komunikasi dalam keperawatan

PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKASI

Pengantar Ilmu Komunikasi Dosen Agustina Zubair Prinsip-prinsip komunikasi seperti halnya fungsi dan definisi komunikasi mempunyai uraian yang beragam sesuai dengan konsep yang dikembangkan oleh masing-masing pakar. Istilah prinsip oleh William B. Gudykunst disebut asumsi-asumsi komunikasi. Larry A.Samovar dan Richard E.Porter menyebutnya karakteristik komunikasi. Deddy Mulyana, Ph.D membuat istilah baru yaitu prinsip-prinsip komunikasi. Terdapat 12 prinsip komunikasi yang dikatakan sebagai penjabaran lebih jauh dari definisi dan hakekat komunikasi yaitu : Prinsip 1 : Komunikasi adalah suatu proses simbolik Komunikasi adalah sesuatu yang bersifat dinamis, sirkular dan tidak berakhir pada suatu titik, tetapi terus berkelanjutan. Prinsip 2 : Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi Setiap orang tidak bebas nilai, pada saat orang tersebut tidak bermaksud mengkomunikasikan sesuatu, tetapi dimaknai oleh orang lain maka orang tersebut sudah terlibat dalam proses berkomunikasi. Gerak tubuh, ekspresi wajah (komunikasi non verbal) seseorang dapat dimaknai oleh orang lain menjadi suatu stimulus. Prinsip 3 : Komunikasi punya dimensi isi dan hubungan Setiap pesan komunikasi mempunyai dimensi isi dimana dari dimensi isi tersebut kita bisa memprediksi dimensi hubungan yang ada diantara pihak-pihak yang melakukan proses komunikasi. Percakapan diantara dua orang sahabat dan antara dosen dan mahasiswa di kelas berbeda memiliki dimesi isi yang berbeda. Prinsip 4 : Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan Setiap tindakan komunikasi yang dilakukan oleh seseorang bisa terjadi mulai dari tingkat kesengajaan yang rendah artinya tindakan komunikasi yang tidak direncanakan (apa saja yang akan dikatakan atau apa saja yang akan dilakukan secara rinci dan detail), sampai pada tindakan komunikasi yang betul-betul disengaja (pihak komunikan mengharapkan respon dan berharap tujuannya tercapai) Prinsip 5 : Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktuPesan komunikasi yang dikirimkan oleh pihak komunikan baik secara verbal maupun non-verbal disesuaikan dengan tempat, dimana proses komunikasi itu berlangsung, kepada siapa pesan itu dikirimkan dan kapan komunikasi itu berlangsung. Prinsip 6 : Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasiTidak dapat dibayangkan jika orang melakukan tindakan komunikasi di luar norma yang berlaku di masyarakat. Jika kita tersenyum maka kita dapat memprediksi bahwa pihak penerima akan membalas dengan senyuman, jika kita menyapa seseorang maka orang tersebut akan membalas sapaan kita.

Kedua pihak mempunyai makna yang sama terhadap simbol-simbol yang saling dipertukarkan. jika seseorang sudah berkata menyakiti orang lain. . Prinsip 8 : Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi Jika dua orang melakukan komunikasi berasal dari suku yang sama. Melibatkan respon atau tanggapan sebagai bukti bahwa pesan yang dikirimkan itu diterima dan dimengerti. Prinsip 12 : Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah Dalam arti bahwa komunikasi bukan satu-satunya obat mujarab yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah. Prinsip 10 : Komunikasi bersifat prosesual. Bagaimana seseorang berkomunikasi dipengaruhi oleh beberapa hal internal tersebut. nilai.Prediksi seperti itu akan membuat seseorang menjadi tenang dalam melakukan proses komunikasi. maka ada kecenderungan dua pihak tersebut mempunyai bahan yang sama untuk saling dikomunikasikan. pendidikan yang sama. Prinsip 7 : Komunikasi itu bersifat sistemik Dalam diri setiap orang mengandung sisi internal yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya. Prinsip 11 : komunikasi bersifat irreversible Setiap orang yang melakukan proses komunikasi tidak dapat mengontrol sedemikian rupa terhadap efek yang ditimbulkan oleh pesan yang dikirimkan. Ada proses saling memberi dan menerima informasi diantara pihak-pihak yang melakukan komunikasi. Prinsip 9 : Komunikasi bersifat nonsekuensial Proses komunikasi bersifat sirkular dalam arti tidak berlangsung satu arah. Komunikasi tidak dapat ditarik kembali. maka efek sakit hati tidak akan hilang begitu saja pada diri orang lain tersebut. pengalaman dan pendidikan. dinamis dan transaksional Konsekuensi dari prinsip bahwa komunikasi adalah sebuah proses adalah komunikasi itu dinamis dan transaksional. Sisi internal seperti lingkungan keluarga dan lingkungan dimana dia bersosialisasi mempengaruhi bagaimana dia melakukan tindakan komunikasi. adat.

dan komunikasi abstrak. Gangguan atau kerusakan pada media akan mempengaruhi penerimaan pesan dari komunikan. sedangkan lambang warna berkaitan dengan pesan yang disampaikan melalui warna tertentu yang mempunyai makna. komunikator.Komunkasi adalah suatu proses ketika informasi disampaikan pada orang lain melalui symbol. dan respon atau umpan balik. visual dan audio-visual. Penyampaian pesan dapat dilakukan dengan menggunakan symbol. c. komunikasi non verbal.A. Lambang bahasa dinyatakan baik lisan maupun tulisan. misalnya merah. Lambang suara berkaitan dengan intonasi suara. d. audio. Respon atau umpan balik adalah reaksi komunikan sebagai dampak atau pengaruh dari pesan yang disampaikan. Lambang gerak adalah ekspresi wajah dan gerakan tubuh. b.Unsur-unsur Komunikasi Unsur-unsur komunikasi adalah . Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan atau informasi dari seseorang kepada orang lain baik secara verbal maupun nonverbal. a. atau tingkah laku. atau tingkah laku c. e. jelas. baik secara langsung maupun tidak langsung.Pesan Pesan adalah pernyataan yang didukung oleh lambang. pesan.Komunikan Komunikan adalah penerima pesan. media. komunikan.Respon/umpan balik. Seorang penerima pesan harus tanggap atau peka dengan pesan yang diterimanya dan harus dapat menafsirkan pesan yang diterimanya. Kejelasan kalimat dan kemudahan bahasa akan sangat mempengaruhi penerimaan pesan oleh komunikan. yaitu dengan kalimat yang diucapkan langsung dan .Tinjauan Umum tentang Komunikasi 1. yang sudah diketahui secara umum. Komunikator atau orang yang menyampaikan pesan harus berusaha merumuskan isi pesan yang akan disampaikan. Umpan balik langsung disampaikan komunikan secara verbal. dan hijau pada lampu lalu lintas. kuning. 2. Bisa berupa media cetak.Komunikasi adalah pengiriman pesan atau tukar menukar informasi atau ide/gagasan (Oxford Dictionary) b. tanda. Satu hal penting yang harus diperhatikan adalah persepsii komunikan terhadap pesan harus sama dengan persepsi komunikator yang menyampaikan pesan.Komunikator. tanda. Sikap dari komunikator harus empati.Media Media adalah sarana atau saluran dari komunikasi.Komunkasi bisa berbentuk komunikasi verbal.Pengertian Ada beberapa pengertian tentang komunikasi : a.

Setiap proses komunikasi yang dijalankan hendaknya mempunyai tujuan yang jelas dan dilakukan dengan berencana.Ingat bahwa komunikasi adalah proses dua arah.Ciptakan iklim komunikasi yang baik dan tepat.Faktor yang mempengaruhi komunikasi a. b. e. melainkan pada perasaan sedihnya. b. Untuk berlangsungnya proses komunikasi yang efektif diperlukan suasana tenang dan tidak bising. lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa supaya tenang dan nyaman. tetapi cukup dengan brosur atau leaflet. f. Perawat yang sedang memberi penyuluhan pada satu orang pasien tidak perlu menggunakan flip chart. Sebaliknya dalam satu kegiatan penyuluhan pada 25 orang tidak cukup hanya dengan brosur saja. Dalam kondisi seperti ini.Dengarkan dengan penuh perhatian terhadap apa yang sedang diutarakan komunikan karena apa yang diutarakan komunikan adalah umpan balik terhadap pesan yang diberikan komunikator. yaitu harus terjadi umpan balik antara . d. suara bising yang diterima komunikan saat proses komunikasi berlangsung membuat pesan tidak jelas.Tehnik Komunikasi yang efektif a. 3.nonverbal melalui ekspresi wajah atau gerakan tubuh.Hindarkan komunikasi yang tidak disengaja. 4. Oleh karena itu. sebelum proses komunikasi dilaksanakan.Yakinkan apa yang akan dikomunikasikan dan bagaimana mengkomunikasikannya. Komunikasi yang berlangsung dan dilakukan pada waktu yang kurang tepat mungkin diterima dengan kurang tepat pula. kabur. bahkan sulit diterima. Seringkali perawat menemui pesan yang tidak dapat berbahasa Indonesia. tentu saja pesan tersebut kurang diterima dengan baik oleh orang tua karena perhatian orang tua tidak berfokus pada pesan yang disampaikan perawat. dapat dimengerti komunikan dan menggunakan artikulasi dan kalimat yang jelas. Akan lebih baik lagi apabila disertai dengan udara yang nyaman dan tidak terlalu panas. Hal yang berkaitan dengan kejelasan pesan yang ingin disampaikan. Hal ini akan sangat mempengaruhi pencapaian tujuan komunikasi yang dijalankan. g.Gunakan bahasa yang jelas dan dapat dimengerti komunikan. Oleh karena itu. tetapi diperlukan media yang tepat seperti flip chart atau film. c. Pesan yang kurang jelas dapat ditafsirkan berbeda oleh komunikan sehingga antara komunikan dan komunikator dapat berbeda persepsi tentang pesan yang disampaikan. Umpan balik secara tidak langsung dapat berupa perubahan perilaku setelah proses komunikasi berlangsung. sedangkan perawat itu sendiri tidak dapat berbahasa seperti pasien. komunikator harus memahami pesan sebelum menyampaikannya pada komunikan.Kejelasan pesan Kejelasan pesan akan sangat mempengaruhi keefektifan komunikasi. apabila perawat memberikan penjelasan kepada orang tua tentang cara menjaga kesterilan luka pada saat orang tua sedang sedih. Misalnya. orang ketiga diperlukan untuk menjembatani proses komunikasi tersebut.Gunakan media komunikasi yang tepat dan adekuat. bisa dalam waktu yang relative singkat atau bahkan memerlukan waktu cukup lama. Media tertentu tepat digunakan untuk komunikasi tertentu.Situasi/suasana Situasi/suasana yang hiruk pikuk atau penuh kebisangan akan mempengaruhi baik/tidaknya pesan diterima oleh komunikan.

lingkungan fisik dan dirinya sendiri. penerimaan diri dan peningkatan penghormatan terhadap diri. c.Eksplorasi perasaan.Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri. 1997).Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim dan saling tergantung dengan kapasitas untuk mencintai dan dicintai.Realisasi diri. d. Tujuan komunikasi terapeutik adalah : a.komunikator dan komunikan. membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya. . perawat membantu dan klien menerima bantuan.Membantu klien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila klien pecaya pada hal yang diperlukan. Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien.Kemampuan untuk menjadi model peran. tujuan hubungan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien meliputi : a.Mengurangi keraguan. f. d. c. Persoalan yang mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan klien.Komponen Komunikasi Terapeutik Model struktural dari komunikasi mengidentifikasi lima komponen fungsional berikut (Hamid. e.Kesadaran diri.Yakinkan bahwa tindakan yang dilakukan tidak kontradiksi dengan apa yang diucapkan. 1996).Rasa tanggung jawab dan etik. A. Dengan kata lain ekspresi verbal harus sesuai dengan ekspresi non verbal. b. 1998) : a.Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistik. c. B. Tujuan terapeutik akan tercapai bila perawat memiliki karakteristik sebagai berikut (Hamid. B.Tinjauan Umum tentang Komunikasi Terapeutik. 1998) : a.Motivasi altruistik. h.Klarifikasi nilai.Pengirim : yang menjadi asal dari pesan. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan klien.Pengertian Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI. Menurut Stuart dan Sundeen (dalam Hamid. bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada klien.Mempengaruhi orang lain. b. Hindari mengatakan saya turut berbahagia tetapi dengan ekspresi wajah yang datar dan tidak menunjukkan rasa bahagia. b.

jika ia sendiri memiliki . seseorang akan merasa nyaman dan aman dalam menjalin hubungan intim terapeutik.Menerima klien apa adanya. Ketidaksesuaian dapat menyebabkan klien menjadi bingung.Kejujuran (trustworthy).Empati bukan simpati.1997) dalam Suryani 2005.Konteks : tatanan di mana komunikasi terjadi. dkk .b. Tanpa kemampuan ini hubungan yang terapeutik sulit terjalin dengan baik.Penerima : yang mempersepsikan pesan. g. Kejujuran merupakan modal utama agar dapat melakukan komunikasi yang bernilai terapeutik.Dalam memberikan asuhan keperawatan perawat harus berorientasi pada klien. karena dengan sikap ini perawat akan mampu merasakan dan memikirkan permasalahan klien seperti yang dirasakan dan dipikirkan oleh klien. e. h. Dengan empati seorang perawat dapat memberikan alternatif pemecahan masalah bagi klien. Jika perawat mengevaluasi proses komunikasi dengan menggunakan lima elemen struktur ini maka masalah-masalah yang spesifik atau kesalahan yang potensial dapat diidentifikasi. c.Bersikap positif. karena meskipun dia turut merasakan permasalahan yang dirasakan kliennya. karena dapat saja diagnosa yang dirumuskan perawat tidak sesuai dengan masalah klien dan akibatnya tindakan yang diberikan dapat tidak membantu bahkan merusak klien. penuh perhatian dan penghargaan terhadap klien. Untuk itu perawat harus menggunakan terkhnik active listening dan kesabaran dalam mendengarkan ungkapan klien. ketulusan.Umpan balik : respon dari penerima pesan kepada pengirim pesan. d. Untuk itu agar dapat membantu memecahkan masalah klien perawat harus memandang permasalahan tersebut dari sudut pandang klien.2005). pemahaman yang empati dan sikap positif.Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu klien ataupun diri perawat sendiri. d. b.Tidak membingungkan dan cukup ekspresif. c. tetapi tidak larut dalam masalah tersebut sehingga perawat dapat memikirkan masalah yang dihadapi klien secara objektif. yang perilakunya dipengaruhi oleh pesan. Sikap empati sangat diperlukan dalam asuhan keperawatan. Bersikap positif dapat ditunjukkan dengan sikap yang hangat. Memberikan penilaian atau mengkritik klien berdasarkan nilai-nilai yang diyakini perawat menunjukkan bahwa perawat tidak menerima klien apa adanya.Karakteristik tersebut antara lain : (Suryani. Sangat sulit bagi perawat untuk membantu klien. Klien hanya akan terbuka dan jujur pula dalam memberikan informasi yang benar hanya bila yakin bahwa perawat dapat dipercaya. Komunikasi nonverbal harus mendukung komunikasi verbal yang disampaikan. karena jika tidak sensitif perawat dapat saja melakukan pelanggaran batas. a.Mampu melihat permasalahan klien dari kacamata klien. Sikap simpati membuat perawat tidak mampu melihat permasalahan secara objektif karena dia terlibat secara emosional dan terlarut didalamnya. tanpa kejujuran mustahil dapat membina hubungan saling percaya. Seseorang yang selalu menyesali tentang apa yang telah terjadi pada masa lalunya tidak akan mampu berbuat yang terbaik hari ini. (Taylor.Jika seseorang diterima dengan tulus. e. f.Pesan : suatu unit informasi yang dipindahkan dari pengirim kepada penerima.Sensitif terhadap perasaan klien. Roger menyatakan inti dari hubungan terapeutik adalah kehangatan. Jika perawat menyimpulkan secara tergesa-gesa dengan tidak menyimak secara keseluruhan ungkapan klien akibatnya dapat fatal. privasi dan menyinggung perasaan klien. Menurur Roger. terdapat beberapa karakteristik dari seorang perawat yang dapat memfasilitasi tumbuhnya hubungan yang terapeutik. Dalam berkomunikasi hendaknya perawat menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh klien.

tempat. menerima klien apa danya. Tugas perawat pada fase ini yaitu : 1)Mengeksplorasi perasaan.G.2005) Hal yang perlu diperhatikan pada fase ini antara lain : 1)Memberikan salam terapeutik disertai mengulurkan tangan jabatan tangan 2)Memperkenalkan diri perawat 3)Menyepakati kontrak. kemudian dilanjutkan dengan hal-hal yang terkait dengan keluhan .Fase orientasi Fase ini dimulai pada saat bertemu pertama kali dengan klien. Pada pertemuan pertama perawat perlu melengkapi penjelasan tentang identitas serta tujuan interaksi agar klien percaya kepada perawat.Fase Hubungan Komunikasi Terapeutik. Bila tahap ini gagal dicapai akan menimbulkan kegagalan pada keseluruhan interaksi (Stuart. diskusi teman kelompok. Untuk mendorong klien mengekspresikan perasaannya. Untuk membina hubungan saling percaya perawat harus bersikap terbuka. serta membantu klien dalam mengekspresikan perasaan dan pikirannya. 3)Mengumpulkan data tentang klien. dan (4) fase terminasi (Suryani. 2)Menganalisa kekuatan dan kelemahan diri. Tugas-tugas perawat pada tahap ini antara lain : 1)Membina hubungan saling percaya. alasan atau kejadian yang membuat klien meminta bantuan. Dalam setiap fase terdapat tugas atau kegiatan perawat yang harus terselesaikan. menurut Stuart. tempat. Tujuan dirumuskan setelah masalah klien teridentifikasi. ihklas. a. dan menghargai klien.1998 dikutip dari Suryani. Kontrak penting untuk menjaga kelangsungan sebuah interaksi. dan lamanya pertemuan. Berisikan pengkajian keluhan utama. sebagai dasar dalam membuat rencana interaksi. menunjukkan sikap penerimaan dan komunikasi terbuka.segudang masalah dan ketidakpuasan dalam hidupnya.G. topik. terdiri dari empat fase yaitu: (1) fase preinteraksi.W. 2)Merumuskan kontrak bersama klien. jika merasa tidak siap maka perlu belajar kembali. 5)Evaluasi dan validasi. maka tekhnik yang digunakan adalah pertanyaan terbuka. yang akan di implementasikan saat bertemu dengan klien. 4)Merumuskan tujuan dengan klien. Tugas utama perawat pada tahap ini adalah memberikan situasi lingkungan yang peka dan menunjukkan penerimaan. C.1998.harapan dan kecemasannya.Kontrak yang harus disetujui bersama dengan klien yaitu. b. 3)Menggali perasaan dan pikiran serta mengidentifikasi masalah klien. Struktur dalam komunikasi terapeutik. menepati janji. Evaluasi ini juga digunakan untuk mendapatkan fokus pengkajian lebih lanjut. Kesepakatan berkaitan dengan kesediaan klien untuk berkomunikasi. 4)Melengkapi kontrak. Pada saat pertama kali bertemu dengan klien fase ini digunakan perawat untuk berkenalan dengan klien dan merupakan langkah awal dalam membina hubungan saling percaya. jujur..Fase preinteraksi Tahap ini adalah masa persiapan sebelum memulai berhubungan dengan klien. 4)Membuat rencana pertemuan secara tertulis. (3) fase kerja.2005). (2) fase perkenalan atau orientasi. dengan analisa diri ia akan terlatih untuk memaksimalkan dirinya agar bernilai tera[eutik bagi klien.W. waktu dan topik pertemuan.

1996. Tahap ini merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi teraeutik. Lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi yang terapeutik menurut Egan. Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat. c. 2)Terminasi akhir.Tekhnik komunikasi terapeutik yang sering digunakan perawat antara lain mengeksplorasi. berbagai persepsi. C.D. Dengan tekhnik memfokuskan perawat bersama klien mengidentifikasi masalah dan kebutuhan klien.Tahap ini perawat bersama klien mengatasi masalah yang dihadapi klien. Perawat dan klien bersama-sama meninjau kembali proses keperawatan yang telah dilalui dan pencapaian tujuan.Perawat dan klien mengeksplorasi stressor dan mendorong perkembangan kesadaran diri dengan menghubungkan persepsi.Fase terminasi Fase ini merupakan fase yang sulit dan penting. rencana yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini dan mengevaluasi tindakan pertemuan sebelumnya. refleksi. yang dibagi dua yaitu: 1)Terminasi sementara. d)Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya. Dengan tindak lanjut klien tidak akan pernah kosong menerima proses keperawatan dalam 24 jam.utama. dilakukan dengan menanyakan perasaan klien setalah berinteraksi atau setelah melakukan tindakan tertentu. Hal ini sering disebut pekerjaan rumah (planning klien). kontrak yang perlu disepakati adalah topik.2005). Selanjutnya setiap awal pertemuan lanjutan dengan klien lakukan orientasi. d.Fase kerja. Brammer & Mc Donald (1996) menyatakan bahwa meminta klien menyimpulkan tentang apa yang telah didiskusikan atau respon objektif setelah tindakan dilakukan sangat berguna pada tahap terminasi (Suryani. Perawat dan klien keduanya merasa kehilangan. Tugas perawat pada fase ini yaitu : a)Mengevaluasi pencapaian tujuan interaksi yang telah dilakukan. yaitu : . 2005). berarti masih ada pertemuan lanjutan. evaluasi ini disebut evaluasi objektif. memfokuskan dan menyimpulkan (Geldard. Tindak lanjut yang diberikan harus relevan dengan interaksi yang baru dilakukan atau yang akan dilakukan pada pertemuan berikutnya. Untuk melalui fase ini dengan sukses dan bernilai terapeutik. perawat menggunakan konsep kehilangan. adalah bahwa pada terminasi akhir yaitu mencakup keseluruhan hasil yang telah dicapai selama interaksi. Terminasi dapat terjadi pada saat perawat mengakhiri tugas pada unit tertentu atau saat klien akan pulang. 6)Menyepakati masalah. c)Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. waktu dan tempat pertemuan. Tujuan orientasi adalah memvalidasi keakuratan data. perasaan dan perilaku klien. terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara menyeluruh.Sikap Komunikasi Terapeutik. dikutip dari Suryani. Pada pertemuan lanjutan evaluasi/validasi digunakan untuk mengetahui kondisi dan kemajuan klien hasil interaksi sebelumnya. b)Melakukan evaluasi subjektif. karena hubungan saling percaya sudah terbina dan berada pada tingkat optimal. Perbedaan antara terminasi sementara dan terminasi akhir. mendengarkan dengan aktif.Tahap ini berkaitan dengan pelaksanaan rencana asuhan yang telah ditetapkan.

Artinya dari posisi ini adalah “Saya siap untuk anda”.Mendengarkan dengan penuh perhatian.Mengulangi ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri. Stuart dan Sundeen. 2. Selain hal-hal di atas sikap terapeutik juga dapat teridentifikasi melalui perilaku non verbal. 2.Mempertahankan sikap terbuka. jenis hubungan. Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengar sesuatu.1. Respon seseorang terhadap tindakan ini sangat dipengaruhi oleh tatanan dan latar belakang budaya. yaitu : 1. 4. Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi. 4. usia dan harapan.Isyarat vokal. .Ruang memberikan isyarat tentang kedekatan hubungan antara dua orang. yaitu fisik antara dua orang dan merupakan komunikasi non verbal yang paling personal. 3. Dalam hal ini perawat berusaha mengerti klien dengan cara mendengarkan apa yang disampaikan klien. Isyarat tindakan. yaitu obyek yang digunakan secara sengaja atau tidak sengaja oleh seseorang seperti pakaian dan benda pribadi lainnya.Isyarat obyek. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon kepada klien. (1998) mengidentifikasi teknik komunikasi terapeutik sebagai berikut : 1.Tetap rileks. Hal ini didasarkan pada norma-norma social budaya yang dimiliki. informasi maupun masukan. Menerima tidak berarti menyetujui. tertawa. 3. 4. Dengan mendengar perawat mengetahui perasaan klien. jenis kelamin. 2. 2.Teknik Komunikasi Terapeutik. 3. Stuart dan Sundeen (1998) mengatakan ada lima kategori komunikasi non verbal.Menunjukkan penerimaan.Menanyakan pertanyaan yang berkaitan. irama dan kecepatan bicara.Komunikasi yang menciptakan saling pengertian harus dilakukan lebih dahulu sebelum memberikan saran. 5.Membungkuk ke arah klien. 1998) yaitu : 1.Mempertahankan kontak mata. yaitu semua gerakan tubuh termasuk ekspresi wajah dan sikap tubuh. Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai apa yang disampaikan oleh klien. Beri kesempatan lebih banyak pada klien untuk berbicara. menerima berarti bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan. Perawat harus menjadi pendengar yang aktif. D. Melalui pengulangan kembali kata-kata klien.Semua komunikasi harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan. tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi. Ada dua persyaratan dasar untuk komunikasi yang efektif (Stuart dan Sundeen.Sentuhan. perawat memberikan umpan balik bahwa perawat mengerti pesan klien dan berharap komunikasi dilanjutkan. yaitu isyarat paralingustik termasuk semua kualitas bicara non verbal misalnya tekanan suara. Mendengar merupakan dasar utama dalam komunikasi. kualitas suara.Berhadapan. 5.

16. Dalam hal ini perawat menguraikan kesan yang ditimbulkan oleh isyarat non verbal klien. 11. Teknik ini memberikan kesempatan kepada klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan. maka perawat harus melihat segala sesuatunya dari perspektif klien.Refleksi. mengorganisir pikiran dan memproses informasi.Hambatan Komunikasi Terapeutik.Menawarkan informasi.Memberikan kesempatan kepada klien untuk menguraikan persepsinya Apabila perawat ingin mengerti klien.Memfokuskan.Menyatakan hasil observasi.Menempatkan kejadian secara berurutan. 13.Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan.Diam. 15. Refleksi memberikan kesempatan kepada klien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri. 12. 8.Memberi penghargaan. Memberikan tambahan informasi merupakan tindakan penyuluhan kesehatan untuk klien yang bertujuan memfasilitasi klien untuk mengambil keputusan.Mengklasifikasi. Mengurutkan kejadian secara teratur akan membantu perawat dan klien untuk melihatnya dalam suatu perspektif. Memberi kesempatan kepada klien untuk berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan.5. 10. 14. Penghargaan janganlah sampai menjadi beban untuk klien dalam arti jangan sampai klien berusaha keras dan melakukan segalanya demi untuk mendapatkan pujian dan persetujuan atas perbuatannya. Klasifikasi terjadi saat perawat berusaha untuk menjelaskan dalam kata-kata ide atau pikiran yang tidak jelas dikatakan oleh klien.Meringkas.Memberi kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan. 9. E. Diam memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Meringkas pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat. Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisir. 6. Metode ini bertujuan untuk membatasi bahan pembicaraan sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti. . 7.

R. Resisten adalah upaya klien untuk tetap tidak menyadari aspek penyebab ansietas yang dialaminya. 1. Konterrtransferens merujuk pada respon emosional spesifik oleh perawat terhadap klien yang tidak tepat dalam isi maupun konteks hubungan terapeutik atau ketidaktepatan dalam intensitas emosi. 2.Gates. Perilaku resistens biasanya diperlihatkan oleh klien selama fase kerja. Jakarta.. karena fase ini sangat banyak berisi proses penyelesaian masalah.R. Yaitu kebuntuan terapeutik yang dibuat oleh perawat bukan oleh klien. Jakarta Ellis. Rineka Cipta. H. tetapi semuanya menghambat komunikasi terapeutik. & Kenworthy. Jakarta. (2006). Sifat yang paling menonjol adalah ketidaktepatan respon klien dalam intensitas dan penggunaan mekanisme pertahanan pengisaran (displacement) yang maladaptif. Oleh karena itu hambatan ini menimbulkan perasaan tegang baik bagi perawat maupun bagi klien. (2002). transferens. EGC.J. Latar belakang perilaku digali baik klien atau perawat bertanggung jawab terhadap hambatan terapeutik dan dampak negative pada proses terapeutik. (1998).S. perawat harus mempunyai pengetahuan tentang hambatan komunikasi terapeutik dan mengenali perilaku yang menunjukkan adanya hambatan tersebut. Hafid. Hubungan Terapeutik Perawat-Klien.Transferens. Komunikasi Interpersonal Dalam Keperawatan: Teori dan Praktik. Komunikasi untuk Perawat. Perawat harus segera mengatasinya.(1998) . Jakarta. (2000). Awalnya. Ada dua jenis utama reaksi bermusuhan dan tergantung. & Sundeen.N. Stuart.Alih Bahasa: Achir Yani S.Kontertransferens. 3. 1998).Hambatan komunikasi terapeutik dalam hal kemajuan hubungan perawat-klien terdiri dari tiga jenis utama : resistens. Resisten merupakan keengganan alamiah atau penghindaran verbalisasi yang dipelajari atau mengalami peristiwa yang menimbulkan masalah aspek diri seseorang. SUMBER: Cangara. Jakarta. perawat harus siap untuk mengungkapkan perasaan emosional yang sangat kuat dalam konteks hubungan perawat-klien (Hamid.W. reaksi sangat bermusuhan atau membenci dan reaksi sangat cemas sering kali digunakan sebagai respon terhadap resisten klien. PT.Resisten. Jakarta Purwanto. .EGC. Raja Grafindo Persada.G. Notoatmodjo. Untuk lebih jelasnya marilah kita bahas satu-persatu mengenai hambatan komunikasi terapeutik itu. S 1997. Reaksi ini biasanya berbentuk salah satu dari tiga jenis reaksi sangat mencintai.A. Resisten sering merupakan akibat dari ketidaksediaan klien untuk berubah ketika kebutuhan untuk berubah telah dirasakan. EGC. dan kontertransferens (Hamid.Alih Bahasa :Susi Purwoko. Ini timbul dari berbagai alasan dan mungkin terjadi dalam bentuk yang berbeda. B. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Keliat. Untuk mengatasi hambatan komunikasi terapeutik. Transferens adalah respon tidak sadar dimana klien mengalami perasaan dan sikap terhadap perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh dalam kehidupannya di masa lalu. 1998). Pengantar Ilmu Komunikasi. Kesehatan Maternal dan Neonatal. Ilmu Perilaku dan komunikasi Kesehatan.

Anggukan kepala jika klien membicarakan hal penting atau memerlukan umpan balik. Ketrampilan mendengarkan sepenuh perhatian adalah dengan: a. c. Selanjutnya Pasquali & Arnold (1989) dan Watson (1979) menyatakan bahwa “human care” terdiri dari upaya untuk melindungi. dan keberadaanya: membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri. Mendengarkan dengan penuh perhatian merupakan upaya untuk mengerti seluruh pesan verbal dan non-verbal yang sedang dikomunikasikan. Pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk mendengarkan. Bucaille (1979) dan Amsyari (1995) menambahkan bahwa sebagai seorang beragama. meningkatkan. Mendengarkan dengan penuh perhatian Berusaha mendengarkan klien menyampaikan pesan non-verbal bahwa perawat perhatian terhadap kebutuhan dan masalah klien. Addalati (1983). Menunjukkan penerimaan . 3. Stuart & Sundeen (1950) dan Wilson & Kneisl (1920). “Sesungguhnya setiap orang diajarkan oleh Allah untuk menolong sesama yang memrlukan bantuan”.Tambahan komunikasi KOMUNIKASI TERAPEUTIK SEBAGAI TANGGUNG JAWAB MORAL PERAWAT Perawat harus memiliki tanggung jawab moral yang tinggi yang didasari atas sikap peduli dan penuh kasih sayang. TEHNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK Tiap klien tidak sama oleh karena itu diperlukan penerapan tehnik berkomunikasi yang berbeda pula. penderitaan. Tehnik komunikasi berikut ini. Pandang klien ketika sedang bicara b. sehingga akhirnya menjadi bagian dari kepribadian. 2. perawat tidak dapat bersikap tidak perduli terhadap ornag lain adalah seseorang pendosa yang memntingkan dirinya sendiri. Hindarkan gerakan yang tidak perlu. Condongkan tubuh ke arah lawan bicara. e. Perilaku menolong sesama ini perlu dilatih dan dibiasakan. treutama penggunaan referensi dari Shives (1994). serta perasaan ingin membantu orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Sikap tubuh yang menunjukkan perhatian dengan tidak menyilangkan kaki atau tangan. f. yaitu: 1. dan menjaga/mengabdikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain mencari arti dalam sakit. d.

“saya mengikuti apa yang anda ucapkan.” 5. Berikut ini menunjukkan sikap perawat yang menggelengkan kepala seakan tidak percaya. Memastikan bahwa isyarat non-verbal cocok dengan komunikasi verbal.Menerima tidak berarti menyetujui.” (cocok 1987) 3. . Tentu saja sebagai perawat kita tidak harus menerima semua prilaku klien. 4. Perawat dapat menganggukan kepalanya atau berkata “ya”. sepanjang malam saya terjaga” . Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai klien. atau mencoba untuk mengubah pikiran klien. Menerima berarti bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau tidak setuju. Paling baik jika pertanyaan dikaitkan dengan topik yang dibicarakan dan gunakan kata-kata dalam konteks sosial budaya klien. Klarifikasi Apabila terjadi kesalah pahaman. perawat perlu menghentikan pembicaraan untuk mengklarifikasi dengan menyamakan pengertian. Contoh: . b. Perawat tidak seharusnya memutus pembicaraan klien ketika menyampaikan masalah yang penting. perawat memberikan umpan balik sehingga klien mengetahui bahwa pesannya dimengerti dan mengharapkan komunikasi berlanjut. Menghindarkan untuk berdebat.“ Apa yang katakan tadi adalah……. Mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan. kecuali jika pembicaraan berlanjut tanpa informasi yang baru. seperti mengerutkan kening atau menggelengkan kepala seakan tidak percaya. Selama pengkajian ajukan pertanyaan secara berurutan.” 6. d. Dengan mengulang kembali ucapan klien.K : “saya tidak dapat tidur. Agar pesan dapat sampai dengan benar. mengekspresikan keraguan.“Saya tidak yakin saya mengikuti apa yang anda katakan” . c. karena informasi sangat penting dalam memberikan pelayanan keperawatan.P : “ Saudara mengalami kesulitan untuk tidur…. Contoh: . Perawat sebaiknya menghindarkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang menunjukkan tidak setuju. Memfokuskan Metode ini dilakukan dengan tujuan membatasi bahan pembicaraan sehingga lebih spesifik dan dimengerti. Namun perawat harus berhati-hati ketika menggunakan metode ono. karena pengertian bisa rancu jika pengucapan ulang mempunyai arti yang berbeda. Memberikan umpan balik verbal yang menapakkan pengertian. Mengulang ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri. Berikut ini menunjukkan sikap perawat yang a. perawat perlu memberikan contoh yang konkrit dan mudah dimengerti klien. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan.

anda dan saya telah membicarakan…” 11. Perawat menguraikan kesan yang ditimbulkan oleh syarat non-verbal klien. . dan memproses informasi. sehingga dapat melanjutkan pembicaraan dengan topik yang berkaitan. Penghargaan tersebut jangan sampai menjadi beban baginya. Dan tidak pula dimaksudkan untuk menyatakan bahwa ini “bagus” dan yang sebaliknya “buruk”.“ Anda tampak cemas”. 9. Diam memungkinkan klien untuk berkomunikasi terhadap dirinya sendiri. Meringkas Meringkas adalah pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat. Penggunaan metode diam memrlukan ketrampilan dan ketetapan waktu. Apabila ada informasi yang ditutupi oleh dokter. 10. Selain ini akan menambah rasa percaya klien terhadap perawat. Memberikan tambahan informasi merupakan pendidikan kesehatan bagi klien. nanti kita bicarakan lebih dalam lagi ”.Contoh: “ Hal ini nampaknya penting. Menyampaikan hasil pengamatan perawat sering membuat klien berkomunikasi lebih jelas tanpa harus bertambah memfokuskan atau mengklarifikasi pesan. Contoh: . mengorganisir pikirannya. Menyampaikan hasil observasi Perawat perlu memberikan umpan balik kepada klien dengan menyatakan hasil pengamatannya. perawat perlu mengklarifikasi alasannya. Memberikan penghargaan Memberi salam pada klien dengan menyebut namanya.“ Apakah anda merasa tidak tenang apabila anda……” 8. Diam terutama berguna pada saat klien harus mengambil keputusan . menunjukkan kesadaran tentang perubahan yang terjadi menghargai klien sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai hak dan tanggung jawab atas dirinya sendiri sebagai individu. Contoh: . dalam arti kata jangan sampai klien berusaha keras dan melakukan segalanya demi mendapatkan pujian atau persetujuan atas perbuatannya. . Meringkas pembicaraan membantu perawat mengulang aspek penting dalam interaksinya. jika tidak maka akan menimbulkan perasaan tidak enak. 7.“Selama beberapa jam. dan memproses informasi. Menawarkan informasi Tambahan informasi ini memungkinkan penghayatan yang lebih baik bagi klien terhadap keadaanya. Metode ono bermanfaat untuk membantu topik yang telah dibahas sebelum meneruskan pada pembicaraan berikutnya. tetapi memfasilitasi klien untuk membuat keputusan. mengorganisir pikirannya. Diam memungkinkan klien untuk berkomunikasi terhadap dirinya sendiri. sehingga dapat diketahui apakah pesan diterima dengan benar. Perawat tidak boleh memberikan nasehat kepada klien ketika memberikan informasi. Diam Diam memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisir pikirannya.

. karena berarti mendoakan orang lain memperoleh rahmat dari Allah SWT. Perawat lebih berusaha untuk menafsirkan dari pada mengarahkan diskusi/pembicaraan Contoh: .“Saya perhatikan Ibu sudah menyisir rambut ibu”.” Contoh: . Salam menunjukkan betapa perawat peduli terhadap orang lain dengan bersikap ramah dan akrab. Memberi kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan.Perlu mengatakan “Apabila klien mencapai sesuatu yang nyata. Memberi kesempatan pada klien untuk berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan. Dalam ajaran Islam. Kelanjutan dari suatu kejadian secara teratur akan menolong perawat dan klien untuk melihatnya dalam suatu perspektif.? . Biarkan klien yang merasa ragu-ragu dan tidak pasti tentang perannanya dalam interakasi ini perawat dapat menstimulasinya untuk mengambil inisiatif dan merasakan bahwa ia diharapkan untuk membuka pembicaraan.“Saya ingin anda merasa tenang dan nyaman” 13.“ Ceritakan kepada saya tentang itu…. Pesawat akan dapat menentukan pola kesukaran interpersonal dan memberikan data tentang pengalaman yang .“ Darimana anda ingin mulai pembicaraan ini?” 14. tehnik komunikasi ini harus dilakukan tanpa pamrih. Contoh: . Menempatkan kejadian secara teratur akan menolong perawat dan klien untuk melihatnya dalam suatu perspektif..teruskan…. Menawarkan diri Klien mungkin belum siap untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain atau klien tidak mampu untuk membuat dirinya dimengerti.“….dan kemudian….“ Apakah yang sedang saudara pikirkan?” .” 15.“ Adakah sesuatu yang ingin anda bicarakan?” . Kelanjutan dari suatu kejadian secara teratur akan menolong perawat dan klien untuk melihat kejadian berikutnya sebagai akibat kejadian yang pertama. 12.“…. rasa tertarik.. Seringkali perawat hanya menawarkan kehadirannya. memberi salam dan penghargaan menggambarkan akhlah terpuji. Contoh: .!” .” Atau “Assalmualaikum” .“Selamat pagi Ibu Sri. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan Tehnik ini menganjurkan klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan yang mengindikasikan bahwa klien sedang mengikuti apa yang sedang dibicarakan dan tertarik dengan apa yang akan dibicarakan selanjutnya. maka perawat dapat mengatakan demikian.

Apabila klien bertanya apa yang harus ia pikirkan dan kerjakan atau rasakan maka perawat dapat menjawab: “Bagaimana menurutmu?” atau “Bagaimana perasaanmu?”. Contoh: K: “Apakah menurutmu saya harus mengatakannya kepada dokter?” P: “Apakah menurut anda. Dengan demikian perawat mengindikasikan bahwa pendapat klien adalah berharga dan klien mempunyai hak untuk mampu melakukan hal tersebut. anda harus mengatakannya?” K: “Suami saya sudah lama tidak datang mengunjungi saya. P: “Ini menyebabkan anda marah”. Ketika menceritakan pengalamannya. bahwa tidak menelpon saya.“Apakah yang terjadi sebelum dan sesudahnya”. Refleksi “Refleksi menganjurkan klien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaanya sebagai bagian dari dirinya sendiri. perawat harus waspada akan timbulnya gejala ansietas. kalau dia datang saya tidak ingin berbicara dengannya. Menganjurkan klien unutk menguraikan persepsinya Apabila perawat ingin mengerti klien.memuaskan dan berarti bagi klien dalam memenuhi kebutuhannya.“Carikan kepada saya bagaimana perasaan saudara ketika akan dioperasi” . Klien harus merasa bebas untuk menguraikan persepsinya kepada perawat. maka iapun akan berpikir bahwa dirinya adalah manusia yang mempunyai kapasitas dan kemampuan sebagai individu yang terintegrasi dan bukan sebagai bagian dari orang lain. Contoh: . Contoh: .“Apa yang sedang terjadi”. maka ia harus melihat segala sesungguhnya dari perspektif klien. . 16.“Kapan kejadian tersebut terjadi”. . 17.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful