Tafsir Al-Furqon adalah karya besar A.

Hassan

Bagian pertama al-Furqon diterbitkan pada tahun 1928. Terbitan pertama itu mungkin belum seperti yang diharapkan karena baru dapat memenuhi sebagian ilmu yang diperlukan oleh umat Islam di Indonesia. Untuk memenuhi desakan sejumlah anggota Persatuan Islam, bagian kedua tafsir itu diterbitkan tahun 1941, tetapi hanya sampai Surah Maryam. Selanjutnya, atas bantuan seorang pengusaha, yaitu Sa’ad Nabhan, pada tahun 1953 barulah proses penulisannya dilanjutkan kembali hingga akhirnya tulisan Tafsir Al-Furqân secara keseluruhan (30 juz) dapat diterbitkan pada tahun 1956. Mengingat tafsir tersebut ditulis pada dekade sebelum 1960-an, bahasa Indonesia yang digunakan pun tentunya bahasa Indonesia yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada saat itu. Dalam periode selanjutnya bahasa Indonesia mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat berarti, terutama setelah ditetapkannya Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Edisi Kedua, 1987), penulisan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Pertama, 1988), Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Pertama, 1988), dan Pedoman Transliterasi Arab-Indonesia (1987). Penulisan tafsir ini yang merupakan langkah pertama dalam sejarah penerjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia itu dilakukan dalam kurun waktu 1920-1950-an. Dalam penerjemahan ayat-ayat al-Qur’an, A. Hassan menggunakan metode harfiah, yaitu penerjemahan kata demi kata, kecuali terhadap beberapa hal yang tidak memungkinkan penggunaan metode itu. Untuk hal seperti itu, barulah A. Hassan menggunakan metode maknawiah (semantik). Tafsir Al-Furqân merupakan gabungan dari terjemahan dan tafsiran yang dilakukan oleh A. Hassan, seorang yang dikenal luas reputasi keilmuannya. Usaha yang serius dan bertanggung jawab yang dilakukannya dalam tafsir ini diakui oleh banyak kalangan sebagai usaha yang berhasil. Bahkan, tidak sedikit orang yang lebih memilih menggunakan tafsir ini untuk mendapatkan terjemahan dan pemahaman Qur’an daripada tafsir dan terjemahan Qur’an dalam bahasa Indonesia yang lain. Inilah yang membuat keinginan keluarga besar A. Hassan untuk memutakhirkan bahasa Indonesia tafsir ini disambut oleh tim, sebagai upaya pelestarian aset intelektual bangsa. Ini juga merupakan upaya untuk menjaga amal jariah yang ditinggalkan A. Hassan, yang akan baik bila tidak diputus rantainya hanya karena bahasa yang dipergunakan sudah tidak akrab lagi dengan pembaca masa kini.

TAFSIR AN-NUR Karya Prof. Dr. Hasbi al-shiddieqy

TAFSIR AN-NUR Karya Prof. Dr. Hasbi al-shiddieqy by sariono sby I. PENDAHULUAN RIWAYAT TAFSIR AN-NUR Tafsir An-Nur ini dikerjakan oleh Hasbi Ash-Shiddiqy sejak tahun 1952-1961 (sembilan tahun) di sela-sela kesibukannya mengajar, memimpin fakultas, menjadi anggota konstituante dan kegiatan-kegiatan lainnya. Hidupnya yang sarat dengan beban itu tidak memberi peluang baginya untuk secara konsisten mengikuti tahap-tahap kerja yang lazim dilakukan oleh penulis-penulis profesional. Dengan bekal pengetahuan, semangat dan dambaannya untuk menghadirkan sebuah kitab tafsir dalam bahasa indonesia yang tidak hanya sekedar terjemahan, ia mendiktekan naskah kitab tafsirnya ini kepada seorang pengetik dan langsung menjadi naskah siap cetak. Memang ketika ia mendiktekan naskah itu, di atas meja kerjanya penuh terhampar buku-buku referensi dan catatan-catatannya berupa kertas berserakan. Itulah yang menjadi salah satu penyebab terjadi pengulangan informasi, penekanan ayat, penomoran catatan kaki yang tidak mengikuti metode penulisan karya ilmiah dalam tafsir ini. Tafsir an-Nur telah dicetak sebanyak dua kali, cetakan yang kedua telah mengalami beberapa penyempurnaan menyangkut penggantian kulit muka dan struktur bahasa indonesia. Tafsir An-Nur yang pertama terbit pada tahun 1956, ini adalah kitab tafsir pertama yang diterbitkan di indonesia, sehingga merupakan pelopor dari khazanah perpustakaan di tanah air, menurut penilaian seorang mubaligh, tafsir ini mudah dicerna tidak saja oleh golongan pemula, namun juga bisa dipelajari dan dijadikan objek penelitian dan para peminat tafsir. Penerbitan cetakan kedua dilakukan penyempurnaan bahasa oleh H. Sudarto, seorang wartawan yang berdiam di Semarang, dan juga penyuntingan, persiapan sistem penyusunan tafsir oleh alm. Prof. Dr. Nourrouzzaman shiddiqi, M. A. (salah seorang putera alm. Teungku muhammad hasbi ash-shiddiqi, yang wafat pada tanggal 19 Juli 1999). II. BIOGRAFI HASBI AL-SHIDDIEQY Prof. DR. Hasbi al-Shiddieqy Lahir di Lhokseumawe, 10 Maret 1904 – Wafat di Jakarta, 9 Desember 1975. Seorang ulama Indonesia, ahli ilmu fiqh dan usul fiqh, tafsir, hadis, dan ilmu kalam. Ayahnya, Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husein ibn Muhammad Su’ud, adalah seorang ulama terkenal di kampungnya dan mempunyai sebuah pesantren (meunasah). Ibunya bernama Teungku Amrah binti Teungku Chik Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz, putri seorang Qadhi Kesultanan Aceh ketika itu. Menurut silsilah, Hasbi al-Shiddieqy adalah keturunan Abu Bakar al-Shiddieq (573-13 H/634 M), khalifah pertama. Ia sebagai generasi ke-37 dari khalifah tersebut melekatkan gelar al-Shiddieqy di belakang namanya. Pendidikan agamanya diawali di dayah (pesantren) milik ayahnya. Kemudian selama 20 tahun ia mengunjungi berbagai dayah dari satu kota ke kota lain. Pengetahuan bahasa Arabnya diperoleh dari Syekh Muhammad ibn Salim al-Kalali, seorang ulama berkebangsaan Arab. Pada tahun 1926, ia berangkat ke Surabaya dan melanjutkan pendidikan di Madrasah al-Irsyad, sebuah organisasi keagamaan yang didirikan oleh Syekh Ahmad Soorkati (1874-1943), ulama yang berasal dari Sudan yang mempunyai pemikiran modern ketika itu. Di sini ia mengambil pelajaran takhassus (spesialisasi) dalam bidang pendidikan dan bahasa. Pendidikan ini dilaluinya selama 2 tahun. Al-Irsyad dan Ahmad Soorkati inilah yang ikut berperan dalam membentuk pemikirannya yang modern sehingga, setelah kembali ke Aceh. Hasbi ash-Shiddieqy langsung bergabung dalam keanggotaan organisasi Muhammadiyah. Pada zaman demokrasi liberal ia terlibat secara aktif mewakili Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) dalam perdebatan ideologi di Konstituante. Pada tahun 1951 ia menetap di Yogyakarta dan mengkonsentrasikan diri dalam bidang pendidikan. Pada tahun 1960 ia diangkat menjadi dekan Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Jabatan ini dipegangnya hingga tahun 1972. Kedalaman pengetahuan keislamannya dan pengakuan ketokohannya sebagai ulama terlihat dari beberapa gelar doktor (honoris causa) yang diterimanya, seperti dari Universitas Islam Bandung pada 22 Maret 1975 dan dari IAIN

Sunan Kalijaga pada 29 Oktober 1975. Sebelumnya, pada tahun 1960, ia diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu hadis pada IAIN Sunan Kalijaga. Hasbi ash-Shiddieqy adalah ulama yang produktif menuliskan ide pemikiran keislamannya. yang didasari karena lima jasa yang dimiliki oleh beliau, yakni : 1. Pembinaan IAIN; 2. Perkembangan Ilmu agama Islam; 3. Jasa-jasa beliau kepada masyarakat; 4. Pokok-pokok pemikiran beliau tentang cita-cita hukum Islam, dan: 5. Pendapat-pendapat beliau tentang beberapa masalah hukum. Sementara gelar Professor dalam bidang ilmu Hadits beliau peroleh tahun 1962 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama No. B.IV.I/37-92 tanggal 30 Juli 1962 dan dikukuhkan dengan Keputusan Presidn RI No. 71/M-1 tanggal 22 Mei 1963. Ada beberapa sisi menarik pada diri Muhammad Hasbi, antara lain: Pertama, ia adalah seorang otodidak. Pendidikan yang ditempuhnya dari dayah ke dayah, dan hanya satu setengah tahun duduk di bangku sekolah Al Irsyad (1926). Dengan basis pendidikan formal seperti itu, ia memperlihatkan dirinya sebagai seorang pemikir. Kemampuannya selaku seorang intelektual diakui oleh dunia internasional. Ia diundang dan menyampaikan makalah dalam Internasional Islamic Colloquium yang diselenggarakan di Lahore Pakistan (1958). Selain itu, berbeda dengan tokoh-tokoh lainnya di Indonesia, ia telah mengeluarkan suara pembaharuan sebelum naik haji atau belajar di Timur Tengah. Kedua, ia mulai bergerak di Aceh, di lingkungan masyarakat yang dikenal fanatik, bahkan ada yang menyangka “angker”. Namun Hasbi pada awal perjuangannya berani menentang arus. Ia tidak gentar dan surut dari perjuangannya kendatipun karena itu ia dimusuhi, ditawan dan diasingkan oleh pihak yang tidak sepaham dengannya. Ketiga, dalam berpendapat ia merasa dirinya bebas tidak terikat dengan pendapat kelompoknya. Ia berpolemik dengan orang-orang Muhammadiyah dan Persis, padahal ia juga anggota dari kedua perserikatan itu. Ia bahkan berani berbeda pendapat dengan jumhur ulama, sesuatu yang langka terjadi di Indonesia. Keempat, ia adalah orang pertama di Indonesia yang sejak tahun 1940 dan dipertegas lagi pada tahun 1960, menghimbau perlunya dibina fiqh yang berkepribadian Indonesia. Himbauan ini menyentak sebagian ulama Indonesia. Mereka angkat bicara menentang fiqh (hukum in concreto) di-Indonesia-kan atau dilokalkan. Bagi mereka, fiqh dan syariat (hukum in abstracto) adalah semakna dan sama-sama universal. Kini setelah berlalu tigapuluh lima tahun sejak 1960, suara-suara yang menyatakan masyarakat muslim Indonesia memerlukan “fiqh Indonesia” terdengar kembali. Namun sangat disayangkan, mereka enggan menyebut siapa penggagas awalnya. Mencatat penggagas awal dalam sejarah adalah suatu kewajiban, demi tegaknya kebenaran sejarah. Pada tanggal 9 Desember 1975, berusia 71 tahun, setelah beberapa hari memasuki karantina haji, dalam rangka menunaikan ibadah haji, beliau berpulang ke rahmatullah, beliau meninggal di Rumah Sakit Islam Jakarta dan jasad beliau dimakamkan di pemakaman keluarga IAIN Ciputat Jakarta. Pada waktu pemberangkatan jenazahnya dari rumah anaknya yang bungsu di Tanjung Duren Selatan Jakarta Barat ke Pekuburan IAIN Syarif Hidayatullah di Ciputat Jakarta selatan telah memberikan kata sambutan pelepasan : Amelz (Abdul Manaf el-Zamzami) mewakili keluarga, serta Prof. Dr. Hamka dan Drs. H. Kafrawi Ridwan, M.A atas nama menteri agama. Makamnya berdampingan dengan Prof. Thoha Yahya Umar M.A, dan dekat makam Sa’adudin Jambek. III. KARYA-KARYA HASBI ASH-SHIDDIEQY Hasbi Ash-Shiddieqy adalah seorang alim yang sangat produktif dan banyak menulis. Karya tulisnya mencakup berbagai disiplin ilmu keislaman. Menurut catatan, buku yang ditulisnya berjumlah 73 judul (142 jilid). Sebagian besar karyanya adalah tentang fiqh (36 judul). Bidang-bidang lainnya adalah hadis (8 judul), tafsir (6 judul), tauhid (ilmu kalam; 5 judul). Sedangkan selebihnya adalah tema-tema yang bersifat umum. Beberapa diantaranya adalah : 1. Tafsir an-Nur 2. Al-Bayan, yang merupakan penyempurnaan dari tafsir an-nur 3. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an. Karena keahliannya dalam bidang tafsir, sehingga ia diberi penghargaan sebagai salah seorang penulis tafsir terkemuka di Indonesia pada tahun 1957/1958, serta dipilih sebagai wakil ketua lembaga penerjemah dan Penafsir al-Qur’an Departemen Agama RI. 4. Pengantar Hukum Islam 5. Peradilan dan Hukum Acara Islam

6. Sejarah Pengantar Ilmu Hadis 7. Pokok-pokok Ilmu Diniyah Hadis (I-II) 8. Kuliah Ibadah 9. Fiqh Mawaris 10. Pedoman Haji 11. Pidana Mati dalam Syariat Islam 12. Hukum-hukum Fiqih Islam 13. Pengantar Fiqh Muamalah 14. Filsafat Hukum Islam 15. Kriteria antara Sunnah dan Bid’ah 16. Buklet “ Penoetoep Moeloet” (karya pertama pada awal tahun 1930-an) 17. Buku Al-Islam, dua jilid (1951) 18. Buku Pedoman Shalat, yang dicetak ulang sebanyak 15 kali oleh dua percetakan yang berbeda (1984) 19. Buku Mutiara Hadits, sebanyak 8 jilid (1968) 20. Buku Koleksi Hadits Hukum, sebanyak 11 jilid, baru terbit 6 jilid (1971) dll. IV. METODE PENAFSIRAN Untuk menentukan metode apa yang di gunakan oleh Hasbi Ash-Shiddieqy, harus diketahui dulu motivasi dan sumber-sumber dalam penafsiran An-Nur. Pada kata pengantar Tafsir An-Nur, beliau mengatakan : Indonesia membutuhkan perkembangan tafsir dalam bahasa persatuan Indonesia, maka untuk memperbanyak lektur Islam dalam masyarakat Indonesia dan untuk mewujudkan suatu tafsir yang sederhana yang menuntun para pembacanya kepada pemahaman ayat dengan perantaraan ayat-ayat itu sendiri. Sebagaimana Allah telah menerangkan ; bahwa Al-Qur’an itu setengahnya menafsirkan yang setengahnya, yang meliputi penafsiran-penafsiran yang diterima akal berdasarkan pentakhwilan ilmu dan pengetahuan, yang menjadikan intisari pendapat para ahli dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan yang diisyaratkan AlQur’an secara ringkas. Dengan berharap taufiq dan inayah yang maha pemurah lagi maha penyayang, kemudian dengan berpedoman kepada kitab-kitab tafsir yang mu’tabar, kitab-kitab hadits yang mu’tamad, kitab-kitab sirah yang terkenal. Saya menyusun kitab tafsir in dengan saya namai “An-Nur. Melihat ungkapan diatas, terlihat bahwa motivasi Hasbi Ash-Shiddieqy sangat mulia yaitu untuk memenuhi hajat orang Islam di Indonesia untuk mendapatkan tafsir dalam Bahasa Indonesia yang lengkap, sederhana dan mudah dipahami, sesrta ia menerangkan sepenggal-sepenggal ayat al-qur’an dengan menulisnya menggunakan bahasa latin dimaksudkan agar orang-orang yang tidak bisa membaca al-qur’an dengan bahasa arabnya maka ia bisa membacanya dengan huruf latin. Sumber yang beliau gunakan dalam menyusun tafsir An-Nur adalah : 1. 'Umdatut Tafsir 'Anil Hafidz Ibnu Katsir, 2. Tafsir al-Manar(karya Muhammad Abduh); 3. Tafsir al-Qasimy; 4. Tafsir al-Maraghy (karya Ahmad Musthafa al-Maraghi), dan 5. Tafsir al-Wadhih. Sedangkan metode yang dilakukan oleh Hasbi Ash-Shiddieqy adalah: Pertama, mengemukakan ayat-ayat yang akan ditafsirkan satu, dua, atau tiga ayat dan kadang-kadang lebih. Dan dalam hal ini Hasbi Ash-Shiddieqy menuruti al-maragy, yang pada umumnya menuruti al-manar dan kadang-kadang menuruti tafsir al-wadhih. Kedua, ayat-ayat tersebut kemudian di bagi kepada beberapa jumlah. Masing-masing jumlah ditafsirkan sendiri-sendiri. Ketiga, dalam menerjemahkan ayat ke dalam bahasa indonesia, Hasbi Ash-Shiddieqy berpedoman kepada tafsir abu suud, tafsir shiddiqy hasan khan dan tafsir al-qasimy. Keempat, menerangkan tafsiran ayat, dalam materi penafsiran Hasbi Ash-Shiddieqy mensarikan dari uraian al-maraghy dan al-manar, dan dalam menafsirkan ayat-ayat yang semakna menuruti tafsir al-imam ibnu katsir. Kelima, menerangkan asbabun nuzul ayat, apabila terdapat atsar yang diakui keshahihannya oleh ahli atsar. Metode semacam ini juga dipergunakan oleh mufassir pada abad modern yang ditulis pasca kebangkitan umat Islam, seperti metode yang dipakai Prof. DR. Hamka (Indonesia). Berdasarkan sumber-sumber yang dipakai, maka dapat diketahui bahwa metode yang dipakai oleh Hasbi Ash-Shiddieqy dalam menyusun tafisir An-Nur adalah metode campuran antara metode bil Ro’yi atau bil

Ma’qul. Hal ini juga beliau kemukakan bahwa, dalam menyusun tafsir ini berpedoman pada tafsir induk, baik kitab tafsir bil Matsur maupun kitab tafsir bin Ma’qul. Sementara jika diperhatikan sistematika yang terkandung dalam kitab tafsir An-Nur, terdiri dari 4 (empat) tahap pembahasan, yakni : 1. Penyebutkan ayat secara tartib mushaf tanpa diberi judul; 2. Terjemahan ayat kedalam Bahasa Indonesia dengan diberi judul “Terjemahan”; 3. Penafsiran masing-masing ayat dengan didukung oleh ayat yang lain, hadits, riwayat Shahabat dan Tabi’in serta penjelasan yang ada kaitannya dengan ayat tersebut dan tahapan ini diberi judul “Tafsirnya”; 4. Kesimpulan, intisari dari kandungan ayat yang diberi judul “Kesimpulan”. V. KESIMPULAN Tafsir An-Nur karya Hasbi Ash-Shiddieqy tidak mempunyai corak dan orientasi terhadap bidang tertentu, sebab kalau diperhatikan semua tafsirnya tidak memuat bidang ilmu tertentu, seperti bidang Bahasa, hukum, sufi, filsafat dan sebagainya. Hasbi Ash-Shiddieqy membahasnya dengan mengaitkan bidang ilmu pengetahuan secara merata artinya tidak ada penekanan pada bidang tertentu, sebab membahas dengan memfokuskan pada bidang tertentu menurutnya akan membahwa para pembaca keluar dari bidang tafsir. Pada kata pengantar kitab tafsir an-Nur beliau menyatakan : “Meninggalkan uraian yang tidak langsung berhubungan dengan tafsir ayat, supaya tidak selalu para pembaca dibawa keluar dari bidang tafsir, baik ke bidang sejarah atau bidang ilmiah yang lain” Dari ungkapan di atas, Hasbi Ash-Shiddieqy tidak bermaksud menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan uraian ilmiah yang panjang lebar yang dikhawatirkan keluar dari tujuan ayat-ayat tertentu. Dengan demikian tafsir An-Nur tidak mempunyai corak atau orientasi tertentu, namun bisa dikatakan komplit, artinya meliputi segala bidang. http://referensiagama.blogspot.com

[2] Sekilas Profil Tafsir Al-Azhar Kitab Tafsir berbahasa Indonesia yang akan kita kaji sekarang ini adalah terbitan Pustaka Panjimas. karena memegangteguh ajaran Al-Qur’an merupakan sumber kebahagiaan. Sumatera Barat. DR. Merantau ke Deli (1940). Di antara roman yang ditulisnya adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938). Beliau dikenal sebagai seorang tokoh dan pengarang (pujangga) Islam. merupakan riwayat hidup dan kisah perjuangan ayahnya). yang kesemuanya itu harus dipedomani oleh mereka yang mengaku menjadikan Al-Qur’an sebagai Kitab Sucinya. Tahun 1924 mulai merantau ke tanah Jawa untuk belajar antara lain kepada HOS Cokroaminoto. Pergantian zaman. Al-Qur’an. yang terdiri dari: Kata Pengantar. Mengapa Dinamai “Tafsir Al-Azhar”. Nama-nama yang disebutnya itu boleh jadi merupakan orang-orang pemberi motivasi untuk segala karya cipta dan dedikasinya terhadap . cetakan I. Tahun 1927 berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Lahir di Maninjau. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang halal-haram. Untuk merespon kenisacayaan itu. lalu aktif dalam organissi Muhammadiyah. Sekilas Biografi Prof. dan lainnya. yang terkenal dengan sebutan Haji Rasul. Dalam kesempatan itulah ia menyelesaikan Tafsir Al-Azhar-nya. maka aktivitas tafsir Al-Qur’an serta upaya penjelasan makna-maknanya yang dianggap musykil oleh kebanyakan kaum Muslimin menjadi suatu keniscayaan. dan terakhir Hikmat Ilahi. Pada setiap fase waktu dapat kita temukan “peninggalan” tafsir yang sejalan dengan tuntutan dan dinamika masanya. Tulisan ini akan coba menampilkan sosok tafsir tersebut. kumpulan cerita pendek). Di Dalam Lembah Kehidupan (1940. etika dan akhlak. Hamka menyebut beberapa nama yang ia anggap berjasa bagi dirinya dalam pengembaraan dan pengembangan keilmuan keislaman yang ia jalani. Haluan Tafsir. Sementara itu sejak tanggal 21 Mei 1981 Hamka meletakkan jabatannya selaku ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). 1982. I’jâz AlQur’an. Jakarta. Beliau adalah imam masjid Al-Azhar Kebayoran. Dalam Kata Pengantar. bahkan hingga sekarang dan yang akan datang.[1] Di zaman Orde Lama pernah meringkuk dalam tahanan beberapa tahun. tetapi banyak belajar sendiri (otodidak). Hamka Hamka adalah nama singkatan Haji ‘Abdul Malik Karim Amrullah. sehingga timbul heboh karena ada pihak yang tidak setuju kiai mengarang roman. petunjuk dan kemenangan di sisi Tuhan berupa surga yang penuh kenikmatan.STUDI ANALISIS ATAS TAFSIR AL-AZHAR Karya Prof. perintah dan larangan. Kemunculan para mufasir dari satu masa ke masa berikutnya memperpanjang daftar perbendaharaan rahasia dan ilmu-ilmu Al-Qur’an. Ia adalah putera seorang ulama terkemuka. terutama dalam bidang agama. Yang penulis coba tampilkan dalam makalah ini memang hanya sisi-sisi yang dianggap penting saja. Jika demikian halnya. dalam sejarah perjalanan umat ini bersama Kitab Sucinya. bentuk serta coraknya. Pendidikan formalnya hanya sampai SD. Pernah memimpin majalah Panji Masyarakat yang terbit sejak 1959. sang mufasir terlebih dahulu memberikan banyak pembukaan. Keahliannya dalam Islam diakui dunia internasional sehingga kemudian mendapat gelar kehormatan dari Universitas Al-Azhar (1955) dan dari Universiti Kebangsaan Malaysia (1976). Sebelum betul-betul masuk dalam tafsir ayat Al-Qur’an. terutama tentang manhaj yang ditempuh oleh sang mufasir serta bagaimana penerapannya dalam tafsirnya. Isi Mu’jizat Al-Qur’an. Al-Qur’an Lafaz dan Makna. penemuan ilmu-pengetahuan dan kemajuan akal-pikir manusia semakin memperjelas betapa luasnya samudera hikmah yang dikandung AlQur’an. Hamka December 30. 16 Februari 1908 dan wafat di Jakarta. Sosok yang ditampilkan sangat mungkin tidak utuh (karena berbagai pertimbangan). mendalami dan mengamalkan segala isinya. Pada waktu itu ia mulai banyak menulis roman. yang mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar Mesir dan membawa pembaharuan dalam soal agama di Minangkabau. Dr. Menafsirkan Al-Qur’an. Di antara karya tafsir modern Indonesia yang dapat kita jumpai dengan cukup mudah dan banyak dibicarakan (dikaji) orang adalah Tafsir Al-Azhar. dan sepeninggal beliau. Hamka banyak sekali menulis buku tentang Islam. banyak sudah ulama yang mencurahkan perhatiannya untuk membidangi tafsir dengan berbagai manhaj. 2011 Pendahuluan Al-Qur’an merupakan sumber tasyri’ dan hukum yang menuntut kaum muslimin untuk mengetahui. seluruhnya ratusa judul. semenjak ia turun pada masa hidup Rasulullah Saw. Pandahuluan. Kemudian menetap di Medan di mana ia aktif sebagai ulama dan bekerja sebagai redaktur majalah Pedoman Masyarakat dan Pedoman Islam (1938-1941). Keharusan itu dapat dipahami. Ayahku (1949. 24 Juli 1981.

kalau hanya memperturutkan akal sendiri. Bagian yang penulis anggap menarik dari sub-sub yang terdapat dalam pembukaan tafsir Al-Azhar adalah sub “Haluan Tafsir” dan “Mengapa Dinamai Tafsir Al-Azhar”. besar bahayanya akan terpesona keluar dari garis tertentu yang digariskan agama melantur ke mana-mana. Tafsir ini ia nilai sebuah sosok tafsir yang mampu menguraikan ilmu-ilmu keagamaan sebangsa hadis. tidak terkecuali karya tafsirnya.”[4] Intinya. Ahmad Rasyid Sutan Mansur (kakak iparnya). berarti hanya suatu textbook thinking belaka. Ia menulis: “Syarat-syarat itu memang berat dan patut. tidak pula melulu menuruti pertimbangan akal seraya melalaikan apa yang dinukil dari penafsir terdahulu. Haluan Tafsir “Tiap-tiap tafsir Al-Qur’an memberikan corak haluan daripada peribadi penafsirnya. Meskipun dalam hal riwâyah ia belum (tidak) mengatasi al-Manâr. Nama-nama tersebut selain disebut Hamka sebagai orang-orang tua dan saudara-saudaranya. wajiblah ilmu sangat dalam benar lebih dahulu. tetapi penulis tidaklah mengakui bahwa penulis sudah sangat alim dalam segala itu……Maka kalau menurut syarat yang dikemukakan ulama tentang ilmu-ilmu itu. mengakui bahwa ia tidaklah ta’ashshub kepada satu paham. Pada saat yang sama. tafsir al-Marâghî. Jangankan bahasa Arab dengan segala nahwu dan sharaf-nya.[3] Di bawah Pendahuluan Hamka menyitir beberapa patokan dan persyaratan yang mesti dimiliki oleh seseorang yang akan memasuki gelanggang tafsir. Dan Hamka sendiri.[7] Hingga di sini penulis makalah hendak mengatakan bahwa Tafsir Al-Azhar mempunyai corak non-mazhabi. Hamka mengabarkan bahwa Tafsir Al-Azhar ditulis dalam suasana baru. di negara yang penduduk Muslimnya adalah mayoritas. Sebaliknya.[5] Masih dalam kerangka “Haluan Tafsir”. memelihara sebaik mungkin hubungan antara naqal dan ‘aql’. baik fikih maupun kalam. sejarah dan lainnya lalu menyesuaikannya dengan perkembangan politik dan kemasyarakatan yang sesuai dengan zaman di waktu tafsir itu ditulis. “melainkan sedaya upaya mendekati maksud ayat. al-Qâsimî dan Fî Zhilâl Al-Qur’ân juga termasuk tafsir-tafsir yang Hamka ‘saluti’. sedangkan bahasa Indoensia sendiri. dua sub itu akan penulis jadikan sub juga dalam makalah ini.”[6] Masih dalam kerangka “Haluan Tafsir”. tidaklah akan jadi ‘Tafsir’ ini dilaksanakan. tempat Al-Qur’an ini akan diterjemah dan ditafsirkan tidaklah penulis tafsir ini termasuk ahli yang sangat terkemuka. seperti diakuinya.” Secara jujur Hamka mengatakan bahwa Tafsir karya Sayyid Quthub itu banyak mempengaruhinya dalam menulis tafsir Al-Azhar-nya. sebagai penulis Tafsir. patokan-patokan yang berat itu tidak harus menjadi kendala dan penghalang bagi lahirnya karya-karya baru tafsir. Tafsir yang disebut terakhir misalnya. sehingga dengan tidak disadari boleh jadi menjauh dari maksud agama. . Dalam Tafsir Al-Azhar-nya. Hanya saja. terutama bagi ia yang sudah memiliki standar minimal dalam pemenuhan syarat-syarat tersebut. Kalau tidak ada syarat demikian tentu segala orang dapat berani saja menafsirkan Al-Qur’an. sedang mereka haus akan bimbingan agama haus akan pengetahuan tentang rahasia Al-Qur’an. ia nilai sebagai “satu tafsir yang munasabah buat zaman ini. namun dalam dirâyah ia telah mencocoki pikiran setelah Perang Dunia II. dalam arti menghindar dari perselisihan kemazhaban.pengembangan dan penyebarluasan ilmu-ilmu keislaman.” demikian Hamka mengawali paparannya tentang haluan tafsir. antara riwâyah dan dirâyah. Nama-nama itu antara lain. Hamka mengemukakan ketertarikan hatinya terhadap beberapa karya tafsir. Ilmu-ilmu yang dijadikan syarat oleh ulama-ulama itu alhamdulillah telah penulis ketahui ala kadarnya. Hamka menjanjikan bahwa ia tidak hanya semata-mata mengutip atau menukil pendapat yang telah terdahulu. menguraikan makna dan lafaz bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan memberi kesempatan orang buat berpikir. Karena itu. Doktor Syaikh Abdulkarim Amrullah. Di antara karya tafsir yang jelas-jelas ia menyatakan ketertarikan hati terhadapnya adalah tafsir Al-Manâr karya Sayyid Rasyîd Ridhâ. tetapi mempergunakan juga tinjauan dan pengalaman pribadi. maka perselisihan-perselisihan mazhab dihindari dalam Tafsirnya. Syaikh Muhammad Amrullah (kakek). Hamka. Suatu tafsir yang hanya mengekor riwayat atau naqal dari ulama terdahulu. juga disebutnya sebagai guru-gurunya. Selain tafsir Al-Manâr. dalam sub ini Hamka sadar betul akan pentingnya pemenuhan syarat-syarat tafsir bagi orang yang hendak menafsir. ayahnya sendiri. fikih.

”[13] Hingga di sini dapat kita nilai bahwa Hamka dalam hal yang berkaitan dengan makna huruf-huruf di pangkal surat lebih cenderung menyerahkan pengertiannya semata kepada Allah. baik dari segi makna atau aspek-aspek lain yang dapat memperkaya wawasan pembaca tafsirnya. sebab tafsir itu—sebelum dimuat di majalah—digelar di dalam masjid agung Al-Azhar.[10] Studi Kritis Tafsir Al-Azhar: Metode Tafsir Manhaj yang ditempuh tafsir Al-Azhar adalah Tahlili. Thâ Hâ dan semacamnya. Kalau dia suatu kalimat yang mengandung arti. pendapat yang mengatakan bahwa huruf-huruf di pangkal surat itu adalah rahasia Allah. dengan jeli menunjukkan korelasi antara makna yang terdapat pada akhir surat al-Fâtihah dengan makna yang ada pada awal surat al-Baqarah (ayat . misalnya. Warna-warna tafsir itu mempengaruhi Tafsir Al-Azhar yang penulisnya jelas-jelas menyatakan kekaguman dan keterpengaruhannya.. niscaya tidak akan ragu-ragu lagi seluruh bangsa Arab akan artinya.Di sisi lain. Oleh sebab itu maka lebih baiklah kita terima saja huruf-huruf itu menurut keadaannya… “Sebab mendalami Al-Qur’an tidaklah bergantung daripada mencari-cari arti dari huruf-huruf itu. atau sebagai panggilan untuk menarik perhatian tentang ayat-ayat yang akan turun mengiringinya. dua tafsir tersebut dikenal bercorak adabi-ijtimâ`î. Selama ini. terutama sejak terbitnya majalah Gema Islam. syaikh (rektor) Universitas Al-Azhar. Demikian halnya huruf-huruf pembuka surat lainnya. Kebayoran Baru. dalam makna selalu mengaitkan pembahasan tafsir dengan persoalanpersoalan riil umat Islam. lanjut Hamka. kata Hamka. Pertama. yang pada bulan Desember 1960 datang ke Indonesia sebagai tamu agung dan mengadakan lawatan ke masjid tersebut yang waktu itu namanya masih Masjid Agung Kebayoran Baru. Lam untuk nama Jibril.[8] Hal lain yang dimasukkan Hamka dalam sub ini adalah janjinya untuk menyuguhkan sebuah tafsir yang ‘tengah-tengah’. Dengan begitu. Yang banyak memberikan arti bagi huruf-huruf itu adalah sahabat-mufasir yang terkenal yakni ‘Abdullah bin ‘Abbas. Majalah ini selalu memuat kuliah tafsir ba’da shubuh tersebut. Dalam bahasa dia: “…penafsiran tidak terlalu tinggi mendalam. yang berupa huruf-huruf yakni Alif Lâm Mîm. menurut Ibnu ‘Abbas ada maknanya sendiri.sehingga telah membawa Al-Qur’an terlampau jauh dari pangkalan aslinya. sehingga tidak menjemukan. ia juga. mereka yang memberikan arti sendiri bagi huruf-huruf tersebut. merupakan isyarat bagi tiga nama. dan tidak terlalu rendah. terbagi kepada dua golongan. seperti diakuinya. misalnya. Apatah lagi kalau sudah dibawa pula kepada arti rahasia-rahasia huruf. Tuhanlah yang lebih tahu akan artinya.[12] Hamka menutup pembahasan tentang huruf-huruf fawâtih al-suwar ini dengan mengatakan: “Nyatalah bahwa huruf-huruf itu bukan kalimat bahasa yang bisa diartikan.[14] Ketajaman analisis Hamka juga teruji ketika. sehingga yang dapat memahaminya tidak hanya semata-mata sesama ulama. pula hal itu tidak bersentuhan langsung dengan tujuan pendalaman dan pengkajian AlQur’an. yakni masjid Al-Azhar. dan Mim untuk nama Nabi Muhammad Saw. ia katakan bahwa dalam Al-Qur’an kita akan menemukan beberapa surat yang dimulai dengan hurufhuruf seperti: Kâf Hâ Yâ ‘Aîn Shâd. Sebab hal itu dinilainya lebih selamat. seperti Al-Manâr dan Fî Zhilâl Al-Qur’ân.[11] Ada pula. Pengajian tafsir setelah shalat shubuh di masjid Al-Azhar telah terdengar di mana-mana. Alif Lam Mim. Dalam arti menafsir ayat demi ayat sesuai urutannya dalam mushhaf serta menganalisis begitu rupa hal-hal penting yang terkait langsung dengan ayat. Alif untuk nama Allah. Kedua. Nama masjid Al-Azhar sendiri adalah pemberian dari Syaikh Mahmoud Syaltout. termasuk ayat mutasyabihat yang kita baca dan percayai saja. dengan setting sosial-kemasyarakatan keindonesiaan sebagai objek sasarannya. Ketika membahas ayat pertama surat al-Baqarah. menurut Ibnu ‘Abbas. dapat dengan mudah kita katakan bahwa corak Tafsir yang sedang kita kaji ini bercorak Adabi-Ijtimâ`î. Pandangan para mufasir tentang huruf-huruf pembuka surat (fawâtih al-suwar) seperti itu. segolongan ahli tafsir yang menyatakan bahwa huruf-huruf itu adalah sebagai pemberitahuan. Alif Lâm Mîm Râ. Hamka langsung memberi nama bagi kajian tafsir yang dimuat di majalah itu dengan Tafsir AlAzhar. banyak diwarnai (diberi corak) oleh tafsir ‘modern’ yang telah ada sebelumnya. angka-angka dan tahun….”[9] Mengapa Dinamai “Tafsir Al-Azhar”? Nama Al-Azhar diambil dari nama masjid tempat kuliah-kuliah tafsir yang disampaikan oleh Hamka sendiri.

kita langsung kepada surat al-Baqarah dan kita langsung kepada ayat ini. aku mengelak ke tempat yang tidak ada durinya atau aku langkahi. Mereka meriwayatkan dari Abu Jum’ah al-Anshârî.”[15] Kendati kita akui ketajaman analisis Hamka. dan keturunanketurunan kita mendatang.. atau sebelum membincang soal takwa dan ciri-ciri muttaqin. al-Tahbrani dan al-Hakim. jumlah ayat dan tempat diturunkannya surat. Hanya saja Hamka tidak membincang lebih panjang tentang kata Al-Baqarah yang menjadi nama surat ini. yaitu orang-orang yang percaya bahwa di balik benda yang nampak ini. Penggunaan isyarat jauh ini. Tentang hal ini Hamka menulis: “Pernah ditanyakan orang kepada sahabat Rasulullah Saw. masih kata Pak Quraish. untuk menunjukkan betapa dekat tuntunan-tuntunannya pada fithrah manusia. menyebut nama surat dan artinya dalam bahasa Indonesia. dan bukan karena nama itu lebih penting dari yang lain . Adapun nama surat-surat Al-Qur’an bukanlah sebagai judul dari satu rencana atau nama dari satu buku yang menerangkan suatu yang khas. dia adalah petunjuk bagi orang yang suka bertakwa. Padahal di tempat lain. Hamka juga menempuh manhaj naqlî (tafsîr bi al-ma`tsûr/bi al-riwâyah). Permohonan kita di surat al-Fatihah sekarang diperkenankan. Hamka menulis: “Kita baru saja selesai membaca surat al-Fatihah. juga Imam al-Bukhari di dalam Tarikh-nya. atau aku mundur. di antaranya dari Imam Ahmad. bukan yang dimurkai dan tidak yang sesat. nomor urut surat dalam susunan mushhaf..[16] Kembali ke Tafsir Al-Azhar. jalan orang yang diberi nikmat.’ Abu Hurairah menjawab: ‘Itulah dia takwa!’ (Riwayat dari Ibnu Abi ad-Dunya). karena ada kisah tentang Bani Israil (yang) disuruh oleh Nabi Musa mencari seekor lembu betina (yang) akan disembelih. bertujuan memberi kesan bahwa kitab suci berada dalam kedudukan yang amat tinggi dan sangat jauh dari jangkauan makhluk. bila kita tinjau dari sisi sumber rujukan penafsiran yang dipergunakan. Tidak syak lagi.[18] Mekanisme Kerja (Langkah-langkah) Tafsir Sejauh pengamatan penulis atas tafsir surat al-Baqarah. karena dia bersumber dari Allah Yang Maha Tinggi. karena kita tidak melihat wajah beliau. Kamu bisa mendapat jalan yang lurus. seperti kata Pak Quraish dalam Al-Mishbah-nya. yaitu soal penggunaan isyarat jauh untuk menunjuk Al-Qur’an (Dzâlik al-Kitâb). asal saja kamu suka memakai pedoman kitab ini. sedang penggunaan kata hadza/ini.2: “Inilah Kitab itu. Seperti berikut: Surat Al-Baqarah (Lembu Betina) Surat 2: 286 ayat Diturunkan di MADINAH Hemat penulis. Baru saja menarik nafas selesai membaca surat itu. Itu pun termasuk iman kepada yang gaib. tidak ada sebarang keraguan padanya. dapat kiranya penulis menyebut mekanisme kerja Tafsir Al-Azhar sebagai berikut: Pertama. yang tersebut pada ayat 67 sampai 74. Komentar dia tentang kata ini hanya sedikit saja. al-Baqawardi dan Ibu Qani di dalam Majma’ al-Shahabah. ada satu hal menarik yang ia lewatkan yang sepatutnya disitir barang sedikit sebelum lebih jauh membahas korelasi antara akhir surat al-Fatihah dengan awal ayat surat al-Baqarah. Tentang hal ini Hamka memperkuatnya dengan banyak riwayat. yang diberi nikmat. Di sana kita telah memohon kepada Tuhan agar ditunjuki jalan yang lurus. tatkala membahas arti takwa dalam kerangka penafsiran ayat hudan li al-muttaqîn. seperti ini: “Surat yang kedua ini bernama Surat Al-Baqarah yang berarti lembu betina.”[17] Kejadian serupa (menukil riwayat) juga kita dapati ketika Hamka menerangkan ciri-ciri orang yang takwa. ada lagi hal-hal yang gaib. Abu Hurairah ra. Itu terlihat misalnya ketika ia menukil riwayat dari Abu Hurairah ra. jangan jalan orang yang dimurkai atau orang yang sesat. bertambah lagi keimanan kepada yang gaib itu. Kaum Muslimin yang telah hidup belasan abad sepeninggal Rasulullah Saw. apa arti takwa? Beliau berkata: ‘Pernahkah engkau bertemu jalan yang banyak duri dan bagaimana tindakanmu waktu itu?’ Orang itu menjawab: ‘Apabila aku melihat duri. langkah seperti ini dilakukan oleh semua penafsir. (Ia) hanyalah sebagai tanda belaka dari Surat yang dinamai itu. satu petunjuk bagi orang-orang yang hendak bertakwa”). semua ayat yang menunjuk kepada firman-firman Allah dengan nama Al-Qur’an (bukan al-Kitab) ditunjuk dengan isyarat dekat ( Hâdzâ Al-Qur’ân).

4 dan 5 (baca: ayat 3. karena semuanya penting. Kelompok pertama dari surat al-Baqarah terdiri dari lima ayat pertama (dari Alif Lâm Mîm sampai wa ulâ`ika hum al-muflihûn). karena mereka dapat membaca dan menangkap kandungan ayat tersebut secara lengkap dalam waktu yang relatif singkat. Jadi. kurang proporsional. Sebab pendahuluan ini isinya berupa gambaran umum dan inti sari tentang seluruh surat al-Baqarah. dan pembentukan jiwa kaum Mukminin di dalam memegang teguh agama. Yang jelas bahwa penentuan itu terkait dengan penilaian masing-masing tentang kesatuan sub tema antara ayat-ayat yang tergabung dalam satu kelompok tertentu. Hemat penulis.[22] Tidak penulis temukan dasar bagi masing-masing Hamka. menjadikan kelompok pertama dari surat al-Baqarah hanya terdiri dari dua ayat saja: Alif Lâm Mîm (ayat 1) Dzâlik al-kitâb lâ raib fîh hudan li al-muttaqîn (ayat 2). tiga front masyarakat yang dihadapi Rasulullah di Madinah. Quraish menulis. Demikian juga Rasyid Ridha dalam Al-Manâr. langkah Hamka yang menafsir satu ayat sekaligus. Ayat kedua (dzâlik al-kitâb lâ raiba fîh hudan li al-muttaqîn) misalanya. Dalam operasional tafsirnya. Misalnya. lâ raiba fîh. ketimbang membaginya menjadi beberapa penggal kecil. dan demikian seterusnya. lebih menjaga kesinambungan isi-isi yang terdapat dalam satu ayat tertentu. al-Maraghi pecah lagi menjadi tiga penggalan: dzalik al-kitab. peletakkan pendahuluan setelah sebelumnya menampilkan satu kelompok ayat yang memiliki kesatuan sub-tema. Keempat.”[19] Di sini kita melihat bahwa Hamka tidak menjadikan nama Al-Baqarah sebagai tema sentral keseluruhan surat Al-Baqrah. Tafsir Al-Marâghî dan Al-Manâr misalnya. pendahuluan tersebut berisikan antara lain arti nama surat. Catatan penulis. sebagai misal. Sementara al-Maraghi dan Ridha melihat bahwa sub tema pertama surat al-Baqarah hanya diwakili oleh dua ayat saja (ayat 1 dan 2). Pula langkah Hamka. Kelima. bukan gambaran umum tentang kelompok ayat yang akan ditafsir. Hamka menafsirakan ayat 1. Quraish Shihab yang justru memandang nama tersebut sebagai tema pokok surat. hudan li al-muttaqin. Tidak menafsirkan satu kelompok secara sekaligus. Setiap kelompok ayat diberi nama subtema. 4 dan 5 menjadi satu kelompok). Menurut penulis. sedang ayat 1 dan 2 ditafsirkan secara terpisah.” [20] Kedua. memberikan butiran-butiran hikmah atas satu persoalan yang dianggapnya krusial dalam bentuk pointers. mengelompokkan ayat-ayat dalam satu surat menjadi beberapa kelompok sesuai tuntutan sub-tema dari keseluruhan tema surat. Perbedaan antara mereka hanya terletak pada penentuan jumlah ayat yang berada dalam satu kelompok tertentu. yakni kisah Bani Israil dengan seekor sapi. “Surah ini dinamai al-Baqarah karena tema pokok-nya adalah inti ayat-ayat yang menguraikan kisah al-Baqarah. memberi pendahuluan sebelum betul-betul masuk pada penafsiran atas ayat-ayat yang sudah dipenggal dalam satu kelompok ayat. menafsirkan ayat perayat dari satu kelompok ayat. pengelompokkan semacam itu pun bisa dibilang sebagai salah satu langkah para mufasir. pembinaan masyarakat Muslim oleh Nabi Saw.[25] . lebih tepat dan efektif bagi para pembaca Indonesia. sehingga tidak ‘mengaburkan’ konsentrasi yang telah tertuju untuk membaca tafsir atas penggalan ayat yang sudah ditampilkan sebelumnya..[21] Sementara itu Pak Quraish baru melakukan pengelompokkan pada ayat 3. kemudian ayat 2. serta beberapa karakteristik ayat dalam surat al-Baqarah yang tergolong sebagai surat Madaniyah dibanding ayat-ayat lain yang tergolong dalam kelompok surat-surat Makiyah.yang diuraikan di dalamnya. diberi nama Takwa dan Iman. dan tidak memenggalnya menjadi beberapa penggalan. penulis nilai. al-Maraghi. Ini berbeda dengan. sendiri dengan petunjuk Jibril as. Hamka barangkali memandang bahwa lima ayat pertama itu memiliki kesatuan sub tema.[23] Terlepas dari itu. lalu 3 dan begitu seterusnya hingga ayat 5. kelompok pertama dari surat alBaqarah terdiri atas lima ayat (1-5). Ketiga. Sebagai sampel dapat dilihat ketika Hamka menunjuk lima hikmah dari iman kepada hari akhirat tatkala menafsirkan penggalan kedua ayat 4 surat al-Baqarah ( wa bi al-âkhirati hum yûqinûn). yang tepat pendahuluan ini diletakkan sebelum menampilkan kelompok ayat yang akan ditafsir. misalnya. Rasyid Ridha dan Quraish Shihab dalam menentukan jumlah ayat dalam satu kelompok tertentu tersebut. Kelompok pertama. Yang menentukan nama-nama ini adalah Rasulullah Saw.[24] Langkah ini berbeda dengan tafsir Al-Maraghi dan Al-Manar yang memenggal satu ayat yang ada dalam satu kelompok tertentu menjadi beberapa penggalan.

ada baiknya kita tuangkan di sini lima butir yang disebut Hamka sebagai hikmah dari beriman kepada hari akhir itu. Kepercayaan kepada hari akhir meyakinkan kita bahwa apapun peraturan atau susunan yang berlaku di alam dunia ini tidaklah kekal. kegagahan dan pencapaian duniawi bukan ukuran kebahagiaan. dan tidak mengakui bahwa ada pula di balik kenyataan ini sesuatu yang lain. Kita sudah sama tahu bahwa manusia itu dua juga coraknya. Maka yang pertama sekali adalah percaya kepada Allah. Semua ini penulis nilai sebagai upaya “membumikan Al-Qur’an”. Barangkali kutipan dari tafsir Hamka atas ayat 3 surat al-Baqarah sedikitnya dapat memperkuat apa yang penulis nyatakan dalam poin ketujuh di atas. Harta yang melimpah. Apa yang kita kerjakan di dunia ini adalah dengan tanggung jwab yang penuh. tidak nampak oleh mata. Semua itu akan diperhitungkan dengan adil. memperkuat penjelasan dengan ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang sepadan kandungannya dengan ayat yang sedang ditafsirkan. bukan sanad. kemudian itu percaya akan adanya hari kemudian. Mereka tidak percaya ada Tuhan. atau Malaikat. [26] Keenam. dari ayat 1 hingga ayat 3 dari surat al-Baqarah tidak kita temukan bentuk pounters semacam itu. Hal ini sepenuhnya terpulang kepada tuntutan tema ayat yang sedang ditafsir. atau roh. di hari kiamat. yaitu pengakuan hati yang terbukti dengan perbuatan yang diucapkan oleh lidah menjadi keyakinan hidup. Berikut kutipanya: “Inilah tiga tanda pada taraf yang pertama: Percaya kepada yang gaib. Perbincangan tentang sanad hadis bagi umumnya orang Indonesia bisa dibilang sudah tak lagi urgen. Bukan tanggung jawab kepada manusia. 2. Terlepas dari itu. Pada ayat 5 juga tidak ada. Mu’jam dan sebagainya. mereka tidak percaya. dan dengan sendirinya mereka tidak percaya akan ada lagi hidup akhirat itu. Sebagai berikut: 1. Seperti itu barangkali pertimbangan Hamka. Buktinya. yaitu dua indera yang utama dari kelima (panca) indera kita. 3. Jadi. pertama orang yang hanya percaya kepada benda yang nyata. riwayat hadis yang dikutip Hamka tidak menampilkan semua untaian rawi yang ada dalam sanad hadis. tetapi kepada Tuhan yang selalu mengawasi kita. . langkah seperti ini tidaklah baku. Langkah seperti ini nampaknya sengaja ditempuh Hamka untuk menjadikan tafsirnya lebih praktis dan efektif bagi pembaca Indonesia yang umumnya awam tentang ilmu hadis dan “kurang peduli” dengan validitas sanad sebuah hadis. Yang gaib adalah yang tidak dapat disaksikan oleh pancaindera.[27] Dalam pengamatan penulis. 5. Baru pada ayat 4 kita temukan. zat yang menciptakan sekalian alam. 4. menyuguhkan tafsir dalam kemasan bahasa yang mudah dipahami dengan sentuhan logika yang tidak sulit dicerna. yaitu kehidupan kekal yang sesudah dibangkitkan dari maut. Ketujuh. seperti Imam al-Bukhârî. Orang yang seperti ini niscaya tidak akan dapat mengambil petunjuk dari Al-Qur’an. Tetapi dia dapat dirasa adanya oleh akal. Tempat baru itu adalah surga bagi mereka yang berat amal baiknya. Tuhan akan menciptakan alam yang lain.Dalam pengamatan penulis. semuanya berputar. semuanya bergantian. Artinya tidak setiap akhir penafsiran atas satu ayat mesti diakhiri dengan pemberian buturan-butiran hikmah dalam bentuk pointers. tidak terdengar oleh telinga. Maka iman akan yang gaib itulah tanda pertama atau syarat pertama dari takwa. dan manusia dipanggil buat hidup kembali di alam yang baru dan akan ditentukan tempatnya sesudah penyaringan dan perhitungan amal di dunia. dan neraka bagi mereka yang berat amal jahatnya. seperti Jâmi’ Shahîh. tapi hanya menampilkan râwî a’lâ (rawi pada level shahabat) saja dan penulis kitab hadis tersebut. serta dilengkapi dengan pendekatan sosio-kultural keindonesiaan. Bagi mereka koran pembungkus gula sama dengan Al-Qur’an. Muslim dan lainnya. Setelah hancur alam ini. sebab mereka berpikiran bahwa persolaan tentang sanad telah usai dengan telah dibukukannya hadis ke dalam berbagai bentuk kitab hadis. Jadi yang penting matan-nya. Kejayaan yang hakiki adalah pada nilai iman dan takwa di sisi Allah. dan yang kekal hanyalah peraturan kekal dari Allah. Malahan terhadap adanya nyawapun. bagi mereka yang ingin mengetahui untaian rawi bagi hadis yang dikutip Hamka secara lengkap harus merujuk langsung kepada kitab hadis yang disebut oleh Hamka. Kepercayaan kepada hari akhirat memberikan satu pandangan khas tentang menilai bahagia atau celakanya manusia. Ini menandakan bahwa langkah itu sifatnya situasional. Sunan. Iman yang berarti percaya.

”[28] Hingga di sini penulis mencatat beberapa hal. seraya menghindari perselisihan paham dan takwil-takwil jauh yang tidak perlu. dan Fî Zhilâl Al-Qur’ân adalah karya-karya tafsir yang banyak memberikan “masukan” baginya dalam menulis Tafsir Al-Azhar. dan meninggalkan mana yang jauh menyimpang. Ini dapat dimaklumi sebab konsumen tafsirnya adalah masyarakat Indonesia yang umumnya awam dengan persoalan semacam itu. Tetapi tidaklah semata-mata taklid kepada pendapat manusia. Bila dalam sub Haluan Tafsir sudah disitir beberapa karakter yang dapat diasumsikan sebagai corak tafsir Al-Azhar secara umum dan teoritis. Al-Marâghî. Jika persoalan semacam itu ditampilkan. salah satu karya tafsir yang dikaguminya. haus hendak mengetahui rahasia Al-Qur’an. dan keturunanketurunan kita yang akan datang di belakang pun insya Allah. nomor halaman. kebesaran dan nilai Tafsir Al-Azhar tidak berkurang barang sedikit pun. tergantung dari sudut mana kita meninjau. 4. melainkan meninjau mana yang lebih dekat kepada kebenaran untuk diikuti. Kita kaum Muslimin yang telah hidup empat belas abad sesudah wafatnya Rasulullah Saw. seorang mufasir berkaliber tinggi pun hampir bisa dipastikan tidak dapat menghidar dari menukil dan merujuk karya atau pendapat orang lain. Hanya menuangkan hal-hal yang benar-benar diinginkan oleh para pembaca tafsir. bertambah lagi keimanan kepada yang gaib itu. Menghindari persoalan nahw dan sharf. menguraikan makna dan lafaz bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan memberi kesempatan orang buat berfikir. Hal demikian menjadikan pembacaan tafsir tidak tuntas dan menyeluruh. Dalam arti penulisnya menganut mazhab Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau serta ulama yang mengikuti jejak beliau. hal ini sengaja ditempuh karena masyarakat pembaca tafsirnya (orang Indonesia) tidak membutuhkan kajian kebahasaan seperti itu yang sifatnya suplemen atau pelengkap sekunder semata. tidak harus menyebut tempat. Hamka tidak mengawali tafsirnya atas beberapa ayat yang sudah ia penggal ke dalam satu kelompok dengan makna global (al-ma’nâ al-jumalî) seperti yang kerap dilakukan oleh Tafsîr Al-Maraghi. Kuat dugaan.[30] Namun demikian. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan (dijanjikan) Hamka dalam Haluan Tafsir-nya ketika menulis: “Tafsir Al-Azhar ini ditulis dalam suasana baru. Hamka tidak mengawali tafsirnya dengan memberikan penjelasan arti kata-kata tertentu dalam ayat (syarh al-mufradât). artinya menyerah dengan tidak banyak tanya lagi. hal itu ditempuh karena ia ingin membawa pembacanya untuk meneliti tafsir ayat demi ayat secara teliti dan tuntas. Besar dugaan. Tidak menyebutkan sumber rujukan tafsir. paling tidak. Sebab bisa saja kalau didahului oleh tafsir global. semata-mata taslim. bukan wawasan kebahasaan. jilid dan lainnya secara detail. Bertambah banyak pengalaman dalam arena penghidupan. Al-Qâsimî. Hamka sendiri dalam Haluan Tafsir-nya mengakui bahwa Al-Manâr. Harap penulis. sedang mereka haus akan bimbingan agama. Ini seperti ia akui dalam Haluan Tafsir-nya: “Mazhab yang dianut oleh Penafsir ini adalah Mazhab Salaf. Dari sudut pandang mazhab yang dianut dapat kita sebut tafsir Al-Azhar bercorak Salafi. Kiranya lebih dari satu corak yang dapat kita tunjuk buat tafsir Al-Azhar. Corak Tafsir Sub ini terkait erat dengan sub sebelumnya yaitu Haluan Tafsir. 2. antara lain: 1. pada sub ini sitiran tersebut akan dibuktikan secara nyata dan praktis dengan mengemukakan contohcontoh nyata dari penafsiran langsung atas ayat. nama Tafsir dan penulisnya. tidak efektif bagi pembaca tafsir Indonesia yang diharapkan mendapatkan pencerahan Qur’ani. Dalam hal akidah dan ibadah.Kedua ialah orang-orang yang percaya bahwa di balik benda yang nampak ini. Meskipun penyimpangan yang jauh itu bukanlah atas suatu sengaja yang buruk dari yang mengeluarkan pendapat itu.”[31] . melainkan mencoba sedaya upaya mendekati maksud ayat. 3. maka pertikaian-pertikaian mazhab tidaklah dibawakan dalam tafsir ini. hasilnya malah akan kontra-prorduktif. di antara pembaca ada yang mencukupkan dengan tafsiran singkat tersebut. Pikir penulis. ada lagi hal-hal yang gaib.”[29] 5. bertambah mendalamlah kepercayaan mereka kepada yang gaib itu. di negara yang penduduk Muslimnya lebih besar jumlahnya dari penduduk lain. ketika ia merujuk suatu pendapat dari tafsir lain ia menyebut. yaitu mazhab Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau dan ulama-ulama yang mengikuti jejak beliau. dan tidaklah penulisnya ta’ashshub kepada suatu faham. karena kita tidak melihat wajah beliau.

Maka dengan kesukaan memberi. terdapat juga berani![34] Menandai sebuah karya tafsir sebagai bercorak ijtimâ`î. harap. Semuanya bersatu membentuk masyarakat yang beriman. lanjutnya. Hamka menulis: “…mendalami Al-Qur’an tidaklah bergantung daripada mencari-cari arti dari huruf-huruf itu. Yaitu bagaimana tafsir ini dapat menjadi obor penerang bagi sebanyak mungkin masyarakat Muslim dengan berbagai latar belakang pendidikan. cemas. “Di tingkat pertama percaya kepada yang gaib. Dalam hal ini mufasir Al-Azhar memilih menyerahkan pengertiannya semata kepada Allah. di antaranya tafsir Al-Manar. berderma. sebab hatinya dihadapkannya kepada Allah yang diimaninya. suka menolong sesama dan amal-amal sosial lainnya.Contoh nyata untuk menunjukan ke-salaf-an tafsir Al-Azhar adalah ketika membahas huruf-huruf pembuka suatu surat (fawâtih al-suwar). sedekah. yaitu bahwa tafsir itu juga bercorak hida`î. hampir dapat dipastikan akan membawa pada kesimpulan lain tentang corak tafsir tersebut. ketika sang mufasir membahas soal takwa ia katakan bahwa kebudayaan Islam adalah kebudayaan takwa. Hamka mengemukakan ketertarikan hatinya terhadap beberapa karya tafsir. Dokter dan Profesor. di samping isteri mereka masing-masing. membantu dan menolong. Sebab hal itu dinilainya lebih selamat. Tafsir ini menurutnya sebuah tafsir yang sanggup menguraikan ilmu-ilmu keagamaan sebangsa hadis. Contoh konkret untuk corak ini adalah ketika mufasir Al-Azhar membincang wacana iman. Takwa lebih mengumpul akan banyak hal. itu nampak dalam pernyataan mufasir berikut: “Ketika menyusun (tafsir) ini terbayanglah oleh penafsirnya corak ragam dari murid-murid dan anggota jamaah yang ma’mum di belakangnya sebagai imam. Insinyur. Orang yang Mukmin apabila dia ada kemampuan. Kesimpulan untuk mengatakan kebudayaan Islam adalah kebudayaan takwa ini diambil dari kesepakatan Konferensi Kebudayaan Islam di Jakarta yang diselenggarakan pada akhir Desember 1962. Menurutnya. pengakuan iman perlu pembuktian dalam tataran sosial-praktis. kasih-mengasihi dan harga menghargai. mayor dan para bawahan.”[35] . dan kepercayaan kepada yang gaib dibuktikan dengan sembahyang. Ada mahasiswa-mahasiswa yang tengah tekun berstudi dan terdidik dalam keluarga Islam.”[32] Dalam sub Haluan Tafsir. jenis profesi dan beragam status sosial lainnya. fikih. tawakal. sabar dan lainnya. kasih. Orang Mukmin tidak mungkin menjadi budak dari benda. sehingga ia lebih mencintai benda pemberian Allah itu daripada sesamanya manusia. Dikatakan demikian karena tafsir ijtimâ`î adalah tafsir yang banyak mengedepankan fenomena-fenomena sosial-kemasyarakatan dalam upayanya me-landing-kan pesan. Bahkan dalam takwa. imannya telah dibuktikannya pula kepada masyarakat. Ada pula perwira-perwira tinggi yang berpangkat jenderal dan laksamana dan ada juga anak buah mereka yang masih berpangkat letnan. kesan. pula tidak bersentuhan langsung dengan tujuan pendalaman dan pengkajian Al-Qur’an. Orang Mukmin tidak mungkin hidup nafsi-nafsi dalam dunia. Apatah lagi kalau sudah dibawa pula kepada arti rahasia-rahasia huruf. importir dan exportir kawakan di samping saudagar perantara. Dan ada pula saudagar-sudagar besar. tuntutan dan tuntunan AlQur’an. karena imannya sangatlah dia percaya bahwa dia hanya saluran saja dari Tuhan untuk membantu hamba Allah yang lemah. Ada sarjana-sarjana yang bertitel SH. misalnya dengan memperbanyak derma. bersedekah.”[33] Warna ijtimâ`î tafsir Al-Azhar juga dapat kita lihat ketika mufasirnya menjadikan pengalaman pribadi dalam bermasyarakat sebagai anasir pelengkap tafsirnya. Selanjutnya mufasir menegaskan bahwa dalam takwa terkandung cinta. agen automobil dengan relasinya yang luas. Maka dapatlah diasumsikan bahwa sedikit banyak tafsir Al-Azhar mewarisi corak tersebut. kapten. Sekadar sampel. dengan khusyu’ kepada Ilahi. angka-angka dan tahun…sehingga telah membawa Al-Qur’an terlampau jauh dari pangkalan aslinya. ridha. Upaya demikian tak lepas dari tujuan sang mufasir untuk menjadikan Al-Qur’an benar-benar sebagai sumber petunjuk dan pedoman hidup setiap Muslim dalam memerankan fungsi khilafahnya di muka bumi ini. Bersatu di dalam shaf yang teratur. Tafsir Al-Azhar—seperti diakui mufasirnya dalam Haluan Tafsir—memanglah dirancang seperti itu. sejarah dan lainnya lalu menyesuaikannya dengan perkembangan politik dan kemasyarakatan yang sesuai dengan zaman di waktu tafsir itu ditulis. dipadukan oleh jamaah subuh. menghadapkan muka bersama. Tafsir yang demikian dinilai oleh para ahli sebagai tafsir bercorak adabi-ijtima’î (sosial-kemasyarakatan). Paling kurang. Dan ada juga pelayan-pelayan dan tukang tukang pemelihara kebun dan pegawai negeri.

Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve. Ahmad Mushtafâ. Dr. [12]Ibid. cet. 1990. h. I. Bagi para pengkaji tafsir. cet. Kairo: Syirkah wa Mathba’ah Mushtafâ al-Bâbî alHalabî. Popular Indonesian Literature of the Al-Qur’an [terj. Tajul Arifin. ia harus diakui sebagai “maha karya” Hamka yang patut dipuji. qira’at dan tetek bengek non-tafsir lainnya. Kalaupun tidak sanggup secara sendiri-sendiri. Tafsir-tafsir ini menekankan ajaran-ajaran Al-Qur’an dan konteksnya dalam bidang keislaman (lihat Howard M. Kajian Al-Qur’an di Indonesia). Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas. cet. Ma’lûf. MA. vol. [2]Ibid. 122. Dr. 1996. Ke-hida`î-an Al-Azhar juga nampak pada tipe paparan tafsir yang disuguhkan. Penulis hanya mengatakan bahwa apa pun kesan Anda tentang tafsir Al-Azhar. Prof. cet. vol. kepercayaan kepada keris. 3-4. I. Muhammad Rasyîd. Hamka. I 1982. 48. I. 1. Shihab. Federspiel. Mufasirnya. h. Louis. h. cet. I. cet. Tafsir Al-Azhar. 1217. I 1990. Prof Dr Hamka. vol. Tajul Arifin. 42. 1218 [3]Lihat “Kata Pengantar Penulis” dalam Tafsir Al-Azhar. Kajian-kajian semacam itu memang dalam banyak hal sering cukup ‘mengaburkan’ tujuan semula pembaca tafsir —terlebih jika ia orang non-Arab—yaitu mencari butiran-butiran hikmah dan hidayah Al-Qur’an. MA. XXXVII. [7]Lihat Ibid. 137). dan adat kebiasaan lain dalam masyarakat Indonesia (lihat Ensiklopedi Tematis Dunia Islam [ed. Tafsîr al-Marâghî. sekurangnya bagi kaum cerdik-cendekia Muslim Indonesia. Hamka tidak sekadar menjelaskan ayat. II h. cet. 55). h. [10]Mukaddimah Tafsir Al-Azhar. juz I. Ia juga menghindar dari kajian kebahasaan. Federspiel. Taufik Abdullah]. [11]Tafsir Al-Azhar. I 2000. cet. Dalam penelitian Howard M. [5]Lihat “Haluan Tafsir” dalam Mukaddimah Tafsir Al-Azhar. 40. Op Cit. Al-Mujid fî al-Lughah wa al-A’lâm. Al-Maraghi berpendapat seperti itu. kerja kolektif pun akan sangat berarti dan cukup menggembirakan. M. kekaguman terhadap Hamka dan tafsirnya tentu harus menjadi pemicu untuk menghasilkan karya serupa. Al-Marâghî. Wallâhu A’lam…? Bahan Bacaan Ensiklopedi Tematis Dunia Islam [ed. I 1982. vol. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve. h. Penulis makalah ini menyerahkan sepenuhnya kepada Anda. Tafsîr Al-Manâr. 1969. Taufik Abdullah]. Mukaddimah Tafsir Al-Azhar. Dan yang lebih penting tentu bukan sekadar memuji. cet. Tafsir-tafsir generasi ini bertujuan untuk memahami kandungan Al-Qur’an secara komprehensif dan. Ridhâ. Kajian Al-Qur'an di Indonesia]. Popular Indonesian Literature of the Al-Qur’an (terj. pembaca tafsir Al-Azhar. vol. [6]Ibid. I. cet. oleh karena itu berisi materi tentang teks dan metodologi dalam menganalisis tafsir. I. h. tetapi juga banyak mengecam praktek ziarah kubur. IV. Jakarta: Lentera Hati. h. untuk menilai plus-minus yang terkandung dalam tafsir tersebut. Di berbagai penafsiran ayatnya menyangkut ajaran keesaan Tuhan (Tauhid). Howard M. IV. h. [4]Ibid. Dr. [1]Ensikopedi Indonesia. II. Bandung: Mizan. 1996. h. Quraish.. h. Tafsir al-Mishbâh. [8]Ibid. Ia tidak terpancing memunculkan perselisihan pendapat (fikih dan teologi) yang memang tidak menyuntuh inti tafsir. h. Tafsir AlAzhar termasuk tafsir yang mewakili tafsir-tafsir generasi ketiga.Hingga titik ini.. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve cet. vol. Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve cet. tidak keliru rupanya jika kita katakan bahwa Tafsir Al-Azhar bercorak hida`î. Menurutnya. 121-122. juz` I. Alif Lâm Mîm dan huruf-huruf pembuka surat lainnya merupakan huruf-huruf li al-tanbih (pemberitahuan atau panggilan) sama seperti Alâ dan Yâ. [9]“Haluan Tafsir”. Bandung: Mizan. 41. I. 42. tt. juz` I. tapi mengelaborasikan pesan-pesan Qur’ani yang disampaikannya dalam tata kehidupan keseharian kita sebagai Muslim yang mengaku diri menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Beirut: Dâr al-Ma’rifah li al-Thibâ’ah wa al-Nasyr. tt. Beirut: Dâr al-Masyriq. Ensikopedi Indonesia. . vol. h. telah membuktikan betapa seorang Muslim non-Arab pun mampu menghasilkan sebuah karya tafsir yang cukup membanggakan. II. Federspiel. Penutup Tafsir Al-Azhar adalah salah satu tafsir buah tangan salah satu putra terbaik bumi pertiwi. I. IV.

[29]Lihat “Haluan Tafsir” dalam Mukaddimah Tafsir Al-Azhar. Op Cit. vol. Ia menulis: “Tampaknya jawaban: ‘Allah A’lam. [35]Lihat “Haluan Tafsir” dalam Tafsir Al-Azhar. Op Cit. h. h. [32]Tafsir Al-Azhar. vol. 1969. [13]Tafsir Al-Azhar. 122. [19]Tafsir Al-Azhar. cet. h. 117. Beirut: Dâr al-Ma’rifah. [25]Lihat Ibid. 39). 41-42. IV. maka atas kudrat Allah korban hidup kembali dan menyampaikan siapa pembunuhnya” (lihat Ibid. h. h. Quraish Shihab. [18]Ibid. h. h. h. [22]Lihat Tafsir Al-Mishbah. Menghadapi hal tersebut mereka menoleh kepada Nabi Musa as. 122 dan Tafsîr al-Marâghî. Beirut: Dâr al-Ma’rifah. h. vol. 81-82). 83-88. Bandingkan misalnya dengan Tafsir Al-Mishbah yang secara tepat meletakkan pendahuluan sebelum betul-betul menampilkan ayat-ayat dalam surat yang akan ditafsir (lihat Tafsir Al-Mishbâh. 81-82). IV. II. menunjukkan kemukjizatannya dan menampakkan hujjah-nya atas Ahli Kitab serta lainnya yang terkandung dalam surat al-Baqarah (lihat Tafsîr al-Marâghî. [33]Ibid. Kairo: Mathba’ah al-Bâbî al-Halabî. Jika pun pengambilan riwayat seperti itu tidak terkategorikan sebagai manhaj. Loc Cit. meski sepakat dengan Muhammad ‘Abduh yang menyerahkan makna dan rahasia di balik huruf-huruf itu kepada Allah. [15]Tafsir Al-Azhar. 41. vol. h. h. 84). [28]Lihat Ibid. mereka menyembelihnya— setelah dialog tentang sapi berkepanjangan—dan dengan memukulkan bagian sapi itu kepada mayat yang terbunuh. 128. M. Masyarakat Bani Israil saling mencurigai bahkan tuduh-menuduh tentang pelaku pembunuhan tanpa ada bukti. h. 122. [31]Lihat “Haluan Tafsir” dalam Mukaddimah Tafsir Al-Azhar. [34]Ibid. Murtadha Muthahhari atau Sayyid Quthub. h. . [27]Lihat misalnya Ibid. [16]M. I h. h. 127. ia menuangkan juga pendapat mufasir-mufasir lain yang mencoba menguak rahasia di balik huruf-huruf itu (lihat Tafsir al-Manâr. 122). 117. h. h. [14]Pakar tafsir Indonesia pasca Hamka. Akhir dari kisah itu adalah. Jakarta: Lentera Hati. sehingga mereka tidak memperoleh kepastian. Rasyid Ridha. tt. yakni Allah lebih mengetahui. [24]Lihat Tafsir Al-Azhar. Tafsir Al-Mishbâh. [17]Tafsir Al-Azhar. juz` I. 129. h. 39. Kairo: Syirkah wa Mathba’ah Mushtafâ al-Bâbî al-Halabî. Kelanjutan keterangan Quraish di atas adalah: “Ada seseorang yang terbunuh dan tidak diketahui siapa pembunuhnya. 85. h. Dari sini dimulai kisah l-Baqarah. h. 123-125. Tapi penulis sendiri lebih suka menamainya sebagai manhaj. cet. II. meminta beliau berdoa agar Allah menunjukkan siapa pembunuhnya. cet. 124-125. h. al-Biqâ`î. atau tafsir Al-Mishbâh yang acap kali menyebut nama seperti al-Thabâthabâ`î. Quraish Shihab. I 2000. I. 1969. [30]Bandingkan misalnya dengan tafsir Al-Manâr dan Al-Marâghî yang kerap kali menyebut “Qâla alUstâdz al-Imâm” untuk menunjukkan bahwa mereka menukil pendapat Syaikh Muhammad ‘Abduh. h. tt.Di sini tujuannya untuk membangkitkan perhatian mukhâthâb kepada Al-Qur’an. Tafsir al-Mishbah. Al-Syarâ’wî. cet. h. 120-128. vol. [21]Lihat Tafsir al-Manâr. 123. Tafsir Al-Mishbâh. juga mengambil sikap seperti itu. Maka Allah memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi. 123. [26]Lihat Ibid. [23]Untuk lebih jelasnya lihat Ibid. kendati tidak memuaskan nalar manusia (lihat M. [20]M. I h. h. 124. I. cet. bolehlah disebut sebagai pendekatan. 40-41. I h. Quraish Shihab. masih merupakan jawaban yang relevan hingga kini. 81. Quraish Shihab.

padahal telah dimulainya mencetak beberapa halaman banyaknya. Pada bulan April 1938 tamatlah 30 juz dengan pertolongan Alah awt. Sedang menterjemahkan juz 7 sampai dengan 18 dibantu oleh almarhum H. Lalu di tunjuk percetakan bangsa Indonesia untuk mencetaknya. bahkan di anjurkan atau hukumnya fardu kifayah. pada bulan Ramadlan tahun 1354 H (Desember 1935) beliau mulai kembali menterjemahkan al-Quran serta tafsir ayat-ayatnya yang penting yang kemudian beliau beri nama : Tafsir al-Quranul Karim. Boleh jadi karena bantahan itu karena sebab-sebab yang lain. Baharata Direktur percetakan Al-Ma’arif Bandung. bantahan dari Ulama islam tersebut tidak beliau perdulikan dan beliaupun tetap menterjemahkan al-Quran al-Karim tersebut. Salinannya disampaikan kepada Mahmud Yunus oleh Menteri Agama. Tembusannya M. Dalam tafisir in yang paling dipentingkan ialah menerangakan dan menjelaskan petunujuk-petunjuk yang termaktub dalam al-Quran untuk diamalkan kaum Muslimin khususnyadan seluruh umat manusia pada umumnya sebgai petunjuk universal. melainkan hasil penyelidikan pengarang sejak berumur 29 tahu sampai sekarang berumur 73 tahun. bantahan itu dikirinya kepada Presiden RI dan Menteri Agama. Kemudian beliau berhenti menterjemahkan al-Quran. Beliau menerima pelajaran dari Syeokh Darul Ulum. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1950. Bakry. Pendahuluan Tafsir Al-Qur'an Al-Karim Mahmud Yunus>>> Tafsir al-Quranul karim karangan Mahmud Yunus ini awalnya di terjemahkan pada tahun 1992 kemudian di terbitkan tiga juz dengan huruf arab-malayu. Hanya ada perubahan sedikit demi sedikit.M. Bantahan itu dikirim nya kepada Maeteri Agama RI tetapi saya tidak menerima bantuan. untuk menyampaikan dakwah islamiyah kepada bangsa asing yagn tidak mengetahui bahasa arab. bukanlah tejemahan dari kitab bahasa arab. 21 per eksemplar. Lalu ia dicetak dan di terbitkan sebanyak 200. Mahmud yunus bersama istri Darisah binti Ibrahim meneruskan menerbitkan tafsir Quran Karim itu. Akhirnya beliau tidak berkituk lagi. Lalu mereka terbitkan beberapa kali tanpa ada perubahan yagn besar. bahwa menterjemahkan al-Quran itu hukumnya mubah. Pada tahun 1953 seorang Ulama dari Jatinegara membantah pula.Tafsir Al-Qur'an Al-Karim Mahmud Yunus DIposting Oleh Administrator | 9:28 PM | a. Sebab itu tafsir ini berlainan dengan tafsir-tafsir yang lain.000 aksemplar. Pada masa itu umumnya Ulama islam mengatakan haram untuk menterjemahkan al-Quran namun. Ditegaskan bahwa tafsir in serta kesimpulan isi al-Quran. supaya di stop mencetak Tafsir Quran Karim itu. lalu Mahmud yunus balas suratnyaitu dengan lebar panjang. Yunus kirimkan kepada Presiden RI dan Menteri Agama. Bagaimanakah menyampaikan kitabullah kepada mereka. hanya diam. Dengan susah payah di terbitkan tefisr tersebut berjuz 2 tiap 2 bulan. Kabarnya ada bantuan dari Ulama Yogyakarta. kalau tidak di terjemahkan kedalam bahasanya? Dengan berbagai ilimu yang telah diserap oleh akal pikirannya. dengan petunjuk menteri Agama Almarhum Wahid Hasyim. karena beliau lebih memilih untuk melanjutkan ilmu pengetahuannya di Mesir (Th 1924) di berbgai tempat hingga akhirnya di Darul Ulum. Akhirnya di ambil alih oleh M.000 aksemplar dan dijualnya dengan harga Rp. salah seorang penerbit Indonesia Tafsir al-Quranul Karim itu dengan mendapatkan fasilitas kertas dari Menteri Agama dan di cetak sebanyak 200. yang empunya percetakan tidak mau meneruskan mencetak tafsir Quran karim itu. Makalah Ilmu Tafsir | 0 comments » A. dan disiarkan di seluruh Indonesia. Kemudian setelah habis cetakan itu. Karena petunujuk itulah tujuan utama kitab suci al-Quran seperti diterangkan Allah dalam firman-Nya pada permulaan surat al-Baqoroh: .

6.Artinya: “ Kitab itu (Al-Quran) tidak ada keraguan didalamnya. Kuliyah Mu’alimin Islamiyah Noramal Islam Padang (1932-1946). Tafsir al-Quran tamat 30 juz. hadist. dan peribadatan. Selain itu ditrgaskan pula sebab-sebab majunya satu umat dan sebab-sebab mundurnya. terutama pendidikan Islam di samping bidang-bidang lain seperti bahasa. tauhid akidah. B. dalam Usia 83 Mahmud Yunus berpulang ke Rohmatullah di kediamannya. Kemayoran Jakarta Pusat. IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menganugerahi Mahmud Yunus Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Tarbiyah. Beberapa kisah pendek. bersama Kasim St. Lagu-lagu baru/Not angka-angka. Banyak karya tulis yang telah di hasilkan Mahmud Yunus dalam berbgai bidang Ilmu Agama Islam. menjadi Dekan dan Guru Besar pada fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1960-1963). tetapi hanya sampai kelas tiga saja. Karena sejarah itu tetap mengulang jejaknya. Penulisan tafsir ini dimulai pada November 1922 yang dilakukan secara berangsurangsur juz demi juz sampai dengan selesai juz ke-tiga puluh. Pelajaran Sholat untuk-untuk anak0anak SD. Minatnya terhadap studi al-Quran serta bahsa arab telah menimbulakan hasarta besar dalam diri Mahmud Yunus untuk menulis tafsir al-Quran yang kemudian menjadi karya monumentalnya sendiri yagn tetap populer sampai saat ini. tafsir. di samping itu ia juga memasuki sekolah rakyat. cara mengerjakan haji. Kemampuan menjadi guru tersebut lebih menonjol manakala ia kembali dari Mesir . 4 jilid.Tahir. Sehari kemudian ia dimakamkan di pemakaman IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Profesi sebagai guru semenjak masih menjadi pelajar di Surau Tanjung Pauh sudah ia geluti. 2. Berkat ketekunannya dalam waktu empat tahun. 9. Pendidikan Mahmud Yunus belajar dari al-Quran dan bahasa Arab yang ia tempuh semenjak berusia tujuh tahun di Surau kakeknya M. 7. hokum. Atas jasa-jasanya dibidang pendidikan ini. kelurahan Kebon Kosong. Biografi Mahmud Yunus Dilahirkan di Sungkayang Batusangkar Sumetera Barat pada hari sabtu 10 Februari 1899 (30 Ramadlan 1361). Muhammad Thaib di Surau Tanjung Pauh. yakni pada al-Jami’ah al-Islamiyah Batusangkar (19311932). untuk anak-anak SD. secara terus menerus Mahmud Yunus mengajar dan memimpin berbgai sekolah. 4. Akhirnya pada 18 Januari 1983. Syah. Pandangan terpenting tentang metode mengajar adalah “Metode itu lebih penting daripada pengajaran”.Tahir. perbandingan agama. buyutnya dari pihak ibu adalah seorang ulama besar di Sungkayang Batu sangkar. Demikian itu dengan mengambil ‘brah dan pengajaran dari sejarah umat dahulu kala. disaat masih suburnya pandangan yang mengatakan bahwa haram menterjemahkan al-Quran. Perlu di garis bawahi disini bahwa upaya penulisan Mahmud Yunus ketika itu. Adapun karya-karya Mahmud Yunus antara lain: 1. sejarah. Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) jkarta (1957-1980). Puasa dan Zakat untuk anak-anak SD. pada 15 Oktober 1977. Keimanan dan Akhlaq. . Haji ke Mekkah. yang ia tulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Mahmud Yunus telah sanggup mengajarkan kitab-kitab Mahalli. 3. Riwayat Rasul dua puluh lima. untuk anak-anak SD. al-Fiyah dan Jam’ul Jawami’. sebab kuat dan lemahnya. sebab tegaknya dan jatuhnya. Ayahnya bernama Yunus bin Incek dan ibunya bernama Hafsoh bini M. jadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”. untuk anak-anak SD. untuk memudahkan membaca al-Quran. Dari surau kakeknya ini. 8. Akademi Pramong Praja di Bukit Tinggi (1948-1949). bersama Rasyidin/Zubir Usman. tahun 1938. sebab hidu dan matinya. 4 jilid. 5. M. Terjemahan Tafsir al-Quran tanpa tafsir. Marilah sembahyang. bernama Muhammad Ali gelar angku kolo. merupakan tindakan yang cukup berani. Rektor IAIN Imam Bonjol Padang (1966-1071). Mahmud Yunus pindah ke Madrasah yang diasuh oleh Syeikh H.

untuk tingkat Aliyah. 22. Sejarah Islam di Minangkabau. akhlaq. 15. 26. Tafsir al-Quran ini dibelakangi juga terdapat beberapa kesimpulan isi al-Quran. dlaam penyelidikan baru. Tarbiyah / PGAA 29. 21. untuk murid-murid SMP. apabila mendapatkan nikmat diucapkan Alhamdulillah………I. 33. Juz Amma dan terjemahnya. M. 3 jilid. 16. Fak. untuk anak-anak SD. 31. Sejarah PEndidikan Islam (umum). 28. Metodik Khusu bahasa Arab. Dasar-dasar Negara Islam. 34. Ilmu Jiwa kanak-kanak.3. petunjuk atau pengajaran. Marilah ke Al-Qur’an. 13. 36. 14. 27. Ilmu Tauhid menurut Al-Quran. 23. untuk tingkat tsanawiyah. Kemudian seterusnya dihalaman belakang kitab terdapat daftar isi surat-surat al-Quran beserta nomor halaman yang memudahkan pembaca dalam pencarian surat seperti surat al-A’raf…….10. 4 Madzhab. Manasik haji. Fak. Setelah penaduhulan kemudian langsung kepada ayat al-Quran berupa terjemahan dan dibawahnya langsung dijelaskan tafsirnya yang diawali dengan surawt al-fatihah. Tarbiyah / PGAA.. Hukum perkawinan dalam Islam. Pemimpin Pelajaran Agama. Pelajaran Sembahyang.. Perbandingan Agama. untuk Muballigh-Muballigh / umum. 25.. orang-orang yang dimurkai dan orang – orang yang sesat………2. dan seterusnya. Akhlaq (bahasa Indonesia). dan ilmu pengetahuan. Allah dan Makhluq-Nya. Fak.2-8. 4 Madzhab. bersama St. Ilyas M. Pendidikan-Pendidikan Umum di Negara-negara Islam/Pendidikan Barat. Surat Al-A’la--898……dan seterusnya. kuliyah untuk dakwah. mahasiswa/umum.I. 24. Ali. 11.. alBaqoroh hingga pada akhir surawt an-Naas (30 Juz)untuk dapat membuka mengetehui isi al-Quran ini dengan mudah. Disamping itu kitab tafsir ini terdapat daftar kesimpulan isi al-Quran. Juz ke-2……29. Do’a-do’a Rasulullah. yang berhubungan dengan keimanan. untuk orang dewasa. ekonomi. 18. Kumpulan Do’a. kita dapat membuka dan melihat pada halaman belakang yaitu Daftar Surat dan isi Tafsir alQuran Karim disini ditulis surat dan beberapa tema yang biasa di kaji beserta nomor urut halaman. sebelum mengerjakan pekerjaan yang beik diucapkan Bismillah…. Ilmu Mustalahul Hadist. 20. Said. Sistematika Tafsir Sistematika Tafsir karangan Mahmud Yunus susunannya diawali dengan pendahuluan yang di dalamnay dijabarkan tentang penulisan dan usaha yang ditempuh oleh Mahmud Yunus ketika beliau menterjemahkan dan menerbitkan al-Quran tersebut. hokum-hukum. untuk tingkat Aliyah. untuk tingkat Aliyah. Setelah daftar isi dan surat-surat kemudian juga terdapatdaftar isi juz-juz al-Quran yang tujuannya memudahkan pembaca dalam pencarian sebuah ayat al-Quran seperti juz ke-1…. untuk tingkat Aliyah 19. untuk tingkat tsanawiyah/PGA bersama H. Tarbiyah / PGAA 30.I. bersama H. 17. Pengetahuan Umum Ilmu Mendidik. Kesimpulan isi al-Quran. Soal Jawab HUkum Islam. Pkok-pokok Pendidikan/Pengajaran. . Mahmud Aziz. 37. Metodik Khusus Pendidikan Agama. 12 Hukum Warisan dalam Islam. kuliyah untuk kursus-kursus. Moral Pembangunan dalam Alam. dan seterusnya. untuk tingkat Aliyah. C. 35. kemudian yang ketiganya terdapat dalam surat al-Baqoroh. 32. Beriman dan Berbudi Perkerti. Pedoman Dakwah Islamiyah.…. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. untuk tingkat Aliyah. seperti orang-orang yang bertaqwadan sifat-sifatnya……….

e). f). d). Tafsir at-Thabaryjuz 1 hal 42 2. Metode dan Corak Tafsir Tafsir al-Quran Karim Mahmud Yunus ini menunjuk pada metode tahlili. Zhurul Islam juz 2 hal 40-43 dan juz 3 hal 37 Dapatlah diambil kesimpulan bahwa sumber-sumber tafsir itu tujuh: a). kedua .D. karena berhubung tafsir al-Quran in berubah halamanny adari cetakan yang lama ke percetakan yang beru dan karangan ini. Sumber-sumber Tafsir al-Quran Mahmud Yunus Setelah mempelajari: 1. E. tiga jilid. jilid kedua dari juz 11 sampai dengan 20. Sistematika penafsiran Mahmud Yunus menafsirkan seluruh ayat sesuai susunannya dalam mushaf al-Quran ayat demi ayat. jilid ketiga dari juz 21 sampai dengan 30. Tafsir al-Quran in sistematika penafsirannya sama seperti isi al-Quran dan terjamahan disamping kanan ayat (setiap ayat) kemudian terjemahannya dibawahnya terdapat penafsiran. pertama dari juz 1 sampai dengan 10 n. F. Ibnu Katsir juz 1 hal 3 3. b). Tafsir dengan umum bahasa arab bagi Ahli Ilmu Lughah. Hal ini menurut pendapat bahwa ijma’ itu hujjah. Tafsir dengan tafsir Aqli bagi Mu’tazilah. Maka secara sitematika penafsiran tafsir ini menempuh tartib Mushaf. surat demi surat. Kitab ini terdiri dari dua jilid yaitu pertama satu jilid tamat dari juz 1 sampai dengan 30. Tafsir dengan perkataan tabi’in. dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Naas. Sistematika Penafsiran Dalam tafsir Mahmud Yunus ini telah dijelaskan sebelumnhy bahwa didalamnya dibelakangi kitab terdapat kesimpulan isi al-Quran. Sekali-kali tidak boleh dengan hadist yagn Maudlu’ dan Dlo’if. ini tidak dapat di muat diawal kitab. g). Fajrul Islam juz 1 hal 199 5. Al-Qasimy juz 1 hal 7 4. c). karena ayat-ayat itu tafsir-menafsirkan dan jelas-menjelaskan antara satu dengan yang lain. bukan menurut pendapat dan pikirannya. . Tafsir dengan Ijtihad bagi Mujtahid. tafsir al-Quran dengan al-Quran. tapi khusus dengan menerangakan sebab-sebab turunnya sayat. Yafsir dengan hadist yang shahih. seperti hadist Bukahri dan Muslim. Tafsir dengan perkataan sahabat. suatu metode tafsir yagn bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Quran dan seluruh aspeknya. bila mereka ijma’ atas semua tafsir. Selain dari pada itu ada lagi tafsir Akil menurut Syi’ah dan tafsir Shufi bagi ahli Tasawwuf.

Kedua aspek tersebut dijelskan ketika dianggap perlu atau kadang pula suatu ayat. G. Tetapi meskipun begitu. Bahkan mahasiswa-mahasiswa dapat memperluas bahasa arabnya. ? Keterangan-keterangan ayat ditambah dan diperluas. aspek kosa kata dan penjelasan arti global tidak selalu dijelaskan. bahkan dijelaskan secara terperinci dengan memperlihatkan penggunaan istilah itu pada ayat-ayat yang lain. H. sedengkan lafadz yang lain dijelaskan arti globalnya karena mengadung suatu istilah. suatu lafadz dijelaskan arti kosakatakatanya. meskipun beberapa ayat di tiap-tiap hari. serta mengajak teman sejawat. seperti cetakan yang lama. bahwa mutiara yang ada dalam al-Quran itu telah habis. supaya bersama-sama ke jurusan itu.. Keistimewaan Tafsir al-Quran Karim Mahmud Yunus Adapun keistimewaannya adalah: ? Terjemahan al-Quran disusun baru. bahkan masih banyak lagi yang tersembunyi di sana sini. setengahnya berupa masalah-masalah ilmiyah yang harus dipelajari oleh mahasiswa-mahasiswa. Contoh Tafsir Mahmud Yunus dalam surat An-Nisa’ ayat 9: . Oleh sebab itu hendaknya tiap-tiap kita bersungguh-sungguh mengikutinya sekedar tenaga. niscaya mereka akan mendapat kemajuan dan keselamatan dari dunia sampai akherat. Inilah kesimpulan isi al-Quran yang berhubungan dengan keimanan. Saudara-saudara yang tidak sanggup membaca al-Quran dari awal sampai tamat. hokum-hukum. ? Teks al-Quran terjemahannya disusun sejajar dan setentang. sesuai dengan perkembangan bahasa Indonesia. petunjuk/pelajaran. sedangakan lafadz yang lain dijelaskan arti kosa katanya. tentu ia menghasilkan mutiara yang amat banyak. sehingga mudah mempelajarinya tanpa memeriksa ke halaman-halaman yagn lain. Sebenarnya kaum Muslimin memuliakan dan menjunjung tinggi al-Qran . diterangkan dengan ijmal (kesimpulan) saja. ? Keterangan-keterangan ayat ditaruh dan diletakkan didalam ayat yang bersangkutan. akhlaq. mutiara yang dalam lautan itu tidak juga akan habisn-habisnya. tentu ia dapat mengeluarkan sedikit saja. Apabila orang-oarang islam menurut sebagaimana yang termaktub didalamnya itu. sekurang-kurangnya hendanyalah dibacanya” kesimpulan isi al-Quran” ini. dan supaya bersih hati kita kita dari pada sifat yang tidak baik. Maka bagitulah juga dalam mengeluarkan hukum-hukum dan ilmu pengetahuan dari dalam Quran itu. tentu mereka dapat menjawabnya. niscaya akan terbuka juga bagi kita rahasiarahasianya yang lain. serta mudah difahami oleh pembaca. supaya bertambah kaimanan kita kepada Allah swt.dalam tafsir Mahmud Yunus. Meskipun sekarang telah kita usahakan mengeluarkan apa-apa yagn tersebut dalam kitab ini. tetapi janganlah kita sangka. Jika selalu kita membaca al-Quran dan memperhatikan isinya. Tetapi apabila ia mempunyai perkakas yang modern serta sempurna. Oleh sebab itu hendaklah tiap-tiap orang islam membiasakan membaca al-Quran. ekonomi dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian mudah mengetahui nomornomor ayat al-Quran dalam teks bahasa arab dan terjemahanny adalam bahasa Indonesia. Kesimpulan Tafsir al-Quran Mahmud Yunus ini mudah untuk dipelajari dan dipahami kaerna di dalamnya sudah kategori-kategori membuka kitab tafsir tersebut dan didalamnya juga terdapat beberapa kesimpulan yang memudahkan kita untuk mengetahui isi kandungan tafsir tersebut secara garis besar kesimpulan isi al-Quran. Jika orang yang mengeluarkan mutiara itu hanya memekai perkakas lama dan serba kurang. tapi jika mereka ditanya apa isi quran itu? Mereka tidak bias menjawab apa-apa. Sekarang dengan keluarnya “kesimpulan isi al-Quran “ ini. Sesunggunhnya mengeluarkan hukum-hukum atau ilmu pengetahuan dan yang lain-lain dari dalam al-Quran tak ubahnya seperti mengeluarkan mutiara dari dalam lautan.

Demikian hukum islam. berwasiat itu hukumnya sunnah. Yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah. supaya tidak terlantar kehidupan anak-anaknya yang masih kecil itu. bila ia meninggal dunia.Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah. Ensiklopedi Islam . Janganlah mewasiatkan hartanya untuk fakir miskin dan amalan sosial lebih dari mestinya. => Abdul Ghofur. Studi Analisis Surah Al-‘An’am Ayat 74-79. => Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Tafsir al-Quran Mahmud Yunus. Sebab itu hendaklah ia bertakwa dan berusaha meninggalkan harta pusaka untuk mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Menurut islam. Faham Tauhid Nabi Ibrahim Menurut Ibnu Katsir. sedang mendidik anak-anak hukumnya wajib. Referensi: => Mahmud Yunus. Keterangan ayat 9: “ dalam ayat ini Allah menganjurkan kepada orang tua agar memikirkan akibat anakanaknya yang masih lemah (kecil).

dan pendapat yang kuat. ayat per ayat dan surah per surah. yaitu penjelasan suatu ayat dengan ayat lain atau dengan hadits dan atsar yang shahih . sebagai sebuah kitab tafsir yang ringkas namun lengkap. Tidak hanya tafsir klasik.Tafsir Al-Qur'anul Majid atau yang lebih dikenal dengan nama TAFSIR AN-NUR ini adalah salah satu karya monumental ulama Indonesia asal Aceh.M. terlebih lagi ia mempunyai kapasitas yang mumpuni dalam bidang ushul at-tafsir. tafsir al-Kasysyaf karya az-Zamakhsyari. dan tafsir al-Wadhih. tafsir al-Maraghi. Tafsir inilah pula yang menjadi rujukan Terjemah Qur'an Departemen Agama yang pertama tahun 1952. ***** . Hasbi ash-Shiddieqy menggarap karya tafsirnya ini dengan sangat serius. Sebut saja di antaranya. seperti. Tafsir Al-Qur'anul Majid An-Nur. tafsir al-Qasimi. walaupun tidak semua ayat dijelaskan dengan metode tersebut. tafsir al-Manar karya Muhammad Rasyid Ridha. Pembahasan ayat disertai keterangan hadits. Teungku Muhammad (TM) Hasbi ashShiddiegy. Karenanya. dan dengan bentuk penyajian yang rinci. dan juga metode maudhu'i (tematik) karena sebelum menjelaskan tafsir suatu surah terlebih dahulu dijelaskan gambaran umum surah tersebut. semisal. Tafsir ini mudah dicerna oleh semua golongan masyarakat. tafsir ulama muta’akhkhirin juga menjadi sumber ash-Shiddieqy. menjelaskan apa yang dimaksud tiap-tiap ayat. dari para peneliti sampai para pemula. Selain kitab-kitab tafsir. Dalam kitab tafsir ini Hasbi ash-Shiddieqy banyak mengutip dari rujukan-rujukan mu`tabar (otoritatif). Ini adalah kitab tafsir lengkap pertama karya ulama ahli tafsir Indonesia yang diterbitkan di Indonesia. Melihat sederet rujukan yang digunakan. yaitu Prof. tampaknya T. yaitu ilmu yang mempelajari media-media yang diperlukan untuk menafsirkan al-Qur’an. wajar bila Tafsir an-Nur menjadi sebuah karya yang cukup diperhitungkan dan menjadi rujukan kalangan intelektual di Indonesia. Untuk membantu para pemula dalam membaca dan mendalami Al-Qur'an. Tafsir An Nur menggunakan dua metode sekaligus. Tafsir ini juga dapat digolongkan sebagai at-tafsir bil ra'y (tafsir berdasarkan ijtihad). tafsir Jami` al-Bayan karya ath-Thabari. dan kitab-kitab as-Sunan. Dr. tafsir al-Qurthubi. dan atTafsir al-Kabir karya Fakhruddin ar-Razi. yaitu mudhi'i tahlili karena dibuat berdasarkan urutan dan susunan Al-Qur'an. kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Tafsir An-Nur pertama kali terbit pada tahun 1956. Tafsir al-Qur’an al`Azhim karya Ibnu Katsir. Dapat pula digolongkan sebagai at-tafsir bil-ma'tsur (tafsir dengan riwayat). ia juga merujuk kepada kitab-kitab induk hadis yang mu`tamad (dipercaya). dalil. kitab Tafsir An-Nur ini dilengkapi pula dengan transliterasi huruf ke Arab ke dalam huruf latin.

Ketika menginjak usia tujuh tahun (1906). Di sana dia mempelajari ilmu ushul fiqh. Mahmud dapat menyerap semangat pembaruan yang dibawa. yang dilakukan oleh para alumni adalah gerakan purifikasi untuk mengembalikan Islam ke zaman awal Islam dan menyingkirkan segala tambahan yang datang dari zaman setelahnya. terutama berkat pandangan-pandangan yang dikemukakan sejumlah tokoh pembaru seperti Abdullah Ahmad serta Abdul Karim Amrullah. Hanya dalam tempo setahun. Interaksi yang kian intens dengan gerakan pembaru. tahun 1924. Mahmud Yunus dikenal sebagai seorang tokoh pembaharu dalam metode pengajaran bahasa Arab. Ibundanya bernama Hafsah binti Imam Samiun merupakan anak Engku Gadang M Tahir bin Ali. karya-karyanya banyak dipergunakan di sekolah-sekolah khususnya di pesantren. Mahmud Yunus lahir di desa Sungayang. Beliau sendiri mempunyai karya yang berupa kamus Arab-Indonesia yang masih mudah didapatkan saat ini. Tetapi dia merasa belum cukup dengan apa yang telah diperoleh lantaran peningkatan pengetahuan umumnya belum terpenuhi. Mahmud Yunus seorang murid yang cerdas. Batusangkar. ditekankan penguasaan pengetahuan umum serta bahasa Eropa. Mahmud sempat selama tiga tahun menimba ilmu di sekolah desa. dia merasa tidak betah lantaran seringnya pelajaran kelas sebelumnya diulangi. hari Sabtu 10 Pebruari 1899. Sumatera Barat. Dia pun berkeinginan melanjutkan studi ke madrasah Dar al-Ulum yang . Ayahnya bernama Yunus bin Incek menjadi pengajar surau yang dikelola sendiri. tahun 1920 Mahmud membentuk perkumpulan pelajar Islam di Sungayang bernama Sumatera Thawalib. Misalnya dalam karya Al-Munir. Sejarah mencatat HM Umar Thaib amat berpengaruh terhadap pembentukan keilmuan Mahmud Yunus. beliau berhasil menulis Tafsir Alquran al-Karim. seorang tokoh pembaru Islam di Minangkabau. Beberapa karyanya yang lain adalah seperti al-Fiqh al-Wadhih (fikih sederhana berbahasa Arab) yang terdiri dari 3 juz. sebagai seorang yang mempunyai spesialisasi dalam bidang bahasa Arab. B. Mahmud mulai belajar Alquran serta ibadah lainnya. Saat Mahmud belajar di Madras School antara tahun 1917-1923. Karya ini merupakan salah satu pionir karya tafsir berbahasa Indonesia yang banyak digunakan oleh orang-orang berbahasa Melayu. Keluarganya adalah tokoh agama yang cukup terkemuka. Pertemuan itu secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi pola pemikiran pembaruan Mahmud. Maksudnya agar para santri dapat juga memanfaatkan ilmu-ilmu tersebut bagi peningkatan kesejahteraan umat dan perkembangan Islam. Umumnya pembaruan Islam terwujud dalam dua bentuk. dia berhasil mendapatkan Syahadah Alimiyah dari alAzhar dan menjadi orang Indonesia kedua yang memperoleh predikat itu. Sejak kecil. Biografi Sosial-Intelektual. di Minangkabau tengah tumbuh gerakan pembaruan Islam yang dibawa oleh para alumni Timur Tengah. Namun saat duduk di kelas empat. Karenanya para santri di surau/pesantren HM Umar Thaib diwajibkan mempelajari ilmu agama. Tidak mudah untuk mewujudkan hasratnya itu. Mahmud Yunus dididik dalam lingkungan agama. tahun 1908. Kairo. Mahmud Yunus mulai terlibat di gerakan pembaruan saat berlangsung rapat besar ulama Minangkabau tahun 1919 di Padang Panjang. Dalam bidang keilmuan Alquran. Biografi Mahmud Yunus. ilmu tafsir. berbagai kendala dihadapi. pendiri serta pengasuh surau di wilayah itu. Disebutkan dalam buku Tokoh dan Pemimpin Agama. asuhan HM Thaib Umar. Gurunya adalah kakeknya sendiri. mendorongnya untuk menimba pengetahuan lebih jauh di Mesir. Nah. fikih Hanafi dan sebagainya.[1] Bersama staf pengajar lainnya yang bergiat di gerakan pembaruan. Dia diminta untuk mewakili gurunya. purifikasi dan modernisasi. bahasa Eropa maupun ilmu pengetahuan umum. Dia pun memutuskan pindah ke madrasah yang berada di Surau Tanjung Pauh bernama Madras School. at-Tarbiyah wa at-Ta’lim yang juga terdiri dari tiga juz. Melalui karya-karya gurunya itu. Namun pada akhirnya kegigihan Mahmud Yunus dapat mengantarkannya ke al-Azhar. Salah satu kegiatan kelompok ini adalah menerbitkan majalah al-Basyir dengan Mahmud Yunus menjadi pemimpin redaksinya.Mahmud Yunus adalah seorang tokoh pendidikan nasional. Dia tidak pernah masuk ke sekolah umum.

Tercatat dia menjadi orang Indonesia pertama yang masuk Dar al-Ulum. Gerakan pembaruan di Minangkabau saat itu makin berkembang. Semua mahasiswanya berkebangsaan Mesir. Dr. ilmu mengajar. Mahmud menulis tak kurang dari 43 buku. H. dia juga aktif di organisasi Islam antara lain menjadi salah satu anggota Minangkabau Raad. Awal tahun 1970 kesehatan Mahmud Yunus menurun dan bolak balik masuk rumah sakit. 2. Pada bidang pengajaran bahasa Arab. Setelah itu. 5. 4. Mahmud Yunus meninggal dunia[2] B. Pemikiran Mahmud Yunus Dalam Tafsir Alquran al-Karim. Ilmu yang diajarkan berupa ilmu agama. atau apa yang dikatakan Rukun Iman. Sementara Mahmud menambahkan beberapa pelajaran umum semisal ilmu alam. Ini amat menggembirakan Mahmud Yunus yang lantas mendirikan dua lembaga pendidikan Islam. Dia memimpin Normal Islam selama 11 tahun. Mahmud Yunus telah menulis di dalam kitabnya Tafsir Quran Karim" mengenai iman. Demikian pula di kementerian agama yakni dengan menjabat selaku Kepala Penghubung Pendidikan Agama. ilmu jiwa dan ilmu kesehatan. Kairo. Hari yang kemudian atau kiamat (surat al-Baqarah: 285) . mulai 1931-1938 dan 1942 dan 1946. dan tata buku. dia mendapat ijazah diploma guru dengan spesialisasi bidang ilmu kependidikan. yakni pemikiran yang bercorak aliran al-Qadariyah dalam masalah takdir Prof. Dia dimasukkan sebagai mahasiswa di kelas bagian malam (qiyam lail). tahun 1931. hitung dagang. Dua penekanan dalam pembaruan Mahmud Yunus di lembaga pendidikannya yakni pengenalan pengetahuan umum dan pembaruan pengajaran bahasa Arab. Rasul-rasulNya. pembaruan Mahmud Yunus tak hanya menekankan penguasaan bahasa Arab. bahasa Eropa di Adabiyah School. dia kembali ke kampung halamannya di Sungayang Batusangkar. Kitab-kitabNya. Beliau menyatakan seperti berikut: "Iman (percaya) yaitu: Beriman kepada: 1. Tahun 1909 Abdullah Ahmad sudah mengajarkan berhitung.memang mengajarkan pengetahuan umum. pengetahuan umum. Mahmud Yunus kemudian meneguhkan diri untuk mengikuti seluruh persyaratan yang diminta dan terbukti mampu memenuhi. Pada tahun 30-an. dia memperoleh gelar doctor honoris causa di bidang ilmu tarbiyah dari IAIN Jakarta atas karya-karyanya dan jasanya dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Sedangkan Normal Islam hanya menerima tamatan madrasah 7 tahun dan dimaksudkan untuk mendidik calon guru. Kuliah Mahmud Yunus berakhir dengan lancar. kecuali Mahmud Yunus. Lantas tahun 1943 dipilih menjadi Penasehat Residen mewakili Majelis Islam Tinggi. al-Jami'ah Islamiyah terpaksa ditutup tahun 1933. namun juga menunjukkan bagaimana secara didaktis-metodis modern para siswa menguasai bahasa tersebut dengan cepat dan mudah. Malaekat-malaekatNya. 3. Berikut akan penulis sajikan pemikiran Mahmud Yunus yang tertuang dalam karyanya. Pada tahun 1982. Di kedua lembaga inilah dia menerapkan pengetahun dan pengalaman yang didapatnya di Dar al-Ulum. Sepanjang hidupnya. Karena kekurangan tenaga pengajar. bahasa Arab. Pengajaran pengetahuan umum di sekolahnya sebenarnya tidaklah baru. yakni al-Jami'ah Islamiyah di Sungayang dan Normal Islam di Padang. Tahun 1982. Tahun 1929. Allah.

memberi kebebasan kepada manusia untuk percaya kepadanya. 'Yang benar adalah daripada Pemelihara kamu. yang keenam. rukun yang keenam. ingin ditegaskan bahwa rukun yang kelima seperti yang dicatat itu. Di dalam Alquran disebutkan: ‫نو ي‬ ِ‫شش ُم‬ ْ‫ي ِل‬ َ) ‫ل‬ ِ‫هش ُم‬ ْ‫م ِل‬ ُ‫ل نو‬ ْ‫كنا ِل‬ َ) ‫ء‬ ٍ)4 ‫مششنا‬ َ) ‫ب‬ ِ‫ثنوا ُم‬ ُ‫غششنا نو‬ َ) ‫ي‬ ُ‫ثنوا نو‬ ُ‫غثي نو‬ ِ‫ت ُم‬ َ) ‫سش‬ ْ‫ي ِل‬ َ) ‫ن‬ ْ‫إ ِل‬ ِ‫وُم‬ َ) ‫هنا‬ َ) ‫ق‬ ُ‫د نو‬ ِ‫را ُم‬ َ) ‫سش‬ ُ‫م نو‬ ْ‫هش ِل‬ ِ‫ب ُم‬ ِ‫ط ُم‬ َ) ‫حششنا‬ َ) ‫أ‬ َ) ‫را‬ ً‫نششنا ا‬ َ) ‫ن‬ َ) ‫مثي‬ ِ‫ل ُم‬ ِ‫ظشناُم‬ َّ‫لل ه‬ ِ‫ننا ُم‬ َ) ‫د‬ ْ‫ت ِل‬ َ) ‫ع‬ ْ‫أ ِل‬ َ) ‫ننا‬ َّ‫إه‬ ِ‫ر ُم‬ ْ‫ف ِل‬ ُ‫ك نو‬ ْ‫ثي ِل‬ َ)‫ل‬ ْ‫ف ِل‬ َ) ‫ء‬ َ) ‫شنا‬ َ) ‫ن‬ ْ‫م ِل‬ َ) ‫و‬ َ) ‫ن‬ ْ‫م ِل‬ ِ‫ؤ ُم‬ ْ‫ثي ِل‬ ُ‫لنو‬ ْ‫ف ِل‬ َ) ‫ء‬ َ) ‫شنا‬ َ) ‫ن‬ ْ‫م ِل‬ َ) ‫ف‬ َ) ‫م‬ ْ‫ك ِل‬ ُ‫ب نو‬ ِّ‫رك‬ َ) ‫ن‬ ْ‫م ِل‬ ِ‫ق ُم‬ ُّ ‫ح‬ َ) ‫ل‬ ْ‫ل ا ِل‬ ِ‫ق ُم‬ ُ‫و نو‬ َ) 29)‫قنا‬ ً‫ف ا‬ َ) ‫ت‬ َ) ‫ر‬ ْ‫م ِل‬ ُ‫ت نو‬ ْ‫ء ِل‬ َ) ‫سنا‬ َ) ‫و‬ َ) ‫ب‬ ُ‫را نو‬ َ) ‫ش‬ َّ‫س ال ه‬ َ) ‫ئ‬ ْ‫ب ِل‬ ِ‫ه ُم‬ َ) ‫جنو‬ ُ‫نو نو‬ ُ‫ل نو‬ ْ‫)ا ِل‬ "Katakanlah.'" (QS al-Kahfi: 29) Contoh kedua ialah dalam masalah buah-buahan dan anggur yang Dia rezekikan. penentuan dari Allah. Dan." (QS an-Nahl: 67) lalu bolehkah orang yang mabuk berkata kemudian bahwa dia menjadi seorang pemabuk karena Allah telah menakdirkannya demikian? dia telah diberi pilihan untuk mengambil "rezeki yang baik" dari buah-buahan tersebut! . Seolah-olah mempercayai Tuhan itu zalim. terlebih dahulu. neraka baginya di akhirat kelak. Maka. Kepercayaan tersebut adalah penyimpangan dalam Islam.w. diajar oleh "hadits Nabi s. Kuasa untuk memilih itu agak jelas ditunjukkan apabila Dia menurunkan yang benar. maka hendaklah sesiapa yang menghendaki. tidak percaya." (QS an-Nahl:33) Memang benar kata orang-orang yang percaya kepada takdir yaitu semuanya datang dari Allah. yang terakhir. Allah sudah tentukan. dan kemudian. Manusia diizinkan-Nya membuat minuman yang baik dan yang memabukkan. Ajaran percaya kepada taqdir telah mengelirukan sesetengah umat Islam. karena bertentangan dengan sifat dan ajaran Allah yang sebenarnnya. Takdir adalah (takdirullah) sesuatu yang ditentukan oleh Allah terlebih dahulu. yang baik. 49)‫ر‬ ٍ)4 ‫د‬ َ) ‫ق‬ َ) ‫ب‬ ِ‫ه ُم‬ ُ‫ننا نو‬ َ) ‫ق‬ ْ‫ل ِل‬ َ)‫خ‬ َ) ‫ء‬ ٍ)4 ‫ي‬ ْ‫ش ِل‬ َ) ‫ل‬ َّ‫ك ه‬ ُ‫ننا نو‬ َّ‫إ ه‬ ِ‫)ُم‬ Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. lima daripada enam rukun iman itu telah diajar oleh Allah.6. tidak didapati tercatat di dalam ayat al-Baqarah tersebut.a.a. Di samping itu. Percaya kepada taqdir (dalam hadits Nabi s. Percaya kepada taqdir. percaya. Dia mencipta manusia dan jin untuk menyembah-Nya. kamu mengambil daripadanya minuman yang memabukkan. itu adalah karena Allah sudah takdirkan baginya . Dai dalam Alquran disebutkan: 33)‫ن‬ َ) ‫منو‬ ُ‫ل نو‬ ِ‫ظُم‬ ْ‫ي ِل‬ َ) ‫م‬ ْ‫ه ِل‬ ُ‫س نو‬ َ) ‫ف‬ ُ‫ن نو‬ ْ‫أ ِل‬ َ) ‫ننوا‬ ُ‫كنا نو‬ َ) ‫ن‬ ْ‫ك ِل‬ ِ‫ل ُم‬ َ)‫و‬ َ) ‫لل‬ ُ‫م ا نو‬ َّ‫ه‬ ُ‫ه نو‬ ُ‫م نو‬ َ) ‫ل‬ َ)‫ظ‬ َ) ‫منا‬ َ) ‫و‬ َ) ) "Allah tidak menzalimi mereka. Namun.atau. dan rezeki yang baik. manusia diberi kuasa memilih. setelah diizinkan-Nya. (QS al-Qamar: 49). Hal ini disebutkan dalam Alquran: ‫ننا‬ ً‫س ا‬ َ) ‫ح‬ َ) ‫قنا‬ ً‫ز ا‬ ْ‫ر ِل‬ ِ‫و ُم‬ َ) ‫را‬ ً‫ك ا‬ َ) ‫س‬ َ) ‫ه‬ ُ‫ن نو‬ ْ‫م ِل‬ ِ‫ن ُم‬ َ) ‫ذو‬ ُ‫خ نو‬ ِ‫ت ُم‬ َّ‫ت ه‬ َ) ‫ب‬ ِ‫ننا ُم‬ َ) ‫ع‬ ْ‫ل ِل‬ ْ‫وا )َِل‬ َ) ‫ل‬ ِ‫خثي ُم‬ ِ‫ن ُم‬ َّ‫ت ال ه‬ ِ‫را ُم‬ َ) ‫م‬ َ) ‫ث‬ َ) ‫ن‬ ْ‫م ِل‬ ِ‫و ُم‬ َ) "Dan daripada buah-buahan palma dan anggur. Sehingga ada yang percaya seperti. atau memilih untuk tidak percaya kepadanya. adalah tambahan kepada ajaran Allah.w. jika mereka dimasukkan ke dalam neraka. dan hendaklah sesiapa yang menghendaki. percaya kepada takdir artinya percaya bahwa segala-galanya sudah ditentukan oleh Allah terlebih dahulu. atau. maupun yang buruk. Dengan itu. apakah seseorang mau menyembah-Nya atau tidak. Dia tidak mencipta segala sesuatu tanpa menurut ukuran tertentu." Justru.) Sebelum diteruskan tulisan di sini. Ayat tersebut ada pada an-Nisa:136. tetapi diri-diri mereka sendiri mereka menzalimkan.

Bila melihat sumber penafsiran yang digunakan di dalam Tafsir Alquran al-Karim. Namun pada beberapa ayat. 1. Di dalam kitab-kitab hadis terdapat beberapa buah hadis. Corak bir-Ra’yi dan bil-Ma’tsur. Karena itu. seperti yang telah dinyatakan oleh Prof. Adam dan isterinya telah dapat diperdaya oleh Syetan. Dia mengetahui bahwa seseorang itu akan ditimpa keburukan. Pembaharu Pemikiran. 3. Tafsir Alquran al-Karim karya Mahmud Yunus ini adalah tafsir ijmali yakni hanya menafsirkan ayat secara global saja. ajaran tersebut bertentangan dengan kehendak-Nya Ajaran yang bertentangan dengan ajaran Allah itu datang dari hadis. mengetahui dan menentukan sesuatu adalah dua perkara yang jauh berbeda. Akan tetapi. yang juga merupakan salah satu karunia terbesar Allah swt. Potensi lain adalah penglihatan dan pendengaran. Terlepas dari pengaruhnya terhadap pemikiran ummat muslimin. Percaya kepada Takdir bukanlah rukun iman dalam Islam. Bukti terakhir untuk menunjukkan bahwa Allah tidak menentukan terlebih dahulu apa yang akan terjadi kepada seseorang. Tafsir Alquran al-Karim: Kajian Kritis. Corak pemikiran al-Qadariyah ini memang sungguh kental pada pemikiran beliau. kepada manusia untuk dipakai semasa menggunakan kuasa memilih tersebut. Semua hadis yang menyatakan ajaran tersebut pada dasarnya dapat dibantah karena bertentangan dengan ajaran Alquran itu sendiri.[3] C. Dr. Namun selain itu ternyata dalam pemikiran yang beliau tuangkan dalam karyanya Tafsir Alquran al-Karim. wajarlah ia ditolak. dapat dikatakan bahwa karyanya ini merupakan tafsir bir-ra’yi[4] meskipun ada banyak sumber yang berupa riwayat-riwayat dipergunakan sebagai penafsir bagi ayat-ayat tertentu. ialah kejadian Adam. sehingga mereka berdua melanggar perintah Allah. Mereka yang tidak menggunakan ketiga-tiga potensi itu akan dimasukkan ke dalam Jahanam. 2. Oleh yang demikian. mereka tidak bisa beralasan dengan mengatakan bahwa telah menakdirkan mereka untuk masuk neraka. yang kononnya telah disabdakan oleh Nabi. tetapi keburukan yang menimpa orang itu merupakan akibat dari usahanya sendiri. . kemudian. Dari ayat yang menceritakan tentang peristiwa tersebut. Tahlili atau Ijmali[5] Pada dasarnya. Memang benar juga kata mereka yang percaya kepada takdir bahwa Allah mengetahui segala-galanya. Akan tetapi. Mahmud Yunus. meminta ampun serta bertaubat kepada Allah. Mahmud Yunus juga merupakan seorang pembaharu pemikiran ummat muslimin. atau yang menggunakan akal fikiran. Metode-metode yang dibangun oleh beliau sangat berpengaruh dalam pendidikan bahasa Arab di Indonesia. beliau memberikan perhatian lebih hingga terlihat corak penafsiran tahlilil. tidak kelihatan bahwa Allah telah menentukan terlebih dahulu bahwa Adam dan isteri akan makan daripada pohon tertentu. Mahmud Yunus menginginkan Ummat Islam sebagai ummat yang dinamis yang tidak hanya bersandar kepada takdir seperti yang banyak diyakini oleh ummat Islam pada masanya. Di Jahanam nanti. ajaran Percaya kepada takdir memang tidak dianjurkan Allah. Jadi. mereka berdua. Malah. dan pembaharu dalam pendidikan. seperti yang diajar oleh hadis.Ayat itu juga menyebut mengenai kaum yang memahami. mengenai kepercayaan tersebut. Mahmud Yunus merupakan seorang tokoh pendidikan.

Dalam bidang tafisr. Penutup. Salah satu pemikiran yang beliau tuangkan dalam karyanya ini adalah gugatan terhadap kepercayaan yang berlebihan akan takdir. Mahmud Yunus lebih dikenal sebagai tokoh pendidikan yang mempunyai spesialiasi dalam bidang ilmu Bahasa Arab. . Kepercayaan ini didapatkan dalam hadis. Penekanannya terhadap penolakan kepercayaan takdir merupakan antisipasi terhadap statisnya dinamika kehidupan ummat Islam. Beliau beranggapan bahwa iman terhadap qada dan qadar bukanlah termasuk dari rukun iman karena tidak didapatkan dalam Alquran dan banyak ayat-ayat yang menentangnya.D. akan tetapi hadis tersebut menurut beliau lemah karena bertentangan dengan Alquran. beliau menulis Tafsir Alquran al-Karim. Yang merupakan salah satu pionir karya tafsir berbahasa Indonesia yang banyak digunakan oleh orang-orang berbahasa Melayu.

Beliau memiliki kepekaran [ .M Hasbi ash Shiddieqy menggunakan metode tersendiri dalam menyusun dan mengolah Tafsir al-Bayan dan mempunyai kelainan dengan karya yang pertamanya. Pengajiannya di al-Irsyad dan gurunya Ahmad Soorkati banyak memberi didikan ke arah pembentukan pemikiran moden. Ayahnya Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husien ibn Muhammad Su’ud. Menurut salasilah. KEILMUAN T. Hasbi ash Shiddieqy adalah berketurunan Abu Bakar al-Shiddiq (573-13/634M) iaitu khalifah yang pertama. seorang ulama’ berbangsa Arab. adalah seorang ulama’ terkenal di kampungnya dan mempunyai sebuah pondok.M Hasbi ash Shiddieqy berangkat ke Surabaya dan melanjutkan pelajarannya di Madrasah al-Irsyad iaitu sebuah organisasi keagamaan yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Soorkati (1874-1943). Beliau menuntut ilmu di pelbagai pondok pengajian dari stu kota ke kota yang lain selama 20 tahun.Beliau mempelajari bahasa Arab daripada gurunya yang bernama Syeikh Muhammad ibn Salim al-Kalali. Ibunya Teungku Amrah binti Teungku Chik Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz .Tafsir al-Bayan oleh Prof. kitab tafsir ini banyak memberi sumbangan terhadap pengajian dan pembelajaran Ulum al-Qur’an di Nusantara. Kitab ini juga mempunyai keistemewaan dan perbezaan yang tersendiri berbanding dengan kitab-kitab tafsir lain. T. seorang ulama’ yang berasal dari Sudan . Dikarang oleh tokoh agung yang tidak asing lagi iaitu Prof. Almaarif. surah Ali ‘Imran ayat 138. KELAHIRAN DAN LATAR BELAKANG KELUARGA Profesor Doktor Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy dilahirkan di Lhokseumawe pada 10 March 1904. PENDIDIKAN Prof. Pada tahun 1926 T. Frman Allah s. Bandung. 3. Prof. Kitab ini dinamakan Tafsir al-Bayan diambil sempena ayat al-Qur’an. [1] 2.w. dengan ukuran 15 x 22 cm.M Hasbi ash Shiddieqy merupakan seorang ulama’ Indonesia yang terkenal. Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy mula mendapat pendidikan awalnya di pondok pengajian milik bapanya. T. Jelasnya. T.M Hasbi ash Shiddieqy PENDAHULUAN Tafsir al-Bayan merupakan sebuah kitab tafsir yang unggul di rantau ini. BIOGRAFI PENGARANG 1.t : ‫نثيقتملل ﺔﻆعنوم نو ﻯدﻫنو ﺱنانلل ننايب‬ Yang bererti: “Al-Qur’an adalah penerangan (penjelasan) bagi seluruh manusia dan nasihat bagi mereka yang bertakwa” Al-Bayan yang dinamakan oleh pengarang adalah bermaksud “Suatu penjelasan bagi makna-makna alQur’an”. Khidmatnya masih digunakan sehingga ke hari ini. Dr. Dr. Beliau juga pernah menuntut di Timur Tengah.Disertasi Ilmiah 4 . merupakan anak seorang Qadi Kesultanan Acheh ketika itu. Tafsir al-Bayan adalah kitab tafsir dan terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Indonesia yang di hasilkan pengarang seawal tahun 60-an lagi. Beliua merupakan generasi ke 37 dari Abu Bakar al-Shiddiq yang meletakkan gelaran ash Shiddieqy diakhir namanya. Dr. Dr. Di Madrasah al-Irsyad Hasbi ash Shiddieqy mengambil takhassus dalam bidang pendidikan selama 2 tahun. Cetakan pertamanya ialah pada tahun 1971 yang diterbitkan PT.M Hasbi ash Shiddieqy. Hasil karya ini terdiri daripada dua jilid dan merupakan karya kedua beliau selepas Tafsir an-Nur.

Beliau turut menganggotai Organisasi Muhammadiyah. kebanyakan umat Islam. Banyak kitab fiqh yang ditulis oleh ulama’ mujtahid. Pendidikan yang diterimanya dari pondok-pondok pengajian dan Madrasah al-Irsyad mampu menyerlahkan dirinya sebagai seorang pemikir. T. KETOKOHAN T. Ruang lingkupnya mencakupi semua aspek kehidupan manusia. Ijtihad inilah yang kemudiannya melahirkan fiqh. Menurut Hasbi ash Shiddieqy. hukum fiqh yang dianuti oleh masyarakat Islam Indonesia banyak yang tidak sesuai dengan keperibadian bangsa Indonesia. PENGLIBATAN POLITIK DAN ORGANISASI Pada zaman demokrasi liberal T. 5. PEMIKIRAN Seperti ulama’ lain. al-Syafi’i dan Ahmad ibn Hanbal. tafsir. Menurutnya. difahami oleh umat Islam melalui metode ijtihad untuk diadaptasikan setiap perkembangan yang berlaku dalam masyarakat. hadith. Pada tahun 1960 beliau diangkat menjadi dekan di Fakulti Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. beliau mencadangkan gagasan perumusan kembali fiqh Islam yang berkeperibadian Indonesia. Anugerah tersebut diperolehi dari Universiti Islam Bandung dan (UMSBA) pada 22 March 1975. kitab-kitab fiqh yang ditulis oleh imamimam mazhab diambil sebagai sumber syariat.M Hasbi ash Shiddieqy pernah diundang dan menyampaikan makalah dalam International Islamic Colloquium yang diadakan di Lahore Pakistan (1958).dalam bidang ilmu fiqh dan usul fiqh. Menurutnya.M Hasbi ash Shiddieqy telah dianugerahkan dua gelaran Doctor Honoris Cause sebagai penghargaan di atas jasa-jasanya terhadap perkembangan Perguruan Tinggi Islam dan perkembangan ilmu pengetahuan keislaman Indonesia.M Hasbi ash Shiddieqy terlibat secara langsung dalam Parti Masyumi (Majlis Syura Muslimin Indonesia) dan mewakilinya dalam perdebatan ideologi di Konstituante. Kepakaran beliau dalam pengetahuan Islam dan pengiktirafan ketokohannya sebagai ulama’ dapat dilihat dari beberapa gelaran doktor (honoris cause) yang diterimanya seperti dari Universiti Islam Bandung pada 22 March 1975 dan dari IAIN Sunan Kalijaga pada 29 Oktober 1975. Kemampuannya sebagai seorang intlektual diakui dunia antarabangsa. Namun begitu begitu. Mereka terlalu berkecenderungan mengikut mazhab imam-imam tersebut. Namun begitu. Beliau mula bergerak di Acheh dalam lingkungan masyarakat fanatik. Hasbi ash Shiddieqy berpendirian bahawa syariat Islam bersifat dinamik. baik dalam hubungannya dengan sesama manusia mahupun hubungan dengan Tuhannya. Akibatnya. khususnya di Indonesia tidak membezakan antara syariat asal dari Allah swt dan fiqh yang merupakan ijtihad ulama’ terhadap syariat tersebut. beliau diangkat sebagai ketua dalam bidang ilmu hadith di IAIN Sunan Kalijaga. T. Selama ini terdapat masyarakat Indonesia yang yang cenderung menganggap fiqh sebagai syariat. Di antara mereka yang terkenal adalah imam-imam mujtahid mazhab empat iaitu Abu Hanifah. 6. pada tahun 1960. Malik. Sebelum itu. Sebagai alternatif terhadap sikap tersebut. dan dari IAIN Sunan KalijagaYogyakarta pada 29 Oktober 1975. sesuai dengan perkembangan masa dan tempat. Tentu sahaja hal ini berbeza dengan keadaan masyrakat kita sekarang. walaupun kadang-kadang pendapat imam mazhab tersebut ada yang perlu diteliti dan dikaji dengan konteks terkini. Beliau menyandang jawatan ini hingga tahun 1972. dan ilmu kalam. umat Islam harus mencipta hukum fiqh yang sesuai dengan latar belakang masyarakat Indonesia.M Hasbi ash Shiddieqy menetap di Yogyakarta pada tahun 1951 dan melibatkan diri secara serius dalam bidang pendidikan. tidak beerti ijtihad ulama’ terdahulu harus . Syariat Islam yang bersumbekan wahyu Allah swt. 4. Hasbi masih meneruskan perjuangannya walaupun beliau dimusuhi oleh pihak yang tidak bersefahaman dengannya. kerana hasil ijtihad mereka tidak terlepas dari situasi dan keadaan sosial budaya serta lingkungan geografik..

Hasbi ash Shiddieqy berpendapat bahawa pintu ijtihad tidak pernah tertutup.M hasbi ash Shiddieqy dalam bidang pentafsiran al-Qur’an selepas karyanya yang pertama iaitu Tafsir An-Nur yang diterbitkan pada tahun 1956. tetapi harus diteliti dan dipelajari secara bebas. untuk menuju fiqh Islam yang berwawasan ke Indonesiaan. Ketiga: Ijtihad dengan mencari hukum-hukum terhadap masalah kontemporari yang timbul akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. setelah saya selesai dari menyusun Tafsir An-Nur yang menterjemahkan ayat dan menafsirkannya. [2] Pada Muqaddimah tafsir ini. Oleh kerana itu. Turut hadir almarhum Hamka dan almarhum Mr. Dalam gagasan ijtihad ini memandang metodologi pengambilan dan penetapan hukum (istinbat) yang telah dirumuskan oleh para ulama’ seperti qias.maka pendekatan yang dilakukan untuk mengatasinya tidak boleh dikhususkan hanya pada bidang-bidang tertentu sahaja. Kedua: Ijtihad dengan mengklasifikasikan hukum-hukum yang semata-mata didasarkan pada adat kebiasaan dan suasana masyarakat di mana hukum itu berkembang. masalah mursalah dan urf. rumusan ijtihad yang diputuskan oleh lembaga ini lebih mendekati kebenaran dan lebih sesuai dengan tuntutan situasi dan kemaslahatan masyarakat. Ini bertujuan agar dapat memilih pendapat yang masih sesuai untuk diterapkan dalam masyarakat. Hukum ini. tertarik pula hati saya kepada menyusun al-Bayan”[3]. KEWAFATAN T. sarjana. ulama’ harus mengembangkan dan menggalakkan ijtihad. Juga pengarang mendapati bahawa terjemahan-terjemahan al-Qur’an yang beredar ditengah-tengah masyarakat perlu dikaji [ [ . dan ahli politik yang mempunyai visi dan wawasan terhadap permasalahan umat Islam.M Hasbi telah menghasilkan 72 judul buku dan 50 artikel dalam bidang tafsir. PENGENALAN KITAB TAFSIR AL-BAYAN Tafsir al-Bayan merupakan hasil karya ke dua yang dikarang oleh Prof.dibuang sama sekali. menurut beliau berubah sesuai dengan perubahan masa dan keadaan masyarakat. HASIL KARYA Semasa hayatnya T. Mereka yang duduk dalam lembaga ijtihad masing-masing berusaha memberi buah fikiran yang sesuai dengan keahlian dan dan disiplin ilmu.M Hasbi ash Shiddieqy kembali ke rahmatullah tanggal 9 Disember 1975 ketika dalam membuat persiapan untuk menunaikan ibadah haji. asalkan sesuai dan relevan dengan situasi masyarakat Indonesia dapat diterima dan diterapkan. ada tiga bentuk ijtihad yang perlu dilakukan. tetapi juga terdiri dari pelbagai kalangan muslim yang lain seperti. Pengarang menyatakan sebab-sebab penulisan tafsir ini adalah untuk menyempurnakan sistem penterjemahan yang terdapat dalam Tafsir An-Nur karya pertamanya dalam bidang ini. Dengan demikian. Untuk usaha ini. Rum di hari pengkebumiannnya. Hasbi ash Shiddieqy menawarkan gagasan ijtihad jama’i. fiqh dan pedoman ibadah. Moh. pendapat ulama’ dari mazhab manapun. Disebabkan kompleksnya permasalahan yang terjadi akibat daripada kemajuan. istihsan. budayawan. T. pengarang menulis: “Dengan inayah Allah Taala dan taufiq-Nya. kritis dan terlepas dari sikap fanatik. Menurutnya.Dianggotai bukan hanya golongan ulama’. kerana ijtihad adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan dari semasa ke semasa. Dengan demikian. ijtihad tidak dapat dilaksanakan dengan efektif jika dilakukan secara individu. hadith. Beliau dimakamkan di permakaman IAIN Ciputat Jakarta. yang bertarikh Yokyakarta: 21 Mei 1966. ahli ekonomi. Pertama: Ijtihad dengan mengklasifikasi hukum-hukum keluaran ulama’ mazhab terdahulu.

Kitab ini terdiri dari dua jilid. Kitab yang ada ditangan penulis ini mudah-mudahan membawa manfaat kepada seluruh masyarakat Islam atas usaha-usaha mereka yang murni lagi suci. Penterjemahan al-Quran merupakan salah satu cara dakwah yang kesannya cukup mendalam terhadap sesebuah masyarakat kerana isi kandungannya lebih mudah difahami. Penterjemahan yang salah pula membawa kepada kepada kesalahfahaman masyarakat terhadap isi kandungan al-Quran yang akhirnya menjejaskan akidah mereka. Oleh karananya. Bentuk masyarakat yang berbagai memerlukan kepada kaedah dakwah yang pelbagai. Di kesempatan ini. nyatalah bahawa banyak terjemahan kalimat yang perlu ditinjau dan disempurnakan. Cetakan : Mujamma‘ al-Malik Fahd li Tiba‘at al-Mushaf al-Syarif. dimulai dari surah al-Kahf ayat ke 75 dan berakhir dengan surah al-Nas bersama terjemahan dan tafsirannya yang terkandung dalam muka surat 789 sehingga 1604[5]. Jilid pertama mengandungi nas-nas ayat al-Qur’an bermula dari surah al-Fatihah dan berakhir dengan ayat 75 surah al-Kahf.w telah bersabda: ‫خثيركم من تعلم القرءان وعلمه‬ “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Quran dan yang mengajarkannya.dan ditinjau semula. Pengenalan Kitab Nama Kitab : Al-Quran dan Terjemahnya (Indonesia) Penterjemah : Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Pentafsir Al-Quran. serta meneliti secara tekun terjemahan-terjemahan itu. 1.” Dan Nabi Muhammad s. dengan ukuran 15 x 22 cm. penulis cuba meninjau kaedah-kaedah yang digunakan oleh penterjemah terhadap kitab ini. 2. Al-Bayan yang dinamakan oleh pengarang adalah bermaksud “Suatu penjelasan bagi makna-makna alQur’an”.a. walaupun tidak secara mendalam tetapi cukup sebagai satu kepuasan dalam diri.” ( Al-Hadith ) Atas dasar itu penulis merasa satu kenikmatan dan ketenangan apabila terlibat dalam tugas ini. dengan memohon taufiq daripada Allah Taala. saya menyusun sebuah terjemah yang lain dari yang sudah-sudah”[4] Karyanya yang kedua ini juga merupakan terjemahan dan tafsir al-Qur’an dalam bahasa Indonesia yang diperkirakan dihasilkan oleh pengarang pada awal tahun 60-an lagi. Pendahuluan Segala puji bagi Allah yang telah berfirman dalam kitabNya yang mulia: [ 6‫]قد جشناءكم من الل ننور وكتشب مبثين‬ “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Jakarta. Oleh itu. Apatah lagi mengkaji kandungan kitab suci al-Quran. Kesemua terjemahan dan tafsiran bagi jilid pertama mengandungi 789 muka surat.segala usaha peterjemahan sepatutnya diberi sokongan penuh kerana usaha mereka terlalu mulia di sisi Islam. [ [ [ . mudah-mudahan ada baiknya untuk masyarakat Islam keseluruhannya. Bagi jilid ke dua Tafsir al-Bayan ini. Pengarang berkata di dalam kitab tafsirnya: “Maka setelah saya memerhatikan perkembangan penterjemahan al-Qur’an akhir-akhir ini. Cetakan pertama kitab tafsir ini ialah pada tahun 1971 melalui terbitan PT Almaarif Bandung.

Prof. Prof. penulis ingin mengenengahkan salah seorang tokoh untuk ditonjolkan latarbelakangnya. Dr. T.Medinah Munawwarah. Beliau adalah orang pertama yang menimbulkan isu perlunya kepada kekinian fiqh yang berkepribadian Indonesia atau istilahnya sebagai “Fiqh Indonesia”. beliau dijemput untuk membentangkan kertaskerja dalam SeminarIslam Antarabangsa di Lahore Pakistan. Mukti Ali. Busjairi Madjidi. Soenarjo S. 3. 5. H. 11.1 Biodata Prof. A. K. Hasbi Ashshiddiqi Nama : Muhammad Hasbi Ashshiddiqi. M. Mereka itu ialah: 1. H. Terjemahan ini mengambil masa lapan tahun (1964-1971) untuk disempurnakan oleh anggota “Dewan Penterjemah” seramai sebelas orang yang terdiri dari kalangan tokoh-tokoh ulama terkenal. menerbit dan mengedarkan Kitab Tafsir al-Quran dan Terjemahnya kepada masyarakat Islam setempat dan sekitarnya. Latarbelakang Penterjemah Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Pentafsir al-Quran merupakan satu badan yang dipertanggungjawabkan oleh Menteri Agama untuk menterjemah. Prof. H. Ibunya bernama Teungku Amrah yang merupakan puteri kepada Teungku Abdu Aziz. Drs. Latarbelakang Keluarga : Keluarganya tergolong dari kalangan ulama pejabat. Karya-karya Yang Dihasilkan : Beliau telah menghasilkan karya-karya dalam bidang [ . T. Gazali Thaib. 3. Cetusan ini telah menimbulkan polemik yang hebat di kalangan para ulamak sezamannya hingga sekarang. 7. Beliau berani dalam mengutarakan pendapatnya. Toha Jahya Omar. Hasbi Ashshiddiqi. ( 1418H ) Bil. H. Ketika berusia 6 tahun ibunya meninggal dan diasuh oleh neneknya yang bernama Teungku Syamsiyah. 8. R. Walaupun tempoh beliau belajar sedikit tetapi dapat dilihat dari keperibadiannya sebagai seorang pemikir yang hebat. dipenjara dan sebagainya. M. Gani. H. Jilid : 1 Jilid 3. Musaddad. A. walaupun kerananya ia dimusuhi.M. Ali Maksum. K. Pada tahun 1958. 9. Hasbi Ashshiddiqi. T. Prof. Keintelektualannya diiktiraf dunia. H. Latarbelakang Pendidikan : Beliau mula belajar ketika berusia lapan tahun di beberapa sekolah-sekolah pondok. Tarikh dan Tempat Lahir : Dilahirkan pada 10 Mac 1904 di Lhokseumawe yang terletak di Acheh Utara. M. Drs. H. Menurutnya silsilah yang diketahui beliau adalah keturunan ketiga puluh tujuh dari Khalifah Abu Bakr al-Siddiq. (Ketua) 2. A.[7] Di antara kesebelasan anggota di atas. Muchtar Jahya. Beliau adalah Prof. H. Prof. 6. Kamal Muchtar. 10. Keturunan : Beliau berdarah campuran Arab. Saudi Arabia. Setelah itu belajar di sekolah kerajaan iaitu sekolah al-Irsyad selama satu setengah tahun. Bapanya pula bernama al-Hajj Teungku Muhammad Husen bin Muhammad Mas‘ud. pemangku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi. 4. H. Bustami A.

Institusi yang pertama ialah Universitas Islam Bandung (UNISBA) pada 22 Mac 1975 dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 29 Oktober 1975. 1. Bab Satu : Sejarah al-Quran. 5. Tafsir al-Quran an-Nur. Fiqhul Mawarith 6. Al-Fakhr al-Razi. 2. [ [ [ . 1. Antara rujukannya seperti. Sebagai contoh. Al-Fayruz Abadi. fiqh dan panduan ibadah umum. Metodologi Penulisan Mukadimah Ia dibahagikan kepada enam bab utama. Al-Tabari. Bab Enam : Keutamaan Membaca al-Quran dan Cara Bacaannya. Bab Empat : Al-Quran Sebagai Mukjizat. 2. Gelaran itu ialah Doctor Honoris Causa yang diperoleh dari dua institusi pengajian tinggi di Indonesia. Kembali Ke Rahmatullah : Beliau meninggal pada 9 Disember 1975 dan dikebumikan di pemakaman keluarga IAIN Ciputat Jakarta. Antaranya seperti: 1. 3. Sh = ‫ص‬ 4. Pedoman Puasa. Mutiara Hadith. Bilangan karyanya mencapai 72 buah buku dan 50 artikel. Anugerah ini diberikan sebagai jasa-jasa beliau terhadap perkembangan Perguruan Tinggi Islam dan perkembangan pengetahuan keislaman di Indonesia.[9] Bibliografi diletakkan selepas membicarakan bab-bab di atas.[10] Transliterasi yang digunakan mengikut kaedah Indonesia. ‘Ali ‘Abd Allah Yusuf. Jami‘ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an. 3. Al-Tafsir al-Kabir. Th = ‫ط‬ 3. Pedoman Shalat 8. 7. aa . Bab Tiga : Kandungan al-Quran. Al-Zamakhsyari. The Holy Qur’an. Bab Dua : Nabi Muhammad sallallahu ‘alayhi wa sallam. Kriteria Antara Sunnah dan Bid’ah. Dh = ‫ض‬ 2. 4. 4. Ternyata penterjemah mengambil rujukan dari kitab-kitab yang muktabar dan pelbagai dan bilangannya sebanyak 105 buah kitab. Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn ‘Abbas. Bab Lima : Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan.tafsir. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadith.[8] 4. 5. Al-Islam.sebagai tanda bacaan fathah yang panjang. hadith. Gelaran Yang Diterima : Beliau memperoleh dua gelaran sepanjang hidupnya. Al-Kasysyaf.

Contoh-contoh perkara di atas dapat dilihat dalam kitab ini seperti. Kisah-kisah: Bahagian ini memberikan gambaran ringkas mengenai kisah yang terdapat pada surah.5. nasikh mansukh.sebagai tanda bacaan kasrah yang panjang. ‫كمنا أخرجك ربك من بثيتك بنالحق‬ Penterjemah mengambil pendapat al-Maraghi yang menyatakan: “Allah mengatur pembahagian harta rampasan perang dengan kebenaran. 2. pada awal surah al-Baqarah diberi tajuk besar yang berbunyi “TIGA GOLONGAN MANUSIA DALAM MENGHADAPI AL-QURAN”. ii . kecuali surah al-Fatihah dengan tidak ditulis tajuk padanya. Golongan Munafik.[15] [ [ [ [ [ . Adapun yang paling sedikit sekali ialah satu tajuk seperti surah al-Ikhlas. 2. Lain-lain: Bahagian ini memasukkan perbincangan selain dari tiga bahagian di atas seperti balasan perbuatan baik. al-Nas dan sebagainya. sebab-sebab nuzul. ia didahului dengan mukadimah yang menyatakan beberapa perkara penting yang dihuraikan dalam bentuk sinopsis. Pendapat ulama tafsir terhadap sesuatu kalimah atau ayat: Dalam menhuraikan maksud ayat 5 surah al-Anfal. pengkategorian al-Makki atau al-Madani. 1.[14] Terdapat nota kaki yang menjelaskan atau mentafsirkan terjemahan yang dibuat. nama-nama lain bagi surah dan topik-topik penting yang dibincangkan pada keseluruhan surah.S.[11] Sebelum penterjemahan pada setiap surah dibuat. Penjelasan pada nota kaki ini boleh dikatakan sebagai ‘tahlili’ kerana ia meliputi dari segi pendapatpendapat ulama tafsir terhadap sesuatu kalimah atau ayat.”. ialah berdasarkan ‘tahlili mawdu‘i’. Keimanan: Bahagian ini dinyatakan secara ringkas konsep-konsep keimanan yang dibincangkan pada surah. Dalam menyatakan topik-topik penting ini ia dibahagikan kepada empat bahagian. 4. qiraat dan sebagainya. Setiap tajuk itu pula terdapat tajuk-tajuk kecil sebagai pendetilan tajuk-tajuk besar tersebut. sebagaimana Allah menyuruhnya pergi dari rumah (di Madinah) untuk berperang ke Badar dengan kebenaran pula”.[12] Konsep terjemahan yang dibuat. Ia dimulai dengan tajuk “JANJI PRASETIA KEPADA ALLAH DAN PENYEMPURNAAN AGAMA ISLAM” dan diakhiri dengan tajuk “BEBERAPA KISAH TENTANG ISA A.[13] Di antara surah-surah yang paling banyak tajuk-tajuk penting di dalamnya ialah surah al-Ma’idah sebanyak lapan belas tajuk. nikmat Allah yang tidak terhitung dan sebagainya. al-Falaq.akibat perbuatan buruk. Penterjemah membahagikan kepada tajuk-tajuk penting yang ada pada setiap surah dengan ditulis secara huruf besar. 1. Teknik penulisan terjemahan dalam kitab ini adalah secara bersebelahan antara ayat dan terjemahan pada setiap lembaran. pendefinisian nama pada setiap surah. bahagian ini menyatakan bilangan ayat. Secara umumnya. 1. Golongan Mukmin. 3. Sebagai contoh. Manakala pendapat al-Tabari: “Keluar dari rumah dengan maksud berperang”. 3. Selepas tajuk besar itu terdapat tajuk-tajuk kecil yang menjelaskan tajuk besar tersebut iaitu. Golongan Kafir. Hukum-hukum: Bahagian ini dinyatakan secara ringkas tentang perbincangan mengenai hukum yang boleh dipetik dari surah.

”.a. Jika ia merupakan suatu penjelasan terhadap sesuatu kalimah ia akan ditulis seperti “Lihat yang dimaksud dengan …….”[16] 3.”[22] Terdapat juga penjelasan sesuatu ayat yang diambil dari mafhum sesuatu hadith dan dinilai oleh penterjemah dengan menyatakan rujukan kitab hadith yang diambil dan bab pada kitab tersebut. Sebagai contoh pada membicarakan “HUBUNGAN SURAT AN NABA’ DENGAN SURAT AN NAAZI’AAT. Pendapat yang sahih terhadap makna ‘Kursi’ ialah tempat letak telapak kakiNya.2. serta mengemukakan bukti-bukti adanya hari berbangkit. Surat An Naba’ menerangkan ancaman Allah terhadap sikap orang-orang musyrik yang mengingkari adanya hari berbangkit. sedang pada surat An [ [ [ [ [ [ [ [ .”[17] 4.a. dengan memanjangkan ‘mim’ ia bererti: pemilik (yang empunya). yang ditulis padanya sebagai ‘PENUTUP’. not no. ‫ومنا محمد إل رسنول قد خلت من قبله الرسل‬ “Abu Bakar r. Dalam bab qiraat penterjemah ada menyatakan pada ayat 4 surah al-Fatihah. Seterusnya dinyatakan hubungkait antara surah samada pada permulaan. 2.610 nota kaki. ‫وسع كرسثيه السمشنوت والرض‬ “Kursi dalam ayat ini oleh sebahagian mufassirin diartikan dengan ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaanNya. s/d[21] ….. dan sahabat-sahabatnya yang tidak percaya tentang kewafatan Nabi itu. Wasiat itu tidak melebihi sepertiga dari seluruh harta orang yang akan meninggal itu.a. Pada menyatakan sebab-sebab nuzul.w. penterjemah ada membawa riwayat al-Tabari berkenaan ayat 115 surah al-Baqarah. isi kandungan atau pengakhirannya. ia akan ditulis seperti “Lihat not ….”.” Dalam membicarakan pada ayat-ayat akidah penterjemah lebih berminat mengambil pendapat Asy‘ariyyah. Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan ‘mim’) berarti raja. untuk mententeramkan Umar Ibnul Khaththab r. (Sahih Bukhari bab Ketakwaan Sahabat). Sebagai contoh pada membicarakan ayat 144 dari surah Ali Imran. Ayat ini dinasakhkan dengan ayat mawarith. ‫ولل المشرق والمغرب فأينمنا تنولنوا فثم وجه الل‬ “Al-Tabari menyebutkan bahawa ayat ini turun berkenaan tentang suatu kaum yang suatu ketika tidak dapat melihat arah kiblat yang tepat. Jika terdapat pengulangan dari segi penjelasan pada nota kaki. ia akan ditulis seperti “Lihat kembali kisah kaum Luth ini pada surat …… ( )[20] ayat ….”[23] Penterjemah mengakhiri setiap surah dengan membuat kesimpulan terhadap keseluruhan surah. metod yang digunakan seperti. 3. sehingga mereka salat ke arah yang berbeda-beda. Contoh nasikh mansukh dalam kitab ini dinyatakan pada membicarakan ayat 180 surah al-Baqarah. 1. …[19]”. mengemukakan ayat ini – di mana terjadi pula kegelisahan di kalangan para sahabat di hari wafatnya Nabi Muhammad s. ‫مشلك ينوم الدين‬ “Maalik (Yang menguasai). Jika ia merupakan huraian terhadap sesuatu terjemahan.”[18] Nota kaki yang dibuat adalah mengikut turutan dari awal surah hingga akhir surah al-Quran yang bilangannya mencapai angka 1. Jika ia merupakan penjelasan berkenaan sesuatu kisah. ‫كتب علثيكم إذا حضر أحدكم المنوت إن ترك خثيرا النوصثيﺔ للنولدين والقربثين‬ ‫بنالمعروف‬ “Ma’ruf ialah adil dan baik. 1. Sebagai contoh pada ayat 255 surah al-Baqarah.

Yogyakarta. di atas bermaksud nombor rujukan pada nota kaki sebelumnya. 596.M Hasbi ash Shiddieqy. [ 9] Lihat lampiran m/s: 17 [ 10] Lihat lampiran m/s: 21 [ 11] Lihat lampiran m/s: 19 [ 12] Lihat lampiran m/s: 20 [ 13] Penulis berpendapat ia sesuai dengan fungsinya sebagai Umm al-Kitab. Data-data Terbitan Awal Penterjemahan Dan Penafsiran Al-Qur’an Di Alam Melayu.[24] 5./hasbi. penulis percaya kitab ini mendapat perhatian pembaca dan tidak hairanlah kitab ini dipilih untuk dicetak di Mujamma‘ al-Malik al-Fahd li Tiba‘at al-Mushaf al-Syarif di Madinah untuk disebarkan kepada masyarakat Islam di rantau ini. Penulis berpendapat agar kitab ini dapat diperbaiki lagi penterjemahannya terutama dari segi akidah kepada yang lebih selamat dan berlandaskan ahli sunnah wal jamaah. T.rizki-putera. penulis mendapati ia merupakan kitab yang cukup menarik dan mudah difahami.com. 2. Kesimpulan Setelah ditinjau secara rambang kitab “Al-Quran dan Terjemahnya”. [ 14] Lihat lampiran m/s: 18 [ 15] Lihat nota kaki no.Naazi’aat Allah bersumpah bahawa hari kiamat yang mendahului hari berbangkit itu pasti terjadi. menggambarkan penterjemah cukup teliti dan memahami keperluan pembaca yang terdiri dari orang awam. op. Prof. Sama-sama menerangkan huru-hara yang terjadi pada hari kiamat dan hari berbangkit.htm 2] Muhammad Nur Lubis.cit. 112. Tafsir al-Bayan. PT Almaarif. Dr. hlm 100-101 [ 6] Surah al-Ma‘idah : 15 [ 7] Lihat lampiran m/s: 16 [ 8] Siddiqi. 4. [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ . Sehubungan dengan itu. 83. [ 18] Lihat nota kaki no. Kuala Lumpur. Bandung. Hlm 99 [ 3] Prof. Nourouzzaman MA. Ini kerana terjemahan yang dibuat tidak terlalu panjang dan tidak terlalu ringkas. hlm 7. [ 17] Lihat nota kaki no. J 1. [ [ 1] Biografi pengarang diambil dari http//www. (1997) Fiqh Indonesia. [ 16] Lihat nota kaki no. Dr. [ 4] Ibid [ 5] Muhammad Nur Lubis. [ 19] No. cetakan pertama 2002. Terbitan Al-Hidayah Publishers. Selain dari itu huraian-huraian atau penjelasan yang dibuat pada nota kaki.

[ 22] Lihat nota kaki no. 161. bilangan surah yang terdapat dalam al-Quran. [ [ [ [ [ . [ 24] Lihat m/s: 1017. 234. [ 23] Lihat nota kaki no. 21] Penulis berpendapat ia bermaksud ‘sehingga datang’.[ [ 20] Dalam kurungan bermaksud no.

pemisah antara yang haq dan bathil serta jalan keluar bagi setiap probelam kehidupan yang dihadapi. beliau tidak pernah luput dari pembahasan ilmu al-munâsabât yang tercermin dalam enam hal: . tokoh-tokohnya seperti: Fakhruddin ar-Razi (606 H/1210 M). kemudian dilanjutkan dengan gambaran orang-orang yang taat. tolong hapus pesan ini. Contoh bukti yang dikemukakannya antara lain adalah: QS. Kemudian beliau mengambil tokoh-tokoh para ulama tafsir. Ada beberapa prinsip yang dipegangi oleh M. Setelah dirapikan. cari Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel.Tafsir Al-Mishbah Dari Wikipedia bahasa Indonesia. Di sana gambaran mengenai hari kiamat dan nasib orang-orang durhaka. Sekilas Tentang Isi Tafsir M. baik tahlîlî maupun mawdhû‘î.790 H/1388 M). Ibrahim Ibn Umar al-Biqa’i (809-885 H/14061480 M). Tafsir al-Misbah adalah sebuah tafsir al-Quran lengkap 30 Juz pertama dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Quraish Shihab memulai dengan menjelaskan tentang maksud-maksud firman Allah swt sesuai kemampuan manusia dalam menafsirkan sesuai dengan keberadaan seseorang pada lingkungan budaya dan kondisisosial dan perkambangan ilmu dalam menangkap pesan-pesan al-Quran. dan kondisi yang berbeda-beda itu.794 H) dan lain-lain yang menekuni ilmu Munasabat al-Quran/keserasian hubungan bagian-bagian al-Quran. Quraish Shihab dalam karya tafsirnya. di antaranya bahwa al-Qur’an merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi. tingkat. Seorang mufassir di tuntut untuk menjelaskan nilai-nilai itu sejalan dengan perkembangan masyarakatnya. Dalam al-Mishbâh. Al-Ghasyiyah. sambil melemparkan kesalahan kepada para penulis wahyu. Quraish Shihab dalam rekaman "Kultum" di RCTI (2007) M. Badruddin Muhammad ibn Abdullah Az-Zarkasyi (w. Kaum orientalis berpendapat bahwa ada bagian-bagian al-Quran yang ditulis pada masa awal karier Nabi Muhammad saw. M. Keagungan firman Allah dapat menampung segala kemampuan. sehingga al-Quran dapat benar-benar berfungsi sebagai petunjuk. Mufassir dituntut pula untuk menghapus kesalah pahaman terhadap al-Qur’an atau kandungan ayat-ayat. Abu Ishaq asy-Syathibi (w. Warna keindonesiaan penulis memberi warna yang menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khazanah pemahaman dan penghayatan umat Islam terhadap rahasia makna ayat Allah SWT. kecederungan. Quraish Shihab juga memasukkan tentang kaum Orientalis mengkiritik tajam sistematika urutan ayat dan surah-surah al-Quran. Tafsîr al-Mishbâh adalah karya monumental Muhammad Quraish Shihab dan diterbitkan oleh Lentera Hati.

atau lentera”. Penjelasan makna sebuah ayat tertuang dengan tamsilan yang semakin menarik atensi pembaca untuk menelaahnya. pemerhati karya tafsir Nusantara. Howard M. al-Mishbah berarti “lampu. • keserasian kandungan ayat dengan penutup ayat (fawâshil). yang mengindikasikan makna kehidupan dan berbagai persoalan umat diterangi oleh cahaya alQur’an. informatif. • Keserasian tema surah dengan nama surah. • keserasian uraian awal/mukadimah satu surah dengan penutupnya. Quraish Shihab pantas dan wajib menjadi bacaan setiap Muslim di Indonesia sekarang. Begitu menariknya uraian yang terdapat dalam banyak karyanya. Ke-Indonesiaan penulis memberi warna yang menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khasanah pemahaman dan penghayatan kita terhadap rahasia makna ayat-ayat Allah. merekomendasikan bahwa karya-karya tafsir M. Dari segi penamaannya. yang ditulis oleh ahli tafsir terkemuka Indonesia : Prof. M. Tafsir ini tersaji dengan gaya bahasa penulisan yang mudah dicerna segenap kalangan. Dr.• keserasian kata demi kata dalam satu surah. Tafsîr al-Mishbâh banyak mengemukakan ‘uraian penjelas’ terhadap sejumlah mufasir ternama sehingga menjadi referensi yang mumpuni. Mari terangi jiwa dan keimanan kita dengan Tafsîr al-Mishbâh sekarang juga. Penulisnya mencitakan al-Qur’an agar semakin ‘membumi’ dan mudah dipahami. dari mulai akademisi hingga masyarakat luas. Federspiel. Buku ini terdiri dari 15 volume: Volume 1 : Al-Fatihah s/d Al-Baqarah Halaman : 624 + xxviii halaman Volume 2 : Ali-‘Imran s/d An-Nisa Halaman : 659 + vi halaman Volume 3 : Al-Ma’idah Halaman : 257 + v halaman Volume 4 : Al-An’am Halaman : 367 + v halaman Volume 5 : Al-A’raf s/d At-Taubah Halaman : 765 + vi halaman Volume 6 : Yunus s/d Ar-Ra’d Halaman : 613 + vi halaman Volume 7 : Ibrahim s/d Al-Isra’ Halaman : 585 + vi halaman Volume 8 : Al-Kahf s/d Al-Anbiya’ Halaman : 524 + vi halaman Volume 9 : Al-Hajj s/d Al-Furqan Halaman : 554 + vi halaman Volume 10 : Asy-Syu’ara s/d Al-‘Ankabut Halaman : 547 + vi halaman Volume 11 : Ar-Rum s/d Yasin Halaman : 582 + vi halaman Volume 12 : Ash-Shaffat s/d Az-Zukhruf Halaman : 601 + vi halaman Volume 13 : Ad-Dukhan s/d Al-Waqi’ah Halaman : 586 + vii halaman Volume 14 : Al-Hadid s/d Al-Mursalat Halaman : 695 + vii halaman Volume 15 : Juz ‘Amma Halaman : 646 + viii halaman Tafsir Mahmud Yunus . Quraish Shihab. • keserasian penutup surah dengan uraian awal/mukadimah surah sesudahnya. pelita. argumentatif. • keserasian hubungan ayat dengan ayat berikutnya. Tafsîr al-Mishbâh merupakan tafsir Al-Quran lengkap 30 juz pertama dalam 30 tahun terakhir.

b. Karnanya agama merupakan salah satu upaya agar mampu meningkatkan moralitas ummat yang kini menurun. Rumusan Masalah a. sistematika. Biografi dan karya-karya Mahmud Yunus Sekilas tentang kitab Tafsir al-Qur’an al-Karim . metode. B. dan contoh penafsirannya. corak. Lahirnya Tafsir masakini juga tidak luput dari upaya ulama masa lalu yang turut mengkaji dan menafsirkan al-Qur’an meskipun masih tergolong penafsiran yang gobal. Ia tumbuh pada saat penerjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia merupakan hal yang diharamkan pada Ulama’ semasanya. Karenanya tiap decade dan periode hendaknya menciptakan sejarahnya sendiri khususnya Umat Islam dalam bidang terpenting yakni penafsiran al-Qur’an. Tindakannya yang progresif ini terbukti menyadarkan kita bahwa Tafsir bukanlah karya yang mustahil jika umat Islam benar-benar mengkaji keilmuan dan persyaratan penafsiran.PENDAHULUAN A. Namun sejarah membuktikan bahwa eksistensi dari progresifitas ummat yang berkembang dan maju harus sebenarnya telah ddimulai dari sejarah. Islam menjadi semakin difahami dengan adanya Tafsir-tafsir bahasa Indonesia yang bermunculan di abad 20-an. Latar Belakang Mahmud Yunus merupakan salah seorang Mufassir Indonesia yang mampu menafsirkan al-Qur’an 30 Juz lengkap. PEMBAHASAN .

Thaib Umar sakit. Profil Mahmud Yunus Mahmud Yunus dilahirkan dari pasangan Yunus B. ia ikut ibunya. Di sekolah ini. Biografi Prof. Yunus menunjukkan ketidakpuasannya terhadap mata pelajaran di sekolah tersebut. Ketika usianya masih balita. yakni purifikasi dan modernisasi. H. Tokoh-tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20.[4] Tak heran hanya dalam waktu empat tahun ia telah dipercaya oleh sang Guru untuk menggantikannya mengajar bahkan mewakilinya dalam forum akbar ulama Minangkabau tahun 1919 di Padang Panjang. yang langsung ia peroleh dari kakeknya. Mahmud Yunus 1. yakni di Sekolah Desa pada tahun 1908. [2] Meski ada yang mengatakan bahwa ayah dan Ibu Mahmud Yunus bercerai sejak balita. ayah ibunya Mahmud Yunus bercerai. Pada tahun 1917. Berhitung dan Bahasa Arab. Profil Para Mufassir. Hal. Madrasah ini bernama Madras School. Yunus memulai pendidikannya dengan belajar Alquran dan bahasa Arab. incek dan hafsah binti Imam Sami’un. Sebab. Tahun pertama Sekolah Desa ia selesaikan hanya dalam masa 4 (empat) bulan. Syekh H.A. pembaruan Islam ini terwujud dalam dua bentuk. ia mempelajari ilmu Nahwu.[3] Di tangan Thaib Umar ini Yunus dapat mempelajari pelbagai disiplin keilmuan Islam. Saat bersamaan. 2006). Yunus juga pernah bersekolah di pendidikan sekuler. DR. hal: 197 3] http://menyempal. Pendidikan di Sekolah Desa hanya dijalaninya selama kurang dari tiga tahun. dkk. Karena merasa masih haus pengetahuan. Umumnya.wordpress. Sumatra Barat. seorang pengajar di Surau dan Ibunya Hafsah binti Imam Samiun adalah anak Engku Gadang M. di desa Sunggayang.Thahir bin Ali. 85-86 2] Saiful Amin Ghofur. di Minangkabau tengah tumbuh gerakan pembaruan Islam yang dibawa oleh para alumni Timur Tengah. Siang hari ia belajar disana dan malam harinya mengajar di Surau kakeknya. Di samping mendapat pendidikan agama. Batusangkar. yaitu gerakan yang bertujuan untuk mengembalikan Islam ke zaman awal Islam dan menyingkirkan segala tambahan yang datang dari zaman setelahnya. (Jakarta: Gema Insani Press. dan hanya sekali ayahnya menjenguknya. Yunus lantas pindah belajar di madrasah milik H. namun Yunus tetap antusias dalam belajar baik agama maupun umum. Yunus secara langsung ditugasi untuk menggantikan gurunya memimpin Madras School.wordpress. Para alumni Timur Tengah lebih condong dalam gerakan purifikasi. Karena itu. karena ia memperoleh penghargaan untuk dinaikkan ke kelas berikutnya.com/kajian-pemikiran/tafsir-alquran-mahmud-yunus/ di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 4] http://menyempal. Selain ilmuilmu keagamaan yang ia dapatkan. ilmu Sharaf. Mahmud Yunus lahir pada tanggal 10 februari 1899 M/30 Ramadhan 1316 H. sedangkan ibunya adalah anak dari Engku Gadang M. M Thaib Umar di Tanjung Pauh Sunggayang. Ayahnya adalah seorang imam. Ayahnya bernama Yunus bin Incek. Ia juga mewarisi semangat pembaharuan sang guru. pendiri serta pengasuh surau si wilayah tersebut.[1] Mahmud Yunus tumbuh dikalangan keluarga yang taat beragama. Lalu [ [ [ [ Herry Mohammad. 2008). dalam rentang waktu 1917-1923. Tahir bin Ali. pada waktu belajar di kelas empat. (Yogyajarta: Pustaka Insan Madani.com/kajian-pemikiran/tafsir-alquran-mahmud-yunus/ di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 1] .M.

Di antara bidang-bidang ilmu yang disebutkan.[6] Kemampuan mengajar yang ia miliki sejak masih belajar di Batusangkar memantabkan karier ke-guruannya terutama setelah ia kembali dari Mesir. Dalam tempo setahun ia mampu mempelajari ushul fiqh. Tauhid.[7] Selain itu Yunus juga sering berkunjung ke luar negri. ia telah menghasilkan buku sebanyak 82 buah meskipn sebagian menyebutkan karyanya hanya berkisar 43 buku. Pada tahun 1982. Rektor IAIN Imam Bonjol Padang (19661071). IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menganugerahi Mahmud Yunus Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Tarbiyah. termasuk pula tafsir dan terjemahan al-qur’an. Prof.com/2008/10/tafsir-al-quran-al-karim-mahmud-yunus. Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) Jakarta (1957-1980). Akhlak. Mahmud Yunus juga banyak menulis buku. Ushul Fiqh. 85-86 http://pusat-akademik. akan tetapi juga dalam bahasa Arab. Sepanjang hidupnya.pada tahun 1920 Yunus membentuk perkumpulan pelajar Islam yang juga menerbitkan majalah al-Basyir. Beliau mengambil takhasshus tadris sampai memperoleh ijazah tadris (diploma guru). seperti bidang Fiqh. terutama buku pelajaran agama islam untuk anak-anak. Tafsir.1969). Mahmud Yunus meninggal dunia. bahasa Arab. Yunus lebih banyak memberi perhatian pada bidang pendidikan Islam. Tafsir dan Akhlak yang lebih memfokus pada materi sajian. Pada tahun 1924. yang sebagian besar adalah bidang-bidang ilmu agama Islam. menjadi Dekan dan Guru Besar pada fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1960-1963). 2. Dari jumlah itu. dkk… Hal. Mahmud menulis tak kurang dari 43 buku. dan Yunus sebagai pemimpi redaksinya. Lihat kulit depan tafsir beliau. Akademi Pramong Praja di Bukit Tinggi (19481949).blogspot. Secara terus menerus Mahmud Yunus mengajar dan memimpin berbagai sekolah. Yunus mendapat kesempatan untuk belajar di alazhar. yakni pada al-Jami’ah al-Islamiyah Batusangkar (1931-1932). Atas jasa-jasanya dibidang pendidikan ini. Kuliyah Mu’alimin Islamiyah Noramal Islam Padang (1932-1946). Sejarah dan lain-lain. Yunus membahas berbagai bidang ilmu. pada 15 Oktober 1977. Ia memulai [ [ [ [ Saiful Amin … hal: 198 Herry Mohammad. Sesuai dengan kemampuan bahasa yang ia miliki.[8] Pada awal tahun 1970 kesehatan Mahmud Yunus menurun dan bolak balik masuk rumah sakit. buku-bukunya tidak hanya ditulis dalam bahasa Indonesia. di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 8] Mahmud Yunus. bahasa Arab (keduanya lebih banyak memfokus pada segi metodik). beliau adalah orang Indonesia yang pertama belajar disini.html. Karena kebriliannya ini ia mendapatkan Syahadah ‘alimiyah dari al-Azhar . bidang Fiqh.[5] kemudian pada tahun 1926-1930 belajar di madrasah darul ulum ulya. (Jakarta: PT. Tafsir al-Qur’an al-Karim. dan menjadi orang kedua yang menyabet predikat tersebut. fiqh hanafi dan tafsir. Kairo-Mesir. H.Hidakarya Agung. baik sebagai tugas yang diberikan pemerintah kepada beliauu maupun atas undangan untuk menghadiri berbagai muktamar. Pendidikan Islam. Karya-karya Mahmud Yunus Pada perjalanan hidupnya. DR. 5] 6] 7] .

Upaya rintisan ini kemudian diikuti oleh Munawar Chalil (Tafsir Al Quran Hidayatur rahman). 10.html. untuk Muballigh-Muballigh / umum.[12] Karya Mahmud Yunus tetap menjadi literature yang paling popular di bandingkan karya Tafsir semasanya meskipun kemudian lahirlah karya-karya Tafsir yang lebih ilmiah.Hassan Bandung (Al-Furqan. Ilmu Jiwa kanak-kanak. Dasar-dasar Negara Islam. di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 [ 11] http://luluvikar.[13] Sedangkan Baidan mengelompokkan . Perbandingan Agama. 8. periode kedua (1960) dengan ditandai dengan catatan kaki kemudian periode ketiga (1970) ditandai dengan penjelasan yang lebih luas dari periode kedua. (Bandung: penerbit Teraju. ia membagi kemunculan dan perkembangan Tafsir di Indonesia dalam 3 periode. dalam usia 21 tahun. Mahmud Aziz. 12. 6. 4 Madzhab. 3. Hukum perkawinan dalam Islam. Al-Qur’an Indonesia oleh Syarikat Kweek School Muhammadiyah (1932) [ [ 9] Saiful Amin … hal: 200 10] http://pusat-akademik. hal: 130 . (Bandung: Penerbit Mizan. 11. Sekilas Tentang Tafsir al-Qur’an al-Karim Secara singkat. Ilmu Tauhid menurut Al-Quran. 1994).Hassan Bandung (Al-Furqan. bersama H. pada pertengahan abad XVII. Khazanah Tafsir di Indonesia. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Federspiel. 1928). aktivitas seputar Al Quran di Indonesia dirintis oleh Abdur Rauf Singkel. Pendidikan-Pendidikan Umum di Negara-negara Islam/Pendidikan Barat. 7. 2. 9. 4. 1935). Allah dan Makhluq-Nya.com/2008/10/tafsir-al-quran-al-karim-mahmud-yunus.[9] Adapun diantara karya-karya Mahmud Yunus ialah:[10] 1. B. A. dalam situasi apapun. 2003). Juz Amma dan terjemahnya. Ilmu Mustalahul Hadist. Federspiel. untuk tingkat Aliyah.blogspot. Yakni periode pertama mulai abad ke-20 ditandai dengan penafsiran terpisah-pisah. Tafsir al-Quran tamat 30 juz. untuk tingkat Aliyah. Pedoman Dakwah Islamiyah. Karirnya sebagai pengarang tetap ditekuninya pada masa-masa selanjutnya. 5. A. Yunus senantiasa mengisi waktu-waktunya untuk menulis. yang menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Melayu.wordpress. Hukum Warisan dalam Islam. setidaknya ada enam buah karya Tafsir yang muncul pada masa Mahmud Yunus yang berturut-turut hingga menjelang kemerdekaan Indonesia menurut Nashruddin Baidan: a. Mahmud Yunus (Tafsir Quran Indonesia.mengarang sejak tahun 1920. tahun 1938.com/2004/12/22/arkeologi-pemikiran-tafsir-di-indonesia/ diunduh pada 12:59 [12] Islah Gusmian. kuliyah untuk kursus-kursus. [11] Dalam konsep Howard M. kuliyah untuk dakwah. hal: 65 [13] Howard M. 1928) b. 13. Kesimpulan isi al-Quran. Kajian al-Qur’an di Indonesia.

kemudian beliau membalas suratnya dengan panjang lebar dan mengukuhkan pendiriannya untuk tetap menerbitan Terjemah alQur’an yang merupakan Tafsir Bahasa Indonesia pertama tersebut. [16] Pada bulan ramadhan tahun 1354 H/Desember 1935. dalam penafsiran yang mereka berikan secara umum masih dipengaruhi oleh budaya dan tradisi Arab sehingga budaya dan bahasa Indonesia belum terlihat secara ekplisit.c. (Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.I. M. bantahan itu dikirimnya pada Presiden R.I. Tafsir Hibarna oleh Iskandar Idris (1934) Tafsir Al-Qur’annul karim oleh Mahmud Yunus (1938) Tafsir Qur’an Bahasa Indonesia oleh Mahmud Aziz (1942) Jika keenam kitab tersebut diamati secara seksama maka secara umum penafsiran mereka belum terlau signifikan perkembangannya. Perkembangan Tafsir al-Qur’an di Indonesia. d. Salinannya disampaikan kepada beliau (Mahmud Yunus) oleh kementerian agama. dan menteri Agama. Tafsir asy-Syamsiyah oleh KH. Bakry. dan menteri agama. III Pendahuluan 14] . hingga membuat percetakan tidak lagi mau menerbitkan Tafsir al-Qur’anul Karim. Kemudian setelah menyelesaikan percetakan itu. pada bulan april 1938 beliau menyelesaikan tiga puluh juz dan di sebar luaskan keseluruh Indonesia.000 eksemplar. 21.00 per eksemplar.Baharta direktur percetahan Ma’arif Bandung.[15] Selanjutnya. 2003) hal: 88 15] Nashruddin Baidan … hal: 89 16]Mahmud Yunus.Hidakarya Agung. Kabarnya ada bantahan dari ulama Yagyakarta. Mahmud mulai menterjemahkan al-Qur’an serta tafsir ayat-ayat yang di anggap penting. [14] Manfaat tersebut juga dapat dirasakan pada generasi-generasi setelahnya. Tafsir al-Qur’an al-Karim. akhirnya tidak ada yang mengganggu gugat lagi.1969).000 eksemplar dan dijualnya dengan harga Rp. pada tahun 1950 dengan persetujuan menteri agama almarhum Wahid Hasyim. e. Meskipun saaat itu para ulama mengharamkan penterjemahan al-Qur’an tetapi ia tetap berusaha untuk menterjemahkan al-Qur’an. hal. diantaranya ialah merevisi dari penulisan arab melayu menjadi bahasa Indonesia dengan penulisan latin sebelum kemudian tafsir al-Qur’an al-Karim diterbitkan oleh CV. (Jakarta: PT. Pada waktu menterjemahkan juz 7 sampai juz 18 beliau dibantu oleh almarhum H. lalu dicetak dan diterbitkan sebanyak 200. K. Tembusannya beliau kirimkan kepada Presiden R. yang kemudian dinamai dengan tafsir al-Qur’an al-Karim. bantahan itu dikirimnya kepada menteri agama R. Setelah Indonesia merdeka.I. Terjadi beberapa kali revisi. Mahmud Yunus mulai menterjamahkan al-Qur’an dan diterbitkan tiga juz dengan huruf arab-melayu pada tahun 1922. Namun bagaimanapun karya para Ulama tersebut sangat berarti karena merupakan upaya konkrit dan sistematis dalam usaha untuk memahami al-Qur’an. f. supaya diberhentikan mencetak tafsir al-Qur’an itu. Pada tahun 1953 M seorang ulama dari Jatinegara membantah pula. Sanusi (1935) [ [ [ Nashruddin Baidan. Akhirnya di ambil alih oleh M. Bila diteliti lebih lanjut lagi. beliau bersama istrinya (Darisah binti Ibrahim) meneruskan usahanya dalam menerbitkan tafsir al-Qur’an al-Karim itu. Al-Hidayah. salah satu penerbit Indonesia hendak menerbitkan tafsir al-Qur’an al-Karim itu dengan mendapat fasilitas kertas dari menteri agama dan dicetak sebanyak 200.

1. Motivasi penulisan Tafsir Sejak kecil Mahmud Yunus telah mempelajarari berbagai displin keagaman Islam terutama bahasa Arab. Tafsir al-Quran ini sistematika penafsirannya sama seperti isi al-Quran dan terjamahan disamping kanan ayat (setiap ayat) kemudian terjemahannya dibawahnya terdapat penafsiran. 4. 3.blogspot. Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an Tafsir al-Qur’an dengan hadis yang shahih Tafsir al-Qur’an dengan perkataan sahabat Tafsir al-Qur’an dengan perkataan tabi’in Tafsir al-Qur’an dengan ilmu bahasa ‘arab bagi ahli ilmu lughah ‘arabiyyah Tafsir al-Qur’an dengan ijtihad bagi ahli ijtihad. Ia telah mencintai ilmu-ilmu kebahasaan dan juga menguasai metode mengajar. tiga jilid. sumber utama penafsiran Mahmud Yunus masih tergolong bil-ma’tsur. jilid kedua dari juz 11 sampai dengan 20. Minatnya terhadap studi al-Quran serta bahasa arab telah menimbulkan hasrat besar dalam diri Mahmud Yunus untuk menulis tafsir al-Quran yang kemudian menjadi karya monumentalnya sendiri yang tetap populer sampai saat ini. 5. pertama dari juz 1 sampai dengan juz 10.com/2008/10/tafsir-al-quran-al-karim-mahmud-yunus. 6. Referensi penafsiran dari pelpagai kitab-kitab tafsir. surat demi surat. diantaranya adalah: 1) 2) 3) [ Tafsir al-Thabary Tafsir Ibn Katsir Tafsir al-Qasimy http://pusat-akademik. Jadi. 2. Sumber-sumber tafsir al-Qur’an al-Karim: 1. merupakan tindakan yang cukup berani disaat masih maraknya pandangan yang mengatakan bahwa haram menterjemahkan al-Quran. kedua . dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Naas. jilid ketiga dari juz 21 sampai dengan 30. Selain itu kebutuhan untuk mengajar dan menjadikan al-Qur’an aar lebih mudah dipahami oleh umat Islam di Nusantara. Sistematika penafsiran Mahmud Yunus menafsirkan seluruh ayat sesuai susunannya dalam mushaf al-Quran ayat demi ayat. Penulisan tafsir ini dimulai pada November 1922 yang dilakukan secara berangsur-angsur juz demi juz sampai dengan selesai juz ke-tiga puluh.[17] 3. Perlu di garis bawahi disini bahwa upaya penulisan Mahmud Yunus ketika itu. di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 17] . Maka secara sitematika penafsiran tafsir ini menempuh tartib Mushaf.html. 4. Sistematika Penulisan Tafsir Kitab ini terdiri dari dua jilid yaitu pertama satu jilid tamat dari juz 1 sampai dengan 30. 2.

oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. Tafsir al-Qur’an al-Karim. berwasiat itu hukumnya sunnah. Sebab itu hendaklah ia bertakwa dan berusaha meninggalkan harta pusaka untuk mereka. Tafsir al-Qur’an al-Karim. Janganlah mewasiatkan hartanya untuk fakir miskin dan amalan sosial lebih dari mestinya.1969).Hidakarya Agung.1969). (Jakarta: PT. suatu metode tafsir yagn bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Quran dan seluruh aspeknya. Keterangan-keterangan atau penafsirannya diletakkan dihalaman ayat yang bersangkutan (footnote) Keterangan-keterangan ayat ditambah dan diperluas. Keterangan ayat 9: “ dalam ayat ini Allah menganjurkan kepada orang tua agar memikirkan akibat anak-anaknya yang masih lemah (kecil).4) 5) Fajrul Islam Dhuhal Islam[18] 5. VI pendahuluan http://pusat-akademik. yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.com/2008/10/tafsir-al-quran-al-karim-mahmud-yunus. Yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah. sehingga memudahkan pembaca untuk mencari terjemah. hal. Kelebihan sistematika penulisan Tafsir al-Qur’an al-Karim 1) 2) 3) 4) Terjemahan al-Qur’an disusun baru. Dalam tafsir Mahmud Yunus. Demikian hukum islam [ [ Mahmud Yunus.ts? ô`ÏB óOÎgÏÿù=yz ZpƒÍh‘èŒ $¸ÿ»yèÅÊ (#qèù%s{‚÷·| ™öNÎgøŠn=tæ (#qà)Gu‹ù=sù ©!$# (#qä9qà)u‹ø9ur Zwöqs% #´‰ƒÏ‰y Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah. Menurut islam.[19] Dalam pandangan Nashruddin Baidan. Kedua aspek tersebut dijelaskan ketika dianggap perlu.html. Mahmud Yunus juga menambahkan keterangan dan mengaitkannya dengan isu-isu kontemporer saat itu. aspek kosa kata dan penjelasan arti global tidak selalu dijelaskan.Hidakarya Agung. Metode dan corak Penafsiran al-Qur’an al-Karim Tafsir al-Quran Karim Mahmud Yunus ini menunjuk pada metode tahlili. Artinya belum ada suatu ke-khas-an yang khusus dalam Tafsirnya. Hal. supaya tidak terlantar kehidupan anak-anaknya yang masih kecil itu. 6. Tafsir Mahmud Yunus ialah ‘umum’ sebagaimana Tafsir yang tumbuh semasanya. bila ia meninggal dunia. (Lihat di ayat-ayat Aurat dalam Tafsir alQur’anul Karim) 21] Mahmud Yunus. sesuai dengan perkembangan bahasa Indonesia Teks al-Qur’an dan terjemahan disusun sejajar. Contoh Penafsiran Contoh Tafsir Mahmud Yunus dalam surat An-Nisa’ ayat 9: u‹ø9ur šúïÏ%©!$# öqs9 (#qä. sedang mendidik anak-anak hukumnya wajib.[20] [21] 7. (Jakarta: PT. VI-V Pendahuluan 18] 19] [ .blogspot. di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 [20] Seperti halnya dengan isu hukum ber-Jilbab di Indonesia.

karakteristik Tafsir.Hidakarya Agung. Bandung: Penerbit Mizan.com . Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Lampiran contoh Kitab Tafsir. Penafsirannya masih sebatas penjelasan Al-Qur’an secara global dan belum sampai pada taraf yang khas dan khusus. Metode yang digunakannya juga tergolong tahlily. corak umum dan metode Tahily dan juga sumber penafsiran Bil Ra’yi karna upaya penerjemahan tersebut juga merupakan suatu ijtihad berdasarkan Ra’yu. Tokoh-tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20. Yogyajarta: Pustaka Insan Madani. Saiful Amin. Khazanah Tafsir di Indonesia. Kajian al-Qur’an di Indonesia.8.com http://pusat-akademik. 2003 Federspiel. Bandung: penerbit Teraju. Nashruddin Perkembangan Tafsir al-Qur’an di Indonesia. Berikut ini penulis melampirkan contoh Kitan Tafsir al-Qur’an al-Karim karya Mahmud Yunus. Tafsir al-Qur’an al-Karim. Herry dkk. Jakarta: PT.com http://luluvikar. Mahmud Yunus merupakan salah satu mufassir dan penulis produktif yang menulis sejak usia 21 tahun dan mengajar sejak dini. Jakarta: Gema Insani Press. DAFTAR PUSTAKA Baidan.1969 http://menyempal. 2. Howard M. Tafsir al-Qur’an al-karim merupakan penafsiran dengan corak umum dan global. Beliau adalah alah satu tokoh yang berpengaruh di Indonesia karena produktivitas tulisannya dan juga progresfitas pemikirannya. Minat dalam dunia pendidikan ini tidak hanya mengantarkannya ke berbagai daerah dan belahan dunia namun juga mempengaruhi sistem pendidikan agama Islam dimasanya hingga sekarang. Lampiran itu juga menunjukkan sistematika. 2003 2003 Mohammad. Islah.wordpress. Mahmud. PENUTUP Kesimpulan 1. 2006 Yunus. 1994 Ghofur.blogspot. 2008 Gusmian. Profil Para Mufassir.wordpress.

yang ia tulis beberapa waktu sebelum meninggal dunia. dan tauhid 5 judul.M. . Menurut salasilah. Beliau mempelajari bahasa Arab dari gurunya yang bernama Syeikh Muhammad ibn Salim al-Kalali. Dr. 9 Desember 1975 pada umur 71 tahun. Sebagian besar karyanya adalah buku-buku fiqh yang berjumlah 36 judul. Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy mula mendapat pendidikan awalnya di pondok pengajian milik bapanya. khususnya ilmu-ilmu keislaman. Sementara bidang-bidang lainnya. tafsir 6 judul. Daftar isi • • • • • 1 Keluarga 2 Pendidikan 3 Karya 4 Bacaan Lebih Lanjut: 5 Sumber Keluarga Ayahnya Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husien ibn Muhammad Su’ud. Karya terakhirnya adalah Pedoman Haji. ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi. Beliau menuntut ilmu di pelbagai pondok pengajian dari stu kota ke kota yang lain selama 20 tahun. Pendidikan Prof. Hasbi ash Shiddieqy adalah berketurunan Abu Bakar al-Shiddiq (573-13/634M) yaitu khalifah yang pertama. seperti hadis berjumlah 8 judul. Hasbi Ash Shiddieqy Lahir Meninggal Agama Islam 10 Maret 1904 Lhokseumawe 9 Desember 1975 Islam Profesor Doktor Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy lahir di Lhokseumawe . Dr. Pada tahun 1926 T. merupakan anak seorang Qadi Kesultanan Acheh ketika itu. 10 Maret 1904 – meninggal di Jakarta. Karya Semasa hidupnya. cari Prof. Beliua merupakan generasi ke 37 dari Abu Bakar al-Shiddiq yang meletakkan gelaran ash Shiddieqy diakhir namanya. Pengajiannya di al-Irsyad dan gurunya Ahmad Soorkati banyak memberi didikan ke arah pembentukan pemikiran moden. Menurut catatan. dan 50 artikel. seorang ulama’ yang berasal dari Sudan . selebihnya adalah tema-tema yang bersifat umum. T. Di Madrasah al-Irsyad Hasbi ash Shiddieqy mengambil takhassus dalam bidang pendidikan selama 2 tahun. Hasbi ash-Shiddieqy aktif menulis dalam berbagai disiplin ilmu. adalah seorang ulama’ terkenal di kampungnya dan mempunyai sebuah pondok.Muhammad Hasbi Dari Wikipedia bahasa Indonesia. terdiri dari 142 jilid.M Hasbi ash Shiddieqy berangkat ke Surabaya dan melanjutkan pelajarannya di Madrasah al-Irsyad yaitu sebuah organisasi keagamaan yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Soorkati (1874-1943). Beliau juga pernah menuntut di Timur Tengah. karya tulis yang telah dihasilkannya berjumlah 73 judul buku. Ibunya Teungku Amrah binti Teungku Chik Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz . seorang ulama’ berbangsa Arab.

Bulan Bintang. 1950 . N. Kriteria antara sunnah dan bid'ah.56 halaman. Mutiara Hadis 3 (Shalat).181 halaman. s. Zakat. 1953 . Biro Kemahasiswaan I.I. Hukum perang dalam Ǐslam. 16. 1972 . Bulan Bintang. Ke arah fiqh Indonesia: mengenang jasa Prof. 2002 mutiara hadiets.94 halaman. Hakikat Islam dan unsur-unsur agama. 33. Ichtisar tuntunan zakah dan fithrah.N.40 halaman. Bulan Bintang. Ramadhani . Islamyah. Lembaga pribadi.V. Saiful.236 halaman. Jihad).117 halaman.207 halaman. 1950 . 1953 . 2002 [i. 38. 31. Bulan Bintang. 1973 .I. Falsafah hukum Islam. Fiqih Islam mempunyai daya elastis. Islam dan HAM (Hak Asasi Manusia): Dokumenter Politik Pokok-pokok Pikiran Partai Islam dalam Sidang Konsituante 4 Februari 1958. Alma'arif. Pudjangga Islam . 28. Bulan Bintang. Iktikaf & Haji). Islamyah. Thinker's Library.78 halaman. 1955 . 15.I. C. Pahala dan keutamaan ibadat. Mu'djizat al-Qurän.". 1964. Kulijah hadiets: sjarahan hadiets-hadietstasjrie' ʻibadah.A. Madju .e. 6. Volumes 1-2. al-Islâm: penuntun bathin & pembimbing masjarakat. 1953 . Ideologi Islam dan qaedah pemerintahan. biro Kemahasiswaan I. 1952 . Bulan-Bintang. 1973 . 1975 . 12. al-Islam. Sebuah tafsir al-Qur`an 30 juz dalam bahasa Indonesia. Lapangan perjuangan wanita Islam. Dua ribu dua] mutiara hadiets. Hukum antar golongan dalam fiqih Islam. 1986 . Fighul mawaris: hukum-hukum warisan dalam syariat ̓ Islam. Pustaka Madju . 35. 1967 . 1965 .". 32. 1971 . Hasbi Ash Shiddieqy.488 halaman.122 halaman. Bulan-Bintang. 36. Hukum-hukum fiqih Islam: yang berkembang dalam kalangan ahlus sunnah. 19.108 halaman. Fakta2 keagungan sjari'at Islam.44 halaman. Kursus sembahjang dan do'a. Pustaka Alhambra. Islamyah. 40. IAIN Sunan Kalijaga. Biro Kemahasiswaan I. 39.636 halaman. Fakultas Syari'ah. 1978 677 halaman.175 halaman. 41. 14. 2. 17. Bulan Bintang. Kullijah 'ibâdah: ibadah ditindjau dari segi hukum dan hikmah. 37. 1951. "Sunan Kalidjaga".A.476 halaman. 21. Karya ini fenomenal karena tidak banyak ulama Indonesia yang mampu menghasilkan karya tafsir semacam itu. Bulan Bintang. Fiqh Islam.40 halaman. 34.M. Mukhtārāt min aḥādīth al-aḥkām li-qism al-duktūrāh al-ūlá. 22. Koleksi Hadits-hadits Hukum. 1999 . 18. . lengkap. Bulan Bintang. 1968 . 42.160 halaman. 1967 . Ilmu2 al-Qurän: media2 pokok dalam menafsirkan al-Qurän.64 halaman. Dr.324 halaman. 11.168 halaman. 8. Bulan Bintang.A. Mutiara Hadis 2 (Thaharah & Shalat). Forum Studi Hukum Islam. Mutiara Hadis 5 (Nikah & Hukum Keluarga. 4. Al-Ahkaam:Hukum-hukum fiqih Islam.576 halaman. Sunan Kalidjaga. Biografie pelopor2 pahlawan Islam. Attahirijah .164 halaman.95 halaman. kesusilaan. 23. Kelengkapan dasar2 fiqih Islam: pengantar ushul fiqih. Al Islam: kepertjaan. Dasar-dasar ideologi Islam. 1956 .N.96 halaman. 9 Jilid. 20. Puasa.135 halaman. 1. 1969 . Pidana & Peradilan. 25.584 halaman. 1955 . Menara Kudus. Bulan Bintang. Menara Kudus.93 halaman.Karya Hasbi paling fenomenal adalah Tafsir an-Nur. Perbudakan. amal kebadjikan. Tokobuku Islamyah. A. Nazar & Sumpah. Kumpulan soal-jawab dalam post graduate course jurusan ilmu fiqh dosen2 I. 1975 . 7. 1970. 1994 . Jual Beli. 26. 1958 . 9.91 halaman.934 halaman. Bulan Bintang. alDjami'ah "Sunan Kalidjogo. I. bulat dan tuntas. Volume 1. Mutiara Hadis 1 (Keimanan).128 halaman.N. n. 24. 13. 27. 29. 5. Bulan Bintang. . 1962 . Bulan Bintang. Dasar-dasar Fiqih Islam.158 halaman. 10.. T. Dasar-dasar kehakiman dalam pemerintahan Islam. 3. Mutiara Hadis 4 (Jenazah. 43.152 halaman. Darul Irfan.300 halaman. doʾa dan dzikir. ‫السثيناسﺔ الدستنوريﺔ الشرعثيﺔ‬:‫الفقه الدستنور ي‬. 1982 . al Qurän mu'djiat jang terbesar jang tak terkalahkan: kandungan dan artinja bagi ummat Islam chususnja dan ummat manusia umumnja. 1966 . Pustaka Rizki Putra. 30.

Ladjnah Taʻlif Wan Nasjr Fakultas Sjariʻah Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalidjaga. Tafsir al-Qurânul madjied "An-Nur". 71. Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga. Sedjarah dan pengantar ilmu tafsir. Al-Ma'arif. Bulan Bintang. 56. Tafsir al-Qur'anul Majid an-Nuur: Surat 42-114. Bulan Bintang. 68. 55. 69..272 halaman.A. Pokok-pokok pegangan imam-imam madzhab dalam membina hukum Islam. 1963 . 1958 . 1955 . 77. Bulan Bintang. Tafsir al Qurânul majied "An Nur".58 halaman. 74.69 halaman. 1956 . slamijah. Bulan Bintang. 1968 . Bulan Bintang. Sedjarah peradilan Islam. 1974 . 1955 . 1965. Thinker's Library.34 halaman. 1954 . 59. .35 halaman.61 halaman. Tafsir al-Bayaan. Alma'arif. Pedoman dzikir dan doʻa. 72.106 halaman.119 halaman. Pedoman shalat. 70. 1965. 45. 51. 63. 1966 .63 halaman.20 halaman. Tafsir al-Qurânul madjied "An-Nur". 1949 . Pidana mati (dalam syari'at Islam). Ramadhani. Bulan Bintang. 1953 . 85. 1966 .382 halaman. Volume 4. Bulan Bintang.92 halaman. Bulan Bintang. 61. al-Djamilah . Pengantar fiqih mu'amalah. 73. 66. 1967. 49. Bulan Bintang. Sedjarah dan pengantar ilmu hadits.44. 58. Volume 25. Tafsier al-Qurânul madjied "An-Nur". 1966. Volume 5. Problematika hadits sebagai dasar pembinaän hukum Islam.180 halaman. 80. Menara Kudus. Pengantar ilmu fiqh. Ridjalul hadiets: biographi 7 shahabi dan 18 tabi'in jang terkemuka dalam lapangan hadiets : kullijah hadiets. 62.24 halaman.208 halaman. Bulan Bintang. Pemindahan darah (blood transfusion) dipandang dari sudut hukum agama Islam. Lembaga Penerbitan. Tafsier al-Qurânul madjied "An-Nur".432 halaman. 1963 . 1971 . Ramadhani. Volume 6. 81. Pengantar ilmu perbandingan madzhab.288 halaman. Pustaka Rizki Putra. Bulan Bintang. 52.568 halaman.I. Volume 3. 1972 . Bulan Bintang.216 halaman. Pedoman Hajji. Sjari'at Islam mendjawab tantangan zaman. 1986 . 64. 1965 . 50.48 halaman. Menara Kudus. 1975 . 46. 1955 . Problematika bulan Ramadhan. 84. Tuntunan zakah dan fithrah:tjaranja memberi.274 halaman. 53.272 halaman. Pedoman ibadat puasa. Biro Kemahasiswaan IAIN al-Djami'ah Jogjakarta .68 halaman. Bulan Bintang.478 halaman. 1964 . Pedoman puasa. 47. Sedjarah petumbuhan dan perkembangan hukum Islam. Bulan Bintang. Pustaka Islam.76 halaman. Bulan Bintang. 79.4760 halaman. Pelajaran tauhid: pokok2 ʾaqaid Islam : untuk pelajaran agama bagi sekolah2 permulaan dan umum. Bulan Bintang. Sedjarah dan perdjuangan 40 pahlawan utama dalam Islam. Islamyah. Biro Kemahasiswaan I. 1972 . Pustaka Islam. 83. Pengantar hukum Islam. Perbendaharaan zakat.24 halaman. Problematika 'iedul fithri. Madju. 78. Bulan-Bintang. 82. Pokok-pokok ilmu dirajah hadiets. 67. Bulan-Bintang. Pedoman hukum Sjar'y jang berkembang dalam 'alam Islamy Sunny. 2000 . 57. C.144 halaman. menurut hukum Islam. 1973 . 60. 75.N.V. 1973. Perbedaan mathlaʻ tidak mengharuskan kita berlainan hari pada memulai puasa. 1972 . 1962 . Bulan Bintang. Polygami. 54. "Bulan-Bintang". 1976.262 halaman. Tafsir al-Qurânul madjied "An-Nur". Syari'at Islam adalah syari'at dunia dan kemanusiaan. 1965 .24 halaman. Bulan Bintang. Volume 1. 1950 . 1954 .276 halaman. 1978 . Tuntutan qurban.121 halaman.59 halaman. 48. Bulan Bintang. 1974 . Bulan Bintang. Bulan Bintang. 1971 . Pokok-pokok sebab perbedaan faham para ulama/fuqoha dalam menetapkan hukum syara. 65. 76. 1965. 1964 . Sedjarah dan pengantar 'ilmu al-Qurän/tafsir. Sedjarah kehakiman dalam pemerintahan2 Islam. menerima dan membagi.155 halaman.

edisi 21 November 2006.I. Adian Husaini BELUM lama. surat kabar Republika. (Alister E. terjadi perdebatan yang cukup seru di Rubrik Opini Harian Republika.. Saya pun segera menulis artikel yang menjawab artikel Syafii Maarif tersebut. adalah perihal penggunaan kedua ayat tersebut yang jauh dari konteks aslinya. salah satu peneliti INSISTS. sehingga Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassalam pun pernah disebut sebagai shabi’. dalam CAP ini adalah paham yang menyatakan bahwa semua agama merupakan jalan yang sah menuju inti realitas keagamaan. kita dapat memahami bahwa konflik horizontal yang dimaksud adalah konflik antar umat beragama. jika Tafsir Al Azhar dibaca secara runut. 20 April 2012 Oleh: Dr. seputar orang-orang sholeh yang dijumpainya di masa lampau. no one religion is superior to any other.a. bahwa Buya Hamka sama sekali bukan seorang Pluralis Agama. Bogor. Mcgrath. Tapi. ST.” Setelah menjelaskan bahwa Hamka menolak pendapat yang menyatakan bahwa ayat ke-62 dalam Surah al-Baqarah telah di¬nasakh oleh ayat ke-85 dalam Surah Ali ‘Imran. Intinya. Padahal. yaitu daerah kelahiran Nabi ‘Isa as) pada hakikatnya adalah agama-bangsa. Dari paragraf kesimpulan yang ditulis oleh Syafii Maarif sebelumnya.” Di antara berbagai kutipan Tafsir Al Azhar dari artikel tersebut. akan ditemukan asbabun nuzul dari ayat ke-62 dalam Surah alBaqarah itu. Di bagian awalnya. Padahal. pada awalnya penulisan buku ini bersumber dari sebuah makalah yang dibuatnya saat sedang mengikuti studi di Program Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA). each and every religion is equally valid way to truth and God).“Memperjelas Posisi Hamka soal Pluralisme Agama” Jum'at. Menurut Hamka. Penerbitan buku ini sangat penting untuk menjernihkan dan mempertegas pemikiran Buya Hamka tentang Pluralisme Agama. namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan. Syafii Maarif – dan sang Jenderal Polisi yang berkonsultasi dengannya – menganggap bahwa kedua ayat ini dapat digunakan untuk menanggulangi konflik horizontal di Poso. yakni untuk menjawab pertanyaan Salman al-Farisi r. dan “Shabi’in” adalah nama yang diberikan bagi orang yang keluar dari agama nenek moyangnya. ia mengaku menemukan beberapa kesalahan fatal yang telah dilakukan oleh Syafii Maarif dalam pengutipan Tafsir Al Azhar tersebut. sepadan dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu. Sebagian besar isinya adalah kutipan-kutipan dari Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka. Yunus 99). asal saling menghormati dan saling menjaga pendirian masing-masing. Kesalahan kontekstual ini akan terlihat jelas kemudian. Perlu dicatat. Sepengetahuan saya tidak ada Kitab Suci di muka bumi ini yang memiliki ayat toleransi seperti yang diajarkan Al-Quran. M. Yahudi dan lain-lain. Kata jenderal ini pengertian ayat ini penting baginya untuk menghadapi beberapa tersangka kerusuhan yang ditangkap di sana. mengaku beragama atau tidak. atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka. tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup. tegas Akmal. “Nasrani” dan “Shabi’in” dalam Tafsir Al Azhar. Buku ini sebenarnya merupakan Tesis Master Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor. yang diberi judul “Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah”. saya menegaskan. . Karena digali dari al-Qur’an. Buya Hamka sudah menjelaskan masalah ini. Syafii Maarif pun memungkas artikelnya dengan opini berikut: “Sikap Hamka yang menolak bahwa ayat 62 al-Baqarah dan ayat 69 al-Maidah telah dimansukhkan oleh ayat 85 surat Ali ‘Imran adalah sebuah keberanian seorang mufassir yang rindu melihat dunia ini aman untuk didiami oleh siapa saja. maka dapat dipahami pula bahwa penelaahan ini digunakan untuk meredam keinginan sementara pihak di kalangan umat Muslim untuk melakukan kekerasan pada umat lain. sedangkan orang-orang tersebut beragama Nasrani. 1994). “Yahudi” (berasal dari nama Yehuda. bahwa Pluralisme Agama. “Nasrani” (berasal dari nama Nashirah. inilah salah satunya yang nampaknya paling penting: “Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia. Dalam Pluralisme agama. terlepas dari ada-tidaknya unsur kesengajaan. Christian Theology: an Introduction. Kesalahan pertama. dalam makalahnya. salah satu anak Nabi Ya’qub as) pada hakikatnya adalah agama-keluarga.” Memang. pada 20 Maret 2012. Kesalahan kedua disebabkan oleh kelengahan Syafii Maarif untuk melacak penjelasan nama-nama agama “Yahudi”. menerbitkan bukunya yang berjudul Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme. Pemaksaan dalam agama adalah sikap yang anti Al-Quran (lih. setelah keluarnya tulisan Syafii Maarif tersebut. Akmal Syafril. Menurut Akmal.Pd. al-Baqarah 256. setiap agama dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah menuju kebenaran dan Tuhan (In pluralism. Menurut penulisnya. tidak ada satu agama yang merasa superior dibanding yang lain. (Oxford: Blackwell Publisher.. Syafii Maarif menjelaskan alasan di balik penelitiannya terhadap kedua ayat ini: “Pada suatu hari bulan November 2006 datanglah sebuah pesan singkat dari seorang jenderal polisi yang sedang bertugas di Poso menanyakan tentang maksud ayat 62 surat alBaqarah. Isinya mengulas sebuah artikel karya Ahmad Syafii Maarif yang dimuat di Rubrik Resonansi.

tetap saja pendapat yang mengutip tulisan Buya Hamka secara tidak proporsional juga terus berkeliaran. tentu ia harus mengucap syahadatain. melainkan mengupas tuntas jawaban dari sebuah pertanyaan besar: apakah Buya Hamka memang seorang pluralis? Buku Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme merupakan hasil adaptasi dari tesis tersebut. Meski demikian. hadirnya buku Akmal ini menjadi penting. Makalah yang dibawakannya berjudul “Islam dan Pluralisme di Indonesia: Pandangan Sejarah”. Ayang Utriza NWAY menyampaikan makalahnya dalam acara diskusi publik bertajuk Islam dan Kemajemukan di Indonesia. Sesuai dengan judulnya. tetapi tidak pernah menjalankan rukun Islam. bahkan tidak jarang orang menulis sebuah makalah atau buku tentang pluralisme tanpa pernah memberikan definisi pluralisme itu. tak ada koreksi terhadap kekeliruan yang sudah dilakukan. Dalam makalahnya. Ayang bahkan telah melangkah lebih jauh lagi daripada Syafii Maarif.Dengan definisi tersebut. alBaqarah [2]: 62 – Ayang menyimpulkan: “Ini berarti bahwa walaupun seseorang mengaku beragama Islam. itulah yang mendasarinya mengembangkan makalahnya menjadi sebuah Tesis dengan judul Studi Komparatif Antara Pluralisme Agama dengan Konsep Hubungan Antar Umat Beragama dalam Pemikiran Hamka. yang sebelumnya sudah dikenal sebagai penulis buku “Islam Liberal 101”. bagaimana pun. karena memang ia tidak sempat mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Setelah menjelaskan tren-tren tersebut. Tetapi kalau keterangan telah sampai. Dan dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. Bahkan. yaitu surga. Opini dan kesan bahwa ‘Buya Hamka seorang pluralis’. Jika ia sempat bertemu dengan dakwah Rasulullah. buku ini pun menguraikan secara mendalam persoalan definisi pluralisme. Bahira tetaplah dikenal sebagai penganut agama Nasrani.” Umumnya. Penjelasannya adalah sebagai berikut: “Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. “Dengan menyimak betapa pentingnya penjelasan di atas. Pembahasan ini cukup penting. bab keempat dalam buku ini menguraikan argumen-argumen yang digunakan oleh kaum pluralis dari kalangan Muslim. niscaya nerakalah tempat mereka kelak. Sebaliknya jika ada non-Muslim yang taat dan patuh menjalankan ajaran agamanya. saya sampaikan keprihatinan saya tentang tulisan-tulisan yang menfitnah Buya Hamka. hingga kini. kesimpulan dari sebuah uraian ilmiah. saat bertemu keluarga Hamka. ia dikategorikan sebagai orang yang beriman. adalah mendefinisikan makna Pluralisme itu sendiri. Saya pribadi (Adian Husaini) juga menemukan tulisan Ayang Utriza yang menfitnah Buya Hamka dalam buku Bayang-bayang Fanatisisme: Esei-esei untuk Mengenang Nurcholish Madjid. Dalam kaitan itulah. 2007). walaupun tidak mengucapkan dua kalimat syahadat. Menurut Akmal. terutama dengan bersandar pada sejumlah ayat al-Qur’an. tesis ini tidak hanya membahas kontroversi dari artikel Syafii Maarif dan makalah Ayang Utriza NWAY belaka. maka ia tidak akan pernah mendapat ganjaran dari Allah. Diskusi publik tersebut diadakan sebagai rangkaian kegiatan dalam Nurcholish Madjid Memorial Lecture di sebuah Perguruan Tinggi di Banten. dan hanya dengan cara itulah ia bisa dianggap sebagai orang yang beriman. Kesalahan ketiga – mungkin yang paling fatal – adalah tidak dicantumkannya sebuah paragraf penting yang dapat ditemukan di akhir penjelasan ayat ke-62 dalam Surah al-Baqarah dalam Tafsir Al Azhar yang justru menyimpulkan pendapat Buya Hamka yang sebenarnya secara utuh. . Sejarah mengenalnya sebagai tokoh yang pertama kali membenarkan kenabian Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassalam berdasarkan tanda-tanda yang diketahuinya dari Injil. Kutipan makalah Peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina itu dimuat di halaman 307. dapat dijumpai di bagian akhirnya. maka penulis buku ini merasa perlu . meskipun artikel dan makalah sudah kita tulis di berbagai media massa. Hanya berselang enam hari dari dimuatnya artikel Syafii Maarif tentang Tafsir Al Azhar di surat kabar Republika. maka orang yang terlanjur dikenal sebagai Yahudi. Persoalan paling fundamental yang pasti muncul ketika membahas pluralisme. kita pun bertanya-tanya mengapa Syafii Maarif justru memilih untuk meninggalkan penjelasan ini. Masing-masing pihak yang mengusung pluralisme memiliki konsepnya sendiri-sendiri. yang hanya bermodalkan dua kalimat syahadat. sebagaimana dijelaskan oleh Anis Malik Thoha dalam bukunya Tren Pluralisme Agama. termasuk penafsiran al-Qur’an. telah terlanjur bergulir. namun mereka menolak juga. yang – jika dicantumkan – akan segera menghapus kesan pluralis dari sosok Buya Hamka dalam artikel tersebut?” tulis Akmal. Saya sudah menulis jawaban terhadap tulisan Ayang tersebut untuk buku 100 Tahun Buya Hamka. Dengan memperbandingkan penafsiran Hamka dengan penjelasan ayat-ayat tersebut oleh kaum pluralis Muslim. Oleh karena itu. Bahkan. sejarah pluralisme dan tren-tren pluralisme yang ada. Akan tetapi. Hal ini akan semakin jelas pada poin berikutnya.” Menurut Akmal. selain karena posisi sentral al-Qur’an dalam ajaran Islam. dan oleh karena itu. Contoh yang dapat diambil adalah Pendeta Bahira. untuk memperjelas posisi Hamka dalam soal Pluralisme Agama dan membentengi upaya orang-orang yang mengutip tulisan Hamka secara tidak proporsional atau bahkan memuarbalikkan makna tulisan Hamka yang sebenarnya. Hal-hal ini dijabarkan di dalam bab ketiga. Setelah mengutip beberapa poin dalam Tafsir Al Azhar – lagi-lagi untuk QS. tidaklah sulit menunjukkan kesalahan (untuk tidak menyebutnya ketidakjujuran) fatal yang dilakukan oleh Ayang Utriza NWAY. Tentu saja. kita bisa mendapatkan gambaran yang jelas mengenai persamaan dan/atau perbedaan cara berpikir keduanya. Bahira dapat dianggap sebagai Nasrani yang beriman hanya karena ia hidup pada masa prakenabian Rasulullah saw. (Jakarta: Universitas Paramadina. maka dia akan mendapatkan ganjaran dari Allah: surga. Karena pada masa hidup Buya Hamka dahulu istilah “pluralisme” belum dikenal. juga karena tokoh yang pemikirannya sedang dibahas – yaitu Buya Hamka – adalah seorang mufassir. Nasrani dan Shabi’in di masa lampau (yaitu sebelum masa kenabian Rasulullah saw) bisa beriman dan tak beriman. Fungsinya.

di tengah carut-marutnya pemikiran di Indonesia dewasa ini. sehingga usaha pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidaklah sulit untuk dilakukan. “Adapun seputar ‘klaim pluralisme’ terhadap pribadi Hamka. Poin-poin ini merupakan hal-hal yang sangat fundamental dalam gagasan pluralisme.com Ilustrasi: serbasejarah WP Red: Cholis Akbar More Sharing ServicesShare | Share on facebook Share on twitter Share on google Share on favorites KOMENTAR . pengejawantahan toleransi beragama. seorang pluralis pasti menganggap Islam sejajar dan tidak lebih unggul daripada agama lainnya. pandangan seputar aliran-aliran yang menyimpang.*/Jakarta. misalnya konsep agama. Sebagai contoh. Referensi yang telah ditinggalkan oleh Hamka begitu berlimpah. posisi Islam di antara agamaagama lainnya. buku Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme karya Saudara Akmal ini cukup memberikan penjelasan tuntas seputar kesemrawutan konsep pluralisme. dan kita menunggu terus karya-karya ilmiah yang bermutu dari para pejuang Islam lainnya.menguraikan konsep hubungan antar umat beragama menurut Hamka ke dalam beberapa poin penting. insya Allah mereka yang sudah tuntas membaca buku ini tidak akan memiliki keraguan lagi. Catatan Akhir Pekan (CAP) bekerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah. Siapa pun yang berpikiran seperi itu. Tetapi Hamka tidak berpikiran seperti itu. Walhasil.” tulis Akmal yang menyelesaikan sarjana S-1 nya di bidang civil engineering di Institut Teknologi Bandung. 20 April 2012 Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor). Semoga bermanfaat. Karya ini diharapkan mampu merangsang kembali minat para pemuda Muslim untuk menggali kembali warisan intelektual dari Buya Hamka. dan sebagainya. maka ia memang seorang pluralis. dan juga dari para cendekiawan Muslim terdahulu lainnya.

silakan kirim email ke malami. ust Adian menulis CAP tentang buku saya. Keadaan ini menyebabkan banyak muslim yg silau dgn kehebatan org-org tsb. Ahad. Senin.. baik dlm perilaku maupun peranan di masyarakat. Afwan. 20 April 2012 Alhamdulillaah.Aminnn .bookstore@gmail.. Korea selatan. smga ini m'jadi amal sholih si Penulis.. spt dalam hegemoni kekuatan-kekuatan yang datang dari non-muslim di Amerika. baik individu maupun negara. 01 Oktober 2012 Memang informasi ini sangat diperlukan khususnya dlm meluruskan asumsi salah yg beredar selama ini. termasuk agama!! Bangsa yg ditaklukan cenderung mengagumi semua hal yg datang dari para penakluknya. 22 April 2012 Ahamdulillah. Jazaakallah ahsanal jaza'.. terutama untuk membersihkan nama Buya Hamka dari klaim2 kaum pluralis. Sabtu. shg merembet pd bidang agama dengan menyatakan semua agama itu adalah sama!! Kehebatan seseorg itu bisa mempengaruhi org lain dlm semua hal: gaya hidup. bukunya memang disebarluaskan secara online. 21 April 2012 Pluralisme dan liberalisme menggejala krn kaum muslim pada hari ini belum bisa membuktikan kehebatan Islam. semoga ustadz DR Adian Husaini senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah swt untuk selalu istiqamah dlm mengawal dan menjaga kebenaran dan kesucian Islam melalui tulisan2 beliau dari upaya pengkaburan oleh kaum kuffar.Avi . keadaan muslim hari ini. dll.. 20 April 2012 Bukunya di jual gak ya ? ane berminat nih Akmal ... Mudah2an ini membantu penyebarluasan pemikiran yg terkandung di dalamnya. Bagi yg ingin memesannya. :) Nurim .amin Miftach .. jadi belum masuk ke toko-toko buku. Jepang. bahasa. Jum'at..syukron. Eropa.com. setidaknya mampu meluruskan kembali dr ketidak benaran.. Jum'at. Muhammad Abduh .

Tafsir Depag : Sudut bahasa yang digunakan sangatlah standart atau datar (dimaksudkan agar memudahkan seseorang dalam memahaminya) CONTOH PENAFISRAN HAMKA Penafsiran Buya Hamka terhadap ayat-ayat Amar Ma’rûf nahî Munkar dalam Tafsir al-Azhar. tafsir Hamka dalam menjelaskan ayat itu bercorak sosial kemsyarakatan (adabi ijtima’i). Iqbal. al Qur’an. Sementara hamka dalam menjelaskan ayat itu. dia hanya menjelaskan pengertian raj’i. kata ma’rûf ( ‫ )معشششروف‬berasal dari kata urf ( ‫ )عشششششرف‬artinya “yang .Tafsir al-Misbah : Sudut pemikirannya mendalam dan dilengkapi oleh data-data kontemporer(modern) c. Mulai dari sudut pemikiran sampai sudut bahasa yang digunakan dalam menafsirkan pun sangatlah berbeda.Karakteristik yang tampak dari tafsir al-Azhar ini adalah gaya penulisannya yang bercorak adabi ijtima’i (social kemasyarakatan) yang dapat disaksikan dengan begitu kentalnya warna setting sosial budaya Minangnya yang ditampilkan oleh Hamka dalam menafsirkan ayat-ayat al Qur’an PERBEDAAN DENGAN TAFSIR LAIN Tafsir al-Azhar sangatlah berbeda dengan tafsir-tafsir lainnya. Tafsir al-Azhar : Sudut pemikirannya selalu menggiring seseorang kepada tasawuf (karenaberangkat dari setting sosial politik pada saat tafsir ini ditulis dan untuk selamat dari kondisiseperti itu. Oleh karena itu. maupun secara individu. maka seseorang harus terjun ke dalam tasawuf.baik masyarakat kelas atas seperti raja. tidak memihak. Yaitu sebagaiberikut: Perbedaan gotong dari sudut pemikiran: royong) a. pendapat tabi’in. kamiakan membendingkan tafsir al-Azhar ini dengan tafsir Depag dan tafsir al-Misbah. Tafsir ini ditulis dalam bentuk pemikiran dengan metode analitis atau tahlili. KARAKTERISTIK TAFSIR AL-AZHAR Tafsir al-Azhar merupakan karya Hamka yang memperlihatkan keluasan pengetahuan beliau. hadits Nabi. Menurut Hamka dalam tafsir al-Azhar. serta juga dari syair-syair seperti syair Moh.Berdasarkan fakta yang demikian. Sumber penafsiran yang dipakai olehHamka antara lain. rakyat biasa.Tafsir dan Penafsiran Buya Hamka 7:09 PM Tafsir No comments CORAK TAFSIR BUYA HAMKA Agama bersifat netral. Depag : Sudut pemikirannya datar (karena tafsir ini ditulis oleh banyak ulama atau dapat dikatakan tulisan b. yang hampir mencakup semua disiplin ilmu penuh berinformasi. Perbedaan dari sudut bahasa. riwayat dari kitab tafsir mu’tabar seperti al-Manar. beliau mengguanakan contoh-contoh yang hidup di tengah masyarakat.

Begitu juga pemberian zakat. berarti yang dibenci. Pada surat al-A’râf ayat 157. karena tidak patut. segala gejala-gejala buruk yang tidak diterima oleh masyarakat secara akal sehat. seperti nabi Musa. kata ma’rûf (‫ )معروف‬yang terdapat dalam surat ini. Hamka menjelaskan bahwa sebagai nabi yang ummi. ma’rûf (‫ )معروف‬berarti perbuatan yang patut. yang memang patut dikerjakan. semua ayat ini menyerukan agar mengerjakan perbuatan yang ma’rûf dan menjauhi perbuatan keji yang dilarang oleh Allâh SWT. menjelaskan tentang peran yang telah dimainkan oleh para nabi dan rasul. Demikian sekilas penjelasan mengenai pengertian ma’rûf ( ‫ )معششروف‬dan munkar (‫ )مشنشكشششر‬menurut Hamka Seperti diketahui bahwa ayat amar ma’rûf nahî munkar dituliskan secara bersambung disebutkan dalam alQur’ân pada lima surat.dikenal. nabi Isa dan nabi Muhamad saw yang ummi. karena shalat adalah pekerjaan yang patut dilakukan. . Kalimat ‫ ينامرﻫشم بنا لمعشرو ف و يشنشهششهشم عشن المشنكشر‬yang terdapat dalam surat al-‘Arâf ayat 157 seperti tersebut di atas. beliau juga mendapat tugas untuk menyebarkan risalah ketuhanan kepada umat manusia. Lebih lanjut Hamka menjelaskan bahwa suatu perbuatan dapat dikatakan baik ( ‫ )معروف‬jika perbuatan itu dapat diterima dan dipahami oleh manusia. Risalah yang akan dibawa oleh Nabi akhir zaman itu ialah yang menyuruh akan mereka “berbuat yang ma’rûf dan mencegah akan mereka yang munkar”. yang tidak disenangi atau ditolak oleh ma¬syarakat. Di antara contoh yang diberikan Hamka adalah perintah shalat dan membayar zakat. segala perintah yang dikerjakan oleh nabi yang ummi. Kebalikan dari kata ma’rûf (‫ )معروف‬adalah kata mun¬kar ( ‫)مشنشكشر‬. termasuk ke-pada para ahl al-kitab. karena memang masyarakat miskin perlu mendapat bantuan. dalam menjalankan risalah atau nubuwah kepada umat manusia. 71. konteks amar ma’rûf dan nahî munkar menjelaskan tentang keberadaan Nabi Muhamad saw sebagai seorang rasul Tuhan. al-Hajj ayat 103. pantas dan sopan yang berlaku secara umum. pastilah sesuai dengan jiwa. Menurut Hamka. akan selalu menghadapi risiko. karena beliau telah mendapatkan amanah untuk melaksanakan yang ma’rûf (‫)معشششششششششششروف‬ dan mencegah yang munkar (‫)مشنشكششششششششششششر‬. ditafsirkan oleh Hamka dengan kalimat sehaja. Luqman ayat 17.” Dalam pengertian lain. berarti yang dikenal atau patut untuk dilakukan. karena hati nurani mengenalnya sebagai suatu yang baik. dan dipuji. Ali Imran ayat104. sebab jiwa mengenalnya sebagai suatu yang baik. serta al-Taubah ayat 67. seberat apapun risiko itu. Tetapi. sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini. Masing-masing ayat mempunyai konteks dan situasi yang berbeda. 110. tugas berat yang diemban nabi Muhamad saw.”atau“yang dapat dimengerti dan dapat dipa¬hami serta diterima oleh masyarakat. Perbuatan itu patut diterima dan dipahami ma-nusia karena memang perbuatan baik (‫ )معروف‬itulah yang patut dikerjakan oleh manusia yang berakal. yaitu al-‘Araf ayat 157. tidak pantas. Dalam konteks ini. Oleh karena itu. Nabi Muhamad dan umatnya diperintahkan untuk melaksanakan shalat. Sebagai nabi yang ummi. nabi siap menanggungnya. dan 114. Dengan kalimat pendek Hamka menyimpulkan bahwa tidak ada suatu perintahpun yang tidak ma’rûf (‫ )معروف‬kepada jiwa. Tidak selayaknya yang demikian itu dikerjakan oleh manusia berakal. dan 112. langsung disetujui oleh hatinya. Meskipun begitu. Nabi Muhamad saw adalah seorang yang ummî (yang tidak pandai menulis dan membaca) yang telah disebutkan bahwa beliau akan datang sebagai Nabi akhir zaman di dalam Taurat dan Injil. Dalam konteks amar ma’rûf nahî munkar. Apabila suatu perintah datang kepada manusia yang berakal budi. dan 103. kecuali jiwa yang sakit.

Sedang yang munkar. umum. yang tidak disenangi. Dengan dakwah. yang ditolak oleh masyarakat. semakin tinggi kecerdasan beragama. seluruh masyarakat. Artimya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan. menyuruh kepada yang ma'ruf. Suatu golongan yang terdapat dalam ayat tersebut. maka tidak ada dinamika kehidupan beragama. dan . Sebaliknya. 110. menurut Hamka. bertambah kenal orang akan yang ma’ruf. dan 114. dapat dipahami serta dapat diterima oleh manusia. apabila tidak ada dakwah. ( ‫)مشنشكشر‬. dan bertambah benci kepada yang munkar. dalam konteks ayat tersebut. membenci dan tidak menyukainya. Hamka memberikan sebuah tips. Karena begitulah yang patut dikerjakan oleh manusia yang berakal. dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (Ali-Imran:110) Artinya:mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan. kalau ada perbuatan munkar. ada dinamika kehidupan umat Islam. kalau ada orang berbuat ma’ruf. Sekiranya ahli kitab beriman. haruslah ada sekelompok orang yang mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan. terdapat dua kata penting. melarang perbuatan munkar ( ‫)مشنشكشر‬. Untuk mengatasi masalah ini. Karena itu. ada sekelompok umat yang bertugas dan bekerja keras untuk menggerakkan masyarakat agar mereka berbuat yang ma’ruf. dan mencegah dari yang munkar.Selanjutnya ayat–ayat yang menjelaskan amar ma’rûf nahî munkar ( ‫الـمـربـالـمـعـروف وا‬ ‫ لنهى عن الـمـنكر‬secara berurutan ialah surat Âli ‘Imrân ayat 104. Menurut Hamka. menjadi lebih dinamis dan agama menjadi hidup. mereka itu Termasuk orang-orang yang saleh (Ali-Imran 114) Pada surat Âl-Imrân ayat 104. tentulah itu lebih baik bagi mereka. artinya yang dibenci. Kesimpulan yang disampaikan oleh Hamka dalam penafsirannya pada surat Âli Imrân ayat 104 dalam tafsir al-Azhar adalah bahwa ‫ المشربشنالشمشعشروف وا لنهى عن الشمشنكر‬itu adalah menyeru untuk melakukan ke-bajikan dan mencegah kemunkaran. di antara mereka ada yang beriman. menurut Hamka lebih lanjut. dan mencegah perbuatan munkar (‫)مشنشكشر‬. yang dibenci dan yang tidak diterima oleh akal dan jiwa yang sehat. Sebaliknya. Menyeru atau mengajak merupakan aktivitas dakwah. adalah untuk kalangan masyarakat umum. mereka menyuruh kepada yang ma'ruf. pan-tas dan sopan. yaitu perbuatan yang patut. dan beriman kepada Allah. dan mencegah. Ayat- ayat tersebut adalah sebagai berikut. yaitu me-nyuruh berbuat ma’rûf ( ‫)معروف‬. umumnya menyetujui. seluruh masyarakat menolak. Ali-Imran:104) Artinya: kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Untuk itu. yaitu melakukan dakwah. dan dipuji. dan mencegah dari yang Munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan. yaitu. memiliki tugas dan kewajiban untuk mengajak dan membawa manusia kepada kebaikan. terdapat hal penting yang menjadi tugas dan kewajiban umat manusia. Kata ma’rûf (‫)معروف‬. Menurutnya. menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung (QS. supaya masyarakat itu bertambah tinggi nilainya. diambil dari kata ‘urf (‫( عشرف‬yang berarti dikenal atau yang dapat dimengerti. Dalam konteks dakwah. Hamka tampaknya membagi bidang garapan dakwah menjadi dua. yaitu ummat. dan menjauhi yang munkar. membenarkan dan memuji. yaitu pengetahuan keagamaan dan sikap keberagamaan. karena tidak patut dan tidak pantas untuk dikerjakan. Oleh karena itu. menyuruh berbuat ma’rûf (‫)معروف‬. hendaknya dalam suatu masyarakat.

Sedang dakwah ke luar Islam tujuannya agar masyarakat non-muslim memahami posisi Islam sebagai sebuah agama damai dan memberikan pengertian tentang hakikat kebenaran Islam kepada orang-orang yang belum memeluknya. menurut Hamka memiliki dua kata penting. sebagai bagian dari aktivitas dakwah. kemajuan dan kemundurannya sangat tergantung pada dakwah. yaitu me¬mupuk kepercayaan dan iman kepada Tuhan. yaitu ‫يشدعشنون الى الشخشثيشر‬mengajak pada ke-baikan. yaitu dakwah di kalangan umat Islam sendiri. Diharapkan dengan adanya kegiatan dakwah. ditujukan kepada keluarga sendiri. artinya umat mengajak pada kebaikan yang terdapat pada surat Âl-Imrân ayat 104. Sebaliknya. termasuk tauhid dan ma’rifat. yang dimaksud di dalam ayat ini adalah Islam. Sebab kehidupan agama. bila dakwah ke dalam. dengan yang munkar (‫)مشنشكششششششششر‬ tidak ada lain kecuali ajaran Islam. yaitu amar ma’ruf dan nahi munkar ‫المشربشنالشمشعشروف وا لنهى عن الشمشنكر‬. agar patuh kepada Tuhan. menurutnya. Tujuannya. Sedang dakwah yang bersifat khusus. maka akan berdampak pada sikap dan perilaku seseorang dalam bermasyarakat. sehingga mampu melakukan yang ma’ruf (‫ )معروف‬dan mencegah yang munkar (‫)مشنشكشر‬. sehingga ia memiliki keberanian untuk melakukan kebaikan dan mencegah keburukan. Dengan kesadaran beragama yang tinggi. sehingga masyarakat memiliki pengetahuan dan kesadaran beragama yang tinggi. yaitu munkar ( ‫)مشنشكشر‬. Menurut Hamka. Hal itulah. maka hal itu dapat dijadikan sebagai indikator masyarakat yang sedang sakit. serta menangkis tuduhan yang tidak benar yang diarahkan kepada agama Islam. terhenti. diharapkan umat Islam semakin kuat kesadaran beragamanya. Kalimat ‫ يشدعشنون الى الشخشثيشر امشﺔ‬. menurut Hamka sebagai hakikat kesadaran beragama yang menimbulkan pengetahuan sehingga dapat membedakan mana yang baik. Oleh karena itu. yaitu ummatun (‫ ) امشﺔ‬dan kedua kata yad’ûna ‫ يشدعشنون‬. Bila amar ma’ruf nahi munkar ‫المشربشنالشمشعشروف وا لنهى عن الشمشنكر‬. untuk keluarga sendiri. juga dakwah ke masyarakat luar Islam. hendaklah ada segolongan umat yang menjadi inti. maka percuma saja menyebut yang ma’rûf (‫)معروف‬. Seperti ditegaskan sebelumnya bahwa Hamka mengartikan kata ma’ruf ( ‫ )معروف‬dengan suatu perbuatan baik yang diterima oleh masyarakat dan akal sehat. akan terbentuk masyarakat yang sehat. ketiga kewajiban itu.khusus. dan ketiga mengajak kepada kebaikan (‫ )الخشثيشششر‬Menurut Hamka. atau seluruh umat ini sendiri sadar akan kewajibannya yaitu melaksanakan dakwah. menurut Hamka pentingnya juru dakwah atau da’i memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai ajaran agama Islam yang sebenarnya. yang dimaksud dengan kata (‫)الخشثيشر‬ yang berarti kebaikan. yang ma’ruf ( ‫)معروف‬. melarang berbuat munkar(‫)مشنشكشر‬. seorang da’i apabila berdakwah hendaklah ia mengeluarkan pendapat umum yang sehat atau public opini yang sehat dan dapat diterima masyarakat umum. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa dikalangan umat Islam yang besar jumlahnya. apabila sikap keberagamaan masyarakat belum tumbuh dan masih rendah. Dakwah yang bersifat umum adalah memberikan penjelasan kepada masyarakat serta mengajak mereka untuk memahami hikmah ajaran Islam yang benar. Oleh sebab itu. dan menentang yang munkar. dan mana yang tidak baik. adalah mereka yang . mereka yang melakukan kebaikan ( ‫ )الشخشثيشر‬dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. semua berpusat pada yang satu. Di dalam ayat 104 surat Âl-Imrân ini terdapat 3 (tiga) kewajiban. menurut Hamka untuk membedakan yang ma’rûf ( ‫)معشششششششروف‬. yaitu menyuruh berbuat ma’ruf ( ‫)معروف‬. Sebab. yang kerjanya khusus mengadakan dakwah. Di sinilah. lanjut Hamka. Pelaksanaan dakwah yang dimaksudkan Hamka tidak hanya kegiatan dakwah ke dalam.

yakni menyampaikan yang baik dan melarang kepada yang munkar. Karena mereka telah melakukan amar ma’ruf nahi munkar ‫المشربشنالشمشعشروف وا‬ ‫ لنهى عن الشمشنكر‬. yaitu kebaikan. Karena perbuatan demikian merupakan ujung tombak dari dakwah Islam. mencegah orang dari al-munkar ( ‫)وا لنهى عن الشمشنكر‬. Oleh karena itu. baca juga ulama tafsir Quraisy Shihab . mengajak orang kepada al-khair (‫)يشدعشششنون الششى الشخشثيشششر‬. ke-simpulan umum yang hendak dijelaskan pada ayat ini adalah suatu kewajiban bagi umat Islam untuk menyampaikan yang ma’ruf ( ‫ )معروف‬dan melarang perbuatan yang munkar( ‫)مشنكر‬. lafal atau kata al-khair (‫ )الشخشثيشر‬dan lafal al-ma’rûf ‫ الشمشعشروف‬menurut harfiahnya sama. Kedua. lanjut yach. dan mengajak pada kebaikan. mengajak orang kepada yang al-ma’rûf ( ‫)المشربشنالشمشعشروف‬. Terdapat dua ka-ta yang berbeda akan tetapi memiliki pengertian sama.akan memperoleh kemenangan. Dari terjemahan ayat tersebut. sehingga keburukan dapat dihindari atau dikalahkan. Ketiga.. Pertama. ada tiga hal yang harus dilakukan oleh kaum muslimin. Dalam konteks ini ayat tersebut di atas. sehingga umat menjadi pelopor kebajikan di dalam dunia..