P. 1
Ptk Bahasa Inggris Smp

Ptk Bahasa Inggris Smp

|Views: 1,127|Likes:
Published by Aminudin Harahap

More info:

Published by: Aminudin Harahap on Apr 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2014

pdf

text

original

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MENULIS TEKS BERBENTUK PROCEDURE MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH DI KELAS IX SMPN 4 V KOTO KAMPUNG DALAM

Oleh : YANTI RISNA S.Pd 19711024 200604 2 006

SMPN 4 V KOTO KAMPUNG DALAM

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian

: Upaya

Peningkatan

Kemampuan

Siswa

Menulis

Teks

Berbentuk Procedure Melalui Metode Make a Match di Kelas IX SMP 4 V Kampung Dalam Peneliti : Yanti Risna S.Pd (SMP 4 V Kampung Dalam)

Kepala SMP 4 V Kampung Dalam,

Pengawas

YOHENDRIS, S.Pd NIP. 196506031997021001

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

1. Judul Penelitian

:

Upaya Peningkatan Kemampuan Siswa Menulis Teks Berbentuk Procedure Melalui Metode Make a Match di Kelas IX SMP 4 V Kampung Dalam

2. Identitas Peneliti a. Nama Lengkap b. Jenis Kelamin c. NIP d. Pangkat. Golongan e. Sekolah f. Alamat 3. Lama Penelitian Dari Bulan Sampai Bulan : : : : : : : : :

Yanti Risna S.Pd
Perempuan

19711024 200604 2 006
Penata Muda.Tk I /III.b SMP 4 V Kampung Dalam Jalan Kp. Paneh Sungai Jilatang Kp. Dalam 2 Bulan Februari Maret

Mengesahkan Guru Pemandu

Banjar, 23 Maret 2010 Penyusun,

Dede Darusman, S.Pd NIP. 197408201999031006

Rd. Friska Mahyudin Syah, S.Pd NIP. 197704012009021006 Mengetahui,

Kepala SMP Pasundan Banjar

SOBAR, S.Pd NIP. 197308201999031006

KATA PENGANTAR

Puji syukur hanya kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayahNya penyusunan Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini dapat terselesaikan dengan tuntas dan tepat waktu.Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini disusun dalam rangka pelaksanaan program BERMUTU (Better Education Through Reformed Managament and Universal Teachers Upgrading) MGMP Bahasa Inggris. Penulisan proposal ini selesai berkat bantuan berbagai pihak. Untuk itu ucapan terima kasih tersampaikan kepada : 1. SOBAR, S.Pd, Kepala SMP Pasundan Banjar atas ijin, motivasi dan dukungannya menyelenggarakan penelitian di SMP Pasundan Banjar. 2. Pengawas Mata Pelajaran Bahasa Inggris Dinas Pendidikan Kota Banjar, Hj. Euis Srinengsih, M.Pd. 3. Ibu Dra, Hj. Nur rahmiyati, PKS Kurikulum SMP Pasundan Banjar atas saran dan dukungannya selama melaksanakan penelitian. 4. Dede Darusman, S.Pd, sebagai guru pemandu MGMP BERMUTU Mata Pelajaran Bahasa Inggris atas bimbingan dan diskusinya yang sangat bermanfaat bagi penyusun dalam penyelesaian penelitian ini. 5. Para fasilitator dan pemateri yang telah memberikan materi BERMUTU selama 16 pertemuan yang sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas guru.

6.

Pengurus MGMP Bahasa Inggris yang senantiasa memberikan pelayanan maksimal kepada kami.

7.

Rekan-rekan Guru kelompok kelas 3 MGMP Bahasa Inggris 1 Kota Banjar atas kerjasama dan diskusinya sehingga proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dapat terselesaikan tepat waktu.

8.

Semua guru dan rekan Guru MGMP Bahasa Inggrsi 1 yang turut berpartisipasi dalam pelaksanaan penelitian ini. Semoga bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak diberkati Allah SWT. Tersadar bahwa Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini masih jauh dari

kesempurnaan, penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak tetap terbuka guna penyempunaan dan perbaikan tindak lanjut. Semoga pelaksanaan dan hasil

penelitian ini nantinya dapat memberikan manfaat dan peningkatan dalam proses pembelajaran di kelas. Banjar, 23 Maret 2010 Peneliti

Rd. Friska Mahyudin Syah, S.Pd NIP 197704012009021006

Writing (menulis) merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang dirasa sering menjadi masalah bagi siswa dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris. Permasalahan tersebut sangat menarik perhatian penulis untuk mencoba memaparkan topik analisa terhadap kemampuan siswa menulis teks berbentuk posedur melalui model pembelajaran make a match. . Semua itu didukung oleh unsur-unsur bahasa lainnya. yaitu: kosa tata.49%) mendapat nilai E „poor‟ Akhirnya penulis menyimpulkan berdasarkan penjelasan pada pembahasan diatas bahwa tujuan penelitian yang telah dilaksanakan mengalami keberhasilan. 20 siswa (0. berbicara. membaca dan menulis. Dari penelitian yang telah dilaksanakan. impelmentasi tindakan pembelajaran melalui model pembelajaran make a match dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks berbentuk prosedur dan meningkatkan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran. Siswa dapat melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan komunikasi dengan mengemukakan gagasan. Dengan kata lain.22%) saja yang masih belum mencapai KKM (kriteria ketuntasan minimal). Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Kelas IX A SMP Pasundan Banjar dengan jumlah siswa sebanyak 41 siswa.ABSTRAK Penguasan materi pelajaran Bahasa Inggris dalam jenjang SMP meliputi empat keterampilan berbahasa. Waktu pelaksanaan pada Bulan Februari sampai dengan Maret 2010 atau pada semester 2. Nilai siswa hasil dari evaluasi test tulis hanya 1 orang siswa (0. 17 siswa (0. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan observasi/ pengamatan dan pemberian test performance siswa dengan bentuk test tulis.41%) mendapat nilai D „fair‟.73%) terlihat aktif dalam proses pembelajaran. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan siswa untuk menyusun teks procedure. tata bahasa dan pronunciation sesuai dengan tema sebagai alat pencapai tujuan. Dari ke empat keterampilan berbahasa di atas. yaitu: menyimak. hasil pengamatan mengindikasikan bahwa 29 dari 41 siswa (70. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil belajar siswa tentang mengungkapkan makna dalam langkah retorika dalam essai pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat. pendapat dan perasaannya secara sederhana baik lisan maupun tertulis. mengembangkan strategi pembelajaran dan model pembelajaran yang efektif.07%) mendapat nilai C „good‟. efisien dan menyenangkan. Nilai post test siswa berupa evaluasi individu melalui Lembar Kerja Siswa menunjukan Sebanyak 3 siswa (0. lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk procedure pada semester 2 sebanyak 60% siswa masih berada di bawah KKM (kriteria ketuntasan minimal). Penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan melalui MGMP program BERMUTU yang pada pelaksanaannya peneliti sebagai Guru Model berkolaborasi dengan 5 orang guru Bahasa Inggris yang tergabung dalam kelompok guru yang mengajar di kelas IX.

..................................... Daftar Isi ……………………………………………………………………..DAFTAR ISI Halaman Judul Halaman Pengesahan ………………………………………………………… Kata Pengantar ………………………………………………………………...1....... Latar Belakang …………………………………………………… 1 1.....5... Rencana Tindakan ……………………………………………........... 1... Batasan Masalah ........ Kajian Pustaka …………………………………………………… 9 6 7 7 8 2..1..........4.... Cooperative Learning (CL) …………………………...............1......... Hipotesis Penelitian .2..... 2...................... 1.............. KAJIAN PUSTAKA DAN RENCANA TINDAKAN 2................. Model Pembelajaran Make a Match ....2....7...2........2.....6.1.......1...1...3..............2.......... Contextual Teaching and Learning (CTL) ............ 4 4 1...... i iii v vi I........ Rumusan Masalah dan Pemecahan Masalah ……………………........1....... PENDAHULUAN 1............ Rumusan Masalah ........ 9 10 11 13 ................ Pemecahan Masalah .................... Definisi Operasional …………………………………………….... Tujuan Penelitian ………………………………………………… 5 1............... Procedure Text …………………………………………… 9 2.............. Manfaat Hasil Penelitian ………………………………………… 1.... Abstrak ..................................1..2....... 1.................................. 4 1.................4............... 2........ 2. II.3.

....2.....2.......................... HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4............... Deskripsi Laporan Tindakan Siklus 2 .........2..... Pembuatan Instrumen …………………………………………….....................................................................4................. Deskripsi Laporan Tindakan Siklus 1 ..................................... 16 16 19 22 23 3.....................................3. PELAKSANAAN PENELITIAN 3..... Hasil Tindakan .... 45 5........... Saran ................ 26 4......1... Hasil Refleksi Siklus ke 1 ....................... 28 4.. IV......1.......... 3............4. 36 4..2..........4............ 3..... Analisis dan Refleksi ...........2 Persiapan Penelitian …………………………………………….............................................. 34 4...1...................................... Hasil Refleksi Siklus ke 2 ..... KESIMPULAN DAN SARAN 5.....1......................................... Hasil Pengamatan/Observasi ..... 24 4.............3............................. 24 4..........................1.....................1...1....... Prosedur Penelitian ……………………………………………….... Hasil Tindakan ..III...2. 4...1......... Siklus Penelitian ……………………………………………. V..........3......................... Daftar Pustaka Lampiran-Lampiran 45 42 42 ...... Hasil Test Performance Siswa ..............................3.............. 32 34 4..2..6................. Pembahasan ...................... 3..... Setting Penelitian ………………………………………………… 15 3............................. Hasil Pengamatan/Observasi ........ Kesimpulan ....................1....................2..... Hasil Test Performance Siswa ................... 4...2.............5.......................... 39 4..........

BAB I PENDAHULUAN 1. yaitu: Kosa Kata. Writing (menulis) merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang dirasa sering menjadi masalah bagi siswa dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris. struktur bahasa dan kemampuan siswa dalam merangkai kata menjadi sebuah teks yang berterima. Tata Bahasa dan Pronunciation sesuai dengan tema sebagai alat pencapai tujuan. Hal tersebut sangat menarik untuk diteliti mengingat kemampuan menulis (writing ability) sangatlah dipengaruhi oleh penguasaan kosa kata.Latar Belakang Penguasaan kemampuan Bahasa Inggris (language skill) merupakan sebuah syarat mutlak yang harus dimiliki di era komunikasi dan globalisasi saat ini. yaitu: menyimak. Dari ke empat keterampilan berbahasa di atas.1. Pembelajaran Bahasa Inggris (Language Learning) di jenjang SMP merupakan materi pokok sebagai bagian dari fungsi pengembangan diri siswa dalam bidang Ilmu Pengetahuan. Semua itu didukung oleh unsur-unsur bahasa lainnya. berbicara. Mereka mampu tumbuh dan berkembang menjadi individu yang cerdas. teknologi dan seni yang diharapkan setelah menamatkan studi. Penguasan materi pelajaran Bahasa Inggris dalam jenjang SMP meliputi empat keterampilan berbahasa. membaca dan menulis. terampil dan berkepribadian sebagai bekal hidup di masa mendatang. Perbedaan secara grammatical antara bahasa Inggris sebagai bahasa asing dan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama merupakan masalah yang sering timbul pada saat belajar menulis. Kemampuan mengungkapkan makna dalam langkah retorika .

dalam essai pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat. Mereka tentunya kesulitan dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. dapat dilihat sebuah gambaran kegagalan terhadap hasil dan proses belajar dan hal tersebut merupakan masalah yang harus segera . Hal ini sangat mengundang pertanyaan dan asumsi bahwasannya metode pembelajaran tersebut tidak berhasil (gagal) dan cenderung tidak efektif. Pembelajaran mengungkapkan makna dalam langkah retorika dalam essai pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat. Dalam pembelajaran tersebut penulis menjelaskan materi pokok yang terdapat dalam indikator sebagai berikut : Menyusun kalimat acak menjadi teks yang padu berbentuk procedure. Penulis memperoleh data dari hasil pengamatan melalui refleksi yang dilakukan bahwa siswa terlihat pasif. bosan dan bahkan ada beberapa siswa yang mengeluh tidak percaya diri dalam mengungkapkan ide atau gagasannya. Proses pembelajaran seperti itu sudah biasa dilakukan oleh penulis dan ternyata hasil pembelajaran siswa tidak sesuai yang diharapakan dan siswa masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dalam kegiatan inti pembelajaran. lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk procedure dan report adalah salah satu Kompetensi Dasar (KD) yang harus dikuasai oleh siswa Kelas IX Sekolah Menengah Pertama (SMP). Setelah mengamati uraian di atas. lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk procedure telah penulis lakukan secara klasikal. siswa biasanya diberi contoh teks monolog berbentuk procedure dan siswa diminta untuk mencari arti dari teks tersebut yang kemudian dirangkai menjadi sebuah kalimat yang benar.

“Upaya Peningkatan Kemampuan Siswa Menulis Teks Berbentuk Procedure Melalui Model Pembelajaran Make a Match di Kelas IX A SMP Pasundan Banjar” . Guru harus mampu mencari satu teknik pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas. Efektif dan Menyenangkan) harus dilaksanakan. tetapi guru harus jadi seorang fasilitator dan motor yang mampu memfasilitasi dan menggerakkan siswanya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang mereka butuhkan. guru dituntut untuk kreatif dan inovatif. Inovatif. Guru bukan lagi merupakan sosok yang ditakuti dan bukan pula sosok otoriter. Penulis sadar bahwa di era Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini. serta pengalaman penulis saat mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan. Setelah mengikuti pelatihan guru melalui MGMP BERMUTU (Better Education Through Reformed Management and Universal Teachers Upgrading) yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Banjar. penulis mencoba menggunakan pendekatan Contextual Teaching And Learning dan pendekatan Cooperative Learning dengan menggunakan model pembelajaran Make a Match. Penulis melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul. Prinsip PAIKEM (Pembelajaran Aktif. Kreatif.diatasi. Sebagai upaya memperbaiki kegagalan tersebut penulis berusaha mencari metode dan strategi pembelajaran yang tepat sebagai solusi selanjutnya.

Senada dengan yang diungkapkan oleh Tim Power Brain Indonesia dalam situsnya menyatakan bahwa secara ilmiah sudah diketahui bahwa dalam hal penyerapan informasi tersebut manusia dibagi menjadi 3 bagian. (1) real word learning.2.1. Berdasarkan hal tersebut di atas. (3) berpikir tingkat tinggi. 2000). manusia visual.com). (4) berpusat pada .1. Pemecahan Masalah Terdapat tiga macam modalitas belajar yang digunakan oleh seseorang dalam pembelajaran. dkk. Hal ini senada dengan pendapat Nurhadi (2004: 148-149) kunci dalam pembelajaran kontekstual adalah. penulis mencoba model pembelajaran Make a Match atau mencocokkan kartu yang berisi kalimat acak menjadi sebuah teks yang berterima. dan manusia kinestetik. Model Pembelajaran Make a Match merupakan implementasi dari Metode Contextual Teaching and Learning (CTL). (2) mengutamakan pengalaman nyata.2.medikaholistik.2. di mana ia akan sangat senang dan cepat mengerti bila informasi yang harus diserapnya terlebih dahulu “dicontohkan” atau ia membayangkan orang lain tersebut melakukan hal tadi (http://www. dan komunikasi (DePorter.2. yaitu pemrosesan informasi. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut diatas.Perumusan Masalah dan Pemecahan Masalah 1. maka masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah: ”Apakah melalui Penggunaan Model Pembelajaran Make a Match dapat meningkatkan Kemampuan Siswa Untuk Menyusun Teks Berbentuk Procedure di Kelas IX A SMP Pasundan Banjar?” 1. manusia auditorik. di mana informasi yang masuk melalui apa yang didengarnya akan diserap secara optimal. yang mana ia akan secara optimal menyerap informasi yang dibacanya/ dilihatnya.

3. baik pengalaman dalam kehidupan sehari-hari maupun pengalaman dalam lingkungan. tidak membosankan. menyenangkan. kritis dan kreatif. Mengembangkan strategi pembelajaran dan model pembelajaran yang efektif. (8) memecahkan masalah. pendapat dan perasaannya dengan sederhana secara tertulis. menggunakan berbagai sumber. (5) siswa aktif. Dengan demikian pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual memiliki ciri harus ada kerja sama. (7) pendidikan atau education bukan pengajaran atau instruction. (9) siswa akting. pembelajaran terintegrasi. 1. . sharing dengan teman. guru mengarahkan. 3. saling menunjang.Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. (10) hasil belajar di ukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes. Meningkatkan kemampuan siswa untuk menyusun teks procedure. siswa menonton. Proses kegiatan pembelajaran dapat lebih bermakna jika kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan berangkat dari pengalaman belajar siswa dan guru yaitu kegiatan siswa dan guru yang dilakukan secara bersama dalam situasi pengalaman nyata. 2.siswa. siswa aktif. Siswa dapat melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan komunikasi dengan mengemukakan gagasan. efisien dan menyenangkan. bukan guru akting. (6) pengetahuan bermakna dalam kehidupan. gembira. belajar dengan bergairah. siswa kritis dan guru kreatif.

4.4. lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk procedure 2. c.Manfaat Penelitian a. Meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam menulis teks sederhana Meningkatkan kompetensi menulis dan prestasi belajar Bahasa Inggris. Manfaat Bagi Sekolah Melalui model pembelajaran make a match membantu memperbaiki pembelajaran Bahasa Inggris di SMP Pasundan Banjar . Meningkatkan kemampuan siswa mengungkapkan makna dalam langkah retorika dalam essai pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat. Manfaat Bagi Siswa 1. 3. Membantu dalam penyusunan karya ilmiah untuk dijadikan penilaian guna mendapatkan tunjangan sertifikasi guru/pendidik dan meningkatakan kualitas profesionalisme guru. Manfaat bagi Peneliti 1. 2.1. 3. Mengembangkan model pembelajaran yang efektif. Meningkatkan rasa senang dan motivasi belajar. b. efisien dan menyenangkan yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris untuk meningkatkan kompetensi menulis siswa. Membantu memperbaiki / meningkatkan proses hasil belajar dan mengajar.

2006 :38).3.3. 1. siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin. .3. Procedure text Teks procedure bertujuan untuk memberikan petunjuk tentang langkahlangkah/metoda/cara-cara melakukan sesuatu (Otong Setiawan Djuharie.Definisi Operasional Sebagai upaya memperjelas pemahaman dalam penelitian demi menghindari kesalahan dalam penyusunan penelitian.5.3.6. Kemampuan siswa dalam menyusun teks Siswa mampu mengimplementasikan ide dan gagasannya dalam menyusun kalimat acak menjadi teks yang padu berbentuk procedure.1.Batasan Masalah Permasalahan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini dibatasi pada perbaikan kualitas pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Make a Match yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menyusun teks Bahasa Inggris berbentuk procedure.2. 1. 1. Model Pembelajaran Make a Match Penerapan model pembelajaran ini dimulai dari teknik yaitu siswa diminta mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya. di bawah ini adalah penjelasan mengenai definisi operasional yang digunakan penulis.1. 1.

1. sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. sosial dan kultural). 2. 2006 :38). Teks procedure umumnya memiliki struktur : 1. Teks procedure umumnya berisi tips atau serangkaian tindakan atau langkah dalam membuat suatu barang atau melakukan suatu aktifitas. Materials. Teks procedur dikenal pula dengan istilah directory.1. Contextual Teaching and Learning (CTL) Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi. Goal. Teks Procedure Teks procedure merupakan salah satu Genre text selain dari beberapa genre yang dipelajari di tingkat SMP. 2. bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat suatu barang/melakukan suatu aktifitas yang sifatnya opsional. Teks procedure bertujuan untuk memberikan petunjuk tentang langkah. CTL disebut pendekatan kontekstual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara .1.BAB II KAJIAN PUSTAKA 2. serangkaian langkah.1. Kajian Pustaka 2.2. tujuan kegiatan. 3.langkah/metoda/cara-cara melakukan sesuatu (Otong Setiawan Djuharie. Steps.

3. Menurut Anita Lie (1:10) ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam cooperative learning. percaya diri. kesadaran bersosial dan sikap toleransi terhadap perbedaan individu. Cooperative Learning (CL) Pendekatan Kooperatif (Cooperative Learning) merupakan suatu pendekatan pengajaran yang mengutamakan siswa untuk saling bekerjasama satu dengan lainnya untuk memahami dan mengerjakan segala tugas belajar mereka. penataan ruang kelas . Mulyasa (2006:103) juga mengemukakan : pentingnya lingkungan belajar dalam pembelajaran kontekstual.materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. Hal ini senada dengan Mulyasa (2003: 188) siswa memiliki rasa ingin tahu dan memiliki potensi untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Dari guru akting di depan kelas. (1) belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yangberpusat pada siswa. Strategibelajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya. keterampilan komunikasi yang penting. (4) menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting. 2.1. siswamenonton ke siswa aktif bekerja dan berkarya. : Pengelompokan. (2) pembelajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. (3) umpan balik amat penting bagi siswa. meningkatkan minat. guru mengarahkan. Kegiatan bekerjasama dapat mengembangkan tingkat pemikiran yang tinggi. Oleh karena itu tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan belajar yang menyenangkan agar dapat membangkitkan rasa ingin tahu semua siswa sehingga tumbuh minat atau siswa termotivasi untuk belajar. semangat Gotong Royong.

menunjukkan penghargaan dan simpati. menanyakan kebenaran dan berkompromi (tingkat mahir). tingkat menengah dan tingkat mahir. mendengarkan dengan aktif. bertanya. menerima tanggung jawab. memiliki kesempatan mengungkapkan gagasan. serta bersama-sama membangun pengertian. menjadi sangat penting dalam belajar karena memiliki unsur yang berguna menantang pemikiran dan meningkatkan harga diri seseorang. memeriksa dengan cermat.Belajar kelompok. mendengarkan pendapat orang lain. menghargai kontribusi. Keterampilan kooperatif tersebut meliputi tiga (3) tingkatan. mendorong partisipasi (tingkat awal). belajar lebih cepat dan efisien. Cooperative Learning merupakan satu strategi pembelajaran yang terbaik yang telah diteliti. dalam setiap tingkat terdapat beberapa keterampilan yang perlu dimiliki oleh siswa agar dapat melaksanakan pembelajaran kooperatif dengan baik. Keterampilan tersebut antara lain menggunakan kesepakatan. dan membuat ringkasan (tingkat menengah). memiliki daya ingat yang lebih besar dan mendapat pengalaman belajar yang lebih positif. Lundgren mendeskripsikan keterampilan kooperatif yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran kooperatif sebagai keterampilan interpersonal dalam belajar. Penulis sepakat bahwa pendekatan kooperatif sangat cocok untuk digunakan dalam pembelajaran di era KTSP ini. hanya saja tujuh pilar kooperatif ini dianggap . Pembelajaran kooperatif siswa belajar dan membentuk pengalaman dan pengetahuannya sendiri secara bersama-sama dalam kelompoknya. mengambil giliran dan berbagi tugas. yaitu tingkat awal. mengelaborasi. Dengan pengalaman belajarnya siswa dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa memiliki kesempatan untuk bekerja bersama-sama.

Model pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Dalam penelitian ini. satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. Metode make a match atau mencari pasangan merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa. Penerapan metode ini dimulai dari teknik yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya.4. penulis menggunakan model pembelajaran Make A Match. Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut: 1. 2. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang. 2. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. Pemegang kartu yang bertuliskan penggalan kalimat prosedur A akan berpasangan dengan . Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. guru menerapkan model pembelajaran make a match. siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin. Model Pembelajaran Make a Match Guna meningkatkan partisipasi dan keaktifan siswa dalam kelas.terlalu berat jika akan dilaksanakan semua dalam pembelajaran di SMPN Pasundan Banjar Kelas IX A. penulis mendesain satu teknik pembelajaran yang lebih sederhana tanpa mengurangi esensi dari kooperatifitu sendiri. Maka dari itu.1. 4. 3.

Rencana Tindakan Rencana tindakan yang dapat digunakan untuk mengatasi pembelajaran Writing agar dapat menarik. 5. Teknik metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran. 2. 8. 9. siswa menjadi termotivasi. yang telah disepakati bersama. Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa . Setelah satu babak. 7. demikian seterusnya. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok.2. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. minat belajar siswa tinggi adalah dengan metode pembelajaran kooperatif. Dengan optimalisasi pembelajaran Bahasa Inggris melalui Teknik Kooperatif merupakan alternatif proses pembelajaran agar lebih menyenangkan dan bermakna.kalimat berikutnya yang dipegang oleh siswa di kelompok lain yang memegang kalimat prosedur B dan seterusnya. Dalam hal ini penulis menggunakan model pembelajaran Make a Match. 6. kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya.

2. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. . 5. 4. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. Pemegang kartu yang bertuliskan penggalan kalimat prosedur A akan berpasangan dengan kalimat berikutnya yang dipegang oleh siswa di kelompok lain yang memegang kalimat procedure B dan seterusnya.mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. 6. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok. Setelah satu babak. 7. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban. 8. yang telah disepakati bersama. demikian seterusnya. Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut: 1. 3. kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya.

2. Alamat sekolah di Jalan Tentara Pelajar No.BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN 3. Kemampuan akademik siswa masih terbatas karena motivasi belajar siswa yang rendah. Persiapan Penelitian Penelitian tindakan kelas ini menggunakan metode pembelajaran kontekstual dengan persiapan : a. . Penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan melalui MGMP program BERMUTU yang pada pelaksanaannya peneliti sebagai Guru Model berkolaborasi dengan 5 orang. laki-laki 17 dan perempuan 24 siswa dengan latar belakang sosial-ekonomi siswa mayoritas anak buruh dan petani dengan tingkat kesejahteraan menengah ke bawah. Guru Bahasa Inggris yang tergabung dalam kelompok 3. Buku-buku pembelajaran yang dimiliki sendiri masih terbatas. Waktu pelaksanaan pada Bulan Februari 2010 atau pada semester 2. siswa masih belum seluruhnya mempunyai keaktifan dalam belajar.1. 158 Kota Banjar. Setting Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMP Pasundan Banjar. Pembuatan lembar instrumen penelitian b. Kelas IX A berjumlah 41 siswa. 3. Situasi kelas saat pembelajaran masih belum optimal. Subyek penelitian yang di ambil adalah kelas IX A SMP pasundan Banjar. Mempersiapkan materi pembelajaran untuk tugas observasi dan diskusi.

Alokasi waktu yang digunakan pada siklus pertama terdiri dari 2x40 menit. e. Persiapan pre test. Penulis merencanakan pembelajaran Bahasa Inggris dengan memilih materi pembelajaran Writing Procedure Text melalui dua siklus pada semester 2 tahun pelajaran 2009-2010. Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) agar menarik dan mudah dipahami siswa. f. tindakan (action). Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus. Mempersiapkan dan menentukan lokasi pembelajaran sesuai dengan materi pembelajaran. h.c. Prosedur Penelitian Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis dan Taggart (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning). Lembar penilaian proses untuk memantau keaktifan. Penelitian ini dilakukan dengan cara berkolaborasi dengan guru-guru MGMP Bahasa Inggris Kelompok 1 yang mengajar di kelas IX. g. refleksi (reflection) atau evaluasi. Pada proses pembelajaran ini.3. penulis melakukan empat langkah teknik . Membuat lembar observasi untuk memantau kegiatan proses pembelajaran dan mengetahui optimalisasi pembelajaran make a match. kemandirian. kelancaran dan ketepatan. Mempersiapkan model pembelajaran dan media pembelajaran d. observasi (observation). kompetensi. post tes dan pembuatan perangkat penilaian. 3.

Tiap kelompok siswa terdiri dari 5 orang siswa. Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut: . Langkah-langkah tersebut dilaksanakan juga pada siklus kedua dan seterusnya apabila diperlukan dalam penelitian ini. Tiap kelompok mendapatkan 1 buah kartu yang akan dicari pasangan kalimatnya di kelompok lain. Siswa diminta mengelompokkan diri pada kelompok yang telah dibuat dua hari sebelumnya. Pada langkah BKOF. Joint Contruction of the text (JCOT) dan Individual Contstruction of the Text (ICOT). Modelling of the Thext (MOT). guru memulai pembelajaran dengan melakukan apersepsi dan Tanya jawab dengan siswa tentang pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari dimana siswa sering menggunakan teks procedure atau langkah-langkah untuk menjelaskan atau mengajak orang menyusun atau membuat sesuatu. Siswa diminta untuk mengamati teks procedure langkahlangkah cara membuat coffee. Waktu yang digunakan dalam langkah BKOF dibatasi 10 menit Pada langkah selanjutnya (MOT). Kartu tersebut dibagikan ke tiap kelompok. Siswa diminta menyusun kembali kalimat yang disebarkan menjadi teks yang benar. guru memberikan contoh teks procedure melalui media In Focus. Siswa diminta menuliskan poin-poin penting sebagai langkah membuat coffee instant. Langkah selanjutnya merupakan kerja kelompok atau JCOT. Pada langkah ini Guru membagikan kartu yang berisi kalimat dari beberapa topik teks procedure kepada setiap siswa. Siswa yang aktif dan benar dalam penyusunan kalimat menjadi teks mendapatkan poin tertinggi. Langkah ini dibatasi waktu 10 menit.pembelajaran yang meliputi Building Knowledge of The Field (BKOF). Pada langkah ini siswa dibatasi waktu 20 menit.

5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban. 4. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran. 3. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang. 7. yang telah disepakati bersama. Pada ICOT. siswa diberi kertas kerja yang merupakan lembar soal foto copy berisi kalimat acak (jumbled sentences) yang harus disusun menjadi teks procedure yang benar.1. demikian seterusnya. satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. 6. 8. Langkah ini dibatasi waktu 15 menit. Setelah satu babak. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. 9. . kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. 2. Pemegang kartu yang bertuliskan penggalan kalimat procedure A akan berpasangan dengan kalimat berikutnya yang dipegang oleh siswa di kelompok lain yang memegang kalimat procedure B dan seterusnya. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok.

Menyiapkan instrumen (angket. pedoman observasi. Merancang model pembelajaran klasikal. Memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan. 5. mencakup: 1. SIKLUS ke-1 Tahap Perencanaan (Planning). 7. Menerapkan model pembelajaran klasikal. 3. Merencanakan tugas kelompok. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan metode CTL dengan menggunakan model Pembelajaran make a match. 5. Menyusun kelompok belajar peserta didik. Melaksanakan langkah-langkah sesuai perencanaan. tes akhir). 3. Tahap Melakukan Tindakan (Action). 6. Melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana. Mendiskusikan penerapan model pembelajaran interaktif. 4. Mengantisipasi dengan melakukan solusi apabila menemui kendala saat melakukan tahap tindakan. 2. 4. mencakup: 1. Menganalisis Silabus/ Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2. .Siklus Penelitian Dalam pelaksanaannya penulis merencanakan menggunakan 2 siklus sebagai dasar penelitian tindakan kelas.

Tahap Mengamati (observation). 5. 4. Melakukan diskusi dengan guru Bahasa Inggris kelompok 1 MGMP Bahasa Inggris Kota Banjar dan kepala sekolah untuk rencana observasi. 2. 4. Melakukan diskusi dengan guru untuk membahas tentang kelemahankelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran berikutnya. Tahap refleksi (Reflection). Melakukan refleksi terhadap kreativitas peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran klasikal. 3. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran klasikal yang dilakukan guru kelas IX. mencakup: 1. 3. . Melakukan refleksi terhadap hasil belajar peserta didik. Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi. Melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran klasikal. 2. mencakup: 1. Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran klasikal dan mempertimbangkan langkah selanjutnya.

Merefleksikan proses pembelajaran make a match 2. 4. Merancang perbaikan berdasarkan refleksi siklus 1. Mengevaluasi hasil refleksi. 2. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran Make a Match. mencakup: 1. Tahap Mengamati (observation). Menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian. mencakup: 1. 3. Merefleksikan hasil belajar peserta didik dengan penerapan model pembelajaran make a match. Melaksanakan tindakan perbaikan dengan menggunakan penerapan model pembelajaran Make a Match. mencakup: 1. mencakup: 1. Melakukan analisis pemecahan masalah. 3. dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran berikutnya. mendiskusikan.SIKLUS ke-2 Tahap Perencanaan (Planning). Mencatat perubahan yang terjadi. Tahap Melakukan Tindakan (Action). 2. menyusun rekomendasi. Melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan balikan. Tahap Refleksi (Reflection). 3. Mendata masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran. 2. .

Dari tahap kegiatan pada siklus 1 dan 2. . Potongan kartu yang berisi kalimat procedure yang di acak dan dibagikan kepada siswa (satu kelompok diberi satu buah kartu) sebagai instrumen menyusun sebuah teks procedure. 3. dan (3) terjadi peningkatan prestasi peserta didik pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Refleksi yang dilakukan sesuai dengan perencanaan yang dilakukan.5.4. Penelitian dengan metode pembelajaran kontekstual ini. c. Analisis dan Refleksi Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah memanfaatkan analisa deskriptif kuantitatif dari proses dan hasil belajar. Analisis berdasarkan siklus yang secara bertahap. hasil yang diharapkan adalah agar (1) peserta didik memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris. Lembar Observasi dan Lembar Cek list Lembar Kerja Siswa sebagai evaluasi atau penilaian 3. b. Analisis juga dilakukan dari hasil observasi. Analisis 1 dalam siklus 1 yang hasilnya direfleksikan ke siklus 2. (2) guru memiliki kemampuan merancang dan menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok khusus pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Pembuatan Instrumen Pengamatan yang dilakukan secara kolaboratif yang melibatkan guru mata pelajaran yang sejenis sebagai pengamat di kelas ini menggunakan instrumen penelitian sebagai berikut : a.

peneliti berharap siswa akan menjadi lebih termotivasi dalam proses pembelajaran. . Tindak lanjut dalam penelitian ini siswa dapat menjadi lebih aktif dan pembelajaran kontekstual akan dilakukan secara berkesinambungan oleh guru.

00 – 08. Hasli penelitian dapat tergambar melalui tahapan sebagai berikut. Pelaksanaan tindakan pada siklus ini .1. Deskripsi Laporan Tindakan Siklus ke 1 4. Pertemuan dilaksanakan pada tanggal 19 Februari 2010 jam ke 1-2 (07. Hasil Tindakan Pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan pada siklus ke 1 merupakan hasil dari 1 pertemuan.1. tapi tidak semua siswa terlibat kondisi akhir Diduga melalui penggunaan Media Video dan Teknik Pembelajaran Make a Match meningkatkan hasil belajar siswa menyusun teks berbentuk prosedur SIKLUS II Menggunakan media Video dan Siswa diberi kartu seluruhnya secara berkelompok kecil 4.20) dengan alokasi waktu 2x40 menit.1. Guru Belum menggunakan media video dan teknik MAKE A MATCH dalam mengajar Teks Prosedur Siswa Hasil belajar siswa pada materi menyusun Teks Prosedure rendah Kondisi awal tindakan Menggunakan media Video dan teknik MAKE A MATCH dalam Menyusun Teks Prosedur SIKLUS I Menggunakan teknik MAKE A MATCH.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dijelaskan dalam bab ini mencakup siklus ke satu dan siklus kedua sesuai perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Bab ini melaporkan hasil dari test writing procedure text pada tahap akhir masing-masing siklus.

Kartu tersebut dibagikan ke tiap kelompok. Joint Contruction of the text (JCOT) dan Individual Contstruction of the Text (ICOT). observasi dan refleksi tindakan. Langkah selanjutnya merupakan kerja kelompok atau JCOT. MOT. Pada langkah ini Guru membagikan kartu yang berisi kalimat dari beberapa topik teks procedure kepada setiap siswa. Siswa yang aktif dan benar dalam . Langkah-langkah tersebut dilaksanakan juga pada sikllus kedua dan seterusnya apabila diperlukan dalam penelitian ini. penulis melakukan empat langkah teknik pembelajaran yang meliputi Building Knowledge of The Field (BKOF). Siswa diminta menyusun kembali kalimat yang disebarkan menjadi teks yang benar.mencakup perencanaan. Waktu yang digunakan dalam langkah BKOF dibatasi 10 menit Pada langkah selanjutnya (MOT). Pada proses pembelajaran ini. Siswa diminta menuliskan poin-poin penting sebagai langkah membuat coffee instant. Modelling of the Thext (MOT). Siswa diminta mengelompokkan diri pada kelompok yang telah dibuat dua hari sebelumnya. Siswa diminta untuk mengamati teks procedure langkahlangkah cara membuat coffee. Pada langkah BKOF. Tiap kelompok siswa terdiri dari 5 orang siswa. ICOT). Tiap kelompok mendapatkan 1 buah kartu yang akan dicari pasangan kalimatnya di kelompok lain. Langkah ini dibatasi waktu 10 menit. JCOT. guru memberikan contoh teks procedure melalui media In Focus. guru memulai pembelajaran dengan melakukan apersepsi dan tanya jawab dengan siswa tentang pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari dimana siswa sering menggunakan teks procedure atau langkah-langkah untuk menjelaskan atau mengajak orang menyusun atau membuat sesuatu. implementasi tindakan (BKOF.

Pada ICOT. Langkah ini dibatasi waktu 15 menit. Pada kegiatan inti (BKOF. kerjasama kelompok. Siswa diminta mencari pasangan kalimat yang ada di kelompok lain. MOT. yaitu perhatian siswa terhadap materi pelajaran. Pada langkah ini siswa dibatasi waktu 20 menit. . partisipasi. JCOT) guru menjelaskan struktur penyusunan teks procedure dengan menggunakan media in focus kemudian guru menyuruh siswa membentuk kelompok dan siswa diberi kartu yang berisi kalimat acak.1. MOT dan JCOT yang dilakukan menggunakan metode pembelajaran Contextual Teaching and Learning melalui model pembelajaran make a match. Hasil Pengamatan/ Observasi Hasil Pengamatan pada siklus ke-1 merupakan hasil pengamatan para observer pada proses pembelajaran tahap BKOF. Para observer yang merupakan guru Bahasa Inggris yang tergabung dalam MGMP Kota Banjar kelompok kelas 3 melakukan pengamatan dengan menggunakan lembar observasi berbentuk form check list ( ).penyusunan kalimat menjadi teks mendapatkan poin tertinggi. Dibawah ini adalah hasil pengamatan para observer. Indikator yang diamati selama proses pembelajaran meliputi tiga indikator. siwa diberi kertas kerja yang merupakan lembar soal foto copy berisi kalimat acak (jumbled sentences) yang harus disusun menjadi teks procedure yang benar. 4.2.

TABEL HASIL PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN MENYUSUN TEKS PROSEDUR MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH PERTEMUAN KE 1 SIKLUS 1 Kelas Aspek Skill No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 : IX A : Writing Nama Ade Entris Firmansyah Adis Yudistira Agus Rusdiat Arapat Sahara Asep Rianto Cici Darus Dadan Ramdani Delis Meliani Deri Gumilar Dikha Puspa W Doni Kurniawan Eli Wahyuni Enci Supriatin Endah Yulianti Erik Darusman Erna Wati Erni Euis Solihat Handi Sunantoro Hendiana Hera Cahyaningsih Ika Kartika Jenal MA Kicin Dini Lastri Muhrohil Neni Suhesti Nia Kaningsih Okfi Lestari Indikator 2 √ √ Total 1 3 1 1 0 2 3 0 3 0 2 1 0 1 1 1 1 1 3 0 2 0 0 1 3 3 3 0 2 1 Kategori Aktif Pasif √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 1 √ √ √ √ √ √ √ 3 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ .

peneliti menggunakan instrumen test tulis yang merupakan kalimat acak (jumbled sentences) dibagikan kepada siswa secara individu. Jumlah siswa yang pasif lebih besar yaitu sebanyak 23 orang (56%). Kerjasama 3. Proses ini dilakukan pada akhir pembelajaran berupa evaluasi pembelajaran pertemuan ke-2. Hasil Test Performance Selain lembar penilaian proses.Reni Nuraeni Riyan Supriadi Risa Fatmawati Rully Nurdianti Saepul Uyun Sena Destiana Tati Sudarti Usi Veni Lutviani Wandini Srilya M Yuli Yulianti TOTAL PROSENTASE Keterangan Indikator: 1.90 23 56.09 Berdasarkan hasil penilain proses dari tabel di atas dilihat bahwa sebanyak 18 orang siswa (43%) siswa aktif mengikuti proses pembelajaran melalui model pembelajaran make a match.3.34 √ √ √ √ √ √ √ √ √ 20 48.22 3 2 2 2 0 3 1 3 1 0 3 60 48. Perhatian 2. dalam upaya mengumpulkan data.78 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 18 43. Pasritipasi 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 19 46.1. 4.78 √ 21 51. Berikut nilai hasil belajar siswa yang terangkum dalam tabel dibawah ini: .

00 55.50 .Tabel 1: Hasil test Writing Menyusun Kalimat Siklus 1 DAFTAR NILAI SISWA KELAS IX A SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2009-2010 MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 NAMA Ade Entris Firmansyah Adis Yudistira Agus Rusdiat Arapat Sahara Asep Rianto Cici Darus Dadan Ramdani Delis Meliani Deri Gumilar Dikha Puspa W Doni Kurniawan Eli Wahyuni Enci Supriatin Endah Yulianti Erik Darusman Erna Wati Erni Euis Solihat Handi Sunantoro Hendiana Hera Cahyaningsih Ika Kartika Jenal MA Kicin Dini Lastri Muhrohil Neni Suhesti Nia Kaningsih Okfi Lestari Reni Nuraeni Riyan Supriadi Risa Fatmawati Rully Nurdianti L/P L L L L L P L L P L P L P P P L P P P L L P P L P P L P P P P L P P SCORE 60 70 60 65 50 65 75 50 65 60 75 60 65 60 55 60 65 60 70 60 70 65 55 60 70 90 65 60 70 70 60 60 75 80 50 62 60 55 60 65 60 60 60 60 70 65 60 60 60 66 60 60 65 60 65 60 55 55 65 80 65 60 65 70 60 55 70 75 JML 110 132 120 120 110 130 135 110 125 120 145 125 125 120 115 126 125 120 135 120 135 125 110 115 135 170 130 120 135 140 120 115 145 155 RATARATA 55.50 85.00 60.50 62.50 70.50 62.00 67.00 65.00 57.50 60.00 60.00 67.00 60.50 60.50 60.00 72.00 65.50 62.00 67.00 66.50 63.50 72.50 60.00 57.00 57.00 67.00 62.00 60.50 77.00 62.50 55.50 67.50 55.

00 62.9) (6.4390 60.0 – 8.9 (7.0 – 6.90 RATA-RATA Aspek Penilaian: 1.72 Tabel 2: N o 1 Rekapitulasi Nilai Hasil Test performance pada Siklus 1 Jumlah Siswa B C D E 1 1 9 25 2 Aspek Penilaian sikap Mengidentifikasi Generic Structure dan Language Feature Menyusun Kalimat acak menjadi teks procedure Catatan: A: Excellent B: Very Good C: Good D: Fair E: Poor F: Very Poor A 0 F 5 A 0.00 B 0.9) .1 2 0.2 0 0 0 1 4 28 8 0.0 .02 Presentase C D 0.9) (8.35 36 37 38 39 40 41 L 60 Saepul Uyun P 65 Sena Destiana P 60 Tati Sudarti P 60 Usi P 60 Veni Lutviani L 50 Wandini Srilya M P 65 Yuli Yulianti 2620 TOTAL 63.10 0.00 60.00 0.50 2571.54 120 130 120 115 115 100 125 5143 125.61 F 0. Mengidentifikasi generic structure dan language feature 2.02 0.0 – 7.00 57.02 0.9.5 62.0 – 5.00 65.22 E 0.50 50.00 0.50 57. Menyusun kalimat acak (jumbled text) menjadi sebuah text secara individu 60 65 60 55 55 50 60 2523 61.68 (10) (8.9) (5.

68 0.02 0. Satu (1)siswa (0. 2.10 0. Identifikasi generic structure dan language feature 0 5 11 9 Jumlah Siswa A Jumlah Siswa B Jumlah Siswa C Jumlah Siswa D Jumlah Siswa E 25 Jumlah Siswa F Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa tidak seorang pun siswa yang memperoleh nilai “Excellent” dalam mengidentifikasi generic structure teks berbentuk procedure. satu (1) siswa memperoleh nilai “Good” (0. mayoritas sebanyak 25 siswa (0. Menyusun kalimat acak menjadi teks prosedur yang berterima 0.00 0. sembilan (9) siswa (0.61%) mendapat nilai “Poor”. sebanyak 5 siswa (0.20 0.02%) memperoleh nilai .22%) memperoleh nilai “Fair”.12%) siswa mendapat nilai very poor.02%) mendapat nilai “Very Good”.00 1 4 8 0 0 A B C D E 28 F A Pada chart diatas dapat disimpulkan bahwa tidak ada stu seorang pun siswa yang memperoleh nilai “Excellent” dan „very good’ satu (1) siswa (0.1.02%).

1. yaitu sebanyak 23 siswa (56%) masih terlihat pasif dalam proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran make a match. dengan mempertimbangkan ragam perspektif yang mungkin ada dalam situasi pembelajaran di kelas.20%) memperoleh nilai “very poor”.“good”. Dari hasil pengamatan dapat ditemukan sebanyak 18 orang (43%) siswa saja yang secara aktif mengikuti pelajaran sesuai dengan harapan. dan (2) memahami persoalan pembelajaran dan keadaan kelas di mana pembelajaran dilaksanakan. dan kendala yang nyata dalam tindakan strategis.4. Sedangkan mayoritas siswa.68%) memperoleh nilai “poor”dan sebanyak delapan (8) siswa (0. Para observer yang hadir memberikan evaluasi berdasarkan catatan dan pendapatnya mengenai proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Nilai yang diperoleh siswa pun belum menunjukkan hasil yang signifikan. 4. bahkan dalam indikator mengidentifikasi generic structure dan language feature tidak ada satu siswa pun yang memperoleh nilai . Sesuai dengan tahap perencanaan yang telah disusun. sebanyak empat (4) siswa (0. masalah. persoalan. refleksi siklus ke-1 dilaksanakan pada tanggal 23 Februari 2010 bertempat di SMPN 6 Banjar yang dihadiri oleh para observer dan guru pemandu sebagai nara sumber. Lewat refleksi penulis berusaha (1) memahami proses. dua puluh delapan (28) siswa (0. Hasil Refleksi Siklus ke-1 Yang dimaksud dengan refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi.10%) memperoleh nilai “fair”.

S.A (excellent). Merujuk pada data dan hasil refleksi pelaksanaan siklus ke 1 di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran menulis menyusun kalimat menjadi teks berbentuk prosedur yang dilaksanakan pada siklus ke 1 dapat dikatakan gagal dan belum berhasil dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa dalam menyusun kalimat acak menjadi teks padu berbentuk procedure.02%) mendapat nilai B (Very Good). efektif dan efisien. Mayoritas siswa. S.02%) mendapat nilai C (Good). satu siwa (0. Kegagalan ini menurut para observer terjadi pada media pembelajaran yang belum optimal. Selain itu. pada tahap ini siswa seharusnya diberi penguatan materi secara spesifik mengenai langkah-langkah retorika membuat sebuah teks procedure. Bahkan tidak ada satu pun siswa yang mendapatkan nilai „excellent‟ dan „very good‟. Pendapat ini muncul dari Ibu Ai.Pd. Senada dengan pendapat Ibu Ai. bahwa aktifitas siswa di kelas cenderung tidak disiplin dan kurang efektif mengingat tidak semua siswa diberi kartu yang berisi penggalan kalimat.Pd sebagai observer yang mengatakan bahwa penggunaan media sangat penting dalam tahap BKOF dan MOT. dimana tidak semua siswa diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran. atau sebanyak 25 siswa (0. Ibu attin dan Pak Nana sebagai observer juga memberikan komentar.68%) mendapat nilai E (poor). Hal tersebut merupakan masalah dan temuan yang harus segera dicari solusinya sebagai upaya peningkatan mutu kualitas pembelajaran. satu siswa (0. atau sebanyak 28 siswa (0. Pada Indikator menyusun relevansi susunan kalimat menjadi sebuah text secara individu siswa masih belum menghasilkan nilai yang diharapkan.Pd . sembilan siswa (0.22%) mendapat nilai D (fair). Mayoritas siswa. Guru model hanya memberi satu buah kartu per-kelompok.61) mendapat nilai E (poor). S. Ibu Ina.

Dengan persiapan dan perencanaan yang matang. Alokasi waktu yang dibutuhkan dalam siklus kedua terdiri dari satu pertemuan (2x40 menit).1. Siklus ke 2 dilaksanakan pada tanggal 2 maret 2010 di SMP Pasundan Banjar. Peneliti merasa perlu melangkah ke siklus ke 2.Pd memberikan pendapatnya bahwa guru model hendaknya menjelaskan secara rinci aturan main dan batasan waktu dalam tahap JCOT (kerja kelompok) sehingga siswa tidak kebingungan dan mampu mengimplementasikan perintah yang diberikan oleh guru. Dalam hal ini peneliti memutuskan untuk memperbaiki proses pembelajaran dengan menyusun rencana perbaikan pada siklus ke-2. Peneliti membuat sebuah video dengan cara mengedit video . Pendapat dan saran para pengamat/observer merupakan dasar tindakan selanjutnya. Perencanaan tindakan dimulai dari tahap perencanaan program pengajaran yang dilakukan oleh peneliti berkonsultasi dengan guru pemandu dan guruguru yang tergabung dalam MGMP Bermutu Bahasa Inggris kelompok kelas 3 dengan memperbaiki RPP (Rencana Program Pengajaran) sebagai skenario pembelajaran siklus kedua.2. Berbeda dengan siklus ke 1. berhasil dalam upaya meningkatkan kualitas hasil pembelajaran siswa. Hasil Tindakan Rencana tindakan siklus ke 2 mengacu pada hasil refleksi yang dilakukan pada siklus pertama.2.dan Ibu Maya Ulfah. 4. S. diharapkan pada siklus ke-2 pembelajaran dapat berjalan dengan lebih baik. Deskripsi Laporan Tindakan Siklus ke 2 4. pada siklus kedua ini peneliti menggunakan media video dalam tahap MOT.

guru memberikan beberapa catatan di papan tulis berupa kata kunci dan apa saja yang harus dilakukan siswa pada saat melihat film. Selanjutnya siswa diberi kesempatan melihat dan mengamati film berisi tata cara menggunakan mesin ATM serta langkah-langkah menyusun teks procedure.com tentang prosedur cara menggunakan mesin ATM. Selain itu. Penjelasan silabus dan indikator pembelajaran dijelaskan pula dalam tahap ini. Sebelum film diputar. siswa terlihat antusias dan fokus pada film yang sedang di putar. Hal tersebut dilakukan agar siswa mempunyai batasan dan tujuan dalam pembelajaran. Pada langkah MOT (Modeling of the Text). Hal ini dilakukan sebagai upaya memperjelas materi sehingga diharapkan siswa dapat dengan mudah menangkap materi yang ditampilkan.youtube. Pada langkah ini. Hal ini membuat guru merasa terhibur dan termotivasi.yang di download dari www. Siswa diminta mencatat langkah-langkah pembuat teks procedure dan informasi yang tersirat dari film yang mereka lihat dan amati. guru dapat mengetahui seberapa besar siswa yang mempunyai kemampuan dasar materi yang akan dibahas dalam pertemuan kali ini. peneliti juga membuat kartu untuk melaksanakan pembelajaran make a match yang berisi kalimat acak sebanyak 10 teks yang terbagi menjadi 5 bagian. Tahap BKOF dibatasi waktu 10 menit. Guru melakukan tanya jawab tentang materi yang akan dibahas sesuai tema. yang masing-masing bagian diabagikan kepada seluruh siswa yang berjumlah 41 orang. Mereka . guru memulai pembelajaran dengan melakukan tegur sapa dan mengabsen siswa. Pada langkah BKOF (Buliding Knowlwdge of the Field) . Pada tahap ini ada beberapa siswa yang dapat menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh guru. guru menggunakan media Video dalam mentransfer materi pembelajaran.

2. Pada ICOT. Masing masing kelompok terdiri dari 5 dan 6 orang siswa. Peneliti menggunakan form check list (√) untuk mengukur aktifitas siswa dalam pembelajaran. 4. Kelompok yang dapat meyelesaikan permainan dengan cepat dan benar mendapat poin tertinggi. kerjasama siswa dalam kelompoknya dan partisifasi siswa dalam . guru memberikan arahan dan aturan permainan make a match dimana siswa harus mencari pasangan kartu yang berisi kalimat procedure di kelompoknya masing masing. Hasil Pengamatan/ Observasi Pada tahap pengamatan. Pada langkah ini siswa dibatasi waktu 20 menit. Siswa diminta untuk menggabungkan diri pada kelompoknya. Pada langkah ini waktu dibatasi 10 menit. Penilaian proses ini terfokus pada indikator penilaian proses meliputi perhatian siswa terhadap materi. kemudian guru mulai membagikan kartu yang berisi kalimat dari beberapa topik teks procedure kepada setiap siswa. Setelah siswa dibekali materi pada tahap BKOF. siswa diberi kertas kerja yang merupakan lembar soal foto copy berisi kalimat acak (jumbled sentences) yang harus disusun menjadi teks procedure yang benar. Langkah selanjutnya merupakan kerja kelompok atau JCOT.terlihat sibuk dengan temannya mendiskusikan apa saja yang mereka lihat dan mereka membuat beberapa catatan kecil. Sebelum membagikan kartu yang berisi kalimat acak. peneliti melakukan penilaian proses dengan cara berkeliling ke tiap kelompok dan mengamati aktifitas belajar siswa. Langkah ini dibatasi waktu 20 menit.2. Kartu tersebut dibagikan ke siswa sebanyak 41 kartu. Jumlah kelompok siswa sebanyak 8 kelompok dari 41 siswa. Penjelasan guru dibatasi 5 menit.

Penilaian proses ini berupa check list (√) yang berisi nama-nama siswa.mengerjakan tugas. Hasil pengamatan pada siklus ke 2 dapat dilihat pada lembar penilaian dibawah ini. TABEL HASIL PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN MENYUSUN TEKS PROSEDUR MENGGUNAKAN MODEL MAKE A MATCH SIKLUS 2 Kelas Aspek Skill NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 : IX A : Writing NAMA INDIKATOR 1 2 3 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ TOTAL 3 3 1 1 2 2 3 1 3 2 2 2 1 2 2 2 2 1 3 0 2 1 1 1 3 KATEGORI AKTIF PASIF √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ade Entris Firmansyah Adis Yudistira Agus Rusdiat Arapat Sahara Asep Rianto Cici Darus Dadan Ramdani Delis Meliani Deri Gumilar Dikha Puspa W Doni Kurniawan Eli Wahyuni Enci Supriatin Endah Yulianti Erik Darusman Erna Wati Erni Euis Solihat Handi Sunantoro Hendiana Hera Cahyaningsih Ika Kartika Jenal MA Kicin Dini √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ .

Lastri √ √ √ Muhrohil √ √ √ Neni Suhesti √ √ Nia Kaningsih √ √ Okfi Lestari √ √ Reni Nuraeni √ √ √ Riyan Supriadi √ √ Risa Fatmawati √ √ Rully Nurdianti √ √ Saepul Uyun Sena Destiana √ √ √ Tati Sudarti √ Usi √ √ √ Veni Lutviani √ √ Wandini Srilya M √ Yuli Yulianti √ √ TOTAL 30 22 27 PROSENTASE 73. Ada peningkatan hasil pada proses pembelajaran dibandingkan dengan pelaksanaan tindakan siklus ke 1.17 53. Partispasi 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 3 3 2 2 2 3 2 2 2 0 3 1 3 2 1 2 79 64.73%) aktif dalam proses pembelajaran dan siswa yang pasif sebanyak 12 orang (29. Siswa mengalami peningkatan dalam hasil proses pembelajaran dimungkinkan oleh situasi pembelajaran yang asyik dan tidak kaku. Siswa senang dan enjoy dengan media pembelajaran video dimana siswa dapat dengan fokus mengikuti proses pembelajaran.23 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 29 70. Kerjasama 3. yaitu sebanyak 29 siswa (70.73 12 29.27 Berdasarkan data yang diperoleh pada sikus ke 2 dapat dilihat sejauh mana keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.66 65. Melalui model pembelajaran make a match siswa tidak diberi .85 Keterangan Indikator: 1. Perhatian 2.27%).

5 67.5 . 4. Test tersebut dilaksanakan pada akhir pembelajaran pada pertemuan yang sama.5 72.5 70 67.kesempatan untuk melakukan hal yang lain diluar kerja kelompok dengan pembatasan waktu sehingga pembelajaran berjalan dengan efektif.5 75 62. Hasil Test Performance Siswa Hasil evaluasi siswa pada test tulis terfokus pada kemampuan siswa menyusun kalimat acak menjadi teks yang berterima.5 72.5 75 62. Siswa mengisi LKS yang diberikan dengan dibatasi waktu 15 menit.5 72.5 62. Siswa diminta mengisi instrumen berupa LKS (lembar kerja siswa) yang dibagikan secara individu. Hasil dari test tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut ini.5 72.5 72. Tabel 3: Hasil test Writing Menyusun Kalimat Siklus 2 DAFTAR NILAI SISWA KELAS IX A SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2009-2010 MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 NAMA Ade Entris Firmansyah Adis Yudistira Agus Rusdiat Arapat Sahara Asep Rianto Cici Darus Dadan Ramdani Delis Meliani Deri Gumilar Dikha Puspa W Doni Kurniawan Eli Wahyuni Enci Supriatin Endah Yulianti Erik Darusman Erna Wati L/P L L L L L P L L P L P L P P P L P SCORE 65 75 75 80 65 75 80 65 75 75 85 75 70 65 75 70 70 60 70 70 70 60 70 70 60 70 70 80 70 65 60 65 65 65 JML 125 145 145 150 125 145 150 125 145 145 165 145 135 125 140 135 135 RATARATA 62.5 82.3.5 72.2.5 67.

18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Erni Euis Solihat Handi Sunantoro Hendiana Hera Cahyaningsih Ika Kartika Jenal MA Kicin Dini Lastri Muhrohil Neni Suhesti Nia Kaningsih Okfi Lestari Reni Nuraeni Riyan Supriadi Risa Fatmawati Rully Nurdianti Saepul Uyun Sena Destiana Tati Sudarti Usi Veni Lutviani Wandini Srilya M Yuli Yulianti TOTAL RATA-RATA P P L L P P L P P L P P P P L P P L P P P P L P 65 60 125 75 75 150 65 60 125 80 75 155 70 65 135 70 75 145 65 65 130 80 70 150 95 85 180 75 65 140 65 60 125 70 65 135 80 70 150 65 60 125 60 60 120 85 75 160 80 75 155 75 70 145 75 65 140 65 60 125 80 80 160 70 55 125 65 60 125 75 70 145 2990 2760 5750 72.24 62.12 Aspek Penilaian: 1.5 70 62.32 140.5 72.5 65 75 90 70 62.5 62. Menyusun kalimat acak (jumbled text) menjadi sebuah text secara individu .5 67.5 60 80 77.5 67.93 67.5 72.5 80 62.5 2875 70.5 77.5 72.5 75 62. Mengidentifikasi generic structure dan language feature 2.5 75 62.

0. 29% C.00 0.9) 9 19 12 0 0.00. Satu siswa (0. 21% C D D. 19 siswa (0.0 – 8. 0.9) 1.29 0.9) (5. .02 0.02 B: Very Good (8. 9.00 0.Tabel 4. 0. 12.02%) mendapat nilai B „good‟.22%) mendapan nilai C „good‟.02.9.22 0.00. 9 siswa (0.0 – 7. 0.41 0.46 0. 0% F.0 .9) C: Good F: Very Poor (8. 0% B. 19 E F A Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu siswa pun yang mendapat nilai A „excellent‟.0 – 6.0 – 5.49 0. Identifikasi generic structure dan language feature F. 12 siswa (0. 0% A B E.07 0. 0% A.29%) mendapat nilai E „poor‟ dan tidak ada satu pun siswa yang mendapat nilai F „very poor‟ dalam mengidentidikasi generic structure teks prosedur. Rekapitulasi Nilai Hasil Test performance pada Siklus 2 No Aspek Penilaian sikap Jumlah Siswa B C D E 1 Presentase C D A 0 F A B E F Mengidentifikasi 1 generic structure dan language feature Menyusun relevansi susunan kalimat 2 menjadi sebuah text secara individu Catatan: A: Excellent (10) D: Fair (7.00 0.00 0 0 3 17 20 1 0.9) E: Poor (6.46%) mendapat nilai D „fair‟.

20 siswa (0.41%) mendapat nilai D „fair‟.00 0. 4.49 0. Nilai siswa hasil dari evaluasi test tulis hanya 1 orang siswa (0. Refleksi dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2010 bertempat di SMP Pasundan Banjar.00 0. Hasil Refleksi Setelah melakukan analisis data dari hasil observasi yang dilakukan melalui penilaian proses dan test writing. Sebanyak 3 siswa (0.07 0. 17 siswa (0.22%) saja yang masih belum mencapai KKM (kriteria ketuntasan minimal).02 3 0 0 A B C D 20 17 E F A B Pada chart di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada satu pun siswa yang mendapat nilai A „excellent‟ dan B „very good‟. Menyusun kalimat acak menjadi teks procedure yang berterima 1 0. peneliti dan para obeserver yang terdiri dari para guru yang tergabung dalam MGMP Bahasa Inggris 1 melaksanakan refleksi.41 0.49%) mendapat nilai E „poor‟ dan 1 siswa (0. Data akhir hasil dari pengolahan data dan analisis menunjukkan peningkatan yang signifikan bahwa 29 dari 41 siswa (70.2.02%) mendapat nilai F „very poor‟.4.2. Refleksi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti setelah melakukan tindakan siklus ke 2.73%) terlihat aktif dalam proses pembelajaran.07%) mendapat nilai C „good‟. Hasil tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran menggunakan model make a match dapat mengatasi masalah siswa dalam menyusun .

Hal ini dapat ditemukan sebanyak 18 orang (43%) siswa saja yang secara aktif mengikuti pelajaran sesuai dengan harapan. 4.22%) mendapat nilai D (fair).02%) mendapat nilai B (Very Good). satu orang siwa (0. Nilai yang diperoleh siswa pun belum menunjukkan hasil yang signifikan. Kelemahan yang ditemukan dalam siklus ke 1 . Pembahasan Data hasil analisis penilaian proses dan test tulis sebagai instrumen evaluasi yang telah di refleksikan dapat dilihat bahwa pada siklus ke 1 pembelajaran menyusun kalimat menjadi teks procedure menggunakan model pembelajaran make a match tidak berhasil secara maksimal karena hasil test dan proses tidak mencapai nilai yang diharapkan. satu orang siswa (0. Dengan kata lain implementasi tindakan pada siklus ke 1 tidak berhasil dan dapat dikatakan pembelajaran tersebut mengalami kegagalan dan diperbaiki di siklus ke 2.02%) mendapat nilai C (Good).3. yaitu sebanyak 23 orang (56%) siswa masih terlihat pasif dalam proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran make a match.kalimat acak menjadi teks padu berbentuk procedure dan dapat membuat siswa berpartisifasi aktif dalam proses pembelajaran.61) mendapat nilai E (poor). Mayoritas siswa. Hal ini membuktikan bahwa implementasi tindakan pada siklus ke 2 mendapat respon yang positif dan siklus ke 2 ini merupakan penutup penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan. sembilan orang siswa (0. Sedangkan mayoritas siswa. atau sebanyak 25 orang (0. bahkan dalam indikator mengidentifikasi generic structure dan language feature tidak ada satu siswa pun yang memperoleh nilai A (excellent). Pada tindakan siklus ke 2 guru mulai melakukan beberapa perbaikan dari kelemahan tindakan pembelajaran.

siswa terlihat antusias dan fokus pada proses pembelajaran.49%) mendapat nilai E „poor‟. . Nilai siswa hasil dari evaluasi test tulis hanya 1 orang siswa (0.73%) terlihat aktif dalam proses pembelajaran.22%) saja yang masih belum mencapai KKM (kriteria ketuntasan minimal). siswa belum terbiasa/ belum akrab dengan mode pembelajaran make a match. walaupun peneliti belum merasa puas akan hasil yang telah ditemukan. serta pembatasan alokasi waktu tiap tahapan belajar yang kurang diperhatikan oleh guru.41%) mendapat nilai D „fair‟. Batasan waktu dan penjelasan permainan make a match juga disampaikan oleh guru. Guru kemudian memperbaikinya dengan menggunakan media video berupa film yang menyajikan tata cara/ prosedur menggunakan mesin ATM. Hal tersebut menjadi dasar perbaikan di siklus ke 2. Dengan demikian hasil pelaksanaan tindakan siklus ke 2 telah mengalami kenaikan yang cukup signifikan. 17 siswa (0. 20 siswa (0. satu siswa mendapat satu buah kartu untuk di cocokkan dengan teman satu kelompok. guru membagikan kartu ke tiap kelompok masing-masing.meliputi media pembelajaran yang kurang relevan. hasil pengamatan mengindikasikan bahwa 29 dari 41 siswa (70. Selain itu.07%) mendapat nilai C „good‟. Setelah melaksanakan tindakan siklus ke 2. Nilai post test siswa berupa evaluasi individu melalui Lembar Kerja Siswa menunjukan Sebanyak 3 siswa (0. Kenaikan hasil belajar siswa dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

. Dengan kata lain. Peningkatan Hasil Proses Pembelajaran Aktifitas Siswa Prosentase keaktifan siswa dalam pembelajaran Siklus ke 1 43% Siklus ke 2 70.73% Tabel 2. implimentasi tindakan pembelajaran melalui model pembelajaran make a match dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks berbentuk procedure dan meningkatkan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran.12 Berdasarkan penjelasan pada pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan penelitian yang telah dilaksanakan mengalami keberhasilan.27% 62.71% 70.22% 0.46% 0. Peningkatan Hasil Test Siswa Aktifitas Siswa Prosentase Nilai Siswa Yang Mencapai KKM (65) Prosentase Siswa yang melebihi KKM (> 70) Hasil Rata-rata Nilai Test Writing Siklus ke 1 0.72 Siklus ke 2 0.Tabel 1.

Penggunaan Model Pembelajaran make a match dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas IX A SMP Pasundan Banjar pada semester 2 tahun pelajaran 2009-2010.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan prosentase keaktifan siswa pada siklus pertama sebesar 40. 5. Guru tentunya memiliki keinginan bagaimana siswa dapat dengan cepat mengerti dan mengaplikasikan apa yang menjadi tujuan pembelajaran. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui evaluasi/ test tulis dengan rata-rata nilai siswa pada siklus pertama 62.12. Saran Proses pembelajaran yang baik dan menyenangkan adalah hal yang semestinya diciptakan oleh guru dalam membimbing dan memberi penguatan kepada siswa di kelas.72 meningkat pada siklus ke 2 menjadi 70. Hal yang paling utama adalah guru hendaknya senantiasa melakukan pengamatan sejauh mana peningkatan . Penggunaan Model Pembelajaran make a match dan media pembelajaran video dapat meningkatkan aktifitas belajar siswa. 2.90% meningkat pada siklus kedua menjadi 70.73%. penulis dapat memeperoleh beberapa hasil temuan setelah melaksanakan refleksi dan diskusi pada bab sebelumnya dan Penelitian Tindakan Kelas ini dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.2.1. Kesimpulan Akhirnya.

Guru hendaknya mengembangkan model pembelajaran yang efektif. Penulis menyarankan guru mulai mencoba menggunakan model pembelajarankelompok seperti model pembelajaran make a match dalam pembelajaran karena siswa dapat termotivasi dan bekerjasama melalui pembelajaran yang menyenangkan disesuaikan dengan konteks yang menjadi tujuan pembelajran. Dalam penelitian ini. komunikatif. Model pembelajaran yang variatif hendaknya selalu dicoba sebagai upaya menciptakan proses pembelajaran aktif. . 2. Keterampilan menulis sangat essensial dihubungkan dengan aspek pengembangan diri siswa ke depan. 3. Dalam upaya Membantu memperbaiki / meningkatkan proses hasil belajar dan mengajar guru hendaknya terus menggali potensi siswa guna meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis (writing) teks bahasa inggris. efisien dan menyenangkan yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris untuk meningkatkan kompetensi menulis mereka. inovatif. Perhatian guru terhadap peningkatan mutu pendidikan Bahasa Inggris khususnya perlu ditingkatkan demi keberhasilan siswa dalam pembelajaran. efektif dan menyenangkan sesuai dengan prinsip PAIKEM. peneliti membuat catatan beberapa saran untuk perbaikan di masa mendatang sebagaimana berikut: 1. 4.belajar siswa di kelas. berdasarkan hasil refleksi kedua siklus.

Gramedia . 2005 Arikunto. Karakteristik dan Implementasi. Mulyasa. Penelitian Tindakan Kelas.2007. Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Di Bidang Pendidikan Dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru. Konsep. Bandung: LPMP. Slamet. Mulyana. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Deakin: Deakin University. Wibawa. Suharsimi. S. Stringer. 1988. R. Suhardjono et. 2005. . Jakarta: Dirjen PMPTK. Action research: A handbook for practitioners. Jakarta: Depdiknas Dirjen Pendasmen Dirtendik: 2003. Basuki.al. The Action Research Planner. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Dirjen Dikgu dan Tentis. 2005. 1996. London International Educational and Profesional Publisher. T. Bandung : Remaja Rosda karya. (2003). 2003. Jakarta: PT. R. Penelitian Tindakan Kelas Dalam Pengembangan Profesi Guru. Kemmis. dan Taggart.DAFTAR PUSTAKA Anita Lie. Cooperative Learning.

S. di SMK Pasundan 2 Banjar (2005-2008). di STIKes Muhammadiyah Ciamis (2006-sekarang).PROFIL PENULIS Friska Mahyudin Syah. yaitu Hilal Syah Fatih (3. melanjutkan ke MTsN Banjar (1993) dan SMA Negeri Banjar (1996) melanjutkan studi ke FKIP Universitas Galuh Ciamis Program S-1 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Jurusan Bahasa dan Seni lulus tahun 2005. S. Pengalaman kerja di bidang pendidikan: Sebagai pengajar di STIK Bina Putra Banjar (2005 – sekarang). di SMP Pasundan Banjar (2005-sekarang). Pendidikan yang diikuti yaitu: setelah menamatkan SDN Banjar XI (1989). .5 tahun) serta anak yang kedua Nazila Tasya Shaumi (06 bulan). Menikah dengan Novy Noeraeni.Kep tahun 2005 dan hingga kini dikaruniai dua orang anak.Pd lahir di Kota Banjar – Jawa Barat tanggal 01 April 1977 anak bungsu dari tiga bersaudara dari pasangan Maman Sulaeman dan Yeni Yuningsih.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->