DAFTAR ISI

Halama n. DAFTAR ISI.............................................................................................................. 1 BAB I 2 BAB II PEMBAHASAN......................................................................................... 3 2.1 Anamnesis............................................................................................ ....................................................................................................................................3 2.2 Pemeriksaan.......................................................................................... ....................................................................................................................................4 2.3 Diagnosis banding................................................................................ ....................................................................................................................................6 2.4 Diaognosis............................................................................................ ....................................................................................................................................9 2.5 Etiolgi................................................................................................... ....................................................................................................................................10 2.6 epidemiologi......................................................................................... ....................................................................................................................................10 2.7 patofisiologi.......................................................................................... ....................................................................................................................................10 2.8 Gejala klinis.......................................................................................... ....................................................................................................................................12 2.9 Terapi.................................................................................................... ....................................................................................................................................13 PENDAHULUAN......................................................................................

-1-

.................. yang secara tiba-tiba menyebabkan serangan nyeri yang luar biasa......................................................14 BAB III PENUTUP 3....... biasanya merupakan akibat dari adanya batu empedu di dalam duktus sistikus.......... KESIMPULAN.......13 2............................................................1 Latar Belakang Kolesistitis adalah radang kandung empedu yang merupakan reaksi inflamasi akut dinding kandung empedu disertai keluhan nyeri perut kanan atas................................................. ................... . Kolesistitis Akut adalah peradangan dari dinding kandung empedu................. -2- ...............1..... 15 DAFTAR PUSTAKA....................11 Prognosis............................................................................... Walaupun belm ada data epidemiologis penduduk................................... 16 BAB I PENDAHULUAN 1..................................2...................................................................................... insidens kolesistitis dan batu empedu dinegara kita relatif rendah dibandingkan negaranegara barat........10 Komplikasi....................................... nyeri tekan dan panas badan...................... Hingga kini patogenesis penyakit yang cukup sering dijumpai ini masih belum jelas..................................................

terapi. dan komplikasi kolesistitis 5 mengetahui pencegahan dan prognosis kolesistitis BAB II PEMBAHASAN 2. dan patofisiologi kolesistitis 4 mengetahui gejala klinis. suku bangsa dan agama.1. alamat. Identitas perlu ditanyakan untuk memastikan bahwa pasien yang dihadapi adalah memang benar pasien yang dimaksud. nama orang tua atau suami atau istri atau penanggung jawab. jenis kelamin. mengetahui diagnosis dan diagnosis banding kolesistitis 3. pendidikan. mengetahui etiologi.1 -3- .2 Tujuan 1. pekerjaan. umur atau tanggal lahir.1 Anamnesis Identitas Identitas meliputi nama lengkap pasien. mengetahui pemeriksaan kolesistitis 2. epidemiologi.

berapa lama pasien mengalami hal tersebut. harus disertai dengan indikator waktu.2 Pemeriksaan Pemeriksaan Fisik Tanda vital : suhu. tingkat kesadaran.1 Riwayat Penyakit Dalam Keluarga Penting untuk mencari kemungkinan penyakit herediter. familial atau penyakit infeksi. pendidikan dan kebiasaan.Keluhan Utama (Chief Complaint) Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan pasien yang membawa pasien pergi ke dokter atau mencari pertolongan.1 Riwayat Penyakit Dahulu Bertujuan untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan adanya hubungan antara penyakit yang pernah diderita dengan penyakit sekarang. tekanan darah.1 Riwayat Penyakit Sekarang Riwayat perjalanan penyakit merupakan cerita yang kronologis. terperinci dan jelas mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama sampai pasien datang berobat. respirasi. Dalam menuliskan keluhan utama. denyut nadi.1 -4- .1 2.1 Riwayat Pribadi Riwayat pribadi meliputi data-data sosial. ekonomi.

bentuk. ultrasonografi sangat membantu. Foto polos abdomen tidak memperlihatkan gambaran kolesistitis akut. Nilai kepekaan dan ketepatan USG 90-95%. Cara ini berguna untuk membantu diagnosis -5- . 1.koledokus tanpa gambaran kandung empedu pada pemeriksaan kolesistografi oral dan scintigrafi sangat menyongkong kolesistitis akut.3 Pemeriksaan ultrasonografi sebaiknya di kerjakan secara rutin dam sangat bermanfaat untuk memperlihatkan besar.Pemeriksaan fisik: nyeri tekan di kuadran kanan atas disertai tanda-tanda peritonitis lokal( tanda murphy ).2. penebalan dinding empedu. Terlihatnya gambaran duc.2. Ultrasonografi juga dapat memperlihatkan ganggren dengan gambaran dekstruksi dinding dan nanah atau cairan sekitar kandung empedu dan komplikasi abses perikolesistitis. Skintigrafi saluran empedu menggunakan zat radioaktif HIDA ata 99n Tc6 iminodiacetik acid mempunyai nilai sedikit lebih rendah dari USG tapik teknik ini tidak mudah. Pemeriksaan CT scan abdomen kurang sensitive dan mahal tapi mampu memperlihatkan adanya abses perikolesistik yang masih kecil yang mungkin tidak terlihat pada pemeriksaan USG. Hanya pada 15% pasien kemungkinan dapat terlihat batu yang tidak tembu pandang (radiopak) oleh karena menganding kalisium cukup banyak.3 Pemeriksaan penunjang. batu dan saluran empedu ekstra hepatic.3 Kolesistografi oral tidak dapat memperlihatkan gambaran kandung empedu bila ada obstruksi sehingga pemeriksaan ini tidak bermanfaat untuk kolesisititis akut. teraba masa kandung empedu. Apabila secara klinis sulit menentukan punktum maksimum nyeri dengan palpasi terutama pada kolesistitis ganggren.

dengan ketepatan sekitar 70% . Pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya leukositosis serta kemungkinan peninggian serum transaminase dan fosfatase alkali.keganasan pada kandung empedu yang mengandung batu. 2.1 Pankreatitis Akut merupakan reaksi peradangan pankreas.3 Diagnosis Banding 2. Apabila keluhan nyeri bertambah hebat disertai suhu tinggi dan menggigil serta leukositosis berat. secara klinis ditandai nyeri perut akut dengan kenaikan enzim dalam darah dan urin.3 Pemeriksaan laboratorium • • Leukositosis dapat diamati pada kolesistitis. Perjalanan penyakit dari ringan self limited sampai berat yang disertai renjatan gangguan ginjal dan paru-paru yang bisa berakibat fatal. kemungkinan terjadi empiema dan perforasi kandung empedu perlu dipertimbangkan. • Amilase / lipase tes digunakan untuk mengevaluasi kehadiran pankreatitis. ERCP (endoscopic retrograde cholangiopancreatography) dapat digunakan untuk mendeteksi adanya batu dalam duktus. tingkat Alanine aminotransferase (ALT) dan aspartate aminotransferase (AST) digunakan untuk mengevaluasi keberadaan hepatitis dan dapat meningkat pada kolesistitis atau dengan penyumbatan saluran empedu umum.3. • Bilirubin dan tes fosfatase alkali yang digunakan untuk mengevaluasi bukti penyumbatan saluran umum.2.90%.4 -6- . Amilase juga mungkin meningkat sedikit pada kolesistitis.

kadang terdapat tanda kolaps kardiovaskular. dan setelah gastroduodenal. Walaupun aktivitas pencernaan peptic oleh getah lambung merupakan factor etiologi yang penting. meteorismus abdomen pada 70-80% kasus pankreatitis akut.Gejala pankreatitis akut dapat ringan sehingga ditemukan konsentrasi enzim pankreas dalam serum atau dapat menjadi berat dan fatal. Suhu tinggi menunjukkan kemungkinan kolangitis. terus-menerus.3.Pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan perut bagian atas karena rangsangan peritoneum. perut dan abdomen bawah. tanda peritonitis. Ikterus pada sebagian kasus. juga jejunum. kolesistitis. Rasa nyeri timbul tiba-tiba di epigastrium (tersering).3. Menurut definisi. Tukak kronik berbeda denga tukak akut. atau abses pankreas. rasa nyeri dapat menjalar ke punggung. tukak peptik dapat ditemukan pada setiap bagian saluran cerna yang terkena getah asam lambung. sebaiknya masing-masing didiagnosis.2 Ulkus peptikum merupakan keadaan di mana kontinuitas mukosa lambung terputus dan meluas sampai di bawah epitel.(misalnya tukak karena stress). Meskipun kedua jenis penyakit ini dapat saja timbul bersamaan. duodenum. yaitu esofagus. karena memiliki jaringan parut pada dasar tukak. kadang agak ke kiri atau kanan. Pankreastitis akut kadang sulit dibedakan dengan kolesistitis akut. apalagi bila kolesistitis disertai dengan kenaikan kadar amilase darah. bisa disertai mual-muntah serta demam.4 2. renjatan dan gangguan pernapasan. walaupun seringkali dianggap juga sebagai tukak.Gejala Klinis. makin bertambah dan berhari-hari. kadang asites seperti sari daging dan mengandung amilase dan efusi pleura pada sisi kiri. Kerusakan mukosa yang tidak meluas sampai ke bawah epitel disebut erosi. lambung. terdapat bukti bahwa ini hanya merupakan salah satu factor dari banyak -7- . adanya massa pada bagian pankreas yang membengkak dan infiltrat radang.

Teori lain menunjukkan bahwa kontak lesi dengan asam merangsang mekanisme refleks local yang memulai kontraksi otot halus sekitarnya. pasien dengan ulkus mengeluh nyeri tumpul. minggu. namun bila lambung telah kosong atau alkali tidak digunakan. Muntah. Pirosis (nyeri uluhati).factor yang berperan dalam patogenesis tukak peptic. Beberapa pasien mengalami sensasi luka baker pada esophagus dan lambung. Ulkus peptikum mengalami perforasi dapat didiagnosis dengan anamnesis riwayat nyeri epigastrik yang berkurang dengan pemberian makanan atau antasida. yang dapat dihubungkan dengan pembentukan jaringan perut atau pembengkakan akut dari membrane mukosa yang mengalami inflamasi disekitarnya pada ulkus akut. ataubeberapa bulan dan bahkan dapat hilang hanya sampai terlihat kembali. karena makanan menetralisasi asam. Nyeri biasanya hilang dengan makan. Biasanya. nyeri kembali timbul. Hal ini diyakini bahwa nyeri terjadi bila kandungan asam lambung dan duodenum meningkat menimbulkan erosi dan merangsang ujung saraf yang terpajan.3 Gejala-gejala ulkus dapat hilang selama beberapa hari. atau dengan menggunakan alkali. yang naik ke muut. Hal ini dihubungkan dengan obstruksi jalan keluar lambung oleh spasme mucosal pylorus atau oleh obstruksi mekanis. Nyeri. atau sendawa umum terjadi bila lambung pasien kosong. -8- . sering tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi. yang dihilangkan dengan ejeksi kandungan asam lambung. biasanya setelah nyeri berat. muntah dapat menjadi gejala ulkus peptikum. kadang-kadang disertai eruktasi asam. Meskipun jarang pada ulkus duodenal tak terkomplikasi. seperti tertusuk atau sensasi terbakar di epigastrium tengah atau di punggung. Eruktasi. Muntah dapat terjadi atau tanpa didahului oleh mual.

Diagnosis tepat dilakukan dengan ultrasonografi. yaitu di belakang sekum ( terlindungi oleh sekum ).4 2. Apendisitis akut terutama dengan sekum yang terletak tinggi dikanan atas menimbulkan keraguan. tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. sehingga merupakan nyeri somatik setempat. yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus. dan pada umumnya nafsu makan menurun. ke titik Mc Burney.5 -38. nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah.3 Apendisitis retrosekal Apendisitis suatu kondisi yang ditandai dengan peradangan pada usus buntu.3. tidak dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium.4Diagnosis kerja -9- . Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m. Terkadang apendisitis juga disertai dengan demam derajat rendah sekitar 37.psoas mayor yang menegang dari dorsal. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal.Konstipasi dan perdarahan. Gejala awal yang khas. Namun terkadang. Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual. Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya. Sebagian kecil pasien yang mengalami akibat ulkus akut sebelumnya tidak mengalami keluhan. Konstipasi dapat terjadi pada pasien ulkus. bahkan terkadang muntah. bernapas dalam. batuk. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti berjalan.5 2. tetapi mereka menunjukkan gejala setelahnya. Pasien juga dapat dating dengan perdarahan gastrointestinal. dan mengedan. Tindakan ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. kemungkinan sebagai akibat dari diet dan obat-obatan. Kemudian dalam beberapa jam. tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal.5 derajat celcius.

biasanya merupakan akibat dari adanya batu empedu di dalam duktus sistikus. Penyebab lain mungkin invasi kuman secara primer misalnya oleh Salmonella typhi. E.10 - . pasca bedah besar. Kelainan ini sering dijumpai pada penderita sakit berat yang sedang yang sering dijumpai pada penderita sakit berat yang sedang dirawat karena trauma multipel. Bagaimana statis di duktus sistikus dapat menyebabkan kolesistitis akut masih belum diketahui atau belum jelas. seperti kepekatan cairan empedu. sepsis. keracunan obat dan gagal organ multiple. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil dari pemeriksaan tertentu.Kolesistitis Akut adalah peradangan dari dinding kandung empedu. yang memberikan gambaran dari hati.10 % kolesistitis akut terjadi tanpa batu karena itu disebut kolesistitis akalkulus akut. yang secara tiba-tiba menyebabkan serangan nyeri yang luar biasa. kandung empedu dan bagian atas usus halus.5 2. Diperkirakan banyak faktor yang berpengaruh.5 Etiologi Penyebab utama kolesistitis akut adalah batu kandung empedu(90%) yang terletak di duktus sistikus yang menyebabkan statis cairan empedu. Diagnosis yang paling akurat diperoleh dari pemeriksaan skintigrafi hepatobilier. kolesterol. sedangkan sebagian kecil kasus timbul tanpa adanya batu empedu ( kolesistitis akut akalkulus ). Pemeriksaan USG bisa membantu memperkuat adanya batu empedu dalam kandung empedu dan bisa menunjukkan penebalan pada dinding kandung empedu.4. saluran empedu.3 . Coli dan Clostridium. lisolesitin dan prostaglandin yang merusak lapisan mukosa dinding kandung empedu diikuti reaksi inflamasi atau supurasi Lebih kurang 5.

Faktor-faktor yang dapat memulai proses peradangan meliputi pembentukan mediator peradangan (misalnya.7Patofisiologis Kolesistitis akut (AC) merupakan suatu peradangan akut dari kandung empedu (GB).2. terjadi penebalan dinding fibrotic kandung empedu. Resolusi spontan kolesistitis akut dapat terjadi dalam waktu 5-7 hari setelah onset gejala. menyebabkan inflamasi akut dari dinding kandung empedu. Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dan angka kejadiannya meningkat pada usia diatas 40 tahun. disebabkan oleh banyak hal oleh terhalangnya saluran kistik. lysolecithin dan prostaglandin). . ini adalah karakteristik dari kolesistitis kronis. insidens kolesistitis di Indonesia relative lebih rendah di banding negara-negara barat. Di lebih dari 90% dari spesimen kolesistektomi. AC adalah salah satu komplikasi utama cholelithiasis.11 - . Pada sebagian besar kasus seperti itu. Proses peradangan diawali dengan terhalang calculous di duktus cystikus dan colum kandung empedu. Mekanisme yang tepat mulainya peradangan kandung empedu tidak diketahui.4 2. peningkatan tekanan intralumen kompromi berkaitan dengan suplai darah dan iritasi kimia oleh asam empedu. karena pembentukan kembali dari paten saluran kistik.6 Epidemiologi Sejauh ini belum ada data epidemiologis penduduk di Indonesia. yang biasa penyebab obstruksi adalah batu empedu.

Patofisiologi kolesistitis acalculous belum dipahami dengan baik tetapi mungkin multifaktor.12 - . dan stasis empedu. Ini mungkin bahwa kolesistitis acalculous terjadi melalui efek gabungan dari reaksi mediator inflamasi sistemik. yang pada mulanya sulit dibedakan dengan nyeri kolik yang sekarang. infiltrasi sel inflamasi dari dinding kandung empedu berkaitan dengan mural dan hemoragik nekrosis mukosa berikut. Acalculous kolesistitis terjadi dalam pengaturan klinis yang berbeda. nyeri lepas dan defans muskular otot dinding perut. terjadi infeksi sekunder oleh kuman enteric gram negative. Kadang kandung empedu yang membesar dapat di raba. yang pada mulanya sulit riwayat serangan kolik dimasa lalu. 6. Jika patency duktus cystikus tidak dibangun kembali.8 Gejala Klinis Keluhan utama ialah nyeri akut di perut kuadran atas. Gangren kolesistitis dapat dilihat dalam sebanyak 21% kasus. Pada sebagian besar pasien dengan colesistitis akut acalculous.7 2. Pada kolesistitis nyeri disertai tanda rangsang peritoneal berupa nyeri tekan.maka pola histologis adalah satu di mana kolesistitis akut adalah kolesistitis kronis. kadang-kadang menjalar kebelakang di daerah skapula. namun pada pasien dengan demam tifoid. lokal atau iskemia jaringan umum. Pada separuh . Hal ini terjadi lebih sering pada laki-laki (biasanya anak-anak) dan orang yang lebih tua dari 65 tahun. infeksi oleh organisme Salmonella telah diidentifikasi sebagai acara utama. Biasanya di temukan riwayat serangan kolik dimasa lalu. Kolesistitis terkait AIDS dan cholangiopathy dapat terjadi infeksi sekunder oleh sitomegalovirus (CMV) dan infeksi organisme Cryptosporidium.

sambil memastikan diagnosis. kolangitis. Apabila keluhan nyeri bertambah hebat dan suhu tinggi dan menggigil serta leukositosis berat. Ikterus yang ringan agak jarang ditemukan. sefalosporin dan metronidazol mampu mematikan kuman yang umum pada kolesistitis akut (E. faecalis. dan septisemia. Setelah 24-48 jam keadaan penderita umumnya lebih . Pada pemeriksaan fisik teraba massa kandung empedu. coli. S.4 2. diet ringan. obat penghilang rasa nyeri (petidin) dan anti spasmodik. pemberian nutrisi parenteral. sehingga perlu dipikirkan adanya batu disaluran empedu ekstrahepatik. Pemeriksaan laboraturium menunjukkan adanya leukositosis serta kemungkinan peninggian serum transminase dan fosfatase alkali.3. kemungkinan terjadi empiema dan perforasi kandung empedu perlu dipertimbangkan. Keadaan umum diperbaiki dan sepsis diatasi dengan pemberian antibiotik seperti yang dilakukan pada pengobatan konservatif.13 - . memperbaiki keadaan umum dan mengatasi penyakit penyerta. nyeri tekan disertai tanda – tanda peritonitis local (Murphy sign). Pendekatan lain yaitu kolesistektomi dini. nyeri disertai mual dan muntah. Suhu badan sekitar 38oC.9Terapi Pengobatan umum: istirahat total. Apabila timbul demam dan menggigil harus dicurigai komplikasi yang lebih berat atau penyakit lain. Klebsiella).penderita. Ikterus ditemui pada 20 % kasus umumnya derajat ringan (bilirubin <40 mg/dl). Konsentrasi bilirubin yang tinggi menunjukkan adanya penyumbatan hampir atau total. seperti golongan ampisilin. Antibiotic untuk mencegah komplikasi peritonitis.

4 2. tindakan sementara berupa kolesistektomi kateter perkutan dengan bimbingan ultrasonografi merupakan cara terbaik. menggigil.11 Prognosis .14 - .3 Apabila pada masa persiapan pembedahan keadaan umum penderita memburuk karena komplikasi peritonitis. Setelah keadaan umum penderita membaik barulah dilakukan kolesistektomi elektif. pembedahan dipercepat sebagai bedah emergensi. peningkatan jumlah leukosit dan berhentinya gerakan usus (ileus) dapat menunjukkan terjadinya abses. mungkin telah terjadi peradangan pankreas (pankreatitis) yang disebabkan oleh penyumbatan batu empedu pada saluran pankreas (duktus pankreatikus). Bila keadaan umum terlalu buruk untuk pembedahan. Bedah emergensi diperlukan pada sekitar 10 % penderita. Tidakan bedah dini yang dapat dilakukan 72 jam pertama perawatan ini memberikan keuntungan karena mempersingkat masa sakit sampai 5-7 hari dan mempersingkat masa sakit sekitar 30 hari. umumnya enam minggu sampai tiga bulan setelah penderita sembuh dari kolesistitis akut.5 2.10 Komplikasi • Demam tinggi.baik dan infeksi telah dapat diatasi. gangren atau perforasi kandung empedu. • Jika pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan kadar enzim amilase. • Serangan yang disertai jaundice (sakit kuning) atau arus balik dari empedu ke dalam hati menunjukkan bahwa saluran empedu telah tersumbat sebagian oleh batu empedu atau oleh peradangan.

abses hati atau peritonitis umum. Tindakan bedah akut pada pasien usia tua > 75 tahun mempunyai prognosis yang jelek disamping kemungkinan banyak timbul komplikasi pasca bedah. sekalipun kandung empedu menjadi tebal. empiema dan perforasi kandung empedu.3 BAB III PENUTUP II. Kadang-kadang kolesistitis akut berkembang secara cepat menjadi gangren.15 - . fisitel. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian antibiotik yang adekuat pada awal serangan. tidak jarang menjadi kolesistitis rekuren. penuh dengan batu dan tidak berfungsi lagi.1 Kesimpulan . fibrotik.Penyembuhan spontan didapatkan pada 85% kasus.

2005. 45-7. pembedahan. .16 - . yang secara tiba-tiba menyebabkan serangan nyeri yang luar biasa . Dikenal dua klasifikasi yaitu akut dan kronis. nyeri tekan dan panas badan. Abdurrahman N. memiliki batu empedu. Cetakan ke-3. Kolesistitis akut tanpa batu merupakan penyakit yang serius dan cenderung timbul setelah terjadinya: cedera.Kolesistitis adalah radang kandung empedu yang merupakan inflamasi akut dinding kandung empedu disertai nyeri perut kanan atas. et al. DAFTAR PUSTAKA 1. h.kolesistitis Akut adalah peradangan dari dinding kandung empedu. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Sekitar 95% penderita peradangan kandung empedu akut. Penuntun anamnesis dan pemeriksaan fisis. luka bakar sepsis (infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh) dan penyakit-penyakit yang parah (terutama penderita yang menerima makanan lewat infus dalam jangka waktu yang lama). biasanya merupakan akibat dari adanya batu empedu di dalam duktus sistikus.Kadang suatu infeksi bakteri menyebabkan terjadinya peradangan.

Jakarta: Erlangga. Karnadihardja W. Prasetyono T. 5. et al. 2003. . Wilson M. 6. Jakarta: EGC.h. Akbar NuruL . Tinjauan klinis hasil pemeriksaan laboratorium. Daldiyono. Rani Aziz. h. 2007.Buku ajar ilmu bedah. Edisi ke . 453-51.6. Ed 5. Mcpherson RA.Kedokteran klinis.17 - . et al. bradley J. Sacher RA.837-44.2003. Rubenstein D. Gastroenterologi hepatologi. h. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 2002. wayne D. Jilid III. 502-04. 2009. Jakarta : Sagung seto. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta: EGC. Jakarta: Interna Publishing. 718-20. 3. 271-73.2006. h. Edisi III. Sjamsuhidajat R.419-21. 4. Ed 6. Ed 6.h. Sudoyo AW. Sulaiman Ali.2. Jakarta:EGC. 7. Price SA.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful