MATRIKS PERBANDINGAN UNDANG-UNDANG NO.5 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK PEMERINTAHAN DI DAERAH , UNDANG-UNDANG NO.

22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DAN UNDANG-UNDANG NO.32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
NO UNDANG-UNDANG NO.5 TAHUN 1974 UNDANG-UNDANG NO.22 TAHUN 1999 UNDANG-UNDANG NO.32 TAHUN 2004 KETERANGAN TENTANG POKOK-POKOK TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH PEMERINTAHAN DI DAERAH (sudah tidak berlaku) (sudah tidak berlaku) Menimbang • Untuk mengganti Undang-Undang No. • Untuk mengganti Undang-Undang No. 5 • Untuk mengganti Undang-Undang No. 22 Tahun • Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang tidak Pemerintahan Daerah merupakan Pemerintahan Daerah (Lembaran Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang sesuai lagi dengan perkembangan Keadaan, pengganti dari Undang-Undang No.22 Negara Tahun 1965 Nomor 83; tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan Tahun 1999 tentang Pemerintahan Derah. Tambahan Lembaran Negara Nomor Daerah dan Undang-Undang No. 5 Tahun otonomi daerah • Undang-Undang No. Tahun 22 Tahun 1999 2778). 1979 tentang Pemerintahan Desa, karena tentang Pemerintahan Daerah merupakan tidak sesuai lagi dengan prinsip pengganti dari Undang Undang No.5 Tahun penyelenggaraan otonomi daerah, keadaan 1979 tentang Pemerintahan Desa dan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. 2. Mengingat • Pasal 5 ayat (1), 18, dan 20 Ayat (1) • Pasal 1 ayat (1), Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, • Pasal 1, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 18, Pasal 18 A, UUD RI Tahun 1945; dan Pasal 20 ayat (1) UUD 1945; Pasal 18 B, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22 D, • Ketetapan MPR RI No. IV/MPR/1973 • Ketetapan MPR- RI No. X/MPR/1998 tentang Pasal 23E ayat (2), Pasal 24A ayat (1), Pasal 31 tentang GBHN ; Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan dalam ayat (4), Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945; Rangka Penyelamatan dan Normalisasi • UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara • Ketapan MPR RI No. V/MPR/1973 tentang Peninjauan Produk-Produk Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara; Negara yang Bersihdan Bebas dari Korupsi, yang berupa Ketatapan-Ketatapan • Ketetapan MPR-RI No XI/MPR/1998 tentang Kolusi dan Nepotismo • UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan MPRS-RI; • UU No. 10 Tahun 1964 tentang Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme; Negara • Ketetapan MPR-RI No XV/MPR/1998 tentang • UU No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan Pernyataan daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya sebagai Ibukota Negara Penyelenggaraan Otonomi Daerah; Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Republik Indonesia dengan nama Pengaturan, Pembagian dan Pemanfaatan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Jakarta; Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan; Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah • UU Nomor 6 Tahun 1969 tentang serta Perimbangan Keuangan Pusat dan • UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Pernyataan tidak berlakunya berbagai Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Negara Undang-Undang dan Peraturan Republik Indonesia; • UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan • UU Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan Pemerintah Pengganti UndangPeraturan Perundang-undangan Undang; dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan

1.

Penyelenggara Negara yang Bersih dan

• UU Nomor 16 tahun 1969 tentang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) • UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Susunan dan Kedudukan MPR, DPR Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan dan DPRD; Negara

3

Pengertian

Pasal 1 1. Pemerintah Pusat;

Terdapat Semua pengertian yang terdapat dalam Terdapat semua pengertian yang terdapat dalam Selain adanya tambahan pengertian-pengertian UU No.5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan UU N0. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan yang secara teknis digunakan dalam 2. Desentralisasi; Daerah, akan tetapi terdapat penabahan, Daerah, akan tetapi terdapat beberapa perubahan Pemerintahan Daerah, terdapat juga perbedaan 3. Otonomii Daerah; Pengurangan dan perubahan, yaitu: dan penambahan pengertian, yaitu : pendefinisian tentang : 4. Tugas Pembantuan; • Pejabat yang berwenang (perubahan) • Pejabat yang berwenang (perubahan) ; Pejabat yang berwenang : 5. Derah Otonom; • Urusan Pemerintahan Umum • Kawasan Perkotaan (perubahan) • dalam UU Nomor 5 Tahun 1974, Pejabat Yang 6. Dekonsentrasi; Berwenang adalah pejabat yang berwenang (pengurangan): • Kawasan Pedesaan ( perubahan) 7. Wilayah Administratip; • Polisi Pamong Praja (pengurangan); mensahkan, membatalkan dan • Pemerintah Desa (penambahan) 8. Instansi Vertikal; menangguhkan Peraturan Daerah atau • Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Badan Perwakilan Desa (penambahan) ; 9. Pejabat yang Berwenang; Keputusan Kepala Daerah, yaitu Mendagri • Dewan Perwakilan Rakyat Daerah • Perimbangan Keuangan antara Pemerintah 10. Urusan Pemerintahan Umum; bagi Daerah Tingkat I dan Gubernur Kepala (penambahan); Daerah (penambahan) ; 11. Polisi Pamong Praja; Daerah bagi daerah Tingkat II, sesuai • Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Dana Perimbangan (penambahan) ; 12. Investasi. peraturan perundang-perundangan yang • Kecamatan (penambahan) ; • Keuangan Daerah (penambahan) berlaku ; • Kelurahan (penambahan) ; • APBD (penambahan) ; • dalam UU No 22 Tahun 1999 Pejabat Yang • Desa (penambahan) ; • Pendapatan Daerah (penambahan) ; Berwenang adalah , pejabat Pemerintah di • Kawasan Perdesaan (penambahan) ; • Belanja Daerah (penambahan) ; tingkat Pusat dan atau pejabat Pemerintah di • Kawasan Perkotaan (penambahan). • Pembiayaan (penambahan) Daerah Propinsi yang berwenang membina • Pinjaman Daerah (penambahan) dan mengawasi penyelenggaraan • Kawasan Khusus (penambahan) ; Pemerintahan Daerah • Bakal calon Kepala Daerah dan Wakil • dalam UU No 32 Tahun 2004 Pejabat Yang Kepala Daerah (penambahan) ; Berwenang adalah Pejabat Pemerintah yang • Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil berwenang mengesahkan atau menyetujui, Kepala Daerah (penambahan) ; menangguhkan dan membatalkan kebijakan • Komisi Pemilihan Umum Daerah daerah dan/atau mengangkat, (penambahan); memberhentikan, mengesahkan, menyetujui, • Panitia Pemilihan Kecamatan membina dan mengawasi pelaksana (penambahan); penyelenggaraan Pemerintah Daerah • Kampanye pemilihan kepala daerah dan dan/atau pejabat pemerintah pada wakil kepala daerah (penambahan) pemerintahan Daerah Provinsi yang berwenang membina dan mengwasai pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah Kabupaten dan Kota. UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberikan pengertian yang lebih lengkap dan jelas dari Undang-Undang sebelumnya sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.

4 Pembagian Wilayah Pasal 2 Pasal 2 Pasal 2 : • Dalam UU No.5 tahun 1974 mengenai Pembagian Wilayah : Pembagian Wilayah : Negara Kesatuan republik Indonesia dibagi atas pembagian wilayah diuraikan secara lebih Dalam menyelenggarakan Pemerintahan, (1). Wilayah Negara Kesatuan Republik daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu lanjut dalam pasal-pasal dan ayat-ayat wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi, dibagi atas kabupaten dan kota yang masingtersendiri dibagi dalam Daerah-Daerah Otonom dan Daerah Kabupaten, dan Daerah Kota masing mempunyai pemerintahan daerah. Wilayah-Wilayah Administratip. yang bersifat otonom. Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 72 (2). Daerah Propinsi berkedudukan juga ayat (1) mengatur dan mengurus sendiri urusan (1) Dalam rangka pelaksanaan azas sebagai Wilayah Administrasi. pemerintah menurut asas otonomi dan tugas dekonsentrasi, wilayah Negara pembantuan. Kesatuan Republik Indonesia dibagi Pasal 3 dalam Wilayah-wilayah Propinsi dan Ibu Wilayah Daerah Propinsi, sebagaimana dimaksud kota Negara. dalam Pasal 2 ayat (1), terdiri atas wilayah darat (2) Wilayah Propinsi dibagi dalam Wilayahdan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang wilayah Kabupaten dan Kota madya. diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan

.
(3) Wilayah Kabupaten dan Kotamadya atau ke arah perairan kepulauan dibagi dalam Wilayah-wilayah Kecamatan. (4) Apabila dipandang perlu sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya, dalam Wilayah Kabupaten dapat dibentuk Kota Administratip yang pengaturannya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 73 Apabila dipandang perlu, Menteri Dalam Negeri dapat menunjuk Pembantu Gubernur, Pembantu Bupati atau Pembantu Walikotamadya yang mempunyai wilayah kerja tertentu dalam rangka dekonsentrasi. Pasal 74 (1) Nama dan batas Daerah Tingkat I adalah sama dengan nama dan batas Wilayah Propinsi atau Ibukota Negara. (2) Nama dan batas Daerah Tingkat II adalah sama dengan nama dan batas Wilayah Kabupaten atau Kotamadya. (3) Ibukota Daerah Tingkat I adalah ibukota Wilayah Propinsi. (4) Ibukota Daerah Tingkat II adalah ibukota Wilayah Kabupaten. Pasal 75 Dengan tidak mengurangi ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 74 Undang-undang

sebutan. (2) Pembentukan. batas. dan fisik kewilayahan. ditetapkan dengan penghapusan suatu Daerah. teknis. pengisian keanggotaan DPRD. batas. kewenangan menyelenggarakan syarat-syarat pembentukan suatu daerah (2) Daerah-daerah sebagaimana dimaksud urusan pemerintahan. ibukota. 5 Pembentukan dan Pasal 3 Pasal 4 Pasal 4 • Ketiga undang-undang tersebut Susunan daerah Dalam rangka pelaksanaan asas (1) Dalam rangka pelaksanaan asas (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud menyebutkan secara tegas bahwa otonom desentralisasi dibentuk dan disusun Daerah Desentralisasi dibentuk dan disusun Daerah dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan pembentukan daerah otonom dlakukan Tingkat I dan Daerah Tingkat II Propinsi. administratif. adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota (3) Kriteria tentang penghapusan. lain. potensi Daerah. pada ayat (1) untuk provinsi meliputi adanya Peraturan Daerah. penyelenggaraan pemerintahan. (2) Syarat administratif sebagaimana dimaksud ibukotanya ditetapkan dengan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. jumlah daerah. pangkal Daerah yang dimaksud pada (3) Perubahan batas yang tidak mengakibatkan ayat (1) pasal ini. perubahan nama dan pemindahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). secara lebih terperinci dan jelas mengani keamanan nasional berdasarkan aspirasi masyarakat. sosial-budaya serta pertahanan dan setempat menurut prakarsa sendiri mencakup nama. ibukota. penunjukan penjabat otonom. dan dokumen. dn tujuan dari pembentukan Pasal 4 pada ayat (1). batas. luas Daerah. nama. 34 Tahun 2004 diatur ekonomi. perubahan nama daerah. peralatan. (3) Syarat administratif sebagaimana dimaksud (2) Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi satu Daerah. dan penghapusan Wilayah Umumnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. serta rekomendasi dihapus dan atau digabung dengan Daerah Menteri Dalam Negeri. selanjutnya didasarkan pada kondisi politik.ini. batas. perubahan Pasal 5 Undang-Undang. luas daerah. dan Daerah undang-undang. serta perubahan nama dan (3) Perubahan batas yang tidak pemindahan ibukota Daerah ditetapkan (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud mengakibatkan penghapuan suatu dengan Peraturan Pemerintah. daerah yang bersandingan atau pemekaran melaksanakan pembangunan. dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat Daerah. Daerah Kabupaten. daerah otonom tresbut. dan ibukota pada ayat (3) dapat dilakukan setelah (2) Pembentukan nama. dalam rangka pelaksanaan asas Perkembangan dan pengembangan otonomi Kota yang berwenang mengatur dan (2) Undang-undang pembentukan daerah sedesentralisasi. pendanaan. serta (4) Syarat-syarat pembentukan Daerah. ibukota. . pertahanan dan Pasal 5 (3) Pembentukan daerah dapat berupa pengkemanan nasional dan syarat-syarat (1) Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan gabungan beberapa daerah atau bagian lain yang memungkinkan Daerah kemampuan ekonomi. nama Daerah. persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Pasal 6 Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan (1) Daerah yang tidak mampu wilayah provinsi. dan pertimbangan lebih. masing-masing berdiri sendiri kepala daerah. sosial-politik. penduduk. daerah atau lebih sebagaimana dimaksud nyata dan bertanggunggjawab. jumlah dari satu daerah menjadi dua daerah atau pembinaan kestabilan politik dan penduduk. kesatuan Bangsa dalam rangka lain yang memungkinkan terselenggaranya (4) Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) pelaksanaan Otonomi Daerah yang Otonomi Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencapai batas minimal usia hak dan wewenang urusan serta modal ditetapkan dengan Undang-Undang. maka pembentukan. nama. cakupan wilayah. sosial-budaya. mengurus kepentingan masyarakat bagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain • Dalam UU No. memperhatikan syarat-syarat satu sama lain. serta perangkat kemampuan ekonomi. persetujuan DPRD provinsi menyelenggarakan Otonomi Daerah dapat induk dan Gubernur. (1) Daerah dibentuk dengan dan tidak mempunyai hubungan hierarki pengalihan kepegawaian.

penggabungan dan ayat (1) meliputi faktor yang menjadi dasar pemekaran Daerah. pemberian nama bagian rupa bumi serta perubahan nama. sosial politik. dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota. lokasi calon ibukota. kependudukan. pertahanan. (2) Perubahan batas suatu daerah. sarana. sebagaimana dimaksud pembentukan daerah yang mencakup pada ayat (1) dan ayat (2). dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. (2) Penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. sosial budaya. potensi dengan Undang-undang daerah. Pemerintah. dan prasarana pemerintahan. Pasal 6 (1) Daerah dapat dihapus dan digabung dengan daerah lain apabila daerah yang bersangkutan tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah. atau pemindahan ibukota yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. ditetapkan faktor kemampuan ekonomi. (3) Pedoman evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. dan pemekaran Daerah.penggabungan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan persetujuan DPRD provinsi dan Gubernur ayat (2). . ditetapkan dengan Peraturan serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. (4) Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada (4) Penghapusan. perubahan nama daerah. keamanan. Pasal 7 (1) Penghapusan dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) beserta akibatnya ditetapkan dengan undang-undang. (5) Syarat fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentuk an provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk pembentukan kabupaten. luas daerah. dan Bupati/Walikota yang bersangkutan.

moneter dan fiskal. (2) Fungsi pemerintahan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Perdagangan bebas dan/atau pelabuhan bebas ditetapkan dengan undang-undang. peradilan. (3) Fungsi pemerintahan tertentu selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah . ayat (2). Penambahan penyerahan urusan pemerintahan kepala Daerah dimaksud pada ayat (1). 5 Penyelenggaraan Pasal 7 Pasal 7 Otonomi Daerah Daerah berhak. yang menjadi kewenangan Propinsi dan (2) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan yang menjadi kewenangan daerah sebagaimana Kabupaten/Kota. pertahanan keamanan. ayat (4). (4) Untuk membentuk kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Pasal 8 Tata cara pembentukan. kecuali urusan pemerintahan • UU No 32 Tahun 2004 disebutkan secara yang oleh Undang-Undang ini ditentukan tegas pembagian urusan pemerintahan menjadi urusan Pemerintah. pemerintahan daerah bidang politik luar negeri.(3) Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan atas usul dan persetujuan daerah yang bersangkutan. serta kewenangan bidang lain. ayat (3). dan ayat (5) diatur dalam Peraturan Pemerintah. (2). dan Pasal 6 diatur dengan Peraturan Pemerintah. kecuali kewenangan dalam • UU No 22 Tahun 1999 dan UU No. Pasal 10 (1). meliputi kebijakan . Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan. (6) Tata cara penetapan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penghapusan. Pasal 9 (1) Untuk menyelenggarakan fungsi pemerintahan tertentu yang bersifat khusus bagi kepentingan nasional. kewenangannya. Pemerintah mengikutsertakan daerah yang bersangkutan. Kewenangan bidang lain. dan mengatur pula dimaksud pada ayat (1). berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku. (5) Daerah dapat mengusulkan pembentukan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Pemerintah. Pasal 5. Pasal 8 agama. Pemerintah dapat menetapkan kawasan khusus dalam wilayah provinsi dan/atau kabupaten/kota. sebagaimana (1). 32 Tahun 2004 mengatur lebih rinci mengenai (1) Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah.

konservasi. kembali dengan peraturan perundang. dan pemberdayaan sumber daya manusia. Pemerintah dapat: (1).Pasal 8 d. (2). serta sumber daya ayat (3). keuangan. bidang pemerintahan yang dilimpahkan berdasarkan kriteria eksternalitas. Kewenangan Pemerintahan yang e. Peraturan mengenai Dewan dilimpahkan kepada Gubernur dalam rangka atau dapat menugaskan kepada pemerintahan Pertimbangan Otonomi Daerah dekonsentrasi harus disertai dengan daerah dan/atau pemerintahan desa. Dengan peraturan perundang. Dengan Peraturan Daerah. kabupaten dan .8 dan 9 Undang-Undang ini diserahkan tersebut. b.Otonom termasuk juga kewenangan yang pemerintahan desa berdasarkan asas tugas undangan. (1) Daerah berwenang mengelola sumber daya (2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan (3). yustisi. pengendalian pembangunan nasional mengatur dan mengurus sendiri urusan pusat dan pemerintah daerah. Penambahan penyerahan urusan yang secara makro. dana perimbangan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. Kewenangan Propinsi sebagai Daerah pemerintahan daerah dan/atau (1). akuntabilitas. Pasal 10 desentralisasi harus disertai dengan (4) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada (1). diserahkan kepada Daerah dapat ditarik c.ditetapkan dengan Peraturan tentang perencanaan nasional dan menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengenai hubungan antara pemerintah Pemerintah. disertai dengan lingkungan sesuai dengan peraturan pembiayaanya. keamanan. Kewenangan Pemerintahan yang Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah (2). pemerintahan daerah provinsi. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pada Daerah Tingkat II Otonom mencakup kewenangan dalam pemerintahan. Administrasi mencakup kewenangan dalam (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan dibagi (2). Pemerintah Daerah Tingkat I dapat kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah. (1). menugaskan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. urusan pemerintahan kepada perangkat dibentuk Dewan Otonomi Daerah. disertai perangkat. Untuk memberikan pertimbangan – penyerahan dan pengalihan pembiayaan. (2). dan efisiensi dengan menugaskan kepada Pemerintah memperhatikan keserasian hubungan antar Daerah Tingkat II untuk melaksanakan Pasal 10 susunan pemerintahan. pembinaan (3) Urusan pemerintahan yang menjadi urusan dan sumber pembiayaannya. sistem administrasi negara dan tugas pembantuan. agama. a. alat perlengkapan lembaga perekonomian negara. c. Pemerintah menyelenggarakan tentang hal-hal yang dimaksud dalam manusia sesuai dengan kewenangan yang sendiri atau dapat melimpahkan sebagian pasal 4.5. pertimbangan kepada presiden sarana dan prasarana. Pelaksanaan ketentuan yang bidang pemerintahan yang bersifat lintas b. moneter dan fiskal nasional. Pemerintah dapat tidak atau belum dapat dilaksanakan pembantuan. ditetapkan dengan Peraturan pembiayaan sesuai dengan kewenangan (5) Dalam urusan pemerintahan yang menjadi Perundang-undangan yang dilimpahkan tersebut. undangan yang setingkat. kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada Pasal 11 Pasal 9 ayat (3). Titik berat Otonomi Daerah diletakkan (1). Daerah untuk melaksanakan urusan (3). diserahkan kepada Daerah dalam rangka f. Kewenangan Propinsi sebagai Daerah a. menugaskan sebagian urusan kepada Pasal 12 (2). Kewenangan Propinsi sebagai Wilayah Pasal 11 tugas pembantuan. politik luar negeri. (2). serta kewenangan pemerintahan kepada Gubernur selaku diatur dengan Peraturan Pemerintah. atau lainnya. pertahanan. perundang-undangan. melimpahkan sebagian urusan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini Kabupaten dan Kota. Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat pendayagunaan sumber daya alam serta (1) meliputi: Pasal 9 teknologi tinggi yang strategis. urusan tugas pembantuan. Pemberian urusan tugas pembantuan nasional yang tersedia di wilayahnya dan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) bertanggung jawab memelihara kelestarian merupakan pelaksanaan hubungan kewenangan antara Pemerintah dan dan (2) pasal ini. Sesuatu urusan pemerintahan yang telah dan standardisasi nasional. dalam bidang pemerintahan tertentu wakil Pemerintah.

sebagaimana kepada daerah disertai dengan sumber dimaksud pada ayat (2). . e.(2) Kewenangan Daerah di wilayah laut. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). j. fasilitasi pengembangan koperasi. pengaturan tata ruang. pengaturan kepentingan administratif. lingkungan hidup. koperasi. dan d. Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan Pasal 13 pemerintahan selain kewenangan yang (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur pemerintahan daerah provinsi merupakan dalam Pasal 9. terdiri c. penanaman modal. diselenggarakan berdasarkan kriteria b. (1). eksplorasi. konservasi. pengawasan tata ruang. dan bertahap dan ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 12 (3) Kewenangan Daerah Kabupaten dan (1) Urusan pemerintahan yang diserahkan Daerah Kota di wilayah laut. pemanfaatan. Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan g. pertanian. penegakan hukum terhadap peraturan (4) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang yang dikeluarkan oleh Daerah atau yang bersifat wajib yang berpedoman pada standar dilimpahkan kewenangannya oleh pelayanan minimal dilaksanakan secara Pemerintah. pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota. serta kepegawaian sesuai dengan (4) Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan urusan yang didesentralisasikan. a. b. atas urusan wajib dan urusan pilihan. industri dan c. Pasal 13 i. penanganan bidang kesehatan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) (2) Urusan pemerintahan yang dilimpahkan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan menengah termasuk lintas Daerah tugas-tugas tertentu dalam rangka kabupaten/kota. e. urusan dalam skala provinsi yang meliputi: (2). eksploitasi. kepada Gubernur disertai dengan pendanaan sesuai dengan urusan yang Pasal 11 didekonsentrasikan. penyelenggaraan ketertiban umum dan perdagangan. dan kesehatan. pendidikan dan kebudayaan. perhubungan. dan sinergis sebagai meliputi : satu sistem pemerintahan. perencanaan. prasarana. f. 9 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. pengalihan sarana dan sepertiga dari batas laut Daerah Propinsi. perencanaan dan pengendalian dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan pembangunan. penanggulangan masalah sosial lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal kabupaten/kota. d. tugas pembantuan disertai pembiayaan. saling terkait. Bidang pemerintahan yang wajib a. pertanahan. pengendalian lingkungan hidup. tenaga kerja. usaha (1) Pemerintah dapat menugaskan kepada kecil. yang wilayah laut tersebut. tergantung. adalah sejauh pendanaan. bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. kota atau antarpemerintahan daerah yang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. dan (3) Urusan pemerintahan yang menjadi pengelolaan kekayaan laut sebatas kewenangan pemerintahan daerah. penyelenggaraan pendidikan dan alokasi Pasal 12 sumber daya manusia potensial. penyediaan sarana dan prasarana umum. Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. ketentraman masyarakat. h.

k. sebagaimana dimaksud n. pengendalian lingkungan hidup. penyediaan sarana dan prasarana umum. kekhasan. pelayanan administrasi penanaman modal pada ayat (1).sarana dan prasarana. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. pemanfaatan. pelayanan administrasi umum pemerintahan. pemerintahan. c. serta sumber daya k. l. n. dan catatan sipil. pelayanan pertanahan. pelayanan administrasi penanaman modal. ditetapkan dengan peraturan termasuk lintas kabupaten/kota. pelayanan administrasi umum Pemerintah. mempertanggungjawabkannya kepada m. penyelenggaraan pendidikan. pelaksanaannya dan l. (2) Setiap penugasan. (2) Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. dan catatan sipil. fasilitasi pengembangan koperasi. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. perencanaan. Pasal 14 (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi: a. usaha kecil dan menengah. pelayanan kependudukan. penanggulangan masalah sosial. dan pengawasan tata ruang. e. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya. f. pelayanan bidang ketenagakerjaan. d. pelayanan kependudukan. pelayanan pertanahan termasuk lintas manusia dengan kewajiban melaporkan kabupaten/kota. g. perundang-undangan o. b. i. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundangundangan. j. perencanaan dan pengendalian pembangunan. penanganan bidang kesehatan. h. dan . o. m.

pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama. Pasal 12. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. (2) Hubungan dalam bidang keuangan antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a.p. Pasal 13 dan Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. b. pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. (2) Urusan pemerintahan kabupaten/kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. Pasal 16 . pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah. Pasal 15 (1) Hubungan dalam bidang keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. dan c. Pasal 11. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah. kekhasan. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. pembiayaan bersama atas kerja sama antardaerah. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10. (3) Hubungan dalam bidang keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. d. c. b. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah.

