P. 1
Standar Kompetensi Lulusan Sosiologi

Standar Kompetensi Lulusan Sosiologi

|Views: 20|Likes:
SKL Sosiologi 2012
SKL Sosiologi 2012

More info:

Published by: Nibras Nada Nailufar on Apr 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2013

pdf

text

original

Standar Kompetensi Lulusan Sosiologi 2012

Nibras Nada Nailufar 12 IPS 5 27

SKL 1 Menjelaskan sosiologi sebagai ilmu sosial. 1. Objek Kajian Sosiologi: Masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antar manusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia tersebut di dalam masyarakat. 2. Kegunaan Sosiologi a. Perencanaan sosial b. Penelitian c. Pembangunan d. Pemecahan masalah 3. Metode Sosiologi a. Metode kualitatif: mengutamakan bahan yang sukar diukur dengan angka atau ukuran yang bersifat eksak. Metode ini meliputi metode historis, komparatif dan kombinasi historis komparatif serta case study. b. Metode kuantitatif: mengutamakan bahan-bahan keterangan dengan angka-angka sehingga gejala-gejala yang diteliti dapat diukur menggunakan skala, indeks, tabel dan formula yang mempergunakan ilmu pasti atau matematika. c. Metode induktif: mempelajari suatu gejala khusus untuk mendapatkan kaidah-kaidah yang berlaku umum dalam lapangan lebih luas. d. Metode deduktif: menggunakan proses sebaliknya, yaitu dimulai dari kaidah-kaidah yang dianggap berlaku umum untuk kemudian dipelajari dalam keadaan khusus. e. Metode fungsionalisme: bertujuan untuk meneliti kegunaan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan struktur sosial dalam masyarakat. 4. Ciri-Ciri Ilmu Sosiologi a. Empiris: didasarkan pada observasi dan akal sehat yang hasilnya tidak bersifat spekulasi (menduga-duga). b. Teoritis: selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil observasi yang konkret di lapangan, dan abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara logis dan bertujuan menjalankan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori. c. Komulatif: disusun atas dasar teori-teori yang sudah ada, kemudian diperbaiki, diperluas sehingga memperkuat teori-teori yang lama. d. Nonetis: pembahasan suatu masalah tidak mempersoalkan baik atau buruk masalah tersebut, tetapi lebih bertujuan untuk menjelaskan masalah tersebut secara mendalam. 5. Permasalahan Sosial a. Masalah yang berasal dari faktor ekonomi, misalnya kemiskinan, gelandangan, pengangguran b. Masalah yang berasal dari faktor biologis, misalnya muntaber, demam berdarah c. Masalah yang berasal dari faktor psikologis, misalnya bunuh diri, frustasi d. Masalah yang berasal dari faktor kebudayaan misalnya kenakalan remaja, perceraian, seks pranikah, konflik keagamaan

SKL 2 Mendeskripsikan nilai, norma, dan sosialisasi. 1. Norma Sosial: ukuran yang digunakan oleh masyarakat untuk mengukur apakah tindakan yang dilakukan merupakan tindakan yang wajar dan dapat diterima atau tindakan yang menyimpang. Norma dibangun atas nilai sosial dan norma sosial diciptakan untuk mempertahankan nilai sosial. a. Norma Sosial Dilihat Dari Sanksinya  Tata Cara: bentuk perbuatan sanksi yang ringan terhadap pelanggarnya  Kebiasaan: cara bertindak yang digemari oleh masyarakan dan dilakukan berulang-ulang, mempunyai kekuatan mengikat yang lebih besar dari tata cara  Tata Kelakuan: bersumber kepada filsafat,ajaran agama dan ideologi yang dianut masyarakat.  Adat: merupakan norma yang tidak tertulis namun mengikat  Hukum: norma yang bersifat formal dan berupa aturan tertulis, sanksinya tegas. b. Norma Sosial Dilihat dari Sumbernya  Norma agama: bersumber dari ajaran agama(wahyu dan revelasi)  Norma kesopanan: berlaku dalam interaksi sosial masyarakat  Norma kesusilaan: bersumber pada hati nurani,moral,atau filsafat hidup.  Norma hokum: berlaku dari kitab undang-undang suatu negara c. Fungsi Norma Sosial  Sebagai pedoman atau patokan perilaku pada masyarakat  Merupakan wujud konkret dari nilai yang ada di masyarakat  Suatu standar atau skala dari berbagai kategori tingkah laku masyarakat 2. Nilai Sosial: kumpulan sikap perasaan ataupun anggapan terhadap sesuatu hal mengenai baik, buruk, benar, salah, patut, tidak patut, mulia, hina, penting, tidak penting. a. Macam nilai sosial a. Nilai material (berguna untuk jasmani manusia) b. Nilai vital (berguna untuk aktivitas manusia) c. Nilai kerohanian (berguna untuk sumber akal,perasaan dan keagamaan) b. Fungsi nilai sosial  Sebagai faktor pendorong, hal ini berkaitan dengan nilai-nilai yang berhubungan dengan cita-cita atau harapan  Sebagai petunjuk arah mengenai cara berfikir dan bertindak, panduan menentukan pilihan, sarana untuk menimbang penghargaan sosial, pengumpulan orang dalam suatu unit sosial  Sebagai benteng perlindungan atau menjaga stabilitas budaya 3. Keteraturan Sosial: hubunganyang selaras dan serasi antara interaksi, nilai, dan norma sosial. Artinya, hak dan kewajiban dalam status interaksi sosial diwujudkan dan diselaraskan dengan nilai dan norma serta tata aturan yang berlaku dalam masyarakat. Tahap terjadinya keteraturan sosial menurut proses terbentuknya:

