P. 1
hiperbilirubin

hiperbilirubin

|Views: 194|Likes:
teori askep
teori askep

More info:

Published by: Anha Ciputryscorpio Nelangsa on Apr 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial
List Price: $0.99 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

12/27/2015

$0.99

USD

pdf

text

original

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Neonatal Hiperbilirubinemia 1. Defenisi Hiperbilirubinemia adalah suatu keadaan dimana kadar konsentrasi bilirubin dalam darah mencapai nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan kern ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis (Hidayat, 2008). Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah melebihi batas atas nilai normal bilirubin serum (Ralph. 2009). Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan sehingga menimbulkan joundice pada neonates (Surasmi, 2003). Hiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus ditandai joudince pada sclera mata, kulit, membrane mukosa dan cairan tubuh (Wong, 2009). 2. Anatomi Fisiologi a. Anatomi Fisiologi Hati Hati merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia, mempunyai berat sekitar 1.5 kg. Walaupun berat hati hanya 2-3% dari berat tubuh, namun hati terlibat dalam 25-30% pemakaian oksigen. Sekitar 300 milyar sel-sel hati terutama hepatosit yang jumlahnya kurang lebih 80%, merupakan tempat utama metabolisme intermedier (Koolman, J & Rohm K.H, 2001). Hati manusia terletak pada bagian atas cavum abdominis, dibawah diafragma, dikedua sisi kuadran atas, yang sebagian besar terdapat pada sebelah kanan. Beratnya 1200-1600 gram. Permukaan atas terletak bersentuhan dibawah diafragma, permukaan bawah terletak bersentuhan di atas organ-organ abdomen. Hepar difiksasi secara erat

5

6 . terdiri dari serabut kolagen dan jaringan elastis yg disebut Kapsul Glisson. Simpai ini akan masuk ke dalam parenchym hepar mengikuti pembuluh darah getah bening dan duktus biliaris.hepatika. ductus biliaris. Sel kupfer lebih permeabel yang artinya mudah dilalui oleh sel-sel makro dibandingkan kapilerkapiler yang lain.porta.oleh tekanan intraabdominal dan dibungkus oleh peritonium kecuali di daerah posterior-posterior yang berdekatan dengan vena cava inferior dan mengadakan kontak langsung dengan diafragma. Sinusoid-sinusoid tersebut berbeda dengan kapiler-kapiler di bagian tubuh yang lain. Massa dari hepar seperti spons yg terdiri dari selsel yg disusun di dalam lempengan-lempengan/ plate dimana akan masuk ke dalamnya sistem pembuluh kapiler yang disebut sinusoid. Di bagian tepi di antara lobuli-lobuli terhadap tumpukan jaringan ikat yang disebut traktus portalis/ TRIAD yaitu traktus portalis yang mengandung cabang-cabang v. Pada pemantauan selanjutnya nampak parenkim tersusun dalam lobuli-lobuli Di tengah-tengah lobuli tdp 1 vena sentralis yg merupakan cabang dari vena-vena hepatika (vena yang menyalurkan darah keluar dari hepar). oleh karena lapisan endotel yang meliputinya terdiri dari sel-sel fagosit yg disebut sel kupfer.Cabang dari vena porta dan A.hepatika akan mengeluarkan isinya langsung ke dalam sinusoid setelah banyak percabangan Sistem bilier dimulai dari canaliculi biliaris yang halus yg terletak di antara sel-sel hepar dan bahkan turut membentuk dinding sel. Canaliculi akan mengeluarkan isinya ke dalam intralobularis. Hepar dibungkus oleh simpai yg tebal. Lempengan sel-sel hepar tersebut tebalnya 1 sel dan punya hubungan erat dengan sinusoid. Universitas Indonesia). air keluar dari saluran empedu menuju kandung empedu. (Kelompok Diskusi Medikal Bedah. A. dibawa ke dalam empedu yg lebih besar.

lemak dan 7 . merupakan sumber energi tubuh sebanyak 20% serta menggunakan 20 – 25% oksigen darah. yang terletak beberapa sentimeter dibawah lambung. Garam empedu menyebabkan meningkatnya kelarutan kolesterol.Hati merupakan pusat dari metabolisme seluruh tubuh. Jika kita makan. Fungsi empedu adalah untuk membuang limbah tubuh tertentu (terutama pigmen hasil pemecahan sel darah merah dan kelebihan kolesterol) serta membantu pencernaan dan penyerapan lemak. Empedu mengalir dari hati melalui duktus hepatikus kiri dan kanan. Duktus hepatikus utama bergabung dengan saluran yang berasal dari kandung empedu (duktus sistikus) membentuk saluran empedu utama. Anatomi Fisiologi Kandung Empedu Kandung empedu merupakan kantong otot kecil yang berfungsi untuk menyimpan empedu (cairan pencernaan berwarna kuning kehijauan yang dihasilkan oleh hati). menuju ke usus halus. Ada beberapa fungsi hati yaitu :  Fungsi hati sebagai metabolisme karbohidrat  Fungsi hati sebagai metabolisme lemak  Fungsi hati sebagai metabolisme protein  Fungsi hati sehubungan dengan pembekuan darah  Fungsi hati sebagai metabolisme vitamin  Fungsi hati sebagai detoksikasi  Fungsi hati sebagai fagositosis dan imunitas  Fungsi hemodinamik b. Sekitar separuh empedu dikeluarkan diantara jam-jam makan dan dialirkan melalui duktus sistikus ke dalam kandung empedu. lalu keduanya bergabung membentuk duktus hepatikus utama. Saluran empedu utama masuk ke usus bagian atas pada sfingter Oddi. Sisanya langsung mengalir ke dalam saluran empedu utama. kandung empedu akan berkontraksi dan mengosongkan empedu ke dalam usus untuk membantu pencernaan lemak dan vitamin-vitamin tertentu.

Empedu bisa menyumbat aliran empedu dari kandung empedu. Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar Bilirubin tubuh. sehingga membantu penyerapannya dari usus. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang. Produksi bilirubin yang berlebihan b. Patofisiologi Hiperbilirubin Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban Bilirubin pada sel Hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran Eritrosit. Gangguan transportasi dalam metabolisme c.vitamin yang larut dalam lemak. sehingga terjadi jaundice (sakit kuning) karena menyumbat aliran empedu yang normal ke usus. dan menyebabkan nyeri (kolik bilier) atau peradangan kandung empedu (kolesistitis). Berbagai protein yang memegang peranan penting dalam fungsi empedu juga disekresi dalam empedu. Polisitemia. atau pada bayi Hipoksia. Gangguan dalam ereksi d. Etiologi Faktor penyebab terjadinya hiperbilirubin pada bayi baru lahir antara lain : a. Batu juga bisa berpindah dari kandung empedu ke dalam saluran empedu. 3. 8 . Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresimisalnya sumbatan saluran empedu. Asidosis. Hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dirubah menjadi bilirubin (pigmen utama dalam empedu) dan dibuang ke dalam empedu. Gangguan dalam proses kongjugasi hepar 4.

Ikterus hepatic Disebabkan karena adanya kerusakan sel parenkim hati. Toksisitas terutama ditemukan pada Bilirubin Indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg/dl.Bilirubin Indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah .sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kernikterus. Ikterus prehepatik Disebabkan oleh produksi bilirubin yang berlebihan akibat hemolisis sel darah merah.Pada derajat tertentu Bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. dan Hipoglikemia 5.Mudah tidaknya kadar Bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Hipoksia. Klasifikasi Hiperbilirubinemia a.Akibatnya adalah peningkatan bilirubin terkonjugasi dalam serum dan bilirubin dalam urin. 9 . Ikterus kolestatik Disebabkan oleh bendungan dalam saluran empedu sehingga empedu dan bilirubin terkonjugasi tidak dapat dialirkan ke dalam usus halus. b. tetapi tidak didaptkan urobilirubin dalam tinja dan urin. c.Kemampuan hati untuk melaksanakan konjugasi terbatas terutama pada disfungsi hati sehingga menyebabkan kenaikan bilirubin yang tidak terkonjugasi.Akibat kerusakan hati maka terjadi gangguan bilirubin tidak terkonjugasi masuk ke dalam hati serta gangguan akibat konjugasi bilirubin yang tidak sempurna dikeluarkan ke dalam doktus hepatikus karena terjadi retensi dan regurgitasi.

d.Kerusakan neurologis  Gangguan pendengaran dan penglihatan  Kernikterus. jaundice yang tampak 24 jam pertama disebabkan penyakit hemolitik pada bayi baru lahir. 6. Ikterus neonatus patologis Terjadi karena factor penyakit atau infeksi. 7. Frekuensi dan jumlah konjugasi tergantung dari besarnya hemolisis dan kematangan hati. hatinya sudah matang dan menghasilkan Enzim Glukoronil Transferase yang memadai sehingga serum Bilirubin tidak mencapai tingkat patologis 10 .  Kematian. nafsu makan berkurang. feses seperti dempul. serta jumlah tempat ikatan Albumin (Albumin binding site). pembesaran lien dan hati. terdapat ikterus pada sklera. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis pada neonatal hiperbilirubinemia yaitu kulit berwarna kuning sampe jingga. gangguan neurologic. penyebabnya organ hati yang belum matang dalam memproses bilirubin e. pasien tampak lemah. sepsis atau ibu dengan diabetk atau infeksi. urine pekat. Komplikasi  Retardasi mental .Pada bayi yang normal dan sehat serta cukup bulan. Ikterus neonatus fisiologi Terjadi pada 2-4 hari setelah bayi baru lahir dan akan sembuh pada hari ke-7.Biasanya disertai suhu badan yang tinggi dan berat badan tidak bertambah. perut buncit. kadar bilirubin total mencapai 29 mg/dl. Metabolisme bilirubin yaitu segera setelah lahir bayi harus mengkonjugasi Bilirubin (merubah Bilirubin yang larut dalam lemak menjadi Bilirubin yang mudah larut dalam air) di dalam hati. kuku/kulit dan membran mukosa. jaundice yang tampak pada hari ke 2 atau 3 dan mencapai puncak pada hari ke 3-4 dan menurun hari ke 5-7 yang biasanya merupakan jaundice fisiologi. reflek hisap kurang.

Peritoneoskopi Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini. Ultrasonografi Digunakan untuk membedakan antara kolestatis intra hepatic dengan ekstra hepatic. Pemeriksaan bilirubin serum Pada bayi cukup bulan. Pemeriksaan Dianostatik a. bilirubin mencapai kurang lebih 6mg/dl antara 2-4 hari setelah lahir. kadar bilirubin mencapai puncak 1012 mg/dl antara 5-7 harisetelah lahir. c. Kadar bilirubin yang lebih dari 14mg/dl tidak fisiologis. b.Pada bayi premature.8.Pengobatan mempunyai tujuan 11 . e. seperti abses hati atau hepatoma. Penatalaksanaan Medik Berdasarkan pada penyebabnya maka manajemen bayi dengan hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi efek dari hiperbilirubinemia. d. Pemeriksaan radiology Diperlukan untuk melihat adanya metastasis di paru atau peningkatan diafragma kanan pada pembesaran hati. Apabila nilainya lebih dari 10mg/dl tidak fisiologis. hepatoma. serosis hati. f. Biopsy hati Digunakan untuk memastikan diagnosa terutama pada kasus yang sukar seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepatic dengan intra hepatic selain itu juga untuk memastikan keadaan seperti hepatitis. Laparatomi Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini. 9.

12 . Hasil fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine. Noenatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus difototerapi dengan konsentrasi bilirubin 5 mg/dl. Beberapa ilmuwan mengarahkan untuk memberikan fototerapi profilaksasi pada 24 jam pertama pada bayi resiko tinggi dan berat badan lahir rendah.menghilangkan anemia. Metode terapi hiperbilirubinemia meliputi : a. Fototerapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar bilirubin.Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui mekanisme difusi. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorpsi jaringan merubah bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut fotobilirubin. Secara umum fototerapi harus diberikan pada kadar bilirubin indirek 4-5 mg/dl. tetapi tidak dapat mengubah penyebab kekuningan dan hemolisis dapat menyebabkan anemia. Fototerapi menurunkan kadar bilirubin dengan cara memfasilitasi ekskresi bilirubin tak terkonjugasi. menghilangkan antibody maternal dan eritrosit teresensitisasi. Fotobilirubin kemudian bergerak ke empedu dan di ekskresikan kedalam duodenum untuk di buang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh hati.Di dalam darah fotobilirubin berikatan dengan albumin dan di kirim ke hati. Fototherapi Fototerapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan transfuse pengganti untuk menurunkan bilirubin. meningkatkan badan serum albumin dan menurunkan serum bilirubin. Memaparkan neonatus pada cahaya dengan intensitas yang tinggi ( a bound of fluorescent light bulbs or bulbs in the blue light spectrum) akan menurunkan bilirubin dalam kulit.

Transfusi Pengganti Transfusi pengganti atau imediat didindikasikan adanya faktorfaktor titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu. Darah yang dipilih tidak mengandung antigen A dan antigen B. penyakit hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama. Coloistrin dapat mengurangi bilirubin dengan mengeluarkannya lewat urine sehingga menurunkan siklus enterohepatika. Obat ini efektif baik diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan.b. c. Transfusi pengganti digunkan untuk mengatasi anemia sel darah merah yang tidak susceptible (rentan) terhadap sel darah merah terhadap antibody maternal. serum bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl pada 48 jam pertama. menghilangkan sel darah merah untuk yang tersensitisasi (kepekaan). Penggunaan Phenobarbital pada post natal masih menjadi pertentangan karena efek sampingnya (letargi). 13 . Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil. hemoglobin kurang dari 12 gr/dl. Pada Rh Inkomptabilitas diperlukan transfusi darah golongan O segera (kurang dari 2 hari). penyakit hemolisis berat pada bayi baru lahir. kadar bilirubin direk labih besar 3. Therapi Obat Phenobarbital dapat menstimulus hati untuk menghasilkan enzim yang meningkatkan konjugasi bilirubin dan mengekskresikannya.5 mg/dl di minggu pertama. menghilangkan serum bilirubin dan meningkatkan albumin bebas bilirubin dan meningkatkan keterikatan dangan bilirubin. Rh negative whole blood. dan bayi pada resiko terjadi kern Ikterus. setiap 4 -8 jam kadar bilirubin harus di cek.

3) Bayi dengan apgar score renddah memungkinkan terjadinya (hypoksia). b. ikterus kemungkinan karena pengaruh pregnanediol. 14 . Pengkajian keperawatan a. Ada sudara yang menderita penyakit hemolitik bawaan atau ikterus. Konsep Asuhan Keperawatan Secara Teoritis Pada Neonatal Hiperbilirubinemia 1. Pemeriksaan fisik a. ABO.) atau golongan darah O dan anak yang mengalami neonatal ikterus yang dini. Kepala leher Bisa dijumpai ikterus pada mata (sclera) dan selaput / mukosa pada mulut. Keadaan umum tampak lemah. 4) Kelahiran Prematur berhubungan juga dengan prematuritas organ tubuh (hepar). kemungkinan adanya erytrolastosisfetalis ( Rh. Dapat juga dijumpai cianosis pada bayi yang hypoksia. incompatibilitas lain golongan darah). Minum air susu ibu . kemungkinan suspec spherochytosis herediter kelainan enzim darah merah. kesukaran kelahiran dengan manipulasi berlebihan merupakn predisposisi terjadinya infeksi. Riwayat kelahiran 1) Ketuban pecah dini.B. c. 2) Pemberian obat anestesi. analgesik yang berlebihan akan mengakibatkan gangguan nafas (hypoksia). Dapat juga diidentifikasi ikterus dengan melakukan Tekanan langsung pada daerah menonjol untuk bayi dengan kulit bersih ( kuning). acidosis yang akan menghambat konjugasi bilirubin. Anamnese orang tua/keluarga Ibu dengan rhesus ( . pucat dan ikterus dan aktivitas menurun b. acidosis yang akan menghambat konjugasi bilirubn.

CRP menunjukkan adanya infeksi 3) Sekrening enzim G6PD menunjukkan adanya penurunan 4) Screnning Ikterus melalui metode Kramer dll 15 . f. Ekstremitas Menunjukkan tonus otot yang lemah g. epistotonus. lethargy dan lain – lain menunjukkan adanya tanda – tanda kern –icterus d. Dada Selain akan ditemukan tanda ikterus juga dapat ditemukan tanda peningkatan frekuensi nafas. adanya faeces yang pucat / acholis / seperti dempul atau kapur merupakan akibat dari gangguan / atresia saluran empedu. echimosis.c. Kulit Tanda dehidrasi titunjukkan dengan turgor tang jelek. h. Perut Peningkatan dan penurunan bising usus /peristaltic perlu dicermati. perdarahan bawah kulit ditunjukkan dengan ptechia. Splenomegali dan hepatomegali dapat dihubungkan dengan Sepsis bacterial. rubella e. muntah . mencret merupakan akibat gangguan metabolisme bilirubun enterohepatik. Elastisitas menurun. tixoplasmosis.Hal ini berhubungan dengan indikasi penatalaksanaan photo terapi. Urogenital Urine kuning dan pekat.Status kardiologi menunjukkan adanya tachicardia. Pemeriksaan Penunjang 1) Darah : DL. Pemeriksaan Neurologis Adanya kejang.Perut membuncit. Bilirubin > 10 mg % 2) Biakan darah. Gangguan Peristaltik tidak diindikasikan photo terapi. kususnya ikterus yang disebabkan oleh adanya infeksi d.

2. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang tidak disadari sekunder akibat fototerapi. Diagnosa keperawatan Diagnose keperawatan pada bayi hiperbilirubinemia menurut NANDA 2012-2014 yaitu : a. Pathway Hemoglobin Hemo Globin Baliverdin Bilirubin Indirek Bilirubin Direk Letargi Warna kulit kuning Urobilinogen Tinja Malas minum / refleks hisap melemah Foto Terapi Menyusui tidak efektif Resiko Kerusakan Integritas Kulit Defisit Volume Cairan Hipertermi Cemas Defisit Pengetahuan 3. 16 .

d. kegiatan yang berlebihan. Mengatur strategi NIC/ Intervensi Pemanfaatan cairan : Mengkoreksi dan menganalisa data pasien untuk mengatur keseimbangan cairan Menentukan riwayat jumlah dan tipe masukan cairan dan kebiasaan eliminasi Menentukan factor resiko ketidak seimbangan cairan (mis : hipertemia.b. patologis ginjal. Resiko hipertermia berhubungan terpajan dengan lingkungan yang panas (fototerapi) dalam jangka waktu yang lama c. Pantau berta badan Pantau masukan dan keluaran Pantau serum dan nilai ekeltrolit urin dengan tepat Pantau tekanan darah. Serum elekrolit DBN Hidrasi g. keterbatasan mkognisi. 4. Ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan reflex mengisap buruk sekunder akibat kernikterus. Kelembabab membrane mukasa baik f. f. disfungsi liver. kuiranginformasi. e. terapi diuteric. Intervensi Keperawatan No 1 Doagnosa Keperawatan Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang tidak disadari sekunder akibat fototerapi. Pantau factor resiko perilaku pasien k.d. e. gagal jantung. Pengetahuan tentang factor resiko i. g. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kulit kering sekunder akibat pajanan fototerapi. Hidrasi kulit baik e. d. Kurang Pengetahuan Klien/ orang tua tentang hiperbilinbin b. Pantau factor resiko lingkungan j. keringat. Tidak ada demam Kontrol resiko h. b. Nadi normal b. status a. tak familier dengan sumber informasi. 17 . Keseimbangan masukan dan keluaran selama 24 jam c. BB stabil d. c. kecepatan jantung. NOC/Tujuan Setelah dilaksanakan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam volume cairan seimbang Keseimbangan cairan dengan criteria hasil a.

m. Kelola cairan dengan tepat k. Pantau warna. Timbang berta badan setiap hari n. jumlah. Pantau tekanann darah. Keseimbangan b. Suhu badan 36 – a. kehausan i. tekanan darah (ortostastik) dengan tepat. turgor kulit.2 Resiko hipertermia berhubungan terpajan dengan lingkungan yang panas (fototerapi)dalam jangka waktu yang lama respirasi h. Pantau perub status kesehatan 18 . Pantau suhu bayi baru asam basa DBN lahir sampai stabil e. Hidrasi adekuat tepat d. Pantau suhu tubuh 37 0 C setiap 2 jam dengan c. Pantau membrane mukosa. Pertahankan kecepatan aliran Manajeman cairan l. nasdi. Pantau tanda-tanda vital Setelah dilakukan Pengaturan suhu : tindakan perawatan mencapai dan selama 3 x 24 jam suhu atau tubuh DBN dengan mempertahankan kriteria : suhu tubuh dalam a. o. Meningkatkan keseimbangan cairan dan mencegah komplikasi yang bersumber dari ketidak normalan atau kaetidak sesuaian tingkat cairan. Pantau status hidrasi (mis : kelambaban membrane mukosa ketidakuatan nadi. dan pernafasan dengan untuk mngontrol resiko sesuai dengan kebutuhan l. Bilirubin DBN c. dan gravitasi spesifik dari urin j. Suhu kulit normal range normal 0 b. Komitmen terhadap strategi control resiko m.

Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam klien dapat merasakan kepuasan dalam menyusu dan menyusui Breast feeding maintenance a. Pantau dan laporkan tanda dan gejala hipotermi dan hipertemi. Ibu mengajukan harga diri yang tepat d. Perkembangan bayi dbn e. Monitor integritas 19 . Dorong orang tua untuk meminta perawat menemani saat menyusui d. Tingkatkan keadekuatan masukan cairan dan nurtisi g. Tempatkan bayi baru lahir pada ruangan isolasi atau bawahpemanas h. j. f. Pertumbuhan bayi dbn d. Fasilitasi kontak ibu dengan bayi seawall mungkin b. Pantau warna warna dan suhu kulit e.3 Ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan reflex mengisap buruk sekunder akibat kernikterus. Dorong ibu untuk tidak membatasi menyusui f. Gunakan mtras sejuk dan mandi dengan air hangat untuk mnyesuaikan dengan suhu tubuh dengan tepat. Breastfeeding assistance a. Monitor kemampuan bayi untuk menghisap c. Bayi mencapai kepuasan dalam menyusu c. Pertahankan pans tubuh bayi i. Klien menyusui dengan efektif b. Gunakan matras panas dan selimut hangat yang disesuaikan dengan kebutuhan. Monitor kemampuan bayi untuk menggapai putting e.

a. Benar penghisapan dan penempatan lidah d. d. Tidak ada lesi g. Mampu menekan areola dengan benar c.d. 5 Kurang Pengetahuan Klien/ orang tua tentang hiperbilinbin b. Skin and muccos membrane a. f. g. Pigmentasi kulit dbn e. Setelah didiskusikan penjelasan selama 1 x pertemuan orang tua a. Elastisitas kulit dbn c. e. Bayi kenyang setelah minum ASI Resiko kerusakan Setelah dilakukan integritas kulit tindakan perawatan berhubungan selama 3x 24 jam dengan kulit membrane dan mukosa kering sekunder kulit terjaga akibat pajanan Tissue integriti : fototerapi. Kelembabab dbn d. Infant mampu mengenai areola dengan benar b. Meneguk / menelan min 5-10 menit setiap menyusui e. Minimal minta susu 8 x / hari f. Minimal BAK 6 X / hari g. Tidak ada tekanan kulit sekitar putting g. c. Temperatur kulit dbn b.4 positif dengan menyusui Brestfeeding EsTablishment : a. b. Jelaskan penggunaan susu formula. mengetahui dan memahami tentang Preeure management Gunakan pakaian yang longgar Hindari kerutan pada tempat tidur / bedongan Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering Mobilisasi klien (ubah posisi klien tiap 2jam ) Monitor kulit adanya kemerahan Oleskan lation / baby oil pada daerah yang tertekan Mandikan klien dengan sabun air hangat Teaching : Disease Proses Berikan penilain tentang tingkat pengetahuan klien/ 20 . Warna dbn f.

kuiranginformasi. penyakit anaknya. Informasikan tentang peralatan yang akan digunakan dalam proses fototherapy 4. Jelaskan tujuan diadakan fototherapy 5. Informasikan seberapa lama akan dilakukan prosedur foto therapy 3. Mampu menjelaskan tanda dan gejala e. tak Knowledge : familier dengan Disease Process sumber a. Mampu menjelaskanKompli kasi f. Mampu menjelaskan factor resiko c.pembe rian asi terusmenerus Teaching Procedur/Teatment 1. Jelaskan tentangn perasaan. nama Penyakit b. Jelaskan fatofisiologi hiperbilirubin c. Mengetahui jenis/ informasi.pada orang tua upaya mencegah hiperbilirubine. keterbatasan dengan kriteria : mkognisi. Identifikasi kemungkinan penyebab dengan cara yang tepat f. Mampu menjelaskanbagaim ana cara mencegah komplikasi Knowledge : Healt Behaviuor g. sering BAK. Mampu menjelaskan pola nutrisi yang sehat h. Berikan informasi. Mampu menjelaskan aktifitas yang bermanfaa orang tua tentang proses penyakitnya b. Mampu menjelaskan efek Penyakit d. Gambarkan proses penyakit hiperbilirubin dengan cara yang sesuai e. Jelaskan tanda dan gejala yang biasanya muncul d. Informasikan kepada klien prosedur pengobatan akan dilaksanakan 2. panas/peningkatan suhu tubuh saat dikakukan fotop therapy 21 . rewel.

gelisah. c. Anjurkan ibu mengungkapkan/melaporkan bila bayi mengalami gangguan-gangguan kesadaran seperti : kejang-kejang. nafsu menyusui menurun. Menasehatkan pada ibu untuk mempertimbangkan pemberhentian ASI dalam hal mencegah peningkatan bilirubin. latihan. Mengajarkan tentang perawatan kulit :  Memandikan dengan sabun yang lembut dan air hangat.5.  Bebaskan kulit dari alat tenun yang basah seperti: popok yang basah karena bab dan bak.  Hindari pakaian bayi yang menggunakan perekat di kulit.  Siapkan alat untuk membersihkan mata. Anjurkan ibu untuk menggunakan alat pompa susu selama beberapa hari untuk mempertahankan kelancaran air susu. 1994): a. Faktor yang harus disampaikan agar ibu dapat melakukan tindakan yang terbaik dalam perawatan bayi hiperbilirubinemia (warley &Wong. Memberikan penjelasan tentang prosedur fototherapi pengganti untuk menurunkan kadar bilirubin bayi. mulut. b. 22 .  Hindari penggunaan bedak pada lipatan paha dan tubuh karena dapat mengakibatkan lecet karena gesekan  Melihat faktor resiko yang dapat menyebabkan kerusakan kulit seperti penekanan yang lama. garukan . daerah perineal dan daerah sekitar kulit yang rusak. Discharge Planning Pertumbuhan dan perkembangan serta perubahan kebutuhan bayi dengan hiperbilirubin (seperti rangsangan. d. apatis.  Gunakan pelembab kulit setelah dibersihkan untuk mempertahankan kelembaban kulit. dan kontak sosial) selalu menjadi tanggung jawab orang tua dalam memenuhinya dengan mengikuti aturan dan gambaran yang diberikan selama perawatan di Rumah Sakit dan perawatan lanjutan dirumah. e.

Keamanan  Mencegah bayi dari trauma seperti. gunting) yang mudah dijangkau oleh bayi / balita. kejatuhan benda tajam (pisau. 4. 8. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah : 1. 7.  Pengawasan yang ketat terhadap bayi oleh saudara – saudaranya. Cara memandikan bayi dengan air hangat (37 -38 celsius) Perawatan tali pusat / umbilicus Mengganti popok dan pakaian bayi Menangis merupakan suatu komunikasi jika bayi tidak nyaman. 3. 2. listrik. bosan. 12. 6.  Mencegah benda panas. Tanda-tanda dan gejala penyakit. Imunisasi 11. capilari reffil. misalnya :  letargi ( bayi sulit dibangunkan )  demam ( suhu > celsius)37  muntah (sebagian besar atau seluruh makanan sebanyak 2 x)  diare ( lebih dari 3 x)  tidak ada nafsu makan. 23 . dan lainnya  Menjaga keamanan bayi selama perjalanan dengan menggunakan mobil atau sarana lainnya. 9. kontak dengan sesuatu yang baru 5. Melakukan pengkajian yang ketat tentang status gizi bayi seperti : turgor kulit. Temperatur / suhu Pernapasan Cara menyusui Eliminasi Perawatan sirkumsisi 10.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->