MATRIKS PERBANDINGAN UNDANG-UNDANG NO.5 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK PEMERINTAHAN DI DAERAH , UNDANG-UNDANG NO.

22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DAN UNDANG-UNDANG NO.32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
NO UNDANG-UNDANG NO.5 TAHUN 1974 UNDANG-UNDANG NO.22 TAHUN 1999 UNDANG-UNDANG NO.32 TAHUN 2004 KETERANGAN TENTANG POKOK-POKOK TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DI DAERAH (sudah tidak berlaku) (sudah tidak berlaku) Menimbang • Untuk mengganti Undang-Undang No. • Untuk mengganti Undang-Undang No. 5 • Untuk mengganti Undang-Undang No. 22 Tahun • Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang tidak Pemerintahan Daerah merupakan Pemerintahan Daerah (Lembaran Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang sesuai lagi dengan perkembangan Keadaan, pengganti dari Undang-Undang No.22 Negara Tahun 1965 Nomor 83; tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan Tahun 1999 tentang Pemerintahan Derah. Tambahan Lembaran Negara Nomor Daerah dan Undang-Undang No. 5 Tahun otonomi daerah • Undang-Undang No. Tahun 22 Tahun 1999 2778). 1979 tentang Pemerintahan Desa, karena tentang Pemerintahan Daerah merupakan tidak sesuai lagi dengan prinsip pengganti dari Undang Undang No.5 Tahun penyelenggaraan otonomi daerah, keadaan 1979 tentang Pemerintahan Desa dan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. 2. Mengingat • Pasal 5 ayat (1), 18, dan 20 Ayat (1) • Pasal 1 ayat (1), Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, • Pasal 1, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 18, Pasal 18 A, UUD RI Tahun 1945; dan Pasal 20 ayat (1) UUD 1945; Pasal 18 B, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22 D, • Ketetapan MPR RI No. IV/MPR/1973 • Ketetapan MPR- RI No. X/MPR/1998 tentang Pasal 23E ayat (2), Pasal 24A ayat (1), Pasal 31 tentang GBHN ; Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan dalam ayat (4), Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945; Rangka Penyelamatan dan Normalisasi • UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara • Ketapan MPR RI No. V/MPR/1973 tentang Peninjauan Produk-Produk Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara; Negara yang Bersihdan Bebas dari Korupsi, yang berupa Ketatapan-Ketatapan • Ketetapan MPR-RI No XI/MPR/1998 tentang Kolusi dan Nepotismo • UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan MPRS-RI; • UU No. 10 Tahun 1964 tentang Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme; Negara • Ketetapan MPR-RI No XV/MPR/1998 tentang • UU No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan Pernyataan daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya sebagai Ibukota Negara Penyelenggaraan Otonomi Daerah; Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Republik Indonesia dengan nama Pengaturan, Pembagian dan Pemanfaatan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Jakarta; Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan; Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah • UU Nomor 6 Tahun 1969 tentang serta Perimbangan Keuangan Pusat dan • UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Pernyataan tidak berlakunya berbagai Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Negara Undang-Undang dan Peraturan Republik Indonesia; • UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan • UU Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan Pemerintah Pengganti UndangPeraturan Perundang-undangan Undang; dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan

1.

Penyelenggara Negara yang Bersih dan

• UU Nomor 16 tahun 1969 tentang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) • UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Susunan dan Kedudukan MPR, DPR Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan dan DPRD; Negara

3

Pengertian

Pasal 1 1. Pemerintah Pusat;

Terdapat Semua pengertian yang terdapat dalam Terdapat semua pengertian yang terdapat dalam Selain adanya tambahan pengertian-pengertian UU No.5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan UU N0. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan yang secara teknis digunakan dalam 2. Desentralisasi; Daerah, akan tetapi terdapat penabahan, Daerah, akan tetapi terdapat beberapa perubahan Pemerintahan Daerah, terdapat juga perbedaan 3. Otonomii Daerah; Pengurangan dan perubahan, yaitu: dan penambahan pengertian, yaitu : pendefinisian tentang : 4. Tugas Pembantuan; • Pejabat yang berwenang (perubahan) • Pejabat yang berwenang (perubahan) ; Pejabat yang berwenang : 5. Derah Otonom; • Urusan Pemerintahan Umum • Kawasan Perkotaan (perubahan) • dalam UU Nomor 5 Tahun 1974, Pejabat Yang 6. Dekonsentrasi; Berwenang adalah pejabat yang berwenang (pengurangan): • Kawasan Pedesaan ( perubahan) 7. Wilayah Administratip; • Polisi Pamong Praja (pengurangan); mensahkan, membatalkan dan • Pemerintah Desa (penambahan) 8. Instansi Vertikal; menangguhkan Peraturan Daerah atau • Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Badan Perwakilan Desa (penambahan) ; 9. Pejabat yang Berwenang; Keputusan Kepala Daerah, yaitu Mendagri • Dewan Perwakilan Rakyat Daerah • Perimbangan Keuangan antara Pemerintah 10. Urusan Pemerintahan Umum; bagi Daerah Tingkat I dan Gubernur Kepala (penambahan); Daerah (penambahan) ; 11. Polisi Pamong Praja; Daerah bagi daerah Tingkat II, sesuai • Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Dana Perimbangan (penambahan) ; 12. Investasi. peraturan perundang-perundangan yang • Kecamatan (penambahan) ; • Keuangan Daerah (penambahan) berlaku ; • Kelurahan (penambahan) ; • APBD (penambahan) ; • dalam UU No 22 Tahun 1999 Pejabat Yang • Desa (penambahan) ; • Pendapatan Daerah (penambahan) ; Berwenang adalah , pejabat Pemerintah di • Kawasan Perdesaan (penambahan) ; • Belanja Daerah (penambahan) ; tingkat Pusat dan atau pejabat Pemerintah di • Kawasan Perkotaan (penambahan). • Pembiayaan (penambahan) Daerah Propinsi yang berwenang membina • Pinjaman Daerah (penambahan) dan mengawasi penyelenggaraan • Kawasan Khusus (penambahan) ; Pemerintahan Daerah • Bakal calon Kepala Daerah dan Wakil • dalam UU No 32 Tahun 2004 Pejabat Yang Kepala Daerah (penambahan) ; Berwenang adalah Pejabat Pemerintah yang • Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil berwenang mengesahkan atau menyetujui, Kepala Daerah (penambahan) ; menangguhkan dan membatalkan kebijakan • Komisi Pemilihan Umum Daerah daerah dan/atau mengangkat, (penambahan); memberhentikan, mengesahkan, menyetujui, • Panitia Pemilihan Kecamatan membina dan mengawasi pelaksana (penambahan); penyelenggaraan Pemerintah Daerah • Kampanye pemilihan kepala daerah dan dan/atau pejabat pemerintah pada wakil kepala daerah (penambahan) pemerintahan Daerah Provinsi yang berwenang membina dan mengwasai pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah Kabupaten dan Kota. UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberikan pengertian yang lebih lengkap dan jelas dari Undang-Undang sebelumnya sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.

4 Pembagian Wilayah Pasal 2 Pasal 2 Pasal 2 : • Dalam UU No.5 tahun 1974 mengenai Pembagian Wilayah : Pembagian Wilayah : Negara Kesatuan republik Indonesia dibagi atas pembagian wilayah diuraikan secara lebih Dalam menyelenggarakan Pemerintahan, (1). Wilayah Negara Kesatuan Republik daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu lanjut dalam pasal-pasal dan ayat-ayat wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi, dibagi atas kabupaten dan kota yang masingtersendiri dibagi dalam Daerah-Daerah Otonom dan Daerah Kabupaten, dan Daerah Kota masing mempunyai pemerintahan daerah. Wilayah-Wilayah Administratip. yang bersifat otonom. Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 72 (2). Daerah Propinsi berkedudukan juga ayat (1) mengatur dan mengurus sendiri urusan (1) Dalam rangka pelaksanaan azas sebagai Wilayah Administrasi. pemerintah menurut asas otonomi dan tugas dekonsentrasi, wilayah Negara pembantuan. Kesatuan Republik Indonesia dibagi Pasal 3 dalam Wilayah-wilayah Propinsi dan Ibu Wilayah Daerah Propinsi, sebagaimana dimaksud kota Negara. dalam Pasal 2 ayat (1), terdiri atas wilayah darat (2) Wilayah Propinsi dibagi dalam Wilayahdan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang wilayah Kabupaten dan Kota madya. diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan

.
(3) Wilayah Kabupaten dan Kotamadya atau ke arah perairan kepulauan dibagi dalam Wilayah-wilayah Kecamatan. (4) Apabila dipandang perlu sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya, dalam Wilayah Kabupaten dapat dibentuk Kota Administratip yang pengaturannya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 73 Apabila dipandang perlu, Menteri Dalam Negeri dapat menunjuk Pembantu Gubernur, Pembantu Bupati atau Pembantu Walikotamadya yang mempunyai wilayah kerja tertentu dalam rangka dekonsentrasi. Pasal 74 (1) Nama dan batas Daerah Tingkat I adalah sama dengan nama dan batas Wilayah Propinsi atau Ibukota Negara. (2) Nama dan batas Daerah Tingkat II adalah sama dengan nama dan batas Wilayah Kabupaten atau Kotamadya. (3) Ibukota Daerah Tingkat I adalah ibukota Wilayah Propinsi. (4) Ibukota Daerah Tingkat II adalah ibukota Wilayah Kabupaten. Pasal 75 Dengan tidak mengurangi ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 74 Undang-undang

serta perangkat kemampuan ekonomi. Daerah Kabupaten. jumlah dari satu daerah menjadi dua daerah atau pembinaan kestabilan politik dan penduduk. serta (4) Syarat-syarat pembentukan Daerah. dn tujuan dari pembentukan Pasal 4 pada ayat (1). luas Daerah. dan ibukota pada ayat (3) dapat dilakukan setelah (2) Pembentukan nama. (2) Pembentukan. selanjutnya didasarkan pada kondisi politik. batas. batas. pangkal Daerah yang dimaksud pada (3) Perubahan batas yang tidak mengakibatkan ayat (1) pasal ini. dan penghapusan Wilayah Umumnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan fisik kewilayahan. ditetapkan dengan penghapusan suatu Daerah. secara lebih terperinci dan jelas mengani keamanan nasional berdasarkan aspirasi masyarakat. kewenangan menyelenggarakan syarat-syarat pembentukan suatu daerah (2) Daerah-daerah sebagaimana dimaksud urusan pemerintahan. nama. pendanaan. 34 Tahun 2004 diatur ekonomi. (2) Syarat administratif sebagaimana dimaksud ibukotanya ditetapkan dengan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. mengurus kepentingan masyarakat bagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain • Dalam UU No. memperhatikan syarat-syarat satu sama lain. sosial-budaya serta pertahanan dan setempat menurut prakarsa sendiri mencakup nama. penunjukan penjabat otonom. luas daerah. batas. kesatuan Bangsa dalam rangka lain yang memungkinkan terselenggaranya (4) Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) pelaksanaan Otonomi Daerah yang Otonomi Daerah. pertahanan dan Pasal 5 (3) Pembentukan daerah dapat berupa pengkemanan nasional dan syarat-syarat (1) Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan gabungan beberapa daerah atau bagian lain yang memungkinkan Daerah kemampuan ekonomi. persetujuan DPRD provinsi menyelenggarakan Otonomi Daerah dapat induk dan Gubernur. dalam rangka pelaksanaan asas Perkembangan dan pengembangan otonomi Kota yang berwenang mengatur dan (2) Undang-undang pembentukan daerah sedesentralisasi. sosial-budaya. perubahan nama daerah.ini. administratif. daerah yang bersandingan atau pemekaran melaksanakan pembangunan. dan pertimbangan lebih. penduduk. nama. peralatan. teknis. pengisian keanggotaan DPRD. (1) Daerah dibentuk dengan dan tidak mempunyai hubungan hierarki pengalihan kepegawaian. perubahan nama dan pemindahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pada ayat (1) untuk provinsi meliputi adanya Peraturan Daerah. lain. nama Daerah. masing-masing berdiri sendiri kepala daerah. ibukota. ibukota. penyelenggaraan pemerintahan. . (3) Syarat administratif sebagaimana dimaksud (2) Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi satu Daerah. perubahan Pasal 5 Undang-Undang. adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota (3) Kriteria tentang penghapusan. ibukota. potensi Daerah. 5 Pembentukan dan Pasal 3 Pasal 4 Pasal 4 • Ketiga undang-undang tersebut Susunan daerah Dalam rangka pelaksanaan asas (1) Dalam rangka pelaksanaan asas (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud menyebutkan secara tegas bahwa otonom desentralisasi dibentuk dan disusun Daerah Desentralisasi dibentuk dan disusun Daerah dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan pembentukan daerah otonom dlakukan Tingkat I dan Daerah Tingkat II Propinsi. daerah otonom tresbut. daerah atau lebih sebagaimana dimaksud nyata dan bertanggunggjawab. jumlah daerah. serta perubahan nama dan (3) Perubahan batas yang tidak pemindahan ibukota Daerah ditetapkan (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud mengakibatkan penghapuan suatu dengan Peraturan Pemerintah. sebutan. batas. dan dokumen. dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat Daerah. sosial-politik. cakupan wilayah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencapai batas minimal usia hak dan wewenang urusan serta modal ditetapkan dengan Undang-Undang. maka pembentukan. persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Pasal 6 Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan (1) Daerah yang tidak mampu wilayah provinsi. dan Daerah undang-undang. serta rekomendasi dihapus dan atau digabung dengan Daerah Menteri Dalam Negeri.

keamanan. potensi dengan Undang-undang daerah. (2) Perubahan batas suatu daerah. sosial budaya. Pasal 7 (1) Penghapusan dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) beserta akibatnya ditetapkan dengan undang-undang. dan pemekaran Daerah. dan prasarana pemerintahan. pertahanan. (4) Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada (4) Penghapusan. sosial politik. penggabungan dan ayat (1) meliputi faktor yang menjadi dasar pemekaran Daerah. (3) Pedoman evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.penggabungan. atau pemindahan ibukota yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. pemberian nama bagian rupa bumi serta perubahan nama. ditetapkan faktor kemampuan ekonomi. dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota. sebagaimana dimaksud pembentukan daerah yang mencakup pada ayat (1) dan ayat (2). luas daerah. Pasal 6 (1) Daerah dapat dihapus dan digabung dengan daerah lain apabila daerah yang bersangkutan tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah. (5) Syarat fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentuk an provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk pembentukan kabupaten. sarana. ditetapkan dengan Peraturan serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. lokasi calon ibukota. Pemerintah. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. . (2) Penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. kependudukan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan persetujuan DPRD provinsi dan Gubernur ayat (2). perubahan nama daerah.

peradilan. (2). kecuali kewenangan dalam • UU No 22 Tahun 1999 dan UU No. meliputi kebijakan . pertahanan keamanan. Kewenangan bidang lain.(3) Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan atas usul dan persetujuan daerah yang bersangkutan. 5 Penyelenggaraan Pasal 7 Pasal 7 Otonomi Daerah Daerah berhak. Pasal 8 agama. ayat (2). Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan. pemerintahan daerah bidang politik luar negeri. sebagaimana (1). Penambahan penyerahan urusan pemerintahan kepala Daerah dimaksud pada ayat (1). (6) Tata cara penetapan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 9 (1) Untuk menyelenggarakan fungsi pemerintahan tertentu yang bersifat khusus bagi kepentingan nasional. serta kewenangan bidang lain. kecuali urusan pemerintahan • UU No 32 Tahun 2004 disebutkan secara yang oleh Undang-Undang ini ditentukan tegas pembagian urusan pemerintahan menjadi urusan Pemerintah. Pasal 10 (1). dan Pasal 6 diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan ayat (5) diatur dalam Peraturan Pemerintah. berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku. (2) Fungsi pemerintahan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Perdagangan bebas dan/atau pelabuhan bebas ditetapkan dengan undang-undang. ayat (4). (3) Fungsi pemerintahan tertentu selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah . (5) Daerah dapat mengusulkan pembentukan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Pemerintah. 32 Tahun 2004 mengatur lebih rinci mengenai (1) Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. dan mengatur pula dimaksud pada ayat (1). Pemerintah dapat menetapkan kawasan khusus dalam wilayah provinsi dan/atau kabupaten/kota. Pasal 5. kewenangannya. ayat (3). dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. moneter dan fiskal. (4) Untuk membentuk kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). Pasal 8 Tata cara pembentukan. Pemerintah mengikutsertakan daerah yang bersangkutan. yang menjadi kewenangan Propinsi dan (2) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan yang menjadi kewenangan daerah sebagaimana Kabupaten/Kota. penghapusan.

Otonom termasuk juga kewenangan yang pemerintahan desa berdasarkan asas tugas undangan. ditetapkan dengan Peraturan pembiayaan sesuai dengan kewenangan (5) Dalam urusan pemerintahan yang menjadi Perundang-undangan yang dilimpahkan tersebut. dana perimbangan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. menugaskan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Kewenangan Propinsi sebagai Wilayah Pasal 11 tugas pembantuan. (1) Daerah berwenang mengelola sumber daya (2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan (3). undangan yang setingkat. diserahkan kepada Daerah dalam rangka f. urusan tugas pembantuan. pertimbangan kepada presiden sarana dan prasarana. Pelaksanaan ketentuan yang bidang pemerintahan yang bersifat lintas b. Pemberian urusan tugas pembantuan nasional yang tersedia di wilayahnya dan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) bertanggung jawab memelihara kelestarian merupakan pelaksanaan hubungan kewenangan antara Pemerintah dan dan (2) pasal ini. a. Kewenangan Pemerintahan yang Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah (2).ditetapkan dengan Peraturan tentang perencanaan nasional dan menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengenai hubungan antara pemerintah Pemerintah. disertai perangkat. Pemerintah Daerah Tingkat I dapat kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah. urusan pemerintahan kepada perangkat dibentuk Dewan Otonomi Daerah. Titik berat Otonomi Daerah diletakkan (1). Peraturan mengenai Dewan dilimpahkan kepada Gubernur dalam rangka atau dapat menugaskan kepada pemerintahan Pertimbangan Otonomi Daerah dekonsentrasi harus disertai dengan daerah dan/atau pemerintahan desa. Pemerintah dapat tidak atau belum dapat dilaksanakan pembantuan. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pada Daerah Tingkat II Otonom mencakup kewenangan dalam pemerintahan. dan pemberdayaan sumber daya manusia.8 dan 9 Undang-Undang ini diserahkan tersebut. melimpahkan sebagian urusan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini Kabupaten dan Kota. dalam bidang pemerintahan tertentu wakil Pemerintah. Dengan peraturan perundang.5. (1). kabupaten dan .Pasal 8 d. perundang-undangan. Kewenangan Propinsi sebagai Daerah pemerintahan daerah dan/atau (1). keuangan. dan efisiensi dengan menugaskan kepada Pemerintah memperhatikan keserasian hubungan antar Daerah Tingkat II untuk melaksanakan Pasal 10 susunan pemerintahan. akuntabilitas. c. Kewenangan Pemerintahan yang e. Daerah untuk melaksanakan urusan (3). sistem administrasi negara dan tugas pembantuan. kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada Pasal 11 Pasal 9 ayat (3). (2). serta sumber daya ayat (3). Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat pendayagunaan sumber daya alam serta (1) meliputi: Pasal 9 teknologi tinggi yang strategis. (2). keamanan. Dengan Peraturan Daerah. b. politik luar negeri. Pemerintah dapat: (1). (2). moneter dan fiskal nasional. disertai dengan lingkungan sesuai dengan peraturan pembiayaanya. atau lainnya. menugaskan sebagian urusan kepada Pasal 12 (2). agama. Sesuatu urusan pemerintahan yang telah dan standardisasi nasional. Pasal 10 desentralisasi harus disertai dengan (4) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada (1). Pemerintah menyelenggarakan tentang hal-hal yang dimaksud dalam manusia sesuai dengan kewenangan yang sendiri atau dapat melimpahkan sebagian pasal 4. alat perlengkapan lembaga perekonomian negara. diserahkan kepada Daerah dapat ditarik c. pengendalian pembangunan nasional mengatur dan mengurus sendiri urusan pusat dan pemerintah daerah. Administrasi mencakup kewenangan dalam (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan dibagi (2). pertahanan. bidang pemerintahan yang dilimpahkan berdasarkan kriteria eksternalitas. Penambahan penyerahan urusan yang secara makro. kembali dengan peraturan perundang. yustisi. serta kewenangan pemerintahan kepada Gubernur selaku diatur dengan Peraturan Pemerintah. pemerintahan daerah provinsi. Untuk memberikan pertimbangan – penyerahan dan pengalihan pembiayaan. pembinaan (3) Urusan pemerintahan yang menjadi urusan dan sumber pembiayaannya. konservasi. Kewenangan Propinsi sebagai Daerah a.

pengaturan kepentingan administratif. Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. e. penyelenggaraan pendidikan dan alokasi Pasal 12 sumber daya manusia potensial. yang wilayah laut tersebut. pendidikan dan kebudayaan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. lingkungan hidup. (1). perhubungan. h. a. Pasal 13 i. dan (3) Urusan pemerintahan yang menjadi pengelolaan kekayaan laut sebatas kewenangan pemerintahan daerah. dan d. terdiri c. pengaturan tata ruang. e. Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan g. dan menengah termasuk lintas Daerah tugas-tugas tertentu dalam rangka kabupaten/kota. pengendalian lingkungan hidup. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) (2) Urusan pemerintahan yang dilimpahkan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. 9 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. eksplorasi. perencanaan dan pengendalian dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan pembangunan. dan bertahap dan ditetapkan oleh Pemerintah. pertanian. Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan Pasal 13 pemerintahan selain kewenangan yang (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur pemerintahan daerah provinsi merupakan dalam Pasal 9. pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota. penegakan hukum terhadap peraturan (4) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang yang dikeluarkan oleh Daerah atau yang bersifat wajib yang berpedoman pada standar dilimpahkan kewenangannya oleh pelayanan minimal dilaksanakan secara Pemerintah. b. sebagaimana kepada daerah disertai dengan sumber dimaksud pada ayat (2). prasarana. d. konservasi. tenaga kerja. dan sinergis sebagai meliputi : satu sistem pemerintahan. pemanfaatan. ketentraman masyarakat. saling terkait. penanaman modal. penyediaan sarana dan prasarana umum. pertanahan. serta kepegawaian sesuai dengan (4) Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan urusan yang didesentralisasikan. urusan dalam skala provinsi yang meliputi: (2). dan kesehatan. j. . penanganan bidang kesehatan. penanggulangan masalah sosial lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal kabupaten/kota. industri dan c. perencanaan. f. penyelenggaraan ketertiban umum dan perdagangan. tugas pembantuan disertai pembiayaan. Bidang pemerintahan yang wajib a. pengalihan sarana dan sepertiga dari batas laut Daerah Propinsi. usaha (1) Pemerintah dapat menugaskan kepada kecil. kepada Gubernur disertai dengan pendanaan sesuai dengan urusan yang Pasal 11 didekonsentrasikan. atas urusan wajib dan urusan pilihan. adalah sejauh pendanaan. koperasi. eksploitasi. diselenggarakan berdasarkan kriteria b. fasilitasi pengembangan koperasi. tergantung.(2) Kewenangan Daerah di wilayah laut. Pasal 12 (3) Kewenangan Daerah Kabupaten dan (1) Urusan pemerintahan yang diserahkan Daerah Kota di wilayah laut. pengawasan tata ruang. kota atau antarpemerintahan daerah yang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3.

sarana dan prasarana. dan catatan sipil. penanggulangan masalah sosial. h. c. pelayanan administrasi umum pemerintahan. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. perundang-undangan o. kekhasan. i. j. mempertanggungjawabkannya kepada m. sebagaimana dimaksud n. serta sumber daya k. m. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. perencanaan dan pengendalian pembangunan. pelayanan kependudukan. dan . (2) Setiap penugasan. pelayanan administrasi penanaman modal pada ayat (1). urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundangundangan. fasilitasi pengembangan koperasi. e. perencanaan. pengendalian lingkungan hidup. pemanfaatan. pelayanan kependudukan. k. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya. d. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. pelaksanaannya dan l. g. pemerintahan. l. (2) Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. pelayanan pertanahan. pelayanan administrasi penanaman modal. f. b. pelayanan administrasi umum Pemerintah. usaha kecil dan menengah. pelayanan bidang ketenagakerjaan. ditetapkan dengan peraturan termasuk lintas kabupaten/kota. penyediaan sarana dan prasarana umum. o. penanganan bidang kesehatan. n. pelayanan pertanahan termasuk lintas manusia dengan kewajiban melaporkan kabupaten/kota. dan catatan sipil. dan pengawasan tata ruang. penyelenggaraan pendidikan. Pasal 14 (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi: a.

Pasal 11. c. d. kekhasan. (2) Hubungan dalam bidang keuangan antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. (3) Hubungan dalam bidang keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah. b. Pasal 16 . Pasal 12. pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10. pembiayaan bersama atas kerja sama antardaerah.p. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. (2) Urusan pemerintahan kabupaten/kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. dan c. Pasal 13 dan Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama. pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah. Pasal 15 (1) Hubungan dalam bidang keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. b.

penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. budidaya. kerja sama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. pengelolaan perizinan bersama bidang pelayanan umum. dan c. fasilitasi pelaksanaan kerja sama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum.(1) Hubungan dalam bidang pelayanan umum antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. (2) Hubungan dalam bidang pelayanan umum antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. pemeliharaan. dan penentuan standar pelayanan minimal. b. dan c. pe-ngendalian dampak. b. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan c. kewenangan. b. pemanfaatan. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. tanggung jawab. (3) Hubungan dalam bidang pelayanan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. kewenangan. Pasal 17 (1) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya ant ara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. (2) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: . dan pelestarian.tanggungjawab.

(2) Daerah mendapatkan bagi hasil atas pengelolaan sumber daya alam di bawah dasar dan/atau di dasar laut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. (3) Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. b.a. dan c. . dan f. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. d. eksploitasi. pengaturan tata ruang. pengelolaan perizinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. kerja sama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah. c. Pasal 18 (1) Daerah yang memiliki wilayah laut diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. eksplorasi. pengaturan administratif. ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. penegakan hukum terhadap pera-turan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. e. ikut serta dalam pemeliharaan keamanan. (4) Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk provinsi dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota. konser-vasi. dan pengelolaan kekayaan laut. b.

c. d. asas kepentingan umum. ayat (4). asas tertib penyelenggara negara. pemerintahan daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. . e. asas proporsionalitas. (2) Dalammenyelenggarakan pemerintahan Daerah dibentuk Sekretariat Daerah dan Dinas-dinas Daerah. dan untuk kabupaten/kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. g. dan hak dan kewajiban dari setiap daerah dan oleh menteri negara. b. asas profesionalitas. dan i.(5) Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil. yang menyelenggarakan otonomi daerah (2) Penyelenggara pemerintahan daerah adalah pemerintah daerah dan DPRD. asas akuntabilitas. • UU No. Pemerintah menggunakan asas desentralisasi. asas kepastian hukum. (6) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) tidak berlaku terhadap penangkapan ikan oleh nelayan kecil. (2) Dalam menyelenggarakan pemerintahan. (7) Pelaksanaan ketentuan sebagai-mana dimaksud pada ayat (1). dan dekonsentrasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. asas efektivitas. h. tugas pembantuan. kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antar 2 (dua) provinsi tersebut. 32 Tahun 2004 mengatur mengenai (1) Penyelenggara pemerintahan adalah Presiden asas umum dalam penyelenggaraan negara dibantu oleh 1 (satu) orang wakil Presiden. f. ayat (3). Pasal 20 (1) Penyelenggaraan pemerintahan berpedoman pada Asas Umum Penyelenggaraan Negara yang terdiri atas: a. asas keterbukaan. dan ayat (5) diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan 6 Penyelenggara Pasal 13 Pasal 19 Pemerintahan (1) Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. asas efisiensi.

memungut pajak daerah dan retribusi daerah. melestarikan nilai sosial budaya. mengelola administrasi kepen-dudukan. c. k. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. mewujudkan keadilan dan pemerataan. melindungi masyarakat.Pasal 21 Dalam menyelenggarakan otonomi. menjaga persatuan. dan . menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. mendapatkan hak lainnya yang di-atur dalam peraturan perundang-undangan. l. d. g. d. memilih pimpinan daerah. f. mengelola aparatur daerah. h. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. g. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. e. j. b. c. Pasal 22 Dalam menyelenggarakan otonomi. mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. i. m. e. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. mengelola kekayaan daerah. dan h. melestarikan lingkungan hidup. daerah mempunyai kewajiban: a. kesatuan dan kerukunan nasional. mengembangkan kehidupan demokrasi. daerah mempunyai hak: a. mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. mengembangkan sistem jaminan sosial. n. b. f.

Dalam UU No 22 Tahun bertanggung jawab kepada Presiden (3) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan Republik Indonesia Tahun 1945. adil. Pembatasan umur minimum Kepala Wilayah : Pasal 31 untuk kabupaten disebut bupati. Propinsi dan Ibukota Negara disebut (1) Kepala Daerah Propinsi disebut Gubernur. pada ayat (3) untuk provinsi disebut wakil Undang-Undang No 32 Tahun 2004 (3) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban.o. (2) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan daerah. Kotamadya disebut Wahkotamadya. bertak wa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kecamatan bertanggungjawab kepada ditetapkan oleh Pemerintah. sedangkan dalam c. kota disebut walikota. Kecamatan disebut Camat. Pasal 58 dalam jabatan yang sama kepada Kepala Wilayah Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (4). bertanggung jawab kepada DPRD Propinsi. ayat (3) dipilih dalam satu pasangan secara 22 Tahun 1999 tidak ada pembatasan Kepala Wilayah Kabupaten atau (4) Dalam kedudukan sebagai wakil Pemerintah. Kabupaten disebut Bupati. Propinsi atau Ibukota Negara (2) Kepala Daerah Kota disebut Walikota. Gubernur (4) Wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud Undang-Undang No 22 Tahun 1999 dan d. belanja. dan untuk Dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1974 a. Kabupaten atau Kotamadya memenuhi syarat: disebutkan bahwa minimum pendidikan bertanggung jawab kepada Kepala Pasal 32 a. sebagai Kepala Daerah. (2) Kepala daerah sebagaimana di-maksud pada Pasal 77 ayat (1) untuk provinsi disebut Gubernur. Daerah sebagai kepala eksekutif yang dibantu daerah yang disebut kepala daerah. Undang-Undang Dasar Negara daerah tingkat II. (2) Pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara efisien. kepala daerah tingkat II. yang bersangkutan . dijelaskan bahwa umur minimum kepala Gubernur. bupati dan untuk kota disebut wakil walikota. langsung oleh rakyat di daerah yang masa jabatan sedangkan dalam UndangKotamadya atau Kota Administratip Gubernur berada di bawah dan bertanggung bersangkutan. Kota Administratip bertanggung jawab (5) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. 1. tertib. Undang No 32 Tahun 2004 terdapat yang bersangkutan jawab kepada Presiden. ádalah Sarjana bagi calon kepala daerah Wilayah Propinsi yang bersangkutan . untuk kabupaten disebut wakil mensyaratkan bahwa umur minimum calon Pasal 78 sebagaimana dimaksud pada ayat (2). setia kepada Pancasila sebagai Dasar Tingkat I dan SMU bagi calon kepala d. kepala daerah ádalah 30 tahun Dalam menjalankan tugasnya. patut. Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah 3. ayat (1) dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah tingkat I dan 30 tahun bagi calon b. yang karena jabatannya adalah juga sebagai (3) Kepala daerah sebagaimana di-maksud pada daerah hádala 35 tahun bagi calon kepala b. cita-cita 1999 dan UU No 32 syarat minimum . Negara. wakil Pemerintah. transparan. kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Kepala ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib (5) Kepala daerah dan wakil kepala daerah 2. pembatasan masa jabatan adalah 2 kali b. 7 Kepala Daerah Pasal 76 Pasal 30 Pasal 24 • Dalam ketiga undang-undang tersebut Setiap Wilayah dipimpin oleh seorang Kepala Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala (1) Setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah terdapat perbedaan mengenai syarat-s yarat Wilayah. Gubernur. (1) Kepala Daerah Kabupaten disebut Bupati. Pembatasan masa jabatan Wilayah: DPRD sesuai dengan pedoman yang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan Dalam UU No 5 Tahun 1974 dan UU No a. akuntabel. dan taat pada peraturan perundang-undangan. Pembatasan minimum pendidikan. ditetapkan oleh Pemerintah. b. Kota Administratip disebut Walikota. adalah warga negara Republik Indonesia yang Dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1974 c. Pasal 23 (1) Hak dan kewajiban daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 22 diwujudkan dalam bentuk rencana kerja pemerintahan daerah dan dijabarkan dalam bentuk pendapatan. dan pembiayaan daerah yang dikelola dalam sistem pengelolaan keuangan daerah. efektif. calon kepala daerah diantaranya: oleh seorang Wakil Kepala Daerah.

ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib sederajat. tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945. d. secara perseorangan dan/atau secara maupun tidak langsung dalam setiap f. jujur . tidak pernah dihukum penjara karena keuangan negara. tidak pernah melakukan perbuatan tercela. berumur sekurang-kurangnya tiga puluh j. a. tentang tata cara pemberhentian kepala Administratip dan Kepala Wilayah adalah warga negara Republik Indonesia dengan f. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. tanggungjawabnya yang merugikan Kesatuan Republik Indonesia yang h. dan kepada pendidikan adalah SMU. e. bersedia untuk diumumkan. selaku Kepala Daerah. mempunyai kepribadian dan l. Pemerintah . adil . berumur sekurang-kurangnya 35 menghormati kedaulatan rakyat. Pemerintah. telah memperoleh kekuatan hukum tetap b. tidak pernah dijatuhi pidana penjara daerah Kecamatan diatur dengan Peraturan syarat-syarat : berdasarkan putusan pengadilan yang Menteri Dalam Negeri. k. masyarakat di daerahnya. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. setia dan taat kepada Negara Kesatuan karena melakukan tindak pidana yang Pasal 14 Republik Indonesia dan Pemerintah yang sah. Kabupaten atau Kotamadya. memperoleh kekuatan hukum tetap. mengenal daerahnya dan dikenal oleh b. seperti i. . kesatuan dan tidak terpisahkan. d. sehat jasmani dan rohani. cerdas. tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang lama 5 (lima) tahun atau lebih. sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil (3) Ketentuan tentang pengangkatan dan Pasal 33 pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari • UU No 32 Tahun 2004 mengatur lebih rinci pemberhentian Kepala Wilayah Kota Yang dapat ditetapkan menjadi Kepala Daerah tim dokter. a. pajak f. dan trampil . bertanggung jawab kepada DPRD Negara Kesatuan Republik Indonesia serta Pasal 79 Kabupaten/Kota. setia dan taat kepada PANCASILA Negeri. • Dalam UU No 5 Tahun 1974 menjelaskan (1) Kepala Daerah Tingkat I karena (4) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. berpendidikan sekurang-kurangnya bahwa wakil kepala daerah diangkat oleh jabatannya adalah Kepala Wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (3). tidak sedang dicabut hak pilihnya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan berdasarkan putusan pengadilan yang a. 1999 dan UU No 32 Tahun 2004 calon (2) Kepala Daerah Tingkat II karena DPRD sesuai dengan pedoman yang d. NPWP wajib mempunyai bukti pembayaran kepemimpinan . c. mempertahankan dan memelihara keutuhan pendidikan dan pekerjaan serta keluarga i. menyerahkan daftar riwayat hidup lengkap g. tidak sedang dicabut hak pilihnya putusan pengadilan yang telah gerak an G-30-S/PKI dan atau berdasarkan keputusan pengadilan negeri. Bupati/Walikota Proklamasi 17 Agustus 1945. dan Undang-Undang Dasar 1945. tidak pernah terlibat baik langsung tahun. k. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) kepala daerah dan wakilnya merupakan satu jabatannya adalah Kepala Wilayah ditetapkan oleh Pemerintah tahun. Negara Kesatuan Republik Indonesia kandung. Organisasi terlarang lainnya . j. setia dan taat kepada Nega dan Lanjutan Tingkat Atas dan/atau sederajat. berwibawa . memegang teguh Pancasila dan Undang(dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah i. berdasarkan PANCASILA dan melakukan tindak pidana. berkemampuan. menyerahkan daftar kekayaan pribadi dan b. taqwa kepada Tuhan Yang Maha Undang-Undang Dasar 1945 yang dinyatakan telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Kepala Daerah mempunyai kewajiban : yang memuat antara lain riwayat h. esa. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak terhadap Nusa dari Bangsa . dan sehat jasmani dan rokhani . menyerahkan daftar kekayaan pribadi. k. e. Undang Dasar 1945. tidak dicabut hak pilihnya sebagaimana cita-cita Proklamasi o. mempunyai rasa pengabdian masyarakat di daerahnya. belum pernah menjabat sebagai kepala berdasarkan keputusan Pengadilan Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. m. Pasal 43 n. daerah atau wakil kepala daerah selama 2 yang mempunyai kekuatan pasti b. diancam dengan pidana penjara paling Yang dapat diangkat menjadi Kepala Daerah c. j. tidak sedang memiliki tanggungan utang c. suami atau istri. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah. ialah Warganegara Indonesia yang mengkhianati Negara Kesatuan Republik g.melalui Menteri Dalam Negeri. dengan surat keterangan Ketua Pengadilan h. badan hukum yang menjadi kegiatan yang mengkhianati Negara g. sekolah lanjutan tingkat atas dan/atau Presiden sedangkan dalam UU No 23 Tahun Propinsi atau Ibukota Negara. dan (NPWP) atau bagi yang belum mempunyai e. mengenal daerahnya dan dikenal oleh l.

tidak lagi memenuhi sesuatu syarat jangka waktu paling lama tiga puluh hari. sebagaimana bagi wakil kepala daerah provinsi. atas permintaan sendiri . c. vertikal di daerah. yang dapat dipersamakan dengan Pasal 44 c. mengupayakan terlaksananya ke-wajiban Sekolah Lanjutan Atas bagi Kepala jawab kepada DPRD. memantau dan mengevaluasi penyelenga. daerah. menyusun dan mengajukan rancangan sederajat dengan Akademi atau kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD. memelihara ketenteraman dan ketertiban Pasal 25 pengalaman pek erjaan yang cukup di masyarakat.(tiga puluh lima) tahun bagi Kepala c. atau jika dipandang perlu oleh b. membantu kepala daerah dalam yang memberikan keuntungan Pasal 45 menyelenggarakan pemerintahan daerah. melaksanakan pemberdayaan hal tertentu atas permintaan DPRD perempuan dan pemuda. menetapkan Perda yang telah mendapat Sarjana Muda bagi Kepala Daerah (1) Kepala Daerah memimpin penyelenggaraan persetujuan bersama DPRD. d. daerah. melanggar sumpah/janji yang pemerintahan maupun pertanggungkelurahan dan/atau desa bagi wakil kepala dimaksud dalam pasal 18 ayat (4) jawaban keuangan. Pemerintah. harus melengkapi daerah kabupaten/kota. melaksanakan tugas dan wewenang lain kegiatan-kegiatan yang merugikan Daerah Kabupaten dan Kepala Daerah sesuai dengan peraturan perundangkepentingan Negara. menegakkan seluruh peraturan perundangp. memantau dan mengevaluasi penyelengdilantik Kepala Daerah yang baru. mengajukan rancangan Perda. berakhir masa jabatannya dan telah dimaksud dalam Pasal 45. baik d. satu tahun. memimpin penyelenggaraan pe-merintahan m. Undang-undang ini . (3) Kepala Daerah wajib menyampaikan f. l. serta Pasal 21 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 mengupayakan pengembangan dan Kepala Daerah berhanti atau diberhentikan ayat (2). meningkatkan taraf kesejahteraan rak yat. pertanggungjawaban kepada DPRD pada mengkoordinasikan kegiatan instansi Daerah yang bersangkutan . mewakili daerahnya di dalam dan di luar laporan atas penyelenggaraan pengadilan. dan/atau menyempurnakannya dalam e. wmengajukan Rancangan Peraturan Daerah a. f. Tingkat I dan berpengetahuan Pemerintahan Daerah berdasarkan d. menjadi advokat atau kuasa dalam (2) Kepala Daerah wajib memberikan dan/atau temuan hasil pengawasan aparat perkara di muka Pengadilan. Perda tentang APBD kepada DPRD untuk sekurang-kurangnya berpendidikan (2) Dalam menjalankan tugas dan dibahas dan ditetapkan bersama. menindaklanjuti laporan d. (1) Kepala Daerah yang ditolak garaan pemerintahan kabupaten dan kota b. sekurang-kurangnya berpendidikan b. baginya dalam hal-hal yang (1) Kepala Daerah wajib menyampaikan b. melakukan pekerjaan-pekerjaan lain a. ditetapkan ber-sama DPRD. dan Kepala daerah mempunyai tugas dan wewenang: bidang pemerintahan . pertanggungjawabannya. Daerah. Daerah Tingkat II. pertanggungjawaban kebijakan garaan pemerintahan di wilayah kecamatan. dengan sengaja melakukan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala g. pelestarian sosial budaya dan lingkungan oleh pejabat yang berhak mengangkat. b. dan atau Rakyat . Presiden. Kepala Daerah bertanggung e. setiap akhir tahun anggaran. dan dapat menunjuk kuasa Pasal 20 Pemerintahan Daerah kepada Presiden hukum untuk mewakilinya sesuai dengan Kepala Daerah dilarang : melalui Menteri Dalam Negeri dengan peraturan perundang-undangan. sekurang-kurangnya sekali dalam undangan. kepada kepala daerah dalam . membantu kepala daerah dalam berhubungan langsung dengan. mempunyai kecakapan dan e. memberikan saran dan pertimbangan d. turut serta dalam sesuatu Kepala Daerah atau apabila diminta oleh Pasal 26 perusahaan . pertanggungjawaban kepada DPRD untuk pengawasan. Kota. karena : Pasal 46 c. hidup. meninggal dunia . tahun bagi Kepala Daerah Tingkat II . yang dapat dipersamakan dengan kewajibannya. tidak dalam status sebagai penjabat kepala Daerah Tingkat I dan 30 (tiga puluh) undangan. a. (1) Wakil kepala daerah mempunyai tugas: c. berpengetahuan yang sederajat dan menetapkannya sebagai Peraturan daerah berdasarkan kebijakan yang dengan Perguruan Tinggi atau Daerah bersama dengan DPRD.

. dalam dan di luar Pengadilan. baik milik wewenang sebagaimana dimaksud dalam kepada Dewan Perwakilan Rakyat swasta maupun milik Negara/Daerah. memelihara ketenteraman dan ketertiban Pasal 23 keuntungan bagi dirinya. atau jika dipandang perlu b. membuat keputusan yang secara khusus a. dan/atau jasa dari perundang-undangan. i. dan/atau menyempurnakan daerah. DPRD dapat mengusulkan (2) Dalam melaksanakan tugas se-bagaimana (1) Kepala Daerah menjalankan hak. selain yang h. b. Menteri Dalam Negeri. melaksanakan dan mempertang(2) Dengan memperoleh persetujuan Dewan Pasal 49 gungjawabkan pengelolaan ke-uangan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui Kepala Daerah berhenti atau diberhentikan daerah. c. Kepala Pasal 47 kepala daerah meninggal dunia. dimaksud pada ayat (1). (1) Wakil Kepala Daerah Tingkat I diangkat suatu perkara di pengadilan. pemerintahan lainnya yang diberikan oleh undang ini . dan g. baik secara langsung masyarakat. yang berhubungan d. dan kewajiban pemerintahan Daerah. atau tidak dapat melakukan bertanggungjawab kepada Presiden di luar pengadilan. dengan Daerah yang bersangkutan. (3) Wakil kepala daerah menggantikan kepala (2) Dalam menjalankan hak. menerima uang. dapat menunjuk seorang kuasa atau pihak lain yang patut dapat diduga akan f. Pasal 22 kedua kalinya. ditetapkan oleh mendiskriminasikan warga negara dan Republik Indonesia. dan f. menaati dan menegakkan seluruh peraturan (2) Apabila dipandang. wewenang. memegang teguh dan mengamalkan olehnya. (1) Kepala Daerah mewakili Daerahnya di maupun tidak langsung. dan kewajiban pimpinan (4) ata cara. keluarganya. dan daerah sampai habis masa jabatannya apabila kewajiban pemerintahan Daerah. atau apabila diminta oteh memberikan keuntungan bagi dirinya. e. Kepala Pasal 48 Pasal 27 Daerah berkewajiban memberikan Kepala Daerah dilarang : (1) Dalam melaksanakan tugas dan keterangan pertanggung jawaban a. perlu Kepala Daerah d. berhenti. memenuhi persyaratan. menjalin hubungan kerja dengan seluruh mengajukan calon Wakil Kepala Daerah a. terus menerus dalam masa jabatannya. melanggar ketentuan yang pertanggungjawabannya f. wakil kepala daerah mempunyai kewajiban: setahun. mengajukan berhenti atas permintaan perangkat daerah. melaksanakan tugas dan wewenang kepala pertanggungjawabannya ditolak untuk daerah apabila kepala daerah berhalangan. instansi vertikal di daerah dan semua Tingkat I kepada Presiden melalui b. turut serta dalam suatu perusahaan. pemberhentiannya kepada Presiden. Daerah menurut hierarkhi Kepala Daerah mewakili daerahnya di dalam dan diberhentikan. untuk mewakilinya. atau Pasal 25 dan Pasal 26. melaksanakan tugas dan kewajiban dimaksud dalam pasal 20 Undangmenyampaikannya kembali kepada DPRD. pemilihan. melakukan pekerjaan lain yang memberikan c. sebab-sebab lain. (3) Bagi Kepala Daerah yang g. melaksanakan kehidupan demokrasi. sebagaimana dimaksud pada ayat bertanggung jawab kepada kepala daerah. (3). pemerintahan Daerah.yang dimaksud dalam Pasal 14 (2) Kepala Daerah yang sudah melengkapi penyelenggaraan kegiatan pemerintah Undang-undang ini . golongan masyarakat lain. kepala daerah. ditetapkan oleh Pemerintah. anggota Pancasila. menjaga etika dan norma dalam lebih untuk mewakilinya. atau Dasar Negara Republik Indonesia Tahun (4) Pedoman tentang pemberian keterangan kelompok politiknya yang secara nyata 1945 serta mempertahankan dan pertanggung jawaban yang dimaksud merugikan kepentingan umum atau memelihara keutuhan Negara Kesatuan dalam ayat (3) pasal ini. memajukan dan mengembangkan daya Pasal 24 e. e. meninggal dunia. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kepala daerah dan Daerah sekurang-kurangnya sekali dalam yayasan bidang apa pun juga. barang. wewenang. mempengaruhi keputusan atau tindakan yang penyelenggaraan pemerintahan daerah. melaksanakan Undang-Undang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. akan dilakukannya. dan dapat menunjuk kuasa kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara melalui Menteri Dalam Negeri. kroninya. menjadi advokat atau kuasa hukum dalam saing daerah. wakil kepala daerah wewenang. Gubernur Kepala Daerah karena : j. yang bersih dan baik. meningkatkan kesejahteraan rakyat. (3) Dalam menjalankan hak. melaksanakan prinsip tata pemerintahan oleh Presiden dari Pegawai Negeri yang dimaksud dalam Pasal 47. golongan tertentu.

ayat (2). membuat keputusan yang secara khusus Pasal 25 diancam dengan hukuman mati sebagaimana memberikan keuntungan bagi diri. (3) Laporan penyelenggaraan peme-rintahan dadilakukan menurut kebutuhan. dari jabatannya oleh Presiden tanpa melalui milik swasta maupun milik negara/daerah. harus dihadiri oleh sekurangmelakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan Menteri Dalam Negeri atas nama kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih Presiden bagi Wakil Kepala Daerah DPRD dan putusan diambil dengan lanjut sesuai dengan peraturan perundangTingkat I dan oleh Gubernur Kepala persetujuan sekurang-kurangnya dua undangan. menyampaikan rencana strategis (3) Wakil Kepala Daerah Tingkat II diangkat c. sebagaimana dimaksud digunakan Pemerintah sebagai dasar sumpahnya/janjinya dan dilantik oleh pada ayat (1). (1) Kepala Daerah yang diduga melakukan sekelompok mas yarakat. melakukan pekerjaan lain yang memberikan Dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri makar dan perbuatan yang dapat memecah keuntungan bagi dirinya. Presiden. Pasal 26 (2) Kepala Daerah yang terbukti melakukan c. dan keterangannya kepada masyarakat. serta menginformasikan laporan Dalam Negeri melalui Gubernur Kepala luas akibat kasus yang melibatkan penyeleng-garaan pemerintahan daerah Daerah. (1) Pemberhentian Kepala Daerah karena Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk (7) Ketentuan-ketentuan yang dimaksud alasan-alasan sebagaimana dimaksud Gubernur. dan kepada Menteri Dalam Negeri dalam Pasal-pasal 14. maksud pada ayat (1). dimaksud dalam Pasal 33. (5) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dibagi Wakil Kepala Daerah Tingkat II. 20 dan 21 dalam Pasal 49 ditetapkan dengan melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 Undang-undang ini berlaku juga untuk Keputusan DPRD dan disahkan oleh (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. k. dan (9) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang Pasal 51 ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. erah kepada Pemerintah sebagaimana (6) Wakil Kepala Daerah adalah Pejabat Pasal 50 dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Negara. Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri pertiga dari jumlah anggota yang hadir. dan memberikan Kepala Daerah mengajukan calon Wakil dimaksud dalam Pasal 48. golongan tertentu. (5) Pengisian jabatan Wakil Kepala Daerah atas kasus itu ditolak oleh DPRD. merugikan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Pasal 52 kepentingan umum. ayat (3). atau (2) Apabila Kepala Daerah berhalangan. atau Daerah dalam menjalankan tugas dan Pidana. laporan penyelenggaraan pemerintahan melalui pemilihan. tanggung jawabnya. dimaksud pada ayat (1). dan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada Kepala Daerah Tingkat II kepada Menteri g. tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana (2) Selain mempunyai kewajiban se-bagaimana memenuhi persyaratan. sendiri. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik penyelenggaraan pemerintahan daerah di oleh Menteri Dalam Negeri atas nama pejabat yang baru. mengalami krisis kepercayaan publik yang DPRD. hadapan Rapat Paripurna DPRD. yang . kelompok politiknya yang bertentangan dengan wewenangnya sehari-hari sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Bupati/Walikotamadya f. baik hari. melanggar ketentuan sebagaimana daerah kepada Pemerintah. anggota (1) Wakil Kepala Daerah membantu Kepala yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum keluarga. kepala daerah (4) Dengan memperoleh persetujuan e. dan wewenang Kepala Daerah sehariIndonesia diberhentikan untuk sementara b. baik secara diatur tentang penjabat yang mewakili Kepala belah Negara Kesatuan Republik Indonesia langsung maupun tidak langsung. melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam Kepala daerah dan wakil kepala daerah dilarang: dengan hukuman lima tahun atau lebih. makar dan/atau perbuatan lain yang dapat mendiskriminasikan warga negara dan/atau Wakil Kepala Daerah menjalankan tugas memecah belah Negara Kesatuan Republik golongan masyarakat lain. 19. dimaksud dalam ayat-ayat (2) dan (4) Kepala Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa pasal ini diatur lebih lanjut dengan melalui Keputusan DPRD apabila terbukti Pasal 28 Peraturan Menteri Dalam Negeri. atau a. kroni. Keputusan DPRD. melanggar sumpah/janji sebagaimana mempunyai kewajiban juga untuk memberikan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3). Presiden dari Pegawai Negeri yang d.Menteri Dalam Negeri. atau dalam yayasan bidang apapun. dan meresahkan Dalam Negeri. turut serta dalam suatu perusahaan. (4) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) (8) Wakil Kepala Daerah diambil (2) Keputusan DPRD. Wakil Kepala Daerah.

dan Pasal 80 jabatannya oleh Presiden. membimbing dan mengawasi Kepala Daerah yang ditolak d. melakukan korupsi. menjadi advokat atau kuasa hukum dalam memimpin pemerintahan. lainnya. b. Pemerintah dan Pemerintah Daerah (1) Tindakan penyidikan terhadap Kepala (3) Pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil serta pejabat-pejabat yang Daerah dilaksanakan setelah adanya kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ditugaskan untuk itu serta mengambil persetujuan tertulis dari Presiden. pihak lain yang mempengaruhi keputusan adalah Penguasa Tunggal di bidang (3) Kepala Daerah yang setelah melalui proses atau tindakan yang akan dilakukannya. pejabat yang baru. sebagai anggota DPRD Wilayah adalah : sebagaimana yang ditetapkan dalam a. tidak dapat melaksanakan tugas secara Vertikal dengan Dinas-dinas Daerah. meninggal dunia. dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan penyelenggaraan pemerintahan pertanggungjawabannya oleh DPRD. tanpa persetujuan menerima uang. tidak daerah. adalah: Rapat Paripurna dan diusulkan oleh pimpinan . permintaan sendiri. berkelanjutan atau berhalangan tetap baik dalam perencanaan maupun DPRD mulai memproses pemilihan Kepala secara berturut-turut selama 6 (enam) dalam pelaksanaan untuk mencapai Daerah yang baru. melanggar larangan bagi kepala daerah dijalankan oleh Instansi-instansi Pasal 55 dan/atau wakil kepala daerah.dalam masa jabatan berikutnya. kepala daerah dan/atau wakil kepala Daerah. negeri serta pembinaan kesatuan pertanggungjawaban akhir masa jabatannya (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah Bangsa sesuai dengan kebijaksanaan kepada DPRD dan menyampaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c yang ditetapkan oleh Pemerintah pertanggungjawaban tersebut selambatdiberhentikan karena: c. daerah dan/atau wakil kepala daerah. membina ketentraman dan ketertiban Pasal 53 peraturan perundang-undangan. nepotisme. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik kegiatan-kegiatan Instansi-instansi pemberitahuan. dimaksud dalam Pasal 25 huruf f. diberhentikan. hukum yang tetap diberhentikan dari d. barang dan/atau jasa dari Kepala Wilayah sebagai Wakil Pemerintah DPRD. menyelenggarakan kordinasi atas lambatnya empat bulan setelah a. Pasal 54 daerah dan/atau wakil kepala daerah. di wilayahnya sesuai dengan (1) DPRD memberitahukan akan berakhirnya kebijaksanaan. atau ideologi Negara dan politik dalam Kepala Daerah mempersiapkan c. menyalahgunakan wewenang dan diaktifkan kembali dan direhabilitasi selaku melanggar sumpah/janji jabatan-nya. melaksanakan segala usaha dan (2) Dengan adanya pemberitahuan. kolusi. ayat (1) huruf a dan huruf b serta ayat (2) segata tindakan yang dianggap perlu (2) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan huruf a dan huruf b diberitahukan oleh untuk menjamin kelancaran pimpinan DPRD untuk diputuskan dalam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) penyelenggaraan pemerintahan. pemerintahan dalam wilayahnya dalam arti peradilan ternyata tidak terbukti melakukan e. tidak lagi memenuhi syarat sebagai kepala sebesar-besarnya. e. masyarakat di segala bidang. enam bulan (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala Pemerintah . sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. bulan. tidak melaksanakan kewajiban kepala agar segala peraturan-perundang. Pasal 81 Kepala Daerah sampai akhir masa g. merangkap jabatan sebagai pejabat negara Wewenang. dayaguna dan hasilguna yang c. ketentraman dan masa jabatan Kepala Daerah secara tertulis Pasal 29 ketertiban yang ditetapkan oleh kepada yang bersangkutan. mengusahakan secara terus-menerus dapat dicalonkan kembali sebagai Kepala Daerah e. a. undangan dan Peraturan Daerah f. mengkordinasikan makar dan perbuatan yang dapat memecah suatu perkara di pengadilan selain yang pembangunan dan membina kehidupan belah Negara Kesatuan Republik Indonesia.Daerah dalam hal Kepala Daerah dan Wakil yang dinyatakan dengan keputusan berhubungan dengan daerah yang Kepala Daerah berhalangan. masa jabatan Kepala Daerah berakhir. tugas dan kewajiban Kepala jabatannya. f. pengadilan yang telah memperoleh kekuatan bersangkutan. Vertikal dan antara Instansi-instansi (3) Selambat-lambatnya satu bulan sebelum b. sebelumnya. kegiatan di bidang pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53. daerah berhenti karena: b.

bersamaan sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dengan pelantikan Kepala Daerah. Pasal 41. hukuman mati. pada huruf a diputuskan melalui Rapat Kabupaten atau Kotamadya. (2) Wakil Kepala Daerah Tingkat II karena (1) Di setiap Daerah terdapat seorang Wakil b. yang pada gilirannya harus 30 (tiga puluh) hari sejak DPRD disebut Wakil Bupati dan Wakil Kepala melaporkan kepada Presiden selambatDaerah Kota disebut Wakil Walikota. dan ayat (2) huruf d dan huruf e dilaksanakan g. tertangkap tangan melakukan dengan sebaik-baiknya. atau lebih. dan seadil-adilnya. tertangkap tangan melakukan tindak DPRD. menyampaikan usul tersebut. kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah (3) Tindakan kepolisian yang dimaksud (5) Ketentuan-ketentuan. Pasal memutuskan usul pemberhentian kepala lambatnya dalam waktu 2 (dua) kali 24 43 kecuali huruf g. Mahkamah Agung wajib memeriksa. hal itu atas pendapat DPRD bahwa kepala daerah (1) Wakil Kepala Daerah Tingkat I karena harus dilaporkan kepada Presiden selambatdan/atau wakil kepala daerah dinyatakan jabatannya adalah Wakil Kepala Wilayah lambatnya dalam 2 kali 24 jam. bahwa saya akan d. melaksanakan segala tugas a. saya mengadili. Pasal 56 daerah dan wakil kepala daerah. daerah terbukti melanggar sumpah/janji . Pasal 47 sampai dengan daerah dan/atau wakil kepala daerah (duapuluh empat) jam sesudahnya Pasal 54. Kesatuan Republik Indonesia". DPRD menyelenggarakan Rapat c. dan bahwa saya jabatan dan/atau tidak melaksanakan mati. dan memutus pendapat DPRD (2) Hal-hal yang dikecualikan terhadap bersumpah/berjanji bahwa saya akan tersebut paling lambat 30 (tigapuluh) hari ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) memenuhi kewajiban saya selaku Wakil setelah permintaan DPRD itu diterima pasal ini adalah: Gubernur/ Wakil Bupati/Wakil Walikota Mahkamah Agung dan putusannya bersifat a. harus dilaporkan kepada Jaksa Agung Daerah. kepala daerah diusulkan kepada Presiden (3) Setelah tindakan penyidikan. Apabila Mahkamah Agung memutuskan b. dan disebut (2) Wakil Kepala Daerah dilantik oleh Presiden Paripurna DPRD yang dihadiri oleh Wakil Bupati atau Wakil Walikotamadya. sesuatu tindak pidana. berlaku juga bagi Wakil Kepala kepada Presiden. sebagaimana berdasarkan putusan Mahkamah Agung Pasal 82 dimaksud pada ayat (2) dilakukan. dari jumlah anggota DPRD dan putusan Pasal 83 (3) Sebelum memangku jabatannya. Pemberhentian kepala daerah dan wakil dalam tugas sesuatu Instansi lainnya. dituduh telah melakukan tindak selalu taat dalam mengamalkan dan bahwa kepala daerah dan/atau wakil kepala mempertahankan Pancasila sebagai pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman *9617 dasar negara. Wakil diambil dengan persetujuan sekurang(1) Tindakan Kepolisian terhadap Kepala Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. melanggar sumpah/janji jabatan dan/atau Propinsi atau Ibukota Negara dan tidak melaksanakan kewajiban kepala disebut Wakil Gubernur. Wakil Kepala Daerah Kabupaten wakil kepala daerah tersebut paling lambat Bersenjata. Pendapat DPRD sebagaimana dimaksud jabatannya adalah Wakil Kepala Wilayah Kepala Daerah. kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah Wilayah Propinsi/Ibukota Negara hanya (4) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud anggota DPRD yang hadir. final. melaksanakan segala tugas b. pemerintahan yang dengan atau pidana kejahatan yang diancam (4) Pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil berdasarkan peraturan perundangdengan pidana penjara lima tahun kepala daerah sebagaimana dimaksud pada undangan diberikan kepadanya. Presiden. e. "Demi Allah (Tuhan). dapat dilakukan atas persetujuan adalah sebagai berikut : c. dituduh telah melakukan tindak pidana dengan ketentuan: pemerintahan yang tidak termasuk kejahatan yang diancam dengan a. atau pejabat lain yang ditunjuk. sebagaimana anggota DPRD yang hadir untuk dalam ayat (2) pasal ini selambatdimaksud dalam Pasal 33. sejujur-jujurnya. akan menegakkan kehidupan demokrasi kewajiban. dituduh telah melakukan tindak dan Undang-Undang Dasar 1945 Paripurna DPRD yang dihadiri oleh pidana kejahatan yang sebagai konstitusi negara serta segala sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) termaktub dalam Kitab peraturan perundang-undangan yang dari jumlah anggota DPRD dan putusan Undang-undang Hukum berlaku bagi Daerah dan Negara diambil dengan persetujuan sekurangPidana BUKU KEDUA BAB I. Presiden wajib memroses usul atau kepada Menteri Pertahanan (6) Wakil Kepala Daerah Propinsi disebut Wakil pemberhentian kepala daerah dan/atau Keamanan/Panglima Angkatan Gubernur.f.

lambatnya dalam waktu 2 (dua) kali 24 Pasal 57 Pasal 30 (duapuluh empat) jam. (1) Wakil Kepala Daerah mempunyai tugas : (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah (4) Tindakan kepolisian terhadap Kepala a. membantu Kepala Daerah dalam diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa Wilayah lainnya dilakukan dengan melaksanakan kewajibannya; melalui usulan DPRD apabila dinyatakan memberitahukan sebelumnya kepada b. mengkoordinasikan kegiatan instansi melakukan tindak pidana kejahatan yang Kepala Wilayah atasan dari yang pemerintahan di Daerah; dan diancam dengan pidana penjara paling singkat bersangkutan. c. melaksanakan tugas-tugas lain yang 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan (5) Tindakan kepolisian yang dimaksud diberikan oleh Kepala Daerah. pengadilan. dalam ayat (4) pasal ini diberitahukan (2) Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah selambat-lambatnya 2 (dua) kali 24 kepada Kepala Daerah. diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui (duapuluh empat) jam sesudahnya (3) Wakil Kepala Daerah melaksanakan tugas usulan DPRD apabila terbukti melakukan kepada Kepala Wilayah atasan dari dan wewenang Kepala Daerah apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud pada yang bersangkutan, apabila menyangkut Kepala Daerah berhalangan. ayat (1) berdasarkan putusan pengadilan yang hal-hal yang dimaksud dalam ayat (2) telah memperoleh kekuatan hukum tetap. pasal ini. Pasal 58 (1) Apabila Kepala Daerah berhalangan tetap, Pasal 31 jabatan Kepala Daerah diganti oleh Wakil (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah Kepala Daerah sampai habis masa diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa jabatannya. melalui usulan DPRD karena didakwa (2) Apabila Wakil Kepala Daerah berhalangan melakukan tindak pidana korupsi, tindak pidana tetap, jabatan Wakil Kepala Daerah tidak terorisme, makar, dan/atau tindak pidana diisi. terhadap keamanan negara. (3) Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah Daerah berhalangan tetap, Sekretaris diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui Daerah melaksanakan tugas Kepala Daerah usulan DPRD karena terbukti melakukan untuk sementara waktu. makar dan/atau perbuatan lain yang dapat (4) Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala memecah belah Negara Kesatuan Republik Daerah berhalangan tetap, DPRD Indonesia yang dinyatakan dengan putusan menyelenggarak an pemilihan Kepala Daerah pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. dan Wakil Kepala Daerah selambatlambatnya dalam waktu tiga bulan. Pasal 32 Pasal 59 (1) Dalam hal kepala daerah dan/atau wakil kepala Kedudukan keuangan Kepala Daerah dan Wakil daerah menghadapi krisis kepercayaan publik yang Kepala Daerah ditetapkan dengan Peraturan meluas karena dugaan melakukan tindak pidana Pemerintah. dan melibatkan tanggung jawabnya, DPRD menggunakan hak angket untuk menanggapinya. (2) Penggunaan hak angket sebagai-mana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir untuk melakukan penyelidikan terhadap

kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. (3) Dalam hal ditemukan bukti me-lakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DPRD menyerahkan proses penyelesaiannya kepada aparat penegak hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (4) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan bersalah karena melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan yang belum memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (3), DPRD mengusulkan pemberhentian sementara dengan keputusan DPRD. (5) Berdasarkan keputusan DPRD se-bagaimana dimaksud pada ayat (4), Presiden menetapkan pember-hentian sementara kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. (6) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (4), pimpinan DPRD mengusulkan pemberhentian berdasarkan keputusan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir. (7) Berdasarkan keputusan DPRD se-bagaimana dimaksud pada ayat (6), Presiden memberhentikan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. Pasal 33 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5) s etelah melalui proses peradilan ternyata terbukti tidak bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, paling lambat 30 (tiga puluh) hari Presiden telah merehabilitasikan dan mengaktifkan kembali kepala daerah dan/atau

wakil kepala daerah yang bersangkutan sampai dengan akhir masa jabatannya. (2) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah berakhir masa jabatannya, Presiden merehabilitasikan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang bersangkutan dan tidak mengaktifkannya kembali. (3) Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, Pasal 31, dan Pasal 32 diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 34 (1) Apabila kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), wakil kepala daerah melaksanakan tugas dan kewajiban kepala daerah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (2) Apabila wakil kepala daerah di-berhentikan sementara sebagai-mana dimaksud Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), tugas dan kewajiban wakil kepala daerah dilaksanakan oleh kepala daerah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (3) Apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), Presiden menetapkan penjabat Gubernur atas usul Menteri Dalam Negeri atau penjabat Bupati/ Walikota atas usul Gubernur dengan pertimbangan DPRD sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (4) Tata cara penetapan, kriteria calon, dan masa jabatan penjabat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Peme-rintah.

(3) Dalam hal kepala daerah dan wakil kepala daerah berhenti atau diberhentikan secara bersamaan dalam masa jabatannya. (4) Dalam hal terjadi kekosongan jabatan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (5) Tata cara pengisian kekosongan. kepala daerah mengusulkan 2 (dua) orang calon wakil kepala daerah untuk dipilih oleh Rapat Paripurna DPRD berdasarkan usul partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya terpilih dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. sekretaris daerah melaksanakan tugas sehari-hari kepala daerah sampai dengan Presiden mengangkat penjabat kepala daerah. (2) Apabila terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang sisa masa jabatannya lebih dari 18 (delapan belas) bulan. .Pasal 35 (1) Apabila kepala daerah diberhentikan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2). persyaratan dan masa jabatan penjabat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 31 ayat (2). Rapat Paripurna DPRD memutuskan dan menugaskan KPUD untuk menyelenggarakan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah paling lambat 6 (enam) bulan terhitung sejak ditetapkannya penjabat kepala daerah. Pasal 36 (1) Tindakan penyelidikan dan penyidi-kan terhadap kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden atas permintaan penyidik. dan Pasal 32 ayat (7) jabatan kepala daerah diganti oleh wakil kepala daerah sampai berakhir masa jabatannya dan proses pelaksanaannya dilakukan berdasarkan keputusan Rapat Paripurna DPRD dan disahkan oleh Presiden.

b. . (3) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan diperlukan persetujuan tertulis sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). atau b. disangka telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati.(2) Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan oleh Presiden dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari terhitung sejak diterimanya permohonan. Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. proses penyelidikan dan penyidikan dapat dilakukan. Pasal 38 (1) Gubernur dalam kedudukannya se-bagaimana dimaksud dalam Pasal 37 memiliki tugas dan wewenang: a. c. atau telah melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. Pasal 37 (1) Gubernur yang karena jabatannya berkedudukan juga sebagai wakil Pemerintah di wilayah provinsi yang bersangkutan. koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota. pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/kota. (5) Tindakan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) setelah dilakukan wajib dilaporkan kepada Presiden paling lambat dalam waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam. (2) Dalam kedudukannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. (4) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a.

(1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang: mempunyai tugas-tugas tertentu. dan DPRD. komisi-komisi. meminta keterangan. pelaksanaan Perda dan peraturan anggarannya bersumber dari APBN/APBD Pasal 29 (2) Alat kelengkapan DPRD terdiri atas perundang-undangan lainnya. dan pimpinan Dewan (1) Di Daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Ketentuan tentang DPRD sepanjang tidak diatur wewenang anggota DPRD dimana dalam Perwakilan Rakyat Daerah. sebagai pejabat negara lainnya. wewenangnya. • Menurut UU No 32 Tahun 2004. Pasal 41 hak tersebut antara lain hak interpelasi. (4) Tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Daerah beserta perangkat Daerah lainnya. Wakil Kedudukan. (2) Kedudukan protokoler Ketua. (3) Kedudukan keuangan Gubernur se-bagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. bersama. No 32 Tahun 2004 hanya menyebutkan hakDaerah. APBD. hak. melaksanakan demokrasi berdasarkan Pasal 42 salah satu alat kelengkapan DPRD yang (3) Peraturan Daerah yang dimaksud Pancasila. anggaran. peraturan • UU No 32 Tahun 2004 mewajibkan DPRD (1) Untuk dapat melaksanakan fungsinya. begitu juga Legislatif Daerah dan Pemerintah Daerah dalam Undang-Undang ini berlaku ketentuan UU No 5 Tahun 1974 dan UU No 22 Tahun sumpah/janji.(2) Pendanaan tugas dan wewenang Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada APBN. dan panitia-panitia. keanggotaan. dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini (2) DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah a. pimpinan. usaha milik negara. masa keanggotaan. 2004 DPRD hanya berhak menetapkan Pasal 40 kepala daerah setelah dilakukan pemilihan Pasal 28 Pasal 15 DPRD merupakan lembaga perwakilan rakyat secara langsung. wewenang.(2) Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala MPR. dan Anggota bewan Perwakilan keanggotaan. melaksanakan pengawasan ter-hadap daerah dan/atau badan lain yang perundang-undangan. susunan. hakim pada (4) Peraturan Daerah yang dimaksud b. pembangunan daerah. DPR. pimpinan. dan kerja sama dalam menjalankan tugas dan a. Anggaran. sebagaimana internasional di daerah. Wakil Pasal 16 DPRD memiliki fungsi legislasi. mengadakan perubahan. mengajukan pertanyaan bagi dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). daerah dan berkedudukan sebagai unsur • Terdapat perbedaan hak DPRD diantara Ketua. mengajukan pernyataan pendapat. dan sebagai Badan Eksekutif Daerah. diatur d. DPD. (1) Kedudukan keuangan Ketua. pegawai pada badan berlaku sesudah ada pengesahan (1) Keanggotaan DPRD dan jumlah anggota daerah. (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang : kepada Menteri Dalam Negeri melalui . DPRD ditetapkan sesuai dengan peraturan c. Pasal 17 tentang APBD bersama dengan kepala anggota TNI/Polri. b. (4) Pelaksanaan ketentuan. membahas dan menyetujui rancangan Perda badan peradilan dan pegawai negeri sipil. dan Anggota Dewan Perwakilan (1) DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di pengawasan. dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini. Pasal 18 Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan e. mengusulkan pengangkatan dan masing-masing Anggota. daerah kepada Presiden melalui Menteri d. 8 Dewan Perwakilan Pasal 27 Pasal 14 Pasal 39 • Terdapat perbedaan dalam tugas dan Rakyat Daerah Susunan. dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. badan usaha milik pejabat yang berwenang. ketiga peraturan tersebut dimana dalam UU Rakyat Daerah diatur denpn Peraturan DPRD diatur dengan Undang-undang. badan Rakyat Daerah diatur dengan Daerah merupakan wahana untuk kehormatan disebutkan secara tegas dalam Peraturan Daerah. kebijakan pemerintah untuk menyusun kode etik untuk menjaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (3) DPRD membentuk fraksi-fraksi yang bukan daerah dalam melaksanakan program martabat dan kehormatan anggota DPRD mempunyai hak : merupakan alat kelengkapan DPRD. dan alat kelengkapan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pemerintah Daerah. kepala daerah. membentuk Perda yang dibahas dengan • Dalam UU No 32 Tahun 2004 anggota dibuat sesuai dengan pedoman yang berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari kepala daerah untuk mendapat persetujuan DPRD dilarang untukmerangkap jabatan ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. tugas. dan angket dan menyatakan pendapat. pemberhentian kepala daerah/wakil kepala c. Ketua. Undang-Undang tentang Susunan dan Kedudukan 1999 DPRD berwenang memilih calon larangan rangkapan jabatan bagi Anggota. kepala daerah sedangkan UU No 32 Tahun anggotanya diatur dengan Undang-undang.

b. kebijakan Pemerintah Daerah. k. pelaksanaan Keputusan Gubernur. atau kerja sama internasional yang dilakukan oleh (3) Cara pelaksanaan hak penyelidikan Walikota/ Wakil Walikota. kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah program pembangunan Pemerintah. memilih wakil kepala daerah dalam hal (2) Cara pelaksanaan ketentuan yang Walikota. Walikota menetapkan Anggaran i. pemilihan kepala daerah. pelaksanaan Anggaran Pendapatan ketiga yang membebani masyarakat dan melaksanakan secara konsekwen dan Belanja Daerah. sampai dengan huruf f pasal ini. perundang-undangan yang berlaku. Bupati. Garis-garis Besar Haluan Negara. serta mengamalkan PANCASILA 2. menjunjung tinggi dan 3. atau h. mengamankan. a. dan (2) Selain tugas dan wewenang sebagaimana Ketetapan-ketetapan Majelis 5. tugas dan wewenang lain yang diatur dalam mentaati segala peraturan h. diatur dengan UndangWalikota membentuk Peraturan Daerah. Bupati. dimaksud pada ayat (2) dibentuk panitia angket (1) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah e. melakukan pengawasan dan meminta adalah : 1. bersama dengan Gubernur. (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan memajukan tingkat kehidupan b. Bupati/Wakil Bupati. DPRD yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 d. DPRD melaksanakan Permusyawaratan Rakyat serta di Daerah. dan Walikota/Wakil e. daerah. g. c. mengusulkan pengangkatan dan perjanjian internasional di daerah.(2) Pelaksanaan tugas dan wewenang. d.f. mengajukan pernyataan pendapat. pertanggungjawaban kepala daerah dalam undang. menyatakan pendapat. melaksanakan pengawasan terhadap : j. meminta pertanggungjawaban Gubernur. peraturan perundang-undangan lain. penyelidikan. Bupati. Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. memberikan persetujuan terhadap rencana Menteri Dalam Negeri. pemerintah daerah. (1) DPRD mempunyai hak: dan Belanja Daerah dan Peraturandan h. dan kepentingan Daerah dalam batas. atau penyelenggaraan pemerintahan daerah. memperhatikan aspirasi dan Bupati. Gubernur. dan Walikota. memberikan persetujuan terhadap rencana dan Undang-Undang Dasar 1945 . yang terdiri atas semua unsur fraksi DPRD bersidang sekurang-kurangnya 2 (dua) f. mengadakan penyelidikan. kepala daerah. memilih anggota Majelis daerah. peraturan Daerah untuk aspirasi Daerah dan masyarakat. dan Walikota. prakarsa. pelaksanaan kerja sama internasional dimaksud pada ayat (1). kepada pemerintah daerah terhadap rencana Perwakilan Rakyat Daerah sesuai d. diatur Permusyawaratan Rakyat dari Utusan f. menampung dan menindaklanjuti a. anggota DPRD yang hadir. meminta laporan keterangan pasal ini. sud pada ayat (1) huruf b dilakukan setelah melaksanakan peraturan diajukan hak interpelasi sebagaimana perundang-undangan yang Pasal 19 dimaksud pada ayat (1) huruf a dan pelaksanaannya ditugaskan kepada (1) DPRD mempunyai hak : mendapatkan persetujuan dari Rapat Paripurna Daerah . dengan pedoman yang ditetapkan oleh pemberhentian Gubernur/ Wakil g. c. terjadi kekosongan jabatan wakil kepala dimaksud dalam ayat (1) huruf a c. memberikan pendapat dan peraturan perundang-undangan. (2) Pelaksanaan hak angket sebagaimana dimakkepada Daerah atau untuk diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. bersama-sama Kepala Daerah terhadap rencana perjanjian internasional Pasal 43 menyusun Anggaran Pendapatan yang menyangkut kepentingan Daerah. a. mempertahankan. b. memberikan pendapat dan pertimbangan dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Daerah. interpelasi. 4. mengadakan perubahan atas Rancangan (3) Dalam menggunakan hak angket se-bagaimana Pasal 31 Peraturan Daerah. kerja sama antardaerah dan dengan pihak b. membentuk panitia pengawas pemilihan Pasal 30 Pendapatan dan Belanja Daerah. memilih Gubernur/Wakil Gubernur. angket. pelaksanaan Peraturan Daerah dan laporan KPUD dalam penyelenggaraan a. batas wewenang yang diserahkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). f. yang dimaksud dalam ayat (1) huruf g e. Bupati/Wakil Bupati. meminta keterangan kepada Pemerintah putusan diambil dengan persetujuan sekurangRakyat dengan berpegang pada Daerah. Kewajiban Dewan Perwakilan Rakyat Daerah g. mengajukan Rancangan Peraturan yang bekerja dalam waktu paling lama 60 . bersama dengan Gubernur. pertimbangan kepada Pemerintah c.

Pemerintah. h. Daerah serta perhitungannya. pinjaman . angket. mengamalkan Pancasila dan Undang. menetapk an Peraturan Tata Tertib (4) Dalam melaksanakan tugasnya. sebagaimana dimaksud rahasia. dan memeriksa seseKetua memanggil Anggota-anggota pada ayat (1). imunitas. atas permintaan sekurangdan h. memilih dan dipilih. jual beli d. kecuali mengenai : Pasal 21 berpedoman pada peraturan perundanga. persetujuan penyelesaian perkara Undang Dasar 1945. mengetahui masalah yang sedang diselidiki bulan setelah permintaan itu diterima. dan f. pemborongan pekerjaan. Perwakilan Rakyat Daerah. h. yang perlu ditangani demi kepentingan kecuali ada alasan yang sah menurut peraturan negara. seperlima jumlah Anggota atau apabila martabat dan kehormatan DPRD. pasal ini. pejabat (5) Setiap orang yang dipanggil. keuangan dan administratif. c. b. serta untuk meminta menunjukkan surat atau (3) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 20 dokumen yang berkaitan dengan hal yang bersidang atas panggilan Ketua. diatur dalam (8) Tata cara penggunaan hak interpelasi. bangsa. diatur dalam Peraturan Tata b. Daerah. Tertib DPRD. atau warga masyarakat untuk diperiksa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam Peraturan Tata Tertib memberikan keterangan tentang suatu hal wajib memenuhi panggilan panitia angket Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. didengar. (enam puluh) hari telah menyampaikan hasil (2) Kecuali yang dimaksud dalam ayat (1) g. e. penawaran umum . diatur dalam Peraturan Tata orang yang dianggap mengetahui atau patut untuk bersidang dalam waktu 1 (satu) Tertib DPRD. perusahaan Daerah . Peraturan Tata Tertib DPRD. Pasal 32 pembangunan. me-laksanakan . dan hak menyatakan pendapat diatur (3) Rapat tertutup dapat mengambil dalam Peraturan Tata Tertib DPRD yang keputusan. d. atau ayat (1). a. pengajuan pertanyaan. peraturan perundang-undangan. pa-nitia angket kurangnya seperlima jumlah Anggota DPRD. menentukan Anggaran Belanja DPRD. kerjanya kepada DPRD. hak diadakan rapat tertutup. Pasal 45 Perwakilan Rakyat Daerah. dan Pasal 44 penghapusan pajak dan retribusi .kali dalam setahun. (7) Seluruh hasil kerja panitia angket bersifat dipandang perlu oleh Pimpinan Dewan (3) Pelaksanaan hak. dan perundang-undangan. dan pemborongan Pasal 22 e. dapat pada ayat (1) dan ayat (2). dan dalam ayat-ayat (1). c. protokoler. dan b. hutang piutang dan menanggung (2) Pelaksanaan hak. (4) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud berhak meminta pejabat negara. pejabat pemerintah. a. pada ayat (1). protokoler. menyampaikan usul dan pendapat. d. Anggaran Pendapatan dan Belanja (1) Anggota DPRD mempunyai hak : undangan. pemerintahan. permintaan. penetapan. (6) Dalam hal telah dipanggil dengan patut secara (1) Rapat-rapat Dewan Perwakilan Rakyat (2) Pejabat negara. serta mentaati segala dan anggota DPRD diatur dalam Peraturan perdata secara damai . b. membela diri. mengajukan rancangan Perda. mengajukan pertanyaan. (2) dan (3) pasal ini pemerintah. mempertahankan dan memelihara keutuhan g. keuangan/administrasi. sebagaimana dimaksud a. pengangkutan tanpa mengadakan DPRD mempunyai kewajiban : f. seluruhnya . (1) Anggota DPRD mempunyai hak: c. diancam dengan pidana kurungan bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia atas permintaan sekurang-kurangnya paling lama satu tahun karena merendahkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemilihan Ketua dan Wakil Ketua dan c. mengamalkan Pancasila. barang-barang. sebagaimana dimaksud memanggil. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat atau atas permintaan Kepala Daerah. membina demokrasi dalam pelantikan Anggota baru Dewan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. perubahan. mendengar. (2) Pelaksanaan hak. (1) DPRD dalam melaksanakan tugasnya sedang diselidiki. panitia untuk umum. sebagaimana dimaksud pada angket dapat memanggil secara paksa dengan (2) Atas permintaan Kepala Daerah. meningkatkan kesejahteraan rakyat di Anggota DPRD mempunyai kewajiban: (4) Semua yang hadir dalam rapat tertutup Daerah berdasarkan demokrasi a. atau berturut-turut tidak memenuhi panggilan Daerah pada dasarnya bersifat terbuka warga masyarakat yang menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (5). penghapusan tagihan sebagian atau Negara Kesatuan Republik Indonesia.(2) Kedudukan protokoler dan keuangan pimpinan g.

Pasal 25 d. e. dalam BUKU KEDUA BAB I Kitab Tertib DPRD. beranggotakan sampai dengan 34 (tiga puluh . perundang-undangan. maupun tertulis kepada Pimpinan Dewan mengadakan rapat selambat-lambatnya g. pemilihan anggota Majelis (2) Anggota Badan Kehormatan DPRD se(1) Apabila ternyata Dewan Perwakilan Permusyawaratan Rakyat Utusan Daerah. Pasal 46 (2) Tatacara tindakan kepolisian terhadap Pasal 24 (1) Alat kelengkapan DPRD terdiri atas: Anggota-anggota Dewan Perwakilan Peraturan Tata Tertib DPRD ditetapkan dengan a. menampung.wajib merahasiakan segala hal yang ekonomi. atas e. c. dan (1) Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan kecuali yang dinyatakan tertutup berdasarkan f. alat kelengkapan lain yang diperlukan. sampai Dewan membebaskannya. mempertahankan dan memelihara kerukunan Pasal 23 nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Pasal 33 (1) DPRD mengadakan rapat secara berkala Republik Indonesia. Badan Kehormatan.dan Undang-Undang Dasar Negara Republik dibicarakan dan kewajiban itu e. ditetapkan dengan keputusan DPRD. pemilihan Ketua/Wakil Ketua DPRD. alat kelengkapan sebagaimana dimaksud pada sesuai dengan pedoman yang ditetapkan ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib oleh Menteri Dalam Negeri. panitia musyawarah. dan menaati segala berlangsung terus baik bagi Anggota menerima keluhan dan pengaduan peraturan perundang-undangan. meng-himpun. rapat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. memperjuangkan peningkatan keDaerah tidak dapat dituntut dimuka setahun. Pasal 47 berwenang. Pasal 26 DPRD dengan berpedoman pada peraturan (2) Peraturan Tata Tertib yang dimaksud Rapat tertutup dapat mengambil keputusan. panitia anggaran. dan wewenang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kesepakatan di antara pimpinan DPRD. tugas. dan pernyataan yang dikemukakan dalam permintaan sekurang-kurangnya seperlima menindaklanjuti aspi-rasi masyarakat. menjaga norma dan etika dalam hubungan mengenai pengumuman rahasia Negara (3).Keputusan DPRD. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. komisi. dalam ayat (1) pasal ini. dan rapat tertutup.(2) Kecuali yang dimaksud pada ayat (1). dimaksud oleh ketentuan-ketentuan dimaksud pada ayat (1). menaati Peraturan Tata Tertib. Kode Etik. untuk DPRD kabupaten/kota yang menjalankan fungsi dan kewajibannya pajak dan retribusi. kecuali jika itu diterima. sejahteraan rakyat di daerah. untuk dirahasiakan atau hal-hal yang (4) Pelaksanaan ketentuan. undang. sebagai wujud tanggung jawab moral dan dengan pernyataan itu ia membocorkan (3) DPRD mengadakan rapat atas undangan politis terhadap daerah pemilihannya. Pasal 35 b. Indonesia Tahun 1945. pimpinan. Ketua DPRD dapat kepentingan pribadi. maupun pegawai/pekerja yang masyarakat. Rakyat Daerah diatur dengan Keputusan Peraturan Tata Tertib DPRD atau atas (2) Pembentukan. sebagaimana dan sumpah/janji anggota DPRD. yang diajukan secara lisan mengundang anggotanya untuk golongan. menyerap. dari jumlah anggota atau atas permintaan f. h. penetapan perubahan dan penghapusan a. Kepala dalam waktu satu bulan setelah permintaan dan kinerjanya selaku anggota DPRD Daerah atau Pemerintah. dan ayat i. Rakyat Daerah diatur dengan Undang. mendahulukan kepentingan negara di atas baik dalam rapat terbuka maupun dalam Kepala Daerah. c. berlaku sesudah kecuali mengenai : ada pengesahan pejabat yang a. ditetapkan dengan Peraturan Tata kerja dengan lembaga yang terkait. serta memfasilitasi tindak lanjut b. b. ayat (2). memperhatikan dan menyalurkan aspirasi. (1) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat sekurang-kurangnya enam kali dalam d. kelompok. dan oleh anggota DPRD dengan ketentuan: karena sesuatu hal tidak dapat d. Pengadilan karena pernyataan. memberikan pertanggungjawaban atas tugas Perwakilna Rakyat Daerah. bagaimana dimaksud pada ayat (1) dipilih dari Rakyat Daerah Tingkat I melalaikan atau c. melaksanakan kehidupan demo-krasi dalam mengetahui halnya dengan jalan apapun. penyelesaiannya. Undang-undang Hukum Pidana. apa yang disepakati dalam rapat tertutup Ketua DPRD. susunan. Pasal 34 Rapat-rapat DPRD bersifat terbuka untuk umum. penyelenggaraan pemerintahan daerah. pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala (1) Badan Kehormatan DPRD dibentuk dan Daerah.

berlaku sesudah ada bersangkutan tertangkap tangan melakukan anggota DPRD terhadap Peraturan Tata pengesahan pejabat yang berwenang. dan klarifikasi Daerah Tingkat I diangkat oleh Menteri Pasal 29 sebagaimana dimaksud pada huruf c Dalam Negeri dari Pegawai Negeri yang (1) Sekretariat DPRD membantu DPRD dalam sebagai rekomendasi untuk ditindaklanjuti memenuhi persyaratan. Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui (2) Sekretariat DPRD dipimpin oleh seorang Pasal 49 pemilihan. dan Pasal 28 Badan Kehormatan mempunyai tugas: formasi Sekretariat Dewan Perwakilan (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota a. dan untuk DPRD (2) Bagi Daerah Tingkat II penentuan cara i. setelah mendengar kepada Daerah. wewenangnya. Tertib dan Kode Etik DPRD serta (2) Dalam hal anggota DPRD tertangkap tangan sumpah/janji. verifikasi. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam DPRD Kabupaten dan Kota. dan pembebanan empat) berjumlah 3 (tiga) orang. DPRD Propinsi dan Gubernur bagi anggota dengan Kode Etik DPRD. setelah mendengar pertimbangan Anggota DPRD tidak dapat dituntut di pengadilan (3) Pimpinan Badan Kehormatan DPRD Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah karena pernyataan dan atau pendapat yang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri yang bersangkutan. b. lima) sampai dengan 45 (empat puluh lima) Menteri Dalam Negeri menentukan cara g. pinjaman. selambat-lambatnya klarifikasi atas pengaduan Pimpinan DPRD. kewajibannya. Pasal 48 (2) Pembentukan. sampai dengan 100 (seratus) berjumlah 7 dilakukan oleh Gubernur Kepala Daerah Pasal 27 (tujuh) orang. yang beranggotakan 75 (tujuh puluh lima) yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. untuk DPRD provinsi yang beranggotakan kewajiban Dewan Perwakilan Rakyat h. utang piutang. dan untuk Negara. dan seluruhnya. (4) Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat (3) Sekretaris DPRD dalam melaksanakan (2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Daerah Tingkat II diangkat oleh tugasnya berada di bawah dan bertanggung sekurang-kurangnya meliputi: Kehormatan. Pasal 37 melakukan tindak pidana. bagaimana hak. melakukan penyelidikan. tindak pidana kejahatan. dan Rakyat Daerah diatur dengan Peraturan DPRD dapat dilaksanakan atas persetujuan moral para anggota DPRD dalam rangka Daerah sesuai dengan pedoman yang tertulis Menteri Dalam Negeri bagi anggota menjaga martabat dan kehormatan sesuai ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. secara tertulis kepada Menteri Dalam Negeri d. kecuali jika yang b. Badan Usaha Milik Daerah. DPRD. etika. wewenang. Daerah dipimpin oleh seorang Sekretaris dalam tempo 2 kali 24 jam diberitahukan masyarakat dan/atau pemilih. dan berjumlah 5 (lima) orang. persetujuan penyelesaian perkara perdata sampai dengan 74 (tujuh puluh empat) Daerah itu dijalankan. dan (1) Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat dimaksud pada ayat (1). mengamati. menyelenggarak an tugas dan oleh DPRD. verifikasi. meneliti dugaan pelanggaran yang dilakukan ayat (2) pasal ini. kecuali jika yang bersangkutan Pasal 36 (1) Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat mengumumkan apa yang disepakati dalam rapat (4) Badan Kehormatan sebagaimana dimaksud Daerah adalah unsur staf yang tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang pada ayat (1) dibantu oleh sebuah sekretariat membantu Pimpinan Dewan Perwakilan dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman yang secara fungsional dilaksanakan oleh Rakyat Daerah dalam rahasia negara dalam buku kedua Bab I Kitab Sekretariat DPRD. penghapusan tagihan sebagian atau berjumlah 5 (lima) orang. baik terbuka atas seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua maupun tertutup. mengevaluasi disiplin.sehingga dapat merugikan Daerah atau e. menyampaikan kesimpulan atas hasil (2) Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat dan/atau Gubernur. yang diajukannya secara lisan yang dipilih dari dan oleh anggota Badan atau tertulis. susunan organisasi. sebagaimana c. (3) Dengan memperoleh persetujuan Dewan kewenangannya. dikemukakan dalam rapat DPRD. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. kebijakan tata ruang. Gubernur Kepala Daerah Sekretaris DPRD yang diangkat oleh Kepala (1) DPRD wajib menyusun kode etik untuk mengajukan calon Sekretaris Dewan Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang menjaga martabat dan kehormatan anggota Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I memenuhi syarat atas persetujuan pimpinan DPRD dalam menjalankan tugas dan kepada Menteri Dalam Negeri. DPRD yang beranggotakan 35 (tiga puluh pertimbangan Gubernur Kepala Daerah. f. menyelenggarakan tugas dan Undang-undang Hukum Pidana. penyelidikan. . secara damai.

(1) Setiap anggota DPRD wajib terhimpun dalam fraksi. wajib bergabung dengan fraksi yang ada atau membentuk fraksi gabungan. dan (6) Persyaratan dan tatacara pelaksanaan Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala f.Gubernur Kepala Daerah atas nama jawab kepada pimpinan DPRD. . ahli dengan tugas membantu anggota DPRD c. (4) dan (5) pasal ini diatur oleh seorang Wakil Kepala Daerah. pengertian kode etik. Pasal 51 (1) DPRD provinsi yang beranggotakan 35 (tiga puluh lima) sampai dengan 75 (tujuh puluh lima) orang membentuk 4 (empat) komi-si. Negeri yang memenuhi persyaratan. hal yang baik dan sepantasnya dilakukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Belanja Daerah. tujuan kode etik. (4) Fraksi yang ada wajib menerima anggota DPRD dari partai politik lain yang tidak memenuhi syarat untuk dapat membentuk satu fraksi.Daerah sebagai kepala eksekutif yang dibantu ayat (2). ketentuan yang dimaksud dalam ayat. sanggahan. oleh anggota DPRD. a. yang beranggotakan lebih dari 75 (tujuh puluh lima) orang membentuk 5 (lima) komisi. Pasal 50 dengan Peraturan Manteri Dalam Negeri. (2) Jumlah anggota setiap fraksi se-bagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya sama dengan jumlah komisi di DPRD. Tingkat II kepada Gubernur Kepala e. tata kerja. (6) Parpol yang memenuhi persyaratan untuk membentuk fraksi hanya dapat membentuk satu fraksi. Bupati/Walikotamadya Kepala ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan anggota DPRD dan pihak lain. sanksi dan rehabilitasi. (5) Dalam hal fraksi gabungan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) setelah dibentuk. (3) Anggota DPRD sebagaimana di-maksud pada ayat (1) dari 1 (satu) partai politik yang tidak memenuhi syarat untuk membentuk 1 (satu) fraksi. hubungan antarpenyelenggara pemerintahan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui (5) Anggaran Belanja Sekretariat DPRD daerah dan antaranggota serta antara pemilihan. Daerah. jawaban. etika dalam penyampaian pendapat. Daerah mengajukan calon Sekretaris dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan d. Pasal 30 tanggapan. dan tata (5) Dengan memperoleh persetujuan Dewan dalam menjalankan fungsinya. seluruh anggota fraksi gabungan tersebut wajib bergabung dengan fraksi dan/atau fraksi ga-bungan lain yang memenuhi syarat. (3). Menteri Dalam Negeri dari Pegawai (4) Sekretaris DPRD dapat menyediakan tenaga b. kemudian tidak lagi memenuhi syarat sebagai fraksi ga-bungan. (7) Fraksi gabungan dapat dibentuk oleh partai politik dengan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (5). pengaturan sikap.

Pasal 53 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden bagi anggota DPRD provinsi dan dari Gubernur atas nama Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD kabupaten/kota. pertanyaan dan/atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. Pasal 52 (1) Anggota DPRD tidak dapat dituntut dihadapan pengadilan karena pernyataan. (3) Anggota DPRD tidak dapat diganti antarwaktu karena pernyataan. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam peraturan perundang-undangan. (4) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. proses penyidikan dapat dilakukan. pertanyaan dan/atau pendapat yang dikemukakan secara lisan ataupun tertulis dalam rapat DPRD. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal anggota yang bersangkutan mengumumkan materi yang telah disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan. sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Tata Tertib dan kode etik DPRD. (2) Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari semenjak diterimanya permohonan. yang beranggotakan lebih dari 35 (tiga puluh lima) orang membentuk 4 (empat) komisi. atau .(2) DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan 20 (dua puluh) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) orang membentuk 3 (tiga) komisi. (3) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan diperlukan persetujuan tertulis dengan cara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

tindakan penyidikan harus dilaporkan kepada pejabat yang memberikan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 2 (dua kali) 24 (dua puluh empat) jam. (6) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). wewenang. hakim pada badan peradilan. Pasal 55 (1) Anggota DPRD berhenti antarwaktu sebagai . dan nepotisme. konsultan. notaris. (3) Anggota DPRD dilarang melakukan korupsi. pejabat negara lainnya. atau tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. kolusi. ayat (4). (5) Setelah tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan. (5) Anggota DPRD yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diberhentikan oleh pimpinan berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Kehormatan DPRD. badan usaha milik daerah dan/atau badan lain yang anggarannya bersumber dari APBN/APBD. dan hak sebagai anggota DPRD.b. disangka melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati. pegawai pada badan usaha milik negara. anggota TNI/Polri. ayat (2). advokat/pengacara. dokter praktik dan pekerjaan lain yang ada hubungannya dengan tugas. (2) Anggota DPRD dilarang melakukan pekerjaan sebagai pejabat struktural pada lembaga pendidikan swasta. Pasal 54 (1) Anggota DPRD dilarang merangkap jabatan sebagai: a. (4) Anggota DPRD yang melakukan pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melepaskan pekerjaan tersebut selama menjadi anggota DPRD. dan ayat (5) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. ayat (3). akuntan publik. c. pegawai negeri sipil. b.

c. mengundurkan diri atas permintaan sendiri secara tertulis. diusulkan oleh partai politik yang bersangkutan. Anggota DPRD diberhentikan antarwaktu. Pelaksanaan ketentuan sebagai-mana dimaksud pada ayat (1). dan ayat (4) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD berpedoman pada peraturan perundang-undangan. dan/atau melanggar kode etik DPRD. dan c. e. meninggal dunia. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 (enam) bulan. 9 Pemilihan Kepala Pasal 15 Pasal 34 : Pasal 56 • Dalam UU No. huruf b. 32 Tahun 2004 mengatur Daerah (1) Kepala Daerah Tingkat I dicalonkan (1) Pengisian jabatan Kepala Daerah dan Wakil (1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih bahwa Pemilihan Kepala Daerah dilakukan dan dipilih oleh Dewan Perwakilan Kepala Daerah dilakukan oleh DPRD melalui dalam satu pasangan calon yang secara langsung. hal ini berbeda dengan Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 pemilihan secara bersamaan. dan huruf e dilaksanakan setelah ada keputusan DPRD berdasarkan rekomendasi dari Badan Kehormatan DPRD. dinyatakan bers alah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melanggar tindak pidana dengan ancaman pidana paling singkat 5 (lima) tahun penjara atau lebih. b. melanggar larangan bagi anggota DPRD.22 tahun 1999 . f. d. tidak lagi memenuhi syarat sebagai anggota DPRD. dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan. karena: a.(2) (3) (4) (5) anggota karena: a. huruf d. Pemberhentian anggota DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. Pemberhentian anggota DPRD yang telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi anggota DPRD provinsi dan kepada Gubernur melalui Bupati/Walikota bagi anggota DPRD kabupaten/kota untuk diresmikan pemberhentiannya. ayat (3). huruf c. dilaksanakan secara demokratis berdasarkan yang diatur dalam UU No. tidak melaksanakan kewajiban anggota DPRD. ayat (2). b.

(tiga) orang dan sebanyak-banyknya 5 (2) Calon Kepala Daerah dan calon Wakil asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan UU No. 5 Tahun 1974 pemilihan kepala (lima) orang calon yang telah Kepala Daerah, ditetapkan oleh DPRD dan adil. daerah dilakukan oleh DPRD. dimusyawarahkan dan disepakati melalui tahap pencalonan dan pemilihan. (2) Pasangan calon sebagaimana dimaksud pada bersama antara Pimpinan Dewan (3) Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala ayat (1) diajukan oleh partai politik atau Perwakilan Rakyat Daerah/ Pimpinan Daerah dan Wakil Kepala Daerah, dibentuk gabungan partai politik. Fraksi-fraksi depan Menteri Dalam Panitia Pemilihan. Negeri. (4) Ketua dan para Wakil Ketua DPRD karena Pasal 57 (2) Hasil pemilihan yang dimaksud dalam jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua (1) Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala ayat (1) pasal ini diajukan oleh Dewan Panitia Pemilihan merangkap sebagai daerah diselenggarakan oleh KPUD yang Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota. bertanggungjawab kepada DPRD. bersangkutan kepada Presiden melalui (5) Sekretaris DPRD karena jabatannya adalah (2) Dalam melaksanakan tugasnya, KPUD meMenteri Dalam Negeri sedikit-dikitnya 2 Sekretaris Panitia Pemilihan, tetapi bukan nyampaikan laporan penyelenggaraan (dua) orang untuk diangkat salah anggota. pemilihan kepala daerah dan wakil kepala seorang diantaranya. daerah kepada DPRD. (3) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang Pasal 35 (3) Dalam mengawasi penyelenggaraan pemilihdimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur (1) Panitia pemilihan, sebagaimana dimaksud an kepala daerah dan wakil kepala daerah, dengan Peraturan Menteri Dalam dalam Pasal 34 ayat (3), bertugas : dibentuk panitia pengawas pemilihan kepala Negeri. a. melakukan pemeriksaan berkas identitas daerah dan wakil kepala daerah yang mengenai bakal calon berdasarkan keanggotaannya terdiri atas unsur kepolisian, Pasal 16 persyaratan yang telah ditetapkan dalam kejaksaan, perguruan tinggi, pers, dan tokoh (1) Kepala Daerah Tingkat II dicalonkan Pasal 33; masyarakat. dan dipilih oleh Dewan Perwakilan b. melakukan kegiatan teknis pemilihan (4) Anggota panitia pengawas sebagaimana Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 calon; dan dimaksud pada ayat (3) berjumlah 5 (lima) (tiga) orang dan sebanyak-banyaknya 5 c. menjadi penanggung jawab orang untuk provinsi, 5 (lima) orang untuk (lima) orang calon yang telah penyelenggaraan pemilihan. kabupaten/kota dan 3 (tiga) orang untuk dimusyawarahkan dan disepakati (2) Bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon kecamatan. bersama antara Pimpinan Dewan Wakil Kepala Daerah yang memenuhi (5) Panitia pengawas kecamatan diusulkan oleh Perwakilan Rakyat Daerah/Pimpinan persyaratan sesuai dengan hasil panitia pengawas kabupaten/kota untuk Fraksi-fraksi dengan Gubernur Kepala pemeriksaan yang dilakukan oleh Panitia ditetapkan oleh DPRD. Daerah. Pemilihan, sebagaimana dimaksud pada ayat (6) Dalam hal tidak didapatkan unsur sebagai(2) Hasil pemilihan yang dimaksud dalam (1), diajukan kepada DPRD untuk ditetapkan mana dimaksud pada ayat (3), panitia ayat (1) pasal ini diajukan oleh Dewan sebagai calon Kepala Daerah dan calon pengawas kabupaten/kota/kecamatan dapat Perwakilan Rakyat Daerah yang Wakil Kepala Daerah. diisi oleh unsur yang lainnya. bersangkutan kepada Menteri Dalam (7) Panitia pengawas pemilihan kepala daerah Negeri melalui Gubernur Kepala Pasal 36 dan wakil kepala daerah dibentuk oleh dan Daerah sedikit-dikitnya 2 (dua) orang (1) Setiap fraksi melakukan kegiatan bertanggungjawab kepada DPRD dan untuk diangkat salah seorang penyaringan pasangan bakal calon sesuai berkewajiban menyampaikan laporannya. diantaranya. dengan syarat yang ditetapkan dalam Pasal (3) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang 33. Pasal 59 dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur (2) Setiap fraksi menetapkan pasangan bakal (1) Peserta pemilihan kepala daerah dan wakil dengan peraturan Menteri Dalam calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil kepala daerah adalah pasangan calon yang Negeri. Kepala Daerah dan menyampaikannya diusulkan secara berpasangan oleh partai dalam rapat paripurna kepada pimpinan politik atau gabungan partai politik. Pasal 17 DPRD. (2) Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat (1) Kepala Daerah diangkat untuk masa jabatan 5 (lima) tahun terhitung mulai sama mengajukan pasangan bakal calon mendaftarkan pasangan calon apabila

(3) Dua fraksi atau lebih dapat secara bersama-

tanggal pelantikannya dan dapat Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala memenuhi pers yaratan perolehan sekurangdiangkat kembali, untuk 1 (satu) kali Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat kurangnya 15% (lima belas persen) dari masa jabatan berikutnya. (1). jumlah kursi DPRD atau 15% (lima belas (2) Kepala Daerah adalah Pejabat Negara. persen) dari akumulasi perolehan suara sah Pasal 37 dalam Pemilihan Umum anggota DPRD di Pasal 18 (1) Dalam Rapat Paripurna DPRD, setiap fraksi daerah yang bersangkutan. (1) Sebelum memangku jabatannya atau beberapa fraksi memberikan penjelasan (3) Partai politik atau gabungan partai politik wajib Kepala Daerah diambil sumpahnya/ mengenai bakal calonnya. membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi janjinya dan dilantik oleh : (2) Pimpinan DPRD mengundang bakal calon bakal calon perseorangan yang memenuhi syarat a. Presiden bagi Kepala Daerah dimaksud untuk menjelaskan visi, misi, serta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan Tingkat I ; rencana-rencana kebijakan apabila bakal selanjutnya memproses bakal calon dimaksud b. Menteri Dalam Negeri bagi Kepala calon dimaksud terpilih sebagai Kepala melalui mekanisme yang demokratis dan Daerah Tingkat II. Daerah. transparan. (2) Presiden dapat menunjuk Menteri (3) Anggota DPRD dapat melakukan tanya (4) Dalam proses penetapan pasangan calon, partai Dalam Negeri untuk mengambil politik atau gabungan partai politik memperhatikan jawab dengan para bakal calon. sumpah/janji dan melantik Kepala (4) Pimpinan DPRD dan pimpinan fraksi-fraksi pendapat dan tanggapan masyarakat. Daerah Tingkat I atas nama Presiden. melakukan penilaian atas kemampuan dan (5) Partai politik atau gabungan partai politik (3) Menteri Dalam Negeri dapat menunjuk kepribadian para bakal calon dan melalui pada saat mendaftarkan pasangan calon, wajib Gubernur Kepala Daerah untuk mus yawarah atau pemungutan suara menyerahkan: mengambil sumpah/janji dan melantik menetapkan sekurang-kurangnya dua a. surat pencalonan yang ditandatangani Kepala Daerah Tingkat II atas nama pasang calon Kepala Daerah dan calon oleh pimpinan partai politik atau pimpinan Menteri Dalam Negeri. Wakil Kepala Daerah yang akan dipilih satu partai politik yang bergabung; (4) Susunan kata-kata sumpah/janji yang pasang di antaranya oleh DPRD. b. kesepakatan tertulis antarpartai politik yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, bergabung untuk mencalonkan pasangan adalah sebagai berikut : Pasal 38 calon; "Saya bersumpah/berjanji, bahwa (1) Nama-nama calon Gubernur dan calon Wakil c. surat pernyataan tidak akan menarik saya untuk diangkat menjadi Gubernur yang telah ditetapkan oleh pencalonan atas pasangan yang dicalonkan Kepala Daerah, langsung atau pimpinan DPRD dikonsultasikan dengan yang ditandatangani oleh pimpinan partai tidak langsung dengan nama Presiden. politik atau para pimpinan partai politik yang atau dalih apapun, tidak (2) Nama-nama calon Bupati dan calon Wakil bergabung; memberikan atau menjanjikan Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil d. surat pernyataan kesediaan yang atau akan memberikan sesuatu Walikota yang akan dipilih oleh DPRD bersangkutan sebagai calon kepala daerah kepada siapapun juga. ditetapkan dengan keputusan pimpinan dan wakil kepala daerah secara Saya bersumpah/berjanji, bahwa DPRD. berpasangan; saya untuk melakukan atau tidak e. surat pernyataan tidak akan mengundurkan melakukan sesuatu dalam Pasal 39 diri sebagai pasangan calon; jabatan ini, tidak sekali-kali akan (1) Pemilihan calon Kepala Daerah dan calon f. surat pernyataan kesanggupan menerima langsung ataupun Wakil Kepala Daerah dilaksanakan dalam mengundurkan diri dari jabatan apabila tidak langsung dari siapapun juga Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh terpilih menjadi kepala daerah atau wakil sesuatu janji atau pemberian. sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah kepala daerah sesuai dengan peraturan Saya bersumpah/berjanji, bahwa anggota DPRD. perundang-undangan; saya akan memenuhi kewajiban (2) Apabila jumlah anggota DPRD belum g. surat pernyataan mengundurkan diri dari saya sebagai Kepala Daerah mencapai kuorum, sebagaimana dimaksud jabatan negeri bagi calon yang berasal dari dengan sebaik-baiknya dan pada ayat (1), pimpinan rapat dapat pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, dan anggota Kepolisian sejujur-jujurnya, bahwa saya akan taat dan akan Negara Republik Indonesia;

menunda rapat paling lama satu jam.

mempertahankan PANCASILA (3) Apabila ketentuan, sebagaimana dimaksud h. surat pernyataan tidak aktif dari jabatannya sebagai dasar dan ideologi pada ayat (2), belum dicapai, rapat paripurna bagi pimpinan DPRD tempat yang Negara, bahwa saya senantiasa diundur paling lama satu jam lagi dan bersangkutan menjadi calon di daerah yang akan menegakkan Undangselanjutnya pemilihan calon Kepala Daerah menjadi wilayah kerjanya; Undang Dasar 1945 dan segala dan calon Wakil Kepala Daerah tetap i. surat pemberitahuan kepada pimpinan bagi peraturan perundang-undangan dilaksanakan. anggota DPR, DPD, dan DPRD yang yang berlaku bagi Negara mencalonkan diri sebagai calon kepala Republik Indonesia. daerah dan wakil kepala daerah; Saya bersumpah/berjanji, bahwa j. kelengkapan persyaratan calon kepala saya akan memegang rahasia daerah dan wakil kepala daerah sesuatu yang menurut sifatnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58; atau menurut perintah harus saya dan rahasiakan. Saya k. naskah visi, misi, dan program dari bersumpah/berjanji, bahwa saya pasangan calon secara tertulis. dalam menjalankan jabatan atau (6) Partai politik atau gabungan partai politik pekerjaan saya, senantiasa akan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya lebih mengutamakan dapat mengusulkan satu pasangan calon dan kepentingan Negara dan Daerah pasangan calon tersebut tidak dapat diusulkan daripada kepentingan saya lagi oleh partai politik atau gabungan partai sendiri, seseorang atau sesuatu politik lainnya. golongan dan akan menjunjung (7) Masa pendaftaran pasangan calon tinggi kehormatan Negara, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling Pemerintah, Daerah, dan lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak martabat Pejabat Negara. pengumuman pendaftaran pasangan calon. Saya bersumpah/berjanji, bahwa saya akan berusaha sekuat Pasal 60 tenaga membantu memajukan (1) Pasangan calon sebagaimana dimaksud kesejahteraan Rakyat Indonesia dalam Pasal 59 ayat (1) diteliti pers yaratan pada umumnya dan memajukan administrasinya dengan melakukan klarifikasi kesejahteraan Rakyat Indonesia kepada instansi pemerintah yang berwenang di Daerah pada khususnya dan dan menerima masukan dari masyarakat akan setia kepada Bangsa dan terhadap persyaratan pasangan calon. Negara Kesatuan Republik (2) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada Indonesia. ayat (1) diberitahukan secara tertulis kepada (5) Tatacara pengambilan sumpah/janji pimpinan partai politik atau gabungan partai dan pelantikan bagi Kepala Daerah politik yang mengusulkan, paling lambat 7 diatur dengan Peraturan Pemerintah. (tujuh) hari terhitung sejak tanggal penutupan pendaftaran. (3) Apabila pasangan calon belum memenuhi syarat atau ditolak karena tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan/atau Pasal 59, partai politik atau gabungan partai politik yang mengajukan calon diberi kesempatan untuk melengkapi dan/atau memperbaiki surat pencalonan beserta persyaratan pasangan calon atau

partai politik dan atau gabungan partai politik. tidak dapat lagi mengajukan pasangan calon. Pasal 61 (1) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) dan ayat (4). (4) Penetapan dan pengumuman pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bersifat final dan mengikat. (2) Apabila partai politik atau gabungan partai politik menarik calonnya dan/atau pasangan calon dan/atau salah seorang dari pasangan calon mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1). KPUD menetapkan pasangan calon paling kurang 2 (dua) pasangan calon yang dituangkan dalam Berita Acara Penetapan pasangan calon. (3) Terhadap pasangan calon yang telah ditetapkan dan diumumkan. (2) Pasangan calon yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diumumkan secara luas paling lambat 7 (tujuh) hari sejak selesainya penelitian. (5) Apabila hasil penelitian berkas pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak memenuhi syarat dan ditolak oleh KPUD. Pasal 62 (1) Partai politik atau gabungan partai politik dilarang menarik calonnya dan/atau pasangan calonnya.mengajukan calon baru paling lambat 7 (tujuh) hari sejak saat pemberitahuan hasil penelitian persyaratan oleh KPUD. partai politik atau . (4) KPUD melakukan penelitian ulang kelengkapan dan atau perbaikan persyaratan pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan sekaligus memberitahukan hasil penelitian tersebut paling lambat 7 (tujuh) hari kepada pimpinan partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan. selanjutnya dilakukan undian secara terbuka untuk menetapkan nomor urut pasangan calon. dan pasangan calon atau salah seorang dari pasangan calon dilarang mengundurkan diri terhitung sejak ditetapkan sebagai pasangan calon oleh KPUD.

gabungan partai politik yang mencalonkan tidak dapat mengusulkan calon pengganti. Pasal 63 (1) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap sejak penetapan calon sampai pada saat dimulainya hari kampanye. (3) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara sehingga jumlah pasangan calon kurang dari 2 (dua) pasangan. tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lambat 30 (tiga puluh) hari dan partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap dan KPUD melakukan penelitian pers yaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. Pasal 64 (1) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap setelah pemungutan suara putaran pertama sampai dimulainya hari pemungutan suara putaran kedua. partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap dapat mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. tahapan . tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilanjutkan dan pasangan calon yang berhalangan tetap tidak dapat diganti serta dinyatakan gugur. (2) Dalam hal salah 1 (satu) calon atau pasangan calon berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara dan masih terdapat 2 (dua) pasangan calon atau lebih.

Kampanye. e. e. Perencanaan penyelenggaraan. (2) Masa persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Pembentukan Panitia Pengawas. b. dan f.pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lambat 30 (tiga puluh) hari. dan pelantikan. Penetapan daftar pemilih. Pemberitahuan DPRD kepada kepala daerah mengenai berakhirnya masa jabatan. c. (3) Tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. dan tahap pelaks anaan. d. PPK. Penetapan pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah terpilih. (4) Tata cara pelaksanaan masa persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud . pengesahan. Pemungutan suara. PPS dan KPPS. Pemberitahuan dan pendaftaran pemantau. Penghitungan suara. c. Pendaftaran dan Penetapan calon kepala daerah/ wakil kepala daerah. (2) Partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. meliputi penetapan tata cara dan jadwal tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah. Pasal 65 (1) Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilaksanakan melalui masa persiapan. Pemberitahuan DPRD kepada KPUD mengenai berakhirnya masa jabatan kepala daerah. b. d.

mengkoordinasikan. menetapkan pasangan calon yang telah memenuhi persyaratan. h. meneliti persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang diusulkan. k.menyelenggarakan. melakukan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. .pada ayat (3) diatur KPUD dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. f. Merencanakan penyelenggara-an pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. e. i. l. menerima pendaftaran dan me-ngumumkan tim kampanye. b. m. menetapkan tata cara pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sesuai dengan tahapan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. dan mengendalikan semua tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. menetapkan hasil rekapitulasi penghitungan suara dan mengumumkan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. d. meneliti persyaratan partai politik atau gabungan partai politik yang me-ngusulkan calon. c. menetapkan kantor akuntan publik untuk mengaudit dana kampanye dan mengumumkan hasil audit. menetapkan tanggal dan tata cara pelaksanaan kampanye. Pasal 66 (1) Tugas dan wewenang KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah: a. g. j. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur oleh peraturan perundangundangan. serta pe-mungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. mengumumkan laporan sumbangan dana kampanye.

b. e. misi. dan e. menyelesaikan sengketa yang timbul dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. d. d. Pasal 67 (1) KPUD berkewajiban: a. menerima laporan pelanggaran peraturan perundang-undangan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. memberitahukan kepada kepala daerah mengenai akan berakhirnya masa jabatan. dan f. mengatur hubungan koordinasi antar panitia pengawasan pada semua tingkatan. (3) Tugas dan wewenang DPRD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah: a. menyelenggarakan rapat paripurna un-tuk mendengarkan penyampaian visi. c. meneruskan temuan dan laporan yang tidak dapat diselesaikan kepada instansi yang berwenang. c. meminta pertanggungjawaban pelaksanaan tugas KPUD. memperlakukan pasangan calon secara adil dan setara.(2) Dalam penyelenggaran pemilihan gubernur dan wakil gubernur KPUD kabupaten/kota adalah bagian pelaksana tahapan penyelenggaraan pemilihan yang ditetapkan oleh KPUD provinsi. membentuk panitia pengawas. mengusulkan pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala daerah yang berakhir masa jabatannya dan mengusulkan pengangkatan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. dan program dari pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. b. (4) Panitia pengawas pemilihan mempunyai tugas dan wewenang: a. mengawasi semua tahapan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. melakukan pengawasan pada semua tahapan pelaksanaan pemilihan. menetapkan standarisasi serta kebutuhan . b.

(3) Seorang warga negara Republik Indonesia yang telah terdaftar dalam daftar pemilih ternyata tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat menggunakan hak memilihnya. melaksanakan semua tahapan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah secara tepat waktu. (2) Untuk dapat didaftar sebagai pemilih. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. warga negara Republik Indonesia harus terdaftar sebagai pemilih. memelihara arsip dan dokumen pemilihan serta mengelola barang inventaris milik KPUD berdasarkan peraturan perundangundangan. b.barang dan jasa yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan. warga negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat: a. menyampaikan laporan kepada DPRD untuk setiap tahap pelaksanaan pemilihan dan menyampaikan informasi kegiatannya kepada masyarakat . f. mempertanggungjawabkan pengguna-an anggaran kepada DPRD. d. nyata-nyata tidak sedang terganggu jiwa/ingatannya. e. 10 Penetapan Pemilih Pasal 68 Warga negara Republik Indonesia yang pada hari pemungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih. Pasal 69 (1) Untuk dapat menggunakan hak memilih. . c.

(4) Pemilih terdaftar yang karena sesuatu hal terpaksa tidak dapat menggunakan hak pilihnya di TPS yang sudah ditetapkan. (2) Apabila seorang pemilih mempunyai lebih dari 1 (satu) tempat tinggal.Pasal 70 (1) Daftar pemilih pada saat pelaksanaan pemilihan umum terakhir di daerah digunakan sebagai daftar pemilih untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. (3) Pemilih melaporkan kepindahannya ke-pada PPS di tempat pemilihan yang baru. . (2) PPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencatat nama pemilih dari daftar pemilih dan memberikan surat keterangan pindah tempat memilih. (2) Daftar pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah dengan daftar pemilih tambahan yang telah memenuhi persyaratan sebagai pemilih ditetapkan sebagai daftar pemilih sementara. Pasal 72 (1) Seorang pemilih hanya didaftar 1 (satu) kali dalam daftar pemilih. pemilih yang bersangkutan harus melapor kepada PPS setempat. Pasal 73 (1) Pemilih yang telah terdaftar dalam daftar pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 kemudian berpindah tempat tinggal atau karena ingin menggunakan hak pilihnya di tempat lain. Pasal 71 Pemilih yang telah terdaftar sebagai pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 diberi tanda bukti pendaftaran untuk ditukarkan dengan kartu pemilih untuk setiap pemungutan suara. yang bersangkutan dapat menggunakan hak pilihnya di tempat lain dengan menunjukkan kartu pemilih. pemilih tersebut harus menentukan satu di antaranya untuk ditetapkan sebagai tempat tinggal yang dicantumkan dalam daftar pemilih.

(3) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh tim kampanye yang dibentuk oleh pasangan calon bersama-sama partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan pasangan calon. yang pelaksanaannya dipertanggungjawabkan oleh tim kampanye. (2) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan selama 14 (empat belas) hari dan berakhir 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara. (6) Penanggung jawab kampanye adalah pasangan calon. (3) Pemilih yang belum terdaftar dalam daftar peilih sementara dapat mendaftarkan diri ke PPS dan dicatat dalam daftar pemilih tambahan. (5) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bersama-sama atau secara terpisah oleh pasangan calon dan/atau oleh tim kampanye. (4) Daftar pemilih sementara dan daftar pemilih tambahan ditetapkan sebagai daftar pemilih tetap. (4) Tim kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didaftarkan ke KPUD bersamaan dengan pendaftaran pasangan calon. (7) Tim kampanye dapat dibentuk secara berjenjang di provinsi. kabupaten/kota bagi pasangan calon Gubernur dan Wakil . 11 Kampanye Pasal 75 (1) Kampanye dilaksanakan sebagai bagian dari penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. (5) Daftar pemilih tetap disahkan dan d-umumkan oleh PPS. (6) Tata cara pelaksanaan pendaftaran pemilih ditetapkan oleh KPUD. (2) Daftar pemilih sementara sebagaimana diaksud pada ayat (1) diumumk an oleh PPS untuk mendapat tanggapan masyarakat.Pasal 74 (1) Berdasarkan daftar pemilih sebagaimana diaksud dalam Pasal 70 dan Pasal 73 PPS menyusun dan menetapkan daftar pemilih sementara.

c. . e. penyiaran melalui radio dan/atau televisi. f. tertib. dan/atau i. (9) Jadwal pelaksanaan kampanye ditetapkan oleh KPUD dengan memperhatikan usul dari pasangan calon. rakyat mempunyai kebebasan untuk menghadiri kampanye. dan bersifat edukatif. b. rapat umum. (5) Penyelenggaraan kampanye dilakukan di seluruh wilayah provinsi untuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur dan diseluruh wilayah kabupaten/kota untuk pemilihan bupati dan wakil bupati dan walikota dan wakil walikota. Pasal 76 (1) Kampanye dapat dilaksanakan melalui: a. (2) Pasangan calon wajib menyampaikan visi. tatap muka dan dialog. g. misi. penyebaran bahan kampanye kepada umum. pemasangan alat peraga di tempat umum. debat publik/debat terbuka antarcalon. penyebaran melalui media cetak dan media elektronik. pertemuan terbatas. Pasal 77 (1) Media cetak dan media elektronik memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk menyampaikan tema dan materi kampanye. (4) Penyampaian materi kampanye dilakukan dengan cara yang sopan. d.Gubernur dan kabupaten/kota dan kecamatan bagi pasangan calon Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota. h. (3) Calon kepala daerah dan wakil kepala daerah berhak untuk mendapatkan informasi atau data dari pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. dan program secara lisan maupun tertulis kepada masyarakat. (8) Dalam kampanye. kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan.

menghasut atau mengadu domba partai politik. ancaman kekerasan atau menganjurkan .(2) Media elektronik dan media cetak wajib memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk memasang iklan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam rangka kampanye. (6) Pemasangan alat peraga kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (5) oleh pasangan calon dilaksanakan dengan memper-timbangkan etika. menghina seseorang. ras. dan keindahan kota atau kawasan setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. golongan. (3) Pemerintah daerah memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk menggunakan fasilitas umum. estetika. d. calon kepala daerah/wakil kepala daerah dan/atau partai politik. (8) Alat peraga kampanye harus sudah dibersihkan paling lambat 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara. agama. dan/atau kelompok masyarakat. suku. b. kebersihan. Pasal 78 Dalam kampanye dilarang: a. mempersoalkan dasar negara Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. (7) Pemasangan alat peraga kampanye pada tempat yang menjadi milik perseorangan atau badan swasta harus seizin pemilik tempat tersebut. (4) Semua yang hadir dalam pertemuan terbatas atau rapat umum yang diadakan oleh pasangan calon hanya dibenarkan membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut pasangan calon yang bersangkutan. menggunakan kekerasan. c. perseorangan. (5) KPUD berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menetapkan lokasi pemasangan alat peraga untuk keperluan kampanye.

hakim pada semua peradilan. mengganggu keamanan. ketenteraman. e. kelompok masyarakat dan/atau partai politik. menjalani cuti di luar tanggungan negara. g. pengaturan lama cuti dan jadwal cuti dengan memperhatikan keberlangsungan tugas penyelenggaraan pemerin-tahan daerah. dan c. i. c. d. dilarang melibatkan: a. merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye pasangan calon lain. menggunakan tempat ibadah dan tempat pendidikan.penggunaan kekerasan kepada perseorangan. Pasal 79 (1) Dalam kampanye. dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai peserta . pejabat BUMN/BUMD. mengancam dan menganjurkan penggunaan kekerasan untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintahan yang sah. tidak menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatannya. (3) Pejabat negara yang menjadi calon ke-pala daerah dan wakil kepala daerah dalam melaksanakan kampanye harus memenuhi ketentuan: a. f. b. dan j. h. (4) Pasangan calon dilarang melibatkan pegawai negeri sipil. menggunakan fasilitas dan anggaran pemerintah dan pemerintah daerah. b. melakukan pawai atau arak-arakan yang dilakukan dengan berjalan kaki dan/atau dengan kendaraan di jalan raya. dan ketertiban umum. (2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku apabila pejabat tersebut menjadi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. kepala desa. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri. anggota Tentara Nasional Indonesia.

pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri. huruf b. (4) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 dikenai sanksi penghentian kampanye selama masa kampanye oleh KPUD. (2) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf g. penghentian kegiatan kampanye di tempat terjadinya pelanggaran atau di seluruh daerah pemilihan yang bersangkutan apabila terjadi gangguan terhadap keamanan yang berpotensi menyebar ke daerah pemilihan lain. Pasal 81 (1) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf a. (3) Tata cara pengenaan sanksi terhadap pelanggaran larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh KPUD. . b. merupakan tindak pidana dan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan kepala desa dilarang membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye. huruf d. huruf h.kampanye dan juru kampanye dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. huruf i dan huruf j. yang merupakan pelanggaran tata cara kampanye dikenai sanksi: a. dan huruf f. huruf c. peringatan tertulis apabila penyelenggara kampanye melanggar larangan walaupun belum terjadi gangguan. huruf e. Pasal 80 Pejabat negara.

sumbangan pihak-pihak lain yang tidak mengikat yang meliputi sumbangan perseorangan dan/atau badan hukum swasta.Pasal 82 (1) Pasangan calon dan/atau tim kampanye dilarang menjanjikan dan/atau memberikan uang atau materi lainnya untuk mempengaruhi pemilih. dan ayat (5) disampaikan oleh pasangan calon . Pasal 83 (1) Dana kampanye dapat diperoleh dari: a.000.500. b.00 (lima puluh juta rupiah) dan dari badan hukum swasta dilarang melebihi Rp 350.00 (dua juta lima ratus ribu rupiah) baik dalam bentuk uang maupun bukan dalam bentuk uang yang dapat dikonversikan ke dalam nilai uang wajib dilaporkan kepada KPUD mengenai jumlah dan identitas pemberi sumbangan. (2) Pasangan calon dan/atau tim kampanye yang terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh DPRD. (2) Pasangan calon wajib memiliki rekening khusus dana kampanye dan rekening yang dimaksud didaftarkan kepada KPUD. (6) Laporan sumbangan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (4) Pasangan calon dapat menerima dan/atau menyetujui pembiayaan bukan dalam bentuk uang secara langsung untuk kegiatan kampanye. (5) Sumbangan kepada pasangan calon yang lebih dari Rp 2. pasangan calon.000.000. (3) Sumbangan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dari perseorangan dilarang melebihi Rp 50.000.000. partai politik dan/atau gabungan partai politik yang mengusulkan. c.00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah).

yang teknis pelaksanaannya dilakukan oleh tim kampanye. (5) Hasil audit sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diumumkan oleh KPUD paling lambat 3 (tiga) hari setelah KPUD menerima laporan hasil audit dari kantor akuntan publik. Pasal 84 (1) Dana kampanye digunakan oleh pasangan calon. (6) Laporan dana kampanye yang diterima KPUD wajib dipelihara dan terbuka untuk umum. lembaga swasta asing. Pasal 85 (1) Pasangan calon dilarang menerima sumbangan atau bantuan lain untuk kampanye yang berasal dari: a. . lembaga swadaya masyarakat asing dan warga negara asing. (2) Dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaporkan oleh pasangan calon kepada KPUD paling lambat 3 (tiga) hari setelah hari pemungutan suara. (7) KPUD mengumumkan melalui media massa laporan sumbangan dana kampanye setiap pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (6) kepada masyarakat satu hari setelah menerima laporan dari pasangan calon.kepada KPUD dalam waktu 1 (satu) hari sebelum masa kampanye dimulai dan 1 (satu) hari sesudah masa kampanye berakhir. negara asing. (3) KPUD wajib menyerahkan laporan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kantor akuntan publik paling lambat 2 (dua) hari setelah KPUD menerima laporan dana kampanye dari pasangan calon. (4) Kantor akuntan publik wajib menyelesaikan audit paling lambat 15 (lima belas) hari setelah diterimanya laporan dana kampanye dari KPUD.

(2) Pemungutan suara dilakukan dengan memberikan suara melalui surat suara yang berisi nomor. (3) Penggunaan tambahan surat suara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuatkan berita acara. Pasal 87 (1) Jumlah surat suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (2) dicetak sama dengan jumlah pemilih tetap dan ditambah 2. foto. pemerintah. penyumbang atau pemberi bantuan yang tidak jelas identitasnya. (3) Pasangan calon yang melanggar ketentu-an sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh KPUD. (3) Pemungutan suara dilakukan pada hari libur atau hari yang diliburkan. dan nama pasangan calon.5% (dua setengah perseratus) dari jumlah pemilih tersebut. c. (2) Pasangan calon yang menerima sumba-ngan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dibenarkan menggunakan dana tersebut dan wajib melaporkannya kepada KPUD paling lambat 14 (empat belas) hari setelah masa kampanye berakhir dan menyerahkan sumbangan tersebut kepada kas daerah. (2) Tambahan surat suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai cadangan di setiap TPS untuk mengganti surat suara pemilih yang keliru memilih pilihannya serta surat suara yang rusak. . BUMN. 12 Pemungutan Suara Pasal 86 (1) Pemungutan suara pemilihan pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan paling lambat 1 (satu) bulan sebelum masa jabatan kepala daerah berakhir.b. dan BUMD.

lokasi. bentuk. atau yang mempunyai halangan fisik lain pada saat memberikan suaranya di TPS dapat dibantu oleh petugas KPPS atau orang lain atas permintaan pemilih. bahan. Pasal 91 (1) Untuk keperluan pemungutan suara dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah disediakan kotak suara sebagai tempat surat suara yang digunakan oleh pemilih. . (2) Jumlah. ukuran. dan rahasia. dan tata letak TPS ditetapkan oleh KPUD. Pasal 89 (1) Pemilih tunanetra. tunadaksa. bentuk. Pasal 90 (1) Jumlah pemilih di setiap TPS sebanyakbanyaknya 300 (tiga ratus) orang. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberi-an bantuan kepada pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. (2) Petugas KPPS atau orang lain yang membantu pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib merahasiakan pilihan pemilih yang dibantunya. bebas. (2) TPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan lokasinya di tempat yang mudah dijangkau. serta menjamin setiap pemilih dapat memberikan suaranya secara langsung. (3) Jumlah.Pasal 88 Pemberian suara untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilakukan dengan mencoblos salah satu pasangan calon dalam surat suara. dan warna kotak suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh KPUD dengan berpedoman pada peraturan perundangundangan. termasuk oleh penyandang cacat.

kemudian KPPS memberikan surat suara pengganti hanya satu kali.Pasal 92 (1) Sebelum melaksanakan pemungutan suara. pemantau. (2) Dalam memberikan suara. kemudian KPPS memberikan surat suara pengganti hanya satu kali. pengidentifikasian jenis dokumen dan peralatan. Pasal 94 (1) Pemilih yang telah memberikan suara di TPS diberi tanda khusus oleh KPPS. pemilih diberi kesempatan oleh KPPS berdasarkan prinsip urutan kehadiran pemilih. dan warga masyarakat. serta d. (2) Kegiatan KPPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dihadiri oleh saksi dari pasangan calon. pengeluaran seluruh isi kotak suara. (2) Tanda khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh KPUD dengan . c. (3) Kegiatan KPPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Ketua KPPS. panitia pengawas. KPPS memberikan penjelasan mengenai tata cara pemungutan suara. (4) Apabila terdapat kekeliruan dalam cara memberikan suara. penghitungan jumlah setiap jenis dokumen dan peralatan. pemilih dapat meminta surat suara pengganti kepada KPPS. KPPS melakukan: a. pemilih dapat meminta surat suara pengganti kepada KPPS. b. (3) Apabila menerima surat suara yang ternyata rusak. Pasal 93 (1) Setelah melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92. (5) Penentuan waktu dimulai dan berakhirnya pemungutan suara ditetapkan oleh KPUD. dan sekurang-kurangnya 2 (dua) anggota KPPS dan dapat ditandatangani oleh saksi dari pasangan calon. pembukaan kotak suara.

(5) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari tim kampanye yang . KPPS menghitung: a. dan d.berpedoman pada Peraturan Pemerintah. jumlah surat suara yang tidak terpakai. jumlah pemilih yang memberikan suara berdasarkan salinan daftar pemilih tetap untuk TPS. dan warga masyarakat. jumlah surat suara yang dikembalikan oleh pemilih karena rusak atau keliru dicoblos. b. atau c. jumlah pemilih dari TPS lain. (2) Sebelum penghitungan suara dimulai. panitia pengawas. atau d. (4) Penghitungan suara dilakukan dan selesai di TPS oleh KPPS dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. foto dan nama pasangan calon. Pasal 96 (1) Penghitungan suara di TPS dilakukan oleh KPPS setelah pemungutan suara berakhir. pemantau. foto dan nama pasangan calon yang telah ditentukan. dan b. c. foto dan nama pasangan calon. tanda coblos terdapat pada salah satu garis kotak segi empat yang memuat nomor. surat suara ditandatangani oleh Ketua KPPS. (3) Penggunaan surat suara tambahan dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Ketua KPPS dan sekurang-kurangnya 2 (dua) anggota KPPS. atau e. tanda coblos lebih dari satu. tetapi masih di dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor. tanda coblos terdapat dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor. tanda coblos hanya terdapat pada 1 (satu) kotak segi empat yang memuat satu pasangan calon. Pasal 95 Suara untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dinyatakan sah apabila: a.

dan alat kelengkapan administrasi pemungutan dan penghitungan suara kepada PPS segera setelah selesai penghitungan suara. dan warga masyarakat. surat suara. Pasal 97 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. (7) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPPS apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. panitia pengawas. (11) KPPS menyerahkan berita acara.bersangkutan dan menyerahkannya kepada Ketua KPPS. KPPS membuat berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurangkurangnya 2 (dua) orang anggota KPPS serta dapat ditandatangani oleh saksi pasangan calon. pemantau. (9) Segera setelah selesai penghitungan su-ara di TPS. (8) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh saksi pasangan calon atau warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dapat diterima. pemantau. PPS membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat desa/kelurahan dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. panitia pengawas. (10) KPPS memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. . KPPS seketika itu juga mengadakan pembetulan. dan warga masyarakat yang hadir dapat menyaksikan secara jelas proses penghitungan suara. (6) Penghitungan suara dilakukan dengan ca-ra yang memungkinkan saksi pasangan calon. sertifikat hasil penghitungan suara.

dan warga masyarakat. Pasal 98 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. (6) PPS wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPS kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum . PPS membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan paling sedikit 2 (dua) orang anggota PPS serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. PPS seketika itu juga mengadakan pembetulan. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh PPS apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua TPS dalam wilayah kerja desa/kelurahan yang bersangkutan. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh saksi pasangan calon atau warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. PPK membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat kecamatan dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. pemantau. .(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada PPS. panitia pengawas. (7) PPS wajib menyerahkan 1 (satu) eksemplar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPS kepada PPK setempat.

. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua PPS dalam wilayah kerja kecamatan yang bersangkutan.(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada PPK. (7) PPK wajib menyerahkan 1 (satu) eksem-plar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPK kepada KPU kabupaten/kota. panitia pengawas. (6) PPK wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPK kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. dan warga masyarakat. KPU kabupaten/kota membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat kabupaten/kota dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. PPK membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang anggota PPK serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. pemantau. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh PPK apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. PPK seketika itu juga mengadakan pembetulan. Pasal 99 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara.

(4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPU kabupaten/kota apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. berita acara dan rekapitulasi hasil peng-hitungan suara selanjutnya diputuskan da-lam pleno KPU kabupaten/kota untuk me-netapkan pasangan calon terpilih. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua PPK dalam wilayah kerja kecamatan yang bersangkutan. KPU kabupaten/kota seketika itu juga mengadakan pembetulan. KPU kabupaten/kota membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurangkurangnya 2 (dua) orang anggota KPU kabupaten/kota serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. (7) KPU kabupaten/kota wajib menyerahkan 1 (satu) eksemplar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU kabupaten/kota kepada KPU provinsi. (6) KPU kabupaten/kota wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU kabupaten/kota kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. Pasal 100 (1) Dalam hal pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. .(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada KPU kabupaten/kota.

sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. (2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada KPU provinsi. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPU provinsi apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua KPU kabupaten/kota. pemantau. Pasal 101 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. dan warga masyarakat. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. . KPU provinsi seketika itu juga mengadakan pembetulan. panitia pengawas. KPU provinsi membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang anggota KPU provinsi serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon.(2) Penetapan pasangan calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada DPRD kabu-paten/kota untuk diproses pengesahan dan pengangkatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. KPU provinsi membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat provinsi dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. (6) KPU provinsi wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU provinsi kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum.

penghitungan suara dilakukan secara tertutup. penghitungan suara dilakukan di tempat lain di luar tempat dan waktu yang telah ditentukan. dilakukan pengecekan ulang terhadap sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara pada 1 (satu) tingkat di bawahnya. dan/atau e. dan warga mas-yarakat tidak dapat menyaksikan proses penghitungan suara secara jelas. (2) Penetapan pasangan calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh KPU provinsi disampaikan kepada DPRD provinsi untuk diproses pengesahan pengangkatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. .Pasal 102 (1) Berita acara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (5) selanjutnya diputuskan dalam pleno KPU provinsi untuk menetapkan pasangan calon terpilih. d. (3) Penghitungan ulang surat suara dilakukan pada tingkat PPK apabila terjadi perbedaan data jumlah suara dari PPS. (4) Apabila terjadi perbedaan data jumlah suara pada tingkat KPU Kabupaten/Kota. b. (2) Penghitungan ulang surat suara dilakukan pada tingkat PPS apabila terjadi perbedaan data jumlah suara dari TPS. penghitungan suara dilakukan di tempat yang kurang penerangan cahaya. dan KPU Provinsi. c. pemantau. Pasal 103 (1) Penghitungan ulang surat suara di TPS dilakukan apabila dari hasil penelitian dan pemeriksaan terbukti terdapat satu atau lebih penyimpangan sebagai berikut: a. saksi pasangan calon. panitia pe-ngawas. terjadi ketidakkonsistenan dalam menentukan surat suara yang sah dan surat suara yang tidak sah.

lebih dari seorang pemilih yang tidak terdaftar sebagai pemilih mendapat kesempatan memberikan suara pada TPS. petugas KPPS meminta pemilih memberi tanda khusus. menandatangani. c. b. atau menulis nama atau alamatnya pada surat suara yang sudah digunakan. Pasal 105 Penghitungan suara dan pemungutan suara ulang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 dan Pasal 104 diputuskan oleh PPK dan dilaksanakan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sesudah hari pemungutan suara. Pasal 106 (1) Keberatan terhadap penetapan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah hanya dapat diajukan oleh pasangan calon kepada Mahkamah Agung dalam waktu paling lambat 3 (tiga) . petugas KPPS merusak lebih dari satu surat suara yang sudah digunakan oleh pemilih sehingga surat suara tersebut menjadi tidak sah.Pasal 104 (1) Pemungutan suara di TPS dapat diulang apabila terjadi kerusuhan yang mengakibatkan hasil pemungutan suara tidak dapat digunakan atau penghitungan suara tidak dapat dilakukan. (2) Pemungutan suara di TPS dapat diulang apabila dari hasil penelitian dan pemeriksaan Panitia Pengawas Kecamatan terbukti terdapat satu atau lebih dari keadaan sebagai berikut: a. d. dan/atau e. pembukaan kotak suara dan/atau berkas pemungutan dan penghitungan suara tidak dilakukan menurut tata cara yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. lebih dari seorang pemilih menggunakan hak pilih lebih dari satu kali pada TPS yang sama atau TPS yang berbeda.

ed 13 Penetapan Calon Terpilih dan Pelantikan Pasal 107 (1) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 50 % (lima puluh persen) jumlah suara sah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih. (3) Pengajuan keberatan kepada Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada pengadilan tinggi untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah provinsi dan kepada pengadilan negeri untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota. (5) Putusan Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (4) bersifat final dan mengikat. (6) Mahkamah Agung dalam melaksanakan kewenangannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mendelegasikan kepada Pengadilan Tinggi untuk memutus sengketa hasil penghitungan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten dan kota. pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah suara sah. . (2) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi. pasangan calon yang perolehan suaranya terbesar dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih.(2) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya pasangan calon. (7) Putusan Pengadilan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) bersifat final. (4) Mahkamah Agung memutus sengketa hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling lambat 14 (empat belas) hari sejak diterimanya permohonan keberatan oleh Pengadilan Negeri/Pengadilan Tinggi/ Mahkamah Agung.

(3) Dalam hal calon kepala daerah terpilih berhalangan tetap.(3) Dalam hal pasangan calon yang perolehan suara terbesar s ebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdapat lebih dari satu pasangan calon yang perolehan suaranya sama. (7) Apabila pemenang kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh lebih dari satu pasangan calon. calon wakil kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah. penentuan pasangan calon terpilih dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. Pasal 108 (1) Dalam hal calon wakil kepala daerah terpilih berhalangan tetap. kedua pasangan calon tersebut berhak mengikuti pemilihan putaran kedua. (2) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih. dilakukan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pemenang pertama dan pemenang kedua. penentuannya dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. atau tidak ada yang mencapai 25 % (dua puluh lima persen) dari jumlah suara sah. (6) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh tiga pasangan calon atau lebih. (8) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara terbanyak pada putaran kedua dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. (4) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak terpenuhi. . calon kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah. penentuan peringkat pertama dan kedua dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. (5) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh dua pasangan calon.

(4) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih. selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari. pemilihannya dilakukan selambatlambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari. kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari KPU kabupaten/kota untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan. (4) Pasangan calon bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota diusulkan oleh DPRD k abupaten/kota. . selambatlambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari. (5) Dalam hal pasangan calon terpilih berhalangan tetap. kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari KPU provinsi untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan. (2) Pengesahan pengangkatan pasangan calon bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota terpilih dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya meraih suara terbanyak pertama dan kedua mengusulkan pasangan calon kepada DPRD untuk dipilih menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah selambatlambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari. Pasal 109 (1) Pengesahan pengangkatan pasangan ca-lon Gubernur dan wakil Gubernur terpilih dilakukan oleh Presiden selambatlambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. (6) Untuk memilih wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4). (3) Pasangan calon Gubernur dan wakil Gubernur terpilih diusulkan oleh DPRD provinsi.

Pasal 110 (1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebelum memangku jabatannya dilantik dengan mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh pejabat yang melantik. Pasal 111 (1) Gubernur dan wakil Gubernur dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden. (2) Sumpah/janji kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut: “Demi Allah (Tuhan). (2) Bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota dilantik oleh Gubernur atas nama Presiden. (3) Pelantikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD. saya bersumpah/berjanji akan memenuhi kewajiban saya sebagai kepala daerah/ wakil kepala daerah dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. nusa dan bangsa.” (3) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memegang jabatan selama 5 (lima) tahun terhitung sejak pelantikan dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan. (4) Tata cara pelantikan dan pengaturan selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 112 Biaya kegiatan Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dibebankan pada APBD . memegang teguh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada masyarakat.

(3) Pemantau pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus mendaftarkan dan memperoleh akreditasi dari KPUD. 15 Ketentuan Pidana Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 115 (1) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar mengenai diri sendiri atau diri orang lain tentang suatu hal yang diperlukan untuk pengisian daftar pemilih. dan badan hukum dalam negeri. (2) Pemantau pemilihan sebagaimana dimak-sud pada ayat (2) harus memenuhi pers yaratan yang meliputi: a. bersifat independen. dan b. . diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. (4) Tata cara untuk menjadi pemantau pemilihan dan pemantauan pemilihan serta pencabutan hak sebagai pemantau diatur dalam Peraturan Pemerintah. (3) Pemantau pemilihan yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan/atau tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 dicabut haknya sebagai pemantau pemilihan dan/atau dikenai sanksi sesuai peraturan perundang-undangan.14 Pemantauan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 113 (1) Pemantauan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dapat dilakukan oleh pemantau pemilihan yang meliputi lembaga swadaya masyarakat. Pasal 114 (1) Pemantau pemilihan wajib menyampaikan laporan hasil pemantauannya kepada KPUD paling lambat 7 (tujuh) hari setelah pelantikan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. mempunyai sumber dana yang jelas. (2) Pemantau pemilihan wajib mematuhi se-gala peraturan perundang-undangan.

diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. (4) Setiap orang yang dengan sengaja dan mengetahui bahwa suatu surat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tidak sah atau dipalsukan.000.00 (satu juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. (5) Setiap orang yang dengan kekerasan atau dengan ancaman kekuasaan yang ada padanya saat pendaftaran pemilih menghalang-halangi seseorang untuk terdaftar sebagai pemilih dalam Pemilihan kepala daerah menurut undang-undang ini.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. menggunakannya.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 600.00 (enam juta rupiah).000.00 (enam juta rupiah).000.000. (3) Setiap orang yang dengan sengaja memalsukan surat yang menurut suatu aturan dalam Undang-Undang ini diperlukan untuk menjalankan suatu perbuatan dengan maksud untuk digunakan sendiri atau orang lain sebagai seolah-olah surat sah atau tidak dipalsukan.000. 6.000.100. 1.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 6. 600.000. (2) Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang lain kehilangan hak pilihnya dan orang yang kehilangan hak pilihnya tersebut mengadukan.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. atau menyuruh orang lain menggunakannya sebagai surat sah. 2.00 (enam ratus ribu .00 (dua juta rupiah).000.000.00 (dua ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.000. 200. 600.

(2) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf a. huruf c.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. huruf d.00 (enam juta rupiah).000. Pasal 116 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kampanye di luar jadwal waktu yang telah ditetapkan oleh KPUD untuk masingmasing pasangan calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari atau paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp100. (6) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar atau menggunakan surat palsu seolah-olah sebagai surat yang sah tentang suatu hal yang diperlukan bagi persyaratan untuk menjadi Pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah.000. huruf e dan huruf f diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp600.000.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp6. ayat (3).000. huruf h.00 (satu juta rupiah).000.000.00 (seratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp1.000. 6. huruf i dan huruf j dan Pasal 79 ayat (1).000.rupiah) dan paling banyak Rp.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.00 (enam juta rupiah). dan ayat (4).000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan . 600.000.00 (enam juta rupiah). (3) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan kampanye pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf g. 6. huruf b.

00 (dua ratus juta rupiah) atau paling banyak Rp 1.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp.000.000. menghalangi.00 (satu miliar rupiah). (4) Setiap pejabat negara.000.000.000. (6) Setiap orang yang memberi atau menerima dana kampanye melebihi batas yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (3).00 (dua ratus juta rupiah) atau paling banyak Rp1.000.00 (enam juta rupiah).00 (satu miliar rupiah).000.00 (satu juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp200.000.000.000.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 200. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri dan kepala desa yang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp.atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp100. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000. (5) Setiap orang yang dengan sengaja mengacaukan. 6. 600. dan/atau tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2). 6.000. 600.000. (7) Setiap orang yang dengan sengaja menerima atau memberi dana kampanye dari atau kepada pihak-pihak yang dilarang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (1). .00 (enam juta rupiah).000.00 (seratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp1. atau mengganggu jalannya kampanye.000.

diancam dengan pidana penjara paling s ingkat 2 (dua) bulan atau paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1. 10. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000. 100.000. 10.00 (sepuluh juta rupiah).000.000.000.000. atau memilih Pasangan calon tertentu.000.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.000.00 (satu juta rupiah) atau paling banyak Rp10. Pasal 117 (1) Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan dan menghalang-halangi seseorang yang akan melakukan haknya untuk memilih.00 (sepuluh juta rupiah).000.00 (sepuluh juta rupiah).(8) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar dalam laporan dana kampanye sebagaimana diwajibkan oleh UndangUndang ini.000. . diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 60 (enam puluh) hari dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.00 ( satu juta rupiah).000.000.000. atau menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suaranya menjadi tidak sah.000. 1. (3) Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja mengaku dirinya sebagai orang lain untuk menggunakan hak pilih. (2) Setiap orang yang dengan sengaja memberi atau menjanjikan uang atau materi lainnya kepada seseorang supaya tidak menggunakan hak pilihnya.

000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. (8) Setiap orang yang bertugas membantu pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (2) dengan sengaja memberitahukan pilihan si pemilih kepada orang lain. kecuali dengan alasan bahwa pekerjaan tersebut tidak bisa ditinggalkan.00 (dua juta rupiah).000.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000. 10.00 (sepuluh juta rupiah).(4) Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja memberikan suaranya lebih dari satu kali di satu atau lebih TPS. 1.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 4 (empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. (7) Setiap orang yang dengan sengaja pada waktu pemungutan suara mendampingi seorang pemilih selain yang diatur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (1). 1.000.000.000.000. (5) Setiap orang yang dengan sengaja menggagalkan pemungutan suara diancam dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.000. 2. 1. 10.000. 200.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. 10.00 (sepuluh juta rupiah).000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. (6) Seorang majikan atau atasan yang tidak memberikan kesempatan kepada seorang pekerja untuk memberikan suaranya.000.000. 1.00 .00 (sepuluh juta rupiah).00 ( dua ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.000.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.

000.000. 100. 1.000. Pasal 118 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang menyebabkan suara seorang pemilih menjadi tidak berharga atau menyebabkan Pasangan calon tertentu mendapat tambahan suara atau perolehan suaranya berkurang. 10.000. (3) Setiap orang yang karena kelalaiannya menyebabkan rusak atau hilangnya hasil pemungutan suara yang sudah disegel. diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 20.00 (satu miliar rupiah). 10.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000. 1. diancam dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.000.00 (sepuluh juta rupiah). (4) Setiap orang yang dengan sengaja mengubah hasil penghitungan suara dan/atau berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.000.00 (sepuluh juta rupiah). 2.00 (dua juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.00 (satu juta rupiah).00 (dua puluh juta rupiah).000.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.000.000.000. .000.(satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1. 100.000.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 2 (dua) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. (2) Setiap orang yang dengan sengaja merusak atau menghilangkan hasil pemungutan suara yang sudah disegel.

daerah. dan unit pelaksana melaksanakan tugasnya. pada ayat (1) untuk kabupaten/kota diangkat (2) Dinas dipimpin oleh seorang Kepala Dinas dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul . (5) Sekretaris Daerah berkewajiban membantu sekretaris daerah bertanggung jawab Kepala Daerah dalam menyusun kebijakan kepada kepala daerah. daerah dilaksanakan oleh pejabat yang menyelenggarakan pemerintahan (6) Sekretaris Daerah bertanggung jawab ditunjuk oleh kepala daerah. lembaga teknis daerah. Daerah. kecamatan. Pasal 47 serta membina hubungan kerja dengan (4) Apabila sekretaris daerah berhalangan (1) Sekretariat Daerah adalah unsur staf dinas. Daerah.32 Tahun 2004 (3) Dengan tidak mengurangi ketentuan Pasal 61 atas sekretariat daerah. (3) Sekretaris Daerah Propinsi karena (2) Sekretaris daerah sebagaimana dimaksud Pasal 85 jabatannya adalah Sekretaris Wilayah pada ayat (1) mempunyai tugas dan (1) Dalam menjalankan tugasnya. Dinas Daerah dan lembaga teknis Daerah lainnya. tugas Sekretaris (1) Sekretaris Daerah diangkat dari pegawai dengan Peraturan Daerah s esuai Daerah dilaksanakan oleh pejabat yang negeri sipil yang memenuhi persyaratan. (1) Sekretariat Daerah dipimpin oleh Sekretaris dinas daerah. Sekretariat Wilayah lainnya serta (2) Sekretaris Daerah Propinsi diangkat oleh pengangkatan dan pemberhentian Gubernur atas persetujuan pimpinan DPRD Pasal 121 pejabatnya diatur oleh Menteri Dalam dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi (1) Sekretariat daerah dipimpin oleh Sekretaris Negeri. (2) Perangkat daerah kabupaten/kota terdiri • Dalam Undang-Undang No. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kewajiban membantu kepala daerah dalam Instansi Vertikal berada dibawah (4) Sekretaris Daerah Kabupaten atau Sekretaris menyusun kebijakan dan kordinasi Kepala Wilayah yang Daerah Kota diangkat oleh Bupati atau mengkoordinasikan dinas daerah dan bersangkutan. (2) Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud Menteri Dalam Negeri. sekretariat DPRD. susunan organisasi dan (7) Apabila Sekretaris Daerah berhalangan Pasal 122 formasi Sekretariat Daerah ditetapkan melaksanakan tugasnya. sekretariat daerah. pada ayat (1) untuk provinsi diangkat dan (3) Peraturan Daerah yang dimaksud diberhentikan oleh Presiden atas usul dalam ayat (2) pasal ini.l syarat. Pasal 116. Kepala Administrasi. 16` Aparatur dan Pasal 84 Pasal 60 Pasal 120 • Dalam Undang-Undang No. Peraturan Pemerintah. (2) Pembentukan. (1) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana (3) Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud Pemerintah Daerah. lembaga teknis. berlaku Gubernur sesuai dengan peraturan sesudah ada pengesahan pejabat yang Pasal 62 perundang-undangan. diatur dengan syarat. dan lembaga teknis daerah. dan Pasal 118. Pasal 117. Walikota atas persetujuan pimpinan DPRD lembaga teknis daerah. dari Camat dan Lurah susunan organisasi dan formasi Daerah. (1) Perangkat daerah provinsi terdiri atas ditambahkan bahwa Sekertariat DPRD Daerah Wilayah. kepada Kepala Daerah. tugas sekretaris yang membantu Kepala Daerah dalam lainnya. ancaman pidananya ditambah 1/3 (satu pertiga) dari pidana yang diatur dalam Pasal 115. dinas termasuk dalam perangkat daerah (2) Sekretaris Daerah karena jabatannya sesuai dengan kebutuhan Daerah.32 Tahun 2004 Kepegawaian (1) Sekretariat Daerah adalah Sekretariat Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah. sekretariat DPRD. adalah Sekretaris Wilayah. berwenang. (2) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi (3) Dalam pelaksanaan tugas dan kewajiban dalam ayat (1) pasal ini. dengan pedoman yang ditetapkan oleh ditunjuk oleh Kepala Daerah.Pasal 119 Jika tindak pidana dilakukan dengan sengaja oleh penyelenggara atau pasangan calon. disebutkan secara lebih rinci mengani tugas yang dimaksud dalam ayat (1) ini. dan kelurahan.

b. dalam melaksanakan fungsinya sesuai (5) Apabila Sekretaris Daerah Pasal 65 dengan kemampuan keuangan daerah. Daerah. dibawah dan bertanggung jawab kepada Pemerintah Daerah. Peraturan Daerah. c. (1) Dinas daerah merupakan unsur pelaksana berwenang. (2) Kepala Kecamatan disebut Camat. dalam ayat (2) pasal ini. oleh Gubernur/Bupati/Walikota dengan nama Menteri Dalam Negeri dari persetujuan DPRD. (2) Sekretaris DPRD sebagaimana dimaksud (3) Sekretaris Daerah tingkat II diangkat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada dijalankan oleh pejabat yang ditunjuk ayat (3) huruf d wajib meminta oleh Kepala Daerah. formasi. (6) Pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan otonomi daerah. . atas usul Sekretaris Daerah. (2) Dinas daerah dipimpin oleh kepala dinas Pasal 50 yang diangkat dan diberhentikan oleh (1) Pengangkatan. menyelenggarakan administrasi Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan oleh instansi vertikal. seorang Sekretaris Daerah. berlaku (5) Camat bertanggung jawab kepada Bupati Pasal 124 sesudah ada pengesahan pejabat yang atau Walikota. menyediakan dan mengkoordinasi ayat (2) dan (3) pasal ini diatur dengan Presiden. Pegawai Negeri yang memenuhi Pasal 64 (3) Sekretaris DPRD mempunyai tugas: pers yaratan atas usul (1) Penyelenggaraan bidang pemerintahan yang a. (1) Kecamatan merupakan perangkat Daerah (5) Sekretaris DPRD dalam melaksanakan Pasal 49 Kabupaten dan Daerah Kota yang dipimpin tugasnya secara teknis operasional berada (1) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana oleh Kepala Kecamatan. dan ketentuan yang dimaksud dalam ayatpada ayat (1). sebagaimana dimaksud fungsi DPRD. pemberhentian. uang tunggu. (6) Susunan organisasi sekretariat DPRD dengan pedoman yang ditetapkan oleh (4) Camat menerima pelimpahan sebagian ditetapkan dalam peraturan daerah Menteri Dalam Negeri. Pegawai Negeri yang memenuhi pers yaratan atas usul Gubernur Kepala Pasal 63 Pasal 123 Daerah setelah mendengar Penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan (1) Sekretariat DPRD dipimpin oleh Sekretaris pertimbangan Pimpinan Dewan oleh Pemerintah kepada Gubernur selaku wakil DPRD. setelah mendengar pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. berhalangan menjalankan tugasnya. (1) Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan pensiun. Perwakilan Rakyat Daerah. keuangan DPRD. (4) Sekretaris Daerah karena kedudukannya (2) Sekretaris Daerah Tingkat I diangkat (3) Kepala Dinas bertanggung jawab kepada sebagai pembina pengawai negeri sipil di oleh Menteri Dalam Negeri dari Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. ditetapkan dengan Keputusan d. kewenangan pemerintahan dari berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud Bupati/Walikota. Pasal 66 pertimbangan pimpinan DPRD. mendukung pelaksanaan tugas dan (4) Persyaratan dan tatacara pelaksanaan dan tata laksananya. Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi. dan hal-hal lain yang dipimpin oleh Kepala Kelurahan. Di Daerah dapat dibentuk lembaga teknis sesuai (4) Sekretaris DPRD dalam menyediakan maka tugas Sekretaris Daerah dengan kebutuhan Daerah. Pasal 67 kepala daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris pemberhentian sementara. tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD Peraturan Menteri Dalam Negeri. kesekretariatan DPRD. susunan organisasi. pada ayat (1) diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur Kepala Daerah atas dilaksanakan oleh Dinas Propinsi. Daerah. (2) Pembentukan. gaji. dengan Peraturan Daerah sesuai Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat.Pasal 48 yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Bupati/Walikota sesuai dengan peraturan (1) Sekretariat Daerah dipimpin oleh Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat perundang-undangan. pimpinan DPRD dan secara administratif (2) Pembentukan susunan organisasi dan (3) Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas bertanggung jawab kepada kepala daerah formasi Dinas Daerah ditetapkan usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari melalui Sekretaris Daerah. daerahnya. menyelenggarakan administrasi Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah menjadi wewenang Pemerintah.

Pasal 126 kepada Daerah Tingkat II dengan kesejahteraan. otonomi daerah. (1) Lembaga teknis daerah merupakan unsur sesudah ada pengesahan pejabat (5) Lurah bertanggung jawab kepada Camat. pemindahan. dan kesejahteraan pegawai. (2) Kecamatan sebagaimana dimaksud pada (2) Dalam Keputusan yang dimaksud ayat (1) dipimpin oleh camat yang dalam dalam ayat (1) pasal ini. standar. baik Pegawai Negeri ditetapkan dengan Peraturan Daerah. dengan ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai daerah sebagaimana dimaksud pada ayat Keputusan Menteri atas permintaan dengan pedoman yang ditetapkan (1) dipimpin oleh kepala badan.mengenai kedudukan hukum Pegawai (2) Kepala Kelurahan disebut Lurah. undangan. (6) Pembentukan Kelurahan ditetapkan dengan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan Peraturan Daerah. mengkoordinasikan kegiatan pemmaupun Pegawai Daerah. atau rumah sakit Daerah sepanjang diperlukan. (3) Kepala badan. kantor. atas usul Camat. gaji. diperbantukan atau dipekerjakan penetapan pensiun. yang berdasarkan peraturan perundang-undangan. pendukung tugas kepala daerah dalam yang berwenang. Tingkat II yang bersangkutan. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. pemberhentian. Pegawai Daerah di atur oleh Kepala d. ditetapkan pada Peraturan Pemerintah. tunjangan. dengan peraturan perundang-undangan. atau rumah sakit umum (1) Pegawai Negeri dari sesuatu Pasal 68 daerah. daerah yang bersifat spesifik berbentuk Pasal 51 badan. hak. (3) Kepala dinas daerah bertanggung jawab Daerah. tunjangan. kantor. Departemen dapat diperbantukan atau (1) Susunan organisasi perangkat Daerah (2) Badan. atau kepala rumah sakit umum (2) Dalam Keputusan yang dimaksud (2) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat daerah yang diangkat oleh kepala daerah dalam ayat (1) pasal ini. pengawasan pelaksanaan administrasi c. mengkoordinasikan pemeliharaan Daerah sesuai dengan peraturan prasarana dan fasilitas pelayanan . diatur syarat Pasal 76 pelaksanaan tugasnya memperoleh dan hubungan kerja Pegawai Daerah Daerah mempunyai kewenangan untuk pelimpahan sebagian wewenang bupati atau yang bersangkutan dengan perangkat melakukan pengangkatan. diperbantukan atau dipekerjakan kepada b. walikota untuk menangani sebagian urusan Daerah Tingkat II sepanjang pemberhentian. serta (3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada pendidikan dan pelatihan sesuai dengan ayat (2) camat juga menyelenggarakan Pasal 53 kebutuhan dan kemampuan Daerah yang tugas umum pemerintahan meliputi: Semua pegawai. diatur dengan Peraturan (3) Lurah diangkat dari Pegawai Negeri Sipil kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah sesuai dengan pedoman yang yang memenuhi syarat oleh Walikota/Bupati Daerah. berlaku kewenangan pemerintahan dari Camat. kantor. diatur syarat Daerah ditetapkan dengan Keputusan dari pegawai negeri sipil yang memenuhi dan hubungan kerja Pegawai Negeri Kepala Daerah sesuai dengan pedoman syarat atas usul Sekretaris Daerah. mengkoordinasikan upaya pesesuatu Daerah berada di bawah pimpinan Pasal 77 nyelenggaraan ketentraman dan Kepala Daerah yang bersangkutan. Pemerintah Wilayah Propinsi melakukan ketertiban umum. pemindahan. dan kewajiban. diperlukan. berdayaan masyarakat. kantor atau rumah sakit umum dipekerjakan kepada Daerah. Pemerintah. (1) Pegawai Daerah Tingkat I dapat pengangkatan. mengkoordinasikan penerapan dan Pasal 54 kepegawaian dan karir pegawai di wilayahnya penegakan peraturan perundang(1) Pembinaan kepegawaian terhadap sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud (4) Lurah menerima pelimpahan sebagian Pasal 125 dalam ayat (1) pasal ini. kedudukan hukum Pegawai Negeri Sipil di Daerah kabupaten/kota dengan Perda berpedoman atas permintaan Kepala Daerah dan Pegawai Negeri Sipil Daerah. gaji. umum daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 75 ayat (2) bertanggung jawab kepada kepala Pasal 52 Norma. dan prosedur mengenai daerah melalui Sekretaris Daerah. serta *9621 (1) Kecamatan dibentuk di wilayah Keputusan Kepala Daerah Tingkat I. a. yang bersangkutan dengan perangkat yang ditetapkan Pemerintah. penetapan pensiun. kepala Kepala Daerah yang bersangkutan.

Pasal 85 (1) Dalam menjalankan tugasnya. ayat (5). ayat (3). (2) Pembinaan kepegawaian terhadap Pegawai Negeri yang diperbantukan atau dipekerjakan kepada Daerah di atur dengan peraturan perundangundangan. ayat (4). f. pelaksanaan kegiatan pemerintahan kelurahan. . melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan desa atau kelurahan.perundang-undangan yang berlaku. (3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) lurah mempunyai tugas: a. diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 127 (1) Kelurahan dibentuk di wilayah kecamatan dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (7) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). g. (2) Kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati/Walikota. pemberdayaan masyarakat. Kepala Instansi Vertikal berada dibawah kordinasi Kepala Wilayah yang bersangkutan. b. dan ayat (6) ditetapkan dengan peraturan bupati atau walikota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (4) Camat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul sekretaris daerah kabupaten/kota dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan. (5) Camat dalam menjalankan tugastugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dibantu oleh perangkat kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah kabupaten/kota. membina penyelenggaraan pemerintahan desa dan/atau kelurahan. (2) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. umum. (6) Perangkat kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) bertanggung jawab kepada camat. e.

pelayanan masyarakat. Lurah bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Camat. Pasal 128 (1) Susunan organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dalam Perda dengan memperhatikan faktorfaktor tertentu dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. ayat (4). . dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dengan Perda. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dan e. Lurah dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibantu oleh perangkat kelurahan.(4) (5) (6) (7) (8) (9) c. d. dan ayat (7) ditetapkan dengan peraturan bupati atau walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. ayat (6). penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum. Perangkat kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) bertanggung jawab kepada Lurah. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas Lurah sebagaimana dimaksud pada ayat (3). pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. (2) Pengendalian organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah untuk provinsi dan oleh Gubernur untuk kabupaten/kota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Lurah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Camat dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundangundangan. ayat (3). ayat (5).

hak dan kewajiban kedudukan hukum. .(3) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. gaji. pemindahan. pengadaan. dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada pemerintah daerah kabupaten/kota ditetapkan oleh Bupati/Walikota setelah berkonsultasi kepada Gubernur. Pasal 130 (1) Pengangkatan. dan antar provinsi ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara. tunjangan. Pasal 129 (1) Pemerintah melaksanakan pembinaan manajemen pegawai negeri sipil daerah dalam satu kesatuan penyelenggaraan manajemen pegawai negeri sipil secara nasional. (2) Perpindahan pegawai negeri sipil antar kabupaten/kota antar provinsi. pemberhentian. (2) Pengangkatan. pemindahan dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada pemerintah daerah provinsi ditetapkan oleh Gubernur. kesejahteraan. pengangkatan. Pasal 131 (1) Perpindahan pegawai negeri sipil antar kabupaten/kota dalam satu provinsi ditetapkan oleh Gubernur setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara. penetapan pensiun. dan pengendalian jumlah. (2) Manajemen pegawai negeri sipil daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penetapan formasi. pemindahan. pengembangan kompetensi.

Pasal 132 Penetapan formasi pegawai negeri sipil daerah provinsi/ kabupaten/kota setiap tahun anggaran dilaksanakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara atas usul Gubernur. (2) Penghitungan dan penyesuaian besaran alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akibat pengangkatan. pendidikan dan pelatihan. (3) Penghitungan alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah. pemberhentian. Pasal 133 Pengembangan karir pegawai negeri sipil daerah mempertimbangkan integritas dan moralitas. dan pemindahan pegawai negeri sipil daerah untuk penghitungan dan penyesuaian alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (3). pemberhentian. mutasi jabatan. dan kompetensi. (4) Pemerintah melakukan pemutakhiran data pengangkatan. pangkat. dan pemindahan pegawai negeri sipil daerah dilaksanakan setiap tahun. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara.(3) Perpindahan pegawai negeri sipil provinsi/kabupaten/kota ke departemen/lembaga pemerintah non departemen atau sebaliknya. mutasi antar daerah. Pasal 134 (1) Gaji dan tunjangan pegawai negeri sipil daerah dibebankan pada APBD yang bersumber dari alokasi dasar dalam dana alokasi umum. Pasal 135 (1) Pembinaan dan pengawasan manajemen pegawai negeri sipil daerah .

kedayagunaan dan kehasilgunaan. (2) Standar. sebagaimana dimaksud pada e. penyelenggaraan Otonomi Daerah dan DPRD. d.dikoordinasikan pada tingkat nasional oleh Menteri Dalam Negeri dan pada tingkat daerah oleh Gubernur.000. lebih tinggi dengan memperhatikan ciri sesuatu hal yang telah diatur dalam khas masing-masing daerah. tanggal yang ditentukan dalam Peraturan Daerah yang bersangkutan. tentang pembebanan biaya paksaan kepentingan umum dan/atau peraturan (3) Peraturan Daerah tidak boleh mengatur penegakan hukum. bersangkutan. dalam Peraturan Daerah yang (2) Keputusan.32 dan Peraturan Kepala Daerah dengan persetujuan Dewan Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah (1) Perda ditetapkan oleh kepala daerah Tahun 2004 disebutkan bahwa Perda dibentuk Kepala Daerah Perwakilan Rakyat Daerah menetapkan atas persetujuan DPRD dalam rangka setelah mendapat persetujuan bersama dalam rangka penyelenggaraan Otonomi . Pasal 40 atau denda sebanyak-banyaknya (1) Peraturan Daerah diundangkan Rp5. ayat (1). 22 Tahun 1999 dan UU No. Peraturan Daerah. tidak boleh bertentangan dengan f. seluruhnya atau perundang-undangan yang lebih tinggi. meliputi: kekuatan hukum dan mengikat setelah a. Daerah. peraturan perundang-undangan atau Pasal 71 (4) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat Peraturan Daerah yang lebih tinggi (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan (1) dilarang bertentangan dengan tingkatannya.000. kejelasan tujuan. berlaku setelah diundangkan dalam pidana kurungan paling lama enam bulan lembaran daerah. penyelenggaraan otonomi daerah materi pembuatan suatu peraturan Daerah Kepala Daerah tidak boleh bertentangan provinsi/ kabupaten/kota dan tugas dengan kepentingan umum dan Pasal 70 pembantuan. peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan (3) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat Peraturan Daerah yang lebih tinggi dengan kepentingan umum. . pengesahan mulai berlaku pada peraturan perundang-undangan yang lebih tanggal pengundangannya atau pada tinggi. dan (4) Peraturan Daerah yang memerlukan kepentingan umum. norma. peraturan daerah. diundangkan dalam Lembaran Daerah Pasal 72 b.00 (lima juta rupiah) dengan Pasal 137 dengan menempatkannya dalam atau tidak merampas barang tertentu untuk Perda dibentuk berdasarkan pada asas Lembaran Daerah yang bersangkutan.32 Tahun 2004 Pasal 39 penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang(2) Perda dibentuk dalam rangka disebutkan secara rinci mengenai asas dan (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan undangan yang lebih tinggi. 17 Peraturan Daerah Pasal 38 Pasal 69 Pasal 136 • Dalam UU No. dan dalam UU No. keterbukaan. lain dan peraturan perundang-undangan yang dari peraturan perundang-undangan yang (2) Peraturan Daerah tidak boleh mengatur lebih tinggi. (5) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat rumah tangga Daerah tingkat bawahnya. kesesuaian antara jenis dan materi memerlukan pengesahan mulai lain yang berlaku. (3) Peraturan Daerah yang tidak atas kuasa peraturan perundang-undangan c. dan prosedur pembinaan dan pengawasan manajemen pegawai negeri sipil daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. kecuali jika ditentukan lain dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang (2) Peraturan Daerah mempunyai peraturan perundang-undangan. (2) Peraturan Daerah dapat memuat ancaman (1). berlaku pada tanggal yang ditentukan menetapkan keputusan Kepala Daerah. Daerah. dan g. Peraturan Daerah (1) merupakan penjabaran lebih lanjut tingkatannya. Kepala Daerah muatan. kejelasan rumusan. sesuatu hal yang termasuk urusan sebagian kepada pelanggar. (1) Untuk melaksanakan Peraturan Daerah dan tepat. dapat dilaksanakan. kelembagaan atau organ pembentuk yang yang bersangkutan.

dan barang tertentu untuk Negara. Pasal 114 (1) Masyarakat berhak memberikan masukan (3) Tindak pidana yang dimaksud dalam (1) Pemerintah dapat membatalkan Peraturan secara lisan atau tertulis dalam rangka ayat (1) pasal ini adalah pelanggaran. keselarasan. dalam ayat (1) pasal ini.-(Limapuluh ribu. keputusan pembatalan Peraturan Daerah yang berasal dari Gubernur atau (2) Dengan Peraturan Daerah dapat dan Keputusan Kepala Daerah. Pasal 42 umum atau peraturan perundang. kebangsaan. Pasal 140 pelanggar. . berakhir. (2) Keputusan pembatalan Peraturan Daerah seluruhnya atau sebagian kepada dan Keputusan Kepala Daerah. kemanusiaan. mempunyai kekuatan hukum dan e. DPRD dan sesudah ada pengesahan pejabat yang alasan-alasannya. ketertiban dan kepastian hukum. jika ditentukan lain dalam peraturan (2) Dengan Peraturan Daerah dapat juga (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat perundang-undangan. Rp. dan (1) Peraturan Daerah dapat memuat undangan yang lebih tinggi dan/atau pengesahan rancangan Perda berpedoman ketentuan tentang pembebanan biaya peraturan perundang-undangan lainnya.(2) Persiapan pembentukan.(5) Peraturan Daerah yang memerlukan pengesahan tidak boleh diundangkan Pasal 73 Pasal 138 sebelum pengesahan itu diperoleh (1) Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala (1) Materi muatan Perda mengandung asas: atau sebelum jangka waktu yang Daerah yang bersifat mengatur diundangkan a. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kesamaan kedudukan dalam hukum kurungan selama-lamanya 6 (enam) (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap dan pemerintahan. dalam ayat (1) pasal ini. dengan peraturan perundang.000. bhineka tunggal ika. pengayoman. pembahasan. ditentukan untuk pengesahannya dengan menempatkannya dalam Lembaran b. (1) Peraturan Daerah Tingkat I dan mengikat setelah diundangkan dalam f.50. Daerah dan Keputusan Kepala Daerah penyiapan atau pembahasan rancangan yang bertentangan dengan kepentingan Perda. c. ditunjuk Pegawai-pegawai Daerah yang diberi tugas untuk melakukan dapat mengajukan keberatan kepada sebagaimana dimaksud pada ayat (2). g. kepada peraturan perundang-undangan. keserasian. kekeluargaan. (2) Ketentuan. bulan atau denda sebanyak-banyaknya pelanggaran atas ketentuan Peraturan i. keadilan. untuk dipersandingkan. ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk (1). sebagaimana dimaksud pada d. sesudah ada pengesahan pejabat yang Pasal 139 berwenang. sedangkan rancangan Perda pelanggaran atas ketentuan-ketentuan Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala yang disampaikan Gubernur atau Peraturan Daerah. memuat ketentuan ancaman pidana Pasal 74 h. (1) Rancangan Perda dapat berasal dari DPRD. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud diberitahukan kepada Daerah yang Gubernur. keseimbangan. Peraturan Daerah Tingkat II dapat Lembaran Daerah. paksaan penegakan hukum. berlaku atas ketentuan Peraturan Daerah. Gubernur atau Bupati/Walikota berwenang. dilakukan oleh alatDaerah tersebut dibatalkan Bupati/Walikota digunakan sebagai bahan alat penyidik dan penuntut sesuai pelaksanaannya. berlaku bersangkutan dengan menyebutkan (2) Apabila dalam satu masa sidang. kecuali perundang-undangan.(4) Daerah yang tidak dapat menerima (3) Tata cara mempersiapkan rancangan Perda undangan yang berlaku. Perda dapat memuat asas lain sesuai (2) Peraturan Daerah yang dimaksud melakukan penyidikan terhadap pelanggaran dengan substansi Perda yang bersangkutan. adalah rancangan Perda yang disampaikan (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap sebagaimana dimaksud pada ayat (2).rupiah) Daerah dilakukan oleh pejabat penyidik dan dan/atau dengan atau tidak dengan merampas penuntut sesuai dengan peraturan j. Bupati/Walikota diatur dengan Peraturan Presiden. (3) Selambat-lambatnya satu minggu setelah menyampaikan rancangan Perda mengenai keputusan pembatalan Peraturan Daerah materi yang sama maka yang dibahas Pasal 43 dan Keputusan Kepala Daerah. kenusantaraan. Pasal 41 ayat (1). oleh DPRD. atau Bupati/Walikota. Daerah.

dapat dijalankan sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. oleh pejabat yang berwenang dapat diperpanjang 3 (tiga) bulan lagi. sesuai dengan yang diatur dalam peraturan perundangan lainnya. Daerah. (1) Bentuk Peraturan Daerah ditentukan (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara oleh Menteri Dalam Negeri.penyidikan terhadap pelanggaran atas Mahkamah Agung setelah mengajukannya Pasal 141 ketentuan-ketentuan Peraturan kepada Pemerintah. dilaksanakan oleh sekretariat daerah. atau alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani Pasal 44 bidang legislasi. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar sesuai dengan peraturan perundangan. serta oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (1) Rancangan Perda disampaikan oleh anggota. Kepala Daerah untuk melaksanakan (2) Penyebarluasan rancangan Perda yang Peraturan Daerah atau urusan-urusan dalam berasal dari Gubernur. pejabat yang berwenang tidak mengambil sesuatu keputusan. Pasal 142 (1) Penyebarluasan rancangan Perda yang Pasal 45 berasal dari DPRD dilaksanakan oleh Kepala Daerah dapat menetapkan Keputusan sekretariat DPRD.\ mempersiapkan rancangan Perda (2) Peraturan Daerah ditandatangani oleh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur Kepala Daerah dan ditandatangani dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. Daerah dan Keputusan Kepala Daerah mengenai hal-hal tertentu. komisi.000.000. gabungan komisi.00 (lima puluh juta rupiah). dengan memberitahukannya kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan sebelum jangka waktu yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berakhir. (3) Penolakan pengesahan Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Pasal 143 (1) Perda dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum. atau apabila setelah 3 (tiga) bulan sejak diterimanya Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah tersebut. (2) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda edspaling banyak Rp50. Pasal 69 (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang memerlukan pengesahan. (2) Jangka waktu 3 (tiga) bulan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (3) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud . baru berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. Pasal 144 (1) Rancangan Perda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Gubernur atau Bupati/Walikota disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada Gubernur atau Bupati/Walikota untuk ditetapkan sebagai Perda. Pasal 68 Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditentukan bahwa Peraturar. (3) Perda dapat memuat ancaman pidana atau denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2). atau Bupati/Walikota rangka tugas pembantuan. (2) Penyampaian rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama.

peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah tingkat atasnya ditangguhkan berlakunya atau dibatalkan oleh pejabat yang berwenang. kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan Perda dan selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut Perda dimaksud.Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (5) Apabila provinsi/kabupaten/kota tidak dapat menerima keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. oleh pejabat yang berwenang diberitahukan kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan disertai alasan-alasannya. Pasal 145 (1) Perda disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan. rumusan kalimat pengesahannya berbunyi. mengakibatkan batalnya semua akibat dari Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud. maka penangguhannya dan atau pembatalannya dapat dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. “Perda ini dinyatakan sah. (3) Keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Dalam hal rancangan Perda tidak ditetapkan Gubernur atau Bupati/Walikota dalam waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) rancangan Perda tersebut sah menjadi Perda dan wajib diundangkan dengan memuatnya dalam lembaran daerah. (4) Paling lama 7 (tujuh) hari setelah keputusan pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Apabila Gubernur Kepala Daerah tidak menjalankan haknya untuk menangguhkan atau membatalkan Peraturan Daerah Tingkat II dan atau Keputusan Kepala Daerah Tingkat II sesuai dengan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum. Daerah yang bersangkutan dalam waktu 1 (satu) bulan terhitung mulai saat pemberitahuan penolakan pengesahan itu diterima. (2) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh Pemerintah. dapat mengajukan keberatan kepada pejabat setingkat lebih atas dari pejabat yang menolak. karena bertentangan dengan kepentingan umum. peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah Tingkat atasnya. (3) Pembatalan Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini. (5) Dalam hal sahnya rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (4). (4) Terhadap penolakan pengesahan yang dimaksud dalam ayat (3) pasal ini. Pasal 70 (6) Kalimat pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Perda sebelum pengundangan naskah Perda ke dalam lembaran daerah. disertai alasan- pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan tersebut disetujui bersama. sepanjang masih dapat dibatalkan.” dengan mencantumkan tanggal sahnya. (4) Keputusan penangguhan atau pembatalan yang dimaksud dalam ayatayat (1) dan (2) pasal ini. kepala daerah dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah .

kepala daerah menetapkan peraturan kepala daerah dan atau keputusan kepala daerah. (6) Jika dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah pcnangguhan itu tidak disusul dengan keputusan pembatalannya. (3) Pemerintah daerah wajib menyebarluaskan Perda yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah yang telah diundangkan dalam Berita Daerah. (7) Apabila Pemerintah tidak mengeluarkan Peraturan Presiden untuk membatalkan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Agung. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Perda dimaksud dinyatakan berlaku. (2) Peraturan Bersama yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (4) Menteri Dalam Negeri menetapkan Peraturan untuk melancarkan pelaksanaan kerjasama antar Pemerintah Daerah. tidak boleh melebihi 6 (enam) bulan dan sojak saat penangguhannya. (2) Peraturan kepala daerah dan atau keputusan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Perda. (3) Dalam hal tidak tercapai kata sepakat mengenai perubahan dan atau pencabutan yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan atau Lembaran Daerah yang bersangkutan. (5) Lamanya penangguhan yang dinyatakan dalam Keputusan yang dimaksud dalam ayat (4) pasal ini. dilarang bertentangan dengan kepentingan umum. (7) Keputusan mengenai pembatalan yang dimaksud dalam ayat-ayat (4) dan (6) pasal ini. demikian pula mengenai perubahan dan pencabutannya. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum.alasannya diberitahukan kepada Kepala Daerah yang bersangkutan dalam jangka waktu 2 (dua) minggu sesudah tanggal keputusan itu. maka Peraturan Daerah dan atau Keputusan-Kepala Daerah itu memperolah kembali kekuatan berlakunya. Pasal 146 (1) Untuk melaksanakan Perda dan atas kuasa peraturan perundang-undangan. maka pejabat yang berwenang mengambil keputusan. (6) Apabila keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikabulkan sebagian atau seluruhnya. Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang bersangkutan kehilangan kakuatan berlakunya. (2) Pengundangan Perda dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah dalam Berita Daerah dilakukan oleh Sekretaris Daerah. Pasal 65 (1) Beberapa Pemerintah Daerah dapat menetapkan Peraturan Bersama untuk mengatur kepentingan Daerahnya secara bersama-sama. . Pasal 147 (1) Perda diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah diundangkan dalam Berita Daerah.

18 Polisi Pamong Praja Pasal 86 Pasal 120 Pasal 148 • Dalam UU No. dan kewajiban Polisi pada ayat (1) berpedoman pada Peraturan diatur dengan Peraturan Pemerintah. Polisi Pamong Praja sebagaimana dimaksud dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (2) Pembentukan dan susunan organisasi Satuan wewenang Polisi Pamong Praja yang (2) Susunan organisasi. (2) Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun oleh pemerintahan daerah provinsi. formasi. dan arah pembangunan daerah yang mengacu . (3) Susunan organisasi dan formasi Daerah. Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. tugas. kedudukan. kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya yang dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. (2) Kedudukan. sesuai dengan ketentuan yang satuan Polisi Pamong Praja yang ditetapkan oleh Pemerintah. hak. 19 Perencanaan Pembangunan Daerah Pasal 150 (1) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah disusun perencanaan pembangunan daerah sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional. Pasal 149 dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja. (2) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut umum sesuai dengan peraturan perundangundangan.32 Tahun 2004 disebutkan (1) Untuk membantu Kepala Wilayah (1) Dalam rangka menyelenggarakan (1) Untuk membantu kepala daerah dalam bahwa anggota dari satua Polisi Pamong dalam menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban umum serta menegakkan Perda dan penyelenggaraan Praja dapat diangkat sebagai penyidik pemerintahan umum diadakan untuk menegakkan Peraturan Daerah ketertiban umum dan ketentraman masyarakat pegawai negeri sipil. misi. satuan Polisi Pamong Praja. Rencana pembangunan jangka panjang daerah disingkat dengan RPJP daerah untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun yang memuat visi. (3) Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). wewenang. (3) Dengan Perda dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda. disusun secara berjangka meliputi: a. hak dan sebagai perangkat Pemerintah Daerah. (1) Anggota Satuan Polisi Pamong Praja dapat ditetapkan oleh Menteri Dalam diangkat sebagai penyidik pegawai negeri sipil Negeri. tugas.

kebijakan. e. misi. prioritas pembangunan daerah. strategi pembangunan daerah. misi. b. c. (2) Renstra-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dirumuskan dalam bentuk rencana kerja satuan kerja perangkat . yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. selanjutnya disebut RKPD. merupakan penjabaran dari RPJM daerah untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. rencana kerja dan pendanaannya. dan program satuan kerja perangkat daerah. Rencana pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya disebut RPJM daerah untuk jangka waktu 5 (lima) tahun merupakan penjabaran dari visi. Pasal 151 (1) Satuan kerja perangkat daerah menyusun rencana stratregis yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD memuat visi. Rencana kerja pembangunan daerah. dan program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. tujuan. berpedoman pada RPJM Daerah dan bersifat indikatif. dengan mengacu kepada rencana kerja Pemerintah. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.kepada RPJP nasional. RPJP daerah dan RJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a dan b ditetapkan dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya. dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP daerah dengan memperhatikan RPJM nasional. d. lintas satuan kerja perangkat daerah. strategi. RPJM daerah sebagaimana dimaksud pada huruf b memuat arah kebijakan keuangan daerah. kebijakan umum.

dan i. organisasi dan tata laksana pemerintahan daerah. . d. dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. b. h. e. g. produk hukum daerah. penyelenggaraan pemerintahan daerah. informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah. kepala daerah. dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah yang berpedoman pada perundangundangan.daerah yang memuat kebijakan. informasi dasar kewilayahan. Pasal 153 Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152 disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. pengendalian. penganggaran. pelaksanaan. dan pengawasan. Pasal 154 Tahapan. c. keuangan daerah. pemanfaatan data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikelola dalam sistem informasi daerah yang terintegrasi secara nasional. (2) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. f. tata cara penyusunan. kependudukan. Pasal 152 (1) Perencanaan pembangunanan daerah didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. untuk tercapainya daya guna dan hasil guna. perangkat daerah. dan PNS daerah. DPRD. potensi sumber daya daerah. program. (3) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah.

dan hasil 2. dana perimbangan.Pasal 155 20 Keuangan Daerah Pasal 62 Pasal 78 (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang (1) Kepala Daerah menyelenggarakan (1) Penyelenggaraan tugas Pemerintah Daerah menjadi kewenangan daerah didanai dari dan pengurusan. penyimpanan. 21 Pendapatan. dan dan DPRD dibiayai dari dan atas beban atas beban anggaran pendapatan dan belanja pengawasan keuangan Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud (3) Selama belum ada Kas Daerah atau pada ayat (1) dilakukan secara terpisah dari Bank Pembangunan Daerah. surat bernilai uang dan atau barang (2) Dalam melaksanakan kekuasaan sebagaimana untuk kepentingan Daerah. hasil retribusi Daerah . dan terperinci mengenai Dana Alokasi Umum dan . 4. • Dalam UU No. pertanggungjawaban. menguji. pinjaman daerah (UU N0 22 Tahun 1999. Pendapatan berasal dari pemberian c. 3. yang a. lain-lain PAD yang sah. pengelolaan keuangan daerah. atas administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan permintaan Pemerintah Daerah. didanai dari dan atas beban anggaran (2) Uang Daerah disimpan pada Kas pendapatan dan belanja negara. dimaksud pada ayat (1). hasil retribusi daerah. lain-lain hasil usaha Daerah yang dipisahkan. lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah.32 Tahun 2004) sah.22 Tahun 1999 dan UU No. Pasal 55 Pasal 79 Pasal 157 • Terdapat perbedaan dalam pengaturan Belanja. Negara atau Bank Pemerintah tertentu untuk melaksanakan pekerjaan Pasal 156 mengenai penerimaan.32 tahun 2004. berdasarkan Peraturan Daerah dan (2) Penyelenggaraan tugas Pemerintah di (2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang peraturan perundang-undangan yang Daerah dibiayai dari dan atas beban menjadi kewenangan Pemerintah di daerah lebih tinggi. hasil perusahaan Daerah . hasil pajak daerah. 1. yaitu : a. (3) Pelimpahan sebagian atau seluruh kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didasarkan pada prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan. hasil retribusi Daerah. dan Sumber pendapatan Daerah adalah : Sumber pendapatan Daerah terdiri atas: Sumber pendapatan daerah terdiri atas: mengenai sumber pendapatan daerah dalam Pembiayaan Daerah a. yaitu: 2004 ditambahkan bahwa sumber pendapatan 1. Daerah atau Bank Pembangunan (3) Administrasi pendanaan penyelenggaraan Daerah. hasil perusahaan milik Daerah. b.. pelaporan dan pertanggungjawaban. serta pengawasan keuangan daerah kepada para pejabat perangkat daerah. daerah berasal dari dana perimbangan dan 2. diatur lebih b. dan UU No. dan yang menerima/mengeluarkan uang. daerah. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang untuk pinjaman daerah tidak disebutkan dalam 4. hasil pajak Daerah . kepala daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya yang berupa perencanaan. 2. (1) Kepala daerah adalah pemegang kekuasaan pembayaran atau penyerahan uang. Menteri pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat Keuangan dapat menugaskan Kas (2). dan dipisahkan. pendapatan asli Daerah. b. pengelolaan kekayaan Daerah yang 3. hasil pajak Daerah. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. pelaksanaan. dana perimbangan. pendapatan asli daerah yang selanjutnya UU No. disebut PAD. 3.32 Tahun terdiri dari : 1. Pendapatan asli Daerah sendiri. penatausahaan.

Negara dapat diserahkan kepada Daerah. perkebunan. perkotaan. peminjaman dari sumber dalam negeri pertambangan serta kehutanan. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21. e. kepada Pemerintah dan dilaksanakan c. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam kehutanan dan penerimaan dari sumber b. dan Pasal 29 wajib pajak orang oleh Pemerintah. dan perkebunan serta Bea berpedoman pada peraturan perundangPasal 58 Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. penghasil. ditetapkan dengan Undang-undang. 157 huruf a angka 4 ditetapkan dengan Perda perkotaan. pengesahan pejabat yang berwenang. lain-lain pendapatan daerah yang sah. sumbangan dari Pemerintah. Pasal sesuai dengan pedoman yang ditetapkan 25.Pasal 80 (1) retribusi daerah ditetapkan dengan Undangundangan . diterima oleh Daerah menurut cara yang diatur dalam penghasil dan Daerah lainnya untuk Pasal 160 Undang-undang dan tidak boleh berlaku pemerataan sesuai dengan peraturan (1) Dana Bagi Hasil sebagaimana dimaksud surut. (1) Dengan Undang-undang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf ketentuan pokok tentang pajak dan a. Pasal 157 huruf a angka 3 dan lain-lain PAD Perimbangan keuangan antara Pemerintah (2) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal dan Daerah diatur dengan Undang-undang. dan Bangunan sektor pertambangan serta a. dimaksud dalam Pasal 79. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor (1) Pemerintah Daerah dapat melakukan perdesaan. ayat (1) huruf a. Dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam (2) Dengan Peraturan Daerah ditetapkan (3) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi Pasal 157 huruf b terdiri atas: pungutan pajak dan retribusi Daerah. (3) Peminjaman dan sumber dana pinjaman (3) Dana Bagi Hasil yang bersumber dari sumber yang berasal dari luar negeri. undangan. yang Pasal 158 diatur dengan peraturan perundang. dan c. daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dengan persetujuan DPRD. Dana Alokasi Khusus. ayat (2). (1) Dana perimbangan. pinjaman Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri Daerah. dana alokasi khusus. sesuai dengan ketentuan iuran hak pengusahaan hutan (IHPH). Lain-lain pendapatan yang sah. dan Bangunan sektor perdesaan.Pemerintah yang terdiri dari : d. dan ayat (2) pasal ini berlaku sesudah ada daya alam. dalam Pasal 159 huruf a bersumber dari pajak (4) Pengembalian atau pembebasan pajak (4) Ketentuan lebih lanjut. (3) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang b. perundang-undangan. terdiri atas: lebih lanjut dengan Perda. dan ayat (2) Dana Bagi Hasil yang bersumber dari pajak dapat dilakukan berdasarkan Peraturan (3). Daerah dan atau retribusi Daerah hanya dimaksud pada ayat (1). pertambangan (2) Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan serta kehutanan. lain-lain pendapatan Daerah yang sah. Dana Alokasi Umum. dan dipisahkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 c. diterima langsung oleh Daerah Pasal 159 retribusi Daerah. 2. Dana Bagi Hasil. penerimaan dari sumber daya alam. perkotaan. sumbangan-sumbangan lain. (1) beras al dari: harus mendapatkan persetujuan a. Bea Perolehan Atas Hak Tanah dan membiayai kegiatan pemerintahan Bangunan (BPHTB) sektor perdesaan. dari: Pasal 81 a. Bea Perolehan pungutan atau dengan sebutan lain di luar Dengan Undang-undang sesuatu pajak Hak atas Tanah dan Bangunan. dana alokasi umum. sebagaimana Undang yang pelaksanaannya di daerah diatur c. sebagaimana dimaksud pada c. bagian Daerah dari penerimaan Pajak (2) Pemerintahan daerah dilarang melakukan Pasal 56 Bumi dan Bangunan. sebagaimana dan sumber daya alam. dan/atau dari sumber luar negeri untuk b. Dana Alokasi Khusus 1. . a. pribadi dalam negeri. perkebunan. Penerimaan kehutanan yang berasal dari Pemerintah. dan yang telah ditetapkan undang-undang.

ayat (3). dan ayat (5) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. b. ayat (4). f. iuran tetap dan iuran produksi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. Penerimaan perikanan yang diterima ditetapkan dengan Peraturan Daerah secara nasional yang dihasilkan dari sesuai dengan peraturan perundangpenerimaan pungutan pengusahaan undangan. perikanan dan penerimaan pungutan hasil perikanan. Pasal 161 (1) DAU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf b dialokasikan berdasarkan persentase tertentu dari pendapatan dalam negeri neto yang ditetapkan dalam APBN. ditetapkan oleh Pemerintah. e. (5) Dasar penghitungan bagian daerah dari daerah penghasil sumber daya alam ditetapkan oleh Menteri Teknis terkait setelah memperoleh pertimbangan Menteri Dalam Negeri.peraturan perundang-undangan. (4) Daerah penghasil sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (3). ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri berdasarkan pertimbangan dari menteri teknis terkait. sebagaimana dana reboisasi yang dihasilkan dari dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Penerimaan pertambangan umum yang berasal dari penerimaan iuran tetap Pasal 82 ( landrent ) dan penerimaan iuran (1) Pajak dan retribusi Daerah ditetapkan eksplorasi dan iuran eksploitasi ( royalty ) dengan Undang-undang. d. Penerimaan pertambangan panas bumi yang berasal dari penerimaan setoran bagian Pemerintah. Penerimaan pertambangan minyak yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. pemungutan pajak dan retribusi Daerah c. Penerimaan pertambangan gas alam yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. (2) DAU untuk suatu daerah ditetapkan berdasarkan kriteria tertentu yang menekankan pada aspek pemerataan dan keadilan yang . provisi sumber daya hutan (PSDH) dan (4) Tata cara peminjaman. ayat (2). yang dihasilkan dari wilayah daerah yang (2) Penentuan tarif dan tata cara bersangkutan. (6) Pelaksanaan ketentuan pada ayat (1). wilayah daerah yang bersangkutan.

dan DAK diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri. monitoring. dana bagi hasil sumber daya alam. supervisi. (2) Penyusunan kegiatan khusus yang ditentukan oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dikoordinasikan dengan Gubernur.selaras dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang formula dan penghitungan DAU-nya ditetapkan sesuai Undang-Undang. Pasal 162 (1) Dana Alokasi Khusus (DAK) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf c dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu dalam rangka pendanaan pelaksanaan desentralisasi untuk: a. mendanai kegiatan khusus yang diusulkan daerah tertentu. Mendanai kegiatan khusus yang ditentukan Pemmerintah atas dasar prioritas nasional. (2) Hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) . (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai DAK diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 164 (1) Lain-lain pendapatan daerah yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 huruf c merupakan seluruh pendapatan daerah selain PAD dan dana perimbangan. DAU. b. yang meliputi hibah. Pasal 163 (1) Pedoman penggunaan. (2) Pengaturan lebih lanjut mengenai pembagian dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf b ditetapkan dalam Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. dana darurat. dan evaluasi atas dana bagi hasil pajak. (3) Penyusunan kegiatan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan setelah dikoordinasikan oleh daerah yang bersangkutan. dan lain-lain pendapatan yang ditetapkan Pemerintah.

yang tidak mampu diatasi sendiri. penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan. (2) Perlindungan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar. (2) Tata cara pengajuan permohonan. (3) Pendapatan dana darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bantuan Pemerintah dari APBN kepada pemerintah daerah untuk mendanai keperluan mendesak yang diakibatkan peristiwa tertentu yang tidak dapat ditanggulangi APBD. Pasal 165 (1) Keadaan yang dapat digolongkan sebagai peristiwa tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 164 ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Presiden. dan/atau jasa yang berasal dari Pemerintah. sehingga mengancam keberadaannya sebagai daerah otonom. evaluasi oleh Pemerintah. . (3) Tata cara pengelolaan dan pertanggungjawaban penggunaan dana darurat diatur dalam Peraturan Pemerintah. pendidikan. dan pengalokasian dana darurat di atur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 166 (1) Pemerintah dapat mengalokasikan dana darurat kepada daerah yang dinyatakan mengalami krisis keuangan daerah. serta mengembangkan sistem jaminan sosial. dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri. fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak.merupakan bantuan berupa uang. Pasal 167 (1) Belanja daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22. barang. (2) Besarnya alokasi dana darurat ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan memperhatikan pertimbangan Menteri Dalam Negeri dan Menteri teknis terkait. masyarakat.

Pasal 169 (1) Untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah. penganggaran kewajiban pinjaman daerah . persyaratan bagi pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman. tolok ukur kinerja. b.(3) Belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempertimbangkan analisis standar belanja. lembaga keuangan bank. lembaga keuangan bukan bank. pemerintah daerah lain. Pasal 170 (1) Pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang berasal dari penerusan pinjaman hutang luar negeri dari Menteri Keuangan atas nama Pemerintah setelah memperoleh pertimbangan Menteri Dalam Negeri. (2) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya mengatur tentang: a. standar harga. Pasal 171 (1) Ketentuan mengenai pinjaman daerah dan obligasi daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Belanja pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 168 (1) Belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (2) Pemerintah daerah dengan persetujuan DPRD dapat menerbitkan obligasi daerah untuk membiayai investasi yang menghasilkan penerimaan daerah. dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari Pemerintah. dan masyarakat. (2) Perjanjian penerusan pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan antara Menteri Keuangan dan kepala daerah.

pembayaran bunga dan pokok obligasi. pengelolaan obligasi daerah yang mencakup pengendalian risiko. persyaratan penerbitan obligasi daerah. f. (2) Pengaturan tentang dana cadangan daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. pemerintah daerah lain. c. pelunasan dan penganggaran dalam APBD.yang jatuh tempo dalam APBD. e. . Pasal 173 (1) Pemerintah daerah dapat melakukan penyertaan modal pada suatu Badan Usaha Milik Pemerintah dan/atau milik swasta. pengenaaan sanksi dalam hal pemerintah daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjaman kepada Pemerintah. serta lembaga keuangan bukan bank dan masyarakat. d. dikurangi. (3) Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dijual kepada pihak lain. Pasal 172 (1) Pemerintah daerah dapat membentuk dana cadangan guna membiayai kebutuhan tertentu yang dananya tidak dapat disediakan dalam satu tahun anggaran. dan/atau dapat dialihkan kepada badan usaha milik daerah. penjualan dan pembelian obligasi. (2) Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditambah. lembaga perbankan. serta pengelolaan dan pertanggungjawabannya. (3) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurangkurangnya mengatur pers yaratan pembentukan dana cadangan. tata cara pelaporan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman setiap semester dalam tahun anggaran berjalan.

dan/atau kemudahan kepada masyarakat fiskal dan non fiskal tetapi dalam (2) Ketentuan. tersebut diatur dalam Peraturan Daerah tidak lagi dituangkan dalam Peraturan Pemerintah. (2) Pemerintah daerah wajib melaporkan posi-si surplus/defisit APBD kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan setiap semester dalam tahun anggaran berjalan. c.22 Surplus dan Defisit APBD - Pasal 174 • Hal ini merupakan materi baru yang tidak (1) Dalam hal APBD diperkirakan surplus. penyertaan modal (investasi daerah). sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu. b. Pasal 175 (1) Menteri Dalam Negeri melakukan pengendalian defisit anggaran setiap daerah. prasana.32 tahun 2004 23 Pemberian Insentif dan Kemudahan Investasi • Materi tentang pemberian insentif dan Pasal 83 Pasal 176 kemudahan investasi ada perubahan bahwa (1) Untuk mendorong pemberdayaan Daerah. b. Pemerintah dapat melakukan penundaan atas penyaluran dana perimbangan. transfer ke rekening dana cadangan. pembayaran cicilan pokok utang yang jatuh tempo. (2) Surplus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan untuk: a. 5 Tahun penggunaannya ditetapkan dalam Perda tentang APBD. berupa penyediaan sarana. (3) Dalam hal pemerintah daerah tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2). 1974 dan UU No. Pemerintah daerah dalam meningkatkan dalam UU No. dapat didanai dari sumber pembiayaan daerah yang ditetapkan dalam Perda tentang APBD. dan hal Pemerintah. diatur sebelumnya dalam UU No. pinjaman daerah.32 Tahun 2004 disebutkan Pemerintah memberi insentif fiskal dan perekonomian daerah dapat memberikan insentif bahwa insentif tidak hanya berupa insentif nonfiskal tertentu. dan d. (3) Dalam hal APBD diperkirakan defisit. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. . c. ditetapkan dengan Peraturan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. transfer dari dana cadangan. (4) Pembiayaan daerah sebagaimana di-maksud pada ayat (3) bersumber dari: a. sebagaimana dimaksud pada dan/atau investor yang diatur dalam Perda dengan penjelasannya disebutkan insentif tersebut ayat (1).

dan dengan ketentuan peraturan perundangkecuali apabila ditentukan lain dalam c. . b. dibebani hak tanggungan. tindakan hukum lain mengenai barang undangan. menetapkan keputusan mengenai : dapat dijual. dijadikan tanggungan. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini.Penghapusan tagihan daerah sebagian atau pihak lain. efektivitas. mengenai berdasarkan kebutuhan daerah. dan (3) pasal ini. diserahkan haknya kepada digadaikan. 25 Pasal 63 Pasal 85 Pengelolaan Barang Daerah (1) Barang milik Daerah yang dipergunakan • UU No. diserahkan haknya kepada pihak lain. dan transparansi menetapkan Keputusan tentang : dengan mengutamakan produk dalam a. sesuai dengan kemampuan keuangan dan (3) Dengan persetujuan Dewan Perwakilan kebutuhan daerah berdasarkan prinsip Rakyat Daerah Kepala Daerah dapat efisiensi. undangan. perdata secara damai. usia pakai. dan/atau pembubarannya ditetapkan dilakukan berdasarkan azas ekonomi Daerah. atau digadaikan. penggabungan. dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. berlaku peraturan perundang-undangan. Keputusan Kepala Daerah yang milik Daerah. (2) Barang milik daerah dapat dihapuskan dari . dijadikan tanggungan atau dan/atau dipindahtangankan. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. perundang-undangan.Tindakan hukum lain mengenai barang milik daftar inventaris barang daerah untuk dijual. penghapusan tagihan Daerah negeri sesuai dengan peraturan perundangsebagian atau seluruhnya . persetujuan penyelesaian sengketa daerah dihibahkan. dan/atau dimusnahkan sesuai hanya dapat dilakukan dimuka umum. (2) Dengan Undang-undang ditetapkan ketentuan pokok tentang Perusahaan Daerah. tindakan hukum lain. b. dimaksud pada ayat (2) dilakukan c. dengan Perda yang berpedoman pada peraturan perusahaan. (3) Pelaksanaan pengadaan barang dilakukan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. pelepasan penyelenggaraan dan pembinaannya dan pembentukannya diatur dengan Peraturan kepemilikan. a. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. kecuali dengan Keputusan (2) Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD seluruhnya digadaikan sesuai dengan ketentuan Kepala Daerah dengan persetujuan dapat menetapkan keputusan tentang: .24 Pasal 59 BUMD Pasal 84 Pasal 177 (1) Pemerintah Daerah dapat mengadakan Daerah dapat memiliki Badan Usaha Milik Daerah Pemerintah daerah dapat memiliki BUMD yang Perusahaan Daerah yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan pembentukan. persetujuan penyelesaian perkara (4) Pelaksanaan penghapusan sebagaimana perdata secara damai . 32 tahun 2004 menghapuskan (1) Barang milik daerah yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umum tidak melayani kepentingan umum tidak dapat wewenang dari kepala daerah untuk untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijual. sesudah ada pengesahan Mendagri Pasal 178 (1) Barang milik Daerah yang digunakan untuk . Pasal 60 (1) Dengan Peraturan Daerah dapat diadakan usaha-usaha sebagai sumber pendapatan Daerah. dan nilai ekonomis yang (4) Keputusan yang dimaksud dalam ayatdilakukan secara transparan sesuai dengan ayat (1). barang. penghapusan tagihan Daerah secara damai (2) Penjualan dan penyerahan yang sebagian atau seluruhnya. mutu barang milik atau hak Daerah .Persetujuan penyelesaian sengketa perdata peraturan perundang-undangan. (2).

(3) Dengan Peraturan Daerah. Belanja Daerah. setelah ditetapkan Anggaran Peraturan Daerah selambat-lambatnya tiga (2) Berdasarkan prioritas dan plafon anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk bulan setelah berakhirnya tahun anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tahun anggaran tertentu. dimaksud pada ayat (2) dilakukan selambat(8) Dengan Peraturan Pemerintah diatur lambatnya 1 (satu) bulan sebelum tahun ketentuan-ketentuan tentang cara: anggaran dilaksanakan.32 Tahun 2004 seperti adanya (2) Dengan Peraturan Daerah. maka Pemerintah Daerah Presiden melalui Menteri Dalam Negeri penyusunan rancangan Perda tentang menggunakan anggaran tahun bagi Pemerintah Propinsi untuk diketahui. a. pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Pendapatan dan Belanja Negara untuk (2) Perubahan Anggaran Pendapatan dan Pasal 180 kepada DPRD berupa laporan keuangan tahun anggaran tertentu. Belanja Daerah pada permulaan tahun (5) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (3) Rencana kerja dan anggaran satuan kerja anggaran yang bersangkutan belum yang telah ditetapkan dengan Peraturan perangkat daerah sebagaimana dimaksud mendapat pengesahan dari pejabat Daerah disampaikan kepada Gubernur bagi pada ayat (2) disampaikan kepada pejabat yang berwenang dan belum Pemerintah Kabupaten/Kota dan kepada pengelola keuangan daerah sebagai bahan diundangkan. tiap tahun. penyusunan Anggaran (4) Atas dasar persetujuan DPRD sebagaiPendapatan dan Belanja Daerah. dan Belanja Daerah ditetapkan dengan pendekatan berdasarkan prestasi kerja yang (4) Apabila Anggaran Pendapatan dan Peraturan Pemerintah. kepala satuan kerja perangkat daerah perhitungan atas Anggaran Pendapatan (4) Pedoman tentang penyusunan. akan dicapai. dan pengawasan Pasal 181 (5) Pemerintah Daerah wajib berusaha keuangan Daerah serta tata cara (1) Kepala daerah mengajukan rancangan Perda mencukupi anggaran belanja rutin penyusunan Anggaran Pendapatan dan tentang APBD disertai penjelasan dan dengan pendapatan sendiri. plafon anggaran sebagai dasar penyusunan setelah tahun anggaran berakhir. perubahan. dilaksanakan sesudah ada peraturan perundang-undangan. ditetapkan dengan Peraturan Daerah daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran No. (3) Perhitungan Anggaran Pendapatan dan rencana kerja dan anggaran satuan kerja selambat-lambatnya 6 (enam) bulan Belanja Daerah ditetapkan dengan perangkat daerah. pelaksanaan tata usaha dokumen-dokumen pendukungnya kepada (6) Anggaran Pendapatan dan Belanja keuangan Daerah dan penyusunan DPRD untuk memperoleh persetujuan Daerah serta perubahannya. sebelumnya sebagai dasar pengurusan (6) Pedoman tentang pengurusan. tiap tahun. ditetapkan Belanja Daerah ditetapkan dengan (1) Kepala daerah dalam penyusunan rancayang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Anggaran Pendapatan dan Belanja Peraturan Daerah selambat-lambatnya tiga ngan APBD menetapkan prioritas dan Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan Daerah. bulan sebelum tahun anggaran berakhir. serta prioritas dan plafon Pendapatan dan Belanja Daerah oleh anggaran. tidak dikuasakan sendiri oleh Anggaran Belanja Daerah ditetapkan sesuai dengan (2) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud itu. mana dimaksud pada ayat (3). rancangan Perda tentang setelah ditetapkan Anggaran Belanja Negara. sepanjang perhitungan Anggaran Pendapatan dan bersama. pejabat yang berwenang dapat (3) Pengambilan keputusan DPRD untuk medilakukan pos demi pos atau secara nyetujui rancangan Perda sebagaimana keseluruhan. selambat-lambatnya satu bulan setelah terhitung mulai 1 Januari sampai dengan tanggal 31 kewajiban Kepala daerah menyampaikan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Desember. APBD tahun berikutnya. ditetapkan yang bersangkutan. pada ayat (1) dibahas pemerintah daerah pengesahan pejabat yang berwenang. bersama DPRD berdasarkan kebijakan (7) Pengesahan atau penolakan Anggaran umum APBD. kepala . pertanggungjawaban. menyusun rencana kerja dan anggaran dan Belanja Daerah tahun anggaran dan perhitungan Anggaran Pendapatan satuan kerja perangkat daerah dengan sebelumnya. keuangannya.26 APBD Pasal 64 Pasal 86 Pasal 179 • Materi mengani Aggaran Pendapatan dan (1) Tahun anggaran Daerah adalah sama (1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan Belanja Daerah diatur lebih rinci dalam UU dengan tahun anggaran Negara.

c. daerah menyiapkan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD dan rancangan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah.b. pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan Daerah. b. Pasal 184 (1) Kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. dan antarjenis belanja. disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD. (9) Dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri diatur lebih lanjut cara melaksanakan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (8) pasal ini. keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi. (3) Pengambilan keputusan mengenai rancangan Perda tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh DPRD paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir. keadaan yang menyebabkan sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan dalam tahun anggaran berjalan. antarkegiatan. penyusunan permtungan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Pasal 182 Tata cara penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah serta tata cara penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada peraturan perundangundangan. Pasal 183 (1) Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi: a. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum APBD. (2) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud . (2) Pemerintah daerah mengajukan rancang-an Perda tentang perubahan APBD. dan c. pengurusan.

(5) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Gubernur dan DPRD. yang dilampiri dengan laporan keuangan badan usaha milik daerah. dan catatan atas laporan keuangan. (3) Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 185 (1) Rancangan Perda provinsi tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Gubernur paling lambat 3 (tiga) hari disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud. laporan arus kas. Gubernur menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Gubernur.pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi laporan realisasi APBD. dan Gubernur tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur . (3) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan yang ditetapk an dengan Peraturan Pemerintah. Gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. neraca. (4) Apabila Menteri Dalam Negeri menyata-kan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. Menteri Dalam Negeri membatalkan Perda dan Peraturan Gubernur dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. Pasal 186 (1) Rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama 3 (tiga) hari disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi. Bupati/Walikota menetapkan ran-cangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. Gubernur .tentang penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Gubernur. (3) Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (5) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota dan DPRD. Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya hasil evaluasi. (4) Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (2) Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda kabupaten/kota dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 188 Proses penetapan rancangan Perda tentang . kepala daerah melaksanakan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBD tahun anggaran sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan yang disusun dalam rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD. (4) Apabila dalam batas waktu 30 (tiga puluh) hari Menteri Dalam Negeri atau Gubernur tidak mengesahkan rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (6) Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri.membatalkan Perda dan Peraturan Bupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. kepala daerah menetapkan rancangan peraturan kepala daerah dimaksud menjadi peraturan kepala daerah. rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD beserta lampirannya disampaikan paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak DPRD tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan Perda tentang APBD. (3) Untuk memperoleh pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan Gubernur bagi kabupaten/kota. Pasal 187 (1) Apabila DPRD sampai batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 181 ayat (3) tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD.

(3) Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada anggaran belanja daerah jika untuk pengeluaran tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam APBD. dan pejabat daerah . Pasal 191 Dalam rangka evaluasi pengelolaan keuangan daerah dikembangkan sistem informasi keuangan daerah yang menjadi satu kesatuan dengan sistem informasi pemerintahan daerah. Pasal 192 (1) Semua penerimaan dan pengeluaran pemerintahan daerah dianggarkan dalam APBD dan dilakukan melalui rekening kas daerah yang dikelola oleh Bendahara Umum Daerah. pimpinan DPRD. berlaku Pasal 185 dan Pasal 186. wakil kepala daerah. Pasal 186. (4) Kepala daerah. retribusi daerah. dan tata ruang daerah menjadi Perda. Pasal 189 Proses penetapan rancangan Perda yang berkaitan dengan pajak daerah. dan untuk tata ruang daerah dikoordinasikan dengan menteri yang membidangi urus an tata ruang. dan Pasal 187.Perubahan APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD menjadi Perda dan peraturan kepala daerah berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185. diterbitkan surat keputusan otorisasi oleh kepala daerah atau surat keputusan lain yang berlaku sebagai surat keputusan otorisasi. dengan ketentuan untuk pajak daerah dan retribusi daerah dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Menteri Keuangan. Pasal 190 Peraturan kepala daerah tentang Penjabaran APBD dan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD dijadikan dasar penetapan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah. (2) Untuk setiap pengeluaran atas beban APBD.

sebagian atau seluruhnya. 27 Pemerintahan Desa Pasal 88 Pasal 93 Pasal 202 • UU No. yang merupakan Pemerintahan Pasal 202 ayat (1) dipilih langsung oleh dan dari Desa. jabatan kepala desa dimaksud pada ayat (1).22 Tahun 1999 mengatur secara (2) Pembentukan. penghapusan tagihan daerah. bunga atas penempatan uang di bank. (2) Bunga deposito. pelaporan. DPRD.lainnya. pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan daerah diatur lebih lanjut dengan Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah.32 tahun 2004 merubah ketentuan Pengaturan tentang Pemerintahan Desa (1) Desa dapat dibentuk. Pasal 194 Penyusunan.undang digabung dengan memperhatikan asaldan perangkat desa. dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja daerah untuk tujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam APBD. dan/atau ayat (2) diisi dari pegawai negeri sipil yang lebih rinci mengenai syarat dan tata cara penggabungan Desa. penduduk desa warga negara Republik Indonesia yang syarat selanjutnya dan tata cara Pasal 95 pemilihannya diatur dengan Perda yang . dan/atau (1) Pemerintah desa terdiri atas kepala desa yang terdapat dalam UU No. dan b. mengenai masa jabatan Kepala Daerah dari usulnya atas prakarsa masyarakat dengan (2) Perangkat desa terdiri dari sekretaris desa sepuluh tahun menjadi enam tahun. Pasal 94 Pasal 203 Di Desa dibentuk Pemerintah Desa dan Badan (1) Kepala desa sebagaimana dimaksud dalam Perwakilan Desa. (3) Sekretaris desa sebagaimana dimaksud pada • UU No.22 Tahun 1999 ditetapkan dengan Undang. ditetapkan dengan Peraturan Daerah. dihapus. penatausahaan. persetujuan Pemerintah Kabupaten dan dan perangkat desa lainnya. penyelesaian masalah Perdata. (3) Kepala daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan peraturan tentang : a. jasa giro. sebagaimana memenuhi persyaratan. dan/atau bunga atas investasi jangka pendek merupakan pendapatan daerah. Pasal 193 (1) Uang milik pemerintahan daerah yang sementara belum digunakan dapat didepositokan dan/atau diinvestasikan dalam investasi jangka pendek sepanjang tidak mengganggu likuiditas keuangan daerah. pelaksanaan. penghapusan.

Bupati/Walikota paling lambat 30 (tiga b. (2) Sebelum memangku jabatannya. Yang dapat dipilih menjadi Kepala Desa adalah penduduk Desa warga negara Republik Indonesia Pasal 205 dengan syarat-syarat: (1) Kepala desa terpilih dilantik oleh a. berkelakuan baik. Indonesia”. sebagai kepala desa. memenuhi syarat-syarat lain yang desa mencakup: sesuai dengan adat istiadat yang diatur (1) urusan pemerintahan yang sudah ada . daerah. adat setempat yang ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturan Pasal 96 Pemerintah. dan adil. terbanyak dalam pemilihan kepala desa (2) Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1). akan selalu taat dalam mengamalkan dan f. bersumpah/berjanji bahwa saya akan d. Masa jabatan kepala desa adalah 6 (enam) tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk 1 (satu) kali Pasal 97 masa jabatan berikutnya. tidak pernah terlibat langsung atau tidak desa mengucapkan sumpah/janji. (3) Calon Kepala Desa yang terpilih dengan (3) Pemilihan kepala desa dalam kesatuan mendapatkan dukungan suara terbanyak. sejujurberpengetahuan yang sederajat. keputusan pengadilan yang mempunyai dan Negara Kesatuan Republik kekuatan hukum tetap. jujur. Undang-Undang Dasar 1945 serta i. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di Desa setempat. G30S/PKI dan/atau “Demi Allah (Tuhan). Masa jabatan Kepala Desa paling lama sepuluh tahun atau dua kali masa jabatan terhitung sejak Pasal 204 tanggal ditetapkan. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. langsung dalam kegiatan yang (3) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud mengkhianati Pancasila dan Undangadalah sebagai berikut: Undang Dasar 1945. dan seadil-adilnya. kepala c. dan bahwa saya akan jiwa/ingatannya. masyarakat hukum adat beserta hak sebagaimana dimaksud pada ayat (2). bahwa saya e. saya kegiatan organisasi terlarang lainnya. mempertahankan Pancasila sebagai g. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan dan m. tradisionalnya sepanjang masih hidup dan yang ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan diakui keberadaannya berlaku ketentuan hukum disahkan oleh Bupati. jujurnya. Undang-Undang Dasar 1945. sehat jasmani dan rohani. nyata-nyata tidak terganggu dasar negara. menegakkan kehidupan demokrasi dan h. ditetapkan Desa dari calon yang memenuhi syarat. setia dan taat kepada Pancasila dan puluh) hari setelah pemilihan. perundang-undangan dengan selurusj. Pasal 206 l. atau yang disebut dengan nama lain dan (2) Calon kepala desa yang memperoleh suara perangkat Desa. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan lurusnya yang berlaku bagi desa. k. tidak pernah dihukum penjara karena melaksanakan segala peraturan melakukan tindak pidana. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah memenuhi kewajiban saya selaku kepala Lanjutan Tingkat Pertama dan/atau desa dengan sebaik-baiknya.(1) Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa berpedoman kepada Peraturan Pemerintah. berumur sekurang-kurangnya 25 tahun.

dasar negara. Pasal 101 Tugas dan kewajiban Kepala Desa adalah : a. (3) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud (4) urusan pemerintahan lainnya yang oleh adalah sebagai berikut : peraturan perundang-perundangan diserahkan "Demi Allah (Tuhan). dan seadil-adilnya. kabupaten/kota. Pasal 99 Kewenangan Desa mencakup : a. serta sumber daya manusia. sarana dan mempertahankan Pancasila sebagai dan prasarana. pemerintah jujurnya. Pemerintah Propinsi. bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Kepala Pasal 207 Desa dengan sebaik-baiknya. (2) urusan pemerintahan yang menjadi Pasal 98 kewenangan kabupaten/kota yang (1) Kepala Desa dilantik oleh Bupati atau diserahkan pengaturannya kepada desa. dan/atau pemerintah Desa mengucapkan sumpah/janji. dalam Peraturan Daerah. b. (3) tugas pembantuan dari Pemerintah. saya kepada desa. Pasal 100 Tugas Pembantuan dari Pemerintah. Tugas Pembantuan dari Pemerintah. dan c. dan/atau Pemerintah Kabupaten kepada Desa disertai dengan pembiayaan. Daerah. Republik Indonesia. dan Negara Kesatuan Pemerintah. dan/atau pemerintah kabupaten/kota akan selalu taat dalam mengamalkan kepada desa disertai dengan pembiayaan. . Kepala pemerintah provinsi. Pemerintah Propinsi. dan/atau Pemerintah Kabupaten. sarana dan prasarana. memimpin penyelenggaraan Pemerintah Desa.Tugas pembantuan dari Pemerintah. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Pasal 208 Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Tugas dan kewajiban kepala desa dalam memimpin konstitusi negara serta segala peraturan penyelenggaraan pemerintahan desa diatur lebih perundang-undangan yang berlaku bagi lanjut dengan Perda berdasarkan Peraturan Desa. pejabat lain yang ditunjuk. kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul Desa. (2) Sebelum memangku jabatannya. bahwa saya provinsi.berdasarkan hak asal-usul desa. sejujur. serta sumber daya manusia. kewenangan yang oleh peraturan perundang-perundangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh Daerah dan Pemerintah.

sebagaimana dimaksud pada ayat (1). bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa b. b. menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati. (1) Anggota badan permusyawaratan desa adalah wakil dari penduduk desa . tidak lagi memenuhi syarat dan/atau melanggar sumpah/ janji. b. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Kepala Desa : a. d.32 Tahun 2004 terdapat Badan Perwakilan Desa atau yang disebut Badan Permusyawaratan Desa berfungsi perubahan istilah dari lembaga perwakilan dengan nama lain berfungsi mengayomi adat menetapkan peraturan desa bersama kepala desa. berakhir masa jabatan dan telah dilantik Kepala Desa yang baru. dan mewakili Desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. Pasal 103 (1) Kepala Desa berhenti karena : a. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101. menampung menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku dan/atau norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Desa. mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. desa dan diatur mengenai pembatasan dan menyalurkan aspirasi masyarakat. meninggal dunia. (2) Pemberhentian Kepala Desa. 28 Badan Permusyawaratan Desa dan Lembaga Lainnya Pasal 104 Pasal 209 • Dalam UU No. membina perekonomian Desa. desa menjadi lembaga permusyawaratan istiadat. dan e. dilakukan oleh Bupati atas usul Badan Perwakilan Desa. membuat Peraturan Desa.membina kehidupan masyarakat Desa. serta masa jabatan dari anggota Badan melakukan pengawasan terhadap Pasal 210 Permusyawaratan Desa. c. Pasal 102 Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban.

2. dari dan oleh anggota. hasil usaha Desa. 5. bagian dari perolehan pajak dimaksud pada ayat (2) terdiri atas: dan retribusi Daerah. tahun dan dapat dipilih lagi untuk 1 (satu) kali (4) Pelaksanaan Peraturan Desa ditetapkan masa jabatan berikutnya. bantuan dari Pemerintah Kabupaten belanja dan pengelolaan keuangan desa. yang meliputi : (3) Sumber pendapatan desa sebagaimana 1. pada ayat (1) menimbulkan pendapatan. pusat dan daerah yang diterima oleh c. maupun berupa barang yang dapat dijadikan Usaha Milik Desa. uang. pemerintah . pendapatan asli Desa yang meliputi (1) Keuangan desa adalah semua hak dan Tahun 2004 pinjaman desa bukan lagi : kewajiban desa yang dapat dinilai dengan termasuk dalam sumber pendapatan desa 1. hasil kekayaan Desa. lain-lain pendapatan asli Desa (2) Hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud yang sah. Pasal 211 (1) Di desa dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan yang ditetapkan dengan peraturan desa dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. 3. hasil gotong royong. pendapatan asli desa. serta segala sesuatu baik berupa uang dan diatur secara lebih rinci mengenai Badan 2.32 a. bagian dari dana perimbangan keuangan Kabupaten. dipilih dari dan oleh anggota badan (2) Pimpinan Badan Perwakilan Desa dipilih permusyawaratan desa. hasil swadaya dan partisipasi. dan a. b. Pemerintah Propinsi. Peraturan Desa.Pasal 105 bersangkutan yang ditetapkan dengan cara (1) Anggota Badan Perwakilan Desa dipilih dari musyawarah dan mufakat. dengan Keputusan Kepala Desa. bantuan dari Pemerintah. bagian dari dana perimbangan b. d. dan oleh penduduk Desa yang memenuhi (2) Pimpinan badan permusyawaratan desa persyaratan. bantuan dari Pemerintah dan kabupaten/kota. (3) Masa jabatan anggota badan (3) Badan Perwakilan Desa bersama dengan permusyawaratan desa adalah 6 (enam) Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa. yang diterima oleh Pemerintah c. (2) Lembaga kemasyarakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas membantu pemerintah desa dan merupakan mitra dalam memberdayakan masyarakat desa. milik desa berhubung dengan pelaksanaan hak 4. (4) Syarat dan tata cara penetapan anggota dan Pasal 106 pimpinan badan permus yawaratan desa Di Desa dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai diatur dalam Perda yang berpedoman pada dengan kebutuhan Desa dan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan dan kewajiban. bagi hasil pajak daerah dan retribusi keuangan Pusat dan Daerah daerah kabupaten/kota. 29 Keuangan Desa Pasal 107 • Terdapat perbedaan mengenai sumber Pasal 212 (1) Sumber pendapatan Desa terdiri atas : pendapatan desa dimana dalam UU No.

dan undangan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Badan usaha milik desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan. (3) Badan usaha milik desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melakukan pinjaman sesuai peraturan perundangundangan. Desa menetapkan Anggaran Pendapatan (5) Pengelolaan keuangan desa sebagaimana dan Belanja Desa setiap tahun dengan dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh kepala Peraturan Desa. (2) Sumber pendapatan Desa. e. desa yang dituangkan dalam peraturan desa (4) Pedoman penyusunan Anggaran tentang anggaran pendapatan dan belanja Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan desa. undangan. sumbangan dari pihak ketiga. oleh Bupati. pelaksanaan. desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa. dan pemerintah kabupaten/kota. (6) Pedoman pengelolaan keuangan desa (5) Tata cara dan pungutan objek pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan belanja Desa ditetapkan bersama ditetapkan oleh Bupati/Walikota dengan antara Kepala Desa dan Badan Perwakilan berpedoman pada peraturan perundangDesa. Bupati/Walikota melalui camat. (2) Untuk pelaksanaan kerja sama. dan ayat (3) ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan kewenangannya. ayat (2). (4) Untuk pelaksanaan kerja sama. dikelola melalui ayat (2) digunakan untuk mendanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Pasal 110 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga dilakukan sesuai dengan peraturan perundangyang merencanakan pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah permukiman. hibah dan sumbangan dari pihak ketiga. penyelenggaraan pemerintahan desa dan (3) Kepala Desa bersama Badan Perwakilan pemberdayaan masyarakat desa. e. dalam perencanaan. sebagaimana (4) Belanja desa sebagaimana dimaksud pada dimaksud pada ayat (1). (2) Kerjasama antar desa dan desa dengan pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dapat dibentuk Badan Kerja Sama. dan provinsi. 30 Kerja Sama Desa Pasal 109 Pasal 214 (1) Beberapa Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan Desa yang diatur dengan keputusan bersama dan diberitahukan kepada Camat. dan jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Des a dan Badan Perwakilan Desa dapat dibentuk badan kerja sama. (3) Kerjasama desa dengan pihak ketiga (1) Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan desa yang diatur dengan keputusan bersama dan dilaporkan kepada .d. industri. pinjaman Desa. Pasal 108 Pasal 213 Desa dapat memiliki badan usaha sesuai dengan (1) Desa dapat mendirikan badan usaha milik peraturan perundang-undangan.

koordinasi pemerintahan antarsusunan pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan.32 Tahun 2004 memfasilitasi penyelenggaraan Otonomi pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Daerah. kepentingan masyarakat desa. atau provinsi. Pemerintah yang meliputi : (2) Pedoman mengenai pembinaan dan a. dan adat istiadat desa. perencanaan. wajib mengakui dan menghormati hak. pemantauan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kabupaten. supervisi. pada ayat (1). d. belas hari setelah ditetapkan. Otonomi Daerah ditetapkan dengan b. kelestarian lingkungan hidup. asal-usul. penelitian. c. dan Pasal 113 konsultasi pelaksanaan urusan Dalam rangka pengawasan. dan kepada Pemerintah selambat-lambatnya lima e. e. dan adat c. keserasian kepentingan antar kawasan dan kepentingan umum. asal-usul. tata laksana. istiadat Desa.pengawasannya. pelaksanaan. menghormati hak. wajib mengakui dan b. dan Keputusan Kepala Daerah disampaikan d. pelaksanaan urusan pemerintahan. regional. pemberian pedoman dan standar Peraturan Pemerintah. Perda. (2) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan secara berkala pada tingkat nasional. (2) Perda. Peraturan Daerah pemerintahan. Pemerintah (1) Pembinaan atas penyelenggaraan rinci dalam UU No. 31 Pembinaan dan Pengawasan Pemerintahaan Daerah • Materi mengenai Pembinaan dan Pasal 112 Pasal 217 Pengawasan Daerah diatur secara lebih (1) Dalam rangka pembinaan. pendidikan dan pelatihan. pemberian bimbingan. dengan memperhatikan: (2) Peraturan Daerah. sesuai dengan pedoman (2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dimaksud pada ayat (1) diatur dengan berdasarkan undang-undang ini. Pasal 215 (1) Pembangunan kawasan perdesaan yang Pasal 111 dilakukan oleh kabupaten/kota dan atau (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai Desa pihak ketiga mengikutsertakan pemerintah ditetapkan dalam Peraturan Daerah desa dan badan permusyawaratan desa. (3) Pemberian pedoman dan standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b mencakup aspek perencanaan. dan evaluasi pelaksanaan urusan pemerintahan. pengembangan. kewenangan desa. . Pasal 216 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai desa ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. sebagaimana dimaksud a. kelancaran pelaksanaan investasi.

kualitas. perangkat daerah. kepala desa. perangkat daerah. (5) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilaksanakan secara berkala bagi kepala daerah atau wakil kepala daerah. dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dilaksanakan secara berkala ataupun sewaktu-waktu dengan memperhatikan susunan pemerintahan. dan masyarakat. baik secara menyeluruh kepada seluruh daerah maupun kepada daerah tertentu sesuai dengan kebutuhan. . Pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. pengendalian dan pengawasan. kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah.pendanaan. penelitian. PNS daerah. anggota DPRD. pegawai negeri sipil daerah. (6) Perencanaan. (4) Pemberian bimbingan. pemantauan. dan kepala desa. supervisi dan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilaksanakan secara berkala dan/atau sewaktuwaktu. Pasal 218 (1) Pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi: a. pengembangan. (7) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dan huruf e dapat dilakukan kerja sama dengan perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian. Pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. Pasal 219 (1) Pemerintah memberikan penghargaan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. (2) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada pemerintahan daerah. (2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan oleh aparat pengawas intern Pemerintah sesuai peraturan perundang-undangan. anggota DPRD. anggota badan permusyawaratan desa. b.

Presiden mengenai: dewan yang bertugas memberikan saran dan akan tetapi dalam Undang-undang ini . kepala daerah atau wakil kepala daerah. anggota DPRD. Pasal 223 Pedoman pembinaan dan pengawasan yang meliputi standar. Presiden dapat membentuk suatu Dewan Perimbangan Otonomi Daerah. prosedur. perangkat daerah. (3) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan desa dikoordinasikan oleh Bupati/Walikota. dan kepala desa. (2) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada pemerintahan daerah.32 Tahun 2004 tidak (1) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (1) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan disebutkan lagi mengenai anggota dari bertugas memberikan pertimbangan kepada daerah. PNS daerah.Pasal 220 (1) Sanksi diberikan oleh Pemerintah dalam rangka pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. (2) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota dikoordinasikan oleh Gubernur. norma. dan sanksi diatur dalam Peraturan Pemerintah. 32 Pertimbangan dalam Kebijakan Otonomi Daerah Pasal 115 Pasal 224 • Dalam UU No. Pasal 222 (1) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 dan Pasal 218 secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. penghargaan. (4) Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat melimpahkan kepada camat. Pasal 221 Hasil pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 dan Pasal 218 digunakan sebagai bahan pembinaan selanjutnya oleh Pemerintah dan dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa Keuangan.

dan pemekaran daerah. Otonomi Daerah. penghapusan dan kewenangan tertentu. perhitungan bagian masing-masing menteri lain sesuai dengan kebutuhan. bertanggung jawab kepada Presiden. kemampuan Daerah Kabupaten dan rancangan kebijakan: Daerah Kota untuk melaksanakan a. perimbangan keuangan Pusat dan bertugas memberikan saran dan pertimbangan Daerah. Menteri Sekretaris Negara. pembentukan. (3) Dewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) (6) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. pertimbangan terhadap kebijakan otonomi diatur lebih rinci mengenai tugas dari dewan penggabungan. . 3. DAK masing-masing daerah untuk (4) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah setiap tahun anggaran berdasarkan mengadakan rapat sekurang-kurangnya satu besaran pagu DAK dengan kali dalam enam bulan. DPRD . dan kepada Presiden antara lain mengenai c. Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dibantu oleh Kepala Sekretariat yang membawahkan Bidang Otonomi Daerah dan Bidang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. sumber daya alam sesuai dengan dan wakil-wakil Daerah yang dipilih oleh peraturan perundang-undangan. tersebut. kawasan khusus. Menteri dan pemerintahan daerah. 1. susunan organisasi keanggotaan dan tata laksananya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pasal 116 Presiden. pembentukan. yang meliputi: Keuangan. sebagaimana penggabungan daerah serta pembentukan dimaksud dalam Pasal 11. (2) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah b. Daerah. 2. menggunakan kriteria sesuai dengan (5) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah peraturan perundangan. (2) Dewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) b. formula dan perhitungan DAU masing(3) Menteri Dalam Negeri dan Menteri masing daerah berdasarkan besaran Keuangan karena jabatannya adalah Ketua pagu DAU sesuai dengan peraturan dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan perundangan. penghapusan. daerah atas dana bagi hasil pajak dan perwakilan Asosiasi Pemerintah Daerah.a. perimbangan keuangan antara Pemerintah terdiri atas Menteri Dalam Negeri.