P. 1
KELOMPOK 8 BONGGOL PISANG

KELOMPOK 8 BONGGOL PISANG

|Views: 271|Likes:
Published by Teddy Kris
Tugas Kuliah Bioenergi
Tugas Kuliah Bioenergi

More info:

Published by: Teddy Kris on Apr 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/08/2015

pdf

text

original

PROPOSAL PRAKTIKUM MATA KULIAH PILIHAN BIOENERGI PEMBUATAN BIOETANOL DARI BONGGOL PISANG DENGAN HIDROLISIS ASAM

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Mata Kuliah Pilihan Bioenergi Disusun oleh :

1. Nindia Wahyuningtyas Merdikawati 2. Teddy Kristian 3. Heri Dwi Agustian

(21030111060035) (21030111060068) (21030111060085)

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA PROGRAM DIPLOMA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012

1

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah MKP Bioenergi yang berjudul Pembuatan Bioetanol dari Bonggol Pisang dengan Hidrolisis Asam. Penulisan makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan wawasan setiap pembaca sehingga dapat memahami secara jelas mengenai bioetanol sebagai energi terbarukan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini telah banyak menerima bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini, kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Ir. Margaretha Tuti Susanti MP, M. Endy Yulianto MT dan Ir. HjLaila Faizah M. Kes selaku dosen pengampu matakuliah MKP Bioenergi 2. Teman- teman kelompok MKP Bioenergi. 3. Semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun, guna kesempurnaan makalah ini. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

Semarang, 24 Maret 2013

(Penyusun)

2

ABSTRAK

Bioetanol (C2H5OH) dapat diartikan sebagai bahan bakar dari minyak nabati yang diproduksi dari bahan pangan yang mengandung pati melalui proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat mengunakan bantuan mikroorgaisme. Pohon pisang dapat dijumpai hampir di seluruh wilayah Indonesia dan jumlahnya yang melimpah , sehingga berpotensi untuk menjadi alternatif bahan bakar bioetanol. Potensi kandungan pati bonggol pisang yang besar yaitu

sebesar 76,57% dapat dimanfaatkan sebagai alternative bahan bakar, yaitu bioetanol. Komposisi yang terdapat dalam bongol pisang itu sendiri masing masing yaitu pati 76,57%, air 18,97%, lemak 2,11%, protein 0,32%, kalsium 717 mg/100g, fosfor 114 mg/100g, besi 0,13 mg/100g. Adapun bahan yang digunakan dalam proses pembuatan bioetanol yaitu : Bonggol Pisang, Aquadest, Asam Sulfat 96% 2M, ZA (Ammonium sulfat), NPK, Sukrosa, Saccharomyces cereviseae, Zeolit sintetis 3A, Reagensia Nelson, Reagensia Arsenomolybat, Pb-Asetat. Proses pembuatan bioetanol meliputi proses pendahuluan (isolasi bonggol pisang), hidrolisa pati menjadi glukosa dengan asam (H2SO4) , fermentasi atau perubahan glukosa menjadi etanol dengan bantuan S.cereviceae , destilasi, dehidrasi bioetanol, serta analisa produk.

Kata kunci : Bioetanol, bonggol pisang, pati

3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................ ABSTRAK......................................................................................................... DAFTAR ISI....................................................................................................... I.Judul Proposal................................................................................. II.Latar Belakang .............................................................................. III.RumusanMasalah ......................................................................... IV.Tujuan Penulisan ......................................................................... V.TinjauanPustaka. ........................................................................... 5.1. Karakteristik Bonggol Pisang .......................................... 5.2.Komposisi Bonggol Pisang .............................................. 5.3. Pengertian Bioetanol ....................................................... 5.3.1 Standar Baku Mutu Bioetanol ......................... 5.4. Proses Produksi Bioetanol ............................................... 5.4.1 Isolasi Pati Bonggol Pisang ............................. 5.4.2 Hidrolisis asam pati bonggol pisang ............... 5.4.3 Fermentasi Gula menjadi Alkohol .................. 5.4.4 Destilasi dan Dehidrasi Bioetanol ................... 5.4.5 Metode Spektrofotometri................................ 5.4.6 Metode Fenol Sulfat....................................... VI.Metodologi Praktikum. ............................................................... 6.1. Alat yang digunakan ........................................................ 6.2. Bahan yang digunakan..................................................... 6.3. Variabel Praktikum .......................................................... 6.4.Prosedur Kerja .................................................................. 6.5.Pengamatan yang dilakukan .............................................

2 3 4 6 6 7 7 8 8 9 9 9 11 11 11 12 15 15 16 17 17 18 18 19 22

4

VII.Rencana Kegiatan. ..................................................................... VIII.Jadwal Faktual Pelaksanaan..................................................... IX.Rencana Anggaran. ..................................................................... X.Organisasi Kelompok. .................................................................. XI. Daftar Pustaka ............................................................................

22 22 23 23 25

5

I.

JUDUL PROPOSAL

Pembuatan Bioetanol Dari Bonggol Pisang Dengan Hidrolisis Asam. II. LATAR BELAKANG Menipisnya cadangan bahan bakar fosil dan meningkatnya populasi manusia sangat kontradiktif dengan kebutuhan energi bagi kelangsungan hidup manusia beserta aktivitas ekonomi dan sosialnya. Sejak lima tahun terakhir, Indonesia mengalami penurunan produksi minyak nasional akibat menurunnya cadangan minyak pada sumur-sumur produksi secara alamiah, padahal dengan pertambahan jumlah penduduk, meningkat pula kebutuhan akan sarana transportasi dan aktivitas industri. Hal ini berakibat pada peningkatan kebutuhan dan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Pemerintah masih mengimpor sebagian BBM untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Bahan bakar berbasis nabati salah satu contohnya adalah bioetanol. Bioetanol dapat dibuat dari sumber daya hayati yang melimpah di Indonesia. Bioetanol dibuat dari bahan-bahan bergula atau berpati seperti singkong atau ubi kayu, tebu, nira, sorgum, nira nipah, ubi jalar, ganyong dan lain-lain. Hampir semua tanaman yang

disebutkan diatas merupakan tanaman yang sudah tidak asing lagi, karena mudah ditemukan dan beberapa tanaman tersebut digunakan sebagai bahan pangan (Susana, 2005). Bahan yang belum dimanfaatkan sebagai penghasil sumber karbohidrat adalah bonggol pisang. Bonggol pisang memiliki komposisi 76% pati, 20% air, sisanya adalah protein dan vitamin (Yuanita dkk, 2008). Kandungan korbohidrat bonggol pisang tersebut sangat berpotensi sebagai sumber bahan bakar nabati yaitu bioetanol. Bioetanol karbohidrat merupakan cairan hasil proses fermentasi gula dari sumber

(pati) menggunakan bantuan Saccharomyces cerevisea (Anonim, 2007).

Produksi bioetanol dari tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat, dilakukan melalui proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) dengan beberapa metode diantaranya dengan hidrolisis asam dan secara enzimatis. Metode hidrolisis secara enzimatis lebih sering digunakan karena lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan katalis asam. Reaksi hidrolisis dengan menggunakan

enzim juga berjalan cepat dibanding hidrolisis asam, kelemahan dari hidrolisis enzim ini
6

sendiri adalah dari segi ekonomi dimana enzim yang digunakan untuk memutus ikatan polisakarida tergolong enzim yang mahal dan susah untuk dicari dan proses reaksi hidrolisa harus dijaga pada kondisi operasi yang sesuai sehingga enzim dapat bekerja secara optimal dan tidak terdeaktivasi (Rohatien,1989). Dibandingkan dengan hidrolisis enzim, hidrolisis dengan menggunakan asam tergolong mudah dan membutuhkan biaya yang tidak terlalu mahal tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama dan suhu yang tinggi untuk dapat memutus ikatan polisakarida menjadi glukosa. Glukosa yang diperoleh selanjutnya dilakukan proses fermentasi atau peragian dengan menambahkan yeast atau ragi sehingga diperoleh bioetanol sebagai sumber energi.

III.

RUMUSAN MASALAH Limbah bonggol pisang banyak ditemukan di Indonesia khususnya di daerah

pedesaan, umumnya limbah tersebut tidak banyak dimanfaatkan, tetapi dibiarkan menumpuk dan membusuk, sehingga dapat menggangu pemandangan dan mencemari lingkungan. Salah satu cara penanggulangan limbah bonggol pisang yang merupakan sampah organik yang mengandung sekitar 76,57% kandungan pati yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia adalah dengan menerapkan teknologi fermentasi anaerobik yang .menghasilkan bioetanol sebagai energi alternatif Permasalahan yang akan dibahas adalah mengetahui cara pemanfaatan limbah bonggol pisang menjadi bioethanol dengan menggunakan proses hidrolisa asam dan dilanjutkan dengan proses fermentasi. Serta untuk mengetahui dan membandingkan kondisi optimum dan konsentrasi asam yang digunakan dalam proses hidrolisa.

IV.

TUJUAN PENULISAN

Penulisan proposal ini bertujuan untuk :

1. Memberikan alternatif dalam pemanfaatan bonggol pisang serta mengetahui potensi bonggol pisang dalam menghasilkan bioenergi bahan bakar alternatif bioetanol. 2. Mengetahui potensi bonggol pisang sebagai sumber bioetanol menggunakan metode hidrolisis asam. 3. Mengetahui Pengaruh konsentrasi asam yang digunakan dalam proses hidrolisa.
7

4. Mengetahui pengaruh waktu hidrolisa yang digunakan dalam proses pembuatan bioetanol. 5. Mengetahui kadar dan efisiensi dari bioetanol yang dihasilkan.

V.

TINJAUAN PUSTAKA 5.1 Karakteristik Bonggol Pisang Bonggol pisang merupakan batang tanaman pisang yang berupa umbi batang (batang aslinya). Bonggol pisang yakni bagian terbawah dari batang semu yang berada di dalam tanah, mengandung banyak cairan yang bersifat menyejukkan dan berkhasiat menyembuhkan. Bonggol pisang merupakan bagian tanaman pisang yang merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan mudah ditemukan hampir di seluruh daerah di Indonesia serta mudah dikembangkan dan merupakan limbah pohon pisang yang kaya akan kandungan pati atau karbohidrat. Komposisi kandungan bonggol pisang terdiri dari 76% Pati dan 18,97% air. Kandungan pati yang

terdapat dalam bonggol pisang merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bioetanol.
Kingdom Devisi Sub. Divisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Monocotylae : Musales : Musaceae : Musa : Musa paradisiac

8

5.2 Komposisi Bonggol Pisang
Tabel 1. Komposisi kandungan Bonggol Pisang.

Kandungan Pati Air Lemak Protein Kalsium Fosfor Besi

Kadar (%) 76,57 18,97 2,11 0,32 717 mg/100g 114 mg/100g 0,13 mg/100g

Sumber : (Laboratorium Balai Penelitian Ternak Bogor, 1998)

5.3 Pengertian Bioetanol Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme (Anonim, 2007). Bioetanol dapat juga diartikan juga sebagai bahan kimia yang diproduksi dari bahan pangan yang mengandung pati, seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung, dan sagu. Bioetanol merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak premium (Khairani, 2007). Hasil beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa polusi udara yang dihasilkan oleh biofuel juga rendah, di mana opasitasnya lebih kecil 30% daripada solar. Demikian pula dengan sulfur dan asap yang dihasilkan sangat rendah. Dengan melihat

keunggulan-keunggulan bioetanol, maka sudah seharusnya penggunaan bahan bakar nabati untuk sektor transportasi perlu didukung untuk pengembangannya. 5.3.1 Standar Baku Mutu Bioetanol Produk biofuel baik sebagai bioetanol murni maupun campurannya dengan bensin yang dijual dipasaran harus memenuhi standar mutu bioetanol dan bensin yang berlaku di dalam negeri maupun di tingkat internasional. Standar bioetanol yang berlaku (berdasarkan spesifikasi bensin) adalah mengacu kepada ASTM D 4860. Diperlukan standar yang cocok dengan kondisi Indonesia.Etanol kering biasanya memiliki berat jenis dalam rentang 0,7936-0,7961 pada kondisi 15,56/15,56°C. (Khairani, 2007)
9

Tabel 2.Hasil Pengujian Parameter Uji Bioetanol Sesuai SNI 7390:2008

10

5.4 Proses Produksi Bioetanol Kandungan pati bonggol pisang sebesar 76,57%, sehingga memiliki potensi yang besar. Berikut proses pemecahan pati menjadi glukosa dengan menggunakan katalis asam.

(C6H12O5)n Pati (C6H12O6)n Glukosa

T= 100oC P= 1 atm H2SO4 96% T= 27oC pH= 4,5 S. cereviseae

nC6H12O6 Glukosa 2 C2H5OH Etanol + 2CO2

Proses pembuatan bioetanol melalui beberapa tahap yaitu isolasi pati, hidrolisis pati menjadi glukosa, fermentasi atau perubahan glukosa menjadi etanol atau bioetanol, dan destilasi bioetanol (Musanif, 2008). 5.4.1 Isolasi Pati Bonggol Pisang Bonggol pisang sebagai bahan baku pati dikupas dan dibersihkan dari kotoran. Bonggol pisang kemudian dipotong kecil-kecil lalu dikeringkan dengan cara dijemur dan diangin-anginkan sampai kering. Bonggol pisang dibuat kering bertujuan agar lebih awet dan menghilangkan kandungan airnya sehingga diperoleh bonggol yang kering dan dapat disimpan sebagai cadangan bahan baku (Anonim, 2008). Bonggol pisang kering digiling dengan mesin penggiling atau ditumbuk dengan penumbuk sehingga menjadi serbuk halus. Serbuk bonggol pisang lalu disaring atau diayak sehingga diperoleh pati yang homogen. 5.4.2 Hidrolisis Pati menjadi Glukosa Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dalam proses pembuatan bioetanol, karena proses ini menentukan jumlah glukosa yang dihasilkan untuk kemudian dilakukan fermentasi menjadi bioetanol. Menurut Musanif (2008), prinsip hidrolisis pati adalah pemutusan rantai polimer pati menjadi unit-unit dekstrosa ataumonosakarida yaitu glukosa (C6H12O6). Pemutusan ikatan pada pati atau karbohidrat menjadi glukosa dapat menggunakan beberapa metode diantaranya yaitu metode kimiawi (hidrolisis asam) dan
11

metode enzimatis (hidrolisis enzim). Metode kimiawi dilakukan dengan cara hidrolisis pati menggunakan asam-asam organik, yang sering digunakan adalah H2S04, HCl, dan HNO3. Hasil pemotongan oleh asam adalah campuran dekstrin, maltosa dan glukosa (Trifosa, 2007). Hidrolisis yang terdapat pada Bonggol Pisang dilakukan dengan menggunakan katalis asam kuat, yaitu asam sulfat (H2S04) Menurut Rohajatien hidrolisis dengan menggunakan asam sulfat (H2S04) mampu menghasilkan rendeme (yield) yang lebih besar dibandingkan menggunakan asam jenis lain (HCI). pada konsentrasi asam yang terlalu tunggi dan temperatur tinggi dimungkinkan terjadi degradasi glukosa atau terjadi karamelisasi (perubahan warna pada larutan menjadi warna coklat atau karamel) sehingga gula pereduksi yang dihasilkan dari proses hldrolisa tersebut menjadi tidak maksimal. 5.4.3 Fermentasi Gula menjadi Alkohol Fermentasi adalah perubahan 1 mol glukosa menjadi 2 mol etanol dan 2 mol CO2. Proses fermentasi dilakukan dengan menambahkan yeast atau ragi untuk

mengkonversi glukosa menjadi bioetanol yang bersifat anaerob yaitu, tidak memerlukan okasigen (O2). S. cereviceae akan memetabolisme glukosa dan fruktosa membentuk asam piruvat. Asam piruvat, selanjutnya mengalami reaksi dekarboksilasi menjadi asetaldehid dan mengalami reaksi dehidrogenasi menjadi bioetanol (Musanif, 2008). Setelah mendapatkan kondisi optimum pada proses hidrolisa asam ,maka langkah selanjutnya adalah proses mengubah hidrolisat gula menjadi etanol dengan cara proses fermentasi. Dalam proses ini , substrat dikondisikan dengan menambahkan nutrisi baik makro maupun mikro (Urea dan NPK) masing-masing sebanyak 1,5% dan ditetapkan pHnya antara 4 ,5 dan 5,5. Kemudian ke dalam substrat diberikan juga gula sukrosa sebesar 1 % yang berguna untuk merangsang pertumbuhan mikroba selama proses fermentasi berlangsung. Fungsi dari ZA di sini yaitu selain penambah nutrisi mikroba berupa unsur Nitrogen, ZA juga berfungsi mengasamkan, karena ZA bersifat asam. Fungsi NPK di sini yaitu sebagai nutrisi mikroba.

12

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Fermentasi a. Spesies Sel Khamir Pemilihan mikroorganisme biasanya berdasarkan jenis karbohidrat yang digunakan sebagai medium, untuk memproduksi alkohol dari pati dan gula digunakan Saccharomyces cerevisiae. b. Jumlah Sel Khamir Jumlah sel khamir yang diinokulasikan merupakan faktor yang sangat

mempengaruhi proses fermentasi. Mikroba yang diinokulasikan ke dalam medium fermentasi disebut inokulum. c. Media Pada umumnya bahan dasar yang mengandung senyawa organik terutama glukosa dan pati dapatdigunakan sebagai substrat dalam proses fermentasi bioethanol (Prescott and Dunn, 1959) e. Derajat Keasaman (pH) Derajat keasaman optimum untuk pertumbuhan khamir yang digunakan pada fermentasi etanol adalah 4,5-5,5. Pada umumnya sel khamir dapat tumbuh dan memproduksi etanol pada pH 3,5-6,0. f. Suhu Khamir mempunyai kisaran toleransi tertentu terhadap suhu untuk pembentukan selnya, suhu optimum untuk khamir adalah 25-30oC. Peningkatan suhu sampai 40oC dapat mempertinggi kecepatan awal produksi etanol, tetapi produktivitas fermentasi secara keseluruhan menurun karena meningkatnya jumlah etanol menyebabkan terhambatnya pertumbuhan sel khamir. g. Nutrisi Selain sumber karbon, Saccharomyces cereviseae juga memerlukan sumber nitrogen, vitamin danmineral dalam pertumbuhannya. Pada umumnyasebagian besar Saccharomyces cereviseae memerlukan vitamin seperti biotin dan thiamin yangdiperlukan untuk pertumbuhannya. Beberapa mineraljuga harus ada untuk pertumbuhan Saccharomyces cereviseae seperti phospat, kalium, sulfur, dansejumlah kecil senyawa besi dan tembaga (Prescottand Dunn,1959).Pada penelitian ini menggunakan 6 gr Za dan 6 gr urea sebagai nutrisinya dan selanjutnya dipasteurisasa pada suhu 121oC (Rhonny.A dan Danang J.W., 2003)
13

h. Oksigen Selama fermentasi alkohol berlangsung, diperlukan sedikit oksigen yaitu sekitar 0,05-0,10 mmHg tekanan oksigen, yang diperlukan sel khamir untuk biosintesa lemak tak jenuh dan lipid. Jumlah oksigen yang tinggi dapat merangsang pertumbuhan sel khamir, sehingga produksi alkohol menjadi lebih rendah. Persediaan oksigen yang besar penting untuk kecepatan perkembangbiakan sel khamir, namun produksi alkohol terbaik pada kondisi anaerob. i. Volume starter Volume starter yang ditambahkan 3-7% dari volume media fermentasi. Jumlah volume starter tersebut sangat baik dan efektif untuk fermentasi serta dapat menghasilkan kadar alcohol yang relative tinggi (Monick, J. A., 1968).Penambahan volume starter yang sesuai pada proses fermentasi adalah 5% dari volume fermentasi(Prescott and Dunn, 1959). Volume starter yang terlalu sedikit akan mengakibatkan produktivitas menurun karena menjadi lelah dan keadaan ini memperbesar terjadinya kontaminasi. Peningkatan volume starterakan mempercepat terjadinya fermentasi terutama bila digunakan substrat berkadar tinggi. Tetapi jika volume starter berlebihan akan mengakibatkan. hilangnya kemampuan bakteri untuk hidup sehingga tingkat kematian bakteri sangat tinggi (Desrosier,1988). j. Waktu fermentasi Waktu fermentasi yang biasa dilakukan 3-14 hari. Jika waktunya terlalu cepat Saccharomycescereviseae masi dalam masa pertumbuhan sehingga alcohol yang dihasilkan dalam jumlah sedikit dan jika terlalu lama Saccharomyces cereviseae akan mati maka alcohol yang dihasilkan tidak maksimal (Prescott and Dunn, 1959). k. Konsentrasi gula Konsentrasi gula akan berpengaruh terhadap aktifitas Saccharomyces cereviseae. Konsentrasi gula yang sesuai kira-kira 10-18%. Konsentrasi gula yang terlalu tinggi akan menghambat aktivitas Saccharomyces cereviseae, sebaliknya jika konsentrasinya rendah akan menyebabkan fermentasi tidak optimal (Prescott and Dunn, 1959).

14

5.4.4 Destilasi dan Dehidrasi Bioetanol Bioetanol hasil proses fermentasi dipisahkan dengan cara disaring, kemudian filtrat didestilasi sehingga dapat dihasilkan bioetanol yang bebas dari kontaminan atau pengotor yang terbentuk selama proses fermentasi. Bioetanol yang dihasilkan dari destilasi pertama biasanya memiliki kadar sebesar 95 %. Menurut Musanif (2008), Bioetanol dengan konsentrasi 95 % belum dapat dijadikan sebagai bahan bakar. Menurut Nurdyastuti (2008), bioetanol yang digunakan sebagai campuran bahan bakar untuk kendaraan harus benar-benar kering dan anhydrous supaya tidak korosif, sehingga bioetanol harus mempunyai grade sebesar 99,5 – 100 % volume. Oleh karena itu, bioetanol hasil destilasi harus ditambahkan suatu bahan yang dapat menyerap atau menarik kandungan air yang masih terdapat dalam bioetanol, bahan yang sering digunakan diantaranya yaitu, CaCO3, dan zeolit atau dilakukan destilasi vakum, sehingga dapat dihasilkan bioetanol yang lebih murni yang dapat dijadikan sebagai bahan bakar. Dehidrasi dilakukan dengan menggunakan Silica Gel. Zeolit sintetis yang paling sederhana adalah zeolit A. Artinya, perbandingan antara molekul silika, alumina, dan sodium adalah 1:1:1. Untuk pemurnian bioetanol, sebaiknya digunakan zeolit sintetis 3A. Maksudnya zeolit yang berukuran 3 angstrom (1 angstrom = 1,0 x10-10 m). Dibandingkan zeolit alam dan sintetis lainnya, zeolit sintetis 3A memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya ruang terbuka pada pori-porinya mencapai 47% lebih banyak, memiliki kemampuan untuk menukar molekul sodium, dan mampu mengikat air. 5.4.5 Metode Spektrofotometri Metode Spektrofotometri sinar tampak berdasarkan penyerapan sinar oleh suatu larutan berwarna, oleh karena itu metode ini dikenal juga sebagai metode kolorimetri. Hanya larutan senyawa berwarna yang dapat ditentukan dengan metode ini. Senyawa tak berwarna dapat dibuat berwarna dengan mereaksikannya dengan pereaksi yang menghasilkan senyawa berwarna. Metode spektrofotometri didasarkan atas hukum Lambert – Beer. Menurut hukum ini jumlah radiasi tampak, UV, atau infra merah, yang di serap atau ditransmisikan oleh suatu larutan merupakan suatu fungsi eksponen tebal larutan.

15

5.4.6 Metode Fenol Sulfat Pengujian gula pereduksi metode Fenol dilakukan dengan cara memasukkan 1mL sampel ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 1 ml larutan phenol 5%. Larutantersebut kemudian dikocok dengan vorteks. Lalu, dilakukan penambahan H2SO4 sebanyak 5 ml ke dalam larutan. Dibiarkan sampai dingin pada suhu ruang, kemudiandiukur absorbansinya pada panjang gelombang 550 nm. Pengukuran gula pereduksidengan metode fenol didasarkan pada prinsip bahwa gula sederhana, oligosakarida,polisakarida dan turunannya dapat bereaksi dengan fenol dalam asam sulfat pekat menghasilkan warna oranye yang stabil (Apriyantono, 1989). Kurva standar dibuat dengan konsentrasi glukosa 0,02 g/L atau 20 ppm, 0,04g/L atau 40 ppm, 0,06 g/L atau 60 ppm, 0,08 g/L atau 80 ppm, dan 0,1 g/L atau 100ppm. Kemudian nilai gula pereduksi dicari dengan metode Fenol dengan mengukur nilai absorbansi menggunakan spektrofotometer. Persamaan Regresi selanjutnya digunakan sebagai standar untuk menentukan kandungan glukosa yang ada dalam sampel uji, dengan Y adalah nilaiabsorbansi yang dimiliki sampel dan X adalah konsentrasi gula yang dimiliki sampel. Masing-masing sampel, yaitu gula sebelum inversi ditambahkan 1 ml phenol 5% dan dikocok menggunakan vorteks, kemudian ditambahkan 5 ml H2SO4 dan diukur nilai absorbansinya. Dari nilai absorbansi tersebut, dapat diketahui konsentrasi glukosa sampel dengan memasukkannya ke persamaan kurva standar metode Fenol. Metode phenol-asam sulfat merupakan metode yang digunakan untukmenghitung kadar karbohidrat total. Prinsip dari metode ini adalah padamedia asam panas, glukosa akan terdehidrasi menjadi hydroxymethil furfural yang berwarna hijau dan memiliki absorpsi maksimum pada 490 nm. Reagenyang digunakan pada metode ini adalah phenol 5% dan asam sulfat 96%(Dubois,1956).Kadar karbohidrat ditentukan menggunakan persamaan berikut : Absorbansi yang sesuai dengan 0.1 mL larutan uji = x mg glukosa Kandungan dalam 100 mL larutan sampel = x 100 mg glukosa= % total kandungan karbohidrat.

16

VI.

METODOLOGI PRAKTIKUM 6.1 Alat yang Digunakan
Dalam proses pembuatan Bioetanol dari Bonggol pisang peralatan yang akan digunakan meliputi 1. Fermentor 2. Alat pengering 3. Piknometer 4. Pengukus 5. Penggiling (Blender) 6. Penyaring (Kertas saring) 7. Botol kemasan 8. Kertas Ph 9. Timbangan Elektrik 10. Pemanas 11. Pipet 12. Erlenmeyer 13. Pengaduk 14. Pendingin balik 15. Klem dan Statif 16. Gelas Ukur 17. Selang 18. Labu leher tiga (Labu Destilasi) 19. Termometer 20. Corong pemisah 21. Spektrofotometer 22. Labu takar 100 ml dan 500 ml 23. Oven

Gb.1 Fermentor

Gb.2 Rangkaian alat destilasi

Gb. 3 Rangakaian alat Hidrolisa

17

6.2 Bahan yang Digunakan
Adapun bahan-bahan yang akan digunakan dalam proses pembuatan Bioetanol ini antara lain 1. Bonggol Pisang 2. Aquadest 3. Asam Sulfat 96% 2M 4. ZA (Ammonium sulfat) 5. NPK 6. Sukrosa 7. Saccharomyces cereviseae 8. Zeolit sintetis 3A 9. Fenol 10. H2S04 200 g 1000 ml 10 ml 1,5 % b/b 1,5 % b/b 1% b/b 5% 1,5 kg/lt etanol yang dihasilkan 5% 5N

6.3 Variabel yang Digunakan
Variabel yang digunakan pada praktikum pembuatan Bioetanol ini menggunakan variable :

1. Variabel Tetap Meliputi: a) Berat Bahan Baku Bonggol Pisang Yang Digunakan : 200 g b) Lamanya waktu fermentasi: 7 hari c) Ph yang digunakan dalam proses fermentasi : 4,5 d) Suhu fermentasi : 27- 30°C, suhu fermentasi 80°C e) Volume asam sulfat 40 ml 2. Variabel Bebas Meliputi a) Volume asam sulfat yang digunakan : 10 ml ; 40 ml ; 60 ml b) Lama waku hidrolisis : 30 menit; 60 menit; 90 menit

18

Bahan Bonggol Pisang

Komposisi I 200 g II 200 g 40 ml III 200 g 60 ml

Asam Sulfat 6.4.Prosedur Kerja

10 ml

Diagram alir proses kerja pembuatan Bioetanol

-Dikupas -Dibersihkan -Dipotong kecil-kecil -Pengeringan -Penggilingan -Pengayakan

Aquadest 1000 ml H2SO4 96% 10ml, 40ml, 60ml

Hidrolisa

Suhu 100°C 2 jam

Analisa Kadar Glukosa (Metode Fenol Sulfat) Analisa Gula Reduksi Dengan Spektrofotometer

S. cereviseae 5%
NPK 1,5% & ZA 1,5%, Sukrosa 1%

Fermentasi 25oC pH 4,5

Selama 7 hari Analisa Kadar Glukosa (Metode Fenol Sulfat)

Destilasi

Suhu 80°C 1 jam

Uji Kemurnian
Zeolit sintetis 3A 1,5 kg/Lt

Dehidrasi

Selama 12 jam Uji Kadar Air

Analisa Produk

Sifat Fisik

19

Prosedur kerja yang akan dilakukan dalam praktikum pembuatan Bioetanol dengan menggunakan bonggol pisang dibedakan menjadi 4 tahapan yaitu

1. Proses Pendahuluan meliputi. a) Pengupasan. Bonggol pisang sebagai bahan baku pati dikupas dan

dibersihkan dari kotoran. Bonggol pisang kemudian dipotong kecil-kecil. b) Pengeringan. Bonggol dikeringkan dengan cara dijemur dan diangin-anginkan sampai kering. Bonggol pisang dibuat kering bertujuan agar lebih awet dan menghilangkan kandungan airnya Setelah itu didinginkan. c) Penggilingan. Bonggol pisang kering digiling dengan mesin penggiling atau ditumbuk dengan penumbuk sehingga menjadi serbuk halus. Kemudian

ditimbang sebanyak 200 g

2. Proses Hidrolisa Asam a) Merangkai peralatan hidrolisa b) Memasukkan bahan baku yang berupa serbuk sebanyak 200 g kedalam labu leher tiga c) Memasukkan aquadest sebanyak 1000 ml d) Memasukkan larutan asam sulfat 96% sebanyak 10 ml, 40ml, 60ml e) Menghidupkan kompor dengan menjaga suhu hidrolisa pada 100 oC selama 30 menit, 60 menit, dan 90 menit kemudian didinginkan sampai pada suhu ruangan f) Hasil hidrolisis disaring kemudian didapatkan filtrat dan kemudian filtrat akan dianalisa kadar gula reduksinya. 3. Analisa gula reduksi dengan metode spektrofotometri a) Buat larutan glukosa standar (10 mg glucose anhidrat/100 ml). b) Dari larutan glukosa standar tersebut dilakukan 6 pengenceran sehingga diperoleh larutan glukosa dengan konsentrasi : 2, 4, 6, 8 dan 10 mg/100 ml. c) Masing-masing 0,5 ml larutan baku tersebut ditambah 0,5 fenol 5% dan 2,5 ml asam H2SO4 5N dalam tabung reaksi, dikocok homogen, didiamkan 10 menit.

20

d) Kemudian dipanaskan selama 15 menit pada suhu 100°C. Serapan masing masing konsentrasi larutan baku glukosa diukur dengan spetrofotometer pada panjang gelombang 490 nm. e) Larutan blanko adalah 0,5 ml aquadest dicampur dengan 0,5 ml fenol 5% dan 2,5 ml H2SO4 5N dan dibuat kurva baku pembanding dengan persamaan garis regresinya (Chapline, 1986; Nielsen, 1994; Haime et al, 1993) 4. Proses Fermentasi a) Merangkai alat seperti pada gambar 1. b) Memasukkan bahan yang telah dihidrolisa kedalam botol A (Fermentor) dan air kedalam botol B c) Masukkan ZA dan NPK masing masing sebanyak 1,5 % b/b. ZA dan NPK merupakan sumber Nutrisi untuk pertumbuhan yeast. d) Tambahkan sukrosa sebanyak 1 % b/b. Sukrosa digunakan untuk merangsang pertumbuhan yeast. e) Tambahkan inokulum yeast sebanyak 5% b/b f) Tutup rapat fermentor. Proses fermentasi dilakukan selama 7 hari 5. Proses Destilasi a) Merangkai alat destilasi seperti pada gambar 2 b) Memasukkan bioetanol yang masih berkadar 60% kedalam labu destilasi c) Menghidupkan kompor dengan menjaga suhu proses pada 80 oC selama 1 jam 6. Proses Dehidrasi a) Etanol 95 % yang didapat dari proses destilasi kemudian didehidrasi dengan adsorben zeolit sintetis 3A dengan ketentuan zeolit yang dipakai sebanyak 1,5 kg/lt etanol yang dhasilkan b) Dehidrasi dilakukan dalam bejana tertutup selama 12 jam. 7. Analisa produk Produk diamati dan dibandingkan dengan standar bioetanol yang ada, dalam hal ini yang perlu diamati adalah sebagai berikut a) Berat jenis.Menguji berat jenis bioetanol yang dihasilkan dengan menggunakan piknometer b) Viskositas. Dihitung dengan menggunakan rumus ( )
21

c) pH. Diukur dengan menggunakan kertas pH selama dan sesudah fermentasi berlangsung. d) Sifat fisik lainya. Dalam hal ini adalah gelembung udara yang terbantuk pada Botol yang berisi air dan endapan yang terbentuk, diamati selama proses fermentasi berlangsung. 6.5 Pengamatan yang dilakukan a) Analisa perbedaan volume Asam sulfat yang digunakan dalam proses hidrolisis pati menjadi glukosa b) Pengaruh Variasi waktu hidrolisis yang digunakan VII. RENCANA KEGIATAN a. Waktu pelaksanaan Praktikum dilaksanakan pada semester 5 b. Lokasi Pelaksanaan Praktikum Mata Kuliah Pilihan Bioenergi akan dilaksanakan di : Laboratorium PSD III Teknik Kimia Universitas Diponegoro VIII. JADWAL FAKTUAL PELAKSANAAN Bulan Desember

Kegiatan Studi literatur Praktikum Seminar proposal Analisa produk dan olah data Pembuatan laporan hasil Seminar hasil

November

Januari

22

Jenis Pengeluaran Bahan habis pakai Bahan baku untuk penelitian Ragi 1pcs @ Rp 5.000,Aquades 5lt @ Rp 300,Zeolit 3A 3kg @30.000/kg,Rp Rp Rp

Anggaran yang Diusulkan

5.000,1.500,90.000,-

Rp 91.500,Subtotal Biaya dokumentasi Biaya dokumentasi untuk cetak foto Jumlah Biaya Rp 10.000,Rp 101.500,-

IX.

RENCANA ANGGARAN 9.1 Biaya Kegiatan Rekapitulasi Biaya Penelitian 1. Bahan habis pakai 2. Biaya dokumentasi JUMLAH Jumlah Pengeluaran Rp 91.500,Rp 10.000,Rp 101.500,-

X.

ORGANISASI KELOMPOK Praktikum Mata Kuliah Pilihan Bioenergi akan dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi Diploma III Teknik Kimia Program Diploma Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang, yaitu sebagai berikut: 1. Nindia Wahyuningtyas M 2. Teddy Kristian 3. Heri Dwi Agustian 21030111060035 21030111060068 21030111060085

23

Demikian usulan kegiatan ini kami buat agar dapat disetujui dan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya Praktikan I Praktikan II Praktikan III

Nindia Wahyuningtyas M 21030111060035

Teddy Kristian 210301100600013 Menyetujui,

Heri Dwi Agustian 21030110060054

Dosen Pembimbing

Ka. Laboratorium MKP

Ir. Margaretha Tuti Susanti, MP NIP. 195506051986032001

Ir. Hj. Wahyuningsih, Msi NIP. 19540318 198603 2 001

24

XI.

DAFTAR PUSTAKA

Alexandria, VA. 2005. "Tahun 2020, Minyak Bumi di Indonesia Habis . Bali post Blanch, H.W. dan Douglas S.C. 1996. Biochemical Engineering. Bali Post Marcel Dekker Inc. New york. Pg618. Costello. R., dan Chum. H. 1998. Biomass Bioenergy and Carbon Management, In "Bioenergy '98.' Expanding Bioenergy Partnerships" (D. Wichert. Ed.). pp.117. Omnipress. Madison. WI. Hermiati, E. Dan Sukara, E., 2005, Konversi Bahan Berlignoselulosa Menjadi Bioenergi Etanol, Prosiding Seminar Nasional Biomassa Lignoselulosa, haI.14-21. Mulyana, Yana. 2008.BBM Generasi Kedua. http//bioethanolindonesia. bloqspot. com/2008/0 1/bbm-qenerasi-kedua. html. Nguyen, Q.A. and M.P. Tucker, 2002. Dilute acid/metal salt hydrolysis of lignocellulosics. United States Patent 6423145. Pramukti, D.P. 2007. dampak Baik dan Buruknya Penggunaan Biofuel. Purwito dan anita FMT. 2005. Pemanfaatan Limbah Sawit dan Asbuton untuk Bahan Sudarmadji. S., Haryono. B., dan Suhardi, 1989, “Mikrobiologi Pangan”, PAU Pangan dan Gizi Universitas Gaja Mada, Yogyakarta.

25

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->