P. 1
DANAU TOBA.docx

DANAU TOBA.docx

|Views: 23|Likes:

More info:

Published by: Helmut Todo Tua Simamora on Apr 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/01/2014

pdf

text

original

Private Library of Simamora, Helmut Todo Tua Environment, Research and Development Agency Samosir Regency Goverrnment of North

Sumatera Province INDONESIA

Berikut merupakan kutipan ilmiah dari literatur ilmiah yang dirangkum dan disusun oleh Penulis serta digunakan sebagai referensi pribadi.

BELAJAR TENTANG PROFIL PERAIRAN DANAU TOBA

Perairan danau merupakan salah satu tipe perairan darat yang cukup banyak ditemukan di Indonesia, dan tercatat 500 buah danau berukuran kecil hingga besar, dengan luas total mencapai 491.724 ha (Giesen, 1991). Perairan danau diketahui memiliki karakteristik fisik dan biologis yang khas, dan satu dengan lainnya sangat berlainan. Salah satu sifat danau yang cukup penting adalah waktu simpan air (retention time), yaitu waktu perkiraan yang dibutuhkan untuk mengganti secara sempurna air dari seluruh danau tersebut. Waktu tinggal air adalah satu variabel penting penentu sensitivitas perairan terhadap dampak beban masukan berupa hara dan mineral, yang terkait dengan kegiatan manusia. Hal ini merupakan titik kritis dalam kebijakan pengelolaan sistem perairan, bahwa semakin lama waktu tinggal air semakin tinggi prioritas perlindungan harus diberikan. Waktu tinggal air akan terkait dengan volume danau dan jumlah air yang masuk ke dalamnya, yang umumnya diukur dalam jumlah air (debit) yang keluar lewat outlet danau. Klessig (2001) mengemukakan bahwa danau hanya dapat memberikan keuntungan sosial yang optimal jika kebijakan pengelolaannya mengakui setting sepenuhnya dari kontribusi potensial danau yang dapat dibuat untuk masyarakat serta kebijakan pengelolaan tersebut terintegrasi untuk memberikan perhatian yang seimbang pada seluruh nilai-nilai yang dapat danau berikan Aktivitas budidaya ikan sistem karamba jaring apung (KJA) di perairan danau, merupakan salah satu usaha peningkatan produksi perikanan dengan memanfaatkan berbagai potensi perairan yang ada. Diperlukan pertimbangan dan kebijakan berbeda dari setiap perairan untuk pengembangan KJA, mengingat perbedaan karakter dari setiap perairan darat.

Di perairan Danau Toba, sebagaimana dikemukakan oleh Arifin (2004), bahwa pada tahun 1999 tercatat sekitar 2.400 unit KJA telah beroperasi, dan direncanakan akan dikembangkan lagi menjadi 55.375 unit. Berdasarkan data dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, tahun 2008 (tidak dipublikasikan), jumlah KJA di perairan Danau Toba yang berada di wilayah kabupaten ini mencapai 3816 unit, yang terpusat di Haranggaol dengan jumlah 2.911 unit, sedangkan lokasi lainnya adalah Pematang Sidamanik (159 unit), Dolok Pardamean (190 unit), dan Girsang Sipangan Bolon (550 unit). Jumlah KJA yang beroperasi di waduk-waduk tersebut sangat tidak direkomendasikan sebagai pembanding jumlah KJA yang dapat dikembangkan di perairan danau, terutama jika dihubungkan dengan luasan maupun volume perairannya. Hal ini karena yang harus menjadi pertimbangan utama menentukan jumlah KJA yang dapat beroperasi, sebagaimana dikemukakan sebelumnya, adalah waktu tinggal air dan karakteristik biologis di dalamnya. Produksi ikan KJA dari perairan Danau Toba, di wilayah Haranggaol diperkirakan 57,3 ton/hari, yang terdiri dari ikan nila 49,7 ton dan ikan mas 7,6 ton, dengan prodiksi total mencapai 20.910 ton/tahun (Lukman et al, 2010). Data produksi KJA di Danau Toba tersebut, belum termasuk produksi dari Perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA), yang diperkirakan jauh lebih tinggi. Sedangkan produksi ikan dari KJA di Danau Maninjau pada tahun 2009 sekitar 31.758 ton (Dinas Perikanan Kab. Agam, 2009; tidak dipublikasikan). Pengembangan budidaya ikan sistem KJA akan bernilai positif selama dalam batas kapasitas dayadukung perairan dan penetapan lokasi yang tidak berbenturan dengan kepentingan lain. Peningkatan KJA yang berlebihan akan menimbulkan dampak yang buruk pada masa yang akan datang. Dengan demikian, kebijakan pemanfaatan sumberdaya alam oleh manusia tanpa memperhatikan dayadukungnya, akan menuai bencana lingkungan di kemudian hari. Kartamihardja (1998) mengemukakan bahwa perkembangan KJA yang pesat dan kurang terkendali telah menyebabkan berbagai permasalahan yang mengganggu kelestarian sumberdaya perairan dan usaha perikanan itu sendiri. Sementara itu pengembangan KJA di perairan-perairan danau tertentu, terutama di Danau Toba sangat riskan, mengingat terdapatnya kepentingan lain seperti pariwisata, yang sangat membutuhkan kondisi air yang baik, jernih dan tidak kumuh. Seperti diketahui Danau Toba, dalam kebijakan nasional kawasan-kawasan ini merupakan salah satu andalan dan potensi Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional (RIPNAS) (Ardika, 1999). Kapasitas perombakan organik dari perairan, akan menentukan jumlah bahan organik, baik bersumber dari sisa pakan dan feses ikan maupun dari aktivias lainnya, yang dapat dirombak pada kolom air dan di wilayah sedimen. Konsepsi daya dukung perairan pada saat ini lebih berpegang pada keseimbangan hara antara N (nitrogen) dan P (Phosphor), yang menentukan tingkat kesuburan (trofik) perairan dan menunjang keberadaan dan melimpahnya fitoplankton. Konsepsi tersebut didasarkan pada kebutuhan akan estetika perairan untuk kegiatan wisata yang tidak menghendaki perairannya kotor atau padat dengan fitoplankton. Pengelolaan perairan akan sangat memperhatikan kadar ketersediaan fosfor di perairan dan pasokan fosfor dari luar.

