Tafsir Al-Furqon adalah karya besar A.

Hassan

Bagian pertama al-Furqon diterbitkan pada tahun 1928. Terbitan pertama itu mungkin belum seperti yang diharapkan karena baru dapat memenuhi sebagian ilmu yang diperlukan oleh umat Islam di Indonesia. Untuk memenuhi desakan sejumlah anggota Persatuan Islam, bagian kedua tafsir itu diterbitkan tahun 1941, tetapi hanya sampai Surah Maryam. Selanjutnya, atas bantuan seorang pengusaha, yaitu Sa’ad Nabhan, pada tahun 1953 barulah proses penulisannya dilanjutkan kembali hingga akhirnya tulisan Tafsir Al-Furqân secara keseluruhan (30 juz) dapat diterbitkan pada tahun 1956. Mengingat tafsir tersebut ditulis pada dekade sebelum 1960-an, bahasa Indonesia yang digunakan pun tentunya bahasa Indonesia yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada saat itu. Dalam periode selanjutnya bahasa Indonesia mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat berarti, terutama setelah ditetapkannya Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Edisi Kedua, 1987), penulisan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Pertama, 1988), Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Pertama, 1988), dan Pedoman Transliterasi Arab-Indonesia (1987). Penulisan tafsir ini yang merupakan langkah pertama dalam sejarah penerjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia itu dilakukan dalam kurun waktu 1920-1950-an. Dalam penerjemahan ayat-ayat al-Qur’an, A. Hassan menggunakan metode harfiah, yaitu penerjemahan kata demi kata, kecuali terhadap beberapa hal yang tidak memungkinkan penggunaan metode itu. Untuk hal seperti itu, barulah A. Hassan menggunakan metode maknawiah (semantik). Tafsir Al-Furqân merupakan gabungan dari terjemahan dan tafsiran yang dilakukan oleh A. Hassan, seorang yang dikenal luas reputasi keilmuannya. Usaha yang serius dan bertanggung jawab yang dilakukannya dalam tafsir ini diakui oleh banyak kalangan sebagai usaha yang berhasil. Bahkan, tidak sedikit orang yang lebih memilih menggunakan tafsir ini untuk mendapatkan terjemahan dan pemahaman Qur’an daripada tafsir dan terjemahan Qur’an dalam bahasa Indonesia yang lain. Inilah yang membuat keinginan keluarga besar A. Hassan untuk memutakhirkan bahasa Indonesia tafsir ini disambut oleh tim, sebagai upaya pelestarian aset intelektual bangsa. Ini juga merupakan upaya untuk menjaga amal jariah yang ditinggalkan A. Hassan, yang akan baik bila tidak diputus rantainya hanya karena bahasa yang dipergunakan sudah tidak akrab lagi dengan pembaca masa kini.

TAFSIR AN-NUR Karya Prof. Dr. Hasbi al-shiddieqy

TAFSIR AN-NUR Karya Prof. Dr. Hasbi al-shiddieqy by sariono sby I. PENDAHULUAN RIWAYAT TAFSIR AN-NUR Tafsir An-Nur ini dikerjakan oleh Hasbi Ash-Shiddiqy sejak tahun 1952-1961 (sembilan tahun) di sela-sela kesibukannya mengajar, memimpin fakultas, menjadi anggota konstituante dan kegiatan-kegiatan lainnya. Hidupnya yang sarat dengan beban itu tidak memberi peluang baginya untuk secara konsisten mengikuti tahap-tahap kerja yang lazim dilakukan oleh penulis-penulis profesional. Dengan bekal pengetahuan, semangat dan dambaannya untuk menghadirkan sebuah kitab tafsir dalam bahasa indonesia yang tidak hanya sekedar terjemahan, ia mendiktekan naskah kitab tafsirnya ini kepada seorang pengetik dan langsung menjadi naskah siap cetak. Memang ketika ia mendiktekan naskah itu, di atas meja kerjanya penuh terhampar buku-buku referensi dan catatan-catatannya berupa kertas berserakan. Itulah yang menjadi salah satu penyebab terjadi pengulangan informasi, penekanan ayat, penomoran catatan kaki yang tidak mengikuti metode penulisan karya ilmiah dalam tafsir ini. Tafsir an-Nur telah dicetak sebanyak dua kali, cetakan yang kedua telah mengalami beberapa penyempurnaan menyangkut penggantian kulit muka dan struktur bahasa indonesia. Tafsir An-Nur yang pertama terbit pada tahun 1956, ini adalah kitab tafsir pertama yang diterbitkan di indonesia, sehingga merupakan pelopor dari khazanah perpustakaan di tanah air, menurut penilaian seorang mubaligh, tafsir ini mudah dicerna tidak saja oleh golongan pemula, namun juga bisa dipelajari dan dijadikan objek penelitian dan para peminat tafsir. Penerbitan cetakan kedua dilakukan penyempurnaan bahasa oleh H. Sudarto, seorang wartawan yang berdiam di Semarang, dan juga penyuntingan, persiapan sistem penyusunan tafsir oleh alm. Prof. Dr. Nourrouzzaman shiddiqi, M. A. (salah seorang putera alm. Teungku muhammad hasbi ash-shiddiqi, yang wafat pada tanggal 19 Juli 1999). II. BIOGRAFI HASBI AL-SHIDDIEQY Prof. DR. Hasbi al-Shiddieqy Lahir di Lhokseumawe, 10 Maret 1904 – Wafat di Jakarta, 9 Desember 1975. Seorang ulama Indonesia, ahli ilmu fiqh dan usul fiqh, tafsir, hadis, dan ilmu kalam. Ayahnya, Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husein ibn Muhammad Su’ud, adalah seorang ulama terkenal di kampungnya dan mempunyai sebuah pesantren (meunasah). Ibunya bernama Teungku Amrah binti Teungku Chik Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz, putri seorang Qadhi Kesultanan Aceh ketika itu. Menurut silsilah, Hasbi al-Shiddieqy adalah keturunan Abu Bakar al-Shiddieq (573-13 H/634 M), khalifah pertama. Ia sebagai generasi ke-37 dari khalifah tersebut melekatkan gelar al-Shiddieqy di belakang namanya. Pendidikan agamanya diawali di dayah (pesantren) milik ayahnya. Kemudian selama 20 tahun ia mengunjungi berbagai dayah dari satu kota ke kota lain. Pengetahuan bahasa Arabnya diperoleh dari Syekh Muhammad ibn Salim al-Kalali, seorang ulama berkebangsaan Arab. Pada tahun 1926, ia berangkat ke Surabaya dan melanjutkan pendidikan di Madrasah al-Irsyad, sebuah organisasi keagamaan yang didirikan oleh Syekh Ahmad Soorkati (1874-1943), ulama yang berasal dari Sudan yang mempunyai pemikiran modern ketika itu. Di sini ia mengambil pelajaran takhassus (spesialisasi) dalam bidang pendidikan dan bahasa. Pendidikan ini dilaluinya selama 2 tahun. Al-Irsyad dan Ahmad Soorkati inilah yang ikut berperan dalam membentuk pemikirannya yang modern sehingga, setelah kembali ke Aceh. Hasbi ash-Shiddieqy langsung bergabung dalam keanggotaan organisasi Muhammadiyah. Pada zaman demokrasi liberal ia terlibat secara aktif mewakili Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) dalam perdebatan ideologi di Konstituante. Pada tahun 1951 ia menetap di Yogyakarta dan mengkonsentrasikan diri dalam bidang pendidikan. Pada tahun 1960 ia diangkat menjadi dekan Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Jabatan ini dipegangnya hingga tahun 1972. Kedalaman pengetahuan keislamannya dan pengakuan ketokohannya sebagai ulama terlihat dari beberapa gelar doktor (honoris causa) yang diterimanya, seperti dari Universitas Islam Bandung pada 22 Maret 1975 dan dari IAIN

Sunan Kalijaga pada 29 Oktober 1975. Sebelumnya, pada tahun 1960, ia diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu hadis pada IAIN Sunan Kalijaga. Hasbi ash-Shiddieqy adalah ulama yang produktif menuliskan ide pemikiran keislamannya. yang didasari karena lima jasa yang dimiliki oleh beliau, yakni : 1. Pembinaan IAIN; 2. Perkembangan Ilmu agama Islam; 3. Jasa-jasa beliau kepada masyarakat; 4. Pokok-pokok pemikiran beliau tentang cita-cita hukum Islam, dan: 5. Pendapat-pendapat beliau tentang beberapa masalah hukum. Sementara gelar Professor dalam bidang ilmu Hadits beliau peroleh tahun 1962 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama No. B.IV.I/37-92 tanggal 30 Juli 1962 dan dikukuhkan dengan Keputusan Presidn RI No. 71/M-1 tanggal 22 Mei 1963. Ada beberapa sisi menarik pada diri Muhammad Hasbi, antara lain: Pertama, ia adalah seorang otodidak. Pendidikan yang ditempuhnya dari dayah ke dayah, dan hanya satu setengah tahun duduk di bangku sekolah Al Irsyad (1926). Dengan basis pendidikan formal seperti itu, ia memperlihatkan dirinya sebagai seorang pemikir. Kemampuannya selaku seorang intelektual diakui oleh dunia internasional. Ia diundang dan menyampaikan makalah dalam Internasional Islamic Colloquium yang diselenggarakan di Lahore Pakistan (1958). Selain itu, berbeda dengan tokoh-tokoh lainnya di Indonesia, ia telah mengeluarkan suara pembaharuan sebelum naik haji atau belajar di Timur Tengah. Kedua, ia mulai bergerak di Aceh, di lingkungan masyarakat yang dikenal fanatik, bahkan ada yang menyangka “angker”. Namun Hasbi pada awal perjuangannya berani menentang arus. Ia tidak gentar dan surut dari perjuangannya kendatipun karena itu ia dimusuhi, ditawan dan diasingkan oleh pihak yang tidak sepaham dengannya. Ketiga, dalam berpendapat ia merasa dirinya bebas tidak terikat dengan pendapat kelompoknya. Ia berpolemik dengan orang-orang Muhammadiyah dan Persis, padahal ia juga anggota dari kedua perserikatan itu. Ia bahkan berani berbeda pendapat dengan jumhur ulama, sesuatu yang langka terjadi di Indonesia. Keempat, ia adalah orang pertama di Indonesia yang sejak tahun 1940 dan dipertegas lagi pada tahun 1960, menghimbau perlunya dibina fiqh yang berkepribadian Indonesia. Himbauan ini menyentak sebagian ulama Indonesia. Mereka angkat bicara menentang fiqh (hukum in concreto) di-Indonesia-kan atau dilokalkan. Bagi mereka, fiqh dan syariat (hukum in abstracto) adalah semakna dan sama-sama universal. Kini setelah berlalu tigapuluh lima tahun sejak 1960, suara-suara yang menyatakan masyarakat muslim Indonesia memerlukan “fiqh Indonesia” terdengar kembali. Namun sangat disayangkan, mereka enggan menyebut siapa penggagas awalnya. Mencatat penggagas awal dalam sejarah adalah suatu kewajiban, demi tegaknya kebenaran sejarah. Pada tanggal 9 Desember 1975, berusia 71 tahun, setelah beberapa hari memasuki karantina haji, dalam rangka menunaikan ibadah haji, beliau berpulang ke rahmatullah, beliau meninggal di Rumah Sakit Islam Jakarta dan jasad beliau dimakamkan di pemakaman keluarga IAIN Ciputat Jakarta. Pada waktu pemberangkatan jenazahnya dari rumah anaknya yang bungsu di Tanjung Duren Selatan Jakarta Barat ke Pekuburan IAIN Syarif Hidayatullah di Ciputat Jakarta selatan telah memberikan kata sambutan pelepasan : Amelz (Abdul Manaf el-Zamzami) mewakili keluarga, serta Prof. Dr. Hamka dan Drs. H. Kafrawi Ridwan, M.A atas nama menteri agama. Makamnya berdampingan dengan Prof. Thoha Yahya Umar M.A, dan dekat makam Sa’adudin Jambek. III. KARYA-KARYA HASBI ASH-SHIDDIEQY Hasbi Ash-Shiddieqy adalah seorang alim yang sangat produktif dan banyak menulis. Karya tulisnya mencakup berbagai disiplin ilmu keislaman. Menurut catatan, buku yang ditulisnya berjumlah 73 judul (142 jilid). Sebagian besar karyanya adalah tentang fiqh (36 judul). Bidang-bidang lainnya adalah hadis (8 judul), tafsir (6 judul), tauhid (ilmu kalam; 5 judul). Sedangkan selebihnya adalah tema-tema yang bersifat umum. Beberapa diantaranya adalah : 1. Tafsir an-Nur 2. Al-Bayan, yang merupakan penyempurnaan dari tafsir an-nur 3. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an. Karena keahliannya dalam bidang tafsir, sehingga ia diberi penghargaan sebagai salah seorang penulis tafsir terkemuka di Indonesia pada tahun 1957/1958, serta dipilih sebagai wakil ketua lembaga penerjemah dan Penafsir al-Qur’an Departemen Agama RI. 4. Pengantar Hukum Islam 5. Peradilan dan Hukum Acara Islam

6. Sejarah Pengantar Ilmu Hadis 7. Pokok-pokok Ilmu Diniyah Hadis (I-II) 8. Kuliah Ibadah 9. Fiqh Mawaris 10. Pedoman Haji 11. Pidana Mati dalam Syariat Islam 12. Hukum-hukum Fiqih Islam 13. Pengantar Fiqh Muamalah 14. Filsafat Hukum Islam 15. Kriteria antara Sunnah dan Bid’ah 16. Buklet “ Penoetoep Moeloet” (karya pertama pada awal tahun 1930-an) 17. Buku Al-Islam, dua jilid (1951) 18. Buku Pedoman Shalat, yang dicetak ulang sebanyak 15 kali oleh dua percetakan yang berbeda (1984) 19. Buku Mutiara Hadits, sebanyak 8 jilid (1968) 20. Buku Koleksi Hadits Hukum, sebanyak 11 jilid, baru terbit 6 jilid (1971) dll. IV. METODE PENAFSIRAN Untuk menentukan metode apa yang di gunakan oleh Hasbi Ash-Shiddieqy, harus diketahui dulu motivasi dan sumber-sumber dalam penafsiran An-Nur. Pada kata pengantar Tafsir An-Nur, beliau mengatakan : Indonesia membutuhkan perkembangan tafsir dalam bahasa persatuan Indonesia, maka untuk memperbanyak lektur Islam dalam masyarakat Indonesia dan untuk mewujudkan suatu tafsir yang sederhana yang menuntun para pembacanya kepada pemahaman ayat dengan perantaraan ayat-ayat itu sendiri. Sebagaimana Allah telah menerangkan ; bahwa Al-Qur’an itu setengahnya menafsirkan yang setengahnya, yang meliputi penafsiran-penafsiran yang diterima akal berdasarkan pentakhwilan ilmu dan pengetahuan, yang menjadikan intisari pendapat para ahli dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan yang diisyaratkan AlQur’an secara ringkas. Dengan berharap taufiq dan inayah yang maha pemurah lagi maha penyayang, kemudian dengan berpedoman kepada kitab-kitab tafsir yang mu’tabar, kitab-kitab hadits yang mu’tamad, kitab-kitab sirah yang terkenal. Saya menyusun kitab tafsir in dengan saya namai “An-Nur. Melihat ungkapan diatas, terlihat bahwa motivasi Hasbi Ash-Shiddieqy sangat mulia yaitu untuk memenuhi hajat orang Islam di Indonesia untuk mendapatkan tafsir dalam Bahasa Indonesia yang lengkap, sederhana dan mudah dipahami, sesrta ia menerangkan sepenggal-sepenggal ayat al-qur’an dengan menulisnya menggunakan bahasa latin dimaksudkan agar orang-orang yang tidak bisa membaca al-qur’an dengan bahasa arabnya maka ia bisa membacanya dengan huruf latin. Sumber yang beliau gunakan dalam menyusun tafsir An-Nur adalah : 1. 'Umdatut Tafsir 'Anil Hafidz Ibnu Katsir, 2. Tafsir al-Manar(karya Muhammad Abduh); 3. Tafsir al-Qasimy; 4. Tafsir al-Maraghy (karya Ahmad Musthafa al-Maraghi), dan 5. Tafsir al-Wadhih. Sedangkan metode yang dilakukan oleh Hasbi Ash-Shiddieqy adalah: Pertama, mengemukakan ayat-ayat yang akan ditafsirkan satu, dua, atau tiga ayat dan kadang-kadang lebih. Dan dalam hal ini Hasbi Ash-Shiddieqy menuruti al-maragy, yang pada umumnya menuruti al-manar dan kadang-kadang menuruti tafsir al-wadhih. Kedua, ayat-ayat tersebut kemudian di bagi kepada beberapa jumlah. Masing-masing jumlah ditafsirkan sendiri-sendiri. Ketiga, dalam menerjemahkan ayat ke dalam bahasa indonesia, Hasbi Ash-Shiddieqy berpedoman kepada tafsir abu suud, tafsir shiddiqy hasan khan dan tafsir al-qasimy. Keempat, menerangkan tafsiran ayat, dalam materi penafsiran Hasbi Ash-Shiddieqy mensarikan dari uraian al-maraghy dan al-manar, dan dalam menafsirkan ayat-ayat yang semakna menuruti tafsir al-imam ibnu katsir. Kelima, menerangkan asbabun nuzul ayat, apabila terdapat atsar yang diakui keshahihannya oleh ahli atsar. Metode semacam ini juga dipergunakan oleh mufassir pada abad modern yang ditulis pasca kebangkitan umat Islam, seperti metode yang dipakai Prof. DR. Hamka (Indonesia). Berdasarkan sumber-sumber yang dipakai, maka dapat diketahui bahwa metode yang dipakai oleh Hasbi Ash-Shiddieqy dalam menyusun tafisir An-Nur adalah metode campuran antara metode bil Ro’yi atau bil

Ma’qul. Hal ini juga beliau kemukakan bahwa, dalam menyusun tafsir ini berpedoman pada tafsir induk, baik kitab tafsir bil Matsur maupun kitab tafsir bin Ma’qul. Sementara jika diperhatikan sistematika yang terkandung dalam kitab tafsir An-Nur, terdiri dari 4 (empat) tahap pembahasan, yakni : 1. Penyebutkan ayat secara tartib mushaf tanpa diberi judul; 2. Terjemahan ayat kedalam Bahasa Indonesia dengan diberi judul “Terjemahan”; 3. Penafsiran masing-masing ayat dengan didukung oleh ayat yang lain, hadits, riwayat Shahabat dan Tabi’in serta penjelasan yang ada kaitannya dengan ayat tersebut dan tahapan ini diberi judul “Tafsirnya”; 4. Kesimpulan, intisari dari kandungan ayat yang diberi judul “Kesimpulan”. V. KESIMPULAN Tafsir An-Nur karya Hasbi Ash-Shiddieqy tidak mempunyai corak dan orientasi terhadap bidang tertentu, sebab kalau diperhatikan semua tafsirnya tidak memuat bidang ilmu tertentu, seperti bidang Bahasa, hukum, sufi, filsafat dan sebagainya. Hasbi Ash-Shiddieqy membahasnya dengan mengaitkan bidang ilmu pengetahuan secara merata artinya tidak ada penekanan pada bidang tertentu, sebab membahas dengan memfokuskan pada bidang tertentu menurutnya akan membahwa para pembaca keluar dari bidang tafsir. Pada kata pengantar kitab tafsir an-Nur beliau menyatakan : “Meninggalkan uraian yang tidak langsung berhubungan dengan tafsir ayat, supaya tidak selalu para pembaca dibawa keluar dari bidang tafsir, baik ke bidang sejarah atau bidang ilmiah yang lain” Dari ungkapan di atas, Hasbi Ash-Shiddieqy tidak bermaksud menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan uraian ilmiah yang panjang lebar yang dikhawatirkan keluar dari tujuan ayat-ayat tertentu. Dengan demikian tafsir An-Nur tidak mempunyai corak atau orientasi tertentu, namun bisa dikatakan komplit, artinya meliputi segala bidang. http://referensiagama.blogspot.com

seluruhnya ratusa judul. Haluan Tafsir. banyak sudah ulama yang mencurahkan perhatiannya untuk membidangi tafsir dengan berbagai manhaj. Hamka December 30. Dr. Pergantian zaman.[2] Sekilas Profil Tafsir Al-Azhar Kitab Tafsir berbahasa Indonesia yang akan kita kaji sekarang ini adalah terbitan Pustaka Panjimas. Mengapa Dinamai “Tafsir Al-Azhar”. semenjak ia turun pada masa hidup Rasulullah Saw. tetapi banyak belajar sendiri (otodidak). Hamka menyebut beberapa nama yang ia anggap berjasa bagi dirinya dalam pengembaraan dan pengembangan keilmuan keislaman yang ia jalani. Tahun 1927 berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. 1982. Dalam Kata Pengantar. Kemudian menetap di Medan di mana ia aktif sebagai ulama dan bekerja sebagai redaktur majalah Pedoman Masyarakat dan Pedoman Islam (1938-1941). bahkan hingga sekarang dan yang akan datang. Hamka Hamka adalah nama singkatan Haji ‘Abdul Malik Karim Amrullah. Keahliannya dalam Islam diakui dunia internasional sehingga kemudian mendapat gelar kehormatan dari Universitas Al-Azhar (1955) dan dari Universiti Kebangsaan Malaysia (1976). etika dan akhlak. Kemunculan para mufasir dari satu masa ke masa berikutnya memperpanjang daftar perbendaharaan rahasia dan ilmu-ilmu Al-Qur’an. perintah dan larangan. Menafsirkan Al-Qur’an. Hamka banyak sekali menulis buku tentang Islam. lalu aktif dalam organissi Muhammadiyah. petunjuk dan kemenangan di sisi Tuhan berupa surga yang penuh kenikmatan. Untuk merespon kenisacayaan itu. Dalam kesempatan itulah ia menyelesaikan Tafsir Al-Azhar-nya. Keharusan itu dapat dipahami. Pada setiap fase waktu dapat kita temukan “peninggalan” tafsir yang sejalan dengan tuntutan dan dinamika masanya. yang mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar Mesir dan membawa pembaharuan dalam soal agama di Minangkabau. Sementara itu sejak tanggal 21 Mei 1981 Hamka meletakkan jabatannya selaku ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). 16 Februari 1908 dan wafat di Jakarta. Ayahku (1949. sang mufasir terlebih dahulu memberikan banyak pembukaan. DR. Pandahuluan. dalam sejarah perjalanan umat ini bersama Kitab Sucinya. bentuk serta coraknya. Sumatera Barat. Ia adalah putera seorang ulama terkemuka. Pernah memimpin majalah Panji Masyarakat yang terbit sejak 1959. dan terakhir Hikmat Ilahi. Di antara karya tafsir modern Indonesia yang dapat kita jumpai dengan cukup mudah dan banyak dibicarakan (dikaji) orang adalah Tafsir Al-Azhar. karena memegangteguh ajaran Al-Qur’an merupakan sumber kebahagiaan. terutama dalam bidang agama. Sosok yang ditampilkan sangat mungkin tidak utuh (karena berbagai pertimbangan). sehingga timbul heboh karena ada pihak yang tidak setuju kiai mengarang roman. Yang penulis coba tampilkan dalam makalah ini memang hanya sisi-sisi yang dianggap penting saja. Lahir di Maninjau. Al-Qur’an Lafaz dan Makna. Al-Qur’an. Beliau adalah imam masjid Al-Azhar Kebayoran. Merantau ke Deli (1940). Sekilas Biografi Prof. Beliau dikenal sebagai seorang tokoh dan pengarang (pujangga) Islam. merupakan riwayat hidup dan kisah perjuangan ayahnya). dan lainnya. Pendidikan formalnya hanya sampai SD. terutama tentang manhaj yang ditempuh oleh sang mufasir serta bagaimana penerapannya dalam tafsirnya. maka aktivitas tafsir Al-Qur’an serta upaya penjelasan makna-maknanya yang dianggap musykil oleh kebanyakan kaum Muslimin menjadi suatu keniscayaan.STUDI ANALISIS ATAS TAFSIR AL-AZHAR Karya Prof. dan sepeninggal beliau. Tulisan ini akan coba menampilkan sosok tafsir tersebut. cetakan I. yang kesemuanya itu harus dipedomani oleh mereka yang mengaku menjadikan Al-Qur’an sebagai Kitab Sucinya. Isi Mu’jizat Al-Qur’an. 2011 Pendahuluan Al-Qur’an merupakan sumber tasyri’ dan hukum yang menuntut kaum muslimin untuk mengetahui. Tahun 1924 mulai merantau ke tanah Jawa untuk belajar antara lain kepada HOS Cokroaminoto. 24 Juli 1981. Jika demikian halnya. yang terkenal dengan sebutan Haji Rasul. Pada waktu itu ia mulai banyak menulis roman. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang halal-haram. mendalami dan mengamalkan segala isinya.[1] Di zaman Orde Lama pernah meringkuk dalam tahanan beberapa tahun. Di antara roman yang ditulisnya adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938). I’jâz AlQur’an. yang terdiri dari: Kata Pengantar. Di Dalam Lembah Kehidupan (1940. Jakarta. penemuan ilmu-pengetahuan dan kemajuan akal-pikir manusia semakin memperjelas betapa luasnya samudera hikmah yang dikandung AlQur’an. Nama-nama yang disebutnya itu boleh jadi merupakan orang-orang pemberi motivasi untuk segala karya cipta dan dedikasinya terhadap . kumpulan cerita pendek). Sebelum betul-betul masuk dalam tafsir ayat Al-Qur’an.

maka perselisihan-perselisihan mazhab dihindari dalam Tafsirnya.[5] Masih dalam kerangka “Haluan Tafsir”. Ia menulis: “Syarat-syarat itu memang berat dan patut. Jangankan bahasa Arab dengan segala nahwu dan sharaf-nya. Nama-nama tersebut selain disebut Hamka sebagai orang-orang tua dan saudara-saudaranya. berarti hanya suatu textbook thinking belaka. Ilmu-ilmu yang dijadikan syarat oleh ulama-ulama itu alhamdulillah telah penulis ketahui ala kadarnya. tidaklah akan jadi ‘Tafsir’ ini dilaksanakan. .pengembangan dan penyebarluasan ilmu-ilmu keislaman. Karena itu.”[4] Intinya. Hamka menjanjikan bahwa ia tidak hanya semata-mata mengutip atau menukil pendapat yang telah terdahulu. mengakui bahwa ia tidaklah ta’ashshub kepada satu paham. sebagai penulis Tafsir.[3] Di bawah Pendahuluan Hamka menyitir beberapa patokan dan persyaratan yang mesti dimiliki oleh seseorang yang akan memasuki gelanggang tafsir. tidak pula melulu menuruti pertimbangan akal seraya melalaikan apa yang dinukil dari penafsir terdahulu. Di antara karya tafsir yang jelas-jelas ia menyatakan ketertarikan hati terhadapnya adalah tafsir Al-Manâr karya Sayyid Rasyîd Ridhâ. Kalau tidak ada syarat demikian tentu segala orang dapat berani saja menafsirkan Al-Qur’an. “melainkan sedaya upaya mendekati maksud ayat. baik fikih maupun kalam. fikih. al-Qâsimî dan Fî Zhilâl Al-Qur’ân juga termasuk tafsir-tafsir yang Hamka ‘saluti’. tidak terkecuali karya tafsirnya. Hamka. dua sub itu akan penulis jadikan sub juga dalam makalah ini. sejarah dan lainnya lalu menyesuaikannya dengan perkembangan politik dan kemasyarakatan yang sesuai dengan zaman di waktu tafsir itu ditulis. Dan Hamka sendiri. sedang mereka haus akan bimbingan agama haus akan pengetahuan tentang rahasia Al-Qur’an. Syaikh Muhammad Amrullah (kakek). seperti diakuinya. sedangkan bahasa Indoensia sendiri. ayahnya sendiri. dalam sub ini Hamka sadar betul akan pentingnya pemenuhan syarat-syarat tafsir bagi orang yang hendak menafsir. tetapi mempergunakan juga tinjauan dan pengalaman pribadi. patokan-patokan yang berat itu tidak harus menjadi kendala dan penghalang bagi lahirnya karya-karya baru tafsir. tafsir al-Marâghî. Tafsir yang disebut terakhir misalnya. antara riwâyah dan dirâyah. dalam arti menghindar dari perselisihan kemazhaban.[7] Hingga di sini penulis makalah hendak mengatakan bahwa Tafsir Al-Azhar mempunyai corak non-mazhabi. Nama-nama itu antara lain. Dalam Tafsir Al-Azhar-nya. juga disebutnya sebagai guru-gurunya. Ahmad Rasyid Sutan Mansur (kakak iparnya). Hanya saja.” demikian Hamka mengawali paparannya tentang haluan tafsir. menguraikan makna dan lafaz bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan memberi kesempatan orang buat berpikir. Meskipun dalam hal riwâyah ia belum (tidak) mengatasi al-Manâr. ia nilai sebagai “satu tafsir yang munasabah buat zaman ini. Suatu tafsir yang hanya mengekor riwayat atau naqal dari ulama terdahulu. memelihara sebaik mungkin hubungan antara naqal dan ‘aql’. Bagian yang penulis anggap menarik dari sub-sub yang terdapat dalam pembukaan tafsir Al-Azhar adalah sub “Haluan Tafsir” dan “Mengapa Dinamai Tafsir Al-Azhar”. Tafsir ini ia nilai sebuah sosok tafsir yang mampu menguraikan ilmu-ilmu keagamaan sebangsa hadis. Doktor Syaikh Abdulkarim Amrullah. tempat Al-Qur’an ini akan diterjemah dan ditafsirkan tidaklah penulis tafsir ini termasuk ahli yang sangat terkemuka. Sebaliknya. tetapi penulis tidaklah mengakui bahwa penulis sudah sangat alim dalam segala itu……Maka kalau menurut syarat yang dikemukakan ulama tentang ilmu-ilmu itu.”[6] Masih dalam kerangka “Haluan Tafsir”. di negara yang penduduk Muslimnya adalah mayoritas. Hamka mengemukakan ketertarikan hatinya terhadap beberapa karya tafsir. besar bahayanya akan terpesona keluar dari garis tertentu yang digariskan agama melantur ke mana-mana. namun dalam dirâyah ia telah mencocoki pikiran setelah Perang Dunia II. Haluan Tafsir “Tiap-tiap tafsir Al-Qur’an memberikan corak haluan daripada peribadi penafsirnya. Hamka mengabarkan bahwa Tafsir Al-Azhar ditulis dalam suasana baru. sehingga dengan tidak disadari boleh jadi menjauh dari maksud agama.” Secara jujur Hamka mengatakan bahwa Tafsir karya Sayyid Quthub itu banyak mempengaruhinya dalam menulis tafsir Al-Azhar-nya. Selain tafsir Al-Manâr. wajiblah ilmu sangat dalam benar lebih dahulu. terutama bagi ia yang sudah memiliki standar minimal dalam pemenuhan syarat-syarat tersebut. Pada saat yang sama. kalau hanya memperturutkan akal sendiri.

Warna-warna tafsir itu mempengaruhi Tafsir Al-Azhar yang penulisnya jelas-jelas menyatakan kekaguman dan keterpengaruhannya. Apatah lagi kalau sudah dibawa pula kepada arti rahasia-rahasia huruf. sehingga tidak menjemukan. pendapat yang mengatakan bahwa huruf-huruf di pangkal surat itu adalah rahasia Allah. Tuhanlah yang lebih tahu akan artinya. kata Hamka. Alif Lam Mim.[8] Hal lain yang dimasukkan Hamka dalam sub ini adalah janjinya untuk menyuguhkan sebuah tafsir yang ‘tengah-tengah’. seperti Al-Manâr dan Fî Zhilâl Al-Qur’ân. yang berupa huruf-huruf yakni Alif Lâm Mîm. Alif untuk nama Allah. niscaya tidak akan ragu-ragu lagi seluruh bangsa Arab akan artinya. terbagi kepada dua golongan. syaikh (rektor) Universitas Al-Azhar. dengan setting sosial-kemasyarakatan keindonesiaan sebagai objek sasarannya. Nama masjid Al-Azhar sendiri adalah pemberian dari Syaikh Mahmoud Syaltout. dan Mim untuk nama Nabi Muhammad Saw. Ketika membahas ayat pertama surat al-Baqarah. Dalam arti menafsir ayat demi ayat sesuai urutannya dalam mushhaf serta menganalisis begitu rupa hal-hal penting yang terkait langsung dengan ayat. angka-angka dan tahun…. Kebayoran Baru.[14] Ketajaman analisis Hamka juga teruji ketika. merupakan isyarat bagi tiga nama. Majalah ini selalu memuat kuliah tafsir ba’da shubuh tersebut.[10] Studi Kritis Tafsir Al-Azhar: Metode Tafsir Manhaj yang ditempuh tafsir Al-Azhar adalah Tahlili. Pertama.Di sisi lain. dengan jeli menunjukkan korelasi antara makna yang terdapat pada akhir surat al-Fâtihah dengan makna yang ada pada awal surat al-Baqarah (ayat . Hamka langsung memberi nama bagi kajian tafsir yang dimuat di majalah itu dengan Tafsir AlAzhar. banyak diwarnai (diberi corak) oleh tafsir ‘modern’ yang telah ada sebelumnya. lanjut Hamka. atau sebagai panggilan untuk menarik perhatian tentang ayat-ayat yang akan turun mengiringinya. Dalam bahasa dia: “…penafsiran tidak terlalu tinggi mendalam. terutama sejak terbitnya majalah Gema Islam.[11] Ada pula.. dan tidak terlalu rendah. Lam untuk nama Jibril. Kalau dia suatu kalimat yang mengandung arti. menurut Ibnu ‘Abbas. Oleh sebab itu maka lebih baiklah kita terima saja huruf-huruf itu menurut keadaannya… “Sebab mendalami Al-Qur’an tidaklah bergantung daripada mencari-cari arti dari huruf-huruf itu. ia juga. ia katakan bahwa dalam Al-Qur’an kita akan menemukan beberapa surat yang dimulai dengan hurufhuruf seperti: Kâf Hâ Yâ ‘Aîn Shâd. termasuk ayat mutasyabihat yang kita baca dan percayai saja. dapat dengan mudah kita katakan bahwa corak Tafsir yang sedang kita kaji ini bercorak Adabi-Ijtimâ`î. mereka yang memberikan arti sendiri bagi huruf-huruf tersebut. yakni masjid Al-Azhar.”[13] Hingga di sini dapat kita nilai bahwa Hamka dalam hal yang berkaitan dengan makna huruf-huruf di pangkal surat lebih cenderung menyerahkan pengertiannya semata kepada Allah. Kedua.[12] Hamka menutup pembahasan tentang huruf-huruf fawâtih al-suwar ini dengan mengatakan: “Nyatalah bahwa huruf-huruf itu bukan kalimat bahasa yang bisa diartikan. misalnya. Sebab hal itu dinilainya lebih selamat. Dengan begitu. Pengajian tafsir setelah shalat shubuh di masjid Al-Azhar telah terdengar di mana-mana. menurut Ibnu ‘Abbas ada maknanya sendiri. Pandangan para mufasir tentang huruf-huruf pembuka surat (fawâtih al-suwar) seperti itu.”[9] Mengapa Dinamai “Tafsir Al-Azhar”? Nama Al-Azhar diambil dari nama masjid tempat kuliah-kuliah tafsir yang disampaikan oleh Hamka sendiri. seperti diakuinya. yang pada bulan Desember 1960 datang ke Indonesia sebagai tamu agung dan mengadakan lawatan ke masjid tersebut yang waktu itu namanya masih Masjid Agung Kebayoran Baru. Selama ini. misalnya. Thâ Hâ dan semacamnya. sebab tafsir itu—sebelum dimuat di majalah—digelar di dalam masjid agung Al-Azhar. dua tafsir tersebut dikenal bercorak adabi-ijtimâ`î. Yang banyak memberikan arti bagi huruf-huruf itu adalah sahabat-mufasir yang terkenal yakni ‘Abdullah bin ‘Abbas. Demikian halnya huruf-huruf pembuka surat lainnya. sehingga yang dapat memahaminya tidak hanya semata-mata sesama ulama. segolongan ahli tafsir yang menyatakan bahwa huruf-huruf itu adalah sebagai pemberitahuan. Alif Lâm Mîm Râ. dalam makna selalu mengaitkan pembahasan tafsir dengan persoalanpersoalan riil umat Islam. baik dari segi makna atau aspek-aspek lain yang dapat memperkaya wawasan pembaca tafsirnya. pula hal itu tidak bersentuhan langsung dengan tujuan pendalaman dan pengkajian AlQur’an.sehingga telah membawa Al-Qur’an terlampau jauh dari pangkalan aslinya.

semua ayat yang menunjuk kepada firman-firman Allah dengan nama Al-Qur’an (bukan al-Kitab) ditunjuk dengan isyarat dekat ( Hâdzâ Al-Qur’ân). Kamu bisa mendapat jalan yang lurus. Padahal di tempat lain. asal saja kamu suka memakai pedoman kitab ini. Seperti berikut: Surat Al-Baqarah (Lembu Betina) Surat 2: 286 ayat Diturunkan di MADINAH Hemat penulis.. atau aku mundur. bertujuan memberi kesan bahwa kitab suci berada dalam kedudukan yang amat tinggi dan sangat jauh dari jangkauan makhluk. karena dia bersumber dari Allah Yang Maha Tinggi. aku mengelak ke tempat yang tidak ada durinya atau aku langkahi. al-Tahbrani dan al-Hakim. yaitu soal penggunaan isyarat jauh untuk menunjuk Al-Qur’an (Dzâlik al-Kitâb). seperti ini: “Surat yang kedua ini bernama Surat Al-Baqarah yang berarti lembu betina. karena ada kisah tentang Bani Israil (yang) disuruh oleh Nabi Musa mencari seekor lembu betina (yang) akan disembelih. yang tersebut pada ayat 67 sampai 74. (Ia) hanyalah sebagai tanda belaka dari Surat yang dinamai itu. juga Imam al-Bukhari di dalam Tarikh-nya. nomor urut surat dalam susunan mushhaf. Permohonan kita di surat al-Fatihah sekarang diperkenankan.’ Abu Hurairah menjawab: ‘Itulah dia takwa!’ (Riwayat dari Ibnu Abi ad-Dunya). Abu Hurairah ra. atau sebelum membincang soal takwa dan ciri-ciri muttaqin. Baru saja menarik nafas selesai membaca surat itu. Itu pun termasuk iman kepada yang gaib. yang diberi nikmat. di antaranya dari Imam Ahmad. tatkala membahas arti takwa dalam kerangka penafsiran ayat hudan li al-muttaqîn. Penggunaan isyarat jauh ini. yaitu orang-orang yang percaya bahwa di balik benda yang nampak ini.”[17] Kejadian serupa (menukil riwayat) juga kita dapati ketika Hamka menerangkan ciri-ciri orang yang takwa. masih kata Pak Quraish. Itu terlihat misalnya ketika ia menukil riwayat dari Abu Hurairah ra. Kaum Muslimin yang telah hidup belasan abad sepeninggal Rasulullah Saw. untuk menunjukkan betapa dekat tuntunan-tuntunannya pada fithrah manusia. dan bukan karena nama itu lebih penting dari yang lain . Hamka menulis: “Kita baru saja selesai membaca surat al-Fatihah. Di sana kita telah memohon kepada Tuhan agar ditunjuki jalan yang lurus. karena kita tidak melihat wajah beliau.”[15] Kendati kita akui ketajaman analisis Hamka. satu petunjuk bagi orang-orang yang hendak bertakwa”). bukan yang dimurkai dan tidak yang sesat. ada satu hal menarik yang ia lewatkan yang sepatutnya disitir barang sedikit sebelum lebih jauh membahas korelasi antara akhir surat al-Fatihah dengan awal ayat surat al-Baqarah. sedang penggunaan kata hadza/ini.[16] Kembali ke Tafsir Al-Azhar. langkah seperti ini dilakukan oleh semua penafsir. ada lagi hal-hal yang gaib. jangan jalan orang yang dimurkai atau orang yang sesat. dia adalah petunjuk bagi orang yang suka bertakwa. al-Baqawardi dan Ibu Qani di dalam Majma’ al-Shahabah. dapat kiranya penulis menyebut mekanisme kerja Tafsir Al-Azhar sebagai berikut: Pertama.2: “Inilah Kitab itu.[18] Mekanisme Kerja (Langkah-langkah) Tafsir Sejauh pengamatan penulis atas tafsir surat al-Baqarah. menyebut nama surat dan artinya dalam bahasa Indonesia. dan keturunanketurunan kita mendatang. Tentang hal ini Hamka menulis: “Pernah ditanyakan orang kepada sahabat Rasulullah Saw. bila kita tinjau dari sisi sumber rujukan penafsiran yang dipergunakan.. Adapun nama surat-surat Al-Qur’an bukanlah sebagai judul dari satu rencana atau nama dari satu buku yang menerangkan suatu yang khas. Tidak syak lagi. Tentang hal ini Hamka memperkuatnya dengan banyak riwayat. apa arti takwa? Beliau berkata: ‘Pernahkah engkau bertemu jalan yang banyak duri dan bagaimana tindakanmu waktu itu?’ Orang itu menjawab: ‘Apabila aku melihat duri. tidak ada sebarang keraguan padanya. Komentar dia tentang kata ini hanya sedikit saja. seperti kata Pak Quraish dalam Al-Mishbah-nya. jumlah ayat dan tempat diturunkannya surat. Hamka juga menempuh manhaj naqlî (tafsîr bi al-ma`tsûr/bi al-riwâyah). Hanya saja Hamka tidak membincang lebih panjang tentang kata Al-Baqarah yang menjadi nama surat ini. kita langsung kepada surat al-Baqarah dan kita langsung kepada ayat ini. bertambah lagi keimanan kepada yang gaib itu. jalan orang yang diberi nikmat. Mereka meriwayatkan dari Abu Jum’ah al-Anshârî.

[24] Langkah ini berbeda dengan tafsir Al-Maraghi dan Al-Manar yang memenggal satu ayat yang ada dalam satu kelompok tertentu menjadi beberapa penggalan. Hamka menafsirakan ayat 1. al-Maraghi pecah lagi menjadi tiga penggalan: dzalik al-kitab. mengelompokkan ayat-ayat dalam satu surat menjadi beberapa kelompok sesuai tuntutan sub-tema dari keseluruhan tema surat. Kelima. Hamka barangkali memandang bahwa lima ayat pertama itu memiliki kesatuan sub tema.[22] Tidak penulis temukan dasar bagi masing-masing Hamka. karena semuanya penting.[23] Terlepas dari itu. sehingga tidak ‘mengaburkan’ konsentrasi yang telah tertuju untuk membaca tafsir atas penggalan ayat yang sudah ditampilkan sebelumnya. ketimbang membaginya menjadi beberapa penggal kecil. menafsirkan ayat perayat dari satu kelompok ayat. Tafsir Al-Marâghî dan Al-Manâr misalnya. Menurut penulis. yakni kisah Bani Israil dengan seekor sapi. dan pembentukan jiwa kaum Mukminin di dalam memegang teguh agama. Setiap kelompok ayat diberi nama subtema.” [20] Kedua. kemudian ayat 2. Ketiga. lalu 3 dan begitu seterusnya hingga ayat 5. Quraish Shihab yang justru memandang nama tersebut sebagai tema pokok surat. Catatan penulis. Kelompok pertama. yang tepat pendahuluan ini diletakkan sebelum menampilkan kelompok ayat yang akan ditafsir.[25] . menjadikan kelompok pertama dari surat al-Baqarah hanya terdiri dari dua ayat saja: Alif Lâm Mîm (ayat 1) Dzâlik al-kitâb lâ raib fîh hudan li al-muttaqîn (ayat 2). peletakkan pendahuluan setelah sebelumnya menampilkan satu kelompok ayat yang memiliki kesatuan sub-tema. misalnya. diberi nama Takwa dan Iman. Kelompok pertama dari surat al-Baqarah terdiri dari lima ayat pertama (dari Alif Lâm Mîm sampai wa ulâ`ika hum al-muflihûn). Jadi. lebih tepat dan efektif bagi para pembaca Indonesia. Sebab pendahuluan ini isinya berupa gambaran umum dan inti sari tentang seluruh surat al-Baqarah. langkah Hamka yang menafsir satu ayat sekaligus. lâ raiba fîh.yang diuraikan di dalamnya. hudan li al-muttaqin. Misalnya. pembinaan masyarakat Muslim oleh Nabi Saw. al-Maraghi. dan tidak memenggalnya menjadi beberapa penggalan. 4 dan 5 (baca: ayat 3. Quraish menulis. memberikan butiran-butiran hikmah atas satu persoalan yang dianggapnya krusial dalam bentuk pointers. kelompok pertama dari surat alBaqarah terdiri atas lima ayat (1-5). Ini berbeda dengan. pendahuluan tersebut berisikan antara lain arti nama surat. pengelompokkan semacam itu pun bisa dibilang sebagai salah satu langkah para mufasir.. Perbedaan antara mereka hanya terletak pada penentuan jumlah ayat yang berada dalam satu kelompok tertentu.[21] Sementara itu Pak Quraish baru melakukan pengelompokkan pada ayat 3. Yang jelas bahwa penentuan itu terkait dengan penilaian masing-masing tentang kesatuan sub tema antara ayat-ayat yang tergabung dalam satu kelompok tertentu. 4 dan 5 menjadi satu kelompok). Keempat. Dalam operasional tafsirnya. Sementara al-Maraghi dan Ridha melihat bahwa sub tema pertama surat al-Baqarah hanya diwakili oleh dua ayat saja (ayat 1 dan 2). penulis nilai. Tidak menafsirkan satu kelompok secara sekaligus. serta beberapa karakteristik ayat dalam surat al-Baqarah yang tergolong sebagai surat Madaniyah dibanding ayat-ayat lain yang tergolong dalam kelompok surat-surat Makiyah. sebagai misal. Rasyid Ridha dan Quraish Shihab dalam menentukan jumlah ayat dalam satu kelompok tertentu tersebut. bukan gambaran umum tentang kelompok ayat yang akan ditafsir. “Surah ini dinamai al-Baqarah karena tema pokok-nya adalah inti ayat-ayat yang menguraikan kisah al-Baqarah.”[19] Di sini kita melihat bahwa Hamka tidak menjadikan nama Al-Baqarah sebagai tema sentral keseluruhan surat Al-Baqrah. Pula langkah Hamka. dan demikian seterusnya. tiga front masyarakat yang dihadapi Rasulullah di Madinah. karena mereka dapat membaca dan menangkap kandungan ayat tersebut secara lengkap dalam waktu yang relatif singkat. Sebagai sampel dapat dilihat ketika Hamka menunjuk lima hikmah dari iman kepada hari akhirat tatkala menafsirkan penggalan kedua ayat 4 surat al-Baqarah ( wa bi al-âkhirati hum yûqinûn). Yang menentukan nama-nama ini adalah Rasulullah Saw. Hemat penulis. Ayat kedua (dzâlik al-kitâb lâ raiba fîh hudan li al-muttaqîn) misalanya. kurang proporsional. memberi pendahuluan sebelum betul-betul masuk pada penafsiran atas ayat-ayat yang sudah dipenggal dalam satu kelompok ayat. Demikian juga Rasyid Ridha dalam Al-Manâr. sedang ayat 1 dan 2 ditafsirkan secara terpisah. lebih menjaga kesinambungan isi-isi yang terdapat dalam satu ayat tertentu. sendiri dengan petunjuk Jibril as.

zat yang menciptakan sekalian alam. Bagi mereka koran pembungkus gula sama dengan Al-Qur’an. Orang yang seperti ini niscaya tidak akan dapat mengambil petunjuk dari Al-Qur’an. Sunan. Sebagai berikut: 1. kemudian itu percaya akan adanya hari kemudian. yaitu kehidupan kekal yang sesudah dibangkitkan dari maut. Tempat baru itu adalah surga bagi mereka yang berat amal baiknya. Kepercayaan kepada hari akhir meyakinkan kita bahwa apapun peraturan atau susunan yang berlaku di alam dunia ini tidaklah kekal. semuanya berputar. Bukan tanggung jawab kepada manusia. dan neraka bagi mereka yang berat amal jahatnya. dan dengan sendirinya mereka tidak percaya akan ada lagi hidup akhirat itu. Semua ini penulis nilai sebagai upaya “membumikan Al-Qur’an”. tidak nampak oleh mata. 3. Berikut kutipanya: “Inilah tiga tanda pada taraf yang pertama: Percaya kepada yang gaib. Terlepas dari itu. Buktinya. Semua itu akan diperhitungkan dengan adil. dan manusia dipanggil buat hidup kembali di alam yang baru dan akan ditentukan tempatnya sesudah penyaringan dan perhitungan amal di dunia. Perbincangan tentang sanad hadis bagi umumnya orang Indonesia bisa dibilang sudah tak lagi urgen. [26] Keenam. Harta yang melimpah. Setelah hancur alam ini. serta dilengkapi dengan pendekatan sosio-kultural keindonesiaan. Artinya tidak setiap akhir penafsiran atas satu ayat mesti diakhiri dengan pemberian buturan-butiran hikmah dalam bentuk pointers. dari ayat 1 hingga ayat 3 dari surat al-Baqarah tidak kita temukan bentuk pounters semacam itu. Maka yang pertama sekali adalah percaya kepada Allah. Kita sudah sama tahu bahwa manusia itu dua juga coraknya. Pada ayat 5 juga tidak ada.Dalam pengamatan penulis. atau roh. Barangkali kutipan dari tafsir Hamka atas ayat 3 surat al-Baqarah sedikitnya dapat memperkuat apa yang penulis nyatakan dalam poin ketujuh di atas. Langkah seperti ini nampaknya sengaja ditempuh Hamka untuk menjadikan tafsirnya lebih praktis dan efektif bagi pembaca Indonesia yang umumnya awam tentang ilmu hadis dan “kurang peduli” dengan validitas sanad sebuah hadis. menyuguhkan tafsir dalam kemasan bahasa yang mudah dipahami dengan sentuhan logika yang tidak sulit dicerna. Ini menandakan bahwa langkah itu sifatnya situasional. kegagahan dan pencapaian duniawi bukan ukuran kebahagiaan. Iman yang berarti percaya. bagi mereka yang ingin mengetahui untaian rawi bagi hadis yang dikutip Hamka secara lengkap harus merujuk langsung kepada kitab hadis yang disebut oleh Hamka.[27] Dalam pengamatan penulis. mereka tidak percaya. yaitu pengakuan hati yang terbukti dengan perbuatan yang diucapkan oleh lidah menjadi keyakinan hidup. Hal ini sepenuhnya terpulang kepada tuntutan tema ayat yang sedang ditafsir. seperti Imam al-Bukhârî. Baru pada ayat 4 kita temukan. 5. Maka iman akan yang gaib itulah tanda pertama atau syarat pertama dari takwa. dan yang kekal hanyalah peraturan kekal dari Allah. di hari kiamat. 2. Mu’jam dan sebagainya. Tetapi dia dapat dirasa adanya oleh akal. riwayat hadis yang dikutip Hamka tidak menampilkan semua untaian rawi yang ada dalam sanad hadis. Mereka tidak percaya ada Tuhan. semuanya bergantian. 4. Muslim dan lainnya. Jadi. Seperti itu barangkali pertimbangan Hamka. memperkuat penjelasan dengan ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang sepadan kandungannya dengan ayat yang sedang ditafsirkan. Yang gaib adalah yang tidak dapat disaksikan oleh pancaindera. dan tidak mengakui bahwa ada pula di balik kenyataan ini sesuatu yang lain. seperti Jâmi’ Shahîh. Kepercayaan kepada hari akhirat memberikan satu pandangan khas tentang menilai bahagia atau celakanya manusia. ada baiknya kita tuangkan di sini lima butir yang disebut Hamka sebagai hikmah dari beriman kepada hari akhir itu. sebab mereka berpikiran bahwa persolaan tentang sanad telah usai dengan telah dibukukannya hadis ke dalam berbagai bentuk kitab hadis. atau Malaikat. Jadi yang penting matan-nya. tapi hanya menampilkan râwî a’lâ (rawi pada level shahabat) saja dan penulis kitab hadis tersebut. Malahan terhadap adanya nyawapun. tetapi kepada Tuhan yang selalu mengawasi kita. tidak terdengar oleh telinga. Apa yang kita kerjakan di dunia ini adalah dengan tanggung jwab yang penuh. Kejayaan yang hakiki adalah pada nilai iman dan takwa di sisi Allah. langkah seperti ini tidaklah baku. bukan sanad. Ketujuh. yaitu dua indera yang utama dari kelima (panca) indera kita. Tuhan akan menciptakan alam yang lain. . pertama orang yang hanya percaya kepada benda yang nyata.

”[31] . Dari sudut pandang mazhab yang dianut dapat kita sebut tafsir Al-Azhar bercorak Salafi. 3. Bila dalam sub Haluan Tafsir sudah disitir beberapa karakter yang dapat diasumsikan sebagai corak tafsir Al-Azhar secara umum dan teoritis. karena kita tidak melihat wajah beliau.Kedua ialah orang-orang yang percaya bahwa di balik benda yang nampak ini. di negara yang penduduk Muslimnya lebih besar jumlahnya dari penduduk lain. nama Tafsir dan penulisnya. nomor halaman. artinya menyerah dengan tidak banyak tanya lagi. Corak Tafsir Sub ini terkait erat dengan sub sebelumnya yaitu Haluan Tafsir. Harap penulis. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan (dijanjikan) Hamka dalam Haluan Tafsir-nya ketika menulis: “Tafsir Al-Azhar ini ditulis dalam suasana baru. Al-Qâsimî. Hal demikian menjadikan pembacaan tafsir tidak tuntas dan menyeluruh. hal itu ditempuh karena ia ingin membawa pembacanya untuk meneliti tafsir ayat demi ayat secara teliti dan tuntas. melainkan meninjau mana yang lebih dekat kepada kebenaran untuk diikuti. bertambah mendalamlah kepercayaan mereka kepada yang gaib itu. Besar dugaan. Hamka sendiri dalam Haluan Tafsir-nya mengakui bahwa Al-Manâr. Dalam arti penulisnya menganut mazhab Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau serta ulama yang mengikuti jejak beliau. Hamka tidak mengawali tafsirnya atas beberapa ayat yang sudah ia penggal ke dalam satu kelompok dengan makna global (al-ma’nâ al-jumalî) seperti yang kerap dilakukan oleh Tafsîr Al-Maraghi. seraya menghindari perselisihan paham dan takwil-takwil jauh yang tidak perlu. salah satu karya tafsir yang dikaguminya. seorang mufasir berkaliber tinggi pun hampir bisa dipastikan tidak dapat menghidar dari menukil dan merujuk karya atau pendapat orang lain. Kuat dugaan. kebesaran dan nilai Tafsir Al-Azhar tidak berkurang barang sedikit pun. semata-mata taslim. menguraikan makna dan lafaz bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan memberi kesempatan orang buat berfikir. tidak efektif bagi pembaca tafsir Indonesia yang diharapkan mendapatkan pencerahan Qur’ani.”[28] Hingga di sini penulis mencatat beberapa hal. Dalam hal akidah dan ibadah. Hanya menuangkan hal-hal yang benar-benar diinginkan oleh para pembaca tafsir. Bertambah banyak pengalaman dalam arena penghidupan. Kiranya lebih dari satu corak yang dapat kita tunjuk buat tafsir Al-Azhar. yaitu mazhab Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau dan ulama-ulama yang mengikuti jejak beliau. paling tidak. dan tidaklah penulisnya ta’ashshub kepada suatu faham. Meskipun penyimpangan yang jauh itu bukanlah atas suatu sengaja yang buruk dari yang mengeluarkan pendapat itu. ada lagi hal-hal yang gaib. antara lain: 1. pada sub ini sitiran tersebut akan dibuktikan secara nyata dan praktis dengan mengemukakan contohcontoh nyata dari penafsiran langsung atas ayat. bertambah lagi keimanan kepada yang gaib itu. Tetapi tidaklah semata-mata taklid kepada pendapat manusia. Sebab bisa saja kalau didahului oleh tafsir global. Menghindari persoalan nahw dan sharf. Kita kaum Muslimin yang telah hidup empat belas abad sesudah wafatnya Rasulullah Saw. tergantung dari sudut mana kita meninjau. maka pertikaian-pertikaian mazhab tidaklah dibawakan dalam tafsir ini. dan meninggalkan mana yang jauh menyimpang. di antara pembaca ada yang mencukupkan dengan tafsiran singkat tersebut. Tidak menyebutkan sumber rujukan tafsir. Pikir penulis. jilid dan lainnya secara detail. Jika persoalan semacam itu ditampilkan. haus hendak mengetahui rahasia Al-Qur’an. Ini seperti ia akui dalam Haluan Tafsir-nya: “Mazhab yang dianut oleh Penafsir ini adalah Mazhab Salaf. Hamka tidak mengawali tafsirnya dengan memberikan penjelasan arti kata-kata tertentu dalam ayat (syarh al-mufradât). bukan wawasan kebahasaan. dan keturunanketurunan kita yang akan datang di belakang pun insya Allah. hasilnya malah akan kontra-prorduktif.”[29] 5. melainkan mencoba sedaya upaya mendekati maksud ayat. hal ini sengaja ditempuh karena masyarakat pembaca tafsirnya (orang Indonesia) tidak membutuhkan kajian kebahasaan seperti itu yang sifatnya suplemen atau pelengkap sekunder semata.[30] Namun demikian. ketika ia merujuk suatu pendapat dari tafsir lain ia menyebut. sedang mereka haus akan bimbingan agama. Ini dapat dimaklumi sebab konsumen tafsirnya adalah masyarakat Indonesia yang umumnya awam dengan persoalan semacam itu. 4. dan Fî Zhilâl Al-Qur’ân adalah karya-karya tafsir yang banyak memberikan “masukan” baginya dalam menulis Tafsir Al-Azhar. tidak harus menyebut tempat. 2. Al-Marâghî.

