MATRIKS PERBANDINGAN UNDANG-UNDANG NO.5 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK PEMERINTAHAN DI DAERAH , UNDANG-UNDANG NO.

22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DAN UNDANG-UNDANG NO.32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
NO UNDANG-UNDANG NO.5 TAHUN 1974 UNDANG-UNDANG NO.22 TAHUN 1999 UNDANG-UNDANG NO.32 TAHUN 2004 KETERANGAN TENTANG POKOK-POKOK TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DI DAERAH (sudah tidak berlaku) (sudah tidak berlaku) Menimbang • Untuk mengganti Undang-Undang No. • Untuk mengganti Undang-Undang No. 5 • Untuk mengganti Undang-Undang No. 22 Tahun • Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang tidak Pemerintahan Daerah merupakan Pemerintahan Daerah (Lembaran Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang sesuai lagi dengan perkembangan Keadaan, pengganti dari Undang-Undang No.22 Negara Tahun 1965 Nomor 83; tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan Tahun 1999 tentang Pemerintahan Derah. Tambahan Lembaran Negara Nomor Daerah dan Undang-Undang No. 5 Tahun otonomi daerah • Undang-Undang No. Tahun 22 Tahun 1999 2778). 1979 tentang Pemerintahan Desa, karena tentang Pemerintahan Daerah merupakan tidak sesuai lagi dengan prinsip pengganti dari Undang Undang No.5 Tahun penyelenggaraan otonomi daerah, keadaan 1979 tentang Pemerintahan Desa dan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. 2. Mengingat • Pasal 5 ayat (1), 18, dan 20 Ayat (1) • Pasal 1 ayat (1), Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, • Pasal 1, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 18, Pasal 18 A, UUD RI Tahun 1945; dan Pasal 20 ayat (1) UUD 1945; Pasal 18 B, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22 D, • Ketetapan MPR RI No. IV/MPR/1973 • Ketetapan MPR- RI No. X/MPR/1998 tentang Pasal 23E ayat (2), Pasal 24A ayat (1), Pasal 31 tentang GBHN ; Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan dalam ayat (4), Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945; Rangka Penyelamatan dan Normalisasi • UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara • Ketapan MPR RI No. V/MPR/1973 tentang Peninjauan Produk-Produk Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara; Negara yang Bersihdan Bebas dari Korupsi, yang berupa Ketatapan-Ketatapan • Ketetapan MPR-RI No XI/MPR/1998 tentang Kolusi dan Nepotismo • UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan MPRS-RI; • UU No. 10 Tahun 1964 tentang Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme; Negara • Ketetapan MPR-RI No XV/MPR/1998 tentang • UU No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan Pernyataan daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya sebagai Ibukota Negara Penyelenggaraan Otonomi Daerah; Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Republik Indonesia dengan nama Pengaturan, Pembagian dan Pemanfaatan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Jakarta; Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan; Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah • UU Nomor 6 Tahun 1969 tentang serta Perimbangan Keuangan Pusat dan • UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Pernyataan tidak berlakunya berbagai Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Negara Undang-Undang dan Peraturan Republik Indonesia; • UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan • UU Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan Pemerintah Pengganti UndangPeraturan Perundang-undangan Undang; dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan

1.

Penyelenggara Negara yang Bersih dan

• UU Nomor 16 tahun 1969 tentang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) • UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Susunan dan Kedudukan MPR, DPR Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan dan DPRD; Negara

3

Pengertian

Pasal 1 1. Pemerintah Pusat;

Terdapat Semua pengertian yang terdapat dalam Terdapat semua pengertian yang terdapat dalam Selain adanya tambahan pengertian-pengertian UU No.5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan UU N0. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan yang secara teknis digunakan dalam 2. Desentralisasi; Daerah, akan tetapi terdapat penabahan, Daerah, akan tetapi terdapat beberapa perubahan Pemerintahan Daerah, terdapat juga perbedaan 3. Otonomii Daerah; Pengurangan dan perubahan, yaitu: dan penambahan pengertian, yaitu : pendefinisian tentang : 4. Tugas Pembantuan; • Pejabat yang berwenang (perubahan) • Pejabat yang berwenang (perubahan) ; Pejabat yang berwenang : 5. Derah Otonom; • Urusan Pemerintahan Umum • Kawasan Perkotaan (perubahan) • dalam UU Nomor 5 Tahun 1974, Pejabat Yang 6. Dekonsentrasi; Berwenang adalah pejabat yang berwenang (pengurangan): • Kawasan Pedesaan ( perubahan) 7. Wilayah Administratip; • Polisi Pamong Praja (pengurangan); mensahkan, membatalkan dan • Pemerintah Desa (penambahan) 8. Instansi Vertikal; menangguhkan Peraturan Daerah atau • Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Badan Perwakilan Desa (penambahan) ; 9. Pejabat yang Berwenang; Keputusan Kepala Daerah, yaitu Mendagri • Dewan Perwakilan Rakyat Daerah • Perimbangan Keuangan antara Pemerintah 10. Urusan Pemerintahan Umum; bagi Daerah Tingkat I dan Gubernur Kepala (penambahan); Daerah (penambahan) ; 11. Polisi Pamong Praja; Daerah bagi daerah Tingkat II, sesuai • Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Dana Perimbangan (penambahan) ; 12. Investasi. peraturan perundang-perundangan yang • Kecamatan (penambahan) ; • Keuangan Daerah (penambahan) berlaku ; • Kelurahan (penambahan) ; • APBD (penambahan) ; • dalam UU No 22 Tahun 1999 Pejabat Yang • Desa (penambahan) ; • Pendapatan Daerah (penambahan) ; Berwenang adalah , pejabat Pemerintah di • Kawasan Perdesaan (penambahan) ; • Belanja Daerah (penambahan) ; tingkat Pusat dan atau pejabat Pemerintah di • Kawasan Perkotaan (penambahan). • Pembiayaan (penambahan) Daerah Propinsi yang berwenang membina • Pinjaman Daerah (penambahan) dan mengawasi penyelenggaraan • Kawasan Khusus (penambahan) ; Pemerintahan Daerah • Bakal calon Kepala Daerah dan Wakil • dalam UU No 32 Tahun 2004 Pejabat Yang Kepala Daerah (penambahan) ; Berwenang adalah Pejabat Pemerintah yang • Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil berwenang mengesahkan atau menyetujui, Kepala Daerah (penambahan) ; menangguhkan dan membatalkan kebijakan • Komisi Pemilihan Umum Daerah daerah dan/atau mengangkat, (penambahan); memberhentikan, mengesahkan, menyetujui, • Panitia Pemilihan Kecamatan membina dan mengawasi pelaksana (penambahan); penyelenggaraan Pemerintah Daerah • Kampanye pemilihan kepala daerah dan dan/atau pejabat pemerintah pada wakil kepala daerah (penambahan) pemerintahan Daerah Provinsi yang berwenang membina dan mengwasai pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah Kabupaten dan Kota. UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberikan pengertian yang lebih lengkap dan jelas dari Undang-Undang sebelumnya sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.

4 Pembagian Wilayah Pasal 2 Pasal 2 Pasal 2 : • Dalam UU No.5 tahun 1974 mengenai Pembagian Wilayah : Pembagian Wilayah : Negara Kesatuan republik Indonesia dibagi atas pembagian wilayah diuraikan secara lebih Dalam menyelenggarakan Pemerintahan, (1). Wilayah Negara Kesatuan Republik daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu lanjut dalam pasal-pasal dan ayat-ayat wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi, dibagi atas kabupaten dan kota yang masingtersendiri dibagi dalam Daerah-Daerah Otonom dan Daerah Kabupaten, dan Daerah Kota masing mempunyai pemerintahan daerah. Wilayah-Wilayah Administratip. yang bersifat otonom. Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 72 (2). Daerah Propinsi berkedudukan juga ayat (1) mengatur dan mengurus sendiri urusan (1) Dalam rangka pelaksanaan azas sebagai Wilayah Administrasi. pemerintah menurut asas otonomi dan tugas dekonsentrasi, wilayah Negara pembantuan. Kesatuan Republik Indonesia dibagi Pasal 3 dalam Wilayah-wilayah Propinsi dan Ibu Wilayah Daerah Propinsi, sebagaimana dimaksud kota Negara. dalam Pasal 2 ayat (1), terdiri atas wilayah darat (2) Wilayah Propinsi dibagi dalam Wilayahdan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang wilayah Kabupaten dan Kota madya. diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan

.
(3) Wilayah Kabupaten dan Kotamadya atau ke arah perairan kepulauan dibagi dalam Wilayah-wilayah Kecamatan. (4) Apabila dipandang perlu sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya, dalam Wilayah Kabupaten dapat dibentuk Kota Administratip yang pengaturannya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 73 Apabila dipandang perlu, Menteri Dalam Negeri dapat menunjuk Pembantu Gubernur, Pembantu Bupati atau Pembantu Walikotamadya yang mempunyai wilayah kerja tertentu dalam rangka dekonsentrasi. Pasal 74 (1) Nama dan batas Daerah Tingkat I adalah sama dengan nama dan batas Wilayah Propinsi atau Ibukota Negara. (2) Nama dan batas Daerah Tingkat II adalah sama dengan nama dan batas Wilayah Kabupaten atau Kotamadya. (3) Ibukota Daerah Tingkat I adalah ibukota Wilayah Propinsi. (4) Ibukota Daerah Tingkat II adalah ibukota Wilayah Kabupaten. Pasal 75 Dengan tidak mengurangi ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 74 Undang-undang

daerah atau lebih sebagaimana dimaksud nyata dan bertanggunggjawab. dan pertimbangan lebih. dalam rangka pelaksanaan asas Perkembangan dan pengembangan otonomi Kota yang berwenang mengatur dan (2) Undang-undang pembentukan daerah sedesentralisasi. secara lebih terperinci dan jelas mengani keamanan nasional berdasarkan aspirasi masyarakat. ibukota. serta perangkat kemampuan ekonomi. kewenangan menyelenggarakan syarat-syarat pembentukan suatu daerah (2) Daerah-daerah sebagaimana dimaksud urusan pemerintahan. dan ibukota pada ayat (3) dapat dilakukan setelah (2) Pembentukan nama. nama. cakupan wilayah. batas. adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota (3) Kriteria tentang penghapusan. dan penghapusan Wilayah Umumnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. dn tujuan dari pembentukan Pasal 4 pada ayat (1). perubahan Pasal 5 Undang-Undang. jumlah dari satu daerah menjadi dua daerah atau pembinaan kestabilan politik dan penduduk. nama. perubahan nama dan pemindahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). peralatan. serta rekomendasi dihapus dan atau digabung dengan Daerah Menteri Dalam Negeri. persetujuan DPRD provinsi menyelenggarakan Otonomi Daerah dapat induk dan Gubernur. daerah otonom tresbut. ibukota. penyelenggaraan pemerintahan. dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat Daerah. penunjukan penjabat otonom. luas Daerah. nama Daerah. (3) Syarat administratif sebagaimana dimaksud (2) Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi satu Daerah. dan Daerah undang-undang. masing-masing berdiri sendiri kepala daerah. persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Pasal 6 Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan (1) Daerah yang tidak mampu wilayah provinsi. lain. 34 Tahun 2004 diatur ekonomi. sosial-budaya. jumlah daerah. kesatuan Bangsa dalam rangka lain yang memungkinkan terselenggaranya (4) Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) pelaksanaan Otonomi Daerah yang Otonomi Daerah. dan fisik kewilayahan. pertahanan dan Pasal 5 (3) Pembentukan daerah dapat berupa pengkemanan nasional dan syarat-syarat (1) Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan gabungan beberapa daerah atau bagian lain yang memungkinkan Daerah kemampuan ekonomi. administratif. selanjutnya didasarkan pada kondisi politik. maka pembentukan. teknis. (1) Daerah dibentuk dengan dan tidak mempunyai hubungan hierarki pengalihan kepegawaian. serta perubahan nama dan (3) Perubahan batas yang tidak pemindahan ibukota Daerah ditetapkan (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud mengakibatkan penghapuan suatu dengan Peraturan Pemerintah. . pengisian keanggotaan DPRD. penduduk. pangkal Daerah yang dimaksud pada (3) Perubahan batas yang tidak mengakibatkan ayat (1) pasal ini. memperhatikan syarat-syarat satu sama lain. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencapai batas minimal usia hak dan wewenang urusan serta modal ditetapkan dengan Undang-Undang. daerah yang bersandingan atau pemekaran melaksanakan pembangunan. 5 Pembentukan dan Pasal 3 Pasal 4 Pasal 4 • Ketiga undang-undang tersebut Susunan daerah Dalam rangka pelaksanaan asas (1) Dalam rangka pelaksanaan asas (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud menyebutkan secara tegas bahwa otonom desentralisasi dibentuk dan disusun Daerah Desentralisasi dibentuk dan disusun Daerah dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan pembentukan daerah otonom dlakukan Tingkat I dan Daerah Tingkat II Propinsi. sosial-politik. batas. mengurus kepentingan masyarakat bagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain • Dalam UU No. (2) Syarat administratif sebagaimana dimaksud ibukotanya ditetapkan dengan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. pada ayat (1) untuk provinsi meliputi adanya Peraturan Daerah. batas. sebutan. dan dokumen. luas daerah. sosial-budaya serta pertahanan dan setempat menurut prakarsa sendiri mencakup nama. ibukota.ini. (2) Pembentukan. perubahan nama daerah. potensi Daerah. serta (4) Syarat-syarat pembentukan Daerah. ditetapkan dengan penghapusan suatu Daerah. Daerah Kabupaten. batas. pendanaan.

potensi dengan Undang-undang daerah. dan pemekaran Daerah. Pasal 7 (1) Penghapusan dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) beserta akibatnya ditetapkan dengan undang-undang. sosial budaya. dan prasarana pemerintahan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan persetujuan DPRD provinsi dan Gubernur ayat (2). ditetapkan dengan Peraturan serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. . kependudukan. perubahan nama daerah. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. Pasal 6 (1) Daerah dapat dihapus dan digabung dengan daerah lain apabila daerah yang bersangkutan tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah. sarana. (5) Syarat fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentuk an provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk pembentukan kabupaten. (2) Penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. (2) Perubahan batas suatu daerah. penggabungan dan ayat (1) meliputi faktor yang menjadi dasar pemekaran Daerah. sebagaimana dimaksud pembentukan daerah yang mencakup pada ayat (1) dan ayat (2). dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota. lokasi calon ibukota. (3) Pedoman evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. luas daerah.penggabungan. ditetapkan faktor kemampuan ekonomi. pemberian nama bagian rupa bumi serta perubahan nama. sosial politik. pertahanan. dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. atau pemindahan ibukota yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pemerintah. keamanan. (4) Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada (4) Penghapusan.

dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. meliputi kebijakan . Pemerintah mengikutsertakan daerah yang bersangkutan. ayat (3). Pasal 8 agama. yang menjadi kewenangan Propinsi dan (2) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan yang menjadi kewenangan daerah sebagaimana Kabupaten/Kota. pertahanan keamanan. Pasal 9 (1) Untuk menyelenggarakan fungsi pemerintahan tertentu yang bersifat khusus bagi kepentingan nasional. ayat (2).(3) Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan atas usul dan persetujuan daerah yang bersangkutan. peradilan. Kewenangan bidang lain. Pasal 10 (1). 5 Penyelenggaraan Pasal 7 Pasal 7 Otonomi Daerah Daerah berhak. sebagaimana (1). dan ayat (5) diatur dalam Peraturan Pemerintah. moneter dan fiskal. pemerintahan daerah bidang politik luar negeri. kecuali kewenangan dalam • UU No 22 Tahun 1999 dan UU No. kecuali urusan pemerintahan • UU No 32 Tahun 2004 disebutkan secara yang oleh Undang-Undang ini ditentukan tegas pembagian urusan pemerintahan menjadi urusan Pemerintah. Pemerintah dapat menetapkan kawasan khusus dalam wilayah provinsi dan/atau kabupaten/kota. serta kewenangan bidang lain. (2) Fungsi pemerintahan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Perdagangan bebas dan/atau pelabuhan bebas ditetapkan dengan undang-undang. (4) Untuk membentuk kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). Penambahan penyerahan urusan pemerintahan kepala Daerah dimaksud pada ayat (1). (2). berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku. 32 Tahun 2004 mengatur lebih rinci mengenai (1) Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan. (5) Daerah dapat mengusulkan pembentukan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Pemerintah. penghapusan. ayat (4). Pasal 5. (3) Fungsi pemerintahan tertentu selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah . kewenangannya. Pasal 8 Tata cara pembentukan. dan Pasal 6 diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan mengatur pula dimaksud pada ayat (1). (6) Tata cara penetapan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pemerintah Daerah Tingkat I dapat kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah. Kewenangan Propinsi sebagai Daerah a. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pada Daerah Tingkat II Otonom mencakup kewenangan dalam pemerintahan. Pemberian urusan tugas pembantuan nasional yang tersedia di wilayahnya dan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) bertanggung jawab memelihara kelestarian merupakan pelaksanaan hubungan kewenangan antara Pemerintah dan dan (2) pasal ini. disertai dengan lingkungan sesuai dengan peraturan pembiayaanya. (1) Daerah berwenang mengelola sumber daya (2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan (3). pemerintahan daerah provinsi. sistem administrasi negara dan tugas pembantuan. serta kewenangan pemerintahan kepada Gubernur selaku diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pemerintah dapat: (1). akuntabilitas. atau lainnya. Pemerintah menyelenggarakan tentang hal-hal yang dimaksud dalam manusia sesuai dengan kewenangan yang sendiri atau dapat melimpahkan sebagian pasal 4. Pasal 10 desentralisasi harus disertai dengan (4) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada (1). pengendalian pembangunan nasional mengatur dan mengurus sendiri urusan pusat dan pemerintah daerah.Otonom termasuk juga kewenangan yang pemerintahan desa berdasarkan asas tugas undangan. Titik berat Otonomi Daerah diletakkan (1). a. bidang pemerintahan yang dilimpahkan berdasarkan kriteria eksternalitas. kembali dengan peraturan perundang. disertai perangkat. Kewenangan Propinsi sebagai Wilayah Pasal 11 tugas pembantuan. diserahkan kepada Daerah dapat ditarik c. dan efisiensi dengan menugaskan kepada Pemerintah memperhatikan keserasian hubungan antar Daerah Tingkat II untuk melaksanakan Pasal 10 susunan pemerintahan. pertahanan. Penambahan penyerahan urusan yang secara makro. kabupaten dan . Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat pendayagunaan sumber daya alam serta (1) meliputi: Pasal 9 teknologi tinggi yang strategis. (2). moneter dan fiskal nasional. (1). urusan tugas pembantuan. alat perlengkapan lembaga perekonomian negara. urusan pemerintahan kepada perangkat dibentuk Dewan Otonomi Daerah. Peraturan mengenai Dewan dilimpahkan kepada Gubernur dalam rangka atau dapat menugaskan kepada pemerintahan Pertimbangan Otonomi Daerah dekonsentrasi harus disertai dengan daerah dan/atau pemerintahan desa.Pasal 8 d. keamanan. Daerah untuk melaksanakan urusan (3). pembinaan (3) Urusan pemerintahan yang menjadi urusan dan sumber pembiayaannya. kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada Pasal 11 Pasal 9 ayat (3). pertimbangan kepada presiden sarana dan prasarana. Kewenangan Pemerintahan yang Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah (2). dan pemberdayaan sumber daya manusia.5. politik luar negeri. diserahkan kepada Daerah dalam rangka f. perundang-undangan. dana perimbangan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. b. Dengan Peraturan Daerah. undangan yang setingkat. melimpahkan sebagian urusan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini Kabupaten dan Kota. dalam bidang pemerintahan tertentu wakil Pemerintah. menugaskan sebagian urusan kepada Pasal 12 (2). menugaskan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. c. Kewenangan Propinsi sebagai Daerah pemerintahan daerah dan/atau (1). Pelaksanaan ketentuan yang bidang pemerintahan yang bersifat lintas b. (2). yustisi. (2). Kewenangan Pemerintahan yang e. Dengan peraturan perundang. serta sumber daya ayat (3). keuangan. Sesuatu urusan pemerintahan yang telah dan standardisasi nasional. Untuk memberikan pertimbangan – penyerahan dan pengalihan pembiayaan.ditetapkan dengan Peraturan tentang perencanaan nasional dan menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengenai hubungan antara pemerintah Pemerintah. ditetapkan dengan Peraturan pembiayaan sesuai dengan kewenangan (5) Dalam urusan pemerintahan yang menjadi Perundang-undangan yang dilimpahkan tersebut.8 dan 9 Undang-Undang ini diserahkan tersebut. Pemerintah dapat tidak atau belum dapat dilaksanakan pembantuan. konservasi. agama. Administrasi mencakup kewenangan dalam (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan dibagi (2).

eksploitasi.(2) Kewenangan Daerah di wilayah laut. a. penanggulangan masalah sosial lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal kabupaten/kota. prasarana. tugas pembantuan disertai pembiayaan. tergantung. penegakan hukum terhadap peraturan (4) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang yang dikeluarkan oleh Daerah atau yang bersifat wajib yang berpedoman pada standar dilimpahkan kewenangannya oleh pelayanan minimal dilaksanakan secara Pemerintah. saling terkait. penyediaan sarana dan prasarana umum. penanaman modal. pendidikan dan kebudayaan. 9 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. kota atau antarpemerintahan daerah yang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. diselenggarakan berdasarkan kriteria b. d. dan kesehatan. tenaga kerja. Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan g. pengawasan tata ruang. kepada Gubernur disertai dengan pendanaan sesuai dengan urusan yang Pasal 11 didekonsentrasikan. pertanahan. h. (1). Pasal 13 i. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 12 (3) Kewenangan Daerah Kabupaten dan (1) Urusan pemerintahan yang diserahkan Daerah Kota di wilayah laut. ketentraman masyarakat. perencanaan dan pengendalian dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan pembangunan. pemanfaatan. perhubungan. eksplorasi. fasilitasi pengembangan koperasi. perencanaan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) (2) Urusan pemerintahan yang dilimpahkan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. f. dan sinergis sebagai meliputi : satu sistem pemerintahan. dan menengah termasuk lintas Daerah tugas-tugas tertentu dalam rangka kabupaten/kota. penyelenggaraan pendidikan dan alokasi Pasal 12 sumber daya manusia potensial. pengaturan kepentingan administratif. e. urusan dalam skala provinsi yang meliputi: (2). pertanian. koperasi. dan (3) Urusan pemerintahan yang menjadi pengelolaan kekayaan laut sebatas kewenangan pemerintahan daerah. Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota. bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. industri dan c. adalah sejauh pendanaan. yang wilayah laut tersebut. dan bertahap dan ditetapkan oleh Pemerintah. atas urusan wajib dan urusan pilihan. j. sebagaimana kepada daerah disertai dengan sumber dimaksud pada ayat (2). serta kepegawaian sesuai dengan (4) Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan urusan yang didesentralisasikan. usaha (1) Pemerintah dapat menugaskan kepada kecil. pengaturan tata ruang. e. lingkungan hidup. terdiri c. pengalihan sarana dan sepertiga dari batas laut Daerah Propinsi. b. Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan Pasal 13 pemerintahan selain kewenangan yang (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur pemerintahan daerah provinsi merupakan dalam Pasal 9. penyelenggaraan ketertiban umum dan perdagangan. pengendalian lingkungan hidup. Bidang pemerintahan yang wajib a. konservasi. penanganan bidang kesehatan. dan d. .

sarana dan prasarana. i. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. dan pengawasan tata ruang. Pasal 14 (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi: a. perencanaan dan pengendalian pembangunan. pelayanan kependudukan. penyediaan sarana dan prasarana umum. pelayanan administrasi umum Pemerintah. kekhasan. sebagaimana dimaksud n. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. perundang-undangan o. m. pelayanan pertanahan termasuk lintas manusia dengan kewajiban melaporkan kabupaten/kota. serta sumber daya k. penanganan bidang kesehatan. pelayanan pertanahan. o. l. pelayanan bidang ketenagakerjaan. d. g. pelayanan kependudukan. penyelenggaraan pendidikan. pelayanan administrasi penanaman modal pada ayat (1). pemanfaatan. usaha kecil dan menengah. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya. j. dan catatan sipil. pelayanan administrasi penanaman modal. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundangundangan. pemerintahan. dan catatan sipil. fasilitasi pengembangan koperasi. penanggulangan masalah sosial. ditetapkan dengan peraturan termasuk lintas kabupaten/kota. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. k. (2) Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. e. f. mempertanggungjawabkannya kepada m. c. (2) Setiap penugasan. pengendalian lingkungan hidup. perencanaan. pelayanan administrasi umum pemerintahan. b. dan . h. n. pelaksanaannya dan l.

Pasal 12. pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah. b. Pasal 13 dan Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. (2) Hubungan dalam bidang keuangan antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. kekhasan. Pasal 15 (1) Hubungan dalam bidang keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah. c. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. d.p. pembiayaan bersama atas kerja sama antardaerah. (2) Urusan pemerintahan kabupaten/kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama. (3) Hubungan dalam bidang keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. Pasal 16 . b. dan c. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. Pasal 11. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10.

penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. pengelolaan perizinan bersama bidang pelayanan umum. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. pe-ngendalian dampak. kewenangan. dan c. b. kewenangan. (3) Hubungan dalam bidang pelayanan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. pemeliharaan. kerja sama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah.tanggungjawab. dan c.(1) Hubungan dalam bidang pelayanan umum antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. dan c. (2) Hubungan dalam bidang pelayanan umum antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. tanggung jawab. pemanfaatan. b. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan penentuan standar pelayanan minimal. dan pelestarian. fasilitasi pelaksanaan kerja sama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. Pasal 17 (1) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya ant ara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. b. budidaya. (2) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: .

eksplorasi. pengaturan tata ruang. dan f. b. (4) Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk provinsi dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota. Pasal 18 (1) Daerah yang memiliki wilayah laut diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. konser-vasi. penegakan hukum terhadap pera-turan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. eksploitasi. b. kerja sama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah. (2) Daerah mendapatkan bagi hasil atas pengelolaan sumber daya alam di bawah dasar dan/atau di dasar laut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. c. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. d. (3) Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. e. pengelolaan perizinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. dan pengelolaan kekayaan laut. dan c. (3) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. pengaturan administratif. .a. ikut serta dalam pemeliharaan keamanan.

asas kepastian hukum. Pasal 20 (1) Penyelenggaraan pemerintahan berpedoman pada Asas Umum Penyelenggaraan Negara yang terdiri atas: a. h. asas tertib penyelenggara negara.(5) Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil. asas profesionalitas. c. asas efisiensi. dan i. dan dekonsentrasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemerintahan daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. (7) Pelaksanaan ketentuan sebagai-mana dimaksud pada ayat (1). f. kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antar 2 (dua) provinsi tersebut. g. dan untuk kabupaten/kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. dan ayat (5) diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan 6 Penyelenggara Pasal 13 Pasal 19 Pemerintahan (1) Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. tugas pembantuan. yang menyelenggarakan otonomi daerah (2) Penyelenggara pemerintahan daerah adalah pemerintah daerah dan DPRD. 32 Tahun 2004 mengatur mengenai (1) Penyelenggara pemerintahan adalah Presiden asas umum dalam penyelenggaraan negara dibantu oleh 1 (satu) orang wakil Presiden. ayat (4). b. ayat (3). . asas akuntabilitas. asas keterbukaan. asas proporsionalitas. (6) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) tidak berlaku terhadap penangkapan ikan oleh nelayan kecil. d. (3) Dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. e. • UU No. asas kepentingan umum. Pemerintah menggunakan asas desentralisasi. asas efektivitas. (2) Dalammenyelenggarakan pemerintahan Daerah dibentuk Sekretariat Daerah dan Dinas-dinas Daerah. (2) Dalam menyelenggarakan pemerintahan. dan hak dan kewajiban dari setiap daerah dan oleh menteri negara.

b. f. Pasal 22 Dalam menyelenggarakan otonomi. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. kesatuan dan kerukunan nasional. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. l. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. dan h. c. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. e. m. g. j. i. b. mewujudkan keadilan dan pemerataan. mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya. mengelola kekayaan daerah. melestarikan lingkungan hidup. memilih pimpinan daerah. k. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. daerah mempunyai kewajiban: a. daerah mempunyai hak: a. mengelola aparatur daerah. mengembangkan sistem jaminan sosial. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. memungut pajak daerah dan retribusi daerah. n. d. c. g.Pasal 21 Dalam menyelenggarakan otonomi. menjaga persatuan. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. mengembangkan kehidupan demokrasi. e. melestarikan nilai sosial budaya. dan . d. f. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. h. mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah. mengelola administrasi kepen-dudukan. melindungi masyarakat. mendapatkan hak lainnya yang di-atur dalam peraturan perundang-undangan. mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah.

adil. dan taat pada peraturan perundang-undangan. Pembatasan masa jabatan Wilayah: DPRD sesuai dengan pedoman yang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan Dalam UU No 5 Tahun 1974 dan UU No a. Kepala ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib (5) Kepala daerah dan wakil kepala daerah 2. Undang-Undang Dasar Negara daerah tingkat II. Pasal 23 (1) Hak dan kewajiban daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 22 diwujudkan dalam bentuk rencana kerja pemerintahan daerah dan dijabarkan dalam bentuk pendapatan. kepala daerah tingkat II. Propinsi dan Ibukota Negara disebut (1) Kepala Daerah Propinsi disebut Gubernur. kepala daerah ádalah 30 tahun Dalam menjalankan tugasnya. cita-cita 1999 dan UU No 32 syarat minimum . Kabupaten disebut Bupati. ayat (1) dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah tingkat I dan 30 tahun bagi calon b. belanja. (2) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan daerah. Negara. akuntabel. yang bersangkutan . adalah warga negara Republik Indonesia yang Dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1974 c. ditetapkan oleh Pemerintah. dan untuk Dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1974 a. kota disebut walikota. Kota Administratip bertanggung jawab (5) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. ayat (3) dipilih dalam satu pasangan secara 22 Tahun 1999 tidak ada pembatasan Kepala Wilayah Kabupaten atau (4) Dalam kedudukan sebagai wakil Pemerintah.o. wakil Pemerintah. Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah 3. (1) Kepala Daerah Kabupaten disebut Bupati. pada ayat (3) untuk provinsi disebut wakil Undang-Undang No 32 Tahun 2004 (3) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. Gubernur (4) Wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud Undang-Undang No 22 Tahun 1999 dan d. calon kepala daerah diantaranya: oleh seorang Wakil Kepala Daerah. bertak wa kepada Tuhan Yang Maha Esa. ádalah Sarjana bagi calon kepala daerah Wilayah Propinsi yang bersangkutan . Undang No 32 Tahun 2004 terdapat yang bersangkutan jawab kepada Presiden. Pasal 58 dalam jabatan yang sama kepada Kepala Wilayah Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Propinsi atau Ibukota Negara (2) Kepala Daerah Kota disebut Walikota. dijelaskan bahwa umur minimum kepala Gubernur. Kotamadya disebut Wahkotamadya. kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. langsung oleh rakyat di daerah yang masa jabatan sedangkan dalam UndangKotamadya atau Kota Administratip Gubernur berada di bawah dan bertanggung bersangkutan. Gubernur. 1. (2) Kepala daerah sebagaimana di-maksud pada Pasal 77 ayat (1) untuk provinsi disebut Gubernur. Kecamatan bertanggungjawab kepada ditetapkan oleh Pemerintah. Daerah sebagai kepala eksekutif yang dibantu daerah yang disebut kepala daerah. sedangkan dalam c. sebagai Kepala Daerah. setia kepada Pancasila sebagai Dasar Tingkat I dan SMU bagi calon kepala d. Kota Administratip disebut Walikota. untuk kabupaten disebut wakil mensyaratkan bahwa umur minimum calon Pasal 78 sebagaimana dimaksud pada ayat (2). 7 Kepala Daerah Pasal 76 Pasal 30 Pasal 24 • Dalam ketiga undang-undang tersebut Setiap Wilayah dipimpin oleh seorang Kepala Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala (1) Setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah terdapat perbedaan mengenai syarat-s yarat Wilayah. bertanggung jawab kepada DPRD Propinsi. tertib. patut. Pembatasan umur minimum Kepala Wilayah : Pasal 31 untuk kabupaten disebut bupati. Kabupaten atau Kotamadya memenuhi syarat: disebutkan bahwa minimum pendidikan bertanggung jawab kepada Kepala Pasal 32 a. Dalam UU No 22 Tahun bertanggung jawab kepada Presiden (3) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan Republik Indonesia Tahun 1945. bupati dan untuk kota disebut wakil walikota. efektif. pembatasan masa jabatan adalah 2 kali b. yang karena jabatannya adalah juga sebagai (3) Kepala daerah sebagaimana di-maksud pada daerah hádala 35 tahun bagi calon kepala b. Pembatasan minimum pendidikan. b. dan pembiayaan daerah yang dikelola dalam sistem pengelolaan keuangan daerah. Kecamatan disebut Camat. transparan. (2) Pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara efisien.

taqwa kepada Tuhan Yang Maha Undang-Undang Dasar 1945 yang dinyatakan telah memperoleh kekuatan hukum tetap. d. mempunyai kepribadian dan l. Pemerintah . berdasarkan PANCASILA dan melakukan tindak pidana. berumur sekurang-kurangnya 35 menghormati kedaulatan rakyat. a. tidak pernah dihukum penjara karena keuangan negara.melalui Menteri Dalam Negeri. diancam dengan pidana penjara paling Yang dapat diangkat menjadi Kepala Daerah c. berumur sekurang-kurangnya tiga puluh j. Undang Dasar 1945. kesatuan dan tidak terpisahkan. pajak f. a. j. berwibawa . tidak pernah dijatuhi pidana penjara daerah Kecamatan diatur dengan Peraturan syarat-syarat : berdasarkan putusan pengadilan yang Menteri Dalam Negeri. Organisasi terlarang lainnya . Kepala Daerah mempunyai kewajiban : yang memuat antara lain riwayat h. sekolah lanjutan tingkat atas dan/atau Presiden sedangkan dalam UU No 23 Tahun Propinsi atau Ibukota Negara. tidak sedang dicabut hak pilihnya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan berdasarkan putusan pengadilan yang a. ialah Warganegara Indonesia yang mengkhianati Negara Kesatuan Republik g. tentang tata cara pemberhentian kepala Administratip dan Kepala Wilayah adalah warga negara Republik Indonesia dengan f. berpendidikan sekurang-kurangnya bahwa wakil kepala daerah diangkat oleh jabatannya adalah Kepala Wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (3). 1999 dan UU No 32 Tahun 2004 calon (2) Kepala Daerah Tingkat II karena DPRD sesuai dengan pedoman yang d. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) kepala daerah dan wakilnya merupakan satu jabatannya adalah Kepala Wilayah ditetapkan oleh Pemerintah tahun. berkemampuan. tidak sedang dicabut hak pilihnya putusan pengadilan yang telah gerak an G-30-S/PKI dan atau berdasarkan keputusan pengadilan negeri. suami atau istri. Pasal 43 n. secara perseorangan dan/atau secara maupun tidak langsung dalam setiap f. seperti i. m. daerah atau wakil kepala daerah selama 2 yang mempunyai kekuatan pasti b. tidak pernah melakukan perbuatan tercela. dan (NPWP) atau bagi yang belum mempunyai e. bertanggung jawab kepada DPRD Negara Kesatuan Republik Indonesia serta Pasal 79 Kabupaten/Kota. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak terhadap Nusa dari Bangsa . menyerahkan daftar kekayaan pribadi dan b. NPWP wajib mempunyai bukti pembayaran kepemimpinan . e. • Dalam UU No 5 Tahun 1974 menjelaskan (1) Kepala Daerah Tingkat I karena (4) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. Pemerintah. dan kepada pendidikan adalah SMU. adil . berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah i. belum pernah menjabat sebagai kepala berdasarkan keputusan Pengadilan Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Kabupaten atau Kotamadya. tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang lama 5 (lima) tahun atau lebih. Negara Kesatuan Republik Indonesia kandung. selaku Kepala Daerah. Bupati/Walikota Proklamasi 17 Agustus 1945. menyerahkan daftar kekayaan pribadi. bersedia untuk diumumkan. d. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah. ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib sederajat. masyarakat di daerahnya. tidak sedang memiliki tanggungan utang c. dan sehat jasmani dan rokhani . setia dan taat kepada Negara Kesatuan karena melakukan tindak pidana yang Pasal 14 Republik Indonesia dan Pemerintah yang sah. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. telah memperoleh kekuatan hukum tetap b. setia dan taat kepada PANCASILA Negeri. cerdas. mengenal daerahnya dan dikenal oleh b. memperoleh kekuatan hukum tetap. tidak dicabut hak pilihnya sebagaimana cita-cita Proklamasi o. e. mempertahankan dan memelihara keutuhan pendidikan dan pekerjaan serta keluarga i. sehat jasmani dan rohani. mengenal daerahnya dan dikenal oleh l. c. tanggungjawabnya yang merugikan Kesatuan Republik Indonesia yang h. . dan Undang-Undang Dasar 1945. j. sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil (3) Ketentuan tentang pengangkatan dan Pasal 33 pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari • UU No 32 Tahun 2004 mengatur lebih rinci pemberhentian Kepala Wilayah Kota Yang dapat ditetapkan menjadi Kepala Daerah tim dokter. esa. dengan surat keterangan Ketua Pengadilan h. tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945. tidak pernah terlibat baik langsung tahun. mempunyai rasa pengabdian masyarakat di daerahnya. memegang teguh Pancasila dan Undang(dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama. badan hukum yang menjadi kegiatan yang mengkhianati Negara g. k. dan trampil . k. menyerahkan daftar riwayat hidup lengkap g. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. setia dan taat kepada Nega dan Lanjutan Tingkat Atas dan/atau sederajat. k. jujur .

c. memelihara ketenteraman dan ketertiban Pasal 25 pengalaman pek erjaan yang cukup di masyarakat. serta Pasal 21 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 mengupayakan pengembangan dan Kepala Daerah berhanti atau diberhentikan ayat (2). tidak lagi memenuhi sesuatu syarat jangka waktu paling lama tiga puluh hari. f. meningkatkan taraf kesejahteraan rak yat. baginya dalam hal-hal yang (1) Kepala Daerah wajib menyampaikan b. Kepala Daerah bertanggung e. Kota. yang dapat dipersamakan dengan kewajibannya. wmengajukan Rancangan Peraturan Daerah a. Perda tentang APBD kepada DPRD untuk sekurang-kurangnya berpendidikan (2) Dalam menjalankan tugas dan dibahas dan ditetapkan bersama. menyusun dan mengajukan rancangan sederajat dengan Akademi atau kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD. Pemerintah. satu tahun. pertanggungjawaban kepada DPRD pada mengkoordinasikan kegiatan instansi Daerah yang bersangkutan . vertikal di daerah. pertanggungjawabannya. menegakkan seluruh peraturan perundangp. yang dapat dipersamakan dengan Pasal 44 c. melaksanakan tugas dan wewenang lain kegiatan-kegiatan yang merugikan Daerah Kabupaten dan Kepala Daerah sesuai dengan peraturan perundangkepentingan Negara. atas permintaan sendiri . hidup. melanggar sumpah/janji yang pemerintahan maupun pertanggungkelurahan dan/atau desa bagi wakil kepala dimaksud dalam pasal 18 ayat (4) jawaban keuangan. pertanggungjawaban kebijakan garaan pemerintahan di wilayah kecamatan. tahun bagi Kepala Daerah Tingkat II . sebagaimana bagi wakil kepala daerah provinsi. d. dan Kepala daerah mempunyai tugas dan wewenang: bidang pemerintahan . memantau dan mengevaluasi penyelenga. dan/atau menyempurnakannya dalam e. Daerah Tingkat II. atau jika dipandang perlu oleh b. membantu kepala daerah dalam berhubungan langsung dengan. berpengetahuan yang sederajat dan menetapkannya sebagai Peraturan daerah berdasarkan kebijakan yang dengan Perguruan Tinggi atau Daerah bersama dengan DPRD. setiap akhir tahun anggaran. tidak dalam status sebagai penjabat kepala Daerah Tingkat I dan 30 (tiga puluh) undangan. mengajukan rancangan Perda. dan dapat menunjuk kuasa Pasal 20 Pemerintahan Daerah kepada Presiden hukum untuk mewakilinya sesuai dengan Kepala Daerah dilarang : melalui Menteri Dalam Negeri dengan peraturan perundang-undangan. (3) Kepala Daerah wajib menyampaikan f. mengupayakan terlaksananya ke-wajiban Sekolah Lanjutan Atas bagi Kepala jawab kepada DPRD. karena : Pasal 46 c.(tiga puluh lima) tahun bagi Kepala c. l. Presiden. harus melengkapi daerah kabupaten/kota. melaksanakan pemberdayaan hal tertentu atas permintaan DPRD perempuan dan pemuda. melakukan pekerjaan-pekerjaan lain a. daerah. pertanggungjawaban kepada DPRD untuk pengawasan. a. Tingkat I dan berpengetahuan Pemerintahan Daerah berdasarkan d. membantu kepala daerah dalam yang memberikan keuntungan Pasal 45 menyelenggarakan pemerintahan daerah. menindaklanjuti laporan d. b. menetapkan Perda yang telah mendapat Sarjana Muda bagi Kepala Daerah (1) Kepala Daerah memimpin penyelenggaraan persetujuan bersama DPRD. (1) Kepala Daerah yang ditolak garaan pemerintahan kabupaten dan kota b. kepada kepala daerah dalam . mewakili daerahnya di dalam dan di luar laporan atas penyelenggaraan pengadilan. memantau dan mengevaluasi penyelengdilantik Kepala Daerah yang baru. Undang-undang ini . sekurang-kurangnya berpendidikan b. pelestarian sosial budaya dan lingkungan oleh pejabat yang berhak mengangkat. mempunyai kecakapan dan e. berakhir masa jabatannya dan telah dimaksud dalam Pasal 45. dan atau Rakyat . (1) Wakil kepala daerah mempunyai tugas: c. Daerah. memberikan saran dan pertimbangan d. dengan sengaja melakukan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala g. daerah. sekurang-kurangnya sekali dalam undangan. menjadi advokat atau kuasa dalam (2) Kepala Daerah wajib memberikan dan/atau temuan hasil pengawasan aparat perkara di muka Pengadilan. ditetapkan ber-sama DPRD. meninggal dunia . baik d. memimpin penyelenggaraan pe-merintahan m. turut serta dalam sesuatu Kepala Daerah atau apabila diminta oleh Pasal 26 perusahaan .

melanggar ketentuan yang pertanggungjawabannya f. atau jika dipandang perlu b. turut serta dalam suatu perusahaan. kroninya. pemerintahan lainnya yang diberikan oleh undang ini . selain yang h. golongan masyarakat lain. pemerintahan Daerah. Kepala Pasal 47 kepala daerah meninggal dunia. Gubernur Kepala Daerah karena : j. wakil kepala daerah mempunyai kewajiban: setahun. DPRD dapat mengusulkan (2) Dalam melaksanakan tugas se-bagaimana (1) Kepala Daerah menjalankan hak. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).yang dimaksud dalam Pasal 14 (2) Kepala Daerah yang sudah melengkapi penyelenggaraan kegiatan pemerintah Undang-undang ini . dan dapat menunjuk kuasa kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara melalui Menteri Dalam Negeri. dan/atau menyempurnakan daerah. Menteri Dalam Negeri. melakukan pekerjaan lain yang memberikan c. golongan tertentu. b. meningkatkan kesejahteraan rakyat. kepala daerah. (1) Wakil Kepala Daerah Tingkat I diangkat suatu perkara di pengadilan. instansi vertikal di daerah dan semua Tingkat I kepada Presiden melalui b. melaksanakan kehidupan demokrasi. akan dilakukannya. menerima uang. atau apabila diminta oteh memberikan keuntungan bagi dirinya. ditetapkan oleh mendiskriminasikan warga negara dan Republik Indonesia. mempengaruhi keputusan atau tindakan yang penyelenggaraan pemerintahan daerah. melaksanakan tugas dan kewajiban dimaksud dalam pasal 20 Undangmenyampaikannya kembali kepada DPRD. barang. sebab-sebab lain. atau tidak dapat melakukan bertanggungjawab kepada Presiden di luar pengadilan. yang berhubungan d. sebagaimana dimaksud pada ayat bertanggung jawab kepada kepala daerah. mengajukan berhenti atas permintaan perangkat daerah. e. terus menerus dalam masa jabatannya. dimaksud pada ayat (1). atau Pasal 25 dan Pasal 26. memegang teguh dan mengamalkan olehnya. dan daerah sampai habis masa jabatannya apabila kewajiban pemerintahan Daerah. i. memenuhi persyaratan. dan g. baik milik wewenang sebagaimana dimaksud dalam kepada Dewan Perwakilan Rakyat swasta maupun milik Negara/Daerah. dan kewajiban pemerintahan Daerah. wakil kepala daerah wewenang. . (3) Bagi Kepala Daerah yang g. melaksanakan prinsip tata pemerintahan oleh Presiden dari Pegawai Negeri yang dimaksud dalam Pasal 47. keluarganya. memajukan dan mengembangkan daya Pasal 24 e. menaati dan menegakkan seluruh peraturan (2) Apabila dipandang. melaksanakan Undang-Undang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pasal 22 kedua kalinya. (3) Dalam menjalankan hak. (1) Kepala Daerah mewakili Daerahnya di maupun tidak langsung. wewenang. baik secara langsung masyarakat. kepala daerah dan Daerah sekurang-kurangnya sekali dalam yayasan bidang apa pun juga. membuat keputusan yang secara khusus a. menjaga etika dan norma dalam lebih untuk mewakilinya. ditetapkan oleh Pemerintah. anggota Pancasila. meninggal dunia. dan f. (3) Wakil kepala daerah menggantikan kepala (2) Dalam menjalankan hak. memelihara ketenteraman dan ketertiban Pasal 23 keuntungan bagi dirinya. dan kewajiban pimpinan (4) ata cara. wewenang. menjalin hubungan kerja dengan seluruh mengajukan calon Wakil Kepala Daerah a. c. dalam dan di luar Pengadilan. pemberhentiannya kepada Presiden. untuk mewakilinya. atau Dasar Negara Republik Indonesia Tahun (4) Pedoman tentang pemberian keterangan kelompok politiknya yang secara nyata 1945 serta mempertahankan dan pertanggung jawaban yang dimaksud merugikan kepentingan umum atau memelihara keutuhan Negara Kesatuan dalam ayat (3) pasal ini. perlu Kepala Daerah d. menjadi advokat atau kuasa hukum dalam saing daerah. berhenti. pemilihan. (3). melaksanakan tugas dan wewenang kepala pertanggungjawabannya ditolak untuk daerah apabila kepala daerah berhalangan. dapat menunjuk seorang kuasa atau pihak lain yang patut dapat diduga akan f. dan/atau jasa dari perundang-undangan. dengan Daerah yang bersangkutan. Kepala Pasal 48 Pasal 27 Daerah berkewajiban memberikan Kepala Daerah dilarang : (1) Dalam melaksanakan tugas dan keterangan pertanggung jawaban a. melaksanakan dan mempertang(2) Dengan memperoleh persetujuan Dewan Pasal 49 gungjawabkan pengelolaan ke-uangan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui Kepala Daerah berhenti atau diberhentikan daerah. Daerah menurut hierarkhi Kepala Daerah mewakili daerahnya di dalam dan diberhentikan. yang bersih dan baik. e.

(5) Pengisian jabatan Wakil Kepala Daerah atas kasus itu ditolak oleh DPRD. Bupati/Walikotamadya f. kroni. Wakil Kepala Daerah. baik secara diatur tentang penjabat yang mewakili Kepala belah Negara Kesatuan Republik Indonesia langsung maupun tidak langsung. golongan tertentu. ayat (3). atau dalam yayasan bidang apapun. dan wewenang Kepala Daerah sehariIndonesia diberhentikan untuk sementara b. tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana (2) Selain mempunyai kewajiban se-bagaimana memenuhi persyaratan. sendiri. ayat (2). (3) Laporan penyelenggaraan peme-rintahan dadilakukan menurut kebutuhan. dimaksud dalam ayat-ayat (2) dan (4) Kepala Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa pasal ini diatur lebih lanjut dengan melalui Keputusan DPRD apabila terbukti Pasal 28 Peraturan Menteri Dalam Negeri. dan kepada Menteri Dalam Negeri dalam Pasal-pasal 14. makar dan/atau perbuatan lain yang dapat mendiskriminasikan warga negara dan/atau Wakil Kepala Daerah menjalankan tugas memecah belah Negara Kesatuan Republik golongan masyarakat lain. membuat keputusan yang secara khusus Pasal 25 diancam dengan hukuman mati sebagaimana memberikan keuntungan bagi diri. Presiden. dan meresahkan Dalam Negeri. dari jabatannya oleh Presiden tanpa melalui milik swasta maupun milik negara/daerah. melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam Kepala daerah dan wakil kepala daerah dilarang: dengan hukuman lima tahun atau lebih. kelompok politiknya yang bertentangan dengan wewenangnya sehari-hari sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dimaksud pada ayat (1). maksud pada ayat (1). Pasal 26 (2) Kepala Daerah yang terbukti melakukan c.Menteri Dalam Negeri. melakukan pekerjaan lain yang memberikan Dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri makar dan perbuatan yang dapat memecah keuntungan bagi dirinya. hadapan Rapat Paripurna DPRD. mengalami krisis kepercayaan publik yang DPRD. dan (9) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang Pasal 51 ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. (5) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dibagi Wakil Kepala Daerah Tingkat II. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik penyelenggaraan pemerintahan daerah di oleh Menteri Dalam Negeri atas nama pejabat yang baru. 19. dan keterangannya kepada masyarakat. menyampaikan rencana strategis (3) Wakil Kepala Daerah Tingkat II diangkat c. dan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada Kepala Daerah Tingkat II kepada Menteri g. sebagaimana dimaksud digunakan Pemerintah sebagai dasar sumpahnya/janjinya dan dilantik oleh pada ayat (1). melanggar ketentuan sebagaimana daerah kepada Pemerintah. merugikan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Pasal 52 kepentingan umum. atau a. (4) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) (8) Wakil Kepala Daerah diambil (2) Keputusan DPRD. 20 dan 21 dalam Pasal 49 ditetapkan dengan melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 Undang-undang ini berlaku juga untuk Keputusan DPRD dan disahkan oleh (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. baik hari. Presiden dari Pegawai Negeri yang d. Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri pertiga dari jumlah anggota yang hadir. Keputusan DPRD. dan memberikan Kepala Daerah mengajukan calon Wakil dimaksud dalam Pasal 48. k. (1) Kepala Daerah yang diduga melakukan sekelompok mas yarakat. atau Daerah dalam menjalankan tugas dan Pidana. serta menginformasikan laporan Dalam Negeri melalui Gubernur Kepala luas akibat kasus yang melibatkan penyeleng-garaan pemerintahan daerah Daerah. tanggung jawabnya. turut serta dalam suatu perusahaan. dimaksud dalam Pasal 33. kepala daerah (4) Dengan memperoleh persetujuan e. anggota (1) Wakil Kepala Daerah membantu Kepala yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum keluarga. atau (2) Apabila Kepala Daerah berhalangan. harus dihadiri oleh sekurangmelakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan Menteri Dalam Negeri atas nama kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih Presiden bagi Wakil Kepala Daerah DPRD dan putusan diambil dengan lanjut sesuai dengan peraturan perundangTingkat I dan oleh Gubernur Kepala persetujuan sekurang-kurangnya dua undangan. laporan penyelenggaraan pemerintahan melalui pemilihan. (1) Pemberhentian Kepala Daerah karena Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk (7) Ketentuan-ketentuan yang dimaksud alasan-alasan sebagaimana dimaksud Gubernur. melanggar sumpah/janji sebagaimana mempunyai kewajiban juga untuk memberikan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3). yang . erah kepada Pemerintah sebagaimana (6) Wakil Kepala Daerah adalah Pejabat Pasal 50 dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Negara.

negeri serta pembinaan kesatuan pertanggungjawaban akhir masa jabatannya (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah Bangsa sesuai dengan kebijaksanaan kepada DPRD dan menyampaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c yang ditetapkan oleh Pemerintah pertanggungjawaban tersebut selambatdiberhentikan karena: c. merangkap jabatan sebagai pejabat negara Wewenang. dimaksud dalam Pasal 25 huruf f. berkelanjutan atau berhalangan tetap baik dalam perencanaan maupun DPRD mulai memproses pemilihan Kepala secara berturut-turut selama 6 (enam) dalam pelaksanaan untuk mencapai Daerah yang baru. d. kepala daerah dan/atau wakil kepala Daerah. tugas dan kewajiban Kepala jabatannya. nepotisme. lainnya. Vertikal dan antara Instansi-instansi (3) Selambat-lambatnya satu bulan sebelum b. atau ideologi Negara dan politik dalam Kepala Daerah mempersiapkan c. mengusahakan secara terus-menerus dapat dicalonkan kembali sebagai Kepala Daerah e. barang dan/atau jasa dari Kepala Wilayah sebagai Wakil Pemerintah DPRD. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik kegiatan-kegiatan Instansi-instansi pemberitahuan. sebagai anggota DPRD Wilayah adalah : sebagaimana yang ditetapkan dalam a. bulan. pemerintahan dalam wilayahnya dalam arti peradilan ternyata tidak terbukti melakukan e. ayat (1) huruf a dan huruf b serta ayat (2) segata tindakan yang dianggap perlu (2) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan huruf a dan huruf b diberitahukan oleh untuk menjamin kelancaran pimpinan DPRD untuk diputuskan dalam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) penyelenggaraan pemerintahan. dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan penyelenggaraan pemerintahan pertanggungjawabannya oleh DPRD. ketentraman dan masa jabatan Kepala Daerah secara tertulis Pasal 29 ketertiban yang ditetapkan oleh kepada yang bersangkutan. pihak lain yang mempengaruhi keputusan adalah Penguasa Tunggal di bidang (3) Kepala Daerah yang setelah melalui proses atau tindakan yang akan dilakukannya. tidak melaksanakan kewajiban kepala agar segala peraturan-perundang. tidak lagi memenuhi syarat sebagai kepala sebesar-besarnya. meninggal dunia. undangan dan Peraturan Daerah f. membina ketentraman dan ketertiban Pasal 53 peraturan perundang-undangan. daerah dan/atau wakil kepala daerah. b. masyarakat di segala bidang. sebelumnya. daerah berhenti karena: b. Pemerintah dan Pemerintah Daerah (1) Tindakan penyidikan terhadap Kepala (3) Pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil serta pejabat-pejabat yang Daerah dilaksanakan setelah adanya kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ditugaskan untuk itu serta mengambil persetujuan tertulis dari Presiden. a. melakukan korupsi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pejabat yang baru. melanggar larangan bagi kepala daerah dijalankan oleh Instansi-instansi Pasal 55 dan/atau wakil kepala daerah.Daerah dalam hal Kepala Daerah dan Wakil yang dinyatakan dengan keputusan berhubungan dengan daerah yang Kepala Daerah berhalangan. tidak dapat melaksanakan tugas secara Vertikal dengan Dinas-dinas Daerah. permintaan sendiri. membimbing dan mengawasi Kepala Daerah yang ditolak d. Pasal 81 Kepala Daerah sampai akhir masa g. dan Pasal 80 jabatannya oleh Presiden. kolusi. menjadi advokat atau kuasa hukum dalam memimpin pemerintahan. menyelenggarakan kordinasi atas lambatnya empat bulan setelah a. hukum yang tetap diberhentikan dari d.dalam masa jabatan berikutnya. diberhentikan. pengadilan yang telah memperoleh kekuatan bersangkutan. melaksanakan segala usaha dan (2) Dengan adanya pemberitahuan. e. tidak daerah. Pasal 54 daerah dan/atau wakil kepala daerah. tanpa persetujuan menerima uang. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53. menyalahgunakan wewenang dan diaktifkan kembali dan direhabilitasi selaku melanggar sumpah/janji jabatan-nya. dayaguna dan hasilguna yang c. mengkordinasikan makar dan perbuatan yang dapat memecah suatu perkara di pengadilan selain yang pembangunan dan membina kehidupan belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. f. adalah: Rapat Paripurna dan diusulkan oleh pimpinan . enam bulan (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala Pemerintah . kegiatan di bidang pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). masa jabatan Kepala Daerah berakhir. di wilayahnya sesuai dengan (1) DPRD memberitahukan akan berakhirnya kebijaksanaan.

tertangkap tangan melakukan tindak DPRD. e. Wakil diambil dengan persetujuan sekurang(1) Tindakan Kepolisian terhadap Kepala Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji.f. Pasal 47 sampai dengan daerah dan/atau wakil kepala daerah (duapuluh empat) jam sesudahnya Pasal 54. sesuatu tindak pidana. harus dilaporkan kepada Jaksa Agung Daerah. dituduh telah melakukan tindak dan Undang-Undang Dasar 1945 Paripurna DPRD yang dihadiri oleh pidana kejahatan yang sebagai konstitusi negara serta segala sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) termaktub dalam Kitab peraturan perundang-undangan yang dari jumlah anggota DPRD dan putusan Undang-undang Hukum berlaku bagi Daerah dan Negara diambil dengan persetujuan sekurangPidana BUKU KEDUA BAB I. saya mengadili. Kesatuan Republik Indonesia". sebagaimana anggota DPRD yang hadir untuk dalam ayat (2) pasal ini selambatdimaksud dalam Pasal 33. Pasal 56 daerah dan wakil kepala daerah. Mahkamah Agung wajib memeriksa. atau pejabat lain yang ditunjuk. dan ayat (2) huruf d dan huruf e dilaksanakan g. dapat dilakukan atas persetujuan adalah sebagai berikut : c. kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah (3) Tindakan kepolisian yang dimaksud (5) Ketentuan-ketentuan. kepala daerah diusulkan kepada Presiden (3) Setelah tindakan penyidikan. bahwa saya akan d. dituduh telah melakukan tindak selalu taat dalam mengamalkan dan bahwa kepala daerah dan/atau wakil kepala mempertahankan Pancasila sebagai pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman *9617 dasar negara. menyampaikan usul tersebut. hal itu atas pendapat DPRD bahwa kepala daerah (1) Wakil Kepala Daerah Tingkat I karena harus dilaporkan kepada Presiden selambatdan/atau wakil kepala daerah dinyatakan jabatannya adalah Wakil Kepala Wilayah lambatnya dalam 2 kali 24 jam. Presiden. sebagaimana berdasarkan putusan Mahkamah Agung Pasal 82 dimaksud pada ayat (2) dilakukan. melanggar sumpah/janji jabatan dan/atau Propinsi atau Ibukota Negara dan tidak melaksanakan kewajiban kepala disebut Wakil Gubernur. dari jumlah anggota DPRD dan putusan Pasal 83 (3) Sebelum memangku jabatannya. hukuman mati. yang pada gilirannya harus 30 (tiga puluh) hari sejak DPRD disebut Wakil Bupati dan Wakil Kepala melaporkan kepada Presiden selambatDaerah Kota disebut Wakil Walikota. daerah terbukti melanggar sumpah/janji . akan menegakkan kehidupan demokrasi kewajiban. Pemberhentian kepala daerah dan wakil dalam tugas sesuatu Instansi lainnya. melaksanakan segala tugas a. Pendapat DPRD sebagaimana dimaksud jabatannya adalah Wakil Kepala Wilayah Kepala Daerah. tertangkap tangan melakukan dengan sebaik-baiknya. dan seadil-adilnya. Wakil Kepala Daerah Kabupaten wakil kepala daerah tersebut paling lambat Bersenjata. Presiden wajib memroses usul atau kepada Menteri Pertahanan (6) Wakil Kepala Daerah Propinsi disebut Wakil pemberhentian kepala daerah dan/atau Keamanan/Panglima Angkatan Gubernur. "Demi Allah (Tuhan). (2) Wakil Kepala Daerah Tingkat II karena (1) Di setiap Daerah terdapat seorang Wakil b. dituduh telah melakukan tindak pidana dengan ketentuan: pemerintahan yang tidak termasuk kejahatan yang diancam dengan a. dan disebut (2) Wakil Kepala Daerah dilantik oleh Presiden Paripurna DPRD yang dihadiri oleh Wakil Bupati atau Wakil Walikotamadya. DPRD menyelenggarakan Rapat c. dan memutus pendapat DPRD (2) Hal-hal yang dikecualikan terhadap bersumpah/berjanji bahwa saya akan tersebut paling lambat 30 (tigapuluh) hari ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) memenuhi kewajiban saya selaku Wakil setelah permintaan DPRD itu diterima pasal ini adalah: Gubernur/ Wakil Bupati/Wakil Walikota Mahkamah Agung dan putusannya bersifat a. berlaku juga bagi Wakil Kepala kepada Presiden. Pasal 41. pada huruf a diputuskan melalui Rapat Kabupaten atau Kotamadya. bersamaan sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dengan pelantikan Kepala Daerah. kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah Wilayah Propinsi/Ibukota Negara hanya (4) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud anggota DPRD yang hadir. sejujur-jujurnya. melaksanakan segala tugas b. final. pemerintahan yang dengan atau pidana kejahatan yang diancam (4) Pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil berdasarkan peraturan perundangdengan pidana penjara lima tahun kepala daerah sebagaimana dimaksud pada undangan diberikan kepadanya. Pasal memutuskan usul pemberhentian kepala lambatnya dalam waktu 2 (dua) kali 24 43 kecuali huruf g. dan bahwa saya jabatan dan/atau tidak melaksanakan mati. atau lebih. Apabila Mahkamah Agung memutuskan b.

lambatnya dalam waktu 2 (dua) kali 24 Pasal 57 Pasal 30 (duapuluh empat) jam. (1) Wakil Kepala Daerah mempunyai tugas : (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah (4) Tindakan kepolisian terhadap Kepala a. membantu Kepala Daerah dalam diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa Wilayah lainnya dilakukan dengan melaksanakan kewajibannya; melalui usulan DPRD apabila dinyatakan memberitahukan sebelumnya kepada b. mengkoordinasikan kegiatan instansi melakukan tindak pidana kejahatan yang Kepala Wilayah atasan dari yang pemerintahan di Daerah; dan diancam dengan pidana penjara paling singkat bersangkutan. c. melaksanakan tugas-tugas lain yang 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan (5) Tindakan kepolisian yang dimaksud diberikan oleh Kepala Daerah. pengadilan. dalam ayat (4) pasal ini diberitahukan (2) Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah selambat-lambatnya 2 (dua) kali 24 kepada Kepala Daerah. diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui (duapuluh empat) jam sesudahnya (3) Wakil Kepala Daerah melaksanakan tugas usulan DPRD apabila terbukti melakukan kepada Kepala Wilayah atasan dari dan wewenang Kepala Daerah apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud pada yang bersangkutan, apabila menyangkut Kepala Daerah berhalangan. ayat (1) berdasarkan putusan pengadilan yang hal-hal yang dimaksud dalam ayat (2) telah memperoleh kekuatan hukum tetap. pasal ini. Pasal 58 (1) Apabila Kepala Daerah berhalangan tetap, Pasal 31 jabatan Kepala Daerah diganti oleh Wakil (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah Kepala Daerah sampai habis masa diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa jabatannya. melalui usulan DPRD karena didakwa (2) Apabila Wakil Kepala Daerah berhalangan melakukan tindak pidana korupsi, tindak pidana tetap, jabatan Wakil Kepala Daerah tidak terorisme, makar, dan/atau tindak pidana diisi. terhadap keamanan negara. (3) Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah Daerah berhalangan tetap, Sekretaris diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui Daerah melaksanakan tugas Kepala Daerah usulan DPRD karena terbukti melakukan untuk sementara waktu. makar dan/atau perbuatan lain yang dapat (4) Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala memecah belah Negara Kesatuan Republik Daerah berhalangan tetap, DPRD Indonesia yang dinyatakan dengan putusan menyelenggarak an pemilihan Kepala Daerah pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. dan Wakil Kepala Daerah selambatlambatnya dalam waktu tiga bulan. Pasal 32 Pasal 59 (1) Dalam hal kepala daerah dan/atau wakil kepala Kedudukan keuangan Kepala Daerah dan Wakil daerah menghadapi krisis kepercayaan publik yang Kepala Daerah ditetapkan dengan Peraturan meluas karena dugaan melakukan tindak pidana Pemerintah. dan melibatkan tanggung jawabnya, DPRD menggunakan hak angket untuk menanggapinya. (2) Penggunaan hak angket sebagai-mana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir untuk melakukan penyelidikan terhadap

kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. (3) Dalam hal ditemukan bukti me-lakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DPRD menyerahkan proses penyelesaiannya kepada aparat penegak hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (4) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan bersalah karena melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan yang belum memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (3), DPRD mengusulkan pemberhentian sementara dengan keputusan DPRD. (5) Berdasarkan keputusan DPRD se-bagaimana dimaksud pada ayat (4), Presiden menetapkan pember-hentian sementara kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. (6) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (4), pimpinan DPRD mengusulkan pemberhentian berdasarkan keputusan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir. (7) Berdasarkan keputusan DPRD se-bagaimana dimaksud pada ayat (6), Presiden memberhentikan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. Pasal 33 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5) s etelah melalui proses peradilan ternyata terbukti tidak bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, paling lambat 30 (tiga puluh) hari Presiden telah merehabilitasikan dan mengaktifkan kembali kepala daerah dan/atau

wakil kepala daerah yang bersangkutan sampai dengan akhir masa jabatannya. (2) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah berakhir masa jabatannya, Presiden merehabilitasikan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang bersangkutan dan tidak mengaktifkannya kembali. (3) Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, Pasal 31, dan Pasal 32 diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 34 (1) Apabila kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), wakil kepala daerah melaksanakan tugas dan kewajiban kepala daerah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (2) Apabila wakil kepala daerah di-berhentikan sementara sebagai-mana dimaksud Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), tugas dan kewajiban wakil kepala daerah dilaksanakan oleh kepala daerah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (3) Apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), Presiden menetapkan penjabat Gubernur atas usul Menteri Dalam Negeri atau penjabat Bupati/ Walikota atas usul Gubernur dengan pertimbangan DPRD sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (4) Tata cara penetapan, kriteria calon, dan masa jabatan penjabat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Peme-rintah.

(5) Tata cara pengisian kekosongan.Pasal 35 (1) Apabila kepala daerah diberhentikan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2). kepala daerah mengusulkan 2 (dua) orang calon wakil kepala daerah untuk dipilih oleh Rapat Paripurna DPRD berdasarkan usul partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya terpilih dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. persyaratan dan masa jabatan penjabat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. (2) Apabila terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang sisa masa jabatannya lebih dari 18 (delapan belas) bulan. Pasal 31 ayat (2). Pasal 36 (1) Tindakan penyelidikan dan penyidi-kan terhadap kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden atas permintaan penyidik. Rapat Paripurna DPRD memutuskan dan menugaskan KPUD untuk menyelenggarakan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah paling lambat 6 (enam) bulan terhitung sejak ditetapkannya penjabat kepala daerah. sekretaris daerah melaksanakan tugas sehari-hari kepala daerah sampai dengan Presiden mengangkat penjabat kepala daerah. (3) Dalam hal kepala daerah dan wakil kepala daerah berhenti atau diberhentikan secara bersamaan dalam masa jabatannya. . dan Pasal 32 ayat (7) jabatan kepala daerah diganti oleh wakil kepala daerah sampai berakhir masa jabatannya dan proses pelaksanaannya dilakukan berdasarkan keputusan Rapat Paripurna DPRD dan disahkan oleh Presiden. (4) Dalam hal terjadi kekosongan jabatan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/kota. Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. c. koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota. atau telah melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. disangka telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati.(2) Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan oleh Presiden dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari terhitung sejak diterimanya permohonan. proses penyelidikan dan penyidikan dapat dilakukan. Pasal 38 (1) Gubernur dalam kedudukannya se-bagaimana dimaksud dalam Pasal 37 memiliki tugas dan wewenang: a. . atau b. Pasal 37 (1) Gubernur yang karena jabatannya berkedudukan juga sebagai wakil Pemerintah di wilayah provinsi yang bersangkutan. (4) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. (3) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan diperlukan persetujuan tertulis sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) Dalam kedudukannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. b. (5) Tindakan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) setelah dilakukan wajib dilaporkan kepada Presiden paling lambat dalam waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam.

Pasal 41 hak tersebut antara lain hak interpelasi. meminta keterangan. (2) Kedudukan protokoler Ketua. susunan. APBD. • Menurut UU No 32 Tahun 2004. kepala daerah. hak. ketiga peraturan tersebut dimana dalam UU Rakyat Daerah diatur denpn Peraturan DPRD diatur dengan Undang-undang. masa keanggotaan. Pemerintah Daerah. dan DPRD. (4) Pelaksanaan ketentuan. Anggaran. dan Anggota Dewan Perwakilan (1) DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di pengawasan. tugas. wewenangnya. kebijakan pemerintah untuk menyusun kode etik untuk menjaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (3) DPRD membentuk fraksi-fraksi yang bukan daerah dalam melaksanakan program martabat dan kehormatan anggota DPRD mempunyai hak : merupakan alat kelengkapan DPRD. DPR. dan Anggota bewan Perwakilan keanggotaan. membentuk Perda yang dibahas dengan • Dalam UU No 32 Tahun 2004 anggota dibuat sesuai dengan pedoman yang berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari kepala daerah untuk mendapat persetujuan DPRD dilarang untukmerangkap jabatan ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri.(2) Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala MPR. diatur d. melaksanakan pengawasan ter-hadap daerah dan/atau badan lain yang perundang-undangan. Wakil Pasal 16 DPRD memiliki fungsi legislasi. Wakil Kedudukan. pelaksanaan Perda dan peraturan anggarannya bersumber dari APBN/APBD Pasal 29 (2) Alat kelengkapan DPRD terdiri atas perundang-undangan lainnya. mengusulkan pengangkatan dan masing-masing Anggota. pegawai pada badan berlaku sesudah ada pengesahan (1) Keanggotaan DPRD dan jumlah anggota daerah. anggaran. badan usaha milik pejabat yang berwenang. Undang-Undang tentang Susunan dan Kedudukan 1999 DPRD berwenang memilih calon larangan rangkapan jabatan bagi Anggota. begitu juga Legislatif Daerah dan Pemerintah Daerah dalam Undang-Undang ini berlaku ketentuan UU No 5 Tahun 1974 dan UU No 22 Tahun sumpah/janji. DPD. peraturan • UU No 32 Tahun 2004 mewajibkan DPRD (1) Untuk dapat melaksanakan fungsinya. daerah dan berkedudukan sebagai unsur • Terdapat perbedaan hak DPRD diantara Ketua. (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang: mempunyai tugas-tugas tertentu. DPRD ditetapkan sesuai dengan peraturan c. dan panitia-panitia. dan kerja sama dalam menjalankan tugas dan a. mengajukan pernyataan pendapat. dan alat kelengkapan penyelenggaraan pemerintahan daerah. daerah kepada Presiden melalui Menteri d. 8 Dewan Perwakilan Pasal 27 Pasal 14 Pasal 39 • Terdapat perbedaan dalam tugas dan Rakyat Daerah Susunan. komisi-komisi. bersama. sebagaimana internasional di daerah. wewenang. membahas dan menyetujui rancangan Perda badan peradilan dan pegawai negeri sipil. sebagai pejabat negara lainnya. usaha milik negara. (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang : kepada Menteri Dalam Negeri melalui . mengadakan perubahan. Daerah beserta perangkat Daerah lainnya. badan Rakyat Daerah diatur dengan Daerah merupakan wahana untuk kehormatan disebutkan secara tegas dalam Peraturan Daerah. kepala daerah sedangkan UU No 32 Tahun anggotanya diatur dengan Undang-undang. pembangunan daerah. mengajukan pertanyaan bagi dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). keanggotaan. Pasal 17 tentang APBD bersama dengan kepala anggota TNI/Polri. (4) Tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. pimpinan. dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini (2) DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah a. Pasal 18 Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan e. dan angket dan menyatakan pendapat. 2004 DPRD hanya berhak menetapkan Pasal 40 kepala daerah setelah dilakukan pemilihan Pasal 28 Pasal 15 DPRD merupakan lembaga perwakilan rakyat secara langsung. dan pimpinan Dewan (1) Di Daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Ketentuan tentang DPRD sepanjang tidak diatur wewenang anggota DPRD dimana dalam Perwakilan Rakyat Daerah. b. dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini. dan sebagai Badan Eksekutif Daerah. melaksanakan demokrasi berdasarkan Pasal 42 salah satu alat kelengkapan DPRD yang (3) Peraturan Daerah yang dimaksud Pancasila. pimpinan.(2) Pendanaan tugas dan wewenang Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada APBN. pemberhentian kepala daerah/wakil kepala c. Ketua. (1) Kedudukan keuangan Ketua. (3) Kedudukan keuangan Gubernur se-bagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. hakim pada (4) Peraturan Daerah yang dimaksud b. No 32 Tahun 2004 hanya menyebutkan hakDaerah.

melakukan pengawasan dan meminta adalah : 1. atau h. melaksanakan pengawasan terhadap : j. pemerintah daerah. memberikan persetujuan terhadap rencana Menteri Dalam Negeri. diatur dengan UndangWalikota membentuk Peraturan Daerah. DPRD melaksanakan Permusyawaratan Rakyat serta di Daerah. mengadakan penyelidikan. prakarsa. k. mengamankan. a. bersama dengan Gubernur. g. meminta laporan keterangan pasal ini. angket. kepada pemerintah daerah terhadap rencana Perwakilan Rakyat Daerah sesuai d.(2) Pelaksanaan tugas dan wewenang. c. meminta pertanggungjawaban Gubernur. bersama dengan Gubernur. atau kerja sama internasional yang dilakukan oleh (3) Cara pelaksanaan hak penyelidikan Walikota/ Wakil Walikota. dan Walikota. dan Walikota/Wakil e. anggota DPRD yang hadir. membentuk panitia pengawas pemilihan Pasal 30 Pendapatan dan Belanja Daerah. pelaksanaan Keputusan Gubernur. b. perundang-undangan yang berlaku. a. Gubernur. Bupati. kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah program pembangunan Pemerintah. kepala daerah. meminta keterangan kepada Pemerintah putusan diambil dengan persetujuan sekurangRakyat dengan berpegang pada Daerah. mengajukan pernyataan pendapat.f. memperhatikan aspirasi dan Bupati. yang terdiri atas semua unsur fraksi DPRD bersidang sekurang-kurangnya 2 (dua) f. Bupati/Wakil Bupati. dan Walikota. menampung dan menindaklanjuti a. sud pada ayat (1) huruf b dilakukan setelah melaksanakan peraturan diajukan hak interpelasi sebagaimana perundang-undangan yang Pasal 19 dimaksud pada ayat (1) huruf a dan pelaksanaannya ditugaskan kepada (1) DPRD mempunyai hak : mendapatkan persetujuan dari Rapat Paripurna Daerah . pemilihan kepala daerah. Bupati. mengusulkan pengangkatan dan perjanjian internasional di daerah. dan (2) Selain tugas dan wewenang sebagaimana Ketetapan-ketetapan Majelis 5. pertanggungjawaban kepala daerah dalam undang. kerja sama antardaerah dan dengan pihak b. bersama-sama Kepala Daerah terhadap rencana perjanjian internasional Pasal 43 menyusun Anggaran Pendapatan yang menyangkut kepentingan Daerah. terjadi kekosongan jabatan wakil kepala dimaksud dalam ayat (1) huruf a c. memberikan pendapat dan pertimbangan dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Daerah. DPRD yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 d. mempertahankan. interpelasi. b. pelaksanaan Peraturan Daerah dan laporan KPUD dalam penyelenggaraan a. (1) DPRD mempunyai hak: dan Belanja Daerah dan Peraturandan h. mengajukan Rancangan Peraturan yang bekerja dalam waktu paling lama 60 . d. memilih wakil kepala daerah dalam hal (2) Cara pelaksanaan ketentuan yang Walikota. memilih Gubernur/Wakil Gubernur. atau penyelenggaraan pemerintahan daerah. memilih anggota Majelis daerah. daerah. c. (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan memajukan tingkat kehidupan b. menyatakan pendapat. serta mengamalkan PANCASILA 2. sampai dengan huruf f pasal ini. 4. Walikota menetapkan Anggaran i. Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. Bupati/Wakil Bupati. Garis-garis Besar Haluan Negara. penyelidikan. mengadakan perubahan atas Rancangan (3) Dalam menggunakan hak angket se-bagaimana Pasal 31 Peraturan Daerah. peraturan perundang-undangan lain. dengan pedoman yang ditetapkan oleh pemberhentian Gubernur/ Wakil g. dan kepentingan Daerah dalam batas. (2) Pelaksanaan hak angket sebagaimana dimakkepada Daerah atau untuk diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. memberikan persetujuan terhadap rencana dan Undang-Undang Dasar 1945 . dimaksud pada ayat (2) dibentuk panitia angket (1) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah e. batas wewenang yang diserahkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Kewajiban Dewan Perwakilan Rakyat Daerah g. f. pelaksanaan Anggaran Pendapatan ketiga yang membebani masyarakat dan melaksanakan secara konsekwen dan Belanja Daerah. pertimbangan kepada Pemerintah c. tugas dan wewenang lain yang diatur dalam mentaati segala peraturan h. diatur Permusyawaratan Rakyat dari Utusan f. kebijakan Pemerintah Daerah. menjunjung tinggi dan 3. memberikan pendapat dan peraturan perundang-undangan. pelaksanaan kerja sama internasional dimaksud pada ayat (1). peraturan Daerah untuk aspirasi Daerah dan masyarakat. yang dimaksud dalam ayat (1) huruf g e. Bupati.

pada ayat (1). dan hak menyatakan pendapat diatur (3) Rapat tertutup dapat mengambil dalam Peraturan Tata Tertib DPRD yang keputusan. d. penetapan. pengajuan pertanyaan. kecuali mengenai : Pasal 21 berpedoman pada peraturan perundanga. perusahaan Daerah . dapat pada ayat (1) dan ayat (2). h. pejabat pemerintah.(2) Kedudukan protokoler dan keuangan pimpinan g. c. hak diadakan rapat tertutup. membela diri. (7) Seluruh hasil kerja panitia angket bersifat dipandang perlu oleh Pimpinan Dewan (3) Pelaksanaan hak. keuangan/administrasi. dan perundang-undangan. dan memeriksa seseKetua memanggil Anggota-anggota pada ayat (1). mengamalkan Pancasila dan Undang. pemborongan pekerjaan. (1) Anggota DPRD mempunyai hak: c. Peraturan Tata Tertib DPRD. atau ayat (1). Pasal 32 pembangunan. Daerah serta perhitungannya. kerjanya kepada DPRD. jual beli d. keuangan dan administratif. pa-nitia angket kurangnya seperlima jumlah Anggota DPRD. a. penawaran umum . (1) DPRD dalam melaksanakan tugasnya sedang diselidiki. sebagaimana dimaksud memanggil. didengar. membina demokrasi dalam pelantikan Anggota baru Dewan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. penghapusan tagihan sebagian atau Negara Kesatuan Republik Indonesia. perubahan. dan f. sebagaimana dimaksud a. (6) Dalam hal telah dipanggil dengan patut secara (1) Rapat-rapat Dewan Perwakilan Rakyat (2) Pejabat negara. atau berturut-turut tidak memenuhi panggilan Daerah pada dasarnya bersifat terbuka warga masyarakat yang menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (5). protokoler. Tertib DPRD. pejabat (5) Setiap orang yang dipanggil. seluruhnya . (enam puluh) hari telah menyampaikan hasil (2) Kecuali yang dimaksud dalam ayat (1) g. c. memilih dan dipilih. serta untuk meminta menunjukkan surat atau (3) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 20 dokumen yang berkaitan dengan hal yang bersidang atas panggilan Ketua. mengetahui masalah yang sedang diselidiki bulan setelah permintaan itu diterima. angket. b. peraturan perundang-undangan. mendengar. diatur dalam (8) Tata cara penggunaan hak interpelasi. sebagaimana dimaksud rahasia. menentukan Anggaran Belanja DPRD. meningkatkan kesejahteraan rakyat di Anggota DPRD mempunyai kewajiban: (4) Semua yang hadir dalam rapat tertutup Daerah berdasarkan demokrasi a. Daerah. mempertahankan dan memelihara keutuhan g. diatur dalam Peraturan Tata b. protokoler. atau warga masyarakat untuk diperiksa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam Peraturan Tata Tertib memberikan keterangan tentang suatu hal wajib memenuhi panggilan panitia angket Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Perwakilan Rakyat Daerah. sebagaimana dimaksud pada angket dapat memanggil secara paksa dengan (2) Atas permintaan Kepala Daerah. (4) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud berhak meminta pejabat negara. hutang piutang dan menanggung (2) Pelaksanaan hak. dan b. diancam dengan pidana kurungan bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia atas permintaan sekurang-kurangnya paling lama satu tahun karena merendahkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. imunitas. mengamalkan Pancasila. Pemerintah. pengangkutan tanpa mengadakan DPRD mempunyai kewajiban : f. serta mentaati segala dan anggota DPRD diatur dalam Peraturan perdata secara damai . b. diatur dalam Peraturan Tata orang yang dianggap mengetahui atau patut untuk bersidang dalam waktu 1 (satu) Tertib DPRD. barang-barang. Pasal 45 Perwakilan Rakyat Daerah. menetapk an Peraturan Tata Tertib (4) Dalam melaksanakan tugasnya. yang perlu ditangani demi kepentingan kecuali ada alasan yang sah menurut peraturan negara. panitia untuk umum. dan Pasal 44 penghapusan pajak dan retribusi . mengajukan pertanyaan. e. menyampaikan usul dan pendapat. mengajukan rancangan Perda. Anggaran Pendapatan dan Belanja (1) Anggota DPRD mempunyai hak : undangan. a. permintaan. pemerintahan. dan dalam ayat-ayat (1). (2) dan (3) pasal ini pemerintah. pinjaman . pemilihan Ketua dan Wakil Ketua dan c. persetujuan penyelesaian perkara Undang Dasar 1945. atas permintaan sekurangdan h. (2) Pelaksanaan hak. pasal ini.kali dalam setahun. h. seperlima jumlah Anggota atau apabila martabat dan kehormatan DPRD. me-laksanakan . dan pemborongan Pasal 22 e. d. bangsa. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat atau atas permintaan Kepala Daerah.

dan pernyataan yang dikemukakan dalam permintaan sekurang-kurangnya seperlima menindaklanjuti aspi-rasi masyarakat. dan rapat tertutup. menampung. maupun tertulis kepada Pimpinan Dewan mengadakan rapat selambat-lambatnya g. undang. kecuali jika itu diterima. pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala (1) Badan Kehormatan DPRD dibentuk dan Daerah. pemilihan anggota Majelis (2) Anggota Badan Kehormatan DPRD se(1) Apabila ternyata Dewan Perwakilan Permusyawaratan Rakyat Utusan Daerah. penyelesaiannya. c. Pasal 25 d. memberikan pertanggungjawaban atas tugas Perwakilna Rakyat Daerah. Indonesia Tahun 1945. ditetapkan dengan keputusan DPRD. dan (1) Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan kecuali yang dinyatakan tertutup berdasarkan f. Rakyat Daerah diatur dengan Keputusan Peraturan Tata Tertib DPRD atau atas (2) Pembentukan. e. ayat (2). Pasal 34 Rapat-rapat DPRD bersifat terbuka untuk umum. Pasal 26 DPRD dengan berpedoman pada peraturan (2) Peraturan Tata Tertib yang dimaksud Rapat tertutup dapat mengambil keputusan. c. beranggotakan sampai dengan 34 (tiga puluh . Pasal 46 (2) Tatacara tindakan kepolisian terhadap Pasal 24 (1) Alat kelengkapan DPRD terdiri atas: Anggota-anggota Dewan Perwakilan Peraturan Tata Tertib DPRD ditetapkan dengan a. ditetapkan dengan Peraturan Tata kerja dengan lembaga yang terkait. apa yang disepakati dalam rapat tertutup Ketua DPRD. pimpinan. Badan Kehormatan. panitia anggaran. atas e.wajib merahasiakan segala hal yang ekonomi. panitia musyawarah. untuk dirahasiakan atau hal-hal yang (4) Pelaksanaan ketentuan. Pengadilan karena pernyataan. Rakyat Daerah diatur dengan Undang. untuk DPRD kabupaten/kota yang menjalankan fungsi dan kewajibannya pajak dan retribusi. dalam BUKU KEDUA BAB I Kitab Tertib DPRD. sebagai wujud tanggung jawab moral dan dengan pernyataan itu ia membocorkan (3) DPRD mengadakan rapat atas undangan politis terhadap daerah pemilihannya. susunan. Undang-undang Hukum Pidana. yang diajukan secara lisan mengundang anggotanya untuk golongan. Kode Etik. dan wewenang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kesepakatan di antara pimpinan DPRD. mempertahankan dan memelihara kerukunan Pasal 23 nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Pasal 33 (1) DPRD mengadakan rapat secara berkala Republik Indonesia. memperjuangkan peningkatan keDaerah tidak dapat dituntut dimuka setahun. (1) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat sekurang-kurangnya enam kali dalam d. mendahulukan kepentingan negara di atas baik dalam rapat terbuka maupun dalam Kepala Daerah. serta memfasilitasi tindak lanjut b. maupun pegawai/pekerja yang masyarakat. menyerap. rapat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Ketua DPRD dapat kepentingan pribadi. alat kelengkapan sebagaimana dimaksud pada sesuai dengan pedoman yang ditetapkan ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib oleh Menteri Dalam Negeri. h. perundang-undangan. memperhatikan dan menyalurkan aspirasi. dan menaati segala berlangsung terus baik bagi Anggota menerima keluhan dan pengaduan peraturan perundang-undangan. dari jumlah anggota atau atas permintaan f. komisi. menaati Peraturan Tata Tertib. dalam ayat (1) pasal ini. Pasal 35 b. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. tugas. penetapan perubahan dan penghapusan a.Keputusan DPRD. menjaga norma dan etika dalam hubungan mengenai pengumuman rahasia Negara (3). berlaku sesudah kecuali mengenai : ada pengesahan pejabat yang a. dan ayat i. Pasal 47 berwenang. melaksanakan kehidupan demo-krasi dalam mengetahui halnya dengan jalan apapun. penyelenggaraan pemerintahan daerah. sejahteraan rakyat di daerah. kelompok. meng-himpun. bagaimana dimaksud pada ayat (1) dipilih dari Rakyat Daerah Tingkat I melalaikan atau c. sampai Dewan membebaskannya. sebagaimana dan sumpah/janji anggota DPRD. Kepala dalam waktu satu bulan setelah permintaan dan kinerjanya selaku anggota DPRD Daerah atau Pemerintah.(2) Kecuali yang dimaksud pada ayat (1). alat kelengkapan lain yang diperlukan. b.dan Undang-Undang Dasar Negara Republik dibicarakan dan kewajiban itu e. dimaksud oleh ketentuan-ketentuan dimaksud pada ayat (1). dan oleh anggota DPRD dengan ketentuan: karena sesuatu hal tidak dapat d. pemilihan Ketua/Wakil Ketua DPRD.

meneliti dugaan pelanggaran yang dilakukan ayat (2) pasal ini. kecuali jika yang bersangkutan Pasal 36 (1) Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat mengumumkan apa yang disepakati dalam rapat (4) Badan Kehormatan sebagaimana dimaksud Daerah adalah unsur staf yang tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang pada ayat (1) dibantu oleh sebuah sekretariat membantu Pimpinan Dewan Perwakilan dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman yang secara fungsional dilaksanakan oleh Rakyat Daerah dalam rahasia negara dalam buku kedua Bab I Kitab Sekretariat DPRD. secara tertulis kepada Menteri Dalam Negeri d. yang diajukannya secara lisan yang dipilih dari dan oleh anggota Badan atau tertulis. dan (1) Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat dimaksud pada ayat (1). menyelenggarakan tugas dan Undang-undang Hukum Pidana. . Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. DPRD Propinsi dan Gubernur bagi anggota dengan Kode Etik DPRD. wewenangnya. mengevaluasi disiplin. Pasal 48 (2) Pembentukan. dan Pasal 28 Badan Kehormatan mempunyai tugas: formasi Sekretariat Dewan Perwakilan (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota a. dan klarifikasi Daerah Tingkat I diangkat oleh Menteri Pasal 29 sebagaimana dimaksud pada huruf c Dalam Negeri dari Pegawai Negeri yang (1) Sekretariat DPRD membantu DPRD dalam sebagai rekomendasi untuk ditindaklanjuti memenuhi persyaratan. lima) sampai dengan 45 (empat puluh lima) Menteri Dalam Negeri menentukan cara g.sehingga dapat merugikan Daerah atau e. menyampaikan kesimpulan atas hasil (2) Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat dan/atau Gubernur. menyelenggarak an tugas dan oleh DPRD. mengamati. setelah mendengar pertimbangan Anggota DPRD tidak dapat dituntut di pengadilan (3) Pimpinan Badan Kehormatan DPRD Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah karena pernyataan dan atau pendapat yang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri yang bersangkutan. pinjaman. DPRD. b. melakukan penyelidikan. utang piutang. dan berjumlah 5 (lima) orang. selambat-lambatnya klarifikasi atas pengaduan Pimpinan DPRD. verifikasi. setelah mendengar kepada Daerah. untuk DPRD provinsi yang beranggotakan kewajiban Dewan Perwakilan Rakyat h. Gubernur Kepala Daerah Sekretaris DPRD yang diangkat oleh Kepala (1) DPRD wajib menyusun kode etik untuk mengajukan calon Sekretaris Dewan Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang menjaga martabat dan kehormatan anggota Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I memenuhi syarat atas persetujuan pimpinan DPRD dalam menjalankan tugas dan kepada Menteri Dalam Negeri. yang beranggotakan 75 (tujuh puluh lima) yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. kewajibannya. baik terbuka atas seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua maupun tertutup. (3) Dengan memperoleh persetujuan Dewan kewenangannya. berlaku sesudah ada bersangkutan tertangkap tangan melakukan anggota DPRD terhadap Peraturan Tata pengesahan pejabat yang berwenang. (4) Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat (3) Sekretaris DPRD dalam melaksanakan (2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Daerah Tingkat II diangkat oleh tugasnya berada di bawah dan bertanggung sekurang-kurangnya meliputi: Kehormatan. sebagaimana c. dan untuk DPRD (2) Bagi Daerah Tingkat II penentuan cara i. dan Rakyat Daerah diatur dengan Peraturan DPRD dapat dilaksanakan atas persetujuan moral para anggota DPRD dalam rangka Daerah sesuai dengan pedoman yang tertulis Menteri Dalam Negeri bagi anggota menjaga martabat dan kehormatan sesuai ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. dan seluruhnya. verifikasi. secara damai. persetujuan penyelesaian perkara perdata sampai dengan 74 (tujuh puluh empat) Daerah itu dijalankan. Badan Usaha Milik Daerah. sampai dengan 100 (seratus) berjumlah 7 dilakukan oleh Gubernur Kepala Daerah Pasal 27 (tujuh) orang. kebijakan tata ruang. bagaimana hak. dan pembebanan empat) berjumlah 3 (tiga) orang. penyelidikan. dan untuk Negara. tindak pidana kejahatan. wewenang. Tertib dan Kode Etik DPRD serta (2) Dalam hal anggota DPRD tertangkap tangan sumpah/janji. kecuali jika yang b. susunan organisasi. Daerah dipimpin oleh seorang Sekretaris dalam tempo 2 kali 24 jam diberitahukan masyarakat dan/atau pemilih. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam DPRD Kabupaten dan Kota. etika. DPRD yang beranggotakan 35 (tiga puluh pertimbangan Gubernur Kepala Daerah. Pasal 37 melakukan tindak pidana. Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui (2) Sekretariat DPRD dipimpin oleh seorang Pasal 49 pemilihan. penghapusan tagihan sebagian atau berjumlah 5 (lima) orang. f. dikemukakan dalam rapat DPRD.

Daerah. (1) Setiap anggota DPRD wajib terhimpun dalam fraksi. (6) Parpol yang memenuhi persyaratan untuk membentuk fraksi hanya dapat membentuk satu fraksi. ahli dengan tugas membantu anggota DPRD c. etika dalam penyampaian pendapat. a. sanksi dan rehabilitasi. hubungan antarpenyelenggara pemerintahan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui (5) Anggaran Belanja Sekretariat DPRD daerah dan antaranggota serta antara pemilihan. Bupati/Walikotamadya Kepala ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan anggota DPRD dan pihak lain. tujuan kode etik. (5) Dalam hal fraksi gabungan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) setelah dibentuk.Gubernur Kepala Daerah atas nama jawab kepada pimpinan DPRD. sanggahan. pengertian kode etik. (3). wajib bergabung dengan fraksi yang ada atau membentuk fraksi gabungan. (2) Jumlah anggota setiap fraksi se-bagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya sama dengan jumlah komisi di DPRD. (3) Anggota DPRD sebagaimana di-maksud pada ayat (1) dari 1 (satu) partai politik yang tidak memenuhi syarat untuk membentuk 1 (satu) fraksi. tata kerja.Daerah sebagai kepala eksekutif yang dibantu ayat (2). Menteri Dalam Negeri dari Pegawai (4) Sekretaris DPRD dapat menyediakan tenaga b. . (4) dan (5) pasal ini diatur oleh seorang Wakil Kepala Daerah. jawaban. dan (6) Persyaratan dan tatacara pelaksanaan Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala f. yang beranggotakan lebih dari 75 (tujuh puluh lima) orang membentuk 5 (lima) komisi. ketentuan yang dimaksud dalam ayat. dan tata (5) Dengan memperoleh persetujuan Dewan dalam menjalankan fungsinya. oleh anggota DPRD. Tingkat II kepada Gubernur Kepala e. Negeri yang memenuhi persyaratan. Pasal 30 tanggapan. pengaturan sikap. (4) Fraksi yang ada wajib menerima anggota DPRD dari partai politik lain yang tidak memenuhi syarat untuk dapat membentuk satu fraksi. Pasal 51 (1) DPRD provinsi yang beranggotakan 35 (tiga puluh lima) sampai dengan 75 (tujuh puluh lima) orang membentuk 4 (empat) komi-si. kemudian tidak lagi memenuhi syarat sebagai fraksi ga-bungan. (7) Fraksi gabungan dapat dibentuk oleh partai politik dengan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (5). Pasal 50 dengan Peraturan Manteri Dalam Negeri. hal yang baik dan sepantasnya dilakukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Belanja Daerah. seluruh anggota fraksi gabungan tersebut wajib bergabung dengan fraksi dan/atau fraksi ga-bungan lain yang memenuhi syarat. Daerah mengajukan calon Sekretaris dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan d.

sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Tata Tertib dan kode etik DPRD. Pasal 52 (1) Anggota DPRD tidak dapat dituntut dihadapan pengadilan karena pernyataan. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal anggota yang bersangkutan mengumumkan materi yang telah disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan. yang beranggotakan lebih dari 35 (tiga puluh lima) orang membentuk 4 (empat) komisi.(2) DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan 20 (dua puluh) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) orang membentuk 3 (tiga) komisi. Pasal 53 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden bagi anggota DPRD provinsi dan dari Gubernur atas nama Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD kabupaten/kota. (3) Anggota DPRD tidak dapat diganti antarwaktu karena pernyataan. atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam peraturan perundang-undangan. (2) Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari semenjak diterimanya permohonan. proses penyidikan dapat dilakukan. atau . (4) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. pertanyaan dan/atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. (3) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan diperlukan persetujuan tertulis dengan cara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). pertanyaan dan/atau pendapat yang dikemukakan secara lisan ataupun tertulis dalam rapat DPRD.

notaris. advokat/pengacara. akuntan publik. Pasal 55 (1) Anggota DPRD berhenti antarwaktu sebagai . ayat (4). anggota TNI/Polri. pegawai pada badan usaha milik negara. pejabat negara lainnya. dokter praktik dan pekerjaan lain yang ada hubungannya dengan tugas. (5) Anggota DPRD yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diberhentikan oleh pimpinan berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Kehormatan DPRD. (2) Anggota DPRD dilarang melakukan pekerjaan sebagai pejabat struktural pada lembaga pendidikan swasta. pegawai negeri sipil.b. c. konsultan. (6) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tindakan penyidikan harus dilaporkan kepada pejabat yang memberikan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 2 (dua kali) 24 (dua puluh empat) jam. Pasal 54 (1) Anggota DPRD dilarang merangkap jabatan sebagai: a. ayat (3). wewenang. dan nepotisme. disangka melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati. b. dan ayat (5) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. hakim pada badan peradilan. badan usaha milik daerah dan/atau badan lain yang anggarannya bersumber dari APBN/APBD. (4) Anggota DPRD yang melakukan pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melepaskan pekerjaan tersebut selama menjadi anggota DPRD. ayat (2). atau tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. kolusi. dan hak sebagai anggota DPRD. (5) Setelah tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan. (3) Anggota DPRD dilarang melakukan korupsi.

d. c. dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan. Pemberhentian anggota DPRD yang telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi anggota DPRD provinsi dan kepada Gubernur melalui Bupati/Walikota bagi anggota DPRD kabupaten/kota untuk diresmikan pemberhentiannya. dan ayat (4) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD berpedoman pada peraturan perundang-undangan. dinyatakan bers alah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melanggar tindak pidana dengan ancaman pidana paling singkat 5 (lima) tahun penjara atau lebih. dan/atau melanggar kode etik DPRD. ayat (3). tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 (enam) bulan. f.(2) (3) (4) (5) anggota karena: a. huruf d. huruf c. Anggota DPRD diberhentikan antarwaktu. dilaksanakan secara demokratis berdasarkan yang diatur dalam UU No. meninggal dunia. diusulkan oleh partai politik yang bersangkutan. karena: a. huruf b. Pemberhentian anggota DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. hal ini berbeda dengan Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 pemilihan secara bersamaan. 32 Tahun 2004 mengatur Daerah (1) Kepala Daerah Tingkat I dicalonkan (1) Pengisian jabatan Kepala Daerah dan Wakil (1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih bahwa Pemilihan Kepala Daerah dilakukan dan dipilih oleh Dewan Perwakilan Kepala Daerah dilakukan oleh DPRD melalui dalam satu pasangan calon yang secara langsung. Pelaksanaan ketentuan sebagai-mana dimaksud pada ayat (1). dan huruf e dilaksanakan setelah ada keputusan DPRD berdasarkan rekomendasi dari Badan Kehormatan DPRD. b. tidak lagi memenuhi syarat sebagai anggota DPRD. 9 Pemilihan Kepala Pasal 15 Pasal 34 : Pasal 56 • Dalam UU No. e. tidak melaksanakan kewajiban anggota DPRD. mengundurkan diri atas permintaan sendiri secara tertulis. dan c. melanggar larangan bagi anggota DPRD.22 tahun 1999 . ayat (2). b.

(tiga) orang dan sebanyak-banyknya 5 (2) Calon Kepala Daerah dan calon Wakil asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan UU No. 5 Tahun 1974 pemilihan kepala (lima) orang calon yang telah Kepala Daerah, ditetapkan oleh DPRD dan adil. daerah dilakukan oleh DPRD. dimusyawarahkan dan disepakati melalui tahap pencalonan dan pemilihan. (2) Pasangan calon sebagaimana dimaksud pada bersama antara Pimpinan Dewan (3) Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala ayat (1) diajukan oleh partai politik atau Perwakilan Rakyat Daerah/ Pimpinan Daerah dan Wakil Kepala Daerah, dibentuk gabungan partai politik. Fraksi-fraksi depan Menteri Dalam Panitia Pemilihan. Negeri. (4) Ketua dan para Wakil Ketua DPRD karena Pasal 57 (2) Hasil pemilihan yang dimaksud dalam jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua (1) Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala ayat (1) pasal ini diajukan oleh Dewan Panitia Pemilihan merangkap sebagai daerah diselenggarakan oleh KPUD yang Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota. bertanggungjawab kepada DPRD. bersangkutan kepada Presiden melalui (5) Sekretaris DPRD karena jabatannya adalah (2) Dalam melaksanakan tugasnya, KPUD meMenteri Dalam Negeri sedikit-dikitnya 2 Sekretaris Panitia Pemilihan, tetapi bukan nyampaikan laporan penyelenggaraan (dua) orang untuk diangkat salah anggota. pemilihan kepala daerah dan wakil kepala seorang diantaranya. daerah kepada DPRD. (3) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang Pasal 35 (3) Dalam mengawasi penyelenggaraan pemilihdimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur (1) Panitia pemilihan, sebagaimana dimaksud an kepala daerah dan wakil kepala daerah, dengan Peraturan Menteri Dalam dalam Pasal 34 ayat (3), bertugas : dibentuk panitia pengawas pemilihan kepala Negeri. a. melakukan pemeriksaan berkas identitas daerah dan wakil kepala daerah yang mengenai bakal calon berdasarkan keanggotaannya terdiri atas unsur kepolisian, Pasal 16 persyaratan yang telah ditetapkan dalam kejaksaan, perguruan tinggi, pers, dan tokoh (1) Kepala Daerah Tingkat II dicalonkan Pasal 33; masyarakat. dan dipilih oleh Dewan Perwakilan b. melakukan kegiatan teknis pemilihan (4) Anggota panitia pengawas sebagaimana Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 calon; dan dimaksud pada ayat (3) berjumlah 5 (lima) (tiga) orang dan sebanyak-banyaknya 5 c. menjadi penanggung jawab orang untuk provinsi, 5 (lima) orang untuk (lima) orang calon yang telah penyelenggaraan pemilihan. kabupaten/kota dan 3 (tiga) orang untuk dimusyawarahkan dan disepakati (2) Bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon kecamatan. bersama antara Pimpinan Dewan Wakil Kepala Daerah yang memenuhi (5) Panitia pengawas kecamatan diusulkan oleh Perwakilan Rakyat Daerah/Pimpinan persyaratan sesuai dengan hasil panitia pengawas kabupaten/kota untuk Fraksi-fraksi dengan Gubernur Kepala pemeriksaan yang dilakukan oleh Panitia ditetapkan oleh DPRD. Daerah. Pemilihan, sebagaimana dimaksud pada ayat (6) Dalam hal tidak didapatkan unsur sebagai(2) Hasil pemilihan yang dimaksud dalam (1), diajukan kepada DPRD untuk ditetapkan mana dimaksud pada ayat (3), panitia ayat (1) pasal ini diajukan oleh Dewan sebagai calon Kepala Daerah dan calon pengawas kabupaten/kota/kecamatan dapat Perwakilan Rakyat Daerah yang Wakil Kepala Daerah. diisi oleh unsur yang lainnya. bersangkutan kepada Menteri Dalam (7) Panitia pengawas pemilihan kepala daerah Negeri melalui Gubernur Kepala Pasal 36 dan wakil kepala daerah dibentuk oleh dan Daerah sedikit-dikitnya 2 (dua) orang (1) Setiap fraksi melakukan kegiatan bertanggungjawab kepada DPRD dan untuk diangkat salah seorang penyaringan pasangan bakal calon sesuai berkewajiban menyampaikan laporannya. diantaranya. dengan syarat yang ditetapkan dalam Pasal (3) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang 33. Pasal 59 dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur (2) Setiap fraksi menetapkan pasangan bakal (1) Peserta pemilihan kepala daerah dan wakil dengan peraturan Menteri Dalam calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil kepala daerah adalah pasangan calon yang Negeri. Kepala Daerah dan menyampaikannya diusulkan secara berpasangan oleh partai dalam rapat paripurna kepada pimpinan politik atau gabungan partai politik. Pasal 17 DPRD. (2) Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat (1) Kepala Daerah diangkat untuk masa jabatan 5 (lima) tahun terhitung mulai sama mengajukan pasangan bakal calon mendaftarkan pasangan calon apabila

(3) Dua fraksi atau lebih dapat secara bersama-

tanggal pelantikannya dan dapat Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala memenuhi pers yaratan perolehan sekurangdiangkat kembali, untuk 1 (satu) kali Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat kurangnya 15% (lima belas persen) dari masa jabatan berikutnya. (1). jumlah kursi DPRD atau 15% (lima belas (2) Kepala Daerah adalah Pejabat Negara. persen) dari akumulasi perolehan suara sah Pasal 37 dalam Pemilihan Umum anggota DPRD di Pasal 18 (1) Dalam Rapat Paripurna DPRD, setiap fraksi daerah yang bersangkutan. (1) Sebelum memangku jabatannya atau beberapa fraksi memberikan penjelasan (3) Partai politik atau gabungan partai politik wajib Kepala Daerah diambil sumpahnya/ mengenai bakal calonnya. membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi janjinya dan dilantik oleh : (2) Pimpinan DPRD mengundang bakal calon bakal calon perseorangan yang memenuhi syarat a. Presiden bagi Kepala Daerah dimaksud untuk menjelaskan visi, misi, serta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan Tingkat I ; rencana-rencana kebijakan apabila bakal selanjutnya memproses bakal calon dimaksud b. Menteri Dalam Negeri bagi Kepala calon dimaksud terpilih sebagai Kepala melalui mekanisme yang demokratis dan Daerah Tingkat II. Daerah. transparan. (2) Presiden dapat menunjuk Menteri (3) Anggota DPRD dapat melakukan tanya (4) Dalam proses penetapan pasangan calon, partai Dalam Negeri untuk mengambil politik atau gabungan partai politik memperhatikan jawab dengan para bakal calon. sumpah/janji dan melantik Kepala (4) Pimpinan DPRD dan pimpinan fraksi-fraksi pendapat dan tanggapan masyarakat. Daerah Tingkat I atas nama Presiden. melakukan penilaian atas kemampuan dan (5) Partai politik atau gabungan partai politik (3) Menteri Dalam Negeri dapat menunjuk kepribadian para bakal calon dan melalui pada saat mendaftarkan pasangan calon, wajib Gubernur Kepala Daerah untuk mus yawarah atau pemungutan suara menyerahkan: mengambil sumpah/janji dan melantik menetapkan sekurang-kurangnya dua a. surat pencalonan yang ditandatangani Kepala Daerah Tingkat II atas nama pasang calon Kepala Daerah dan calon oleh pimpinan partai politik atau pimpinan Menteri Dalam Negeri. Wakil Kepala Daerah yang akan dipilih satu partai politik yang bergabung; (4) Susunan kata-kata sumpah/janji yang pasang di antaranya oleh DPRD. b. kesepakatan tertulis antarpartai politik yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, bergabung untuk mencalonkan pasangan adalah sebagai berikut : Pasal 38 calon; "Saya bersumpah/berjanji, bahwa (1) Nama-nama calon Gubernur dan calon Wakil c. surat pernyataan tidak akan menarik saya untuk diangkat menjadi Gubernur yang telah ditetapkan oleh pencalonan atas pasangan yang dicalonkan Kepala Daerah, langsung atau pimpinan DPRD dikonsultasikan dengan yang ditandatangani oleh pimpinan partai tidak langsung dengan nama Presiden. politik atau para pimpinan partai politik yang atau dalih apapun, tidak (2) Nama-nama calon Bupati dan calon Wakil bergabung; memberikan atau menjanjikan Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil d. surat pernyataan kesediaan yang atau akan memberikan sesuatu Walikota yang akan dipilih oleh DPRD bersangkutan sebagai calon kepala daerah kepada siapapun juga. ditetapkan dengan keputusan pimpinan dan wakil kepala daerah secara Saya bersumpah/berjanji, bahwa DPRD. berpasangan; saya untuk melakukan atau tidak e. surat pernyataan tidak akan mengundurkan melakukan sesuatu dalam Pasal 39 diri sebagai pasangan calon; jabatan ini, tidak sekali-kali akan (1) Pemilihan calon Kepala Daerah dan calon f. surat pernyataan kesanggupan menerima langsung ataupun Wakil Kepala Daerah dilaksanakan dalam mengundurkan diri dari jabatan apabila tidak langsung dari siapapun juga Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh terpilih menjadi kepala daerah atau wakil sesuatu janji atau pemberian. sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah kepala daerah sesuai dengan peraturan Saya bersumpah/berjanji, bahwa anggota DPRD. perundang-undangan; saya akan memenuhi kewajiban (2) Apabila jumlah anggota DPRD belum g. surat pernyataan mengundurkan diri dari saya sebagai Kepala Daerah mencapai kuorum, sebagaimana dimaksud jabatan negeri bagi calon yang berasal dari dengan sebaik-baiknya dan pada ayat (1), pimpinan rapat dapat pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, dan anggota Kepolisian sejujur-jujurnya, bahwa saya akan taat dan akan Negara Republik Indonesia;

menunda rapat paling lama satu jam.

mempertahankan PANCASILA (3) Apabila ketentuan, sebagaimana dimaksud h. surat pernyataan tidak aktif dari jabatannya sebagai dasar dan ideologi pada ayat (2), belum dicapai, rapat paripurna bagi pimpinan DPRD tempat yang Negara, bahwa saya senantiasa diundur paling lama satu jam lagi dan bersangkutan menjadi calon di daerah yang akan menegakkan Undangselanjutnya pemilihan calon Kepala Daerah menjadi wilayah kerjanya; Undang Dasar 1945 dan segala dan calon Wakil Kepala Daerah tetap i. surat pemberitahuan kepada pimpinan bagi peraturan perundang-undangan dilaksanakan. anggota DPR, DPD, dan DPRD yang yang berlaku bagi Negara mencalonkan diri sebagai calon kepala Republik Indonesia. daerah dan wakil kepala daerah; Saya bersumpah/berjanji, bahwa j. kelengkapan persyaratan calon kepala saya akan memegang rahasia daerah dan wakil kepala daerah sesuatu yang menurut sifatnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58; atau menurut perintah harus saya dan rahasiakan. Saya k. naskah visi, misi, dan program dari bersumpah/berjanji, bahwa saya pasangan calon secara tertulis. dalam menjalankan jabatan atau (6) Partai politik atau gabungan partai politik pekerjaan saya, senantiasa akan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya lebih mengutamakan dapat mengusulkan satu pasangan calon dan kepentingan Negara dan Daerah pasangan calon tersebut tidak dapat diusulkan daripada kepentingan saya lagi oleh partai politik atau gabungan partai sendiri, seseorang atau sesuatu politik lainnya. golongan dan akan menjunjung (7) Masa pendaftaran pasangan calon tinggi kehormatan Negara, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling Pemerintah, Daerah, dan lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak martabat Pejabat Negara. pengumuman pendaftaran pasangan calon. Saya bersumpah/berjanji, bahwa saya akan berusaha sekuat Pasal 60 tenaga membantu memajukan (1) Pasangan calon sebagaimana dimaksud kesejahteraan Rakyat Indonesia dalam Pasal 59 ayat (1) diteliti pers yaratan pada umumnya dan memajukan administrasinya dengan melakukan klarifikasi kesejahteraan Rakyat Indonesia kepada instansi pemerintah yang berwenang di Daerah pada khususnya dan dan menerima masukan dari masyarakat akan setia kepada Bangsa dan terhadap persyaratan pasangan calon. Negara Kesatuan Republik (2) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada Indonesia. ayat (1) diberitahukan secara tertulis kepada (5) Tatacara pengambilan sumpah/janji pimpinan partai politik atau gabungan partai dan pelantikan bagi Kepala Daerah politik yang mengusulkan, paling lambat 7 diatur dengan Peraturan Pemerintah. (tujuh) hari terhitung sejak tanggal penutupan pendaftaran. (3) Apabila pasangan calon belum memenuhi syarat atau ditolak karena tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan/atau Pasal 59, partai politik atau gabungan partai politik yang mengajukan calon diberi kesempatan untuk melengkapi dan/atau memperbaiki surat pencalonan beserta persyaratan pasangan calon atau

Pasal 62 (1) Partai politik atau gabungan partai politik dilarang menarik calonnya dan/atau pasangan calonnya. (2) Apabila partai politik atau gabungan partai politik menarik calonnya dan/atau pasangan calon dan/atau salah seorang dari pasangan calon mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Penetapan dan pengumuman pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bersifat final dan mengikat. partai politik atau . KPUD menetapkan pasangan calon paling kurang 2 (dua) pasangan calon yang dituangkan dalam Berita Acara Penetapan pasangan calon. Pasal 61 (1) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) dan ayat (4). dan pasangan calon atau salah seorang dari pasangan calon dilarang mengundurkan diri terhitung sejak ditetapkan sebagai pasangan calon oleh KPUD. (4) KPUD melakukan penelitian ulang kelengkapan dan atau perbaikan persyaratan pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan sekaligus memberitahukan hasil penelitian tersebut paling lambat 7 (tujuh) hari kepada pimpinan partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan. selanjutnya dilakukan undian secara terbuka untuk menetapkan nomor urut pasangan calon. tidak dapat lagi mengajukan pasangan calon. partai politik dan atau gabungan partai politik. (5) Apabila hasil penelitian berkas pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak memenuhi syarat dan ditolak oleh KPUD. (3) Terhadap pasangan calon yang telah ditetapkan dan diumumkan. (2) Pasangan calon yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diumumkan secara luas paling lambat 7 (tujuh) hari sejak selesainya penelitian.mengajukan calon baru paling lambat 7 (tujuh) hari sejak saat pemberitahuan hasil penelitian persyaratan oleh KPUD.

Pasal 64 (1) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap setelah pemungutan suara putaran pertama sampai dimulainya hari pemungutan suara putaran kedua.gabungan partai politik yang mencalonkan tidak dapat mengusulkan calon pengganti. tahapan . (3) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara sehingga jumlah pasangan calon kurang dari 2 (dua) pasangan. tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilanjutkan dan pasangan calon yang berhalangan tetap tidak dapat diganti serta dinyatakan gugur. tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lambat 30 (tiga puluh) hari dan partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap dan KPUD melakukan penelitian pers yaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap dapat mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. (2) Dalam hal salah 1 (satu) calon atau pasangan calon berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara dan masih terdapat 2 (dua) pasangan calon atau lebih. Pasal 63 (1) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap sejak penetapan calon sampai pada saat dimulainya hari kampanye.

dan pelantikan. c. Pemberitahuan dan pendaftaran pemantau. (2) Partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. dan tahap pelaks anaan. e. c. (4) Tata cara pelaksanaan masa persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud . d. b.pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lambat 30 (tiga puluh) hari. Pasal 65 (1) Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilaksanakan melalui masa persiapan. meliputi penetapan tata cara dan jadwal tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah. Kampanye. Pemungutan suara. Perencanaan penyelenggaraan. d. (2) Masa persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. b. PPK. Pemberitahuan DPRD kepada kepala daerah mengenai berakhirnya masa jabatan. Pemberitahuan DPRD kepada KPUD mengenai berakhirnya masa jabatan kepala daerah. Penghitungan suara. e. Pembentukan Panitia Pengawas. pengesahan. Penetapan daftar pemilih. Pendaftaran dan Penetapan calon kepala daerah/ wakil kepala daerah. (3) Tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. PPS dan KPPS. Penetapan pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah terpilih. dan f.

c. menetapkan tata cara pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sesuai dengan tahapan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. meneliti persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang diusulkan. menetapkan kantor akuntan publik untuk mengaudit dana kampanye dan mengumumkan hasil audit. dan mengendalikan semua tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. d. mengumumkan laporan sumbangan dana kampanye. b. j.menyelenggarakan. i. . menetapkan tanggal dan tata cara pelaksanaan kampanye. e. g. menetapkan pasangan calon yang telah memenuhi persyaratan. f. menerima pendaftaran dan me-ngumumkan tim kampanye. serta pe-mungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. m. k. Merencanakan penyelenggara-an pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. l. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur oleh peraturan perundangundangan. melakukan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.pada ayat (3) diatur KPUD dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. menetapkan hasil rekapitulasi penghitungan suara dan mengumumkan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Pasal 66 (1) Tugas dan wewenang KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah: a. h. mengkoordinasikan. meneliti persyaratan partai politik atau gabungan partai politik yang me-ngusulkan calon.

b. menetapkan standarisasi serta kebutuhan . mengusulkan pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala daerah yang berakhir masa jabatannya dan mengusulkan pengangkatan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. memperlakukan pasangan calon secara adil dan setara. mengawasi semua tahapan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. b. melakukan pengawasan pada semua tahapan pelaksanaan pemilihan. mengatur hubungan koordinasi antar panitia pengawasan pada semua tingkatan. d. menyelesaikan sengketa yang timbul dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. memberitahukan kepada kepala daerah mengenai akan berakhirnya masa jabatan. c. membentuk panitia pengawas. menyelenggarakan rapat paripurna un-tuk mendengarkan penyampaian visi. b. dan program dari pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah.(2) Dalam penyelenggaran pemilihan gubernur dan wakil gubernur KPUD kabupaten/kota adalah bagian pelaksana tahapan penyelenggaraan pemilihan yang ditetapkan oleh KPUD provinsi. (4) Panitia pengawas pemilihan mempunyai tugas dan wewenang: a. meminta pertanggungjawaban pelaksanaan tugas KPUD. (3) Tugas dan wewenang DPRD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah: a. menerima laporan pelanggaran peraturan perundang-undangan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. meneruskan temuan dan laporan yang tidak dapat diselesaikan kepada instansi yang berwenang. misi. dan f. e. d. c. dan e. Pasal 67 (1) KPUD berkewajiban: a.

barang dan jasa yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan. b. f. e. melaksanakan semua tahapan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah secara tepat waktu. (2) Untuk dapat didaftar sebagai pemilih. . d. (3) Seorang warga negara Republik Indonesia yang telah terdaftar dalam daftar pemilih ternyata tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat menggunakan hak memilihnya. nyata-nyata tidak sedang terganggu jiwa/ingatannya. 10 Penetapan Pemilih Pasal 68 Warga negara Republik Indonesia yang pada hari pemungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih. warga negara Republik Indonesia harus terdaftar sebagai pemilih. Pasal 69 (1) Untuk dapat menggunakan hak memilih. menyampaikan laporan kepada DPRD untuk setiap tahap pelaksanaan pemilihan dan menyampaikan informasi kegiatannya kepada masyarakat . warga negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat: a. memelihara arsip dan dokumen pemilihan serta mengelola barang inventaris milik KPUD berdasarkan peraturan perundangundangan. mempertanggungjawabkan pengguna-an anggaran kepada DPRD. c. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

(3) Pemilih melaporkan kepindahannya ke-pada PPS di tempat pemilihan yang baru. (2) Daftar pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah dengan daftar pemilih tambahan yang telah memenuhi persyaratan sebagai pemilih ditetapkan sebagai daftar pemilih sementara. yang bersangkutan dapat menggunakan hak pilihnya di tempat lain dengan menunjukkan kartu pemilih. (4) Pemilih terdaftar yang karena sesuatu hal terpaksa tidak dapat menggunakan hak pilihnya di TPS yang sudah ditetapkan. (2) Apabila seorang pemilih mempunyai lebih dari 1 (satu) tempat tinggal. . pemilih tersebut harus menentukan satu di antaranya untuk ditetapkan sebagai tempat tinggal yang dicantumkan dalam daftar pemilih. Pasal 72 (1) Seorang pemilih hanya didaftar 1 (satu) kali dalam daftar pemilih.Pasal 70 (1) Daftar pemilih pada saat pelaksanaan pemilihan umum terakhir di daerah digunakan sebagai daftar pemilih untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. (2) PPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencatat nama pemilih dari daftar pemilih dan memberikan surat keterangan pindah tempat memilih. Pasal 71 Pemilih yang telah terdaftar sebagai pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 diberi tanda bukti pendaftaran untuk ditukarkan dengan kartu pemilih untuk setiap pemungutan suara. pemilih yang bersangkutan harus melapor kepada PPS setempat. Pasal 73 (1) Pemilih yang telah terdaftar dalam daftar pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 kemudian berpindah tempat tinggal atau karena ingin menggunakan hak pilihnya di tempat lain.

Pasal 74 (1) Berdasarkan daftar pemilih sebagaimana diaksud dalam Pasal 70 dan Pasal 73 PPS menyusun dan menetapkan daftar pemilih sementara. (2) Daftar pemilih sementara sebagaimana diaksud pada ayat (1) diumumk an oleh PPS untuk mendapat tanggapan masyarakat. (4) Daftar pemilih sementara dan daftar pemilih tambahan ditetapkan sebagai daftar pemilih tetap. (4) Tim kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didaftarkan ke KPUD bersamaan dengan pendaftaran pasangan calon. (2) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan selama 14 (empat belas) hari dan berakhir 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara. (6) Penanggung jawab kampanye adalah pasangan calon. yang pelaksanaannya dipertanggungjawabkan oleh tim kampanye. (5) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bersama-sama atau secara terpisah oleh pasangan calon dan/atau oleh tim kampanye. (7) Tim kampanye dapat dibentuk secara berjenjang di provinsi. 11 Kampanye Pasal 75 (1) Kampanye dilaksanakan sebagai bagian dari penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. (5) Daftar pemilih tetap disahkan dan d-umumkan oleh PPS. kabupaten/kota bagi pasangan calon Gubernur dan Wakil . (3) Pemilih yang belum terdaftar dalam daftar peilih sementara dapat mendaftarkan diri ke PPS dan dicatat dalam daftar pemilih tambahan. (3) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh tim kampanye yang dibentuk oleh pasangan calon bersama-sama partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan pasangan calon. (6) Tata cara pelaksanaan pendaftaran pemilih ditetapkan oleh KPUD.

rapat umum. penyebaran melalui media cetak dan media elektronik. h. g. d. (3) Calon kepala daerah dan wakil kepala daerah berhak untuk mendapatkan informasi atau data dari pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. debat publik/debat terbuka antarcalon. Pasal 76 (1) Kampanye dapat dilaksanakan melalui: a.Gubernur dan kabupaten/kota dan kecamatan bagi pasangan calon Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota. (2) Pasangan calon wajib menyampaikan visi. kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan. b. Pasal 77 (1) Media cetak dan media elektronik memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk menyampaikan tema dan materi kampanye. dan bersifat edukatif. penyiaran melalui radio dan/atau televisi. rakyat mempunyai kebebasan untuk menghadiri kampanye. . misi. c. dan program secara lisan maupun tertulis kepada masyarakat. (8) Dalam kampanye. pemasangan alat peraga di tempat umum. f. (5) Penyelenggaraan kampanye dilakukan di seluruh wilayah provinsi untuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur dan diseluruh wilayah kabupaten/kota untuk pemilihan bupati dan wakil bupati dan walikota dan wakil walikota. e. (4) Penyampaian materi kampanye dilakukan dengan cara yang sopan. tatap muka dan dialog. pertemuan terbatas. (9) Jadwal pelaksanaan kampanye ditetapkan oleh KPUD dengan memperhatikan usul dari pasangan calon. penyebaran bahan kampanye kepada umum. dan/atau i. tertib.

Pasal 78 Dalam kampanye dilarang: a. (4) Semua yang hadir dalam pertemuan terbatas atau rapat umum yang diadakan oleh pasangan calon hanya dibenarkan membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut pasangan calon yang bersangkutan. c. menghina seseorang. (7) Pemasangan alat peraga kampanye pada tempat yang menjadi milik perseorangan atau badan swasta harus seizin pemilik tempat tersebut. menghasut atau mengadu domba partai politik. ras. d.(2) Media elektronik dan media cetak wajib memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk memasang iklan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam rangka kampanye. (5) KPUD berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menetapkan lokasi pemasangan alat peraga untuk keperluan kampanye. mempersoalkan dasar negara Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. ancaman kekerasan atau menganjurkan . (6) Pemasangan alat peraga kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (5) oleh pasangan calon dilaksanakan dengan memper-timbangkan etika. estetika. dan/atau kelompok masyarakat. kebersihan. agama. (3) Pemerintah daerah memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk menggunakan fasilitas umum. b. menggunakan kekerasan. dan keindahan kota atau kawasan setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. golongan. suku. calon kepala daerah/wakil kepala daerah dan/atau partai politik. (8) Alat peraga kampanye harus sudah dibersihkan paling lambat 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara. perseorangan.

merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye pasangan calon lain. e. Pasal 79 (1) Dalam kampanye. (3) Pejabat negara yang menjadi calon ke-pala daerah dan wakil kepala daerah dalam melaksanakan kampanye harus memenuhi ketentuan: a. b. menjalani cuti di luar tanggungan negara. dan ketertiban umum. melakukan pawai atau arak-arakan yang dilakukan dengan berjalan kaki dan/atau dengan kendaraan di jalan raya.penggunaan kekerasan kepada perseorangan. (4) Pasangan calon dilarang melibatkan pegawai negeri sipil. menggunakan fasilitas dan anggaran pemerintah dan pemerintah daerah. ketenteraman. (2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku apabila pejabat tersebut menjadi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. dilarang melibatkan: a. f. dan j. kelompok masyarakat dan/atau partai politik. g. mengganggu keamanan. pengaturan lama cuti dan jadwal cuti dengan memperhatikan keberlangsungan tugas penyelenggaraan pemerin-tahan daerah. anggota Tentara Nasional Indonesia. d. b. dan c. i. dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai peserta . pejabat BUMN/BUMD. menggunakan tempat ibadah dan tempat pendidikan. h. hakim pada semua peradilan. kepala desa. tidak menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatannya. mengancam dan menganjurkan penggunaan kekerasan untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintahan yang sah. c. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri.

(2) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf g. huruf i dan huruf j. huruf e. dan kepala desa dilarang membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye. Pasal 81 (1) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf a. merupakan tindak pidana dan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. yang merupakan pelanggaran tata cara kampanye dikenai sanksi: a. Pasal 80 Pejabat negara. . pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri. huruf b. huruf d. (3) Tata cara pengenaan sanksi terhadap pelanggaran larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh KPUD. (4) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 dikenai sanksi penghentian kampanye selama masa kampanye oleh KPUD. penghentian kegiatan kampanye di tempat terjadinya pelanggaran atau di seluruh daerah pemilihan yang bersangkutan apabila terjadi gangguan terhadap keamanan yang berpotensi menyebar ke daerah pemilihan lain. dan huruf f. huruf h. b. huruf c. peringatan tertulis apabila penyelenggara kampanye melanggar larangan walaupun belum terjadi gangguan.kampanye dan juru kampanye dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.

(5) Sumbangan kepada pasangan calon yang lebih dari Rp 2. partai politik dan/atau gabungan partai politik yang mengusulkan.00 (lima puluh juta rupiah) dan dari badan hukum swasta dilarang melebihi Rp 350. pasangan calon.00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah). dan ayat (5) disampaikan oleh pasangan calon . b. Pasal 83 (1) Dana kampanye dapat diperoleh dari: a. (2) Pasangan calon wajib memiliki rekening khusus dana kampanye dan rekening yang dimaksud didaftarkan kepada KPUD. (6) Laporan sumbangan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (3).000. (2) Pasangan calon dan/atau tim kampanye yang terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh DPRD.000.000.000. c.500.00 (dua juta lima ratus ribu rupiah) baik dalam bentuk uang maupun bukan dalam bentuk uang yang dapat dikonversikan ke dalam nilai uang wajib dilaporkan kepada KPUD mengenai jumlah dan identitas pemberi sumbangan. (4) Pasangan calon dapat menerima dan/atau menyetujui pembiayaan bukan dalam bentuk uang secara langsung untuk kegiatan kampanye. sumbangan pihak-pihak lain yang tidak mengikat yang meliputi sumbangan perseorangan dan/atau badan hukum swasta.000. (3) Sumbangan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dari perseorangan dilarang melebihi Rp 50.Pasal 82 (1) Pasangan calon dan/atau tim kampanye dilarang menjanjikan dan/atau memberikan uang atau materi lainnya untuk mempengaruhi pemilih.

lembaga swadaya masyarakat asing dan warga negara asing. lembaga swasta asing. . negara asing. yang teknis pelaksanaannya dilakukan oleh tim kampanye. (3) KPUD wajib menyerahkan laporan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kantor akuntan publik paling lambat 2 (dua) hari setelah KPUD menerima laporan dana kampanye dari pasangan calon. (6) Laporan dana kampanye yang diterima KPUD wajib dipelihara dan terbuka untuk umum. Pasal 84 (1) Dana kampanye digunakan oleh pasangan calon.kepada KPUD dalam waktu 1 (satu) hari sebelum masa kampanye dimulai dan 1 (satu) hari sesudah masa kampanye berakhir. (5) Hasil audit sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diumumkan oleh KPUD paling lambat 3 (tiga) hari setelah KPUD menerima laporan hasil audit dari kantor akuntan publik. Pasal 85 (1) Pasangan calon dilarang menerima sumbangan atau bantuan lain untuk kampanye yang berasal dari: a. (7) KPUD mengumumkan melalui media massa laporan sumbangan dana kampanye setiap pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (6) kepada masyarakat satu hari setelah menerima laporan dari pasangan calon. (2) Dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaporkan oleh pasangan calon kepada KPUD paling lambat 3 (tiga) hari setelah hari pemungutan suara. (4) Kantor akuntan publik wajib menyelesaikan audit paling lambat 15 (lima belas) hari setelah diterimanya laporan dana kampanye dari KPUD.

penyumbang atau pemberi bantuan yang tidak jelas identitasnya. c. 12 Pemungutan Suara Pasal 86 (1) Pemungutan suara pemilihan pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan paling lambat 1 (satu) bulan sebelum masa jabatan kepala daerah berakhir. foto.5% (dua setengah perseratus) dari jumlah pemilih tersebut.b. BUMN. (2) Tambahan surat suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai cadangan di setiap TPS untuk mengganti surat suara pemilih yang keliru memilih pilihannya serta surat suara yang rusak. (3) Pasangan calon yang melanggar ketentu-an sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh KPUD. (3) Penggunaan tambahan surat suara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuatkan berita acara. (2) Pemungutan suara dilakukan dengan memberikan suara melalui surat suara yang berisi nomor. (2) Pasangan calon yang menerima sumba-ngan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dibenarkan menggunakan dana tersebut dan wajib melaporkannya kepada KPUD paling lambat 14 (empat belas) hari setelah masa kampanye berakhir dan menyerahkan sumbangan tersebut kepada kas daerah. (3) Pemungutan suara dilakukan pada hari libur atau hari yang diliburkan. dan BUMD. dan nama pasangan calon. pemerintah. . Pasal 87 (1) Jumlah surat suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (2) dicetak sama dengan jumlah pemilih tetap dan ditambah 2.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberi-an bantuan kepada pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. dan warna kotak suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh KPUD dengan berpedoman pada peraturan perundangundangan. bentuk. Pasal 89 (1) Pemilih tunanetra.Pasal 88 Pemberian suara untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilakukan dengan mencoblos salah satu pasangan calon dalam surat suara. bebas. Pasal 90 (1) Jumlah pemilih di setiap TPS sebanyakbanyaknya 300 (tiga ratus) orang. lokasi. bahan. serta menjamin setiap pemilih dapat memberikan suaranya secara langsung. dan tata letak TPS ditetapkan oleh KPUD. Pasal 91 (1) Untuk keperluan pemungutan suara dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah disediakan kotak suara sebagai tempat surat suara yang digunakan oleh pemilih. . (2) Jumlah. (2) TPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan lokasinya di tempat yang mudah dijangkau. (2) Petugas KPPS atau orang lain yang membantu pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib merahasiakan pilihan pemilih yang dibantunya. bentuk. (3) Jumlah. atau yang mempunyai halangan fisik lain pada saat memberikan suaranya di TPS dapat dibantu oleh petugas KPPS atau orang lain atas permintaan pemilih. termasuk oleh penyandang cacat. ukuran. tunadaksa. dan rahasia.

(2) Tanda khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh KPUD dengan . pemilih dapat meminta surat suara pengganti kepada KPPS. dan sekurang-kurangnya 2 (dua) anggota KPPS dan dapat ditandatangani oleh saksi dari pasangan calon. panitia pengawas. pemilih dapat meminta surat suara pengganti kepada KPPS. pemilih diberi kesempatan oleh KPPS berdasarkan prinsip urutan kehadiran pemilih. kemudian KPPS memberikan surat suara pengganti hanya satu kali. penghitungan jumlah setiap jenis dokumen dan peralatan. (2) Dalam memberikan suara. pengidentifikasian jenis dokumen dan peralatan. c. kemudian KPPS memberikan surat suara pengganti hanya satu kali. dan warga masyarakat. (3) Kegiatan KPPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Ketua KPPS. b. Pasal 93 (1) Setelah melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92. KPPS melakukan: a. (2) Kegiatan KPPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dihadiri oleh saksi dari pasangan calon. (5) Penentuan waktu dimulai dan berakhirnya pemungutan suara ditetapkan oleh KPUD. Pasal 94 (1) Pemilih yang telah memberikan suara di TPS diberi tanda khusus oleh KPPS. pemantau. pembukaan kotak suara. pengeluaran seluruh isi kotak suara. (4) Apabila terdapat kekeliruan dalam cara memberikan suara. (3) Apabila menerima surat suara yang ternyata rusak.Pasal 92 (1) Sebelum melaksanakan pemungutan suara. KPPS memberikan penjelasan mengenai tata cara pemungutan suara. serta d.

tanda coblos hanya terdapat pada 1 (satu) kotak segi empat yang memuat satu pasangan calon. dan d. foto dan nama pasangan calon yang telah ditentukan. panitia pengawas. (2) Sebelum penghitungan suara dimulai. tanda coblos terdapat pada salah satu garis kotak segi empat yang memuat nomor. dan b. dan warga masyarakat. jumlah surat suara yang dikembalikan oleh pemilih karena rusak atau keliru dicoblos. (3) Penggunaan surat suara tambahan dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Ketua KPPS dan sekurang-kurangnya 2 (dua) anggota KPPS. foto dan nama pasangan calon. atau e. tetapi masih di dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor. jumlah pemilih dari TPS lain. Pasal 96 (1) Penghitungan suara di TPS dilakukan oleh KPPS setelah pemungutan suara berakhir. atau c. b. tanda coblos lebih dari satu. KPPS menghitung: a. foto dan nama pasangan calon. atau d. (5) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari tim kampanye yang . surat suara ditandatangani oleh Ketua KPPS. jumlah surat suara yang tidak terpakai.berpedoman pada Peraturan Pemerintah. jumlah pemilih yang memberikan suara berdasarkan salinan daftar pemilih tetap untuk TPS. (4) Penghitungan suara dilakukan dan selesai di TPS oleh KPPS dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. Pasal 95 Suara untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dinyatakan sah apabila: a. c. tanda coblos terdapat dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor. pemantau.

KPPS seketika itu juga mengadakan pembetulan. (8) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh saksi pasangan calon atau warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dapat diterima. (11) KPPS menyerahkan berita acara. surat suara. (6) Penghitungan suara dilakukan dengan ca-ra yang memungkinkan saksi pasangan calon. dan warga masyarakat. pemantau. Pasal 97 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. dan warga masyarakat yang hadir dapat menyaksikan secara jelas proses penghitungan suara. KPPS membuat berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurangkurangnya 2 (dua) orang anggota KPPS serta dapat ditandatangani oleh saksi pasangan calon. dan alat kelengkapan administrasi pemungutan dan penghitungan suara kepada PPS segera setelah selesai penghitungan suara. (7) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPPS apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. panitia pengawas. PPS membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat desa/kelurahan dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon.bersangkutan dan menyerahkannya kepada Ketua KPPS. sertifikat hasil penghitungan suara. (10) KPPS memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. pemantau. panitia pengawas. (9) Segera setelah selesai penghitungan su-ara di TPS. .

pemantau.(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada PPS. dan warga masyarakat. (6) PPS wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPS kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum . . PPK membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat kecamatan dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. panitia pengawas. PPS membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan paling sedikit 2 (dua) orang anggota PPS serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh PPS apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. PPS seketika itu juga mengadakan pembetulan. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh saksi pasangan calon atau warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. (7) PPS wajib menyerahkan 1 (satu) eksemplar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPS kepada PPK setempat. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua TPS dalam wilayah kerja desa/kelurahan yang bersangkutan. Pasal 98 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara.

PPK seketika itu juga mengadakan pembetulan.(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada PPK. (7) PPK wajib menyerahkan 1 (satu) eksem-plar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPK kepada KPU kabupaten/kota. pemantau. dan warga masyarakat. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. PPK membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang anggota PPK serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. . KPU kabupaten/kota membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat kabupaten/kota dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. panitia pengawas. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. Pasal 99 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua PPS dalam wilayah kerja kecamatan yang bersangkutan. (6) PPK wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPK kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh PPK apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan.

(5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua PPK dalam wilayah kerja kecamatan yang bersangkutan. Pasal 100 (1) Dalam hal pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota. KPU kabupaten/kota seketika itu juga mengadakan pembetulan. . berita acara dan rekapitulasi hasil peng-hitungan suara selanjutnya diputuskan da-lam pleno KPU kabupaten/kota untuk me-netapkan pasangan calon terpilih. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon.(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada KPU kabupaten/kota. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. (6) KPU kabupaten/kota wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU kabupaten/kota kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPU kabupaten/kota apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. KPU kabupaten/kota membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurangkurangnya 2 (dua) orang anggota KPU kabupaten/kota serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. (7) KPU kabupaten/kota wajib menyerahkan 1 (satu) eksemplar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU kabupaten/kota kepada KPU provinsi.

KPU provinsi membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang anggota KPU provinsi serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. pemantau. KPU provinsi seketika itu juga mengadakan pembetulan. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. (6) KPU provinsi wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU provinsi kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. . dan warga masyarakat. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPU provinsi apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. panitia pengawas. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua KPU kabupaten/kota. KPU provinsi membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat provinsi dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. (2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada KPU provinsi.(2) Penetapan pasangan calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada DPRD kabu-paten/kota untuk diproses pengesahan dan pengangkatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 101 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara.

penghitungan suara dilakukan di tempat yang kurang penerangan cahaya. (2) Penghitungan ulang surat suara dilakukan pada tingkat PPS apabila terjadi perbedaan data jumlah suara dari TPS. saksi pasangan calon. (4) Apabila terjadi perbedaan data jumlah suara pada tingkat KPU Kabupaten/Kota. . dan warga mas-yarakat tidak dapat menyaksikan proses penghitungan suara secara jelas. pemantau. dan KPU Provinsi. penghitungan suara dilakukan di tempat lain di luar tempat dan waktu yang telah ditentukan. penghitungan suara dilakukan secara tertutup. b. (2) Penetapan pasangan calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh KPU provinsi disampaikan kepada DPRD provinsi untuk diproses pengesahan pengangkatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Penghitungan ulang surat suara dilakukan pada tingkat PPK apabila terjadi perbedaan data jumlah suara dari PPS. dan/atau e. dilakukan pengecekan ulang terhadap sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara pada 1 (satu) tingkat di bawahnya. Pasal 103 (1) Penghitungan ulang surat suara di TPS dilakukan apabila dari hasil penelitian dan pemeriksaan terbukti terdapat satu atau lebih penyimpangan sebagai berikut: a. panitia pe-ngawas. d. terjadi ketidakkonsistenan dalam menentukan surat suara yang sah dan surat suara yang tidak sah. c.Pasal 102 (1) Berita acara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (5) selanjutnya diputuskan dalam pleno KPU provinsi untuk menetapkan pasangan calon terpilih.

menandatangani. Pasal 106 (1) Keberatan terhadap penetapan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah hanya dapat diajukan oleh pasangan calon kepada Mahkamah Agung dalam waktu paling lambat 3 (tiga) . pembukaan kotak suara dan/atau berkas pemungutan dan penghitungan suara tidak dilakukan menurut tata cara yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. (2) Pemungutan suara di TPS dapat diulang apabila dari hasil penelitian dan pemeriksaan Panitia Pengawas Kecamatan terbukti terdapat satu atau lebih dari keadaan sebagai berikut: a.Pasal 104 (1) Pemungutan suara di TPS dapat diulang apabila terjadi kerusuhan yang mengakibatkan hasil pemungutan suara tidak dapat digunakan atau penghitungan suara tidak dapat dilakukan. petugas KPPS merusak lebih dari satu surat suara yang sudah digunakan oleh pemilih sehingga surat suara tersebut menjadi tidak sah. dan/atau e. Pasal 105 Penghitungan suara dan pemungutan suara ulang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 dan Pasal 104 diputuskan oleh PPK dan dilaksanakan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sesudah hari pemungutan suara. petugas KPPS meminta pemilih memberi tanda khusus. lebih dari seorang pemilih menggunakan hak pilih lebih dari satu kali pada TPS yang sama atau TPS yang berbeda. atau menulis nama atau alamatnya pada surat suara yang sudah digunakan. b. d. lebih dari seorang pemilih yang tidak terdaftar sebagai pemilih mendapat kesempatan memberikan suara pada TPS. c.

(6) Mahkamah Agung dalam melaksanakan kewenangannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mendelegasikan kepada Pengadilan Tinggi untuk memutus sengketa hasil penghitungan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten dan kota.ed 13 Penetapan Calon Terpilih dan Pelantikan Pasal 107 (1) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 50 % (lima puluh persen) jumlah suara sah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih. (7) Putusan Pengadilan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) bersifat final. (5) Putusan Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (4) bersifat final dan mengikat. (2) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi. .(2) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya pasangan calon. (4) Mahkamah Agung memutus sengketa hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling lambat 14 (empat belas) hari sejak diterimanya permohonan keberatan oleh Pengadilan Negeri/Pengadilan Tinggi/ Mahkamah Agung. (3) Pengajuan keberatan kepada Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada pengadilan tinggi untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah provinsi dan kepada pengadilan negeri untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota. pasangan calon yang perolehan suaranya terbesar dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah suara sah.

(2) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih. (6) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh tiga pasangan calon atau lebih. kedua pasangan calon tersebut berhak mengikuti pemilihan putaran kedua.(3) Dalam hal pasangan calon yang perolehan suara terbesar s ebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdapat lebih dari satu pasangan calon yang perolehan suaranya sama. atau tidak ada yang mencapai 25 % (dua puluh lima persen) dari jumlah suara sah. (3) Dalam hal calon kepala daerah terpilih berhalangan tetap. Pasal 108 (1) Dalam hal calon wakil kepala daerah terpilih berhalangan tetap. calon kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah. calon wakil kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah. penentuan pasangan calon terpilih dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. penentuannya dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. penentuan peringkat pertama dan kedua dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. (7) Apabila pemenang kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh lebih dari satu pasangan calon. dilakukan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pemenang pertama dan pemenang kedua. (5) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh dua pasangan calon. (4) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak terpenuhi. (8) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara terbanyak pada putaran kedua dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. .

selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari. . pemilihannya dilakukan selambatlambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari. kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari KPU provinsi untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan. (6) Untuk memilih wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4). Pasal 109 (1) Pengesahan pengangkatan pasangan ca-lon Gubernur dan wakil Gubernur terpilih dilakukan oleh Presiden selambatlambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. (3) Pasangan calon Gubernur dan wakil Gubernur terpilih diusulkan oleh DPRD provinsi. (4) Pasangan calon bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota diusulkan oleh DPRD k abupaten/kota. (2) Pengesahan pengangkatan pasangan calon bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota terpilih dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. selambatlambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari. (5) Dalam hal pasangan calon terpilih berhalangan tetap.(4) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih. kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari KPU kabupaten/kota untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan. partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya meraih suara terbanyak pertama dan kedua mengusulkan pasangan calon kepada DPRD untuk dipilih menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah selambatlambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari.

(3) Pelantikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD.Pasal 110 (1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebelum memangku jabatannya dilantik dengan mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh pejabat yang melantik. Pasal 111 (1) Gubernur dan wakil Gubernur dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden. (2) Sumpah/janji kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut: “Demi Allah (Tuhan). Pasal 112 Biaya kegiatan Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dibebankan pada APBD . memegang teguh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada masyarakat. (4) Tata cara pelantikan dan pengaturan selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah. nusa dan bangsa. saya bersumpah/berjanji akan memenuhi kewajiban saya sebagai kepala daerah/ wakil kepala daerah dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. (2) Bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota dilantik oleh Gubernur atas nama Presiden.” (3) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memegang jabatan selama 5 (lima) tahun terhitung sejak pelantikan dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan.

bersifat independen. (4) Tata cara untuk menjadi pemantau pemilihan dan pemantauan pemilihan serta pencabutan hak sebagai pemantau diatur dalam Peraturan Pemerintah. .14 Pemantauan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 113 (1) Pemantauan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dapat dilakukan oleh pemantau pemilihan yang meliputi lembaga swadaya masyarakat. 15 Ketentuan Pidana Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 115 (1) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar mengenai diri sendiri atau diri orang lain tentang suatu hal yang diperlukan untuk pengisian daftar pemilih. dan b. (2) Pemantau pemilihan wajib mematuhi se-gala peraturan perundang-undangan. dan badan hukum dalam negeri. (3) Pemantau pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus mendaftarkan dan memperoleh akreditasi dari KPUD. mempunyai sumber dana yang jelas. Pasal 114 (1) Pemantau pemilihan wajib menyampaikan laporan hasil pemantauannya kepada KPUD paling lambat 7 (tujuh) hari setelah pelantikan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. (2) Pemantau pemilihan sebagaimana dimak-sud pada ayat (2) harus memenuhi pers yaratan yang meliputi: a. (3) Pemantau pemilihan yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan/atau tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 dicabut haknya sebagai pemantau pemilihan dan/atau dikenai sanksi sesuai peraturan perundang-undangan. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.

6. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.000.000.00 (satu juta rupiah).000.000.00 (dua juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 200.00 (enam juta rupiah). menggunakannya. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.100.000.00 (enam juta rupiah). (4) Setiap orang yang dengan sengaja dan mengetahui bahwa suatu surat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tidak sah atau dipalsukan.000. 1. atau menyuruh orang lain menggunakannya sebagai surat sah.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 6.000.00 (enam ratus ribu .000.000. (3) Setiap orang yang dengan sengaja memalsukan surat yang menurut suatu aturan dalam Undang-Undang ini diperlukan untuk menjalankan suatu perbuatan dengan maksud untuk digunakan sendiri atau orang lain sebagai seolah-olah surat sah atau tidak dipalsukan. 600.000.000. (5) Setiap orang yang dengan kekerasan atau dengan ancaman kekuasaan yang ada padanya saat pendaftaran pemilih menghalang-halangi seseorang untuk terdaftar sebagai pemilih dalam Pemilihan kepala daerah menurut undang-undang ini. (2) Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang lain kehilangan hak pilihnya dan orang yang kehilangan hak pilihnya tersebut mengadukan.000. 2.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (dua ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. 600.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. 600.

000.00 (enam juta rupiah).00 (satu juta rupiah).000.rupiah) dan paling banyak Rp.000.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp6. 600. (2) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf a.00 (seratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp1. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan . (6) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar atau menggunakan surat palsu seolah-olah sebagai surat yang sah tentang suatu hal yang diperlukan bagi persyaratan untuk menjadi Pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah. huruf i dan huruf j dan Pasal 79 ayat (1). huruf h. 6. huruf b. huruf d.00 (enam juta rupiah). huruf c.000.000.000.000.00 (enam juta rupiah).000. Pasal 116 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kampanye di luar jadwal waktu yang telah ditetapkan oleh KPUD untuk masingmasing pasangan calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari atau paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp100. ayat (3). dan ayat (4). (3) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan kampanye pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf g.000. huruf e dan huruf f diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp600. 6. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000.

(6) Setiap orang yang memberi atau menerima dana kampanye melebihi batas yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (3). 600.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp.000.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp.00 (satu juta rupiah).000.000.00 (enam juta rupiah).00 (dua ratus juta rupiah) atau paling banyak Rp 1.00 (satu miliar rupiah). 6.000.000.00 (satu miliar rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. (5) Setiap orang yang dengan sengaja mengacaukan.000.00 (enam juta rupiah). menghalangi.00 (dua ratus juta rupiah) atau paling banyak Rp1. (7) Setiap orang yang dengan sengaja menerima atau memberi dana kampanye dari atau kepada pihak-pihak yang dilarang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (1).000.000.000. 6. 600.000.000. (4) Setiap pejabat negara.000.000. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri dan kepala desa yang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. .000.000.000.00 (seratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp1. diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp200. dan/atau tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2).000. atau mengganggu jalannya kampanye.atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp100. diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 200.000.

10.00 (sepuluh juta rupiah).000. Pasal 117 (1) Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan dan menghalang-halangi seseorang yang akan melakukan haknya untuk memilih. 1.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. (2) Setiap orang yang dengan sengaja memberi atau menjanjikan uang atau materi lainnya kepada seseorang supaya tidak menggunakan hak pilihnya.000.000. 1.000.(8) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar dalam laporan dana kampanye sebagaimana diwajibkan oleh UndangUndang ini.000.00 (sepuluh juta rupiah). 100.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.00 (satu juta rupiah) atau paling banyak Rp10.000. . 1.000.00 ( satu juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. atau memilih Pasangan calon tertentu. 10. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. (3) Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja mengaku dirinya sebagai orang lain untuk menggunakan hak pilih. diancam dengan pidana penjara paling s ingkat 2 (dua) bulan atau paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000. atau menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suaranya menjadi tidak sah.000.000.000.000.000.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 60 (enam puluh) hari dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (sepuluh juta rupiah).

1.000.000. (5) Setiap orang yang dengan sengaja menggagalkan pemungutan suara diancam dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 200. 2.000.00 ( dua ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (dua juta rupiah).000.000.000.000. 1. 10.000.000. 1.000. 10.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000.00 . kecuali dengan alasan bahwa pekerjaan tersebut tidak bisa ditinggalkan. (8) Setiap orang yang bertugas membantu pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (2) dengan sengaja memberitahukan pilihan si pemilih kepada orang lain.000.000. 10.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.00 (sepuluh juta rupiah).(4) Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja memberikan suaranya lebih dari satu kali di satu atau lebih TPS. (6) Seorang majikan atau atasan yang tidak memberikan kesempatan kepada seorang pekerja untuk memberikan suaranya. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 4 (empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (sepuluh juta rupiah). 1.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (sepuluh juta rupiah).000. (7) Setiap orang yang dengan sengaja pada waktu pemungutan suara mendampingi seorang pemilih selain yang diatur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (1).

1.000.00 (satu miliar rupiah).000.000.00 (dua juta rupiah) dan paling banyak Rp.(satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. 100. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 2 (dua) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.00 (sepuluh juta rupiah). 10. (4) Setiap orang yang dengan sengaja mengubah hasil penghitungan suara dan/atau berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara.000.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.000. 100. 1.00 (satu juta rupiah). Pasal 118 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang menyebabkan suara seorang pemilih menjadi tidak berharga atau menyebabkan Pasangan calon tertentu mendapat tambahan suara atau perolehan suaranya berkurang.000. . (3) Setiap orang yang karena kelalaiannya menyebabkan rusak atau hilangnya hasil pemungutan suara yang sudah disegel. 1.00 (dua puluh juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.000. 2.000.000.000.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. (2) Setiap orang yang dengan sengaja merusak atau menghilangkan hasil pemungutan suara yang sudah disegel.000.000.000. 10.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.000. 20.00 (sepuluh juta rupiah).000.

dengan pedoman yang ditetapkan oleh ditunjuk oleh Kepala Daerah. adalah Sekretaris Wilayah. dinas termasuk dalam perangkat daerah (2) Sekretaris Daerah karena jabatannya sesuai dengan kebutuhan Daerah. dan Pasal 118. 16` Aparatur dan Pasal 84 Pasal 60 Pasal 120 • Dalam Undang-Undang No. diatur dengan syarat. tugas sekretaris yang membantu Kepala Daerah dalam lainnya.32 Tahun 2004 Kepegawaian (1) Sekretariat Daerah adalah Sekretariat Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah. (2) Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud Menteri Dalam Negeri. sekretariat DPRD. (1) Perangkat daerah provinsi terdiri atas ditambahkan bahwa Sekertariat DPRD Daerah Wilayah. Pasal 117.l syarat. kecamatan. Walikota atas persetujuan pimpinan DPRD lembaga teknis daerah. dari Camat dan Lurah susunan organisasi dan formasi Daerah. tugas Sekretaris (1) Sekretaris Daerah diangkat dari pegawai dengan Peraturan Daerah s esuai Daerah dilaksanakan oleh pejabat yang negeri sipil yang memenuhi persyaratan. susunan organisasi dan (7) Apabila Sekretaris Daerah berhalangan Pasal 122 formasi Sekretariat Daerah ditetapkan melaksanakan tugasnya. kepada Kepala Daerah. dan kelurahan. Dinas Daerah dan lembaga teknis Daerah lainnya. lembaga teknis daerah. sekretariat daerah. lembaga teknis. berlaku Gubernur sesuai dengan peraturan sesudah ada pengesahan pejabat yang Pasal 62 perundang-undangan. (2) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi (3) Dalam pelaksanaan tugas dan kewajiban dalam ayat (1) pasal ini. sekretariat DPRD. (5) Sekretaris Daerah berkewajiban membantu sekretaris daerah bertanggung jawab Kepala Daerah dalam menyusun kebijakan kepada kepala daerah. pada ayat (1) untuk provinsi diangkat dan (3) Peraturan Daerah yang dimaksud diberhentikan oleh Presiden atas usul dalam ayat (2) pasal ini.Pasal 119 Jika tindak pidana dilakukan dengan sengaja oleh penyelenggara atau pasangan calon. Peraturan Pemerintah. daerah. Daerah. dan unit pelaksana melaksanakan tugasnya. disebutkan secara lebih rinci mengani tugas yang dimaksud dalam ayat (1) ini. (2) Perangkat daerah kabupaten/kota terdiri • Dalam Undang-Undang No. dan lembaga teknis daerah. daerah dilaksanakan oleh pejabat yang menyelenggarakan pemerintahan (6) Sekretaris Daerah bertanggung jawab ditunjuk oleh kepala daerah. Sekretariat Wilayah lainnya serta (2) Sekretaris Daerah Propinsi diangkat oleh pengangkatan dan pemberhentian Gubernur atas persetujuan pimpinan DPRD Pasal 121 pejabatnya diatur oleh Menteri Dalam dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi (1) Sekretariat daerah dipimpin oleh Sekretaris Negeri. (1) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana (3) Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud Pemerintah Daerah. pada ayat (1) untuk kabupaten/kota diangkat (2) Dinas dipimpin oleh seorang Kepala Dinas dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul . kewajiban membantu kepala daerah dalam Instansi Vertikal berada dibawah (4) Sekretaris Daerah Kabupaten atau Sekretaris menyusun kebijakan dan kordinasi Kepala Wilayah yang Daerah Kota diangkat oleh Bupati atau mengkoordinasikan dinas daerah dan bersangkutan. berwenang. Pasal 47 serta membina hubungan kerja dengan (4) Apabila sekretaris daerah berhalangan (1) Sekretariat Daerah adalah unsur staf dinas. Kepala Administrasi. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (1) Sekretariat Daerah dipimpin oleh Sekretaris dinas daerah. ancaman pidananya ditambah 1/3 (satu pertiga) dari pidana yang diatur dalam Pasal 115. Daerah. (3) Sekretaris Daerah Propinsi karena (2) Sekretaris daerah sebagaimana dimaksud Pasal 85 jabatannya adalah Sekretaris Wilayah pada ayat (1) mempunyai tugas dan (1) Dalam menjalankan tugasnya. Pasal 116. (2) Pembentukan.32 Tahun 2004 (3) Dengan tidak mengurangi ketentuan Pasal 61 atas sekretariat daerah.

seorang Sekretaris Daerah. daerahnya. menyelenggarakan administrasi Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah menjadi wewenang Pemerintah. tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD Peraturan Menteri Dalam Negeri. mendukung pelaksanaan tugas dan (4) Persyaratan dan tatacara pelaksanaan dan tata laksananya. (1) Dinas daerah merupakan unsur pelaksana berwenang. Di Daerah dapat dibentuk lembaga teknis sesuai (4) Sekretaris DPRD dalam menyediakan maka tugas Sekretaris Daerah dengan kebutuhan Daerah. (2) Sekretaris DPRD sebagaimana dimaksud (3) Sekretaris Daerah tingkat II diangkat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). pemberhentian. Pasal 67 kepala daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris pemberhentian sementara. dibawah dan bertanggung jawab kepada Pemerintah Daerah. dalam melaksanakan fungsinya sesuai (5) Apabila Sekretaris Daerah Pasal 65 dengan kemampuan keuangan daerah. dan ketentuan yang dimaksud dalam ayatpada ayat (1). menyediakan dan mengkoordinasi ayat (2) dan (3) pasal ini diatur dengan Presiden. sebagaimana dimaksud fungsi DPRD.Pasal 48 yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Bupati/Walikota sesuai dengan peraturan (1) Sekretariat Daerah dipimpin oleh Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat perundang-undangan. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud Bupati/Walikota. kesekretariatan DPRD. (2) Dinas daerah dipimpin oleh kepala dinas Pasal 50 yang diangkat dan diberhentikan oleh (1) Pengangkatan. oleh Gubernur/Bupati/Walikota dengan nama Menteri Dalam Negeri dari persetujuan DPRD. Pasal 66 pertimbangan pimpinan DPRD. berhalangan menjalankan tugasnya. Perwakilan Rakyat Daerah. uang tunggu. dan hal-hal lain yang dipimpin oleh Kepala Kelurahan. berlaku (5) Camat bertanggung jawab kepada Bupati Pasal 124 sesudah ada pengesahan pejabat yang atau Walikota. (6) Susunan organisasi sekretariat DPRD dengan pedoman yang ditetapkan oleh (4) Camat menerima pelimpahan sebagian ditetapkan dalam peraturan daerah Menteri Dalam Negeri. dengan Peraturan Daerah sesuai Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. Pegawai Negeri yang memenuhi pers yaratan atas usul Gubernur Kepala Pasal 63 Pasal 123 Daerah setelah mendengar Penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan (1) Sekretariat DPRD dipimpin oleh Sekretaris pertimbangan Pimpinan Dewan oleh Pemerintah kepada Gubernur selaku wakil DPRD. (2) Pembentukan. (6) Pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan otonomi daerah. keuangan DPRD. (1) Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan pensiun. Pegawai Negeri yang memenuhi Pasal 64 (3) Sekretaris DPRD mempunyai tugas: pers yaratan atas usul (1) Penyelenggaraan bidang pemerintahan yang a. pada ayat (1) diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur Kepala Daerah atas dilaksanakan oleh Dinas Propinsi. dalam ayat (2) pasal ini. tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada dijalankan oleh pejabat yang ditunjuk ayat (3) huruf d wajib meminta oleh Kepala Daerah. Daerah. atas usul Sekretaris Daerah. . (1) Kecamatan merupakan perangkat Daerah (5) Sekretaris DPRD dalam melaksanakan Pasal 49 Kabupaten dan Daerah Kota yang dipimpin tugasnya secara teknis operasional berada (1) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana oleh Kepala Kecamatan. b. Daerah. Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi. susunan organisasi. setelah mendengar pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. gaji. menyelenggarakan administrasi Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan oleh instansi vertikal. (2) Kepala Kecamatan disebut Camat. Peraturan Daerah. (4) Sekretaris Daerah karena kedudukannya (2) Sekretaris Daerah Tingkat I diangkat (3) Kepala Dinas bertanggung jawab kepada sebagai pembina pengawai negeri sipil di oleh Menteri Dalam Negeri dari Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. pimpinan DPRD dan secara administratif (2) Pembentukan susunan organisasi dan (3) Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas bertanggung jawab kepada kepala daerah formasi Dinas Daerah ditetapkan usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari melalui Sekretaris Daerah. kewenangan pemerintahan dari berpedoman pada Peraturan Pemerintah. c. formasi. ditetapkan dengan Keputusan d.

pendukung tugas kepala daerah dalam yang berwenang. dengan peraturan perundang-undangan. pemindahan. a. Tingkat II yang bersangkutan. diatur syarat Daerah ditetapkan dengan Keputusan dari pegawai negeri sipil yang memenuhi dan hubungan kerja Pegawai Negeri Kepala Daerah sesuai dengan pedoman syarat atas usul Sekretaris Daerah. kantor. kantor. (3) Kepala dinas daerah bertanggung jawab Daerah. diatur dengan Peraturan (3) Lurah diangkat dari Pegawai Negeri Sipil kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah sesuai dengan pedoman yang yang memenuhi syarat oleh Walikota/Bupati Daerah. mengkoordinasikan penerapan dan Pasal 54 kepegawaian dan karir pegawai di wilayahnya penegakan peraturan perundang(1) Pembinaan kepegawaian terhadap sesuai dengan peraturan perundang-undangan. berlaku kewenangan pemerintahan dari Camat. (2) Kecamatan sebagaimana dimaksud pada (2) Dalam Keputusan yang dimaksud ayat (1) dipimpin oleh camat yang dalam dalam ayat (1) pasal ini. kantor atau rumah sakit umum dipekerjakan kepada Daerah. gaji. penetapan pensiun.mengenai kedudukan hukum Pegawai (2) Kepala Kelurahan disebut Lurah. (1) Lembaga teknis daerah merupakan unsur sesudah ada pengesahan pejabat (5) Lurah bertanggung jawab kepada Camat. berdayaan masyarakat. diperlukan. tunjangan. hak. undangan. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud (4) Lurah menerima pelimpahan sebagian Pasal 125 dalam ayat (1) pasal ini. otonomi daerah. standar. baik Pegawai Negeri ditetapkan dengan Peraturan Daerah. gaji. diperbantukan atau dipekerjakan penetapan pensiun. serta (3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada pendidikan dan pelatihan sesuai dengan ayat (2) camat juga menyelenggarakan Pasal 53 kebutuhan dan kemampuan Daerah yang tugas umum pemerintahan meliputi: Semua pegawai. mengkoordinasikan pemeliharaan Daerah sesuai dengan peraturan prasarana dan fasilitas pelayanan . pemberhentian. dan prosedur mengenai daerah melalui Sekretaris Daerah. yang berdasarkan peraturan perundang-undangan. atau kepala rumah sakit umum (2) Dalam Keputusan yang dimaksud (2) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat daerah yang diangkat oleh kepala daerah dalam ayat (1) pasal ini. dan kewajiban. (3) Kepala badan. kepala Kepala Daerah yang bersangkutan. Pasal 126 kepada Daerah Tingkat II dengan kesejahteraan. (1) Pegawai Daerah Tingkat I dapat pengangkatan. atau rumah sakit umum (1) Pegawai Negeri dari sesuatu Pasal 68 daerah. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. atau rumah sakit Daerah sepanjang diperlukan. serta *9621 (1) Kecamatan dibentuk di wilayah Keputusan Kepala Daerah Tingkat I. umum daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 75 ayat (2) bertanggung jawab kepada kepala Pasal 52 Norma. daerah yang bersifat spesifik berbentuk Pasal 51 badan. Pegawai Daerah di atur oleh Kepala d. tunjangan. diatur syarat Pasal 76 pelaksanaan tugasnya memperoleh dan hubungan kerja Pegawai Daerah Daerah mempunyai kewenangan untuk pelimpahan sebagian wewenang bupati atau yang bersangkutan dengan perangkat melakukan pengangkatan. yang bersangkutan dengan perangkat yang ditetapkan Pemerintah. Departemen dapat diperbantukan atau (1) Susunan organisasi perangkat Daerah (2) Badan. (6) Pembentukan Kelurahan ditetapkan dengan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan Peraturan Daerah. kantor. dengan ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai daerah sebagaimana dimaksud pada ayat Keputusan Menteri atas permintaan dengan pedoman yang ditetapkan (1) dipimpin oleh kepala badan. mengkoordinasikan upaya pesesuatu Daerah berada di bawah pimpinan Pasal 77 nyelenggaraan ketentraman dan Kepala Daerah yang bersangkutan. mengkoordinasikan kegiatan pemmaupun Pegawai Daerah. ditetapkan pada Peraturan Pemerintah. pengawasan pelaksanaan administrasi c. walikota untuk menangani sebagian urusan Daerah Tingkat II sepanjang pemberhentian. pemindahan. kedudukan hukum Pegawai Negeri Sipil di Daerah kabupaten/kota dengan Perda berpedoman atas permintaan Kepala Daerah dan Pegawai Negeri Sipil Daerah. atas usul Camat. Pemerintah Wilayah Propinsi melakukan ketertiban umum. Pemerintah. diperbantukan atau dipekerjakan kepada b. dan kesejahteraan pegawai.

(2) Pembinaan kepegawaian terhadap Pegawai Negeri yang diperbantukan atau dipekerjakan kepada Daerah di atur dengan peraturan perundangundangan. mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan. (6) Perangkat kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) bertanggung jawab kepada camat. (2) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. umum. e. (7) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). diatur dengan Peraturan Pemerintah. . (4) Camat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul sekretaris daerah kabupaten/kota dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 127 (1) Kelurahan dibentuk di wilayah kecamatan dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Kepala Instansi Vertikal berada dibawah kordinasi Kepala Wilayah yang bersangkutan. (5) Camat dalam menjalankan tugastugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dibantu oleh perangkat kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah kabupaten/kota. Pasal 85 (1) Dalam menjalankan tugasnya. dan ayat (6) ditetapkan dengan peraturan bupati atau walikota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. membina penyelenggaraan pemerintahan desa dan/atau kelurahan. pelaksanaan kegiatan pemerintahan kelurahan. (3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) lurah mempunyai tugas: a. ayat (3). b. (2) Kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati/Walikota.perundang-undangan yang berlaku. ayat (5). f. ayat (4). melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan desa atau kelurahan. g. pemberdayaan masyarakat.

Lurah bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Camat. Perangkat kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) bertanggung jawab kepada Lurah. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). d.(4) (5) (6) (7) (8) (9) c. Pasal 128 (1) Susunan organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dalam Perda dengan memperhatikan faktorfaktor tertentu dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. ayat (3). pelayanan masyarakat. . dan e. ayat (5). dan ayat (7) ditetapkan dengan peraturan bupati atau walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Lurah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Camat dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundangundangan. Lurah dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibantu oleh perangkat kelurahan. penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum. pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. ayat (6). ayat (4). dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dengan Perda. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas Lurah sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Pengendalian organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah untuk provinsi dan oleh Gubernur untuk kabupaten/kota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

pemindahan. Pasal 130 (1) Pengangkatan. pemindahan dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada pemerintah daerah provinsi ditetapkan oleh Gubernur. pemindahan. pengadaan. dan antar provinsi ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara. pengembangan kompetensi. (2) Manajemen pegawai negeri sipil daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penetapan formasi. dan pengendalian jumlah.(3) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 129 (1) Pemerintah melaksanakan pembinaan manajemen pegawai negeri sipil daerah dalam satu kesatuan penyelenggaraan manajemen pegawai negeri sipil secara nasional. gaji. Pasal 131 (1) Perpindahan pegawai negeri sipil antar kabupaten/kota dalam satu provinsi ditetapkan oleh Gubernur setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara. pemberhentian. . (2) Pengangkatan. pengangkatan. tunjangan. (2) Perpindahan pegawai negeri sipil antar kabupaten/kota antar provinsi. dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada pemerintah daerah kabupaten/kota ditetapkan oleh Bupati/Walikota setelah berkonsultasi kepada Gubernur. kesejahteraan. hak dan kewajiban kedudukan hukum. penetapan pensiun.

pemberhentian. pendidikan dan pelatihan. mutasi antar daerah. Pasal 132 Penetapan formasi pegawai negeri sipil daerah provinsi/ kabupaten/kota setiap tahun anggaran dilaksanakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara atas usul Gubernur. Pasal 135 (1) Pembinaan dan pengawasan manajemen pegawai negeri sipil daerah . dan pemindahan pegawai negeri sipil daerah untuk penghitungan dan penyesuaian alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (4) Pemerintah melakukan pemutakhiran data pengangkatan. (3) Penghitungan alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah. dan kompetensi. pemberhentian. Pasal 134 (1) Gaji dan tunjangan pegawai negeri sipil daerah dibebankan pada APBD yang bersumber dari alokasi dasar dalam dana alokasi umum. dan pemindahan pegawai negeri sipil daerah dilaksanakan setiap tahun.(3) Perpindahan pegawai negeri sipil provinsi/kabupaten/kota ke departemen/lembaga pemerintah non departemen atau sebaliknya. (2) Penghitungan dan penyesuaian besaran alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akibat pengangkatan. mutasi jabatan. Pasal 133 Pengembangan karir pegawai negeri sipil daerah mempertimbangkan integritas dan moralitas. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara. pangkat.

dan prosedur pembinaan dan pengawasan manajemen pegawai negeri sipil daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. bersangkutan. pengesahan mulai berlaku pada peraturan perundang-undangan yang lebih tanggal pengundangannya atau pada tinggi.dikoordinasikan pada tingkat nasional oleh Menteri Dalam Negeri dan pada tingkat daerah oleh Gubernur. (5) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat rumah tangga Daerah tingkat bawahnya. tidak boleh bertentangan dengan f. peraturan perundang-undangan atau Pasal 71 (4) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat Peraturan Daerah yang lebih tinggi (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan (1) dilarang bertentangan dengan tingkatannya.32 dan Peraturan Kepala Daerah dengan persetujuan Dewan Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah (1) Perda ditetapkan oleh kepala daerah Tahun 2004 disebutkan bahwa Perda dibentuk Kepala Daerah Perwakilan Rakyat Daerah menetapkan atas persetujuan DPRD dalam rangka setelah mendapat persetujuan bersama dalam rangka penyelenggaraan Otonomi . peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan (3) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat Peraturan Daerah yang lebih tinggi dengan kepentingan umum. tentang pembebanan biaya paksaan kepentingan umum dan/atau peraturan (3) Peraturan Daerah tidak boleh mengatur penegakan hukum.32 Tahun 2004 Pasal 39 penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang(2) Perda dibentuk dalam rangka disebutkan secara rinci mengenai asas dan (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan undangan yang lebih tinggi. tanggal yang ditentukan dalam Peraturan Daerah yang bersangkutan. penyelenggaraan otonomi daerah materi pembuatan suatu peraturan Daerah Kepala Daerah tidak boleh bertentangan provinsi/ kabupaten/kota dan tugas dengan kepentingan umum dan Pasal 70 pembantuan. (2) Standar. berlaku pada tanggal yang ditentukan menetapkan keputusan Kepala Daerah. penyelenggaraan Otonomi Daerah dan DPRD. (1) Untuk melaksanakan Peraturan Daerah dan tepat. lain dan peraturan perundang-undangan yang dari peraturan perundang-undangan yang (2) Peraturan Daerah tidak boleh mengatur lebih tinggi. diundangkan dalam Lembaran Daerah Pasal 72 b. 22 Tahun 1999 dan UU No. Daerah. Daerah. dalam Peraturan Daerah yang (2) Keputusan. 17 Peraturan Daerah Pasal 38 Pasal 69 Pasal 136 • Dalam UU No. kejelasan tujuan. norma. (3) Peraturan Daerah yang tidak atas kuasa peraturan perundang-undangan c. Peraturan Daerah (1) merupakan penjabaran lebih lanjut tingkatannya. dapat dilaksanakan. ayat (1). . dan g. kedayagunaan dan kehasilgunaan.000. Peraturan Daerah. kejelasan rumusan. dan (4) Peraturan Daerah yang memerlukan kepentingan umum. sesuatu hal yang termasuk urusan sebagian kepada pelanggar.000. (2) Peraturan Daerah dapat memuat ancaman (1). berlaku setelah diundangkan dalam pidana kurungan paling lama enam bulan lembaran daerah. meliputi: kekuatan hukum dan mengikat setelah a.00 (lima juta rupiah) dengan Pasal 137 dengan menempatkannya dalam atau tidak merampas barang tertentu untuk Perda dibentuk berdasarkan pada asas Lembaran Daerah yang bersangkutan. kesesuaian antara jenis dan materi memerlukan pengesahan mulai lain yang berlaku. dan dalam UU No. Pasal 40 atau denda sebanyak-banyaknya (1) Peraturan Daerah diundangkan Rp5. Kepala Daerah muatan. seluruhnya atau perundang-undangan yang lebih tinggi. keterbukaan. d. kecuali jika ditentukan lain dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang (2) Peraturan Daerah mempunyai peraturan perundang-undangan. kelembagaan atau organ pembentuk yang yang bersangkutan. sebagaimana dimaksud pada e. lebih tinggi dengan memperhatikan ciri sesuatu hal yang telah diatur dalam khas masing-masing daerah. peraturan daerah.

dilakukan oleh alatDaerah tersebut dibatalkan Bupati/Walikota digunakan sebagai bahan alat penyidik dan penuntut sesuai pelaksanaannya.(4) Daerah yang tidak dapat menerima (3) Tata cara mempersiapkan rancangan Perda undangan yang berlaku. bulan atau denda sebanyak-banyaknya pelanggaran atas ketentuan Peraturan i. jika ditentukan lain dalam peraturan (2) Dengan Peraturan Daerah dapat juga (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat perundang-undangan. kecuali perundang-undangan. dalam ayat (1) pasal ini. pengayoman. ketertiban dan kepastian hukum. Peraturan Daerah Tingkat II dapat Lembaran Daerah. kebangsaan. (2) Keputusan pembatalan Peraturan Daerah seluruhnya atau sebagian kepada dan Keputusan Kepala Daerah. ditentukan untuk pengesahannya dengan menempatkannya dalam Lembaran b. kekeluargaan. untuk dipersandingkan. sebagaimana dimaksud pada d. keserasian. kemanusiaan. adalah rancangan Perda yang disampaikan (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (1) Peraturan Daerah Tingkat I dan mengikat setelah diundangkan dalam f. . Pasal 114 (1) Masyarakat berhak memberikan masukan (3) Tindak pidana yang dimaksud dalam (1) Pemerintah dapat membatalkan Peraturan secara lisan atau tertulis dalam rangka ayat (1) pasal ini adalah pelanggaran.000. atau Bupati/Walikota. c. sedangkan rancangan Perda pelanggaran atas ketentuan-ketentuan Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala yang disampaikan Gubernur atau Peraturan Daerah. berlaku bersangkutan dengan menyebutkan (2) Apabila dalam satu masa sidang. dan barang tertentu untuk Negara. Pasal 41 ayat (1). mempunyai kekuatan hukum dan e. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud diberitahukan kepada Daerah yang Gubernur. g. Gubernur atau Bupati/Walikota berwenang. (3) Selambat-lambatnya satu minggu setelah menyampaikan rancangan Perda mengenai keputusan pembatalan Peraturan Daerah materi yang sama maka yang dibahas Pasal 43 dan Keputusan Kepala Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). DPRD dan sesudah ada pengesahan pejabat yang alasan-alasannya.(5) Peraturan Daerah yang memerlukan pengesahan tidak boleh diundangkan Pasal 73 Pasal 138 sebelum pengesahan itu diperoleh (1) Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala (1) Materi muatan Perda mengandung asas: atau sebelum jangka waktu yang Daerah yang bersifat mengatur diundangkan a. keputusan pembatalan Peraturan Daerah yang berasal dari Gubernur atau (2) Dengan Peraturan Daerah dapat dan Keputusan Kepala Daerah. keseimbangan.50. pembahasan. dengan peraturan perundang. Bupati/Walikota diatur dengan Peraturan Presiden. ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk (1). Pasal 140 pelanggar. Pasal 42 umum atau peraturan perundang. bhineka tunggal ika. Daerah dan Keputusan Kepala Daerah penyiapan atau pembahasan rancangan yang bertentangan dengan kepentingan Perda. (2) Ketentuan. Daerah. berakhir.rupiah) Daerah dilakukan oleh pejabat penyidik dan dan/atau dengan atau tidak dengan merampas penuntut sesuai dengan peraturan j. paksaan penegakan hukum. kesamaan kedudukan dalam hukum kurungan selama-lamanya 6 (enam) (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap dan pemerintahan. ditunjuk Pegawai-pegawai Daerah yang diberi tugas untuk melakukan dapat mengajukan keberatan kepada sebagaimana dimaksud pada ayat (2).(2) Persiapan pembentukan. memuat ketentuan ancaman pidana Pasal 74 h. Rp. keadilan. (1) Rancangan Perda dapat berasal dari DPRD. berlaku atas ketentuan Peraturan Daerah. Perda dapat memuat asas lain sesuai (2) Peraturan Daerah yang dimaksud melakukan penyidikan terhadap pelanggaran dengan substansi Perda yang bersangkutan. oleh DPRD. kepada peraturan perundang-undangan. keselarasan. dan (1) Peraturan Daerah dapat memuat undangan yang lebih tinggi dan/atau pengesahan rancangan Perda berpedoman ketentuan tentang pembebanan biaya peraturan perundang-undangan lainnya. kenusantaraan. sesudah ada pengesahan pejabat yang Pasal 139 berwenang.-(Limapuluh ribu. dalam ayat (1) pasal ini.

oleh pejabat yang berwenang dapat diperpanjang 3 (tiga) bulan lagi. serta oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (3) Perda dapat memuat ancaman pidana atau denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2). atau apabila setelah 3 (tiga) bulan sejak diterimanya Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah tersebut. dilaksanakan oleh sekretariat daerah.\ mempersiapkan rancangan Perda (2) Peraturan Daerah ditandatangani oleh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur Kepala Daerah dan ditandatangani dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. (3) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud . (3) Penolakan pengesahan Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Pasal 143 (1) Perda dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum. dengan memberitahukannya kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan sebelum jangka waktu yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berakhir. sesuai dengan yang diatur dalam peraturan perundangan lainnya. Daerah.000. (1) Rancangan Perda disampaikan oleh anggota. (2) Penyampaian rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. (2) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda edspaling banyak Rp50. pejabat yang berwenang tidak mengambil sesuatu keputusan. Kepala Daerah untuk melaksanakan (2) Penyebarluasan rancangan Perda yang Peraturan Daerah atau urusan-urusan dalam berasal dari Gubernur. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar sesuai dengan peraturan perundangan. Pasal 142 (1) Penyebarluasan rancangan Perda yang Pasal 45 berasal dari DPRD dilaksanakan oleh Kepala Daerah dapat menetapkan Keputusan sekretariat DPRD. baru berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. komisi. dapat dijalankan sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. Pasal 144 (1) Rancangan Perda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Gubernur atau Bupati/Walikota disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada Gubernur atau Bupati/Walikota untuk ditetapkan sebagai Perda. atau Bupati/Walikota rangka tugas pembantuan. atau alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani Pasal 44 bidang legislasi.000. Pasal 69 (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang memerlukan pengesahan. Daerah dan Keputusan Kepala Daerah mengenai hal-hal tertentu. (2) Jangka waktu 3 (tiga) bulan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini.00 (lima puluh juta rupiah).penyidikan terhadap pelanggaran atas Mahkamah Agung setelah mengajukannya Pasal 141 ketentuan-ketentuan Peraturan kepada Pemerintah. (1) Bentuk Peraturan Daerah ditentukan (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara oleh Menteri Dalam Negeri. Pasal 68 Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditentukan bahwa Peraturar. gabungan komisi.

(4) Paling lama 7 (tujuh) hari setelah keputusan pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Apabila Gubernur Kepala Daerah tidak menjalankan haknya untuk menangguhkan atau membatalkan Peraturan Daerah Tingkat II dan atau Keputusan Kepala Daerah Tingkat II sesuai dengan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. kepala daerah dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah . mengakibatkan batalnya semua akibat dari Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud. (2) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh Pemerintah. Pasal 70 (6) Kalimat pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Perda sebelum pengundangan naskah Perda ke dalam lembaran daerah. maka penangguhannya dan atau pembatalannya dapat dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. disertai alasan- pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan tersebut disetujui bersama. karena bertentangan dengan kepentingan umum. peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah tingkat atasnya ditangguhkan berlakunya atau dibatalkan oleh pejabat yang berwenang. (3) Pembatalan Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini. (4) Keputusan penangguhan atau pembatalan yang dimaksud dalam ayatayat (1) dan (2) pasal ini. rumusan kalimat pengesahannya berbunyi. (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum. dapat mengajukan keberatan kepada pejabat setingkat lebih atas dari pejabat yang menolak.” dengan mencantumkan tanggal sahnya.Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (5) Dalam hal sahnya rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (4). kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan Perda dan selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut Perda dimaksud. Pasal 145 (1) Perda disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan. (5) Apabila provinsi/kabupaten/kota tidak dapat menerima keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. “Perda ini dinyatakan sah. (4) Dalam hal rancangan Perda tidak ditetapkan Gubernur atau Bupati/Walikota dalam waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) rancangan Perda tersebut sah menjadi Perda dan wajib diundangkan dengan memuatnya dalam lembaran daerah. Daerah yang bersangkutan dalam waktu 1 (satu) bulan terhitung mulai saat pemberitahuan penolakan pengesahan itu diterima. oleh pejabat yang berwenang diberitahukan kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan disertai alasan-alasannya. (4) Terhadap penolakan pengesahan yang dimaksud dalam ayat (3) pasal ini. peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah Tingkat atasnya. (3) Keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sepanjang masih dapat dibatalkan.

(7) Keputusan mengenai pembatalan yang dimaksud dalam ayat-ayat (4) dan (6) pasal ini. Pasal 147 (1) Perda diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah diundangkan dalam Berita Daerah. (7) Apabila Pemerintah tidak mengeluarkan Peraturan Presiden untuk membatalkan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dilarang bertentangan dengan kepentingan umum. Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang bersangkutan kehilangan kakuatan berlakunya. (5) Lamanya penangguhan yang dinyatakan dalam Keputusan yang dimaksud dalam ayat (4) pasal ini. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. kepala daerah menetapkan peraturan kepala daerah dan atau keputusan kepala daerah. Agung. putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum. maka pejabat yang berwenang mengambil keputusan. (4) Menteri Dalam Negeri menetapkan Peraturan untuk melancarkan pelaksanaan kerjasama antar Pemerintah Daerah. (6) Jika dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah pcnangguhan itu tidak disusul dengan keputusan pembatalannya. maka Peraturan Daerah dan atau Keputusan-Kepala Daerah itu memperolah kembali kekuatan berlakunya. demikian pula mengenai perubahan dan pencabutannya. . (6) Apabila keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikabulkan sebagian atau seluruhnya. (2) Peraturan Bersama yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Perda. Perda dimaksud dinyatakan berlaku. Pasal 65 (1) Beberapa Pemerintah Daerah dapat menetapkan Peraturan Bersama untuk mengatur kepentingan Daerahnya secara bersama-sama.alasannya diberitahukan kepada Kepala Daerah yang bersangkutan dalam jangka waktu 2 (dua) minggu sesudah tanggal keputusan itu. Pasal 146 (1) Untuk melaksanakan Perda dan atas kuasa peraturan perundang-undangan. (2) Peraturan kepala daerah dan atau keputusan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tidak boleh melebihi 6 (enam) bulan dan sojak saat penangguhannya. diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan atau Lembaran Daerah yang bersangkutan. (3) Pemerintah daerah wajib menyebarluaskan Perda yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah yang telah diundangkan dalam Berita Daerah. (3) Dalam hal tidak tercapai kata sepakat mengenai perubahan dan atau pencabutan yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. (2) Pengundangan Perda dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah dalam Berita Daerah dilakukan oleh Sekretaris Daerah.

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. kedudukan. (2) Pembentukan dan susunan organisasi Satuan wewenang Polisi Pamong Praja yang (2) Susunan organisasi. dan arah pembangunan daerah yang mengacu . (2) Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun oleh pemerintahan daerah provinsi. tugas. hak dan sebagai perangkat Pemerintah Daerah. sesuai dengan ketentuan yang satuan Polisi Pamong Praja yang ditetapkan oleh Pemerintah. wewenang.18 Polisi Pamong Praja Pasal 86 Pasal 120 Pasal 148 • Dalam UU No. tugas. (3) Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut umum sesuai dengan peraturan perundangundangan. (3) Dengan Perda dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda. kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya yang dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. (1) Anggota Satuan Polisi Pamong Praja dapat ditetapkan oleh Menteri Dalam diangkat sebagai penyidik pegawai negeri sipil Negeri. Pasal 149 dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. formasi. 19 Perencanaan Pembangunan Daerah Pasal 150 (1) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah disusun perencanaan pembangunan daerah sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional. (2) Kedudukan. satuan Polisi Pamong Praja. Polisi Pamong Praja sebagaimana dimaksud dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. hak.32 Tahun 2004 disebutkan (1) Untuk membantu Kepala Wilayah (1) Dalam rangka menyelenggarakan (1) Untuk membantu kepala daerah dalam bahwa anggota dari satua Polisi Pamong dalam menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban umum serta menegakkan Perda dan penyelenggaraan Praja dapat diangkat sebagai penyidik pemerintahan umum diadakan untuk menegakkan Peraturan Daerah ketertiban umum dan ketentraman masyarakat pegawai negeri sipil. Rencana pembangunan jangka panjang daerah disingkat dengan RPJP daerah untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun yang memuat visi. misi. disusun secara berjangka meliputi: a. dan kewajiban Polisi pada ayat (1) berpedoman pada Peraturan diatur dengan Peraturan Pemerintah. dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja. (3) Susunan organisasi dan formasi Daerah.

tujuan.kepada RPJP nasional. (2) Renstra-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dirumuskan dalam bentuk rencana kerja satuan kerja perangkat . e. Rencana kerja pembangunan daerah. RPJP daerah dan RJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a dan b ditetapkan dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. b. selanjutnya disebut RKPD. program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya. merupakan penjabaran dari RPJM daerah untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. lintas satuan kerja perangkat daerah. dengan mengacu kepada rencana kerja Pemerintah. Pasal 151 (1) Satuan kerja perangkat daerah menyusun rencana stratregis yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD memuat visi. Rencana pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya disebut RPJM daerah untuk jangka waktu 5 (lima) tahun merupakan penjabaran dari visi. RPJM daerah sebagaimana dimaksud pada huruf b memuat arah kebijakan keuangan daerah. dan program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. c. kebijakan umum. misi. strategi pembangunan daerah. strategi. prioritas pembangunan daerah. misi. rencana kerja dan pendanaannya. berpedoman pada RPJM Daerah dan bersifat indikatif. d. kebijakan. dan program satuan kerja perangkat daerah. dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP daerah dengan memperhatikan RPJM nasional.

g. perangkat daerah. Pasal 152 (1) Perencanaan pembangunanan daerah didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. penganggaran. informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah.daerah yang memuat kebijakan. pelaksanaan. informasi dasar kewilayahan. untuk tercapainya daya guna dan hasil guna. program. c. f. h. penyelenggaraan pemerintahan daerah. pemanfaatan data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikelola dalam sistem informasi daerah yang terintegrasi secara nasional. dan PNS daerah. dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. dan pengawasan. tata cara penyusunan. kependudukan. potensi sumber daya daerah. Pasal 153 Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152 disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. e. kepala daerah. d. DPRD. produk hukum daerah. dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah yang berpedoman pada perundangundangan. dan i. organisasi dan tata laksana pemerintahan daerah. (2) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. . b. Pasal 154 Tahapan. pengendalian. keuangan daerah. (3) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah.

lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah. kepala daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya yang berupa perencanaan. surat bernilai uang dan atau barang (2) Dalam melaksanakan kekuasaan sebagaimana untuk kepentingan Daerah.32 Tahun 2004) sah.32 tahun 2004. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang untuk pinjaman daerah tidak disebutkan dalam 4. pinjaman daerah (UU N0 22 Tahun 1999. dan terperinci mengenai Dana Alokasi Umum dan . hasil perusahaan Daerah . pendapatan asli Daerah. lain-lain hasil usaha Daerah yang dipisahkan.Pasal 155 20 Keuangan Daerah Pasal 62 Pasal 78 (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang (1) Kepala Daerah menyelenggarakan (1) Penyelenggaraan tugas Pemerintah Daerah menjadi kewenangan daerah didanai dari dan pengurusan. dimaksud pada ayat (1). serta pengawasan keuangan daerah kepada para pejabat perangkat daerah. pelaksanaan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.22 Tahun 1999 dan UU No. Pasal 55 Pasal 79 Pasal 157 • Terdapat perbedaan dalam pengaturan Belanja. dana perimbangan. urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud (3) Selama belum ada Kas Daerah atau pada ayat (1) dilakukan secara terpisah dari Bank Pembangunan Daerah. pengelolaan kekayaan Daerah yang 3. hasil pajak Daerah. 4.. Negara atau Bank Pemerintah tertentu untuk melaksanakan pekerjaan Pasal 156 mengenai penerimaan. disebut PAD. yaitu: 2004 ditambahkan bahwa sumber pendapatan 1. Daerah atau Bank Pembangunan (3) Administrasi pendanaan penyelenggaraan Daerah. Pendapatan asli Daerah sendiri. hasil perusahaan milik Daerah.32 Tahun terdiri dari : 1. hasil retribusi Daerah . Pendapatan berasal dari pemberian c. Menteri pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat Keuangan dapat menugaskan Kas (2). diatur lebih b. hasil pajak daerah. daerah berasal dari dana perimbangan dan 2. 21 Pendapatan. menguji. pelaporan dan pertanggungjawaban. b. lain-lain PAD yang sah. penatausahaan. daerah. b. hasil retribusi daerah. berdasarkan Peraturan Daerah dan (2) Penyelenggaraan tugas Pemerintah di (2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang peraturan perundang-undangan yang Daerah dibiayai dari dan atas beban menjadi kewenangan Pemerintah di daerah lebih tinggi. (3) Pelimpahan sebagian atau seluruh kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didasarkan pada prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan. hasil retribusi Daerah. dan UU No. pendapatan asli daerah yang selanjutnya UU No. hasil pajak Daerah . dan yang menerima/mengeluarkan uang. 1. dan Sumber pendapatan Daerah adalah : Sumber pendapatan Daerah terdiri atas: Sumber pendapatan daerah terdiri atas: mengenai sumber pendapatan daerah dalam Pembiayaan Daerah a. penyimpanan. atas administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan permintaan Pemerintah Daerah. yang a. dan dan DPRD dibiayai dari dan atas beban atas beban anggaran pendapatan dan belanja pengawasan keuangan Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. 2. • Dalam UU No. dana perimbangan. yaitu : a. 3. pengelolaan keuangan daerah. dan dipisahkan. 3. (1) Kepala daerah adalah pemegang kekuasaan pembayaran atau penyerahan uang. pertanggungjawaban. didanai dari dan atas beban anggaran (2) Uang Daerah disimpan pada Kas pendapatan dan belanja negara. dan hasil 2.

ditetapkan dengan Undang-undang. penghasil. dan c. diterima langsung oleh Daerah Pasal 159 retribusi Daerah. (1) Dana perimbangan. undangan. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor (1) Pemerintah Daerah dapat melakukan perdesaan. Penerimaan kehutanan yang berasal dari Pemerintah. (1) beras al dari: harus mendapatkan persetujuan a. lain-lain pendapatan daerah yang sah. terdiri atas: lebih lanjut dengan Perda. 157 huruf a angka 4 ditetapkan dengan Perda perkotaan. Dana Alokasi Khusus 1. (3) Peminjaman dan sumber dana pinjaman (3) Dana Bagi Hasil yang bersumber dari sumber yang berasal dari luar negeri. penerimaan dari sumber daya alam. Dana Alokasi Khusus. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri Daerah. perundang-undangan. ayat (2). perkebunan. dan Bangunan sektor pertambangan serta a. perkebunan. . dan ayat (2) Dana Bagi Hasil yang bersumber dari pajak dapat dilakukan berdasarkan Peraturan (3). ayat (1) huruf a. sumbangan-sumbangan lain. dan perkebunan serta Bea berpedoman pada peraturan perundangPasal 58 Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. dimaksud dalam Pasal 79. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21.Pasal 80 (1) retribusi daerah ditetapkan dengan Undangundangan . dan dipisahkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 c. dalam Pasal 159 huruf a bersumber dari pajak (4) Pengembalian atau pembebasan pajak (4) Ketentuan lebih lanjut. (3) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang b. pinjaman Daerah. sebagaimana dan sumber daya alam. Pasal 157 huruf a angka 3 dan lain-lain PAD Perimbangan keuangan antara Pemerintah (2) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal dan Daerah diatur dengan Undang-undang. perkotaan. dana alokasi khusus. pribadi dalam negeri. Bea Perolehan Atas Hak Tanah dan membiayai kegiatan pemerintahan Bangunan (BPHTB) sektor perdesaan. dan yang telah ditetapkan undang-undang. dana alokasi umum. pengesahan pejabat yang berwenang. Dana Alokasi Umum. diterima oleh Daerah menurut cara yang diatur dalam penghasil dan Daerah lainnya untuk Pasal 160 Undang-undang dan tidak boleh berlaku pemerataan sesuai dengan peraturan (1) Dana Bagi Hasil sebagaimana dimaksud surut. dan Bangunan sektor perdesaan. Daerah dan atau retribusi Daerah hanya dimaksud pada ayat (1). Lain-lain pendapatan yang sah. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam kehutanan dan penerimaan dari sumber b. perkotaan. lain-lain pendapatan Daerah yang sah. sumbangan dari Pemerintah. dari: Pasal 81 a. 2. dan/atau dari sumber luar negeri untuk b. dengan persetujuan DPRD. (1) Dengan Undang-undang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf ketentuan pokok tentang pajak dan a. yang Pasal 158 diatur dengan peraturan perundang. dan ayat (2) pasal ini berlaku sesudah ada daya alam.Pemerintah yang terdiri dari : d. Negara dapat diserahkan kepada Daerah. Bea Perolehan pungutan atau dengan sebutan lain di luar Dengan Undang-undang sesuatu pajak Hak atas Tanah dan Bangunan. pertambangan (2) Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan serta kehutanan. Dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam (2) Dengan Peraturan Daerah ditetapkan (3) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi Pasal 157 huruf b terdiri atas: pungutan pajak dan retribusi Daerah. sebagaimana dimaksud pada c. Dana Bagi Hasil. kepada Pemerintah dan dilaksanakan c. peminjaman dari sumber dalam negeri pertambangan serta kehutanan. Pasal sesuai dengan pedoman yang ditetapkan 25. sesuai dengan ketentuan iuran hak pengusahaan hutan (IHPH). bagian Daerah dari penerimaan Pajak (2) Pemerintahan daerah dilarang melakukan Pasal 56 Bumi dan Bangunan. a. e. daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan Pasal 29 wajib pajak orang oleh Pemerintah. sebagaimana Undang yang pelaksanaannya di daerah diatur c.

b. sebagaimana dana reboisasi yang dihasilkan dari dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). ayat (3). Penerimaan pertambangan gas alam yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan.peraturan perundang-undangan. iuran tetap dan iuran produksi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. ditetapkan oleh Pemerintah. perikanan dan penerimaan pungutan hasil perikanan. (2) DAU untuk suatu daerah ditetapkan berdasarkan kriteria tertentu yang menekankan pada aspek pemerataan dan keadilan yang . Penerimaan pertambangan umum yang berasal dari penerimaan iuran tetap Pasal 82 ( landrent ) dan penerimaan iuran (1) Pajak dan retribusi Daerah ditetapkan eksplorasi dan iuran eksploitasi ( royalty ) dengan Undang-undang. Penerimaan pertambangan minyak yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. ayat (2). wilayah daerah yang bersangkutan. pemungutan pajak dan retribusi Daerah c. (4) Daerah penghasil sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (3). e. f. Penerimaan pertambangan panas bumi yang berasal dari penerimaan setoran bagian Pemerintah. d. Penerimaan perikanan yang diterima ditetapkan dengan Peraturan Daerah secara nasional yang dihasilkan dari sesuai dengan peraturan perundangpenerimaan pungutan pengusahaan undangan. ayat (4). provisi sumber daya hutan (PSDH) dan (4) Tata cara peminjaman. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri berdasarkan pertimbangan dari menteri teknis terkait. Pasal 161 (1) DAU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf b dialokasikan berdasarkan persentase tertentu dari pendapatan dalam negeri neto yang ditetapkan dalam APBN. (6) Pelaksanaan ketentuan pada ayat (1). (5) Dasar penghitungan bagian daerah dari daerah penghasil sumber daya alam ditetapkan oleh Menteri Teknis terkait setelah memperoleh pertimbangan Menteri Dalam Negeri. yang dihasilkan dari wilayah daerah yang (2) Penentuan tarif dan tata cara bersangkutan. dan ayat (5) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.

dana darurat.selaras dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang formula dan penghitungan DAU-nya ditetapkan sesuai Undang-Undang. supervisi. DAU. b. (3) Penyusunan kegiatan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan setelah dikoordinasikan oleh daerah yang bersangkutan. dan DAK diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai DAK diatur dengan Peraturan Pemerintah. yang meliputi hibah. dana bagi hasil sumber daya alam. Pasal 163 (1) Pedoman penggunaan. Mendanai kegiatan khusus yang ditentukan Pemmerintah atas dasar prioritas nasional. Pasal 164 (1) Lain-lain pendapatan daerah yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 huruf c merupakan seluruh pendapatan daerah selain PAD dan dana perimbangan. dan evaluasi atas dana bagi hasil pajak. mendanai kegiatan khusus yang diusulkan daerah tertentu. dan lain-lain pendapatan yang ditetapkan Pemerintah. (2) Penyusunan kegiatan khusus yang ditentukan oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dikoordinasikan dengan Gubernur. (2) Hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) . (2) Pengaturan lebih lanjut mengenai pembagian dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf b ditetapkan dalam Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. monitoring. Pasal 162 (1) Dana Alokasi Khusus (DAK) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf c dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu dalam rangka pendanaan pelaksanaan desentralisasi untuk: a.

penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan. masyarakat. (2) Besarnya alokasi dana darurat ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan memperhatikan pertimbangan Menteri Dalam Negeri dan Menteri teknis terkait. dan/atau jasa yang berasal dari Pemerintah. sehingga mengancam keberadaannya sebagai daerah otonom. pendidikan. yang tidak mampu diatasi sendiri. fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. (2) Perlindungan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar. dan pengalokasian dana darurat di atur dalam Peraturan Pemerintah. (2) Tata cara pengajuan permohonan. serta mengembangkan sistem jaminan sosial. (3) Pendapatan dana darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bantuan Pemerintah dari APBN kepada pemerintah daerah untuk mendanai keperluan mendesak yang diakibatkan peristiwa tertentu yang tidak dapat ditanggulangi APBD. Pasal 165 (1) Keadaan yang dapat digolongkan sebagai peristiwa tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 164 ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Pasal 166 (1) Pemerintah dapat mengalokasikan dana darurat kepada daerah yang dinyatakan mengalami krisis keuangan daerah. barang. dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri.merupakan bantuan berupa uang. evaluasi oleh Pemerintah. Pasal 167 (1) Belanja daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22. (3) Tata cara pengelolaan dan pertanggungjawaban penggunaan dana darurat diatur dalam Peraturan Pemerintah. .

lembaga keuangan bank. (2) Perjanjian penerusan pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan antara Menteri Keuangan dan kepala daerah. (2) Belanja pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. tolok ukur kinerja. dan masyarakat. Pasal 171 (1) Ketentuan mengenai pinjaman daerah dan obligasi daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 170 (1) Pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang berasal dari penerusan pinjaman hutang luar negeri dari Menteri Keuangan atas nama Pemerintah setelah memperoleh pertimbangan Menteri Dalam Negeri. penganggaran kewajiban pinjaman daerah . pemerintah daerah lain. b. pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari Pemerintah. dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. standar harga.(3) Belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempertimbangkan analisis standar belanja. (2) Pemerintah daerah dengan persetujuan DPRD dapat menerbitkan obligasi daerah untuk membiayai investasi yang menghasilkan penerimaan daerah. Pasal 169 (1) Untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah. (2) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya mengatur tentang: a. persyaratan bagi pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman. Pasal 168 (1) Belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. lembaga keuangan bukan bank.

dan/atau dapat dialihkan kepada badan usaha milik daerah. serta pengelolaan dan pertanggungjawabannya. penjualan dan pembelian obligasi. pengelolaan obligasi daerah yang mencakup pengendalian risiko. (2) Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditambah. Pasal 173 (1) Pemerintah daerah dapat melakukan penyertaan modal pada suatu Badan Usaha Milik Pemerintah dan/atau milik swasta. c. (2) Pengaturan tentang dana cadangan daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. pemerintah daerah lain. f. e. pembayaran bunga dan pokok obligasi.yang jatuh tempo dalam APBD. pengenaaan sanksi dalam hal pemerintah daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjaman kepada Pemerintah. dijual kepada pihak lain. serta lembaga keuangan bukan bank dan masyarakat. dikurangi. d. (3) Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pelunasan dan penganggaran dalam APBD. lembaga perbankan. Pasal 172 (1) Pemerintah daerah dapat membentuk dana cadangan guna membiayai kebutuhan tertentu yang dananya tidak dapat disediakan dalam satu tahun anggaran. (3) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurangkurangnya mengatur pers yaratan pembentukan dana cadangan. . persyaratan penerbitan obligasi daerah. tata cara pelaporan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman setiap semester dalam tahun anggaran berjalan.

dapat didanai dari sumber pembiayaan daerah yang ditetapkan dalam Perda tentang APBD. dan d. prasana.32 Tahun 2004 disebutkan Pemerintah memberi insentif fiskal dan perekonomian daerah dapat memberikan insentif bahwa insentif tidak hanya berupa insentif nonfiskal tertentu. sebagaimana dimaksud pada dan/atau investor yang diatur dalam Perda dengan penjelasannya disebutkan insentif tersebut ayat (1). c. diatur sebelumnya dalam UU No. (4) Pembiayaan daerah sebagaimana di-maksud pada ayat (3) bersumber dari: a. (3) Dalam hal APBD diperkirakan defisit. b. 1974 dan UU No. . c. Pemerintah daerah dalam meningkatkan dalam UU No. b. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. Pemerintah dapat melakukan penundaan atas penyaluran dana perimbangan. (2) Pemerintah daerah wajib melaporkan posi-si surplus/defisit APBD kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan setiap semester dalam tahun anggaran berjalan.22 Surplus dan Defisit APBD - Pasal 174 • Hal ini merupakan materi baru yang tidak (1) Dalam hal APBD diperkirakan surplus. sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu. dan/atau kemudahan kepada masyarakat fiskal dan non fiskal tetapi dalam (2) Ketentuan. (2) Surplus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan untuk: a. dan hal Pemerintah. (3) Dalam hal pemerintah daerah tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2). transfer dari dana cadangan. 5 Tahun penggunaannya ditetapkan dalam Perda tentang APBD. ditetapkan dengan Peraturan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. penyertaan modal (investasi daerah).32 tahun 2004 23 Pemberian Insentif dan Kemudahan Investasi • Materi tentang pemberian insentif dan Pasal 83 Pasal 176 kemudahan investasi ada perubahan bahwa (1) Untuk mendorong pemberdayaan Daerah. Pasal 175 (1) Menteri Dalam Negeri melakukan pengendalian defisit anggaran setiap daerah. tersebut diatur dalam Peraturan Daerah tidak lagi dituangkan dalam Peraturan Pemerintah. pinjaman daerah. pembayaran cicilan pokok utang yang jatuh tempo. berupa penyediaan sarana. transfer ke rekening dana cadangan.

Penghapusan tagihan daerah sebagian atau pihak lain. persetujuan penyelesaian perkara (4) Pelaksanaan penghapusan sebagaimana perdata secara damai . undangan. 25 Pasal 63 Pasal 85 Pengelolaan Barang Daerah (1) Barang milik Daerah yang dipergunakan • UU No. dengan Perda yang berpedoman pada peraturan perusahaan. atau digadaikan. barang. dan/atau pembubarannya ditetapkan dilakukan berdasarkan azas ekonomi Daerah. dimaksud pada ayat (2) dilakukan c. b. dan/atau dimusnahkan sesuai hanya dapat dilakukan dimuka umum. dijadikan tanggungan atau dan/atau dipindahtangankan. dan nilai ekonomis yang (4) Keputusan yang dimaksud dalam ayatdilakukan secara transparan sesuai dengan ayat (1). dan dengan ketentuan peraturan perundangkecuali apabila ditentukan lain dalam c. dan transparansi menetapkan Keputusan tentang : dengan mengutamakan produk dalam a.24 Pasal 59 BUMD Pasal 84 Pasal 177 (1) Pemerintah Daerah dapat mengadakan Daerah dapat memiliki Badan Usaha Milik Daerah Pemerintah daerah dapat memiliki BUMD yang Perusahaan Daerah yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan pembentukan. diserahkan haknya kepada digadaikan. a. diserahkan haknya kepada pihak lain. 32 tahun 2004 menghapuskan (1) Barang milik daerah yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umum tidak melayani kepentingan umum tidak dapat wewenang dari kepala daerah untuk untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijual. dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. menetapkan keputusan mengenai : dapat dijual. perundang-undangan. Keputusan Kepala Daerah yang milik Daerah. pelepasan penyelenggaraan dan pembinaannya dan pembentukannya diatur dengan Peraturan kepemilikan. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. mutu barang milik atau hak Daerah . (2) Dengan Undang-undang ditetapkan ketentuan pokok tentang Perusahaan Daerah. b.Persetujuan penyelesaian sengketa perdata peraturan perundang-undangan. penghapusan tagihan Daerah secara damai (2) Penjualan dan penyerahan yang sebagian atau seluruhnya. dibebani hak tanggungan. penggabungan. berlaku peraturan perundang-undangan. penghapusan tagihan Daerah negeri sesuai dengan peraturan perundangsebagian atau seluruhnya . Pasal 60 (1) Dengan Peraturan Daerah dapat diadakan usaha-usaha sebagai sumber pendapatan Daerah. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. sesuai dengan kemampuan keuangan dan (3) Dengan persetujuan Dewan Perwakilan kebutuhan daerah berdasarkan prinsip Rakyat Daerah Kepala Daerah dapat efisiensi. efektivitas. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. . (2) Barang milik daerah dapat dihapuskan dari . (3) Pelaksanaan pengadaan barang dilakukan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. persetujuan penyelesaian sengketa daerah dihibahkan. dan (3) pasal ini. (2). perdata secara damai.Tindakan hukum lain mengenai barang milik daftar inventaris barang daerah untuk dijual. sesudah ada pengesahan Mendagri Pasal 178 (1) Barang milik Daerah yang digunakan untuk . tindakan hukum lain. kecuali dengan Keputusan (2) Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD seluruhnya digadaikan sesuai dengan ketentuan Kepala Daerah dengan persetujuan dapat menetapkan keputusan tentang: . dijadikan tanggungan. tindakan hukum lain mengenai barang undangan. mengenai berdasarkan kebutuhan daerah. usia pakai.

pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Pendapatan dan Belanja Negara untuk (2) Perubahan Anggaran Pendapatan dan Pasal 180 kepada DPRD berupa laporan keuangan tahun anggaran tertentu. kepala . ditetapkan Belanja Daerah ditetapkan dengan (1) Kepala daerah dalam penyusunan rancayang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Anggaran Pendapatan dan Belanja Peraturan Daerah selambat-lambatnya tiga ngan APBD menetapkan prioritas dan Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan Daerah. ditetapkan dengan Peraturan Daerah daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran No. setelah ditetapkan Anggaran Peraturan Daerah selambat-lambatnya tiga (2) Berdasarkan prioritas dan plafon anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk bulan setelah berakhirnya tahun anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tahun anggaran tertentu. pelaksanaan tata usaha dokumen-dokumen pendukungnya kepada (6) Anggaran Pendapatan dan Belanja keuangan Daerah dan penyusunan DPRD untuk memperoleh persetujuan Daerah serta perubahannya. perubahan. APBD tahun berikutnya. dan pengawasan Pasal 181 (5) Pemerintah Daerah wajib berusaha keuangan Daerah serta tata cara (1) Kepala daerah mengajukan rancangan Perda mencukupi anggaran belanja rutin penyusunan Anggaran Pendapatan dan tentang APBD disertai penjelasan dan dengan pendapatan sendiri. pada ayat (1) dibahas pemerintah daerah pengesahan pejabat yang berwenang. kepala satuan kerja perangkat daerah perhitungan atas Anggaran Pendapatan (4) Pedoman tentang penyusunan. (3) Dengan Peraturan Daerah. tiap tahun. bersama DPRD berdasarkan kebijakan (7) Pengesahan atau penolakan Anggaran umum APBD. dan Belanja Daerah ditetapkan dengan pendekatan berdasarkan prestasi kerja yang (4) Apabila Anggaran Pendapatan dan Peraturan Pemerintah. Belanja Daerah. tiap tahun. dilaksanakan sesudah ada peraturan perundang-undangan. serta prioritas dan plafon Pendapatan dan Belanja Daerah oleh anggaran. sebelumnya sebagai dasar pengurusan (6) Pedoman tentang pengurusan. sepanjang perhitungan Anggaran Pendapatan dan bersama. pertanggungjawaban.32 Tahun 2004 seperti adanya (2) Dengan Peraturan Daerah. selambat-lambatnya satu bulan setelah terhitung mulai 1 Januari sampai dengan tanggal 31 kewajiban Kepala daerah menyampaikan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Desember. a. ditetapkan yang bersangkutan. Belanja Daerah pada permulaan tahun (5) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (3) Rencana kerja dan anggaran satuan kerja anggaran yang bersangkutan belum yang telah ditetapkan dengan Peraturan perangkat daerah sebagaimana dimaksud mendapat pengesahan dari pejabat Daerah disampaikan kepada Gubernur bagi pada ayat (2) disampaikan kepada pejabat yang berwenang dan belum Pemerintah Kabupaten/Kota dan kepada pengelola keuangan daerah sebagai bahan diundangkan. pejabat yang berwenang dapat (3) Pengambilan keputusan DPRD untuk medilakukan pos demi pos atau secara nyetujui rancangan Perda sebagaimana keseluruhan. (3) Perhitungan Anggaran Pendapatan dan rencana kerja dan anggaran satuan kerja selambat-lambatnya 6 (enam) bulan Belanja Daerah ditetapkan dengan perangkat daerah. tidak dikuasakan sendiri oleh Anggaran Belanja Daerah ditetapkan sesuai dengan (2) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud itu. keuangannya. plafon anggaran sebagai dasar penyusunan setelah tahun anggaran berakhir. akan dicapai.26 APBD Pasal 64 Pasal 86 Pasal 179 • Materi mengani Aggaran Pendapatan dan (1) Tahun anggaran Daerah adalah sama (1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan Belanja Daerah diatur lebih rinci dalam UU dengan tahun anggaran Negara. rancangan Perda tentang setelah ditetapkan Anggaran Belanja Negara. menyusun rencana kerja dan anggaran dan Belanja Daerah tahun anggaran dan perhitungan Anggaran Pendapatan satuan kerja perangkat daerah dengan sebelumnya. mana dimaksud pada ayat (3). bulan sebelum tahun anggaran berakhir. maka Pemerintah Daerah Presiden melalui Menteri Dalam Negeri penyusunan rancangan Perda tentang menggunakan anggaran tahun bagi Pemerintah Propinsi untuk diketahui. penyusunan Anggaran (4) Atas dasar persetujuan DPRD sebagaiPendapatan dan Belanja Daerah. dimaksud pada ayat (2) dilakukan selambat(8) Dengan Peraturan Pemerintah diatur lambatnya 1 (satu) bulan sebelum tahun ketentuan-ketentuan tentang cara: anggaran dilaksanakan.

b. disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD. (2) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud .b. antarkegiatan. pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan Daerah. (2) Pemerintah daerah mengajukan rancang-an Perda tentang perubahan APBD. (9) Dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri diatur lebih lanjut cara melaksanakan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (8) pasal ini. daerah menyiapkan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD dan rancangan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah. dan antarjenis belanja. penyusunan permtungan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Pasal 184 (1) Kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Pasal 183 (1) Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi: a. c. dan c. (3) Pengambilan keputusan mengenai rancangan Perda tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh DPRD paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir. Pasal 182 Tata cara penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah serta tata cara penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada peraturan perundangundangan. pengurusan. keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi. keadaan yang menyebabkan sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan dalam tahun anggaran berjalan. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum APBD.

pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi laporan realisasi APBD. Gubernur menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Gubernur. yang dilampiri dengan laporan keuangan badan usaha milik daerah. (5) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Gubernur dan DPRD. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud. neraca. laporan arus kas. (3) Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. Pasal 185 (1) Rancangan Perda provinsi tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Gubernur paling lambat 3 (tiga) hari disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi. dan Gubernur tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur . (4) Apabila Menteri Dalam Negeri menyata-kan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. dan catatan atas laporan keuangan. (3) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan yang ditetapk an dengan Peraturan Pemerintah.

(2) Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda kabupaten/kota dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 186 (1) Rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama 3 (tiga) hari disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi. Gubernur . (5) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota dan DPRD. Bupati/Walikota menetapkan ran-cangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. Menteri Dalam Negeri membatalkan Perda dan Peraturan Gubernur dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota.tentang penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Gubernur. Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya hasil evaluasi. (3) Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

Pasal 187 (1) Apabila DPRD sampai batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 181 ayat (3) tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD. (2) Rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan Gubernur bagi kabupaten/kota.membatalkan Perda dan Peraturan Bupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD beserta lampirannya disampaikan paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak DPRD tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan Perda tentang APBD. Pasal 188 Proses penetapan rancangan Perda tentang . (6) Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri. kepala daerah menetapkan rancangan peraturan kepala daerah dimaksud menjadi peraturan kepala daerah. (4) Apabila dalam batas waktu 30 (tiga puluh) hari Menteri Dalam Negeri atau Gubernur tidak mengesahkan rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3) Untuk memperoleh pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kepala daerah melaksanakan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBD tahun anggaran sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan yang disusun dalam rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD.

Pasal 186. dan tata ruang daerah menjadi Perda. wakil kepala daerah. Pasal 190 Peraturan kepala daerah tentang Penjabaran APBD dan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD dijadikan dasar penetapan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah. retribusi daerah. diterbitkan surat keputusan otorisasi oleh kepala daerah atau surat keputusan lain yang berlaku sebagai surat keputusan otorisasi. dan untuk tata ruang daerah dikoordinasikan dengan menteri yang membidangi urus an tata ruang. dan pejabat daerah . Pasal 192 (1) Semua penerimaan dan pengeluaran pemerintahan daerah dianggarkan dalam APBD dan dilakukan melalui rekening kas daerah yang dikelola oleh Bendahara Umum Daerah. Pasal 189 Proses penetapan rancangan Perda yang berkaitan dengan pajak daerah. pimpinan DPRD.Perubahan APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD menjadi Perda dan peraturan kepala daerah berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185. dan Pasal 187. dengan ketentuan untuk pajak daerah dan retribusi daerah dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Menteri Keuangan. (2) Untuk setiap pengeluaran atas beban APBD. berlaku Pasal 185 dan Pasal 186. (3) Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada anggaran belanja daerah jika untuk pengeluaran tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam APBD. (4) Kepala daerah. Pasal 191 Dalam rangka evaluasi pengelolaan keuangan daerah dikembangkan sistem informasi keuangan daerah yang menjadi satu kesatuan dengan sistem informasi pemerintahan daerah.

ditetapkan dengan Peraturan Daerah. pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan daerah diatur lebih lanjut dengan Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah.22 Tahun 1999 ditetapkan dengan Undang. Pasal 193 (1) Uang milik pemerintahan daerah yang sementara belum digunakan dapat didepositokan dan/atau diinvestasikan dalam investasi jangka pendek sepanjang tidak mengganggu likuiditas keuangan daerah. persetujuan Pemerintah Kabupaten dan dan perangkat desa lainnya. (3) Sekretaris desa sebagaimana dimaksud pada • UU No. penyelesaian masalah Perdata. dihapus. 27 Pemerintahan Desa Pasal 88 Pasal 93 Pasal 202 • UU No. pelaksanaan. Pasal 94 Pasal 203 Di Desa dibentuk Pemerintah Desa dan Badan (1) Kepala desa sebagaimana dimaksud dalam Perwakilan Desa. Pasal 194 Penyusunan. dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja daerah untuk tujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam APBD. penatausahaan. dan/atau ayat (2) diisi dari pegawai negeri sipil yang lebih rinci mengenai syarat dan tata cara penggabungan Desa. DPRD.lainnya. dan b. penghapusan tagihan daerah. mengenai masa jabatan Kepala Daerah dari usulnya atas prakarsa masyarakat dengan (2) Perangkat desa terdiri dari sekretaris desa sepuluh tahun menjadi enam tahun. pelaporan. jabatan kepala desa dimaksud pada ayat (1). dan/atau (1) Pemerintah desa terdiri atas kepala desa yang terdapat dalam UU No.22 Tahun 1999 mengatur secara (2) Pembentukan. bunga atas penempatan uang di bank. (2) Bunga deposito. penduduk desa warga negara Republik Indonesia yang syarat selanjutnya dan tata cara Pasal 95 pemilihannya diatur dengan Perda yang .32 tahun 2004 merubah ketentuan Pengaturan tentang Pemerintahan Desa (1) Desa dapat dibentuk. yang merupakan Pemerintahan Pasal 202 ayat (1) dipilih langsung oleh dan dari Desa.undang digabung dengan memperhatikan asaldan perangkat desa. sebagaimana memenuhi persyaratan. jasa giro. (3) Kepala daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan peraturan tentang : a. penghapusan. dan/atau bunga atas investasi jangka pendek merupakan pendapatan daerah. sebagian atau seluruhnya.

bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. akan selalu taat dalam mengamalkan dan f. Undang-Undang Dasar 1945. Yang dapat dipilih menjadi Kepala Desa adalah penduduk Desa warga negara Republik Indonesia Pasal 205 dengan syarat-syarat: (1) Kepala desa terpilih dilantik oleh a. nyata-nyata tidak terganggu dasar negara. (2) Sebelum memangku jabatannya. sebagai kepala desa. jujurnya. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah memenuhi kewajiban saya selaku kepala Lanjutan Tingkat Pertama dan/atau desa dengan sebaik-baiknya. Indonesia”. dan adil. langsung dalam kegiatan yang (3) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud mengkhianati Pancasila dan Undangadalah sebagai berikut: Undang Dasar 1945. Undang-Undang Dasar 1945 serta i. sehat jasmani dan rohani. k. ditetapkan Desa dari calon yang memenuhi syarat. masyarakat hukum adat beserta hak sebagaimana dimaksud pada ayat (2). memenuhi syarat-syarat lain yang desa mencakup: sesuai dengan adat istiadat yang diatur (1) urusan pemerintahan yang sudah ada . atau yang disebut dengan nama lain dan (2) Calon kepala desa yang memperoleh suara perangkat Desa. keputusan pengadilan yang mempunyai dan Negara Kesatuan Republik kekuatan hukum tetap. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa. terbanyak dalam pemilihan kepala desa (2) Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1). daerah. setia dan taat kepada Pancasila dan puluh) hari setelah pemilihan. sejujurberpengetahuan yang sederajat.(1) Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa berpedoman kepada Peraturan Pemerintah. tidak pernah dihukum penjara karena melaksanakan segala peraturan melakukan tindak pidana. bersumpah/berjanji bahwa saya akan d. bahwa saya e. Masa jabatan Kepala Desa paling lama sepuluh tahun atau dua kali masa jabatan terhitung sejak Pasal 204 tanggal ditetapkan. mempertahankan Pancasila sebagai g. (3) Calon Kepala Desa yang terpilih dengan (3) Pemilihan kepala desa dalam kesatuan mendapatkan dukungan suara terbanyak. tidak pernah terlibat langsung atau tidak desa mengucapkan sumpah/janji. G30S/PKI dan/atau “Demi Allah (Tuhan). berumur sekurang-kurangnya 25 tahun. jujur. kepala c. Masa jabatan kepala desa adalah 6 (enam) tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk 1 (satu) kali Pasal 97 masa jabatan berikutnya. adat setempat yang ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturan Pasal 96 Pemerintah. berkelakuan baik. dan seadil-adilnya. perundang-undangan dengan selurusj. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan lurusnya yang berlaku bagi desa. tradisionalnya sepanjang masih hidup dan yang ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan diakui keberadaannya berlaku ketentuan hukum disahkan oleh Bupati. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan dan m. Pasal 206 l. dan bahwa saya akan jiwa/ingatannya. menegakkan kehidupan demokrasi dan h. saya kegiatan organisasi terlarang lainnya. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di Desa setempat. Bupati/Walikota paling lambat 30 (tiga b.

dan/atau Pemerintah Kabupaten. dan seadil-adilnya. (2) Sebelum memangku jabatannya. dasar negara. (3) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud (4) urusan pemerintahan lainnya yang oleh adalah sebagai berikut : peraturan perundang-perundangan diserahkan "Demi Allah (Tuhan). bahwa saya provinsi. kewenangan yang oleh peraturan perundang-perundangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh Daerah dan Pemerintah. kabupaten/kota. memimpin penyelenggaraan Pemerintah Desa. sarana dan mempertahankan Pancasila sebagai dan prasarana. dan/atau Pemerintah Kabupaten kepada Desa disertai dengan pembiayaan. (2) urusan pemerintahan yang menjadi Pasal 98 kewenangan kabupaten/kota yang (1) Kepala Desa dilantik oleh Bupati atau diserahkan pengaturannya kepada desa. dan Negara Kesatuan Pemerintah. Tugas Pembantuan dari Pemerintah. b.Tugas pembantuan dari Pemerintah. (3) tugas pembantuan dari Pemerintah. dan c. sejujur. serta sumber daya manusia. Daerah. sarana dan prasarana. Pemerintah Propinsi. Pasal 100 Tugas Pembantuan dari Pemerintah. dalam Peraturan Daerah. dan/atau pemerintah Desa mengucapkan sumpah/janji. . kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul Desa. Republik Indonesia. Kepala pemerintah provinsi. serta sumber daya manusia. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Pasal 208 Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Tugas dan kewajiban kepala desa dalam memimpin konstitusi negara serta segala peraturan penyelenggaraan pemerintahan desa diatur lebih perundang-undangan yang berlaku bagi lanjut dengan Perda berdasarkan Peraturan Desa. Pemerintah Propinsi. Pasal 99 Kewenangan Desa mencakup : a. Pasal 101 Tugas dan kewajiban Kepala Desa adalah : a. bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Kepala Pasal 207 Desa dengan sebaik-baiknya. dan/atau pemerintah kabupaten/kota akan selalu taat dalam mengamalkan kepada desa disertai dengan pembiayaan.berdasarkan hak asal-usul desa. saya kepada desa. pejabat lain yang ditunjuk. pemerintah jujurnya.

dilakukan oleh Bupati atas usul Badan Perwakilan Desa. Pasal 102 Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. membina perekonomian Desa. desa menjadi lembaga permusyawaratan istiadat. b. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101. Pasal 103 (1) Kepala Desa berhenti karena : a. meninggal dunia.membina kehidupan masyarakat Desa.32 Tahun 2004 terdapat Badan Perwakilan Desa atau yang disebut Badan Permusyawaratan Desa berfungsi perubahan istilah dari lembaga perwakilan dengan nama lain berfungsi mengayomi adat menetapkan peraturan desa bersama kepala desa. membuat Peraturan Desa. (1) Anggota badan permusyawaratan desa adalah wakil dari penduduk desa . sebagaimana dimaksud pada ayat (1). bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa b. menampung menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Kepala Desa : a. desa dan diatur mengenai pembatasan dan menyalurkan aspirasi masyarakat. 28 Badan Permusyawaratan Desa dan Lembaga Lainnya Pasal 104 Pasal 209 • Dalam UU No. menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati. dan mewakili Desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. d. c. dan e. melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku dan/atau norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Desa. (2) Pemberhentian Kepala Desa. berakhir masa jabatan dan telah dilantik Kepala Desa yang baru. serta masa jabatan dari anggota Badan melakukan pengawasan terhadap Pasal 210 Permusyawaratan Desa. mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. tidak lagi memenuhi syarat dan/atau melanggar sumpah/ janji. b. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa. penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

Pasal 105 bersangkutan yang ditetapkan dengan cara (1) Anggota Badan Perwakilan Desa dipilih dari musyawarah dan mufakat. dan dan kewajiban. d. bantuan dari Pemerintah Kabupaten belanja dan pengelolaan keuangan desa. pemerintah . yang meliputi : (3) Sumber pendapatan desa sebagaimana 1. dengan Keputusan Kepala Desa. (3) Masa jabatan anggota badan (3) Badan Perwakilan Desa bersama dengan permusyawaratan desa adalah 6 (enam) Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa. milik desa berhubung dengan pelaksanaan hak 4. dari dan oleh anggota. bagian dari perolehan pajak dimaksud pada ayat (2) terdiri atas: dan retribusi Daerah. pada ayat (1) menimbulkan pendapatan.32 a. tahun dan dapat dipilih lagi untuk 1 (satu) kali (4) Pelaksanaan Peraturan Desa ditetapkan masa jabatan berikutnya. uang. 29 Keuangan Desa Pasal 107 • Terdapat perbedaan mengenai sumber Pasal 212 (1) Sumber pendapatan Desa terdiri atas : pendapatan desa dimana dalam UU No. lain-lain pendapatan asli Desa (2) Hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud yang sah. pusat dan daerah yang diterima oleh c. hasil usaha Desa. dan a. bantuan dari Pemerintah dan kabupaten/kota. maupun berupa barang yang dapat dijadikan Usaha Milik Desa. serta segala sesuatu baik berupa uang dan diatur secara lebih rinci mengenai Badan 2. pendapatan asli Desa yang meliputi (1) Keuangan desa adalah semua hak dan Tahun 2004 pinjaman desa bukan lagi : kewajiban desa yang dapat dinilai dengan termasuk dalam sumber pendapatan desa 1. hasil gotong royong. bagian dari dana perimbangan keuangan Kabupaten. hasil kekayaan Desa. yang diterima oleh Pemerintah c. 5. bagi hasil pajak daerah dan retribusi keuangan Pusat dan Daerah daerah kabupaten/kota. (4) Syarat dan tata cara penetapan anggota dan Pasal 106 pimpinan badan permus yawaratan desa Di Desa dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai diatur dalam Perda yang berpedoman pada dengan kebutuhan Desa dan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (2) Lembaga kemasyarakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas membantu pemerintah desa dan merupakan mitra dalam memberdayakan masyarakat desa. hasil swadaya dan partisipasi. pendapatan asli desa. 2. Pasal 211 (1) Di desa dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan yang ditetapkan dengan peraturan desa dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. dan oleh penduduk Desa yang memenuhi (2) Pimpinan badan permusyawaratan desa persyaratan. bagian dari dana perimbangan b. dipilih dari dan oleh anggota badan (2) Pimpinan Badan Perwakilan Desa dipilih permusyawaratan desa. 3. Peraturan Desa. Pemerintah Propinsi. b. bantuan dari Pemerintah.

d. (4) Untuk pelaksanaan kerja sama. (2) Kerjasama antar desa dan desa dengan pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 110 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga dilakukan sesuai dengan peraturan perundangyang merencanakan pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah permukiman. dikelola melalui ayat (2) digunakan untuk mendanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. dan provinsi. 30 Kerja Sama Desa Pasal 109 Pasal 214 (1) Beberapa Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan Desa yang diatur dengan keputusan bersama dan diberitahukan kepada Camat. dan jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Des a dan Badan Perwakilan Desa dapat dibentuk badan kerja sama. e. e. sumbangan dari pihak ketiga. (2) Untuk pelaksanaan kerja sama. hibah dan sumbangan dari pihak ketiga. (6) Pedoman pengelolaan keuangan desa (5) Tata cara dan pungutan objek pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan belanja Desa ditetapkan bersama ditetapkan oleh Bupati/Walikota dengan antara Kepala Desa dan Badan Perwakilan berpedoman pada peraturan perundangDesa. dan pemerintah kabupaten/kota. Bupati/Walikota melalui camat. desa yang dituangkan dalam peraturan desa (4) Pedoman penyusunan Anggaran tentang anggaran pendapatan dan belanja Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan desa. dalam perencanaan. (3) Badan usaha milik desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melakukan pinjaman sesuai peraturan perundangundangan. penyelenggaraan pemerintahan desa dan (3) Kepala Desa bersama Badan Perwakilan pemberdayaan masyarakat desa. dapat dibentuk Badan Kerja Sama. Pasal 108 Pasal 213 Desa dapat memiliki badan usaha sesuai dengan (1) Desa dapat mendirikan badan usaha milik peraturan perundang-undangan. (3) Kerjasama desa dengan pihak ketiga (1) Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan desa yang diatur dengan keputusan bersama dan dilaporkan kepada . (2) Badan usaha milik desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan. pinjaman Desa. undangan. sebagaimana (4) Belanja desa sebagaimana dimaksud pada dimaksud pada ayat (1). ayat (2). oleh Bupati. pelaksanaan. industri. dan undangan. (2) Sumber pendapatan Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Desa menetapkan Anggaran Pendapatan (5) Pengelolaan keuangan desa sebagaimana dan Belanja Desa setiap tahun dengan dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh kepala Peraturan Desa. desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa. dan ayat (3) ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan kewenangannya.

Pemerintah yang meliputi : (2) Pedoman mengenai pembinaan dan a. (2) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan secara berkala pada tingkat nasional. Pasal 216 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai desa ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. atau provinsi.32 Tahun 2004 memfasilitasi penyelenggaraan Otonomi pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Daerah. dan Keputusan Kepala Daerah disampaikan d. sesuai dengan pedoman (2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dimaksud pada ayat (1) diatur dengan berdasarkan undang-undang ini. koordinasi pemerintahan antarsusunan pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan. regional. asal-usul. sebagaimana dimaksud a. Peraturan Daerah pemerintahan. kepentingan masyarakat desa. pada ayat (1). kelestarian lingkungan hidup. Otonomi Daerah ditetapkan dengan b. dengan memperhatikan: (2) Peraturan Daerah. pemberian pedoman dan standar Peraturan Pemerintah. dan Pasal 113 konsultasi pelaksanaan urusan Dalam rangka pengawasan. kelancaran pelaksanaan investasi. keserasian kepentingan antar kawasan dan kepentingan umum. belas hari setelah ditetapkan. Kabupaten. c. supervisi. perencanaan. tata laksana. kewenangan desa. d. wajib mengakui dan menghormati hak. (3) Pemberian pedoman dan standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b mencakup aspek perencanaan. dan adat istiadat desa. dan kepada Pemerintah selambat-lambatnya lima e. pendidikan dan pelatihan. pengembangan. dan adat c. istiadat Desa. . pemantauan.pengawasannya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e. Perda. wajib mengakui dan b. pelaksanaan. penelitian. menghormati hak. Pemerintah (1) Pembinaan atas penyelenggaraan rinci dalam UU No. asal-usul. Pasal 215 (1) Pembangunan kawasan perdesaan yang Pasal 111 dilakukan oleh kabupaten/kota dan atau (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai Desa pihak ketiga mengikutsertakan pemerintah ditetapkan dalam Peraturan Daerah desa dan badan permusyawaratan desa. (2) Perda. 31 Pembinaan dan Pengawasan Pemerintahaan Daerah • Materi mengenai Pembinaan dan Pasal 112 Pasal 217 Pengawasan Daerah diatur secara lebih (1) Dalam rangka pembinaan. pelaksanaan urusan pemerintahan. dan evaluasi pelaksanaan urusan pemerintahan. pemberian bimbingan.

kualitas. anggota DPRD. perangkat daerah. (6) Perencanaan. dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dilaksanakan secara berkala ataupun sewaktu-waktu dengan memperhatikan susunan pemerintahan. Pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. pengendalian dan pengawasan. Pasal 218 (1) Pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi: a. dan kepala desa. (2) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada pemerintahan daerah. (2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan oleh aparat pengawas intern Pemerintah sesuai peraturan perundang-undangan. kepala desa. pengembangan. anggota badan permusyawaratan desa. dan masyarakat. . (5) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilaksanakan secara berkala bagi kepala daerah atau wakil kepala daerah.pendanaan. anggota DPRD. baik secara menyeluruh kepada seluruh daerah maupun kepada daerah tertentu sesuai dengan kebutuhan. b. pegawai negeri sipil daerah. (7) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dan huruf e dapat dilakukan kerja sama dengan perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian. (4) Pemberian bimbingan. supervisi dan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilaksanakan secara berkala dan/atau sewaktuwaktu. PNS daerah. pemantauan. penelitian. kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. Pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. perangkat daerah. Pasal 219 (1) Pemerintah memberikan penghargaan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.

norma. prosedur. 32 Pertimbangan dalam Kebijakan Otonomi Daerah Pasal 115 Pasal 224 • Dalam UU No. anggota DPRD. dan sanksi diatur dalam Peraturan Pemerintah. (2) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota dikoordinasikan oleh Gubernur. penghargaan. dan kepala desa. Pasal 222 (1) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 dan Pasal 218 secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. (2) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada pemerintahan daerah. perangkat daerah. (3) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan desa dikoordinasikan oleh Bupati/Walikota. Presiden dapat membentuk suatu Dewan Perimbangan Otonomi Daerah. PNS daerah.32 Tahun 2004 tidak (1) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (1) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan disebutkan lagi mengenai anggota dari bertugas memberikan pertimbangan kepada daerah. (4) Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat melimpahkan kepada camat. Pasal 221 Hasil pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 dan Pasal 218 digunakan sebagai bahan pembinaan selanjutnya oleh Pemerintah dan dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa Keuangan. kepala daerah atau wakil kepala daerah. Presiden mengenai: dewan yang bertugas memberikan saran dan akan tetapi dalam Undang-undang ini .Pasal 220 (1) Sanksi diberikan oleh Pemerintah dalam rangka pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pasal 223 Pedoman pembinaan dan pengawasan yang meliputi standar.

susunan organisasi keanggotaan dan tata laksananya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pasal 116 Presiden. penghapusan. sebagaimana penggabungan daerah serta pembentukan dimaksud dalam Pasal 11. tersebut. kemampuan Daerah Kabupaten dan rancangan kebijakan: Daerah Kota untuk melaksanakan a. (2) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah b. perimbangan keuangan Pusat dan bertugas memberikan saran dan pertimbangan Daerah. daerah atas dana bagi hasil pajak dan perwakilan Asosiasi Pemerintah Daerah. Menteri Sekretaris Negara. 3. pertimbangan terhadap kebijakan otonomi diatur lebih rinci mengenai tugas dari dewan penggabungan. dan kepada Presiden antara lain mengenai c. bertanggung jawab kepada Presiden. perhitungan bagian masing-masing menteri lain sesuai dengan kebutuhan. dan pemekaran daerah. DAK masing-masing daerah untuk (4) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah setiap tahun anggaran berdasarkan mengadakan rapat sekurang-kurangnya satu besaran pagu DAK dengan kali dalam enam bulan. Daerah. DPRD . Menteri dan pemerintahan daerah. perimbangan keuangan antara Pemerintah terdiri atas Menteri Dalam Negeri.a. pembentukan. (3) Dewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) (6) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. sumber daya alam sesuai dengan dan wakil-wakil Daerah yang dipilih oleh peraturan perundang-undangan. Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dibantu oleh Kepala Sekretariat yang membawahkan Bidang Otonomi Daerah dan Bidang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Otonomi Daerah. 2. yang meliputi: Keuangan. 1. penghapusan dan kewenangan tertentu. formula dan perhitungan DAU masing(3) Menteri Dalam Negeri dan Menteri masing daerah berdasarkan besaran Keuangan karena jabatannya adalah Ketua pagu DAU sesuai dengan peraturan dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan perundangan. (2) Dewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) b. kawasan khusus. pembentukan. menggunakan kriteria sesuai dengan (5) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah peraturan perundangan. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful