MATRIKS PERBANDINGAN UNDANG-UNDANG NO.5 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK PEMERINTAHAN DI DAERAH , UNDANG-UNDANG NO.

22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DAN UNDANG-UNDANG NO.32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
NO UNDANG-UNDANG NO.5 TAHUN 1974 UNDANG-UNDANG NO.22 TAHUN 1999 UNDANG-UNDANG NO.32 TAHUN 2004 KETERANGAN TENTANG POKOK-POKOK TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DI DAERAH (sudah tidak berlaku) (sudah tidak berlaku) Menimbang • Untuk mengganti Undang-Undang No. • Untuk mengganti Undang-Undang No. 5 • Untuk mengganti Undang-Undang No. 22 Tahun • Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang tidak Pemerintahan Daerah merupakan Pemerintahan Daerah (Lembaran Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang sesuai lagi dengan perkembangan Keadaan, pengganti dari Undang-Undang No.22 Negara Tahun 1965 Nomor 83; tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan Tahun 1999 tentang Pemerintahan Derah. Tambahan Lembaran Negara Nomor Daerah dan Undang-Undang No. 5 Tahun otonomi daerah • Undang-Undang No. Tahun 22 Tahun 1999 2778). 1979 tentang Pemerintahan Desa, karena tentang Pemerintahan Daerah merupakan tidak sesuai lagi dengan prinsip pengganti dari Undang Undang No.5 Tahun penyelenggaraan otonomi daerah, keadaan 1979 tentang Pemerintahan Desa dan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. 2. Mengingat • Pasal 5 ayat (1), 18, dan 20 Ayat (1) • Pasal 1 ayat (1), Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, • Pasal 1, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 18, Pasal 18 A, UUD RI Tahun 1945; dan Pasal 20 ayat (1) UUD 1945; Pasal 18 B, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22 D, • Ketetapan MPR RI No. IV/MPR/1973 • Ketetapan MPR- RI No. X/MPR/1998 tentang Pasal 23E ayat (2), Pasal 24A ayat (1), Pasal 31 tentang GBHN ; Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan dalam ayat (4), Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945; Rangka Penyelamatan dan Normalisasi • UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara • Ketapan MPR RI No. V/MPR/1973 tentang Peninjauan Produk-Produk Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara; Negara yang Bersihdan Bebas dari Korupsi, yang berupa Ketatapan-Ketatapan • Ketetapan MPR-RI No XI/MPR/1998 tentang Kolusi dan Nepotismo • UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan MPRS-RI; • UU No. 10 Tahun 1964 tentang Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme; Negara • Ketetapan MPR-RI No XV/MPR/1998 tentang • UU No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan Pernyataan daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya sebagai Ibukota Negara Penyelenggaraan Otonomi Daerah; Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Republik Indonesia dengan nama Pengaturan, Pembagian dan Pemanfaatan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Jakarta; Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan; Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah • UU Nomor 6 Tahun 1969 tentang serta Perimbangan Keuangan Pusat dan • UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Pernyataan tidak berlakunya berbagai Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Negara Undang-Undang dan Peraturan Republik Indonesia; • UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan • UU Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan Pemerintah Pengganti UndangPeraturan Perundang-undangan Undang; dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan

1.

Penyelenggara Negara yang Bersih dan

• UU Nomor 16 tahun 1969 tentang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) • UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Susunan dan Kedudukan MPR, DPR Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan dan DPRD; Negara

3

Pengertian

Pasal 1 1. Pemerintah Pusat;

Terdapat Semua pengertian yang terdapat dalam Terdapat semua pengertian yang terdapat dalam Selain adanya tambahan pengertian-pengertian UU No.5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan UU N0. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan yang secara teknis digunakan dalam 2. Desentralisasi; Daerah, akan tetapi terdapat penabahan, Daerah, akan tetapi terdapat beberapa perubahan Pemerintahan Daerah, terdapat juga perbedaan 3. Otonomii Daerah; Pengurangan dan perubahan, yaitu: dan penambahan pengertian, yaitu : pendefinisian tentang : 4. Tugas Pembantuan; • Pejabat yang berwenang (perubahan) • Pejabat yang berwenang (perubahan) ; Pejabat yang berwenang : 5. Derah Otonom; • Urusan Pemerintahan Umum • Kawasan Perkotaan (perubahan) • dalam UU Nomor 5 Tahun 1974, Pejabat Yang 6. Dekonsentrasi; Berwenang adalah pejabat yang berwenang (pengurangan): • Kawasan Pedesaan ( perubahan) 7. Wilayah Administratip; • Polisi Pamong Praja (pengurangan); mensahkan, membatalkan dan • Pemerintah Desa (penambahan) 8. Instansi Vertikal; menangguhkan Peraturan Daerah atau • Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Badan Perwakilan Desa (penambahan) ; 9. Pejabat yang Berwenang; Keputusan Kepala Daerah, yaitu Mendagri • Dewan Perwakilan Rakyat Daerah • Perimbangan Keuangan antara Pemerintah 10. Urusan Pemerintahan Umum; bagi Daerah Tingkat I dan Gubernur Kepala (penambahan); Daerah (penambahan) ; 11. Polisi Pamong Praja; Daerah bagi daerah Tingkat II, sesuai • Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Dana Perimbangan (penambahan) ; 12. Investasi. peraturan perundang-perundangan yang • Kecamatan (penambahan) ; • Keuangan Daerah (penambahan) berlaku ; • Kelurahan (penambahan) ; • APBD (penambahan) ; • dalam UU No 22 Tahun 1999 Pejabat Yang • Desa (penambahan) ; • Pendapatan Daerah (penambahan) ; Berwenang adalah , pejabat Pemerintah di • Kawasan Perdesaan (penambahan) ; • Belanja Daerah (penambahan) ; tingkat Pusat dan atau pejabat Pemerintah di • Kawasan Perkotaan (penambahan). • Pembiayaan (penambahan) Daerah Propinsi yang berwenang membina • Pinjaman Daerah (penambahan) dan mengawasi penyelenggaraan • Kawasan Khusus (penambahan) ; Pemerintahan Daerah • Bakal calon Kepala Daerah dan Wakil • dalam UU No 32 Tahun 2004 Pejabat Yang Kepala Daerah (penambahan) ; Berwenang adalah Pejabat Pemerintah yang • Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil berwenang mengesahkan atau menyetujui, Kepala Daerah (penambahan) ; menangguhkan dan membatalkan kebijakan • Komisi Pemilihan Umum Daerah daerah dan/atau mengangkat, (penambahan); memberhentikan, mengesahkan, menyetujui, • Panitia Pemilihan Kecamatan membina dan mengawasi pelaksana (penambahan); penyelenggaraan Pemerintah Daerah • Kampanye pemilihan kepala daerah dan dan/atau pejabat pemerintah pada wakil kepala daerah (penambahan) pemerintahan Daerah Provinsi yang berwenang membina dan mengwasai pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah Kabupaten dan Kota. UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberikan pengertian yang lebih lengkap dan jelas dari Undang-Undang sebelumnya sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.

4 Pembagian Wilayah Pasal 2 Pasal 2 Pasal 2 : • Dalam UU No.5 tahun 1974 mengenai Pembagian Wilayah : Pembagian Wilayah : Negara Kesatuan republik Indonesia dibagi atas pembagian wilayah diuraikan secara lebih Dalam menyelenggarakan Pemerintahan, (1). Wilayah Negara Kesatuan Republik daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu lanjut dalam pasal-pasal dan ayat-ayat wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi, dibagi atas kabupaten dan kota yang masingtersendiri dibagi dalam Daerah-Daerah Otonom dan Daerah Kabupaten, dan Daerah Kota masing mempunyai pemerintahan daerah. Wilayah-Wilayah Administratip. yang bersifat otonom. Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 72 (2). Daerah Propinsi berkedudukan juga ayat (1) mengatur dan mengurus sendiri urusan (1) Dalam rangka pelaksanaan azas sebagai Wilayah Administrasi. pemerintah menurut asas otonomi dan tugas dekonsentrasi, wilayah Negara pembantuan. Kesatuan Republik Indonesia dibagi Pasal 3 dalam Wilayah-wilayah Propinsi dan Ibu Wilayah Daerah Propinsi, sebagaimana dimaksud kota Negara. dalam Pasal 2 ayat (1), terdiri atas wilayah darat (2) Wilayah Propinsi dibagi dalam Wilayahdan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang wilayah Kabupaten dan Kota madya. diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan

.
(3) Wilayah Kabupaten dan Kotamadya atau ke arah perairan kepulauan dibagi dalam Wilayah-wilayah Kecamatan. (4) Apabila dipandang perlu sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya, dalam Wilayah Kabupaten dapat dibentuk Kota Administratip yang pengaturannya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 73 Apabila dipandang perlu, Menteri Dalam Negeri dapat menunjuk Pembantu Gubernur, Pembantu Bupati atau Pembantu Walikotamadya yang mempunyai wilayah kerja tertentu dalam rangka dekonsentrasi. Pasal 74 (1) Nama dan batas Daerah Tingkat I adalah sama dengan nama dan batas Wilayah Propinsi atau Ibukota Negara. (2) Nama dan batas Daerah Tingkat II adalah sama dengan nama dan batas Wilayah Kabupaten atau Kotamadya. (3) Ibukota Daerah Tingkat I adalah ibukota Wilayah Propinsi. (4) Ibukota Daerah Tingkat II adalah ibukota Wilayah Kabupaten. Pasal 75 Dengan tidak mengurangi ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 74 Undang-undang

selanjutnya didasarkan pada kondisi politik. ibukota. pangkal Daerah yang dimaksud pada (3) Perubahan batas yang tidak mengakibatkan ayat (1) pasal ini. (1) Daerah dibentuk dengan dan tidak mempunyai hubungan hierarki pengalihan kepegawaian.ini. cakupan wilayah. mengurus kepentingan masyarakat bagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain • Dalam UU No. dalam rangka pelaksanaan asas Perkembangan dan pengembangan otonomi Kota yang berwenang mengatur dan (2) Undang-undang pembentukan daerah sedesentralisasi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencapai batas minimal usia hak dan wewenang urusan serta modal ditetapkan dengan Undang-Undang. serta (4) Syarat-syarat pembentukan Daerah. batas. peralatan. . dan dokumen. memperhatikan syarat-syarat satu sama lain. nama Daerah. perubahan Pasal 5 Undang-Undang. dan penghapusan Wilayah Umumnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. masing-masing berdiri sendiri kepala daerah. serta rekomendasi dihapus dan atau digabung dengan Daerah Menteri Dalam Negeri. pertahanan dan Pasal 5 (3) Pembentukan daerah dapat berupa pengkemanan nasional dan syarat-syarat (1) Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan gabungan beberapa daerah atau bagian lain yang memungkinkan Daerah kemampuan ekonomi. perubahan nama dan pemindahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). jumlah daerah. pengisian keanggotaan DPRD. daerah atau lebih sebagaimana dimaksud nyata dan bertanggunggjawab. adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota (3) Kriteria tentang penghapusan. dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat Daerah. (2) Pembentukan. serta perangkat kemampuan ekonomi. luas daerah. nama. administratif. batas. Daerah Kabupaten. persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Pasal 6 Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan (1) Daerah yang tidak mampu wilayah provinsi. dan ibukota pada ayat (3) dapat dilakukan setelah (2) Pembentukan nama. 5 Pembentukan dan Pasal 3 Pasal 4 Pasal 4 • Ketiga undang-undang tersebut Susunan daerah Dalam rangka pelaksanaan asas (1) Dalam rangka pelaksanaan asas (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud menyebutkan secara tegas bahwa otonom desentralisasi dibentuk dan disusun Daerah Desentralisasi dibentuk dan disusun Daerah dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan pembentukan daerah otonom dlakukan Tingkat I dan Daerah Tingkat II Propinsi. pendanaan. ibukota. dan pertimbangan lebih. (3) Syarat administratif sebagaimana dimaksud (2) Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi satu Daerah. sosial-budaya serta pertahanan dan setempat menurut prakarsa sendiri mencakup nama. daerah otonom tresbut. ditetapkan dengan penghapusan suatu Daerah. batas. dan Daerah undang-undang. penduduk. lain. maka pembentukan. daerah yang bersandingan atau pemekaran melaksanakan pembangunan. (2) Syarat administratif sebagaimana dimaksud ibukotanya ditetapkan dengan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. nama. ibukota. luas Daerah. sebutan. dan fisik kewilayahan. sosial-politik. jumlah dari satu daerah menjadi dua daerah atau pembinaan kestabilan politik dan penduduk. potensi Daerah. batas. penunjukan penjabat otonom. secara lebih terperinci dan jelas mengani keamanan nasional berdasarkan aspirasi masyarakat. teknis. persetujuan DPRD provinsi menyelenggarakan Otonomi Daerah dapat induk dan Gubernur. kewenangan menyelenggarakan syarat-syarat pembentukan suatu daerah (2) Daerah-daerah sebagaimana dimaksud urusan pemerintahan. serta perubahan nama dan (3) Perubahan batas yang tidak pemindahan ibukota Daerah ditetapkan (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud mengakibatkan penghapuan suatu dengan Peraturan Pemerintah. perubahan nama daerah. pada ayat (1) untuk provinsi meliputi adanya Peraturan Daerah. kesatuan Bangsa dalam rangka lain yang memungkinkan terselenggaranya (4) Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) pelaksanaan Otonomi Daerah yang Otonomi Daerah. dn tujuan dari pembentukan Pasal 4 pada ayat (1). penyelenggaraan pemerintahan. sosial-budaya. 34 Tahun 2004 diatur ekonomi.

kependudukan. ditetapkan dengan Peraturan serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. (2) Perubahan batas suatu daerah. atau pemindahan ibukota yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. luas daerah. keamanan. (5) Syarat fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentuk an provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk pembentukan kabupaten. potensi dengan Undang-undang daerah. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. (3) Pedoman evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. sosial budaya. sebagaimana dimaksud pembentukan daerah yang mencakup pada ayat (1) dan ayat (2). (2) Penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. ditetapkan faktor kemampuan ekonomi. dan pemekaran Daerah. dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan persetujuan DPRD provinsi dan Gubernur ayat (2). pertahanan. pemberian nama bagian rupa bumi serta perubahan nama.penggabungan. penggabungan dan ayat (1) meliputi faktor yang menjadi dasar pemekaran Daerah. Pasal 7 (1) Penghapusan dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) beserta akibatnya ditetapkan dengan undang-undang. dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. dan prasarana pemerintahan. . lokasi calon ibukota. Pemerintah. (4) Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada (4) Penghapusan. perubahan nama daerah. Pasal 6 (1) Daerah dapat dihapus dan digabung dengan daerah lain apabila daerah yang bersangkutan tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah. sarana. sosial politik.

Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan. dan Pasal 6 diatur dengan Peraturan Pemerintah. peradilan. moneter dan fiskal. serta kewenangan bidang lain. berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku. Kewenangan bidang lain. (6) Tata cara penetapan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 5 Penyelenggaraan Pasal 7 Pasal 7 Otonomi Daerah Daerah berhak. dan ayat (5) diatur dalam Peraturan Pemerintah. pertahanan keamanan. (4) Untuk membentuk kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). 32 Tahun 2004 mengatur lebih rinci mengenai (1) Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. ayat (4). (2) Fungsi pemerintahan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Perdagangan bebas dan/atau pelabuhan bebas ditetapkan dengan undang-undang. ayat (2). (3) Fungsi pemerintahan tertentu selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah . Pasal 5. Pasal 10 (1).(3) Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan atas usul dan persetujuan daerah yang bersangkutan. ayat (3). Pemerintah dapat menetapkan kawasan khusus dalam wilayah provinsi dan/atau kabupaten/kota. (2). yang menjadi kewenangan Propinsi dan (2) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan yang menjadi kewenangan daerah sebagaimana Kabupaten/Kota. kecuali urusan pemerintahan • UU No 32 Tahun 2004 disebutkan secara yang oleh Undang-Undang ini ditentukan tegas pembagian urusan pemerintahan menjadi urusan Pemerintah. kewenangannya. dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Penambahan penyerahan urusan pemerintahan kepala Daerah dimaksud pada ayat (1). dan mengatur pula dimaksud pada ayat (1). Pemerintah mengikutsertakan daerah yang bersangkutan. pemerintahan daerah bidang politik luar negeri. Pasal 8 Tata cara pembentukan. meliputi kebijakan . (5) Daerah dapat mengusulkan pembentukan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Pemerintah. kecuali kewenangan dalam • UU No 22 Tahun 1999 dan UU No. sebagaimana (1). Pasal 8 agama. penghapusan. Pasal 9 (1) Untuk menyelenggarakan fungsi pemerintahan tertentu yang bersifat khusus bagi kepentingan nasional.

melimpahkan sebagian urusan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini Kabupaten dan Kota. konservasi. keuangan. Kewenangan Propinsi sebagai Daerah pemerintahan daerah dan/atau (1). diserahkan kepada Daerah dalam rangka f. Administrasi mencakup kewenangan dalam (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan dibagi (2). pengendalian pembangunan nasional mengatur dan mengurus sendiri urusan pusat dan pemerintah daerah. pertimbangan kepada presiden sarana dan prasarana.8 dan 9 Undang-Undang ini diserahkan tersebut. moneter dan fiskal nasional. agama. urusan tugas pembantuan. keamanan. (1). Dengan peraturan perundang. dalam bidang pemerintahan tertentu wakil Pemerintah. akuntabilitas. Sesuatu urusan pemerintahan yang telah dan standardisasi nasional. Dengan Peraturan Daerah.5. a. menugaskan sebagian urusan kepada Pasal 12 (2). kabupaten dan . Pemerintah Daerah Tingkat I dapat kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah. pemerintahan daerah provinsi. disertai dengan lingkungan sesuai dengan peraturan pembiayaanya.Otonom termasuk juga kewenangan yang pemerintahan desa berdasarkan asas tugas undangan. yustisi. Kewenangan Propinsi sebagai Daerah a. atau lainnya. kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada Pasal 11 Pasal 9 ayat (3). dan pemberdayaan sumber daya manusia. perundang-undangan. Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat pendayagunaan sumber daya alam serta (1) meliputi: Pasal 9 teknologi tinggi yang strategis. dana perimbangan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. c. Titik berat Otonomi Daerah diletakkan (1). Peraturan mengenai Dewan dilimpahkan kepada Gubernur dalam rangka atau dapat menugaskan kepada pemerintahan Pertimbangan Otonomi Daerah dekonsentrasi harus disertai dengan daerah dan/atau pemerintahan desa. (2). (2). (2). sistem administrasi negara dan tugas pembantuan. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pada Daerah Tingkat II Otonom mencakup kewenangan dalam pemerintahan. ditetapkan dengan Peraturan pembiayaan sesuai dengan kewenangan (5) Dalam urusan pemerintahan yang menjadi Perundang-undangan yang dilimpahkan tersebut. Penambahan penyerahan urusan yang secara makro. politik luar negeri. bidang pemerintahan yang dilimpahkan berdasarkan kriteria eksternalitas. Pasal 10 desentralisasi harus disertai dengan (4) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada (1). Kewenangan Propinsi sebagai Wilayah Pasal 11 tugas pembantuan. Daerah untuk melaksanakan urusan (3). undangan yang setingkat. Pemberian urusan tugas pembantuan nasional yang tersedia di wilayahnya dan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) bertanggung jawab memelihara kelestarian merupakan pelaksanaan hubungan kewenangan antara Pemerintah dan dan (2) pasal ini. b. disertai perangkat. Pemerintah menyelenggarakan tentang hal-hal yang dimaksud dalam manusia sesuai dengan kewenangan yang sendiri atau dapat melimpahkan sebagian pasal 4. pertahanan. serta kewenangan pemerintahan kepada Gubernur selaku diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pelaksanaan ketentuan yang bidang pemerintahan yang bersifat lintas b. alat perlengkapan lembaga perekonomian negara.Pasal 8 d. diserahkan kepada Daerah dapat ditarik c. serta sumber daya ayat (3). Kewenangan Pemerintahan yang Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah (2). Kewenangan Pemerintahan yang e. kembali dengan peraturan perundang. dan efisiensi dengan menugaskan kepada Pemerintah memperhatikan keserasian hubungan antar Daerah Tingkat II untuk melaksanakan Pasal 10 susunan pemerintahan.ditetapkan dengan Peraturan tentang perencanaan nasional dan menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengenai hubungan antara pemerintah Pemerintah. Pemerintah dapat tidak atau belum dapat dilaksanakan pembantuan. Untuk memberikan pertimbangan – penyerahan dan pengalihan pembiayaan. (1) Daerah berwenang mengelola sumber daya (2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan (3). menugaskan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. urusan pemerintahan kepada perangkat dibentuk Dewan Otonomi Daerah. Pemerintah dapat: (1). pembinaan (3) Urusan pemerintahan yang menjadi urusan dan sumber pembiayaannya.

pengaturan kepentingan administratif. Pasal 13 i. pemanfaatan. koperasi. penanaman modal. e. ketentraman masyarakat. dan bertahap dan ditetapkan oleh Pemerintah. pengalihan sarana dan sepertiga dari batas laut Daerah Propinsi. serta kepegawaian sesuai dengan (4) Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan urusan yang didesentralisasikan. f. Bidang pemerintahan yang wajib a. penegakan hukum terhadap peraturan (4) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang yang dikeluarkan oleh Daerah atau yang bersifat wajib yang berpedoman pada standar dilimpahkan kewenangannya oleh pelayanan minimal dilaksanakan secara Pemerintah. pengawasan tata ruang. bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. penyelenggaraan pendidikan dan alokasi Pasal 12 sumber daya manusia potensial. eksplorasi. terdiri c. dan sinergis sebagai meliputi : satu sistem pemerintahan. diselenggarakan berdasarkan kriteria b. perhubungan. pertanian. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). konservasi. Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan Pasal 13 pemerintahan selain kewenangan yang (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur pemerintahan daerah provinsi merupakan dalam Pasal 9. eksploitasi. pengaturan tata ruang. dan (3) Urusan pemerintahan yang menjadi pengelolaan kekayaan laut sebatas kewenangan pemerintahan daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) (2) Urusan pemerintahan yang dilimpahkan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan g. penanggulangan masalah sosial lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal kabupaten/kota. lingkungan hidup. . prasarana. usaha (1) Pemerintah dapat menugaskan kepada kecil. penyediaan sarana dan prasarana umum. e. d. dan d. atas urusan wajib dan urusan pilihan. dan kesehatan. pengendalian lingkungan hidup. penanganan bidang kesehatan. (1). Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. perencanaan dan pengendalian dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan pembangunan. urusan dalam skala provinsi yang meliputi: (2). perencanaan. tenaga kerja. sebagaimana kepada daerah disertai dengan sumber dimaksud pada ayat (2). j. tugas pembantuan disertai pembiayaan. kepada Gubernur disertai dengan pendanaan sesuai dengan urusan yang Pasal 11 didekonsentrasikan. Pasal 12 (3) Kewenangan Daerah Kabupaten dan (1) Urusan pemerintahan yang diserahkan Daerah Kota di wilayah laut. pertanahan. tergantung. h. yang wilayah laut tersebut. industri dan c.(2) Kewenangan Daerah di wilayah laut. saling terkait. pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota. pendidikan dan kebudayaan. dan menengah termasuk lintas Daerah tugas-tugas tertentu dalam rangka kabupaten/kota. kota atau antarpemerintahan daerah yang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. adalah sejauh pendanaan. 9 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. fasilitasi pengembangan koperasi. penyelenggaraan ketertiban umum dan perdagangan. b. a.

perundang-undangan o. n. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. pelayanan bidang ketenagakerjaan. e. dan catatan sipil. usaha kecil dan menengah. j. dan catatan sipil. h. pemerintahan. c. pelayanan administrasi umum pemerintahan. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. perencanaan. f. d. fasilitasi pengembangan koperasi. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundangundangan. i. pelayanan administrasi umum Pemerintah. l. Pasal 14 (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi: a. b. pelayanan kependudukan. dan . kekhasan. penanganan bidang kesehatan.sarana dan prasarana. pelayanan pertanahan termasuk lintas manusia dengan kewajiban melaporkan kabupaten/kota. pelayanan pertanahan. dan pengawasan tata ruang. pengendalian lingkungan hidup. mempertanggungjawabkannya kepada m. sebagaimana dimaksud n. o. pelaksanaannya dan l. penyelenggaraan pendidikan. penanggulangan masalah sosial. perencanaan dan pengendalian pembangunan. g. (2) Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. pelayanan administrasi penanaman modal pada ayat (1). m. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya. pelayanan kependudukan. k. ditetapkan dengan peraturan termasuk lintas kabupaten/kota. pelayanan administrasi penanaman modal. penyediaan sarana dan prasarana umum. pemanfaatan. (2) Setiap penugasan. serta sumber daya k.

kekhasan. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. d. pembiayaan bersama atas kerja sama antardaerah. b. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10. Pasal 11. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan.p. Pasal 16 . pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. (2) Hubungan dalam bidang keuangan antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. b. Pasal 12. dan c. (2) Urusan pemerintahan kabupaten/kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. c. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama. (3) Hubungan dalam bidang keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. Pasal 15 (1) Hubungan dalam bidang keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah. Pasal 13 dan Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah.

(1) Hubungan dalam bidang pelayanan umum antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. (3) Hubungan dalam bidang pelayanan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. pemeliharaan. pe-ngendalian dampak. pemanfaatan. dan pelestarian.tanggungjawab. b. tanggung jawab. dan penentuan standar pelayanan minimal. (2) Hubungan dalam bidang pelayanan umum antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. dan c. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. b. kewenangan. fasilitasi pelaksanaan kerja sama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. dan c. b. pengelolaan perizinan bersama bidang pelayanan umum. budidaya. kewenangan. Pasal 17 (1) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya ant ara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. kerja sama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. (2) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: . dan c.

e. dan c. c. b. penegakan hukum terhadap pera-turan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. pengaturan tata ruang. eksploitasi. pengelolaan perizinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. . eksplorasi. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. dan pengelolaan kekayaan laut. d. ikut serta dalam pemeliharaan keamanan. pengaturan administratif. (3) Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Pasal 18 (1) Daerah yang memiliki wilayah laut diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. (3) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. (4) Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk provinsi dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota. (2) Daerah mendapatkan bagi hasil atas pengelolaan sumber daya alam di bawah dasar dan/atau di dasar laut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. b. konser-vasi. kerja sama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah. dan f.a.

pemerintahan daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. asas efisiensi. asas akuntabilitas. h. asas profesionalitas. g. f. ayat (4). Pasal 20 (1) Penyelenggaraan pemerintahan berpedoman pada Asas Umum Penyelenggaraan Negara yang terdiri atas: a. asas kepentingan umum. dan i. Pemerintah menggunakan asas desentralisasi.(5) Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil. dan hak dan kewajiban dari setiap daerah dan oleh menteri negara. yang menyelenggarakan otonomi daerah (2) Penyelenggara pemerintahan daerah adalah pemerintah daerah dan DPRD. ayat (3). asas kepastian hukum. 32 Tahun 2004 mengatur mengenai (1) Penyelenggara pemerintahan adalah Presiden asas umum dalam penyelenggaraan negara dibantu oleh 1 (satu) orang wakil Presiden. (3) Dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. dan dekonsentrasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Dalammenyelenggarakan pemerintahan Daerah dibentuk Sekretariat Daerah dan Dinas-dinas Daerah. dan ayat (5) diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan 6 Penyelenggara Pasal 13 Pasal 19 Pemerintahan (1) Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (2) Dalam menyelenggarakan pemerintahan. asas tertib penyelenggara negara. e. dan untuk kabupaten/kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. b. d. kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antar 2 (dua) provinsi tersebut. (6) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) tidak berlaku terhadap penangkapan ikan oleh nelayan kecil. (7) Pelaksanaan ketentuan sebagai-mana dimaksud pada ayat (1). asas proporsionalitas. . c. tugas pembantuan. asas keterbukaan. asas efektivitas. • UU No.

menjaga persatuan. memilih pimpinan daerah. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. m. mengembangkan kehidupan demokrasi. f. l. g. melestarikan nilai sosial budaya. daerah mempunyai kewajiban: a. daerah mempunyai hak: a. Pasal 22 Dalam menyelenggarakan otonomi. e. mengelola kekayaan daerah. d. mengembangkan sistem jaminan sosial. g. mewujudkan keadilan dan pemerataan. melindungi masyarakat. dan . b. mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah. n. e. mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya. memungut pajak daerah dan retribusi daerah. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. f. dan h. i.Pasal 21 Dalam menyelenggarakan otonomi. mengelola aparatur daerah. kesatuan dan kerukunan nasional. h. c. mengelola administrasi kepen-dudukan. c. d. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. mendapatkan hak lainnya yang di-atur dalam peraturan perundang-undangan. k. melestarikan lingkungan hidup. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. b. j.

Gubernur (4) Wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud Undang-Undang No 22 Tahun 1999 dan d. ditetapkan oleh Pemerintah. 1. Pasal 58 dalam jabatan yang sama kepada Kepala Wilayah Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (4). langsung oleh rakyat di daerah yang masa jabatan sedangkan dalam UndangKotamadya atau Kota Administratip Gubernur berada di bawah dan bertanggung bersangkutan. Pasal 23 (1) Hak dan kewajiban daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 22 diwujudkan dalam bentuk rencana kerja pemerintahan daerah dan dijabarkan dalam bentuk pendapatan. akuntabel. sedangkan dalam c. (2) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan daerah. kota disebut walikota. kepala daerah ádalah 30 tahun Dalam menjalankan tugasnya. Pembatasan masa jabatan Wilayah: DPRD sesuai dengan pedoman yang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan Dalam UU No 5 Tahun 1974 dan UU No a. ayat (1) dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah tingkat I dan 30 tahun bagi calon b. Kecamatan bertanggungjawab kepada ditetapkan oleh Pemerintah. pembatasan masa jabatan adalah 2 kali b. ádalah Sarjana bagi calon kepala daerah Wilayah Propinsi yang bersangkutan . Negara. Kabupaten disebut Bupati. pada ayat (3) untuk provinsi disebut wakil Undang-Undang No 32 Tahun 2004 (3) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. dijelaskan bahwa umur minimum kepala Gubernur. (1) Kepala Daerah Kabupaten disebut Bupati. kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Pembatasan minimum pendidikan. calon kepala daerah diantaranya: oleh seorang Wakil Kepala Daerah. wakil Pemerintah. efektif. Kecamatan disebut Camat. untuk kabupaten disebut wakil mensyaratkan bahwa umur minimum calon Pasal 78 sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Kepala daerah sebagaimana di-maksud pada Pasal 77 ayat (1) untuk provinsi disebut Gubernur. yang karena jabatannya adalah juga sebagai (3) Kepala daerah sebagaimana di-maksud pada daerah hádala 35 tahun bagi calon kepala b. Gubernur. dan untuk Dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1974 a. yang bersangkutan . Propinsi atau Ibukota Negara (2) Kepala Daerah Kota disebut Walikota. adalah warga negara Republik Indonesia yang Dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1974 c. Dalam UU No 22 Tahun bertanggung jawab kepada Presiden (3) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan Republik Indonesia Tahun 1945. patut. 7 Kepala Daerah Pasal 76 Pasal 30 Pasal 24 • Dalam ketiga undang-undang tersebut Setiap Wilayah dipimpin oleh seorang Kepala Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala (1) Setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah terdapat perbedaan mengenai syarat-s yarat Wilayah. Kota Administratip bertanggung jawab (5) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. Undang-Undang Dasar Negara daerah tingkat II. Pembatasan umur minimum Kepala Wilayah : Pasal 31 untuk kabupaten disebut bupati. bertak wa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kabupaten atau Kotamadya memenuhi syarat: disebutkan bahwa minimum pendidikan bertanggung jawab kepada Kepala Pasal 32 a. Kotamadya disebut Wahkotamadya. adil. (2) Pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara efisien. setia kepada Pancasila sebagai Dasar Tingkat I dan SMU bagi calon kepala d. tertib. transparan. Propinsi dan Ibukota Negara disebut (1) Kepala Daerah Propinsi disebut Gubernur. Kepala ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib (5) Kepala daerah dan wakil kepala daerah 2. bupati dan untuk kota disebut wakil walikota. ayat (3) dipilih dalam satu pasangan secara 22 Tahun 1999 tidak ada pembatasan Kepala Wilayah Kabupaten atau (4) Dalam kedudukan sebagai wakil Pemerintah. kepala daerah tingkat II. Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah 3. dan pembiayaan daerah yang dikelola dalam sistem pengelolaan keuangan daerah.o. sebagai Kepala Daerah. bertanggung jawab kepada DPRD Propinsi. belanja. b. cita-cita 1999 dan UU No 32 syarat minimum . Undang No 32 Tahun 2004 terdapat yang bersangkutan jawab kepada Presiden. dan taat pada peraturan perundang-undangan. Kota Administratip disebut Walikota. Daerah sebagai kepala eksekutif yang dibantu daerah yang disebut kepala daerah.

daerah atau wakil kepala daerah selama 2 yang mempunyai kekuatan pasti b. tidak dicabut hak pilihnya sebagaimana cita-cita Proklamasi o. belum pernah menjabat sebagai kepala berdasarkan keputusan Pengadilan Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. tidak pernah dijatuhi pidana penjara daerah Kecamatan diatur dengan Peraturan syarat-syarat : berdasarkan putusan pengadilan yang Menteri Dalam Negeri. ialah Warganegara Indonesia yang mengkhianati Negara Kesatuan Republik g. tidak sedang dicabut hak pilihnya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan berdasarkan putusan pengadilan yang a. berkemampuan. dan sehat jasmani dan rokhani . . e. Undang Dasar 1945. tanggungjawabnya yang merugikan Kesatuan Republik Indonesia yang h. mempunyai kepribadian dan l. k. menyerahkan daftar kekayaan pribadi. adil . secara perseorangan dan/atau secara maupun tidak langsung dalam setiap f. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak terhadap Nusa dari Bangsa . memperoleh kekuatan hukum tetap. sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil (3) Ketentuan tentang pengangkatan dan Pasal 33 pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari • UU No 32 Tahun 2004 mengatur lebih rinci pemberhentian Kepala Wilayah Kota Yang dapat ditetapkan menjadi Kepala Daerah tim dokter. dan kepada pendidikan adalah SMU. seperti i. pajak f. dan trampil . berdasarkan PANCASILA dan melakukan tindak pidana. c. 1999 dan UU No 32 Tahun 2004 calon (2) Kepala Daerah Tingkat II karena DPRD sesuai dengan pedoman yang d. mengenal daerahnya dan dikenal oleh l. bersedia untuk diumumkan. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) kepala daerah dan wakilnya merupakan satu jabatannya adalah Kepala Wilayah ditetapkan oleh Pemerintah tahun. tidak pernah melakukan perbuatan tercela. Organisasi terlarang lainnya . badan hukum yang menjadi kegiatan yang mengkhianati Negara g. suami atau istri. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah. berpendidikan sekurang-kurangnya bahwa wakil kepala daerah diangkat oleh jabatannya adalah Kepala Wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (3). mempertahankan dan memelihara keutuhan pendidikan dan pekerjaan serta keluarga i. tidak sedang memiliki tanggungan utang c. k. dan (NPWP) atau bagi yang belum mempunyai e. setia dan taat kepada Nega dan Lanjutan Tingkat Atas dan/atau sederajat. kesatuan dan tidak terpisahkan. ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib sederajat. Kepala Daerah mempunyai kewajiban : yang memuat antara lain riwayat h. d. Pemerintah . tidak sedang dicabut hak pilihnya putusan pengadilan yang telah gerak an G-30-S/PKI dan atau berdasarkan keputusan pengadilan negeri. diancam dengan pidana penjara paling Yang dapat diangkat menjadi Kepala Daerah c. setia dan taat kepada PANCASILA Negeri. berwibawa . k. a. Kabupaten atau Kotamadya. telah memperoleh kekuatan hukum tetap b. j. Pemerintah. mempunyai rasa pengabdian masyarakat di daerahnya. NPWP wajib mempunyai bukti pembayaran kepemimpinan . masyarakat di daerahnya. e. mengenal daerahnya dan dikenal oleh b. jujur . j. sekolah lanjutan tingkat atas dan/atau Presiden sedangkan dalam UU No 23 Tahun Propinsi atau Ibukota Negara. m. Negara Kesatuan Republik Indonesia kandung. taqwa kepada Tuhan Yang Maha Undang-Undang Dasar 1945 yang dinyatakan telah memperoleh kekuatan hukum tetap. tidak pernah dihukum penjara karena keuangan negara. dengan surat keterangan Ketua Pengadilan h. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah i. Pasal 43 n. Bupati/Walikota Proklamasi 17 Agustus 1945. • Dalam UU No 5 Tahun 1974 menjelaskan (1) Kepala Daerah Tingkat I karena (4) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. esa. menyerahkan daftar riwayat hidup lengkap g. dan Undang-Undang Dasar 1945. sehat jasmani dan rohani. berumur sekurang-kurangnya 35 menghormati kedaulatan rakyat. tentang tata cara pemberhentian kepala Administratip dan Kepala Wilayah adalah warga negara Republik Indonesia dengan f. setia dan taat kepada Negara Kesatuan karena melakukan tindak pidana yang Pasal 14 Republik Indonesia dan Pemerintah yang sah. tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang lama 5 (lima) tahun atau lebih. cerdas. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. selaku Kepala Daerah. tidak pernah terlibat baik langsung tahun. a. bertanggung jawab kepada DPRD Negara Kesatuan Republik Indonesia serta Pasal 79 Kabupaten/Kota. menyerahkan daftar kekayaan pribadi dan b. memegang teguh Pancasila dan Undang(dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama. d. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945. berumur sekurang-kurangnya tiga puluh j.melalui Menteri Dalam Negeri.

Perda tentang APBD kepada DPRD untuk sekurang-kurangnya berpendidikan (2) Dalam menjalankan tugas dan dibahas dan ditetapkan bersama. Kota. Daerah Tingkat II. meninggal dunia . Kepala Daerah bertanggung e. Daerah. mengupayakan terlaksananya ke-wajiban Sekolah Lanjutan Atas bagi Kepala jawab kepada DPRD. melaksanakan tugas dan wewenang lain kegiatan-kegiatan yang merugikan Daerah Kabupaten dan Kepala Daerah sesuai dengan peraturan perundangkepentingan Negara. menetapkan Perda yang telah mendapat Sarjana Muda bagi Kepala Daerah (1) Kepala Daerah memimpin penyelenggaraan persetujuan bersama DPRD. turut serta dalam sesuatu Kepala Daerah atau apabila diminta oleh Pasal 26 perusahaan . memelihara ketenteraman dan ketertiban Pasal 25 pengalaman pek erjaan yang cukup di masyarakat. tidak dalam status sebagai penjabat kepala Daerah Tingkat I dan 30 (tiga puluh) undangan. pertanggungjawabannya. menegakkan seluruh peraturan perundangp. Pemerintah. ditetapkan ber-sama DPRD. sekurang-kurangnya sekali dalam undangan. dan atau Rakyat . (1) Kepala Daerah yang ditolak garaan pemerintahan kabupaten dan kota b. memberikan saran dan pertimbangan d. menindaklanjuti laporan d. mewakili daerahnya di dalam dan di luar laporan atas penyelenggaraan pengadilan. mempunyai kecakapan dan e. daerah. c. Tingkat I dan berpengetahuan Pemerintahan Daerah berdasarkan d. berpengetahuan yang sederajat dan menetapkannya sebagai Peraturan daerah berdasarkan kebijakan yang dengan Perguruan Tinggi atau Daerah bersama dengan DPRD. melanggar sumpah/janji yang pemerintahan maupun pertanggungkelurahan dan/atau desa bagi wakil kepala dimaksud dalam pasal 18 ayat (4) jawaban keuangan. l. atau jika dipandang perlu oleh b. (3) Kepala Daerah wajib menyampaikan f. membantu kepala daerah dalam yang memberikan keuntungan Pasal 45 menyelenggarakan pemerintahan daerah.(tiga puluh lima) tahun bagi Kepala c. yang dapat dipersamakan dengan Pasal 44 c. karena : Pasal 46 c. kepada kepala daerah dalam . baik d. a. dan/atau menyempurnakannya dalam e. dan dapat menunjuk kuasa Pasal 20 Pemerintahan Daerah kepada Presiden hukum untuk mewakilinya sesuai dengan Kepala Daerah dilarang : melalui Menteri Dalam Negeri dengan peraturan perundang-undangan. pertanggungjawaban kepada DPRD untuk pengawasan. Undang-undang ini . memimpin penyelenggaraan pe-merintahan m. atas permintaan sendiri . Presiden. satu tahun. tahun bagi Kepala Daerah Tingkat II . membantu kepala daerah dalam berhubungan langsung dengan. dan Kepala daerah mempunyai tugas dan wewenang: bidang pemerintahan . f. serta Pasal 21 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 mengupayakan pengembangan dan Kepala Daerah berhanti atau diberhentikan ayat (2). d. b. hidup. mengajukan rancangan Perda. pelestarian sosial budaya dan lingkungan oleh pejabat yang berhak mengangkat. harus melengkapi daerah kabupaten/kota. (1) Wakil kepala daerah mempunyai tugas: c. dengan sengaja melakukan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala g. wmengajukan Rancangan Peraturan Daerah a. daerah. berakhir masa jabatannya dan telah dimaksud dalam Pasal 45. sebagaimana bagi wakil kepala daerah provinsi. pertanggungjawaban kepada DPRD pada mengkoordinasikan kegiatan instansi Daerah yang bersangkutan . meningkatkan taraf kesejahteraan rak yat. pertanggungjawaban kebijakan garaan pemerintahan di wilayah kecamatan. tidak lagi memenuhi sesuatu syarat jangka waktu paling lama tiga puluh hari. menyusun dan mengajukan rancangan sederajat dengan Akademi atau kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD. baginya dalam hal-hal yang (1) Kepala Daerah wajib menyampaikan b. sekurang-kurangnya berpendidikan b. melaksanakan pemberdayaan hal tertentu atas permintaan DPRD perempuan dan pemuda. memantau dan mengevaluasi penyelengdilantik Kepala Daerah yang baru. melakukan pekerjaan-pekerjaan lain a. setiap akhir tahun anggaran. menjadi advokat atau kuasa dalam (2) Kepala Daerah wajib memberikan dan/atau temuan hasil pengawasan aparat perkara di muka Pengadilan. vertikal di daerah. yang dapat dipersamakan dengan kewajibannya. memantau dan mengevaluasi penyelenga.

keluarganya. perlu Kepala Daerah d. dan/atau jasa dari perundang-undangan. meningkatkan kesejahteraan rakyat. melaksanakan Undang-Undang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.yang dimaksud dalam Pasal 14 (2) Kepala Daerah yang sudah melengkapi penyelenggaraan kegiatan pemerintah Undang-undang ini . membuat keputusan yang secara khusus a. dan kewajiban pemerintahan Daerah. melaksanakan kehidupan demokrasi. kepala daerah. dalam dan di luar Pengadilan. atau Dasar Negara Republik Indonesia Tahun (4) Pedoman tentang pemberian keterangan kelompok politiknya yang secara nyata 1945 serta mempertahankan dan pertanggung jawaban yang dimaksud merugikan kepentingan umum atau memelihara keutuhan Negara Kesatuan dalam ayat (3) pasal ini. ditetapkan oleh Pemerintah. (3) Dalam menjalankan hak. Daerah menurut hierarkhi Kepala Daerah mewakili daerahnya di dalam dan diberhentikan. Menteri Dalam Negeri. memelihara ketenteraman dan ketertiban Pasal 23 keuntungan bagi dirinya. . turut serta dalam suatu perusahaan. melaksanakan tugas dan wewenang kepala pertanggungjawabannya ditolak untuk daerah apabila kepala daerah berhalangan. golongan masyarakat lain. mempengaruhi keputusan atau tindakan yang penyelenggaraan pemerintahan daerah. atau apabila diminta oteh memberikan keuntungan bagi dirinya. wakil kepala daerah wewenang. instansi vertikal di daerah dan semua Tingkat I kepada Presiden melalui b. dengan Daerah yang bersangkutan. sebagaimana dimaksud pada ayat bertanggung jawab kepada kepala daerah. Kepala Pasal 47 kepala daerah meninggal dunia. (3). Gubernur Kepala Daerah karena : j. kepala daerah dan Daerah sekurang-kurangnya sekali dalam yayasan bidang apa pun juga. (1) Wakil Kepala Daerah Tingkat I diangkat suatu perkara di pengadilan. wewenang. terus menerus dalam masa jabatannya. yang bersih dan baik. dapat menunjuk seorang kuasa atau pihak lain yang patut dapat diduga akan f. pemerintahan lainnya yang diberikan oleh undang ini . berhenti. untuk mewakilinya. menaati dan menegakkan seluruh peraturan (2) Apabila dipandang. baik milik wewenang sebagaimana dimaksud dalam kepada Dewan Perwakilan Rakyat swasta maupun milik Negara/Daerah. memegang teguh dan mengamalkan olehnya. atau Pasal 25 dan Pasal 26. atau tidak dapat melakukan bertanggungjawab kepada Presiden di luar pengadilan. baik secara langsung masyarakat. kroninya. melaksanakan prinsip tata pemerintahan oleh Presiden dari Pegawai Negeri yang dimaksud dalam Pasal 47. pemerintahan Daerah. melanggar ketentuan yang pertanggungjawabannya f. atau jika dipandang perlu b. akan dilakukannya. menjaga etika dan norma dalam lebih untuk mewakilinya. i. melaksanakan dan mempertang(2) Dengan memperoleh persetujuan Dewan Pasal 49 gungjawabkan pengelolaan ke-uangan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui Kepala Daerah berhenti atau diberhentikan daerah. ditetapkan oleh mendiskriminasikan warga negara dan Republik Indonesia. e. wakil kepala daerah mempunyai kewajiban: setahun. melakukan pekerjaan lain yang memberikan c. c. b. wewenang. DPRD dapat mengusulkan (2) Dalam melaksanakan tugas se-bagaimana (1) Kepala Daerah menjalankan hak. meninggal dunia. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Wakil kepala daerah menggantikan kepala (2) Dalam menjalankan hak. golongan tertentu. yang berhubungan d. barang. dan f. menjalin hubungan kerja dengan seluruh mengajukan calon Wakil Kepala Daerah a. dimaksud pada ayat (1). melaksanakan tugas dan kewajiban dimaksud dalam pasal 20 Undangmenyampaikannya kembali kepada DPRD. sebab-sebab lain. pemilihan. anggota Pancasila. Kepala Pasal 48 Pasal 27 Daerah berkewajiban memberikan Kepala Daerah dilarang : (1) Dalam melaksanakan tugas dan keterangan pertanggung jawaban a. selain yang h. dan kewajiban pimpinan (4) ata cara. dan dapat menunjuk kuasa kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara melalui Menteri Dalam Negeri. memajukan dan mengembangkan daya Pasal 24 e. dan/atau menyempurnakan daerah. dan daerah sampai habis masa jabatannya apabila kewajiban pemerintahan Daerah. menjadi advokat atau kuasa hukum dalam saing daerah. (3) Bagi Kepala Daerah yang g. mengajukan berhenti atas permintaan perangkat daerah. e. (1) Kepala Daerah mewakili Daerahnya di maupun tidak langsung. Pasal 22 kedua kalinya. pemberhentiannya kepada Presiden. memenuhi persyaratan. dan g. menerima uang.

melanggar ketentuan sebagaimana daerah kepada Pemerintah. makar dan/atau perbuatan lain yang dapat mendiskriminasikan warga negara dan/atau Wakil Kepala Daerah menjalankan tugas memecah belah Negara Kesatuan Republik golongan masyarakat lain. (3) Laporan penyelenggaraan peme-rintahan dadilakukan menurut kebutuhan. dan wewenang Kepala Daerah sehariIndonesia diberhentikan untuk sementara b. kepala daerah (4) Dengan memperoleh persetujuan e. dimaksud dalam Pasal 33. tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana (2) Selain mempunyai kewajiban se-bagaimana memenuhi persyaratan. dan (9) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang Pasal 51 ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. (1) Kepala Daerah yang diduga melakukan sekelompok mas yarakat. ayat (3). melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam Kepala daerah dan wakil kepala daerah dilarang: dengan hukuman lima tahun atau lebih. 20 dan 21 dalam Pasal 49 ditetapkan dengan melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 Undang-undang ini berlaku juga untuk Keputusan DPRD dan disahkan oleh (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. 19. atau dalam yayasan bidang apapun. dan kepada Menteri Dalam Negeri dalam Pasal-pasal 14. laporan penyelenggaraan pemerintahan melalui pemilihan. serta menginformasikan laporan Dalam Negeri melalui Gubernur Kepala luas akibat kasus yang melibatkan penyeleng-garaan pemerintahan daerah Daerah. melakukan pekerjaan lain yang memberikan Dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri makar dan perbuatan yang dapat memecah keuntungan bagi dirinya. (1) Pemberhentian Kepala Daerah karena Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk (7) Ketentuan-ketentuan yang dimaksud alasan-alasan sebagaimana dimaksud Gubernur. kroni. merugikan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Pasal 52 kepentingan umum. Presiden dari Pegawai Negeri yang d. baik secara diatur tentang penjabat yang mewakili Kepala belah Negara Kesatuan Republik Indonesia langsung maupun tidak langsung. dan keterangannya kepada masyarakat. dan memberikan Kepala Daerah mengajukan calon Wakil dimaksud dalam Pasal 48. dan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada Kepala Daerah Tingkat II kepada Menteri g. yang . maksud pada ayat (1). tanggung jawabnya. (4) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) (8) Wakil Kepala Daerah diambil (2) Keputusan DPRD. (5) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dibagi Wakil Kepala Daerah Tingkat II. membuat keputusan yang secara khusus Pasal 25 diancam dengan hukuman mati sebagaimana memberikan keuntungan bagi diri. Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri pertiga dari jumlah anggota yang hadir. menyampaikan rencana strategis (3) Wakil Kepala Daerah Tingkat II diangkat c. k. melanggar sumpah/janji sebagaimana mempunyai kewajiban juga untuk memberikan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3). dimaksud dalam ayat-ayat (2) dan (4) Kepala Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa pasal ini diatur lebih lanjut dengan melalui Keputusan DPRD apabila terbukti Pasal 28 Peraturan Menteri Dalam Negeri. Pasal 26 (2) Kepala Daerah yang terbukti melakukan c. atau Daerah dalam menjalankan tugas dan Pidana. dan meresahkan Dalam Negeri. hadapan Rapat Paripurna DPRD. atau (2) Apabila Kepala Daerah berhalangan. golongan tertentu. kelompok politiknya yang bertentangan dengan wewenangnya sehari-hari sesuai dengan peraturan perundang-undangan. anggota (1) Wakil Kepala Daerah membantu Kepala yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum keluarga.Menteri Dalam Negeri. ayat (2). Keputusan DPRD. dimaksud pada ayat (1). Presiden. harus dihadiri oleh sekurangmelakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan Menteri Dalam Negeri atas nama kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih Presiden bagi Wakil Kepala Daerah DPRD dan putusan diambil dengan lanjut sesuai dengan peraturan perundangTingkat I dan oleh Gubernur Kepala persetujuan sekurang-kurangnya dua undangan. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik penyelenggaraan pemerintahan daerah di oleh Menteri Dalam Negeri atas nama pejabat yang baru. baik hari. sebagaimana dimaksud digunakan Pemerintah sebagai dasar sumpahnya/janjinya dan dilantik oleh pada ayat (1). atau a. Wakil Kepala Daerah. Bupati/Walikotamadya f. mengalami krisis kepercayaan publik yang DPRD. (5) Pengisian jabatan Wakil Kepala Daerah atas kasus itu ditolak oleh DPRD. erah kepada Pemerintah sebagaimana (6) Wakil Kepala Daerah adalah Pejabat Pasal 50 dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Negara. turut serta dalam suatu perusahaan. sendiri. dari jabatannya oleh Presiden tanpa melalui milik swasta maupun milik negara/daerah.

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53. hukum yang tetap diberhentikan dari d. berkelanjutan atau berhalangan tetap baik dalam perencanaan maupun DPRD mulai memproses pemilihan Kepala secara berturut-turut selama 6 (enam) dalam pelaksanaan untuk mencapai Daerah yang baru. enam bulan (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala Pemerintah . f. ketentraman dan masa jabatan Kepala Daerah secara tertulis Pasal 29 ketertiban yang ditetapkan oleh kepada yang bersangkutan. tugas dan kewajiban Kepala jabatannya. sebagai anggota DPRD Wilayah adalah : sebagaimana yang ditetapkan dalam a. mengkordinasikan makar dan perbuatan yang dapat memecah suatu perkara di pengadilan selain yang pembangunan dan membina kehidupan belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. kepala daerah dan/atau wakil kepala Daerah. dan Pasal 80 jabatannya oleh Presiden. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik kegiatan-kegiatan Instansi-instansi pemberitahuan. di wilayahnya sesuai dengan (1) DPRD memberitahukan akan berakhirnya kebijaksanaan. Pasal 54 daerah dan/atau wakil kepala daerah. masyarakat di segala bidang. adalah: Rapat Paripurna dan diusulkan oleh pimpinan . pejabat yang baru. menyelenggarakan kordinasi atas lambatnya empat bulan setelah a. pihak lain yang mempengaruhi keputusan adalah Penguasa Tunggal di bidang (3) Kepala Daerah yang setelah melalui proses atau tindakan yang akan dilakukannya. nepotisme. masa jabatan Kepala Daerah berakhir. mengusahakan secara terus-menerus dapat dicalonkan kembali sebagai Kepala Daerah e. dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan penyelenggaraan pemerintahan pertanggungjawabannya oleh DPRD. Vertikal dan antara Instansi-instansi (3) Selambat-lambatnya satu bulan sebelum b. tidak daerah. tanpa persetujuan menerima uang. dimaksud dalam Pasal 25 huruf f. barang dan/atau jasa dari Kepala Wilayah sebagai Wakil Pemerintah DPRD. pemerintahan dalam wilayahnya dalam arti peradilan ternyata tidak terbukti melakukan e. ayat (1) huruf a dan huruf b serta ayat (2) segata tindakan yang dianggap perlu (2) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan huruf a dan huruf b diberitahukan oleh untuk menjamin kelancaran pimpinan DPRD untuk diputuskan dalam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) penyelenggaraan pemerintahan. atau ideologi Negara dan politik dalam Kepala Daerah mempersiapkan c. daerah berhenti karena: b. menyalahgunakan wewenang dan diaktifkan kembali dan direhabilitasi selaku melanggar sumpah/janji jabatan-nya. diberhentikan. membina ketentraman dan ketertiban Pasal 53 peraturan perundang-undangan. membimbing dan mengawasi Kepala Daerah yang ditolak d. merangkap jabatan sebagai pejabat negara Wewenang. melaksanakan segala usaha dan (2) Dengan adanya pemberitahuan. e. menjadi advokat atau kuasa hukum dalam memimpin pemerintahan. negeri serta pembinaan kesatuan pertanggungjawaban akhir masa jabatannya (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah Bangsa sesuai dengan kebijaksanaan kepada DPRD dan menyampaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c yang ditetapkan oleh Pemerintah pertanggungjawaban tersebut selambatdiberhentikan karena: c. sebelumnya. dayaguna dan hasilguna yang c. tidak lagi memenuhi syarat sebagai kepala sebesar-besarnya. Pemerintah dan Pemerintah Daerah (1) Tindakan penyidikan terhadap Kepala (3) Pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil serta pejabat-pejabat yang Daerah dilaksanakan setelah adanya kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ditugaskan untuk itu serta mengambil persetujuan tertulis dari Presiden. Pasal 81 Kepala Daerah sampai akhir masa g. permintaan sendiri. lainnya.Daerah dalam hal Kepala Daerah dan Wakil yang dinyatakan dengan keputusan berhubungan dengan daerah yang Kepala Daerah berhalangan. b. tidak melaksanakan kewajiban kepala agar segala peraturan-perundang. melakukan korupsi. meninggal dunia. bulan. tidak dapat melaksanakan tugas secara Vertikal dengan Dinas-dinas Daerah. pengadilan yang telah memperoleh kekuatan bersangkutan. d. a. undangan dan Peraturan Daerah f. daerah dan/atau wakil kepala daerah.dalam masa jabatan berikutnya. kolusi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). melanggar larangan bagi kepala daerah dijalankan oleh Instansi-instansi Pasal 55 dan/atau wakil kepala daerah. kegiatan di bidang pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Mahkamah Agung wajib memeriksa. DPRD menyelenggarakan Rapat c. tertangkap tangan melakukan tindak DPRD. bahwa saya akan d. Pasal 56 daerah dan wakil kepala daerah. kepala daerah diusulkan kepada Presiden (3) Setelah tindakan penyidikan. melaksanakan segala tugas b. bersamaan sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dengan pelantikan Kepala Daerah. Presiden. Wakil Kepala Daerah Kabupaten wakil kepala daerah tersebut paling lambat Bersenjata. daerah terbukti melanggar sumpah/janji . dapat dilakukan atas persetujuan adalah sebagai berikut : c. sejujur-jujurnya. sebagaimana anggota DPRD yang hadir untuk dalam ayat (2) pasal ini selambatdimaksud dalam Pasal 33. dan memutus pendapat DPRD (2) Hal-hal yang dikecualikan terhadap bersumpah/berjanji bahwa saya akan tersebut paling lambat 30 (tigapuluh) hari ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) memenuhi kewajiban saya selaku Wakil setelah permintaan DPRD itu diterima pasal ini adalah: Gubernur/ Wakil Bupati/Wakil Walikota Mahkamah Agung dan putusannya bersifat a.f. atau lebih. dituduh telah melakukan tindak pidana dengan ketentuan: pemerintahan yang tidak termasuk kejahatan yang diancam dengan a. pemerintahan yang dengan atau pidana kejahatan yang diancam (4) Pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil berdasarkan peraturan perundangdengan pidana penjara lima tahun kepala daerah sebagaimana dimaksud pada undangan diberikan kepadanya. Wakil diambil dengan persetujuan sekurang(1) Tindakan Kepolisian terhadap Kepala Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. Kesatuan Republik Indonesia". (2) Wakil Kepala Daerah Tingkat II karena (1) Di setiap Daerah terdapat seorang Wakil b. "Demi Allah (Tuhan). dari jumlah anggota DPRD dan putusan Pasal 83 (3) Sebelum memangku jabatannya. yang pada gilirannya harus 30 (tiga puluh) hari sejak DPRD disebut Wakil Bupati dan Wakil Kepala melaporkan kepada Presiden selambatDaerah Kota disebut Wakil Walikota. Apabila Mahkamah Agung memutuskan b. Pendapat DPRD sebagaimana dimaksud jabatannya adalah Wakil Kepala Wilayah Kepala Daerah. kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah (3) Tindakan kepolisian yang dimaksud (5) Ketentuan-ketentuan. sesuatu tindak pidana. Pasal 47 sampai dengan daerah dan/atau wakil kepala daerah (duapuluh empat) jam sesudahnya Pasal 54. sebagaimana berdasarkan putusan Mahkamah Agung Pasal 82 dimaksud pada ayat (2) dilakukan. Pasal memutuskan usul pemberhentian kepala lambatnya dalam waktu 2 (dua) kali 24 43 kecuali huruf g. atau pejabat lain yang ditunjuk. dituduh telah melakukan tindak selalu taat dalam mengamalkan dan bahwa kepala daerah dan/atau wakil kepala mempertahankan Pancasila sebagai pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman *9617 dasar negara. saya mengadili. hal itu atas pendapat DPRD bahwa kepala daerah (1) Wakil Kepala Daerah Tingkat I karena harus dilaporkan kepada Presiden selambatdan/atau wakil kepala daerah dinyatakan jabatannya adalah Wakil Kepala Wilayah lambatnya dalam 2 kali 24 jam. tertangkap tangan melakukan dengan sebaik-baiknya. hukuman mati. Pasal 41. dan ayat (2) huruf d dan huruf e dilaksanakan g. kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah Wilayah Propinsi/Ibukota Negara hanya (4) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud anggota DPRD yang hadir. melanggar sumpah/janji jabatan dan/atau Propinsi atau Ibukota Negara dan tidak melaksanakan kewajiban kepala disebut Wakil Gubernur. menyampaikan usul tersebut. final. Pemberhentian kepala daerah dan wakil dalam tugas sesuatu Instansi lainnya. pada huruf a diputuskan melalui Rapat Kabupaten atau Kotamadya. dan disebut (2) Wakil Kepala Daerah dilantik oleh Presiden Paripurna DPRD yang dihadiri oleh Wakil Bupati atau Wakil Walikotamadya. dituduh telah melakukan tindak dan Undang-Undang Dasar 1945 Paripurna DPRD yang dihadiri oleh pidana kejahatan yang sebagai konstitusi negara serta segala sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) termaktub dalam Kitab peraturan perundang-undangan yang dari jumlah anggota DPRD dan putusan Undang-undang Hukum berlaku bagi Daerah dan Negara diambil dengan persetujuan sekurangPidana BUKU KEDUA BAB I. Presiden wajib memroses usul atau kepada Menteri Pertahanan (6) Wakil Kepala Daerah Propinsi disebut Wakil pemberhentian kepala daerah dan/atau Keamanan/Panglima Angkatan Gubernur. dan bahwa saya jabatan dan/atau tidak melaksanakan mati. dan seadil-adilnya. melaksanakan segala tugas a. e. akan menegakkan kehidupan demokrasi kewajiban. harus dilaporkan kepada Jaksa Agung Daerah. berlaku juga bagi Wakil Kepala kepada Presiden.

lambatnya dalam waktu 2 (dua) kali 24 Pasal 57 Pasal 30 (duapuluh empat) jam. (1) Wakil Kepala Daerah mempunyai tugas : (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah (4) Tindakan kepolisian terhadap Kepala a. membantu Kepala Daerah dalam diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa Wilayah lainnya dilakukan dengan melaksanakan kewajibannya; melalui usulan DPRD apabila dinyatakan memberitahukan sebelumnya kepada b. mengkoordinasikan kegiatan instansi melakukan tindak pidana kejahatan yang Kepala Wilayah atasan dari yang pemerintahan di Daerah; dan diancam dengan pidana penjara paling singkat bersangkutan. c. melaksanakan tugas-tugas lain yang 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan (5) Tindakan kepolisian yang dimaksud diberikan oleh Kepala Daerah. pengadilan. dalam ayat (4) pasal ini diberitahukan (2) Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah selambat-lambatnya 2 (dua) kali 24 kepada Kepala Daerah. diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui (duapuluh empat) jam sesudahnya (3) Wakil Kepala Daerah melaksanakan tugas usulan DPRD apabila terbukti melakukan kepada Kepala Wilayah atasan dari dan wewenang Kepala Daerah apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud pada yang bersangkutan, apabila menyangkut Kepala Daerah berhalangan. ayat (1) berdasarkan putusan pengadilan yang hal-hal yang dimaksud dalam ayat (2) telah memperoleh kekuatan hukum tetap. pasal ini. Pasal 58 (1) Apabila Kepala Daerah berhalangan tetap, Pasal 31 jabatan Kepala Daerah diganti oleh Wakil (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah Kepala Daerah sampai habis masa diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa jabatannya. melalui usulan DPRD karena didakwa (2) Apabila Wakil Kepala Daerah berhalangan melakukan tindak pidana korupsi, tindak pidana tetap, jabatan Wakil Kepala Daerah tidak terorisme, makar, dan/atau tindak pidana diisi. terhadap keamanan negara. (3) Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah Daerah berhalangan tetap, Sekretaris diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui Daerah melaksanakan tugas Kepala Daerah usulan DPRD karena terbukti melakukan untuk sementara waktu. makar dan/atau perbuatan lain yang dapat (4) Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala memecah belah Negara Kesatuan Republik Daerah berhalangan tetap, DPRD Indonesia yang dinyatakan dengan putusan menyelenggarak an pemilihan Kepala Daerah pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. dan Wakil Kepala Daerah selambatlambatnya dalam waktu tiga bulan. Pasal 32 Pasal 59 (1) Dalam hal kepala daerah dan/atau wakil kepala Kedudukan keuangan Kepala Daerah dan Wakil daerah menghadapi krisis kepercayaan publik yang Kepala Daerah ditetapkan dengan Peraturan meluas karena dugaan melakukan tindak pidana Pemerintah. dan melibatkan tanggung jawabnya, DPRD menggunakan hak angket untuk menanggapinya. (2) Penggunaan hak angket sebagai-mana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir untuk melakukan penyelidikan terhadap

kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. (3) Dalam hal ditemukan bukti me-lakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DPRD menyerahkan proses penyelesaiannya kepada aparat penegak hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (4) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan bersalah karena melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan yang belum memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (3), DPRD mengusulkan pemberhentian sementara dengan keputusan DPRD. (5) Berdasarkan keputusan DPRD se-bagaimana dimaksud pada ayat (4), Presiden menetapkan pember-hentian sementara kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. (6) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (4), pimpinan DPRD mengusulkan pemberhentian berdasarkan keputusan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir. (7) Berdasarkan keputusan DPRD se-bagaimana dimaksud pada ayat (6), Presiden memberhentikan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. Pasal 33 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5) s etelah melalui proses peradilan ternyata terbukti tidak bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, paling lambat 30 (tiga puluh) hari Presiden telah merehabilitasikan dan mengaktifkan kembali kepala daerah dan/atau

wakil kepala daerah yang bersangkutan sampai dengan akhir masa jabatannya. (2) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah berakhir masa jabatannya, Presiden merehabilitasikan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang bersangkutan dan tidak mengaktifkannya kembali. (3) Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, Pasal 31, dan Pasal 32 diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 34 (1) Apabila kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), wakil kepala daerah melaksanakan tugas dan kewajiban kepala daerah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (2) Apabila wakil kepala daerah di-berhentikan sementara sebagai-mana dimaksud Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), tugas dan kewajiban wakil kepala daerah dilaksanakan oleh kepala daerah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (3) Apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), Presiden menetapkan penjabat Gubernur atas usul Menteri Dalam Negeri atau penjabat Bupati/ Walikota atas usul Gubernur dengan pertimbangan DPRD sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (4) Tata cara penetapan, kriteria calon, dan masa jabatan penjabat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Peme-rintah.

. dan Pasal 32 ayat (7) jabatan kepala daerah diganti oleh wakil kepala daerah sampai berakhir masa jabatannya dan proses pelaksanaannya dilakukan berdasarkan keputusan Rapat Paripurna DPRD dan disahkan oleh Presiden. kepala daerah mengusulkan 2 (dua) orang calon wakil kepala daerah untuk dipilih oleh Rapat Paripurna DPRD berdasarkan usul partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya terpilih dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. (2) Apabila terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang sisa masa jabatannya lebih dari 18 (delapan belas) bulan. Pasal 31 ayat (2). Rapat Paripurna DPRD memutuskan dan menugaskan KPUD untuk menyelenggarakan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah paling lambat 6 (enam) bulan terhitung sejak ditetapkannya penjabat kepala daerah. (4) Dalam hal terjadi kekosongan jabatan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (3) Dalam hal kepala daerah dan wakil kepala daerah berhenti atau diberhentikan secara bersamaan dalam masa jabatannya. Pasal 36 (1) Tindakan penyelidikan dan penyidi-kan terhadap kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden atas permintaan penyidik. (5) Tata cara pengisian kekosongan. persyaratan dan masa jabatan penjabat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah.Pasal 35 (1) Apabila kepala daerah diberhentikan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2). sekretaris daerah melaksanakan tugas sehari-hari kepala daerah sampai dengan Presiden mengangkat penjabat kepala daerah.

atau b. koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/kota. (4) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. proses penyelidikan dan penyidikan dapat dilakukan. (2) Dalam kedudukannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. (3) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan diperlukan persetujuan tertulis sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). . disangka telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati.(2) Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan oleh Presiden dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari terhitung sejak diterimanya permohonan. koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota. pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. c. atau telah melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. b. Pasal 37 (1) Gubernur yang karena jabatannya berkedudukan juga sebagai wakil Pemerintah di wilayah provinsi yang bersangkutan. Pasal 38 (1) Gubernur dalam kedudukannya se-bagaimana dimaksud dalam Pasal 37 memiliki tugas dan wewenang: a. (5) Tindakan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) setelah dilakukan wajib dilaporkan kepada Presiden paling lambat dalam waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam.

2004 DPRD hanya berhak menetapkan Pasal 40 kepala daerah setelah dilakukan pemilihan Pasal 28 Pasal 15 DPRD merupakan lembaga perwakilan rakyat secara langsung. Undang-Undang tentang Susunan dan Kedudukan 1999 DPRD berwenang memilih calon larangan rangkapan jabatan bagi Anggota. Pemerintah Daerah. hakim pada (4) Peraturan Daerah yang dimaksud b. begitu juga Legislatif Daerah dan Pemerintah Daerah dalam Undang-Undang ini berlaku ketentuan UU No 5 Tahun 1974 dan UU No 22 Tahun sumpah/janji. dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini (2) DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah a. membahas dan menyetujui rancangan Perda badan peradilan dan pegawai negeri sipil. b. badan Rakyat Daerah diatur dengan Daerah merupakan wahana untuk kehormatan disebutkan secara tegas dalam Peraturan Daerah. DPD. (1) Kedudukan keuangan Ketua. hak. bersama. Pasal 17 tentang APBD bersama dengan kepala anggota TNI/Polri. mengusulkan pengangkatan dan masing-masing Anggota. Anggaran. mengajukan pernyataan pendapat. Pasal 18 Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan e. kepala daerah. (4) Tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. kepala daerah sedangkan UU No 32 Tahun anggotanya diatur dengan Undang-undang. mengadakan perubahan. ketiga peraturan tersebut dimana dalam UU Rakyat Daerah diatur denpn Peraturan DPRD diatur dengan Undang-undang. (2) Kedudukan protokoler Ketua. No 32 Tahun 2004 hanya menyebutkan hakDaerah. (4) Pelaksanaan ketentuan. wewenangnya. DPR. dan pimpinan Dewan (1) Di Daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Ketentuan tentang DPRD sepanjang tidak diatur wewenang anggota DPRD dimana dalam Perwakilan Rakyat Daerah. APBD. dan kerja sama dalam menjalankan tugas dan a. keanggotaan. (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang : kepada Menteri Dalam Negeri melalui . badan usaha milik pejabat yang berwenang. dan sebagai Badan Eksekutif Daerah. pembangunan daerah. melaksanakan pengawasan ter-hadap daerah dan/atau badan lain yang perundang-undangan. pemberhentian kepala daerah/wakil kepala c. susunan. pelaksanaan Perda dan peraturan anggarannya bersumber dari APBN/APBD Pasal 29 (2) Alat kelengkapan DPRD terdiri atas perundang-undangan lainnya. sebagaimana internasional di daerah. DPRD ditetapkan sesuai dengan peraturan c. daerah dan berkedudukan sebagai unsur • Terdapat perbedaan hak DPRD diantara Ketua. Wakil Pasal 16 DPRD memiliki fungsi legislasi. komisi-komisi. Daerah beserta perangkat Daerah lainnya. dan Anggota Dewan Perwakilan (1) DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di pengawasan. mengajukan pertanyaan bagi dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). diatur d. Ketua. dan alat kelengkapan penyelenggaraan pemerintahan daerah. pimpinan. (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang: mempunyai tugas-tugas tertentu. dan DPRD. melaksanakan demokrasi berdasarkan Pasal 42 salah satu alat kelengkapan DPRD yang (3) Peraturan Daerah yang dimaksud Pancasila. pegawai pada badan berlaku sesudah ada pengesahan (1) Keanggotaan DPRD dan jumlah anggota daerah. (3) Kedudukan keuangan Gubernur se-bagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. anggaran. sebagai pejabat negara lainnya. tugas. pimpinan. wewenang. 8 Dewan Perwakilan Pasal 27 Pasal 14 Pasal 39 • Terdapat perbedaan dalam tugas dan Rakyat Daerah Susunan. kebijakan pemerintah untuk menyusun kode etik untuk menjaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (3) DPRD membentuk fraksi-fraksi yang bukan daerah dalam melaksanakan program martabat dan kehormatan anggota DPRD mempunyai hak : merupakan alat kelengkapan DPRD. daerah kepada Presiden melalui Menteri d. meminta keterangan. • Menurut UU No 32 Tahun 2004. membentuk Perda yang dibahas dengan • Dalam UU No 32 Tahun 2004 anggota dibuat sesuai dengan pedoman yang berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari kepala daerah untuk mendapat persetujuan DPRD dilarang untukmerangkap jabatan ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. usaha milik negara. dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. Pasal 41 hak tersebut antara lain hak interpelasi.(2) Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala MPR. peraturan • UU No 32 Tahun 2004 mewajibkan DPRD (1) Untuk dapat melaksanakan fungsinya. dan panitia-panitia. dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini.(2) Pendanaan tugas dan wewenang Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada APBN. Wakil Kedudukan. dan Anggota bewan Perwakilan keanggotaan. masa keanggotaan. dan angket dan menyatakan pendapat.

mengamankan. mempertahankan. terjadi kekosongan jabatan wakil kepala dimaksud dalam ayat (1) huruf a c. bersama-sama Kepala Daerah terhadap rencana perjanjian internasional Pasal 43 menyusun Anggaran Pendapatan yang menyangkut kepentingan Daerah. kepada pemerintah daerah terhadap rencana Perwakilan Rakyat Daerah sesuai d. mengajukan pernyataan pendapat. pemilihan kepala daerah. meminta laporan keterangan pasal ini. k.f. peraturan Daerah untuk aspirasi Daerah dan masyarakat. (2) Pelaksanaan hak angket sebagaimana dimakkepada Daerah atau untuk diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD.(2) Pelaksanaan tugas dan wewenang. Bupati/Wakil Bupati. mengajukan Rancangan Peraturan yang bekerja dalam waktu paling lama 60 . meminta pertanggungjawaban Gubernur. peraturan perundang-undangan lain. yang dimaksud dalam ayat (1) huruf g e. b. memperhatikan aspirasi dan Bupati. menampung dan menindaklanjuti a. membentuk panitia pengawas pemilihan Pasal 30 Pendapatan dan Belanja Daerah. memberikan persetujuan terhadap rencana dan Undang-Undang Dasar 1945 . meminta keterangan kepada Pemerintah putusan diambil dengan persetujuan sekurangRakyat dengan berpegang pada Daerah. g. mengadakan perubahan atas Rancangan (3) Dalam menggunakan hak angket se-bagaimana Pasal 31 Peraturan Daerah. Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. melakukan pengawasan dan meminta adalah : 1. dan kepentingan Daerah dalam batas. dan Walikota/Wakil e. Bupati/Wakil Bupati. bersama dengan Gubernur. sud pada ayat (1) huruf b dilakukan setelah melaksanakan peraturan diajukan hak interpelasi sebagaimana perundang-undangan yang Pasal 19 dimaksud pada ayat (1) huruf a dan pelaksanaannya ditugaskan kepada (1) DPRD mempunyai hak : mendapatkan persetujuan dari Rapat Paripurna Daerah . kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah program pembangunan Pemerintah. diatur Permusyawaratan Rakyat dari Utusan f. anggota DPRD yang hadir. daerah. kepala daerah. dimaksud pada ayat (2) dibentuk panitia angket (1) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah e. f. dengan pedoman yang ditetapkan oleh pemberhentian Gubernur/ Wakil g. interpelasi. pelaksanaan kerja sama internasional dimaksud pada ayat (1). melaksanakan pengawasan terhadap : j. Bupati. dan Walikota. kerja sama antardaerah dan dengan pihak b. memilih anggota Majelis daerah. tugas dan wewenang lain yang diatur dalam mentaati segala peraturan h. dan (2) Selain tugas dan wewenang sebagaimana Ketetapan-ketetapan Majelis 5. dan Walikota. pertanggungjawaban kepala daerah dalam undang. perundang-undangan yang berlaku. atau h. mengadakan penyelidikan. diatur dengan UndangWalikota membentuk Peraturan Daerah. a. menyatakan pendapat. Bupati. serta mengamalkan PANCASILA 2. prakarsa. Walikota menetapkan Anggaran i. c. pemerintah daerah. memilih wakil kepala daerah dalam hal (2) Cara pelaksanaan ketentuan yang Walikota. penyelidikan. atau kerja sama internasional yang dilakukan oleh (3) Cara pelaksanaan hak penyelidikan Walikota/ Wakil Walikota. (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan memajukan tingkat kehidupan b. mengusulkan pengangkatan dan perjanjian internasional di daerah. Gubernur. Bupati. memberikan pendapat dan pertimbangan dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Daerah. kebijakan Pemerintah Daerah. memberikan pendapat dan peraturan perundang-undangan. d. pelaksanaan Peraturan Daerah dan laporan KPUD dalam penyelenggaraan a. Garis-garis Besar Haluan Negara. pelaksanaan Keputusan Gubernur. (1) DPRD mempunyai hak: dan Belanja Daerah dan Peraturandan h. 4. menjunjung tinggi dan 3. pelaksanaan Anggaran Pendapatan ketiga yang membebani masyarakat dan melaksanakan secara konsekwen dan Belanja Daerah. b. batas wewenang yang diserahkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). sampai dengan huruf f pasal ini. atau penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kewajiban Dewan Perwakilan Rakyat Daerah g. yang terdiri atas semua unsur fraksi DPRD bersidang sekurang-kurangnya 2 (dua) f. DPRD yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 d. angket. memilih Gubernur/Wakil Gubernur. a. pertimbangan kepada Pemerintah c. DPRD melaksanakan Permusyawaratan Rakyat serta di Daerah. memberikan persetujuan terhadap rencana Menteri Dalam Negeri. bersama dengan Gubernur. c.

peraturan perundang-undangan. diatur dalam Peraturan Tata orang yang dianggap mengetahui atau patut untuk bersidang dalam waktu 1 (satu) Tertib DPRD. penetapan. a. jual beli d. mendengar. h. a. menetapk an Peraturan Tata Tertib (4) Dalam melaksanakan tugasnya. keuangan/administrasi. d. seperlima jumlah Anggota atau apabila martabat dan kehormatan DPRD. (enam puluh) hari telah menyampaikan hasil (2) Kecuali yang dimaksud dalam ayat (1) g. imunitas. didengar. pemerintahan. protokoler. me-laksanakan . pengajuan pertanyaan. membina demokrasi dalam pelantikan Anggota baru Dewan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. pasal ini. penawaran umum . pengangkutan tanpa mengadakan DPRD mempunyai kewajiban : f. pada ayat (1). (2) Pelaksanaan hak. atau warga masyarakat untuk diperiksa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam Peraturan Tata Tertib memberikan keterangan tentang suatu hal wajib memenuhi panggilan panitia angket Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (6) Dalam hal telah dipanggil dengan patut secara (1) Rapat-rapat Dewan Perwakilan Rakyat (2) Pejabat negara. pinjaman . d.kali dalam setahun. persetujuan penyelesaian perkara Undang Dasar 1945. mengajukan pertanyaan. diancam dengan pidana kurungan bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia atas permintaan sekurang-kurangnya paling lama satu tahun karena merendahkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Daerah. Peraturan Tata Tertib DPRD. menentukan Anggaran Belanja DPRD. bangsa. (1) DPRD dalam melaksanakan tugasnya sedang diselidiki. sebagaimana dimaksud memanggil. angket. dan memeriksa seseKetua memanggil Anggota-anggota pada ayat (1). dan f. dan hak menyatakan pendapat diatur (3) Rapat tertutup dapat mengambil dalam Peraturan Tata Tertib DPRD yang keputusan. yang perlu ditangani demi kepentingan kecuali ada alasan yang sah menurut peraturan negara. seluruhnya . pejabat (5) Setiap orang yang dipanggil. (7) Seluruh hasil kerja panitia angket bersifat dipandang perlu oleh Pimpinan Dewan (3) Pelaksanaan hak. serta mentaati segala dan anggota DPRD diatur dalam Peraturan perdata secara damai . Pasal 32 pembangunan. (4) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud berhak meminta pejabat negara. mengetahui masalah yang sedang diselidiki bulan setelah permintaan itu diterima. keuangan dan administratif. membela diri. Pemerintah. memilih dan dipilih. mengamalkan Pancasila dan Undang. Perwakilan Rakyat Daerah. b. panitia untuk umum. kerjanya kepada DPRD. c. e. atas permintaan sekurangdan h. permintaan. diatur dalam (8) Tata cara penggunaan hak interpelasi. mempertahankan dan memelihara keutuhan g. pemborongan pekerjaan. pemilihan Ketua dan Wakil Ketua dan c. atau berturut-turut tidak memenuhi panggilan Daerah pada dasarnya bersifat terbuka warga masyarakat yang menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (5). perusahaan Daerah . dapat pada ayat (1) dan ayat (2). protokoler. mengajukan rancangan Perda. h. hutang piutang dan menanggung (2) Pelaksanaan hak. Anggaran Pendapatan dan Belanja (1) Anggota DPRD mempunyai hak : undangan. perubahan. atau ayat (1). Daerah serta perhitungannya. menyampaikan usul dan pendapat. b. penghapusan tagihan sebagian atau Negara Kesatuan Republik Indonesia. pejabat pemerintah. sebagaimana dimaksud a. (2) dan (3) pasal ini pemerintah. kecuali mengenai : Pasal 21 berpedoman pada peraturan perundanga. sebagaimana dimaksud rahasia. Pasal 45 Perwakilan Rakyat Daerah. barang-barang. pa-nitia angket kurangnya seperlima jumlah Anggota DPRD. mengamalkan Pancasila. serta untuk meminta menunjukkan surat atau (3) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 20 dokumen yang berkaitan dengan hal yang bersidang atas panggilan Ketua. dan perundang-undangan. (1) Anggota DPRD mempunyai hak: c. dan pemborongan Pasal 22 e. meningkatkan kesejahteraan rakyat di Anggota DPRD mempunyai kewajiban: (4) Semua yang hadir dalam rapat tertutup Daerah berdasarkan demokrasi a. dan dalam ayat-ayat (1).(2) Kedudukan protokoler dan keuangan pimpinan g. Tertib DPRD. dan Pasal 44 penghapusan pajak dan retribusi . c. dan b. hak diadakan rapat tertutup. sebagaimana dimaksud pada angket dapat memanggil secara paksa dengan (2) Atas permintaan Kepala Daerah. diatur dalam Peraturan Tata b. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat atau atas permintaan Kepala Daerah.

dan oleh anggota DPRD dengan ketentuan: karena sesuatu hal tidak dapat d.Keputusan DPRD. sampai Dewan membebaskannya. memperhatikan dan menyalurkan aspirasi. Pasal 46 (2) Tatacara tindakan kepolisian terhadap Pasal 24 (1) Alat kelengkapan DPRD terdiri atas: Anggota-anggota Dewan Perwakilan Peraturan Tata Tertib DPRD ditetapkan dengan a. menjaga norma dan etika dalam hubungan mengenai pengumuman rahasia Negara (3). berlaku sesudah kecuali mengenai : ada pengesahan pejabat yang a. alat kelengkapan lain yang diperlukan. dan (1) Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan kecuali yang dinyatakan tertutup berdasarkan f. melaksanakan kehidupan demo-krasi dalam mengetahui halnya dengan jalan apapun. susunan. ayat (2). h. Kode Etik. komisi. Ketua DPRD dapat kepentingan pribadi. (1) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat sekurang-kurangnya enam kali dalam d. menampung.(2) Kecuali yang dimaksud pada ayat (1). pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala (1) Badan Kehormatan DPRD dibentuk dan Daerah. menyerap. memperjuangkan peningkatan keDaerah tidak dapat dituntut dimuka setahun. sebagaimana dan sumpah/janji anggota DPRD. bagaimana dimaksud pada ayat (1) dipilih dari Rakyat Daerah Tingkat I melalaikan atau c. e. dan rapat tertutup. Pasal 47 berwenang. panitia anggaran. Rakyat Daerah diatur dengan Keputusan Peraturan Tata Tertib DPRD atau atas (2) Pembentukan. Pasal 34 Rapat-rapat DPRD bersifat terbuka untuk umum. ditetapkan dengan Peraturan Tata kerja dengan lembaga yang terkait. Pengadilan karena pernyataan. dari jumlah anggota atau atas permintaan f. dimaksud oleh ketentuan-ketentuan dimaksud pada ayat (1). Pasal 35 b. Undang-undang Hukum Pidana.wajib merahasiakan segala hal yang ekonomi. beranggotakan sampai dengan 34 (tiga puluh . menaati Peraturan Tata Tertib. penyelesaiannya. yang diajukan secara lisan mengundang anggotanya untuk golongan. Rakyat Daerah diatur dengan Undang. c. Pasal 26 DPRD dengan berpedoman pada peraturan (2) Peraturan Tata Tertib yang dimaksud Rapat tertutup dapat mengambil keputusan. dalam BUKU KEDUA BAB I Kitab Tertib DPRD. untuk DPRD kabupaten/kota yang menjalankan fungsi dan kewajibannya pajak dan retribusi. mempertahankan dan memelihara kerukunan Pasal 23 nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Pasal 33 (1) DPRD mengadakan rapat secara berkala Republik Indonesia. panitia musyawarah. b. dalam ayat (1) pasal ini. sejahteraan rakyat di daerah. ditetapkan dengan keputusan DPRD. memberikan pertanggungjawaban atas tugas Perwakilna Rakyat Daerah. pemilihan anggota Majelis (2) Anggota Badan Kehormatan DPRD se(1) Apabila ternyata Dewan Perwakilan Permusyawaratan Rakyat Utusan Daerah. undang.dan Undang-Undang Dasar Negara Republik dibicarakan dan kewajiban itu e. dan pernyataan yang dikemukakan dalam permintaan sekurang-kurangnya seperlima menindaklanjuti aspi-rasi masyarakat. dan wewenang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kesepakatan di antara pimpinan DPRD. Indonesia Tahun 1945. sebagai wujud tanggung jawab moral dan dengan pernyataan itu ia membocorkan (3) DPRD mengadakan rapat atas undangan politis terhadap daerah pemilihannya. serta memfasilitasi tindak lanjut b. maupun pegawai/pekerja yang masyarakat. Pasal 25 d. pemilihan Ketua/Wakil Ketua DPRD. penetapan perubahan dan penghapusan a. mendahulukan kepentingan negara di atas baik dalam rapat terbuka maupun dalam Kepala Daerah. Kepala dalam waktu satu bulan setelah permintaan dan kinerjanya selaku anggota DPRD Daerah atau Pemerintah. kelompok. alat kelengkapan sebagaimana dimaksud pada sesuai dengan pedoman yang ditetapkan ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib oleh Menteri Dalam Negeri. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Badan Kehormatan. rapat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. penyelenggaraan pemerintahan daerah. c. dan ayat i. atas e. kecuali jika itu diterima. tugas. perundang-undangan. meng-himpun. pimpinan. untuk dirahasiakan atau hal-hal yang (4) Pelaksanaan ketentuan. dan menaati segala berlangsung terus baik bagi Anggota menerima keluhan dan pengaduan peraturan perundang-undangan. maupun tertulis kepada Pimpinan Dewan mengadakan rapat selambat-lambatnya g. apa yang disepakati dalam rapat tertutup Ketua DPRD.

untuk DPRD provinsi yang beranggotakan kewajiban Dewan Perwakilan Rakyat h. (4) Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat (3) Sekretaris DPRD dalam melaksanakan (2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Daerah Tingkat II diangkat oleh tugasnya berada di bawah dan bertanggung sekurang-kurangnya meliputi: Kehormatan. dikemukakan dalam rapat DPRD. yang beranggotakan 75 (tujuh puluh lima) yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. dan seluruhnya. menyelenggarakan tugas dan Undang-undang Hukum Pidana. penghapusan tagihan sebagian atau berjumlah 5 (lima) orang. tindak pidana kejahatan. Pasal 37 melakukan tindak pidana. mengamati. dan Rakyat Daerah diatur dengan Peraturan DPRD dapat dilaksanakan atas persetujuan moral para anggota DPRD dalam rangka Daerah sesuai dengan pedoman yang tertulis Menteri Dalam Negeri bagi anggota menjaga martabat dan kehormatan sesuai ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. persetujuan penyelesaian perkara perdata sampai dengan 74 (tujuh puluh empat) Daerah itu dijalankan. susunan organisasi. melakukan penyelidikan. DPRD. lima) sampai dengan 45 (empat puluh lima) Menteri Dalam Negeri menentukan cara g. menyampaikan kesimpulan atas hasil (2) Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat dan/atau Gubernur. Pasal 48 (2) Pembentukan. meneliti dugaan pelanggaran yang dilakukan ayat (2) pasal ini. kecuali jika yang bersangkutan Pasal 36 (1) Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat mengumumkan apa yang disepakati dalam rapat (4) Badan Kehormatan sebagaimana dimaksud Daerah adalah unsur staf yang tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang pada ayat (1) dibantu oleh sebuah sekretariat membantu Pimpinan Dewan Perwakilan dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman yang secara fungsional dilaksanakan oleh Rakyat Daerah dalam rahasia negara dalam buku kedua Bab I Kitab Sekretariat DPRD. f. etika. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. penyelidikan. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam DPRD Kabupaten dan Kota. kecuali jika yang b. menyelenggarak an tugas dan oleh DPRD. selambat-lambatnya klarifikasi atas pengaduan Pimpinan DPRD. DPRD Propinsi dan Gubernur bagi anggota dengan Kode Etik DPRD. secara tertulis kepada Menteri Dalam Negeri d. secara damai. (3) Dengan memperoleh persetujuan Dewan kewenangannya. verifikasi. berlaku sesudah ada bersangkutan tertangkap tangan melakukan anggota DPRD terhadap Peraturan Tata pengesahan pejabat yang berwenang. dan pembebanan empat) berjumlah 3 (tiga) orang. kebijakan tata ruang. sampai dengan 100 (seratus) berjumlah 7 dilakukan oleh Gubernur Kepala Daerah Pasal 27 (tujuh) orang. baik terbuka atas seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua maupun tertutup.sehingga dapat merugikan Daerah atau e. kewajibannya. Gubernur Kepala Daerah Sekretaris DPRD yang diangkat oleh Kepala (1) DPRD wajib menyusun kode etik untuk mengajukan calon Sekretaris Dewan Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang menjaga martabat dan kehormatan anggota Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I memenuhi syarat atas persetujuan pimpinan DPRD dalam menjalankan tugas dan kepada Menteri Dalam Negeri. dan untuk DPRD (2) Bagi Daerah Tingkat II penentuan cara i. Badan Usaha Milik Daerah. setelah mendengar kepada Daerah. dan berjumlah 5 (lima) orang. wewenangnya. Daerah dipimpin oleh seorang Sekretaris dalam tempo 2 kali 24 jam diberitahukan masyarakat dan/atau pemilih. setelah mendengar pertimbangan Anggota DPRD tidak dapat dituntut di pengadilan (3) Pimpinan Badan Kehormatan DPRD Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah karena pernyataan dan atau pendapat yang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri yang bersangkutan. pinjaman. dan klarifikasi Daerah Tingkat I diangkat oleh Menteri Pasal 29 sebagaimana dimaksud pada huruf c Dalam Negeri dari Pegawai Negeri yang (1) Sekretariat DPRD membantu DPRD dalam sebagai rekomendasi untuk ditindaklanjuti memenuhi persyaratan. DPRD yang beranggotakan 35 (tiga puluh pertimbangan Gubernur Kepala Daerah. wewenang. . yang diajukannya secara lisan yang dipilih dari dan oleh anggota Badan atau tertulis. Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui (2) Sekretariat DPRD dipimpin oleh seorang Pasal 49 pemilihan. b. dan untuk Negara. bagaimana hak. utang piutang. Tertib dan Kode Etik DPRD serta (2) Dalam hal anggota DPRD tertangkap tangan sumpah/janji. dan (1) Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat dimaksud pada ayat (1). mengevaluasi disiplin. verifikasi. sebagaimana c. dan Pasal 28 Badan Kehormatan mempunyai tugas: formasi Sekretariat Dewan Perwakilan (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota a.

dan tata (5) Dengan memperoleh persetujuan Dewan dalam menjalankan fungsinya. Pasal 50 dengan Peraturan Manteri Dalam Negeri. (3) Anggota DPRD sebagaimana di-maksud pada ayat (1) dari 1 (satu) partai politik yang tidak memenuhi syarat untuk membentuk 1 (satu) fraksi. seluruh anggota fraksi gabungan tersebut wajib bergabung dengan fraksi dan/atau fraksi ga-bungan lain yang memenuhi syarat. sanksi dan rehabilitasi. Daerah mengajukan calon Sekretaris dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan d.Gubernur Kepala Daerah atas nama jawab kepada pimpinan DPRD.Daerah sebagai kepala eksekutif yang dibantu ayat (2). oleh anggota DPRD. Bupati/Walikotamadya Kepala ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan anggota DPRD dan pihak lain. Daerah. yang beranggotakan lebih dari 75 (tujuh puluh lima) orang membentuk 5 (lima) komisi. (5) Dalam hal fraksi gabungan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) setelah dibentuk. ahli dengan tugas membantu anggota DPRD c. pengaturan sikap. Tingkat II kepada Gubernur Kepala e. dan (6) Persyaratan dan tatacara pelaksanaan Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala f. (4) Fraksi yang ada wajib menerima anggota DPRD dari partai politik lain yang tidak memenuhi syarat untuk dapat membentuk satu fraksi. (6) Parpol yang memenuhi persyaratan untuk membentuk fraksi hanya dapat membentuk satu fraksi. Menteri Dalam Negeri dari Pegawai (4) Sekretaris DPRD dapat menyediakan tenaga b. tujuan kode etik. Pasal 51 (1) DPRD provinsi yang beranggotakan 35 (tiga puluh lima) sampai dengan 75 (tujuh puluh lima) orang membentuk 4 (empat) komi-si. (3). hal yang baik dan sepantasnya dilakukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Belanja Daerah. kemudian tidak lagi memenuhi syarat sebagai fraksi ga-bungan. ketentuan yang dimaksud dalam ayat. sanggahan. (7) Fraksi gabungan dapat dibentuk oleh partai politik dengan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (5). . a. Pasal 30 tanggapan. tata kerja. hubungan antarpenyelenggara pemerintahan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui (5) Anggaran Belanja Sekretariat DPRD daerah dan antaranggota serta antara pemilihan. jawaban. etika dalam penyampaian pendapat. (1) Setiap anggota DPRD wajib terhimpun dalam fraksi. pengertian kode etik. Negeri yang memenuhi persyaratan. (4) dan (5) pasal ini diatur oleh seorang Wakil Kepala Daerah. (2) Jumlah anggota setiap fraksi se-bagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya sama dengan jumlah komisi di DPRD. wajib bergabung dengan fraksi yang ada atau membentuk fraksi gabungan.

tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. pertanyaan dan/atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. proses penyidikan dapat dilakukan. pertanyaan dan/atau pendapat yang dikemukakan secara lisan ataupun tertulis dalam rapat DPRD.(2) DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan 20 (dua puluh) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) orang membentuk 3 (tiga) komisi. (3) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan diperlukan persetujuan tertulis dengan cara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari semenjak diterimanya permohonan. Pasal 52 (1) Anggota DPRD tidak dapat dituntut dihadapan pengadilan karena pernyataan. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal anggota yang bersangkutan mengumumkan materi yang telah disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan. (4) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. (3) Anggota DPRD tidak dapat diganti antarwaktu karena pernyataan. atau . yang beranggotakan lebih dari 35 (tiga puluh lima) orang membentuk 4 (empat) komisi. atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam peraturan perundang-undangan. sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Tata Tertib dan kode etik DPRD. Pasal 53 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden bagi anggota DPRD provinsi dan dari Gubernur atas nama Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD kabupaten/kota.

pegawai negeri sipil. advokat/pengacara. Pasal 55 (1) Anggota DPRD berhenti antarwaktu sebagai . c. (5) Setelah tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan. ayat (4). b. dan hak sebagai anggota DPRD. notaris. ayat (2).b. anggota TNI/Polri. (2) Anggota DPRD dilarang melakukan pekerjaan sebagai pejabat struktural pada lembaga pendidikan swasta. hakim pada badan peradilan. kolusi. dan nepotisme. konsultan. ayat (3). pejabat negara lainnya. Pasal 54 (1) Anggota DPRD dilarang merangkap jabatan sebagai: a. badan usaha milik daerah dan/atau badan lain yang anggarannya bersumber dari APBN/APBD. pegawai pada badan usaha milik negara. (5) Anggota DPRD yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diberhentikan oleh pimpinan berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Kehormatan DPRD. dokter praktik dan pekerjaan lain yang ada hubungannya dengan tugas. (6) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). disangka melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati. tindakan penyidikan harus dilaporkan kepada pejabat yang memberikan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 2 (dua kali) 24 (dua puluh empat) jam. (4) Anggota DPRD yang melakukan pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melepaskan pekerjaan tersebut selama menjadi anggota DPRD. akuntan publik. wewenang. dan ayat (5) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. atau tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. (3) Anggota DPRD dilarang melakukan korupsi.

huruf d. meninggal dunia. e. Anggota DPRD diberhentikan antarwaktu. b.22 tahun 1999 . dan c. 32 Tahun 2004 mengatur Daerah (1) Kepala Daerah Tingkat I dicalonkan (1) Pengisian jabatan Kepala Daerah dan Wakil (1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih bahwa Pemilihan Kepala Daerah dilakukan dan dipilih oleh Dewan Perwakilan Kepala Daerah dilakukan oleh DPRD melalui dalam satu pasangan calon yang secara langsung. f. Pelaksanaan ketentuan sebagai-mana dimaksud pada ayat (1). ayat (2). tidak lagi memenuhi syarat sebagai anggota DPRD. ayat (3). huruf c. Pemberhentian anggota DPRD yang telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi anggota DPRD provinsi dan kepada Gubernur melalui Bupati/Walikota bagi anggota DPRD kabupaten/kota untuk diresmikan pemberhentiannya. diusulkan oleh partai politik yang bersangkutan. 9 Pemilihan Kepala Pasal 15 Pasal 34 : Pasal 56 • Dalam UU No.(2) (3) (4) (5) anggota karena: a. dilaksanakan secara demokratis berdasarkan yang diatur dalam UU No. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 (enam) bulan. dan/atau melanggar kode etik DPRD. huruf b. dan huruf e dilaksanakan setelah ada keputusan DPRD berdasarkan rekomendasi dari Badan Kehormatan DPRD. mengundurkan diri atas permintaan sendiri secara tertulis. Pemberhentian anggota DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan. melanggar larangan bagi anggota DPRD. karena: a. dan ayat (4) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD berpedoman pada peraturan perundang-undangan. b. c. d. hal ini berbeda dengan Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 pemilihan secara bersamaan. dinyatakan bers alah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melanggar tindak pidana dengan ancaman pidana paling singkat 5 (lima) tahun penjara atau lebih. tidak melaksanakan kewajiban anggota DPRD.

(tiga) orang dan sebanyak-banyknya 5 (2) Calon Kepala Daerah dan calon Wakil asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan UU No. 5 Tahun 1974 pemilihan kepala (lima) orang calon yang telah Kepala Daerah, ditetapkan oleh DPRD dan adil. daerah dilakukan oleh DPRD. dimusyawarahkan dan disepakati melalui tahap pencalonan dan pemilihan. (2) Pasangan calon sebagaimana dimaksud pada bersama antara Pimpinan Dewan (3) Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala ayat (1) diajukan oleh partai politik atau Perwakilan Rakyat Daerah/ Pimpinan Daerah dan Wakil Kepala Daerah, dibentuk gabungan partai politik. Fraksi-fraksi depan Menteri Dalam Panitia Pemilihan. Negeri. (4) Ketua dan para Wakil Ketua DPRD karena Pasal 57 (2) Hasil pemilihan yang dimaksud dalam jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua (1) Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala ayat (1) pasal ini diajukan oleh Dewan Panitia Pemilihan merangkap sebagai daerah diselenggarakan oleh KPUD yang Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota. bertanggungjawab kepada DPRD. bersangkutan kepada Presiden melalui (5) Sekretaris DPRD karena jabatannya adalah (2) Dalam melaksanakan tugasnya, KPUD meMenteri Dalam Negeri sedikit-dikitnya 2 Sekretaris Panitia Pemilihan, tetapi bukan nyampaikan laporan penyelenggaraan (dua) orang untuk diangkat salah anggota. pemilihan kepala daerah dan wakil kepala seorang diantaranya. daerah kepada DPRD. (3) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang Pasal 35 (3) Dalam mengawasi penyelenggaraan pemilihdimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur (1) Panitia pemilihan, sebagaimana dimaksud an kepala daerah dan wakil kepala daerah, dengan Peraturan Menteri Dalam dalam Pasal 34 ayat (3), bertugas : dibentuk panitia pengawas pemilihan kepala Negeri. a. melakukan pemeriksaan berkas identitas daerah dan wakil kepala daerah yang mengenai bakal calon berdasarkan keanggotaannya terdiri atas unsur kepolisian, Pasal 16 persyaratan yang telah ditetapkan dalam kejaksaan, perguruan tinggi, pers, dan tokoh (1) Kepala Daerah Tingkat II dicalonkan Pasal 33; masyarakat. dan dipilih oleh Dewan Perwakilan b. melakukan kegiatan teknis pemilihan (4) Anggota panitia pengawas sebagaimana Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 calon; dan dimaksud pada ayat (3) berjumlah 5 (lima) (tiga) orang dan sebanyak-banyaknya 5 c. menjadi penanggung jawab orang untuk provinsi, 5 (lima) orang untuk (lima) orang calon yang telah penyelenggaraan pemilihan. kabupaten/kota dan 3 (tiga) orang untuk dimusyawarahkan dan disepakati (2) Bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon kecamatan. bersama antara Pimpinan Dewan Wakil Kepala Daerah yang memenuhi (5) Panitia pengawas kecamatan diusulkan oleh Perwakilan Rakyat Daerah/Pimpinan persyaratan sesuai dengan hasil panitia pengawas kabupaten/kota untuk Fraksi-fraksi dengan Gubernur Kepala pemeriksaan yang dilakukan oleh Panitia ditetapkan oleh DPRD. Daerah. Pemilihan, sebagaimana dimaksud pada ayat (6) Dalam hal tidak didapatkan unsur sebagai(2) Hasil pemilihan yang dimaksud dalam (1), diajukan kepada DPRD untuk ditetapkan mana dimaksud pada ayat (3), panitia ayat (1) pasal ini diajukan oleh Dewan sebagai calon Kepala Daerah dan calon pengawas kabupaten/kota/kecamatan dapat Perwakilan Rakyat Daerah yang Wakil Kepala Daerah. diisi oleh unsur yang lainnya. bersangkutan kepada Menteri Dalam (7) Panitia pengawas pemilihan kepala daerah Negeri melalui Gubernur Kepala Pasal 36 dan wakil kepala daerah dibentuk oleh dan Daerah sedikit-dikitnya 2 (dua) orang (1) Setiap fraksi melakukan kegiatan bertanggungjawab kepada DPRD dan untuk diangkat salah seorang penyaringan pasangan bakal calon sesuai berkewajiban menyampaikan laporannya. diantaranya. dengan syarat yang ditetapkan dalam Pasal (3) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang 33. Pasal 59 dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur (2) Setiap fraksi menetapkan pasangan bakal (1) Peserta pemilihan kepala daerah dan wakil dengan peraturan Menteri Dalam calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil kepala daerah adalah pasangan calon yang Negeri. Kepala Daerah dan menyampaikannya diusulkan secara berpasangan oleh partai dalam rapat paripurna kepada pimpinan politik atau gabungan partai politik. Pasal 17 DPRD. (2) Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat (1) Kepala Daerah diangkat untuk masa jabatan 5 (lima) tahun terhitung mulai sama mengajukan pasangan bakal calon mendaftarkan pasangan calon apabila

(3) Dua fraksi atau lebih dapat secara bersama-

tanggal pelantikannya dan dapat Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala memenuhi pers yaratan perolehan sekurangdiangkat kembali, untuk 1 (satu) kali Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat kurangnya 15% (lima belas persen) dari masa jabatan berikutnya. (1). jumlah kursi DPRD atau 15% (lima belas (2) Kepala Daerah adalah Pejabat Negara. persen) dari akumulasi perolehan suara sah Pasal 37 dalam Pemilihan Umum anggota DPRD di Pasal 18 (1) Dalam Rapat Paripurna DPRD, setiap fraksi daerah yang bersangkutan. (1) Sebelum memangku jabatannya atau beberapa fraksi memberikan penjelasan (3) Partai politik atau gabungan partai politik wajib Kepala Daerah diambil sumpahnya/ mengenai bakal calonnya. membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi janjinya dan dilantik oleh : (2) Pimpinan DPRD mengundang bakal calon bakal calon perseorangan yang memenuhi syarat a. Presiden bagi Kepala Daerah dimaksud untuk menjelaskan visi, misi, serta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan Tingkat I ; rencana-rencana kebijakan apabila bakal selanjutnya memproses bakal calon dimaksud b. Menteri Dalam Negeri bagi Kepala calon dimaksud terpilih sebagai Kepala melalui mekanisme yang demokratis dan Daerah Tingkat II. Daerah. transparan. (2) Presiden dapat menunjuk Menteri (3) Anggota DPRD dapat melakukan tanya (4) Dalam proses penetapan pasangan calon, partai Dalam Negeri untuk mengambil politik atau gabungan partai politik memperhatikan jawab dengan para bakal calon. sumpah/janji dan melantik Kepala (4) Pimpinan DPRD dan pimpinan fraksi-fraksi pendapat dan tanggapan masyarakat. Daerah Tingkat I atas nama Presiden. melakukan penilaian atas kemampuan dan (5) Partai politik atau gabungan partai politik (3) Menteri Dalam Negeri dapat menunjuk kepribadian para bakal calon dan melalui pada saat mendaftarkan pasangan calon, wajib Gubernur Kepala Daerah untuk mus yawarah atau pemungutan suara menyerahkan: mengambil sumpah/janji dan melantik menetapkan sekurang-kurangnya dua a. surat pencalonan yang ditandatangani Kepala Daerah Tingkat II atas nama pasang calon Kepala Daerah dan calon oleh pimpinan partai politik atau pimpinan Menteri Dalam Negeri. Wakil Kepala Daerah yang akan dipilih satu partai politik yang bergabung; (4) Susunan kata-kata sumpah/janji yang pasang di antaranya oleh DPRD. b. kesepakatan tertulis antarpartai politik yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, bergabung untuk mencalonkan pasangan adalah sebagai berikut : Pasal 38 calon; "Saya bersumpah/berjanji, bahwa (1) Nama-nama calon Gubernur dan calon Wakil c. surat pernyataan tidak akan menarik saya untuk diangkat menjadi Gubernur yang telah ditetapkan oleh pencalonan atas pasangan yang dicalonkan Kepala Daerah, langsung atau pimpinan DPRD dikonsultasikan dengan yang ditandatangani oleh pimpinan partai tidak langsung dengan nama Presiden. politik atau para pimpinan partai politik yang atau dalih apapun, tidak (2) Nama-nama calon Bupati dan calon Wakil bergabung; memberikan atau menjanjikan Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil d. surat pernyataan kesediaan yang atau akan memberikan sesuatu Walikota yang akan dipilih oleh DPRD bersangkutan sebagai calon kepala daerah kepada siapapun juga. ditetapkan dengan keputusan pimpinan dan wakil kepala daerah secara Saya bersumpah/berjanji, bahwa DPRD. berpasangan; saya untuk melakukan atau tidak e. surat pernyataan tidak akan mengundurkan melakukan sesuatu dalam Pasal 39 diri sebagai pasangan calon; jabatan ini, tidak sekali-kali akan (1) Pemilihan calon Kepala Daerah dan calon f. surat pernyataan kesanggupan menerima langsung ataupun Wakil Kepala Daerah dilaksanakan dalam mengundurkan diri dari jabatan apabila tidak langsung dari siapapun juga Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh terpilih menjadi kepala daerah atau wakil sesuatu janji atau pemberian. sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah kepala daerah sesuai dengan peraturan Saya bersumpah/berjanji, bahwa anggota DPRD. perundang-undangan; saya akan memenuhi kewajiban (2) Apabila jumlah anggota DPRD belum g. surat pernyataan mengundurkan diri dari saya sebagai Kepala Daerah mencapai kuorum, sebagaimana dimaksud jabatan negeri bagi calon yang berasal dari dengan sebaik-baiknya dan pada ayat (1), pimpinan rapat dapat pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, dan anggota Kepolisian sejujur-jujurnya, bahwa saya akan taat dan akan Negara Republik Indonesia;

menunda rapat paling lama satu jam.

mempertahankan PANCASILA (3) Apabila ketentuan, sebagaimana dimaksud h. surat pernyataan tidak aktif dari jabatannya sebagai dasar dan ideologi pada ayat (2), belum dicapai, rapat paripurna bagi pimpinan DPRD tempat yang Negara, bahwa saya senantiasa diundur paling lama satu jam lagi dan bersangkutan menjadi calon di daerah yang akan menegakkan Undangselanjutnya pemilihan calon Kepala Daerah menjadi wilayah kerjanya; Undang Dasar 1945 dan segala dan calon Wakil Kepala Daerah tetap i. surat pemberitahuan kepada pimpinan bagi peraturan perundang-undangan dilaksanakan. anggota DPR, DPD, dan DPRD yang yang berlaku bagi Negara mencalonkan diri sebagai calon kepala Republik Indonesia. daerah dan wakil kepala daerah; Saya bersumpah/berjanji, bahwa j. kelengkapan persyaratan calon kepala saya akan memegang rahasia daerah dan wakil kepala daerah sesuatu yang menurut sifatnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58; atau menurut perintah harus saya dan rahasiakan. Saya k. naskah visi, misi, dan program dari bersumpah/berjanji, bahwa saya pasangan calon secara tertulis. dalam menjalankan jabatan atau (6) Partai politik atau gabungan partai politik pekerjaan saya, senantiasa akan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya lebih mengutamakan dapat mengusulkan satu pasangan calon dan kepentingan Negara dan Daerah pasangan calon tersebut tidak dapat diusulkan daripada kepentingan saya lagi oleh partai politik atau gabungan partai sendiri, seseorang atau sesuatu politik lainnya. golongan dan akan menjunjung (7) Masa pendaftaran pasangan calon tinggi kehormatan Negara, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling Pemerintah, Daerah, dan lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak martabat Pejabat Negara. pengumuman pendaftaran pasangan calon. Saya bersumpah/berjanji, bahwa saya akan berusaha sekuat Pasal 60 tenaga membantu memajukan (1) Pasangan calon sebagaimana dimaksud kesejahteraan Rakyat Indonesia dalam Pasal 59 ayat (1) diteliti pers yaratan pada umumnya dan memajukan administrasinya dengan melakukan klarifikasi kesejahteraan Rakyat Indonesia kepada instansi pemerintah yang berwenang di Daerah pada khususnya dan dan menerima masukan dari masyarakat akan setia kepada Bangsa dan terhadap persyaratan pasangan calon. Negara Kesatuan Republik (2) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada Indonesia. ayat (1) diberitahukan secara tertulis kepada (5) Tatacara pengambilan sumpah/janji pimpinan partai politik atau gabungan partai dan pelantikan bagi Kepala Daerah politik yang mengusulkan, paling lambat 7 diatur dengan Peraturan Pemerintah. (tujuh) hari terhitung sejak tanggal penutupan pendaftaran. (3) Apabila pasangan calon belum memenuhi syarat atau ditolak karena tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan/atau Pasal 59, partai politik atau gabungan partai politik yang mengajukan calon diberi kesempatan untuk melengkapi dan/atau memperbaiki surat pencalonan beserta persyaratan pasangan calon atau

mengajukan calon baru paling lambat 7 (tujuh) hari sejak saat pemberitahuan hasil penelitian persyaratan oleh KPUD. Pasal 61 (1) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) dan ayat (4). (3) Terhadap pasangan calon yang telah ditetapkan dan diumumkan. Pasal 62 (1) Partai politik atau gabungan partai politik dilarang menarik calonnya dan/atau pasangan calonnya. selanjutnya dilakukan undian secara terbuka untuk menetapkan nomor urut pasangan calon. dan pasangan calon atau salah seorang dari pasangan calon dilarang mengundurkan diri terhitung sejak ditetapkan sebagai pasangan calon oleh KPUD. (5) Apabila hasil penelitian berkas pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak memenuhi syarat dan ditolak oleh KPUD. partai politik dan atau gabungan partai politik. tidak dapat lagi mengajukan pasangan calon. (4) Penetapan dan pengumuman pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bersifat final dan mengikat. (2) Apabila partai politik atau gabungan partai politik menarik calonnya dan/atau pasangan calon dan/atau salah seorang dari pasangan calon mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Pasangan calon yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diumumkan secara luas paling lambat 7 (tujuh) hari sejak selesainya penelitian. KPUD menetapkan pasangan calon paling kurang 2 (dua) pasangan calon yang dituangkan dalam Berita Acara Penetapan pasangan calon. (4) KPUD melakukan penelitian ulang kelengkapan dan atau perbaikan persyaratan pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan sekaligus memberitahukan hasil penelitian tersebut paling lambat 7 (tujuh) hari kepada pimpinan partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan. partai politik atau .

partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap dapat mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. Pasal 63 (1) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap sejak penetapan calon sampai pada saat dimulainya hari kampanye. tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilanjutkan dan pasangan calon yang berhalangan tetap tidak dapat diganti serta dinyatakan gugur. (3) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara sehingga jumlah pasangan calon kurang dari 2 (dua) pasangan. tahapan . (2) Dalam hal salah 1 (satu) calon atau pasangan calon berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara dan masih terdapat 2 (dua) pasangan calon atau lebih. Pasal 64 (1) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap setelah pemungutan suara putaran pertama sampai dimulainya hari pemungutan suara putaran kedua. tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lambat 30 (tiga puluh) hari dan partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap dan KPUD melakukan penelitian pers yaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan.gabungan partai politik yang mencalonkan tidak dapat mengusulkan calon pengganti.

Penetapan pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah terpilih. meliputi penetapan tata cara dan jadwal tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah. e. Pembentukan Panitia Pengawas. (4) Tata cara pelaksanaan masa persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud . b. Pemberitahuan dan pendaftaran pemantau. (2) Partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. c. pengesahan. Pemberitahuan DPRD kepada kepala daerah mengenai berakhirnya masa jabatan. Pemungutan suara.pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lambat 30 (tiga puluh) hari. (3) Tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. d. Perencanaan penyelenggaraan. PPK. Penetapan daftar pemilih. Kampanye. b. c. dan pelantikan. Pendaftaran dan Penetapan calon kepala daerah/ wakil kepala daerah. d. dan tahap pelaks anaan. Pasal 65 (1) Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilaksanakan melalui masa persiapan. Penghitungan suara. dan f. e. Pemberitahuan DPRD kepada KPUD mengenai berakhirnya masa jabatan kepala daerah. PPS dan KPPS. (2) Masa persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a.

serta pe-mungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. m. melakukan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. meneliti persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang diusulkan. b. h. e. d.menyelenggarakan. f. i. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur oleh peraturan perundangundangan. . l. g. c. mengkoordinasikan. menetapkan tanggal dan tata cara pelaksanaan kampanye.pada ayat (3) diatur KPUD dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. meneliti persyaratan partai politik atau gabungan partai politik yang me-ngusulkan calon. menetapkan kantor akuntan publik untuk mengaudit dana kampanye dan mengumumkan hasil audit. Pasal 66 (1) Tugas dan wewenang KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah: a. menetapkan hasil rekapitulasi penghitungan suara dan mengumumkan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. mengumumkan laporan sumbangan dana kampanye. menerima pendaftaran dan me-ngumumkan tim kampanye. menetapkan pasangan calon yang telah memenuhi persyaratan. k. Merencanakan penyelenggara-an pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. menetapkan tata cara pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sesuai dengan tahapan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. dan mengendalikan semua tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. j.

d. c. misi. c. d. dan f. dan program dari pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah.(2) Dalam penyelenggaran pemilihan gubernur dan wakil gubernur KPUD kabupaten/kota adalah bagian pelaksana tahapan penyelenggaraan pemilihan yang ditetapkan oleh KPUD provinsi. Pasal 67 (1) KPUD berkewajiban: a. menyelenggarakan rapat paripurna un-tuk mendengarkan penyampaian visi. menerima laporan pelanggaran peraturan perundang-undangan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. menyelesaikan sengketa yang timbul dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. b. dan e. meneruskan temuan dan laporan yang tidak dapat diselesaikan kepada instansi yang berwenang. (4) Panitia pengawas pemilihan mempunyai tugas dan wewenang: a. e. memberitahukan kepada kepala daerah mengenai akan berakhirnya masa jabatan. b. mengatur hubungan koordinasi antar panitia pengawasan pada semua tingkatan. meminta pertanggungjawaban pelaksanaan tugas KPUD. mengusulkan pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala daerah yang berakhir masa jabatannya dan mengusulkan pengangkatan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. melakukan pengawasan pada semua tahapan pelaksanaan pemilihan. membentuk panitia pengawas. (3) Tugas dan wewenang DPRD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah: a. memperlakukan pasangan calon secara adil dan setara. b. menetapkan standarisasi serta kebutuhan . mengawasi semua tahapan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.

melaksanakan semua tahapan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah secara tepat waktu. memelihara arsip dan dokumen pemilihan serta mengelola barang inventaris milik KPUD berdasarkan peraturan perundangundangan. nyata-nyata tidak sedang terganggu jiwa/ingatannya. e. warga negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat: a. menyampaikan laporan kepada DPRD untuk setiap tahap pelaksanaan pemilihan dan menyampaikan informasi kegiatannya kepada masyarakat . f. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. c.barang dan jasa yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan. (2) Untuk dapat didaftar sebagai pemilih. (3) Seorang warga negara Republik Indonesia yang telah terdaftar dalam daftar pemilih ternyata tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat menggunakan hak memilihnya. Pasal 69 (1) Untuk dapat menggunakan hak memilih. . warga negara Republik Indonesia harus terdaftar sebagai pemilih. d. mempertanggungjawabkan pengguna-an anggaran kepada DPRD. 10 Penetapan Pemilih Pasal 68 Warga negara Republik Indonesia yang pada hari pemungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih. b.

(4) Pemilih terdaftar yang karena sesuatu hal terpaksa tidak dapat menggunakan hak pilihnya di TPS yang sudah ditetapkan. (2) Daftar pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah dengan daftar pemilih tambahan yang telah memenuhi persyaratan sebagai pemilih ditetapkan sebagai daftar pemilih sementara. Pasal 72 (1) Seorang pemilih hanya didaftar 1 (satu) kali dalam daftar pemilih. (2) Apabila seorang pemilih mempunyai lebih dari 1 (satu) tempat tinggal. Pasal 73 (1) Pemilih yang telah terdaftar dalam daftar pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 kemudian berpindah tempat tinggal atau karena ingin menggunakan hak pilihnya di tempat lain. yang bersangkutan dapat menggunakan hak pilihnya di tempat lain dengan menunjukkan kartu pemilih. (3) Pemilih melaporkan kepindahannya ke-pada PPS di tempat pemilihan yang baru.Pasal 70 (1) Daftar pemilih pada saat pelaksanaan pemilihan umum terakhir di daerah digunakan sebagai daftar pemilih untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. pemilih yang bersangkutan harus melapor kepada PPS setempat. pemilih tersebut harus menentukan satu di antaranya untuk ditetapkan sebagai tempat tinggal yang dicantumkan dalam daftar pemilih. . (2) PPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencatat nama pemilih dari daftar pemilih dan memberikan surat keterangan pindah tempat memilih. Pasal 71 Pemilih yang telah terdaftar sebagai pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 diberi tanda bukti pendaftaran untuk ditukarkan dengan kartu pemilih untuk setiap pemungutan suara.

(7) Tim kampanye dapat dibentuk secara berjenjang di provinsi. (5) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bersama-sama atau secara terpisah oleh pasangan calon dan/atau oleh tim kampanye. (5) Daftar pemilih tetap disahkan dan d-umumkan oleh PPS. 11 Kampanye Pasal 75 (1) Kampanye dilaksanakan sebagai bagian dari penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. (4) Daftar pemilih sementara dan daftar pemilih tambahan ditetapkan sebagai daftar pemilih tetap. (3) Pemilih yang belum terdaftar dalam daftar peilih sementara dapat mendaftarkan diri ke PPS dan dicatat dalam daftar pemilih tambahan. (3) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh tim kampanye yang dibentuk oleh pasangan calon bersama-sama partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan pasangan calon. (6) Tata cara pelaksanaan pendaftaran pemilih ditetapkan oleh KPUD. (2) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan selama 14 (empat belas) hari dan berakhir 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara. (4) Tim kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didaftarkan ke KPUD bersamaan dengan pendaftaran pasangan calon. (2) Daftar pemilih sementara sebagaimana diaksud pada ayat (1) diumumk an oleh PPS untuk mendapat tanggapan masyarakat. yang pelaksanaannya dipertanggungjawabkan oleh tim kampanye. kabupaten/kota bagi pasangan calon Gubernur dan Wakil . (6) Penanggung jawab kampanye adalah pasangan calon.Pasal 74 (1) Berdasarkan daftar pemilih sebagaimana diaksud dalam Pasal 70 dan Pasal 73 PPS menyusun dan menetapkan daftar pemilih sementara.

(3) Calon kepala daerah dan wakil kepala daerah berhak untuk mendapatkan informasi atau data dari pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. c. (4) Penyampaian materi kampanye dilakukan dengan cara yang sopan. Pasal 76 (1) Kampanye dapat dilaksanakan melalui: a. (9) Jadwal pelaksanaan kampanye ditetapkan oleh KPUD dengan memperhatikan usul dari pasangan calon. f. kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan. b. pertemuan terbatas. debat publik/debat terbuka antarcalon. (5) Penyelenggaraan kampanye dilakukan di seluruh wilayah provinsi untuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur dan diseluruh wilayah kabupaten/kota untuk pemilihan bupati dan wakil bupati dan walikota dan wakil walikota. (2) Pasangan calon wajib menyampaikan visi. rapat umum. tertib.Gubernur dan kabupaten/kota dan kecamatan bagi pasangan calon Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota. h. e. Pasal 77 (1) Media cetak dan media elektronik memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk menyampaikan tema dan materi kampanye. dan/atau i. dan program secara lisan maupun tertulis kepada masyarakat. g. d. penyebaran melalui media cetak dan media elektronik. penyiaran melalui radio dan/atau televisi. (8) Dalam kampanye. misi. tatap muka dan dialog. rakyat mempunyai kebebasan untuk menghadiri kampanye. penyebaran bahan kampanye kepada umum. pemasangan alat peraga di tempat umum. . dan bersifat edukatif.

golongan. (4) Semua yang hadir dalam pertemuan terbatas atau rapat umum yang diadakan oleh pasangan calon hanya dibenarkan membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut pasangan calon yang bersangkutan. ancaman kekerasan atau menganjurkan . menghasut atau mengadu domba partai politik. menghina seseorang.(2) Media elektronik dan media cetak wajib memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk memasang iklan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam rangka kampanye. ras. calon kepala daerah/wakil kepala daerah dan/atau partai politik. (8) Alat peraga kampanye harus sudah dibersihkan paling lambat 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara. c. Pasal 78 Dalam kampanye dilarang: a. kebersihan. perseorangan. agama. (3) Pemerintah daerah memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk menggunakan fasilitas umum. b. d. (7) Pemasangan alat peraga kampanye pada tempat yang menjadi milik perseorangan atau badan swasta harus seizin pemilik tempat tersebut. (6) Pemasangan alat peraga kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (5) oleh pasangan calon dilaksanakan dengan memper-timbangkan etika. suku. estetika. dan keindahan kota atau kawasan setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan/atau kelompok masyarakat. (5) KPUD berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menetapkan lokasi pemasangan alat peraga untuk keperluan kampanye. menggunakan kekerasan. mempersoalkan dasar negara Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

d. dan j.penggunaan kekerasan kepada perseorangan. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri. ketenteraman. melakukan pawai atau arak-arakan yang dilakukan dengan berjalan kaki dan/atau dengan kendaraan di jalan raya. menggunakan fasilitas dan anggaran pemerintah dan pemerintah daerah. g. (4) Pasangan calon dilarang melibatkan pegawai negeri sipil. dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai peserta . mengancam dan menganjurkan penggunaan kekerasan untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintahan yang sah. menggunakan tempat ibadah dan tempat pendidikan. hakim pada semua peradilan. f. kepala desa. e. kelompok masyarakat dan/atau partai politik. tidak menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatannya. menjalani cuti di luar tanggungan negara. pejabat BUMN/BUMD. merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye pasangan calon lain. b. pengaturan lama cuti dan jadwal cuti dengan memperhatikan keberlangsungan tugas penyelenggaraan pemerin-tahan daerah. anggota Tentara Nasional Indonesia. h. Pasal 79 (1) Dalam kampanye. (2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku apabila pejabat tersebut menjadi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. i. mengganggu keamanan. b. c. dan c. dan ketertiban umum. dilarang melibatkan: a. (3) Pejabat negara yang menjadi calon ke-pala daerah dan wakil kepala daerah dalam melaksanakan kampanye harus memenuhi ketentuan: a.

(3) Tata cara pengenaan sanksi terhadap pelanggaran larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh KPUD. dan kepala desa dilarang membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri. huruf i dan huruf j. dan huruf f. penghentian kegiatan kampanye di tempat terjadinya pelanggaran atau di seluruh daerah pemilihan yang bersangkutan apabila terjadi gangguan terhadap keamanan yang berpotensi menyebar ke daerah pemilihan lain. b. Pasal 80 Pejabat negara. (4) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 dikenai sanksi penghentian kampanye selama masa kampanye oleh KPUD.kampanye dan juru kampanye dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. huruf d. huruf e. merupakan tindak pidana dan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. huruf b. Pasal 81 (1) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf a. huruf h. . (2) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf g. huruf c. peringatan tertulis apabila penyelenggara kampanye melanggar larangan walaupun belum terjadi gangguan. yang merupakan pelanggaran tata cara kampanye dikenai sanksi: a.

dan ayat (5) disampaikan oleh pasangan calon . (5) Sumbangan kepada pasangan calon yang lebih dari Rp 2.00 (dua juta lima ratus ribu rupiah) baik dalam bentuk uang maupun bukan dalam bentuk uang yang dapat dikonversikan ke dalam nilai uang wajib dilaporkan kepada KPUD mengenai jumlah dan identitas pemberi sumbangan.00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah). (2) Pasangan calon dan/atau tim kampanye yang terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh DPRD.Pasal 82 (1) Pasangan calon dan/atau tim kampanye dilarang menjanjikan dan/atau memberikan uang atau materi lainnya untuk mempengaruhi pemilih. b. (3) Sumbangan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dari perseorangan dilarang melebihi Rp 50.000. (2) Pasangan calon wajib memiliki rekening khusus dana kampanye dan rekening yang dimaksud didaftarkan kepada KPUD.000. (6) Laporan sumbangan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (3).00 (lima puluh juta rupiah) dan dari badan hukum swasta dilarang melebihi Rp 350.000.000. partai politik dan/atau gabungan partai politik yang mengusulkan. Pasal 83 (1) Dana kampanye dapat diperoleh dari: a. pasangan calon.000. c. sumbangan pihak-pihak lain yang tidak mengikat yang meliputi sumbangan perseorangan dan/atau badan hukum swasta. (4) Pasangan calon dapat menerima dan/atau menyetujui pembiayaan bukan dalam bentuk uang secara langsung untuk kegiatan kampanye.500.

negara asing. (3) KPUD wajib menyerahkan laporan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kantor akuntan publik paling lambat 2 (dua) hari setelah KPUD menerima laporan dana kampanye dari pasangan calon. . (6) Laporan dana kampanye yang diterima KPUD wajib dipelihara dan terbuka untuk umum. (4) Kantor akuntan publik wajib menyelesaikan audit paling lambat 15 (lima belas) hari setelah diterimanya laporan dana kampanye dari KPUD. Pasal 84 (1) Dana kampanye digunakan oleh pasangan calon. (2) Dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaporkan oleh pasangan calon kepada KPUD paling lambat 3 (tiga) hari setelah hari pemungutan suara. lembaga swasta asing. (7) KPUD mengumumkan melalui media massa laporan sumbangan dana kampanye setiap pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (6) kepada masyarakat satu hari setelah menerima laporan dari pasangan calon. yang teknis pelaksanaannya dilakukan oleh tim kampanye. Pasal 85 (1) Pasangan calon dilarang menerima sumbangan atau bantuan lain untuk kampanye yang berasal dari: a. (5) Hasil audit sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diumumkan oleh KPUD paling lambat 3 (tiga) hari setelah KPUD menerima laporan hasil audit dari kantor akuntan publik. lembaga swadaya masyarakat asing dan warga negara asing.kepada KPUD dalam waktu 1 (satu) hari sebelum masa kampanye dimulai dan 1 (satu) hari sesudah masa kampanye berakhir.

(2) Pemungutan suara dilakukan dengan memberikan suara melalui surat suara yang berisi nomor. penyumbang atau pemberi bantuan yang tidak jelas identitasnya. c. dan nama pasangan calon. dan BUMD. Pasal 87 (1) Jumlah surat suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (2) dicetak sama dengan jumlah pemilih tetap dan ditambah 2.5% (dua setengah perseratus) dari jumlah pemilih tersebut. BUMN. . (2) Tambahan surat suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai cadangan di setiap TPS untuk mengganti surat suara pemilih yang keliru memilih pilihannya serta surat suara yang rusak. 12 Pemungutan Suara Pasal 86 (1) Pemungutan suara pemilihan pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan paling lambat 1 (satu) bulan sebelum masa jabatan kepala daerah berakhir. (2) Pasangan calon yang menerima sumba-ngan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dibenarkan menggunakan dana tersebut dan wajib melaporkannya kepada KPUD paling lambat 14 (empat belas) hari setelah masa kampanye berakhir dan menyerahkan sumbangan tersebut kepada kas daerah. pemerintah. (3) Penggunaan tambahan surat suara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuatkan berita acara. (3) Pasangan calon yang melanggar ketentu-an sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh KPUD. foto.b. (3) Pemungutan suara dilakukan pada hari libur atau hari yang diliburkan.

(2) TPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan lokasinya di tempat yang mudah dijangkau. bahan. (3) Jumlah. serta menjamin setiap pemilih dapat memberikan suaranya secara langsung. termasuk oleh penyandang cacat. bebas. (2) Jumlah.Pasal 88 Pemberian suara untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilakukan dengan mencoblos salah satu pasangan calon dalam surat suara. tunadaksa. ukuran. bentuk. Pasal 90 (1) Jumlah pemilih di setiap TPS sebanyakbanyaknya 300 (tiga ratus) orang. dan tata letak TPS ditetapkan oleh KPUD. dan rahasia. bentuk. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberi-an bantuan kepada pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. dan warna kotak suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh KPUD dengan berpedoman pada peraturan perundangundangan. . Pasal 89 (1) Pemilih tunanetra. lokasi. (2) Petugas KPPS atau orang lain yang membantu pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib merahasiakan pilihan pemilih yang dibantunya. atau yang mempunyai halangan fisik lain pada saat memberikan suaranya di TPS dapat dibantu oleh petugas KPPS atau orang lain atas permintaan pemilih. Pasal 91 (1) Untuk keperluan pemungutan suara dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah disediakan kotak suara sebagai tempat surat suara yang digunakan oleh pemilih.

pemilih dapat meminta surat suara pengganti kepada KPPS. (4) Apabila terdapat kekeliruan dalam cara memberikan suara. b. dan warga masyarakat. serta d. kemudian KPPS memberikan surat suara pengganti hanya satu kali. panitia pengawas. dan sekurang-kurangnya 2 (dua) anggota KPPS dan dapat ditandatangani oleh saksi dari pasangan calon. (3) Kegiatan KPPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Ketua KPPS. pembukaan kotak suara. pemantau. KPPS melakukan: a. c. penghitungan jumlah setiap jenis dokumen dan peralatan. pemilih dapat meminta surat suara pengganti kepada KPPS. pengidentifikasian jenis dokumen dan peralatan. KPPS memberikan penjelasan mengenai tata cara pemungutan suara. pemilih diberi kesempatan oleh KPPS berdasarkan prinsip urutan kehadiran pemilih. kemudian KPPS memberikan surat suara pengganti hanya satu kali. (5) Penentuan waktu dimulai dan berakhirnya pemungutan suara ditetapkan oleh KPUD. Pasal 94 (1) Pemilih yang telah memberikan suara di TPS diberi tanda khusus oleh KPPS. Pasal 93 (1) Setelah melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92. (2) Kegiatan KPPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dihadiri oleh saksi dari pasangan calon.Pasal 92 (1) Sebelum melaksanakan pemungutan suara. pengeluaran seluruh isi kotak suara. (3) Apabila menerima surat suara yang ternyata rusak. (2) Dalam memberikan suara. (2) Tanda khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh KPUD dengan .

pemantau. foto dan nama pasangan calon yang telah ditentukan. (5) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari tim kampanye yang . jumlah surat suara yang tidak terpakai. panitia pengawas. atau d. dan warga masyarakat. foto dan nama pasangan calon. jumlah pemilih yang memberikan suara berdasarkan salinan daftar pemilih tetap untuk TPS. (2) Sebelum penghitungan suara dimulai. atau c. tanda coblos terdapat dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor. jumlah pemilih dari TPS lain. (4) Penghitungan suara dilakukan dan selesai di TPS oleh KPPS dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. Pasal 95 Suara untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dinyatakan sah apabila: a. tetapi masih di dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor. b. c. (3) Penggunaan surat suara tambahan dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Ketua KPPS dan sekurang-kurangnya 2 (dua) anggota KPPS. dan d. dan b. tanda coblos lebih dari satu. tanda coblos terdapat pada salah satu garis kotak segi empat yang memuat nomor. foto dan nama pasangan calon. Pasal 96 (1) Penghitungan suara di TPS dilakukan oleh KPPS setelah pemungutan suara berakhir. KPPS menghitung: a. surat suara ditandatangani oleh Ketua KPPS. jumlah surat suara yang dikembalikan oleh pemilih karena rusak atau keliru dicoblos.berpedoman pada Peraturan Pemerintah. atau e. tanda coblos hanya terdapat pada 1 (satu) kotak segi empat yang memuat satu pasangan calon.

KPPS seketika itu juga mengadakan pembetulan. KPPS membuat berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurangkurangnya 2 (dua) orang anggota KPPS serta dapat ditandatangani oleh saksi pasangan calon. dan warga masyarakat. sertifikat hasil penghitungan suara. (11) KPPS menyerahkan berita acara. Pasal 97 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. pemantau. (6) Penghitungan suara dilakukan dengan ca-ra yang memungkinkan saksi pasangan calon. panitia pengawas. dan alat kelengkapan administrasi pemungutan dan penghitungan suara kepada PPS segera setelah selesai penghitungan suara. (9) Segera setelah selesai penghitungan su-ara di TPS. surat suara.bersangkutan dan menyerahkannya kepada Ketua KPPS. . PPS membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat desa/kelurahan dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. (10) KPPS memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. (8) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh saksi pasangan calon atau warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dapat diterima. (7) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPPS apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. panitia pengawas. dan warga masyarakat yang hadir dapat menyaksikan secara jelas proses penghitungan suara. pemantau.

pemantau. PPS seketika itu juga mengadakan pembetulan. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh PPS apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua TPS dalam wilayah kerja desa/kelurahan yang bersangkutan. dan warga masyarakat. (6) PPS wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPS kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum . PPS membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan paling sedikit 2 (dua) orang anggota PPS serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. Pasal 98 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara.(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada PPS. . (7) PPS wajib menyerahkan 1 (satu) eksemplar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPS kepada PPK setempat. panitia pengawas. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh saksi pasangan calon atau warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. PPK membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat kecamatan dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon.

Pasal 99 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. PPK seketika itu juga mengadakan pembetulan. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon.(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada PPK. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh PPK apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. . (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua PPS dalam wilayah kerja kecamatan yang bersangkutan. (6) PPK wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPK kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. panitia pengawas. (7) PPK wajib menyerahkan 1 (satu) eksem-plar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPK kepada KPU kabupaten/kota. PPK membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang anggota PPK serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. pemantau. KPU kabupaten/kota membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat kabupaten/kota dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. dan warga masyarakat.

berita acara dan rekapitulasi hasil peng-hitungan suara selanjutnya diputuskan da-lam pleno KPU kabupaten/kota untuk me-netapkan pasangan calon terpilih.(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada KPU kabupaten/kota. Pasal 100 (1) Dalam hal pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPU kabupaten/kota apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. . KPU kabupaten/kota membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurangkurangnya 2 (dua) orang anggota KPU kabupaten/kota serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. KPU kabupaten/kota seketika itu juga mengadakan pembetulan. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua PPK dalam wilayah kerja kecamatan yang bersangkutan. (7) KPU kabupaten/kota wajib menyerahkan 1 (satu) eksemplar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU kabupaten/kota kepada KPU provinsi. (6) KPU kabupaten/kota wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU kabupaten/kota kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum.

KPU provinsi membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat provinsi dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPU provinsi apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan.(2) Penetapan pasangan calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada DPRD kabu-paten/kota untuk diproses pengesahan dan pengangkatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. . sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. (2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada KPU provinsi. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. KPU provinsi seketika itu juga mengadakan pembetulan. (6) KPU provinsi wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU provinsi kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua KPU kabupaten/kota. dan warga masyarakat. Pasal 101 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. KPU provinsi membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang anggota KPU provinsi serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. pemantau. panitia pengawas.

Pasal 102 (1) Berita acara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (5) selanjutnya diputuskan dalam pleno KPU provinsi untuk menetapkan pasangan calon terpilih. pemantau. penghitungan suara dilakukan di tempat lain di luar tempat dan waktu yang telah ditentukan. Pasal 103 (1) Penghitungan ulang surat suara di TPS dilakukan apabila dari hasil penelitian dan pemeriksaan terbukti terdapat satu atau lebih penyimpangan sebagai berikut: a. . saksi pasangan calon. (4) Apabila terjadi perbedaan data jumlah suara pada tingkat KPU Kabupaten/Kota. penghitungan suara dilakukan secara tertutup. dilakukan pengecekan ulang terhadap sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara pada 1 (satu) tingkat di bawahnya. dan/atau e. dan KPU Provinsi. d. (2) Penghitungan ulang surat suara dilakukan pada tingkat PPS apabila terjadi perbedaan data jumlah suara dari TPS. (3) Penghitungan ulang surat suara dilakukan pada tingkat PPK apabila terjadi perbedaan data jumlah suara dari PPS. dan warga mas-yarakat tidak dapat menyaksikan proses penghitungan suara secara jelas. b. terjadi ketidakkonsistenan dalam menentukan surat suara yang sah dan surat suara yang tidak sah. c. (2) Penetapan pasangan calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh KPU provinsi disampaikan kepada DPRD provinsi untuk diproses pengesahan pengangkatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. penghitungan suara dilakukan di tempat yang kurang penerangan cahaya. panitia pe-ngawas.

atau menulis nama atau alamatnya pada surat suara yang sudah digunakan. petugas KPPS meminta pemilih memberi tanda khusus. menandatangani. c.Pasal 104 (1) Pemungutan suara di TPS dapat diulang apabila terjadi kerusuhan yang mengakibatkan hasil pemungutan suara tidak dapat digunakan atau penghitungan suara tidak dapat dilakukan. Pasal 105 Penghitungan suara dan pemungutan suara ulang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 dan Pasal 104 diputuskan oleh PPK dan dilaksanakan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sesudah hari pemungutan suara. lebih dari seorang pemilih yang tidak terdaftar sebagai pemilih mendapat kesempatan memberikan suara pada TPS. Pasal 106 (1) Keberatan terhadap penetapan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah hanya dapat diajukan oleh pasangan calon kepada Mahkamah Agung dalam waktu paling lambat 3 (tiga) . pembukaan kotak suara dan/atau berkas pemungutan dan penghitungan suara tidak dilakukan menurut tata cara yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. dan/atau e. lebih dari seorang pemilih menggunakan hak pilih lebih dari satu kali pada TPS yang sama atau TPS yang berbeda. d. (2) Pemungutan suara di TPS dapat diulang apabila dari hasil penelitian dan pemeriksaan Panitia Pengawas Kecamatan terbukti terdapat satu atau lebih dari keadaan sebagai berikut: a. b. petugas KPPS merusak lebih dari satu surat suara yang sudah digunakan oleh pemilih sehingga surat suara tersebut menjadi tidak sah.

(6) Mahkamah Agung dalam melaksanakan kewenangannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mendelegasikan kepada Pengadilan Tinggi untuk memutus sengketa hasil penghitungan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten dan kota. pasangan calon yang perolehan suaranya terbesar dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. (4) Mahkamah Agung memutus sengketa hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling lambat 14 (empat belas) hari sejak diterimanya permohonan keberatan oleh Pengadilan Negeri/Pengadilan Tinggi/ Mahkamah Agung.ed 13 Penetapan Calon Terpilih dan Pelantikan Pasal 107 (1) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 50 % (lima puluh persen) jumlah suara sah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih. (3) Pengajuan keberatan kepada Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada pengadilan tinggi untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah provinsi dan kepada pengadilan negeri untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota. . pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah suara sah.(2) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya pasangan calon. (2) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi. (7) Putusan Pengadilan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) bersifat final. (5) Putusan Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (4) bersifat final dan mengikat.

(8) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara terbanyak pada putaran kedua dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. (4) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak terpenuhi. (7) Apabila pemenang kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh lebih dari satu pasangan calon. penentuan peringkat pertama dan kedua dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. calon wakil kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah. (3) Dalam hal calon kepala daerah terpilih berhalangan tetap. calon kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah. (2) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih.(3) Dalam hal pasangan calon yang perolehan suara terbesar s ebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdapat lebih dari satu pasangan calon yang perolehan suaranya sama. atau tidak ada yang mencapai 25 % (dua puluh lima persen) dari jumlah suara sah. (5) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh dua pasangan calon. kedua pasangan calon tersebut berhak mengikuti pemilihan putaran kedua. dilakukan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pemenang pertama dan pemenang kedua. . Pasal 108 (1) Dalam hal calon wakil kepala daerah terpilih berhalangan tetap. (6) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh tiga pasangan calon atau lebih. penentuannya dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. penentuan pasangan calon terpilih dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas.

(4) Pasangan calon bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota diusulkan oleh DPRD k abupaten/kota. selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari. (3) Pasangan calon Gubernur dan wakil Gubernur terpilih diusulkan oleh DPRD provinsi. . Pasal 109 (1) Pengesahan pengangkatan pasangan ca-lon Gubernur dan wakil Gubernur terpilih dilakukan oleh Presiden selambatlambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya meraih suara terbanyak pertama dan kedua mengusulkan pasangan calon kepada DPRD untuk dipilih menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah selambatlambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari. pemilihannya dilakukan selambatlambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari. (5) Dalam hal pasangan calon terpilih berhalangan tetap. kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari KPU provinsi untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan. (2) Pengesahan pengangkatan pasangan calon bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota terpilih dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari KPU kabupaten/kota untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan.(4) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih. selambatlambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari. (6) Untuk memilih wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4).

” (3) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memegang jabatan selama 5 (lima) tahun terhitung sejak pelantikan dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan. nusa dan bangsa. memegang teguh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada masyarakat.Pasal 110 (1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebelum memangku jabatannya dilantik dengan mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh pejabat yang melantik. (2) Bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota dilantik oleh Gubernur atas nama Presiden. Pasal 111 (1) Gubernur dan wakil Gubernur dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden. (4) Tata cara pelantikan dan pengaturan selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 112 Biaya kegiatan Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dibebankan pada APBD . (2) Sumpah/janji kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut: “Demi Allah (Tuhan). saya bersumpah/berjanji akan memenuhi kewajiban saya sebagai kepala daerah/ wakil kepala daerah dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. (3) Pelantikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD.

mempunyai sumber dana yang jelas. (3) Pemantau pemilihan yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan/atau tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 dicabut haknya sebagai pemantau pemilihan dan/atau dikenai sanksi sesuai peraturan perundang-undangan. dan badan hukum dalam negeri. (4) Tata cara untuk menjadi pemantau pemilihan dan pemantauan pemilihan serta pencabutan hak sebagai pemantau diatur dalam Peraturan Pemerintah. dan b. 15 Ketentuan Pidana Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 115 (1) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar mengenai diri sendiri atau diri orang lain tentang suatu hal yang diperlukan untuk pengisian daftar pemilih. (2) Pemantau pemilihan wajib mematuhi se-gala peraturan perundang-undangan. Pasal 114 (1) Pemantau pemilihan wajib menyampaikan laporan hasil pemantauannya kepada KPUD paling lambat 7 (tujuh) hari setelah pelantikan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.14 Pemantauan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 113 (1) Pemantauan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dapat dilakukan oleh pemantau pemilihan yang meliputi lembaga swadaya masyarakat. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. . bersifat independen. (2) Pemantau pemilihan sebagaimana dimak-sud pada ayat (2) harus memenuhi pers yaratan yang meliputi: a. (3) Pemantau pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus mendaftarkan dan memperoleh akreditasi dari KPUD.

6.000. menggunakannya. 600.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 200.000.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000.000.00 (enam ratus ribu .000.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. (4) Setiap orang yang dengan sengaja dan mengetahui bahwa suatu surat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tidak sah atau dipalsukan. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 600. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (enam juta rupiah). 600.00 (dua ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. (3) Setiap orang yang dengan sengaja memalsukan surat yang menurut suatu aturan dalam Undang-Undang ini diperlukan untuk menjalankan suatu perbuatan dengan maksud untuk digunakan sendiri atau orang lain sebagai seolah-olah surat sah atau tidak dipalsukan.000.000.00 (enam juta rupiah).00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 6.00 (dua juta rupiah).000.00 (satu juta rupiah).000. atau menyuruh orang lain menggunakannya sebagai surat sah. 1.000. (2) Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang lain kehilangan hak pilihnya dan orang yang kehilangan hak pilihnya tersebut mengadukan.100. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. (5) Setiap orang yang dengan kekerasan atau dengan ancaman kekuasaan yang ada padanya saat pendaftaran pemilih menghalang-halangi seseorang untuk terdaftar sebagai pemilih dalam Pemilihan kepala daerah menurut undang-undang ini.

00 (satu juta rupiah).000.rupiah) dan paling banyak Rp. huruf h.00 (enam juta rupiah).000.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp6.000. huruf b.00 (seratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp1.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. huruf d.000.000. huruf i dan huruf j dan Pasal 79 ayat (1).00 (enam juta rupiah). (3) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan kampanye pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf g. huruf e dan huruf f diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp600.000. 6. (6) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar atau menggunakan surat palsu seolah-olah sebagai surat yang sah tentang suatu hal yang diperlukan bagi persyaratan untuk menjadi Pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan .000.000. (2) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf a.00 (enam juta rupiah). dan ayat (4).000. 600. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. huruf c. 6. ayat (3).000. Pasal 116 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kampanye di luar jadwal waktu yang telah ditetapkan oleh KPUD untuk masingmasing pasangan calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari atau paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp100.

00 (enam juta rupiah). 600. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri dan kepala desa yang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp.00 (enam juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp200.00 (satu miliar rupiah).000.000.000. (6) Setiap orang yang memberi atau menerima dana kampanye melebihi batas yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (3). 600.000.atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp100.000. 6.000. 6. dan/atau tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2).00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp. diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 200.000. (7) Setiap orang yang dengan sengaja menerima atau memberi dana kampanye dari atau kepada pihak-pihak yang dilarang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (1).000.000.000. atau mengganggu jalannya kampanye.000.000.00 (satu miliar rupiah).000.000.00 (dua ratus juta rupiah) atau paling banyak Rp1.000.00 (satu juta rupiah). (5) Setiap orang yang dengan sengaja mengacaukan. (4) Setiap pejabat negara.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. menghalangi.000.00 (seratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp1.000.00 (dua ratus juta rupiah) atau paling banyak Rp 1. .

000.00 (sepuluh juta rupiah).00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. 10. atau menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suaranya menjadi tidak sah. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.00 (sepuluh juta rupiah). 1.000.000. (2) Setiap orang yang dengan sengaja memberi atau menjanjikan uang atau materi lainnya kepada seseorang supaya tidak menggunakan hak pilihnya. Pasal 117 (1) Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan dan menghalang-halangi seseorang yang akan melakukan haknya untuk memilih.000.00 ( satu juta rupiah). .00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000. diancam dengan pidana penjara paling s ingkat 2 (dua) bulan atau paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.00 (sepuluh juta rupiah).000.000. 1. atau memilih Pasangan calon tertentu. 10.000.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. (3) Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja mengaku dirinya sebagai orang lain untuk menggunakan hak pilih.00 (satu juta rupiah) atau paling banyak Rp10.000. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 60 (enam puluh) hari dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000. 100.000.(8) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar dalam laporan dana kampanye sebagaimana diwajibkan oleh UndangUndang ini.000.

kecuali dengan alasan bahwa pekerjaan tersebut tidak bisa ditinggalkan.000. 10.000.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000. (8) Setiap orang yang bertugas membantu pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (2) dengan sengaja memberitahukan pilihan si pemilih kepada orang lain.00 ( dua ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. 10.00 .000. 1.000.00 (sepuluh juta rupiah). 1.000.000.000.000.00 (sepuluh juta rupiah). (6) Seorang majikan atau atasan yang tidak memberikan kesempatan kepada seorang pekerja untuk memberikan suaranya. (7) Setiap orang yang dengan sengaja pada waktu pemungutan suara mendampingi seorang pemilih selain yang diatur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (1).000. (5) Setiap orang yang dengan sengaja menggagalkan pemungutan suara diancam dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 1. 1. 10. 200.00 (sepuluh juta rupiah).000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 4 (empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.(4) Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja memberikan suaranya lebih dari satu kali di satu atau lebih TPS.000.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.00 (dua juta rupiah).000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.

00 (satu juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. (2) Setiap orang yang dengan sengaja merusak atau menghilangkan hasil pemungutan suara yang sudah disegel.000.000.00 (sepuluh juta rupiah). 1. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 2.00 (satu miliar rupiah).000.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.000. .000.000.000. 10. 1.(satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000. 10. (3) Setiap orang yang karena kelalaiannya menyebabkan rusak atau hilangnya hasil pemungutan suara yang sudah disegel. diancam dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. Pasal 118 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang menyebabkan suara seorang pemilih menjadi tidak berharga atau menyebabkan Pasangan calon tertentu mendapat tambahan suara atau perolehan suaranya berkurang.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.00 (dua juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000. 100.000. 1. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 2 (dua) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (sepuluh juta rupiah).000.000.000.000. 100. (4) Setiap orang yang dengan sengaja mengubah hasil penghitungan suara dan/atau berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara. 20.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.00 (dua puluh juta rupiah).000.000.

ancaman pidananya ditambah 1/3 (satu pertiga) dari pidana yang diatur dalam Pasal 115. dari Camat dan Lurah susunan organisasi dan formasi Daerah. (5) Sekretaris Daerah berkewajiban membantu sekretaris daerah bertanggung jawab Kepala Daerah dalam menyusun kebijakan kepada kepala daerah. lembaga teknis. disebutkan secara lebih rinci mengani tugas yang dimaksud dalam ayat (1) ini. dan unit pelaksana melaksanakan tugasnya. Pasal 117. Pasal 47 serta membina hubungan kerja dengan (4) Apabila sekretaris daerah berhalangan (1) Sekretariat Daerah adalah unsur staf dinas. (2) Pembentukan. dan kelurahan. kewajiban membantu kepala daerah dalam Instansi Vertikal berada dibawah (4) Sekretaris Daerah Kabupaten atau Sekretaris menyusun kebijakan dan kordinasi Kepala Wilayah yang Daerah Kota diangkat oleh Bupati atau mengkoordinasikan dinas daerah dan bersangkutan. Dinas Daerah dan lembaga teknis Daerah lainnya. daerah dilaksanakan oleh pejabat yang menyelenggarakan pemerintahan (6) Sekretaris Daerah bertanggung jawab ditunjuk oleh kepala daerah. tugas Sekretaris (1) Sekretaris Daerah diangkat dari pegawai dengan Peraturan Daerah s esuai Daerah dilaksanakan oleh pejabat yang negeri sipil yang memenuhi persyaratan. sekretariat DPRD. adalah Sekretaris Wilayah. berwenang. sekretariat daerah. Daerah.32 Tahun 2004 Kepegawaian (1) Sekretariat Daerah adalah Sekretariat Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah. berlaku Gubernur sesuai dengan peraturan sesudah ada pengesahan pejabat yang Pasal 62 perundang-undangan.32 Tahun 2004 (3) Dengan tidak mengurangi ketentuan Pasal 61 atas sekretariat daerah. Pasal 116. lembaga teknis daerah. Walikota atas persetujuan pimpinan DPRD lembaga teknis daerah. tugas sekretaris yang membantu Kepala Daerah dalam lainnya. (1) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana (3) Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud Pemerintah Daerah. pada ayat (1) untuk provinsi diangkat dan (3) Peraturan Daerah yang dimaksud diberhentikan oleh Presiden atas usul dalam ayat (2) pasal ini. (2) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi (3) Dalam pelaksanaan tugas dan kewajiban dalam ayat (1) pasal ini.l syarat. daerah. dan lembaga teknis daerah. kecamatan. (1) Perangkat daerah provinsi terdiri atas ditambahkan bahwa Sekertariat DPRD Daerah Wilayah. Sekretariat Wilayah lainnya serta (2) Sekretaris Daerah Propinsi diangkat oleh pengangkatan dan pemberhentian Gubernur atas persetujuan pimpinan DPRD Pasal 121 pejabatnya diatur oleh Menteri Dalam dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi (1) Sekretariat daerah dipimpin oleh Sekretaris Negeri. dan Pasal 118. diatur dengan syarat. sebagaimana dimaksud pada ayat (2).Pasal 119 Jika tindak pidana dilakukan dengan sengaja oleh penyelenggara atau pasangan calon. Peraturan Pemerintah. (3) Sekretaris Daerah Propinsi karena (2) Sekretaris daerah sebagaimana dimaksud Pasal 85 jabatannya adalah Sekretaris Wilayah pada ayat (1) mempunyai tugas dan (1) Dalam menjalankan tugasnya. dinas termasuk dalam perangkat daerah (2) Sekretaris Daerah karena jabatannya sesuai dengan kebutuhan Daerah. pada ayat (1) untuk kabupaten/kota diangkat (2) Dinas dipimpin oleh seorang Kepala Dinas dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul . susunan organisasi dan (7) Apabila Sekretaris Daerah berhalangan Pasal 122 formasi Sekretariat Daerah ditetapkan melaksanakan tugasnya. (2) Perangkat daerah kabupaten/kota terdiri • Dalam Undang-Undang No. Kepala Administrasi. 16` Aparatur dan Pasal 84 Pasal 60 Pasal 120 • Dalam Undang-Undang No. Daerah. kepada Kepala Daerah. (2) Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud Menteri Dalam Negeri. sekretariat DPRD. dengan pedoman yang ditetapkan oleh ditunjuk oleh Kepala Daerah. (1) Sekretariat Daerah dipimpin oleh Sekretaris dinas daerah.

setelah mendengar pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD Peraturan Menteri Dalam Negeri. pemberhentian. Pasal 67 kepala daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris pemberhentian sementara. Perwakilan Rakyat Daerah. (1) Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan pensiun. (2) Sekretaris DPRD sebagaimana dimaksud (3) Sekretaris Daerah tingkat II diangkat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). uang tunggu. (2) Pembentukan. seorang Sekretaris Daerah. (6) Pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan otonomi daerah. menyelenggarakan administrasi Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan oleh instansi vertikal. Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi. atas usul Sekretaris Daerah. b. pada ayat (1) diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur Kepala Daerah atas dilaksanakan oleh Dinas Propinsi. kewenangan pemerintahan dari berpedoman pada Peraturan Pemerintah. mendukung pelaksanaan tugas dan (4) Persyaratan dan tatacara pelaksanaan dan tata laksananya. (4) Sekretaris Daerah karena kedudukannya (2) Sekretaris Daerah Tingkat I diangkat (3) Kepala Dinas bertanggung jawab kepada sebagai pembina pengawai negeri sipil di oleh Menteri Dalam Negeri dari Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. daerahnya. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud Bupati/Walikota. dengan Peraturan Daerah sesuai Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. ditetapkan dengan Keputusan d. pimpinan DPRD dan secara administratif (2) Pembentukan susunan organisasi dan (3) Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas bertanggung jawab kepada kepala daerah formasi Dinas Daerah ditetapkan usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari melalui Sekretaris Daerah. dan ketentuan yang dimaksud dalam ayatpada ayat (1). dan hal-hal lain yang dipimpin oleh Kepala Kelurahan. sebagaimana dimaksud fungsi DPRD. (1) Dinas daerah merupakan unsur pelaksana berwenang. Daerah. (2) Dinas daerah dipimpin oleh kepala dinas Pasal 50 yang diangkat dan diberhentikan oleh (1) Pengangkatan. tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada dijalankan oleh pejabat yang ditunjuk ayat (3) huruf d wajib meminta oleh Kepala Daerah. Pegawai Negeri yang memenuhi pers yaratan atas usul Gubernur Kepala Pasal 63 Pasal 123 Daerah setelah mendengar Penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan (1) Sekretariat DPRD dipimpin oleh Sekretaris pertimbangan Pimpinan Dewan oleh Pemerintah kepada Gubernur selaku wakil DPRD. susunan organisasi. c. berlaku (5) Camat bertanggung jawab kepada Bupati Pasal 124 sesudah ada pengesahan pejabat yang atau Walikota. menyelenggarakan administrasi Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah menjadi wewenang Pemerintah. oleh Gubernur/Bupati/Walikota dengan nama Menteri Dalam Negeri dari persetujuan DPRD. dibawah dan bertanggung jawab kepada Pemerintah Daerah. dalam ayat (2) pasal ini. Daerah. formasi. Di Daerah dapat dibentuk lembaga teknis sesuai (4) Sekretaris DPRD dalam menyediakan maka tugas Sekretaris Daerah dengan kebutuhan Daerah. menyediakan dan mengkoordinasi ayat (2) dan (3) pasal ini diatur dengan Presiden. Pasal 66 pertimbangan pimpinan DPRD. (1) Kecamatan merupakan perangkat Daerah (5) Sekretaris DPRD dalam melaksanakan Pasal 49 Kabupaten dan Daerah Kota yang dipimpin tugasnya secara teknis operasional berada (1) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana oleh Kepala Kecamatan. (2) Kepala Kecamatan disebut Camat. Peraturan Daerah. gaji. keuangan DPRD. Pegawai Negeri yang memenuhi Pasal 64 (3) Sekretaris DPRD mempunyai tugas: pers yaratan atas usul (1) Penyelenggaraan bidang pemerintahan yang a. . (6) Susunan organisasi sekretariat DPRD dengan pedoman yang ditetapkan oleh (4) Camat menerima pelimpahan sebagian ditetapkan dalam peraturan daerah Menteri Dalam Negeri.Pasal 48 yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Bupati/Walikota sesuai dengan peraturan (1) Sekretariat Daerah dipimpin oleh Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat perundang-undangan. dalam melaksanakan fungsinya sesuai (5) Apabila Sekretaris Daerah Pasal 65 dengan kemampuan keuangan daerah. berhalangan menjalankan tugasnya. kesekretariatan DPRD.

kedudukan hukum Pegawai Negeri Sipil di Daerah kabupaten/kota dengan Perda berpedoman atas permintaan Kepala Daerah dan Pegawai Negeri Sipil Daerah. berdayaan masyarakat. diatur syarat Pasal 76 pelaksanaan tugasnya memperoleh dan hubungan kerja Pegawai Daerah Daerah mempunyai kewenangan untuk pelimpahan sebagian wewenang bupati atau yang bersangkutan dengan perangkat melakukan pengangkatan. (1) Lembaga teknis daerah merupakan unsur sesudah ada pengesahan pejabat (5) Lurah bertanggung jawab kepada Camat. Pemerintah Wilayah Propinsi melakukan ketertiban umum. kantor. pemindahan. hak. umum daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 75 ayat (2) bertanggung jawab kepada kepala Pasal 52 Norma. dengan ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai daerah sebagaimana dimaksud pada ayat Keputusan Menteri atas permintaan dengan pedoman yang ditetapkan (1) dipimpin oleh kepala badan. diperbantukan atau dipekerjakan penetapan pensiun. dengan peraturan perundang-undangan. walikota untuk menangani sebagian urusan Daerah Tingkat II sepanjang pemberhentian. standar. penetapan pensiun. atau kepala rumah sakit umum (2) Dalam Keputusan yang dimaksud (2) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat daerah yang diangkat oleh kepala daerah dalam ayat (1) pasal ini. gaji. atau rumah sakit umum (1) Pegawai Negeri dari sesuatu Pasal 68 daerah. (6) Pembentukan Kelurahan ditetapkan dengan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan Peraturan Daerah. Pegawai Daerah di atur oleh Kepala d. (3) Kepala badan. kepala Kepala Daerah yang bersangkutan. baik Pegawai Negeri ditetapkan dengan Peraturan Daerah. diperlukan. (3) Kepala dinas daerah bertanggung jawab Daerah. ditetapkan pada Peraturan Pemerintah. mengkoordinasikan pemeliharaan Daerah sesuai dengan peraturan prasarana dan fasilitas pelayanan . berlaku kewenangan pemerintahan dari Camat. diatur dengan Peraturan (3) Lurah diangkat dari Pegawai Negeri Sipil kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah sesuai dengan pedoman yang yang memenuhi syarat oleh Walikota/Bupati Daerah. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud (4) Lurah menerima pelimpahan sebagian Pasal 125 dalam ayat (1) pasal ini. dan kesejahteraan pegawai. kantor atau rumah sakit umum dipekerjakan kepada Daerah. mengkoordinasikan upaya pesesuatu Daerah berada di bawah pimpinan Pasal 77 nyelenggaraan ketentraman dan Kepala Daerah yang bersangkutan. yang berdasarkan peraturan perundang-undangan.mengenai kedudukan hukum Pegawai (2) Kepala Kelurahan disebut Lurah. Pemerintah. pengawasan pelaksanaan administrasi c. dan kewajiban. yang bersangkutan dengan perangkat yang ditetapkan Pemerintah. mengkoordinasikan penerapan dan Pasal 54 kepegawaian dan karir pegawai di wilayahnya penegakan peraturan perundang(1) Pembinaan kepegawaian terhadap sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Departemen dapat diperbantukan atau (1) Susunan organisasi perangkat Daerah (2) Badan. daerah yang bersifat spesifik berbentuk Pasal 51 badan. pemindahan. serta *9621 (1) Kecamatan dibentuk di wilayah Keputusan Kepala Daerah Tingkat I. a. tunjangan. diperbantukan atau dipekerjakan kepada b. dan prosedur mengenai daerah melalui Sekretaris Daerah. Tingkat II yang bersangkutan. undangan. pendukung tugas kepala daerah dalam yang berwenang. (1) Pegawai Daerah Tingkat I dapat pengangkatan. (2) Kecamatan sebagaimana dimaksud pada (2) Dalam Keputusan yang dimaksud ayat (1) dipimpin oleh camat yang dalam dalam ayat (1) pasal ini. diatur syarat Daerah ditetapkan dengan Keputusan dari pegawai negeri sipil yang memenuhi dan hubungan kerja Pegawai Negeri Kepala Daerah sesuai dengan pedoman syarat atas usul Sekretaris Daerah. kantor. atau rumah sakit Daerah sepanjang diperlukan. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. mengkoordinasikan kegiatan pemmaupun Pegawai Daerah. atas usul Camat. kantor. Pasal 126 kepada Daerah Tingkat II dengan kesejahteraan. gaji. otonomi daerah. serta (3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada pendidikan dan pelatihan sesuai dengan ayat (2) camat juga menyelenggarakan Pasal 53 kebutuhan dan kemampuan Daerah yang tugas umum pemerintahan meliputi: Semua pegawai. pemberhentian. tunjangan.

Pasal 127 (1) Kelurahan dibentuk di wilayah kecamatan dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (2) Pembinaan kepegawaian terhadap Pegawai Negeri yang diperbantukan atau dipekerjakan kepada Daerah di atur dengan peraturan perundangundangan. (2) Kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati/Walikota. b. pemberdayaan masyarakat. umum. Pasal 85 (1) Dalam menjalankan tugasnya. dan ayat (6) ditetapkan dengan peraturan bupati atau walikota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) lurah mempunyai tugas: a. membina penyelenggaraan pemerintahan desa dan/atau kelurahan. f. (2) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. e. Kepala Instansi Vertikal berada dibawah kordinasi Kepala Wilayah yang bersangkutan. melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan desa atau kelurahan. ayat (5). pelaksanaan kegiatan pemerintahan kelurahan.perundang-undangan yang berlaku. (7) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). ayat (4). ayat (3). . mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan. (5) Camat dalam menjalankan tugastugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dibantu oleh perangkat kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah kabupaten/kota. (4) Camat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul sekretaris daerah kabupaten/kota dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. g. (6) Perangkat kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) bertanggung jawab kepada camat. diatur dengan Peraturan Pemerintah.

ayat (3). dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dengan Perda. Perangkat kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) bertanggung jawab kepada Lurah. pelayanan masyarakat. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas Lurah sebagaimana dimaksud pada ayat (3).(4) (5) (6) (7) (8) (9) c. Lurah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Camat dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundangundangan. penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum. dan ayat (7) ditetapkan dengan peraturan bupati atau walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. d. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. ayat (5). Lurah bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Camat. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 128 (1) Susunan organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dalam Perda dengan memperhatikan faktorfaktor tertentu dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. ayat (4). ayat (6). Lurah dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibantu oleh perangkat kelurahan. (2) Pengendalian organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah untuk provinsi dan oleh Gubernur untuk kabupaten/kota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. dan e. .

hak dan kewajiban kedudukan hukum. dan antar provinsi ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara. dan pengendalian jumlah. Pasal 131 (1) Perpindahan pegawai negeri sipil antar kabupaten/kota dalam satu provinsi ditetapkan oleh Gubernur setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara. tunjangan. (2) Perpindahan pegawai negeri sipil antar kabupaten/kota antar provinsi.(3) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. penetapan pensiun. pemberhentian. Pasal 130 (1) Pengangkatan. pemindahan dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada pemerintah daerah provinsi ditetapkan oleh Gubernur. kesejahteraan. pemindahan. . gaji. (2) Pengangkatan. pengangkatan. dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada pemerintah daerah kabupaten/kota ditetapkan oleh Bupati/Walikota setelah berkonsultasi kepada Gubernur. pengadaan. pengembangan kompetensi. Pasal 129 (1) Pemerintah melaksanakan pembinaan manajemen pegawai negeri sipil daerah dalam satu kesatuan penyelenggaraan manajemen pegawai negeri sipil secara nasional. pemindahan. (2) Manajemen pegawai negeri sipil daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penetapan formasi.

Pasal 133 Pengembangan karir pegawai negeri sipil daerah mempertimbangkan integritas dan moralitas. dan kompetensi. dan pemindahan pegawai negeri sipil daerah untuk penghitungan dan penyesuaian alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (3). pangkat. dan pemindahan pegawai negeri sipil daerah dilaksanakan setiap tahun.(3) Perpindahan pegawai negeri sipil provinsi/kabupaten/kota ke departemen/lembaga pemerintah non departemen atau sebaliknya. pemberhentian. mutasi jabatan. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara. mutasi antar daerah. pendidikan dan pelatihan. Pasal 132 Penetapan formasi pegawai negeri sipil daerah provinsi/ kabupaten/kota setiap tahun anggaran dilaksanakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara atas usul Gubernur. (4) Pemerintah melakukan pemutakhiran data pengangkatan. (2) Penghitungan dan penyesuaian besaran alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akibat pengangkatan. Pasal 134 (1) Gaji dan tunjangan pegawai negeri sipil daerah dibebankan pada APBD yang bersumber dari alokasi dasar dalam dana alokasi umum. Pasal 135 (1) Pembinaan dan pengawasan manajemen pegawai negeri sipil daerah . (3) Penghitungan alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah. pemberhentian.

sebagaimana dimaksud pada e. Pasal 40 atau denda sebanyak-banyaknya (1) Peraturan Daerah diundangkan Rp5.00 (lima juta rupiah) dengan Pasal 137 dengan menempatkannya dalam atau tidak merampas barang tertentu untuk Perda dibentuk berdasarkan pada asas Lembaran Daerah yang bersangkutan.000. dan dalam UU No. penyelenggaraan otonomi daerah materi pembuatan suatu peraturan Daerah Kepala Daerah tidak boleh bertentangan provinsi/ kabupaten/kota dan tugas dengan kepentingan umum dan Pasal 70 pembantuan. dan g. berlaku pada tanggal yang ditentukan menetapkan keputusan Kepala Daerah. dalam Peraturan Daerah yang (2) Keputusan. 22 Tahun 1999 dan UU No. peraturan perundang-undangan atau Pasal 71 (4) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat Peraturan Daerah yang lebih tinggi (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan (1) dilarang bertentangan dengan tingkatannya. .32 Tahun 2004 Pasal 39 penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang(2) Perda dibentuk dalam rangka disebutkan secara rinci mengenai asas dan (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan undangan yang lebih tinggi. tidak boleh bertentangan dengan f. d. 17 Peraturan Daerah Pasal 38 Pasal 69 Pasal 136 • Dalam UU No. pengesahan mulai berlaku pada peraturan perundang-undangan yang lebih tanggal pengundangannya atau pada tinggi. kedayagunaan dan kehasilgunaan. penyelenggaraan Otonomi Daerah dan DPRD. kecuali jika ditentukan lain dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang (2) Peraturan Daerah mempunyai peraturan perundang-undangan. meliputi: kekuatan hukum dan mengikat setelah a. Peraturan Daerah. lain dan peraturan perundang-undangan yang dari peraturan perundang-undangan yang (2) Peraturan Daerah tidak boleh mengatur lebih tinggi. dapat dilaksanakan. berlaku setelah diundangkan dalam pidana kurungan paling lama enam bulan lembaran daerah. (3) Peraturan Daerah yang tidak atas kuasa peraturan perundang-undangan c.000. kejelasan rumusan. dan (4) Peraturan Daerah yang memerlukan kepentingan umum. dan prosedur pembinaan dan pengawasan manajemen pegawai negeri sipil daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Daerah. (2) Standar. keterbukaan. tanggal yang ditentukan dalam Peraturan Daerah yang bersangkutan. seluruhnya atau perundang-undangan yang lebih tinggi. (2) Peraturan Daerah dapat memuat ancaman (1). bersangkutan. lebih tinggi dengan memperhatikan ciri sesuatu hal yang telah diatur dalam khas masing-masing daerah. diundangkan dalam Lembaran Daerah Pasal 72 b. Peraturan Daerah (1) merupakan penjabaran lebih lanjut tingkatannya. sesuatu hal yang termasuk urusan sebagian kepada pelanggar. Kepala Daerah muatan. kejelasan tujuan. kelembagaan atau organ pembentuk yang yang bersangkutan.32 dan Peraturan Kepala Daerah dengan persetujuan Dewan Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah (1) Perda ditetapkan oleh kepala daerah Tahun 2004 disebutkan bahwa Perda dibentuk Kepala Daerah Perwakilan Rakyat Daerah menetapkan atas persetujuan DPRD dalam rangka setelah mendapat persetujuan bersama dalam rangka penyelenggaraan Otonomi . norma. (5) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat rumah tangga Daerah tingkat bawahnya. Daerah. tentang pembebanan biaya paksaan kepentingan umum dan/atau peraturan (3) Peraturan Daerah tidak boleh mengatur penegakan hukum. peraturan daerah. (1) Untuk melaksanakan Peraturan Daerah dan tepat. peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan (3) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat Peraturan Daerah yang lebih tinggi dengan kepentingan umum. kesesuaian antara jenis dan materi memerlukan pengesahan mulai lain yang berlaku.dikoordinasikan pada tingkat nasional oleh Menteri Dalam Negeri dan pada tingkat daerah oleh Gubernur. ayat (1).

000. dalam ayat (1) pasal ini. Perda dapat memuat asas lain sesuai (2) Peraturan Daerah yang dimaksud melakukan penyidikan terhadap pelanggaran dengan substansi Perda yang bersangkutan. berlaku bersangkutan dengan menyebutkan (2) Apabila dalam satu masa sidang. keadilan. oleh DPRD. c. (2) Ketentuan. keserasian. pengayoman. ketertiban dan kepastian hukum. ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk (1). Rp. (2) Keputusan pembatalan Peraturan Daerah seluruhnya atau sebagian kepada dan Keputusan Kepala Daerah. kekeluargaan. Daerah.rupiah) Daerah dilakukan oleh pejabat penyidik dan dan/atau dengan atau tidak dengan merampas penuntut sesuai dengan peraturan j. (1) Peraturan Daerah Tingkat I dan mengikat setelah diundangkan dalam f. . memuat ketentuan ancaman pidana Pasal 74 h. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud diberitahukan kepada Daerah yang Gubernur. Daerah dan Keputusan Kepala Daerah penyiapan atau pembahasan rancangan yang bertentangan dengan kepentingan Perda. kenusantaraan. keseimbangan. g. bulan atau denda sebanyak-banyaknya pelanggaran atas ketentuan Peraturan i. mempunyai kekuatan hukum dan e.50. adalah rancangan Perda yang disampaikan (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap sebagaimana dimaksud pada ayat (2). DPRD dan sesudah ada pengesahan pejabat yang alasan-alasannya. ditentukan untuk pengesahannya dengan menempatkannya dalam Lembaran b.-(Limapuluh ribu. Pasal 42 umum atau peraturan perundang.(5) Peraturan Daerah yang memerlukan pengesahan tidak boleh diundangkan Pasal 73 Pasal 138 sebelum pengesahan itu diperoleh (1) Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala (1) Materi muatan Perda mengandung asas: atau sebelum jangka waktu yang Daerah yang bersifat mengatur diundangkan a. Peraturan Daerah Tingkat II dapat Lembaran Daerah.(2) Persiapan pembentukan. kepada peraturan perundang-undangan. kebangsaan. sebagaimana dimaksud pada d. Pasal 140 pelanggar. dengan peraturan perundang. sedangkan rancangan Perda pelanggaran atas ketentuan-ketentuan Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala yang disampaikan Gubernur atau Peraturan Daerah. paksaan penegakan hukum. bhineka tunggal ika. atau Bupati/Walikota. Bupati/Walikota diatur dengan Peraturan Presiden. sesudah ada pengesahan pejabat yang Pasal 139 berwenang. ditunjuk Pegawai-pegawai Daerah yang diberi tugas untuk melakukan dapat mengajukan keberatan kepada sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 114 (1) Masyarakat berhak memberikan masukan (3) Tindak pidana yang dimaksud dalam (1) Pemerintah dapat membatalkan Peraturan secara lisan atau tertulis dalam rangka ayat (1) pasal ini adalah pelanggaran. kecuali perundang-undangan. untuk dipersandingkan. kemanusiaan. dan (1) Peraturan Daerah dapat memuat undangan yang lebih tinggi dan/atau pengesahan rancangan Perda berpedoman ketentuan tentang pembebanan biaya peraturan perundang-undangan lainnya. pembahasan. dalam ayat (1) pasal ini. berlaku atas ketentuan Peraturan Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Gubernur atau Bupati/Walikota berwenang. kesamaan kedudukan dalam hukum kurungan selama-lamanya 6 (enam) (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap dan pemerintahan. berakhir. jika ditentukan lain dalam peraturan (2) Dengan Peraturan Daerah dapat juga (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat perundang-undangan. dan barang tertentu untuk Negara. keselarasan.(4) Daerah yang tidak dapat menerima (3) Tata cara mempersiapkan rancangan Perda undangan yang berlaku. dilakukan oleh alatDaerah tersebut dibatalkan Bupati/Walikota digunakan sebagai bahan alat penyidik dan penuntut sesuai pelaksanaannya. (1) Rancangan Perda dapat berasal dari DPRD. Pasal 41 ayat (1). keputusan pembatalan Peraturan Daerah yang berasal dari Gubernur atau (2) Dengan Peraturan Daerah dapat dan Keputusan Kepala Daerah. (3) Selambat-lambatnya satu minggu setelah menyampaikan rancangan Perda mengenai keputusan pembatalan Peraturan Daerah materi yang sama maka yang dibahas Pasal 43 dan Keputusan Kepala Daerah.

(1) Rancangan Perda disampaikan oleh anggota. (2) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda edspaling banyak Rp50.000. Pasal 144 (1) Rancangan Perda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Gubernur atau Bupati/Walikota disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada Gubernur atau Bupati/Walikota untuk ditetapkan sebagai Perda. baru berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang.000. gabungan komisi. dapat dijalankan sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. komisi. Kepala Daerah untuk melaksanakan (2) Penyebarluasan rancangan Perda yang Peraturan Daerah atau urusan-urusan dalam berasal dari Gubernur. (2) Jangka waktu 3 (tiga) bulan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. Pasal 142 (1) Penyebarluasan rancangan Perda yang Pasal 45 berasal dari DPRD dilaksanakan oleh Kepala Daerah dapat menetapkan Keputusan sekretariat DPRD. (3) Penolakan pengesahan Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Pasal 143 (1) Perda dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar sesuai dengan peraturan perundangan. (1) Bentuk Peraturan Daerah ditentukan (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara oleh Menteri Dalam Negeri.00 (lima puluh juta rupiah). atau apabila setelah 3 (tiga) bulan sejak diterimanya Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah tersebut. Daerah dan Keputusan Kepala Daerah mengenai hal-hal tertentu. Daerah. (3) Perda dapat memuat ancaman pidana atau denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 69 (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang memerlukan pengesahan. (3) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud . oleh pejabat yang berwenang dapat diperpanjang 3 (tiga) bulan lagi.penyidikan terhadap pelanggaran atas Mahkamah Agung setelah mengajukannya Pasal 141 ketentuan-ketentuan Peraturan kepada Pemerintah. pejabat yang berwenang tidak mengambil sesuatu keputusan. dilaksanakan oleh sekretariat daerah. atau alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani Pasal 44 bidang legislasi. sesuai dengan yang diatur dalam peraturan perundangan lainnya. Pasal 68 Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditentukan bahwa Peraturar.\ mempersiapkan rancangan Perda (2) Peraturan Daerah ditandatangani oleh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur Kepala Daerah dan ditandatangani dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. serta oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. atau Bupati/Walikota rangka tugas pembantuan. (2) Penyampaian rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. dengan memberitahukannya kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan sebelum jangka waktu yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berakhir.

Daerah yang bersangkutan dalam waktu 1 (satu) bulan terhitung mulai saat pemberitahuan penolakan pengesahan itu diterima. maka penangguhannya dan atau pembatalannya dapat dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. (4) Dalam hal rancangan Perda tidak ditetapkan Gubernur atau Bupati/Walikota dalam waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) rancangan Perda tersebut sah menjadi Perda dan wajib diundangkan dengan memuatnya dalam lembaran daerah. kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan Perda dan selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut Perda dimaksud. kepala daerah dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah . (5) Dalam hal sahnya rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (4). peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah tingkat atasnya ditangguhkan berlakunya atau dibatalkan oleh pejabat yang berwenang. (3) Pembatalan Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini. (5) Apabila provinsi/kabupaten/kota tidak dapat menerima keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. (4) Terhadap penolakan pengesahan yang dimaksud dalam ayat (3) pasal ini. (4) Keputusan penangguhan atau pembatalan yang dimaksud dalam ayatayat (1) dan (2) pasal ini. mengakibatkan batalnya semua akibat dari Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud. Pasal 70 (6) Kalimat pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Perda sebelum pengundangan naskah Perda ke dalam lembaran daerah. oleh pejabat yang berwenang diberitahukan kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan disertai alasan-alasannya. rumusan kalimat pengesahannya berbunyi. (2) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh Pemerintah. “Perda ini dinyatakan sah.” dengan mencantumkan tanggal sahnya. (2) Apabila Gubernur Kepala Daerah tidak menjalankan haknya untuk menangguhkan atau membatalkan Peraturan Daerah Tingkat II dan atau Keputusan Kepala Daerah Tingkat II sesuai dengan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (4) Paling lama 7 (tujuh) hari setelah keputusan pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 145 (1) Perda disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan. (3) Keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1). disertai alasan- pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan tersebut disetujui bersama. sepanjang masih dapat dibatalkan. dapat mengajukan keberatan kepada pejabat setingkat lebih atas dari pejabat yang menolak. (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum.Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. karena bertentangan dengan kepentingan umum. peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah Tingkat atasnya.

. (2) Peraturan Bersama yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. maka Peraturan Daerah dan atau Keputusan-Kepala Daerah itu memperolah kembali kekuatan berlakunya. Pasal 146 (1) Untuk melaksanakan Perda dan atas kuasa peraturan perundang-undangan. diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan atau Lembaran Daerah yang bersangkutan. (3) Pemerintah daerah wajib menyebarluaskan Perda yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah yang telah diundangkan dalam Berita Daerah. (6) Apabila keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikabulkan sebagian atau seluruhnya. (5) Lamanya penangguhan yang dinyatakan dalam Keputusan yang dimaksud dalam ayat (4) pasal ini. kepala daerah menetapkan peraturan kepala daerah dan atau keputusan kepala daerah. (2) Pengundangan Perda dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah dalam Berita Daerah dilakukan oleh Sekretaris Daerah.alasannya diberitahukan kepada Kepala Daerah yang bersangkutan dalam jangka waktu 2 (dua) minggu sesudah tanggal keputusan itu. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Perda. (7) Keputusan mengenai pembatalan yang dimaksud dalam ayat-ayat (4) dan (6) pasal ini. (4) Menteri Dalam Negeri menetapkan Peraturan untuk melancarkan pelaksanaan kerjasama antar Pemerintah Daerah. (6) Jika dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah pcnangguhan itu tidak disusul dengan keputusan pembatalannya. Agung. dilarang bertentangan dengan kepentingan umum. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. Pasal 65 (1) Beberapa Pemerintah Daerah dapat menetapkan Peraturan Bersama untuk mengatur kepentingan Daerahnya secara bersama-sama. Perda dimaksud dinyatakan berlaku. demikian pula mengenai perubahan dan pencabutannya. Pasal 147 (1) Perda diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah diundangkan dalam Berita Daerah. (7) Apabila Pemerintah tidak mengeluarkan Peraturan Presiden untuk membatalkan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (3). putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum. maka pejabat yang berwenang mengambil keputusan. Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang bersangkutan kehilangan kakuatan berlakunya. (3) Dalam hal tidak tercapai kata sepakat mengenai perubahan dan atau pencabutan yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. tidak boleh melebihi 6 (enam) bulan dan sojak saat penangguhannya. (2) Peraturan kepala daerah dan atau keputusan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

hak. dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja. (3) Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya yang dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. (2) Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun oleh pemerintahan daerah provinsi. wewenang. (2) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut umum sesuai dengan peraturan perundangundangan. (2) Kedudukan. (1) Anggota Satuan Polisi Pamong Praja dapat ditetapkan oleh Menteri Dalam diangkat sebagai penyidik pegawai negeri sipil Negeri. tugas. tugas. (3) Dengan Perda dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda. Pasal 149 dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. dan kewajiban Polisi pada ayat (1) berpedoman pada Peraturan diatur dengan Peraturan Pemerintah.32 Tahun 2004 disebutkan (1) Untuk membantu Kepala Wilayah (1) Dalam rangka menyelenggarakan (1) Untuk membantu kepala daerah dalam bahwa anggota dari satua Polisi Pamong dalam menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban umum serta menegakkan Perda dan penyelenggaraan Praja dapat diangkat sebagai penyidik pemerintahan umum diadakan untuk menegakkan Peraturan Daerah ketertiban umum dan ketentraman masyarakat pegawai negeri sipil. misi. (3) Susunan organisasi dan formasi Daerah.18 Polisi Pamong Praja Pasal 86 Pasal 120 Pasal 148 • Dalam UU No. Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. satuan Polisi Pamong Praja. dan arah pembangunan daerah yang mengacu . 19 Perencanaan Pembangunan Daerah Pasal 150 (1) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah disusun perencanaan pembangunan daerah sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional. formasi. hak dan sebagai perangkat Pemerintah Daerah. (2) Pembentukan dan susunan organisasi Satuan wewenang Polisi Pamong Praja yang (2) Susunan organisasi. kedudukan. Rencana pembangunan jangka panjang daerah disingkat dengan RPJP daerah untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun yang memuat visi. Polisi Pamong Praja sebagaimana dimaksud dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. sesuai dengan ketentuan yang satuan Polisi Pamong Praja yang ditetapkan oleh Pemerintah. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. disusun secara berjangka meliputi: a.

(2) Renstra-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dirumuskan dalam bentuk rencana kerja satuan kerja perangkat . rencana kerja dan pendanaannya. dan program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. misi. dengan mengacu kepada rencana kerja Pemerintah. b. dan program satuan kerja perangkat daerah. berpedoman pada RPJM Daerah dan bersifat indikatif. lintas satuan kerja perangkat daerah. Rencana kerja pembangunan daerah. d.kepada RPJP nasional. Rencana pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya disebut RPJM daerah untuk jangka waktu 5 (lima) tahun merupakan penjabaran dari visi. kebijakan umum. RPJM daerah sebagaimana dimaksud pada huruf b memuat arah kebijakan keuangan daerah. strategi. dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP daerah dengan memperhatikan RPJM nasional. program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya. prioritas pembangunan daerah. merupakan penjabaran dari RPJM daerah untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. e. yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. strategi pembangunan daerah. kebijakan. tujuan. c. misi. selanjutnya disebut RKPD. Pasal 151 (1) Satuan kerja perangkat daerah menyusun rencana stratregis yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD memuat visi. RPJP daerah dan RJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a dan b ditetapkan dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.

informasi dasar kewilayahan. DPRD. dan pengawasan. pemanfaatan data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikelola dalam sistem informasi daerah yang terintegrasi secara nasional. g. (2) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. penyelenggaraan pemerintahan daerah. b. Pasal 153 Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152 disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. kepala daerah. informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah. potensi sumber daya daerah. keuangan daerah. pengendalian. produk hukum daerah. penganggaran.daerah yang memuat kebijakan. perangkat daerah. e. d. dan PNS daerah. tata cara penyusunan. dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah yang berpedoman pada perundangundangan. kependudukan. Pasal 152 (1) Perencanaan pembangunanan daerah didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. program. f. organisasi dan tata laksana pemerintahan daerah. (3) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah. pelaksanaan. dan i. . c. untuk tercapainya daya guna dan hasil guna. h. Pasal 154 Tahapan. dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.

surat bernilai uang dan atau barang (2) Dalam melaksanakan kekuasaan sebagaimana untuk kepentingan Daerah. 4. Pendapatan asli Daerah sendiri. lain-lain hasil usaha Daerah yang dipisahkan. yaitu: 2004 ditambahkan bahwa sumber pendapatan 1. urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud (3) Selama belum ada Kas Daerah atau pada ayat (1) dilakukan secara terpisah dari Bank Pembangunan Daerah. (1) Kepala daerah adalah pemegang kekuasaan pembayaran atau penyerahan uang. kepala daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya yang berupa perencanaan. 3. dan terperinci mengenai Dana Alokasi Umum dan . daerah berasal dari dana perimbangan dan 2. dan dan DPRD dibiayai dari dan atas beban atas beban anggaran pendapatan dan belanja pengawasan keuangan Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. yaitu : a. pertanggungjawaban. dana perimbangan. dana perimbangan. pengelolaan kekayaan Daerah yang 3. disebut PAD. diatur lebih b. hasil pajak Daerah. hasil perusahaan Daerah .22 Tahun 1999 dan UU No. menguji. dan dipisahkan. pengelolaan keuangan daerah. b. hasil perusahaan milik Daerah. pelaksanaan. Negara atau Bank Pemerintah tertentu untuk melaksanakan pekerjaan Pasal 156 mengenai penerimaan. b. penatausahaan. 3.Pasal 155 20 Keuangan Daerah Pasal 62 Pasal 78 (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang (1) Kepala Daerah menyelenggarakan (1) Penyelenggaraan tugas Pemerintah Daerah menjadi kewenangan daerah didanai dari dan pengurusan. hasil pajak Daerah . Daerah atau Bank Pembangunan (3) Administrasi pendanaan penyelenggaraan Daerah. yang a. berdasarkan Peraturan Daerah dan (2) Penyelenggaraan tugas Pemerintah di (2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang peraturan perundang-undangan yang Daerah dibiayai dari dan atas beban menjadi kewenangan Pemerintah di daerah lebih tinggi. pendapatan asli daerah yang selanjutnya UU No. dan Sumber pendapatan Daerah adalah : Sumber pendapatan Daerah terdiri atas: Sumber pendapatan daerah terdiri atas: mengenai sumber pendapatan daerah dalam Pembiayaan Daerah a. dan UU No. hasil retribusi daerah. 21 Pendapatan. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang untuk pinjaman daerah tidak disebutkan dalam 4. • Dalam UU No. hasil pajak daerah. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. hasil retribusi Daerah . dan yang menerima/mengeluarkan uang.32 Tahun terdiri dari : 1. (3) Pelimpahan sebagian atau seluruh kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didasarkan pada prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan. daerah. pinjaman daerah (UU N0 22 Tahun 1999. pelaporan dan pertanggungjawaban. lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah. pendapatan asli Daerah. hasil retribusi Daerah. lain-lain PAD yang sah. didanai dari dan atas beban anggaran (2) Uang Daerah disimpan pada Kas pendapatan dan belanja negara. serta pengawasan keuangan daerah kepada para pejabat perangkat daerah.32 Tahun 2004) sah. atas administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan permintaan Pemerintah Daerah. penyimpanan. 1. dan hasil 2. Pendapatan berasal dari pemberian c. dimaksud pada ayat (1). Pasal 55 Pasal 79 Pasal 157 • Terdapat perbedaan dalam pengaturan Belanja. Menteri pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat Keuangan dapat menugaskan Kas (2). 2..32 tahun 2004.

lain-lain pendapatan Daerah yang sah. sumbangan dari Pemerintah. (1) beras al dari: harus mendapatkan persetujuan a. (3) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang b. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21. perkotaan. ditetapkan dengan Undang-undang. terdiri atas: lebih lanjut dengan Perda. Dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam (2) Dengan Peraturan Daerah ditetapkan (3) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi Pasal 157 huruf b terdiri atas: pungutan pajak dan retribusi Daerah.Pemerintah yang terdiri dari : d. dan ayat (2) Dana Bagi Hasil yang bersumber dari pajak dapat dilakukan berdasarkan Peraturan (3). dengan persetujuan DPRD. Dana Alokasi Umum. dalam Pasal 159 huruf a bersumber dari pajak (4) Pengembalian atau pembebasan pajak (4) Ketentuan lebih lanjut. perkotaan. dan/atau dari sumber luar negeri untuk b. dana alokasi umum. Daerah dan atau retribusi Daerah hanya dimaksud pada ayat (1). diterima langsung oleh Daerah Pasal 159 retribusi Daerah. a. dan ayat (2) pasal ini berlaku sesudah ada daya alam. lain-lain pendapatan daerah yang sah. Negara dapat diserahkan kepada Daerah. pinjaman Daerah. 157 huruf a angka 4 ditetapkan dengan Perda perkotaan. kepada Pemerintah dan dilaksanakan c. sebagaimana dan sumber daya alam. dan perkebunan serta Bea berpedoman pada peraturan perundangPasal 58 Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. sebagaimana dimaksud pada c. yang Pasal 158 diatur dengan peraturan perundang. dan c. . dan dipisahkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 c. dan yang telah ditetapkan undang-undang. dana alokasi khusus. penerimaan dari sumber daya alam. Bea Perolehan pungutan atau dengan sebutan lain di luar Dengan Undang-undang sesuatu pajak Hak atas Tanah dan Bangunan. peminjaman dari sumber dalam negeri pertambangan serta kehutanan. Dana Alokasi Khusus 1. perkebunan. 2. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam kehutanan dan penerimaan dari sumber b. dan Bangunan sektor perdesaan. dan Bangunan sektor pertambangan serta a. undangan. Penerimaan kehutanan yang berasal dari Pemerintah. Lain-lain pendapatan yang sah. daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bea Perolehan Atas Hak Tanah dan membiayai kegiatan pemerintahan Bangunan (BPHTB) sektor perdesaan. dan Pasal 29 wajib pajak orang oleh Pemerintah. Pasal 157 huruf a angka 3 dan lain-lain PAD Perimbangan keuangan antara Pemerintah (2) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal dan Daerah diatur dengan Undang-undang. dari: Pasal 81 a. ayat (2).Pasal 80 (1) retribusi daerah ditetapkan dengan Undangundangan . dimaksud dalam Pasal 79. bagian Daerah dari penerimaan Pajak (2) Pemerintahan daerah dilarang melakukan Pasal 56 Bumi dan Bangunan. sebagaimana Undang yang pelaksanaannya di daerah diatur c. diterima oleh Daerah menurut cara yang diatur dalam penghasil dan Daerah lainnya untuk Pasal 160 Undang-undang dan tidak boleh berlaku pemerataan sesuai dengan peraturan (1) Dana Bagi Hasil sebagaimana dimaksud surut. Dana Alokasi Khusus. Pasal sesuai dengan pedoman yang ditetapkan 25. pengesahan pejabat yang berwenang. sumbangan-sumbangan lain. perundang-undangan. pertambangan (2) Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan serta kehutanan. penghasil. sesuai dengan ketentuan iuran hak pengusahaan hutan (IHPH). perkebunan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri Daerah. ayat (1) huruf a. (1) Dengan Undang-undang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf ketentuan pokok tentang pajak dan a. pribadi dalam negeri. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor (1) Pemerintah Daerah dapat melakukan perdesaan. (1) Dana perimbangan. e. (3) Peminjaman dan sumber dana pinjaman (3) Dana Bagi Hasil yang bersumber dari sumber yang berasal dari luar negeri. Dana Bagi Hasil.

(6) Pelaksanaan ketentuan pada ayat (1). f. (4) Daerah penghasil sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (3). sebagaimana dana reboisasi yang dihasilkan dari dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Penerimaan pertambangan minyak yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. e. Penerimaan pertambangan gas alam yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. (2) DAU untuk suatu daerah ditetapkan berdasarkan kriteria tertentu yang menekankan pada aspek pemerataan dan keadilan yang . pemungutan pajak dan retribusi Daerah c. ayat (3).peraturan perundang-undangan. ayat (2). Penerimaan pertambangan panas bumi yang berasal dari penerimaan setoran bagian Pemerintah. perikanan dan penerimaan pungutan hasil perikanan. Penerimaan pertambangan umum yang berasal dari penerimaan iuran tetap Pasal 82 ( landrent ) dan penerimaan iuran (1) Pajak dan retribusi Daerah ditetapkan eksplorasi dan iuran eksploitasi ( royalty ) dengan Undang-undang. provisi sumber daya hutan (PSDH) dan (4) Tata cara peminjaman. (5) Dasar penghitungan bagian daerah dari daerah penghasil sumber daya alam ditetapkan oleh Menteri Teknis terkait setelah memperoleh pertimbangan Menteri Dalam Negeri. Pasal 161 (1) DAU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf b dialokasikan berdasarkan persentase tertentu dari pendapatan dalam negeri neto yang ditetapkan dalam APBN. Penerimaan perikanan yang diterima ditetapkan dengan Peraturan Daerah secara nasional yang dihasilkan dari sesuai dengan peraturan perundangpenerimaan pungutan pengusahaan undangan. wilayah daerah yang bersangkutan. b. ayat (4). dan ayat (5) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. ditetapkan oleh Pemerintah. d. yang dihasilkan dari wilayah daerah yang (2) Penentuan tarif dan tata cara bersangkutan. iuran tetap dan iuran produksi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri berdasarkan pertimbangan dari menteri teknis terkait.

dan evaluasi atas dana bagi hasil pajak. (2) Hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) . (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai DAK diatur dengan Peraturan Pemerintah. DAU. yang meliputi hibah. (3) Penyusunan kegiatan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan setelah dikoordinasikan oleh daerah yang bersangkutan. Mendanai kegiatan khusus yang ditentukan Pemmerintah atas dasar prioritas nasional. monitoring.selaras dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang formula dan penghitungan DAU-nya ditetapkan sesuai Undang-Undang. supervisi. b. mendanai kegiatan khusus yang diusulkan daerah tertentu. dan lain-lain pendapatan yang ditetapkan Pemerintah. Pasal 163 (1) Pedoman penggunaan. Pasal 164 (1) Lain-lain pendapatan daerah yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 huruf c merupakan seluruh pendapatan daerah selain PAD dan dana perimbangan. Pasal 162 (1) Dana Alokasi Khusus (DAK) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf c dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu dalam rangka pendanaan pelaksanaan desentralisasi untuk: a. dana bagi hasil sumber daya alam. (2) Pengaturan lebih lanjut mengenai pembagian dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf b ditetapkan dalam Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. dan DAK diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri. (2) Penyusunan kegiatan khusus yang ditentukan oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dikoordinasikan dengan Gubernur. dana darurat.

.merupakan bantuan berupa uang. serta mengembangkan sistem jaminan sosial. yang tidak mampu diatasi sendiri. dan pengalokasian dana darurat di atur dalam Peraturan Pemerintah. masyarakat. Pasal 165 (1) Keadaan yang dapat digolongkan sebagai peristiwa tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 164 ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Presiden. (3) Pendapatan dana darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bantuan Pemerintah dari APBN kepada pemerintah daerah untuk mendanai keperluan mendesak yang diakibatkan peristiwa tertentu yang tidak dapat ditanggulangi APBD. (3) Tata cara pengelolaan dan pertanggungjawaban penggunaan dana darurat diatur dalam Peraturan Pemerintah. barang. (2) Besarnya alokasi dana darurat ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan memperhatikan pertimbangan Menteri Dalam Negeri dan Menteri teknis terkait. Pasal 167 (1) Belanja daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22. (2) Tata cara pengajuan permohonan. sehingga mengancam keberadaannya sebagai daerah otonom. Pasal 166 (1) Pemerintah dapat mengalokasikan dana darurat kepada daerah yang dinyatakan mengalami krisis keuangan daerah. pendidikan. dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri. penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan. evaluasi oleh Pemerintah. dan/atau jasa yang berasal dari Pemerintah. fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. (2) Perlindungan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar.

pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari Pemerintah. Pasal 171 (1) Ketentuan mengenai pinjaman daerah dan obligasi daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah.(3) Belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempertimbangkan analisis standar belanja. dan masyarakat. tolok ukur kinerja. lembaga keuangan bank. dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya mengatur tentang: a. Pasal 170 (1) Pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang berasal dari penerusan pinjaman hutang luar negeri dari Menteri Keuangan atas nama Pemerintah setelah memperoleh pertimbangan Menteri Dalam Negeri. pemerintah daerah lain. (2) Perjanjian penerusan pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan antara Menteri Keuangan dan kepala daerah. persyaratan bagi pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman. (2) Pemerintah daerah dengan persetujuan DPRD dapat menerbitkan obligasi daerah untuk membiayai investasi yang menghasilkan penerimaan daerah. Pasal 168 (1) Belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. standar harga. penganggaran kewajiban pinjaman daerah . b. (2) Belanja pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 169 (1) Untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah. lembaga keuangan bukan bank.

pemerintah daerah lain. serta pengelolaan dan pertanggungjawabannya. pelunasan dan penganggaran dalam APBD. dan/atau dapat dialihkan kepada badan usaha milik daerah. (3) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurangkurangnya mengatur pers yaratan pembentukan dana cadangan. tata cara pelaporan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman setiap semester dalam tahun anggaran berjalan. Pasal 172 (1) Pemerintah daerah dapat membentuk dana cadangan guna membiayai kebutuhan tertentu yang dananya tidak dapat disediakan dalam satu tahun anggaran. penjualan dan pembelian obligasi. serta lembaga keuangan bukan bank dan masyarakat. Pasal 173 (1) Pemerintah daerah dapat melakukan penyertaan modal pada suatu Badan Usaha Milik Pemerintah dan/atau milik swasta. pembayaran bunga dan pokok obligasi. (3) Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. lembaga perbankan. d.yang jatuh tempo dalam APBD. pengelolaan obligasi daerah yang mencakup pengendalian risiko. (2) Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditambah. f. dijual kepada pihak lain. persyaratan penerbitan obligasi daerah. . (2) Pengaturan tentang dana cadangan daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. e. dikurangi. pengenaaan sanksi dalam hal pemerintah daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjaman kepada Pemerintah. c.

(2) Surplus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan untuk: a. transfer ke rekening dana cadangan. diatur sebelumnya dalam UU No. sebagaimana dimaksud pada dan/atau investor yang diatur dalam Perda dengan penjelasannya disebutkan insentif tersebut ayat (1). Pemerintah dapat melakukan penundaan atas penyaluran dana perimbangan. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. dapat didanai dari sumber pembiayaan daerah yang ditetapkan dalam Perda tentang APBD.22 Surplus dan Defisit APBD - Pasal 174 • Hal ini merupakan materi baru yang tidak (1) Dalam hal APBD diperkirakan surplus. . (3) Dalam hal pemerintah daerah tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2).32 Tahun 2004 disebutkan Pemerintah memberi insentif fiskal dan perekonomian daerah dapat memberikan insentif bahwa insentif tidak hanya berupa insentif nonfiskal tertentu. b. (3) Dalam hal APBD diperkirakan defisit. penyertaan modal (investasi daerah). sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu. dan/atau kemudahan kepada masyarakat fiskal dan non fiskal tetapi dalam (2) Ketentuan.32 tahun 2004 23 Pemberian Insentif dan Kemudahan Investasi • Materi tentang pemberian insentif dan Pasal 83 Pasal 176 kemudahan investasi ada perubahan bahwa (1) Untuk mendorong pemberdayaan Daerah. dan hal Pemerintah. dan d. c. pembayaran cicilan pokok utang yang jatuh tempo. 1974 dan UU No. (4) Pembiayaan daerah sebagaimana di-maksud pada ayat (3) bersumber dari: a. Pasal 175 (1) Menteri Dalam Negeri melakukan pengendalian defisit anggaran setiap daerah. (2) Pemerintah daerah wajib melaporkan posi-si surplus/defisit APBD kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan setiap semester dalam tahun anggaran berjalan. Pemerintah daerah dalam meningkatkan dalam UU No. tersebut diatur dalam Peraturan Daerah tidak lagi dituangkan dalam Peraturan Pemerintah. c. 5 Tahun penggunaannya ditetapkan dalam Perda tentang APBD. b. ditetapkan dengan Peraturan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. pinjaman daerah. transfer dari dana cadangan. prasana. berupa penyediaan sarana.

b. efektivitas. sesuai dengan kemampuan keuangan dan (3) Dengan persetujuan Dewan Perwakilan kebutuhan daerah berdasarkan prinsip Rakyat Daerah Kepala Daerah dapat efisiensi. menetapkan keputusan mengenai : dapat dijual.24 Pasal 59 BUMD Pasal 84 Pasal 177 (1) Pemerintah Daerah dapat mengadakan Daerah dapat memiliki Badan Usaha Milik Daerah Pemerintah daerah dapat memiliki BUMD yang Perusahaan Daerah yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan pembentukan. dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. dan/atau dimusnahkan sesuai hanya dapat dilakukan dimuka umum. dibebani hak tanggungan. kecuali dengan Keputusan (2) Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD seluruhnya digadaikan sesuai dengan ketentuan Kepala Daerah dengan persetujuan dapat menetapkan keputusan tentang: . undangan. dan (3) pasal ini. a. perdata secara damai. pelepasan penyelenggaraan dan pembinaannya dan pembentukannya diatur dengan Peraturan kepemilikan. diserahkan haknya kepada digadaikan. Pasal 60 (1) Dengan Peraturan Daerah dapat diadakan usaha-usaha sebagai sumber pendapatan Daerah. sesudah ada pengesahan Mendagri Pasal 178 (1) Barang milik Daerah yang digunakan untuk . berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. penggabungan. 25 Pasal 63 Pasal 85 Pengelolaan Barang Daerah (1) Barang milik Daerah yang dipergunakan • UU No. . Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. mutu barang milik atau hak Daerah . dan nilai ekonomis yang (4) Keputusan yang dimaksud dalam ayatdilakukan secara transparan sesuai dengan ayat (1).Persetujuan penyelesaian sengketa perdata peraturan perundang-undangan. tindakan hukum lain. barang. (3) Pelaksanaan pengadaan barang dilakukan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. 32 tahun 2004 menghapuskan (1) Barang milik daerah yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umum tidak melayani kepentingan umum tidak dapat wewenang dari kepala daerah untuk untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijual. perundang-undangan. persetujuan penyelesaian perkara (4) Pelaksanaan penghapusan sebagaimana perdata secara damai . dijadikan tanggungan. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini.Penghapusan tagihan daerah sebagian atau pihak lain. b. mengenai berdasarkan kebutuhan daerah. berlaku peraturan perundang-undangan. dan transparansi menetapkan Keputusan tentang : dengan mengutamakan produk dalam a. dan dengan ketentuan peraturan perundangkecuali apabila ditentukan lain dalam c. Keputusan Kepala Daerah yang milik Daerah. atau digadaikan. (2) Dengan Undang-undang ditetapkan ketentuan pokok tentang Perusahaan Daerah.Tindakan hukum lain mengenai barang milik daftar inventaris barang daerah untuk dijual. (2). tindakan hukum lain mengenai barang undangan. dijadikan tanggungan atau dan/atau dipindahtangankan. usia pakai. diserahkan haknya kepada pihak lain. dan/atau pembubarannya ditetapkan dilakukan berdasarkan azas ekonomi Daerah. penghapusan tagihan Daerah secara damai (2) Penjualan dan penyerahan yang sebagian atau seluruhnya. dimaksud pada ayat (2) dilakukan c. dengan Perda yang berpedoman pada peraturan perusahaan. persetujuan penyelesaian sengketa daerah dihibahkan. (2) Barang milik daerah dapat dihapuskan dari . penghapusan tagihan Daerah negeri sesuai dengan peraturan perundangsebagian atau seluruhnya .

selambat-lambatnya satu bulan setelah terhitung mulai 1 Januari sampai dengan tanggal 31 kewajiban Kepala daerah menyampaikan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Desember. ditetapkan Belanja Daerah ditetapkan dengan (1) Kepala daerah dalam penyusunan rancayang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Anggaran Pendapatan dan Belanja Peraturan Daerah selambat-lambatnya tiga ngan APBD menetapkan prioritas dan Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan Daerah. akan dicapai. a. bulan sebelum tahun anggaran berakhir. ditetapkan dengan Peraturan Daerah daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran No.32 Tahun 2004 seperti adanya (2) Dengan Peraturan Daerah. Belanja Daerah pada permulaan tahun (5) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (3) Rencana kerja dan anggaran satuan kerja anggaran yang bersangkutan belum yang telah ditetapkan dengan Peraturan perangkat daerah sebagaimana dimaksud mendapat pengesahan dari pejabat Daerah disampaikan kepada Gubernur bagi pada ayat (2) disampaikan kepada pejabat yang berwenang dan belum Pemerintah Kabupaten/Kota dan kepada pengelola keuangan daerah sebagai bahan diundangkan. kepala . mana dimaksud pada ayat (3). pejabat yang berwenang dapat (3) Pengambilan keputusan DPRD untuk medilakukan pos demi pos atau secara nyetujui rancangan Perda sebagaimana keseluruhan. serta prioritas dan plafon Pendapatan dan Belanja Daerah oleh anggaran. tiap tahun. sebelumnya sebagai dasar pengurusan (6) Pedoman tentang pengurusan. APBD tahun berikutnya. bersama DPRD berdasarkan kebijakan (7) Pengesahan atau penolakan Anggaran umum APBD. perubahan. pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Pendapatan dan Belanja Negara untuk (2) Perubahan Anggaran Pendapatan dan Pasal 180 kepada DPRD berupa laporan keuangan tahun anggaran tertentu. pada ayat (1) dibahas pemerintah daerah pengesahan pejabat yang berwenang. (3) Dengan Peraturan Daerah. setelah ditetapkan Anggaran Peraturan Daerah selambat-lambatnya tiga (2) Berdasarkan prioritas dan plafon anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk bulan setelah berakhirnya tahun anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tahun anggaran tertentu. plafon anggaran sebagai dasar penyusunan setelah tahun anggaran berakhir. tiap tahun. maka Pemerintah Daerah Presiden melalui Menteri Dalam Negeri penyusunan rancangan Perda tentang menggunakan anggaran tahun bagi Pemerintah Propinsi untuk diketahui. ditetapkan yang bersangkutan. dan pengawasan Pasal 181 (5) Pemerintah Daerah wajib berusaha keuangan Daerah serta tata cara (1) Kepala daerah mengajukan rancangan Perda mencukupi anggaran belanja rutin penyusunan Anggaran Pendapatan dan tentang APBD disertai penjelasan dan dengan pendapatan sendiri. pertanggungjawaban. penyusunan Anggaran (4) Atas dasar persetujuan DPRD sebagaiPendapatan dan Belanja Daerah. (3) Perhitungan Anggaran Pendapatan dan rencana kerja dan anggaran satuan kerja selambat-lambatnya 6 (enam) bulan Belanja Daerah ditetapkan dengan perangkat daerah. dan Belanja Daerah ditetapkan dengan pendekatan berdasarkan prestasi kerja yang (4) Apabila Anggaran Pendapatan dan Peraturan Pemerintah. rancangan Perda tentang setelah ditetapkan Anggaran Belanja Negara.26 APBD Pasal 64 Pasal 86 Pasal 179 • Materi mengani Aggaran Pendapatan dan (1) Tahun anggaran Daerah adalah sama (1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan Belanja Daerah diatur lebih rinci dalam UU dengan tahun anggaran Negara. dilaksanakan sesudah ada peraturan perundang-undangan. menyusun rencana kerja dan anggaran dan Belanja Daerah tahun anggaran dan perhitungan Anggaran Pendapatan satuan kerja perangkat daerah dengan sebelumnya. dimaksud pada ayat (2) dilakukan selambat(8) Dengan Peraturan Pemerintah diatur lambatnya 1 (satu) bulan sebelum tahun ketentuan-ketentuan tentang cara: anggaran dilaksanakan. Belanja Daerah. keuangannya. tidak dikuasakan sendiri oleh Anggaran Belanja Daerah ditetapkan sesuai dengan (2) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud itu. pelaksanaan tata usaha dokumen-dokumen pendukungnya kepada (6) Anggaran Pendapatan dan Belanja keuangan Daerah dan penyusunan DPRD untuk memperoleh persetujuan Daerah serta perubahannya. sepanjang perhitungan Anggaran Pendapatan dan bersama. kepala satuan kerja perangkat daerah perhitungan atas Anggaran Pendapatan (4) Pedoman tentang penyusunan.

perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum APBD. daerah menyiapkan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD dan rancangan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah. (3) Pengambilan keputusan mengenai rancangan Perda tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh DPRD paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir. penyusunan permtungan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi. b. keadaan yang menyebabkan sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan dalam tahun anggaran berjalan. (2) Pemerintah daerah mengajukan rancang-an Perda tentang perubahan APBD. dan c. Pasal 182 Tata cara penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah serta tata cara penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada peraturan perundangundangan. disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD. Pasal 184 (1) Kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. dan antarjenis belanja. Pasal 183 (1) Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi: a. c.b. pengurusan. antarkegiatan. (2) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud . pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan Daerah. (9) Dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri diatur lebih lanjut cara melaksanakan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (8) pasal ini.

(4) Apabila Menteri Dalam Negeri menyata-kan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. dan catatan atas laporan keuangan. yang dilampiri dengan laporan keuangan badan usaha milik daerah. (5) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Gubernur dan DPRD. Gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. dan Gubernur tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur . (3) Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. laporan arus kas. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud. Gubernur menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Gubernur. Pasal 185 (1) Rancangan Perda provinsi tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Gubernur paling lambat 3 (tiga) hari disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi.pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi laporan realisasi APBD. (3) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan yang ditetapk an dengan Peraturan Pemerintah. neraca.

(3) Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Gubernur . Bupati/Walikota menetapkan ran-cangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota.tentang penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Gubernur. (5) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota dan DPRD. dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. (2) Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda kabupaten/kota dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 186 (1) Rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama 3 (tiga) hari disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi. Menteri Dalam Negeri membatalkan Perda dan Peraturan Gubernur dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. (4) Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya hasil evaluasi.

rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD beserta lampirannya disampaikan paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak DPRD tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan Perda tentang APBD. (2) Rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan Gubernur bagi kabupaten/kota.membatalkan Perda dan Peraturan Bupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. kepala daerah menetapkan rancangan peraturan kepala daerah dimaksud menjadi peraturan kepala daerah. Pasal 187 (1) Apabila DPRD sampai batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 181 ayat (3) tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD. kepala daerah melaksanakan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBD tahun anggaran sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan yang disusun dalam rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD. (3) Untuk memperoleh pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Apabila dalam batas waktu 30 (tiga puluh) hari Menteri Dalam Negeri atau Gubernur tidak mengesahkan rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 188 Proses penetapan rancangan Perda tentang . (6) Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri.

Pasal 192 (1) Semua penerimaan dan pengeluaran pemerintahan daerah dianggarkan dalam APBD dan dilakukan melalui rekening kas daerah yang dikelola oleh Bendahara Umum Daerah. dan pejabat daerah . Pasal 186. Pasal 191 Dalam rangka evaluasi pengelolaan keuangan daerah dikembangkan sistem informasi keuangan daerah yang menjadi satu kesatuan dengan sistem informasi pemerintahan daerah.Perubahan APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD menjadi Perda dan peraturan kepala daerah berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185. berlaku Pasal 185 dan Pasal 186. dan tata ruang daerah menjadi Perda. dan untuk tata ruang daerah dikoordinasikan dengan menteri yang membidangi urus an tata ruang. retribusi daerah. (4) Kepala daerah. diterbitkan surat keputusan otorisasi oleh kepala daerah atau surat keputusan lain yang berlaku sebagai surat keputusan otorisasi. (2) Untuk setiap pengeluaran atas beban APBD. (3) Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada anggaran belanja daerah jika untuk pengeluaran tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam APBD. Pasal 189 Proses penetapan rancangan Perda yang berkaitan dengan pajak daerah. wakil kepala daerah. dengan ketentuan untuk pajak daerah dan retribusi daerah dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Menteri Keuangan. Pasal 190 Peraturan kepala daerah tentang Penjabaran APBD dan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD dijadikan dasar penetapan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah. dan Pasal 187. pimpinan DPRD.

22 Tahun 1999 ditetapkan dengan Undang. pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan daerah diatur lebih lanjut dengan Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. pelaporan. dan/atau (1) Pemerintah desa terdiri atas kepala desa yang terdapat dalam UU No. yang merupakan Pemerintahan Pasal 202 ayat (1) dipilih langsung oleh dan dari Desa. pelaksanaan. (3) Sekretaris desa sebagaimana dimaksud pada • UU No. dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja daerah untuk tujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam APBD. dan b. mengenai masa jabatan Kepala Daerah dari usulnya atas prakarsa masyarakat dengan (2) Perangkat desa terdiri dari sekretaris desa sepuluh tahun menjadi enam tahun. penyelesaian masalah Perdata.undang digabung dengan memperhatikan asaldan perangkat desa. 27 Pemerintahan Desa Pasal 88 Pasal 93 Pasal 202 • UU No. sebagian atau seluruhnya. dan/atau bunga atas investasi jangka pendek merupakan pendapatan daerah. persetujuan Pemerintah Kabupaten dan dan perangkat desa lainnya. sebagaimana memenuhi persyaratan. Pasal 193 (1) Uang milik pemerintahan daerah yang sementara belum digunakan dapat didepositokan dan/atau diinvestasikan dalam investasi jangka pendek sepanjang tidak mengganggu likuiditas keuangan daerah. penatausahaan. DPRD. penghapusan. jasa giro. Pasal 194 Penyusunan. dihapus. (2) Bunga deposito.lainnya. (3) Kepala daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan peraturan tentang : a. penghapusan tagihan daerah. Pasal 94 Pasal 203 Di Desa dibentuk Pemerintah Desa dan Badan (1) Kepala desa sebagaimana dimaksud dalam Perwakilan Desa. jabatan kepala desa dimaksud pada ayat (1). ditetapkan dengan Peraturan Daerah.32 tahun 2004 merubah ketentuan Pengaturan tentang Pemerintahan Desa (1) Desa dapat dibentuk. dan/atau ayat (2) diisi dari pegawai negeri sipil yang lebih rinci mengenai syarat dan tata cara penggabungan Desa. penduduk desa warga negara Republik Indonesia yang syarat selanjutnya dan tata cara Pasal 95 pemilihannya diatur dengan Perda yang .22 Tahun 1999 mengatur secara (2) Pembentukan. bunga atas penempatan uang di bank.

atau yang disebut dengan nama lain dan (2) Calon kepala desa yang memperoleh suara perangkat Desa. berkelakuan baik.(1) Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa berpedoman kepada Peraturan Pemerintah. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan lurusnya yang berlaku bagi desa. akan selalu taat dalam mengamalkan dan f. mempertahankan Pancasila sebagai g. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah memenuhi kewajiban saya selaku kepala Lanjutan Tingkat Pertama dan/atau desa dengan sebaik-baiknya. Pasal 206 l. memenuhi syarat-syarat lain yang desa mencakup: sesuai dengan adat istiadat yang diatur (1) urusan pemerintahan yang sudah ada . berumur sekurang-kurangnya 25 tahun. dan bahwa saya akan jiwa/ingatannya. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di Desa setempat. bahwa saya e. bersumpah/berjanji bahwa saya akan d. terbanyak dalam pemilihan kepala desa (2) Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagai kepala desa. Indonesia”. jujur. setia dan taat kepada Pancasila dan puluh) hari setelah pemilihan. perundang-undangan dengan selurusj. tradisionalnya sepanjang masih hidup dan yang ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan diakui keberadaannya berlaku ketentuan hukum disahkan oleh Bupati. Yang dapat dipilih menjadi Kepala Desa adalah penduduk Desa warga negara Republik Indonesia Pasal 205 dengan syarat-syarat: (1) Kepala desa terpilih dilantik oleh a. dan adil. nyata-nyata tidak terganggu dasar negara. Undang-Undang Dasar 1945. (3) Calon Kepala Desa yang terpilih dengan (3) Pemilihan kepala desa dalam kesatuan mendapatkan dukungan suara terbanyak. langsung dalam kegiatan yang (3) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud mengkhianati Pancasila dan Undangadalah sebagai berikut: Undang Dasar 1945. sejujurberpengetahuan yang sederajat. Bupati/Walikota paling lambat 30 (tiga b. kepala c. Masa jabatan Kepala Desa paling lama sepuluh tahun atau dua kali masa jabatan terhitung sejak Pasal 204 tanggal ditetapkan. jujurnya. Undang-Undang Dasar 1945 serta i. G30S/PKI dan/atau “Demi Allah (Tuhan). bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. tidak pernah terlibat langsung atau tidak desa mengucapkan sumpah/janji. tidak pernah dihukum penjara karena melaksanakan segala peraturan melakukan tindak pidana. (2) Sebelum memangku jabatannya. daerah. saya kegiatan organisasi terlarang lainnya. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan dan m. menegakkan kehidupan demokrasi dan h. sehat jasmani dan rohani. dan seadil-adilnya. masyarakat hukum adat beserta hak sebagaimana dimaksud pada ayat (2). ditetapkan Desa dari calon yang memenuhi syarat. Masa jabatan kepala desa adalah 6 (enam) tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk 1 (satu) kali Pasal 97 masa jabatan berikutnya. adat setempat yang ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturan Pasal 96 Pemerintah. keputusan pengadilan yang mempunyai dan Negara Kesatuan Republik kekuatan hukum tetap. k.

Pasal 99 Kewenangan Desa mencakup : a. kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul Desa. dan/atau pemerintah kabupaten/kota akan selalu taat dalam mengamalkan kepada desa disertai dengan pembiayaan. dalam Peraturan Daerah. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Pasal 208 Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Tugas dan kewajiban kepala desa dalam memimpin konstitusi negara serta segala peraturan penyelenggaraan pemerintahan desa diatur lebih perundang-undangan yang berlaku bagi lanjut dengan Perda berdasarkan Peraturan Desa. pejabat lain yang ditunjuk. dan seadil-adilnya. dan/atau Pemerintah Kabupaten. . bahwa saya provinsi. sarana dan prasarana. Pemerintah Propinsi. saya kepada desa. Republik Indonesia. kewenangan yang oleh peraturan perundang-perundangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh Daerah dan Pemerintah. sarana dan mempertahankan Pancasila sebagai dan prasarana. memimpin penyelenggaraan Pemerintah Desa. serta sumber daya manusia. sejujur. (2) Sebelum memangku jabatannya. (3) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud (4) urusan pemerintahan lainnya yang oleh adalah sebagai berikut : peraturan perundang-perundangan diserahkan "Demi Allah (Tuhan). Daerah. b. pemerintah jujurnya. kabupaten/kota. dan Negara Kesatuan Pemerintah. Pemerintah Propinsi.Tugas pembantuan dari Pemerintah. dan/atau pemerintah Desa mengucapkan sumpah/janji. Tugas Pembantuan dari Pemerintah. serta sumber daya manusia. bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Kepala Pasal 207 Desa dengan sebaik-baiknya. (2) urusan pemerintahan yang menjadi Pasal 98 kewenangan kabupaten/kota yang (1) Kepala Desa dilantik oleh Bupati atau diserahkan pengaturannya kepada desa.berdasarkan hak asal-usul desa. Pasal 100 Tugas Pembantuan dari Pemerintah. dan c. Kepala pemerintah provinsi. (3) tugas pembantuan dari Pemerintah. dasar negara. dan/atau Pemerintah Kabupaten kepada Desa disertai dengan pembiayaan. Pasal 101 Tugas dan kewajiban Kepala Desa adalah : a.

dilakukan oleh Bupati atas usul Badan Perwakilan Desa. 28 Badan Permusyawaratan Desa dan Lembaga Lainnya Pasal 104 Pasal 209 • Dalam UU No.32 Tahun 2004 terdapat Badan Perwakilan Desa atau yang disebut Badan Permusyawaratan Desa berfungsi perubahan istilah dari lembaga perwakilan dengan nama lain berfungsi mengayomi adat menetapkan peraturan desa bersama kepala desa. desa dan diatur mengenai pembatasan dan menyalurkan aspirasi masyarakat. membuat Peraturan Desa. serta masa jabatan dari anggota Badan melakukan pengawasan terhadap Pasal 210 Permusyawaratan Desa. (1) Anggota badan permusyawaratan desa adalah wakil dari penduduk desa . Pasal 103 (1) Kepala Desa berhenti karena : a. dan mewakili Desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. berakhir masa jabatan dan telah dilantik Kepala Desa yang baru. tidak lagi memenuhi syarat dan/atau melanggar sumpah/ janji. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. Pasal 102 Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati. penyelenggaraan Pemerintahan Desa. c. dan e. melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku dan/atau norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Desa. membina perekonomian Desa. mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa.membina kehidupan masyarakat Desa. meninggal dunia. bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa b. menampung menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Kepala Desa : a. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101. desa menjadi lembaga permusyawaratan istiadat. (2) Pemberhentian Kepala Desa. b. d.

hasil swadaya dan partisipasi. bantuan dari Pemerintah. pada ayat (1) menimbulkan pendapatan. pendapatan asli desa. milik desa berhubung dengan pelaksanaan hak 4. Peraturan Desa. (4) Syarat dan tata cara penetapan anggota dan Pasal 106 pimpinan badan permus yawaratan desa Di Desa dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai diatur dalam Perda yang berpedoman pada dengan kebutuhan Desa dan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.Pasal 105 bersangkutan yang ditetapkan dengan cara (1) Anggota Badan Perwakilan Desa dipilih dari musyawarah dan mufakat. bagian dari perolehan pajak dimaksud pada ayat (2) terdiri atas: dan retribusi Daerah. 3. dipilih dari dan oleh anggota badan (2) Pimpinan Badan Perwakilan Desa dipilih permusyawaratan desa. dari dan oleh anggota. dengan Keputusan Kepala Desa. d. hasil kekayaan Desa. b. dan dan kewajiban. (2) Lembaga kemasyarakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas membantu pemerintah desa dan merupakan mitra dalam memberdayakan masyarakat desa. maupun berupa barang yang dapat dijadikan Usaha Milik Desa. 5. bagi hasil pajak daerah dan retribusi keuangan Pusat dan Daerah daerah kabupaten/kota. Pasal 211 (1) Di desa dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan yang ditetapkan dengan peraturan desa dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. bantuan dari Pemerintah dan kabupaten/kota.32 a. dan oleh penduduk Desa yang memenuhi (2) Pimpinan badan permusyawaratan desa persyaratan. bagian dari dana perimbangan keuangan Kabupaten. lain-lain pendapatan asli Desa (2) Hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud yang sah. uang. serta segala sesuatu baik berupa uang dan diatur secara lebih rinci mengenai Badan 2. dan a. yang diterima oleh Pemerintah c. pendapatan asli Desa yang meliputi (1) Keuangan desa adalah semua hak dan Tahun 2004 pinjaman desa bukan lagi : kewajiban desa yang dapat dinilai dengan termasuk dalam sumber pendapatan desa 1. pusat dan daerah yang diterima oleh c. pemerintah . tahun dan dapat dipilih lagi untuk 1 (satu) kali (4) Pelaksanaan Peraturan Desa ditetapkan masa jabatan berikutnya. bantuan dari Pemerintah Kabupaten belanja dan pengelolaan keuangan desa. yang meliputi : (3) Sumber pendapatan desa sebagaimana 1. 29 Keuangan Desa Pasal 107 • Terdapat perbedaan mengenai sumber Pasal 212 (1) Sumber pendapatan Desa terdiri atas : pendapatan desa dimana dalam UU No. hasil gotong royong. 2. hasil usaha Desa. (3) Masa jabatan anggota badan (3) Badan Perwakilan Desa bersama dengan permusyawaratan desa adalah 6 (enam) Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa. bagian dari dana perimbangan b. Pemerintah Propinsi.

dalam perencanaan. pelaksanaan. (2) Sumber pendapatan Desa. Pasal 108 Pasal 213 Desa dapat memiliki badan usaha sesuai dengan (1) Desa dapat mendirikan badan usaha milik peraturan perundang-undangan. dan pemerintah kabupaten/kota. (4) Untuk pelaksanaan kerja sama. desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa. desa yang dituangkan dalam peraturan desa (4) Pedoman penyusunan Anggaran tentang anggaran pendapatan dan belanja Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan desa. dikelola melalui ayat (2) digunakan untuk mendanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Desa menetapkan Anggaran Pendapatan (5) Pengelolaan keuangan desa sebagaimana dan Belanja Desa setiap tahun dengan dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh kepala Peraturan Desa. Pasal 110 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga dilakukan sesuai dengan peraturan perundangyang merencanakan pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah permukiman. industri. undangan. (6) Pedoman pengelolaan keuangan desa (5) Tata cara dan pungutan objek pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan belanja Desa ditetapkan bersama ditetapkan oleh Bupati/Walikota dengan antara Kepala Desa dan Badan Perwakilan berpedoman pada peraturan perundangDesa. (3) Kerjasama desa dengan pihak ketiga (1) Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan desa yang diatur dengan keputusan bersama dan dilaporkan kepada . e. (2) Kerjasama antar desa dan desa dengan pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan provinsi. (2) Badan usaha milik desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). hibah dan sumbangan dari pihak ketiga. dan undangan. penyelenggaraan pemerintahan desa dan (3) Kepala Desa bersama Badan Perwakilan pemberdayaan masyarakat desa. pinjaman Desa. ayat (2). dan ayat (3) ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan kewenangannya. dapat dibentuk Badan Kerja Sama. sebagaimana (4) Belanja desa sebagaimana dimaksud pada dimaksud pada ayat (1). oleh Bupati. dan jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Des a dan Badan Perwakilan Desa dapat dibentuk badan kerja sama. e. Bupati/Walikota melalui camat. (3) Badan usaha milik desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melakukan pinjaman sesuai peraturan perundangundangan.d. 30 Kerja Sama Desa Pasal 109 Pasal 214 (1) Beberapa Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan Desa yang diatur dengan keputusan bersama dan diberitahukan kepada Camat. (2) Untuk pelaksanaan kerja sama. sumbangan dari pihak ketiga.

regional. penelitian.pengawasannya. (2) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan secara berkala pada tingkat nasional. kelestarian lingkungan hidup. perencanaan. Pemerintah yang meliputi : (2) Pedoman mengenai pembinaan dan a. tata laksana. dengan memperhatikan: (2) Peraturan Daerah. . pelaksanaan. Otonomi Daerah ditetapkan dengan b. kewenangan desa. pendidikan dan pelatihan. pengembangan. istiadat Desa. e. wajib mengakui dan b. Peraturan Daerah pemerintahan. pemantauan. d. sesuai dengan pedoman (2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dimaksud pada ayat (1) diatur dengan berdasarkan undang-undang ini. dan evaluasi pelaksanaan urusan pemerintahan. Pemerintah (1) Pembinaan atas penyelenggaraan rinci dalam UU No. koordinasi pemerintahan antarsusunan pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan. Perda. pada ayat (1). pemberian bimbingan. Pasal 216 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai desa ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. dan kepada Pemerintah selambat-lambatnya lima e. kepentingan masyarakat desa. wajib mengakui dan menghormati hak.32 Tahun 2004 memfasilitasi penyelenggaraan Otonomi pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Daerah. asal-usul. dan adat istiadat desa. dan Pasal 113 konsultasi pelaksanaan urusan Dalam rangka pengawasan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Perda. dan adat c. keserasian kepentingan antar kawasan dan kepentingan umum. pemberian pedoman dan standar Peraturan Pemerintah. pelaksanaan urusan pemerintahan. kelancaran pelaksanaan investasi. dan Keputusan Kepala Daerah disampaikan d. asal-usul. belas hari setelah ditetapkan. menghormati hak. Kabupaten. supervisi. c. Pasal 215 (1) Pembangunan kawasan perdesaan yang Pasal 111 dilakukan oleh kabupaten/kota dan atau (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai Desa pihak ketiga mengikutsertakan pemerintah ditetapkan dalam Peraturan Daerah desa dan badan permusyawaratan desa. (3) Pemberian pedoman dan standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b mencakup aspek perencanaan. sebagaimana dimaksud a. 31 Pembinaan dan Pengawasan Pemerintahaan Daerah • Materi mengenai Pembinaan dan Pasal 112 Pasal 217 Pengawasan Daerah diatur secara lebih (1) Dalam rangka pembinaan. atau provinsi.

Pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. (5) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilaksanakan secara berkala bagi kepala daerah atau wakil kepala daerah. baik secara menyeluruh kepada seluruh daerah maupun kepada daerah tertentu sesuai dengan kebutuhan. pengendalian dan pengawasan. anggota DPRD. kualitas. pemantauan. dan kepala desa. kepala desa. pegawai negeri sipil daerah. anggota DPRD. (6) Perencanaan. Pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. b. Pasal 219 (1) Pemerintah memberikan penghargaan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. supervisi dan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilaksanakan secara berkala dan/atau sewaktuwaktu. perangkat daerah. perangkat daerah. pengembangan. anggota badan permusyawaratan desa. dan masyarakat. (2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan oleh aparat pengawas intern Pemerintah sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 218 (1) Pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi: a.pendanaan. . (2) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada pemerintahan daerah. kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. penelitian. (4) Pemberian bimbingan. (7) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dan huruf e dapat dilakukan kerja sama dengan perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian. dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dilaksanakan secara berkala ataupun sewaktu-waktu dengan memperhatikan susunan pemerintahan. PNS daerah.

Presiden dapat membentuk suatu Dewan Perimbangan Otonomi Daerah. anggota DPRD. penghargaan. (3) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan desa dikoordinasikan oleh Bupati/Walikota. perangkat daerah. dan kepala desa. 32 Pertimbangan dalam Kebijakan Otonomi Daerah Pasal 115 Pasal 224 • Dalam UU No. (2) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota dikoordinasikan oleh Gubernur. (2) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada pemerintahan daerah. Pasal 223 Pedoman pembinaan dan pengawasan yang meliputi standar.Pasal 220 (1) Sanksi diberikan oleh Pemerintah dalam rangka pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pasal 221 Hasil pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 dan Pasal 218 digunakan sebagai bahan pembinaan selanjutnya oleh Pemerintah dan dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Presiden mengenai: dewan yang bertugas memberikan saran dan akan tetapi dalam Undang-undang ini . (4) Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat melimpahkan kepada camat. prosedur. Pasal 222 (1) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 dan Pasal 218 secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. PNS daerah. kepala daerah atau wakil kepala daerah. dan sanksi diatur dalam Peraturan Pemerintah.32 Tahun 2004 tidak (1) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (1) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan disebutkan lagi mengenai anggota dari bertugas memberikan pertimbangan kepada daerah. norma.

pembentukan. formula dan perhitungan DAU masing(3) Menteri Dalam Negeri dan Menteri masing daerah berdasarkan besaran Keuangan karena jabatannya adalah Ketua pagu DAU sesuai dengan peraturan dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan perundangan. pembentukan. yang meliputi: Keuangan.a. tersebut. pertimbangan terhadap kebijakan otonomi diatur lebih rinci mengenai tugas dari dewan penggabungan. menggunakan kriteria sesuai dengan (5) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah peraturan perundangan. susunan organisasi keanggotaan dan tata laksananya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pasal 116 Presiden. 2. Daerah. 3. (3) Dewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) (6) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. perimbangan keuangan antara Pemerintah terdiri atas Menteri Dalam Negeri. kemampuan Daerah Kabupaten dan rancangan kebijakan: Daerah Kota untuk melaksanakan a. daerah atas dana bagi hasil pajak dan perwakilan Asosiasi Pemerintah Daerah. dan kepada Presiden antara lain mengenai c. Menteri Sekretaris Negara. sumber daya alam sesuai dengan dan wakil-wakil Daerah yang dipilih oleh peraturan perundang-undangan. (2) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah b. kawasan khusus. (2) Dewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) b. Otonomi Daerah. 1. Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dibantu oleh Kepala Sekretariat yang membawahkan Bidang Otonomi Daerah dan Bidang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Menteri dan pemerintahan daerah. dan pemekaran daerah. DPRD . . perimbangan keuangan Pusat dan bertugas memberikan saran dan pertimbangan Daerah. DAK masing-masing daerah untuk (4) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah setiap tahun anggaran berdasarkan mengadakan rapat sekurang-kurangnya satu besaran pagu DAK dengan kali dalam enam bulan. sebagaimana penggabungan daerah serta pembentukan dimaksud dalam Pasal 11. penghapusan. penghapusan dan kewenangan tertentu. bertanggung jawab kepada Presiden. perhitungan bagian masing-masing menteri lain sesuai dengan kebutuhan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful