BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Hipoksia adalah suatu keadaan kekurangan oksigen yang bisa menyebabkan permasalahan kesehatan karena akan berpengaruh pada organ-organ tubuh kita. Hipoksia bisa terjadi karena kadar oksigen yang kurang dari udara.Di dalam tubuh kita sebenarnya keseimbangan oksigen dijaga oleh sistem kardiovaskuler dan sistem pernapasan. Oleh karena itu,kondisi hipoksia juga dapat terjadi jika kita mengalami kerusakan pada sistem jantung dan pembuluh darah dan sistem pernapasan. Berbagai keadaan yang membuat kadar oksigen di sekitar kita rendah dapat membuat kita mengalami hipoksia. Hipoksia adalah suatu keadaan di saat tubuh sangat kekurangan oksigen sehingga sel gagal melakukan metabolisme secara efektif. Berdasarkan penyebabnya hipoksia dibagi menjadi 4 kelompok, yakni : hipoksia hipoksik, hipoksia anemic, hipoksia stagnan dan hipoksia histotokik. Hipoksia adalah penurunan pemasukan oksigen ke jaringan sampai dibawah tingkat fisiologik meskipun perfusi jaringan oleh darah memedai yangterjadi akibat pengaruh perbedaan ketinggian. Pada kasus yang fatal dapat berakibat koma, bahkan sampai dengan kematian. Namun, bila sudah beberapa waktu, tubuh akan segera dan berangsur-angsur kondisi tubuh normal kembali. Hipoksia akut akan menyebabkan gangguan judgement,inkoordinasi motorik dan gambaran klinis yang mempunyai gambaran padaalkoholisme akut. Kalau keadaan hipoksia berlangsung lama mengakibatkan gejala keletihan, pusing,

1

apatis, gangguan daya konsentrasi, kelambatan waktureaksi dan penurunan kapasitas kerja 1.2 Tujuan Penulisan Referat Untuk mengetahui tentang hipoksia, gagal napas dan terapi oksigen.

2

Transpor dan pelepasan oksigen yang tidak memadai (inadekuat)oleh darah ke jaringan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Hipoksia dapat terjadi karena kekuranagan oksigen pada tingkat jaringan akibatnya sel-sel tidak cukup memperoleh oksigen sehingga metabolisme sel akan terganggu 2.Penyakit paru.1. 3. Hal ini terjadi pada anemia. 4. hipoventilasi karena peningkatan tahanan saluran napas atau compliance paru menurun. Etiologi Hipoksia dapat terjadi karena defisiensi oksigen pada tingkat jaringan akibatnya sel-sel tidak cukup memperoleh oksigen sehingga metabolisme sel akan terganggu.Shunt vena ke arteri (shunt dari “kanan ke kiri’ pada jaringan). berkurangnya membran difusi respirasi. Definisi Hipoksia adalah penurunan pemasukan oksigen ke jaringan sampai di bawah tingkat fisiologik meskipun perfusi jaringan oleh darah memadai. Hipoksia dapat disebabkan karena: 1. penurunan sirkulasi 3 . bisa karena kekurangan oksigen dalam atmosfer atau karena hipoventilasi (gangguan syaraf otot). rasio ventilasi –perfusi tidak sama (termasuk peningkatan ruang rugi fisiologik dan shunt fisiologik). 2.2.Oksigenasi paru yang tidak memadai karena keadaan ekstrinsik.

hemoglobin abnormal. Gagal pernapasan dapat akut dapat didefinisikan sebagai kurangnya PO2 dari 50 mmHg dengan atau tanpa PCO2 lebih dari 50 mmHg.. abnormalitas ventilasi-perfusi. segala sesuatu yang menimbulkan depresi pada pusat napas akan menimbulkan gangguan napas misalnya obat-obatan(anestesia. Kemampuan jaringan untuk menggunakan oksigen tidak memadai. edem jaringan 5. misal pada keracunan enzim sel. Hipoksia dapat disebabkan oleh gagal kardiovaskuler misalnya syok. hipoventilasi alveolar. lesi pirau. 2. strok. penurunan sirkulasi lokal (perifer. penyakit jantung. tranquiliser). Gagal napas selalu disertai hipoksia. dimana hipoksia dapat menimbulkan efek-efek pada metabolisme jaringan yang selanjutnya menyebabkan asidosis jaringan dan mengakibatkan efek-efek pada tanda vital dan efek pada tingkat kesadaran. masalah difusi. syaraf tepi: 4 . kekurangan enzim sel karena defisiensi vitamin B. pembuluh darah jantung). serebral. faktor jaringan lokal misal peningkatan kebutuhan metabolisme. Beberapa kasus umum gagal pernapasan adalah: 1.trauma kepala. pengaruh kimia misal karbonmonoksida. Syaraf pusat. ketinggian.umum. neoplasma. narkotik. radang otak.

tetapi setelah sumbatan jalan napas bebas masih tetap ada gangguan ventilasi maka harus di cari penyebab yang lain. aspirasi. kelumpuhan atau menurunnya fungsi syaraf yang mengnervasi otot interkostal dan diafragma akan menurunkan kemampuan inspirasi sehingga terjadi hipoventilasi. e. kyphoscoliosis. Misalnya: Blok subarachnoid yang 5 . normalnya rongga pleura kosong dan bertekanan negatif. contusio. scleroderma. darah (hemothorak) maka paru dapat terdesak dan timbul gangguan napas. Dinding dada. dapat menyebabkan gangguan napas. b.a. Paru. Otot napas. Rongga pleura. myastenia gravis. sumbatan jalan napas akan menganggu ventilasi dan oksigenasi. cairan (fluidothorak). tetapi biula sesuatu yang menyebabkan tekanan menjadi positif seperti udara (pneumothorak). kelainan di paru seperti radang. Bila ada kelumpuhan otot-otot tersebut misal karena sisa obat pelumpuh otot. edem. atelektasis. f. c. d. Tekanan intra abdominal yang tinggi akan menghambat gerak diafragma. otot inspirasi utama adalah diafragma dan interkostal eksternus. patah tulang iga yang multipel apalagi segmental akan menyebabkan nyeri waktu inspirasi dan terjadinya flail chest sehingga terjadi hipoventilasi sampai atelektasis paru. Syaraf. Jalan napas. akan menyebabkan gangguan napas.

terlalu tinggi. gagal pernapasan/sumbatan jalan napas dapat disebabkan oleh tindakan operasi itu sendiri misalnya karena obat pelumpuh otot. 4. radang otak). Percabangan neuromuscular misalnaya otot yang relaksasi. maka akan terjadi relaksasi otot-otot termasuk otot lidah dan sphincter cardia akibatnya bila posisi penderita terlentang maka pangkal lidah akan jatuh ke posterior menutup orofaring. stroke. Kegagalan oksigenasi dapat disebabkan oleh: (1) ketimpangan antara ventilasi dan perfusi. Post operasi misal bedah thorak. 3. keracunan 2. trauma/kecelakaan (trauma maksilofasial. penderita trauma kepala/karena suatu penyakit. Guillain Barre Syndrome. bedah abdomen. Dalam anestesi. Hal ini merupakan ancaman terjadinya sumbatan jalan napas oleh aspirat yang padat dan aspirasi pneumonia oleh aspirasi cair. 6 .3. trauma kepala. menyebabkan isi lambung mengalir kembali ke orofaring (regurgitasi). keracunan organophospat. karena muntahan. Patofisiologi Pada keadaan dengan penurunan kesadaran misalnya pada tindakan anestesi.(koma. sehingga menimbulkan sumbatan jalan napas. Poliomyelitis. Sphincter cardia yang relaks. Kegagalan respirasi mencakup kegagalan oksigenasi maupun kegagalan ventilasi. suatu penyakit. cedera tulang leher. sebab pada keadaan ini pada umumnya reflek batuk sudah menurun atau hilang./lendir.

atau karena tercampur darah yang mengandung oksigen rendah. Kelelahan otot-otot respirasi /kelemahan otot-otot respirasi timbul bila otot-otot inspirasi terutama diafragma tidak mampu membangkitkan tekanan yang diperlukan untuk mempertahankan ventilasi yang sudah cukup memadai. Kegagalan ventilasi dapat terjadi bila PaCO2 meninggi dan pH kurang dari 7. Jalan napas yang tersumbat akan menyebabkan gangguan ventilasi karena itu langkah yang pertama adalah membuka jalan napas dan menjaganya agar tetap bebas. (4) gangguan difusi pada membran kapiler alveoler.(2) hubungan pendek darah intrapulmoner kanan-kiri. (5) hipoventilasi alveoler. dan gerakan abdominal paradoxal (gerakan dinding perut ke dalam pada saat inspirasi) dapat menunjukan asidosis respirasi yang sedang mengancam dan henti napas. Kegagalan ventilasi terjadi bila “minut ventilation” berkurang secara tidak wajar atau bila tidak dapat meningkat dalam usaha memberikan kompensasi bagi peningkatan produksi CO2 atau pembentukan rongga tidak berfungsi pada pertukaran gas (dead space). Setelah jalan napas bebas tetapi tetap ada gangguan ventilasi maka harus dicari penyebab lain.penyebab lain yang terutama adalah gangguan pada mekanik ventilasi dan depresi susunan syaraf pusat. Tahap awal berupa pernapasan yang dangkal dan cepat yang diikuti oleh aktivitas otot-otot inspirasi yang tidak terkoordinsiberupa alterans respirasi (pernapasan dada dan perut bergantian). Tanda-tanda awal kelelahan otot-otot inspirasi seringkali mendahului penurunan yang cukup berarti pada ventilasi alveolar yang berakibat kenaikan PaCO2.35. Untuk inspirasi agar 7 . (3) tegangan oksigen vena paru rendah karena inspirasi yang kurang.

hipoksia histotoksik dimana jumlah oksigen yang dikirim ke suatu jaringan adalah adekuat tetapi oleh karene kerja zat yang 8 . Macam – Macam Hipoksia Hipoksia di bagi dalam 4 tipe : 1. dimana PO 2 darah arteri berkurang. dinding thorak yang utuh. 2. 2. Penekanan pusat napas akan menurunkan ventilasi. Hipoksia hipoksik (anoksia anoksik). rongga pleura yang negatif dan susunan syaraf yang baik. dimana aliran darah ke jaringan sangat lambat sehingga oksigen yang adekuat tidak di kirim ke jaringan walaupun PO2 konsentrasi hemoglobin normal. ETCO2 (N: 25-35mmHg). kekuatan otot inspirasi yang kuat. Sa O2 (N: 95-100%). hipoksia stagnant atau iskemik.Bila ada gangguan dari unsur-unsur mekanik diatas maka akan terjadi hipoventilasi yang mengakibatkan hiperkarbia dan hipoksemia. Lingkaran ini harus dipatahkan dengan memberikan ventilasi dan oksigensi. 4.4. Gangguan ventilasi dan oksigensi juga dapat terjadi akibat kelainan di paru dan kegagalan fungsi jantung. dimana PO2 darah arteri normal tetapi jumlah hemoglobin yang tersedia untuk mengangkut oksigen berkurang 3. Hipoksia anemik. Parameter ventilasi : PaCO2 (N: 35-45 mmHg). yang dapat menurunkan kesadran dan menekan pusat napas bila disertai hipoksemia keadaan akan makin buruk. parameter oksigenasi : Pa O2 (N: 80-100 mmHg). Hiperkarbia menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah otak yang akan meningkatkan tekanan intrakranial.diperoleh volume udara yang cukup diperlukan jalan napas yang bebas.

5. shock. • Perubahan status mental Agitasi menunjukkan adanya hipoksemia sedagkan penurunan kesadaran mungkin akibat hipoventilasi sehingga terjadi peningkatan PaCo2 yang akan meningkatkantekanan intrakranial 9 . (4) mekanisme pelepasan oksihemoglobin. atau pH kurang dari 7. Dimana daya penyampaian oksigen ke jaringan tergantung pada: (1) sistem pernapasan yang utuh yang akan memberikan oksigen untuk menjenuhi hemoglobin.35 dengan PaCO 2 lebih besar dari 50mmHg. ketakutan. Gejal klinis gagal napas adalah : • Takipneu Takipneu walaupun dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti nyeri.lebih – lebih jika disertai dengan upayanapas yang berat. (3) curah jantung dan microvascular. Saturasi hemoglobin akan oksigen (SaO2) kurang dari 90% yang biasanya sesuai dengan tegangan oksigen arterial (PaO2) kurang dari 60 mmHg sangat mengganggu oksigenasi CO 2 arterial (PaCO2) hingga lebih dari 45-50 mmHg mengandung arti bahwa ventilasi alveolar sangat terganggu. Kegagalan pernapsan terjadi karena PaCO2 kurang dari 60mmHg pada udara ruangan.toksik sel-sel jaringan tidak dapat memakai oksigen yang disediakan 2. Diagnosis Setiap keluhan atau tanda gangguan respirasi hendaknya mendorong di lakukannya analisis gas-gas darah arteri. dapat dianggap sebagait tanda dini adanya masalah jalan napas dan ventilasi. (2) kadar hemoglobin.

ventilasi.• Gerak napas Gerak napas bila tidak asimetris curiga pneumothorak. wheeze. untuk mengukur saturasi O2 secara kontinyu dan tidak invasif • CO2 detector . Pengaruh Hipoksia pada tubuh Hipoksia bila cukup berat. • Distensi vena leher Perlu diingat pada penderita trauma . Pemeriksaan tambahan yaitu : • Pulse oximeter. Pengembangan paru yang menurun menunjukkan hipoventilasi • Sianosis Bila ada berarti hipoksemia. untuk mengukur kadar CO2 pada hawa ekspirasi secara kontinyu dan tidak invasif • Gas darah. • Suara napas Terdengar suara napas tambahan seperti stridor. tindakan invasive untuk mengukur pH. dapat menyebabkan kematian sel – sel tetapi pada tingkat yang kurang berat akan mengakibatkan penekanan aktivitas 10 .mungkin ada tension pneumothorak. tetapi bila tidak tampak bukan berarti tidak ada sumbatan jalan napas atau ventilasi. PaO2.6. PaCO2.ronki dll. mungkin baru tahap awal atau hb kurang dari 5g%. BE sehingga bisa diketahui oksigenasi. hemathorak atau atelektasis. dan asam basa penderita saat itu 2.

kemudian secara hati-hati dagu diangkat ke depan. benda asing. 11 . Membuka jalan napas tanpa alat dilakukan dengan cara Chin lift yaitu dengan empat jari salah satu tangan diletakkan dibawah rahang ibu jari diatas dagu. Dalam keadaan seperti ini. trauma daerah maksilofasial. Tindakan jaw thrust buka mulut dan head tilt disebut airway manuver.kadang – kadang memuncak sampai koma dan menurunkan kapasitas kerja otot. 2. Manuver Chin lift ini tidak boleh menyebabkan posisi kepala hiperekstensi. kedua ibu jari membuka mulut dan kedua telapak tangan menempel pada kedua pipi penderita untuk melakukan immobilisasi kepala.Penyebab sumbatan jalan napas yang tersering adalah lidah dan epiglotis. darah. pembebasan jalan napas dapat dilakukan tanpa alat maupun dengan menggunakan jalan napas buatan.mental.7. Pada penderita yang mengalami penurunan kesadaran maka lidah akan jatuh ke belakang menyumbat hipofarings atau epiglotis jatuh kebelakang menutup rima glotidis. sekret. Tindakan ditujukan untuk membuka jalan napas dan menjaga agar jalan napas tetap bebas dan waspada terhadap keadaan klinis yang menghambat jalan napas. Bila perlu ibu jari dipergunakan untuk membuka mulut/bibir atau dikaitkan pada gigi seri bagian bawah untuk mengangkat rahang bawah. Cara Jaw Thrust yaitu dengan mendorong angulus mandibula kanan dan kiri ke depan dengan jari-jari kedua tangan sehingga barisan gigi bawah berada di depan barisan gigi atas. Penatalaksanaan Penilaian dari pengelolaan jalan napas harus dilakukan dengan cepat. muntahan. tepat dan cermat.

Alat ini dipasang lewat mulut sampai ke faring sehingga menahan lidah tidak jatuh menutup hipofarings. Bila terjadi tersedak umumnya “nyantol”didaerah subglotis. Jangan menggunakan soft catheter tip lewat lubang hidung pad penderita yang den gan fraktur lamina cribosa karena dapat menembus masuk rongga otak. Untuk menghisap rongga mulut dianjurkan memakai yang rigid tonsil dental tip sedangkan untuk menghisap lewat pipa endotrakheal atau trakheostomi menggunakan yang soft catheter tip. Sehingga menyebabkan tegangan oksigen kurang dari 50 mmHg (Hipoksemia) dan peningkatan tekanan karbondioksida lebih besar dari 45 mmHg (hiperkapnia). PaCO2. Ada 2 macam kateter penghisap yang sering digunakan yaitu rigid tonsil dental suction tip atau soft catheter suction tip.Jalan napas orofaringeal. abdominal thrust 2. Jalan napas nasofaringeal. darah. Benda asing misalnya daging atau patahan gigi dapat dibersihkan secara manual dengan jarijari.8. Harus diperhatikan tata cara penghisapan agar tidak mendapatkan komplikasi yang dapat fatal. 12 . ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan pH. dicoba dulu dengan cara back blows. benda asing dapat dilakukan dengan menggunakan alat penghisap atau suction. sehingga membahayakan keselamatan pasien. dan PaO2 yang adekuat. Alat di pasang lewat salah satu lubang hidung sampai ke faring yang akan menahan jatuhnya pangkal lidah agar tidak menutup hipofaring. Untuk sumbatan yang berupa muntahan. sekret. Gagal Nafas Gagal nafas terjadi bilamana pertukaran oksigen terhadap karbondioksida dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju komnsumsi oksigen dan pembentukan karbon dioksida dalam sel-sel tubuh.

• Kapasitas Vital adalah Menggunakan spirometer. emfisema dan penyakit paru hitam (penyakit penambang batu bara). Jika hasilnya kurang dari 10-20 ml/kg maka hal tersebut merupakan tanda ke arah gagal nafas. Indikator gagal nafas adalah • Frekuensi Pernafasan . Etiologi gagal nafas adalah : NO SISTEM System syaraf Batang otak KEJADIAN Trauma Kepala. Jika frekuensi pernafasan > 35 kali/ mnt maka akan menimbulkan kelelahan otot pernafasan yang pada akhirnya mengantarkan pada gagal nafas.Gagal nafas akut adalah gagal nafas yang timbul pada pasien yang parunya normal secara struktural maupun fungsional sebelum awitan penyakit timbul. N 16-20x/mnt. sehingga membutuhkan bantuan ventilator. Gagal nafas kronik adalah terjadi pada pasien dengan penyakit paru kronik seperti bronkitis kronik. Poliomelitis Fraktur servikal (C1-C6) Over dosis obat 1 Medula Spinalis Syaraf 13 .

Sistem otot Miastenia Gravis 2 Primer-diafragma Guillain Barer Syndrom sekunder-pernafasan Sistem rangka 3 Thorak Sistem Pernafasan Jalan nafas 4 Alveoli Sirkulasi paru Empisema. Penumonia. edema laring. Flail Chest didengar/dirasakan. fibrosis Emboli paru Gagal jantung kongestif. 14 . bedah jantung. 6 7 8 System gastrointestinal Sistem hematologi Sistem genitourinaria TANDA DAN GEJALA • Tanda Gagal nafas total o Aliran udara di mulut.bronchitis. kelebihan 5 Sistem Kardiovaskuler beban cairan. infark miokard. asma. hidung tidak dapat Aspirasi DIC Gagal ginjal Kifoskoliosis Obstruksi.

klinisi perlu untuk sangat mencurigai adanya gagal nafas dan sikap utuk melakukan 15 . berkeringat atau sianosis (PO2 menurun) Diagnosis Ada beberapa keadaan yang timbul selama setiap orang dapat mengenali adanya gagal nafas. banyak pada pasien gagal nafas dapat tidak jelas terlihat. snoring. Namun demikian.o Pada gerakan nafas spontan terlihat retraksi supra klavikula dan sela iga serta tidak ada pengembangan dada pada inspirasi o Adanya kesulitan inflasi paru dalam usaha memberikan ventilasi buatan Gagal nafas parsial o Terdengar suara nafas tambahan gargling. cedera kepala serius yang cukup untuk menghentikan mekanisme pernafasan.Hipoksemia àtakikardia.Hiperkapnia à penurunan kesadaran (PCO2) . atau kesulitan bernafas pada orang yang sianotik. Contohnya adalah henti jantung. Growing dan whizing. obstruksi total saluran nafas atas. Dengan demikian. Sikap yang sangat waspada diperlukan untuk mengenali setiap kasus gagal nafas. o Ada retraksi dada • Gejala . gelisah.

siapkan ventilator Kavasitas Vital Tekanan Inspirasi Gas Darah:  pH  PaCO2  PaO2 Auskultasi dada < 10-20 ml/kg < 20 cm mmHg < 7. penurunan Evaluasi hal diatas dan toleransi aktivitas Kacau.25 >50 mmHg Evaluasi dengan melihat peningkatan Pa CO2 Evaluasi dengan melihat peningkatan pH < 50 mmHg dengan terapi Evaluasi dengan melihat O2 peningkatan pH dan CO2 Penurunan / Tak ada bunyi Beri O2 100%.analisis gas-gas darah arteri (ABG) yang merupakan satu satunya jalan untuk membuat diagnosis pasti. pertimbangkan intubasi/ventilasi Perhatikan tanda-tanda gagal nafas. PaCO2 yang mencapai 50 mmHg atau lebih atau PaO2 mencapai 50-60 mmHg atau kurang pada ketinggian permukaan laut diterima sebagai petunjuk adanya gagal nafas. kerja nafas berat ventilator 16 . Berikut ini adalah indikator pemasangan ventilator mekanik yang juga merupakan indikasi adanya kegagalan nafas: PARAMETER frekuensi pernafasan 28-40 x/menit NILAI < 10 x/menit TINDAKAN Evaluasi pasien dan hilangkan penyebab Evaluasi pasien dan lakukan tindakan yang tepat. Pada umumnya. delirium. Monitor disritmia Irama dan frekuensi Nadi Jantung Aktivitas Status mental Observasi fisik disritmia Kelelahan berat. somnolen lakukan tindakan tepat Monitor aktivitas kejang dukungan hipoksik Penggunaan otot assesori. Siapkan kelelahan. nafas Siapkan > 120 dukungan ventilator x/menit.

dan jantung.2 atau kurang sangat sulit ditoleransi oleh orang dewasa dan dapat mengakibatkan gangguan pada otak.- Pengobatam Prioritas dalam penanganan gagal nafas berbeda-beda tergantung dari etiologinya. PaO2 sebesar 40 mmHg atau Ph sebesar 7. dan hiperkapnia tidak mencapai taraf yang membahayakan. Usaha-usaha dilakukan untuk mencapai nilai PaO2 normal untuk pasien tersebut. maka tujuan pertama dari terapi adalah memastikan bahwa hipoksemia. asidemia. yaitu menangani sebab gagal nafas dan bersamaan dengan itu memastikan ada ventilasi yang memadai dan jalan nafas yang bebas. PaCO2 sebesar 70 mmHg atau lebih biasanya sulit ditoleransi pada semua pasien dan mengakibatkan depresi sistem saraf pusat dan koma. Karena hal yang paling mengancam nyawa akibat gagal nafas adalah gangguan pada pertukaran gas. Pencairan paling baik 17 . Hipoksemia dengan hiperkapnia selalu ditangani dengan terapi O2 konsentrasi rendah secara bertahap. ginjal. dan bukan untuk mencapai nilai normal pada orang dewasa sehat. tetapi tujuan primer penanganan adalah sama pada semua pasien. serta dapat terjadi disritmia jantung. Oksigen dapat diberikan dalam konsentrasi 40-60% pada pasien hipoksemia dengan PaCO2 yang normal atau rendah (masker atau kateter sebesar 8L/mnt dengan kelembaban yang sesuai) untuk koreksi cepat hipoksemia. Pendekatan terhadap permasalahan sekresi paru yang tertahan meliputi tindakan untuk mencairkan dan mengeluarkan sekret itu.

Jika terdapat bronkospasme pada gagal nafas.9 Terapi oksigen Terapi oksigen adalah suatu tindakan untuk meningkatkan tekanan parsial oksigen pada inspirasi. Infeksi respiratorik yang sering menjadi penyebab gagal nafas hipoksemia. ditangani dengan antibiotik yang sesuai. Obat-obatan seperti kalium iodida yang diberikan peroral atau pemberian air secara aerosol juga dapat membantu mobilisasi sputum.dilakukan dengan hidrasi yang memadai untuk pasien. obatobat bronkodilator atau kortikosteroid dapat digunakan. 2. yang dapat dilakuakn dengan cara : • • Meningkatkan kadar oksigen aspirasi (FiO2) Meningkatkan tekanan oksigen Indikasi : secara umum untuk mencegah dan mengatasi hipoksia Adapun contoh beberapa keadaan atau penyakit yang memerlukan terpi oksigen antara lain: • • • • Gagal napas Shock Akut miokard infark Payah jantung 18 .

35.dll Prinsip alat terapi oksigen adalah : • • • • • FiO2 dapat diukur sesuai dengan kebutuhan Tidak terjadi penumpukan CO2 Resistensi minimal Efisiensi dan ekonomis Nyaman untuk pasien.50.40. Masker sederhana: aliran O2 5 – 8 L/mnt dengan 40 – 60% Masker dengan reservoir rebrething (40 – 80%) Masker dengan reservoir non breathing (40 – 90%) Sistem venture (24.• • • • • Keracunan carbomonoksida (CO) Trauma multiple berat Luka bakar > 25% Pasca bedah Sepsis .40%.60%) 19 . Macam – macam alat untuk terapi oksigen antara lain Nasal prong: aliran O2 1 – 6 L/mnt dengan konsentrasi 24% .28.

meningkatkan tekanan parsial oksigen pada inspirasi lebih tinggi (90%) aliran oksigen yang digunakan 10 – 12 l/mnt sungkup penambah .- Bag valve mask ( bag &mask sampai 100%) Respirator (21 – 100%) CPAP mask atau nasal (21-100%) Incubator (sampai 40%) head box (30-50%) flow rate 2 – 4 l/mnt masih dapat bicara. umumnya untuk meningkatkan kadar oksigen konsentrasi tinggi Konsentrasi oksigen yang diberikan konstan sesuai dengan petunjuk pada alat dan tidak dipengaruhi perubahan pola nafas terhadap FiO2. meningkatkan tekanan parsial oksigen pada inspirasi lebih tinggi (80%) oksigen mengalir 10 – 12 l/mnt Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah. oksigen dengan konsentrasi tetap. dapat menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah. suhu dan kelembaban gas dapat dikontrol serta tidak terjadi penumpukan CO2 Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah. makan dan minum dapat menyebabkan trauma dan iritasi mukosa hidung Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%. kantong oksigen bisa terlipat. jika aliran lebih rendah dapat menyebabkan penumpukan CO2. kantong oksigen bisa terlipat. meningkatkan kadar O2 dengan konsentrasi medium Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%. jika aliran lebih rendah dapat menyebabkan penumpukan CO2. Nasal prong Masker sederhana Masker dengan reservoir rebreathing Masker dengan reservoir non rebreathing Sungkup venture - Bahaya pemberian oksigen 20 .

mual dan munta. • Pemberian oksigen melalui pipa intranasal. Pemberian terapi oksigen harus memenuhi kriteria 4 tepat 1 waspada: • • • Tepat indikasi Tepat dosis Tepat cara pemberian 21 . Keracunan O2 Dapat terjadi bila terapi O2 yang diberikan dengan konsentrasi tinggi dalam waktu relatif lama. Oksigen dapat diberikan sebagai terapi dengan cara: • Meletakkan kepala pasien didalam suatu tempat tertutup yang berisi udara dengan oksigen yang kuat. • Pasien bernafas dengan murni atau oksigen dengan konsentrasi tinggi dari sebuah masker. serta perubahan mental dan gangguan penglihatan. sakit sendi. Tanda – tanda keracunan O2 adalah terjadi penurunan vital capacity. Akibatnya proses difusi di paru akan terganggu. paraestesia. Depresi Ventilasi Pemberian O2 yang tidak dimonitor dengan konsentrasi dan aliran yang tepat pada klien dengan retensi CO2 dapat menekan ventilasi 3. Keadaan ini dapat merusak struktur jaringan paru seperti atelektasi dan kerusakan surfaktan.1. Kebakaran Oksigen memudahkan terjadinya kebakaran 2.

• • Tepat waktu pemberian Waspada terhadap efek samping BAB III 22 .

suatu penyakit (radang otak. radang syaraf. cedera thorak. trauma/kecelakaan (cedera kepela. Jaw thrust. obat narkotik). cedera tulang leher. bisa dengan cara Chin lift. edema paru. Bila terjadi kegagalan pernapasan maka oksigen yang sampai ke jaringan akan mengalami defisiensi akibatnya sel akan terganggu proses metabolismenya. keracunan obat). jalan napas nasofaringeal. Terjadinya Hipoksia banyak faktor yang mempengaruhinya diantaranya karena tindakan anestesi (anestesi yang terlalu dalam.KESIMPULAN Fungsi utama sistem respirasi adalah menjamin pertukaran O 2 dan CO2. DAFTAR PUSTAKA 23 . gagal jantung. atau dengan suction. miastenia gravis). jalan napas orofaringeal. sisa obat pelemas otot. tumor otak. Prinsip penanganan hipoksia adalah dengan membebaskan jalan napas dengan mencari penyebabnya. stroke.

html 8. EGC. “Hiperkapnea dan Hipokapnea”. 1995. 2. Barbara M. Jakarta 4. Jakarta.D. Tanda dan Gejala Penyakit Pernapasan. 5. Penyesuaian Pernapasan Pada Orang Sehat dan Sakit. Latief. 1995. EGC. “Pengangkutan Oksigen dan Karbondioksida di dalam Darah dan Cairan Tubuh. http://medlinux. hal: 208-212. Vol.W.. EGC. EGC.. ed.II. ed. Ganong M.Fisiologi Kedokteran. Rima dkk. Kurt J. Cet.ed. Jakarta. A.P. hal: 181-207.10. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Said.. Polisitemia dan Sianosis”. Jakarta. ed..EGC. 1994.I et all. cet.Cet. Jakarta 7.Pengaturan Pernapasan”..II. Kamus Kedokteran Dorlan. “Hipoksia”.1.H. “Gagal Pernapasan Akut”. Keperawatan Kritis.VI.. I. hal: 898..com/2011/10/hipoksia. Jakarta. I. hal: 586-597. EGC. Lorraine M. Buku II. Jakarta. Horrison..7. Bag.blogspot. Fisiologis Proses-proses Penyakit. 3. Carolyn M. Petunjuk Praktis Anestesiologi. 1988. hal: 563.G. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intesif.Pernapasan. www. “Hipoksia”. 4. Vol. Pendekatan Holistik.. 2002 24 . 1999. hal: 685.”Hipoksia.IV. 1996. 6. Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Sylvia A.I. Guyton.