek perjanjian arbitrase (sengketa yang akan diselesaikan di luar pengadilan melalui lembaga arbitrase dan atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa lainnya) menurut Pasal 5 ayat 1 Undang Undang Nomor 30 tahun 1999 (“UU Arbitrase”) hanyalah sengketa di bidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa. misalnya UU No. Saat ini dikenal berbagai aturan arbitrase yang dikeluarkan oleh .PokokKekuasaan Kehakiman menyebutkan bahwa penyelesaian perkara di luarPengadilan atas dasar perdamaian atau melalui wasit (arbitrase) tetapdiperbolehkan. Penggunaan arbitrase Ad-hoc perlu disebutkan dalam sebuah klausul arbitrase. C. Arbitrase diperkenalkan di Indonesia bersamaan dengan dipakainya Reglement op de Rechtsvordering (RV) dan Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR) ataupun Rechtsreglement Bitengewesten (RBg). Pada umumnya arbitrase ad-hoc direntukan berdasarkan perjanjian yang menyebutkan penunjukan majelis arbitrase serta prosedur pelaksanaan yang disepakati oleh para pihak. B. Sejarah Arbitrase Keberadaan arbitrase sebagai salah satu alternatif penyelesaian sengketa sebenarnya sudah lama dikenal meskipun jarang dipergunakan. industri dan hak milik intelektual. Dalam Undang Undang nomor 14 tahun 1970 (tentang Pokok Pokok Kekuasaan Kehakiman) keberadaan arbitrase dapat dilihat dalam penjelasan pasal 3 ayat 1 yang antara lain menyebutkan bahwa penyelesaian perkara di luar pengadilan atas dasar perdamaian atau melalui arbitrase tetap diperbolehkan.[7] Arbitrase institusi adalah suatu lembaga permanen yang dikelola oleh berbagai badan arbitrase berdasarkan aturan-aturan yang mereka tentukan sendiri. perbankan. Adapun kegiatan dalam bidang perdagangan itu antara lain: perniagaan. keuangan. Sementara itu Pasal 5 (2) UU Arbitrase memberikan perumusan negatif bahwa sengketa-sengketa yang dianggap tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan perundang-undangan tidak dapat diadakan perdamaian sebagaimana diatur dalam KUH Perdata Buku III bab kedelapan belas Pasal 1851 s/d 1854. akan tetapi putusan arbiter hanya mempunyai kekuatan eksekutorial setelah memperoleh izin atau perintah untuk dieksekusi dari Pengadilan. Jenis-jenis Arbitrase Arbitrase dapat berupa arbitrase sementara (ad-hoc) maupun arbitrase melalui badan permanen (institusi). Ketentuan-ketentuan tersebut sekarang ini sudah tidak laku lagi dengan diundangkannya Undang Undang Nomor 30 tahun 1999. C.

Priyatna menjelaskan bahwa bisa saja klausul atau perjanjian arbitrase dibuat setelah sengketa timbul. pertentangan atau tuntutan yang terjadi atau sehubungan dengan perjanjian ini. The Arbitration Rules dari The International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID) di Washington. para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk penyelesaian masalahnya . atau wan prestasi. penyelesaian sengketa lewat arbitrase atau perwasitan. keterlambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif dapat dihindari . para pihak dapat memilih arbiter yang berpengalaman. Keunggulan dan Kelemahan Arbitrase Keunggulan arbitrase dapat disimpulkan melalui Penjelasan Umum Undang Undang Nomor 30 tahun 1999 dapat terbaca beberapa keunggulan penyelesaian sengketa melalui arbitrase dibandingkan dengan pranata peradilan. yang diperiksa pertama kaliadalah klausul arbitrase.yang keputusannya mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. pengakhiran atau sah tidaknya perjanjian akan diselesaikan melalui arbitrase sesuai dengan aturanaturan UNCITRAL. serta jujur dan adil .badan-badan arbitrase seperti Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). mempunyai beberapa . Badan-badan tersebut mempunyai peraturan dan sistem arbitrase sendiri-sendiri. Menurut Prof.[11] D. Subekti bagi dunia perdagangan atau bisnis. sah atau tidaknyaklausul arbitrase.sebagai keputusan dalam tingkat pertama dan terakhir”. putusan arbitrase merupakan putusan yang mengikat para pihak melalui prosedur sederhana ataupun dapat langsung dilaksanakan. Keunggulan itu adalah :      kerahasiaan sengketa para pihak terjamin .[8] BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia) memberi standar klausularbitrase sebagai berikut:[9] “Semua sengketa yang timbul dari perjanjianini. Ketua BANI. atau yang internasional seperti The Rules of Arbitration dari The International Chamber of Commerce (ICC) di Paris. memiliki latar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan. akan diselesaikan dan diputus oleh Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) menurut peraturan-peraturan prosedur arbitrase BANI. Standar klausul arbitrase UNCITRAL (United Nation Comission ofInternational Trade Law) adalah sebagai berikut:[10] “Setiap sengketa.” Menurut Priyatna Abdurrasyid. akan menentukan apakah suatu sengketa akan diselesaikan lewat jalur arbitrase. Para ahli juga mengemukakan pendapatnya mengenai keunggulan arbitrase. para pihak dapat memilih tempat penyelenggaraan arbitrase . Artinya ada atau tidaknya.

Bagi arbitrase internasional mengembil tempat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. . misalnya dalam hal pelaksanaan putusan arbitrase. dan secara rahasia. Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri. dengan mendaftarkan dan menyerahkan lembar asli atau salinan autentik putusan arbitrase nasional oleh arbiter atau kuasanya ke panitera pengadilan negeri. III. sehingga umum tidak mengetahui tentang kelemahan-kelemahan perushaan yang bersangkutan. Agar putusan arbitrase dapat dipaksakan pelaksanaanya. Para wasit terdiri dari orang-orang ahli dalam bidang yang diper-sengketakan. Keterkaitan antara Arbitrase dengan Pengadilan A. Disamping keunggulan arbitrase seperti tersebut diatas. Pada dasarnya para pihak harus melaksanakan putusan secara sukarela. Penyelesaian sengketa dapat dilakasanakan dengan cepat. Hal ini menunjukkan bahwa lembaga arbitrase tidak mempunyai upaya pemaksa terhadap para pihak untuk menaati putusannya. oleh para ahli. dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah putusan arbitase diucapkan. 3. Pelaksanaan Putusan Arbitrase 1.30 Tahun 1999. 2. Ada keharusan untuk mendaftarkan putusan arbitrase di pengadilan negeri.keuntungan yaitu bahwa dapat dilakukan dengan cepat. putusan tersebut harus diserahkan dan didaftarkan pada kepaniteraan pengadilan negeri. Putusan peradilan wasit dirahasiakan. 4. Sifat rahasia pada putusan perwasitan inilah yang dikehendaki oleh para pengusaha. Sementara HMN Purwosutjipto mengemukakan arti pentingnya peradilan wasit (arbitrase) adalah:[12] 1. yang diharapkan mampu membuat putusan yang memuaskan para pihak. Putusan Arbitrase Nasional Pelaksanaan putusan arbitrase nasional diatur dalam Pasal 59-64 UU No. [13] Peranan pengadilan dalam penyelenggaraan arbitrase berdasar UU Arbitrase antara lain mengenai penunjukkan arbiter atau majelis arbiter dalam hal para pihak tidak ada kesepakatan (pasal 14 (3)) dan dalam hal pelaksanaan putusan arbitrase nasional maupun nasional yang harus dilakukan melalui mekanisme sistem peradilan yaitu pendafataran putusan tersebut dengan menyerahkan salinan autentik putusan. arbitrase juga memiliki kelemahan arbitrase. Hubungan Arbitrase dan Pengadilan Lembaga arbitrase masih memiliki ketergantungan pada pengadilan. B. padahal pengaturan untuk eksekusi putusan arbitrase nasional maupun internasional sudah cukup jelas. kelemahan arbitrase adalah masih sulitnya upaya eksekusi dari suatu putusan arbitrase. Dari praktek yang berjalan di Indonesia. final ddan mengikat. Putusan akan lebih sesuai dengan perasaan keadilan para pihak.

30 Tahun 1999 sebelum memberi perintah pelaksanaan . pelanggaran ketertiban umum yang dimaksud adalah bahwa perkara tersebut masih dalam proses peradilan dan belum memiliki kekuatan hukum tetap. Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York tersebut dengan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1981 pada 5 Agustus 1981 dan didaftar di Sekretaris PBB pada 7 Oktober 1981. yang memenangkan Mayora.Int/1999/PN. .[15] Dalam prakteknya masih saja ditemukan pengadilan yang menentang.Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri. Berdasar Pasal 62 UU No.PST juncto 02/Pdt.30 tahun 1999 yang menyatakan bahwa pengadilan negeri tidak berwenang mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase. bahkan ketika arbitrase itu sendiri sudah menjatuhkan putusannya. Pada 1 Maret 1990 Mahkamah Agung mengeluarkan Peraturan mahkamah Agung Nomor 1 tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan arbitrase Asing sehubungan dengan disahkannya Konvensi New York 1958. Ketua Pengadilan memeriksa dahulu apakah putusan arbitrase memenuhi Pasal 4 dan pasal 5 (khusus untuk arbitrase internasional).001 dan 002/Pdt/Arb. Hal tersebut merupakan prinsip limited court involvement. Pada tanggal 10 Juni 1958 di New York ditandatangani UN Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Award. Ketua Pengadilan Negeri dapat menolak permohonan arbitrase dan terhadap penolakan itu tidak ada upaya hukum apapun. tanggal 3 Februari 2000. final dan mengikat (seperti putusan yang mempunyai kekeuatan hukum tetap) sehingga Ketua Pengadilan Negeri tidak diperkenankan memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase nasional tersebut. Tapi dalam prakteknya kesulitan-kesulitan masih ditemui dalam eksekusi putusan arbitrase asing. Seperti dalam kasus berikut : Dalam kasus Bankers Trust Company dan Bankers Trust International PLC (BT) melawan PT Mayora Indah Tbk (Mayora).[14] 2. Ketua PN Jakarta Pusat dalam putusan No. dan pemerintah Belanda yang merupakan negara peserta konvensi tersebut menyatakan bahwa Konvensi berlaku juga di wilayah Indonesia. terbatas pada pemeriksaan secara formal terhadap putusan arbitrase nasional yang dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase.P/2000/PNJKT.PST. Kewenangan memeriksa yang dimiliki Ketua Pengadilan Negeri. Bila tidak memenuhi maka.G/1999 tanggal 9 Desember 1999.JKT. Pengadilan Negeri wajib menolak dan tidak ikut campur tangan dalam suatu penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase.46/Pdt. Kewenangan Pengadilan Memeriksa Perkara yang Sudah Dijatuhkan Putusan Arbitrasenya Lembaga Peradilan diharuskan menghormati lembaga arbitrase sebagaimana yang termuat dalam Pasal 11 ayat (2) UU No. Putusan Arbitrase Internasional Semula pelaksanaan putusan-putusan arbitrase asing di indonesia didasarkan pada ketentuan Konvensi Jenewa 1927. dengan alasan pelanggaran ketertiban umum. menolak permohonan BT bagi pelaksanaan putusan Arbitrase London. C. PN Jakarta Selatan tetap menerima gugatan Mayora (walaupun ada klausul arbitrase didalamnya) dan menjatuhkan putusan No. Dengan adanya Perma tersebut hambatan bagi pelaksanaan putusan arbitrase asing di Indonesia seharusnya bisa diatasi.

sehingga perjanjian itu tidak telah dilaksanakan dengan itikad baik. bahwa berdasarkan Polis ybs. Sebelumnya telah jelas bahwa pengadilan tidak boleh mencampuri sengketa para pihak yang telah terikat perjanjian arbitrase. dan bersifat mutlak. yang tidak ternyata bertentangan dengan ketertiban umum atau kesusilaan. Lalu apakah ada alasan-alasan yang dapat membenarkan pengadilan memeriksa perkara para pihak yang sudah terikat dengan klausul arbitrase? Dalam jurisprudensi salah satu contoh adalah Arrest Artist de Labourer. telah mempertimbangkan : Bahwa memang benar. Ternyata pada suatu pemeriksaan oleh Komisi Undang2 Kuda. namun para pihak telah membuatnya menjadi undang-undang bagi mereka. pertanyaan mana menurut pendapat Hof. adalah masuk dalam kewenangan Hakim.l. karena keputusan tersebut tidak didasarkan kepada suatu penyelidikan yang teliti dan bahkan Dewan menganggap tidak perlu mendengar pihak penggugat. Pihak Asuransi naik banding. karena mengenai pelaksanaan suatu perjanjian. karena telah terbentuk melalui kesepakatan para pihak. bahwa sengketa mengenai Asuransi. Penggugat menuntut santunan ganti rugi dari Perusahaan Asuransi. tanggal 5 September 2000. yang disebut cornage.Int/Pdt/2000.l. . Didalam Polis dicantumkan klausula yang mengatakan. Arrest “Artis de Laboureur” (dimuat dalam Hoetink. Hof Amsterdam dalam keputusannya a. NJ.[16] Kasus diatas adalah salah satu contoh dimana pengadilan menentang lembaga arbitrase. hal. Arrest HR 9 Februari 1923. kuda tersebut dinyatakan di-apkir. tidak telah dilaksanakan dengan itikad baik. Penggugat mengajukan gugatan dimuka Pengadilan. bahwa keputusan Dewan Asuransi harus disingkirkan. Pengadilan „s Gravenhage a.Penolakan PN Jakarta Pusat tersebut dikuatkan oleh Putusan Mahkamah Agung No. maka Pengadilan menyatakan.) Persatuan Kuda Jantan ( penggugat ) telah mengasuransikan kuda Pejantan bernama Artis de Laboureur terhadap suatu penyakit /cacad tertentu. 1923. 676. 262 dsl. karena menderita penyakit cornage. mungkin saja ada keberatan-keberatan. yang dikeluarkan oleh pihak yang tidak netral.02 K/Ex‟r/Arb. Sekalipun terhadap keputusan Dewan. oleh Dewan. Dewan Asuransi telah memutuskan untuk tidak membayar ganti rugi kepada penggugat. Pengadilan mengabulkan tuntutan uang santunan ganti – rugi sampai sejumlah uang tertentu. Sudah tentu dengan alasan adanya klausula tersebut diatas.. dengan menyingkirkan Pengadilan. kecuali Dewan melimpahkan kewenangan tersebut kepada suatu arbitrage. telah mempertimbangkan : Setelah Pengadilan menyatakan dirinya wenang memeriksa perkara tersebut. bahwa Pengadilan tidak wenang untuk mengadili perkara ini. sehingga permasalahannya adalah. akan diputus oleh Dewan Asuransi Perusahaan Asuransi. maka tergugat membantah dengan mengemukakan. sebagaimana pendapat dari Pengadilan Amsterdam. apakah ketentuan perjanjian itu. para pihak sepakat untuk menyerahkan sengketa mengenai Asuransi tersebut kepada Dewan Asuransi Perusahaan Asuransi. yang diambil dengan tanpa aturan main yang pasti.

Seharusnya PN Jakarta Selatan menolak untuk memeriksa perkara tersebut karena bukan merupakan kewenangannya. Berdasarkan pasal 1338 (3) suatu perjanjian harus didasarkan atas asas itikad baik. untuk menjawab permasalahan tersebut. dan dengan Mayora mengajukan perkara tersebut ke pengadilan negeri padahal saat itu arbitrase sedang berjalan. dimana Hof dan Hoge Raad kemudian menilai bahwa itikad baik yang objektif lah yang dipakai. Dalam kasus Bankers Trust melawan Mayora sungguh aneh karena mengetengahkan ketertiban umum sebagai salah satu alasan. Itikad baik subjektif. sesuai dengan pasal 1339 B. apakah isi keputusan Dewan Asuransi. Persatuan Kuda Jantan naik kasasi. setelah mengemukakan patokan. sebagai pelaksanaan dari perjanjian Asuransi antara Penggugat dengan Perusahaan Asuransi.W. :………“ bahwa menurut pendapat Hof keputusan tersebut( maksudnya : keputusan Dewan. dan bahwa itikad buruk pada pelaksaan perjanjian. 1374 B. Perjanjian harus dilaksanakan dengan menafsirkannya agar sesuai dengan kepatutan dan kepantasan. sepanjang mengenai pengambilan keputusan oleh Dewan Asuransi. apakah maksud ayat ke-3 Ps. bahwa itikad baik dipersangkakan dan tidak adanya itikad baik harus dibuktikan. HR meninjau. Itikad baik dapat dibedakan menjadi itikad baik subjektif dan itikad baik objektif. yang menyatakan bahwa. 1338 ayat 3 Ind ) dengan itikad baik dalam pelaksanaan perjanjian harus dinilai dengan patokan. sehingga orang lebih banyak merumuskannya melalui peristiwa-peristiwa di pengadilan. sedang itikad baik objektif adalah kalau pendapat umum menganggap tindakan yang demikian adalah bertentangan dengan itikad baik. ” suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan didalmnya tapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian diharuskan oleh kepatutan. ( Ps. Disini dipakai ukuran itikad baik yang obyektif Dalam Arrest Artist de Labourer ini pengadilan menyatakan berwenang memeriksa karena yang diperiksa bukanlah pokok perkaranya melainkan cara pengambilan keputusannya.pen. sehingga dapat dianggap tidak telah diberikan dengan itikad baik. Itikad baik adalah suatu pengertian yang abstrak dan sulit untuk dirumuskan.) ……. a. Itikad baik disini memiliki dua kemungkinan yaitu itikad baik objektif atau subjektif. memenuhi kepantasan dan kepatutan menurut ukuran orang normal pada umumnya dalam masyarakat ybs. tidak diajukan atas dasar adanya perbuatan melawan hukum.W. kebiasaan dan undang-undang”. Catatan : Pengadilan menganggap dirinya wenang untuk menangani perkara tersebut dan menyatakan keputusan Dewan tidak melanggar itikad baik Pokok pertanyaan dalam pemeriksaan kasasi ini ternyata adalah. tidak telah dibuktikan “ atas dasar mana Hof menyatakan keputusan Dewan Asuransi tidak bisa dibatalkan oleh Hakim dan karenanya membatalkan keputusan Pengadilan Amsterdam. Itikad baik dalam pelaksanaan perjanjian berkaitan dengan masalah kepatutan dan kepantasan.adalah tidak sedemikian rupa. telah menerima fakta-fakta yang disebutkan dalam keputusan Dewan sebagai benar.. apakah Dewan Asuransi sudah mengambil keputusan berdasarkan itikad baik yang sesuai dengan asas kepatutan dan kepantasan. subyektif – suatu sikap batin tertentu dari si pelaksana – atau obyektif – suatu cara pelaksanaan.Hof. yaitu apakah yang bersangkutan sendiri menyadari bahwa tindakannya bertentangan dengan itikad baik. penj. menunjukkan . memenuhi tuntutan itikad baik.l.

. dan dalam pelaksanaan suatu putusan arbitrase masih diperlukan peran pengadilan. Peradilan harus menghormati lembaga arbitrase. IV. dan apabila putusan arbitrase itu melanggar ketertiban umum. Pada intinya terhadap perkara yang sudah memiliki klausul arbitrase tidak bisa diajukan ke pengadilan negeri. untuk arbitrase asing dalam hal permohonan eksekuator ke pengadilan negeri. Ketertiban umum yang dijadikan dalih PN Jakarta Selatan untuk menolak permohonan Bankers Trust tidak termasuk ketertiban umum yang sudah diuraikan diatas. Kesimpulan Pengadilan tidak berwenang memeriksa kembali perkara yang sudah dijatuhkan putusan arbitrasenya. Sulit untuk mengklasifikasikan putusan arbitrase yang bertentangan dengan ketertiban umum.bahwa Mayora tidak beritikad baik dalam pelaksanaan perjanjian tersebut. dan untuk perkara yang sudah dijatuhkan putusan arbitrasenya tidak bisa diajukan lagi ke pengadilan. atau jika salah satu pihak tidak mendapat kesempatan untuk didengar argumentasinya sebelum putusan arbitrase dijatuhkan. padahal peraturan perundang-undangan negara tersebut mewajibkannya. Pengadilan Jakarta Selatan juga telah melakukan kesalahan karena memeriksa isi perkara dan bukan sekedar memeriksa penerapan hukumnya saja seperti dalam arrest Artist de Labourer.30 Tahun 1999. Akibatnya. namun dapat digunakan kriteria sederhana sebagai berikut :[17] 1. misalnya kewajiban untuk mendaftarkan putusan arbitrase di pengadilan setempat tidak dilaksanakan . 3. putusan arbitrase tidak memuat alasan-alasan. yang dimaksud ketertiban umum oleh hakim adalah perkara tersebut sedang dalam proses di pengadilan hukum di pengadilan. tidak turut campur. Ketertiban umum dijadikan dalih untuk menolak permohonan arbitrase. definisi ketertiban umum dijadikan legitimasi bagi salah satu pihak untuk meminta pembatalan eksekusi dari Pengadilan Negeri. 2. Pada prakteknya walaupun pengaturan arbitrase sudah jelas dan pelaksanaannya bisa berjalan tanpa kendala namun dalam eksekusinya sering mengalami hambatan dari pengadilan negeri. Ketertiban umum sendiri adalah suatu sendi-sendi asasi dari hukum suatu negara. UU Arbitrase pada bagian penjelasannya tidak mendefinisikan atau membatasi ketertiban umum. sehingga pihak yang dirugikan bisa menggugat ke pengadilan negeri atas dasar perbuatan melawan hukum dalam hal pengambilan putusan arbitrase yang tidak berdasar itikad baik. kecuali apabila ada perbuatan melawan hukum terkait dengan pengambilan putusan arbitrase dengan itikad tidak baik. Dalam hal ketertiban umum. putusan arbitrase melanggar prosedur arbitrase yang diatur dalam peraturan perundangan negara. Apa yang telah dilakukan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah melanggar ketentuan Pasal 11 UU No. kecuali apabila ada perbuatan melawan hukum. dan sayangnya Mahkamah Agung justru menguatkan putusan ini. alasan seperti ini seharusnya tidak bisa dijadikan alasan ketertiban umum.

3.php?nid=104.73. Op. [2] Gatot Soemartono. Mencari Model Ideal penyelesaian Sengketa. [16] Ibid. ibid. [12] Budiman. hal.76-66.cit. hal. http://www.. . Op.74. hal. Pilihan Tanpa Kepastian.Cit. [17] Soemartono...Cit. [7] Soemartono.Daftar Pustaka: [1] Terima kasih saya sampaikan kepada Chandra Karina. atas waktunya guna memperkaya wawasan Law Blog ini.Cit. op. [4] Budhy Budiman.id/jur05. hal. hal 74..4. 2006). hal. hal.uika-bogor.gontha. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia (Program Hukum Transnasional).. [11] Ibid. Arbitrase dan Mediasi di Indonesia. [13] Ibid. [10] Ibid. [8] Ibid. Ibid.htm. Kajian Terhadap praktik Peradilan Perdata Dan undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999.. hal. [3] Ibid.com/view. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. [6] Budhy Budiman. diakses 30 Agustus 2006.70-71. Op.27. [15] Soemartono. [9] Indonesian Banking Restructuring Agency (IBRA). Arbitrase.ac. Diakses 30 Agustus 2006.. [14] Ibid.http://www. [5] Soemartono.

<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Pasal 67 ayat (2) UU No. contohnya adalah sebuat Putusan Arbitrase Internasional untuk dibenarkan keasliannya. <!--[if !supportLists]-->2. dan <!--[if !supportLists]-->3.Pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional Dengan segala kerendahan hati diunggah oleh The Great Lawyer di 22:42 Dasar hukum ‘otentifikasi’ : <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Peraturan Mahkamah Agung No. Peraturan Mahkamah Agung tersebut merupakan perwujudan dari ketentuan New York Convention. naskah terjemahan resminya dalam bahasa Indonesia. baik secara bilateral maupun multilateral dengan negara Republik Indonesia perihal pengakuan dan pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional. Tahap otentifikasi merupakan tahap atau proses pengeasahn terhadap suatu dokumen. 39 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Definisi “otentifikasi” adalah menerima atau tahap penerimaan naskah perjanjian yang telah dirumuskan dan disepakati para pihak. dan naskah terjemahan resminya dalam bahasa Indonesia. Prosedur permohonan pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional : <!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Lembar asli atau salinan otentik perjanjian yang menjadi dasar Putusan Arbitrase Internasional sesuai ketentuan perihal otentifikasi dokumen asing. . <!--[endif]-->Lembar asli atau salinan otentik Putusan Arbitrase Internasional. yan menyatakan bahwa negara pemohon terikat pada perjanjian. 1 Tahun 1990 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing Mahkamah Agung Republik Indonesia. sesuai dengan ketentuan perihal otentifikasi dokumen asing. <!--[endif]-->Keterangan dari perawkilan diplomatik Republik Indonesia di negara tempat Putusan Arbitrase Internasional tersebut ditetapkan.

<!--[endif]-->Putusan-putusan Arbitrase Asing tersebut dalam angka 1 hanya terbatas pada putusan-putusan yang menurut ketentuan hukum Indonesia termasuk dalam ruang lingkup Hukum Dagang. <!--[if !supportLists]-->4.Yang diberi wewenang menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan Pengakuan serta Pelaksanaan Putusan Arbitase Asing adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. <!--[endif]-->Putusan itu dijatuhkan oleh suatu Badan Arbitrase ataupun Arbiter perorangan di suatu Negara yang dengan Negara Indonesia ataupun bersama-sama dengan Negara Indonesia terikat dalam suatu konvensi Internasional perihal pengakuan serta Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing. Exequatur tidak akan diberikan apabila putusan Arbitrase Asing itu nyata-nyata bertentangan dengan sendi-sendi asasi dari seluruh sistem hukum dan masyarakat di Indonesia (ketertiban umum). Pelaksanaan didasarkan atas asas timbal balik (resiprositas). <!--[if !supportLists]-->2. Putusan Arbitrase Asing hanya diakui serta dapat dilaksanakan di dalam wilayah hukum Republik Indonesia apabila memenuhi syarat sebagai berikut: <!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Suatu putusan Arbitrase Asing dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh Exequatur dari Mahkamah Agung Republik Indonesia. . <!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Putusan-putusan Arbitrasse Asing tersebut dalam angka 1 hanya dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas pada putusan-putusan yang tidak bertentangan dengan ketertiban umum.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful