P. 1
Pengelolaan Ka Larva Udang Vannamei

Pengelolaan Ka Larva Udang Vannamei

|Views: 149|Likes:
Published by Aziz Zacky

More info:

Published by: Aziz Zacky on Apr 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/01/2013

pdf

text

original

ABDUL AZIZ ZAQQI AKADEMI PERIKANAN SIDOARJO 2012

Tujuan dari Kerja Praktek Akhir ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta memperoleh data teknis dan ekonomis tentang pengelolaan kualitas air pada pemeliharaan larva udang vannamei di PT. Central Pertiwi Bahari, Situbondo.

 Kegiatan Kerja Praktek Akhir ini telah dilaksanakan dari tanggal 12 Maret 2012 sampai dengan 12 Mei 2012 di PT. Central Pertiwi Bahari, Desa Pecaron, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur.  Metode untuk mendapatkan data dan pengetahuan adalah metode survei. Sedangkan untuk memperoleh keterampilan menggunakan pola magang.

 Sebelumnya : PT. BAJA (Benur Abadi Jaya Sentosa).  dibeli oleh PT. Charoen Pokphand pada bulan Oktober tahun 2005 dan berganti nama menjadi PT. CPB Situbondo.  luas skala usaha 13.785 m2 (1,4 Ha).  Produksi/tahun : 500.000.000 ekor benur.

Air tawar diperoleh dari air artesis hasil pengeboran tanah yang ditampung terlebih dahulu pada bak reservoir air tawar untuk dilakukan treatment dengan menggunakan kaporit 25 ppm dan EDTA 10 ppm. Bak reservoir berjumlah empat set yang masing-masing berkapasitas 40 ton. Pengeboran dilakukan sedalam 100 meter, penyedotan airnya menggunakan dinamo 5,5 PK melalui pipa 3” ke atas tower yang berkapasitas 15 ton dan diisi dengan air sebanyak 10 ton

Sumber air laut di PT. CPB Situbondo diambil dari selat Madura dengan pompa house (daya 20 KHV). Guna memenuhi kebutuhan air laut yang jernih dan bersih maka dilakukan dengan pemasangan pipa berdiameter 4’’ cm sejauh ± 200 m dari bibir pantai kearah tengah laut pada kedalaman ± 10 - 14 m yang dilengkapi dengan pemberat agar pipa tidak mudah bergeser. Selanjutnya air laut dipompa ke lokasi pembibitan dengan terlebih dahulu melalui treatment diantaranya yaitu penyaringan fisik melalui sand filter, pressure filter dan ozonisasi.

Bak yang digunakan terbuat dari bahan beton berbentuk persegi dengan kemiringan 2 - 5 % berkapasitas berbeda yaitu 50 ton jumlah bak 28 unit dan 30 ton berjumlah 14 unit. Persiapan bak pemeliharaan yang dilakukan meliputi pencucian tahap I dan pencucian tahap II. Pada pencucian tahap I, bak dicuci menggunakan detergen 5000 ppm kemudian dinding dan dasar bak digosok dengan scouring pad lalu dibilas air tawar. Selang waktu satu hari, ruang pemeliharaan larva dilakukan fungigasi. Fungigasi merupakan proses untuk sterilisasi ruangan yang bertujuan untuk menghambat atau membunuh organisme penyebab terjadinya penyakit.

Setelah melakukan fungigasi, dilanjutkan dengan pencucian tahap II dengan perlakuan yang sama seperti tahap I. Setelah itu membilas dinding bak dengan iodine 1 ppm, lalu dikeringkan. Kemudian bak dibilas menggunakan larutan formalin dosis 1000 ppm dan dilakukan proses pengeringan ulang.

• Pemasangan Aerasi Pemasangan aerasi ini mutlak diperlukan selama proses produksi. Hal ini disebabkan aerasi mempunyai peranan yang vital terutama dalam penyediaan oksigen, selain itu aerasi juga membantu dalam pemerataan pakan buatan yang diberikan pada larva, perombakan senyawa dalam bak, dan menekan pengendapan partikel pada dasar bak. Selang aerasi disterilisasi dengan cara perendaman menggunakan larutan formalin 150 ml per 100 L air tawar selama 3 jam sebelum digunakan, lalu dibilas dengan air tawar. Timah dan batu aerasi direndam dengan larutan H2O2 10 ml per 10 L air tawar selama 3 jam. Pemasangan aerasi dilakukan setelah bak dicuci dan dikeringkan. Aerasi diberikan secara terus-menerus dan dialirkan melalui pipa paralon berdiameter 1 ½ inch. Pada bak pemeliharaan larva dipasang 108 titik aerasi dengan jarak antara titik aerasi yaitu 50 cm. Dalam bak pemeliharaan, batu aerasi dipasang hingga menempel pada dasar bak pemeliharaan, agar suplay oksigen dapat masuk sampai ke dasar bak

• Persiapan Sand Filter dan Pressure filter Proses ini diawali dengan pencucian material yang ada didalam sand filter yaitu pasir, batu split, batu kali dan arang batok. Pasir yang digunakan merupakan pasir khusus dengan tekstur yang sangat lembut menyerupai gula pasir. Pencucian pasir diawali dengan pemindahan pasir ke dalam bak pencucian pasir, kemudian dialiri air laut menggunakan selang spiral dengan debit 1 liter/detik sambil diaduk sampai kotoran terlihat bersih. Selanjutnya pasir dimasukkan dalam bak fiber dan dikeringkan di bawah sinar matahari. Sedangkan pressure filter sebelum digunakan direndam dengan larutan kaporit 1,5 kg. Pembongkaran sand filter dan pressure filter biasanya dikeringkan selama satu siklus, maka dari itu harus mempunyai masing-masing dua set agar dapat digunakan secara bergantian.

Pengisian air media pemeliharaan ini dilakukan dengan cara mengalirkan air media dari bak penampungan ke bak pemeliharaan larva yang berukuran 4 x 6 x 2,08 m3 melalui pipa paralon. Pada awal pemeliharaan bak diisi air laut sebanyak 20 ton (40%) dari kapasitas bak pada jam 16.00 dengan salinitas 32 ppt, suhu 29 °C - 30 °C, DO 5,0 - 5,2, total bakteri 0 cfu/ml, nitrit 0 ppm, ammonia 0 ppm, pH 7,2 - 8,2. Air disaring menggunakan filter bag, sehingga diharapkan air yang digunakan dalam keadaan bersih. Tahapan selanjutnya, air media pemeliharaan disterilisasi menggunakan larutan klorin 6,5 ppm dengan tujuan untuk membunuh bibit penyakit yang terdapat pada air media. Pada pukul 04.00 dinihari, air media pemeliharaan diberi vitamin C dengan dosis 5 ppm dikarenakan vitamin C mampu menangkal berbagai radikal bebas dan merupakan nutrisi yang larut dalam air serta mudah dikeluarkan dari tubuh udang ketika tidak diperlukan. Pada jam 07.00 diberikan menggunakan natrium thiosulfat 5 ppm yang bertujuan untuk menetralkan zat klor serta diberi aerasi kuat dengan tujuan untuk meratakan larutan klorin dan natrium thiosulfat pada air media serta mempercepat proses penguapan klorin.

Untuk mengetahui kenetralan air media menggunakan test kit, jika air sampel tidak berubah menjadi warna kuning maka air media dalam keadaan netral. Setelah air netral ditambahkan EDTA 20 ppm, hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan/mengikat kotoran dan logam berat. Tahap selanjutnya, air media ditreatment kembali menggunakan vitamin C dengan dosis 4 ppm. Lalu pada pukul 08.00 ditambahkan Probiotik Pro Z dengan dosis 10 ppm dan Epicin D dengan dosis 5 ppm. Sebelum naupli ditebar, media pemeliharaan diberikan algae dengan kepadatan 80.000 cell/ml. Hal ini bertujuan agar pada saat naupli ditebar ke media pemeliharaan sudah ada stock pakan alami.

Penebaran nauplius dilakukan pada pagi hari pukul 09.00 dengan tujuan untuk menghindari perubahan suhu yang terlalu tinggi dengan cara aklimatisasi 30 menit. Aklimatisasi ini bertujuan untuk menyesuaikan naupli dengan perubahan kondisi lingkungan air di bak pemeliharaan larva. Nauplius yang ditebar adalah naupli (N5 – 6), hal ini bertujuan agar menekan gangguan proses metamorfosis sekecil mungkin dari stadia naupli ke stadia Z1. Sebelum naupli ditebar dalam bak pemeliharaan, terlebih dahulu dilakukan perendaman dengan larutan iodine 50 ppm selama tiga menit. Padat penebaran naupli pada tiap bak pemeliharaan berbeda-beda, sesuai dengan stock naupli pada pengelolaan induk. Padat penebaran naupli di PT. CPB Situbondo berkisar antara 150 - 250 ekor/liter atau 150.000 - 250.000/m3.

• Split Larva Split larva yaitu memindahkan larva udang vannamei dari satu bak ke bak yang lain dengan cara membagi dua bagian hal ini dilakukan untuk memperoleh kondisi air yang lebih baik serta memperkecil resiko terjadinya kematian. Split tersebut dilakukan pada saat stadia PL5 karena dirasa pada saat stadia ini kondisi kepadatan larva menjadi menurun, air bak kotor, dan pertumbuhan larva dirasa sangat lambat. Sebelum split larva dilakukan, maka perlu dipersiapkan alat dan bahan yaitu : dua bak larva baru, kotak pemanenan benur, scoop net bermata saring 0,5 - 1 mm, seser, ember.

Langkah pertama yang dilakukan adalah pada saat PL3 salinitas media diturunkan menjadi 30 ppt dan bak larva yang baru diisi air sampai 40 ton, kemudian beri plankton Caetocheros sp. dengan tujuan agar sinar matahari yang masuk tidak langsung menembus larva yang baru dipindah kemudian aerasi dihidupkan. Melakukan sampling dengan tujuan dapat menentukan kepadatan larva, sehingga pertumbuhan larva tidak sampai terhambat. Setelah selesai melakukan transfer larva, air media pemeliharaan diberi Praise VS 100 dengan dosis 4 ppm dengan tujuan yaitu untuk menjaga kestabilan kualitas air dikarenakan mempunyai kandungan bakteri nitrogen yang mampu mengikat nitrogen dari udara bebas dan merubahnya menjadi senyawa menguntungkan.

Pengelolaan Pakan
Algae DOC Stadia Tetra (ton)
AM 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 N Z1 Z2 Z3 ZM M1 M2 M3 PL1 PL2 PL3 PL4 PL5 PL6 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 PM Chaeto (Cell/ml) AM PM 80 200 200 200 180 150 120 80 80 50 50 250 250 250 180 180 150 120 50 50 pop 10 9 8 8 7 7 7 6 6 6 6 6 6 6 25 40 85 110 140 180 210 240 270 310 380 410 440 70 % LHF,15% SP,15% CP.OO 70 % LHF,15% SP,15% CP.OO 70 % LHF,15% SP,15% CP.OO 70 % LHF,15% SP,15% CP.OO 30 % LHF,10% Flake,60% CP.O1 30 % LHF,10% Flake,60% CP.O1 30 % LHF,10% Flake,60% CP.O1 20 % Flake,80% CP.O2 20 % Flake,80% CP.O2 15 % Flake,80% CP.O2 15 % Flake,80% CP.O2 10 % Flake,90% CP.O3 10 % Flake,90% CP.O3 50 100 150 200 250 250 220 220 200 160 50 Gr / juta

Pakan Buatan
Prosentase

Artemia
Segar Biomas

Gr / juta

750 1.000

2 - 3 cell / ml

15 16 17 18 19 20

PL7 PL8 PL9 PL10 PL11 PL12

6 6 6 6 6 6

500 530 560 650 700 730

10 % Flake,90% CP.O3 10 % Flake,90% CP.O3 10 % Flake,90% CP.O3 10 % Flake,90% CP.O3 10 % Flake,90% CP.O3 10 % Flake,90% CP.O3

50 50 50

1.000 1.000 1.000 250

• Pakan Alami Ada beberapa jenis pakan alami yang digunakan di PT. Central Pertiwi Bahari Situbondo, baik zooplankton maupun phytoplankton. Dari jenis pakan alami tersebut yang sering digunakan di antaranya : Artemia salina, Tetrasalmis chui dan Chaetoceros ceratos. Kultur Chaetoceros ceratos dan Tetraselmis chui yang dilakukan di PT. Central Pertiwi Bahari Situbondo adalah dengan cara kultur murni, kultur semi massal dan kultur massal. Sedangkan kultur untuk Artemia dengan cara dekapsulasi. Pada pembenihan udang vannamei pakan alami yang berupa plankton sangat diperlukan udang dikarenakan keberadaanya dapat bermanfaat sebagai penghasil O2 dalam air.

• Pakan Buatan Pakan buatan merupakan suatu alternatif yang penyediaannya secara kontinyu memungkinkan dan dapat digunakan sebagai pengganti atau pelengkap makanan alami. Sehingga pakan buatan yang digunakan harus mempunyai kandungan gizi yang tinggi untuk memacu pertumbuhan larva udang. Jenis dan ukuran pakan buatan yang diberikan pada larva udang vannamei berbeda - beda tergantung pada tingkatan stadia larva. Semakin tinggi tingkat stadia larva maka jenis dan ukuran pakan buatan yang diberikan semakin besar. Jenis pakan buatan yang digunakan di PT. CPB Situbondo terdiri dari pakan cair, powder, dan serbuk.

Sand filter

Pressure Filter

Ozonisasi

Dalam menjaga kualitas air media pemeliharaan tetap pada kondisi yang baik, maka dilakukan pergantian air dengan cara melakukan pengurangan dan penambahan air dengan tujuan untuk mengurangi endapan pada dasar bak pemeliharaan larva. Proses pergantian air ini dilakukan berdasarkan standard yang telah ditentukaDi PT. CPB Situbondo proses pergantian air dilakukan setelah mencapai stadia zoea mysis yaitu stadia zoea yang akan menjadi mysis atau sekitar 5 hari setelah penebaran naupli sampai dengan panen berkisar 10 - 100 % dari volume wadah yang terisi. Hal ini juga dilakukan berdasarkan pengamatan warna perairan secara visual bila terjadi blooming plankton atau banyak larva yang mati pada setiap stadia.

Pemberian probiotik di PT. CPB Situbondo juga dilakukan guna memperbaiki kualitas air dan menghambat pertumbuhan pathogen pada larva udang serta meningkatkan dekomposisi senyawa organik yang tidak diharapkan. Probiotik yang digunakan yaitu dengan merk dagang Pro-Z diberikan mulai stadia N1 - M3 dosis 10 ppm dan Epicin D diberikan mulai stadia ZM - PL3 dosis 6 ppm.

• Rata-rata menunjukkan angka 32 0C. • Haliman dan Adijaya (2005), yang menyatakan bahwa suhu optimal untuk pertumbuhan udang antara 26 0C - 32 0C.

• Rata-rata hasil pengukuran selama bulan MaretApril menunjukkan nilai 32 ppt. • Badan Standardisasi Nasional (BSN) (2009), yang menyatakan bahwa tingkat salinitas yang baik untuk larva udang adalah 29 - 34 ppt.

• Merupakan singkatan dari puissance negatif de H. • Rata-rata menunjukkan nilai 7,6. • Badan Standardisasi Nasional (BSN) (2009), yang menyatakan bahwa nilai pH yang baik untuk pemeliharaan larva udang vannamei adalah 7,5 - 8,5.

• Nilai DO rata-rata menunjukkan angka 6 ppm. • Kordi dan Andi (2007), bahwa kadar oksigen pada pemeliharaan larva udang vannamei adalah > 5 ppm.

• Rata-rata pengukuran tersebut menunjukkan nilai 158,62 mg/l. • Bak A1 stadia PL5 Bulan April 2012 = 240,0 mg/l. Effendi (2003), yang menyatakan bahwa kisaran alkalinitas yang optimal bagi pertumbuhan larva udang vannamei adalah 75 - 200 mg/l.

• Nilai ammonia selama dua bulan rata-rata menunjukkan angka 0,35 mg/l. Bak A2 Maret 2012 menunjukkan angka 2,1 mg/l • Badan Standardisasi Nasional (BSN) (2009), total ammonia dalam air pemeliharaan larva udang vannamei maksimal 3,0 mg/l.

• Rata-rata pengukuran tersebut menunjukkan nilai 0,0 - 1,1 mg/l. Bak A1 Maret 2012 = 1,12 mg/l • Badan Standardisasi Nasional (BSN) (2009), kadar nitrit maksimal pemeliharaan larva udang vannamei adalah 0,25 mg/l.

• Pada Bulan Maret, kualitas air bak pemeliharaan A1 dan A2 cenderung lebih menurun dibandingkan Bulan April. Ini dikarenakan pada Bulan Maret cuaca sering berubah-ubah. • Tingkat batasan maksimal kualitas air terjadi pada stadia PL5. Maka dari itu di PT. CPB Situbondo menerapkan sistem pergantian air hingga 100% yaitu dengan cara memindahkan larva ke bak baru.

Perkembangan Larva

Larva udang dipanen pada stadia PL dengan panjang rata - rata 8,51 mm.

12 - 13

Pengamatan kondisi larva di PT. CPB Situbondo dilakukan sejak penebaran nauplius dan setiap pergantian stadia. Penilaian kesehatan larva udang dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu teknik pengamatan tingkat I, II, dan III. Teknik pengamatan tingkat I adalah mengamati udang dan lingkunganya berdasarkan sifat-sifatnya yang menyolok. Teknik pengamatan tingkat II adalah pemeriksaan lebih lengkap menggunakan mikroskop cahaya dengan pewarnaan atau tanpa pewarnaan, dan pemeriksaan bakteriologi dasar. Sedangkan teknik penilaian tingkat III adalah penggunaan metode yang lebih kompleks seperti teknik molekul PCR, dot blot, dan lain-lain.

Pengamatan tingkat satu dilakukan dengan cara pengamatan kondisi larva udang secara visual (makroskopis) dan stress test. Pengamatan makroskopis dilakukan dengan mengambil sampel langsung dari bak pemeliharaan dengan gelas kaca bening kemudian diarahkan ke cahaya untuk melihat kondisi tubuh larva, pigmentasi, usus, dan sisa pakan kotoran atau feses. Ada dua tipe stress test yang biasa digunakan di PT. CPB Situbondo adalah menggunakan formalin dan salinitas. Formalin 37% digunakan dalam test ini dikarenakan formalin dianggap sebagai senyawa yang mengakibatkan cekaman bagi larva udang. Test dengan formalin tersebut hanya dilakukan pada larva udang stadium PL6 dan PL7. Jumlah yang lolos untuk dipanen adalah jika hasil lebih dari 95%. Salinitas stress test bertujuan untuk menyeleksi udang yang sehat. Karena udang yang mampu lolos dari salinitas stress test dianggap sehat dan mampu bertahan saat ditebar ditambak yang kemudian mengalami perubahan habitat dari salinitas tinggi ke salinitas rendah.

• Pengamatan tingkat dua dilakukan secara mikroskopik dengan cara mengambil beberapa ekor larva dan diletakkan di atas gelas objek, kemudian diamati di bawah mikroskop. Pengamatan ini dilakukan dibagian QC (quality control). Pengamatan morfologi tubuh larva pada stadium postlarva antara lain vakuola lipid pada hepatopankreas dan usus tengah, prosentase biolitas pada hepatopankreas, isi usus larva, perbandingan Gut Muscle Ratio, ada atau tidaknya nekrosis, abnormalitas anggota tubuh larva, ada atau tidaknya pengotor berupa protozoa pada larva.

Pada pengamatan tingkat tiga yaitu dilakukan lebih spesifik lagi dengan cara mengetahui jenis penyakit menggunakan alat PCR. Di PT. CPB Situbondo sudah menerapkan teknik tersebut tetapi hasilnya hanya diketahui oleh lingkup perusahaan itu sendiri.

Pakan Alami Jenis Dosis, Frekuensi Cara Pemberian Cara Kultur

Pengelolaan Kualitas Air
Pengelolaan Baik Kualitas Air Baik Nafsu makan tinggi Pertumbuhan Cepat

Panen Baik
SR Tinggi Kualitas Benur Tinggi Panen Gagal

Pengelolaan Jelek Pakan Buatan Kualitas Air jelek Pertumbuhan Lambat

SR Rendah Kualitas Benur Rendah

Jenis
Dosis, Frekuensi Cara Pemberian

Timbul Penyakit

Ukuran Benur PL4 – PL5

Jumlah Benur 3500 – 4000

PL8 – PL12

2500 – 3000

• Pendapatan Kotor / Gross Farm Income (GFI)
GFI = P x Q = Rp 35/ekor x 75.936.460 ekor = Rp 2.657.776.100

• Margin Kotor / Gross Margin (GM)
GM = GFI – TVC = Rp 2.657.776.100 - Rp 868.300.000 = Rp 1.789.476.100

• Pendapatan Bersih / Net Income (NI)
NI = GFI – (TVC + TFC) = Rp 2.657.776.100 – (Rp 868.300.000 + Rp 123.319.716) = Rp 1.666.156.384

• Penghasilan Bersih / Net Earning (NE)
NE = GFI – (TVC + TFC + BK) = Rp 2.657.776.100 – (Rp 868.300.000 + Rp 123.319.716 + Rp 24.562.149,67) = Rp 1.641.594.234,07

• Imbalan Kepada Milik Sendiri / Return to Equaity Capital (REC)
REC = GFI – (TVC + TFC + BK + NTKK) = Rp 2.657.776.100 – (Rp 868.300.000 + Rp 123.319.716 + Rp 24.562.149,67 + Rp 0) = Rp 1.641.594.234,07

• Imbalan Terhadap Seluruh Modal / Return to Total Capital (RTC)
RTC = GFI – (TVC + TFC + NTKK) = Rp 2.657.776.100 – (Rp 868.300.000 + Rp 123.319.716 + Rp 0) = Rp 1.666.156.384

• Keuntungan / Profit (π)
π = GFI – (TVC + TFC + BK + NTKK + BMMS) = Rp 2.657.776.100 – (Rp 868.300.000 + Rp 123.319.716 + Rp 24.562.149,67 + Rp 0 + Rp 40.068.190) = Rp 1.601.562.044,07

• Perhitungan R/C
R/C = Revenue/Cost = 2.657.776.100 1.058.926.306 = 2,5 (Untung)

• Pengelolaan kualitas air pada pemeliharaan larva udang vannamei di PT. Central Pertiwi Bahari Situbondo sudah baik, hal ini dapat dilihat dari hasil pengukuran kualitas air yang sesuai berdasarkan standard kualitas air PT. CPB Situbondo. • Dalam 1 siklus diperoleh jumlah naupli 152.239.263 ekor dan menghasilkan benur PL4 - PL5 dan PL8 - PL12 sebanyak 75.936.460 ekor dengan 50 %, Berdasarkan analisis performance diperoleh R/C >1 yaitu 2,5 dengan keuntungan sebesar Rp 1.598.847.794,07/siklus

PL 4 - 12 April 2012 Per Tank Asal
Origin A5 A6 A7 A8 A1 A2 A3 A4 A9 A10 A12 A14 A15 A16 Total Tebar Naupli SR Harvested Netto SJ 5.167.200 3.699.200 5.908.100 5.037.600 7.356.680 7.223.700 7.719.880 6.815.400 5.236.800 3.000.000 3.812.000 5.261.000 5.891.600 3.807.300 75.936.460

14.353.333 0,36 8.807.619 0,42 10.550.179 0,56 10.951.304 0,46 18.863.282 0,39 16.417.500 0,44 13.543.649 0,57 12.170.357 0,56 9.187.368 0,57 6.666.667 0,45 6.572.414 0,58 8.350.794 0,63 9.351.746 0,63 6.453.051 0,59 152.239.263 0,515

No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Level Ozon
Level 1 Level 2 Level 3 Level 4 Level 5 Level 6 Level 7 Level 8 Level 9 Level 10 Level 11 Level 12 Level 13 Level 14 Level 15

Redoks Potensial
304 mV 350 mV 356 mV 474 mV 527 mV 535 mV > 700 mV

Kegunaan
Treatment untuk pakan alami dan pemeliharaan induk udang vannamei

Treatment air untuk pemeliharaan larva udang vannamei

Untuk peracunan filter gravitasi

• ORP adalah ukuran kebersihan air & kemampuannya untuk

memecah kontaminan. Nilai ORP adalah suatu cara sederhana untuk menentukan lingkungan bagi mikroorganisme untuk bertahan hidup lingkungan berair. • Redoks adalah singkatan Oksidasi Reduksi. Yakni ukuran dari kapasitas sistem untuk mengoksidasi bahan. Redoks diukur secara tidak langsung sebagai kemampuan dari suatu sistem air untuk menghantarkan listrik, dalam milivolt (mV, 1/1000 dari volt). • Potensial redoks adalah nilai (angka) mendefinisikan berapa banyak memperoleh / kehilangan sistem yang mungkin dilakukan. http://web1.reefcentral.com/forums/showthread.php?t=1279 290 http://www.ozoneapplications.com/info/orp.htm

PETUNJUK PENGOPRASIAN MESIN SPEKTROPHOTOMETER TURNER TIPE 390 MENYALAKAN MESIN •Tancapkan stop kontak ke sumber energi listrik •Sebelum menyalakan mesin pindah panjang gelombang ke panjang gelombang yang diinginkan •Hidupkan spectrophotometer dengan memutar tombol on/off dari posisi OFF ke posisi T. artinya spectrophotometer ada pada mode % transmisi •Biarkan selama 15-30 menit untuk mendapatkan temperature pengukuran yang diperlukan •Masukkan DW ke dalam cuvet (d = 1 cm), kemudian masukkan ke dalam holder cuvet hingga dasar. Tutup holder cuvet lalu set 0 pada spectrophotometer
Analisis Panjang Gelombang K

Nitrit-Nitrogen
H2s Amonia-Nitrogen Alkalinitas

510 NM
670 NM 640 NM

1,765
0,576 1,452 X = 95,238

• •

• •

SET 0 PADA SPECTROPHOTOMETER Tekan dan tahan (jangan dilepas) tombol zero set Putar tombol zero ke kanan atau ke kiri sampai layar display terlihat angka 0 Lepaskan tombol zero set Set % transmitan dengan memutar tombol 100%T/OA sampai pada layar tampak angka 100.0 Putar tombol on/off sekali lagi ke mode A (absorbance). Pada layar akan tampak angka .000. jika tidak tepat angka .000 maka atur nilainya sampai mendapatkan nilai tepat .000 dengan memutar tombol 100%T/OA Selanjutnya cuvet dikeluarkan dari holder. Ganti DW dengan standar atau sampel yang akan diukur. Spectrophotometer siap digunakan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->