a. Tertib Sosial (Social order): Seluruh masyarakat mengetahui dan memahami dengan benar norma dan nilai sosial yang berlaku b. Order: sistem atau tatanan norma dan nilai sosial diakui dan dipatuhi oleh warga masyarakat c. Keajegan: kondisi keteraturansosial yang tetap dan berlangsung terus menerus d. Pola: menunjukkan adanya keteraturan yang lebih baku apabila dibandingkandengan tertib sosial maupun keajegan 4. Sosialisasi: suatu proses anggota masyarakat mempelajari norma-norma dan nilai-nilai sosial dimana ia menjadi anggota. a. Fungsi Sosialisasi:  Sarana pengenalan, pengakuan, dan penyesuaian diri terhadap nilai, norma, dan struktur sosial  Sarana pelestarian, penyebarluasan, dan pewarisan nilai serta norma sosial. b. Tujuan Sosialisasi:  Membentuk kepribadian  mampu menjadi anggota masyarakat yang baik  dapat menyesuaikan tingkah laku sesuai dengan harapan masyarakat  lebih mengenal diri sendiri dalam lingkungan sosial  menyadari eksistensi diri terhadap masyarakat c. Bentuk Sosialisasi:  Primer: sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga).  Sekunder: proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. d. Pola Sosialisasi:  Sosialisasi Represif: Memiliki ciri-ciri penerapan hukuman atas kesalahan, pemberian hukuman dan imbalan material, kepatuhan anak pada perintah orang tua, komunikasi nonverbal dan searah dari orang tua kepada anak, dan sosialisasi berpusat pada orang tua.  Sosialisasi Partisipatoris: Memiliki ciri-ciri pemberian hukuman dan imbalan bersifat simbolis, adanya otonomi anak dalam pengambilan keputusan, komunikasi verbal dan interaktif antara orang tua dan anak, dan sosialisasi berpusat pada anak. e. Tipe Sosialisasi:  Sosialisasi formal: Terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara atau organisasi.  Sosialisasi informal: Sosialisasi ini terdapat di lingkungan keluarga, perkumpulan, dan kelompok-kelompok lain di masyarakat. f. Tahap Sosialisasi:  Tahap persiapan (preparatory stage): Berlangsung sejak dilahirkan. Ia berusaha untuk memahami dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya dengan cara meniru orang lain meskipun tidak sempurna.

Tahap meniru (play stage): Seorang anak mulai meniru peran orang-orang yang ada di sekitarnya, termasuk peran yang dijalankan orang tuanya tetapi belum memahami peran tersebut.  Tahap bertindak (game stage): Seorang anak tidak hanya mengetahui peran yang dilakukan orang lain dan dengan siapa ia berinteraksi.  Tahap menerima norma (generalized others): Seseorang mampu melaksanakan peran orang lain yang lebih luas. g. Media/Agen Sosialisasi:  Keluarga: Keluarga merupakan media sosialisasi yang pertama dan utama atau yang sering dikenal dengan istilah media sosialisasi primer.  Teman Sepermainan (Kelompok Sebaya): Pada tahap ini anak mempelajari aturan-aturan yang mengatur orang-orang yang kedudukannya sejajar. Dalam kelompok teman sepermainan, anak mulai mempelajari nilai-nilai keadilan.  Sekolah: Di sekolah seorang anak akan belajar mengenai hal-hal baru yang tidak ia dapatkan di lingkungan keluarga maupun teman sepermainannya. Selain itu juga belajar mengenai nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat sekolah  Lingkungan Kerja: Di lingkungan kerja, seseorang akan berinteraksi dengan teman sekerja, pimpinan, dan relasi bisnis.  Media Massa: terdiri atas media cetak (surat kabar dan majalah) dan media elektronik (radio, televisi, video, film, dan internet)

SKL 3 Mendeskripsikan interaksi sosial dan bentuk-bentuknya. Interaksi sosial: semua tindakan yang melibatkan dua belah pihak 1. Faktor a. Imitasi : tindakan sosial meniru sikap,tindakan seorang secara berlebihan b. Sugesti: pemberian pengaruh atau pandangan dari satu pihak kepada pihak lain c. Identifikasi: kecenderungan atau keinginan seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain (meniru secara keseluruhan) d. Simpati: proses dimana seorang merasa tertarik kepada pihak lain. Melalui proses simpati orang merasa dirinya seolah-olah dirinya berasa dalam keadaan orang lain e. Empati: simpati yang mendalam yang dapat mempengaruhi kejiwaan dan fisik seseorang 2. Syarat a. Kontak: antar individu, antar kelompok, antar individu dalam suatu kelompok, Primer/langsung, Sekunder/tidak langsung b. Komunikasi: hubungan antara pihak yang satu dengan pihak yang lain yang saling mempengaruhi diantara pihak yang satu dengan yang lain. Komponen komunikasi:  Pengirim atau komunikator (sender)  Penerima atau komunikan (receiver)  Pesan (Message): isi yang akan disampaikan  Umpan balik (feedback): tanggapan dari penerima atas isinya 3. Jenis a. Interaksi sosial asosiatif, mengarah kepada bentuk-bentuk asosiasi (hubungan atau gabungan) seperti :  Kerja sama: usaha bersama antar individu atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama.  Akomodasi: penyesuaian sosial dalam interaksi individu dan kelompok untuk meredakan pertentangan.  Asimilasi: Proses sosial yang timbul bila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara intensif dalam jangka waktu lama, sehingga lambat laun kebudayaan asli mereka akan berubah sifat dan wujudnya membentuk kebudayaan baru sebagai kebudayaan campuran.  Akulturasi: Proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok masyarakat manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga lambat laun unsur-unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dari kebudayaan itu sendiri.

b. Interaksi sosial disosiatif, mengarah kepada bentuk-bentuk pertentangan atau konflik, seperti :  Persaingan: Suatu perjuangan yang dilakukan perorangan atau kelompok sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawannya.  Kontravensi: Bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang – terangan yang ditujukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur – unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.  Konflik: Proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar, sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut.

SKL 4 Mendeskripsikan penyimpangan dan pengendalian sosial. 1. Penyimpangan Sosial: Perilaku menyimpang atau nonkonformitas adalah perilaku yang tidak sesuai dengan norma atau nilai masyarakat. a. Sebab  hasil proses belajar yang menyimpang  akibat proses sosialisasi tidak sempurna  hasil proses sosialisai nilai-nilai sub kebudayaan menyimpang b. Sifat  Penyimpangan Positif: terarah pada nilai-nilai sosial yang didambakan meskipun cara yang dilakukan menyimpang dari norma yang berlaku.  Penyimpangan Negatif: tindakan yang dipandang rendah, melanggar nilai-nilai sosial, dicela dan pelakunya tidak dapat ditolerir masyarakat. c. Bentuk  Primer: bersifat sementara (temporer) atau sesekali melakukan penyimpangan.  Sekunder: sering dilkukan sehingga akibatnya pun cukup parah serta mengganggu orang lain. d. Jenis  Individu: i. Pembandel: Tidak patuh nasihat orang tua agar mengubah pendirian yang kurang baik ii. Pembangkang: Tidak taat kepada peringatan orang-orang yang berwenang di lingkungannya iii. Pelanggar: Melanggar norma-norma umum yang berlaku iv. Perusuh/Penjahat: Mengabaikan norma-norma umum, menimbulkan rasa tidak aman/tertib, kerugian harta benda atau jiwa di lingkungannya  Kolektif: i. Kenakalan remaja ii. Tawuran/perkelahian pelajar iii. Komplotan iv. Penyimpangan kebudayaan 2. Pengendalian Sosial: upaya untuk mewujudkan kondisi seimbang di dalam masyarakat. a. Sifat  Preventif: dilakukan sebelum terjadi pelanggaran, dan mementingkan pada pencegahan agar tidak terjadi pelanggaran.  Represif: dilakukan setelah penyimpangan terjadi. bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti sebelum terjadinya tindakan penyimpangan.

b. Cara  Persuasif: menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing anggota masyarakat agar dapat bertindak sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku dimasyarakat. Terkesan halus dan menghimbau.  Koersif: tindakan atau ancaman yang menggunakan kekerasan fisik. Tujuan tindakan ini agar si pelaku jera dan tidak melakukan perbuatan buruknya lagi. Jadi terkesan kasar dan keras.  Sosialisasi: diharapkan dapat menghayati (menginternalisasikan) norma dan nilai di masyarakat dan menerapkan dalam perilakunya sehari-hari.  Tekanan Sosial: Keinginan kelompok dapat digunakan untuk menerapkan norma-norma yang ada agar para anggotanya dapat merealisasikannya. c. Bentuk  Desas-desus (Gosip)  Teguran  Hukuman/Sanksi  Pendidikan  Agama  Kekerasan Fisik d. Lembaga  kepolisian  Pengadilan  Adat  Tokoh masyarakat

SKL 5 Menganalisis struktur sosial, konflik sosial, dan mobilitas sosial. 1. Struktur Sosial: tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Susunannya bisa vertikal atau horizontal. a. Fungsi  Identitas: berfungsi sebagai penegas identitas yang dimiliki oleh sebuah kelompok.  Kontrol: Pembatas agar setiap anggota masyarakat bersikap sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku  Pembelajaran: Menanamkan suatu disiplin sosial b. Diferensiasi sosial: Perbedaan individu/kelompok dalam masyarakat yang tidak bertingkat atau bersifat horizontal. Bisa berdasarkan ras, etnis, agama, dan gender. Pengaruhnya dalam fenomena kehidupan masyarakat:  Primordialisme: menganggap kelompoknya lebih baik dari kelompok lain  Etnosentrisme: menganggap budayangnya lebih baik dari budaya lain  Sektarian: keadaan dimana suatu organisasi tertentu dikelilingi sejumlah organisasi lain. c. Stratifikasi sosial: perbedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal, yang diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari tinggi ke rendah.  Dasar: kekayaan, kekuasaan, kehormatan, ilmu pengetahuan/pendidikan  Unsur i. Status: posisi masyarakat di dalam kelompok masyarakat.  Ascribed status: diperoleh dari keturunan  Achieved status: diperoleh dari usaha yang disengaja  Assigned status: diperoleh karena diberikan ii. Peranan: sekumpulan tingkah laku yang dihubungkan dengan suatu posisi tertentu  Sifat i. Tertutup

ii.

Terbuka

iii.

Campuran

Pengaruh: cara berpakaian, tempat tinggal, cara berbicara, pendidikan, kegemaran dan rekreasi.

2. Konflik Sosial: pertentangan atau perbedaan yang tidak dapat dicegah. a. Penyebab:  Perbedaan antar individu  Perbedaan latar belakang kebudayaan  Perbedaan kepentingan  Perubahan sosial b. Bentuk konflik berdasarkan sifatnya:  Destruktif: muncul karena adanya perasaan tidak senang. Kerap terjadi bentrokan fisik.  Konstruktif: muncul karena adanya perbedaan pendapat mengenai suatu masalah. Konflik ini akan menghasilkan suatu perbaikan. c. Bentuk konflik berdasarkan pelakunya:  Vertikal: antar komponen masyarakat dalam struktur yang hieraki  Horizontal: terjadi antara individu/komponen yang memiliki kedudukan sama  Diagonal: terjadi karena adanya ketidakadilan alokasi sumber daya ke seluruh organisasi sehingga menimbulkan pertentangan yang ekstrem d. Bentuk konflik berdasarkan sifat pelaku:  Tertutup: hanya diketahui orang yang terlibat  Terbuka: diketahui oleh semua pihak e. Cara pengendalian  Konsiliasi: dilakukan melalui lembaga yang dapat memberikan keputusan yang adil  Mediasi: pihak yang berkonflik menunjuk pihak ketiga sebagai mediator, tetapi keputusan tidak mengikat  Arbritasi: melalui pihak ketiga dan kedua belah pihak yang berkonflik menyetujuinya  Ajudikasi: penyelesaian melalui pengadilan 3. Mobilitas Sosial: perpindahan posisi seseorang atau sekelompok orang dari lapisan yang satu ke lapisan yang lain. a. Bentuk  Vertikal: dialami pada lapisan sosial yang beda. Social climbing adalah peningkatan status, sedangkan social sinking adalah penurunan status.  Horizontal: dialami pada lapisan sosial yang sama.  Antarwilayah: perpindahan dari satu wilayah ke wilayah lain  Antargenerasi: terjadi dalam dua generasi atau lebih. Intragenerasi terjadi dalam generasi yang sama. b. Faktor Pendorong  Faktor struktural: jumlah relatif dari kedudukan tinggi yang bisa dan harus diisi serta kemudahan untuk memperolehnya  Faktor Individu: kualitas seseorang  Status sosial  Keadaan ekonomi  Situasi politik  Kependudukan

c.

d. e. f.

g.

 Keinginan melihat daerah lain Faktor Penghambat  Kemiskinan  Diskriminasi kelas  Perbedaan ras dan agama  Perbedaan gender  Factor pengaruh sosialisasi yang sangat kuat  Perbedaan kepentingan Saluran: angkatan bersenjata, pendidikan, organisasi politik, lembaga keagamaan, organisasi ekonomi, organisasi profesi, perkawinan, organisasi keolahragaan. Cara: askripsi yaitu melalui keturunan atau prestasi melalui usaha sendiri Dampak positif  Mendorong seseorang untuk lebih maju  Mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah lebih baik  Meningkatkan integrasi sosial Dampak negatif  Timbulnya konflik  Berkurangnya solidaritas kelompok  Timbulnya gangguang psikologis

SKL 6 Menganalisis kelompok sosial dalam masyarakat multikultural. 1. Kelompok Sosial: sekumpulan manusia yang memiliki persamaan ciri dan memiliki pola interaksi yang terorganisir secara berulang-ulang serta memiliki kesadaran bersama akan anggotanya. a. Dasar pembentukan  Faktor kepentingan yang sama  Faktor daerah dan keturunan yang sama  Faktor geografis  Faktor daerah asal yang sama b. Klasifikasi menurut ikatannya  Paguyuban (gemeinschaft): diikat oleh hubungan batin yang alamiah  Patembayan (gesselschaft): terbentuk atas dasar kepentingan tertentu dan mempertimbangkan untung rugi.  Komunitas: kelompok sosial yang dibatasi oleh wilayah geografi yang jelas. c. Klasifikasi menurut kualitas hubungan antar anggota Perbedaan Primer Sekunder Jumlah anggota Relative kecil Relative besar Pola hubungan Pribadi, akrab, informal Impersonal, formal Komunikasi Dilakukan langsung Sedikit secara langsung Sifat hubungan Permanen, bersama lama Temporer, bersama singkat Keputusan kelompok Lebih bersifat tradisional Lebih rasional dan efisiensi 2. Masyarakat Multikultural: masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaan tetapi terikat oleh suatu kepentingan bersama yang bersifat formal dalam bentuk suatu negara. a. Ciri  Terjadi segmentasi  Memilki struktur dalam lembaga yang non komplementer  Konsesnsus rendah  Relatif potensi ada konflik  Integrasi dapat tumbuh dengan paksaan  Adanya dominasi politik terhadap kelompok lain b. Latar Belakang  Keadaan geografis  Pengaruh kebudayaan asing  Kondisi iklim yang berbeda  Integrasi nasional yang berasal dari kelompok suku bangsa yang beraneka ragam c. Bentuk  Interseksi: suatu masyarakat yang terdiri dari banyak suku,budaya, agama, yang berbaur menjadi satu kesatuan di dalam komunitas tertentu.

Keterangan : A : Suku Jawa I : Islam B : Suku Minang II : Kristen  konsolidasi : penguatan atas apa yang telah melekat pada dirinya.  Amalgamasi: perkawinan antar ras/suku. d. Pengaruh  Primordialisme: kepercayaan yang sudah mendarah daging.  Etnosentrisme: dalam suatu masyarakat majemuk terdapat suatu kelompok yang beranggapan bahwa kelompoknyalah yang paling unggul dari kelompok-kelompok sosial lain.  politik aliran: partai politik yang memiliki suatu dukungan dari suatu organisasi masyarakat sebagai pembangun kekuatan dalam pemilihan umum.  Fanatik: sangat kuat meyakini ajaran atau mendukung suatu kelompok.  Ekstrem : fanatik yang sangat keras dan teguh. menganggap bahwa hanya pendapat kelompok sendirilah yang benar dan menolak pendapat dari luar kelompoknya. e. Perilaku yang sesuai: empati dan toleransi

SKL 7 Mendeskripsikan perubahan sosial dan dampaknya. Perubahan sosial: perubahan unsur-unsur atau struktur sosial dan perilaku manusia dalam masyarakat dari keadaan tertentu ke keadaan yang lain. 1. Bentuk a. Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat b. Perubahan Kecil dan Perubahan Besar c. Perubahan yang Dikehendaki atau Direncanakan dan Perubahan yang Tidak Dikehendaki atau Tidak Direncanakan d. Perubahan Progres dan Perubahan regres 2. Sebab a. Berasal dari Dalam Masyarakat (Sebab Intern)  Dinamika penduduk  Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat, baik penemuan yang bersifat baru (discovery) ataupun penemuan baru yang bersifat menyempurnakan dari bentuk penemuan lama (invention)  Munculnya berbagai bentuk pertentangan (conflict) dalam masyarakat.  Terjadinya pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut terjadinya perubahanperubahan besar. b. Sebab-Sebab yang Berasal dari Luar Masyarakat (Sebab Ekstern)  Adanya pengaruh bencana alam  Adanya peperangan  Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain 3. Faktor Pendorong a. Adanya Kontak dengan Kebudayaan Lain b. Sistem Pendidikan Formal yang Maju c. Sikap Menghargai Hasil Karya Orang Lain d. Toleransi terhadap Perbuatan yang Menyimpang e. Sistem Terbuka Masyarakat ( Open Stratification ) f. Heterogenitas Penduduk g. Orientasi ke Masa Depan h. Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Tertentu i. Nilai Bahwa Manusia Harus Senantiasa Berikhtiar untuk Memperbaiki Hidupnya 4. Faktor Penghambat a. Kurangnya Hubungan dengan Masyarakat Lain b. Terlambatnya Perkembangan Ilmu Pengetahuan c. Sikap Masyarakat yang Masih Sangat Tradisional d. Rasa Takut Terjadinya Kegoyahan pada Integritas Kebudayaan e. Adanya Kepentingan-Kepentingan yang Telah Tertanam dengan Kuat ( Vested Interest Interest)

f. Adanya Sikap Tertutup dan Prasangka Terhadap Hal Baru (Asing) g. Hambatan-Hambatan yang Bersifat Ideologis h. Adat atau Kebiasaan yang Telah Mengakar i. Nilai Bahwa Hidup ini pada Hakikatnya 5. Dampak Positif a. Memunculkan ide-ide budaya baru yang sesuai dengan perkembangan zaman. b. Membentuk pola pikir masyarakat yang lebih ilmiah dan rasional. c. Terciptanya penemuan-penemuan baru yang dapat membantu aktivitas manusia. d. Munculnya tatanan kehidupan masyarakat baru yang lebih modern dan ideal. 6. Dampak Negatif a. Tergesernya bentuk-bentuk budaya nasional oleh budaya asing yang terkadang tidak sesuai dengan kaidah budaya-budaya nasional. b. Adanya beberapa kelompok masyarakat yang mengalami ketertinggalan kemajuan budaya dan kemajuan zaman, baik dari sisi pola pikir ataupun dari sisi pola kehidupannya (cultural lag atau kesenjangan budaya). c. Munculnya bentuk-bentuk penyimpangan sosial baru yang makin kompleks. d. Lunturnya kaidah-kaidah atau norma budaya lama

SKL 8 Menjelaskan lembaga sosial. Lembaga sosial: prosedur atau tata cara yangtelah diciptakan untukmengatur hubungan antar manusia yang tergabung dalam masyarakat. 1. Hakikat: Keberadaan lembaga sosial tidak lepas dari adanya nilai dan norma dalam masyarakat. Nilai dan norma inilah yang membatasi setiap perilaku manusia dalam kehidupan bersama. Sekumpulan norma akan membentuk suatu sistem norma. Inilah awalnya lembaga sosial terbentuk. Sekumpulan nilai dan norma yang telah mengalami proses institutionalization menghasilkan lembaga sosial. 2. Karakteristik a. Memiliki lambang /Simbol b. Memiliki Tata Tertib dan Tradisi c. Memiliki Usia Lebih Lama dari warga masyarakat yang bersangkutan (Tingkat Kekekalan Tertentu) d. Memiliki Alat perlengkapan e. memiliki ideologi f. memiliki kekebalan dan daya tahan 3. Jenis a. Berdasarkan perkembangannya dalam masyarakat  Crescive Institution : Tidak sengaja tumbuh dalam masyarakat melainkan karena adat istiadat masyarakat tertentu. contohnya lembaga perkawinan.  Enacted Institution : Sengaja dibentuk dalam masyarakat. contohnya lembaga pendidikan. b. Berdasarkan kepentingannya dalam masyarakat  Basic Institution : lembaga sosial yang penting keberadaannya dalam masyarakat. contohnya lembaga pendidikan dan lembaga keluarga.  Subsidiary Institution : lembaga sosial yang tidak terlalu penting. contohnya rekreasi. c. Berdasarkan penerimannya dalam masyarakat  Approved/ Sanctioned Institution : diterima masyarakat. contohnya lembaga pendidikan.  Unsanctioned Institution : tidak diterima masyarakat. contohnya pelacuran. d. Berdasarkan popularitasnya  General Institution : dikenal dunia secara luas. contohnya lembaga agama.  Restricted Institution : dikenal hanya oleh kalangan tertentu saja. contohnya lembaga agama Islam, Kristen, Hindu dll. e. Berdasarkan tujuannya  Operative Institution : didirikan untuk tujuan tertentu. contohnya lembaga industri.  Regulative Institution : didirikan untuk mengawasi masyarakat. contohnya lembaga hukum dan kejaksaan.

4. Fungsi a. Lembaga Keluarga.  fungsi Manifest: i. Biologis/Reproduksi: Mengatur hubungan seksual untuk memperoleh keturunan ii. Edukasi: Mengatur tanggungjawab untuk merawat dan mendidik anak iii. Sosial: Mengatur hubungan kekeluargaan dan kekerabatan iv. Afeksi: Mencurahkan kasih saying kepada anggota keluarga yang lain.  Fungsi laten: i. Ekonomi: Mengatur dan memenuhi kebutuhan rumah tangga ii. Pengendali sosial dari tindakan menyimpang iii. Pewarisan gelar dan marga iv. Proteksi: Melindungi anggota keluarga b. Lembaga Ekonomi  Fungsi manifest: i. Mengatur hubungan antar pelaku ekonomi ii. Mengatur distribusi, konsumsi, dan produksi iii. Mensejahterakan masyarakat  Fungsi laten: i. Merusak kebudayaan nasional ii. Munculnya anomi dan aliensi iii. Timbulnya kerusakan lingkungan c. Lembaga Politik  Fungsi Manifest: i. Memelihara ketertiban dalam wilayahnya ii. Menjaga keamanan dari berbagai ancaman dan serangan pihak luar iii. Melaksanakan kesejahteraan umum, menyelenggarakan perencanaan dan pelayanan pemenuhan kebutuhan publik.  Fungsi Laten: i. Sarana untuk mendapatkan kekuasaan. ii. Sarana menumpuk kekayaan. d. Lembaga Pendidikan  Fungsi manifest: i. Mempersiapkan anggota masyarakat dalam mencari nafkah ii. Mengembangkan bakat/potensi yang dimiliki seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya iii. Melestarikan kebudayaan dengan mewariskan kepada generasi berikutnya iv. Melatih keterampilan sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki seseorang.  Fungsi Laten: i. Menunda kedewasaan anak ii. Menjadi saluran mobilitas sosial iii. Memelihara integrasi dalam masyarakat

e. Lembaga Agama  Fungsi Manifest: i. Menyangkut pola keyakinan (doktrin) yang menentukan sifat dan mekanisme hubungan antara manusia dengan Tuhannya ii. Ritual yang melambangkan doktrin dan mengingatkan manusia pada doktrin tersebut serta seperangkat perilaku yang konsisten dengan doktrin tersebut iii. Menyatukan pemeluknya ke dalam satu komunitas moral yang disebut umat iv. Dalam beberapa negara lembaga agama melaksanakan fungsi pengendalian Negara  Fungsi laten: i. Menciptakan lingkungan kehidupan beragama, misalnya masjid, di samping yang utama sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi medium pergaulan sosial dan komunikasi di antara para penganut agama Islam, termasuk penentuan dan pemilihan jodoh ii. Menciptakan lingkungan kebudayaan (musik, seni baca, lagu-lagu, kitab, dan seterusnya) iii. Tumbuhnya bangunan-bangunan sebagai tempat ibadah dengan arsitektur yang indah dan megah, misalnya masjid agung, gereja, dan seterusnya. iv. Menjalankan fungsi pendidikan dan pewarisan pengetahuan

SKL 8 Mendeskripsikan Penelitian Sosial. Langkah-langkah Penelitian Sosial 1. Menyusun Rancangan Penelitian a. Perumusan masalah b. Memilih objek penelitian c. Melakukan studi pendahuluan d. Merumuskan anggapan dasar/hipotesis e. Memilih metode penelitian 2. Pelaksanaan Penelitian a. Mengumpulkan data  Data Kualitatif: bukan berupa angka  Data kuantitatif: berupa angka  Data Primer: diperoleh langsung dari objek Penelitian  Data Sekunder: diperoleh secara tidak langsungmisalnya melalui studi kepustakaan, dokumen resmi, atau media lain. b. Analisis Data c. Menarik Kesimpulan 3. Pembuatan Laporan Penelitian a. Topik dan Judul Penelitian: Singkat, padat, dan jelas, Bersifat aktual, Menarik untuk ditelit, Bermanfaat, Bersifat Realistis b. Latar Belakang Masalah: Alasan yang melatarbelakangi pemilihan tema atau topic Penelitian c. Rumusan Masalah dan Hipotesis: Dirumuskan dalam bentuk pertanyaan d. Landasan Teori: paparan teori yang digunakan dalampermasalahan penelitian. Dikenal juga dengan istilah studi kepustakaan/tinjauan pustaka. e. Definisi Konsep dan Definisi Operasional: Definisi Konsep merupakan definisi variabel-variabel yang akan diteliti. Definisi Operasional merupakan bagian atau sub-sub dari definisi konsep. f. Populasi dan Sampel: Populasi adalah Objek penelitian secara keseluruhan. Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan teknik tertentu.  Teknik Menentukan Sampel: i. Purposive sampling, tehnik pengambilan sampel yang didasarkan pada tujuan tertentu ii. Proporsional Sampling, sampel yang dipilih bersifat representatif atau mewakili gambaran yang ada pada populasi iii. Snowball sampling, tehnik penetapan sample yang jumlah sampelnya berkembang dari sedikit menjadi semakin banyak. iv. Random sampling, tehnik menentukan sample secara acak v. Stratified Random sampling, pengembangan dari tehnik random, tetapi sudah mempertimbangankan tingkatan/strata yang ada dalam populasi

Ordinal Random sampling. Pengambilan sample secara ordinal atau mengambil perwakilan dari populasi dengan interval tertentu. vii. Area Random sampling, tehnik yang digunakan apabila populasinya tersebar secara tidak menentu pada banyak wilayah.  Tehnik Pengumpulan Data: i. Tehnik angket/kuisioner ii. Tehnik wawancara/interview iii. Tehnik Observasi iv. Tehnik Studi Kepustakaan v. tehnik Analisis Media Massa 4. Penyajian Data Penelitian: a. Inventarisasi dan Pengeditan Data (Editing)  memeriksa kembali lembar pertanyaan  memeriksa kelengkapan identitas responden  memeriksa lembar jawaban responden b. Memberi Kode (Coding)  Mengklasifikasikan jawaban responden sehingga mudah diolah  Menurut kode-kode tertentu c. Klasifikasi: Pengelompokan data sesuai dengan karakteristiknya masing-Masing d. Tabulasi Data: Pengolahan data dengan cara memasukkan kedalam table.  Tabulasi langsung  Lembaran Kode (Code sheet)  Tabulasi Frekuensi  Tabulasi silang 5. Pengolahan Data Penelitian: a. Pengolahan data Statistik  Distribusi Frekuensi  Ukuran Pemusatan (Tendensi Sentral) i. Mean (Rerata) ii. Modus (Nilai yang paling sering muncul) iii. Median (Nilai tengah)  Mengukur derajat hubungan antar variable (Korelasi) b. Pengolahan Data non Statistik  Reduksi Data, mengkategorikan data hasil penelitian ke dalam beberapa pola atau kategori  Penyajian Data, data disjaikan ke dalam matriks sesuai dengan pola atau kategori yang telah ditentukan sebelumnya.  Penarikan Kesimpulan

vi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->