sejarah dan lainnya lalu menyesuaikannya dengan perkembangan politik dan kemasyarakatan yang sesuai dengan zaman di waktu tafsir itu ditulis. kasih. kesan. Kesimpulan untuk mengatakan kebudayaan Islam adalah kebudayaan takwa ini diambil dari kesepakatan Konferensi Kebudayaan Islam di Jakarta yang diselenggarakan pada akhir Desember 1962. Bersatu di dalam shaf yang teratur. Tafsir ini menurutnya sebuah tafsir yang sanggup menguraikan ilmu-ilmu keagamaan sebangsa hadis. sedekah. Dikatakan demikian karena tafsir ijtimâ`î adalah tafsir yang banyak mengedepankan fenomena-fenomena sosial-kemasyarakatan dalam upayanya me-landing-kan pesan. dipadukan oleh jamaah subuh. ridha. Orang yang Mukmin apabila dia ada kemampuan. Insinyur. hampir dapat dipastikan akan membawa pada kesimpulan lain tentang corak tafsir tersebut. Orang Mukmin tidak mungkin hidup nafsi-nafsi dalam dunia. tuntutan dan tuntunan AlQur’an. sebab hatinya dihadapkannya kepada Allah yang diimaninya. Apatah lagi kalau sudah dibawa pula kepada arti rahasia-rahasia huruf.Contoh nyata untuk menunjukan ke-salaf-an tafsir Al-Azhar adalah ketika membahas huruf-huruf pembuka suatu surat (fawâtih al-suwar). karena imannya sangatlah dia percaya bahwa dia hanya saluran saja dari Tuhan untuk membantu hamba Allah yang lemah. dan kepercayaan kepada yang gaib dibuktikan dengan sembahyang. Hamka menulis: “…mendalami Al-Qur’an tidaklah bergantung daripada mencari-cari arti dari huruf-huruf itu. imannya telah dibuktikannya pula kepada masyarakat. Hamka mengemukakan ketertarikan hatinya terhadap beberapa karya tafsir. Maka dapatlah diasumsikan bahwa sedikit banyak tafsir Al-Azhar mewarisi corak tersebut. pengakuan iman perlu pembuktian dalam tataran sosial-praktis. importir dan exportir kawakan di samping saudagar perantara. Tafsir Al-Azhar—seperti diakui mufasirnya dalam Haluan Tafsir—memanglah dirancang seperti itu. Dan ada juga pelayan-pelayan dan tukang tukang pemelihara kebun dan pegawai negeri. Menurutnya.”[32] Dalam sub Haluan Tafsir. Selanjutnya mufasir menegaskan bahwa dalam takwa terkandung cinta. membantu dan menolong. Dokter dan Profesor. suka menolong sesama dan amal-amal sosial lainnya. itu nampak dalam pernyataan mufasir berikut: “Ketika menyusun (tafsir) ini terbayanglah oleh penafsirnya corak ragam dari murid-murid dan anggota jamaah yang ma’mum di belakangnya sebagai imam. Sebab hal itu dinilainya lebih selamat. ketika sang mufasir membahas soal takwa ia katakan bahwa kebudayaan Islam adalah kebudayaan takwa. tawakal. fikih. kasih-mengasihi dan harga menghargai. berderma. sabar dan lainnya. Tafsir yang demikian dinilai oleh para ahli sebagai tafsir bercorak adabi-ijtima’î (sosial-kemasyarakatan). Upaya demikian tak lepas dari tujuan sang mufasir untuk menjadikan Al-Qur’an benar-benar sebagai sumber petunjuk dan pedoman hidup setiap Muslim dalam memerankan fungsi khilafahnya di muka bumi ini. di antaranya tafsir Al-Manar. Dan ada pula saudagar-sudagar besar. kapten. Maka dengan kesukaan memberi. Paling kurang. “Di tingkat pertama percaya kepada yang gaib. Orang Mukmin tidak mungkin menjadi budak dari benda. dengan khusyu’ kepada Ilahi. Ada sarjana-sarjana yang bertitel SH. menghadapkan muka bersama. Ada mahasiswa-mahasiswa yang tengah tekun berstudi dan terdidik dalam keluarga Islam. mayor dan para bawahan.”[35] . sehingga ia lebih mencintai benda pemberian Allah itu daripada sesamanya manusia. yaitu bahwa tafsir itu juga bercorak hida`î. Ada pula perwira-perwira tinggi yang berpangkat jenderal dan laksamana dan ada juga anak buah mereka yang masih berpangkat letnan. harap. pula tidak bersentuhan langsung dengan tujuan pendalaman dan pengkajian Al-Qur’an. Sekadar sampel. Dalam hal ini mufasir Al-Azhar memilih menyerahkan pengertiannya semata kepada Allah. Semuanya bersatu membentuk masyarakat yang beriman. bersedekah. agen automobil dengan relasinya yang luas. Takwa lebih mengumpul akan banyak hal. di samping isteri mereka masing-masing. angka-angka dan tahun…sehingga telah membawa Al-Qur’an terlampau jauh dari pangkalan aslinya. Contoh konkret untuk corak ini adalah ketika mufasir Al-Azhar membincang wacana iman. Bahkan dalam takwa. terdapat juga berani![34] Menandai sebuah karya tafsir sebagai bercorak ijtimâ`î. misalnya dengan memperbanyak derma. lanjutnya. cemas.”[33] Warna ijtimâ`î tafsir Al-Azhar juga dapat kita lihat ketika mufasirnya menjadikan pengalaman pribadi dalam bermasyarakat sebagai anasir pelengkap tafsirnya. Yaitu bagaimana tafsir ini dapat menjadi obor penerang bagi sebanyak mungkin masyarakat Muslim dengan berbagai latar belakang pendidikan. jenis profesi dan beragam status sosial lainnya.

Dr. h. h. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve cet. Kajian Al-Qur’an di Indonesia). cet. Federspiel. Ia juga menghindar dari kajian kebahasaan. Beirut: Dâr al-Masyriq. Al-Mujid fî al-Lughah wa al-A’lâm. [2]Ibid. 55). Beirut: Dâr al-Ma’rifah li al-Thibâ’ah wa al-Nasyr. tt. [12]Ibid. juz I. juz` I. I 1990. untuk menilai plus-minus yang terkandung dalam tafsir tersebut. h. [9]“Haluan Tafsir”. Al-Marâghî. Muhammad Rasyîd. [8]Ibid. I. 1990. h. vol. [4]Ibid. 41. I. [11]Tafsir Al-Azhar.. Dr. [6]Ibid. I. IV. Tajul Arifin. h. I. juz` I. 1996. Prof. II h. Federspiel. Al-Maraghi berpendapat seperti itu. IV. II. Ma’lûf. Shihab. cet. Dan yang lebih penting tentu bukan sekadar memuji. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve. h. 3-4. tetapi juga banyak mengecam praktek ziarah kubur. vol. Ia tidak terpancing memunculkan perselisihan pendapat (fikih dan teologi) yang memang tidak menyuntuh inti tafsir. Penulis hanya mengatakan bahwa apa pun kesan Anda tentang tafsir Al-Azhar. 121-122. I 1982. Howard M. Prof Dr Hamka. Popular Indonesian Literature of the Al-Qur’an (terj. . Op Cit. tt. dan adat kebiasaan lain dalam masyarakat Indonesia (lihat Ensiklopedi Tematis Dunia Islam [ed. Ensikopedi Indonesia. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve cet. cet. Dr. Tafsir AlAzhar termasuk tafsir yang mewakili tafsir-tafsir generasi ketiga. 137). cet. Tafsir-tafsir generasi ini bertujuan untuk memahami kandungan Al-Qur’an secara komprehensif dan. tidak keliru rupanya jika kita katakan bahwa Tafsir Al-Azhar bercorak hida`î. Popular Indonesian Literature of the Al-Qur’an [terj. Kajian-kajian semacam itu memang dalam banyak hal sering cukup ‘mengaburkan’ tujuan semula pembaca tafsir —terlebih jika ia orang non-Arab—yaitu mencari butiran-butiran hikmah dan hidayah Al-Qur’an. 1969. cet. XXXVII. Mukaddimah Tafsir Al-Azhar. 40.Hingga titik ini. 1217. 42. Mufasirnya. M. I. Dalam penelitian Howard M. Kajian Al-Qur'an di Indonesia]. IV. Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas. I. tapi mengelaborasikan pesan-pesan Qur’ani yang disampaikannya dalam tata kehidupan keseharian kita sebagai Muslim yang mengaku diri menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. vol. ia harus diakui sebagai “maha karya” Hamka yang patut dipuji. vol. Ridhâ. MA. Menurutnya. Penulis makalah ini menyerahkan sepenuhnya kepada Anda. qira’at dan tetek bengek non-tafsir lainnya. telah membuktikan betapa seorang Muslim non-Arab pun mampu menghasilkan sebuah karya tafsir yang cukup membanggakan. Taufik Abdullah]. Tafsîr Al-Manâr. Ahmad Mushtafâ. Tafsir Al-Azhar. 1218 [3]Lihat “Kata Pengantar Penulis” dalam Tafsir Al-Azhar. cet. Taufik Abdullah]. vol. Bandung: Mizan. Quraish. kerja kolektif pun akan sangat berarti dan cukup menggembirakan. cet. Jakarta: Lentera Hati. MA. Alif Lâm Mîm dan huruf-huruf pembuka surat lainnya merupakan huruf-huruf li al-tanbih (pemberitahuan atau panggilan) sama seperti Alâ dan Yâ. h. kekaguman terhadap Hamka dan tafsirnya tentu harus menjadi pemicu untuk menghasilkan karya serupa. Wallâhu A’lam…? Bahan Bacaan Ensiklopedi Tematis Dunia Islam [ed. Hamka tidak sekadar menjelaskan ayat. Penutup Tafsir Al-Azhar adalah salah satu tafsir buah tangan salah satu putra terbaik bumi pertiwi. 1996. 122. I. II. h. Bagi para pengkaji tafsir. Di berbagai penafsiran ayatnya menyangkut ajaran keesaan Tuhan (Tauhid). [5]Lihat “Haluan Tafsir” dalam Mukaddimah Tafsir Al-Azhar. Kalaupun tidak sanggup secara sendiri-sendiri. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve. vol. pembaca tafsir Al-Azhar. [1]Ensikopedi Indonesia. Tajul Arifin. cet. sekurangnya bagi kaum cerdik-cendekia Muslim Indonesia. h. Tafsir-tafsir ini menekankan ajaran-ajaran Al-Qur’an dan konteksnya dalam bidang keislaman (lihat Howard M.. 1. Hamka. Bandung: Mizan. cet. Tafsîr al-Marâghî. kepercayaan kepada keris. 42. [7]Lihat Ibid. Kairo: Syirkah wa Mathba’ah Mushtafâ al-Bâbî alHalabî. I 2000. 48. [10]Mukaddimah Tafsir Al-Azhar. h. I. Ke-hida`î-an Al-Azhar juga nampak pada tipe paparan tafsir yang disuguhkan. h. Federspiel. Louis. cet. I 1982. oleh karena itu berisi materi tentang teks dan metodologi dalam menganalisis tafsir. Tafsir al-Mishbâh. Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas. h. vol.

h. 81-82). Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbâh. h. [19]Tafsir Al-Azhar. 117. II. 41-42. [34]Ibid. [29]Lihat “Haluan Tafsir” dalam Mukaddimah Tafsir Al-Azhar. 1969. h. . meski sepakat dengan Muhammad ‘Abduh yang menyerahkan makna dan rahasia di balik huruf-huruf itu kepada Allah. IV. h. 85. I h. [13]Tafsir Al-Azhar.Di sini tujuannya untuk membangkitkan perhatian mukhâthâb kepada Al-Qur’an. tt. vol. h. 124-125. h. Beirut: Dâr al-Ma’rifah. [17]Tafsir Al-Azhar. [27]Lihat misalnya Ibid. h. masih merupakan jawaban yang relevan hingga kini. [20]M. h. 122). Quraish Shihab. Maka Allah memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi. h. Rasyid Ridha. ia menuangkan juga pendapat mufasir-mufasir lain yang mencoba menguak rahasia di balik huruf-huruf itu (lihat Tafsir al-Manâr. h. Op Cit. bolehlah disebut sebagai pendekatan. 39). 129. 123-125. Murtadha Muthahhari atau Sayyid Quthub. [35]Lihat “Haluan Tafsir” dalam Tafsir Al-Azhar. sehingga mereka tidak memperoleh kepastian. [32]Tafsir Al-Azhar. I 2000. [18]Ibid. cet. 81. Tapi penulis sendiri lebih suka menamainya sebagai manhaj. Al-Syarâ’wî. 84). [23]Untuk lebih jelasnya lihat Ibid. Bandingkan misalnya dengan Tafsir Al-Mishbah yang secara tepat meletakkan pendahuluan sebelum betul-betul menampilkan ayat-ayat dalam surat yang akan ditafsir (lihat Tafsir Al-Mishbâh. meminta beliau berdoa agar Allah menunjukkan siapa pembunuhnya. Ia menulis: “Tampaknya jawaban: ‘Allah A’lam. h. vol. [26]Lihat Ibid. h. Kelanjutan keterangan Quraish di atas adalah: “Ada seseorang yang terbunuh dan tidak diketahui siapa pembunuhnya. 117. 41. kendati tidak memuaskan nalar manusia (lihat M. h. Quraish Shihab. 39. Kairo: Syirkah wa Mathba’ah Mushtafâ al-Bâbî al-Halabî. al-Biqâ`î. Tafsir Al-Mishbâh. I. 123. [21]Lihat Tafsir al-Manâr. h. 127. [25]Lihat Ibid. Dari sini dimulai kisah l-Baqarah. Quraish Shihab. yakni Allah lebih mengetahui. [31]Lihat “Haluan Tafsir” dalam Mukaddimah Tafsir Al-Azhar. [22]Lihat Tafsir Al-Mishbah. 1969. 81-82). [15]Tafsir Al-Azhar. I. h. Loc Cit. vol. mereka menyembelihnya— setelah dialog tentang sapi berkepanjangan—dan dengan memukulkan bagian sapi itu kepada mayat yang terbunuh. I h. cet. Op Cit. maka atas kudrat Allah korban hidup kembali dan menyampaikan siapa pembunuhnya” (lihat Ibid. [30]Bandingkan misalnya dengan tafsir Al-Manâr dan Al-Marâghî yang kerap kali menyebut “Qâla alUstâdz al-Imâm” untuk menunjukkan bahwa mereka menukil pendapat Syaikh Muhammad ‘Abduh. atau tafsir Al-Mishbâh yang acap kali menyebut nama seperti al-Thabâthabâ`î. Kairo: Mathba’ah al-Bâbî al-Halabî. h. h. I h. vol. Tafsir al-Mishbah. vol. h. cet. 122 dan Tafsîr al-Marâghî. 40-41. 128. Jakarta: Lentera Hati. h. 122. menunjukkan kemukjizatannya dan menampakkan hujjah-nya atas Ahli Kitab serta lainnya yang terkandung dalam surat al-Baqarah (lihat Tafsîr al-Marâghî. 83-88. IV. 122. M. juz` I. h. Akhir dari kisah itu adalah. [24]Lihat Tafsir Al-Azhar. [14]Pakar tafsir Indonesia pasca Hamka. tt. Menghadapi hal tersebut mereka menoleh kepada Nabi Musa as. h. Beirut: Dâr al-Ma’rifah. h. 124. [28]Lihat Ibid. cet. juga mengambil sikap seperti itu. Jika pun pengambilan riwayat seperti itu tidak terkategorikan sebagai manhaj. h. II. [33]Ibid. 120-128. 123. cet. Masyarakat Bani Israil saling mencurigai bahkan tuduh-menuduh tentang pelaku pembunuhan tanpa ada bukti. [16]M.

Kabarnya ada bantuan dari Ulama Yogyakarta. melainkan hasil penyelidikan pengarang sejak berumur 29 tahu sampai sekarang berumur 73 tahun.Tafsir Al-Qur'an Al-Karim Mahmud Yunus DIposting Oleh Administrator | 9:28 PM | a. Pada tahun 1953 seorang Ulama dari Jatinegara membantah pula. Bakry. Kemudian setelah habis cetakan itu. supaya di stop mencetak Tafsir Quran Karim itu. kalau tidak di terjemahkan kedalam bahasanya? Dengan berbagai ilimu yang telah diserap oleh akal pikirannya. bahwa menterjemahkan al-Quran itu hukumnya mubah. untuk menyampaikan dakwah islamiyah kepada bangsa asing yagn tidak mengetahui bahasa arab. Makalah Ilmu Tafsir | 0 comments » A.000 aksemplar. Dalam tafisir in yang paling dipentingkan ialah menerangakan dan menjelaskan petunujuk-petunjuk yang termaktub dalam al-Quran untuk diamalkan kaum Muslimin khususnyadan seluruh umat manusia pada umumnya sebgai petunjuk universal. lalu Mahmud yunus balas suratnyaitu dengan lebar panjang.000 aksemplar dan dijualnya dengan harga Rp. Lalu ia dicetak dan di terbitkan sebanyak 200. yang empunya percetakan tidak mau meneruskan mencetak tafsir Quran karim itu. Salinannya disampaikan kepada Mahmud Yunus oleh Menteri Agama. bukanlah tejemahan dari kitab bahasa arab.M. karena beliau lebih memilih untuk melanjutkan ilmu pengetahuannya di Mesir (Th 1924) di berbgai tempat hingga akhirnya di Darul Ulum. Beliau menerima pelajaran dari Syeokh Darul Ulum. Boleh jadi karena bantahan itu karena sebab-sebab yang lain. Akhirnya beliau tidak berkituk lagi. Kemudian beliau berhenti menterjemahkan al-Quran. Bagaimanakah menyampaikan kitabullah kepada mereka. Lalu di tunjuk percetakan bangsa Indonesia untuk mencetaknya. Tembusannya M. Pada bulan April 1938 tamatlah 30 juz dengan pertolongan Alah awt. bantahan itu dikirinya kepada Presiden RI dan Menteri Agama. bantahan dari Ulama islam tersebut tidak beliau perdulikan dan beliaupun tetap menterjemahkan al-Quran al-Karim tersebut. Karena petunujuk itulah tujuan utama kitab suci al-Quran seperti diterangkan Allah dalam firman-Nya pada permulaan surat al-Baqoroh: . Mahmud yunus bersama istri Darisah binti Ibrahim meneruskan menerbitkan tafsir Quran Karim itu. Hanya ada perubahan sedikit demi sedikit. dan disiarkan di seluruh Indonesia. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1950. Pendahuluan Tafsir Al-Qur'an Al-Karim Mahmud Yunus>>> Tafsir al-Quranul karim karangan Mahmud Yunus ini awalnya di terjemahkan pada tahun 1992 kemudian di terbitkan tiga juz dengan huruf arab-malayu. Akhirnya di ambil alih oleh M. Ditegaskan bahwa tafsir in serta kesimpulan isi al-Quran. bahkan di anjurkan atau hukumnya fardu kifayah. padahal telah dimulainya mencetak beberapa halaman banyaknya. 21 per eksemplar. Dengan susah payah di terbitkan tefisr tersebut berjuz 2 tiap 2 bulan. Bantahan itu dikirim nya kepada Maeteri Agama RI tetapi saya tidak menerima bantuan. salah seorang penerbit Indonesia Tafsir al-Quranul Karim itu dengan mendapatkan fasilitas kertas dari Menteri Agama dan di cetak sebanyak 200. Baharata Direktur percetakan Al-Ma’arif Bandung. Sedang menterjemahkan juz 7 sampai dengan 18 dibantu oleh almarhum H. pada bulan Ramadlan tahun 1354 H (Desember 1935) beliau mulai kembali menterjemahkan al-Quran serta tafsir ayat-ayatnya yang penting yang kemudian beliau beri nama : Tafsir al-Quranul Karim. Sebab itu tafsir ini berlainan dengan tafsir-tafsir yang lain. Lalu mereka terbitkan beberapa kali tanpa ada perubahan yagn besar. hanya diam. Yunus kirimkan kepada Presiden RI dan Menteri Agama. Pada masa itu umumnya Ulama islam mengatakan haram untuk menterjemahkan al-Quran namun. dengan petunjuk menteri Agama Almarhum Wahid Hasyim.

Biografi Mahmud Yunus Dilahirkan di Sungkayang Batusangkar Sumetera Barat pada hari sabtu 10 Februari 1899 (30 Ramadlan 1361). Selain itu ditrgaskan pula sebab-sebab majunya satu umat dan sebab-sebab mundurnya. Muhammad Thaib di Surau Tanjung Pauh. sebab hidu dan matinya. Rektor IAIN Imam Bonjol Padang (1966-1071). tetapi hanya sampai kelas tiga saja. yang ia tulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab. sejarah. merupakan tindakan yang cukup berani. Terjemahan Tafsir al-Quran tanpa tafsir. 9. Adapun karya-karya Mahmud Yunus antara lain: 1. tauhid akidah.Artinya: “ Kitab itu (Al-Quran) tidak ada keraguan didalamnya. Mahmud Yunus pindah ke Madrasah yang diasuh oleh Syeikh H. jadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”. untuk anak-anak SD. bersama Kasim St. Pendidikan Mahmud Yunus belajar dari al-Quran dan bahasa Arab yang ia tempuh semenjak berusia tujuh tahun di Surau kakeknya M. sebab kuat dan lemahnya. tahun 1938. buyutnya dari pihak ibu adalah seorang ulama besar di Sungkayang Batu sangkar. Puasa dan Zakat untuk anak-anak SD. dalam Usia 83 Mahmud Yunus berpulang ke Rohmatullah di kediamannya. Lagu-lagu baru/Not angka-angka. sebab tegaknya dan jatuhnya. di samping itu ia juga memasuki sekolah rakyat. Syah. Haji ke Mekkah. hokum. kelurahan Kebon Kosong. Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) jkarta (1957-1980). Keimanan dan Akhlaq. Akhirnya pada 18 Januari 1983. untuk anak-anak SD. Minatnya terhadap studi al-Quran serta bahsa arab telah menimbulakan hasarta besar dalam diri Mahmud Yunus untuk menulis tafsir al-Quran yang kemudian menjadi karya monumentalnya sendiri yagn tetap populer sampai saat ini. untuk anak-anak SD. Kemampuan menjadi guru tersebut lebih menonjol manakala ia kembali dari Mesir . Kemayoran Jakarta Pusat. hadist. Dari surau kakeknya ini. Banyak karya tulis yang telah di hasilkan Mahmud Yunus dalam berbgai bidang Ilmu Agama Islam. 4 jilid. Akademi Pramong Praja di Bukit Tinggi (1948-1949). 8. perbandingan agama. 3. yakni pada al-Jami’ah al-Islamiyah Batusangkar (19311932). 4 jilid. al-Fiyah dan Jam’ul Jawami’. Penulisan tafsir ini dimulai pada November 1922 yang dilakukan secara berangsurangsur juz demi juz sampai dengan selesai juz ke-tiga puluh. Profesi sebagai guru semenjak masih menjadi pelajar di Surau Tanjung Pauh sudah ia geluti. untuk memudahkan membaca al-Quran. secara terus menerus Mahmud Yunus mengajar dan memimpin berbgai sekolah. Kuliyah Mu’alimin Islamiyah Noramal Islam Padang (1932-1946). Pandangan terpenting tentang metode mengajar adalah “Metode itu lebih penting daripada pengajaran”. Beberapa kisah pendek.Tahir. Riwayat Rasul dua puluh lima. Sehari kemudian ia dimakamkan di pemakaman IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tafsir al-Quran tamat 30 juz. 4. B. Ayahnya bernama Yunus bin Incek dan ibunya bernama Hafsoh bini M. Perlu di garis bawahi disini bahwa upaya penulisan Mahmud Yunus ketika itu. 6. . tafsir. Demikian itu dengan mengambil ‘brah dan pengajaran dari sejarah umat dahulu kala. bersama Rasyidin/Zubir Usman. Pelajaran Sholat untuk-untuk anak0anak SD.Tahir. Berkat ketekunannya dalam waktu empat tahun. IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menganugerahi Mahmud Yunus Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Tarbiyah. pada 15 Oktober 1977. Atas jasa-jasanya dibidang pendidikan ini. 5. Marilah sembahyang. 2. menjadi Dekan dan Guru Besar pada fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1960-1963). bernama Muhammad Ali gelar angku kolo. M. Karena sejarah itu tetap mengulang jejaknya. terutama pendidikan Islam di samping bidang-bidang lain seperti bahasa. disaat masih suburnya pandangan yang mengatakan bahwa haram menterjemahkan al-Quran. Mahmud Yunus telah sanggup mengajarkan kitab-kitab Mahalli. cara mengerjakan haji. 7. dan peribadatan.

Disamping itu kitab tafsir ini terdapat daftar kesimpulan isi al-Quran..I. 16.. Tafsir al-Quran ini dibelakangi juga terdapat beberapa kesimpulan isi al-Quran. bersama H. Sejarah PEndidikan Islam (umum). 35. 32. 28. 3 jilid. untuk tingkat Aliyah. Kemudian seterusnya dihalaman belakang kitab terdapat daftar isi surat-surat al-Quran beserta nomor halaman yang memudahkan pembaca dalam pencarian surat seperti surat al-A’raf……. untuk tingkat Aliyah. dlaam penyelidikan baru. Akhlaq (bahasa Indonesia). 27. 25. hokum-hukum. Setelah penaduhulan kemudian langsung kepada ayat al-Quran berupa terjemahan dan dibawahnya langsung dijelaskan tafsirnya yang diawali dengan surawt al-fatihah. 33. bersama St. Allah dan Makhluq-Nya. C. Ilmu Tauhid menurut Al-Quran. 24. Surat Al-A’la--898……dan seterusnya. Juz ke-2……29. petunjuk atau pengajaran. dan seterusnya. Fak.10. Ali.I. kemudian yang ketiganya terdapat dalam surat al-Baqoroh.…. Tarbiyah / PGAA 29. sebelum mengerjakan pekerjaan yang beik diucapkan Bismillah….. 4 Madzhab. 22. 20. 23. Perbandingan Agama. untuk Muballigh-Muballigh / umum. Pendidikan-Pendidikan Umum di Negara-negara Islam/Pendidikan Barat. 4 Madzhab. Beriman dan Berbudi Perkerti. untuk tingkat Aliyah. Metodik Khusu bahasa Arab. 18. mahasiswa/umum. 12 Hukum Warisan dalam Islam. 13. Sejarah Islam di Minangkabau. yang berhubungan dengan keimanan. Said. Ilmu Mustalahul Hadist.. Marilah ke Al-Qur’an.2-8. Pkok-pokok Pendidikan/Pengajaran. untuk tingkat tsanawiyah. untuk tingkat Aliyah. ekonomi. kuliyah untuk dakwah. Kumpulan Do’a. Soal Jawab HUkum Islam. Ilmu Jiwa kanak-kanak. Ilyas M. Tarbiyah / PGAA. dan seterusnya. kuliyah untuk kursus-kursus. Mahmud Aziz. Sistematika Tafsir Sistematika Tafsir karangan Mahmud Yunus susunannya diawali dengan pendahuluan yang di dalamnay dijabarkan tentang penulisan dan usaha yang ditempuh oleh Mahmud Yunus ketika beliau menterjemahkan dan menerbitkan al-Quran tersebut. akhlaq. untuk tingkat Aliyah. untuk anak-anak SD.3. 14. Do’a-do’a Rasulullah. 36. kita dapat membuka dan melihat pada halaman belakang yaitu Daftar Surat dan isi Tafsir alQuran Karim disini ditulis surat dan beberapa tema yang biasa di kaji beserta nomor urut halaman. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. 17. Metodik Khusus Pendidikan Agama. 31. Pelajaran Sembahyang. 21. untuk tingkat tsanawiyah/PGA bersama H. untuk tingkat Aliyah 19. Dasar-dasar Negara Islam. orang-orang yang dimurkai dan orang – orang yang sesat………2. Pengetahuan Umum Ilmu Mendidik. Moral Pembangunan dalam Alam. dan ilmu pengetahuan. Juz Amma dan terjemahnya. 26. apabila mendapatkan nikmat diucapkan Alhamdulillah………I. Pedoman Dakwah Islamiyah. untuk orang dewasa. Setelah daftar isi dan surat-surat kemudian juga terdapatdaftar isi juz-juz al-Quran yang tujuannya memudahkan pembaca dalam pencarian sebuah ayat al-Quran seperti juz ke-1…. 15. Pemimpin Pelajaran Agama. Fak. seperti orang-orang yang bertaqwadan sifat-sifatnya………. Fak. . Hukum perkawinan dalam Islam. M. Manasik haji. alBaqoroh hingga pada akhir surawt an-Naas (30 Juz)untuk dapat membuka mengetehui isi al-Quran ini dengan mudah. 37. 34. Kesimpulan isi al-Quran. untuk murid-murid SMP. 11. Tarbiyah / PGAA 30.

Yafsir dengan hadist yang shahih. d). . Metode dan Corak Tafsir Tafsir al-Quran Karim Mahmud Yunus ini menunjuk pada metode tahlili. Selain dari pada itu ada lagi tafsir Akil menurut Syi’ah dan tafsir Shufi bagi ahli Tasawwuf. Ibnu Katsir juz 1 hal 3 3. Tafsir dengan perkataan sahabat. pertama dari juz 1 sampai dengan 10 n. Sumber-sumber Tafsir al-Quran Mahmud Yunus Setelah mempelajari: 1. e). Hal ini menurut pendapat bahwa ijma’ itu hujjah. tiga jilid. Tafsir dengan perkataan tabi’in. surat demi surat. karena ayat-ayat itu tafsir-menafsirkan dan jelas-menjelaskan antara satu dengan yang lain. Fajrul Islam juz 1 hal 199 5. b). Tafsir at-Thabaryjuz 1 hal 42 2. Zhurul Islam juz 2 hal 40-43 dan juz 3 hal 37 Dapatlah diambil kesimpulan bahwa sumber-sumber tafsir itu tujuh: a). karena berhubung tafsir al-Quran in berubah halamanny adari cetakan yang lama ke percetakan yang beru dan karangan ini. Maka secara sitematika penafsiran tafsir ini menempuh tartib Mushaf. ini tidak dapat di muat diawal kitab. g). Kitab ini terdiri dari dua jilid yaitu pertama satu jilid tamat dari juz 1 sampai dengan 30. Tafsir dengan Ijtihad bagi Mujtahid. F. bukan menurut pendapat dan pikirannya. jilid ketiga dari juz 21 sampai dengan 30. jilid kedua dari juz 11 sampai dengan 20. Tafsir dengan umum bahasa arab bagi Ahli Ilmu Lughah. kedua . Tafsir al-Quran in sistematika penafsirannya sama seperti isi al-Quran dan terjamahan disamping kanan ayat (setiap ayat) kemudian terjemahannya dibawahnya terdapat penafsiran. Sekali-kali tidak boleh dengan hadist yagn Maudlu’ dan Dlo’if. c). tapi khusus dengan menerangakan sebab-sebab turunnya sayat. Tafsir dengan tafsir Aqli bagi Mu’tazilah.D. suatu metode tafsir yagn bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Quran dan seluruh aspeknya. E. bila mereka ijma’ atas semua tafsir. dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Naas. Sistematika Penafsiran Dalam tafsir Mahmud Yunus ini telah dijelaskan sebelumnhy bahwa didalamnya dibelakangi kitab terdapat kesimpulan isi al-Quran. Sistematika penafsiran Mahmud Yunus menafsirkan seluruh ayat sesuai susunannya dalam mushaf al-Quran ayat demi ayat. Al-Qasimy juz 1 hal 7 4. seperti hadist Bukahri dan Muslim. f). tafsir al-Quran dengan al-Quran.

niscaya akan terbuka juga bagi kita rahasiarahasianya yang lain. ekonomi dan ilmu pengetahuan. bahkan dijelaskan secara terperinci dengan memperlihatkan penggunaan istilah itu pada ayat-ayat yang lain. Sebenarnya kaum Muslimin memuliakan dan menjunjung tinggi al-Qran . Oleh sebab itu hendaknya tiap-tiap kita bersungguh-sungguh mengikutinya sekedar tenaga. ? Keterangan-keterangan ayat ditambah dan diperluas. tetapi janganlah kita sangka. Dengan demikian mudah mengetahui nomornomor ayat al-Quran dalam teks bahasa arab dan terjemahanny adalam bahasa Indonesia. ? Teks al-Quran terjemahannya disusun sejajar dan setentang. bahwa mutiara yang ada dalam al-Quran itu telah habis. sedangakan lafadz yang lain dijelaskan arti kosa katanya. suatu lafadz dijelaskan arti kosakatakatanya. supaya bersama-sama ke jurusan itu. bahkan masih banyak lagi yang tersembunyi di sana sini. Bahkan mahasiswa-mahasiswa dapat memperluas bahasa arabnya. Jika selalu kita membaca al-Quran dan memperhatikan isinya.dalam tafsir Mahmud Yunus. Maka bagitulah juga dalam mengeluarkan hukum-hukum dan ilmu pengetahuan dari dalam Quran itu. setengahnya berupa masalah-masalah ilmiyah yang harus dipelajari oleh mahasiswa-mahasiswa. tapi jika mereka ditanya apa isi quran itu? Mereka tidak bias menjawab apa-apa. diterangkan dengan ijmal (kesimpulan) saja. sesuai dengan perkembangan bahasa Indonesia. ? Keterangan-keterangan ayat ditaruh dan diletakkan didalam ayat yang bersangkutan. sekurang-kurangnya hendanyalah dibacanya” kesimpulan isi al-Quran” ini. seperti cetakan yang lama. H. Saudara-saudara yang tidak sanggup membaca al-Quran dari awal sampai tamat. Kesimpulan Tafsir al-Quran Mahmud Yunus ini mudah untuk dipelajari dan dipahami kaerna di dalamnya sudah kategori-kategori membuka kitab tafsir tersebut dan didalamnya juga terdapat beberapa kesimpulan yang memudahkan kita untuk mengetahui isi kandungan tafsir tersebut secara garis besar kesimpulan isi al-Quran. Tetapi apabila ia mempunyai perkakas yang modern serta sempurna. Sekarang dengan keluarnya “kesimpulan isi al-Quran “ ini. mutiara yang dalam lautan itu tidak juga akan habisn-habisnya. tentu mereka dapat menjawabnya. Apabila orang-oarang islam menurut sebagaimana yang termaktub didalamnya itu. Meskipun sekarang telah kita usahakan mengeluarkan apa-apa yagn tersebut dalam kitab ini. Contoh Tafsir Mahmud Yunus dalam surat An-Nisa’ ayat 9: . dan supaya bersih hati kita kita dari pada sifat yang tidak baik. Inilah kesimpulan isi al-Quran yang berhubungan dengan keimanan. sehingga mudah mempelajarinya tanpa memeriksa ke halaman-halaman yagn lain. meskipun beberapa ayat di tiap-tiap hari. Sesunggunhnya mengeluarkan hukum-hukum atau ilmu pengetahuan dan yang lain-lain dari dalam al-Quran tak ubahnya seperti mengeluarkan mutiara dari dalam lautan. sedengkan lafadz yang lain dijelaskan arti globalnya karena mengadung suatu istilah. aspek kosa kata dan penjelasan arti global tidak selalu dijelaskan. Jika orang yang mengeluarkan mutiara itu hanya memekai perkakas lama dan serba kurang. serta mengajak teman sejawat. hokum-hukum. supaya bertambah kaimanan kita kepada Allah swt. Tetapi meskipun begitu. Oleh sebab itu hendaklah tiap-tiap orang islam membiasakan membaca al-Quran. tentu ia menghasilkan mutiara yang amat banyak. tentu ia dapat mengeluarkan sedikit saja. Kedua aspek tersebut dijelskan ketika dianggap perlu atau kadang pula suatu ayat. akhlaq. niscaya mereka akan mendapat kemajuan dan keselamatan dari dunia sampai akherat. petunjuk/pelajaran. G. Keistimewaan Tafsir al-Quran Karim Mahmud Yunus Adapun keistimewaannya adalah: ? Terjemahan al-Quran disusun baru. serta mudah difahami oleh pembaca..

Menurut islam. berwasiat itu hukumnya sunnah. supaya tidak terlantar kehidupan anak-anaknya yang masih kecil itu. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. Keterangan ayat 9: “ dalam ayat ini Allah menganjurkan kepada orang tua agar memikirkan akibat anakanaknya yang masih lemah (kecil). Ensiklopedi Islam . => Abdul Ghofur. Tafsir al-Quran Mahmud Yunus. Referensi: => Mahmud Yunus. Faham Tauhid Nabi Ibrahim Menurut Ibnu Katsir. Janganlah mewasiatkan hartanya untuk fakir miskin dan amalan sosial lebih dari mestinya. yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah. Demikian hukum islam. bila ia meninggal dunia. Yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah. Sebab itu hendaklah ia bertakwa dan berusaha meninggalkan harta pusaka untuk mereka. => Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. sedang mendidik anak-anak hukumnya wajib. Studi Analisis Surah Al-‘An’am Ayat 74-79.

Dalam kitab tafsir ini Hasbi ash-Shiddieqy banyak mengutip dari rujukan-rujukan mu`tabar (otoritatif). sebagai sebuah kitab tafsir yang ringkas namun lengkap. Dapat pula digolongkan sebagai at-tafsir bil-ma'tsur (tafsir dengan riwayat). yaitu penjelasan suatu ayat dengan ayat lain atau dengan hadits dan atsar yang shahih . kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. tafsir al-Maraghi. terlebih lagi ia mempunyai kapasitas yang mumpuni dalam bidang ushul at-tafsir. wajar bila Tafsir an-Nur menjadi sebuah karya yang cukup diperhitungkan dan menjadi rujukan kalangan intelektual di Indonesia. tafsir ulama muta’akhkhirin juga menjadi sumber ash-Shiddieqy. Tafsir ini juga dapat digolongkan sebagai at-tafsir bil ra'y (tafsir berdasarkan ijtihad).Tafsir Al-Qur'anul Majid atau yang lebih dikenal dengan nama TAFSIR AN-NUR ini adalah salah satu karya monumental ulama Indonesia asal Aceh. tafsir Jami` al-Bayan karya ath-Thabari. dari para peneliti sampai para pemula. dan atTafsir al-Kabir karya Fakhruddin ar-Razi. Tafsir Al-Qur'anul Majid An-Nur. ayat per ayat dan surah per surah. semisal. menjelaskan apa yang dimaksud tiap-tiap ayat. Tidak hanya tafsir klasik. Teungku Muhammad (TM) Hasbi ashShiddiegy.M. yaitu Prof. tafsir al-Qurthubi. Ini adalah kitab tafsir lengkap pertama karya ulama ahli tafsir Indonesia yang diterbitkan di Indonesia. Pembahasan ayat disertai keterangan hadits. dalil. tafsir al-Kasysyaf karya az-Zamakhsyari. Tafsir ini mudah dicerna oleh semua golongan masyarakat. dan juga metode maudhu'i (tematik) karena sebelum menjelaskan tafsir suatu surah terlebih dahulu dijelaskan gambaran umum surah tersebut. ia juga merujuk kepada kitab-kitab induk hadis yang mu`tamad (dipercaya). yaitu mudhi'i tahlili karena dibuat berdasarkan urutan dan susunan Al-Qur'an. Tafsir al-Qur’an al`Azhim karya Ibnu Katsir. walaupun tidak semua ayat dijelaskan dengan metode tersebut. seperti. tampaknya T. Hasbi ash-Shiddieqy menggarap karya tafsirnya ini dengan sangat serius. Tafsir An Nur menggunakan dua metode sekaligus. Melihat sederet rujukan yang digunakan. dan kitab-kitab as-Sunan. Untuk membantu para pemula dalam membaca dan mendalami Al-Qur'an. tafsir al-Qasimi. kitab Tafsir An-Nur ini dilengkapi pula dengan transliterasi huruf ke Arab ke dalam huruf latin. Selain kitab-kitab tafsir. tafsir al-Manar karya Muhammad Rasyid Ridha. yaitu ilmu yang mempelajari media-media yang diperlukan untuk menafsirkan al-Qur’an. Karenanya. Sebut saja di antaranya. Dr. dan dengan bentuk penyajian yang rinci. ***** . dan tafsir al-Wadhih. Tafsir inilah pula yang menjadi rujukan Terjemah Qur'an Departemen Agama yang pertama tahun 1952. Tafsir An-Nur pertama kali terbit pada tahun 1956. dan pendapat yang kuat.

di Minangkabau tengah tumbuh gerakan pembaruan Islam yang dibawa oleh para alumni Timur Tengah. Mahmud mulai belajar Alquran serta ibadah lainnya. Nah. tahun 1924. Ibundanya bernama Hafsah binti Imam Samiun merupakan anak Engku Gadang M Tahir bin Ali. Gurunya adalah kakeknya sendiri.Mahmud Yunus adalah seorang tokoh pendidikan nasional. Beliau sendiri mempunyai karya yang berupa kamus Arab-Indonesia yang masih mudah didapatkan saat ini. hari Sabtu 10 Pebruari 1899. seorang tokoh pembaru Islam di Minangkabau. Mahmud Yunus mulai terlibat di gerakan pembaruan saat berlangsung rapat besar ulama Minangkabau tahun 1919 di Padang Panjang. B. Mahmud dapat menyerap semangat pembaruan yang dibawa. Tidak mudah untuk mewujudkan hasratnya itu. mendorongnya untuk menimba pengetahuan lebih jauh di Mesir. ditekankan penguasaan pengetahuan umum serta bahasa Eropa. Karya ini merupakan salah satu pionir karya tafsir berbahasa Indonesia yang banyak digunakan oleh orang-orang berbahasa Melayu. Dia diminta untuk mewakili gurunya. Pertemuan itu secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi pola pemikiran pembaruan Mahmud. Sumatera Barat. Mahmud Yunus dididik dalam lingkungan agama. bahasa Eropa maupun ilmu pengetahuan umum. berbagai kendala dihadapi. Tetapi dia merasa belum cukup dengan apa yang telah diperoleh lantaran peningkatan pengetahuan umumnya belum terpenuhi. Salah satu kegiatan kelompok ini adalah menerbitkan majalah al-Basyir dengan Mahmud Yunus menjadi pemimpin redaksinya. Melalui karya-karya gurunya itu. purifikasi dan modernisasi. Sejak kecil.[1] Bersama staf pengajar lainnya yang bergiat di gerakan pembaruan. Dia tidak pernah masuk ke sekolah umum. Dalam bidang keilmuan Alquran. ilmu tafsir. Mahmud Yunus seorang murid yang cerdas. Interaksi yang kian intens dengan gerakan pembaru. beliau berhasil menulis Tafsir Alquran al-Karim. Sejarah mencatat HM Umar Thaib amat berpengaruh terhadap pembentukan keilmuan Mahmud Yunus. Maksudnya agar para santri dapat juga memanfaatkan ilmu-ilmu tersebut bagi peningkatan kesejahteraan umat dan perkembangan Islam. Namun pada akhirnya kegigihan Mahmud Yunus dapat mengantarkannya ke al-Azhar. terutama berkat pandangan-pandangan yang dikemukakan sejumlah tokoh pembaru seperti Abdullah Ahmad serta Abdul Karim Amrullah. dia berhasil mendapatkan Syahadah Alimiyah dari alAzhar dan menjadi orang Indonesia kedua yang memperoleh predikat itu. yang dilakukan oleh para alumni adalah gerakan purifikasi untuk mengembalikan Islam ke zaman awal Islam dan menyingkirkan segala tambahan yang datang dari zaman setelahnya. Disebutkan dalam buku Tokoh dan Pemimpin Agama. Mahmud sempat selama tiga tahun menimba ilmu di sekolah desa. Dia pun berkeinginan melanjutkan studi ke madrasah Dar al-Ulum yang . at-Tarbiyah wa at-Ta’lim yang juga terdiri dari tiga juz. Di sana dia mempelajari ilmu ushul fiqh. tahun 1920 Mahmud membentuk perkumpulan pelajar Islam di Sungayang bernama Sumatera Thawalib. Mahmud Yunus lahir di desa Sungayang. fikih Hanafi dan sebagainya. Keluarganya adalah tokoh agama yang cukup terkemuka. sebagai seorang yang mempunyai spesialisasi dalam bidang bahasa Arab. Umumnya pembaruan Islam terwujud dalam dua bentuk. Saat Mahmud belajar di Madras School antara tahun 1917-1923. tahun 1908. Namun saat duduk di kelas empat. Batusangkar. pendiri serta pengasuh surau di wilayah itu. Kairo. Ketika menginjak usia tujuh tahun (1906). Beberapa karyanya yang lain adalah seperti al-Fiqh al-Wadhih (fikih sederhana berbahasa Arab) yang terdiri dari 3 juz. Biografi Sosial-Intelektual. Hanya dalam tempo setahun. Dia pun memutuskan pindah ke madrasah yang berada di Surau Tanjung Pauh bernama Madras School. Misalnya dalam karya Al-Munir. Biografi Mahmud Yunus. Ayahnya bernama Yunus bin Incek menjadi pengajar surau yang dikelola sendiri. asuhan HM Thaib Umar. dia merasa tidak betah lantaran seringnya pelajaran kelas sebelumnya diulangi. karya-karyanya banyak dipergunakan di sekolah-sekolah khususnya di pesantren. Karenanya para santri di surau/pesantren HM Umar Thaib diwajibkan mempelajari ilmu agama. Mahmud Yunus dikenal sebagai seorang tokoh pembaharu dalam metode pengajaran bahasa Arab.

ilmu jiwa dan ilmu kesehatan. Mahmud Yunus telah menulis di dalam kitabnya Tafsir Quran Karim" mengenai iman. Dua penekanan dalam pembaruan Mahmud Yunus di lembaga pendidikannya yakni pengenalan pengetahuan umum dan pembaruan pengajaran bahasa Arab. al-Jami'ah Islamiyah terpaksa ditutup tahun 1933.memang mengajarkan pengetahuan umum. Tercatat dia menjadi orang Indonesia pertama yang masuk Dar al-Ulum. atau apa yang dikatakan Rukun Iman. Awal tahun 1970 kesehatan Mahmud Yunus menurun dan bolak balik masuk rumah sakit. Kitab-kitabNya. Setelah itu. Hari yang kemudian atau kiamat (surat al-Baqarah: 285) . 3. dan tata buku. dia juga aktif di organisasi Islam antara lain menjadi salah satu anggota Minangkabau Raad. namun juga menunjukkan bagaimana secara didaktis-metodis modern para siswa menguasai bahasa tersebut dengan cepat dan mudah. Mahmud Yunus meninggal dunia[2] B. Berikut akan penulis sajikan pemikiran Mahmud Yunus yang tertuang dalam karyanya. Gerakan pembaruan di Minangkabau saat itu makin berkembang. Tahun 1909 Abdullah Ahmad sudah mengajarkan berhitung. Lantas tahun 1943 dipilih menjadi Penasehat Residen mewakili Majelis Islam Tinggi. bahasa Arab. 2. Tahun 1929. Semua mahasiswanya berkebangsaan Mesir. Sedangkan Normal Islam hanya menerima tamatan madrasah 7 tahun dan dimaksudkan untuk mendidik calon guru. Pada tahun 1982. Pengajaran pengetahuan umum di sekolahnya sebenarnya tidaklah baru. Pada tahun 30-an. Dr. Pada bidang pengajaran bahasa Arab. Demikian pula di kementerian agama yakni dengan menjabat selaku Kepala Penghubung Pendidikan Agama. hitung dagang. mulai 1931-1938 dan 1942 dan 1946. Di kedua lembaga inilah dia menerapkan pengetahun dan pengalaman yang didapatnya di Dar al-Ulum. Malaekat-malaekatNya. ilmu mengajar. Mahmud Yunus kemudian meneguhkan diri untuk mengikuti seluruh persyaratan yang diminta dan terbukti mampu memenuhi. Ilmu yang diajarkan berupa ilmu agama. Ini amat menggembirakan Mahmud Yunus yang lantas mendirikan dua lembaga pendidikan Islam. 4. Kairo. Mahmud menulis tak kurang dari 43 buku. dia memperoleh gelar doctor honoris causa di bidang ilmu tarbiyah dari IAIN Jakarta atas karya-karyanya dan jasanya dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. H. Dia dimasukkan sebagai mahasiswa di kelas bagian malam (qiyam lail). Rasul-rasulNya. Karena kekurangan tenaga pengajar. tahun 1931. pengetahuan umum. Pemikiran Mahmud Yunus Dalam Tafsir Alquran al-Karim. Allah. Tahun 1982. pembaruan Mahmud Yunus tak hanya menekankan penguasaan bahasa Arab. yakni pemikiran yang bercorak aliran al-Qadariyah dalam masalah takdir Prof. kecuali Mahmud Yunus. dia mendapat ijazah diploma guru dengan spesialisasi bidang ilmu kependidikan. 5. Sementara Mahmud menambahkan beberapa pelajaran umum semisal ilmu alam. Sepanjang hidupnya. yakni al-Jami'ah Islamiyah di Sungayang dan Normal Islam di Padang. Kuliah Mahmud Yunus berakhir dengan lancar. dia kembali ke kampung halamannya di Sungayang Batusangkar. bahasa Eropa di Adabiyah School. Dia memimpin Normal Islam selama 11 tahun. Beliau menyatakan seperti berikut: "Iman (percaya) yaitu: Beriman kepada: 1.

apakah seseorang mau menyembah-Nya atau tidak. Kepercayaan tersebut adalah penyimpangan dalam Islam. atau memilih untuk tidak percaya kepadanya. atau. manusia diberi kuasa memilih.a. neraka baginya di akhirat kelak. Di samping itu. diajar oleh "hadits Nabi s.a." Justru. maupun yang buruk. (QS al-Qamar: 49). Manusia diizinkan-Nya membuat minuman yang baik dan yang memabukkan. terlebih dahulu. Percaya kepada taqdir (dalam hadits Nabi s.) Sebelum diteruskan tulisan di sini. percaya." (QS an-Nahl:33) Memang benar kata orang-orang yang percaya kepada takdir yaitu semuanya datang dari Allah. dan rezeki yang baik. Takdir adalah (takdirullah) sesuatu yang ditentukan oleh Allah terlebih dahulu. yang baik. 49)‫ر‬ ٍ)4 ‫د‬ َ) ‫ق‬ َ) ‫ب‬ ِ‫ه ُم‬ ُ‫ننا نو‬ َ) ‫ق‬ ْ‫ل ِل‬ َ)‫خ‬ َ) ‫ء‬ ٍ)4 ‫ي‬ ْ‫ش ِل‬ َ) ‫ل‬ َّ‫ك ه‬ ُ‫ننا نو‬ َّ‫إ ه‬ ِ‫)ُم‬ Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. rukun yang keenam. yang keenam. penentuan dari Allah. maka hendaklah sesiapa yang menghendaki. Di dalam Alquran disebutkan: ‫نو ي‬ ِ‫شش ُم‬ ْ‫ي ِل‬ َ) ‫ل‬ ِ‫هش ُم‬ ْ‫م ِل‬ ُ‫ل نو‬ ْ‫كنا ِل‬ َ) ‫ء‬ ٍ)4 ‫مششنا‬ َ) ‫ب‬ ِ‫ثنوا ُم‬ ُ‫غششنا نو‬ َ) ‫ي‬ ُ‫ثنوا نو‬ ُ‫غثي نو‬ ِ‫ت ُم‬ َ) ‫سش‬ ْ‫ي ِل‬ َ) ‫ن‬ ْ‫إ ِل‬ ِ‫وُم‬ َ) ‫هنا‬ َ) ‫ق‬ ُ‫د نو‬ ِ‫را ُم‬ َ) ‫سش‬ ُ‫م نو‬ ْ‫هش ِل‬ ِ‫ب ُم‬ ِ‫ط ُم‬ َ) ‫حششنا‬ َ) ‫أ‬ َ) ‫را‬ ً‫نششنا ا‬ َ) ‫ن‬ َ) ‫مثي‬ ِ‫ل ُم‬ ِ‫ظشناُم‬ َّ‫لل ه‬ ِ‫ننا ُم‬ َ) ‫د‬ ْ‫ت ِل‬ َ) ‫ع‬ ْ‫أ ِل‬ َ) ‫ننا‬ َّ‫إه‬ ِ‫ر ُم‬ ْ‫ف ِل‬ ُ‫ك نو‬ ْ‫ثي ِل‬ َ)‫ل‬ ْ‫ف ِل‬ َ) ‫ء‬ َ) ‫شنا‬ َ) ‫ن‬ ْ‫م ِل‬ َ) ‫و‬ َ) ‫ن‬ ْ‫م ِل‬ ِ‫ؤ ُم‬ ْ‫ثي ِل‬ ُ‫لنو‬ ْ‫ف ِل‬ َ) ‫ء‬ َ) ‫شنا‬ َ) ‫ن‬ ْ‫م ِل‬ َ) ‫ف‬ َ) ‫م‬ ْ‫ك ِل‬ ُ‫ب نو‬ ِّ‫رك‬ َ) ‫ن‬ ْ‫م ِل‬ ِ‫ق ُم‬ ُّ ‫ح‬ َ) ‫ل‬ ْ‫ل ا ِل‬ ِ‫ق ُم‬ ُ‫و نو‬ َ) 29)‫قنا‬ ً‫ف ا‬ َ) ‫ت‬ َ) ‫ر‬ ْ‫م ِل‬ ُ‫ت نو‬ ْ‫ء ِل‬ َ) ‫سنا‬ َ) ‫و‬ َ) ‫ب‬ ُ‫را نو‬ َ) ‫ش‬ َّ‫س ال ه‬ َ) ‫ئ‬ ْ‫ب ِل‬ ِ‫ه ُم‬ َ) ‫جنو‬ ُ‫نو نو‬ ُ‫ل نو‬ ْ‫)ا ِل‬ "Katakanlah. Dia tidak mencipta segala sesuatu tanpa menurut ukuran tertentu. karena bertentangan dengan sifat dan ajaran Allah yang sebenarnnya.'" (QS al-Kahfi: 29) Contoh kedua ialah dalam masalah buah-buahan dan anggur yang Dia rezekikan. lima daripada enam rukun iman itu telah diajar oleh Allah. percaya kepada takdir artinya percaya bahwa segala-galanya sudah ditentukan oleh Allah terlebih dahulu. Dengan itu. 'Yang benar adalah daripada Pemelihara kamu. Namun. itu adalah karena Allah sudah takdirkan baginya . tetapi diri-diri mereka sendiri mereka menzalimkan.6. memberi kebebasan kepada manusia untuk percaya kepadanya. Dia mencipta manusia dan jin untuk menyembah-Nya.w. Hal ini disebutkan dalam Alquran: ‫ننا‬ ً‫س ا‬ َ) ‫ح‬ َ) ‫قنا‬ ً‫ز ا‬ ْ‫ر ِل‬ ِ‫و ُم‬ َ) ‫را‬ ً‫ك ا‬ َ) ‫س‬ َ) ‫ه‬ ُ‫ن نو‬ ْ‫م ِل‬ ِ‫ن ُم‬ َ) ‫ذو‬ ُ‫خ نو‬ ِ‫ت ُم‬ َّ‫ت ه‬ َ) ‫ب‬ ِ‫ننا ُم‬ َ) ‫ع‬ ْ‫ل ِل‬ ْ‫وا )َِل‬ َ) ‫ل‬ ِ‫خثي ُم‬ ِ‫ن ُم‬ َّ‫ت ال ه‬ ِ‫را ُم‬ َ) ‫م‬ َ) ‫ث‬ َ) ‫ن‬ ْ‫م ِل‬ ِ‫و ُم‬ َ) "Dan daripada buah-buahan palma dan anggur.w. Sehingga ada yang percaya seperti.atau. Seolah-olah mempercayai Tuhan itu zalim. Ayat tersebut ada pada an-Nisa:136. ingin ditegaskan bahwa rukun yang kelima seperti yang dicatat itu. setelah diizinkan-Nya. dan kemudian. tidak didapati tercatat di dalam ayat al-Baqarah tersebut. Maka." (QS an-Nahl: 67) lalu bolehkah orang yang mabuk berkata kemudian bahwa dia menjadi seorang pemabuk karena Allah telah menakdirkannya demikian? dia telah diberi pilihan untuk mengambil "rezeki yang baik" dari buah-buahan tersebut! . Dai dalam Alquran disebutkan: 33)‫ن‬ َ) ‫منو‬ ُ‫ل نو‬ ِ‫ظُم‬ ْ‫ي ِل‬ َ) ‫م‬ ْ‫ه ِل‬ ُ‫س نو‬ َ) ‫ف‬ ُ‫ن نو‬ ْ‫أ ِل‬ َ) ‫ننوا‬ ُ‫كنا نو‬ َ) ‫ن‬ ْ‫ك ِل‬ ِ‫ل ُم‬ َ)‫و‬ َ) ‫لل‬ ُ‫م ا نو‬ َّ‫ه‬ ُ‫ه نو‬ ُ‫م نو‬ َ) ‫ل‬ َ)‫ظ‬ َ) ‫منا‬ َ) ‫و‬ َ) ) "Allah tidak menzalimi mereka. Percaya kepada taqdir. jika mereka dimasukkan ke dalam neraka. kamu mengambil daripadanya minuman yang memabukkan. Kuasa untuk memilih itu agak jelas ditunjukkan apabila Dia menurunkan yang benar. adalah tambahan kepada ajaran Allah. tidak percaya. Allah sudah tentukan. Ajaran percaya kepada taqdir telah mengelirukan sesetengah umat Islam. yang terakhir. dan hendaklah sesiapa yang menghendaki. Dan.

mengenai kepercayaan tersebut. Potensi lain adalah penglihatan dan pendengaran. Mereka yang tidak menggunakan ketiga-tiga potensi itu akan dimasukkan ke dalam Jahanam. Karena itu. meminta ampun serta bertaubat kepada Allah. ialah kejadian Adam. mengetahui dan menentukan sesuatu adalah dua perkara yang jauh berbeda. mereka berdua. yang juga merupakan salah satu karunia terbesar Allah swt. dan pembaharu dalam pendidikan. Mahmud Yunus. Akan tetapi. Mahmud Yunus juga merupakan seorang pembaharu pemikiran ummat muslimin. wajarlah ia ditolak. 2. Semua hadis yang menyatakan ajaran tersebut pada dasarnya dapat dibantah karena bertentangan dengan ajaran Alquran itu sendiri. Adam dan isterinya telah dapat diperdaya oleh Syetan.[3] C. 3. Oleh yang demikian. Namun pada beberapa ayat. Tafsir Alquran al-Karim karya Mahmud Yunus ini adalah tafsir ijmali yakni hanya menafsirkan ayat secara global saja. kepada manusia untuk dipakai semasa menggunakan kuasa memilih tersebut. yang kononnya telah disabdakan oleh Nabi. Malah. Corak pemikiran al-Qadariyah ini memang sungguh kental pada pemikiran beliau. dapat dikatakan bahwa karyanya ini merupakan tafsir bir-ra’yi[4] meskipun ada banyak sumber yang berupa riwayat-riwayat dipergunakan sebagai penafsir bagi ayat-ayat tertentu. seperti yang diajar oleh hadis. Terlepas dari pengaruhnya terhadap pemikiran ummat muslimin. beliau memberikan perhatian lebih hingga terlihat corak penafsiran tahlilil. atau yang menggunakan akal fikiran. Corak bir-Ra’yi dan bil-Ma’tsur. Pembaharu Pemikiran. Mahmud Yunus merupakan seorang tokoh pendidikan. mereka tidak bisa beralasan dengan mengatakan bahwa telah menakdirkan mereka untuk masuk neraka. tidak kelihatan bahwa Allah telah menentukan terlebih dahulu bahwa Adam dan isteri akan makan daripada pohon tertentu. Di Jahanam nanti. Memang benar juga kata mereka yang percaya kepada takdir bahwa Allah mengetahui segala-galanya. . Akan tetapi. Di dalam kitab-kitab hadis terdapat beberapa buah hadis. sehingga mereka berdua melanggar perintah Allah. tetapi keburukan yang menimpa orang itu merupakan akibat dari usahanya sendiri. Bila melihat sumber penafsiran yang digunakan di dalam Tafsir Alquran al-Karim. ajaran Percaya kepada takdir memang tidak dianjurkan Allah. Dia mengetahui bahwa seseorang itu akan ditimpa keburukan. kemudian. Tahlili atau Ijmali[5] Pada dasarnya. Percaya kepada Takdir bukanlah rukun iman dalam Islam. Dr. seperti yang telah dinyatakan oleh Prof. Jadi. 1.Ayat itu juga menyebut mengenai kaum yang memahami. Metode-metode yang dibangun oleh beliau sangat berpengaruh dalam pendidikan bahasa Arab di Indonesia. Bukti terakhir untuk menunjukkan bahwa Allah tidak menentukan terlebih dahulu apa yang akan terjadi kepada seseorang. Dari ayat yang menceritakan tentang peristiwa tersebut. Namun selain itu ternyata dalam pemikiran yang beliau tuangkan dalam karyanya Tafsir Alquran al-Karim. Mahmud Yunus menginginkan Ummat Islam sebagai ummat yang dinamis yang tidak hanya bersandar kepada takdir seperti yang banyak diyakini oleh ummat Islam pada masanya. ajaran tersebut bertentangan dengan kehendak-Nya Ajaran yang bertentangan dengan ajaran Allah itu datang dari hadis. Tafsir Alquran al-Karim: Kajian Kritis.

akan tetapi hadis tersebut menurut beliau lemah karena bertentangan dengan Alquran. Salah satu pemikiran yang beliau tuangkan dalam karyanya ini adalah gugatan terhadap kepercayaan yang berlebihan akan takdir. Penutup. Yang merupakan salah satu pionir karya tafsir berbahasa Indonesia yang banyak digunakan oleh orang-orang berbahasa Melayu. Penekanannya terhadap penolakan kepercayaan takdir merupakan antisipasi terhadap statisnya dinamika kehidupan ummat Islam. beliau menulis Tafsir Alquran al-Karim. Mahmud Yunus lebih dikenal sebagai tokoh pendidikan yang mempunyai spesialiasi dalam bidang ilmu Bahasa Arab. Dalam bidang tafisr. Kepercayaan ini didapatkan dalam hadis.D. . Beliau beranggapan bahwa iman terhadap qada dan qadar bukanlah termasuk dari rukun iman karena tidak didapatkan dalam Alquran dan banyak ayat-ayat yang menentangnya.

t : ‫نثيقتملل ﺔﻆعنوم نو ﻯدﻫنو ﺱنانلل ننايب‬ Yang bererti: “Al-Qur’an adalah penerangan (penjelasan) bagi seluruh manusia dan nasihat bagi mereka yang bertakwa” Al-Bayan yang dinamakan oleh pengarang adalah bermaksud “Suatu penjelasan bagi makna-makna alQur’an”.Beliau mempelajari bahasa Arab daripada gurunya yang bernama Syeikh Muhammad ibn Salim al-Kalali. KEILMUAN T. KELAHIRAN DAN LATAR BELAKANG KELUARGA Profesor Doktor Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy dilahirkan di Lhokseumawe pada 10 March 1904. Kitab ini dinamakan Tafsir al-Bayan diambil sempena ayat al-Qur’an. Khidmatnya masih digunakan sehingga ke hari ini. Ayahnya Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husien ibn Muhammad Su’ud. Tafsir al-Bayan adalah kitab tafsir dan terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Indonesia yang di hasilkan pengarang seawal tahun 60-an lagi. Pengajiannya di al-Irsyad dan gurunya Ahmad Soorkati banyak memberi didikan ke arah pembentukan pemikiran moden.M Hasbi ash Shiddieqy menggunakan metode tersendiri dalam menyusun dan mengolah Tafsir al-Bayan dan mempunyai kelainan dengan karya yang pertamanya.M Hasbi ash Shiddieqy. Frman Allah s. Cetakan pertamanya ialah pada tahun 1971 yang diterbitkan PT. kitab tafsir ini banyak memberi sumbangan terhadap pengajian dan pembelajaran Ulum al-Qur’an di Nusantara. Dikarang oleh tokoh agung yang tidak asing lagi iaitu Prof. Dr. Prof. Beliau memiliki kepekaran [ . Kitab ini juga mempunyai keistemewaan dan perbezaan yang tersendiri berbanding dengan kitab-kitab tafsir lain. Dr. 3. Jelasnya. Hasil karya ini terdiri daripada dua jilid dan merupakan karya kedua beliau selepas Tafsir an-Nur. Pada tahun 1926 T. Beliau menuntut ilmu di pelbagai pondok pengajian dari stu kota ke kota yang lain selama 20 tahun. Bandung. BIOGRAFI PENGARANG 1. T. seorang ulama’ yang berasal dari Sudan . adalah seorang ulama’ terkenal di kampungnya dan mempunyai sebuah pondok.Disertasi Ilmiah 4 . Beliau juga pernah menuntut di Timur Tengah.M Hasbi ash Shiddieqy merupakan seorang ulama’ Indonesia yang terkenal. Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy mula mendapat pendidikan awalnya di pondok pengajian milik bapanya. Hasbi ash Shiddieqy adalah berketurunan Abu Bakar al-Shiddiq (573-13/634M) iaitu khalifah yang pertama. Menurut salasilah. merupakan anak seorang Qadi Kesultanan Acheh ketika itu.M Hasbi ash Shiddieqy PENDAHULUAN Tafsir al-Bayan merupakan sebuah kitab tafsir yang unggul di rantau ini. Di Madrasah al-Irsyad Hasbi ash Shiddieqy mengambil takhassus dalam bidang pendidikan selama 2 tahun. T. Ibunya Teungku Amrah binti Teungku Chik Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz . Beliua merupakan generasi ke 37 dari Abu Bakar al-Shiddiq yang meletakkan gelaran ash Shiddieqy diakhir namanya. T.Tafsir al-Bayan oleh Prof.w. PENDIDIKAN Prof. [1] 2. seorang ulama’ berbangsa Arab. Dr.M Hasbi ash Shiddieqy berangkat ke Surabaya dan melanjutkan pelajarannya di Madrasah al-Irsyad iaitu sebuah organisasi keagamaan yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Soorkati (1874-1943). surah Ali ‘Imran ayat 138. Dr. dengan ukuran 15 x 22 cm. Almaarif.

Hasbi masih meneruskan perjuangannya walaupun beliau dimusuhi oleh pihak yang tidak bersefahaman dengannya. Anugerah tersebut diperolehi dari Universiti Islam Bandung dan (UMSBA) pada 22 March 1975. kerana hasil ijtihad mereka tidak terlepas dari situasi dan keadaan sosial budaya serta lingkungan geografik. khususnya di Indonesia tidak membezakan antara syariat asal dari Allah swt dan fiqh yang merupakan ijtihad ulama’ terhadap syariat tersebut. Malik. dan dari IAIN Sunan KalijagaYogyakarta pada 29 Oktober 1975. kitab-kitab fiqh yang ditulis oleh imamimam mazhab diambil sebagai sumber syariat. sesuai dengan perkembangan masa dan tempat. Sebagai alternatif terhadap sikap tersebut. Menurutnya. beliau mencadangkan gagasan perumusan kembali fiqh Islam yang berkeperibadian Indonesia. umat Islam harus mencipta hukum fiqh yang sesuai dengan latar belakang masyarakat Indonesia. Namun begitu. Ijtihad inilah yang kemudiannya melahirkan fiqh. T. 5. Syariat Islam yang bersumbekan wahyu Allah swt. Beliau menyandang jawatan ini hingga tahun 1972. T. Pendidikan yang diterimanya dari pondok-pondok pengajian dan Madrasah al-Irsyad mampu menyerlahkan dirinya sebagai seorang pemikir. Kemampuannya sebagai seorang intlektual diakui dunia antarabangsa.. walaupun kadang-kadang pendapat imam mazhab tersebut ada yang perlu diteliti dan dikaji dengan konteks terkini. Beliau turut menganggotai Organisasi Muhammadiyah.M Hasbi ash Shiddieqy menetap di Yogyakarta pada tahun 1951 dan melibatkan diri secara serius dalam bidang pendidikan. Mereka terlalu berkecenderungan mengikut mazhab imam-imam tersebut. Menurutnya. Kepakaran beliau dalam pengetahuan Islam dan pengiktirafan ketokohannya sebagai ulama’ dapat dilihat dari beberapa gelaran doktor (honoris cause) yang diterimanya seperti dari Universiti Islam Bandung pada 22 March 1975 dan dari IAIN Sunan Kalijaga pada 29 Oktober 1975. Namun begitu begitu. Pada tahun 1960 beliau diangkat menjadi dekan di Fakulti Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. kebanyakan umat Islam.M Hasbi ash Shiddieqy telah dianugerahkan dua gelaran Doctor Honoris Cause sebagai penghargaan di atas jasa-jasanya terhadap perkembangan Perguruan Tinggi Islam dan perkembangan ilmu pengetahuan keislaman Indonesia. KETOKOHAN T. 6. difahami oleh umat Islam melalui metode ijtihad untuk diadaptasikan setiap perkembangan yang berlaku dalam masyarakat.M Hasbi ash Shiddieqy terlibat secara langsung dalam Parti Masyumi (Majlis Syura Muslimin Indonesia) dan mewakilinya dalam perdebatan ideologi di Konstituante. Akibatnya. Beliau mula bergerak di Acheh dalam lingkungan masyarakat fanatik. 4. al-Syafi’i dan Ahmad ibn Hanbal. PEMIKIRAN Seperti ulama’ lain. dan ilmu kalam. Di antara mereka yang terkenal adalah imam-imam mujtahid mazhab empat iaitu Abu Hanifah. Sebelum itu. Hasbi ash Shiddieqy berpendirian bahawa syariat Islam bersifat dinamik. tafsir. Banyak kitab fiqh yang ditulis oleh ulama’ mujtahid. hukum fiqh yang dianuti oleh masyarakat Islam Indonesia banyak yang tidak sesuai dengan keperibadian bangsa Indonesia. beliau diangkat sebagai ketua dalam bidang ilmu hadith di IAIN Sunan Kalijaga. tidak beerti ijtihad ulama’ terdahulu harus . Tentu sahaja hal ini berbeza dengan keadaan masyrakat kita sekarang. hadith. baik dalam hubungannya dengan sesama manusia mahupun hubungan dengan Tuhannya. Menurut Hasbi ash Shiddieqy. PENGLIBATAN POLITIK DAN ORGANISASI Pada zaman demokrasi liberal T. pada tahun 1960. Selama ini terdapat masyarakat Indonesia yang yang cenderung menganggap fiqh sebagai syariat.dalam bidang ilmu fiqh dan usul fiqh.M Hasbi ash Shiddieqy pernah diundang dan menyampaikan makalah dalam International Islamic Colloquium yang diadakan di Lahore Pakistan (1958). Ruang lingkupnya mencakupi semua aspek kehidupan manusia.

Kedua: Ijtihad dengan mengklasifikasikan hukum-hukum yang semata-mata didasarkan pada adat kebiasaan dan suasana masyarakat di mana hukum itu berkembang. Hukum ini. Mereka yang duduk dalam lembaga ijtihad masing-masing berusaha memberi buah fikiran yang sesuai dengan keahlian dan dan disiplin ilmu. ijtihad tidak dapat dilaksanakan dengan efektif jika dilakukan secara individu. masalah mursalah dan urf. kritis dan terlepas dari sikap fanatik. Moh. Ketiga: Ijtihad dengan mencari hukum-hukum terhadap masalah kontemporari yang timbul akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. tetapi harus diteliti dan dipelajari secara bebas. Menurutnya.Dianggotai bukan hanya golongan ulama’. rumusan ijtihad yang diputuskan oleh lembaga ini lebih mendekati kebenaran dan lebih sesuai dengan tuntutan situasi dan kemaslahatan masyarakat. Turut hadir almarhum Hamka dan almarhum Mr. tetapi juga terdiri dari pelbagai kalangan muslim yang lain seperti. Untuk usaha ini. Rum di hari pengkebumiannnya. [2] Pada Muqaddimah tafsir ini. fiqh dan pedoman ibadah. Pengarang menyatakan sebab-sebab penulisan tafsir ini adalah untuk menyempurnakan sistem penterjemahan yang terdapat dalam Tafsir An-Nur karya pertamanya dalam bidang ini. ahli ekonomi.M hasbi ash Shiddieqy dalam bidang pentafsiran al-Qur’an selepas karyanya yang pertama iaitu Tafsir An-Nur yang diterbitkan pada tahun 1956. untuk menuju fiqh Islam yang berwawasan ke Indonesiaan. setelah saya selesai dari menyusun Tafsir An-Nur yang menterjemahkan ayat dan menafsirkannya. kerana ijtihad adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan dari semasa ke semasa.maka pendekatan yang dilakukan untuk mengatasinya tidak boleh dikhususkan hanya pada bidang-bidang tertentu sahaja. Dalam gagasan ijtihad ini memandang metodologi pengambilan dan penetapan hukum (istinbat) yang telah dirumuskan oleh para ulama’ seperti qias. sarjana.M Hasbi telah menghasilkan 72 judul buku dan 50 artikel dalam bidang tafsir. Hasbi ash Shiddieqy menawarkan gagasan ijtihad jama’i. budayawan. istihsan. KEWAFATAN T. Juga pengarang mendapati bahawa terjemahan-terjemahan al-Qur’an yang beredar ditengah-tengah masyarakat perlu dikaji [ [ .M Hasbi ash Shiddieqy kembali ke rahmatullah tanggal 9 Disember 1975 ketika dalam membuat persiapan untuk menunaikan ibadah haji. Disebabkan kompleksnya permasalahan yang terjadi akibat daripada kemajuan. hadith. PENGENALAN KITAB TAFSIR AL-BAYAN Tafsir al-Bayan merupakan hasil karya ke dua yang dikarang oleh Prof. Oleh kerana itu. T.dibuang sama sekali. dan ahli politik yang mempunyai visi dan wawasan terhadap permasalahan umat Islam. HASIL KARYA Semasa hayatnya T. Dengan demikian. Hasbi ash Shiddieqy berpendapat bahawa pintu ijtihad tidak pernah tertutup. tertarik pula hati saya kepada menyusun al-Bayan”[3]. Pertama: Ijtihad dengan mengklasifikasi hukum-hukum keluaran ulama’ mazhab terdahulu. menurut beliau berubah sesuai dengan perubahan masa dan keadaan masyarakat. Dengan demikian. ulama’ harus mengembangkan dan menggalakkan ijtihad. yang bertarikh Yokyakarta: 21 Mei 1966. Beliau dimakamkan di permakaman IAIN Ciputat Jakarta. pengarang menulis: “Dengan inayah Allah Taala dan taufiq-Nya. asalkan sesuai dan relevan dengan situasi masyarakat Indonesia dapat diterima dan diterapkan. Ini bertujuan agar dapat memilih pendapat yang masih sesuai untuk diterapkan dalam masyarakat. pendapat ulama’ dari mazhab manapun. ada tiga bentuk ijtihad yang perlu dilakukan.

” ( Al-Hadith ) Atas dasar itu penulis merasa satu kenikmatan dan ketenangan apabila terlibat dalam tugas ini. 1. 2. Apatah lagi mengkaji kandungan kitab suci al-Quran. saya menyusun sebuah terjemah yang lain dari yang sudah-sudah”[4] Karyanya yang kedua ini juga merupakan terjemahan dan tafsir al-Qur’an dalam bahasa Indonesia yang diperkirakan dihasilkan oleh pengarang pada awal tahun 60-an lagi. Di kesempatan ini. Jakarta. Pengenalan Kitab Nama Kitab : Al-Quran dan Terjemahnya (Indonesia) Penterjemah : Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Pentafsir Al-Quran. mudah-mudahan ada baiknya untuk masyarakat Islam keseluruhannya.” Dan Nabi Muhammad s.dan ditinjau semula. dimulai dari surah al-Kahf ayat ke 75 dan berakhir dengan surah al-Nas bersama terjemahan dan tafsirannya yang terkandung dalam muka surat 789 sehingga 1604[5]. dengan ukuran 15 x 22 cm.a. walaupun tidak secara mendalam tetapi cukup sebagai satu kepuasan dalam diri. dengan memohon taufiq daripada Allah Taala. Cetakan : Mujamma‘ al-Malik Fahd li Tiba‘at al-Mushaf al-Syarif. Kesemua terjemahan dan tafsiran bagi jilid pertama mengandungi 789 muka surat. Bentuk masyarakat yang berbagai memerlukan kepada kaedah dakwah yang pelbagai. Penterjemahan al-Quran merupakan salah satu cara dakwah yang kesannya cukup mendalam terhadap sesebuah masyarakat kerana isi kandungannya lebih mudah difahami. Pengarang berkata di dalam kitab tafsirnya: “Maka setelah saya memerhatikan perkembangan penterjemahan al-Qur’an akhir-akhir ini.w telah bersabda: ‫خثيركم من تعلم القرءان وعلمه‬ “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Quran dan yang mengajarkannya. Al-Bayan yang dinamakan oleh pengarang adalah bermaksud “Suatu penjelasan bagi makna-makna alQur’an”. penulis cuba meninjau kaedah-kaedah yang digunakan oleh penterjemah terhadap kitab ini. serta meneliti secara tekun terjemahan-terjemahan itu. Cetakan pertama kitab tafsir ini ialah pada tahun 1971 melalui terbitan PT Almaarif Bandung. [ [ [ . Penterjemahan yang salah pula membawa kepada kepada kesalahfahaman masyarakat terhadap isi kandungan al-Quran yang akhirnya menjejaskan akidah mereka. Kitab yang ada ditangan penulis ini mudah-mudahan membawa manfaat kepada seluruh masyarakat Islam atas usaha-usaha mereka yang murni lagi suci. Oleh karananya. Pendahuluan Segala puji bagi Allah yang telah berfirman dalam kitabNya yang mulia: [ 6‫]قد جشناءكم من الل ننور وكتشب مبثين‬ “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan.segala usaha peterjemahan sepatutnya diberi sokongan penuh kerana usaha mereka terlalu mulia di sisi Islam. Bagi jilid ke dua Tafsir al-Bayan ini. nyatalah bahawa banyak terjemahan kalimat yang perlu ditinjau dan disempurnakan. Oleh itu. Jilid pertama mengandungi nas-nas ayat al-Qur’an bermula dari surah al-Fatihah dan berakhir dengan ayat 75 surah al-Kahf. Kitab ini terdiri dari dua jilid.

H. Bustami A. A. Saudi Arabia. 4. H. Keintelektualannya diiktiraf dunia. (Ketua) 2. Beliau berani dalam mengutarakan pendapatnya.[7] Di antara kesebelasan anggota di atas. T. pemangku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi. Hasbi Ashshiddiqi Nama : Muhammad Hasbi Ashshiddiqi. Gazali Thaib. A. beliau dijemput untuk membentangkan kertaskerja dalam SeminarIslam Antarabangsa di Lahore Pakistan. H. Mukti Ali. Bapanya pula bernama al-Hajj Teungku Muhammad Husen bin Muhammad Mas‘ud. Ibunya bernama Teungku Amrah yang merupakan puteri kepada Teungku Abdu Aziz. M. Dr. Soenarjo S. Prof. Kamal Muchtar. Beliau adalah orang pertama yang menimbulkan isu perlunya kepada kekinian fiqh yang berkepribadian Indonesia atau istilahnya sebagai “Fiqh Indonesia”.Medinah Munawwarah. Latarbelakang Penterjemah Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Pentafsir al-Quran merupakan satu badan yang dipertanggungjawabkan oleh Menteri Agama untuk menterjemah. H. dipenjara dan sebagainya. penulis ingin mengenengahkan salah seorang tokoh untuk ditonjolkan latarbelakangnya. M. K. Prof. R. Mereka itu ialah: 1. Jilid : 1 Jilid 3. Ketika berusia 6 tahun ibunya meninggal dan diasuh oleh neneknya yang bernama Teungku Syamsiyah. Karya-karya Yang Dihasilkan : Beliau telah menghasilkan karya-karya dalam bidang [ . 6. Prof. Terjemahan ini mengambil masa lapan tahun (1964-1971) untuk disempurnakan oleh anggota “Dewan Penterjemah” seramai sebelas orang yang terdiri dari kalangan tokoh-tokoh ulama terkenal. K. 3. H. T. H. 8. Menurutnya silsilah yang diketahui beliau adalah keturunan ketiga puluh tujuh dari Khalifah Abu Bakr al-Siddiq. H. Walaupun tempoh beliau belajar sedikit tetapi dapat dilihat dari keperibadiannya sebagai seorang pemikir yang hebat. Setelah itu belajar di sekolah kerajaan iaitu sekolah al-Irsyad selama satu setengah tahun. Cetusan ini telah menimbulkan polemik yang hebat di kalangan para ulamak sezamannya hingga sekarang. T. 7.M. Prof. Hasbi Ashshiddiqi. Beliau adalah Prof. 11. 9. Drs. 10.1 Biodata Prof. Latarbelakang Keluarga : Keluarganya tergolong dari kalangan ulama pejabat. H. Ali Maksum. 3. Musaddad. menerbit dan mengedarkan Kitab Tafsir al-Quran dan Terjemahnya kepada masyarakat Islam setempat dan sekitarnya. Latarbelakang Pendidikan : Beliau mula belajar ketika berusia lapan tahun di beberapa sekolah-sekolah pondok. Tarikh dan Tempat Lahir : Dilahirkan pada 10 Mac 1904 di Lhokseumawe yang terletak di Acheh Utara. Busjairi Madjidi. ( 1418H ) Bil. Keturunan : Beliau berdarah campuran Arab. Pada tahun 1958. H. Gani. A. M. Muchtar Jahya. Toha Jahya Omar. walaupun kerananya ia dimusuhi. Hasbi Ashshiddiqi. Prof. Drs. 5.

Al-Zamakhsyari. Kriteria Antara Sunnah dan Bid’ah. Bab Enam : Keutamaan Membaca al-Quran dan Cara Bacaannya. Sebagai contoh.[8] 4. Pedoman Shalat 8. Fiqhul Mawarith 6. Bilangan karyanya mencapai 72 buah buku dan 50 artikel. Al-Fayruz Abadi. Antaranya seperti: 1.[10] Transliterasi yang digunakan mengikut kaedah Indonesia. Th = ‫ط‬ 3. Kembali Ke Rahmatullah : Beliau meninggal pada 9 Disember 1975 dan dikebumikan di pemakaman keluarga IAIN Ciputat Jakarta. 5. Al-Fakhr al-Razi. 1. Pedoman Puasa.tafsir. Bab Satu : Sejarah al-Quran. Al-Islam. Bab Lima : Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan. Bab Dua : Nabi Muhammad sallallahu ‘alayhi wa sallam. 4. Gelaran itu ialah Doctor Honoris Causa yang diperoleh dari dua institusi pengajian tinggi di Indonesia. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadith. Ternyata penterjemah mengambil rujukan dari kitab-kitab yang muktabar dan pelbagai dan bilangannya sebanyak 105 buah kitab. Jami‘ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an. 3. 2. fiqh dan panduan ibadah umum. Mutiara Hadith. 7. Metodologi Penulisan Mukadimah Ia dibahagikan kepada enam bab utama. Bab Tiga : Kandungan al-Quran. 5.[9] Bibliografi diletakkan selepas membicarakan bab-bab di atas. 4. Al-Kasysyaf. 3. Al-Tabari. Sh = ‫ص‬ 4. The Holy Qur’an. Bab Empat : Al-Quran Sebagai Mukjizat. hadith. Antara rujukannya seperti. Institusi yang pertama ialah Universitas Islam Bandung (UNISBA) pada 22 Mac 1975 dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 29 Oktober 1975. Dh = ‫ض‬ 2. Al-Tafsir al-Kabir. 2. Anugerah ini diberikan sebagai jasa-jasa beliau terhadap perkembangan Perguruan Tinggi Islam dan perkembangan pengetahuan keislaman di Indonesia. Gelaran Yang Diterima : Beliau memperoleh dua gelaran sepanjang hidupnya. Tafsir al-Quran an-Nur. ‘Ali ‘Abd Allah Yusuf. [ [ [ . 1. aa . Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn ‘Abbas.sebagai tanda bacaan fathah yang panjang.

nikmat Allah yang tidak terhitung dan sebagainya. ii .sebagai tanda bacaan kasrah yang panjang. qiraat dan sebagainya. 2. nama-nama lain bagi surah dan topik-topik penting yang dibincangkan pada keseluruhan surah. Secara umumnya. 3. pada awal surah al-Baqarah diberi tajuk besar yang berbunyi “TIGA GOLONGAN MANUSIA DALAM MENGHADAPI AL-QURAN”. Kisah-kisah: Bahagian ini memberikan gambaran ringkas mengenai kisah yang terdapat pada surah. Setiap tajuk itu pula terdapat tajuk-tajuk kecil sebagai pendetilan tajuk-tajuk besar tersebut. Hukum-hukum: Bahagian ini dinyatakan secara ringkas tentang perbincangan mengenai hukum yang boleh dipetik dari surah. ialah berdasarkan ‘tahlili mawdu‘i’. Sebagai contoh.akibat perbuatan buruk. pengkategorian al-Makki atau al-Madani. Golongan Kafir. nasikh mansukh. 1. Golongan Mukmin. Golongan Munafik.5. Penjelasan pada nota kaki ini boleh dikatakan sebagai ‘tahlili’ kerana ia meliputi dari segi pendapatpendapat ulama tafsir terhadap sesuatu kalimah atau ayat.”. bahagian ini menyatakan bilangan ayat.[13] Di antara surah-surah yang paling banyak tajuk-tajuk penting di dalamnya ialah surah al-Ma’idah sebanyak lapan belas tajuk. Dalam menyatakan topik-topik penting ini ia dibahagikan kepada empat bahagian. Lain-lain: Bahagian ini memasukkan perbincangan selain dari tiga bahagian di atas seperti balasan perbuatan baik. kecuali surah al-Fatihah dengan tidak ditulis tajuk padanya. ia didahului dengan mukadimah yang menyatakan beberapa perkara penting yang dihuraikan dalam bentuk sinopsis. Adapun yang paling sedikit sekali ialah satu tajuk seperti surah al-Ikhlas. al-Nas dan sebagainya. sebab-sebab nuzul. 4.[15] [ [ [ [ [ . al-Falaq. Ia dimulai dengan tajuk “JANJI PRASETIA KEPADA ALLAH DAN PENYEMPURNAAN AGAMA ISLAM” dan diakhiri dengan tajuk “BEBERAPA KISAH TENTANG ISA A. 1. Contoh-contoh perkara di atas dapat dilihat dalam kitab ini seperti.[11] Sebelum penterjemahan pada setiap surah dibuat. ‫كمنا أخرجك ربك من بثيتك بنالحق‬ Penterjemah mengambil pendapat al-Maraghi yang menyatakan: “Allah mengatur pembahagian harta rampasan perang dengan kebenaran.[12] Konsep terjemahan yang dibuat. 3. 2. Teknik penulisan terjemahan dalam kitab ini adalah secara bersebelahan antara ayat dan terjemahan pada setiap lembaran. 1.S. Manakala pendapat al-Tabari: “Keluar dari rumah dengan maksud berperang”. Pendapat ulama tafsir terhadap sesuatu kalimah atau ayat: Dalam menhuraikan maksud ayat 5 surah al-Anfal. Selepas tajuk besar itu terdapat tajuk-tajuk kecil yang menjelaskan tajuk besar tersebut iaitu. Keimanan: Bahagian ini dinyatakan secara ringkas konsep-konsep keimanan yang dibincangkan pada surah. sebagaimana Allah menyuruhnya pergi dari rumah (di Madinah) untuk berperang ke Badar dengan kebenaran pula”. pendefinisian nama pada setiap surah.[14] Terdapat nota kaki yang menjelaskan atau mentafsirkan terjemahan yang dibuat. Penterjemah membahagikan kepada tajuk-tajuk penting yang ada pada setiap surah dengan ditulis secara huruf besar.

Surat An Naba’ menerangkan ancaman Allah terhadap sikap orang-orang musyrik yang mengingkari adanya hari berbangkit. 1. not no.”[17] 4. metod yang digunakan seperti. ia akan ditulis seperti “Lihat not …. serta mengemukakan bukti-bukti adanya hari berbangkit. Jika ia merupakan huraian terhadap sesuatu terjemahan. ‫مشلك ينوم الدين‬ “Maalik (Yang menguasai). isi kandungan atau pengakhirannya. Seterusnya dinyatakan hubungkait antara surah samada pada permulaan.2.a. Ayat ini dinasakhkan dengan ayat mawarith.. dengan memanjangkan ‘mim’ ia bererti: pemilik (yang empunya). yang ditulis padanya sebagai ‘PENUTUP’. Sebagai contoh pada ayat 255 surah al-Baqarah. Wasiat itu tidak melebihi sepertiga dari seluruh harta orang yang akan meninggal itu. Pada menyatakan sebab-sebab nuzul.”.610 nota kaki. dan sahabat-sahabatnya yang tidak percaya tentang kewafatan Nabi itu.”[23] Penterjemah mengakhiri setiap surah dengan membuat kesimpulan terhadap keseluruhan surah.”[22] Terdapat juga penjelasan sesuatu ayat yang diambil dari mafhum sesuatu hadith dan dinilai oleh penterjemah dengan menyatakan rujukan kitab hadith yang diambil dan bab pada kitab tersebut. Jika ia merupakan penjelasan berkenaan sesuatu kisah. Dalam bab qiraat penterjemah ada menyatakan pada ayat 4 surah al-Fatihah. Sebagai contoh pada membicarakan ayat 144 dari surah Ali Imran. (Sahih Bukhari bab Ketakwaan Sahabat).”[16] 3. ‫كتب علثيكم إذا حضر أحدكم المنوت إن ترك خثيرا النوصثيﺔ للنولدين والقربثين‬ ‫بنالمعروف‬ “Ma’ruf ialah adil dan baik. sehingga mereka salat ke arah yang berbeda-beda.a. mengemukakan ayat ini – di mana terjadi pula kegelisahan di kalangan para sahabat di hari wafatnya Nabi Muhammad s. ‫ولل المشرق والمغرب فأينمنا تنولنوا فثم وجه الل‬ “Al-Tabari menyebutkan bahawa ayat ini turun berkenaan tentang suatu kaum yang suatu ketika tidak dapat melihat arah kiblat yang tepat. 3. ‫وسع كرسثيه السمشنوت والرض‬ “Kursi dalam ayat ini oleh sebahagian mufassirin diartikan dengan ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaanNya. Jika ia merupakan suatu penjelasan terhadap sesuatu kalimah ia akan ditulis seperti “Lihat yang dimaksud dengan …….a. penterjemah ada membawa riwayat al-Tabari berkenaan ayat 115 surah al-Baqarah. Pendapat yang sahih terhadap makna ‘Kursi’ ialah tempat letak telapak kakiNya. ‫ومنا محمد إل رسنول قد خلت من قبله الرسل‬ “Abu Bakar r. Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan ‘mim’) berarti raja. Contoh nasikh mansukh dalam kitab ini dinyatakan pada membicarakan ayat 180 surah al-Baqarah.w.”[18] Nota kaki yang dibuat adalah mengikut turutan dari awal surah hingga akhir surah al-Quran yang bilangannya mencapai angka 1. s/d[21] …. …[19]”. Sebagai contoh pada membicarakan “HUBUNGAN SURAT AN NABA’ DENGAN SURAT AN NAAZI’AAT. 1. sedang pada surat An [ [ [ [ [ [ [ [ . 2.”. Jika terdapat pengulangan dari segi penjelasan pada nota kaki. ia akan ditulis seperti “Lihat kembali kisah kaum Luth ini pada surat …… ( )[20] ayat …. untuk mententeramkan Umar Ibnul Khaththab r.” Dalam membicarakan pada ayat-ayat akidah penterjemah lebih berminat mengambil pendapat Asy‘ariyyah.

2. op. T. PT Almaarif. penulis mendapati ia merupakan kitab yang cukup menarik dan mudah difahami. (1997) Fiqh Indonesia. [ 16] Lihat nota kaki no. 4. Hlm 99 [ 3] Prof. [ 4] Ibid [ 5] Muhammad Nur Lubis. J 1. Kesimpulan Setelah ditinjau secara rambang kitab “Al-Quran dan Terjemahnya”. Sehubungan dengan itu. 596. Prof. Terbitan Al-Hidayah Publishers. menggambarkan penterjemah cukup teliti dan memahami keperluan pembaca yang terdiri dari orang awam.htm 2] Muhammad Nur Lubis. Tafsir al-Bayan.rizki-putera. Kuala Lumpur. [ 19] No. Dr. hlm 7.com. 112. di atas bermaksud nombor rujukan pada nota kaki sebelumnya. [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ [ .cit. Dr. Data-data Terbitan Awal Penterjemahan Dan Penafsiran Al-Qur’an Di Alam Melayu. [ 14] Lihat lampiran m/s: 18 [ 15] Lihat nota kaki no. Selain dari itu huraian-huraian atau penjelasan yang dibuat pada nota kaki. Sama-sama menerangkan huru-hara yang terjadi pada hari kiamat dan hari berbangkit. hlm 100-101 [ 6] Surah al-Ma‘idah : 15 [ 7] Lihat lampiran m/s: 16 [ 8] Siddiqi. [ 17] Lihat nota kaki no. Yogyakarta.M Hasbi ash Shiddieqy.[24] 5. [ 9] Lihat lampiran m/s: 17 [ 10] Lihat lampiran m/s: 21 [ 11] Lihat lampiran m/s: 19 [ 12] Lihat lampiran m/s: 20 [ 13] Penulis berpendapat ia sesuai dengan fungsinya sebagai Umm al-Kitab.Naazi’aat Allah bersumpah bahawa hari kiamat yang mendahului hari berbangkit itu pasti terjadi. 83. penulis percaya kitab ini mendapat perhatian pembaca dan tidak hairanlah kitab ini dipilih untuk dicetak di Mujamma‘ al-Malik al-Fahd li Tiba‘at al-Mushaf al-Syarif di Madinah untuk disebarkan kepada masyarakat Islam di rantau ini. [ 18] Lihat nota kaki no. cetakan pertama 2002./hasbi. Ini kerana terjemahan yang dibuat tidak terlalu panjang dan tidak terlalu ringkas. [ [ 1] Biografi pengarang diambil dari http//www. Nourouzzaman MA. Bandung. Penulis berpendapat agar kitab ini dapat diperbaiki lagi penterjemahannya terutama dari segi akidah kepada yang lebih selamat dan berlandaskan ahli sunnah wal jamaah.

161.[ [ 20] Dalam kurungan bermaksud no. [ 22] Lihat nota kaki no. 21] Penulis berpendapat ia bermaksud ‘sehingga datang’. [ 24] Lihat m/s: 1017. [ [ [ [ [ . [ 23] Lihat nota kaki no. 234. bilangan surah yang terdapat dalam al-Quran.

Di sana gambaran mengenai hari kiamat dan nasib orang-orang durhaka.790 H/1388 M). Quraish Shihab dalam karya tafsirnya. tokoh-tokohnya seperti: Fakhruddin ar-Razi (606 H/1210 M). ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi. Tafsir al-Misbah adalah sebuah tafsir al-Quran lengkap 30 Juz pertama dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Contoh bukti yang dikemukakannya antara lain adalah: QS. cari Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. sehingga al-Quran dapat benar-benar berfungsi sebagai petunjuk. kemudian dilanjutkan dengan gambaran orang-orang yang taat. Quraish Shihab memulai dengan menjelaskan tentang maksud-maksud firman Allah swt sesuai kemampuan manusia dalam menafsirkan sesuai dengan keberadaan seseorang pada lingkungan budaya dan kondisisosial dan perkambangan ilmu dalam menangkap pesan-pesan al-Quran. tolong hapus pesan ini. Al-Ghasyiyah. Warna keindonesiaan penulis memberi warna yang menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khazanah pemahaman dan penghayatan umat Islam terhadap rahasia makna ayat Allah SWT. beliau tidak pernah luput dari pembahasan ilmu al-munâsabât yang tercermin dalam enam hal: .794 H) dan lain-lain yang menekuni ilmu Munasabat al-Quran/keserasian hubungan bagian-bagian al-Quran. Sekilas Tentang Isi Tafsir M. Badruddin Muhammad ibn Abdullah Az-Zarkasyi (w. baik tahlîlî maupun mawdhû‘î. dan kondisi yang berbeda-beda itu. Seorang mufassir di tuntut untuk menjelaskan nilai-nilai itu sejalan dengan perkembangan masyarakatnya. di antaranya bahwa al-Qur’an merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.Tafsir Al-Mishbah Dari Wikipedia bahasa Indonesia. Kaum orientalis berpendapat bahwa ada bagian-bagian al-Quran yang ditulis pada masa awal karier Nabi Muhammad saw. Mufassir dituntut pula untuk menghapus kesalah pahaman terhadap al-Qur’an atau kandungan ayat-ayat. Ada beberapa prinsip yang dipegangi oleh M. M. pemisah antara yang haq dan bathil serta jalan keluar bagi setiap probelam kehidupan yang dihadapi. Ibrahim Ibn Umar al-Biqa’i (809-885 H/14061480 M). tingkat. kecederungan. sambil melemparkan kesalahan kepada para penulis wahyu. Tafsîr al-Mishbâh adalah karya monumental Muhammad Quraish Shihab dan diterbitkan oleh Lentera Hati. Abu Ishaq asy-Syathibi (w. Setelah dirapikan. Dalam al-Mishbâh. Quraish Shihab juga memasukkan tentang kaum Orientalis mengkiritik tajam sistematika urutan ayat dan surah-surah al-Quran. Quraish Shihab dalam rekaman "Kultum" di RCTI (2007) M. Kemudian beliau mengambil tokoh-tokoh para ulama tafsir. Keagungan firman Allah dapat menampung segala kemampuan.

yang ditulis oleh ahli tafsir terkemuka Indonesia : Prof. merekomendasikan bahwa karya-karya tafsir M. pemerhati karya tafsir Nusantara. Ke-Indonesiaan penulis memberi warna yang menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khasanah pemahaman dan penghayatan kita terhadap rahasia makna ayat-ayat Allah. Quraish Shihab pantas dan wajib menjadi bacaan setiap Muslim di Indonesia sekarang. • keserasian hubungan ayat dengan ayat berikutnya. pelita. Tafsir ini tersaji dengan gaya bahasa penulisan yang mudah dicerna segenap kalangan. • keserasian uraian awal/mukadimah satu surah dengan penutupnya. Tafsîr al-Mishbâh merupakan tafsir Al-Quran lengkap 30 juz pertama dalam 30 tahun terakhir. • Keserasian tema surah dengan nama surah. Tafsîr al-Mishbâh banyak mengemukakan ‘uraian penjelas’ terhadap sejumlah mufasir ternama sehingga menjadi referensi yang mumpuni. Penulisnya mencitakan al-Qur’an agar semakin ‘membumi’ dan mudah dipahami. Begitu menariknya uraian yang terdapat dalam banyak karyanya. informatif. yang mengindikasikan makna kehidupan dan berbagai persoalan umat diterangi oleh cahaya alQur’an.• keserasian kata demi kata dalam satu surah. • keserasian penutup surah dengan uraian awal/mukadimah surah sesudahnya. • keserasian kandungan ayat dengan penutup ayat (fawâshil). Quraish Shihab. Federspiel. Dari segi penamaannya. Dr. M. Buku ini terdiri dari 15 volume: Volume 1 : Al-Fatihah s/d Al-Baqarah Halaman : 624 + xxviii halaman Volume 2 : Ali-‘Imran s/d An-Nisa Halaman : 659 + vi halaman Volume 3 : Al-Ma’idah Halaman : 257 + v halaman Volume 4 : Al-An’am Halaman : 367 + v halaman Volume 5 : Al-A’raf s/d At-Taubah Halaman : 765 + vi halaman Volume 6 : Yunus s/d Ar-Ra’d Halaman : 613 + vi halaman Volume 7 : Ibrahim s/d Al-Isra’ Halaman : 585 + vi halaman Volume 8 : Al-Kahf s/d Al-Anbiya’ Halaman : 524 + vi halaman Volume 9 : Al-Hajj s/d Al-Furqan Halaman : 554 + vi halaman Volume 10 : Asy-Syu’ara s/d Al-‘Ankabut Halaman : 547 + vi halaman Volume 11 : Ar-Rum s/d Yasin Halaman : 582 + vi halaman Volume 12 : Ash-Shaffat s/d Az-Zukhruf Halaman : 601 + vi halaman Volume 13 : Ad-Dukhan s/d Al-Waqi’ah Halaman : 586 + vii halaman Volume 14 : Al-Hadid s/d Al-Mursalat Halaman : 695 + vii halaman Volume 15 : Juz ‘Amma Halaman : 646 + viii halaman Tafsir Mahmud Yunus . Penjelasan makna sebuah ayat tertuang dengan tamsilan yang semakin menarik atensi pembaca untuk menelaahnya. Howard M. dari mulai akademisi hingga masyarakat luas. al-Mishbah berarti “lampu. argumentatif. Mari terangi jiwa dan keimanan kita dengan Tafsîr al-Mishbâh sekarang juga. atau lentera”.

Karnanya agama merupakan salah satu upaya agar mampu meningkatkan moralitas ummat yang kini menurun. PEMBAHASAN . Namun sejarah membuktikan bahwa eksistensi dari progresifitas ummat yang berkembang dan maju harus sebenarnya telah ddimulai dari sejarah. Rumusan Masalah a. Islam menjadi semakin difahami dengan adanya Tafsir-tafsir bahasa Indonesia yang bermunculan di abad 20-an. corak. Biografi dan karya-karya Mahmud Yunus Sekilas tentang kitab Tafsir al-Qur’an al-Karim . dan contoh penafsirannya.PENDAHULUAN A. sistematika. Lahirnya Tafsir masakini juga tidak luput dari upaya ulama masa lalu yang turut mengkaji dan menafsirkan al-Qur’an meskipun masih tergolong penafsiran yang gobal. Latar Belakang Mahmud Yunus merupakan salah seorang Mufassir Indonesia yang mampu menafsirkan al-Qur’an 30 Juz lengkap. metode. Karenanya tiap decade dan periode hendaknya menciptakan sejarahnya sendiri khususnya Umat Islam dalam bidang terpenting yakni penafsiran al-Qur’an. b. Tindakannya yang progresif ini terbukti menyadarkan kita bahwa Tafsir bukanlah karya yang mustahil jika umat Islam benar-benar mengkaji keilmuan dan persyaratan penafsiran. Ia tumbuh pada saat penerjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia merupakan hal yang diharamkan pada Ulama’ semasanya. B.

com/kajian-pemikiran/tafsir-alquran-mahmud-yunus/ di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 1] . Ketika usianya masih balita. Yunus memulai pendidikannya dengan belajar Alquran dan bahasa Arab. Thaib Umar sakit. Mahmud Yunus 1. sedangkan ibunya adalah anak dari Engku Gadang M.[4] Tak heran hanya dalam waktu empat tahun ia telah dipercaya oleh sang Guru untuk menggantikannya mengajar bahkan mewakilinya dalam forum akbar ulama Minangkabau tahun 1919 di Padang Panjang.[1] Mahmud Yunus tumbuh dikalangan keluarga yang taat beragama. (Yogyajarta: Pustaka Insan Madani. pendiri serta pengasuh surau si wilayah tersebut. ayah ibunya Mahmud Yunus bercerai. (Jakarta: Gema Insani Press. 2006). Ayahnya bernama Yunus bin Incek. pembaruan Islam ini terwujud dalam dua bentuk. hal: 197 3] http://menyempal. Tokoh-tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20. Saat bersamaan. Karena itu. Tahir bin Ali. Hal.M.wordpress. namun Yunus tetap antusias dalam belajar baik agama maupun umum. yang langsung ia peroleh dari kakeknya. Ayahnya adalah seorang imam. Selain ilmuilmu keagamaan yang ia dapatkan. Pendidikan di Sekolah Desa hanya dijalaninya selama kurang dari tiga tahun. Pada tahun 1917. Tahun pertama Sekolah Desa ia selesaikan hanya dalam masa 4 (empat) bulan. yakni di Sekolah Desa pada tahun 1908. Siang hari ia belajar disana dan malam harinya mengajar di Surau kakeknya. Profil Para Mufassir. Biografi Prof. Karena merasa masih haus pengetahuan. Berhitung dan Bahasa Arab. karena ia memperoleh penghargaan untuk dinaikkan ke kelas berikutnya. yaitu gerakan yang bertujuan untuk mengembalikan Islam ke zaman awal Islam dan menyingkirkan segala tambahan yang datang dari zaman setelahnya. Profil Mahmud Yunus Mahmud Yunus dilahirkan dari pasangan Yunus B. M Thaib Umar di Tanjung Pauh Sunggayang.[3] Di tangan Thaib Umar ini Yunus dapat mempelajari pelbagai disiplin keilmuan Islam.com/kajian-pemikiran/tafsir-alquran-mahmud-yunus/ di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 4] http://menyempal. Lalu [ [ [ [ Herry Mohammad. Umumnya. Yunus juga pernah bersekolah di pendidikan sekuler. Yunus menunjukkan ketidakpuasannya terhadap mata pelajaran di sekolah tersebut. dkk. 85-86 2] Saiful Amin Ghofur. Syekh H.wordpress. Para alumni Timur Tengah lebih condong dalam gerakan purifikasi. Di samping mendapat pendidikan agama. yakni purifikasi dan modernisasi. ia mempelajari ilmu Nahwu. di desa Sunggayang. ilmu Sharaf. incek dan hafsah binti Imam Sami’un. Ia juga mewarisi semangat pembaharuan sang guru. pada waktu belajar di kelas empat. [2] Meski ada yang mengatakan bahwa ayah dan Ibu Mahmud Yunus bercerai sejak balita. dan hanya sekali ayahnya menjenguknya. Di sekolah ini. di Minangkabau tengah tumbuh gerakan pembaruan Islam yang dibawa oleh para alumni Timur Tengah. ia ikut ibunya. Yunus lantas pindah belajar di madrasah milik H. Madrasah ini bernama Madras School. dalam rentang waktu 1917-1923. Mahmud Yunus lahir pada tanggal 10 februari 1899 M/30 Ramadhan 1316 H. Batusangkar. seorang pengajar di Surau dan Ibunya Hafsah binti Imam Samiun adalah anak Engku Gadang M. Yunus secara langsung ditugasi untuk menggantikan gurunya memimpin Madras School.A. 2008).Thahir bin Ali. Sumatra Barat. H. Sebab. DR.

html. Yunus membahas berbagai bidang ilmu.[6] Kemampuan mengajar yang ia miliki sejak masih belajar di Batusangkar memantabkan karier ke-guruannya terutama setelah ia kembali dari Mesir. 85-86 http://pusat-akademik.1969). Secara terus menerus Mahmud Yunus mengajar dan memimpin berbagai sekolah.com/2008/10/tafsir-al-quran-al-karim-mahmud-yunus. H.Hidakarya Agung. bahasa Arab (keduanya lebih banyak memfokus pada segi metodik). dkk… Hal. Beliau mengambil takhasshus tadris sampai memperoleh ijazah tadris (diploma guru). Rektor IAIN Imam Bonjol Padang (19661071). Akademi Pramong Praja di Bukit Tinggi (19481949).blogspot. IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menganugerahi Mahmud Yunus Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Tarbiyah. Kuliyah Mu’alimin Islamiyah Noramal Islam Padang (1932-1946).pada tahun 1920 Yunus membentuk perkumpulan pelajar Islam yang juga menerbitkan majalah al-Basyir. 2. dan menjadi orang kedua yang menyabet predikat tersebut. Tafsir dan Akhlak yang lebih memfokus pada materi sajian. Yunus lebih banyak memberi perhatian pada bidang pendidikan Islam. Mahmud Yunus meninggal dunia. (Jakarta: PT. menjadi Dekan dan Guru Besar pada fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1960-1963). Pada tahun 1924. Yunus mendapat kesempatan untuk belajar di alazhar. Pada tahun 1982. terutama buku pelajaran agama islam untuk anak-anak. beliau adalah orang Indonesia yang pertama belajar disini.[7] Selain itu Yunus juga sering berkunjung ke luar negri. Mahmud menulis tak kurang dari 43 buku. Pendidikan Islam. baik sebagai tugas yang diberikan pemerintah kepada beliauu maupun atas undangan untuk menghadiri berbagai muktamar. Sejarah dan lain-lain. Ushul Fiqh. buku-bukunya tidak hanya ditulis dalam bahasa Indonesia. Tafsir.[5] kemudian pada tahun 1926-1930 belajar di madrasah darul ulum ulya. akan tetapi juga dalam bahasa Arab. Akhlak. yang sebagian besar adalah bidang-bidang ilmu agama Islam. bidang Fiqh. pada 15 Oktober 1977. bahasa Arab. Prof. Sepanjang hidupnya. Mahmud Yunus juga banyak menulis buku. Atas jasa-jasanya dibidang pendidikan ini. Ia memulai [ [ [ [ Saiful Amin … hal: 198 Herry Mohammad. Dari jumlah itu. Kairo-Mesir.[8] Pada awal tahun 1970 kesehatan Mahmud Yunus menurun dan bolak balik masuk rumah sakit. Di antara bidang-bidang ilmu yang disebutkan. Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) Jakarta (1957-1980). di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 8] Mahmud Yunus. ia telah menghasilkan buku sebanyak 82 buah meskipn sebagian menyebutkan karyanya hanya berkisar 43 buku. Tafsir al-Qur’an al-Karim. yakni pada al-Jami’ah al-Islamiyah Batusangkar (1931-1932). Tauhid. seperti bidang Fiqh. Lihat kulit depan tafsir beliau. DR. Sesuai dengan kemampuan bahasa yang ia miliki. fiqh hanafi dan tafsir. 5] 6] 7] . termasuk pula tafsir dan terjemahan al-qur’an. Dalam tempo setahun ia mampu mempelajari ushul fiqh. Karena kebriliannya ini ia mendapatkan Syahadah ‘alimiyah dari al-Azhar . Karya-karya Mahmud Yunus Pada perjalanan hidupnya. dan Yunus sebagai pemimpi redaksinya.

wordpress. Federspiel. 8. 1935). setidaknya ada enam buah karya Tafsir yang muncul pada masa Mahmud Yunus yang berturut-turut hingga menjelang kemerdekaan Indonesia menurut Nashruddin Baidan: a. untuk Muballigh-Muballigh / umum. Al-Qur’an Indonesia oleh Syarikat Kweek School Muhammadiyah (1932) [ [ 9] Saiful Amin … hal: 200 10] http://pusat-akademik. hal: 65 [13] Howard M. A. Mahmud Yunus (Tafsir Quran Indonesia. Upaya rintisan ini kemudian diikuti oleh Munawar Chalil (Tafsir Al Quran Hidayatur rahman). Mahmud Aziz. 7. Yakni periode pertama mulai abad ke-20 ditandai dengan penafsiran terpisah-pisah.mengarang sejak tahun 1920.html. (Bandung: penerbit Teraju. Perbandingan Agama. Tafsir al-Quran tamat 30 juz. [11] Dalam konsep Howard M. dalam usia 21 tahun. Sekilas Tentang Tafsir al-Qur’an al-Karim Secara singkat. ia membagi kemunculan dan perkembangan Tafsir di Indonesia dalam 3 periode. Hukum perkawinan dalam Islam. aktivitas seputar Al Quran di Indonesia dirintis oleh Abdur Rauf Singkel. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. 1928). 5. di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 [ 11] http://luluvikar. 10.com/2004/12/22/arkeologi-pemikiran-tafsir-di-indonesia/ diunduh pada 12:59 [12] Islah Gusmian. pada pertengahan abad XVII. periode kedua (1960) dengan ditandai dengan catatan kaki kemudian periode ketiga (1970) ditandai dengan penjelasan yang lebih luas dari periode kedua. Ilmu Tauhid menurut Al-Quran. kuliyah untuk dakwah. 2. dalam situasi apapun. Ilmu Jiwa kanak-kanak.Hassan Bandung (Al-Furqan. bersama H. Yunus senantiasa mengisi waktu-waktunya untuk menulis. Karirnya sebagai pengarang tetap ditekuninya pada masa-masa selanjutnya. 2003). Hukum Warisan dalam Islam.[9] Adapun diantara karya-karya Mahmud Yunus ialah:[10] 1. Juz Amma dan terjemahnya. 1994).Hassan Bandung (Al-Furqan. (Bandung: Penerbit Mizan. 12.[12] Karya Mahmud Yunus tetap menjadi literature yang paling popular di bandingkan karya Tafsir semasanya meskipun kemudian lahirlah karya-karya Tafsir yang lebih ilmiah. Ilmu Mustalahul Hadist. tahun 1938. 4. 11. Dasar-dasar Negara Islam. Allah dan Makhluq-Nya. Khazanah Tafsir di Indonesia. untuk tingkat Aliyah.[13] Sedangkan Baidan mengelompokkan . Pendidikan-Pendidikan Umum di Negara-negara Islam/Pendidikan Barat. hal: 130 . 3. Federspiel.com/2008/10/tafsir-al-quran-al-karim-mahmud-yunus.blogspot. 6. yang menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Melayu. Pedoman Dakwah Islamiyah. Kesimpulan isi al-Quran. untuk tingkat Aliyah. 9. A. kuliyah untuk kursus-kursus. B. 4 Madzhab. 1928) b. Kajian al-Qur’an di Indonesia. 13.

Mahmud Yunus mulai menterjamahkan al-Qur’an dan diterbitkan tiga juz dengan huruf arab-melayu pada tahun 1922. 2003) hal: 88 15] Nashruddin Baidan … hal: 89 16]Mahmud Yunus. pada tahun 1950 dengan persetujuan menteri agama almarhum Wahid Hasyim. Mahmud mulai menterjemahkan al-Qur’an serta tafsir ayat-ayat yang di anggap penting. bantahan itu dikirimnya pada Presiden R. Tafsir Hibarna oleh Iskandar Idris (1934) Tafsir Al-Qur’annul karim oleh Mahmud Yunus (1938) Tafsir Qur’an Bahasa Indonesia oleh Mahmud Aziz (1942) Jika keenam kitab tersebut diamati secara seksama maka secara umum penafsiran mereka belum terlau signifikan perkembangannya. f. M.I.00 per eksemplar.000 eksemplar. e.Baharta direktur percetahan Ma’arif Bandung. kemudian beliau membalas suratnya dengan panjang lebar dan mengukuhkan pendiriannya untuk tetap menerbitan Terjemah alQur’an yang merupakan Tafsir Bahasa Indonesia pertama tersebut. (Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Tafsir al-Qur’an al-Karim. Akhirnya di ambil alih oleh M.c.[15] Selanjutnya. K. Namun bagaimanapun karya para Ulama tersebut sangat berarti karena merupakan upaya konkrit dan sistematis dalam usaha untuk memahami al-Qur’an. Bila diteliti lebih lanjut lagi. III Pendahuluan 14] . dan menteri Agama. (Jakarta: PT. akhirnya tidak ada yang mengganggu gugat lagi. Al-Hidayah. pada bulan april 1938 beliau menyelesaikan tiga puluh juz dan di sebar luaskan keseluruh Indonesia. hingga membuat percetakan tidak lagi mau menerbitkan Tafsir al-Qur’anul Karim. dalam penafsiran yang mereka berikan secara umum masih dipengaruhi oleh budaya dan tradisi Arab sehingga budaya dan bahasa Indonesia belum terlihat secara ekplisit. Kemudian setelah menyelesaikan percetakan itu. hal.1969). Tembusannya beliau kirimkan kepada Presiden R. beliau bersama istrinya (Darisah binti Ibrahim) meneruskan usahanya dalam menerbitkan tafsir al-Qur’an al-Karim itu. Salinannya disampaikan kepada beliau (Mahmud Yunus) oleh kementerian agama. bantahan itu dikirimnya kepada menteri agama R.Hidakarya Agung. Perkembangan Tafsir al-Qur’an di Indonesia. Pada waktu menterjemahkan juz 7 sampai juz 18 beliau dibantu oleh almarhum H. yang kemudian dinamai dengan tafsir al-Qur’an al-Karim. Sanusi (1935) [ [ [ Nashruddin Baidan.I. 21. dan menteri agama. Setelah Indonesia merdeka. d.I. supaya diberhentikan mencetak tafsir al-Qur’an itu. Terjadi beberapa kali revisi. diantaranya ialah merevisi dari penulisan arab melayu menjadi bahasa Indonesia dengan penulisan latin sebelum kemudian tafsir al-Qur’an al-Karim diterbitkan oleh CV. Pada tahun 1953 M seorang ulama dari Jatinegara membantah pula. Tafsir asy-Syamsiyah oleh KH. [16] Pada bulan ramadhan tahun 1354 H/Desember 1935. [14] Manfaat tersebut juga dapat dirasakan pada generasi-generasi setelahnya. Meskipun saaat itu para ulama mengharamkan penterjemahan al-Qur’an tetapi ia tetap berusaha untuk menterjemahkan al-Qur’an. Bakry. lalu dicetak dan diterbitkan sebanyak 200. Kabarnya ada bantahan dari ulama Yagyakarta.000 eksemplar dan dijualnya dengan harga Rp. salah satu penerbit Indonesia hendak menerbitkan tafsir al-Qur’an al-Karim itu dengan mendapat fasilitas kertas dari menteri agama dan dicetak sebanyak 200.

sumber utama penafsiran Mahmud Yunus masih tergolong bil-ma’tsur. jilid kedua dari juz 11 sampai dengan 20. Tafsir al-Quran ini sistematika penafsirannya sama seperti isi al-Quran dan terjamahan disamping kanan ayat (setiap ayat) kemudian terjemahannya dibawahnya terdapat penafsiran. jilid ketiga dari juz 21 sampai dengan 30. Selain itu kebutuhan untuk mengajar dan menjadikan al-Qur’an aar lebih mudah dipahami oleh umat Islam di Nusantara. 4. pertama dari juz 1 sampai dengan juz 10. Maka secara sitematika penafsiran tafsir ini menempuh tartib Mushaf.html.[17] 3. Jadi. Sistematika Penulisan Tafsir Kitab ini terdiri dari dua jilid yaitu pertama satu jilid tamat dari juz 1 sampai dengan 30. di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 17] . Sumber-sumber tafsir al-Qur’an al-Karim: 1. tiga jilid. 4. Penulisan tafsir ini dimulai pada November 1922 yang dilakukan secara berangsur-angsur juz demi juz sampai dengan selesai juz ke-tiga puluh. 2.blogspot. 2. dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Naas. Sistematika penafsiran Mahmud Yunus menafsirkan seluruh ayat sesuai susunannya dalam mushaf al-Quran ayat demi ayat. 5. Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an Tafsir al-Qur’an dengan hadis yang shahih Tafsir al-Qur’an dengan perkataan sahabat Tafsir al-Qur’an dengan perkataan tabi’in Tafsir al-Qur’an dengan ilmu bahasa ‘arab bagi ahli ilmu lughah ‘arabiyyah Tafsir al-Qur’an dengan ijtihad bagi ahli ijtihad. Minatnya terhadap studi al-Quran serta bahasa arab telah menimbulkan hasrat besar dalam diri Mahmud Yunus untuk menulis tafsir al-Quran yang kemudian menjadi karya monumentalnya sendiri yang tetap populer sampai saat ini. merupakan tindakan yang cukup berani disaat masih maraknya pandangan yang mengatakan bahwa haram menterjemahkan al-Quran. 3. Ia telah mencintai ilmu-ilmu kebahasaan dan juga menguasai metode mengajar. surat demi surat.1. Referensi penafsiran dari pelpagai kitab-kitab tafsir. Perlu di garis bawahi disini bahwa upaya penulisan Mahmud Yunus ketika itu. diantaranya adalah: 1) 2) 3) [ Tafsir al-Thabary Tafsir Ibn Katsir Tafsir al-Qasimy http://pusat-akademik. Motivasi penulisan Tafsir Sejak kecil Mahmud Yunus telah mempelajarari berbagai displin keagaman Islam terutama bahasa Arab.com/2008/10/tafsir-al-quran-al-karim-mahmud-yunus. kedua . 6.

Tafsir Mahmud Yunus ialah ‘umum’ sebagaimana Tafsir yang tumbuh semasanya. Metode dan corak Penafsiran al-Qur’an al-Karim Tafsir al-Quran Karim Mahmud Yunus ini menunjuk pada metode tahlili. VI pendahuluan http://pusat-akademik. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. aspek kosa kata dan penjelasan arti global tidak selalu dijelaskan. VI-V Pendahuluan 18] 19] [ . (Jakarta: PT.Hidakarya Agung.1969). sehingga memudahkan pembaca untuk mencari terjemah.1969). (Jakarta: PT. berwasiat itu hukumnya sunnah. Sebab itu hendaklah ia bertakwa dan berusaha meninggalkan harta pusaka untuk mereka.4) 5) Fajrul Islam Dhuhal Islam[18] 5.ts? ô`ÏB óOÎgÏÿù=yz ZpƒÍh‘èŒ $¸ÿ»yèÅÊ (#qèù%s{‚÷·| ™öNÎgøŠn=tæ (#qà)Gu‹ù=sù ©!$# (#qä9qà)u‹ø9ur Zwöqs% #´‰ƒÏ‰y Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah. Demikian hukum islam [ [ Mahmud Yunus. Kedua aspek tersebut dijelaskan ketika dianggap perlu. Contoh Penafsiran Contoh Tafsir Mahmud Yunus dalam surat An-Nisa’ ayat 9: u‹ø9ur šúïÏ%©!$# öqs9 (#qä. (Lihat di ayat-ayat Aurat dalam Tafsir alQur’anul Karim) 21] Mahmud Yunus. Tafsir al-Qur’an al-Karim. hal. di unduh pkl 12:19 tgl 20-10-11 [20] Seperti halnya dengan isu hukum ber-Jilbab di Indonesia. Kelebihan sistematika penulisan Tafsir al-Qur’an al-Karim 1) 2) 3) 4) Terjemahan al-Qur’an disusun baru. 6. Janganlah mewasiatkan hartanya untuk fakir miskin dan amalan sosial lebih dari mestinya. supaya tidak terlantar kehidupan anak-anaknya yang masih kecil itu. Keterangan ayat 9: “ dalam ayat ini Allah menganjurkan kepada orang tua agar memikirkan akibat anak-anaknya yang masih lemah (kecil).[19] Dalam pandangan Nashruddin Baidan. Yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah.Hidakarya Agung. yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Dalam tafsir Mahmud Yunus.[20] [21] 7.com/2008/10/tafsir-al-quran-al-karim-mahmud-yunus. Keterangan-keterangan atau penafsirannya diletakkan dihalaman ayat yang bersangkutan (footnote) Keterangan-keterangan ayat ditambah dan diperluas.blogspot. suatu metode tafsir yagn bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Quran dan seluruh aspeknya. sesuai dengan perkembangan bahasa Indonesia Teks al-Qur’an dan terjemahan disusun sejajar.html. Hal. Tafsir al-Qur’an al-Karim. Menurut islam. sedang mendidik anak-anak hukumnya wajib. bila ia meninggal dunia. Artinya belum ada suatu ke-khas-an yang khusus dalam Tafsirnya. Mahmud Yunus juga menambahkan keterangan dan mengaitkannya dengan isu-isu kontemporer saat itu.

wordpress. 2003 Federspiel. Tafsir al-Qur’an al-karim merupakan penafsiran dengan corak umum dan global. Howard M.Hidakarya Agung. Khazanah Tafsir di Indonesia. karakteristik Tafsir.1969 http://menyempal. 2003 2003 Mohammad. 2008 Gusmian. Jakarta: Gema Insani Press. Yogyajarta: Pustaka Insan Madani. Islah. 2006 Yunus. PENUTUP Kesimpulan 1. Beliau adalah alah satu tokoh yang berpengaruh di Indonesia karena produktivitas tulisannya dan juga progresfitas pemikirannya.com http://pusat-akademik.wordpress. Tafsir al-Qur’an al-Karim. 2. Nashruddin Perkembangan Tafsir al-Qur’an di Indonesia. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Minat dalam dunia pendidikan ini tidak hanya mengantarkannya ke berbagai daerah dan belahan dunia namun juga mempengaruhi sistem pendidikan agama Islam dimasanya hingga sekarang. Mahmud. Saiful Amin. Metode yang digunakannya juga tergolong tahlily. DAFTAR PUSTAKA Baidan. Kajian al-Qur’an di Indonesia.com . Herry dkk. Penafsirannya masih sebatas penjelasan Al-Qur’an secara global dan belum sampai pada taraf yang khas dan khusus.blogspot. Jakarta: PT. Bandung: penerbit Teraju. 1994 Ghofur. Bandung: Penerbit Mizan. Lampiran itu juga menunjukkan sistematika.8. Lampiran contoh Kitab Tafsir. Berikut ini penulis melampirkan contoh Kitan Tafsir al-Qur’an al-Karim karya Mahmud Yunus. corak umum dan metode Tahily dan juga sumber penafsiran Bil Ra’yi karna upaya penerjemahan tersebut juga merupakan suatu ijtihad berdasarkan Ra’yu. Mahmud Yunus merupakan salah satu mufassir dan penulis produktif yang menulis sejak usia 21 tahun dan mengajar sejak dini. Tokoh-tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20. Profil Para Mufassir.com http://luluvikar.

terdiri dari 142 jilid. seorang ulama’ berbangsa Arab. Daftar isi • • • • • 1 Keluarga 2 Pendidikan 3 Karya 4 Bacaan Lebih Lanjut: 5 Sumber Keluarga Ayahnya Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husien ibn Muhammad Su’ud. Sebagian besar karyanya adalah buku-buku fiqh yang berjumlah 36 judul. Karya Semasa hidupnya. cari Prof. Beliau mempelajari bahasa Arab dari gurunya yang bernama Syeikh Muhammad ibn Salim al-Kalali. Menurut salasilah. Beliau juga pernah menuntut di Timur Tengah. dan 50 artikel. ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi. Dr. tafsir 6 judul. 9 Desember 1975 pada umur 71 tahun. Dr. Ibunya Teungku Amrah binti Teungku Chik Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz . khususnya ilmu-ilmu keislaman.M Hasbi ash Shiddieqy berangkat ke Surabaya dan melanjutkan pelajarannya di Madrasah al-Irsyad yaitu sebuah organisasi keagamaan yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Soorkati (1874-1943). Di Madrasah al-Irsyad Hasbi ash Shiddieqy mengambil takhassus dalam bidang pendidikan selama 2 tahun. yang ia tulis beberapa waktu sebelum meninggal dunia.M. adalah seorang ulama’ terkenal di kampungnya dan mempunyai sebuah pondok. Pendidikan Prof.Muhammad Hasbi Dari Wikipedia bahasa Indonesia. selebihnya adalah tema-tema yang bersifat umum. T. 10 Maret 1904 – meninggal di Jakarta. Menurut catatan. Hasbi ash Shiddieqy adalah berketurunan Abu Bakar al-Shiddiq (573-13/634M) yaitu khalifah yang pertama. Hasbi ash-Shiddieqy aktif menulis dalam berbagai disiplin ilmu. Pengajiannya di al-Irsyad dan gurunya Ahmad Soorkati banyak memberi didikan ke arah pembentukan pemikiran moden. seperti hadis berjumlah 8 judul. Hasbi Ash Shiddieqy Lahir Meninggal Agama Islam 10 Maret 1904 Lhokseumawe 9 Desember 1975 Islam Profesor Doktor Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy lahir di Lhokseumawe . Beliau menuntut ilmu di pelbagai pondok pengajian dari stu kota ke kota yang lain selama 20 tahun. Beliua merupakan generasi ke 37 dari Abu Bakar al-Shiddiq yang meletakkan gelaran ash Shiddieqy diakhir namanya. seorang ulama’ yang berasal dari Sudan . Sementara bidang-bidang lainnya. karya tulis yang telah dihasilkannya berjumlah 73 judul buku. merupakan anak seorang Qadi Kesultanan Acheh ketika itu. Pada tahun 1926 T. Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy mula mendapat pendidikan awalnya di pondok pengajian milik bapanya. . dan tauhid 5 judul. Karya terakhirnya adalah Pedoman Haji.

324 halaman.I. 27. 4. Mutiara Hadis 4 (Jenazah. 18.96 halaman. Pudjangga Islam . Perbudakan.M. Bulan Bintang. Forum Studi Hukum Islam. 1964.95 halaman. Zakat. . Fighul mawaris: hukum-hukum warisan dalam syariat ̓ Islam. Ichtisar tuntunan zakah dan fithrah. Attahirijah . Nazar & Sumpah. 2002 [i.94 halaman. 23. Mutiara Hadis 1 (Keimanan). ‫السثيناسﺔ الدستنوريﺔ الشرعثيﺔ‬:‫الفقه الدستنور ي‬.64 halaman. Darul Irfan. 13. Ke arah fiqh Indonesia: mengenang jasa Prof. Mukhtārāt min aḥādīth al-aḥkām li-qism al-duktūrāh al-ūlá. 29. Volumes 1-2. Mutiara Hadis 3 (Shalat). Dr. 1956 . 1994 . 1955 . Koleksi Hadits-hadits Hukum. Pustaka Madju . Alma'arif.122 halaman. 2. Biro Kemahasiswaan I. bulat dan tuntas. 1969 . 1955 . Dasar-dasar kehakiman dalam pemerintahan Islam. Mutiara Hadis 5 (Nikah & Hukum Keluarga. 9 Jilid. A. amal kebadjikan.207 halaman. Hukum perang dalam Ǐslam. Karya ini fenomenal karena tidak banyak ulama Indonesia yang mampu menghasilkan karya tafsir semacam itu. 25. Kursus sembahjang dan do'a.. 37.N. s. 1950 . 22.V.236 halaman. Dua ribu dua] mutiara hadiets.934 halaman. 5. Bulan Bintang. T. Biografie pelopor2 pahlawan Islam.40 halaman.576 halaman.56 halaman. Biro Kemahasiswaan I. Mu'djizat al-Qurän. 21. 20. 1950 . 1971 . Kumpulan soal-jawab dalam post graduate course jurusan ilmu fiqh dosen2 I.152 halaman.". Bulan Bintang. 1962 . 1968 . Saiful. Jihad). Kulijah hadiets: sjarahan hadiets-hadietstasjrie' ʻibadah. Bulan-Bintang. Bulan Bintang. Ilmu2 al-Qurän: media2 pokok dalam menafsirkan al-Qurän. Jual Beli.164 halaman.A. Bulan Bintang. n. Pahala dan keutamaan ibadat. 1951. C.584 halaman. 42. 1975 . doʾa dan dzikir. 6. 1958 .108 halaman. Kriteria antara sunnah dan bid'ah. Bulan Bintang. 1973 . 1.117 halaman. I.91 halaman. Falsafah hukum Islam. Menara Kudus. "Sunan Kalidjaga". alDjami'ah "Sunan Kalidjogo. 34. 3. 32. Kelengkapan dasar2 fiqih Islam: pengantar ushul fiqih. Dasar-dasar ideologi Islam. 24. Bulan Bintang. 9. . Fakultas Syari'ah. Islamyah. Iktikaf & Haji). Bulan Bintang. 35. Dasar-dasar Fiqih Islam. Al Islam: kepertjaan. Pustaka Rizki Putra. Thinker's Library. 16. al-Islam.128 halaman. Bulan Bintang. Puasa. Islamyah.N. Fiqh Islam. 1999 .Karya Hasbi paling fenomenal adalah Tafsir an-Nur. IAIN Sunan Kalijaga. Hukum antar golongan dalam fiqih Islam. 2002 mutiara hadiets. al-Islâm: penuntun bathin & pembimbing masjarakat. 1978 677 halaman. Islamyah.135 halaman. 1973 . Pustaka Alhambra. Volume 1. 1975 . 1952 .93 halaman.N.I. kesusilaan. 1967 .300 halaman.A. Sunan Kalidjaga. Fakta2 keagungan sjari'at Islam. 26. 1967 . Fiqih Islam mempunyai daya elastis. Mutiara Hadis 2 (Thaharah & Shalat).A.488 halaman. lengkap. 40.160 halaman. 38. Hukum-hukum fiqih Islam: yang berkembang dalam kalangan ahlus sunnah. 1970. 10. Al-Ahkaam:Hukum-hukum fiqih Islam. al Qurän mu'djiat jang terbesar jang tak terkalahkan: kandungan dan artinja bagi ummat Islam chususnja dan ummat manusia umumnja. 1953 .40 halaman. 28. 36. N. Madju . Tokobuku Islamyah.".476 halaman. Lapangan perjuangan wanita Islam. Ramadhani . 19.636 halaman. 1953 . 39. 1953 . 1965 . 43. 33. 1986 . 17. 1966 . Bulan Bintang. 15. 8. 1982 .181 halaman. 30. Menara Kudus.175 halaman. biro Kemahasiswaan I. 31. 41. 1972 .78 halaman. Kullijah 'ibâdah: ibadah ditindjau dari segi hukum dan hikmah. Bulan Bintang. 11. 12. Sebuah tafsir al-Qur`an 30 juz dalam bahasa Indonesia. Hakikat Islam dan unsur-unsur agama. Ideologi Islam dan qaedah pemerintahan. Bulan Bintang. Bulan-Bintang.I. 7. Islam dan HAM (Hak Asasi Manusia): Dokumenter Politik Pokok-pokok Pikiran Partai Islam dalam Sidang Konsituante 4 Februari 1958. Hasbi Ash Shiddieqy. Bulan Bintang.158 halaman. 14. Lembaga pribadi. Pidana & Peradilan.44 halaman.168 halaman.e.

Pustaka Rizki Putra. Syari'at Islam adalah syari'at dunia dan kemanusiaan. 75. Perbedaan mathlaʻ tidak mengharuskan kita berlainan hari pada memulai puasa. Menara Kudus. Pidana mati (dalam syari'at Islam). Bulan Bintang.272 halaman. 58. 2000 . Sedjarah dan pengantar ilmu hadits. Bulan Bintang. Tafsir al-Qurânul madjied "An-Nur". 50. Pustaka Islam. Bulan Bintang.119 halaman. Sjari'at Islam mendjawab tantangan zaman. Bulan Bintang. Bulan Bintang.58 halaman. Volume 3.63 halaman. Bulan Bintang. 61.24 halaman.121 halaman. 1986 . Tafsir al-Qurânul madjied "An-Nur". 69. Alma'arif. 63. 53. 60. 46. Tafsir al Qurânul majied "An Nur". Bulan-Bintang.144 halaman. Tafsier al-Qurânul madjied "An-Nur". 66. 82. 1964 . 1966 . 1966. 74.4760 halaman. Tafsier al-Qurânul madjied "An-Nur". 81. 1963 . Bulan Bintang.61 halaman. Ramadhani.478 halaman. Bulan Bintang. 1967. 1964 . 1955 . Volume 4. 1965 . Pedoman Hajji. 64.208 halaman. 49.276 halaman.262 halaman. . Problematika hadits sebagai dasar pembinaän hukum Islam. 1965.34 halaman. menurut hukum Islam. Bulan Bintang. 70. 47. 1972 . Pemindahan darah (blood transfusion) dipandang dari sudut hukum agama Islam. 56. al-Djamilah . Volume 5. C. Polygami. Bulan Bintang. Tafsir al-Bayaan. Volume 6. 54. 1971 . 1973 . Ladjnah Taʻlif Wan Nasjr Fakultas Sjariʻah Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalidjaga. 1963 .106 halaman.568 halaman. 78. 77. Pengantar ilmu fiqh.. 83. Sedjarah peradilan Islam. Bulan Bintang. 1962 . 1978 . 1975 . Pedoman shalat.I. Pedoman hukum Sjar'y jang berkembang dalam 'alam Islamy Sunny. Pokok-pokok pegangan imam-imam madzhab dalam membina hukum Islam. Tuntutan qurban. Pedoman dzikir dan doʻa. Volume 25.382 halaman.288 halaman. 1956 . 1954 . Madju. 1972 . 68. Bulan Bintang.180 halaman. Menara Kudus. 65. menerima dan membagi. Problematika bulan Ramadhan. Bulan Bintang. 45.59 halaman. Bulan Bintang.92 halaman. 1955 .A. Pelajaran tauhid: pokok2 ʾaqaid Islam : untuk pelajaran agama bagi sekolah2 permulaan dan umum. Bulan Bintang. 79. Bulan-Bintang. 76.35 halaman.68 halaman. 1974 . 85. 1972 . Pengantar hukum Islam. Volume 1. "Bulan-Bintang".274 halaman. Bulan Bintang. Ridjalul hadiets: biographi 7 shahabi dan 18 tabi'in jang terkemuka dalam lapangan hadiets : kullijah hadiets. 1965. Ramadhani. Sedjarah kehakiman dalam pemerintahan2 Islam. Pokok-pokok sebab perbedaan faham para ulama/fuqoha dalam menetapkan hukum syara. Pedoman puasa.44. 48. Tuntunan zakah dan fithrah:tjaranja memberi. 1953 .V. 80.155 halaman. Pengantar fiqih mu'amalah. Al-Ma'arif.24 halaman.20 halaman. Tafsir al-Qurânul madjied "An-Nur". 1950 . Islamyah. Problematika 'iedul fithri. 59. Bulan Bintang. Biro Kemahasiswaan IAIN al-Djami'ah Jogjakarta .N. Pedoman ibadat puasa. 1958 . Sedjarah dan pengantar 'ilmu al-Qurän/tafsir. 1974 . Thinker's Library.76 halaman. 52. 1954 . 55. Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga.272 halaman. 1965 . 72. 1968 . slamijah. Lembaga Penerbitan. Bulan Bintang. Pokok-pokok ilmu dirajah hadiets. Biro Kemahasiswaan I.69 halaman. Bulan Bintang.216 halaman. 1949 . Sedjarah dan perdjuangan 40 pahlawan utama dalam Islam. 1965. Bulan Bintang. Bulan Bintang. 84.24 halaman. Sedjarah petumbuhan dan perkembangan hukum Islam. 73. 1976. Pengantar ilmu perbandingan madzhab. 67. 57. 1955 . 51.432 halaman. 62. 1973. 1971 . Pustaka Islam. Sedjarah dan pengantar ilmu tafsir. Tafsir al-Qur'anul Majid an-Nuur: Surat 42-114. Perbendaharaan zakat. 71.48 halaman. 1966 .

dalam makalahnya. Adian Husaini BELUM lama.“Memperjelas Posisi Hamka soal Pluralisme Agama” Jum'at. pada 20 Maret 2012. (Alister E. ST.. Buya Hamka sudah menjelaskan masalah ini. Padahal. Syafii Maarif – dan sang Jenderal Polisi yang berkonsultasi dengannya – menganggap bahwa kedua ayat ini dapat digunakan untuk menanggulangi konflik horizontal di Poso.” Memang. Menurut penulisnya. Isinya mengulas sebuah artikel karya Ahmad Syafii Maarif yang dimuat di Rubrik Resonansi. Menurut Hamka. edisi 21 November 2006. setiap agama dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah menuju kebenaran dan Tuhan (In pluralism. asal saling menghormati dan saling menjaga pendirian masing-masing. Syafii Maarif menjelaskan alasan di balik penelitiannya terhadap kedua ayat ini: “Pada suatu hari bulan November 2006 datanglah sebuah pesan singkat dari seorang jenderal polisi yang sedang bertugas di Poso menanyakan tentang maksud ayat 62 surat alBaqarah. akan ditemukan asbabun nuzul dari ayat ke-62 dalam Surah alBaqarah itu. bahwa Buya Hamka sama sekali bukan seorang Pluralis Agama. Sebagian besar isinya adalah kutipan-kutipan dari Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka. adalah perihal penggunaan kedua ayat tersebut yang jauh dari konteks aslinya. M. Buku ini sebenarnya merupakan Tesis Master Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor. Padahal. Pemaksaan dalam agama adalah sikap yang anti Al-Quran (lih. saya menegaskan. mengaku beragama atau tidak. dan “Shabi’in” adalah nama yang diberikan bagi orang yang keluar dari agama nenek moyangnya. sedangkan orang-orang tersebut beragama Nasrani. Intinya. salah satu anak Nabi Ya’qub as) pada hakikatnya adalah agama-keluarga. Sepengetahuan saya tidak ada Kitab Suci di muka bumi ini yang memiliki ayat toleransi seperti yang diajarkan Al-Quran. Karena digali dari al-Qur’an. inilah salah satunya yang nampaknya paling penting: “Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia. dalam CAP ini adalah paham yang menyatakan bahwa semua agama merupakan jalan yang sah menuju inti realitas keagamaan. tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup. Syafii Maarif pun memungkas artikelnya dengan opini berikut: “Sikap Hamka yang menolak bahwa ayat 62 al-Baqarah dan ayat 69 al-Maidah telah dimansukhkan oleh ayat 85 surat Ali ‘Imran adalah sebuah keberanian seorang mufassir yang rindu melihat dunia ini aman untuk didiami oleh siapa saja. Akmal Syafril. “Nasrani” dan “Shabi’in” dalam Tafsir Al Azhar. Kata jenderal ini pengertian ayat ini penting baginya untuk menghadapi beberapa tersangka kerusuhan yang ditangkap di sana. Kesalahan pertama. seputar orang-orang sholeh yang dijumpainya di masa lampau. yang diberi judul “Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah”.. jika Tafsir Al Azhar dibaca secara runut. sepadan dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu. 1994). Dalam Pluralisme agama. kita dapat memahami bahwa konflik horizontal yang dimaksud adalah konflik antar umat beragama. tidak ada satu agama yang merasa superior dibanding yang lain. yaitu daerah kelahiran Nabi ‘Isa as) pada hakikatnya adalah agama-bangsa. Saya pun segera menulis artikel yang menjawab artikel Syafii Maarif tersebut. Tapi. terlepas dari ada-tidaknya unsur kesengajaan. Yahudi dan lain-lain. ia mengaku menemukan beberapa kesalahan fatal yang telah dilakukan oleh Syafii Maarif dalam pengutipan Tafsir Al Azhar tersebut. Yunus 99). “Nasrani” (berasal dari nama Nashirah. setelah keluarnya tulisan Syafii Maarif tersebut. Dari paragraf kesimpulan yang ditulis oleh Syafii Maarif sebelumnya. surat kabar Republika. “Yahudi” (berasal dari nama Yehuda. maka dapat dipahami pula bahwa penelaahan ini digunakan untuk meredam keinginan sementara pihak di kalangan umat Muslim untuk melakukan kekerasan pada umat lain. tegas Akmal. terjadi perdebatan yang cukup seru di Rubrik Opini Harian Republika. Kesalahan kontekstual ini akan terlihat jelas kemudian. sehingga Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassalam pun pernah disebut sebagai shabi’. Christian Theology: an Introduction. . Perlu dicatat. Di bagian awalnya. 20 April 2012 Oleh: Dr. pada awalnya penulisan buku ini bersumber dari sebuah makalah yang dibuatnya saat sedang mengikuti studi di Program Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA). Menurut Akmal. yakni untuk menjawab pertanyaan Salman al-Farisi r. atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka. Penerbitan buku ini sangat penting untuk menjernihkan dan mempertegas pemikiran Buya Hamka tentang Pluralisme Agama. Mcgrath.a. (Oxford: Blackwell Publisher. no one religion is superior to any other. each and every religion is equally valid way to truth and God).” Setelah menjelaskan bahwa Hamka menolak pendapat yang menyatakan bahwa ayat ke-62 dalam Surah al-Baqarah telah di¬nasakh oleh ayat ke-85 dalam Surah Ali ‘Imran. al-Baqarah 256. Bogor.I. Kesalahan kedua disebabkan oleh kelengahan Syafii Maarif untuk melacak penjelasan nama-nama agama “Yahudi”. bahwa Pluralisme Agama. namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan. salah satu peneliti INSISTS.” Di antara berbagai kutipan Tafsir Al Azhar dari artikel tersebut.Pd. menerbitkan bukunya yang berjudul Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme.

hadirnya buku Akmal ini menjadi penting. Saya sudah menulis jawaban terhadap tulisan Ayang tersebut untuk buku 100 Tahun Buya Hamka. tetap saja pendapat yang mengutip tulisan Buya Hamka secara tidak proporsional juga terus berkeliaran. selain karena posisi sentral al-Qur’an dalam ajaran Islam. “Dengan menyimak betapa pentingnya penjelasan di atas. Kutipan makalah Peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina itu dimuat di halaman 307. termasuk penafsiran al-Qur’an. maka orang yang terlanjur dikenal sebagai Yahudi. Saya pribadi (Adian Husaini) juga menemukan tulisan Ayang Utriza yang menfitnah Buya Hamka dalam buku Bayang-bayang Fanatisisme: Esei-esei untuk Mengenang Nurcholish Madjid. tidaklah sulit menunjukkan kesalahan (untuk tidak menyebutnya ketidakjujuran) fatal yang dilakukan oleh Ayang Utriza NWAY. Tetapi kalau keterangan telah sampai. Bahkan. walaupun tidak mengucapkan dua kalimat syahadat.” Menurut Akmal. bab keempat dalam buku ini menguraikan argumen-argumen yang digunakan oleh kaum pluralis dari kalangan Muslim. kesimpulan dari sebuah uraian ilmiah. Hal ini akan semakin jelas pada poin berikutnya. Tentu saja. . Dengan memperbandingkan penafsiran Hamka dengan penjelasan ayat-ayat tersebut oleh kaum pluralis Muslim. dan oleh karena itu. Bahira dapat dianggap sebagai Nasrani yang beriman hanya karena ia hidup pada masa prakenabian Rasulullah saw.Dengan definisi tersebut. Akan tetapi. maka ia tidak akan pernah mendapat ganjaran dari Allah. Setelah mengutip beberapa poin dalam Tafsir Al Azhar – lagi-lagi untuk QS. Oleh karena itu. Contoh yang dapat diambil adalah Pendeta Bahira. Masing-masing pihak yang mengusung pluralisme memiliki konsepnya sendiri-sendiri. yang – jika dicantumkan – akan segera menghapus kesan pluralis dari sosok Buya Hamka dalam artikel tersebut?” tulis Akmal. melainkan mengupas tuntas jawaban dari sebuah pertanyaan besar: apakah Buya Hamka memang seorang pluralis? Buku Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme merupakan hasil adaptasi dari tesis tersebut. Persoalan paling fundamental yang pasti muncul ketika membahas pluralisme. bagaimana pun. Fungsinya. Karena pada masa hidup Buya Hamka dahulu istilah “pluralisme” belum dikenal. saat bertemu keluarga Hamka. Dalam makalahnya. tak ada koreksi terhadap kekeliruan yang sudah dilakukan. juga karena tokoh yang pemikirannya sedang dibahas – yaitu Buya Hamka – adalah seorang mufassir. Makalah yang dibawakannya berjudul “Islam dan Pluralisme di Indonesia: Pandangan Sejarah”. 2007). saya sampaikan keprihatinan saya tentang tulisan-tulisan yang menfitnah Buya Hamka. Pembahasan ini cukup penting. yaitu surga. adalah mendefinisikan makna Pluralisme itu sendiri. karena memang ia tidak sempat mengikuti ajaran Nabi Muhammad. tesis ini tidak hanya membahas kontroversi dari artikel Syafii Maarif dan makalah Ayang Utriza NWAY belaka. Dalam kaitan itulah. Sesuai dengan judulnya. dapat dijumpai di bagian akhirnya. untuk memperjelas posisi Hamka dalam soal Pluralisme Agama dan membentengi upaya orang-orang yang mengutip tulisan Hamka secara tidak proporsional atau bahkan memuarbalikkan makna tulisan Hamka yang sebenarnya. buku ini pun menguraikan secara mendalam persoalan definisi pluralisme. Ayang bahkan telah melangkah lebih jauh lagi daripada Syafii Maarif. (Jakarta: Universitas Paramadina. Diskusi publik tersebut diadakan sebagai rangkaian kegiatan dalam Nurcholish Madjid Memorial Lecture di sebuah Perguruan Tinggi di Banten. Nasrani dan Shabi’in di masa lampau (yaitu sebelum masa kenabian Rasulullah saw) bisa beriman dan tak beriman. Kesalahan ketiga – mungkin yang paling fatal – adalah tidak dicantumkannya sebuah paragraf penting yang dapat ditemukan di akhir penjelasan ayat ke-62 dalam Surah al-Baqarah dalam Tafsir Al Azhar yang justru menyimpulkan pendapat Buya Hamka yang sebenarnya secara utuh. namun mereka menolak juga. Jika ia sempat bertemu dengan dakwah Rasulullah. Menurut Akmal. Hanya berselang enam hari dari dimuatnya artikel Syafii Maarif tentang Tafsir Al Azhar di surat kabar Republika. maka dia akan mendapatkan ganjaran dari Allah: surga. terutama dengan bersandar pada sejumlah ayat al-Qur’an. kita bisa mendapatkan gambaran yang jelas mengenai persamaan dan/atau perbedaan cara berpikir keduanya. maka penulis buku ini merasa perlu . Sebaliknya jika ada non-Muslim yang taat dan patuh menjalankan ajaran agamanya. Sejarah mengenalnya sebagai tokoh yang pertama kali membenarkan kenabian Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassalam berdasarkan tanda-tanda yang diketahuinya dari Injil. Hal-hal ini dijabarkan di dalam bab ketiga. Penjelasannya adalah sebagai berikut: “Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. Setelah menjelaskan tren-tren tersebut. alBaqarah [2]: 62 – Ayang menyimpulkan: “Ini berarti bahwa walaupun seseorang mengaku beragama Islam. tetapi tidak pernah menjalankan rukun Islam. Bahkan. sejarah pluralisme dan tren-tren pluralisme yang ada. ia dikategorikan sebagai orang yang beriman. sebagaimana dijelaskan oleh Anis Malik Thoha dalam bukunya Tren Pluralisme Agama. telah terlanjur bergulir. yang sebelumnya sudah dikenal sebagai penulis buku “Islam Liberal 101”.” Umumnya. hingga kini. itulah yang mendasarinya mengembangkan makalahnya menjadi sebuah Tesis dengan judul Studi Komparatif Antara Pluralisme Agama dengan Konsep Hubungan Antar Umat Beragama dalam Pemikiran Hamka. bahkan tidak jarang orang menulis sebuah makalah atau buku tentang pluralisme tanpa pernah memberikan definisi pluralisme itu. dan hanya dengan cara itulah ia bisa dianggap sebagai orang yang beriman. Meski demikian. meskipun artikel dan makalah sudah kita tulis di berbagai media massa. Ayang Utriza NWAY menyampaikan makalahnya dalam acara diskusi publik bertajuk Islam dan Kemajemukan di Indonesia. kita pun bertanya-tanya mengapa Syafii Maarif justru memilih untuk meninggalkan penjelasan ini. Bahira tetaplah dikenal sebagai penganut agama Nasrani. Opini dan kesan bahwa ‘Buya Hamka seorang pluralis’. Dan dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. niscaya nerakalah tempat mereka kelak. yang hanya bermodalkan dua kalimat syahadat. tentu ia harus mengucap syahadatain.

seorang pluralis pasti menganggap Islam sejajar dan tidak lebih unggul daripada agama lainnya. Poin-poin ini merupakan hal-hal yang sangat fundamental dalam gagasan pluralisme. 20 April 2012 Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor). insya Allah mereka yang sudah tuntas membaca buku ini tidak akan memiliki keraguan lagi. Walhasil. dan juga dari para cendekiawan Muslim terdahulu lainnya. misalnya konsep agama. Tetapi Hamka tidak berpikiran seperti itu. dan sebagainya. Referensi yang telah ditinggalkan oleh Hamka begitu berlimpah. sehingga usaha pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidaklah sulit untuk dilakukan. Catatan Akhir Pekan (CAP) bekerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah. maka ia memang seorang pluralis. dan kita menunggu terus karya-karya ilmiah yang bermutu dari para pejuang Islam lainnya. buku Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme karya Saudara Akmal ini cukup memberikan penjelasan tuntas seputar kesemrawutan konsep pluralisme. Karya ini diharapkan mampu merangsang kembali minat para pemuda Muslim untuk menggali kembali warisan intelektual dari Buya Hamka. posisi Islam di antara agamaagama lainnya.*/Jakarta. Sebagai contoh.com Ilustrasi: serbasejarah WP Red: Cholis Akbar More Sharing ServicesShare | Share on facebook Share on twitter Share on google Share on favorites KOMENTAR .menguraikan konsep hubungan antar umat beragama menurut Hamka ke dalam beberapa poin penting. Semoga bermanfaat. di tengah carut-marutnya pemikiran di Indonesia dewasa ini. pengejawantahan toleransi beragama.” tulis Akmal yang menyelesaikan sarjana S-1 nya di bidang civil engineering di Institut Teknologi Bandung. pandangan seputar aliran-aliran yang menyimpang. “Adapun seputar ‘klaim pluralisme’ terhadap pribadi Hamka. Siapa pun yang berpikiran seperi itu.

Keadaan ini menyebabkan banyak muslim yg silau dgn kehebatan org-org tsb.. ust Adian menulis CAP tentang buku saya. Korea selatan. Senin. terutama untuk membersihkan nama Buya Hamka dari klaim2 kaum pluralis.. Muhammad Abduh ... Bagi yg ingin memesannya. keadaan muslim hari ini. 20 April 2012 Bukunya di jual gak ya ? ane berminat nih Akmal . dll.. baik individu maupun negara. Jum'at. Ahad.syukron. semoga ustadz DR Adian Husaini senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah swt untuk selalu istiqamah dlm mengawal dan menjaga kebenaran dan kesucian Islam melalui tulisan2 beliau dari upaya pengkaburan oleh kaum kuffar. spt dalam hegemoni kekuatan-kekuatan yang datang dari non-muslim di Amerika. Jepang.. bukunya memang disebarluaskan secara online. baik dlm perilaku maupun peranan di masyarakat. Mudah2an ini membantu penyebarluasan pemikiran yg terkandung di dalamnya. Eropa. 20 April 2012 Alhamdulillaah.amin Miftach . Sabtu. 21 April 2012 Pluralisme dan liberalisme menggejala krn kaum muslim pada hari ini belum bisa membuktikan kehebatan Islam. bahasa. Jazaakallah ahsanal jaza'. Afwan.. :) Nurim .bookstore@gmail. shg merembet pd bidang agama dengan menyatakan semua agama itu adalah sama!! Kehebatan seseorg itu bisa mempengaruhi org lain dlm semua hal: gaya hidup.Aminnn . Jum'at. jadi belum masuk ke toko-toko buku.Avi . silakan kirim email ke malami. setidaknya mampu meluruskan kembali dr ketidak benaran.com... smga ini m'jadi amal sholih si Penulis. termasuk agama!! Bangsa yg ditaklukan cenderung mengagumi semua hal yg datang dari para penakluknya. 22 April 2012 Ahamdulillah.. 01 Oktober 2012 Memang informasi ini sangat diperlukan khususnya dlm meluruskan asumsi salah yg beredar selama ini.

Iqbal. tidak memihak. Mulai dari sudut pemikiran sampai sudut bahasa yang digunakan dalam menafsirkan pun sangatlah berbeda. hadits Nabi. tafsir Hamka dalam menjelaskan ayat itu bercorak sosial kemsyarakatan (adabi ijtima’i). kata ma’rûf ( ‫ )معشششروف‬berasal dari kata urf ( ‫ )عشششششرف‬artinya “yang .Berdasarkan fakta yang demikian. beliau mengguanakan contoh-contoh yang hidup di tengah masyarakat.Karakteristik yang tampak dari tafsir al-Azhar ini adalah gaya penulisannya yang bercorak adabi ijtima’i (social kemasyarakatan) yang dapat disaksikan dengan begitu kentalnya warna setting sosial budaya Minangnya yang ditampilkan oleh Hamka dalam menafsirkan ayat-ayat al Qur’an PERBEDAAN DENGAN TAFSIR LAIN Tafsir al-Azhar sangatlah berbeda dengan tafsir-tafsir lainnya. pendapat tabi’in. serta juga dari syair-syair seperti syair Moh. rakyat biasa. dia hanya menjelaskan pengertian raj’i. maka seseorang harus terjun ke dalam tasawuf. Yaitu sebagaiberikut: Perbedaan gotong dari sudut pemikiran: royong) a. KARAKTERISTIK TAFSIR AL-AZHAR Tafsir al-Azhar merupakan karya Hamka yang memperlihatkan keluasan pengetahuan beliau. al Qur’an.Tafsir dan Penafsiran Buya Hamka 7:09 PM Tafsir No comments CORAK TAFSIR BUYA HAMKA Agama bersifat netral. maupun secara individu.Tafsir al-Misbah : Sudut pemikirannya mendalam dan dilengkapi oleh data-data kontemporer(modern) c. Tafsir Depag : Sudut bahasa yang digunakan sangatlah standart atau datar (dimaksudkan agar memudahkan seseorang dalam memahaminya) CONTOH PENAFISRAN HAMKA Penafsiran Buya Hamka terhadap ayat-ayat Amar Ma’rûf nahî Munkar dalam Tafsir al-Azhar. riwayat dari kitab tafsir mu’tabar seperti al-Manar. Sementara hamka dalam menjelaskan ayat itu. Menurut Hamka dalam tafsir al-Azhar. Oleh karena itu. Depag : Sudut pemikirannya datar (karena tafsir ini ditulis oleh banyak ulama atau dapat dikatakan tulisan b. Tafsir al-Azhar : Sudut pemikirannya selalu menggiring seseorang kepada tasawuf (karenaberangkat dari setting sosial politik pada saat tafsir ini ditulis dan untuk selamat dari kondisiseperti itu. Sumber penafsiran yang dipakai olehHamka antara lain. kamiakan membendingkan tafsir al-Azhar ini dengan tafsir Depag dan tafsir al-Misbah. Tafsir ini ditulis dalam bentuk pemikiran dengan metode analitis atau tahlili. Perbedaan dari sudut bahasa. yang hampir mencakup semua disiplin ilmu penuh berinformasi.baik masyarakat kelas atas seperti raja.

segala perintah yang dikerjakan oleh nabi yang ummi. nabi siap menanggungnya.” Dalam pengertian lain. Menurut Hamka. al-Hajj ayat 103. 110. ma’rûf (‫ )معروف‬berarti perbuatan yang patut. dan 103. pantas dan sopan yang berlaku secara umum. seperti nabi Musa. semua ayat ini menyerukan agar mengerjakan perbuatan yang ma’rûf dan menjauhi perbuatan keji yang dilarang oleh Allâh SWT. kata ma’rûf (‫ )معروف‬yang terdapat dalam surat ini. Meskipun begitu. Nabi Muhamad dan umatnya diperintahkan untuk melaksanakan shalat. Sebagai nabi yang ummi. Dalam konteks amar ma’rûf nahî munkar. Tidak selayaknya yang demikian itu dikerjakan oleh manusia berakal. karena tidak patut. konteks amar ma’rûf dan nahî munkar menjelaskan tentang keberadaan Nabi Muhamad saw sebagai seorang rasul Tuhan. tugas berat yang diemban nabi Muhamad saw. Kebalikan dari kata ma’rûf (‫ )معروف‬adalah kata mun¬kar ( ‫)مشنشكشر‬. Perbuatan itu patut diterima dan dipahami ma-nusia karena memang perbuatan baik (‫ )معروف‬itulah yang patut dikerjakan oleh manusia yang berakal. dan dipuji. Hamka menjelaskan bahwa sebagai nabi yang ummi. dan 114. nabi Isa dan nabi Muhamad saw yang ummi. Luqman ayat 17. termasuk ke-pada para ahl al-kitab. karena hati nurani mengenalnya sebagai suatu yang baik.dikenal. Apabila suatu perintah datang kepada manusia yang berakal budi. Pada surat al-A’râf ayat 157. beliau juga mendapat tugas untuk menyebarkan risalah ketuhanan kepada umat manusia. sebab jiwa mengenalnya sebagai suatu yang baik. serta al-Taubah ayat 67. Tetapi. dalam menjalankan risalah atau nubuwah kepada umat manusia. Kalimat ‫ ينامرﻫشم بنا لمعشرو ف و يشنشهششهشم عشن المشنكشر‬yang terdapat dalam surat al-‘Arâf ayat 157 seperti tersebut di atas. akan selalu menghadapi risiko. dan 112. yang memang patut dikerjakan. Begitu juga pemberian zakat. menjelaskan tentang peran yang telah dimainkan oleh para nabi dan rasul. Dengan kalimat pendek Hamka menyimpulkan bahwa tidak ada suatu perintahpun yang tidak ma’rûf (‫ )معروف‬kepada jiwa. berarti yang dibenci. Dalam konteks ini. Di antara contoh yang diberikan Hamka adalah perintah shalat dan membayar zakat. pastilah sesuai dengan jiwa. karena memang masyarakat miskin perlu mendapat bantuan. Masing-masing ayat mempunyai konteks dan situasi yang berbeda. Nabi Muhamad saw adalah seorang yang ummî (yang tidak pandai menulis dan membaca) yang telah disebutkan bahwa beliau akan datang sebagai Nabi akhir zaman di dalam Taurat dan Injil. yang tidak disenangi atau ditolak oleh ma¬syarakat. segala gejala-gejala buruk yang tidak diterima oleh masyarakat secara akal sehat. . yaitu al-‘Araf ayat 157. tidak pantas. Risalah yang akan dibawa oleh Nabi akhir zaman itu ialah yang menyuruh akan mereka “berbuat yang ma’rûf dan mencegah akan mereka yang munkar”. karena shalat adalah pekerjaan yang patut dilakukan. Lebih lanjut Hamka menjelaskan bahwa suatu perbuatan dapat dikatakan baik ( ‫ )معروف‬jika perbuatan itu dapat diterima dan dipahami oleh manusia.”atau“yang dapat dimengerti dan dapat dipa¬hami serta diterima oleh masyarakat. sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini. 71. kecuali jiwa yang sakit. Demikian sekilas penjelasan mengenai pengertian ma’rûf ( ‫ )معششروف‬dan munkar (‫ )مشنشكشششر‬menurut Hamka Seperti diketahui bahwa ayat amar ma’rûf nahî munkar dituliskan secara bersambung disebutkan dalam alQur’ân pada lima surat. Oleh karena itu. Ali Imran ayat104. langsung disetujui oleh hatinya. ditafsirkan oleh Hamka dengan kalimat sehaja. karena beliau telah mendapatkan amanah untuk melaksanakan yang ma’rûf (‫)معشششششششششششروف‬ dan mencegah yang munkar (‫)مشنشكششششششششششششر‬. seberat apapun risiko itu. berarti yang dikenal atau patut untuk dilakukan.

terdapat hal penting yang menjadi tugas dan kewajiban umat manusia. membenarkan dan memuji. Ali-Imran:104) Artinya: kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. seluruh masyarakat. mereka menyuruh kepada yang ma'ruf. dan beriman kepada Allah. mereka itu Termasuk orang-orang yang saleh (Ali-Imran 114) Pada surat Âl-Imrân ayat 104. dan mencegah dari yang Munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan. kalau ada perbuatan munkar. Sebaliknya. Sedang yang munkar. menurut Hamka. dan dipuji. Kesimpulan yang disampaikan oleh Hamka dalam penafsirannya pada surat Âli Imrân ayat 104 dalam tafsir al-Azhar adalah bahwa ‫ المشربشنالشمشعشروف وا لنهى عن الشمشنكر‬itu adalah menyeru untuk melakukan ke-bajikan dan mencegah kemunkaran. yaitu perbuatan yang patut. supaya masyarakat itu bertambah tinggi nilainya. yang ditolak oleh masyarakat. Karena begitulah yang patut dikerjakan oleh manusia yang berakal. Suatu golongan yang terdapat dalam ayat tersebut. pan-tas dan sopan. dan mencegah. Untuk itu. dan 114. karena tidak patut dan tidak pantas untuk dikerjakan. dan menjauhi yang munkar. diambil dari kata ‘urf (‫( عشرف‬yang berarti dikenal atau yang dapat dimengerti. seluruh masyarakat menolak. bertambah kenal orang akan yang ma’ruf. artinya yang dibenci. Oleh karena itu. yaitu. menjadi lebih dinamis dan agama menjadi hidup. Kata ma’rûf (‫)معروف‬. maka tidak ada dinamika kehidupan beragama. membenci dan tidak menyukainya. ( ‫)مشنشكشر‬. apabila tidak ada dakwah. dapat dipahami serta dapat diterima oleh manusia. yaitu ummat. dan mencegah dari yang munkar.Selanjutnya ayat–ayat yang menjelaskan amar ma’rûf nahî munkar ( ‫الـمـربـالـمـعـروف وا‬ ‫ لنهى عن الـمـنكر‬secara berurutan ialah surat Âli ‘Imrân ayat 104. terdapat dua kata penting. Menurutnya. Dalam konteks dakwah. yang dibenci dan yang tidak diterima oleh akal dan jiwa yang sehat. yang tidak disenangi. hendaknya dalam suatu masyarakat. di antara mereka ada yang beriman. menurut Hamka lebih lanjut. Menyeru atau mengajak merupakan aktivitas dakwah. memiliki tugas dan kewajiban untuk mengajak dan membawa manusia kepada kebaikan. Hamka memberikan sebuah tips. yaitu melakukan dakwah. Ayat- ayat tersebut adalah sebagai berikut. ada dinamika kehidupan umat Islam. Hamka tampaknya membagi bidang garapan dakwah menjadi dua. yaitu me-nyuruh berbuat ma’rûf ( ‫)معروف‬. haruslah ada sekelompok orang yang mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan. Sekiranya ahli kitab beriman. dan . Untuk mengatasi masalah ini. dan bertambah benci kepada yang munkar. dalam konteks ayat tersebut. dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (Ali-Imran:110) Artinya:mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan. tentulah itu lebih baik bagi mereka. umum. ada sekelompok umat yang bertugas dan bekerja keras untuk menggerakkan masyarakat agar mereka berbuat yang ma’ruf. menyuruh kepada yang ma'ruf. yaitu pengetahuan keagamaan dan sikap keberagamaan. semakin tinggi kecerdasan beragama. Menurut Hamka. Dengan dakwah. menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung (QS. 110. Artimya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan. dan mencegah perbuatan munkar (‫)مشنشكشر‬. melarang perbuatan munkar ( ‫)مشنشكشر‬. Karena itu. adalah untuk kalangan masyarakat umum. menyuruh berbuat ma’rûf (‫)معروف‬. umumnya menyetujui. kalau ada orang berbuat ma’ruf. Sebaliknya.

semua berpusat pada yang satu. Kalimat ‫ يشدعشنون الى الشخشثيشر امشﺔ‬. dengan yang munkar (‫)مشنشكششششششششر‬ tidak ada lain kecuali ajaran Islam. yang dimaksud dengan kata (‫)الخشثيشر‬ yang berarti kebaikan. Pelaksanaan dakwah yang dimaksudkan Hamka tidak hanya kegiatan dakwah ke dalam. Dengan kesadaran beragama yang tinggi. yaitu ‫يشدعشنون الى الشخشثيشر‬mengajak pada ke-baikan. artinya umat mengajak pada kebaikan yang terdapat pada surat Âl-Imrân ayat 104. yaitu ummatun (‫ ) امشﺔ‬dan kedua kata yad’ûna ‫ يشدعشنون‬. maka hal itu dapat dijadikan sebagai indikator masyarakat yang sedang sakit. yaitu munkar ( ‫)مشنشكشر‬. seorang da’i apabila berdakwah hendaklah ia mengeluarkan pendapat umum yang sehat atau public opini yang sehat dan dapat diterima masyarakat umum. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa dikalangan umat Islam yang besar jumlahnya. Oleh sebab itu. menurut Hamka pentingnya juru dakwah atau da’i memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai ajaran agama Islam yang sebenarnya. lanjut Hamka. yang dimaksud di dalam ayat ini adalah Islam. Sebab kehidupan agama. termasuk tauhid dan ma’rifat. maka akan berdampak pada sikap dan perilaku seseorang dalam bermasyarakat. ketiga kewajiban itu. diharapkan umat Islam semakin kuat kesadaran beragamanya. Sebab. yaitu dakwah di kalangan umat Islam sendiri.khusus. sehingga ia memiliki keberanian untuk melakukan kebaikan dan mencegah keburukan. hendaklah ada segolongan umat yang menjadi inti. adalah mereka yang . Diharapkan dengan adanya kegiatan dakwah. Oleh karena itu. menurut Hamka untuk membedakan yang ma’rûf ( ‫)معشششششششروف‬. Di sinilah. Seperti ditegaskan sebelumnya bahwa Hamka mengartikan kata ma’ruf ( ‫ )معروف‬dengan suatu perbuatan baik yang diterima oleh masyarakat dan akal sehat. yaitu menyuruh berbuat ma’ruf ( ‫)معروف‬. dan ketiga mengajak kepada kebaikan (‫ )الخشثيشششر‬Menurut Hamka. Sedang dakwah ke luar Islam tujuannya agar masyarakat non-muslim memahami posisi Islam sebagai sebuah agama damai dan memberikan pengertian tentang hakikat kebenaran Islam kepada orang-orang yang belum memeluknya. sehingga mampu melakukan yang ma’ruf (‫ )معروف‬dan mencegah yang munkar (‫)مشنشكشر‬. Sedang dakwah yang bersifat khusus. yaitu me¬mupuk kepercayaan dan iman kepada Tuhan. Tujuannya. Di dalam ayat 104 surat Âl-Imrân ini terdapat 3 (tiga) kewajiban. Bila amar ma’ruf nahi munkar ‫المشربشنالشمشعشروف وا لنهى عن الشمشنكر‬. untuk keluarga sendiri. dan menentang yang munkar. Dakwah yang bersifat umum adalah memberikan penjelasan kepada masyarakat serta mengajak mereka untuk memahami hikmah ajaran Islam yang benar. kemajuan dan kemundurannya sangat tergantung pada dakwah. sebagai bagian dari aktivitas dakwah. menurut Hamka sebagai hakikat kesadaran beragama yang menimbulkan pengetahuan sehingga dapat membedakan mana yang baik. juga dakwah ke masyarakat luar Islam. Sebaliknya. mereka yang melakukan kebaikan ( ‫ )الشخشثيشر‬dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. menurutnya. serta menangkis tuduhan yang tidak benar yang diarahkan kepada agama Islam. akan terbentuk masyarakat yang sehat. dan mana yang tidak baik. apabila sikap keberagamaan masyarakat belum tumbuh dan masih rendah. bila dakwah ke dalam. Hal itulah. melarang berbuat munkar(‫)مشنشكشر‬. yang ma’ruf ( ‫)معروف‬. terhenti. agar patuh kepada Tuhan. Menurut Hamka. sehingga masyarakat memiliki pengetahuan dan kesadaran beragama yang tinggi. yang kerjanya khusus mengadakan dakwah. ditujukan kepada keluarga sendiri. maka percuma saja menyebut yang ma’rûf (‫)معروف‬. menurut Hamka memiliki dua kata penting. atau seluruh umat ini sendiri sadar akan kewajibannya yaitu melaksanakan dakwah. yaitu amar ma’ruf dan nahi munkar ‫المشربشنالشمشعشروف وا لنهى عن الشمشنكر‬.

akan memperoleh kemenangan. ada tiga hal yang harus dilakukan oleh kaum muslimin.. mengajak orang kepada al-khair (‫)يشدعشششنون الششى الشخشثيشششر‬. baca juga ulama tafsir Quraisy Shihab . Karena mereka telah melakukan amar ma’ruf nahi munkar ‫المشربشنالشمشعشروف وا‬ ‫ لنهى عن الشمشنكر‬. Ketiga. Pertama. mencegah orang dari al-munkar ( ‫)وا لنهى عن الشمشنكر‬. dan mengajak pada kebaikan. sehingga umat menjadi pelopor kebajikan di dalam dunia. Kedua. yakni menyampaikan yang baik dan melarang kepada yang munkar. Dari terjemahan ayat tersebut. ke-simpulan umum yang hendak dijelaskan pada ayat ini adalah suatu kewajiban bagi umat Islam untuk menyampaikan yang ma’ruf ( ‫ )معروف‬dan melarang perbuatan yang munkar( ‫)مشنكر‬. lafal atau kata al-khair (‫ )الشخشثيشر‬dan lafal al-ma’rûf ‫ الشمشعشروف‬menurut harfiahnya sama. Terdapat dua ka-ta yang berbeda akan tetapi memiliki pengertian sama. Karena perbuatan demikian merupakan ujung tombak dari dakwah Islam. yaitu kebaikan. mengajak orang kepada yang al-ma’rûf ( ‫)المشربشنالشمشعشروف‬. lanjut yach. sehingga keburukan dapat dihindari atau dikalahkan. Oleh karena itu. Dalam konteks ini ayat tersebut di atas..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful