MAKALAH PERLUKAAN JALAN LAHIR

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Persalinan sering kali mengakibatkan perlukaan jalan lahir. Luka-luka biasanya ringan, tetapi kadangkadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya. Setelah persalinan harus selalu dilakukan pemeriksaan vulva dan perinium. Pemeriksaan vagina dan serviks dengan spekulum perlu dilakukan setelah pembedahan pervaginam. Sebagai akibat persalinan, terutama pada seorang primipara, bisa timbul luka pada vulva di sekitar introitus vagina yang biasanya tidak dalam akan tetapi kadang-kadang bisa timbul perdarahan banyak, khususnya pada luka dekat klitoris. B.Rumusan Masalah “Bagaimana penatalaksanaan dalam menangani perlukaan jalan lahir” C.Tujuan 1.Tujuan umum Tujuan umum dari kami mempelajari makalah ini adalah untuk mengetahui lebih mendalam tentang perlukaan jalan lahir. 2.Tujuan khusus 1. 2. 3. 4. 5. Mengetahui pengertian dari perlukaan jalan lahir Mengetahui etiologi perlukaan jalan lahir Mengetahui patofisiologi perlukaan jalan lahir Mengetahui tanda dan gejala perlukaan jalan lahir Mengetahui penatalaksanaan medis perlukaan jalan lahir

D.Manfaat Manfaat dari mempelajari kasus ini adalah : 1. Bagi mahasiswa

Bagi tenaga kesehatan diharapkan agar dapat mengerti tentang perlukaan jalan lahir. sering robek selama persalinan.Mahasiswa dapat mempeerluas khasanah ilmu yang lebih luas terutama dalam menangani pasien dengan kasus perlukaan jalan lahir. BAB II TINJAUAN TEORI 1. kepala janin melewati pintu panggul bawah dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipito bregmatika Perinium merupakan kumpulan berbagai jaringan yang membentuk perinium (Cunningham. 1999). Serabut otot berinsersi pada tempat-tempat berikut ini: di sekitar vagina dan rektum. 1995). Jaringan ini yang membentuk korpus perinialis dan merupakan pendukung utama perinium. Diafragma urogenitalis terletak di sebelah luar diafragma pelvis. 1.1995). Infeksi setempat pada luka episiotomi merupakan infeksi masa puerperium yang paling sering ditemukan pada . Pengertian Robekan Jalan Lahir Perdarahan dalam keadaan dimana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi rahim baik. Perlukaan jalan lahin terdiri dari : 1. Diafragma urogenital terdiri dari muskulus perinialis transversalis profunda. sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa. yaitu di daerah segitiga antara tuberositas iskial dan simpisis phubis. dari permukaan dalam spina ishiaka dan dari fasia obturatorius. Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengan dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat. panjangnya kira-kira 4 cm (Prawirohardjo. pada persatuan garis tengah antara vagina dan rektum. tempat bersatu bulbokavernosus. kecuali dilakukan episiotomi yang memadai pada saat yang tepat. Muskulus levator ani membentuk sabuk otot yang lebar bermula dari permukaan posterior ramus phubis superior. Persatuan antara mediana levatorani yang terletak antara anus dan vagina diperkuat oleh tendon sentralis perinium. Diafragma pelvis terdiri dari muskulus levator ani dan muskulus koksigis di bagian posterior serta selubung fasia dari otot-otot ini. pada persatuan garis tengah di bawah rektum dan pada tulang ekor. muskulus konstriktor uretra dan selubung fasia interna dan eksterna (Cunningham. Terletak antara vulva dan anus. Jaringan yang terutama menopang perinium adalah diafragma pelvis dan urogenital. Robekan Perinium Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. membentuk sfingter yang efisien untuk keduanya. muskulus perinialis transversalis superfisial dan sfingter ani eksterna. dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan jalan lahir.

Luka perinium. kadang-kadang sangat sulit untuk segera dikenali sehingga menimbulkan komplikasi serius atau bahkan kematian.1999).genetalia eksterna. Selanjutnya robekan dijahit dengan catgut kromik dimulai dari ujung untuk menghentikan perdarahan. Resiko infeksi sangat tinggi dan angka kematian bayi sangat tinggi pada kasus ini. bibir depan dan bibir belakang servik dijepit dengan klem fenster kemudian serviks ditariksedidikit untuk menentukan letak robekan dan ujung robekan. LukaPerinium Luka perinium adalah perlukaan yang terjadi akibat persalinan pada bagian perinium dimana muka janin menghadap (Prawirohardjo S. tetapi tidak mengenai spingter ani Tingkat III : Robekan mengenai seluruh perinium dan otot spingter ani Tingkat IV : Robekan sampai mukosa rektum 1. sehingga kemacetan proses persalinan dilakukan dengan dorongan pada fundus uteri dan dapat mempercepat terjadinya rupturauteri. Robekan tersebut dapat mencapai kandung kemih dan organ vital di sekitarnya. Ruptura uteri termasuk salahs at diagnosis banding apabila wanita dalam persalinan lama mengeluh nyeri hebat pada perut bawah. Dukun seagian besar belum mengetahui mekanisme persalinan yang benar. Ruptura uteri inkomplit yang menyebabkan hematoma pada para metrium. Penyebab ruptura uteri adalah disproporsi janin dan panggul. 1. Rupture Uteri Ruptur uteri merupakan peristiwa yang paling gawat dalam bidang kebidanan karena angka kematiannya yang tinggi. Ruptura uteri masih sering dijumpai di Indonesia karena persalinan masih banyak ditolong oleh dukun. Syok yang terjadi seringkali tidak sesuai . Menurut Sarwono Prawirohardjo pengertian ruptura uteri adalah robekan atau diskontinuitas dinding rahim akiat dilampauinya daya regang mio metrium. diikuti dengan syok dan perdarahan pervaginam. Janin pada ruptur uteri yang terjadi di luar rumah sakit sudah dapat dipastikan meninggal dalam kavum abdomen. dibagi atas 4tingkatan : Tingkat I : Robekan hanya pada selaput lender vagina dengan atau tanpa mengenai kulit perinium Tingkat II : Robekan mengenai selaput lender vagina dan otot perinea transversalis. Robekan Serviks Robekan serviks paling sering terjadi pada jam 3 dan 9. partus macet atau traumatik.

u. ( Obstetri dan Ginekologi ). Keadaankeadaan seperti ini.Menurut robeknya peritoneum . miemoktomi b)Segmen bawah rahim ( SBR ).Menurut lokasinya: a)Korpus uteri. sangat perlu untuk diwaspadai pada partus lama atau kasep.Menurut waktu terjadinya a)R. ( buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal ) Rupture uteri adalah robeknya dinding uterus pada saat kehamilan atau dalam persalinan dengan atau tanpa robeknya perioneum visceral. robekan-robekan di antara serviks dan vagina 3.dengan jumlah darah keluar karena perdarhan heat dapat terjadi ke dalam kavum abdomen. SBR tambah lama tambah regang dan tipis dan akhirnya terjadilah ruptur uteri yang sebenarnya c)Serviks uteri ini biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forsipal atau versi dan ekstraksi sedang pembukaan belum lengkap d)Kolpoporeksis. ini biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi seperti seksio sesarea klasik ( korporal ). Gravidarum Waktu sedang hamil Sering lokasinya pada korpus b)R. Durante Partum Waktu melahirkan anak Ini yang terbanyak 2. Ruptur Uteri adalah robekan atau diskontinuita dinding rahim akibat dilampauinya daya regang miomentrium. Ruptur uteri dapat dibagi menurut beberapa cara : 1. ini biasanya terjadi pada partus yang sulit dan lama tidak maju. u.

Inkompleta : robekan otot rahim tanpa ikut robek peritoneumnya. u. Ruptura uteri inkompleta a. Ruptur uteri kompleta a. Terjadi perdarahan ke dalam ruangan abdomen d. Perdarahan ke dalam ruangan abdomen tidak terjadi d. u. Janin tidak terlempar ke dalam ruangan abdomen c. Perdarahan terjadi subperitoneal dan bisa meluas ke lig.a). Kompleta : robekan pada dinding uterus berikut peritoneumnya ( perimetrium ) . Perdarahan dapat dalam bentuk hematoma . Jaringan peritoneum tidak ikut robek b. Janin terlempar ke ruangan abdomen c. Mudah terjadi infeksi 2. dalam hal ini terjadi hubungan langsung antara rongga perut dan rongga uterus dengan bahaya peritonitis b)R. Pembagian rupture uteri menurut robeknya dibagi menjadi : 1. Jaringan peritoneum ikut robek b.latum 4.Menurut etiologinya a)Ruptur uteri spontanea Menurut etiologinya dibagi 2 : 1)Karena dinding rahim yang lemah dan cacat bekas seksio sesarea bekas miomectomia bekas perforasi waktu keratase. R.

presentasi abnormal ( terutama terjadi penipisan pada segmen bawah uterus ). Partus lama 3.Robekan serviks a.Etiologi (penyebab) 1. Trauma krn pemakaian alat-alat operasi c. Ruptur Uteri 1. 4.hydrosephalus 7. pembukaan blm d. Partus presipitatus b.riwayat pembedahan terhadap fundus atau korpus uterus 2. 2.induksi dengan oksitosin yang sembarangan atau persalinan yang lama 3.tumor yg menghalangi jalan lahir 8.presentasi dahi atau muka C.Patofisiologi lengkap . panggul sempit 5. 3. Robekan perinium Umumnya terjadi pada persalinan 1. 2001 ) 4. ( Helen. Kepala janin terlalu cepat lahir Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya Jaringan parut pada perinium Distosia bahu 2. Melahirkan kepala pd letak sungsang scr paksa.B.letak lintang 6.

atau anak dilahirkan dengan pembedahan vaginial. Robekan ini dapat dihindarkan atau dikurangi dengan menjaga jangan sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin dengan cepat. Apabila terjadi perdarahan yang tidak berhenti meskipun plasenta sudah lahir lengkap dan uterus berkontraksi baik. dll 3. khususnya robekan serviks uteri. Robekan perineum umumnya terjadi digaris tengah dan bias menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat. sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa sehingga kepala janin terpaksa lahir lebih ke belakang daripada biasa. Rupture uteri pada bekas luka uterus Terjadinya spontan atau bekas seksio sesarea dan bekas operasi pada uterus.1. 3. ekstraksi vakum. dan melemahkan otot-otot dan fasia pada dasar panggul karena diregangkan terlalu lama. Timbulnya ruptura uteri karena tindakan seperti ekstraksi farsep. Terjadi gangguan mekanisme persalinan sehingga menimbulkan ketegangan segmen bawah rahim yang berlebihan 2. Ruptur uteri trumatik a. perlu dipikirkan perlukaan jalan lahir. Terjadi spontan dan seagian besar pada persalinan b. sebaliknya kepala janin yang akan lahir jangan ditahan terlampau kuat dan lama. Robekan Serviks Persalinan selalu mengakibatkan robekan serviks. . kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipito-bregmatika. Robekan Perinium Robekan perineum terjadi pada semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. karena akan menyebabkan asfiksia dan pendarahan dalam tengkorok janin. Rupture Uteri 1. Terjadi pada persalinan b. Robekan serviks yang luas mengakibatkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawah uterus. Ruptura uteri spontan a. 2. sehingga serviks seorang multiparaberbeda daripada yang belum pernah melahirkan per vaginam.

Robekan jalan lahir Tanda dan Gejala yang selalu ada : 1. 3. tekanan darah menurun dan nafas pendek ( sesak ) Temuan pada palpasi abdomen tidak sama dengan temuan terdahulu Bagian presentasi dapat digerakkan diatas rongga panggul Janin dapat tereposisi atau terelokasi secara dramatis dalam abdomen ibu Bagian janin lebih mudah dipalpasi Gerakan janin dapat menjadi kuat dan kemudian menurun menjadi tidak ada gerakan dan DJJ sama sekali atau DJJ masih didengar . Rupture Uteri Tanda dan gejala ruptur uteri dapat terjadi secara dramatis atau tenang. yang sangat pada abdomen bawah saat kontraksi hebat memuncak Penghentian kontraksi uterus disertai hilangnya rasa nyeri Perdarahan vagina ( dalam jumlah sedikit atau hemoragi ) Terdapat tanda dan gejala syok. denyut nadi meningkat.Tanda dan Gejala 1. 2. Dramatis Nyeri tajam. Pucat Lemah Menggigil 2. 2. Pendarahan segera Darah segar yang mengalir segera setelah bayi hir Uterus kontraksi baik Plasenta baik Gejala dan tanda yang kadang-kadang ada 1. 3. 4.D.

Lingkar uterus dan kepadatannya ( kontraksi ) dapat dirasakan disamping janin ( janin seperti berada diluar uterus ). Tenang Kemungkinan terjadi muntah Nyeri tekan meningkat diseluruh abdomen Nyeri berat pada suprapubis Kontraksi uterus hipotonik Perkembangan persalinan menurun Perasaan ingin pingsan Hematuri ( kadang-kadang kencing darah ) Perdarahan vagina ( kadang-kadang ) Tanda-tanda syok progresif Kontraksi dapat berlanjut tanpa menimbulkan efek pada servik atau kontraksi mungkin tidak dirasakan DJJ mungkin akan hilang F.Penatalaksanaan Medis PENJAHITAN ROBEKAN SERVIKS   Tinjau kembali prinsip perawatan umum dan oleskan larutan anti septik ke vagina dan serviks Berikan dukungan dan penguatan emosional. Berikan petidin dan diazepam melalui IV secara perlahan (jangan mencampur obat tersebut dalam spuit yang sama) atau gunakan ketamin untuk robekan serviks yang tinggi dan lebar   Minta asisten memberikan tekanan pada fundus dengan lembut untuk membantu mendorong serviks jadi terlihat Gunakan retraktor vagina untuk membuka serviks. Anastesi tidak dibutuhkan padasebasian besar robekan serviks. jika perlu .

  Jika bagian panjang bibir serviks robek. jahit dengan jahitan jelujur menggunakan benang catgut kromik atau poliglikolik 0. buka forcep sebagian tetapi jangan dikeluarkan.  Tutup robekan serviks dengan jahitan jelujur menggunakan benang catgut kromik atau poliglokolik 0 yang dimulai pada apeks(tepi atas robekan) yang seringkali menjadi sumber pendarahan. yaitu : Tingkat I : Robekan hanya pada selaput lender vagina dan jaringan ikat Tingkat II : Robekan mengenai mukosa vagina. dan serviks secara cermat. PENJAHITAN ROBEKAN VAGINA DAN PERINIUM Terdapat empat derajat robekan yang bisa terjadi saat pelahiran. Selanjutnya : - Setelah 4 jam. Mungkin terdapat beberapa robekan. PENJAHITAN ROBEKAN DERAJAT I DAN II Sebagian besar derajat I menutup secara spontan tanpa dijahit. Gunakan anastesi lokal dengan lignokain. Letakkan forcep pada kedua sisi robekan dan tarik dalam berbagai arah secara perlahan untuk melihat seluruh serviks. Jangan terus berupaya mengikat tempat pendarahan karena upaya tersebut dapat mempererat pendarahan. jaringan ikat.     Tinjau kembali prinsip perawatan secara umum. Periksa vagina. Berikan dukungan dan penguatan emosional. jika perlu. Pegang serviks dengan forcep cincin atau forcep spons dengan hati–hati. Jika apeks sulit diraih dan diikat. Minta asisten memeriksa uterus dan memastikan bahwa uterus berkontraksi. keluarkan seluruh forcep. Gunakan blok pedendal. . Pertahankan forcep tetap terpasang selama 4 jam. pegang pegang apeks dengan forcep arteri atau forcep cincin. dan otot dibawahnya tetapi tidak menenai spingter ani Tingkat III : robekan mengenai trnseksi lengkap dan otot spingter ani Tingkat IV : robekan sampai mukosa rectum. perinium. Setelah 4 jam berikutnya.

Pada akhir penyuntikan. -Periksa permukaan rektum dan perhatikan robekan dengan cermat. tetapi hal tersebut jarang terjadi. Gunakan anastesi lokal dengan lignokain. inspeksi untuk memastikan bahwa tidak terdapat robekan derajat III dan IV. ketamin atau anastesi spinal.      Ganti sarung tangan yang bersih.5 % kebawah mukosa vagina. jika ada. Pastikan bahwa tidak alergi terhadap lignokain atau obat-obatan terkait. Periksa tonus otot atau kerapatan sfingter    Ganti sarung tangan yang bersih. steril atau DTT Jika spingter cedera. Masukkan jari yang memakai sarung tangan kedalam anus Angkat jari dengan hati-hati dan identifikasi sfingter. Gunakan blok pedendal. Masukan sekitar 10 ml larutan lignokain 0. perinium. Periksa vagina. steril atau yang DTT Oleskan larutan antiseptik kerobekan dan keluarkan materi fekal. tindak lanjuti dengan penjahitan PENJAHITAN ROBEKAN PERINEUM DERAJAT III DAN IV Jahit robekan diruang operasi   Tinjau kembali prinsip perawatan umum Berikan dukungan dan penguatan emosional. Penjahitan dapat dilakukan menggunakn anastesi lokal dengan lignokain dan petidin serta diazepam melalui IV dengan perlahan ( jangan mencampurdengan spuit yang sama ) jika semua tepi robekan dapat dilihat. - Jika robekan perinium panjang dan dalam. . kebah kulit perineum dan ke otot perinatal yang dalam.Masukkan jari yang memakai sarung tangan kedalam anus -Angkat jari dengan hati-hati dan identifikasi sfingter. Untuk melihat apakah spingter ani robek. Jika spingter tidak cedera.    Minta asisten memeriksa uterus dan memastikan bahwa uterus berkontraksi. Jika ibu dapat merasakan jepitan tsb. lihat bagian penjahitan robekan derajat III dan IV. tunggu selama dua menit kemudian jepit area robekan denagn forcep. tunggu dua menit algi kemudian lakukan tes ulang. dan serviks secara cermat. .

prinsipperawatan operasi dan pasang infus IV. Jika spingter robek Pegang setiap ujung sfingter dengan klem Allis ( sfingter akan beretraksi jika robek ). Buat insisi vertikal 2-3 cm di fasia. PERBAIKAN RUPTURE UTERUS    - Tinjau kembali indikasi. Berikan dosis tunggal antibiotik profilaksis. ganti sarung tangan yang bersih.5 cm untuk menyatukan mukosa.  - Buka abdomen Buat insisi vertikalgaris tengah dibawah umbilikus sampai kerambut pubis melalui kulit sampai di fasia. Gunakan jari atau gunting untuk memisahkan otot rektus (otot dinding abdomen ) Gunakan jari untuk membuka peritoneum dekat umbilikus. steril atau yang DTT. Tinjau kembali prinsip prawatan umum. Periksa anus dengan jari yang memakai sarung tangan untuk memastikan penjahitan rektum dan sfingter dilakukan dengan benar. Selubung fasia disekitar sfingter kuat dan tidak robek jika ditarik dengan klem. .  - Jahit rektum dengan jahitan putus-putus mengguanakan benang 3-0 atau 4-0 dengan jarak 0. Ampisilin 2g melalui IV.   Oleskan kembali larutan antiseptik kearea yang dijahit. Gunakan gunting untuk memperpanjang insisi ke atas dan ke bawah guna melihat seluruh uterus. Jahit sfingter dengan dua atau tiga jahitan putus-putus menggunakan benang 2-0. Gunakan gunting untuk memisahkan lapisan peritoneum dan membuka bagian bawah peritoneum dengan hati-hati guna mencegah cedera kandung kemih. otot perineum dan kulit. Pegang tepi fasia dengan forcep dan perpanjang insisi keatas dan kebawah dengan menggunakan gunting. Selanjutnya.  Jahit mukosa vagina. Atau sefazolin 1g melalui IV. Periksa area rupture pada abdomen dan uterus dan keluarkan bekuan darah.

Infuskan oksitoksin 20 unit dalam 1L cairan IV ( salin normal atau laktat ringer ) dengan kecepatan 60 tetes permenit sampai uterus berkontraksi.    Jika rupture terlalu luas untuk dijahit. Ikat setiap pembuluh darah yang mengalami pendarahan. Buat drain hematoma secara manual. bila perlu. gunakan jahitan berbentuk angka delapan. mobilisasi kandung kemih minimal 2cm dibawah robekan. ikat arteri yang cedera. Jika perdarahan tidak terkandali atau jika ruptur melalui insisi klasik atau insisi vertikal terdahulu. RUPTURE MELUAS SECARA LATERAL SAMPAI ARTERIA UTERINA   Jika rupture meluas secara lateral sampai mencederai satu atau kedua arteri uterina. Buka bagian anterior ligamentum atum uteri. Jika memungkinkan. Jika ibu meminta ligasi tuba. . Pegang tepi pendarahan uterus denganklem Green Armytage ( forcep cincin ) Pisahkan kandungan kemih dari segmen bawah uterus dengan diseksi tumpul atau tajam. Inspeksi area rupture secara cermat untuk mengetahui adanya cedera pada arteria uterina atau cabang-cabangnya. RUPTURE DENGAN HEMATOMA LIGAMENTUM LATUM UTERI     Jika rupture uterus menimbulkan hematoma pada ligamentum latum uteri.   Lahirkan bayi dan plasenta. buat jahitan lapisan kedua. potong dan ikat ligamentum teres uteri. gunakan gunting runcing. kemudian kurangi menjadi 20 tetes permenit. Identifikasi arteri dan ureter sebelum mengikat pembuluh darah uterus. RUPTURE SAMPAI SERVIKS DAN VAGINA   Jika uterus robek sampai serviks dan vagina. tindak lanjuti dengan histerektomi. lakukan prosedur tsb pada saat ini.\ Kontrol pendarahan dalam. Periksa bagian depan dan belakang uterus. Jika kandung kemih memiliki jaringan parut sampai uterus. PENJAHITAN ROBEKAN UTERUS  Jahit robekan dengan jahitan jelujur mengunci (continous locking ) menggunakan benang catgut kromik (atau poliglikolik)0.     Angkat uterus keluar panggul untukmelihat luasnya cedera.- Letakkan retraktor abdomen. buat jahitan sepanjang 2cm diatas bagian bawah robekan serviks dan pertahankan traksi pada jahitan untuk memperlihatkan bagian-bagian robekan jika perbaikan dilanjutkan. pasang klem.

Keluarkan bekuan darah dengan menggunakn spons. BAB III PENUTUP A. Hal ini dapat diatasi apabila seorang tenaga kesehatan dapat mengelolanya dengan baik. Tutup fasia engan jahitan jelujur menggunakan benang catgut kromik (poliglikolik) 0. Baik itu berupa robekan perinium. robekan serviks atau rupture uteri.com dikumpulkan oleh RW. periksa adanya cedera pada kandung kemih. Sumber : koleksi Mediague. sebagai akibat persalinan. Jka teridentifikasi adanya cedera kandung kemih. B.Kesimpulan Kami dapat menyimpulkan bahwa perlukaan pada jalan lahir. Jika terdapat tanda-tanda infeksi. menerapkan konsep asuhan kebidanan kepada klien dengan perlukaan jalan lahir. Bagi Mahasiswa Mahasiswa diharapkan agar dapat mengerti tentang robekan jalan lahir sampai dengan bagaimana manifestasi klinik dan penatalaksanaan medisnya.Saran 1.Hapsari . Bagi Tenaga Kesehatan Diharapakan mampu mengerti tentang robekan jalan lahir dan dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi klien serta mampu memberikan asuhan secara komprehensif.wordpress.  - Pasang drain abdomen Tutup abdomen. terutama pada seorang primipara. tutup kulit dengan jahitan matras vertikal menggunakan benang nelon ( sutra ) 3-0 dan tutup dengan balutan steril. 1. Jika tidak terdapat tanda-tanda infeksi. Tutup kulit dengan penutupan lambat setelah infeksi dibersihkan. tutup jaringan subcutan dengan kasa dan buat jahitan longgar menggunakan benang catgut ( poligkolik ) 0. Pada semua kasus. perbaiki cedera tsb. Pastikan tidak ada pendarahan.