Clinical Science Session

KONJUNGTIVITIS ALERGI

Oleh : Zulfahmi Sivaneasan Kandiah Nabilah Raisa 07120025 0810314262 0810314274

Preseptor : dr. M. Hidayat, Sp.M dr. Andrini Ariesti, Sp.M

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2012

konjungtivitis menduduki tempat kedua (9. konjungtivitis klamidia. konjungtivitis rickettsia. Berdasarkan agen penyebabnya maka konjungtivitis dapat dibedakan konjungtivitis bakterial.1 Insidensi konjungtivitis di Indonesia berkisar antara 2-75%.BAB 1 PENDAHULUAN 1. Oleh karena letaknya yang paling luar itulah sehingga konjungtiva sering terpapar terhadap banyak mikroorganisme dan faktor lingkungan lain yang mengganggu. namun pada beberapa kasus dapat berlanjut menjadi penyakit yang serius. Penyakit ini merupakan penyakit mata paling umum di dunia. Untuk itu tidak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter mata jika terkena konjungtivitis. konjungtivitis parasit. konjungtivitis virus. Data lain menunjukkan bahwa dari 10 penyakit mata utama. serta melapisi bagian posterior dari palpebra (konjungtiva palpebrae). patofisiologi. konjungtivitis alergika. diagnosis dan penatalaksanaan pada konjungtivitis alergi. konjungtivitis yang penyebabnya tidak diketahui. Data perkiraan jumlah penderita penyakit mata di Indonesia adalah 10% dari seluruh golongan umur penduduk per tahun dan pernah menderita konjungtivitis. konjungtivitis kimia atau iritatif.2 Batasan Masalah Makalah ini akan membahas mengenai anatomi konjungtiva.2 Pada dasarnya konjungtivitis adalah penyakit ringan. konjungtivitis fungal.7%) setelah kelainan refraksi (25. etiologi. serta konjungtivitis yang berhubungan dengan penyakit sistemik. gejalanya bervariasi dari hiperemi ringan dengan air mata sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen dan kental.1 1. . epidemiologi. Salah satu penyakit konjungtiva yang paling sering adalah konjungtivitis.1 Latar Belakang Konjungtiva merupakan membran yang tipis dan transparan yang melapisi bagian anterior dari bola mata (konjungtiva bulbi).1 Konjungtivitis adalah peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata.35%).

1. . patofisiologi.3 Tujuan Penulisan Makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai anatomi konjungtiva. diagnosis dan penatalaksanaan pada konjungtivitis alergi.4 Metode Penulisan Metode yang dipakai dalam penulisan makalah ini berupa tinjauan kepustakaan yang merujuk kepada berbagai literatur dan makalah ilmiah. epidemiologi. 1. etiologi.

Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke kapsul tenon dan sclera di bawahnya. Konjungtiva bersambungan dcngan kulit pada tepi kelopak (persambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea di limbus. Konjungtiva forniks (bagian transisi yang membentuk hubungan antara bagian posterior palpebra dan bola mata).1 Anatomi dan Fisiologi Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bagian: a. Konjungtiva palpebralis (menutupi permukaan posterior dari palpebra) b. Di tepi superior dan inferior tarsus.3 Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbitale di fornices dan melipat berkalikali. Anatomi Konjungtiva Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak mata dan melekat erat ke tarsus. Pelipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva sekretorik. Konjungtiva terdiri dari tiga Gambar 1.3 bulbaris).BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. . Konjungtiva bulbaris (menutupi sebagian permukaan anterior bola mata) c. konjungtiva melipat ke posterior (pada fornices superior dan inferior) dan membungkus jaringan episklera dan menjadi konjungtiva bulbaris.

Kelenjar Wolfring terletak di tepi atas tarsus atas.3 Konjungtiva forniks struktumya sama dengan konjungtiva palpebra. Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan di beberapa tempat dapat mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Tetapi hubungan dengan jaringan dibawahnya lebih lemah dan membentuk lekukan-lekukan. Lapisan fibrosa tersusun dari Jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus. Oleh karena itu. Juga mengandung banyak pembuluh darah. lapisan epitel konjungtiva terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder bertingkat. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat daripada sel-sel superficial dan di dekat limbus dapat mengandung pigmen. terletak di dalam stroma. Lapisan adenoid tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan.kecuali di limbus (tempat kapsul Tenon dan konjungtiva menyatu sejauh 3 mm). yang struktur dan fungsinya mirip kelenjar lakrimal..3 Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisial) dan satu lapisan fibrosa (profundus). Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata. dan sedikit ada di forniks bawah. dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri dari sel-sel epitel skuamosa.2 Jika dilihat dari segi histologinya. di atas karunkula. Hal ini menjelaskan gambaran reaksi papiler pada radang konjungtiva. Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi lapisan air mata secara merata di seluruh prekornea. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus.3 Kelenjar airmata asesori (kelenjar Krause dan Wolfring). Struktur epidermoid kecil semacam daging (karunkula) menempel superfisial ke bagian dalam plika semilunaris dan merupakan zona transisi yang mengandung baik elemen kulit dan membran mukosa. Sebagian besar kelenjar Krause berada di forniks atas. pembengkakan pada tempat ini mudah terjadi bila terdapat peradangan mata.3 Sel-sel epitel superficial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus. superfisial dan basal. Hal ini menjelaskan mengapa konjungtivitis inklusi pada neonatus bersifat papiler bukan folikuler dan mengapa kemudian menjadi folikuler. mudah bergerak dan lunak (plika semilunaris) terlelak di kanthus internus dan membentuk kelopak mata ketiga pada beberapa binatang.3 . Lipatan konjungtiva bulbaris yang tebal.

alergi. iritasi oleh angin.2 2.3 Epidemiologi Konjungtivitis alergi dijumpai paling sering di daerah dengan alergen musiman yang tinggi. misalnya kontak lensa.5 Patogenesis Tipe reaksi immunologi yang didapatkan pada konjungtivitis alergi berupa reaksi hipersensitivitas tipe 1 (tipe cepat) yang berlaku apabila individu yang sudah tersentisisasi sebelumnya berkontak dengan antigen yang spesifik. Konjungtivitis alergi adalah peradangan konjungtiva yang disebabkan oleh reaksi alergi atau hipersensitivitas tipe humoral ataupun sellular. Gejala paling jelas dijumpai sebelum onset pubertas dan kemudian berkurang.2 Salah satu bentuk konjungtivitis adalah konjungtivitis alergi. bulu binatang b. Keratokonjungtivitis vernal paling sering di daerah tropis dan panas seperti daerah mediteranian. terutamanya usia muda (4-20 tahun). bakteri.2 Definisi Konjungtivitis adalah peradangan pada selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata. Timur Tengah. asap. Penyakit ini bervariasi mulai dari hyperemia ringan dengan mata berair sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen kental. atau kontak dengan benda asing. dan polusi udara c. Konjungtivitis dapat disebabkan oleh virus. dan Afrika. pemakaian lensa kontak terutama dalam jangka panjang. Biasanya onset pada dekade pertama dan menetap selama 2 dekade. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya berbagai macam gejala.4 Etiologi Konjungtivitis alergi dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti : a. Imunoglobulin E (IgE) mempunyai afinitas . salah satunya adalah mata merah. debu. Konjungtiva sepuluh kali lebih sensitif terhadap alergen dibandingkan dengan kulit. serbuk sari.1 2.2. Keratokonjungtivitis vernal lebih sering dijumpai pada laki-laki dibandingkan perempuan. reaksi alergi terhadap debu.4 2. Keratokonjungtivitis atopik umumnya lebih banyak pada dewasa muda.

2 2. chymase.4 Gambaran patologi pada konjunktivitis hay fever berupa: a.2 Degranulasi sel mast mengeluarkan mediator-mediator inflamasi di antaranya histamin. dan cross-link 2 IgE oleh antigen akan menyebabkan degranulasi sel mast. dan bulu hewan. Alergen utama yang berperan adalah debu rumah. respon vascular di mana terjadi vasodilatasi dan meningkatnya permeabilitas pembuluh darah yang menyebabkan terjadinya eksudasi. thromboxane.yang kuat terhadap sel mast. allergen yang bisa mencetuskan rhinitis allergi juga dapat menyebabkan konjuntivitis alergi. and leukotriene. Mediator-mediator ini bersama dengan faktor-faktor kemotaksis akan menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskular dan migrasi sel neutrophil dan eosinophil. Gejala pada individu dengan konjungtivitis alergi seasonal timbul pada waktu tertentu seperti pada musim bunga di mana serbuk sari merupakan allergen utama. Ini merupakan reaksi alergi yang paling sering pada mata. . Sedangkan individu dengan konjungtivitis alergi perennial akan menunjukkan gejala sepanjang tahun. rumput. heparin.6 Klasifikasi Konjungtivitis alergi terbagi kepada empat tipe yaitu .4 Perbedaan konjungtivitis alergi sesonal dan perennial adalah waktu timbulnya gejala. chondroitin sulfat. Konjungtivitis “hay fever” (konjungtivitis simpleks) : Seasonal Allergic Conjunctivitis (SAC) dan Perennial Allergic Conjunctivitis (PAC) Keratokonjungtivitis vernal Keratokonjuntgivitis atopic Giant Papillary Conjunctivitis. allergen yang dominan adalah rumput dan pada musim dingin tidak ada gejala karena menurunnya tranmisi allergen airborne. Alergen airborne seperti serbuk sari. triptase.1 Konjungtivitis hay fever Konjungtiva adalah permukaan mukosa yang sama dengan mukosa nasal. prostaglandin. Pada musim panas. bulu hewan dan lain-lain dapat memprovokasi terjadinya gejala pada serangan akut konjuntivitis alergi.6. Oleh karena itu. asap rokok.2 2.

Pada lapisan adenoid terdapat infiltrasi oleh eosinophil. sel plasma. Terdapat juga panus dengan sedikit eosinofil. Konjungtiva inferior hiperemi dan edema dengan kelainan kornea lebih berat disbanding bentuk limbal.2 Ada dua tipe keratokonjungtivitis vernalis: a.6. Epitel konjungtiva mengalami hiperplasia dan membuat proyeksi ke dalam jaringan subepitel. Secara klinis. bentuk palpebra. sel plasma dan mediator lain. Individu dengan keratokonjungtivitis atopik umumnya menunjukkan reaksi hipersensitivitas tipe 1. bilateral. terdapat pertumbuhan papil yang besar atau cobblestone yang diliputi secret yang mukoid. pasien keratokonjungtivitis atopik beresiko untuk mendapat keratitis herpes simplex dan kolonisasi oleh Staphylococcus Aureus. respon konjungtiva berupa pembengkakan konjungtiva. limfosit dan histiosit. c. diikuti dengan meningkatnya pembentukan jaringan ikat. Pada Keratokonjungtivitis vernal terjadi perubahan-perubahan akibat dari reaksi alergi. Bentuk limbal Pada tipe limbal terdapat hipertrofi pada limbus superior yang dapat membentuk jaringan hiperplastik gelatin. tetapi imunitas selluler yang rendah. papil besar ini tampak sebagai tonjolan bersegi banyak dengan permukaan yang rata dan dengan kapiler di tengahnya. Pada tipe palpebra ini terutama mengenai konjungtiva tarsal superior. b. Oleh karena itu.b. terdapat juga proliferasi pembuluh darah konjungtiva.6.2 Keratokonjungtivitis vernal Keratokonjungtivitis vernal adalah inflamasi konjungtiva yang rekuren. Semua perubahan ini menyebabkan terbentuknya banyak papil pada konjungtiva tarsalis superior.2 2. peningkatan permeabilitas dan vasodilatasi. respon seluler berupa infiltrasi konjungtiva dan eksudasi eosinofil. Selain itu. 2 . interstitial dan self-limiting. Juga ditemukan proliferasi lapisan fibrous yang kemudian terjadi perubahan hialin.3 Keratokonjungtivitis atopik Keratokonjungtivitis atopik adalah inflamasi konjungtiva bilateral dan juga kelopak mata yang berhubungan erat dengan dermatitis atopi.2 2.

1 Konjungtivitis Hay Fever a. Antigen yang terdapat konjungtiva seperti lensa kontak dan benang operasi akan menstimulasi timbulnya reaksi imun pada individu yang mempunyai faktor predisposisi.4 Konjungtivitis Giant Papillarry Konjungtivitis Giant Papillarry adalah yang diperantarai reaksi imun yang mengenai konjungtiva tarsalis superior. Laboratorium Eosinofil sulit ditemukan pada kerokan konjungtiva.2. Iritasi mekanis yang terus-menerus terhadap konjungtiva tarsalis superior juga menjadi salah satu faktor terjadinya konjungtivitis Giant Papillarry.3 b. Terdapat injeksi ringan di konjungtiva palpebralis dan konjungtiva bulbaris. bulu hewan. berair mata. Pasien mengeluh gatal. khususnya setelah pasien mengucek matanya. rumput. dan sering mengatakan bahwa matanya seakan-akan “tenggelam dalam jaringan sekitarnya”.3 2.2 Keratokonjungtivitis vernal a. Mungkin terdapat sedikit kotoran mata. Cobble stones menonjol. Penyebabnya masih belum diketahui secara pasti dan diperkirakan kombinasi reaksi hipersensitivitas tipe 1 dan 4 mendasari patofisiolginya. Bianya ada riwayat alergi terhadap tepung sari. lakrimasi. sekret kental dapat ditarik seperti benang dan kelopak mata terasa berat. Tanda dan gejala Radang konjungtivitis non-spesifik ringan umumnya menyertai “hay fever” (rhinitis alergika). .7 Diagnosis 2. selama serangan akut sering ditemukan kemosis berat (yang menjadi sebab kesan “tenggelam” tadi).7. terdapat papil-papil besar/raksasa yg tersusun sepertt batu bata (cobble stones appearance). mata merah. Gejala lain termasuk fotofobia ringan. tebal dan kasar karena serbukan limfosit.5 Pada tipe palpebral.3. Tanda dan gejala Keratokonjungtivitis vernal ditandai dengan sensasi panas dan gatal pada mata terutama apabila pasien berada di daerah yang panas.6. kemerahan.2 2.7. dan lainnya.

basofil serta proliferasi jaringan kolagen dan fibrosa yang semakin bertambah. eosinofil. Gambaran cobble stones appearance pada keratokonjungtivitis vernal 2. Laboratorium Pada eksudat konjungtiva yang dipulas dengan Giemsa terdapat banyak eosinofil dan granula eosinofilik bebas. sel plasma. Tanda dan gejala Gejala keratokonjungtivitis atopic berupa sensasi terbakar. dan lebih sering terdapat di tarsus inferior. eosinofil dan akumulasi kolagen & fibrosa. dan konjungtiva tampak putih seperti susu.5 b. dan fotofobia.3.3 Keratokonjungtivitis atopik a.7. Berbeda dengan papilla raksasa pada keratokonjungtivitis vernal. berlendir.5 Pada tipe bulbar/limbal terlihat penebalan sekeliling limbus karena massa putih keabuan.plasma. namun papilla raksasa tidak berkembang seperti pada keratokonjungtivitis vernal. yang terdiri dari sebukan sel limfosit. Tanda-tanda kornea . bertahi mata. Terdapat papilla halus. Kadang-kadang ada bintik-bintik putih (Horner-Trantas dots). Hal ini dapat menggesek kornea sehingga timbul ulkus kornea. Pada pemeriksaan tepi palpebra eritemosa.3. yang terdapat di tarsus superior. merah.3 Gambar 2.

3 2.7. Keratokonjungtivitis atopik berlangsung lama dan sering mengalami eksaserbasi dan remisi.5 b. Kompres dingin bisa diberikan untuk membantu mengatasi gatal-gatal. papilnya kecil (sekitar 0. Kebanyakan pasien pernah menderita dermatitis atopi sejak bayi. a. Juga ditemukan keluhan berupa mata gatal dan berair. Pada pemeriksaan fisik ditemukan hipertrofi papil. Pada awal penyakit.8 Penatalaksanaan Pada konjungtivitis alergi hay fever penatalaksanaan bukan dengan tujuan untuk mengobati tetapi bersifat simptomatik dan profilaktif. papil kecil akan menjadi besar ( giant) yaitu sekitar 1mm diameter. atau eczema) pada pasien atau keluarganya. Laboratorium Kerokan konjungtiva menampakkan eosinofil. Seperti keratokonjungtivitis vernal. Non-medikamentosa Penatalaksanaan non-medikamentosa ditujukan pada eleminasi dan menghindari sumber allergen. Medikamentosa • Local topical antihistamin mast-cell stabilizer seperti cromolyn sodium topical vasokonstriktor seperti adrenalin.yang berat muncul pada perjalanan lanjut penyakit setelah eksaserbasi konjungtivitis terjadi berulangkali. efedrin dan nafazoline. Timbul keratitis perifer superficial yang diikuti dengan vaskularisasi. Pada kasus berat. dan ketajaman penglihatan menurun. b. 3.4 Konjungtivitis giant papillary Dari anamnesa didapatkan riwayat pemakaian lensa kontak terutama jika memakainya melewati waktunya. Bila iritasi terus berlangsung. penyakit ini cenderung kurang aktif bila pasien telah berusia 50 tahun. . meski tidak sebanyak yang terlihat sebanyak pada keratokonjungtivitis vernal.5 Biasanya ada riwayat alergi (demam jerami.3.2 2. seluruh kornea tampak kabur dan bervaskularisasi. asma.3mm diameter).

c. seperti ketorolac dan iodoxamid.5% Siklosporin topical 1% Anti histamine oral untuk mengurangi gatal Steroid oral untuk kasus berat dan non responsive Apabila terdapat papil yang besar. Mast cell stabilizer seperti sodium cromoglycate 2% Antihistamin topical Acetyl cysteine 0. medrysone. dinaikkan sampai 200mg) ternyata bermanfaat. Imunoterapi : hiposensitisasi dengan pemberian injeksi ekstrak allergen 2 Penatalaksanaan pada keratokonjungtivitis vernal berupa a. Kaca mata gelap untuk fotofobia Kompres dingin dapat meringankan gejala Pasien dianjurkan pindah ke daerah yang lebih dingin 2 Pada konjungtivitis atopic atihistamin oral termasuk terfenadine (60-120 mg 2x sehari). b. Terapi lokalis Steroid topical – penggunaannya efektif pada keratokonjungtivitis vernal. ternyata dapat mengatasi gejala pada pasien-pasien ini. Sistemik : antihistamin oral c. Pada kasus berat.• air mata artificial guna untuk dilusi dan irrigasi allergen dan mediator inflamasi di permukaan ocular. betamethasone. tetapi harus hati-hati kerana dapat menyebabkan glaucoma. Obat-obat antiradang non-steroid yang lebih baru. Terapi lain . dapat diberikan injeksi steroid supratarsal atau dieksisi. Terapi sistemik. Steroid yang sering dipakai adalah fluorometholon. Fluorometholon dan medrysone adalah paling aman antara semua steroid tersebut. atau hydroxyzine (50 mg waktu tidur. Pemberian steroid dimulai dengan pemakaian sering (setiap 4 jam) selama 2 hari dan dilanjutkan dengan terapi maintainance 3-4 kali sehari selama 2 minggu. astemizole (10 mg empat kali sehari). dan dexamethasone. Eksisi sering dianjurkan untuk papil yang sangat besar.

dinasehatkan agar mengganti dengan memakai kaca mata. Jika tetap menggunakan lensa kontak.plasmaferesis merupakan terapi tambahan.6 Pada konjungtivitis giant papillary. Konjungtivitis juga dapat mengganggu konsentrasi sewaktu bekerja ataupun di sekolah.2. iritasi kronis akan menyebabkan keratitis yaitu inflamasi pada kornea dan dapat menyebabkan kebutaan permanen karena terjadi ulserasi pada permukaan kornea. Iritasi pada mata menyebabkan penderita susah untuk keluar rumah pada waktu tertentu. namun pada beberapa kasus dapat berlanjut menjadi penyakit yang serius jika tidak ditangani dengan cepat dan benar.5 2.2. Dapat juga diberikan disodium cromoglyn sebagai terapi simptomatik. Pada keratokonjungtivitis vernal juga dapat menyebabkan keratitis jika tidak ditatalaksana.6 . Pada umumnya konjungtivitis tidak menimbulkan komplikasi melainkan efek terhadap kualitas hidup penderita. perawatan lensa kontak yang baik seperti desinfeksi dan pembersihan dengan cairan yang tepat dan jangan memakai melewati waktunya.2. Jika memakai lensa kontak. mungkin diperlukan transplantasi kornea untuk mengembalikan ketajaman penglihatannya.9 Prognosis dan Komplikasi Pada dasarnya konjungtivitis adalah penyakit ringan. Pada kasus lanjut dengan komplikasi kornea berat.5 Pada konjungtivitis giant papillary tatalaksana yang paling baik adalah menghindari kontak dengan iritan.

Schwab IR. editor. 2012. h116-46. American Academy of Ophtalmology. . Konjungtiva. 2008. Anatomi dan embriologi mata. Comprehensive Ophtalmology Fourth Edition. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum Edisi 17. Riordan-Eva P. h51-88. Khurana AK. h 1-27. Medscape Reference.com/article/1191467-overview#a0104 5. h 97-124. Mata merah dengan penglihatan normal. Dalam: Ilmu Penyakit Mata Edisi ke-3. Shetlar DJ. editor. Jakarta: EGC. h205-41. Ilyas S. Jakarta: FKUI.DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Dalam : Khurana AK. Jakarta: EGC. Dalam: Whitcher JP. editors. Diseases of the conjunctiva. editors. 2009. New Delhi: New Age. 6. Riordan-Eva P. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum Edisi 17. 4. 2007. Garcia-Ferrer FJ. Allergic Conjunctivitis. Riordan-Eva P. Clinical approach to immune-related disorders of the ecxternal eye in External Disease and Cornea. San Fransisco: American Academy of Ophtalmology. 3. 2007. http://emedicine. Dalam: Whitcher JP. Ventocillia M. Roy H. Ilyas S.medscape.