PAJAK PENGHASILAN

Oleh : Nama : Ni Nyoman Triastuti NIM : 1206325009

PROGRAM PPAK FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS UDAYANA 2013

PAJAK PENGHASILAN Pajak penghasilan adalah pajak yang dibebankan pada penghasilan perorangan, perusahaan atau badan hukum lainnya. Pajak penghasilan bisa diberlakukan progresif, proporsional, atau regresif. SUBYEK DAN OBJEK PAJAK DAN PENGECUALIANNYA 1. Subjek Pajak Pengertian Subjek Pajak meliputi orang pribadi, warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, badan, dan bentuk usaha tetap. Yang menjadi Subjek Pajak adalah : 1. Orang Pribadi dan warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan a. Orang pribadi; Orang pribadi sebagai Subjek Pajak dapat bertempat tinggal atau berada di Indonesia ataupun di luar Indonesia. b. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak; Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan merupakan Subjek Pajak pengganti, menggantikan mereka yang berhak yaitu ahli waris. Penunjukan warisan yang belum terbagi sebagai Subjek Pajak pengganti dimaksudkan agar pengenaan pajak atas penghasilan yang berasal dari warisan tersebut tetap dapat dilaksanakan. 2. Badan; Sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan, pengertian Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi yang sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap dan bentuk badan lainnya termasuk reksadana. Dalam Undang-undang ini (lihat huruf c berikut), bentuk usaha tetap ditentukan sebagai Subjek Pajak tersendiri, terpisah dari badan. Oleh karena itu, walaupun perlakuan perpajakannya dipersamakan dengan Subjek Pajak badan, untuk

karena kewajiban pajaknya dipenuhi melalui pemotongan pajak yang bersifat final.pengenaan Pajak Penghasilan. dan 4) pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional negara. b. Wajib Pajak dalam negeri wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan sebagai sarana untuk menetapkan pajak yang terutang dalam suatu tahun pajak. . 3. persatuan. c. Perbedaan yang penting antara Wajib Pajak dalam negeri dan Wajib Pajak luar negeri terletak dalam pemenuhan kewajiban pajaknya. perhimpunan. Dalam pengertian perkumpulan termasuk pula asosiasi. antara lain : a. atau ikatan dari pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama. 2) dibiayai dengan dana yang bersumber dari APBN atau APBD. perusahaan reksadana baik yang berbentuk perseroan terbatas maupun bentuk lainnya termasuk dalam pengertian badan. sedangkan Wajib Pajak luar negeri tidak wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan. Sebagai Subjek Pajak. Unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria berikut tidak termasuk sebagai Subjek Pajak. sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenakan pajak berdasarkan penghasilan bruto dengan tarif pajak sepadan. 3) penerimaan lembaga tersebut dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat atau Daerah. Subjek Pajak terdiri dari Subjek Pajak dalam negeri dan Subjek Pajak luar negeri. Wajib Pajak dalam negeri dikenakan pajak berdasarkan penghasilan neto dengan tarif umum. bentuk usaha tetap mempunyai eksistensinya sendiri dan tidak termasuk dalam pengertian badan. Wajib Pajak dalam negeri dikenakan pajak atas penghasilan baik yang diterima atau diperoleh dari Indonesia dan dari luar Indonesia. yaitu : 1) dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bentuk Usaha Tetap. sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenakan pajak hanya atas penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan di Indonesia.

. Pada prinsipnya orang pribadi yang menjadi Subjek Pajak dalam negeri adalah orang pribadi yang bertempat tinggal atau berada di Indonesia. tidak dianggap sebagai Subjek Pajak pengganti karena pengenaan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi dimaksud melekat pada objeknya. Apakah seseorang mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia ditimbang menurut keadaan. tetapi ditentukan oleh jumlah hari orang tersebut berada di Indonesia dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak kedatangannya di Indonesia. Adapun untuk pelaksanaan pemenuhan kewajiban perpajakannya. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. Yang dimaksud dengan Subjek Pajak luar negeri adalah : a. Termasuk dalam pengertian orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia adalah mereka yang mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia. c.Yang dimaksud dengan Subjek Pajak dalam negeri adalah : a. warisan tersebut menggantikan kewajiban ahli waris yang berhak. menggantikan yang berhak. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan. Warisan yang belum terbagi yang ditinggalkan oleh orang pribadi sebagai Subjek Pajak luar negeri yang tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia. Warisan yang belum terbagi yang ditinggalkan oleh orang pribadi Subjek Pajak dalam negeri dianggap sebagai Subjek Pajak dalam negeri dalam pengertian Undang-undang ini mengikuti status pewaris. atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia. b. maka kewajiban perpajakannya beralih kepada ahli waris. Apabila warisan tersebut telah dibagi. Keberadaan orang pribadi di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari tidaklah harus berturut-turut.

Sesuai dengan kelaziman internasional. KMK- . dikecualikan sebagai Subjek Pajak di tempat mereka mewakili negaranya. internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. Badan perwakilan negara asing. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama -sama mereka.03/2001. Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik. Organisasi-organisasi 574/KMK. b.03/2003. dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara asing. 2. b. c.04/2000): 1) Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut. badan perwakilan negara asing beserta pejabatpejabat perwakilan diplomatik. Yang Tidak Termasuk Subjek Pajak Tidak termasuk Subjek Pajak adalah : a.dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia. konsulat dan pejabat-pejabat lainnya. maka ia termasuk Subjek Pajak yang dapat dikenakan pajak atas penghasilan lain tersebut. dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia. Dengan demikian apabila pejabat perwakilan suatu negara asing memperoleh penghasilan lain di Indonesia di luar jabatan atau pekerjaannya tersebut. dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar jabatan atau pekerjaannya tersebut serta negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik. dengan syarat (KMK-69/KMK. Pengecualian sebagai Subjek Pajak bagi pejabat-pejabat tersebut tidak berlaku apabila mereka memperoleh penghasilan lain di luar jabatannya atau mereka adalah Warga Negara Indonesia. KMK-230/KMK.

honorarium. baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. 2) keuntungan yang diperoleh perseroan. dan penghargaan (PP-132/2000). d.2) tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain pemberian pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota. 3) keuntungan karena likuidasi. pemecahan. peleburan. c. kecuali ditentukan lain dalam Undangundang ini. c.03/2003. bonus. uang pensiun. laba usaha. kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat. . komisi. penggabungan.03/2001. atau anggota. gratifikasi. KMK-230/KMK. atau imbalan dalam bentuk lainnya.04/2000). b. yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan. persekutuan dan badan lainnya karena pengalihan harta kepada pemegang saham. pemekaran. penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh termasuk gaji. upah. keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk : 1) keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan. bantuan atau sumbangan. 4) keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah. dengan nama dan dalam bentuk apapun. dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal. 3. termasuk: a. Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia (KMK-69/KMK. dan badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. persekutuan. sekutu. hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan. KMK-574/KMK. tunjangan. atau pengambilalihan usaha. Objek Pajak Yang menjadi Objek Pajak adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak.

sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha. m. termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis. l. penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya. 2) Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat. premi asuransi. g. diskonto. Yang Tidak Termasuk Objek Pajak Yang Tidak termasuk sebagai Objek Pajak adalah : a. . Warisan. dan imbalan karena jaminan pengembalian utang. kepemilikan. tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak. kepemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. j. selisih lebih karena penilaian kembali aktiva. atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan.sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha. dan pembagian sisa hasil usaha koperasi. h. e. k. dividen. PP-29/1996). f. kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (PP-130/2000). penerimaan atau perolehan pembayaran berkala. pekerjaan. keuntungan karena pembebasan utang. iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas. royalti. 1) Bantuan sumbangan. bunga termasuk premium. b. i. p. n. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan pengguna an harta (PPHTB: PP-5/2002. dengan nama dan dalam bentuk apapun. o. termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah dan para penerima zakat yang berhak. keuntungan karena selisih kurs mata uang asing. pekerjaan. 4. dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham. h. asuransi dwiguna. 322/PJ. dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat : 1) Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan. perkumpulan. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal. baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai.312/2004). asuransi kecelakaan. dan asuransi Pengertian Tempat Kerja: S- . j. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana dimaksud pada huruf g. dan 2) Bagi perseroan terbatas. asuransi jiwa. persekutuan. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. g. atau Badan Usaha Milik Daerah./2001. e. kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor dan harus mempunyai usaha aktif di luar kepemilikan saham tersebut.c. Bunga obligasi yang diterima atau diperoleh perusahaan reksadana selama 5 (lima) tahun pertama sejak pendirian perusahaan atau pemberian ijin usaha. f. k. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah (Makan Minum di Tempat kerja: KEP-213/PJ. dan kongsi. Badan Usaha Milik Negara. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia. dengan syarat badan pasangan usaha tersebut : dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan. i. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri. Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah yang menerima dividen. Pembayaran bea siswa. firma. d. dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. koperasi.

c. d. atau yang menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. pabrik. Pengertian BUT Suatu bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat usaha (place of business) yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan gedung termasuk juga mesin.mesin dan peralatan. kantor perwakilan. Tempat usaha tersebut bersifat permanen dan digunakan untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dari orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia tidak dapat dianggap mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia apabila orang pribadi atau badan dalam menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia menggunakan agen. Pengertian bentuk usaha tetap mencakup pula orang pribadi atau badan selaku agen yang kedudukannya tidak bebas yang bertindak untuk dan atas nama orang pribadi atau badan yang tidak bertempat tinggal atau tidak bertempat kedudukan di Indonesia. asalkan agen atau perantara tersebut dalam kenyataannya bertindak sepenuhnya dalam rangka menjalankan perusahaannya sendiri. . e. tempat kedudukan manajemen. gedung kantor.1) Merupakan perusahaan kecil. cabang perusahaan. b. atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertemp at kedudukan di Indonesia. untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia. Yang dimaksud dengan bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. dan 2) Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia. broker atau perantara yang mempunyai kedudukan bebas. yang dapat berupa : a. menengah. BENTUK USAHA TETAP 1.

sepanjang terdapat hubungan efektif antara bentuk usaha tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan dimaksud. h. instalasi. bengkel. dikenakan pajak di Indonesia melalui bentuk usaha tetap tersebut. i. penghasilan sebagaimana tersebut dalam Pasal 26 yang diterima atau diperoleh kantor pusat. pertambangan dan penggalian sumber alam. l. pemberian jasa dalam bentuk apapun ole h pegawai atau oleh orang lain. Penghitungan Pajak Terhutang BUT Contoh cara perhitungan Pajak terhutang 1. 2. proyek konstruksi. penjualan barang. k. atau kehutanan. atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap di Indonesia. perikanan. Tarif PPh Pasal 17 ayat (1) huruf b . wilayah kerja pengeboran yang digunakan untuk eksplorasi pertambangan. peternakan. c. penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan.f. perkebunan. orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas. j. Yang menjadi Objek Pajak bentuk usaha tetap adalah : a. 3. pertanian. Objek Pajak Bentuk Usaha Tetap Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia. agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia. atau proyek perakitan. g. b. sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap tersebut dan dari harta yang dimiliki atau dikuasai.

000.000 PPh Terutang = 28% x Rp 4. Jika Peredaran bruto sampai dengan Rp. maka penghitungan PPh Terutang : PPh Terutang = 50% x 28% x seluruh Penghasilan Kena Pajak .Diterapkan bagi WP badan dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap. Tarif PPh Pasal 31E Wajib Pajak Badan negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp 50 milyar mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif dalam pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang dikenapan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp 4.8 Milyar.000.000 = Rp 230.500.WP tersebut dapat memperoleh tarif sebesar 5% lebih rendah daripada tarif pada Pasal 17 ayat(1) huruf bdan ayat(2a) UU Nomor 36 tahun 2008.000 Jika WP Badan dalam Negeri mempunyai peredaran bruto sampai dengan Rp.260.000 PPh Terutang = (28%-5%) x Rp 1.8 Milyar a.000 Catatan : lihat PP Nomor 81 tahun 2007 tentang penurunan tarif PPh bagi WP Badan Dalam Negeri yang berbentuk Perseroan Terbuka. Tarif ini dikalikan dengan Penghasilan Kena Pajak.500.000. Contoh : PT B. Contoh : PT A. Penghasilan Kena Pajak tahun 2009 Rp 1.000.000.000.000. sebesar 28%. 3. Tarif PPh Pasal 17 ayat (2b) Tarif ini diterapkan bagi WP badan dalam negeri yang berbentuk perseroan terbuka yang paling sedikit 40% dari jumlah keseluruhan saham yang disetor diperdagangkan di bursa efekdi Indonesia dan memenuhi persyaratan tertentu lainnya. Penghasilan Kena Pajak selama tahun 2009 Rp 4.000 = 1. 50 milyar maka penghitungan PPh terutangnya menggunakan tarif PPh Pasal 31E 2.000. 4.

” b. 50 milyar.” Syarat sepanjang digunakan untuk menunjang kegiatan BUT di Indonesia (Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. laporan keuangan konsolidasi yang meliputi seluruh usaha di seluruh dunia untuk tahun pajak yang bersangkutan.b. Biaya-biaya yang berkenaan dengan penghasilan sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 ayat (1b) undang-undang Pajak Penghasilan: “Penghasilan Kantor Pusat dari Usaha atau kegiatan penjualan barang. Pasal 5 ayat (1c) Undang-undang Pajak Penghasilan : “Penghasilan sebagaimana tersebut dalam pasal 26 yang diterima oleh Kantor Pusat.8 milyar x Penghasilan Kena Pajak Peredaran bruto Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas yaitu Penghasilan Kena Pajak – Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas. yang besarnya ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. BUT di Indonesia mengurangkan seluruh biaya administrasi Kantor Pusat. wajib melampirkan dalam SPT PPh Tahunannya. Maksimum sebanding dengan besarnya peredaran usaha BUT di Indonesia teerhadap seluruh peredaran usaha pperusahaann diseluruh dunia. maka penghitungan PPh terutang sbb: PPh Terutang= (50%x28%)xPKP dari peredaran bruto yg memperoleh fasilitas + 28% x PKP dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasiltas.8 milyar sampai dengan Rp. 62/PJ/1995 tanggal 24 Juli 1995: Biaya administrasi Kantor Pusat yang berkaitan dan dalam rangka menunjang kegiatan usaha BUT yang bersangkutan. . sepanjang terdapat hubungan efektif antara BUT dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan yang dimaksud. Jika Peredaran bruto lebih dari Rp. Dalam menentukan besarnya laba suatu BUT terdapat ketentuan khusus yakni: “Biaya administrasi Kantor Pusat. 4. yang diperbolehkan untuk dibebankan adalah biaya yang berkaitan dengan usaha / kegiatan BUT.” c. • BIAYA YANG BOLEH DIKURANGKAN DAN PENGECUALIANNYA a. • Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas : Rp 4. atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan oleh BUT di Indonesia. a. Biaya-Biaya Subyek Pajak BUT.

kecuali pembayaran bunga (khusus perbankan). sebaliknya kalau terjadi kerugian. maka Wajib Pajak tidak akan terkena Pajak . pembyaran BUT ke Kantor Pusat merupakan perputaran dana dalam satu perushaan. kecuali pembayaran bunga (khusus bidang usaha perbankkan. keuntungan yang diperoleh adalah objek Pajak Penghasilan. imbalan jasa dan bunga. kecuali biaya bunga yang berkenaann dengan usaha BUT dibidang perbankan. Ada kalanya sebuah usaha mengalami keuntungan dan ada kalanya juga sebuah usaha mengalami kerugian. b. keuntungan dan kerugian adalah dua hal yang biasa terjadi. atau hak-hak lainnya. tidak boleh dikurangkan dari penghasilan BUT di Indonesia. Kecuali Kantor Pusat dan BUT yang bergerak dalam bidang usaha perbankkan. c. Pembayaran imbalan sehubungan dengan jasa manajemen dan jasa lainnya. pembayaran sebagaimana tersebut dalam Pasal 5 ayat (3b) yang diterima / diperoleh dari Kantor Pusat tidak dianggap sebagai Obyek Pajak. b. Paten. Dalam konteks Pajak Penghasilan. Konsekuensinya : pembayaran Kantor Pusat kepada BUT tiddak dianggap sebagai Obyek Pajak bagi BUT di Indonesia.- Laporan keuangan konsolidasi tersebut harus telah diaudit oleh Akuntan Publik dan mengungkapkan rincian peredaran usaha perushaan serta jenis dan besarnya biaya administrasi yang dibebankan pada masing-masing BUT di Negara tempat BUT tersebur berada. Biaya yang tidak boleh dikurangkan secara fiskal dari suatu BUT Pembayaran yang dilakukan BUT Indonesia kepada Kantor Pusatnya yang tidak dapat dibebankan sebagai biaya fiskal beerdasarkan ketentuan Pasal 5 UU PPh berupa: a. pembayaran biaya bunga. d. sehingga pembayaran BUT kepada Kantor Pusat antara lain pembayaran royalti. Konsekuensinya: pembayaran Kantor Pusat kepada BUT tidak dianggap sebagai obyek pajak BUT bagi BUT di Indonesia. Pembayaran biaya royalty atau imbalan lainnya sehubungan dengan pengguanaan Harta. KOMPENSASI KERUGIAN Dalam dunia usaha. kecuali bunga yang berkenaan dengan BUT di Indonesia pada dasarnya merupakan satu kesatuan dengan Kantor Pusatnya.

000. Apabila pada akhir tahun kelima ternyata masih ada kerugian yang tersisa maka sisa kerugian tersebut tidak dapat lagi dikompensasikan. Kerugian usaha di luar negeri tidak bisa dikompensasikan dengan penghasilan dari dalam negeri. Jika setelah kerugian tersebut dikompensasikan sampai dengan tahun 2012 masih tersisa kerugian yang belum dikompensasikan. Sebagai ilustrasi misalkan PT A dalam tahun 2007 mengalami kerugian fiskal Rp1. Adapun beberapa point penting yang perlu diperhatikan dalam hal kompensasi kerugian ini adalah sebagai berikut : 1.000. Istilah kerugian merujuk kepada kerugian fiskal bukan kerugian komersial. yang melakukan kegiatan usaha yang penghasilannya tidak dikenakan PPh Final dan perhitungan Pajak Penghasilannnya tidak menggunakan norma penghitungan. 3. proses membawa kerugian dalam satu tahun pajak ke tahun-tahun pajak berikutnya ini dinamakan sebagai Kompensasi Kerugian (Carrying Loss).00 2010 : laba fiskal NIHIL . 2009.000. Kompensasi kerugian hanya diperkenankan selama lima tahun ke depan secara berturutturut.00 2009 : rugi fiskal Rp300. 2010. Kompensasi kerugian dalam Pajak Penghasilan diatur dalam Pasal 6 ayat (2) Undangundang Pajak Penghasilan. baik badan maupun orang pribadi. misalnya wajib pajak PT A mengalami kerugian fiskal tahun pajak 2007. 4.000.00. Bahkan kerugian yang didapatkan dalam satu tahun pajak dapat digunakan untuk menutupi keuntungan pada tahun-tahun berikutnya sehingga pada tahun-tahun tersebut Pajak Penghasilan nya menjadi lebih kecil atau tidak terutang sama sekali.Penghasilan. Sebagai contoh. 2. 2011.000. Nah. maka kerugian tersebut dapat dikompensasikan dengan penghasilan neto atau laba fiskal tahun 2008. maka sisa kerugian tersebut tidak dapat lagi dikompensasikan dengan penghasilan neto atau laba fiskal tahun 2013 atau sesudahnya.000.200. Kompensai kerugian hanya untuk Wajib Pajak. Kerugian atau keuntungan fiskal adalah selisih antara penghasilan dan biaya-biaya yang telah memperhitungkan ketentuan Pajak Penghasilan. Dalam lima tahun berikutnya rugi laba fiskal PT A sebagai berikut : 2008 : laba fiskal Rp200. dan 2012.

000.000. UU PPh pengertian amortisasi mencakup juga pengertian depresi seperti yang dikenal dalam dunia akuntansi keuangan. Penghasilan Kena Pajak menjadi nihil dan PPh terutang juga nihil.2011 : laba fiskal Rp100. Penghasilan Kena Pajak menjadi nihil dan PPh terutang juga nihil. Penghasilan Kena Pajak menjadi nihil dan PPh terutang juga nihil.00 Kompensasi kerugian dilakukan sebagai berikut : Tahun 2008 : Kompensasi Tahun 2009 : Tak ada kompensasi kerugian dari tahun 2007 karena tahun 2009 juga mengalami kerugian. Penghasilan Kena Pajak menjadi nihil dan PPh terutang juga nihil. Tahun 2010 : Tak ada kompensasi kerugian dari tahun 2007 karena tahun 2010 laba fiskal nihil. .00 ini tidak dapat lagi dikompensasikan ke tahun 2013 atau setelahnya.000.00 sehingga sisa rugi tahun 2007 tinggal Rp1.000.00. Tahun 2011 : Kompensasi Tahun 2012 : Kompensasi kerugian Rp800. PENYUSUTAN.00.000. penyusutan atau depresiasi merupakan konsep alokasi harga perolehan harga tetap berwujud dan amortisasi merupakan konsep alokasi harga perolehan harga tetap tidak berwujud dan harga perolehan harta sumber alam. 1.000.00. Sisa kerugian Rp100.000. yaitu: kerugian Rp100.00 sehingga sisa rugi tahun 2007 tinggal Rp100.000.000.00 2012 : laba fiskal Rp800.000. kerugian Rp200.000.000.000. Penghasilan Kena Pajak menjadi nihil dan PPh terutang juga nihil.000. Jadi.000. AMORTISASI DAN REVALUASI AKTIVA Menurut Undang-Undang pajak penghasilan.000. Penyusutan Untuk menghitung besarnya penyusutan harga tetap berwujud dibagi menjadi dua golongan.000.00 sehingga sisa rugi tahun 2007 tinggal Rp900.000.000.

Tabel berikut menggambarkan pengelompokan harta berwujud. Sedangkan metode saldo menurun hanya diperkenankan digunakan untuk kelompok harta berwujud bukan bangunan saja. yaitu: a. Metode garis lurus diperkenankan dipergunakan untuk semua kelompok harta tetap berwujud. Harta berwujud yang bukan berupa bangunan b. Kelompok 2: kelompok harga berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 8 tahun c. Permanen: masa manfaatnya 20 tahun b. serta tarif penyusutannya: . Kelompok 3: kelompok harga berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 16 tahun d. metode. Metode Dan Tarif Penyusutan Metode penyusutan yang dipergunakan adalah metode garis lurus (straight line method) dan metode saldo menurun (declining balance method).a. Wajib pajak diperkenankan untuk memilih salah satu metode untuk melakukan penyusutan. Kelompok 1: kelompok harga berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 4 tahun b. Harta berwujud yang berupa bangunan Harta berwujud yang bukan bangunan terdiri dari empat kelompok. terbuat dari bahan yang tidak tahan lama. Kelompok 4: kelompok harga berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 20 tahun Harta berwujud yang berupa bangunan dibagi menjadi dua. atau bangunan yang tidak dapat dipindah-pindahkan. Masa manfaatnya tidak lebih dari 10 tahun. yaitu: a. Tidak permanen: bangunan yang bersifat sementara.

000. penyusutan dapat dimulai pada bulan harta berwujud mulai digunakan untuk mendapatkan. Bulan dilakukannya pengeluaran b. penyusuyannya dimulai dari bulan pengerjaan harta tersebut selesai Dengan ijin dari Direktur Jendral Pajak.000. menagih. Gedung tersebut selesai .00 untuk pembangunan sebuah gedung.Saat Dimulainya Penyusutan Saat penyusutan dapat dimulai pada: a. Untuk harta yang masih dalam pengerjaan. Contoh Penghitungan Penyusutan Contoh 1: PT nusantara mengeluarkan dana sebesar Rp 150. dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta tersebut mulai menghasilkan. Pembangunan dimulai sejak tanggal 10 Agustus tahun 2008.

000 – Rp 250.000.00 = Rp 250.00 Penyusutan tahun 2013: Sisanya disusutkan sekaligus = Rp 125.000.000 = Rp 250.000. Contoh 3: PT Agri Jaya pada bulan Juli 2009 membeli sebuah alat pertanian yang mempunyai masa manfaat 4 tahun seharga Rp 1.000.00 = Rp 125.000.000.00 Penyusutan tahun 2010: 25% x Rp 1.00 Alternatif II Metode Saldo Menurun Penyusutan tahun 2009 : 6/12 x 50% x Rp 1. Penyusustan atas bangunan tersebut dimulai sejak bulan Mei 2009.000.000 – Rp 375.000 = Rp 187.500 Penyusutan tahun 2012 : .00 Penyusutan tahun 2012: 25% x Rp 1. Penghitungan penyusutan atas harta tersebut adalah sebagai berikut: Alternatif I : Metode Garis Lurus: Penyusutan tahun 2009: 6/12 x 25% x Rp 1.dibangun dan digunakan pada bulan Mei 2009.000.000.000.00.000.000.00 = Rp 250.00 Penyusutan tahun 2011: 25% x Rp 1.000.00 = Rp 250. Dengan persetujuan Dirjen Pajak.000.000 = Rp 375. Contoh 2: PT Sarimadu yang bergerak dalam bidang perkebunan tebu membeli traktor pada bulan Maret 2007. penyususn traktor dapat dilakukan mulai bulan Juni 2009.000 Penyusutan tahun 2010 : 50% x (Rp 1.000 Penyusutan tahun 2011 : 50% x (Rp 750.000.000. Perkebunan tersebut mulai memanen hasilnya pada bulan Juni 2009.000) = 50% x Rp 750.000) = 50% x Rp 375.000.

Amortisasi kebanyakan merupakan biaya usaha dan jarang digolongkan ke dalam harga pokok produksi. Penghitungan maupun pencatatan atas amortisasi sama saja dengan cara penghitungan maupun pencatatan atas penyusutan aktiva tetap berwujud. hak pakai. Kelompok 3 : kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa mafaat 16 tahun. dan lain-lain. Kelompok 1 : kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfaat 4 tahun.000 –Rp 187. secara bertahap dalam jangka waktu tertentu pada setiap periode akuntansi . hak guna usaha. Hal penting yang perlu diketahui : . Harta tak berwujuddigolongkan menjadi : a.750 Penyusutan tahun 2013 : Sisanya disusutkan sekaligus = Rp 93. Kelompok 2 : kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfaat 8 tahun. Amortisasi adalah pengalokasian harga perolehan ke beban usaha (biaya). bahkan tidak ada hubungannya dengan output produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Metode Dan Tarif Amortisasi Harga perolehan harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya termasuk biaya perpanjangan hak guna bangunan.50% x (Rp 375. yang pada aktiva tetap dikenal dengan depresiasi (penyusutan). Pengurangan ini dilakukan dengan mendebit akun beban amortisasi terhadap akun aktiva . . b. hak cipta . karena pada dasarnya intangible asset tidak dipengaruhi. 750 2. Amortisasi Amortisasi adalah pengurangan nilai aktiva tidak berwujud . kecuali merk dagang yang memang digolongkan ke dalam kelompok harga pokok penjualan. c. Kelompok 4 : kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfaat 20 tahun. seperti merek dagang . dan muhibah (goodwill) yang mempunyai masa .500 = Rp 93. d.Amortisasi lebih baik jika dihitung menggunakan metode garis lurus saja.500) 50% x Rp 187.

Pengeluaran ini dapat juga dibebankan pada tahun terjadinya pengeluaran. yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.000. 2. Tabel berikut menggambarkan pengelompokkan harta tak berwujud. Pengeluaran ini dikapitalisasikan kemudian diamortisasi sesuai tabel di atas. misalnya biaya studi kelayakan dan biaya produksi percobaan. Contoh Penghitungan Amortisasi Contoh 4 : PT Asti Jaya pada tanggal 4 Januari 2009 mengeluarkan uang sebanyak Rp 100.00 = Rp 25.000.000 untuk memperoleh hak lisensi dari Phoenyxcycle Ltd selama 4 tahun untuk memproduksi Sepeda Phoenix. dan tariff amortisasi seperti disebutkan dalam tabel di atas berlaku juga untuk : 1. serta tariff amortisasinya.manfaat lebih dari satu tahun diamortisasi dengan metode garis lurus ( straight line method) dan metode saldo menurun (declining balnce method).000. Penghitungan amortisasi atas hak lisensi tersebut adalah sebagai berikut: Alternatif I : Metode Garis Lurus Amortisasi tahun 2009 : 25% x Rp 100. Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial. tidak boleh dikapitalisasi tetapi dibebankan sekaligus pada tahun pengeluaran.000. Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya perluasan modal suatu perusahaan.000. gaji pegawai. seperti biaya rekening listrik dan telepon. Satu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa biaya operasional yang bersifat rutin.00 . metode. Wajib pajak diperkenankan untuk memlih salah satu metode untuk melakukan amortisasi. Kelompok. dan biaya kantor lainnya.metode.

00 – Rp 50.000.000.000.000.000. dan nilai buku dengan nilai interinsik perusahaan.00 = Rp 25.500.000.000. Kewajiban pajak tersebut adalah semua kewajiban dari Wajib Pajak yang bersangkutan.000. kepada wajib pajak perlu diberikan kesempatan untuk penilaian kembali aktiva tetap.000. Pajak Pertambahan Nilai.000.00 Amortisasi tahun 2012 : 25% x Rp 100.000.000.00 = Rp 50.000.000.00 – Rp 25. dan Pajak Bumu dan Bangunan yang telah terutang sampai dengan masa pajak sebelum masa pajak dilakukan penilaian kembali. Pajak Penjualan atas Barang Mewah.00) 50% x Rp 50.000.000.000. .000. yang telah memenuhi semua kewajiban pajaknya sampai dengan masa pajak terakhir sebelum masa pajak dilakukannya penilaian kembali.00 Amortisasi tahun 2009 : 50% x (Rp 100.000. Revaluasi (Penilaian Kembali Aktiva Tetap) Perbedaan nilai buku dengan nilai riil aktiva perusahaan dapat mengakibatkan kurang serasinya perbandingan antara penghasilan dengan beban.000.000.000.000.000. Yang dapat melakukan penilaian kembali aktiva tetap adalah Wajib Pajak Badan dalan negeri dan bentuk usaha tetap (BUT).000.00 = Rp 12.00 Alternatif II : Metode Saldo Menurun Amortisasi tahun 2009 : 50% x Rp 100.00 Amortisasi tahun 2011 : 50% x (Rp 50.500.000.00 = Rp 25.00 = Rp 25.000. seperti Pajak Penghasilan.00 Amortisasi tahun 2011 : 25% x Rp 100.000. tidak termasuk perusahaan yang memperoleh izin menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat.000.00) 50% x Rp 25.000. Untuk mengurangi perbedaan tersebut.Amortisasi tahun 2010 : 25% x Rp 100.00 Amortisasi tahun 2012 : Diamortisasi sekaligus = Rp 12.00 3.000.000.00 = Rp 25.

00 x 10% =Rp 5. Nilai buku fuskal aktiva yang dinilai kembali per 31 desember 2009 adalah 100.000. Besarnya PPh atas selisih lebih penilaian kembali aktiva adalah sebesar: Nilai wajar aktiva Nilai buku fiskal aktiva Selisih lebih penilaian kembali aktiva PPh= Rp 50.000. Seluruh aktiva tetap berwujud.000.00 . atau 2.000. Dalam hal nilai pasar atau nilai wajar yang ditetapkan oleh perusahaan jasa penilai atau ahli penilai ternyata tidak mencerminkan keadaan sebenarnya.000.000.000.00 Rp 100. Nilai wajar aktiva tersebut adalah 150. termasuk tanah yang berstatus hak milik atau hak guna bangunan. PT Sukses melakukan penilaian kembali aktiva tetapnya.000. Seluruh aktiva tetap berwujud tidak termasuk tanah. Direktur Jendral Pajak menetapkan kembali nilai pasar atau nilai wajar aktiva yang bersangkutan.00 – Rp 50. Perlakuan pajak atas selisih lebih penilaian kembali aktiva Atas selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap perusahaan di atas nilai sisa buku fiskal semula dikenakan pajak penghasilan yang bersifat final sebesar 10%. yang memperoleh izin dari pemerintah. Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan harus dilakukan berdasarkan nilai pasar atau nilai wajar aktiva tetap tersebut yang berlaku pada saat penilaian kembali aktiva tetap yang ditetapkan oleh perusahaan jasa penilai atau ahli penilai.000. dimiliki dan dipergunakan untuk mendapatkan.000.00.00 (bersifat final) Sejak bulan dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap perusahaan berlaku ketentuan sebagai berikut: Rp 150. yang terletak atau berada di Indonesia. Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan dilakukan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun sejak tanggal laporan perusahaan jasa penilai atau ahli penilai.00.000. menagih dan memelihara penghasilan yang merupakan Objek Pajak.000.Aktiva tetap yang dapat dilakukan penilaian kembali adalah: 1.000.000. Contoh : Pada akhir tahun 2008.

PENENTUAN HARGA PEROLEHAN Wajib Pajak memperoleh aktiva/harta berwujud dalam berbagai cara. Penyusutan fiskal aktiva tetap yang tidak memperoleh persetujuan penilaian kembali aktiva tetap perusahaan. 4. Harga beli aktiva/harta berwujud tersebut. 2. 2. 3. Perhitungan penyusutan dimulai sejak bulan dilakukannya penilaian aktiva tetap perusahaan. Untuk bagian tahun pajak sampai dengan bulan sebelum bulan dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap perusahaan berlaku ketentuan sebagai berikut: 1. Biaya asuransi. penentuan berapa berapa harga perolehan aktiva/harta sebagai dasar penyusutan adalah sebagai berikut : a. Masa manfaat fiskal aktiva tetap yang telah dilakukan penilaian kembali aktiva tetap perisahaan disesuaikan kembali menjadi masa manfaat penuh untuk kelompok aktiva tetap tersebut. Perhitungan penyusutan dihitung secara prorata sesuai dengan banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak tersebut. antara lain : 1. Dasar penyusutan fiskal aktiva tetap adalah dasar penyusutan fiskal pada awal tahun pajak yang bersangkutan. Harga perolehan untuk aktiva/harta berwujud yang diperoleh dengan pembelian tunai terdiri dari biaya/uang yang dikeluarkan/terjadi untuk memperoleh aktiva/harta berwujud sampai ditempat dan siap dipakai. sehingga dalam menentukan berapa harga perolehan sebagai dasar penyusutan tentu saja berbeda-beda. Biaya pengiriman. tetap menggunakan dasar penyusutan fiskal dan sisa manfaat fiskal semula sebelum dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap perusahaan.1. Biaya pemasangan. Sisa masa manfaat fiskal aktiva tetap adalah sisa manfaat fiskal pada awal tahum pajak yang bersangkutan. 3. Dasar penyusutan fiskal aktiva tetap yang telah memperoleh persetujuan penilaian kembali adalah nilai pada saat penilaian kembali. 2. 3. .

maka harga perolehan/ dasar penyusutan atas harta adalah nilai setelah dilakukan penilaian kembali aktiva tersebut.000. pemotongan atau pemungutan Pajak Penghasilan Final (PPh Final) yang dipotong pihak lain maupun yang disetor sendiri bukan merupakan pembayaran dimuka atas PPh terutang akan tetapi merupakan pelunasan PPh terutang atas penghasilan tersebut. Apabila akitva/harta berwujud diperoleh dengan cara hibah/sumbangan/warisan dari keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat maka harga perolehan / dasar penyusutan bagi penerima hibah adalah harga NJOP tahun diterimanya aktiva/harta tersebut.000.000. Apabila akitva/harta berwujud diperoleh dengan cara hibah/sumbangan maka harga perolehan/ dasar penyusutan bagi penerima hibah adalah nilai sisa buku harta hibahan. sehingga wajib pajak dianggap telah melakukan pelunasan kewajiban pajaknya. e. biaya notaries 1.000 = 750. Apabila terhadap untuk pembelian tanah dan bangunan tidak bisa dipisahkan biaya notaris untuk tanah dan bangunan maka biaya notaris dialokasikan sesuai harga masing-masing tanah dan bangunan. Contoh : Harga tanah 20. d.000 b.5.0000. Bangunan 60. Pembayaran. .36 tahun 2008 tentang PPh.0000. Apabila Wajib Pajak melakukan penilaian kembali aktiva berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 UU No. Apabila akitva/harta berwujud diperoleh dengan cara sewa guna usaha dengan hak opsi maka harga perolehan / dasar penyusutan bagi lessee (yang mengunakan barang) adalah nilai sisa (residual-value) barang modal yang bersangkutan. c. PAJAK FINAL Pajak Penghasilan Final (PPh Final) adalah pajak yang dikenakan dengan tarif dan dasar pengenaan pajak tertentu atas penghasilan yang diterima atau diperoleh selama tahun berjalan.000 = 250. Maka biaya notaris untuk tanah dialokasikan 20.000.000.000 / 80.000.000 / 80. Biaya bea balik nama (notaris dan lain-lain) 6. Biaya lain yang berhubungan langsung dengan perolehan akiva/harta berwujud tersebut.000.000.000 Maka biaya notaris untuk bangunan dialokasikan 60.

managih dan memelihara penghasilan 2. Namun atas pelunasan pemotongan atau pembayaran PPh final tersebut juga bukan merupakan kredit pajak pada SPT Tahunan. menagih dan memelihara penghasilan yang pengenaan PPh-nya bersifat final tidak dapat dikurangkan • • Pertimbangan penerapan PPh Final: • • Penyederhanaan pengenaan Pajak Penghasilan atas penghasilan dari usaha memberikan kemudahan serta mengurangi beban administrasi bagi Wajib Pajak. menagih dan memelihara penghasilan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto biaya-biaya untuk memperoleh. Pajak Penghasilan dihitung dari Penghasilan netto yaitu penghasilan bruto ± biaya-biaya untuk memperoleh. Dari penjelasan tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan Final (PPh Final) adalah sebagai berikut: • Penghasilan yang dikenakan PPh final tidak perlu digabungkan dengan penghasilan lain (yang non final) dalam penghitungan Pajak Penghasilan pada SPT Tahunan.Dengan demikian maka penghasilan yang telah dikenakan Pajak Penghasilan Final (PPh final) ini tidak akan dihitung lagi Pajak Penghasilannya pada SPT Tahunan dengan penghasilan lain yang non final untuk dikenakan tarif progresssif (pasal 17 UU PPh). Pajak Penghasilan Tidak Final Pajak Penghasilan Final 1. Dikenakan tarif umum progressif (Pasal 17 UU PPh) Dikenakan tarif dan dasar pengenaan pajak tertentu yang diatur dengan Peraturan Pemerintah atau KepMen. menagih dan memelihara penghasilan Pajak Penghasilan dihitung dari penghasilan bruto tanpa memperhitungkan biaya-biaya untuk memperoleh. Biaya-biaya yang digunakan untuk menghasilkan. menagih dan memelihara penghasilan tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto 5 Dalam keadaan rugi Wajib Pajak tidak membayar Pajak Penghasilan . Jumlah PPh Final yang telah dipotong pihak lain ataupun dibayar sendiri tidak dapat dikreditkan pada SPT Tahunan. Perbedaan Pajak Penghasilan yang bersifat Final dan Tidak Final No. 3. Jumlah PPh yang dipotong pihak lain atau dibayar sendiri dapat dikreditkan pada SPT Tahunan Jumlah PPh yang dipotong pihak lain atau dibayar sendiri tidak dapat dikreditkan pada SPT Tahunan 4 biaya-biaya untuk memperoleh.

Dalam keadaan rugi Wajib Pajak tetap membayar Pajak Penghasilan karena pengenaan pajak dikenakan pada penghasilan bruto dan bukan penghasilan netto. Penghasilan atas transaksi derivatif berupa kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa. Penghasilan dari hadiah atas undian 4. Penghasilan dari persewaan tanah dan/atau Bangunan. 17. 5. NORMA PENGHITUNGAN Dasar Hukum 1. Penghasilan atas perusahaan pelayaran/penerbangan luar negeri. Penghasilan atas diskonto surat perbendaharaan negara 16. Penghasilan atas perusahaan pelayaran dalam negeri 9. Penghasilan atas jasa konstruksi 8. Penghasilan atas deviden yang diterima oleh Orang Pribadi dalam negeri. 15. Penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau Bangunan. Penghasilan atas bunga deposito dan tabungan 3. 6. Penghasilan perusahaan modal ventura dari transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangan usaha. Penghasilan atas bunga simpanan anggota koperasi 14. Penghasilan atas penjualan hasil produksi pertamina 13. Penghasilan BUT perwakilan dagang asing di Indonesia 11. 10. Penghasilan atas selisih lebih revaluasi aktiva tetap 12. Beberapa kategori penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan Final (PPh Final) adalah sebagai berikut: 1. Penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek 2. Penghasilan atas bunga atau diskonto obligasi yang diperdagangkan dibursa efek 7.bahkan kerugian tersebut dapat dikompensasikan hingga ke 5 (lima) tahun pajak berikutnya. Pasal 14 UU Nomor 36 Tahun 2008 (berlaku sejak 1 Januari 2009) tentang perubahan keempat atas UU Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan .

2. Bagi yang tidak menyampaikan dianggap memilih menggunakan pembukuan. Jakarta. Daerah lainnya adalah daerah selain yang dimaksud diatas. Pontianak. Menyelenggarakan pencatatan Peredaran Usaha sesuai format Lampiran I PER4/PJ/2009. Bandung. Manado. KEP-536/PJ/2000 (berlaku sejak tahun pajak 2001) tentang Norma Penghitungan Penghasilan Netto (NPPN) untuk Wajib Pajak (WP) yang dapat menghitung penghasilan neto dengan menggunakan norma penghitungan 3.000. Yang Dapat Menggunakan Norma Penghitungan Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang peredaran brutonya dalam 1 tahun kurang dari Rp. dengan syarat memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan (Pasal 14 ayat (2) UU PPh) Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila WP menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender. Kota propinsi lainnya adalah ibukota propinsi selain 10 yang disebutkan. 4.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) boleh menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Kewajiban 1.000. Palembang. PER-4/PJ/2009 (berlaku sejak 1 Januari 2009) tentang petunjuk pelaksanaan pencatatan bagi WP Orang Pribadi (OP) Besarnya Norma 1. Norma yang digunakan adalah norma berdasarkan kota wilayah usaha 2. 3. (Pasal 14 ayat (2) UU PPh). Semarang. Denpasar. Surabaya. Yang dimaksud 10 ibukota propinsi: Medan. Makassar. 2. Sanksi Menggunakan Norma Penghitungan Tanpa Pemberitahuan Bagi yang tetap menggunakan Norma padahal tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Penggunaan Norma dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% (lima puluh . Menyampaikan surat perberitahuan penggunaan norma kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu tiga bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan.800. 4. (UU PPh Pasal 14 ayat 4).

Berdasarkan ketentuan Pasal 18 ayat (4) Undang-undang Pajak Penghasilan Hubungan istimewa dianggap ada apabila : a. atau hubungan antara Wajib Pajak dengan . Kota propinsi lainnya = 47. Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada Wajib Pajak lain. Daerah lainnya = 45% 2. dan/atau (2) adanya penguasaan melalui manajemen atau penggunaan teknologi.    10 ibukota pripinsi = 30% Kota propinsi lainnya = 25 % Daerah lainnya = 20% b. (3) Selain karena hal-hal tersebut. hubungan istimewa diantara Wajib Pajak orang pribadi dapat pula terjadi karena adanya hubungan darah atau karena perkawinan. Petugas dinas luar asuransi = norma untuk pekerjaan bebas bidang profesi lainnya a. Hubungan istimewa di antara Wajib Pajak dapat terjadi karena ketergantungan atau keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya disebabkan karena (1) kepemilikan atau penyertaan modal. 10 ibukota pripinsi = 50% b.5 % c. Pasal 3 ayat 2 KEP-536/PJ. penghasilan atas penjualan barang = norma untuk Pedagang eceran barang hasil indistri pengolahan.    10 ibukota pripinsi = 50% Kota propinsi lainnya = 47./2000 Norma Petugas Dinas Luar Asuransi. penghasilan atas pengembangan jaringan : Pekerjaan bebas bidang profesi lainnya.persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dibayar dalam tahun pajak yang bersangkutan. Distributor perusahaan MLM/direct selling diklasifikasikan menjadi 2 jenis : a.5 % Daerah lainnya = 45% HUBUNGAN ISTIMEWA Kriteria Hubungan Istimewa Dalam Undang-undang Pajak Penghasilan Indonesia dikenal adanya hubungan istimewa di antara Wajib Pajak. Distributor MLM/Direct Selling 1.

penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung. Hubungan istimewa dianggap ada apabila terdapat hubungan kepemilikan yang berupa penyertaan modal sebesar 25% (dua puluh lima persen) atau lebih secara langsung ataupun tidak langsung. atau b Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau lebih Wajib Pajak berada di bawah . . PT A mempunyai 50% (lima puluh persen) saham PT B. Apabila PT A juga memiliki 25% (dua puluh lima persen) saham PT D. maka PT A sebagai pemegang saham PT B secara tidak langsung mempunyai penyertaan pada PT C sebesar 25% (dua puluh lima persen). Selanjutnya apabila PT B tersebut mempunyai 50% (lima puluh persen) saham PT C. maka antara PT B. Pemilikan saham oleh PT A merupakan penyertaan langsung. Demikian juga hubungan antara beberapa perusahaan yang berada dalam penguasaan yang sama tersebut. demikian pula hubungan antara dua Wajib Pajak atau lebih yang disebut terakhir. Dalam hal demikian antara PT A. atau c. PT B dan PT C dianggap terdapat hubungan istimewa. Hubungan istimewa dianggap ada apabila satu atau lebih perusahaan berada di bawah penguasaan yang sama.penyertaan paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada dua Wajib Pajak atau lebih. terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus dan atau ke samping satu derajat. Misalnya. walaupun tidak terdapat hubungan kepemilikan. Hubungan istimewa antara Wajib Pajak dapat juga terjadi karena penguasaan melalui manajemen atau penggunaan teknologi. Hubungan kepemilikan seperti tersebut di atas dapat juga terjadi antara orang pribadi dan badan. PT C dan PT D dianggap terdapat hubungan istimewa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful