P. 1
DM

DM

|Views: 5|Likes:
Published by Ruhyana Ruhyanaa

More info:

Published by: Ruhyana Ruhyanaa on Apr 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/01/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB I
  • PENDAHULUAN
  • A.Latar Belakang
  • ”Asuhan Keperawatan Klien Diabetes Mellitus Pada Tn. K di Ruang
  • Penyakit Dalam C3 Lt. 1 RSDK Semarang.”
  • 1.Tujuan Penulisan
  • A.Metode Penulisan
  • B.Sistematika Penulisan
  • BAB II
  • KONSEP DASAR
  • B.Anatomi
  • C.Klasifikasi Diabetes Mellitus (DM)
  • D.Etiologi
  • E.Faktor Resiko
  • F.Patofisiologi
  • G.Manifestasi Klinik
  • H.Komplikasi
  • I.Penatalaksanaan
  • J.Pengkajian Fokus
  • 1. Aktivitas / Istirahat
  • 2. Sirkulasi
  • 3. Integritas Ego
  • 4. Eliminasi
  • 5. Makanan / Cairan
  • 6. Neurosensori
  • 7. Nyeri / Kenyamanan
  • 8. Pernapasan
  • 9.Keamanan
  • 10.Seksualitas
  • 11.Penyuluhan / Pengajaran
  • K.Pemeriksaan Diagnostik
  • M.Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Keperawatan
  • BAB III
  • TINJAUAN KASUS
  • 1.Pengkajian keperawatan
  • 2.Analisa Data
  • 4.Diagnosa Keperawatan
  • B.Intervensi Keperawatan dan Rasional
  • D. Implementasi Keperawatan
  • E. Evaluasi Keperawatan
  • Evaluasi keperawatan
  • Evaluasi Keperawatan
  • BAB IV
  • PEMBAHASAN
  • BAB V
  • PENUTUP
  • A.Kesimpulan
  • B.Saran

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) berasal dari kata Yunani “diabinein” yang artinya “tembus” atau “pancuran air” dan kata lain mellitus yang artinya “rasa manis”yang umum dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia (peningkatan kadar gula darah) yang terus menerus dan bervariasi terutama setelah makan. Diabetes Mellitus juga merupakan suatu keadaan hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membrane basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron. Banyak orang yang masih menganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Pada hal, setiap orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda, termasuk saya sendiri dan anda. Namun, yang perlu anda dan saya pahami adalah kita tidak sendiri. (www.google.com/kencing manis/index.html) Sebagai dampak positif pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah dalam kurun waktu 60 tahun merdeka. Pola penyakit di Indonesia mengalami pergeseran yang cukup meyakinkan. Penyakit infeksi dan kekurangan gizi berangsur turun, meskipun diakui bahwa angka penyakit infeksi ini masih dipertanyakan dengan timbulnya penyakit baru seperti

1

hepatitis B, AIDS, angka kesakitan TBC yang masih tinggi, dan akhir-akhir ini flu burung, Demam Berdarah Dengue (DBD), antraks dan polio melanda Negara kita yang kita cintai ini. Dilain pihak penyakit menahun yang disebabkan oleh penyakit degeneratif, diantaranya diabetes meningkat dengan tajam. Perubahan pola penyakit itu diduga ada hubungannya dengan cara hidup yang berubah pola makan barat-baratan, dengan komposisi makanan yang terlalu banyak mengandung protein, lemak, gula, garam, dan mengandung sedikit serat. Komposisi makanan seperti ini terutama terdapat pada makanan siap santap yang akhir-akhir ini sangat digemari terutama oleh anak-anak muda. Disamping itu cara hidup yang sangat sibuk dengan pekerjaan dari pagi sampai sore bahkan kadang sampai malam hari duduk dibelakang meja menyebabkan tidak adanya kesempatan untuk berkreasi atau berolahraga, apalagi bagi para eksekutif hampir setiap hari harus ”lunch” atau ”dinner” dengan para relasinya dengan menu makanan barat yang ”aduhai” pola hidup beresiko seperti inilah yang menyebabkan tingginya kekerapan Penyakit Jantung Koroner (PJK), hipertensi, diabetes. kencing manis/index.html) Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus didunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia mengidap diabetes. Namun, pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita Diabetes Mellitus di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 % yang sadar mengidapnya dan diantara mereka baru sekitar 30 % yang datang berobat teratur. Hal ini (www.google.com/

2

mungkin disebabkan minimnya informasi dimasyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejalanya. (www.google.com/kencing manis/index.html) Menurut penelitian epidemologi yang sampai saat ini dilaksanakan di Indonesia, kekerapan diabetes di Indonesia berkisar antara 1,4 % dengan 1,6 % kecuali di 2 tempat yaitu dipekajangan (suatu desa dekat Semarang) 2,3 % dan di Manado 6 % di Pekajangan prevalensi ini agak tinggi disebabkan didaerah itu banyak perkawinan antara kerabat, sedangkan di Manado yang secara geografis dan budayanya yang dekat dengan Filipina, ada kemungkinan prevalensi di Manado tinggi karena di Filipina juga tinggi yaitu sebesar 8,4 % - 12 %. Penelitian di Jakarta tahun 1993, kekerapan Diabetes Mellitus dikelurahan Kayu Putih adalah 5,96 % di Jawa Barat tahun 1995 angka itu hanya 1,1 %. Penelitian terakhir antara tahun 2001 dan 2005 didaerah Depok didapatkan prevalensi DM tipe-2 sebesar 14,7 %, di Makasar tahun 2005 mencapai 12,5 %. Suatu angka yang sangat mengejutkan. Melihat tendensi kenaikan kekerapan diabetes secara global yang tadi dibicarakan terutama disebabkan oleh karena peningkatan kemakmuran suatu populasi. Maka dengan demikian dapat dimengerti bila suatu saat atau lebih tepat lagi dalam kurun waktu 1 atau 2 dekade yang akan datang kekerapan DM di Indonesia akan meningkat dengan drastis. (FKUI ; 2006) Angka rawat inap bagi penderita Diabetes Mellitus adalah 2,4 kali lebih besar pada orang dewasa dan 5,3 kali lebih besar pada anak-anak bila dibandingkan dengan populasi umum separuh dari keseluruhan penderita diabetes yang berusia lebih dari 65 tahun dirawat dirumah sakit setiap

3

K dengan Diabetes Mellitus. Tujuan Penulisan Dalam menyusun karya tulis ini penulis mempunyai tujuan. 1 RSDK Semarang. Untuk memahami alternatif pemecahan masalah keperawatan yang timbul pada Tn. K di Ruang Penyakit Dalam C3 Lt. 3.tahunnya.” 1. maka penulis tertarik untuk mengambil judul ”Asuhan Keperawatan Klien Diabetes Mellitus Pada Tn. tidak hanya terhadap keadaan fisik klien. maka selama klien dirawat di rumah sakit. komplikasi yang serius dan dapat membawa kematian sering turut menyebabkan peningkatan angka rawat inap bagi para penderita diabetes. Untuk memahami masalah keperawatan yang timbul pada Tn. yaitu : 1. Berdasarkan hal diatas. (www:google.com/kencing manis). Mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn. 2.K dengan Diabetes Mellitus. perawat yang selama 24 jam berada disamping klien sangat diharapkan perannya.K dengan Diabetes Mellitus. tetapi juga psikologis klien dan memberi motivasi dan edukasi kepada klien tentang pentingnya kepatuhan klien terhadap diet dengan tidak mengesampingkan aspek asuhan keperawatan yang lain. 4 .

patricia Ann. (Dempsey. patricia Ann. K dengan diabetes mellitus di ruang C3 lantai 1 RSDK Semarang berupa tanya jawab pada klien.A. 2 Observasi partisipasi partisipasi pasien adalah dengan mengadakan ikut serta pengawasan melaksanakan terhadap asuhan Observasi perkembangan keperawatan. 1996) Dalam pelaksanaanya penulis mengaplikasikan pada Tn. 2002) Dalam pelaksanaannya penulis mengaplikasikan pada Tn. (potter. (Dempsey. K dengan diabetes mellitus di ruang perawatan penyakit dalam C3 lantai 1 RSDK Semarang berupa pengamatan dan perawatan langsung kepada klien guna 5 . dokter dan tenaga kesehatan lain yang ikut ambil bagian dalam merawat dan mengobati pasien. keluarga klien. sedangkan tekhnik pengumpulan data meliputi : 1 Wawancara Wawancara adalah suatu pola komunikasi penuntun untuk tujuan khusus dan berfokus pada isi bidang khusus. K dengan diabetes mellitus di ruang C3 lantai 1 RSDK Semarang berupa studi kasus dengan proses keperawatan. 2002) Dalam pelaksanaannya penulis mengaplikasikan pada Tn. perawat. Metode Penulisan Penyusunan karya tulis ini menggunakan metode deskriptif yaitu suatu pengumpulan data berdasarkan apa yang ada waktu observasi.

6 .mengetahui keadaan dan perkembangan penyakitnya selama di rumah sakit dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

manifestasi klinik. 2002). metode dan tekhnik penulisan / pengumpulan data. 2002). 4 Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik adalah ketrampilan dasar yang digunakan selama pemeriksaan antara lain : inspeksi. Patricia Ann. anatomi. K dengan diabetes mellitus di ruang C3 lantai 1 RSDK Semarang berupa pemeriksaan fisik klien secara langsung. catatan medik dan hasil pemeriksaan penunjang lainnya. (Dempsey. yaitu : Bab I : Pendahuluan. dan fisiologi.3 Studi dokumentasi Studi dokumentasi adalah mempelajari. sistematika penulisannya. Karya tulis ini disusun dalam lima bab. Patricia Ann. K dengan diabetes mellitus diruang C3 lantai 1 RSDK Semarang berupa mempelajari catatan medik dan catatan keperawatan serta hasil pemeriksaan penunjang. palpasi. 7 . Sistematika Penulisan Untuk mendapatkan gambaran secara jelas mengenai penyusunan karya tulis ini maka akan diuraikan secara singkat dalam bentuk per bab. tujuan. Bab II : Konsep dasar. Dalam pelaksanaannya penulis mengaplikasikan pada Tn. etiologi dan predisposisi. perkusi dan auskultasi yang memungkinkan perawat untuk mengumpulkan data fisik klien yang luas. laporan. patofisiologi. buku. yaitu meliputi latar belakang. Dalam pelaksanaannya penulis mengaplikasikan pada Tn. meliputi pengertian. B. (Dempsey.

Bab III : Tinjauan kasus. meliputi kesimpulan dan saran. komplikasi. pengkajian fokus. intervensi keperawatan. implementasi dan evaluasi. Bab IV Bab V : Pembahasan : Penutup. pathways keperawatan.penatalaksanaan. diagnosa keperawatan. pathways keperawatan kasus. fokus intervensi dan rasional. analisa data. 8 . meliputi pengkajian.

ginjal dan pembuluh darah. polipagi dan kelemahan.BAB II KONSEP DASAR a. (WHO. disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron. poliuria.com/kencingmanis) Diabetes Mellitus adalah sekelompok kelainan yang ditandai oleh kenaikan kadar gula darah atau hiperglikemia. 1999) Diabetes Mellitus merupakan keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal. (www.(Barbara Engram. protein dan lemak yang ditandai dengan hiperglikemia. yang dikarakteristikkan dengan hiperglikemia karena defisiensi insulin atau ketidakadekuatan insulin. polidipsi. 1985) Diabetes Mellitus merupakan gangguan metabolik klinis yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata. 2002) 9 . Pengertian Beberapa sumber yang menyebutkan tentang pengertian dari Diabetes Mellitus (DM) yaitu sebagai berikut : Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu kondisi kekurangan insulin atau resisten terhadap insulin yang menyebabkan terganggunya metabolisme dari glukosa.google. (Brunner & Suddarth.

ginjal. 2002) Dari beberapa pengertian yang berasal dari berbagai sumber dapat ditarik kesimpulan bahwa Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit metabolik yang berlangsung kronik progresif dengan gejala hiperglikemi yang disebabkan oleh gangguan sekresi insulin.Diabetes Mellitus merupakan penyakit yang dalam tingkat nyata memperlihatkan gangguan metabolisme karbohidrat. kerja insulin atau keduanya. jantung dan pembuluh darah. (Karyadi. Elvina. 1997) Diabetes Mellitus adalah sekelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia atau peninggian kadar gula darah akibat gangguan pada pengeluaran (sekresi insulin). gangguan kerja insulin atau keduanya. sehingga didapati hiperglikemia dan glukosuria. syaraf. hiperglikemia kronik nantinya dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang dan gangguan fungsi organ-organ terutama mata. (Purnawan Gunadi. 1 . Dengan disertai oleh komplikasi kronik penyempitan pembuluh darah dengan akibat terjadinya kemunduran fungsi sampai dengan kerusakan organ-organ tubuh.

Pankreas terbentang dari atas sampai kelengkungan besar dari perut dan biasanya dihubungkan oleh dua saluran ke duodenum (usus 12 jari) organ ini dapat diklasifikasikan ke dalam dua bagian yaitu kelenjar endokrin dan eksokrin.5 cm. 1) Struktur Pankreas terdiri dari : Kepala pankreas Merupakan bagian yang paling lebar. a. Anatomi 1.B. terletak disebelah kanan rongga abdomen dan di dalam lekukan duodenum dan yang praktis melingkarinya.5 cm dan tebal ± 2. Anatomi Pankreas Pankreas merupakan suatu organ berupa kelenjar dengan panjang dan ±12. 2) Badan pankreas Merupakan bagian utama pada organ itu dan letaknya di belakang lambung dan di depan vertebra lumbalis pertama. 1 .

3)

Ekor pankreas

Merupakan bagian yang runcing di sebelah kiri dan yang sebenarnya menyentuh limfa. b. Saluran Pankreas

Pada pankreas terdapat dua saluran yang mengalirkan hasil sekresi pankreas ke dalam duodenum : 1) Ductus Wirsung, yang bersatu dengan ductus chole

dukus, kemudian masuk ke dalam duodenum melalui sphincter oddi 2) Ductus Sartonni, yang lebih kecil langsung masuk

ke dalam duodenum di sebelah atas sphincter oddi. c. Jaringan pankreas

Ada 2 jaringan utama yang menyusun pankreas : 1) Asim berfungsi untuk mensekresi getah pencernaan

dalam duodenum 2) d. Pulau langerhans Pulau-pulau langerhans

1

1) a)

Hormon-hormon yang dihasilkan Insulin

Adalah suatu poliptida mengandung dua rantai asam amino yang dihubungkan oleh gambaran disulfide. b) Enzim utama yang berperan adalah insulin

protease, suatu enzim dimembran sel yang mengalami internalisasi bersama insulin c) kompleks 2) a) Efek-efek tersebut biasanya dibagi: Efek cepat (detik) Efek faali insulin yang bersifat luas dan

Peningkatan transport glukosa, asam amino dan k+ ke dalam sel peka insulin. b) Efek menengah (menit)

Stimulasi sintesis protein, penghambatan pemecahan protein, pengaktifan glikogen sintesa dan enzim-enzim glikolitik. c) 3) Efek lambat (jam) Peningkatan Massenger Ribonucleic Acid (MRNA)

enzim lipogenik dan enzim lain Pengaturan fisiologi kadar glukosa darah sebagian besar tergantung dari: a) Ekstraksi glukosa b) Sintesis glikogen

1

c) Glikogenesis

1

peptidase. protein. kemotripsin. la juga mengandung ion bikarbonat dalam jumlah besar. yang mempunyai prinsip aktivitas fisiologi meningkatkan kadar glukosa darah. a. a) Somatostatin Somatostatin menghambat sekresi insulin.4) Molekul Glukogen glukogen adalah polipeptida rantai lurus yang mengandung 29 n residu asam amino dan memiliki 3485 glukogen merupakan hasil dari sel-sel alfa. 2. ribonuklease. b) Polipeptida pankreas Polipeptida pankreas manusia merupakan suatu polipeptida linear yang dibentuk oleh sel pulau langerhans. yang memegang peranan penting dalam menetralkan timus asam yang dikeluarkan oleh lambung ke dalam duodenum. karboksi. Fisiologi Fungsi eksokrin pankreas: Getah pankreas mengandung enzim-enzim untuk pencernaan ketiga jenis makanan utama. 1 . Tiga enzim pertama memecahkan keseluruhan dan secara parsial protein yang dicernakan. Enzim-enzim proteolitik adalah tripsin. karbohidrat dan lemak. glukogen dan polipeptida pankreas dan mungkin bekerja di dalam pulaupulau pankreas. deoksiribonuklease.

asam ribonukleat dan deoksinukleat. Enzim pencernaan untuk karbohidrat adalah amylase pankreas. 2) a) b) b. Kelompok ini adalah pulau-pulau kecil / kepulauan langerhans yang bersama-sama membentuk organ endokrin 1 .2) pada pancreatic juice sehingga menghentikan gerak pepsin dari lambung dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan enzim-enzim dalam usus halus. asam lemak dan kolesterol esterase yang menyebabkan hidrolisis ester-ester kolesterol. yang menghidrolisis pati.1 8. glikogen dan sebagian besar karbohidrat lain kecuali selulosa untuk membentuk karbohidrat.sedangkan nuclease memecahkan kedua jenis asam nukleat. 1) Pancreatic juice Sodium bicarboinat memberikan sedikit pH alkalin (7. Pengaturan sekresi pankreas ada 2 yaitu : Pengaturan saraf Pengaturan hormonal Fungsi endokrin pankreas Tersebar diantara alveoli pankreas. terpisah dan nyata. sedangkan enzimenzim untuk pencernaan lemak adalah lipase pankreas yang menghidrolisis lemak netral menjadi gliserol. terdapat kelompokkelompok sel epithelium yang jelas.

Penyakit pada pankreas.C. DM type I : IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus) Pada tipe ini insulin tidak diproduksi. Etiologi 1. Klasifikasi Diabetes Mellitus (DM) Klasifikasi terbaru tahun 1999 oleh American Diabetes Association / World Health Organization (ADA / WHO) lebih menekankan penggolongan berdasarkan penyebab dan proses penyakit. Hal ini disebabkan dengan timbulnya reaksi autoimun oleh karena adanya peradangan pada sel beta 1 . obat-obatan atau bahan kimia. DM type 2 NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus) Disebabkan oleh resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin 3. Diabetes Kehamilan DM yang hanya muncul pada kehamilan. DM type 1 : IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus) Ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pancreas. 2006) D. DM type Spesifik Lain Disebabkan oleh berbagai kelainan genetik spesifik (kerusakan genetik sel beta pankreas dan kerja insulin). Ada 4 jenis DM berdasarkan klasifikasi terbaru. (Price. gangguan endokrin lain. infeksi (rubela kongenital dan Cito Megalo Virus (CMV)) 4. kombinasi faktor genetik imonologi dan mungkin pula lingkungan (virus) diperkirakan turut menimbulkan distraksi sel beta 2. yaitu : 1.

DM type 2 NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus) Etiologi biasanya dikaitkan dengan faktor obesitas. 2002) E. Faktor imunologi : Respon abnormal dimana Ab terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi dengan jaringan tersebut sebagai jaringan asing. namun. Faktor Resiko Penyakit DM bukan merupakan penyakit menular. DM type Spesifik Lain Awitan selama kehamilan. Faktor lingkungan : virus / toksin tertentu dapat memacu proses yang dapat menimbulkan distruksi sel beta. a. Walaupun kedua orang tua terkena DM kadang-kadang anaknya tidak terkena DM. (Brunner & Suddarth. 2. Namun. namun penyakit yang diturunkan. pasti anaknya terkena penyakit DM juga. Kecenderungan ini ditemukan pada individu yang memiliki antigen HLA (Human Leucocyte Antigen). bila dibandingkan dengan kedua orang tua yang normal (tidak ada riwayat DM). b.insulitis. bukan berarti mutlak bahwa bila orang tua terkena DM. penderita DM lebih cenderung memiliki anak yang akan menderita DM juga. disebabkan oleh hormon yang diekskresikan plasenta dan mengganggu kerja insulin. Hereditas atau lingkungan penurunan produksi insulin endogen atau peningkatan resistensi insulin 3. Resiko – resiko bagi seseorang yang kemungkinan menderita DM bila ditemukan kondisi-kondisi berikut ini : 1 .

Umur diatas 40 tahun dengan fakroe yang disebutkan diatas Seseorang dengan tekanan darah tinggi (> 140/90) Seorang dengan kelainan profil lipid darah (dislifidema) yaitu kolesterol HDL < 35 mg/dl. 12. 2. Riwayat kedua orangtua yang mengidap DM Riwayat salah satu orang tua atau saudara kandung terkena penyakit DM 3. Infeksi virus ini sering dijumpai pada anak-anak dan penderita yang masih hidup harus setiap hari disuntik insulin 1 . 6.000 gr Semua wanita hamil 24 – 28 minggu Riwayat menggunakan obat-obatan oral atau suntikan dalam jangka waktu lama. kakek. 7.1. sepupu) mengidap penyakit DM 4. virus morbili. rematik dan lainnya) 13. bibi. Riwayat salah satu anggota keluarga (nenek. Seseorang yang sebelumnya dinyatakan sebagai toleransi glukosa terganggu (TGT) atau gula darah puasa (terganggu) (GDPT) 9. Wanita yang sebelumnya mengalami diabetes kehamilan Wanita yang melahirkan bayi > 4. dan / atau trigliserida > 250 mg/dl 8. 11. paman. BB ideal) atau indeks masa tubuh (IMT) > 27 kg/m2 5. 10. Seorangyang gemuk / obesitas (> 20 %. Riwayat terkena infeksi tertentu antara lain virus yang menyerang kelenjar air liur (penyakit gondongan). kulit. obat golongan kortikosteroid (untuk pengobatan asma.

Teori baru ”The Foetal Origins of Disease” yang dikemukakan oleh professor David Barker dan kawan-kawan berdasarkan kajian studi di Inggris tahun 1980 merumuskan bahwa bayi yang lahir kurang dari 2.5 kg atau berat badan lahir rendah memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit degeneratif antara lain diabetes (kencing manis) pada usia dewasa dibandingkan dengan bayi dengan Berat Badan Lahir (BBL) yang normal. Elvina. menyebabkan proses pemecahan gula baru glikogen meningkat. Glukosuria mengakibatkan keseimbangan kalori negatif sehingga menimbulkan rasa lapar yang tinggi (polipagi). 2002) F. sehingga kadar gula dalam plasma tinggi (Hiperglikemia). 2 . sehingga terjadi (glukoneugenesis) yang menyebabkan metabolisme lemak meningkat. Glukosuria ini akan menyebabkan diuresis osmotik yang meningkatkan pengeluaran kemih (poliuri) dan timbul rasa haus (polidipsi) sehingga terjadi dehidrasi.14. Defisiensi insulin menyebabkan penggunaan glukosa oleh sel menjadi menurun. (Karyadi. Jika hiperglikemia ini parah dan melebihi ambang ginjal maka akan timbul Glukosuria. Kemudian terjadi proses pembentukan keton (ketogenesis). Patofisiologi Diabetes Mellitus mengalami defisiensi insulin. Terjadinya peningkatan keton didalam plasma akan menyebabkan ketonurea (keton dalam urin) dan kadar natrium menurun serta pH serum menurun yang menyebabkan asidosis.

2000) G. sistem syaraf otonom dan sistem syaraf pusat sehingga mengakibatkan neuropati. karena suplai makanan dan oksigen tidak adekuat akan menyebabkan terjadinya infeksi dan terjadinya gangguan. sehingga suplai makanan dan oksigen ke retina berkurang. akibatnya pandangan menjadi kabur Salah satu akibat utama dari perubahan mikrovaskuler adalah perubahan pada struktur dan fungsi ginjal. Gejala-gejala muncul tiba-tiba pada anak atau orang dewasa muda. Penyakit DM diketahui secara kebetulan ketika penderita menjalani pemeriksaan umum (general medikal check-up).Penggunaan glukosa oleh sel menurun mengakibatkan produksi metabolisme energi menjadi menurun. Biasanya mereka baru datang berobat. (Price. bila gejala-gejala yang lebih spesifik timbul 2 . sehingga terjadi nefropati Diabetes mempengaruhi syaraf-syaraf perifer. Manifestasi Klinik Penyakit Diabtes Mellitus ini pada awalnya sering tidak dirasakan dan tidak disadari oleh penderita. kadangkadang gejala dirasakan ringan sehingga mereka menganggap tidak perlu berkonsultasi ke dokter. Gangguan pembuluh darah akan menyebabkan aliran darah ke retina menurun. sehingga tubuh menjadi lemah Hiperglikemia dapat mempengaruhi pembuluh darah kecil. Sedangkan pada orang dewasa > 40 tahun. arteri kecil sehingga suplai makanan dan oksigen ke perifer menjadi berkurang. yang akan menyebabkan luka tidak cepat sembuh.

misalnya penglihatan mata kabur. merupakan gejala awal yang sering dijumpai. 1. Banyak makan (polifagia) Penderita sering makan (banyak makan) dan kadar glukosa darah semakin tinggi. Kadang hal ini sering ditafsirkan karena udara yang panas dan banyak kerja berat. impotensi. Secara umum gejala-gejala dan tanda-tanda yang ditemui meliputi . Banyak kecing (poliuria) Gejala yang sering dirasakan penderita adalah sering kencing dengan volume urine yang banyak kencing yang sering pada malam hari terkadang sangat mengganggu penderita c. Banyak minum (polidipsia) Rasa haus dan ingin minum terus. namun tidak dapat seluruhnya dimanfaatkan untuk masuk ke dalam sel 2 . padahal tanda-tanda ini muncul sebagai awal gejala penyakit DM d. selain itu rasa lemah dan cepat capek kerap di rasakan b. gangguan kulit dan syaraf. mereka baru menyadari bahwa dirinya menderita DM. Pada saat itu. a. Gejala dan tanda awal Penurunan berat badan (BB) dan rasa lemah Penurunan berat badan dalam waktu relatif singkat.

paha atau dibawah payudara. 2 . Gatal-gatal / bisul Keluhan gatal sering dirasakan penderita. e. Gangguan fungsi seksual Gangguan ereksi / disfungsi seksual / impotensi sering dijumpai pada penderita laki-laki yang terkena DM. d. b. kadang sering timbul bisul dan luka yang lama sembuhnya akibat sepele seperti luka lecet terkena sepatu atau tergores jarum. terutama bila benjolan terasa seperti diatas bantal atau kasur. Gangguan syaraf tepi / kesemutan Pada malam hari. a. Gejala Kronis Gangguan penglihatan Pada mulanya penderita DM ini sering mengeluh penglihatannya kabur. Rasa tebal di kulit Penderita DM sering mengalami rasa tebal dikulit. sehingga sering mengganti kaca mata untuk dapat melihat dengan baik. atau daerah lipatan kulit seperti ketiak. biasanya gatal di daerah kemaluan. namun pasien DM sering menyembunyikan masalah ini karena terkadang malu menceritakannya pada dokter. penderita sering mengeluh sakit dan rasa kesemutan terutama pada kaki c.2. Hal ini juga menyebabkan penderita lupa menggunakan sandal / sepatu karena rasa tebal tersebut.

(Smeltzer. keputihan dan gatal merupakan gejala yang sering dikeluhkan.f. Diabetes Ketoasidosis (DKA) Ketoasidosis diabetik merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu pengalaman penyakit DM. Koma Hiperosmolar Non Ketotik (KHN) Koma hiperosmolar non ketotik merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan disertai perubahan tingkat kesadaran. Keputihan Pada penderita DM wanita. Salah satu perubahan utamanya dengan DKA adalah tidak tepatnya ketosik dan asidosis pada KHN. ketiga komplikasi tersebut adalah : a. adalah komplikasi akut pada DM yang penting dan berhubungan dengan keseimbangan kadar glukosa darah dalam jangka waktu pendek. Kompliksi akut. Hal ini terjadi karena daya tahan penderita DM kurang. 2000) b. 2000) 2 . sehingga mudah terkena infeksi antara lain karena jamur. Komplikasi Komplikasi DM terbagi menjadi 2 yaitu komplikasi akut dan komplikasi kronik 1. H. (Smeltzer. bahkan merupakan satu-satunya gejala yang dirasakan. Diabetik katoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang nyata.

bila kadar glukosa dalam darah meningkat. 2000) c) Neuropati Diabetes dapat mempengaruhi saraf-saraf perifer.c. 2000) b) Penyakit mata Penderita DM akan mengalami gejala penglihatan sampai kebutaan. keluhan penglihatan kabur tidak selalu disebabkan neuropati. Akumulasi sorbitol dan perubahan-perubahan metabolik lain dalam sintesa 2 . (Smeltzer. (Brunner & Suddarth. sistem saraf otonom medulla spinallis atau sistem saraf pusat. maka mekanisme filtrasi ginjal akan mengalami stress yang menyebabkan kebocoran protein darah dalam urine. Katarak disebabkan karena hiperglikemia yang berkepanjangan. Hipoglikemia Diabetes Mellitus pada dasarnya terjadi pada semua pembuluh darah di seluruh bagian tubuh (Angiopati Diabetik) dibagi menjadi 2 1) Mikrovaskuler a) Penyakit ginjal Salah satu akibat utama dari perubahan – perubahan mikrovaskuler adalah perubahan pada struktural dan fungsi ginjal. menyebabkan pembengkakan lensa dan kerusakan lensa.

b) Pembuluh darah kaki Timbul karena adanya anesthesis fungsi saraf-saraf sensorik. Lemak yang menumpuk dalam pembuluh darah menyebabkan mengerasnya arteri (arteriosclerosis) dengan resiko penderita penyakit jantung koroner atau stroke. Penatalaksanaan Pengobatan bertujuan untuk mengurangi gejala-gejala. 1996) I. pada sel-sel kuku kaki yang menebal dan halus demikian juga pada daerah-daerah yang terkena trauma c) Pembuluh darah ke otak Pada pembuluh darah otak dapat terjadi penyumbatan sehingga suplai darah ke otak menurun. keadaan ini menyebabkan gangren infeksi dimulai dari celahcelah kulit yang mengalami hipertropi. Secara garis besar pengobatannya dilakukan dengan : 2 . mengusahakan keadaan gizi dimana berat badan ideal dan mencegah terjadinya komplikasi. (Long.fungsi myalin yang dikaitkan dengan hiperglikemia dapat menimbulkan perubahan kondisi saraf 2) Makrovaskuler a) Penyakit jantung koroner Akibat kelainan fungsi pada jantung akibat diabetes maka terjadi penurunan kerja jantung untuk memompakan darahnya ke seluruh tubuh sehingga tekanan darah akan naik.

yaitu : a) Karbohidrat kompleks (seperti : roti. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan berikut ini : a.1. d. nasi dan pasta) 2 . sereal. Diet Disesuaikan dengan keadaan penderita Prinsip umum : diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari penatalaksanaan diabetes. Memberikan semua unsur makanan esensial (misal : vitamin dan mineral) b. Rencana makan bagi penyandang diabetes juga memfokuskan presentase kalori yang berasal dari karbohidrat. Menurunkan makan pada penderita DM Pencernaan makan pada penderita DM 1) Kebutuhan kalori Tujuan yang paling penting adalah pengendalian asupan kalori total untuk mencapai atau mempertahankan berat badan yang sesuai dan pengendalian kadar glukosa darah. c. protein dan lemak Ada 2 tipe karbohidrat yang utama. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai Memenuhi kebutuhan energi Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan praktis e.

kerja ringan : ditambah 10 – 20 %. sereal dan pasta / mie yang berasal dari gandum yang masih mengandung bekatul. Karbohidrat sederhana tetap harus dikonsumsi dalam jumlah yang tidak berlebihan dan lebih baik jika dicampur ke dalam sayuran atau makanan lain daripada dikonsumsi secara terpisah 3) Lemak Pembatasan asupan total kolesterol dari makanan hingga < 300 mg / hr untuk membantu mengurangi faktor resiko. kerja berat ditambah 50 % dan kerja berat sekali ditambah 20 – 30 %) Stress : ditambah 20 – 30 %. gandum utuh. kerja sedang ditambah 30 %. hamil trimester 2 – 3 ditambah 400 kal dan laktasi ditambah 600 kal 2) Karbohidrat Tujuan diet ini adalah meningkatkan konsumsi karbohidrat kompleks (khususnya yang berserat tinggi) seperti roti. seperti kenaikan kadar kolesterol serum yang berhubungan dengan proses 2 . pada waktu istirahat. nasi beras tumbuk. diperlukan 25 kkal/kg BB ideal b) Kemudian diperhitungkan pula Aktivitas.b) Karbohidrat sederhana (seperti : buah yang manis dan gula) Jumlah kalori diperhitungkan sebagai berikut : a) BB ideal = (TB cm – 100) kg – 10 % .

Meskipun demikian penderita diabetes dengan kadar glukosa >250 mg/dl (14 mmol/dL) dan menunjukkan adanya keton dalam urine tidak boleh melakukan latihan sebelum pemeriksaan keton urine memperlihatkan hasil negatif dan kadar glukosa darah telah mendekati normal. sirkulasi darah dan tonus otot. 2 . Mengubah kadar lemak darah yaitu meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL)-kolesterol dan menurunkan kadar kolesterol total serta trigliserida. Latihan akan menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin. (Brunner & Suddarth. 2002) 2.terjadinya penyakit koroner yang menyebabkan kematian pada penderita diabetes 4) Protein Makanan sumber protein nabati (misal : kacang-kacangan dan bijibijian yang utuh) dapat membantu mengurangi asupan kolesterol serta lemak jenuh. mengurangi rasa stress dan mempertahankan kesegaran tubuh. Olah raga / latihan Sangat penting dalam penatalaksanaan DM karena afeknya dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi faktor resiko kardiovaskuler. Latihan ini sangat bermanfaat pada pendrita diabetes karena dapat menurunkan BB.

anemia 3 . pruritus Lekopeni. sakit kepala. Peningkatan hormon ini membuat hati melepas lebih banyak glukosa sehingga terjadi kenaikan kadar glukosa darah. vertigo dan demam Dermatitis. trombositopeni. muntah. dibagi menjadi 2 golongan yaitu : a. Golongan sulfonilurea 1) Cara kerja : a) Merangsang sel beta pancreas untuk mengeluarkan insulin. jadi hanya bekerja bila sel-sel beta utuh b) c) d) 2) Indikasi a) b) c) d) Bila BB ideal ± 10% dan BB ideal Bila kebutuhan insulin < 40 u/hr Bila tidak ada stress akut. misal: infeksi berat / operasi Dipakai pada diabetes dewasa. 3. Obat-obatan Obat antidiabetik oral. baru dan tidak pernah Menghalangi pengikatan insulin Mempertinggi kepekaan jaringan terhadap insulin Menekan pengeluaran glukogen ketoasidosis sebelumnya 3) Efek samping a) b) c) Mual. Growth Hormone (GH) dan katekolamin.Latihan dengan kadar glukosa darah yang tinggi akan meningkatkan sekresi glukogen.

4) Kontra indikasi Penyakit hati. ginjal dan thyroid 3 .

Golongan biguanid Tidak sama dengan sulfonilurea. karena tidak merangsang sekresi insulin.b. Diare Insulin 1) Indikasi a) Semua penderita DM dari setiap umur (baik IDDM / NIDDM) dalam keadaan ketoasidosis b) Diabetes yang masuk dalam klasifikasi diabetes c) Penderita yang kurus d) Bila dengan obat oral tidak berhasil IDDM yaitu juvenile 3 . Muntah c. 1) Menurunkan kadar GD menjadi normal dan istimewanya tidak menyebabkan hipoglikemia 2) terdapat: a) b) dalam otot 4. Nausea b. tetapi jelas Efek samping : a. Penurunan glukoneogenesis dalam hepar Gangguan absorbsi glukosa dalam usus Peningkatan kecepatan ambalan glukosa Cara kerja belum diketahui secara pasti.

letih. tonus otot menurun. misal: retinopati / nefropati 2) a) 2-4 jam b) 12 jam c) Yang kerjanya lambat : protamine zinc insulin (PZI) Yang kerjanya sedang : NPH dengan masa kerja 6Jenis insulin Yang kerjanya cepat: reguler insulin (RI) masa kerja monotard ultralente (MC) masa kerja 18-24 jam 3) a) penyuntikan b) Hipoglikemia : dosis insulin berlebih atau Efek samping Lipodistrofi : atrofi jaringan subkutan pada tempat kebutuhan insulin yang berkurang c) Reaksi alergi d) J. Pengkajian Fokus Resistensi terhadap insulin Data bergantung pada berat dan lamanya ketidakseimbangan metabolik dan pengaruh pada fungsi organ 1. sulit bergerak / berjalan. Gejala Aktivitas / Istirahat : Lemah. kram otot. gangguan tidur / istirahat 3 .e) Kehamilan f) Bila ada komplikasi mikroangiopati.

postural hipertensi Nadi yang menurun / tak ada Disritmia Krekels. kesulitan berkemih.Tanda : takikardia dan takipnea pada keadaan istirahat atau dengan aktivitas letargi / disorientasi. Penurunan kekuatan otot 2. Distensi Vena Jugularis (DVJ) Kulit panas kering dan kemerahan. bola mata cekung 3. kebas dan kesembuhan pada ekstremitas ulkus pada kaki penyembuhan yang lama Tanda : takikardia Perubahan tekanan darah. Eliminasi Gejala : nokturia Rasa nyeri / terbakar. infark miokard akut. infeksi saluran kencing (ISK) baru / berulang Nyeri tekan abdomen Diare Perubahan pola kencing. Integritas Ego Gejala : stress. Sirkulasi Gejala : adanya riwayat hipertensi. tergantung pada orang lain Masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi Tanda 4. : ansietas. poliuri (poliuria). peka rangsang 3 .

bau busuk (infeksi) Bising usus lemah dan menurun. kuning. poliuri (dapat berkembang menjadi oliguria / anuria jika terjadi hipovolemia berat) Urine berkabut. muntah Pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan metabolik dengan peningkatan gula darah) Bau halitosis / manis. bau buah (napas aseton) 6.Tanda : Urine encer. Makanan / Cairan Gejala : Hilang nafsu makan Mual / muntah Tidak mengikuti diet. Neurosensori Gejala : Sakit kepala Pusing / pening 3 . turgor jelek Kekakuan / distensi abdomen. pucat. hiperaktif (diare) 5. peningkatan masukan glukosa / karbohidrat Penurunan berat badan lebih dari periode beberapa hari / minggu Haus Penggunaan diuretik (Tiazid) Tanda : Kulit kering / bersisik.

Kesemutan. kacau mental 7. letargi. mengantuk. kelemahan pada otot. Nyeri / Kenyamanan Gejala Tanda : : berhati-hati Abdomen yang tegang / nyeri (sedang / berat) Wajah meringis dengan palpasi. peristesia Gangguan penglihatan Tanda : Disorientasi. kebas. tampak sangat 3 . Gangguan memori (baru. stupor / koma (tahap lanjut). masa lalu).

8.

Pernapasan Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan /

tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi / tidak) Tanda : Lapar udara Batuk, dengan / tanpa sputum purulen (infeksi) Frekuensi pernapasan 9. Keamanan Gejala Tanda : : Kulit kering, gatal, ulkus kulit Demam, diaforesia Kulit rusak, lesi / ulserasi Menurunnya kekuatan umum / rentang gerak Parestesia / paralisis otot termasuk otot-otot pernafasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam) 10. Seksualitas Gejala : Rabas vagina (cenderung infeksi) Masalah impoten pada pria, kesulitan orgasme pada wanita 11. Penyuluhan / Pengajaran Gejala : Faktor resiko keluarga : DM, penyakit jantung,

stroke, hipertensi, penyembuhan yang lambat Penggunaan obat seperti steroid diuretik

(tiazid); dilantin dan fenobarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah). (Dongoes, 2002)

3

K. Pemeriksaan Diagnostik 1. Glukosa darah : meningkat 200 – 100 mg/dl atau lebih 2. Aseton plasma (keton) : positif secara mencolok 3. Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat 4. Osmolitas serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 osm/l 5. Elektrolit a) Natrium menurun b) Kalium (perpindahan 6. 7. : normal atau peningkatan semu : mungkin normal meningkat atau

seluler) selanjutnya akan menurun

Fosfor : lebih sering menurun Hemoglobin gliserol : kadarnya meningkat 2 – 4 kali lipat dari normal yang mencerminkan kontrol DM yang kurang selama 4 bulan terakhir (lama hidup SDM) dan karenanya sangat bermanfaat dalam membedakan DKA dengan kontrol tidak adekuat versus DKA yang berhubungan dengan insiden (mis ISK baru)

8.

Gas darah arteri : biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan HCO, (asidosis metabolik) dengan kompensasi alkalosis respiratorik

9.

Trombosit darah : Hematokrit (Ht) mungkin meningkat (dehidrasi), leukositosis, hemokonsentrasi, merupakan respons terhadap stres atau infeksi

3

10.

Ureum / kreatinin : mungkin meningkat atau normal (dehidrasi / penurunan fungsi ginjal)

11.

Amilase darah : mungkin meningkat yang mengindentifikasikan adanya pankreatis akut sebagai penyebab dari DKA

12.

Insulin darah : mungkin menurun / bahkan sampai tidak ada (pada tipe I) atau normal sampai tinggi (tipe II) yang mengidentifikasi insufisiensi insulin / ganggguan dalam penggunaannya (endogen / eksogen). Resistensi insulin dapat berkembang sekunder terhadap pembentukan (antibodi)

13.

Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin

14.

Urine : gula dan aseton positif, berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat, kultur dan sensitivitas : kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi pernafasan dan infeksi pada luka. (Dongoes, 2002)

3

penyakit pancreas L. Pathway Keperawatan Defisiensi insulin Glukagon meningkat Glukoneogenesia Hiperglikemia GD 140 mg/mmol Pemecahan asam Glukosa masuk lemak ke dlm tubulus ginjal Ketonemia pH serum menurun Asidosis metabolik Mual muntah Glukosa dibuang bersama urine Glukosuria Diuresis osmotik Poliuri Dehidrasi Starvasi sel Prod energi BB metabolik menuru menurun Kelelaha n n Nutrisi keb Rasa lapar Polifagi Hiperosmolaritas Koma Hilang protein tubuh Angiopati Mikrovaskuler Makrovaskuler Trombosit beroklusi Pembulu darah besar Aterosklerosis Neuropati Sensorik Hilang rasa Vaskulataria Resti injuri Motorik Atropi otot Perub dlm pergerakan Perubahan pembuluh darah Gangguan sirkulasi Suplai mkn ke jar perifer ↓ Respon peradangan melambat Gg keseimbangan tubuh Luka sembuh Gg integritas jaringan tidak Defisit vol cairan Peredaran pembuluh darah ke retina ↓ Pandangan kabur Retinopati Syok Polidipsi Terjadi ulkus DM Infeksi 36 Resiko penyebaran Gg persepsi sensori : infeksi penglihatan 4 . obat-obatan.Obesitas.

urine warna merah keruh atau berkabut Rasional : pasien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya lebih lebih mencetuskan keadaan ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nosokomial 2) Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan denga pasien termasuk pasien sendiri Rasional : mencegah timbulnya infeksi silang (infeksi nosokomial 3 . 1) Intervensi Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam. Tujuan : 1) Tidak terjadi infeksi 2) Tidak ada tanda-tanda terjadinya infeksi b. Kriteria Hasil : 1) Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi 2) Mendemostrasikan tehnik.M. Resiko tinggi penyebaran infeksi (Sepsis) berhubungan dengan kadar glukosa tinggi. perubahan pada sirkulasi. perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi b. sputum purulent. adanya pus pada luka. kemerahan. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Keperawatan 1. sekunder terhadap adanya ulkus a.

dengan indikasi Rasional : mengidentifikasi untuk organisme sehingga dapat Kolaborasi Pemeriksaan kultur dan sensitivitas sesuai Bantu pasien untuk melakukan higiene oral menurunkan resiko terjadinya memilih / memberikan therapy antibiotik yang terbaik b). jaga kulit tetap kering. lumen kering dan tetap kencang (tidak berkerut) Rasional : sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan pasien pada resiko terjadinya kerusakan pada kulit / iritasi kulit dan infeksi 5) Rasional : penyakit kulit / gusi 6) a). masase daerah tulang yang tertekan. Berikan antibiotik sesuai advise 3 .3) Lakukan perawatan luka (ganti balut tiap hari) dengan menjaga tehnik septik dan aseptik Rasional : untuk mencegah terjadinya infeksi dan penyebaran infeksi lebih lanjut 4) Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh.

Tujuan cairan b. Resiko deficit volume cairan berhubungan dengan adanya diuresis osmotik a. Kriteria Hasil : Mendemostrasikan oleh tanda vital : Tidak terjadi kekurangan hidrasi adekuat yang dibutuhkan stabil. haluaran urine secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal 3 .Rasional : penanganan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis 2.

kering mungkin sebagai cerminan dari dehidrasi 3) Kaji nadi perifer. fungsi ginjal dan keefektifan dan terapi yang diberikan 5) Pertahankan untuk memberi cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan melalui oral sudah dapat diberikan Rasional : volume sirkulasi 6) Kolaborasi mempertahankan hidrasi / 4 . atau volume sirkulasi yang adekuat 4) Rasional : Pantau masukan dan pengeluaran. pengisian kapiler. catat Bj urine memberikan perkiraan kebutuhan atau cairan pengganti. catat adanya perubahan TD ortostatik Rasional : hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia 2) Rasional : Pantau suhu warna kulit atau kelembabnnya demam dengan kulit kemerahan.c. turgor kulit dan membran mukosa Rasional : merupakan indicator dari tingkat dehidrasi. 1) Intervensi Pantau tanda vital.

a) indikasi Berikan therapy cairan sesuai dengan Normal salin atau ½ NS atau tanpa dekstrose Rasional : tipe dan jumlah cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan b) Pantau pemeriksaan laboratorium. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat a. seperti Hematokrit : mengkaji tingkat hidrasi dan sering kali meningkat akibat hemokonsentrasi yang terjadi setelah diuresis osmotik BUN / kreatinin : peningkatan nilai dapat mencerminkan kerusakan sel karena dehidrasi atau tanda akibat kegagalan ginjal Osmolalitas : meningkat dengan adanya hiperglikemia dan dehidrasi Natrium : menurun yang mencerminkan diuresis osmotik. meningkat mencerminkan kehilangan cairan / dehidrasi berat 3. Kriteria Hasil : Pemasukan nutrisi adekuat : 1) Mencerna jumlah kalori atau nutrisi yang tepat 2) Menunjukkan tingkat energi biasanya 4 . Tujuan b.

3) Mendemostrasikan berat badan stabil atau penambahan kearah rentang yang diinginkan dengan nilai laboratorium normal c. lapar. kulit lembab / dingin. catat adanya nyeri abdoment / perut kembung. Intervensi 1) Observasi tanda-tanda hipoglikemia. sementara tetap diberikan insulin maka hipoglikemi dapat terjadi) 2) Timbang BB setiap hari atau sesuai dengan indikasi Rasional : mengkaji pemasukan makanan yang adekuat 3) Auskultasi bising usus. pusing. peka rangsang. muntahan makanan yang belum sempat dicerna Rasional : hiperglikemia dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat menurunkan mobilitas / fungsi lambung 4) Tentukan program diit dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien 4 . cemas. sempoyongan Rasional : karena metabolisme karbohidrat mulai terjadi (gula darah berkurang. sakit kepala. mual. seperti : perubahan tingkat kesadaran. derajat nadi cepat.

Rasional : mengidentifikasi kekurangan dan penyimpanan dari kebutuhan therapeutik 5) Indikasi makanan yang disukai / dikehendaki termasuk kebutuhan etnik Rasional : disukai pasien dapat jika makanan yang dimasukkan dalam perencanaan makan 4 .

Pantau pemeriksaan laboratorium. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan sekunder terhadap sirkulasi yang tidak adekuat a.6) Libatkan keluarga pada perencanaan makan sesuai indikasi Rasional : meningkatkan rasa keterlibatan. aseton. b. PH dan HCO3 Rasional : gula darah akan menurun perlahan dengan penggantian cairan dan therapi insulin terkontrol c. Tujuan Kriteria Hasil : integritas kulit kembali normal : 1) Mengidentifikasi faktor resiko individual 4 . Lakukan pemeriksaan gula darah dengan menggunakan “Finger stick” Rasional : terhadap GD lebih kuat b. Rasional Berikan insulin secara teratur : insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan pula dapat membantu analisa ditempat tidur memindahkan glukosa ke dalam sel 4. seperti glukosa darah. memberikan informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi pasien 7) Kolaborasi a.

toleran. ketidakmampuan imobilisasi. adanya kemerahan. lindungi sendi dengan menggunakan bantalan busa Rasional : meningkatkan sirkulasi dan melindungi permukaan kulit mengurangi terjadinya ulserasi 4 . adanya drainase pada luka serta bersihkan luka setiap hari Rasional : daerah ini cenderung terkena radang dan infeksi dan merupakan rute bagi mikroorganisme patologis 3) Libatkan masase dan lubrikasi pada kulit dengan losion / minyak. kemerahan. gangguan pengaturan suhu 2) Catat adanya pembengkakan.2) Mengungkapkan pemahaman tentang kebutuhan tindakan 3) Berpartisipasi pada tingkat kemampuan untuk mencegah kerusakan kulit lebih lanjut c. pembengkakan Rasional : rusak karena kulit biasanya cenderung perubahan untuk sirkulasi merasakan perifer. catat pengisian kapiler. 1) Intervensi Inspeksi seluruh area kulit.

mengurangi terjadinya ulserasi 5) Bersihkan dan keringkan kulit khususnya daerah-daerah dengan kelembaban tinggi seperti parineum Rasional : meningkatkan sirkulasi pada kulit dan mengurangi tekanan pada daerah tulang yang menonjol 6) Jagalah alat tenun tetap kering dan bebas dari lipatan – lipatan dan kotoran Rasional iritasi pada kulit 7) Anjurkan pasien untuk terus meningkatkan nutrisi sel atau organisasi sel dan untuk meningkatkan kesehatan jaringan Rasional : menstrimulasi sirkulasi. b. Intervensi 4 .4) Lakukan perubahan posisi sesering mungkin di tempat tidur maupun sewaktu tidur Rasional : meningkatkan sirkulasi dan melindungi kulit. Resti injury berhubungan dengan kelemahan umum a. Tujuan : tidak terjadi injury Kriteria Hasil : Mendemostrasikan tidak ada cedera demham komplikasi minimal / terkontrol c. : mengurangi / mencegah terjadinya meningkatkan nutrisi sel atau oksigenasi sel dan untuk meningkatkan kesehatan jaringan 5.

takikardia (140-200/mnt) Rasional : untuk mengetahui keadaan umum pasien yang dapat menentukan tindakan yang diberikan 2) diberi bantalan Rasional adanya trauma : untuk menentukan kemungkinan Pertahankan penghalang tempat tidur terpasang / 4 .1) Pantau tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu tubuh.

menurunkan stimulasi dari luar 6.3) a) Kolaborasi Pantau kadar kalsium darah : pasien dengan kadar kalsium kurang dari 7. Kriteria Hasil : 1) Mengidentifikasi hubungan tanda / gejala dengan proses penyakit dan menghubungkan gejala dengan faktor penyebab 2) Dengan benar melakukan prosedur yang perlu dan menjelaskan rasional tindakan 3) Melakukan perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan c. Tujuan b. Intervensi 1) Ciptakan lingkungan saling percaya dengan mendengarkan penuh perhatian dan selalu ada untuk pasien : Pasien menyatakan pemahaman tentang penyakit 4 .5/100 ml secara umum membutuhkan terapi pengganti b) Berikan obat sesuai indikasi 1) Kalsium (glukosa. laktat) : untuk memperbaiki kekurangan yang biasanya sementara 2) Sedatif : meningkatkan istirahat. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai prognosis penyakit a.

penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk melakukan makan di luar rumah Rasional : kontrol obat akan keadaan tentang pentingnya membantu pasien dalam merencanakan makan / mentaati program 4 .Rasional : menanggapi dan memperhatikan perlu diciptakan sebelum pasien bersedia mengambil bagian dalam proses belajar 2) Diskusikan topik-topik utama seperti apakah kaar glukosa normal ibu dan bagaimana hal tersebut dibandingkan kekurangan insulin dengan kadar gula darah yang tinggi Rasional : memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pertimbangan dalam memilih gaya hidup 3) Menganjurk an klien untuk rutin melakukan pemeriksaan gula darah dan instruksikan pasien untuk pemeriksaan keton urinenya jika glukosa darah lebih tinggi dari 250 mg/dl Rasional : Melakukan pemeriksaan darah secara teratur dapat meningkatkan kontrol gula darah dengan lebih ketat (misal 60 – 150 mg/dl) 4) Diskusikan tentang rencana diet.

sakit kepala. tremor. diaforesis. pusing. dan perubahan mental) Rasional : dan pengobatan dapat meningkatkan deteksi lebih awal dan mencegah / mengurangi kejadiannya 5 .5) Diskusikan faktor-faktor yang memegang peranan dalam kontrol DM seperti latihan stres. pembedahan dan penyakit tertentu Rasional : informasi ini akan meningkatkan pengendalian terhadap DM dan dapat menurunkan berulangnya kejadian ketoasidosis 6) Buat jadwal latihan aktivitas yang teratur dan identifikasi hubungan dengan penggunaan insulin yang perlu menjadi perhatian Rasional : waktu latihan tidak boleh bersamaan waktunya kerja puncak insulin untuk mencegah percepatan ambilan insulin 7) Identifikasi gejala hipoglikemia (misal lemah. lapar. peka rangsang. pucat. letargi. takikardia.

BAB III TINJAUAN KASUS 1. Identitas pasien Nama Umur Jenis kelamin Alamat Agama Pekerjaan Suku/bangsa Tanggal masuk Diagnosa medis No.wawancara dengan pasien dan keluarga serta bekerjasama dengan tim kesehatan lain. Pengkajian keperawatan Kasus yang penulis kelola adalah pasien dengan sistem Endokrin Diabetes Mellitus pada tanggal 01 Mei 2008 pukul 08. Pada kasus ini data diperoleh dengan cara mengadakan pengamatan langsung. Disamping itu penulis memberikan asuhan keperawatan langsung kepada pasien. 1.30 WIB di Ruang Penyakit Dalam C3 Lantai 1 Rumah Sakit Dr. Register : Tn. K : 61 tahun : Laki-laki : Semarang : Islam : Wiraswasta : Jawa/Indonesia : 01 Mei 2008 : Diabetes Mellitus+ Ulkus Grade IV : 5750468 Biodata 5 . Kariadi Semarang. menelaah catatan medis dan catatan keperawatan.

b. Oleh pasien dan keluarga kaki direndam dalam air es dengan tujuan panas dan bengkak hilang. Dg pasien 2. kotor dan berbau b. kemudian oleh keluarga dibawa ke Rumah Sakit Pantiwilasa Citarum dilakukan bersih luka (Debridement) dan dibalut lalu dirujuk ke Rumah Sakit Dr. Kariadi di Ruang penyakit dalam untuk menjalani perawatan lebih lanjut. Nama Umur Penanggung jawab : Tn. 5 . G : 38 tahun : Laki-laki : Anak Jenis kelamin Hub. Keluhan utama Saat dilakukan pengkajian klien mengatakan terdapat luka pada kaki kiri yang tidak sembuh-sembuh. papul yang timbul juga dipecah sendiri. Oleh pasien tidak juga diperiksakan ke dokter dan dalam beberapa hari timbul belatung yang cukup banyak serta berbau. Riwayat Kesehatan a. sekarang Riwayat penyakit + sejak 1 bulan yang lalu timbul “plentingan” / papul pada kelingking kaki kiri yang berisi cairan / nanah. Bengkak dan terasa “panas kemranyas”. timbul luka dibiarkan. tidak diperiksakan ke dokter. lama kelamaan luka semakin melebar dan dalam.

Riwayat penyakit 5 . Riwayat Hipertensi keluarga klien kurang mengetahui 3.c. jarang memakai alas kaki saat berjalan dan masih mengkonsumsi makanan yang manismanis. keluarga Klien mengatakan bahwa ayahnya. dahulu Riwayat penyakit Klien mengatakan menderita Diabetes Mellitus sejak 10 tahun yang lalu tetapi tidak pernah kontrol. adik dari ayah dan kakak perempuan klien juga menderita kencing manis. klien bila sakit hanya cukup membeli obat di warung / apotik. d. Pola Pengkajian Fungsional Pola pemeliharaan kesehatan Klien mengatakan kurang mengetahui tentang penyakitnya sehingga klien kurang mengerti dalam perawatan dirinya. Klien sulit bila disuruh periksa ke dokter tentang penyakit yang dialaminya. 5 tahun yang lalu sempat dirawat di Rumah Sakit dengan Hipertensi. tetapi tidak kontrol teratur sampai sekarang. Klien juga menderita Hipertensi sudah 10 tahun juga bersamaan dengan Diabetes Mellitus.

klien mandi 2x sehari dan ganti pakaian bila kotor. Klien mengatakan minum banyak karena klien serimg merasa haus dan terasa panas dalam. Balance cairan per 7 jam Intake Infus Makan : 700 cc : 200 cc 5 . Minum juga mulai menurun + 1. berat badan dahulu 53 kg nenjadi 47 kg. Pola nutrisi dan metabolik Sebelum dirawat di Rumah Sakit dan sebelum terdapatnya luka.Klien merokok dan minum kopi serta kurang memperhatikan menu makanan yang dimakan. berat badan menurun dalam 2 bulan terakhir + 6 kg.5 liter/hari menggunakan air putih dan masih selalu mengeluh haus. klien merasa mual jika makan. TB : 167 cm. klien mengatakan makan cukup banyak. klien biasa minum air putih + 2. klien makan 3x sehari dan tanpa menghindari makanan tertentu. Selama sakit (timbul luka) dan dirawat di Rumah Sakit klien mengatakan nafsu makan menurun drastis. Kebersihan diri klien cukup. klien hanya makan + 5-6 sendok setiap porsi dengan menggunakan bubur selama di rumah dan diit Diabetes Mellitus 1750 kkal selama dirawat di Rumah Sakit.5 liter/hr ditambah segelas kopi dan teh manis selama aktivitas / bekerja.

bau khas (Aseton). setiap harinya klien kencing sampai 20x /hari.Minum : 600 cc  1500 cc Output Urine IWL : 1400 cc : 245  1645 BC : I – O 1500 – 1645 = -145 Pola eliminasi 1) Eliminasi urine Klien mengatakan banyak kencing. terutama meningkat bila malam hari dengan jumlah yang cukup banyak + 200 cc dengan karakteristik urine. sehari sekali kadang 2 hari sekali dengan konsistensi lembek. klien juga mengatakan bila kencingnya dibiarkan biasanya didatangi semut ditambah bila buang air kecil (BAK) pasien terasa nyeri / terbakar. warna kuning kecoklatan Pola aktifitas dan latihan Klien mengatakan sebelum dirawat di Rumah sakit dan terdapatnya luka pada kaki klien sehari-harinya bekerja sebagai pengawas / 5 . warna kuning jernih. 2) Eliminasi Feses Klien mengatakan tidak ada masalah dengan pola buang air besarnya.

penunggu pabrik di daerah Jepara dan masih bisa memenuhi kebutuhan dirinya / perawatan diri. Selama sakit klien mengatakan tidak mampu bekerja lagi, klien sering merasa kelelahan dan lemah apalagi terdapat luka pada kaki kirinya setiap aktivitas klien dibantu oleh keluarga. Dengan skoring aktifitas Kegiatan Berjalan Makan / minum Eliminasi Berhias Keterangan : 0 1 2 3 4 5 : dibantu sepenuhnya 100 % : dibantu 95% : dibantu 75% : dibantu 50% : dibantu 25% : mandiri 0 1 2 √ √ √ 3 4 5 √

Pola istirahat tidur Klien mengatakan selama sakit, klien sulit untuk tidur, klien hanya tidur + 4-5 jam/hari, klien sering terbangun karena sering sekali buang air kecil (BAK) pada malam hari ditambah saat ini klien merasa cemas, dengan kondisi lukanya karena tidak sembuh-sembuh dan takut bila kakinya dipotong. Timbul takikardi dan takipnea selama istirahat / setelah aktivitas

5

Pola persepsi sensori dan kognitif. Klien mengatakan merasa kesemutan pada kaki dan tangan dan mengalami kelemahan otot. Klien juga tidak merasakan nyeri pada kaki yang terluka saat di cubit, tapi kadang merasakan nyeri (cekotcekot) kemranyas pada daerah luka. Klien juga mengeluh sering pusing dan sakit kepala, gangguan penglihatan / kabur saat melihat dan juga sering mengantuk berat. Pola hubungan dengan orang lain Klien mengatakan hubungan klien dengan anggota keluarga baik, keluarga selalu mendampingi klien saat sakit. Hubungan dengan tetangga / orang lain cukup baik hanya saja klien merasa orang-orang di sekitarnya membicarakan dirinya karena kesehatan lukanya yang berbau dan sempat timbul belatung yang cukup menjijikkan. Pola reproduksi dan seksual Klien mengatakan menikah kira-kira umur 24 tahun dan dikaruniai 5 orang anak (3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan), untuk hubungan intim belum sempat dikaji. Pola persepsi diri dan konsep diri 1) Harga diri : klien mengatakan merasa minder / cukup malu dengan kondisinya sekarang karena terdapat luka pada kaki yang berbau kotor dan terdapat belatung, klien merasa kakinya seperti bangkai.

5

2)

Identitas diri : klien mengatakan dia adalah anak ke 3 dari 6 bersaudara, klien mengakui berjenis kelamin laki-laki, klien tidak mempunyai masalah / menolak dengan jenis kelaminnya, dia merasa puas sebagai seorang laki-laki, klien mampu menyebutkan nama, alamat dan seterusnya (identitas dirinya).

3) klien mengatakan merasa sedih

Peran diri : dengan kondisi yang dialami

sekarang, klien merasa sekarang tidak mampu lagi melakukan peran sebagai seorang suami dan seorang ayah. 4) Ideal diri : Klien mengatakan bahwa harapannya sekarang adalah agar cepat sembuh sehingga mampu bekerja lagi. 5) Gambaran diri : klien mengatakan merasa puas dengan dirinya, tapi klien merasa tidak suka dengan kaki kirinya karena terdapat luka. j. Pola mekanisme koping Klien mengatakan setiap pengambilan keputusan bersama dalam keluarga adalah dirinya karena dia adalah kepala keluarga, tapi bila ada masalah baik individu maupun keluarga klien mengatakan selalu

cerita dengan keluarga dan mencari solusi yang terbaik k. Pola nilai kepercayaan

5

Klien mengatakan beragama Islam. selama sakit klien tetap melaksanakan ibadah walaupun hanya berdiri. klien mempercayai Allah SWT akan memberikan kesembuhan 5 .

4. tidak ada deviasi trakea. Rambut : Tipis agak botak. Tingkat kesadaran : composmentis c. simetris terdapat pandangan kabur. terdapat sekret. sklera tidak ikterik. tidak ada alat bantu penglihatan. tidak ada polip. tidak menggunakan alat bantu pernafasam. warna kehitaman j. Mata : konjungtiva anemis. kotor f. Hidung : semetris. Leher : simetris. Penampilan / keadaan umum : cukup. tiak ada luka e. tidak ada lka. tampak kelelahan b. tampak kotor i. Telinga : simetris. tidak ada napas cuping hidung h. tidak ada septum deviasi. cekung g. Kepala : mechochepal. Pemeriksaan Fisik a. warna hitam. tidak menggunakan alat bantu dengar. terdapat bau halisitosis bibir kering. Tanda – tanda vital TD : 150/100 mmHg N : 80 x/mnt S : 380C RR : 21 x. bersih. tidak ada Distensi Vena Jugularis (DVJ) 6 . kemampuan pandangan cukup. mukosa sedikit kering. Mulut : simetris.mnt d. tidak ada benjolan leher.

Jantung Inspeksi Palpasi : : ictus cordis tidak tampak ictus cordis teraba pada intercosta ke V 2 cm Line Mid Clavicula Sinistra (LMCS) Perkusi : ke caudolateral Auskultasi : suara jantung I – II murni Gallop Ө. Dada dan thoraks : simetris. bising Ө n. tidak ada suara tambahan m. tidak ada luka RR : 21 x/mnt Perkusi : sonor di seluruh lapang paru Palpasi : strem fremitus kanan = kiri Auskultasi: suara dasar vaskuler. pengembangan paru sama l. Paru-paru Inspeksi : simetris statis dinamis.k. Abdomen Inspeksi : abdomen Auskultasi : x/menit Perkusi : timpani terdapat bising usus + 13 datar. tidak ada penggunaan otot bantu pernafasan. terdapat distensi konfigurasi jantung bergeser 6 . tidak ada luka.

Diabetes Mellitus Grade IV (ganggren jari kaki atau bagian distal kaki dengan / tanpa selulitis).20 Pg nilai normal 13.00 Volume 86.00-15. tidak ada respon nyeri. Pemeriksaan Laboratorium Tanggal : 01 Mei 2008 1) Analizer Hema Pemeriksaan Hemoglobin Hematokrit Eritrosit Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) Mean Corpuscular hasil 10.0rb/mm k Red Blood Cell Distribution 12.62 jt/mmk 29. terdapat pus.0 11. bengkak.60-14.40 fl 76.2 % 3.0 3.60 27. tidak ada nyeri tekan. kulit sekitar luka berwarna kehitaman. berbau.00-11. kering. Pemeriksaan penunjang a. ulkus.0-400. 2) Terpasang infus RL 20 tpm pada ekstremitas atas kiri 5.00 29. dengan diameter 5 cm kedalaman 3 cm.00 150.00-32. Ekstremitas 1) Terdapat luka pada kaki sebelah kiri. luka kotor.00 4.80 g/dl Concentration (MCHC) Lekosit Trombosit 11.60 gr% 31.00 35.0-47.00-96.80 (MCV) Mean corpuscular Hemoglobin 33. CRT > 4 detik.Palpasi : tidak ada massa.90-5.10rb/mm 418.80 % Width (RDW) 6 .00-32. hepar dan klien tidak teraba o.

1 2.0-136.0 67 gr/dl gr/dl u/l u/l u/l u/l Pemeriksaan Protein Reduksi Nilai normal Neg Neg 6 .0 5-85 (HDL) cholesterol Low Density Lipoprotein (LDL) 106 mg/dl cholesterol Protein total Albumin SGOT (AST) SGPT (ALT) Alkali fostatase Gamma Glutamil Transferase (GT) 3) Pemeriksaan urine Tanggal 01 – 05 – 2008 Sekresi – ekskresi Urine lengkap Warna Bj PH : : : kuning jernih 1.5-5.00-11.9 mmol/L 2.0 15-37 30-65 50.30 mmol/L 107 mmol/L 0.2 3.52 98-107 0.30 136-175 3.00 Nilai normal 80-110 15-39 0.10 fl 2) Kimia klinik (tanggal 01 mei 2008 ) Pemeriksaan Glukosa sewaktu Ureum Creatinin Natrium Kalium Calsium Chlorida Magnesium Cholesterol Trigliserida High Density hasil 295 mg/dl 16 mg/dl 0.4-5.RPV 6.020 6.99 50-200 30-150 35-60 62-130 6.00 Hasil Neg mg/dl > 1000mg/dl 7.4-8.74-0.73 mmol/L 149 mg/dl 92 mg/dl Lipoprotein 28 mg/dl 4.60-1.12-2.1 2.74 mg/dl 137 mmol/L 4.9 17 28 124.

c. g.Bilirubin Aseton Nitrit Sed epitel Lekosit Eritrosit Ca. b. Infus RL 20 tpm 0.2 mg/dl Neg mg/dl Neg mg/dl 0-2 Neg 0-1 Neg Neg Neg Neg Neg Neg Neg Neg Neg +/positif Neg Neg Neg LPK LPB LPB LPK LPK LPK LPK LPK Pemeriksaan oftalmologis : gambaran fundus saat ini didapatkan : retinopati diabetika non proliferatif : KSI (katarak senillis immature) + makulopati Ceftriaxon 1 x 2 gr (IV) Metronidazol 3 x 500 mg Humulin 8 – 8– 8 Diit DM 1700 kkal Aspilet 2 x 80 mg Paracetamol 500 mg k/p 6 . d. Kesan OD ODS 6. e. f. Oxalat Asam urat Triple fosfat Amorf Sel Hyalin Sel granula kasar Sel granula halus Epitel Leukosit Bakteri b. Therapi Tanggal 01 – 05 – 2008 a.

d. panas dan terdapat belatung.5 ltr/hari Klien mengatakan BAK dalam sehari sampai 20 x dengan jumlah @ + 200 cc Data obyektif : a. Klien tampak lemas Mata cekung Mukosa dan bibir agak kering. kulit sekitar luka berwarna kehitaman. DM. bengkak. e. kering. terbalut dengan balutan yang sudah kotor. terasa panas kemerahan. berbau. minum + 1. terdapat pus. berbau. Grade IV dengan diameter 5 cm. Analisa Data No 1 Data subyektif tidak Data Fokus Problem Etiologi : klien mengatakan / Resiko tinggi Kadar glukosa tinggi. b. c. sekunder dengan ulkus adanya kotor. bengkak tidak ada respon pada nyeri pada area luka 2 Lekosit : 11. luka kotor. infeksi mengeluh terdapat luka pada kaki kiri yang penyebaran sembuh-sembuh. ulkus.2.10 rb/mmk Data Subyektif : panas dalam tapi nafsu untuk minum menurun. kedalaman 3 cm. kemranyas / kebas pada tangan dan kaki tidak terasa nyeri saat diobati di daerah luka Data obyektif : terdapat luka pada kaki sebelah kiri. CRT > 4 dtk. Turgor kulit cukup Kering Resiko defisit Diuretik osmotik Klien mengatakan sering haus dan terasa volume cairan sering merasa haus 6 .

Intake BAK dalam sehari + 20 x BB 47 kg Minum + 1.1 gr/dl Hb : 10. g.f. terasa mual jika dari kebutuhan adekuat 6 . e.60 gr % BB menurun dalam 2 bulan terakhir dari 53 kg menjadi 47 kg. TB 167 cm c. h.9 gr/dl Protein total 7. Albumin : 2. Klien hanya menghabiskan + 5-6 sendok makan / porsi dengan menggunakan diit DM 1700 kkal b. d. mengatakan nafsu Nutrisi tubuh kurang Intake yang tidak makan menurun drastis.5 liter/hari output urine 1400 cc IWL 245 1645 cc BC dalam 7 am Infus 700 cc Makan 200 cc Minum 600 cc 1500 cc BC : I – O 3 1500 – 1645 : -145 Data subyektif : klien makan Data obyektif : a.

f. Data subyektif : a. bengkak Terdapat luka pada kaki Terputusnya kontinuitas jaringan sekunder terhadap sirkulasi yang tidak adekuat 5 Kelemahan umum mengeluh pusing dan sakit kepala Pandangan kabur Sering mengantuk Sering merasa kesemutan pada kaki dan tangan diabetik) 6 TD : 150/100 mmHg Data Subyektif a. d. b.9 gr/dl : Kurang kabur (retinopati Terdapat pus GDS : 295 mg/dl Trombosit : 418. Kurangnya informasi klien mengatakan sudah pengetahuan 6 . kering. d. c. e. diameter 5 cm d. c.4 Data subyektif : Klien mengatakan terdapat Gangguan luka distraksi yang sudah lama tapi tidak integritas sembuh-sembuh makah semakin melebar dan jaringan dalam Data obyektif : a. e. Klien tampak kelelahan dan lemas Terdapat luka pada kaki kiri Penglihatan Hb : 10. b. Data obyaktif a.0 rb/mmk Resti injury Klien mengatakan / Kulit sekitar luka tampak Luka ulkus dengan kehitaman.60 gr % Albumin : 2. kiri grade IV b. c.

dokter Data obyektif : a.10 tahun menderita kencing manis tetapi tidak mengetahui tentang penyakitnya sehingga kurang dalam perawatan diri dan luka b. informasi klien bertanya / meminta pasien yang mengungkapkan tentang dihadapi tidak pernah kontrol ke jarang memahami alas 6 . kaki c. masalah penyakitnya b.

9) + + = 283.389 + 2.137+4.K GDS 295 mg/mmol) Hiperosmolaritas Koma Polifagi Angiopati Mikrovaskuler Makrovaskuler Trombosit beroklusi Pembulu darah besar Aterosklerosis Glukosa masuk ke dlm tubulus ginjal Glukosa dibuang bersama urine Glukosuria Diuresis osmotik Gangguan sirkulasi Suplai mkn ke jar perifer ↓ Peredaran pembuluh darah ke retina ↓ Retinopati Osmolaritas: = (2Na+k)++ = (2.859 Respon peradangan melambat Luka sembuh Terjadi ulkus DM Infeksi tidak Jaringan mengalami kerusakan Gg integritas jaringan 4 1 Poliuri (pada Tn.K BAK bisa mencapai 20x) Dehidrasi Polidipsi Syok Resiko defisit vol 2 cairan 6 Resiko penyebaran infeksi 66 .Keturunan. hipertensi Defisiensi insulin 3.67 = 302. P`athway Kasus Glukagon meningkat Hiperglikemia GD 140 mg/mmol Glukosa tidak dapat larut dan terserap ke dalam sel Sel mengalami starvasi BB ↓ Produksi energi metabolik me↓ Nutrisi kebutuhan Neuropati Sensorik Hilang rasa Resti 5 injuri (pada Tn.8 + 16.

Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan hiperglikemi. Resti injury berhubungan dengan kelemahan umum Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit B. Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan sekunder terhadap sirkulasi yang tidak adekuat 5. perubahan pada sirkulasi 2. Diagnosa Keperawatan 1. Kriteria Hasil : 1) Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi 2) Mendemostrasikan tehnik. Resiko deficit volume cairan berhubungan dengan adanya diuresis osmotik 3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat 4. 6. perubahan pada sirkulasi a. Tujuan : Tidak terjadi infeksi Tidak ada tanda-tanda terjadinya infeksi b. Intervensi Keperawatan dan Rasional 1. perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi 67 .4. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan hiperglikemi.

jaga kulit tetap kering. adanya pus pada luka. Intervensi 1) Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam. urine warna merah keruh atau berkabut Rasional : pasien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya lebih lebih mencetuskan keadaan ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nosokomial 2) Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan denga pasien termasuk pasien sendiri Rasional : silang (infeksi nsokomial 3) Lakukan perawatan luka (ganti balut tiap hari) dengan menjaga tehnik septik dan aseptik Rasional : untuk mencegah terjadinya mencegah timbulnya infeksi infeksi dan penyebaran infeksi lebih lanjut 4) Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh. sputum purulent. lumen kering dan tetap kencang (tidak berkerut) Rasional : sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan pasien pada resiko 68 . kemerahan.c. masase daerah tulang yang tertekan.

Resiko deficit volume cairan berhubungan dengan adanya diuresis osmotik a. b. Tujuan : Tidak terjadi kekurangan cairan Kriteria Hasil : Mendemostrasikan hidrasi adekuat yang dibutuhkan oleh tanda vital stabil.terjadinya kerusakan pada kulit / iritasi kulit dan infeksi 5) Bantu pasien untuk melakukan higiene oral Rasional : penyakit kulit / gusi 6) Kolaborasi a) Pemeriksaan kultur dan sensitivitas sesuai dengan menurunkan resiko terjadinya indikasi Rasional : mengidentifikasi untuk organisme sehingga dapat memilih / memberikan therapy antibiotik yang terbaik b) Berikan antibiotik : penanganan awal Rasional dapat membantu mencegah timbulnya sepsis 2. haluaran urine secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal c. Intervensi 69 .

turgor kulit dan membran mukosa Rasional : merupakan indicator dari tingkat dehidrasi. pengisian kapiler. kering mungkin sebagai cerminan dari dehidrasi 3)Kaji nadi perifer. catat Bj urine Rasional : memberikan perkiraan kebutuhan atau cairan pengganti. fungsi ginjal dan keefektifan dan terapi yang diberikan 5)Pertahankan untuk memberi cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan melalui oral sudah dapat diberikan Rasional : volume sirkulasi 6)Kolaborasi mempertahankan hidrasi / 70 . catat adanya perubahan Tekanan Darah ortostatik Rasional : hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia 2)Pantau suhu warna kulit atau kelembabnnya Rasional : demam dengan kulit kemerahan.1)Pantau tanda vital. atau volume sirkulasi yang adekuat 4)Pantau masukan dan pengeluaran.

Tujuan : Pemasukan nutrisi adekuat Kriteria Hasil : 1) Mencerna jumlah kalori atau nutrisi yang tepat 2) Menunjukkan tingkat energi biasanya 71 . b. seperti Hematokrit : mengkaji tingkat hidrasi dan sering kali meningkat akibat hemokonsentrasi yang terjadi setelah diuresis osmotik BUN / kreatinin : peningkatan nilai dapat mencerminkan kerusakan sel karena dehidrasi atau tanda akibat kegagalan ginjal Osmolalitas : meningkat dengan adanya hiperglikemia dan dehidrasi Natrium : menurun yang mencerminkan diuresis osmotik. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat a. meningkat mencerminkan kehilangan cairan / dehidrasi berat 3.a) indikasi Berikan therapy cairan sesuai dengan Normal salin atau ½ NS atau tanpa dekstrose Rasional : tipe dan jumlah cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan b) Pantau pemeriksaan laboratorium.

kulit lembab / dingin. pusing. lapar. muntahan makanan yang belum sempat dicerna Rasional : hiperglikemia dan gangguan mengkaji pemasukan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat menurunkan mobilitas / fungsi lambung 4) Tentukan program diit dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien Rasional : mengidentifikasi kekurangan dan penyimpanan dari kebutuhan therapeutik 72 . Intervensi 1) Observasi tanda-tanda hipoglikemia. catat adanya nyeri abdoment / perut kembung.3) Mendemostrasikan berat badan stabil atau penambahan kearah rentang yang diinginkan dengan nilai laboratorium normal c. seperti : perubahan tingkat kesadaran. mual. sempoyongan Rasional : karena metabolisme karbohidrat mulai terjadi (gula darah berkurang. derajat nadi cepat. peka rangsang. sakit kepala. sementara tetap diberikan insulin maka hipoglikemi dapat terjadi) 2) Timbang BB setiap hari atau sesuai dengan indikasi Rasional : makanan yang adekuat 3) Auskultasi bising usus. cemas.

aseton. seperti analisa ditempat tidur glukosa darah. PH dan HCO3 Rasional : gula darah akan menurun perlahan dengan penggantian cairan dan therapi insulin terkontrol c) Rasional : Berikan insulin secara teratur insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan pula dapat membantu memindahkan glukosa ke dalam sel 73 . memberikan informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi pasien 7) Kolaborasi a) Lakukan pemeriksaan gula darah dengan menggunakan “Finger stick” Rasional : terhadap GD lebih kuat b) Pantau pemeriksaan laboratorium.5) Indikasi makanan yang disukai / dikehendaki termasuk kebutuhan etnik Rasional : jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan dalam perencanaan makan 6) Libatkan keluarga pada perencanaan makan sesuai indikasi Rasional : meningkatkan rasa keterlibatan.

adanya kemerahan. ketidakmampuan untuk merasakan toleran. 1) Intervensi Inspeksi seluruh area kulit. kemerahan. gangguan pengaturan suhu 2) Catat adanya pembengkakan. adanya drainase pada luka serta bersihkan luka setiap hari Rasional : radang dan infeksi daerah ini cenderung terkena dan merupakan rute bagi mikroorganisme patologis 3) Libatkan masase dan lubrikasi pada kulit dengan losion / minyak. b. Tujuan : integritas jaringan kembali normal Kriteria Hasil : 1) Mengidentifikasi faktor resiko individual 2) Mengungkapkan pemahaman tentang kebutuhan tindakan 3) Berpartisipasi pada tingkat kemampuan untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut c. imobilisasi. Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan sekunder terhadap sirkulasi yang tidak adekuat a. lindungi sendi dengan menggunakan bantalan busa 74 . catat pengisian kapiler.4. pembengkakan Rasional : rusak karena kulit perubahan biasanya sirkulasi cenderung perifer.

Rasional : meningkatkan sirkulasi dan melindungi permukaan kulit mengurangi terjadinya ulserasi 4) Lakukan perubahan posisi sesering mungkin di tempat tidur maupun sewaktu tidur Rasional : meningkatkan sirkulasi dan melindungi kulit. Tujuan : tidak terjadi injury 75 . meningkatkan nutrisi sel atau oksigenasi sel dan untuk meningkatkan kesehatan jaringan 5. mengurangi terjadinya ulserasi 5) Bersihkan dan keringkan kulit khususnya daerah- daerah dengan kelembaban tinggi seperti parineum Rasional : meningkatkan sirkulasi pada kulit dan mengurangi tekanan pada daerah tulang yang menonjol 6) Jagalah alat tenun tetap kering dan bebas dari lipatan – lipatan dan kotoran Rasional : mengurangi / mencegah terjadinya iritasi pada kulit 7) Anjurkan pasien untuk terus meningkatkan nutrisi sel atau organisasi sel dan untuk meningkatkan kesehatan jaringan Rasional : menstrimulasi sirkulasi. Resti injury berhubungan dengan kelemahan umum a.

takikardia (140-200 x/mnt) Rasional : untuk mengetahui keadaan umum pasien yang dapat menentukan tindakan yang diberikan 2) diberi bantalan Rasional : untuk menentukan Pertahankan penghalang tempat tidur terpasang / kemungkinan adanya trauma 3) a) Kolaborasi Pantau kadar kalsium darah : pasien dengan kadar kalsium kurang dari 7. menurunkan stimulasi dari luar 6.5/100 ml secara umum membutuhkan terapi pengganti b) c) Berikan obat sesuai indikasi Kalsium (glukosa.b. 1) Intervensi Pantau tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu tubuh. laktat) : untuk memperbaiki kekurangan yang biasanya sementara d) Sedatif : meningkatkan istirahat. Tujuan : Pasien menyatakan pemahaman tentang penyakit 76 . Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit a. Kriteria Hasil : Mendemostrasikan tidak ada cedera dengan komplikasi minimal / terkontrol c.

1) Kriteria Hasil : Mengidentifikasi hubungan tanda / gejala dengan proses penyakit dan menghubungkan gejala dengan faktor penyebab 2) Dengan benar melakukan prosedur yang perlu dan menjelaskan rasional tindakan 3) Melakukan perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan c. 1) Intervensi Ciptakan lingkungan saling percaya dengan mendengarkan penuh perhatian dan selalu ada untuk pasien Rasional : menanggapi dan memperhatikan perlu diciptakan sebelum pasien bersedia mengambil bagian dalam proses belajar 2) Diskusikan topik-topik utama seperti apakah kaar glukosa normal ibu dan bagaimana hal tersebut dibandingkan kekurangan insulin dengan kadar gula darah yang tinggi Rasional : memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pertimbangan dalam memilih gaya hidup 3) Menganjurkan klien untuk rutin melakukan pemeriksaan gula darah dan instruksikan pasien untuk pemeriksaan keton urinenya jika glukosa darah lebih tinggi dari 250 mg/dl 77 .b.

Rasional : Melakukan pemeriksaan darah secara teratur dapat meningkatkan kontrol gula darah dengan lebih ketat (misal 60 – 150 mg/dl) 4) Diskusikan tentang rencana diet. pembedahan dan penyakit tertentu Rasional : informasi ini akan meningkatkan pengendalian terhadap DM dan dapat menurunkan berulangnya kejadian ketoasidosis 6) Buat jadwal latihan aktivitas yang teratur dan identifikasi hubungan dengan penggunaan insulin yang perlu menjadi perhatian Rasional : waktu latihan tidak boleh bersamaan waktunya kerja puncak insulin untuk mencegah percepatan ambilan insulin 78 . penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk melakukan makan di luar rumah Rasional : kontrol obat akan keadaan tentang pentingnya membantu pasien dalam merencanakan makan / mentaati program 5) Diskusikan faktor-faktor yang memegang peranan dalam kontrol DM seperti latihan stres.

pus keluar. pusing. luka tidak sembuh malah semakin melebar. lapar. serta terdapat rembesan pada balutan : klien mengatakan timbul luka sudah + 1.15 Melakukan luka O perawatan S hitam. diaforesis. letargi. dan perubahan mental) Rasional : dan pengobatan dapat meningkatkan deteksi lebih awal dan mencegah / mengurangi kejadiannya D. Implementasi Keperawatan Respon : : keadaan umum cukup. dan panas : terdapat luka di kaki kiri dengan diameter 5 cm dan kedalaman 3 cm.00 Mengobservasi tanda demam. terdapat pus. infeksi peradangan tanda. bengkak : pasien mengatakan bersedia balutnya : luka bersih. untuk diganti TTD No Tgl & Jam Tindakan keperawatan Dx 1 01-05-08 Mengobservasi keadaan S umum pasien 07.30 O adanya pus pada luka O sputum purulent 79 . sakit kepala. takikardia. tremor.7) Identifikasi gejala hipoglikemia (misal lemah.S dan seperti kemerahan.5 bulan. jaringan sekitar 08. kotor. balutan tampak kotor dan berbau 08. pucat. composmentis terdapat luka pada kaki kiri yang dibalut. peka rangsang.

S warna kulit.9 gr/dl Protein: 7. terdapat sedikit distensi abdoment. mual. terasa mual 2 01-05-08 10.50 Mengauskultasi bising S : klien hanya makan + 5-6 sendok makan : klien mengatakan mual : bising usus + 13 x/mnt. tidak ada muntah : : albumin Hb : : 2. mencatat adanya O nyeri di abdomen. O : insulin humolin 8 unit masuk secara SC : : TD : 150/100 mmHg N : 80 x/mnt S : 380C 13.10.00 10.1 gr/dl : 10.00 Memberikan injeksi IV S Ceftriaxon 2 gr O balutan bersih : : injeksi Ceftriaxon 2 gr masuk secara IV : klien mengatakan nafsu makan menurun. BB menurun dalam 2 bulan terakhir.45 Memantau kelembaban.30 Mengkaji status nutrisi S pasien O 10. muntah Monitor 11. turgor O RR : 21 x/mnt : : infus 700 cc 180cc Makan 200 cc IWL 245 Minum 1645 1500 cc 600 cc urine 80 . Hb) Memberikan 10.10 (humolin) 8 unit Memantau tanda vital insulin S O S O pemeriksaan S laboratorium (albumin.00 protein.60 gr % usus.

Memantau pemeriksaan S 11. jadi harus bolak-balik ke kamar mandi : pasien tampak kelelahan : : klien kooperatiof saat ditanya dan menceritakan keluhan yang dirasakan masase dengan minyak pada kulit sekitar kering.00 laborat (Ht.00 Merapikan dan kotoran Mengajarkan energi banyak alat tenun S agar bebas dari lipatan O 09. luka luka RL 20 tpm. > 4 dtk : : melakukan sekitar luka : : TT rapi.12. bengkak CRT 08.74 mg/dl Natrium : 137 mmol/L : : kulit kehitaman.00 aktivitas Menciptakan lingkungan S saling percaya dengan O mendengarkan keluhan pasien 81 .30 Menginspeksi area luka. S pengisian bengkak 09. O adanya kemerahan dan terdapat pus. O natrium) 4 08.00 Mengganti cairan infus S RL 20 tpm O BC : -145 : : infus terpasang : : Ht : 31. alat tenun cukup bersih : pasien mengatakan sering BAK. creatinin.00 Melakukan masase pada S kulit dan sendi O kapiler.2 % Creatinin : 0.00 pada S tidak pasien untuk menghemat dengan melakukan O 13.

00 lengkap Mengauskultasi specimen S untuk darah O bising S mengatakan usus. mengkaji adanya 82 .00 Mengobservasi luka Melakukan luka tanda. terasa kesemutan di seluruh tubuh. pus keluar.No Tgl & Jam Tindakan keperawatan Dx 02-05Mengobservasi keadaan S 2008 07.30 umum pasien Respon : pasien mengeluh luka di kakinya sudah basah / bau. lemas.15 perawatan S O : luka bersih. tampak luka saluran lemah. dan kencing panas TTD O : pasien tiduran. bengkak : pasien mengatakan bersedia untuk dilakukan perawatan luka tanda peradangan pada O 08. balutan composmentis. 10. basah.45 Mengambil darah vena pemeriksaan 10. basah 08. sesuai program (injeksi O metodrip 500 mg) 08. warna bersih : : injeksi ceftriaxon 2 gr masuk Metronidazol/drip mg masuk : pasien bersedia : specimen darah vena terambil + 5 ml : pasien mengatakan mual berkurang tidak muntah 500 jaringan balutan putih luka kemerahan. terdapat pus.00 Memberikan ceftriaxon 2 therapy S gr IV.S terdapat rembesan : : luka kotor.

15 Membantu makan pasien S O pada pasien air putih 13.30 Memberikan (humolin) 8 unit : GDS : 391 : pasien bersedia : injeksi insulin 8 unit masuk secara SC : : pasien menghabiskan 10.45 Memantau pemasukan S O dan pengeluaran 83 .distensi mual.00 Memonitor tanda-tanda S vital O makanan : : TD : 140/100 mmHg N : 98 x/mnt S : 370C 11.00 Merapikan alat tenun S BC : 1605 – 1745 -140 : IWL 245 cc 600 urine ½ hanya porsi mengatakan 11. tidak ada distensi : pasien bersedia untuk mengatakan dilakukan Membantu pemeriksaan S GDS O insulin S O pemeriksaan GDS 10.20 Memberikan minum S O RR : 19 x/mnt : pasien mengatakan haus : pasien minum air putih + 1500 cc : : infus 70 cc 180 cc Makan 200 cc Minum 1745 1605 cc BC : I – O 11.15 abdoment. tidak muntah. O : bising usus normal + 11 x/mnt. muntah 10.

00 O pada S pada S : alat tenun / seprai rapi.agar bebas dari lipatan O 11.20 O Menjelaskan / memberi S sedikit tentang gejalanya O pengertian DM dan mengatakan lukanya tidak sembuh-sembuh karena di rendam dalam air es : menjelaskan bahwa luka tidak sembuh-sembuh karena gula darah tinggi dan tidak bisa masuk ke dalam sel akibatnya perfusi jaringan tidak lancar 84 . tanpa lipatan dan bersih : pasien mengatakan akan mencoba untuk melakukan gerakan / alih baring : pasien kooperatif : klien mengatakan bersedia untuk istirahat karena lelah : pasien kooperatif : : pasien bantuan : pasien bahwa BAK dengan pasien untuk melakukan pasien untuk istirahat melakukan aktivitas O Membantu klien untuk S ke kamar mandi 13.30 kotoran Menganjurkan program latihan 11.50 Menganjurkan setelah 13.

15 Melakukan luka perawatan S mengatakan dilakukan masih kehitaman. bau.basah.S kering.00 Mengobservasi luka O tanda. pus masih keluar. mengatakan tanda peradangan pada kakinya yang sakit terasa mengatakan karena kulitnya kulit dan masase daerah 85 . belum mengering. TTD tangan dan kaki O : pasien luka masih basah.00 Melakukan yang tertekan perawatan S balutan kotor. 08.kulit sekitar juga 08. terdapat pus. melebar. : klien panas : luka bengkak : pasien bersedia O untuk perawatan luka : luka bersih.30 umum pasien Respon : pasien masih mengeluh bahwa lukanya masih basah. pus keluar. klien juga lemas. bengkak. O : klien terasa kering tampak lebih jaringan sudah putih dilakukan luka kemerahan. jaringan yang Nekrotomi.No Tgl & Jam Tindakan keperawatan Dx 03-05Mengobservasi keadaan S 2008 07. warna mati bersih : klien bersedia. mengatakan kesemutan tampak terasa pada lemah. 10.

00 Memantau pemasukan S : dan pengeluaran O : intake bising S warna putih kemerahan.00 Memonitor tanda-tanda Vital S :O : TD: 130/100 mmhg N : 92 x/mnt S : 37.8°C RR: 20 x/mnt 13.45 Mengambil specimen S tertekan : pasien bersedia O untuk mengatakan dilakukan dari pus ulkus DM pemeriksaan laboratorium : pus keluar saat dipencet dengan 10. berbau : pasien mengatakan mual berkurang tidak muntah : bising usus normal + 11 x/mnt. tidak muntah.nyaman. O pemeriksaan GDS 10.30 Memberikan (humolin) 8 unit : GDS : 345 gr/dL : pasien mengatakan bersedia : injeksi insulin 8 unit masuk secara SC 86 .15 Membantu pemeriksaan S GDS O insulin S O 11. tidak ada distensi : pasien bersedia untuk mengatakan dilakukan usus. tidak ada tandatanda luka pada daerah yang 08.00 Mengauskultasi distensi mual. muntah 10. mengkaji adanya abdoment.

20 Menganjurkan keluarga menemani kekamar selama untuk 13.infuse: makan: minum: Output Urine IWL BC = I – O 13. penyebab. tentang pengertian dari DM.245 Menimbang berat badan S : klien mengatakan bersedia untuk di timbang berat badan meningkat menjadi 48 kg untuk S : keluarga mengatakan akan dan berusaha membantu dan menjaga klien mengawasi klien saat beraktivitas mencegah S atau O : keluarga cukup kooperatif terjadinya cedera : klien mengatakan sudah paham mengenai penyakit yang dialami : klien mampu menjawab pertanyaan yang diajukan kesehatan yang dialami.15 pasien O : 13.30 Memberikan penyuluhan dialami tentang oleh tentang klien O masalah masalah kesehatan yang mandi pada 800 cc 200 cc 700 cc 1700 cc 1700 cc 245 cc 1945 cc = 1700 – 1945 = . tanda dan gejala 87 .

O : keadaan umum cukup.Kaji karakteristik luka terhadap infeksi . kulit sekitar kehitaman A P : : masalah teratasi sebagian pertahankan intervensi . lemas. pus keluar. metronidazol 500 mg/drip. luka sudah terbalut dengan balutan yang bersih. infus RL 20 tpm. therapy masih diberikan (injeksi ceftriaxon 2 gr. O : mukosa bibir agak kering. Evaluasi Keperawatan No No Dx 1 Tgl & jam 01-05-08 14. composmentis.tapi dalam sehari ini klien minum hanya 4 gelas saja karena klien takut bila nanti kencing terus.E. tampak kehausan. paracetamol 500 mg k/p) TD: 150/100 mmhg N: 89x/mnt RR:19x/mnt S : 37°C A : masalah teratasi sebagian 88 . aspilet 80 gr. BAK masih sering ± 10x dalam sehari ini. kulit kering. bengkak. humulin 8 U.00 Catatan perkembangan S : klien mengatakan sudah merasa cukup TTD nyaman karena lukanya sudah dibersihkan dan dibalut dengan balutan yang bersih.Rawat luka setiap hari 2 01-05-08 S : klien mengatakan masih sering terasa haus.Observasi selalu keadaan umum pasien .

00 S 89 . bersihkan luka setiap hari. tidak ada kemerahan pada daerah yang tertekan ( punggung. klien makan hanya habis 5-6 sendok 3 01-05-08 14. luka menembus sampe tendon. O : diameter luka 5 cm dengan kedalaman 2 cm. catat pengisian kapiler. ulkus DM grade IV. dan daerah lipatan kulit) A P : : masalah belum teratasi pertahankan intervensi inspeksi seluruh area kulit. adanya kemerahan. adanya drinase luka. kulit sekitar luka kehitaman.00 S O terasa mual makan dengan menggunakan diit DM 1700 kkal A P : : masalah belum teratasi pertahankan intervensi timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi tentukan program diit dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan klien : klien mengatakan luka dikakinya belum juga sembuh-sembuh. bengkak. lakukan masase 4 01-05-08 14.P : pertahankan intervensi pantau tanda-tanda vital berikan cairan 2500 ml/ hr pantau tanda-tanda adanya dehidrasi : : klien mengatakan makan masih sedikit. dan kering.

Pertahankan penghalang tempat tidur : klien mengatakan masih belum mengetahui tentang penyakit yang dialami : : : klien masih belum bisa menjawab pertanyaan yang diajukan masalah belum teratasi pertahankan intervensi Ulangi dan berikan pendidikan kesehatan mangenai DM 90 .00 O S lakukan perubahan posisi sesering mungkin : klien mengeluh pandangan masih kabur. A P 6 01-05-08 14. tapi klien mengatakan masih bisa berjalan tanpa bantuan dan tidak jatuh : tidak terjadi cedera.pada kulit dengan lotion/minyak 5 01-05-08 14. klien bisa berjalan tanpa bantuan. suhu tubuh menurun menjadi 37°C.terjadi retinopati sendiri diabetik.00 O A P S : : masalah teratasi sebagian pertahankan intervensi pantau selalu tanda-tanda vital serta adanya peningkatan suhu tubuh.

warna sedalam A P : : kehitaman. kesadaran composmentis. BAK ± 8x sehari ini. RR: 20x/mnt.00 O Catatan perkembangan S : klien mengatakan sudah merasa cukup karena umum lukanya pasien sudah cukup. S:37.tidak ada muntah 91 . masalah belum teratasi pertahankan intervensi pasien . balutan luka juga bersih.Evaluasi keperawatan No 1 No Dx 1 Tgl & jam 02-05-08 14. jari kelingking sudah rusak.00 O S : klien mengatakan minum cukup banyak habis ± 700 cc. luka semakin melebar + 7 cm. N: 87x/mnt. tidak ada muntah makan.00 O S : : Pantau tanda. bengkak. minum cukup. + 3 cm terdapat keluar lubang pus. turgor cukup.Rawat luka setiap hari dan observasi selalu Karakteristik luka terhadap infeksi 2 02-05-08 14. terdapat pus.tanda vital ( TD: 140/100 mmhg. berbau. : mukosa bibir agak kering.tanda vital Pertahankan hidrasi yang adekuat klien mengatakan makan habis ½ terjadi sedikit peningkatan nafsu Observasi selalu keadaan umum porsi. tanda. TTD nyaman : keadaan dibersihkan.5°C A P : masalah teratasi sebagian : pertahankan intervensi 3 02-05-08 14. kulit agak kering.

tidak ada luka decubitus 92 . luka masih dalam dan melebar. daerah sekitar luka masih kehitaman A P 5 02-05-08 14.00 S dihabiskan oleh klien : klien mengatakan semakin melebar.5°C.00 O A P S : : : : : : masalah belum teratasi Pertahankan intervensi Lakukan perawatan luka dan masase kulit setiap hari Anjurkan untuk selalu melakukan alih baring. suhu tubuh masalah teratasi sebagian pertahankan intervensi Monitor selalu tanda-tanda vital Anjurkan keluarga untuk menemani klien dan membantu kebutuhan klien kabur dan tidak ada luka jatuh 37.A P - : : masalah teratasi sebagian pertahankan intervensi Pantau selalu pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat 4 02-05-08 14. klien mengatakan pandangan masih tidak terjadi cedera. luka dikakinya belum juga sembuh-sembuh tapi malah O : kondisi luka belum ada perubahan.

A P : : masalah belum teratasi pertahankan intervensi yang dilakukan dengan mendelegasikan kepada perawat di ruang penyakit dalam C3 lt 1 Lakukan selalu perawatan luka dengan thnik septik Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah memegang pasien 2 03-05-08 S : Berikan antibiotik yang sesuai Klien mengatakan sudah mau minum cukup banyak meskipun kadang klien merasa takut bila nanti akan kencing terus.5° C. N: 88x/ mnt. composmentis. luka masih basah. tandatanda vital TD: 140/90 mmhg. berbau. BAK 9 x dengan jumlah cukup @ 93 .Evaluasi Keperawatan No No Dx 1 Tgl & jam 03-05-08 14. CRT ≥ 4 dtk. tapi klien mengeluh luka pada kakinya belum juga semuh-sembuh. O : keadaan umum cukup. jaringan sekitar luka tampak kehitaman. bengkak. minum ± 6 gelas. kaki masih bengkak. keluar pus. kedalaman 2 cm. S: 37. luka melebar ± 7 cm.00 Catatan perkembangan S : klien mengatakan sudah merasa cukup TTD nyaman karena lukanya sudah dibersihkan dan dibalut dengan balutan yang bersih. klien tampak lebih nyaman karena balutan luka sudah diganti dengan yang bersih. RR: 20 x/mnt. kering. terasa panas.

mukosa dan bibir cukup lembab. bising usus ± 11 x/mnt. makan habis 1 porsi menggunakan diit DM 1700 kkal. BAK 9x @ 150 cc. tidak ada muntah. berat badan meningkat 1 kg menjadi 48 kg.±150 cc. kulit agak kering. A P : : masalah teratasi sebagian Pertahankan intervensi yang sudah dilakukan dengan mendelegasikan kepada perawat di ruang C3 lt 1 Pantau selalu pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan oleh klien 4 03-05-08 14. O : klien sudah mau minum cukup banyak ± 6 gelas/ hari. tidak ada distensi abdoment. A P : : masalah teratasi sebagian pertahankan intervensi yang sudah dilakukan dengan mendelegasikan kepada perawat diruang penyakit dalam C3 lantai 1 3 03-05-08 S : Monitor tanda-tanda vital dan observasi adanya tanda-tanda dehidrasi Pertahankan hidrasi adekuat klien mengatakan makan sudah cukup banyak. tidak muntah dan tidak mual O : makan mengalami peningkatan. turgor cukup.00 S Monitor GDS Berikan therapy insulin sesuai advis : klien mengeluh luka dikakinya belum juga sembuh tapi terasa makin melebar 94 . GDS 345 gr/dL.

bengkak. sekitar kulit tampak masih jaringan kehitaman.00 S klien mengatakan penglihatannya masih kabur. S : 37. A P : : masalah teratasi sebagian pertahankan intervensi dengan mendelegasikan kepada perawat di ruang C3 Lt 1 Pantau selalu tanda-tanda vital dan kenaikan suhu tubuh klien Lakukan selalu pengawasan terhadap resiko terjadinya injury 6 03-05-08 S O A P : : : : klien mengatakan sudah sedikit paham klien mengatakan pemahaman tentang masalah teratasi sebagian pertahankan intervensi dengan mengenai penyakitnya penyakit DM dan penatalaksanaannya. tanda. CRT ≥ 4 dtk A P : : 1 : masalah belum teratasi Pertahankan intervensi dengan mendelegasikan kepada perawat diruang C3 lt 5 03-05-08 14.tanda vital( TD : 140/90 mmhg. klien juga mengatakan tidak terjadi luka akibat jatuh karena keluarga ada yang mendampingi O : tidak terjadi cedera. RR: 20x/mnt. mendelegasikan kepada perawat di ruang C3 Lt 1 95 . luka DM grade IV.O : luka melebar ± 7 cm.5°C. N : 88x/mnt.

- berikan selalu pengetahuan mengenai pengetahuan seputar penyakit DM BAB IV PEMBAHASAN 96 .

jamur. kebas pada tangan dan kaki. Adapun pembahasan yang dimaksud adalah sebagai berikut: A. terasa panas kemeranyas. bakteri. kotor. tidak terasa nyeri saat diobati di daerah luka. Diagnosa keperawatan pertama : Resiko penyebaran infeksi (Sepsis) berhubungan dengan penurunan system imun tubuh sekunder terhadap adanya ulkus DM grade IV yang ditandai dengan Data subyektif : klien mengatakan atau mengeluh terdapat luka pada kaki kiri yang tidak sembuh-sembuh. edema. eksudat yang bercampur darah. kering. luka kotor. panas. berbau. ulkus DM Grade IV dengan diameter 5 cm. kulit sekitar luka berwarna kehitaman. terdapat pus.. kedalaman 3 cm. kemerahan. Infeksi adalah: dimana suatu individu terkena agen oportunitis antara lain patogenis (Virus. pus keruh. berbau. dan panas didaerah luka. dalam asuhan keperawatan tersebut ditemukan adanya masalah yang harus diselesaikan. jernih 97 . (Carpenito.K di Ruang C3 Lt 1 Rumah Sakit Dokter Karyadi Semarang (RSDK).Dalam pembahasan kasus ini penulis akan membandingkan antara permasalahan yang ada dalam tinjauan teori dengan kenyataan yang dihadapi pada saat pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn. protozoa atau parasit lain) dari berbagai sumber baik dalam maupun dari luar tubuh. 2006) Tanda dan gejala infeksi adalah adanya keluhan nyeri. bengkak.10 rb/mmk. dan terdapat belatung. leukosit : 11. bengkak. tidak ada respon nyeri pada area luka. CRT ≥ 4 dtk. Data obyektif : terdapat luka pada kaki sebelah kiri.

suhu tubuh meningkat atau terjadi demam . Selain itu sering terjadi arteriosclerosis atau kekakuan dinding pembuluh darah yang membuat aliran darah mengalami perlambatan yang dapat menguntungkan bagi bakteri atau kuman. (Dongoes. (www.ataupun purulent. akibatnya jika terjadi infeksi sedikit saja biasanya akan sulit diobati. 98 . Medicastore. infeksi dapat memacu kerusakan metaboloisme dan kemudian gangguan metabolisme yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penyebaran infeksi ke seluruh tubuh yang disebut juga dengan sepsis. suhu lebih dari 36˚C . Kondisi ini diperparah dengan seringnya penderita diabetes mengalami komplikasi Neuropati atau mati rasa hingga tidak bisa merasakan apa-apa.000/mm³. leukosit lebih dari 12. peningkatan frekuensi jantung lebih dari 90x/ menit. Kandungan gula dalam darah (glukosa) yang tinggi akibat sedikitnya produksi hormon insulin merupakan kondisi yang menguntungkan bagi perkembangbiakan bakteri dan kuman. infeksi pada penderita diabetes harus cepat mendapatkan penanganan karena dapat menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi pada pasien diabetes. 2001). termasuk bila ada luka dibagian tubuhnya.com). akibatnya pasien atau penderita jadi kurang waspada. Penulis menempatkan resiko penyebaran infeksi sebagai diagnosa utama karena pada kasus Diabetes Mellitus adanya hiperglikemia dan asidemia menimbulkan gangguan pada imunitas humoral dan fungsi leukosit dan limfosit Polimorfonuklear. frekuensi pernafasan lebih dari 20x/ menit.

000/mm3. Syok Septik adalah suatu sindroma sepsis ditambah dengan adanya penurunan tekanan darah sistolik < 90 mmHg atau penurunan tekanan darah sistoliknya ≥ 40 mmHg dari tekanan darah sebelumnya yang disebabkan oleh tidak cukupnya perfusi jaringan dan adanya hipoksia jaringan yang disebabkan oleh sepsis. didalam tulang (Osteomielitis) dan di dalam sendi-sendi yang besar serta dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih kritis. infeksi bisa terjadi didalam selaput otak (Meningitis). gejala klinis yang timbul karena respon peradangan diseluruh tubuh). jumlah leukosit ≥ 12..Sepsis merupakan suatu keadaan dimana terdapat adanya Mikroorganisme pathogen atau toksin di dalam darah atau jaringan lain. Kencingmanis. didalam kantong jantung (Perikarditis). Sepsis merupakan kumpulan sindrom respon inflamasi sistemik (SRIS. denyut jantung ≥ 90 x/ mnt. (Dorland.com). yang disebabkan karena infeksi atau masuknya kuman kedalam tubuh yang apabila tidak segera ditangani dengan adekuat akan menyebabkan infeksi diseluruh tubuh (infeksi metastatik). didalam jantung (Endokarditis). bentuk kliniknya ditunjukkan dua atau lebih keadaan yaitu : Temperatur ≥ 38˚ C. keadaan diatas kadangkala disebut juga Sindroma Respon Inflamasi Sistemik (systemic Inflamatorry Response Syndrome = SIRS) yaitu suatu respon inflamasi sistemik yang bervariasi. 99 . yaitu Syok septic dan akan mengakibatkan kematian.000 /mm 3 atau ≤ 4. 1998: 979). (www. respirasi ≥ 20 x/mnt.

Enterokokus dan Streptokokus). penderita dengan latar belakang penyakit seperti keganasan. Sifat bakteri yang menunjang invasi kedalam host adalah perlekatan ke permukaan mukosa. dihasilkannya toksin protein dan enzim.gejala yaitu: demam atau bahkan hipotermia. luka pasca bedah yang terinfeksi dan focus lainnya yang dapat menyebabkan bakteri masuk ke dalam sirkulasi. penurunan produksi air kemih. gagal ginjal. diabetes Mellitus. Sepsis atau sindroma sepsis maupun syok septik dapat terjadi karena nidus infeksi seperti abses. Klebsiela Pneumonia. Peptostreptokokus dan Bacteroides lainnya. takikardi ( peningkatan denyut jantung). bivius. juga bakteri anaerob yang sering menyebabkan sepsis yaitu : Bakteroides fragilis. umur penderita (meningkat pada umur ≥ 40 tahun). penyakit serta berbagai factor pertahanan tubuh dan juga sifat toksik dan invasif bakteri. Enterobacter). resistensi terhadap lisis. ruam kulit. sirosis hati. menggigil. Mekanisme sepsis berkaitan dengan interaksi antara host dan agent. sumber bakteremia. maka akan timbul gejala. kulit teraba hangat. selulitis.Septik sampai syok septik secara umum telah diketahui penyababnya adalah bakteri gram positif (Escherichia Coli. mengigau atau ling lung.medicastore. Jika telah terjadi sepsis. Hal-hal yang menentukan dari pihak host adalah jenis dan drajat penyakit sebelumnya. resistensi terhadap fagositosis.com ). B. bakteri penyebab ini akan 10 . Bakteremia yang bersifat semntara jarang menyebabkan gejala karena tubuh biasanya dapat membasmi sejumlah kecil bakteri dengan segera. ( www. kokus gram positif (Stafilokokus. hiperventilasi.

Akibat dari tingginya LPS dan mediator dalam sirkulasi akan mengaktifkan secara sistemik endotel vaskuler.mengeluarkan toksin yang akan mempengaruhi komponen seluler tiap organ dan akhirnya menimbulkan aktivitas biologik tertentu.( www. (www. yang mengakibatkan gejala hipotensi. Dari hasil pengkajian didapatkan bahwa pasien mengeluh terasa panas kemeranyas pada daerah luka. Vasodilatasi umum dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah menyebabkan turunnya volume darah efektif sehingga terjadi syok hipovolemik. sel plasma dan neutrofil ) adalah Tumor Necrosis Factor (TNF) dan Interleukin 1 yang akan mengakibatkan cascade koagulasi dan aktifnya system komplemen. demam serta meningkatnya permeabilitas kapiler. Mediator endogen yang disekresi oleh sel fagosit ( makrofag. TNF ini merupakan salah satu mediator primer yang berperan dalam proses sepsis. dengan demikian demam sebagai reaksi sistemik fase akut akan menguntungkan hospes. neutropenia.medicastore. kadar LPS yang tinggi berhubungan dengan peningkatan mortalitas pada penderita syok. TNF ini merangsang terjadinya demam melalui kemampuannya merangsang sintesis prostaglandin hipotalamus. Endotoksin merupakan komponen lipopolisakarida (LPS). monosit. Peningkatan suhu tubuh ini akan mengurangi replikasi bakteri dan juga meningkatkan aktivasi sel T. LPS tidak bersifat toksik tetapi LPS merangsang dikeluarkannya mediatormediator radang yang bertanggung jawab pada manifestasi sepsis. mengeluh terdapat luka pada kaki kiri 10 .kencingmanis.helper dan sintesis antibody oleh sel B.com).com).

dan terasa panas serta timbul belatung. ( Smeltzer. Kortisol dan hormon pertumbuhan jika keadaan Hiperglikemia tersebut tidakdikendalikan secara memadai pada saat pembedahan . bengkak. bengkak dengan leukosit 11.K terdapat kesesuaian dengan teori hal ini karena respon tubuh terhadap infeksi menurun atau terjadi penurunan resistensi tubuh terhadap infeksi. glukagon. Ulkus Diabetes mellitus Grade IV (gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis) dengan diameter luka 5 cm. RR: 21x/mnt. Diuresis Osmotic yang diakibatkannya dapat menimbulkan kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan sehingga pasien beresiko untuk mengalami ketoasidosis dalam periode stress. Karena hal tersebut.yang lama tidak sembuh-sembuh. N: 80x/mnt . Munculnya diagnosa laporan infeksi sebagai akibat penurunan hospes yang menurun atau meningkatnya kelemahan terhadap lingkungan yang phatogen.10 rb/mmk. kotor. maka penulis menempatkan Resiko Penyebaran Infeksi sebagai Diagnosa utama. kedalaman 3 cm. Dari hasil vital sign yang dilakukan pada Tn. kulit kering. Dari hasil Vital Sign didapatkan hasil TD: 150/100 mmhg. norepinefrin. CRT (Capillary Refill Time) lebih dari 4 detik. S: 38˚C. berbau. 2001). kulit sekitar luka berwarna kehitaman. 10 . luka kotor. balutan tampak kotor. Selama mengalami stress fisiologi kadar glukosa darah cenderung baik sebagai akibat dari peningkatan hormon stress epinefrin.

sputum purulent. berikan antibiotik yang sesuai untuk menurunkan jumlah mikroorganisme. berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh. 10 . monitor kadar Gula Darah Sewaktu (GDS) dan kolaborasi dengan dokter dalam pemeriksaan kultur dan sensitivitas untuk mengidentifikasi organisme sehingga dapat memberikan therapy antibiotik yang terbaik. kemerahan. jaga kulit tetap kering. 2001).Untuk meminimalkan masuknya mikroorganisme dan peningkatan Resistensi terhadap infeksi maka penulis menetapkan rencana tindakan keperawatan dengan tujuan agar tidak terjadi infeksi dan tidak ada tandatanda infeksi dengan Kriteria Hasil yaitu mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan Resiko Infeksi serta mendemonstrasikan tehnik perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi. masase daerah daerah tulang yang tertekan. linen kering dan tetap kencang (tidak berkerut) untuk meminimalkan terjadinya iritasi pada kulit. adanya pus pada luka. Intervensi yang ditetapkan yaitu dengan mengobservasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam. tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah merawat luka atau mencegah timbulnya infeksi silang pada semua orang yang berhubungan dengan pasien termasuk pasien sendiri. (Dongoes. lakukan tehnik perawatan luka dengan menjaga tehnik septik dan aseptik untuk mencegah terjadinya infeksi dan penyebaran infeksi lebih lanjut. motivasi pasien untuk makan dan minum secara adekuat untuk menurunkan terjadinya infeksi dan mempercepat proses penyembuhan. urine warna keruh atau berkabut.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari klien menyatakan luka masih panas kemeranyas. perkembangan pasien tetap dipantau dari pemberian injeksi antibiotik ceftriaxon serta metronidazol per drip.5˚C.untuk data obyektif didapatkan bahwa luka semakin melebar. serta intervensi dalam menjaga linen tetap bersih dan kering masih belum bisa dilaksanakan dengan optimal ini dikarenakan jadwal penggantian linen untuk tempat tidur klien hanya dilaksanakan seminggu 2x dengan alasan menghemat linen serta klien adalah pasien kelas 3. ditambah klien kurang begitu memperhatikan kebersihan setiap kali kekamar mandi tidak membawa alas kaki dan luka dibungkus dengan plastik.Implementasi sudah dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat. tidak ada belatung yang keluar saat luka dibersihkan.masih terdapat bengkak serta kulit sekitar 10 . Tetapi untuk intervensi dalam memotivasi pasien untuk makan secara adekuat masih belum terlaksana ini mungkin dikarenakan pasien merasa selalu berfikir tentang keadaan dirinya yang tidak sembuh-sembuh ditambah rasa lemah dan cepat capek kerap dirasakan yang disebabkan karena glukosa darah tidak dapat masuk kedalam sel . masih terdapat pus. berbau dan luka masih basah. perawatan luka dan tetap memonitor Vital signt. tapi klien mengatakan merasa nyaman karena balutan lukanya diganti dan bersih. sehingga sel kurang bahan bakar untuk menghasilkan tenaga yang akhirnya diambil dari cadangan lemak dan otot. monitor GDS. jari klingking sudah rusak. perawatan kulit dan masase daerah luka juga sudah dilakukan. injeksi humulin. suhu tubuh 37.

klien sering merasa kehausan. klien minum dalam sehari ± 1.5 ltr.kulit agak kering. mata cekung. penghitungan Balance cairan per 7 jam (. Diagnosa keperawatan ke dua : Resiko Deficit Volume Cairan berhubungan dengan Diuresis Osmotik yang di tandai dengan Data subyektif: klien mengatakan sering merasa haus dan terasa panas dalam tubuhnya tetapi nafsu untuk minum menurun dan dibatasi oleh klien sendiri karena klien takut kencingnya semakin banyak dan sering. BAK dalam sehari mencapai 20x.145 cc).masih kering. mukosa dan bibir agak kering. 10 . tetapi planning yang direncanakan masih tetap dipertahankan karena mengingat bahwa luka Diabetes adalah luka yang dalam penyembuhannya membutuhkan waktu yang cukup lama dan penulis mendelegasikan kepada perawat ruangan di ruang penyakit dalam C3 Lt 1 untuk terus memberikan asuhan keperawatan dan melakukan planning yang telah di rencanakan. Dari hasil implementasi yang sudah dilaksanakan diatas bisa dikatakan belum berhasil. Data obyektif: klien tampak lemas. turgor kulit cukup. klien juga mengatakan BAK dalam sehari sampai 20x dengan jumlah yang cukup banyak @ ±200 cc dengan warna urine kuning jernih. B. berat badan menurun dalam 2 bulan terakhir dari 53 kg menjadi 47 kg (6 kg).

pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (Poliuria) dan akhirnya timbul rasa haus (Polidipsi) sehingga terjadi dehidrasi. 10 . turgor cukup. Penulis merumuskan diagnosa ini karena Tn.K dengan Diabetes Mellitus yaitu mengalami peningkatan glukosa darah. akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urine (glukosuria). ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar. keadaan ini dinamakan Diuresis Osmotik. penurunan haluaran urine berlebihan. membran mukosa cukup kering. kulit atau membran mukosa kering. Batasan karakteristik mayor (yang harus terdapat satu atau lebih) yaitu: ketidakcukupan asupan cairan oral. penurunan turgor kulit. Dari hasil pengkajian pasien mengatakan sering merasa haus. haus. ketika glukosa yang berlebihan di ekresi kedalam urine. 2006). 2001). urine memekat atau sering berkemih. (Carpenito. (Smeltzer.dan anoreksia. sedangkan batasan minor yang mungkin terdapat yaitu peningkatan natrium serum. interstitial.Kekurangan volume cairan merupakan suatu keadaan ketika seorang individu yang tidak menjalani puasa mengalami atau beresiko mengalami dehidrasi vaskuler. ekresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan. atau intravaskular. berat badan menurun ± 6 kg dalam 2 bulan terakhir. mual. sebagai akibat dari kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan. penurunan berat badan. keseimbangan negatif antara asupan dan haluaran. jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi.

kaji nadi perifer. pengisian kapiler. status hidrasi normal. catat adanya perubahan tekanan darah. pantau masukan dan pengeluaran catat berat jenis urine untuk memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti.K dijadikan prioritas kedua daripada diagnosa ke tiga. kadar elektrolit dalam tubuh dalam batas normal. pantau suhu. pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat 10 . warna kulit dan kelembabannya karena demam dengan kulit kemerahan.Diagnosa kekurangan volume cairan tubuh pada Tn. retinopati serta komplikasi jangka panjang yang lain. kering mungkin sebagai cerminan dari dehidrasi. fungsi ginjal dan keefektifan dan teraphy yang diberikan. untuk mencapai kriteria hasil yang maksimal penulis memilih rencana tindakan antaralain pantau tanda vital. neuropati. Tujuan yang diharapkan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh tercukupi. yaitu perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Selain itu dapat menurunkan tekanan darah (hipotensi) yang akan mempengaruhi penurunan perfusi jaringan dan bila keadaan ini terus berlangsung akan mempengaruhi suplai darah ke ginjal. turgor kulit dan membran mukosa yang merupakan indikator dari tingkat dehidrasi atau volume sirkulasi yang adekuat. karena kekurangan volume cairan tubuh akan mengakibatkan dehidrasi. otak serta jaringan perifer yang ada akhirnya dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang seperti nefropati diabetika. untuk pencapaian tujuan lebih jelas penulis menetapkan beberapa kriteria hasil yaitu tanda vital stabil.

Pada rencana tindak lanjut penulis masih merencanakan tindakan keperawatan sebagai berikut: yaitu pantau tanda-tanda vital secara kontinue. klien masih mengeluh sering haus.73 mmol/L.5˚C. N:88x/mnt. 10 . kolaborasi pemberian therapy cairan sesuai indikasi normal salin atau ringer laktat sesuai dengan advis dokter.ditoleransi jantung jika pemasukan cairan melalui oral sudah dapat diberikan. pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari jika tidak ada kontra indikasi. Calsium 2. RR:20x/mnt. turgor cukup membran mukosa lembab. tidak ada muntah.30 mmol/L. kreatinin (mencerminkan kerusakan sel karena dehidrasi atau tanda awitan kegagalan ginjal. S:37. kulit agak sedikit kering. kalium : 4.9 mmol/L. Chlorida: 107 mmol/L. pantau pemeriksaan laboratorium seperti hematokrit (mengkaji tingkat hidrasi dan sering meningkat akibat hemokonsentrasi yang terjadi setelah diuresis osmotik). (Dongoes. kadar elektrolit dalam batas normal dengan kadar natrium:137 mmol/L. 2001). osmolalitas (meningkat dengan adanya hiperglikemia dan dehidrasi). tidak ada tandatanda dehidrasi. Magnesium: 0.klien minum cukup. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan diagnosa II semua rencana tindakan dijalankan tanda-tanda vital TD:140/90 mmhg. meningkat mencerminkan kehilangan cairan atau dehidrasi berat). klien mengatakan BAK berkurang tidak sebanyak dulu sekarang klien BAK dalam sehari ± 9 x perhari. berat badan meningkat 1 kg menjadi 47 kg. natrium (menurun yang mencerminkan diuresis osmotik.

seharusnya data yang dicantumkan seperti nyeri otot. Hb 10. protein total 7. albumin 2. untuk perawatan lebih lanjut penulis mendelegasikan kepada perawat untuk tetap mempertahankan intervensi yang sudah dilakukan C. terasa mual bila makan. (Carpenito. Data obyektif : klien hanya menghabiskan ± 5-6 sendok makan / porsi yang telah diberikan oleh rumah sakit dengan menggunakan diit diabetes melitus sebanyak 1700 kkal. Diagnosa keperawatan ke tiga : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake makanan yang tidak adekuat skunder terhadap ketidakcukupan insulin ditandai dengan Data subyektif : klien mengatakan nafsu makan menurun drastis. berat badan menurun dalam 2 bulan terakhir dari 53 kg menjadi 47 kg (6 kg). 2006).Dari hasil implementasi yang sudah dilakukan selama kurang lebih 3 hari bisa dikatakan masalah teratasi sebagian.60 gr%.9 gr/dL. GDS : 295 mg/dL. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh merupakan suatu keadaan ketika individu yang tidak puasa mengalami atau berisiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan asupan yang tidak adekuat atau metabolisme nutrien yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik. lipatan kulit trisep.serta lingkar lengan ada 10 .1 gr/dL. Dalam pernyataan tentang data pendukung diatas masih kurang lengkap karena penulis masih kurang cermat.

penurunan albumin serum. kelemahan otot dan nyeri tekan. (Carpenito. Penulis merumuskan diagnosa ini karena Tn. 2006). nafas berbau aseton. 1996) yang menyatakan bahwa adanya penurunan nafsu makan disebabkan oleh glukagon yang meningkat sehingga terjadi proses pemecahan Gula baru selain dari karbohidrat (Glukoneogenesis) yang menyebabkan metabolisme meningkat kemudian terjadi proses pembentukan keton (ketogenesis). dan lingkar otot lengan tengah kurang dari 60% standart pengukuran.dalam data.K dengan Diabetes Mellitus terjadi penurunan nafsu makan yang dapat mengakibatkan penurunan intake makanan sehingga nutrisi tubuh kurang.dan terjadi penurunan albumin. hal ini sesuai dengan pernyataan yang menyatakan batasan karakteristik Mayor (harus terdapat. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Price. muntah. mual. lingkar lengan tengah. satu atau lebih) yaitu: individu yang tidak puasa melaporkan atau mengalami asupan makanan tidak adekuat kurang dari yang dianjurkan dengan atau tanpa penurunan berat badan atau kebutuhan metabolik aktual atau potensial dengan asupan yang lebih. peka rangsang mental dan kekacauan mental. Tanda gejala tersebut dapat menyebabkan nafsu makan menurun sehingga terjadi nutrisi kurang dari 11 . data minor yang mungkin terdapat yaitu: berat badan 10%-20% atau lebih dibawah berat badan ideal untuk tinggi dan kerangka tubuh. Perubahan nutrisi dalam tubuh dapat ditandai dengan penurunan berat badan. Terjadinya proses pembentukan keton didalam plasma akan menyebabkan PH serum menurun yang menyebabkan Asidosis metabolik dengan tanda dan gejala. lipatan kulit trisep.

K dijadikan prioritas ke tiga dibandingkan dengan diagnosa ke empat yaitu resiko gangguan integritas kulit.9 gr/dL). penurunan leukosit total serta terjadinya Hiperglikemia. (Roland. Berdasarkan data diatas maka penulis menetapkan perencanaan dengan tujuan agar diharapkan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien dapat mencapai atau mempertahankan Berat badan yang sesuai dan pengendalian kadar glukosa darah dengan Kriteria Hasil yang diharapkan yaitu: pencapaian Berat badan ideal. apabila hal ini tidak dapat diatasi dapat menyebabkan malnutrisi. muntah dan nafsu makan menurun sehingga asupan nutrisi pasien tidak adekuat. padahal nutrisi sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk sumber energi zat pembangun atau zat pengganti sel-sel yang rusak. Hal ini apabila tidak segera diatasi dapat mengakibatkan penurunan albumin. Hiperglikemia merupakan keadaan glukosa darah melebihi batas normal (normal 80-110 mg/dL). kehilangan massa otot.kebutuhan tubuh . 1996). maka dengan adanya nafsu makan yang menurun serta mual dan hiperglikemia akan menyebabkan malnutrisi. mencerna jumlah kalori 11 . nafsu makan menurun serta terjadi penurunan albumin (2. Menurut penulis rasa mual dan nafsu makan yang menurun terjadi akibat peningkatan glukagon yang merangsang peningkatan metabolisme lemak yang secara fisiologis dapat menurunkan PH serum dengan tanda dan gejala mual. edema. Dan diagnosa seterusnya karena pada saat dilakukan pengkajian pasien menyatakan mual. Diagnosa perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada Tn.

timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi.dan memberikan informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi klien. denyut nadi cepat. sementara tetap diberikan insulin maka hipoglikemi dapat terjadi). rasionalnya gula darah akan menurun perlahan dengan penggantian cairan dan therapy insulin terkontrol. PH dan HCO³. catat adanya nyeri abdoment atau perut kembung.atau nutrient yang tepat. cemas. kadar aseton akan menurun dan kadar asidosis dapat dikoreksi. pusing. kulit lembab/dingin. dengan pemberian dosis optimal. mendemonstrasikan berat badan stabil atau penambahan kearah rentang yang diinginkan dengan nilai laboratorium normal. lapar. identifikasi makanan yang disukai atau dikehendaki termasuk kebutuhan etnik. mual. muntahan makanan yang belum sempat dicerna. sakit kepala. auskultasi bising usus. Untuk mencapai kriteria hasil yang maksimal penulis memilih rencana tindakan keperawatan antaralain. menunjukkan tingkat energi biasanya. glukosa kemudian dapat masuk kedalam sel dan digunakan untuk sumber kalori.observasi tanda-tanda Hipoglikemia seperti. ketika hal ini terjadi. peka rangsang.kolaborasi pemeriksaan gula darah dengan menggunakan ”finger stick”. tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien. sempoyongan dengan rasional metabolisme karbohidrat mulai terjadi (gula darah berkurang. perubahan tingkat kesadaran.Berikan insulin secara teratur 11 . aseton.pantau pemeriksaan laboratorium seperti glukosa darah. libatkan keluarga klien pada perencanaan makan sesuai indikasi karena dapat meningkatkan rasa keterlibatan.

GDS 345 gr/dL. (Dongoes. untuk perawatan klien lebih lanjut penulis mendelegassikan kepada perawat di Ruang penyakit dalam C3 Lt 1 dengan tetap mempertahankan intervensi yang sudah dilakukan.kimia klinik. tetapi untuk intervensi dalam melibatkan keluarga klien pada perencanaan makan pada klien belum bisa dilaksanakan karena keluarga sibuk bekerja dan anaknya laki-laki kurang begitu memperhatikan klien.2001).dengan rasional bahwa insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan cepat pula dapat membantu memindahkan glukosa kedalam sel. protein total. TD 140/90 mmhg. tindakan perencanaan sudah dilakukan .5˚C. Evaluasi akhir setelah 3 hari dilakukan tindakan keperawatan didapatkan perkembangan pasien secara subyektif yaitu makan mengalami peningkatan habis ½ porsi dengan menggunakan diit DM 1700 kkal. tidak ada distensi abdoment. RR: 20x/mnt. S: 37. Dari implementasi yang sudah dilakukan dikatakan selama 3 hari bisa masalah teratasi sebagian. tidak ada muntah. Pada tahap pelaksanaan. karena mengingat keterbatasan waktu penulis dalam melakukan asuhan keperawatan diruang penyakit dalam C3 Lt 1. hematologi belum dilakukan pemeriksaan lagi karena belum ada advis dari dokter yang merawat.untuk pemeriksaan laboratorium albumin. bising usus ± 11 x permenit. 11 . N: 88x/mnt. Data obyektif terjadi kenaikan berat badan 1 kg menjadi 47 kg.

Diagnosa keperawatan ke empat : Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan sekunder terhadap adanya ulkus Diabetes mellitus Data subyektif : Klien mengatakan terdapat luka dikaki yang sudah lama tidak sembuh-sembuh malah semakin melebar dan dalam.0 rb/mmk.(Carpenito. (Carpenito. Kerusakan integritas jaringan merupakan suatu keadaan ketika seorang individu mengalami atau berisiko mengalami kerusakan integument. luka ulkus dengan diameter 5 cm dan kedalaman 3 cm.K dengan Diabetes Mellitus terjadi kerusakan pada jaringan akibat DM. 2006). bengkak. kekeringan membran mukosa. Penulis merumuskan diagnosa ini karena Tn. ulkus kornea. lesi (primer. GDS: 295 mg/dL. edema. eritema. integument. 2006). atau jaringan membran mukosa. terdapat pus. kornea. kulit sekitar luka tampak kehitaman. lesi oral). sekunder). Data obyektif : Terdapat luka pada kaki kiri Grade IV. masalah tersebut penulis jadikan prioritas ke empat karena pasien hanya mengalami gangguan integritas kulit yang akan teratasi bila masalah utama yaitu infeksi dapat di atasi tapi penulis tetap mengambil diagnosa ini yang diharapkan agar tidak 11 . trombosit: 418. dan batasan karakteristik minor yang mungkin terdapat yaitu. leukoplakia. lidah kotor.D. kering. ulkus dermal. atau jaringan membran mukosa atau invasi struktur tubuh (insisi. Batasan karakteristik mayor (Harus terdapat) yaitu gangguan kornea.

lipatan dan kotoran. Adapun perencanaan yang telah penulis buat adalah sebagai berikut.daerah dengan kelembaban tinggi. lindungi sendi dengan menggunakan bantalan busa untuk meningkatkan sirkulasi dan melindungi permukaan kulit serta mengurangi terjadinya ulserasi. pembengkakan dengan rasional bahwa kulit cenderung rusak karena perubahan sirkulasi perifer. 11 . catat pengisian kapiler.terjadi komplikasi yang lebih lanjut yang dapat memperburuk kesehatan klien. kemerahan. inspeksi seluruh area kulit . bersihkan dan keringkan kulit khususnya daerah. berpartisipasi pada tingkat kemampuan untuk mencegah kerusakan kulit lebih lanjut. anjurkan pasien untuk terus melakukan program latihan untuk menstimulasi sirkulasi. ketidakmampuan untuk merasakan tekanan. lakukan masase pada kulit dengan lotion atau minyak. adanya drinase pada luka serta bersihkan luka setiap hari. lakukan perubahan posisi sesering mungkin ditempat tidur ataupun sewaktu duduk. untuk mengatasi masalah ini penulis membuat perencanaan dengan tujuan agar integritas jaringan kembali normal dengan kriteria hasil yaitu untuk mengidentifikasi faktor resiko individual. Selanjutnya.meningkatkan nutrisi sel atau oksigenasi sel dan untuk meningkatkan kesehatan jaringan. mengungkapkan pemahaman tentang kebutuhan tindakan. jagalah alat tenun tetap kering dan bebas dari lipatan. catat adanya pembengkakan. gangguan pengaturan suhu. adanya kemerahan.immobilisasi.

serta masih terasa panas kemeranyas. tetapi penulis sedikit menemukan kesulitan dalam melakukan perawatan klien karena untuk intervensi dalam menjaga alat tenun tetap kering dan bersih dari kotoran dan lipatan. kulit sekitar masih kehitaman. kotor. bengkak. Jaringan sekitar luka masih belum sembuh.lipatan belum begitu terlaksana karena menuruti perintah managemen rumah sakit bahwa kelas 3 penggantian linen seminggu 2 x setiap hari senin dan kamis. padahal pasien dan keluarga kurang begitu kooperatif dalam menjaga kebersihan diri. tidak terjadi decubitus. 11 . Berdasarkan respon perkembangan yang ditujukan oleh pasien masalah keperawatan belum bisa teratasi yaitu klien mengatakan luka belum sembuh-sembuh malah semakin melebar. untuk melanjutkan dalam memberikan asuhan keperawatan lebih lanjut kepada klien penulis mendelegasikannya kepada perawat diruang penyakit dalam C3 lt 1 dengan tetap mempertahankan intervensi yang sudah dibuat. serta dihambat juga oleh keterbatasan waktu dalam proses keperawatan yaitu selama 3 hari.tapi tidak ada penyebaran kerusakan integritas ke bagian jaringan yang lain. jari klingking kaki sudah mengalami kerusakan.Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan penulis telah melakukan perencanaan yang telah dibuat dengan didukung adanya peran aktif dari pasien sendiri dalam mengikuti proses perawatan dan keinginan untuk segera sembuh dari penyakitnya.

2006). pertahankan penghalang tempat tidur terpasang atau diberi bantalan dengan rasional untuk menurunkan kemungkinan adanya trauma. Diagnosa keperawatan ke lima : Resiko tinggi injury berhubungan dengan kelemahan umum yang ditandai dengan Data subyektif : Klien mengatakan dan mengeluh pusing serta sakit pada kepalanya. adapun perencanaan yang telah penulis buat adalah pantau tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu tubuh. tekanan darah (TD) : 150/100 mmhg. terdapat luka pada kaki kiri. Selanjutnya untuk mengatasi masalah ini penulis membuat perencanaan dengan tujuan tidak terjadi injury dalam jangka waktu 3x24 jam dengan kriteria hasil bahwa individu menyatakan tidak ada cedera dengan komplikasi minimal atau terkontrol. Resiko injury atau jatuh adalah keadaan ketika seorang individu berisiko mendapat bahaya karena deficit perseptual atau fisiologis. klien sudah lanjut usia. Berdasarkan data diatas penulis merumuskan diagnosa ini karena pada klien Tn.9 gr/dL. Data obyektif : Klien tampak kelelahan dan lemah.E. sering merasa kesemutan pada kaki dan tangan. albumin 2.60 gr%. kurangnya keadaan tentang bahaya atau usia lanjut. pandangan kabur.( Carpenito.K berisiko terjadinya injury. lakukan kolaborasi dengan pemantauan 11 . Hb: 10. sering mengantuk. takikardi (140-200x/ mnt). penglihatan kabur (retinopati Diabetik). instruksikan individu untuk menggunakan sepatu atau sandal yang pas dan mempunyai sol anti-slip.

Dalam pelaksanaan penulis telah melakukan perencanaan yang telah dibuat dengan didukung adanya peran aktif dari pasien dalam mengikuti proses perawatan. setiap malam klien juga sering tidur sendiri tanpa keluarga ada yang menemani.N:88 x/mnt. dan dihambat juga karena keterbatasan waktu penulis dalam melakukan asuhan keperawatan.kadar kalsium darah dengan rasional pasien dengan kadar kalsium kurang dari 7. tidak ada luka pada tubuh. kadar kalsium 2. RR:20 x/mnt.5˚C.30 mmol/L. F. S:37. Berdasarkan respon perkembangan yang ditujukan kepada pasien masalah keperawatan dapat teratasi sebagian dengan kriteria hasil pasien menyatakan tidak terjadi cedera meskipun tanpa ditemani oleh keluarganya. Diagnosa keperawatan ke enam : Kurang pengetahuan tentang pelaksanaan diit Diabetes Mellitus berhubungan dengan kurangnya pemahaman terhadap penyakit Diabetes Mellitus Kurang pengetahuan adalah suatu kondisi dimana individu atau kelompok mengalami kekurangan pengetahuan kognitif atau keterampilan 11 . tidak terjadi hipoglikemia.5/100 ml secara umum membutuhkan teraphy pengganti.tanda-tanda vital TD: 140/90 mmhg. tetapi penulis juga menemukan hambatan dalam melakukan perencanaan yaitu keluarga klien kurang bisa menjaga klien selama sakit hal ini terbukti bahwa setiap kali klien ke kamar mandi klien melakukannya sendiri tanpa diantar oleh keluarga.

serta tujuan dari diit DM. Diagnosa ini penulis rumuskan karena pada pasien Tn. Berikan penjelasan tentang penyakit DM.pasien mampu mengerti tentang diit DM. hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman pasien tentang penyakit DM dan penatalaksanaan Diit DM. Adapun perencanaan yang telah penulis buat adalah kaji tingkat pengetahuan pasien tentang penyakit DM dan diit DM. penyebab.tahu makanan pantangan. 2006). tanda dan gejala serta penatalaksanaan diit DM untuk memberikan pengetahuan atau 11 . sehingga penulis penulis mengangkat masalah tersebut menjadi masalah keperawatan kurang pengetahuan. klien mempu melakukan perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan.psikomotor mengenai suatu keadaan dan rencana tindakan pengobatan (Carpenito.K penulis menemukan data-data yang mendukung faktor etiologi dalam hal ini yaitu kurangnya pemahaman terhadap penyakit DM dan Diit DM yang harus dijalani. pasien dapat mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala dengan proses penyakit dan menghubungkan gejala dengan faktor penyebab. Selanjutnya untuk mengatasi masalah ini penulis membuat perencanaan dengan tujuan agar pasien memahami tentang penyakit dan penatalaksanaan diit pada Diabetes Mellitus dalam jangka waktu 1x24 jam dengan kriteria hasil sebagai berikut. Masalah tersebut penulis jadikan Prioritas ke enam karena pasien hanya mengalami kurang pengetahuan yang disebabkan karena kurangnya informasi dan merupakan masalah yang tidak begitu mengancam kehidupan pasien.

tanda gejala serta perawatannya. tremor. hal ini karena disebabkan keterbatasan waktu dalam proses keperawatan yaitu hanya selama 1 hari dan keluarga klien yang kurang begitu kooperatif dalam mendukung program pengobatan. stress.dan yang tidak kalah pentingnya libatkan keluarga dalam pengaturan diit DM. peka rangsang. 2001). letargi. Dalam pelaksanaan penulis kurang maksimal dalam melakukan perencanaan yang telah penulis buat.informasi pada pasien. pembedahan dan penyakit tertentu dengan rasional akan . Diskusikan faktor-faktor yang memegang peranan dalam kontrol DM seperti latihan. menganjurkan klien untuk rutin melakukan pemeriksaan gula darah dan instruksikan pasien untuk pemeriksaan keton urine jika glukosa darah lebih tinggi dari 250 mg/dL. penyebab. diskusikan dengan pasien tentang diit DM agar pasien sadar tentang pentingnya mengontrol diit akan membantu pasien dalam merencanakan makan dan minum sesuai dengan program. penyebab. Perencanaan yang berhasil penulis lakukan adalah mengkaji pengetahuan klien tentang DM dan penatalaksanaannya yang dibuktikan pasien tidak tahu saat ditanya pengertian. Buat jadwal latihan atau aktivitas yang teratur dan identifikasi hubungan dengan penggunaan insulin yang perlu mendapatkan perhatian.dan perubahan mental.meningkatkan pengendalian terhadap DM dan dapat menurunkan berulangnya kejadian Ketoasidosis. memberikan penyuluhan kesehatan tentang penyakit diabetes. pusing. lemah. diaforesis. (Dongoes. lapar. sakit kepala. pucat. takikardi. tanda dan gejala serta penatalaksanaan diit DM dalam waktu 45 menit 12 . Identifikasi gejala Hipoglikemia (misal.

penulis juga belum membuat jadwal latihan atau aktivitas yang teratur pada pasien yang disebabkan karena keterbatasan waktu dan pasien kurang begitu kooperatif. 12 . Berdasarkan respon perkembangan yang ditujukan kepada klien. penyebab. diit DM. tanda dan gejala. masalah keperawatan dapat teratasi dengan kriteria hasil yaitu pasien menyatakan sudah sedikit mengerti tentang penyakit DM. serta penatalaksanaan diit DM .yang belum sempat penulis lakukan adalah melibatkan keluarga dalam mendukung program pengobatan pasien. pasien mampu menjawab setelah diberikan pertanyaan mengenai penyakit DM.dengan hasil yaitu pasien menyatakan sudah mengerti tentang penyakit DM. tanda dan gejalanya. serta penatalaksanaan diit DM. karena pada saat dilakukan penyuluhan keluarga belum ada yang datang dengan alasan masih bekerja. oleh sebab itu penulis tetap mempertahankan intervensi yang sudah dilakukan dengan tetap memberikan informasi lainnya tapi masih tentang penyakit DM. penyebab.

sering merasa haus. a. Data fokus yang ditemukan pada Tn. berat badan menurun + 6 kg dalam 2 bulan terakhir. terdapat pus. nafsu makan menurun. K mengenai sistem endokrin dengan diabetes mellitus type II (NIDDM) yang merupakan hasil pengamatan langsung pada klien yang dirawat di ruang penyakit dalam C 3 lantai 1 Rumah Sakit Dr. bengkak. berbau. sering mengantuk dan terasa kesemutan pada tangan dan kaki. buang air kecil (BAK) dalam sehari bisa sampai 20 x. maka dalam bab ini penulis akan menyimpulkan hal-hal yang telah diuraikan pada babbab sebelum. Kariadi Semarang dari tanggal 1 Mei – 3 Mei 2008. tanda dan gejala serta penatalaksanaan pada diit DM. disamping itu dalam bab ini penulis juga memberikan saran yang diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan guna meningkatkan asuhan keperawatan yang diberikan pada klien. penglihatan kabur. 12 . penyebab. kotor.BAB V PENUTUP Setelah menguraikan asuhan keperawatan pada Tn. sering pusing. sering merasa lelah. mual. panas. A. klien juga mengatakan tidak tahu tentang penyakit DM. Kesimpulan 1. K adalah sbb : Data subyektif Terdapat luka pada kaki kiri yang tidak sembuh-sembuh.

Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan hiperglikemi dan perubahan pada sirkulasi. klien banyak bertanya / meminta informasi tentang penyakit DM. 2. protein total 7. trombosit 418.b. 12 . GDS 295 mg/dl. hb : 10 – 60 gr/dl. e. Resti injury berhubungan dengan kelemahan umum. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. BB menurun. kedalaman. RR = 21 x/mnt. TD : 150/100 mmHg. ulkus DM grade IV dengan diameter 5 cm. f. b. mata cekung. Berdasarkan data fokus diatas. balance cairan -145. N = 80 x/mnt. pada fokus Tn. klien hanya menghabiskan + 5-6 sendok makan diit DM 1700 kkal. kering. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan sekunder terhadap sirkulasi yang tidak adekuat.0 rb/mmk. S = 38 0C. Resiko deficit volume cairan berhubungan dengan adanya diuresis osmotik c. BAK dalam sehari + 20 x. K muncul beberapa masalah keperawatan. kering CRT ≥ 4 dtk.9 gr/dl. d.1 gr/dl. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit. Data obyektif Terdapat luka pada kaki kiri. yaitu : a. turgor kulit cukup. bengkak. albumin 2.

melakukan perawatan kulit dan masase daerah yang tertekan. Untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada klien dengan diabetes mellitus penulis atasi dengan melakukan beberapa tindakan yaitu dalam mencegah terjadinya penyebaran infeksi dengan melakukan tindakan perawatan luka setiap hari secara septik untuk mencegah terjadinya penyebaran infeksi lebih lanjut. penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk melakukan makan dirumah. resiko tinggi injury dengan memantau tanda-tanda vital serta mempertahankan penghalang tempat tidur untuk meminimalkan kemungkinan adanya trauma dan yang terakhir adalah masalah kurang pengetahuan mengenai DM dan penatalaksanaan diit dilakukan dengan cara : pemeriksaan gula darah secara rutin. juga melakukan kolaborasi dengan pemberian antibiotik. masalah gangguan integritas kulit dilakukan dengan melakukan masase pada kulit dengan losio/minyak. untuk mencegah resiko defivicit volume cairan yaitu dengan mempertahankan pemberian cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung untuk mempertahankan hidrasi atau volume sirkulasi yang adekuat. melakukan perubahan posisi sesering mungkin untuk meningkatkan sirkulasi dan melindungi kulit.3. serta mengurangi terjadinya ulserasi. bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan oleh pasien dengan tujuan untuk mengidentifikasi kekurangan dan penyimpanan dari kebutuhan terapeutik. 12 . nutrisi kurang dari kebutuhan dilakukan dengan menentukan program diit dan pola makan pasien. mendiskusikan tentang rencana diet.

K dengan diabetes mellitus yaitu 1 masalah belum berhasil diatasi yaitu resiko penyebaran infeksi dan 4 masalah sudah teratasi sebagian. 2 Dalam mengatasi permasalahan yang muncul pada klien dengan diabetes mellitus diharapkan perawat mengacu pada rencana keperawatan yang telah dirumuskan sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan yang bermutu dan komprehensif serta perlu melibatkan keluarga. K diharapkan dapat mengkaji lebih detail mengenai permasalahan permasalahan yang muncul sehingga dapat ditegakkan diagnosa keperawatan yang akurat yang menunjukkan data fokus sehingga asuhan keperawatan dapat dilakukan secara optimal. maka saran yang bias penulis berikan pada pembaca khususnya perawat dalam merawat klien dengan diabetes mellitus adalah : 1 Untuk mengetahui permasalahan pada Tn. K dengan diebetes mellitus diruang penyakit dalam C3 lantai 1 RSUP Dr. B. 3 Untuk mendapatkan evaluasi secara optimal. klien dan tim kesehatan lain untuk melaksanakan rencana keperawatan.4. Saran Berdasarkan pengalaman yang penulis jumpai selama memberikan asuhan keperawatan pada Tn. Kariadi Semarang. Evaluasi yang dapat penulis ambil dari keenam masalah yang muncul pada Tn. sebaiknya perawat harus mampu mendokumentasikan setiap tindakan keperawatan yang telah 12 .

12 . juga respon perkembangan klien secara menyeluruh dan berkesinambungan.dilaksanakan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->