Untuk setiap gram organik (limbah budidaya ikan) akan dibutuhkan 1,42 gram oksigen. Ketersediaan oksigen di perairan sangat diperlukan untuk perombakan organik, baik yang tersuspensi maupun yang mengendap di dasar perairan, serta untuk respirasi ikan. aktivitas KJA yang berlebih akan memicu akumulasi hara khusunya fosfor dan nitrogen. Peningkatan hara di perairan pada akhirnya akan merubah status perairan dari perairan miskin hara (oligotrof), kesuburan sedang (mesotrof), hingga perairan subur (eutrof) dan sangat subur (hipereutrof). Kriteria tingkat kesuburan (Status trofik) danau telah diadopsi menjadi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 28 Tahun 2009 (Tabel 1). Tabel 1. Kriteria status trofik danau berdasarkan beberapa parameter kualitas air Status Trofik Kadar Rata-rata Total N (µg/l) > 650 > 750 < 1.900 > 1900 Kadar Ratarata Total P (µg/l) < 10 < 30 < 100 > 100 Kadar Rata-rata Chlorofil (µg/l) < 2,0 < 5,0 < 15 > 200 Kecerahan rata-rata (m) > 10 >4 > 2,5 < 2,5

Oligotrof Mesotrof Eutrof Hipereutrof

Sumber: Peraturan Menteri LH No. 28/2009 dalam Anonim (2009) Kriteria status trofik tersebut sebenarnya saling berkaitan, karena penambahan komponen fosfor maupun nitrogen akan mendorong peningkatan kelimpahan fitoplankton di perairan yang dicirikan oleh kadar chlorofil yang bertambah. Dengan bertambahnya kadar chlorofil secara langsung mengurangi tingkat kecerahan perairan. Perairan danau yang cenderung oligotrofik contohnya adalah Danau Poso, sementara Danau Toba pada kisaran oligotrof – mesotrof, sedangkan Danau Maninjau menunjukkan perairan eutrof (Tabel 2). Tabel 2. Tingkat kecerahan dan kadar chlorofil a dari tiga danau di Indonesia Perairan Danau Toba1) Kecerahan Rata-rata (m) 9,2 Kadar chlorofil a rata-rata (mg/m3) 1,008 Keterangan Data Okt. 2009;strata 0 – 30 m

Sumber: 1) Lukman et al (2009); Komponen hara di perairan yang akan lebih berakumulasi adalah fosfor, karena sifatnya tidak bersiklus lewat proses pertukaran gas sebagaimana komponen nitrogen. Pada sisi lain, di perairan wilayah tropik ternyata terbatasnya komponen N lebih umum terjadi dibanding P, kemungkinan karena pasokan P yang lebih besar akibat pelapukan kimia batuan sementara terjadi kehilangan komponen N secara internal karena suhu yang lebih tinggi, sebagaimana dikemukakan Lewis (2000).

Pada pengamatan KJA di perairan Haranggaol, Danau Toba, berdasarkan jumlah pakan yang digunakan yang mencapai 79 ton/hari, pasokan unsur fosfor (P) ke perairan diperkirakan 0,591 ton/hari, yaitu dilepaskan lewat feses 0,199 ton/hari dan dilepaskan dalam bentuk terlarut sebagai sisa metabolit mencapai 0,392 ton/hari (Tabel 3). Tabel 3. Prediksi pasokan P dari aktivitas KJA di wilayah Haranggaol Jenis ikan Pakan yang digunakan (ton/hari)
1)

Kadar P pada pakan2) (ton)

Kadar P diretensi Ikan (ton)
3)

Kadar P dibuang lewat feses 3) (ton)

Kadar P Terbuang terlarut sisa metabolit 3) (ton) 0,319f) 0,073 f) 0,392

Nila Mas Jumlah

64,32a 14,68b) 79,00

0,772c) 0,176 c) 0,948

0,291d) 0,066 d) 0,357

0,162e) 0,037 e) 0,199

Keterangan: 1) Lukman et al, (2010); 2) Garno & Adibroto, 1999; 3) Rismeyer,1998 dalam Azwar et al, (2004) a) FCR nila =1,23; b) FCR mas = 1,82; c) 1,2% dari berat pakan; d) 37,7% dari kadar P pada pakan; e) 21,0 % dari kadar P pada pakan; f) 41,3% dari kadar P pada pakan Ancaman terhadap lingkungan dari budidaya KJA di perairan danau adalah eutrofikasi dan terjadinya perubahan rasio TN/TP, yang akan memicu melimpahnya ( blooming) fitoplankton yang “tidak dikehendaki”. Pada umumnya kelompok yang tidak dikehendaki tersebut adalah dari klas cyanopyceae, yang tidak dapat dimanfaatkan ikan untuk sumber makanannya serta menciptakan kondisi perairan yang kurang sedap dipandang. Melimpahnya fitoplankton di perairan danau yang memiliki peran sebagai kawasan pariwisata, seperti Danau Toba akan sangat rawan, karena akan merusak kualitas airnya. Demikian pula pada perairan danau yang memiliki ikan endemik akan terancam populasinya, karena terganggunya struktur jaring makanan di dalamnya akibat rusaknya mata rantai primer yaitu komponen fitoplankton. Pertimbangan ketersediaan hara khususnya fosfor sebagai penentu dayadukung perairan untuk pengembangan KJA, tampaknya lebih diperhatikan pada dampaknya terhadap aktivitas lain, seperti pariwisata dan mungkin keperluan air baku. Namun ketersediaan fosfor sebagai penentu dayadukung pengembangan KJA perlu digunakan secara lebih seksama.

Sebagian besar bahan organik pada suatu perairan dihasilkan di wilayah epilimnion dan dirombak di hipolimnion, yang membebani dengan kebutuhan oksigen biologis (BOD; Biological Oxygen Demand) yang tinggi. Pada musim panas di wilayah beriklim sedang (temperate), pada beberapa lokasi kondisi di hipolimnion ini menjadi anoksik, yang mana akan tergantung pada berapa tinggi BOD-nya. Pada beberapa danau peningkatan bahan organik pada sedimen terjadi dalam ribuan tahun lalu sebagai respon terhadap eutrofikasi alami (natural eutrophication), sedangkan pada beberapa danau lain, proses tersebut berlangsung saat ini sebagai respon terhadap eutrofikasi akibat dari kegiatan manusia (cultural eutrophycation) (Dean, 1999). Ketersediaan oksigen di lapisan hipolimnion dipengaruhi laju perpindahan vertikal dari setiap lapisan, serta konsumsi oksigen yang dipengaruhi kebutuhan BOD, pembusukkan fitoplankton, kebutuhan oksigen bentik dan perombakkan bahan organik (Frisk, 1982). Menurut Higashino et al (2008) kadar oksigen di lapisan dalam akan terus berkurang, sejalan dengan pemanfaatan oksigen di dalam sedimen yang dimanfaatkan oleh bakteri perombak organik dan oksidasi metabolit-metabolit reduksi seperti Fe2+, H2S, dan NH4. Sementara itu menurut Cornet & Rigler (1987) 85% konsumsi oksigen di lapisan hipolimnion danau terjadi pada sedimen. Kadar oksigen terlarut pada lapisan dalam di wilayah KJA memungkinan untuk lebih rendah, dan akan terus berkurang, sejalan dengan akumulasi organik di lapisan tersebut dan wilayah sedimennya. Dengan demikian, dengan bertambahnya beban organik dapat diduga penyerapan oksigen sangat intensif di bagian dasar dan menunjang terjadinya kondisi anoksik yang semakin melebar ke kolom-kolom air yang lebih atas. Fluktuasi kadar oksigen harian yang lebar sering berlangsung di perairan danau yang mengalami eutrofikasi, yang mana kadar minimum, kadang-kadang hingga kadar kritis terjadi menjelang matahari terbit. Di perairan danau eutrofik, respirasi malam hari dapat dengan segera menurunkan oksigen terlarut dari yang diakumulasi selama siang hari dari aktivitas fotosintesis. Proses respirasi didominasi oleh organisme hidup di kolom air (terutama fitoplankton) dan respirasi di sedimen dengan kontribusi relatifnya tergantung pada faktor kedalaman. Kadar oksigen terlarut di lapisan hipolimniom memungkinan untuk lebih rendah, karena respirasi di sekitar sedimen akan lebih intensif sementara itu percampuran air dari permukaan ke bagian dalam dibatasi oleh stratifikasi panas, yang umumnya terjadi pada musim panas (Miranda et al, 2001). Fenomena fluktuasi kadar oksigen menunjukkan bahwa ketersediaan oksigen pada kolom air sama sekali hanya tergantung dari proses-proses fotosintetik fitoplankton siang hari Kadar oksigen pada siang hari akan meningkat tajam ), sedangkan pada malam hari akan menurun sejalan dengan tidak adanya aktivitas fotosintentik, sehingga akan sangat minim saat pagi hari ), karena proses-proses respirasi akan terus berlangsung. Kondisi tersebut menjadi sangat kritis jika cuaca mendung pada hari berikutnya karena tidak adanya pasokan oksigen dari proses fotosintesis. Aktivitas KJA secara pasti akan memasok limbah organik, baik yang bersumber dari feses maupun sisa pakan yang tidak termakan ikan. Limbah organik tersebut secara pasti sebagian diantaranya akan terakumulasi di kolom air dan di dalam sedimen. Wilayah perairan danau yang menjadi pusat aktivitas KJA, ternyata memiliki kadar organik total paling tinggi, mencerminkan adanya pasokan organik yang signifikan dari sisa pakan dan feses ikan yang dipelihara (Lukman et al, 2008).

Akumulasi bahan organik total di dalam sedimen akan merubah kondisi lingkungan di wilayah tersebut. Dengan struktur sedimen yang didominasi bahan organik tersebut tidak semua hewan bentik dapat menjadikannya sebagai habitatnya, sementara pada sisi lain proses degradasi organik yang intensif akan mendorong kondisi oksigen yang rendah bahkan anoksik. Tingginya kadar organik pada sedimen di perairan Danau sejalan dengan komunitas biota bentik penghuninya yang didominasi kelompok Tubificidae. Dari kelompok Tubificidae, spesies Limnodrilus hoffmeisteri adalah penyusun utamanya dan tampak sangat menonjol kelimpahanya. Jenis lain dari kelompok Tubificidae ini yang ditemukan adalah Branchiura sowerbyi (Lukman et al, 2008). Kedua jenis ini juga merupakan spesies yang dominan ditemukan juga memiliki kadar organik yang tinggi (Lukman, 2002). Kelompok Tubificid merupakan biota benthik penghuni sedimen perairan yang mengalami penyuburan bahan organik. Sediaan bahan organik memberikan suatu medium yang ideal untuk membuat lubang dan mendapatkan pakannya. Suksesi kelompok Tubificidae berlangsung sejalan dengan semakin memburuknya kondisi perairan, dan pada kondisi yang sangat parah hanya Limnodrilus hoffmeisteri dan Tubifex tubifex yang masih bertahan (Brinkhurst, 1972). Menurut Finegenova (1996), di muara Neva-Finlandia, tempat terjadinya penumpukan sejumlah bahan organik labil, jenis-jenis L. hoffmeisteri, T. tubifex dan Lumbriculus variegatus merupakan spesies-spesies dominan. Kegiatan budidaya ikan di dalam KJA akan memberikan nilai tambah bagi sumberdaya perairan, namun demikian jika tidak dilaksanakan secara hati-hati akan berdampak terhadap masalah pelestarian lingkungan. Dampak aktivitas KJA pada kondisi kualitas air permukaan, ditandai meningkatnya kesuburan (eutrofikasi) sedangkan pada kolom air bagian bawah adalah pembentukan lapisan anaerobik atau kondisi anoksik (kondisi tanpa oksigen) yang makin besar akibat dari akumulasi bahan organik di dasar perairan. Akumulasi bahan organik di dasar perairan selain menciptakan kondisi rendahnya ketersediaan oksigen terlarut, juga akan merubah struktur habitas bentik yang pada akhirnya merubah struktur komunitas biotas penghuninya. sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan berkembangnya berbagai kepentingan, pemanfaatan perairan danau dan kawasan di sekitarnya akan semakin intensif dan menambah beban terhadap ekosistem danau. Kegiatan KJA hanyalah salah satu aktivitas yang berkembang di perairan danau dengan dampak limbah yang mungkin sama dengan aktivitas di daratannya, namun pengendalian limbah yang dihasilkan akan jauh lebih sulit karena KJA berada langsung di dalam perairan. Dampak aktivitas KJA yang paling nyata adalah peningkatan hara di perairan, terciptanya kondisi anoksik di wilayah hipolimnion dan perubahan struktur habitat bentik sebagai dampak dari akumulasi organik pada sedimen. Dampak lanjutan dari kondisi tersebut adalah berubahnya struktur komunitas biota perairan, diantaranya pada kolom air terjadinya perubahan komunitas plankton sedangkan di dasar perairan yang terpengaruh adalah komunitas bentik. Perubahan tersebut akan menghancurkan sistem rantai makanan yang telah terbentuk, dan berpengaruh pada komunitas biota yang telah ada dan mungkin mengancam biota-biota endemik yang dimiliki perairan danau di Indonesia. Pada sisi lain, perairan danau juga memiliki nilai-nilai sumberdaya yang beragam, diantaranya dengan kebutuhan kualitas air yang tinggi, seperti untuk air minum dan pariwisata. Pemanfaatan tersebut secara nyata akan berseberangan dengan kebutuhan untuk aktivitas KJA.

Mengingat dampak dari kegiatan KJA tidak dapat diprediksi dan multidimensi, maka perlu pertimbangan-pertimbangan yang seksama sebelum membuat keputusan pengembangannya di perairan danau. Beberapa hal yang sangat perlu dipertimbangkan adalah: i) Sifat karakter perairan danau; ii) Kondisi biologisnya terkait biota-biota spesifik dan endemik; iii) Pemanfaatan perairan yang saat ini berjalan dan rencana pemanfaatan di masa yang akan datang; iv Penilaian tingkat daya dukung dan luasan dampak yang akan terjadi jika KJA dikembangkan; v) Penetapan lokasi-lokasi pengembangan KJA, serta kendali dan pemantauan lingkungan manakala KJA sudah berjalan. Pemanfaatan perairan Danau Toba untuk budidaya ikan dalam KJA sudah cukup berkembang, dan tahun 1999 tercatat 2.400 unit telah beroperasi (Arifin,2004). Kajian aspek-aspek limnologi perairan Danau Toba telah cukup lama dilakukan, yaitu sejak “Sunda Expedition” pada tahun 1929. Danau Toba memiliki karakter tipe vulkanik, dengan luas 112.970 ha, kedalaman maksimum 529 meter, dan tingkat kesuburan sangat miskin (oligotrofik) (Ruttner, 1930). Kondisi terakhir perairan Danau Toba yaitu tergolong mesotrofik (Purnomo, et al., 2005). Sementara itu dari hasil penelitian terbaru, berdasarkan pengukuran batimetri dan deliniasi citra landsat memberikan karakteristik morfometri Danau Toba, diantaranya luas permukaan 1.124 km2 (112.400 ha), volume danau sekitar 256,2 km3 (256,2 x 109 m3) dengan kedalaman maksimum 508 m (Lukman & Ridwansyah, 2010). Kajian aspek-aspek limnologi perairan Danau Toba telah cukup lama dilakukan, yaitu sejak “Sunda Expedition” pada tahun 1929. Danau Toba memiliki karakter tipe vulkanik, dengan luas 112.970 ha, kedalaman maksimum 529 meter, dan tingkat kesuburan sangat miskin (oligotrofik) (Ruttner, 1930). Kondisi terakhir perairan Danau Toba yaitu tergolong mesotrofik (Purnomo, et al., 2005). Sementara itu dari hasil penelitian terbaru, berdasarkan pengukuran batimetri dan deliniasi citra landsat memberikan karakteristik morfometri Danau Toba, diantaranya luas permukaan 1.124 km2 (112.400 ha), volume danau sekitar 256,2 km3 (256,2 x 109 m3) dengan kedalaman maksimum 508 m (Lukman & Ridwansyah, 2010). Salah satu informasi yang juga penting menyangkut aspek limnologis, adalah kondisi wilayah eufotik perairan. Wilayah eufotik memiliki peran penting sebagai “pemasok energi utama” suatu perairan danau atau sebagai wilayah “trophogenic” terkait ketersediaan cahaya yang melimpah yang mendukung aktivitas produktivitas primer di dalamnya. Merujuk pada Odum (1971), eufotik adalah bagian perairan yang mendapat cahaya, termasuk di dalamnya adalah wilayah littoral dan limnetik. Kedalaman eufotik (EZD; Euphotic Zone Depth) dibatasi oleh menghilangnya penetrasi radiasi aktif fotosintesis (PAR; Photosythetically Active Radiation) hingga tinggal 1% dari cahaya yang datang ke permukaan perairan (Koenings & Edmunson, 1991). Dengan demikian, dimensi dari EZD akan menentukan berapa luas wilayah littoral yang tersedia dan berapa dalam kolom air yang menjadi wilayah limnetik. Pemahaman wilayah eufotik perairan Danau Toba akan sangat penting, karena informasi tersebut dapat memberikan arahan kebijakan pemanfaaan wilayah tepian peraian dan dalam menentukan wilayah yang mendukung produktivitas hayati di dalamnya. Kedalaman eufotik (EZD) Danau Toba ini jika dibandingkan dengan kedalaman maksimumnya yang mencapai 508 meter, hanya memiliki proporsi yang sangat rendah dari seluruh kolom air. Sementara itu luasan wilayah littoral, tepian dengan kedalaman hingga 30 meter diperkirakan mencapai 10,64 km2 atau 0,95% dari seluruh luasan (1.124 km2) perairan Danau Toba (Lukman & Ridwansyah, 2010).

Luas wilayah littoral Danau Toba yang relatif sempit, terkait dengan kondisi batimetrinya yang cenderung curam. Wilayah littoral yang cukup luas, tampak tersebar di tepian landai seperti di utara Pulau Samosir dan di sisi tenggara danau ). Terkait pengembangan KJA, wilayah yang dapat dimanfaatkan semestinya berada di lepas pantai pada kisaran kedalaman >30 meter, untuk menjaga kondisi perkembangan komunitas biotik di wilayah littoral tersebut. Stratifikasi vertikal suhu perairan danau akan mencerminkan bagaimana dinamika polapola pencampuran massa air di dalamnya. Dikemukakan oleh Wetzel (1983) bahwa stratifikasi di danau bercampur (mixtic lake) melalui suatu rangkaian proses yang dimediasi oleh proses-proses fisik dan biologis. Pada skala waktu tahunan dengan berlangsungnya tahapan penghangatan permukaan air dan aksi angin menentukan pelapisan panas di dalam kolom air, dan berasosiasi dengan suksesi proses mikrobial heterotrofik, sejalan pula dengan dorongan yang mengarahkan untuk evolusi kimia di wilayah lebih dalam. Selanjutnya Stum (1985) mengemukakan bahwa perkembangan stratifikasi suhu di suatu perairan memainkan peran penting pada seluruh proses ekologis badan air. Berdasarkan data pengukuran profil suhu belum tampak suatu kecenderungan kestabilan suhu. Kondisi suhu dari permukaan hingga kedalaman 40 m, suhu menurun secara bertahap dari antara 26 – 28oC hingga pada kisaran 25 – 26oC suhu air permukaan cenderung lebih rendah dan menunjukkan suhu yang cenderung menjadi homogen dari permukaan hingga kedalaman 40 m serta tampaknya menunjukkan adanya pengaruh kondisi cuaca di permukaan yang cukup kuat. Ketersediaan oksigen hingga kedalaman 40 meter relatif masih cukup tinggi (> 3,0 mg/L), dengan profil vertikal yang berbeda. Kondisi kadar oksigen terlarut memiliki pola yang hampir mirip dengan profil suhu, kadar oksigen cenderung homogen dari permukaan hingga kedalaman 40 m. Keberadaan oksigen terlarut pada kolom perairan antara 0 – 40 m, yang relatif tinggi, selain ditunjang oleh proses pengadukan (agitasi) akibat adanya hembusan angin, juga akan dipasok dari aktivitas proses fotosintesis. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Gelda & Effler (2002), bahwa netto perubahan ketersediaan oksigen terlarut pada bagian atas lapisan produktif campuran (UMPL; upper mixed productive layer) sebagai suatu keseimbangan dengan massa oksigen terlarut yang dipertukarkan pada permukaan air dan udara, massa oksigen terlarut yang dipertukarkan melalui batas bawah UMPL, dan netto perubahan oksigen terlarut yang diakibatkan oleh produktivitas primer. Kondisi oksigen terlarut yang cenderung homogeny diduga terkait dengan profil vertikal suhu pada bulan yang sama yang cenderung homogen. Kondisi tersebut memungkinkan massa air dan komponen di dalamnya, termasuk oksigen terlarut, akan dengan mudah bergerak diantara kolom yang berbeda karena tidak adanya perbedaan massa jenis dari air tersebut. Sementara itu ketersediaan oksigen di lapisan dalam yang cenderung lebih rendah, dipengaruhi laju perpindahan vertikal yang dapat diestimasi dari kondisi suhu dari setiap lapisan, serta konsumsi oksigen yang dipengaruhi kebutuhan untuk perombakan organik dan fitoplankton serta kebutuhan oksigen bentik (Frisk, 1982). Dengan demikian, kondisi wilayah eufotik Danau Toba di wilayah perairan terbuka atau yang merupakan wilayah limnetiknya, masih mendukung kehidupan biota heterotrof dengan ketersediaan oksigen yang masih mencukupi (> 3 mg/L). Tingkat keasaman (pH) perairan Danau Toba cenderung basa (>7,0), kekeruhan pada kisaran rendah, dengan konduktivitas antara 0,154 – 0,162 mS/cm. Karakteristik pH perairan Danau Toba cenderung alkalin (pH antara 7,14 – 8,97), tampaknya terkait dengan daerah tangkapan(DTA; atcment area) Danau Toba yang kondisinya cukup terbuka, sementara luasan

dari DTA itu sendiri cukup dominan (Rasio DAS : Luas perairan ≈ 2,2 : 1; Lukman & Ridwansyah, 2010). Pada umumnya perairan alkalin berada di daerah karst, yang aliran airnya banyak melarutkan komponen kalsium (Ca), sebagaimana sungai-sungai pada kawasan karst di Barat Laut Slovenia yang memiliki pH bervariasai antara 7,7 – 8,0 (Mori & Bracelj, 2006). Sementara itu tingkat kekeruhan jika mengacu pada baku mutu air bersih (Peraturan MenKes RI No. 416/IX/90) atau untuk melindungi kehidupan akuatik (US-EPA) yaitu < 25 NTU, maka tingkat kekeruhan perairan Danau Toba masih cukup baik dan layak. Tingkat konduktivitas perairan menunjukkan kadar ion-ion yang terkandung di dalamnya, yang sangat berguna sebagai pendekatan pendugaan kekayaan kimiawinya. Tingkat konduktivitas perairan Danau Toba berada pada kisaran sedang. Wilayah eufotik perairan Danau Toba dapat mencapai kedalaman 27 meter, dan menciptakan luasan wilayah littoral diperkirakan 10,64 km2 atau 0,95% dari seluruh luasan danau. Kondisi wilayah eufotik di perairan terbuka (limnetik) cenderung memiliki kondisi suhu yang relatif homogen dan masih mendukung kehidupan biota heterotrof dengan ketersediaan oksigen yang masih mencukupi (> 3 mg/L). Berdasarkan kandungan klorofil-a-nya, perairan Danau Toba mencirikan perairan oligotrof, dan memberikan potensi produksi perikanan yang mencapai 37,9 kg/ha/tahun. Senyawaan nitrogen dan fosfor di perairan darat, adalah senyawaan yang sangat penting sebagai sumber unsur hara bagi organisme nabati. Tinggi rendahnya senyawaan tersebut menjadi kriteria status perairan darat (Jorgensen & Vollenweider, 1989). Peningkatan muatan nitrogen anorganik ke dalam sungai dan danau seringkali sebagai akibat aktivitas pertanian, cairan limbah, dan polusi dari atmosfir akibat manusia. Di danau-danau oligotrof yang tidak produktif, ketersediaan fosfor sering menjadi faktor pembatas utama unsur hara untuk pertumbuhan vegetasi. Sebagaimana meningkatnya muatan fosfor ke dalam perairan tawar dan danau-danau menjadi lebih produktif, nitrogen menjadi lebih penting sebagai unsur hara pembatas pertumbuhan. Fosfor memainkan peran utama di dalam metabolisme biologis. Dibandingkan dengan mikronutrien lain yang dibutuhkan oleh biota, fosfor memiliki kelimpahan minimum dan umumnya merupakan unsur pertama pembatas produktivitas biologis. Keberadaan fosfor di perairan daratan diantaranya dapat berbentuk ortofosfat (PO4-3) yang merupakan bentuk fosfat anorganik terlarut yang secara langsung dapat digunakan oleh komponen nabati dan fosfor dengan proporsi yang cukup besar terikat dalam fosfat organik dan sel-sel penyusun organisme hidup atau mati, serta di dalam atau diadsorbsi menjadi koloid organik. Nitrogen sebagaimana fosfor adalah satu penyusun utama protoplasma sel organisme, dan merupakan unsur hara pokok yang mempengaruhi produktivitas perairan tawar. Nitrogen organik terlarut (DON; Dissolved Organic Nitrogen) sering menyusun lebih dari 50% nitrogen terlarut total di perairan tawar (Wetzel, 1981). Di wilayah Danau Toba kegiatan manusia sudah berlangsung dengan sangat intensif, baik di wilayah daratannya maupun di dalam perairan itu sendiri. kegiatan tersebut akan memberikan pasokan hara yang dapat berpengaruh terhadap tingkat kesuburan perairan danau. Kondisi ketersediaan hara di perairan Danau Toba, khususnya Total Phosphor (TP), Total Nitrogen (TN), dan orthophospat (OP) sangat penting diketahui, mengingat aktivitas masyarakat di sekitarnya yang telah cukup tinggi serta pemanfaatan perairan yang juga telah berkembang. Pasokan hara dari inlet-inlet Danau Toba, yaitu dari beberapa sungai yang terpilih menunjukkan adanya variasi. Kadar TP dan TN yang tinggi berasal dari sungai-sungai yang yang melewati pemukiman penduduk dan pemanfaatan lahan yang tinggi. sungai yang melintasi wilayah aktivitas budidaya. Tingginya kadar pasokan hara juga tergantung pada debit aliran dari sungai. Aktifitas pemberian pakan ikan diduga menjadi sumber masukan dari unsur hara TN dan TP. Tingginya kadar TN dan TP di perairan Danau Toba belum tentu menjadi sumber unsur hara

yang tersedia bagi pertumbuhan fitoplankton. Hal ini dikarenakan kadar ortofosfat di lapisan permukaan perairan Danau Toba relatif masih rendah yaitu 0,012 mg/L. Tampaknya semua bentuk partikulat dari senyawaan fosfor ini akan terakumulasi ke bagian dasar danau, yang ditandai dengan tingginya kadar TP di lapisan perairan bagian dalam. Secara keseluruhan dinamika ortofosfat yang merupakan unsur hara fosfor tersedia bagi pertumbuhan fitoplankton di Danau Toba sangat tergantung pada kondisi oksigen terlarut (DO) di kolom air danau tersebut. Kadar oksigen di Danau Toba sampai kedalaman 100 m masih bersifat aerobik sedangkan kadar DO setelah kedalaman 100 m sudah bersifat anaerobik. Kadar ortofosfat di daerah permukaan relatif kecil sedangkan setelah kedalaman 100 m dengan berkurangnya kadar DO, ortofosfat mulai dilepaskan dari bentuk partikulatnya (Gambar 8). Tingginya kadar ortofosfat ini dapat jadi berasal dari proses desorpi maupun degradasi dari senyawaan organik fosfat maupun adanya pelepasan dari sedimen (Liam, 1992). Ketersediaan unsur hara (TN dan TP) tidak terlepas dari distribusi vertikal dan horizontal di kolom air Danau Toba. Kadar unsur hara di permukaan danau terlihat lebih kecil bila dibandingkan dengan kadar di bagian dasar kolom air dan di aliran sungai yang masuk ke Danau Toba. Berdasarkan rasio TN dan TP di lapisan permukaan perairan, senyawaan nitrogen lebih dominan sebagai faktor pembatas penunjang pertumbuhan alga (Tabel 4, Tabel 5 dan Tabel 6). Sementara itu ketersediaan ortofosfat sebagai hara utama pertumbuhan alga di lapisan permukaan relatif masih rendah.
Tabel 4. Beban masukan TP dari sungai-sungai yang masuk ke perairan Danau Toba
No. Sungai April 2009 Oktober 2009 Debit Kadar TP Muatan Debit Kadar TP Muatan 3 3 Sesaat (mg/m ) TP Sesaat (mg/m ) TP 3 3 (m /dt) (mg/dt) (m /dt) (mg/dt) 1 Sipiso-piso 0,615 ta ta 0,581 53 30,79 2 Sitio-tio 0,173 ta ta 0,187 55 10,28* 3 Haranggaol 0,135 116 15,66 0,316 139 43,92 4 Binagabolon ta ta ta 0,165 55 9,07 5 Naborsahan 2,382 76 181,03 1,958 139 272,16 6 Balige 1,766* 34 60,04 1,766 26 45,92 7 Siputakgura 1,432* 61 87,35 1,432 124 177,57 8 Silang ta ta ta 10,606 97 1028,78 9 Asahan 100** 21 2100,00 100** 26 2600,00 ta: Tidak ada data; *) Data Oktober 2009; **) Outlet Danau Toba Muatan TP Rataan (mg/dt) (kg/hari)

30,79* 10,28* 14,77 9,07* 226,60 52,98 132,46 1028,78* 2.350,00

2,66* 0,89* 2,57 0,78* 19,58 4,58 11,44 88,89* 203,04

Tabel 5. Beban masukan TN dari sungai-sungai yang masuk ke perairan Danau Toba
No. Sungai Oktober 2009 Kadar TN Muata 3 (mg/m ) n TN (mg/dt) 1 Sipiso-piso 111 64,49 2 Sitio-tio 111 20,76 3 Haranggaol 309 97,64 4 Binagabolon 179 29,53 5 Naborsahan 340 665,72 6 Balige 247 436,20 7 Siputakgura 247 353,70 8 Silang 2.619,6 ta ta 247 8 9 Asahan 100** 248 24.800 100** 49 4.900 ta: Tidak ada data; *) Data Oktober 2009; **) Outlet Danau Toba Debit Sesaat 3 (m /dt) 0,615 0,173 0,135 ta 2,382 1,766* 1,432* ta Debit Sesaat 3 (m /dt) 0,581 0,187 0,316 0,165 1,958 1,766 1,432 10,606 April 2009 Kadar TN Muatan 3 (mg/m ) TN (mg/dt) ta ta ta ta 299 40,36 ta ta 204 485,93 108 190,73 611 874,95 Muatan TN Rataan (mg/dt) (kg/hari)

64,49* 20,76* 69,00 29,53* 575,82 313,47 614,33 2.619,68* 14.850

5,57* 1,79* 5,96 2,55* 49,75 27,08 53,08 226,34* 1283,04

Tabel 6. Kadar TP dan TN pada Kolom Permukaan Danau Toba
Stasiun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Haranggaol Rata-rata Kadar TP (mg/L) April 2009 Oktober 2009 0,008 0,016 0,005 0,021 0,016 0,018 0,045 0,020 0,034 0,018 0,116 0,018 0,026 0,018 0,018 0,008 0,018 0,013 0,021 ta 0,018 0,021 0,008 0,021 ta 0,071 0,028 0,022 Kadar TN (mg/L) April 2009 Oktober 2009 0,051 0,093 0,013 0,093 0,019 0,148 0,102 ta 0,057 0,093 0,102 0,302 0,083 0,253 0,108 0,074 0,019 0,272 0,032 ta 0,057 0,179 0,019 0,093 ta 0,451 0,055 0,186

Tabel 7. Jumlah Limbah Nitrogen yang Dihasilkan Dengan Penggunaaan Pakan 200 ton per Hari (Asumsi 100 % Pakan Dikonsumsi oleh Ikan) No 1 2 3 4 5 Komponen Nitrogen (berat kering) Kadar air Prosentasi nitrogen pakan yang digunakan Nitrogen (1 kg berat basa ikan) Nitrogen pakan yang dipakai untuk 1 kg ikan Prosentasi nitrogen pakan tersimpan dalam tubuh ikan Prosentasi nitrogen pakan terbuang dalam perairan Jumlah limbah nitrogen pemakaian 1 kg pakan Jumlah limbah nitrogen pemakaian 200 ton pakan per hari 0,0839 0,0842 Pakan 1 0,0523 0,1083 0,0466 Pakan 2 0,0523 0,1061 0,0468 0,0261 Ikan 0,1053 0,7523

6 7 8

0,3107 0,6893 0,0321

0,3099 0,6901 0,0323

9

6.429,0920 6.452,1040

Sumber : Jamahir Gultom dan Pohan Panjaitan, 2009.

Tabel 7 dan 8 juga menunjukkan jumlah limbah nitrogen dan posfor yang dihasilkan KJA setiap hari. Tabel 8. Jumlah Limbah Posfor yang Dihasilkan Dengan Penggunaaan Pakan 200 ton per Hari (Asumsi 100 % Pakan Dikonsumsi oleh Ikan) No 1 2 3 4 5 6 7 8 Posfor (berat kering) Kadar air Prosentasi posfor pakan yang digunakan Prosentasi posfor (1 kg ikan berat basa ) Prosentasi posfor pakan yang dipakai untuk 1 kg ikan Prosentase posfor pakan tersimpan dalam tubuh ikan Prosentase posfor pakan terbuang dalam perairan Jumlah limbah posfor pemakaian 1 kg pakan Jumlah limbah posfor pemakaian 200 ton pakan per hari 0,0238 0,1449 0,8551 0,0113 0,0217 0,1585 0,8415 0,0102 Komponen Pakan 1 0,0148 0,1083 0,0132 Pakan 2 0,0135 0,1061 0,0121 0,0034 Ikan 0,0139 0,7523

9

2.256,8731

2.030,9711

Sumber : Jamahir Gultom dan Pohan Panjaitan, 2009.

Sedangkan Tabel 9 dan 10 menunjukkan jumlah produksi limbah nitrogen dan posfor dari KJA dengan menggunakan analisis laboratorium, konversi pakan ikan yang digunakan sebesar 1.8 (berdasarkan data lapangan) dan jumlah makanan yang diberikan setiap hari 200 ton per hari (berdasarkan data lapangan) dengan assumsi 5 % pakan yang diberikan tidak dikonsumsi oleh ikan. Jumlah limbah padat berdasarkan biomas yang dihasilkan oleh KJA PT Aquafarm

Nusantara dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 9. Jumlah Limbah Nitrogen yang Dihasilkan Dengan Penggunaaan Pakan 200 ton per Hari (Asumsi 5 % Pakan tidak Dikonsumsi oleh Ikan) No 1 2 3 4 5 Komponen Nitrogen (berat kering) Kadar air Prosentasi nitrogen pakan yang digunakan Nitrogen (1 kg ikan berat basa ) Nitrogen pakan yang dipakai untuk 1 kg ikan Prosentasi nitrogen pakan tersimpan dalam tubuh ikan Prosentasi nitrogen pakan terbuang dalam perairan Jumlah limbah nitrogen pemakaian 1 kg pakan Jumlah limbah nitrogen pemakaian 200 ton pakan per hari Jumlah limbah nitrogen pemakaian 200 ton kg pakan (Pakan yang tidak dikonsumsi (5 %) Total limbah nitrogen pemakaian 200 ton pakan per hari 466,3591 467,5097 0,0839 0,0842 Pakan 1 0,0523 0,1083 0,0466 Pakan 2 0,0523 0,1061 0,0468 0,0261 Ikan 0,1053 0,7523

6 7 8

0,3107 0,6893 0,0321

0,3099 0,6901 0,0323

9 10

6.429,0920 6.452,1040

11

6.895,4511 6.919,6137

Sumber : Jamahir Gultom dan Pohan Panjaitan, 2009.

Tabel 10. Jumlah Limbah Posfor yang Dihasilkan Dengan Penggunaaan Pakan 200 ton per Hari (Asumsi 5 % Pakan tidak Dikonsumsi oleh Ikan) No 1 2 Posfor (berat kering) Kadar air Komponen Pakan 1 0,0148 0,1083 Pakan 2 0,0135 0,1061 Ikan 0,0139 0,7523

3 4

Prosentasi posfor pakan yang digunakan Prosentasi posfor ( 1 kg ikan berat basa ) Prosentasi posfor pakan yang dipakai untuk 1 kg ikan Prosentasi posfor pakan tersimpan dalam tubuh ikan Prosentasi posfor pakan terbuang dalam perairan Jumlah limbah posfor pemakaian 1 kg pakan Jumlah limbah posfor pemakaian 200 ton pakan per hari Jumlah limbah posfor pemakaian 200 ton kg pakan (Pakan yang tidak dikonsumsi (5 %) Total limbah posfor pemakaian 200 ton pakan per hari

0,0132

0,0121 0,0034

5 6 7 8

0,0238 0,1449 0,8551 0,0113

0,0217 0,1585 0,8415 0,0102

9 10

2.256,8731 2.030,9711

131,9716

120,6765

11

2.388,8447 2.151,6476

Sumber : Jamahir Gultom dan Pohan Panjaitan, 2009.

Tabel 11. Jumlah Limbah Padatan yang Dihasilkan Dengan Penggunaaan Pakan 200 ton per hari

No 1 2 3 4 5 Kadar Air Berat Kering FCR

Komponen

Pakan 1 0,1083 0,8917 1,8000 0,8436 168.720

Pakan 2 0,1061 0,8939 1,8000 0,8461 169.220

Ikan 0,7523 0,2477

Prosentasi pakan jadi limbah padat berdasarkan biomas Total padat pemakaian 200 ton per hari

Sumber : Jamahir Gultom dan Pohan Panjaitan, 2009.

Budidaya Perikanan Air Tawar dalam Kegiatan Keramba Jaring Apung Menurut Jamahir Gultom (2009) dalam suatu riset ilmiah tentang budidaya Keramba Jaring Apung (KJA) milik PT. Aquafarm Nusantara di perairan Danau Toba menunjukkan bahwa data lapangan ada dua jenis pakan yang digunakan dan menurut laboratorium bahwa prosentasi nitrogen yang terkandung pada pakan jenis 1 dan 2 adalah sebesar 5,23 % sedangkan kadar air pakan 1 sebesar 10,83 % dan pakan 2 sebesar 10,61 %. Selanjutnya prosentasi nitrogen daging ikan berdasarkan berat kering 10,53% dan kadar air ikan (berat basa) sebesar 75,23 %. Terlihat bahwa prosentasi nitrogen dalam pakan ikan yang menjadi limbah di perairan Danau Toba adalah sebesar 68,90 % untuk pakan jenis 1 dan 69,01 % untuk pakan jenis 2 dengan menggunakan konversi makanan 1.8. PT.Aquafarm menggunakan 200 ton pakan setiap hari untuk kegiatan KJA di perairan Danau Toba sehingga total limbah nitrogen yang dihasilkan di perairan Danau Toba setiap hari sebanyak 6,43 ton untuk pakan jenis 1 dan sebanyak 6,45 ton jika semua pakan terkonsumsi ikan dan sebanyak 6,89 ton bagi pakan jenis 1 dan sebesar 6,92 ton bagi pakan jenis 2 jika diasumsikan 5 % pakan tidak terkonsumsi oleh ikan. Prosentasi

nitrogen pakan yang menjadi limbah di perairan Danau Toba menurut kajian ini didukung oleh hasil beberapa penelitian sebelumnya (Beveridge, 1996) yang menunjukkan bahwa 70 % nitrogen yang dikonsumsi oleh ikan akan terbuang ke perairan (pakan yang digunakan dengan koversi ratio 1,6). Total limbah fosfor yang dihasilkan di perairan Danau Toba setiap hari sebanyak 2.26 ton untuk pakan jenis 1 dan sebanyak 2.03 ton untuk pakan jenis 2 jika semua pakan terkonsumsi ikan dan sebanyak 2.39 ton bagi pakan jenis 1 dan sebesar 2.15 ton bagi pakan jenis 2 jika diasumsikan 5 % pakan tidak terkonsumsi oleh ikan. Walaupun level parameter fisik-kimia-biologi perairan masih pada batas toleransi tetapi limbah nitrogen dan fosfor yang dihasilkan oleh PT.Aquafarm Nusantara sudah boleh berpotensi untuk menurunkan kualitas perairan Danau Toba mengingat Danau Toba mempunyai resident time air 77 tahun (Lehmusluoto dan Machbub, 1995) sehingga 6.4 ton limbah nitrogen dan 2.2 ton limbah fosfor masuk ke perairan Danau Toba dari PT.Aquafarm Nusantara akan keluar dari danau setelah 77 tahun. Dengan demikian jika usaha pengelolaaan lingkungan tidak dilakukan maka peningkatan konsentrasi nitrogen dan posfor oleh KJA Aquafarm Nusantara akan terjadi setiap hari dan akhirnya ekosistem perairan Danau Toba rusak. (Jamahir Gultom, 2009).

Hasil kajian ilmiah sebelumnya di bidang budidaya ikan (Beveridge and Philips, 1993) menemukan bahwa sebesar 74. 59 % produk nitrogen hasil metabolisme ikan tilapia dibuang melalui urine dan hanya 25.41 % produk nitrogen ikan tilapia diekskresikan dalam bentuk feses. Dengan demikian total jumlah nitrogen yang dibuang dalam bentuk urine ikan tilapia pada KJA PT.Aquafarm sebanyak 4,79 ton untuk pakan jenis 1 dan 4,81 ton untuk pakan jenis 2, jika semua pakan terkonsumsi oleh ikan. Jika sebesar 5 % pakan tidak terkonsumsi oleh ikan maka total jumlah nitrogen yang dibuang dalam bentuk urine ikan tilapia pada KJA PT.Aquafarm sebanyak 5,14 ton untuk pakan jenis 1 dan 5,16 ton untuk pakan jenis 2. Sedangkan total jumlah nitrogen yang diekresikan melalui feses ikan tilapia pada KJA

PT.Aquafarm sebanyak 1.64 ton untuk pakan jenis 1 dan 2, jika semua pakan terkonsumsi oleh ikan. Jika sebesar 5 % pakan tidak terkonsumsi oleh ikan maka total jumlah nitrogen yang dibuang dalam bentuk feses ikan tilapia pada KJA PT.Aquafarm sebanyak 1,75 ton untuk pakan jenis 1 dan 1,76 ton untuk pakan jenis 2 (Jamahir Gultom, 2009). Berdasarkan pendekatan biomas pakan yang digunakan dengan menggunakan hasil

analisis kadar air pakan dan ikan yang dipakai serta konversi pakan 1,8 maka jumah limbah padatan yang dihasilkan oleh KJA PT Aquafarm adalah sebesar 168,72 ton per hari untuk jenis pakan 1 dan 169.220 ton per hari untuk jenis pakan 2. Limbah padatan ini juga merupakan potensi bagi perairan Danau Toba untuk meningkatkan padata tersuspensi, terkoloid dan terlarut serta pendangkalan danau mengingat pengeluaran utama Danau Toba hanya Sungai Asahan. Partikel padatan yang selalu mengendap di dasar danau tidak mungkin dikeluarkan dari Sungai Asahan karena air yang keluar dari bukan dari bawah tetapi dari atas. Kesimpulan : Semoga dengan uraian di atas dapat melahirkan suatu kebijakan dan kearifan di dalam mengelola kesinambungan Danau Toba dan mendukung kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Referensi : 1. Lukman, Pusat Penelitian Limnologi-LIPI (2012). Diseminasi Timbangan Ilmiah. Medan Mei 2012. 2. Jamahir Gultom dan Pohan Panjaitan. Seminar Nasional Studi dampak Pencemaran pada Lokasi KJA PT.AQUAFARM Nusantara. Tuktuk – Kabupaten Samosir Januari 2009.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->