1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Kebijakan dan program kesejahteraan sosial anak pada masa lalu cenderung dilaksanakan secara sektoral, jangkauan pelayanan terbatas, mengedepankan pendekatan institusi/panti sosial, dan dilaksanakan tanpa rencana strategis nasional. Untuk itu, pada masa yang akan datang diperlukan kebijakan dan program kesejahteraan sosial anak yang terpadu, berkelanjutan, menjangkau seluruh anak yang mengalami masalah sosial, melalui sistem dan program kesejahteraan sosial anak yang melembaga dan profesional dengan mengedepankan peran dan tanggung jawab keluarga serta masyarakat. Perubahan kebijakan dan program kesejahteraan sosial anak selaras dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional, diperlukan penyempurnaan program bantuan sosial berbasis keluarga khususnya bidang kesejahtreraan sosial anak untuk anak balita terlantar, anak jalanan, anak dengan kecacatan, anak berhadapan dengan hukum, dan anak yang membutuhkan perlindungan khusus. Selanjutnya berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan ditetapkan Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) sebagai program prioritas nasional yang meliputi Program Kesejahteraan Sosial Anak Balita, Program Kesejahteraan Sosial Anak Terlantar, Program Kesejahteraan Sosial Anak Jalanan, Program Kesejahteraan Sosial Anak yang Berhadapan dengan Hukum, Program Kesejahteraan Sosial Anak Dengan Kecacatan dan Program Kesejahteraan Sosial Anak yang Membutuhkan Perlindungan Khusus.

2

Sebagai tindak lanjut dari Instruksi Presiden, telah ditetapkan Keputusan Menteri Sosial Nomor 15A/HUK/2010 tentang Panduan Umum Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA). Dalam 5 (lima) tahun ke depan, kerangka kebijakan nasional mengalami perubahan yang fundamental. Kebijakan nasional tentang pemenuhan hak anak telah dirumuskan dalam RPJMN 2010-2014. Kementerian Sosial telah menindaklanjuti merumuskan Rencana Strategis Pelayanan Kesejahteraan Sosial Anak 2010-2014 dan menjadi acuan utama dalam pengembangan pola operasional Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA).

1. Situasi Anak Setiap anak mempunyai hak yang sama untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai potensinya. Secara berlapis, dimulai dari lingkar keluarga dan kerabat, masyarakat sekitar, pemerintah lokal sampai pusat, hingga masyarakat internasional yang berkewajiban untuk menghormati, melindungi, dan mengupayakan pemenuhan atas hak-hak anak. Hanya jika setiap lapisan pemangku tugas tersebut dapat berfungsi dengan baik dan mampu menjalankan kewajiban dan tanggungjawabnya, maka anak akan dapat memiliki kehidupan berkualitas yang memungkinkannya tumbuh-kembang secara optimal sesuai potensinya. Meskipun banyak upaya telah dilakukan, masih banyak anak Indonesia harus hidup dalam beragam situasi sulit yang membuat kualitas tumbuh kembang dan kelangsungan hidupnya terancam. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (2006), jumlah anak Indonesia usia di bawah 18 tahun mencapai 79.898.000 jiwa dan mengalami peningkatan menjadi 85.146.600 jiwa pada tahun 2009. Gambaran situasi masalah anak antara lain sebagai berikut : a. Ditinjau dari derajat kesehatan, gizi, dan kesiapan belajar/ pendidikan pra sekolah terutama pada anak balita yang berasal dari keluarga miskin atau sangat miskin, belum tersentuh sistem layanan dan perlindungan yang memadai. Pada tahun 2006 diperkirakan jumlah anak usia 0-5

3

tahun mencapai sekitar 27,6 juta jiwa, atau sekitar 12,79% dari seluruh populasi Indonesia yang jumlahnya sebesar 215,93 juta jiwa. Anak balita terlantar dan hampir terlantar di Indonesia pada tahun 2009, adalah sebesar 17.694.000 jiwa (22,14%), sementara data dari Direktorat Pelayanan Anak melaporkan bahwa anak yang telah mendapatkan pelayanan sosial hanya 1.186.941 jiwa (6,71%). Pada tahun 2005, prevalensi anak balita kurang gizi mencapai 28%, sekitar 8,8% diantaranya menderita gizi buruk. Anak balita yang mendapat layanan kesiapan belajar atau pendidikan pra sekolah baru mencakup 24,85%. Layanan melalui TK/RA baru mencapai 12,59%, Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak baru berhasil melayani 4,81%. b. Masalah kemiskinan yang belum dapat diatasi secara efektif secara memberikan kontribusi pada keterlantaran anak. Selain itu menjadi pendorong banyak anak yang terpaksa bekerja di jalanan. Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial Kementerian Sosial mencatat jumlah anak jalanan tahun 2007 sebanyak 230.000 jiwa. Adapun BPS bersama ILO mengestimasi jumlah anak jalanan sebanyak 320.000 pada tahun 2009. c. Kenakalan anak juga dirasa semakin meresahkan masyarakat, tidak hanya di kota-kota besar, tetapi juga di pedesaan. Kasus-kasus kenakalan semakin sering diberitakan media, karena tidak hanya muncul dalam bentuk pelanggaran ringan tetapi sudah sering muncul dalam bentuk tindak pidana kejahatan seperti kekerasan yang menimbulkan korban jiwa baik yang dilakukan secara sendiri maupun berkelompok/geng. d. Pada tahun 2008 dari 29 Balai Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Indonesia dilaporkan terdapat 6.505 anak dengan kenakalan diajukan ke pengadilan, dan 4.622 anak diantaranya (71,05%) diputus pidana. Pada tahun 2009 kasus tindak pidana anak yang diajukan ke pengadilan meningkat menjadi 6.704 anak, dan 4.748 diantaranya (70.82%) diputus pidana.

4 e. dll. terisolasi.603 anak dengan kecacatan sedang dan 46.763 jiwa (0. Masalah lain berhubungan dengan kesulitan hidup Anak dengan Kecacatan (ADK). terdapat 199. Data BPS tahun 2004 menyebutkan jumlah ADK sebanyak 365. 74.412 anak dengan kecacatan ringan. stigma/label masyarakat.46 %).868 anak (0. kondisi faktual sistem hukum dan penegakan hukum saat ini belum mampu memberikan jaminan terjadinya perubahan positif perilaku. Jika dihitung dengan rata-rata kasar dari laporan di atas. anak-anak juga kerap harus menyerap berbagai pengalaman buruk yang menyertai proses penegakan hukumnya serta tidak dapat mengakses berbagai hak dan kebutuhan dasar yang esensial bagi proses tumbuh-kembangnya menuju kedewasaan. ketakutan terhadap aturan dan proses hukum yang tidak mereka pahami. Sebagian besar anak dengan kecacatan berada dalam keluarga miskin.148 anak dengan kecacatan berat. bahwa rata-rata tiap Bapas pada tahun 2009 melaporkan 231 anak yang diajukan kepengadilan dan 163 anak yang diputus pidana. sementara jumlah seluruh Bapas ada 62. maka secara kasar diperkirakan seluruhnya ada 14. f. Mereka mengalami masa-masa sulit. yang faktanya menunjukkan mereka sulit mendapatkan hak dasarnya sebagai anak secara wajar dan memadai.37 %). Angka seluruh kasus anak mungkin jauh lebih besar karena angka di atas hanya bersumber dari 29 Bapas yang telah memberi laporan. h. g. Sementara itu.163 anak. pengalaman kekerasan fisik dan psikis selama mengikuti proses hukum. tekanan dari lingkungan baru. sedangkan data Pusdatin Kemensos. Banyak situasi ADK pada keluarga miskin . Menurut hasil pendataan Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat Kementerian Sosial (2009) di 24 propinsi. sulit mengakses kelayakan kebutuhan dasar. 2006 mencatat sebanyak 295.322 anak yang diajukan ke persidangan dan 10.106 anak yang diputus pidana. berkaitan dengan rasa bersalah. yang terdiri dari 78. terpisah dari keluarga.

000 jiwa.94%-nya adalah anak.2 % di antaranya laki-laki dan 26. k. antara lain pelayanan kesehatan. Data-data penanganan pengungsi seperti dari konflik di Poso.2 juta jiwa. dilaporkan 464 anak berusia di bawah 15 tahun positif terinfeksi AIDS yang sebagian besar terinfeksi karena lahir dari ibu yang positif HIV. i.5 tidak terpenuhi kebutuhan nutrisi. Sementara UNICEF Indonesia (2008) memperkirakan terdapat 40. serta anak yang bekerja sekitar 5. Situ Gintung. Di area lain. j.696 korban tindak pidana perdagangan orang. Tingginya frekuensi bencana alam (dan sosial) di Indonesia juga menyebabkan banyak anak harus hidup dalam situasi darurat pasca bencana. pendidikan. di mana 73. karena kasus yang terungkap jumlahnya selalu jauh lebih kecil dari realitas. diisolasi. Jogjakarta.8% perempuan. Data BPS (2006) menunjukkan jumlah anak yang membutuhkan perlindungan khusus karena mengalami kekerasan sebanyak 180.000-70. Data layanan IOM Indonesia periode 2005 hingga 2009 menunjukkan bahwa dari 3.442 kasus HIV/ AIDS. Jawa Barat. Untuk anak yang menjadi korban eksploitasi seksual. 23. dan Padang menunjukkan bagaimana keselamatan dan kualitas kelangsungan hidup anak menjadi terancam. Dalam waktu yang sama. dan bencana alam besar di Aceh. Aceh. pemukiman yang layak serta tidak memiliki alat bantu kecacatan. tidak mendapatkan pengasuhan dan perawatan khusus sesuai dengan kecacatannya dari orangtua/keluarga.000 anak menjadi korban tindak pidana perdagangan orang untuk tujuan eksploitasi seksual. Kementrian Kesehatan dalam laporannya hingga September 2009 menyebutkan total jumlah 18. Diyakini ini hanya puncak gunung es. diperkirakan angkanya jauh lebih besar dari angka ini. belum termasuk untuk kelompok usia diatas 15 tahun dan yang terinfeksi karena sebab lain . Sambas. Ambon. didiskriminasi dalam pengasuhan dan tidak tersentuh oleh pelayanan sosial dasar.

Namun faktanya masih sangat banyak anak belum tersentuh pelayanan kesejahteraan sosial karena keterbatasan sumber daya. Respon Sistemik Masyarakat dan pemerintah dari berbagai tingkatan telah melakukan berbagai layanan dan program yang terus dikembangkan dengan intensitas dan kualitas yang diupayakan terus meningkat dari tahun ke tahun.6 seperti penggunaan narkoba suntik dan hubungan eksual. Keterbatasan cakupan pelayanan ini juga disertai dengan belum adanya keterpaduan perencanaan dan pengelolaan sumberdaya dan layanan di antara lembaga-lembaga pelayanan sosial yang ada. Selain itu dilakukan perubahan paradigma dalam berbagai dimensi program meliputi : perspektif analisis masalah dan kebutuhan. Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) mulai dikembangkan dan diujicobakan untuk penanganan anak jalanan di lima wilayah . 2. Strategi konvensional dimaksud seperti kurangnya memperhatikan kebutuhan dasar anak yang beragam. termasuk sumber pendanaan Corporate Social Responsibilty. sehingga bantuan sosial cenderung diseragamkan. dan sistem manajemen pelaksanaan layanan. Pada 2009. sistem penetapan target sasaran. APBD. strategi dan program terobosan yang telah lama digagas mulai diaktualisasikan sehingga gap yang ada mampu diperkecil.2 juta pengguna berasal dari kelompok usia muda (remaja/pemuda). Keterbatasan tersebut juga diperparah dengan penggunaan pendekatan dan strategi yang konvensional. Sejak 2009 rancangan kebijakan. Misalnya sumber pendanaan tidak semata bertumpu pada APBN tetapi menggalang juga kerjasama luar negeri. keberlanjutan layanan. sehingga mengakibatkan meningkatnya masalah sosial anak yang tidak dapat diimbangi dengan upaya pencegahan dan respon yang memadai. Badan Narkotik Nasional (2006) menyebutkan bahwa 80% dari sekitar 3.. pola operasional layanan. Adapun untuk anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba. dan dukungan organisasi non-pemerintah dalam negeri maupun internasional.

Oleh karena itu.7 yaitu Jawa Barat. anak yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang. dan konsisten bagi para pihak yang terlibat dalam pelaksanaannya. Belajar dari pengalaman implementasi awal tersebut. Lampung. meliputi anak balita terlantar. Juga perwujudan dari kesungguhan Kementerian Sosial mendorong perubahan paradigma dalam pengasuhan. Untuk kepentingan kejelasan operasionalisasi pencapaian tujuan program tersebut. Dasar Hukum Perancangan. dan anak dari kelompok minoritas atau komunitas adat terpencil. layanan PKSA telah diperluas jangkauan target sasaran maupun wilayahnya. dan Yogyakarta. eksploitasi ekonomi. mulai 2010. serta anak yang membutuhkan perlindungan khusus lainnya seperti anak yang berada dalam situasi darurat. anak dengan kecacatan. lengkap. peningkatan kesadaran masyarakat. dan perlindungan anak yang bertumpu pada keluarga dan masyarakat. perencanaan dan pelaksanaan Program Kesejahteraan Sosial didasarkan pada: . termasuk memberikan penekanan pada upaya pencegahan. penderita HIV/AIDS. maka Pedoman Operasional Pelaksanaan PKSA ini disusun untuk memberikan panduan yang jelas. DKI Jakarta. korban penyalahgunaan narkoba/ zat adiktif. PKSA merupakan respon sistemik dalam perlindungan anak. serta mekanisme pemenuhan kebutuhan dasar anak yang dapat merespon keberagaman kebutuhan melalui tabungan. B. PKSA dikembangkan dengan perspektif jangka panjang sekaligus untuk menegaskan komitmen Kementerian Sosial untuk merespon tantangan dan upaya mewujudkan kesejahteraan sosial anak yang berbasis hak. Sulawesi Selatan. anak jalanan dan anak terlantar. korban kekerasan dan eksploitasi seksual. penguatan tanggung jawab orang tua/ keluarga. anak yang berhadapan dengan hukum.

2. Undang-Undang RI Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Undang-Undang RI Nomor Kesejahteraan Sosial.8 1. Menteri Agama. Intruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan 9. 64 Tahun 84. 7. Peraturan Menteri Sosial No. Peraturan Pemerintah RI Nomor 2 Tahun 1988 tentang Usaha Kesejahteraan Sosial Bagi Anak yang Mempunyai Masalah. . 3. 4. No. Keputusan Menteri Sosial Nomor 135/HUK tahun 2009 tentang Standar Nasional Pengasuhan dan Perlindungan Anak Di Bawah Lima Tahun. 43/HUK/ KEP/VII/1984. Anak dengan kecacatan. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional. 11. dan anak bertempat tinggal di daerah Terpencil dalam rangka pelaksanaan Wajib Belajar. No. Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 15A/HUK/2010 tentang Panduan Umum Program Kesejahteraan Sosial Anak. 8. dan Menteri Dalam Negeri. 10. 30 Tahun 2011 tentang Standar Nasional Pengasuhan Anak di LKSA 13. 57 Tahun 2010 tentang Pendirian Taman Anak Sejahtera 12. 0318/P/1984. Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tentang Ratifikasi Konvensi Hak Anak. 11 Tahun 2009 tentang 5. 45 Tahun 1984 tentang Bantuan terhadap Anak Kurang Mampu. Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. No. 6. No. Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Menteri Sosial. Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Peraturan Menteri Sosial No.

secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.M 06. dan sosial anak agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri.07-83 tahun 2005. serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi . sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. dan berpartisipasi. Kepolisian Republik Indonesia. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun. Kementerian Sosial dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup. Kementerian Hukum dan Ham RI.U. tentang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Anak Didik Pemasyarakatan. 1. 2. 16.Th. Kejaksanaan Agung. Nomor:B/43/XII/2009. tumbuh. Keputusan Bersama Mahkamah Agung RI.02. termasuk anak yang masih dalam kandungan. C. Menteri Kesehatan RI.MH. Nomor:1220/Menkes/SKB/XII/2009.2009. Kesejahteraan Sosial Anak adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material. Menteri Hukum dan HAM RI.03. tentang Penanganan Anak yang Berhadapan dengan Hukum tanggal 22 Desember 2009.9 14.HH. Kesepakatan Bersama antara Direktur Jenderal PRS Departemen Sosial RI dengan Direktur Jenderal PAS Departemen Hukum dan HAM RI Nomor: 20/PRS-2/KEP/2005 dan Nomor: E. 3. Nomor:06/ XII/2009. berkembang. Menteri Pendidikan Nasional RI.04. Nomor: M. Kesepakatan Bersama Menteri Sosial RI. 15. spiritual. Nomor:11/ XII/KB/2009. Pengertian Berikut ini beberapa pengertian yang menjadi bagian dari konsep pokok yang digunakan dalam Pedoman Operasional Program Kesejahteraan Sosial Anak. tentang Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Anak Yang Berhadapan dengan Hukum. Menteri Agama RI dan Kepolisian Negara RI Nomor : 12/PRS-2/KPTS/2009.

Tenaga Kesejahteraan Sosial Anak adalah seseorang yang dididik dan dilatih secara profesional untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan penanganan masalah sosial anak dan/atau seseorang yang bekerja. 9. 7. Provinsi. 10. Pekerja Sosial Profesional Anak adalah pekerja sosial yang bekerja mnenjadi pendamping PKSA yang memiliki keahlian dalam bidang kesejahteraan dan perlindungan anak. dan Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab atas penyelenggaraan PKSA di masing-masing tingkat kewilayahan. 5. Pekerja Sosial Profesional adalah seseorang yang memiliki kompetensi dan profesi pekerjaan sosial. tetapi . dan kepedulian dalam pekerjaan sosial yang diperoleh melalui pendidikan. baik yang berlatar belakang pekerjaan sosial maupun bukan berlatar belakang pekerjaan sosial. baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum. 6. dan berkelanjutan yang dilakukan pemerintah. baik di lembaga pemerintah maupun swasta yang ruang lingkup kegiatannya di bidang kesejahteraan sosial anak. yang dibentuk oleh masyarakat atau difasilitasi pemerintah. terpadu. 8. yang meliputi bantuan pemenuhan kebutuhan dasar. Relawan Sosial Anak adalah seseorang dan/atau kelompok masyarakat. pemerintah daerah. Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) adalah organisasi sosial atau perkumpulan sosial yang melaksanakan Program Kesejahteraan Sosial Anak. dan/atau pengalaman praktik pekerjaan sosial untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan penanganan masalah sosial. peningkatan potensi diri dan kreativitas anak. dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar anak .10 4. pelatihan. aksesibilitas pelayanan sosial dasar. Unit Pelaksana Program Kesejahteraan Sosial Anak (UPPKSA) adalah unit yang dibentuk dan ditunjuk di tingkat pusat (Kemensos). Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) adalah upaya yang terarah. penguatan orang tua/keluarga dan penguatan lembaga kesejahteraan sosial anak.

12.11 melaksanakan kegiatan penyelenggaraan di bidang kesejahteraan sosial anak bukan instansi pemerintah atas kehendak sendiri dengan atau tanpa imbalan. Dalam mekanisme ini. peningkatan keterampilan. Tenaga Kesejahteraan Sosial Anak. yang direkrut oleh dan bekerja untuk LKSA. serta lingkungan komunitas/ masyarakat. meningkatkan potensi diri dan kreativitas anak. Tujuan Tujuan Program Kesejahteraan Sosial Anak adalah terwujudnya pemenuhan hak dasar anak dan perlindungan terhadap anak dari . kesungguhan mengakses pelayanan sosial dasar. rekreasi. bantuan keuangan. dan kebutuhan dasar lainnya. Syarat dan kewajiban tersebut terkait dengan kesungguhan memenuhi kebutuhan dasar anak. air bersih. Bantuan Tunai Bersyarat (Conditional Cash Transfer) ada- lah mekanisme utama penyaluran bantuan sosial berupa bantuan tunai kepada anak yang menjadi penerima manfaat PKSA dalam bentuk Tabungan Kesejahteraan Sosial Anak. kesediaan orang tua/ keluarga dalam bertanggung jawab untuk memenuhi hak dasar anak. identitas diri. 13. dan penguatan lembaga kesejahteraan sosial anak dalam upaya mensejahterakan dan meindungi anak. atau Relawan Sosial yang dipandang memenuhi syarat kompetensi untuk melakukan pendampingan. yang fungsinya adalah melaksanakan tugas-tugas pelayanan kesejahteraan sosial dan perlindungan khusus kepada anak dan keluarga yang menjadi penerima manfaat PKSA. D. Aksesibilitas Pelayanan Sosial Dasar adalah kemampuan menjangkau pelayanan sosial dasar untuk anak penerima manfaat PKSA berupa pelayanan kesehatan dasar. pendidikan. 11. sarana tempat tinggal. hanya akan diberikan bila anak dan keluarga yang menjadi penerima manfaat sanggup memenuhi beberapa syarat dan kewajiban (conditionality) tertentu. Pendamping PKSA adalah Pekerja Sosial Profesional.

Meningkatnya lembaga kesejahteraan sosial yang memberikan perlindungan terhadap anak. dan diskriminasi sehingga tumbuh kembang. F. Kebijakan 1. E. Meningkatnya produk hukum pengasuhan dan perlindungan anak sebagai landasan hukum pelaksanaan PKSA. kelangsungan hidup dan partisipasi anak dapat terwujud. . Mengedepankan kemitraan dengan berbagai pihak dalam mewujudkan sistem kesejahteraan sosial anak yang terarah. 7. dan berkelanjutan. Menurunnya prosentase anak yang mengalami masalah sosial. Meningkatnya presentase anak dan balita terlantar. anak jalanan.12 keterlantaran. Meningkatnya peranan Pemerintah Daerah (provinsi/ kabupaten/kota) dalam mensinergiskan PKSA dengan program kesejahteraan dan perlindungan anak yang bersumber dari APBD. kekerasan. yang memberikan pendampingan di bidang pelayanan kesejahteraan sosial anak. 4. 2. Meningkatnya Pekerja Sosial Profesional. terpadu. anak dengan kecacatan dan anak yang membutuhkan perlindungan khusus untuk memperoleh akses pelayanan sosial dasar. 5. anak yang berhadapan dengan hukum. Sasaran Sasaran PKSA yang akan dicapai dalam periode RPJMN II (tahun 2010-2014) adalah: 1. 6. Tenaga Kesejahteraan Sosial dan Relawan Sosial terlatih. eksploitasi. Mengupayakan perluasan jangkauan layanan untuk seluruh anak yang mengalami masalah sosial. Meningkatnya persentase orang tua/keluarga yang bertanggung jawab dalam pengasuhan dan perlindungan anak . 2. 3.

Anak yang bekerja di jalanan. Anak yang mengalami perakuan salah dan diterlantarkan oleh orang tua/ keluarga d. meliputi: a. Mendorong peningkatan kemampuan dan keterlibatan masyarakat dalam upaya mensejahterakan dan melindungi anak. eksploitasi dan diskriminasi. kecacatan. meliputi: a. Anak yang mengalami perlakuan salah dan diterlantarkan oleh orang tua/ keluarga. Mengedepankan pengembangan sistem pelayanan dan program kesejahteraan sosial yang melembaga dan profesional. ketunaan sosial dan penyimpangan perilaku. korban bencana. 3. Anak yang berasal dari keluarga sangat miskin / miskin b. atau b. e. Anak yang rentan bekerja di jalanan. Anak yang bekerja dan hidup di jalanan. 5. Anak yang menderita gizi buruk atau kurang. 4. Sasaran penerima manfaat dibagi dalam 6 (enam) kelompok. Anak yang kehilangan hak asuh dari orangtua/ keluarga. Kriteria Penerima Manfaat Sasaran PKSA diprioritaskan kepada anak-anak yang memiliki kehidupan yang tidak layak secara kemanusiaan dan memiliki kriteria masalah sosial seperti kemiskinan. Anak yang di eksploitasi secara ekonomi seperti anak balita yang di salahgunakan orang tua menjadi pengemis di jalanan. . Anak kehilangan hak asuh dari orang tua/ keluarga. Anak terlantar/ tanpa asuhan yang layak. Menempatkan keluarga sebagai pusat pelayanan dalam rangka memperkuat tanggung jawab orang tua/ keluarga dalam memberikan pengasuhan dan perlindungan bagi anak. b. Anak balita/ usia dini yang terlantar/ tanpa asuhan yang layak a. dan/atau korban tindak kekerasan. ketelantaran. keterpencilan. G. Anak terpaksa bekerja di jalanan.13 3. c. meliputi: 1. c. 2.

e. serta dari komunitas adat terpencil. g. Anak korban perdagangan manusia. f. Anak yang mengikuti proses peradilan. Anak dalam situasi darurat dan berada dalam lingkungan yang buruk/ diskriminasi. Anak yang telah menjalani masa hukuman pidana. Dalam prakteknya terdapat anak yang mengalami masalah ganda. Untuk masalah seperti ini. Anak dengan kecacatan. Anak korban kekerasan. meliputi: a. b. Anak yang terinfeksi HIV/AIDS. Anak yang berstatus diversi. Anak yang menjadi korban penyalahgunaaan narkotika. pendamping bersama LKSA melakukan klasifikasi masalah anak didasarkan pada beberapa hal : . Cacat berat yang belum diakses Program Jaminan Sosial orang dengan kecacatan 6. dengan kategori : a. b. Anak yang memerlukan perlindungan khusus lainnya . d. Anak korban eksploitasi ekonomi atau seksual. f. meliputi: a. 5. Anak yang berperilaku nakal. Mampu didik dan mampu latih b. Anak diindikasikan melakukan pelanggaran hukum. baik fisik dan/atau mental dan seksual. Cacat ringan dan sedang. misalnya anak jalanan yang menjadi korban penyalahgunaan NAPZA. 2) Anak dengan kecacatan mental 3) Anak dengan cacat fisik dan mental c. c. meliputi : 1) Anak dengan kecacatan fisik. Kategori sasaran dimaksud untuk memberikan kesempatan akses yang lebih luas bagi anak yang mengalami masalah sosial dan menghindari terjadinya tumpang tindih sasaran. Anak dari kelompok minoritas dan terisolasi.14 4. Anak berhadapan dengan hukum. c. d. Anak yang menjadi korban perbuatan pelanggaran hukum. alkohol. psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA). e.

tempat tinggal. termasuk meminta pertimbangan dari tokoh masyarakat. RT/ RW dan aparat setempat. semakin diprioritaskan menjadi sasaran utama. c. Program Kesejahteraan Sosial Anak Balita (PKS-AB) Program Kesejahteraan Sosial Anak Terlantar (PKS-Antar) Program Kesejahteraan Sosial Anak Jalanan (PKS. 3. dll. Kedekatan akses anak terhadap layanan kesejahteraan sosial c. Semakin beratnya masalahnya.) .Anjal) Program Kesejahteraan Sosial Anak yang Berhadapan dengan Hukum (PKS. diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: a. Bantuan sosial/ subsidi pemenuhan hak dasar (akte kelahiran. terpadu dan berkelanjutan yang dilakukan pemerintah. nutrisi. H. Komponen Program PKSA dibagi menjadi 6 kelompok (kluster) program. Melakukan seleksi berdasarkan bobot masalah yang diprioritaskan. Program Kesejahteraan Sosial Anak dengan Kecacatan (PKS-ADK) 6. pemerintah daerah dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial dan bantuan kesejahteraan sosial anak bersyarat (conditional cash transfer) yang meliputi : 1.15 a. Melakukan musyawarah antar orang tua/keluarga dan komunitas setempat. 2. air bersih. 4.ABH) 5. yaitu: 1. Melakukan asesmen masalah secara mendalam b. Bobot masalah yang dialami anak b. semakin miskin kondisinya dan semakin membutuhkan pertolongan/bantuan segera. Program Kesejahteraan Sosial Anak Dengan Perlindungan Khsusus (PKS-AMPK) PKSA dirancang sebagai upaya yang terarah. Kedekatan akses anak terhadap LKSA yang mendampingi Dalam keadaan populasi anak yang membutuhkan lebih banyak daripada jumlah sasaran PKSA yang tersedia.

5. 4. Tanggung jawab orang tua/ keluarga dalam pengasuhan dan perlindungan anak semakin meningkat. kekerasan dan diskriminasi. Peran Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang bermitra dengan Kementerian Sosial semakin efektif dalam mendampingi anak sehingga anak dapat terhindar dari penelantaran. askes pelayanan rehabilitasi sosial. akses pelayanan kesehatan. dll. eksploitasi. Peningkatan aksesibilitas terhadap pelayanan sosial dasar (akses pendidikan dasar. Intensitas kehadiran anak dalam kegiatan pengembangan potensi diri/ kreativitas anak semakin meningkat. 3. 4. . Pengembangan potensi diri dan kreatifitas anak. orang tua/ keluarga maupun lembaga kesejahteraan sosial yang menjadi mitra pendamping. Penguatan tanggung jawab orang tua/ keluarga dalam pengasuhan dan perlindungan anak 5. I. Intensitas kehadiran anak dalam layanan sosial dasar dari berbagai organisasi/ lembaga semakin meningkat. Persyaratan dan Kewajiban Penerima Layanan Sasaran penerima layanan PKSA: anak. Adanya perubahan sikap dan perilaku sosial anak ke arah positif 2. harus memenuhi persyaratan (conditionalities) sebagai berikut: 1.16 2. Penguatan kelembagaan kesejahteraan sosial anak.) 3.

orang tua angkat. Keluarga tidak mengeksploitasi anak untuk tujuan mengemis/ meminta-minta. f. Orang tua/ keluarga memberikan perawatan dan pengasuhan sehingga anak tumbuh dan berkembang optimal. orang tua angkat. Anak balita terlantar kembali berada dalam asuhan orang tua/ keluarga atau pengasuhan alternatif (orang tua pengasuh. sehingga hak-hak dasarnya semakin terpenuhi. 2. atau lembaga kesejahteraan sosial anak) b.17 Indikator perubahan sikap perilaku / kewajiban penerima layanan antara lain: 1. Anak terlantar kembali berada dalam asuhan orang tua/ keluarga atau pengasuhan alternatif (orang tua pengasuh. pengasuhan dan perlindungan bagi anak. sesuai dengan perkembangan usianya d. Bagi Anak Terlantar: a. Orang tua/ keluarga membukakan tabungan bagi anak (rekening nama anak) di Bank/ lembaga keuangan mikro terdekat e. Orang tua/. atau lembaga kesejahteraan sosial anak) . Orangtua/ keluarga membawa anak ke TAS/TPA dan lembaga sosial lainnya. Bagi Balita Terlantar: a. Orang tua/ keluarga tidak menelantarkan anak dengan memberikan perawatan. c.

Orang tua/ keluarga bertanggungjawab dalam memberikan pengasuhan. . dll. Orang tua/ keluarga bertanggungjawab dalam memberikan pengasuhan. mengikuti kegiatan peningkatan potensi diri/ keterampilan. Anak c. c. Anak tidak dieksploitasi untuk tujuan mengemis/ memintaminta. b. perlindungan dan pemenuhan hak dasar anak. Anak jalanan tidak lagi melakukan aktivitas ekonomi di jalanan karena anak telah kembali sekolah formal/ non formal. Anak tidak lagi melakukan perbuatan yang dapat melanggar hukum. Orang tua/ keluarga membukakan tabungan bagi anak (rekening nama anak) di bank/ lembaga keuangan mikro terdekat d. Orang tua/ keluarga tidak menyuruh anak bekerja di jalanan/ mengeksploitasi anak 4. mengikuti kegiatan rekreasi. Bagi Anak yang Berhadapan dengan Hukum : a. kembali ke keluarga (bagi anak yang terpisah). 3. Bagi Anak Jalanan : a. perlindungan dan pemenuhan hak dasar anak.18 b. e. Orang tua/ keluarga membukakan tabungan bagi anak (rekening nama anak) di bank/ lembaga keuangan mikro terdekat d.

Anak dengan kenakalan menunjukkan sikap dan perilaku kearah positif dan tidak berperilaku nakal lagi. Orang tua/ keluarga memberikan pengasuhan. Anak dalam situasi darurat (misal:korban bencana). 5. d. Anak kembali sekolah. Bagi Anak Dengan Kecacatan: a. anak korban kekerasan dan eksploitasi dan anak dari kelompok . Orang tua/ keluarga bertanggungjawab dalam memberikan pengasuhan. dan/atau mengikuti kegiatan peningkatan potensi diri/ keterampilan. Anak menggunakan alat bantu kecacatan e. Anak mengikuti program-program rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial d. 6. c. perlindungan dan pemenuhan hak dasar anak. perlindungan dan pemenuhan hak dasar anak. Orang tua/ keluarga membukakan tabungan bagi anak (rekening nama anak) di bank/ lembaga keuangan mikro terdekat e. Anak mendapat perawatan khusus sesuai dengan jenis kecacatannya b. kembali ke keluarga (bagi anak yang terpisah). Orang tua/ keluarga membukakan tabungan bagi anak (rekening nama anak) di bank/ lembaga keuangan mikro terdekat f. Bagi Anak yang Membutuhkan Perlindungan Khusus: a. Anak tidak didiskriminasi dan atau dieksploitasi c.19 b. terutama anak yang memperoleh putusan diversi kembali kepada orang tua.

Bagi anak yang tidak berada dalam asuhan orang tua/ keluarga maka wali anak adalah orang tua asuh (foster parent). Sangsi yang dimaksud. pekerja sosial atau pengurus LKSA yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Undang-Undang Nomor 4/ 1979 dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 beserta peraturan pelaksanaannya). orang tua/ keluarga dan anak penerima bantuan PKSA. b. LKSA. Orang tua/ keluarga tidak menelantarkan anak (memberikan perawatan. Orang tua/ keluarga membukakan tabungan bagi anak (rekening nama anak) di bank/ lembaga keuangan mikro terdekat c.20 minoritas dan terpencil menunjukkan sikap dan perilaku ke arah positif sehingga hak-hak dasarnya terpenuhi. Diberikan secara bertahap mulai dari peringatan secara lisan. Sangsi akan diberikan kepada Sakti Peksos. Pemenuhan persyaratan dan kewajiban penerima layanan sangat ditentukan oleh peran pendamping sosial (Pekerja Sosial Profesional dan Tenaga Kesejahteraan Sosial) dan peran Lembaga Kesejahteraan Sosial (LSM/ Yayasan/ Organisasi) yang menjadi mitra kerja PKSA. peringatan tertulis. pengasuhan dan perlindungan bagi anak) sehingga hak-hak dasarnya semakin terpenuhi. dan tindakan pemutusan hubungan kerja kepada pendamping sosial apabila tidak melaksanakan kewajiban sebagai pendamping yang berakibat persyaratan dan kewajiban penerima layanan tidak terpenuhi. diberikan secara bertahap. . Sangsi yang dimaksud yaitu: 1. jika hasil verifikasi (pemantauan) dari persyaratan dan kewajiban penerima layanan tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan.

.21 2. hubungan kerjasama dihentikan atau dicabut ijin operasional oleh pihak berwenang. apabila LKSA yang menjadi mitra kerja PKSA tidak melaksanakan kewajibannya yang berakibat persyaratan dan kewajiban penerima layanan tidak terpenuhi. Diberikan secara bertahap mulai dari peringatan secara lisan. dapat memberikan sanksi kepada anak yang menjadi penerima layanan. Penetapan pengadilan dapat berupa putusan tindakan yaitu pencabutan kuasa asuh atau putusan pidana sesuai dengan bobot pelanggaran hukum yang terjadi. tertulis dan tindakan. peringatan tertulis. peringatan tertulis. Diberikan secara bertahap mulai dari peringatan secara lisan. yang diberikan secara bertahap mulai dari peringatan lisan. Sangsi yang dimaksud harus merupakan putusan hasil pembahasan kasus (case conference). 3. 4. Dalam keadaan tertentu atas rekomendasi pendamping sosial dan LKSA. dan tindakan hukum apabila orang tua/ wali/ keluarga tidak melaksanakan tanggung jawabnya dan melakukan pelanggaran hukum sesuai dengan UndangUndang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. .

Pengorganisasian Pengorganisasian PKSA dirancang sedemikian rupa agar bantuan sosial bagi anak dan keluarga. Klaster 5 F. Klaster 2 C.22 BAB II PENGELOLAAN PROGRAM Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) dikelola sebagai satu kesatuan program yang utuh dan terintegrasi. A. transparan dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu. yaitu: A. maka pengelolaan penyelenggaraan PKSA dibagi menjadi 6 area (klaster). tanpa mengesampingkan tuntutan kekhususan dalam mengembangkan dan mengoperasikan pelayanan bagi beragam situasi permasalahan kesejahteraan dan perlindungan anak Indonesia. . Klaster 1 B. yang berlaku untuk setiap area penanganan. serta bantuan operasional bagi lembaga mitra kerja (Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak) dapat disalurkan secara tepat sasaran. Klaster 6 : : : : : : Anak Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Jalanan Anak Dengan Kenakalan dan atau Berhadapan Dengan Hukum Anak Dengan Kecacatan Anak yang membutuhkan perlindungan khusus Pada bagian dua ini diuraikan acuan operasional pengelolaan program yang bersifat umum. Kalster 3 D. Klaster 4 E. dalam pengelolaannya. untuk efektivitas upaya pencapaian sasaran dan mencakup seluruh kategori penerima manfaat sebagai mana dipaparkan pada Bagian Pertama.

Dalam pelaksanaan PKSA difasilitasi penyediaan Unit Pelaksana PKSA (UP-PKSA) dari tingkat pusat sampai dengan . Hubungan Kelembagaan Berdasarkan Intruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan ditetapkan Kementerian Sosial sebagai Koordinator Pelaksana PKSA. TKSA. Struktur Organisasi PKSA telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 15A/HUK/2010 tentang Panduan Umum Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA). Untuk meningkatkan sinergi pelayanan PKSA yang maksimal. Relawan Sosial) Petugas Penyalur Bantuan Sosial Kelembagaan dalam penyaluran bantuan sosial PKSA merupakan bentuk kerjasama yang didasarkan pada fungsi dan tugas pokok masing-masing untuk mempercepat proses penyaluran dana PKSA kepada kelompok sasaran. sehingga pemanfaatannya lebih optimal.23 1. maka para pelaku PKSA harus saling berkomunikasi dan berkoordinasi. STRUKTUR ORGANISASI PKSA Kemensos UP PKSA Pusat Tim Koordinasi PKSA Tim Teknis Pusat Lembaga Penyalur Bantuan Sosial Pusat UP PKSA Dinsos Propinsi Tim Koordinasi Provinsi Provinsi UP PKSA Dinsos Kab/Kota Tim Koordinasi Kabupaten/Kota Kabupaten UP-PKSA Lokal Kantor Lembaga Penyalur Bantuan Sosial Kecamatan Pendamping PKSA (Peksos.

6) Membuat laporan pelaksanaan PKSA sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki. Tugas pokok dan tanggung jawab masing-masing unit pelaksana dan instansi terkait adalah sebagai berikut: a. dana UKS. Ketua Pengelola adalah Kepala Dinas/ instansi sosial. Jika dipandang perlu dapat melibatkan lintas unit/sektor sebagai anggota pengelola PKSA. yang ditetapkan sebagai lembaga penyalur dana bantuan PKSA 3) Menyusun Pedoman Umum. monitoring dan pengawasan terhadap pelaksanaan PKSA.24 Pendamping PKSA. dengan sekretaris dan anggota ditetapkan pejabat di lingkungan Dinas/instansi sosial setempat. b. hibah. dll) 2) Membuat MOU dengan bank persepsi/ pos. Seksi yang menangani anak di Dinas Sosial berfungsi sebagai unit operasional/ sekretariat PKSA. Pedoman Operasional dan Pedoman Pendamping PKSA. Cq. supervisi. Dinas Sosial Propinsi Mengelola UP-PKSA pada tingkat provinsi adalah unit kerja yang menangani anak di Dinas/ Instansi Sosial di tingkat Propinsi. serta modul-modul yang bersifat teknis operasional 4) Melaksanakan tahapan PKSA sesuai dengan kewenangannya 5) Melakukan rapat-rapat koordinasi lintas unit. donor perorangan/ lembaga. Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Mengelola UP-PKSA pusat dibantu oleh jajaran dari lintas unit Kementerian Sosial melalui kegiatan antara lain: 1) Mengelola anggaran PKSA dari APBN. Kerjasama Luar Negeri dan sumber-sumber pendanaan lainnya (dana corporate social responsibility. . Kementerian Sosial RI.

dengan sekretaris dan anggota ditetapkan pejabat di lingkungan Dinas/instansi sosial setempat. .25 Lingkup tugas yang dilaksanakan meliputi: 1) Mengelola anggaran PKSA dari APBN. Ketua pengelola adalah Kepala Dinas/ Instansi Sosial. Dinas Sosial Kabupaten/Kota UP-PKSA pada tingkat kabupaten/kota adalah unit kerja yang menangani anak di Dinas/ instansi sosial di tingkat Kabupaten/Kota. 4) Melakukan rapat-rapat koordinasi lintas unit dan memfasilitasi pembahasan kasus (case conference). sumber pendanaan lainnya APBD dan 2) Melaksanakan tahapan PKSA sesuai dengan kewenangannya 3) Memberikan rekomendasi kepada mitra kerja Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak dalam lingkungan wilayah kerja. Pengelolaan dilakukan melalui kegiatan: 1) Mengelola anggaran PKSA dari APBN. monitoring pengawasan terhadap pelaksanaan PKSA dan 4) Mengkoordinasikan Dinas/Instansi Sosial Kabupaten/Kota dalam pelaksanaan pendampingan terhadap LKSA. supervisi. APBD dan sumber pendanaan lainnya 2) Melaksanakan tahapan PKSA sesuai dengan kewenangannya 3) Melakukan pembinaan. bank persepsi/ pos dengan melibatkan Peksos Anak. c. TKSA dan Relawan Anak 5) Membuat laporan pelaksanaan PKSA sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki. Seksi yang menangani anak di Dinas Sosial berfungsi sebagai unit operasional PKSA. Jika dipandang perlu dapat melibatkan lintas unit/sektor sebagai anggota pengelola PKSA.

Dunia Usaha. dll. supervisi. karakteristik masalah dan kebutuhan. Aktivis Peduli Anak. Perguruan Tinggi. 6) Membuat laporan pelaksanaan PKSA sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki. monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan PKSA di tingkat lokal 6) Melakukan advokasi sosial kepada lembaga-lembaga mitra penyelenggaraan kesejahteraan sosial anak 7) Membangun jaringan kemitraan dengan berbagai pihak (LSM/Yayasan/Orsos. TKSA. potensi dan sumber daya sosial ekonomi) 2) Melakukan penjangkauan dan pendampingan sosial terhadap anak yang membutuhkan layanan PKSA dengan melibatkan Pekerja Sosial Anak. dengan cara: 1) Menyiapkan data sasaran PKSA secara lengkap (by name by adress. termasuk mendampingi anak dan orang tua/ wali dalam proses pembukaan Tabungan Kesejahteraan Sosial Anak pada Bank setempat atau Lembaga Keuangan Mikro yang berbadan hukum. termasuk pengelolaan UP-PKSA Lokal. dengan tugas pokok mengelola kegiatan PKSA. 3) Memfasilitasi penyelenggaraan layanan bagi anak dan keluarga yang menjadi penerima manfaat PKSA. UP-PKSA Lokal UP-PKSA lokal adalah Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) di tingkat lokal yang telah ditetapkan melalui proses seleksi oleh UP-PKSA Pusat/ Provinsi/ Kabupaten/ Kota. Relawan Sosial Anak.) . 4) Menangani kasus (case management) yang melibatkan para profesional dan instansi terkait. d.26 5) Melakukan pembinaan. 5) Melakukan pembinaan. supervisi dan pengawasan terhadap pelaksanaan PKSA.

penumbuhan kesadaran dan motivasi. dll. Tugas-tugas Pekerja Sosial Profesional pendamping PKSA adalah merencanakan. pemerintah. penanganan kasus. antara lain: 1) Pendampingan terhadap anak. pembahasan kasus.27 8) Membuat laporan pelaksanaan PKSA sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki. Relawan Sosial dan pengelola Unit PKSA lokal. membangun kerjasama. dan lembagalembaga negara lainnya 6) Membuat laporan penanganan kasus setiap terjadi kasus . membangun tim kerja. dan melaporkan hasil pemberian pelayanan kesejahteraan sosial. Tenaga Kesejahteraan Sosial Anak. pencacatan. membantun proses membuka rekening tabungan atas nama anak. Pendamping PKSA Pendamping PKSA terdiri atas Pekerja Sosial Profesional.) 5) Melakukan advokasi sosial dalam rangka peningkatan kinerja PKSA kepada jaringan mitra kerja PKSA. DPR/DPRD. pemerintah daerah. 3) Melakukan verifikasi komitmen penerima manfaat PKSA sesuai dengan persyaratan dan kewajiban yang telah ditetapkan pada setiap sub-program/ klaster 4) Melaksanakan tugas-tugas profesional dalam mendampingi sasaran PKSA (asesmen. penguatan tanggung jawab orang tua/ keluarga dan penguatan kelembagaan PKSA dan penguatan peran LKSA. melaksanakan. e. peningkatan potensi diri dan kreativitas anak. penelusuran/ reintegrasi/ reunifikasi keluarga. orang tua/keluarga dan komunitas yang menjadi sasaran/ berada dalam wilayah jangkauan PKSA 2) Layanan dalam pemenuhan kebutuhan dasar. peningkatan akses terhadap pelayanan sosial dasar.

dan akhir tahun kontrak kerja. Persyaratan Satuan Bakti Pekerja Sosial yang menjadi pendamping PKSA. 6) Bebas dari narkotika dan zat adiktif lain. yang bertaqwa kepada Tuhan YME. Sekretariat Jenderal Rehabilitasi . adalah: 1) Pendidikan Diploma IV/ Sarjana Pekerjaan Sosial/ Kesejahteraan Sosial 2) Berusia maksimal 40 tahun pada 31 Desember 3) Warga Negara Republik Indonesia.28 7) Membuat laporan pelaksanaan pendampingan per triwulan. Pekerja Sosial Profesional yang menjadi pendamping antara lain Satuan Bakti Pekerja Sosial (SAKTI PEKSOS) yang merupakan petugas kemanusiaan di bidang pekerjaan sosial yang ditetapkan oleh Kementerian Sosial atau Dinas/ Instansi Sosial yang memiliki status kerja kontrak karya dengan Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA Pusat) atau Dinas/Instansi Sosial Provinsi (PKSA Dekon). 7) Mengisi formulir pendaftaran 8) Sehat Jasmani dan Rohani dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter pemerintah 9) Tidak sedang terikat kontrak kerja dengan pihak lain. 4) Tidak berkedudukan sebagai CPNS/PNS/TNI/POLRI 5) Tidak berkedudukan sebagai anggota dan/atau pengurus Partai Politik. Kontrak karya dilakukan per tahun dan dapat diperpanjang sesuai dengan kebutuhan. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 10) Bersedia bekerja penuh waktu Pelaksanaan seleksi dilaksanakan oleh Panitia Seleksi Satuan Bakti Pekerja Sosial bekerjasama dengan Biro Organisasi Kepegawaian. setia dan taat kepada Pancasila. selain laporan penanganan kasus.

rujukan pada lembaga terkait.29 Sosial. b) Regulasi pengasuhan dan perlindungan anak. Seleksi didasarkan pada hasil Test Potensi Akademik dan Kompetensi Pekerjaan Sosial di bidang kesejahteraan sosial anak. a) Dasar-dasar perawatan. kreativitas dan potensi diri anak.. 1) Kompetensi Profesional: Menguasai .. dan intelektual/kecerdasan) Memahami …………… a) Isu-isu anak. manajemen/ mengelola kasus anak.. Kompetensi Personal dan Kompetensi Sosial.. Kompetensi Pekerja Sosial meliputi Kompetensi Profesional. kultural. sosial. perlindungan dan prinsip-prinsip pendampingan pada anak b) Karakterisitik anak (aspek fisik. Perguruan Tinggi Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI). emosional.. a) melakukan pendekatan berbasis keluarga dan komunitas. e) merangsang dan memotivasi anak mengembangkan potensi diri dan kreativitas f) mengembangkan program pengasuhan & perlindungan sesuai karakteristik perkembangan & kebutuhan anak. .. b) mendampingi anak kembali dalam asuhan/ perlindungan keluarga.. moral. c) menciptakan lingkungan pengasuhan dan perlindungan yg sehat.. pengasuhan. Mampu………. d) melindungi anak tanpa menghambat spontanitas.

inovatif dan terbuka pada ide-ide baru. kondisi fisik. h) Sabar memandang persoalan dengan adil dan tenang. c) Peka terhadap pikiran dan perasaan anak. ras. f) Cepat tanggap pada kesulitan yang dihadapi anak. g) Peduli. tidak diskriminatif karena jenis kelamin. i) Sikap obyektif dalam keadaan yang sulit (kritis). objektif. e) Menghargai perbedaan dan keunikan masingmasing anak. j) Yakin semua masalah dapat diselesaikan. latar . h) Mengevaluasi proses dan hasil pelayanan memanfaatkan untuk kepentingan kegiatan pengembangan program/ kegiatan pelayanan. k) Luwes & mampu lingkungan anak. 3) Kompetensi Sosial a) Bersikap inklusif. b) Mampu bekerja dengan anak. empati dan responsif pada perkembangan anak. agama. 2) Kompetensi Personal a) Sayang dan cinta anak. menyesuaikan diri dengan l) Rasa humor yang tinggi. i) Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas kegiatan pelayanan j) Mengembangkan profesionalisme secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif. d) Mampu berkomunikasi (verbal dan non verbal).30 g) Memanfaatkan teknologi informasi untuk berkomunikasi dalam penyelenggaraan kegiatan dan pengembangan kapasitas diri. m) Kreatif.

Untuk penyediaan TKSA dapat didayagunakan Tenaga Pendamping yang sudah bekerja di LKSA. empati dan santun pada anak. d) Berkomunikasi dengan komunitas profesi secara lisan dan tulisan atau bentuk lain. Selain itu. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan pekerjaan sosial atau bimbingan dan pemantapan pendamping dilaksanakan oleh Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak. Adapun tenaga Relawan Sosial dapat diperbantukan Taruna Siaga Bencana (TAGANA). orang tua/keluarga serta masyarakat. e) Beradaptasi di tempat bertugas yang memiliki keragaman sosial budaya. Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) dan Tenaga Penyuluh Sosial yang sudah ditempatkan oleh Kementerian Sosial/ Dinas/ Instansi Sosial. b) menjalin kemitraan dengan orangtua/keluarga dan profesi lain. bekerjasama dengan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial bersama-sama Balaibalai Diklat atau Perguruan Tinggi di bidang kesejahteraan sosial/ pekerjaan sosial Secara bertahap unsur pendamping sosial akan diperluas dengan menyediakan Tenaga Kesejahteraan Sosial Anak (TKSA) dan Relawan Sosial. .31 belakang dan status sosial ekonomi anak/orangtua/keluarga. dan relawan-relawan sosial yang peduli kepada anak. Pekerja Sosial Masyarakat. peran pendamping sosial yang sudah bekerja di lembaga-lembaga kesejahteraan sosial anak yang menjadi mitra pendamping semakin ditingkatkan dan bekerjasama dengan Satuan Bakti Pekerja Sosial yang diperbantukan dari Kementerian Sosial. c) Berkomunikasi secara efektif.

32 f. 3) Mengidentifikasi dan melakukan kerjasama teknis dengan mitra kerja untuk pelaksanaan PKSA 4) Mengkoordinasikan jajaran/perangkat/jaringan mitra kerja pada tingkat provinsi. Dunia Usaha dan . Bank persepsi/ pos Bank persepsi/ pos yang ditetapkan sebagai lembaga penyalur bantuan memiliki tugas sebagai berikut: 1) Menyiapkan infrastruktur pembayaran di kantor-kantor cabang bank persepsi/ pos. g. 3) Melaporkan realisasi penyaluran kepada Kementerian Sosial RI. Pekerja Sosial dan orang tua/ wali memproses penyaluran dana bantuan kesejahteraan sosial anak ke rekening Tabungan Kesejahteraan Sosial Anak di bank yang terdekat / mudah diakses oleh anak/ orang tua/keluarga. 2) Menyalurkan dana PKSA kepada Rekening LKSA yang menjadi Mitra Kerja PKSA dan selanjutnya bersama-sama LKSA. Tim Koordinasi PKSA (Tingkat Pusat. pelaksanaan dan pengendalian PKSA 5) Melakukan pembahasan dan membantu penyelesaian masalah yang muncul dalam proses pelaksanaan PKSA 6) Menggalang tanggung jawab sosial dan partisipasi masyarakat (Perguruan Tinggi. kabupaten/kota pada tahap persiapan. Provinsi dan Kabupaten/Kota) Tugas dan tanggung jawab Tim Koordinasi PKSA adalah sebagai berikut: 1) Merencanakan langkah-langkah strategis dan operasional Program PKSA secara terpadu lintas sektor 2) Menindaklanjuti kerjasama/ kesepakatan bersama lintas sektor yang telah diprakarsai Kementerian Sosial. cq Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak untuk PKSA Pusat dan Dinas/Instansi Sosial untuk PKSA dekon.

SDM dan sumber keuangan yang dapat disinergikan dengan PKSA h. g. PKSA Balita Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak balita atau anak usia dini. Taman Penitipan Anak (TPA).33 Industri. Memiliki program/ kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan pemenuhan hak anak dan melindungi anak dari tindak kekerasan. Memiliki surat keputusan/ rekomendasi dari Kementerian Sosial atau Dinas/ Instansi Sosial tentang keikutsertaan lembaga kesejahteraan sosial anak dalam PKSA c. eksploitasi dan diskriminasi. seperti Taman Anak Sejahtera (TAS). 2. Kelompok Bermain dan lembaga sejenis lainnya. Memiliki jaringan kerja yang luas. Memiliki sarana prasarana organisasi yang mendukung pelaksanaan dan pencapaian kinerja PKSA e. Memiliki rekening bank atas nama lembaga (bukan rekening pribadi). . dan Tokoh Masyarakat) dalam pelaksanaan PKSA 7) Monitoring. Memiliki sumber daya sarana prasarana. lembaga-lembaga yang potensial menyelenggarakan PKSA pada setiap klaster adalah : a. keterlantaran. b. dengan kriteria sebagai berikut: a. Kriteria Unit Pengelola PKSA Lokal Unit pengelola PKSA adalah lembaga-lembaga kesejahteraan sosial anak yang telah ditetapkan melalui proses seleksi oleh UP-PKSA Pusat atas rekomendasi/ sepengetahuan UP-PKSA Daerah. Pengalaman dalam penanganan anak yang mengalami masalah sosial f. Berbadan Hukum atau tidak/ belum berbadan hukum dan memiliki struktur organisasi dan tata kelola administrasi yang tertib. d. Berdasarkan kriteria tersebut. Taman Balita Sejahtera (TBS). evaluasi dan pelaporan pelaksanaan PKSA sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing Tim Koordinasi.

Panti Sosial Asuhan Anak dan lembaga sejenis lainnya. PKSA Jalanan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak jalanan. seperti Rumah Singgah. c. Rumah Perlindungan Anak dan lembaga sejenis lainnya . d. seperti Balai Asuhan Anak. f. seperti Forum Komunikasi Keluarga Anak Dengan Kecacatan (FKKADK). Ikatan Keluarga dengan Anak dengan Kecacatan (IKADK). PKSA Dengan Kecacatan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan anak dengan kecacatan. PKSA Berhadapan dengan Hukum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak remaja. Pusat Asuhan Anak. anak dengan kenakalan dan anak berhadapan dengan hukum. PKSA Membutuhkan Perlindungan Khusus Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial anak yang membutuhkan perlindungan khusus.34 b. ataupun Protection Home. baik dalam bentuk Temporary Shelter. Lembaga . seperti Kelompok kerja Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Anak Berhadapan dengan Hukum Berbasis Masyarakat (PRSABH-BM). e. Yayasan/ Orsos yang mengelola Sekolah Luar Biasa (SLB) bagi anak dengan kecacatan dan lembaga sejenis lainnya. PKSA Terlantar Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak terlantar. Komite Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial ABH (KPRS-ABH) dan lembaga sejenis lainnya. Panti Sosial Marsudi Putera (PSMP) yang berfungsi sebagai pusat operasional dan sekretariat PKS-ABH. seperti Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA).

dapat dipilih bank alternatif lainnya yang terdekat dengan anak. dan LKSA menanggung biaya administrasi pembukaan rekening tabungan anak dari biaya operasional yang tersedia atau sumber dana lembaga lainnya. Selanjutnya LKSA membuka rekening anak penerima bantuan. Penyaluran Bantuan Sosial Penyaluran bantuan sosial PKSA dan pemanfataannya dilaksanakan dengan mekanisme sebagai berikut: 1. LKSA yang telah menerima bantuan sosial melalui rekening segera melaksanakan tahapan PKSA selambatlambatnya satu bulan setelah dana diterima. Mekanisme Penyaluran Bantuan Sosial a. c. LKSA (Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak) mengajukan proposal kepada Unit Pengelola PKSA dilengkapi dengan data pendukung yang diperlukan b. UP-PKSA menetapkan LKSA yang dianggap layak melaksanakan PKSA melalui Surat Keputusan yang ditetapkan Kementerian Sosial RI (PKSA Pusat) atau Dinas/ Instansi Sosial (PKSA dekon). Besarnya dana operasional dan dana tabungan kesejahteraan sosial anak adalah pagu maksimum yang tersedia dalam DIPA Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak. UP-PKSA melakukan seleksi LKSA berdasarkan penelaahan proposal dan/atau verifikasi lapangan. wajib melakukan penandatanganan kesepakatan bersama dan melengkapi persyaratan administrasi lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. LKSA yang telah ditetapkan menerima bantuan. B. f. Berdasarkan pertimbangan kemudahan akses anak terhadap bank. e. LKSA membuka rekening lembaga (LKSA) untuk menampung dana operasional dan tabungan anak.35 Perlindungan Anak (LPA) dan lembaga yang sejenis lainnya. Besaran indeks . d.

Komponen bantuan operasional pendampingan c. dll) untuk menambah tabungan kesejahteraan sosial anak atau memperluas jangkauan pelayanan kesejahteraan sosial anak. Pendamping sosial dapat membuka rekening di bank persepsi/ pos terdekat sesuai lokasi tugas masing-masing. g. Komponen bantuan operasional lembaga b. LKSA dapat menggalang sumber dana lainnya yang sah (sumbangan perseorangan. maka tabungan anak mengikuti kepindahan anak (tidak diputus kepesertaannya) dan dapat dirujuk kepada LKSA lainnya yang terdekat dengan domisili baru. i. 2. Jika ada anak yang putus hubungan kepesertaan karena sesuatu hal yang dapat dipertanggung jawabkan (misal melewati usia 18 tahun. Persyaratan pencairan dana PKSA Bantuan Sosial PKSA terdiri dari : a.36 Dana Tabungan Kesejahteraan Sosial bagi setiap anak ditetapkan berdasarkan ketetapan dari Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak/ Dinas Sosial atau hasil asesmen dan analisis kebutuhan yang ditetapkan melalui pembahasan kasus (Case Conference). h. Kepindahan domisili anak belum tentu memutus kepesertaan. Rekening Tabungan Kesejahteraan Sosial Anak bersifat Dana Amanah untuk Anak (Child Trust Fund) dan hanya diperuntukkan untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak. kembali dalam asuhan yang layak. dll). Komponen bantuan sosial untuk anak Seluruh komponen bantuan sosial dimaksud akan disalurkan dalam satu paket bantuan sosial melalui rekening atas nama lembaga di bank persepsi/ pos. donor. dunia usaha. . jika anak tersebut masih membutuhkan bantuan lanjutan. sudah memperoleh layanan yang memadai. untuk keperluan insentif bulanan. fund raising. maka LKSA harus melakukan resertifikasi ulang dan melaporkan kepada UP-PKSA secara berjenjang.

maka dibukakan rekening atas nama anak QQ orang tua/ wali anak. dll. Biasanya anak yang sudah berusia di atas 15 tahun sudah dapat mandiri dalam mengelola tabungan . dan pembukaan . Dalam keadaan orang tua anak tidak diketahui keberadaannya maka wali anak dapat ditentukan. bantuan operasional lembaga dan bantuan operasional pendampingan. Contoh nama rekening tabungan: Tauhid Alfitrah QQ Harry Hikmat (Tauhid Alfitrah adalah nama anak. Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial yang telah dilegalisir oleh Ka. sedangkan Harry Hikmat nama orang tua). Surat Keterangan/ Rekapitulasi Anak Penerima Bantuan. Membuka/ memiliki rekening atas nama lembaga di bank persepsi/ pos untuk menampung paket Bantuan Sosial PKSA yang terdiri dari bantuan sosial anak. Membawa identitas diri (KTP. c. Setelah LKSA menerima paket Bantuan Sosial PKSA. b.SIM. selanjutnya LKSA memiliki kewajiban melakukan pendampingan kepada anak dan orang tua/ keluarga/ wali untuk membukakan rekening atas nama anak. d. Dinas/ Instansi Sosial Kab/Kota wilayah domisili LKSA. Nama orang tua yang dimaksud nama ayah/ ibu yang masih hidup. Surat menduduki jabatan sebagai Kepala/Pimpinan LKSA. Bagi anak yang belum mampu mandiri dalam pencairan dana tabungan. c.37 Pencairan paket dana Bantuan Sosial PKSA mengikuti ketentuan sebagai berikut: a. e.) dan Surat Keterangan dari LKSA. b. dengan ketentuan sebagai berikut: a. Menunjukkan Surat Pemberitahuan dari Kementerian Sosial RI Cq. Bagi anak yang sudah mampu membubuhkan tanda tangan dan dapat secara mandiri mencairkan dana tabungan dapat dibukakan rekening atas nama anak yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan bank.

38

rekening tabungan sama halnya dengan ketentuan dimaksud. Wali anak diprioritaskan dari anggota keluarga (kakak, kakek, nenek, paman, bibi) sampai garis keturunan ketiga (keluarga kerabat/ kinship care). Jika tidak ada orang tua/ keluarga kerabat yang dapat dijadikan wali, maka wali dapat ditentukan dari orang tua asuh pengganti (foster parent) atau setelah melalui proses adopsi menjadi orang tua angkat. Ketentuan tersebut mengikuti Standar Pengasuhan di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak dan peraturan perundang-undangan mengenai pengasuhan, perwalian dan pengangkatan anak. Dengan demikian Tabungan Kesejahteraan Sosial Anak tersebut merupakan instrumen penting dalam penguatan tanggung jawab orang tua/ keluarga. Dalam keadaan tertentu dimungkinkan Wali dari Pengurus LKSA atau Peksos, namun sifatnya sementara, sampai upaya untuk memperoleh pengasuhan alternatif dapat dicapai d. Proses pembukaan tabungan bagi anak harus dilaksanakan melalui proses pendampingan kepada orang tua/ wali secara intensif dan membutuhkan waktu yang cukup (1 - 2 bulan), sampai diperoleh pemahaman dan kesiapan anak dan orang tua/wali terhadap kewajiban yang harus dipenuhi setelah menerima tabungan tersebut. Demikian halnya dalam proses pemanfaatan tabungan juga melalui proses pendampingan yang intensif, agar dana tabungan tidak digunakan untuk keperluan yang sifatnya konsumtif atau di luar kebutuhan / hak dasar anak. 3. Pemanfaatan Bantuan Bantuan sosial berupa tabungan bersifat stimulan, yang disalurkan dari Anggaran Pemerintah (APBN Kementerian Sosial) dan dekonsentrasi. Ketentuan pemanfaatan dana ditujukan kepada: a. Anak 1) Peruntukan pemanfaatan dana yang tersedia dalam tabungan anak sebagai berikut:

39

a) pemenuhan kebutuhan dasar, seperti pemenuhan gizi/ nutrisi/ susu, perawatan kesehatan dasar di rumah, penyediaan pakaian sehari-hari, penyediaan peralatan mandi, penyediaan alat permainan edukatif, dll b) aksesibilitas terhadap layanan sosial dasar, seperti untuk pengurusan akte kelahiran, penyediaan pakaian seragam, penyediaan sepatu sekolah, penyediaan buku-buku sekolah yang tidak dibiayai Biaya Operasional Sekolah (BOS), transportasi dalam mengakses layanan kesehatan di Puskesmas/ Rumah Sakit, sarana aksesibilitas/ peralatan bantu bagi anak dengan kecacatan, dll. Layanan sosial dasar dari program-program berbagai sektor pemerintah tidak selayaknya menggunakan tabungan anak, seperti Jamkesmas, BOS, biaya administrasi Akte Kelahiran, dll. c) Peningkatan potensi diri dan kreativitas anak, meliputi biaya untuk: (1) kegiatan kesenian (transport atau biaya mengikuti latihan keterampilan musik, kerajinan tangan/ handi craft, melukis, menari, drama/ teater, dll), pengadaan sarana/ peralatan kreativitas anak (alat musik/ gitar, alat musik tradisional, bahan-bahan pelatihan keterampilan, dll.); (2) kegiatan olah raga (peralatan olah raga yang disukai anak, transport/ biaya ikut klub olah raga, dll); (3) kegiatan bimbingan mental spiritual (alat dan pakaian ibadah, transport ke tempat ibadah pada hari-hari besar, dll) d) penguatan tanggung jawab orang tua/keluarga (seperti akses/ transport mengantar anak mengurus pelayanan kesehatan dasar, perbaikan nutrisi ibu hamil korban kekerasan di rumah, layanan akses konseling/ perservasi orang tua, dll.). Layanan yang seharusnya diperoleh dari program-program pemberdayaan keluarga miskin dari berbagai sektor pemerintah tidak selayaknya menggunakan tabung-

40

an anak, seperti pembelian Raskin, Modal Usaha dari PNPM, Usaha Ekonomi Produktif KUBE, pembuatan KTP, dll. Selama proses pelaksanaan PKSA, maka LKSA harus mengupayakan agar para orang tua/ wali mempunyai tabungan sendiri, sehingga pemanfaatan tabungan anak dapat sepenuhnya diperuntukkan untuk kepentingan anak. 2) Rasio pemanfaatan dana didasarkan atas hasil asesmen yang dilakukan Pekerja Sosial bersama-sama dengan LKSA dan orang tua/ wali. Setiap anak pada masa pendampingan PKSA harus dibuat Rencana Pemanfaatan Tabungan yang sesuai dengan kebutuhan anak yang beragam. Berbagai langkah pemanfaatan tabungan anak harus mengikutsertakan anak dan orang tua/ wali sebagai upaya peningkatan tanggung jawab semu pihak yang terlibat dalam PKSA. b. Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) 1) Peruntukan pemanfaatan dana yang tersedia bagi operasional LKSA sebagai berikut: a) Biaya operasional pendampingan digunakan untuk pendataan dan seleksi penerima manfaat, honorarium pengelola, pembahasan kasus, kunjungan rumah/ home visit, penelusuran keluarga (family tracing) b) biaya operasional lembaga digunakan untuk honorarium pengelola PKSA, konsumsi rapat-rapat koordinasi, ATK, subsidi sarana prasarana perkantoran. 2) Rasio pemanfaatan dana didasarkan atas hasil asesmen yang dilakukan antara Pengurus LKSA dan Pekerja Sosial. c. Pekerja Sosial Profesional/ Satuan Bakti Pekerja Sosial Peruntukan insentif/ honor bulanan bagi Pekerja Sosial diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

anak dipersiapkan sejak dini untuk mencapai kemandirian dan kesejahteraan pada saat usia dewasa kelak. masih sangat terbatas dibandingkan dengan kebutuhan riil yang harus dipenuhi. Dengan demikian. pemerintah dan pemerintah daerah melakukan monitoring dan evaluasi terhadap aktivitas penyelenggaraan PKSA sesuai dengan kewenangannya masing-masing. Evaluasi dan Pelaporan Untuk pemenuhan akuntabilitas dan pelaksanaan pengendalian kualitas manajemen penyelenggaraan PKSA. hasil batik. termasuk memanfaatkan sumber daya internal LKSA yang diperoleh dari sumbersumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Komponen yang dimonitor dan dievaluasi adalah: . tepat waktu distribusi. sejumlah anak (sekitar 10 %) telah memperoleh tambahan tabungan dari CSR perusahaan yang ditransfer antar rekening dan tambahan dari hasil karya kreatif anak (penampilan kelompok musik. Tujuan kegiatan ini adalah agar dapat dipastikan pelaksanaan PKSA tepat sasaran. rekaman karya musik. dll). sehingga LKSA dan Pekerja Sosial diharapkan mengembangkan kegiatan penggalangan dana (fund raising). tepat jumlah bantuan dan tercapainya target fungsional. C. Monitoring. Hasil evaluasi PKSA tahun 2009 dan 2010. Bentuk kegiatan monitoring dan evaluasi pada setiap subprogram. Upaya untuk memperoleh tambahan tabungan anak dan operasional LKSA diharapkan menjadi program yang dilakukan secara terarah dan berkelanjutan.41 Dana yang tersedia untuk anak. pada umumnya meliputi pemantauan. Dengan demikian upaya strategis untuk memotong siklus kemiskinan dapat diwujudkan. hasil handicraf. termasuk anak dapat meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. LKSA maupun Pekerja Sosial. pembinaan dan penyelesaian masalah.

ketepatan kriteria sasaran/ elgibiltas.42 1. proposal dan pengambilan keputusan b. e. manfaat dan dampak program) f. Kesesuaian tahapan pelaksanaan program dibandingkjan dengan pedoman operasional d. Kelengkapan dokumen keuangan (permintaan belanja. b. dokumen transaksi pembayaran. Kinerja pendamping sosial (Peksos. meliputi: a. Komponen Program a. Kelengkapan dokumen statuta lembaga (akte pendirian. Khusus untuk pertanggungjawaban kinerja Pekerja Sosial harus mengikuti ketentuan dalam Pedoman Bagi Satuan Bakti Pekerja Sosial dalam Pelaksanaan PKSA. Proses perencanaan program. surat-surat keputusan. Laporan pertanggungjawaban penggunaan dana operasional lembaga dan dana operasional pendampingan c. Administrasi dan keuangan. ketepatan waktu distribusi dan kesesuaian jumlah bantuan. Kapasitas sarana prasarana yang mendukung pencapaian tujuan program c. Tim Monitoring dan Evaluasi. Pendamping anak dan pekerja sosial wajib melakukan monitoring dan mendokumentasikan laporan perkembangan anak dan keluarga pada setiap tahapan pelayanan. dll). Kesesuaian jumlah penerima manfaat. TKSA dan Relawan Sosial) g. dll) 2. Peran LKSA dalam pengembangan jaringan kerja dan penggalian potensi dan sumber daya secara mandiri. . NPWP. Pencapaian target fungsional (jumlah sasaran. kesepakatan kerjasama. bukti-bukti pembayaran. tenaga pendamping dan LKSA wajib membuat laporan hasil kegiatannya kepada Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak paling sedikit 2 kali dalam setahun.

PKS Anak Balita 1. kebutuhan anak: yang memerlukan perawatan dan pemeliharaan kesehatan dasar dan pemenuhan kebutuhan gizi.43 BAB III OPERASIONALISASI PKSA Bagian ini menjelaskan pilihan atau alternatif kegiatan dari setiap sub program PKSA serta persyaratan dan kewajiban dari penerima bantuan. sehingga kegiatan yang dilaksanakan harus sesuai dengan kebutuhan anak yang beragam. A. Ibu hamil dan observasi lingkungan Pendataan permasalahan. Melakukan intervensi tumbuh kembang anak melalui bermain dengan APE Pengawasan kepada orang tua dan anak . Kegiatan yang terpilih tergantung dari hasil asesmen para pelaksana PKSA dan pembahasan kasus. Menyiapkan sarana pendukung Menyusun jadwal kegiatan sesuai dengan rencana intervensi Pengawasan kepada orang tua dan anak Stimulasi Tumbuh Kembang Deteksi dini tumbuh kembang anak balita Menyiapkan sarana pendukung Melakukan home visit kepada anak/orang tua/keluarga penerima manfaat Melakukan asesmen dan merencanakan intervensi pelayanan. Melakukan kunjungan kepada orang tua/keluarga RTSM/RSM yang menjadi sasaran Melakukan asesmen pada penerima manfaat. Merencanakan intervensi. Komponen Program NO A PROGRAM Bantuan sosial/subsidi pemenuhan kebutuhan dasar KEGIATAN Asuhan dan Perlindungan Pendataan jumlah anak balita terlantar.

Perlindungan kepada anak yang membutuhkan perlindungan khusus (anak diperlakukan salah. keluarga dan masyarakat. tanggung jawab orang tua. • Memberikan kemudahan untuk pemeriksaan anak ke petugas kesehatan (puskesmas. anak korban bencana. dongeng. korban tindak kekerasan fisik.. anak dari OT NAPZA/AIDS) • • • • Pendataan anak yang membutuhkan perlindungan khusus Penyuluhan pada anak. tidak dinginkan. OT. Penanggulangan anak penderita Gizi kurang dan buruk • Pendataan anak penderita gizi kurang/buruk • Penyuluhan pada anak. tokoh masyarakat. Trauma healing pada anak melalui outbond. Merujuk dan mengakses ke tenaga profesional. • Pendekatan penyuluhan pada anak. anak terinfeksi HIV/AIDS. keluarga dan masyarakat dapat ditingkatkan dan diwujudkan Pembuatan Akte Kelahiran • Menghubungi RT/RW untuk mendata anak yang belum memiliki akte kelahiran sampai dengan terbitrnya akte kelahiran. (cukup gizi dan jumlahnya) sesuai dengan tingkat pertumbuhan anak . • Mengurus akte kelahiran dengan usaha agar pembuatan akte kelahiran dapat dibebaskan biayanya. anak korban konflik. anak diterlantarkan orang tua. keluarga dan masyarakat. • Pemberian kemudahan pada orang tua/keluarga untuk memberikan makanan cukup dan berimbang. keluarga dan masyarakat. cerita. RS dan dokter). . permainan anak Perlindungan anak yang dikucilkan/kelompok minoritas. orang tua. verbal.klinik.44 B Peningkatan Aksesibilitas terhadap Pelayanan Sosial Dasar Memberikan suatu kemudahan dalam rangka penyelesaian masalah yang terkait dengan kebutuhan terbaik untuk anak sehingga perubahan perilaku anak.

• Mengupayakan orang asuhpengganti/orang tua angkat • Mengidentifikasi dan menseleksi calon keluarga asuh • Mempersiapkan calon keluarga asuh melalui penyuluhan. bimbingan) • Pendataan keluarga yang memiliki anak balita. kelompok bermain . TAS dll. belum terlayani masuk sekolah. • Pendataan anak usia pra sekolah yang. • Menghubungkan dengan tenaga akhli yang sesuai dengan kebutuhan (pendongeng.) Penanganan anak yang membutuhkan orang tua asuh. rekreasi bersama/Family Gathering. percakapan/dialog langsung. (pemeliharaan.45 • Menciptakan suasana yang memungkinkan anak bersosialisasi (arena bermain) melalui cerita. • Identifikasi pemahaman orang tua / keluarga . perawatan. Pendataan (mengetahui latar belakang anak) • Pendekatan pada kerabat atau keluarga terdekat. • Melakukan monitoring pada keluarga angkat. pendidikan. • Menghubungkan dan mendaftarkan anak pada kegiatan pra sekolah terdekat (post PAUD. kreasi seni dan budaya. C Penguatan Tanggung Jawab Orang Tua/Keluarga dan Masyarakat Good Parenting Skill. pembinaan. • Pendekatan dan penyuluhan pada anak. penceramah) Persiapan Anak memasuki SD. • Jika tidak ada kerabat/ orang tua asuh pengganti maka anak dirujuk ke lembaga pengasuhan anak. keluarga dan masyarakat. • Berkoordinasi dengan Dinas Sosial setempat.

dll. tumbuh kembang) • Menyiapkan tempat dan materi penyuluhan • Melaksanakan peningkatan kapasitas orang tua dalam pengasuhan dan perlindungan anak D Penguatan Kelembagaan Pelayanan Kesejahteraan Sosial Anak Pengembangan kelembagaan • Pendataan lembaga pelayanan sosial anak (TPA/KB/TBS. • Identifikasi berbagai permasalahan menghadapi anak balita (sosial psikologis. tidak bermasalah dengan kehamilan dan kelahiran. Jenis Layanan dan Indikator Keberhasilan 1. bubur kacang ijo. Bantuan sosial/subsidi pemenuhan kebutuhan esensial Jenis Layanan Pemenuhan kebutuhan gizi Out Comes Orang tua/keluarga: Memberi makan 3 kali sehari dengan gizi cukup dan berimbang.46 tentang pengasuhan anak balita. sarana dan prasarana lembaga. sehat.) Memberi vitamin Menyuapi anak makan Ibu hamil: Memeriksakan diri secara rutin ke Posyandu/ puskesmas/ bidan/klinik terdekat • Mengkonsumsi makanan bergizi dan vitamin Perawatan kesehatan dasar Melakukan pertolongan pertama jika anak sakit. Bidan terdekat. klinik. 2. berat badan sesuai dengan usia (KMS) Ibu dan bayi lahir normal. Bagi Anak Kondisi kesehatan anak tetap terjaga Indikator Anak sehat. • Klasifikasi lembaga pelayanan • Pembinaan manajemen kelembagaan. Memberi makanan tambahan (susu. luka.) • Melaporkan dan berkoordinasi dengan Dinas Sosial setempat untuk inventarisir SDM. Pemeliharaan Kondisi kesehatan . Mantri Kesehatan. gizi seimbang. manajemen. memar Membawa anak sakit ke puskesmas. rumah sakit.

obat sembarangan. Memakai pakaian bersih Menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal. ikhlas Tidak mengkonsumsi hal-hal yang membahayakan janin dalam kandungan (merokok. napza. Stimulasi Tumbuh Kembang Mendampingi anak bermain di rumah Mengajak anak bermain (menggunakan APE) Mengajak anak bercerita Memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang Meminta pendapat anak dalam memilih dan menentukan kegiatan bersama anak Meminta maaf pada anak jika melakukan kekeliruan/ kesalahan pada anak Anak dapat bermain APE bersama teman sebaya. minuman keras. Menjaga kebersihan badan.) Tidak melakukan pekerjaan yang membahayakan janin dalam kandungan (mengangkat beban terlalu berat. bercerita. Kondisi Ibu hamil sehat phisik dan psikologis. pakaian dan lingkungan tempat tinggal Bagi Ibu Hamil: Menerima kondisi kehamilan dengan riang. ceria. Memandikan anak 2 kali sehari. istirahat cukup) anak tetap terpelihara. Anak berada dalam lingkungan yang sehat. Anak tumbuh kembang sesuai usia dan perkembangannya ..47 kesehatan dasar Imunisasi anak lengkap Menimbang badan anak. bergadang berlebihan. kakak/adik Mengajarkan anak untuk BAB/BAK ke WC/kamar mandi. Kondisi fisik anak tetap terpelihara. Anak dapat mengontrol pembuangan (BAB/BAK) Anak tidak rewel. Anak dapat bertanya dan. .

tua asuh. kemampuan dasar dan Menyediakan APE sikap perilaku positif. (menghormati orang Menyediakan alat tulis.48 2. • Anak terdaftar dalam KK orang tua angkat. menemukan orang tua anak/keluarga/kerabat • Anak memiliki surat bagi anak balita terlantar pernyataan/perjanjian antara orang tua asuh dengan Kuasa Asuh Anak. buku-buku sumberbersosialisasi) sumber lainnya Mendampingi anak bermain sambil belajar Anak siap dan matang untuk masuk ke SD Kerabat menjadi orang • Anak memiliki orang tua pengganti. lain. • Anak berada dalam pengasuhan satu keluarga. Peningkatan Aksesibilitas terhadap Pelayanan Sosial Dasar Pembuatan Akte Kelahiran Orang tua/keluarga • Anak memiliki akte mendaftar anak ke kelahiran. Persiapan Anak memasuki SD. bekerja sama. Tetangga ikut serta • Anak memiliki surat mengasuh dan pengangkatan anak melindungi anak secara legal dari Pendamping Pengadilan setempat. pendidikan pra sekolah • Anak memiliki lainnya . ke sistem berperan aktif layanan anak usia dini memotivasi anak untuk sejenis dan lembaga masuk prasekolah. buku-buku gambar. • • • • • Penguatan tanggung jawab orang tua asuh pengganti . dan berkomunikasi. RT/RW untuk mendapatkan akte kelahiran Orang tua/keluarga • Anak ikut serta dalam atau pengasuh lainnya: pendidikan pra sekolah Menyertakan anak ke • Orang tua/ keluarga TAS Keliling.

• OT/keluarga memperlakukan dengan kasih sayang..49 3. tindak kekerasan fisik. • Orang tua memahami akses untuk mengatasi masalah bagi anak balita • Anak tidak diperlkukan salah (diperlakukan sesuai dengan haknya) • Anak ceria. mencubit. • Anak berkumpul dengan keluarga. • Terciptanya komunikasi dan interelasi antara anak dan orang tua/keluarga. pembinaan. cinta kasih. (pemeliharaan. anak diterlantarkan orang tua. . nyaman di lingkungannya. Perlindungan kepada anak yang kurang beruntung (anak diperlakukan salah. bimbingan) Orang tua / keluarga/Pengasuh pengganti dan masyarakat: mengasuh anak dengan penuh kasih sayang Memperlakukan anak sesuai dengan tumbuh kembang Berinteraksi dengan hangat dan akrab Menghargai anak sesuai harkat dan martabtnya Mendengarkan pendapat anak Orang tua/keluarga memiliki good parenting skills Masyarakat menunjukkan kepedulian terhadap masalah anak balita Tercipta lingkungan aman dan nyaman bagi anak • Tersedianya data base anak dan keluarga • Orang tua/keluarga keterampilan mengasuh Anak balita. menjambak. dll) pada anak Menggunakan kata-kata patut dan tidak memberi julukan jelek pada anak Tidak membentak anak Memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang Tidak membiarkan anak tanpa pengasuh . Penguatan Tanggung Jawab Orang Tua/Keluarga dan Masyarakat Good Parenting Skill. perawatan. verbal. memukul. tidak dinginkan. anak dari OT NAPZA/AIDS) Orang tua/Keluarga: Tidak membiarkan anak tanpa pengasuh Mengurus anak (tidak membiarkan atau menelantarkan anak) Tidak melakukan kekerasan kepada anak (membentak. pendidikan. anak korban konflik. gembira. anak korban bencana.

• Jumlah anak dan ibiu hamil (penerima manfaat) meningkat. Penguatan Kelembagaan Pelayanan Kesejahteraan Sosial Anak Pengembangan kelembagaan LPKSAB lebih peduli memberikan pelayanan bagi keluarga tidak beruntung LPKSAB mampu memberikan pelayanan sosial anak yang lebih variatif dan individual LPKSAB lebih mamu menjangkau anak yang kurang beruntung LPKSAB memiliki jejaring kerja yang luas dengan mitra layanan. 4. • • Anak mampu bersosialisasi. • Perubahan perilaku Penerima manfaat sesudah layanan. Keluarga dapat aktif di lingkungan setempat. tidak bersosialisasi.50 Anak dari kelompok minoritas (dikucilkan dari lingkungannya. kearah positif. .) • Orangtua mengajak anak bersosialisasi di lingkungan (TAS/TPA/KB) • Lingkungan sekitar dapat menerima anak. LPKSAB memiliki buat MoU dengan Mitra kerja Menyediakan Pelayanan Mengupayakan kapasitas SDM LPKS-AB melalui pemantapan Mengupayakan sertifikasi bagi pendamping (Peksos Anak dan TKSA) Mengelola LPKS-AB secara professional (akuntable dan bertanggung jawab) • Peran LPKSAB meningkat • Menguatnya manajemen LPKSAB • Peran SDM LPKSAB/Sakti Peksos meningkat.

Namun untuk data dasar/ indikasi awal dapat menggunakan data yang telah diakui pemerintah setempat untuk data Rumah Tangga Sangat Miskin/ Miskin dari BPS setempat (hasil pendataan PPLS) 5) Anak/ibu hamil berasal dari keluarga RTSM/RTM dapat berlokasi di daerah kumuh.anak yang tidak terpenuhi kebutuhan dasar (anak kurang gizi. belum memperoleh imunisasi). pasar. penjualan dan perdagangan. sangat tergantung pada penilaian dari masyarakat itu sendiri yang difasilitasi oleh Pendamping. Persyaratan dan Kewajiban a. 11) Anak yang menjadi korban penculikan. serta komunitas adat terpencil. anak yang tidak tercatat secara administrasi kependudukan (akte kelahiran) termasuk tidak memiliki biaya transport untuk mengurus kelengkapan persyaratan pembuatan akte kelahiran.51 3. 4) Pemilihan rumah tangga sangat miskin dan miskin. dengan alasan untuk meminimalisir kecemburuan sosial akibat pemilihan penerima manfaat. anak yang diperlakuan salah dan ditelantarkan. melalui alat permainan edukasi ( APE) 8) Anak yang tereksploitasi secara ekonomi (anak balita yang terpaksa dibawa bekerja di jalanan) 9) Anak yang berasal dari kelompok minoritas dan terisolasi/ didiskriminasi. dan daerah kumuh. 7) Anak yang belum pernah mendapat bimbingan melalui lembaga pendidikan atau tidak memperoleh kesempatan stimulasi tumbuh kembang. atau yang beralamat dengan istilah RT 00/ RW 00 6) Anak terlantar. perkebunan. rawan sosial (lokalisasi WTS). (tanpa pengasuhan orang tua). Persyaratan anak/orangtua/ keluarga: 1) Anak yang berada dalam kandungan sampai dengan usia 5 tahun yang memiliki kehidupan tidak layak: 2) Bagi anak yang masih dalam kandungan (ibu hamil) 3) Anak dimaksud adalah anak yang berasal dari keluarga rumah tangga miskin dan atau rumah tangga miskin. 10) Anak yang menjadi korban tindak kekerasan fisik dan/atau mental. .

.. . Tugas Pendamping a.52 12) Ibu hamil yang mengalami kesulitan/hambatan dalam pemeriksaan kehamilan. 4) Terlibat dan mendukung terhadap kegiatan PKS-AB. 5) Orang tua menghadiri kegiatan PKS-AB secara intensif. yang tidak memeriksakan kehamilannya karena alasan tidak memiliki biaya untuk memeriksakan kehamilan b. 6) Bertanggung jawab terhadap kegiatan pemenuhan kebutuhan esensial anak dan stimulasi tumbuh kembang anak. 14) Ibu hamil. 13) Ibu hamil yang berasal dari keluarga RTSM/RTM sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi bagi anak yang dikandung. Tugas Pelayanan Sosial Anak 1) Mengidentifikasi anak balita yang mengalami masalah dengan pengasuhan dan perlindungan 2) Melakukan pendekatan terhadap orangtua/keluarga sebagai penanggungjawab pengasuhan dan perlindungan anak 3) Menyeleksi data awal penerima layanan 4) Melakukan kunjungan ke tempat tinggal anak/ orangtua/ keluarga 5) Melakukan asesmen kebutuhan dan asesmen pada anak dan keluarga yang membutuhkan. terkait dengan kebutuhan dan permasalahan anak balita. 2) Mengikuti kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh pendamping dan dikoordinasi oleh LPKS-AB. 7) Masyarakat dan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Balita (LPKS-AB) bersinergy dengan berbagai sumber pelayanan kesejahteraan sosial anak balita. 4. 3) Menginformasikan kondisi dan perkembangan anak balita. Kewajiban Penerima Bantuan PKS-AB 1) Mengikuti berbagai kegiatan pemenuhan kebutuhan esensial pada lembaga pelayanan kesejahteraan sosial anak balita (LPKS-AB) atau ’TAS Mobile’.

melaporkan hasil dan menindaklanjuti hasil evaluasi. Indikator Keberhasilan Program a. pendidikan. Meningkatnya aksesibilitas anak balita memperoleh akte kelahiran. perlakuan salah. kekerasan. Dukcapil. Meningkatnya kapasitas orang tua/keluarga dalam menjalankan tanggung jawab dalam pengasuhan dan perlindungan anak. Dinkes. c. e. Perguruan tinggi) dalam mendukung keberlanjutan PKS-AB. Tugas Administrasi 1) Mencatat dan mendokumentasikan data anak/ orangtua/ keluarga penerima manfaat 2) Mencatat kemajuan penerima manfaat 3) Membuat laporan tertulis mengenai per triwulan yang ditujukan kepada Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak Balita. d.. Meningkatnya jumlah anak balita terlantar untuk memperoleh pelayanan kebutuhan dasar/ esensial. Menurunnya jumlah anak balita yang mengalami keterlantaran. 7) Mendampingi orangtua/keluarga membuka rekening pada bank yang ditunjuk 8) Memonitor pemanfaatan bantuan sesuai dengan peruntukkannya 9) Mengevaluasi pelayanan. Meningkatnya kemampuan organisasi/lembaga kesejahteraan sosial anak (TPA-KB-TAS) dalam memberikan layanan pada anak balita. g. 10) Melakukan koordinasi dengan lembaga rujukan b. b. sanitasi). Meningkatnya peran masyarakat (Dunia usaha. orang tua asuh atau alternatif pengasuhan dan akses terhadap sistem sumber pelayanan (kesehatan. 5. . Meningkatnya Peran Pemerintah Daerah (Dinsos.53 6) Merencanakan intervensi dan melaksanakan pelayanan sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan penerima manfaat. eksploitasi dan diskriminasi. f. Diknas Kanwil Kumham) dalam mendukung keberhasilan penyelenggaraan PKSAB.

Bantuan sosial yang diberikan melalui LKSA dan penggunaannya diserahkan kepada pengurus LKSA untuk memenuhi kebutuhan dasar anak. LKSA yang telah melaksanakan peran pengasuhan pada anak perlu didukung agar dapat menjalankan fungsinya secara lebih tepat dalam pengasuhan anak. dan pengasuhan yang berkelanjutan. tantangan kemiskinan yang dihadapi banyak keluarga telah menyebabkan ketidakmampuan mereka dalam menjalankan peran pengasuhan kepada anak-anak. kesejahteraan diri. Standar Nasional .54 B. Secara bertahap PKS Antar ini akan disesuaikan dengan skema PKSA lainnya yang diberikan melalui tabungan dengan pendampingan yang intensif oleh Pekerja Sosial Profesional. Setiap anak memiliki kebutuhan akan kasih sayang. Namun demikian. Sejak tahun 2011 terdapat perubahan nama program menjadi Bantuan Sosial bagi anak melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak. Ketentuan mengenai PKS Antar tersebut diatur tersendiri sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial. PKS Anak Terlantar Pelaksanaan PKS. Hal ini sangat penting diperoleh dari orangtuanya sendiri sebagai fondasi bagi tumbuh kembang mereka. Hal ini sejalan dengan tanggung jawab utama orangtua dalam pengasuhan anak sebagaimana yang diamanatkan oleh undang-undang. 1. Hal ini menyebabkan keluarga kemudian menempatkan anak-anak di LKSA. keselamatan.Anak Terlantar sampai dengan tahun 2010 masih dilaksanakan melalui subsidi pemenuhan kebutuhan dasar kepada anak yang diasuh di Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA). kelekatan hubungan dengan orangtuanya (attachment relationship). Bantuan Sosial Anak melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Bantuan Sosial Anak melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang selanjutnya disebut LKSA merupakan salah satu bagian dari program Pemerintah dalam rangka mendukung pengasuhan anak berbasis keluarga.

Tujuan Tujuan Program Bantuan Sosial untuk anak melalui LKSA adalah terwujudnya pemenuhan hak-hak dasar anak dan perlindungan anak dari segala bentuk penelantaran. 2. serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. b. Aksesibilitas Pelayanan Sosial Dasar adalah kemampuan menjangkau pelayanan sosial dasar untuk anak penerima manfaat PKSA berupa pelayanan kesehatan dasar. Kesejahteraan Sosial Anak adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material. air bersih. spiritual dan sosial anak agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. . dan berpartisipasi. LKSA akan mulai untuk menjalankan fungsi baru dalam mendukung penyatuan kembali anak-anak yang masih dapat diasuh oleh orangtua atau anggota keluarga lainnya dan secara aktif merespon anak-anak yang mengalami masalah pengasuhan. rekreasi. pendidikan. secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. peningkatan keterampilan. Melalui program ini. 3. identitas diri. kelangsungan hidup dan partisipasi anak dapat terwujud. c. Pengertian a. berkembang.55 Pengasuhan Anak untuk LKSA menggariskan bahwa LKSA berperan sebagai lembaga yang mendukung pengasuhan berbasis keluarga termasuk berbagai bentuk pengasuhan alternatif untuk anak. dan kebutuhan dasar lainnya. Berdasarkan hal tersebut. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup. eksploitasi dan diskriminasi agar tumbuh kembang. tumbuh. bantuan sosial ini tidak sematamata untuk anak yang berada dalam asuhan LKSA tetapi harus digunakan untuk mendorong penyatuan anak-anak dengan keluarga mereka dan menguatkan kemampuan keluarga dalam mengasuh anak-anak mereka. sarana tempat tinggal.

Pengasuhan berbasis Lembaga adalah pengasuhan berbasis Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak merupakan alternatif terakhir dari pelayanan pengasuhan alternatif untuk anak-anak yang tidak bisa diasuh di dalam keluarga inti. perlindungan anak dan/atau harta bendanya hingga dewasa atau mampu berdiri sendiri demi kepentingan terbaik anak sebagai upaya pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang. pendidikan. atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai dengan derajat ketiga. f. atau suami-isteri dan anaknya. perwalian dan adopsi. atau ibu dan anaknya. dan permanensi dari orang tua. Pengasuhan alternatif adalah pengasuhan yang diberikan oleh pihak selain keluarga inti kepada anak.56 d. atau pihah-pihak lain yang bertanggung jawab terhadap pengasuhan anak. Lembaga Kesejahteraan Sosial adalah suatu lembaga yang menyelenggarakan kesejahteraan sosial yang dibentuk oleh pemerintah maupun masyarakat. j. keselamatan. i. keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-isteri. akibat ketidakmampuan keluarga inti dalam menyediakan pengasuhan yang baik untuk anak. Dana Bantuan Sosial adalah bantuan langsung yang diberikan melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak untuk meningkatkan penyelenggaraan kesejahteraan sosial bagi anak yang diasuh melalui pengasuhan oleh keluarga dan melalui pengasuhan alternatif. e. Pengasuhan oleh keluarga adalah pengasuhan anak yang dilakukan oleh keluarga yang merupakan pengasuhan utama. h. atau keluarga pengganti. kelekatan. kesejahteraan. kerabat. g. Pengasuhan Anak adalah sistem pemeliharaan. atau ayah dan anaknya. keluarga besar. Pengasuhan ini dapat dilakukan melalui orang tua asuh. .

Bantuan Sosial melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial adalah bantuan sosial yang diberikan kepada Lembaga Kesejahteraan Sosial guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial 4. Anak yang dibina LKSA tersebut adalah anak yang berada pada situasi sebagai berikut: 1) Keluarga anak tidak memberikan pengasuhan yang memadai sekalipun dengan dukungan yang sesuai. Mendukung penguatan peran dan tanggung jawab keluarga dan masyarakat. atau melepaskan tanggung jawab terhadap anaknya 2) Anak yang tidak memiliki keluarga atau keberadaan keluarga atau kerabat tidak diketahui. 4) Anak yang terpisah dari keluarga karena bencana. baik konflik sosial maupun bencana alam. Mendukung pelayanan sosial terarah. d. b. Syarat Penerima Bantuan Persyaratan bantuan sosial bagi anak melalui LKSA sebagai berikut : a. terpadu dan berkelanjutan. penelantaran. . pengasuhan dalam keluarga justru bertentangan dengan kepentingan terbaik anak. 3) Anak yang menjadi korban kekerasan. LKSA membina anak yang berada dalam asuhan keluarga dan anak yang berada dalam asuhan LKSA langsung. Kebijakan Kebijakan dalam Program Bantuan Sosial untuk anak diarahkan untuk : a.57 k. c. Mendukung pengembangan sistem dan program kesejahteraan sosial anak yang melembaga dan profesional. b. 5. Meningkatkan jangkauan layanan anak yang mengalami masalah sosial. atau eksploitasi sehingga demi keselamatan dan kesejahteran diri mereka. perlakuan salah. mengabaikan.

d. g. oleh karena itu LKSA yang mengasuh anak diharapkan mendorong penyatuan kembali anak kepada keluarganya dan menguatkan keluarga dalam mengasuh anak-anak mereka. 7. Bantuan pemenuhan kebutuhan dasar meliputi kebutuhan makan. b. Meningkatkan peran dan tanggung jawab lembaga kesejahteraan sosial anak. Mendukung pengasuhan berbasis keluarga. tambahan gizi. d.095. e. f. Akses terhadap pelayanan sosial dasar.58 c. dan pakaian. c.(Satu juta sembilan puluh lima ribu rupiah) per anak selama satu tahun atau sesuai dengan kebijakan pemerintah. 6. Nilai Bantuan Nilai bantuan sosial ini adalah Rp. e.000. 1. kesehatan dan akte kelahiran anak. Meningkatnya tanggung jawab orang tua/ keluarga dalam pengasuhan dan perlindungan. Memiliki rekening Bank atas nama LKSA. Meningkatkan kapasitas potensi diri/keterampilan hidup. . LKSA mendapatkan rekomendasi dari Dinas Sosial Kabupaten/Kota dan Propinsi. antara lain untuk perlengkapan sekolah dan transport untuk menjangkau pelayanan pendidikan. LKSA yang diselenggarakan oleh LKS (yayasan/orsos/LSM) sudah terregistrasi di Dinas/Instansi Sosial Kabupaten/Kota dan Dinas/Instansi Sosial Propinsti serta telah masuk dalam database di Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak Kementerian Sosial. Bantuan sosial ini akan disalurkan melalui LKSA yang memenuhi syarat umum dan syarat tambahan sebagai LKSA penerima bantuan sosial. Pemanfaatan Bantuan Bantuan sosial untuk anak ini dapat dimanfaatkan untuk : a.. terhadap anak.

Pengenalan keanekaragaman makanan sehat (jajanan anak) 3. Mengumpulkan dan verifikasi persyaratan administrasi dan prosedur teknis 1. Pemberian makanan tambahan 1. Komponen Program Komponen program kesejahteraan sosial bagi anak jalanan. Pemahaman pola makan sehat 2. peningkatan rasa percaya diri. Peningkatan nutrisi/gizi keluarga Tahapan kegiatan 1. meliputi: b. berelasi dengan orang lain yang ada di lingkungannya. 1 . kemampuan mengenali dan pemecahan masalah. Bantuan Sosial /Subsidi Hak Dasar Anak. Pembuatan akte kelahiran 3.59 C. 2) Pemenuhan kebutuhan fisik yaitu: makanan. PKS Anak Jalanan 1. Pemahaman pola hidup sehat 2. meliputi: 1) Pemenuhan kebutuhan identitas anak yaitu: pembuatan akte kelahiran anak. berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang terkait dengan kehidupannya. Koordinasi dan komunikasi dengan instansi terkait 3. Komponen Program 1. 4) Pemenuhan kebutuhan sosial yaitu: berteman. Pengurusan SKTM/Jamkesmas/Gakin 2. 3) Pemenuhan kebutuhan emosional yaitu: kasih sayang dari orangtua dan keluarga. Perencanaan menu makan sehat keluarga 4. Pendataan dan Penglasifikasian akte kelahiran 1 (umur dan status kelahiran) 4. pakaian. Akses pelayanan kesehatan dasar Berlaku sampai 31 Desember 2011 (Masa akhir dispensasi pelayanan pencatatan kelahiran). sarana perumahan. Sosialisasi peraturan perundang-undangan 2.

60 3. Membuat nota kesepahaman 5. Kartu Keluarga (KK). Kartu Tanda Penduduk (KTP). Mendaftarkan anak ke Dinas Kesehatan dengan surat rekomendasi Dinas Sosial untuk memperoleh kemudahaan Jamkesmas Peran Sakti Peksos dan LKSA 1) Melakukan kunjungan ke rumah orangtua anak jalanan 2) Memberikan dukungan pemenuhan gizi anak oleh keluarga melalui tabungan anak 3) Membantu proses pengurusan akte kelahiran dan persyaratannya seperti Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). membangun jejaring sosial dengan stakeholder terkait 8) Memberikan legitimasi terhadap pelayanan kebutuhan dasar yang dilakukan petugas Sakti Peksos. c. dan Ketetapan Pengadilan hasil sidang isbat. Membangun jaringan lembaga layanan kesehatan (preventif. meliputi: 1) Akses pelayanan pendidikan yang di dalamnya meliputi layanan perantaraan dan/atau penghantaran (bridging course) dan layanan pemantapan belajar (remidial course) 2) Akses pelayanan kesehatan dasar. kuratif. 9) Memperluas kemitraan untuk kebutuhan anak melalui program-program CSR 10) Memfasilitasi pelayanan kesehatan dengan Dinas Kesehatan dengan mengirimkan surat rekomendasi. Peningkatan Aksesibilitas terhadap Pelayanan Sosial Dasar. . dan rehabilitatif) 4. terutama Jamkesmas. Buku Nikah. 4) Memberikan dukungan pemenuhan kesehatan anak oleh keluarga melalui tabungan anak 5) Mengalihkan kegiatan bermain anak ke tempat yang lebih aman 6) Memfasilitasi penyuluhan “parenting skill” 7) Melakukan lobby.

4 6. pemecahan masalah. Penyediaan peralatan dan perlengkapan sekolah 7. 6. Akses Pelayanan Pendidikan meliputi: a. Pengembangan jaringan kerja untuk rujukan yang bisa menjawab kebutuhan anak (lingkungan pendidikan yang ramah anak) 4. 4. 3 8. Jumlah anak setiap paketnya menyesuaikan. Menunjuk pengajar yang berkualifikasi sesuai dengan mata pelajaran yang dibutuhkan (memiliki pengalaman mengajar dan memahami hak anak). Layanan Remedial 2. Monitoring dan evaluasi perkembangan peserta didik. 1. dll) 5. Rujukan ke pendidikan formal. Pemberian life skills (komunikasi. non formal atau informal. Penjangkauan dan Pendampingan 2. dll) 5. Identifikasi kebutuhan 3. 4 Jumlah anak setiap paketnya menyesuaikan. Identifikasi kebutuhan anak 3. 7. Pemberian life skills (komunikasi. pemecahan masalah. Layanan Perantaraan dan/atau penghantaran (Bridging course) Tahapan kegiatan 1.61 Komponen Program 1. Monitoring dan evaluasi perkembangan peserta didik. kesadaran diri. Menunjuk pelyanan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) atau Rumah Sakit terdekat 2 3 Jumlah ideal peserta bridging course per kelas 20-25 orang. pengambilan keputusan. Identifikasi kebutuhan pelayanan kesehatan 3. Penjangkauan dan Pendampingan 2. Memilih tutor yang berkualifikasi (memiliki pengalaman mengajar dan memahami hak anak). kesadaran diri. Pelaksanaan bridging course (pendidikan formal dan non formal yang sesuai dengan standar 2 pelayanan minimal pendidikan nasional). b. Akses Pelayanan Kesehatan Dasar 1. pengambilan keputusan. Penjangkauan dan pendampingan sosial 2. Penyediaan peralatan dan perlengkapan sekolah 9. . Pelaksanaan remedial (pendidikan formal yang sesuai dengan standar pelayanan minimal pendidikan nasional).

Volentir/Relawan Psikolog d) Penelitian dan Pengembangan pendidikan anak jalanan. kolong jembatan. Di daerah lain dapat dilakukan hal yang sama seperti di Jakarta. dll d) Belajar pelajaran-pelajaran di sekolah yang sulit dipahami oleh anak e) Konseling Dan Penghubung Dengan Guru Sekolah f) Tutor Keagamaan . seni music. seperti Dinas Tenaga Kerja. Lembaga PKBM untuk jaminan kebijakan dan anggaran serta vocational training dan pendidikan non-formal. 3) Menyusun strategi penjangkauan dan pendampingan anak yang umumnya dalam lingkungan yang marjinal (di tempat kumuh. diantaranya meliputi: a) Nara Sumber Teknis. c) Pendamping. 2) Memperkuat kolaborasi dan sinergi program di lapangan dengan stakeholders. Dinas Pendidikan. LKSA dan Voluntir 1) Pelibatan perguruan tinggi yang concern terhadap anak dan Peran yang dimainkan. pinggiran kali.62 Peran Sakti Peksos. keterampilan. b) Tutor/Guru. bantaran rel kereta api. dan tempat-tempat lainnya yang sejenis) 4) Melakukan penjangkauan anak-anak dijalan bersama antara Sakti Peksos dan LKSA 5) Mendampingi selama pendidikan dan pelatihan. seni tari. dengan jenis kegiatan misalnya: a) Mendaftarkan sekolah b) Absensi kehadiran sekolah c) Menyediakan tutor PKBM.

4. 7.63 c. Monitoring dan evaluasi perkembangan peserta didik. Layanan pengembangan potensi diri dan kreatifitas anak 1. Melakukan bimbingan karier dan K3 (keselamatan dan kesehatan kerja). Penjangkauan dan pendampingan sosial 2. seperti pelatihan keterampilan. Pengembangan Potensi Diri dan Kreatifitas Anak 1) Meningkatkan kapasitas potensi diri dan kreativitas anak melalui berbagai kegiatan yang dapat memberikan prospek bagi masa depan anak. Pelaksanaan pelatihan keterampilan kerja yang sesuai dengan standar pelayanan minimal 8. Peran Sakti Peksos dan LKSA 1) Mendampingi dalam proses seleksi dan pelatihan 2) Mengalihkan tempat bermain anak dari jalanan ke tempat pelatihan keterampilan 3) Memfasilitasi pengembangan bakat anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. . Melakukan rujukan ke lembaga kursus dan pelatihan keterampilan (LKP). Identifikasi kebutuhan peluang kerja dan jenis keterampilan. Pengembangan networking untuk penyaluran karya kreatif atau potensi anak setelah mendapatkan pelatihan keterampilan. Mendata anak usia 14-17 tahun beserta minat dan bakat/ potensi anak. 9. pengembangan jaringan kerja (networking) untuk pelatihan kerja dan penyaluran karya kreatif anak setelah mendapatkan pelatihan keterampilan. serta membuka peluang produksi anak sekaligus menambah tabungan anak untuk persiapan kemandirian pada saat usia dewasa kelak. 2) Menjalin kemitraan dengan dunia usaha dalam pelaksanaan CSR perusahaan dan sekaligus membuka akses pasar bagi karya kreatif anak. 5. 3. 6. Menyusun silabus dan kurikulum yang ramah anak bersama dengan lembaga kursus dan pelatihan.

Diskusi tentang hak dasar anak .Pemahaman pentingnya pendidikan dan kesehatan anak . 3) Pelatihan dan pemberdayaan ekonomi keluarga Komponen Program 1. pendidikan. 2.Materi lain yang dianggap perlu . 4. Keterampilan Kreatif/ Kerajinan Tangan/ Handi Craf. 3.64 4) Menentukan anak-anak yang akan mengikuti pelatihan atau kegiatan 5) Menjalin kerjasama dengan lembaga kursus dan pelatihan 6) Memberikan latihan manajemen dan kewirausahaan 7) Mendampingi selama pendidikan dan pelatihan. kesehatan dan jaringan sosial yang dapat digunakan pengasuhan anak. Tahapan kegiatan Membangun kepercayaan dan komitmen Membangun kelompok dukungan Menyusun agenda pertemuan Menyusun materi pertemuan seperti: . dll) . BOS. dengan jenis kegiatan misalnya: a) Mendaftarkan Ke Tempat Pelatihan Keterampilan b) Melakukan Pengecekan Absensi Kehadiran Di Tempat Pelatihan c) Mencarikan Tutor Seni Musik.Diskusi peran dan tanggung jawab orang tua . Raskin.Diskusi pola asuhan anak . Peningkatan tanggung jawab orangtua/keluarga dalam pengasuhan dan perlindungan anak yang terdiri dari: 1) Bimbingan tentang pengasuhan anak 2) Aksesibilitas terhadap sumber pelayanan ekonomi. Pertemuan rutin orang tua untuk mencegah dan merespon anak yang terpaksa bekerja di jalanan 1. Seni Tari. 8) Memfasilitasi orang tua untuk menyaksikan pertunjukan pentas seni/kreatifitas dan lomba-lomba yang dilakukan oleh anak-anak.Sosialisasi program layanan sosial dasar (Jamkesmas. untuk melihat potensi dari diri anaknya 9) Memfasilitasi anak untuk mendapatkan kebutuhan rekreatif d. Akte Kelahiran.

Aksesibilitas terhadap Sumber Pelayanan 1. f) Membuka komunikasi baik secara perorangan maupun kolektif dengan orang tua/keluarga anak g) Setiap pertemuan dirancang secara informal dengan penuh kekeluargaan dengan terlebih dahulu melontarkan isu yang akan didiskusikan. Hindarkan tempat yang sering digunakan anak di jalanan. e) Untuk memudahkan bimbingan orang tua/keluarga anak. mereka dibagi dalam kelompok kecil 10 – 12 keluarga. Identifikasi potensi 2. Pemberdayaan Ekonomi 1. orang tua diminta pendapat tentang pengertaian . Pelatihan ketrampilan usaha (produksi. kesehatan dan jaringan sosial yang pengasuhan anak. manajemen. dapat digunakan 3. atau cari tempat yang tidak dekat dengan situasi jalanan. dan pemasaran) 4. 4. Misalnya. 3. 2. Pengembangan unit usaha mandiri Peran Sakti Peksos dan LKSA 1) Bimbingan dan Pengembangan tentang Pengasuhan a) Melakukan kunjungan rumah dan melakukan pendekatan secara individual kepada orang tua anak b) Membangun kepercayaan dari orang tua/keluarga anak c) Melakukan pertemuan dengan semua orang tua/ keluarga anak secara insidental maupun rutin dengan terjadwal secara bulanan d) Merancang waktu pertemuan dengan menyesuaikan waktu kerja orang tua dan menentukan tempat yang mudah diakses serta disenangi orang tua/ keluarga anak. Akses permodalan usaha 5. pendidikan.65 2. Studi kelayakan (prospek pasar) 3. pelayanan ekonomi. Kemitraan dalam usaha 6.

ketekunan. pendidikan. Peksos) dalam menarik anak dari jalanan dan sekaligus memberikan perlindungan bagi anak-anak mereka. Pada umumnya orang tua menyadari kalau keberadaan anak-anak mereka di jalanan adalah salah dan membahayakan. Merangsang orang tua untuk perduli akan situasi yang terjadi pada anaknya Menumbuhkan motivasi dengan memberi semangat bahwa mereka mampu dan memiliki kekuatan untuk berubah ke arah yang lebih baik Harus tegas dan disiplin demi untuk kepentingan terbaik anak Melibatkan orang tua dalam memantau perkembangan dan perubahan yang terjadi pada anak Butuh keuletan. namun hal ini perlu diungkap resiko-resiko yang mungkin dihadapi anak di jalanan. yang memandang orang tua/keluarga sebagai mitra dan tim kerja (orang tua. dan kesabaran pekerja social dalam berproses memberi bimbingan pada keluarga 2) Aksesibilitas keluarga terhadap sumber pelayanan ekonomi. korban penganiayaan. kesehatan dan jaringan sosial yang dapat digunakan pengasuhan anak. Membangun kesadaran orang tua akan kebutuhan dasar anak. dll.66 h) i) j) k) l) m) n) o) anak menurut mereka atau pengasuhan anak yang baik menurut mereka. a) Identifikasi kebutuhan orang tua/keluarga anak : salah satunya kebutuhan sarana air bersih b) Identifikasi lembaga mitra yang bisa memenuhi kebutuhan orang tua / keluarga . Bimbingan pengasuhan lebih pada tukar pengalaman antar orang tua dan saling memberi penguatan di antara mereka Bimbingan dilakukan dengan pendekatan kesetaraan. kecelakaan. seperti kekerasan. LKSA.

menyulam. tata boga. Penguatan Ekonomi Keluarga : a) Identifikasi mitra kerja sama yang memiliki layanan penguatan ekonomi keluarga b) Identifikasi mitra kerja yang memberikan layanan pelatihan keterampilan bagi orang tua / keluarga anak c) Menyebarkan brosur dan katru nama kepada semua pihak dalam setiap kesempatan untuk menangkap kerja sama d) Mempelajari persyaratan dan prosedur pemanfaatan layanan e) Melakukan sosialisasi pada keluarga untuk menjaring mereka yang berminat f) Memetakan minat dan bakat orang tua/ keluarga anak tentang keterampilan sesuai dengan jenis keterampilan yang disediakan oleh mitra kerja g) Keluarga yang berminat diseleksi oleh pihak mitra h) Bekerja sama dengan mitra dalam Pemberian pelatihan keterampilan disesuaikan dengan minat orang tua (menjahit. memberikan bantuan modal usaha dengan terlebih dahulu orang tua menerima bimbingan usaha terlebih dahulu.67 c) Melakukan pelatihan teknis agar orang tua/kepala keluarga menguasai teknologi sederhana yang terkait dengan pemenuhan kebutuhannya 3). membuat pita) i) Setelah pelatihan orang tua diberi perlengkapan kerja untuk menghasilkan karya sesuai dengan pelatiahan yang diikutinya j) Hasil karya dipasarkan untuk mendapatkan penghasilan. pekerja sosial dan pihak mitra untuk menjamin keberlangsungan usaha . k) Bagi mitra kerja yang memberikan modal usaha. l) Pendampingan secara bersama antara LKSA.

(3). Lembaga pelayanan sosial d. Tokoh masyarakat 3. Penjangkauan (identifikasi anak dan orang tua) 1. 3.Mengundang mitra dalam setiap pertemuan orang tua/keluarga (2). Penguatan Sistem Kelembagaan dan Dukungan Komunitas meliputi : 1) Penguatan kemampuan komunitas dalam mencegah dan merespon anak yang ditelantarkan. Penguatan kemampuan komunitas dalam mencegah dan merespon anak yang ditelantarkan Tahapan kegiatan 1.Selalu mengucapkan terima kasih kepada mitra kerja (5). Persiapan 2. e. Identifikasi sumber daya. lokasi b. Sosialisasi (mencari contact person/mencari mitra/koordonasi dengan semua pihak) 2. Membuat rencana aksi di tingkat komunitas untuk mencegah dan merespon anak yang diterlantarkan.Memelihara kerja sama agar program berkesinambungan. Identifikasi permasalahan anak dan keluarga yang ada di komunitas. 2. Membuat tim kerja masyarakat (working group) .Selalu mengajak mitra kerja ke lapangan agar mengetahui kondisi dan perubahan yang terjadi di lapangan. serta mendengar langsung manfaat yang dirasakan oleh orang tua/keluarga anak atas bantaun yang diberikan mitra kerja.68 m) Memelihara kemitraan dengan cara : mengundang dalam setiap pertemuan dengan orang tua/keluarga (1).Membuat laporan sesuai dengan standar yang ditentukan oleh mitra kerja (4). jumlah anak terlantar c. Komponen Program 1. 2) Koordinasi dengan pihak terkait. 4. Analisis situasi pemetaan sosial (minimal 1 kecamatan): a.

Fasilitasi penyelesaian masalah (6). 5.Penumbuhkembangan LKSA Anak Jalanan (4).Rapat koordinasi antar instansi/lintas sektor (8). untuk melaksanakan rencana aksi.Bantuan operasional LKSA Anak Jalanan (5).Supervisi pelaksanaan kegiatan LKSA Anak Jalanan 2) Penguatan Kemampuan Komunitas dalam menceggah dan merespon anak yang diterlantarkan : a) Melakukan pendekatan kepada komunitas agar dapat menerima keberadaan anak jalanan yang dibina oleh LKSA.Melakukan sosialisasi SKB dan pelaksanaaan Program PKSA anak jalanan (2). 3. 4. Diseminasi Rapat koordinasi Sinkronisasi program Pembentukan kelompok kerja Monitoring dan evaluasi Peran Sakti Peksos dan LKSA 1) Penguatan Sistem Kelembagaan a) Penguatan Kebijakan dan Pengembangan Program di daerah : (1). Koordinasi dengan instansi terkait 5. Melakukan deteksi dini dan pengawasan. . b) Penguatan kelembagaan.Pengembangan kapasitas teknis pekerja sosial perlindungan Anak Jalanan (3). 2.69 3. 1.Pembentukan dan Penguatan Jaringan Kelembagaan Anak Jalanan (7). meliputi: (1).Menyusun program dan kegiatan penarikan anak jalanan bersama Dinas Sosial Provinsi dan Kabupaten/Kota.Bimbingan Pemantapan Pengelola Perlindungan Anak Jalanan (2).

pelatihan keterampilan dan pemberdayaan ekonomi keluarga. dll) d) Memanfaatkan organisasi/kegiatan yang ada di masyarakat agar dapat berperan dalam layanan dukungan komunitas. RW dan Kelurahan. h) Memberikan penguatan kepada komunitas untuk menyelenggarakan bimbingan belajar. kegiatan keagamaan. seperti tidak memberikan uang di jalan. Petugas. 3) Koordinasi dengan pihak terkait (pihak pemerintah) : a) Melakukan pendekatan secara formal dan informal kepada tokoh masyarakat. dll) k) Menyadarkan komunitas untuk mencegah eksploitasi anak. Pengajian dan posyandu. seperti Karang Taruna. tokoh agama dan peme- . g) Mencarikan orang tua asuh pengganti bagi anak yang sudah kehilangan hak asuhnya dari orang tua/ keluarga.70 b) Memberikan pamahaman/pengertian kepada komunitas agar bisa mendukung PKSA Anjal. c) Menggunakan kegiatan social yang ada di masyarakat untuk menjelaskan tentang anak jalanan dan PKSA anak jalanan. l) Mengadakan program kampanye/pendidikan masyarakat agar dapat memberi perhatian/dukungan ke anak jalanan dan keluarga dengan cara yang tepat. f) Mengadakan pertemuan rutin membahas tentang permasalahan anak yang ada di tingkat RT. i) Merencanakan team kerja di masyarakat untuk penanganan. (seperti pengajian. j) Melibatkan masyarakat terdekat dengan anak jalanan untuk membantu memberikan perlindungan dan menjadi sumber informasi. e) Memonitoring keadaan dan situasi anak di dalam komunitas. Warung. pengembangan program kesejahteraan anak. PKK. (seperti: Tukang Ojek. pencegahan.

Memberikan tempat untuk melaksanakan program kegiatan. (2). (2). d) Memfasilitasi masyarakat untuk bisa berinteraksi langsung dengan anak jalanan melalui berbagai kegiatan.Membantu mencarikan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan yang dimiliki anak.Mengadakan kerjasama di bidang pelatihan / pendidikan keterampilan. (4).Membantu memasarkan hasil karya anak. c) Memberikan kesempatan kepada pihak swasta untuk terlibat dalam kegiatan secara langsung.Mengadakan kerjasama di bidang kesehatan lingkungan (air bersih) (3). b) Melibatkan tokoh masyarakat. hasil karya dan kreatifitas.Memberikan ruang publik agar anak bisa menampilkan bakat. d) Melakukan meping/pemetaan kondisi di jalan. Dinas Pendidikan. c) Membangun jejaring dengan lembaga pemerintahan. (1). tokoh agama dan pemerintah dalam kegiatan anak jalanan.Mencarikan "Bapak Angkat" untuk kegiatan usaha anak. Kepolisian. 4) Bermitra dengan pihak swasta / lembaga lain : a) Melihat peluang-peluang kerjasama dengan pihak swasta/lembaga lain.71 rintah terendah/kelurahan (Meminta rekomendasi dari RT. (3). (1).Mengadakan kerjasama di bidang pemberdayaan keluarga. seperti Puskesmas. (5). Catatan Sipil dan BUMN. e) Membangun jejaring dengan lembaga lain. RW dan Kelurahan untuk pembuatan Akte kelahiran). . b) Membuat program-program yang memungkinkan untuk pihak swasta terlibat.

72 (4). tenis meja. Persyaratan & Kewajiban a. atletik. c) Memberikan alternative bentuk perhatian kepada anak jalanan. e) Mengadakan program pelatihan untuk para relawan yang berasal dari komunitas. Perubahan tersebut . f) Melakukan pengorganiasian terhadap kegiatan relawan agar efektif. 2. d) Melakukan proses edukasi kepada masyarakat agar perhatian yang diberikan tidak membuat anak semakin senang hidup dan bekerja di jalanan.Mengadakan kerjasama di bidang olah raga.Terlibat dalam kegiatan tertentu / event.Menjadi tenaga pengajar. (2). b) Membangun kesadaran masyarakat tentang bahaya jalanan bagi anak melalui kampanye Stop Beri Uang. volly.Mengadakan kerjasama di bidang seni. (1). seperti dengan sanggar tari dan sanggar teater (6). dll. (4). futsal. selain memberi uang di jalan. 5) Komunitas ikut melakukan pencegahan agar anak tidak melakukan aktivitas di jalan a) Melibatkan masyarakat.Mengadakan kerjasama di bidang music. seperti pelatihan sepak bola. sehingga masyarakat bisa memberikan perhatian kepada anak di jalan dalam bentuk lain.Menjadi tenaga medis. (3). untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan pemberdayaan anak. terutama secara indivual. agar bisa berpartisipasi dalam melakukan pencegahan.Menjadi sahabat untuk mendampingi dan memotivasi anak. seperti dengan dunia rekaman. Fungsi sosial anak jalanan dapat meningkat yang diketahui dari perubahan sikap dan perilaku ke arah positif yang dapat dipantau secara empiris. (5).

latihan keterampilan.73 juga mendapat dukungan dari orangtua. ikan dan daging Transportasi anak dari rumah ke sekolah. dll) 2) orangtua/keluarga melakukan pengasuhan secara bertanggung jawab dan tidak mengeksploitasi anak secara ekonomi 3) Orang tua/ keluarga mengurus berbagai kebutuhan dasar anak dan memperjuangkan akses pelayanan sosial dasar (akte kelahiran anak. bermain. sepatu Persyaratan dan Kewajiban Anak mengkonsumsi gizi cukup yang disediakan orangtua/keluarga Anak bersekolah Anak tidak beraktivitas di jalanan. mendaftarkan kembali ke sekolah. dll) 4) LKSA memberikan dukungan fasilitas administrasi atau fasilitas kegiatan pertemuan 5) masyarakat mengadakan pertemuan rutin membahas tentang permasalahan anak yang ada di lingkungannya. . karena telah memiliki aktivitas yang lebih positif (sekolah. Anak mengikuti sekolah dengan memiliki kelengkapan sarananya dan terjangkau transportasinya. diasuh orang tua/keluarga. membeli alat sekolah seperti alat tulis. tas. Perilaku tersebut bisa dilihat sebagai berikut: 1) Anak tidak melakukan aktivitas ekonomi lagi di jalanan. No 1 Sasaran Anak Bantuan Tunai Bersyarat Mengkonsumsi makanan bergizi cukup Penggunaan Bantuan Membeli makanan tambahan bergizi cukup seperti susu. LKSA dan masyarakat disekitar anak beraktivitas. mengikutsertakan dalam latihan keterampilan. telor.

membimbing tumbuh kembang. orangtua mengantarkan anak ke pelayanan kesehatan. orangtua memberi makan sehari tiga kali. 3 LKSA Menyediakan fasilitas administrasi Membuat surat undangan atau rekomendasi ke lembaga mitra atau orangtua anak Menyediakan fasilitas Menyediakan tempat. pendidikan. dan . memberikan pendidikan dini. memenuhi kebutuhan dasar Akte kelahiran Transportasi dan biaya pengurusan akte kelahiran Oranggtua harus melengkapi persyaratan administrasi pembuatan akte kelahirana anak Membantu memperlancar kegiatan anak. orangtua tidak mentelantarkan anak.74 Akte kelahiran anak Transportasi pengurusan akte kelahiran anak Anak memiliki akte kelahiran secara sah Anak mengikuti pelatihan keterampilan untuk pengembangan potensi dan kreatifitas anak 2 Orangtua /Keluarga Pengasuhan secara memadai Transportasi anak ke tempat pelatihan keterampilan. dan pelatihan keterampilan. anak mengikuti pelatihan keterampilan dan mampu mengembangkan potensi dan kreatifitasnya Orangtua tidak mengekploitasi anak. Melindungi anak dari bahaya. alat tulis pelatihan secara memadai Anak tidak beraktivitas di jalanan. orangtua/keluarga dan masyarakat dengan mebuatkkan surat undangan atau rekomendasi Adanya pertemuan rutin antara LKSA.

serta korban dan saksi tindak pidana. serta masyarakat dimana anak tinggal.75 pertemuan kebutuhan lainnya untuk terselenggaranya pertemuan orangtua/keluarga anak jalanan. Keluarga miskin dari anak dengan kenakalan baik pelaku pelanggaran norma sosial maupun pelaku tindak pidana. mengikuti proses peradilan. keluarga. Kriteria Khusus Penerima Manfaat Sasaran PKSABH diprioritaskan kepada anak-anak yang berperilaku nakal atau anak yang berhadapan dengan hukum. b. PKS ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM 1. menjalani masa hukuman pidana. Anak dengan kenakalan yang melakukan pelanggaran norma sosial tetapi tidak dalam kategori tindak pidana sehingga tidak berhadapan dengan hukum. atau anak rentan melakukan kenakalan atau tindak pidana. dan menjalani masa reintegrasi pada orang tua/keluarga). 2) Anak yang menjadi korban tindak pidana sehingga berhadapan dengan hukum. . yang berstatus diversi. penahanan. terutama ditujukan kepada : a. 3) Anak yang menjadi saksi tindak pidana sehingga berhadapan dengan hukum. c. Berdasarkan pertimbangan ini sasaran penerima manfaat. warga masyarakat dan lembaga mitranya C. meliputi: 1) Anak dengan kenakalan yang telah diindikasikan melakukan pelanggaran hukum atau tindak pidana sehingga berhadapan dengan proses hukum (termasuk mengalami penangkapan. Anak berhadapan dengan hukum (6 sampai di bawah 18 tahun) dari keluarga miskin. ABH yang mendapat bantuan diprioritaskan ABH yang berasal dari keluarga miskin.

kela dll. Bantuan sosial/ subsidi pemenuhan hak dasar dasar 1) Pendampingan dalam pemenuhan kebutuhan identitas iden anak. pakaian dll. Masyarakat yang diwakili oleh totoh-tokohnya. peralatan sekolah. seragam dll.76 d. yang meliputi: bantuan transportasi. 5) Penyediaan akses terhadap rumah perlindungan sementa / alternatif yang aman bagi anak sementara . serta korban dan saksi tindak pidana yang kemudian berhadapan dengan hukum dapat digambarkan dalam diagram sebagai se berikut: 2. Pengkategorian kriteria kriteria anak dengan kenakalan baik pelanggar norma sosial yang tidak berhadapan dengan hukum maupun pelaku tindak pidana yang berhadapan dengan hukum. yang meliputi: pemeriksaan kesehatan dan pengpeng obatan. 2) Pemenuhan kebutuhan fisik yaitu: makanan. seperti pengurusan pembuatan akte kelahiran. 4) Pemenuhan kebutuhan akan pelayanan kesehatan. tempat anak dengan kenakalan tinggal. 3) Dukungan pemenuhan hak pendidikan. Komponen Program a. totoh tokohnya.

Untuk itu. . serta dengan prinsip “memperbaiki kembali” kerusakan yang diakibatkan oleh tindakan anak dan mencegah agar hal tersebut tidak dilakukan lagi.Bekerja untuk korban atau kelompok masyarakat. (2). Peningkatan aksesibilitas terhadap pelayanan sosial dasar 1) Pelayanan Mediasi (penyelesaian kasus) a) Penentuan kasus-kasus Peradilan Restoratif (Restorative Justice / RJ) Lembaga pelaksana PKS-ABH perlu membuat kesepakatan mengenai jenis-jenis kasus-kasus yang akan ditangani dengan menggunakan pendekatan restorative.Permohonan maaf tertulis atau verbal kepada korban. Sebagai catatan. dengan mempertimbangkan bernbagai tinjauan profesi.Memperbaiki atau membayar apa yang telah diambilnya atau dirusaknya. b) Penentuan Tindakan untuk Anak sebagai Pelaku Untuk setiap pelanggaran anak dianggap perlu untuk bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya.77 6) Bantuan pendampingan dalam pemenuhan kebutuhan akan pengasuhan yang layak. Beberapa contoh tindakan yang diberikan kepada anak sebagai pelaku adalah sebagai berikut: (1). bentuk-bentuk tindakan perlu dimusyawarahkan dan dipilih. (3). Kesepakatan tersebut perlu dibuat bersama para pihak yang berkepentingan dengan menggunakan jejaring yang telah terbentuk di daerahnya masing-masing. b. kasus-kasus anak yang berhadapan dengan hukum yang selama ini disepakati dalam pertemuanpertemuan di tingkat pusat untuk ditangani melalui peradilan restorative adalah kasus-kasus yang dapat dikategorikan ke dalam kasus ringan (petty crimes).

sampai situasi keluarga / keluarga pengganti kembali aman untuk anak (g).Kasus dirujuk ke LKS-ABH oleh masyarakat atau polisi. (d).Meningkatkan kehadiran di sekolah dan atau mengerjakan pekerjaan rumah (PR). (e).Komite merespon laporan dengan menugaskan tim task force (polisi dan pekerja sosial) melakukan kunjungan rumah kepada korban dan pelaku. LKS-ABH (selain Komite) mengirimkan laporan kasus kepada Komite baik yang telah terselesaikan maupun yang memerlukan tindak lanjut dari Komite.78 (4).Memberikan sumbangan untuk kegiatan kemanusiaan. c) Penanganan Kasus RJ (1) Merespon laporan : (a). Anggota Komite merujuk ABH ke rumah aman/ rumah perlindungan jika dianggap perlu.Pekerja sosial (manajer kasus) melakukan verivikasi atas laporan kasus yang diterima. (9).Mengikuti kegiatan olah raga atau hal-hal yang bersifat rekreatif untuk mencegah kebosanan. (b).Menulis pernyataan untuk menunjukkan bahwa dia telah memahami apa yang dilakukannya adalah salah (misalnya sebanyak satu halaman). (6). (5). (f). (7).Inform consent diisi oleh anak dan diketahui oleh orang tua atau wali anak. (c). (8). dan mulai melakukan penyelidikan di tempat pelaku dan tempat korban.Konseling untuk mengatasi penyebab terjadinya perilaku pelanggaran hukum.Membatasi hubungan dengan orang-orang yang mempengaruhinya untuk berbuat pelanggaran’.Berbagai pelayanan emergensi dilakukan untuk mengatasi permasalahan – permasa- .

Apakah Kasus Tersebut Layak Untuk Masuk Ke File Peradilan Restoratif. untuk mendapat kesamaan pandangan mengenai kasus anak dan tindak lanjutnya. Rujukan Dll. Atau Harus Diteruskan Ke Peradilan Formal. pekerja sosial menjajagi kemungkinan dan memotivasi korban dan keluarganya.Alternatif Tindakan Yang Harus Diberikan Kepada Anak Sebagai Pelaku Termasuk Keluarganya. seperti masalah medis dsb. (i). (2) Mediasi / Musyawarah Keluarga (a) Setelah mendapat kepastian mengenai kasus tersebut serta tindak lanjut yang disarankan konferensi kasus. Konferensi kasus perlu menyepakati : . Hasil asesmen didiskusikan melalui forum konferensi kasus. (b) Komite akan menjadwalkan pelaksanaan musyawarah antara keluarga korban dan keluarga pelaku. serta pelaku dan keluarganya untuk menyelesaikan kasus mereka melalui musyawarah di KPRS-ABH. (h). .Asesmen kebutuhan anak dan keluarga dilakukan secara seksama. Untuk MempertanggungJawabkan Kesalahannya (Sesuai Umur. .Pelayanan-Pelayanan Yang Disarankan Untuk Diberikan Kepada Anak Dan Atau Keluarganya.79 lahan gawat darurat yang dialami korban maupun pelaku sehubungan dengan kasus. (j). Seperti Pemberian Konseling. apabila keduabelah pihak setuju untuk menyelesaikan kasus mereka melalui musyawarah atas fasilitasi Komite. Jenis Tindakan Dan Kerusakan Yang Ditimbulkannya) .

pengobatan atau penggantian kerugian atas kerusakan. dan mediator telah ditunjuk oleh Komite. . (i) Korban dan keluarganya diberi kesempatan untuk mengajukan permintaan upaya perbaikan. (e) Musyawarah keluarga dilakukan secara tertutup di tempat yang dapat menjamin kerahasiaan klien. (h) Memotivasi pelaku dan keluarganya untuk meminta maaf secara lisan maupun tulisan kepada korban dan keluarga korban. (f) Sebelum musyawarah dilakukan. tokoh masyarakat sebagai saksi. (d) Setelah jadwal disepakati semua pihak. (g) Masing-masing pihak diberikan kesempatan untuk menjelaskan kasus menurut versi masing-masing. mediator menjelaskan tujuan musyawarah keluarga kepada keduabelah pihak sehingga mereka betul-betul paham atas hal-hal yang ingin dicapai dalam musyawarah yang akan dilakukan. (j) Kesempatan diberikan kepada keluarga korban dan pelaku untuk bernegosiasi menyepakati hal tersebut.80 (c) Tujuh hari masa “peredaan” disarankan untuk diberikan kepada kedua keluarga sebelum melakukan musyawarah keluarga. serta perwakilan pengurus Komite akan diundang untuk hadir di KPRS-ABH mengikuti musyawarah keluarga. kehilangan atau kecelakaan yang telah diakibatkan oleh tindakan pelaku. pelaku dan keluarga pelaku. keluarga korban. Pelaku dan keluarganya juga diberi kesempatan untunk menyatakan kesanggupannya. juga memotivasi korban dan keluarga korban untuk memafkan pelaku. korban.

mengatasi trauma. (o) Rakor diinisiasi oleh Komite untuk melaporkan perkembangan hasil penyelesaian kasus. Selanjutnya Manejer Kasus merujuk kasus kepada Tim Rehabilitasi untuk menjalani program pengubahan perilaku dan kepada PRSABH-BM atau totoh masyarakat ldi Kelurahan agar melakukan monitoring atas pelaksanaan tindakan yang dibebankan kepada pelaku. (l) Apabila semua telah disepakati oleh keduabelah pihak. maka berita acara kesepakatan ditandatangani oleh kedua belah pihak serta saksi.81 (k) Wakil Komite menyampaikan keputusan Komite mengenai tindakan yang dikenakan kepada pelaku yang harus dijalankan oleh pelaku sebagai wujud tanggungjawab atas tindakan melanggar hukum yang telah dilakukannya. dan menurunkan ketegangan psikologis maupun sosial yang berkaitan dengan kasus (kepada anak . (n) Mediator melanjutkan berita acara kesepakatan tersebut kepada Ketua Komite dan Manajer Kasus. (m)Apabila kasus tidak bisa diselesaikan melalui cara ini dan tidak ditemukan cara penyelesaian yang lain yang lebih berpihak pada anak. maka kasus akan dilanjutkan dengan proses peradilan formal sebagai upaya terakhir. (3) Pasca-Mediasi/Pasca-Musyawarah Keluarga (a) Setelah mendapat kepastian mengenai kasus tersebut (b) Konselor melanjutkan pemberian layanan konseling untuk menumbuhkan rasa aman.

(4) Pelayanan Khusus untuk Korban dan Saksi (a) Menjamin keamanan bagi anak. (c) Mempersiapkan reintegrasi anak dengan keluarga dan masyarakat. (c) Mendampingi dan memfasilitasi anak untuk mendapatkan visum at repertum (d) Memberikan akses untuk mendapatkan konsultasi hukum berkaitan dengan kasus yang mereka hadapi (e) Memberikan akses untuk mendapatkan konseling psikososial (individu maupun kelompok) bagi anak dan keluarganya.82 sebagai korban. (f) Penguatan dukungan sosial keluarga/orang tua terhadap anak korban tindak pidana. dan menitipkan anak di rumah perlindungan / aman jika perlu selama menunggu penyelesaian kasus (b) Merujuk anak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Tim Rehabilitasi menyelenggarakan program pengubahan perlaku untuk mengoreksi kesulitan perilaku yang dialami pelaku. terutama jika anak mengalami luka atau sakit secara fisik akibat tindakan pelaku. (d) Memastikan agar monitoring terhadap pelaksanaan tindakan yang dijalankan oleh pelaku sesuai kesepakatan dilaksanakan oleh PRSABH-BM atau totoh-tokoh masyarakat local. pelaku maupun keluarganya). a. (5) Pendampingan bagi anak dalam proses peradilan formal (a) Memberikan masukan informasi (berdasarkan hasil assessment) yang dapat meringan- .

secara individual atau kelompok. (b) Menyelenggarakan kegiatan edukasi teman sebaya dengan melibatkan mantan ABH yang telah sukses hidup dalam masyarakat. (7) penguatan tanggung jawab orang tua/ keluarga dalam pengasuhan dan perlindungan anak (a) Program Pelayanan Penguatan Keluarga Kandung : − Bimbingan dan pengembangan tentang pengasuhan .83 kan kasus anak (jika memungkinkan upayakan diskresi atau diversi) (b) Memberikan konseling kepada anak dan keluarganya untuk meringankan beban psikologis yang dialami oleh mereka berkaitan dengan kasus dan atau proses peradilan formal yang mereka hadapi (terutama yang berkaitan dengan rasa aman dan trauma) (6) Pendampingan bagi peradilan formal anak dalam proses (a) Pelayanan konseling/pengubahan perilaku dalam rangka rehabilitasi sosial anak yang menjadi pelaku tindak pidana. (c) Fasilitasi reintegrasi anak yang menjadi pelaku tindak pidana dengan keluarga dan masyarakatnya (d) Social skills training untuk anak (e) Akses pada vocational training untuk anak di atas 15 tahun dan keluarga (f) Asimilasi/fasilitasi komunikasi anak dengan keluarga dan masyarakat (g) Penyiapan masyarakat untuk menerima kembali anak yang telah berhadapan dengan hukum.

− Program Pelayanan Penguatan Keluarga Kandung : (b) Layanan Dukungan Keluarga Pengganti (bagi anak yang tidak memiliki/ tidak diketahui keluarganya) meliputi: − Bimbingan dan pengembangan tentang pengasuhan − Penguatan ekonomi keluarga − Aksesibilitas keluarga terhadap sumber pelayanan ekonomi. (c) Penyeleggaraan gahan: program-program Pusat-pusat penceKegiatan − Pengembangan Remaja − Peningkatan pemahaman tentang hukum di kalangan anak . kesehatan dan jaringan sosial yang dapat digunakan untuk pengasuhan anak. pendidikan. kesehatan dan jaringan sosial yang dapat digunakan untuk pengasuhan anak. (8) Penguatan sistem kelembagaan kesejahteraan sosial anak dan komunitas (a) Penguatan kebijakan dan pengembangan program di daerah (seperti Sosialisasi SKB dan RJ. pendidikan. Penyusunan Pedoman PKSA) (b) Penguatan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perlindungan dan rehabilitasi sosial ABH.84 − Penguatan ekonomi keluarga − Aksesibilitas keluarga terhadap sumber pelayanan ekonomi. contoh: PRSABH-BM.

− Fasilitasi penyelesaian masalah. 5) Penyediaan akses terhadap rumah perlindungan sementara / alternatif yang aman bagi anak 6) Bantuan pendampingan dalam pemenuhan kebutuhan akan pengasuhan yang layak. 80% untuk pepentingan perlindungan dan pengembangan anak. pakaian dll. − Pembentukan dan penguatan jaringan − Rapat koordinasi sektor antar instansi/lintas − Supervisi pelaksanaan kegiatan LPKSABH NO A PROGRAM Bantuan sosial/subsidi pemenuhan kebutuhan dasar KEGIATAN 1) Pendampingan dalam pemenuhan kebutuhan identitas anak. seragam dll. yang meliputi: pemeriksaan kesehatan dan pengobatan. yang meliputi: bantuan transportasi. dll. 4) Pemenuhan kebutuhan akan pelayanan kesehatan. 2) Pemenuhan kebutuhan fisik yaitu: makanan. 3) Dukungan pemenuhan hak pendidikan. seperti pengurusan pembuatan akte kelahiran. .85 (d) Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak. meliputi: − Bimbingan pemantapan pengelola perlindungan anak − Pengembangan kapasitas teknis pekerja sosial perlindungan ABH − Penumbuhkembangan KPRSABH − Bantuan operasional LPKSABH dengan rasio pemanfaatan 20% untuk kesekretariatan. peralatan sekolah.

secara individual atau kelompok. 3. b) Menyelenggarakan kegiatan edukasi teman sebaya dengan melibatkan mantan ABH yang telah sukses hidup dalam masyarakat. Memfasilitasi mediasi / musyawarah keluarga iii. dan menitipkan anak di rumah perlindungan / aman jika perlu selama menunggu penyelesaian kasus 2) Merujuk anak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Merespon laporan ii. c) Fasilitasi reintegrasi anak yang menjadi pelaku tindak pidana dengan keluarga dan . Pelayanan pasca mediasi 2. Penetapan kasus RJ b. terutama jika anak mengalami luka atau sakit secara fisik akibat tindakan pelaku. Penentuan Tindakan untuk Anak sebagai Pelaku c. 3) Mendampingi dan memfasilitasi anak untuk mendapatkan visum at repertum 4) Memberikan akses untuk mendapatkan konsultasi hukum berkaitan dengan kasus yang mereka hadapi 5) Memberikan akses untuk mendapatkan konseling psikososial (individu maupun kelompok) bagi anak dan keluarganya. Pelayanan Mediasi (Penyelesaian Kasus) a.86 B Peningkatan Aksesibilitas terhadap Pelayanan Sosial Dasar 1. Pendampingan dalam proses peradilan formal 1. Pelayanan Khusus untuk korban dan saksi 1) Menjamin keamanan bagi anak. Memberikan masukan informasi (berdasarkan hasil assessment) yang dapat meringankan kasus anak (jika memungkinkan upayakan diskresi atau diversi) 2. Memberikan konseling kepada anak dan keluarganya untuk meringankan beban psikologis yang dialami oleh mereka berkaitan dengan kasus dan atau proses peradilan formal yang mereka hadapi (terutama yang berkaitan dengan rasa aman dan trauma) C Pengembangan Potensi Diri dan Kreatifitas Anak sebagai Program Rehabilitasi dan Reintegrasi Sosial ABH a) Pelayanan konseling/pengubahan perilaku dalam rangka rehabilitasi sosial anak yang menjadi pelaku tindak pidana. Penanganan kasus RJ i.

kesehatan dan jaringan sosial yang dapat digunakan untuk pengasuhan anak.87 masyarakatnya d) Social skills training untuk anak e) Akses pada vocational training untuk anak di atas 15 tahun dan keluarga f) Asimilasi/fasilitasi komunikasi anak dg keluarga dan masyarakat g) Penyiapan masyarakat untuk menerima kembali anak yang telah berhadapan dengan hukum. Layanan Dukungan Keluarga Pengganti (bagi anak yang tidak memiliki / tidak diketahui keluarganya) meliputi: (2). pendidikan. pendidikan. Bimbingan dan pengasuhan Penguatan Keluarga tentang pengembangan (2). Penguatan ekonomi keluarga (3). C Penguatan Tanggung Jawab Orang Tua/Keluarga dan Masyarakat i. Penyusunan Pedoman PKSA) 2) Penguatan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perlindungan dan rehabilitasi sosial ABH. kesehatan dan jaringan sosial yang dapat digunakan untuk pengasuhan anak. D Penguatan Kelembagaan Pelayanan Kesejahteraan Sosial Anak 1) Penguatan kebijakan dan pengembangan program di daerah (seperti Sosialisasi SKB dan RJ. Program Pelayanan Kandung : (1). ii. . Bimbingan dan pengasuhan pengembangan tentang (3). Penguatan ekonomi keluarga (4). Aksesibilitas keluarga terhadap sumber pelayanan ekonomi. Aksesibilitas keluarga terhadap sumber pelayanan ekonomi. contoh: PRSABH-BM.

meliputi: a. Indikator Keberhasilan a. Rapat koordinasi antar instansi/lintas sektor h. Bantuan operasional LPKSABH dengan rasio pemanfaatan 20% untuk kesekretariatan. Peningkatan pemahaman tentang hukum di kalangan anak 4) Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak. Peningkatan prosentasi kasus ABH yang terselesaikan dalam mekanisme peradilan restoratif: . e. Fasilitasi penyelesaian masalah. Penumbuhkembangan KPRSABH d. Terpenuhinya kebutuhan dasar ABH dan menurunnya kecenderungan perilaku melanggar hukum pada anak: 1) Prosentase Anak Berhadapan Dengan Hukum yang mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar meningkat 2) Meningkatnya prosentase ABH yang mendapat pengasuhan yang bersifat protektif di keluarga maupun pengasuhan sementara di rumah aman selama proses penyelesaian perkara 3) Berkurangnya prosentase pelanggaran hukum yang dilakukan oleh anak b. Pengembangan Pusat-pusat Kegiatan Remaja b. Bimbingan Pemantapan dungan Anak Pengelola Perlin- b. Pengembangan kapasitas teknis pekerja sosial perlindungan ABH c. f. Pembentukan dan penguatan jaringan g. 80% untuk pepentingan perlindungan dan pengembangan anak. Supervisi pelaksanaan kegiatan LPKSABH 3.88 3) Penyeleggaraan program-program Pencegahan: a.

komite) a) Jumlah kasus yang terlaporkan dan terasesmen oleh LPKSABH b) Prosentasi kasus yang bersedia mengikuti proses mediasi pada mekanisme peradilan restoratif / penyelesaian melalui musyawarah c) Prosentase kasus yang dapat mencapai kesepakatan dalam mediasi kasus d) Tersedianya data perkembangan kasus 2) Proses Formal: a) Peningkatan prosentase kasus yang mendapat pendampingan psikososial b) Peningkatan prosentase ABH yang mendapat pendampingan hukum c) Peningkatan prosentase ABH yang mendapat bantuan sosial lainnya (misal. prosentase anak yang memperoleh pelayanan kesejahteraan sosial dasar meningkat. .89 1) RJ (basis masyarakat. Anak-anak mantan ABH siap kembali ke keluarga dan masyarakatnya. 1) Pada akhir program. dan keluarga serta masyarakat siap menerima kembali anak. Perwalian dalam persidangan) c. 1) Prosentase ABH yang dapat menyelesaikan Life skills training 2) Prosentase orang tua ABH yang dapat menyelesaikan Good parenting training 3) Prosentase ABH berusial lebih atau sama dengan 15 tahun yang dapat menyelesaikan Vocational training 4) Prosentase ABH yang terfasilitasi untuk mempersiapkan asimilasi/ komunikasi dengan keluarga dan masyarakatnya d. Anak terjauhkan dari kemungkinan konflik dengan hukum.

prosentase anak yang mengikuti penyuluhan hukum meningkat. 4) Pada akhir program. Persyaratan dan Kewajiban Persyaratan a.90 2) Pada akhir program. Terbentuk dan menguatnya sistem perlindungan dan rehabilitasi ABH yang didukung dengan SDM yang kompeten. 2) Pada akhir program 1 kegiatan pengembangan kapasitas teknis pekerja sosial perlindungan ABH terlaksana 3) Pada akhir program. Penyusunan Pedoman PKS ABH) 5) Pada akhir program. Sosialisasi SKB dan RJ. Bantuan Sosial untuk Anak . PSBR (Panti Sosial Bina Remaja) memiliki rencana program yang jelas dan mampu memulai melaksanakan program youth centre. 2 kebijakan perlindungan ABH terbentuk dan 5 kegiatan Pengembangan Program terlaksana: (e.g. e. 7) Mekanisme Supervisi pelaksanaan kegiatan tersusun dan tersosialisasikan 4. prosentase orang tua anak yang mendapat pemahaman tentang pengasuhan anak meningkat. 10 Rapat koordinasi terselenggara 4) Pada akhir program. 3) Pada akhir program. 1) Jaringan stakeholder pelaksana pendukung program di 9 propinsi dan 7 propinsi yang terbentuk unit pelaksana teknis PKSABH memulai kegiatan operasionalnya yang difasilitasi APBN. sejumlah tokoh masyarakat mengikuti penyuluhan hukum. 7 KSABH melaksakan program perlindungan dan rehabilitasi ABH sesuai pedoman yang disepakati 6) Pada akhir program.

minimal 80% dari jumlah pertemuan yang diwajibkan. Adapun persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan bantuan tersebut adalah sebagai berikut: 1) Anak telah mengikuti keseluruhan rangkaian program perlindungan dan rehabilitasi sosial yang diselenggarakan oleh LPKS-ABH. 2) Melaksanakan tindakan yang telah disepakati dalam musyawarah keluarga (misalnya : membayar kerugian. dan memberikan kesempatan kepada adak untuk bersosialisasi 6) Mendorong anak untuk hadir di sekolah atau program pendidikan alternatif lainnya 7) Membawa anak ke Puskesmas / klinik kesehatan / dokter ketika anak sakit 8) Mengurus akte kelahiran atau surat kenal lahir anak 9) Memberikan tempat tinggal yang layak untuk anak dan tidak membiarkan anak tinggal di suatu tempat beresiko tanpa perlindungan dan pengawasan.91 Bantuan tunai bersyarat diberikan kepada anak-anak ABH yang telah mengikuti rangkaian pelayanan perlindungan dan rehabilitasi sosial. Orang tua 1) Mendukung dan mengikuti kegiatan program perlindungan dan rehabilitasi sosial ABH yang diarahkan kepada keluarga / orang tua. dll) 3) Anak tidak lagi melakukan perbuatan yang dapat melanggar hukum 4) Anak telah menunjukkan sikap dan perilaku positif 5) Kehadiran anak di sekolah atau lembaga pendidikan alternatif lainnya tidak kurang dari 80%. sebagai upaya penyelamatan sosial bagi mereka yang secara ekonomi telah termarjinalisasikan sehingga terpaksa melakukan tindakan yang melanggar hukum. b. memperbaiki kerusakan. . membersihkan tembok. yang ditunjukkan dengan tingkat kehadiran minimal 80% 2) Mendorong anak untuk mentaati kesepakatan yang dibuat dalam musyawarah keluarga 3) Tidak melakukan tindak kekerasan 4) Tidak melakukan diskriminasi 5) Tidak mempekerjakan ana tidak mengisolasi anak.

yaitun lembaga-lembaga kesejahteraan sosial anak yang telah ditetapkan melalui proses seleksi oleh UP-PKSA Pusat atas rekomendasi/ sepengetahuan UP-PKSA Daerah. SDM dan sumber keuangan yang dapat disinergikan dengan PKSA 8) Memiliki rekening bank atas nama lembaga (bukan rekening pribadi). terdapat beberapa syarat lain yang harus dipenuhi.92 Pemenuhan persyaratan dan kewajiban penerima layanan sangat ditentukan oleh peran pendamping sosial (Pekerja Sosial Profesional dan Tenaga Kesejahteraan Sosial) dan peran Lembaga Kesejahteraan Sosial (LSM/ Yayasan/ Organisasi) yang menjadi mitra kerja PKSA. 2) Memiliki surat keputusan/ rekomendasi dari Kementerian Sosial atau Dinas/ Instansi Sosial tentang keikutsertaan lembaga kesejahteraan sosial anak dalam PKSA 3) Memiliki program/ kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan pemenuhan hak anak dan melindungi anak dari tindak kekerasan. dengan kriteria sebagai berikut: 1) Berbadan Hukum atau tidak/ belum berbadan hukum dan memiliki struktur organisasi dan tata kelola administrasi yang tertib. 7) Memiliki sumber daya sarana prasarana. keterlantaran. 4) Memiliki sarana prasarana organisasi yang mendukung pelaksanaan dan pencapaian kinerja PKSA 5) Pengalaman dalam penanganan anak yang mengalami masalah sosial 6) Memiliki jaringan kerja yang luas. diantaranya adalah: . c. Selain persyaratan tersebut. LKS-ABH Bantuan operasional lembaga diberikan kepada LKS-ABH apabila memenuhi persyaratan untuk menjadi LKSA. eksploitasi dan diskriminasi.

terkait dengan kebutuhan dan permasalahan perilaku anak.93 1) melakukan program perlindungan dan rehabilitasi sosial terhadap ABH 2) memberikan pemenuhan kebutuhan / hak dasar anak (pendidikan. Unit Pelaksana PKS-ABH Unit pelaksana PKS-ABH adalah Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) di tingkat lokal yang telah ditetapkan melalui porses seleksi oleh UP-PKSA Pusat. dll) 3) memfasilitasi aksesibilas terhadap layanan diluar lembaga yang bersangkutan 4) memberikan penguatan terhadap tanggung jawab keluarga dan masyarakat 5) melakukan pendampingan psikososial terhadap ABH 6) menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam penanganan ABH 7) bantuan operasional bagi lembaga minimal 80 % kemanfaatannya untuk kepeningan anak 8) Untuk mendapatkan operasional lembaga yang bersangkutan harus menyususn TOR dan pelaporan yang ditujukan ke kementrian sosial RI Kewajiban a. 2) Terlibat dan mendukung terhadap kegiatan PKSABH. dengan tugas pokok mengelola kegiatan PKS-ABH. yang meliputi: anak diindikasikan . kesehtan. b. Orangtua Penerima Bantuan 1) Menginformasikan kondisi dan perkembangan ABH. 4) Bertanggung jawab penuh terhadap kegiatan pemenuhan kebutuhan dasar anak. dengan cara: 1) Melakukan pemetaan dan menyiapkan data calon penerima manfaat PKS-ABH secara lengkap (by name by adress. 3) Menghadiri kegiatan-kegiatan program perlindungan dan rehabilitasi sosial ABH terutama programprogram yang ditujukan kepada keluarga / orang tua.

anak yang telah menjalani masa hukuman pidana. Menerima dan merespon laporan masyarakat tentang kejadian pelanggaran hukum atau perilaku kenakalan yang dilakukan anak-anak. Relawan Sosial Anak dalam melaksanakan PKS-ABH di lingkungannya.94 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) melakukan pelanggaran hukum. Menyelenggarakan atau merujuk anak ke programprogram reintegrasi sosial untuk meningkatkan kesiapan anak kembali ke keluarga dan masyarakatnya Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan PKS-ABH. Memotivasi dan merujuk atau memfasilitasi penyelenggaraan penyelesaian kasus melalui pendekatan peradilan restoratif melalui Komite Perlindungan dan Rehabilitasi ABH. di tingkat lokal. termasuk pendamping. Menyelenggarakan atau merujuk anak ABH ke program-program rehabilitasi sosial untuk menangani permasalahan psikososial yang dialami anak terutama yang berkaitan dengan upaya pengubahan perilaku nakal yang berpotensi pada pelanggaran hukum. Melakukan penjangkauan kepada masyarakat untuk menemukan kasus-kasus perilaku nakal yang dialami anak-anak sebelum kasus tersebut dilaporkan kepada kepolisian. anak yang berstatus diversi. . Mendampingi proses pembukaan Tabungan Kesejahteraan Sosial Anak pada Bank setempat atau Lembaga Keuangan Mikro yang berbadan hukum. anak yang berperilaku nakal) Melakukan pendampingan sosial terhadap ABH yang sedang menjalani proses formal dengan melibatkan Pekerja Sosial Anak. anak yang menjadi korban perbuatan pelanggaran hukum. anak yang mengikuti proses peradilan. TKSA. termasuk kinerja seluruh jajaran LPKSABH.

yang meliputi: anak diindikasikan melakukan pelanggaran hukum.95 10) Membangun jaringan kemitraan dengan berbagai pihak (LSM/Yayasan/Orsos. anak yang berstatus diversi. 3) Menerima.) 11) Melakukan advokasi sosial bersama lembaga-lembaga mitra penyelenggaraan kesejahteraan sosial anak untuk menjamin terciptanya kebijakan-kebijakan daerah yang dibutuhkan demi terselenggaranya sistem perlindungan dan rehabilitasi sosial yang lebih baik bagi ABH 12) Membuat laporan pelaksanaan PKS-ABH sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki. Dunia Usaha. anak yang berperilaku nakal) 2) Melakukan penjangkauan kepada masyarakat untuk menemukan kasus-kasus perilaku kenakalan yang dialami anak-anak sebelum kasus tersebut dilaporkan kepada kepolisian. . anak yang mengikuti proses peradilan. c. Perguruan Tinggi. dll. melakukan verifikasi dan meneruskan laporan masyarakat tentang kejadian pelanggaran hukum atau perilaku kenakalan yang dilakukan anakanak kepada pimpinan LPKSABH atau penanggungjawab yang ditunjuk oleh pmpinan. 4) Meminta anak / keluarganya untuk mengisi inform consent sebagai dasar dan persetujuan penanganan kasus. untuk kemudian mendapatkan penugasan tindak lanjut terhadap laporan tersebut. 13) Mendokumentasikan data dan catatan-catatan kasus ABH yang ditangani. Tugas pendamping 1) Melakukan tugas pemetaan dan menyiapkan data calon penerima manfaat PKS-ABH secara lengkap (by name by adress. Aktivis Peduli Anak. anak yang menjadi korban perbuatan pelanggaran hukum. anak yang telah menjalani masa putusan tindakan / hukuman pidana.

jika anak dan keluarganya sepakat untuk menempuh jalur hukum formal. termasuk usulan intervensi yang perlu diberikan kepada mereka. 8) Khusus untuk anak yang menjadi korban. . menyiapkan berita acara dan penandatanganan kesepakatan musyawarah. mencari dan menentukan mediator. dll. 10) Membantu persiapan fasilitasi musyawarah keluarga untuk menyelesaikan kasus melalui pendekatan peradilan restoratif (undangan. skenario/ agenda musyawarah. termasuk merujuk anak ke pelayanan kesehatan jika diperlukan. 12) Merujuk dan mendampingi anak ABH mengikuti program-program rehabilitasi sosial untuk menangani permasalahan psikososial yang dialami anak terutama yang berkaitan dengan upaya pengubahan perilaku kenakalan yang berpotensi pada pelanggaran hukum. berikan pendampingan untuk mendapatkan visum at repertum di rumah sakit dengan surat keterangan dari kepolisian setempat. 9) Melakukan homevisit kepada keluarga korban dan pelaku untuk menjelaskan tentang fungsi LPKS-ABH dan memotivasi untuk menyelesaikan kasus melalui pendekatan peradilan restoratif yang diselenggarakan oleh Komite Perlindungan dan Rehabilitasi ABH. 6) Memberikan pelayanan akses pada rumah perlindungan / rumah aman bagi anak yang menjadi korban maupun pelaku jika diperlukan 7) Memberikan pelayanan emergensi jika diperlukan. termasuk membuat notulasi musyawarah. menyiapkan catatan-catatan atau dokumen yang dibutuhkan dalam mediasi dsb) 11) Membantu penyelenggaraan musyawarah keluarga. tempat. serta melaporkannya kepada pimpinan LPKS-ABH atau penanggungjawab yang ditunjuk lembaga untuk mendapatkan persetujuan intervensi selanjutnya.96 5) Melakukan rapid assessment mengenai kebutuhan anak yang menjadi korban maupun pelaku.

serta menyusun laporan kegiatan bulanan . serta mendokumentasikannya. membuat laporan perkembangan kasus dan kemajuan hasil intervensi.97 13) Merujuk dan mendampingi anak mengikuti programprogram reintegrasi sosial untuk meningkatkan kesiapan anak kembali ke keluarga dan masyarakatnya 14) Mengidentifikasi sumber dan potensi masyarakat untuk menindaklanjuti program rehabilitasi dan reintegrasi sosial ABH. 16) Mengikuti kegiatan-kegiatan supervisi (administrasi. dukungan personal) yang diselenggarakan lembaga. 21) Mendampingi proses pembukaan Tabungan Kesejahteraan Sosial Anak pada Bank setempat atau Lembaga Keuangan Mikro yang berbadan hukum. 20) Melakukan verifikasi atas daftar calon yang telah disetujui Kementerian Sosial untuk mendapatkan bantuan tunai bersyarat. 17) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan kasus dan kemajuan hasil intervensi yang dilakukannya 18) Mengidentifikasi calon-calon yang memenuhi persyaratan untuk penerima bantuan tunai bersyarat. 19) Menyusun daftar calon penerima bantuan tunai bersyarat dan mengajukannya kepada LPKS-ABH. sejalan dengan rencana LPKS-ABH dan membuat buku catatan kegiatan harian. 23) Menyusun catatan kasus. 24) Menyusun rencana harian individual selama satu bulan. 22) Mendampingi anak dalam pemanfaatan bantuan dan meyakinkan agar bantuan tersebut digunakan sesuai dengan peruntukannya. bimbingan teknis. termasuk dalam melakukan monitoring perkembangan perilaku anak dan keluarganya. 15) Memobilisasi partisipasi masyarakat dalam program rehabilitasi dan reintegrasi sosial ABH berbasis masyarakat.

pemerintah daerah dan masyarakat dalam bentuk pelayanan kesejahteraan sosial anak dengan kecacatan. pemanfataan bantuan dan laporan pelayanan per semester yang ditujukan kepada Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak c. termasuk bukti persetujuan lembaga atas tindakan-tindakan yang dilakukan tersebut. PKS ANAK DENGAN KECACATAN 1.q. d. 4) Memfasilitasi dan mendokumentasikan bukti komunikasi dan surat-menyurat 5) Mendokumentasikan semua transaksi keuangan 6) Membuat laporan tertulis mengenai pemasukan dan pengeluaran keuangan per bulan.98 25) Meminta persetujuan atasan atas setiap tindakan yang akan dilakukan serta selau melaporkan proses dan hasil pelaksanaan setiap tindakan tersebut. meliputi 4 komponen program sebagai berikut: . Sub Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak Berhadapan Dengan Hukum (ABH) D. Tugas Sekretariat 1) Mencatat dan mendokumentasikan data anak dan orangtua/ keluarga penerima manfaat 2) Menciptakan dan mengatur mekanisme pengajuan dan persetujuan rencana tindakan berikut biaya sebagai implikasi dari tindakan yang dilakukan para pelaksana program 3) Mendokumentasikan catatan mengenai tindakan yang diberikan kepada serta laporan perkembangan atau kemajuan penerima manfaat. terpadu dan berkelanjutan yang dilakukan pemerintah. Komponen Program PKS ADK dirancang sebagai upaya yang terarah.

Aksesibilitas lingkungan bagi ADK dengan memperhatikan keamanan ADK melalui sarana mobilitas dengan menggunakan potensi lokal.ADL) untuk ADK Pembentukan Persatuan/Organisasi Orangtua/Keluarga ADK (Forum Komunikasi 3 Pengembangan Potensi dan Kreativitas ADK Penguatan tanggung jawab orang tua/ keluarga 4 . reglet. sanitasi bagi ADK f. orthesa. tongkat putih. Aksesibilitas terhadap informasi tentang layanan-layanan yang dapat di akses oleh ADK g. selasar. Orientasi mobilitas untuk cacat netra h. treepot prothesa. Rujukan pemeriksaan kesehatan b.99 No 1. komunikasi. terapi perilaku d. kacamata. seperti kursi roda. kruk. Rujukan keada layananan perawatan khusus seperti fisioterapi. PROGRAM Pemenuhan kebutuhan dasar bagi ADK berdasarkan hasil asesmen pekerja social kepada setiap ADK KEGIATAN • • Penambahan nutrisi/makanan bergizi Pemenuhan Alat Bantu kecacatan untuk anak sesuai dengan jenis kecacatan. terapi wicara. orientasi mobilitas Melibatkan ADK dalam berbagai kegiatan anak sesuai dengan minat. Rujukan pendidikan dan pelatihan bagi ADK sesuai dengan hasil asesmen e. terapi okupasi . Aksesibilitas kecacatan : informasi. dll Pemenuhan alat tidur anak (bagi anak dengan kecacatan dengan kondisi cacat berat) Pemenuhan kelengkapan identitas diri anak (akte kelahiran dan KTP bagi anak yang berusia 17 tahun) • • 2. lingkungan ramah anak cacat . hearing aid. bakat dan potensi berdasarkan hasil asesmen • • • Pelatihan ketrampilan pengasuhan/perawatan (parenting skill) bagi ADK Pelatihan Pelatihan aktivitas sehari-hari ( Activity Daily Living . Rujukan ke pusat layanan rehabiltasi social c. Pelatihan bahasa isyarat dan Speech terapi i. contohnya pemanfaatan bambu untuk pembuatan kursi roda. Aksesibilitas terhadap pelayanan sosial dasar a.

SASARAN KEGIATAN PERSYARATAN/ PENGGUNAAN BANTUAN • Pembelian susu. treepot prothesa. orthesa. kruk. reglet. Persyaratan dan Kewajiban Adapun persyaratan dan kewajiban penerima bantuan dari sasaran program yang kemudian di terjemahkan dalam bentuk kegiatan serta bentuk penggunaan bantuan dan hasil yang diharapkan dari keberlangsungan program tersebut yang disusun dalam matriks sebagai berikut : NO. tongkat putih. kacang ijo. telur dll KEWAJIBAN 1.kasur. ADK • Penambahan nutrisi/makanan bergizi • Pemenuhan Alat • Pembelian/pengadaa Bantu kecacatan n alat bantu untuk anak sesuai kecacatan dengan jenis kecacatan. kacamata.100 Keluarga Anak Dengan Kecacatan FKKADK. dll • Pemenuhan alat tidur anak (bagi • Pembelian tempat tidur. Ikatan Keluarga Anak Dengan KecacatanIKADK) 4 Penguatan peran kelembagaan kesejahteraan sosial anak. seperti kursi roda. hearing aid. bantal • Berubahnya pola makan ADK menuju sehat • Anak tidak sering sakit • Bertambahny a berat dan tinggi badan anak • Anak memiliki dan menggunaka n alat bantu sesuai dengan jenis kecacatan . Pengembangan jangkauan pelayanan pada sasaran ADK dari keluarga miskin termasuk di wilayah pedesaan yang belu tersentuh oleh pelayanan Penguatan kapasitas pelayanan professional terhadap pelayanan ADK Peningkatan Pelayanan ADK Berbasis Keluarga dan Masyarakat Penempatan tenaga professional dalam penanganan ADK di lembaga • • • • 2.

ADK 1.101 anak dengan kecacatan dengan kondisi cacat berat) • Pemenuhan kebutuhan sekolah bagi ADK guling. • Biaya • Anak memeriksa kesehatan yang berhubungan dengan kecacatan .BAB.ADL) untuk ADK • Instruktur ADL ADK • Anak memiliki pakaian seragam minimal 2 setel • Anak memiliki buku dan peralatan sekolah • Anak dapat mengenal lingkungan aktivitasnya • Anak mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain (makan. Puskesmas. • Pembelian pakaian seragam. perlak. berpakaian. mandi. • Instruktur OM ADK • Orientasi Mobilitas • Pelatihan aktivitas sehari-hari ( Activity Daily Living . selimut. pengurusan Gakin/Jamkesmas . bantu diri) • Anak memiliki akte kelahiran • Anak tercantum dalam KK • ADK yang berusia 17 th memiliki KTP • Pengurusan hak sipil Anak • Pembuatan akte kelahiran • Biaya pembuatan KTP bagi adk yang sudah berusia 17 th 2. Rujukan pemeriksaan kesehatan • Tersedia Transport Pulang Pergi ke RS. buku. sprei. dan peralatan sekolah lainnya • Anak memiliki alat tidur .

contohnya pemanfaatan bambu untuk pembuatan kursi roda. seni dan olah raga) sesuai rujukan • Anak memiliki sarana mobilitas untuk aktivitas di lingkungan yang aksesibel dengan kecacatannya . Rujukan perawatan khusus seperti fisioterapi. 6. Rujukan pendidikan dan pelatihan bagi ADK sesuai dengan hasil asesmen • Anak menerima rehabilitasi di pusat layanan sesuai dengan rujukan • Anak menerima terapi sesuai dengan rujukan • Tambahan biaya transpotasi ke sekolah atau ke tempat latihan 5.102 2. sanitasi bagi ADK • Biaya modifikasi alat pembuatan sarana mobilitas ADK. Aksesibilitas terhadap informasi dan komunikasi tentang layananlayanan yang dapat di akses • Biaya pembelian buku tentang perawatan ADK . terapi perilaku 4. Rujukan ke pusat layanan rehabiltasi social ADK pemeriksaan kesehatan • Pembelian Obat • Transport ke pusat layanan • Biaya operasional rehabilitasi ADK • Biaya transport dan terapi minimal satu kali dalam sebulan 3. • Anak pergi ke sekolah bagi ADK yang memungkink an • Anak mengikuti pelatihan (prevokasion al. selasar. terapi okupasi . Aksesibilitas lingkungan bagi ADK dengan memperhatikan keamanan ADK melalui penyediaan sarana mobilitas dengan menggunakan potensi local. terapi wicara. vokasional.

Pelatihan bahasa isyarat bagi ADK rungu • Anak memiliki informasi tentang kecacatan dan jenis layananlayanan kecacatan • ADK rungu wicara dapat menggunakan bahasa isyarat 3 Pengemb angan potensi dan kreatifitas ADK .Biaya menjadi anggota . perawatan • Transport dan snack • Orangtua memahami hak ADK sehingga tidak menyembuny .Melibatkan ADK dalam berbagai kegiatan anak sesuai dengan minat. bakat dan potensi berdasarkan hasil asesmen . Pelatihan keterampilan pengasuhan/pera watan (parenting skill) : deteksi dini.Biaya transportasi.103 oleh ADK. tenaga ahli.Melibatkan ADK dalam pelatihan kemandirian ADK . perlengkapan kegiatan ADK menjadi anggota salah satu lembaga / organisasi seni. olahraga sesuai dengan minat ADK ADK mempunyai keterampilan yang produktif Penambaha n skill sesuai minat dan bakat - 4 orang tua/ keluarga 1. • Transport dan snack 7.Transportasi .

• Orangtua dapat mendeteksi kecacatan secara dini. • Orangtua/kel uarga melakukan perawatan ADK dengan trampil. aktivitas seharihari ( Activity Daily Living ADL) untuk ADK ikan ADK. tidak mendiskrimin asi. tidak melakukan kekerasan fisik dan ekonomi.104 ADK di rumah. Ikatan Keluarga Anak Dengan Kecacatan CacatIKADK) • Fasilitasi pertemuan • Orangtua melakukan intervensi dini bagi ADK. 2. Pembentukan Persatuan/Organi sasi Orangtua/Keluarg a ADK (Forum Komunikasi Keluarga Anak Dengan Kecacatan FKKADK. • Orangtua mampu melatih ADL anak • Orangtua menjadi anggota persatuan/Org anisasi Orangtua/Kelu arga ADK • Orangtua berpartisipasi dalam kegiatan ADK dan ADK mendapatkan hak integrasi sosial .

• Penguatan kapasitas pelayanan professional terhadap pelayanan ADK • Lembaga memiliki program peningkatan pelayanan profesional (SDM. profesional perawatan khusus ADK. fasilitas pelayanan • Pengembangan jangkauan pelayanan pada sasaran ADK ke keluarga miskin termasuk di wilayah pedesaan yang belum tersentuh oleh pelayanan • Peningkatan Pelayanan ADK Berbasis Keluarga dan Masyarakat • Lembaga melakukan pendataan. • Lembaga melakukan perlindungan terhadap hak ADK • Lembaga memiliki tenaga professional pelayanan (pekerja social) • Lembaga memiliki dana pelayanan • Lembaga memiliki fasilitas pelayanan • Lembaga memiliki daftar lembaga rujukan pelayanan • • Lembaga memiliki program pelayanan berbasis keluarga dan masyarakat LKS ADK mempunyai data ADK di wilayah kerja dan wilayah pengemban gan • Peningkatan jaringan kerja • Lembaga memiliki mitra kerja dengan pendamping.105 5 Lembaga kesejahte raan sosial anak. dana. penjangkauan ADK di keluarga miskin maupun di pedesaan. lembaga donor • Keluarga dan masyarakat melakukan pelayanan untuk ADK • Lembaga menjadi mitra kerja Kementerian .

alat bantu kecacatan. 3) Terlibat. Meningkatnya kemampuan dan ketrampilan orangtua/ keluarga ADK dalam pengasuhan dan perawatan ADK. dan melatih ADL anak. mendeteksi kecacatan secara dini. Anak dengan Kecacatan mempunyai kondisi 1) Terpenuhi hak dasar meliputi nutrisi. OM dan ADL. tidak dieksploitasi. kebutuhan pendidikan dan pelatihan. perawatan khusus. seni dan akademik sesuai dengan minat dan bakatnya.106 • Sosial. 4) Memiliki prestasi dalam bidang akdemik. dan rehabilitasi sosial sosial dasar. komunikasi dan teknologi b. informasi. olah raga dan seni 5) Akses terhadap terhadap pelayanan pendidikan. . tidak didiskriminasi. perawatan kesehatan. 2) Tidak disembunyikan oleh orangtuanya. melakukan intervensi dini bagi ADK. kesehatan. tampil dan berperan dalam kegiatan olah raga. Dinas Sosial di daerah dalam pelayanan ADK Lembaga Kesejahtera an social ADK bermitra organisasi lainnya yang bergerak dalam pelayanan ADK 3. Indikator keberhasilan Program Indikator pencapaian khusus untuk program kesejahteraan sosial bagi anak dengan kecacatan ini adalah sebagai berikut: a.

5) Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak dengan Kecacatan yang terlibat mampu berkontribusi di dalam pelaksanaan program baik sumber daya anggaran. Tersedianya informasi yang akurat tentang kondisi objektif ADK yang diperlukan dalam mengembangkan anak dengan kecacatan dalam mengatasi masalah yang dihadapi. 3) Pemerintah daerah semakin peduli dan berkontribusi pada program PKSADK dengan mengalokasikan dana untuk pengembangan dan keberlanjutan program dimasa mendatang. 4) Intitusi/lembaga pelayanan sosial dasar dapat lebih memahami permasalahan ADK sehingga dapat mendukung pelayanan dan memberikan perlakukan yang tepat sesuai dengan karakteristik anak cacat. serta terjangkaunya pelayanan sosial dasar oleh anak dengan kecacatan. sarana prasarana. Tujuan pendampingan PKSADK a. sehingga mereka tidak tergantung terhadap orang lain dan dapat menjalankan fungsi sosialnya.107 1) Semakin banyaknya orangtua/keluarga yang menjadi anggota persatuan/Organisasi Orangtua/Keluarga ADK 2) Meningkatnya kepedulian dan peranserta masyarakat secara aktif dalam perlindungan dan pelayanan terhadap anak dengan kecacatan. Pendampingan Sosial Pendampingan PKSADK adalah rangkaian kegiatan kemitraan yang interaktif antara pendamping (Peksos/Sakti Peksos) dan anak dengan kecacatan serta keluarganya untuk mengembangkan potensi dan tumbuh-kembang anak dengan kecacatan. 4. . SDM dan komitmen keberlanjutan program PKSA.

108 b. monitoring. pelayanan kesehatan dan melanjutkan pendidikan ke lembaga pendidikan formal dan/atau nonformal maupun informal sehingga anak dengan kecacatan tidak tergantung terhadap orang lain dan dapat melaksanakan fungsinya. Apabila tidak sesuai dengan kriteria. b) Melakukan penjangkauan terhadap ADK dan keluarganya untuk memastikan kesesuaian dengan kriteria penerima manfaat PKSADK. pelaksanaan sampai kegiatan supervisi. masalah dan potensi anak dengan kecacatan . koordinasi. c) Membangun kepercayaan dan pendekatan awal kepada anak dengan kecacatan dan keluarganya sebagai penerima manfaat d) Melakukan asesmen terkait dengan kebutuhan. yaitu : Pendamping PKSADK melaksanakan berbagai kegiatan yang dimulai dari tahap persiapan. d. evaluasi. dan pelaporan. Terwujudnya pemberian pelayanan terhadap anak dengan kecacatan yang memerlukan perlindungan agar mereka terpenuhi hak dasarnya untuk mendapatkan perawatan khusus. Terwujudnya kondisi sosial yang menunjang anak dengan kecacatan dan keluarganya dapat tumbuh kembang sebagaimana anak-anak pada umumnya c. Fungsi pendamping PKSADK berkaitan dengan operasional. Tugas-tugas yang dilakukan antara lain: a) Identifikasi anak dengan kecacatan (by name by adress) yang membutuhkan pelayanan dan rehabilitasi sosial. pendamping dapat melaporkan dan mengajukan penggantinya kepada LKSADK untuk selanjutnya dilaporkan kepada Dinas Sosial setempat dan Kementrian Sosial. dan perlindungan khusus dari keluarga yang tidak terdata sebagai RumahTangga Sangat Miskin (RTSM) yang belum mendapatkan program pelayanan. dan administrasi dalam pelaksanaan PKSADK 1) Fungsi Operasional..

i) Memberikan motivasi kepada anak dengan kecacatan dan keluarganya serta memberikan bimbingan psikososial pada anak dengan kecacatan j) Memberikan pelayanan pendidikan dan perawatan khusus yang dibutuhkan anak dan keluarganya. melaporkan hasil dan menindaklanjuti hasil evaluasi. (b). . Tugas-tugas yang dapat dilakukan adalah: (a). f) Mendampingi orangtua/keluarga membuka rekening pada bank yang ditunjuk. g) Mendampingi keluarga dalam pencairan uang h) Memonitor pemanfaatan bantuan sesuai dengan peruntukkannya berdasarkan hasil asesmen dan rencana intervensi yang telah dilakukan. pelayanan kesehatan atau pelayanan pendidikan m) Memfasilitasi pertemuan rutin keluarga ADK untuk rangka penguatan keluarga ADK n) Bekerja sama dengan LKSADK dalam proses pelayanan terhadap ADK dan keluarganya o) Mengevaluasi pelayanan. k) Melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan advokasi sosial dan perlindungan anak dengan kecacatan l) Melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan peningkatan akses pemanfaatan sumber pelayanan sosial bagi anak dengan kecacatan. RW.Melakukan koordinasi dengan lembaga rujukan. diantaranya RT. instansi terkait. rehabilitasi medik. 2) Fungsi Koordinasi Pendamping melakukan berbagai upaya untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dalam rangka pemanfaatan dan pendayagunaan potensi dan sumber yang dapat dimanfaatkan dalam pelaksanaan PKSADK. dan Kelurahan/Desa.109 e) Merencanakan intervensi dan melaksanakan pelayanan sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan penerima manfaat yang disepakati oleh anak dan keluarganya.Membangun jaringan pelayanan dengan berbagai pihak. seperti pelayanan rehabilitasi sosial.

serta memberi penjelasan prosedurnya. Tugas-tugas yang dilaksanakan adalah: (a).Melaksanakan evaluasi terhadap berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam pendampingan PKS-ADK.Membantu LPKSA dalam penyediaan layanan berkualitas bagi anak dengan kecacatan yang membutuhkan rehabilitas sosial dan perlindungan khusus. serta perlindungan khusus. 3) Fungsi Administrasi Pendamping PKSADK melakukan pekerjaan yang terkait dengan pengelolaan administrasi selama proses pendampingan. perkembangan anak dengan kecacatan sebagai penerima manfaat.110 serta lembaga di luar lingkungan anak dengan kecacatan dan keluarga berdomisili.Melakukan pencatatan dan pendataan untuk mengidentifikasi masalah. (d). (c). Melakukan pencatatan proses pelayanan dan perawatan khusus bagi anak dengan kecacatan sebagai penerima manfaat. (d). Menyusun laporan tentang penanganan kasus. Melaksanakan tugas untuk menyampaikan informasi kepada warga atau keluarga anak dengan kecacatan guna menjangkau fasilitas umum dan pelayanan sosial dasar yang berada di luar lingkungan mereka.Menyusun rencana kegiatan pendampingan yang akan dilaksanakan selama waktu pendampingan. (c). . (e). (e). kebutuhan dan kondisi objektif yang dialami anak dengan kecacatan. (b).Membantu para pemangku kepentingan perlindungan dan kesejahteraan sosial anak dalam memberikan layanan kepada anak dengan kecacatan yang membutuhkan pelayanan dan rehabilitasi sosial.

diberikan untuk mendukung proses penyelamatan. yang meliputi: 1) Layanan kesejahteraan sosial berupa bimbingan psikososial dan motivasi membangun minat untuk mengikuti sistem pendidikan. b. 2) Bantuan pemenuhan kebutuhan dasar berupa pemenuhan akan makanan bergizi/ nutrisi dan penyediaan alat-alat sekolah. E.111 (f). 3) Layanan pendidikan berupa bridging course dan remedial. Kab/Kota dan Kemensos setiap 3 (tiga) bulan dan 1 (satu) tahun serta mengarsipkannya sebagai dokumentasi kegiatan. Selain itu pelayanan kesejahteraan sosial PKS-AMPK juga diberikan dalam bentuk tambahan: . PKS ANAK YANG MEMBUTUHKAN PERLINDUNGAN KHUSUS 1. layanan bantuan/dukungan pemenuhan kebutuhan dasar bagi anak selama proses pemulihan dan reintegrasi. dan sosial sebagai persiapan reintegrasi anak dengan keluarga. Menyusun laporan seluruh kegiatan pendampingan terhadap anak dengan kecacatan dan menyampaikan laporan tersebut kepada Dinas Sosial Provinsi. Dukungan layanan perlindungan serta akses ke layanan rehabilitatif dan reintegrasi bagi anak yang membutuhkannya. yang meliputi : a. pemerintah daerah dan masyarakat dalam bentuk pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak yang membutuhkan perlindungan khusus. psikis. Komponen rogram PKS-AMPK dirancang sebagai upaya yang terarah. terpadu dan berkelanjutan yang dilakukan pemerintah. pemulihan fisik.

Persyaratan dan kewajiban Matriks pada halaman berikut ini menggambarkan Aspek: a. Anak dalam Situasi Darurat Bencana g. Korban Penyalahgunaan NAPZA e. Terinfeksi atau Terdampak HIV/AIDS f. Korban Eksploitasi Seksual c. dan c. b. Korban Eksploitasi Ekonomi d. Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang b. penguatan kemampuan orang tua/keluarga dalam menjalankan kewajibannya melindungi dan mengasuh anak d. Anak dalam Kelompok Minoritas dan Komunitas Adat Terasing a. yang terdiri dari: a. Jenis Layanan. Persyaratan Penerima Manfaat. Penggunaan Bantuan Untuk setiap kategori anak yang membutuhkan perlindungan khusus. penguatan peran lembaga kesejahteraan sosial anak 2. Anak yang Menjadi Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang Karakteristik / milestone Rehabilitasi Layanan/ Dukungan Pemeriksaan Medis Conditionality menyetujui untuk menjalani pemeriksaan medis sesuai SOP menyetujui untuk menjalani pemeriksaan psikologis sesuai SOP telah menjalani pemeriksaan medis Penggunaan Bantuan Transportasi & akomodasi Transportasi Pemeriksaan Psikologis Layanan pemulihan medis (IMS) Transportasi .112 c.

Biaya kesertaan di pendidikan lanjutan atau nonformal & keterampilan Transportasi Transportasi . dll) Reintegrasi: Akses Penelusuran & penyiapan keluarga Anak menyetujui untuk kembali ke keluarga atau pengasuhan alternatif setelah menjalani layanan pemulihan Reunifikasi dengan keluarga atau pengasuhan alternative keluarga menyetujui untuk menerima anak dan dinilai mampu melindungi dan mengasuh anak anak menyetujui untuk kembali ke keluarga atau ditempatkan dalam pengasuhan alternatif sesuai rekomendasi hasil penelusuran anak (6-18 tahun) terdaftar dan hadir minimum 85% dalam mengikuti layanan pendidikan (formal atau non-formal) . orientasi masa depan.Bantuan pelatihan keterampilan sosial (seperti komunikasi asertif.113 Layanan pemulihan trauma Reorientasi dan penguatan kompetensi sosial telah menjalani pemeriksaan psikologis menyetujui untuk kembali ke keluarga atau pengasuhan alternatif setelah menjalani layanan pemulihan Transportasi .Biaya komunikasi telepon Dukungan pemenuhan kebutuhan dasar. dan (akses) pendidikan Reintegrasi: Perlindungan.Pengadaan peralatan sekolah/ pendidikan formal . Membutuhkan layanan pemulihan Bantuan hukum Layanan lanjutan kesehatan & psikis Anak mengikuti proses hukum terkait kasusnya sampai selesai Anak mengikuti proses layanan medis lanjutan .Transportasi akses pendidikan & kesehatan . meliputi kesehatan.Transportasi & akomodasi selama penelusuran keluarga .

dll) .Transportasi & akomodasi selama penelusuran keluarga . orientasi masa depan.Biaya komunikasi telepon .Bantuan pelatihan keterampilan sosial (seperti komunikasi asertif. Anak korban Eksploitasi Seksual Karakteristik / milestone Rehabilitasi Layanan/ dukungan Pemeriksaan Medis Conditionality menyetujui untuk menjalani pemeriksaan medis sesuai SOP menyetujui untuk menjalani pemeriksaan psikologis sesuai SOP telah menjalani pemeriksaan medis telah menjalani pemeriksaan psikologis menyetujui untuk kembali ke keluarga atau pengasuhan alternatif setelah menjalani layanan pemulihan Penggunaan Bantuan Transportasi & akomodasi Transportasi Pemeriksaan Psikologis Layanan pemulihan medis (IMS) Layanan pemulihan trauma Reorientasi dan penguatan kompetensi sosial Transportasi Transportasi Reintegrasi: Akses Penelusuran & penyiapan keluarga Menyetujui untuk kembali ke keluarga atau pengasuhan alternatif setelah menjalani layanan pemulihan Reunifikasi dengan keluarga atau pengasuhan alternatif Keluarga menyetujui untuk menerima anak dan dinilai mampu melindungi dan mengasuh anak .Transportasi & akomodasi selama penelusuran keluarga .114 lanjutan Anak mengikuti proses layanan pemulihan trauma lanjutan Transportasi b.

Transportasi akses pendidikan & kesehatan . Membutuhkan layanan pemulihan lanjutan Bantuan hukum Layanan lanjutan kesehatan & psikis Anak mengikuti proses hukum terkait kasusnya sampai selesai Anak mengikuti proses layanan medis lanjutan Anak mengikuti proses layanan pemulihan trauma lanjutan .Biaya kesertaan di pendidikan lanjutan atau nonformal & keterampilan Transportasi Transportasi Transportasi c.115 Anak menyetujui untuk kembali ke keluarga atau ditempatkan dalam pengasuhan alternatif sesuai rekomendasi hasil penelusuran .Biaya komunikasi telepon . Anak korban eksploitasi ekonomi (pekerja anak) Karakteristik / milestone Rehabilitasi Layanan/ dukungan Akses Pemeriksaan Medis Pemeriksaan Psikologis Layanan pemulihan medis Layanan pemulihan trauma Conditionality menyetujui untuk menjalani pemeriksaan medis sesuai SOP menyetujui untuk menjalani pemeriksaan psikologis sesuai SOP telah menjalani pemeriksaan medis telah menjalani pemeriksaan psikologis Penggunaan Bantuan Transportasi & akomodasi Transportasi Transportasi Transportasi . dan (akses) pendidikan anak (6-18 tahun) terdaftar dan hadir minimum 85% dalam mengikuti layanan pendidikan (formal atau non-formal) Reintegrasi: Perlindungan.Bantuan modal usaha untuk keluarga Dukungan pemenuhan kebutuhan dasar.Pengadaan peralatan sekolah/ pendidikan formal . meliputi kesehatan.

Biaya komunikasi telepon . dll) .Transportasi & akomodasi selama penelusuran keluarga .Pengadaan peralatan sekolah/ pendidikan formal .Transportasi & akomodasi selama penelusuran keluarga . dan (akses) pendidikan anak (6-18 tahun) terdaftar dan hadir minimum 85% dalam mengikuti layanan pendidikan (formal atau non-formal) .Bantuan pelatihan keterampilan sosial (seperti komunikasi asertif. meliputi kesehatan.Biaya .116 Reorientasi dan penguatan kompetensi sosial menyetujui untuk kembali ke keluarga atau pengasuhan alternatif setelah menjalani layanan pemulihan Reintegrasi: Akses Penelusuran & penyiapan keluarga Menyetujui untuk kembali ke keluarga atau pengasuhan alternatif setelah menjalani layanan pemulihan Reunifikasi dengan keluarga atau pengasuhan alternatif Keluarga menyetujui untuk menerima anak dan dinilai mampu melindungi dan mengasuh anak .Bantuan modal usaha untuk keluarga Anak menyetujui untuk kembali ke keluarga atau ditempatkan dalam pengasuhan alternatif sesuai rekomendasi hasil penelusuran Dukungan pemenuhan kebutuhan dasar.Biaya komunikasi telepon . orientasi masa depan.Transportasi akses pendidikan & kesehatan .

Pengadaan pakaian . Anak dengan HIV/AIDS Karakteristik / milestone Pemeriksaan status Layanan/ Dukungan Rujukan VCT dan penanganan medis & psikososial ke mekanisme KPA setempat Dukungan pemenuhan kebutuhan dasar.Pengadaan peralatan sekolah/ pendidikan keterampilan Conditionality Penggunaan Bantuan Terinfeksi HIV/AIDS Terdampak HIV/AIDS (OVC) . dll) .Bantuan makanan/ nutrisi .117 kesertaan di pendidikan lanjutan atau non-formal & keterampilan Reintegrasi: Perlindungan Membutuhkan layanan pemulihan lanjutan Bantuan hukum Layanan lanjutan kesehatan & psikis Anak mengikuti proses hukum terkait kasusnya sampai selesai Anak mengikuti proses layanan medis lanjutan Anak mengikuti proses layanan pemulihan trauma lanjutan Transportasi Transportasi Transportasi d. nutrisi. meliputi kesehatan. dan (akses) pendidikan Anak (6-18 tahun) terdaftar dan hadir minimum 85% dalam mengikuti layanan pendidikan (formal atau non-formal) Anak taat mengikuti program dukungan pemeliharaan kesehatan (terapi ARV.Transportasi akses pendidikan & kesehatan .

Pencegahan relaps Peningkatan pemahaman dan kesiapan dukungan keluarga Bantuan hukum Keluarga menerima dan bersedia mengasuh anak . Anak korban Penyalahgunaan NAPZA Karakteristik / milestone Rehabilitasi Layanan/ dukungan Layanan rehab Conditionality Anak bersedia menerima layanan rehabilitasi Anak (6-18 tahun) terdaftar dan hadir minimum 85% dalam mengikuti layanan pendidikan (formal atau nonformal) Anak taat mengikuti program dukungan rehabilitasi lanjutan Penggunaan Bantuan Transportasi Reintegrasi Dukungan pemenuhan kebutuhan dasar. nutrisi.Akses layanan kesehatan nonjamkesmas .Pengadaan peralatan sekolah/ pendidikan keterampilan Konseling keluarga . meliputi kesehatan. dan (akses) pendidikan Stigma dan diskriminasi.118 Stigma dan diskriminasi Peningkatan pemahaman keluarga dan masyarakat tentang HIV/AIDS Penyelenggaraan sosialisasi pemahaman tentang HIV/AIDS e.Pengadaan pakaian .Transportasi akses pendidikan & kesehatan .Bantuan makanan/ nutrisi .

dan (akses) pendidikan Pondok Anak Ceria (save place) Anak Terpisah dan Anak Tanpa Pendamping Penelusuran & reunifikasi keluarga Conditionality anak (6-18 tahun) terdaftar dan hadir minimum 85% dalam mengikuti layanan pendidikan (formal atau nonformal) Penggunaan Bantuan . Anak dalam Situasi Darurat akibat Bencana Karakteristik / milestone Gangguan akses/ pemenuhan kebutuhan dasar Layanan/ dukungan Dukungan pemenuhan kebutuhan dasar.Transportasi akses pendidikan & kesehatan .Bantuan makanan/ nutrisi . nutrisi. nutrisi. kesehatan.Bantuan tambahan nutrisi anak hadir & mengikuti 20 kali dalam satu bulan kegiatan program pengelola save place ada pengasuh sementara yang bertanggungjawab untuk SC/UAC Dukungan pemenuhan kebutuhan dasar. meliputi pakaian. eksploitasi.Pengadaan peralatan sekolah/ pendidikan keterampilan .pengadaan tempat aman bagi keluarga . meliputi pakaian. TPPO save place untuk anak dan keluarga Penguatan kemampuan keluarga untuk melindungi anak .Bantuan makanan/ nutrisi .Transportasi .119 f.Pengadaan pakaian .pendidikan pengasuhan .Pengadaan peralatan sekolah/ pendidikan keterampilan .Pengadaan pakaian .Transportasi Rentan menjadi korban kekerasan. perlakuan salah. kesehatan. dan (akses) pendidikan Mengalami masalah psikososial Program dukungan pemulihan psikososial anak (6-18 tahun) terdaftar dan hadir minimum 85% dalam mengikuti layanan pendidikan (formal atau nonformal) anak hadir & mengikuti 15 kali kegiatan psikososial terstruktur dalam satu bulan sesuai program standar Pondok Anak Ceria anak berada di lingkungan save place .Transportasi akses pendidikan & kesehatan .

120

g. Anak dari Kelompok Minoritas dan Komunitas Adat Terpencil
Karakteristik / milestone Akses Kebutuhan Dasar Layanan/ dukungan Dukungan pemenuhan kebutuhan dasar, nutrisi, meliputi kesehatan, dan (akses) pendidikan Conditionality Anak (6-18 tahun) terdaftar dan hadir minimum 85% dalam mengikuti layanan pendidikan (formal atau non-formal) Penggunaan Bantuan - Bantuan makanan/ nutrisi - Transportasi akses pendidikan & kesehatan - Akses layanan kesehatan non-jamkesmas - Pengadaan pakaian - Pengadaan peralatan sekolah/ pendidikan keterampilan

3. Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Unit Pengelola PKS-AMPK terdiri dari Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA), Lembaga Perlindungan Anak (LPA) atau lembaga perlindungan anak yang sejenis a. Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) adalah lembaga yang menyelenggarakan layanan perlindungan sementara kepada anak yang membutuhkan perlindungan khusus dalam bentuk: 1) Temporary Shelter, yaitu unit pelayanan perlindungan pertama yang bersifat responsif dan segera bagi anak yang mengalami tindak kekerasan dan perlakuan salah, atau yang memerlukan perlindungan khusus. 2) Protection Home, yaitu unit pelayanan perlindungan lanjutan dari Temporary Shelter yang berfungsi memberikan perlindungan, pemulihan, rehabilitasi, dan reintegrasi bagi anak yang memerlukan perlindungan khusus sehingga anak dapat tumbuh kembang secara wajar.

121

RPSA pada intinya memang dirancang untuk merespon masalah-masalah perlindungan anak, yaitu anak yang menjadi korban tindak kekerasan dan eksploitasi, termasuk anak-anak yang menjadi sasaran utama PKSAMPK ini. (Lihat manual SOP RPSA). b. Lembaga Perlindungan Anak (LPA) LPA adalah lembaga kemasyarakatan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, yang umumnya memiliki hubungan semi-formal dengan pemerintah daerah, yang pemfungsiannya terutama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan hak-hak anak dan isu-isu perlindungan anak, advokasi kebijakan perlindungan anak, pemantauan pelaksanaan hak-hak anak, pendampingan anak-anak, dan juga bekerja untuk mengembangkan sistem rujukan bagi anak-anak korban kekerasan, eksploitasi.

122

BAB IV MEKANISME PENGADUAN MASYARAKAT DAN PENGEMBANGAN PROGRAM
A. Mekanisme Pengaduan Masyarakat Pengaduan masyarakat dimaksudkan sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam mengawasi pelaksanaan PKSA. Pengaduan masyarakat dilakukan dalam bentuk mekanisme penyampaian laporan oleh anggota masyarakat atas: 1. Segala bentuk tindakan atau keputusan yang dilakukan oleh unsur pelaksana PKSA yang dinilai sebagai penyimpangan atau ketidaksesuaian cara pelaksanaan salah satu tahap layanan PKSA 2. Kerugian, material maupun non-material, yang dialami salah satu fihak akibat dilakukannya atau tidak dilakukannya suatu tindakan tertentu oleh unsur pelaksana PKSA 3. Gagasan atau usulan perbaikan kualitas pelaksanaan PKSA Mekanisme: 1. Melalui jalur pelaksana : a. Pengaduan disampaikan oleh anggota masyarakat langsung secara lisan maupun tertulis kepada pelaksana program PKSA di setiap daerah, yaitu petugas pendamping (SAKTI PEKSOS PKSA) dan LKSA setempat. b. LKSA bertanggungjawab mencatat setiap pengaduan ke dalam form pengaduan masyarakat dan menindaklanjutinya sesuai dengan kewenangannya atau meneruskan laporan dan penanganan kepada pihak lain, yaitu Dinas Sosial setempat atau Sekretariat PKSA di Kementerian Sosial RI sesuai dengan porsi permasalahan yang disampaikan.

123

2. Langsung ke penanggungjawab program a. Pengaduan disampaikan oleh anggota masyarakat melalui surat tertulis yang dikirimkan kepada: Sekretariat PKSA Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI Jl. Salemba Raya Nomor 28 Jakarta

b. Pengaduan juga dapat dilakukan melalui telepon 021310.0375 dan layanan pesan singkat ke Sekretariat PKSA dengan menggunakan nomor pengaduan 081311265641 c. Pengaduan melakui email dengan menggunakan website tentang PKSA yaitu http://pksa=kemensos.com d. Sekretariat PKSA di Kantor Kementrian Sosial bertanggungjawab mencatat setiap pengaduan ke dalam form pengaduan masyarakat dan menindaklanjutinya berkoordinasi dengan unit terkait sesuai dengan porsi permasalahan yang disampaikan.

B. Sumber dukungan Pengembangan Kemampuan LKSA 1. Pengembangan Kemampuan Teknis LKSA Pengembangan kemampuan teknis lembaga adalah upayaupaya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan personil LKSA dalam menyelenggarakan setiap tahapan pelayanan PKSA. Upaya tersebut meliputi antara lain: a. Penyelenggaraan pelatihan atau keikutsertaan dalam pelatihan pengembangan SDM bagi pengurus LKSA dan Sakti Peksos, dalam bidang: Manajemen Kasus, Layanan Perlindungan Anak, Kerjasama dan Manajemen Konflik, Kepemimpinan, Komunikasi, dll. b. Konsultansi dengan akademisi dan praktisi layanan kesejahteraan sosial, khususnya bidang perlindungan

nasional maupun internasional b. Membangun Jaringan Pendukung Pelaksanaan PKSA: 1. termasuk membangun forum koordinasi dan berbagi pengalaman/sumber daya dengan LKSA-LKSA lain 2. Identifikasi. Pembuatan dan pengajuan proposal pencarian dana kepada lembaga-lembaga usaha yang memiliki kepedulian sosial. Peningkatan. . Penggalangan dana masyarakat C. Pembuatan dan pengajuan proposal pencarian dana kepada lembaga-lembaga sosial. c. termasuk upaya pemanfaatan kewajiban penyisihan dana untuk CSR (Corporate Social Responsibilities) c. Pembuatan dan pengajuan proposal pencarian dana dari sumber Anggaran Pendapatan & Belanja Daerah (APBD) d. Pengembangan Jaringan Lembaga Pendukung Untuk tujuan penyelenggaraan pelayanan kepada anak dan keluarga secara komprehensif dan berkelanjutan.124 anak dalam mengembangkan model operasi pelayanan yang efektif dan efisien. sangat disarankan LKSA bersama Sakti Peksos membangun kerjasama dengan pihak-pihak lain seluas-luasnya di wilayah kerjanya. perkuat dan manfaatkan potensi dukungan dari jaringan kerja yang telah dimiliki LKSA sebagai titik awal pengembangan pelayanan. Pengembangan Sumber Pendanaan LKSA dapat melakukan upaya mandiri untuk mencari sumber pendanaan pelayanan PKSA selain dari Kementrian Sosial untuk tujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanannya kepada anak-anak dan keluarga penerima manfaat PKSA. Berikut ini contoh beberapa hal yang dapat dilakukan LKSA: a.

peksos. memastikan bahwa setiap standar proses. dan pencapaian PKSA dipenuhi dengan cara yang berkualitas . 2. dan lembaga) Supervisi dalam PKSA dilakukan untuk: 1. LKSA bersama dengan Sakti Peksos perlu mengembangkan jaringan pendukung di luar jaringan kerja yang telah dimiliki LKSA sebelumnya. Lembaga dengan jenis layanan tertentu. dll. Lembaga pelayanan yang lebih tersebar di luar wilayah domisili LKSA (kabupaten/kota/kecamatan). Untuk hal ini. psikologis. Gugus Tugas PTPPO. seperti P2TP2A.125 Sebagian besar lembaga dalam jaringan kerja LKSA umumnya memiliki kepentingan yang sama dengan pencapaian tujuan PKSA. kesehatan. dll) yang belum dapat terlayani oleh lembaga-lembaga yang ada dalam jaringan saat ini b. dengan pertimbangan ada area tertentu kebutuhan anak (misal: pendidikan. LKSA dan Sakti Peksos sebaiknya mengidentifikasi dan menjalin hubungan dengan jaringan pelayanan yang mungkin telah ada di tingkat kabupaten/Kota. Supervisi (terhadap klien. Perluasan jaringan melalui pencarian dan penambahan kerjasama dengan lembaga-lembaga penyedia layanan perlu dilakukan dari 2 (dua) aspek: a. yaitu dukungan bagi kesejahteraan anak. untuk memudahkan anak dan keluarga yang tinggal di wilayah yang jauh dari jangkauan pelayanan lembaga yang ada dalam jaringan saat ini. LKSA bersama dengan Sakti Peksos hendaknya memberikan penjelasan mengenai PKSA kepada setiap lembaga dalam jaringan tersebut dan memastikan mereka dapat memberikan dukungannya. administratif. Perluasan jaringan pendukung. (Dalam Pedoman Manajemen Kasus dapat diambil Bab Pengembangan Jaringan) D. PPT. Oleh karena itu.

respon terhadap pelaporan dan b. kunjungan atau pertemuan langsung. Pimpinan LKSA melakukan supervisi berkala dan insidental atas kinerja pelayanan Sakti Peksos terhadap anak dan keluarga penerima manfaat PKSA 5. Dinas Sosial setempat melakukan supervisi berkala terhadap kinerja LKSA dalam melaksanakan pelayanan sosial terhadap anak melalui PKSA di wilayah kerjanya. 2. sehingga permasalahan yang mungkin ada dapat dieksplorasi dengan lebih jelas dan solusi perbaikan dapat difahami dan diterima bersama. 6. meningkatkan dan memelihara kemampuan dan motivasi kerja pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan PKSA Pelaksanaan Supervisi: 1.126 2. 4. Kegiatan supervisi melibatkan interaksi yang bersifat dialogis antara pelaksana supervisi dengan pihak yang disupervisi. Kementrian Sosial melakukan supervisi berkala terhadap kinerja LKSA dan Sakti Peksos. yang pelaksanaannya dilakukan oleh Tim technical Assistance PKSA . 3. Kegiatan Supervisi dilakukan dalam bentuk: a. Sakti Peksos melakukan supervisi berkala dan insidental sesuai kebutuhan terhadap penerima manfaat (anak dan keluarga) khususnya untuk memastikan kesesuaian penggunaan dana bantuan untuk kesejahteraan anak dan perubahan perilaku positif yang menjadi indikator pemenuhan conditionality.

Papan Nama PKSA LKSA agar membuat papan nama yang dipasang di wilayah kerjanya. No. Contoh : Logo LKSA UNIT PENGELOLA PROGRAM KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK PKSA Nama Lembaga Alamat.127 E. Telp. dll (PKSA) .

petunjuk bagi semua pihak yang berkepentingan dalam merencanakan. dapat disesuaikan. PKSA Tahun 2011 masih merupakan Pilot Project nasional. Dinas Sosial Provinsi. akan ditindaklanjuti dengan Surat Edaran atau surat resmi Direktur Pelayanan Sosial anak Direktorat Jenderal Pelayanan Sosial Anak Departemen Sosial RI. mengorganisasikan. Hal-hal yang belum diatur dalam pedoman ini. kepada semua Unit kerja Pelayanan Sosial Anak di tingkat Pusat. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. melaksanakan dan mengendalikan penyelenggaraan pelayanan kesejahteraan anak. sehingga dalam hal adanya ketidaksesuaian dengan kondisi di lapangan.128 BAB V PENUTUP Dengan terbitnya pedoman operasional PKSA edisi 2 ini diharapkan dapat menjadi acuan. sebagai salah satu perwujudan akuntabilitas. Kabupaten/Kota. Jakarta. diharapkan dapat mensosialisasikan pedoman ini kepada masyarakat luas melalui berbagai cara dan media. 20 Maret 2011 Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak . dengan cacatan perubahan yang terjadi harus sepengetahuan UP-PKSA secara berjenjang. transparasi dan pencitraan publik dalam pengembangan program Pelayanan Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA).

ABH PKS-ADK PKS-AMPK . UMUM Lampiran A1 Lampiran A2 Lampiran A3 Lampiran A4 Lampiran A5 Lampiran A6 Format Proposal Surat Pernyataan Lembaga Lembar Rekomendasi Sistematika Laporan Instrumen Monitoring dan Evaluasi Sistimatika Laporan Keuangan B.Kesepakatan Bersama Antara Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak Kemensos RI dan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) . OPERASIONAL PKSA Lampiran B1 Lampiran B2 Lampiran B3 Lampiran B4 Lampiran B5 Lampiran B6 PKS-AB PKS-ANTAR & ANJAL PKS.Perjanjian Kontrak Kerja Satuan Bakti Peksos Perlindungan Anak .Surat Tugas Sakti Peksos .129 LAMPIRAN – LAMPIRAN : A.

PROVINSI………………….130 Lampiran A1 : Format Proposal FORMAT PROPOSAL PROGRAM PKSA LEMBAR JUDUL Judul program “Pelayanan Kesejahteraan Sosial Anak …………………. YAYASAN KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK JL. 2) Karakteristik umum penerima manfaat 3) Nama. KABUPATEN/KOTA…………..4 KEC. 02200000000 TAHUN 2009 . SUKARAME KAB. SUKASARI PROV. lokasi wilayah program Contoh: PROPOSAL PROGRAM PELAYANAN KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK DI DESA ……………. KECAMATAN…………….. JAWABARAT TLP..” Berisi informasi tentang : 1) Pelayanan yang diselenggarakan. alamat. SUKAMAJU NO.

C. Permasalahan Anak 3. Latar Belakang 2. Data sasaran/ calon penerima manfaat/ bantuan dan data pendukung lainnya b. Sdm Pengelola Program 9. d. c. Surat rekomendasi dari Dinas/ Instansi Sosial dan instansi terkait lainnya yang relevan dengan PKSA. ISI PROPOSAL 1. Rencana Anggaran 11. Komponen Kegiatan 7.131 A. Lampiran-Lampiran a. Pengorganisasian Kegiatan 8. Dasar Hukum 4. Profil Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak. instansi. Surat pernyataan kesanggupan dari penyelenggara program PKSA untuk melaksanakan program dengan sungguh-sungguh sesuai dengan proposal yang disetujui dan bermaterai secukupnya. Indikator Keberhasilan 10. lembaga yang menjadi penjamin dan menjelaskan bahwa proposal yang diajukan layak dipertimbangkan mendapat kesempatan untuk menjadi penyelenggara program PKSA. Sasaran 6. LEMBAR REKOMENDASI Berupa surat rekomendasi dari organisasi. LEMBAR KATA PENGANTAR B. yang dilengkapi dengan biodata personalia pengelola program . Tujuan 5.

ijin operasional dari lembaga yang berwenang. Fotocopy rekening Bank dan NPWP atas nama lembaga (bukan nama pribadi) g. .132 e. f. Fotocopy badan hukum (notaris). atau surat keputusan dari Kementerian Sosial/ Dinas/ Instansi Sosial yang mengesahkan lembaga kesejahteraan sosial. Dokumen lain yang mendukung dan menyakinkan kebenaran kegiatan.

......... tenaga pendamping.. disertai rencana kegiatan..... Sesuai dengan proposal yang diajukan.. ... Telp .. dan layanan penguatan tanggung jawab orang tua/ keluarga dan dukungan program lainnya... 3... Kami sanggup menyelenggarakan program PKSA sesuai Pedoman Umum dan Pedoman Operasional yang telah ditetapkan 2... 4.. Bertanggung jawab atas keberhasilan program sebagaimana dimaksud pada butir 2 dengan melakukan pendampingan.. Penerima manfaat tersebut pada butir 1 akan kami seleksi sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan dan diberikan layanan sosial sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang ditetapkan....... dengan ini kami menyatakan hal sebagai berikut: 1..... saya: Nama : ………………………………..... Tempat dan tanggal lahir : ……………………………….... : ……………………………….... Alamat lembaga : ………………………………....... jika kami ditetapkan sebagai lembaga mitra program PKSA..... sarana..133 Lampiran A2: Surat Pernyataan Lembaga SURAT PERNYATAAN Yang bertanda tangan dibawah ini. Jabatan dalam lembaga Alamat rumah : ………………………………....... sesuai dengan surat keputusan dari Kementerian Sosial. dan mitra kerja yang kami siapkan agar mencapai kinerja yang ditetapkan..... aksesibilitas pelayanan sosial dasar... Email : .... Data dan informasi tentang penerima manfaat akan kami lampirkan setelah melalui verifikasi dan ditetapkan sebagai penerima manfaat bantuan program dan akan kami berikan pelayanan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar................... supervisi dan monitoring kepada penerima manfaat. Telp ..

7. Bersedia diaudit oleh pihak yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 8.134 5. Yang menyatakan. Melakukan koordinasi dengan Dinas/ Instansi Sosial Provinsi dan Kabupaten/Kota serta perangkat masyarakat lainnya dalam menindak lanjuti keberlangsungan program. secara hukum kami terbukti melakukan penyimpangan atas penggunaan dana maupun dalam pelaksanaan program. Materai 6000 Nama Lengkap Ketua/pimpinan . Kami bertanggung jawab sepenuhnya bila dikemudian hari sesuai dengan keputusan pengadilan. Pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya penuh kesadaran dan tanggung jawab. 6. tanpa paksaan dari pihak manapun.

Untuk ikut serta dalam seleksi calon penyelenggara program PKSA. dengan ini kami memberikan rekomendasi kepada: Nama Lembaga Penanggung jawab Alamat Lembaga : …………………………………… : …………………………………… : …………………………………… Tlp. Apabila proposal disetujui.135 Lampiran A3 : Lembar Rekomendasi REKOMENDASI Nomor : ………………. kami bersedia ikut membina dan memantau pelaksanaan program oleh lembaga tersebut diatas. . ………………………..Fax…………. Demikian rekomendasi ini diberikan untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. ………………. Berdasarkan hasi verifikasi lembaga dan dokumen proposal yang diajukan.2010 Tanda tangan dan cap stempel Lembaga pemberi rekomendasi Nama lengkap NIP.

Manfaat program Menguraikan manfaat yang dihasilkan baik bagi penerima manfaat (anak dan keluarga) maupun kelompok masyarakat lainnya. Masalah yang dihadapi dan solusi yang telah dilaksanakan Menguraikan tentang berbagai masalah. tantang dan hambatan yang dihadapi selama menyelenggarakan program serta solusi yang dilakukan sehingga permasalahan tersebut dapat diatasi dan dieliminir. Penerima manfaat yang berhasil menyelesaikan program Menguraikan berapa banyak penerima manfaat diawal dan berapa banyak yang berhasil menyelesaikan program.136 Lampiran A4 : Sistematika Laporan SISTEMATIKA PELAPORAN Penyajian pelaporan. F. hasil yang dicapai pada setiap tahapan. Proses pelaksanaan program Mengurai secara rinci tentang tahapan kegiatan yang dilaksanakan. Pada bagian ini juga disampaikan tetang keterlibatan berbagai pihak (stakeholders) yang mendukung keberhasilan program. perkembangan sikap dan perilaku penerima manfaat (conditionality/ outcomes) dan evaluasi terhadap pencapaian kinerja program. Hasil yang dicapai Menjelaskan secara rinci hasil-hasil yang dicapai dari program yang telah dilaksanakan. Disini . B. Tujuan Menyajikan tujuan PKSA C. sekurang-kurangnya mengikuti sistematika sebagai berikut: A. uraian permasalahan anak dan pentingnya PKSA dilaksanakan. E. D. meliputi: 1. Latar belakang Menyajikan uraian tentang alasan kegiatan PKSA dilaksanakan di wilayah kerja yang ditangani.

Menjelaskan berapa persen penerima manfaat yang dapat dirujuk dan dapat layanan lanjutan. Catatan: Penjelasan maupun uraian pada setiap bagian dapat disertai dengan tabel dan grafik gambar dan foto kegiatan yang relevan. Dokumen-dokumen kegiatan seperti. H. 3. 2. Penerima manfaat yang dirujuk dan mendapat layanan lanjutan. I. catatan kasus. Rekomendasi Menyajikan rekomendasi berupa intervensi dan upaya pemecahan masalah untuk memperbaiki dan menjadi kontribusi dimasa mendatang. file penerima manfaat. sehingga penjelasan lebih komprehensif dan dapat dipertanggung jawabkan. Soft copy laporan dalam bentuk CD/ USB . G. Kesimpulan Menyajikan simpulan-simpulan yang rasional dari keseluruhan program PKSA yang telah dilaksanakan. Disini diuraikan pula jaringan (networking) dan lembaga mitra yang mendukung progtam PKSA. Lampiran-lampiran 1. Laporan pertanggung jawaban penggunaan dana bantuan dalam bentuk dalam bentuk kwitansi dan lampiran pendukung lainnya. Form perkembangan penerima manfaat dan lain-lain.137 diuraikan pula penyebab keberhasilan dan kegagalan yang dialami penerima manfaat 2.

OPERASIONAL PKSA Lampiran B1 PKS-AB Lampiran B2 Lampiran B3 Lampiran B4 Lampiran B5 PKS-ANTAR & ANJAL PKS.ABH PKS-ADK PKS-AMPK .138 B.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful