Tafsir Al-Furqon adalah karya besar A.

Hassan

Bagian pertama al-Furqon diterbitkan pada tahun 1928. Terbitan pertama itu mungkin belum seperti yang diharapkan karena baru dapat memenuhi sebagian ilmu yang diperlukan oleh umat Islam di Indonesia. Untuk memenuhi desakan sejumlah anggota Persatuan Islam, bagian kedua tafsir itu diterbitkan tahun 1941, tetapi hanya sampai Surah Maryam. Selanjutnya, atas bantuan seorang pengusaha, yaitu Sa’ad Nabhan, pada tahun 1953 barulah proses penulisannya dilanjutkan kembali hingga akhirnya tulisan Tafsir Al-Furqân secara keseluruhan (30 juz) dapat diterbitkan pada tahun 1956. Mengingat tafsir tersebut ditulis pada dekade sebelum 1960-an, bahasa Indonesia yang digunakan pun tentunya bahasa Indonesia yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada saat itu. Dalam periode selanjutnya bahasa Indonesia mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat berarti, terutama setelah ditetapkannya Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Edisi Kedua, 1987), penulisan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Pertama, 1988), Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Pertama, 1988), dan Pedoman Transliterasi Arab-Indonesia (1987). Penulisan tafsir ini yang merupakan langkah pertama dalam sejarah penerjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia itu dilakukan dalam kurun waktu 1920-1950-an. Dalam penerjemahan ayat-ayat al-Qur’an, A. Hassan menggunakan metode harfiah, yaitu penerjemahan kata demi kata, kecuali terhadap beberapa hal yang tidak memungkinkan penggunaan metode itu. Untuk hal seperti itu, barulah A. Hassan menggunakan metode maknawiah (semantik). Tafsir Al-Furqân merupakan gabungan dari terjemahan dan tafsiran yang dilakukan oleh A. Hassan, seorang yang dikenal luas reputasi keilmuannya. Usaha yang serius dan bertanggung jawab yang dilakukannya dalam tafsir ini diakui oleh banyak kalangan sebagai usaha yang berhasil. Bahkan, tidak sedikit orang yang lebih memilih menggunakan tafsir ini untuk mendapatkan terjemahan dan pemahaman Qur’an daripada tafsir dan terjemahan Qur’an dalam bahasa Indonesia yang lain. Inilah yang membuat keinginan keluarga besar A. Hassan untuk memutakhirkan bahasa Indonesia tafsir ini disambut oleh tim, sebagai upaya pelestarian aset intelektual bangsa. Ini juga merupakan upaya untuk menjaga amal jariah yang ditinggalkan A. Hassan, yang akan baik bila tidak diputus rantainya hanya karena bahasa yang dipergunakan sudah tidak akrab lagi dengan pembaca masa kini.

TAFSIR AN-NUR Karya Prof. Dr. Hasbi al-shiddieqy

TAFSIR AN-NUR Karya Prof. Dr. Hasbi al-shiddieqy by sariono sby I. PENDAHULUAN RIWAYAT TAFSIR AN-NUR Tafsir An-Nur ini dikerjakan oleh Hasbi Ash-Shiddiqy sejak tahun 1952-1961 (sembilan tahun) di sela-sela kesibukannya mengajar, memimpin fakultas, menjadi anggota konstituante dan kegiatan-kegiatan lainnya. Hidupnya yang sarat dengan beban itu tidak memberi peluang baginya untuk secara konsisten mengikuti tahap-tahap kerja yang lazim dilakukan oleh penulis-penulis profesional. Dengan bekal pengetahuan, semangat dan dambaannya untuk menghadirkan sebuah kitab tafsir dalam bahasa indonesia yang tidak hanya sekedar terjemahan, ia mendiktekan naskah kitab tafsirnya ini kepada seorang pengetik dan langsung menjadi naskah siap cetak. Memang ketika ia mendiktekan naskah itu, di atas meja kerjanya penuh terhampar buku-buku referensi dan catatan-catatannya berupa kertas berserakan. Itulah yang menjadi salah satu penyebab terjadi pengulangan informasi, penekanan ayat, penomoran catatan kaki yang tidak mengikuti metode penulisan karya ilmiah dalam tafsir ini. Tafsir an-Nur telah dicetak sebanyak dua kali, cetakan yang kedua telah mengalami beberapa penyempurnaan menyangkut penggantian kulit muka dan struktur bahasa indonesia. Tafsir An-Nur yang pertama terbit pada tahun 1956, ini adalah kitab tafsir pertama yang diterbitkan di indonesia, sehingga merupakan pelopor dari khazanah perpustakaan di tanah air, menurut penilaian seorang mubaligh, tafsir ini mudah dicerna tidak saja oleh golongan pemula, namun juga bisa dipelajari dan dijadikan objek penelitian dan para peminat tafsir. Penerbitan cetakan kedua dilakukan penyempurnaan bahasa oleh H. Sudarto, seorang wartawan yang berdiam di Semarang, dan juga penyuntingan, persiapan sistem penyusunan tafsir oleh alm. Prof. Dr. Nourrouzzaman shiddiqi, M. A. (salah seorang putera alm. Teungku muhammad hasbi ash-shiddiqi, yang wafat pada tanggal 19 Juli 1999). II. BIOGRAFI HASBI AL-SHIDDIEQY Prof. DR. Hasbi al-Shiddieqy Lahir di Lhokseumawe, 10 Maret 1904 – Wafat di Jakarta, 9 Desember 1975. Seorang ulama Indonesia, ahli ilmu fiqh dan usul fiqh, tafsir, hadis, dan ilmu kalam. Ayahnya, Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husein ibn Muhammad Su’ud, adalah seorang ulama terkenal di kampungnya dan mempunyai sebuah pesantren (meunasah). Ibunya bernama Teungku Amrah binti Teungku Chik Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz, putri seorang Qadhi Kesultanan Aceh ketika itu. Menurut silsilah, Hasbi al-Shiddieqy adalah keturunan Abu Bakar al-Shiddieq (573-13 H/634 M), khalifah pertama. Ia sebagai generasi ke-37 dari khalifah tersebut melekatkan gelar al-Shiddieqy di belakang namanya. Pendidikan agamanya diawali di dayah (pesantren) milik ayahnya. Kemudian selama 20 tahun ia mengunjungi berbagai dayah dari satu kota ke kota lain. Pengetahuan bahasa Arabnya diperoleh dari Syekh Muhammad ibn Salim al-Kalali, seorang ulama berkebangsaan Arab. Pada tahun 1926, ia berangkat ke Surabaya dan melanjutkan pendidikan di Madrasah al-Irsyad, sebuah organisasi keagamaan yang didirikan oleh Syekh Ahmad Soorkati (1874-1943), ulama yang berasal dari Sudan yang mempunyai pemikiran modern ketika itu. Di sini ia mengambil pelajaran takhassus (spesialisasi) dalam bidang pendidikan dan bahasa. Pendidikan ini dilaluinya selama 2 tahun. Al-Irsyad dan Ahmad Soorkati inilah yang ikut berperan dalam membentuk pemikirannya yang modern sehingga, setelah kembali ke Aceh. Hasbi ash-Shiddieqy langsung bergabung dalam keanggotaan organisasi Muhammadiyah. Pada zaman demokrasi liberal ia terlibat secara aktif mewakili Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) dalam perdebatan ideologi di Konstituante. Pada tahun 1951 ia menetap di Yogyakarta dan mengkonsentrasikan diri dalam bidang pendidikan. Pada tahun 1960 ia diangkat menjadi dekan Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Jabatan ini dipegangnya hingga tahun 1972. Kedalaman pengetahuan keislamannya dan pengakuan ketokohannya sebagai ulama terlihat dari beberapa gelar doktor (honoris causa) yang diterimanya, seperti dari Universitas Islam Bandung pada 22 Maret 1975 dan dari IAIN

Sunan Kalijaga pada 29 Oktober 1975. Sebelumnya, pada tahun 1960, ia diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu hadis pada IAIN Sunan Kalijaga. Hasbi ash-Shiddieqy adalah ulama yang produktif menuliskan ide pemikiran keislamannya. yang didasari karena lima jasa yang dimiliki oleh beliau, yakni : 1. Pembinaan IAIN; 2. Perkembangan Ilmu agama Islam; 3. Jasa-jasa beliau kepada masyarakat; 4. Pokok-pokok pemikiran beliau tentang cita-cita hukum Islam, dan: 5. Pendapat-pendapat beliau tentang beberapa masalah hukum. Sementara gelar Professor dalam bidang ilmu Hadits beliau peroleh tahun 1962 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama No. B.IV.I/37-92 tanggal 30 Juli 1962 dan dikukuhkan dengan Keputusan Presidn RI No. 71/M-1 tanggal 22 Mei 1963. Ada beberapa sisi menarik pada diri Muhammad Hasbi, antara lain: Pertama, ia adalah seorang otodidak. Pendidikan yang ditempuhnya dari dayah ke dayah, dan hanya satu setengah tahun duduk di bangku sekolah Al Irsyad (1926). Dengan basis pendidikan formal seperti itu, ia memperlihatkan dirinya sebagai seorang pemikir. Kemampuannya selaku seorang intelektual diakui oleh dunia internasional. Ia diundang dan menyampaikan makalah dalam Internasional Islamic Colloquium yang diselenggarakan di Lahore Pakistan (1958). Selain itu, berbeda dengan tokoh-tokoh lainnya di Indonesia, ia telah mengeluarkan suara pembaharuan sebelum naik haji atau belajar di Timur Tengah. Kedua, ia mulai bergerak di Aceh, di lingkungan masyarakat yang dikenal fanatik, bahkan ada yang menyangka “angker”. Namun Hasbi pada awal perjuangannya berani menentang arus. Ia tidak gentar dan surut dari perjuangannya kendatipun karena itu ia dimusuhi, ditawan dan diasingkan oleh pihak yang tidak sepaham dengannya. Ketiga, dalam berpendapat ia merasa dirinya bebas tidak terikat dengan pendapat kelompoknya. Ia berpolemik dengan orang-orang Muhammadiyah dan Persis, padahal ia juga anggota dari kedua perserikatan itu. Ia bahkan berani berbeda pendapat dengan jumhur ulama, sesuatu yang langka terjadi di Indonesia. Keempat, ia adalah orang pertama di Indonesia yang sejak tahun 1940 dan dipertegas lagi pada tahun 1960, menghimbau perlunya dibina fiqh yang berkepribadian Indonesia. Himbauan ini menyentak sebagian ulama Indonesia. Mereka angkat bicara menentang fiqh (hukum in concreto) di-Indonesia-kan atau dilokalkan. Bagi mereka, fiqh dan syariat (hukum in abstracto) adalah semakna dan sama-sama universal. Kini setelah berlalu tigapuluh lima tahun sejak 1960, suara-suara yang menyatakan masyarakat muslim Indonesia memerlukan “fiqh Indonesia” terdengar kembali. Namun sangat disayangkan, mereka enggan menyebut siapa penggagas awalnya. Mencatat penggagas awal dalam sejarah adalah suatu kewajiban, demi tegaknya kebenaran sejarah. Pada tanggal 9 Desember 1975, berusia 71 tahun, setelah beberapa hari memasuki karantina haji, dalam rangka menunaikan ibadah haji, beliau berpulang ke rahmatullah, beliau meninggal di Rumah Sakit Islam Jakarta dan jasad beliau dimakamkan di pemakaman keluarga IAIN Ciputat Jakarta. Pada waktu pemberangkatan jenazahnya dari rumah anaknya yang bungsu di Tanjung Duren Selatan Jakarta Barat ke Pekuburan IAIN Syarif Hidayatullah di Ciputat Jakarta selatan telah memberikan kata sambutan pelepasan : Amelz (Abdul Manaf el-Zamzami) mewakili keluarga, serta Prof. Dr. Hamka dan Drs. H. Kafrawi Ridwan, M.A atas nama menteri agama. Makamnya berdampingan dengan Prof. Thoha Yahya Umar M.A, dan dekat makam Sa’adudin Jambek. III. KARYA-KARYA HASBI ASH-SHIDDIEQY Hasbi Ash-Shiddieqy adalah seorang alim yang sangat produktif dan banyak menulis. Karya tulisnya mencakup berbagai disiplin ilmu keislaman. Menurut catatan, buku yang ditulisnya berjumlah 73 judul (142 jilid). Sebagian besar karyanya adalah tentang fiqh (36 judul). Bidang-bidang lainnya adalah hadis (8 judul), tafsir (6 judul), tauhid (ilmu kalam; 5 judul). Sedangkan selebihnya adalah tema-tema yang bersifat umum. Beberapa diantaranya adalah : 1. Tafsir an-Nur 2. Al-Bayan, yang merupakan penyempurnaan dari tafsir an-nur 3. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an. Karena keahliannya dalam bidang tafsir, sehingga ia diberi penghargaan sebagai salah seorang penulis tafsir terkemuka di Indonesia pada tahun 1957/1958, serta dipilih sebagai wakil ketua lembaga penerjemah dan Penafsir al-Qur’an Departemen Agama RI. 4. Pengantar Hukum Islam 5. Peradilan dan Hukum Acara Islam

6. Sejarah Pengantar Ilmu Hadis 7. Pokok-pokok Ilmu Diniyah Hadis (I-II) 8. Kuliah Ibadah 9. Fiqh Mawaris 10. Pedoman Haji 11. Pidana Mati dalam Syariat Islam 12. Hukum-hukum Fiqih Islam 13. Pengantar Fiqh Muamalah 14. Filsafat Hukum Islam 15. Kriteria antara Sunnah dan Bid’ah 16. Buklet “ Penoetoep Moeloet” (karya pertama pada awal tahun 1930-an) 17. Buku Al-Islam, dua jilid (1951) 18. Buku Pedoman Shalat, yang dicetak ulang sebanyak 15 kali oleh dua percetakan yang berbeda (1984) 19. Buku Mutiara Hadits, sebanyak 8 jilid (1968) 20. Buku Koleksi Hadits Hukum, sebanyak 11 jilid, baru terbit 6 jilid (1971) dll. IV. METODE PENAFSIRAN Untuk menentukan metode apa yang di gunakan oleh Hasbi Ash-Shiddieqy, harus diketahui dulu motivasi dan sumber-sumber dalam penafsiran An-Nur. Pada kata pengantar Tafsir An-Nur, beliau mengatakan : Indonesia membutuhkan perkembangan tafsir dalam bahasa persatuan Indonesia, maka untuk memperbanyak lektur Islam dalam masyarakat Indonesia dan untuk mewujudkan suatu tafsir yang sederhana yang menuntun para pembacanya kepada pemahaman ayat dengan perantaraan ayat-ayat itu sendiri. Sebagaimana Allah telah menerangkan ; bahwa Al-Qur’an itu setengahnya menafsirkan yang setengahnya, yang meliputi penafsiran-penafsiran yang diterima akal berdasarkan pentakhwilan ilmu dan pengetahuan, yang menjadikan intisari pendapat para ahli dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan yang diisyaratkan AlQur’an secara ringkas. Dengan berharap taufiq dan inayah yang maha pemurah lagi maha penyayang, kemudian dengan berpedoman kepada kitab-kitab tafsir yang mu’tabar, kitab-kitab hadits yang mu’tamad, kitab-kitab sirah yang terkenal. Saya menyusun kitab tafsir in dengan saya namai “An-Nur. Melihat ungkapan diatas, terlihat bahwa motivasi Hasbi Ash-Shiddieqy sangat mulia yaitu untuk memenuhi hajat orang Islam di Indonesia untuk mendapatkan tafsir dalam Bahasa Indonesia yang lengkap, sederhana dan mudah dipahami, sesrta ia menerangkan sepenggal-sepenggal ayat al-qur’an dengan menulisnya menggunakan bahasa latin dimaksudkan agar orang-orang yang tidak bisa membaca al-qur’an dengan bahasa arabnya maka ia bisa membacanya dengan huruf latin. Sumber yang beliau gunakan dalam menyusun tafsir An-Nur adalah : 1. 'Umdatut Tafsir 'Anil Hafidz Ibnu Katsir, 2. Tafsir al-Manar(karya Muhammad Abduh); 3. Tafsir al-Qasimy; 4. Tafsir al-Maraghy (karya Ahmad Musthafa al-Maraghi), dan 5. Tafsir al-Wadhih. Sedangkan metode yang dilakukan oleh Hasbi Ash-Shiddieqy adalah: Pertama, mengemukakan ayat-ayat yang akan ditafsirkan satu, dua, atau tiga ayat dan kadang-kadang lebih. Dan dalam hal ini Hasbi Ash-Shiddieqy menuruti al-maragy, yang pada umumnya menuruti al-manar dan kadang-kadang menuruti tafsir al-wadhih. Kedua, ayat-ayat tersebut kemudian di bagi kepada beberapa jumlah. Masing-masing jumlah ditafsirkan sendiri-sendiri. Ketiga, dalam menerjemahkan ayat ke dalam bahasa indonesia, Hasbi Ash-Shiddieqy berpedoman kepada tafsir abu suud, tafsir shiddiqy hasan khan dan tafsir al-qasimy. Keempat, menerangkan tafsiran ayat, dalam materi penafsiran Hasbi Ash-Shiddieqy mensarikan dari uraian al-maraghy dan al-manar, dan dalam menafsirkan ayat-ayat yang semakna menuruti tafsir al-imam ibnu katsir. Kelima, menerangkan asbabun nuzul ayat, apabila terdapat atsar yang diakui keshahihannya oleh ahli atsar. Metode semacam ini juga dipergunakan oleh mufassir pada abad modern yang ditulis pasca kebangkitan umat Islam, seperti metode yang dipakai Prof. DR. Hamka (Indonesia). Berdasarkan sumber-sumber yang dipakai, maka dapat diketahui bahwa metode yang dipakai oleh Hasbi Ash-Shiddieqy dalam menyusun tafisir An-Nur adalah metode campuran antara metode bil Ro’yi atau bil

Ma’qul. Hal ini juga beliau kemukakan bahwa, dalam menyusun tafsir ini berpedoman pada tafsir induk, baik kitab tafsir bil Matsur maupun kitab tafsir bin Ma’qul. Sementara jika diperhatikan sistematika yang terkandung dalam kitab tafsir An-Nur, terdiri dari 4 (empat) tahap pembahasan, yakni : 1. Penyebutkan ayat secara tartib mushaf tanpa diberi judul; 2. Terjemahan ayat kedalam Bahasa Indonesia dengan diberi judul “Terjemahan”; 3. Penafsiran masing-masing ayat dengan didukung oleh ayat yang lain, hadits, riwayat Shahabat dan Tabi’in serta penjelasan yang ada kaitannya dengan ayat tersebut dan tahapan ini diberi judul “Tafsirnya”; 4. Kesimpulan, intisari dari kandungan ayat yang diberi judul “Kesimpulan”. V. KESIMPULAN Tafsir An-Nur karya Hasbi Ash-Shiddieqy tidak mempunyai corak dan orientasi terhadap bidang tertentu, sebab kalau diperhatikan semua tafsirnya tidak memuat bidang ilmu tertentu, seperti bidang Bahasa, hukum, sufi, filsafat dan sebagainya. Hasbi Ash-Shiddieqy membahasnya dengan mengaitkan bidang ilmu pengetahuan secara merata artinya tidak ada penekanan pada bidang tertentu, sebab membahas dengan memfokuskan pada bidang tertentu menurutnya akan membahwa para pembaca keluar dari bidang tafsir. Pada kata pengantar kitab tafsir an-Nur beliau menyatakan : “Meninggalkan uraian yang tidak langsung berhubungan dengan tafsir ayat, supaya tidak selalu para pembaca dibawa keluar dari bidang tafsir, baik ke bidang sejarah atau bidang ilmiah yang lain” Dari ungkapan di atas, Hasbi Ash-Shiddieqy tidak bermaksud menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan uraian ilmiah yang panjang lebar yang dikhawatirkan keluar dari tujuan ayat-ayat tertentu. Dengan demikian tafsir An-Nur tidak mempunyai corak atau orientasi tertentu, namun bisa dikatakan komplit, artinya meliputi segala bidang. http://referensiagama.blogspot.com

karena memegangteguh ajaran Al-Qur’an merupakan sumber kebahagiaan. Beliau adalah imam masjid Al-Azhar Kebayoran. Jakarta. yang kesemuanya itu harus dipedomani oleh mereka yang mengaku menjadikan Al-Qur’an sebagai Kitab Sucinya. Sekilas Biografi Prof. Kemunculan para mufasir dari satu masa ke masa berikutnya memperpanjang daftar perbendaharaan rahasia dan ilmu-ilmu Al-Qur’an. sehingga timbul heboh karena ada pihak yang tidak setuju kiai mengarang roman.[2] Sekilas Profil Tafsir Al-Azhar Kitab Tafsir berbahasa Indonesia yang akan kita kaji sekarang ini adalah terbitan Pustaka Panjimas. I’jâz AlQur’an. Sosok yang ditampilkan sangat mungkin tidak utuh (karena berbagai pertimbangan). sang mufasir terlebih dahulu memberikan banyak pembukaan. bentuk serta coraknya. penemuan ilmu-pengetahuan dan kemajuan akal-pikir manusia semakin memperjelas betapa luasnya samudera hikmah yang dikandung AlQur’an. Pergantian zaman. Tahun 1924 mulai merantau ke tanah Jawa untuk belajar antara lain kepada HOS Cokroaminoto. Menafsirkan Al-Qur’an. Pendidikan formalnya hanya sampai SD. DR. dan sepeninggal beliau. Ayahku (1949. Al-Qur’an Lafaz dan Makna. 1982. lalu aktif dalam organissi Muhammadiyah. bahkan hingga sekarang dan yang akan datang. kumpulan cerita pendek). Di antara roman yang ditulisnya adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938). 16 Februari 1908 dan wafat di Jakarta. terutama tentang manhaj yang ditempuh oleh sang mufasir serta bagaimana penerapannya dalam tafsirnya. Ia adalah putera seorang ulama terkemuka. perintah dan larangan. Isi Mu’jizat Al-Qur’an. tetapi banyak belajar sendiri (otodidak). Lahir di Maninjau. semenjak ia turun pada masa hidup Rasulullah Saw. Pandahuluan. Pada setiap fase waktu dapat kita temukan “peninggalan” tafsir yang sejalan dengan tuntutan dan dinamika masanya. dan terakhir Hikmat Ilahi. Pada waktu itu ia mulai banyak menulis roman. Keharusan itu dapat dipahami. seluruhnya ratusa judul. terutama dalam bidang agama. Sumatera Barat. 2011 Pendahuluan Al-Qur’an merupakan sumber tasyri’ dan hukum yang menuntut kaum muslimin untuk mengetahui. Beliau dikenal sebagai seorang tokoh dan pengarang (pujangga) Islam. yang terdiri dari: Kata Pengantar. yang mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar Mesir dan membawa pembaharuan dalam soal agama di Minangkabau. Tahun 1927 berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Dalam Kata Pengantar.STUDI ANALISIS ATAS TAFSIR AL-AZHAR Karya Prof. 24 Juli 1981. Dalam kesempatan itulah ia menyelesaikan Tafsir Al-Azhar-nya. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang halal-haram. Dr. Hamka menyebut beberapa nama yang ia anggap berjasa bagi dirinya dalam pengembaraan dan pengembangan keilmuan keislaman yang ia jalani. Yang penulis coba tampilkan dalam makalah ini memang hanya sisi-sisi yang dianggap penting saja. banyak sudah ulama yang mencurahkan perhatiannya untuk membidangi tafsir dengan berbagai manhaj. cetakan I. Hamka Hamka adalah nama singkatan Haji ‘Abdul Malik Karim Amrullah. petunjuk dan kemenangan di sisi Tuhan berupa surga yang penuh kenikmatan. Kemudian menetap di Medan di mana ia aktif sebagai ulama dan bekerja sebagai redaktur majalah Pedoman Masyarakat dan Pedoman Islam (1938-1941). Untuk merespon kenisacayaan itu. Sementara itu sejak tanggal 21 Mei 1981 Hamka meletakkan jabatannya selaku ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Merantau ke Deli (1940). Hamka December 30. Hamka banyak sekali menulis buku tentang Islam. dalam sejarah perjalanan umat ini bersama Kitab Sucinya. Di Dalam Lembah Kehidupan (1940. etika dan akhlak. Di antara karya tafsir modern Indonesia yang dapat kita jumpai dengan cukup mudah dan banyak dibicarakan (dikaji) orang adalah Tafsir Al-Azhar. dan lainnya. Nama-nama yang disebutnya itu boleh jadi merupakan orang-orang pemberi motivasi untuk segala karya cipta dan dedikasinya terhadap . Mengapa Dinamai “Tafsir Al-Azhar”. yang terkenal dengan sebutan Haji Rasul. Tulisan ini akan coba menampilkan sosok tafsir tersebut. Al-Qur’an. mendalami dan mengamalkan segala isinya. merupakan riwayat hidup dan kisah perjuangan ayahnya). Haluan Tafsir. Jika demikian halnya. maka aktivitas tafsir Al-Qur’an serta upaya penjelasan makna-maknanya yang dianggap musykil oleh kebanyakan kaum Muslimin menjadi suatu keniscayaan. Keahliannya dalam Islam diakui dunia internasional sehingga kemudian mendapat gelar kehormatan dari Universitas Al-Azhar (1955) dan dari Universiti Kebangsaan Malaysia (1976). Sebelum betul-betul masuk dalam tafsir ayat Al-Qur’an.[1] Di zaman Orde Lama pernah meringkuk dalam tahanan beberapa tahun. Pernah memimpin majalah Panji Masyarakat yang terbit sejak 1959.

Suatu tafsir yang hanya mengekor riwayat atau naqal dari ulama terdahulu. Syaikh Muhammad Amrullah (kakek). sejarah dan lainnya lalu menyesuaikannya dengan perkembangan politik dan kemasyarakatan yang sesuai dengan zaman di waktu tafsir itu ditulis. Hamka mengabarkan bahwa Tafsir Al-Azhar ditulis dalam suasana baru.[7] Hingga di sini penulis makalah hendak mengatakan bahwa Tafsir Al-Azhar mempunyai corak non-mazhabi. wajiblah ilmu sangat dalam benar lebih dahulu. Dan Hamka sendiri.” demikian Hamka mengawali paparannya tentang haluan tafsir. fikih. Bagian yang penulis anggap menarik dari sub-sub yang terdapat dalam pembukaan tafsir Al-Azhar adalah sub “Haluan Tafsir” dan “Mengapa Dinamai Tafsir Al-Azhar”.”[6] Masih dalam kerangka “Haluan Tafsir”. mengakui bahwa ia tidaklah ta’ashshub kepada satu paham. menguraikan makna dan lafaz bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan memberi kesempatan orang buat berpikir. dalam sub ini Hamka sadar betul akan pentingnya pemenuhan syarat-syarat tafsir bagi orang yang hendak menafsir.pengembangan dan penyebarluasan ilmu-ilmu keislaman. sebagai penulis Tafsir. dalam arti menghindar dari perselisihan kemazhaban. juga disebutnya sebagai guru-gurunya.[5] Masih dalam kerangka “Haluan Tafsir”. Hamka mengemukakan ketertarikan hatinya terhadap beberapa karya tafsir. tetapi penulis tidaklah mengakui bahwa penulis sudah sangat alim dalam segala itu……Maka kalau menurut syarat yang dikemukakan ulama tentang ilmu-ilmu itu. kalau hanya memperturutkan akal sendiri. memelihara sebaik mungkin hubungan antara naqal dan ‘aql’. sehingga dengan tidak disadari boleh jadi menjauh dari maksud agama. patokan-patokan yang berat itu tidak harus menjadi kendala dan penghalang bagi lahirnya karya-karya baru tafsir. berarti hanya suatu textbook thinking belaka. Haluan Tafsir “Tiap-tiap tafsir Al-Qur’an memberikan corak haluan daripada peribadi penafsirnya.[3] Di bawah Pendahuluan Hamka menyitir beberapa patokan dan persyaratan yang mesti dimiliki oleh seseorang yang akan memasuki gelanggang tafsir. Ia menulis: “Syarat-syarat itu memang berat dan patut. maka perselisihan-perselisihan mazhab dihindari dalam Tafsirnya. ia nilai sebagai “satu tafsir yang munasabah buat zaman ini. Sebaliknya. Meskipun dalam hal riwâyah ia belum (tidak) mengatasi al-Manâr. Tafsir ini ia nilai sebuah sosok tafsir yang mampu menguraikan ilmu-ilmu keagamaan sebangsa hadis. ayahnya sendiri. Doktor Syaikh Abdulkarim Amrullah. tidak pula melulu menuruti pertimbangan akal seraya melalaikan apa yang dinukil dari penafsir terdahulu. al-Qâsimî dan Fî Zhilâl Al-Qur’ân juga termasuk tafsir-tafsir yang Hamka ‘saluti’. Tafsir yang disebut terakhir misalnya. tempat Al-Qur’an ini akan diterjemah dan ditafsirkan tidaklah penulis tafsir ini termasuk ahli yang sangat terkemuka. antara riwâyah dan dirâyah. Kalau tidak ada syarat demikian tentu segala orang dapat berani saja menafsirkan Al-Qur’an. baik fikih maupun kalam. Hamka. Dalam Tafsir Al-Azhar-nya. Hamka menjanjikan bahwa ia tidak hanya semata-mata mengutip atau menukil pendapat yang telah terdahulu. tidak terkecuali karya tafsirnya. besar bahayanya akan terpesona keluar dari garis tertentu yang digariskan agama melantur ke mana-mana.” Secara jujur Hamka mengatakan bahwa Tafsir karya Sayyid Quthub itu banyak mempengaruhinya dalam menulis tafsir Al-Azhar-nya. Nama-nama itu antara lain. tafsir al-Marâghî. namun dalam dirâyah ia telah mencocoki pikiran setelah Perang Dunia II. di negara yang penduduk Muslimnya adalah mayoritas.”[4] Intinya. Selain tafsir Al-Manâr. dua sub itu akan penulis jadikan sub juga dalam makalah ini. Ahmad Rasyid Sutan Mansur (kakak iparnya). . Karena itu. Ilmu-ilmu yang dijadikan syarat oleh ulama-ulama itu alhamdulillah telah penulis ketahui ala kadarnya. seperti diakuinya. Di antara karya tafsir yang jelas-jelas ia menyatakan ketertarikan hati terhadapnya adalah tafsir Al-Manâr karya Sayyid Rasyîd Ridhâ. Jangankan bahasa Arab dengan segala nahwu dan sharaf-nya. Hanya saja. tidaklah akan jadi ‘Tafsir’ ini dilaksanakan. sedangkan bahasa Indoensia sendiri. Nama-nama tersebut selain disebut Hamka sebagai orang-orang tua dan saudara-saudaranya. sedang mereka haus akan bimbingan agama haus akan pengetahuan tentang rahasia Al-Qur’an. terutama bagi ia yang sudah memiliki standar minimal dalam pemenuhan syarat-syarat tersebut. Pada saat yang sama. tetapi mempergunakan juga tinjauan dan pengalaman pribadi. “melainkan sedaya upaya mendekati maksud ayat.

”[9] Mengapa Dinamai “Tafsir Al-Azhar”? Nama Al-Azhar diambil dari nama masjid tempat kuliah-kuliah tafsir yang disampaikan oleh Hamka sendiri. Kedua. Majalah ini selalu memuat kuliah tafsir ba’da shubuh tersebut.”[13] Hingga di sini dapat kita nilai bahwa Hamka dalam hal yang berkaitan dengan makna huruf-huruf di pangkal surat lebih cenderung menyerahkan pengertiannya semata kepada Allah. Pengajian tafsir setelah shalat shubuh di masjid Al-Azhar telah terdengar di mana-mana. ia katakan bahwa dalam Al-Qur’an kita akan menemukan beberapa surat yang dimulai dengan hurufhuruf seperti: Kâf Hâ Yâ ‘Aîn Shâd. Alif Lam Mim. banyak diwarnai (diberi corak) oleh tafsir ‘modern’ yang telah ada sebelumnya. misalnya. seperti diakuinya. merupakan isyarat bagi tiga nama. Dalam bahasa dia: “…penafsiran tidak terlalu tinggi mendalam.[14] Ketajaman analisis Hamka juga teruji ketika. Apatah lagi kalau sudah dibawa pula kepada arti rahasia-rahasia huruf. Nama masjid Al-Azhar sendiri adalah pemberian dari Syaikh Mahmoud Syaltout.[8] Hal lain yang dimasukkan Hamka dalam sub ini adalah janjinya untuk menyuguhkan sebuah tafsir yang ‘tengah-tengah’. Kalau dia suatu kalimat yang mengandung arti. dengan setting sosial-kemasyarakatan keindonesiaan sebagai objek sasarannya. Selama ini. sehingga tidak menjemukan. Alif Lâm Mîm Râ. sehingga yang dapat memahaminya tidak hanya semata-mata sesama ulama. Dalam arti menafsir ayat demi ayat sesuai urutannya dalam mushhaf serta menganalisis begitu rupa hal-hal penting yang terkait langsung dengan ayat. ia juga. Alif untuk nama Allah. Kebayoran Baru. Dengan begitu. mereka yang memberikan arti sendiri bagi huruf-huruf tersebut. pendapat yang mengatakan bahwa huruf-huruf di pangkal surat itu adalah rahasia Allah. dengan jeli menunjukkan korelasi antara makna yang terdapat pada akhir surat al-Fâtihah dengan makna yang ada pada awal surat al-Baqarah (ayat . angka-angka dan tahun…. Sebab hal itu dinilainya lebih selamat. terbagi kepada dua golongan. syaikh (rektor) Universitas Al-Azhar. lanjut Hamka. Pertama. sebab tafsir itu—sebelum dimuat di majalah—digelar di dalam masjid agung Al-Azhar. pula hal itu tidak bersentuhan langsung dengan tujuan pendalaman dan pengkajian AlQur’an. yang berupa huruf-huruf yakni Alif Lâm Mîm. Oleh sebab itu maka lebih baiklah kita terima saja huruf-huruf itu menurut keadaannya… “Sebab mendalami Al-Qur’an tidaklah bergantung daripada mencari-cari arti dari huruf-huruf itu. menurut Ibnu ‘Abbas. Warna-warna tafsir itu mempengaruhi Tafsir Al-Azhar yang penulisnya jelas-jelas menyatakan kekaguman dan keterpengaruhannya. dua tafsir tersebut dikenal bercorak adabi-ijtimâ`î. Hamka langsung memberi nama bagi kajian tafsir yang dimuat di majalah itu dengan Tafsir AlAzhar. dan Mim untuk nama Nabi Muhammad Saw. terutama sejak terbitnya majalah Gema Islam. atau sebagai panggilan untuk menarik perhatian tentang ayat-ayat yang akan turun mengiringinya. niscaya tidak akan ragu-ragu lagi seluruh bangsa Arab akan artinya. Yang banyak memberikan arti bagi huruf-huruf itu adalah sahabat-mufasir yang terkenal yakni ‘Abdullah bin ‘Abbas. Ketika membahas ayat pertama surat al-Baqarah. segolongan ahli tafsir yang menyatakan bahwa huruf-huruf itu adalah sebagai pemberitahuan.sehingga telah membawa Al-Qur’an terlampau jauh dari pangkalan aslinya.[12] Hamka menutup pembahasan tentang huruf-huruf fawâtih al-suwar ini dengan mengatakan: “Nyatalah bahwa huruf-huruf itu bukan kalimat bahasa yang bisa diartikan. Thâ Hâ dan semacamnya. misalnya. Lam untuk nama Jibril. Demikian halnya huruf-huruf pembuka surat lainnya. Tuhanlah yang lebih tahu akan artinya.[11] Ada pula. yang pada bulan Desember 1960 datang ke Indonesia sebagai tamu agung dan mengadakan lawatan ke masjid tersebut yang waktu itu namanya masih Masjid Agung Kebayoran Baru. yakni masjid Al-Azhar.Di sisi lain. menurut Ibnu ‘Abbas ada maknanya sendiri. baik dari segi makna atau aspek-aspek lain yang dapat memperkaya wawasan pembaca tafsirnya. dan tidak terlalu rendah. seperti Al-Manâr dan Fî Zhilâl Al-Qur’ân. Pandangan para mufasir tentang huruf-huruf pembuka surat (fawâtih al-suwar) seperti itu. kata Hamka. termasuk ayat mutasyabihat yang kita baca dan percayai saja.[10] Studi Kritis Tafsir Al-Azhar: Metode Tafsir Manhaj yang ditempuh tafsir Al-Azhar adalah Tahlili.. dapat dengan mudah kita katakan bahwa corak Tafsir yang sedang kita kaji ini bercorak Adabi-Ijtimâ`î. dalam makna selalu mengaitkan pembahasan tafsir dengan persoalanpersoalan riil umat Islam.

karena kita tidak melihat wajah beliau. Kamu bisa mendapat jalan yang lurus. tidak ada sebarang keraguan padanya. asal saja kamu suka memakai pedoman kitab ini.. jumlah ayat dan tempat diturunkannya surat. Hanya saja Hamka tidak membincang lebih panjang tentang kata Al-Baqarah yang menjadi nama surat ini. Permohonan kita di surat al-Fatihah sekarang diperkenankan. satu petunjuk bagi orang-orang yang hendak bertakwa”). bila kita tinjau dari sisi sumber rujukan penafsiran yang dipergunakan. Di sana kita telah memohon kepada Tuhan agar ditunjuki jalan yang lurus. Itu pun termasuk iman kepada yang gaib. di antaranya dari Imam Ahmad. dan bukan karena nama itu lebih penting dari yang lain . ada satu hal menarik yang ia lewatkan yang sepatutnya disitir barang sedikit sebelum lebih jauh membahas korelasi antara akhir surat al-Fatihah dengan awal ayat surat al-Baqarah. menyebut nama surat dan artinya dalam bahasa Indonesia. Komentar dia tentang kata ini hanya sedikit saja. Hamka juga menempuh manhaj naqlî (tafsîr bi al-ma`tsûr/bi al-riwâyah). dia adalah petunjuk bagi orang yang suka bertakwa. langkah seperti ini dilakukan oleh semua penafsir. bukan yang dimurkai dan tidak yang sesat. yang diberi nikmat.2: “Inilah Kitab itu. juga Imam al-Bukhari di dalam Tarikh-nya. bertujuan memberi kesan bahwa kitab suci berada dalam kedudukan yang amat tinggi dan sangat jauh dari jangkauan makhluk. Padahal di tempat lain. (Ia) hanyalah sebagai tanda belaka dari Surat yang dinamai itu. jangan jalan orang yang dimurkai atau orang yang sesat. karena dia bersumber dari Allah Yang Maha Tinggi. Hamka menulis: “Kita baru saja selesai membaca surat al-Fatihah. kita langsung kepada surat al-Baqarah dan kita langsung kepada ayat ini. seperti kata Pak Quraish dalam Al-Mishbah-nya. Mereka meriwayatkan dari Abu Jum’ah al-Anshârî. apa arti takwa? Beliau berkata: ‘Pernahkah engkau bertemu jalan yang banyak duri dan bagaimana tindakanmu waktu itu?’ Orang itu menjawab: ‘Apabila aku melihat duri. Seperti berikut: Surat Al-Baqarah (Lembu Betina) Surat 2: 286 ayat Diturunkan di MADINAH Hemat penulis. dapat kiranya penulis menyebut mekanisme kerja Tafsir Al-Azhar sebagai berikut: Pertama. Baru saja menarik nafas selesai membaca surat itu. yang tersebut pada ayat 67 sampai 74. Kaum Muslimin yang telah hidup belasan abad sepeninggal Rasulullah Saw.[16] Kembali ke Tafsir Al-Azhar. semua ayat yang menunjuk kepada firman-firman Allah dengan nama Al-Qur’an (bukan al-Kitab) ditunjuk dengan isyarat dekat ( Hâdzâ Al-Qur’ân).. Tentang hal ini Hamka menulis: “Pernah ditanyakan orang kepada sahabat Rasulullah Saw. atau aku mundur. atau sebelum membincang soal takwa dan ciri-ciri muttaqin.[18] Mekanisme Kerja (Langkah-langkah) Tafsir Sejauh pengamatan penulis atas tafsir surat al-Baqarah. al-Baqawardi dan Ibu Qani di dalam Majma’ al-Shahabah. ada lagi hal-hal yang gaib. karena ada kisah tentang Bani Israil (yang) disuruh oleh Nabi Musa mencari seekor lembu betina (yang) akan disembelih. al-Tahbrani dan al-Hakim. yaitu soal penggunaan isyarat jauh untuk menunjuk Al-Qur’an (Dzâlik al-Kitâb). Adapun nama surat-surat Al-Qur’an bukanlah sebagai judul dari satu rencana atau nama dari satu buku yang menerangkan suatu yang khas. Tidak syak lagi. seperti ini: “Surat yang kedua ini bernama Surat Al-Baqarah yang berarti lembu betina.”[15] Kendati kita akui ketajaman analisis Hamka. bertambah lagi keimanan kepada yang gaib itu. yaitu orang-orang yang percaya bahwa di balik benda yang nampak ini.’ Abu Hurairah menjawab: ‘Itulah dia takwa!’ (Riwayat dari Ibnu Abi ad-Dunya). aku mengelak ke tempat yang tidak ada durinya atau aku langkahi. Abu Hurairah ra. Tentang hal ini Hamka memperkuatnya dengan banyak riwayat. dan keturunanketurunan kita mendatang. masih kata Pak Quraish. jalan orang yang diberi nikmat. tatkala membahas arti takwa dalam kerangka penafsiran ayat hudan li al-muttaqîn. Itu terlihat misalnya ketika ia menukil riwayat dari Abu Hurairah ra. sedang penggunaan kata hadza/ini. untuk menunjukkan betapa dekat tuntunan-tuntunannya pada fithrah manusia. Penggunaan isyarat jauh ini.”[17] Kejadian serupa (menukil riwayat) juga kita dapati ketika Hamka menerangkan ciri-ciri orang yang takwa. nomor urut surat dalam susunan mushhaf.

dan pembentukan jiwa kaum Mukminin di dalam memegang teguh agama. Dalam operasional tafsirnya. yakni kisah Bani Israil dengan seekor sapi. memberi pendahuluan sebelum betul-betul masuk pada penafsiran atas ayat-ayat yang sudah dipenggal dalam satu kelompok ayat. misalnya. Quraish Shihab yang justru memandang nama tersebut sebagai tema pokok surat. 4 dan 5 menjadi satu kelompok). Hamka menafsirakan ayat 1. diberi nama Takwa dan Iman. Kelompok pertama. Misalnya. 4 dan 5 (baca: ayat 3. yang tepat pendahuluan ini diletakkan sebelum menampilkan kelompok ayat yang akan ditafsir. karena semuanya penting. sebagai misal. Sebagai sampel dapat dilihat ketika Hamka menunjuk lima hikmah dari iman kepada hari akhirat tatkala menafsirkan penggalan kedua ayat 4 surat al-Baqarah ( wa bi al-âkhirati hum yûqinûn). Kelima. Ini berbeda dengan.”[19] Di sini kita melihat bahwa Hamka tidak menjadikan nama Al-Baqarah sebagai tema sentral keseluruhan surat Al-Baqrah. peletakkan pendahuluan setelah sebelumnya menampilkan satu kelompok ayat yang memiliki kesatuan sub-tema. penulis nilai. serta beberapa karakteristik ayat dalam surat al-Baqarah yang tergolong sebagai surat Madaniyah dibanding ayat-ayat lain yang tergolong dalam kelompok surat-surat Makiyah.[23] Terlepas dari itu.. sendiri dengan petunjuk Jibril as. Jadi. menafsirkan ayat perayat dari satu kelompok ayat. sedang ayat 1 dan 2 ditafsirkan secara terpisah. Menurut penulis.[22] Tidak penulis temukan dasar bagi masing-masing Hamka. dan tidak memenggalnya menjadi beberapa penggalan. hudan li al-muttaqin. Sebab pendahuluan ini isinya berupa gambaran umum dan inti sari tentang seluruh surat al-Baqarah. Perbedaan antara mereka hanya terletak pada penentuan jumlah ayat yang berada dalam satu kelompok tertentu.” [20] Kedua. Tafsir Al-Marâghî dan Al-Manâr misalnya. memberikan butiran-butiran hikmah atas satu persoalan yang dianggapnya krusial dalam bentuk pointers. al-Maraghi. lebih menjaga kesinambungan isi-isi yang terdapat dalam satu ayat tertentu. sehingga tidak ‘mengaburkan’ konsentrasi yang telah tertuju untuk membaca tafsir atas penggalan ayat yang sudah ditampilkan sebelumnya. Ketiga. pengelompokkan semacam itu pun bisa dibilang sebagai salah satu langkah para mufasir. lâ raiba fîh. pembinaan masyarakat Muslim oleh Nabi Saw. Kelompok pertama dari surat al-Baqarah terdiri dari lima ayat pertama (dari Alif Lâm Mîm sampai wa ulâ`ika hum al-muflihûn). pendahuluan tersebut berisikan antara lain arti nama surat. dan demikian seterusnya. langkah Hamka yang menafsir satu ayat sekaligus.yang diuraikan di dalamnya. kurang proporsional. Setiap kelompok ayat diberi nama subtema. Tidak menafsirkan satu kelompok secara sekaligus. Quraish menulis. Rasyid Ridha dan Quraish Shihab dalam menentukan jumlah ayat dalam satu kelompok tertentu tersebut.[25] . Catatan penulis. mengelompokkan ayat-ayat dalam satu surat menjadi beberapa kelompok sesuai tuntutan sub-tema dari keseluruhan tema surat. kemudian ayat 2. Sementara al-Maraghi dan Ridha melihat bahwa sub tema pertama surat al-Baqarah hanya diwakili oleh dua ayat saja (ayat 1 dan 2). Hamka barangkali memandang bahwa lima ayat pertama itu memiliki kesatuan sub tema. Yang jelas bahwa penentuan itu terkait dengan penilaian masing-masing tentang kesatuan sub tema antara ayat-ayat yang tergabung dalam satu kelompok tertentu. Ayat kedua (dzâlik al-kitâb lâ raiba fîh hudan li al-muttaqîn) misalanya. “Surah ini dinamai al-Baqarah karena tema pokok-nya adalah inti ayat-ayat yang menguraikan kisah al-Baqarah. lebih tepat dan efektif bagi para pembaca Indonesia. kelompok pertama dari surat alBaqarah terdiri atas lima ayat (1-5). bukan gambaran umum tentang kelompok ayat yang akan ditafsir. tiga front masyarakat yang dihadapi Rasulullah di Madinah.[24] Langkah ini berbeda dengan tafsir Al-Maraghi dan Al-Manar yang memenggal satu ayat yang ada dalam satu kelompok tertentu menjadi beberapa penggalan. al-Maraghi pecah lagi menjadi tiga penggalan: dzalik al-kitab. Yang menentukan nama-nama ini adalah Rasulullah Saw. lalu 3 dan begitu seterusnya hingga ayat 5. Pula langkah Hamka. Hemat penulis. karena mereka dapat membaca dan menangkap kandungan ayat tersebut secara lengkap dalam waktu yang relatif singkat. menjadikan kelompok pertama dari surat al-Baqarah hanya terdiri dari dua ayat saja: Alif Lâm Mîm (ayat 1) Dzâlik al-kitâb lâ raib fîh hudan li al-muttaqîn (ayat 2). Keempat. Demikian juga Rasyid Ridha dalam Al-Manâr.[21] Sementara itu Pak Quraish baru melakukan pengelompokkan pada ayat 3. ketimbang membaginya menjadi beberapa penggal kecil.

Semua itu akan diperhitungkan dengan adil. tidak nampak oleh mata. Tuhan akan menciptakan alam yang lain. Mereka tidak percaya ada Tuhan. Seperti itu barangkali pertimbangan Hamka. Tetapi dia dapat dirasa adanya oleh akal. 3. semuanya bergantian. dan yang kekal hanyalah peraturan kekal dari Allah. Ketujuh. 4. Kepercayaan kepada hari akhirat memberikan satu pandangan khas tentang menilai bahagia atau celakanya manusia. bagi mereka yang ingin mengetahui untaian rawi bagi hadis yang dikutip Hamka secara lengkap harus merujuk langsung kepada kitab hadis yang disebut oleh Hamka. Kita sudah sama tahu bahwa manusia itu dua juga coraknya. 2. zat yang menciptakan sekalian alam. semuanya berputar. serta dilengkapi dengan pendekatan sosio-kultural keindonesiaan. Bukan tanggung jawab kepada manusia. 5. tidak terdengar oleh telinga. Hal ini sepenuhnya terpulang kepada tuntutan tema ayat yang sedang ditafsir. memperkuat penjelasan dengan ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang sepadan kandungannya dengan ayat yang sedang ditafsirkan. yaitu pengakuan hati yang terbukti dengan perbuatan yang diucapkan oleh lidah menjadi keyakinan hidup. Pada ayat 5 juga tidak ada. Maka yang pertama sekali adalah percaya kepada Allah. Baru pada ayat 4 kita temukan. Orang yang seperti ini niscaya tidak akan dapat mengambil petunjuk dari Al-Qur’an. dari ayat 1 hingga ayat 3 dari surat al-Baqarah tidak kita temukan bentuk pounters semacam itu. Mu’jam dan sebagainya. Maka iman akan yang gaib itulah tanda pertama atau syarat pertama dari takwa. seperti Imam al-Bukhârî. ada baiknya kita tuangkan di sini lima butir yang disebut Hamka sebagai hikmah dari beriman kepada hari akhir itu. atau Malaikat. dan manusia dipanggil buat hidup kembali di alam yang baru dan akan ditentukan tempatnya sesudah penyaringan dan perhitungan amal di dunia. Sebagai berikut: 1. Tempat baru itu adalah surga bagi mereka yang berat amal baiknya. Bagi mereka koran pembungkus gula sama dengan Al-Qur’an. yaitu kehidupan kekal yang sesudah dibangkitkan dari maut. dan neraka bagi mereka yang berat amal jahatnya. sebab mereka berpikiran bahwa persolaan tentang sanad telah usai dengan telah dibukukannya hadis ke dalam berbagai bentuk kitab hadis. menyuguhkan tafsir dalam kemasan bahasa yang mudah dipahami dengan sentuhan logika yang tidak sulit dicerna. Jadi. Apa yang kita kerjakan di dunia ini adalah dengan tanggung jwab yang penuh. atau roh. [26] Keenam. Semua ini penulis nilai sebagai upaya “membumikan Al-Qur’an”. Iman yang berarti percaya. langkah seperti ini tidaklah baku. . Jadi yang penting matan-nya. mereka tidak percaya. Terlepas dari itu. pertama orang yang hanya percaya kepada benda yang nyata. Ini menandakan bahwa langkah itu sifatnya situasional. Setelah hancur alam ini. Muslim dan lainnya. riwayat hadis yang dikutip Hamka tidak menampilkan semua untaian rawi yang ada dalam sanad hadis. kemudian itu percaya akan adanya hari kemudian. seperti Jâmi’ Shahîh. Perbincangan tentang sanad hadis bagi umumnya orang Indonesia bisa dibilang sudah tak lagi urgen. Langkah seperti ini nampaknya sengaja ditempuh Hamka untuk menjadikan tafsirnya lebih praktis dan efektif bagi pembaca Indonesia yang umumnya awam tentang ilmu hadis dan “kurang peduli” dengan validitas sanad sebuah hadis. Buktinya. di hari kiamat. tapi hanya menampilkan râwî a’lâ (rawi pada level shahabat) saja dan penulis kitab hadis tersebut. Harta yang melimpah. Malahan terhadap adanya nyawapun. dan dengan sendirinya mereka tidak percaya akan ada lagi hidup akhirat itu. kegagahan dan pencapaian duniawi bukan ukuran kebahagiaan. Kepercayaan kepada hari akhir meyakinkan kita bahwa apapun peraturan atau susunan yang berlaku di alam dunia ini tidaklah kekal. Kejayaan yang hakiki adalah pada nilai iman dan takwa di sisi Allah. dan tidak mengakui bahwa ada pula di balik kenyataan ini sesuatu yang lain. Yang gaib adalah yang tidak dapat disaksikan oleh pancaindera.Dalam pengamatan penulis. Sunan.[27] Dalam pengamatan penulis. Artinya tidak setiap akhir penafsiran atas satu ayat mesti diakhiri dengan pemberian buturan-butiran hikmah dalam bentuk pointers. yaitu dua indera yang utama dari kelima (panca) indera kita. Berikut kutipanya: “Inilah tiga tanda pada taraf yang pertama: Percaya kepada yang gaib. Barangkali kutipan dari tafsir Hamka atas ayat 3 surat al-Baqarah sedikitnya dapat memperkuat apa yang penulis nyatakan dalam poin ketujuh di atas. bukan sanad. tetapi kepada Tuhan yang selalu mengawasi kita.

Hal demikian menjadikan pembacaan tafsir tidak tuntas dan menyeluruh. dan tidaklah penulisnya ta’ashshub kepada suatu faham. antara lain: 1. Kuat dugaan. seorang mufasir berkaliber tinggi pun hampir bisa dipastikan tidak dapat menghidar dari menukil dan merujuk karya atau pendapat orang lain. semata-mata taslim. dan meninggalkan mana yang jauh menyimpang. 2. Tidak menyebutkan sumber rujukan tafsir. dan Fî Zhilâl Al-Qur’ân adalah karya-karya tafsir yang banyak memberikan “masukan” baginya dalam menulis Tafsir Al-Azhar. di negara yang penduduk Muslimnya lebih besar jumlahnya dari penduduk lain. Menghindari persoalan nahw dan sharf.”[28] Hingga di sini penulis mencatat beberapa hal. Hamka tidak mengawali tafsirnya atas beberapa ayat yang sudah ia penggal ke dalam satu kelompok dengan makna global (al-ma’nâ al-jumalî) seperti yang kerap dilakukan oleh Tafsîr Al-Maraghi. hal ini sengaja ditempuh karena masyarakat pembaca tafsirnya (orang Indonesia) tidak membutuhkan kajian kebahasaan seperti itu yang sifatnya suplemen atau pelengkap sekunder semata. tidak harus menyebut tempat. bertambah mendalamlah kepercayaan mereka kepada yang gaib itu. melainkan meninjau mana yang lebih dekat kepada kebenaran untuk diikuti. yaitu mazhab Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau dan ulama-ulama yang mengikuti jejak beliau.”[31] . Hanya menuangkan hal-hal yang benar-benar diinginkan oleh para pembaca tafsir. tidak efektif bagi pembaca tafsir Indonesia yang diharapkan mendapatkan pencerahan Qur’ani. 3. Al-Qâsimî. Dalam hal akidah dan ibadah. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan (dijanjikan) Hamka dalam Haluan Tafsir-nya ketika menulis: “Tafsir Al-Azhar ini ditulis dalam suasana baru. nama Tafsir dan penulisnya.”[29] 5. Ini dapat dimaklumi sebab konsumen tafsirnya adalah masyarakat Indonesia yang umumnya awam dengan persoalan semacam itu. 4. Bila dalam sub Haluan Tafsir sudah disitir beberapa karakter yang dapat diasumsikan sebagai corak tafsir Al-Azhar secara umum dan teoritis. bertambah lagi keimanan kepada yang gaib itu. Hamka sendiri dalam Haluan Tafsir-nya mengakui bahwa Al-Manâr. Pikir penulis. jilid dan lainnya secara detail. Hamka tidak mengawali tafsirnya dengan memberikan penjelasan arti kata-kata tertentu dalam ayat (syarh al-mufradât). ada lagi hal-hal yang gaib. Dari sudut pandang mazhab yang dianut dapat kita sebut tafsir Al-Azhar bercorak Salafi. pada sub ini sitiran tersebut akan dibuktikan secara nyata dan praktis dengan mengemukakan contohcontoh nyata dari penafsiran langsung atas ayat. tergantung dari sudut mana kita meninjau. nomor halaman. sedang mereka haus akan bimbingan agama. hal itu ditempuh karena ia ingin membawa pembacanya untuk meneliti tafsir ayat demi ayat secara teliti dan tuntas. Sebab bisa saja kalau didahului oleh tafsir global. salah satu karya tafsir yang dikaguminya. melainkan mencoba sedaya upaya mendekati maksud ayat. artinya menyerah dengan tidak banyak tanya lagi.[30] Namun demikian. Meskipun penyimpangan yang jauh itu bukanlah atas suatu sengaja yang buruk dari yang mengeluarkan pendapat itu. di antara pembaca ada yang mencukupkan dengan tafsiran singkat tersebut. Corak Tafsir Sub ini terkait erat dengan sub sebelumnya yaitu Haluan Tafsir. Tetapi tidaklah semata-mata taklid kepada pendapat manusia. seraya menghindari perselisihan paham dan takwil-takwil jauh yang tidak perlu. kebesaran dan nilai Tafsir Al-Azhar tidak berkurang barang sedikit pun. menguraikan makna dan lafaz bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan memberi kesempatan orang buat berfikir. Kita kaum Muslimin yang telah hidup empat belas abad sesudah wafatnya Rasulullah Saw. Besar dugaan. karena kita tidak melihat wajah beliau. Bertambah banyak pengalaman dalam arena penghidupan. ketika ia merujuk suatu pendapat dari tafsir lain ia menyebut. hasilnya malah akan kontra-prorduktif. Ini seperti ia akui dalam Haluan Tafsir-nya: “Mazhab yang dianut oleh Penafsir ini adalah Mazhab Salaf. Jika persoalan semacam itu ditampilkan. paling tidak. Dalam arti penulisnya menganut mazhab Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau serta ulama yang mengikuti jejak beliau. Harap penulis. Kiranya lebih dari satu corak yang dapat kita tunjuk buat tafsir Al-Azhar. Al-Marâghî. bukan wawasan kebahasaan. maka pertikaian-pertikaian mazhab tidaklah dibawakan dalam tafsir ini. dan keturunanketurunan kita yang akan datang di belakang pun insya Allah. haus hendak mengetahui rahasia Al-Qur’an.Kedua ialah orang-orang yang percaya bahwa di balik benda yang nampak ini.

membantu dan menolong. cemas. Orang Mukmin tidak mungkin hidup nafsi-nafsi dalam dunia. Insinyur.Contoh nyata untuk menunjukan ke-salaf-an tafsir Al-Azhar adalah ketika membahas huruf-huruf pembuka suatu surat (fawâtih al-suwar). Orang yang Mukmin apabila dia ada kemampuan. suka menolong sesama dan amal-amal sosial lainnya. yaitu bahwa tafsir itu juga bercorak hida`î. hampir dapat dipastikan akan membawa pada kesimpulan lain tentang corak tafsir tersebut. jenis profesi dan beragam status sosial lainnya. Tafsir yang demikian dinilai oleh para ahli sebagai tafsir bercorak adabi-ijtima’î (sosial-kemasyarakatan). pengakuan iman perlu pembuktian dalam tataran sosial-praktis. di antaranya tafsir Al-Manar. misalnya dengan memperbanyak derma. Dalam hal ini mufasir Al-Azhar memilih menyerahkan pengertiannya semata kepada Allah.”[32] Dalam sub Haluan Tafsir. ketika sang mufasir membahas soal takwa ia katakan bahwa kebudayaan Islam adalah kebudayaan takwa. kasih. Bersatu di dalam shaf yang teratur. Contoh konkret untuk corak ini adalah ketika mufasir Al-Azhar membincang wacana iman. dengan khusyu’ kepada Ilahi. Sebab hal itu dinilainya lebih selamat. kasih-mengasihi dan harga menghargai. Kesimpulan untuk mengatakan kebudayaan Islam adalah kebudayaan takwa ini diambil dari kesepakatan Konferensi Kebudayaan Islam di Jakarta yang diselenggarakan pada akhir Desember 1962. karena imannya sangatlah dia percaya bahwa dia hanya saluran saja dari Tuhan untuk membantu hamba Allah yang lemah. kesan. ridha. menghadapkan muka bersama. sedekah. bersedekah. sabar dan lainnya. Upaya demikian tak lepas dari tujuan sang mufasir untuk menjadikan Al-Qur’an benar-benar sebagai sumber petunjuk dan pedoman hidup setiap Muslim dalam memerankan fungsi khilafahnya di muka bumi ini. Selanjutnya mufasir menegaskan bahwa dalam takwa terkandung cinta. tawakal. sejarah dan lainnya lalu menyesuaikannya dengan perkembangan politik dan kemasyarakatan yang sesuai dengan zaman di waktu tafsir itu ditulis. Orang Mukmin tidak mungkin menjadi budak dari benda. Maka dapatlah diasumsikan bahwa sedikit banyak tafsir Al-Azhar mewarisi corak tersebut. terdapat juga berani![34] Menandai sebuah karya tafsir sebagai bercorak ijtimâ`î. Paling kurang. Dan ada juga pelayan-pelayan dan tukang tukang pemelihara kebun dan pegawai negeri. itu nampak dalam pernyataan mufasir berikut: “Ketika menyusun (tafsir) ini terbayanglah oleh penafsirnya corak ragam dari murid-murid dan anggota jamaah yang ma’mum di belakangnya sebagai imam. “Di tingkat pertama percaya kepada yang gaib. pula tidak bersentuhan langsung dengan tujuan pendalaman dan pengkajian Al-Qur’an. Yaitu bagaimana tafsir ini dapat menjadi obor penerang bagi sebanyak mungkin masyarakat Muslim dengan berbagai latar belakang pendidikan. agen automobil dengan relasinya yang luas. mayor dan para bawahan. Sekadar sampel. Dan ada pula saudagar-sudagar besar. Ada mahasiswa-mahasiswa yang tengah tekun berstudi dan terdidik dalam keluarga Islam. sebab hatinya dihadapkannya kepada Allah yang diimaninya. Tafsir Al-Azhar—seperti diakui mufasirnya dalam Haluan Tafsir—memanglah dirancang seperti itu. dipadukan oleh jamaah subuh. Semuanya bersatu membentuk masyarakat yang beriman. Ada sarjana-sarjana yang bertitel SH. fikih. sehingga ia lebih mencintai benda pemberian Allah itu daripada sesamanya manusia. Takwa lebih mengumpul akan banyak hal. Hamka menulis: “…mendalami Al-Qur’an tidaklah bergantung daripada mencari-cari arti dari huruf-huruf itu. imannya telah dibuktikannya pula kepada masyarakat. harap. Maka dengan kesukaan memberi. tuntutan dan tuntunan AlQur’an. Tafsir ini menurutnya sebuah tafsir yang sanggup menguraikan ilmu-ilmu keagamaan sebangsa hadis.”[35] . dan kepercayaan kepada yang gaib dibuktikan dengan sembahyang. lanjutnya.”[33] Warna ijtimâ`î tafsir Al-Azhar juga dapat kita lihat ketika mufasirnya menjadikan pengalaman pribadi dalam bermasyarakat sebagai anasir pelengkap tafsirnya. Ada pula perwira-perwira tinggi yang berpangkat jenderal dan laksamana dan ada juga anak buah mereka yang masih berpangkat letnan. Hamka mengemukakan ketertarikan hatinya terhadap beberapa karya tafsir. Menurutnya. Dokter dan Profesor. angka-angka dan tahun…sehingga telah membawa Al-Qur’an terlampau jauh dari pangkalan aslinya. importir dan exportir kawakan di samping saudagar perantara. Bahkan dalam takwa. kapten. berderma. Dikatakan demikian karena tafsir ijtimâ`î adalah tafsir yang banyak mengedepankan fenomena-fenomena sosial-kemasyarakatan dalam upayanya me-landing-kan pesan. Apatah lagi kalau sudah dibawa pula kepada arti rahasia-rahasia huruf. di samping isteri mereka masing-masing.

cet. Bandung: Mizan. Taufik Abdullah]. 48. h. vol. [9]“Haluan Tafsir”. 121-122. Wallâhu A’lam…? Bahan Bacaan Ensiklopedi Tematis Dunia Islam [ed. Mufasirnya. Dr. [8]Ibid. Ia tidak terpancing memunculkan perselisihan pendapat (fikih dan teologi) yang memang tidak menyuntuh inti tafsir. IV. h. telah membuktikan betapa seorang Muslim non-Arab pun mampu menghasilkan sebuah karya tafsir yang cukup membanggakan. Ma’lûf. Ensikopedi Indonesia. Beirut: Dâr al-Ma’rifah li al-Thibâ’ah wa al-Nasyr. Tafsîr al-Marâghî. Dr. Penutup Tafsir Al-Azhar adalah salah satu tafsir buah tangan salah satu putra terbaik bumi pertiwi. Penulis hanya mengatakan bahwa apa pun kesan Anda tentang tafsir Al-Azhar. [1]Ensikopedi Indonesia. cet. h. h. pembaca tafsir Al-Azhar. [2]Ibid. Hamka. cet. h. 41. Bandung: Mizan. I. vol.. 1996. vol. I. vol. I 1982. Kairo: Syirkah wa Mathba’ah Mushtafâ al-Bâbî alHalabî. Tafsir Al-Azhar. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve. M. [7]Lihat Ibid. IV. kepercayaan kepada keris. Tafsir AlAzhar termasuk tafsir yang mewakili tafsir-tafsir generasi ketiga. h. qira’at dan tetek bengek non-tafsir lainnya. Ke-hida`î-an Al-Azhar juga nampak pada tipe paparan tafsir yang disuguhkan. cet. 42. cet. Tafsir-tafsir ini menekankan ajaran-ajaran Al-Qur’an dan konteksnya dalam bidang keislaman (lihat Howard M. Taufik Abdullah]. I 1982. h. kekaguman terhadap Hamka dan tafsirnya tentu harus menjadi pemicu untuk menghasilkan karya serupa. 122. I. Louis. untuk menilai plus-minus yang terkandung dalam tafsir tersebut. I. dan adat kebiasaan lain dalam masyarakat Indonesia (lihat Ensiklopedi Tematis Dunia Islam [ed. [4]Ibid. ia harus diakui sebagai “maha karya” Hamka yang patut dipuji. vol. Ridhâ. Alif Lâm Mîm dan huruf-huruf pembuka surat lainnya merupakan huruf-huruf li al-tanbih (pemberitahuan atau panggilan) sama seperti Alâ dan Yâ. cet. tidak keliru rupanya jika kita katakan bahwa Tafsir Al-Azhar bercorak hida`î. Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas. 1218 [3]Lihat “Kata Pengantar Penulis” dalam Tafsir Al-Azhar. cet. [5]Lihat “Haluan Tafsir” dalam Mukaddimah Tafsir Al-Azhar. Prof Dr Hamka. Prof. I. Ia juga menghindar dari kajian kebahasaan. Al-Mujid fî al-Lughah wa al-A’lâm. I 2000. Op Cit. juz` I. Beirut: Dâr al-Masyriq.. Bagi para pengkaji tafsir. [10]Mukaddimah Tafsir Al-Azhar. [6]Ibid. II. I. vol. Popular Indonesian Literature of the Al-Qur’an [terj. MA. Mukaddimah Tafsir Al-Azhar. 1. . Shihab. Jakarta: Lentera Hati. tt. 1996. cet.Hingga titik ini. 137). h. 55). Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve cet. tetapi juga banyak mengecam praktek ziarah kubur. Tafsîr Al-Manâr. 42. Ahmad Mushtafâ. Muhammad Rasyîd. Quraish. h. 3-4. h. II. Al-Marâghî. h. XXXVII. Howard M. Federspiel. Federspiel. Hamka tidak sekadar menjelaskan ayat. [12]Ibid. Dr. 1969. juz I. h. Dan yang lebih penting tentu bukan sekadar memuji. Kajian Al-Qur'an di Indonesia]. Menurutnya. I 1990. vol. [11]Tafsir Al-Azhar. juz` I. 40. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve cet. Kajian-kajian semacam itu memang dalam banyak hal sering cukup ‘mengaburkan’ tujuan semula pembaca tafsir —terlebih jika ia orang non-Arab—yaitu mencari butiran-butiran hikmah dan hidayah Al-Qur’an. kerja kolektif pun akan sangat berarti dan cukup menggembirakan. Tajul Arifin. cet. Tajul Arifin. Tafsir-tafsir generasi ini bertujuan untuk memahami kandungan Al-Qur’an secara komprehensif dan. I. 1990. tapi mengelaborasikan pesan-pesan Qur’ani yang disampaikannya dalam tata kehidupan keseharian kita sebagai Muslim yang mengaku diri menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. 1217. Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas. I. Federspiel. Tafsir al-Mishbâh. Penulis makalah ini menyerahkan sepenuhnya kepada Anda. II h. MA. Popular Indonesian Literature of the Al-Qur’an (terj. oleh karena itu berisi materi tentang teks dan metodologi dalam menganalisis tafsir. Di berbagai penafsiran ayatnya menyangkut ajaran keesaan Tuhan (Tauhid). Al-Maraghi berpendapat seperti itu. Kalaupun tidak sanggup secara sendiri-sendiri. Dalam penelitian Howard M. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve. Kajian Al-Qur’an di Indonesia). sekurangnya bagi kaum cerdik-cendekia Muslim Indonesia. cet. tt. IV.

h. Kairo: Syirkah wa Mathba’ah Mushtafâ al-Bâbî al-Halabî. 81. maka atas kudrat Allah korban hidup kembali dan menyampaikan siapa pembunuhnya” (lihat Ibid. Tafsir Al-Mishbâh. h. h. Tafsir al-Mishbah. vol. [20]M. vol. Op Cit. Quraish Shihab. h. [28]Lihat Ibid. h. h. bolehlah disebut sebagai pendekatan. h. 123-125. 41-42. juga mengambil sikap seperti itu. [29]Lihat “Haluan Tafsir” dalam Mukaddimah Tafsir Al-Azhar. I. Beirut: Dâr al-Ma’rifah. I h. atau tafsir Al-Mishbâh yang acap kali menyebut nama seperti al-Thabâthabâ`î. 123. 83-88. juz` I. tt. [17]Tafsir Al-Azhar. IV. [15]Tafsir Al-Azhar. 41. Masyarakat Bani Israil saling mencurigai bahkan tuduh-menuduh tentang pelaku pembunuhan tanpa ada bukti. h. [33]Ibid. cet. Beirut: Dâr al-Ma’rifah. 123. menunjukkan kemukjizatannya dan menampakkan hujjah-nya atas Ahli Kitab serta lainnya yang terkandung dalam surat al-Baqarah (lihat Tafsîr al-Marâghî. [23]Untuk lebih jelasnya lihat Ibid. h. 128. vol. 1969. 124. Tafsir Al-Mishbâh. h. [14]Pakar tafsir Indonesia pasca Hamka. I h.Di sini tujuannya untuk membangkitkan perhatian mukhâthâb kepada Al-Qur’an. tt. [22]Lihat Tafsir Al-Mishbah. Kairo: Mathba’ah al-Bâbî al-Halabî. cet. M. Maka Allah memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi. II. vol. kendati tidak memuaskan nalar manusia (lihat M. [16]M. [30]Bandingkan misalnya dengan tafsir Al-Manâr dan Al-Marâghî yang kerap kali menyebut “Qâla alUstâdz al-Imâm” untuk menunjukkan bahwa mereka menukil pendapat Syaikh Muhammad ‘Abduh. h. h. Murtadha Muthahhari atau Sayyid Quthub. h. h. Menghadapi hal tersebut mereka menoleh kepada Nabi Musa as. Bandingkan misalnya dengan Tafsir Al-Mishbah yang secara tepat meletakkan pendahuluan sebelum betul-betul menampilkan ayat-ayat dalam surat yang akan ditafsir (lihat Tafsir Al-Mishbâh. h. Dari sini dimulai kisah l-Baqarah. [25]Lihat Ibid. [34]Ibid. meski sepakat dengan Muhammad ‘Abduh yang menyerahkan makna dan rahasia di balik huruf-huruf itu kepada Allah. [27]Lihat misalnya Ibid. Jika pun pengambilan riwayat seperti itu tidak terkategorikan sebagai manhaj. II. h. masih merupakan jawaban yang relevan hingga kini. [26]Lihat Ibid. 39. Kelanjutan keterangan Quraish di atas adalah: “Ada seseorang yang terbunuh dan tidak diketahui siapa pembunuhnya. Tapi penulis sendiri lebih suka menamainya sebagai manhaj. IV. Jakarta: Lentera Hati. Quraish Shihab. Quraish Shihab. [13]Tafsir Al-Azhar. cet. h. 85. . 122. yakni Allah lebih mengetahui. I. Loc Cit. ia menuangkan juga pendapat mufasir-mufasir lain yang mencoba menguak rahasia di balik huruf-huruf itu (lihat Tafsir al-Manâr. 122 dan Tafsîr al-Marâghî. [35]Lihat “Haluan Tafsir” dalam Tafsir Al-Azhar. 129. 127. h. h. sehingga mereka tidak memperoleh kepastian. h. h. [32]Tafsir Al-Azhar. al-Biqâ`î. [18]Ibid. I h. 124-125. 39). I 2000. meminta beliau berdoa agar Allah menunjukkan siapa pembunuhnya. cet. Rasyid Ridha. h. h. 117. Akhir dari kisah itu adalah. Al-Syarâ’wî. mereka menyembelihnya— setelah dialog tentang sapi berkepanjangan—dan dengan memukulkan bagian sapi itu kepada mayat yang terbunuh. Quraish Shihab. [24]Lihat Tafsir Al-Azhar. 122. [31]Lihat “Haluan Tafsir” dalam Mukaddimah Tafsir Al-Azhar. 40-41. 1969. 122). 81-82). [19]Tafsir Al-Azhar. [21]Lihat Tafsir al-Manâr. 84). cet. Ia menulis: “Tampaknya jawaban: ‘Allah A’lam. 117. 120-128. 81-82). Op Cit. vol.

Pada tahun 1953 seorang Ulama dari Jatinegara membantah pula. kalau tidak di terjemahkan kedalam bahasanya? Dengan berbagai ilimu yang telah diserap oleh akal pikirannya. Pada masa itu umumnya Ulama islam mengatakan haram untuk menterjemahkan al-Quran namun. Akhirnya beliau tidak berkituk lagi. Dalam tafisir in yang paling dipentingkan ialah menerangakan dan menjelaskan petunujuk-petunjuk yang termaktub dalam al-Quran untuk diamalkan kaum Muslimin khususnyadan seluruh umat manusia pada umumnya sebgai petunjuk universal. bukanlah tejemahan dari kitab bahasa arab. bantahan itu dikirinya kepada Presiden RI dan Menteri Agama. Hanya ada perubahan sedikit demi sedikit. Beliau menerima pelajaran dari Syeokh Darul Ulum.M. Pada bulan April 1938 tamatlah 30 juz dengan pertolongan Alah awt. Karena petunujuk itulah tujuan utama kitab suci al-Quran seperti diterangkan Allah dalam firman-Nya pada permulaan surat al-Baqoroh: . pada bulan Ramadlan tahun 1354 H (Desember 1935) beliau mulai kembali menterjemahkan al-Quran serta tafsir ayat-ayatnya yang penting yang kemudian beliau beri nama : Tafsir al-Quranul Karim. Salinannya disampaikan kepada Mahmud Yunus oleh Menteri Agama. Bakry. Baharata Direktur percetakan Al-Ma’arif Bandung. Kemudian setelah habis cetakan itu. padahal telah dimulainya mencetak beberapa halaman banyaknya. Dengan susah payah di terbitkan tefisr tersebut berjuz 2 tiap 2 bulan. Sedang menterjemahkan juz 7 sampai dengan 18 dibantu oleh almarhum H. untuk menyampaikan dakwah islamiyah kepada bangsa asing yagn tidak mengetahui bahasa arab. Lalu ia dicetak dan di terbitkan sebanyak 200. Tembusannya M.000 aksemplar. hanya diam.000 aksemplar dan dijualnya dengan harga Rp. Ditegaskan bahwa tafsir in serta kesimpulan isi al-Quran. salah seorang penerbit Indonesia Tafsir al-Quranul Karim itu dengan mendapatkan fasilitas kertas dari Menteri Agama dan di cetak sebanyak 200. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1950. bahwa menterjemahkan al-Quran itu hukumnya mubah. Pendahuluan Tafsir Al-Qur'an Al-Karim Mahmud Yunus>>> Tafsir al-Quranul karim karangan Mahmud Yunus ini awalnya di terjemahkan pada tahun 1992 kemudian di terbitkan tiga juz dengan huruf arab-malayu. bantahan dari Ulama islam tersebut tidak beliau perdulikan dan beliaupun tetap menterjemahkan al-Quran al-Karim tersebut. 21 per eksemplar. Akhirnya di ambil alih oleh M. bahkan di anjurkan atau hukumnya fardu kifayah. Kemudian beliau berhenti menterjemahkan al-Quran. Kabarnya ada bantuan dari Ulama Yogyakarta.Tafsir Al-Qur'an Al-Karim Mahmud Yunus DIposting Oleh Administrator | 9:28 PM | a. melainkan hasil penyelidikan pengarang sejak berumur 29 tahu sampai sekarang berumur 73 tahun. karena beliau lebih memilih untuk melanjutkan ilmu pengetahuannya di Mesir (Th 1924) di berbgai tempat hingga akhirnya di Darul Ulum. dengan petunjuk menteri Agama Almarhum Wahid Hasyim. Lalu di tunjuk percetakan bangsa Indonesia untuk mencetaknya. supaya di stop mencetak Tafsir Quran Karim itu. Mahmud yunus bersama istri Darisah binti Ibrahim meneruskan menerbitkan tafsir Quran Karim itu. Bagaimanakah menyampaikan kitabullah kepada mereka. Boleh jadi karena bantahan itu karena sebab-sebab yang lain. lalu Mahmud yunus balas suratnyaitu dengan lebar panjang. dan disiarkan di seluruh Indonesia. Sebab itu tafsir ini berlainan dengan tafsir-tafsir yang lain. Yunus kirimkan kepada Presiden RI dan Menteri Agama. yang empunya percetakan tidak mau meneruskan mencetak tafsir Quran karim itu. Lalu mereka terbitkan beberapa kali tanpa ada perubahan yagn besar. Makalah Ilmu Tafsir | 0 comments » A. Bantahan itu dikirim nya kepada Maeteri Agama RI tetapi saya tidak menerima bantuan.

al-Fiyah dan Jam’ul Jawami’. merupakan tindakan yang cukup berani. disaat masih suburnya pandangan yang mengatakan bahwa haram menterjemahkan al-Quran. buyutnya dari pihak ibu adalah seorang ulama besar di Sungkayang Batu sangkar. 4 jilid. terutama pendidikan Islam di samping bidang-bidang lain seperti bahasa. . dan peribadatan. Biografi Mahmud Yunus Dilahirkan di Sungkayang Batusangkar Sumetera Barat pada hari sabtu 10 Februari 1899 (30 Ramadlan 1361). perbandingan agama. Muhammad Thaib di Surau Tanjung Pauh. kelurahan Kebon Kosong. tauhid akidah. Haji ke Mekkah. Lagu-lagu baru/Not angka-angka. tahun 1938. Syah. untuk memudahkan membaca al-Quran. jadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”. Demikian itu dengan mengambil ‘brah dan pengajaran dari sejarah umat dahulu kala. Rektor IAIN Imam Bonjol Padang (1966-1071). Tafsir al-Quran tamat 30 juz. Berkat ketekunannya dalam waktu empat tahun. Pandangan terpenting tentang metode mengajar adalah “Metode itu lebih penting daripada pengajaran”. Beberapa kisah pendek. secara terus menerus Mahmud Yunus mengajar dan memimpin berbgai sekolah. 5.Tahir. Marilah sembahyang. Penulisan tafsir ini dimulai pada November 1922 yang dilakukan secara berangsurangsur juz demi juz sampai dengan selesai juz ke-tiga puluh. Banyak karya tulis yang telah di hasilkan Mahmud Yunus dalam berbgai bidang Ilmu Agama Islam.Tahir. 2. yakni pada al-Jami’ah al-Islamiyah Batusangkar (19311932). Dari surau kakeknya ini. pada 15 Oktober 1977. Mahmud Yunus telah sanggup mengajarkan kitab-kitab Mahalli. 6. Riwayat Rasul dua puluh lima. B. sebab hidu dan matinya. dalam Usia 83 Mahmud Yunus berpulang ke Rohmatullah di kediamannya. M. hadist. tafsir. Terjemahan Tafsir al-Quran tanpa tafsir. Puasa dan Zakat untuk anak-anak SD. Karena sejarah itu tetap mengulang jejaknya. Ayahnya bernama Yunus bin Incek dan ibunya bernama Hafsoh bini M. Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) jkarta (1957-1980). hokum. Akhirnya pada 18 Januari 1983. sejarah. Perlu di garis bawahi disini bahwa upaya penulisan Mahmud Yunus ketika itu. bersama Rasyidin/Zubir Usman. Akademi Pramong Praja di Bukit Tinggi (1948-1949). 7. sebab kuat dan lemahnya. Pelajaran Sholat untuk-untuk anak0anak SD. untuk anak-anak SD. Kemampuan menjadi guru tersebut lebih menonjol manakala ia kembali dari Mesir . 3. Sehari kemudian ia dimakamkan di pemakaman IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menganugerahi Mahmud Yunus Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Tarbiyah. bernama Muhammad Ali gelar angku kolo. Selain itu ditrgaskan pula sebab-sebab majunya satu umat dan sebab-sebab mundurnya. di samping itu ia juga memasuki sekolah rakyat. bersama Kasim St. Profesi sebagai guru semenjak masih menjadi pelajar di Surau Tanjung Pauh sudah ia geluti.Artinya: “ Kitab itu (Al-Quran) tidak ada keraguan didalamnya. tetapi hanya sampai kelas tiga saja. 4 jilid. Pendidikan Mahmud Yunus belajar dari al-Quran dan bahasa Arab yang ia tempuh semenjak berusia tujuh tahun di Surau kakeknya M. untuk anak-anak SD. untuk anak-anak SD. Adapun karya-karya Mahmud Yunus antara lain: 1. Minatnya terhadap studi al-Quran serta bahsa arab telah menimbulakan hasarta besar dalam diri Mahmud Yunus untuk menulis tafsir al-Quran yang kemudian menjadi karya monumentalnya sendiri yagn tetap populer sampai saat ini. 8. Keimanan dan Akhlaq. Kemayoran Jakarta Pusat. Mahmud Yunus pindah ke Madrasah yang diasuh oleh Syeikh H. 4. cara mengerjakan haji. Kuliyah Mu’alimin Islamiyah Noramal Islam Padang (1932-1946). menjadi Dekan dan Guru Besar pada fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1960-1963). yang ia tulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Atas jasa-jasanya dibidang pendidikan ini. sebab tegaknya dan jatuhnya. 9.

23. akhlaq. Tarbiyah / PGAA 29. Setelah penaduhulan kemudian langsung kepada ayat al-Quran berupa terjemahan dan dibawahnya langsung dijelaskan tafsirnya yang diawali dengan surawt al-fatihah. kuliyah untuk kursus-kursus. 21. C. Do’a-do’a Rasulullah. 13. Metodik Khusu bahasa Arab.. apabila mendapatkan nikmat diucapkan Alhamdulillah………I. 12 Hukum Warisan dalam Islam.I. kemudian yang ketiganya terdapat dalam surat al-Baqoroh. Fak. Hukum perkawinan dalam Islam. 18. Dasar-dasar Negara Islam. 11. 20. 26. bersama H. Surat Al-A’la--898……dan seterusnya. Sejarah PEndidikan Islam (umum). Kumpulan Do’a. Tafsir al-Quran ini dibelakangi juga terdapat beberapa kesimpulan isi al-Quran. Pkok-pokok Pendidikan/Pengajaran.3.10. 14. bersama St. untuk tingkat tsanawiyah/PGA bersama H.. untuk tingkat tsanawiyah. Ali. Juz ke-2……29.I. mahasiswa/umum. Said. Juz Amma dan terjemahnya. Setelah daftar isi dan surat-surat kemudian juga terdapatdaftar isi juz-juz al-Quran yang tujuannya memudahkan pembaca dalam pencarian sebuah ayat al-Quran seperti juz ke-1…. sebelum mengerjakan pekerjaan yang beik diucapkan Bismillah…. dan ilmu pengetahuan. Pengetahuan Umum Ilmu Mendidik. Ilmu Mustalahul Hadist. alBaqoroh hingga pada akhir surawt an-Naas (30 Juz)untuk dapat membuka mengetehui isi al-Quran ini dengan mudah. Kesimpulan isi al-Quran. hokum-hukum. Ilmu Tauhid menurut Al-Quran. Perbandingan Agama. 4 Madzhab. M. Fak. untuk anak-anak SD. 31. untuk murid-murid SMP. Ilyas M. Pedoman Dakwah Islamiyah. Sejarah Islam di Minangkabau. Fak. Moral Pembangunan dalam Alam.…. untuk tingkat Aliyah. Tarbiyah / PGAA. untuk orang dewasa. untuk tingkat Aliyah. Marilah ke Al-Qur’an. untuk tingkat Aliyah. Mahmud Aziz. Kemudian seterusnya dihalaman belakang kitab terdapat daftar isi surat-surat al-Quran beserta nomor halaman yang memudahkan pembaca dalam pencarian surat seperti surat al-A’raf……. seperti orang-orang yang bertaqwadan sifat-sifatnya………. Sistematika Tafsir Sistematika Tafsir karangan Mahmud Yunus susunannya diawali dengan pendahuluan yang di dalamnay dijabarkan tentang penulisan dan usaha yang ditempuh oleh Mahmud Yunus ketika beliau menterjemahkan dan menerbitkan al-Quran tersebut. dan seterusnya. 17. kita dapat membuka dan melihat pada halaman belakang yaitu Daftar Surat dan isi Tafsir alQuran Karim disini ditulis surat dan beberapa tema yang biasa di kaji beserta nomor urut halaman.. . Beriman dan Berbudi Perkerti. 32. 35. 27. ekonomi. 34. dlaam penyelidikan baru. Ilmu Jiwa kanak-kanak. 4 Madzhab. Akhlaq (bahasa Indonesia). petunjuk atau pengajaran. Pendidikan-Pendidikan Umum di Negara-negara Islam/Pendidikan Barat. Allah dan Makhluq-Nya. Soal Jawab HUkum Islam. Pemimpin Pelajaran Agama. Tarbiyah / PGAA 30. Disamping itu kitab tafsir ini terdapat daftar kesimpulan isi al-Quran. 37. Manasik haji. untuk tingkat Aliyah 19. untuk Muballigh-Muballigh / umum.2-8. 24. orang-orang yang dimurkai dan orang – orang yang sesat………2. 25.. 33. untuk tingkat Aliyah. dan seterusnya. yang berhubungan dengan keimanan. 15. Pelajaran Sembahyang. 36. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. kuliyah untuk dakwah. 22. untuk tingkat Aliyah. 16. 3 jilid. 28.

karena berhubung tafsir al-Quran in berubah halamanny adari cetakan yang lama ke percetakan yang beru dan karangan ini. surat demi surat. suatu metode tafsir yagn bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Quran dan seluruh aspeknya. b). Maka secara sitematika penafsiran tafsir ini menempuh tartib Mushaf. Tafsir dengan perkataan tabi’in. Selain dari pada itu ada lagi tafsir Akil menurut Syi’ah dan tafsir Shufi bagi ahli Tasawwuf. Ibnu Katsir juz 1 hal 3 3. Sekali-kali tidak boleh dengan hadist yagn Maudlu’ dan Dlo’if. Tafsir dengan Ijtihad bagi Mujtahid. . d). Tafsir dengan umum bahasa arab bagi Ahli Ilmu Lughah. Tafsir al-Quran in sistematika penafsirannya sama seperti isi al-Quran dan terjamahan disamping kanan ayat (setiap ayat) kemudian terjemahannya dibawahnya terdapat penafsiran. g). Tafsir dengan tafsir Aqli bagi Mu’tazilah. Zhurul Islam juz 2 hal 40-43 dan juz 3 hal 37 Dapatlah diambil kesimpulan bahwa sumber-sumber tafsir itu tujuh: a). karena ayat-ayat itu tafsir-menafsirkan dan jelas-menjelaskan antara satu dengan yang lain. Sistematika penafsiran Mahmud Yunus menafsirkan seluruh ayat sesuai susunannya dalam mushaf al-Quran ayat demi ayat. f). tafsir al-Quran dengan al-Quran. e). Al-Qasimy juz 1 hal 7 4. Yafsir dengan hadist yang shahih. bila mereka ijma’ atas semua tafsir. Hal ini menurut pendapat bahwa ijma’ itu hujjah. Tafsir dengan perkataan sahabat. F. E. kedua . jilid kedua dari juz 11 sampai dengan 20. seperti hadist Bukahri dan Muslim. dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Naas. bukan menurut pendapat dan pikirannya. c). pertama dari juz 1 sampai dengan 10 n. Sistematika Penafsiran Dalam tafsir Mahmud Yunus ini telah dijelaskan sebelumnhy bahwa didalamnya dibelakangi kitab terdapat kesimpulan isi al-Quran. Metode dan Corak Tafsir Tafsir al-Quran Karim Mahmud Yunus ini menunjuk pada metode tahlili. tiga jilid. Kitab ini terdiri dari dua jilid yaitu pertama satu jilid tamat dari juz 1 sampai dengan 30.D. Sumber-sumber Tafsir al-Quran Mahmud Yunus Setelah mempelajari: 1. jilid ketiga dari juz 21 sampai dengan 30. Tafsir at-Thabaryjuz 1 hal 42 2. ini tidak dapat di muat diawal kitab. tapi khusus dengan menerangakan sebab-sebab turunnya sayat. Fajrul Islam juz 1 hal 199 5.

serta mengajak teman sejawat. Jika selalu kita membaca al-Quran dan memperhatikan isinya. Oleh sebab itu hendaklah tiap-tiap orang islam membiasakan membaca al-Quran. Sebenarnya kaum Muslimin memuliakan dan menjunjung tinggi al-Qran . Dengan demikian mudah mengetahui nomornomor ayat al-Quran dalam teks bahasa arab dan terjemahanny adalam bahasa Indonesia. ? Keterangan-keterangan ayat ditambah dan diperluas. sekurang-kurangnya hendanyalah dibacanya” kesimpulan isi al-Quran” ini. Contoh Tafsir Mahmud Yunus dalam surat An-Nisa’ ayat 9: . Keistimewaan Tafsir al-Quran Karim Mahmud Yunus Adapun keistimewaannya adalah: ? Terjemahan al-Quran disusun baru. Saudara-saudara yang tidak sanggup membaca al-Quran dari awal sampai tamat. Jika orang yang mengeluarkan mutiara itu hanya memekai perkakas lama dan serba kurang. niscaya akan terbuka juga bagi kita rahasiarahasianya yang lain. petunjuk/pelajaran. setengahnya berupa masalah-masalah ilmiyah yang harus dipelajari oleh mahasiswa-mahasiswa. suatu lafadz dijelaskan arti kosakatakatanya. Bahkan mahasiswa-mahasiswa dapat memperluas bahasa arabnya. sehingga mudah mempelajarinya tanpa memeriksa ke halaman-halaman yagn lain. seperti cetakan yang lama. Kedua aspek tersebut dijelskan ketika dianggap perlu atau kadang pula suatu ayat. ekonomi dan ilmu pengetahuan. tentu mereka dapat menjawabnya. Maka bagitulah juga dalam mengeluarkan hukum-hukum dan ilmu pengetahuan dari dalam Quran itu. tentu ia dapat mengeluarkan sedikit saja. bahkan dijelaskan secara terperinci dengan memperlihatkan penggunaan istilah itu pada ayat-ayat yang lain. akhlaq. Inilah kesimpulan isi al-Quran yang berhubungan dengan keimanan.dalam tafsir Mahmud Yunus. Meskipun sekarang telah kita usahakan mengeluarkan apa-apa yagn tersebut dalam kitab ini. dan supaya bersih hati kita kita dari pada sifat yang tidak baik. bahwa mutiara yang ada dalam al-Quran itu telah habis. tentu ia menghasilkan mutiara yang amat banyak. sedangakan lafadz yang lain dijelaskan arti kosa katanya. aspek kosa kata dan penjelasan arti global tidak selalu dijelaskan. ? Keterangan-keterangan ayat ditaruh dan diletakkan didalam ayat yang bersangkutan. Tetapi apabila ia mempunyai perkakas yang modern serta sempurna. Kesimpulan Tafsir al-Quran Mahmud Yunus ini mudah untuk dipelajari dan dipahami kaerna di dalamnya sudah kategori-kategori membuka kitab tafsir tersebut dan didalamnya juga terdapat beberapa kesimpulan yang memudahkan kita untuk mengetahui isi kandungan tafsir tersebut secara garis besar kesimpulan isi al-Quran. tapi jika mereka ditanya apa isi quran itu? Mereka tidak bias menjawab apa-apa. tetapi janganlah kita sangka. hokum-hukum. serta mudah difahami oleh pembaca. Sesunggunhnya mengeluarkan hukum-hukum atau ilmu pengetahuan dan yang lain-lain dari dalam al-Quran tak ubahnya seperti mengeluarkan mutiara dari dalam lautan. Oleh sebab itu hendaknya tiap-tiap kita bersungguh-sungguh mengikutinya sekedar tenaga. Sekarang dengan keluarnya “kesimpulan isi al-Quran “ ini. sedengkan lafadz yang lain dijelaskan arti globalnya karena mengadung suatu istilah. diterangkan dengan ijmal (kesimpulan) saja. H.. bahkan masih banyak lagi yang tersembunyi di sana sini. mutiara yang dalam lautan itu tidak juga akan habisn-habisnya. niscaya mereka akan mendapat kemajuan dan keselamatan dari dunia sampai akherat. ? Teks al-Quran terjemahannya disusun sejajar dan setentang. meskipun beberapa ayat di tiap-tiap hari. Apabila orang-oarang islam menurut sebagaimana yang termaktub didalamnya itu. sesuai dengan perkembangan bahasa Indonesia. G. supaya bertambah kaimanan kita kepada Allah swt. Tetapi meskipun begitu. supaya bersama-sama ke jurusan itu.

=> Abdul Ghofur. Tafsir al-Quran Mahmud Yunus. Keterangan ayat 9: “ dalam ayat ini Allah menganjurkan kepada orang tua agar memikirkan akibat anakanaknya yang masih lemah (kecil). Sebab itu hendaklah ia bertakwa dan berusaha meninggalkan harta pusaka untuk mereka. Demikian hukum islam. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. => Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Studi Analisis Surah Al-‘An’am Ayat 74-79. Ensiklopedi Islam . yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. supaya tidak terlantar kehidupan anak-anaknya yang masih kecil itu. Referensi: => Mahmud Yunus. Janganlah mewasiatkan hartanya untuk fakir miskin dan amalan sosial lebih dari mestinya. Faham Tauhid Nabi Ibrahim Menurut Ibnu Katsir. sedang mendidik anak-anak hukumnya wajib. berwasiat itu hukumnya sunnah. Menurut islam.Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah. Yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah. bila ia meninggal dunia.

dalil. terlebih lagi ia mempunyai kapasitas yang mumpuni dalam bidang ushul at-tafsir. ***** . walaupun tidak semua ayat dijelaskan dengan metode tersebut. dan tafsir al-Wadhih. Pembahasan ayat disertai keterangan hadits. ia juga merujuk kepada kitab-kitab induk hadis yang mu`tamad (dipercaya). tafsir Jami` al-Bayan karya ath-Thabari. Tafsir inilah pula yang menjadi rujukan Terjemah Qur'an Departemen Agama yang pertama tahun 1952. Karenanya. tampaknya T. dan atTafsir al-Kabir karya Fakhruddin ar-Razi. Dapat pula digolongkan sebagai at-tafsir bil-ma'tsur (tafsir dengan riwayat). Tidak hanya tafsir klasik. Selain kitab-kitab tafsir. dan kitab-kitab as-Sunan. tafsir al-Qurthubi. Melihat sederet rujukan yang digunakan. dan dengan bentuk penyajian yang rinci. tafsir al-Qasimi. Dalam kitab tafsir ini Hasbi ash-Shiddieqy banyak mengutip dari rujukan-rujukan mu`tabar (otoritatif).Tafsir Al-Qur'anul Majid atau yang lebih dikenal dengan nama TAFSIR AN-NUR ini adalah salah satu karya monumental ulama Indonesia asal Aceh. tafsir al-Kasysyaf karya az-Zamakhsyari. wajar bila Tafsir an-Nur menjadi sebuah karya yang cukup diperhitungkan dan menjadi rujukan kalangan intelektual di Indonesia. Tafsir al-Qur’an al`Azhim karya Ibnu Katsir. Teungku Muhammad (TM) Hasbi ashShiddiegy. kitab Tafsir An-Nur ini dilengkapi pula dengan transliterasi huruf ke Arab ke dalam huruf latin. Sebut saja di antaranya. semisal. Dr. tafsir al-Manar karya Muhammad Rasyid Ridha. Tafsir An Nur menggunakan dua metode sekaligus. Untuk membantu para pemula dalam membaca dan mendalami Al-Qur'an. yaitu mudhi'i tahlili karena dibuat berdasarkan urutan dan susunan Al-Qur'an. ayat per ayat dan surah per surah. seperti. dari para peneliti sampai para pemula. Tafsir An-Nur pertama kali terbit pada tahun 1956. yaitu penjelasan suatu ayat dengan ayat lain atau dengan hadits dan atsar yang shahih . Hasbi ash-Shiddieqy menggarap karya tafsirnya ini dengan sangat serius. yaitu Prof. Tafsir ini mudah dicerna oleh semua golongan masyarakat. tafsir al-Maraghi.M. kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. yaitu ilmu yang mempelajari media-media yang diperlukan untuk menafsirkan al-Qur’an. Tafsir Al-Qur'anul Majid An-Nur. tafsir ulama muta’akhkhirin juga menjadi sumber ash-Shiddieqy. Ini adalah kitab tafsir lengkap pertama karya ulama ahli tafsir Indonesia yang diterbitkan di Indonesia. dan pendapat yang kuat. sebagai sebuah kitab tafsir yang ringkas namun lengkap. menjelaskan apa yang dimaksud tiap-tiap ayat. Tafsir ini juga dapat digolongkan sebagai at-tafsir bil ra'y (tafsir berdasarkan ijtihad). dan juga metode maudhu'i (tematik) karena sebelum menjelaskan tafsir suatu surah terlebih dahulu dijelaskan gambaran umum surah tersebut.

Sumatera Barat. yang dilakukan oleh para alumni adalah gerakan purifikasi untuk mengembalikan Islam ke zaman awal Islam dan menyingkirkan segala tambahan yang datang dari zaman setelahnya. Di sana dia mempelajari ilmu ushul fiqh. Interaksi yang kian intens dengan gerakan pembaru. di Minangkabau tengah tumbuh gerakan pembaruan Islam yang dibawa oleh para alumni Timur Tengah. Mahmud dapat menyerap semangat pembaruan yang dibawa. Beberapa karyanya yang lain adalah seperti al-Fiqh al-Wadhih (fikih sederhana berbahasa Arab) yang terdiri dari 3 juz.[1] Bersama staf pengajar lainnya yang bergiat di gerakan pembaruan. Karenanya para santri di surau/pesantren HM Umar Thaib diwajibkan mempelajari ilmu agama. Dia tidak pernah masuk ke sekolah umum. tahun 1908. tahun 1920 Mahmud membentuk perkumpulan pelajar Islam di Sungayang bernama Sumatera Thawalib. mendorongnya untuk menimba pengetahuan lebih jauh di Mesir. sebagai seorang yang mempunyai spesialisasi dalam bidang bahasa Arab. terutama berkat pandangan-pandangan yang dikemukakan sejumlah tokoh pembaru seperti Abdullah Ahmad serta Abdul Karim Amrullah. Sejarah mencatat HM Umar Thaib amat berpengaruh terhadap pembentukan keilmuan Mahmud Yunus. Maksudnya agar para santri dapat juga memanfaatkan ilmu-ilmu tersebut bagi peningkatan kesejahteraan umat dan perkembangan Islam. Disebutkan dalam buku Tokoh dan Pemimpin Agama. beliau berhasil menulis Tafsir Alquran al-Karim. Gurunya adalah kakeknya sendiri. Ayahnya bernama Yunus bin Incek menjadi pengajar surau yang dikelola sendiri. karya-karyanya banyak dipergunakan di sekolah-sekolah khususnya di pesantren. hari Sabtu 10 Pebruari 1899. ditekankan penguasaan pengetahuan umum serta bahasa Eropa. Biografi Sosial-Intelektual. Ibundanya bernama Hafsah binti Imam Samiun merupakan anak Engku Gadang M Tahir bin Ali. Beliau sendiri mempunyai karya yang berupa kamus Arab-Indonesia yang masih mudah didapatkan saat ini. Dalam bidang keilmuan Alquran. Tidak mudah untuk mewujudkan hasratnya itu. bahasa Eropa maupun ilmu pengetahuan umum.Mahmud Yunus adalah seorang tokoh pendidikan nasional. Misalnya dalam karya Al-Munir. Mahmud sempat selama tiga tahun menimba ilmu di sekolah desa. Namun saat duduk di kelas empat. Sejak kecil. Keluarganya adalah tokoh agama yang cukup terkemuka. Hanya dalam tempo setahun. dia merasa tidak betah lantaran seringnya pelajaran kelas sebelumnya diulangi. Mahmud Yunus mulai terlibat di gerakan pembaruan saat berlangsung rapat besar ulama Minangkabau tahun 1919 di Padang Panjang. Saat Mahmud belajar di Madras School antara tahun 1917-1923. Dia pun berkeinginan melanjutkan studi ke madrasah Dar al-Ulum yang . Mahmud Yunus dikenal sebagai seorang tokoh pembaharu dalam metode pengajaran bahasa Arab. at-Tarbiyah wa at-Ta’lim yang juga terdiri dari tiga juz. Mahmud Yunus seorang murid yang cerdas. purifikasi dan modernisasi. Karya ini merupakan salah satu pionir karya tafsir berbahasa Indonesia yang banyak digunakan oleh orang-orang berbahasa Melayu. seorang tokoh pembaru Islam di Minangkabau. Biografi Mahmud Yunus. pendiri serta pengasuh surau di wilayah itu. Salah satu kegiatan kelompok ini adalah menerbitkan majalah al-Basyir dengan Mahmud Yunus menjadi pemimpin redaksinya. Kairo. Dia pun memutuskan pindah ke madrasah yang berada di Surau Tanjung Pauh bernama Madras School. B. Mahmud Yunus lahir di desa Sungayang. asuhan HM Thaib Umar. Mahmud mulai belajar Alquran serta ibadah lainnya. Melalui karya-karya gurunya itu. Batusangkar. fikih Hanafi dan sebagainya. ilmu tafsir. tahun 1924. Umumnya pembaruan Islam terwujud dalam dua bentuk. Pertemuan itu secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi pola pemikiran pembaruan Mahmud. Dia diminta untuk mewakili gurunya. berbagai kendala dihadapi. Mahmud Yunus dididik dalam lingkungan agama. Ketika menginjak usia tujuh tahun (1906). dia berhasil mendapatkan Syahadah Alimiyah dari alAzhar dan menjadi orang Indonesia kedua yang memperoleh predikat itu. Namun pada akhirnya kegigihan Mahmud Yunus dapat mengantarkannya ke al-Azhar. Tetapi dia merasa belum cukup dengan apa yang telah diperoleh lantaran peningkatan pengetahuan umumnya belum terpenuhi. Nah.

namun juga menunjukkan bagaimana secara didaktis-metodis modern para siswa menguasai bahasa tersebut dengan cepat dan mudah. 2. Hari yang kemudian atau kiamat (surat al-Baqarah: 285) . Tahun 1982. Tahun 1929. Mahmud Yunus kemudian meneguhkan diri untuk mengikuti seluruh persyaratan yang diminta dan terbukti mampu memenuhi. dia memperoleh gelar doctor honoris causa di bidang ilmu tarbiyah dari IAIN Jakarta atas karya-karyanya dan jasanya dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. H. Tercatat dia menjadi orang Indonesia pertama yang masuk Dar al-Ulum. hitung dagang. Pemikiran Mahmud Yunus Dalam Tafsir Alquran al-Karim. Sepanjang hidupnya. Dia memimpin Normal Islam selama 11 tahun. Kuliah Mahmud Yunus berakhir dengan lancar. 5. Dr. Demikian pula di kementerian agama yakni dengan menjabat selaku Kepala Penghubung Pendidikan Agama. Sementara Mahmud menambahkan beberapa pelajaran umum semisal ilmu alam. dia kembali ke kampung halamannya di Sungayang Batusangkar. Sedangkan Normal Islam hanya menerima tamatan madrasah 7 tahun dan dimaksudkan untuk mendidik calon guru. pembaruan Mahmud Yunus tak hanya menekankan penguasaan bahasa Arab. pengetahuan umum. bahasa Eropa di Adabiyah School. bahasa Arab. Tahun 1909 Abdullah Ahmad sudah mengajarkan berhitung. atau apa yang dikatakan Rukun Iman. Beliau menyatakan seperti berikut: "Iman (percaya) yaitu: Beriman kepada: 1. Rasul-rasulNya. Pada tahun 1982. Allah. ilmu jiwa dan ilmu kesehatan. dia mendapat ijazah diploma guru dengan spesialisasi bidang ilmu kependidikan. Kitab-kitabNya. Awal tahun 1970 kesehatan Mahmud Yunus menurun dan bolak balik masuk rumah sakit. 3. Mahmud menulis tak kurang dari 43 buku.memang mengajarkan pengetahuan umum. Ini amat menggembirakan Mahmud Yunus yang lantas mendirikan dua lembaga pendidikan Islam. kecuali Mahmud Yunus. Gerakan pembaruan di Minangkabau saat itu makin berkembang. al-Jami'ah Islamiyah terpaksa ditutup tahun 1933. yakni al-Jami'ah Islamiyah di Sungayang dan Normal Islam di Padang. Lantas tahun 1943 dipilih menjadi Penasehat Residen mewakili Majelis Islam Tinggi. dan tata buku. Ilmu yang diajarkan berupa ilmu agama. Di kedua lembaga inilah dia menerapkan pengetahun dan pengalaman yang didapatnya di Dar al-Ulum. Mahmud Yunus meninggal dunia[2] B. Pada tahun 30-an. Dia dimasukkan sebagai mahasiswa di kelas bagian malam (qiyam lail). dia juga aktif di organisasi Islam antara lain menjadi salah satu anggota Minangkabau Raad. Karena kekurangan tenaga pengajar. 4. Semua mahasiswanya berkebangsaan Mesir. yakni pemikiran yang bercorak aliran al-Qadariyah dalam masalah takdir Prof. Dua penekanan dalam pembaruan Mahmud Yunus di lembaga pendidikannya yakni pengenalan pengetahuan umum dan pembaruan pengajaran bahasa Arab. mulai 1931-1938 dan 1942 dan 1946. Pada bidang pengajaran bahasa Arab. Pengajaran pengetahuan umum di sekolahnya sebenarnya tidaklah baru. Berikut akan penulis sajikan pemikiran Mahmud Yunus yang tertuang dalam karyanya. Setelah itu. ilmu mengajar. Kairo. tahun 1931. Malaekat-malaekatNya. Mahmud Yunus telah menulis di dalam kitabnya Tafsir Quran Karim" mengenai iman.

apakah seseorang mau menyembah-Nya atau tidak. memberi kebebasan kepada manusia untuk percaya kepadanya. Maka. Allah sudah tentukan. setelah diizinkan-Nya. percaya kepada takdir artinya percaya bahwa segala-galanya sudah ditentukan oleh Allah terlebih dahulu. Seolah-olah mempercayai Tuhan itu zalim." (QS an-Nahl:33) Memang benar kata orang-orang yang percaya kepada takdir yaitu semuanya datang dari Allah. dan kemudian. kamu mengambil daripadanya minuman yang memabukkan. yang baik.a. Ajaran percaya kepada taqdir telah mengelirukan sesetengah umat Islam. Ayat tersebut ada pada an-Nisa:136. maupun yang buruk." Justru. Dia mencipta manusia dan jin untuk menyembah-Nya. atau memilih untuk tidak percaya kepadanya. Dai dalam Alquran disebutkan: 33)‫ن‬ َ) ‫منو‬ ُ‫ل نو‬ ِ‫ظُم‬ ْ‫ي ِل‬ َ) ‫م‬ ْ‫ه ِل‬ ُ‫س نو‬ َ) ‫ف‬ ُ‫ن نو‬ ْ‫أ ِل‬ َ) ‫ننوا‬ ُ‫كنا نو‬ َ) ‫ن‬ ْ‫ك ِل‬ ِ‫ل ُم‬ َ)‫و‬ َ) ‫لل‬ ُ‫م ا نو‬ َّ‫ه‬ ُ‫ه نو‬ ُ‫م نو‬ َ) ‫ل‬ َ)‫ظ‬ َ) ‫منا‬ َ) ‫و‬ َ) ) "Allah tidak menzalimi mereka. Namun.'" (QS al-Kahfi: 29) Contoh kedua ialah dalam masalah buah-buahan dan anggur yang Dia rezekikan. Kuasa untuk memilih itu agak jelas ditunjukkan apabila Dia menurunkan yang benar. 'Yang benar adalah daripada Pemelihara kamu. ingin ditegaskan bahwa rukun yang kelima seperti yang dicatat itu." (QS an-Nahl: 67) lalu bolehkah orang yang mabuk berkata kemudian bahwa dia menjadi seorang pemabuk karena Allah telah menakdirkannya demikian? dia telah diberi pilihan untuk mengambil "rezeki yang baik" dari buah-buahan tersebut! . atau. dan rezeki yang baik. yang keenam. Di samping itu. manusia diberi kuasa memilih. Percaya kepada taqdir. Hal ini disebutkan dalam Alquran: ‫ننا‬ ً‫س ا‬ َ) ‫ح‬ َ) ‫قنا‬ ً‫ز ا‬ ْ‫ر ِل‬ ِ‫و ُم‬ َ) ‫را‬ ً‫ك ا‬ َ) ‫س‬ َ) ‫ه‬ ُ‫ن نو‬ ْ‫م ِل‬ ِ‫ن ُم‬ َ) ‫ذو‬ ُ‫خ نو‬ ِ‫ت ُم‬ َّ‫ت ه‬ َ) ‫ب‬ ِ‫ننا ُم‬ َ) ‫ع‬ ْ‫ل ِل‬ ْ‫وا )َِل‬ َ) ‫ل‬ ِ‫خثي ُم‬ ِ‫ن ُم‬ َّ‫ت ال ه‬ ِ‫را ُم‬ َ) ‫م‬ َ) ‫ث‬ َ) ‫ن‬ ْ‫م ِل‬ ِ‫و ُم‬ َ) "Dan daripada buah-buahan palma dan anggur. Manusia diizinkan-Nya membuat minuman yang baik dan yang memabukkan. percaya.) Sebelum diteruskan tulisan di sini. Takdir adalah (takdirullah) sesuatu yang ditentukan oleh Allah terlebih dahulu. 49)‫ر‬ ٍ)4 ‫د‬ َ) ‫ق‬ َ) ‫ب‬ ِ‫ه ُم‬ ُ‫ننا نو‬ َ) ‫ق‬ ْ‫ل ِل‬ َ)‫خ‬ َ) ‫ء‬ ٍ)4 ‫ي‬ ْ‫ش ِل‬ َ) ‫ل‬ َّ‫ك ه‬ ُ‫ننا نو‬ َّ‫إ ه‬ ِ‫)ُم‬ Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. lima daripada enam rukun iman itu telah diajar oleh Allah. Dengan itu.atau. diajar oleh "hadits Nabi s. yang terakhir. adalah tambahan kepada ajaran Allah. karena bertentangan dengan sifat dan ajaran Allah yang sebenarnnya. penentuan dari Allah. Percaya kepada taqdir (dalam hadits Nabi s.6. jika mereka dimasukkan ke dalam neraka. (QS al-Qamar: 49). dan hendaklah sesiapa yang menghendaki. maka hendaklah sesiapa yang menghendaki.a. Sehingga ada yang percaya seperti. tetapi diri-diri mereka sendiri mereka menzalimkan. Kepercayaan tersebut adalah penyimpangan dalam Islam. Dia tidak mencipta segala sesuatu tanpa menurut ukuran tertentu.w. tidak didapati tercatat di dalam ayat al-Baqarah tersebut. itu adalah karena Allah sudah takdirkan baginya . terlebih dahulu. neraka baginya di akhirat kelak.w. tidak percaya. rukun yang keenam. Di dalam Alquran disebutkan: ‫نو ي‬ ِ‫شش ُم‬ ْ‫ي ِل‬ َ) ‫ل‬ ِ‫هش ُم‬ ْ‫م ِل‬ ُ‫ل نو‬ ْ‫كنا ِل‬ َ) ‫ء‬ ٍ)4 ‫مششنا‬ َ) ‫ب‬ ِ‫ثنوا ُم‬ ُ‫غششنا نو‬ َ) ‫ي‬ ُ‫ثنوا نو‬ ُ‫غثي نو‬ ِ‫ت ُم‬ َ) ‫سش‬ ْ‫ي ِل‬ َ) ‫ن‬ ْ‫إ ِل‬ ِ‫وُم‬ َ) ‫هنا‬ َ) ‫ق‬ ُ‫د نو‬ ِ‫را ُم‬ َ) ‫سش‬ ُ‫م نو‬ ْ‫هش ِل‬ ِ‫ب ُم‬ ِ‫ط ُم‬ َ) ‫حششنا‬ َ) ‫أ‬ َ) ‫را‬ ً‫نششنا ا‬ َ) ‫ن‬ َ) ‫مثي‬ ِ‫ل ُم‬ ِ‫ظشناُم‬ َّ‫لل ه‬ ِ‫ننا ُم‬ َ) ‫د‬ ْ‫ت ِل‬ َ) ‫ع‬ ْ‫أ ِل‬ َ) ‫ننا‬ َّ‫إه‬ ِ‫ر ُم‬ ْ‫ف ِل‬ ُ‫ك نو‬ ْ‫ثي ِل‬ َ)‫ل‬ ْ‫ف ِل‬ َ) ‫ء‬ َ) ‫شنا‬ َ) ‫ن‬ ْ‫م ِل‬ َ) ‫و‬ َ) ‫ن‬ ْ‫م ِل‬ ِ‫ؤ ُم‬ ْ‫ثي ِل‬ ُ‫لنو‬ ْ‫ف ِل‬ َ) ‫ء‬ َ) ‫شنا‬ َ) ‫ن‬ ْ‫م ِل‬ َ) ‫ف‬ َ) ‫م‬ ْ‫ك ِل‬ ُ‫ب نو‬ ِّ‫رك‬ َ) ‫ن‬ ْ‫م ِل‬ ِ‫ق ُم‬ ُّ ‫ح‬ َ) ‫ل‬ ْ‫ل ا ِل‬ ِ‫ق ُم‬ ُ‫و نو‬ َ) 29)‫قنا‬ ً‫ف ا‬ َ) ‫ت‬ َ) ‫ر‬ ْ‫م ِل‬ ُ‫ت نو‬ ْ‫ء ِل‬ َ) ‫سنا‬ َ) ‫و‬ َ) ‫ب‬ ُ‫را نو‬ َ) ‫ش‬ َّ‫س ال ه‬ َ) ‫ئ‬ ْ‫ب ِل‬ ِ‫ه ُم‬ َ) ‫جنو‬ ُ‫نو نو‬ ُ‫ل نو‬ ْ‫)ا ِل‬ "Katakanlah. Dan.

Corak bir-Ra’yi dan bil-Ma’tsur. kepada manusia untuk dipakai semasa menggunakan kuasa memilih tersebut. mengetahui dan menentukan sesuatu adalah dua perkara yang jauh berbeda. mereka berdua. kemudian. Semua hadis yang menyatakan ajaran tersebut pada dasarnya dapat dibantah karena bertentangan dengan ajaran Alquran itu sendiri. atau yang menggunakan akal fikiran. tidak kelihatan bahwa Allah telah menentukan terlebih dahulu bahwa Adam dan isteri akan makan daripada pohon tertentu. Dari ayat yang menceritakan tentang peristiwa tersebut.[3] C. beliau memberikan perhatian lebih hingga terlihat corak penafsiran tahlilil. Namun selain itu ternyata dalam pemikiran yang beliau tuangkan dalam karyanya Tafsir Alquran al-Karim. yang kononnya telah disabdakan oleh Nabi. Pembaharu Pemikiran. seperti yang diajar oleh hadis. ialah kejadian Adam. Mahmud Yunus juga merupakan seorang pembaharu pemikiran ummat muslimin. Akan tetapi. Malah. Memang benar juga kata mereka yang percaya kepada takdir bahwa Allah mengetahui segala-galanya. Oleh yang demikian. Bila melihat sumber penafsiran yang digunakan di dalam Tafsir Alquran al-Karim. Percaya kepada Takdir bukanlah rukun iman dalam Islam. Tahlili atau Ijmali[5] Pada dasarnya. seperti yang telah dinyatakan oleh Prof. Dia mengetahui bahwa seseorang itu akan ditimpa keburukan. dan pembaharu dalam pendidikan. 3. Di dalam kitab-kitab hadis terdapat beberapa buah hadis. Terlepas dari pengaruhnya terhadap pemikiran ummat muslimin. Mahmud Yunus menginginkan Ummat Islam sebagai ummat yang dinamis yang tidak hanya bersandar kepada takdir seperti yang banyak diyakini oleh ummat Islam pada masanya. ajaran tersebut bertentangan dengan kehendak-Nya Ajaran yang bertentangan dengan ajaran Allah itu datang dari hadis. Namun pada beberapa ayat. Bukti terakhir untuk menunjukkan bahwa Allah tidak menentukan terlebih dahulu apa yang akan terjadi kepada seseorang. Jadi. Mereka yang tidak menggunakan ketiga-tiga potensi itu akan dimasukkan ke dalam Jahanam. mengenai kepercayaan tersebut. Tafsir Alquran al-Karim: Kajian Kritis.Ayat itu juga menyebut mengenai kaum yang memahami. Karena itu. wajarlah ia ditolak. mereka tidak bisa beralasan dengan mengatakan bahwa telah menakdirkan mereka untuk masuk neraka. ajaran Percaya kepada takdir memang tidak dianjurkan Allah. Di Jahanam nanti. 2. meminta ampun serta bertaubat kepada Allah. Tafsir Alquran al-Karim karya Mahmud Yunus ini adalah tafsir ijmali yakni hanya menafsirkan ayat secara global saja. Mahmud Yunus. Dr. . sehingga mereka berdua melanggar perintah Allah. tetapi keburukan yang menimpa orang itu merupakan akibat dari usahanya sendiri. Metode-metode yang dibangun oleh beliau sangat berpengaruh dalam pendidikan bahasa Arab di Indonesia. 1. Adam dan isterinya telah dapat diperdaya oleh Syetan. yang juga merupakan salah satu karunia terbesar Allah swt. Mahmud Yunus merupakan seorang tokoh pendidikan. dapat dikatakan bahwa karyanya ini merupakan tafsir bir-ra’yi[4] meskipun ada banyak sumber yang berupa riwayat-riwayat dipergunakan sebagai penafsir bagi ayat-ayat tertentu. Potensi lain adalah penglihatan dan pendengaran. Corak pemikiran al-Qadariyah ini memang sungguh kental pada pemikiran beliau. Akan tetapi.

Penekanannya terhadap penolakan kepercayaan takdir merupakan antisipasi terhadap statisnya dinamika kehidupan ummat Islam. Beliau beranggapan bahwa iman terhadap qada dan qadar bukanlah termasuk dari rukun iman karena tidak didapatkan dalam Alquran dan banyak ayat-ayat yang menentangnya. Salah satu pemikiran yang beliau tuangkan dalam karyanya ini adalah gugatan terhadap kepercayaan yang berlebihan akan takdir. akan tetapi hadis tersebut menurut beliau lemah karena bertentangan dengan Alquran. Dalam bidang tafisr.D. Mahmud Yunus lebih dikenal sebagai tokoh pendidikan yang mempunyai spesialiasi dalam bidang ilmu Bahasa Arab. Penutup. Kepercayaan ini didapatkan dalam hadis. Yang merupakan salah satu pionir karya tafsir berbahasa Indonesia yang banyak digunakan oleh orang-orang berbahasa Melayu. . beliau menulis Tafsir Alquran al-Karim.

w. kitab tafsir ini banyak memberi sumbangan terhadap pengajian dan pembelajaran Ulum al-Qur’an di Nusantara. Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy mula mendapat pendidikan awalnya di pondok pengajian milik bapanya. Dr. Frman Allah s. surah Ali ‘Imran ayat 138. Beliau memiliki kepekaran [ . PENDIDIKAN Prof. Beliau menuntut ilmu di pelbagai pondok pengajian dari stu kota ke kota yang lain selama 20 tahun. T. adalah seorang ulama’ terkenal di kampungnya dan mempunyai sebuah pondok. Hasbi ash Shiddieqy adalah berketurunan Abu Bakar al-Shiddiq (573-13/634M) iaitu khalifah yang pertama.M Hasbi ash Shiddieqy. Dr. Dikarang oleh tokoh agung yang tidak asing lagi iaitu Prof. Pengajiannya di al-Irsyad dan gurunya Ahmad Soorkati banyak memberi didikan ke arah pembentukan pemikiran moden. [1] 2.M Hasbi ash Shiddieqy menggunakan metode tersendiri dalam menyusun dan mengolah Tafsir al-Bayan dan mempunyai kelainan dengan karya yang pertamanya. KELAHIRAN DAN LATAR BELAKANG KELUARGA Profesor Doktor Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy dilahirkan di Lhokseumawe pada 10 March 1904.M Hasbi ash Shiddieqy merupakan seorang ulama’ Indonesia yang terkenal. Bandung. Almaarif.M Hasbi ash Shiddieqy PENDAHULUAN Tafsir al-Bayan merupakan sebuah kitab tafsir yang unggul di rantau ini. T. seorang ulama’ yang berasal dari Sudan . Hasil karya ini terdiri daripada dua jilid dan merupakan karya kedua beliau selepas Tafsir an-Nur. Prof. Dr. Menurut salasilah. BIOGRAFI PENGARANG 1. KEILMUAN T. Khidmatnya masih digunakan sehingga ke hari ini. Jelasnya. dengan ukuran 15 x 22 cm. seorang ulama’ berbangsa Arab.Tafsir al-Bayan oleh Prof. Pada tahun 1926 T. 3. Tafsir al-Bayan adalah kitab tafsir dan terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Indonesia yang di hasilkan pengarang seawal tahun 60-an lagi. Beliau juga pernah menuntut di Timur Tengah.Disertasi Ilmiah 4 . Kitab ini juga mempunyai keistemewaan dan perbezaan yang tersendiri berbanding dengan kitab-kitab tafsir lain. Cetakan pertamanya ialah pada tahun 1971 yang diterbitkan PT.t : ‫نثيقتملل ﺔﻆعنوم نو ﻯدﻫنو ﺱنانلل ننايب‬ Yang bererti: “Al-Qur’an adalah penerangan (penjelasan) bagi seluruh manusia dan nasihat bagi mereka yang bertakwa” Al-Bayan yang dinamakan oleh pengarang adalah bermaksud “Suatu penjelasan bagi makna-makna alQur’an”. Ibunya Teungku Amrah binti Teungku Chik Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz . T. Kitab ini dinamakan Tafsir al-Bayan diambil sempena ayat al-Qur’an. Di Madrasah al-Irsyad Hasbi ash Shiddieqy mengambil takhassus dalam bidang pendidikan selama 2 tahun. Dr. merupakan anak seorang Qadi Kesultanan Acheh ketika itu.Beliau mempelajari bahasa Arab daripada gurunya yang bernama Syeikh Muhammad ibn Salim al-Kalali. Ayahnya Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husien ibn Muhammad Su’ud.M Hasbi ash Shiddieqy berangkat ke Surabaya dan melanjutkan pelajarannya di Madrasah al-Irsyad iaitu sebuah organisasi keagamaan yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Soorkati (1874-1943). Beliua merupakan generasi ke 37 dari Abu Bakar al-Shiddiq yang meletakkan gelaran ash Shiddieqy diakhir namanya.

sesuai dengan perkembangan masa dan tempat. kitab-kitab fiqh yang ditulis oleh imamimam mazhab diambil sebagai sumber syariat. Beliau turut menganggotai Organisasi Muhammadiyah.M Hasbi ash Shiddieqy pernah diundang dan menyampaikan makalah dalam International Islamic Colloquium yang diadakan di Lahore Pakistan (1958). baik dalam hubungannya dengan sesama manusia mahupun hubungan dengan Tuhannya.M Hasbi ash Shiddieqy terlibat secara langsung dalam Parti Masyumi (Majlis Syura Muslimin Indonesia) dan mewakilinya dalam perdebatan ideologi di Konstituante. al-Syafi’i dan Ahmad ibn Hanbal. Sebagai alternatif terhadap sikap tersebut.M Hasbi ash Shiddieqy telah dianugerahkan dua gelaran Doctor Honoris Cause sebagai penghargaan di atas jasa-jasanya terhadap perkembangan Perguruan Tinggi Islam dan perkembangan ilmu pengetahuan keislaman Indonesia. Menurut Hasbi ash Shiddieqy. Di antara mereka yang terkenal adalah imam-imam mujtahid mazhab empat iaitu Abu Hanifah. Ijtihad inilah yang kemudiannya melahirkan fiqh. Mereka terlalu berkecenderungan mengikut mazhab imam-imam tersebut. Beliau mula bergerak di Acheh dalam lingkungan masyarakat fanatik. beliau diangkat sebagai ketua dalam bidang ilmu hadith di IAIN Sunan Kalijaga. tafsir. hukum fiqh yang dianuti oleh masyarakat Islam Indonesia banyak yang tidak sesuai dengan keperibadian bangsa Indonesia. Namun begitu begitu. tidak beerti ijtihad ulama’ terdahulu harus . walaupun kadang-kadang pendapat imam mazhab tersebut ada yang perlu diteliti dan dikaji dengan konteks terkini. Namun begitu. PEMIKIRAN Seperti ulama’ lain. Kemampuannya sebagai seorang intlektual diakui dunia antarabangsa. T. Selama ini terdapat masyarakat Indonesia yang yang cenderung menganggap fiqh sebagai syariat. pada tahun 1960. Menurutnya.. 6. umat Islam harus mencipta hukum fiqh yang sesuai dengan latar belakang masyarakat Indonesia.M Hasbi ash Shiddieqy menetap di Yogyakarta pada tahun 1951 dan melibatkan diri secara serius dalam bidang pendidikan. Menurutnya. kerana hasil ijtihad mereka tidak terlepas dari situasi dan keadaan sosial budaya serta lingkungan geografik. PENGLIBATAN POLITIK DAN ORGANISASI Pada zaman demokrasi liberal T. dan ilmu kalam. T. Sebelum itu. Akibatnya. Banyak kitab fiqh yang ditulis oleh ulama’ mujtahid. Hasbi ash Shiddieqy berpendirian bahawa syariat Islam bersifat dinamik. Pendidikan yang diterimanya dari pondok-pondok pengajian dan Madrasah al-Irsyad mampu menyerlahkan dirinya sebagai seorang pemikir. Ruang lingkupnya mencakupi semua aspek kehidupan manusia.dalam bidang ilmu fiqh dan usul fiqh. Hasbi masih meneruskan perjuangannya walaupun beliau dimusuhi oleh pihak yang tidak bersefahaman dengannya. Beliau menyandang jawatan ini hingga tahun 1972. hadith. Kepakaran beliau dalam pengetahuan Islam dan pengiktirafan ketokohannya sebagai ulama’ dapat dilihat dari beberapa gelaran doktor (honoris cause) yang diterimanya seperti dari Universiti Islam Bandung pada 22 March 1975 dan dari IAIN Sunan Kalijaga pada 29 Oktober 1975. khususnya di Indonesia tidak membezakan antara syariat asal dari Allah swt dan fiqh yang merupakan ijtihad ulama’ terhadap syariat tersebut. difahami oleh umat Islam melalui metode ijtihad untuk diadaptasikan setiap perkembangan yang berlaku dalam masyarakat. Syariat Islam yang bersumbekan wahyu Allah swt. kebanyakan umat Islam. KETOKOHAN T. Malik. 5. dan dari IAIN Sunan KalijagaYogyakarta pada 29 Oktober 1975. Tentu sahaja hal ini berbeza dengan keadaan masyrakat kita sekarang. Pada tahun 1960 beliau diangkat menjadi dekan di Fakulti Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. beliau mencadangkan gagasan perumusan kembali fiqh Islam yang berkeperibadian Indonesia. Anugerah tersebut diperolehi dari Universiti Islam Bandung dan (UMSBA) pada 22 March 1975. 4.

Oleh kerana itu. yang bertarikh Yokyakarta: 21 Mei 1966. pengarang menulis: “Dengan inayah Allah Taala dan taufiq-Nya. ijtihad tidak dapat dilaksanakan dengan efektif jika dilakukan secara individu. Hasbi ash Shiddieqy berpendapat bahawa pintu ijtihad tidak pernah tertutup. kerana ijtihad adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan dari semasa ke semasa. Juga pengarang mendapati bahawa terjemahan-terjemahan al-Qur’an yang beredar ditengah-tengah masyarakat perlu dikaji [ [ . KEWAFATAN T. dan ahli politik yang mempunyai visi dan wawasan terhadap permasalahan umat Islam. Ketiga: Ijtihad dengan mencari hukum-hukum terhadap masalah kontemporari yang timbul akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. fiqh dan pedoman ibadah. [2] Pada Muqaddimah tafsir ini. tetapi harus diteliti dan dipelajari secara bebas. asalkan sesuai dan relevan dengan situasi masyarakat Indonesia dapat diterima dan diterapkan. Pertama: Ijtihad dengan mengklasifikasi hukum-hukum keluaran ulama’ mazhab terdahulu. budayawan. ada tiga bentuk ijtihad yang perlu dilakukan. tetapi juga terdiri dari pelbagai kalangan muslim yang lain seperti. menurut beliau berubah sesuai dengan perubahan masa dan keadaan masyarakat. Pengarang menyatakan sebab-sebab penulisan tafsir ini adalah untuk menyempurnakan sistem penterjemahan yang terdapat dalam Tafsir An-Nur karya pertamanya dalam bidang ini. sarjana. Ini bertujuan agar dapat memilih pendapat yang masih sesuai untuk diterapkan dalam masyarakat.M Hasbi ash Shiddieqy kembali ke rahmatullah tanggal 9 Disember 1975 ketika dalam membuat persiapan untuk menunaikan ibadah haji. masalah mursalah dan urf. Kedua: Ijtihad dengan mengklasifikasikan hukum-hukum yang semata-mata didasarkan pada adat kebiasaan dan suasana masyarakat di mana hukum itu berkembang. PENGENALAN KITAB TAFSIR AL-BAYAN Tafsir al-Bayan merupakan hasil karya ke dua yang dikarang oleh Prof. Turut hadir almarhum Hamka dan almarhum Mr. Untuk usaha ini. Menurutnya. istihsan. HASIL KARYA Semasa hayatnya T. Dengan demikian.dibuang sama sekali. kritis dan terlepas dari sikap fanatik.M Hasbi telah menghasilkan 72 judul buku dan 50 artikel dalam bidang tafsir.Dianggotai bukan hanya golongan ulama’. T. ahli ekonomi. ulama’ harus mengembangkan dan menggalakkan ijtihad. rumusan ijtihad yang diputuskan oleh lembaga ini lebih mendekati kebenaran dan lebih sesuai dengan tuntutan situasi dan kemaslahatan masyarakat. Hasbi ash Shiddieqy menawarkan gagasan ijtihad jama’i. Mereka yang duduk dalam lembaga ijtihad masing-masing berusaha memberi buah fikiran yang sesuai dengan keahlian dan dan disiplin ilmu. tertarik pula hati saya kepada menyusun al-Bayan”[3]. untuk menuju fiqh Islam yang berwawasan ke Indonesiaan. hadith. Beliau dimakamkan di permakaman IAIN Ciputat Jakarta. setelah saya selesai dari menyusun Tafsir An-Nur yang menterjemahkan ayat dan menafsirkannya. Hukum ini. Dalam gagasan ijtihad ini memandang metodologi pengambilan dan penetapan hukum (istinbat) yang telah dirumuskan oleh para ulama’ seperti qias. Disebabkan kompleksnya permasalahan yang terjadi akibat daripada kemajuan. Moh.M hasbi ash Shiddieqy dalam bidang pentafsiran al-Qur’an selepas karyanya yang pertama iaitu Tafsir An-Nur yang diterbitkan pada tahun 1956. Dengan demikian. Rum di hari pengkebumiannnya. pendapat ulama’ dari mazhab manapun.maka pendekatan yang dilakukan untuk mengatasinya tidak boleh dikhususkan hanya pada bidang-bidang tertentu sahaja.

Kitab yang ada ditangan penulis ini mudah-mudahan membawa manfaat kepada seluruh masyarakat Islam atas usaha-usaha mereka yang murni lagi suci. mudah-mudahan ada baiknya untuk masyarakat Islam keseluruhannya. Jakarta. Penterjemahan al-Quran merupakan salah satu cara dakwah yang kesannya cukup mendalam terhadap sesebuah masyarakat kerana isi kandungannya lebih mudah difahami. penulis cuba meninjau kaedah-kaedah yang digunakan oleh penterjemah terhadap kitab ini. Pengenalan Kitab Nama Kitab : Al-Quran dan Terjemahnya (Indonesia) Penterjemah : Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Pentafsir Al-Quran. Oleh itu.segala usaha peterjemahan sepatutnya diberi sokongan penuh kerana usaha mereka terlalu mulia di sisi Islam.dan ditinjau semula. dimulai dari surah al-Kahf ayat ke 75 dan berakhir dengan surah al-Nas bersama terjemahan dan tafsirannya yang terkandung dalam muka surat 789 sehingga 1604[5]. Al-Bayan yang dinamakan oleh pengarang adalah bermaksud “Suatu penjelasan bagi makna-makna alQur’an”. Cetakan pertama kitab tafsir ini ialah pada tahun 1971 melalui terbitan PT Almaarif Bandung.” ( Al-Hadith ) Atas dasar itu penulis merasa satu kenikmatan dan ketenangan apabila terlibat dalam tugas ini. serta meneliti secara tekun terjemahan-terjemahan itu. Bentuk masyarakat yang berbagai memerlukan kepada kaedah dakwah yang pelbagai. [ [ [ . 1. Penterjemahan yang salah pula membawa kepada kepada kesalahfahaman masyarakat terhadap isi kandungan al-Quran yang akhirnya menjejaskan akidah mereka. Jilid pertama mengandungi nas-nas ayat al-Qur’an bermula dari surah al-Fatihah dan berakhir dengan ayat 75 surah al-Kahf.w telah bersabda: ‫خثيركم من تعلم القرءان وعلمه‬ “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Quran dan yang mengajarkannya. Kitab ini terdiri dari dua jilid. nyatalah bahawa banyak terjemahan kalimat yang perlu ditinjau dan disempurnakan. Bagi jilid ke dua Tafsir al-Bayan ini. Di kesempatan ini.a. walaupun tidak secara mendalam tetapi cukup sebagai satu kepuasan dalam diri. Pengarang berkata di dalam kitab tafsirnya: “Maka setelah saya memerhatikan perkembangan penterjemahan al-Qur’an akhir-akhir ini. Apatah lagi mengkaji kandungan kitab suci al-Quran. dengan ukuran 15 x 22 cm.” Dan Nabi Muhammad s. Oleh karananya. dengan memohon taufiq daripada Allah Taala. Kesemua terjemahan dan tafsiran bagi jilid pertama mengandungi 789 muka surat. Pendahuluan Segala puji bagi Allah yang telah berfirman dalam kitabNya yang mulia: [ 6‫]قد جشناءكم من الل ننور وكتشب مبثين‬ “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Cetakan : Mujamma‘ al-Malik Fahd li Tiba‘at al-Mushaf al-Syarif. saya menyusun sebuah terjemah yang lain dari yang sudah-sudah”[4] Karyanya yang kedua ini juga merupakan terjemahan dan tafsir al-Qur’an dalam bahasa Indonesia yang diperkirakan dihasilkan oleh pengarang pada awal tahun 60-an lagi. 2.

Muchtar Jahya. 5. 8. Setelah itu belajar di sekolah kerajaan iaitu sekolah al-Irsyad selama satu setengah tahun. M. Gazali Thaib. Drs. Prof. T. 3. walaupun kerananya ia dimusuhi. T. Beliau adalah Prof. Beliau berani dalam mengutarakan pendapatnya. Prof. Hasbi Ashshiddiqi. Prof. A. Keintelektualannya diiktiraf dunia. H. Soenarjo S. Prof. Latarbelakang Keluarga : Keluarganya tergolong dari kalangan ulama pejabat. Mukti Ali. Jilid : 1 Jilid 3. Latarbelakang Penterjemah Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Pentafsir al-Quran merupakan satu badan yang dipertanggungjawabkan oleh Menteri Agama untuk menterjemah. Mereka itu ialah: 1. Walaupun tempoh beliau belajar sedikit tetapi dapat dilihat dari keperibadiannya sebagai seorang pemikir yang hebat. Terjemahan ini mengambil masa lapan tahun (1964-1971) untuk disempurnakan oleh anggota “Dewan Penterjemah” seramai sebelas orang yang terdiri dari kalangan tokoh-tokoh ulama terkenal. Prof. Saudi Arabia. H.M. Dr.1 Biodata Prof. Menurutnya silsilah yang diketahui beliau adalah keturunan ketiga puluh tujuh dari Khalifah Abu Bakr al-Siddiq. Ibunya bernama Teungku Amrah yang merupakan puteri kepada Teungku Abdu Aziz. Gani. 10. Ketika berusia 6 tahun ibunya meninggal dan diasuh oleh neneknya yang bernama Teungku Syamsiyah. penulis ingin mengenengahkan salah seorang tokoh untuk ditonjolkan latarbelakangnya. 3. Bustami A. H. Bapanya pula bernama al-Hajj Teungku Muhammad Husen bin Muhammad Mas‘ud. 7. Ali Maksum. K. Hasbi Ashshiddiqi Nama : Muhammad Hasbi Ashshiddiqi. 4. K.[7] Di antara kesebelasan anggota di atas. R. Pada tahun 1958. H.Medinah Munawwarah. Beliau adalah orang pertama yang menimbulkan isu perlunya kepada kekinian fiqh yang berkepribadian Indonesia atau istilahnya sebagai “Fiqh Indonesia”. Latarbelakang Pendidikan : Beliau mula belajar ketika berusia lapan tahun di beberapa sekolah-sekolah pondok. Keturunan : Beliau berdarah campuran Arab. H. Kamal Muchtar. Cetusan ini telah menimbulkan polemik yang hebat di kalangan para ulamak sezamannya hingga sekarang. A. T. (Ketua) 2. 6. Musaddad. pemangku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi. H. H. A. menerbit dan mengedarkan Kitab Tafsir al-Quran dan Terjemahnya kepada masyarakat Islam setempat dan sekitarnya. ( 1418H ) Bil. Drs. 9. M. Busjairi Madjidi. Karya-karya Yang Dihasilkan : Beliau telah menghasilkan karya-karya dalam bidang [ . H. Hasbi Ashshiddiqi. 11. dipenjara dan sebagainya. Toha Jahya Omar. M. H. Tarikh dan Tempat Lahir : Dilahirkan pada 10 Mac 1904 di Lhokseumawe yang terletak di Acheh Utara. beliau dijemput untuk membentangkan kertaskerja dalam SeminarIslam Antarabangsa di Lahore Pakistan.

7. Bilangan karyanya mencapai 72 buah buku dan 50 artikel. hadith. Gelaran itu ialah Doctor Honoris Causa yang diperoleh dari dua institusi pengajian tinggi di Indonesia. Al-Islam. Bab Enam : Keutamaan Membaca al-Quran dan Cara Bacaannya. 2. Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn ‘Abbas. Al-Zamakhsyari. 5. The Holy Qur’an. Bab Dua : Nabi Muhammad sallallahu ‘alayhi wa sallam. 1. Antaranya seperti: 1. Al-Tabari. Sh = ‫ص‬ 4. Al-Kasysyaf. 2. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadith. Pedoman Puasa. Al-Fakhr al-Razi. fiqh dan panduan ibadah umum.[9] Bibliografi diletakkan selepas membicarakan bab-bab di atas. Institusi yang pertama ialah Universitas Islam Bandung (UNISBA) pada 22 Mac 1975 dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 29 Oktober 1975. Bab Satu : Sejarah al-Quran. Th = ‫ط‬ 3. Metodologi Penulisan Mukadimah Ia dibahagikan kepada enam bab utama. aa . Mutiara Hadith. Jami‘ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an. 4.tafsir.sebagai tanda bacaan fathah yang panjang. [ [ [ . Gelaran Yang Diterima : Beliau memperoleh dua gelaran sepanjang hidupnya. Kriteria Antara Sunnah dan Bid’ah. Sebagai contoh. ‘Ali ‘Abd Allah Yusuf. Fiqhul Mawarith 6. Bab Tiga : Kandungan al-Quran. Bab Empat : Al-Quran Sebagai Mukjizat.[10] Transliterasi yang digunakan mengikut kaedah Indonesia. Antara rujukannya seperti. Anugerah ini diberikan sebagai jasa-jasa beliau terhadap perkembangan Perguruan Tinggi Islam dan perkembangan pengetahuan keislaman di Indonesia. 3. Dh = ‫ض‬ 2. Bab Lima : Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan. Tafsir al-Quran an-Nur. Ternyata penterjemah mengambil rujukan dari kitab-kitab yang muktabar dan pelbagai dan bilangannya sebanyak 105 buah kitab. 5. 1. 3. Kembali Ke Rahmatullah : Beliau meninggal pada 9 Disember 1975 dan dikebumikan di pemakaman keluarga IAIN Ciputat Jakarta. 4.[8] 4. Al-Fayruz Abadi. Pedoman Shalat 8. Al-Tafsir al-Kabir.

Golongan Munafik. 2. ia didahului dengan mukadimah yang menyatakan beberapa perkara penting yang dihuraikan dalam bentuk sinopsis. Pendapat ulama tafsir terhadap sesuatu kalimah atau ayat: Dalam menhuraikan maksud ayat 5 surah al-Anfal. Sebagai contoh. ii . al-Falaq.S. Penterjemah membahagikan kepada tajuk-tajuk penting yang ada pada setiap surah dengan ditulis secara huruf besar.5. nikmat Allah yang tidak terhitung dan sebagainya. Keimanan: Bahagian ini dinyatakan secara ringkas konsep-konsep keimanan yang dibincangkan pada surah.[13] Di antara surah-surah yang paling banyak tajuk-tajuk penting di dalamnya ialah surah al-Ma’idah sebanyak lapan belas tajuk. nasikh mansukh.[14] Terdapat nota kaki yang menjelaskan atau mentafsirkan terjemahan yang dibuat. Contoh-contoh perkara di atas dapat dilihat dalam kitab ini seperti. pada awal surah al-Baqarah diberi tajuk besar yang berbunyi “TIGA GOLONGAN MANUSIA DALAM MENGHADAPI AL-QURAN”. Selepas tajuk besar itu terdapat tajuk-tajuk kecil yang menjelaskan tajuk besar tersebut iaitu. Manakala pendapat al-Tabari: “Keluar dari rumah dengan maksud berperang”.”. Dalam menyatakan topik-topik penting ini ia dibahagikan kepada empat bahagian. Teknik penulisan terjemahan dalam kitab ini adalah secara bersebelahan antara ayat dan terjemahan pada setiap lembaran. Setiap tajuk itu pula terdapat tajuk-tajuk kecil sebagai pendetilan tajuk-tajuk besar tersebut. ialah berdasarkan ‘tahlili mawdu‘i’. 3. Adapun yang paling sedikit sekali ialah satu tajuk seperti surah al-Ikhlas. 4. Kisah-kisah: Bahagian ini memberikan gambaran ringkas mengenai kisah yang terdapat pada surah. qiraat dan sebagainya. sebagaimana Allah menyuruhnya pergi dari rumah (di Madinah) untuk berperang ke Badar dengan kebenaran pula”. sebab-sebab nuzul. bahagian ini menyatakan bilangan ayat. 1. ‫كمنا أخرجك ربك من بثيتك بنالحق‬ Penterjemah mengambil pendapat al-Maraghi yang menyatakan: “Allah mengatur pembahagian harta rampasan perang dengan kebenaran. pengkategorian al-Makki atau al-Madani.sebagai tanda bacaan kasrah yang panjang. pendefinisian nama pada setiap surah.[11] Sebelum penterjemahan pada setiap surah dibuat. Golongan Mukmin.akibat perbuatan buruk.[12] Konsep terjemahan yang dibuat. 2. kecuali surah al-Fatihah dengan tidak ditulis tajuk padanya. Lain-lain: Bahagian ini memasukkan perbincangan selain dari tiga bahagian di atas seperti balasan perbuatan baik. Hukum-hukum: Bahagian ini dinyatakan secara ringkas tentang perbincangan mengenai hukum yang boleh dipetik dari surah. al-Nas dan sebagainya.[15] [ [ [ [ [ . Ia dimulai dengan tajuk “JANJI PRASETIA KEPADA ALLAH DAN PENYEMPURNAAN AGAMA ISLAM” dan diakhiri dengan tajuk “BEBERAPA KISAH TENTANG ISA A. 1. Golongan Kafir. 3. Penjelasan pada nota kaki ini boleh dikatakan sebagai ‘tahlili’ kerana ia meliputi dari segi pendapatpendapat ulama tafsir terhadap sesuatu kalimah atau ayat. Secara umumnya. 1. nama-nama lain bagi surah dan topik-topik penting yang dibincangkan pada keseluruhan surah.

Dalam bab qiraat penterjemah ada menyatakan pada ayat 4 surah al-Fatihah. ‫مشلك ينوم الدين‬ “Maalik (Yang menguasai).a. Seterusnya dinyatakan hubungkait antara surah samada pada permulaan. ‫ولل المشرق والمغرب فأينمنا تنولنوا فثم وجه الل‬ “Al-Tabari menyebutkan bahawa ayat ini turun berkenaan tentang suatu kaum yang suatu ketika tidak dapat melihat arah kiblat yang tepat. 1.” Dalam membicarakan pada ayat-ayat akidah penterjemah lebih berminat mengambil pendapat Asy‘ariyyah.”. metod yang digunakan seperti. …[19]”. Pendapat yang sahih terhadap makna ‘Kursi’ ialah tempat letak telapak kakiNya.”[16] 3. Sebagai contoh pada membicarakan ayat 144 dari surah Ali Imran.”[22] Terdapat juga penjelasan sesuatu ayat yang diambil dari mafhum sesuatu hadith dan dinilai oleh penterjemah dengan menyatakan rujukan kitab hadith yang diambil dan bab pada kitab tersebut. dan sahabat-sahabatnya yang tidak percaya tentang kewafatan Nabi itu. not no. Surat An Naba’ menerangkan ancaman Allah terhadap sikap orang-orang musyrik yang mengingkari adanya hari berbangkit. sehingga mereka salat ke arah yang berbeda-beda. isi kandungan atau pengakhirannya.a. 3. Jika ia merupakan huraian terhadap sesuatu terjemahan. ‫وسع كرسثيه السمشنوت والرض‬ “Kursi dalam ayat ini oleh sebahagian mufassirin diartikan dengan ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaanNya. Sebagai contoh pada membicarakan “HUBUNGAN SURAT AN NABA’ DENGAN SURAT AN NAAZI’AAT.”. Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan ‘mim’) berarti raja. sedang pada surat An [ [ [ [ [ [ [ [ . Wasiat itu tidak melebihi sepertiga dari seluruh harta orang yang akan meninggal itu. 1.610 nota kaki. Pada menyatakan sebab-sebab nuzul. Contoh nasikh mansukh dalam kitab ini dinyatakan pada membicarakan ayat 180 surah al-Baqarah. ia akan ditulis seperti “Lihat kembali kisah kaum Luth ini pada surat …… ( )[20] ayat …. dengan memanjangkan ‘mim’ ia bererti: pemilik (yang empunya). ‫كتب علثيكم إذا حضر أحدكم المنوت إن ترك خثيرا النوصثيﺔ للنولدين والقربثين‬ ‫بنالمعروف‬ “Ma’ruf ialah adil dan baik. serta mengemukakan bukti-bukti adanya hari berbangkit. Jika terdapat pengulangan dari segi penjelasan pada nota kaki. (Sahih Bukhari bab Ketakwaan Sahabat). mengemukakan ayat ini – di mana terjadi pula kegelisahan di kalangan para sahabat di hari wafatnya Nabi Muhammad s. ia akan ditulis seperti “Lihat not ….”[17] 4. untuk mententeramkan Umar Ibnul Khaththab r. penterjemah ada membawa riwayat al-Tabari berkenaan ayat 115 surah al-Baqarah.. yang ditulis padanya sebagai ‘PENUTUP’.”[18] Nota kaki yang dibuat adalah mengikut turutan dari awal surah hingga akhir surah al-Quran yang bilangannya mencapai angka 1. 2. Jika ia merupakan penjelasan berkenaan sesuatu kisah.2.a. Jika ia merupakan suatu penjelasan terhadap sesuatu kalimah ia akan ditulis seperti “Lihat yang dimaksud dengan …….w.”[23] Penterjemah mengakhiri setiap surah dengan membuat kesimpulan terhadap keseluruhan surah. ‫ومنا محمد إل رسنول قد خلت من قبله الرسل‬ “Abu Bakar r. Ayat ini dinasakhkan dengan ayat mawarith. Sebagai contoh pada ayat 255 surah al-Baqarah. s/d[21] ….

com. 112. (1997) Fiqh Indonesia. [ 14] Lihat lampiran m/s: 18 [ 15] Lihat nota kaki no. hlm 7. Data-data Terbitan Awal Penterjemahan Dan Penafsiran Al-Qur’an Di Alam Melayu. [ [ 1] Biografi pengarang diambil dari http//www. 596. [ 19] No. Tafsir al-Bayan. J 1. 4. Hlm 99 [ 3] Prof. penulis mendapati ia merupakan kitab yang cukup menarik dan mudah difahami. Penulis berpendapat agar kitab ini dapat diperbaiki lagi penterjemahannya terutama dari segi akidah kepada yang lebih selamat dan berlandaskan ahli sunnah wal jamaah. PT Almaarif. T. Dr. Kesimpulan Setelah ditinjau secara rambang kitab “Al-Quran dan Terjemahnya”. [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ . Bandung. Kuala Lumpur. [ 16] Lihat nota kaki no.[24] 5. hlm 100-101 [ 6] Surah al-Ma‘idah : 15 [ 7] Lihat lampiran m/s: 16 [ 8] Siddiqi.cit.Naazi’aat Allah bersumpah bahawa hari kiamat yang mendahului hari berbangkit itu pasti terjadi. Yogyakarta.htm 2] Muhammad Nur Lubis. Prof. cetakan pertama 2002.M Hasbi ash Shiddieqy.rizki-putera. [ 17] Lihat nota kaki no. Ini kerana terjemahan yang dibuat tidak terlalu panjang dan tidak terlalu ringkas. op. 83. [ 18] Lihat nota kaki no. 2. penulis percaya kitab ini mendapat perhatian pembaca dan tidak hairanlah kitab ini dipilih untuk dicetak di Mujamma‘ al-Malik al-Fahd li Tiba‘at al-Mushaf al-Syarif di Madinah untuk disebarkan kepada masyarakat Islam di rantau ini. menggambarkan penterjemah cukup teliti dan memahami keperluan pembaca yang terdiri dari orang awam. Selain dari itu huraian-huraian atau penjelasan yang dibuat pada nota kaki. Sehubungan dengan itu. Nourouzzaman MA. Terbitan Al-Hidayah Publishers. di atas bermaksud nombor rujukan pada nota kaki sebelumnya./hasbi. [ 4] Ibid [ 5] Muhammad Nur Lubis. Sama-sama menerangkan huru-hara yang terjadi pada hari kiamat dan hari berbangkit. [ 9] Lihat lampiran m/s: 17 [ 10] Lihat lampiran m/s: 21 [ 11] Lihat lampiran m/s: 19 [ 12] Lihat lampiran m/s: 20 [ 13] Penulis berpendapat ia sesuai dengan fungsinya sebagai Umm al-Kitab. Dr.

[ [ 20] Dalam kurungan bermaksud no. [ [ [ [ [ . [ 22] Lihat nota kaki no. [ 24] Lihat m/s: 1017. 234. 161. bilangan surah yang terdapat dalam al-Quran. [ 23] Lihat nota kaki no. 21] Penulis berpendapat ia bermaksud ‘sehingga datang’.

kemudian dilanjutkan dengan gambaran orang-orang yang taat. M. Dalam al-Mishbâh. Abu Ishaq asy-Syathibi (w. Sekilas Tentang Isi Tafsir M.794 H) dan lain-lain yang menekuni ilmu Munasabat al-Quran/keserasian hubungan bagian-bagian al-Quran. sambil melemparkan kesalahan kepada para penulis wahyu. Al-Ghasyiyah. baik tahlîlî maupun mawdhû‘î. Contoh bukti yang dikemukakannya antara lain adalah: QS. sehingga al-Quran dapat benar-benar berfungsi sebagai petunjuk. Keagungan firman Allah dapat menampung segala kemampuan. tingkat. dan kondisi yang berbeda-beda itu. tolong hapus pesan ini. Quraish Shihab dalam rekaman "Kultum" di RCTI (2007) M. Quraish Shihab dalam karya tafsirnya. cari Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Di sana gambaran mengenai hari kiamat dan nasib orang-orang durhaka.790 H/1388 M). Kemudian beliau mengambil tokoh-tokoh para ulama tafsir. di antaranya bahwa al-Qur’an merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ada beberapa prinsip yang dipegangi oleh M. ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi.Tafsir Al-Mishbah Dari Wikipedia bahasa Indonesia. tokoh-tokohnya seperti: Fakhruddin ar-Razi (606 H/1210 M). Badruddin Muhammad ibn Abdullah Az-Zarkasyi (w. Ibrahim Ibn Umar al-Biqa’i (809-885 H/14061480 M). pemisah antara yang haq dan bathil serta jalan keluar bagi setiap probelam kehidupan yang dihadapi. beliau tidak pernah luput dari pembahasan ilmu al-munâsabât yang tercermin dalam enam hal: . Tafsîr al-Mishbâh adalah karya monumental Muhammad Quraish Shihab dan diterbitkan oleh Lentera Hati. Mufassir dituntut pula untuk menghapus kesalah pahaman terhadap al-Qur’an atau kandungan ayat-ayat. Warna keindonesiaan penulis memberi warna yang menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khazanah pemahaman dan penghayatan umat Islam terhadap rahasia makna ayat Allah SWT. kecederungan. Tafsir al-Misbah adalah sebuah tafsir al-Quran lengkap 30 Juz pertama dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Kaum orientalis berpendapat bahwa ada bagian-bagian al-Quran yang ditulis pada masa awal karier Nabi Muhammad saw. Quraish Shihab juga memasukkan tentang kaum Orientalis mengkiritik tajam sistematika urutan ayat dan surah-surah al-Quran. Seorang mufassir di tuntut untuk menjelaskan nilai-nilai itu sejalan dengan perkembangan masyarakatnya. Setelah dirapikan. Quraish Shihab memulai dengan menjelaskan tentang maksud-maksud firman Allah swt sesuai kemampuan manusia dalam menafsirkan sesuai dengan keberadaan seseorang pada lingkungan budaya dan kondisisosial dan perkambangan ilmu dalam menangkap pesan-pesan al-Quran.

• keserasian uraian awal/mukadimah satu surah dengan penutupnya. Tafsîr al-Mishbâh merupakan tafsir Al-Quran lengkap 30 juz pertama dalam 30 tahun terakhir. • keserasian kandungan ayat dengan penutup ayat (fawâshil). argumentatif. Tafsîr al-Mishbâh banyak mengemukakan ‘uraian penjelas’ terhadap sejumlah mufasir ternama sehingga menjadi referensi yang mumpuni. Penulisnya mencitakan al-Qur’an agar semakin ‘membumi’ dan mudah dipahami. Dari segi penamaannya. Quraish Shihab. Penjelasan makna sebuah ayat tertuang dengan tamsilan yang semakin menarik atensi pembaca untuk menelaahnya. yang ditulis oleh ahli tafsir terkemuka Indonesia : Prof. Howard M. merekomendasikan bahwa karya-karya tafsir M. Ke-Indonesiaan penulis memberi warna yang menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khasanah pemahaman dan penghayatan kita terhadap rahasia makna ayat-ayat Allah. dari mulai akademisi hingga masyarakat luas. Quraish Shihab pantas dan wajib menjadi bacaan setiap Muslim di Indonesia sekarang. Begitu menariknya uraian yang terdapat dalam banyak karyanya. yang mengindikasikan makna kehidupan dan berbagai persoalan umat diterangi oleh cahaya alQur’an. atau lentera”. Mari terangi jiwa dan keimanan kita dengan Tafsîr al-Mishbâh sekarang juga. • Keserasian tema surah dengan nama surah. pelita. Dr. Buku ini terdiri dari 15 volume: Volume 1 : Al-Fatihah s/d Al-Baqarah Halaman : 624 + xxviii halaman Volume 2 : Ali-‘Imran s/d An-Nisa Halaman : 659 + vi halaman Volume 3 : Al-Ma’idah Halaman : 257 + v halaman Volume 4 : Al-An’am Halaman : 367 + v halaman Volume 5 : Al-A’raf s/d At-Taubah Halaman : 765 + vi halaman Volume 6 : Yunus s/d Ar-Ra’d Halaman : 613 + vi halaman Volume 7 : Ibrahim s/d Al-Isra’ Halaman : 585 + vi halaman Volume 8 : Al-Kahf s/d Al-Anbiya’ Halaman : 524 + vi halaman Volume 9 : Al-Hajj s/d Al-Furqan Halaman : 554 + vi halaman Volume 10 : Asy-Syu’ara s/d Al-‘Ankabut Halaman : 547 + vi halaman Volume 11 : Ar-Rum s/d Yasin Halaman : 582 + vi halaman Volume 12 : Ash-Shaffat s/d Az-Zukhruf Halaman : 601 + vi halaman Volume 13 : Ad-Dukhan s/d Al-Waqi’ah Halaman : 586 + vii halaman Volume 14 : Al-Hadid s/d Al-Mursalat Halaman : 695 + vii halaman Volume 15 : Juz ‘Amma Halaman : 646 + viii halaman Tafsir Mahmud Yunus . • keserasian penutup surah dengan uraian awal/mukadimah surah sesudahnya. M.• keserasian kata demi kata dalam satu surah. Tafsir ini tersaji dengan gaya bahasa penulisan yang mudah dicerna segenap kalangan. pemerhati karya tafsir Nusantara. al-Mishbah berarti “lampu. informatif. • keserasian hubungan ayat dengan ayat berikutnya. Federspiel.

sistematika. Islam menjadi semakin difahami dengan adanya Tafsir-tafsir bahasa Indonesia yang bermunculan di abad 20-an. Lahirnya Tafsir masakini juga tidak luput dari upaya ulama masa lalu yang turut mengkaji dan menafsirkan al-Qur’an meskipun masih tergolong penafsiran yang gobal. Latar Belakang Mahmud Yunus merupakan salah seorang Mufassir Indonesia yang mampu menafsirkan al-Qur’an 30 Juz lengkap. corak. Karenanya tiap decade dan periode hendaknya menciptakan sejarahnya sendiri khususnya Umat Islam dalam bidang terpenting yakni penafsiran al-Qur’an. Ia tumbuh pada saat penerjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia merupakan hal yang diharamkan pada Ulama’ semasanya. Namun sejarah membuktikan bahwa eksistensi dari progresifitas ummat yang berkembang dan maju harus sebenarnya telah ddimulai dari sejarah. B. b.PENDAHULUAN A. PEMBAHASAN . Karnanya agama merupakan salah satu upaya agar mampu meningkatkan moralitas ummat yang kini menurun. Rumusan Masalah a. Biografi dan karya-karya Mahmud Yunus Sekilas tentang kitab Tafsir al-Qur’an al-Karim . dan contoh penafsirannya. metode. Tindakannya yang progresif ini terbukti menyadarkan kita bahwa Tafsir bukanlah karya yang mustahil jika umat Islam benar-benar mengkaji keilmuan dan persyaratan penafsiran.

namun Yunus tetap antusias dalam belajar baik agama maupun umum. Selain ilmuilmu keagamaan yang ia dapatkan. pembaruan Islam ini terwujud dalam dua bentuk. Para alumni Timur Tengah lebih condong dalam gerakan purifikasi. Batusangkar. Ayahnya adalah seorang imam. karena ia memperoleh penghargaan untuk dinaikkan ke kelas berikutnya. Profil Para Mufassir. Tokoh-tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20. Yunus memulai pendidikannya dengan belajar Alquran dan bahasa Arab. ia ikut ibunya. Ketika usianya masih balita. ilmu Sharaf. 2008). pendiri serta pengasuh surau si wilayah tersebut. Saat bersamaan. Siang hari ia belajar disana dan malam harinya mengajar di Surau kakeknya.A.com/kajian-pemikiran/tafsir-alquran-mahmud-yunus/ di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 1] . Hal. seorang pengajar di Surau dan Ibunya Hafsah binti Imam Samiun adalah anak Engku Gadang M. Di samping mendapat pendidikan agama. [2] Meski ada yang mengatakan bahwa ayah dan Ibu Mahmud Yunus bercerai sejak balita.Thahir bin Ali. Thaib Umar sakit. dalam rentang waktu 1917-1923. hal: 197 3] http://menyempal. Sumatra Barat. Madrasah ini bernama Madras School. Syekh H. yakni di Sekolah Desa pada tahun 1908. Pada tahun 1917. dan hanya sekali ayahnya menjenguknya. 2006).[1] Mahmud Yunus tumbuh dikalangan keluarga yang taat beragama. ia mempelajari ilmu Nahwu. yang langsung ia peroleh dari kakeknya. Berhitung dan Bahasa Arab. Mahmud Yunus lahir pada tanggal 10 februari 1899 M/30 Ramadhan 1316 H.wordpress. Profil Mahmud Yunus Mahmud Yunus dilahirkan dari pasangan Yunus B. Mahmud Yunus 1. ayah ibunya Mahmud Yunus bercerai. Yunus lantas pindah belajar di madrasah milik H. Ia juga mewarisi semangat pembaharuan sang guru. Karena itu. Pendidikan di Sekolah Desa hanya dijalaninya selama kurang dari tiga tahun. Umumnya. di desa Sunggayang. Ayahnya bernama Yunus bin Incek. Sebab. (Yogyajarta: Pustaka Insan Madani. pada waktu belajar di kelas empat. Tahun pertama Sekolah Desa ia selesaikan hanya dalam masa 4 (empat) bulan. Yunus juga pernah bersekolah di pendidikan sekuler.[3] Di tangan Thaib Umar ini Yunus dapat mempelajari pelbagai disiplin keilmuan Islam. Karena merasa masih haus pengetahuan. yakni purifikasi dan modernisasi. Yunus menunjukkan ketidakpuasannya terhadap mata pelajaran di sekolah tersebut.wordpress. DR. M Thaib Umar di Tanjung Pauh Sunggayang. 85-86 2] Saiful Amin Ghofur.com/kajian-pemikiran/tafsir-alquran-mahmud-yunus/ di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 4] http://menyempal. (Jakarta: Gema Insani Press. Tahir bin Ali. Lalu [ [ [ [ Herry Mohammad. Yunus secara langsung ditugasi untuk menggantikan gurunya memimpin Madras School. Biografi Prof. dkk. yaitu gerakan yang bertujuan untuk mengembalikan Islam ke zaman awal Islam dan menyingkirkan segala tambahan yang datang dari zaman setelahnya.[4] Tak heran hanya dalam waktu empat tahun ia telah dipercaya oleh sang Guru untuk menggantikannya mengajar bahkan mewakilinya dalam forum akbar ulama Minangkabau tahun 1919 di Padang Panjang. H. di Minangkabau tengah tumbuh gerakan pembaruan Islam yang dibawa oleh para alumni Timur Tengah.M. incek dan hafsah binti Imam Sami’un. Di sekolah ini. sedangkan ibunya adalah anak dari Engku Gadang M.

yakni pada al-Jami’ah al-Islamiyah Batusangkar (1931-1932). IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menganugerahi Mahmud Yunus Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Tarbiyah. Dalam tempo setahun ia mampu mempelajari ushul fiqh. Ushul Fiqh. Karya-karya Mahmud Yunus Pada perjalanan hidupnya.html. Yunus mendapat kesempatan untuk belajar di alazhar.[5] kemudian pada tahun 1926-1930 belajar di madrasah darul ulum ulya. di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 8] Mahmud Yunus.[8] Pada awal tahun 1970 kesehatan Mahmud Yunus menurun dan bolak balik masuk rumah sakit. Ia memulai [ [ [ [ Saiful Amin … hal: 198 Herry Mohammad. H. Pada tahun 1982. Kuliyah Mu’alimin Islamiyah Noramal Islam Padang (1932-1946). termasuk pula tafsir dan terjemahan al-qur’an. (Jakarta: PT. Sejarah dan lain-lain. Tafsir. dan menjadi orang kedua yang menyabet predikat tersebut. Tauhid. seperti bidang Fiqh.[7] Selain itu Yunus juga sering berkunjung ke luar negri.Hidakarya Agung. Sesuai dengan kemampuan bahasa yang ia miliki. Secara terus menerus Mahmud Yunus mengajar dan memimpin berbagai sekolah. Sepanjang hidupnya. Prof.com/2008/10/tafsir-al-quran-al-karim-mahmud-yunus. terutama buku pelajaran agama islam untuk anak-anak. yang sebagian besar adalah bidang-bidang ilmu agama Islam. akan tetapi juga dalam bahasa Arab. Dari jumlah itu.[6] Kemampuan mengajar yang ia miliki sejak masih belajar di Batusangkar memantabkan karier ke-guruannya terutama setelah ia kembali dari Mesir. Mahmud Yunus meninggal dunia. Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) Jakarta (1957-1980). beliau adalah orang Indonesia yang pertama belajar disini. DR. buku-bukunya tidak hanya ditulis dalam bahasa Indonesia. 85-86 http://pusat-akademik. ia telah menghasilkan buku sebanyak 82 buah meskipn sebagian menyebutkan karyanya hanya berkisar 43 buku. bidang Fiqh.pada tahun 1920 Yunus membentuk perkumpulan pelajar Islam yang juga menerbitkan majalah al-Basyir. Yunus lebih banyak memberi perhatian pada bidang pendidikan Islam. Mahmud menulis tak kurang dari 43 buku. baik sebagai tugas yang diberikan pemerintah kepada beliauu maupun atas undangan untuk menghadiri berbagai muktamar. pada 15 Oktober 1977. Beliau mengambil takhasshus tadris sampai memperoleh ijazah tadris (diploma guru). menjadi Dekan dan Guru Besar pada fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1960-1963). Yunus membahas berbagai bidang ilmu.blogspot. Karena kebriliannya ini ia mendapatkan Syahadah ‘alimiyah dari al-Azhar . Akhlak. 5] 6] 7] . dan Yunus sebagai pemimpi redaksinya. bahasa Arab (keduanya lebih banyak memfokus pada segi metodik). bahasa Arab. fiqh hanafi dan tafsir. Kairo-Mesir. dkk… Hal. Mahmud Yunus juga banyak menulis buku. Lihat kulit depan tafsir beliau. Di antara bidang-bidang ilmu yang disebutkan. Tafsir dan Akhlak yang lebih memfokus pada materi sajian. Rektor IAIN Imam Bonjol Padang (19661071). Pada tahun 1924. 2. Atas jasa-jasanya dibidang pendidikan ini.1969). Pendidikan Islam. Akademi Pramong Praja di Bukit Tinggi (19481949). Tafsir al-Qur’an al-Karim.

hal: 65 [13] Howard M. 6. 2. bersama H. 1994). B. Ilmu Mustalahul Hadist. 1928). Karirnya sebagai pengarang tetap ditekuninya pada masa-masa selanjutnya. Allah dan Makhluq-Nya. dalam usia 21 tahun. (Bandung: penerbit Teraju.wordpress. Yunus senantiasa mengisi waktu-waktunya untuk menulis.com/2004/12/22/arkeologi-pemikiran-tafsir-di-indonesia/ diunduh pada 12:59 [12] Islah Gusmian. 4 Madzhab. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia.[13] Sedangkan Baidan mengelompokkan . yang menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Melayu.Hassan Bandung (Al-Furqan. Dasar-dasar Negara Islam. 1928) b. aktivitas seputar Al Quran di Indonesia dirintis oleh Abdur Rauf Singkel.[12] Karya Mahmud Yunus tetap menjadi literature yang paling popular di bandingkan karya Tafsir semasanya meskipun kemudian lahirlah karya-karya Tafsir yang lebih ilmiah. Hukum perkawinan dalam Islam. Pendidikan-Pendidikan Umum di Negara-negara Islam/Pendidikan Barat. 12. tahun 1938. 5. A. (Bandung: Penerbit Mizan. ia membagi kemunculan dan perkembangan Tafsir di Indonesia dalam 3 periode.html. Perbandingan Agama. kuliyah untuk dakwah. Federspiel. Juz Amma dan terjemahnya. Kajian al-Qur’an di Indonesia.[9] Adapun diantara karya-karya Mahmud Yunus ialah:[10] 1.com/2008/10/tafsir-al-quran-al-karim-mahmud-yunus. A. Mahmud Yunus (Tafsir Quran Indonesia. 1935). Khazanah Tafsir di Indonesia. Ilmu Tauhid menurut Al-Quran. Pedoman Dakwah Islamiyah. Upaya rintisan ini kemudian diikuti oleh Munawar Chalil (Tafsir Al Quran Hidayatur rahman). setidaknya ada enam buah karya Tafsir yang muncul pada masa Mahmud Yunus yang berturut-turut hingga menjelang kemerdekaan Indonesia menurut Nashruddin Baidan: a. Hukum Warisan dalam Islam. untuk Muballigh-Muballigh / umum. di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 [ 11] http://luluvikar. 3. 13. kuliyah untuk kursus-kursus. untuk tingkat Aliyah. untuk tingkat Aliyah. 8. Federspiel. periode kedua (1960) dengan ditandai dengan catatan kaki kemudian periode ketiga (1970) ditandai dengan penjelasan yang lebih luas dari periode kedua. Tafsir al-Quran tamat 30 juz. Yakni periode pertama mulai abad ke-20 ditandai dengan penafsiran terpisah-pisah. dalam situasi apapun.Hassan Bandung (Al-Furqan. Mahmud Aziz. 9. 2003).blogspot. 7. Ilmu Jiwa kanak-kanak.mengarang sejak tahun 1920. hal: 130 . [11] Dalam konsep Howard M. 11. 10. Al-Qur’an Indonesia oleh Syarikat Kweek School Muhammadiyah (1932) [ [ 9] Saiful Amin … hal: 200 10] http://pusat-akademik. Sekilas Tentang Tafsir al-Qur’an al-Karim Secara singkat. 4. pada pertengahan abad XVII. Kesimpulan isi al-Quran.

Meskipun saaat itu para ulama mengharamkan penterjemahan al-Qur’an tetapi ia tetap berusaha untuk menterjemahkan al-Qur’an. (Jakarta: PT.Baharta direktur percetahan Ma’arif Bandung. dan menteri Agama. 21. Mahmud Yunus mulai menterjamahkan al-Qur’an dan diterbitkan tiga juz dengan huruf arab-melayu pada tahun 1922. bantahan itu dikirimnya pada Presiden R.1969). kemudian beliau membalas suratnya dengan panjang lebar dan mengukuhkan pendiriannya untuk tetap menerbitan Terjemah alQur’an yang merupakan Tafsir Bahasa Indonesia pertama tersebut. Bakry. Kabarnya ada bantahan dari ulama Yagyakarta.I. Perkembangan Tafsir al-Qur’an di Indonesia. (Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. bantahan itu dikirimnya kepada menteri agama R. Namun bagaimanapun karya para Ulama tersebut sangat berarti karena merupakan upaya konkrit dan sistematis dalam usaha untuk memahami al-Qur’an. dan menteri agama. Tafsir asy-Syamsiyah oleh KH. M. Al-Hidayah.00 per eksemplar.I. [14] Manfaat tersebut juga dapat dirasakan pada generasi-generasi setelahnya. III Pendahuluan 14] . supaya diberhentikan mencetak tafsir al-Qur’an itu. Bila diteliti lebih lanjut lagi.000 eksemplar dan dijualnya dengan harga Rp. Pada waktu menterjemahkan juz 7 sampai juz 18 beliau dibantu oleh almarhum H.I. hingga membuat percetakan tidak lagi mau menerbitkan Tafsir al-Qur’anul Karim. f. Pada tahun 1953 M seorang ulama dari Jatinegara membantah pula. Salinannya disampaikan kepada beliau (Mahmud Yunus) oleh kementerian agama. hal.c. yang kemudian dinamai dengan tafsir al-Qur’an al-Karim. K. Sanusi (1935) [ [ [ Nashruddin Baidan. lalu dicetak dan diterbitkan sebanyak 200. Tafsir Hibarna oleh Iskandar Idris (1934) Tafsir Al-Qur’annul karim oleh Mahmud Yunus (1938) Tafsir Qur’an Bahasa Indonesia oleh Mahmud Aziz (1942) Jika keenam kitab tersebut diamati secara seksama maka secara umum penafsiran mereka belum terlau signifikan perkembangannya. Mahmud mulai menterjemahkan al-Qur’an serta tafsir ayat-ayat yang di anggap penting. pada bulan april 1938 beliau menyelesaikan tiga puluh juz dan di sebar luaskan keseluruh Indonesia. Akhirnya di ambil alih oleh M. d. Terjadi beberapa kali revisi.000 eksemplar. salah satu penerbit Indonesia hendak menerbitkan tafsir al-Qur’an al-Karim itu dengan mendapat fasilitas kertas dari menteri agama dan dicetak sebanyak 200. Tembusannya beliau kirimkan kepada Presiden R. Kemudian setelah menyelesaikan percetakan itu. [16] Pada bulan ramadhan tahun 1354 H/Desember 1935. Tafsir al-Qur’an al-Karim. 2003) hal: 88 15] Nashruddin Baidan … hal: 89 16]Mahmud Yunus. diantaranya ialah merevisi dari penulisan arab melayu menjadi bahasa Indonesia dengan penulisan latin sebelum kemudian tafsir al-Qur’an al-Karim diterbitkan oleh CV. pada tahun 1950 dengan persetujuan menteri agama almarhum Wahid Hasyim.Hidakarya Agung. akhirnya tidak ada yang mengganggu gugat lagi. Setelah Indonesia merdeka.[15] Selanjutnya. dalam penafsiran yang mereka berikan secara umum masih dipengaruhi oleh budaya dan tradisi Arab sehingga budaya dan bahasa Indonesia belum terlihat secara ekplisit. e. beliau bersama istrinya (Darisah binti Ibrahim) meneruskan usahanya dalam menerbitkan tafsir al-Qur’an al-Karim itu.

Perlu di garis bawahi disini bahwa upaya penulisan Mahmud Yunus ketika itu. 4. 6. Sistematika Penulisan Tafsir Kitab ini terdiri dari dua jilid yaitu pertama satu jilid tamat dari juz 1 sampai dengan 30. Tafsir al-Quran ini sistematika penafsirannya sama seperti isi al-Quran dan terjamahan disamping kanan ayat (setiap ayat) kemudian terjemahannya dibawahnya terdapat penafsiran.[17] 3. Sumber-sumber tafsir al-Qur’an al-Karim: 1. tiga jilid. jilid ketiga dari juz 21 sampai dengan 30. diantaranya adalah: 1) 2) 3) [ Tafsir al-Thabary Tafsir Ibn Katsir Tafsir al-Qasimy http://pusat-akademik. Sistematika penafsiran Mahmud Yunus menafsirkan seluruh ayat sesuai susunannya dalam mushaf al-Quran ayat demi ayat. Ia telah mencintai ilmu-ilmu kebahasaan dan juga menguasai metode mengajar. 2. Maka secara sitematika penafsiran tafsir ini menempuh tartib Mushaf.1. 5. Penulisan tafsir ini dimulai pada November 1922 yang dilakukan secara berangsur-angsur juz demi juz sampai dengan selesai juz ke-tiga puluh. surat demi surat. sumber utama penafsiran Mahmud Yunus masih tergolong bil-ma’tsur. 3. Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an Tafsir al-Qur’an dengan hadis yang shahih Tafsir al-Qur’an dengan perkataan sahabat Tafsir al-Qur’an dengan perkataan tabi’in Tafsir al-Qur’an dengan ilmu bahasa ‘arab bagi ahli ilmu lughah ‘arabiyyah Tafsir al-Qur’an dengan ijtihad bagi ahli ijtihad. pertama dari juz 1 sampai dengan juz 10. Minatnya terhadap studi al-Quran serta bahasa arab telah menimbulkan hasrat besar dalam diri Mahmud Yunus untuk menulis tafsir al-Quran yang kemudian menjadi karya monumentalnya sendiri yang tetap populer sampai saat ini. merupakan tindakan yang cukup berani disaat masih maraknya pandangan yang mengatakan bahwa haram menterjemahkan al-Quran. jilid kedua dari juz 11 sampai dengan 20.com/2008/10/tafsir-al-quran-al-karim-mahmud-yunus. Motivasi penulisan Tafsir Sejak kecil Mahmud Yunus telah mempelajarari berbagai displin keagaman Islam terutama bahasa Arab. 2. di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 17] . dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Naas.html. kedua . 4. Selain itu kebutuhan untuk mengajar dan menjadikan al-Qur’an aar lebih mudah dipahami oleh umat Islam di Nusantara. Referensi penafsiran dari pelpagai kitab-kitab tafsir. Jadi.blogspot.

Menurut islam. yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. (Jakarta: PT. Mahmud Yunus juga menambahkan keterangan dan mengaitkannya dengan isu-isu kontemporer saat itu.4) 5) Fajrul Islam Dhuhal Islam[18] 5. VI-V Pendahuluan 18] 19] [ . aspek kosa kata dan penjelasan arti global tidak selalu dijelaskan. hal.blogspot. Artinya belum ada suatu ke-khas-an yang khusus dalam Tafsirnya. Keterangan-keterangan atau penafsirannya diletakkan dihalaman ayat yang bersangkutan (footnote) Keterangan-keterangan ayat ditambah dan diperluas. sesuai dengan perkembangan bahasa Indonesia Teks al-Qur’an dan terjemahan disusun sejajar. Tafsir al-Qur’an al-Karim. sedang mendidik anak-anak hukumnya wajib. suatu metode tafsir yagn bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Quran dan seluruh aspeknya.1969). Hal. bila ia meninggal dunia. sehingga memudahkan pembaca untuk mencari terjemah.Hidakarya Agung.[20] [21] 7.html.1969). (Jakarta: PT. Kelebihan sistematika penulisan Tafsir al-Qur’an al-Karim 1) 2) 3) 4) Terjemahan al-Qur’an disusun baru. Keterangan ayat 9: “ dalam ayat ini Allah menganjurkan kepada orang tua agar memikirkan akibat anak-anaknya yang masih lemah (kecil). (Lihat di ayat-ayat Aurat dalam Tafsir alQur’anul Karim) 21] Mahmud Yunus. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. Tafsir Mahmud Yunus ialah ‘umum’ sebagaimana Tafsir yang tumbuh semasanya.ts? ô`ÏB óOÎgÏÿù=yz ZpƒÍh‘èŒ $¸ÿ»yèÅÊ (#qèù%s{‚÷·| ™öNÎgøŠn=tæ (#qà)Gu‹ù=sù ©!$# (#qä9qà)u‹ø9ur Zwöqs% #´‰ƒÏ‰y Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah. Tafsir al-Qur’an al-Karim. berwasiat itu hukumnya sunnah. Sebab itu hendaklah ia bertakwa dan berusaha meninggalkan harta pusaka untuk mereka. Kedua aspek tersebut dijelaskan ketika dianggap perlu.Hidakarya Agung. di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 [20] Seperti halnya dengan isu hukum ber-Jilbab di Indonesia. Demikian hukum islam [ [ Mahmud Yunus. Metode dan corak Penafsiran al-Qur’an al-Karim Tafsir al-Quran Karim Mahmud Yunus ini menunjuk pada metode tahlili. Yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah. Janganlah mewasiatkan hartanya untuk fakir miskin dan amalan sosial lebih dari mestinya. supaya tidak terlantar kehidupan anak-anaknya yang masih kecil itu. Dalam tafsir Mahmud Yunus. 6. VI pendahuluan http://pusat-akademik.com/2008/10/tafsir-al-quran-al-karim-mahmud-yunus.[19] Dalam pandangan Nashruddin Baidan. Contoh Penafsiran Contoh Tafsir Mahmud Yunus dalam surat An-Nisa’ ayat 9: u‹ø9ur šúïÏ%©!$# öqs9 (#qä.

Tokoh-tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20. Minat dalam dunia pendidikan ini tidak hanya mengantarkannya ke berbagai daerah dan belahan dunia namun juga mempengaruhi sistem pendidikan agama Islam dimasanya hingga sekarang. Penafsirannya masih sebatas penjelasan Al-Qur’an secara global dan belum sampai pada taraf yang khas dan khusus.com . 2003 Federspiel. karakteristik Tafsir. Bandung: Penerbit Mizan. 1994 Ghofur.Hidakarya Agung. Jakarta: Gema Insani Press.8. 2006 Yunus. Howard M. Metode yang digunakannya juga tergolong tahlily. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.com http://pusat-akademik. Nashruddin Perkembangan Tafsir al-Qur’an di Indonesia. Lampiran itu juga menunjukkan sistematika. Lampiran contoh Kitab Tafsir. Tafsir al-Qur’an al-karim merupakan penafsiran dengan corak umum dan global. Yogyajarta: Pustaka Insan Madani. 2008 Gusmian. Herry dkk. Beliau adalah alah satu tokoh yang berpengaruh di Indonesia karena produktivitas tulisannya dan juga progresfitas pemikirannya.com http://luluvikar. Jakarta: PT.1969 http://menyempal. Profil Para Mufassir. Berikut ini penulis melampirkan contoh Kitan Tafsir al-Qur’an al-Karim karya Mahmud Yunus. corak umum dan metode Tahily dan juga sumber penafsiran Bil Ra’yi karna upaya penerjemahan tersebut juga merupakan suatu ijtihad berdasarkan Ra’yu. Mahmud. Khazanah Tafsir di Indonesia.blogspot. Tafsir al-Qur’an al-Karim. Kajian al-Qur’an di Indonesia. Bandung: penerbit Teraju. 2003 2003 Mohammad. PENUTUP Kesimpulan 1. 2. Islah.wordpress. Saiful Amin. Mahmud Yunus merupakan salah satu mufassir dan penulis produktif yang menulis sejak usia 21 tahun dan mengajar sejak dini. DAFTAR PUSTAKA Baidan.wordpress.

Daftar isi • • • • • 1 Keluarga 2 Pendidikan 3 Karya 4 Bacaan Lebih Lanjut: 5 Sumber Keluarga Ayahnya Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husien ibn Muhammad Su’ud. Pendidikan Prof. Karya Semasa hidupnya. T. Menurut catatan. Dr. yang ia tulis beberapa waktu sebelum meninggal dunia. Hasbi Ash Shiddieqy Lahir Meninggal Agama Islam 10 Maret 1904 Lhokseumawe 9 Desember 1975 Islam Profesor Doktor Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy lahir di Lhokseumawe . khususnya ilmu-ilmu keislaman. Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy mula mendapat pendidikan awalnya di pondok pengajian milik bapanya.M.Muhammad Hasbi Dari Wikipedia bahasa Indonesia. terdiri dari 142 jilid. dan 50 artikel.M Hasbi ash Shiddieqy berangkat ke Surabaya dan melanjutkan pelajarannya di Madrasah al-Irsyad yaitu sebuah organisasi keagamaan yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Soorkati (1874-1943). Pada tahun 1926 T. adalah seorang ulama’ terkenal di kampungnya dan mempunyai sebuah pondok. cari Prof. tafsir 6 judul. Beliau mempelajari bahasa Arab dari gurunya yang bernama Syeikh Muhammad ibn Salim al-Kalali. 9 Desember 1975 pada umur 71 tahun. ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi. Menurut salasilah. dan tauhid 5 judul. seorang ulama’ berbangsa Arab. Beliau juga pernah menuntut di Timur Tengah. seperti hadis berjumlah 8 judul. Pengajiannya di al-Irsyad dan gurunya Ahmad Soorkati banyak memberi didikan ke arah pembentukan pemikiran moden. selebihnya adalah tema-tema yang bersifat umum. Di Madrasah al-Irsyad Hasbi ash Shiddieqy mengambil takhassus dalam bidang pendidikan selama 2 tahun. Beliua merupakan generasi ke 37 dari Abu Bakar al-Shiddiq yang meletakkan gelaran ash Shiddieqy diakhir namanya. karya tulis yang telah dihasilkannya berjumlah 73 judul buku. Karya terakhirnya adalah Pedoman Haji. Sebagian besar karyanya adalah buku-buku fiqh yang berjumlah 36 judul. seorang ulama’ yang berasal dari Sudan . Ibunya Teungku Amrah binti Teungku Chik Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz . Dr. Hasbi ash Shiddieqy adalah berketurunan Abu Bakar al-Shiddiq (573-13/634M) yaitu khalifah yang pertama. merupakan anak seorang Qadi Kesultanan Acheh ketika itu. Sementara bidang-bidang lainnya. Beliau menuntut ilmu di pelbagai pondok pengajian dari stu kota ke kota yang lain selama 20 tahun. Hasbi ash-Shiddieqy aktif menulis dalam berbagai disiplin ilmu. 10 Maret 1904 – meninggal di Jakarta. .

e. 1975 . 1971 . . Bulan Bintang. 9 Jilid. Mukhtārāt min aḥādīth al-aḥkām li-qism al-duktūrāh al-ūlá. 1982 .94 halaman. Kriteria antara sunnah dan bid'ah. Islamyah. Sebuah tafsir al-Qur`an 30 juz dalam bahasa Indonesia. Fakultas Syari'ah. 1958 . Hukum-hukum fiqih Islam: yang berkembang dalam kalangan ahlus sunnah. 40. alDjami'ah "Sunan Kalidjogo. C. Kullijah 'ibâdah: ibadah ditindjau dari segi hukum dan hikmah. 1999 . Puasa.V. 1956 . 4. A. Kelengkapan dasar2 fiqih Islam: pengantar ushul fiqih. Hakikat Islam dan unsur-unsur agama. Ramadhani .A. 42. 7. Islam dan HAM (Hak Asasi Manusia): Dokumenter Politik Pokok-pokok Pikiran Partai Islam dalam Sidang Konsituante 4 Februari 1958. 31. Saiful. Madju . Forum Studi Hukum Islam. 1973 . Pahala dan keutamaan ibadat. Kumpulan soal-jawab dalam post graduate course jurusan ilmu fiqh dosen2 I. 23. 8. 1968 . Ilmu2 al-Qurän: media2 pokok dalam menafsirkan al-Qurän. Pustaka Rizki Putra.324 halaman.934 halaman. 13. 1965 . Bulan Bintang. 43.64 halaman. 39.91 halaman. 37. 1967 . "Sunan Kalidjaga". Ke arah fiqh Indonesia: mengenang jasa Prof.40 halaman.117 halaman.". 26. biro Kemahasiswaan I. 18. Karya ini fenomenal karena tidak banyak ulama Indonesia yang mampu menghasilkan karya tafsir semacam itu.40 halaman. 6. Mutiara Hadis 4 (Jenazah. 9. Mu'djizat al-Qurän.N. Dua ribu dua] mutiara hadiets. Fiqh Islam. Lapangan perjuangan wanita Islam.207 halaman. 11. 1955 .128 halaman.96 halaman.236 halaman. 2002 mutiara hadiets. 1973 . s. Biro Kemahasiswaan I. Bulan Bintang. 35. Kursus sembahjang dan do'a. Falsafah hukum Islam. 32. Islamyah.I. Bulan Bintang. Dasar-dasar kehakiman dalam pemerintahan Islam. 5. Al Islam: kepertjaan. Fakta2 keagungan sjari'at Islam.152 halaman. Bulan Bintang. Darul Irfan.M. 1962 . Bulan Bintang. Pidana & Peradilan. al Qurän mu'djiat jang terbesar jang tak terkalahkan: kandungan dan artinja bagi ummat Islam chususnja dan ummat manusia umumnja. 1951. 17. Mutiara Hadis 1 (Keimanan).I. Perbudakan. Sunan Kalidjaga. 2002 [i. kesusilaan. Menara Kudus. Biografie pelopor2 pahlawan Islam. Volumes 1-2. Mutiara Hadis 2 (Thaharah & Shalat). Hukum antar golongan dalam fiqih Islam.476 halaman.Karya Hasbi paling fenomenal adalah Tafsir an-Nur. Al-Ahkaam:Hukum-hukum fiqih Islam. ‫السثيناسﺔ الدستنوريﺔ الشرعثيﺔ‬:‫الفقه الدستنور ي‬.300 halaman.175 halaman. I. Fiqih Islam mempunyai daya elastis. Iktikaf & Haji). Nazar & Sumpah. doʾa dan dzikir. Attahirijah .108 halaman.181 halaman. Ichtisar tuntunan zakah dan fithrah. al-Islâm: penuntun bathin & pembimbing masjarakat. 1952 . lengkap. 1953 . 1967 .164 halaman. 25. 24. T. 2. 14. 1975 .122 halaman. n. 21. 33. Pustaka Alhambra. 1. Lembaga pribadi. bulat dan tuntas.N. 10. Fighul mawaris: hukum-hukum warisan dalam syariat ̓ Islam. Thinker's Library. 1978 677 halaman.93 halaman. 1950 . Bulan Bintang. 1964. 1994 . Tokobuku Islamyah.78 halaman. Hukum perang dalam Ǐslam. 1969 . IAIN Sunan Kalijaga. Menara Kudus. Koleksi Hadits-hadits Hukum. 1955 . 20. 34. Zakat.44 halaman. N. 16. . Bulan Bintang. Biro Kemahasiswaan I. al-Islam. 1950 . Bulan Bintang. Pudjangga Islam .135 halaman. 3. Bulan-Bintang. Bulan Bintang. 19. Hasbi Ash Shiddieqy.". 1970. 22. Bulan Bintang.488 halaman. 41. Bulan Bintang. 1986 . Mutiara Hadis 5 (Nikah & Hukum Keluarga. Bulan-Bintang.95 halaman. Pustaka Madju . 12. 1966 . Jihad). Bulan Bintang. Volume 1.I. 36. Ideologi Islam dan qaedah pemerintahan.160 halaman. 38. Alma'arif. Mutiara Hadis 3 (Shalat). 1953 . Islamyah. 30.584 halaman. 28.576 halaman. Jual Beli.158 halaman. Dasar-dasar Fiqih Islam.636 halaman. 1953 . 27.56 halaman.A. Dr. 1972 . 29. Dasar-dasar ideologi Islam.168 halaman..A. Kulijah hadiets: sjarahan hadiets-hadietstasjrie' ʻibadah.N. amal kebadjikan. 15.

144 halaman. Menara Kudus. Sedjarah petumbuhan dan perkembangan hukum Islam.208 halaman. 1964 . 1965. Sedjarah dan pengantar 'ilmu al-Qurän/tafsir. Bulan Bintang. 48. Pengantar fiqih mu'amalah.68 halaman. 1954 .272 halaman. 70. 1972 . 63.4760 halaman. Bulan Bintang.216 halaman. 1975 .478 halaman. Tafsir al-Bayaan. Bulan Bintang. Islamyah. Pemindahan darah (blood transfusion) dipandang dari sudut hukum agama Islam. Tafsir al-Qurânul madjied "An-Nur". 50.106 halaman. Problematika 'iedul fithri. Pustaka Islam.24 halaman.58 halaman. 75. 1956 . Alma'arif. Bulan Bintang. 47. 58.568 halaman. Pengantar ilmu fiqh. Sedjarah peradilan Islam. 1971 . 60. 1966. Ridjalul hadiets: biographi 7 shahabi dan 18 tabi'in jang terkemuka dalam lapangan hadiets : kullijah hadiets. Madju. 80. Ramadhani. 1974 . Tafsier al-Qurânul madjied "An-Nur". Volume 6.180 halaman.A. 1973. Bulan Bintang.76 halaman. Menara Kudus. 82. 1955 . Ramadhani.63 halaman. Tafsir al-Qurânul madjied "An-Nur". 51. 1965. 73. menurut hukum Islam.155 halaman. Bulan Bintang. Pengantar ilmu perbandingan madzhab.92 halaman. 2000 . Bulan Bintang. Thinker's Library.288 halaman. 83. Bulan Bintang. Bulan Bintang. 1972 . Tuntutan qurban.44. Bulan Bintang. 1967. 59.262 halaman. 72.. Pustaka Islam. Sedjarah dan pengantar ilmu hadits. 55. Bulan Bintang.382 halaman. Pengantar hukum Islam.24 halaman. Bulan-Bintang. 1965 .121 halaman.276 halaman. Pelajaran tauhid: pokok2 ʾaqaid Islam : untuk pelajaran agama bagi sekolah2 permulaan dan umum.272 halaman. Bulan Bintang. Perbedaan mathlaʻ tidak mengharuskan kita berlainan hari pada memulai puasa. Bulan Bintang. 1966 . 1950 . 1978 .N. 1966 .274 halaman. 85. 62. 78. menerima dan membagi. Al-Ma'arif. Volume 4. Bulan Bintang. 1986 . slamijah.61 halaman. Volume 3. Pedoman Hajji. Biro Kemahasiswaan IAIN al-Djami'ah Jogjakarta . 57. Bulan Bintang. Bulan Bintang. Bulan Bintang. Sedjarah dan pengantar ilmu tafsir. Pokok-pokok sebab perbedaan faham para ulama/fuqoha dalam menetapkan hukum syara. Lembaga Penerbitan. Perbendaharaan zakat. 74. Volume 25. Tafsir al-Qur'anul Majid an-Nuur: Surat 42-114. 1972 . Volume 1. 1954 . . 67.20 halaman. 52. 46. 1976. Ladjnah Taʻlif Wan Nasjr Fakultas Sjariʻah Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalidjaga.34 halaman. 1955 .69 halaman. 1949 . 1971 . Bulan-Bintang. Bulan Bintang. 53. 1968 . 81. Bulan Bintang. 84. Syari'at Islam adalah syari'at dunia dan kemanusiaan. Sedjarah dan perdjuangan 40 pahlawan utama dalam Islam. 61. C. 1974 . Problematika hadits sebagai dasar pembinaän hukum Islam. 1964 . Tuntunan zakah dan fithrah:tjaranja memberi. Tafsir al Qurânul majied "An Nur". 68. 71.119 halaman. Sedjarah kehakiman dalam pemerintahan2 Islam. 54. 1953 . 1963 . "Bulan-Bintang". Pokok-pokok pegangan imam-imam madzhab dalam membina hukum Islam.24 halaman. Volume 5. Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga. 1962 . Bulan Bintang. 77. Pedoman dzikir dan doʻa. 65. 66. Tafsier al-Qurânul madjied "An-Nur". 79. 76.V. 1965. Pedoman hukum Sjar'y jang berkembang dalam 'alam Islamy Sunny. al-Djamilah . 1955 .35 halaman. Problematika bulan Ramadhan.59 halaman.I. Pedoman puasa. 1958 . 69. Pedoman ibadat puasa. Pedoman shalat. 64. Bulan Bintang. Sjari'at Islam mendjawab tantangan zaman. 49. 1963 . 56. 1965 . Pokok-pokok ilmu dirajah hadiets.432 halaman. Tafsir al-Qurânul madjied "An-Nur".48 halaman. Biro Kemahasiswaan I. Polygami. Pidana mati (dalam syari'at Islam). 45. Pustaka Rizki Putra. 1973 .

al-Baqarah 256. akan ditemukan asbabun nuzul dari ayat ke-62 dalam Surah alBaqarah itu. (Alister E.” Memang. tidak ada satu agama yang merasa superior dibanding yang lain. jika Tafsir Al Azhar dibaca secara runut. asal saling menghormati dan saling menjaga pendirian masing-masing. Kesalahan kedua disebabkan oleh kelengahan Syafii Maarif untuk melacak penjelasan nama-nama agama “Yahudi”. yaitu daerah kelahiran Nabi ‘Isa as) pada hakikatnya adalah agama-bangsa. Dalam Pluralisme agama. “Nasrani” (berasal dari nama Nashirah. dalam CAP ini adalah paham yang menyatakan bahwa semua agama merupakan jalan yang sah menuju inti realitas keagamaan. .” Di antara berbagai kutipan Tafsir Al Azhar dari artikel tersebut. terlepas dari ada-tidaknya unsur kesengajaan. Syafii Maarif pun memungkas artikelnya dengan opini berikut: “Sikap Hamka yang menolak bahwa ayat 62 al-Baqarah dan ayat 69 al-Maidah telah dimansukhkan oleh ayat 85 surat Ali ‘Imran adalah sebuah keberanian seorang mufassir yang rindu melihat dunia ini aman untuk didiami oleh siapa saja. no one religion is superior to any other. Adian Husaini BELUM lama. Menurut Hamka. pada 20 Maret 2012. 20 April 2012 Oleh: Dr. Bogor. sepadan dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu. tegas Akmal. Intinya. namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan. “Nasrani” dan “Shabi’in” dalam Tafsir Al Azhar. tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup. Padahal. surat kabar Republika. edisi 21 November 2006. Syafii Maarif – dan sang Jenderal Polisi yang berkonsultasi dengannya – menganggap bahwa kedua ayat ini dapat digunakan untuk menanggulangi konflik horizontal di Poso.a. ia mengaku menemukan beberapa kesalahan fatal yang telah dilakukan oleh Syafii Maarif dalam pengutipan Tafsir Al Azhar tersebut. (Oxford: Blackwell Publisher. Yahudi dan lain-lain. Perlu dicatat. “Yahudi” (berasal dari nama Yehuda. Akmal Syafril. Yunus 99). adalah perihal penggunaan kedua ayat tersebut yang jauh dari konteks aslinya. Sebagian besar isinya adalah kutipan-kutipan dari Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka. setelah keluarnya tulisan Syafii Maarif tersebut. saya menegaskan. Christian Theology: an Introduction. menerbitkan bukunya yang berjudul Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme. Penerbitan buku ini sangat penting untuk menjernihkan dan mempertegas pemikiran Buya Hamka tentang Pluralisme Agama.” Setelah menjelaskan bahwa Hamka menolak pendapat yang menyatakan bahwa ayat ke-62 dalam Surah al-Baqarah telah di¬nasakh oleh ayat ke-85 dalam Surah Ali ‘Imran. Di bagian awalnya. Menurut Akmal. Pemaksaan dalam agama adalah sikap yang anti Al-Quran (lih.I. atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka. bahwa Buya Hamka sama sekali bukan seorang Pluralis Agama. Buya Hamka sudah menjelaskan masalah ini. 1994).Pd. sedangkan orang-orang tersebut beragama Nasrani. dalam makalahnya. each and every religion is equally valid way to truth and God). pada awalnya penulisan buku ini bersumber dari sebuah makalah yang dibuatnya saat sedang mengikuti studi di Program Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA). terjadi perdebatan yang cukup seru di Rubrik Opini Harian Republika. Sepengetahuan saya tidak ada Kitab Suci di muka bumi ini yang memiliki ayat toleransi seperti yang diajarkan Al-Quran. yakni untuk menjawab pertanyaan Salman al-Farisi r. Dari paragraf kesimpulan yang ditulis oleh Syafii Maarif sebelumnya. Syafii Maarif menjelaskan alasan di balik penelitiannya terhadap kedua ayat ini: “Pada suatu hari bulan November 2006 datanglah sebuah pesan singkat dari seorang jenderal polisi yang sedang bertugas di Poso menanyakan tentang maksud ayat 62 surat alBaqarah. M. dan “Shabi’in” adalah nama yang diberikan bagi orang yang keluar dari agama nenek moyangnya. Kesalahan kontekstual ini akan terlihat jelas kemudian. Saya pun segera menulis artikel yang menjawab artikel Syafii Maarif tersebut. Kesalahan pertama. bahwa Pluralisme Agama. salah satu anak Nabi Ya’qub as) pada hakikatnya adalah agama-keluarga.. Padahal.“Memperjelas Posisi Hamka soal Pluralisme Agama” Jum'at. Mcgrath. Karena digali dari al-Qur’an. inilah salah satunya yang nampaknya paling penting: “Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia.. yang diberi judul “Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah”. Isinya mengulas sebuah artikel karya Ahmad Syafii Maarif yang dimuat di Rubrik Resonansi. maka dapat dipahami pula bahwa penelaahan ini digunakan untuk meredam keinginan sementara pihak di kalangan umat Muslim untuk melakukan kekerasan pada umat lain. ST. Tapi. Kata jenderal ini pengertian ayat ini penting baginya untuk menghadapi beberapa tersangka kerusuhan yang ditangkap di sana. Buku ini sebenarnya merupakan Tesis Master Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor. setiap agama dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah menuju kebenaran dan Tuhan (In pluralism. mengaku beragama atau tidak. Menurut penulisnya. sehingga Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassalam pun pernah disebut sebagai shabi’. seputar orang-orang sholeh yang dijumpainya di masa lampau. salah satu peneliti INSISTS. kita dapat memahami bahwa konflik horizontal yang dimaksud adalah konflik antar umat beragama.

Ayang Utriza NWAY menyampaikan makalahnya dalam acara diskusi publik bertajuk Islam dan Kemajemukan di Indonesia. bagaimana pun. kita pun bertanya-tanya mengapa Syafii Maarif justru memilih untuk meninggalkan penjelasan ini. kesimpulan dari sebuah uraian ilmiah. Opini dan kesan bahwa ‘Buya Hamka seorang pluralis’. sebagaimana dijelaskan oleh Anis Malik Thoha dalam bukunya Tren Pluralisme Agama. Persoalan paling fundamental yang pasti muncul ketika membahas pluralisme. bab keempat dalam buku ini menguraikan argumen-argumen yang digunakan oleh kaum pluralis dari kalangan Muslim. Karena pada masa hidup Buya Hamka dahulu istilah “pluralisme” belum dikenal. Meski demikian. Hal ini akan semakin jelas pada poin berikutnya. hadirnya buku Akmal ini menjadi penting. Kutipan makalah Peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina itu dimuat di halaman 307. karena memang ia tidak sempat mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Diskusi publik tersebut diadakan sebagai rangkaian kegiatan dalam Nurcholish Madjid Memorial Lecture di sebuah Perguruan Tinggi di Banten. tetapi tidak pernah menjalankan rukun Islam. Dalam makalahnya. Bahkan. Penjelasannya adalah sebagai berikut: “Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. selain karena posisi sentral al-Qur’an dalam ajaran Islam. tentu ia harus mengucap syahadatain. saat bertemu keluarga Hamka. hingga kini. terutama dengan bersandar pada sejumlah ayat al-Qur’an. Oleh karena itu. . telah terlanjur bergulir. Sesuai dengan judulnya. Sebaliknya jika ada non-Muslim yang taat dan patuh menjalankan ajaran agamanya. Bahkan. (Jakarta: Universitas Paramadina. tidaklah sulit menunjukkan kesalahan (untuk tidak menyebutnya ketidakjujuran) fatal yang dilakukan oleh Ayang Utriza NWAY. Akan tetapi.Dengan definisi tersebut. Ayang bahkan telah melangkah lebih jauh lagi daripada Syafii Maarif. walaupun tidak mengucapkan dua kalimat syahadat. alBaqarah [2]: 62 – Ayang menyimpulkan: “Ini berarti bahwa walaupun seseorang mengaku beragama Islam. dan oleh karena itu. Jika ia sempat bertemu dengan dakwah Rasulullah. maka ia tidak akan pernah mendapat ganjaran dari Allah. tetap saja pendapat yang mengutip tulisan Buya Hamka secara tidak proporsional juga terus berkeliaran. sejarah pluralisme dan tren-tren pluralisme yang ada. Bahira dapat dianggap sebagai Nasrani yang beriman hanya karena ia hidup pada masa prakenabian Rasulullah saw. maka orang yang terlanjur dikenal sebagai Yahudi. tesis ini tidak hanya membahas kontroversi dari artikel Syafii Maarif dan makalah Ayang Utriza NWAY belaka. Setelah mengutip beberapa poin dalam Tafsir Al Azhar – lagi-lagi untuk QS. Setelah menjelaskan tren-tren tersebut. yang hanya bermodalkan dua kalimat syahadat. Dan dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. Saya pribadi (Adian Husaini) juga menemukan tulisan Ayang Utriza yang menfitnah Buya Hamka dalam buku Bayang-bayang Fanatisisme: Esei-esei untuk Mengenang Nurcholish Madjid. itulah yang mendasarinya mengembangkan makalahnya menjadi sebuah Tesis dengan judul Studi Komparatif Antara Pluralisme Agama dengan Konsep Hubungan Antar Umat Beragama dalam Pemikiran Hamka. maka penulis buku ini merasa perlu . Bahira tetaplah dikenal sebagai penganut agama Nasrani. meskipun artikel dan makalah sudah kita tulis di berbagai media massa. Nasrani dan Shabi’in di masa lampau (yaitu sebelum masa kenabian Rasulullah saw) bisa beriman dan tak beriman. yang – jika dicantumkan – akan segera menghapus kesan pluralis dari sosok Buya Hamka dalam artikel tersebut?” tulis Akmal.” Umumnya. Kesalahan ketiga – mungkin yang paling fatal – adalah tidak dicantumkannya sebuah paragraf penting yang dapat ditemukan di akhir penjelasan ayat ke-62 dalam Surah al-Baqarah dalam Tafsir Al Azhar yang justru menyimpulkan pendapat Buya Hamka yang sebenarnya secara utuh. untuk memperjelas posisi Hamka dalam soal Pluralisme Agama dan membentengi upaya orang-orang yang mengutip tulisan Hamka secara tidak proporsional atau bahkan memuarbalikkan makna tulisan Hamka yang sebenarnya. Menurut Akmal. dan hanya dengan cara itulah ia bisa dianggap sebagai orang yang beriman. Dalam kaitan itulah. tak ada koreksi terhadap kekeliruan yang sudah dilakukan. yaitu surga. Hal-hal ini dijabarkan di dalam bab ketiga. saya sampaikan keprihatinan saya tentang tulisan-tulisan yang menfitnah Buya Hamka. Masing-masing pihak yang mengusung pluralisme memiliki konsepnya sendiri-sendiri. Saya sudah menulis jawaban terhadap tulisan Ayang tersebut untuk buku 100 Tahun Buya Hamka. Makalah yang dibawakannya berjudul “Islam dan Pluralisme di Indonesia: Pandangan Sejarah”. dapat dijumpai di bagian akhirnya. juga karena tokoh yang pemikirannya sedang dibahas – yaitu Buya Hamka – adalah seorang mufassir. Pembahasan ini cukup penting. buku ini pun menguraikan secara mendalam persoalan definisi pluralisme. Tentu saja.” Menurut Akmal. adalah mendefinisikan makna Pluralisme itu sendiri. kita bisa mendapatkan gambaran yang jelas mengenai persamaan dan/atau perbedaan cara berpikir keduanya. “Dengan menyimak betapa pentingnya penjelasan di atas. Dengan memperbandingkan penafsiran Hamka dengan penjelasan ayat-ayat tersebut oleh kaum pluralis Muslim. Fungsinya. niscaya nerakalah tempat mereka kelak. Sejarah mengenalnya sebagai tokoh yang pertama kali membenarkan kenabian Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassalam berdasarkan tanda-tanda yang diketahuinya dari Injil. ia dikategorikan sebagai orang yang beriman. bahkan tidak jarang orang menulis sebuah makalah atau buku tentang pluralisme tanpa pernah memberikan definisi pluralisme itu. yang sebelumnya sudah dikenal sebagai penulis buku “Islam Liberal 101”. maka dia akan mendapatkan ganjaran dari Allah: surga. 2007). namun mereka menolak juga. Hanya berselang enam hari dari dimuatnya artikel Syafii Maarif tentang Tafsir Al Azhar di surat kabar Republika. Contoh yang dapat diambil adalah Pendeta Bahira. Tetapi kalau keterangan telah sampai. termasuk penafsiran al-Qur’an. melainkan mengupas tuntas jawaban dari sebuah pertanyaan besar: apakah Buya Hamka memang seorang pluralis? Buku Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme merupakan hasil adaptasi dari tesis tersebut.

Sebagai contoh. insya Allah mereka yang sudah tuntas membaca buku ini tidak akan memiliki keraguan lagi. 20 April 2012 Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor). pengejawantahan toleransi beragama.” tulis Akmal yang menyelesaikan sarjana S-1 nya di bidang civil engineering di Institut Teknologi Bandung. dan sebagainya. buku Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme karya Saudara Akmal ini cukup memberikan penjelasan tuntas seputar kesemrawutan konsep pluralisme. Karya ini diharapkan mampu merangsang kembali minat para pemuda Muslim untuk menggali kembali warisan intelektual dari Buya Hamka. Siapa pun yang berpikiran seperi itu. Semoga bermanfaat. Referensi yang telah ditinggalkan oleh Hamka begitu berlimpah. misalnya konsep agama. “Adapun seputar ‘klaim pluralisme’ terhadap pribadi Hamka. Catatan Akhir Pekan (CAP) bekerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah. di tengah carut-marutnya pemikiran di Indonesia dewasa ini.com Ilustrasi: serbasejarah WP Red: Cholis Akbar More Sharing ServicesShare | Share on facebook Share on twitter Share on google Share on favorites KOMENTAR . dan kita menunggu terus karya-karya ilmiah yang bermutu dari para pejuang Islam lainnya.*/Jakarta. maka ia memang seorang pluralis. posisi Islam di antara agamaagama lainnya. Poin-poin ini merupakan hal-hal yang sangat fundamental dalam gagasan pluralisme. sehingga usaha pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidaklah sulit untuk dilakukan.menguraikan konsep hubungan antar umat beragama menurut Hamka ke dalam beberapa poin penting. pandangan seputar aliran-aliran yang menyimpang. Walhasil. seorang pluralis pasti menganggap Islam sejajar dan tidak lebih unggul daripada agama lainnya. dan juga dari para cendekiawan Muslim terdahulu lainnya. Tetapi Hamka tidak berpikiran seperti itu.

syukron. Keadaan ini menyebabkan banyak muslim yg silau dgn kehebatan org-org tsb. Jum'at.bookstore@gmail. Muhammad Abduh . smga ini m'jadi amal sholih si Penulis.. Eropa. baik individu maupun negara.Avi . 01 Oktober 2012 Memang informasi ini sangat diperlukan khususnya dlm meluruskan asumsi salah yg beredar selama ini.amin Miftach . bahasa. 20 April 2012 Alhamdulillaah.. terutama untuk membersihkan nama Buya Hamka dari klaim2 kaum pluralis..Aminnn . semoga ustadz DR Adian Husaini senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah swt untuk selalu istiqamah dlm mengawal dan menjaga kebenaran dan kesucian Islam melalui tulisan2 beliau dari upaya pengkaburan oleh kaum kuffar. :) Nurim . 22 April 2012 Ahamdulillah. Sabtu. Jepang. Korea selatan. 20 April 2012 Bukunya di jual gak ya ? ane berminat nih Akmal . shg merembet pd bidang agama dengan menyatakan semua agama itu adalah sama!! Kehebatan seseorg itu bisa mempengaruhi org lain dlm semua hal: gaya hidup. Jazaakallah ahsanal jaza'.. Senin.. silakan kirim email ke malami. keadaan muslim hari ini. Jum'at. baik dlm perilaku maupun peranan di masyarakat.com. setidaknya mampu meluruskan kembali dr ketidak benaran.. ust Adian menulis CAP tentang buku saya.. dll.. termasuk agama!! Bangsa yg ditaklukan cenderung mengagumi semua hal yg datang dari para penakluknya. 21 April 2012 Pluralisme dan liberalisme menggejala krn kaum muslim pada hari ini belum bisa membuktikan kehebatan Islam. bukunya memang disebarluaskan secara online.. spt dalam hegemoni kekuatan-kekuatan yang datang dari non-muslim di Amerika. Bagi yg ingin memesannya.. Afwan. Mudah2an ini membantu penyebarluasan pemikiran yg terkandung di dalamnya. jadi belum masuk ke toko-toko buku. Ahad.

Depag : Sudut pemikirannya datar (karena tafsir ini ditulis oleh banyak ulama atau dapat dikatakan tulisan b.Tafsir dan Penafsiran Buya Hamka 7:09 PM Tafsir No comments CORAK TAFSIR BUYA HAMKA Agama bersifat netral. Tafsir ini ditulis dalam bentuk pemikiran dengan metode analitis atau tahlili. rakyat biasa. dia hanya menjelaskan pengertian raj’i. KARAKTERISTIK TAFSIR AL-AZHAR Tafsir al-Azhar merupakan karya Hamka yang memperlihatkan keluasan pengetahuan beliau. Menurut Hamka dalam tafsir al-Azhar. riwayat dari kitab tafsir mu’tabar seperti al-Manar.Tafsir al-Misbah : Sudut pemikirannya mendalam dan dilengkapi oleh data-data kontemporer(modern) c. Yaitu sebagaiberikut: Perbedaan gotong dari sudut pemikiran: royong) a. maka seseorang harus terjun ke dalam tasawuf. Perbedaan dari sudut bahasa.Karakteristik yang tampak dari tafsir al-Azhar ini adalah gaya penulisannya yang bercorak adabi ijtima’i (social kemasyarakatan) yang dapat disaksikan dengan begitu kentalnya warna setting sosial budaya Minangnya yang ditampilkan oleh Hamka dalam menafsirkan ayat-ayat al Qur’an PERBEDAAN DENGAN TAFSIR LAIN Tafsir al-Azhar sangatlah berbeda dengan tafsir-tafsir lainnya. tidak memihak. kamiakan membendingkan tafsir al-Azhar ini dengan tafsir Depag dan tafsir al-Misbah. Sumber penafsiran yang dipakai olehHamka antara lain. serta juga dari syair-syair seperti syair Moh. Tafsir Depag : Sudut bahasa yang digunakan sangatlah standart atau datar (dimaksudkan agar memudahkan seseorang dalam memahaminya) CONTOH PENAFISRAN HAMKA Penafsiran Buya Hamka terhadap ayat-ayat Amar Ma’rûf nahî Munkar dalam Tafsir al-Azhar. yang hampir mencakup semua disiplin ilmu penuh berinformasi.baik masyarakat kelas atas seperti raja. kata ma’rûf ( ‫ )معشششروف‬berasal dari kata urf ( ‫ )عشششششرف‬artinya “yang . Iqbal. maupun secara individu. pendapat tabi’in. Mulai dari sudut pemikiran sampai sudut bahasa yang digunakan dalam menafsirkan pun sangatlah berbeda. beliau mengguanakan contoh-contoh yang hidup di tengah masyarakat. Oleh karena itu.Berdasarkan fakta yang demikian. hadits Nabi. Sementara hamka dalam menjelaskan ayat itu. Tafsir al-Azhar : Sudut pemikirannya selalu menggiring seseorang kepada tasawuf (karenaberangkat dari setting sosial politik pada saat tafsir ini ditulis dan untuk selamat dari kondisiseperti itu. tafsir Hamka dalam menjelaskan ayat itu bercorak sosial kemsyarakatan (adabi ijtima’i). al Qur’an.

Tetapi. Pada surat al-A’râf ayat 157. karena shalat adalah pekerjaan yang patut dilakukan. Di antara contoh yang diberikan Hamka adalah perintah shalat dan membayar zakat. nabi siap menanggungnya. konteks amar ma’rûf dan nahî munkar menjelaskan tentang keberadaan Nabi Muhamad saw sebagai seorang rasul Tuhan. Demikian sekilas penjelasan mengenai pengertian ma’rûf ( ‫ )معششروف‬dan munkar (‫ )مشنشكشششر‬menurut Hamka Seperti diketahui bahwa ayat amar ma’rûf nahî munkar dituliskan secara bersambung disebutkan dalam alQur’ân pada lima surat. semua ayat ini menyerukan agar mengerjakan perbuatan yang ma’rûf dan menjauhi perbuatan keji yang dilarang oleh Allâh SWT. Kebalikan dari kata ma’rûf (‫ )معروف‬adalah kata mun¬kar ( ‫)مشنشكشر‬. tidak pantas. tugas berat yang diemban nabi Muhamad saw. Perbuatan itu patut diterima dan dipahami ma-nusia karena memang perbuatan baik (‫ )معروف‬itulah yang patut dikerjakan oleh manusia yang berakal.”atau“yang dapat dimengerti dan dapat dipa¬hami serta diterima oleh masyarakat. karena hati nurani mengenalnya sebagai suatu yang baik. pantas dan sopan yang berlaku secara umum. Luqman ayat 17. dan 103. Dalam konteks amar ma’rûf nahî munkar. Nabi Muhamad saw adalah seorang yang ummî (yang tidak pandai menulis dan membaca) yang telah disebutkan bahwa beliau akan datang sebagai Nabi akhir zaman di dalam Taurat dan Injil. yang memang patut dikerjakan. Hamka menjelaskan bahwa sebagai nabi yang ummi. dan 114. pastilah sesuai dengan jiwa. Lebih lanjut Hamka menjelaskan bahwa suatu perbuatan dapat dikatakan baik ( ‫ )معروف‬jika perbuatan itu dapat diterima dan dipahami oleh manusia. sebab jiwa mengenalnya sebagai suatu yang baik. Ali Imran ayat104.” Dalam pengertian lain. Nabi Muhamad dan umatnya diperintahkan untuk melaksanakan shalat. . Apabila suatu perintah datang kepada manusia yang berakal budi. Dengan kalimat pendek Hamka menyimpulkan bahwa tidak ada suatu perintahpun yang tidak ma’rûf (‫ )معروف‬kepada jiwa. seperti nabi Musa. nabi Isa dan nabi Muhamad saw yang ummi. 110. Dalam konteks ini. Masing-masing ayat mempunyai konteks dan situasi yang berbeda. karena memang masyarakat miskin perlu mendapat bantuan. segala gejala-gejala buruk yang tidak diterima oleh masyarakat secara akal sehat. sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini. 71. segala perintah yang dikerjakan oleh nabi yang ummi. karena tidak patut. kata ma’rûf (‫ )معروف‬yang terdapat dalam surat ini. ma’rûf (‫ )معروف‬berarti perbuatan yang patut.dikenal. beliau juga mendapat tugas untuk menyebarkan risalah ketuhanan kepada umat manusia. Menurut Hamka. dan 112. yang tidak disenangi atau ditolak oleh ma¬syarakat. berarti yang dibenci. seberat apapun risiko itu. langsung disetujui oleh hatinya. termasuk ke-pada para ahl al-kitab. Begitu juga pemberian zakat. karena beliau telah mendapatkan amanah untuk melaksanakan yang ma’rûf (‫)معشششششششششششروف‬ dan mencegah yang munkar (‫)مشنشكششششششششششششر‬. Meskipun begitu. menjelaskan tentang peran yang telah dimainkan oleh para nabi dan rasul. ditafsirkan oleh Hamka dengan kalimat sehaja. dalam menjalankan risalah atau nubuwah kepada umat manusia. dan dipuji. Kalimat ‫ ينامرﻫشم بنا لمعشرو ف و يشنشهششهشم عشن المشنكشر‬yang terdapat dalam surat al-‘Arâf ayat 157 seperti tersebut di atas. Risalah yang akan dibawa oleh Nabi akhir zaman itu ialah yang menyuruh akan mereka “berbuat yang ma’rûf dan mencegah akan mereka yang munkar”. al-Hajj ayat 103. Tidak selayaknya yang demikian itu dikerjakan oleh manusia berakal. akan selalu menghadapi risiko. Sebagai nabi yang ummi. berarti yang dikenal atau patut untuk dilakukan. kecuali jiwa yang sakit. yaitu al-‘Araf ayat 157. serta al-Taubah ayat 67. Oleh karena itu.

Kata ma’rûf (‫)معروف‬. Hamka memberikan sebuah tips. Untuk itu. dan mencegah dari yang munkar. 110. Ayat- ayat tersebut adalah sebagai berikut. yaitu pengetahuan keagamaan dan sikap keberagamaan. diambil dari kata ‘urf (‫( عشرف‬yang berarti dikenal atau yang dapat dimengerti. Karena itu. umum. yang dibenci dan yang tidak diterima oleh akal dan jiwa yang sehat. dan beriman kepada Allah. terdapat hal penting yang menjadi tugas dan kewajiban umat manusia. dan bertambah benci kepada yang munkar. yang tidak disenangi. adalah untuk kalangan masyarakat umum. membenarkan dan memuji. menurut Hamka. Menurutnya. memiliki tugas dan kewajiban untuk mengajak dan membawa manusia kepada kebaikan. Karena begitulah yang patut dikerjakan oleh manusia yang berakal. bertambah kenal orang akan yang ma’ruf. yaitu ummat. Sekiranya ahli kitab beriman. yaitu me-nyuruh berbuat ma’rûf ( ‫)معروف‬. artinya yang dibenci. yaitu perbuatan yang patut. dalam konteks ayat tersebut. dapat dipahami serta dapat diterima oleh manusia. terdapat dua kata penting. yaitu melakukan dakwah. dan menjauhi yang munkar. yaitu. Menyeru atau mengajak merupakan aktivitas dakwah. dan mencegah dari yang Munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan. maka tidak ada dinamika kehidupan beragama. melarang perbuatan munkar ( ‫)مشنشكشر‬. dan mencegah. yang ditolak oleh masyarakat. menjadi lebih dinamis dan agama menjadi hidup. ( ‫)مشنشكشر‬. Menurut Hamka. Oleh karena itu. seluruh masyarakat. menyuruh kepada yang ma'ruf. kalau ada orang berbuat ma’ruf. Kesimpulan yang disampaikan oleh Hamka dalam penafsirannya pada surat Âli Imrân ayat 104 dalam tafsir al-Azhar adalah bahwa ‫ المشربشنالشمشعشروف وا لنهى عن الشمشنكر‬itu adalah menyeru untuk melakukan ke-bajikan dan mencegah kemunkaran. ada sekelompok umat yang bertugas dan bekerja keras untuk menggerakkan masyarakat agar mereka berbuat yang ma’ruf. Sebaliknya. tentulah itu lebih baik bagi mereka. Dengan dakwah. di antara mereka ada yang beriman. dan mencegah perbuatan munkar (‫)مشنشكشر‬. haruslah ada sekelompok orang yang mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan. menyuruh berbuat ma’rûf (‫)معروف‬. dan 114. seluruh masyarakat menolak. Artimya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan.Selanjutnya ayat–ayat yang menjelaskan amar ma’rûf nahî munkar ( ‫الـمـربـالـمـعـروف وا‬ ‫ لنهى عن الـمـنكر‬secara berurutan ialah surat Âli ‘Imrân ayat 104. menurut Hamka lebih lanjut. ada dinamika kehidupan umat Islam. Untuk mengatasi masalah ini. apabila tidak ada dakwah. Hamka tampaknya membagi bidang garapan dakwah menjadi dua. kalau ada perbuatan munkar. Sebaliknya. semakin tinggi kecerdasan beragama. supaya masyarakat itu bertambah tinggi nilainya. menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung (QS. karena tidak patut dan tidak pantas untuk dikerjakan. hendaknya dalam suatu masyarakat. Ali-Imran:104) Artinya: kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. membenci dan tidak menyukainya. Sedang yang munkar. Suatu golongan yang terdapat dalam ayat tersebut. Dalam konteks dakwah. pan-tas dan sopan. mereka itu Termasuk orang-orang yang saleh (Ali-Imran 114) Pada surat Âl-Imrân ayat 104. dan dipuji. mereka menyuruh kepada yang ma'ruf. dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (Ali-Imran:110) Artinya:mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan. dan . umumnya menyetujui.

maka percuma saja menyebut yang ma’rûf (‫)معروف‬. maka hal itu dapat dijadikan sebagai indikator masyarakat yang sedang sakit. terhenti. yaitu ‫يشدعشنون الى الشخشثيشر‬mengajak pada ke-baikan. yang ma’ruf ( ‫)معروف‬. adalah mereka yang . Sedang dakwah yang bersifat khusus. sehingga masyarakat memiliki pengetahuan dan kesadaran beragama yang tinggi. yang kerjanya khusus mengadakan dakwah. untuk keluarga sendiri. menurut Hamka pentingnya juru dakwah atau da’i memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai ajaran agama Islam yang sebenarnya. sebagai bagian dari aktivitas dakwah. termasuk tauhid dan ma’rifat. Sebab kehidupan agama. kemajuan dan kemundurannya sangat tergantung pada dakwah. bila dakwah ke dalam. sehingga mampu melakukan yang ma’ruf (‫ )معروف‬dan mencegah yang munkar (‫)مشنشكشر‬. dan mana yang tidak baik. akan terbentuk masyarakat yang sehat. Sebaliknya. Bila amar ma’ruf nahi munkar ‫المشربشنالشمشعشروف وا لنهى عن الشمشنكر‬. sehingga ia memiliki keberanian untuk melakukan kebaikan dan mencegah keburukan. yaitu munkar ( ‫)مشنشكشر‬. atau seluruh umat ini sendiri sadar akan kewajibannya yaitu melaksanakan dakwah. agar patuh kepada Tuhan. diharapkan umat Islam semakin kuat kesadaran beragamanya. menurut Hamka untuk membedakan yang ma’rûf ( ‫)معشششششششروف‬. Di dalam ayat 104 surat Âl-Imrân ini terdapat 3 (tiga) kewajiban. Oleh karena itu. dengan yang munkar (‫)مشنشكششششششششر‬ tidak ada lain kecuali ajaran Islam. melarang berbuat munkar(‫)مشنشكشر‬. dan ketiga mengajak kepada kebaikan (‫ )الخشثيشششر‬Menurut Hamka. Dakwah yang bersifat umum adalah memberikan penjelasan kepada masyarakat serta mengajak mereka untuk memahami hikmah ajaran Islam yang benar. yang dimaksud dengan kata (‫)الخشثيشر‬ yang berarti kebaikan. menurut Hamka memiliki dua kata penting. Sedang dakwah ke luar Islam tujuannya agar masyarakat non-muslim memahami posisi Islam sebagai sebuah agama damai dan memberikan pengertian tentang hakikat kebenaran Islam kepada orang-orang yang belum memeluknya. Dengan kesadaran beragama yang tinggi. mereka yang melakukan kebaikan ( ‫ )الشخشثيشر‬dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. hendaklah ada segolongan umat yang menjadi inti. Diharapkan dengan adanya kegiatan dakwah. lanjut Hamka. yaitu menyuruh berbuat ma’ruf ( ‫)معروف‬. ditujukan kepada keluarga sendiri. Di sinilah. semua berpusat pada yang satu. yaitu ummatun (‫ ) امشﺔ‬dan kedua kata yad’ûna ‫ يشدعشنون‬. Sebab. Hal itulah. yang dimaksud di dalam ayat ini adalah Islam. maka akan berdampak pada sikap dan perilaku seseorang dalam bermasyarakat. menurutnya. yaitu dakwah di kalangan umat Islam sendiri. apabila sikap keberagamaan masyarakat belum tumbuh dan masih rendah. Pelaksanaan dakwah yang dimaksudkan Hamka tidak hanya kegiatan dakwah ke dalam. Oleh sebab itu. Seperti ditegaskan sebelumnya bahwa Hamka mengartikan kata ma’ruf ( ‫ )معروف‬dengan suatu perbuatan baik yang diterima oleh masyarakat dan akal sehat. menurut Hamka sebagai hakikat kesadaran beragama yang menimbulkan pengetahuan sehingga dapat membedakan mana yang baik. Menurut Hamka. yaitu amar ma’ruf dan nahi munkar ‫المشربشنالشمشعشروف وا لنهى عن الشمشنكر‬. artinya umat mengajak pada kebaikan yang terdapat pada surat Âl-Imrân ayat 104. ketiga kewajiban itu. juga dakwah ke masyarakat luar Islam. seorang da’i apabila berdakwah hendaklah ia mengeluarkan pendapat umum yang sehat atau public opini yang sehat dan dapat diterima masyarakat umum. Kalimat ‫ يشدعشنون الى الشخشثيشر امشﺔ‬. serta menangkis tuduhan yang tidak benar yang diarahkan kepada agama Islam. dan menentang yang munkar. Tujuannya.khusus. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa dikalangan umat Islam yang besar jumlahnya. yaitu me¬mupuk kepercayaan dan iman kepada Tuhan.

yaitu kebaikan. baca juga ulama tafsir Quraisy Shihab . yakni menyampaikan yang baik dan melarang kepada yang munkar. Terdapat dua ka-ta yang berbeda akan tetapi memiliki pengertian sama. Kedua. Karena perbuatan demikian merupakan ujung tombak dari dakwah Islam. Karena mereka telah melakukan amar ma’ruf nahi munkar ‫المشربشنالشمشعشروف وا‬ ‫ لنهى عن الشمشنكر‬. Oleh karena itu. Dalam konteks ini ayat tersebut di atas. mencegah orang dari al-munkar ( ‫)وا لنهى عن الشمشنكر‬. ada tiga hal yang harus dilakukan oleh kaum muslimin.. mengajak orang kepada al-khair (‫)يشدعشششنون الششى الشخشثيشششر‬. lanjut yach.. Pertama. sehingga keburukan dapat dihindari atau dikalahkan. sehingga umat menjadi pelopor kebajikan di dalam dunia. ke-simpulan umum yang hendak dijelaskan pada ayat ini adalah suatu kewajiban bagi umat Islam untuk menyampaikan yang ma’ruf ( ‫ )معروف‬dan melarang perbuatan yang munkar( ‫)مشنكر‬. lafal atau kata al-khair (‫ )الشخشثيشر‬dan lafal al-ma’rûf ‫ الشمشعشروف‬menurut harfiahnya sama. Ketiga.akan memperoleh kemenangan. Dari terjemahan ayat tersebut. dan mengajak pada kebaikan. mengajak orang kepada yang al-ma’rûf ( ‫)المشربشنالشمشعشروف‬.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful