TEORI KESALAHAN DAN PENGOLAHAN DATA

I M. A. Gelgel Wirasuta

Major steps in solving an analytical problem

Langkah pekerjaan analisis
• Tetapkan tujuan analisis • Langkan analisis • Penerokan • Pemisahan • Pengukuran • Pengolahan data • Komunikasi hasil analisis
Data diolah secara statistik agar diperoleh hasil yang berarti.

Accuracy and Precision
• Kecermatan (accuracy); – Ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analis dengan kadar analit yang sebenarnya. – Dinyatakan dalam persen perolehan kembali (%recovery) • Keseksamaan (precision) – Menyatakan ukuran yang menunjukkan kedekatan hasil analisis masing-masing terok yang sama pada penetapan paralel atau penetapan berulang kali. – Dinyatakan sebagai simpangan baku atau simpangan baku relatif

kecermatan vs keseksamaan Hasil analisis dengan baik kecermatan dan keseksamaan tinggi Hasil analisis dengan kecermatan kurang dan hanya keseksamaan tinggi .

Kesalahan (Galat) dalam analisis kuantitatif • Galat dapat mengakibatkan ketidaktepatan hasil analisis – Ketidaktepatan: • perbedaan hasil pengukuran dengan nilai sebenarnya Miller (1991) “statistika untuk kimia”: tidak ada hasil kuantitatif yang bermakna kecuali hasil itu disertai suatu taksiran galat yang memang tak terpisahkan darinya .

Sumber Galat dalam analisis • Setiap proses analisis • Alat dan instrumen yang digunakan • Manusia (operator. analis) .

Contoh sumber galat dari peralatan gelas .

Jenis Galat Analisis • Galat gamblang: – Galat yang sudah jelas. menyebabkan kita mengabaikan percobaan yang telah dilakukan dan memulai lagi dari awal secara menyeluruh • Galat acak – Galat yang tidak pasti (munculnya acak) yang menyebabkan setiap hasil berbeda satu dengan yang lainnya • Galat sistematik atau procedural error – menyebabkan penyimpangan hasil dari hasil yang diharapkan yang muncul secara konstan (ajeg) – galat ini adalah pasti dan bersifat ajeg (dapat positif atau negatif) .

Galat acak • Timbul oleh sebab yang tidak teratur tetapi selalu menyertai setiap penetapan – termasuk ganguan instrumen maupun kondisi percobaan – menyebabkan penetapan paralel sedikit saling berbeda dari hasil rata-rata • Diperlukan model matematik yang sesuai untuk mengambarkan distribusi probabilitas galat acak: (distribusi Gaussian) • Galat acak dinyatakan dengan: Er  x   .

Percent of measurements falling within a given range (assuming a Gaussian distribution) .

Galat sistematik • Mempengaruhi kecermatan yaitu kedekatannya pada nilai sebenarnya • Merupakan gabungan antara – galat tetap dari satu terok ke terok yang lain – galat proporsional tergantung pada ukuran terok • Gs = Gt + Gp – Gs: galat sistem. – Gt: galat tetap – Gp: galat proporsional .

dan • metode .Sumber galat sistematik • instrumen • personal.

– Leakage in vacuum system – Temperature effects on detector – Currents induced in circuits from ac power lines – Decrease voltages of batteries with use – Calibration errors in meters. and volumetric equipment • Commonly detected and corrected by calibration with suitable standard • Periodic calibration instruments is always desirable because response most instruments changes with time as a consequence of wear. corrosion. weights.Instrumental errors • Intrumental error – Drift in electronic circuit. or mistreatment .

Personal error • Jenis kesalahan personal – Penetapan/penglihatan batas akhir • Penentuan warna indikator pada titrasi • Pembacaan sekala buret atau sekala ukur lainnya – Kelalaian dalam mencatat • Diatasi dengan membuat – standard operasional prosedur – Dokumentasi setiap langakah pengerjaan .

dan • Reaksi yang terjadi selama analisis Diatasi dengan melakukan prosedur validasi pada metode yang digunakan .Methods Error • Penggunaan reagen kimia yang tidak edial • Sifat fisika dari reagen.

Validasi metode analisis I M A Gelgel Wirasuta .

Kecermatan “Accuracy” Keseksamaan “Precision” Kekhasan “Specificity” Linieritas dan rentang “Linearity and Range” 5.Validasi Metode Analisis 1. Ketangguhan “Raggedness” . Batas Kuantisasi “Limit of Quantitation” 7. 2. 3. Batas Deteksi “Limit of Detection” 6. 4.

atau – Bahan pembanding kimia “standard reference material” (SRM) • CRM dan SRM disediakan oleh badan resmi yang kemurnian dan homogenitasnya terjamin dan telah dibakukan oleh badan resmi • SRM untuk bahan kimia farmasi dikeluarkan oleh PPOMN (Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional-BPOM-RI) .Validasi Metode Analisis • Langkah pertama harus disiapkan sebelum dilakukan validasi: – Menyediakan Bahan Baku Pembanding Kimia Bersertifikat “Certified reference material” (CRM).

Validasi metode analisis • Tujuan. – Untuk memastikan bahwa metode analisis yang digunakan memenuhi persyaratan untuk penerapan analitik .

.1) Kecermatan “Accuracy” • Definisi: – Ukuran yang menunjukkan kedekatan hasil analisis dengan kadar yang sebenarnya – Diyatakan dengan persen perolehan kembali analit yang titambahkan • Kecermatan bergantung pada – Seluruh galat dalam analisis • Upaya mencapai derajat kecermatan tinggi: – Mengurangi galat sistematik: • Mengkalibrasi peralatan. dan • pelakasanaan yang cermat dan taat asas sesuai dengan prosedur. • mengontrol suhu.

1) Kecermatan “Accuracy” • Ditentukan dengan dua cara: – Cara simulasi “spiked-placebo recovery method” • Menentukan kadar analit dalam terokan simulasi yaitu mencampurkan analit dalam jumlah tertentu dalam bahan pembantu tertentu. • Analit yang digunakan merupakan bahan baku pembanding kimia (CRM atau SRM) – Cara penambahan baku “standard addition method” • Sejumlah tertentu analit ditambahkan ke dalam terokan yang mengandung analit sama yang akan ditentukan .

1) Kecermatan “Accuracy” Cara simulasi “spiked-placebo recovery method” • Perolehan kembali: – Ratio antara hasil yang diperoleh terhadap hasil yang sebenarnya – % perolehan kembali = (Xr / Xa) 100 • Xr = jumlah analit yang diperoleh kembali • Xa = jumlah analit yang ditambahkan – % perolehan kembali ditentukan dengan cara • membuat sampel plasebo (ekspien obat. cairan biologis) • menambahkan analit dengan konsentrasi tertentu (80% s/d 120% dari kadar analit yang akan diperkirakan) • analisis dengan metode yang akan divalidasi .

1) Kecermatan “Accuracy” Penambahan baku “standard addition method” • Bila tidak memungkinkan membuat sampel plasebo karena matriknya tidak diketahui → maka dapat dipakai metode adisi • Dilakukan dengan menambahkan sejumlah analit dengan konsentrasi tertentu pada sampel yang diperiksa. lalu dianalisis dengan metode tersebut • Teknik penambahan baku dapat dilakukan secara seri atau tunggal .

1) Kecermatan “Accuracy” Penambahan baku “standard addition method” • Perhitungan %perolehan sampel .

• Ketidaksetimbangan massa. • Mengubah pH atau kapasitas dapar .1) Kecermatan “Accuracy” Penambahan baku “standard addition method” • Jumlah optimum analit yang ditambahkan: – 2 s/d 4 kali kadar analit yang ada pada terok tanpa penambahan baku • Kelemahan metode penambahan baku: – Tidak dapat digunakan jika analit yang ditambahkan menimbrung reaksi utama: • Analit yang ditambahkan menyebabkan kekurangan pereaksi yang digunakan.

dan – Keseksamaan metode (RSD = relative standard deviation) • Vander Willen menyatakan: Selisih kadar Xd pada berbagai penetapan harus kurang dari 5% Harga rata-rata selisih secaran statistik < 1.5% S = RSD.Evaluasi kecermatan • Kecermatan bergantung pada: – Konsentrasi analit dalam matrik sampel. I = nilai t pd tabel t studen pada aras 95% n = jumlah sampel .

Evaluasi kecermatan Rentang kesalahan yang dijinkan pada setiap konsentrasi analit pada matriks .

analisis kuantitatif dengan NMR . gravimetri.1) Kecermatan “Accuracy” • Jika bahan pembanding kimia (SRM atau CRM) tidak ada makan uji kecermatan dapat diukur dengan – membandingkan metode yang divalidasi dengan methode yang sudah divalidasi atau yang tercantum dalam buku acuan seperti farmakofe – Kadang-kadang dibandingkan dengan metode penentuan absolut: • Volumetri.

2) Keseksamaan • Definisi: – Ukuran yang menunjukkan kedekatan hasil pengukuran masing-masing terok yang sama terhadap hasil pengukuran paralel atau pengukuran berulang kali. • Ekspresi – Dinyatakan sebagai: • Simpangan baku (SD) • Simpangan baku relatif (RSD) • Koefisien variansi (CV) .

yaitu terokan berupa produk farmasi yang senyaja dibuat: tablet. dll – Pada tahap pengembangan metode sebelumnya. sirop. • Keseksaman ditentukan dengan cara penetapan kadar secara berulang dalam sediaan simulasi .2) Keseksamaan • Pengujian: – Dilakukan dengan analisis terokan yang sama secara berulang kali • Edward: 10 kali terokan paralel dan RSD < 2% • Buick: RSD < 10% untuk matrik biologi • Shah: minimum 5 kali setiap konsentrasi dengan harga CV ≤ ± 15%. CV ≤ ±10% – Sebaiknya ditentukan terhadap terokan sebenarnya. kecuali pada LOQ.

2) Keseksamaan • Koefesian Variasi / RSD akan meningkat seiring dengan penurunnya konsentrasi analit – Kadar 1% atau lebih maka RSD < 2.5% – Kadar 1%o maka RSD < 5% – Kadar satu persejuta maka RSD < 16% – Kadar perbilion maka RSD < 32% • Secara umum diterima apabila RSD ≤ 2% .

. X4. X2.2) Keseksamaan • Perhitungan SD – X1.Xn • Perhitungan RSD atau koefisien variansi (KV) . X3. …………….

Keseksamaan – ketertiruan keterulangan • Rancangan keseksamaan dapat digunakan untuk mengukur ketertiruan dan keterulangan • Ketertiruan (reproducibility): – Diperiksa oleh laboratorium yang berbeda • Keterulangan (repeatability): – Diperiksa oleh satu laboratorium dengan menggunakan alat. instrumen dan waktu yang sama tetapi operator atau analisnya berbeda . pereaksi.

hasil urai. atau senyawa lain yang sengaja ditambahkan dan dibandingkan dengan analisis terokan yang mengandung analit saja – Selisih kadar menunjukkan derajat kekhasan metode tersebut .3) Kekhasan / selektivitas (selectivity) • Definisi: – Kemampuan metode yang hanya menentukan analit tertentu saja secara cermat dan seksama dalam terokan yang mengandung komponen lain • Penentuan – Penetapan kadar analit dalam terokan yang mengandung pengotor.

kemudian dibuat hubungan linieritas melalui kurva kalibrasi – Koefesien korelasi (r) pada analisis regresi linier digunakan sebagai parameter liniertas . keseksamaan dan linieritas yang dapat diterima • Linieritas diuji untuk: – Membuktikan adanya hubungan linier antara konsentrasi analit dengan respon detektor instrumen • Penentuan: – Dilakukan penetapan kadar pada rentang konsentrasi tertentu. proporsional terhadap konsentrasi analit dalam terokan – Rentang: batas terrendah dan tertinggi analit yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan.4) Linieritas dan rentang • Definisi: – Liniertas: kemampuan metode analisis memberikan respon baik secara langsung maupun dengan bantuan transformasi matematik yang baik.

4) Linieritas dan Rentang • Parameter lain yang dihitung selain koefisien korelasi (r) – Simpangan baku residual (Sy)  Rentang pengujian linieritas dilakukan pada rentang konsentrasi 25 s/d 200% dari kadar analit dalam terokan .

5) Batas Deteksi (LOD) dan Batas kuantisasi (LOQ) • Definisi – LOD adalah jumlah analit terkecil yang dapat memberikan respon signifikan dibandingkan dengan blangko – LOQ adalah jumlah analit terkecil yang dapat ditentukan dengan derajat kecermatan dan keseksamaan terentu sesuai dengan kondisi percobaan • Penentuan – Tergantung pada teknik analisis yang digunakan .

5) Batas Deteksi (LOD) dan Batas kuantisasi (LOQ) • Penentuan: – Menggunakan prosedur instrumental: • LOD ditentukan melalui ratio signal/noise (S/N) dari terukan yang diketahui kadarnya dibandingkan terhadap blangko • Mengukur sejumlah tertentu terokan blanko lalu dihitung simpangan baku (SD) dari respon yang diberikan – LOD = 3 SD – LOQ = 10 SD .

5) Batas Deteksi (LOD) dan Batas kuantisasi (LOQ) • Penentuan: – Menggunakan prosedur instrumental: • Dihitung secara statistik dari kurva regresi linier – Y = ax +b – Simpangan baku blanko = simpangan baku residual (Sy/x) .

instrumen. analisis. hari yang berbeda dll. seperti laboratirum. suhu. • Ketangguhan dikaji secara studi kolaboratif (antar lab) . bahan pereaksi.6) Ketangguhan “ruggedness” • Definisi – Menunjukkan derajat ketertiruan hasil uji yang diperoleh dari analisis terokan yang sama dalam berbagai kondisi uji normal. pereaksi sama. • Ketangguhan biasanya dinyatakan sebagai tidak adanya pengaruh perbedaan operasi atau lingkungan kerja pada hasil uji • Merupakan ukuran ketertiruan pada kondisi operasi normal antar lab dan antar analis.

7) Kekuatan (Robustness) • Untuk memvalidasi kekuatan suatu metode perlu dibuat perubahan metodologi yang kecil dan terus menerus dan mengevaluasi respon analitik dan efek keseksamaan dan kecermatan. • Contoh: pada HPLC – perubahan komposisi fase gerak (1%) – pH fase gerak (± 0.2 unit) – Perubahan temperatur kolom (± 2-3 oC) .

• Metode ini termasuk perhitungan kembali secara kuantitatif dan tes batas – Katagori III • Metode yang digunakan untuk menevaluasi sediaan farmasi.SELEKSI PARAMETER VALIDASI • Pemilihan parameter validasi tergantung pada tipe prosedur analitik: • USP XXII – Kategori I: • Metode yang digunakan untuk kuantitas komponen maupun substansi bahan baku obat atau bahan aktif (termasuk pengawet) pada hasil akhir farmasetika – Katagori II: • Metode yang digunakan untuk menentukan campuran dalam substansi bahan baku obat atau komponen sisa pada produk akhir farmasetika. seperti pada uji disolusi dan keseragaman kandungan .

SELEKSI PARAMETER VALIDASI .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.