BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) berasal dari kata Yunani “diabinein” yang artinya “tembus” atau “pancuran air” dan kata lain mellitus yang artinya “rasa manis”yang umum dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia (peningkatan kadar gula darah) yang terus menerus dan bervariasi terutama setelah makan. Diabetes Mellitus juga merupakan suatu keadaan hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membrane basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron. Banyak orang yang masih menganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Pada hal, setiap orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda, termasuk saya sendiri dan anda. Namun, yang perlu anda dan saya pahami adalah kita tidak sendiri. (www.google.com/kencing manis/index.html) Sebagai dampak positif pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah dalam kurun waktu 60 tahun merdeka. Pola penyakit di Indonesia mengalami pergeseran yang cukup meyakinkan. Penyakit infeksi dan kekurangan gizi berangsur turun, meskipun diakui bahwa angka penyakit infeksi ini masih dipertanyakan dengan timbulnya penyakit baru seperti

1

hepatitis B, AIDS, angka kesakitan TBC yang masih tinggi, dan akhir-akhir ini flu burung, Demam Berdarah Dengue (DBD), antraks dan polio melanda Negara kita yang kita cintai ini. Dilain pihak penyakit menahun yang disebabkan oleh penyakit degeneratif, diantaranya diabetes meningkat dengan tajam. Perubahan pola penyakit itu diduga ada hubungannya dengan cara hidup yang berubah pola makan barat-baratan, dengan komposisi makanan yang terlalu banyak mengandung protein, lemak, gula, garam, dan mengandung sedikit serat. Komposisi makanan seperti ini terutama terdapat pada makanan siap santap yang akhir-akhir ini sangat digemari terutama oleh anak-anak muda. Disamping itu cara hidup yang sangat sibuk dengan pekerjaan dari pagi sampai sore bahkan kadang sampai malam hari duduk dibelakang meja menyebabkan tidak adanya kesempatan untuk berkreasi atau berolahraga, apalagi bagi para eksekutif hampir setiap hari harus ”lunch” atau ”dinner” dengan para relasinya dengan menu makanan barat yang ”aduhai” pola hidup beresiko seperti inilah yang menyebabkan tingginya kekerapan Penyakit Jantung Koroner (PJK), hipertensi, diabetes. kencing manis/index.html) Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus didunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia mengidap diabetes. Namun, pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita Diabetes Mellitus di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 % yang sadar mengidapnya dan diantara mereka baru sekitar 30 % yang datang berobat teratur. Hal ini (www.google.com/

2

mungkin disebabkan minimnya informasi dimasyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejalanya. (www.google.com/kencing manis/index.html) Menurut penelitian epidemologi yang sampai saat ini dilaksanakan di Indonesia, kekerapan diabetes di Indonesia berkisar antara 1,4 % dengan 1,6 % kecuali di 2 tempat yaitu dipekajangan (suatu desa dekat Semarang) 2,3 % dan di Manado 6 % di Pekajangan prevalensi ini agak tinggi disebabkan didaerah itu banyak perkawinan antara kerabat, sedangkan di Manado yang secara geografis dan budayanya yang dekat dengan Filipina, ada kemungkinan prevalensi di Manado tinggi karena di Filipina juga tinggi yaitu sebesar 8,4 % - 12 %. Penelitian di Jakarta tahun 1993, kekerapan Diabetes Mellitus dikelurahan Kayu Putih adalah 5,96 % di Jawa Barat tahun 1995 angka itu hanya 1,1 %. Penelitian terakhir antara tahun 2001 dan 2005 didaerah Depok didapatkan prevalensi DM tipe-2 sebesar 14,7 %, di Makasar tahun 2005 mencapai 12,5 %. Suatu angka yang sangat mengejutkan. Melihat tendensi kenaikan kekerapan diabetes secara global yang tadi dibicarakan terutama disebabkan oleh karena peningkatan kemakmuran suatu populasi. Maka dengan demikian dapat dimengerti bila suatu saat atau lebih tepat lagi dalam kurun waktu 1 atau 2 dekade yang akan datang kekerapan DM di Indonesia akan meningkat dengan drastis. (FKUI ; 2006) Angka rawat inap bagi penderita Diabetes Mellitus adalah 2,4 kali lebih besar pada orang dewasa dan 5,3 kali lebih besar pada anak-anak bila dibandingkan dengan populasi umum separuh dari keseluruhan penderita diabetes yang berusia lebih dari 65 tahun dirawat dirumah sakit setiap

3

3.K dengan Diabetes Mellitus. K di Ruang Penyakit Dalam C3 Lt. maka penulis tertarik untuk mengambil judul ”Asuhan Keperawatan Klien Diabetes Mellitus Pada Tn. perawat yang selama 24 jam berada disamping klien sangat diharapkan perannya.tahunnya. Untuk memahami masalah keperawatan yang timbul pada Tn. Untuk memahami alternatif pemecahan masalah keperawatan yang timbul pada Tn.K dengan Diabetes Mellitus. tetapi juga psikologis klien dan memberi motivasi dan edukasi kepada klien tentang pentingnya kepatuhan klien terhadap diet dengan tidak mengesampingkan aspek asuhan keperawatan yang lain. yaitu : 1. maka selama klien dirawat di rumah sakit. Mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn. 1 RSDK Semarang. 4 . 2. Berdasarkan hal diatas.K dengan Diabetes Mellitus. (www:google.” 1. tidak hanya terhadap keadaan fisik klien. komplikasi yang serius dan dapat membawa kematian sering turut menyebabkan peningkatan angka rawat inap bagi para penderita diabetes.com/kencing manis). Tujuan Penulisan Dalam menyusun karya tulis ini penulis mempunyai tujuan.

dokter dan tenaga kesehatan lain yang ikut ambil bagian dalam merawat dan mengobati pasien. (Dempsey. K dengan diabetes mellitus di ruang perawatan penyakit dalam C3 lantai 1 RSDK Semarang berupa pengamatan dan perawatan langsung kepada klien guna 5 .A. 1996) Dalam pelaksanaanya penulis mengaplikasikan pada Tn.patricia Ann. (Dempsey. keluarga klien. K dengan diabetes mellitus di ruang C3 lantai 1 RSDK Semarang berupa tanya jawab pada klien. K dengan diabetes mellitus di ruang C3 lantai 1 RSDK Semarang berupa studi kasus dengan proses keperawatan. 2002) Dalam pelaksanaannya penulis mengaplikasikan pada Tn. patricia Ann. perawat. sedangkan tekhnik pengumpulan data meliputi : 1 Wawancara Wawancara adalah suatu pola komunikasi penuntun untuk tujuan khusus dan berfokus pada isi bidang khusus. 2002) Dalam pelaksanaannya penulis mengaplikasikan pada Tn. (potter. 2 Observasi partisipasi partisipasi pasien adalah dengan mengadakan ikut serta pengawasan melaksanakan terhadap asuhan Observasi perkembangan keperawatan. Metode Penulisan Penyusunan karya tulis ini menggunakan metode deskriptif yaitu suatu pengumpulan data berdasarkan apa yang ada waktu observasi.

mengetahui keadaan dan perkembangan penyakitnya selama di rumah sakit dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. 6 .

3 Studi dokumentasi Studi dokumentasi adalah mempelajari. Dalam pelaksanaannya penulis mengaplikasikan pada Tn. Patricia Ann. etiologi dan predisposisi. metode dan tekhnik penulisan / pengumpulan data. dan fisiologi. Karya tulis ini disusun dalam lima bab. yaitu meliputi latar belakang. perkusi dan auskultasi yang memungkinkan perawat untuk mengumpulkan data fisik klien yang luas. patofisiologi. sistematika penulisannya. B. Sistematika Penulisan Untuk mendapatkan gambaran secara jelas mengenai penyusunan karya tulis ini maka akan diuraikan secara singkat dalam bentuk per bab. 2002). tujuan. manifestasi klinik. yaitu : Bab I : Pendahuluan. 4 Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik adalah ketrampilan dasar yang digunakan selama pemeriksaan antara lain : inspeksi. catatan medik dan hasil pemeriksaan penunjang lainnya. buku. K dengan diabetes mellitus di ruang C3 lantai 1 RSDK Semarang berupa pemeriksaan fisik klien secara langsung. anatomi. K dengan diabetes mellitus diruang C3 lantai 1 RSDK Semarang berupa mempelajari catatan medik dan catatan keperawatan serta hasil pemeriksaan penunjang. Patricia Ann. Bab II : Konsep dasar. (Dempsey. palpasi. Dalam pelaksanaannya penulis mengaplikasikan pada Tn. meliputi pengertian. 7 . laporan. 2002). (Dempsey.

komplikasi. pathways keperawatan kasus. analisa data. meliputi pengkajian. diagnosa keperawatan. implementasi dan evaluasi. Bab III : Tinjauan kasus. fokus intervensi dan rasional. pathways keperawatan. meliputi kesimpulan dan saran.penatalaksanaan. pengkajian fokus. 8 . intervensi keperawatan. Bab IV Bab V : Pembahasan : Penutup.

polipagi dan kelemahan. polidipsi. (www. 1985) Diabetes Mellitus merupakan gangguan metabolik klinis yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. 1999) Diabetes Mellitus merupakan keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal. yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata.BAB II KONSEP DASAR a. (WHO.com/kencingmanis) Diabetes Mellitus adalah sekelompok kelainan yang ditandai oleh kenaikan kadar gula darah atau hiperglikemia.(Barbara Engram. (Brunner & Suddarth. protein dan lemak yang ditandai dengan hiperglikemia. 2002) 9 . poliuria. yang dikarakteristikkan dengan hiperglikemia karena defisiensi insulin atau ketidakadekuatan insulin. disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron.google. ginjal dan pembuluh darah. Pengertian Beberapa sumber yang menyebutkan tentang pengertian dari Diabetes Mellitus (DM) yaitu sebagai berikut : Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu kondisi kekurangan insulin atau resisten terhadap insulin yang menyebabkan terganggunya metabolisme dari glukosa.

Diabetes Mellitus merupakan penyakit yang dalam tingkat nyata memperlihatkan gangguan metabolisme karbohidrat. 1 . sehingga didapati hiperglikemia dan glukosuria. syaraf. Elvina. hiperglikemia kronik nantinya dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang dan gangguan fungsi organ-organ terutama mata. Dengan disertai oleh komplikasi kronik penyempitan pembuluh darah dengan akibat terjadinya kemunduran fungsi sampai dengan kerusakan organ-organ tubuh. (Purnawan Gunadi. 1997) Diabetes Mellitus adalah sekelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia atau peninggian kadar gula darah akibat gangguan pada pengeluaran (sekresi insulin). jantung dan pembuluh darah. ginjal. 2002) Dari beberapa pengertian yang berasal dari berbagai sumber dapat ditarik kesimpulan bahwa Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit metabolik yang berlangsung kronik progresif dengan gejala hiperglikemi yang disebabkan oleh gangguan sekresi insulin. gangguan kerja insulin atau keduanya. kerja insulin atau keduanya. (Karyadi.

Pankreas terbentang dari atas sampai kelengkungan besar dari perut dan biasanya dihubungkan oleh dua saluran ke duodenum (usus 12 jari) organ ini dapat diklasifikasikan ke dalam dua bagian yaitu kelenjar endokrin dan eksokrin. a. Anatomi 1. Anatomi Pankreas Pankreas merupakan suatu organ berupa kelenjar dengan panjang dan ±12. terletak disebelah kanan rongga abdomen dan di dalam lekukan duodenum dan yang praktis melingkarinya.5 cm dan tebal ± 2.B.5 cm. 1) Struktur Pankreas terdiri dari : Kepala pankreas Merupakan bagian yang paling lebar. 2) Badan pankreas Merupakan bagian utama pada organ itu dan letaknya di belakang lambung dan di depan vertebra lumbalis pertama. 1 .

3)

Ekor pankreas

Merupakan bagian yang runcing di sebelah kiri dan yang sebenarnya menyentuh limfa. b. Saluran Pankreas

Pada pankreas terdapat dua saluran yang mengalirkan hasil sekresi pankreas ke dalam duodenum : 1) Ductus Wirsung, yang bersatu dengan ductus chole

dukus, kemudian masuk ke dalam duodenum melalui sphincter oddi 2) Ductus Sartonni, yang lebih kecil langsung masuk

ke dalam duodenum di sebelah atas sphincter oddi. c. Jaringan pankreas

Ada 2 jaringan utama yang menyusun pankreas : 1) Asim berfungsi untuk mensekresi getah pencernaan

dalam duodenum 2) d. Pulau langerhans Pulau-pulau langerhans

1

1) a)

Hormon-hormon yang dihasilkan Insulin

Adalah suatu poliptida mengandung dua rantai asam amino yang dihubungkan oleh gambaran disulfide. b) Enzim utama yang berperan adalah insulin

protease, suatu enzim dimembran sel yang mengalami internalisasi bersama insulin c) kompleks 2) a) Efek-efek tersebut biasanya dibagi: Efek cepat (detik) Efek faali insulin yang bersifat luas dan

Peningkatan transport glukosa, asam amino dan k+ ke dalam sel peka insulin. b) Efek menengah (menit)

Stimulasi sintesis protein, penghambatan pemecahan protein, pengaktifan glikogen sintesa dan enzim-enzim glikolitik. c) 3) Efek lambat (jam) Peningkatan Massenger Ribonucleic Acid (MRNA)

enzim lipogenik dan enzim lain Pengaturan fisiologi kadar glukosa darah sebagian besar tergantung dari: a) Ekstraksi glukosa b) Sintesis glikogen

1

c) Glikogenesis

1

glukogen dan polipeptida pankreas dan mungkin bekerja di dalam pulaupulau pankreas. Fisiologi Fungsi eksokrin pankreas: Getah pankreas mengandung enzim-enzim untuk pencernaan ketiga jenis makanan utama. ribonuklease. yang memegang peranan penting dalam menetralkan timus asam yang dikeluarkan oleh lambung ke dalam duodenum. la juga mengandung ion bikarbonat dalam jumlah besar. yang mempunyai prinsip aktivitas fisiologi meningkatkan kadar glukosa darah. deoksiribonuklease. karbohidrat dan lemak. protein.4) Molekul Glukogen glukogen adalah polipeptida rantai lurus yang mengandung 29 n residu asam amino dan memiliki 3485 glukogen merupakan hasil dari sel-sel alfa. kemotripsin. a. karboksi. b) Polipeptida pankreas Polipeptida pankreas manusia merupakan suatu polipeptida linear yang dibentuk oleh sel pulau langerhans. a) Somatostatin Somatostatin menghambat sekresi insulin. 2. Tiga enzim pertama memecahkan keseluruhan dan secara parsial protein yang dicernakan. 1 . Enzim-enzim proteolitik adalah tripsin. peptidase.

Kelompok ini adalah pulau-pulau kecil / kepulauan langerhans yang bersama-sama membentuk organ endokrin 1 .sedangkan nuclease memecahkan kedua jenis asam nukleat. glikogen dan sebagian besar karbohidrat lain kecuali selulosa untuk membentuk karbohidrat. Enzim pencernaan untuk karbohidrat adalah amylase pankreas. terdapat kelompokkelompok sel epithelium yang jelas. asam ribonukleat dan deoksinukleat. Pengaturan sekresi pankreas ada 2 yaitu : Pengaturan saraf Pengaturan hormonal Fungsi endokrin pankreas Tersebar diantara alveoli pankreas.2) pada pancreatic juice sehingga menghentikan gerak pepsin dari lambung dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan enzim-enzim dalam usus halus. sedangkan enzimenzim untuk pencernaan lemak adalah lipase pankreas yang menghidrolisis lemak netral menjadi gliserol. terpisah dan nyata. asam lemak dan kolesterol esterase yang menyebabkan hidrolisis ester-ester kolesterol. 1) Pancreatic juice Sodium bicarboinat memberikan sedikit pH alkalin (7. yang menghidrolisis pati. 2) a) b) b.1 8.

Etiologi 1. DM type 2 NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus) Disebabkan oleh resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin 3. DM type 1 : IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus) Ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pancreas. Hal ini disebabkan dengan timbulnya reaksi autoimun oleh karena adanya peradangan pada sel beta 1 . DM type I : IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus) Pada tipe ini insulin tidak diproduksi. kombinasi faktor genetik imonologi dan mungkin pula lingkungan (virus) diperkirakan turut menimbulkan distraksi sel beta 2. 2006) D. (Price. Klasifikasi Diabetes Mellitus (DM) Klasifikasi terbaru tahun 1999 oleh American Diabetes Association / World Health Organization (ADA / WHO) lebih menekankan penggolongan berdasarkan penyebab dan proses penyakit. obat-obatan atau bahan kimia. Diabetes Kehamilan DM yang hanya muncul pada kehamilan. gangguan endokrin lain. yaitu : 1. Ada 4 jenis DM berdasarkan klasifikasi terbaru. infeksi (rubela kongenital dan Cito Megalo Virus (CMV)) 4.C. Penyakit pada pankreas. DM type Spesifik Lain Disebabkan oleh berbagai kelainan genetik spesifik (kerusakan genetik sel beta pankreas dan kerja insulin).

Walaupun kedua orang tua terkena DM kadang-kadang anaknya tidak terkena DM. bukan berarti mutlak bahwa bila orang tua terkena DM. Faktor lingkungan : virus / toksin tertentu dapat memacu proses yang dapat menimbulkan distruksi sel beta. bila dibandingkan dengan kedua orang tua yang normal (tidak ada riwayat DM). Faktor imunologi : Respon abnormal dimana Ab terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi dengan jaringan tersebut sebagai jaringan asing. Faktor Resiko Penyakit DM bukan merupakan penyakit menular. pasti anaknya terkena penyakit DM juga. Namun. Resiko – resiko bagi seseorang yang kemungkinan menderita DM bila ditemukan kondisi-kondisi berikut ini : 1 . namun penyakit yang diturunkan. DM type Spesifik Lain Awitan selama kehamilan. namun. a. b. 2. Hereditas atau lingkungan penurunan produksi insulin endogen atau peningkatan resistensi insulin 3. (Brunner & Suddarth. penderita DM lebih cenderung memiliki anak yang akan menderita DM juga.insulitis. 2002) E. DM type 2 NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus) Etiologi biasanya dikaitkan dengan faktor obesitas. disebabkan oleh hormon yang diekskresikan plasenta dan mengganggu kerja insulin. Kecenderungan ini ditemukan pada individu yang memiliki antigen HLA (Human Leucocyte Antigen).

paman. 12. 11. 2. virus morbili. dan / atau trigliserida > 250 mg/dl 8. kakek. 10. Seorangyang gemuk / obesitas (> 20 %. Seseorang yang sebelumnya dinyatakan sebagai toleransi glukosa terganggu (TGT) atau gula darah puasa (terganggu) (GDPT) 9. Riwayat kedua orangtua yang mengidap DM Riwayat salah satu orang tua atau saudara kandung terkena penyakit DM 3. 7. kulit.000 gr Semua wanita hamil 24 – 28 minggu Riwayat menggunakan obat-obatan oral atau suntikan dalam jangka waktu lama.1. 6. BB ideal) atau indeks masa tubuh (IMT) > 27 kg/m2 5. Riwayat salah satu anggota keluarga (nenek. Umur diatas 40 tahun dengan fakroe yang disebutkan diatas Seseorang dengan tekanan darah tinggi (> 140/90) Seorang dengan kelainan profil lipid darah (dislifidema) yaitu kolesterol HDL < 35 mg/dl. Wanita yang sebelumnya mengalami diabetes kehamilan Wanita yang melahirkan bayi > 4. rematik dan lainnya) 13. Infeksi virus ini sering dijumpai pada anak-anak dan penderita yang masih hidup harus setiap hari disuntik insulin 1 . bibi. Riwayat terkena infeksi tertentu antara lain virus yang menyerang kelenjar air liur (penyakit gondongan). obat golongan kortikosteroid (untuk pengobatan asma. sepupu) mengidap penyakit DM 4.

14. Elvina. Glukosuria ini akan menyebabkan diuresis osmotik yang meningkatkan pengeluaran kemih (poliuri) dan timbul rasa haus (polidipsi) sehingga terjadi dehidrasi. (Karyadi. Defisiensi insulin menyebabkan penggunaan glukosa oleh sel menjadi menurun. Kemudian terjadi proses pembentukan keton (ketogenesis). Jika hiperglikemia ini parah dan melebihi ambang ginjal maka akan timbul Glukosuria.5 kg atau berat badan lahir rendah memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit degeneratif antara lain diabetes (kencing manis) pada usia dewasa dibandingkan dengan bayi dengan Berat Badan Lahir (BBL) yang normal. Teori baru ”The Foetal Origins of Disease” yang dikemukakan oleh professor David Barker dan kawan-kawan berdasarkan kajian studi di Inggris tahun 1980 merumuskan bahwa bayi yang lahir kurang dari 2. 2002) F. sehingga kadar gula dalam plasma tinggi (Hiperglikemia). Glukosuria mengakibatkan keseimbangan kalori negatif sehingga menimbulkan rasa lapar yang tinggi (polipagi). menyebabkan proses pemecahan gula baru glikogen meningkat. 2 . Patofisiologi Diabetes Mellitus mengalami defisiensi insulin. sehingga terjadi (glukoneugenesis) yang menyebabkan metabolisme lemak meningkat. Terjadinya peningkatan keton didalam plasma akan menyebabkan ketonurea (keton dalam urin) dan kadar natrium menurun serta pH serum menurun yang menyebabkan asidosis.

bila gejala-gejala yang lebih spesifik timbul 2 . kadangkadang gejala dirasakan ringan sehingga mereka menganggap tidak perlu berkonsultasi ke dokter. arteri kecil sehingga suplai makanan dan oksigen ke perifer menjadi berkurang. Gangguan pembuluh darah akan menyebabkan aliran darah ke retina menurun. karena suplai makanan dan oksigen tidak adekuat akan menyebabkan terjadinya infeksi dan terjadinya gangguan. Gejala-gejala muncul tiba-tiba pada anak atau orang dewasa muda. Manifestasi Klinik Penyakit Diabtes Mellitus ini pada awalnya sering tidak dirasakan dan tidak disadari oleh penderita. sistem syaraf otonom dan sistem syaraf pusat sehingga mengakibatkan neuropati.Penggunaan glukosa oleh sel menurun mengakibatkan produksi metabolisme energi menjadi menurun. akibatnya pandangan menjadi kabur Salah satu akibat utama dari perubahan mikrovaskuler adalah perubahan pada struktur dan fungsi ginjal. sehingga tubuh menjadi lemah Hiperglikemia dapat mempengaruhi pembuluh darah kecil. sehingga suplai makanan dan oksigen ke retina berkurang. Penyakit DM diketahui secara kebetulan ketika penderita menjalani pemeriksaan umum (general medikal check-up). 2000) G. yang akan menyebabkan luka tidak cepat sembuh. Biasanya mereka baru datang berobat. Sedangkan pada orang dewasa > 40 tahun. sehingga terjadi nefropati Diabetes mempengaruhi syaraf-syaraf perifer. (Price.

Banyak minum (polidipsia) Rasa haus dan ingin minum terus. Gejala dan tanda awal Penurunan berat badan (BB) dan rasa lemah Penurunan berat badan dalam waktu relatif singkat. namun tidak dapat seluruhnya dimanfaatkan untuk masuk ke dalam sel 2 . Pada saat itu. a. gangguan kulit dan syaraf. Kadang hal ini sering ditafsirkan karena udara yang panas dan banyak kerja berat. Banyak makan (polifagia) Penderita sering makan (banyak makan) dan kadar glukosa darah semakin tinggi. 1. padahal tanda-tanda ini muncul sebagai awal gejala penyakit DM d. mereka baru menyadari bahwa dirinya menderita DM. selain itu rasa lemah dan cepat capek kerap di rasakan b. merupakan gejala awal yang sering dijumpai. impotensi.misalnya penglihatan mata kabur. Secara umum gejala-gejala dan tanda-tanda yang ditemui meliputi . Banyak kecing (poliuria) Gejala yang sering dirasakan penderita adalah sering kencing dengan volume urine yang banyak kencing yang sering pada malam hari terkadang sangat mengganggu penderita c.

atau daerah lipatan kulit seperti ketiak. paha atau dibawah payudara. penderita sering mengeluh sakit dan rasa kesemutan terutama pada kaki c. namun pasien DM sering menyembunyikan masalah ini karena terkadang malu menceritakannya pada dokter. d. biasanya gatal di daerah kemaluan. 2 . e.2. Gatal-gatal / bisul Keluhan gatal sering dirasakan penderita. Hal ini juga menyebabkan penderita lupa menggunakan sandal / sepatu karena rasa tebal tersebut. Rasa tebal di kulit Penderita DM sering mengalami rasa tebal dikulit. kadang sering timbul bisul dan luka yang lama sembuhnya akibat sepele seperti luka lecet terkena sepatu atau tergores jarum. terutama bila benjolan terasa seperti diatas bantal atau kasur. Gejala Kronis Gangguan penglihatan Pada mulanya penderita DM ini sering mengeluh penglihatannya kabur. a. Gangguan syaraf tepi / kesemutan Pada malam hari. Gangguan fungsi seksual Gangguan ereksi / disfungsi seksual / impotensi sering dijumpai pada penderita laki-laki yang terkena DM. sehingga sering mengganti kaca mata untuk dapat melihat dengan baik. b.

H. adalah komplikasi akut pada DM yang penting dan berhubungan dengan keseimbangan kadar glukosa darah dalam jangka waktu pendek. 2000) b. (Smeltzer. Salah satu perubahan utamanya dengan DKA adalah tidak tepatnya ketosik dan asidosis pada KHN. bahkan merupakan satu-satunya gejala yang dirasakan. keputihan dan gatal merupakan gejala yang sering dikeluhkan. sehingga mudah terkena infeksi antara lain karena jamur. Hal ini terjadi karena daya tahan penderita DM kurang. Diabetik katoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang nyata. 2000) 2 . Keputihan Pada penderita DM wanita. Kompliksi akut. Komplikasi Komplikasi DM terbagi menjadi 2 yaitu komplikasi akut dan komplikasi kronik 1. Koma Hiperosmolar Non Ketotik (KHN) Koma hiperosmolar non ketotik merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan disertai perubahan tingkat kesadaran.f. ketiga komplikasi tersebut adalah : a. Diabetes Ketoasidosis (DKA) Ketoasidosis diabetik merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu pengalaman penyakit DM. (Smeltzer.

Katarak disebabkan karena hiperglikemia yang berkepanjangan. (Brunner & Suddarth. Akumulasi sorbitol dan perubahan-perubahan metabolik lain dalam sintesa 2 . maka mekanisme filtrasi ginjal akan mengalami stress yang menyebabkan kebocoran protein darah dalam urine. menyebabkan pembengkakan lensa dan kerusakan lensa.c. 2000) b) Penyakit mata Penderita DM akan mengalami gejala penglihatan sampai kebutaan. Hipoglikemia Diabetes Mellitus pada dasarnya terjadi pada semua pembuluh darah di seluruh bagian tubuh (Angiopati Diabetik) dibagi menjadi 2 1) Mikrovaskuler a) Penyakit ginjal Salah satu akibat utama dari perubahan – perubahan mikrovaskuler adalah perubahan pada struktural dan fungsi ginjal. bila kadar glukosa dalam darah meningkat. sistem saraf otonom medulla spinallis atau sistem saraf pusat. (Smeltzer. 2000) c) Neuropati Diabetes dapat mempengaruhi saraf-saraf perifer. keluhan penglihatan kabur tidak selalu disebabkan neuropati.

pada sel-sel kuku kaki yang menebal dan halus demikian juga pada daerah-daerah yang terkena trauma c) Pembuluh darah ke otak Pada pembuluh darah otak dapat terjadi penyumbatan sehingga suplai darah ke otak menurun. Lemak yang menumpuk dalam pembuluh darah menyebabkan mengerasnya arteri (arteriosclerosis) dengan resiko penderita penyakit jantung koroner atau stroke. Penatalaksanaan Pengobatan bertujuan untuk mengurangi gejala-gejala. Secara garis besar pengobatannya dilakukan dengan : 2 .fungsi myalin yang dikaitkan dengan hiperglikemia dapat menimbulkan perubahan kondisi saraf 2) Makrovaskuler a) Penyakit jantung koroner Akibat kelainan fungsi pada jantung akibat diabetes maka terjadi penurunan kerja jantung untuk memompakan darahnya ke seluruh tubuh sehingga tekanan darah akan naik. mengusahakan keadaan gizi dimana berat badan ideal dan mencegah terjadinya komplikasi. (Long. 1996) I. keadaan ini menyebabkan gangren infeksi dimulai dari celahcelah kulit yang mengalami hipertropi. b) Pembuluh darah kaki Timbul karena adanya anesthesis fungsi saraf-saraf sensorik.

Memberikan semua unsur makanan esensial (misal : vitamin dan mineral) b. sereal. Diet Disesuaikan dengan keadaan penderita Prinsip umum : diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari penatalaksanaan diabetes.1. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan berikut ini : a. nasi dan pasta) 2 . Menurunkan makan pada penderita DM Pencernaan makan pada penderita DM 1) Kebutuhan kalori Tujuan yang paling penting adalah pengendalian asupan kalori total untuk mencapai atau mempertahankan berat badan yang sesuai dan pengendalian kadar glukosa darah. Rencana makan bagi penyandang diabetes juga memfokuskan presentase kalori yang berasal dari karbohidrat. d. yaitu : a) Karbohidrat kompleks (seperti : roti. protein dan lemak Ada 2 tipe karbohidrat yang utama. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai Memenuhi kebutuhan energi Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan praktis e. c.

diperlukan 25 kkal/kg BB ideal b) Kemudian diperhitungkan pula Aktivitas. seperti kenaikan kadar kolesterol serum yang berhubungan dengan proses 2 . kerja berat ditambah 50 % dan kerja berat sekali ditambah 20 – 30 %) Stress : ditambah 20 – 30 %. Karbohidrat sederhana tetap harus dikonsumsi dalam jumlah yang tidak berlebihan dan lebih baik jika dicampur ke dalam sayuran atau makanan lain daripada dikonsumsi secara terpisah 3) Lemak Pembatasan asupan total kolesterol dari makanan hingga < 300 mg / hr untuk membantu mengurangi faktor resiko. pada waktu istirahat. nasi beras tumbuk. kerja sedang ditambah 30 %. kerja ringan : ditambah 10 – 20 %. sereal dan pasta / mie yang berasal dari gandum yang masih mengandung bekatul. hamil trimester 2 – 3 ditambah 400 kal dan laktasi ditambah 600 kal 2) Karbohidrat Tujuan diet ini adalah meningkatkan konsumsi karbohidrat kompleks (khususnya yang berserat tinggi) seperti roti. gandum utuh.b) Karbohidrat sederhana (seperti : buah yang manis dan gula) Jumlah kalori diperhitungkan sebagai berikut : a) BB ideal = (TB cm – 100) kg – 10 % .

2002) 2. Latihan ini sangat bermanfaat pada pendrita diabetes karena dapat menurunkan BB. Meskipun demikian penderita diabetes dengan kadar glukosa >250 mg/dl (14 mmol/dL) dan menunjukkan adanya keton dalam urine tidak boleh melakukan latihan sebelum pemeriksaan keton urine memperlihatkan hasil negatif dan kadar glukosa darah telah mendekati normal. mengurangi rasa stress dan mempertahankan kesegaran tubuh. 2 . sirkulasi darah dan tonus otot. Olah raga / latihan Sangat penting dalam penatalaksanaan DM karena afeknya dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi faktor resiko kardiovaskuler. Latihan akan menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin.terjadinya penyakit koroner yang menyebabkan kematian pada penderita diabetes 4) Protein Makanan sumber protein nabati (misal : kacang-kacangan dan bijibijian yang utuh) dapat membantu mengurangi asupan kolesterol serta lemak jenuh. (Brunner & Suddarth. Mengubah kadar lemak darah yaitu meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL)-kolesterol dan menurunkan kadar kolesterol total serta trigliserida.

sakit kepala. trombositopeni. vertigo dan demam Dermatitis. jadi hanya bekerja bila sel-sel beta utuh b) c) d) 2) Indikasi a) b) c) d) Bila BB ideal ± 10% dan BB ideal Bila kebutuhan insulin < 40 u/hr Bila tidak ada stress akut. anemia 3 . Obat-obatan Obat antidiabetik oral. Golongan sulfonilurea 1) Cara kerja : a) Merangsang sel beta pancreas untuk mengeluarkan insulin. misal: infeksi berat / operasi Dipakai pada diabetes dewasa. 3. dibagi menjadi 2 golongan yaitu : a. Growth Hormone (GH) dan katekolamin. pruritus Lekopeni. muntah. Peningkatan hormon ini membuat hati melepas lebih banyak glukosa sehingga terjadi kenaikan kadar glukosa darah. baru dan tidak pernah Menghalangi pengikatan insulin Mempertinggi kepekaan jaringan terhadap insulin Menekan pengeluaran glukogen ketoasidosis sebelumnya 3) Efek samping a) b) c) Mual.Latihan dengan kadar glukosa darah yang tinggi akan meningkatkan sekresi glukogen.

ginjal dan thyroid 3 .4) Kontra indikasi Penyakit hati.

Golongan biguanid Tidak sama dengan sulfonilurea. Penurunan glukoneogenesis dalam hepar Gangguan absorbsi glukosa dalam usus Peningkatan kecepatan ambalan glukosa Cara kerja belum diketahui secara pasti.b. Nausea b. Muntah c. tetapi jelas Efek samping : a. 1) Menurunkan kadar GD menjadi normal dan istimewanya tidak menyebabkan hipoglikemia 2) terdapat: a) b) dalam otot 4. Diare Insulin 1) Indikasi a) Semua penderita DM dari setiap umur (baik IDDM / NIDDM) dalam keadaan ketoasidosis b) Diabetes yang masuk dalam klasifikasi diabetes c) Penderita yang kurus d) Bila dengan obat oral tidak berhasil IDDM yaitu juvenile 3 . karena tidak merangsang sekresi insulin.

sulit bergerak / berjalan. letih. Gejala Aktivitas / Istirahat : Lemah.e) Kehamilan f) Bila ada komplikasi mikroangiopati. gangguan tidur / istirahat 3 . Pengkajian Fokus Resistensi terhadap insulin Data bergantung pada berat dan lamanya ketidakseimbangan metabolik dan pengaruh pada fungsi organ 1. kram otot. tonus otot menurun. misal: retinopati / nefropati 2) a) 2-4 jam b) 12 jam c) Yang kerjanya lambat : protamine zinc insulin (PZI) Yang kerjanya sedang : NPH dengan masa kerja 6Jenis insulin Yang kerjanya cepat: reguler insulin (RI) masa kerja monotard ultralente (MC) masa kerja 18-24 jam 3) a) penyuntikan b) Hipoglikemia : dosis insulin berlebih atau Efek samping Lipodistrofi : atrofi jaringan subkutan pada tempat kebutuhan insulin yang berkurang c) Reaksi alergi d) J.

Integritas Ego Gejala : stress. Eliminasi Gejala : nokturia Rasa nyeri / terbakar. Sirkulasi Gejala : adanya riwayat hipertensi. peka rangsang 3 . Distensi Vena Jugularis (DVJ) Kulit panas kering dan kemerahan. Penurunan kekuatan otot 2. infeksi saluran kencing (ISK) baru / berulang Nyeri tekan abdomen Diare Perubahan pola kencing. poliuri (poliuria). postural hipertensi Nadi yang menurun / tak ada Disritmia Krekels. kebas dan kesembuhan pada ekstremitas ulkus pada kaki penyembuhan yang lama Tanda : takikardia Perubahan tekanan darah.Tanda : takikardia dan takipnea pada keadaan istirahat atau dengan aktivitas letargi / disorientasi. bola mata cekung 3. : ansietas. kesulitan berkemih. infark miokard akut. tergantung pada orang lain Masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi Tanda 4.

bau buah (napas aseton) 6. bau busuk (infeksi) Bising usus lemah dan menurun. muntah Pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan metabolik dengan peningkatan gula darah) Bau halitosis / manis.Tanda : Urine encer. turgor jelek Kekakuan / distensi abdomen. kuning. pucat. hiperaktif (diare) 5. Neurosensori Gejala : Sakit kepala Pusing / pening 3 . peningkatan masukan glukosa / karbohidrat Penurunan berat badan lebih dari periode beberapa hari / minggu Haus Penggunaan diuretik (Tiazid) Tanda : Kulit kering / bersisik. Makanan / Cairan Gejala : Hilang nafsu makan Mual / muntah Tidak mengikuti diet. poliuri (dapat berkembang menjadi oliguria / anuria jika terjadi hipovolemia berat) Urine berkabut.

Nyeri / Kenyamanan Gejala Tanda : : berhati-hati Abdomen yang tegang / nyeri (sedang / berat) Wajah meringis dengan palpasi. peristesia Gangguan penglihatan Tanda : Disorientasi. stupor / koma (tahap lanjut). masa lalu). letargi. tampak sangat 3 .Kesemutan. Gangguan memori (baru. kacau mental 7. kebas. mengantuk. kelemahan pada otot.

8.

Pernapasan Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan /

tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi / tidak) Tanda : Lapar udara Batuk, dengan / tanpa sputum purulen (infeksi) Frekuensi pernapasan 9. Keamanan Gejala Tanda : : Kulit kering, gatal, ulkus kulit Demam, diaforesia Kulit rusak, lesi / ulserasi Menurunnya kekuatan umum / rentang gerak Parestesia / paralisis otot termasuk otot-otot pernafasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam) 10. Seksualitas Gejala : Rabas vagina (cenderung infeksi) Masalah impoten pada pria, kesulitan orgasme pada wanita 11. Penyuluhan / Pengajaran Gejala : Faktor resiko keluarga : DM, penyakit jantung,

stroke, hipertensi, penyembuhan yang lambat Penggunaan obat seperti steroid diuretik

(tiazid); dilantin dan fenobarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah). (Dongoes, 2002)

3

K. Pemeriksaan Diagnostik 1. Glukosa darah : meningkat 200 – 100 mg/dl atau lebih 2. Aseton plasma (keton) : positif secara mencolok 3. Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat 4. Osmolitas serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 osm/l 5. Elektrolit a) Natrium menurun b) Kalium (perpindahan 6. 7. : normal atau peningkatan semu : mungkin normal meningkat atau

seluler) selanjutnya akan menurun

Fosfor : lebih sering menurun Hemoglobin gliserol : kadarnya meningkat 2 – 4 kali lipat dari normal yang mencerminkan kontrol DM yang kurang selama 4 bulan terakhir (lama hidup SDM) dan karenanya sangat bermanfaat dalam membedakan DKA dengan kontrol tidak adekuat versus DKA yang berhubungan dengan insiden (mis ISK baru)

8.

Gas darah arteri : biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan HCO, (asidosis metabolik) dengan kompensasi alkalosis respiratorik

9.

Trombosit darah : Hematokrit (Ht) mungkin meningkat (dehidrasi), leukositosis, hemokonsentrasi, merupakan respons terhadap stres atau infeksi

3

10.

Ureum / kreatinin : mungkin meningkat atau normal (dehidrasi / penurunan fungsi ginjal)

11.

Amilase darah : mungkin meningkat yang mengindentifikasikan adanya pankreatis akut sebagai penyebab dari DKA

12.

Insulin darah : mungkin menurun / bahkan sampai tidak ada (pada tipe I) atau normal sampai tinggi (tipe II) yang mengidentifikasi insufisiensi insulin / ganggguan dalam penggunaannya (endogen / eksogen). Resistensi insulin dapat berkembang sekunder terhadap pembentukan (antibodi)

13.

Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin

14.

Urine : gula dan aseton positif, berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat, kultur dan sensitivitas : kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi pernafasan dan infeksi pada luka. (Dongoes, 2002)

3

Pathway Keperawatan Defisiensi insulin Glukagon meningkat Glukoneogenesia Hiperglikemia GD 140 mg/mmol Pemecahan asam Glukosa masuk lemak ke dlm tubulus ginjal Ketonemia pH serum menurun Asidosis metabolik Mual muntah Glukosa dibuang bersama urine Glukosuria Diuresis osmotik Poliuri Dehidrasi Starvasi sel Prod energi BB metabolik menuru menurun Kelelaha n n Nutrisi keb Rasa lapar Polifagi Hiperosmolaritas Koma Hilang protein tubuh Angiopati Mikrovaskuler Makrovaskuler Trombosit beroklusi Pembulu darah besar Aterosklerosis Neuropati Sensorik Hilang rasa Vaskulataria Resti injuri Motorik Atropi otot Perub dlm pergerakan Perubahan pembuluh darah Gangguan sirkulasi Suplai mkn ke jar perifer ↓ Respon peradangan melambat Gg keseimbangan tubuh Luka sembuh Gg integritas jaringan tidak Defisit vol cairan Peredaran pembuluh darah ke retina ↓ Pandangan kabur Retinopati Syok Polidipsi Terjadi ulkus DM Infeksi 36 Resiko penyebaran Gg persepsi sensori : infeksi penglihatan 4 .Obesitas. penyakit pancreas L. obat-obatan.

Resiko tinggi penyebaran infeksi (Sepsis) berhubungan dengan kadar glukosa tinggi. Kriteria Hasil : 1) Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi 2) Mendemostrasikan tehnik. perubahan pada sirkulasi. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Keperawatan 1. urine warna merah keruh atau berkabut Rasional : pasien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya lebih lebih mencetuskan keadaan ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nosokomial 2) Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan denga pasien termasuk pasien sendiri Rasional : mencegah timbulnya infeksi silang (infeksi nosokomial 3 . kemerahan. sekunder terhadap adanya ulkus a. adanya pus pada luka. 1) Intervensi Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam.M. perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi b. Tujuan : 1) Tidak terjadi infeksi 2) Tidak ada tanda-tanda terjadinya infeksi b. sputum purulent.

3) Lakukan perawatan luka (ganti balut tiap hari) dengan menjaga tehnik septik dan aseptik Rasional : untuk mencegah terjadinya infeksi dan penyebaran infeksi lebih lanjut 4) Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh. lumen kering dan tetap kencang (tidak berkerut) Rasional : sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan pasien pada resiko terjadinya kerusakan pada kulit / iritasi kulit dan infeksi 5) Rasional : penyakit kulit / gusi 6) a). Berikan antibiotik sesuai advise 3 . jaga kulit tetap kering. masase daerah tulang yang tertekan. dengan indikasi Rasional : mengidentifikasi untuk organisme sehingga dapat Kolaborasi Pemeriksaan kultur dan sensitivitas sesuai Bantu pasien untuk melakukan higiene oral menurunkan resiko terjadinya memilih / memberikan therapy antibiotik yang terbaik b).

Rasional : penanganan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis 2. Resiko deficit volume cairan berhubungan dengan adanya diuresis osmotik a. Tujuan cairan b. Kriteria Hasil : Mendemostrasikan oleh tanda vital : Tidak terjadi kekurangan hidrasi adekuat yang dibutuhkan stabil. haluaran urine secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal 3 .

c. fungsi ginjal dan keefektifan dan terapi yang diberikan 5) Pertahankan untuk memberi cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan melalui oral sudah dapat diberikan Rasional : volume sirkulasi 6) Kolaborasi mempertahankan hidrasi / 4 . 1) Intervensi Pantau tanda vital. turgor kulit dan membran mukosa Rasional : merupakan indicator dari tingkat dehidrasi. pengisian kapiler. catat adanya perubahan TD ortostatik Rasional : hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia 2) Rasional : Pantau suhu warna kulit atau kelembabnnya demam dengan kulit kemerahan. catat Bj urine memberikan perkiraan kebutuhan atau cairan pengganti. kering mungkin sebagai cerminan dari dehidrasi 3) Kaji nadi perifer. atau volume sirkulasi yang adekuat 4) Rasional : Pantau masukan dan pengeluaran.

a) indikasi Berikan therapy cairan sesuai dengan Normal salin atau ½ NS atau tanpa dekstrose Rasional : tipe dan jumlah cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan b) Pantau pemeriksaan laboratorium. Tujuan b. seperti Hematokrit : mengkaji tingkat hidrasi dan sering kali meningkat akibat hemokonsentrasi yang terjadi setelah diuresis osmotik BUN / kreatinin : peningkatan nilai dapat mencerminkan kerusakan sel karena dehidrasi atau tanda akibat kegagalan ginjal Osmolalitas : meningkat dengan adanya hiperglikemia dan dehidrasi Natrium : menurun yang mencerminkan diuresis osmotik. Kriteria Hasil : Pemasukan nutrisi adekuat : 1) Mencerna jumlah kalori atau nutrisi yang tepat 2) Menunjukkan tingkat energi biasanya 4 . Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat a. meningkat mencerminkan kehilangan cairan / dehidrasi berat 3.

Intervensi 1) Observasi tanda-tanda hipoglikemia. muntahan makanan yang belum sempat dicerna Rasional : hiperglikemia dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat menurunkan mobilitas / fungsi lambung 4) Tentukan program diit dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien 4 . lapar. cemas. mual. pusing.3) Mendemostrasikan berat badan stabil atau penambahan kearah rentang yang diinginkan dengan nilai laboratorium normal c. kulit lembab / dingin. catat adanya nyeri abdoment / perut kembung. sakit kepala. sempoyongan Rasional : karena metabolisme karbohidrat mulai terjadi (gula darah berkurang. sementara tetap diberikan insulin maka hipoglikemi dapat terjadi) 2) Timbang BB setiap hari atau sesuai dengan indikasi Rasional : mengkaji pemasukan makanan yang adekuat 3) Auskultasi bising usus. derajat nadi cepat. seperti : perubahan tingkat kesadaran. peka rangsang.

Rasional : mengidentifikasi kekurangan dan penyimpanan dari kebutuhan therapeutik 5) Indikasi makanan yang disukai / dikehendaki termasuk kebutuhan etnik Rasional : disukai pasien dapat jika makanan yang dimasukkan dalam perencanaan makan 4 .

Rasional Berikan insulin secara teratur : insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan pula dapat membantu analisa ditempat tidur memindahkan glukosa ke dalam sel 4. aseton. Tujuan Kriteria Hasil : integritas kulit kembali normal : 1) Mengidentifikasi faktor resiko individual 4 . PH dan HCO3 Rasional : gula darah akan menurun perlahan dengan penggantian cairan dan therapi insulin terkontrol c. Pantau pemeriksaan laboratorium.6) Libatkan keluarga pada perencanaan makan sesuai indikasi Rasional : meningkatkan rasa keterlibatan. Lakukan pemeriksaan gula darah dengan menggunakan “Finger stick” Rasional : terhadap GD lebih kuat b. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan sekunder terhadap sirkulasi yang tidak adekuat a. b. memberikan informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi pasien 7) Kolaborasi a. seperti glukosa darah.

adanya drainase pada luka serta bersihkan luka setiap hari Rasional : daerah ini cenderung terkena radang dan infeksi dan merupakan rute bagi mikroorganisme patologis 3) Libatkan masase dan lubrikasi pada kulit dengan losion / minyak. toleran. 1) Intervensi Inspeksi seluruh area kulit.2) Mengungkapkan pemahaman tentang kebutuhan tindakan 3) Berpartisipasi pada tingkat kemampuan untuk mencegah kerusakan kulit lebih lanjut c. kemerahan. pembengkakan Rasional : rusak karena kulit biasanya cenderung perubahan untuk sirkulasi merasakan perifer. gangguan pengaturan suhu 2) Catat adanya pembengkakan. catat pengisian kapiler. adanya kemerahan. ketidakmampuan imobilisasi. lindungi sendi dengan menggunakan bantalan busa Rasional : meningkatkan sirkulasi dan melindungi permukaan kulit mengurangi terjadinya ulserasi 4 .

4) Lakukan perubahan posisi sesering mungkin di tempat tidur maupun sewaktu tidur Rasional : meningkatkan sirkulasi dan melindungi kulit. mengurangi terjadinya ulserasi 5) Bersihkan dan keringkan kulit khususnya daerah-daerah dengan kelembaban tinggi seperti parineum Rasional : meningkatkan sirkulasi pada kulit dan mengurangi tekanan pada daerah tulang yang menonjol 6) Jagalah alat tenun tetap kering dan bebas dari lipatan – lipatan dan kotoran Rasional iritasi pada kulit 7) Anjurkan pasien untuk terus meningkatkan nutrisi sel atau organisasi sel dan untuk meningkatkan kesehatan jaringan Rasional : menstrimulasi sirkulasi. b. Intervensi 4 . Resti injury berhubungan dengan kelemahan umum a. Tujuan : tidak terjadi injury Kriteria Hasil : Mendemostrasikan tidak ada cedera demham komplikasi minimal / terkontrol c. : mengurangi / mencegah terjadinya meningkatkan nutrisi sel atau oksigenasi sel dan untuk meningkatkan kesehatan jaringan 5.

takikardia (140-200/mnt) Rasional : untuk mengetahui keadaan umum pasien yang dapat menentukan tindakan yang diberikan 2) diberi bantalan Rasional adanya trauma : untuk menentukan kemungkinan Pertahankan penghalang tempat tidur terpasang / 4 .1) Pantau tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu tubuh.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai prognosis penyakit a. Tujuan b. menurunkan stimulasi dari luar 6.3) a) Kolaborasi Pantau kadar kalsium darah : pasien dengan kadar kalsium kurang dari 7.5/100 ml secara umum membutuhkan terapi pengganti b) Berikan obat sesuai indikasi 1) Kalsium (glukosa. Kriteria Hasil : 1) Mengidentifikasi hubungan tanda / gejala dengan proses penyakit dan menghubungkan gejala dengan faktor penyebab 2) Dengan benar melakukan prosedur yang perlu dan menjelaskan rasional tindakan 3) Melakukan perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan c. laktat) : untuk memperbaiki kekurangan yang biasanya sementara 2) Sedatif : meningkatkan istirahat. Intervensi 1) Ciptakan lingkungan saling percaya dengan mendengarkan penuh perhatian dan selalu ada untuk pasien : Pasien menyatakan pemahaman tentang penyakit 4 .

Rasional : menanggapi dan memperhatikan perlu diciptakan sebelum pasien bersedia mengambil bagian dalam proses belajar 2) Diskusikan topik-topik utama seperti apakah kaar glukosa normal ibu dan bagaimana hal tersebut dibandingkan kekurangan insulin dengan kadar gula darah yang tinggi Rasional : memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pertimbangan dalam memilih gaya hidup 3) Menganjurk an klien untuk rutin melakukan pemeriksaan gula darah dan instruksikan pasien untuk pemeriksaan keton urinenya jika glukosa darah lebih tinggi dari 250 mg/dl Rasional : Melakukan pemeriksaan darah secara teratur dapat meningkatkan kontrol gula darah dengan lebih ketat (misal 60 – 150 mg/dl) 4) Diskusikan tentang rencana diet. penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk melakukan makan di luar rumah Rasional : kontrol obat akan keadaan tentang pentingnya membantu pasien dalam merencanakan makan / mentaati program 4 .

pembedahan dan penyakit tertentu Rasional : informasi ini akan meningkatkan pengendalian terhadap DM dan dapat menurunkan berulangnya kejadian ketoasidosis 6) Buat jadwal latihan aktivitas yang teratur dan identifikasi hubungan dengan penggunaan insulin yang perlu menjadi perhatian Rasional : waktu latihan tidak boleh bersamaan waktunya kerja puncak insulin untuk mencegah percepatan ambilan insulin 7) Identifikasi gejala hipoglikemia (misal lemah.5) Diskusikan faktor-faktor yang memegang peranan dalam kontrol DM seperti latihan stres. takikardia. diaforesis. sakit kepala. peka rangsang. pucat. letargi. dan perubahan mental) Rasional : dan pengobatan dapat meningkatkan deteksi lebih awal dan mencegah / mengurangi kejadiannya 5 . tremor. lapar. pusing.

BAB III TINJAUAN KASUS 1. Pada kasus ini data diperoleh dengan cara mengadakan pengamatan langsung. K : 61 tahun : Laki-laki : Semarang : Islam : Wiraswasta : Jawa/Indonesia : 01 Mei 2008 : Diabetes Mellitus+ Ulkus Grade IV : 5750468 Biodata 5 . Kariadi Semarang. menelaah catatan medis dan catatan keperawatan. Pengkajian keperawatan Kasus yang penulis kelola adalah pasien dengan sistem Endokrin Diabetes Mellitus pada tanggal 01 Mei 2008 pukul 08. Register : Tn.30 WIB di Ruang Penyakit Dalam C3 Lantai 1 Rumah Sakit Dr. Disamping itu penulis memberikan asuhan keperawatan langsung kepada pasien. 1. Identitas pasien Nama Umur Jenis kelamin Alamat Agama Pekerjaan Suku/bangsa Tanggal masuk Diagnosa medis No.wawancara dengan pasien dan keluarga serta bekerjasama dengan tim kesehatan lain.

timbul luka dibiarkan. Keluhan utama Saat dilakukan pengkajian klien mengatakan terdapat luka pada kaki kiri yang tidak sembuh-sembuh. Oleh pasien dan keluarga kaki direndam dalam air es dengan tujuan panas dan bengkak hilang. G : 38 tahun : Laki-laki : Anak Jenis kelamin Hub. Dg pasien 2. lama kelamaan luka semakin melebar dan dalam. Bengkak dan terasa “panas kemranyas”. Kariadi di Ruang penyakit dalam untuk menjalani perawatan lebih lanjut. Nama Umur Penanggung jawab : Tn. Oleh pasien tidak juga diperiksakan ke dokter dan dalam beberapa hari timbul belatung yang cukup banyak serta berbau. sekarang Riwayat penyakit + sejak 1 bulan yang lalu timbul “plentingan” / papul pada kelingking kaki kiri yang berisi cairan / nanah.b. Riwayat Kesehatan a. tidak diperiksakan ke dokter. kotor dan berbau b. papul yang timbul juga dipecah sendiri. kemudian oleh keluarga dibawa ke Rumah Sakit Pantiwilasa Citarum dilakukan bersih luka (Debridement) dan dibalut lalu dirujuk ke Rumah Sakit Dr. 5 .

dahulu Riwayat penyakit Klien mengatakan menderita Diabetes Mellitus sejak 10 tahun yang lalu tetapi tidak pernah kontrol. 5 tahun yang lalu sempat dirawat di Rumah Sakit dengan Hipertensi. Pola Pengkajian Fungsional Pola pemeliharaan kesehatan Klien mengatakan kurang mengetahui tentang penyakitnya sehingga klien kurang mengerti dalam perawatan dirinya. klien bila sakit hanya cukup membeli obat di warung / apotik.c. adik dari ayah dan kakak perempuan klien juga menderita kencing manis. Klien sulit bila disuruh periksa ke dokter tentang penyakit yang dialaminya. Riwayat penyakit 5 . jarang memakai alas kaki saat berjalan dan masih mengkonsumsi makanan yang manismanis. Riwayat Hipertensi keluarga klien kurang mengetahui 3. tetapi tidak kontrol teratur sampai sekarang. Klien juga menderita Hipertensi sudah 10 tahun juga bersamaan dengan Diabetes Mellitus. keluarga Klien mengatakan bahwa ayahnya. d.

Kebersihan diri klien cukup.5 liter/hari menggunakan air putih dan masih selalu mengeluh haus. Balance cairan per 7 jam Intake Infus Makan : 700 cc : 200 cc 5 . Minum juga mulai menurun + 1. berat badan dahulu 53 kg nenjadi 47 kg. klien biasa minum air putih + 2. klien merasa mual jika makan.5 liter/hr ditambah segelas kopi dan teh manis selama aktivitas / bekerja. Pola nutrisi dan metabolik Sebelum dirawat di Rumah Sakit dan sebelum terdapatnya luka. TB : 167 cm. klien mengatakan makan cukup banyak. berat badan menurun dalam 2 bulan terakhir + 6 kg. klien hanya makan + 5-6 sendok setiap porsi dengan menggunakan bubur selama di rumah dan diit Diabetes Mellitus 1750 kkal selama dirawat di Rumah Sakit. Selama sakit (timbul luka) dan dirawat di Rumah Sakit klien mengatakan nafsu makan menurun drastis.Klien merokok dan minum kopi serta kurang memperhatikan menu makanan yang dimakan. Klien mengatakan minum banyak karena klien serimg merasa haus dan terasa panas dalam. klien makan 3x sehari dan tanpa menghindari makanan tertentu. klien mandi 2x sehari dan ganti pakaian bila kotor.

klien juga mengatakan bila kencingnya dibiarkan biasanya didatangi semut ditambah bila buang air kecil (BAK) pasien terasa nyeri / terbakar. terutama meningkat bila malam hari dengan jumlah yang cukup banyak + 200 cc dengan karakteristik urine. bau khas (Aseton). setiap harinya klien kencing sampai 20x /hari. sehari sekali kadang 2 hari sekali dengan konsistensi lembek. warna kuning jernih. warna kuning kecoklatan Pola aktifitas dan latihan Klien mengatakan sebelum dirawat di Rumah sakit dan terdapatnya luka pada kaki klien sehari-harinya bekerja sebagai pengawas / 5 . 2) Eliminasi Feses Klien mengatakan tidak ada masalah dengan pola buang air besarnya.Minum : 600 cc  1500 cc Output Urine IWL : 1400 cc : 245  1645 BC : I – O 1500 – 1645 = -145 Pola eliminasi 1) Eliminasi urine Klien mengatakan banyak kencing.

penunggu pabrik di daerah Jepara dan masih bisa memenuhi kebutuhan dirinya / perawatan diri. Selama sakit klien mengatakan tidak mampu bekerja lagi, klien sering merasa kelelahan dan lemah apalagi terdapat luka pada kaki kirinya setiap aktivitas klien dibantu oleh keluarga. Dengan skoring aktifitas Kegiatan Berjalan Makan / minum Eliminasi Berhias Keterangan : 0 1 2 3 4 5 : dibantu sepenuhnya 100 % : dibantu 95% : dibantu 75% : dibantu 50% : dibantu 25% : mandiri 0 1 2 √ √ √ 3 4 5 √

Pola istirahat tidur Klien mengatakan selama sakit, klien sulit untuk tidur, klien hanya tidur + 4-5 jam/hari, klien sering terbangun karena sering sekali buang air kecil (BAK) pada malam hari ditambah saat ini klien merasa cemas, dengan kondisi lukanya karena tidak sembuh-sembuh dan takut bila kakinya dipotong. Timbul takikardi dan takipnea selama istirahat / setelah aktivitas

5

Pola persepsi sensori dan kognitif. Klien mengatakan merasa kesemutan pada kaki dan tangan dan mengalami kelemahan otot. Klien juga tidak merasakan nyeri pada kaki yang terluka saat di cubit, tapi kadang merasakan nyeri (cekotcekot) kemranyas pada daerah luka. Klien juga mengeluh sering pusing dan sakit kepala, gangguan penglihatan / kabur saat melihat dan juga sering mengantuk berat. Pola hubungan dengan orang lain Klien mengatakan hubungan klien dengan anggota keluarga baik, keluarga selalu mendampingi klien saat sakit. Hubungan dengan tetangga / orang lain cukup baik hanya saja klien merasa orang-orang di sekitarnya membicarakan dirinya karena kesehatan lukanya yang berbau dan sempat timbul belatung yang cukup menjijikkan. Pola reproduksi dan seksual Klien mengatakan menikah kira-kira umur 24 tahun dan dikaruniai 5 orang anak (3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan), untuk hubungan intim belum sempat dikaji. Pola persepsi diri dan konsep diri 1) Harga diri : klien mengatakan merasa minder / cukup malu dengan kondisinya sekarang karena terdapat luka pada kaki yang berbau kotor dan terdapat belatung, klien merasa kakinya seperti bangkai.

5

2)

Identitas diri : klien mengatakan dia adalah anak ke 3 dari 6 bersaudara, klien mengakui berjenis kelamin laki-laki, klien tidak mempunyai masalah / menolak dengan jenis kelaminnya, dia merasa puas sebagai seorang laki-laki, klien mampu menyebutkan nama, alamat dan seterusnya (identitas dirinya).

3) klien mengatakan merasa sedih

Peran diri : dengan kondisi yang dialami

sekarang, klien merasa sekarang tidak mampu lagi melakukan peran sebagai seorang suami dan seorang ayah. 4) Ideal diri : Klien mengatakan bahwa harapannya sekarang adalah agar cepat sembuh sehingga mampu bekerja lagi. 5) Gambaran diri : klien mengatakan merasa puas dengan dirinya, tapi klien merasa tidak suka dengan kaki kirinya karena terdapat luka. j. Pola mekanisme koping Klien mengatakan setiap pengambilan keputusan bersama dalam keluarga adalah dirinya karena dia adalah kepala keluarga, tapi bila ada masalah baik individu maupun keluarga klien mengatakan selalu

cerita dengan keluarga dan mencari solusi yang terbaik k. Pola nilai kepercayaan

5

Klien mengatakan beragama Islam. selama sakit klien tetap melaksanakan ibadah walaupun hanya berdiri. klien mempercayai Allah SWT akan memberikan kesembuhan 5 .

warna kehitaman j. simetris terdapat pandangan kabur. tidak ada deviasi trakea. tampak kelelahan b.4. tidak ada septum deviasi. sklera tidak ikterik. kemampuan pandangan cukup. tidak ada napas cuping hidung h. cekung g. tidak ada lka. Kepala : mechochepal. Tingkat kesadaran : composmentis c. terdapat sekret. kotor f. tidak ada benjolan leher. mukosa sedikit kering. terdapat bau halisitosis bibir kering. Tanda – tanda vital TD : 150/100 mmHg N : 80 x/mnt S : 380C RR : 21 x. tidak ada alat bantu penglihatan. Leher : simetris. tidak ada polip. tidak ada Distensi Vena Jugularis (DVJ) 6 . tiak ada luka e. bersih. tampak kotor i. tidak menggunakan alat bantu dengar. Hidung : semetris. warna hitam. Mulut : simetris. Pemeriksaan Fisik a. Penampilan / keadaan umum : cukup. Mata : konjungtiva anemis.mnt d. Rambut : Tipis agak botak. Telinga : simetris. tidak menggunakan alat bantu pernafasam.

tidak ada luka RR : 21 x/mnt Perkusi : sonor di seluruh lapang paru Palpasi : strem fremitus kanan = kiri Auskultasi: suara dasar vaskuler. Abdomen Inspeksi : abdomen Auskultasi : x/menit Perkusi : timpani terdapat bising usus + 13 datar. bising Ө n. Jantung Inspeksi Palpasi : : ictus cordis tidak tampak ictus cordis teraba pada intercosta ke V 2 cm Line Mid Clavicula Sinistra (LMCS) Perkusi : ke caudolateral Auskultasi : suara jantung I – II murni Gallop Ө. tidak ada luka. tidak ada penggunaan otot bantu pernafasan. Dada dan thoraks : simetris.k. Paru-paru Inspeksi : simetris statis dinamis. tidak ada suara tambahan m. pengembangan paru sama l. terdapat distensi konfigurasi jantung bergeser 6 .

2) Terpasang infus RL 20 tpm pada ekstremitas atas kiri 5. kering. bengkak. ulkus.00 29.0 11. kulit sekitar luka berwarna kehitaman.00 35.00 4.90-5. hepar dan klien tidak teraba o.80 % Width (RDW) 6 .00 150.10rb/mm 418. Pemeriksaan penunjang a. tidak ada respon nyeri. luka kotor.00-96.00-15.80 g/dl Concentration (MCHC) Lekosit Trombosit 11. tidak ada nyeri tekan. Pemeriksaan Laboratorium Tanggal : 01 Mei 2008 1) Analizer Hema Pemeriksaan Hemoglobin Hematokrit Eritrosit Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) Mean Corpuscular hasil 10.Palpasi : tidak ada massa.00-11.40 fl 76.20 Pg nilai normal 13.0-47. Diabetes Mellitus Grade IV (ganggren jari kaki atau bagian distal kaki dengan / tanpa selulitis).0 3.60-14.0-400.00-32. Ekstremitas 1) Terdapat luka pada kaki sebelah kiri. CRT > 4 detik. berbau.62 jt/mmk 29.60 gr% 31. dengan diameter 5 cm kedalaman 3 cm.2 % 3.00-32.60 27.00 Volume 86.80 (MCV) Mean corpuscular Hemoglobin 33.0rb/mm k Red Blood Cell Distribution 12. terdapat pus.

10 fl 2) Kimia klinik (tanggal 01 mei 2008 ) Pemeriksaan Glukosa sewaktu Ureum Creatinin Natrium Kalium Calsium Chlorida Magnesium Cholesterol Trigliserida High Density hasil 295 mg/dl 16 mg/dl 0.99 50-200 30-150 35-60 62-130 6.4-8.1 2.30 mmol/L 107 mmol/L 0.5-5.30 136-175 3.4-5.74-0.9 mmol/L 2.00 Nilai normal 80-110 15-39 0.52 98-107 0.RPV 6.0 5-85 (HDL) cholesterol Low Density Lipoprotein (LDL) 106 mg/dl cholesterol Protein total Albumin SGOT (AST) SGPT (ALT) Alkali fostatase Gamma Glutamil Transferase (GT) 3) Pemeriksaan urine Tanggal 01 – 05 – 2008 Sekresi – ekskresi Urine lengkap Warna Bj PH : : : kuning jernih 1.9 17 28 124.00-11.74 mg/dl 137 mmol/L 4.12-2.0-136.2 3.0 67 gr/dl gr/dl u/l u/l u/l u/l Pemeriksaan Protein Reduksi Nilai normal Neg Neg 6 .73 mmol/L 149 mg/dl 92 mg/dl Lipoprotein 28 mg/dl 4.020 6.00 Hasil Neg mg/dl > 1000mg/dl 7.0 15-37 30-65 50.1 2.60-1.

Oxalat Asam urat Triple fosfat Amorf Sel Hyalin Sel granula kasar Sel granula halus Epitel Leukosit Bakteri b. Therapi Tanggal 01 – 05 – 2008 a. Infus RL 20 tpm 0. Kesan OD ODS 6. g. f. c. e. b.Bilirubin Aseton Nitrit Sed epitel Lekosit Eritrosit Ca.2 mg/dl Neg mg/dl Neg mg/dl 0-2 Neg 0-1 Neg Neg Neg Neg Neg Neg Neg Neg Neg +/positif Neg Neg Neg LPK LPB LPB LPK LPK LPK LPK LPK Pemeriksaan oftalmologis : gambaran fundus saat ini didapatkan : retinopati diabetika non proliferatif : KSI (katarak senillis immature) + makulopati Ceftriaxon 1 x 2 gr (IV) Metronidazol 3 x 500 mg Humulin 8 – 8– 8 Diit DM 1700 kkal Aspilet 2 x 80 mg Paracetamol 500 mg k/p 6 . d.

b. kulit sekitar luka berwarna kehitaman. minum + 1. panas dan terdapat belatung.2. berbau. Analisa Data No 1 Data subyektif tidak Data Fokus Problem Etiologi : klien mengatakan / Resiko tinggi Kadar glukosa tinggi. CRT > 4 dtk. ulkus. berbau. Grade IV dengan diameter 5 cm.10 rb/mmk Data Subyektif : panas dalam tapi nafsu untuk minum menurun. kedalaman 3 cm. infeksi mengeluh terdapat luka pada kaki kiri yang penyebaran sembuh-sembuh. Turgor kulit cukup Kering Resiko defisit Diuretik osmotik Klien mengatakan sering haus dan terasa volume cairan sering merasa haus 6 . c. DM. terdapat pus. sekunder dengan ulkus adanya kotor. terbalut dengan balutan yang sudah kotor. Klien tampak lemas Mata cekung Mukosa dan bibir agak kering. d. kering. bengkak tidak ada respon pada nyeri pada area luka 2 Lekosit : 11. terasa panas kemerahan. luka kotor. e. kemranyas / kebas pada tangan dan kaki tidak terasa nyeri saat diobati di daerah luka Data obyektif : terdapat luka pada kaki sebelah kiri. bengkak.5 ltr/hari Klien mengatakan BAK dalam sehari sampai 20 x dengan jumlah @ + 200 cc Data obyektif : a.

f. h.60 gr % BB menurun dalam 2 bulan terakhir dari 53 kg menjadi 47 kg. e. TB 167 cm c. mengatakan nafsu Nutrisi tubuh kurang Intake yang tidak makan menurun drastis. g.9 gr/dl Protein total 7. Intake BAK dalam sehari + 20 x BB 47 kg Minum + 1. Albumin : 2. terasa mual jika dari kebutuhan adekuat 6 .5 liter/hari output urine 1400 cc IWL 245 1645 cc BC dalam 7 am Infus 700 cc Makan 200 cc Minum 600 cc 1500 cc BC : I – O 3 1500 – 1645 : -145 Data subyektif : klien makan Data obyektif : a.1 gr/dl Hb : 10. d. Klien hanya menghabiskan + 5-6 sendok makan / porsi dengan menggunakan diit DM 1700 kkal b.

9 gr/dl : Kurang kabur (retinopati Terdapat pus GDS : 295 mg/dl Trombosit : 418. c. bengkak Terdapat luka pada kaki Terputusnya kontinuitas jaringan sekunder terhadap sirkulasi yang tidak adekuat 5 Kelemahan umum mengeluh pusing dan sakit kepala Pandangan kabur Sering mengantuk Sering merasa kesemutan pada kaki dan tangan diabetik) 6 TD : 150/100 mmHg Data Subyektif a. c. f. Klien tampak kelelahan dan lemas Terdapat luka pada kaki kiri Penglihatan Hb : 10.0 rb/mmk Resti injury Klien mengatakan / Kulit sekitar luka tampak Luka ulkus dengan kehitaman.60 gr % Albumin : 2. b. d. Data subyektif : a. Kurangnya informasi klien mengatakan sudah pengetahuan 6 . c. d. e. e. diameter 5 cm d.4 Data subyektif : Klien mengatakan terdapat Gangguan luka distraksi yang sudah lama tapi tidak integritas sembuh-sembuh makah semakin melebar dan jaringan dalam Data obyektif : a. b. Data obyaktif a. kiri grade IV b. kering.

masalah penyakitnya b. kaki c. informasi klien bertanya / meminta pasien yang mengungkapkan tentang dihadapi tidak pernah kontrol ke jarang memahami alas 6 . dokter Data obyektif : a.10 tahun menderita kencing manis tetapi tidak mengetahui tentang penyakitnya sehingga kurang dalam perawatan diri dan luka b.

K BAK bisa mencapai 20x) Dehidrasi Polidipsi Syok Resiko defisit vol 2 cairan 6 Resiko penyebaran infeksi 66 . hipertensi Defisiensi insulin 3.67 = 302.K GDS 295 mg/mmol) Hiperosmolaritas Koma Polifagi Angiopati Mikrovaskuler Makrovaskuler Trombosit beroklusi Pembulu darah besar Aterosklerosis Glukosa masuk ke dlm tubulus ginjal Glukosa dibuang bersama urine Glukosuria Diuresis osmotik Gangguan sirkulasi Suplai mkn ke jar perifer ↓ Peredaran pembuluh darah ke retina ↓ Retinopati Osmolaritas: = (2Na+k)++ = (2.389 + 2.Keturunan.859 Respon peradangan melambat Luka sembuh Terjadi ulkus DM Infeksi tidak Jaringan mengalami kerusakan Gg integritas jaringan 4 1 Poliuri (pada Tn.8 + 16.137+4.9) + + = 283. P`athway Kasus Glukagon meningkat Hiperglikemia GD 140 mg/mmol Glukosa tidak dapat larut dan terserap ke dalam sel Sel mengalami starvasi BB ↓ Produksi energi metabolik me↓ Nutrisi kebutuhan Neuropati Sensorik Hilang rasa Resti 5 injuri (pada Tn.

Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan hiperglikemi. 6. perubahan pada sirkulasi a. Kriteria Hasil : 1) Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi 2) Mendemostrasikan tehnik. perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi 67 . Diagnosa Keperawatan 1. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan hiperglikemi. Resiko deficit volume cairan berhubungan dengan adanya diuresis osmotik 3. perubahan pada sirkulasi 2. Resti injury berhubungan dengan kelemahan umum Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit B. Intervensi Keperawatan dan Rasional 1. Tujuan : Tidak terjadi infeksi Tidak ada tanda-tanda terjadinya infeksi b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat 4.4. Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan sekunder terhadap sirkulasi yang tidak adekuat 5.

sputum purulent. Intervensi 1) Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam. urine warna merah keruh atau berkabut Rasional : pasien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya lebih lebih mencetuskan keadaan ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nosokomial 2) Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan denga pasien termasuk pasien sendiri Rasional : silang (infeksi nsokomial 3) Lakukan perawatan luka (ganti balut tiap hari) dengan menjaga tehnik septik dan aseptik Rasional : untuk mencegah terjadinya mencegah timbulnya infeksi infeksi dan penyebaran infeksi lebih lanjut 4) Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh. jaga kulit tetap kering. kemerahan. masase daerah tulang yang tertekan. lumen kering dan tetap kencang (tidak berkerut) Rasional : sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan pasien pada resiko 68 . adanya pus pada luka.c.

Intervensi 69 .terjadinya kerusakan pada kulit / iritasi kulit dan infeksi 5) Bantu pasien untuk melakukan higiene oral Rasional : penyakit kulit / gusi 6) Kolaborasi a) Pemeriksaan kultur dan sensitivitas sesuai dengan menurunkan resiko terjadinya indikasi Rasional : mengidentifikasi untuk organisme sehingga dapat memilih / memberikan therapy antibiotik yang terbaik b) Berikan antibiotik : penanganan awal Rasional dapat membantu mencegah timbulnya sepsis 2. haluaran urine secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal c. b. Resiko deficit volume cairan berhubungan dengan adanya diuresis osmotik a. Tujuan : Tidak terjadi kekurangan cairan Kriteria Hasil : Mendemostrasikan hidrasi adekuat yang dibutuhkan oleh tanda vital stabil.

fungsi ginjal dan keefektifan dan terapi yang diberikan 5)Pertahankan untuk memberi cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan melalui oral sudah dapat diberikan Rasional : volume sirkulasi 6)Kolaborasi mempertahankan hidrasi / 70 . catat adanya perubahan Tekanan Darah ortostatik Rasional : hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia 2)Pantau suhu warna kulit atau kelembabnnya Rasional : demam dengan kulit kemerahan. turgor kulit dan membran mukosa Rasional : merupakan indicator dari tingkat dehidrasi. pengisian kapiler.1)Pantau tanda vital. atau volume sirkulasi yang adekuat 4)Pantau masukan dan pengeluaran. kering mungkin sebagai cerminan dari dehidrasi 3)Kaji nadi perifer. catat Bj urine Rasional : memberikan perkiraan kebutuhan atau cairan pengganti.

meningkat mencerminkan kehilangan cairan / dehidrasi berat 3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat a.a) indikasi Berikan therapy cairan sesuai dengan Normal salin atau ½ NS atau tanpa dekstrose Rasional : tipe dan jumlah cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan b) Pantau pemeriksaan laboratorium. seperti Hematokrit : mengkaji tingkat hidrasi dan sering kali meningkat akibat hemokonsentrasi yang terjadi setelah diuresis osmotik BUN / kreatinin : peningkatan nilai dapat mencerminkan kerusakan sel karena dehidrasi atau tanda akibat kegagalan ginjal Osmolalitas : meningkat dengan adanya hiperglikemia dan dehidrasi Natrium : menurun yang mencerminkan diuresis osmotik. b. Tujuan : Pemasukan nutrisi adekuat Kriteria Hasil : 1) Mencerna jumlah kalori atau nutrisi yang tepat 2) Menunjukkan tingkat energi biasanya 71 .

lapar. derajat nadi cepat. pusing. sementara tetap diberikan insulin maka hipoglikemi dapat terjadi) 2) Timbang BB setiap hari atau sesuai dengan indikasi Rasional : makanan yang adekuat 3) Auskultasi bising usus. sakit kepala. Intervensi 1) Observasi tanda-tanda hipoglikemia. sempoyongan Rasional : karena metabolisme karbohidrat mulai terjadi (gula darah berkurang. peka rangsang. kulit lembab / dingin. mual.3) Mendemostrasikan berat badan stabil atau penambahan kearah rentang yang diinginkan dengan nilai laboratorium normal c. seperti : perubahan tingkat kesadaran. muntahan makanan yang belum sempat dicerna Rasional : hiperglikemia dan gangguan mengkaji pemasukan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat menurunkan mobilitas / fungsi lambung 4) Tentukan program diit dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien Rasional : mengidentifikasi kekurangan dan penyimpanan dari kebutuhan therapeutik 72 . cemas. catat adanya nyeri abdoment / perut kembung.

PH dan HCO3 Rasional : gula darah akan menurun perlahan dengan penggantian cairan dan therapi insulin terkontrol c) Rasional : Berikan insulin secara teratur insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan pula dapat membantu memindahkan glukosa ke dalam sel 73 . seperti analisa ditempat tidur glukosa darah.5) Indikasi makanan yang disukai / dikehendaki termasuk kebutuhan etnik Rasional : jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan dalam perencanaan makan 6) Libatkan keluarga pada perencanaan makan sesuai indikasi Rasional : meningkatkan rasa keterlibatan. memberikan informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi pasien 7) Kolaborasi a) Lakukan pemeriksaan gula darah dengan menggunakan “Finger stick” Rasional : terhadap GD lebih kuat b) Pantau pemeriksaan laboratorium. aseton.

b. pembengkakan Rasional : rusak karena kulit perubahan biasanya sirkulasi cenderung perifer. lindungi sendi dengan menggunakan bantalan busa 74 . adanya drainase pada luka serta bersihkan luka setiap hari Rasional : radang dan infeksi daerah ini cenderung terkena dan merupakan rute bagi mikroorganisme patologis 3) Libatkan masase dan lubrikasi pada kulit dengan losion / minyak. 1) Intervensi Inspeksi seluruh area kulit. Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan sekunder terhadap sirkulasi yang tidak adekuat a.4. imobilisasi. catat pengisian kapiler. adanya kemerahan. gangguan pengaturan suhu 2) Catat adanya pembengkakan. Tujuan : integritas jaringan kembali normal Kriteria Hasil : 1) Mengidentifikasi faktor resiko individual 2) Mengungkapkan pemahaman tentang kebutuhan tindakan 3) Berpartisipasi pada tingkat kemampuan untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut c. kemerahan. ketidakmampuan untuk merasakan toleran.

Rasional : meningkatkan sirkulasi dan melindungi permukaan kulit mengurangi terjadinya ulserasi 4) Lakukan perubahan posisi sesering mungkin di tempat tidur maupun sewaktu tidur Rasional : meningkatkan sirkulasi dan melindungi kulit. meningkatkan nutrisi sel atau oksigenasi sel dan untuk meningkatkan kesehatan jaringan 5. Tujuan : tidak terjadi injury 75 . mengurangi terjadinya ulserasi 5) Bersihkan dan keringkan kulit khususnya daerah- daerah dengan kelembaban tinggi seperti parineum Rasional : meningkatkan sirkulasi pada kulit dan mengurangi tekanan pada daerah tulang yang menonjol 6) Jagalah alat tenun tetap kering dan bebas dari lipatan – lipatan dan kotoran Rasional : mengurangi / mencegah terjadinya iritasi pada kulit 7) Anjurkan pasien untuk terus meningkatkan nutrisi sel atau organisasi sel dan untuk meningkatkan kesehatan jaringan Rasional : menstrimulasi sirkulasi. Resti injury berhubungan dengan kelemahan umum a.

5/100 ml secara umum membutuhkan terapi pengganti b) c) Berikan obat sesuai indikasi Kalsium (glukosa. Tujuan : Pasien menyatakan pemahaman tentang penyakit 76 . Kriteria Hasil : Mendemostrasikan tidak ada cedera dengan komplikasi minimal / terkontrol c. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit a.b. laktat) : untuk memperbaiki kekurangan yang biasanya sementara d) Sedatif : meningkatkan istirahat. takikardia (140-200 x/mnt) Rasional : untuk mengetahui keadaan umum pasien yang dapat menentukan tindakan yang diberikan 2) diberi bantalan Rasional : untuk menentukan Pertahankan penghalang tempat tidur terpasang / kemungkinan adanya trauma 3) a) Kolaborasi Pantau kadar kalsium darah : pasien dengan kadar kalsium kurang dari 7. menurunkan stimulasi dari luar 6. 1) Intervensi Pantau tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu tubuh.

1) Kriteria Hasil : Mengidentifikasi hubungan tanda / gejala dengan proses penyakit dan menghubungkan gejala dengan faktor penyebab 2) Dengan benar melakukan prosedur yang perlu dan menjelaskan rasional tindakan 3) Melakukan perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan c. 1) Intervensi Ciptakan lingkungan saling percaya dengan mendengarkan penuh perhatian dan selalu ada untuk pasien Rasional : menanggapi dan memperhatikan perlu diciptakan sebelum pasien bersedia mengambil bagian dalam proses belajar 2) Diskusikan topik-topik utama seperti apakah kaar glukosa normal ibu dan bagaimana hal tersebut dibandingkan kekurangan insulin dengan kadar gula darah yang tinggi Rasional : memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pertimbangan dalam memilih gaya hidup 3) Menganjurkan klien untuk rutin melakukan pemeriksaan gula darah dan instruksikan pasien untuk pemeriksaan keton urinenya jika glukosa darah lebih tinggi dari 250 mg/dl 77 .b.

pembedahan dan penyakit tertentu Rasional : informasi ini akan meningkatkan pengendalian terhadap DM dan dapat menurunkan berulangnya kejadian ketoasidosis 6) Buat jadwal latihan aktivitas yang teratur dan identifikasi hubungan dengan penggunaan insulin yang perlu menjadi perhatian Rasional : waktu latihan tidak boleh bersamaan waktunya kerja puncak insulin untuk mencegah percepatan ambilan insulin 78 .Rasional : Melakukan pemeriksaan darah secara teratur dapat meningkatkan kontrol gula darah dengan lebih ketat (misal 60 – 150 mg/dl) 4) Diskusikan tentang rencana diet. penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk melakukan makan di luar rumah Rasional : kontrol obat akan keadaan tentang pentingnya membantu pasien dalam merencanakan makan / mentaati program 5) Diskusikan faktor-faktor yang memegang peranan dalam kontrol DM seperti latihan stres.

jaringan sekitar 08. bengkak : pasien mengatakan bersedia balutnya : luka bersih. peka rangsang.00 Mengobservasi tanda demam. diaforesis. luka tidak sembuh malah semakin melebar.15 Melakukan luka O perawatan S hitam. takikardia. pucat. lapar. sakit kepala.30 O adanya pus pada luka O sputum purulent 79 .7) Identifikasi gejala hipoglikemia (misal lemah. composmentis terdapat luka pada kaki kiri yang dibalut.S dan seperti kemerahan. terdapat pus. infeksi peradangan tanda. kotor.5 bulan. letargi. dan perubahan mental) Rasional : dan pengobatan dapat meningkatkan deteksi lebih awal dan mencegah / mengurangi kejadiannya D. dan panas : terdapat luka di kaki kiri dengan diameter 5 cm dan kedalaman 3 cm. Implementasi Keperawatan Respon : : keadaan umum cukup. balutan tampak kotor dan berbau 08. untuk diganti TTD No Tgl & Jam Tindakan keperawatan Dx 1 01-05-08 Mengobservasi keadaan S umum pasien 07. pusing. pus keluar. tremor. serta terdapat rembesan pada balutan : klien mengatakan timbul luka sudah + 1.

mencatat adanya O nyeri di abdomen. O : insulin humolin 8 unit masuk secara SC : : TD : 150/100 mmHg N : 80 x/mnt S : 380C 13.1 gr/dl : 10. BB menurun dalam 2 bulan terakhir. S warna kulit. turgor O RR : 21 x/mnt : : infus 700 cc 180cc Makan 200 cc IWL 245 Minum 1645 1500 cc 600 cc urine 80 .50 Mengauskultasi bising S : klien hanya makan + 5-6 sendok makan : klien mengatakan mual : bising usus + 13 x/mnt.60 gr % usus.45 Memantau kelembaban.9 gr/dl Protein: 7.00 protein. muntah Monitor 11.10 (humolin) 8 unit Memantau tanda vital insulin S O S O pemeriksaan S laboratorium (albumin.00 Memberikan injeksi IV S Ceftriaxon 2 gr O balutan bersih : : injeksi Ceftriaxon 2 gr masuk secara IV : klien mengatakan nafsu makan menurun.10. Hb) Memberikan 10. tidak ada muntah : : albumin Hb : : 2. terdapat sedikit distensi abdoment. mual.00 10. terasa mual 2 01-05-08 10.30 Mengkaji status nutrisi S pasien O 10.

alat tenun cukup bersih : pasien mengatakan sering BAK.2 % Creatinin : 0. Memantau pemeriksaan S 11.12. > 4 dtk : : melakukan sekitar luka : : TT rapi.00 Mengganti cairan infus S RL 20 tpm O BC : -145 : : infus terpasang : : Ht : 31.00 Merapikan dan kotoran Mengajarkan energi banyak alat tenun S agar bebas dari lipatan O 09. S pengisian bengkak 09.00 laborat (Ht. jadi harus bolak-balik ke kamar mandi : pasien tampak kelelahan : : klien kooperatiof saat ditanya dan menceritakan keluhan yang dirasakan masase dengan minyak pada kulit sekitar kering. O natrium) 4 08.30 Menginspeksi area luka. luka luka RL 20 tpm.00 pada S tidak pasien untuk menghemat dengan melakukan O 13.74 mg/dl Natrium : 137 mmol/L : : kulit kehitaman. creatinin.00 aktivitas Menciptakan lingkungan S saling percaya dengan O mendengarkan keluhan pasien 81 .00 Melakukan masase pada S kulit dan sendi O kapiler. O adanya kemerahan dan terdapat pus. bengkak CRT 08.

45 Mengambil darah vena pemeriksaan 10.S terdapat rembesan : : luka kotor. basah.00 lengkap Mengauskultasi specimen S untuk darah O bising S mengatakan usus. tampak luka saluran lemah. pus keluar. terasa kesemutan di seluruh tubuh. terdapat pus.No Tgl & Jam Tindakan keperawatan Dx 02-05Mengobservasi keadaan S 2008 07. balutan composmentis. bengkak : pasien mengatakan bersedia untuk dilakukan perawatan luka tanda peradangan pada O 08. dan kencing panas TTD O : pasien tiduran.00 Memberikan ceftriaxon 2 therapy S gr IV. sesuai program (injeksi O metodrip 500 mg) 08. basah 08. 10. warna bersih : : injeksi ceftriaxon 2 gr masuk Metronidazol/drip mg masuk : pasien bersedia : specimen darah vena terambil + 5 ml : pasien mengatakan mual berkurang tidak muntah 500 jaringan balutan putih luka kemerahan.00 Mengobservasi luka Melakukan luka tanda. mengkaji adanya 82 .30 umum pasien Respon : pasien mengeluh luka di kakinya sudah basah / bau.15 perawatan S O : luka bersih. lemas.

45 Memantau pemasukan S O dan pengeluaran 83 .15 Membantu makan pasien S O pada pasien air putih 13. tidak muntah. O : bising usus normal + 11 x/mnt.20 Memberikan minum S O RR : 19 x/mnt : pasien mengatakan haus : pasien minum air putih + 1500 cc : : infus 70 cc 180 cc Makan 200 cc Minum 1745 1605 cc BC : I – O 11.15 abdoment.30 Memberikan (humolin) 8 unit : GDS : 391 : pasien bersedia : injeksi insulin 8 unit masuk secara SC : : pasien menghabiskan 10. tidak ada distensi : pasien bersedia untuk mengatakan dilakukan Membantu pemeriksaan S GDS O insulin S O pemeriksaan GDS 10.distensi mual. muntah 10.00 Memonitor tanda-tanda S vital O makanan : : TD : 140/100 mmHg N : 98 x/mnt S : 370C 11.00 Merapikan alat tenun S BC : 1605 – 1745 -140 : IWL 245 cc 600 urine ½ hanya porsi mengatakan 11.

00 O pada S pada S : alat tenun / seprai rapi.30 kotoran Menganjurkan program latihan 11.agar bebas dari lipatan O 11.50 Menganjurkan setelah 13.20 O Menjelaskan / memberi S sedikit tentang gejalanya O pengertian DM dan mengatakan lukanya tidak sembuh-sembuh karena di rendam dalam air es : menjelaskan bahwa luka tidak sembuh-sembuh karena gula darah tinggi dan tidak bisa masuk ke dalam sel akibatnya perfusi jaringan tidak lancar 84 . tanpa lipatan dan bersih : pasien mengatakan akan mencoba untuk melakukan gerakan / alih baring : pasien kooperatif : klien mengatakan bersedia untuk istirahat karena lelah : pasien kooperatif : : pasien bantuan : pasien bahwa BAK dengan pasien untuk melakukan pasien untuk istirahat melakukan aktivitas O Membantu klien untuk S ke kamar mandi 13.

O : klien terasa kering tampak lebih jaringan sudah putih dilakukan luka kemerahan. 10.00 Melakukan yang tertekan perawatan S balutan kotor.30 umum pasien Respon : pasien masih mengeluh bahwa lukanya masih basah.kulit sekitar juga 08. pus keluar.S kering. melebar. bau. 08. mengatakan tanda peradangan pada kakinya yang sakit terasa mengatakan karena kulitnya kulit dan masase daerah 85 . warna mati bersih : klien bersedia.15 Melakukan luka perawatan S mengatakan dilakukan masih kehitaman. mengatakan kesemutan tampak terasa pada lemah. : klien panas : luka bengkak : pasien bersedia O untuk perawatan luka : luka bersih.basah. belum mengering. bengkak.00 Mengobservasi luka O tanda. klien juga lemas. terdapat pus.No Tgl & Jam Tindakan keperawatan Dx 03-05Mengobservasi keadaan S 2008 07. jaringan yang Nekrotomi. TTD tangan dan kaki O : pasien luka masih basah. pus masih keluar.

O pemeriksaan GDS 10.45 Mengambil specimen S tertekan : pasien bersedia O untuk mengatakan dilakukan dari pus ulkus DM pemeriksaan laboratorium : pus keluar saat dipencet dengan 10. berbau : pasien mengatakan mual berkurang tidak muntah : bising usus normal + 11 x/mnt. tidak muntah.15 Membantu pemeriksaan S GDS O insulin S O 11. tidak ada distensi : pasien bersedia untuk mengatakan dilakukan usus.30 Memberikan (humolin) 8 unit : GDS : 345 gr/dL : pasien mengatakan bersedia : injeksi insulin 8 unit masuk secara SC 86 .8°C RR: 20 x/mnt 13. tidak ada tandatanda luka pada daerah yang 08. muntah 10.00 Memonitor tanda-tanda Vital S :O : TD: 130/100 mmhg N : 92 x/mnt S : 37.nyaman.00 Mengauskultasi distensi mual.00 Memantau pemasukan S : dan pengeluaran O : intake bising S warna putih kemerahan. mengkaji adanya abdoment.

30 Memberikan penyuluhan dialami tentang oleh tentang klien O masalah masalah kesehatan yang mandi pada 800 cc 200 cc 700 cc 1700 cc 1700 cc 245 cc 1945 cc = 1700 – 1945 = . penyebab.15 pasien O : 13. tanda dan gejala 87 .20 Menganjurkan keluarga menemani kekamar selama untuk 13. tentang pengertian dari DM.245 Menimbang berat badan S : klien mengatakan bersedia untuk di timbang berat badan meningkat menjadi 48 kg untuk S : keluarga mengatakan akan dan berusaha membantu dan menjaga klien mengawasi klien saat beraktivitas mencegah S atau O : keluarga cukup kooperatif terjadinya cedera : klien mengatakan sudah paham mengenai penyakit yang dialami : klien mampu menjawab pertanyaan yang diajukan kesehatan yang dialami.infuse: makan: minum: Output Urine IWL BC = I – O 13.

O : keadaan umum cukup. luka sudah terbalut dengan balutan yang bersih. infus RL 20 tpm. composmentis. lemas.Kaji karakteristik luka terhadap infeksi . bengkak. aspilet 80 gr. paracetamol 500 mg k/p) TD: 150/100 mmhg N: 89x/mnt RR:19x/mnt S : 37°C A : masalah teratasi sebagian 88 .E. kulit sekitar kehitaman A P : : masalah teratasi sebagian pertahankan intervensi .00 Catatan perkembangan S : klien mengatakan sudah merasa cukup TTD nyaman karena lukanya sudah dibersihkan dan dibalut dengan balutan yang bersih.Rawat luka setiap hari 2 01-05-08 S : klien mengatakan masih sering terasa haus. Evaluasi Keperawatan No No Dx 1 Tgl & jam 01-05-08 14.tapi dalam sehari ini klien minum hanya 4 gelas saja karena klien takut bila nanti kencing terus. therapy masih diberikan (injeksi ceftriaxon 2 gr. pus keluar. kulit kering. metronidazol 500 mg/drip. BAK masih sering ± 10x dalam sehari ini.Observasi selalu keadaan umum pasien . tampak kehausan. humulin 8 U. O : mukosa bibir agak kering.

dan kering. kulit sekitar luka kehitaman. lakukan masase 4 01-05-08 14. O : diameter luka 5 cm dengan kedalaman 2 cm. ulkus DM grade IV.00 S O terasa mual makan dengan menggunakan diit DM 1700 kkal A P : : masalah belum teratasi pertahankan intervensi timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi tentukan program diit dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan klien : klien mengatakan luka dikakinya belum juga sembuh-sembuh. tidak ada kemerahan pada daerah yang tertekan ( punggung.P : pertahankan intervensi pantau tanda-tanda vital berikan cairan 2500 ml/ hr pantau tanda-tanda adanya dehidrasi : : klien mengatakan makan masih sedikit. dan daerah lipatan kulit) A P : : masalah belum teratasi pertahankan intervensi inspeksi seluruh area kulit.00 S 89 . bersihkan luka setiap hari. adanya drinase luka. klien makan hanya habis 5-6 sendok 3 01-05-08 14. catat pengisian kapiler. bengkak. luka menembus sampe tendon. adanya kemerahan.

Pertahankan penghalang tempat tidur : klien mengatakan masih belum mengetahui tentang penyakit yang dialami : : : klien masih belum bisa menjawab pertanyaan yang diajukan masalah belum teratasi pertahankan intervensi Ulangi dan berikan pendidikan kesehatan mangenai DM 90 .00 O A P S : : masalah teratasi sebagian pertahankan intervensi pantau selalu tanda-tanda vital serta adanya peningkatan suhu tubuh. suhu tubuh menurun menjadi 37°C.00 O S lakukan perubahan posisi sesering mungkin : klien mengeluh pandangan masih kabur. tapi klien mengatakan masih bisa berjalan tanpa bantuan dan tidak jatuh : tidak terjadi cedera.pada kulit dengan lotion/minyak 5 01-05-08 14.terjadi retinopati sendiri diabetik. A P 6 01-05-08 14. klien bisa berjalan tanpa bantuan.

: mukosa bibir agak kering. TTD nyaman : keadaan dibersihkan. N: 87x/mnt.Rawat luka setiap hari dan observasi selalu Karakteristik luka terhadap infeksi 2 02-05-08 14.00 O S : klien mengatakan minum cukup banyak habis ± 700 cc. kulit agak kering. turgor cukup.00 O S : : Pantau tanda. tanda. S:37.tanda vital Pertahankan hidrasi yang adekuat klien mengatakan makan habis ½ terjadi sedikit peningkatan nafsu Observasi selalu keadaan umum porsi.tanda vital ( TD: 140/100 mmhg.Evaluasi keperawatan No 1 No Dx 1 Tgl & jam 02-05-08 14. BAK ± 8x sehari ini. minum cukup. RR: 20x/mnt.tidak ada muntah 91 . terdapat pus. masalah belum teratasi pertahankan intervensi pasien . jari kelingking sudah rusak. luka semakin melebar + 7 cm. bengkak. tidak ada muntah makan. warna sedalam A P : : kehitaman. kesadaran composmentis.00 O Catatan perkembangan S : klien mengatakan sudah merasa cukup karena umum lukanya pasien sudah cukup.5°C A P : masalah teratasi sebagian : pertahankan intervensi 3 02-05-08 14. + 3 cm terdapat keluar lubang pus. berbau. balutan luka juga bersih.

00 O A P S : : : : : : masalah belum teratasi Pertahankan intervensi Lakukan perawatan luka dan masase kulit setiap hari Anjurkan untuk selalu melakukan alih baring.A P - : : masalah teratasi sebagian pertahankan intervensi Pantau selalu pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat 4 02-05-08 14.5°C.00 S dihabiskan oleh klien : klien mengatakan semakin melebar. suhu tubuh masalah teratasi sebagian pertahankan intervensi Monitor selalu tanda-tanda vital Anjurkan keluarga untuk menemani klien dan membantu kebutuhan klien kabur dan tidak ada luka jatuh 37. klien mengatakan pandangan masih tidak terjadi cedera. daerah sekitar luka masih kehitaman A P 5 02-05-08 14. luka dikakinya belum juga sembuh-sembuh tapi malah O : kondisi luka belum ada perubahan. luka masih dalam dan melebar. tidak ada luka decubitus 92 .

5° C. O : keadaan umum cukup.Evaluasi Keperawatan No No Dx 1 Tgl & jam 03-05-08 14. kaki masih bengkak. tandatanda vital TD: 140/90 mmhg. S: 37. klien tampak lebih nyaman karena balutan luka sudah diganti dengan yang bersih. minum ± 6 gelas. tapi klien mengeluh luka pada kakinya belum juga semuh-sembuh. kedalaman 2 cm. berbau. jaringan sekitar luka tampak kehitaman. terasa panas. bengkak. kering. RR: 20 x/mnt. keluar pus.00 Catatan perkembangan S : klien mengatakan sudah merasa cukup TTD nyaman karena lukanya sudah dibersihkan dan dibalut dengan balutan yang bersih. luka masih basah. CRT ≥ 4 dtk. luka melebar ± 7 cm. A P : : masalah belum teratasi pertahankan intervensi yang dilakukan dengan mendelegasikan kepada perawat di ruang penyakit dalam C3 lt 1 Lakukan selalu perawatan luka dengan thnik septik Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah memegang pasien 2 03-05-08 S : Berikan antibiotik yang sesuai Klien mengatakan sudah mau minum cukup banyak meskipun kadang klien merasa takut bila nanti akan kencing terus. composmentis. BAK 9 x dengan jumlah cukup @ 93 . N: 88x/ mnt.

mukosa dan bibir cukup lembab.00 S Monitor GDS Berikan therapy insulin sesuai advis : klien mengeluh luka dikakinya belum juga sembuh tapi terasa makin melebar 94 . kulit agak kering. tidak ada distensi abdoment. berat badan meningkat 1 kg menjadi 48 kg. tidak muntah dan tidak mual O : makan mengalami peningkatan. GDS 345 gr/dL. O : klien sudah mau minum cukup banyak ± 6 gelas/ hari. A P : : masalah teratasi sebagian pertahankan intervensi yang sudah dilakukan dengan mendelegasikan kepada perawat diruang penyakit dalam C3 lantai 1 3 03-05-08 S : Monitor tanda-tanda vital dan observasi adanya tanda-tanda dehidrasi Pertahankan hidrasi adekuat klien mengatakan makan sudah cukup banyak.±150 cc. makan habis 1 porsi menggunakan diit DM 1700 kkal. bising usus ± 11 x/mnt. turgor cukup. A P : : masalah teratasi sebagian Pertahankan intervensi yang sudah dilakukan dengan mendelegasikan kepada perawat di ruang C3 lt 1 Pantau selalu pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan oleh klien 4 03-05-08 14. BAK 9x @ 150 cc. tidak ada muntah.

tanda vital( TD : 140/90 mmhg. bengkak.00 S klien mengatakan penglihatannya masih kabur. mendelegasikan kepada perawat di ruang C3 Lt 1 95 . tanda. klien juga mengatakan tidak terjadi luka akibat jatuh karena keluarga ada yang mendampingi O : tidak terjadi cedera.5°C. RR: 20x/mnt. N : 88x/mnt. S : 37.O : luka melebar ± 7 cm. CRT ≥ 4 dtk A P : : 1 : masalah belum teratasi Pertahankan intervensi dengan mendelegasikan kepada perawat diruang C3 lt 5 03-05-08 14. luka DM grade IV. A P : : masalah teratasi sebagian pertahankan intervensi dengan mendelegasikan kepada perawat di ruang C3 Lt 1 Pantau selalu tanda-tanda vital dan kenaikan suhu tubuh klien Lakukan selalu pengawasan terhadap resiko terjadinya injury 6 03-05-08 S O A P : : : : klien mengatakan sudah sedikit paham klien mengatakan pemahaman tentang masalah teratasi sebagian pertahankan intervensi dengan mengenai penyakitnya penyakit DM dan penatalaksanaannya. sekitar kulit tampak masih jaringan kehitaman.

- berikan selalu pengetahuan mengenai pengetahuan seputar penyakit DM BAB IV PEMBAHASAN 96 .

kotor. eksudat yang bercampur darah. ulkus DM Grade IV dengan diameter 5 cm. Adapun pembahasan yang dimaksud adalah sebagai berikut: A.K di Ruang C3 Lt 1 Rumah Sakit Dokter Karyadi Semarang (RSDK).10 rb/mmk. bengkak. edema.Dalam pembahasan kasus ini penulis akan membandingkan antara permasalahan yang ada dalam tinjauan teori dengan kenyataan yang dihadapi pada saat pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn. berbau. jernih 97 . kulit sekitar luka berwarna kehitaman. terasa panas kemeranyas. Diagnosa keperawatan pertama : Resiko penyebaran infeksi (Sepsis) berhubungan dengan penurunan system imun tubuh sekunder terhadap adanya ulkus DM grade IV yang ditandai dengan Data subyektif : klien mengatakan atau mengeluh terdapat luka pada kaki kiri yang tidak sembuh-sembuh. tidak terasa nyeri saat diobati di daerah luka. terdapat pus. berbau. protozoa atau parasit lain) dari berbagai sumber baik dalam maupun dari luar tubuh. jamur. bakteri. dalam asuhan keperawatan tersebut ditemukan adanya masalah yang harus diselesaikan. bengkak. luka kotor. leukosit : 11. Infeksi adalah: dimana suatu individu terkena agen oportunitis antara lain patogenis (Virus. dan terdapat belatung. kering.. kebas pada tangan dan kaki. panas. CRT ≥ 4 dtk. kedalaman 3 cm. dan panas didaerah luka. 2006) Tanda dan gejala infeksi adalah adanya keluhan nyeri. pus keruh. kemerahan. Data obyektif : terdapat luka pada kaki sebelah kiri. (Carpenito. tidak ada respon nyeri pada area luka.

akibatnya pasien atau penderita jadi kurang waspada. (www. Medicastore. Kandungan gula dalam darah (glukosa) yang tinggi akibat sedikitnya produksi hormon insulin merupakan kondisi yang menguntungkan bagi perkembangbiakan bakteri dan kuman.com). Kondisi ini diperparah dengan seringnya penderita diabetes mengalami komplikasi Neuropati atau mati rasa hingga tidak bisa merasakan apa-apa. suhu lebih dari 36˚C .000/mm³.ataupun purulent. termasuk bila ada luka dibagian tubuhnya. infeksi pada penderita diabetes harus cepat mendapatkan penanganan karena dapat menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi pada pasien diabetes. frekuensi pernafasan lebih dari 20x/ menit. leukosit lebih dari 12. peningkatan frekuensi jantung lebih dari 90x/ menit. Penulis menempatkan resiko penyebaran infeksi sebagai diagnosa utama karena pada kasus Diabetes Mellitus adanya hiperglikemia dan asidemia menimbulkan gangguan pada imunitas humoral dan fungsi leukosit dan limfosit Polimorfonuklear. Selain itu sering terjadi arteriosclerosis atau kekakuan dinding pembuluh darah yang membuat aliran darah mengalami perlambatan yang dapat menguntungkan bagi bakteri atau kuman. 98 . akibatnya jika terjadi infeksi sedikit saja biasanya akan sulit diobati. (Dongoes. suhu tubuh meningkat atau terjadi demam . infeksi dapat memacu kerusakan metaboloisme dan kemudian gangguan metabolisme yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penyebaran infeksi ke seluruh tubuh yang disebut juga dengan sepsis. 2001).

99 . Syok Septik adalah suatu sindroma sepsis ditambah dengan adanya penurunan tekanan darah sistolik < 90 mmHg atau penurunan tekanan darah sistoliknya ≥ 40 mmHg dari tekanan darah sebelumnya yang disebabkan oleh tidak cukupnya perfusi jaringan dan adanya hipoksia jaringan yang disebabkan oleh sepsis. keadaan diatas kadangkala disebut juga Sindroma Respon Inflamasi Sistemik (systemic Inflamatorry Response Syndrome = SIRS) yaitu suatu respon inflamasi sistemik yang bervariasi. bentuk kliniknya ditunjukkan dua atau lebih keadaan yaitu : Temperatur ≥ 38˚ C. denyut jantung ≥ 90 x/ mnt. jumlah leukosit ≥ 12.000/mm3.. Kencingmanis. yang disebabkan karena infeksi atau masuknya kuman kedalam tubuh yang apabila tidak segera ditangani dengan adekuat akan menyebabkan infeksi diseluruh tubuh (infeksi metastatik).com). didalam jantung (Endokarditis). 1998: 979). (www.000 /mm 3 atau ≤ 4. respirasi ≥ 20 x/mnt. yaitu Syok septic dan akan mengakibatkan kematian. didalam kantong jantung (Perikarditis). didalam tulang (Osteomielitis) dan di dalam sendi-sendi yang besar serta dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih kritis. (Dorland. gejala klinis yang timbul karena respon peradangan diseluruh tubuh). Sepsis merupakan kumpulan sindrom respon inflamasi sistemik (SRIS.Sepsis merupakan suatu keadaan dimana terdapat adanya Mikroorganisme pathogen atau toksin di dalam darah atau jaringan lain. infeksi bisa terjadi didalam selaput otak (Meningitis).

bakteri penyebab ini akan 10 . selulitis. hiperventilasi. bivius. Hal-hal yang menentukan dari pihak host adalah jenis dan drajat penyakit sebelumnya. sirosis hati.com ). Peptostreptokokus dan Bacteroides lainnya. luka pasca bedah yang terinfeksi dan focus lainnya yang dapat menyebabkan bakteri masuk ke dalam sirkulasi.Septik sampai syok septik secara umum telah diketahui penyababnya adalah bakteri gram positif (Escherichia Coli. menggigil. ( www. resistensi terhadap lisis. dihasilkannya toksin protein dan enzim. penurunan produksi air kemih. sumber bakteremia. juga bakteri anaerob yang sering menyebabkan sepsis yaitu : Bakteroides fragilis. kokus gram positif (Stafilokokus. umur penderita (meningkat pada umur ≥ 40 tahun). Enterokokus dan Streptokokus). resistensi terhadap fagositosis. Enterobacter). B. ruam kulit. maka akan timbul gejala. penderita dengan latar belakang penyakit seperti keganasan. Sepsis atau sindroma sepsis maupun syok septik dapat terjadi karena nidus infeksi seperti abses. kulit teraba hangat. diabetes Mellitus.medicastore. gagal ginjal. Klebsiela Pneumonia. Bakteremia yang bersifat semntara jarang menyebabkan gejala karena tubuh biasanya dapat membasmi sejumlah kecil bakteri dengan segera. penyakit serta berbagai factor pertahanan tubuh dan juga sifat toksik dan invasif bakteri. Sifat bakteri yang menunjang invasi kedalam host adalah perlekatan ke permukaan mukosa. mengigau atau ling lung. Mekanisme sepsis berkaitan dengan interaksi antara host dan agent. Jika telah terjadi sepsis.gejala yaitu: demam atau bahkan hipotermia. takikardi ( peningkatan denyut jantung).

kadar LPS yang tinggi berhubungan dengan peningkatan mortalitas pada penderita syok. demam serta meningkatnya permeabilitas kapiler. monosit.com). mengeluh terdapat luka pada kaki kiri 10 . dengan demikian demam sebagai reaksi sistemik fase akut akan menguntungkan hospes. Akibat dari tingginya LPS dan mediator dalam sirkulasi akan mengaktifkan secara sistemik endotel vaskuler. sel plasma dan neutrofil ) adalah Tumor Necrosis Factor (TNF) dan Interleukin 1 yang akan mengakibatkan cascade koagulasi dan aktifnya system komplemen. Dari hasil pengkajian didapatkan bahwa pasien mengeluh terasa panas kemeranyas pada daerah luka.com).kencingmanis.medicastore. yang mengakibatkan gejala hipotensi. TNF ini merupakan salah satu mediator primer yang berperan dalam proses sepsis. LPS tidak bersifat toksik tetapi LPS merangsang dikeluarkannya mediatormediator radang yang bertanggung jawab pada manifestasi sepsis. (www. Mediator endogen yang disekresi oleh sel fagosit ( makrofag. neutropenia.helper dan sintesis antibody oleh sel B. Peningkatan suhu tubuh ini akan mengurangi replikasi bakteri dan juga meningkatkan aktivasi sel T.mengeluarkan toksin yang akan mempengaruhi komponen seluler tiap organ dan akhirnya menimbulkan aktivitas biologik tertentu. TNF ini merangsang terjadinya demam melalui kemampuannya merangsang sintesis prostaglandin hipotalamus. Vasodilatasi umum dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah menyebabkan turunnya volume darah efektif sehingga terjadi syok hipovolemik. Endotoksin merupakan komponen lipopolisakarida (LPS).( www.

RR: 21x/mnt. CRT (Capillary Refill Time) lebih dari 4 detik. Ulkus Diabetes mellitus Grade IV (gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis) dengan diameter luka 5 cm. N: 80x/mnt . balutan tampak kotor. glukagon.yang lama tidak sembuh-sembuh.10 rb/mmk. dan terasa panas serta timbul belatung.K terdapat kesesuaian dengan teori hal ini karena respon tubuh terhadap infeksi menurun atau terjadi penurunan resistensi tubuh terhadap infeksi. maka penulis menempatkan Resiko Penyebaran Infeksi sebagai Diagnosa utama. ( Smeltzer. Dari hasil vital sign yang dilakukan pada Tn. kulit sekitar luka berwarna kehitaman. S: 38˚C. Diuresis Osmotic yang diakibatkannya dapat menimbulkan kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan sehingga pasien beresiko untuk mengalami ketoasidosis dalam periode stress. 2001). kulit kering. bengkak. bengkak dengan leukosit 11. kedalaman 3 cm. 10 . kotor. berbau. Karena hal tersebut. Dari hasil Vital Sign didapatkan hasil TD: 150/100 mmhg. luka kotor. Munculnya diagnosa laporan infeksi sebagai akibat penurunan hospes yang menurun atau meningkatnya kelemahan terhadap lingkungan yang phatogen. Kortisol dan hormon pertumbuhan jika keadaan Hiperglikemia tersebut tidakdikendalikan secara memadai pada saat pembedahan . Selama mengalami stress fisiologi kadar glukosa darah cenderung baik sebagai akibat dari peningkatan hormon stress epinefrin. norepinefrin.

monitor kadar Gula Darah Sewaktu (GDS) dan kolaborasi dengan dokter dalam pemeriksaan kultur dan sensitivitas untuk mengidentifikasi organisme sehingga dapat memberikan therapy antibiotik yang terbaik. kemerahan. (Dongoes. lakukan tehnik perawatan luka dengan menjaga tehnik septik dan aseptik untuk mencegah terjadinya infeksi dan penyebaran infeksi lebih lanjut. adanya pus pada luka.Untuk meminimalkan masuknya mikroorganisme dan peningkatan Resistensi terhadap infeksi maka penulis menetapkan rencana tindakan keperawatan dengan tujuan agar tidak terjadi infeksi dan tidak ada tandatanda infeksi dengan Kriteria Hasil yaitu mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan Resiko Infeksi serta mendemonstrasikan tehnik perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi. jaga kulit tetap kering. tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah merawat luka atau mencegah timbulnya infeksi silang pada semua orang yang berhubungan dengan pasien termasuk pasien sendiri. berikan antibiotik yang sesuai untuk menurunkan jumlah mikroorganisme. motivasi pasien untuk makan dan minum secara adekuat untuk menurunkan terjadinya infeksi dan mempercepat proses penyembuhan. masase daerah daerah tulang yang tertekan. urine warna keruh atau berkabut. 2001). sputum purulent. Intervensi yang ditetapkan yaitu dengan mengobservasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam. 10 . berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh. linen kering dan tetap kencang (tidak berkerut) untuk meminimalkan terjadinya iritasi pada kulit.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari klien menyatakan luka masih panas kemeranyas. serta intervensi dalam menjaga linen tetap bersih dan kering masih belum bisa dilaksanakan dengan optimal ini dikarenakan jadwal penggantian linen untuk tempat tidur klien hanya dilaksanakan seminggu 2x dengan alasan menghemat linen serta klien adalah pasien kelas 3. perkembangan pasien tetap dipantau dari pemberian injeksi antibiotik ceftriaxon serta metronidazol per drip.masih terdapat bengkak serta kulit sekitar 10 .Implementasi sudah dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat. perawatan kulit dan masase daerah luka juga sudah dilakukan. perawatan luka dan tetap memonitor Vital signt. suhu tubuh 37. masih terdapat pus. tapi klien mengatakan merasa nyaman karena balutan lukanya diganti dan bersih.untuk data obyektif didapatkan bahwa luka semakin melebar. jari klingking sudah rusak. ditambah klien kurang begitu memperhatikan kebersihan setiap kali kekamar mandi tidak membawa alas kaki dan luka dibungkus dengan plastik.5˚C. monitor GDS. Tetapi untuk intervensi dalam memotivasi pasien untuk makan secara adekuat masih belum terlaksana ini mungkin dikarenakan pasien merasa selalu berfikir tentang keadaan dirinya yang tidak sembuh-sembuh ditambah rasa lemah dan cepat capek kerap dirasakan yang disebabkan karena glukosa darah tidak dapat masuk kedalam sel . injeksi humulin. sehingga sel kurang bahan bakar untuk menghasilkan tenaga yang akhirnya diambil dari cadangan lemak dan otot. tidak ada belatung yang keluar saat luka dibersihkan. berbau dan luka masih basah.

145 cc). Data obyektif: klien tampak lemas. B. berat badan menurun dalam 2 bulan terakhir dari 53 kg menjadi 47 kg (6 kg). Diagnosa keperawatan ke dua : Resiko Deficit Volume Cairan berhubungan dengan Diuresis Osmotik yang di tandai dengan Data subyektif: klien mengatakan sering merasa haus dan terasa panas dalam tubuhnya tetapi nafsu untuk minum menurun dan dibatasi oleh klien sendiri karena klien takut kencingnya semakin banyak dan sering. mata cekung. klien sering merasa kehausan. Dari hasil implementasi yang sudah dilaksanakan diatas bisa dikatakan belum berhasil. BAK dalam sehari mencapai 20x. 10 . penghitungan Balance cairan per 7 jam (. klien minum dalam sehari ± 1. tetapi planning yang direncanakan masih tetap dipertahankan karena mengingat bahwa luka Diabetes adalah luka yang dalam penyembuhannya membutuhkan waktu yang cukup lama dan penulis mendelegasikan kepada perawat ruangan di ruang penyakit dalam C3 Lt 1 untuk terus memberikan asuhan keperawatan dan melakukan planning yang telah di rencanakan. klien juga mengatakan BAK dalam sehari sampai 20x dengan jumlah yang cukup banyak @ ±200 cc dengan warna urine kuning jernih. mukosa dan bibir agak kering. turgor kulit cukup.kulit agak kering.5 ltr.masih kering.

Dari hasil pengkajian pasien mengatakan sering merasa haus. Batasan karakteristik mayor (yang harus terdapat satu atau lebih) yaitu: ketidakcukupan asupan cairan oral. sebagai akibat dari kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan. ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar. ketika glukosa yang berlebihan di ekresi kedalam urine.Kekurangan volume cairan merupakan suatu keadaan ketika seorang individu yang tidak menjalani puasa mengalami atau beresiko mengalami dehidrasi vaskuler. berat badan menurun ± 6 kg dalam 2 bulan terakhir. 10 . haus. (Carpenito. penurunan haluaran urine berlebihan. 2001). atau intravaskular. mual. penurunan berat badan. membran mukosa cukup kering. keseimbangan negatif antara asupan dan haluaran. 2006). pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (Poliuria) dan akhirnya timbul rasa haus (Polidipsi) sehingga terjadi dehidrasi. urine memekat atau sering berkemih. kulit atau membran mukosa kering. keadaan ini dinamakan Diuresis Osmotik. Penulis merumuskan diagnosa ini karena Tn. ekresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan. akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urine (glukosuria). interstitial. (Smeltzer.K dengan Diabetes Mellitus yaitu mengalami peningkatan glukosa darah. sedangkan batasan minor yang mungkin terdapat yaitu peningkatan natrium serum. turgor cukup. penurunan turgor kulit. jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi.dan anoreksia.

pengisian kapiler. untuk pencapaian tujuan lebih jelas penulis menetapkan beberapa kriteria hasil yaitu tanda vital stabil.Diagnosa kekurangan volume cairan tubuh pada Tn. pantau masukan dan pengeluaran catat berat jenis urine untuk memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti. untuk mencapai kriteria hasil yang maksimal penulis memilih rencana tindakan antaralain pantau tanda vital. retinopati serta komplikasi jangka panjang yang lain. kadar elektrolit dalam tubuh dalam batas normal. kering mungkin sebagai cerminan dari dehidrasi. neuropati. warna kulit dan kelembabannya karena demam dengan kulit kemerahan. yaitu perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Tujuan yang diharapkan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh tercukupi. karena kekurangan volume cairan tubuh akan mengakibatkan dehidrasi. fungsi ginjal dan keefektifan dan teraphy yang diberikan. turgor kulit dan membran mukosa yang merupakan indikator dari tingkat dehidrasi atau volume sirkulasi yang adekuat.K dijadikan prioritas kedua daripada diagnosa ke tiga. Selain itu dapat menurunkan tekanan darah (hipotensi) yang akan mempengaruhi penurunan perfusi jaringan dan bila keadaan ini terus berlangsung akan mempengaruhi suplai darah ke ginjal. kaji nadi perifer. status hidrasi normal. pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat 10 . otak serta jaringan perifer yang ada akhirnya dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang seperti nefropati diabetika. pantau suhu. catat adanya perubahan tekanan darah.

kadar elektrolit dalam batas normal dengan kadar natrium:137 mmol/L. Chlorida: 107 mmol/L. S:37. (Dongoes. kalium : 4.30 mmol/L. berat badan meningkat 1 kg menjadi 47 kg. Calsium 2. natrium (menurun yang mencerminkan diuresis osmotik. kolaborasi pemberian therapy cairan sesuai indikasi normal salin atau ringer laktat sesuai dengan advis dokter. osmolalitas (meningkat dengan adanya hiperglikemia dan dehidrasi). meningkat mencerminkan kehilangan cairan atau dehidrasi berat). kreatinin (mencerminkan kerusakan sel karena dehidrasi atau tanda awitan kegagalan ginjal. klien mengatakan BAK berkurang tidak sebanyak dulu sekarang klien BAK dalam sehari ± 9 x perhari. N:88x/mnt. tidak ada tandatanda dehidrasi. RR:20x/mnt. 2001). 10 .klien minum cukup. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan diagnosa II semua rencana tindakan dijalankan tanda-tanda vital TD:140/90 mmhg. pantau pemeriksaan laboratorium seperti hematokrit (mengkaji tingkat hidrasi dan sering meningkat akibat hemokonsentrasi yang terjadi setelah diuresis osmotik). turgor cukup membran mukosa lembab. Pada rencana tindak lanjut penulis masih merencanakan tindakan keperawatan sebagai berikut: yaitu pantau tanda-tanda vital secara kontinue. Magnesium: 0.ditoleransi jantung jika pemasukan cairan melalui oral sudah dapat diberikan.9 mmol/L. tidak ada muntah. pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari jika tidak ada kontra indikasi.73 mmol/L. klien masih mengeluh sering haus.5˚C. kulit agak sedikit kering.

protein total 7. untuk perawatan lebih lanjut penulis mendelegasikan kepada perawat untuk tetap mempertahankan intervensi yang sudah dilakukan C. seharusnya data yang dicantumkan seperti nyeri otot. berat badan menurun dalam 2 bulan terakhir dari 53 kg menjadi 47 kg (6 kg). Diagnosa keperawatan ke tiga : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake makanan yang tidak adekuat skunder terhadap ketidakcukupan insulin ditandai dengan Data subyektif : klien mengatakan nafsu makan menurun drastis.1 gr/dL. 2006). terasa mual bila makan.60 gr%. Dalam pernyataan tentang data pendukung diatas masih kurang lengkap karena penulis masih kurang cermat. (Carpenito.Dari hasil implementasi yang sudah dilakukan selama kurang lebih 3 hari bisa dikatakan masalah teratasi sebagian. Data obyektif : klien hanya menghabiskan ± 5-6 sendok makan / porsi yang telah diberikan oleh rumah sakit dengan menggunakan diit diabetes melitus sebanyak 1700 kkal. Hb 10. GDS : 295 mg/dL.serta lingkar lengan ada 10 . lipatan kulit trisep.9 gr/dL. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh merupakan suatu keadaan ketika individu yang tidak puasa mengalami atau berisiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan asupan yang tidak adekuat atau metabolisme nutrien yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik. albumin 2.

Perubahan nutrisi dalam tubuh dapat ditandai dengan penurunan berat badan.dalam data. Penulis merumuskan diagnosa ini karena Tn. hal ini sesuai dengan pernyataan yang menyatakan batasan karakteristik Mayor (harus terdapat. nafas berbau aseton. peka rangsang mental dan kekacauan mental. penurunan albumin serum. dan lingkar otot lengan tengah kurang dari 60% standart pengukuran. 2006).dan terjadi penurunan albumin. data minor yang mungkin terdapat yaitu: berat badan 10%-20% atau lebih dibawah berat badan ideal untuk tinggi dan kerangka tubuh. lipatan kulit trisep. muntah.K dengan Diabetes Mellitus terjadi penurunan nafsu makan yang dapat mengakibatkan penurunan intake makanan sehingga nutrisi tubuh kurang. 1996) yang menyatakan bahwa adanya penurunan nafsu makan disebabkan oleh glukagon yang meningkat sehingga terjadi proses pemecahan Gula baru selain dari karbohidrat (Glukoneogenesis) yang menyebabkan metabolisme meningkat kemudian terjadi proses pembentukan keton (ketogenesis). mual. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Price. kelemahan otot dan nyeri tekan. Tanda gejala tersebut dapat menyebabkan nafsu makan menurun sehingga terjadi nutrisi kurang dari 11 . (Carpenito. Terjadinya proses pembentukan keton didalam plasma akan menyebabkan PH serum menurun yang menyebabkan Asidosis metabolik dengan tanda dan gejala. satu atau lebih) yaitu: individu yang tidak puasa melaporkan atau mengalami asupan makanan tidak adekuat kurang dari yang dianjurkan dengan atau tanpa penurunan berat badan atau kebutuhan metabolik aktual atau potensial dengan asupan yang lebih. lingkar lengan tengah.

kebutuhan tubuh . (Roland. Diagnosa perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada Tn. Hal ini apabila tidak segera diatasi dapat mengakibatkan penurunan albumin. apabila hal ini tidak dapat diatasi dapat menyebabkan malnutrisi. 1996).K dijadikan prioritas ke tiga dibandingkan dengan diagnosa ke empat yaitu resiko gangguan integritas kulit. Menurut penulis rasa mual dan nafsu makan yang menurun terjadi akibat peningkatan glukagon yang merangsang peningkatan metabolisme lemak yang secara fisiologis dapat menurunkan PH serum dengan tanda dan gejala mual. Berdasarkan data diatas maka penulis menetapkan perencanaan dengan tujuan agar diharapkan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien dapat mencapai atau mempertahankan Berat badan yang sesuai dan pengendalian kadar glukosa darah dengan Kriteria Hasil yang diharapkan yaitu: pencapaian Berat badan ideal. nafsu makan menurun serta terjadi penurunan albumin (2. padahal nutrisi sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk sumber energi zat pembangun atau zat pengganti sel-sel yang rusak. muntah dan nafsu makan menurun sehingga asupan nutrisi pasien tidak adekuat. maka dengan adanya nafsu makan yang menurun serta mual dan hiperglikemia akan menyebabkan malnutrisi. mencerna jumlah kalori 11 . Hiperglikemia merupakan keadaan glukosa darah melebihi batas normal (normal 80-110 mg/dL). kehilangan massa otot. penurunan leukosit total serta terjadinya Hiperglikemia. edema. Dan diagnosa seterusnya karena pada saat dilakukan pengkajian pasien menyatakan mual.9 gr/dL).

cemas. kulit lembab/dingin. pusing. timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi. denyut nadi cepat. catat adanya nyeri abdoment atau perut kembung. sakit kepala. mual. glukosa kemudian dapat masuk kedalam sel dan digunakan untuk sumber kalori. libatkan keluarga klien pada perencanaan makan sesuai indikasi karena dapat meningkatkan rasa keterlibatan. peka rangsang. dengan pemberian dosis optimal. aseton. kadar aseton akan menurun dan kadar asidosis dapat dikoreksi.Berikan insulin secara teratur 11 . ketika hal ini terjadi. Untuk mencapai kriteria hasil yang maksimal penulis memilih rencana tindakan keperawatan antaralain. rasionalnya gula darah akan menurun perlahan dengan penggantian cairan dan therapy insulin terkontrol. perubahan tingkat kesadaran.atau nutrient yang tepat.pantau pemeriksaan laboratorium seperti glukosa darah. auskultasi bising usus. lapar.kolaborasi pemeriksaan gula darah dengan menggunakan ”finger stick”. sementara tetap diberikan insulin maka hipoglikemi dapat terjadi). menunjukkan tingkat energi biasanya. PH dan HCO³.observasi tanda-tanda Hipoglikemia seperti. identifikasi makanan yang disukai atau dikehendaki termasuk kebutuhan etnik. tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien. muntahan makanan yang belum sempat dicerna.dan memberikan informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi klien. sempoyongan dengan rasional metabolisme karbohidrat mulai terjadi (gula darah berkurang. mendemonstrasikan berat badan stabil atau penambahan kearah rentang yang diinginkan dengan nilai laboratorium normal.

untuk pemeriksaan laboratorium albumin.dengan rasional bahwa insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan cepat pula dapat membantu memindahkan glukosa kedalam sel. Data obyektif terjadi kenaikan berat badan 1 kg menjadi 47 kg. Dari implementasi yang sudah dilakukan dikatakan selama 3 hari bisa masalah teratasi sebagian.kimia klinik. tindakan perencanaan sudah dilakukan . N: 88x/mnt. untuk perawatan klien lebih lanjut penulis mendelegassikan kepada perawat di Ruang penyakit dalam C3 Lt 1 dengan tetap mempertahankan intervensi yang sudah dilakukan. tetapi untuk intervensi dalam melibatkan keluarga klien pada perencanaan makan pada klien belum bisa dilaksanakan karena keluarga sibuk bekerja dan anaknya laki-laki kurang begitu memperhatikan klien. bising usus ± 11 x permenit. karena mengingat keterbatasan waktu penulis dalam melakukan asuhan keperawatan diruang penyakit dalam C3 Lt 1.2001). TD 140/90 mmhg. S: 37. (Dongoes. GDS 345 gr/dL. tidak ada distensi abdoment. protein total. tidak ada muntah. Evaluasi akhir setelah 3 hari dilakukan tindakan keperawatan didapatkan perkembangan pasien secara subyektif yaitu makan mengalami peningkatan habis ½ porsi dengan menggunakan diit DM 1700 kkal. 11 . RR: 20x/mnt.5˚C. Pada tahap pelaksanaan. hematologi belum dilakukan pemeriksaan lagi karena belum ada advis dari dokter yang merawat.

dan batasan karakteristik minor yang mungkin terdapat yaitu. Batasan karakteristik mayor (Harus terdapat) yaitu gangguan kornea. kulit sekitar luka tampak kehitaman. lesi (primer. atau jaringan membran mukosa. kornea. kekeringan membran mukosa. trombosit: 418. atau jaringan membran mukosa atau invasi struktur tubuh (insisi. 2006). GDS: 295 mg/dL. kering. Diagnosa keperawatan ke empat : Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan sekunder terhadap adanya ulkus Diabetes mellitus Data subyektif : Klien mengatakan terdapat luka dikaki yang sudah lama tidak sembuh-sembuh malah semakin melebar dan dalam. lidah kotor. masalah tersebut penulis jadikan prioritas ke empat karena pasien hanya mengalami gangguan integritas kulit yang akan teratasi bila masalah utama yaitu infeksi dapat di atasi tapi penulis tetap mengambil diagnosa ini yang diharapkan agar tidak 11 . ulkus kornea. integument.(Carpenito.0 rb/mmk. eritema. bengkak. luka ulkus dengan diameter 5 cm dan kedalaman 3 cm. ulkus dermal. Kerusakan integritas jaringan merupakan suatu keadaan ketika seorang individu mengalami atau berisiko mengalami kerusakan integument. terdapat pus. Data obyektif : Terdapat luka pada kaki kiri Grade IV. Penulis merumuskan diagnosa ini karena Tn. lesi oral). 2006). leukoplakia.D. (Carpenito. sekunder). edema.K dengan Diabetes Mellitus terjadi kerusakan pada jaringan akibat DM.

11 . lakukan perubahan posisi sesering mungkin ditempat tidur ataupun sewaktu duduk. bersihkan dan keringkan kulit khususnya daerah.daerah dengan kelembaban tinggi. catat adanya pembengkakan. lindungi sendi dengan menggunakan bantalan busa untuk meningkatkan sirkulasi dan melindungi permukaan kulit serta mengurangi terjadinya ulserasi.immobilisasi. lakukan masase pada kulit dengan lotion atau minyak. jagalah alat tenun tetap kering dan bebas dari lipatan. adanya kemerahan. Adapun perencanaan yang telah penulis buat adalah sebagai berikut. kemerahan. gangguan pengaturan suhu. pembengkakan dengan rasional bahwa kulit cenderung rusak karena perubahan sirkulasi perifer.lipatan dan kotoran. mengungkapkan pemahaman tentang kebutuhan tindakan. catat pengisian kapiler.terjadi komplikasi yang lebih lanjut yang dapat memperburuk kesehatan klien. untuk mengatasi masalah ini penulis membuat perencanaan dengan tujuan agar integritas jaringan kembali normal dengan kriteria hasil yaitu untuk mengidentifikasi faktor resiko individual. ketidakmampuan untuk merasakan tekanan. berpartisipasi pada tingkat kemampuan untuk mencegah kerusakan kulit lebih lanjut. Selanjutnya. inspeksi seluruh area kulit .meningkatkan nutrisi sel atau oksigenasi sel dan untuk meningkatkan kesehatan jaringan. adanya drinase pada luka serta bersihkan luka setiap hari. anjurkan pasien untuk terus melakukan program latihan untuk menstimulasi sirkulasi.

bengkak. tidak terjadi decubitus.Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan penulis telah melakukan perencanaan yang telah dibuat dengan didukung adanya peran aktif dari pasien sendiri dalam mengikuti proses perawatan dan keinginan untuk segera sembuh dari penyakitnya.tapi tidak ada penyebaran kerusakan integritas ke bagian jaringan yang lain. serta dihambat juga oleh keterbatasan waktu dalam proses keperawatan yaitu selama 3 hari. jari klingking kaki sudah mengalami kerusakan. 11 . Jaringan sekitar luka masih belum sembuh. padahal pasien dan keluarga kurang begitu kooperatif dalam menjaga kebersihan diri. untuk melanjutkan dalam memberikan asuhan keperawatan lebih lanjut kepada klien penulis mendelegasikannya kepada perawat diruang penyakit dalam C3 lt 1 dengan tetap mempertahankan intervensi yang sudah dibuat. kulit sekitar masih kehitaman. kotor.lipatan belum begitu terlaksana karena menuruti perintah managemen rumah sakit bahwa kelas 3 penggantian linen seminggu 2 x setiap hari senin dan kamis. tetapi penulis sedikit menemukan kesulitan dalam melakukan perawatan klien karena untuk intervensi dalam menjaga alat tenun tetap kering dan bersih dari kotoran dan lipatan. Berdasarkan respon perkembangan yang ditujukan oleh pasien masalah keperawatan belum bisa teratasi yaitu klien mengatakan luka belum sembuh-sembuh malah semakin melebar. serta masih terasa panas kemeranyas.

K berisiko terjadinya injury. sering mengantuk.9 gr/dL. Diagnosa keperawatan ke lima : Resiko tinggi injury berhubungan dengan kelemahan umum yang ditandai dengan Data subyektif : Klien mengatakan dan mengeluh pusing serta sakit pada kepalanya. terdapat luka pada kaki kiri. pertahankan penghalang tempat tidur terpasang atau diberi bantalan dengan rasional untuk menurunkan kemungkinan adanya trauma. sering merasa kesemutan pada kaki dan tangan. Resiko injury atau jatuh adalah keadaan ketika seorang individu berisiko mendapat bahaya karena deficit perseptual atau fisiologis. klien sudah lanjut usia. instruksikan individu untuk menggunakan sepatu atau sandal yang pas dan mempunyai sol anti-slip. 2006). kurangnya keadaan tentang bahaya atau usia lanjut. albumin 2. adapun perencanaan yang telah penulis buat adalah pantau tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu tubuh. Selanjutnya untuk mengatasi masalah ini penulis membuat perencanaan dengan tujuan tidak terjadi injury dalam jangka waktu 3x24 jam dengan kriteria hasil bahwa individu menyatakan tidak ada cedera dengan komplikasi minimal atau terkontrol. takikardi (140-200x/ mnt).( Carpenito. lakukan kolaborasi dengan pemantauan 11 . Hb: 10.E. Data obyektif : Klien tampak kelelahan dan lemah. Berdasarkan data diatas penulis merumuskan diagnosa ini karena pada klien Tn. penglihatan kabur (retinopati Diabetik). tekanan darah (TD) : 150/100 mmhg.60 gr%. pandangan kabur.

30 mmol/L. setiap malam klien juga sering tidur sendiri tanpa keluarga ada yang menemani. RR:20 x/mnt.5˚C. F.5/100 ml secara umum membutuhkan teraphy pengganti. tetapi penulis juga menemukan hambatan dalam melakukan perencanaan yaitu keluarga klien kurang bisa menjaga klien selama sakit hal ini terbukti bahwa setiap kali klien ke kamar mandi klien melakukannya sendiri tanpa diantar oleh keluarga. Dalam pelaksanaan penulis telah melakukan perencanaan yang telah dibuat dengan didukung adanya peran aktif dari pasien dalam mengikuti proses perawatan. kadar kalsium 2. tidak terjadi hipoglikemia. tidak ada luka pada tubuh.kadar kalsium darah dengan rasional pasien dengan kadar kalsium kurang dari 7. Diagnosa keperawatan ke enam : Kurang pengetahuan tentang pelaksanaan diit Diabetes Mellitus berhubungan dengan kurangnya pemahaman terhadap penyakit Diabetes Mellitus Kurang pengetahuan adalah suatu kondisi dimana individu atau kelompok mengalami kekurangan pengetahuan kognitif atau keterampilan 11 . Berdasarkan respon perkembangan yang ditujukan kepada pasien masalah keperawatan dapat teratasi sebagian dengan kriteria hasil pasien menyatakan tidak terjadi cedera meskipun tanpa ditemani oleh keluarganya.N:88 x/mnt. dan dihambat juga karena keterbatasan waktu penulis dalam melakukan asuhan keperawatan. S:37.tanda-tanda vital TD: 140/90 mmhg.

tahu makanan pantangan. pasien dapat mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala dengan proses penyakit dan menghubungkan gejala dengan faktor penyebab. 2006).K penulis menemukan data-data yang mendukung faktor etiologi dalam hal ini yaitu kurangnya pemahaman terhadap penyakit DM dan Diit DM yang harus dijalani.pasien mampu mengerti tentang diit DM. Diagnosa ini penulis rumuskan karena pada pasien Tn.psikomotor mengenai suatu keadaan dan rencana tindakan pengobatan (Carpenito. penyebab. Masalah tersebut penulis jadikan Prioritas ke enam karena pasien hanya mengalami kurang pengetahuan yang disebabkan karena kurangnya informasi dan merupakan masalah yang tidak begitu mengancam kehidupan pasien. hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman pasien tentang penyakit DM dan penatalaksanaan Diit DM.serta tujuan dari diit DM. Selanjutnya untuk mengatasi masalah ini penulis membuat perencanaan dengan tujuan agar pasien memahami tentang penyakit dan penatalaksanaan diit pada Diabetes Mellitus dalam jangka waktu 1x24 jam dengan kriteria hasil sebagai berikut. Adapun perencanaan yang telah penulis buat adalah kaji tingkat pengetahuan pasien tentang penyakit DM dan diit DM. sehingga penulis penulis mengangkat masalah tersebut menjadi masalah keperawatan kurang pengetahuan. tanda dan gejala serta penatalaksanaan diit DM untuk memberikan pengetahuan atau 11 . Berikan penjelasan tentang penyakit DM. klien mempu melakukan perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan.

pembedahan dan penyakit tertentu dengan rasional akan . sakit kepala. (Dongoes. takikardi. letargi. lapar. diaforesis. diskusikan dengan pasien tentang diit DM agar pasien sadar tentang pentingnya mengontrol diit akan membantu pasien dalam merencanakan makan dan minum sesuai dengan program.dan perubahan mental. stress. Buat jadwal latihan atau aktivitas yang teratur dan identifikasi hubungan dengan penggunaan insulin yang perlu mendapatkan perhatian. pusing. Perencanaan yang berhasil penulis lakukan adalah mengkaji pengetahuan klien tentang DM dan penatalaksanaannya yang dibuktikan pasien tidak tahu saat ditanya pengertian. tremor. pucat. Identifikasi gejala Hipoglikemia (misal. memberikan penyuluhan kesehatan tentang penyakit diabetes. tanda dan gejala serta penatalaksanaan diit DM dalam waktu 45 menit 12 . penyebab. penyebab. Dalam pelaksanaan penulis kurang maksimal dalam melakukan perencanaan yang telah penulis buat. peka rangsang. hal ini karena disebabkan keterbatasan waktu dalam proses keperawatan yaitu hanya selama 1 hari dan keluarga klien yang kurang begitu kooperatif dalam mendukung program pengobatan.meningkatkan pengendalian terhadap DM dan dapat menurunkan berulangnya kejadian Ketoasidosis.informasi pada pasien.dan yang tidak kalah pentingnya libatkan keluarga dalam pengaturan diit DM. menganjurkan klien untuk rutin melakukan pemeriksaan gula darah dan instruksikan pasien untuk pemeriksaan keton urine jika glukosa darah lebih tinggi dari 250 mg/dL. Diskusikan faktor-faktor yang memegang peranan dalam kontrol DM seperti latihan. tanda gejala serta perawatannya. lemah. 2001).

Berdasarkan respon perkembangan yang ditujukan kepada klien. serta penatalaksanaan diit DM.yang belum sempat penulis lakukan adalah melibatkan keluarga dalam mendukung program pengobatan pasien. tanda dan gejalanya. diit DM.dengan hasil yaitu pasien menyatakan sudah mengerti tentang penyakit DM. penyebab. masalah keperawatan dapat teratasi dengan kriteria hasil yaitu pasien menyatakan sudah sedikit mengerti tentang penyakit DM. penulis juga belum membuat jadwal latihan atau aktivitas yang teratur pada pasien yang disebabkan karena keterbatasan waktu dan pasien kurang begitu kooperatif. 12 . karena pada saat dilakukan penyuluhan keluarga belum ada yang datang dengan alasan masih bekerja. oleh sebab itu penulis tetap mempertahankan intervensi yang sudah dilakukan dengan tetap memberikan informasi lainnya tapi masih tentang penyakit DM. pasien mampu menjawab setelah diberikan pertanyaan mengenai penyakit DM. serta penatalaksanaan diit DM . tanda dan gejala. penyebab.

penglihatan kabur. buang air kecil (BAK) dalam sehari bisa sampai 20 x. sering merasa haus. penyebab. sering merasa lelah. K adalah sbb : Data subyektif Terdapat luka pada kaki kiri yang tidak sembuh-sembuh. a. sering mengantuk dan terasa kesemutan pada tangan dan kaki. Data fokus yang ditemukan pada Tn. disamping itu dalam bab ini penulis juga memberikan saran yang diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan guna meningkatkan asuhan keperawatan yang diberikan pada klien. tanda dan gejala serta penatalaksanaan pada diit DM. klien juga mengatakan tidak tahu tentang penyakit DM. A. maka dalam bab ini penulis akan menyimpulkan hal-hal yang telah diuraikan pada babbab sebelum. terdapat pus. nafsu makan menurun. Kariadi Semarang dari tanggal 1 Mei – 3 Mei 2008. berat badan menurun + 6 kg dalam 2 bulan terakhir. K mengenai sistem endokrin dengan diabetes mellitus type II (NIDDM) yang merupakan hasil pengamatan langsung pada klien yang dirawat di ruang penyakit dalam C 3 lantai 1 Rumah Sakit Dr. kotor. 12 . Kesimpulan 1.BAB V PENUTUP Setelah menguraikan asuhan keperawatan pada Tn. panas. sering pusing. bengkak. mual. berbau.

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan sekunder terhadap sirkulasi yang tidak adekuat.b. RR = 21 x/mnt. Resti injury berhubungan dengan kelemahan umum. trombosit 418. S = 38 0C. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. klien banyak bertanya / meminta informasi tentang penyakit DM. TD : 150/100 mmHg. klien hanya menghabiskan + 5-6 sendok makan diit DM 1700 kkal. Data obyektif Terdapat luka pada kaki kiri. N = 80 x/mnt. f. turgor kulit cukup. K muncul beberapa masalah keperawatan. 12 . e. mata cekung. bengkak. kering. protein total 7.0 rb/mmk. balance cairan -145. Berdasarkan data fokus diatas. albumin 2. ulkus DM grade IV dengan diameter 5 cm. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan hiperglikemi dan perubahan pada sirkulasi. 2. kedalaman. b. yaitu : a. pada fokus Tn. kering CRT ≥ 4 dtk. BAK dalam sehari + 20 x.1 gr/dl. Resiko deficit volume cairan berhubungan dengan adanya diuresis osmotik c. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit. GDS 295 mg/dl. d.9 gr/dl. hb : 10 – 60 gr/dl. BB menurun.

nutrisi kurang dari kebutuhan dilakukan dengan menentukan program diit dan pola makan pasien.3. bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan oleh pasien dengan tujuan untuk mengidentifikasi kekurangan dan penyimpanan dari kebutuhan terapeutik. penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk melakukan makan dirumah. melakukan perubahan posisi sesering mungkin untuk meningkatkan sirkulasi dan melindungi kulit. resiko tinggi injury dengan memantau tanda-tanda vital serta mempertahankan penghalang tempat tidur untuk meminimalkan kemungkinan adanya trauma dan yang terakhir adalah masalah kurang pengetahuan mengenai DM dan penatalaksanaan diit dilakukan dengan cara : pemeriksaan gula darah secara rutin. masalah gangguan integritas kulit dilakukan dengan melakukan masase pada kulit dengan losio/minyak. melakukan perawatan kulit dan masase daerah yang tertekan. juga melakukan kolaborasi dengan pemberian antibiotik. serta mengurangi terjadinya ulserasi. Untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada klien dengan diabetes mellitus penulis atasi dengan melakukan beberapa tindakan yaitu dalam mencegah terjadinya penyebaran infeksi dengan melakukan tindakan perawatan luka setiap hari secara septik untuk mencegah terjadinya penyebaran infeksi lebih lanjut. untuk mencegah resiko defivicit volume cairan yaitu dengan mempertahankan pemberian cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung untuk mempertahankan hidrasi atau volume sirkulasi yang adekuat. mendiskusikan tentang rencana diet. 12 .

klien dan tim kesehatan lain untuk melaksanakan rencana keperawatan. sebaiknya perawat harus mampu mendokumentasikan setiap tindakan keperawatan yang telah 12 . K dengan diabetes mellitus yaitu 1 masalah belum berhasil diatasi yaitu resiko penyebaran infeksi dan 4 masalah sudah teratasi sebagian. 2 Dalam mengatasi permasalahan yang muncul pada klien dengan diabetes mellitus diharapkan perawat mengacu pada rencana keperawatan yang telah dirumuskan sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan yang bermutu dan komprehensif serta perlu melibatkan keluarga. Kariadi Semarang. maka saran yang bias penulis berikan pada pembaca khususnya perawat dalam merawat klien dengan diabetes mellitus adalah : 1 Untuk mengetahui permasalahan pada Tn.4. K dengan diebetes mellitus diruang penyakit dalam C3 lantai 1 RSUP Dr. B. 3 Untuk mendapatkan evaluasi secara optimal. Saran Berdasarkan pengalaman yang penulis jumpai selama memberikan asuhan keperawatan pada Tn. K diharapkan dapat mengkaji lebih detail mengenai permasalahan permasalahan yang muncul sehingga dapat ditegakkan diagnosa keperawatan yang akurat yang menunjukkan data fokus sehingga asuhan keperawatan dapat dilakukan secara optimal. Evaluasi yang dapat penulis ambil dari keenam masalah yang muncul pada Tn.

juga respon perkembangan klien secara menyeluruh dan berkesinambungan. 12 .dilaksanakan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful