P. 1
UU Pemerintahan Daerah Dan Sejarah Perkembangan Peraturan Tata Ruang Di Indonesia

UU Pemerintahan Daerah Dan Sejarah Perkembangan Peraturan Tata Ruang Di Indonesia

|Views: 364|Likes:
Published by iwayanyudiartana
UU Pemerintahan Daerah dan Sejarah Perkembangan Peraturan Tata Ruang di Indonesia
UU Pemerintahan Daerah dan Sejarah Perkembangan Peraturan Tata Ruang di Indonesia

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: iwayanyudiartana on Apr 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/25/2015

pdf

text

original

TUGAS REVIEW

UNDANG-UNDANG PEMERINTAHAN DAERAH DAN SEJARAH PERKEMBANGAN PERATURAN PERENCANAAN KOTA DI INDONESIA

TUGAS MATA KULIAH PEMERINTAHAN DAERAH PERDESAAN DAN PERKOTAAN

Oleh: I Wayan Yudiartana 1291861003

PROGRAM STUDI MAGISTER ARSITEKTUR UNIVERSITAS UDAYANA TAHUN 2013

1

TUGAS REVIEW UNDANG-UNDANG PEMERINTAHAN DAERAH

I. Pengantar Sejak tahun 1966, pemerintah Orde Baru berhasil membangun suatu pemerintahan nasional yang kuat dengan menempatkan stabilitas politik sebagai landasan untuk mempercepat pembangunan ekonomi Indonesia. Politik yang pada masa pemerintahan Orde Lama dijadikan panglima, digantikan dengan ekonomi sebagai panglimanya, dan mobilisasi massa atas dasar partai secara perlahan digeser oleh birokrasi dan politik teknokratis. Banyak prestasi dan hasil yang telah dicapai oleh pemerintahan Orde Baru, terutama keberhasilan di bidang ekonomi yang ditopang sepenuhnya oleh kontrol dan inisiatif program-program pembangunan dari pusat. Dalam kerangka struktur sentralisasi kekuasaan politik dan otoritas administrasi inilah, dibentuklah Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Mengacu pada Undang-Undang ini Pasal 1 Butir c, disebutkan Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya pada Pasal 1 Butir e, yang dimaksud dengan Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah tertentu yang berhak, berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Undang-undang No. 5 Tahun 1974 ini juga meletakkan dasar-dasar sistem hubungan pusat-daerah yang dirangkum dalam tiga prinsip: a) Desentralisasi, penyerahan urusan pemerintah dari Pemerintah atau Daerah tingkat atasnya kepada Daerah menjadi urusan rumah tangganya (Pasal 1 Butir b); b) Dekonsentrasi, pelimpahan wewenang dari Pemerintah atau Kepala Wilayah atau Kepala Instansi Vertikal tingkat atasnya kepada Pejabatpejabat di daerah (Pasal1 Butir f) dan c) Tugas Pembantuan (medebewind), tugas untuk turut serta dalam melaksanakan urusan pemerintahan yang ditugaskan kepada

2

meminta keterangan. Dalam UU No. Dalam kaitannya dengan Kepala Daerah baik untuk Dati I (Propinsi) maupun Dati II (Kabupaten/Kotamadya).Pemerintah Daerah oleh Pemerintah oleh Pemerintah Daerah atau Pemerintah Daerah tingkat atasnya dengan kewajiban mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya (Pasal 1 Butir d). serta mewakili Daerahnya di dalam dan di luar Pengadilan (Pasal 22 Butir 3 dan Pasal 23 Butir 1). dan penyelidikan (Pasal 29 Butir 1). dan kewajiban seperti a) mempertahankan. dicalonkan dan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 (tiga) orang dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang calon yang telah dimusyawarahkan dan disepakati bersama antara Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah/Pimpinan Fraksi-fraksi dengan Menteri Dalam Negeri (Pasal 15 Butir 1 dan Pasal 16 Butir 1). 5 Tahun 1974 ini disebutkan dengan jelas bahwa titik berat otonomi daerah diletakkan pada Daerah Tingkat II (Pasal 11 Butir 1). Berkaitan dengan susunan. Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat serta mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku. wewenang dan kewajiban sebagai pimpinan pemerintah Daerah yang berkewajiban memberikan keterangan pertanggungjawaban kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sekurang-kurangnya sekali setahun. b) menjunjung tinggi dan melaksanakan secara konsekuen Garis-garis Besar Haluan Negara. atau apabila diminta oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. untuk masa jabatan 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya (Pasal 17 Butir 1). prakarsa. dengan hak. mengadakan perubahan. mengamankan serta mengamalkan Pancasila dan UUD 1945. fungsi dan kedudukan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. mengajukan pernyataan pendapat. c) bersama-sama Kepala Daerah menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah dan peraturan-peraturan Daerah untuk kepentingan Daerah dalam batas-batas wewenang yang diserahkan kepada Daerah atau untuk melaksanakan peraturan perundangundangan yang 3 . dan 29 dengan hak seperti hak yang dimiliki oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (hak anggaran. diatur dalam Pasal 27. 28. atau jika dipandang perlu olehnya. mengajukan pertanyaan bagi masing-masing Anggota.

Habibie yang memerintah setelah jatuhnya rezim Suharto harus menghadapi tantangan untuk mempertahankan integritas nasional dan dihadapkan pada beberapa pilihan yaitu (Kuncoro.J. 2004: 35): a) melakukan pembagian kekuasaan dengan pemerintah daerah. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No.5 Tahun 1974 ini adalah ketergantungan pemerintah daerah yang relatif tinggi terhadap pemerintah pusat. nampak bahwa meskipun harus diakui bahwa UU No. namun dalam prakteknya yang terjadi adalah sentralisasi (kontrol dari pusat) yang dominan dalam perencanaan maupun implementasi pembangunan Indonesia. atau c) membuat pemerintah provinsi sebagai agen murni pemerintah pusat.Hal ini pada akhirnya akan sangat membuat perencanaan di daerah (baik kota maupun desa) menjadi sangat tergantung pada pusat baik dari segi kebijakan dan anggaran biaya. Beberapa hal yang mendasar mengenai otonomi daerah dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang sangat berbeda dengan prinsip undangundang sebelumnya antara lain : 4 . yang berarti mengurangi peran pemerintah pusat dan memberikan otonomi kepada daerah. Pada masa ini. pemerintahan Habibie memberlakukan dasar hukum desentralisasi yang baru untuk menggantikan Undang-Undang No. b) pembentukan negara federal. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Oleh karena itu kemudian dilakukan revisi dan penyempurnaan terhadap UU No. dan d) memperhatikan aspirasi dan memajukan tingkat kehidupan rakyat dengan berpegang pada program pembangunan Pemerintah (Pasal 30). yaitu dengan memberlakukan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974.pelaksanaannya ditugaskan kepada Daerah. Pemerintahan B. 5 Tahun 1974 adalah suatu komitmen politik. Dari dua bagian tersebut di atas. Salah satu fenomena paling menonjol dari pelaksanaan UU No. 5 Tahun 1974. Upaya serius untuk melakukan desentralisasi di Indonesia pada masa reformasi dimulai di tengah-tengah krisis yang melanda Asia dan bertepatan dengan proses pergantian rezim (dari rezim otoritarian ke rezim yang lebih demokratis).

yang dalam Undang-undang ini disebut Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. sedang dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 menekankan arti penting kewenangan daerah dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat melalui prakarsanya sendiri. bulat dan menyeluruh. peradilan. Di samping itu. kecuali bidang politik luar negeri. karena kepada daerah otonom diberikan otonomi yang luas.bidang tertentu diserahkan kepada daerah secara utuh. adalah pentingnya pemberdayaan masyarakat.a) Dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 pelaksanaan otonomi daerah lebih mengedepankan otonomi daerah sebagai kewajiban daripada hak. serta meningkatkan peran dan fungsi Badan Perwakilan Rakyat Daerah. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. d) Sistem otonomi yang dianut dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah otonomi yang luas. otonomi daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi yang juga memperhatikan keanekaragaman daerah. Oleh karena itu. Hal ini secara proporsional diwujudkan dengan pengaturan. c) Beberapa hal yang sangat mendasar dalam penyelenggaraan otonomi daerah dalam Undang-Undang No. Sedang yang selama ini disebut Daerah 5 . nyata dan bertanggung jawab. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas mereka secara aktif. nyata dan bertanggung jawab. 22 Tahun 1999. dimana semua kewenangan pemerintah. moneter dan fiskal serta agama dan bidang. pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan. hankam. b) Prinsip yang menekankan asas desentralisasi dilaksanakan bersamasama dengan asas dekonsentrasi seperti yang selama ini diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tidak dipergunakan lagi. yaitu daerah yang selama ini berkedudukan sebagai Daerah Tingkat II. yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah (Pasal 7 Butir 1 dan 2). dalam Undang-undang ini otonomi daerah diletakkan secara utuh pada daerah otonom yang lebih dekat dengan masyarakat. e) Daerah otonom mempunyai kewenangan dan kebebasan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat (Pasal 1 Butir i).

jumlah penduduk. Mengenai asas tugas pembantuan dapat diselenggarakan di daerah propinsi. kabupaten. kecamatan tidak lagi berfungsi sebagai peringkat dekonsentrasi dan wilayah administrasi. Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu daerah. anggaran dan legislasi daerah. diganti menjadi daerah propinsi dengan kedudukan sebagai daerah otonom yang sekaligus wilayah administrasi. i) Peraturan Daerah ditetapkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD sesuai pedoman yang ditetapkan Pemerintah. kota dan desa. f) Kabupaten dan Kota sepenuhnya menggunakan asas desentralisasi atau otonom. sedang wilayah Kabupaten/Kota yang berkenaan dengan wilayah laut sebatas 1/3 wilayah laut propinsi (Pasal 10 Butir 3). sosial politik. dan pertimbangannya lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah (Pasal 5 Butir 1). Gubernur selaku kepala wilayah administratif bertanggung jawab kepada Presiden. j) Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi. potensi daerah. Dalam hubungan ini. h) Pemerintah Daerah terdiri dari Kepala Daerah dan perangkat daerah lainnya sedang DPRD bukan unsur pemerintah daerah. sosial budaya. g) Wilayah Propinsi meliputi wilayah laut sepanjang 12 mil yang diukur dari garis pantai kea rah laut lepas dan atau kea rah perairan kepulauan (Pasal 3). yaitu wilayah kerja Gubernur dalam melaksanakan fungsi-fungsi kewenangan pusat yang didelegasikan kepadanya. tetapi menjadi perangkat daerah kabupaten/kota. 6 .Tingkat I atau yang setingkat. Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah dapat dihapus dan atau digabung dengan daerah lain. Pengaturan mengenai penyelenggaraan pemerintahan desa sepenuhnya diserahkan pada daerah masing-masing dengan mengacu pada pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah. luas daerah. Kepala daerah dipilih dan bertanggung jawab kepada DPRD. yang ditetapkan dengan undang-undang (Pasal 6 Butir 1 dan 2). dan tidak perlu disahkan oleh pejabat yang berwenang. DPRD mempunyai fungsi pengawasan.

Dinas-Dinas Teknis Daerah. 7 . yakni serangkaian kewenangan yang tidak efektif dan efisien kalau diselenggarakan dengan pola kerjasama antar Kabupaten atau Kota. Pembantu Bupati/Walikota. penelitian dan pengembangan. pendidikan dan latihan. pendidikan dan pelatihan pegawai sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah. Lembaga pembantu Gubernur. kehutanan dan perkebunan dan kewenangan bidang pemerintahan tertentu lainnya dalam skala propinsi termasuk berbagai kewenangan yang belum mampu ditangani Kabupaten dan Kota.k) Setiap daerah hanya dapat memiliki seorang wakil kepala daerah. baik secara intern oleh pemerintah Kabupaten sendiri maupun melalui berkerjasama antar daerah atau dengan pihak ketiga. prosedur yang ditetapkan pemerintah. pemberhentian. Misalnya kewenangan di bidang perhubungan. m) Kepada Kabupaten dan Kota diberikan otonomi yang luas. penetapan pensiun. pengawasan dan badan usaha milik daerah. Sekretariat Daerah. pekerjaan umum. dan dipilih bersama pemilihan kepala daerah dalam satu paket pemilihan oleh DPRD. Kewenangan yang ada pada propinsi adalah otonomi yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota. l) Daerah diberi kewenangan untuk melakukan pengangkatan. Selain DPRD. o) Kepala Daerah sepenuhnya bertanggung jawab kepada DPRD. Besaran dan pembentukan lembaga-lembaga itu sepenuhnya diserahkan pada daerah. yang terdiri dari Kepala Daerah. standar. daerah juga memiliki kelembagaan lingkup pemerintah daerah. Asisten Sekwilda. seperti yang menangani perencanaan. berdasarkan nama. pemindahan. Kantor Wilayah dan Kandep dihapus. dan DPRD dapat meminta Kepala Daerahnya berhenti apabila pertanggungjawaban Kepala daerah setelah 2 (dua) kali tidak dapat diterima oleh DPRD. sedang pada propinsi otonomi yang terbatas. n) Pengelolaan kawasan perkotaan di luar daerah kota dapat dilakukan dengan cara membentuk badan pengelola tersendiri. Lembaga Staf Teknis Daerah.

Penghapusan dan atau Penggabungan Desa (Pasal 93-94) serta Pemerintahan Desa (Pasal 95). h) High Cost Economic dalam bentuk KKN i) Orientasi Pemda pada Cash Inflow. 22 Tahun 1999 juga sudah mengatur secara rinci penetapan Kawasan perkotaan yang terdiri atas Kawasan Perkotaan dan Kawasan Perkotaan Baru (Pasal 90) dan Pembentukan. 22 Tahun 1999 juga sudah mengatur tentang Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah yang bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden mengenai Pembentukan. Namun dalam pelaksanaannya sekarang ini juga perlu diawasi supaya pelaksanaan otonomi daerah ini tidak menyimpang. Penggabungan daerah dan Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah (Pasal 115). Modusnya bisa jadi bukan melalui penjualan aset. bukan pendapatan j) Pemda bisa menyedot sumbangan dari BUMD-BUMD yang berada dibawah naungannya. UU No. melainkan melalui kebijakan penguasa daerah yang sulit ditolak oleh jajaran pimpinan BUMD k) Karena terfokus pada penerimaan dana Pemda bisa melupakan kriteria pembuktian berkelanjutan 8 . Dalam pelaksanaan UU No 22 Tahun 1999 ini juga menemui banyak kendala antara lain : a) Kualitas dan kemampuan pemerintah daerah yang terbatas b) Ketimpangan sumber daya antara daerah yang satu dengan daerah lainnya c) Birokrasi kegiatan lintas kota yang tidak praktis d) Pelimpahan urusan yang tidak disertai dengan pelimpahan pembiayaan e) Perbedaan kesiapan pemerintah daerah f) Munculnya beragam aspirasi masyarakat yang dapat memecah persatuan nasional. Penghapusan. g) High Cost Economic dalam bentuk pungutan-pungutan yang membabi buta. 5 Tahun 1974. 22 Tahun 1999 dapat dikatakan memperbaiki kekurangan dan kesalahan penafsiran pada UU No. q) UU No.p) UU No.

penyelenggaraan pemerintahan. dan bertanggung jawab. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Menurut UU No. Bagi daerah-daerah ini secara prinsip tetap diberlakukan sama dengan daerah-daerah lain. perda dan peraturan kepala daerah. pada tanggal 15 Oktober 2004. seperti DKI Jakarta.22 tahun 1999 dinyatakan tidak berlaku lagi. perencanaan pembangunan daerah. 22 Tahun 1999 direvisi kembali dan diganti dengan UU No. desa. UU No. UU No. kerja sama dan penyelesaian perselisihan. pertimbangan dalamkebijakan otonomi daerah. keuangan daerah. kepegawaian daerah.l) Munculnya hambatan bagi mobilitas sumber daya m) Potensi konflik antar daerah menyangkut pembagian hasil pungutan n) Bangkitnya egosentrisme o) Karena derajat keberhasilan otonomi lebih dilandaskan pada aspekaspek finansial pemerintah daerah bisa melupakan misi dan visi otonomi sebenarnya.32 tahun 2004 mengatur hal-hal tentang : pembentukan daerah dan kawasan khusus. Dengan diundangkannya UU No. nyata. dan provinsi-provinsi di Papua.pembagian urusan pemerintahan. DI Aceh. Hanya saja dengan pertimbangan tertentu. pembinaan dan pengawasan. Oleh karena itu UU.32 tahun 2004 ini. kita mengenal adanya beberapa bentuk pemerintahan yang lain. dapat diberikan wewenang khusus yang diatur dengan undang- 9 . Pemerintah Daerah berhak mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonnomi dan tugas pembantuan. Sehubungan dengan daerah yang bersifat khusus dan istimewa ini. Sebenarnya antara kedua undang-undang tersebut tidak ada perbedaan prinsipal karena keduanya sama-sama menganut asas desentralisasi. kawasan perkotaan.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. p) Munculnya bentuk hubungan kolutif antara eksekutif dan legislatif di daerah. No. kepada daerahdaerah tersebut. negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintah daerah yang bersifat khusus dan istimewa. DI Yogyakarta. Otonomi yang luas.

faktor peralatan dan faktor organisasi dan manajemen. partisipasi masyarakat). Untuk dapat mewujudkan penyelenggaraan otonomi daerah yang benarbenar sehat atau untuk mewujudkan kesesuaian antara prinsip dan praktek penyelenggaraan otonomi daerah. bersama Badan Permusyawaratan Desa yang ditetapkan dengan perda. Dengan adanya Otonomi Daerah. hal terpenting tentang pelaksanaan Otonomi Daerah adalah kiprah serta peran serta masyarakat yang bisa menjadikan sebuah daerah menjadi maju dengan segala kekayaan alam serta potensi daerah yang dimilikinya. Otonomi desa dijalankan bersama-sama oleh pemerintah desa dan badan pernusyawaratan desa sebagai perwujudan demokrasi. Desa menjadi kelurahan tidak seketika berubah dengan adanya pembentukan kota. Desa yang ada di Kabupaten/Kota secara bertahap dapat diubah atau disesuaikan statusnya menjadi kelurahan sesuai usul dan prakarsa pemerintah desa. Faktor-faktor tersebut adalah : faktor manusia pelaksana (Kepala Daerah dan DPRD. UU No. bagi daerah yang bersifat khusus dan istimewa. secara umum berlaku UU No. Jadi. daerah yang sebelumnya dikenal sebagai daerah kaya namun tidak mendapatkan kompensasi dari kekayaan yang dimilikinya tersebut bisa berubah menjadi lebih maju dan mampu mengelola segala kekayaan alam serta potensi yang ada di daerah itu sendiri. Aparatur Pemerintah Daerah.32 tahun 2004 dan dapat juga diatur dengan UU tersendiri. begitu pula desa yang berada di perkotaan dalam pemerintahan kabupaten. maka terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan. 10 .32/2004 mengakui otonomi yang dimiliki desa ataupun dengan sebutan lain.Namun dari semua itu. Ada perubahan yang cukup signifikan untuk mewujudkan kedudukan sebagai mitra sejajar antara kepala daerah dan DPRD yaitu kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat dan DPRD hanya berwenang meminta laporan keterangan pertanggung jawaban dari kepala daerah. Di daerah perkotaan. faktor keuangan daerah. bentuk pemerintahan terendah disebut “kelurahan”.undang.

II. Papua desentralisasi diatur berkesimbangan antara daerah provinsi. 22 Tahun 1999 Keanekaragaman dalam kesatuan (NKRI) pendekatan besaran dan isi otonomi (size and content approach).(Perpaduan Antara Structural Efficiency Model Dengan Local Democracy Model) Paradigma Pembagian Urusan Pemerintahan 5 6 Model Organisasi Penyelenggara Pemerintahan Daerah Mekanisme Transfer Kewenangan Pemerintahan Dari Pemerintah Pusat Kepada Daerah Otonom Model Efisiensi Structural (Structural Efficiency Model) Penyerahan Urusan Pemerintahan Dengan Prinsip Otonomi Yang Nyata 11 . 32 Tahun 2004 No 1 2 Komponen Pembeda Dasar Filosofi Susunan Pemerintahan UU No. Model Eklektik. Perbedaan UU No. kabupaten/kota. 22 Tahun 1999. 32 Tahun 2004 Keanekaragaman dalam kesatuan (NKRI) pendekatan besaran dan isi otonomi (size and content approach).(Perpaduan Antara Structural Efficiency Model Dengan Local Democracy Model) Paradigma Pembagian Urusan Pemerintahan 3 Kecenderungan Pemerintahan Penyelenggaraan Sentralistik (Terpusat) 4 Dilaksanakanya Asas Desentralisasi. ada daerah dengan isi otonomi terbatas dan ada daerah yang otonominya luas. dan UU No. ada daerah yang besar dan ada daerah yang kecil berdasar kemandirian masingmasing. desentralisasi terbatas pada kabupaten/kota dan luas pada provinsi.Dekonsentrasi. UU No. dekonsentrasi terbatas pada kebupaten/kota dan luas pada provinsi. 5 Tahun 1974. dengan menekankan pada urusan yang berkeseimbangan dengan azas eksternalitas. akuntabilitas dan efisiensi. tugas pembantuan yang seimbang pada semua tingkatan pemerintahan sampai ke desa Model Eklektik.Dan Tugas Pembantuan Secara Seimbang desentralisasi terbatas pada daerah provinsi dan pada luas daerah kabupaten/kota. Desentralisasi (Daerah) UU No. 5 Tahun 1974 Keseragaman Pendekatan Tingkatan Daerah (Level Approach) UU No. tugas pembantuan berimbang pada semua tingkatan pemerintahan. Desentralisasi (Daerah) dengan menghormati daerah khusus/istimewa seperti : DIY.

Sedangkan Camat Berkedudukan Sebagai Pimpinan SKPD Yang Menjalankan Asas Desentralisasi Kecamatan Dijadikan Lingkungan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten/Kota. Sedangkan Camat Berkedudukan Sebagai Pimpinan SKPD Yang Menjalankan Asas Desentralisasi 12 . Sedangkan Camat Berkedudukan Sebagai Kepala Wilayah Sistem Campuran (Mixed System) Tergantung Pada Model Pemilihan Kepala Daerah Sistem Campuran (Mixed System) Tergantung Pada Model Pemilihan Kepala Daerah Pengelolaan Keuangan Antar Asas Pengelolaan Keuangan Antar Asas Penyelenggaraan Pemerintahan Di Penyelenggaraan Pemerintahan Di Daerah Dipisahkan Daerah Dipisahkan Kecamatan Dijadikan Lingkungan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten/Kota.7 8 9 Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dengan Pemerintahan Daerah Sistem Kepegawaian Pola “Fungsi Mengikuti Uang” (Function Follow Money) Kebijakan Perimbangan Keuangan Yang Lebih Adil Bagi Daerah Kebijakan Perimbangan Keuangan Yang Lebih Adil Bagi Daerah 10 11 Sistem Terintegrasi (Integrated System) Sistem Sistem Pertanggungjawaban Pertanggungjawaban Pemerintah Daerah Bersifat Vertikal Ke Atas Sistem Pengelolaan Pengelolaan Keuangan Antar Antar Asas Dijadikan Satu Dalam Asas Penyelenggaraan APBN Pemerintahan Kedudukan Kecamatan Kecamatan Adalah Pelaksana Asas Dekonsentrasi.

garis sempadan. pada tahun 1903 Pemerintah Belanda menetapkan suatu Wethoudende Decentralisatie van het Bestuur in Nederlandsch Indie (Stb 1903/329) yang lebih dikenal dengan sebutan Decentralisatiewet 1903 (Undang-Undang Desentralisasi 1903) yang memberi kemungkinan bagi pembentukan Gewest atau bagian Gewest yang mempunyai keuangan sendiri (Josef Riwu Kaho. c) Selain itu juga dikeluarkan Reglement op het Beleid der Regering van Nederlandsch Indie (Stb 1855/2) mengenai sentralisasi dan dekonsentrasi. yaitu ketentuan perencanaan jalan. berisi sistem pemerintahan dengan penguasa tunggal di daerah residen. b) Pada masa pemerintahan Hindia Belanda terjadi 2 hal yang dapat dikatakan sebagai dasar perencanaan kota.com): 1. tanggul-tanggul. Masa VOC dan Penjajahan Belanda a) Secara teknis. dokter-kota. Masa 1970 . yaitu masa VOC dan Penjajahan Belanda. pertamanan.TUGAS REVIEW SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PERATURAN TENTANG PERENCANAAN KOTA DESA DI INDONESIA Sejarah Peraturan Tentang Perencanaan Wilayah dan Kota di Indonesia dapat dibagi menjadi 5 masa.blogspot. 2007:23). Afdeeling. yaitu: munculnya Regeringsregelement 1854 (RR 1854). jembatan.2000 dan masa tahun 2000an. Untuk lebih jelasnya mengenai sejarah perkembangan Perencanaan Wilayah dan Kota di Indonesia sebagai berikut (www. misalnya di Jawa ada Gewest (Residentie).(Josef Riwu Kaho. air bersih dan sanitasi kota. batas kapling. 13 . 2007:23-24).1960. perencanaan fisik di Indonesia sudah dimulai sejak masa VOC di abad 17 yaitu dengan telah adanya De Statuten Van 1642. Pada saat itu sudah dikenal wilayah administratif. d) Lalu sesuai perkembangannya.Tahun 1950an. District dan Onder-district. Masa 1950 . Masa Perang Dunia II . dan diundangkannya Staatsblad 1882 Nomor 40 yang memberikan wewenang kepada residen untuk mengadakan pengaturan lingkungan dan mendirikan bangunan di wilayah (gewent) kewenangannya.

Regentschap-ordonnantie (Stb 1924/79) dan Stadsgemeente-ordonnantie (Stb 1926/365). Berdasarkan peraturan tersebut dibentuklah berbagai propinsi. 2007:24).e) Sejak tahun 1905 yaitu sejak diundangkannya Decentralisatie Besluit Indische Staatblad 1905/137 dan Locale Radenordonnantie (Stb 1905/181). Locale Raad dibedakan ke dalam Gewestelijke Raad bagi Gewest dan Plaatselijke Raad bagi daerah –daerah yang merupakan bagian dari Gewest (Josef Riwu Kaho. f) Namun hal itu belum dirasakan memuaskan karena dirasakan sangat terbatas. dihapuskan. Maka perencanaan kota lebih eksplisit sehubungan dengan pemberian kewenangan otonomi bagi stadsgemeente (kota praja) untuk menyusun perencanaan kotanya. Marga dan sebagainya. Berdasarkan Groepsgemeenschap-ordonanntie (Stb 1937/464) dan Stadsgemeenteordonantie Buitengewesten. Titik berat Undang-Undang ini adalah pembentukan badanbadan pemerintahan baru dengan mengikutsertakan penduduk asli dengan pemberian hak untuk menyelenggarakan pemerintahan dan pembebanan tanggung jawab sebagai akibat dari pemberian hak tadi (Josef Riwu Kaho. g) Pelaksanaan lebih lanjut undang-undang tersebut diatur dengan Provincieordonnantie (Stb 1924/78). Dengan demikian Locaal Resort yang dibentuk sebelumnya. i) Di daerah yang dikuasai Belanda terdapat juga apa yang disebut Inlandsche Gemeente seperti Desa. Maka dikeluarkanlah Wet op de Bestuurshervorming (Stb 1922/216). Huta. regentschap dan stadsgemeente yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri di Jawa dan Madura. 2007:26). Untuk Jawa dan Madura. Kuria. Menurut kedua peraturan ini. sedangkan untuk daerah di luar pulau 14 . Inlandsche Gemeente diatur dengan Inlandsche Gemeente Ordonnantie (IGO) (Stb 1906/83). 2007:26). keadaannya berbeda. (Josef Riwu Kaho. 2007:25). sedangkan Raad-nya disebut Locale Raad. h) Di luar Jawa dan Madura. daerah yang diberi keuangan sendiri ini disebut Locaal Ressort. sedangkan Locaal Ressort yang dibentuk berdasarkan UU Decentralisasi 1903 tetap dipertahankan (Josef Riwu Kaho.

2007:28):    Sumatera di bawah Komando Panglima Angkatan Darat XXV yang berkedudukan di Bukittinggi. yaitu (Josef Riwu Kaho. 15 . Kesultanan Goa. c) Osamuseirei No. d) Selanjutnya. 2. Jawa dan Madura berada di bawah Komando Panglima Angkatan Darat XVI yang berkedudukan di Jakarta. 3 mengatur pemberian wewenang kepada Walikota yang semula hanya berhak mengatur rumah tangga daerahnya saja. Karena pecah perang dunia II. b) Pada tanggal 11 September 1943. Zelfbesturende landschappen ini terdiri dari kerajaan-kerajaan asli Indonesia yang mempunyai ikatan dengan Belanda melalui kontrak politik. j) Di daerah yang tidak langsung dikuasai oleh Belanda. Masa Pendudukan Jepang a) Pada masa Jepang menguasai wilayah Hindia Belanda. sekarang diwajibkan juga untuk menjalankan urusan pemerintahan umum. terdapat daerah otonom yang disebut Zelf-besturende landschappen. Mangkunegaran. dikeluarkan peraturan yang bernama Osamuseirei.Jawa dan Madura diatur dengan Inlandsche Gemeente Ordonnantie Buitengewesten (IGOB) (Stb 1939/490). 2007:27-28). Deli dan sebagainya. kedudukan Stadsgemeente dan Regentschap dengan Osamuseirei No. pemerintahan di bekas wilayah jajahan ini dibagi menjadi tiga komando. maupun kontrak politik pendek (korte verklaring) seperti Pakualaman. Byblad 9308. k) Kompleksitas permasalahan perencanaan kota dan desa yang dihadapi pada masa ini masih sangat sederhana. 2007:27). Bone dan sebagainya (Josef Riwu Kaho. 12 dan No. baik kontrak politik yang panjang (lange contracten) seperti Kasunanan Sala/Surakarta. Kesultanan Yogyakarta. maka Desaordonanntie tidak/belum sempat dilaksanakan (Josef Riwu Kaho. 13 diubah menjadi Si dan Ken yang otonom. Stb 1931/507 dan Desa ordonantie (Stb 1941/356). Daerah lainnya berada di bawah Komando Panglima Angkatan Laut yang berkedudukan di Makasar.

Asisten Wedana. 26 ditetapkan pula bahwa Provinsi. Sityo. Kentyo dan seterusnya. karena hak-hak Raad dan College dialihkan kepada Kepala Daerah. Wedana. 3. Masa Perang Dunia (PD) II . 2007:29). 1 Tahun 1945 yang mengatur tentang Pembentukan Komite Nasional Daerah yang bertugas untuk mengatur otonomi di daerah. e) Dengan Osamuseirei No. g) Osamuseirei No. 2007:34-35).tetapi sifat demokratisnya ditiadakan. Gun (Distrik/Kawedanan). 2007:29). Kabupaten dan Kota Besar bagi Daerah Tingkat II. b) Tanggal 10 Juli 1948 diundangkanlah UU No. Unsur yang menonjol ialah sebutan Propinsi bagi Daerah Tingkat I. kecuali wilayah Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta dibagi atas beberapa Syuu (Karesidenan). yang disebut Tokubetsu Si. f) Selanjutnya dalam Osamuseirei No. 22 Tahun 1948 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah. dan Desa (Kota kecil. 27 Tahun 1942 ditetapkan antara lain:  Jawa dan Madura. Dewan Kabupaten dan Dewan Gemeente dihapuskan (Josef Riwu Kaho. Syuu dan Kooti merupakan daerah yang berdiri sendiri khusus mengurus bidang ekonomi/pangan (Josef Riwu Kaho. Son (Onderdistrict) dan Ku (desa).Tahun 1950an a) Diberlakukannya UU No. 28 tahun 1942 menetapkan pula bahwa Surakarta dan Yogyakarta diubah menjadi Kooti. Negeri. 21 dan No. Kepala Desa. Si (Stadsgemeente). Kepala Kampung (Wijkmeester) yang berada di Daerah Si (Kota) diambil alih oleh Sityo. 16 . Ken (Regentschap).  Di samping itu ada Daerah Istimewa yang ditentukan oleh Gunseikan. Kepala-kepala pemerintahannya disebut : Tyo. Marga dan sebagainya) bagi Daerah Tingkat III (Josef Riwu Kaho.  Urusan yang semula dijalankan oleh para Bupati. jadi berturut-turut terdapat Syuutyo.

168) adalah peraturan perundang-undangan yang diterbitkan tahun 1948 oleh pemerintah pendudukan Belanda yang digunakan untuk penataan ruang dalam periode 1950-1959. Malang. h) Diberlakukannya Staatblad Indonesia Timur (SIT) No. 44 Tahun 1950 ini mendekati UU No. f) SVO ini ditujukan untuk menanggapi perkembangan kota yang mendesak. 44 Tahun 1950 ini menetapkan bahwa 17 . bukan pembangunan (www. Yang mana isi dan jiwa SIT No. 22 Tahun 1948. Dan pelaksanaannya juga sebatas pemeliharaan kota. yaitu memperbaiki keadaan kota-kota yang hancur atau rusak semasa terjadinya perang kemerdekaan. d) Peraturan ini dinamakan Stadsvorming Ordonantie/SVO.    Hak setiap anggota masyarakat untuk mendapat informasi penataan ruang dan dokumen tata ruang. Salatiga. g) Peran serta masyarakat dalam SVO mengatur empat hal :  Kewajiban walikota mengumumkan draft rencana kota lewat surat kabar lokal atau surat kabar yang banyak dibaca oleh masyarakat lokal diwilayah objek perencanaan. Bekasi. tetapi disesuaikan dengan struktur Negara bagian. e) Ordonansi Pembentukan Kota atau Stadsvorming Ordonantie/SVO (Staatsblad 1948 no.com) . wilayah Kebayoran dan Pasar Minggu.SIT No.c) Pada tahun 1948 diterbitkan peraturan perencanaan pembangunan kota sebagai peraturan pokok perencanaan fisik kota khususnya untuk kota Batavia. Hak mengajukan keberatan kepada Pemerintah Daerah dalam waktu satu bulan setelah diumumkan. Semarang. Padang. Palembang dan Banjarmasin. 44 Tahun 1950 bagi wilayah Negara Indonesia Timur. Pekalongan.blogspot. darasalsabilla. Tanggerang. Tegal. Hak untuk mengajukan banding atas keputusan tentang keberatan yang ditolak. Namun SVO hanya berlaku bagi limabelas dari limapuluh kotapraja yang ada. Surabaya. Cilacap. termasuk pembangunan perumahan yang masih terus diperhatikan pemerintah.

Masa 1950 . g) Perkembangan penduduk kota-kota. d) Diberlakukannya Penetapan Presiden No. i) Muncul gagasan-gagasan tentang pembangunan kota baru. baik kota satelit seperti wilayah Candi di Semarang maupun Kebayoran Baru di Jakarta. f) Diberlakukannya UU No.Negara Indonesia Timur ini tersusun atas dua atau tiga tingkatan Daerah Otonom yaitu Daerah. serta kota baru mandiri seperti Palangkaraya di Kalimantan Tengah dan Banjar Baru di Kalimantan Selatan.Saat itu terdapat dua jenis daerah otonom yaitu daerah Swatantra dan Daerah Istimewa (Josef Riwu Kaho. e) Diberlakukan UU No. 2007:40).168). h) Pembangunan nasional semakin kompleks. baik fisik.1960 a) Masih diberlakukannya Ordonansi Pembentukan Kota atau Stadsvorming Ordonantie / SVO (Staatsblad 1948 no. budaya. j) Pembangunan nasional pada saat itu mendapat bantuan dari negara-negara maju. Daerah Bagian dan Daerah Anak Bagian. 6 Tahun 1959 tentang Pemerintahan Daerah dan Penetapan presiden No. 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah. 18 . 5 Tahun 1960 tentang DPRD Gotong Royong dan Sekretariat Daerah. sosial dan politik. b) Pemberlakuan SIT No. Masa 1970 . i) Peningkatan tenaga ahli perencanaan wilayah dan kota. 5. 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah Tahun 1956 akibat adanya perubahan ketatanegaraan waktu itu. khususnya di Jawa dan Sumatera berdampak terhadap berbagai segi. 44 Tahun 1950 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah. 44 Tahun 1950 yang menjadi awal mula UU No. 4. 19 Tahun 1965 tentang Desa Praja. c) Pemberlakuan UU No.2000 a) RUU tentang Pokok-Pokok Bina Kota (1972).

yakni RPP Teknik Penyehatan Bidang Air Minum. f) Dua bulan Sekretariat kemudian.go.9/3/22 tanggal 14 Maret 1973 dilayangkan kepada Menteri Kehakiman untuk meminta saran dan tanggapan RUU Pokok-pokok Bina Kota yang telah diajukan kepada Presiden dan Menteri Sekretariat Kabinet dalam waktu yang tidak terlalu lama. Setelah mengadakan evaluasi dan pengembangan pemikiran. d) Selanjutnya surat Menteri PUTL nomor Men. Departemen Dalam Negeri. penataanruang. Departemen Kehakiman dan Bappenas.9/2/20 tanggal 15 Februari 1975. dengan surat nomor Men. atas prakarsa Kabinet diadakan pertemuan koordinasi wakil dari Departemen PUTL.pokok Pemerintahan di Daerah”. awal 1974 berlaku UU 5/1974 tentang “Pokok. Setelah pertemuan koordinasi. Menteri Sekretariat Kabinet menyarankan agar Departemen PUTL menyesuaikan materi RUU tentang Pokok-pokok Bina Kota dengan undang-undang baru tersebut.pu. RUU tentang Pokok-Pokok Bina Kota selesai disusun. Materi ini kemudian diajukan sebagai laporan kepada Presiden Republik Indonesia (Soeharto) dengan surat Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (PUTL) Sutami nomor 9/15/2 tertanggal 26 September 1972. e) Sementara itu. c) Pada bulan Agustus 1972. Sekretariat Kabinet meminta Departemen PUTL mengadakan penyesuaian RUU tentang 19 . Menteri PUTL kembali menyampaikan laporan kepada Sekretariat Kabinet yang menjelaskan Mengenai naskah RUU tentang Pokok-Pokok Bina Kota yang telah disesuaikan disertai tambahan RUU tentang Jalan serta tiga Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP). tepatnya tanggal 17 April 1975.id). Departemen PU. Ditjen Cipta Karya. RUU ini dibuat sebagai pengganti SVV/ SVO yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia (www.b) RUU ini disusun oleh Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah. RPP Teknik Penyehatan Bidang Air Buangan dan RPP tentang Kontraktor Umum di Bidang Bangunan Umum dan Bangunan Sipil serta Konsultan di Bidang Bangunan Umum dan Bangunan Sipil.

Semua Rencana Kota harus dijadikan Peraturan Daerah. yang meliputi pengesahan. 20 . bantuan teknik. g) Hasil dari penyesuaian ini lalu menjadi awal RUU tentang tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pembinaan Kota (1975). j) Kondisi tersebut menyebabkan pada tahun 1985 ditetapkan SKB Mendagri-Menteri PU nomor 650-1595 dan 503/KPTS/1985 tentang Tugas-tugas dan Tanggung Jawab Perencanaan Kota. Sehingga hal ini Pada saat itu pula sempat terjadi kebingungan di lingkungan pemerintah daerah yang selama ini dibina Departemen PUTL. sekaligus mengejar target sesuai dengan arahan Depdagri agar setiap kota memiliki rencana kota.Pokok-pokok Bina Kota terhadap RUU tentang Tata Guna Tanah yang diajukan Depdagri. Selanjutnya. pengaturan. Sementara itu. h) Selain itu juga ada RUU tentang Tata Ruang Kota (1978). akibat kerancuan kewenangan perencanaan kota. yang meliputi penetapan kriteria dan standar teknik penyusunan rencana-rencana tata ruang kota. i) Pada masa ini juga berlaku RUU Tata Guna Tanah usulan Ditjen Agraria Depdagri. petunjuk dan saran dalam menyusun tata ruang kota/wilayah. Pada SKB tersebut diatur. l) Tugas dan tanggung jawab Depdagri adalah di bidang administrasi perencanaan kota. SKB tersebut perlu melibatkan Menpan karena berbagai keluhan di pemerintah daerah. pelaksanaan dan pengendalian administrasi tata ruang kota. k) Tugas dan tanggung jawab Departemen PU adalah di bidang tata ruang (teknik planologi) dalam perencanaan kota. terhadap Permendagri 4/1980 tentang “Pedoman Penyusunan Rencana Kota”. Sempat terjadi kebingungan di daerah karena harus melaksanakan arahan Depdagri yang tidak selalu sama dengan Departemen PUTL. koordinasi perencanaan. juga terjadi kericuhan ganti cover dari rencana kota untuk digunakan kota lain sebagai jalan pintas membuat rencana karena keterbatasan dana dan sumber daya manusia. sebagai aturan pelaksanaan diterbitkan Permendagri 650/123/233-234.

perencanaan tata guna tanah lebih memiliki civil effect yang digunakan untuk menerbitkan sertifikat hak atas tanah. menandai RUU tentang Penataan Ruang dibahas menjadi Undang-Undang tentang Penataan Ruang nomor 24 tahun 1992 yang akhirnya disahkan dan ditetapkan di Jakarta. aspek penatagunaan tanah pun belum cukup terkait dengan penataan ruang (kota).m) Tindak lanjut kewenangan tersebut diatur dalam Kepmen PU nomor 640/KPTS/ 1986 dan Permendagri 2/1987 (mencabut Permendagri 4/1980). Sementara itu. Jawaban pemerintah terhadap pemandangan umum fraksi di DPR. pada tanggal 13 Oktober 1992. baik itu Rencana tata ruang pedesaan di sekitar kota dan pusat Pertumbuhan. Sebelumnya. Dewan Pertimbangan Agung dengan surat nomor 29/DPA/1991 menyampaikan kepada Presiden tentang keserasian pengembangan Daerah Perkotaan dan Daerah Pedesaan yang mengusulkan segera ditetapkan Rancangan Undang-Undang tentang Tata Ruang. n) Pada tanggal 17 Desember 1991. RUU tentang Penataan Ruang telah memenuhi syarat untuk diproses menjadi undang-undang. Pada saat itu. Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup memberi jawaban pemerintah terhadap pemandangan umum atas RUU tentang Penataan Ruang. 21 . Presiden menyampaikan bahwa RUU tentang Penataan Ruang layak dibicarakan dalam sidang DPR guna mendapat persetujuan dan menugaskan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Emil Salim) mewakili pemerintah untuk membahas RUU tentang Penataan Ruang menjadi UU tentang Penataan Ruang. o) Pada tanggal 21 Januari 1992. pada tanggal 27 September 1991. Dengan demikian. Rencana kota kurang diterima karena lebih merupakan produk prestise dan pajangan di rumah pejabat atau kantor pemerintah daerah. Dalam hal ini. terlihat pengaturan aspek administrasi perencanaan yang diatur dalam SKB belum cukup terurai untuk memenuhi hal-hal yang perlu dibina Depdagri.

24 Tahun 1992 yang lebih menegaskan pentingnya penataan ruang dalam perencanaan kota dan desa di Indonesia. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian direvisi lagi dengan UU No. q) Pada masa ini kompleksitas pembangunan nasional. regional dan lokal semakin meningkat disertai pengaruh metode-metode dan teknologi negara maju. s) Pembangunan yang lebih bersifat sentralistik. detail dan terperinci untuk tiap daerah tingkat I dan II. e) Tingginya wacana partisipasi masyarakat dan pemberdayaan masyarakat. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang sebagai pengganti UU No. 22 . r) Peningkatan program transmigrasi untuk membuka lahan-lahan pertanian baru di luar Jawa. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa yang mengatur otonomi desa. u) Standarisasi hirarki perencanaan dari yang umum. 6. b) Berlakunya Otonomi Daerah secara benar dengan diberlakukannya UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah.p) Pada masa ini juga mulai dikenalkan istilah otonomi daerah dengan pemberlakuan Undang-Undang No. d) Kabupaten dan Kota berlomba-lomba meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Masa Tahun 2000an a) Diberlakukannya UU No. c) Imbas dari otonomi daerah ini juga diberlakukan UU No. 32 Tahun 2004 Pemerintahan Daerah. f) Tingginya wacana pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). t) Industrialisasi mulai digalakkan ditandai dengan munculnya kawasankawasan industri.

Perencanaan. Reformasi.blogspot.html diakses 23 Maret 2013 23 .com/2008/04/perbandingan-svo-uu-241992-danuu. Jakarta: Penerbit Erlangga Riwu Kaho Josef.html diakses 23 Maret 2013 http://penataanruang.pu.htm diakses 23 Maret 2013 http://darasalsabilla. Otonomi dan Pembangunan Daerah. Strategi dan Peluang.go.com/2012/09/sejarah-perencanaan-wilayah-dan-kotadi. Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik Indonesia.blogspot. 2007.id/taru/sejarah/sejarah. 2004 .DAFTAR PUSTAKA Kuncoro. Jakarta : Penerbit PT Raja Grafindo Persada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah http://dokter-kota.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->