P. 1
Metode Drill

Metode Drill

|Views: 492|Likes:
Published by Sepri Chepz

More info:

Published by: Sepri Chepz on Apr 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/02/2015

pdf

text

original

PENERAPAN METODE RESITASI DAN METODE DRILL

SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
KELAS III PADA PELAJARAN MATEMATIKA DI SDN
PULEREJO 02 BAKUNG BLITAR

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik
Ibrahim Malang untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna
Memperoleh Gelar Stara Satu Sarjana Pendidikan (S. Pd)


Oleh:

Wildan Irwahyudi
0 7 1 4 0 0 3 7











PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDA’IYYAH
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDA’IYYAH
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
Januari, 2010

PENERAPAN METODE RESITASI DAN METODE DRILL
SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
KELAS III PADA PELAJARAN MATEMATIKA DI SDN
PULEREJO 02 BAKUNG BLITAR

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik
Ibrahim Malang untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna
Memperoleh Gelar Stara Satu Sarjana Pendidikan (S. Pd)


Oleh:

Wildan Irwahyudi
0 7 1 4 0 0 3 7











PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDA’IYYAH
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDA’IYYAH
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
Januari, 2010

PENERAPAN METODE RESITASI DAN METODE DRILL
SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
KELAS III PADA PELAJARAN MATEMATIKA DI SDN
PULEREJO 02 BAKUNG BLITAR

SKRIPSI

Oleh :
Wildan Irwahyudi
0 7 1 4 0 0 3 7


Disetujui oleh :
Dosen Pembimbing


Hj. Rahmawati Baharuddin, M.A
NIP. 19720715 200112 2 001


Tanggal 30 Januari 2010


Mengetahui
Ketua Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’iyyah



Dr. Hj. Sulalah, M. Ag
NIP. 19651112 199403 2 002

HALAMAN PENGESAHAN

PENERAPAN METODE RESITASI DAN METODE DRILL
SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
KELAS III PADA PELAJARAN MATEMATIKA DI SDN
PULEREJO 02 BAKUNG BLITAR

SKRIPSI
Dipersiapkan dan disusun oleh
Wildan Irwahyudi (07140037)
Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal
11 Pebruari 2010 dengan nilai B+
Dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan
Untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Pada tanggal: 11 Pebruari 2010

Ketua Sidang,




Muhammad Walid, M.A
NIP. 19730823 200003 1 002
Sekretaris Sidang,



Hj. Rahmawati B, M. A
NIP. 19720715 200112 2 003



Penguji Utama,





Dr. H.M. Zainuddin, M.A
NIP. 19620507 199503 1 001


Pembimbing,




Hj. Rahmawati B, M. A
NIP. 19720715 200112 2 003


Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang




Dr. H.M. Zainuddin, M.A
NIP. 19620507 199503 1 001
Lembar Persembahan

Do’a yang terlantun dari bibir sucimu,
adalah oksigen yang memenuhi paru- paru hidupku
Tetes- tetes peluh dan air matamu, adalah darah yang mengaliri tubuhku
Sebuah persembahan tak berarti ini, takkan sanggup merangkai sejuta kasih,
Hanya butir- butir terimakasih Untukmu, ayah bundaku ......
Tiap nafasku, adalah senandung do’a untukmu.
Uhibbu fillah ............... kulukis gurat wajahmu dengan sebait do’a
Jiwa dan cintaku, hanya terjaga untukmu
Semoga cinta kasih Allah, kan mempertemukan kita dalam cinta yang abadi.
Buat Sahabat- sahabatku kelompok PKLI 15, ayo terus menjelajahi dunia ini.
Untuk semua teman-teman seperjuangan mulai A sampai Z
Jangan sampai kita melupakan motto kita
Ayo terus

Dzikir, Fikir dan Amal Sholeh................. Dzikir, Fikir dan Amal Sholeh................. Dzikir, Fikir dan Amal Sholeh................. Dzikir, Fikir dan Amal Sholeh.................
MOTTO


َ ªَ -ْ -ِ ~َ ;ْ -ا ِ ªْ -َ -ِ ا اْ;ُ ·َ -ْ -اَ و =ا اْ;ُ - -ا ا;ُ -َ -' َ Qْ -ِ -َ -ا 'َ )ُ -!َ -
َ نْ;ُ =ِ -ْ -ُ - ْ;ُ - -َ ·َ - ِ ªِ -ْ -ِ -َ ~ ْ¸ِ - اْوُ -ِ ه'َ =َ و ) '--ا ة-- (:

“ Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan
yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada
jalan-Nya. Supaya kamu mendapatkan keberuntungan”.
(Al-Maidah :35)

Hj. Rahmawati Baharuddin, M.A
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Nota Dinas Pembimbing

Hal : Skripsi Wildan Irwahyudi Malang, 30 Januari 2010
Lamp : 4 (empat) Eksemplar


Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Di
Malang

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa
maupun teknik penulisan dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di
bawah ini:

Nama : Wildan Irwahyudi
NIM : 07140037
Jurusan : Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’iyyah
Judul Skripsi : Penerapan Metode Resitasi Dan Metode Drill Sebagai
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas III Pada
Pelajaran Matematika Di SDN Pulerejo 02 Bakung
Blitar.

Maka selaku pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah
layak diajukan untuk diujikan.
Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Pembimbing




Hj. Rahmawati Baharuddin, M.A
NIP. 19720715 200112 2 001


SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan
tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu
dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar rujukan.



Malang, 30 Januari 2010


Wildan Irwahyudi
KATA PENGANTAR


Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT yang
telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan judul “ Penerapan Metode Resitasi Dan Metode
Drill Sebagai Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas III Pada
Pelajaran Matematika di SDN Pulerejo 02 Bakung Blitar.”
Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan Nabi
Muhammad SAW, para keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang telah
membawa petunjuk kebenaran seluruh manusia yaitu al-Dinul Islam yang kita
harapkan syafa’atnya di dunia dan di akhirat.
Penulisan dan penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk melengkapi
dari keseluruhan kegiatan perkuliahan yang telah dicanangkan oleh UIN Maulana
Malik Ibrahim Malang sebagai bentuk pertanggung jawaban penulis menjadi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki)
Malang serta untuk memenuhi salah satu persyaratan guna memperoleh gelar stara
satu Sarjana Pendidikan di UIN Maliki Malang.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa keterbatasan kemampuan dan
kurangnya pengalaman, banyaknya hambatan dan kesulitan senantiasa penulis
temui dalam penyusunan skripsi ini. Dengan terselesainya skripsi ini, tak lupa
penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang memberikan
arahan, bimbingan dan petunjuk dalam penyusunan skripsi ini, dengan segala
kerendahan hati, diucapkan terimakasih kepada:
1. Kedua orang tuaku yang selalu menjadi orang terbaik disisiku dan terimakasih
telah membimbing, mengarahkan dan mengiringi do’a dalam setiap langkah
dan juga kakak-kakakku yang kusayangi.
2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor UIN Maliki Malang.
3. Bapak Dr. H. M. Zainuddin, M.A selaku Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maliki
Malang.
4. Dra. Hj. Sulalah, M. Ag, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Guru Madrasah
Ibtida’iyyah.
5. Hj. Rahmawati Baharuddin, M.A selaku Dosen Pembimbing yang telah
memberikan arahan dan bimbingannya hingga skripsi ini selesai.
6. Bapak dan ibu dosen UIN Maliki Malang yang telah membimbing penulis
selama belajar dibangku perkuliahan.
7. Bapak Tugiat Sucipto, S.Pd selaku Kepala Sekolah SDN Pulerejo 02 Bakung
Blitar yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengadakan
penelitian di lembaga yang dipimpin.
8. Segenap teman-teman Guru dan Karyawan SDN Pulerejo 02 Bakung Blitar
yang telah memberikan bantuannya dalam memberikan data-data selama
penelitihan ini berlangsung.
9. Seluruh siswa/i kelas III SDN Pulerejo 02 Bakung Blitar yang turut membantu
jalannya program penelitian ini.
10. Semua teman-teman PGMI angkatan 2005 yang selalu memberikan banyak
pengalaman yang berharga, tak lupa juga teman-teman PKLI JBT&CHY15
persaudaraan kita akan tetap abadi walau kita saling berjauhan.
11. Teman- teman senasib seperjuangan di rayon kawah chondrodimuko yang telah
memberikan dorongan semangat dan motivasi spirituilnya. Disinilah aku
menemukan saudara yang hangat.
12. Uhibbu fillah,cinta kita kan abadi walau gelombang menggoncangkan hati kita.
13. Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, yang
tidak bisa disebutkan satu persatu.
Semoga segala bantuan dan motivasi yang diberikan kepada penulis akan
dibalas dengan limpahan rahmat dan kebaikan oleh Allah SWT dan dijadikan amal
sholeh yang berguna Fiddunnya Wal Akhirat. Amin….
Selanjutnya penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari
sempurna dengan berbagai kekurangan. Dan akhirnya penulis berharap semoga apa
yang penulis laporkan dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan
umumnya bagi para pembaca untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Amin-
amin Ya Robbal Alamin ... .

Malang, 30 Januari 2010
Penulis

Wildan Irwahyudi
DAFTAR TABEL

Hal
Tabel 4.1 Alokasi Jampel SDN Pulerejo 02 TA 2009/2010 .......................... 63
Tabel 4.2 SKM Setiap Mapel SDN Pulerejo 02 TA 2009/2010 ..................... 63
Tabel 4.3 Jumlah Gedung/ruang ................................................................... 64
Tabel 4.4 Sarana pendidikan......................................................................... 65
Tabel 4.5 Data Guru dan Karyawan Tahun 2009/2010 ................................. 66
Tabel 4.6 Data Jumlah Siswa ........................................................................ 66
Tabel 4.7 Skor kelompok mata pelajaran matematika ................................... 72
Tabel 4.8 Distribusi Skor Tes Individual Pertemuan ke I .............................. 73
Tabel 4.9 Distribusi Skor Tes Individual Pertemuan ke II ............................. 76
Tabel 4.10 Distribusi Skor Tes Individual Pertemuan ke II ........................... 77
Tabel 4.11 Distribusi Skor Rata-rata Tes Individual Siklus I ........................ 80
Tabel 4.12 Distribusi Skor Tes Individual Siklus II ...................................... 85
Tabel 4.13 Tanggapan Siswa Terhadap Penerapan Metode ........................... 86
DAFTAR GAMBAR

Hal
Gambar 3.1 Alur PTK ................................................................................. 55
Gambar 3.2 Spiral Penelitian Tindakan Kelas ............................................. 55
Gambar 4.1 Struktur Organisasi SDN Pulerejo 02 ....................................... 67
Gambar 5.1 Krucut Pengalaman Belajar....................................................... 98

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Angket Respon Siswa .............................................................
Lampiran 2 Format Observasi Perilaku Siswa siklus I ................................
Format Observasi Perilaku Siswa siklus II ...............................
Lampiran 3 Struktur Organisasi Sekolah ....................................................
Lampiran 4 Denah Sekolah ........................................................................
Lampiran 5 Jadwal Pelajaran Kelas III Tahun Akademik 2009/2010 ..........
Lampiran 6 Pedoman Wawancara ..............................................................
Lampiran 7 Pedoman wawancara Siswa .....................................................
Lampiran 8 Surat Keterangan Penelitian ....................................................
Lampiran 9 Daftar Nama Kelompok Pembelajaran .....................................
Lampiran 10 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran .......................................
Lampiran 11 Dokumentasi Hasil Penelitian ................................................
Lampiran 12 Surat Penelitian .....................................................................
Lampiran 13 Bukti Konsultasi ....................................................................
Lampiran 14 Riwayat Hidup Peneliti ..........................................................
DAFTAR ISI

Hal
HALAMAN SAMPUL ................................................................................ i
HALAMAN JUDUL ................................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................. v
MOTTO ...................................................................................................... vi
HALAMAN NOTA DINAS ........................................................................ vii
HALAMAN PERNYATAAN ..................................................................... viii
KATA PENGANTAR ................................................................................. ix
DAFTAR TABEL ....................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xiv
DAFTAR ISI ............................................................................................... xv
ABSTRAK ................................................................................................... xx

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................... 5
C. Tujuan Penelitian ...................................................................... 6
D. Manfaat Penelitian .................................................................... 7
E. Ruang Lingkup Pembahasan ..................................................... 8
F. Sistematika Pembahasan ........................................................... 8

BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Tentang Metode Pembelajaran .................................. 11
1. Pengertian Metode ................................................................. 11
2. Prinsip- Prinsip Metode Mengajar .......................................... 15
3. Kedudukan Metode Dalam Belajar Mengajar ......................... 16
B. Metode Resitasi ....................................................................... 25
1. Pengertian Metode resitasi ..................................................... 25
2. Fase Penugasan (resitasi) ....................................................... 27
3. Kelebihan dan Kekurangan Metode resitasi ........................... 29
C. Metode Drill ............................................................................ 30
1. Pengertian Metode Drill ....................................................... 30
2. Macam-Macam Metode Drill ............................................... 32
3. Tujuan Penggunaan Metode Drill ......................................... 33
4. Syarat-Syarat Dalam Metode Drill ....................................... 33
5. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Metode Drill ........ 34
6. Prinsip Dan Petunjuk Menggunakan Metode Drill ............... 35
7. Langkah Metode Drill .......................................................... 36
8. Keuntungan Atau Kelebihan Metode Drill ........................... 38
9. Kekurangan Metode Drill Dan Petunjuk Untuk
Mengurangi Kekurangan ..................................................... 39
10. Latihan Siap (Drill) Cocok Digunakan ................................ 41
D. Kajian Tentang Hasil Belajar ................................................ 42

BAB III. METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan jenis Penelitian ................................................ 47
B. Kehadiran Peneliti .................................................................... 48
C. Lokasi Penelitian ...................................................................... 49
D. Sumber Data ............................................................................. 49
E. Tehnik Pengumpulan Data ........................................................ 50
F. Langkah-langkah Penelitian ..................................................... 54
G. Analisis data ............................................................................. 58

BAB IV. HASIL PENELITIAN
A. Latar Belakang Obyek Penelitian .......................................... 60
1. Sejarah Berdirinya SDN Pulerejo 02 ................................ 60
2. Visi dan Misi ................................................................... 61
3. Kurikulum SDN Pulerejo 02 ............................................ 62
4. Kenaikan Kelas dan Kelulusan ......................................... 63
5. Sarana dan Prasarana ....................................................... 64
6. Data Guru dan Karyawan Tahun 2009/2010 ..................... 66
7. Data Jumlah Siswa ........................................................... 66
8. Struktur Organisasi SDN Pulerejo 02 ............................... 67

B. PAPARAN DATA................................................................... 67
1. Paparan Data dan Temuan Penelitian Siklus I .................. 67
2. Paparan Data dan Temuan Penelitian Siklus II ................. 81

BAB V. PEMBAHASAN
A. Perencanaan pembelajaran dengan menerapkan metode
resitasi dan drill dalam meningkatkan hasil belajar mata
pelajaran Matematika kelas III SDN Pulerejo 02 kecamatan
Bakung kabupaten Blitar........................................................... 94
B. Pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan metode
resitasi dan drill dalam meningkatkan hasil belajar mata
pelajaran Matematika kelas III SDN Pulerejo 02 kecamatan
Bakung kabupaten Blitar........................................................... 94
C. Evaluasi pembelajaran dengan menerapkan metode resitasi
dan drill dalam meningkatkan hasil belajar mata pelajaran
Matematika kelas III SDN Pulerejo 02 kecamatan Bakung
kabupaten Blitar ....................................................................... 96

BAB VI. PENUTUP
D. Kesimpulan .............................................................................. 99
E. Saran ........................................................................................ 100
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
ABSTRAK

Wildan Irwahyudi, 2010, "Penerapan Metode Resitasi Dan Metode Drill Sebagai
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas III Pada Pelajaran
Matematika Di SDN Pulerejo 02 Bakung Kabupaten Blitar". Skripsi
Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’iyyah, Fakultas Tarbiyah,
Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.
Dosen pembimbing : Hj.Rahmawati Baharuddin, M.A

Kata Kunci : Metode, Resitasi, Drill, Hasil Belajar

Suatu lembaga pendidikan akan dapat bersaing secara kompetitif apabila
dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas. Guru memiliki peran yang sangat
penting dalam peningkatan kualitas peserta didik terlepas seperti apapun latar
belakang siswa didiknya. Karena itu Guru dituntut menguasai metode pembelajaran
yang beragam dengan tujuan agar bisa memilih metode yang sesuai dengan situasi
dan kondisi siswa yang dihadapi. Fenomena yang terjadi di SDN Pulerajo 02 Bakung
Blitar, ada beberapa hambatan, hambatan yang paling signifikan yaitu hasil belajar
siswa yang kurang memuaskan (kebanyakan siswa memperoleh nilai 50 ke bawah) dan
siswa terlalu lama dalam mengerjakan soal yang diberikan oleh guru. Menyikapi
permasalahan tersebut, maka perlu diterapkan metode yang lebih tepat.
Untuk menanggulangi hal itu telah banyak konsep metode pembelajaran aktif
yang ditawarkan. Metode pembelajaran aktif nampaknya merupakan salah satu
jawaban atas permasalahan tentang rendahnya mutu atau kualitas pembelajaran di
SDN Pulerejo 02 Bakung Blitar. Salah satunya adalah dengan menerapkan metode
resitasi dan drill pada pembelajaran ini, diharapkan hasil belajar siswa terus
meningkat, sebab pada metode ini keaktifan peserta didik lebih diutamakan.
Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan proses perencanaan
pembelajaran dengan menerapkan metode penugasan (resitasi) dan drill dalam upaya
meningkatkan hasil belajar perkalian dan pembagian pada mata pelajaran
Matematika kelas III SDN Pulerejo 02 kecamatan Bakung kabupaten Blitar, (2)
Mendeskripsikan proses pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan metode
penugasan (resitasi) dan drill dalam meningkatkan hasil belajar perkalian dan
pembagian pada mata pelajaran Matematika kelas III SDN Pulerejo 02 kecamatan
Bakung kabupaten Blitar, (3) Mendeskripsikan proses mengevaluasi pembelajaran
dengan menerapkan metode penugasan (resitasi) dan drill dalam meningkatkan hasil
belajar perkalian dan pembagian pada mata pelajaran Matematika siswa kelas III
SDN Pulerejo 02 kecamatan Bakung kabupaten Blitar.
Penelitian yang penulis lakukan ini menggunakan pendekatan kualitatif
dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Urutan kegiatan penelitian mencakup:
(1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan dan (4) refleksi. Dalam
pengumpulan data, penulis menggunakan teknik wawancara, observasi, dokumentasi,
pengukuran tes hasil belajar, dan angket. Sedangkan untuk analisisnya, penulis
menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Untuk uji keabsahan data penulis
menggunakan teknik triangulasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil tes individual pada
post tes siklus I, dan post tes siklus II terjadi peningkatan yang signifikan, mulai dari
tingkat keberhasilan post tes siklus I sebesar 71,43% atau sebanyak 5 siswa dari 7
peserta tes yang dinyatakan lulus. Sedangkan yang gagal sebanyak 2 siswa atau
sebesar 28,57%. Setelah dilakukan tindakan dengan menggunakan metode resitasi
dan drill selama dua siklus (3 kali pertemuan). Kemudian pada siklus II meningkat
menjadi 85,71% atau sebanyak 6 siswa dari 7 peserta tes yang dinyatakan lulus.
Sedangkan yang gagal sebanyak 1 siswa atau sebesar 14,29%. Hal ini menunjukkan
bahwa 90% siswa berhasil mempelajari perkalian yang hasilnya bilangan tiga angka
dan pembagian bilangan tiga angka pada mata pelajaran Matematika dengan
menerapkan metode resitasi dan drill.





BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia selain sebagai makhluk yang belajar juga merupakan makhluk
yang dapat dan harus di didik. Melalui pendidikan, manusia diharapkan dapat
memanusiakan dirinya dan orang lain. Melalui pendidikan pula manusia mudah
dipersiapkan guna memiliki peranan di masa depan.
Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional,
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
1


Berhasil atau tidak suatu pendidikan dalam suatu negara salah satunya
adalah karena guru. Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam
perkembangan dan kemajuan anak didiknya. Dari sinilah guru dituntut untuk
dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Untuk dapat mencapai tujuan
pengajaran yang diharapkan guru harus pandai memilih metode yang tepat dan
sesuai dengan kebutuhan anak didik. Supaya anak didik dapat mengikuti proses
pembelajaran secara seksama dan memperoleh kefahaman terhadap materi yang
telah disampaikan oleh gurunya.

1
Asian Brain.com Conten team, Pengertian pandidikan (http.www.asianbrain.com, diakses 15
Agustus 2009)
Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar pada
setiap individu atau kelompok untuk merubah sikap dari tidak tahu menjadi tahu
sepanjang hidupnya. Proses belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang di
dalamnya terjadi proses siswa belajar dan guru mengajar dalam konteks
interaktif, dan terjadi interaksi edukatif antara guru dan siswa, sehingga terdapat
perubahan dalam diri siswa baik perubahan pada tingkat pengetahuan,
pemahaman dan ketrampilan atau sikap.
2


Dalam kegiatan pembelajaran terdapat dua kegiatan yang sinergik, yakni
guru mengajar dan siswa belajar. Guru mengajarkan bagaimana siswa harus
belajar. Sementara siswa belajar bagaimana seharusnya belajar melalui berbagai
pengalaman belajar sehingga terjadi perubahan dalam dirinya dari aspek kognitif,
psikomotorik, dan afektif. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan
lingkungan yang efektif dan akan lebih mampu mengelola proses belajar
mengajar, sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal.
Mengembangkan metode pengajaran merupakan salah satu upaya untuk
meningkatkan kualitas belajar siswa. Metode dalam proses belajar mengajar
merupakan sebagai alat untuk mencapai tujuan, perumusan tujuan dengan
sejelas-jelasnya merupakan syarat terpenting sebelum seseorang menentukan dan
memilih metode mengajar yang tepat. Apabila seorang guru dalam memilih
metode mengajar kurang tepat akan menyebabkan kekaburan tujuan yang
menyebabkan kesulitan dalam memilih dan menentukan metode yang akan
digunakan. Selain itu pendidik juga dituntut untuk mengetahui serta menguasai
beberapa metode dengan harapan tidak hanya menguasai metode secara teoritis

2
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Bandung : Bumi Aksara, 2001), hlm. 48
tetapi pendidik dituntut juga mampu memilih metode yang tepat untuk bisa
mengoperasionalkan secara baik.
3

Seorang pendidik dituntut untuk menguasai metode karena dapat
membantu pendidik untuk mempermudah tugasnya dalam menyampaikan mata
pelajaran tersebut. Dan yang terpenting metode digunakan agar siswa mampu
berperan aktif dalam proses belajar mengajar. Hal ini sangat berhubungan dengan
Kurikulum yang digunakan dalam pembelajaran sekarang ini yaitu Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pendidik dituntut untuk menerapakan tiga
ranah dalam pendidikan yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dan juga
guru diharapkan mampu melihat tingkat kemampuan yang dimiliki oleh siswa,
baik itu siswa yang visual, auditorial maupun kinestik.
Disaat sekarang ini sering dijumpai para siswa yang tidak punya kesiapan
dalam menghadapi kegiatan belajar mengajar, terutama dalam hal materi
pelajaran yang akan disampaikan, bahkan kadang lupa sama sekali, sehingga
ketika di dalam kelas siswa tidak tahu materi apa yang dibahas, apalagi mengenai
isinya dan sering dari mereka itu melupakannya. Selain itu dalam proses belajar
mengajar sering kita jumpai bebagai permasalahan yang salah satunya adalah
masalah alokasi waktu yang tidak mencukupi, sehingga menyebabkan interaksi
belajar mengajar menjadi tidak efektif dan efesien serta tidak sesuai dengan
tuntutan yang diharapkan oleh kurikulum.

3
Zuhairini Abdul Ghofir dkk, Metode Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya:Usaha Nasional,
1983), hal. 79
Permasalahan tersebut juga terjadi di SDN Pulerejo 02 kecamatan
Bakung kabupaten Blitar. Dari hasil observasi dan wawancara peneliti dengan
dewan guru dan pihak sekolah, dapat diambil kesimpulan sementara bahwa di
SDN Pulerejo 02 kecamatan Bakung kabupaten Blitar mengalami permasalahan
pembelajaran, khususnya mata pelajaran matematika di kelas 3.
Kondisi tersebut tentu saja berpengaruh pada hasil belajar siswa kelas 3
SDN pulerejo 02 kecamatan Bakung kabupaten Blitar. Hal ini terlihat pada saat
diadakan ulangan harian, banyak diantara siswa yang mendapat nilai di bawah
rata-rata, sehingga guru harus mengulang lagi materi yang telah diajarkan dan
diadakan remedial untuk memberi kesempatan pada siswa memperbaiki nilai
mereka. Efeknya adalah alokasi waktu untuk materi berikutnya menjadi
berkurang, sehingga waktu yang dimiliki oleh guru untuk menyampaikan materi
berikutnya juga berkurang dikarenakan waktu yang yang telah tersita untuk
mengulang materi yang sebelumnya. Resiko yang muncul kemudian adalah,
siswa akan kewalan dalam menghadapi ujian semester dan ujian kenaikan kelas,
karena materi yang diujikan mencakup seluruh BAB pada semsester I
4
.
Maka untuk mengatasi hal tersebut diperlukan metode pembelajaran agar
pelaksanaan belajar mengajar dapat terlakasana secara efektif, satu metode yang
bisa memaksimalkan waktu yang tersedia serta mampu “memaksa” siswa terus
belajar walaupun tidak dalam proses pembelajaran di kelas, salah satunya yaitu
dengan menerapkan atau menggunakan metode resitasi atau penugasan, baik itu
tugas individual atau kelompok, rumah / sekolah, merupakan salah satu metode

4
Ibid,
dari sekian banyak metode yang ada, yang dipadukan dengan metode drill
sebagai langkah alternatif dalam rangka mengefesiensikan proses pembelajaran.
Perlu diingat bahwa metode resitasi pada hakekatnya adalah menyuruh anak
didik untuk melakukan kegiatan (pekerjaan) belajar, baik berguna bagi dirinya
sendiri maupun dalam proses memperdalam dan memperluas pengetahuan dan
pengertian bidang studi yang dipelajarinya.
Sedangkan makna dari metode drill adalah suatu cara mengajar dimana
siswa melaksanakan kegiatan- kegiatan latihan, agar siswa memiliki ketangkasan
atau ketrampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari.
5
Walaupun kedua
metode tersebut termasuk metode yang sangat konvensional, namun dalam
konteks permasalahan yang terjadi di SDN Pulerjo 02 Bakung, pemilihan metode
resitasi dan drill oleh peneliti sangat sesuai dengan kondisi sesuai siswa. Karena
peneliti memiliki asumsi bahwa tidak ada metode yang terbaik namun yang ada
adalah metode yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi di lapangan.
Berangkat dari permasalahan di atas maka penulis tertarik untuk
mengambil judul “Penggunaan metode resitasi dan metode drill sebagai upaya
meningkatkan hasil belajar siswa kelas III pada pelajaran matematika di SDN
Pulerejo 02 Bakung kabupaten Blitar.”

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas maka dapat penulis kemukakan beberapa
permasalahan sebagai berikut:

5
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar(Jakarta: PT. Rineka Cipta,
1996), hal. 108
1) Bagaimanakah proses perencanaan pembelajaran dengan menerapkan metode
penugasan (resitasi) dan drill dalam upaya meningkatkan hasil belajar
perkalian dan pembagian pada mata pelajaran Matematika kelas III SDN
Pulerejo 02 kecamatan Bakung kabupaten Blitar?
2) Bagaimanakah proses pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan metode
penugasan (resitasi) dan drill dalam meningkatkan hasil belajar perkalian dan
pembagian pada mata pelajaran Matematika kelas III SDN Pulerejo 02
kecamatan Bakung kabupaten Blitar?
3) Bagaimana proses mengevaluasi pembelajaran dengan menerapkan metode
penugasan (resitasi) dan drill dalam meningkatkan hasil belajar perkalian dan
pembagian pada mata pelajaran Matematika siswa kelas III SDN Pulerejo 02
kecamatan Bakung kabupaten Blitar?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk :
1) Mendeskripsikan proses perencanaan pembelajaran dengan menerapkan
metode penugasan (resitasi) dan drill dalam upaya meningkatkan hasil
belajar perkalian dan pembagian pada mata pelajaran Matematika kelas III
SDN Pulerejo 02 kecamatan Bakung kabupaten Blitar.
2) Mendeskripsikan proses pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan
metode penugasan (resitasi) dan drill dalam meningkatkan hasil belajar
perkalian dan pembagian pada mata pelajaran Matematika kelas III SDN
Pulerejo 02 kecamatan Bakung kabupaten Blitar.
3) Mendeskripsikan proses mengevaluasi pembelajaran dengan menerapkan
metode penugasan (resitasi) dan drill dalam meningkatkan hasil belajar
perkalian dan pembagian pada mata pelajaran Matematika siswa kelas III
SDN Pulerejo 02 kecamatan Bakung kabupaten Blitar.

D. Kegunaan Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah untuk:
1. Lembaga
Dengan metode Penugasan (resitasi) dan drill ini akan menjadi bahan
pertimbangan lembaga atau sekolah dalam menentukan yang lebih baik dalam
proses belajar mengajar.
2. Guru
Penggunaan metode Penugasan (resitasi) dan drill ini akan mempermudah
para guru dalam mengaktifkan pembelajaran di kelas.
3. Siswa.
Dengan metode Penugasan (resitasi) dan drill, siswa diharapkan lebih aktif
dalam pembelajaran di kelas.
4. Peneliti
Dengan metode Penugasan (resitasi) dan drill diharapkan menambah
wawasan pengetahuan penulis, sebagai bahan untuk memperluas peneliti
dalam mempersiapkan diri sebagai calon tenaga pendidik.


5. IPTEK
Bagi IPTEK, penelitian ini diharapkan menjadi sumbangsih pemikiran bagi
upaya pengembangan ilmu pendidikan, serta dapat dijadikan referensi dalam
memilih dan menerapkan strategi, metode atau media pembelajaran yang
akan digunakan.

E. Ruang Lingkup Pembahasan
Pembahasan penelitian tidak lepas dari ruang lingkup pembahasan. Hal
ini untuk menghindari kekaburan dan kesimpangsiuran dalam pembahasan,
sehingga dapat mengarah kepada pokok bahasan yang ingin dicapai. Adapun
ruang lingkup penelitian ini meliputi:
1. Metode yang dapat dipakai pada penyampaian pembelajaran Matematika ini
sangat bermacam-macam. Tetapi yang dipakai oleh penulis disini hanya
metode drill dan resitasi saja.
2. Materi yang diteliti adalah materi tentang perkalian dan pembagian bidang
studi Matematika semester satu tahun ajaran ajaran 2009-2010 pada siswa
kelas 3 di SDN Pulerajo 02 kecamatan Bakung.

F. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan merupakan suatu rangkaian dari beberapa uraian
dalam suatu sistem pembahasan. Dalam kaitannya dengan penulisan ini
sistematika pembahasannya meliputi enam bab, di mana masing-masing bab
terdiri dari sub bab yang saling berkaitan antara lain:
Pada Bab Pertama ini yaitu Bab Pendahuluan, penulis kemukakan
berbagai gambaran singkat untuk mencapai tujuan penulisan, yaitu meliputi:
latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, serta
sistematika pembahasan.
Kemudian pada bab yang kedua yaitu kajian teori memaparkan
tentang:
1. Kajian tentang metode pembelajaran, yang mencakup; Pengertian Metode
itu sendiri, Prinsip - Prinsip Metode Mengajar, Kedudukan Metode Dalam
Belajar Mengajar
2. Metode penugasan (Resitasi) mencakup: pengertian metode penugasan
(resitasi), fase penugasan (Resitasi), dan kelebihan dan kekurangan metode
penugasan (resitasi) serta prosedur penerapannya.
3. Metode Drill mencakup; pengertian metode driil, macam-macam metode
Drill, tujuan penggunaan metode Drill, syarat-syarat metode Drill, hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam metode Drill, prinsip dan petunjuk
menggunakan metode Drill, langkah metode Drill, keuntungan atau
kelebihan metode Drill, kekurangan metode Drill dan petunjuk untuk
mengurangi kekurangan, dan latihan siap (Drill) cocok digunakan.
4. Hasil mencakup; pengertian hasil belajar, tujuan hasil dalam KBM, teori
hasil , fungsi hasil , hasil di sekolah, hasil orang tua, dan bentuk-bentuk
hasil .
Pada bab ketiga, yaitu memaparkan pendekatan dan jenis penelitian, lokasi
penelitian, tehnik pengumpulan data dan tehnik analisis data.
Selanjutnya Pada bab Keempat, memaparkan hasil penelitian di lapangan
yaitu di SDN Pulerejo 02 kecamatan Bakung kabupaten Blitar dan analisa
tentang hasil penelitian.
Pada bab kelima, berisi tentang pembahasan secara lebih mendalam dari
hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bab empat.
Pada bab terakhir, yaitu bab keenam sebagai bab penutup berisi tentang
kesimpulan terhadap data-data yang telah dianalisis dan saran-saran.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Tentang Metode Pembelajaran
1. Pengertian Metode
Mengajar adalah suatu seni sehingga tiap-tiap orang akan berbeda-
beda dalam mengajar sesuai dengan bakat, kemampuan dan ketrampilan
masing-masing individu. Sebagai suatu seni maka dalam setiap mengajar
guru harus bisa memberikan kesenangan, kepuasan dan kenyamanan pada
siswa, agar peserta didik dapat timbul gairah dan mempunyai semangat
belajar yang tinggi.
Dalam proses belajar mengajar guru sebagai fasilitator siswa belajar
harus memiliki strategi yang efektif dan efisien, agar dapat mengoptimalkan
kualitas pembelajaran. Salah satu cara untuk satu cara untuk memiliki strategi
itu adalah harus menguasai teknik-teknik penyajian atau biasanya disebut
metode mengajar. Dari pengertian tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan
bahwa metode merupakan suatau cara yang dipakai untuk mencapai tujuan,
serta suatu ilmu dalam merumuskan aturan-aturan dari suatu prosedur.
Dalam kegiatan belajar mengajar, metode menempati peranan yang
tidak kalah pentingnya dari komponen lainnya dalam kegiatan belajar
mengajar. Metode merupakan suatu alat untuk mehasil dan sebagai alat
untuk mencapai tujuan dalam pengajaran. Dari berbagai pakar dalam dunia
pendidikan memiliki pendapat yang berbeda-beda untuk mendefinsikan
pengertian tentang metode. Suprihadi Saputro menjelaskan bahwa “metode
adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan.
Metode adalah cara-cara yang dilaksanakan untuk mengadakan interaksi
belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan pengajaran.”
6

Sehingga metode juga bisa diartikan sebagai cara mengerjakan
sesuatu. Dan cara itu mungkin baik, tapi mungkin tidak baik. Baik dan tidak
baiknya sesuatu metode banyak tergantung kepada beberapa faktor. Dan
faktor-faktor tersebut, mungkin berupa situasi dan kondisi serta pemakaian
dari suatu metode tersebut.
Para ahli mendefinisikan beberapa pengertian tentang metode antara
lain:
1. Lalu Muhammad Azhar dalam bukunya menjelaskan bahwa, metode
adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai
tujuan. Ini berlaku bagi guru (metode mengajar), maupun bagi murid
(metode belajar). Semakin baik metode yang dipakai semakin efektif
pencapaian tujuan.
7

2. Ahmad Tafsir dalam bukunya juga mendefinisikan bahwa metode
ialah istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pengertian “cara
yang paling tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu.” Ungkapan
“paling tepat dan cepat” itulah yang membedakan method dengan way
(yang juga berarti cara) dalam bahasa Inggris.
8

3. Syaiful Bahri Djamarah dalam bukunya mengatakan bahwa metode
adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
9


6
Surihadi Saputro, Dasar- Dasar metodologi Pengajaran Umum(IKIP Malang, 1993), hal. 143
7 Lalu Muhammad Azhar, Proses belajar Mengajar Pola CBSA (Surabaya: Usaha Nasional,
1993), hal. 95
8
Ahmad Tafsir, Metodologi pengajaran Agama Islam(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000),
hal. 9
9
Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar(Jakarta: Rineka Cipta, 1995), hal. 53
Jadi metode disini hanya sebagai alat, dan bukan sebagai tujuan
sehingga metode mengandung implikasi bahwasannya proses penggunaannya
harus sistematis dan kondisional. Maka hakekatnya penggunaan metode
dalam proses belajar mengajar adalah pelaksanaan sikap hati-hati dalam
pekerjaan mendidik dan mengajar. Karena metode berarti cara yang paling
tepat dan cepat, maka urutan kerja dalam suatu metode harus diperhitungkan
benar-benar secara ilmiah. Karena itulah, suatu metode selalu merupakan
hasil eksperimen. Kita tahu bahwa suatu konsep yang dieksperimenkan
haruslah sudah lulus uji teori, dengan kata lain suatu konsep yang telah
diterima secara teoritis yang boleh dieksperimenkan.
Mengajar secara efektif sangat bergantung pada pemilihan metode
dan penggunaan metode mengajar yang serasi dengan tujuan mengajar. Guru-
guru yang telah berpengalaman umumnya sependapat bahwa masalah ini
sangat penting bagi calon guru menyangkut kelancaran tugasnya. Karena itu
pelajarilah secara teliti metode-metode mengajar sampai saudara mempunyai
keyakinan, kesanggupan dan pengalaman-pengalaman praktis serta mampu
menggunakannya sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan khusus yang berada
dalam daerah perhatian anak.
Metode mengajar yang digunakan akan menentukan suksesnya
pekerjaan saudara selaku guru kelas.
10
Metode dan juga teknik mengajar
merupakan bagian dari strategi pengajaran. Metode pengajaran dipilih
berdasarkan dari atau dengan pertimbangan jenis strategi yang telah

10
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), hal.13
ditetapkan sebelumnya. Begitu pula, oleh karena metode merupakan bagian
yang integral dengan sistem pengajaran maka perwujudannya tidak dapat
dilepaskan dengan komponen sistem pengajaran yang lain. Dalam pendidikan
metode termasuk salah satu komponen yang penting. Metode termasuk salah
satu instrumen input disamping kurikulum, prasarana dan sarana pendidikan
serta instrumen yang lain.
Dari beberapa pengertian metode diatas, bahwasannya metode
mengajar adalah merupakan suatu sarana atau cara yang harus dilalui untuk
menyajikan bahan pengajaran agar tercapai tujuan pengajaran. Dengan
demikian metode mengajar adalah:
a. Merupakan salah satu komponen dari pada proses belajar mengajar.
b. Merupakan alat mencapai tujuan, yang didukung oleh alat-alat bantu
mengajar.
c. Merupakan kebulatan dalam suatu sistem pendidikan.
Dengan uraian tersebut, terlihat jelas bahwa penguasaan pengatahuan
dan keahlian dibidang metode pengajaran ini, akan mewujudkan pencapaian
tujuan pendidikan lebih terjamin keberhasilannya. Penguasaan ilmu
pengetahuan, kecakapan, skill yang dimiliki oleh guru yang bertugas di
sekolah sudah cukup memadai, namun tidak dapat diingkari, mereka gagal
menjalankan tugasnya disebabkan karena mereka kurang menguasai ilmu-
ilmu keguruan temasuk di dalam ilmu didaktik metodik. Sehingga tidak
mendapatkan tanggapan positif dari anak didik, malahan pengaruh negatif
terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak didiknya.
2. Prinsip- Prinsip Metode Mengajar
Dalam penggunaan metode mengajar harus berdasarkan prinsip-
prinsip sebagai berikut:
a. Setiap metode mengajar senantiasa bertujuan, artinya pemilihan dan
penggunaan suatu metode mengajar adalah berdasarkan pada tujuan yang
hendak dicapai dan digunakan untuk tujuan itu.
b. Pemilihan suatu metode mengajar, yang menyediakan kesempatan belajar
bagi murid, harus berdasarkan kepada keadaan murid, pribadi guru dan
lingkungan belajar.
c. Metode mengajar akan dapat dilaksanakan secara lebih efektif apabila
dibantu dengan alat bantu mengajar.
d. Di dalam pengajaran tidak ada sesuatu metode mengajar yang dianggap
paling baik atau sempurna, metode yang baik apabila berhasil mencapai
tujuan mengajar.
e. Setiap metode mengajar dapat dinilai, apakah metode itu tepat atau tidak
serasi. Penilaian hasil belajar menentukan pula efisiensi dan efektifitasnya
sesuatu metode mengajar.
f. Penggunaan metode mengajar hendaknya bervariasi. Artinya guru
sebaiknya menggunakan berbagai ragam metode sekaligus, sehingga
murid berkesempatan melakukan berbagai proses belajar. Sehingga
mengembangkan berbagai aspek pola tingkah laku murid.
11


Berdasarkan uraian diatas, metode merupakan alat pendidikan dalam
menuntut anak didik mencapai tujuan pendidikan. Dan proses pendidikan
melibatkan pendidik, anak didik di dalam lingkungan tertentu untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu pula. Dalam hal ini pendidik harus
mempelajari metode-metode dalam mengajar. Dan calon guru mempelajari
ilmu pelajaran untuk menguasai metode-metode mengajar. Hendaknya guru
yang kreatif adalah guru yang memakai metode yang bervariasi, hal itu
bertujuan supaya anak didik tidak jenuh dengan materi yang kita ajarkan.



11
Ibid, hal. 99
3. Kedudukan Metode Dalam Belajar Mengajar
Dalam proses belajar mengajar terdapat dua kegiatan diantaranya
kegiatan guru dan murid. Kegiatan belajar mengajar melahirkan interaksi
unsur-unsur manusiawi adalah sebagai suatu proses dalam rangka pencapaian
tujuan pengajaran guru dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar
agar bergairah bagi anak didik. Dengan seperangkat teori dan pengalamannya
yang guru gunakan untuk bagaimana mempersiapkan program pengajaran
yang sistematis. Proses belajar mengajar merupakan kegiatan inti dalam
pendidikan formal di sekolah mencakup berbagai komponen.
Syaiful Bahri Djamarah dalam bukunya menjelaskan, ”sebagai salah
satu komponen pengajaran, metode memiliki arti penting dan patut
dipertimbangkan dalam rangka pengajaran. Tanpa menggunakan metode,
kegiatan interaksi edukatif tidak akan berproses. Karena itu, tidak pernah
ditemui guru mengajar tak memakai metode”.
12


Salah satu usaha yang tidak pernah guru tinggalkan adalah bagaimana
memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil
bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Sehingga berkaitan
dengan pelaksanaan proses belajar mengajar, bahwa yang paling menentukan
adalah guru. Maka seorang guru dengan latar belakang pendidikan keguruan
akan lain kemampuannya bila dibandingkan dengan seseorang dengan latar
belakang pendidikan bukan keguruan. Kemampuan guru yang berpengalaman
tentu lebih berkualitas dibandingkan dengan kemampuan guru yang kurang
berpengalaman dengan pendidikan dan pengajaran.


12
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2000), hal. 187
Daryanto mengatakan,
Dalam proses interaksi edukatif kedudukan metode tidaklah hanya
sekedar suatu cara, akan tetapi sekaligus merupakan teknik di dalam proses
penyampaian materi pengajaran. Oleh sebab itu metode mengajar akan
meliputi kemampuan, mengorganisir kegiatan dan teknik mengajar sampai
kepada evaluasi.
13


Kerangka berfikir yang demikian itu bukanlah suatu hal yang aneh,
tetapi nyata dan memang betul-betul harus dipikirkan oleh seorang guru.
Ketika seorang guru akan melakukan atau memakai sebuah metode, guru juga
harus tahu seberapa jauh metode tersebut akan digunakan. Dijelaskan oleh
Syaiful bahri Djamarah bahwa pemahaman kedudukan metode sebagai alat
hasil ekstrinsik, sebagai pengajaran dan sebagai alat untuk mencapai
tujuan.
14

a. Metode Sebagai Alat Motivasi Ekstrinsik
Motivasi adalah perubahan energi dalam diri pribadi seseorang
yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai
tujuan.
15
Jadi, guru juga harus melihat bagaimana perubahan hasil dari
setiap anak didik setelah guru melakukan metode tersebut.
Ada dua prinsip yang digunakan untuk meninjau hasil , seperti
yang dikemukakan oleh Oemar Hamalik dalam bukunya yaitu:
1) Hasil dipandang sebagai suatu proses. Pengetahuan tentang proses ini
akan membantu kita menjelaskan kelakuan kita amati dan untuk
memperkirakan kelakuan-kelakuan lain pada seseorang.

13
Daryanto, Petunjuk Praktek mengajar (Bandung: Bina Karya, 1981), hal. 11
14
Syaiful Bahri Djamarah, op.cit, hal. 82
15
Oemar Hamalik, op.cid, hal. 158
2) Kita menentukan karakter dari proses ini dengan melihat petunjuk-
petunjuk dengan tingkah lakunya.
16

Sebagai salah satu komponen pengajaran, metode menempati
peranan yang tak kalah pentingnya dari komponen lainnya dalam kegiatan
belajar mengajar. Tidak ada satupun kegiatan belajar mengajar yang tidak
menggunakan metode pengajaran. Ini berarti guru memahami benar
kedudukan sebagai alat hasil ektrinsik dalam kegiatan belajar mengajar.
Sardiman A.M menjelaskan alat hasil ektrinsik adalah motif- motif yang
aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar yang dapat
membangkitkan belajar seseorang.
17

Hasil ekstrinsik ini tetap diperlukan diberbagai keadaan. Sebut
saja hasil ekstrinsik ini juga diperlukan di sekolah, sebab pengajaran di
sekolah tidak semuanya menarik minat siswa atau sesuai dengan
kebutuhan siswa. Lagi pula sering kali para siswa belum memahami
untuk apa ia belajar hal-hal yang diberikan oleh sekolah. Karena itu hasil
terhadap pelajaran itu perlu dibangkitkan oleh guru sehingga para siswa
mau dan ingin belajar. Usaha yang dapat dikerjakan oleh guru memang
banyak. Karena itu di dalam mehasil siswa kita tidak akan menentukan
suatu formula tertentu yang dapat dipergunakan setiap saat oleh guru.
A. Tabrani Rusyan, Atang Kusdinar BA, dan Zainal Arifin.
Menjelaskan bahwa beberapa hal yang menimbulkan hasil ektrinsik
sebagai berikut:

16
Ibid..
17
Sardiman. A.M, Interaksi Dan Motif Belajar Mengajar, (Jakarta: Rajawali Pers, 1990), hal. 86
1) Pendidik memperlakukan anak didiknya sebagai manusia berpribadi,
menghargai pendapatnya, pikirannya, perasaannya maupun
keyakinannya.
2) Pendidik menggunakan berbagai metode dalam melaksanakan
kegiatan pendidikannya.
3) Pendidik senantiasa mengguanakan bahasa yang sesuai dengan tingkat
pengertian anak didik.
4) Pendidik senantiasa memberikan bimbingan kepada anak didiknya
dan membentuk mereka yang mengalami kesulitan, baik yang bersifat
pribadi maupun yang bersifat akademis.
5) Pendidik mempunyai pengatahuan yang luas dan penguasaan bidang
studi atau materi yang diajarkan.
6) Pendidik mempunyai kecintaan yang besar kewpada anak didiknya.
Dalam mengajar, guru jarang sekali menggunakan satu metode,
karena mereka menyadari bahwa semua metode ada kebaikan dan
kelemahannya. Penggunaan satu metode lebih cenderung menghasilkan
kegiatan belajar mengajar anak didik dalam pengajaran pun tampak kaku.
Anak didik terlihat kurang bergairah dalam belajar. Kejenuhan dan
kelemasan menyelimuti kegiatan belajar anak didik. Kondisi seperti ini
sangat tidak menguntungkan bagi guru dan anak didik. Ini berarti metode
tidak dapat difungsikan oleh guru sebagai alat hasil ektrinsik dalam kegiatan
belajar mengajar. Akhirnya dapat dipahami bahwa penggunaan metode yang
tepat dan bervariasi akan dapat dijadikan alat hasil ektrinsik dalam kegiatan
belajar mengajar di sekolah.
b. Metode Sebagai Strategi Pengajaran
Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu
untuk berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama. Begitu pula dengan
daya serap anak didik terhadap pelajaran yang diberikan juga bermacam-
macam, ada yang cepat, ada yang sedang dan ada pula yang lambat.
Faktor intelegensi yang mempengaruhi daya serap anak didik terhadap
pelajaran yang diberikan oleh guru. Cepat lambatnya penerimaan anak
didik terhadap pelajaran yang diberikan menghendaki pemberian waktu
yang bervariasi, sehingga penguasaan penuh dapat tercapai.
Terhadap perbedaan daya serap anak didik sebagaimana tersebut
di atas, memerlukan strategi pengajaran yang tepat. Metode adalah satu
jawabannya. Untuk sekelompok anak didik boleh jadi mereka mudah
menyerap pelajaran bila guru menggunakan tanya jawab, tetapi untuk
sekelompok anak didik yang lain lebih mudah menyerap pelajaran bila
guru menggunakan metode diskusi atau metode demonstrasi.
Karena itu, dalam kegiatan belajar mengajar menurut Dra.
Roestiyah. N.K yaitu guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat
belajar secara efektif dan efisien, mengenai tujuan yang diharapkan. Salah
satu yang langkah untuk memiliki strategi itu adalah harus menguasai
teknik-teknik penyajian atau biasanya disebut metode mengajar.
18

Dengan demikian metode mengajar adalah strategi pengajaran
sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam proses belajar
mengajar.

18
Dra. Roestiyah. N. K, Strategi Belajar Mengajar(Jakarta: Bina Aksara, Cet III, 1991), hal. 1
c. Metode Sebagai Alat Untuk Mencapai Tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang akan dicapai dalam kegiatan
belajar mengajar. Tujuan adalah pedoman yang memberikan arah kemana
kegiatan belajar mengajar akan dibawa. Guru tidak bisa membawa
kegiatan belajar mengajar menurut sekehendak hatinya dan mengabaikan
tujuan yang telah dirumuskan. Itu semua perbuatan yang sia-sia. Kegiatan
belajar mengajar yang tidak mempunyai tujuan sama halnya ke pasar
tanpa tujuan, sehingga sukar untuk menyeleksi mana kegiatan yang harus
dilakukan dan mana yang harus diabaikan dalam upaya untuk mencapai
keinginan yang dicita-citakan.
Pada prinsipnya proses pendidikan dan pengajaran di sekolah di
dalamnya dijiwai oleh adanya empat unsur penting pendidikan. Yang
kesemuannya berkaitan hingga merupakan suatu kerangka dasar yang
tidak lagi mungkin dipisah-pisahkan. Unsur-unsur tersebut adalah:
1. Filsafat hidup bangsa
Filsafat hidup bagi bangsa Indonesia sudah jelas dan tegas yakni
Pancasila, yang merupakan landasan dalam berfikir, berbicara dan
bertindak dalam hidup kita. Inilah yang harus dipegang erat-erat dan
menjiwai sang guru dalam tugasnya di sekolah.
2. Tujuan atau cita- cita di sekolah
Hal ini sebenarnya merupakan penjelmaan dalam konkretnya dari
filsafat hidup bangsa. Proses pendidikan dan pengajaran menuju
kepadanya. Oleh karenanya guru dapat memandangnya sebagai
pegangan khusus, sebagai tujuan kearah mana guru harus
mengarahkan anak didiknya.
3. Proses atau pelaksanaan pendidikan
Ini adalah usaha dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Dalam proses
pendidikan inilah arti pentingnya cara-cara atau metode bagaimana
kecakapan dan pengetahuan yang disampakan kepada anak didik.
Maka muncul berbagai pemikiran masalah metode pengajaran.
4. Penilaian pelaksanaan pendidikan
Penilaian dimaksud untuk melihat kemajuan belajar anak didik
disuatu saat, atau untuk mengetahui sejauh mana tujuan pendidikan
telah didekati.
19


Keempat unsur tersebut perlu dijamin sebagai kesatuan organis
karena dengan demikian guru dapat bertanggung jawab penuh akan
tugasnya dalam lapangan pendidikan dan pengajaran. Tujuan dari
kegiatan belajar mengajar tidak akan pernah tercapai selama komponen-
komponen lainnya tidak diperlukan. Salah satunya adalah komponen
metode. Oleh karena itu metode yang digunakan harus disesuaikan
dengan tujuan. Antara metode dengan tujuan jangan bertolak belakang.
Artinya metode harus menunjang pencapaian tujuan pengajaran. Bila
tidak, maka akan sia-sialah perumusan tujuan tersebut.
Jadi guru sebaiknya menggunakan metode yang dapat menunjang
kegiatan belajar mengajar, sehingga dapat dijadikan sebagai alat yang
efektif untuk mencapai tujuan. Kalau kita pikirkan dalam kerangka pkiran
tersebut segera tampak hubungan antara tujuan dan metode adalah sangat
erat, metode difungsikan sebagai alat/usaha untuk mencapai tujuan. Jadi
tujuan pasti dijiwai atau menentukan corak metode. Demikian pula
filsafat hidup, tujuan pendidikan dan pengajaran tidak mungkin
dipisahkan.
d. Pemilihan Metode dalam Pengajaran
Para ahli menganggap bahwa metodologi pengajaran sebagai ilmu
bantu yang tidak dapat berdiri sendiri, tetapi berfungsi membantu bidang-
bidang lain dalam proses pengajaran. Ia memang bersifat netral dan umum,

19
B. Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar Di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hal. 149-
150
tidak diwarnai oleh suatu bidang apapun. Tetapi mengandung unsur-unsur
inovatif, karena memberi alternatif lain yang dapat dipergunakan di kelas.
Karena itu ilmu bantu itu bersifat luwes. Penggunaannya
didasarkan atas pertimbangan- pertimbangan sebagai berikut:
1.) Selalu berorientasi pada tujuan.
2.) Tidak hanya terikat pada suatu alternatif saja.
3.) Kerap dipergunakan sebagai suatu kombinasi dari berbagai metode.
4.) Kerap dipergunakan berganti-ganti dari satu metode ke metode
lainnya.
20

Oleh karena itu, guru sebagai pendidik dan pengajar mempunyai
tri tugas yang penting yang harus dijalankan yaitu memberi pengetahuan,
membentuk kecakapan dan kesiapan dalam menghadapi problematika.
Ketiga unsur tersebut diwujudkan melalu tahapan tingkat mengenal
keadaan, tingkat menguasai keadaan dan tingkat mengubah keadaan.
Untuk memadukan kegiatan-kegiatan tersebut dapat direalisir dalam
bentuk mengajar dan metode mengajar.
Sedangkan untuk memilih dan menetapkan metode yang tepat
(efektif dan efisien) ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan
yaitu:
a. Tujuan yang akan dicapai.
b. Bahan atau materi yang akan diajarkan.
c. Keadaan anak atau murid yang akan menerima pelajaran.
d. Kemampuan guru yang akan menggunakan metode.
e. Prasarana dan sarana yang tersedia.
f. Situasi dan lingkungan dimana anak akan melaksanakan kegiatan
belajar.
21


20
Syaiful Bahri Djamarah,, op. cit, hal. 184
Metode mengajar yang guru gunakan dalam setiap kali pertemuan
kelas bukanlah asal pakai. Akan tetapi setelah melalui seleksi yang
berkesesuaian dengan perumusan tujuan instruksional khusus. Jarang
sekali terlihat guru merumuskan tujuan hanya dengan satu rumusan.
Tetap sebaliknya yaitu merumuskan lebih dari satu rumusan untuk
mencapai tujuan. Karenanya, guru pun selalu menggunakan metode lebih
dari satu, semantara penggunaan metode yang lain juga dipergunakan
untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah dirumuskan.
Drs. Ischak SW dan Drs. Warji R. mengatakan dalam bukunya:
Baik buruknya suatu metode bergantung pada faktor- faktor antara lain:
a. Tujuan.
b. Kemampuan orang yang menggunakan.
c. Kemampuan orang yang belajar.
d. Besarnya kelompok.
e. Waktu.
f. Tempat.
g. Fasilitas yang ada.
22


Perpaduan antara beberapa faktor tersebutlah yang menjadi
pertimbangan untuk menentukan metode mana yang paling baik
dipergunakan dalam interaksi guru- murid. Namun yang perlu diingat bahwa
tidak satu metode pun yang selalu harus dipertahankan kemutlakannya,
memang memerlukan sistem penggabungan antar beberapa metode. Beberapa
metode interaksi tersebut sudah tentu dalam tulisan ini tidak dapat disajikan
secara panjang lebar tetapi diketengahkan hal- hal yang pokok saja.

21
Zuhairini, Agus Maimun dan Sarju, Proses Belajar Mengajar Di Sekolah, (Jakarta: Rineka
Cipta, 1997), hal. 50-51
22
Ischak SW dan Warji R, Program Remedial Dalam Proses Belajar Mengajar(Yogyakarta:
Liberty, Cet.II, 1987), hal. 83
Metode dipengaruhi oleh banyak faktor misalnya murid, tujuan,
situasi, fasilitas dan guru.
23
Dengan memiliki pemahaman secara umum
tentang sifat suatu metode baik tentang keunggulan maupun kelemahan
seseorang akan lebih mudah menetapkan metode yang paling mendukung
untuk situasi dan kondisi kegiatan belajar mengajar yang dihadapinya.
Jadi suatu metode tidak hanya berpengaruh terhadap perubahan dari
murid, tetapi juga dipengaruhi oleh tujuan dari penggunaan metode
tersebut dan fasilitas juga tidak boleh ditinggalkan dalam sebuah
pembelajaran sehingga situsinya pun juga harus mendukung.

B. Metode Penugasan (Resitasi)
1. Pengertian Metode Penugasan (Resitasi)
Yang dimaksud dengan metode tugas (resitasi) menurut Sayiful
Sagala adalah “cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas
tertentu agar murid melakukan kegiatan belajar, kemudian harus dipertanggung
jawabkannya.”
24
Misalnya tugas ayang dilaksanakan oleh siswa dapat
dilakukan dalam kelas, halaman sekolah, perpustakaan, masjid atau dimana
saja asalkan tugas tersebut dikerjakan, kemudian tugas tersebut
dipertanggung jawabkan kepada guru.
Dalam percakapan sehari-hari metode ini dikenal dengan sebutan
pekerjaan rjumah tetapi sebenarnya metode ini lebih luas dari pada pekerjaan
rumah saja, karena dalam metode ini terdiri dari tiga fase antara lain: pertama

23
Lalu Muhammad Azhar, Proses belajar Mengajar Pola CBSA (Surabaya: Usaha Nasional,
1993), hal. 96
24
Syaiful sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2008), Hal. 219
pendidik memberikan tugas, kedua anak didik melaksanakan tugas belajar,
dan ketiga siswa mempertanggung jawabkan apa yang telah dipelajari.
Dengan cara ini diharapkan agar siswa belajar bebas tetapi
bertanggung jawab dan murid-murid akan berpengalaman mengetahui
berbagai kesulitan dan mengatasi kesulitan ini, karena dengan tugas ini siswa
memiliki kesempatan untuk saling membandingkan dengan hasil siswa yang
lain. Merangsang anak didik agar lebih giat belajar lagi, memupuk inisiatif
bertanggung jawab dan berdiri sendiri, memperkaya kegiatan luar,
memperkuat hasil belajar. Selain itu menyadarkan siswa untuk selalu
memanfaatkan waktu senggangnya untuk hal-hal yang menunjang belajar
dengan mengisi kegiatan-kegiatan yang kurang berguna dan konstruktif
25

Metode ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran terlalu banyak
sementar waktu sedikit. Artinya, banyaknya bahan yang tersedia dengan
waktu kurang seimbang. Agar bahan pelajaran selesai sesuai dengan waktu
yang telah ditentukan oleh kurikulum maka metode ini dapat digunakan.
Dalam hal ini tugas dapat diberikan dalam bentuk daftar pertanyaan atau satu
perintah membaca suatu bahan pelajaran kemudian didiskusikan di dalam
kelas, atau mencari uraian yang belum jelas disebutkan dalam buku pelajaran.
Dapat juga tugas secara lisan, mengumpulkan sesuatu, membuat sesuatu dan
lain sebagainya.
Hanya diharapkan bila guru memberikan tugas kepada siswa, hari
berikutnya agar dicek, dikerjakan apa tidak. Kemudian dievaluasi untuk

25
Roestyah N.K Metodolog Pembelajarani (Bandung : Rineka Cipta 1989).hlm 98
memotvasi siswa agar mengetahui hasil kerja siswa. Tugas dapat berupa
perintah kemudian siswa mempelajari bersama secara kelompok atau sendiri,
kemuadian mereka disuruh menyusun laporan atau didiskusikan dengan
seluruh siswa.
Dengan demikian siswa dapat bertanggung jawab dengan tugasnya,
selain itu siswa menjadi terhasil untuk mempelajari mata pelajaran bahasa
Indonesia dengan baik dan benar
2. Fase Memberikan Tugas (Resitasi)
Yakni guru memberikan tugas-tugas yang baik secara perorangan
yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan:
a. Tujuan yang akan dicapai.
b. Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang
ditugaskan tersebut.
c. Sesuai dengan kemampuan siswa.
d. Ada petunjuk atau sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa.
e. Disediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut
Langkah pelaksanaan tugas (resitasi)
a. Memberikan atau pengeawasan oleh guru.
b. Di berikan dorongan sehingga siswa mau bekerja.
c. Diusahakan atau dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang
lain.
d. Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang dia peroleh dan
sistematis.
Fase Mempertanggung Jawabkan Tugas
Hal yang harus dikerjakan dalam fase ini:
a. Laporan siswa baik lisan maupun tertulis dari apa yang dikerjakan.
b. Ada tanya jawab atau diskusi kelompok.
c. Penilaian dari para siswa baik dengan tes maupun non tes atau cara
lainnya.
Dan fase mempertanggung jawabkan inilah yang disebut dengan
resitasi
26

Adapun menurut Zakiyyah Darajat Pemberian tugas dapat dilakukan
dalam beberapa hal, yaitu:
1. Murid diberi tugas mempelajari bagian dari suatu buku teks baik secara
kelompok maupun secara perorangan. Diberi waktu tertentu untuk
mengerjakannya, kemudian murid yang bersangkutan
mempertanggungjawabkan.
2. Murid diberi tugas untuk melaksanakan sesuatu yang tujuannya melatih
mereka dalam hal yang bersifat kecakapan mental dan motorik.
3. Murid diberi tugas untuk mengatasi masalah tertentu atau problem
tertentu dengan cara mencoba untuk mengucapkannya. Dengan tujuan
agar murid biasa berfikir ilimiah (logis dan sistematis) dalam
memecahkan suatu masalah.
4. Murid diberi tugas untuk melaksanakan proyek dengan tujuan agar murd-
murid membiasakan diri untuk brtanggungjawab terhadap penyelesaian
suatu masalah, yang telah disediakan dana bagaimana mengolah
selanjutnya.
27


Dalam metode pemberian tugas atau resitasi ini syarat yang harus
diketahui oleh pendidik dan siswa yang diberi tugas yaitu :
1. Tugas yang diberikan harus berkaitan dengan pelajaran yang telah mereka
pelajari, sehingga muri disamping sanggup mengerjakannya juga sanggup
menghubungkannya dengan pelajaran-pelajaran tertentu.

26
Syaiful Bahri D, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm 43.
27
Zakiyyah Darajat, Proses Belajar Mengajar di Sekolah.( Jakarta: Rineka Cipta.2001), hlm 23
2. Guru harus dapat mengukur dan memperkirakan bahwa tugas yang
diberikan kepada murid akan dapat dilaksanakannya karena sesuai
kesanggupan dan kecerdasan yang dimilikinya.
3. Guru harus menanamkan kepada murid bahwa tugas yang diberikan
kepada mereka akan dikerjakan atas kesadaran sendiri yang ditimbul dari
hati sanubarinya.
4. Jenis tugas diberikan kepada murid harus dimengerti benar-benar sehingga
murid tidak ada keraguan dalam melaksanakannya.
3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Penugasan (Resitasi)
Dalam penggunaan suatu metode pasti ada kelebihan dan
kekurangannya, begitu juga dengan metode ini.
a. Kelebihan Metode Tugas (Resitasi)
1) Karena siswa memahami sendiri pengetahuan yang dicari sehingga
pengetahuan itu akan tinggal lama dalam ingatan jiwanya.
2) Mengembangkan daya berfikir sendiri, daya inisiatif, tanggung jawab
dan melatih berdiri sendiri.
3) Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas individual maupun
kelompok.
b. Kekurangan Metode Tugas (Resitasi)
1) Siswa sulit dikontrol, apakah benar ia yang mengerjakan atau hanya
meniru pekerjaan temannya.
2) Khusus tugas kelompok, tidak jarang yang aktif mengerjakan dan
menyelesaikannya adalah anggota tertentu saja, sedangkan anggota
yang lain tidak ikut berpartisipasi dengan baik.
3) Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu
siswa. Sering memberikan tugas yang monoton dapat menimbulkan
kebosanan siswa.

C. Metode Drill
1. Pengertian Metode Drill
Sebelum mendefinisikan tentang metode drill terlebih dahulu
mengetahui tentang metode mengajar itu sendiri. Abu Ahmad mengatakan
“Metode mengajar adalah cara guru memberikan pelajaran dan cara murid
menerima pelajaran pada waktu pelajaran berlangsung, baik dalam bentuk
memberitahukan atau membangkitkan”.
28


Oleh karena itu peranan metode pengajaran ialah sebagai alat untuk
menciptakan proses belajar mengajar yang kondusif. Dengan metode ini
diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan
mengajar guru, dengan kata lain terciptalah interaksi edukatif antara guru
dengan siswa. Dalam interaksi ini guru berperan sebagai penggerak atau
pembimbing, sedangkan siswa berperan sebagai penerima atau yang
dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan dengan baik jika siswa lebih
aktif di bandingkan dengan gurunya. Oleh karenanya metode mengajar yang
baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa dan
sesuai dengan kondisi pembelajaran.

28
Abu Ahmad, Metode Khusus Pendidikan Agama (Bandung: CV. Amrico, 1986), hal. 152
Salah satu usaha yang tidak boleh ditinggalkan oleh guru adalah
bagaimana guru memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen
yang mempengaruhi dalam proses belajar mengajar. Kerangka berpikir yang
demikian bukanlah suatu hal yang aneh tetapi nyata dan memang betul-betul
dipikirkan oleh guru. Abu Ahmad mengatakan, ”metode drill adalah suatu
cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan- kegiatan latihan, agar
siswa memiliki ketangkasan atau ketrampilan yang lebih tinggi dari apa yang
dipelajari”.
29

Sedangkan Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain berpandapat,
Metode latihan yang disebut juga dengan metode training yaitu
merupakan suatu cara kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sarana untuk
memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat juga
digunakan untuk ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan ketrampilan.
30


Dalam buku Nana Sudjana,
Metode drill adalah satu kegiatan melakukan hal yang sama,
berulang-ulang secara sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat
suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu ketrampilan agar menjadi bersifat
permanen. Ciri yang khas dari metode ini adalah kegiatan berupa
pengulangan yang berkali-kali dari suatu hal yang sama.
31


Sehingga dapat disimpulkan bahwa drill adalah latihan dengan
praktek yang dilakukan berulang kali atau kontinyu/untuk mendapatkan
keterampilan dan ketangkasan praktis tentang pengetahuan yang dipelajari.
Lebih dari itu diharapkan agar pengetahuan atau keterampilan yang telah
dipelajari itu menjadi permanen, mantap dan dapat dipergunakan setiap saat
oleh yang bersangkutan. Harus disadari sepenuhnya bahwa apabila

29
Ibid, hal. 125
30
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 1995), hal. 108
31
Nana Sudjana. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru, 1989), hal. 86
penggunaan metodc tersebut tidak/kurang tepat akan menimbulkan hal-hal
yang negatif; anak kurang kreatif dan kurang dinamis.
2. Macam-macam Metode Drill
Bentuk- bentuk Metode drill menurut Muhaimin dan Abdul Mujib,
dapat direalisasikan dalam berbagai bentuk teknik, yaitu sebagai berikut :
a. Teknik Inquiry (kerja kelompok)
Teknik ini dilakukan dengan cara mengajar sekelompok anak didik untuk
bekerja sama dan memecahakan masalah dengan cara mengerjakan tugas
yang diberikan.
b. Teknik Discovery (penemuan)
Dilakukan dengan melibatkan anak didik dalam proses kegiatan mental
melalui tukar pendapat, diskusi.
c. Teknik Micro Teaching
Digunakan untuk mempersiapkan diri anak didik sebagai calon guru
untuk menghadapi pekerjaan mengajar di depan kelas dengan
memperoleh nilai tambah atau pengetahuan, kecakapan dan sikap sebagai
guru.
d. Teknik Modul Belajar
Digunakan dengan cara mengajar anak didik melalui paket belajar
berdasarkan performan (kompetensi).


e. Teknik Belajar Mandiri
Dilakukan dengan cara menyuruh anak didik agar belajar sendiri, baik di
dalam kelas maupun di luar kelas.
32

Tidak disangka ternyata di dalam metode drill itu sendiri juga terdapat
beberapa teknik yang bisa dipakai untuk melaksanakan metode drill tersebut.
Yang mana semua metode tersebut bagus untuk pembelajaran tetapi semua
itu tidak terlepas dari pemilihan materi yang cocok dengan teknik metode
tersebut.
3. Tujuan Penggunaan Metode Drill
Metode drill biasanya digunakan untuk tujuan agar siswa :
a. Memiliki kemampuan motoris/gerak, seperti menghafalakan kata-kata,
menulis, mempergunakan alat.
b. Mengembangkan kecakapan intelek, seperti mengalikan, membagi,
menjumlahkan.
c. Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan
yang lain.
33


Dengan adanya tujuan tersebut, kita bisa mengetahui berbagai
kemampuan yang dimiliki oleh setiap peserta didik.
4. Syarat-Syarat Dalam Metode Drill
1. Masa latihan harus menarik dan menyenangkan.
a. Agar hasil latihan memuaskan, minat instrinsik diperlukan.
b. Tiap-tiap langkah kemajuan yang dicapai harus jelas.
c. Hasil latihan terbaik yang sedikit menggunakan emosi


32
Muhaimin. Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam(Bandung: Trigenda Karya, 1993), hal.
226-228
33
Roestiyah N. K, Op.cid, hal. 125
2. Latihan-latihan hanyalah untuk ketrampilan tindakan yang bersifat
otomatik.
3. Latihan diberikan dengan memperhitungkan kemampuan/daya tahan
murid, baik segi jiwa maupun jasmani.
4. Adanya pengerahan dan koreksi dari guru yang melatih sehingga murid
tidak perlu mengulang suatu respons yang salah.
5. Latihan diberikan secara sistematis.
6. Latihan lebih baik diberikan kepada perorangan karena memudahkan
pengarahan dan koreksi.
7. Latihan-latihan harus diberikan terpisah menurut bidang ilmunya.
5. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
Dalam penggunaan teknik latihan agar bila berhasil guna dan berdaya
guna perlu ditanamkan pengertian bagi instruktur maupun siswa ialah:
a. Tujuan harus dijelaskan kepada siswa sehingga selesai latihan mereka
diharapkan dapat mengerjakan dengan tepat sesuai apa yang diharapkan.
b. Tentukan dengan jelas kebiasaan yang dilatihkan sehingga siswa
mengetahui apa yang harus dikerjakan.
c. Lama latihan harus disesuaikan dengan kemampuan siswa.
d. Selingilah latihan agar tidak membosankan.
e. Perhatikan kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan siswa untuk
perbaikan secara kiasikal sedangkan kesalahan perorangan dibetulkan
secara perorangan pula.
Guru perlu memperhatikan dan memahami nilai dari latihan itu
sendiri serta kaitannya dengan keseluruhan pelajaran di sekolah. Dalam
persiapan sebelum memasuki latihan, guru harus memberikan pengertian dan
perumusan tujuan yang jelas bagi siswa, sehingga mereka mengerti dan
memahami apa tujuan latihan dan bagaimana kaitannya dengan pelajaran-
pelajaran lain yang diterimanya. Persiapan yang baik sebelum Iatihan
mendorong/mernotivasi siswa agar responsif yang fungsional, berarti dan
bermakna bagi penerima pengetahuan dan akan lama tinggal dalam jiwanya
karena sifatnya permanen, serta siap untuk digunakan/dimanfaatkan oleh
siswa dalam kehidupan.
6. Prinsip Dan Petunjuk Menggunakan Metode Drill
a. Siswa harus diberi pengertian yang mendalam sebelum diadakan latihan
tertentu.
b. Latihan untuk pertama kalinya hendaknya bersifat diagnosis, mula-mula
kurang berhasil, lalu diadakan perbaikan untuk kemudian bisa lebih
sempurna.
c. Latihan tidak perlu lama asal sering dilaksanakan.
d. Harus disesuaikan dengan taraf kemampuan siswa.
e. Proses latihan hendaknya mendahulukan hal-hal yang esensial dan
berguna.
34

f. Drill hanyalah untuk bahan atau perbuatan yang bersifat otomatis.
g. Latihan untuk pertama kalinya hendaknya bersikap diagnostik:
1. Pada taraf permulaan jangan diharapkan reproduksi yang sempurna.
2. Dalam percobaan kembali harus diteliti kesulitan yang timbul.
3. Respon yang benar harus diperkuat.
4. Baru kemudian diadakan variasi, perkembangan arti dan kontrol
h. Masa latihan secara relatif singkat, tetapi harus sering dilakukan.
i. Pada waktu latihan harus dilakukan proses essensial.
j. Di dalam latihan yang pertama-tama adalah ketepatan, kecepatan dan
pada akhirnya kedua-duanya harus dapat tercapai sebagai kesatuan.
k. Latihan harus memiliki arti dalam rangka tingkah laku yang lebih luas.
1. Sebelum melaksanakan, pelajar perlu mengetahui terlebih dahulu arti
latihan itu.

34
Nana Sudjana, op. cit, hal. 87
2. Ia perlu menyadari bahwa latihan-latihan itu berguna untuk kehidupan
selanjutnya.
3. Ia perlu mempunyai sikap bahwa latihan-latihan itu diperlukan untuk
melengkapi belajar.
35


Latihan itu pada umumnya digunakan untuk memperoleh suatu
ketangkasan atau ketrampilan dari apa yang telah dipelajari. Tapi juga tidak
lepas dari seberapa jauh kemampuan siswa tersebut. Selain itu, metode ini
tidak usah terlalu lama digunakan, asalkan sering dipakai. Sehingga murid
lama-kelamaan akan terbiasa dengan penggunaan metode tersebut. Jadi
metode ini tidak boleh terlalu dipaksakan ketika siswa sudah dirasa tidak
mampu menerima materi tersebut dengan metode ini.
Mengingat latihan ini kurang mengembangkan bakat/inisiatif siswa
untuk berfikir, maka hendaknya guru/pengajar memperhatikan tingkat
kewajaran dari metode ini:
a. Latihan, wajar digunakan untuk hal-hal yang bersifat motorik seperti
menulis, permainan, pembuatan dan lain-lain.
b. Untuk melatih kecakapan mental, misalnya perhitungan penggunaan
rumus-rumus dan lain-lain.
c. Untuk melatih hubungan, tanggapan seperti penggunaan bahasa, grafik,
simbul peta dan lain-lain.
36


7. Langkah-Langkah penerapan Drill
Untuk kesuksesan pelaksanaan teknik latihan itu perlu instruktur/guru
memperhatikan langkah-langkah/prosedur yang disusun demikian:
a. Gunakanlah latihan ini hanya untuk pelajaran atau tindakan yang
dilakukan secara otomatis, ialah yang dilakukan siswa tanpa
menggunakan pemikiran dan pertimbangan yang mendalam. Tetapi dapat

35
Winarno Surakhmad, Pengantar Interaksi Belajar Mengajar (Bandung: Tarsito, 1994), hal. 92
36
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar(Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo,
1989), hal. 87
dilakukan dengan cepat seperti gerak refleks saja, seperti: menghafal,
menghitung, lari dan sebagainya.
b. Guru harus memilih latihan yang mempunyai arti luas ialah yang dapat
menanamkan pengertian pemahaman akan makna dan tujuan latihan
sebelum mereka melakukan. Latihan itu juga mampu menyadarkan siswa
akan kegunaan bagi kehidupannya saat sekarang ataupun dimasa yang
akan datang. Juga dengan latihan itu siswa merasa perlunya untuk
melengkapi pelajaran yang diterimanya.
c. Di dalam latihan pendahuluan instruktur harus lebih menekankan pada
diagnosa, karena latihan permulaan itu kita belum bisa mengharapkan
siswa dapat menghasilkan ketrampilan yang sempurna. Pada latihan
berikutnya guru perlu meneliti kesukaran atau hambatan yang timbul dan
dialami siswa, sehingga dapat memilih/menentukan latihan mana yang
perlu diperbaiki. Kemudian instruktur menunjukkan kepada siswa
respons/tanggapan yang telah benar dan memperbaiki respons-respons
yang salah. Kalau perlu guru mengadakan variasi latihan dengan
mengubah situasi dan kondisi latihan, sehingga timbul response yang
berbeda untuk peningkatan dan penyempurnaan kecakapan atau
ketrampilannya.
d. Perlu mengutamakan ketepatan, agar siswa melakukan latihan secara
tepat, kemudian diperhatikan kecepatan; agar siswa dapat melakukan
kecepatan atau ketrampilan menurut waktu yang telah ditentukan; juga
perlu diperhatikan pula apakah respons siswa telah dilakukan dengan
tepat dan cepat.
e. Guru memperhitungkan waktu/masa latihan yang singkat saja agar tidak
meletihkan dan membosankan, tetapi sering dilakukan puda kesempatan
yang lain. Masa latihan itu harus menyenangkan dan menarik, bila perlu
dengan mengubah situasi dan kondisi sehingga menimbulkan optimisme
pada siswa dan kemungkinan rasa gembira itu bisa menghasilkan
ketrampilan yang baik.
f. Guru dan siswa perlu memikirkan dan mengutamakan proses yang
esensial/yang pokok atau inti; sehingga tidak tenggelam pada hal-hal yang
rendah/tidak perlu kurang diperlukan.
g. Instruktur perlu memperhatikan perbedaan individual siswa.

Sehingga kemampuan dan kebutuhan siswa masing-masing
tersalurkan/dikembangkan. Maka dalam pelaksanaan latihan guru perlu
mengawasi dan memperhatikan latihan perseorangan. Dengan langkah-
langkah itu diharapkan bahwa latihan akan betul-betul bermanfaat bagi siswa
untuk menguasai kecakapan itu. Serta dapat menumbuhkan pemahaman
untuk melengkapi penguasaan pelajaran yang diterima secara teori dan
praktek di sekolah.
8. Keuntungan Atau Kelebihan Metode Drill
a. Bahan pelajaran yang diberikan dalam suasana yang sungguh-sungguh
akan lebih kokoh tertanam dalam daya ingatan murid, karena seluruh
pikiran, perasaan, kemauan dikonsentrasikan pada pelajaran yang
dilatihkan.
b. Anak didik akan dapat mempergunakan daya fikirannya dengan
bertambah baik, karena dengan pengajaran yang baik maka anak didik
akan menjadi lebih teratur, teliti dan mendorong daya ingatnya.
c. Adanya pengawasan, bimbingan dan koreksi yang segera serta langsung
dari guru, memungkinkan murid untuk melakukan perbaikan kesalahan
saat itu juga. Hal ini dapat menghemat waktu belajar disamping itu juga
murid langsung mengetahui prestasinya.
d. Siswa akan memperoleh ketangkasan dan kemahiran dalam melakukan
sesuatu sesuai dengan apa yang dipelajarinya.
e. Dapat menimbulkan rasa percaya diri bahwa para siswa yang berhasil
dalam belajarnya telah memiliki suatu keterampilan khusus yang berguna
kelak di kemudian hari.
f. Guru bisa lebih mudah mengontrol dan dapat membedakan mana siswa
yang disiplin dalam belajarnya dan mana yang kurang dengan
memperhatikan tindakan dan perbuatan siswa disaat berlangsungnya
pengajaran.
g. Untuk memperoleh kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf,
kata-kata atau kalimat, membuat alat-alat, menggunakan alat-alat (mesin
permainan dan atletik) dan terampil menggunakan peralatan olah raga.
h. Untuk memperoleh kecakapan mental dan memperoleh kecakapan dalam
bentuk asosiasi yang dibuat serta pembentukan kebiasaan yang dilakukan
dan menambah ketepatan serta kecepatan pelaksanaan.
i. Pemanfaatan kebiasaan-kebiasaan yang tidak memerlukan konsentrasi
dalam pelaksanaannya serta pembentukan kebiasaan-kebiasaan tersebut.
37

j. Pengertian siswa lebih luas melalui latihan berulang-ulang.
Dengan adanya berbagai keuntungan dari penggunaan metode drill ini
maka diharapkan bahwa latihan akan benar-benar bermanfaat bagi siswa
untuk menguasai materi tersebut. Serta dapat menumbuhkan pemahaman
untuk melengkapi penguasaan pelajaran yang diterima secara teori dan
praktek di sekolah.
9. Kelemahan Metode Drill dan Petunjuk Untuk Mengurangi Kelemahan-
Kelemahan Tersebut
a. Kelemahan Metode Drill
1. Latihan Yang dilakukan di bawah pengawasan yang ketat dan suasana
serius mudah sekali menimbulkan kebosanan.

37
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, op.cit, hal. 108-109
2. Tekanan yang lebih berat, yang diberikan setelah murid merasa bosan
atau jengkel tidak akan menambah gairah belajar dan menimbulkan
keadaan psikis berupa mogok belajar/latihan.
3. Latihan yang terlampau berat dapat menimbulkan perasaan benci
dalam diri murid, baik terhadap pelajaran maupun terhadap guru.
4. Latihan yangs selalu diberikan di bawah bimbingan guru, perintah
guru dapat melemahkan inisiatif maupun kreatifitas siswa.
5. Karena tujuan latihan adalah untuk mengkokohkan asosiasi tertentu,
maka murid akan merasa asing terhadap semua struktur-struktur baru
dan menimbulkan perasan tidak berdaya.
6. Menghambat bakat dan inisiatif siswa, karena siswa lebih banyak
dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan jauh dari pengertian.
7. Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan. Dan
kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang
merupakan hal yang monoton, mudah membosankan.
8. Membentuk kebiasaan yang kaku, artinya seolah- olah siswa
melakukan sesuatu secara mekanis dan dalam memberikan stimulus
siswa dibiasakan bertindak secara otomatis.
9. Dapat menimbulkan Verbalisme, terutama pengajaran yang bersifat
menghafal dimana siswa dilatih untuk dapat menguasai bahan
pelajaran secara hafalan dan secara otomatis mengingatkannyabila ada
pertanyaan- pertanyaan yang berkenaan dengan hafalan tersebut tanpa
suatu proses berfikir secara logis.
38


Sebagai suatu metode yang diakui banyak mempunyai kelebihan, juga
tidak dapat disangkal bahwa metode drill ini juga mempunyai beberapa
kelemahan. Maka dari itu, guru yang ingin mempergunakan metode drill ini
kiranya tidak salah bila memahami karakteristik metode ini terlebih dahulu.
b. Petunjuk Untuk Mengurangi Kelemahan-Kelemahan Di Atas
1. Janganlah seorang guru menuntut dari murid suatu respons yang
sempurna, reaksi yang tepat.
2. Jika terdapat kesulitan pada murid pada saat merespon, mereaksi,
hendaknya guru segera meneliti sebab-sebab yang menimbulkan
kesulitan tersebut.
3. Berikanlah segera penjelasan-penjelasan, baik bagi reaksi atau respon
yang betul maupun yang salah. Hal ini perlu dilakukan agar murid
dapat mengevaluasi kemajuan dari latihannya.
4. Usahakan murid memiliki ketepatan merespon kemudian kecepatan
merespon.

38
Ibid, hal. 108-109
5. Istilah-istilah baik berupa kata-kata maupun kalimat-kalimat yang
digunakan dalam latihan hendaknya dimengerti oleh murid.
39


Sebelum kita memulai metode tersebut hendaknya kita mengetahui
tentang kelemahan-kelemahan yang akan kita hadapi nantinya. Sehingga guru
bisa memprediksi apa-apa yang akan terjadi ketika metode ini tidak berhasil.
Tetapi kelemahan tersebut bisa diatasi apabila guru mengetahui petunjuk
supaya kekurangan tersebut bisa sedikit teratasi.
10. Latihan Siap (Drill) Cocok Digunakan Bilamana Untuk Memperoleh:
a. Kecakapan motorik, seperti mengulas, menulis, menghafal, membuat alat-
alat, menggunakan alat/ mesin, permainan dan atletik.
b. Kecakapan mental, seperti melakukan perkalian, menjumlah, mengenal
tanda-tanda simbol dan sebaginya.
c. Asosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan,
penggunaan simbol, membaca peta dan sebagainya.
d. Dalam mengajarkan kecakapan dengan metode latihan siap guru harus
mengetahui sifat kecakapan itu sendiri.
e. Kecakapan sebagai penyempurnaan dari pada suatu arti dan bukan
sebagai hasil proses mekanis semata-mata.
f. Kecakapan tersebut dikatakan tidak benar, bila hanya menentukan suatu
hal yang rutin yang dapat dicapai dengan pergaulan yang tidak
menggunakan pikiran, sebab kenyataan bertindak atau berbuat harus
sesuai dengan situasi dan kondisi.

39
Ibid, hal. 67-69
Untuk mendapatkan kecakapan dengan metode drill ini, ada dua fase
yaitu:
1. Fase integratif, dimana persepsi dari arti dan proses dikembangkan. Pada
fase ini belajar kecakapan dikembangkan menurut praktek yang berarti
sering melakukan hubungan fungsional dan aktifitas penyelidikan.
2. Fase penyempurnaan atau fase menyelesaikan di mana ketelitian
dikembangkan. Dalam fase ini diperlukan ketelitian dapat dikembangkan
menurut praktek yang derulang kali. Jadi variasi praktek di sini
ditujukkan untuk mendalami arti bukan ketangkasan. Sedangkan praktek
yang sering ditunjukkan untuk mempertinggi efensiensi, bukan untuk
mendalami arti.

D. Kajian Tentang Hasil Belajar
Asas pengetahuan tentang hasil belajar kadang-kadang disebut ”umpan
balik pembelajaran”, yang menunjuk pada sambutan yang cepat dan tepat
terhadap siswa agar mereka mengetahui bagaimana mereka sedang bekerja.
Lebih cepat siswa mendapat informasi balikan tentunya lebih baik, sehingga
informasi yang salah segera dapat diperbaiki melalui kegiatan belajar
berikutnya.
40
Umpan balik atau hasil belajar dalam proses pendidikan dapat juga
diartikan sebagai segala informasi yang berhasil diperoleh selama proses
pendidikan yang digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan
masukan dan transformasi yang ada dalam proses belajar. Adanya umpan balik

40
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, cetakan keenam 2007),
hlm. 88
yang akurat sebagai hasil evaluasi yang akurat pula, akan memudahkan kegiatan
perbaikan pendidikan.
41

Hasil belajar disebut juga dengan prestasi belajar. Prestasi belajar adalah
sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, yakni ”prestasi” dan ”belajar”. Antara
kata ”prestasi” dan ”belajar” mempunyai arti yang berbeda. ”prestasi” adalah
hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual
maupun kelompok. Prestasi tidak akan pernah dihasilkan selama seseorang tidak
melakukan suatu kegiatan. Dalam kenyataan, untuk mendapatkan prestasi tidak
semudah yang dibayangkan, tetapi penuh perjuangan dengan berbagai tantangan
yang harus dihadapi untuk mencapainya. Hanya dengan keuletan dan optimesme
dirilah yang dapat membantu untuk mencapainya. Oleh karena itu wajarlah
pencapaian prestasi itu harus dengan jalan keuletan kerja.
42

Menurut WIS. Poerwadarminta yang telah dikutip oleh Drs. Saiful Bahri
Jamarah dalam bukunya Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru berpendapat,
bahwa prestasi adalah hal yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan dan
sebagainya), sedangkan menurut Mas’ud Khasan Abdul Qohar yang juga telah
dikutip oleh Drs. Saiful Bahri berpendapat, bahwa prestasi adalah apa yang telah
dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh
dengan jalan keuletan kerja.
43

Sedangkan belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar
untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Hasil dari

41
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm. 193
42
Syiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru (Surabaya: Usaha Nasional,
1994), hlm. 20
43
Ibid,.
aktivitas belajar terjadilah perubahan dalam diri individu. Dengan demikian,
belajar dikatakan berhasil bila telah terjadi perubahan dalam diri individu.
Sebaliknya, bila tidak terjadi perubahan dalam diri individu, maka belajar
dikatakan tidak berhasil. Belajar dapat pula diartikan sebagai suatu aktivitas yang
sadar akan tujuan. Tujuan dalam belajar adalah terjadinya suatu perubahan dalam
diri individu. Perubahan dalam arti menuju ke perkembangan pribadi individu
seutuhnya.
44

Setelah menelusuri uraian diatas, maka dapat difahami mengenai makna
kata ”prestasi” dan ”belajar”. Prestasi pada dasarnya adalah hasil yang diperoleh
dari suatu aktivitas. Sedangkan belajar pada dasarnya adalah suatu proses yang
mengakibatkan perubahan dalam diri individu, yakni perubahan tingkah laku.
Dengan demikian, dapat diambil pengertian yang sangat sederhana mengenai hal
ini, prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang
mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam
belajar.
45

Perubahan perilaku sebagai hasil belajar mempunyai ciri-ciri tertentu.
Ciri-ciri tersebut seperti yang dikemukakan makmun yang dikutip oleh Dr. E.
Mulyasa, M.Pd. dalam bukunya Implementasi Kurikulum 2004, yaitu sebagai
berikut:
a. Perubahan bersifat intensional, dalam arti pengalaman atau praktek latihan itu
dengan sengaja dan disadari dilakukan dan bukan secara kebetulan. Dengan
demikian, perubahan karena kematangan, keletihan, atau penyakit tidak dapat

44
Ibid., hlm. 21
45
Ibid., hlm. 23
dipandang sebagai hasil belajar. Contohnya: belajar bermain gitar, dia
mencari pengetahuan tentang cara bermain gitar, setelah tahu tentang cara
bermain gitar secara teori, dia mempraktekkan bagaimana bermain gitar yang
baik.
b. Perubahan bersifat positip, dalam arti sesuai dengan yang diharapkan
(normatif), atau kriteria keberhasilan (criteria of succes), baik dipandang dari
segi peserta didik maupun dari segi guru. Contohnya: seseorang yang tidak
bisa menghitung perkalian lebih dari 10, melalui belajar mampu menghitung
perkalian lebih dari 10.
c. Perubahan bersifat efektif, dalam arti perubahan hasil belajar itu relatif tetap,
dan setiap saat diperlekan dapat direproduksikan dan dipergunakan, seperti
dalam pemecahan masalah (problem solving), ujian, maupun dalam
penyesuaian diri dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka mempertahankan
kelangsungan hidupnya. Contoh: orang belajar matematika bisa dipergunakan
dalam kehidupan sehari-hari, misalnya berhitung dalam perdagangan.
Ungkapan di atas menunjukkan bahwa belajar bukan diarahkan oleh suatu
kekuatan reflek, tetapi dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan. Sehingga
individu akan mempelajari apa yang seharusnya dilakukan. Dalam pada itu,
belajar dilakukan karena adanya kebutuhan, yang menimbulkan ketegangan dan
mesti dipenuhi, sehingga mendorong individu untuk mempergunakan pikiran
dalam memenuhi kebutuhan tersebut.
46

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah:

46
E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004 (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 190
a. Pengaruh faktor eksternal
Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar peserta
didik dapat digolongkan ke dalam faktor sosial dan non-sosial. Faktor sosial
menyangkut hubungan antarmanusia yang terjadi dalam berbagai situasi
sosial, yang termasuk dalam faktor ini adalah lingkungan keluarga, sekolah,
teman dan masyarakat pada umumnya. Sedangkan faktor non-sosial adalah
faktor-faktor lingkungan alam dan fisik; misalnya: keadaan rumah, ruang
belajar, fasilitas belajar, buku-buku sumber, dan sebagainya.
47

b. Pengaruh faktor internal
Sekalipun banyak pengaruh atau rangsangan dari faktor eksternal
yang mendorong individu belajar, keberhasilan belajar itu akan ditentukan
oleh faktor diri (internal) beserta usaha yang dilakukannya. Menurut Brata
yang telah dikutip oleh E. Mulyasa dalam bukunya Implementasi Kurikulum
2004, mengklasifikasikan faktor internal mencakup: (a) faktor-faktor
fisiologis, yang menyangkut keadaan jasmani atau fisik individu, yang dapat
dibedakan menjadi dua macam yaitu keadaan jasmani pada umumnya dan
keadaan fungsi-fungsi jasmani tertentu terutama panca indra, dan (b)
faktorfaktor psikologis, yang berasal dari dalam diri seperti intelegensi,
minat, sikap, dan motivasi.
48

Maka dari itu hasil belajar yang dilaksanakan dengan evaluasi diakhir
pelajaran sangatlah penting, untuk mengukur sejauh mana siswa berhasil dalam
proses pembelajaran, serta perbaikan proses pendidikan pada tahap selanjutnya,
bila ada dari hasil belajar yang belum begitu dikuasai oleh siswa.

47
Ibid., hlm. 190-191
48
Ibid., hlm. 193
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan
kualitatif. Maksudnya, data yang dikumpulkan bukan merupakan angka-angka
melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan,
dokumen pribadi, catatan memo dan dokumen resmi lainnya.
49

Sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah dengan
mencocokkan antara realita empirik dengan teori yang berlaku dengan
menggunakan metode deskriptif. Pendekatan deskriptif ini bertujuan
menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai
populasi atau daerah tertentu mengenai berbagai sifat dan faktor tertentu.
50


Sebagaimana yang dikemukakan oleh Bogdan dan Biklen dalam bukunya
Wahidmurni bahwa ciri-ciri pendekatan kualitatif ada lima macam yaitu: (1)
menggunakan latar alamiah, (2) bersifat deskriptif, (3) lebih mementingkan
proses daripada hasil, (4) induktif dan (5) makna merupakan hal yang esensial.
51

Sedangkan dalam bukunya Introduction to Qualitatif yang diterjemahkan oleh
Arief Furqon, penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data
diskripsi baik ucapan maupun tulisan dan perilaku yang dapat diambil dari orang-
orang atau subyek itu sendiri.
52

Tetapi peneliti kualitatif juga sering menggunakan data kuantitatif,
namun yang sering terjadi pada umumnya tidak menggunakan analisis kuantitatif

49
Lexy. J. Moleong, Metodologi Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002), hal. 3
50
Gempur Santoso, Metodologi Penelitian (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2005), hal. 29
51
Wahidmurni, Penelitihan Tindakan Kelas Dari Teori Menuju Praktik(Malang: UM. Press,
2008), hal. 33
52
Robert Bagdan, Steven J. Taylor, Introduction to Qualitatif Methode(Surabaya: Terjemahan
Arif Furqon, Usaha Nasional, 1992), hal. 21-22
bersama-sama. Jadi, dapat dikatakan bahwa kedua pendekatan tersebut dapat
digunakan apabila desainnya adalah memanfaatkan satu paradigma. Sedangkan
paradigma lainnya hanya sebagai pelengkap saja. Dengan kata lain jawaban
terhadap pertanyaan di atas sangat tergantung pada paradigma yang dianut oleh
seseorang peneliti. Pendapat ini sama dengan apa yang dikemukakan oleh Glaser
dan Strauss; yaitu bahwa dalam banyak hal, kedua bentuk data tersebut
diperlukan, bukan kuantitatif menguji kualitatif, melainkan kedua bentuk tersebut
digunakan bersama dan apabila dibandingkan, masing-masing dapat digunakan
untuk keperluan menyusun teori.
53


Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah PTK, yaitu penelitian
yang bertujuan untuk memberikan sumbangan nyata bagi peningkatan
profesionalisme guru, menyiapkan pengetahuan, pemahaman, dan wawasan
tentang perilaku guru mengajar dan murid belajar. Sedangkan sifat penelitian ini
dilakukan secara mandiri oleh peneliti.
Menurut whidmurni penelitian tindakan kelas (classroom action
research) adalah suatu penelitian yang mengkaji proses pembelajaran dikaitkan
dengan pengoptimalan penggunaan metode, media, strategi pembelajaran,
dimana kegiatan perbaikan pembelajaran tersebut diharapkan dapat
meningkatkan proses dan hasil pembelajaran siswa.
54


B. Kehadiran Peneliti
Untuk penelitian ini penulis hadir karena kehadiran peneliti sangat
diperlukan supaya peneliti bisa terjun langsung untuk menemukan data-data yang
diperlukan dan bersinggungan langsung dengan masalah yang diteliti. Peneliti
juga bertindak sebagai instrumen, obsever pengumpul data, penganalisis data dan
sekaligus pelapor hasil penelitian dimana dalam penelitian ini penulis
menentukan waktu lamanya maupun harinya. Tapi penulis secara terus menerus
menggali data dalam keadaan yang tepat dan sesuai dengan kesempatan para

53
Lexy J, Moleong, op. cit., hal. 38
54
Wahidmurni, op. cit., hal. 13
informan. Disamping itu penekanan terhadap keterlibatan secara langsung antara
peneliti di lapangan dengan informan dan sumber data. Dalam penelitian ini
kedudukan peneliti adalah sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data,
penganalisis, penafsir data, dan akhirnya sebagai pelapor hasil penelitian.

C. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN Pulerejo 02 yang beralamat di desa
Pulerejo kecamatan Bakung kabupaten Blitar. Alasan peneliti memilih lokasi ini
karena letaknya yang berada di desa terpencil pegunungan daerah (dataran
tinggi) dengan mayoritas siswa berasal dari golongan menengah ke bawah yang
sangat membutuhkan perhatian khusus agar pembelajaran dapat berjalan. Dengan
demikian penting kiranya penelitian ini dilakukan dalam rangka peningkatan
hasil belajar siswa.

D. Sumber Data dan Jenis Data
Menurut Suharsimi Arikunto, yang di maksud dengan sumber data adalah
subyek dari mana data-data di peroleh.
55
Berdasarkan pengertian tersebut dapat
dimengerti bahwa yang dimaksud dengan sumber data adalah dari mana peneliti
akan mendapatkan dan menggali informasi berupa data-data yang diperlukan
dalam penelitian.
Sementara jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah data-data lapangan yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan

55
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta,
2002), hal. 17
dokumentasi yang dilakukan sendiri oleh peneliti di lokasi penelitian yang telah
ditetapkan. Data dan sumber data tersebut dapat dijadikan acuan dalam
perumusan hasil penelitian yang dilakukan.

E. Teknik Pengumpulan Data
1. Metode Observasi
Metode observasi adalah suatu cara penelitian yang dilakukan dengan
mengadakan pengamatan terhadap objek, baik secara langsung maupun
tidak langsung, Sutrisno Hadi mengatakan “observasi adalah metode
pengumpulan data dengan pengamatan dan pencatatan secara sistematis
terhadap fenomena yang diteliti”.
56


Metode ini dilakukan untuk mengetahui secara langsung situasi
lingkungan dan tempat penelitian. Dalam menggunakan metode observasi
cara yang paling efektif adalah melengkapi dengan format atau blangko
pengamatan sebagai instrumen, metode ini akan mencatat berbagai petunjuk
yang diperoleh di lapangan.
Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data tentang
gambaran umum proses pembelajaran Matematika menggunakan metode
penugasan (resitasi) di SDN Pulerejo 02 yang berkaitan dengan
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya.
2. Metode wawancara (Interview)
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan
itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang

56
Sutrisno Hadi, Metodologi Research 2, (Yogyakarta: Andi Ofset, 1991), hal: 136
mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang
memberikan jawaban atas pertanyaan itu
57

Secara garis besar ada tiga macam pedoman dalam melakukan
penelitian yang menggonakan metode interview, yaitu :
a) Pedoman wawancara tidak terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang
hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Di sini kreatifitas
seorang pewawancara sangat diperlukan karena pewawancara menjadi
seorang pengemudi jawaban responden.
b) Pedoman wawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang
disusun secara terperinci sehingga menyerupai chek list, disini
pewawancara tinggal membubuhkan tanda √ (chek) pada nomor yang
sesuai
c) Pedoman wawancara semi struktur, dalam pedoman ini interviewer mula-
mula menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstuktur,
kemudian satu persatu diperdalam dalam mengorek keterangan lebih
lanjut. Dengan demikian keterangan yang diperoleh bisa meliputi semua
variable dengan keterangan yang lengkap dan mendalam.
58


Dari penelitian ini penulis menggunakan metode wawancara tidak
terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang
akan ditanyakan. Oleh karena itu, penulis harus mampu mengarahkan
responden terhadap pembicaraan tentang data yang diharapkan.
Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data tentang
perkembangan hasil penelitian yang dilakukan. Seperti pencapaian atau
kemajuan serta kendala dari penelitian yang dilakukan.
3. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi, yaitu metode pengumpulan data dengan
mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip,

57
Ibid, hal: 135
58
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta,
2002), hal 202
buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, rapat, agenda, dan
sebagainya.
59
Metode ini lebih mudah dibanding dengan metode lain karena
apabila ada kekeliruan dalam penelitian sumber datanya tidak berubah dan
dalam metode dokumentasi yang diamati adalah benda mati.
Keutamaan dari metode dokumentasi adalah: sebagai “bukti” untuk
suatu pengkajian, metode ini sesuai dengan penelitian kualitatif karena
sifatnya yang alamiah sesuai dengan konteks, metode ini mudah ditemukan
dengan kajian isi. Dari keutamaan yang disebutkan di atas maka peneliti
menggunakan metode ini sebagai metode untuk mengumpulkan data antara
lain :
1. Kondisi media pembelajaran
2. Sarana dan prasarana
3. Struktur organisasi
4. Visi dan Misi Sekolah
5. Denah sekolah
6. Data tentang guru dan pegawai
7. Data siswa
4. Pengukuran Test Hasil Belajar
Pengukuran test hasil belajar ini dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan melihat nilai yang
diperoleh oleh siswa. Test tersebut juga sebagai salah satu rangkaian kegiatan
dalam penerapan metode resitasi dan drill dalam upaya untuk meningkatkan
hasil belajar siswa.

59
Ibid, hal. 206
Test yang dimaksud meliputi test awal/ test pengetahuan pra syarat,
test pengetahuan pra syarat tersebut akan dijadikan sebagai acuan tambahan
untuk dijadikan penentuan awal poin perkembangan individu siswa. Selain
tes awal juga dilakukan tes pada setiap akhir tindakan, hasil tes ini akan
digunakan untuk mengetahui tingkat prestasi, hasil belajar dan keaktifan
siswa terhadap materi pelajaran Matematika melalui metode resitasi dan drill.
5. Angket
Kuesioner atau angket adalah teknik pengumpulan data melalui
formulir-formulir yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara
tertulis pada seseorang atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban
atau tanggapan dan informasi yang diperlukan oleh peneliti.
60

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis angket atau
kuesioner berstruktur. Kuesioner ini disebut juga kuesioner tertutup, berisi
pertanyaan-pertanyaan yang disertai sejumlah alternatif jawaban yang
disediakan. Responden dalam menjawab terikat pada sejumlah kemungkinan
yang sudah disediakan.
Data yang dikumpulkan dengan angket adalah respon siswa terhadap
pembelajaran dengan metode resitasi dan drill. Angket yang digunakan
adalah angket tertutup, dimana dalam mengisi jawaban yang tersedia sesuai
dengan pendapatnya masing-masing.




60
Ibid., hlm. 67
F. Langkah-Langkah Penelitian
Langkah-langkah pada penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap.
Pertama, orientasi; kedua, tahap pengumpulan data (lapangan) atau tahap
eksplorasi, dan ketiga, tahap analisi data. Dari ketiga tahapan tersebut di atas
akan diikuti dan dilakukan oleh peneliti, pertama, adalah orientasi yaitu
mengunjungi dan bertatap muka dengan Kepala Sekolah. Pada tahap ini, yang
dilakukan oleh peneliti adalah (1) memohon ijin kepada lembaga tempat
penelitian, (2) merancang usulan penelitian, (3) menentukan informan penelitian,
(4) menyiapkan kelengkapan penelitian, (5) mendiskusikan rencana penelitian.
Kedua, adalah ekplorasi fokus yaitu setelah melakukan orientasi,
kegiatan yang dilakukan peneliti (1) wawancara dengan subyek dan informan
penelitian yang telah dipilih (2) mengkaji dokumen berupa fakta-fakta yang
berkaitan dengan fokus pelitian, (3) observasi pada subyek penelitian.
Ketiga, adalah tahap pengecekan dan pemeriksaan keabsahan data. Pada
tahap ini kegiatan yang dilakukan peneliti adalah penyaringan data yang
diberikan subyek maupun informan dan diadakan perbaikan dari segi bahasa
maupun sistematikanya, agar dalam laporan hasil penelitian diperoleh derajat
kepercayaan yang tinggi.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa penelitian ini
merupakan penelitian tindakan kelas. Secara sederhana, PTK dilaksanakan
berupa proses pengkajian berdaur (cyclycal) yang terdiri dari 4 tahap seperti yang
terlihat pada gambar berikut:

Gambar 3.1 Alur PTK
Setelah dilakukan refleksi atau perenungan yang mencakup: analisis,
síntesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan dari proses serta hasil tindakan
biasanya ada beberapa permasalahan atau pemikiran baru yang perlu mendapat
perhatian sehingga pada gilirannya perlu dilakukan perencanaan ulang, tindakan
ulang, serta diikuti refleksi ulang. Tahap-tahap kegiatan ini berulang, sampai satu
permasalahan dianggap teratasi. Keempat frase dari suatu siklus dalam sebuah
PTK digambarkan dengan sebuah spiral PTK seperti yang digambarkan dibawah
ini.
61


RENCANA
REFLEKSI
TINDAKAN/
OBSERVASI
REFLEKSI
TINDAKAN/
OBSERVASI
REFLEKSI
TINDAKAN/
OBSERVASI
Gambar 3.2 Spiral Penelitian Tindakan Kelas

61
Wahidmurni, op.cit., hal. 21-22
Dengan mengetahui spiral tentang Penelitian Tindakan Kelas di atas,
maka peneliti bisa menggunakannya untuk penelitian ini. Telah disebutkan di
atas bahwa dalam Penelitian Tindakan Kelas itu sendiri ada empat tahapan yang
harus dilakukan yaitu:
1. Perencanaan Tindakan
Dalam penelitian tindakan kelas ini akan dipakai model siklus yang
dilakukan secara berulang- ulang dan berkelanjutan, sehingga diharapkan
semakin lama akan semakin menunjang peningkatan dan pencapaian hasil
yang diinginkan. Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti membagi
menjadi 2 siklus. Siklus I terdiri dari 2 kali pertemuan dan siklus II terdiri
dari 1 kali pertemuan. Adapun pelaksanaan tindakan/ kegiatan- kegiatan yang
direncanakan di kelas selama 3 (dua) kali pertemuan sebagai berikut:
a. Observasi.
b. Identifikasi permasalahan dalam kegiatan belajar mengajar.
c. Menyusun langkah- langkah pembelajaran yang sistematis.
e. Menyusun materi yang akan disampaikan.
f. Membuat alat observasi untuk mengetahui tingkat hasil belajar siswa.
g. Memformulasikan metode yang sesuai.
h. Melaksanakan tindakan kelas.
Penelitian dilaksanakan selama 3 kali pertemuan pada satu kelas, yaitu
kelas III SDN Pulerejo 02 Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar yang dimulai
pada hari Selasa 11 Agustus, Kamis 13 Agustus dan selasa 18 Agustus 2009.

2. Implementasi Tindakan
Ketanggapan dan ketepatan siswa dalam menjawab setiap pertanyaan
yang diberikan oleh guru.
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran
b. Menyampaikan materi secara garis besar.
c. Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode drill dan
resitasi.
3. Observasi dan Interpretasi
Dalam kegiatan pembelajaran, peneliti melakukan pengamatan dengan
pengambilan data hasil belajar dan kinerja siswa. Hal tersebut antara lain:
a. Kegiatan siswa selama kegiatan pembelajaran Matematika
b. Kreatifitas dan tugas siswa secara individu maupun kelompok.
4. Analisis dan Refleksi
Data yang diperoleh dari tindakan kelas yang telah dilaksanakan, akan
dianalisis untuk memastikan bahwa dengan penerapan metode drill dan
resitasi untuk meningkatkan motivas belajar siswa pada mata pelajaran
Matematika.
Dalam menganalisis data akan digunakan prosedur dan teknik-teknik
yang sesuai dengan tujuan yang ada/yang akan dicapai. Yakni memberikan
kesempatan pada siswa untuk menemukan pengetahuan-pengetahuan baru
dalam pembelajaran Matematika, sehingga siswa merasa pengetahuan yang
baru didapatnya lebih berharga, karena itu merupakan hasil temuan sendiri
yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
G. Analisis Data
Data yang diperoleh dari penelitian yang telah dilaksanakan, akan
dianalisis untuk memastikan bahwa dengan penerapan metode drill dan resitasi
untuk meningkatkan motivas belajar siswa pada mata pelajaran Matematika.
Dalam menganalisis data akan digunakan prosedur dan teknik-teknik yang sesuai
dengan tujuan yang ada/ yang akan dicapai. Yakni memberikan kesempatan pada
siswa untuk menemukan pengetahuan- pengetahuan baru dalam pembelajaran
Matematika tentang menghafal dan mengerjakan operasi hitung yang melibatkan
perkalian dan pembagian, sehingga siswa merasa pengetahuan yang baru
didapatnya lebih berharga, karena itu merupakan hasil temuan sendiri yang pada
akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Nasution menyatakan bahwa analisis adalah pekerjaan yang sangat sulit,
memerlukan kerja keras. Analisis memerlukan daya kreatif serta kemampuan
intelektual yang tinggi. Tidak ada cara tertentu yang dapat diikuti untuk
mengadakan analisis, sehingga setiap peneliti harus mencari sendiri metode yang
dirasakan cocok dengan sifat penelitiannya. Bahan yang sama bisa
diklasifikasikan lain oleh peneliti yang berbeda.
Data yang diperoleh dari tindakan yang dilakukan dianalisis dengan
teknik analisis deskriptif kualitatif untuk memastikan bahwa dengan
mengaplikasikan metode drill dan resitasi dapat meningkatkan hasil belajar
siswa. Data yang bersifat kualitatif, terdiri dari hasil observasi, wawancara, dan
dokumentasi dianalisis secara kualitatif.
Menurut Bogdan dan Biklen, analisis data kualitatif yang dikutip oleh
Moleong adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,
mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola,
mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting
dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada
orang lain.
62


Sedangkan data yang dikumpulkan berupa angka atau data kuantitatif
cukup dengan menggunakan analisis deskriptif dan sajian visual. Sajian tersebut
untuk menggambarkan bahwa dengan tindakan yang dilakukan dapat
menimbulkan adanya perbaikan, peningkatan, atau perubahan kearah yang lebih
baik, jika dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.
Untuk mengetahui hasil tindakan yang telah dilakukan dapat
menimbulkan perbaikan, peningkatan dan perubahan dari keadaan sebelumnya,
maka peneliti menggunakan rumus:
63

P =

Post rate-base rate x 100%
base rate
Keterangan:
P = Presentase peningkatan
Post rate = Nilai rata-rata sesudah tindakan
Base rate = Nilai rata-rata sebelum peningkatan

Dengan mengetahui rumus di atas, maka peneliti bisa menggunkannya
dalam menghitung seberapa besar perubahan yang terjadi kepada siswa ketika
metode ini digunakan.

62
Lexi J. Moleong, op. cit., hal. 248
63
Hamzah. B. Uno, Model Pembelajaran (menciptakan proses belajar mengajar yang kreatif dan
efektif)(Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hal. 73
BAB IV
HASIL PENELITIAN

Uraian berikut ini adalah salah satu upaya untuk mendeskripsikan keberadaan
obyek penelitian dan mendeskripsikan hasil penelitian berupa paparan data yang
telah dilaksanakan. Dari beberapa hal tersebut di atas, nantinya kita akan mengetahui
apakah metode resitasi dan drill dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran matematika siswa kelas III SDN Pulerejo 02 Bakung Blitar dapat berhasil?
Supaya situasi pembelajaran dapat diikuti secara utuh, maka peneliti memaparkan
semua proses yang terjadi selama berlangsungnya pembelajaran, mulai dari kegiatan
awal hingga peneliti menutup pembelajaran dari masing-masing pertemuan.
Penelitian mulai dilaksanakan pada tanggal 11 Agustus 2009 sampai 18 Agustus
2009. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus selama empat kali pertemuan.

A. Latar Belakang Obyek Penelitian
1. Sejarah Berdirinya SDN Pulerejo 02
SDN Pulerejo 02 kecamatan Bakung kabupaten Blitar ini berawal dari
kepedulian para tentara Nasional indonesia (pada waktu itu masih bernama
ABRI) untuk memberikan peniikan yang layak kepada warga desa Pulerejo.
Misi awal para tentara tersebut berada di desa Pulerejo adalah untuk
menumpas pelarian PKI sekitar tahun 60an. Setelah daerah tersebut
dinyatakan aman dari PKI, maka timbul pemikiran untuk memperkuat
ideolegi masyarakat Pulrejo sekaligus mendidik mereka agar tidak mudah
terpengaruh oleh ideologi-ideoligi yang menyesatkan. Kemudian didirikanlah
SDN Pulerejo pada tahun 1968 oleh ABRI (Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia) yang waktu itu menjabat sebagai pamong desa ibantu oleh
masyarakat yang terdiri dari tokoh - tokoh masyarakat yang memiliki
kepedulian terhadap pendidikan. Pada waktu itu kegiatan belajar mengajar
masih berlangsung di rumah-rumah warga dikarenkan Sekolah ini belum
memiliki gedung sendiri.
Pada tahun 1970an, warga masyarakat secara swadaya mendirikan
bangunan semi permanen sebagai lokasi SDN pulerejo 02 yang terbuat dari
papan kayu. Selanjutnya pada tahun 1984 bangunan SDN Pulerejo 02
dibangun dengan bangunan permanen. Bangunan SDN Pulerejo telah
mengalami beberapa kali pemugaran, sumber yang peneliti wawancarai tidak
ingat persis berapa kali ataupun tahun berapa saja SDN Pulerejo diPugar.
Pemugaran yang terakhir dilakukan tahun 2009, tepatnya mulai bulan Juni
dan sekarang masih dalam proses penyelesaian.
64

2. Visi dan Misi SDN Pulerejo 02 Bakung Blitar
Visi Sekolah
a. Menciptakan lingkungan kelas yang menyenangkan
b. Melatih secara rutin mata pelajaran yang dilombakan
c. Meningkatkan ketakwaan diniyah, ketakwaan, shalat jamah, lomba
keagamaan

64
Wawancara dengan Bapak Sumari, (Guru SDN Pulerejo 02 yang juga penduduk asli desa
tersebut) pada hari sabtu, 1 Agustus 2009
d. Menambah pendalaman mata pelajaran mata pelajaran matematika
bahasa Inggris
e. Melaksanakan ekstra kurikuler penjaskes dan pramuka
Misi Sekolah
a. Menumbuh kembangkan iklim potensi yang sehat dan memberi
penghargaan terhadap prestasi
b. Membangun suasana kondusif dengan pola MPBS
c. Menambahkan nilai-nilai kemanusiaan hak asasi manusia dan demokrasi
d. Mengembangkan sekolah sebagai pusat kebudayaan, pendidikan dan
keagamaan
e. Menanamkan konsep dasar IPTEK untuk pendidikan lebih lanjut.
3. Kurikulum SDN Pulerejo 02
SDN Pulerejo 02 kecamatan Bakung kabupaten Blitar menerapkan
kurikulum KTSP (Kurikulum Tingjkat Satuan Pendidikan), yang telah
disesuaikan dengan situasi dan kondisi lembaga ini. Dalam penyajian data ini
peneliti haya akan mencantumkan data tabel yang berterkaitan dengan alokasi
jam pelajaran dan standar ketuntasan belajar minimal (SKM) saja, sedangkan
untuk kurikulum SDN Pulerejo 02 secara lengkap akan peneliti sertakan di
lampiran.




Tabel 4.1
Alokasi Jam Pelajaran SDN Pulerejo 02 Tahun Ajaran 2009/2010

Kelas Satu JP tatap
muka / menit
Jumlah JP
perminggu
Minggu efektif
pertahun ajaran
Waktu JP
pertahun
1 35 31 37 1147
2 35 32 37 1184
3 35 33 37 1221
4 35 38 37 1406
5 35 38 37 1406
6 35 38 33 1254
Tabel 4.2
Standar Ketuntasan Minimal Setiap Mata Pelajaran
SDN Pulerejo 02 Tahun Ajaran 2009/2010

Ketent
uan
Belajar
No

Mata Pelajaran
Standar ketuntasan belajar
minimal (SKM)
Angka Huruf
1 Pendidikan Agama Islam
(PAI)
6,00 Enam Koma Nol Nol
2 Pendidikan
Kewarganegaraan
6,00 Enam Koma Nol Nol
3 Bahasa Indonesia 5,40 Lima Koma Empat Puluh
4 Matematika 5,00 Lima Koma Nol Nol
5 Ilmu Pengetahuan Alam 6,00 Enam Koma Nol Nol
6 Ilmu Pengetahuan Sosial 5,25 Lima Koma Dua Lima
7 Seni Budaya Dan
Ketrampilan
6,50 Enam Koma Lima Puluh
8 Pendidikan Jasmani Dan
ketrampilan
6,50 Enam Koma Lima Puluh
B. Mulok
a. Bahasa daerah 6,00 Enam Koma Nol Nol
b. Bahasa inggris 5,56 Lima Koma Lima Enam
c. TIK - -
* Disesuaikan Dengan Kebijakan Pemerintah
4. Kenaikan Kelas dan Kelulusan
a. Kenaikan Kelas
Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir pelajaran
Kriteria kenaikan kelas
1. Siswa dinyatakan naik kelas setelah menyeleseikan seluruh program
pembelajaran pada dua semsester kelas yang didkuti.
2. Tidak mendapat nilai dibawah SKBM
3. Memiliki nilai minimal BAIK untuk aspek kepribadian pada
semester yang diikuti.
b. Kriteria Kelulusan
1. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran.
2. Memiliki nilai minimal BAIK untuk seluruh kelompok mata
pelajaran; agama, akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian,
estetika, jasmani olahraga an kesehatan.
3. Lulus ujian Sekolah/Ujian Nasional sesuai dengan peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Yang berlaku.
5. Sarana dan Prasarana
a. Jumlah Gedung/ Ruang

Tabel 4.3


No
Jenis Bangunan
Gedung
Jumlah Ruang Kelas
Jumlah
Baik Rusak
Ringan Berat
1 Pemerintah 2 2 - 3 5
2 Swadaya - - - - -
3 Pinjaman - - - - -
4 Rumah KS - - - - -
5 Rumah Guru - - - - -
6 Rmh Penjaga - - - - -
7 Kantor 1 - 1 - 1
Jml Gedung 4 3 - 4 7


b. Sarana Pendidikan
Tabel 4.4


No

Jenis Bangunan
Jumlah Ruang Kelas
Jumlah
Baik Rusak
Ringan Berat
1 Meja untuk 2 murid 25 - 30 55
2 Bangku untuk 3 murd - - - -
3 Kursi murid 62 - 45 105
4 Almari 4 3 - 7
5 Meja tulis 3 2 - 5
6 Meja tamu - - - -
7 Kursi tamu - - - -
8 Rak buku - - - -
9 Alat - alat pertanian - - - -
10 Alat pertukangan - - - -
11 Alat - alat cukur - - - -
12 Alat - alat bengkel - - - -
13 Alat- alat IPA 4 - - -
14 Mesin jahit - - - 4
15 Papan tulis 3 2 - -
16 Meja guru 6 - 2 4
17 Kursi guru 5 - 3 8
18 Dingklik - - - 8
19 Alat - alat olahraga 2 - 2 4
20 Alat - alat kesenian - - - -
21 Alat - alat IPS 1 - 3 4













6. Data Guru dan Karyawan Tahun 2009/2010
Tabel 4.5

No Nama/NIP Gol Jabatan
Guru
Jenis
Guru
Tugas
Mengajar
1


2


3


4


5


6


7



8


9
Tugiat Sucipto, S.Pd
Nip 195612221977031003

Sumari, S.Pd
Nip 196203181983051004

Siswanto, S.Pd
Nip 196201211991111001

Agus Pramudi, S.Pd
Nip 197008061994101001

Harigiyanti Sp,S.Pd
Nip 198009062003122006

Kususiyah
Nip 196407062007012014

Miliana Agustianingsih,
S.Ag
Nip 197408172005012001

Wildan Irwahyudi,A,Ma
Nip. 198612122009011003

Ali Afandi
IVa


IVa


IIId


IIIc


IId


IIa


IIIb



IIb


-
Guru Pembina


Guru Pembina


Guru Dewasa
Tk I

Guru Dewasa


Guru Muda I


Guru Pratama


Guru Madya



Guru Pratama


Guru Sukwan
Guru Bid.
Studi

Guru Kelas


Guru Kelas


Guru Kelas


Guru Kelas


Guru Kelas


Guru PAI



Guru Kelas


Guru OR
Kelas
IV,V,VI

Kelas IV


Kelas V


Kelas II


Kelas VI


Kelas I


Kelas I-VI



Kelas III


Kelas I-VI
7. Data Jumlah Siswa
Tabel 4.6
Rameng SDN Pulerejo 02 Tahun Ajaran : 2009 – 2010
Kelas WNI Asli WNI Keturunan
L P Jml L P Jml Total
I 8 3 11 - - - 11
II 6 2 8 - - - 8
III 4 3 7 - - - 7
IV 4 4 8 - - - 8
V 4 5 9 - - - 9
VI 3 9 12 - - - 12
Jml 29 26 55 - - - 55
8. Struktur Organisasi SDN Pulerejo 02
Gambar 4.1















B. Paparan Data
1. Siklus 1
a. Perencanaan Tindakan siklus I
Sebelum penelitian dilakukan, peneliti membuat perencanaan atas
dasar sebagai berikut:
1) Pengamatan peneliti dengan melihat nilai mata pelajaran matematika,
menunjukkan bahwa nilai mata pelajaran matematika sangat rendah.
Hal ini dapat dikaitkan dengan rendahnya hasil siswa dalam proses
KETUA KOMITE
SIMAN
KEPALA SEKOLAH
TUGIAT SUCIPTO
UNIT PERPUS
HARIGIYANTI SP
TATA USAHA
AGUS PRAMUDI
UKS
KUSUSIAH
JABATAN GURU

SEKRETARIS
MAILINA AGUSTIAN
GURU KELAS III
WILDAN IR
GURU KELAS II
AGUS PRAMUDI
GURU KELASV
SISWANTO
GURU KELAS I
KUSUSIAH
GURU KELAS IV
SUMARI
GURU KELAS VI
HARIGIYANTI SP
GURU PELAJARAN
SISWA
PENJAGA SEKOLAH MASYARAKAT
GURU PENJAS
ALI AFANDI
GURU B.INGRIS
NARIYONO
GURU AGAMA
MAILINA AGUS
pembelajaran sehingga berdampak pada nilai ulangan siswa yang
relatif rendah. Karena pada bayangan mereka belajar tentang hitung-
hitungan yang berkaitan dengan bahasa angka itu sangat rumit. Sebab
selama ini metode pembelajaran yang digunakan guru masih
konvensional yaitu dengan metode ceramah, tanya jawab, yang dirasa
kurang mengena.
2) Dengan menerapkan metode resitasi dan drill yang di dalamnya dapat
“memaksa” siswa untuk aktif mengikuti proses pembelajaran. Dengan
harapan menumbuhkan hasil belajar dalam setiap individu peserta
didik, khususnya dalam konsep perkalian dan pembagian dapat
ditingkatkan.
Dalam tahap perencanaan, peneliti menyusun rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) untuk standar kompetensi peserta didik mampu
melakukan operasi bilangan sampai tiga angka. Sedangkan kompetensi
dasarnya adalah melakukan perkalian yang hasilnya bilangan tiga angka
dan pembagian bilangan tiga angka.
Kriteria (indikator yang menjadi penanda) untuk menentukan
bahwa metode yang dikembangkan telah berhasil memecahkan masalah
yang sedang diupayakan pemecahannya, dilakukan secara kualitas
maupun kuantitas. Secara kualitas dapat dilihat dari aktivitas peserta didik
selama proses pembelajaran, seperti tingkat hasil , keceriaan, keantusiasan
dan kreativitas dalam mengikuti program pembelajaran. Hal ini dapat
dilihat dari pengamatan peneliti selama pembelajaran Matematika
berlangsung.
Sedangkan secara kuantitatif dilakukan dengan cara tes.
Keberhasilan adanya hasil individual bisa juga dilihat jika siswa
memperoleh ketuntasan belajar minimal 5,00. Ini adalah skor minimal
batas kelulusan sebagaimana ketentuan sistem evaluasi yang tercantum
dalam pedoman pendidikan SDN Pulerejo 02 tahun ajaran 2009/2010.
Pada rencana tindakan siklus pertama, peneliti menerapkan
pembelajaran Matematika dengan menggunakan metode resitasi dan drill.
Metode ini diupayakan agar siswa mempunyai hasil yang tinggi dan
mampu berperan aktif dalam belajar di kelas serta terlibat aktif dalam
kerja sama antar siswa sehingga prestasi belajar mereka meningkat. Hal
ini dilakukan agar masing-masing siswa tidak melakukan tindakan
semaunya sendiri, seperti bermain, membuka buku mata pelajaran selain
matematika, dan mau berfikir sendiri serta tanggap dengan berbagai
macam perintah guru yang sifatnya membangun. Sehingga pengetahuan
tentang pelajaran matematika menjadi maksimal dan dapat diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Siklus pertama dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan atau
selama 140 menit, yang dilaksanakan pada tanggal 11- 13Agustus 2009.
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pemahaman secara
garis besar kepada peserta didik tentang bagaimana cara yang efektif dan
efisien untuk menguasai perkalian dan pembagian dengan baik dan benar
dalam pembelajaran matematika. RPP dikembangkan berdasarkan silabus
yang dipakai guru matematika di SDN Pulerejo 02 selama ini.
Sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran adalah buku
panduan matematika sesuai dengan kurikulum KTSP. Adapun untuk
mengungkap hasil peningkatan hasil dan prestasi belajar siswa digunakan
instrumen penilaian berupa pedoman pengamatan terhadap aktivitas
peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran, dan tes hasil belajar.
b. Implementasi Tindakan siklus I
a. Pertemuan ke-1
Pada awal pertemuan pertama, sebelum siklus penelitian
tindakan kelas dilaksanakan, peserta didik diberi penjelasan tentang
melakukan perkalian yang hasilnya bilangan tiga angka dan
pembagian bilangan tiga angka. Belajar dengan mengatakan dan
melakukan akan diperoleh daya serap yang tinggi atas perolehan hasil
belajar, untuk itu yang memiliki kemampuan diatas rata-rata
hendaknya dengan ringan tangan dapat membantu mereka yang
memiliki kemampuan dibawahnya. Penjelasan semacam ini
diperlukan untuk menumbuhkan semangat rela menolong yang lemah
dan meminimalkan perasaan enggan untuk membantu temannya.
Rangsangan selanjutnya adalah dengan mengemukakan
kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik dalam
pembelajaran yang akan dilaksanakan, informasi tentang konsep-
konsep yang akan dipelajari dan masalah-masalah yang akan dibahas,
serta langkah-langkah pembelajaran yang akan dilalui sebagaimana
disajikan dalam rencana pembelajaran.
Setelah dipersiapkan rencana pembelajaran dan metode yang
akan dipakai maka proses pembelajaran akan dilaksanakan sesuai
dengan rencana pembelajaran dan menggunakan metode yang telah
ditetapkan. Adapun penelitian ini dimulai pertama kali pada
pertemuan ke-1, tepatnya pada hari Selasa tanggal 11 Agustus 2009
yang berlangsung selama 2x35 menit dengan kegiatan sebagai berikut:
a) Tahap Awal
1. Mengucapkan salam dan membaca basmalah bersama-sama.
2. Menanyakan kabar, kemudian menanyakan siapa yang tidak
masuk.
3. Mengkondisikan siswa.
4. Mengaitkan materi dengan materi terdahulu.
5. Pedagang sangat memerlukan materi ini.
6. Menginformasikan tujuan dari pelajaran ini.
7. Tanya jawab tentang penjumlahan secara berulang.
b) Tahap Inti
1. Siswa dijelaskan konsep dasar perkalian
2. Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya
3. Siswa diminta oleh guru untuk maju ke depan mengerjakan
contoh soal
4. Guru membagi Siswa menjadi 2 kelompok,
5. Guru membagikan permen sebaga media belajar perkalian
6. Guru meminta siswa untuk memjumlahkan permen permenya dan
mengubahnya dalam bahasa perkalian
7. Guru mengamati kinerja siswa dan melakukan tanya jawab
dengan siswa mengenai kesulitan yang dihadapi.
8. Siswa kembali ke tempa duduk masing-masing
9. Siswa membuat tabel perkalalian angka 1 sampai 10 seperti yang
ada di buku paket Matematika
10. Siswa mengisi tabel perkalian yang telah dibuat
11. Siswa mengumpulkan hasil kerjanya
c) Tahap Akhir
1. Siswa dan guru melakukan refleksi.
2. Guru memberikan tugas rumah untuk menghafal perkalian 1- 10
3. Guru menutup pelajaran
Berdasarkan pengamatan, dari penggunaan metode resitasi dan
drill tersebut berjalan dengan lancar hingga waktu pertemuan
berakhir. Setelah dilakukan koreksi, skor tiap-tiap siswa adalah
sebagaimana disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 4.7
Skor kelompok Mata Matematika

Kelompok Skor Tes Keterangan*
I 100 Lulus
II 100 Lulus
* Diambilkan dari Kriteria Penilaian di SDN Pulerejo 02
tahun ajaran 2009-2010.

Berdasarkan hasil skor perolehan siswa, dapat dikatakan
bahwa metode pembelajaran ini terbukti efektif untuk meningkatkan
hasil dan pemahaman siswa terhadap materi Matematika yang
sedang dipelajari.
Sementara dari hasil tes individu diperoleh skor, seperti yang
tertera di tabel berikut ini.
Tabel 4.8
Distribusi Skor Tes Individual pertemuan ke-1
Mata Pelajaran Matematika Kelas III SDN Pulerejo 02.

No. Nama Nilai Status
1. Musleh 48 Tidak Lulus
2. Ary Antonio Suganda 70 Lulus
3. Mega Silvia Juliani 89 Lulus
4. Pungki Trya W 60 Lulus
5. Renata Fathia 49 Tidak Lulus
6. Rosa Widiyawati 100 Lulus
7. Thomas Alfindo P 44 Tidak Lulus
* Diambilkan dari Kriteria Penilaian di SDN Pulerejo 02
tahun ajaran 2009-2010.

Berdasarkan tabel diatas dapat dikatakan bahwa ada
penyerapan yang cukup sigifikan pada materi yang diajarkan,
mengingat ada beberapa siswa yang berkemampuan di bawah rata-
rata. Bagusnya hasil bisa dilihat dari tingkat keberhasilan kelas pada
pertemuan ke-1 ini adalah 57,14% yakni dari 7 peserta tes, yang
dinyatakan lulus sebanyak 4 orang. Sedangkan yang gagal sebanyak 3
orang siswa atau sebesar 42,86%, karena skor tesnya kurang dari 5,00.
Berdasarkan hasil skor perolehan siswa, dapat dikatakan bahwa
metode pembelajaran ini terbukti efektif untuk meningkatkan hasil
dan pemahaman siswa terhadap materi Matematika yang sedang
dipelajari, terbukti dari nilai siswa yang berada di bawah batas kriteria
ketuntasan minimum hanya beberapa anak saja.
Dilihat dari beberapa jawaban tes siswa yang diberikan,
kebanyakan siswa salah pada soal perkalian di atas angka lima. Tetapi
pada soal perkalian. Dalam tahap ini, peneliti memberikan reward
kepada siswa yang memperoleh nilai 100 sebagai bentuk pemberian
hasil belajar kepada peserta didik. Hanya satu siswa yang
memperoleh nilai 100. Sedangkan reward yang diberikan peneliti
berupa souvenir kecil.
sebagai kegiatan penutup guru bersama-sama siswa membuat
kesimpulan dari pertemuan ke-1, selanjutnya guru menyampaikan
informasi sebagai berikut:
Anak-anak pertemuan selanjutnya,kalian harus menghafal
perkalian angka 1-10, oleh karena itu kalian harus mempersiapkanya
dirumah supaya memperoleh nilai yang bagus. Kalau kalian tidak
hafal, bapak akan meminta kalian berdiri di depan kelas sambil
menghafal
65


b. Pertemuan ke-2
Siklius I pertemuan ke-2 dilaksanakan pada hari kamis tanggal
13 Agustus 2009. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2x35 menit, yakni
selama 2 jam pelajaran. peneliti mengemukakan pengalaman
pembelajaran yang dirasakan pada minggu sebelumnya, peneliti

65
Pesan guru atau peneliti pada siswa saat akan meninggalkan ruangan, pada tanggal 11 Agustus
2009.

merasa senang bahwa ada nuansa pembelajaran yang menyenangkan.
Kegiatan pada pertemuan ini adalah sebagai berikut :
a) Tahap Awal
1) Mengucapkan salam dan membaca basmalah bersama-sama.
2) Menanyakan kabar, kemudian menanyakan siapa yang tidak
masuk.
3) peneliti mehasil siswa agar selalu percaya diri atas
kemampuan yang dimilikinya dan jangan takut untuk bertanya
maupun berpendapat.
b) Tahap Inti
1. Siswa secara bersama-sama menghafalkan perkalian sampai
10x10
2. Siswa bergiliran menghafalkan ke depan kelas sampai semua
siswa selesai menghafal.
3. Tanya jawab dengan guru untuk menguatkan pemahaman
siswa.
4. Guru membagikan permen 12 permen pada tiap-tiap siswa
5. Guru menerangkan konsep pembagain sebagai pengurangan
berulang
6. Guru mencontohkan konsep pembagian dengan menggunakan
permen
7. Guru menyuruh Siswa membagi permen yang dimilikinya
menjadi beberapa kelompok yang sama banyak hingga siswa
tidak ada permen yang berada di tangan siswa
8. Siswa menjawab soal latihan isian yang diberikan guru
9. Siswa mengumpulkan hasil kerjanya
c) Tahap Akhir
1. Siswa dan guru melakukan refleksi.
2. Guru memberikan tugas rumah
Pada pertemuan ke-2 ini, peniliti langsung mencatat nilai
hafalan siswa dan diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 4.9
Distribusi Skor Tes Individual pertemuan ke-2
Mata Pelajaran Matematika Kelas III SDN Pulerejo 02
No. Nama Nilai Status
1. Musleh 46 Tidak Lulus
2. Ary Antonio Suganda 100 Lulus
3. Mega Silvia Juliani 100 Lulus
4. Pungki Trya W 68 Lulus
5. Renata Fathia 70 Lulus
6. Rosa Widiyawati 100 Lulus
7. Thomas Alfindo P 48 Tidak Lulus
* Diambilkan dari Kriteria Penilaian di SDN Pulerejo 02
tahun ajaran 2009-2010.
Pada tahap ini, 2 Siswa atau 28,57% masih belum berhasil
menyelesaikan hafalan mereka dan dinyatakan tidak lulus, sementara
5 Siswa yang lain atau 71,43% dapat menyelesaikan hafalan mereka,
bahkan 3 orang siswa berhasil dengan nilai sempurna. Ini
membuktikan penerapan resitasi dan Drill terbukti efektif untuk
meningkatkan hasil dan pemahaman siswa terhadap materi
Matematika yang sedang dipelajari karena ada penekanan kepada
siswa untuk berusaha lebih keras lagi dengan tugas- tugas yang
diberikan.
Ada sisa waktu yaitu selama 15 menit, peneliti gunakan untuk
mengadakan evaluasi. Dari hasil evaluasi pada siklus II di peroleh data
sebagai berikut:
Tabel 4.10
Distribusi Skor Tes Individual pertemuan ke-2
Mata Pelajaran Matematika Kelas III SDN Pulerejo 02

No. Nama Nilai Status
1. Musleh 50 Lulus
2. Ary Antonio Suganda 80 Lulus
3. Mega Silvia Juliani 90 Lulus
4. Pungki Trya W 55 Lulus
5. Renata Fathia 80 Lulus
6. Rosa Widiyawati 100 Lulus
7. Thomas Alfindo P 55 Lulus

Berdasarkan tabel diatas, dapat diperoleh data 6 dari 7 siswa
atau 85,71% siswa lulus degan nilai di atas KKM sementara hanya 1
dari 7 siswa atau 14,29% saja yang lulus dengan nilai sama dengan
KKM. Ini berarti bahwa materi yang telah disampaikan oleh Guru
sekaligus peneliti melalui penerapan Metode Resitasi dan Drill dapat
diserap secara maksimal oleh Siswa .
Pada akhir siklus I ini, peneliti memperoleh dengan pasti
ketercapaian kompetensi dasar secara individual melalui tes individu
pada pertemuan kedua, sebagaimana direncanakan pada tahap
perencanaan.
c. Observasi dan Interpretasi siklus I
1. Pertemuan ke-1
Pada siklus ini, peneliti yang juga bertindak sebagai guru kelas
sekaligus sebagai observer yang mencatat perilaku dan sikap siswa
selama proses KBM yang menggunakan metode resitasi dan drill. Awal
pembelajaran siswa sulit untuk dikondisikan. Apalagi ketika siswa
disuruh berkelompok, hal itu disebabkan karena sebelum- sebelumnya
mereka jarang sekali dibuat belajar kelompok di kelas. Namun secara
keseluruhan siswa terkihat antusias serta dapat mengikuti dan
melaksanakan semua instruksi yang deberikan oelh Guru, hal ini tidak
terlepas dari penerapan metode yang tepat sesuai dengan situasi dan
kondisi serta materi yang diajarkan.
Tingkat keberhasilan siswa pada pertemuan ke-1 ini adalah
57,14% dari jumlah keseluruhan 7 Siswa.
2. Pertemuan ke-2
Pada siklus ini, banyak siswa yang masih kesulitan kesulitan u
untuk menghafal perkalian. Tetapi, hal tersebut dapat diatasi setelah
beberapa metode yang mulai dijalankan, yakni metode belajar yang
menuntut siswa untuk menemukan, bertanya dan menjawab tentang hal-
hal yang berhubungan dengan pembahasan. Akhirnya siswa cukup
antusias dalam mengikuti pelajaran, meskipun masih terdapat beberapa
siswa yang masih ramai, akan tetapi sebagian besar siswa sudah dapat
dikondisikan dan mau memperhatikan serta mengikuti apa yang
diperintahkan oleh Guru.
Terlihat ada peningkata hasil Siswa yang tecermin dari
prosentase keberhasilan. Jika pada pertemuan pertama siswa yang lulus
tugas individu adalah 57,14%,, pada pertemuan ke-2 siswa yang lulus
tugas menghafal adalah 71,43% dan semua siswa lulus pada tugas
individu yang ke dua walaupun ada seorang siswa yang nilainya sama
dengan nilai KKM.
d. Analisis dan Refleksi siklus I
Peneliti menggunakan metode resitasi dan drill semula adalah
untuk memperbaiki konsep perkalian dalam melakukan perkalian dan
pembagian dalam pembelajaran matematika di kelas III SDN Pulerejo 02
Bakung kabupaten Blitar, yang mana hal tersebut tidak terlepas dari cara
belajar siswa yang sebelumnya terlihat lebih pasif dalam mengikuti
kegiatan belajar mengajar dalam kelas. Oleh karena itu, untuk
menyingkapi kenyataan di atas, maka diambil tindakan- tindakan sebagai
berikut :
1) Mengarahkan dan membimbing siswa untuk bisa mencari,
menemukan, bertanya serta menjawab tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan pembelajaran matematika.
2) Mehasil siswa agar dapat belajar lebih aktif, dengan melibatkan
mereka dalam hal bertanya maupun menanggapi dan menjawab
mengenai pembelajaran yang sedang dibahas.
3) Siswa nampak bergembira selama mengikuti pembelajaran.
Kegembiraan ini berdampak kepada konsentrasi serta semangat
belajar siswa.
4) Pembelajaran dengan menerapkan metode resitasi dan drill dapat
memberikan pengalaman berharga para peserta didik untuk dapat
memahami perkalian dan pembagian dengan melakukan perkalian
yang hasilnya bilangan tiga angka dan pembagian bilangan tiga angka
dengan cepat dan tepat. Walaupun materi yang diajarkan masih
merupakan konsep dasar dari perkalian dan pembagian namun
pemahaman yang benar merupakan modal awal bagi Siswa untuk
memahami dan menyukai Matematika sehingga mereka tidak
gampang menyerah dalam menghadapi soal-soal yang sulit.
5) Dengan metode resitasi dan drill, menunjukkan dapat mengasah
keterampilan kognitif, psikomotorik (ketrampilan dan kecakapan
melakukan perintah guru) dan afektif (kemauan menghargai orang
lain).
Walaupun secara umum program pembelajaran berhasil dan
berjalan dengan baik, bukan berarti tidak ada tindak lanjut dalam
penelitian ini, dilihat dari hasil evaluasi yang disesuaikan dengan standar
minimum kelulusan.
Tabel 4.11
Distribusi Skor Rata-rata Tes Individual Siklus I Mata Pelajaran
Matematika Kelas III SDN Pulerejo 02
No. Nama Nilai Tugas Rata-
rata
Status
I II III
1. Musleh 48 46 50 48 Tidak Lulus
2. Ary Antonio S 70 100 80 83 Lulus
3. Mega Silvia J 89 100 90 93 Lulus
4. Pungki Trya W 60 48 55 54 Lulus
5. Renata Fathia 49 70 80 66 Lulus
6. Rosa Widiyawati 100 100 100 100 Lulus
7. Thomas Alfindo 44 48 55 49 Tidak Lulus
* Diambilkan dari Kriteria Penilaian di SDN Pulerejo 02 tahun ajaran
2009-2010.

Dari tabel di atas masih ada 2 dari 7 siswa mendapatkan nilai yang
minim.jadi,siswa yang lulus adalah 71,43% dan yang belum lulus 28,57
%. Kebanyakan jawaban yang salah adalah soal tentang perkalian dan
kecakapan menghafal. Untuk itu peneliti akan mengadakan siklus II
sebagai tindak lanjut dalam memperbaiki kekurangan-kekurangan yang
ada pada siklus I.
2. Siklus 2
a. Perencanaan Tindakan
Siklus kedua dilaksanakan sebanyak 1 kali pertemuan atau selama
70 menit, yang dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 2009. Kegiatan
pembelajaran dirancang untuk menindaklanjuti kekurangan-kekurangan
yang ditemukan pada siklus I. Yaitu untuk memberikan pemahaman
secara garis besar kepada peserta didik tentang bagaimana cara
mengerjakan perkalian yang hasilnya bilangan tiga angka dan pembagian
bilangan tiga angka.
Peneliti membuat perencanaan atas dasar pengamatan peneliti
dengan melihat nilai post tes siklus I yang dilaksanakan pada tanggal 11
dan 13 Agustus 2009 mata pelajaran matematika, yaitu beberapa siswa
yang memperoleh nilai minim.
Sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran adalah buku
panduan Aneka ilmu “Gemar belajar matematika” yang sesuai dengan
kurikulum KTSP. Sedangkan alat atau bahan yang dibutuhkan dalam
program pembelajaran adalah kapur dan papan tulis untuk menjelaskan
materi pembelajaran. Adapun untuk mengungkap hasil peningkatan hasil
dan prestasi belajar siswa digunakan instrumen penilaian berupa pedoman
pengamatan terhadap aktivitas peserta didik selama mengikuti proses
pembelajaran, pedoman wawancara, penyebaran angket dan tes hasil
belajar.
Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pembelajaran,
peneliti memilih menggunakan metode resitasi dan drill yang nantinya
akan melibatkan siswa dalam proses pembelajaran matematika. Secara
rinci rencana pembelajaran pada siklus II yang terdiri dari satu pertemuan,
adalah sebagai berikut:
1) Guru mengadakan apersepsi dengan bertanya kepada setiap peserta
didik tentang pembelajaran sebelumnya.
2) Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya tentang
materi yang belum dimengerti.
3) Melaksanakan metode resitasi dan drill seperti yang dilakukan pada
siklus I
4) Pada akhir sesi, guru melakukan evaluasi individu dan memberikan
kesimpulan atas pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Kriteria (indikator yang menjadi penanda) untuk menentukan
bahwa metode yang dikembangkan telah berhasil memecahkan masalah
yang sedang diupayakan pemecahannya dilakukan secara kualitas
maupun kuantitas. Secara kualitas dapat dilihat dari aktivitas peserta didik
selama proses pembelajaran seperti tingkat hasil , keceriaan, keantusiasan
dan keterampilan peserta didik dalam mengikuti program pembelajaran.
Hal ini dapat dilihat dari pengamatan peneliti selama pembelajaran
matematika berlangsung.
Sedangkan secara kuantitatif dilakukan dengan cara tes.
Keberhasilan individual ditetapkan jika siswa mengalami ketuntasan
belajar minimal 5,00. ini adalah skor minimal batas kelulusan
sebagaimana ketentuan sistem evaluasi yang tercantum dalam pedoman
pendidikan SDN Pulerejo 02 Bakung kabupaten Blitar tahun akademik
2009/2010.

b. Penerapan Tindakan Siklus II
Pada awal pertemuan, peneliti mengemukakan pengalaman
pembelajaran yang dirasakan dalam pertemuan sebelumnya, peneliti
merasa senang bahwa dengan penerapan metode yang menyenangkan,
terlihat ada peningkatan hasil dan prestasi belajar siswa. Pada saat itu
juga peneliti mehasil siswa agar tidak putus asa dan selalu percaya diri
dengan kemampuan yang dimilikinya.
Penelitian pada siklus ini dilaksanakan pada pertemuan ke-2
tepatnya pada hari Selasa, 18 Agustus 2009 yang berlangsung selama
2x35 menit dengan kegiatan sebagai berikut :
a) Tahap Awal
1. Mengucapkan salam dan membaca basmalah bersama-sama.
2. Menanyakan kabar, kemudian menanyakan siapa yang tidak masuk.
3. Mengondisikan siswa.
4. Mengevaluasi pemahaman dengan Tanya jawab
5. Menghafalkan perkalian 1x1 sampai 10x10 secara bersama-sama.
b) Tahap Inti
1. Meminta siswa menghafalkan perkalian angka sampai 10x10 secara
bergantian ke depan.
2. Guru membimbing siswa dan menilai siswa
3. Guru membagikan soal –soal latihan yang telah dipersiapkan
4. Siswa mengerjakan soal test yang diberikan Guru
5. Siswa siswa mengumpulkan hasil kerjanya
6. Guru menjelaskan maksud dari maksud pembelajaran yang telah
dilakukan selama 3 pertemuan ini
7. Guru membagikan angket untuk diisi siswa
8. Siswa mengumpulkan angket yang sudah diisi
c) Tahap Akhir
1. Guru mendorong siswa mengungkapkan kesan-kesan pembelajaran
yang baru dilaksanakan, dan mengajukan saran sebagai upaya
perbaikan proses pembelajaran berikutnya.
2. Guru menutup pelajaran.
3. Guru memberikan tugas rumah kepada Siswa
Soal evalusai yang diberikan pada tahap ini, sedikit lebih sulit
daripada soal yang diberikan pada siklus I. Dari hasil evaluasi pada siklus
II diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.12
Distribusi Skor Tes Individual Siklus II
Mata Pelajaran Matematika Kelas III SDN Pulerejo 02
No. Nama Nilai Status
1. Musleh 80 Lulus
2. Ary Antonio Suganda 100 Lulus
3. Mega Silvia Juliani 100 Lulus
4. Pungki Trya W 81 Lulus
5. Renata Fathia 90 Lulus
6. Rosa Widiyawati 100 Lulus
7. Thomas Alfindo P 47 Tidak Lulus
* Diambilkan dari Kriteria Penilaian di SDN Pulerejo 02 tahun ajaran
2009-2010.

Berdasarkan tabel diatas, dapat dikatakan bahwa tingkat
keberhasilan dengan meningkatnya hasil mereka untuk belajar
Matematika dapat dilihat pada siklus II ini adalah 85,71% yakni dari 7
peserta tes, yang dinyatakan lulus sebanyak 6 siswa. Sedangkan yang
gagal sebanyak 1 orang siswa atau sebesar 14,29%, karena skor tesnya
kurang dari 5,00.
Sebelum pertemuan diakhiri, peneliti meminta kepada seluruh
siswa untuk menuliskan tanggapan mereka terhadap pembelajaran yang
berlangsung selama satu minggu. Tanggapan dituangkan dalam bentuk
angket yang telah disediakan oleh peneliti, dan peneliti menekankan
bahwa tanggapan harus diungkap sejujurnya untuk perbaikan program
pembelajaran berikutnya. Tanggapan dikumpulkan langsung kepada
peneliti.
Hasil analisis terhadap respon siswa kelas III SDN Pulerejo 02
tahun akademik 2009-2010 terhadap penerapan pembelajaran dengan
metode resitasi dan drill dalam pembelajaran matematika sangat baik.
Hal tersebut tercermin dari tanggapan mereka terhadap metode
pembelajaran pada awal siklus pertama, melalui beberapa pernyataan
sebagai berikut:
1. Proses pembelajaran matematika yang saya alami dengan menerapkan
metode resitasi dan drill sangat menyenangkan.
2. Saya merasa sangat terhasil dengan metode resitasi dan drill yang
diberikan guru saat proses pembelajaran berlangsung.
3. Saya tidak pernah mengantuk lagi ketika pembelajaran matematika
dengan penerapan metode resitasi dan drill berlangsung.
4. Menurut saya media pembelajaran matematika yang digunakan guru
sangat bervariasi.
5. Saya suka belajar matematika karena:
a) Gurunya
b) Materinya
c) Cara mengajar gurunya
d) Suasana kelasnya
Berdasarkan jawaban siswa-siswi SDN Pulerejo 02 Bakung, dapat
disusun sesuai dengan urutan nomor soal diatas, yang disajikan dalam
tabel sebagai berikut:
Tabel 4.13
Daftar Tanggapan Siswa Terhadap Penerapan Pembelajaran Dengan
Metode Resitasi dan Drill
No. Soal Jawaban Frekuensi Persen
1. Sangat Setuju 3 42,85%
Setuju 3 42,85%
Ragu-ragu 1 14,28%
Tidak Setuju - -
Sangat Tidak Setuju - -
Jumlah 7 100%
2. Sangat Setuju 4 57,14%
Setuju 2 28,57%
Ragu-ragu 1 14,28%
Tidak Setuju - -
Sangat Tidak Setuju - -
Jumlah 7 100%
3. Sangat Setuju 5 71,42%
Setuju 2 28,57%
Ragu-ragu - -
Tidak Setuju - -
Sangat Tidak Setuju - -
Jumlah 7 100%
4. Sangat Setuju 5 71,42%
Setuju 2 28,57%
Ragu-ragu - -
Tidak Setuju - -
Sangat Tidak Setuju - -
Jumlah 7 100%
5 a) Sangat Setuju 4 57,14%
Setuju 2 28,57%
Ragu-ragu 1 14,28%
Tidak Setuju - -
Sangat Tidak Setuju - -
Jumlah 7 100%
b) Sangat Setuju 1 14,28%
Setuju 1 14,28%
Ragu-ragu - -
Tidak Setuju 2 28,57%
Sangat Tidak Setuju 3 42,85%
Jumlah 7 100%
c) Sangat Setuju 4 57,14%
Setuju 2 28,57%
Ragu-ragu 1 14,28%
Tidak Setuju - -
Sangat Tidak Setuju - -
Jumlah 7 100%
d) Sangat Setuju 4 57,14%
Setuju 1 14,28%
Ragu-ragu 2 28,57%
Tidak Setuju - -
Sangat Tidak Setuju - -
Jumlah 7 100%

Untuk lebih mendapatkan gambaran kualitatif secara mendalam
terhadap penerapan metode resitasi dan drill, peneliti melakukan
wawancara kepada siswa yang ditetapkan sebagai informan.
Hasil wawancara adalah sebagai berikut, terhadap pertanyaan
“Bagaimanakah tanggapan Kamu terhadap penerapan metode
pembelajaran tadi?”. Seorang siswa yang termasuk memiliki kemampuan
diatas rata-rata (Rosa) mengatakan,
Saya berpendapat, bahwa pembelajaran yang diberikan Pak Wildan
sangat menyenangkan,ada permen KISSnya,hehe…trus belajarnya
sambil bermain jadi nggak bosen.tapi haalanya buat pusing, tapi gak
apa-apa itu kan juga mara i pinter,hehehhe..jadi saya mau di ulang
seperti itu lagi Pak!
66

Satu orang siswa yang termasuk siswa yang memiliki kemampuan
sedang (Ari) mengatakan,
Saya suka dengan cara mengajar Pak Wildan karena bikin saya gak
malu. sebelumnya gak pernah disuruh hafalan jadi aku masih agak
belum hafal perkalian tapi karena Suasana kelas sangat ramai dan
menyenangkan jadi saya tidak gampang takut kalo maju.
67


Sedangkan siswa yang termasuk siswa yang memiliki kemampuan
di bawah rata-rata (Thomas) mengatakan,
Enak banget Pak belajar Matematikanya, banyak permenya,apalagi
saya dikasih permen sama Pak Wildan, aku jadi tambah seneng
,hehehe...pokok seneng banget aku Pak,jadi tau perkalian itu
ditambah dan pembagian itu dikurangi, tapi hafalane bikin
mumet,hehe...
68



66
Hasil Wawancara dengan Rosa, salah satu peserta didik kelas III SDN Pulerejo 02 yang
memiliki kemampuan diatas rata-rata, pada tanggal 20 Agustus 2009
67
Hasil Wawancara dengan Ari, salah satu peserta didik kelas III SDN Pulerejo 02 yang memiliki
kemampuan sedang, pada tanggal 20 Agustus 2009.
68
Hasil Wawancara dengan Thomas, salah satu peserta didik kelas III SDN Pulerejo 02 yang
memiliki kemampuan di bawah rata-rata, pada tanggal 21 Agustus 2009.
Dengan demikian tanggapan para informan adalah positif terhadap
pelaksanaan pembelajaran dengan metode drill dan sort card, karena
ketiga siswa menyatakan senang terhadap metode pembelajaran yang
mereka alami.
Tanggapan siswa terhadap pertanyaan “Apakah Kamu
memperoleh manfaat dari metode pembelajaran seperti itu? Terhadap
pertanyaan ini siswa yang bernama Rosa mengungkapkan:
Iya pak!perkalian itu banyak manfaatnya. Kalo pake permen kan
kita bisa tahu apa gunanya perkalian atau pembagian itu,tapi kg sulit
hafal perkalian sampek satos to Pak,hehe...
69


Sementara siswa yang bernama Ari, menyatakan:
Perkalian itu saya senang,karena saya suka menghitung,kalo pake
permen kan tambah enak bisa main sambil sinau.tapi perkalianya
saya belum hafal Pak...
70


Sedangkan siswa yang bernama Thomas, menyatakan,
Saya gak ndredeg lagi kalo di ulang Matematika,hehehe..saya suka
kalau belajar ada main-mainya jadi gak bosen.hehehe
71


Dengan demikian, metode pembelajaran yang diterapkan sangat
memberikan manfaat kepada para peserta didik, mereka merasakan
suasana yang akrab dengan teman-temannya, lebih rileks, mendapat
pengalaman baru tentang bagaimana cara menghitung dan mengerjakan
dengan baik dan benar sesuai dengan pengelompokan dan pertukaran
yang dianjurkan.

69
Hasil Wawancara dengan Rosa, salah satu peserta didik kelas III SDN Pulerejo 02 yang
memiliki kemampuan diatas rata-rata, pada tanggal 20 Agustus 2009
70
Hasil Wawancara dengan Ari, salah satu peserta didik kelas III SDN Pulerejo 02 yang memiliki
kemampuan sedang, pada tanggal 20 Agustus 2009
71
Hasil Wawancara dengan Thomas, salah satu peserta didik kelas III SDN Pulerejo 02 yang
memiliki kemampuan di bawah rata-rata, pada tanggal 20 Agustus 2009.
c. Observasi Siklus II
Ketika guru mengulas kembali pembelajaran sebelumnya, keadaan
siswa pada saat itu tenang karena memperhatikan setiap detail keterangan
yang disampaikan oleh peneliti. Semua pandangan peserta didik menuju
kedepan, karena mereka merasa kesulitan dengan materi yang dibahas
pada waktu itu, bahkan banyak siswa yang terangsang untuk bertanya atas
hal-hal yang belum dimengerti. Peserta didik juga sangat antusias
mengerjakan tugas yang diberikan guru/peneliti, ini dibuktikan tidak ada
satupun dari siswa yang merasa keberatan dan protes.
Hasil dari pengamatan keseluruhan pada tahap ini, bahwa peserta
didik sudah mencapai indikator yang harus dicapai, hal ini dapat
ditunjukkan bahwa hasil peserta didik dalam proses pembelajaran
Matematika meningkat, peserta didik lebih bersemangat terhadap tugas
yang diberikan, tergerak untuk selalu belajar dan melakukan pekerjaan
sesuai dengan minatnya, terangsang untuk mewujudkan keinginannya,
mempunyai keinginan yang kuat terhadap sesuatu, mengikuti KBM
dengan senang dan tidak merasa jenuh dengan pelajaran, selalu merasa
penasaran dan bertanya untuk mencari tahu.
Siklus II ini sebagai tindaklanjut atas kekurangan-kekurangan
yang ditemukan pada siklus I. Pada tahap ini, peneliti juga memberikan
evaluasi sebagai tolak ukur peningkatan keberhasilan siswa dalam
melaksanakan proses pembelajaran.
Hasil pegamatan yang peneliti peroleh pada tahap ini adalah, pada
waktu pelaksanaan metode resitasi dan drill, siswa begitu ceria dan
antusias, sehingga tercipta suasana yang menyenangkan, sedangkan pada
waktu siswa melaksanakan evaluasi suasana kelas sepi, tidak ada yang
berjalan-jalan untuk mencari jawaban. Siswa lebih percaya diri untuk
menjawabnya sendiri. Bahkan tidak ada satupun siswa yang bertanya
kepada guru terkait dengan soal-soal yang diberikan oleh peneliti,
Keadaan ini berlangsung sampai waktu yang ditentukan habis. Ini
menunjukkan bahwa seluruh peserta didik faham dengan apa yang
dimaksudkan dalam soal tersebut.
Hasil dari pelaksanaan evaluasi siklus II ini, menunjukkan adanya
peningkatan hasil sehingga berdampak pada prestasi siswa jika
dibandingkan antara hasil post tes siklus I dan post tes siklus II yang
dilaksanakan sebelumnya. Peningkatan hasil siswa untuk terus menggali
potensinya sendri terus meningkat. Hal ini bisa dilihat dari tingkat
keberhasilan post tes siklus I sebesar 71,43% dan kemudian pada siklus II
meningkat lagi menjadi 85,71%. Ini menunjukkan 90% siswa berhasil
mempelajari tentang perkalian dan pembagian pada mata pelajaran
matematika dengan menggunakan metode resitasi dan drill.
d. Refleksi Siklus II
Dari kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung dengan
penerapan metode resitasi dan drill, maka tujuan pembelajaran yaitu
untuk dapat mengatasi kesulitan belajar siswa dan siswa untuk lebih aktif,
kreatif dalam proses belajar-mengajar. Pada kegiatan siklus kedua,
menunjukkan bahwa tidak ada permasalahan dalam perumusan
perencanaan tindakan (RPP). Jadwal jam pertemuan telah sesuai dengan
kebutuhan pelaksanaan pembelajaran. Kelebihan yang ditemukan selama
pelaksanaan tindakan pembelajaran di siklus II adalah sebagai berikut:
1. Siswa sangat antusias dengan kegiatan pembelajaran (siswa terlihat
tidak mau beranjak dari tempat duduk walaupun peneliti telah
memerintahkan untuk meninggalkan kelas.
2. Siswa lebih aktif selama proses belajar.
3. Siswa menjadi lebih kreatif, hal ini dapat dilihat dari cara mereka
menyelesaikan soal latihan.
4. Siswa menjadi lebih komunikatif
5. Siswa berlomba untuk mendapatkan nilai terbaik (setiap ada
keberhasilan peneliti selalu memberi reward).
6. Konsentrasi siswa dalam belajar cukup tinggi. Hal ini dapat terjadi
karena peneliti selalu membawa siswa masuk dalam orientasi masalah
sebelum pembelajaran inti dimulai.
7. Hasil belajar siswa telah meningkat dari siklus I ke siklus II yaitu
(dari rata-rata 71,43% menjadi 85,71%).
8. Semua rencana perbaikan tindakan berdasarkan hasil refleksi siklus I
telah dilaksanakan di siklus II ini dengan baik.
9. Metode pembelajaran yang diterapkan, dapat meningkatkan hasil
belajar siswa, sehingga prestasi siswa juga meningkat.
Jadi kesimpulan dari paparan data di atas bahwa dalam pelaksanaan mata
pelajaran Matematika pada siswa kelas III SDN Pulerejo 02 Bakung kabupaten
Blitar, telah berhasil dilaksanakan dengan hasil yang memuaskan karena
penyampaian tersebut juga banyak dipengaruhi dari cara guru menyampaikan materi
yaitu dari metode yang dipakai untuk menyampaikan materi tersebut. Sehingga
ketika peneliti menyampaikan materi dengan metode selain ceramah saja, siswa
kelihatan sangat senang, bersemangat dan sangat menikmati materi yang
disampaikan oleh peneliti. Pada dasarnya materi matematika itu mudah disampaikan
kepada anak didik apabila guru mau dan mampu melakukan metode yang bervariasi
yang sesuai dengan materinya.
Dengan menerapkan metode resitasi dan drill pada pembelajaran matematika
kelas III SDN Pulerejo 02 Bakung kabupaten Blitar dalam meningkatkan hasil
belajar siswa, berjalan dengan sukses sesuai dengan keinginan peneliti walaupun
tidak 100% tetapi itu sudah membuat peneliti senang. Hasil siswa untuk belajar
matematika sangat tinggi dan itu terlihat dari hasil angket dan prestasi hasil belajar
siswa yang menyatakan bahwa mereka senang walaupun materi tersebut dirasa
sangat sulit bagi siswa yang prestasinya di bawah rata-rata. Tapi setelah
dilakukannya metode resitasi dan drill ini, walaupun nilainya tidak terlau
memuaskan bagi siswa yang prestasinya di bawah rata-rata, mereka mengaku sangat
senang dan sangat terhasil sekali dengan adanya pemakaian metode resitasi dan drill
dalam mata pelajaran matematika. Dan adanya hasil tersebut juga dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti yang ada pada angket hasil yang sudah diisi oleh siswa.
Apalagi ketika ada siswa yang berhasil mendapatkan nilai 100, peneliti selalu
memberikan reward yang mana reward itu semakin meningkatkan hasil siswa untuk
terus belajar.
BAB V
PEMBAHASAN

A. Perencanaan pembelajaran dengan menerapkan metode resitasi dan drill
dalam meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Matematika kelas III
SDN Pulerejo 02 kecamatan Bakung kabupaten Blitar
Proses perencanaan kegiatan pembelajaran dalam menerapkan metode
resitasi dan drill untuk meningkatkan hasil belajar siswa, dilakukan sebanyak 2
siklus selama 3 kali pertemuan, dilalui dalam 4 tahap, yaitu: tahap perencanaan,
pelaksanaan, observasi atau pengamatan dan tahap refleksi.
Pada siklus pertama, peneliti membuat perencanaan secara sistematis
yang disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilakukan dan alokasi waktu yang
dibutuhkan sebagai persiapan dalam melaksanakan proses bembelajaran secara
efektif dan efisien. Pada tahap ini, tidak ada permasalahan dalam perumusan
perencanaan tindakan (RPP). Jadwal jam pertemuan sesuai dengan kebutuhan
pelaksanaan pembelajaran. Pada siklus kedua, peneliti membuat rancangan
desain pembelajaran untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada
siklus pertama.

B. Pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan metode resitasi dan drill
dalam meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Matematika kelas III
SDN Pulerejo 02 kecamatan Bakung kabupaten Blitar
Pada tahap pelaksanaan siklus I , siswa terlihat antusias dan bersemangat
untuk berpartisipasi dalam mengikuti proses pembelajaran yang direncanakan. Di
samping itu, peneliti juga memberikan reward atau penghargaan kepada siswa
yang berprestasi sebagai bentuk cara menumbuhkan hasil kepada siswa. Sesuai
dengan teori yang dikutip oleh Oemar Hamalik dalam psikologi belajar mengajar,
bahwa untuk menumbuhkan hasil dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah,
salah satunya dengan cara memberikan penghargaan atau ganjaran atas prestasi
yang diraih peserta didik. Tujuan pemberian penghargaan dalam belajar adalah
bahwa setelah seseorang menerima penghargaan karena telah melakukan
kegiatan belajar dengan baik, ia akan terus melakukan kegiatan belajarnya sendiri
di luar kelas.
Kelebihan dalam siklus pertama ini adalah siswa lebih antusias dan
bersemangat untuk berpartisi dalam mengikuti proses pembelajaran, tercipta
kerja sama antar siswa pada setiap kelompoknya, suasana kelas lebih hidup, dan
peserta didik tidak merasa jenuh selama proses pembelajaran berlangsung.
Sedangkan kelemahan pada siklus pertama ini, dalam penerapan drill ada
beberapa siswa yang masih sangat kesulitan menghafal konsep perkalian 1-10,
diantaranya,Thomas, Pungki, dan Muslih yang hanya mampu menghafal sampai
perkalian 6 x 3. Sedangkan dari hasil pos tes dinyatakan 3 siswa gagal karena
skor tesnya kurang dari 5 dan 4 siswa yang dinyatakan lulus dengan perolehan
nilai sangat minim, sehingga peneliti menambah pertemuan lagi untuk penerapan
siklus II.
Pada pelaksanaan siklus II, peneliti hanya menjelaskan bagian-bagian
yang belum dimengerti oleh peserta didik, yaitu tentang tata cara mengalikan
bersusun dan pembagian bersusun. Kelebihan dalam siklus II, yaitu siswa terlihat
sangat antusias dalam menerapkan metode resitasi dan drill, dan tidak ada siswa
yang berbuat curang, di samping itu siswa lebih percaya diri untuk mengerjakan
soal yang diberikan guru pada akhir season, dan pembelajaran berjalan sesuai
dengan RPP yang dibuat oleh guru, siswa lebih menguasai pembelajaran yang
disajikan, yang ditunjukkan pada hasil ketuntasan siswa mencapai 90%.

C. Evaluasi pembelajaran dengan menerapkan metode resitasi dan drill dalam
meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Matematika kelas III SDN
Pulerejo 02 kecamatan Bakung kabupaten Blitar
Berdasarkan hasil pengamatan, wawancara, pemberian pertanyaan dalam
angket, dan hasil tes atas penerapan pembelajaran dengan metode resitasi dan
drill pada mata pelajaran matematika, sebagaimana dijabarkan pada Bab IV telah
menunjukkan bahwa hipotesis yang dirumuskan di bab pendahuluan yang
berbunyi, “Jika metode resitasi dan drill diterapkan dalam proses pembelajaran
Matematika (melakukan operasi bilangan sampai tiga angka), maka dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SDN Pulerejo 02” Teruji.
Data-data secara kuantitatif menunjukkan bahwa berdasarkan hasil tes
individual pada post tes siklus I, dan post tes siklus II terjadi peningkatan yang
signifikan, mulai dari tingkat keberhasilan post tes siklus I sebesar 71,43% atau
sebanyak 5 siswa dari 7 peserta tes yang dinyatakan lulus. Sedangkan yang gagal
sebanyak 2 siswa atau sebesar 28,57%. Setelah dilakukan tindakan dengan
menggunakan metode resitasi dan drill selama dua siklus (2 kali pertemuan).
Kemudian pada siklus II meningkat menjadi 85,71% atau sebanyak 6 siswa dari 7
peserta tes yang dinyatakan lulus. Sedangkan yang gagal sebanyak 1 siswa atau
sebesar 14,29%. Ini menunjukkan 90% siswa berhasil mempelajari perkalian
yang hasilnya bilangan tiga angka dan pembagian bilangan tiga angka pada mata
pelajaran Matematika dengan menerapkan metode resitasi dan drill.
Data-data secara kualitatif dapat dijelaskan dari banyaknya siswa yang
menyatakan sangat setuju bahwa metode pembelajaran ini sangat menyenangkan.
Sedangkan jika dilihat pada aspek pernyataan nomor 5 dengan pernyataan “saya
suka belajar matematika karena: (a) gurunya, (b) materinya, (c) cara mengajar
gurunya, (d) suasana kelasnya. Dari setiap aspek pernyataan pada item no 5 ini,
siswa yang menyatakan sangat setuju dan setuju lebih besar dari pada ragu, tidak
setuju dan sangat tidak setuju. Dari sini dapat dilihat bahwa siswa cenderung
senang dengan pembelajaran ini karena gurunya, materi pembelajarannya, cara
mengajar gurunya dan suasana kelas yang tercipta pada waktu proses
pembelajaran berlangsung. Begitu juga hasil wawancara dengan siswa yang
ditentukan sebagai informan, mereka menjawab dengan respon positif atas
pengalaman dalam mengaplikasikan metode resitasi dan drill.
Jenis perilaku dengan beberapa indikator yang menyertai, yang menjadi
pengamatan guru untuk menilai peningkatan hasil belajar siswa dalam belajar
perkalian yang hasilnya bilangan tiga angka dan pembagian bilangan tiga angka
antara lain:
1. Antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran, indikatornya pencapaiannya
adalah:
a. Menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi.
b. Tampak bersemangat dalam mengerjakan tugas
c. Berusaha mengerjakan semua tugas dalam waktu yang ditentukan.
2. Keceriaan, indikator pencapaiannya adalah:
a. Tampak gembira dan senang selama mengikuti pembelajaran.
b. Roman muka
3. Kreativitas, indikator pencapaiannya adalah:
a. Langsung memanipulasi alat peraga untuk memahami suatu konsep.
b. Mengajukan pertanyaan kepada guru, jika belum jelas.
c. Dapat mengerjakan tugas
Data-data ini baik secara kualitatif maupun kuantitatif sesungguhnya
Mendukung Teori Conficius “apa yang saya dengar, saya lupa; apa yang saya
lihat, saya ingat; dan apa yang saya lakukan, saya paham“.
mengingat sebanyak







KERUCUT PENGALAMAN BELAJAR
Yang kita ingat:

10%............................................


20%........................................


30%...............................


50%..........................


70%.................

90%.........

Tampak bersemangat dalam mengerjakan tugas-tugas.
Berusaha mengerjakan semua tugas dalam waktu yang ditentukan.
Keceriaan, indikator pencapaiannya adalah:
Tampak gembira dan senang selama mengikuti pembelajaran.
Roman muka tampak berseri-seri dalam mengerjakan tugas
Kreativitas, indikator pencapaiannya adalah:
Langsung memanipulasi alat peraga untuk memahami suatu konsep.
Mengajukan pertanyaan kepada guru, jika belum jelas.
Dapat mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, tepat waktu.
data ini baik secara kualitatif maupun kuantitatif sesungguhnya
Mendukung Teori Conficius “apa yang saya dengar, saya lupa; apa yang saya
lihat, saya ingat; dan apa yang saya lakukan, saya paham“.
mengingat sebanyak 90%.
Gambar 5.1
Krucut Pengalaman Belajar

KERUCUT PENGALAMAN BELAJAR

10%............................................
20%........................................
30%...............................
50%..........................



Berusaha mengerjakan semua tugas dalam waktu yang ditentukan.
Tampak gembira dan senang selama mengikuti pembelajaran.
seri dalam mengerjakan tugas-tugas.
Langsung memanipulasi alat peraga untuk memahami suatu konsep.

n, tepat waktu.
data ini baik secara kualitatif maupun kuantitatif sesungguhnya
Mendukung Teori Conficius “apa yang saya dengar, saya lupa; apa yang saya
Maka mereka akan
Modus
Verbal
Visual
Berbuat


BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Langkah awal perencaaan tindakan ini adalah menganalisis komponen dan isi
butir, menetapkan materi pembelajaran, menelaah buku paket matematika
kelas III, mengembangkan silabus, menyusun rencana pelaksaan
pembelajaran, membuat lembar kegiatan siswa, menyusun instrumen
pengumpulan data yang meliputi instrumen observasi untuk mengamati guru
dalam pelaksaan pembelajaraan, instrumen lembar observasi untuk
mengamati kegiatan siswa dalam melakukan aktifitas belajar , angket untuk
mengetahui respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran, serta instrumen
soal ulangan harian.
2. Proses pelaksanaan pembelajaran matematika dengan metode resitasi dan
metode drill sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas III di
SDN Pulerejo 02 Bakung kabupaten Blitar sesuai dengan rencana yang telah
disusun. Pada siklus I peneliti berhasil menjelaskan kepada peserta didik
tentang melakukan perkalian yang hasilnya bilangan tiga angka dan
pembagian bilangan tiga angka dan belajar dengan mengatakan dan
melakukan akan diperoleh daya serap yang tinggi atas perolehan hasil belajar.
Peneliti juga menjelaskan kompetensi dasar yang harus dikuasai, melakukan
KBM sesuai RPP dan kemudian peneliti melakukan post tes untuk
mengevaluasi pemahaman siswa. Pada siklus ke 2 melakukan wawancara
terhadap siswa , dan mengadakan post tes.
3. Proses evaluasi pembelajaran matematika dengan metode resitasi dan metode
drill sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas III di SDN
Pulerejo 02 Bakung kabupaten Blitar dilaksanakan dengan cara melakukan
pengamatan untuk memberikan penilaian dari aktivitas siswa dalam proses
pembelajaran, kerjasama masing-masing siswa dalam kelompok selama
proses pembelajaran. Proses evaluasi dilakukan pada tiap pertemuan setelah
proses pembelajaran berlangsung untuk menentukan sudah sejauh mana
pengembangan metode yang sedang dikembangkan telah berhasil sesuai
dengan yang direncanakan.
Dari hasil evaluasi dapat dibuktikan bahwa penerapan metode resitasi dan
drill pada pembelajaran matematika SDN Pulerejo 02 di Bakung kabupaten
Blitar dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III.
B. Saran
Setiap guru pasti memiliki masalah dengan pembelajaran yang mereka
laksanakan, untuk itu sebagai guru yang baik pasti selalu berupaya untuk
memecahkan masalah yang dihadapi, lebih-lebih masalah pembelajaran selalu
terkait dengan kehidupan siswa di masa yang akan datang.
Penulis mempunyai beberapa saran dalam rangka meningkatkan hasil
belajar siswa dalam mata pelajaran matematika khususnya materi operasi bilangan
sampai tiga angka. Adapun saran-saran tersebut adalah :
1) Sesuai dengan eksistensinya, maka seharusnya guru berusaha semaksimal
mungkin menerapkan metode pengajaran yang telah ditetapkan dengan tanpa
meninggalkan perhatiannya terhadap latar belakang dan kemampuan
intelegensi peserta didik.
2) Dalam setiap pembelajaran, khususnya pembelajaran matematika perlu adanya
pendekatan, metode maupun strategi pembelajaran yang dapat menarik
perhatian dan minat siswa yang hendaknya telah dipersiapkan oleh seorang
guru sebelum melaksanakan proses belajar mengajar.
3) Perlu adanya hasil dari seorang guru terhadap siswa terkait dengan matematika
tentang perkalian dan pembagiandan sebagainya sehingga siswa tidak merasa
takut ataupun merasa kesulitan dalam pembelajaran matematika.
4) Profesionalitas dari seseorang dalam mengajar dan mendidik menjadi faktor
pendukung keberhasilan siswa. Maka hendaklah mampu bagi guru menguasai
materi juga segala teknik mengajar sehingga ketika mengalami kendala akan
dapat dicarikan jalan keluarnya sebagai alternatif lain.
Metode pembelajaran yang menempatkan siswa untuk aktif menemukan
pengetahuan, ternyata dapat meningkatkan kualitas belajarnya. Untuk itu
hendaknya para guru lebih banyak berpikir tentang metode pembelajaran apa yang
harus diterapkan untuk mencapai kompetensi dasar yang ditargetkan. Jadi bukan
kegiatan pembelajaran yang menuntut guru untuk mengajarkan materi yang harus
dikuasai oleh siswanya. Dengan demikian pemahaman tentang berbagai metode
pembelajaran hendaknya lebih ditingkatkan. Meskipun sesungguhnya metode
pembelajaran dapat diciptakan oleh diri kita sendiri (guru).
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad Daud. 2002. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Raja Grafindo
Persada
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:
Rineka Cipta, 2002
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri. Zain, Aswan. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:
PT. Rineka Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri. 1995. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Djiwandono, Sri Esti Wuryani. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
Hadi, Sutrisno. Metodologi Researc 2, Yogyakarta: Andi Ofset, 1991.
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Hamdani, Ihsan. 2001. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004.
K, Roestiyah N. 1989. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Kusrini, dkk. Keterampilan Dasar Mengajar (PPL 1) Berorientasi Pada
Kurikulum Berbasis Kompetensi, Fakultas Tarbiyah UIN Malang 2005.
Kusrini, Siti. Suti’ah. Marno. 2007. Keterampilan Dasar Mengajar (PPL I). Malang:
Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang: Cetakan
Keempat.
Kusuma, Amir Daien Indra. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya: Usaha
Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Muhaimin, dkk. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya: CV. Citra Media.
M, Sardiman A. 1990. Interaksi Dan Hasil Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali.
Muhaimin, 2003. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam, Bandung: Nuansa.
Muhaimin. 2005. Pengembangan Kurikulum PAI disekolah Madrasah dan
Perguruan Tinggi. Jakarta: Rajawali.
Muhaimin. Mujib, Abdul. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Trigenda
Karya.
Nasional L, Zulkifli. 2003. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya

Nazir, M. Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988
Purwanto, Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Rusyan, Tabrani. 1989. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung:
Rosda Karya.
Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Sinar
Baru Algensindo.
Santoso, Gempur. 2005. Metodologi Penelitian. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
Suryobroto, B. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Tafsir, Ahmad. 2000. Metodologi pengajaran Agama Islam. Bandung: PT. Remaja
Rosda Karya.
Uno, Hamzah. B. 2007. Model Pembelajaran (menciptakan proses belajar mengajar
yang kreatif dan efektif). Jakarta: Bumi Aksara.
Usman, Moh Uzer. 1992. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda
Karya.
Wahidmurni, 2008. Penelitihan Tindakan Kelas Dari Teori Menuju Praktik. Malang:
UM. Press.
Yasin, A. Fatah. 2008. Dimensi-dimensiPendidikan Islam. Malang: UIN Malang
Press.



LAMPIRAN I

ANGKET RESPON SISWA
Nama : ………………………………………………………..
Hari/Tanggal : ………………………………………………………..
Semester/Kelas : ………………………………………………………..
Petunjuk:
1. Berilah tanda cek ( √ ) pada kolom yang sesuai dengan jawaban anda.
2. Jawablah pertanyaan sesuai dengan keadaan sesungguhnya.
3. Kembalikan angket ini jika selai mengisi.
No. URAIAN
JAWABAN
SS S R TS STS
1. Proses pembelajaran Matematika yang saya
alami dengan menggunakan metode resitasi
dan drill selama ini sangat menyenangkan.

2. Saya merasa sangat termotivasi dengan
metode resitasi dan drill yang baru diberikan
guru Matematika.

3. Saya selalu mengantuk ketika pembelajaran
Matematika dengan menggunakan metode
resitasi dan drill berlagsung

4. Menurut saya media pembelajaran
Matematika yang digunakan guru sangat
bervariasi

5. Saya suka belajar Matematika karena:
a) Gurunya
b) Materinya
c) Cara mengajar gurunya
d) Suasana kelasnya

Keterangan:
SS : Sangat Setuju
S : Setuju
R : Ragu-ragu
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju

LAMPIRAN 2
FORMAT OBSERVASI PERILAKU SISWA SIKLUS I
Hari/Tanggal : Selasa/ 18 Agustus 2009
Jam : 08.10 – 09.35
Tempat : SDN Pulerejo 02 Bakung, Kls. III
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, berilah komentar atau catatan
sesuai dengan indikator yang telah ditentukan.
JENIS
PERILAKU
INDIKATOR
NILAI
4 3 2 1
Antusias Menunjukkan rasa ingin
tahu yang tinggi
Tampak bersemangat dalam
mengerjakan tugas-tugas
Berusaha mengerjakan
semua tugas dalam waktu
yang ditentukan
X

X

X

Keceriaan Tampak gembira dan
senang selama mengikuti
pembelajaran
Roman muka tampak
berseri-seri dalam
mengerjakan tugas-tugas
X






X

Kreativitas Langsung memanipulasi
alat peraga untuk
memahami suatu konsep
atau sifat
Mengajukan pertanyaan
kepada guru, jika belum
jelas
X



X

Catatan:
Roman muka yang di tampakkan siswa pada siklus I, menunjukkan bahwa mereka
merasa tidak ada beban dalam mengikuti proses pembelajaran, mereka terlihat
begitu semangat dalam mengaplikasikan strategi yang di terapkan peneliti, dan
suasana kelas terlihat hidup
Keterangan : 4: Baik Sekali
3: Baik
2: Cukup
1: Kurang
Pengamat
(Wildan Irwahyudi)
FORMAT OBSERVASI PERILAKU SISWA SIKLUS II
Hari/Tanggal : Kamis/ 20 Agustus 2009
Jam : 08.10 – 09.35
Tempat : SDN Pulerejo 02 Bakung, Kls. III
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, berilah komentar atau catatan
sesuai dengan indikator yang telah ditentukan.
JENIS
PERILAKU
INDIKATOR
NILAI
4 3 2 1
Antusias Menunjukkan rasa ingin
tahu yang tinggi
Tampak bersemangat dalam
mengerjakan tugas-tugas
Berusaha mengerjakan
semua tugas dalam waktu
yang ditentukan
X

X

X


Keceriaan Tampak gembira dan
senang selama mengikuti
pembelajaran
Roman muka tampak
berseri-seri dalam
mengerjakan tugas-tugas



X

X




Kreativitas Langsung memanipulasi
alat peraga untuk
memahami suatu konsep
atau sifat
Mengajukan pertanyaan
kepada guru, jika belum
jelas




X

Catatan:
Rasa keingintahuan siswa semakin tinggi, hal ini ditunjukkan pada beberapa siswa
yang bertanya kepada guru tentang hal yang belum dmengerti. Suasana kelas yang
tercipta sangat sunyi karena siswa konsentrasi mengerjakan soal.ujian.

Keterangan : 4: Baik Sekali
3: Baik
2: Cukup
1: Kurang
Pengamat
(Wildan Irwahyudi)
LAMPIRAN 3

STRUKTUR ORGANISASI SDN PULEREJO 02 BAKUNG
KETUA KOMITE
SIMAN
KEPALA SEKOLAH
TUGIAT SUCIPTO
UNIT PERPUS
HARIGIYANTI SP
TATA USAHA
AGUS PRAMUDI
UKS
KUSUSIAH
JABATAN GURU

SEKRETARIS
MAILINA AGUSTIAN
GURU KELAS III
WILDAN IR
GURU KELAS II
AGUS PRAMUDI
GURU KELASV
SISWANTO
GURU KELAS I
KUSUSIAH
GURU KELAS IV
SUMARI
GURU KELAS VI
HARIGIYANTI SP
GURU PELAJARAN
SISWA
PENJAGA SEKOLAH
MASYARAKAT
GURU PENJAS
ALI AFANDI
GURU B.INGRIS
NARIYONO
GURU AGAMA
MAILINA AGUS
LAMPIRAN 4

DENAH SDN PULEREJO 02 BAKUNG KAB. BLITAR



U




JALAN RAYA JALAN RAYA



HALAMAN SEKOLAH/
LAPANGAN

KELAS
III

KELAS IV KELAS V

KANTOR PARKIRAN


KELAS
I / II



KELAS
V
MASJID
KM.
MANDI

HUTAN JATI



















HUTAN
JATI
BEKAS
RUMAH
DINAS
LAMPIRAN 5


JADWAL PELAJARAN TAHUN AKADEMIK 2009/2010


HARI

WAKTU

SENIN

SELASA

RABO

KAMIS

JUMAT

SABTU
07.00-07.35 Upacara MTK PAI B.Ind B.Ind OR
07.35-08.10 Pkn MTK PAI B.Ind MTK OR
0.810-08.45 Pkn IPA PAI MTK MTK OR
08.45-09.15 Istirahat Istirahat Istirahat Istirahat Istirahat Istirahat
09.15-09.50 B.Ind IPA B.Ind MTK IPS B.Ingris
09.50-10.25 B.Ind IPA Kesenian B.Jawa IPS B.Ingris
10.25-11.00 P.Diri P.Diri Kesenian B.Jawa





LAMPIRAN 6

PEDOMAN WAWANCARA

Responden: Guru Kelas III pada tahun ajaran 2009 / 2010

1. Apa tujuan utama pembelajaran Matematika di SD ini?
2. Upaya apa yang Ibu lakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam
pembelajaran Matematika di kelas III?
3. Bagaimana strategi/metode yang Ibu terapkan?
4. Media apa yang Ibu pakai?
5. Bagaimana respon siswa dengan metode yang Ibu terapkan dalam pembelajaran
Matematika?
6. Apa saja problem/kendala yang Ibu alami dalam pembelajaran Matematika?
7. Usaha apa yang Ibu lakukan untuk mengembangkan pembelajaran Matematika?
8. Apa yang melatar belakangi usaha tersebut?
9. Bagaimana Ibu melakukan evaluasi pembelajaran Matematika?
10. Bagaimana perkembangan pembelajaran setelah Ibu melakukan usaha tersebut?


LAMPIRAN 7

PEDOMAN WAWANCARA


Responden: Siswa Kelas III (Subyek Penelitian)

1. Bagaimanakah tanggapan saudara terhadap penerapan metode resitasi dan drill
2. Apakah saudara memperoleh manfaat dari penerapan metode resitasi dan drill
dalam proses pembelajaran Matematika kemarin?


LAMPIRAN 8

SURAT KETERANGAN
Nomor: /SDN/ /III/2009

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama
NIP
:
:
Tugiat suipto, S.Pd
195612221977031003
Jabatan : Kepala SDN Pulerejo 02
Alamat : Pulerejo – Bakung - Blitar

Menerangkan bahwa:

Nama : Wildan Irwahyudi
Nim : 07140037
Fakultas : Tarbiyah
Jurusan : Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’iyyah (PGMI)
Universitas : Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik
Ibrahim Malang

Yang bersangkutan benar-benar telah melakukan penelitian untuk menyelesaikan
tugas akhir (skripsi) dengan judul “ Penerapan metode resitasi dan metode drill
sebagai upaya meningkatkan motivasi belajar siswa kelas III pada pelajaran
matematika di SDN Pulerejo 02 Bakung kabupaten Blitar sejak tanggal 02
Agustus 2009 sampai tanggal 31 Agustus 2009.

Demikian surat keterangan ini kami buat untuk digunakan sebagaimana
mestinya.
Blitar, 31 Agustus 2009
Kepala SDN Pulerejo 02




Tugiat Sucipto, S.Pd
NIP. 195612221977031003

LAMPIRAN 9


DAFTAR NAMA KELOMPOK PEMBELAJARAN DAFTAR NAMA KELOMPOK PEMBELAJARAN DAFTAR NAMA KELOMPOK PEMBELAJARAN DAFTAR NAMA KELOMPOK PEMBELAJARAN





Kelompok 1

A1 : Musleh
A2 : Mega Silvia Juliani
A3 : Renata Fathia
A4 : Thomas Alfindo P
Kelompok 2

B1 : Ary Antonio Suganda
B2 : Pungki Trya W
B3 : Rosa Widiyawati

LAMPIRAN 10

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Siklus I

Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas / Semester
Pertemuan ke
Alokasi Waktu
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar

Indikator








I. Tujuan Pembelajaran






II. Materi Ajar
III. Metode Pembelajaran
IV. Langkah-langkah
Pembelajaran
A. Kegiatan Awal (15 Menit)




:
:
:
:
:
:
:

:








:






:
:
:
:





SDN pulerejo 02
Matematika
III / 1 (satu)
1
4 x 35 menit (2 x pertemuan)
Melakukan operasi bilangan sampai tiga angka
Melakukan perkalian yang hasilnya bilangan tiga
angka dan pembagian bilangan tiga angka.
- Mengingat perkalian dan pembagian sampai
seratus
- Mengubah bentuk perkalian menjadi bentuk
pembagian atau sebaliknya
- Membuat tabel perkalian dan pembagian
sampai 10x10
- Mengerjakan perkalian dan pembagian
dengan tekhnik dan tanpa tekhnik
meminjam.
- Siswa dapat mengerjakan soal-soal perkalian
beserta sifat operasi hitungnya.
- Siswa dapat mengubah bentuk pengurangan
berulang menjadi pembagian
- Siswa dapat mengelompokkan pembagian
dan perklaian
- Siswa menyelesaikan pembagian tiga angka
Perkalian dan pembagian.
Resitasi dan Drill.
Apersepsi:
- Mengucapkan salam dan membaca basmalah
bersama-sama.
- Menanyakan kabar, kemudian menanyakan
siapa yang tidak masuk.
- Mengondisikan siswa








B. Kegiatan Inti (45 Menit)




















C. Kegiatan Akhir(10 menit)




V. Alat/Bahan/Sumber Belajar










:




















:




:




Motivasi:
- Mengaitkan materi dengan materi terdahulu
- Pedagang sangat memerlukan materi ini.
- Menginformasikan tujuan dari pelajaran ini.
- Tanya jawab tentang penjumlahan secara
berulang
- Siswa dijelaskan konsep dasar perkalian
- Guru memberi kesempatan siswa untuk
bertanya
- Siswa diminta oleh guru untuk maju ke
depan mengerjakan contoh soal
- Guru membagi Siswa menjadi 2 kelompok,
- Guru membagikan permen sebaga media
belajar perkalian
- Guru meminta siswa untuk memjumlahkan
permen permenya dan mengubahnya dalam
bahasa perkalian
- Guru mengamati kinerja siswa dan
melakukan Tanya jawab dengan siswa
mengenai kesulitan yang dihadapi.
- Siswa kembali ke tempa duduk masing-
masing
- Siswa membuat tabel perkalalian angka 1
sampai 10 seperti yang ada di buku paket
Matematika
- Siswa mengisi tabel perkalian yang telah
dibuat
- Siswa mengumpulkan hasil kerjanya
- Siswa dan guru melakukan refleksi
- Siswa diberi tugas rumah untuk menghafal
perkalian 1-100.
- Guru menutup pelajaran
- Aneka ilmu “Gema belajar matematika” Hal
32-35
- LKS PAKEM 2006 Hal 61-63
- BSE” Matematika” Hal: 45-60
- Permen



VI. Penilaian
1. Jenis penilaian







2. Contoh instrument



:







:

:
- Lingkungan sekitar


- Tes kinerja
• Mengamati keaktifan siswa pada saat
melakukan perintah guru.
• Mengamati sikap siswa pada saat
menerima materi.
• Mengamati bagaimana penampilan siswa
pada saat bersama kelompok.
- Tes Tulis, tes lisan dan demonstrasi

Tes kinerja ;
- Berkumpul menjadi dua kelompok
- Bagi permen-permen itu menjadi 6
bagian,masing-masing bagian terdiri dari 2
permen
- Bagi permen-permen itu menjadi empat
bagian yang sama banyak.
Tes tertulis;
- Isilah table perkalian berikut!
x 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Tulislah Hasil Pembagianmu Dalam Tabel
seperti ini!


3
:
3
6
9
12

..
..
..
..
artinya 3 : 3 = ..
6 : 3 =..
9 : 3 = ..
12 : 3 = ..
Kerjakan soal-soal di bawah ini!
1. 5 + 5 + 5 + 5 = 4 × 5 = 20
2. 6 + 6 + 6 + 6 = ... × ...=
3. 6 + 6 + 6 + 6 + 6 = ... × .. =
4. 7 + 7 + 7 = ... × .. =
5. 7 + 7 + 7 + 7 + 7 = ... × ..=
5. 42 – 7 – 7 – 7 – 7 – 7 – 7 = 0 . . .
6. 48 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 = 0 . . .
7. 56 – 7 – 7 – 7 – 7 – 7 – 7 –7 – 7 = 0 . .
8. 63 – 9 – 9 – 9 – 9 – 9 – 9 – 9 = 0 . . .
9. 64 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 = 0 .
10.72 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8=
0





RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Siklus I


Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas / Semester
Pertemuan ke
Alokasi Waktu
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar

Indikator








I. Tujuan Pembelajaran






II. Materi Ajar
III. Metode Pembelajaran
IV. Langkah-langkah
Pembelajaran
A. Kegiatan Awal (15 Menit)





:
:
:
:
:
:
:

:








:






:
:


:





SDN pulerejo 02
Matematika
III / 1 (satu)
2
4 x 35 menit (2 x pertemuan)
Melakukan operasi bilangan sampai tiga angka
Melakukan perkalian yang hasilnya bilangan tiga
angka dan pembagian bilangan tiga angka.
- Mengingat perkalian dan pembagian sampai
seratus
- Mengubah bentuk perkalian menjadi bentuk
pembagian atau sebaliknya
- Membuat tabel perkalian dan pembagian
sampai 10x10
- Mengerjakan perkalian dan pembagian
dengan tekhnik dan tanpa tekhnik
meminjam.
- Siswa dapat mengerjakan soal-soal perkalian
beserta sifat operasi hitungnya.
- Siswa dapat mengubah bentuk pengurangan
berulang menjadi pembagian
- Siswa dapat mengelompokkan pembagian
dan perklaian
- Siswa menyelesaikan pembagian tiga angka
Perkalian dan pembagian.
Resitasi dan Drill


Apersepsi:
- Mengucapkan salam dan membaca basmalah
bersama-sama.
- Menanyakan kabar, kemudian menanyakan
siapa yang tidak masuk.
- Mengondisikan siswa






B. Kegiatan Inti (45 Menit)




















C. Kegiatan Akhir(10 menit)



V. Alat/Bahan/Sumber Belajar











:











:








:



:





:
Motivasi:
- Mengaitkan materi dengan materi terdahulu
- Pedagang sangat memerlukan materi ini.
- Menginformasikan tujuan dari pelajaran ini.
- Tanya jawab tentang pengurangan berulang
- Siswa secara bersama-sama menghafalkan
perkalian sampai 10x10
- Siswa bergiliran menghafalkan ke depan
kelas sampai semua siswa selesai menghafal.
- Tanya jawab dengan guru untuk menguatkan
pemahaman siswa.
- Guru membagikan permen 12 permen pada
tiap-tiap siswa
- Guru menerangkan konsep pembagain
sebagai pengurangan berulang
- Guru mencontohkan konsep pembagian
dengan menggunakan permen
- Guru menyuruh Siswa membagi permen
yang dimilikinya menjadi beberapa
kelompok yang sama banyak hingga siswa
tidak ada permen yang berada di tangan
siswa
- Siswa menjawab soal latihan isian yang
diberikan guru
- Siswa mengumpulkan hasil kerjanya Siswa
mengumpulkan hasil kerjanya
- Siswa dan guru melakukan refleksi
- Siswa diberi tugas rumah untuk menghafal
perkalian 1-100.
- Guru menutup pelajaran
- Aneka ilmu “Gema belajar matematika” Hal
32-35
- LKS PAKEM 2006 Hal 61-63
- BSE” Matematika” Hal: 45-60
- Permen
- Lingkungan sekitar
- Tes kinerja

VI. Penilaian
1. Jenis penilaian









2. Contoh instrument



:






:






:










:
a. Mengamati keaktifan siswa pada saat
melakukan perintah guru.
b. Mengamati sikap siswa pada saat
menerima materi.
c. Mengamati bagaimana penampilan siswa
pada saat bersama kelompok.
- Tes Tulis, tes lisan dan demonstrasi

Tes kinerja ;
- Hafalkan perkalian 1x1 sampai10x10
didepan kelas secara bergantian
- Coba, ubah bentuk perkalian ini ke dalam
bentuk pembagian!
1. 2 x 3= 6 ↔ 6 : 3 =
2. 2 x 4= 8 ↔ 8 : 4 =
3. 3 x 4= 12 ↔ 12 : 4 =
Tes tertulis;
Tulislah Hasil Pembagianmu Dalam Tabel
seperti ini!
3
:
3
6
9
12

..
..
..
..
artinya 3 : 3 = ..
6 : 3 =..
9 : 3 = ..
12 : 3 = ..

Kerjakan soal-soal di bawah ini!
1. 5 + 5 + 5 + 5 = 4 × 5 = 20
2. 6 + 6 + 6 + 6 = ... × ...=
3. 6 + 6 + 6 + 6 + 6 = ... × .. =
4. 7 + 7 + 7 = ... × .. =
5. 7 + 7 + 7 + 7 + 7 = ... × ..=

5. 42 – 7 – 7 – 7 – 7 – 7 – 7 = 0 . . .
6. 48 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 = 0 . . .
7. 56 – 7 – 7 – 7 – 7 – 7 – 7 –7 – 7 = 0 . .
8. 63 – 9 – 9 – 9 – 9 – 9 – 9 – 9 = 0 . . .
9. 64 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 = 0 .
10.72 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8=
0





















RENCANA PELAKSANAAN PEMELAJARAN (RPP)
SIKLUS II
Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas / Semester
Pertemuan ke
Alokasi Waktu
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar

Indikator








I. Tujuan Pembelajaran






II. Materi Ajar
III. Metode Pembelajaran
IV. Langkah-langkah
Pembelajaran
A. Kegiatan Awal (15 Menit)






:
:
:
:
:
:
:

:








:






:
:


:






SDN pulerejo 02
Matematika
III / 1 (satu)
-
2 x 35 menit (1 x pertemuan)
Melakukan operasi bilangan sampai tiga angka
Melakukan perkalian yang hasilnya bilangan tiga
angka dan pembagian bilangan tiga angka.
- Mengingat perkalian dan pembagian sampai
seratus
- Mengubah bentuk perkalian menjadi bentuk
pembagian atau sebaliknya
- Membuat tabel perkalian dan pembagian
sampai 10x10
- Mengerjakan perkalian dan pembagian
dengan tekhnik dan tanpa tekhnik
meminjam.
- Siswa dapat mengerjakan soal-soal perkalian
beserta sifat operasi hitungnya.
- Siswa dapat mengubah bentuk pengurangan
berulang menjadi pembagian
- Siswa dapat mengelompokkan pembagian
dan perklaian
- Siswa menyelesaikan pembagian tiga angka
Perkalian dan pembagian.
Resitasi dan Drill


Apersepsi:
- Mengucapkan salam dan membaca basmalah
bersama-sama.
- Menanyakan kabar, kemudian menanyakan
siapa yang tidak masuk.
- Mengondisikan siswa
Motivasi:





B. Kegiatan Inti (45 Menit)















C. Kegiatan Akhir(10 menit)






V. Alat/Bahan/Sumber Belajar





VI. Penilaian
1. Jenis penilaian






:











:



:






:






:


- Mengaitkan materi dengan materi terdahulu
- Pedagang sangat memerlukan materi ini.
- Menginformasikan tujuan dari pelajaran ini.
- Tanya jawab tentang pengurangan berulang
- Siswa secara bersama-sama menghafalkan
perkalian sampai 10x10
- Siswa bergiliran menghafalkan ke depan
kelas sampai semua siswa selesai menghafal.
- Tanya jawab dengan guru untuk menguatkan
pemahaman siswa.
- Guru membagikan soal latihan pada siswa
- Siswa mengerjakan soal-soal latihan
- Siswa mengumpulkan hasil kerjanya Siswa
mengumpulkan hasil kerjanya
- Guru menjelaskan maksud dari maksud
pembelajaran yang telah dilakukan selama 3
pertemuan ini
- Guru membagikan angket untuk diisi siswa
- Siswa mengumpulkan angket yang sudah
diisi
- Guru mendorong siswa mengungkapkan
kesan-kesan pembelajaran yang baru
dilaksanakan, dan mengajukan saran sebagai
upaya perbaikan proses pembelajaran
berikutnya.
- Guru memberikan tugas rumah kepada Siswa
- Guru menutup pelajaran.
- Aneka ilmu “Gema belajar matematika” Hal
32-35
- LKS PAKEM 2006 Hal 61-63
- BSE” Matematika” Hal: 45-60
- Permen
- Lingkungan sekitar

- Tes kinerja
a. Mengamati keaktifan siswa pada saat
melakukan perintah guru.








3. Contoh instrument

:






:






:










:
b. Mengamati sikap siswa pada saat
menerima materi.
c. Mengamati bagaimana penampilan siswa
pada saat bersama kelompok.
- Tes Tulis, tes lisan dan demonstrasi

Tes kinerja ;
- Hafalkan perkalian 1x1 sampai10x10
didepan kelas secara bergantian
- Isilah angket yang berikan ini dangan
sebenar-benarya mengenai hal yang kamu
rasakan selama pembelajaran materi
perkalian dan pembagian.

Tes Tertulis ;
Kerjakan soal dibawah ini!
1. 9 : 3 = ….
2. 18 : 3 =….
3. 21 : 3= ….
4. 32 : 4= ….
5. 8 : 2 =….
6. 25 x 3 =




Lampiran soal – soal siklus I

Pertemuan ke-1
Isilah table perkalian berikut!

x 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Pertemuan ke-1
Tulislah Hasil Pembagianmu Dalam Tabel seperti ini!
3
:
3
6
9
12

..
..
..
..
artinya 3 : 3 = …
6 : 3 =…
3 : 4 = …
12 : 5 = …
Kerjakan soal-soal di bawah ini!
1. 5 + 5 + 5 + 5 = 4 × 5 = 20
2. 6 + 6 + 6 + 6 = ... × ... = ....
3. 6 + 6 + 6 + 6 + 6 = ... × ... = ...
4. 7 + 7 + 7 = ... × ... = ...
5. 7 + 7 + 7 + 7 + 7 = ... × ...= ...
5. 42 – 7 – 7 – 7 – 7 – 7 – 7 = 0 . . .
6. 48 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 = 0 . . .

7. 56 – 7 – 7 – 7 – 7 – 7 – 7 –7 – 7 = 0 . . .
8. 63 – 9 – 9 – 9 – 9 – 9 – 9 – 9 = 0 . . .
9. 64 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 = 0 . . .
10. 72 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 – 8 = 0….


Lampiran soal – soal siklus II

Tes Tertulis ;
- Kerjakan soal dibawah ini!

1. 2 5 2. 55 3. 74 4. 86 5. 96
3 x 6 x 9 x 7 x 9 x


- Kerjakan soal dibawah ini!
1. 9 : 3 = ….
2. 18 : 3 =….
3. 21 : 3= ….
4. 32 : 4= ….
5. 8 : 2 =….




LAMPIRAN 11
DOKUMENTASI HASIL PENELITIAN













(Kegiatan siswa mempelajari konsep perkalian dan pembagian













(Siswa mengerakan tugas yang diberikan guru)












DOKUMENTASI HASIL PENELITIAN


(Kegiatan siswa mempelajari konsep perkalian dan pembagian
(Siswa mengerakan tugas yang diberikan guru)
(Siswa menghafal perkalian)

(Kegiatan siswa mempelajari konsep perkalian dan pembagian)
(Siswa mengerakan tugas yang diberikan guru)














(Kondisi siswa menegjakan soal pos













(Ketika siswa di drill untuk menghafalkan perkalian



(siswa maju ke depan mempelajari konsep perkalian

Kondisi siswa menegjakan soal pos test
Ketika siswa di drill untuk menghafalkan perkalian










siswa maju ke depan mempelajari konsep perkalian
test)
Ketika siswa di drill untuk menghafalkan perkalian)
siswa maju ke depan mempelajari konsep perkalian)

DEPARTEMEN AGAMA RI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
FAKULTAS TARBIYAH
Jl. Gajayana 50 Telp. (0341) 551354 Fax. (0341) 572533 Malang


Nomor : Un. 3.1/TL.00/239/2009 Malang, 07 Agustus 2009
Lampiran : 1 berkas
Perihal : Penelitian
Kepada
Yth. Kepala SDN Pulorejo 02 Bakung
di Kab. Blitar

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan ini kami mengharap dengan hormat agar mahasiswa di bawah ini:
Nama : Wildan Irwahyudi
NIM : 07140037
Semester/ Th. Ak : VIII/ 2007
Judul Skripsi : Penerapan metode penugasan (resitasi)
dan drill dalam meningkatkan hasil
belajar pada mata pelajaran Matematika
kelas III SDN Pulerejo 02 kecamatan
Bakung kabupaten Blitar.

dalam rangka menyelesaikan tugas akhir/ menyusun skripsinya,
yang bersangkutan mohon diberkan izin untuk mengadakan
penelitian di lembaga/ instansi yang menjadi wewenang Bapak/ Ibu.
Demikian atas perkenan dan kerjasama Bapak/ Ibu disampaikan
terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Dekan


Dr. H.M. Zainuddin, M.A
NIP. 19620507 199503 1 001

DEPARTEMEN AGAMA RI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
FAKULTAS TARBIYAH
Jl. Gajayana 50 Telp. (0341) 551354 Fax. (0341) 572533 Malang

Nomor : Un. 3.1/TL.00/239/2009 Malang, 07 Agustus 2009
Lampiran : -
Perihal : Observasi
Kepada
Yth. Kepala SDN Pulorejo 02 Bakung
di Kab. Blitar
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan ini kami mengharap dengan hormat agar mahasiswa di bawah ini:
Nama : Wildan Irwahyudi
NIM : 07140037
Semester/ Th. Ak : VIII/ 2007
Judul Skripsi : Penerapan metode penugasan (resitasi)
dan drill dalam meningkatkan hasil
belajar pada mata pelajaran Matematika
kelas III SDN Pulerejo 02 kecamatan
Bakung kabupaten Blitar.

dalam rangka menyelesaikan tugas akhir/ menyusun skripsinya,
pada jurusanPGMI/ SD FakultasTarbiyah Universitas Islam Negeri
(UIN) Malang, mohon diberkan izin untuk mengadakan observasi di
sekolah yang Bapak/ Ibu pimpin.
Demikian atas perkenan dan kerjasama Bapak/ Ibu disampaikan
terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Dekan



Dr. H.M. Zainuddin, M.A
NIP. 19620507 199503 1 001

DEPARTEMEN AGAMA RI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
FAKULTAS TARBIYAH
Jl. Gajayana 50 Telp. (0341) 551354 Fax. (0341) 572533 Malang

BUKTI BIMBINGAN SKRIPSI
Nama
NIM
Fakultas/Jurusan
Pembimbing
Judul Skripsi


:
:
:
:
:
WILDAN IRWAHYUDI
07140037
TARBIYAH/ PGMI
Hj. Rahmawati Baharuddin, M.A
”Penerapan metode penugasan (resitasi) dan drill dalam
meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran Matematika
kelas III SDN Pulerejo 02 kecamatan Bakung kabupaten
Blitar.”
No Tanggal Materi Yang Dikonsultasikan
Tanda Tangan
Pembimbing
1 25 Juli 2009 Konsultasi Judul dan Proposal
2 01 Agustus 2009 ACC Proposal
3 17 Oktober 2009 BAB I Revisi
4 31 Oktober 2009 ACC BAB I
5 13 Nopember 2009 ACC BAB II
6 28 Nopember 2009 BAB III Revisi
7 14 Desember 2009 ACC BAB III
8 28 Januari 2010 Konsultasi BAB I-VI
9 29 Januari 2010 Revisi BAB IV dan VI
10 30 Januari 2010 ACC semua

Malang, 30 Januari 2010
Mengetahui,
Dekan Fakultas Tarbiyah




Dr. H.M. Zainuddin, M.A
NIP.19620507 199503 1 001

LAMPIRAN 14
RIWAYAT HIDUP PENELITI




Nama : Wildan Irwahyudi, S.Pd
NIM : 07140037
Tempat Tanggal Lahir : Blitar, 12 Desember 1986
Fak./Jur./Prog. Studi : Tarbiyah, PGMI, Pendidikan Guru Madrasah
Ibtida’iyyah.
Tahun Masuk : 2005/2006
Alamat Rumah : Ds.Rejosari-Wonodadi-Blitar
No. Tlp Rumah/Hp : 085736030186
Pengalaman Organisasi : • Anggota PMII Rayon Chondrodimuko masa
bhakti 2006/2007
• Pengurus HMJ PGMI periode 2005/2006
bidang minat dan bakat
• Ketua HMJ PGMI periode 2007/2008
• Pengurus PMII Rayon Chondrodimuko
masa bhakti 2006/2007 Departemen
pengkaderan

Malang,31 Januari 2010
Mahasiswa

( Wildan Irwahyudi )

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->