(2) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: . dan c. b. pemeliharaan. tanggung jawab. b. dan c. b. kerja sama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. kewenangan. pengelolaan perizinan bersama bidang pelayanan umum. budidaya. (2) Hubungan dalam bidang pelayanan umum antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a.tanggungjawab. pe-ngendalian dampak. fasilitasi pelaksanaan kerja sama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. dan penentuan standar pelayanan minimal. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. (3) Hubungan dalam bidang pelayanan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. dan c.(1) Hubungan dalam bidang pelayanan umum antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. dan pelestarian. pemanfaatan. kewenangan. Pasal 17 (1) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya ant ara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a.

a. dan c. konser-vasi. (3) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. pengelolaan perizinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. Pasal 18 (1) Daerah yang memiliki wilayah laut diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. kerja sama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah. ikut serta dalam pemeliharaan keamanan. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. dan pengelolaan kekayaan laut. b. ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. (2) Daerah mendapatkan bagi hasil atas pengelolaan sumber daya alam di bawah dasar dan/atau di dasar laut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. e. pengaturan tata ruang. c. eksploitasi. (3) Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. . pengaturan administratif. eksplorasi. b. d. penegakan hukum terhadap pera-turan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. dan f. (4) Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk provinsi dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota.

b. • UU No. pemerintahan daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. asas proporsionalitas. (3) Dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. ayat (3). asas profesionalitas. dan i. dan hak dan kewajiban dari setiap daerah dan oleh menteri negara. asas kepastian hukum. (6) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) tidak berlaku terhadap penangkapan ikan oleh nelayan kecil. e. asas efisiensi. Pasal 20 (1) Penyelenggaraan pemerintahan berpedoman pada Asas Umum Penyelenggaraan Negara yang terdiri atas: a. d. asas kepentingan umum. asas efektivitas.(5) Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil. c. dan ayat (5) diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan 6 Penyelenggara Pasal 13 Pasal 19 Pemerintahan (1) Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (7) Pelaksanaan ketentuan sebagai-mana dimaksud pada ayat (1). g. (2) Dalammenyelenggarakan pemerintahan Daerah dibentuk Sekretariat Daerah dan Dinas-dinas Daerah. h. asas tertib penyelenggara negara. asas keterbukaan. tugas pembantuan. (2) Dalam menyelenggarakan pemerintahan. ayat (4). . kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antar 2 (dua) provinsi tersebut. asas akuntabilitas. Pemerintah menggunakan asas desentralisasi. f. yang menyelenggarakan otonomi daerah (2) Penyelenggara pemerintahan daerah adalah pemerintah daerah dan DPRD. dan untuk kabupaten/kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. dan dekonsentrasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 32 Tahun 2004 mengatur mengenai (1) Penyelenggara pemerintahan adalah Presiden asas umum dalam penyelenggaraan negara dibantu oleh 1 (satu) orang wakil Presiden.

kesatuan dan kerukunan nasional. mewujudkan keadilan dan pemerataan. k. e. h. mengelola aparatur daerah. melestarikan nilai sosial budaya. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. m. d. mengelola kekayaan daerah. b. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. dan . mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. g. d. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. mengelola administrasi kepen-dudukan. Pasal 22 Dalam menyelenggarakan otonomi. b. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. c. melindungi masyarakat. dan h. memilih pimpinan daerah. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. mendapatkan hak lainnya yang di-atur dalam peraturan perundang-undangan. l. n. mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya. memungut pajak daerah dan retribusi daerah. daerah mempunyai hak: a. f. menjaga persatuan. f. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. mengembangkan sistem jaminan sosial. j.Pasal 21 Dalam menyelenggarakan otonomi. g. i. c. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. melestarikan lingkungan hidup. e. mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah. mengembangkan kehidupan demokrasi. daerah mempunyai kewajiban: a.

pada ayat (3) untuk provinsi disebut wakil Undang-Undang No 32 Tahun 2004 (3) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. setia kepada Pancasila sebagai Dasar Tingkat I dan SMU bagi calon kepala d. Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah 3. cita-cita 1999 dan UU No 32 syarat minimum . Negara. bertanggung jawab kepada DPRD Propinsi. kota disebut walikota. dan untuk Dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1974 a. yang bersangkutan . dijelaskan bahwa umur minimum kepala Gubernur. langsung oleh rakyat di daerah yang masa jabatan sedangkan dalam UndangKotamadya atau Kota Administratip Gubernur berada di bawah dan bertanggung bersangkutan. Kabupaten disebut Bupati. bertak wa kepada Tuhan Yang Maha Esa. ditetapkan oleh Pemerintah. belanja. dan taat pada peraturan perundang-undangan. Daerah sebagai kepala eksekutif yang dibantu daerah yang disebut kepala daerah. kepala daerah ádalah 30 tahun Dalam menjalankan tugasnya. (2) Pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara efisien. Pembatasan umur minimum Kepala Wilayah : Pasal 31 untuk kabupaten disebut bupati. Pembatasan minimum pendidikan. Kecamatan disebut Camat. Gubernur (4) Wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud Undang-Undang No 22 Tahun 1999 dan d. Undang No 32 Tahun 2004 terdapat yang bersangkutan jawab kepada Presiden. Kota Administratip disebut Walikota. Pasal 23 (1) Hak dan kewajiban daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 22 diwujudkan dalam bentuk rencana kerja pemerintahan daerah dan dijabarkan dalam bentuk pendapatan. (1) Kepala Daerah Kabupaten disebut Bupati. Kecamatan bertanggungjawab kepada ditetapkan oleh Pemerintah. sedangkan dalam c. b. adil. Dalam UU No 22 Tahun bertanggung jawab kepada Presiden (3) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan Republik Indonesia Tahun 1945. wakil Pemerintah. ayat (1) dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah tingkat I dan 30 tahun bagi calon b.o. Kabupaten atau Kotamadya memenuhi syarat: disebutkan bahwa minimum pendidikan bertanggung jawab kepada Kepala Pasal 32 a. Pasal 58 dalam jabatan yang sama kepada Kepala Wilayah Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (4). (2) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan daerah. kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. calon kepala daerah diantaranya: oleh seorang Wakil Kepala Daerah. Kotamadya disebut Wahkotamadya. Kota Administratip bertanggung jawab (5) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. patut. efektif. bupati dan untuk kota disebut wakil walikota. akuntabel. Propinsi atau Ibukota Negara (2) Kepala Daerah Kota disebut Walikota. yang karena jabatannya adalah juga sebagai (3) Kepala daerah sebagaimana di-maksud pada daerah hádala 35 tahun bagi calon kepala b. pembatasan masa jabatan adalah 2 kali b. transparan. Undang-Undang Dasar Negara daerah tingkat II. Pembatasan masa jabatan Wilayah: DPRD sesuai dengan pedoman yang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan Dalam UU No 5 Tahun 1974 dan UU No a. 7 Kepala Daerah Pasal 76 Pasal 30 Pasal 24 • Dalam ketiga undang-undang tersebut Setiap Wilayah dipimpin oleh seorang Kepala Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala (1) Setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah terdapat perbedaan mengenai syarat-s yarat Wilayah. untuk kabupaten disebut wakil mensyaratkan bahwa umur minimum calon Pasal 78 sebagaimana dimaksud pada ayat (2). sebagai Kepala Daerah. dan pembiayaan daerah yang dikelola dalam sistem pengelolaan keuangan daerah. Propinsi dan Ibukota Negara disebut (1) Kepala Daerah Propinsi disebut Gubernur. tertib. ayat (3) dipilih dalam satu pasangan secara 22 Tahun 1999 tidak ada pembatasan Kepala Wilayah Kabupaten atau (4) Dalam kedudukan sebagai wakil Pemerintah. (2) Kepala daerah sebagaimana di-maksud pada Pasal 77 ayat (1) untuk provinsi disebut Gubernur. adalah warga negara Republik Indonesia yang Dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1974 c. kepala daerah tingkat II. Gubernur. ádalah Sarjana bagi calon kepala daerah Wilayah Propinsi yang bersangkutan . Kepala ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib (5) Kepala daerah dan wakil kepala daerah 2. 1.

mengenal daerahnya dan dikenal oleh b. pajak f. menyerahkan daftar riwayat hidup lengkap g. tidak pernah dihukum penjara karena keuangan negara. dan (NPWP) atau bagi yang belum mempunyai e. a. j. berdasarkan PANCASILA dan melakukan tindak pidana. ialah Warganegara Indonesia yang mengkhianati Negara Kesatuan Republik g. 1999 dan UU No 32 Tahun 2004 calon (2) Kepala Daerah Tingkat II karena DPRD sesuai dengan pedoman yang d. Pemerintah. ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib sederajat. tidak pernah terlibat baik langsung tahun. mempunyai kepribadian dan l. masyarakat di daerahnya. dan sehat jasmani dan rokhani . bertanggung jawab kepada DPRD Negara Kesatuan Republik Indonesia serta Pasal 79 Kabupaten/Kota. esa. taqwa kepada Tuhan Yang Maha Undang-Undang Dasar 1945 yang dinyatakan telah memperoleh kekuatan hukum tetap. setia dan taat kepada PANCASILA Negeri. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. berwibawa . dan kepada pendidikan adalah SMU. tidak pernah dijatuhi pidana penjara daerah Kecamatan diatur dengan Peraturan syarat-syarat : berdasarkan putusan pengadilan yang Menteri Dalam Negeri. dan trampil . mempunyai rasa pengabdian masyarakat di daerahnya. Pasal 43 n. d. sekolah lanjutan tingkat atas dan/atau Presiden sedangkan dalam UU No 23 Tahun Propinsi atau Ibukota Negara. tidak sedang memiliki tanggungan utang c. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) kepala daerah dan wakilnya merupakan satu jabatannya adalah Kepala Wilayah ditetapkan oleh Pemerintah tahun. sehat jasmani dan rohani. tanggungjawabnya yang merugikan Kesatuan Republik Indonesia yang h. setia dan taat kepada Negara Kesatuan karena melakukan tindak pidana yang Pasal 14 Republik Indonesia dan Pemerintah yang sah. secara perseorangan dan/atau secara maupun tidak langsung dalam setiap f. tidak sedang dicabut hak pilihnya putusan pengadilan yang telah gerak an G-30-S/PKI dan atau berdasarkan keputusan pengadilan negeri. adil . berumur sekurang-kurangnya 35 menghormati kedaulatan rakyat. sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil (3) Ketentuan tentang pengangkatan dan Pasal 33 pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari • UU No 32 Tahun 2004 mengatur lebih rinci pemberhentian Kepala Wilayah Kota Yang dapat ditetapkan menjadi Kepala Daerah tim dokter. e. tidak dicabut hak pilihnya sebagaimana cita-cita Proklamasi o. menyerahkan daftar kekayaan pribadi. Undang Dasar 1945. setia dan taat kepada Nega dan Lanjutan Tingkat Atas dan/atau sederajat. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah i. diancam dengan pidana penjara paling Yang dapat diangkat menjadi Kepala Daerah c. Negara Kesatuan Republik Indonesia kandung.melalui Menteri Dalam Negeri. tidak pernah melakukan perbuatan tercela. mempertahankan dan memelihara keutuhan pendidikan dan pekerjaan serta keluarga i. selaku Kepala Daerah. seperti i. berpendidikan sekurang-kurangnya bahwa wakil kepala daerah diangkat oleh jabatannya adalah Kepala Wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (3). k. suami atau istri. e. telah memperoleh kekuatan hukum tetap b. Kepala Daerah mempunyai kewajiban : yang memuat antara lain riwayat h. daerah atau wakil kepala daerah selama 2 yang mempunyai kekuatan pasti b. belum pernah menjabat sebagai kepala berdasarkan keputusan Pengadilan Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. dengan surat keterangan Ketua Pengadilan h. jujur . memegang teguh Pancasila dan Undang(dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama. NPWP wajib mempunyai bukti pembayaran kepemimpinan . menyerahkan daftar kekayaan pribadi dan b. tentang tata cara pemberhentian kepala Administratip dan Kepala Wilayah adalah warga negara Republik Indonesia dengan f. berumur sekurang-kurangnya tiga puluh j. Pemerintah . Bupati/Walikota Proklamasi 17 Agustus 1945. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak terhadap Nusa dari Bangsa . tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945. k. a. tidak sedang dicabut hak pilihnya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan berdasarkan putusan pengadilan yang a. mengenal daerahnya dan dikenal oleh l. dan Undang-Undang Dasar 1945. j. • Dalam UU No 5 Tahun 1974 menjelaskan (1) Kepala Daerah Tingkat I karena (4) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. Kabupaten atau Kotamadya. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. m. . Organisasi terlarang lainnya . c. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah. badan hukum yang menjadi kegiatan yang mengkhianati Negara g. kesatuan dan tidak terpisahkan. berkemampuan. memperoleh kekuatan hukum tetap. bersedia untuk diumumkan. tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang lama 5 (lima) tahun atau lebih. cerdas. k. d.

Pemerintah. kepada kepala daerah dalam . dengan sengaja melakukan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala g. pelestarian sosial budaya dan lingkungan oleh pejabat yang berhak mengangkat. memelihara ketenteraman dan ketertiban Pasal 25 pengalaman pek erjaan yang cukup di masyarakat. Kota. Daerah Tingkat II. meningkatkan taraf kesejahteraan rak yat. baik d. mengajukan rancangan Perda. pertanggungjawaban kepada DPRD pada mengkoordinasikan kegiatan instansi Daerah yang bersangkutan . mengupayakan terlaksananya ke-wajiban Sekolah Lanjutan Atas bagi Kepala jawab kepada DPRD. menjadi advokat atau kuasa dalam (2) Kepala Daerah wajib memberikan dan/atau temuan hasil pengawasan aparat perkara di muka Pengadilan. atas permintaan sendiri . atau jika dipandang perlu oleh b. membantu kepala daerah dalam berhubungan langsung dengan. melaksanakan pemberdayaan hal tertentu atas permintaan DPRD perempuan dan pemuda. Undang-undang ini . ditetapkan ber-sama DPRD. melakukan pekerjaan-pekerjaan lain a. melaksanakan tugas dan wewenang lain kegiatan-kegiatan yang merugikan Daerah Kabupaten dan Kepala Daerah sesuai dengan peraturan perundangkepentingan Negara. melanggar sumpah/janji yang pemerintahan maupun pertanggungkelurahan dan/atau desa bagi wakil kepala dimaksud dalam pasal 18 ayat (4) jawaban keuangan. Tingkat I dan berpengetahuan Pemerintahan Daerah berdasarkan d. Presiden. dan atau Rakyat . serta Pasal 21 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 mengupayakan pengembangan dan Kepala Daerah berhanti atau diberhentikan ayat (2). menyusun dan mengajukan rancangan sederajat dengan Akademi atau kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD. menindaklanjuti laporan d. sekurang-kurangnya sekali dalam undangan. Kepala Daerah bertanggung e. memimpin penyelenggaraan pe-merintahan m. wmengajukan Rancangan Peraturan Daerah a. dan/atau menyempurnakannya dalam e. tidak dalam status sebagai penjabat kepala Daerah Tingkat I dan 30 (tiga puluh) undangan. mewakili daerahnya di dalam dan di luar laporan atas penyelenggaraan pengadilan. memberikan saran dan pertimbangan d. tahun bagi Kepala Daerah Tingkat II . menetapkan Perda yang telah mendapat Sarjana Muda bagi Kepala Daerah (1) Kepala Daerah memimpin penyelenggaraan persetujuan bersama DPRD. daerah. pertanggungjawabannya. pertanggungjawaban kebijakan garaan pemerintahan di wilayah kecamatan. karena : Pasal 46 c. (1) Kepala Daerah yang ditolak garaan pemerintahan kabupaten dan kota b. turut serta dalam sesuatu Kepala Daerah atau apabila diminta oleh Pasal 26 perusahaan . daerah. baginya dalam hal-hal yang (1) Kepala Daerah wajib menyampaikan b. c. (1) Wakil kepala daerah mempunyai tugas: c. f. memantau dan mengevaluasi penyelengdilantik Kepala Daerah yang baru.(tiga puluh lima) tahun bagi Kepala c. memantau dan mengevaluasi penyelenga. mempunyai kecakapan dan e. dan Kepala daerah mempunyai tugas dan wewenang: bidang pemerintahan . harus melengkapi daerah kabupaten/kota. tidak lagi memenuhi sesuatu syarat jangka waktu paling lama tiga puluh hari. Perda tentang APBD kepada DPRD untuk sekurang-kurangnya berpendidikan (2) Dalam menjalankan tugas dan dibahas dan ditetapkan bersama. b. yang dapat dipersamakan dengan kewajibannya. d. berakhir masa jabatannya dan telah dimaksud dalam Pasal 45. vertikal di daerah. Daerah. yang dapat dipersamakan dengan Pasal 44 c. a. l. (3) Kepala Daerah wajib menyampaikan f. satu tahun. setiap akhir tahun anggaran. hidup. pertanggungjawaban kepada DPRD untuk pengawasan. sebagaimana bagi wakil kepala daerah provinsi. meninggal dunia . menegakkan seluruh peraturan perundangp. membantu kepala daerah dalam yang memberikan keuntungan Pasal 45 menyelenggarakan pemerintahan daerah. berpengetahuan yang sederajat dan menetapkannya sebagai Peraturan daerah berdasarkan kebijakan yang dengan Perguruan Tinggi atau Daerah bersama dengan DPRD. sekurang-kurangnya berpendidikan b. dan dapat menunjuk kuasa Pasal 20 Pemerintahan Daerah kepada Presiden hukum untuk mewakilinya sesuai dengan Kepala Daerah dilarang : melalui Menteri Dalam Negeri dengan peraturan perundang-undangan.

atau tidak dapat melakukan bertanggungjawab kepada Presiden di luar pengadilan. sebagaimana dimaksud pada ayat bertanggung jawab kepada kepala daerah. dalam dan di luar Pengadilan. sebab-sebab lain. wakil kepala daerah mempunyai kewajiban: setahun. melaksanakan prinsip tata pemerintahan oleh Presiden dari Pegawai Negeri yang dimaksud dalam Pasal 47. instansi vertikal di daerah dan semua Tingkat I kepada Presiden melalui b. pemerintahan lainnya yang diberikan oleh undang ini . golongan tertentu. i. dan/atau menyempurnakan daerah. mengajukan berhenti atas permintaan perangkat daerah. meninggal dunia. memajukan dan mengembangkan daya Pasal 24 e. anggota Pancasila. Pasal 22 kedua kalinya. wakil kepala daerah wewenang. baik secara langsung masyarakat. (3) Wakil kepala daerah menggantikan kepala (2) Dalam menjalankan hak. (1) Wakil Kepala Daerah Tingkat I diangkat suatu perkara di pengadilan. wewenang. ditetapkan oleh Pemerintah. keluarganya. menaati dan menegakkan seluruh peraturan (2) Apabila dipandang. melanggar ketentuan yang pertanggungjawabannya f. e. menjaga etika dan norma dalam lebih untuk mewakilinya. melaksanakan dan mempertang(2) Dengan memperoleh persetujuan Dewan Pasal 49 gungjawabkan pengelolaan ke-uangan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui Kepala Daerah berhenti atau diberhentikan daerah. DPRD dapat mengusulkan (2) Dalam melaksanakan tugas se-bagaimana (1) Kepala Daerah menjalankan hak. barang. golongan masyarakat lain. kepala daerah. wewenang. kepala daerah dan Daerah sekurang-kurangnya sekali dalam yayasan bidang apa pun juga. (3). Kepala Pasal 47 kepala daerah meninggal dunia. dan dapat menunjuk kuasa kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara melalui Menteri Dalam Negeri. c. atau Dasar Negara Republik Indonesia Tahun (4) Pedoman tentang pemberian keterangan kelompok politiknya yang secara nyata 1945 serta mempertahankan dan pertanggung jawaban yang dimaksud merugikan kepentingan umum atau memelihara keutuhan Negara Kesatuan dalam ayat (3) pasal ini. Kepala Pasal 48 Pasal 27 Daerah berkewajiban memberikan Kepala Daerah dilarang : (1) Dalam melaksanakan tugas dan keterangan pertanggung jawaban a. melakukan pekerjaan lain yang memberikan c. yang bersih dan baik. dapat menunjuk seorang kuasa atau pihak lain yang patut dapat diduga akan f. (3) Dalam menjalankan hak. dimaksud pada ayat (1). dan f. Menteri Dalam Negeri. melaksanakan kehidupan demokrasi. menjalin hubungan kerja dengan seluruh mengajukan calon Wakil Kepala Daerah a. atau jika dipandang perlu b. untuk mewakilinya. kroninya. memegang teguh dan mengamalkan olehnya. pemerintahan Daerah. baik milik wewenang sebagaimana dimaksud dalam kepada Dewan Perwakilan Rakyat swasta maupun milik Negara/Daerah. Gubernur Kepala Daerah karena : j. perlu Kepala Daerah d. mempengaruhi keputusan atau tindakan yang penyelenggaraan pemerintahan daerah. menjadi advokat atau kuasa hukum dalam saing daerah. (1) Kepala Daerah mewakili Daerahnya di maupun tidak langsung. dan kewajiban pemerintahan Daerah. pemilihan. atau Pasal 25 dan Pasal 26. melaksanakan tugas dan wewenang kepala pertanggungjawabannya ditolak untuk daerah apabila kepala daerah berhalangan. yang berhubungan d. ditetapkan oleh mendiskriminasikan warga negara dan Republik Indonesia. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan g. akan dilakukannya. dengan Daerah yang bersangkutan. terus menerus dalam masa jabatannya. melaksanakan tugas dan kewajiban dimaksud dalam pasal 20 Undangmenyampaikannya kembali kepada DPRD. dan/atau jasa dari perundang-undangan.yang dimaksud dalam Pasal 14 (2) Kepala Daerah yang sudah melengkapi penyelenggaraan kegiatan pemerintah Undang-undang ini . memelihara ketenteraman dan ketertiban Pasal 23 keuntungan bagi dirinya. turut serta dalam suatu perusahaan. dan kewajiban pimpinan (4) ata cara. (3) Bagi Kepala Daerah yang g. selain yang h. meningkatkan kesejahteraan rakyat. dan daerah sampai habis masa jabatannya apabila kewajiban pemerintahan Daerah. . b. atau apabila diminta oteh memberikan keuntungan bagi dirinya. pemberhentiannya kepada Presiden. memenuhi persyaratan. Daerah menurut hierarkhi Kepala Daerah mewakili daerahnya di dalam dan diberhentikan. berhenti. menerima uang. e. membuat keputusan yang secara khusus a. melaksanakan Undang-Undang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

dan wewenang Kepala Daerah sehariIndonesia diberhentikan untuk sementara b. (5) Pengisian jabatan Wakil Kepala Daerah atas kasus itu ditolak oleh DPRD. tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana (2) Selain mempunyai kewajiban se-bagaimana memenuhi persyaratan. hadapan Rapat Paripurna DPRD. harus dihadiri oleh sekurangmelakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan Menteri Dalam Negeri atas nama kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih Presiden bagi Wakil Kepala Daerah DPRD dan putusan diambil dengan lanjut sesuai dengan peraturan perundangTingkat I dan oleh Gubernur Kepala persetujuan sekurang-kurangnya dua undangan. atau a. atau Daerah dalam menjalankan tugas dan Pidana.Menteri Dalam Negeri. baik hari. atau (2) Apabila Kepala Daerah berhalangan. melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam Kepala daerah dan wakil kepala daerah dilarang: dengan hukuman lima tahun atau lebih. Wakil Kepala Daerah. anggota (1) Wakil Kepala Daerah membantu Kepala yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum keluarga. dan (9) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang Pasal 51 ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. yang . ayat (2). Pasal 26 (2) Kepala Daerah yang terbukti melakukan c. laporan penyelenggaraan pemerintahan melalui pemilihan. menyampaikan rencana strategis (3) Wakil Kepala Daerah Tingkat II diangkat c. dan meresahkan Dalam Negeri. sendiri. maksud pada ayat (1). baik secara diatur tentang penjabat yang mewakili Kepala belah Negara Kesatuan Republik Indonesia langsung maupun tidak langsung. Bupati/Walikotamadya f. melanggar ketentuan sebagaimana daerah kepada Pemerintah. melakukan pekerjaan lain yang memberikan Dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri makar dan perbuatan yang dapat memecah keuntungan bagi dirinya. erah kepada Pemerintah sebagaimana (6) Wakil Kepala Daerah adalah Pejabat Pasal 50 dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Negara. (4) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) (8) Wakil Kepala Daerah diambil (2) Keputusan DPRD. dan keterangannya kepada masyarakat. dari jabatannya oleh Presiden tanpa melalui milik swasta maupun milik negara/daerah. Presiden. melanggar sumpah/janji sebagaimana mempunyai kewajiban juga untuk memberikan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3). dan memberikan Kepala Daerah mengajukan calon Wakil dimaksud dalam Pasal 48. serta menginformasikan laporan Dalam Negeri melalui Gubernur Kepala luas akibat kasus yang melibatkan penyeleng-garaan pemerintahan daerah Daerah. k. mengalami krisis kepercayaan publik yang DPRD. ayat (3). golongan tertentu. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik penyelenggaraan pemerintahan daerah di oleh Menteri Dalam Negeri atas nama pejabat yang baru. kelompok politiknya yang bertentangan dengan wewenangnya sehari-hari sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (5) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dibagi Wakil Kepala Daerah Tingkat II. makar dan/atau perbuatan lain yang dapat mendiskriminasikan warga negara dan/atau Wakil Kepala Daerah menjalankan tugas memecah belah Negara Kesatuan Republik golongan masyarakat lain. dan kepada Menteri Dalam Negeri dalam Pasal-pasal 14. merugikan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Pasal 52 kepentingan umum. 19. membuat keputusan yang secara khusus Pasal 25 diancam dengan hukuman mati sebagaimana memberikan keuntungan bagi diri. atau dalam yayasan bidang apapun. dimaksud pada ayat (1). tanggung jawabnya. dan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada Kepala Daerah Tingkat II kepada Menteri g. Keputusan DPRD. dimaksud dalam Pasal 33. (1) Pemberhentian Kepala Daerah karena Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk (7) Ketentuan-ketentuan yang dimaksud alasan-alasan sebagaimana dimaksud Gubernur. Presiden dari Pegawai Negeri yang d. kepala daerah (4) Dengan memperoleh persetujuan e. (3) Laporan penyelenggaraan peme-rintahan dadilakukan menurut kebutuhan. (1) Kepala Daerah yang diduga melakukan sekelompok mas yarakat. 20 dan 21 dalam Pasal 49 ditetapkan dengan melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 Undang-undang ini berlaku juga untuk Keputusan DPRD dan disahkan oleh (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. dimaksud dalam ayat-ayat (2) dan (4) Kepala Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa pasal ini diatur lebih lanjut dengan melalui Keputusan DPRD apabila terbukti Pasal 28 Peraturan Menteri Dalam Negeri. kroni. Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri pertiga dari jumlah anggota yang hadir. sebagaimana dimaksud digunakan Pemerintah sebagai dasar sumpahnya/janjinya dan dilantik oleh pada ayat (1). turut serta dalam suatu perusahaan.

e. Pasal 81 Kepala Daerah sampai akhir masa g. Pemerintah dan Pemerintah Daerah (1) Tindakan penyidikan terhadap Kepala (3) Pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil serta pejabat-pejabat yang Daerah dilaksanakan setelah adanya kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ditugaskan untuk itu serta mengambil persetujuan tertulis dari Presiden. tidak daerah. berkelanjutan atau berhalangan tetap baik dalam perencanaan maupun DPRD mulai memproses pemilihan Kepala secara berturut-turut selama 6 (enam) dalam pelaksanaan untuk mencapai Daerah yang baru. adalah: Rapat Paripurna dan diusulkan oleh pimpinan . lainnya. f. atau ideologi Negara dan politik dalam Kepala Daerah mempersiapkan c. di wilayahnya sesuai dengan (1) DPRD memberitahukan akan berakhirnya kebijaksanaan. d.dalam masa jabatan berikutnya. tidak dapat melaksanakan tugas secara Vertikal dengan Dinas-dinas Daerah. membina ketentraman dan ketertiban Pasal 53 peraturan perundang-undangan. sebagai anggota DPRD Wilayah adalah : sebagaimana yang ditetapkan dalam a. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tanpa persetujuan menerima uang. membimbing dan mengawasi Kepala Daerah yang ditolak d. permintaan sendiri. dan Pasal 80 jabatannya oleh Presiden. tugas dan kewajiban Kepala jabatannya. tidak lagi memenuhi syarat sebagai kepala sebesar-besarnya. pemerintahan dalam wilayahnya dalam arti peradilan ternyata tidak terbukti melakukan e. masa jabatan Kepala Daerah berakhir. mengusahakan secara terus-menerus dapat dicalonkan kembali sebagai Kepala Daerah e. dayaguna dan hasilguna yang c. a. enam bulan (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala Pemerintah . tidak melaksanakan kewajiban kepala agar segala peraturan-perundang. menjadi advokat atau kuasa hukum dalam memimpin pemerintahan. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik kegiatan-kegiatan Instansi-instansi pemberitahuan. kepala daerah dan/atau wakil kepala Daerah. undangan dan Peraturan Daerah f. meninggal dunia. ayat (1) huruf a dan huruf b serta ayat (2) segata tindakan yang dianggap perlu (2) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan huruf a dan huruf b diberitahukan oleh untuk menjamin kelancaran pimpinan DPRD untuk diputuskan dalam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) penyelenggaraan pemerintahan. daerah dan/atau wakil kepala daerah. Pasal 54 daerah dan/atau wakil kepala daerah.Daerah dalam hal Kepala Daerah dan Wakil yang dinyatakan dengan keputusan berhubungan dengan daerah yang Kepala Daerah berhalangan. nepotisme. melanggar larangan bagi kepala daerah dijalankan oleh Instansi-instansi Pasal 55 dan/atau wakil kepala daerah. sebelumnya. kegiatan di bidang pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pengadilan yang telah memperoleh kekuatan bersangkutan. pihak lain yang mempengaruhi keputusan adalah Penguasa Tunggal di bidang (3) Kepala Daerah yang setelah melalui proses atau tindakan yang akan dilakukannya. menyalahgunakan wewenang dan diaktifkan kembali dan direhabilitasi selaku melanggar sumpah/janji jabatan-nya. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53. dimaksud dalam Pasal 25 huruf f. melakukan korupsi. daerah berhenti karena: b. melaksanakan segala usaha dan (2) Dengan adanya pemberitahuan. kolusi. negeri serta pembinaan kesatuan pertanggungjawaban akhir masa jabatannya (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah Bangsa sesuai dengan kebijaksanaan kepada DPRD dan menyampaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c yang ditetapkan oleh Pemerintah pertanggungjawaban tersebut selambatdiberhentikan karena: c. pejabat yang baru. diberhentikan. bulan. mengkordinasikan makar dan perbuatan yang dapat memecah suatu perkara di pengadilan selain yang pembangunan dan membina kehidupan belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. b. barang dan/atau jasa dari Kepala Wilayah sebagai Wakil Pemerintah DPRD. hukum yang tetap diberhentikan dari d. merangkap jabatan sebagai pejabat negara Wewenang. ketentraman dan masa jabatan Kepala Daerah secara tertulis Pasal 29 ketertiban yang ditetapkan oleh kepada yang bersangkutan. masyarakat di segala bidang. menyelenggarakan kordinasi atas lambatnya empat bulan setelah a. dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan penyelenggaraan pemerintahan pertanggungjawabannya oleh DPRD. Vertikal dan antara Instansi-instansi (3) Selambat-lambatnya satu bulan sebelum b.

DPRD menyelenggarakan Rapat c. dari jumlah anggota DPRD dan putusan Pasal 83 (3) Sebelum memangku jabatannya. dan disebut (2) Wakil Kepala Daerah dilantik oleh Presiden Paripurna DPRD yang dihadiri oleh Wakil Bupati atau Wakil Walikotamadya. dan bahwa saya jabatan dan/atau tidak melaksanakan mati. (2) Wakil Kepala Daerah Tingkat II karena (1) Di setiap Daerah terdapat seorang Wakil b. pemerintahan yang dengan atau pidana kejahatan yang diancam (4) Pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil berdasarkan peraturan perundangdengan pidana penjara lima tahun kepala daerah sebagaimana dimaksud pada undangan diberikan kepadanya. atau pejabat lain yang ditunjuk. pada huruf a diputuskan melalui Rapat Kabupaten atau Kotamadya. menyampaikan usul tersebut. dan seadil-adilnya. saya mengadili. atau lebih. yang pada gilirannya harus 30 (tiga puluh) hari sejak DPRD disebut Wakil Bupati dan Wakil Kepala melaporkan kepada Presiden selambatDaerah Kota disebut Wakil Walikota. dituduh telah melakukan tindak pidana dengan ketentuan: pemerintahan yang tidak termasuk kejahatan yang diancam dengan a. sesuatu tindak pidana. harus dilaporkan kepada Jaksa Agung Daerah. Pasal 41. melanggar sumpah/janji jabatan dan/atau Propinsi atau Ibukota Negara dan tidak melaksanakan kewajiban kepala disebut Wakil Gubernur. dan memutus pendapat DPRD (2) Hal-hal yang dikecualikan terhadap bersumpah/berjanji bahwa saya akan tersebut paling lambat 30 (tigapuluh) hari ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) memenuhi kewajiban saya selaku Wakil setelah permintaan DPRD itu diterima pasal ini adalah: Gubernur/ Wakil Bupati/Wakil Walikota Mahkamah Agung dan putusannya bersifat a. e. Apabila Mahkamah Agung memutuskan b. sejujur-jujurnya. Presiden wajib memroses usul atau kepada Menteri Pertahanan (6) Wakil Kepala Daerah Propinsi disebut Wakil pemberhentian kepala daerah dan/atau Keamanan/Panglima Angkatan Gubernur. bahwa saya akan d. berlaku juga bagi Wakil Kepala kepada Presiden. sebagaimana berdasarkan putusan Mahkamah Agung Pasal 82 dimaksud pada ayat (2) dilakukan. tertangkap tangan melakukan tindak DPRD. dituduh telah melakukan tindak selalu taat dalam mengamalkan dan bahwa kepala daerah dan/atau wakil kepala mempertahankan Pancasila sebagai pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman *9617 dasar negara. Pendapat DPRD sebagaimana dimaksud jabatannya adalah Wakil Kepala Wilayah Kepala Daerah. dan ayat (2) huruf d dan huruf e dilaksanakan g. daerah terbukti melanggar sumpah/janji . kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah Wilayah Propinsi/Ibukota Negara hanya (4) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud anggota DPRD yang hadir. hal itu atas pendapat DPRD bahwa kepala daerah (1) Wakil Kepala Daerah Tingkat I karena harus dilaporkan kepada Presiden selambatdan/atau wakil kepala daerah dinyatakan jabatannya adalah Wakil Kepala Wilayah lambatnya dalam 2 kali 24 jam. Wakil Kepala Daerah Kabupaten wakil kepala daerah tersebut paling lambat Bersenjata. "Demi Allah (Tuhan). Pasal 47 sampai dengan daerah dan/atau wakil kepala daerah (duapuluh empat) jam sesudahnya Pasal 54. sebagaimana anggota DPRD yang hadir untuk dalam ayat (2) pasal ini selambatdimaksud dalam Pasal 33. Kesatuan Republik Indonesia". Mahkamah Agung wajib memeriksa. kepala daerah diusulkan kepada Presiden (3) Setelah tindakan penyidikan. akan menegakkan kehidupan demokrasi kewajiban. Pasal 56 daerah dan wakil kepala daerah. Wakil diambil dengan persetujuan sekurang(1) Tindakan Kepolisian terhadap Kepala Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. tertangkap tangan melakukan dengan sebaik-baiknya. Pasal memutuskan usul pemberhentian kepala lambatnya dalam waktu 2 (dua) kali 24 43 kecuali huruf g. Presiden. dapat dilakukan atas persetujuan adalah sebagai berikut : c. dituduh telah melakukan tindak dan Undang-Undang Dasar 1945 Paripurna DPRD yang dihadiri oleh pidana kejahatan yang sebagai konstitusi negara serta segala sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) termaktub dalam Kitab peraturan perundang-undangan yang dari jumlah anggota DPRD dan putusan Undang-undang Hukum berlaku bagi Daerah dan Negara diambil dengan persetujuan sekurangPidana BUKU KEDUA BAB I. Pemberhentian kepala daerah dan wakil dalam tugas sesuatu Instansi lainnya. melaksanakan segala tugas a. bersamaan sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dengan pelantikan Kepala Daerah. final.f. kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah (3) Tindakan kepolisian yang dimaksud (5) Ketentuan-ketentuan. hukuman mati. melaksanakan segala tugas b.

lambatnya dalam waktu 2 (dua) kali 24 Pasal 57 Pasal 30 (duapuluh empat) jam. (1) Wakil Kepala Daerah mempunyai tugas : (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah (4) Tindakan kepolisian terhadap Kepala a. membantu Kepala Daerah dalam diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa Wilayah lainnya dilakukan dengan melaksanakan kewajibannya; melalui usulan DPRD apabila dinyatakan memberitahukan sebelumnya kepada b. mengkoordinasikan kegiatan instansi melakukan tindak pidana kejahatan yang Kepala Wilayah atasan dari yang pemerintahan di Daerah; dan diancam dengan pidana penjara paling singkat bersangkutan. c. melaksanakan tugas-tugas lain yang 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan (5) Tindakan kepolisian yang dimaksud diberikan oleh Kepala Daerah. pengadilan. dalam ayat (4) pasal ini diberitahukan (2) Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah selambat-lambatnya 2 (dua) kali 24 kepada Kepala Daerah. diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui (duapuluh empat) jam sesudahnya (3) Wakil Kepala Daerah melaksanakan tugas usulan DPRD apabila terbukti melakukan kepada Kepala Wilayah atasan dari dan wewenang Kepala Daerah apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud pada yang bersangkutan, apabila menyangkut Kepala Daerah berhalangan. ayat (1) berdasarkan putusan pengadilan yang hal-hal yang dimaksud dalam ayat (2) telah memperoleh kekuatan hukum tetap. pasal ini. Pasal 58 (1) Apabila Kepala Daerah berhalangan tetap, Pasal 31 jabatan Kepala Daerah diganti oleh Wakil (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah Kepala Daerah sampai habis masa diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa jabatannya. melalui usulan DPRD karena didakwa (2) Apabila Wakil Kepala Daerah berhalangan melakukan tindak pidana korupsi, tindak pidana tetap, jabatan Wakil Kepala Daerah tidak terorisme, makar, dan/atau tindak pidana diisi. terhadap keamanan negara. (3) Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah Daerah berhalangan tetap, Sekretaris diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui Daerah melaksanakan tugas Kepala Daerah usulan DPRD karena terbukti melakukan untuk sementara waktu. makar dan/atau perbuatan lain yang dapat (4) Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala memecah belah Negara Kesatuan Republik Daerah berhalangan tetap, DPRD Indonesia yang dinyatakan dengan putusan menyelenggarak an pemilihan Kepala Daerah pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. dan Wakil Kepala Daerah selambatlambatnya dalam waktu tiga bulan. Pasal 32 Pasal 59 (1) Dalam hal kepala daerah dan/atau wakil kepala Kedudukan keuangan Kepala Daerah dan Wakil daerah menghadapi krisis kepercayaan publik yang Kepala Daerah ditetapkan dengan Peraturan meluas karena dugaan melakukan tindak pidana Pemerintah. dan melibatkan tanggung jawabnya, DPRD menggunakan hak angket untuk menanggapinya. (2) Penggunaan hak angket sebagai-mana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir untuk melakukan penyelidikan terhadap

kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. (3) Dalam hal ditemukan bukti me-lakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DPRD menyerahkan proses penyelesaiannya kepada aparat penegak hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (4) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan bersalah karena melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan yang belum memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (3), DPRD mengusulkan pemberhentian sementara dengan keputusan DPRD. (5) Berdasarkan keputusan DPRD se-bagaimana dimaksud pada ayat (4), Presiden menetapkan pember-hentian sementara kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. (6) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (4), pimpinan DPRD mengusulkan pemberhentian berdasarkan keputusan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir. (7) Berdasarkan keputusan DPRD se-bagaimana dimaksud pada ayat (6), Presiden memberhentikan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. Pasal 33 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5) s etelah melalui proses peradilan ternyata terbukti tidak bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, paling lambat 30 (tiga puluh) hari Presiden telah merehabilitasikan dan mengaktifkan kembali kepala daerah dan/atau

wakil kepala daerah yang bersangkutan sampai dengan akhir masa jabatannya. (2) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah berakhir masa jabatannya, Presiden merehabilitasikan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang bersangkutan dan tidak mengaktifkannya kembali. (3) Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, Pasal 31, dan Pasal 32 diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 34 (1) Apabila kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), wakil kepala daerah melaksanakan tugas dan kewajiban kepala daerah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (2) Apabila wakil kepala daerah di-berhentikan sementara sebagai-mana dimaksud Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), tugas dan kewajiban wakil kepala daerah dilaksanakan oleh kepala daerah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (3) Apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), Presiden menetapkan penjabat Gubernur atas usul Menteri Dalam Negeri atau penjabat Bupati/ Walikota atas usul Gubernur dengan pertimbangan DPRD sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (4) Tata cara penetapan, kriteria calon, dan masa jabatan penjabat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Peme-rintah.

dan Pasal 32 ayat (7) jabatan kepala daerah diganti oleh wakil kepala daerah sampai berakhir masa jabatannya dan proses pelaksanaannya dilakukan berdasarkan keputusan Rapat Paripurna DPRD dan disahkan oleh Presiden. (4) Dalam hal terjadi kekosongan jabatan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (3) Dalam hal kepala daerah dan wakil kepala daerah berhenti atau diberhentikan secara bersamaan dalam masa jabatannya. kepala daerah mengusulkan 2 (dua) orang calon wakil kepala daerah untuk dipilih oleh Rapat Paripurna DPRD berdasarkan usul partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya terpilih dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.Pasal 35 (1) Apabila kepala daerah diberhentikan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2). (2) Apabila terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang sisa masa jabatannya lebih dari 18 (delapan belas) bulan. . Pasal 36 (1) Tindakan penyelidikan dan penyidi-kan terhadap kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden atas permintaan penyidik. Pasal 31 ayat (2). persyaratan dan masa jabatan penjabat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. (5) Tata cara pengisian kekosongan. sekretaris daerah melaksanakan tugas sehari-hari kepala daerah sampai dengan Presiden mengangkat penjabat kepala daerah. Rapat Paripurna DPRD memutuskan dan menugaskan KPUD untuk menyelenggarakan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah paling lambat 6 (enam) bulan terhitung sejak ditetapkannya penjabat kepala daerah.

(2) Dalam kedudukannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan diperlukan persetujuan tertulis sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (4) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. atau telah melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/kota. (5) Tindakan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) setelah dilakukan wajib dilaporkan kepada Presiden paling lambat dalam waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. atau b. koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota. . disangka telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati.(2) Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan oleh Presiden dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari terhitung sejak diterimanya permohonan. Pasal 37 (1) Gubernur yang karena jabatannya berkedudukan juga sebagai wakil Pemerintah di wilayah provinsi yang bersangkutan. Pasal 38 (1) Gubernur dalam kedudukannya se-bagaimana dimaksud dalam Pasal 37 memiliki tugas dan wewenang: a. proses penyelidikan dan penyidikan dapat dilakukan. c. b.

dan Anggota bewan Perwakilan keanggotaan. mengajukan pertanyaan bagi dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). b. dan panitia-panitia. DPR. komisi-komisi. anggaran. DPRD ditetapkan sesuai dengan peraturan c. keanggotaan. wewenang. bersama. usaha milik negara. wewenangnya. dan kerja sama dalam menjalankan tugas dan a. (1) Kedudukan keuangan Ketua. Wakil Kedudukan. tugas. Wakil Pasal 16 DPRD memiliki fungsi legislasi. melaksanakan pengawasan ter-hadap daerah dan/atau badan lain yang perundang-undangan. (4) Pelaksanaan ketentuan. sebagai pejabat negara lainnya. Pasal 41 hak tersebut antara lain hak interpelasi. diatur d. dan Anggota Dewan Perwakilan (1) DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di pengawasan. begitu juga Legislatif Daerah dan Pemerintah Daerah dalam Undang-Undang ini berlaku ketentuan UU No 5 Tahun 1974 dan UU No 22 Tahun sumpah/janji. meminta keterangan. hakim pada (4) Peraturan Daerah yang dimaksud b. pelaksanaan Perda dan peraturan anggarannya bersumber dari APBN/APBD Pasal 29 (2) Alat kelengkapan DPRD terdiri atas perundang-undangan lainnya. dan pimpinan Dewan (1) Di Daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Ketentuan tentang DPRD sepanjang tidak diatur wewenang anggota DPRD dimana dalam Perwakilan Rakyat Daerah. badan usaha milik pejabat yang berwenang. • Menurut UU No 32 Tahun 2004. Undang-Undang tentang Susunan dan Kedudukan 1999 DPRD berwenang memilih calon larangan rangkapan jabatan bagi Anggota. Pemerintah Daerah. pimpinan. kepala daerah sedangkan UU No 32 Tahun anggotanya diatur dengan Undang-undang. APBD. (2) Kedudukan protokoler Ketua. dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. kepala daerah. hak. Anggaran. (3) Kedudukan keuangan Gubernur se-bagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.(2) Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala MPR. Pasal 17 tentang APBD bersama dengan kepala anggota TNI/Polri. badan Rakyat Daerah diatur dengan Daerah merupakan wahana untuk kehormatan disebutkan secara tegas dalam Peraturan Daerah. No 32 Tahun 2004 hanya menyebutkan hakDaerah. Daerah beserta perangkat Daerah lainnya.(2) Pendanaan tugas dan wewenang Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada APBN. mengadakan perubahan. pembangunan daerah. Pasal 18 Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan e. kebijakan pemerintah untuk menyusun kode etik untuk menjaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (3) DPRD membentuk fraksi-fraksi yang bukan daerah dalam melaksanakan program martabat dan kehormatan anggota DPRD mempunyai hak : merupakan alat kelengkapan DPRD. pimpinan. 8 Dewan Perwakilan Pasal 27 Pasal 14 Pasal 39 • Terdapat perbedaan dalam tugas dan Rakyat Daerah Susunan. pegawai pada badan berlaku sesudah ada pengesahan (1) Keanggotaan DPRD dan jumlah anggota daerah. dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini. dan angket dan menyatakan pendapat. melaksanakan demokrasi berdasarkan Pasal 42 salah satu alat kelengkapan DPRD yang (3) Peraturan Daerah yang dimaksud Pancasila. mengusulkan pengangkatan dan masing-masing Anggota. membahas dan menyetujui rancangan Perda badan peradilan dan pegawai negeri sipil. Ketua. dan alat kelengkapan penyelenggaraan pemerintahan daerah. dan sebagai Badan Eksekutif Daerah. daerah kepada Presiden melalui Menteri d. DPD. (4) Tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang : kepada Menteri Dalam Negeri melalui . mengajukan pernyataan pendapat. masa keanggotaan. (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang: mempunyai tugas-tugas tertentu. ketiga peraturan tersebut dimana dalam UU Rakyat Daerah diatur denpn Peraturan DPRD diatur dengan Undang-undang. susunan. dan DPRD. dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini (2) DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah a. daerah dan berkedudukan sebagai unsur • Terdapat perbedaan hak DPRD diantara Ketua. peraturan • UU No 32 Tahun 2004 mewajibkan DPRD (1) Untuk dapat melaksanakan fungsinya. pemberhentian kepala daerah/wakil kepala c. sebagaimana internasional di daerah. 2004 DPRD hanya berhak menetapkan Pasal 40 kepala daerah setelah dilakukan pemilihan Pasal 28 Pasal 15 DPRD merupakan lembaga perwakilan rakyat secara langsung. membentuk Perda yang dibahas dengan • Dalam UU No 32 Tahun 2004 anggota dibuat sesuai dengan pedoman yang berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari kepala daerah untuk mendapat persetujuan DPRD dilarang untukmerangkap jabatan ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri.

anggota DPRD yang hadir. a. diatur dengan UndangWalikota membentuk Peraturan Daerah. Garis-garis Besar Haluan Negara.(2) Pelaksanaan tugas dan wewenang. (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan memajukan tingkat kehidupan b. b. kerja sama antardaerah dan dengan pihak b. melakukan pengawasan dan meminta adalah : 1. memberikan pendapat dan pertimbangan dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Daerah. diatur Permusyawaratan Rakyat dari Utusan f. penyelidikan. dan Walikota. Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. Gubernur. mengadakan perubahan atas Rancangan (3) Dalam menggunakan hak angket se-bagaimana Pasal 31 Peraturan Daerah. Bupati. dan Walikota. yang terdiri atas semua unsur fraksi DPRD bersidang sekurang-kurangnya 2 (dua) f. meminta keterangan kepada Pemerintah putusan diambil dengan persetujuan sekurangRakyat dengan berpegang pada Daerah. prakarsa. memberikan persetujuan terhadap rencana dan Undang-Undang Dasar 1945 . kepada pemerintah daerah terhadap rencana Perwakilan Rakyat Daerah sesuai d. bersama-sama Kepala Daerah terhadap rencana perjanjian internasional Pasal 43 menyusun Anggaran Pendapatan yang menyangkut kepentingan Daerah. c. DPRD melaksanakan Permusyawaratan Rakyat serta di Daerah. terjadi kekosongan jabatan wakil kepala dimaksud dalam ayat (1) huruf a c. memilih anggota Majelis daerah. Bupati/Wakil Bupati. bersama dengan Gubernur. DPRD yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 d. pelaksanaan Anggaran Pendapatan ketiga yang membebani masyarakat dan melaksanakan secara konsekwen dan Belanja Daerah. memperhatikan aspirasi dan Bupati. kebijakan Pemerintah Daerah. d. mengadakan penyelidikan. c. mengusulkan pengangkatan dan perjanjian internasional di daerah. f. mengamankan. pertimbangan kepada Pemerintah c. meminta laporan keterangan pasal ini. memberikan pendapat dan peraturan perundang-undangan. kepala daerah. (1) DPRD mempunyai hak: dan Belanja Daerah dan Peraturandan h. memilih Gubernur/Wakil Gubernur. pertanggungjawaban kepala daerah dalam undang. meminta pertanggungjawaban Gubernur. Bupati. kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah program pembangunan Pemerintah. peraturan Daerah untuk aspirasi Daerah dan masyarakat. a. yang dimaksud dalam ayat (1) huruf g e. g. k. Bupati/Wakil Bupati. tugas dan wewenang lain yang diatur dalam mentaati segala peraturan h. Kewajiban Dewan Perwakilan Rakyat Daerah g. mengajukan pernyataan pendapat. menyatakan pendapat. mengajukan Rancangan Peraturan yang bekerja dalam waktu paling lama 60 . melaksanakan pengawasan terhadap : j. dan Walikota/Wakil e. perundang-undangan yang berlaku. batas wewenang yang diserahkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). atau kerja sama internasional yang dilakukan oleh (3) Cara pelaksanaan hak penyelidikan Walikota/ Wakil Walikota. 4. (2) Pelaksanaan hak angket sebagaimana dimakkepada Daerah atau untuk diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. Bupati. menjunjung tinggi dan 3.f. pemerintah daerah. mempertahankan. sud pada ayat (1) huruf b dilakukan setelah melaksanakan peraturan diajukan hak interpelasi sebagaimana perundang-undangan yang Pasal 19 dimaksud pada ayat (1) huruf a dan pelaksanaannya ditugaskan kepada (1) DPRD mempunyai hak : mendapatkan persetujuan dari Rapat Paripurna Daerah . b. dan (2) Selain tugas dan wewenang sebagaimana Ketetapan-ketetapan Majelis 5. pemilihan kepala daerah. memilih wakil kepala daerah dalam hal (2) Cara pelaksanaan ketentuan yang Walikota. dimaksud pada ayat (2) dibentuk panitia angket (1) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah e. angket. pelaksanaan Peraturan Daerah dan laporan KPUD dalam penyelenggaraan a. membentuk panitia pengawas pemilihan Pasal 30 Pendapatan dan Belanja Daerah. pelaksanaan kerja sama internasional dimaksud pada ayat (1). dengan pedoman yang ditetapkan oleh pemberhentian Gubernur/ Wakil g. atau penyelenggaraan pemerintahan daerah. bersama dengan Gubernur. pelaksanaan Keputusan Gubernur. interpelasi. sampai dengan huruf f pasal ini. memberikan persetujuan terhadap rencana Menteri Dalam Negeri. serta mengamalkan PANCASILA 2. Walikota menetapkan Anggaran i. peraturan perundang-undangan lain. menampung dan menindaklanjuti a. daerah. atau h. dan kepentingan Daerah dalam batas.

penghapusan tagihan sebagian atau Negara Kesatuan Republik Indonesia. menetapk an Peraturan Tata Tertib (4) Dalam melaksanakan tugasnya. dan Pasal 44 penghapusan pajak dan retribusi . seperlima jumlah Anggota atau apabila martabat dan kehormatan DPRD. pengangkutan tanpa mengadakan DPRD mempunyai kewajiban : f. Tertib DPRD. membina demokrasi dalam pelantikan Anggota baru Dewan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. membela diri. kecuali mengenai : Pasal 21 berpedoman pada peraturan perundanga. (7) Seluruh hasil kerja panitia angket bersifat dipandang perlu oleh Pimpinan Dewan (3) Pelaksanaan hak. a. (1) Anggota DPRD mempunyai hak: c. diancam dengan pidana kurungan bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia atas permintaan sekurang-kurangnya paling lama satu tahun karena merendahkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. yang perlu ditangani demi kepentingan kecuali ada alasan yang sah menurut peraturan negara. (4) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud berhak meminta pejabat negara. penetapan. mengamalkan Pancasila dan Undang. jual beli d. bangsa. perubahan. barang-barang. Peraturan Tata Tertib DPRD. pemborongan pekerjaan. serta mentaati segala dan anggota DPRD diatur dalam Peraturan perdata secara damai . dan memeriksa seseKetua memanggil Anggota-anggota pada ayat (1). atau berturut-turut tidak memenuhi panggilan Daerah pada dasarnya bersifat terbuka warga masyarakat yang menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (5). sebagaimana dimaksud memanggil. panitia untuk umum. pemerintahan. pada ayat (1). h. Perwakilan Rakyat Daerah. pejabat (5) Setiap orang yang dipanggil. keuangan/administrasi. dapat pada ayat (1) dan ayat (2). sebagaimana dimaksud rahasia. meningkatkan kesejahteraan rakyat di Anggota DPRD mempunyai kewajiban: (4) Semua yang hadir dalam rapat tertutup Daerah berdasarkan demokrasi a. c. imunitas. Anggaran Pendapatan dan Belanja (1) Anggota DPRD mempunyai hak : undangan. pemilihan Ketua dan Wakil Ketua dan c. h. (2) Pelaksanaan hak. mengamalkan Pancasila. (6) Dalam hal telah dipanggil dengan patut secara (1) Rapat-rapat Dewan Perwakilan Rakyat (2) Pejabat negara. protokoler. memilih dan dipilih. e. me-laksanakan . b. d.kali dalam setahun. b. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat atau atas permintaan Kepala Daerah. diatur dalam (8) Tata cara penggunaan hak interpelasi. mendengar. dan b. Daerah. protokoler. Pemerintah. kerjanya kepada DPRD. pa-nitia angket kurangnya seperlima jumlah Anggota DPRD. pasal ini. keuangan dan administratif. (1) DPRD dalam melaksanakan tugasnya sedang diselidiki. Pasal 45 Perwakilan Rakyat Daerah. a. atas permintaan sekurangdan h. menyampaikan usul dan pendapat. didengar.(2) Kedudukan protokoler dan keuangan pimpinan g. dan perundang-undangan. mengajukan rancangan Perda. dan hak menyatakan pendapat diatur (3) Rapat tertutup dapat mengambil dalam Peraturan Tata Tertib DPRD yang keputusan. menentukan Anggaran Belanja DPRD. permintaan. pejabat pemerintah. hak diadakan rapat tertutup. (2) dan (3) pasal ini pemerintah. peraturan perundang-undangan. perusahaan Daerah . atau warga masyarakat untuk diperiksa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam Peraturan Tata Tertib memberikan keterangan tentang suatu hal wajib memenuhi panggilan panitia angket Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. seluruhnya . c. hutang piutang dan menanggung (2) Pelaksanaan hak. penawaran umum . serta untuk meminta menunjukkan surat atau (3) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 20 dokumen yang berkaitan dengan hal yang bersidang atas panggilan Ketua. mengetahui masalah yang sedang diselidiki bulan setelah permintaan itu diterima. d. dan dalam ayat-ayat (1). persetujuan penyelesaian perkara Undang Dasar 1945. mengajukan pertanyaan. mempertahankan dan memelihara keutuhan g. diatur dalam Peraturan Tata orang yang dianggap mengetahui atau patut untuk bersidang dalam waktu 1 (satu) Tertib DPRD. Daerah serta perhitungannya. sebagaimana dimaksud pada angket dapat memanggil secara paksa dengan (2) Atas permintaan Kepala Daerah. pengajuan pertanyaan. diatur dalam Peraturan Tata b. pinjaman . dan pemborongan Pasal 22 e. Pasal 32 pembangunan. angket. atau ayat (1). sebagaimana dimaksud a. (enam puluh) hari telah menyampaikan hasil (2) Kecuali yang dimaksud dalam ayat (1) g. dan f.

(2) Kecuali yang dimaksud pada ayat (1). dan rapat tertutup. dimaksud oleh ketentuan-ketentuan dimaksud pada ayat (1). maupun pegawai/pekerja yang masyarakat. penyelesaiannya. memperhatikan dan menyalurkan aspirasi. Pasal 47 berwenang. b. undang. maupun tertulis kepada Pimpinan Dewan mengadakan rapat selambat-lambatnya g. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. dan wewenang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kesepakatan di antara pimpinan DPRD. Pengadilan karena pernyataan. sebagaimana dan sumpah/janji anggota DPRD. kecuali jika itu diterima. Badan Kehormatan. serta memfasilitasi tindak lanjut b. mempertahankan dan memelihara kerukunan Pasal 23 nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Pasal 33 (1) DPRD mengadakan rapat secara berkala Republik Indonesia. dan pernyataan yang dikemukakan dalam permintaan sekurang-kurangnya seperlima menindaklanjuti aspi-rasi masyarakat. Pasal 26 DPRD dengan berpedoman pada peraturan (2) Peraturan Tata Tertib yang dimaksud Rapat tertutup dapat mengambil keputusan.Keputusan DPRD. penyelenggaraan pemerintahan daerah. sampai Dewan membebaskannya. pemilihan anggota Majelis (2) Anggota Badan Kehormatan DPRD se(1) Apabila ternyata Dewan Perwakilan Permusyawaratan Rakyat Utusan Daerah. meng-himpun. dalam BUKU KEDUA BAB I Kitab Tertib DPRD. kelompok. untuk dirahasiakan atau hal-hal yang (4) Pelaksanaan ketentuan. memperjuangkan peningkatan keDaerah tidak dapat dituntut dimuka setahun. (1) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat sekurang-kurangnya enam kali dalam d. apa yang disepakati dalam rapat tertutup Ketua DPRD. bagaimana dimaksud pada ayat (1) dipilih dari Rakyat Daerah Tingkat I melalaikan atau c. panitia anggaran. komisi. dalam ayat (1) pasal ini. Rakyat Daerah diatur dengan Undang.wajib merahasiakan segala hal yang ekonomi. Pasal 25 d. memberikan pertanggungjawaban atas tugas Perwakilna Rakyat Daerah. sejahteraan rakyat di daerah. e. dari jumlah anggota atau atas permintaan f.dan Undang-Undang Dasar Negara Republik dibicarakan dan kewajiban itu e. rapat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. h. Indonesia Tahun 1945. menyerap. menampung. Pasal 34 Rapat-rapat DPRD bersifat terbuka untuk umum. menaati Peraturan Tata Tertib. dan (1) Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan kecuali yang dinyatakan tertutup berdasarkan f. Rakyat Daerah diatur dengan Keputusan Peraturan Tata Tertib DPRD atau atas (2) Pembentukan. berlaku sesudah kecuali mengenai : ada pengesahan pejabat yang a. alat kelengkapan sebagaimana dimaksud pada sesuai dengan pedoman yang ditetapkan ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib oleh Menteri Dalam Negeri. tugas. perundang-undangan. sebagai wujud tanggung jawab moral dan dengan pernyataan itu ia membocorkan (3) DPRD mengadakan rapat atas undangan politis terhadap daerah pemilihannya. ditetapkan dengan keputusan DPRD. alat kelengkapan lain yang diperlukan. c. panitia musyawarah. Pasal 35 b. melaksanakan kehidupan demo-krasi dalam mengetahui halnya dengan jalan apapun. pemilihan Ketua/Wakil Ketua DPRD. pimpinan. susunan. atas e. c. Kepala dalam waktu satu bulan setelah permintaan dan kinerjanya selaku anggota DPRD Daerah atau Pemerintah. Undang-undang Hukum Pidana. Kode Etik. yang diajukan secara lisan mengundang anggotanya untuk golongan. ayat (2). dan ayat i. dan menaati segala berlangsung terus baik bagi Anggota menerima keluhan dan pengaduan peraturan perundang-undangan. Ketua DPRD dapat kepentingan pribadi. dan oleh anggota DPRD dengan ketentuan: karena sesuatu hal tidak dapat d. mendahulukan kepentingan negara di atas baik dalam rapat terbuka maupun dalam Kepala Daerah. pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala (1) Badan Kehormatan DPRD dibentuk dan Daerah. untuk DPRD kabupaten/kota yang menjalankan fungsi dan kewajibannya pajak dan retribusi. Pasal 46 (2) Tatacara tindakan kepolisian terhadap Pasal 24 (1) Alat kelengkapan DPRD terdiri atas: Anggota-anggota Dewan Perwakilan Peraturan Tata Tertib DPRD ditetapkan dengan a. penetapan perubahan dan penghapusan a. ditetapkan dengan Peraturan Tata kerja dengan lembaga yang terkait. menjaga norma dan etika dalam hubungan mengenai pengumuman rahasia Negara (3). beranggotakan sampai dengan 34 (tiga puluh .

. untuk DPRD provinsi yang beranggotakan kewajiban Dewan Perwakilan Rakyat h. DPRD yang beranggotakan 35 (tiga puluh pertimbangan Gubernur Kepala Daerah. dan pembebanan empat) berjumlah 3 (tiga) orang. (4) Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat (3) Sekretaris DPRD dalam melaksanakan (2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Daerah Tingkat II diangkat oleh tugasnya berada di bawah dan bertanggung sekurang-kurangnya meliputi: Kehormatan. mengamati. secara damai. dan untuk Negara. menyampaikan kesimpulan atas hasil (2) Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat dan/atau Gubernur. f. dikemukakan dalam rapat DPRD. setelah mendengar pertimbangan Anggota DPRD tidak dapat dituntut di pengadilan (3) Pimpinan Badan Kehormatan DPRD Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah karena pernyataan dan atau pendapat yang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri yang bersangkutan. Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui (2) Sekretariat DPRD dipimpin oleh seorang Pasal 49 pemilihan. Gubernur Kepala Daerah Sekretaris DPRD yang diangkat oleh Kepala (1) DPRD wajib menyusun kode etik untuk mengajukan calon Sekretaris Dewan Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang menjaga martabat dan kehormatan anggota Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I memenuhi syarat atas persetujuan pimpinan DPRD dalam menjalankan tugas dan kepada Menteri Dalam Negeri. kewajibannya. (3) Dengan memperoleh persetujuan Dewan kewenangannya. etika. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. lima) sampai dengan 45 (empat puluh lima) Menteri Dalam Negeri menentukan cara g. kecuali jika yang bersangkutan Pasal 36 (1) Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat mengumumkan apa yang disepakati dalam rapat (4) Badan Kehormatan sebagaimana dimaksud Daerah adalah unsur staf yang tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang pada ayat (1) dibantu oleh sebuah sekretariat membantu Pimpinan Dewan Perwakilan dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman yang secara fungsional dilaksanakan oleh Rakyat Daerah dalam rahasia negara dalam buku kedua Bab I Kitab Sekretariat DPRD. selambat-lambatnya klarifikasi atas pengaduan Pimpinan DPRD. yang diajukannya secara lisan yang dipilih dari dan oleh anggota Badan atau tertulis. kebijakan tata ruang. persetujuan penyelesaian perkara perdata sampai dengan 74 (tujuh puluh empat) Daerah itu dijalankan. penyelidikan. susunan organisasi. utang piutang. Pasal 37 melakukan tindak pidana. kecuali jika yang b. sampai dengan 100 (seratus) berjumlah 7 dilakukan oleh Gubernur Kepala Daerah Pasal 27 (tujuh) orang. berlaku sesudah ada bersangkutan tertangkap tangan melakukan anggota DPRD terhadap Peraturan Tata pengesahan pejabat yang berwenang. sebagaimana c. penghapusan tagihan sebagian atau berjumlah 5 (lima) orang. dan seluruhnya. Badan Usaha Milik Daerah. b. pinjaman. dan untuk DPRD (2) Bagi Daerah Tingkat II penentuan cara i. Daerah dipimpin oleh seorang Sekretaris dalam tempo 2 kali 24 jam diberitahukan masyarakat dan/atau pemilih. Pasal 48 (2) Pembentukan. dan Pasal 28 Badan Kehormatan mempunyai tugas: formasi Sekretariat Dewan Perwakilan (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota a. mengevaluasi disiplin.sehingga dapat merugikan Daerah atau e. dan (1) Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat dimaksud pada ayat (1). DPRD Propinsi dan Gubernur bagi anggota dengan Kode Etik DPRD. wewenangnya. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam DPRD Kabupaten dan Kota. DPRD. dan berjumlah 5 (lima) orang. secara tertulis kepada Menteri Dalam Negeri d. verifikasi. melakukan penyelidikan. Tertib dan Kode Etik DPRD serta (2) Dalam hal anggota DPRD tertangkap tangan sumpah/janji. yang beranggotakan 75 (tujuh puluh lima) yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. verifikasi. tindak pidana kejahatan. dan klarifikasi Daerah Tingkat I diangkat oleh Menteri Pasal 29 sebagaimana dimaksud pada huruf c Dalam Negeri dari Pegawai Negeri yang (1) Sekretariat DPRD membantu DPRD dalam sebagai rekomendasi untuk ditindaklanjuti memenuhi persyaratan. dan Rakyat Daerah diatur dengan Peraturan DPRD dapat dilaksanakan atas persetujuan moral para anggota DPRD dalam rangka Daerah sesuai dengan pedoman yang tertulis Menteri Dalam Negeri bagi anggota menjaga martabat dan kehormatan sesuai ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. baik terbuka atas seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua maupun tertutup. meneliti dugaan pelanggaran yang dilakukan ayat (2) pasal ini. setelah mendengar kepada Daerah. menyelenggarak an tugas dan oleh DPRD. bagaimana hak. wewenang. menyelenggarakan tugas dan Undang-undang Hukum Pidana.

tata kerja. tujuan kode etik. sanksi dan rehabilitasi.Gubernur Kepala Daerah atas nama jawab kepada pimpinan DPRD. (2) Jumlah anggota setiap fraksi se-bagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya sama dengan jumlah komisi di DPRD. Bupati/Walikotamadya Kepala ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan anggota DPRD dan pihak lain. (3). jawaban. wajib bergabung dengan fraksi yang ada atau membentuk fraksi gabungan. (4) dan (5) pasal ini diatur oleh seorang Wakil Kepala Daerah. Daerah mengajukan calon Sekretaris dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan d. hubungan antarpenyelenggara pemerintahan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui (5) Anggaran Belanja Sekretariat DPRD daerah dan antaranggota serta antara pemilihan. etika dalam penyampaian pendapat. (1) Setiap anggota DPRD wajib terhimpun dalam fraksi. yang beranggotakan lebih dari 75 (tujuh puluh lima) orang membentuk 5 (lima) komisi. (7) Fraksi gabungan dapat dibentuk oleh partai politik dengan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (5). pengertian kode etik. (6) Parpol yang memenuhi persyaratan untuk membentuk fraksi hanya dapat membentuk satu fraksi. (5) Dalam hal fraksi gabungan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) setelah dibentuk. dan (6) Persyaratan dan tatacara pelaksanaan Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala f. Tingkat II kepada Gubernur Kepala e. kemudian tidak lagi memenuhi syarat sebagai fraksi ga-bungan. seluruh anggota fraksi gabungan tersebut wajib bergabung dengan fraksi dan/atau fraksi ga-bungan lain yang memenuhi syarat. Daerah. hal yang baik dan sepantasnya dilakukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Belanja Daerah. Negeri yang memenuhi persyaratan. oleh anggota DPRD.Daerah sebagai kepala eksekutif yang dibantu ayat (2). . (4) Fraksi yang ada wajib menerima anggota DPRD dari partai politik lain yang tidak memenuhi syarat untuk dapat membentuk satu fraksi. a. Pasal 50 dengan Peraturan Manteri Dalam Negeri. dan tata (5) Dengan memperoleh persetujuan Dewan dalam menjalankan fungsinya. ahli dengan tugas membantu anggota DPRD c. Menteri Dalam Negeri dari Pegawai (4) Sekretaris DPRD dapat menyediakan tenaga b. Pasal 30 tanggapan. (3) Anggota DPRD sebagaimana di-maksud pada ayat (1) dari 1 (satu) partai politik yang tidak memenuhi syarat untuk membentuk 1 (satu) fraksi. pengaturan sikap. Pasal 51 (1) DPRD provinsi yang beranggotakan 35 (tiga puluh lima) sampai dengan 75 (tujuh puluh lima) orang membentuk 4 (empat) komi-si. sanggahan. ketentuan yang dimaksud dalam ayat.

sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Tata Tertib dan kode etik DPRD. atau . atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam peraturan perundang-undangan.(2) DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan 20 (dua puluh) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) orang membentuk 3 (tiga) komisi. pertanyaan dan/atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. pertanyaan dan/atau pendapat yang dikemukakan secara lisan ataupun tertulis dalam rapat DPRD. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal anggota yang bersangkutan mengumumkan materi yang telah disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan. proses penyidikan dapat dilakukan. (4) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. (3) Anggota DPRD tidak dapat diganti antarwaktu karena pernyataan. (2) Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari semenjak diterimanya permohonan. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. yang beranggotakan lebih dari 35 (tiga puluh lima) orang membentuk 4 (empat) komisi. Pasal 52 (1) Anggota DPRD tidak dapat dituntut dihadapan pengadilan karena pernyataan. (3) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan diperlukan persetujuan tertulis dengan cara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 53 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden bagi anggota DPRD provinsi dan dari Gubernur atas nama Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD kabupaten/kota.

dan hak sebagai anggota DPRD. (5) Anggota DPRD yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diberhentikan oleh pimpinan berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Kehormatan DPRD. Pasal 54 (1) Anggota DPRD dilarang merangkap jabatan sebagai: a. hakim pada badan peradilan. (6) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c.b. wewenang. dan ayat (5) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. anggota TNI/Polri. (4) Anggota DPRD yang melakukan pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melepaskan pekerjaan tersebut selama menjadi anggota DPRD. (2) Anggota DPRD dilarang melakukan pekerjaan sebagai pejabat struktural pada lembaga pendidikan swasta. pegawai negeri sipil. advokat/pengacara. atau tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. (3) Anggota DPRD dilarang melakukan korupsi. kolusi. notaris. pejabat negara lainnya. dokter praktik dan pekerjaan lain yang ada hubungannya dengan tugas. dan nepotisme. akuntan publik. Pasal 55 (1) Anggota DPRD berhenti antarwaktu sebagai . tindakan penyidikan harus dilaporkan kepada pejabat yang memberikan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 2 (dua kali) 24 (dua puluh empat) jam. b. pegawai pada badan usaha milik negara. konsultan. ayat (3). (5) Setelah tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan. disangka melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati. badan usaha milik daerah dan/atau badan lain yang anggarannya bersumber dari APBN/APBD. ayat (4). ayat (2).

hal ini berbeda dengan Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 pemilihan secara bersamaan. 32 Tahun 2004 mengatur Daerah (1) Kepala Daerah Tingkat I dicalonkan (1) Pengisian jabatan Kepala Daerah dan Wakil (1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih bahwa Pemilihan Kepala Daerah dilakukan dan dipilih oleh Dewan Perwakilan Kepala Daerah dilakukan oleh DPRD melalui dalam satu pasangan calon yang secara langsung. b. huruf b. b. Pemberhentian anggota DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. d. tidak lagi memenuhi syarat sebagai anggota DPRD. dinyatakan bers alah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melanggar tindak pidana dengan ancaman pidana paling singkat 5 (lima) tahun penjara atau lebih. mengundurkan diri atas permintaan sendiri secara tertulis. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 (enam) bulan. melanggar larangan bagi anggota DPRD. Pelaksanaan ketentuan sebagai-mana dimaksud pada ayat (1). dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan. tidak melaksanakan kewajiban anggota DPRD. huruf d. karena: a. 9 Pemilihan Kepala Pasal 15 Pasal 34 : Pasal 56 • Dalam UU No. huruf c. dan ayat (4) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD berpedoman pada peraturan perundang-undangan. e. diusulkan oleh partai politik yang bersangkutan. Pemberhentian anggota DPRD yang telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi anggota DPRD provinsi dan kepada Gubernur melalui Bupati/Walikota bagi anggota DPRD kabupaten/kota untuk diresmikan pemberhentiannya. f. c.22 tahun 1999 . Anggota DPRD diberhentikan antarwaktu. dan huruf e dilaksanakan setelah ada keputusan DPRD berdasarkan rekomendasi dari Badan Kehormatan DPRD.(2) (3) (4) (5) anggota karena: a. ayat (3). meninggal dunia. dilaksanakan secara demokratis berdasarkan yang diatur dalam UU No. dan c. dan/atau melanggar kode etik DPRD. ayat (2).

(tiga) orang dan sebanyak-banyknya 5 (2) Calon Kepala Daerah dan calon Wakil asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan UU No. 5 Tahun 1974 pemilihan kepala (lima) orang calon yang telah Kepala Daerah, ditetapkan oleh DPRD dan adil. daerah dilakukan oleh DPRD. dimusyawarahkan dan disepakati melalui tahap pencalonan dan pemilihan. (2) Pasangan calon sebagaimana dimaksud pada bersama antara Pimpinan Dewan (3) Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala ayat (1) diajukan oleh partai politik atau Perwakilan Rakyat Daerah/ Pimpinan Daerah dan Wakil Kepala Daerah, dibentuk gabungan partai politik. Fraksi-fraksi depan Menteri Dalam Panitia Pemilihan. Negeri. (4) Ketua dan para Wakil Ketua DPRD karena Pasal 57 (2) Hasil pemilihan yang dimaksud dalam jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua (1) Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala ayat (1) pasal ini diajukan oleh Dewan Panitia Pemilihan merangkap sebagai daerah diselenggarakan oleh KPUD yang Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota. bertanggungjawab kepada DPRD. bersangkutan kepada Presiden melalui (5) Sekretaris DPRD karena jabatannya adalah (2) Dalam melaksanakan tugasnya, KPUD meMenteri Dalam Negeri sedikit-dikitnya 2 Sekretaris Panitia Pemilihan, tetapi bukan nyampaikan laporan penyelenggaraan (dua) orang untuk diangkat salah anggota. pemilihan kepala daerah dan wakil kepala seorang diantaranya. daerah kepada DPRD. (3) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang Pasal 35 (3) Dalam mengawasi penyelenggaraan pemilihdimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur (1) Panitia pemilihan, sebagaimana dimaksud an kepala daerah dan wakil kepala daerah, dengan Peraturan Menteri Dalam dalam Pasal 34 ayat (3), bertugas : dibentuk panitia pengawas pemilihan kepala Negeri. a. melakukan pemeriksaan berkas identitas daerah dan wakil kepala daerah yang mengenai bakal calon berdasarkan keanggotaannya terdiri atas unsur kepolisian, Pasal 16 persyaratan yang telah ditetapkan dalam kejaksaan, perguruan tinggi, pers, dan tokoh (1) Kepala Daerah Tingkat II dicalonkan Pasal 33; masyarakat. dan dipilih oleh Dewan Perwakilan b. melakukan kegiatan teknis pemilihan (4) Anggota panitia pengawas sebagaimana Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 calon; dan dimaksud pada ayat (3) berjumlah 5 (lima) (tiga) orang dan sebanyak-banyaknya 5 c. menjadi penanggung jawab orang untuk provinsi, 5 (lima) orang untuk (lima) orang calon yang telah penyelenggaraan pemilihan. kabupaten/kota dan 3 (tiga) orang untuk dimusyawarahkan dan disepakati (2) Bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon kecamatan. bersama antara Pimpinan Dewan Wakil Kepala Daerah yang memenuhi (5) Panitia pengawas kecamatan diusulkan oleh Perwakilan Rakyat Daerah/Pimpinan persyaratan sesuai dengan hasil panitia pengawas kabupaten/kota untuk Fraksi-fraksi dengan Gubernur Kepala pemeriksaan yang dilakukan oleh Panitia ditetapkan oleh DPRD. Daerah. Pemilihan, sebagaimana dimaksud pada ayat (6) Dalam hal tidak didapatkan unsur sebagai(2) Hasil pemilihan yang dimaksud dalam (1), diajukan kepada DPRD untuk ditetapkan mana dimaksud pada ayat (3), panitia ayat (1) pasal ini diajukan oleh Dewan sebagai calon Kepala Daerah dan calon pengawas kabupaten/kota/kecamatan dapat Perwakilan Rakyat Daerah yang Wakil Kepala Daerah. diisi oleh unsur yang lainnya. bersangkutan kepada Menteri Dalam (7) Panitia pengawas pemilihan kepala daerah Negeri melalui Gubernur Kepala Pasal 36 dan wakil kepala daerah dibentuk oleh dan Daerah sedikit-dikitnya 2 (dua) orang (1) Setiap fraksi melakukan kegiatan bertanggungjawab kepada DPRD dan untuk diangkat salah seorang penyaringan pasangan bakal calon sesuai berkewajiban menyampaikan laporannya. diantaranya. dengan syarat yang ditetapkan dalam Pasal (3) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang 33. Pasal 59 dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur (2) Setiap fraksi menetapkan pasangan bakal (1) Peserta pemilihan kepala daerah dan wakil dengan peraturan Menteri Dalam calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil kepala daerah adalah pasangan calon yang Negeri. Kepala Daerah dan menyampaikannya diusulkan secara berpasangan oleh partai dalam rapat paripurna kepada pimpinan politik atau gabungan partai politik. Pasal 17 DPRD. (2) Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat (1) Kepala Daerah diangkat untuk masa jabatan 5 (lima) tahun terhitung mulai sama mengajukan pasangan bakal calon mendaftarkan pasangan calon apabila

(3) Dua fraksi atau lebih dapat secara bersama-

tanggal pelantikannya dan dapat Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala memenuhi pers yaratan perolehan sekurangdiangkat kembali, untuk 1 (satu) kali Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat kurangnya 15% (lima belas persen) dari masa jabatan berikutnya. (1). jumlah kursi DPRD atau 15% (lima belas (2) Kepala Daerah adalah Pejabat Negara. persen) dari akumulasi perolehan suara sah Pasal 37 dalam Pemilihan Umum anggota DPRD di Pasal 18 (1) Dalam Rapat Paripurna DPRD, setiap fraksi daerah yang bersangkutan. (1) Sebelum memangku jabatannya atau beberapa fraksi memberikan penjelasan (3) Partai politik atau gabungan partai politik wajib Kepala Daerah diambil sumpahnya/ mengenai bakal calonnya. membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi janjinya dan dilantik oleh : (2) Pimpinan DPRD mengundang bakal calon bakal calon perseorangan yang memenuhi syarat a. Presiden bagi Kepala Daerah dimaksud untuk menjelaskan visi, misi, serta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan Tingkat I ; rencana-rencana kebijakan apabila bakal selanjutnya memproses bakal calon dimaksud b. Menteri Dalam Negeri bagi Kepala calon dimaksud terpilih sebagai Kepala melalui mekanisme yang demokratis dan Daerah Tingkat II. Daerah. transparan. (2) Presiden dapat menunjuk Menteri (3) Anggota DPRD dapat melakukan tanya (4) Dalam proses penetapan pasangan calon, partai Dalam Negeri untuk mengambil politik atau gabungan partai politik memperhatikan jawab dengan para bakal calon. sumpah/janji dan melantik Kepala (4) Pimpinan DPRD dan pimpinan fraksi-fraksi pendapat dan tanggapan masyarakat. Daerah Tingkat I atas nama Presiden. melakukan penilaian atas kemampuan dan (5) Partai politik atau gabungan partai politik (3) Menteri Dalam Negeri dapat menunjuk kepribadian para bakal calon dan melalui pada saat mendaftarkan pasangan calon, wajib Gubernur Kepala Daerah untuk mus yawarah atau pemungutan suara menyerahkan: mengambil sumpah/janji dan melantik menetapkan sekurang-kurangnya dua a. surat pencalonan yang ditandatangani Kepala Daerah Tingkat II atas nama pasang calon Kepala Daerah dan calon oleh pimpinan partai politik atau pimpinan Menteri Dalam Negeri. Wakil Kepala Daerah yang akan dipilih satu partai politik yang bergabung; (4) Susunan kata-kata sumpah/janji yang pasang di antaranya oleh DPRD. b. kesepakatan tertulis antarpartai politik yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, bergabung untuk mencalonkan pasangan adalah sebagai berikut : Pasal 38 calon; "Saya bersumpah/berjanji, bahwa (1) Nama-nama calon Gubernur dan calon Wakil c. surat pernyataan tidak akan menarik saya untuk diangkat menjadi Gubernur yang telah ditetapkan oleh pencalonan atas pasangan yang dicalonkan Kepala Daerah, langsung atau pimpinan DPRD dikonsultasikan dengan yang ditandatangani oleh pimpinan partai tidak langsung dengan nama Presiden. politik atau para pimpinan partai politik yang atau dalih apapun, tidak (2) Nama-nama calon Bupati dan calon Wakil bergabung; memberikan atau menjanjikan Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil d. surat pernyataan kesediaan yang atau akan memberikan sesuatu Walikota yang akan dipilih oleh DPRD bersangkutan sebagai calon kepala daerah kepada siapapun juga. ditetapkan dengan keputusan pimpinan dan wakil kepala daerah secara Saya bersumpah/berjanji, bahwa DPRD. berpasangan; saya untuk melakukan atau tidak e. surat pernyataan tidak akan mengundurkan melakukan sesuatu dalam Pasal 39 diri sebagai pasangan calon; jabatan ini, tidak sekali-kali akan (1) Pemilihan calon Kepala Daerah dan calon f. surat pernyataan kesanggupan menerima langsung ataupun Wakil Kepala Daerah dilaksanakan dalam mengundurkan diri dari jabatan apabila tidak langsung dari siapapun juga Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh terpilih menjadi kepala daerah atau wakil sesuatu janji atau pemberian. sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah kepala daerah sesuai dengan peraturan Saya bersumpah/berjanji, bahwa anggota DPRD. perundang-undangan; saya akan memenuhi kewajiban (2) Apabila jumlah anggota DPRD belum g. surat pernyataan mengundurkan diri dari saya sebagai Kepala Daerah mencapai kuorum, sebagaimana dimaksud jabatan negeri bagi calon yang berasal dari dengan sebaik-baiknya dan pada ayat (1), pimpinan rapat dapat pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, dan anggota Kepolisian sejujur-jujurnya, bahwa saya akan taat dan akan Negara Republik Indonesia;

menunda rapat paling lama satu jam.

mempertahankan PANCASILA (3) Apabila ketentuan, sebagaimana dimaksud h. surat pernyataan tidak aktif dari jabatannya sebagai dasar dan ideologi pada ayat (2), belum dicapai, rapat paripurna bagi pimpinan DPRD tempat yang Negara, bahwa saya senantiasa diundur paling lama satu jam lagi dan bersangkutan menjadi calon di daerah yang akan menegakkan Undangselanjutnya pemilihan calon Kepala Daerah menjadi wilayah kerjanya; Undang Dasar 1945 dan segala dan calon Wakil Kepala Daerah tetap i. surat pemberitahuan kepada pimpinan bagi peraturan perundang-undangan dilaksanakan. anggota DPR, DPD, dan DPRD yang yang berlaku bagi Negara mencalonkan diri sebagai calon kepala Republik Indonesia. daerah dan wakil kepala daerah; Saya bersumpah/berjanji, bahwa j. kelengkapan persyaratan calon kepala saya akan memegang rahasia daerah dan wakil kepala daerah sesuatu yang menurut sifatnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58; atau menurut perintah harus saya dan rahasiakan. Saya k. naskah visi, misi, dan program dari bersumpah/berjanji, bahwa saya pasangan calon secara tertulis. dalam menjalankan jabatan atau (6) Partai politik atau gabungan partai politik pekerjaan saya, senantiasa akan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya lebih mengutamakan dapat mengusulkan satu pasangan calon dan kepentingan Negara dan Daerah pasangan calon tersebut tidak dapat diusulkan daripada kepentingan saya lagi oleh partai politik atau gabungan partai sendiri, seseorang atau sesuatu politik lainnya. golongan dan akan menjunjung (7) Masa pendaftaran pasangan calon tinggi kehormatan Negara, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling Pemerintah, Daerah, dan lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak martabat Pejabat Negara. pengumuman pendaftaran pasangan calon. Saya bersumpah/berjanji, bahwa saya akan berusaha sekuat Pasal 60 tenaga membantu memajukan (1) Pasangan calon sebagaimana dimaksud kesejahteraan Rakyat Indonesia dalam Pasal 59 ayat (1) diteliti pers yaratan pada umumnya dan memajukan administrasinya dengan melakukan klarifikasi kesejahteraan Rakyat Indonesia kepada instansi pemerintah yang berwenang di Daerah pada khususnya dan dan menerima masukan dari masyarakat akan setia kepada Bangsa dan terhadap persyaratan pasangan calon. Negara Kesatuan Republik (2) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada Indonesia. ayat (1) diberitahukan secara tertulis kepada (5) Tatacara pengambilan sumpah/janji pimpinan partai politik atau gabungan partai dan pelantikan bagi Kepala Daerah politik yang mengusulkan, paling lambat 7 diatur dengan Peraturan Pemerintah. (tujuh) hari terhitung sejak tanggal penutupan pendaftaran. (3) Apabila pasangan calon belum memenuhi syarat atau ditolak karena tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan/atau Pasal 59, partai politik atau gabungan partai politik yang mengajukan calon diberi kesempatan untuk melengkapi dan/atau memperbaiki surat pencalonan beserta persyaratan pasangan calon atau

tidak dapat lagi mengajukan pasangan calon. (5) Apabila hasil penelitian berkas pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak memenuhi syarat dan ditolak oleh KPUD. (4) Penetapan dan pengumuman pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bersifat final dan mengikat. partai politik atau . (2) Pasangan calon yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diumumkan secara luas paling lambat 7 (tujuh) hari sejak selesainya penelitian. (4) KPUD melakukan penelitian ulang kelengkapan dan atau perbaikan persyaratan pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan sekaligus memberitahukan hasil penelitian tersebut paling lambat 7 (tujuh) hari kepada pimpinan partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan. (3) Terhadap pasangan calon yang telah ditetapkan dan diumumkan. (2) Apabila partai politik atau gabungan partai politik menarik calonnya dan/atau pasangan calon dan/atau salah seorang dari pasangan calon mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan pasangan calon atau salah seorang dari pasangan calon dilarang mengundurkan diri terhitung sejak ditetapkan sebagai pasangan calon oleh KPUD. Pasal 61 (1) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) dan ayat (4). partai politik dan atau gabungan partai politik. Pasal 62 (1) Partai politik atau gabungan partai politik dilarang menarik calonnya dan/atau pasangan calonnya. selanjutnya dilakukan undian secara terbuka untuk menetapkan nomor urut pasangan calon. KPUD menetapkan pasangan calon paling kurang 2 (dua) pasangan calon yang dituangkan dalam Berita Acara Penetapan pasangan calon.mengajukan calon baru paling lambat 7 (tujuh) hari sejak saat pemberitahuan hasil penelitian persyaratan oleh KPUD.

Pasal 63 (1) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap sejak penetapan calon sampai pada saat dimulainya hari kampanye. (2) Dalam hal salah 1 (satu) calon atau pasangan calon berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara dan masih terdapat 2 (dua) pasangan calon atau lebih. tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilanjutkan dan pasangan calon yang berhalangan tetap tidak dapat diganti serta dinyatakan gugur. tahapan . (3) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara sehingga jumlah pasangan calon kurang dari 2 (dua) pasangan. partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap dapat mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan.gabungan partai politik yang mencalonkan tidak dapat mengusulkan calon pengganti. Pasal 64 (1) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap setelah pemungutan suara putaran pertama sampai dimulainya hari pemungutan suara putaran kedua. tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lambat 30 (tiga puluh) hari dan partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap dan KPUD melakukan penelitian pers yaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan.

b. (3) Tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Kampanye. e. d. (2) Masa persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. dan pelantikan. Pembentukan Panitia Pengawas. dan tahap pelaks anaan. b. c. dan f. e. PPS dan KPPS. Penetapan daftar pemilih. c. (4) Tata cara pelaksanaan masa persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud . Pemberitahuan DPRD kepada kepala daerah mengenai berakhirnya masa jabatan. d. meliputi penetapan tata cara dan jadwal tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah.pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lambat 30 (tiga puluh) hari. Pendaftaran dan Penetapan calon kepala daerah/ wakil kepala daerah. Pemberitahuan DPRD kepada KPUD mengenai berakhirnya masa jabatan kepala daerah. Pemungutan suara. pengesahan. Penghitungan suara. Pasal 65 (1) Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilaksanakan melalui masa persiapan. Perencanaan penyelenggaraan. Penetapan pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah terpilih. PPK. Pemberitahuan dan pendaftaran pemantau. (2) Partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan.

m. menetapkan tanggal dan tata cara pelaksanaan kampanye. mengkoordinasikan. h. j. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur oleh peraturan perundangundangan. c. menetapkan tata cara pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sesuai dengan tahapan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. menetapkan kantor akuntan publik untuk mengaudit dana kampanye dan mengumumkan hasil audit. menerima pendaftaran dan me-ngumumkan tim kampanye. meneliti persyaratan partai politik atau gabungan partai politik yang me-ngusulkan calon. dan mengendalikan semua tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. serta pe-mungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Pasal 66 (1) Tugas dan wewenang KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah: a. f. i. Merencanakan penyelenggara-an pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. g. d.menyelenggarakan. mengumumkan laporan sumbangan dana kampanye. e. k. . melakukan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. menetapkan hasil rekapitulasi penghitungan suara dan mengumumkan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. meneliti persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang diusulkan. menetapkan pasangan calon yang telah memenuhi persyaratan. b. l.pada ayat (3) diatur KPUD dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

mengawasi semua tahapan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. b. e. c. (4) Panitia pengawas pemilihan mempunyai tugas dan wewenang: a. melakukan pengawasan pada semua tahapan pelaksanaan pemilihan. mengatur hubungan koordinasi antar panitia pengawasan pada semua tingkatan. mengusulkan pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala daerah yang berakhir masa jabatannya dan mengusulkan pengangkatan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. dan program dari pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. menyelesaikan sengketa yang timbul dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. d. membentuk panitia pengawas. meneruskan temuan dan laporan yang tidak dapat diselesaikan kepada instansi yang berwenang. b. menerima laporan pelanggaran peraturan perundang-undangan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Pasal 67 (1) KPUD berkewajiban: a. dan e. meminta pertanggungjawaban pelaksanaan tugas KPUD. menyelenggarakan rapat paripurna un-tuk mendengarkan penyampaian visi. memberitahukan kepada kepala daerah mengenai akan berakhirnya masa jabatan. c. b. menetapkan standarisasi serta kebutuhan .(2) Dalam penyelenggaran pemilihan gubernur dan wakil gubernur KPUD kabupaten/kota adalah bagian pelaksana tahapan penyelenggaraan pemilihan yang ditetapkan oleh KPUD provinsi. misi. (3) Tugas dan wewenang DPRD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah: a. d. memperlakukan pasangan calon secara adil dan setara. dan f.

warga negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat: a. b. c. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. memelihara arsip dan dokumen pemilihan serta mengelola barang inventaris milik KPUD berdasarkan peraturan perundangundangan.barang dan jasa yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan. e. warga negara Republik Indonesia harus terdaftar sebagai pemilih. melaksanakan semua tahapan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah secara tepat waktu. 10 Penetapan Pemilih Pasal 68 Warga negara Republik Indonesia yang pada hari pemungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih. nyata-nyata tidak sedang terganggu jiwa/ingatannya. Pasal 69 (1) Untuk dapat menggunakan hak memilih. menyampaikan laporan kepada DPRD untuk setiap tahap pelaksanaan pemilihan dan menyampaikan informasi kegiatannya kepada masyarakat . . (3) Seorang warga negara Republik Indonesia yang telah terdaftar dalam daftar pemilih ternyata tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat menggunakan hak memilihnya. d. (2) Untuk dapat didaftar sebagai pemilih. mempertanggungjawabkan pengguna-an anggaran kepada DPRD. f.

(4) Pemilih terdaftar yang karena sesuatu hal terpaksa tidak dapat menggunakan hak pilihnya di TPS yang sudah ditetapkan. yang bersangkutan dapat menggunakan hak pilihnya di tempat lain dengan menunjukkan kartu pemilih. (2) Apabila seorang pemilih mempunyai lebih dari 1 (satu) tempat tinggal. (3) Pemilih melaporkan kepindahannya ke-pada PPS di tempat pemilihan yang baru. pemilih yang bersangkutan harus melapor kepada PPS setempat. Pasal 73 (1) Pemilih yang telah terdaftar dalam daftar pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 kemudian berpindah tempat tinggal atau karena ingin menggunakan hak pilihnya di tempat lain. . Pasal 72 (1) Seorang pemilih hanya didaftar 1 (satu) kali dalam daftar pemilih.Pasal 70 (1) Daftar pemilih pada saat pelaksanaan pemilihan umum terakhir di daerah digunakan sebagai daftar pemilih untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. (2) PPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencatat nama pemilih dari daftar pemilih dan memberikan surat keterangan pindah tempat memilih. Pasal 71 Pemilih yang telah terdaftar sebagai pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 diberi tanda bukti pendaftaran untuk ditukarkan dengan kartu pemilih untuk setiap pemungutan suara. pemilih tersebut harus menentukan satu di antaranya untuk ditetapkan sebagai tempat tinggal yang dicantumkan dalam daftar pemilih. (2) Daftar pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah dengan daftar pemilih tambahan yang telah memenuhi persyaratan sebagai pemilih ditetapkan sebagai daftar pemilih sementara.

(6) Tata cara pelaksanaan pendaftaran pemilih ditetapkan oleh KPUD. (6) Penanggung jawab kampanye adalah pasangan calon. (2) Daftar pemilih sementara sebagaimana diaksud pada ayat (1) diumumk an oleh PPS untuk mendapat tanggapan masyarakat. (4) Tim kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didaftarkan ke KPUD bersamaan dengan pendaftaran pasangan calon. (5) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bersama-sama atau secara terpisah oleh pasangan calon dan/atau oleh tim kampanye. kabupaten/kota bagi pasangan calon Gubernur dan Wakil . (5) Daftar pemilih tetap disahkan dan d-umumkan oleh PPS. (2) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan selama 14 (empat belas) hari dan berakhir 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara.Pasal 74 (1) Berdasarkan daftar pemilih sebagaimana diaksud dalam Pasal 70 dan Pasal 73 PPS menyusun dan menetapkan daftar pemilih sementara. (3) Pemilih yang belum terdaftar dalam daftar peilih sementara dapat mendaftarkan diri ke PPS dan dicatat dalam daftar pemilih tambahan. 11 Kampanye Pasal 75 (1) Kampanye dilaksanakan sebagai bagian dari penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. (3) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh tim kampanye yang dibentuk oleh pasangan calon bersama-sama partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan pasangan calon. yang pelaksanaannya dipertanggungjawabkan oleh tim kampanye. (7) Tim kampanye dapat dibentuk secara berjenjang di provinsi. (4) Daftar pemilih sementara dan daftar pemilih tambahan ditetapkan sebagai daftar pemilih tetap.

pertemuan terbatas. penyebaran bahan kampanye kepada umum. dan bersifat edukatif. d. h. dan/atau i. rakyat mempunyai kebebasan untuk menghadiri kampanye. (3) Calon kepala daerah dan wakil kepala daerah berhak untuk mendapatkan informasi atau data dari pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. dan program secara lisan maupun tertulis kepada masyarakat. (4) Penyampaian materi kampanye dilakukan dengan cara yang sopan. (2) Pasangan calon wajib menyampaikan visi. debat publik/debat terbuka antarcalon. pemasangan alat peraga di tempat umum. rapat umum. tertib. . misi.Gubernur dan kabupaten/kota dan kecamatan bagi pasangan calon Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota. g. penyebaran melalui media cetak dan media elektronik. (5) Penyelenggaraan kampanye dilakukan di seluruh wilayah provinsi untuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur dan diseluruh wilayah kabupaten/kota untuk pemilihan bupati dan wakil bupati dan walikota dan wakil walikota. f. kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan. (8) Dalam kampanye. b. Pasal 76 (1) Kampanye dapat dilaksanakan melalui: a. c. (9) Jadwal pelaksanaan kampanye ditetapkan oleh KPUD dengan memperhatikan usul dari pasangan calon. penyiaran melalui radio dan/atau televisi. tatap muka dan dialog. e. Pasal 77 (1) Media cetak dan media elektronik memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk menyampaikan tema dan materi kampanye.

ras. kebersihan. suku. c. (4) Semua yang hadir dalam pertemuan terbatas atau rapat umum yang diadakan oleh pasangan calon hanya dibenarkan membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut pasangan calon yang bersangkutan. Pasal 78 Dalam kampanye dilarang: a. (8) Alat peraga kampanye harus sudah dibersihkan paling lambat 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara. menggunakan kekerasan. menghina seseorang. (6) Pemasangan alat peraga kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (5) oleh pasangan calon dilaksanakan dengan memper-timbangkan etika. ancaman kekerasan atau menganjurkan . mempersoalkan dasar negara Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. (5) KPUD berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menetapkan lokasi pemasangan alat peraga untuk keperluan kampanye. dan/atau kelompok masyarakat. calon kepala daerah/wakil kepala daerah dan/atau partai politik. dan keindahan kota atau kawasan setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. golongan.(2) Media elektronik dan media cetak wajib memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk memasang iklan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam rangka kampanye. menghasut atau mengadu domba partai politik. d. perseorangan. (3) Pemerintah daerah memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk menggunakan fasilitas umum. agama. estetika. b. (7) Pemasangan alat peraga kampanye pada tempat yang menjadi milik perseorangan atau badan swasta harus seizin pemilik tempat tersebut.

pengaturan lama cuti dan jadwal cuti dengan memperhatikan keberlangsungan tugas penyelenggaraan pemerin-tahan daerah. dan c. d. h. menggunakan tempat ibadah dan tempat pendidikan. menggunakan fasilitas dan anggaran pemerintah dan pemerintah daerah.penggunaan kekerasan kepada perseorangan. mengancam dan menganjurkan penggunaan kekerasan untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintahan yang sah. (4) Pasangan calon dilarang melibatkan pegawai negeri sipil. e. (3) Pejabat negara yang menjadi calon ke-pala daerah dan wakil kepala daerah dalam melaksanakan kampanye harus memenuhi ketentuan: a. ketenteraman. kelompok masyarakat dan/atau partai politik. menjalani cuti di luar tanggungan negara. melakukan pawai atau arak-arakan yang dilakukan dengan berjalan kaki dan/atau dengan kendaraan di jalan raya. dan j. f. anggota Tentara Nasional Indonesia. dilarang melibatkan: a. pejabat BUMN/BUMD. b. dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai peserta . pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri. hakim pada semua peradilan. c. b. tidak menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatannya. dan ketertiban umum. (2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku apabila pejabat tersebut menjadi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. i. g. merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye pasangan calon lain. Pasal 79 (1) Dalam kampanye. mengganggu keamanan. kepala desa.

. huruf i dan huruf j. huruf d. huruf c. huruf e. peringatan tertulis apabila penyelenggara kampanye melanggar larangan walaupun belum terjadi gangguan. huruf b. (3) Tata cara pengenaan sanksi terhadap pelanggaran larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh KPUD. dan huruf f. (2) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf g. huruf h. (4) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 dikenai sanksi penghentian kampanye selama masa kampanye oleh KPUD. b. yang merupakan pelanggaran tata cara kampanye dikenai sanksi: a. merupakan tindak pidana dan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.kampanye dan juru kampanye dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Pasal 81 (1) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf a. Pasal 80 Pejabat negara. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri. dan kepala desa dilarang membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye. penghentian kegiatan kampanye di tempat terjadinya pelanggaran atau di seluruh daerah pemilihan yang bersangkutan apabila terjadi gangguan terhadap keamanan yang berpotensi menyebar ke daerah pemilihan lain.

500. pasangan calon.000. partai politik dan/atau gabungan partai politik yang mengusulkan. (4) Pasangan calon dapat menerima dan/atau menyetujui pembiayaan bukan dalam bentuk uang secara langsung untuk kegiatan kampanye. Pasal 83 (1) Dana kampanye dapat diperoleh dari: a. (2) Pasangan calon wajib memiliki rekening khusus dana kampanye dan rekening yang dimaksud didaftarkan kepada KPUD.000. (5) Sumbangan kepada pasangan calon yang lebih dari Rp 2. dan ayat (5) disampaikan oleh pasangan calon .000. sumbangan pihak-pihak lain yang tidak mengikat yang meliputi sumbangan perseorangan dan/atau badan hukum swasta.000.00 (dua juta lima ratus ribu rupiah) baik dalam bentuk uang maupun bukan dalam bentuk uang yang dapat dikonversikan ke dalam nilai uang wajib dilaporkan kepada KPUD mengenai jumlah dan identitas pemberi sumbangan. (3) Sumbangan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dari perseorangan dilarang melebihi Rp 50. (6) Laporan sumbangan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (3). c.00 (lima puluh juta rupiah) dan dari badan hukum swasta dilarang melebihi Rp 350.00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah).000. (2) Pasangan calon dan/atau tim kampanye yang terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh DPRD. b.Pasal 82 (1) Pasangan calon dan/atau tim kampanye dilarang menjanjikan dan/atau memberikan uang atau materi lainnya untuk mempengaruhi pemilih.

Pasal 84 (1) Dana kampanye digunakan oleh pasangan calon. lembaga swadaya masyarakat asing dan warga negara asing.kepada KPUD dalam waktu 1 (satu) hari sebelum masa kampanye dimulai dan 1 (satu) hari sesudah masa kampanye berakhir. . (2) Dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaporkan oleh pasangan calon kepada KPUD paling lambat 3 (tiga) hari setelah hari pemungutan suara. Pasal 85 (1) Pasangan calon dilarang menerima sumbangan atau bantuan lain untuk kampanye yang berasal dari: a. lembaga swasta asing. yang teknis pelaksanaannya dilakukan oleh tim kampanye. (3) KPUD wajib menyerahkan laporan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kantor akuntan publik paling lambat 2 (dua) hari setelah KPUD menerima laporan dana kampanye dari pasangan calon. (4) Kantor akuntan publik wajib menyelesaikan audit paling lambat 15 (lima belas) hari setelah diterimanya laporan dana kampanye dari KPUD. (5) Hasil audit sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diumumkan oleh KPUD paling lambat 3 (tiga) hari setelah KPUD menerima laporan hasil audit dari kantor akuntan publik. negara asing. (6) Laporan dana kampanye yang diterima KPUD wajib dipelihara dan terbuka untuk umum. (7) KPUD mengumumkan melalui media massa laporan sumbangan dana kampanye setiap pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (6) kepada masyarakat satu hari setelah menerima laporan dari pasangan calon.

penyumbang atau pemberi bantuan yang tidak jelas identitasnya.b. 12 Pemungutan Suara Pasal 86 (1) Pemungutan suara pemilihan pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan paling lambat 1 (satu) bulan sebelum masa jabatan kepala daerah berakhir. BUMN. (3) Penggunaan tambahan surat suara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuatkan berita acara. . (2) Pemungutan suara dilakukan dengan memberikan suara melalui surat suara yang berisi nomor. (3) Pemungutan suara dilakukan pada hari libur atau hari yang diliburkan. (2) Tambahan surat suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai cadangan di setiap TPS untuk mengganti surat suara pemilih yang keliru memilih pilihannya serta surat suara yang rusak. foto. dan BUMD. pemerintah.5% (dua setengah perseratus) dari jumlah pemilih tersebut. (2) Pasangan calon yang menerima sumba-ngan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dibenarkan menggunakan dana tersebut dan wajib melaporkannya kepada KPUD paling lambat 14 (empat belas) hari setelah masa kampanye berakhir dan menyerahkan sumbangan tersebut kepada kas daerah. c. dan nama pasangan calon. Pasal 87 (1) Jumlah surat suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (2) dicetak sama dengan jumlah pemilih tetap dan ditambah 2. (3) Pasangan calon yang melanggar ketentu-an sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh KPUD.

(2) Petugas KPPS atau orang lain yang membantu pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib merahasiakan pilihan pemilih yang dibantunya. atau yang mempunyai halangan fisik lain pada saat memberikan suaranya di TPS dapat dibantu oleh petugas KPPS atau orang lain atas permintaan pemilih. dan rahasia. bentuk. serta menjamin setiap pemilih dapat memberikan suaranya secara langsung. termasuk oleh penyandang cacat.Pasal 88 Pemberian suara untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilakukan dengan mencoblos salah satu pasangan calon dalam surat suara. Pasal 89 (1) Pemilih tunanetra. bahan. Pasal 90 (1) Jumlah pemilih di setiap TPS sebanyakbanyaknya 300 (tiga ratus) orang. bentuk. (2) TPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan lokasinya di tempat yang mudah dijangkau. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberi-an bantuan kepada pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 91 (1) Untuk keperluan pemungutan suara dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah disediakan kotak suara sebagai tempat surat suara yang digunakan oleh pemilih. (2) Jumlah. tunadaksa. (3) Jumlah. dan warna kotak suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh KPUD dengan berpedoman pada peraturan perundangundangan. ukuran. bebas. . dan tata letak TPS ditetapkan oleh KPUD. lokasi.

dan sekurang-kurangnya 2 (dua) anggota KPPS dan dapat ditandatangani oleh saksi dari pasangan calon. pemilih diberi kesempatan oleh KPPS berdasarkan prinsip urutan kehadiran pemilih. kemudian KPPS memberikan surat suara pengganti hanya satu kali. serta d.Pasal 92 (1) Sebelum melaksanakan pemungutan suara. b. (2) Tanda khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh KPUD dengan . (5) Penentuan waktu dimulai dan berakhirnya pemungutan suara ditetapkan oleh KPUD. pemilih dapat meminta surat suara pengganti kepada KPPS. pengidentifikasian jenis dokumen dan peralatan. pemilih dapat meminta surat suara pengganti kepada KPPS. (2) Kegiatan KPPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dihadiri oleh saksi dari pasangan calon. (3) Kegiatan KPPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Ketua KPPS. (3) Apabila menerima surat suara yang ternyata rusak. pembukaan kotak suara. c. Pasal 94 (1) Pemilih yang telah memberikan suara di TPS diberi tanda khusus oleh KPPS. pengeluaran seluruh isi kotak suara. penghitungan jumlah setiap jenis dokumen dan peralatan. dan warga masyarakat. KPPS memberikan penjelasan mengenai tata cara pemungutan suara. (4) Apabila terdapat kekeliruan dalam cara memberikan suara. KPPS melakukan: a. panitia pengawas. (2) Dalam memberikan suara. pemantau. Pasal 93 (1) Setelah melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92. kemudian KPPS memberikan surat suara pengganti hanya satu kali.

atau d.berpedoman pada Peraturan Pemerintah. foto dan nama pasangan calon. foto dan nama pasangan calon yang telah ditentukan. (3) Penggunaan surat suara tambahan dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Ketua KPPS dan sekurang-kurangnya 2 (dua) anggota KPPS. tanda coblos terdapat dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor. jumlah surat suara yang dikembalikan oleh pemilih karena rusak atau keliru dicoblos. (2) Sebelum penghitungan suara dimulai. jumlah pemilih dari TPS lain. jumlah pemilih yang memberikan suara berdasarkan salinan daftar pemilih tetap untuk TPS. foto dan nama pasangan calon. c. surat suara ditandatangani oleh Ketua KPPS. atau c. tanda coblos hanya terdapat pada 1 (satu) kotak segi empat yang memuat satu pasangan calon. Pasal 95 Suara untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dinyatakan sah apabila: a. dan warga masyarakat. atau e. Pasal 96 (1) Penghitungan suara di TPS dilakukan oleh KPPS setelah pemungutan suara berakhir. KPPS menghitung: a. (4) Penghitungan suara dilakukan dan selesai di TPS oleh KPPS dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. jumlah surat suara yang tidak terpakai. b. tanda coblos terdapat pada salah satu garis kotak segi empat yang memuat nomor. tetapi masih di dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor. dan d. dan b. (5) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari tim kampanye yang . panitia pengawas. tanda coblos lebih dari satu. pemantau.

. surat suara. dan warga masyarakat. panitia pengawas. Pasal 97 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. dan warga masyarakat yang hadir dapat menyaksikan secara jelas proses penghitungan suara. (11) KPPS menyerahkan berita acara. (6) Penghitungan suara dilakukan dengan ca-ra yang memungkinkan saksi pasangan calon.bersangkutan dan menyerahkannya kepada Ketua KPPS. sertifikat hasil penghitungan suara. PPS membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat desa/kelurahan dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. (9) Segera setelah selesai penghitungan su-ara di TPS. (7) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPPS apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. dan alat kelengkapan administrasi pemungutan dan penghitungan suara kepada PPS segera setelah selesai penghitungan suara. pemantau. KPPS membuat berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurangkurangnya 2 (dua) orang anggota KPPS serta dapat ditandatangani oleh saksi pasangan calon. (8) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh saksi pasangan calon atau warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dapat diterima. panitia pengawas. KPPS seketika itu juga mengadakan pembetulan. pemantau. (10) KPPS memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum.

(3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh PPS apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. PPS membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan paling sedikit 2 (dua) orang anggota PPS serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon.(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada PPS. Pasal 98 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua TPS dalam wilayah kerja desa/kelurahan yang bersangkutan. (6) PPS wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPS kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum . pemantau. PPK membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat kecamatan dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. dan warga masyarakat. panitia pengawas. (7) PPS wajib menyerahkan 1 (satu) eksemplar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPS kepada PPK setempat. PPS seketika itu juga mengadakan pembetulan. . (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh saksi pasangan calon atau warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima.

(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada PPK. dan warga masyarakat. Pasal 99 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. pemantau. PPK seketika itu juga mengadakan pembetulan. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh PPK apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua PPS dalam wilayah kerja kecamatan yang bersangkutan. panitia pengawas. (7) PPK wajib menyerahkan 1 (satu) eksem-plar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPK kepada KPU kabupaten/kota. . (6) PPK wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPK kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. PPK membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang anggota PPK serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. KPU kabupaten/kota membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat kabupaten/kota dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon.

(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada KPU kabupaten/kota. KPU kabupaten/kota membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurangkurangnya 2 (dua) orang anggota KPU kabupaten/kota serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. berita acara dan rekapitulasi hasil peng-hitungan suara selanjutnya diputuskan da-lam pleno KPU kabupaten/kota untuk me-netapkan pasangan calon terpilih. Pasal 100 (1) Dalam hal pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua PPK dalam wilayah kerja kecamatan yang bersangkutan. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPU kabupaten/kota apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (6) KPU kabupaten/kota wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU kabupaten/kota kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. (7) KPU kabupaten/kota wajib menyerahkan 1 (satu) eksemplar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU kabupaten/kota kepada KPU provinsi. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. KPU kabupaten/kota seketika itu juga mengadakan pembetulan. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. .

. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPU provinsi apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (6) KPU provinsi wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU provinsi kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. KPU provinsi seketika itu juga mengadakan pembetulan. pemantau. (2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada KPU provinsi.(2) Penetapan pasangan calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada DPRD kabu-paten/kota untuk diproses pengesahan dan pengangkatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 101 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua KPU kabupaten/kota. panitia pengawas. KPU provinsi membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang anggota KPU provinsi serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. dan warga masyarakat. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. KPU provinsi membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat provinsi dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon.

dan/atau e. dan KPU Provinsi. (3) Penghitungan ulang surat suara dilakukan pada tingkat PPK apabila terjadi perbedaan data jumlah suara dari PPS. . Pasal 103 (1) Penghitungan ulang surat suara di TPS dilakukan apabila dari hasil penelitian dan pemeriksaan terbukti terdapat satu atau lebih penyimpangan sebagai berikut: a. penghitungan suara dilakukan di tempat yang kurang penerangan cahaya. (2) Penetapan pasangan calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh KPU provinsi disampaikan kepada DPRD provinsi untuk diproses pengesahan pengangkatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Penghitungan ulang surat suara dilakukan pada tingkat PPS apabila terjadi perbedaan data jumlah suara dari TPS. (4) Apabila terjadi perbedaan data jumlah suara pada tingkat KPU Kabupaten/Kota. b. panitia pe-ngawas. dan warga mas-yarakat tidak dapat menyaksikan proses penghitungan suara secara jelas. terjadi ketidakkonsistenan dalam menentukan surat suara yang sah dan surat suara yang tidak sah. d. c. dilakukan pengecekan ulang terhadap sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara pada 1 (satu) tingkat di bawahnya. saksi pasangan calon.Pasal 102 (1) Berita acara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (5) selanjutnya diputuskan dalam pleno KPU provinsi untuk menetapkan pasangan calon terpilih. penghitungan suara dilakukan secara tertutup. pemantau. penghitungan suara dilakukan di tempat lain di luar tempat dan waktu yang telah ditentukan.

(2) Pemungutan suara di TPS dapat diulang apabila dari hasil penelitian dan pemeriksaan Panitia Pengawas Kecamatan terbukti terdapat satu atau lebih dari keadaan sebagai berikut: a. Pasal 106 (1) Keberatan terhadap penetapan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah hanya dapat diajukan oleh pasangan calon kepada Mahkamah Agung dalam waktu paling lambat 3 (tiga) . lebih dari seorang pemilih menggunakan hak pilih lebih dari satu kali pada TPS yang sama atau TPS yang berbeda.Pasal 104 (1) Pemungutan suara di TPS dapat diulang apabila terjadi kerusuhan yang mengakibatkan hasil pemungutan suara tidak dapat digunakan atau penghitungan suara tidak dapat dilakukan. Pasal 105 Penghitungan suara dan pemungutan suara ulang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 dan Pasal 104 diputuskan oleh PPK dan dilaksanakan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sesudah hari pemungutan suara. lebih dari seorang pemilih yang tidak terdaftar sebagai pemilih mendapat kesempatan memberikan suara pada TPS. dan/atau e. petugas KPPS merusak lebih dari satu surat suara yang sudah digunakan oleh pemilih sehingga surat suara tersebut menjadi tidak sah. b. petugas KPPS meminta pemilih memberi tanda khusus. menandatangani. atau menulis nama atau alamatnya pada surat suara yang sudah digunakan. c. d. pembukaan kotak suara dan/atau berkas pemungutan dan penghitungan suara tidak dilakukan menurut tata cara yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan.

(6) Mahkamah Agung dalam melaksanakan kewenangannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mendelegasikan kepada Pengadilan Tinggi untuk memutus sengketa hasil penghitungan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten dan kota. (7) Putusan Pengadilan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) bersifat final. (2) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi.(2) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya pasangan calon. pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah suara sah.ed 13 Penetapan Calon Terpilih dan Pelantikan Pasal 107 (1) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 50 % (lima puluh persen) jumlah suara sah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih. (5) Putusan Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (4) bersifat final dan mengikat. . pasangan calon yang perolehan suaranya terbesar dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. (3) Pengajuan keberatan kepada Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada pengadilan tinggi untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah provinsi dan kepada pengadilan negeri untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota. (4) Mahkamah Agung memutus sengketa hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling lambat 14 (empat belas) hari sejak diterimanya permohonan keberatan oleh Pengadilan Negeri/Pengadilan Tinggi/ Mahkamah Agung.

penentuan pasangan calon terpilih dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. penentuan peringkat pertama dan kedua dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. (5) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh dua pasangan calon. . (6) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh tiga pasangan calon atau lebih. Pasal 108 (1) Dalam hal calon wakil kepala daerah terpilih berhalangan tetap. dilakukan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pemenang pertama dan pemenang kedua. (3) Dalam hal calon kepala daerah terpilih berhalangan tetap. (7) Apabila pemenang kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh lebih dari satu pasangan calon. atau tidak ada yang mencapai 25 % (dua puluh lima persen) dari jumlah suara sah. kedua pasangan calon tersebut berhak mengikuti pemilihan putaran kedua. (8) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara terbanyak pada putaran kedua dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. calon kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah. (4) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak terpenuhi. calon wakil kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah.(3) Dalam hal pasangan calon yang perolehan suara terbesar s ebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdapat lebih dari satu pasangan calon yang perolehan suaranya sama. (2) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih. penentuannya dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas.

partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya meraih suara terbanyak pertama dan kedua mengusulkan pasangan calon kepada DPRD untuk dipilih menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah selambatlambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari. selambatlambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari. (5) Dalam hal pasangan calon terpilih berhalangan tetap.(4) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih. . (3) Pasangan calon Gubernur dan wakil Gubernur terpilih diusulkan oleh DPRD provinsi. pemilihannya dilakukan selambatlambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari. Pasal 109 (1) Pengesahan pengangkatan pasangan ca-lon Gubernur dan wakil Gubernur terpilih dilakukan oleh Presiden selambatlambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari. (6) Untuk memilih wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4). (4) Pasangan calon bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota diusulkan oleh DPRD k abupaten/kota. kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari KPU provinsi untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan. kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari KPU kabupaten/kota untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan. (2) Pengesahan pengangkatan pasangan calon bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota terpilih dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari.

(2) Bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota dilantik oleh Gubernur atas nama Presiden. (2) Sumpah/janji kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut: “Demi Allah (Tuhan). nusa dan bangsa.” (3) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memegang jabatan selama 5 (lima) tahun terhitung sejak pelantikan dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan. (4) Tata cara pelantikan dan pengaturan selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 112 Biaya kegiatan Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dibebankan pada APBD . saya bersumpah/berjanji akan memenuhi kewajiban saya sebagai kepala daerah/ wakil kepala daerah dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.Pasal 110 (1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebelum memangku jabatannya dilantik dengan mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh pejabat yang melantik. memegang teguh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada masyarakat. (3) Pelantikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD. Pasal 111 (1) Gubernur dan wakil Gubernur dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden.

Pasal 114 (1) Pemantau pemilihan wajib menyampaikan laporan hasil pemantauannya kepada KPUD paling lambat 7 (tujuh) hari setelah pelantikan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. mempunyai sumber dana yang jelas. dan badan hukum dalam negeri. (2) Pemantau pemilihan wajib mematuhi se-gala peraturan perundang-undangan. 15 Ketentuan Pidana Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 115 (1) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar mengenai diri sendiri atau diri orang lain tentang suatu hal yang diperlukan untuk pengisian daftar pemilih. (4) Tata cara untuk menjadi pemantau pemilihan dan pemantauan pemilihan serta pencabutan hak sebagai pemantau diatur dalam Peraturan Pemerintah. dan b. (3) Pemantau pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus mendaftarkan dan memperoleh akreditasi dari KPUD. bersifat independen. .14 Pemantauan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 113 (1) Pemantauan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dapat dilakukan oleh pemantau pemilihan yang meliputi lembaga swadaya masyarakat. (3) Pemantau pemilihan yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan/atau tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 dicabut haknya sebagai pemantau pemilihan dan/atau dikenai sanksi sesuai peraturan perundang-undangan. (2) Pemantau pemilihan sebagaimana dimak-sud pada ayat (2) harus memenuhi pers yaratan yang meliputi: a. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.

600.00 (enam ratus ribu .00 (enam juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.100.00 (enam juta rupiah).000.000.000.000.000. 200.00 (satu juta rupiah).00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.00 (dua ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. menggunakannya. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. (5) Setiap orang yang dengan kekerasan atau dengan ancaman kekuasaan yang ada padanya saat pendaftaran pemilih menghalang-halangi seseorang untuk terdaftar sebagai pemilih dalam Pemilihan kepala daerah menurut undang-undang ini.000. 2.000. atau menyuruh orang lain menggunakannya sebagai surat sah. 600.000.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. (2) Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang lain kehilangan hak pilihnya dan orang yang kehilangan hak pilihnya tersebut mengadukan. (3) Setiap orang yang dengan sengaja memalsukan surat yang menurut suatu aturan dalam Undang-Undang ini diperlukan untuk menjalankan suatu perbuatan dengan maksud untuk digunakan sendiri atau orang lain sebagai seolah-olah surat sah atau tidak dipalsukan.000. 1.000.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 6. 6.00 (dua juta rupiah). 600. (4) Setiap orang yang dengan sengaja dan mengetahui bahwa suatu surat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tidak sah atau dipalsukan.000.

huruf h. (6) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar atau menggunakan surat palsu seolah-olah sebagai surat yang sah tentang suatu hal yang diperlukan bagi persyaratan untuk menjadi Pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah. (3) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan kampanye pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf g.000. huruf e dan huruf f diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp600.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp6.00 (enam juta rupiah).000.000. ayat (3).000.000. huruf i dan huruf j dan Pasal 79 ayat (1).00 (enam juta rupiah). Pasal 116 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kampanye di luar jadwal waktu yang telah ditetapkan oleh KPUD untuk masingmasing pasangan calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari atau paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp100. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan .00 (satu juta rupiah).000. 600. huruf d.000.000.rupiah) dan paling banyak Rp. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (enam juta rupiah). 6.00 (seratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp1. (2) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf a. dan ayat (4).000.000. huruf c.000.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. 6. huruf b.

diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 200. menghalangi.000.000.00 (dua ratus juta rupiah) atau paling banyak Rp 1. (5) Setiap orang yang dengan sengaja mengacaukan.00 (seratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp1.000.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp.000. (6) Setiap orang yang memberi atau menerima dana kampanye melebihi batas yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (3).00 (satu juta rupiah).000. 6.00 (enam juta rupiah).000. dan/atau tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2).000.000.000. atau mengganggu jalannya kampanye. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (dua ratus juta rupiah) atau paling banyak Rp1. (7) Setiap orang yang dengan sengaja menerima atau memberi dana kampanye dari atau kepada pihak-pihak yang dilarang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (1).atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp100. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri dan kepala desa yang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. 6.000.00 (enam juta rupiah).00 (satu miliar rupiah).000.000.000.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp.000. .000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp200. 600.000.000. (4) Setiap pejabat negara.000. 600.00 (satu miliar rupiah).

diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.00 (sepuluh juta rupiah).000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 60 (enam puluh) hari dan/atau denda paling sedikit Rp. (3) Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja mengaku dirinya sebagai orang lain untuk menggunakan hak pilih.000.00 (satu juta rupiah) atau paling banyak Rp10.00 (sepuluh juta rupiah). atau memilih Pasangan calon tertentu.000. 10.00 (sepuluh juta rupiah). 1.00 ( satu juta rupiah). Pasal 117 (1) Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan dan menghalang-halangi seseorang yang akan melakukan haknya untuk memilih.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1. . atau menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suaranya menjadi tidak sah. 10.000. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. 100. (2) Setiap orang yang dengan sengaja memberi atau menjanjikan uang atau materi lainnya kepada seseorang supaya tidak menggunakan hak pilihnya.000.(8) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar dalam laporan dana kampanye sebagaimana diwajibkan oleh UndangUndang ini.000. 1.000.000.000. diancam dengan pidana penjara paling s ingkat 2 (dua) bulan atau paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000.000.000.

10.000.000. 1. 10.000.000.00 . (6) Seorang majikan atau atasan yang tidak memberikan kesempatan kepada seorang pekerja untuk memberikan suaranya.000.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. (8) Setiap orang yang bertugas membantu pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (2) dengan sengaja memberitahukan pilihan si pemilih kepada orang lain. (7) Setiap orang yang dengan sengaja pada waktu pemungutan suara mendampingi seorang pemilih selain yang diatur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (1). 1.000.00 ( dua ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.000. 1.00 (sepuluh juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 4 (empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.00 (dua juta rupiah).00 (sepuluh juta rupiah). 10.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.00 (sepuluh juta rupiah).000.000.000. (5) Setiap orang yang dengan sengaja menggagalkan pemungutan suara diancam dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. kecuali dengan alasan bahwa pekerjaan tersebut tidak bisa ditinggalkan.000.(4) Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja memberikan suaranya lebih dari satu kali di satu atau lebih TPS. 2.000.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. 200. 1.000.000.000.

diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 2 (dua) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000. 100.000.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. diancam dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.(satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. (2) Setiap orang yang dengan sengaja merusak atau menghilangkan hasil pemungutan suara yang sudah disegel.00 (satu juta rupiah).000.000. . 20.00 (sepuluh juta rupiah).000. Pasal 118 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang menyebabkan suara seorang pemilih menjadi tidak berharga atau menyebabkan Pasangan calon tertentu mendapat tambahan suara atau perolehan suaranya berkurang. 1.000.000. (3) Setiap orang yang karena kelalaiannya menyebabkan rusak atau hilangnya hasil pemungutan suara yang sudah disegel.000. 100. diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000.000. 2.000.00 (sepuluh juta rupiah). 10.00 (dua puluh juta rupiah). 1.000.000.00 (dua juta rupiah) dan paling banyak Rp.00 (satu miliar rupiah).000.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. 10.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.000. (4) Setiap orang yang dengan sengaja mengubah hasil penghitungan suara dan/atau berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara. 1.

daerah. dan lembaga teknis daerah. Walikota atas persetujuan pimpinan DPRD lembaga teknis daerah. diatur dengan syarat. (3) Sekretaris Daerah Propinsi karena (2) Sekretaris daerah sebagaimana dimaksud Pasal 85 jabatannya adalah Sekretaris Wilayah pada ayat (1) mempunyai tugas dan (1) Dalam menjalankan tugasnya.Pasal 119 Jika tindak pidana dilakukan dengan sengaja oleh penyelenggara atau pasangan calon.32 Tahun 2004 (3) Dengan tidak mengurangi ketentuan Pasal 61 atas sekretariat daerah. (1) Sekretariat Daerah dipimpin oleh Sekretaris dinas daerah. pada ayat (1) untuk kabupaten/kota diangkat (2) Dinas dipimpin oleh seorang Kepala Dinas dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul . kepada Kepala Daerah. (2) Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud Menteri Dalam Negeri. (1) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana (3) Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud Pemerintah Daerah. Peraturan Pemerintah. sekretariat DPRD. pada ayat (1) untuk provinsi diangkat dan (3) Peraturan Daerah yang dimaksud diberhentikan oleh Presiden atas usul dalam ayat (2) pasal ini. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). sekretariat daerah. 16` Aparatur dan Pasal 84 Pasal 60 Pasal 120 • Dalam Undang-Undang No. berlaku Gubernur sesuai dengan peraturan sesudah ada pengesahan pejabat yang Pasal 62 perundang-undangan. sekretariat DPRD. ancaman pidananya ditambah 1/3 (satu pertiga) dari pidana yang diatur dalam Pasal 115. dinas termasuk dalam perangkat daerah (2) Sekretaris Daerah karena jabatannya sesuai dengan kebutuhan Daerah. dan Pasal 118.l syarat. (2) Perangkat daerah kabupaten/kota terdiri • Dalam Undang-Undang No. (2) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi (3) Dalam pelaksanaan tugas dan kewajiban dalam ayat (1) pasal ini. dan kelurahan. disebutkan secara lebih rinci mengani tugas yang dimaksud dalam ayat (1) ini. Kepala Administrasi. Pasal 116. dengan pedoman yang ditetapkan oleh ditunjuk oleh Kepala Daerah. daerah dilaksanakan oleh pejabat yang menyelenggarakan pemerintahan (6) Sekretaris Daerah bertanggung jawab ditunjuk oleh kepala daerah. tugas sekretaris yang membantu Kepala Daerah dalam lainnya. susunan organisasi dan (7) Apabila Sekretaris Daerah berhalangan Pasal 122 formasi Sekretariat Daerah ditetapkan melaksanakan tugasnya. kecamatan. dari Camat dan Lurah susunan organisasi dan formasi Daerah. (5) Sekretaris Daerah berkewajiban membantu sekretaris daerah bertanggung jawab Kepala Daerah dalam menyusun kebijakan kepada kepala daerah. Daerah. tugas Sekretaris (1) Sekretaris Daerah diangkat dari pegawai dengan Peraturan Daerah s esuai Daerah dilaksanakan oleh pejabat yang negeri sipil yang memenuhi persyaratan. Pasal 47 serta membina hubungan kerja dengan (4) Apabila sekretaris daerah berhalangan (1) Sekretariat Daerah adalah unsur staf dinas. lembaga teknis. kewajiban membantu kepala daerah dalam Instansi Vertikal berada dibawah (4) Sekretaris Daerah Kabupaten atau Sekretaris menyusun kebijakan dan kordinasi Kepala Wilayah yang Daerah Kota diangkat oleh Bupati atau mengkoordinasikan dinas daerah dan bersangkutan.32 Tahun 2004 Kepegawaian (1) Sekretariat Daerah adalah Sekretariat Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah. Pasal 117. (2) Pembentukan. lembaga teknis daerah. Sekretariat Wilayah lainnya serta (2) Sekretaris Daerah Propinsi diangkat oleh pengangkatan dan pemberhentian Gubernur atas persetujuan pimpinan DPRD Pasal 121 pejabatnya diatur oleh Menteri Dalam dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi (1) Sekretariat daerah dipimpin oleh Sekretaris Negeri. Dinas Daerah dan lembaga teknis Daerah lainnya. (1) Perangkat daerah provinsi terdiri atas ditambahkan bahwa Sekertariat DPRD Daerah Wilayah. berwenang. Daerah. dan unit pelaksana melaksanakan tugasnya. adalah Sekretaris Wilayah.

uang tunggu. tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD Peraturan Menteri Dalam Negeri. kewenangan pemerintahan dari berpedoman pada Peraturan Pemerintah. dibawah dan bertanggung jawab kepada Pemerintah Daerah. Pegawai Negeri yang memenuhi pers yaratan atas usul Gubernur Kepala Pasal 63 Pasal 123 Daerah setelah mendengar Penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan (1) Sekretariat DPRD dipimpin oleh Sekretaris pertimbangan Pimpinan Dewan oleh Pemerintah kepada Gubernur selaku wakil DPRD. tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada dijalankan oleh pejabat yang ditunjuk ayat (3) huruf d wajib meminta oleh Kepala Daerah. (2) Sekretaris DPRD sebagaimana dimaksud (3) Sekretaris Daerah tingkat II diangkat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). dalam melaksanakan fungsinya sesuai (5) Apabila Sekretaris Daerah Pasal 65 dengan kemampuan keuangan daerah.Pasal 48 yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Bupati/Walikota sesuai dengan peraturan (1) Sekretariat Daerah dipimpin oleh Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat perundang-undangan. (2) Dinas daerah dipimpin oleh kepala dinas Pasal 50 yang diangkat dan diberhentikan oleh (1) Pengangkatan. mendukung pelaksanaan tugas dan (4) Persyaratan dan tatacara pelaksanaan dan tata laksananya. seorang Sekretaris Daerah. daerahnya. dan hal-hal lain yang dipimpin oleh Kepala Kelurahan. menyelenggarakan administrasi Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah menjadi wewenang Pemerintah. Pegawai Negeri yang memenuhi Pasal 64 (3) Sekretaris DPRD mempunyai tugas: pers yaratan atas usul (1) Penyelenggaraan bidang pemerintahan yang a. menyelenggarakan administrasi Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan oleh instansi vertikal. c. Peraturan Daerah. Daerah. . Pasal 67 kepala daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris pemberhentian sementara. b. Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi. dan ketentuan yang dimaksud dalam ayatpada ayat (1). Di Daerah dapat dibentuk lembaga teknis sesuai (4) Sekretaris DPRD dalam menyediakan maka tugas Sekretaris Daerah dengan kebutuhan Daerah. pimpinan DPRD dan secara administratif (2) Pembentukan susunan organisasi dan (3) Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas bertanggung jawab kepada kepala daerah formasi Dinas Daerah ditetapkan usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari melalui Sekretaris Daerah. (2) Pembentukan. oleh Gubernur/Bupati/Walikota dengan nama Menteri Dalam Negeri dari persetujuan DPRD. (2) Kepala Kecamatan disebut Camat. dengan Peraturan Daerah sesuai Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. susunan organisasi. sebagaimana dimaksud fungsi DPRD. Daerah. (6) Pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan otonomi daerah. kesekretariatan DPRD. Perwakilan Rakyat Daerah. ditetapkan dengan Keputusan d. (1) Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan pensiun. pada ayat (1) diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur Kepala Daerah atas dilaksanakan oleh Dinas Propinsi. formasi. dalam ayat (2) pasal ini. keuangan DPRD. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud Bupati/Walikota. (6) Susunan organisasi sekretariat DPRD dengan pedoman yang ditetapkan oleh (4) Camat menerima pelimpahan sebagian ditetapkan dalam peraturan daerah Menteri Dalam Negeri. setelah mendengar pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. (1) Kecamatan merupakan perangkat Daerah (5) Sekretaris DPRD dalam melaksanakan Pasal 49 Kabupaten dan Daerah Kota yang dipimpin tugasnya secara teknis operasional berada (1) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana oleh Kepala Kecamatan. (4) Sekretaris Daerah karena kedudukannya (2) Sekretaris Daerah Tingkat I diangkat (3) Kepala Dinas bertanggung jawab kepada sebagai pembina pengawai negeri sipil di oleh Menteri Dalam Negeri dari Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. (1) Dinas daerah merupakan unsur pelaksana berwenang. atas usul Sekretaris Daerah. berlaku (5) Camat bertanggung jawab kepada Bupati Pasal 124 sesudah ada pengesahan pejabat yang atau Walikota. menyediakan dan mengkoordinasi ayat (2) dan (3) pasal ini diatur dengan Presiden. gaji. berhalangan menjalankan tugasnya. Pasal 66 pertimbangan pimpinan DPRD. pemberhentian.

(1) Pegawai Daerah Tingkat I dapat pengangkatan. kantor. a. baik Pegawai Negeri ditetapkan dengan Peraturan Daerah. ditetapkan pada Peraturan Pemerintah. diperbantukan atau dipekerjakan kepada b. dan kesejahteraan pegawai. (3) Kepala dinas daerah bertanggung jawab Daerah. kedudukan hukum Pegawai Negeri Sipil di Daerah kabupaten/kota dengan Perda berpedoman atas permintaan Kepala Daerah dan Pegawai Negeri Sipil Daerah. pemindahan. Pegawai Daerah di atur oleh Kepala d. kantor. pendukung tugas kepala daerah dalam yang berwenang. serta *9621 (1) Kecamatan dibentuk di wilayah Keputusan Kepala Daerah Tingkat I. Pemerintah Wilayah Propinsi melakukan ketertiban umum. Pasal 126 kepada Daerah Tingkat II dengan kesejahteraan. umum daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 75 ayat (2) bertanggung jawab kepada kepala Pasal 52 Norma. gaji. daerah yang bersifat spesifik berbentuk Pasal 51 badan. pengawasan pelaksanaan administrasi c. serta (3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada pendidikan dan pelatihan sesuai dengan ayat (2) camat juga menyelenggarakan Pasal 53 kebutuhan dan kemampuan Daerah yang tugas umum pemerintahan meliputi: Semua pegawai. dan prosedur mengenai daerah melalui Sekretaris Daerah. mengkoordinasikan upaya pesesuatu Daerah berada di bawah pimpinan Pasal 77 nyelenggaraan ketentraman dan Kepala Daerah yang bersangkutan. kantor. penetapan pensiun. dengan ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai daerah sebagaimana dimaksud pada ayat Keputusan Menteri atas permintaan dengan pedoman yang ditetapkan (1) dipimpin oleh kepala badan. Pemerintah. (2) Kecamatan sebagaimana dimaksud pada (2) Dalam Keputusan yang dimaksud ayat (1) dipimpin oleh camat yang dalam dalam ayat (1) pasal ini. mengkoordinasikan penerapan dan Pasal 54 kepegawaian dan karir pegawai di wilayahnya penegakan peraturan perundang(1) Pembinaan kepegawaian terhadap sesuai dengan peraturan perundang-undangan. atau rumah sakit Daerah sepanjang diperlukan. walikota untuk menangani sebagian urusan Daerah Tingkat II sepanjang pemberhentian. (1) Lembaga teknis daerah merupakan unsur sesudah ada pengesahan pejabat (5) Lurah bertanggung jawab kepada Camat. diatur dengan Peraturan (3) Lurah diangkat dari Pegawai Negeri Sipil kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah sesuai dengan pedoman yang yang memenuhi syarat oleh Walikota/Bupati Daerah. mengkoordinasikan pemeliharaan Daerah sesuai dengan peraturan prasarana dan fasilitas pelayanan . ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. gaji. tunjangan. atau rumah sakit umum (1) Pegawai Negeri dari sesuatu Pasal 68 daerah.mengenai kedudukan hukum Pegawai (2) Kepala Kelurahan disebut Lurah. otonomi daerah. diatur syarat Pasal 76 pelaksanaan tugasnya memperoleh dan hubungan kerja Pegawai Daerah Daerah mempunyai kewenangan untuk pelimpahan sebagian wewenang bupati atau yang bersangkutan dengan perangkat melakukan pengangkatan. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud (4) Lurah menerima pelimpahan sebagian Pasal 125 dalam ayat (1) pasal ini. Departemen dapat diperbantukan atau (1) Susunan organisasi perangkat Daerah (2) Badan. dan kewajiban. yang bersangkutan dengan perangkat yang ditetapkan Pemerintah. hak. mengkoordinasikan kegiatan pemmaupun Pegawai Daerah. (3) Kepala badan. pemberhentian. (6) Pembentukan Kelurahan ditetapkan dengan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan Peraturan Daerah. diatur syarat Daerah ditetapkan dengan Keputusan dari pegawai negeri sipil yang memenuhi dan hubungan kerja Pegawai Negeri Kepala Daerah sesuai dengan pedoman syarat atas usul Sekretaris Daerah. dengan peraturan perundang-undangan. tunjangan. yang berdasarkan peraturan perundang-undangan. pemindahan. Tingkat II yang bersangkutan. kantor atau rumah sakit umum dipekerjakan kepada Daerah. diperlukan. atau kepala rumah sakit umum (2) Dalam Keputusan yang dimaksud (2) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat daerah yang diangkat oleh kepala daerah dalam ayat (1) pasal ini. berlaku kewenangan pemerintahan dari Camat. standar. diperbantukan atau dipekerjakan penetapan pensiun. atas usul Camat. undangan. berdayaan masyarakat. kepala Kepala Daerah yang bersangkutan.

g. (6) Perangkat kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) bertanggung jawab kepada camat. pelaksanaan kegiatan pemerintahan kelurahan. dan ayat (6) ditetapkan dengan peraturan bupati atau walikota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. b. membina penyelenggaraan pemerintahan desa dan/atau kelurahan. umum. Kepala Instansi Vertikal berada dibawah kordinasi Kepala Wilayah yang bersangkutan. Pasal 85 (1) Dalam menjalankan tugasnya. (4) Camat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul sekretaris daerah kabupaten/kota dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. ayat (5). ayat (3). pemberdayaan masyarakat.perundang-undangan yang berlaku. f. (2) Pembinaan kepegawaian terhadap Pegawai Negeri yang diperbantukan atau dipekerjakan kepada Daerah di atur dengan peraturan perundangundangan. ayat (4). Pasal 127 (1) Kelurahan dibentuk di wilayah kecamatan dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. . (2) Kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati/Walikota. mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan. melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan desa atau kelurahan. (7) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). e. (2) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (5) Camat dalam menjalankan tugastugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dibantu oleh perangkat kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah kabupaten/kota. diatur dengan Peraturan Pemerintah. (3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) lurah mempunyai tugas: a.

(2) Pengendalian organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah untuk provinsi dan oleh Gubernur untuk kabupaten/kota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum.(4) (5) (6) (7) (8) (9) c. dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dengan Perda. dan ayat (7) ditetapkan dengan peraturan bupati atau walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas Lurah sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Perangkat kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) bertanggung jawab kepada Lurah. penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum. ayat (5). pelayanan masyarakat. ayat (4). dan e. Lurah bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Camat. ayat (3). ayat (6). . Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 128 (1) Susunan organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dalam Perda dengan memperhatikan faktorfaktor tertentu dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. d. Lurah dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibantu oleh perangkat kelurahan. Lurah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Camat dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundangundangan.

Pasal 129 (1) Pemerintah melaksanakan pembinaan manajemen pegawai negeri sipil daerah dalam satu kesatuan penyelenggaraan manajemen pegawai negeri sipil secara nasional. . pemindahan. pengadaan. dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada pemerintah daerah kabupaten/kota ditetapkan oleh Bupati/Walikota setelah berkonsultasi kepada Gubernur. gaji. tunjangan. pemindahan dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada pemerintah daerah provinsi ditetapkan oleh Gubernur. penetapan pensiun. pengangkatan. pemindahan. (2) Pengangkatan. kesejahteraan. (2) Perpindahan pegawai negeri sipil antar kabupaten/kota antar provinsi. pengembangan kompetensi. dan pengendalian jumlah. dan antar provinsi ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara. hak dan kewajiban kedudukan hukum. (2) Manajemen pegawai negeri sipil daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penetapan formasi. Pasal 131 (1) Perpindahan pegawai negeri sipil antar kabupaten/kota dalam satu provinsi ditetapkan oleh Gubernur setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara. pemberhentian.(3) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 130 (1) Pengangkatan.

pemberhentian. Pasal 134 (1) Gaji dan tunjangan pegawai negeri sipil daerah dibebankan pada APBD yang bersumber dari alokasi dasar dalam dana alokasi umum. mutasi jabatan. dan pemindahan pegawai negeri sipil daerah untuk penghitungan dan penyesuaian alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (3) Penghitungan alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah. Pasal 135 (1) Pembinaan dan pengawasan manajemen pegawai negeri sipil daerah . pemberhentian. Pasal 132 Penetapan formasi pegawai negeri sipil daerah provinsi/ kabupaten/kota setiap tahun anggaran dilaksanakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara atas usul Gubernur. Pasal 133 Pengembangan karir pegawai negeri sipil daerah mempertimbangkan integritas dan moralitas. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara.(3) Perpindahan pegawai negeri sipil provinsi/kabupaten/kota ke departemen/lembaga pemerintah non departemen atau sebaliknya. (4) Pemerintah melakukan pemutakhiran data pengangkatan. dan kompetensi. (2) Penghitungan dan penyesuaian besaran alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akibat pengangkatan. pangkat. pendidikan dan pelatihan. dan pemindahan pegawai negeri sipil daerah dilaksanakan setiap tahun. mutasi antar daerah.

penyelenggaraan otonomi daerah materi pembuatan suatu peraturan Daerah Kepala Daerah tidak boleh bertentangan provinsi/ kabupaten/kota dan tugas dengan kepentingan umum dan Pasal 70 pembantuan. dan g. dalam Peraturan Daerah yang (2) Keputusan. 22 Tahun 1999 dan UU No. ayat (1). meliputi: kekuatan hukum dan mengikat setelah a. kesesuaian antara jenis dan materi memerlukan pengesahan mulai lain yang berlaku. . Daerah. dapat dilaksanakan. Kepala Daerah muatan. kejelasan rumusan. peraturan perundang-undangan atau Pasal 71 (4) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat Peraturan Daerah yang lebih tinggi (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan (1) dilarang bertentangan dengan tingkatannya. berlaku setelah diundangkan dalam pidana kurungan paling lama enam bulan lembaran daerah. seluruhnya atau perundang-undangan yang lebih tinggi. kelembagaan atau organ pembentuk yang yang bersangkutan. penyelenggaraan Otonomi Daerah dan DPRD. kecuali jika ditentukan lain dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang (2) Peraturan Daerah mempunyai peraturan perundang-undangan. tanggal yang ditentukan dalam Peraturan Daerah yang bersangkutan. Peraturan Daerah.32 dan Peraturan Kepala Daerah dengan persetujuan Dewan Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah (1) Perda ditetapkan oleh kepala daerah Tahun 2004 disebutkan bahwa Perda dibentuk Kepala Daerah Perwakilan Rakyat Daerah menetapkan atas persetujuan DPRD dalam rangka setelah mendapat persetujuan bersama dalam rangka penyelenggaraan Otonomi . berlaku pada tanggal yang ditentukan menetapkan keputusan Kepala Daerah. dan dalam UU No.dikoordinasikan pada tingkat nasional oleh Menteri Dalam Negeri dan pada tingkat daerah oleh Gubernur.000. kejelasan tujuan. Peraturan Daerah (1) merupakan penjabaran lebih lanjut tingkatannya. (1) Untuk melaksanakan Peraturan Daerah dan tepat. tentang pembebanan biaya paksaan kepentingan umum dan/atau peraturan (3) Peraturan Daerah tidak boleh mengatur penegakan hukum. (3) Peraturan Daerah yang tidak atas kuasa peraturan perundang-undangan c. pengesahan mulai berlaku pada peraturan perundang-undangan yang lebih tanggal pengundangannya atau pada tinggi. kedayagunaan dan kehasilgunaan. 17 Peraturan Daerah Pasal 38 Pasal 69 Pasal 136 • Dalam UU No.000. d. peraturan daerah. lain dan peraturan perundang-undangan yang dari peraturan perundang-undangan yang (2) Peraturan Daerah tidak boleh mengatur lebih tinggi. Pasal 40 atau denda sebanyak-banyaknya (1) Peraturan Daerah diundangkan Rp5. Daerah. norma.00 (lima juta rupiah) dengan Pasal 137 dengan menempatkannya dalam atau tidak merampas barang tertentu untuk Perda dibentuk berdasarkan pada asas Lembaran Daerah yang bersangkutan. (2) Peraturan Daerah dapat memuat ancaman (1). tidak boleh bertentangan dengan f. keterbukaan. peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan (3) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat Peraturan Daerah yang lebih tinggi dengan kepentingan umum. (5) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat rumah tangga Daerah tingkat bawahnya.32 Tahun 2004 Pasal 39 penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang(2) Perda dibentuk dalam rangka disebutkan secara rinci mengenai asas dan (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan undangan yang lebih tinggi. sebagaimana dimaksud pada e. dan (4) Peraturan Daerah yang memerlukan kepentingan umum. bersangkutan. lebih tinggi dengan memperhatikan ciri sesuatu hal yang telah diatur dalam khas masing-masing daerah. diundangkan dalam Lembaran Daerah Pasal 72 b. sesuatu hal yang termasuk urusan sebagian kepada pelanggar. (2) Standar. dan prosedur pembinaan dan pengawasan manajemen pegawai negeri sipil daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

keselarasan. sesudah ada pengesahan pejabat yang Pasal 139 berwenang. Pasal 42 umum atau peraturan perundang. berakhir. berlaku bersangkutan dengan menyebutkan (2) Apabila dalam satu masa sidang. kekeluargaan. Pasal 41 ayat (1). sedangkan rancangan Perda pelanggaran atas ketentuan-ketentuan Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala yang disampaikan Gubernur atau Peraturan Daerah. Daerah. (3) Selambat-lambatnya satu minggu setelah menyampaikan rancangan Perda mengenai keputusan pembatalan Peraturan Daerah materi yang sama maka yang dibahas Pasal 43 dan Keputusan Kepala Daerah. dalam ayat (1) pasal ini. (1) Peraturan Daerah Tingkat I dan mengikat setelah diundangkan dalam f. keputusan pembatalan Peraturan Daerah yang berasal dari Gubernur atau (2) Dengan Peraturan Daerah dapat dan Keputusan Kepala Daerah. pembahasan.(2) Persiapan pembentukan. Daerah dan Keputusan Kepala Daerah penyiapan atau pembahasan rancangan yang bertentangan dengan kepentingan Perda. Gubernur atau Bupati/Walikota berwenang.(4) Daerah yang tidak dapat menerima (3) Tata cara mempersiapkan rancangan Perda undangan yang berlaku. g. atau Bupati/Walikota. Pasal 114 (1) Masyarakat berhak memberikan masukan (3) Tindak pidana yang dimaksud dalam (1) Pemerintah dapat membatalkan Peraturan secara lisan atau tertulis dalam rangka ayat (1) pasal ini adalah pelanggaran. . c. kebangsaan. kecuali perundang-undangan. dilakukan oleh alatDaerah tersebut dibatalkan Bupati/Walikota digunakan sebagai bahan alat penyidik dan penuntut sesuai pelaksanaannya. bhineka tunggal ika. keserasian. adalah rancangan Perda yang disampaikan (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap sebagaimana dimaksud pada ayat (2). keadilan. (2) Ketentuan. (1) Rancangan Perda dapat berasal dari DPRD. Peraturan Daerah Tingkat II dapat Lembaran Daerah. dengan peraturan perundang. Bupati/Walikota diatur dengan Peraturan Presiden. bulan atau denda sebanyak-banyaknya pelanggaran atas ketentuan Peraturan i. ditentukan untuk pengesahannya dengan menempatkannya dalam Lembaran b. (2) Keputusan pembatalan Peraturan Daerah seluruhnya atau sebagian kepada dan Keputusan Kepala Daerah.rupiah) Daerah dilakukan oleh pejabat penyidik dan dan/atau dengan atau tidak dengan merampas penuntut sesuai dengan peraturan j. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). keseimbangan. dalam ayat (1) pasal ini. kepada peraturan perundang-undangan. kemanusiaan. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud diberitahukan kepada Daerah yang Gubernur. ketertiban dan kepastian hukum. kenusantaraan. dan (1) Peraturan Daerah dapat memuat undangan yang lebih tinggi dan/atau pengesahan rancangan Perda berpedoman ketentuan tentang pembebanan biaya peraturan perundang-undangan lainnya.50. Perda dapat memuat asas lain sesuai (2) Peraturan Daerah yang dimaksud melakukan penyidikan terhadap pelanggaran dengan substansi Perda yang bersangkutan. jika ditentukan lain dalam peraturan (2) Dengan Peraturan Daerah dapat juga (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat perundang-undangan. berlaku atas ketentuan Peraturan Daerah. paksaan penegakan hukum. DPRD dan sesudah ada pengesahan pejabat yang alasan-alasannya. dan barang tertentu untuk Negara. Pasal 140 pelanggar. ditunjuk Pegawai-pegawai Daerah yang diberi tugas untuk melakukan dapat mengajukan keberatan kepada sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kesamaan kedudukan dalam hukum kurungan selama-lamanya 6 (enam) (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap dan pemerintahan.(5) Peraturan Daerah yang memerlukan pengesahan tidak boleh diundangkan Pasal 73 Pasal 138 sebelum pengesahan itu diperoleh (1) Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala (1) Materi muatan Perda mengandung asas: atau sebelum jangka waktu yang Daerah yang bersifat mengatur diundangkan a. ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk (1).000. memuat ketentuan ancaman pidana Pasal 74 h.-(Limapuluh ribu. mempunyai kekuatan hukum dan e. pengayoman. untuk dipersandingkan. sebagaimana dimaksud pada d. oleh DPRD. Rp.

pejabat yang berwenang tidak mengambil sesuatu keputusan. dapat dijalankan sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. dilaksanakan oleh sekretariat daerah. atau apabila setelah 3 (tiga) bulan sejak diterimanya Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah tersebut. (1) Rancangan Perda disampaikan oleh anggota.\ mempersiapkan rancangan Perda (2) Peraturan Daerah ditandatangani oleh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur Kepala Daerah dan ditandatangani dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. atau alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani Pasal 44 bidang legislasi. Pasal 144 (1) Rancangan Perda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Gubernur atau Bupati/Walikota disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada Gubernur atau Bupati/Walikota untuk ditetapkan sebagai Perda. oleh pejabat yang berwenang dapat diperpanjang 3 (tiga) bulan lagi. atau Bupati/Walikota rangka tugas pembantuan. (2) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda edspaling banyak Rp50. gabungan komisi. Pasal 68 Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditentukan bahwa Peraturar. sesuai dengan yang diatur dalam peraturan perundangan lainnya. (2) Penyampaian rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. Daerah. dengan memberitahukannya kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan sebelum jangka waktu yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berakhir. (2) Jangka waktu 3 (tiga) bulan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar sesuai dengan peraturan perundangan. Kepala Daerah untuk melaksanakan (2) Penyebarluasan rancangan Perda yang Peraturan Daerah atau urusan-urusan dalam berasal dari Gubernur. baru berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang.penyidikan terhadap pelanggaran atas Mahkamah Agung setelah mengajukannya Pasal 141 ketentuan-ketentuan Peraturan kepada Pemerintah.000.00 (lima puluh juta rupiah). Pasal 142 (1) Penyebarluasan rancangan Perda yang Pasal 45 berasal dari DPRD dilaksanakan oleh Kepala Daerah dapat menetapkan Keputusan sekretariat DPRD. (1) Bentuk Peraturan Daerah ditentukan (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara oleh Menteri Dalam Negeri. Daerah dan Keputusan Kepala Daerah mengenai hal-hal tertentu. (3) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud . serta oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.000. (3) Perda dapat memuat ancaman pidana atau denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2). komisi. Pasal 69 (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang memerlukan pengesahan. (3) Penolakan pengesahan Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Pasal 143 (1) Perda dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum.

(4) Terhadap penolakan pengesahan yang dimaksud dalam ayat (3) pasal ini. “Perda ini dinyatakan sah. (4) Dalam hal rancangan Perda tidak ditetapkan Gubernur atau Bupati/Walikota dalam waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) rancangan Perda tersebut sah menjadi Perda dan wajib diundangkan dengan memuatnya dalam lembaran daerah. (3) Pembatalan Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini. (5) Dalam hal sahnya rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (4). (2) Apabila Gubernur Kepala Daerah tidak menjalankan haknya untuk menangguhkan atau membatalkan Peraturan Daerah Tingkat II dan atau Keputusan Kepala Daerah Tingkat II sesuai dengan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini.Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah Tingkat atasnya. kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan Perda dan selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut Perda dimaksud. sepanjang masih dapat dibatalkan. oleh pejabat yang berwenang diberitahukan kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan disertai alasan-alasannya. (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum. disertai alasan- pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan tersebut disetujui bersama. kepala daerah dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah . Daerah yang bersangkutan dalam waktu 1 (satu) bulan terhitung mulai saat pemberitahuan penolakan pengesahan itu diterima. mengakibatkan batalnya semua akibat dari Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud. (4) Keputusan penangguhan atau pembatalan yang dimaksud dalam ayatayat (1) dan (2) pasal ini. (2) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh Pemerintah. dapat mengajukan keberatan kepada pejabat setingkat lebih atas dari pejabat yang menolak.” dengan mencantumkan tanggal sahnya. (5) Apabila provinsi/kabupaten/kota tidak dapat menerima keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. rumusan kalimat pengesahannya berbunyi. Pasal 145 (1) Perda disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan. karena bertentangan dengan kepentingan umum. maka penangguhannya dan atau pembatalannya dapat dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. (4) Paling lama 7 (tujuh) hari setelah keputusan pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 70 (6) Kalimat pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Perda sebelum pengundangan naskah Perda ke dalam lembaran daerah. peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah tingkat atasnya ditangguhkan berlakunya atau dibatalkan oleh pejabat yang berwenang. (3) Keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(2) Peraturan Bersama yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. Pasal 146 (1) Untuk melaksanakan Perda dan atas kuasa peraturan perundang-undangan. Agung. kepala daerah menetapkan peraturan kepala daerah dan atau keputusan kepala daerah. tidak boleh melebihi 6 (enam) bulan dan sojak saat penangguhannya. Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang bersangkutan kehilangan kakuatan berlakunya. dilarang bertentangan dengan kepentingan umum. Pasal 147 (1) Perda diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah diundangkan dalam Berita Daerah. (7) Keputusan mengenai pembatalan yang dimaksud dalam ayat-ayat (4) dan (6) pasal ini. (2) Peraturan kepala daerah dan atau keputusan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Menteri Dalam Negeri menetapkan Peraturan untuk melancarkan pelaksanaan kerjasama antar Pemerintah Daerah. (5) Lamanya penangguhan yang dinyatakan dalam Keputusan yang dimaksud dalam ayat (4) pasal ini. (6) Apabila keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikabulkan sebagian atau seluruhnya. Pasal 65 (1) Beberapa Pemerintah Daerah dapat menetapkan Peraturan Bersama untuk mengatur kepentingan Daerahnya secara bersama-sama. demikian pula mengenai perubahan dan pencabutannya. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (3) Dalam hal tidak tercapai kata sepakat mengenai perubahan dan atau pencabutan yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. (7) Apabila Pemerintah tidak mengeluarkan Peraturan Presiden untuk membatalkan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Perda.alasannya diberitahukan kepada Kepala Daerah yang bersangkutan dalam jangka waktu 2 (dua) minggu sesudah tanggal keputusan itu. putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum. Perda dimaksud dinyatakan berlaku. diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan atau Lembaran Daerah yang bersangkutan. (2) Pengundangan Perda dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah dalam Berita Daerah dilakukan oleh Sekretaris Daerah. (3) Pemerintah daerah wajib menyebarluaskan Perda yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah yang telah diundangkan dalam Berita Daerah. maka Peraturan Daerah dan atau Keputusan-Kepala Daerah itu memperolah kembali kekuatan berlakunya. maka pejabat yang berwenang mengambil keputusan. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. . (6) Jika dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah pcnangguhan itu tidak disusul dengan keputusan pembatalannya.

tugas. dan arah pembangunan daerah yang mengacu . wewenang. hak. (2) Pembentukan dan susunan organisasi Satuan wewenang Polisi Pamong Praja yang (2) Susunan organisasi. sesuai dengan ketentuan yang satuan Polisi Pamong Praja yang ditetapkan oleh Pemerintah. (2) Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun oleh pemerintahan daerah provinsi. Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 149 dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. hak dan sebagai perangkat Pemerintah Daerah. Rencana pembangunan jangka panjang daerah disingkat dengan RPJP daerah untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun yang memuat visi. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Dengan Perda dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda.32 Tahun 2004 disebutkan (1) Untuk membantu Kepala Wilayah (1) Dalam rangka menyelenggarakan (1) Untuk membantu kepala daerah dalam bahwa anggota dari satua Polisi Pamong dalam menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban umum serta menegakkan Perda dan penyelenggaraan Praja dapat diangkat sebagai penyidik pemerintahan umum diadakan untuk menegakkan Peraturan Daerah ketertiban umum dan ketentraman masyarakat pegawai negeri sipil. (3) Susunan organisasi dan formasi Daerah. satuan Polisi Pamong Praja. misi. dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja. Polisi Pamong Praja sebagaimana dimaksud dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. formasi. kedudukan. tugas. 19 Perencanaan Pembangunan Daerah Pasal 150 (1) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah disusun perencanaan pembangunan daerah sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional. (1) Anggota Satuan Polisi Pamong Praja dapat ditetapkan oleh Menteri Dalam diangkat sebagai penyidik pegawai negeri sipil Negeri. (2) Kedudukan. disusun secara berjangka meliputi: a. (3) Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut umum sesuai dengan peraturan perundangundangan. kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya yang dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. dan kewajiban Polisi pada ayat (1) berpedoman pada Peraturan diatur dengan Peraturan Pemerintah.18 Polisi Pamong Praja Pasal 86 Pasal 120 Pasal 148 • Dalam UU No.

dengan mengacu kepada rencana kerja Pemerintah. e. rencana kerja dan pendanaannya. (2) Renstra-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dirumuskan dalam bentuk rencana kerja satuan kerja perangkat . berpedoman pada RPJM Daerah dan bersifat indikatif. tujuan. d. lintas satuan kerja perangkat daerah. dan program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. misi. program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya. RPJM daerah sebagaimana dimaksud pada huruf b memuat arah kebijakan keuangan daerah. strategi. misi. kebijakan umum. merupakan penjabaran dari RPJM daerah untuk jangka waktu 1 (satu) tahun.kepada RPJP nasional. kebijakan. b. strategi pembangunan daerah. dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP daerah dengan memperhatikan RPJM nasional. c. Pasal 151 (1) Satuan kerja perangkat daerah menyusun rencana stratregis yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD memuat visi. Rencana kerja pembangunan daerah. Rencana pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya disebut RPJM daerah untuk jangka waktu 5 (lima) tahun merupakan penjabaran dari visi. yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. selanjutnya disebut RKPD. RPJP daerah dan RJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a dan b ditetapkan dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. dan program satuan kerja perangkat daerah. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. prioritas pembangunan daerah.

dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. pengendalian. program. informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah. g. kependudukan. c. pelaksanaan. h. Pasal 152 (1) Perencanaan pembangunanan daerah didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Pasal 153 Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152 disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. pemanfaatan data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikelola dalam sistem informasi daerah yang terintegrasi secara nasional. untuk tercapainya daya guna dan hasil guna. dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah yang berpedoman pada perundangundangan. keuangan daerah. f.daerah yang memuat kebijakan. d. dan pengawasan. produk hukum daerah. dan PNS daerah. tata cara penyusunan. potensi sumber daya daerah. informasi dasar kewilayahan. penganggaran. . dan i. Pasal 154 Tahapan. kepala daerah. (2) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. (3) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah. DPRD. organisasi dan tata laksana pemerintahan daerah. b. e. perangkat daerah. penyelenggaraan pemerintahan daerah.

3.22 Tahun 1999 dan UU No. diatur lebih b. dan Sumber pendapatan Daerah adalah : Sumber pendapatan Daerah terdiri atas: Sumber pendapatan daerah terdiri atas: mengenai sumber pendapatan daerah dalam Pembiayaan Daerah a. dana perimbangan. dimaksud pada ayat (1). pengelolaan keuangan daerah. yaitu: 2004 ditambahkan bahwa sumber pendapatan 1. pertanggungjawaban. surat bernilai uang dan atau barang (2) Dalam melaksanakan kekuasaan sebagaimana untuk kepentingan Daerah. 1. Pendapatan asli Daerah sendiri. Negara atau Bank Pemerintah tertentu untuk melaksanakan pekerjaan Pasal 156 mengenai penerimaan. Pendapatan berasal dari pemberian c. menguji. serta pengawasan keuangan daerah kepada para pejabat perangkat daerah. (3) Pelimpahan sebagian atau seluruh kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didasarkan pada prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan. penatausahaan. dan dan DPRD dibiayai dari dan atas beban atas beban anggaran pendapatan dan belanja pengawasan keuangan Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. pengelolaan kekayaan Daerah yang 3. hasil retribusi daerah. daerah. dan terperinci mengenai Dana Alokasi Umum dan . Menteri pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat Keuangan dapat menugaskan Kas (2). lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah. lain-lain hasil usaha Daerah yang dipisahkan. urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud (3) Selama belum ada Kas Daerah atau pada ayat (1) dilakukan secara terpisah dari Bank Pembangunan Daerah.32 tahun 2004. hasil pajak Daerah . didanai dari dan atas beban anggaran (2) Uang Daerah disimpan pada Kas pendapatan dan belanja negara. pendapatan asli Daerah.32 Tahun 2004) sah. dan UU No. 4. hasil retribusi Daerah. dan yang menerima/mengeluarkan uang. dana perimbangan. lain-lain PAD yang sah. b. hasil retribusi Daerah . Daerah atau Bank Pembangunan (3) Administrasi pendanaan penyelenggaraan Daerah. b. (1) Kepala daerah adalah pemegang kekuasaan pembayaran atau penyerahan uang. dan hasil 2. dan dipisahkan.32 Tahun terdiri dari : 1. penyimpanan. hasil pajak daerah. pelaporan dan pertanggungjawaban. kepala daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya yang berupa perencanaan. yaitu : a. hasil perusahaan Daerah . Pasal 55 Pasal 79 Pasal 157 • Terdapat perbedaan dalam pengaturan Belanja. hasil pajak Daerah. berdasarkan Peraturan Daerah dan (2) Penyelenggaraan tugas Pemerintah di (2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang peraturan perundang-undangan yang Daerah dibiayai dari dan atas beban menjadi kewenangan Pemerintah di daerah lebih tinggi. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. • Dalam UU No. 3. pelaksanaan. 2. disebut PAD. 21 Pendapatan. hasil perusahaan milik Daerah. yang a.Pasal 155 20 Keuangan Daerah Pasal 62 Pasal 78 (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang (1) Kepala Daerah menyelenggarakan (1) Penyelenggaraan tugas Pemerintah Daerah menjadi kewenangan daerah didanai dari dan pengurusan.. atas administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan permintaan Pemerintah Daerah. pinjaman daerah (UU N0 22 Tahun 1999. pendapatan asli daerah yang selanjutnya UU No. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang untuk pinjaman daerah tidak disebutkan dalam 4. daerah berasal dari dana perimbangan dan 2.

Pasal sesuai dengan pedoman yang ditetapkan 25. undangan. sesuai dengan ketentuan iuran hak pengusahaan hutan (IHPH). Dana Bagi Hasil. perkebunan. peminjaman dari sumber dalam negeri pertambangan serta kehutanan. sebagaimana dan sumber daya alam. Dana Alokasi Khusus. Dana Alokasi Umum. e. dana alokasi umum. (3) Peminjaman dan sumber dana pinjaman (3) Dana Bagi Hasil yang bersumber dari sumber yang berasal dari luar negeri. penerimaan dari sumber daya alam. dan c. penghasil. Pasal 157 huruf a angka 3 dan lain-lain PAD Perimbangan keuangan antara Pemerintah (2) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal dan Daerah diatur dengan Undang-undang. Lain-lain pendapatan yang sah.Pasal 80 (1) retribusi daerah ditetapkan dengan Undangundangan . dan perkebunan serta Bea berpedoman pada peraturan perundangPasal 58 Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. dana alokasi khusus. . lain-lain pendapatan daerah yang sah. dan Pasal 29 wajib pajak orang oleh Pemerintah. dan Bangunan sektor perdesaan. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor (1) Pemerintah Daerah dapat melakukan perdesaan.Pemerintah yang terdiri dari : d. (1) Dana perimbangan. ayat (2). daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dalam Pasal 159 huruf a bersumber dari pajak (4) Pengembalian atau pembebasan pajak (4) Ketentuan lebih lanjut. terdiri atas: lebih lanjut dengan Perda. diterima oleh Daerah menurut cara yang diatur dalam penghasil dan Daerah lainnya untuk Pasal 160 Undang-undang dan tidak boleh berlaku pemerataan sesuai dengan peraturan (1) Dana Bagi Hasil sebagaimana dimaksud surut. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam kehutanan dan penerimaan dari sumber b. sebagaimana Undang yang pelaksanaannya di daerah diatur c. Dana Alokasi Khusus 1. dari: Pasal 81 a. dan Bangunan sektor pertambangan serta a. dan yang telah ditetapkan undang-undang. dengan persetujuan DPRD. dan ayat (2) Dana Bagi Hasil yang bersumber dari pajak dapat dilakukan berdasarkan Peraturan (3). dan dipisahkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 c. pinjaman Daerah. Daerah dan atau retribusi Daerah hanya dimaksud pada ayat (1). Bea Perolehan pungutan atau dengan sebutan lain di luar Dengan Undang-undang sesuatu pajak Hak atas Tanah dan Bangunan. (3) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang b. sumbangan-sumbangan lain. ditetapkan dengan Undang-undang. perkotaan. perundang-undangan. Negara dapat diserahkan kepada Daerah. ayat (1) huruf a. perkotaan. dan ayat (2) pasal ini berlaku sesudah ada daya alam. bagian Daerah dari penerimaan Pajak (2) Pemerintahan daerah dilarang melakukan Pasal 56 Bumi dan Bangunan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri Daerah. (1) beras al dari: harus mendapatkan persetujuan a. 2. perkebunan. yang Pasal 158 diatur dengan peraturan perundang. sebagaimana dimaksud pada c. pertambangan (2) Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan serta kehutanan. 157 huruf a angka 4 ditetapkan dengan Perda perkotaan. Bea Perolehan Atas Hak Tanah dan membiayai kegiatan pemerintahan Bangunan (BPHTB) sektor perdesaan. pribadi dalam negeri. pengesahan pejabat yang berwenang. sumbangan dari Pemerintah. kepada Pemerintah dan dilaksanakan c. (1) Dengan Undang-undang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf ketentuan pokok tentang pajak dan a. Penerimaan kehutanan yang berasal dari Pemerintah. Dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam (2) Dengan Peraturan Daerah ditetapkan (3) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi Pasal 157 huruf b terdiri atas: pungutan pajak dan retribusi Daerah. a. dimaksud dalam Pasal 79. dan/atau dari sumber luar negeri untuk b. lain-lain pendapatan Daerah yang sah. diterima langsung oleh Daerah Pasal 159 retribusi Daerah. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21.

(6) Pelaksanaan ketentuan pada ayat (1). e. ayat (4). wilayah daerah yang bersangkutan. perikanan dan penerimaan pungutan hasil perikanan. Penerimaan perikanan yang diterima ditetapkan dengan Peraturan Daerah secara nasional yang dihasilkan dari sesuai dengan peraturan perundangpenerimaan pungutan pengusahaan undangan. Penerimaan pertambangan gas alam yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan.peraturan perundang-undangan. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri berdasarkan pertimbangan dari menteri teknis terkait. provisi sumber daya hutan (PSDH) dan (4) Tata cara peminjaman. (4) Daerah penghasil sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (3). sebagaimana dana reboisasi yang dihasilkan dari dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). ayat (2). (2) DAU untuk suatu daerah ditetapkan berdasarkan kriteria tertentu yang menekankan pada aspek pemerataan dan keadilan yang . ditetapkan oleh Pemerintah. yang dihasilkan dari wilayah daerah yang (2) Penentuan tarif dan tata cara bersangkutan. d. Penerimaan pertambangan minyak yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. b. Penerimaan pertambangan umum yang berasal dari penerimaan iuran tetap Pasal 82 ( landrent ) dan penerimaan iuran (1) Pajak dan retribusi Daerah ditetapkan eksplorasi dan iuran eksploitasi ( royalty ) dengan Undang-undang. Pasal 161 (1) DAU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf b dialokasikan berdasarkan persentase tertentu dari pendapatan dalam negeri neto yang ditetapkan dalam APBN. iuran tetap dan iuran produksi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. f. ayat (3). dan ayat (5) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. pemungutan pajak dan retribusi Daerah c. Penerimaan pertambangan panas bumi yang berasal dari penerimaan setoran bagian Pemerintah. (5) Dasar penghitungan bagian daerah dari daerah penghasil sumber daya alam ditetapkan oleh Menteri Teknis terkait setelah memperoleh pertimbangan Menteri Dalam Negeri.

(2) Penyusunan kegiatan khusus yang ditentukan oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dikoordinasikan dengan Gubernur. dan evaluasi atas dana bagi hasil pajak. mendanai kegiatan khusus yang diusulkan daerah tertentu. (2) Hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) . Mendanai kegiatan khusus yang ditentukan Pemmerintah atas dasar prioritas nasional. yang meliputi hibah. dan DAK diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri. Pasal 163 (1) Pedoman penggunaan. supervisi. monitoring. (2) Pengaturan lebih lanjut mengenai pembagian dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf b ditetapkan dalam Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.selaras dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang formula dan penghitungan DAU-nya ditetapkan sesuai Undang-Undang. dan lain-lain pendapatan yang ditetapkan Pemerintah. DAU. b. (3) Penyusunan kegiatan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan setelah dikoordinasikan oleh daerah yang bersangkutan. dana bagi hasil sumber daya alam. Pasal 162 (1) Dana Alokasi Khusus (DAK) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf c dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu dalam rangka pendanaan pelaksanaan desentralisasi untuk: a. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai DAK diatur dengan Peraturan Pemerintah. dana darurat. Pasal 164 (1) Lain-lain pendapatan daerah yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 huruf c merupakan seluruh pendapatan daerah selain PAD dan dana perimbangan.

dan/atau jasa yang berasal dari Pemerintah. dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri. yang tidak mampu diatasi sendiri. Pasal 165 (1) Keadaan yang dapat digolongkan sebagai peristiwa tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 164 ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Pasal 167 (1) Belanja daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22. dan pengalokasian dana darurat di atur dalam Peraturan Pemerintah. (2) Besarnya alokasi dana darurat ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan memperhatikan pertimbangan Menteri Dalam Negeri dan Menteri teknis terkait. Pasal 166 (1) Pemerintah dapat mengalokasikan dana darurat kepada daerah yang dinyatakan mengalami krisis keuangan daerah. serta mengembangkan sistem jaminan sosial. (2) Perlindungan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar. . pendidikan. evaluasi oleh Pemerintah. (3) Pendapatan dana darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bantuan Pemerintah dari APBN kepada pemerintah daerah untuk mendanai keperluan mendesak yang diakibatkan peristiwa tertentu yang tidak dapat ditanggulangi APBD. (2) Tata cara pengajuan permohonan.merupakan bantuan berupa uang. barang. fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan. (3) Tata cara pengelolaan dan pertanggungjawaban penggunaan dana darurat diatur dalam Peraturan Pemerintah. sehingga mengancam keberadaannya sebagai daerah otonom. masyarakat.

lembaga keuangan bank. Pasal 170 (1) Pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang berasal dari penerusan pinjaman hutang luar negeri dari Menteri Keuangan atas nama Pemerintah setelah memperoleh pertimbangan Menteri Dalam Negeri. dan masyarakat. tolok ukur kinerja. Pasal 171 (1) Ketentuan mengenai pinjaman daerah dan obligasi daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah. persyaratan bagi pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman. standar harga. (2) Belanja pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (2) Perjanjian penerusan pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan antara Menteri Keuangan dan kepala daerah. Pasal 168 (1) Belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari Pemerintah. (2) Pemerintah daerah dengan persetujuan DPRD dapat menerbitkan obligasi daerah untuk membiayai investasi yang menghasilkan penerimaan daerah. (2) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya mengatur tentang: a. b.(3) Belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempertimbangkan analisis standar belanja. lembaga keuangan bukan bank. Pasal 169 (1) Untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah. pemerintah daerah lain. penganggaran kewajiban pinjaman daerah .

penjualan dan pembelian obligasi. (2) Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditambah. . pengenaaan sanksi dalam hal pemerintah daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjaman kepada Pemerintah. e. Pasal 173 (1) Pemerintah daerah dapat melakukan penyertaan modal pada suatu Badan Usaha Milik Pemerintah dan/atau milik swasta. (3) Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan/atau dapat dialihkan kepada badan usaha milik daerah. serta pengelolaan dan pertanggungjawabannya. (2) Pengaturan tentang dana cadangan daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. pengelolaan obligasi daerah yang mencakup pengendalian risiko. f. persyaratan penerbitan obligasi daerah. d. dijual kepada pihak lain. Pasal 172 (1) Pemerintah daerah dapat membentuk dana cadangan guna membiayai kebutuhan tertentu yang dananya tidak dapat disediakan dalam satu tahun anggaran. pemerintah daerah lain. tata cara pelaporan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman setiap semester dalam tahun anggaran berjalan.yang jatuh tempo dalam APBD. dikurangi. c. pelunasan dan penganggaran dalam APBD. lembaga perbankan. pembayaran bunga dan pokok obligasi. (3) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurangkurangnya mengatur pers yaratan pembentukan dana cadangan. serta lembaga keuangan bukan bank dan masyarakat.

1974 dan UU No. (3) Dalam hal APBD diperkirakan defisit. Pasal 175 (1) Menteri Dalam Negeri melakukan pengendalian defisit anggaran setiap daerah. dan hal Pemerintah. Pemerintah dapat melakukan penundaan atas penyaluran dana perimbangan.22 Surplus dan Defisit APBD - Pasal 174 • Hal ini merupakan materi baru yang tidak (1) Dalam hal APBD diperkirakan surplus. b. . hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. c. tersebut diatur dalam Peraturan Daerah tidak lagi dituangkan dalam Peraturan Pemerintah. 5 Tahun penggunaannya ditetapkan dalam Perda tentang APBD. diatur sebelumnya dalam UU No. Pemerintah daerah dalam meningkatkan dalam UU No. sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu. c.32 Tahun 2004 disebutkan Pemerintah memberi insentif fiskal dan perekonomian daerah dapat memberikan insentif bahwa insentif tidak hanya berupa insentif nonfiskal tertentu. transfer dari dana cadangan. pembayaran cicilan pokok utang yang jatuh tempo. pinjaman daerah. sebagaimana dimaksud pada dan/atau investor yang diatur dalam Perda dengan penjelasannya disebutkan insentif tersebut ayat (1). dapat didanai dari sumber pembiayaan daerah yang ditetapkan dalam Perda tentang APBD. (2) Pemerintah daerah wajib melaporkan posi-si surplus/defisit APBD kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan setiap semester dalam tahun anggaran berjalan. penyertaan modal (investasi daerah). b. (3) Dalam hal pemerintah daerah tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2). prasana. dan/atau kemudahan kepada masyarakat fiskal dan non fiskal tetapi dalam (2) Ketentuan. transfer ke rekening dana cadangan. berupa penyediaan sarana.32 tahun 2004 23 Pemberian Insentif dan Kemudahan Investasi • Materi tentang pemberian insentif dan Pasal 83 Pasal 176 kemudahan investasi ada perubahan bahwa (1) Untuk mendorong pemberdayaan Daerah. ditetapkan dengan Peraturan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. (4) Pembiayaan daerah sebagaimana di-maksud pada ayat (3) bersumber dari: a. (2) Surplus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan untuk: a. dan d.

menetapkan keputusan mengenai : dapat dijual. diserahkan haknya kepada pihak lain. a. sesuai dengan kemampuan keuangan dan (3) Dengan persetujuan Dewan Perwakilan kebutuhan daerah berdasarkan prinsip Rakyat Daerah Kepala Daerah dapat efisiensi. dan nilai ekonomis yang (4) Keputusan yang dimaksud dalam ayatdilakukan secara transparan sesuai dengan ayat (1). berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (3) Pelaksanaan pengadaan barang dilakukan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. dijadikan tanggungan atau dan/atau dipindahtangankan. dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. barang. dan/atau pembubarannya ditetapkan dilakukan berdasarkan azas ekonomi Daerah. (2) Dengan Undang-undang ditetapkan ketentuan pokok tentang Perusahaan Daerah. dan/atau dimusnahkan sesuai hanya dapat dilakukan dimuka umum. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. persetujuan penyelesaian sengketa daerah dihibahkan. dengan Perda yang berpedoman pada peraturan perusahaan. penghapusan tagihan Daerah secara damai (2) Penjualan dan penyerahan yang sebagian atau seluruhnya. dimaksud pada ayat (2) dilakukan c. berlaku peraturan perundang-undangan. b.Penghapusan tagihan daerah sebagian atau pihak lain. diserahkan haknya kepada digadaikan. tindakan hukum lain. Pasal 60 (1) Dengan Peraturan Daerah dapat diadakan usaha-usaha sebagai sumber pendapatan Daerah. efektivitas. kecuali dengan Keputusan (2) Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD seluruhnya digadaikan sesuai dengan ketentuan Kepala Daerah dengan persetujuan dapat menetapkan keputusan tentang: . dijadikan tanggungan. sesudah ada pengesahan Mendagri Pasal 178 (1) Barang milik Daerah yang digunakan untuk . tindakan hukum lain mengenai barang undangan. dan dengan ketentuan peraturan perundangkecuali apabila ditentukan lain dalam c. dibebani hak tanggungan.24 Pasal 59 BUMD Pasal 84 Pasal 177 (1) Pemerintah Daerah dapat mengadakan Daerah dapat memiliki Badan Usaha Milik Daerah Pemerintah daerah dapat memiliki BUMD yang Perusahaan Daerah yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan pembentukan. 32 tahun 2004 menghapuskan (1) Barang milik daerah yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umum tidak melayani kepentingan umum tidak dapat wewenang dari kepala daerah untuk untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijual. . undangan. (2) Barang milik daerah dapat dihapuskan dari . dan (3) pasal ini. Keputusan Kepala Daerah yang milik Daerah. mutu barang milik atau hak Daerah . mengenai berdasarkan kebutuhan daerah. persetujuan penyelesaian perkara (4) Pelaksanaan penghapusan sebagaimana perdata secara damai . b. atau digadaikan. penghapusan tagihan Daerah negeri sesuai dengan peraturan perundangsebagian atau seluruhnya . penggabungan.Persetujuan penyelesaian sengketa perdata peraturan perundang-undangan. (2).Tindakan hukum lain mengenai barang milik daftar inventaris barang daerah untuk dijual. usia pakai. perundang-undangan. perdata secara damai. dan transparansi menetapkan Keputusan tentang : dengan mengutamakan produk dalam a. pelepasan penyelenggaraan dan pembinaannya dan pembentukannya diatur dengan Peraturan kepemilikan. 25 Pasal 63 Pasal 85 Pengelolaan Barang Daerah (1) Barang milik Daerah yang dipergunakan • UU No.

kepala . Belanja Daerah pada permulaan tahun (5) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (3) Rencana kerja dan anggaran satuan kerja anggaran yang bersangkutan belum yang telah ditetapkan dengan Peraturan perangkat daerah sebagaimana dimaksud mendapat pengesahan dari pejabat Daerah disampaikan kepada Gubernur bagi pada ayat (2) disampaikan kepada pejabat yang berwenang dan belum Pemerintah Kabupaten/Kota dan kepada pengelola keuangan daerah sebagai bahan diundangkan. bersama DPRD berdasarkan kebijakan (7) Pengesahan atau penolakan Anggaran umum APBD. tiap tahun. plafon anggaran sebagai dasar penyusunan setelah tahun anggaran berakhir. rancangan Perda tentang setelah ditetapkan Anggaran Belanja Negara. kepala satuan kerja perangkat daerah perhitungan atas Anggaran Pendapatan (4) Pedoman tentang penyusunan.26 APBD Pasal 64 Pasal 86 Pasal 179 • Materi mengani Aggaran Pendapatan dan (1) Tahun anggaran Daerah adalah sama (1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan Belanja Daerah diatur lebih rinci dalam UU dengan tahun anggaran Negara. dimaksud pada ayat (2) dilakukan selambat(8) Dengan Peraturan Pemerintah diatur lambatnya 1 (satu) bulan sebelum tahun ketentuan-ketentuan tentang cara: anggaran dilaksanakan. (3) Dengan Peraturan Daerah. ditetapkan yang bersangkutan. menyusun rencana kerja dan anggaran dan Belanja Daerah tahun anggaran dan perhitungan Anggaran Pendapatan satuan kerja perangkat daerah dengan sebelumnya.32 Tahun 2004 seperti adanya (2) Dengan Peraturan Daerah. a. penyusunan Anggaran (4) Atas dasar persetujuan DPRD sebagaiPendapatan dan Belanja Daerah. ditetapkan Belanja Daerah ditetapkan dengan (1) Kepala daerah dalam penyusunan rancayang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Anggaran Pendapatan dan Belanja Peraturan Daerah selambat-lambatnya tiga ngan APBD menetapkan prioritas dan Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan Daerah. sepanjang perhitungan Anggaran Pendapatan dan bersama. tidak dikuasakan sendiri oleh Anggaran Belanja Daerah ditetapkan sesuai dengan (2) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud itu. dan Belanja Daerah ditetapkan dengan pendekatan berdasarkan prestasi kerja yang (4) Apabila Anggaran Pendapatan dan Peraturan Pemerintah. APBD tahun berikutnya. tiap tahun. selambat-lambatnya satu bulan setelah terhitung mulai 1 Januari sampai dengan tanggal 31 kewajiban Kepala daerah menyampaikan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Desember. (3) Perhitungan Anggaran Pendapatan dan rencana kerja dan anggaran satuan kerja selambat-lambatnya 6 (enam) bulan Belanja Daerah ditetapkan dengan perangkat daerah. pelaksanaan tata usaha dokumen-dokumen pendukungnya kepada (6) Anggaran Pendapatan dan Belanja keuangan Daerah dan penyusunan DPRD untuk memperoleh persetujuan Daerah serta perubahannya. perubahan. dilaksanakan sesudah ada peraturan perundang-undangan. Belanja Daerah. pejabat yang berwenang dapat (3) Pengambilan keputusan DPRD untuk medilakukan pos demi pos atau secara nyetujui rancangan Perda sebagaimana keseluruhan. serta prioritas dan plafon Pendapatan dan Belanja Daerah oleh anggaran. setelah ditetapkan Anggaran Peraturan Daerah selambat-lambatnya tiga (2) Berdasarkan prioritas dan plafon anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk bulan setelah berakhirnya tahun anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tahun anggaran tertentu. pertanggungjawaban. keuangannya. akan dicapai. dan pengawasan Pasal 181 (5) Pemerintah Daerah wajib berusaha keuangan Daerah serta tata cara (1) Kepala daerah mengajukan rancangan Perda mencukupi anggaran belanja rutin penyusunan Anggaran Pendapatan dan tentang APBD disertai penjelasan dan dengan pendapatan sendiri. bulan sebelum tahun anggaran berakhir. pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Pendapatan dan Belanja Negara untuk (2) Perubahan Anggaran Pendapatan dan Pasal 180 kepada DPRD berupa laporan keuangan tahun anggaran tertentu. mana dimaksud pada ayat (3). pada ayat (1) dibahas pemerintah daerah pengesahan pejabat yang berwenang. maka Pemerintah Daerah Presiden melalui Menteri Dalam Negeri penyusunan rancangan Perda tentang menggunakan anggaran tahun bagi Pemerintah Propinsi untuk diketahui. sebelumnya sebagai dasar pengurusan (6) Pedoman tentang pengurusan. ditetapkan dengan Peraturan Daerah daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran No.

(3) Pengambilan keputusan mengenai rancangan Perda tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh DPRD paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir. b. Pasal 184 (1) Kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum APBD. penyusunan permtungan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. (2) Pemerintah daerah mengajukan rancang-an Perda tentang perubahan APBD. Pasal 182 Tata cara penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah serta tata cara penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada peraturan perundangundangan. (9) Dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri diatur lebih lanjut cara melaksanakan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (8) pasal ini. keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi. c. pengurusan. disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD. daerah menyiapkan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD dan rancangan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah. dan antarjenis belanja. (2) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud . Pasal 183 (1) Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi: a. dan c.b. antarkegiatan. keadaan yang menyebabkan sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan dalam tahun anggaran berjalan. pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan Daerah.

laporan arus kas. dan Gubernur tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur . (4) Apabila Menteri Dalam Negeri menyata-kan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. dan catatan atas laporan keuangan. (3) Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi laporan realisasi APBD. yang dilampiri dengan laporan keuangan badan usaha milik daerah. Gubernur menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Gubernur. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud. (3) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan yang ditetapk an dengan Peraturan Pemerintah. Gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. (5) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Gubernur dan DPRD. neraca. Pasal 185 (1) Rancangan Perda provinsi tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Gubernur paling lambat 3 (tiga) hari disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi.

dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. Pasal 186 (1) Rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama 3 (tiga) hari disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi.tentang penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Gubernur. (3) Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Menteri Dalam Negeri membatalkan Perda dan Peraturan Gubernur dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. (2) Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda kabupaten/kota dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Gubernur . Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya hasil evaluasi. Bupati/Walikota menetapkan ran-cangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. (5) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota dan DPRD.

(4) Apabila dalam batas waktu 30 (tiga puluh) hari Menteri Dalam Negeri atau Gubernur tidak mengesahkan rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kepala daerah melaksanakan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBD tahun anggaran sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan yang disusun dalam rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD.membatalkan Perda dan Peraturan Bupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. Pasal 188 Proses penetapan rancangan Perda tentang . kepala daerah menetapkan rancangan peraturan kepala daerah dimaksud menjadi peraturan kepala daerah. (6) Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri. (2) Rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan Gubernur bagi kabupaten/kota. rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD beserta lampirannya disampaikan paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak DPRD tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan Perda tentang APBD. (3) Untuk memperoleh pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 187 (1) Apabila DPRD sampai batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 181 ayat (3) tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD.

(2) Untuk setiap pengeluaran atas beban APBD. dengan ketentuan untuk pajak daerah dan retribusi daerah dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Menteri Keuangan. dan tata ruang daerah menjadi Perda. (4) Kepala daerah. berlaku Pasal 185 dan Pasal 186. dan pejabat daerah . retribusi daerah. pimpinan DPRD. dan untuk tata ruang daerah dikoordinasikan dengan menteri yang membidangi urus an tata ruang. Pasal 189 Proses penetapan rancangan Perda yang berkaitan dengan pajak daerah. Pasal 190 Peraturan kepala daerah tentang Penjabaran APBD dan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD dijadikan dasar penetapan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah.Perubahan APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD menjadi Perda dan peraturan kepala daerah berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185. dan Pasal 187. Pasal 186. wakil kepala daerah. (3) Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada anggaran belanja daerah jika untuk pengeluaran tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam APBD. Pasal 192 (1) Semua penerimaan dan pengeluaran pemerintahan daerah dianggarkan dalam APBD dan dilakukan melalui rekening kas daerah yang dikelola oleh Bendahara Umum Daerah. diterbitkan surat keputusan otorisasi oleh kepala daerah atau surat keputusan lain yang berlaku sebagai surat keputusan otorisasi. Pasal 191 Dalam rangka evaluasi pengelolaan keuangan daerah dikembangkan sistem informasi keuangan daerah yang menjadi satu kesatuan dengan sistem informasi pemerintahan daerah.

sebagian atau seluruhnya.22 Tahun 1999 ditetapkan dengan Undang. Pasal 94 Pasal 203 Di Desa dibentuk Pemerintah Desa dan Badan (1) Kepala desa sebagaimana dimaksud dalam Perwakilan Desa. dan b. sebagaimana memenuhi persyaratan. pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan daerah diatur lebih lanjut dengan Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 194 Penyusunan. (2) Bunga deposito. bunga atas penempatan uang di bank. DPRD. Pasal 193 (1) Uang milik pemerintahan daerah yang sementara belum digunakan dapat didepositokan dan/atau diinvestasikan dalam investasi jangka pendek sepanjang tidak mengganggu likuiditas keuangan daerah. penghapusan tagihan daerah. penyelesaian masalah Perdata. jasa giro. jabatan kepala desa dimaksud pada ayat (1). (3) Kepala daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan peraturan tentang : a.lainnya. (3) Sekretaris desa sebagaimana dimaksud pada • UU No. dan/atau (1) Pemerintah desa terdiri atas kepala desa yang terdapat dalam UU No. ditetapkan dengan Peraturan Daerah. penghapusan. persetujuan Pemerintah Kabupaten dan dan perangkat desa lainnya. penduduk desa warga negara Republik Indonesia yang syarat selanjutnya dan tata cara Pasal 95 pemilihannya diatur dengan Perda yang . pelaksanaan. dihapus. dan/atau bunga atas investasi jangka pendek merupakan pendapatan daerah. mengenai masa jabatan Kepala Daerah dari usulnya atas prakarsa masyarakat dengan (2) Perangkat desa terdiri dari sekretaris desa sepuluh tahun menjadi enam tahun.32 tahun 2004 merubah ketentuan Pengaturan tentang Pemerintahan Desa (1) Desa dapat dibentuk. dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja daerah untuk tujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam APBD. 27 Pemerintahan Desa Pasal 88 Pasal 93 Pasal 202 • UU No. pelaporan.undang digabung dengan memperhatikan asaldan perangkat desa. yang merupakan Pemerintahan Pasal 202 ayat (1) dipilih langsung oleh dan dari Desa. penatausahaan.22 Tahun 1999 mengatur secara (2) Pembentukan. dan/atau ayat (2) diisi dari pegawai negeri sipil yang lebih rinci mengenai syarat dan tata cara penggabungan Desa.

G30S/PKI dan/atau “Demi Allah (Tuhan). kepala c. sehat jasmani dan rohani. bahwa saya e. masyarakat hukum adat beserta hak sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Undang-Undang Dasar 1945 serta i. tidak pernah terlibat langsung atau tidak desa mengucapkan sumpah/janji. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di Desa setempat. sejujurberpengetahuan yang sederajat. atau yang disebut dengan nama lain dan (2) Calon kepala desa yang memperoleh suara perangkat Desa. jujur. jujurnya. terbanyak dalam pemilihan kepala desa (2) Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tradisionalnya sepanjang masih hidup dan yang ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan diakui keberadaannya berlaku ketentuan hukum disahkan oleh Bupati. Bupati/Walikota paling lambat 30 (tiga b. menegakkan kehidupan demokrasi dan h. ditetapkan Desa dari calon yang memenuhi syarat. Indonesia”. saya kegiatan organisasi terlarang lainnya. berumur sekurang-kurangnya 25 tahun. Masa jabatan kepala desa adalah 6 (enam) tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk 1 (satu) kali Pasal 97 masa jabatan berikutnya. bersumpah/berjanji bahwa saya akan d. langsung dalam kegiatan yang (3) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud mengkhianati Pancasila dan Undangadalah sebagai berikut: Undang Dasar 1945. Pasal 206 l. k. setia dan taat kepada Pancasila dan puluh) hari setelah pemilihan. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Masa jabatan Kepala Desa paling lama sepuluh tahun atau dua kali masa jabatan terhitung sejak Pasal 204 tanggal ditetapkan. keputusan pengadilan yang mempunyai dan Negara Kesatuan Republik kekuatan hukum tetap. sebagai kepala desa. memenuhi syarat-syarat lain yang desa mencakup: sesuai dengan adat istiadat yang diatur (1) urusan pemerintahan yang sudah ada . adat setempat yang ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturan Pasal 96 Pemerintah. (3) Calon Kepala Desa yang terpilih dengan (3) Pemilihan kepala desa dalam kesatuan mendapatkan dukungan suara terbanyak. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa. tidak pernah dihukum penjara karena melaksanakan segala peraturan melakukan tindak pidana. perundang-undangan dengan selurusj. dan seadil-adilnya.(1) Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa berpedoman kepada Peraturan Pemerintah. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan dan m. daerah. akan selalu taat dalam mengamalkan dan f. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah memenuhi kewajiban saya selaku kepala Lanjutan Tingkat Pertama dan/atau desa dengan sebaik-baiknya. dan adil. nyata-nyata tidak terganggu dasar negara. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan lurusnya yang berlaku bagi desa. Undang-Undang Dasar 1945. berkelakuan baik. mempertahankan Pancasila sebagai g. dan bahwa saya akan jiwa/ingatannya. Yang dapat dipilih menjadi Kepala Desa adalah penduduk Desa warga negara Republik Indonesia Pasal 205 dengan syarat-syarat: (1) Kepala desa terpilih dilantik oleh a. (2) Sebelum memangku jabatannya.

Pasal 99 Kewenangan Desa mencakup : a. dan/atau Pemerintah Kabupaten. . kabupaten/kota. (2) Sebelum memangku jabatannya. dan/atau pemerintah kabupaten/kota akan selalu taat dalam mengamalkan kepada desa disertai dengan pembiayaan. Pasal 101 Tugas dan kewajiban Kepala Desa adalah : a. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Pasal 208 Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Tugas dan kewajiban kepala desa dalam memimpin konstitusi negara serta segala peraturan penyelenggaraan pemerintahan desa diatur lebih perundang-undangan yang berlaku bagi lanjut dengan Perda berdasarkan Peraturan Desa. Pasal 100 Tugas Pembantuan dari Pemerintah. Daerah. Pemerintah Propinsi. (3) tugas pembantuan dari Pemerintah. dalam Peraturan Daerah. saya kepada desa. pejabat lain yang ditunjuk. Kepala pemerintah provinsi. bahwa saya provinsi. dan Negara Kesatuan Pemerintah. Tugas Pembantuan dari Pemerintah. dan/atau Pemerintah Kabupaten kepada Desa disertai dengan pembiayaan. Republik Indonesia. bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Kepala Pasal 207 Desa dengan sebaik-baiknya. (2) urusan pemerintahan yang menjadi Pasal 98 kewenangan kabupaten/kota yang (1) Kepala Desa dilantik oleh Bupati atau diserahkan pengaturannya kepada desa. sejujur. sarana dan mempertahankan Pancasila sebagai dan prasarana. memimpin penyelenggaraan Pemerintah Desa. dan/atau pemerintah Desa mengucapkan sumpah/janji. serta sumber daya manusia.berdasarkan hak asal-usul desa. serta sumber daya manusia. dan seadil-adilnya. dasar negara. b. kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul Desa. sarana dan prasarana. dan c. (3) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud (4) urusan pemerintahan lainnya yang oleh adalah sebagai berikut : peraturan perundang-perundangan diserahkan "Demi Allah (Tuhan). Pemerintah Propinsi. kewenangan yang oleh peraturan perundang-perundangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh Daerah dan Pemerintah.Tugas pembantuan dari Pemerintah. pemerintah jujurnya.

membuat Peraturan Desa. menampung menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa. mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. c. 28 Badan Permusyawaratan Desa dan Lembaga Lainnya Pasal 104 Pasal 209 • Dalam UU No. dan mewakili Desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. dilakukan oleh Bupati atas usul Badan Perwakilan Desa. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. serta masa jabatan dari anggota Badan melakukan pengawasan terhadap Pasal 210 Permusyawaratan Desa. bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa b. desa menjadi lembaga permusyawaratan istiadat. Pasal 103 (1) Kepala Desa berhenti karena : a. d. (1) Anggota badan permusyawaratan desa adalah wakil dari penduduk desa . melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku dan/atau norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). membina perekonomian Desa. b. penyelenggaraan Pemerintahan Desa. dan e. (2) Pemberhentian Kepala Desa.membina kehidupan masyarakat Desa. berakhir masa jabatan dan telah dilantik Kepala Desa yang baru. tidak lagi memenuhi syarat dan/atau melanggar sumpah/ janji. menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101. meninggal dunia. desa dan diatur mengenai pembatasan dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Pasal 102 Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban.32 Tahun 2004 terdapat Badan Perwakilan Desa atau yang disebut Badan Permusyawaratan Desa berfungsi perubahan istilah dari lembaga perwakilan dengan nama lain berfungsi mengayomi adat menetapkan peraturan desa bersama kepala desa. b. Kepala Desa : a.

Pemerintah Propinsi. bantuan dari Pemerintah dan kabupaten/kota. 5. dan dan kewajiban. pemerintah . bagian dari dana perimbangan b. serta segala sesuatu baik berupa uang dan diatur secara lebih rinci mengenai Badan 2. pendapatan asli desa. dan oleh penduduk Desa yang memenuhi (2) Pimpinan badan permusyawaratan desa persyaratan. pusat dan daerah yang diterima oleh c. uang.Pasal 105 bersangkutan yang ditetapkan dengan cara (1) Anggota Badan Perwakilan Desa dipilih dari musyawarah dan mufakat. bantuan dari Pemerintah Kabupaten belanja dan pengelolaan keuangan desa. (2) Lembaga kemasyarakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas membantu pemerintah desa dan merupakan mitra dalam memberdayakan masyarakat desa.32 a. lain-lain pendapatan asli Desa (2) Hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud yang sah. hasil gotong royong. dengan Keputusan Kepala Desa. pendapatan asli Desa yang meliputi (1) Keuangan desa adalah semua hak dan Tahun 2004 pinjaman desa bukan lagi : kewajiban desa yang dapat dinilai dengan termasuk dalam sumber pendapatan desa 1. Peraturan Desa. dari dan oleh anggota. (4) Syarat dan tata cara penetapan anggota dan Pasal 106 pimpinan badan permus yawaratan desa Di Desa dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai diatur dalam Perda yang berpedoman pada dengan kebutuhan Desa dan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. 3. dan a. bagian dari dana perimbangan keuangan Kabupaten. bagi hasil pajak daerah dan retribusi keuangan Pusat dan Daerah daerah kabupaten/kota. b. yang meliputi : (3) Sumber pendapatan desa sebagaimana 1. hasil kekayaan Desa. milik desa berhubung dengan pelaksanaan hak 4. bantuan dari Pemerintah. bagian dari perolehan pajak dimaksud pada ayat (2) terdiri atas: dan retribusi Daerah. dipilih dari dan oleh anggota badan (2) Pimpinan Badan Perwakilan Desa dipilih permusyawaratan desa. (3) Masa jabatan anggota badan (3) Badan Perwakilan Desa bersama dengan permusyawaratan desa adalah 6 (enam) Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa. d. yang diterima oleh Pemerintah c. pada ayat (1) menimbulkan pendapatan. 2. 29 Keuangan Desa Pasal 107 • Terdapat perbedaan mengenai sumber Pasal 212 (1) Sumber pendapatan Desa terdiri atas : pendapatan desa dimana dalam UU No. maupun berupa barang yang dapat dijadikan Usaha Milik Desa. Pasal 211 (1) Di desa dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan yang ditetapkan dengan peraturan desa dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. hasil usaha Desa. tahun dan dapat dipilih lagi untuk 1 (satu) kali (4) Pelaksanaan Peraturan Desa ditetapkan masa jabatan berikutnya. hasil swadaya dan partisipasi.

dan undangan. Desa menetapkan Anggaran Pendapatan (5) Pengelolaan keuangan desa sebagaimana dan Belanja Desa setiap tahun dengan dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh kepala Peraturan Desa. dapat dibentuk Badan Kerja Sama. (3) Kerjasama desa dengan pihak ketiga (1) Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan desa yang diatur dengan keputusan bersama dan dilaporkan kepada . e. e. sumbangan dari pihak ketiga. dan jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Des a dan Badan Perwakilan Desa dapat dibentuk badan kerja sama. (2) Untuk pelaksanaan kerja sama. Pasal 110 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga dilakukan sesuai dengan peraturan perundangyang merencanakan pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah permukiman. desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa. dan pemerintah kabupaten/kota. pinjaman Desa. industri. (4) Untuk pelaksanaan kerja sama. dalam perencanaan. sebagaimana (4) Belanja desa sebagaimana dimaksud pada dimaksud pada ayat (1). penyelenggaraan pemerintahan desa dan (3) Kepala Desa bersama Badan Perwakilan pemberdayaan masyarakat desa. dan provinsi. 30 Kerja Sama Desa Pasal 109 Pasal 214 (1) Beberapa Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan Desa yang diatur dengan keputusan bersama dan diberitahukan kepada Camat. pelaksanaan. (2) Badan usaha milik desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan.d. ayat (2). oleh Bupati. (3) Badan usaha milik desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melakukan pinjaman sesuai peraturan perundangundangan. Pasal 108 Pasal 213 Desa dapat memiliki badan usaha sesuai dengan (1) Desa dapat mendirikan badan usaha milik peraturan perundang-undangan. Bupati/Walikota melalui camat. (2) Sumber pendapatan Desa. (2) Kerjasama antar desa dan desa dengan pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). desa yang dituangkan dalam peraturan desa (4) Pedoman penyusunan Anggaran tentang anggaran pendapatan dan belanja Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan desa. dan ayat (3) ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan kewenangannya. dikelola melalui ayat (2) digunakan untuk mendanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. (6) Pedoman pengelolaan keuangan desa (5) Tata cara dan pungutan objek pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan belanja Desa ditetapkan bersama ditetapkan oleh Bupati/Walikota dengan antara Kepala Desa dan Badan Perwakilan berpedoman pada peraturan perundangDesa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). undangan. hibah dan sumbangan dari pihak ketiga.

asal-usul. .32 Tahun 2004 memfasilitasi penyelenggaraan Otonomi pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Daerah. sesuai dengan pedoman (2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dimaksud pada ayat (1) diatur dengan berdasarkan undang-undang ini. kelancaran pelaksanaan investasi. asal-usul. c. dan Keputusan Kepala Daerah disampaikan d. kelestarian lingkungan hidup. wajib mengakui dan menghormati hak. Perda. 31 Pembinaan dan Pengawasan Pemerintahaan Daerah • Materi mengenai Pembinaan dan Pasal 112 Pasal 217 Pengawasan Daerah diatur secara lebih (1) Dalam rangka pembinaan. (3) Pemberian pedoman dan standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b mencakup aspek perencanaan. pemantauan. wajib mengakui dan b. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Otonomi Daerah ditetapkan dengan b. kewenangan desa. kepentingan masyarakat desa. sebagaimana dimaksud a. Pasal 215 (1) Pembangunan kawasan perdesaan yang Pasal 111 dilakukan oleh kabupaten/kota dan atau (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai Desa pihak ketiga mengikutsertakan pemerintah ditetapkan dalam Peraturan Daerah desa dan badan permusyawaratan desa. istiadat Desa. pada ayat (1). perencanaan. e. Pasal 216 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai desa ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.pengawasannya. pendidikan dan pelatihan. dan adat istiadat desa. penelitian. pelaksanaan urusan pemerintahan. koordinasi pemerintahan antarsusunan pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan. Pemerintah (1) Pembinaan atas penyelenggaraan rinci dalam UU No. dengan memperhatikan: (2) Peraturan Daerah. atau provinsi. keserasian kepentingan antar kawasan dan kepentingan umum. Pemerintah yang meliputi : (2) Pedoman mengenai pembinaan dan a. Peraturan Daerah pemerintahan. belas hari setelah ditetapkan. pelaksanaan. tata laksana. pemberian bimbingan. dan adat c. (2) Perda. dan kepada Pemerintah selambat-lambatnya lima e. supervisi. menghormati hak. pemberian pedoman dan standar Peraturan Pemerintah. pengembangan. Kabupaten. (2) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan secara berkala pada tingkat nasional. regional. d. dan Pasal 113 konsultasi pelaksanaan urusan Dalam rangka pengawasan. dan evaluasi pelaksanaan urusan pemerintahan.

perangkat daerah. (4) Pemberian bimbingan. Pasal 219 (1) Pemerintah memberikan penghargaan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pasal 218 (1) Pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi: a. pegawai negeri sipil daerah. (7) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dan huruf e dapat dilakukan kerja sama dengan perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian. (2) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada pemerintahan daerah. anggota DPRD. baik secara menyeluruh kepada seluruh daerah maupun kepada daerah tertentu sesuai dengan kebutuhan. pengembangan. kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. kualitas. pemantauan. anggota badan permusyawaratan desa. . Pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. PNS daerah. (2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan oleh aparat pengawas intern Pemerintah sesuai peraturan perundang-undangan. dan masyarakat. Pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. (5) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilaksanakan secara berkala bagi kepala daerah atau wakil kepala daerah. perangkat daerah. supervisi dan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilaksanakan secara berkala dan/atau sewaktuwaktu. dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dilaksanakan secara berkala ataupun sewaktu-waktu dengan memperhatikan susunan pemerintahan. (6) Perencanaan. kepala desa. penelitian. anggota DPRD. dan kepala desa. pengendalian dan pengawasan. b.pendanaan.

penghargaan. anggota DPRD. prosedur. 32 Pertimbangan dalam Kebijakan Otonomi Daerah Pasal 115 Pasal 224 • Dalam UU No. kepala daerah atau wakil kepala daerah. dan kepala desa. (2) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota dikoordinasikan oleh Gubernur. Presiden dapat membentuk suatu Dewan Perimbangan Otonomi Daerah. perangkat daerah. dan sanksi diatur dalam Peraturan Pemerintah. (4) Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat melimpahkan kepada camat. norma.32 Tahun 2004 tidak (1) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (1) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan disebutkan lagi mengenai anggota dari bertugas memberikan pertimbangan kepada daerah. Pasal 221 Hasil pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 dan Pasal 218 digunakan sebagai bahan pembinaan selanjutnya oleh Pemerintah dan dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Pasal 223 Pedoman pembinaan dan pengawasan yang meliputi standar. PNS daerah. (3) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan desa dikoordinasikan oleh Bupati/Walikota. Pasal 222 (1) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 dan Pasal 218 secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. (2) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada pemerintahan daerah.Pasal 220 (1) Sanksi diberikan oleh Pemerintah dalam rangka pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Presiden mengenai: dewan yang bertugas memberikan saran dan akan tetapi dalam Undang-undang ini .

Menteri dan pemerintahan daerah. penghapusan. sumber daya alam sesuai dengan dan wakil-wakil Daerah yang dipilih oleh peraturan perundang-undangan. yang meliputi: Keuangan. (2) Dewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) b. perimbangan keuangan antara Pemerintah terdiri atas Menteri Dalam Negeri. 3.a. 2. susunan organisasi keanggotaan dan tata laksananya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pasal 116 Presiden. DPRD . kemampuan Daerah Kabupaten dan rancangan kebijakan: Daerah Kota untuk melaksanakan a. pembentukan. penghapusan dan kewenangan tertentu. sebagaimana penggabungan daerah serta pembentukan dimaksud dalam Pasal 11. bertanggung jawab kepada Presiden. kawasan khusus. dan kepada Presiden antara lain mengenai c. Menteri Sekretaris Negara. Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dibantu oleh Kepala Sekretariat yang membawahkan Bidang Otonomi Daerah dan Bidang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. daerah atas dana bagi hasil pajak dan perwakilan Asosiasi Pemerintah Daerah. Daerah. 1. tersebut. dan pemekaran daerah. pertimbangan terhadap kebijakan otonomi diatur lebih rinci mengenai tugas dari dewan penggabungan. Otonomi Daerah. formula dan perhitungan DAU masing(3) Menteri Dalam Negeri dan Menteri masing daerah berdasarkan besaran Keuangan karena jabatannya adalah Ketua pagu DAU sesuai dengan peraturan dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan perundangan. (2) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah b. perhitungan bagian masing-masing menteri lain sesuai dengan kebutuhan. DAK masing-masing daerah untuk (4) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah setiap tahun anggaran berdasarkan mengadakan rapat sekurang-kurangnya satu besaran pagu DAK dengan kali dalam enam bulan. pembentukan. perimbangan keuangan Pusat dan bertugas memberikan saran dan pertimbangan Daerah. (3) Dewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) (6) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. . menggunakan kriteria sesuai dengan (5) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah peraturan perundangan.