1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Kebijakan dan program kesejahteraan sosial anak pada masa lalu cenderung dilaksanakan secara sektoral, jangkauan pelayanan terbatas, mengedepankan pendekatan institusi/panti sosial, dan dilaksanakan tanpa rencana strategis nasional. Untuk itu, pada masa yang akan datang diperlukan kebijakan dan program kesejahteraan sosial anak yang terpadu, berkelanjutan, menjangkau seluruh anak yang mengalami masalah sosial, melalui sistem dan program kesejahteraan sosial anak yang melembaga dan profesional dengan mengedepankan peran dan tanggung jawab keluarga serta masyarakat. Perubahan kebijakan dan program kesejahteraan sosial anak selaras dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional, diperlukan penyempurnaan program bantuan sosial berbasis keluarga khususnya bidang kesejahtreraan sosial anak untuk anak balita terlantar, anak jalanan, anak dengan kecacatan, anak berhadapan dengan hukum, dan anak yang membutuhkan perlindungan khusus. Selanjutnya berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan ditetapkan Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) sebagai program prioritas nasional yang meliputi Program Kesejahteraan Sosial Anak Balita, Program Kesejahteraan Sosial Anak Terlantar, Program Kesejahteraan Sosial Anak Jalanan, Program Kesejahteraan Sosial Anak yang Berhadapan dengan Hukum, Program Kesejahteraan Sosial Anak Dengan Kecacatan dan Program Kesejahteraan Sosial Anak yang Membutuhkan Perlindungan Khusus.

2

Sebagai tindak lanjut dari Instruksi Presiden, telah ditetapkan Keputusan Menteri Sosial Nomor 15A/HUK/2010 tentang Panduan Umum Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA). Dalam 5 (lima) tahun ke depan, kerangka kebijakan nasional mengalami perubahan yang fundamental. Kebijakan nasional tentang pemenuhan hak anak telah dirumuskan dalam RPJMN 2010-2014. Kementerian Sosial telah menindaklanjuti merumuskan Rencana Strategis Pelayanan Kesejahteraan Sosial Anak 2010-2014 dan menjadi acuan utama dalam pengembangan pola operasional Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA).

1. Situasi Anak Setiap anak mempunyai hak yang sama untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai potensinya. Secara berlapis, dimulai dari lingkar keluarga dan kerabat, masyarakat sekitar, pemerintah lokal sampai pusat, hingga masyarakat internasional yang berkewajiban untuk menghormati, melindungi, dan mengupayakan pemenuhan atas hak-hak anak. Hanya jika setiap lapisan pemangku tugas tersebut dapat berfungsi dengan baik dan mampu menjalankan kewajiban dan tanggungjawabnya, maka anak akan dapat memiliki kehidupan berkualitas yang memungkinkannya tumbuh-kembang secara optimal sesuai potensinya. Meskipun banyak upaya telah dilakukan, masih banyak anak Indonesia harus hidup dalam beragam situasi sulit yang membuat kualitas tumbuh kembang dan kelangsungan hidupnya terancam. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (2006), jumlah anak Indonesia usia di bawah 18 tahun mencapai 79.898.000 jiwa dan mengalami peningkatan menjadi 85.146.600 jiwa pada tahun 2009. Gambaran situasi masalah anak antara lain sebagai berikut : a. Ditinjau dari derajat kesehatan, gizi, dan kesiapan belajar/ pendidikan pra sekolah terutama pada anak balita yang berasal dari keluarga miskin atau sangat miskin, belum tersentuh sistem layanan dan perlindungan yang memadai. Pada tahun 2006 diperkirakan jumlah anak usia 0-5

3

tahun mencapai sekitar 27,6 juta jiwa, atau sekitar 12,79% dari seluruh populasi Indonesia yang jumlahnya sebesar 215,93 juta jiwa. Anak balita terlantar dan hampir terlantar di Indonesia pada tahun 2009, adalah sebesar 17.694.000 jiwa (22,14%), sementara data dari Direktorat Pelayanan Anak melaporkan bahwa anak yang telah mendapatkan pelayanan sosial hanya 1.186.941 jiwa (6,71%). Pada tahun 2005, prevalensi anak balita kurang gizi mencapai 28%, sekitar 8,8% diantaranya menderita gizi buruk. Anak balita yang mendapat layanan kesiapan belajar atau pendidikan pra sekolah baru mencakup 24,85%. Layanan melalui TK/RA baru mencapai 12,59%, Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak baru berhasil melayani 4,81%. b. Masalah kemiskinan yang belum dapat diatasi secara efektif secara memberikan kontribusi pada keterlantaran anak. Selain itu menjadi pendorong banyak anak yang terpaksa bekerja di jalanan. Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial Kementerian Sosial mencatat jumlah anak jalanan tahun 2007 sebanyak 230.000 jiwa. Adapun BPS bersama ILO mengestimasi jumlah anak jalanan sebanyak 320.000 pada tahun 2009. c. Kenakalan anak juga dirasa semakin meresahkan masyarakat, tidak hanya di kota-kota besar, tetapi juga di pedesaan. Kasus-kasus kenakalan semakin sering diberitakan media, karena tidak hanya muncul dalam bentuk pelanggaran ringan tetapi sudah sering muncul dalam bentuk tindak pidana kejahatan seperti kekerasan yang menimbulkan korban jiwa baik yang dilakukan secara sendiri maupun berkelompok/geng. d. Pada tahun 2008 dari 29 Balai Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Indonesia dilaporkan terdapat 6.505 anak dengan kenakalan diajukan ke pengadilan, dan 4.622 anak diantaranya (71,05%) diputus pidana. Pada tahun 2009 kasus tindak pidana anak yang diajukan ke pengadilan meningkat menjadi 6.704 anak, dan 4.748 diantaranya (70.82%) diputus pidana.

106 anak yang diputus pidana. yang faktanya menunjukkan mereka sulit mendapatkan hak dasarnya sebagai anak secara wajar dan memadai. Menurut hasil pendataan Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat Kementerian Sosial (2009) di 24 propinsi.763 jiwa (0.46 %). 2006 mencatat sebanyak 295. h. Sebagian besar anak dengan kecacatan berada dalam keluarga miskin.163 anak. maka secara kasar diperkirakan seluruhnya ada 14. berkaitan dengan rasa bersalah.412 anak dengan kecacatan ringan. ketakutan terhadap aturan dan proses hukum yang tidak mereka pahami. sementara jumlah seluruh Bapas ada 62. sedangkan data Pusdatin Kemensos. tekanan dari lingkungan baru. Banyak situasi ADK pada keluarga miskin . terisolasi.868 anak (0. pengalaman kekerasan fisik dan psikis selama mengikuti proses hukum. Masalah lain berhubungan dengan kesulitan hidup Anak dengan Kecacatan (ADK). bahwa rata-rata tiap Bapas pada tahun 2009 melaporkan 231 anak yang diajukan kepengadilan dan 163 anak yang diputus pidana.322 anak yang diajukan ke persidangan dan 10. sulit mengakses kelayakan kebutuhan dasar. anak-anak juga kerap harus menyerap berbagai pengalaman buruk yang menyertai proses penegakan hukumnya serta tidak dapat mengakses berbagai hak dan kebutuhan dasar yang esensial bagi proses tumbuh-kembangnya menuju kedewasaan. terpisah dari keluarga.4 e. kondisi faktual sistem hukum dan penegakan hukum saat ini belum mampu memberikan jaminan terjadinya perubahan positif perilaku. Sementara itu. yang terdiri dari 78. terdapat 199.37 %). Jika dihitung dengan rata-rata kasar dari laporan di atas. 74.603 anak dengan kecacatan sedang dan 46.148 anak dengan kecacatan berat. f. Angka seluruh kasus anak mungkin jauh lebih besar karena angka di atas hanya bersumber dari 29 Bapas yang telah memberi laporan. Data BPS tahun 2004 menyebutkan jumlah ADK sebanyak 365. dll. Mereka mengalami masa-masa sulit. stigma/label masyarakat. g.

serta anak yang bekerja sekitar 5. k.696 korban tindak pidana perdagangan orang. pemukiman yang layak serta tidak memiliki alat bantu kecacatan. diisolasi. diperkirakan angkanya jauh lebih besar dari angka ini. dan Padang menunjukkan bagaimana keselamatan dan kualitas kelangsungan hidup anak menjadi terancam.5 tidak terpenuhi kebutuhan nutrisi. Di area lain. antara lain pelayanan kesehatan. Data layanan IOM Indonesia periode 2005 hingga 2009 menunjukkan bahwa dari 3.000 anak menjadi korban tindak pidana perdagangan orang untuk tujuan eksploitasi seksual. 23. Sementara UNICEF Indonesia (2008) memperkirakan terdapat 40.000 jiwa. Situ Gintung.2 juta jiwa.94%-nya adalah anak. Jogjakarta.8% perempuan. Jawa Barat. dilaporkan 464 anak berusia di bawah 15 tahun positif terinfeksi AIDS yang sebagian besar terinfeksi karena lahir dari ibu yang positif HIV. j. Aceh. belum termasuk untuk kelompok usia diatas 15 tahun dan yang terinfeksi karena sebab lain . tidak mendapatkan pengasuhan dan perawatan khusus sesuai dengan kecacatannya dari orangtua/keluarga.442 kasus HIV/ AIDS. pendidikan. Data BPS (2006) menunjukkan jumlah anak yang membutuhkan perlindungan khusus karena mengalami kekerasan sebanyak 180. Diyakini ini hanya puncak gunung es.2 % di antaranya laki-laki dan 26.000-70. Untuk anak yang menjadi korban eksploitasi seksual. di mana 73. Sambas. Kementrian Kesehatan dalam laporannya hingga September 2009 menyebutkan total jumlah 18. Ambon. karena kasus yang terungkap jumlahnya selalu jauh lebih kecil dari realitas. Data-data penanganan pengungsi seperti dari konflik di Poso. Dalam waktu yang sama. dan bencana alam besar di Aceh. didiskriminasi dalam pengasuhan dan tidak tersentuh oleh pelayanan sosial dasar. Tingginya frekuensi bencana alam (dan sosial) di Indonesia juga menyebabkan banyak anak harus hidup dalam situasi darurat pasca bencana. i.

Adapun untuk anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba. Namun faktanya masih sangat banyak anak belum tersentuh pelayanan kesejahteraan sosial karena keterbatasan sumber daya. dan sistem manajemen pelaksanaan layanan. Selain itu dilakukan perubahan paradigma dalam berbagai dimensi program meliputi : perspektif analisis masalah dan kebutuhan. Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) mulai dikembangkan dan diujicobakan untuk penanganan anak jalanan di lima wilayah .6 seperti penggunaan narkoba suntik dan hubungan eksual. Keterbatasan tersebut juga diperparah dengan penggunaan pendekatan dan strategi yang konvensional.2 juta pengguna berasal dari kelompok usia muda (remaja/pemuda). keberlanjutan layanan. Pada 2009. 2. Badan Narkotik Nasional (2006) menyebutkan bahwa 80% dari sekitar 3. dan dukungan organisasi non-pemerintah dalam negeri maupun internasional. Respon Sistemik Masyarakat dan pemerintah dari berbagai tingkatan telah melakukan berbagai layanan dan program yang terus dikembangkan dengan intensitas dan kualitas yang diupayakan terus meningkat dari tahun ke tahun. Misalnya sumber pendanaan tidak semata bertumpu pada APBN tetapi menggalang juga kerjasama luar negeri. Sejak 2009 rancangan kebijakan. APBD. strategi dan program terobosan yang telah lama digagas mulai diaktualisasikan sehingga gap yang ada mampu diperkecil. pola operasional layanan. sehingga bantuan sosial cenderung diseragamkan. termasuk sumber pendanaan Corporate Social Responsibilty. sistem penetapan target sasaran. Strategi konvensional dimaksud seperti kurangnya memperhatikan kebutuhan dasar anak yang beragam. sehingga mengakibatkan meningkatnya masalah sosial anak yang tidak dapat diimbangi dengan upaya pencegahan dan respon yang memadai.. Keterbatasan cakupan pelayanan ini juga disertai dengan belum adanya keterpaduan perencanaan dan pengelolaan sumberdaya dan layanan di antara lembaga-lembaga pelayanan sosial yang ada.

Belajar dari pengalaman implementasi awal tersebut. korban kekerasan dan eksploitasi seksual. anak yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang. anak jalanan dan anak terlantar. Untuk kepentingan kejelasan operasionalisasi pencapaian tujuan program tersebut. serta mekanisme pemenuhan kebutuhan dasar anak yang dapat merespon keberagaman kebutuhan melalui tabungan. lengkap. PKSA dikembangkan dengan perspektif jangka panjang sekaligus untuk menegaskan komitmen Kementerian Sosial untuk merespon tantangan dan upaya mewujudkan kesejahteraan sosial anak yang berbasis hak. mulai 2010. korban penyalahgunaan narkoba/ zat adiktif. penguatan tanggung jawab orang tua/ keluarga.7 yaitu Jawa Barat. termasuk memberikan penekanan pada upaya pencegahan. dan Yogyakarta. serta anak yang membutuhkan perlindungan khusus lainnya seperti anak yang berada dalam situasi darurat. PKSA merupakan respon sistemik dalam perlindungan anak. anak dengan kecacatan. maka Pedoman Operasional Pelaksanaan PKSA ini disusun untuk memberikan panduan yang jelas. Dasar Hukum Perancangan. dan perlindungan anak yang bertumpu pada keluarga dan masyarakat. dan konsisten bagi para pihak yang terlibat dalam pelaksanaannya. Juga perwujudan dari kesungguhan Kementerian Sosial mendorong perubahan paradigma dalam pengasuhan. peningkatan kesadaran masyarakat. B. Lampung. Oleh karena itu. DKI Jakarta. perencanaan dan pelaksanaan Program Kesejahteraan Sosial didasarkan pada: . penderita HIV/AIDS. layanan PKSA telah diperluas jangkauan target sasaran maupun wilayahnya. anak yang berhadapan dengan hukum. meliputi anak balita terlantar. dan anak dari kelompok minoritas atau komunitas adat terpencil. Sulawesi Selatan. eksploitasi ekonomi.

8 1. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional. Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tentang Ratifikasi Konvensi Hak Anak. Keputusan Menteri Sosial Nomor 135/HUK tahun 2009 tentang Standar Nasional Pengasuhan dan Perlindungan Anak Di Bawah Lima Tahun. Menteri Agama. 3. 11. Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. No. . No. 2. Undang-Undang RI Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. 45 Tahun 1984 tentang Bantuan terhadap Anak Kurang Mampu. Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. 6. 10. Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 15A/HUK/2010 tentang Panduan Umum Program Kesejahteraan Sosial Anak. Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. 0318/P/1984. No. 4. 7. 8. No. Peraturan Menteri Sosial No. dan anak bertempat tinggal di daerah Terpencil dalam rangka pelaksanaan Wajib Belajar. 64 Tahun 84. Anak dengan kecacatan. Menteri Sosial. dan Menteri Dalam Negeri. 11 Tahun 2009 tentang 5. Undang-Undang RI Nomor Kesejahteraan Sosial. Peraturan Menteri Sosial No. 57 Tahun 2010 tentang Pendirian Taman Anak Sejahtera 12. Peraturan Pemerintah RI Nomor 2 Tahun 1988 tentang Usaha Kesejahteraan Sosial Bagi Anak yang Mempunyai Masalah. 30 Tahun 2011 tentang Standar Nasional Pengasuhan Anak di LKSA 13. 43/HUK/ KEP/VII/1984. Intruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan 9.

C. Kejaksanaan Agung. Kesepakatan Bersama antara Direktur Jenderal PRS Departemen Sosial RI dengan Direktur Jenderal PAS Departemen Hukum dan HAM RI Nomor: 20/PRS-2/KEP/2005 dan Nomor: E. 1.02.HH. termasuk anak yang masih dalam kandungan. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup. Kesejahteraan Sosial Anak adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material. 15. Keputusan Bersama Mahkamah Agung RI. Kementerian Sosial dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan.04. Nomor:B/43/XII/2009. 2. Nomor:11/ XII/KB/2009. Menteri Pendidikan Nasional RI. Kementerian Hukum dan Ham RI.U. Nomor:06/ XII/2009. Kesepakatan Bersama Menteri Sosial RI. secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya.03. Menteri Agama RI dan Kepolisian Negara RI Nomor : 12/PRS-2/KPTS/2009. berkembang. tumbuh. 3. Menteri Kesehatan RI. tentang Penanganan Anak yang Berhadapan dengan Hukum tanggal 22 Desember 2009. dan berpartisipasi. 16. Nomor: M. Menteri Hukum dan HAM RI. Nomor:1220/Menkes/SKB/XII/2009.MH.07-83 tahun 2005. dan sosial anak agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri. Pengertian Berikut ini beberapa pengertian yang menjadi bagian dari konsep pokok yang digunakan dalam Pedoman Operasional Program Kesejahteraan Sosial Anak. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun. Kepolisian Republik Indonesia. tentang Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Anak Yang Berhadapan dengan Hukum.M 06.2009.9 14. spiritual. serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi .Th. tentang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Anak Didik Pemasyarakatan.

penguatan orang tua/keluarga dan penguatan lembaga kesejahteraan sosial anak. terpadu. baik yang berlatar belakang pekerjaan sosial maupun bukan berlatar belakang pekerjaan sosial. 7. Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) adalah organisasi sosial atau perkumpulan sosial yang melaksanakan Program Kesejahteraan Sosial Anak. 6. Pekerja Sosial Profesional Anak adalah pekerja sosial yang bekerja mnenjadi pendamping PKSA yang memiliki keahlian dalam bidang kesejahteraan dan perlindungan anak. Tenaga Kesejahteraan Sosial Anak adalah seseorang yang dididik dan dilatih secara profesional untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan penanganan masalah sosial anak dan/atau seseorang yang bekerja. yang dibentuk oleh masyarakat atau difasilitasi pemerintah. pemerintah daerah. 10. 8. Unit Pelaksana Program Kesejahteraan Sosial Anak (UPPKSA) adalah unit yang dibentuk dan ditunjuk di tingkat pusat (Kemensos). Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) adalah upaya yang terarah. pelatihan. tetapi . Provinsi. baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum. aksesibilitas pelayanan sosial dasar. dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar anak .10 4. dan/atau pengalaman praktik pekerjaan sosial untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan penanganan masalah sosial. baik di lembaga pemerintah maupun swasta yang ruang lingkup kegiatannya di bidang kesejahteraan sosial anak. Relawan Sosial Anak adalah seseorang dan/atau kelompok masyarakat. yang meliputi bantuan pemenuhan kebutuhan dasar. peningkatan potensi diri dan kreativitas anak. dan kepedulian dalam pekerjaan sosial yang diperoleh melalui pendidikan. 5. 9. Pekerja Sosial Profesional adalah seseorang yang memiliki kompetensi dan profesi pekerjaan sosial. dan berkelanjutan yang dilakukan pemerintah. dan Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab atas penyelenggaraan PKSA di masing-masing tingkat kewilayahan.

Tujuan Tujuan Program Kesejahteraan Sosial Anak adalah terwujudnya pemenuhan hak dasar anak dan perlindungan terhadap anak dari . yang direkrut oleh dan bekerja untuk LKSA. air bersih. Tenaga Kesejahteraan Sosial Anak. yang fungsinya adalah melaksanakan tugas-tugas pelayanan kesejahteraan sosial dan perlindungan khusus kepada anak dan keluarga yang menjadi penerima manfaat PKSA. D. bantuan keuangan. identitas diri. 12. serta lingkungan komunitas/ masyarakat. peningkatan keterampilan. kesediaan orang tua/ keluarga dalam bertanggung jawab untuk memenuhi hak dasar anak. meningkatkan potensi diri dan kreativitas anak. Dalam mekanisme ini. kesungguhan mengakses pelayanan sosial dasar.11 melaksanakan kegiatan penyelenggaraan di bidang kesejahteraan sosial anak bukan instansi pemerintah atas kehendak sendiri dengan atau tanpa imbalan. 11. Pendamping PKSA adalah Pekerja Sosial Profesional. pendidikan. dan kebutuhan dasar lainnya. sarana tempat tinggal. dan penguatan lembaga kesejahteraan sosial anak dalam upaya mensejahterakan dan meindungi anak. 13. Syarat dan kewajiban tersebut terkait dengan kesungguhan memenuhi kebutuhan dasar anak. hanya akan diberikan bila anak dan keluarga yang menjadi penerima manfaat sanggup memenuhi beberapa syarat dan kewajiban (conditionality) tertentu. Aksesibilitas Pelayanan Sosial Dasar adalah kemampuan menjangkau pelayanan sosial dasar untuk anak penerima manfaat PKSA berupa pelayanan kesehatan dasar. rekreasi. Bantuan Tunai Bersyarat (Conditional Cash Transfer) ada- lah mekanisme utama penyaluran bantuan sosial berupa bantuan tunai kepada anak yang menjadi penerima manfaat PKSA dalam bentuk Tabungan Kesejahteraan Sosial Anak. atau Relawan Sosial yang dipandang memenuhi syarat kompetensi untuk melakukan pendampingan.

yang memberikan pendampingan di bidang pelayanan kesejahteraan sosial anak. Mengupayakan perluasan jangkauan layanan untuk seluruh anak yang mengalami masalah sosial. Sasaran Sasaran PKSA yang akan dicapai dalam periode RPJMN II (tahun 2010-2014) adalah: 1. Menurunnya prosentase anak yang mengalami masalah sosial. Meningkatnya Pekerja Sosial Profesional. Meningkatnya persentase orang tua/keluarga yang bertanggung jawab dalam pengasuhan dan perlindungan anak . Meningkatnya lembaga kesejahteraan sosial yang memberikan perlindungan terhadap anak. anak jalanan. 4. E. 2. anak yang berhadapan dengan hukum. Meningkatnya produk hukum pengasuhan dan perlindungan anak sebagai landasan hukum pelaksanaan PKSA. 6. 3. 5. Tenaga Kesejahteraan Sosial dan Relawan Sosial terlatih. F. Meningkatnya presentase anak dan balita terlantar. Mengedepankan kemitraan dengan berbagai pihak dalam mewujudkan sistem kesejahteraan sosial anak yang terarah. dan diskriminasi sehingga tumbuh kembang. kelangsungan hidup dan partisipasi anak dapat terwujud. anak dengan kecacatan dan anak yang membutuhkan perlindungan khusus untuk memperoleh akses pelayanan sosial dasar. eksploitasi. terpadu. dan berkelanjutan.12 keterlantaran. Kebijakan 1. . 2. 7. kekerasan. Meningkatnya peranan Pemerintah Daerah (provinsi/ kabupaten/kota) dalam mensinergiskan PKSA dengan program kesejahteraan dan perlindungan anak yang bersumber dari APBD.

5. Anak yang menderita gizi buruk atau kurang. Anak terpaksa bekerja di jalanan. atau b. Anak yang bekerja dan hidup di jalanan. meliputi: a. ketelantaran.13 3. Mendorong peningkatan kemampuan dan keterlibatan masyarakat dalam upaya mensejahterakan dan melindungi anak. e. c. kecacatan. keterpencilan. Anak balita/ usia dini yang terlantar/ tanpa asuhan yang layak a. Anak yang kehilangan hak asuh dari orangtua/ keluarga. Anak yang mengalami perakuan salah dan diterlantarkan oleh orang tua/ keluarga d. Anak yang mengalami perlakuan salah dan diterlantarkan oleh orang tua/ keluarga. Anak yang di eksploitasi secara ekonomi seperti anak balita yang di salahgunakan orang tua menjadi pengemis di jalanan. b. ketunaan sosial dan penyimpangan perilaku. meliputi: 1. Anak terlantar/ tanpa asuhan yang layak. Anak yang berasal dari keluarga sangat miskin / miskin b. 2. G. Anak yang rentan bekerja di jalanan. korban bencana. eksploitasi dan diskriminasi. Menempatkan keluarga sebagai pusat pelayanan dalam rangka memperkuat tanggung jawab orang tua/ keluarga dalam memberikan pengasuhan dan perlindungan bagi anak. . Anak yang bekerja di jalanan. 4. dan/atau korban tindak kekerasan. Anak kehilangan hak asuh dari orang tua/ keluarga. Kriteria Penerima Manfaat Sasaran PKSA diprioritaskan kepada anak-anak yang memiliki kehidupan yang tidak layak secara kemanusiaan dan memiliki kriteria masalah sosial seperti kemiskinan. meliputi: a. Mengedepankan pengembangan sistem pelayanan dan program kesejahteraan sosial yang melembaga dan profesional. Sasaran penerima manfaat dibagi dalam 6 (enam) kelompok. c. 3.

psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA). Anak korban kekerasan. pendamping bersama LKSA melakukan klasifikasi masalah anak didasarkan pada beberapa hal : . misalnya anak jalanan yang menjadi korban penyalahgunaan NAPZA. Dalam prakteknya terdapat anak yang mengalami masalah ganda. meliputi: a. Anak berhadapan dengan hukum. b. alkohol. Anak yang berstatus diversi. baik fisik dan/atau mental dan seksual. dengan kategori : a. f. Anak yang terinfeksi HIV/AIDS. meliputi: a. 2) Anak dengan kecacatan mental 3) Anak dengan cacat fisik dan mental c. Anak yang menjadi korban penyalahgunaaan narkotika. e. d. c. f. Anak yang mengikuti proses peradilan. 5. c. Anak dengan kecacatan. Anak korban perdagangan manusia. Untuk masalah seperti ini. Mampu didik dan mampu latih b. Anak yang memerlukan perlindungan khusus lainnya . d. b. Anak yang telah menjalani masa hukuman pidana. g. Anak dalam situasi darurat dan berada dalam lingkungan yang buruk/ diskriminasi. Anak dari kelompok minoritas dan terisolasi. meliputi : 1) Anak dengan kecacatan fisik. Cacat ringan dan sedang. Kategori sasaran dimaksud untuk memberikan kesempatan akses yang lebih luas bagi anak yang mengalami masalah sosial dan menghindari terjadinya tumpang tindih sasaran. Cacat berat yang belum diakses Program Jaminan Sosial orang dengan kecacatan 6. Anak diindikasikan melakukan pelanggaran hukum. Anak yang menjadi korban perbuatan pelanggaran hukum. Anak yang berperilaku nakal. serta dari komunitas adat terpencil.14 4. e. Anak korban eksploitasi ekonomi atau seksual.

) . c. pemerintah daerah dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial dan bantuan kesejahteraan sosial anak bersyarat (conditional cash transfer) yang meliputi : 1.ABH) 5. yaitu: 1. dll. Melakukan seleksi berdasarkan bobot masalah yang diprioritaskan. Kedekatan akses anak terhadap layanan kesejahteraan sosial c. Melakukan asesmen masalah secara mendalam b. Program Kesejahteraan Sosial Anak Dengan Perlindungan Khsusus (PKS-AMPK) PKSA dirancang sebagai upaya yang terarah. 2. Semakin beratnya masalahnya. nutrisi. 4. Kedekatan akses anak terhadap LKSA yang mendampingi Dalam keadaan populasi anak yang membutuhkan lebih banyak daripada jumlah sasaran PKSA yang tersedia. Melakukan musyawarah antar orang tua/keluarga dan komunitas setempat. air bersih. semakin diprioritaskan menjadi sasaran utama. tempat tinggal. terpadu dan berkelanjutan yang dilakukan pemerintah. Program Kesejahteraan Sosial Anak dengan Kecacatan (PKS-ADK) 6. termasuk meminta pertimbangan dari tokoh masyarakat. Program Kesejahteraan Sosial Anak Balita (PKS-AB) Program Kesejahteraan Sosial Anak Terlantar (PKS-Antar) Program Kesejahteraan Sosial Anak Jalanan (PKS. semakin miskin kondisinya dan semakin membutuhkan pertolongan/bantuan segera. H. Komponen Program PKSA dibagi menjadi 6 kelompok (kluster) program. 3. Bobot masalah yang dialami anak b. diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: a. RT/ RW dan aparat setempat. Bantuan sosial/ subsidi pemenuhan hak dasar (akte kelahiran.Anjal) Program Kesejahteraan Sosial Anak yang Berhadapan dengan Hukum (PKS.15 a.

I. 4. 3. Intensitas kehadiran anak dalam layanan sosial dasar dari berbagai organisasi/ lembaga semakin meningkat. Persyaratan dan Kewajiban Penerima Layanan Sasaran penerima layanan PKSA: anak. Peningkatan aksesibilitas terhadap pelayanan sosial dasar (akses pendidikan dasar.16 2.) 3. harus memenuhi persyaratan (conditionalities) sebagai berikut: 1. kekerasan dan diskriminasi. orang tua/ keluarga maupun lembaga kesejahteraan sosial yang menjadi mitra pendamping. askes pelayanan rehabilitasi sosial. dll. 4. Tanggung jawab orang tua/ keluarga dalam pengasuhan dan perlindungan anak semakin meningkat. Intensitas kehadiran anak dalam kegiatan pengembangan potensi diri/ kreativitas anak semakin meningkat. Peran Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang bermitra dengan Kementerian Sosial semakin efektif dalam mendampingi anak sehingga anak dapat terhindar dari penelantaran. Adanya perubahan sikap dan perilaku sosial anak ke arah positif 2. Penguatan kelembagaan kesejahteraan sosial anak. akses pelayanan kesehatan. Penguatan tanggung jawab orang tua/ keluarga dalam pengasuhan dan perlindungan anak 5. Pengembangan potensi diri dan kreatifitas anak. 5. eksploitasi. .

Orangtua/ keluarga membawa anak ke TAS/TPA dan lembaga sosial lainnya. f. Orang tua/ keluarga memberikan perawatan dan pengasuhan sehingga anak tumbuh dan berkembang optimal. c. Orang tua/ keluarga membukakan tabungan bagi anak (rekening nama anak) di Bank/ lembaga keuangan mikro terdekat e. sesuai dengan perkembangan usianya d.17 Indikator perubahan sikap perilaku / kewajiban penerima layanan antara lain: 1. pengasuhan dan perlindungan bagi anak. Anak balita terlantar kembali berada dalam asuhan orang tua/ keluarga atau pengasuhan alternatif (orang tua pengasuh. Orang tua/. Orang tua/ keluarga tidak menelantarkan anak dengan memberikan perawatan. Keluarga tidak mengeksploitasi anak untuk tujuan mengemis/ meminta-minta. orang tua angkat. sehingga hak-hak dasarnya semakin terpenuhi. orang tua angkat. Bagi Anak Terlantar: a. atau lembaga kesejahteraan sosial anak) b. Bagi Balita Terlantar: a. 2. atau lembaga kesejahteraan sosial anak) . Anak terlantar kembali berada dalam asuhan orang tua/ keluarga atau pengasuhan alternatif (orang tua pengasuh.

mengikuti kegiatan peningkatan potensi diri/ keterampilan. e. c. Bagi Anak Jalanan : a. Orang tua/ keluarga membukakan tabungan bagi anak (rekening nama anak) di bank/ lembaga keuangan mikro terdekat d. perlindungan dan pemenuhan hak dasar anak. 3. . Anak jalanan tidak lagi melakukan aktivitas ekonomi di jalanan karena anak telah kembali sekolah formal/ non formal. dll. mengikuti kegiatan rekreasi. perlindungan dan pemenuhan hak dasar anak. Anak tidak lagi melakukan perbuatan yang dapat melanggar hukum. Orang tua/ keluarga membukakan tabungan bagi anak (rekening nama anak) di bank/ lembaga keuangan mikro terdekat d. kembali ke keluarga (bagi anak yang terpisah). b. Anak tidak dieksploitasi untuk tujuan mengemis/ memintaminta. Orang tua/ keluarga bertanggungjawab dalam memberikan pengasuhan. Bagi Anak yang Berhadapan dengan Hukum : a. Orang tua/ keluarga bertanggungjawab dalam memberikan pengasuhan.18 b. Anak c. Orang tua/ keluarga tidak menyuruh anak bekerja di jalanan/ mengeksploitasi anak 4.

perlindungan dan pemenuhan hak dasar anak. dan/atau mengikuti kegiatan peningkatan potensi diri/ keterampilan. Anak dalam situasi darurat (misal:korban bencana). Bagi Anak yang Membutuhkan Perlindungan Khusus: a. Anak kembali sekolah. Anak menggunakan alat bantu kecacatan e. d. 5. Anak mengikuti program-program rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial d. anak korban kekerasan dan eksploitasi dan anak dari kelompok . Orang tua/ keluarga membukakan tabungan bagi anak (rekening nama anak) di bank/ lembaga keuangan mikro terdekat f. Orang tua/ keluarga membukakan tabungan bagi anak (rekening nama anak) di bank/ lembaga keuangan mikro terdekat e. Anak dengan kenakalan menunjukkan sikap dan perilaku kearah positif dan tidak berperilaku nakal lagi. kembali ke keluarga (bagi anak yang terpisah). Orang tua/ keluarga bertanggungjawab dalam memberikan pengasuhan. c. perlindungan dan pemenuhan hak dasar anak. Bagi Anak Dengan Kecacatan: a. Anak tidak didiskriminasi dan atau dieksploitasi c. 6. Anak mendapat perawatan khusus sesuai dengan jenis kecacatannya b.19 b. terutama anak yang memperoleh putusan diversi kembali kepada orang tua. Orang tua/ keluarga memberikan pengasuhan.

Pemenuhan persyaratan dan kewajiban penerima layanan sangat ditentukan oleh peran pendamping sosial (Pekerja Sosial Profesional dan Tenaga Kesejahteraan Sosial) dan peran Lembaga Kesejahteraan Sosial (LSM/ Yayasan/ Organisasi) yang menjadi mitra kerja PKSA.20 minoritas dan terpencil menunjukkan sikap dan perilaku ke arah positif sehingga hak-hak dasarnya terpenuhi. orang tua/ keluarga dan anak penerima bantuan PKSA. Orang tua/ keluarga membukakan tabungan bagi anak (rekening nama anak) di bank/ lembaga keuangan mikro terdekat c. Sangsi yang dimaksud. peringatan tertulis. jika hasil verifikasi (pemantauan) dari persyaratan dan kewajiban penerima layanan tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan. . b. diberikan secara bertahap. Diberikan secara bertahap mulai dari peringatan secara lisan. pengasuhan dan perlindungan bagi anak) sehingga hak-hak dasarnya semakin terpenuhi. Bagi anak yang tidak berada dalam asuhan orang tua/ keluarga maka wali anak adalah orang tua asuh (foster parent). LKSA. Orang tua/ keluarga tidak menelantarkan anak (memberikan perawatan. Sangsi yang dimaksud yaitu: 1. Sangsi akan diberikan kepada Sakti Peksos. pekerja sosial atau pengurus LKSA yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Undang-Undang Nomor 4/ 1979 dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 beserta peraturan pelaksanaannya). dan tindakan pemutusan hubungan kerja kepada pendamping sosial apabila tidak melaksanakan kewajiban sebagai pendamping yang berakibat persyaratan dan kewajiban penerima layanan tidak terpenuhi.

tertulis dan tindakan. peringatan tertulis. hubungan kerjasama dihentikan atau dicabut ijin operasional oleh pihak berwenang. Penetapan pengadilan dapat berupa putusan tindakan yaitu pencabutan kuasa asuh atau putusan pidana sesuai dengan bobot pelanggaran hukum yang terjadi. yang diberikan secara bertahap mulai dari peringatan lisan. dapat memberikan sanksi kepada anak yang menjadi penerima layanan. peringatan tertulis. 4. Dalam keadaan tertentu atas rekomendasi pendamping sosial dan LKSA. Diberikan secara bertahap mulai dari peringatan secara lisan.. Diberikan secara bertahap mulai dari peringatan secara lisan.21 2. Sangsi yang dimaksud harus merupakan putusan hasil pembahasan kasus (case conference). 3. apabila LKSA yang menjadi mitra kerja PKSA tidak melaksanakan kewajibannya yang berakibat persyaratan dan kewajiban penerima layanan tidak terpenuhi. . dan tindakan hukum apabila orang tua/ wali/ keluarga tidak melaksanakan tanggung jawabnya dan melakukan pelanggaran hukum sesuai dengan UndangUndang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Klaster 4 E. Klaster 1 B. untuk efektivitas upaya pencapaian sasaran dan mencakup seluruh kategori penerima manfaat sebagai mana dipaparkan pada Bagian Pertama. . Oleh karena itu. yaitu: A. transparan dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kalster 3 D. maka pengelolaan penyelenggaraan PKSA dibagi menjadi 6 area (klaster). Pengorganisasian Pengorganisasian PKSA dirancang sedemikian rupa agar bantuan sosial bagi anak dan keluarga. dalam pengelolaannya. serta bantuan operasional bagi lembaga mitra kerja (Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak) dapat disalurkan secara tepat sasaran. tanpa mengesampingkan tuntutan kekhususan dalam mengembangkan dan mengoperasikan pelayanan bagi beragam situasi permasalahan kesejahteraan dan perlindungan anak Indonesia. Klaster 5 F. Klaster 6 : : : : : : Anak Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Jalanan Anak Dengan Kenakalan dan atau Berhadapan Dengan Hukum Anak Dengan Kecacatan Anak yang membutuhkan perlindungan khusus Pada bagian dua ini diuraikan acuan operasional pengelolaan program yang bersifat umum.22 BAB II PENGELOLAAN PROGRAM Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) dikelola sebagai satu kesatuan program yang utuh dan terintegrasi. yang berlaku untuk setiap area penanganan. Klaster 2 C. A.

sehingga pemanfaatannya lebih optimal. Relawan Sosial) Petugas Penyalur Bantuan Sosial Kelembagaan dalam penyaluran bantuan sosial PKSA merupakan bentuk kerjasama yang didasarkan pada fungsi dan tugas pokok masing-masing untuk mempercepat proses penyaluran dana PKSA kepada kelompok sasaran. Untuk meningkatkan sinergi pelayanan PKSA yang maksimal. Struktur Organisasi PKSA telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 15A/HUK/2010 tentang Panduan Umum Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA). TKSA. Hubungan Kelembagaan Berdasarkan Intruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan ditetapkan Kementerian Sosial sebagai Koordinator Pelaksana PKSA. STRUKTUR ORGANISASI PKSA Kemensos UP PKSA Pusat Tim Koordinasi PKSA Tim Teknis Pusat Lembaga Penyalur Bantuan Sosial Pusat UP PKSA Dinsos Propinsi Tim Koordinasi Provinsi Provinsi UP PKSA Dinsos Kab/Kota Tim Koordinasi Kabupaten/Kota Kabupaten UP-PKSA Lokal Kantor Lembaga Penyalur Bantuan Sosial Kecamatan Pendamping PKSA (Peksos. Dalam pelaksanaan PKSA difasilitasi penyediaan Unit Pelaksana PKSA (UP-PKSA) dari tingkat pusat sampai dengan . maka para pelaku PKSA harus saling berkomunikasi dan berkoordinasi.23 1.

. Dinas Sosial Propinsi Mengelola UP-PKSA pada tingkat provinsi adalah unit kerja yang menangani anak di Dinas/ Instansi Sosial di tingkat Propinsi. dengan sekretaris dan anggota ditetapkan pejabat di lingkungan Dinas/instansi sosial setempat. dll) 2) Membuat MOU dengan bank persepsi/ pos. Seksi yang menangani anak di Dinas Sosial berfungsi sebagai unit operasional/ sekretariat PKSA. Pedoman Operasional dan Pedoman Pendamping PKSA. yang ditetapkan sebagai lembaga penyalur dana bantuan PKSA 3) Menyusun Pedoman Umum. serta modul-modul yang bersifat teknis operasional 4) Melaksanakan tahapan PKSA sesuai dengan kewenangannya 5) Melakukan rapat-rapat koordinasi lintas unit. 6) Membuat laporan pelaksanaan PKSA sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki. Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak. Cq. b. Kementerian Sosial RI. dana UKS. Tugas pokok dan tanggung jawab masing-masing unit pelaksana dan instansi terkait adalah sebagai berikut: a. Kerjasama Luar Negeri dan sumber-sumber pendanaan lainnya (dana corporate social responsibility. supervisi. Jika dipandang perlu dapat melibatkan lintas unit/sektor sebagai anggota pengelola PKSA. donor perorangan/ lembaga. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Mengelola UP-PKSA pusat dibantu oleh jajaran dari lintas unit Kementerian Sosial melalui kegiatan antara lain: 1) Mengelola anggaran PKSA dari APBN. Ketua Pengelola adalah Kepala Dinas/ instansi sosial. hibah.24 Pendamping PKSA. monitoring dan pengawasan terhadap pelaksanaan PKSA.

monitoring pengawasan terhadap pelaksanaan PKSA dan 4) Mengkoordinasikan Dinas/Instansi Sosial Kabupaten/Kota dalam pelaksanaan pendampingan terhadap LKSA. sumber pendanaan lainnya APBD dan 2) Melaksanakan tahapan PKSA sesuai dengan kewenangannya 3) Memberikan rekomendasi kepada mitra kerja Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak dalam lingkungan wilayah kerja. TKSA dan Relawan Anak 5) Membuat laporan pelaksanaan PKSA sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki.25 Lingkup tugas yang dilaksanakan meliputi: 1) Mengelola anggaran PKSA dari APBN. supervisi. APBD dan sumber pendanaan lainnya 2) Melaksanakan tahapan PKSA sesuai dengan kewenangannya 3) Melakukan pembinaan. Ketua pengelola adalah Kepala Dinas/ Instansi Sosial. c. dengan sekretaris dan anggota ditetapkan pejabat di lingkungan Dinas/instansi sosial setempat. Jika dipandang perlu dapat melibatkan lintas unit/sektor sebagai anggota pengelola PKSA. 4) Melakukan rapat-rapat koordinasi lintas unit dan memfasilitasi pembahasan kasus (case conference). bank persepsi/ pos dengan melibatkan Peksos Anak. Seksi yang menangani anak di Dinas Sosial berfungsi sebagai unit operasional PKSA. . Dinas Sosial Kabupaten/Kota UP-PKSA pada tingkat kabupaten/kota adalah unit kerja yang menangani anak di Dinas/ instansi sosial di tingkat Kabupaten/Kota. Pengelolaan dilakukan melalui kegiatan: 1) Mengelola anggaran PKSA dari APBN.

karakteristik masalah dan kebutuhan. 3) Memfasilitasi penyelenggaraan layanan bagi anak dan keluarga yang menjadi penerima manfaat PKSA. termasuk mendampingi anak dan orang tua/ wali dalam proses pembukaan Tabungan Kesejahteraan Sosial Anak pada Bank setempat atau Lembaga Keuangan Mikro yang berbadan hukum. 4) Menangani kasus (case management) yang melibatkan para profesional dan instansi terkait. supervisi dan pengawasan terhadap pelaksanaan PKSA. Aktivis Peduli Anak. supervisi. termasuk pengelolaan UP-PKSA Lokal. dengan cara: 1) Menyiapkan data sasaran PKSA secara lengkap (by name by adress. dll. dengan tugas pokok mengelola kegiatan PKSA. Relawan Sosial Anak. potensi dan sumber daya sosial ekonomi) 2) Melakukan penjangkauan dan pendampingan sosial terhadap anak yang membutuhkan layanan PKSA dengan melibatkan Pekerja Sosial Anak. Dunia Usaha. 6) Membuat laporan pelaksanaan PKSA sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki. UP-PKSA Lokal UP-PKSA lokal adalah Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) di tingkat lokal yang telah ditetapkan melalui proses seleksi oleh UP-PKSA Pusat/ Provinsi/ Kabupaten/ Kota. monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan PKSA di tingkat lokal 6) Melakukan advokasi sosial kepada lembaga-lembaga mitra penyelenggaraan kesejahteraan sosial anak 7) Membangun jaringan kemitraan dengan berbagai pihak (LSM/Yayasan/Orsos. Perguruan Tinggi.26 5) Melakukan pembinaan.) . d. 5) Melakukan pembinaan. TKSA.

dan melaporkan hasil pemberian pelayanan kesejahteraan sosial. penumbuhan kesadaran dan motivasi. penanganan kasus. Relawan Sosial dan pengelola Unit PKSA lokal.27 8) Membuat laporan pelaksanaan PKSA sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki. membangun tim kerja. peningkatan potensi diri dan kreativitas anak. peningkatan akses terhadap pelayanan sosial dasar. pencacatan. dll. membantun proses membuka rekening tabungan atas nama anak. Tugas-tugas Pekerja Sosial Profesional pendamping PKSA adalah merencanakan. 3) Melakukan verifikasi komitmen penerima manfaat PKSA sesuai dengan persyaratan dan kewajiban yang telah ditetapkan pada setiap sub-program/ klaster 4) Melaksanakan tugas-tugas profesional dalam mendampingi sasaran PKSA (asesmen.) 5) Melakukan advokasi sosial dalam rangka peningkatan kinerja PKSA kepada jaringan mitra kerja PKSA. pembahasan kasus. DPR/DPRD. melaksanakan. Pendamping PKSA Pendamping PKSA terdiri atas Pekerja Sosial Profesional. pemerintah daerah. penelusuran/ reintegrasi/ reunifikasi keluarga. dan lembagalembaga negara lainnya 6) Membuat laporan penanganan kasus setiap terjadi kasus . antara lain: 1) Pendampingan terhadap anak. Tenaga Kesejahteraan Sosial Anak. orang tua/keluarga dan komunitas yang menjadi sasaran/ berada dalam wilayah jangkauan PKSA 2) Layanan dalam pemenuhan kebutuhan dasar. membangun kerjasama. pemerintah. e. penguatan tanggung jawab orang tua/ keluarga dan penguatan kelembagaan PKSA dan penguatan peran LKSA.

dan akhir tahun kontrak kerja. 10) Bersedia bekerja penuh waktu Pelaksanaan seleksi dilaksanakan oleh Panitia Seleksi Satuan Bakti Pekerja Sosial bekerjasama dengan Biro Organisasi Kepegawaian. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persyaratan Satuan Bakti Pekerja Sosial yang menjadi pendamping PKSA. Kontrak karya dilakukan per tahun dan dapat diperpanjang sesuai dengan kebutuhan. Sekretariat Jenderal Rehabilitasi . setia dan taat kepada Pancasila. 4) Tidak berkedudukan sebagai CPNS/PNS/TNI/POLRI 5) Tidak berkedudukan sebagai anggota dan/atau pengurus Partai Politik. adalah: 1) Pendidikan Diploma IV/ Sarjana Pekerjaan Sosial/ Kesejahteraan Sosial 2) Berusia maksimal 40 tahun pada 31 Desember 3) Warga Negara Republik Indonesia.28 7) Membuat laporan pelaksanaan pendampingan per triwulan. yang bertaqwa kepada Tuhan YME. Pekerja Sosial Profesional yang menjadi pendamping antara lain Satuan Bakti Pekerja Sosial (SAKTI PEKSOS) yang merupakan petugas kemanusiaan di bidang pekerjaan sosial yang ditetapkan oleh Kementerian Sosial atau Dinas/ Instansi Sosial yang memiliki status kerja kontrak karya dengan Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA Pusat) atau Dinas/Instansi Sosial Provinsi (PKSA Dekon). 6) Bebas dari narkotika dan zat adiktif lain. selain laporan penanganan kasus. 7) Mengisi formulir pendaftaran 8) Sehat Jasmani dan Rohani dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter pemerintah 9) Tidak sedang terikat kontrak kerja dengan pihak lain.

kultural. manajemen/ mengelola kasus anak. dan intelektual/kecerdasan) Memahami …………… a) Isu-isu anak. Seleksi didasarkan pada hasil Test Potensi Akademik dan Kompetensi Pekerjaan Sosial di bidang kesejahteraan sosial anak. moral. rujukan pada lembaga terkait. d) melindungi anak tanpa menghambat spontanitas.. e) merangsang dan memotivasi anak mengembangkan potensi diri dan kreativitas f) mengembangkan program pengasuhan & perlindungan sesuai karakteristik perkembangan & kebutuhan anak. pengasuhan. Kompetensi Personal dan Kompetensi Sosial. Kompetensi Pekerja Sosial meliputi Kompetensi Profesional. 1) Kompetensi Profesional: Menguasai . c) menciptakan lingkungan pengasuhan dan perlindungan yg sehat. . Perguruan Tinggi Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI).. sosial.. b) Regulasi pengasuhan dan perlindungan anak.29 Sosial.. emosional.. kreativitas dan potensi diri anak. a) Dasar-dasar perawatan. b) mendampingi anak kembali dalam asuhan/ perlindungan keluarga. perlindungan dan prinsip-prinsip pendampingan pada anak b) Karakterisitik anak (aspek fisik... a) melakukan pendekatan berbasis keluarga dan komunitas. Mampu………..

30 g) Memanfaatkan teknologi informasi untuk berkomunikasi dalam penyelenggaraan kegiatan dan pengembangan kapasitas diri. j) Yakin semua masalah dapat diselesaikan. latar . h) Mengevaluasi proses dan hasil pelayanan memanfaatkan untuk kepentingan kegiatan pengembangan program/ kegiatan pelayanan. k) Luwes & mampu lingkungan anak. objektif. tidak diskriminatif karena jenis kelamin. b) Mampu bekerja dengan anak. menyesuaikan diri dengan l) Rasa humor yang tinggi. m) Kreatif. g) Peduli. f) Cepat tanggap pada kesulitan yang dihadapi anak. inovatif dan terbuka pada ide-ide baru. kondisi fisik. d) Mampu berkomunikasi (verbal dan non verbal). empati dan responsif pada perkembangan anak. ras. i) Sikap obyektif dalam keadaan yang sulit (kritis). e) Menghargai perbedaan dan keunikan masingmasing anak. 2) Kompetensi Personal a) Sayang dan cinta anak. i) Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas kegiatan pelayanan j) Mengembangkan profesionalisme secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif. 3) Kompetensi Sosial a) Bersikap inklusif. h) Sabar memandang persoalan dengan adil dan tenang. c) Peka terhadap pikiran dan perasaan anak. agama.

c) Berkomunikasi secara efektif. Selain itu. e) Beradaptasi di tempat bertugas yang memiliki keragaman sosial budaya. dan relawan-relawan sosial yang peduli kepada anak.31 belakang dan status sosial ekonomi anak/orangtua/keluarga. peran pendamping sosial yang sudah bekerja di lembaga-lembaga kesejahteraan sosial anak yang menjadi mitra pendamping semakin ditingkatkan dan bekerjasama dengan Satuan Bakti Pekerja Sosial yang diperbantukan dari Kementerian Sosial. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan pekerjaan sosial atau bimbingan dan pemantapan pendamping dilaksanakan oleh Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak. Untuk penyediaan TKSA dapat didayagunakan Tenaga Pendamping yang sudah bekerja di LKSA. . b) menjalin kemitraan dengan orangtua/keluarga dan profesi lain. empati dan santun pada anak. Adapun tenaga Relawan Sosial dapat diperbantukan Taruna Siaga Bencana (TAGANA). bekerjasama dengan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial bersama-sama Balaibalai Diklat atau Perguruan Tinggi di bidang kesejahteraan sosial/ pekerjaan sosial Secara bertahap unsur pendamping sosial akan diperluas dengan menyediakan Tenaga Kesejahteraan Sosial Anak (TKSA) dan Relawan Sosial. Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) dan Tenaga Penyuluh Sosial yang sudah ditempatkan oleh Kementerian Sosial/ Dinas/ Instansi Sosial. Pekerja Sosial Masyarakat. orang tua/keluarga serta masyarakat. d) Berkomunikasi dengan komunitas profesi secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

Provinsi dan Kabupaten/Kota) Tugas dan tanggung jawab Tim Koordinasi PKSA adalah sebagai berikut: 1) Merencanakan langkah-langkah strategis dan operasional Program PKSA secara terpadu lintas sektor 2) Menindaklanjuti kerjasama/ kesepakatan bersama lintas sektor yang telah diprakarsai Kementerian Sosial. kabupaten/kota pada tahap persiapan. Dunia Usaha dan . cq Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak untuk PKSA Pusat dan Dinas/Instansi Sosial untuk PKSA dekon. pelaksanaan dan pengendalian PKSA 5) Melakukan pembahasan dan membantu penyelesaian masalah yang muncul dalam proses pelaksanaan PKSA 6) Menggalang tanggung jawab sosial dan partisipasi masyarakat (Perguruan Tinggi.32 f. Bank persepsi/ pos Bank persepsi/ pos yang ditetapkan sebagai lembaga penyalur bantuan memiliki tugas sebagai berikut: 1) Menyiapkan infrastruktur pembayaran di kantor-kantor cabang bank persepsi/ pos. Tim Koordinasi PKSA (Tingkat Pusat. g. Pekerja Sosial dan orang tua/ wali memproses penyaluran dana bantuan kesejahteraan sosial anak ke rekening Tabungan Kesejahteraan Sosial Anak di bank yang terdekat / mudah diakses oleh anak/ orang tua/keluarga. 3) Melaporkan realisasi penyaluran kepada Kementerian Sosial RI. 2) Menyalurkan dana PKSA kepada Rekening LKSA yang menjadi Mitra Kerja PKSA dan selanjutnya bersama-sama LKSA. 3) Mengidentifikasi dan melakukan kerjasama teknis dengan mitra kerja untuk pelaksanaan PKSA 4) Mengkoordinasikan jajaran/perangkat/jaringan mitra kerja pada tingkat provinsi.

Memiliki sarana prasarana organisasi yang mendukung pelaksanaan dan pencapaian kinerja PKSA e. eksploitasi dan diskriminasi. keterlantaran. Memiliki surat keputusan/ rekomendasi dari Kementerian Sosial atau Dinas/ Instansi Sosial tentang keikutsertaan lembaga kesejahteraan sosial anak dalam PKSA c. SDM dan sumber keuangan yang dapat disinergikan dengan PKSA h. Memiliki program/ kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan pemenuhan hak anak dan melindungi anak dari tindak kekerasan. d. evaluasi dan pelaporan pelaksanaan PKSA sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing Tim Koordinasi. b. Pengalaman dalam penanganan anak yang mengalami masalah sosial f. . Berdasarkan kriteria tersebut. 2. Kelompok Bermain dan lembaga sejenis lainnya. Memiliki jaringan kerja yang luas. dan Tokoh Masyarakat) dalam pelaksanaan PKSA 7) Monitoring. Berbadan Hukum atau tidak/ belum berbadan hukum dan memiliki struktur organisasi dan tata kelola administrasi yang tertib. Kriteria Unit Pengelola PKSA Lokal Unit pengelola PKSA adalah lembaga-lembaga kesejahteraan sosial anak yang telah ditetapkan melalui proses seleksi oleh UP-PKSA Pusat atas rekomendasi/ sepengetahuan UP-PKSA Daerah. Memiliki sumber daya sarana prasarana. PKSA Balita Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak balita atau anak usia dini. lembaga-lembaga yang potensial menyelenggarakan PKSA pada setiap klaster adalah : a.33 Industri. dengan kriteria sebagai berikut: a. Taman Penitipan Anak (TPA). g. Taman Balita Sejahtera (TBS). seperti Taman Anak Sejahtera (TAS). Memiliki rekening bank atas nama lembaga (bukan rekening pribadi).

seperti Kelompok kerja Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Anak Berhadapan dengan Hukum Berbasis Masyarakat (PRSABH-BM). seperti Rumah Singgah. PKSA Berhadapan dengan Hukum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak remaja. Lembaga . PKSA Membutuhkan Perlindungan Khusus Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial anak yang membutuhkan perlindungan khusus. PKSA Terlantar Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak terlantar. PKSA Jalanan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak jalanan. c. f. e. Ikatan Keluarga dengan Anak dengan Kecacatan (IKADK). PKSA Dengan Kecacatan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan anak dengan kecacatan. Pusat Asuhan Anak. seperti Balai Asuhan Anak. anak dengan kenakalan dan anak berhadapan dengan hukum. Komite Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial ABH (KPRS-ABH) dan lembaga sejenis lainnya. Yayasan/ Orsos yang mengelola Sekolah Luar Biasa (SLB) bagi anak dengan kecacatan dan lembaga sejenis lainnya. Panti Sosial Asuhan Anak dan lembaga sejenis lainnya. seperti Forum Komunikasi Keluarga Anak Dengan Kecacatan (FKKADK). d.34 b. ataupun Protection Home. Panti Sosial Marsudi Putera (PSMP) yang berfungsi sebagai pusat operasional dan sekretariat PKS-ABH. seperti Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA). Rumah Perlindungan Anak dan lembaga sejenis lainnya . baik dalam bentuk Temporary Shelter.

UP-PKSA melakukan seleksi LKSA berdasarkan penelaahan proposal dan/atau verifikasi lapangan. B. LKSA yang telah menerima bantuan sosial melalui rekening segera melaksanakan tahapan PKSA selambatlambatnya satu bulan setelah dana diterima. f. c. LKSA (Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak) mengajukan proposal kepada Unit Pengelola PKSA dilengkapi dengan data pendukung yang diperlukan b.35 Perlindungan Anak (LPA) dan lembaga yang sejenis lainnya. UP-PKSA menetapkan LKSA yang dianggap layak melaksanakan PKSA melalui Surat Keputusan yang ditetapkan Kementerian Sosial RI (PKSA Pusat) atau Dinas/ Instansi Sosial (PKSA dekon). e. dan LKSA menanggung biaya administrasi pembukaan rekening tabungan anak dari biaya operasional yang tersedia atau sumber dana lembaga lainnya. LKSA yang telah ditetapkan menerima bantuan. Selanjutnya LKSA membuka rekening anak penerima bantuan. Besarnya dana operasional dan dana tabungan kesejahteraan sosial anak adalah pagu maksimum yang tersedia dalam DIPA Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak. LKSA membuka rekening lembaga (LKSA) untuk menampung dana operasional dan tabungan anak. Mekanisme Penyaluran Bantuan Sosial a. Penyaluran Bantuan Sosial Penyaluran bantuan sosial PKSA dan pemanfataannya dilaksanakan dengan mekanisme sebagai berikut: 1. Besaran indeks . d. wajib melakukan penandatanganan kesepakatan bersama dan melengkapi persyaratan administrasi lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dapat dipilih bank alternatif lainnya yang terdekat dengan anak. Berdasarkan pertimbangan kemudahan akses anak terhadap bank.

LKSA dapat menggalang sumber dana lainnya yang sah (sumbangan perseorangan. i. h. Komponen bantuan sosial untuk anak Seluruh komponen bantuan sosial dimaksud akan disalurkan dalam satu paket bantuan sosial melalui rekening atas nama lembaga di bank persepsi/ pos. dll) untuk menambah tabungan kesejahteraan sosial anak atau memperluas jangkauan pelayanan kesejahteraan sosial anak. g.36 Dana Tabungan Kesejahteraan Sosial bagi setiap anak ditetapkan berdasarkan ketetapan dari Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak/ Dinas Sosial atau hasil asesmen dan analisis kebutuhan yang ditetapkan melalui pembahasan kasus (Case Conference). Persyaratan pencairan dana PKSA Bantuan Sosial PKSA terdiri dari : a. dll). Jika ada anak yang putus hubungan kepesertaan karena sesuatu hal yang dapat dipertanggung jawabkan (misal melewati usia 18 tahun. untuk keperluan insentif bulanan. 2. Komponen bantuan operasional pendampingan c. donor. Komponen bantuan operasional lembaga b. maka tabungan anak mengikuti kepindahan anak (tidak diputus kepesertaannya) dan dapat dirujuk kepada LKSA lainnya yang terdekat dengan domisili baru. dunia usaha. Pendamping sosial dapat membuka rekening di bank persepsi/ pos terdekat sesuai lokasi tugas masing-masing. maka LKSA harus melakukan resertifikasi ulang dan melaporkan kepada UP-PKSA secara berjenjang. fund raising. sudah memperoleh layanan yang memadai. Kepindahan domisili anak belum tentu memutus kepesertaan. jika anak tersebut masih membutuhkan bantuan lanjutan. . Rekening Tabungan Kesejahteraan Sosial Anak bersifat Dana Amanah untuk Anak (Child Trust Fund) dan hanya diperuntukkan untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak. kembali dalam asuhan yang layak.

Menunjukkan Surat Pemberitahuan dari Kementerian Sosial RI Cq. d. sedangkan Harry Hikmat nama orang tua). Bagi anak yang belum mampu mandiri dalam pencairan dana tabungan. Surat Keterangan/ Rekapitulasi Anak Penerima Bantuan. b. selanjutnya LKSA memiliki kewajiban melakukan pendampingan kepada anak dan orang tua/ keluarga/ wali untuk membukakan rekening atas nama anak. b. Dinas/ Instansi Sosial Kab/Kota wilayah domisili LKSA. dan pembukaan . Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial yang telah dilegalisir oleh Ka. Nama orang tua yang dimaksud nama ayah/ ibu yang masih hidup. bantuan operasional lembaga dan bantuan operasional pendampingan. Contoh nama rekening tabungan: Tauhid Alfitrah QQ Harry Hikmat (Tauhid Alfitrah adalah nama anak. c. e. maka dibukakan rekening atas nama anak QQ orang tua/ wali anak. c.37 Pencairan paket dana Bantuan Sosial PKSA mengikuti ketentuan sebagai berikut: a. Bagi anak yang sudah mampu membubuhkan tanda tangan dan dapat secara mandiri mencairkan dana tabungan dapat dibukakan rekening atas nama anak yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan bank.) dan Surat Keterangan dari LKSA. Surat menduduki jabatan sebagai Kepala/Pimpinan LKSA.SIM. dll. Membawa identitas diri (KTP. Membuka/ memiliki rekening atas nama lembaga di bank persepsi/ pos untuk menampung paket Bantuan Sosial PKSA yang terdiri dari bantuan sosial anak. Setelah LKSA menerima paket Bantuan Sosial PKSA. Biasanya anak yang sudah berusia di atas 15 tahun sudah dapat mandiri dalam mengelola tabungan . dengan ketentuan sebagai berikut: a. Dalam keadaan orang tua anak tidak diketahui keberadaannya maka wali anak dapat ditentukan.

38

rekening tabungan sama halnya dengan ketentuan dimaksud. Wali anak diprioritaskan dari anggota keluarga (kakak, kakek, nenek, paman, bibi) sampai garis keturunan ketiga (keluarga kerabat/ kinship care). Jika tidak ada orang tua/ keluarga kerabat yang dapat dijadikan wali, maka wali dapat ditentukan dari orang tua asuh pengganti (foster parent) atau setelah melalui proses adopsi menjadi orang tua angkat. Ketentuan tersebut mengikuti Standar Pengasuhan di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak dan peraturan perundang-undangan mengenai pengasuhan, perwalian dan pengangkatan anak. Dengan demikian Tabungan Kesejahteraan Sosial Anak tersebut merupakan instrumen penting dalam penguatan tanggung jawab orang tua/ keluarga. Dalam keadaan tertentu dimungkinkan Wali dari Pengurus LKSA atau Peksos, namun sifatnya sementara, sampai upaya untuk memperoleh pengasuhan alternatif dapat dicapai d. Proses pembukaan tabungan bagi anak harus dilaksanakan melalui proses pendampingan kepada orang tua/ wali secara intensif dan membutuhkan waktu yang cukup (1 - 2 bulan), sampai diperoleh pemahaman dan kesiapan anak dan orang tua/wali terhadap kewajiban yang harus dipenuhi setelah menerima tabungan tersebut. Demikian halnya dalam proses pemanfaatan tabungan juga melalui proses pendampingan yang intensif, agar dana tabungan tidak digunakan untuk keperluan yang sifatnya konsumtif atau di luar kebutuhan / hak dasar anak. 3. Pemanfaatan Bantuan Bantuan sosial berupa tabungan bersifat stimulan, yang disalurkan dari Anggaran Pemerintah (APBN Kementerian Sosial) dan dekonsentrasi. Ketentuan pemanfaatan dana ditujukan kepada: a. Anak 1) Peruntukan pemanfaatan dana yang tersedia dalam tabungan anak sebagai berikut:

39

a) pemenuhan kebutuhan dasar, seperti pemenuhan gizi/ nutrisi/ susu, perawatan kesehatan dasar di rumah, penyediaan pakaian sehari-hari, penyediaan peralatan mandi, penyediaan alat permainan edukatif, dll b) aksesibilitas terhadap layanan sosial dasar, seperti untuk pengurusan akte kelahiran, penyediaan pakaian seragam, penyediaan sepatu sekolah, penyediaan buku-buku sekolah yang tidak dibiayai Biaya Operasional Sekolah (BOS), transportasi dalam mengakses layanan kesehatan di Puskesmas/ Rumah Sakit, sarana aksesibilitas/ peralatan bantu bagi anak dengan kecacatan, dll. Layanan sosial dasar dari program-program berbagai sektor pemerintah tidak selayaknya menggunakan tabungan anak, seperti Jamkesmas, BOS, biaya administrasi Akte Kelahiran, dll. c) Peningkatan potensi diri dan kreativitas anak, meliputi biaya untuk: (1) kegiatan kesenian (transport atau biaya mengikuti latihan keterampilan musik, kerajinan tangan/ handi craft, melukis, menari, drama/ teater, dll), pengadaan sarana/ peralatan kreativitas anak (alat musik/ gitar, alat musik tradisional, bahan-bahan pelatihan keterampilan, dll.); (2) kegiatan olah raga (peralatan olah raga yang disukai anak, transport/ biaya ikut klub olah raga, dll); (3) kegiatan bimbingan mental spiritual (alat dan pakaian ibadah, transport ke tempat ibadah pada hari-hari besar, dll) d) penguatan tanggung jawab orang tua/keluarga (seperti akses/ transport mengantar anak mengurus pelayanan kesehatan dasar, perbaikan nutrisi ibu hamil korban kekerasan di rumah, layanan akses konseling/ perservasi orang tua, dll.). Layanan yang seharusnya diperoleh dari program-program pemberdayaan keluarga miskin dari berbagai sektor pemerintah tidak selayaknya menggunakan tabung-

40

an anak, seperti pembelian Raskin, Modal Usaha dari PNPM, Usaha Ekonomi Produktif KUBE, pembuatan KTP, dll. Selama proses pelaksanaan PKSA, maka LKSA harus mengupayakan agar para orang tua/ wali mempunyai tabungan sendiri, sehingga pemanfaatan tabungan anak dapat sepenuhnya diperuntukkan untuk kepentingan anak. 2) Rasio pemanfaatan dana didasarkan atas hasil asesmen yang dilakukan Pekerja Sosial bersama-sama dengan LKSA dan orang tua/ wali. Setiap anak pada masa pendampingan PKSA harus dibuat Rencana Pemanfaatan Tabungan yang sesuai dengan kebutuhan anak yang beragam. Berbagai langkah pemanfaatan tabungan anak harus mengikutsertakan anak dan orang tua/ wali sebagai upaya peningkatan tanggung jawab semu pihak yang terlibat dalam PKSA. b. Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) 1) Peruntukan pemanfaatan dana yang tersedia bagi operasional LKSA sebagai berikut: a) Biaya operasional pendampingan digunakan untuk pendataan dan seleksi penerima manfaat, honorarium pengelola, pembahasan kasus, kunjungan rumah/ home visit, penelusuran keluarga (family tracing) b) biaya operasional lembaga digunakan untuk honorarium pengelola PKSA, konsumsi rapat-rapat koordinasi, ATK, subsidi sarana prasarana perkantoran. 2) Rasio pemanfaatan dana didasarkan atas hasil asesmen yang dilakukan antara Pengurus LKSA dan Pekerja Sosial. c. Pekerja Sosial Profesional/ Satuan Bakti Pekerja Sosial Peruntukan insentif/ honor bulanan bagi Pekerja Sosial diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tujuan kegiatan ini adalah agar dapat dipastikan pelaksanaan PKSA tepat sasaran. sejumlah anak (sekitar 10 %) telah memperoleh tambahan tabungan dari CSR perusahaan yang ditransfer antar rekening dan tambahan dari hasil karya kreatif anak (penampilan kelompok musik. dll). Bentuk kegiatan monitoring dan evaluasi pada setiap subprogram. pada umumnya meliputi pemantauan. termasuk memanfaatkan sumber daya internal LKSA yang diperoleh dari sumbersumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian upaya strategis untuk memotong siklus kemiskinan dapat diwujudkan. C. pemerintah dan pemerintah daerah melakukan monitoring dan evaluasi terhadap aktivitas penyelenggaraan PKSA sesuai dengan kewenangannya masing-masing. masih sangat terbatas dibandingkan dengan kebutuhan riil yang harus dipenuhi. Hasil evaluasi PKSA tahun 2009 dan 2010. termasuk anak dapat meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. tepat waktu distribusi. LKSA maupun Pekerja Sosial. hasil handicraf. hasil batik.41 Dana yang tersedia untuk anak. Dengan demikian. rekaman karya musik. tepat jumlah bantuan dan tercapainya target fungsional. Komponen yang dimonitor dan dievaluasi adalah: . Monitoring. Upaya untuk memperoleh tambahan tabungan anak dan operasional LKSA diharapkan menjadi program yang dilakukan secara terarah dan berkelanjutan. Evaluasi dan Pelaporan Untuk pemenuhan akuntabilitas dan pelaksanaan pengendalian kualitas manajemen penyelenggaraan PKSA. pembinaan dan penyelesaian masalah. sehingga LKSA dan Pekerja Sosial diharapkan mengembangkan kegiatan penggalangan dana (fund raising). anak dipersiapkan sejak dini untuk mencapai kemandirian dan kesejahteraan pada saat usia dewasa kelak.

Kapasitas sarana prasarana yang mendukung pencapaian tujuan program c.42 1. Tim Monitoring dan Evaluasi. NPWP. bukti-bukti pembayaran. manfaat dan dampak program) f. meliputi: a. Khusus untuk pertanggungjawaban kinerja Pekerja Sosial harus mengikuti ketentuan dalam Pedoman Bagi Satuan Bakti Pekerja Sosial dalam Pelaksanaan PKSA. Komponen Program a. Pencapaian target fungsional (jumlah sasaran. Peran LKSA dalam pengembangan jaringan kerja dan penggalian potensi dan sumber daya secara mandiri. kesepakatan kerjasama. ketepatan kriteria sasaran/ elgibiltas. Laporan pertanggungjawaban penggunaan dana operasional lembaga dan dana operasional pendampingan c. surat-surat keputusan. e. Kelengkapan dokumen keuangan (permintaan belanja. dll) 2. Kesesuaian jumlah penerima manfaat. Administrasi dan keuangan. tenaga pendamping dan LKSA wajib membuat laporan hasil kegiatannya kepada Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak paling sedikit 2 kali dalam setahun. Kinerja pendamping sosial (Peksos. ketepatan waktu distribusi dan kesesuaian jumlah bantuan. Kelengkapan dokumen statuta lembaga (akte pendirian. TKSA dan Relawan Sosial) g. . proposal dan pengambilan keputusan b. b. dokumen transaksi pembayaran. dll). Proses perencanaan program. Kesesuaian tahapan pelaksanaan program dibandingkjan dengan pedoman operasional d. Pendamping anak dan pekerja sosial wajib melakukan monitoring dan mendokumentasikan laporan perkembangan anak dan keluarga pada setiap tahapan pelayanan.

Melakukan intervensi tumbuh kembang anak melalui bermain dengan APE Pengawasan kepada orang tua dan anak . PKS Anak Balita 1. A. kebutuhan anak: yang memerlukan perawatan dan pemeliharaan kesehatan dasar dan pemenuhan kebutuhan gizi. sehingga kegiatan yang dilaksanakan harus sesuai dengan kebutuhan anak yang beragam. Ibu hamil dan observasi lingkungan Pendataan permasalahan. Merencanakan intervensi. Menyiapkan sarana pendukung Menyusun jadwal kegiatan sesuai dengan rencana intervensi Pengawasan kepada orang tua dan anak Stimulasi Tumbuh Kembang Deteksi dini tumbuh kembang anak balita Menyiapkan sarana pendukung Melakukan home visit kepada anak/orang tua/keluarga penerima manfaat Melakukan asesmen dan merencanakan intervensi pelayanan. Melakukan kunjungan kepada orang tua/keluarga RTSM/RSM yang menjadi sasaran Melakukan asesmen pada penerima manfaat. Komponen Program NO A PROGRAM Bantuan sosial/subsidi pemenuhan kebutuhan dasar KEGIATAN Asuhan dan Perlindungan Pendataan jumlah anak balita terlantar.43 BAB III OPERASIONALISASI PKSA Bagian ini menjelaskan pilihan atau alternatif kegiatan dari setiap sub program PKSA serta persyaratan dan kewajiban dari penerima bantuan. Kegiatan yang terpilih tergantung dari hasil asesmen para pelaksana PKSA dan pembahasan kasus.

cerita.. keluarga dan masyarakat. anak diterlantarkan orang tua.44 B Peningkatan Aksesibilitas terhadap Pelayanan Sosial Dasar Memberikan suatu kemudahan dalam rangka penyelesaian masalah yang terkait dengan kebutuhan terbaik untuk anak sehingga perubahan perilaku anak. korban tindak kekerasan fisik. Penanggulangan anak penderita Gizi kurang dan buruk • Pendataan anak penderita gizi kurang/buruk • Penyuluhan pada anak. tanggung jawab orang tua. Perlindungan kepada anak yang membutuhkan perlindungan khusus (anak diperlakukan salah. . anak terinfeksi HIV/AIDS.klinik. • Mengurus akte kelahiran dengan usaha agar pembuatan akte kelahiran dapat dibebaskan biayanya. RS dan dokter). • Pendekatan penyuluhan pada anak. • Memberikan kemudahan untuk pemeriksaan anak ke petugas kesehatan (puskesmas. permainan anak Perlindungan anak yang dikucilkan/kelompok minoritas. anak korban bencana. anak korban konflik. (cukup gizi dan jumlahnya) sesuai dengan tingkat pertumbuhan anak . orang tua. • Pemberian kemudahan pada orang tua/keluarga untuk memberikan makanan cukup dan berimbang. OT. keluarga dan masyarakat. tokoh masyarakat. anak dari OT NAPZA/AIDS) • • • • Pendataan anak yang membutuhkan perlindungan khusus Penyuluhan pada anak. Merujuk dan mengakses ke tenaga profesional. Trauma healing pada anak melalui outbond. verbal. dongeng. tidak dinginkan. keluarga dan masyarakat. keluarga dan masyarakat dapat ditingkatkan dan diwujudkan Pembuatan Akte Kelahiran • Menghubungi RT/RW untuk mendata anak yang belum memiliki akte kelahiran sampai dengan terbitrnya akte kelahiran.

perawatan.) Penanganan anak yang membutuhkan orang tua asuh. (pemeliharaan. C Penguatan Tanggung Jawab Orang Tua/Keluarga dan Masyarakat Good Parenting Skill. • Pendekatan dan penyuluhan pada anak. • Jika tidak ada kerabat/ orang tua asuh pengganti maka anak dirujuk ke lembaga pengasuhan anak. keluarga dan masyarakat. TAS dll. belum terlayani masuk sekolah. • Melakukan monitoring pada keluarga angkat. • Menghubungkan dengan tenaga akhli yang sesuai dengan kebutuhan (pendongeng. Pendataan (mengetahui latar belakang anak) • Pendekatan pada kerabat atau keluarga terdekat. pembinaan. pendidikan. kelompok bermain . • Berkoordinasi dengan Dinas Sosial setempat. bimbingan) • Pendataan keluarga yang memiliki anak balita. • Menghubungkan dan mendaftarkan anak pada kegiatan pra sekolah terdekat (post PAUD. kreasi seni dan budaya. • Identifikasi pemahaman orang tua / keluarga . penceramah) Persiapan Anak memasuki SD. • Mengupayakan orang asuhpengganti/orang tua angkat • Mengidentifikasi dan menseleksi calon keluarga asuh • Mempersiapkan calon keluarga asuh melalui penyuluhan. percakapan/dialog langsung. • Pendataan anak usia pra sekolah yang.45 • Menciptakan suasana yang memungkinkan anak bersosialisasi (arena bermain) melalui cerita. rekreasi bersama/Family Gathering.

Jenis Layanan dan Indikator Keberhasilan 1. Bagi Anak Kondisi kesehatan anak tetap terjaga Indikator Anak sehat. Bantuan sosial/subsidi pemenuhan kebutuhan esensial Jenis Layanan Pemenuhan kebutuhan gizi Out Comes Orang tua/keluarga: Memberi makan 3 kali sehari dengan gizi cukup dan berimbang. memar Membawa anak sakit ke puskesmas. sehat. rumah sakit. tidak bermasalah dengan kehamilan dan kelahiran.) • Melaporkan dan berkoordinasi dengan Dinas Sosial setempat untuk inventarisir SDM. manajemen. Mantri Kesehatan. sarana dan prasarana lembaga. Pemeliharaan Kondisi kesehatan . gizi seimbang. bubur kacang ijo. 2. tumbuh kembang) • Menyiapkan tempat dan materi penyuluhan • Melaksanakan peningkatan kapasitas orang tua dalam pengasuhan dan perlindungan anak D Penguatan Kelembagaan Pelayanan Kesejahteraan Sosial Anak Pengembangan kelembagaan • Pendataan lembaga pelayanan sosial anak (TPA/KB/TBS. luka.46 tentang pengasuhan anak balita. dll.) Memberi vitamin Menyuapi anak makan Ibu hamil: Memeriksakan diri secara rutin ke Posyandu/ puskesmas/ bidan/klinik terdekat • Mengkonsumsi makanan bergizi dan vitamin Perawatan kesehatan dasar Melakukan pertolongan pertama jika anak sakit. • Identifikasi berbagai permasalahan menghadapi anak balita (sosial psikologis. berat badan sesuai dengan usia (KMS) Ibu dan bayi lahir normal. Memberi makanan tambahan (susu. Bidan terdekat. • Klasifikasi lembaga pelayanan • Pembinaan manajemen kelembagaan. klinik.

Kondisi Ibu hamil sehat phisik dan psikologis. Stimulasi Tumbuh Kembang Mendampingi anak bermain di rumah Mengajak anak bermain (menggunakan APE) Mengajak anak bercerita Memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang Meminta pendapat anak dalam memilih dan menentukan kegiatan bersama anak Meminta maaf pada anak jika melakukan kekeliruan/ kesalahan pada anak Anak dapat bermain APE bersama teman sebaya. minuman keras. ikhlas Tidak mengkonsumsi hal-hal yang membahayakan janin dalam kandungan (merokok. Anak dapat mengontrol pembuangan (BAB/BAK) Anak tidak rewel. obat sembarangan. pakaian dan lingkungan tempat tinggal Bagi Ibu Hamil: Menerima kondisi kehamilan dengan riang. istirahat cukup) anak tetap terpelihara. Kondisi fisik anak tetap terpelihara.47 kesehatan dasar Imunisasi anak lengkap Menimbang badan anak. napza. kakak/adik Mengajarkan anak untuk BAB/BAK ke WC/kamar mandi. Anak dapat bertanya dan. Anak berada dalam lingkungan yang sehat.. . ceria. bergadang berlebihan. Memandikan anak 2 kali sehari. Menjaga kebersihan badan. Anak tumbuh kembang sesuai usia dan perkembangannya . bercerita.) Tidak melakukan pekerjaan yang membahayakan janin dalam kandungan (mengangkat beban terlalu berat. Memakai pakaian bersih Menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal.

kemampuan dasar dan Menyediakan APE sikap perilaku positif. buku-buku sumberbersosialisasi) sumber lainnya Mendampingi anak bermain sambil belajar Anak siap dan matang untuk masuk ke SD Kerabat menjadi orang • Anak memiliki orang tua pengganti. dan berkomunikasi. menemukan orang tua anak/keluarga/kerabat • Anak memiliki surat bagi anak balita terlantar pernyataan/perjanjian antara orang tua asuh dengan Kuasa Asuh Anak. Tetangga ikut serta • Anak memiliki surat mengasuh dan pengangkatan anak melindungi anak secara legal dari Pendamping Pengadilan setempat. bekerja sama. • Anak terdaftar dalam KK orang tua angkat. RT/RW untuk mendapatkan akte kelahiran Orang tua/keluarga • Anak ikut serta dalam atau pengasuh lainnya: pendidikan pra sekolah Menyertakan anak ke • Orang tua/ keluarga TAS Keliling. buku-buku gambar. (menghormati orang Menyediakan alat tulis. lain. Persiapan Anak memasuki SD. tua asuh.48 2. Peningkatan Aksesibilitas terhadap Pelayanan Sosial Dasar Pembuatan Akte Kelahiran Orang tua/keluarga • Anak memiliki akte mendaftar anak ke kelahiran. pendidikan pra sekolah • Anak memiliki lainnya . • Anak berada dalam pengasuhan satu keluarga. ke sistem berperan aktif layanan anak usia dini memotivasi anak untuk sejenis dan lembaga masuk prasekolah. • • • • • Penguatan tanggung jawab orang tua asuh pengganti .

memukul. gembira. mencubit. tindak kekerasan fisik. . anak diterlantarkan orang tua.49 3. menjambak. Penguatan Tanggung Jawab Orang Tua/Keluarga dan Masyarakat Good Parenting Skill. (pemeliharaan. anak korban konflik. anak dari OT NAPZA/AIDS) Orang tua/Keluarga: Tidak membiarkan anak tanpa pengasuh Mengurus anak (tidak membiarkan atau menelantarkan anak) Tidak melakukan kekerasan kepada anak (membentak. tidak dinginkan. perawatan.. bimbingan) Orang tua / keluarga/Pengasuh pengganti dan masyarakat: mengasuh anak dengan penuh kasih sayang Memperlakukan anak sesuai dengan tumbuh kembang Berinteraksi dengan hangat dan akrab Menghargai anak sesuai harkat dan martabtnya Mendengarkan pendapat anak Orang tua/keluarga memiliki good parenting skills Masyarakat menunjukkan kepedulian terhadap masalah anak balita Tercipta lingkungan aman dan nyaman bagi anak • Tersedianya data base anak dan keluarga • Orang tua/keluarga keterampilan mengasuh Anak balita. Perlindungan kepada anak yang kurang beruntung (anak diperlakukan salah. • OT/keluarga memperlakukan dengan kasih sayang. nyaman di lingkungannya. • Terciptanya komunikasi dan interelasi antara anak dan orang tua/keluarga. pendidikan. • Anak berkumpul dengan keluarga. pembinaan. anak korban bencana. verbal. • Orang tua memahami akses untuk mengatasi masalah bagi anak balita • Anak tidak diperlkukan salah (diperlakukan sesuai dengan haknya) • Anak ceria. dll) pada anak Menggunakan kata-kata patut dan tidak memberi julukan jelek pada anak Tidak membentak anak Memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang Tidak membiarkan anak tanpa pengasuh . cinta kasih.

50 Anak dari kelompok minoritas (dikucilkan dari lingkungannya. 4. kearah positif. • Jumlah anak dan ibiu hamil (penerima manfaat) meningkat. • • Anak mampu bersosialisasi.) • Orangtua mengajak anak bersosialisasi di lingkungan (TAS/TPA/KB) • Lingkungan sekitar dapat menerima anak. Keluarga dapat aktif di lingkungan setempat. • Perubahan perilaku Penerima manfaat sesudah layanan. Penguatan Kelembagaan Pelayanan Kesejahteraan Sosial Anak Pengembangan kelembagaan LPKSAB lebih peduli memberikan pelayanan bagi keluarga tidak beruntung LPKSAB mampu memberikan pelayanan sosial anak yang lebih variatif dan individual LPKSAB lebih mamu menjangkau anak yang kurang beruntung LPKSAB memiliki jejaring kerja yang luas dengan mitra layanan. tidak bersosialisasi. LPKSAB memiliki buat MoU dengan Mitra kerja Menyediakan Pelayanan Mengupayakan kapasitas SDM LPKS-AB melalui pemantapan Mengupayakan sertifikasi bagi pendamping (Peksos Anak dan TKSA) Mengelola LPKS-AB secara professional (akuntable dan bertanggung jawab) • Peran LPKSAB meningkat • Menguatnya manajemen LPKSAB • Peran SDM LPKSAB/Sakti Peksos meningkat. .

rawan sosial (lokalisasi WTS). penjualan dan perdagangan. 4) Pemilihan rumah tangga sangat miskin dan miskin. melalui alat permainan edukasi ( APE) 8) Anak yang tereksploitasi secara ekonomi (anak balita yang terpaksa dibawa bekerja di jalanan) 9) Anak yang berasal dari kelompok minoritas dan terisolasi/ didiskriminasi. anak yang tidak tercatat secara administrasi kependudukan (akte kelahiran) termasuk tidak memiliki biaya transport untuk mengurus kelengkapan persyaratan pembuatan akte kelahiran. Namun untuk data dasar/ indikasi awal dapat menggunakan data yang telah diakui pemerintah setempat untuk data Rumah Tangga Sangat Miskin/ Miskin dari BPS setempat (hasil pendataan PPLS) 5) Anak/ibu hamil berasal dari keluarga RTSM/RTM dapat berlokasi di daerah kumuh. anak yang diperlakuan salah dan ditelantarkan. . belum memperoleh imunisasi). dengan alasan untuk meminimalisir kecemburuan sosial akibat pemilihan penerima manfaat. Persyaratan anak/orangtua/ keluarga: 1) Anak yang berada dalam kandungan sampai dengan usia 5 tahun yang memiliki kehidupan tidak layak: 2) Bagi anak yang masih dalam kandungan (ibu hamil) 3) Anak dimaksud adalah anak yang berasal dari keluarga rumah tangga miskin dan atau rumah tangga miskin. sangat tergantung pada penilaian dari masyarakat itu sendiri yang difasilitasi oleh Pendamping.51 3. serta komunitas adat terpencil. 10) Anak yang menjadi korban tindak kekerasan fisik dan/atau mental. pasar. (tanpa pengasuhan orang tua). dan daerah kumuh. 7) Anak yang belum pernah mendapat bimbingan melalui lembaga pendidikan atau tidak memperoleh kesempatan stimulasi tumbuh kembang. atau yang beralamat dengan istilah RT 00/ RW 00 6) Anak terlantar. perkebunan. Persyaratan dan Kewajiban a. 11) Anak yang menjadi korban penculikan.anak yang tidak terpenuhi kebutuhan dasar (anak kurang gizi.

. 7) Masyarakat dan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Balita (LPKS-AB) bersinergy dengan berbagai sumber pelayanan kesejahteraan sosial anak balita. . 14) Ibu hamil. . 3) Menginformasikan kondisi dan perkembangan anak balita. 6) Bertanggung jawab terhadap kegiatan pemenuhan kebutuhan esensial anak dan stimulasi tumbuh kembang anak. terkait dengan kebutuhan dan permasalahan anak balita. 4) Terlibat dan mendukung terhadap kegiatan PKS-AB. 4. Tugas Pendamping a. 5) Orang tua menghadiri kegiatan PKS-AB secara intensif. yang tidak memeriksakan kehamilannya karena alasan tidak memiliki biaya untuk memeriksakan kehamilan b.52 12) Ibu hamil yang mengalami kesulitan/hambatan dalam pemeriksaan kehamilan. 2) Mengikuti kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh pendamping dan dikoordinasi oleh LPKS-AB. 13) Ibu hamil yang berasal dari keluarga RTSM/RTM sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi bagi anak yang dikandung. Kewajiban Penerima Bantuan PKS-AB 1) Mengikuti berbagai kegiatan pemenuhan kebutuhan esensial pada lembaga pelayanan kesejahteraan sosial anak balita (LPKS-AB) atau ’TAS Mobile’. Tugas Pelayanan Sosial Anak 1) Mengidentifikasi anak balita yang mengalami masalah dengan pengasuhan dan perlindungan 2) Melakukan pendekatan terhadap orangtua/keluarga sebagai penanggungjawab pengasuhan dan perlindungan anak 3) Menyeleksi data awal penerima layanan 4) Melakukan kunjungan ke tempat tinggal anak/ orangtua/ keluarga 5) Melakukan asesmen kebutuhan dan asesmen pada anak dan keluarga yang membutuhkan.

eksploitasi dan diskriminasi. b. f. Meningkatnya kemampuan organisasi/lembaga kesejahteraan sosial anak (TPA-KB-TAS) dalam memberikan layanan pada anak balita. c. Menurunnya jumlah anak balita yang mengalami keterlantaran. perlakuan salah. melaporkan hasil dan menindaklanjuti hasil evaluasi. pendidikan. Meningkatnya aksesibilitas anak balita memperoleh akte kelahiran. 10) Melakukan koordinasi dengan lembaga rujukan b. Dukcapil. Meningkatnya jumlah anak balita terlantar untuk memperoleh pelayanan kebutuhan dasar/ esensial. Perguruan tinggi) dalam mendukung keberlanjutan PKS-AB.53 6) Merencanakan intervensi dan melaksanakan pelayanan sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan penerima manfaat. g. . Diknas Kanwil Kumham) dalam mendukung keberhasilan penyelenggaraan PKSAB. Meningkatnya peran masyarakat (Dunia usaha. orang tua asuh atau alternatif pengasuhan dan akses terhadap sistem sumber pelayanan (kesehatan.. Dinkes. Tugas Administrasi 1) Mencatat dan mendokumentasikan data anak/ orangtua/ keluarga penerima manfaat 2) Mencatat kemajuan penerima manfaat 3) Membuat laporan tertulis mengenai per triwulan yang ditujukan kepada Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak Balita. Meningkatnya kapasitas orang tua/keluarga dalam menjalankan tanggung jawab dalam pengasuhan dan perlindungan anak. Indikator Keberhasilan Program a. 7) Mendampingi orangtua/keluarga membuka rekening pada bank yang ditunjuk 8) Memonitor pemanfaatan bantuan sesuai dengan peruntukkannya 9) Mengevaluasi pelayanan. sanitasi). kekerasan. Meningkatnya Peran Pemerintah Daerah (Dinsos. d. 5. e.

Hal ini sejalan dengan tanggung jawab utama orangtua dalam pengasuhan anak sebagaimana yang diamanatkan oleh undang-undang. Bantuan Sosial Anak melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Bantuan Sosial Anak melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang selanjutnya disebut LKSA merupakan salah satu bagian dari program Pemerintah dalam rangka mendukung pengasuhan anak berbasis keluarga. Ketentuan mengenai PKS Antar tersebut diatur tersendiri sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial. dan pengasuhan yang berkelanjutan. tantangan kemiskinan yang dihadapi banyak keluarga telah menyebabkan ketidakmampuan mereka dalam menjalankan peran pengasuhan kepada anak-anak. PKS Anak Terlantar Pelaksanaan PKS. Hal ini menyebabkan keluarga kemudian menempatkan anak-anak di LKSA. Namun demikian.Anak Terlantar sampai dengan tahun 2010 masih dilaksanakan melalui subsidi pemenuhan kebutuhan dasar kepada anak yang diasuh di Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA). Bantuan sosial yang diberikan melalui LKSA dan penggunaannya diserahkan kepada pengurus LKSA untuk memenuhi kebutuhan dasar anak. 1. keselamatan. Hal ini sangat penting diperoleh dari orangtuanya sendiri sebagai fondasi bagi tumbuh kembang mereka. kesejahteraan diri. Standar Nasional . kelekatan hubungan dengan orangtuanya (attachment relationship). Setiap anak memiliki kebutuhan akan kasih sayang. Sejak tahun 2011 terdapat perubahan nama program menjadi Bantuan Sosial bagi anak melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak.54 B. Secara bertahap PKS Antar ini akan disesuaikan dengan skema PKSA lainnya yang diberikan melalui tabungan dengan pendampingan yang intensif oleh Pekerja Sosial Profesional. LKSA yang telah melaksanakan peran pengasuhan pada anak perlu didukung agar dapat menjalankan fungsinya secara lebih tepat dalam pengasuhan anak.

Tujuan Tujuan Program Bantuan Sosial untuk anak melalui LKSA adalah terwujudnya pemenuhan hak-hak dasar anak dan perlindungan anak dari segala bentuk penelantaran. b. eksploitasi dan diskriminasi agar tumbuh kembang. LKSA akan mulai untuk menjalankan fungsi baru dalam mendukung penyatuan kembali anak-anak yang masih dapat diasuh oleh orangtua atau anggota keluarga lainnya dan secara aktif merespon anak-anak yang mengalami masalah pengasuhan. 2. bantuan sosial ini tidak sematamata untuk anak yang berada dalam asuhan LKSA tetapi harus digunakan untuk mendorong penyatuan anak-anak dengan keluarga mereka dan menguatkan kemampuan keluarga dalam mengasuh anak-anak mereka. pendidikan. Aksesibilitas Pelayanan Sosial Dasar adalah kemampuan menjangkau pelayanan sosial dasar untuk anak penerima manfaat PKSA berupa pelayanan kesehatan dasar. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup. 3. Melalui program ini. Pengertian a. tumbuh. dan kebutuhan dasar lainnya. peningkatan keterampilan.55 Pengasuhan Anak untuk LKSA menggariskan bahwa LKSA berperan sebagai lembaga yang mendukung pengasuhan berbasis keluarga termasuk berbagai bentuk pengasuhan alternatif untuk anak. c. kelangsungan hidup dan partisipasi anak dapat terwujud. . rekreasi. berkembang. spiritual dan sosial anak agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. air bersih. identitas diri. sarana tempat tinggal. Berdasarkan hal tersebut. Kesejahteraan Sosial Anak adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material. dan berpartisipasi. secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.

akibat ketidakmampuan keluarga inti dalam menyediakan pengasuhan yang baik untuk anak. keselamatan. g. Pengasuhan berbasis Lembaga adalah pengasuhan berbasis Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak merupakan alternatif terakhir dari pelayanan pengasuhan alternatif untuk anak-anak yang tidak bisa diasuh di dalam keluarga inti. Pengasuhan oleh keluarga adalah pengasuhan anak yang dilakukan oleh keluarga yang merupakan pengasuhan utama. atau ayah dan anaknya. Pengasuhan alternatif adalah pengasuhan yang diberikan oleh pihak selain keluarga inti kepada anak. j. e. h. kelekatan. dan permanensi dari orang tua. Dana Bantuan Sosial adalah bantuan langsung yang diberikan melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak untuk meningkatkan penyelenggaraan kesejahteraan sosial bagi anak yang diasuh melalui pengasuhan oleh keluarga dan melalui pengasuhan alternatif. keluarga besar. Pengasuhan ini dapat dilakukan melalui orang tua asuh. i. atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai dengan derajat ketiga. perlindungan anak dan/atau harta bendanya hingga dewasa atau mampu berdiri sendiri demi kepentingan terbaik anak sebagai upaya pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang. kerabat. perwalian dan adopsi. Pengasuhan Anak adalah sistem pemeliharaan. atau suami-isteri dan anaknya. atau keluarga pengganti. kesejahteraan. f. keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-isteri.56 d. atau ibu dan anaknya. atau pihah-pihak lain yang bertanggung jawab terhadap pengasuhan anak. pendidikan. Lembaga Kesejahteraan Sosial adalah suatu lembaga yang menyelenggarakan kesejahteraan sosial yang dibentuk oleh pemerintah maupun masyarakat. .

57 k. terpadu dan berkelanjutan. b. pengasuhan dalam keluarga justru bertentangan dengan kepentingan terbaik anak. 4) Anak yang terpisah dari keluarga karena bencana. atau eksploitasi sehingga demi keselamatan dan kesejahteran diri mereka. mengabaikan. Meningkatkan jangkauan layanan anak yang mengalami masalah sosial. atau melepaskan tanggung jawab terhadap anaknya 2) Anak yang tidak memiliki keluarga atau keberadaan keluarga atau kerabat tidak diketahui. Mendukung pengembangan sistem dan program kesejahteraan sosial anak yang melembaga dan profesional. LKSA membina anak yang berada dalam asuhan keluarga dan anak yang berada dalam asuhan LKSA langsung. baik konflik sosial maupun bencana alam. d. Syarat Penerima Bantuan Persyaratan bantuan sosial bagi anak melalui LKSA sebagai berikut : a. 5. Mendukung pelayanan sosial terarah. c. b. 3) Anak yang menjadi korban kekerasan. Anak yang dibina LKSA tersebut adalah anak yang berada pada situasi sebagai berikut: 1) Keluarga anak tidak memberikan pengasuhan yang memadai sekalipun dengan dukungan yang sesuai. Kebijakan Kebijakan dalam Program Bantuan Sosial untuk anak diarahkan untuk : a. . Mendukung penguatan peran dan tanggung jawab keluarga dan masyarakat. Bantuan Sosial melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial adalah bantuan sosial yang diberikan kepada Lembaga Kesejahteraan Sosial guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial 4. perlakuan salah. penelantaran.

(Satu juta sembilan puluh lima ribu rupiah) per anak selama satu tahun atau sesuai dengan kebijakan pemerintah. Nilai Bantuan Nilai bantuan sosial ini adalah Rp.. LKSA mendapatkan rekomendasi dari Dinas Sosial Kabupaten/Kota dan Propinsi. Pemanfaatan Bantuan Bantuan sosial untuk anak ini dapat dimanfaatkan untuk : a. dan pakaian. Meningkatnya tanggung jawab orang tua/ keluarga dalam pengasuhan dan perlindungan. b. e. 1. LKSA yang diselenggarakan oleh LKS (yayasan/orsos/LSM) sudah terregistrasi di Dinas/Instansi Sosial Kabupaten/Kota dan Dinas/Instansi Sosial Propinsti serta telah masuk dalam database di Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak Kementerian Sosial. Meningkatkan peran dan tanggung jawab lembaga kesejahteraan sosial anak. 6.095. . Meningkatkan kapasitas potensi diri/keterampilan hidup. antara lain untuk perlengkapan sekolah dan transport untuk menjangkau pelayanan pendidikan. terhadap anak. e. c. kesehatan dan akte kelahiran anak. tambahan gizi. f. Mendukung pengasuhan berbasis keluarga. d. d. oleh karena itu LKSA yang mengasuh anak diharapkan mendorong penyatuan kembali anak kepada keluarganya dan menguatkan keluarga dalam mengasuh anak-anak mereka. Bantuan sosial ini akan disalurkan melalui LKSA yang memenuhi syarat umum dan syarat tambahan sebagai LKSA penerima bantuan sosial.000. Memiliki rekening Bank atas nama LKSA. Akses terhadap pelayanan sosial dasar. Bantuan pemenuhan kebutuhan dasar meliputi kebutuhan makan. g.58 c. 7.

Sosialisasi peraturan perundang-undangan 2. kemampuan mengenali dan pemecahan masalah. Perencanaan menu makan sehat keluarga 4. Koordinasi dan komunikasi dengan instansi terkait 3. Pengurusan SKTM/Jamkesmas/Gakin 2. Mengumpulkan dan verifikasi persyaratan administrasi dan prosedur teknis 1. meliputi: 1) Pemenuhan kebutuhan identitas anak yaitu: pembuatan akte kelahiran anak. 4) Pemenuhan kebutuhan sosial yaitu: berteman. Pendataan dan Penglasifikasian akte kelahiran 1 (umur dan status kelahiran) 4. berelasi dengan orang lain yang ada di lingkungannya. Pemahaman pola makan sehat 2. Komponen Program 1. pakaian. Pemahaman pola hidup sehat 2. 2) Pemenuhan kebutuhan fisik yaitu: makanan. Akses pelayanan kesehatan dasar Berlaku sampai 31 Desember 2011 (Masa akhir dispensasi pelayanan pencatatan kelahiran). 3) Pemenuhan kebutuhan emosional yaitu: kasih sayang dari orangtua dan keluarga.59 C. Komponen Program Komponen program kesejahteraan sosial bagi anak jalanan. sarana perumahan. Peningkatan nutrisi/gizi keluarga Tahapan kegiatan 1. 1 . PKS Anak Jalanan 1. peningkatan rasa percaya diri. Bantuan Sosial /Subsidi Hak Dasar Anak. Pemberian makanan tambahan 1. Pengenalan keanekaragaman makanan sehat (jajanan anak) 3. Pembuatan akte kelahiran 3. meliputi: b. berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang terkait dengan kehidupannya.

Buku Nikah. kuratif. Kartu Keluarga (KK). dan Ketetapan Pengadilan hasil sidang isbat. Peningkatan Aksesibilitas terhadap Pelayanan Sosial Dasar. membangun jejaring sosial dengan stakeholder terkait 8) Memberikan legitimasi terhadap pelayanan kebutuhan dasar yang dilakukan petugas Sakti Peksos. 4) Memberikan dukungan pemenuhan kesehatan anak oleh keluarga melalui tabungan anak 5) Mengalihkan kegiatan bermain anak ke tempat yang lebih aman 6) Memfasilitasi penyuluhan “parenting skill” 7) Melakukan lobby. dan rehabilitatif) 4. terutama Jamkesmas. c. . Membuat nota kesepahaman 5. 9) Memperluas kemitraan untuk kebutuhan anak melalui program-program CSR 10) Memfasilitasi pelayanan kesehatan dengan Dinas Kesehatan dengan mengirimkan surat rekomendasi.60 3. Kartu Tanda Penduduk (KTP). Mendaftarkan anak ke Dinas Kesehatan dengan surat rekomendasi Dinas Sosial untuk memperoleh kemudahaan Jamkesmas Peran Sakti Peksos dan LKSA 1) Melakukan kunjungan ke rumah orangtua anak jalanan 2) Memberikan dukungan pemenuhan gizi anak oleh keluarga melalui tabungan anak 3) Membantu proses pengurusan akte kelahiran dan persyaratannya seperti Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). meliputi: 1) Akses pelayanan pendidikan yang di dalamnya meliputi layanan perantaraan dan/atau penghantaran (bridging course) dan layanan pemantapan belajar (remidial course) 2) Akses pelayanan kesehatan dasar. Membangun jaringan lembaga layanan kesehatan (preventif.

Layanan Perantaraan dan/atau penghantaran (Bridging course) Tahapan kegiatan 1. Akses Pelayanan Pendidikan meliputi: a. Penyediaan peralatan dan perlengkapan sekolah 7. Penyediaan peralatan dan perlengkapan sekolah 9. Rujukan ke pendidikan formal. Menunjuk pelyanan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) atau Rumah Sakit terdekat 2 3 Jumlah ideal peserta bridging course per kelas 20-25 orang.61 Komponen Program 1. Monitoring dan evaluasi perkembangan peserta didik. 4. dll) 5. 4 6. Identifikasi kebutuhan pelayanan kesehatan 3. Identifikasi kebutuhan 3. Pemberian life skills (komunikasi. 1. pemecahan masalah. . Akses Pelayanan Kesehatan Dasar 1. Pemberian life skills (komunikasi. 7. dll) 5. Pelaksanaan bridging course (pendidikan formal dan non formal yang sesuai dengan standar 2 pelayanan minimal pendidikan nasional). Pengembangan jaringan kerja untuk rujukan yang bisa menjawab kebutuhan anak (lingkungan pendidikan yang ramah anak) 4. Pelaksanaan remedial (pendidikan formal yang sesuai dengan standar pelayanan minimal pendidikan nasional). kesadaran diri. Monitoring dan evaluasi perkembangan peserta didik. 6. non formal atau informal. Identifikasi kebutuhan anak 3. Penjangkauan dan Pendampingan 2. Penjangkauan dan pendampingan sosial 2. b. 4 Jumlah anak setiap paketnya menyesuaikan. 3 8. pengambilan keputusan. Penjangkauan dan Pendampingan 2. kesadaran diri. pengambilan keputusan. Memilih tutor yang berkualifikasi (memiliki pengalaman mengajar dan memahami hak anak). Jumlah anak setiap paketnya menyesuaikan. Layanan Remedial 2. pemecahan masalah. Menunjuk pengajar yang berkualifikasi sesuai dengan mata pelajaran yang dibutuhkan (memiliki pengalaman mengajar dan memahami hak anak).

kolong jembatan. seni music. Volentir/Relawan Psikolog d) Penelitian dan Pengembangan pendidikan anak jalanan. Lembaga PKBM untuk jaminan kebijakan dan anggaran serta vocational training dan pendidikan non-formal. dengan jenis kegiatan misalnya: a) Mendaftarkan sekolah b) Absensi kehadiran sekolah c) Menyediakan tutor PKBM. diantaranya meliputi: a) Nara Sumber Teknis. bantaran rel kereta api. Di daerah lain dapat dilakukan hal yang sama seperti di Jakarta.62 Peran Sakti Peksos. Dinas Pendidikan. dll d) Belajar pelajaran-pelajaran di sekolah yang sulit dipahami oleh anak e) Konseling Dan Penghubung Dengan Guru Sekolah f) Tutor Keagamaan . pinggiran kali. 3) Menyusun strategi penjangkauan dan pendampingan anak yang umumnya dalam lingkungan yang marjinal (di tempat kumuh. LKSA dan Voluntir 1) Pelibatan perguruan tinggi yang concern terhadap anak dan Peran yang dimainkan. seni tari. dan tempat-tempat lainnya yang sejenis) 4) Melakukan penjangkauan anak-anak dijalan bersama antara Sakti Peksos dan LKSA 5) Mendampingi selama pendidikan dan pelatihan. keterampilan. 2) Memperkuat kolaborasi dan sinergi program di lapangan dengan stakeholders. c) Pendamping. b) Tutor/Guru. seperti Dinas Tenaga Kerja.

7. 2) Menjalin kemitraan dengan dunia usaha dalam pelaksanaan CSR perusahaan dan sekaligus membuka akses pasar bagi karya kreatif anak. 6. pengembangan jaringan kerja (networking) untuk pelatihan kerja dan penyaluran karya kreatif anak setelah mendapatkan pelatihan keterampilan. 4. serta membuka peluang produksi anak sekaligus menambah tabungan anak untuk persiapan kemandirian pada saat usia dewasa kelak. Peran Sakti Peksos dan LKSA 1) Mendampingi dalam proses seleksi dan pelatihan 2) Mengalihkan tempat bermain anak dari jalanan ke tempat pelatihan keterampilan 3) Memfasilitasi pengembangan bakat anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Monitoring dan evaluasi perkembangan peserta didik. 3. . 9. Melakukan rujukan ke lembaga kursus dan pelatihan keterampilan (LKP). Pengembangan networking untuk penyaluran karya kreatif atau potensi anak setelah mendapatkan pelatihan keterampilan. seperti pelatihan keterampilan. 5. Menyusun silabus dan kurikulum yang ramah anak bersama dengan lembaga kursus dan pelatihan. Layanan pengembangan potensi diri dan kreatifitas anak 1. Penjangkauan dan pendampingan sosial 2. Mendata anak usia 14-17 tahun beserta minat dan bakat/ potensi anak. Identifikasi kebutuhan peluang kerja dan jenis keterampilan. Melakukan bimbingan karier dan K3 (keselamatan dan kesehatan kerja). Pelaksanaan pelatihan keterampilan kerja yang sesuai dengan standar pelayanan minimal 8. Pengembangan Potensi Diri dan Kreatifitas Anak 1) Meningkatkan kapasitas potensi diri dan kreativitas anak melalui berbagai kegiatan yang dapat memberikan prospek bagi masa depan anak.63 c.

3. Peningkatan tanggung jawab orangtua/keluarga dalam pengasuhan dan perlindungan anak yang terdiri dari: 1) Bimbingan tentang pengasuhan anak 2) Aksesibilitas terhadap sumber pelayanan ekonomi.Diskusi peran dan tanggung jawab orang tua . Pertemuan rutin orang tua untuk mencegah dan merespon anak yang terpaksa bekerja di jalanan 1.Diskusi tentang hak dasar anak . untuk melihat potensi dari diri anaknya 9) Memfasilitasi anak untuk mendapatkan kebutuhan rekreatif d.Sosialisasi program layanan sosial dasar (Jamkesmas. 3) Pelatihan dan pemberdayaan ekonomi keluarga Komponen Program 1. 2. BOS. dengan jenis kegiatan misalnya: a) Mendaftarkan Ke Tempat Pelatihan Keterampilan b) Melakukan Pengecekan Absensi Kehadiran Di Tempat Pelatihan c) Mencarikan Tutor Seni Musik. dll) . Tahapan kegiatan Membangun kepercayaan dan komitmen Membangun kelompok dukungan Menyusun agenda pertemuan Menyusun materi pertemuan seperti: .Pemahaman pentingnya pendidikan dan kesehatan anak . pendidikan.64 4) Menentukan anak-anak yang akan mengikuti pelatihan atau kegiatan 5) Menjalin kerjasama dengan lembaga kursus dan pelatihan 6) Memberikan latihan manajemen dan kewirausahaan 7) Mendampingi selama pendidikan dan pelatihan. Seni Tari. Akte Kelahiran. 4. kesehatan dan jaringan sosial yang dapat digunakan pengasuhan anak.Diskusi pola asuhan anak . Raskin. Keterampilan Kreatif/ Kerajinan Tangan/ Handi Craf. 8) Memfasilitasi orang tua untuk menyaksikan pertunjukan pentas seni/kreatifitas dan lomba-lomba yang dilakukan oleh anak-anak.Materi lain yang dianggap perlu .

Identifikasi potensi 2. Kemitraan dalam usaha 6. atau cari tempat yang tidak dekat dengan situasi jalanan. f) Membuka komunikasi baik secara perorangan maupun kolektif dengan orang tua/keluarga anak g) Setiap pertemuan dirancang secara informal dengan penuh kekeluargaan dengan terlebih dahulu melontarkan isu yang akan didiskusikan. manajemen. Studi kelayakan (prospek pasar) 3. 2. orang tua diminta pendapat tentang pengertaian . Pengembangan unit usaha mandiri Peran Sakti Peksos dan LKSA 1) Bimbingan dan Pengembangan tentang Pengasuhan a) Melakukan kunjungan rumah dan melakukan pendekatan secara individual kepada orang tua anak b) Membangun kepercayaan dari orang tua/keluarga anak c) Melakukan pertemuan dengan semua orang tua/ keluarga anak secara insidental maupun rutin dengan terjadwal secara bulanan d) Merancang waktu pertemuan dengan menyesuaikan waktu kerja orang tua dan menentukan tempat yang mudah diakses serta disenangi orang tua/ keluarga anak. Hindarkan tempat yang sering digunakan anak di jalanan. kesehatan dan jaringan sosial yang pengasuhan anak. 3. dapat digunakan 3. pendidikan. Misalnya. Pelatihan ketrampilan usaha (produksi. 4. Aksesibilitas terhadap Sumber Pelayanan 1. pelayanan ekonomi. dan pemasaran) 4.65 2. e) Untuk memudahkan bimbingan orang tua/keluarga anak. mereka dibagi dalam kelompok kecil 10 – 12 keluarga. Pemberdayaan Ekonomi 1. Akses permodalan usaha 5.

namun hal ini perlu diungkap resiko-resiko yang mungkin dihadapi anak di jalanan. Bimbingan pengasuhan lebih pada tukar pengalaman antar orang tua dan saling memberi penguatan di antara mereka Bimbingan dilakukan dengan pendekatan kesetaraan. dan kesabaran pekerja social dalam berproses memberi bimbingan pada keluarga 2) Aksesibilitas keluarga terhadap sumber pelayanan ekonomi. kecelakaan. kesehatan dan jaringan sosial yang dapat digunakan pengasuhan anak. ketekunan. Peksos) dalam menarik anak dari jalanan dan sekaligus memberikan perlindungan bagi anak-anak mereka. LKSA.66 h) i) j) k) l) m) n) o) anak menurut mereka atau pengasuhan anak yang baik menurut mereka. a) Identifikasi kebutuhan orang tua/keluarga anak : salah satunya kebutuhan sarana air bersih b) Identifikasi lembaga mitra yang bisa memenuhi kebutuhan orang tua / keluarga . korban penganiayaan. Membangun kesadaran orang tua akan kebutuhan dasar anak. Merangsang orang tua untuk perduli akan situasi yang terjadi pada anaknya Menumbuhkan motivasi dengan memberi semangat bahwa mereka mampu dan memiliki kekuatan untuk berubah ke arah yang lebih baik Harus tegas dan disiplin demi untuk kepentingan terbaik anak Melibatkan orang tua dalam memantau perkembangan dan perubahan yang terjadi pada anak Butuh keuletan. dll. seperti kekerasan. pendidikan. Pada umumnya orang tua menyadari kalau keberadaan anak-anak mereka di jalanan adalah salah dan membahayakan. yang memandang orang tua/keluarga sebagai mitra dan tim kerja (orang tua.

l) Pendampingan secara bersama antara LKSA. tata boga.67 c) Melakukan pelatihan teknis agar orang tua/kepala keluarga menguasai teknologi sederhana yang terkait dengan pemenuhan kebutuhannya 3). menyulam. Penguatan Ekonomi Keluarga : a) Identifikasi mitra kerja sama yang memiliki layanan penguatan ekonomi keluarga b) Identifikasi mitra kerja yang memberikan layanan pelatihan keterampilan bagi orang tua / keluarga anak c) Menyebarkan brosur dan katru nama kepada semua pihak dalam setiap kesempatan untuk menangkap kerja sama d) Mempelajari persyaratan dan prosedur pemanfaatan layanan e) Melakukan sosialisasi pada keluarga untuk menjaring mereka yang berminat f) Memetakan minat dan bakat orang tua/ keluarga anak tentang keterampilan sesuai dengan jenis keterampilan yang disediakan oleh mitra kerja g) Keluarga yang berminat diseleksi oleh pihak mitra h) Bekerja sama dengan mitra dalam Pemberian pelatihan keterampilan disesuaikan dengan minat orang tua (menjahit. pekerja sosial dan pihak mitra untuk menjamin keberlangsungan usaha . membuat pita) i) Setelah pelatihan orang tua diberi perlengkapan kerja untuk menghasilkan karya sesuai dengan pelatiahan yang diikutinya j) Hasil karya dipasarkan untuk mendapatkan penghasilan. memberikan bantuan modal usaha dengan terlebih dahulu orang tua menerima bimbingan usaha terlebih dahulu. k) Bagi mitra kerja yang memberikan modal usaha.

Analisis situasi pemetaan sosial (minimal 1 kecamatan): a. e.Memelihara kerja sama agar program berkesinambungan.Mengundang mitra dalam setiap pertemuan orang tua/keluarga (2). Lembaga pelayanan sosial d. 3. Persiapan 2. serta mendengar langsung manfaat yang dirasakan oleh orang tua/keluarga anak atas bantaun yang diberikan mitra kerja.Selalu mengucapkan terima kasih kepada mitra kerja (5). 4. Identifikasi sumber daya. Tokoh masyarakat 3.68 m) Memelihara kemitraan dengan cara : mengundang dalam setiap pertemuan dengan orang tua/keluarga (1). lokasi b. 2) Koordinasi dengan pihak terkait. Membuat rencana aksi di tingkat komunitas untuk mencegah dan merespon anak yang diterlantarkan. Sosialisasi (mencari contact person/mencari mitra/koordonasi dengan semua pihak) 2. Komponen Program 1. Penjangkauan (identifikasi anak dan orang tua) 1.Selalu mengajak mitra kerja ke lapangan agar mengetahui kondisi dan perubahan yang terjadi di lapangan. (3). 2. Membuat tim kerja masyarakat (working group) . jumlah anak terlantar c. Identifikasi permasalahan anak dan keluarga yang ada di komunitas.Membuat laporan sesuai dengan standar yang ditentukan oleh mitra kerja (4). Penguatan kemampuan komunitas dalam mencegah dan merespon anak yang ditelantarkan Tahapan kegiatan 1. Penguatan Sistem Kelembagaan dan Dukungan Komunitas meliputi : 1) Penguatan kemampuan komunitas dalam mencegah dan merespon anak yang ditelantarkan.

4.Rapat koordinasi antar instansi/lintas sektor (8). b) Penguatan kelembagaan.Pembentukan dan Penguatan Jaringan Kelembagaan Anak Jalanan (7). .69 3.Pengembangan kapasitas teknis pekerja sosial perlindungan Anak Jalanan (3). meliputi: (1). 5. Koordinasi dengan instansi terkait 5. 1.Fasilitasi penyelesaian masalah (6).Penumbuhkembangan LKSA Anak Jalanan (4). untuk melaksanakan rencana aksi.Bimbingan Pemantapan Pengelola Perlindungan Anak Jalanan (2). 2.Bantuan operasional LKSA Anak Jalanan (5). 3. Melakukan deteksi dini dan pengawasan.Supervisi pelaksanaan kegiatan LKSA Anak Jalanan 2) Penguatan Kemampuan Komunitas dalam menceggah dan merespon anak yang diterlantarkan : a) Melakukan pendekatan kepada komunitas agar dapat menerima keberadaan anak jalanan yang dibina oleh LKSA.Melakukan sosialisasi SKB dan pelaksanaaan Program PKSA anak jalanan (2). Diseminasi Rapat koordinasi Sinkronisasi program Pembentukan kelompok kerja Monitoring dan evaluasi Peran Sakti Peksos dan LKSA 1) Penguatan Sistem Kelembagaan a) Penguatan Kebijakan dan Pengembangan Program di daerah : (1).Menyusun program dan kegiatan penarikan anak jalanan bersama Dinas Sosial Provinsi dan Kabupaten/Kota.

70 b) Memberikan pamahaman/pengertian kepada komunitas agar bisa mendukung PKSA Anjal. dll) d) Memanfaatkan organisasi/kegiatan yang ada di masyarakat agar dapat berperan dalam layanan dukungan komunitas. pencegahan. f) Mengadakan pertemuan rutin membahas tentang permasalahan anak yang ada di tingkat RT. tokoh agama dan peme- . RW dan Kelurahan. kegiatan keagamaan. pengembangan program kesejahteraan anak. seperti Karang Taruna. PKK. (seperti pengajian. l) Mengadakan program kampanye/pendidikan masyarakat agar dapat memberi perhatian/dukungan ke anak jalanan dan keluarga dengan cara yang tepat. g) Mencarikan orang tua asuh pengganti bagi anak yang sudah kehilangan hak asuhnya dari orang tua/ keluarga. c) Menggunakan kegiatan social yang ada di masyarakat untuk menjelaskan tentang anak jalanan dan PKSA anak jalanan. pelatihan keterampilan dan pemberdayaan ekonomi keluarga. (seperti: Tukang Ojek. i) Merencanakan team kerja di masyarakat untuk penanganan. j) Melibatkan masyarakat terdekat dengan anak jalanan untuk membantu memberikan perlindungan dan menjadi sumber informasi. Warung. Petugas. 3) Koordinasi dengan pihak terkait (pihak pemerintah) : a) Melakukan pendekatan secara formal dan informal kepada tokoh masyarakat. e) Memonitoring keadaan dan situasi anak di dalam komunitas. h) Memberikan penguatan kepada komunitas untuk menyelenggarakan bimbingan belajar. seperti tidak memberikan uang di jalan. Pengajian dan posyandu. dll) k) Menyadarkan komunitas untuk mencegah eksploitasi anak.

d) Melakukan meping/pemetaan kondisi di jalan. 4) Bermitra dengan pihak swasta / lembaga lain : a) Melihat peluang-peluang kerjasama dengan pihak swasta/lembaga lain. (4).Mengadakan kerjasama di bidang pelatihan / pendidikan keterampilan.Membantu memasarkan hasil karya anak. tokoh agama dan pemerintah dalam kegiatan anak jalanan. Kepolisian. RW dan Kelurahan untuk pembuatan Akte kelahiran). c) Memberikan kesempatan kepada pihak swasta untuk terlibat dalam kegiatan secara langsung.Mengadakan kerjasama di bidang pemberdayaan keluarga.71 rintah terendah/kelurahan (Meminta rekomendasi dari RT. (3). (1).Mengadakan kerjasama di bidang kesehatan lingkungan (air bersih) (3).Membantu mencarikan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan yang dimiliki anak. e) Membangun jejaring dengan lembaga lain. b) Melibatkan tokoh masyarakat. (5).Mencarikan "Bapak Angkat" untuk kegiatan usaha anak. (2). c) Membangun jejaring dengan lembaga pemerintahan. d) Memfasilitasi masyarakat untuk bisa berinteraksi langsung dengan anak jalanan melalui berbagai kegiatan.Memberikan ruang publik agar anak bisa menampilkan bakat. . Catatan Sipil dan BUMN. seperti Puskesmas.Memberikan tempat untuk melaksanakan program kegiatan. b) Membuat program-program yang memungkinkan untuk pihak swasta terlibat. hasil karya dan kreatifitas. (2). Dinas Pendidikan. (1).

Menjadi sahabat untuk mendampingi dan memotivasi anak. agar bisa berpartisipasi dalam melakukan pencegahan. seperti dengan dunia rekaman. Persyaratan & Kewajiban a. dll. futsal. terutama secara indivual. 2. seperti pelatihan sepak bola. (1). e) Mengadakan program pelatihan untuk para relawan yang berasal dari komunitas. d) Melakukan proses edukasi kepada masyarakat agar perhatian yang diberikan tidak membuat anak semakin senang hidup dan bekerja di jalanan. (2).Mengadakan kerjasama di bidang olah raga.72 (4). atletik. Fungsi sosial anak jalanan dapat meningkat yang diketahui dari perubahan sikap dan perilaku ke arah positif yang dapat dipantau secara empiris. Perubahan tersebut . b) Membangun kesadaran masyarakat tentang bahaya jalanan bagi anak melalui kampanye Stop Beri Uang. f) Melakukan pengorganiasian terhadap kegiatan relawan agar efektif. 5) Komunitas ikut melakukan pencegahan agar anak tidak melakukan aktivitas di jalan a) Melibatkan masyarakat. volly. (5).Mengadakan kerjasama di bidang seni. c) Memberikan alternative bentuk perhatian kepada anak jalanan.Terlibat dalam kegiatan tertentu / event. seperti dengan sanggar tari dan sanggar teater (6).Mengadakan kerjasama di bidang music. untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan pemberdayaan anak. sehingga masyarakat bisa memberikan perhatian kepada anak di jalan dalam bentuk lain. tenis meja. selain memberi uang di jalan. (4).Menjadi tenaga pengajar.Menjadi tenaga medis. (3).

latihan keterampilan. mendaftarkan kembali ke sekolah. mengikutsertakan dalam latihan keterampilan. LKSA dan masyarakat disekitar anak beraktivitas. diasuh orang tua/keluarga. Perilaku tersebut bisa dilihat sebagai berikut: 1) Anak tidak melakukan aktivitas ekonomi lagi di jalanan. telor. tas. No 1 Sasaran Anak Bantuan Tunai Bersyarat Mengkonsumsi makanan bergizi cukup Penggunaan Bantuan Membeli makanan tambahan bergizi cukup seperti susu.73 juga mendapat dukungan dari orangtua. membeli alat sekolah seperti alat tulis. Anak mengikuti sekolah dengan memiliki kelengkapan sarananya dan terjangkau transportasinya. dll) 2) orangtua/keluarga melakukan pengasuhan secara bertanggung jawab dan tidak mengeksploitasi anak secara ekonomi 3) Orang tua/ keluarga mengurus berbagai kebutuhan dasar anak dan memperjuangkan akses pelayanan sosial dasar (akte kelahiran anak. . dll) 4) LKSA memberikan dukungan fasilitas administrasi atau fasilitas kegiatan pertemuan 5) masyarakat mengadakan pertemuan rutin membahas tentang permasalahan anak yang ada di lingkungannya. karena telah memiliki aktivitas yang lebih positif (sekolah. bermain. sepatu Persyaratan dan Kewajiban Anak mengkonsumsi gizi cukup yang disediakan orangtua/keluarga Anak bersekolah Anak tidak beraktivitas di jalanan. ikan dan daging Transportasi anak dari rumah ke sekolah.

membimbing tumbuh kembang. memberikan pendidikan dini. Melindungi anak dari bahaya. orangtua tidak mentelantarkan anak. orangtua memberi makan sehari tiga kali. 3 LKSA Menyediakan fasilitas administrasi Membuat surat undangan atau rekomendasi ke lembaga mitra atau orangtua anak Menyediakan fasilitas Menyediakan tempat. orangtua/keluarga dan masyarakat dengan mebuatkkan surat undangan atau rekomendasi Adanya pertemuan rutin antara LKSA. dan pelatihan keterampilan. pendidikan. memenuhi kebutuhan dasar Akte kelahiran Transportasi dan biaya pengurusan akte kelahiran Oranggtua harus melengkapi persyaratan administrasi pembuatan akte kelahirana anak Membantu memperlancar kegiatan anak. anak mengikuti pelatihan keterampilan dan mampu mengembangkan potensi dan kreatifitasnya Orangtua tidak mengekploitasi anak. dan . orangtua mengantarkan anak ke pelayanan kesehatan.74 Akte kelahiran anak Transportasi pengurusan akte kelahiran anak Anak memiliki akte kelahiran secara sah Anak mengikuti pelatihan keterampilan untuk pengembangan potensi dan kreatifitas anak 2 Orangtua /Keluarga Pengasuhan secara memadai Transportasi anak ke tempat pelatihan keterampilan. alat tulis pelatihan secara memadai Anak tidak beraktivitas di jalanan.

keluarga. Anak dengan kenakalan yang melakukan pelanggaran norma sosial tetapi tidak dalam kategori tindak pidana sehingga tidak berhadapan dengan hukum. atau anak rentan melakukan kenakalan atau tindak pidana. 2) Anak yang menjadi korban tindak pidana sehingga berhadapan dengan hukum. Kriteria Khusus Penerima Manfaat Sasaran PKSABH diprioritaskan kepada anak-anak yang berperilaku nakal atau anak yang berhadapan dengan hukum. mengikuti proses peradilan. Anak berhadapan dengan hukum (6 sampai di bawah 18 tahun) dari keluarga miskin.75 pertemuan kebutuhan lainnya untuk terselenggaranya pertemuan orangtua/keluarga anak jalanan. . 3) Anak yang menjadi saksi tindak pidana sehingga berhadapan dengan hukum. c. serta masyarakat dimana anak tinggal. meliputi: 1) Anak dengan kenakalan yang telah diindikasikan melakukan pelanggaran hukum atau tindak pidana sehingga berhadapan dengan proses hukum (termasuk mengalami penangkapan. b. Keluarga miskin dari anak dengan kenakalan baik pelaku pelanggaran norma sosial maupun pelaku tindak pidana. Berdasarkan pertimbangan ini sasaran penerima manfaat. PKS ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM 1. penahanan. yang berstatus diversi. warga masyarakat dan lembaga mitranya C. dan menjalani masa reintegrasi pada orang tua/keluarga). terutama ditujukan kepada : a. menjalani masa hukuman pidana.serta korban dan saksi tindak pidana. ABH yang mendapat bantuan diprioritaskan ABH yang berasal dari keluarga miskin.

5) Penyediaan akses terhadap rumah perlindungan sementa / alternatif yang aman bagi anak sementara .76 d. serta korban dan saksi tindak pidana yang kemudian berhadapan dengan hukum dapat digambarkan dalam diagram sebagai se berikut: 2. yang meliputi: bantuan transportasi. seragam dll. peralatan sekolah. Masyarakat yang diwakili oleh totoh-tokohnya. 4) Pemenuhan kebutuhan akan pelayanan kesehatan. tempat anak dengan kenakalan tinggal. 2) Pemenuhan kebutuhan fisik yaitu: makanan. 3) Dukungan pemenuhan hak pendidikan. seperti pengurusan pembuatan akte kelahiran. Pengkategorian kriteria kriteria anak dengan kenakalan baik pelanggar norma sosial yang tidak berhadapan dengan hukum maupun pelaku tindak pidana yang berhadapan dengan hukum. Komponen Program a. yang meliputi: pemeriksaan kesehatan dan pengpeng obatan. Bantuan sosial/ subsidi pemenuhan hak dasar dasar 1) Pendampingan dalam pemenuhan kebutuhan identitas iden anak. totoh tokohnya. pakaian dll. kela dll.

b) Penentuan Tindakan untuk Anak sebagai Pelaku Untuk setiap pelanggaran anak dianggap perlu untuk bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya. . (3). Beberapa contoh tindakan yang diberikan kepada anak sebagai pelaku adalah sebagai berikut: (1). Kesepakatan tersebut perlu dibuat bersama para pihak yang berkepentingan dengan menggunakan jejaring yang telah terbentuk di daerahnya masing-masing.Memperbaiki atau membayar apa yang telah diambilnya atau dirusaknya.77 6) Bantuan pendampingan dalam pemenuhan kebutuhan akan pengasuhan yang layak. Peningkatan aksesibilitas terhadap pelayanan sosial dasar 1) Pelayanan Mediasi (penyelesaian kasus) a) Penentuan kasus-kasus Peradilan Restoratif (Restorative Justice / RJ) Lembaga pelaksana PKS-ABH perlu membuat kesepakatan mengenai jenis-jenis kasus-kasus yang akan ditangani dengan menggunakan pendekatan restorative. kasus-kasus anak yang berhadapan dengan hukum yang selama ini disepakati dalam pertemuanpertemuan di tingkat pusat untuk ditangani melalui peradilan restorative adalah kasus-kasus yang dapat dikategorikan ke dalam kasus ringan (petty crimes). bentuk-bentuk tindakan perlu dimusyawarahkan dan dipilih. Sebagai catatan. (2). serta dengan prinsip “memperbaiki kembali” kerusakan yang diakibatkan oleh tindakan anak dan mencegah agar hal tersebut tidak dilakukan lagi. Untuk itu.Permohonan maaf tertulis atau verbal kepada korban.Bekerja untuk korban atau kelompok masyarakat. b. dengan mempertimbangkan bernbagai tinjauan profesi.

Mengikuti kegiatan olah raga atau hal-hal yang bersifat rekreatif untuk mencegah kebosanan. (5).Berbagai pelayanan emergensi dilakukan untuk mengatasi permasalahan – permasa- . (d).Inform consent diisi oleh anak dan diketahui oleh orang tua atau wali anak. (b).Konseling untuk mengatasi penyebab terjadinya perilaku pelanggaran hukum.Menulis pernyataan untuk menunjukkan bahwa dia telah memahami apa yang dilakukannya adalah salah (misalnya sebanyak satu halaman). LKS-ABH (selain Komite) mengirimkan laporan kasus kepada Komite baik yang telah terselesaikan maupun yang memerlukan tindak lanjut dari Komite.Komite merespon laporan dengan menugaskan tim task force (polisi dan pekerja sosial) melakukan kunjungan rumah kepada korban dan pelaku. (9). (7).78 (4). sampai situasi keluarga / keluarga pengganti kembali aman untuk anak (g). (c).Pekerja sosial (manajer kasus) melakukan verivikasi atas laporan kasus yang diterima. (f). dan mulai melakukan penyelidikan di tempat pelaku dan tempat korban. (e).Memberikan sumbangan untuk kegiatan kemanusiaan.Kasus dirujuk ke LKS-ABH oleh masyarakat atau polisi. (8).Meningkatkan kehadiran di sekolah dan atau mengerjakan pekerjaan rumah (PR). (6).Membatasi hubungan dengan orang-orang yang mempengaruhinya untuk berbuat pelanggaran’. c) Penanganan Kasus RJ (1) Merespon laporan : (a). Anggota Komite merujuk ABH ke rumah aman/ rumah perlindungan jika dianggap perlu.

untuk mendapat kesamaan pandangan mengenai kasus anak dan tindak lanjutnya. (b) Komite akan menjadwalkan pelaksanaan musyawarah antara keluarga korban dan keluarga pelaku. serta pelaku dan keluarganya untuk menyelesaikan kasus mereka melalui musyawarah di KPRS-ABH. seperti masalah medis dsb. Rujukan Dll.Pelayanan-Pelayanan Yang Disarankan Untuk Diberikan Kepada Anak Dan Atau Keluarganya. Jenis Tindakan Dan Kerusakan Yang Ditimbulkannya) . .Apakah Kasus Tersebut Layak Untuk Masuk Ke File Peradilan Restoratif. apabila keduabelah pihak setuju untuk menyelesaikan kasus mereka melalui musyawarah atas fasilitasi Komite. Seperti Pemberian Konseling. (h). pekerja sosial menjajagi kemungkinan dan memotivasi korban dan keluarganya. Atau Harus Diteruskan Ke Peradilan Formal. Untuk MempertanggungJawabkan Kesalahannya (Sesuai Umur. Konferensi kasus perlu menyepakati : .79 lahan gawat darurat yang dialami korban maupun pelaku sehubungan dengan kasus. (j).Asesmen kebutuhan anak dan keluarga dilakukan secara seksama. (i). Hasil asesmen didiskusikan melalui forum konferensi kasus. . (2) Mediasi / Musyawarah Keluarga (a) Setelah mendapat kepastian mengenai kasus tersebut serta tindak lanjut yang disarankan konferensi kasus.Alternatif Tindakan Yang Harus Diberikan Kepada Anak Sebagai Pelaku Termasuk Keluarganya.

(d) Setelah jadwal disepakati semua pihak. tokoh masyarakat sebagai saksi. (e) Musyawarah keluarga dilakukan secara tertutup di tempat yang dapat menjamin kerahasiaan klien. . (h) Memotivasi pelaku dan keluarganya untuk meminta maaf secara lisan maupun tulisan kepada korban dan keluarga korban. mediator menjelaskan tujuan musyawarah keluarga kepada keduabelah pihak sehingga mereka betul-betul paham atas hal-hal yang ingin dicapai dalam musyawarah yang akan dilakukan. Pelaku dan keluarganya juga diberi kesempatan untunk menyatakan kesanggupannya. dan mediator telah ditunjuk oleh Komite. keluarga korban. serta perwakilan pengurus Komite akan diundang untuk hadir di KPRS-ABH mengikuti musyawarah keluarga. (i) Korban dan keluarganya diberi kesempatan untuk mengajukan permintaan upaya perbaikan. pengobatan atau penggantian kerugian atas kerusakan. (g) Masing-masing pihak diberikan kesempatan untuk menjelaskan kasus menurut versi masing-masing.80 (c) Tujuh hari masa “peredaan” disarankan untuk diberikan kepada kedua keluarga sebelum melakukan musyawarah keluarga. (j) Kesempatan diberikan kepada keluarga korban dan pelaku untuk bernegosiasi menyepakati hal tersebut. pelaku dan keluarga pelaku. juga memotivasi korban dan keluarga korban untuk memafkan pelaku. kehilangan atau kecelakaan yang telah diakibatkan oleh tindakan pelaku. korban. (f) Sebelum musyawarah dilakukan.

(m)Apabila kasus tidak bisa diselesaikan melalui cara ini dan tidak ditemukan cara penyelesaian yang lain yang lebih berpihak pada anak.81 (k) Wakil Komite menyampaikan keputusan Komite mengenai tindakan yang dikenakan kepada pelaku yang harus dijalankan oleh pelaku sebagai wujud tanggungjawab atas tindakan melanggar hukum yang telah dilakukannya. maka berita acara kesepakatan ditandatangani oleh kedua belah pihak serta saksi. (3) Pasca-Mediasi/Pasca-Musyawarah Keluarga (a) Setelah mendapat kepastian mengenai kasus tersebut (b) Konselor melanjutkan pemberian layanan konseling untuk menumbuhkan rasa aman. (l) Apabila semua telah disepakati oleh keduabelah pihak. maka kasus akan dilanjutkan dengan proses peradilan formal sebagai upaya terakhir. mengatasi trauma. (o) Rakor diinisiasi oleh Komite untuk melaporkan perkembangan hasil penyelesaian kasus. dan menurunkan ketegangan psikologis maupun sosial yang berkaitan dengan kasus (kepada anak . (n) Mediator melanjutkan berita acara kesepakatan tersebut kepada Ketua Komite dan Manajer Kasus. Selanjutnya Manejer Kasus merujuk kasus kepada Tim Rehabilitasi untuk menjalani program pengubahan perilaku dan kepada PRSABH-BM atau totoh masyarakat ldi Kelurahan agar melakukan monitoring atas pelaksanaan tindakan yang dibebankan kepada pelaku.

82 sebagai korban. (5) Pendampingan bagi anak dalam proses peradilan formal (a) Memberikan masukan informasi (berdasarkan hasil assessment) yang dapat meringan- . (f) Penguatan dukungan sosial keluarga/orang tua terhadap anak korban tindak pidana. terutama jika anak mengalami luka atau sakit secara fisik akibat tindakan pelaku. dan menitipkan anak di rumah perlindungan / aman jika perlu selama menunggu penyelesaian kasus (b) Merujuk anak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. pelaku maupun keluarganya). (c) Mempersiapkan reintegrasi anak dengan keluarga dan masyarakat. (d) Memastikan agar monitoring terhadap pelaksanaan tindakan yang dijalankan oleh pelaku sesuai kesepakatan dilaksanakan oleh PRSABH-BM atau totoh-tokoh masyarakat local. Tim Rehabilitasi menyelenggarakan program pengubahan perlaku untuk mengoreksi kesulitan perilaku yang dialami pelaku. a. (4) Pelayanan Khusus untuk Korban dan Saksi (a) Menjamin keamanan bagi anak. (c) Mendampingi dan memfasilitasi anak untuk mendapatkan visum at repertum (d) Memberikan akses untuk mendapatkan konsultasi hukum berkaitan dengan kasus yang mereka hadapi (e) Memberikan akses untuk mendapatkan konseling psikososial (individu maupun kelompok) bagi anak dan keluarganya.

(b) Menyelenggarakan kegiatan edukasi teman sebaya dengan melibatkan mantan ABH yang telah sukses hidup dalam masyarakat. (7) penguatan tanggung jawab orang tua/ keluarga dalam pengasuhan dan perlindungan anak (a) Program Pelayanan Penguatan Keluarga Kandung : − Bimbingan dan pengembangan tentang pengasuhan .83 kan kasus anak (jika memungkinkan upayakan diskresi atau diversi) (b) Memberikan konseling kepada anak dan keluarganya untuk meringankan beban psikologis yang dialami oleh mereka berkaitan dengan kasus dan atau proses peradilan formal yang mereka hadapi (terutama yang berkaitan dengan rasa aman dan trauma) (6) Pendampingan bagi peradilan formal anak dalam proses (a) Pelayanan konseling/pengubahan perilaku dalam rangka rehabilitasi sosial anak yang menjadi pelaku tindak pidana. (c) Fasilitasi reintegrasi anak yang menjadi pelaku tindak pidana dengan keluarga dan masyarakatnya (d) Social skills training untuk anak (e) Akses pada vocational training untuk anak di atas 15 tahun dan keluarga (f) Asimilasi/fasilitasi komunikasi anak dengan keluarga dan masyarakat (g) Penyiapan masyarakat untuk menerima kembali anak yang telah berhadapan dengan hukum. secara individual atau kelompok.

contoh: PRSABH-BM. kesehatan dan jaringan sosial yang dapat digunakan untuk pengasuhan anak. pendidikan. (8) Penguatan sistem kelembagaan kesejahteraan sosial anak dan komunitas (a) Penguatan kebijakan dan pengembangan program di daerah (seperti Sosialisasi SKB dan RJ. Penyusunan Pedoman PKSA) (b) Penguatan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perlindungan dan rehabilitasi sosial ABH.84 − Penguatan ekonomi keluarga − Aksesibilitas keluarga terhadap sumber pelayanan ekonomi. kesehatan dan jaringan sosial yang dapat digunakan untuk pengasuhan anak. − Program Pelayanan Penguatan Keluarga Kandung : (b) Layanan Dukungan Keluarga Pengganti (bagi anak yang tidak memiliki/ tidak diketahui keluarganya) meliputi: − Bimbingan dan pengembangan tentang pengasuhan − Penguatan ekonomi keluarga − Aksesibilitas keluarga terhadap sumber pelayanan ekonomi. pendidikan. (c) Penyeleggaraan gahan: program-program Pusat-pusat penceKegiatan − Pengembangan Remaja − Peningkatan pemahaman tentang hukum di kalangan anak .

peralatan sekolah. . 5) Penyediaan akses terhadap rumah perlindungan sementara / alternatif yang aman bagi anak 6) Bantuan pendampingan dalam pemenuhan kebutuhan akan pengasuhan yang layak.85 (d) Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak. 80% untuk pepentingan perlindungan dan pengembangan anak. − Pembentukan dan penguatan jaringan − Rapat koordinasi sektor antar instansi/lintas − Supervisi pelaksanaan kegiatan LPKSABH NO A PROGRAM Bantuan sosial/subsidi pemenuhan kebutuhan dasar KEGIATAN 1) Pendampingan dalam pemenuhan kebutuhan identitas anak. yang meliputi: bantuan transportasi. 3) Dukungan pemenuhan hak pendidikan. dll. seragam dll. meliputi: − Bimbingan pemantapan pengelola perlindungan anak − Pengembangan kapasitas teknis pekerja sosial perlindungan ABH − Penumbuhkembangan KPRSABH − Bantuan operasional LPKSABH dengan rasio pemanfaatan 20% untuk kesekretariatan. yang meliputi: pemeriksaan kesehatan dan pengobatan. − Fasilitasi penyelesaian masalah. 2) Pemenuhan kebutuhan fisik yaitu: makanan. seperti pengurusan pembuatan akte kelahiran. pakaian dll. 4) Pemenuhan kebutuhan akan pelayanan kesehatan.

Pelayanan pasca mediasi 2. terutama jika anak mengalami luka atau sakit secara fisik akibat tindakan pelaku. Pelayanan Mediasi (Penyelesaian Kasus) a.86 B Peningkatan Aksesibilitas terhadap Pelayanan Sosial Dasar 1. Penetapan kasus RJ b. Pelayanan Khusus untuk korban dan saksi 1) Menjamin keamanan bagi anak. dan menitipkan anak di rumah perlindungan / aman jika perlu selama menunggu penyelesaian kasus 2) Merujuk anak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Memberikan konseling kepada anak dan keluarganya untuk meringankan beban psikologis yang dialami oleh mereka berkaitan dengan kasus dan atau proses peradilan formal yang mereka hadapi (terutama yang berkaitan dengan rasa aman dan trauma) C Pengembangan Potensi Diri dan Kreatifitas Anak sebagai Program Rehabilitasi dan Reintegrasi Sosial ABH a) Pelayanan konseling/pengubahan perilaku dalam rangka rehabilitasi sosial anak yang menjadi pelaku tindak pidana. c) Fasilitasi reintegrasi anak yang menjadi pelaku tindak pidana dengan keluarga dan . Pendampingan dalam proses peradilan formal 1. Memfasilitasi mediasi / musyawarah keluarga iii. Memberikan masukan informasi (berdasarkan hasil assessment) yang dapat meringankan kasus anak (jika memungkinkan upayakan diskresi atau diversi) 2. Merespon laporan ii. b) Menyelenggarakan kegiatan edukasi teman sebaya dengan melibatkan mantan ABH yang telah sukses hidup dalam masyarakat. 3) Mendampingi dan memfasilitasi anak untuk mendapatkan visum at repertum 4) Memberikan akses untuk mendapatkan konsultasi hukum berkaitan dengan kasus yang mereka hadapi 5) Memberikan akses untuk mendapatkan konseling psikososial (individu maupun kelompok) bagi anak dan keluarganya. 3. Penentuan Tindakan untuk Anak sebagai Pelaku c. Penanganan kasus RJ i. secara individual atau kelompok.

Bimbingan dan pengasuhan Penguatan Keluarga tentang pengembangan (2). C Penguatan Tanggung Jawab Orang Tua/Keluarga dan Masyarakat i.87 masyarakatnya d) Social skills training untuk anak e) Akses pada vocational training untuk anak di atas 15 tahun dan keluarga f) Asimilasi/fasilitasi komunikasi anak dg keluarga dan masyarakat g) Penyiapan masyarakat untuk menerima kembali anak yang telah berhadapan dengan hukum. pendidikan. ii. kesehatan dan jaringan sosial yang dapat digunakan untuk pengasuhan anak. kesehatan dan jaringan sosial yang dapat digunakan untuk pengasuhan anak. Aksesibilitas keluarga terhadap sumber pelayanan ekonomi. D Penguatan Kelembagaan Pelayanan Kesejahteraan Sosial Anak 1) Penguatan kebijakan dan pengembangan program di daerah (seperti Sosialisasi SKB dan RJ. pendidikan. Program Pelayanan Kandung : (1). Penyusunan Pedoman PKSA) 2) Penguatan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perlindungan dan rehabilitasi sosial ABH. contoh: PRSABH-BM. . Bimbingan dan pengasuhan pengembangan tentang (3). Penguatan ekonomi keluarga (3). Layanan Dukungan Keluarga Pengganti (bagi anak yang tidak memiliki / tidak diketahui keluarganya) meliputi: (2). Penguatan ekonomi keluarga (4). Aksesibilitas keluarga terhadap sumber pelayanan ekonomi.

Terpenuhinya kebutuhan dasar ABH dan menurunnya kecenderungan perilaku melanggar hukum pada anak: 1) Prosentase Anak Berhadapan Dengan Hukum yang mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar meningkat 2) Meningkatnya prosentase ABH yang mendapat pengasuhan yang bersifat protektif di keluarga maupun pengasuhan sementara di rumah aman selama proses penyelesaian perkara 3) Berkurangnya prosentase pelanggaran hukum yang dilakukan oleh anak b. meliputi: a. Peningkatan prosentasi kasus ABH yang terselesaikan dalam mekanisme peradilan restoratif: . Peningkatan pemahaman tentang hukum di kalangan anak 4) Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak. Bantuan operasional LPKSABH dengan rasio pemanfaatan 20% untuk kesekretariatan. Rapat koordinasi antar instansi/lintas sektor h. Pembentukan dan penguatan jaringan g. Supervisi pelaksanaan kegiatan LPKSABH 3. Indikator Keberhasilan a. Penumbuhkembangan KPRSABH d. Fasilitasi penyelesaian masalah.88 3) Penyeleggaraan program-program Pencegahan: a. Pengembangan Pusat-pusat Kegiatan Remaja b. 80% untuk pepentingan perlindungan dan pengembangan anak. Bimbingan Pemantapan dungan Anak Pengelola Perlin- b. Pengembangan kapasitas teknis pekerja sosial perlindungan ABH c. e. f.

dan keluarga serta masyarakat siap menerima kembali anak. Anak terjauhkan dari kemungkinan konflik dengan hukum.89 1) RJ (basis masyarakat. prosentase anak yang memperoleh pelayanan kesejahteraan sosial dasar meningkat. Perwalian dalam persidangan) c. . 1) Prosentase ABH yang dapat menyelesaikan Life skills training 2) Prosentase orang tua ABH yang dapat menyelesaikan Good parenting training 3) Prosentase ABH berusial lebih atau sama dengan 15 tahun yang dapat menyelesaikan Vocational training 4) Prosentase ABH yang terfasilitasi untuk mempersiapkan asimilasi/ komunikasi dengan keluarga dan masyarakatnya d. Anak-anak mantan ABH siap kembali ke keluarga dan masyarakatnya. 1) Pada akhir program. komite) a) Jumlah kasus yang terlaporkan dan terasesmen oleh LPKSABH b) Prosentasi kasus yang bersedia mengikuti proses mediasi pada mekanisme peradilan restoratif / penyelesaian melalui musyawarah c) Prosentase kasus yang dapat mencapai kesepakatan dalam mediasi kasus d) Tersedianya data perkembangan kasus 2) Proses Formal: a) Peningkatan prosentase kasus yang mendapat pendampingan psikososial b) Peningkatan prosentase ABH yang mendapat pendampingan hukum c) Peningkatan prosentase ABH yang mendapat bantuan sosial lainnya (misal.

1) Jaringan stakeholder pelaksana pendukung program di 9 propinsi dan 7 propinsi yang terbentuk unit pelaksana teknis PKSABH memulai kegiatan operasionalnya yang difasilitasi APBN. sejumlah tokoh masyarakat mengikuti penyuluhan hukum. 7 KSABH melaksakan program perlindungan dan rehabilitasi ABH sesuai pedoman yang disepakati 6) Pada akhir program. PSBR (Panti Sosial Bina Remaja) memiliki rencana program yang jelas dan mampu memulai melaksanakan program youth centre. 3) Pada akhir program. 4) Pada akhir program. prosentase orang tua anak yang mendapat pemahaman tentang pengasuhan anak meningkat. Bantuan Sosial untuk Anak . Sosialisasi SKB dan RJ. 10 Rapat koordinasi terselenggara 4) Pada akhir program. 2) Pada akhir program 1 kegiatan pengembangan kapasitas teknis pekerja sosial perlindungan ABH terlaksana 3) Pada akhir program.90 2) Pada akhir program. prosentase anak yang mengikuti penyuluhan hukum meningkat. Persyaratan dan Kewajiban Persyaratan a. 2 kebijakan perlindungan ABH terbentuk dan 5 kegiatan Pengembangan Program terlaksana: (e. Terbentuk dan menguatnya sistem perlindungan dan rehabilitasi ABH yang didukung dengan SDM yang kompeten. 7) Mekanisme Supervisi pelaksanaan kegiatan tersusun dan tersosialisasikan 4. Penyusunan Pedoman PKS ABH) 5) Pada akhir program.g. e.

2) Melaksanakan tindakan yang telah disepakati dalam musyawarah keluarga (misalnya : membayar kerugian. membersihkan tembok.91 Bantuan tunai bersyarat diberikan kepada anak-anak ABH yang telah mengikuti rangkaian pelayanan perlindungan dan rehabilitasi sosial. yang ditunjukkan dengan tingkat kehadiran minimal 80% 2) Mendorong anak untuk mentaati kesepakatan yang dibuat dalam musyawarah keluarga 3) Tidak melakukan tindak kekerasan 4) Tidak melakukan diskriminasi 5) Tidak mempekerjakan ana tidak mengisolasi anak. dan memberikan kesempatan kepada adak untuk bersosialisasi 6) Mendorong anak untuk hadir di sekolah atau program pendidikan alternatif lainnya 7) Membawa anak ke Puskesmas / klinik kesehatan / dokter ketika anak sakit 8) Mengurus akte kelahiran atau surat kenal lahir anak 9) Memberikan tempat tinggal yang layak untuk anak dan tidak membiarkan anak tinggal di suatu tempat beresiko tanpa perlindungan dan pengawasan. minimal 80% dari jumlah pertemuan yang diwajibkan. . dll) 3) Anak tidak lagi melakukan perbuatan yang dapat melanggar hukum 4) Anak telah menunjukkan sikap dan perilaku positif 5) Kehadiran anak di sekolah atau lembaga pendidikan alternatif lainnya tidak kurang dari 80%. sebagai upaya penyelamatan sosial bagi mereka yang secara ekonomi telah termarjinalisasikan sehingga terpaksa melakukan tindakan yang melanggar hukum. memperbaiki kerusakan. Orang tua 1) Mendukung dan mengikuti kegiatan program perlindungan dan rehabilitasi sosial ABH yang diarahkan kepada keluarga / orang tua. b. Adapun persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan bantuan tersebut adalah sebagai berikut: 1) Anak telah mengikuti keseluruhan rangkaian program perlindungan dan rehabilitasi sosial yang diselenggarakan oleh LPKS-ABH.

yaitun lembaga-lembaga kesejahteraan sosial anak yang telah ditetapkan melalui proses seleksi oleh UP-PKSA Pusat atas rekomendasi/ sepengetahuan UP-PKSA Daerah. 4) Memiliki sarana prasarana organisasi yang mendukung pelaksanaan dan pencapaian kinerja PKSA 5) Pengalaman dalam penanganan anak yang mengalami masalah sosial 6) Memiliki jaringan kerja yang luas. eksploitasi dan diskriminasi. Selain persyaratan tersebut.92 Pemenuhan persyaratan dan kewajiban penerima layanan sangat ditentukan oleh peran pendamping sosial (Pekerja Sosial Profesional dan Tenaga Kesejahteraan Sosial) dan peran Lembaga Kesejahteraan Sosial (LSM/ Yayasan/ Organisasi) yang menjadi mitra kerja PKSA. SDM dan sumber keuangan yang dapat disinergikan dengan PKSA 8) Memiliki rekening bank atas nama lembaga (bukan rekening pribadi). terdapat beberapa syarat lain yang harus dipenuhi. 7) Memiliki sumber daya sarana prasarana. 2) Memiliki surat keputusan/ rekomendasi dari Kementerian Sosial atau Dinas/ Instansi Sosial tentang keikutsertaan lembaga kesejahteraan sosial anak dalam PKSA 3) Memiliki program/ kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan pemenuhan hak anak dan melindungi anak dari tindak kekerasan. c. keterlantaran. LKS-ABH Bantuan operasional lembaga diberikan kepada LKS-ABH apabila memenuhi persyaratan untuk menjadi LKSA. diantaranya adalah: . dengan kriteria sebagai berikut: 1) Berbadan Hukum atau tidak/ belum berbadan hukum dan memiliki struktur organisasi dan tata kelola administrasi yang tertib.

yang meliputi: anak diindikasikan . dengan cara: 1) Melakukan pemetaan dan menyiapkan data calon penerima manfaat PKS-ABH secara lengkap (by name by adress. Orangtua Penerima Bantuan 1) Menginformasikan kondisi dan perkembangan ABH.93 1) melakukan program perlindungan dan rehabilitasi sosial terhadap ABH 2) memberikan pemenuhan kebutuhan / hak dasar anak (pendidikan. dengan tugas pokok mengelola kegiatan PKS-ABH. dll) 3) memfasilitasi aksesibilas terhadap layanan diluar lembaga yang bersangkutan 4) memberikan penguatan terhadap tanggung jawab keluarga dan masyarakat 5) melakukan pendampingan psikososial terhadap ABH 6) menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam penanganan ABH 7) bantuan operasional bagi lembaga minimal 80 % kemanfaatannya untuk kepeningan anak 8) Untuk mendapatkan operasional lembaga yang bersangkutan harus menyususn TOR dan pelaporan yang ditujukan ke kementrian sosial RI Kewajiban a. b. 3) Menghadiri kegiatan-kegiatan program perlindungan dan rehabilitasi sosial ABH terutama programprogram yang ditujukan kepada keluarga / orang tua. Unit Pelaksana PKS-ABH Unit pelaksana PKS-ABH adalah Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) di tingkat lokal yang telah ditetapkan melalui porses seleksi oleh UP-PKSA Pusat. terkait dengan kebutuhan dan permasalahan perilaku anak. kesehtan. 4) Bertanggung jawab penuh terhadap kegiatan pemenuhan kebutuhan dasar anak. 2) Terlibat dan mendukung terhadap kegiatan PKSABH.

termasuk kinerja seluruh jajaran LPKSABH. anak yang berperilaku nakal) Melakukan pendampingan sosial terhadap ABH yang sedang menjalani proses formal dengan melibatkan Pekerja Sosial Anak. Menyelenggarakan atau merujuk anak ke programprogram reintegrasi sosial untuk meningkatkan kesiapan anak kembali ke keluarga dan masyarakatnya Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan PKS-ABH. anak yang berstatus diversi. . Memotivasi dan merujuk atau memfasilitasi penyelenggaraan penyelesaian kasus melalui pendekatan peradilan restoratif melalui Komite Perlindungan dan Rehabilitasi ABH. Menerima dan merespon laporan masyarakat tentang kejadian pelanggaran hukum atau perilaku kenakalan yang dilakukan anak-anak. termasuk pendamping. Menyelenggarakan atau merujuk anak ABH ke program-program rehabilitasi sosial untuk menangani permasalahan psikososial yang dialami anak terutama yang berkaitan dengan upaya pengubahan perilaku nakal yang berpotensi pada pelanggaran hukum. di tingkat lokal. Melakukan penjangkauan kepada masyarakat untuk menemukan kasus-kasus perilaku nakal yang dialami anak-anak sebelum kasus tersebut dilaporkan kepada kepolisian. anak yang telah menjalani masa hukuman pidana. Relawan Sosial Anak dalam melaksanakan PKS-ABH di lingkungannya. anak yang mengikuti proses peradilan. anak yang menjadi korban perbuatan pelanggaran hukum. TKSA. Mendampingi proses pembukaan Tabungan Kesejahteraan Sosial Anak pada Bank setempat atau Lembaga Keuangan Mikro yang berbadan hukum.94 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) melakukan pelanggaran hukum.

Aktivis Peduli Anak. anak yang berstatus diversi. anak yang mengikuti proses peradilan. untuk kemudian mendapatkan penugasan tindak lanjut terhadap laporan tersebut. Tugas pendamping 1) Melakukan tugas pemetaan dan menyiapkan data calon penerima manfaat PKS-ABH secara lengkap (by name by adress.95 10) Membangun jaringan kemitraan dengan berbagai pihak (LSM/Yayasan/Orsos. yang meliputi: anak diindikasikan melakukan pelanggaran hukum.) 11) Melakukan advokasi sosial bersama lembaga-lembaga mitra penyelenggaraan kesejahteraan sosial anak untuk menjamin terciptanya kebijakan-kebijakan daerah yang dibutuhkan demi terselenggaranya sistem perlindungan dan rehabilitasi sosial yang lebih baik bagi ABH 12) Membuat laporan pelaksanaan PKS-ABH sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki. . 4) Meminta anak / keluarganya untuk mengisi inform consent sebagai dasar dan persetujuan penanganan kasus. Dunia Usaha. dll. anak yang telah menjalani masa putusan tindakan / hukuman pidana. anak yang berperilaku nakal) 2) Melakukan penjangkauan kepada masyarakat untuk menemukan kasus-kasus perilaku kenakalan yang dialami anak-anak sebelum kasus tersebut dilaporkan kepada kepolisian. c. anak yang menjadi korban perbuatan pelanggaran hukum. 13) Mendokumentasikan data dan catatan-catatan kasus ABH yang ditangani. 3) Menerima. Perguruan Tinggi. melakukan verifikasi dan meneruskan laporan masyarakat tentang kejadian pelanggaran hukum atau perilaku kenakalan yang dilakukan anakanak kepada pimpinan LPKSABH atau penanggungjawab yang ditunjuk oleh pmpinan.

termasuk usulan intervensi yang perlu diberikan kepada mereka. jika anak dan keluarganya sepakat untuk menempuh jalur hukum formal. skenario/ agenda musyawarah. tempat. dll. berikan pendampingan untuk mendapatkan visum at repertum di rumah sakit dengan surat keterangan dari kepolisian setempat. 8) Khusus untuk anak yang menjadi korban. termasuk merujuk anak ke pelayanan kesehatan jika diperlukan. 9) Melakukan homevisit kepada keluarga korban dan pelaku untuk menjelaskan tentang fungsi LPKS-ABH dan memotivasi untuk menyelesaikan kasus melalui pendekatan peradilan restoratif yang diselenggarakan oleh Komite Perlindungan dan Rehabilitasi ABH. termasuk membuat notulasi musyawarah. mencari dan menentukan mediator. 10) Membantu persiapan fasilitasi musyawarah keluarga untuk menyelesaikan kasus melalui pendekatan peradilan restoratif (undangan. serta melaporkannya kepada pimpinan LPKS-ABH atau penanggungjawab yang ditunjuk lembaga untuk mendapatkan persetujuan intervensi selanjutnya. menyiapkan berita acara dan penandatanganan kesepakatan musyawarah. . menyiapkan catatan-catatan atau dokumen yang dibutuhkan dalam mediasi dsb) 11) Membantu penyelenggaraan musyawarah keluarga.96 5) Melakukan rapid assessment mengenai kebutuhan anak yang menjadi korban maupun pelaku. 12) Merujuk dan mendampingi anak ABH mengikuti program-program rehabilitasi sosial untuk menangani permasalahan psikososial yang dialami anak terutama yang berkaitan dengan upaya pengubahan perilaku kenakalan yang berpotensi pada pelanggaran hukum. 6) Memberikan pelayanan akses pada rumah perlindungan / rumah aman bagi anak yang menjadi korban maupun pelaku jika diperlukan 7) Memberikan pelayanan emergensi jika diperlukan.

membuat laporan perkembangan kasus dan kemajuan hasil intervensi.97 13) Merujuk dan mendampingi anak mengikuti programprogram reintegrasi sosial untuk meningkatkan kesiapan anak kembali ke keluarga dan masyarakatnya 14) Mengidentifikasi sumber dan potensi masyarakat untuk menindaklanjuti program rehabilitasi dan reintegrasi sosial ABH. 16) Mengikuti kegiatan-kegiatan supervisi (administrasi. 17) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan kasus dan kemajuan hasil intervensi yang dilakukannya 18) Mengidentifikasi calon-calon yang memenuhi persyaratan untuk penerima bantuan tunai bersyarat. dukungan personal) yang diselenggarakan lembaga. serta mendokumentasikannya. 20) Melakukan verifikasi atas daftar calon yang telah disetujui Kementerian Sosial untuk mendapatkan bantuan tunai bersyarat. bimbingan teknis. 23) Menyusun catatan kasus. 15) Memobilisasi partisipasi masyarakat dalam program rehabilitasi dan reintegrasi sosial ABH berbasis masyarakat. 24) Menyusun rencana harian individual selama satu bulan. serta menyusun laporan kegiatan bulanan . 22) Mendampingi anak dalam pemanfaatan bantuan dan meyakinkan agar bantuan tersebut digunakan sesuai dengan peruntukannya. 19) Menyusun daftar calon penerima bantuan tunai bersyarat dan mengajukannya kepada LPKS-ABH. 21) Mendampingi proses pembukaan Tabungan Kesejahteraan Sosial Anak pada Bank setempat atau Lembaga Keuangan Mikro yang berbadan hukum. termasuk dalam melakukan monitoring perkembangan perilaku anak dan keluarganya. sejalan dengan rencana LPKS-ABH dan membuat buku catatan kegiatan harian.

98 25) Meminta persetujuan atasan atas setiap tindakan yang akan dilakukan serta selau melaporkan proses dan hasil pelaksanaan setiap tindakan tersebut. Tugas Sekretariat 1) Mencatat dan mendokumentasikan data anak dan orangtua/ keluarga penerima manfaat 2) Menciptakan dan mengatur mekanisme pengajuan dan persetujuan rencana tindakan berikut biaya sebagai implikasi dari tindakan yang dilakukan para pelaksana program 3) Mendokumentasikan catatan mengenai tindakan yang diberikan kepada serta laporan perkembangan atau kemajuan penerima manfaat. pemerintah daerah dan masyarakat dalam bentuk pelayanan kesejahteraan sosial anak dengan kecacatan. termasuk bukti persetujuan lembaga atas tindakan-tindakan yang dilakukan tersebut. pemanfataan bantuan dan laporan pelayanan per semester yang ditujukan kepada Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak c. meliputi 4 komponen program sebagai berikut: . 4) Memfasilitasi dan mendokumentasikan bukti komunikasi dan surat-menyurat 5) Mendokumentasikan semua transaksi keuangan 6) Membuat laporan tertulis mengenai pemasukan dan pengeluaran keuangan per bulan. Sub Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak Berhadapan Dengan Hukum (ABH) D. PKS ANAK DENGAN KECACATAN 1.q. terpadu dan berkelanjutan yang dilakukan pemerintah. d. Komponen Program PKS ADK dirancang sebagai upaya yang terarah.

orientasi mobilitas Melibatkan ADK dalam berbagai kegiatan anak sesuai dengan minat. Pelatihan bahasa isyarat dan Speech terapi i. Orientasi mobilitas untuk cacat netra h. seperti kursi roda. bakat dan potensi berdasarkan hasil asesmen • • • Pelatihan ketrampilan pengasuhan/perawatan (parenting skill) bagi ADK Pelatihan Pelatihan aktivitas sehari-hari ( Activity Daily Living . contohnya pemanfaatan bambu untuk pembuatan kursi roda. terapi wicara. Rujukan pemeriksaan kesehatan b. sanitasi bagi ADK f. treepot prothesa. Rujukan keada layananan perawatan khusus seperti fisioterapi. lingkungan ramah anak cacat . orthesa. reglet. Rujukan ke pusat layanan rehabiltasi social c. selasar. Aksesibilitas terhadap pelayanan sosial dasar a. kacamata. Aksesibilitas lingkungan bagi ADK dengan memperhatikan keamanan ADK melalui sarana mobilitas dengan menggunakan potensi lokal. Rujukan pendidikan dan pelatihan bagi ADK sesuai dengan hasil asesmen e. komunikasi. kruk. terapi perilaku d. Aksesibilitas kecacatan : informasi. Aksesibilitas terhadap informasi tentang layanan-layanan yang dapat di akses oleh ADK g. terapi okupasi . hearing aid.ADL) untuk ADK Pembentukan Persatuan/Organisasi Orangtua/Keluarga ADK (Forum Komunikasi 3 Pengembangan Potensi dan Kreativitas ADK Penguatan tanggung jawab orang tua/ keluarga 4 . tongkat putih. PROGRAM Pemenuhan kebutuhan dasar bagi ADK berdasarkan hasil asesmen pekerja social kepada setiap ADK KEGIATAN • • Penambahan nutrisi/makanan bergizi Pemenuhan Alat Bantu kecacatan untuk anak sesuai dengan jenis kecacatan.99 No 1. dll Pemenuhan alat tidur anak (bagi anak dengan kecacatan dengan kondisi cacat berat) Pemenuhan kelengkapan identitas diri anak (akte kelahiran dan KTP bagi anak yang berusia 17 tahun) • • 2.

reglet. ADK • Penambahan nutrisi/makanan bergizi • Pemenuhan Alat • Pembelian/pengadaa Bantu kecacatan n alat bantu untuk anak sesuai kecacatan dengan jenis kecacatan. treepot prothesa. telur dll KEWAJIBAN 1. kacamata. Pengembangan jangkauan pelayanan pada sasaran ADK dari keluarga miskin termasuk di wilayah pedesaan yang belu tersentuh oleh pelayanan Penguatan kapasitas pelayanan professional terhadap pelayanan ADK Peningkatan Pelayanan ADK Berbasis Keluarga dan Masyarakat Penempatan tenaga professional dalam penanganan ADK di lembaga • • • • 2. Ikatan Keluarga Anak Dengan KecacatanIKADK) 4 Penguatan peran kelembagaan kesejahteraan sosial anak. kacang ijo.100 Keluarga Anak Dengan Kecacatan FKKADK. orthesa. dll • Pemenuhan alat tidur anak (bagi • Pembelian tempat tidur. seperti kursi roda. hearing aid. kruk. bantal • Berubahnya pola makan ADK menuju sehat • Anak tidak sering sakit • Bertambahny a berat dan tinggi badan anak • Anak memiliki dan menggunaka n alat bantu sesuai dengan jenis kecacatan . Persyaratan dan Kewajiban Adapun persyaratan dan kewajiban penerima bantuan dari sasaran program yang kemudian di terjemahkan dalam bentuk kegiatan serta bentuk penggunaan bantuan dan hasil yang diharapkan dari keberlangsungan program tersebut yang disusun dalam matriks sebagai berikut : NO. SASARAN KEGIATAN PERSYARATAN/ PENGGUNAAN BANTUAN • Pembelian susu. tongkat putih.kasur.

buku. • Instruktur OM ADK • Orientasi Mobilitas • Pelatihan aktivitas sehari-hari ( Activity Daily Living . mandi. selimut. • Pembelian pakaian seragam. dan peralatan sekolah lainnya • Anak memiliki alat tidur . • Biaya • Anak memeriksa kesehatan yang berhubungan dengan kecacatan . Rujukan pemeriksaan kesehatan • Tersedia Transport Pulang Pergi ke RS. perlak.BAB.101 anak dengan kecacatan dengan kondisi cacat berat) • Pemenuhan kebutuhan sekolah bagi ADK guling. berpakaian. ADK 1. bantu diri) • Anak memiliki akte kelahiran • Anak tercantum dalam KK • ADK yang berusia 17 th memiliki KTP • Pengurusan hak sipil Anak • Pembuatan akte kelahiran • Biaya pembuatan KTP bagi adk yang sudah berusia 17 th 2. sprei. Puskesmas.ADL) untuk ADK • Instruktur ADL ADK • Anak memiliki pakaian seragam minimal 2 setel • Anak memiliki buku dan peralatan sekolah • Anak dapat mengenal lingkungan aktivitasnya • Anak mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain (makan. pengurusan Gakin/Jamkesmas .

Rujukan perawatan khusus seperti fisioterapi. Rujukan ke pusat layanan rehabiltasi social ADK pemeriksaan kesehatan • Pembelian Obat • Transport ke pusat layanan • Biaya operasional rehabilitasi ADK • Biaya transport dan terapi minimal satu kali dalam sebulan 3. • Anak pergi ke sekolah bagi ADK yang memungkink an • Anak mengikuti pelatihan (prevokasion al. Rujukan pendidikan dan pelatihan bagi ADK sesuai dengan hasil asesmen • Anak menerima rehabilitasi di pusat layanan sesuai dengan rujukan • Anak menerima terapi sesuai dengan rujukan • Tambahan biaya transpotasi ke sekolah atau ke tempat latihan 5. terapi okupasi . terapi perilaku 4. terapi wicara. seni dan olah raga) sesuai rujukan • Anak memiliki sarana mobilitas untuk aktivitas di lingkungan yang aksesibel dengan kecacatannya . selasar. Aksesibilitas terhadap informasi dan komunikasi tentang layananlayanan yang dapat di akses • Biaya pembelian buku tentang perawatan ADK . contohnya pemanfaatan bambu untuk pembuatan kursi roda. Aksesibilitas lingkungan bagi ADK dengan memperhatikan keamanan ADK melalui penyediaan sarana mobilitas dengan menggunakan potensi local. 6. vokasional. sanitasi bagi ADK • Biaya modifikasi alat pembuatan sarana mobilitas ADK.102 2.

olahraga sesuai dengan minat ADK ADK mempunyai keterampilan yang produktif Penambaha n skill sesuai minat dan bakat - 4 orang tua/ keluarga 1.Biaya transportasi.Melibatkan ADK dalam berbagai kegiatan anak sesuai dengan minat. • Transport dan snack 7.Biaya menjadi anggota .103 oleh ADK. perlengkapan kegiatan ADK menjadi anggota salah satu lembaga / organisasi seni.Melibatkan ADK dalam pelatihan kemandirian ADK . perawatan • Transport dan snack • Orangtua memahami hak ADK sehingga tidak menyembuny .Transportasi . bakat dan potensi berdasarkan hasil asesmen . tenaga ahli. Pelatihan bahasa isyarat bagi ADK rungu • Anak memiliki informasi tentang kecacatan dan jenis layananlayanan kecacatan • ADK rungu wicara dapat menggunakan bahasa isyarat 3 Pengemb angan potensi dan kreatifitas ADK . Pelatihan keterampilan pengasuhan/pera watan (parenting skill) : deteksi dini.

tidak mendiskrimin asi. Pembentukan Persatuan/Organi sasi Orangtua/Keluarg a ADK (Forum Komunikasi Keluarga Anak Dengan Kecacatan FKKADK. aktivitas seharihari ( Activity Daily Living ADL) untuk ADK ikan ADK. • Orangtua mampu melatih ADL anak • Orangtua menjadi anggota persatuan/Org anisasi Orangtua/Kelu arga ADK • Orangtua berpartisipasi dalam kegiatan ADK dan ADK mendapatkan hak integrasi sosial . Ikatan Keluarga Anak Dengan Kecacatan CacatIKADK) • Fasilitasi pertemuan • Orangtua melakukan intervensi dini bagi ADK. tidak melakukan kekerasan fisik dan ekonomi. • Orangtua dapat mendeteksi kecacatan secara dini. • Orangtua/kel uarga melakukan perawatan ADK dengan trampil. 2.104 ADK di rumah.

fasilitas pelayanan • Pengembangan jangkauan pelayanan pada sasaran ADK ke keluarga miskin termasuk di wilayah pedesaan yang belum tersentuh oleh pelayanan • Peningkatan Pelayanan ADK Berbasis Keluarga dan Masyarakat • Lembaga melakukan pendataan. penjangkauan ADK di keluarga miskin maupun di pedesaan. • Lembaga melakukan perlindungan terhadap hak ADK • Lembaga memiliki tenaga professional pelayanan (pekerja social) • Lembaga memiliki dana pelayanan • Lembaga memiliki fasilitas pelayanan • Lembaga memiliki daftar lembaga rujukan pelayanan • • Lembaga memiliki program pelayanan berbasis keluarga dan masyarakat LKS ADK mempunyai data ADK di wilayah kerja dan wilayah pengemban gan • Peningkatan jaringan kerja • Lembaga memiliki mitra kerja dengan pendamping. profesional perawatan khusus ADK. lembaga donor • Keluarga dan masyarakat melakukan pelayanan untuk ADK • Lembaga menjadi mitra kerja Kementerian . • Penguatan kapasitas pelayanan professional terhadap pelayanan ADK • Lembaga memiliki program peningkatan pelayanan profesional (SDM.105 5 Lembaga kesejahte raan sosial anak. dana.

olah raga dan seni 5) Akses terhadap terhadap pelayanan pendidikan. kesehatan. perawatan khusus. komunikasi dan teknologi b. 3) Terlibat. dan rehabilitasi sosial sosial dasar. Meningkatnya kemampuan dan ketrampilan orangtua/ keluarga ADK dalam pengasuhan dan perawatan ADK. tidak didiskriminasi. Anak dengan Kecacatan mempunyai kondisi 1) Terpenuhi hak dasar meliputi nutrisi. OM dan ADL. tampil dan berperan dalam kegiatan olah raga. 2) Tidak disembunyikan oleh orangtuanya. kebutuhan pendidikan dan pelatihan. tidak dieksploitasi. . Dinas Sosial di daerah dalam pelayanan ADK Lembaga Kesejahtera an social ADK bermitra organisasi lainnya yang bergerak dalam pelayanan ADK 3. Indikator keberhasilan Program Indikator pencapaian khusus untuk program kesejahteraan sosial bagi anak dengan kecacatan ini adalah sebagai berikut: a. mendeteksi kecacatan secara dini.106 • Sosial. seni dan akademik sesuai dengan minat dan bakatnya. informasi. dan melatih ADL anak. melakukan intervensi dini bagi ADK. 4) Memiliki prestasi dalam bidang akdemik. alat bantu kecacatan. perawatan kesehatan.

107 1) Semakin banyaknya orangtua/keluarga yang menjadi anggota persatuan/Organisasi Orangtua/Keluarga ADK 2) Meningkatnya kepedulian dan peranserta masyarakat secara aktif dalam perlindungan dan pelayanan terhadap anak dengan kecacatan. 5) Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak dengan Kecacatan yang terlibat mampu berkontribusi di dalam pelaksanaan program baik sumber daya anggaran. 3) Pemerintah daerah semakin peduli dan berkontribusi pada program PKSADK dengan mengalokasikan dana untuk pengembangan dan keberlanjutan program dimasa mendatang. 4. sarana prasarana. SDM dan komitmen keberlanjutan program PKSA. Tersedianya informasi yang akurat tentang kondisi objektif ADK yang diperlukan dalam mengembangkan anak dengan kecacatan dalam mengatasi masalah yang dihadapi. . Tujuan pendampingan PKSADK a. serta terjangkaunya pelayanan sosial dasar oleh anak dengan kecacatan. sehingga mereka tidak tergantung terhadap orang lain dan dapat menjalankan fungsi sosialnya. 4) Intitusi/lembaga pelayanan sosial dasar dapat lebih memahami permasalahan ADK sehingga dapat mendukung pelayanan dan memberikan perlakukan yang tepat sesuai dengan karakteristik anak cacat. Pendampingan Sosial Pendampingan PKSADK adalah rangkaian kegiatan kemitraan yang interaktif antara pendamping (Peksos/Sakti Peksos) dan anak dengan kecacatan serta keluarganya untuk mengembangkan potensi dan tumbuh-kembang anak dengan kecacatan.

Terwujudnya kondisi sosial yang menunjang anak dengan kecacatan dan keluarganya dapat tumbuh kembang sebagaimana anak-anak pada umumnya c. dan administrasi dalam pelaksanaan PKSADK 1) Fungsi Operasional.108 b. yaitu : Pendamping PKSADK melaksanakan berbagai kegiatan yang dimulai dari tahap persiapan. koordinasi. b) Melakukan penjangkauan terhadap ADK dan keluarganya untuk memastikan kesesuaian dengan kriteria penerima manfaat PKSADK. monitoring. Tugas-tugas yang dilakukan antara lain: a) Identifikasi anak dengan kecacatan (by name by adress) yang membutuhkan pelayanan dan rehabilitasi sosial. pendamping dapat melaporkan dan mengajukan penggantinya kepada LKSADK untuk selanjutnya dilaporkan kepada Dinas Sosial setempat dan Kementrian Sosial. d. dan perlindungan khusus dari keluarga yang tidak terdata sebagai RumahTangga Sangat Miskin (RTSM) yang belum mendapatkan program pelayanan. masalah dan potensi anak dengan kecacatan . Fungsi pendamping PKSADK berkaitan dengan operasional. Apabila tidak sesuai dengan kriteria. evaluasi. Terwujudnya pemberian pelayanan terhadap anak dengan kecacatan yang memerlukan perlindungan agar mereka terpenuhi hak dasarnya untuk mendapatkan perawatan khusus.. dan pelaporan. pelayanan kesehatan dan melanjutkan pendidikan ke lembaga pendidikan formal dan/atau nonformal maupun informal sehingga anak dengan kecacatan tidak tergantung terhadap orang lain dan dapat melaksanakan fungsinya. pelaksanaan sampai kegiatan supervisi. c) Membangun kepercayaan dan pendekatan awal kepada anak dengan kecacatan dan keluarganya sebagai penerima manfaat d) Melakukan asesmen terkait dengan kebutuhan.

g) Mendampingi keluarga dalam pencairan uang h) Memonitor pemanfaatan bantuan sesuai dengan peruntukkannya berdasarkan hasil asesmen dan rencana intervensi yang telah dilakukan. i) Memberikan motivasi kepada anak dengan kecacatan dan keluarganya serta memberikan bimbingan psikososial pada anak dengan kecacatan j) Memberikan pelayanan pendidikan dan perawatan khusus yang dibutuhkan anak dan keluarganya. dan Kelurahan/Desa. RW. instansi terkait. f) Mendampingi orangtua/keluarga membuka rekening pada bank yang ditunjuk. 2) Fungsi Koordinasi Pendamping melakukan berbagai upaya untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dalam rangka pemanfaatan dan pendayagunaan potensi dan sumber yang dapat dimanfaatkan dalam pelaksanaan PKSADK. .Membangun jaringan pelayanan dengan berbagai pihak.109 e) Merencanakan intervensi dan melaksanakan pelayanan sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan penerima manfaat yang disepakati oleh anak dan keluarganya. (b).Melakukan koordinasi dengan lembaga rujukan. diantaranya RT. pelayanan kesehatan atau pelayanan pendidikan m) Memfasilitasi pertemuan rutin keluarga ADK untuk rangka penguatan keluarga ADK n) Bekerja sama dengan LKSADK dalam proses pelayanan terhadap ADK dan keluarganya o) Mengevaluasi pelayanan. seperti pelayanan rehabilitasi sosial. k) Melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan advokasi sosial dan perlindungan anak dengan kecacatan l) Melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan peningkatan akses pemanfaatan sumber pelayanan sosial bagi anak dengan kecacatan. rehabilitasi medik. Tugas-tugas yang dapat dilakukan adalah: (a). melaporkan hasil dan menindaklanjuti hasil evaluasi.

(c). 3) Fungsi Administrasi Pendamping PKSADK melakukan pekerjaan yang terkait dengan pengelolaan administrasi selama proses pendampingan.Menyusun rencana kegiatan pendampingan yang akan dilaksanakan selama waktu pendampingan. (d).Membantu para pemangku kepentingan perlindungan dan kesejahteraan sosial anak dalam memberikan layanan kepada anak dengan kecacatan yang membutuhkan pelayanan dan rehabilitasi sosial. (d). (b). serta memberi penjelasan prosedurnya. Melakukan pencatatan proses pelayanan dan perawatan khusus bagi anak dengan kecacatan sebagai penerima manfaat. Tugas-tugas yang dilaksanakan adalah: (a). (e). Melaksanakan tugas untuk menyampaikan informasi kepada warga atau keluarga anak dengan kecacatan guna menjangkau fasilitas umum dan pelayanan sosial dasar yang berada di luar lingkungan mereka. (c).110 serta lembaga di luar lingkungan anak dengan kecacatan dan keluarga berdomisili. Menyusun laporan tentang penanganan kasus. perkembangan anak dengan kecacatan sebagai penerima manfaat.Melaksanakan evaluasi terhadap berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam pendampingan PKS-ADK. serta perlindungan khusus. . (e). kebutuhan dan kondisi objektif yang dialami anak dengan kecacatan.Melakukan pencatatan dan pendataan untuk mengidentifikasi masalah.Membantu LPKSA dalam penyediaan layanan berkualitas bagi anak dengan kecacatan yang membutuhkan rehabilitas sosial dan perlindungan khusus.

Menyusun laporan seluruh kegiatan pendampingan terhadap anak dengan kecacatan dan menyampaikan laporan tersebut kepada Dinas Sosial Provinsi. pemerintah daerah dan masyarakat dalam bentuk pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak yang membutuhkan perlindungan khusus. Komponen rogram PKS-AMPK dirancang sebagai upaya yang terarah. Kab/Kota dan Kemensos setiap 3 (tiga) bulan dan 1 (satu) tahun serta mengarsipkannya sebagai dokumentasi kegiatan. 2) Bantuan pemenuhan kebutuhan dasar berupa pemenuhan akan makanan bergizi/ nutrisi dan penyediaan alat-alat sekolah. 3) Layanan pendidikan berupa bridging course dan remedial. PKS ANAK YANG MEMBUTUHKAN PERLINDUNGAN KHUSUS 1.111 (f). b. psikis. yang meliputi : a. Selain itu pelayanan kesejahteraan sosial PKS-AMPK juga diberikan dalam bentuk tambahan: . dan sosial sebagai persiapan reintegrasi anak dengan keluarga. E. yang meliputi: 1) Layanan kesejahteraan sosial berupa bimbingan psikososial dan motivasi membangun minat untuk mengikuti sistem pendidikan. pemulihan fisik. diberikan untuk mendukung proses penyelamatan. Dukungan layanan perlindungan serta akses ke layanan rehabilitatif dan reintegrasi bagi anak yang membutuhkannya. layanan bantuan/dukungan pemenuhan kebutuhan dasar bagi anak selama proses pemulihan dan reintegrasi. terpadu dan berkelanjutan yang dilakukan pemerintah.

Persyaratan dan kewajiban Matriks pada halaman berikut ini menggambarkan Aspek: a. b. Anak dalam Situasi Darurat Bencana g. Jenis Layanan. penguatan peran lembaga kesejahteraan sosial anak 2. Korban Eksploitasi Seksual c. penguatan kemampuan orang tua/keluarga dalam menjalankan kewajibannya melindungi dan mengasuh anak d. Korban Eksploitasi Ekonomi d. Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang b. Anak dalam Kelompok Minoritas dan Komunitas Adat Terasing a.112 c. yang terdiri dari: a. dan c. Terinfeksi atau Terdampak HIV/AIDS f. Penggunaan Bantuan Untuk setiap kategori anak yang membutuhkan perlindungan khusus. Anak yang Menjadi Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang Karakteristik / milestone Rehabilitasi Layanan/ Dukungan Pemeriksaan Medis Conditionality menyetujui untuk menjalani pemeriksaan medis sesuai SOP menyetujui untuk menjalani pemeriksaan psikologis sesuai SOP telah menjalani pemeriksaan medis Penggunaan Bantuan Transportasi & akomodasi Transportasi Pemeriksaan Psikologis Layanan pemulihan medis (IMS) Transportasi . Persyaratan Penerima Manfaat. Korban Penyalahgunaan NAPZA e.

Biaya kesertaan di pendidikan lanjutan atau nonformal & keterampilan Transportasi Transportasi . dll) Reintegrasi: Akses Penelusuran & penyiapan keluarga Anak menyetujui untuk kembali ke keluarga atau pengasuhan alternatif setelah menjalani layanan pemulihan Reunifikasi dengan keluarga atau pengasuhan alternative keluarga menyetujui untuk menerima anak dan dinilai mampu melindungi dan mengasuh anak anak menyetujui untuk kembali ke keluarga atau ditempatkan dalam pengasuhan alternatif sesuai rekomendasi hasil penelusuran anak (6-18 tahun) terdaftar dan hadir minimum 85% dalam mengikuti layanan pendidikan (formal atau non-formal) . dan (akses) pendidikan Reintegrasi: Perlindungan.Transportasi & akomodasi selama penelusuran keluarga .113 Layanan pemulihan trauma Reorientasi dan penguatan kompetensi sosial telah menjalani pemeriksaan psikologis menyetujui untuk kembali ke keluarga atau pengasuhan alternatif setelah menjalani layanan pemulihan Transportasi .Bantuan pelatihan keterampilan sosial (seperti komunikasi asertif.Biaya komunikasi telepon Dukungan pemenuhan kebutuhan dasar.Pengadaan peralatan sekolah/ pendidikan formal . Membutuhkan layanan pemulihan Bantuan hukum Layanan lanjutan kesehatan & psikis Anak mengikuti proses hukum terkait kasusnya sampai selesai Anak mengikuti proses layanan medis lanjutan . orientasi masa depan. meliputi kesehatan.Transportasi akses pendidikan & kesehatan .

Bantuan pelatihan keterampilan sosial (seperti komunikasi asertif.Biaya komunikasi telepon .Transportasi & akomodasi selama penelusuran keluarga .Transportasi & akomodasi selama penelusuran keluarga . dll) .114 lanjutan Anak mengikuti proses layanan pemulihan trauma lanjutan Transportasi b. Anak korban Eksploitasi Seksual Karakteristik / milestone Rehabilitasi Layanan/ dukungan Pemeriksaan Medis Conditionality menyetujui untuk menjalani pemeriksaan medis sesuai SOP menyetujui untuk menjalani pemeriksaan psikologis sesuai SOP telah menjalani pemeriksaan medis telah menjalani pemeriksaan psikologis menyetujui untuk kembali ke keluarga atau pengasuhan alternatif setelah menjalani layanan pemulihan Penggunaan Bantuan Transportasi & akomodasi Transportasi Pemeriksaan Psikologis Layanan pemulihan medis (IMS) Layanan pemulihan trauma Reorientasi dan penguatan kompetensi sosial Transportasi Transportasi Reintegrasi: Akses Penelusuran & penyiapan keluarga Menyetujui untuk kembali ke keluarga atau pengasuhan alternatif setelah menjalani layanan pemulihan Reunifikasi dengan keluarga atau pengasuhan alternatif Keluarga menyetujui untuk menerima anak dan dinilai mampu melindungi dan mengasuh anak . orientasi masa depan.

Pengadaan peralatan sekolah/ pendidikan formal .Transportasi akses pendidikan & kesehatan . dan (akses) pendidikan anak (6-18 tahun) terdaftar dan hadir minimum 85% dalam mengikuti layanan pendidikan (formal atau non-formal) Reintegrasi: Perlindungan.115 Anak menyetujui untuk kembali ke keluarga atau ditempatkan dalam pengasuhan alternatif sesuai rekomendasi hasil penelusuran . Membutuhkan layanan pemulihan lanjutan Bantuan hukum Layanan lanjutan kesehatan & psikis Anak mengikuti proses hukum terkait kasusnya sampai selesai Anak mengikuti proses layanan medis lanjutan Anak mengikuti proses layanan pemulihan trauma lanjutan .Bantuan modal usaha untuk keluarga Dukungan pemenuhan kebutuhan dasar. Anak korban eksploitasi ekonomi (pekerja anak) Karakteristik / milestone Rehabilitasi Layanan/ dukungan Akses Pemeriksaan Medis Pemeriksaan Psikologis Layanan pemulihan medis Layanan pemulihan trauma Conditionality menyetujui untuk menjalani pemeriksaan medis sesuai SOP menyetujui untuk menjalani pemeriksaan psikologis sesuai SOP telah menjalani pemeriksaan medis telah menjalani pemeriksaan psikologis Penggunaan Bantuan Transportasi & akomodasi Transportasi Transportasi Transportasi .Biaya kesertaan di pendidikan lanjutan atau nonformal & keterampilan Transportasi Transportasi Transportasi c.Biaya komunikasi telepon . meliputi kesehatan.

Biaya .Biaya komunikasi telepon .Transportasi & akomodasi selama penelusuran keluarga . dan (akses) pendidikan anak (6-18 tahun) terdaftar dan hadir minimum 85% dalam mengikuti layanan pendidikan (formal atau non-formal) .Bantuan modal usaha untuk keluarga Anak menyetujui untuk kembali ke keluarga atau ditempatkan dalam pengasuhan alternatif sesuai rekomendasi hasil penelusuran Dukungan pemenuhan kebutuhan dasar.Transportasi akses pendidikan & kesehatan . orientasi masa depan.116 Reorientasi dan penguatan kompetensi sosial menyetujui untuk kembali ke keluarga atau pengasuhan alternatif setelah menjalani layanan pemulihan Reintegrasi: Akses Penelusuran & penyiapan keluarga Menyetujui untuk kembali ke keluarga atau pengasuhan alternatif setelah menjalani layanan pemulihan Reunifikasi dengan keluarga atau pengasuhan alternatif Keluarga menyetujui untuk menerima anak dan dinilai mampu melindungi dan mengasuh anak .Bantuan pelatihan keterampilan sosial (seperti komunikasi asertif. meliputi kesehatan.Transportasi & akomodasi selama penelusuran keluarga .Pengadaan peralatan sekolah/ pendidikan formal . dll) .Biaya komunikasi telepon .

Pengadaan pakaian . dll) .Pengadaan peralatan sekolah/ pendidikan keterampilan Conditionality Penggunaan Bantuan Terinfeksi HIV/AIDS Terdampak HIV/AIDS (OVC) .Transportasi akses pendidikan & kesehatan . Anak dengan HIV/AIDS Karakteristik / milestone Pemeriksaan status Layanan/ Dukungan Rujukan VCT dan penanganan medis & psikososial ke mekanisme KPA setempat Dukungan pemenuhan kebutuhan dasar. dan (akses) pendidikan Anak (6-18 tahun) terdaftar dan hadir minimum 85% dalam mengikuti layanan pendidikan (formal atau non-formal) Anak taat mengikuti program dukungan pemeliharaan kesehatan (terapi ARV. nutrisi. meliputi kesehatan.117 kesertaan di pendidikan lanjutan atau non-formal & keterampilan Reintegrasi: Perlindungan Membutuhkan layanan pemulihan lanjutan Bantuan hukum Layanan lanjutan kesehatan & psikis Anak mengikuti proses hukum terkait kasusnya sampai selesai Anak mengikuti proses layanan medis lanjutan Anak mengikuti proses layanan pemulihan trauma lanjutan Transportasi Transportasi Transportasi d.Bantuan makanan/ nutrisi .

Bantuan makanan/ nutrisi . Pencegahan relaps Peningkatan pemahaman dan kesiapan dukungan keluarga Bantuan hukum Keluarga menerima dan bersedia mengasuh anak . dan (akses) pendidikan Stigma dan diskriminasi.Pengadaan pakaian . nutrisi.Transportasi akses pendidikan & kesehatan .Pengadaan peralatan sekolah/ pendidikan keterampilan Konseling keluarga .118 Stigma dan diskriminasi Peningkatan pemahaman keluarga dan masyarakat tentang HIV/AIDS Penyelenggaraan sosialisasi pemahaman tentang HIV/AIDS e. Anak korban Penyalahgunaan NAPZA Karakteristik / milestone Rehabilitasi Layanan/ dukungan Layanan rehab Conditionality Anak bersedia menerima layanan rehabilitasi Anak (6-18 tahun) terdaftar dan hadir minimum 85% dalam mengikuti layanan pendidikan (formal atau nonformal) Anak taat mengikuti program dukungan rehabilitasi lanjutan Penggunaan Bantuan Transportasi Reintegrasi Dukungan pemenuhan kebutuhan dasar.Akses layanan kesehatan nonjamkesmas . meliputi kesehatan.

Bantuan makanan/ nutrisi .Transportasi akses pendidikan & kesehatan .Pengadaan peralatan sekolah/ pendidikan keterampilan .Pengadaan peralatan sekolah/ pendidikan keterampilan . perlakuan salah. kesehatan. dan (akses) pendidikan Pondok Anak Ceria (save place) Anak Terpisah dan Anak Tanpa Pendamping Penelusuran & reunifikasi keluarga Conditionality anak (6-18 tahun) terdaftar dan hadir minimum 85% dalam mengikuti layanan pendidikan (formal atau nonformal) Penggunaan Bantuan .Bantuan tambahan nutrisi anak hadir & mengikuti 20 kali dalam satu bulan kegiatan program pengelola save place ada pengasuh sementara yang bertanggungjawab untuk SC/UAC Dukungan pemenuhan kebutuhan dasar. Anak dalam Situasi Darurat akibat Bencana Karakteristik / milestone Gangguan akses/ pemenuhan kebutuhan dasar Layanan/ dukungan Dukungan pemenuhan kebutuhan dasar. dan (akses) pendidikan Mengalami masalah psikososial Program dukungan pemulihan psikososial anak (6-18 tahun) terdaftar dan hadir minimum 85% dalam mengikuti layanan pendidikan (formal atau nonformal) anak hadir & mengikuti 15 kali kegiatan psikososial terstruktur dalam satu bulan sesuai program standar Pondok Anak Ceria anak berada di lingkungan save place . meliputi pakaian. nutrisi.Transportasi Rentan menjadi korban kekerasan. kesehatan.119 f. meliputi pakaian.Pengadaan pakaian .Transportasi . TPPO save place untuk anak dan keluarga Penguatan kemampuan keluarga untuk melindungi anak .pengadaan tempat aman bagi keluarga .Bantuan makanan/ nutrisi .Pengadaan pakaian .pendidikan pengasuhan . nutrisi.Transportasi akses pendidikan & kesehatan . eksploitasi.

120

g. Anak dari Kelompok Minoritas dan Komunitas Adat Terpencil
Karakteristik / milestone Akses Kebutuhan Dasar Layanan/ dukungan Dukungan pemenuhan kebutuhan dasar, nutrisi, meliputi kesehatan, dan (akses) pendidikan Conditionality Anak (6-18 tahun) terdaftar dan hadir minimum 85% dalam mengikuti layanan pendidikan (formal atau non-formal) Penggunaan Bantuan - Bantuan makanan/ nutrisi - Transportasi akses pendidikan & kesehatan - Akses layanan kesehatan non-jamkesmas - Pengadaan pakaian - Pengadaan peralatan sekolah/ pendidikan keterampilan

3. Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Unit Pengelola PKS-AMPK terdiri dari Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA), Lembaga Perlindungan Anak (LPA) atau lembaga perlindungan anak yang sejenis a. Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) adalah lembaga yang menyelenggarakan layanan perlindungan sementara kepada anak yang membutuhkan perlindungan khusus dalam bentuk: 1) Temporary Shelter, yaitu unit pelayanan perlindungan pertama yang bersifat responsif dan segera bagi anak yang mengalami tindak kekerasan dan perlakuan salah, atau yang memerlukan perlindungan khusus. 2) Protection Home, yaitu unit pelayanan perlindungan lanjutan dari Temporary Shelter yang berfungsi memberikan perlindungan, pemulihan, rehabilitasi, dan reintegrasi bagi anak yang memerlukan perlindungan khusus sehingga anak dapat tumbuh kembang secara wajar.

121

RPSA pada intinya memang dirancang untuk merespon masalah-masalah perlindungan anak, yaitu anak yang menjadi korban tindak kekerasan dan eksploitasi, termasuk anak-anak yang menjadi sasaran utama PKSAMPK ini. (Lihat manual SOP RPSA). b. Lembaga Perlindungan Anak (LPA) LPA adalah lembaga kemasyarakatan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, yang umumnya memiliki hubungan semi-formal dengan pemerintah daerah, yang pemfungsiannya terutama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan hak-hak anak dan isu-isu perlindungan anak, advokasi kebijakan perlindungan anak, pemantauan pelaksanaan hak-hak anak, pendampingan anak-anak, dan juga bekerja untuk mengembangkan sistem rujukan bagi anak-anak korban kekerasan, eksploitasi.

122

BAB IV MEKANISME PENGADUAN MASYARAKAT DAN PENGEMBANGAN PROGRAM
A. Mekanisme Pengaduan Masyarakat Pengaduan masyarakat dimaksudkan sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam mengawasi pelaksanaan PKSA. Pengaduan masyarakat dilakukan dalam bentuk mekanisme penyampaian laporan oleh anggota masyarakat atas: 1. Segala bentuk tindakan atau keputusan yang dilakukan oleh unsur pelaksana PKSA yang dinilai sebagai penyimpangan atau ketidaksesuaian cara pelaksanaan salah satu tahap layanan PKSA 2. Kerugian, material maupun non-material, yang dialami salah satu fihak akibat dilakukannya atau tidak dilakukannya suatu tindakan tertentu oleh unsur pelaksana PKSA 3. Gagasan atau usulan perbaikan kualitas pelaksanaan PKSA Mekanisme: 1. Melalui jalur pelaksana : a. Pengaduan disampaikan oleh anggota masyarakat langsung secara lisan maupun tertulis kepada pelaksana program PKSA di setiap daerah, yaitu petugas pendamping (SAKTI PEKSOS PKSA) dan LKSA setempat. b. LKSA bertanggungjawab mencatat setiap pengaduan ke dalam form pengaduan masyarakat dan menindaklanjutinya sesuai dengan kewenangannya atau meneruskan laporan dan penanganan kepada pihak lain, yaitu Dinas Sosial setempat atau Sekretariat PKSA di Kementerian Sosial RI sesuai dengan porsi permasalahan yang disampaikan.

123

2. Langsung ke penanggungjawab program a. Pengaduan disampaikan oleh anggota masyarakat melalui surat tertulis yang dikirimkan kepada: Sekretariat PKSA Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI Jl. Salemba Raya Nomor 28 Jakarta

b. Pengaduan juga dapat dilakukan melalui telepon 021310.0375 dan layanan pesan singkat ke Sekretariat PKSA dengan menggunakan nomor pengaduan 081311265641 c. Pengaduan melakui email dengan menggunakan website tentang PKSA yaitu http://pksa=kemensos.com d. Sekretariat PKSA di Kantor Kementrian Sosial bertanggungjawab mencatat setiap pengaduan ke dalam form pengaduan masyarakat dan menindaklanjutinya berkoordinasi dengan unit terkait sesuai dengan porsi permasalahan yang disampaikan.

B. Sumber dukungan Pengembangan Kemampuan LKSA 1. Pengembangan Kemampuan Teknis LKSA Pengembangan kemampuan teknis lembaga adalah upayaupaya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan personil LKSA dalam menyelenggarakan setiap tahapan pelayanan PKSA. Upaya tersebut meliputi antara lain: a. Penyelenggaraan pelatihan atau keikutsertaan dalam pelatihan pengembangan SDM bagi pengurus LKSA dan Sakti Peksos, dalam bidang: Manajemen Kasus, Layanan Perlindungan Anak, Kerjasama dan Manajemen Konflik, Kepemimpinan, Komunikasi, dll. b. Konsultansi dengan akademisi dan praktisi layanan kesejahteraan sosial, khususnya bidang perlindungan

nasional maupun internasional b. Pengembangan Jaringan Lembaga Pendukung Untuk tujuan penyelenggaraan pelayanan kepada anak dan keluarga secara komprehensif dan berkelanjutan. Identifikasi. sangat disarankan LKSA bersama Sakti Peksos membangun kerjasama dengan pihak-pihak lain seluas-luasnya di wilayah kerjanya. termasuk upaya pemanfaatan kewajiban penyisihan dana untuk CSR (Corporate Social Responsibilities) c. Pembuatan dan pengajuan proposal pencarian dana kepada lembaga-lembaga usaha yang memiliki kepedulian sosial.124 anak dalam mengembangkan model operasi pelayanan yang efektif dan efisien. Berikut ini contoh beberapa hal yang dapat dilakukan LKSA: a. perkuat dan manfaatkan potensi dukungan dari jaringan kerja yang telah dimiliki LKSA sebagai titik awal pengembangan pelayanan. Peningkatan. Membangun Jaringan Pendukung Pelaksanaan PKSA: 1. c. Pembuatan dan pengajuan proposal pencarian dana kepada lembaga-lembaga sosial. . Penggalangan dana masyarakat C. termasuk membangun forum koordinasi dan berbagi pengalaman/sumber daya dengan LKSA-LKSA lain 2. Pengembangan Sumber Pendanaan LKSA dapat melakukan upaya mandiri untuk mencari sumber pendanaan pelayanan PKSA selain dari Kementrian Sosial untuk tujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanannya kepada anak-anak dan keluarga penerima manfaat PKSA. Pembuatan dan pengajuan proposal pencarian dana dari sumber Anggaran Pendapatan & Belanja Daerah (APBD) d.

administratif.125 Sebagian besar lembaga dalam jaringan kerja LKSA umumnya memiliki kepentingan yang sama dengan pencapaian tujuan PKSA. dan lembaga) Supervisi dalam PKSA dilakukan untuk: 1. PPT. memastikan bahwa setiap standar proses. yaitu dukungan bagi kesejahteraan anak. peksos. Oleh karena itu. LKSA dan Sakti Peksos sebaiknya mengidentifikasi dan menjalin hubungan dengan jaringan pelayanan yang mungkin telah ada di tingkat kabupaten/Kota. (Dalam Pedoman Manajemen Kasus dapat diambil Bab Pengembangan Jaringan) D. 2. LKSA bersama dengan Sakti Peksos hendaknya memberikan penjelasan mengenai PKSA kepada setiap lembaga dalam jaringan tersebut dan memastikan mereka dapat memberikan dukungannya. kesehatan. seperti P2TP2A. Untuk hal ini. Perluasan jaringan pendukung. dan pencapaian PKSA dipenuhi dengan cara yang berkualitas . Perluasan jaringan melalui pencarian dan penambahan kerjasama dengan lembaga-lembaga penyedia layanan perlu dilakukan dari 2 (dua) aspek: a. LKSA bersama dengan Sakti Peksos perlu mengembangkan jaringan pendukung di luar jaringan kerja yang telah dimiliki LKSA sebelumnya. Lembaga dengan jenis layanan tertentu. untuk memudahkan anak dan keluarga yang tinggal di wilayah yang jauh dari jangkauan pelayanan lembaga yang ada dalam jaringan saat ini. dengan pertimbangan ada area tertentu kebutuhan anak (misal: pendidikan. psikologis. Supervisi (terhadap klien. Lembaga pelayanan yang lebih tersebar di luar wilayah domisili LKSA (kabupaten/kota/kecamatan). dll. dll) yang belum dapat terlayani oleh lembaga-lembaga yang ada dalam jaringan saat ini b. Gugus Tugas PTPPO.

Sakti Peksos melakukan supervisi berkala dan insidental sesuai kebutuhan terhadap penerima manfaat (anak dan keluarga) khususnya untuk memastikan kesesuaian penggunaan dana bantuan untuk kesejahteraan anak dan perubahan perilaku positif yang menjadi indikator pemenuhan conditionality.126 2. Kegiatan Supervisi dilakukan dalam bentuk: a. respon terhadap pelaporan dan b. 6. Pimpinan LKSA melakukan supervisi berkala dan insidental atas kinerja pelayanan Sakti Peksos terhadap anak dan keluarga penerima manfaat PKSA 5. yang pelaksanaannya dilakukan oleh Tim technical Assistance PKSA . 2. meningkatkan dan memelihara kemampuan dan motivasi kerja pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan PKSA Pelaksanaan Supervisi: 1. 4. sehingga permasalahan yang mungkin ada dapat dieksplorasi dengan lebih jelas dan solusi perbaikan dapat difahami dan diterima bersama. 3. kunjungan atau pertemuan langsung. Kegiatan supervisi melibatkan interaksi yang bersifat dialogis antara pelaksana supervisi dengan pihak yang disupervisi. Dinas Sosial setempat melakukan supervisi berkala terhadap kinerja LKSA dalam melaksanakan pelayanan sosial terhadap anak melalui PKSA di wilayah kerjanya. Kementrian Sosial melakukan supervisi berkala terhadap kinerja LKSA dan Sakti Peksos.

Telp. Papan Nama PKSA LKSA agar membuat papan nama yang dipasang di wilayah kerjanya. dll (PKSA) .127 E. No. Contoh : Logo LKSA UNIT PENGELOLA PROGRAM KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK PKSA Nama Lembaga Alamat.

Hal-hal yang belum diatur dalam pedoman ini. dapat disesuaikan. kepada semua Unit kerja Pelayanan Sosial Anak di tingkat Pusat. 20 Maret 2011 Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak . sehingga dalam hal adanya ketidaksesuaian dengan kondisi di lapangan. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. petunjuk bagi semua pihak yang berkepentingan dalam merencanakan. sebagai salah satu perwujudan akuntabilitas. melaksanakan dan mengendalikan penyelenggaraan pelayanan kesejahteraan anak. mengorganisasikan. Dinas Sosial Provinsi. Kabupaten/Kota. diharapkan dapat mensosialisasikan pedoman ini kepada masyarakat luas melalui berbagai cara dan media. akan ditindaklanjuti dengan Surat Edaran atau surat resmi Direktur Pelayanan Sosial anak Direktorat Jenderal Pelayanan Sosial Anak Departemen Sosial RI. PKSA Tahun 2011 masih merupakan Pilot Project nasional. Jakarta. dengan cacatan perubahan yang terjadi harus sepengetahuan UP-PKSA secara berjenjang. transparasi dan pencitraan publik dalam pengembangan program Pelayanan Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA).128 BAB V PENUTUP Dengan terbitnya pedoman operasional PKSA edisi 2 ini diharapkan dapat menjadi acuan.

UMUM Lampiran A1 Lampiran A2 Lampiran A3 Lampiran A4 Lampiran A5 Lampiran A6 Format Proposal Surat Pernyataan Lembaga Lembar Rekomendasi Sistematika Laporan Instrumen Monitoring dan Evaluasi Sistimatika Laporan Keuangan B. OPERASIONAL PKSA Lampiran B1 Lampiran B2 Lampiran B3 Lampiran B4 Lampiran B5 Lampiran B6 PKS-AB PKS-ANTAR & ANJAL PKS.Perjanjian Kontrak Kerja Satuan Bakti Peksos Perlindungan Anak .Kesepakatan Bersama Antara Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak Kemensos RI dan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) .ABH PKS-ADK PKS-AMPK .Surat Tugas Sakti Peksos .129 LAMPIRAN – LAMPIRAN : A.

YAYASAN KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK JL..130 Lampiran A1 : Format Proposal FORMAT PROPOSAL PROGRAM PKSA LEMBAR JUDUL Judul program “Pelayanan Kesejahteraan Sosial Anak ………………….. lokasi wilayah program Contoh: PROPOSAL PROGRAM PELAYANAN KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK DI DESA ……………. SUKARAME KAB. SUKAMAJU NO.PROVINSI…………………. KABUPATEN/KOTA………….” Berisi informasi tentang : 1) Pelayanan yang diselenggarakan. JAWABARAT TLP. alamat. KECAMATAN……………. 2) Karakteristik umum penerima manfaat 3) Nama. SUKASARI PROV. 02200000000 TAHUN 2009 .4 KEC..

LEMBAR REKOMENDASI Berupa surat rekomendasi dari organisasi. lembaga yang menjadi penjamin dan menjelaskan bahwa proposal yang diajukan layak dipertimbangkan mendapat kesempatan untuk menjadi penyelenggara program PKSA. Permasalahan Anak 3. Indikator Keberhasilan 10. Rencana Anggaran 11. Tujuan 5. Profil Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak. c. Lampiran-Lampiran a. Data sasaran/ calon penerima manfaat/ bantuan dan data pendukung lainnya b. ISI PROPOSAL 1. Dasar Hukum 4.131 A. Komponen Kegiatan 7. Latar Belakang 2. Sdm Pengelola Program 9. LEMBAR KATA PENGANTAR B. Sasaran 6. Surat pernyataan kesanggupan dari penyelenggara program PKSA untuk melaksanakan program dengan sungguh-sungguh sesuai dengan proposal yang disetujui dan bermaterai secukupnya. d. C. Surat rekomendasi dari Dinas/ Instansi Sosial dan instansi terkait lainnya yang relevan dengan PKSA. instansi. yang dilengkapi dengan biodata personalia pengelola program . Pengorganisasian Kegiatan 8.

Fotocopy badan hukum (notaris). Fotocopy rekening Bank dan NPWP atas nama lembaga (bukan nama pribadi) g. . atau surat keputusan dari Kementerian Sosial/ Dinas/ Instansi Sosial yang mengesahkan lembaga kesejahteraan sosial. f. Dokumen lain yang mendukung dan menyakinkan kebenaran kegiatan. ijin operasional dari lembaga yang berwenang.132 e.

. Tempat dan tanggal lahir : ………………………………...... Sesuai dengan proposal yang diajukan............. : ……………………………….133 Lampiran A2: Surat Pernyataan Lembaga SURAT PERNYATAAN Yang bertanda tangan dibawah ini..... Bertanggung jawab atas keberhasilan program sebagaimana dimaksud pada butir 2 dengan melakukan pendampingan. aksesibilitas pelayanan sosial dasar.. Email : ....... 3.. Penerima manfaat tersebut pada butir 1 akan kami seleksi sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan dan diberikan layanan sosial sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang ditetapkan......... 4......... Alamat lembaga : ………………………………. ..... sarana.... jika kami ditetapkan sebagai lembaga mitra program PKSA. Jabatan dalam lembaga Alamat rumah : ………………………………...... sesuai dengan surat keputusan dari Kementerian Sosial.. Kami sanggup menyelenggarakan program PKSA sesuai Pedoman Umum dan Pedoman Operasional yang telah ditetapkan 2.. tenaga pendamping.... dan mitra kerja yang kami siapkan agar mencapai kinerja yang ditetapkan. dengan ini kami menyatakan hal sebagai berikut: 1........ Data dan informasi tentang penerima manfaat akan kami lampirkan setelah melalui verifikasi dan ditetapkan sebagai penerima manfaat bantuan program dan akan kami berikan pelayanan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar........ dan layanan penguatan tanggung jawab orang tua/ keluarga dan dukungan program lainnya.. supervisi dan monitoring kepada penerima manfaat.... Telp .. Telp . saya: Nama : ………………………………..... disertai rencana kegiatan......

Yang menyatakan. 6.134 5. secara hukum kami terbukti melakukan penyimpangan atas penggunaan dana maupun dalam pelaksanaan program. Melakukan koordinasi dengan Dinas/ Instansi Sosial Provinsi dan Kabupaten/Kota serta perangkat masyarakat lainnya dalam menindak lanjuti keberlangsungan program. 7. Kami bertanggung jawab sepenuhnya bila dikemudian hari sesuai dengan keputusan pengadilan. tanpa paksaan dari pihak manapun. Materai 6000 Nama Lengkap Ketua/pimpinan . Pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya penuh kesadaran dan tanggung jawab. Bersedia diaudit oleh pihak yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 8.

Berdasarkan hasi verifikasi lembaga dan dokumen proposal yang diajukan. ………………. Untuk ikut serta dalam seleksi calon penyelenggara program PKSA.135 Lampiran A3 : Lembar Rekomendasi REKOMENDASI Nomor : ………………. Demikian rekomendasi ini diberikan untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.2010 Tanda tangan dan cap stempel Lembaga pemberi rekomendasi Nama lengkap NIP.. dengan ini kami memberikan rekomendasi kepada: Nama Lembaga Penanggung jawab Alamat Lembaga : …………………………………… : …………………………………… : …………………………………… Tlp. Apabila proposal disetujui.Fax…………. ………………………. kami bersedia ikut membina dan memantau pelaksanaan program oleh lembaga tersebut diatas. .

hasil yang dicapai pada setiap tahapan. Manfaat program Menguraikan manfaat yang dihasilkan baik bagi penerima manfaat (anak dan keluarga) maupun kelompok masyarakat lainnya. tantang dan hambatan yang dihadapi selama menyelenggarakan program serta solusi yang dilakukan sehingga permasalahan tersebut dapat diatasi dan dieliminir. F.136 Lampiran A4 : Sistematika Laporan SISTEMATIKA PELAPORAN Penyajian pelaporan. Latar belakang Menyajikan uraian tentang alasan kegiatan PKSA dilaksanakan di wilayah kerja yang ditangani. meliputi: 1. Tujuan Menyajikan tujuan PKSA C. Hasil yang dicapai Menjelaskan secara rinci hasil-hasil yang dicapai dari program yang telah dilaksanakan. uraian permasalahan anak dan pentingnya PKSA dilaksanakan. E. Disini . Penerima manfaat yang berhasil menyelesaikan program Menguraikan berapa banyak penerima manfaat diawal dan berapa banyak yang berhasil menyelesaikan program. B. perkembangan sikap dan perilaku penerima manfaat (conditionality/ outcomes) dan evaluasi terhadap pencapaian kinerja program. sekurang-kurangnya mengikuti sistematika sebagai berikut: A. Masalah yang dihadapi dan solusi yang telah dilaksanakan Menguraikan tentang berbagai masalah. D. Proses pelaksanaan program Mengurai secara rinci tentang tahapan kegiatan yang dilaksanakan. Pada bagian ini juga disampaikan tetang keterlibatan berbagai pihak (stakeholders) yang mendukung keberhasilan program.

137 diuraikan pula penyebab keberhasilan dan kegagalan yang dialami penerima manfaat 2. file penerima manfaat. Disini diuraikan pula jaringan (networking) dan lembaga mitra yang mendukung progtam PKSA. sehingga penjelasan lebih komprehensif dan dapat dipertanggung jawabkan. catatan kasus. Rekomendasi Menyajikan rekomendasi berupa intervensi dan upaya pemecahan masalah untuk memperbaiki dan menjadi kontribusi dimasa mendatang. Menjelaskan berapa persen penerima manfaat yang dapat dirujuk dan dapat layanan lanjutan. Laporan pertanggung jawaban penggunaan dana bantuan dalam bentuk dalam bentuk kwitansi dan lampiran pendukung lainnya. Lampiran-lampiran 1. 3. Form perkembangan penerima manfaat dan lain-lain. Dokumen-dokumen kegiatan seperti. I. 2. Penerima manfaat yang dirujuk dan mendapat layanan lanjutan. Soft copy laporan dalam bentuk CD/ USB . H. Catatan: Penjelasan maupun uraian pada setiap bagian dapat disertai dengan tabel dan grafik gambar dan foto kegiatan yang relevan. Kesimpulan Menyajikan simpulan-simpulan yang rasional dari keseluruhan program PKSA yang telah dilaksanakan. G.

138 B. OPERASIONAL PKSA Lampiran B1 PKS-AB Lampiran B2 Lampiran B3 Lampiran B4 Lampiran B5 PKS-ANTAR & ANJAL PKS.ABH PKS-ADK PKS-AMPK .