BAB I PENDAHULUAN

Pada umumnya, anggota tubuh yang paling sering terkena cedera pada waktu berolahraga adalah daerah sendi lutut. Cedera ini dapat terjadi karena sendi tersebut berfungsi melakukan pergerakan sambil menyangga tubuh. Pada setiap persendian, terdapat serabut-serabut otot yang menghubungkan tulang satu dengan tulang yang lainnya, serabut otot ini disebut ligamen, oleh karena itu cedera yang mengenai pada daerah ligamen ini sering disebut sprain. Sendi lutut dapat berfungsi untuk pergerakan dan untuk penyangga tubuh dikarenakan adanya beberapa jenis ligament dan sedikit tendon. Lutut merupakan persendian yang besar dalam tubuh, lutut mudah sekali terserang cedera traumatik. Persendian ini kurang mampu melawan kekuatan medial, lateral, tekanan, dan rotasi, karena lemahnya otot, dan mudah mendapat luka memar. Sendi lutut merupakan bagian dari ekstrimitas inferior yang menghubungkan tungkai atas (paha) dengan tungkai bawah. Fungsi dari sendi lutut ini adalah untuk mengatur pergerakan dari kaki. Sendi lutut ini termasuk dalam jenis sendi engsel , yaitu pergerakan dua condylus femoris diatas condylus tibiae. Gerakan yang dapat dilakukan oleh sendi ini yaitu gerakan fleksi, ekstensi dan sedikit rotasi. Jika terjadi gerakan yang melebihi kapasitas sendi maka akan dapat menimbulkan cedera yang antara lain terjadi robekan pada kapsul dan ligamentum di sekitar sendi. Adapun mekanisme datangnya cedera sendi lutut yang berakibat serabut ligamen utama dari lutut bisa menjadi putus - baik putus secara terpisah atau kombinasi tergantung pada aplikasi dari kekuatan, pukulan, tekanan, gerakan yang melebihi batas keregangan, dan cedera ini dapat terjadi karena suatu gaya pada garis lurus (straigth line) langsung atau melalui bidang tunggal (single plane), atau karena suatu gaya berputar mendadak. Semua gaya tersebut akan menimbulkan cedera pada bagian tengah ligamen colateral, bagian samping ligamen colateral, bagian berputar dari ligamen, bagian belakang ligamen cruciate, dan ligamen medial baik secara sebagian atau keseluruhan.

1

BAB II ISI

2.1. Anatomi Sendi Lutut Sendi lutut merupakan persendian yang paling besar pada tubuh manusia. Sendi ini terletak pada kaki yaitu antara tungkai atas dan tungkai bawah. Pada dasarnya sendi lutut ini terdiri dari dua articulatio condylaris diantara condylus femoris medialis dan lateralis dan condylus tibiae yang terkait dan sebuah sendi pelana , diantara patella dan fascies patellaris femoris. Secara umum sendi lutut termasuk kedalam golongan sendi engsel, tetapi sebenarnya sendi ini terdiri dari tiga bagian sendi yang kompleks yaitu : 1) Condyloid articulatio diantara dua femoral condylus dan meniscus dan berhubungan dengan condylus tibiae 2) Satu Articulatio jenis parsial arthrodial diantara permukaan dorsal dari patella dan femur. Pada bagian atas sendi lutut terdapat condylus femoris yang berbentuk bulat, pada bagian bawah terdapat condylus tibiae dan cartilago semilunaris. Pada bagian bawah terdapat articulatio antara ujung bawah femur dengan patella. Fascies articularis femoris . tibiae dan patella diliputi oleh cartilago hyaline. Fascies articularis condylus medialis dan lateralis tibiae di klinik sering disebut sebagai plateau tibialis medialis dan lateralis. Persendian pada sendi lutut termasuk dalam jenis sendi synovial (synovial joint ), yaitu sendi yang mempunyai cairan sinovial yang berfungsi untuk membantu pergerakan antara dua buah tulang yang bersendi agar lebih mudah bergerak. Secara anatomis persendian ini lebih kompleks daripada jenis sendi fibrous dan sendi cartilaginosa. Permukaan tulang yang bersendi pada synovial joint ini ditutupi oleh lapisan hyaline cartilage yang tipis yang disebut articular cartilage , yang merupakan bantalan pada persambungan tulang. Pada daerah ini terdapat rongga yang dikelilingi oleh kapsul sendi. Dalam hal ini kapsul sendi merupakan pengikat kedua tulang yang bersendi agar tulang tetap berada pada tempatnya pada waktu terjadi gerakan.

2

terdiri dari jaringan ikat yang kuat dan tidak teratur.Kapsul sendi ini terdiri dari 2 lapisan : 1) Lapisan luar Disebut juga kapsul fibrosa. Sendi lutut ini terdiri dari bentuk konveks silinder pada tulang yang satu yang digunakan untuk berhubungan dengan bentuk yang konkaf pada tulang lainnya. 2. Membran ini menghasilkan cairan sinovial yang terdiri dari serum darah dan cairan sekresi dari sel sinovial. Menurut arah gerakannya sendi lutut termasuk dalam sendi engsel ( monoaxial joints )yaitu sendi yang mempunyai arah gerakan pada satu sumbu. Polisakarida ini mengandung hyaluronic acid yang merupakan penentu kualitas dari cairan sinovial dan berfungsi sebagai pelumas dari permukaan sendi sehingga sendi mudah digerakkan Ada 2 condylus yang menutupi bagian ujung bawah sendi pada femur dan 2 tibial condylus yang menutupi meniscus untuk stabilitas artikulasi femorotibial. bagian dalam lapisan ini membatasi kavum sendi dan bagian luar merupakan bagian dari articular cartilage. bersendi dengan femur. Sebagian dari lapisan ini akan menebal dan membentuk ligamentum. Membran ini tipis dan terdiri dari kumpulan jaringan ikat. Lapisan ini akan berlanjut menjadi lapisan fibrosa dari periosteum yang menutupi bagian tulang. lemak dan sel sel lainnya. Cairan sinovial ini merupakan campuran yang kompleks dari polisakarida protein .) Lapisan dalam Disebut juga membran sinovial. dimana patella ini terletak diantara 2 condylus femoralis pada permukaan anteroinferior. 3 . Patella yang merupakan jenis tulang sesamoid terletak pada segmen inferior dari tendon quadriceps femoris.

Ligamentum patellae ini sebenarnya merupakan lanjutan dari bagian pusat tendon bersama m. popliteus. Dipisahkan dari membran synovial sendi oleh bantalan lemak intra patella dan dipisahkan dari tibia oleh sebuah bursa yang kecil. b. quadriceps femoris. Bursa infra patellaris superficialis memisahkan ligamentum ini dari kulit. 4 . poplitei. Dan juga dipisahkan dari meniscus lateralis melalui bursa m.Gambar 1. Ligamentum Collaterale Fibulare Ligamentum ini menyerupai tali dan melekat di bagian atas pada condylus lateralis dan dibagian bawah melekat pada capitulum fibulae. Ligamentum Patellae Melekat (diatas) pada tepi bawah patella dan pada bagian bawah melekat pada tuberositas tibiae. Ligamentum ini dipisahkan dari capsul sendi melalui jaringan lemak dan tendon m. Gambaran anatomi lutut Ligamentum pada sendi lutut dibagi dua yakni : 1) Ligamentum Ektrakapsular Ligamentum ini terdiri dari : a.

Ligamentum ini menembus dinding capsul sendi dan sebagian melekat pada meniscus medialis. semimembranosus. Ligamentum intrakapsular terdiri dari : a. e. popliteus dan sebagian lagi membelok ke atas menutupi tendon m. saling menyilang didalam rongga sendi. inferior medialis genu. Ligamentum cruciatum anterior berfungsi untuk mencegah femur bergeser ke posterior terhadap tibiae. Ligamentum ini terdiri dari dua bagian yaitu posterior dan anterior sesuai dengan perlekatannya pada tibiae. Di bagian bawah pada margo infraglenoidalis. Sebagian dari ligamentum ini berjalan menurun pada dinding capsul dan fascia m. Ligamentum ini akan menegang bila lutut ditekuk dan akan mengendur bila lutut diluruskan sempurna. kebelakang dan lateral untuk melekat pada bagian posterior permukaan medial condylus lateralis femoris. ligamentum ini menutupi tendon m. terdiri dari jaringan connective. terletak pada bagian posterior dari sendi lutut. Ligamentum Transversum Genu Ligamentum ini terletak membentang paling depan pada dua meniscus . Ligamentum Cruciata Anterior Ligamentum ini melekat pada area intercondylaris anterior tibiae dan berjalan kearah atas.c. kadang. Ligamentum Popliteum Obliquum Merupakan ligamentum yang kuat. Ligamentum Collaterale Tibiae Ligamentum ini berbentuk seperti pita pipih yang melebar dan melekat dibagian atas pada condylus medialis femoris dan pada bagian bawah melekat pada margo infraglenoidalis tibiae. Ligamentum ini penting karena merupakan pengikat utama antara femur dan tibiae. letaknya membentang secara oblique ke medial dan bawah. Bila sendi lutut berada dalam keadaan fleksi ligamentum cruciatum anterior akan mencegah tibiae tertarik ke posterior.kadang ligamentum ini tertinggal dalam perkembangannya . sehingga sering tidak dijumpai pada sebagian orang 2) Ligamentum Intrakapsular Ligamentum cruciata adalah dua ligamentum intra capsular yang sangat kuat. d. 5 . semimembranosus dan a.

ligamentum cruciatum posterior akan mencegah tibiae tertarik ke posterior. Empat terdapat di depan. otot. depan dan medial. 6 . Serat-serat anterior akan mengendur bila lutut sedang ekstensi. Gambar 2. Bila sendi lutut dalam keadaan fleksi . namun akan menjadi tegang bila sendi lutut dalam keadaan fleksi. atau tendon. Banyak bursa berhubungan sendi lutut. popliteus. dan enam terdapat di belakang sendi. Bursa ini membuka kearah sendi melalui celah yang sempit diatas meniscus lateralis dan tendon m. Ligamentum cruciatum posterior berfungsi untuk mencegah femur ke anterior terhadap tibiae. Ligamentum Cruciatum Posterior Ligamentum cruciatum posterior melekat pada area intercondylaris posterior dan berjalan kearah atas. untuk dilekatkan pada bagian anterior permukaan lateral condylus medialis femoris. Gambaran ligamentum pada lutut Bursa sendi merupakan suatu tube seperti kantong yang terletak di bagian bawah dan belakang pada sisi lateral di depan dan bawah tendon origo m. popliteus. Bursa ini terdapat pada tempat terjadinya gesekan di antara tulang dengan kulit.b. Serat-serat posterior akan menjadi tegang dalam keadaan ekstensi.

Peroneus communis 4. N. Gambaran anterior lutut saat ekstensi Persarafan pada sendi lutut adalah melalui cabang-cabang dari nervus yang yang mensarafi otot-otot di sekitar sendi dan befungsi untuk mengatur pergerakan pada sendi lutut. Aliran vena pada sendi lutut mengikuti perjalanan arteri untuk kemudian akan memasuki vena femoralis. Femoralis 2. Sehingga sendi lutut disarafi oleh : 1.Gambar 3. N. N. Obturatorius 3. N. Dimana sendi lutut menerima darah dari descending genicular arteri femoralis. cabangcabang genicular arteri popliteal dan cabang descending arteri circumflexia femoralis dan cabang ascending arteri tibialis anterior. Tibialis Suplai darah pada sendi lutut berasal dari anastomose pembuluh darah disekitar sendi ini. 7 .

Gerakan fleksi dilaksanakan oleh m.Gambar 4. m.sartorius dan m. dimana aliran limfe berjalan sepanjang vena femoralis menuju kelenjar getah bening inguinal dalam. 8 .2. ekstensi. semimembranosus. biceps femoris. Pergerakan Sendi Lutut Pergerakan pada sendi lutut meliputi gerakan fleksi. Sebagian lagi aliran limfe ini akan memasuki kelenjar popliteal.popliteus. dan sedikit rotasi. dan semitendinosus.gracilis. 2. Perdarahan pada lutut Sistem limfe pada sendi lutut terutama terdapat pada perbatasan fascia subcutaneous. Kemudian selanjutnya akan bergabung dengan kelenjar getar bening sub inguinal superfisialis. serta dibantu oleh m.

Selama tahap akhir ekstensi. Rotasio femur sebenarnya mengembalikan femur pada tibia. Selama tahap awal ekstensi . pada permukaan cartilago semilunaris dan condylus lateralis. Sewaktu ekstensi berlanjut. femur ditahan oleh ligamentum cruciatum posterior. Gambaran ekstensi dan fleksi pada pergerakan lutut Fleksi sendi lutut dibatasi oleh bertemunya tungkai bawah bagian belakang dengan paha. rotasi medial dari femur mengakibatkan pemutaran dan pengetatan semua ligamentum utama dari sendi. condylus femoris yang bulat menggelinding ke depan mirip roda di atas tanah. quadriceps femoris dan dibatasi mula-mula oleh ligamentum cruciatum anterior yang menjadi tegang. ligamentum-ligamentum utama harus mengurai kembali dan mengendur untuk memungkinkan terjadinya gerakan diantara permukaan sendi.Gambar 5. dan cartilago semilunaris dipadatkan mirip bantal karet diantara condylus femoris dan condylus tibialis. dan lutut berubah menjadi struktur yang secara mekanis kaku. Ekstensi sendi lutut lebih lanjut disertai rotasi medial dari femur dan tibia serta ligamentum collaterale mediale dan lateral serta ligamentum popliteum obliquum menjadi tegang. bagian yang lebih rata pada condylus femoris bergerak ke bawah dan cartilago semilunaris harus menyesuaikan bentuknya pada garis bentuk condylus femoris yang berubah. Sebelum fleksi sendi lutut dapat berlangsung. memaksa cartilago semilunaris lateralis ikut bergerak ke depan. gerak menggelinding condylus femoris diubah menjadi gerak memutar. Ekstensi dilaksanakan oleh m. serat-serat posterior ligamentum cruciatum posterior juga dieratkan. condylus lateralis femoris bergerak ke depan. Sehingga sewaktu sendi lutut mengalami ekstensi penuh ataupun sedikit hiper-ekstensi . bila femur mengalami rotasi medial. Bila sendi lutut di gerakkan ke depan . Lutut berada dalam keadaan hiperekstensi dikatakan dalam keadaan terkunci. Peristiwa 9 .

setelah terjadi cedera pada sendi lutut.3. terutama ligamentum cruciatum sedang dalam keadaan kendur. popliteus pada cartilago semilunaris lateralis akibatnya tertarik kebelakang. terutama m. quadriceps femoris. Kerusakan pada ligamentum collaterale terjadi sebagai akibat dari 10 . Stabilitas sendi lutut tergantung pada kekuatan tonus otot yang bekerja terhadap sendi dan juga oleh kekuatan ligamentum. Sewaktu condylus lateralis femoris bergerak mundur . Rotasi medial dilakukan m. Dari faktor-faktor ini. hal ini dimungkinkan karena ligamentum utama . Pergerakan otot pada lutut Bila sendi lutut dalam keadaan fleksi 90 derajat . popliteus. dan menjadi tugas ahli fisioterapi untuk mengembalikan kekuatan otot ini.mengurai dan terlepas dari keadaan terkunci ini dilaksanakan oleh m. Cedera Lutut Trauma pada lutut lebih sering terjadi pada sisi medial dibandingkan pada sisi lateral. Rotasi lateral dilakukan oleh m. sartorius. tonus otot berperan sangat penting. m. 2. Sekali lagi cartilago semilunaris harus menyesuaikan bentuknya pada garis bentuk condylus yang berubah. Pada posisi fleksi. maka kemungkinan rotasio sangat luas. gracilis dan m. biceps femoris. perlekatan m. Gambar 6. Ligamentum collaterale laterale ( fibulare ) lebih kuat mengikat sendi daripada ligamentum collaterale medial ( fibula). dalam batas tertentu tibia secara pasif dapat di gerakkan ke depan dan belakang terhadap femur . yang memutar femur ke lateral pada tibia. semitendinosus.

Bila lutut digerakkan ke anterior dengan berlebihan ataupun bila lutut hiperekstensi. Hal ini menyebabkan lutut menjadi terkunci pada posisi sedikit fleksi. ligamentum cruciatum anterior dapat robek sehingga menyebabkan sendi lutut menjadi tidak stabil. ligament yang besar 11 . 3. Dan bila lutut digerakkan ke posterior dengan berlebihan maka ligamentum cruciatum posterior dapat robek. medial atau rotasi. Dengan tanpa mempertimbangkan jenis dislokasi sendi yang terjadi. Pada meniscus medialis. lateral. adalah jarang terjadi bila di bandingkan dengan pukulan pada sisi lateral lutut. Cedera pada ligamen (sprain) dibagi menjadi beberapa tingkatan. Meniscus yang robek dapat menimbulkan bunyi “click“ selama ekstensi dari kaki.3% dari seluruh dislokasi sendi. Pada cedera ini terdapat sedikit hematoma dalam ligamen dan hanya beberapa serabut yang putus. Dislokasi anterior lebih sering ditemukan dimana tibia bergerak ke depan terhadap femur. Tindakan bedah pada ligamentum cruciatum melalui transplantasi ataupun artificial ligamentum digunakan untuk memperbaiki kerusakan. yang mana dapat menimbulkan kerusakan pada ligamentum collaterale fibulare . 2. tetapi lebih setengah dari serabut ligamen masih utuh. Pada cedera ini lebih banyak serabut otot dari ligamen yang putus. Sprain tingkat II. Sprain tingkat I. Pukulan yang berat pada sisi medial dari lutut . pada cedera yang berat ligamentum cruciatum anterior.pukulan pada lutut pada sisi yang berlawanan. Dislokasi biasanya terjadi apabila penderita mendapat trauma dari depan dengan lutut dalam keadaan fleksi. yang juga melekat pada meniscus medialis juga ikut rusak. Meniscus medialis melekat kuat pada ligamentum collaterale tibialis dan frekuensi kerusakan 20 kali lebih sering terjadi di bandingkan dengan meniscus lateralis. bila kerukan lebih berat potongan sobekan dari cartilago dapat bergerak di antara permukaan persendian tibia dan femur. posterior. Sprain tingkat III. Dislokasi dapat bersifat anterior. trauma ini merupakan suatu trauma hebat yang selalu menimbulkan kerusakan pada kapsul.. yaitu: 1. Dislokasi Sendi Lutut Dislokasi sendi lutut sangat jarang ditemukan dan hanya 2. Pada cedera ini seluruh ligamen putus sehingga kedua ujungnya terpisah.

Klasifikasi Tipe I : fraktur tanpa adanya pergeseran dan bersifat trasversal (fraktur crack) Tipe II : fraktur transversal dengan pergeseran Tipe III : fraktur transversal pada kutub atas/bawah Tipe IV : fraktur komunitif Tipe V : fraktur vertical Fraktur transversal biasanya terjadi oleh kontraksi yang hebat.dan sendi. Mungkin dapat diraba adanya ruang fragmen patella. Kontraksi yang hebat otot kuadriseps. sedangkan fraktur komunitif terjadi oleh trauma langsung pada patella. maka harus dilakukan operasi untuk perbaikan ligament. Adanya trauma pada daerah lutut disertai pembengkakan. nyeri dan hemostasis. Tindakan reposisi dan manipulasi dengan pembiusan harus dilakukan sesegera mungkin dan dilakukan aspirasi hemartrosis dan setelahnya dipasang bidai gips posisi 10-150 selama satu minggu dan setelah pembengkakan menurun dipasang gips sirkuler di atas lutut selama 7-8 minggu. Adanya trauma pada daerah lutut disertai pembengkakan. Pada dislokasi yang lama tidak mungkin dilakukan reduksi sehigga perlu dipertimbangkan cara-cara operasi yang sesuai. serta deformitas. Pemeriksaan dengan radiologis dengan foto rontgen. Fraktur patella Patela merupakan tulang sesamoid yang paling besar pada tubuh dan mempunyai fungsi mekanis dalam eksistensi anggota gerak bawah. nyeri dan hemartrosis. Trauma juga dapat menyebabkan dislokasi yang terjadi disertai dengan kerusakan pada nervus proneus dan ateri poplitea. diagnosis dapat ditegakkan. Disebelah proksimal melekat otot kuadriseps. Apabila setelah reposisi ternyata lutut tidak stabil dalam posisi varus dan valgus. Mekanisme trauma Fraktur patella dapat terjadi dalam dua cara : 1. 12 . misalnya menekuk secara keras dan tiba-tiba 2. Dislokasi sendi lutut merupakan suatu keadaan yang serius karena dapat menyebabkan kerusakan yang hebat pada pembuluh darah dan saraf serta ligament. Jatuh dan mengenai langsung tulang patella.

bila ada hamartrosis yang besar. Dan pada fraktur komunitif terutama pada orang tua dimana rekonstruksi kembali patella tidak mungkin dilakukan. Kekakuan sendi lutut 4. Pada robekan kutub atas patella dan robekan pada kutub bawah pada perlengketan dengan tuberositas tibia. Fisioterapi dilakukan selama gips terpasang. Pada fraktur yang bergeser. dimana terjadi fraktur transversal diperlukan operasi dan rekonstruksi kembali ekspansi ekstensor serta tulang patella dengan menggunakan tension band-wiring. Pada fraktur yang tidak bergeser. Pengobatan pada fraktur patella bergantung pada jenis frakturnya. juga dilakukan pengobatan fraktur patella. dilakukan aspirasi secara steril dan dipasang gips silinder selama 4-6 minggu. Fraktur transversal biasanya disertai dengan robekan dari ekspansi ekstensor. Gangguan fleksi ekstensi terjadi apabila tidak dilakukan fisioterapi serta adanya kerusakan pada ekspansi ekstensor yang tidak dilakukan koreksi penjahitan 3. pengobatan berupa penjahitan ligament patella dan imobilisasi dengan gips sirkuler. disamping dilakukan penjahitan mekanisme ekstensor lutut. maka akan terjadi diskonkruensi/ketidaksesuaian antara patella dan kondilus femur 2. sebaiknya patella dieksisi. 13 . dan fraktur patella. apabila tidak dilakukan reposisi patella yang akurat. baik penguatan kuadriseps maupun gerakan pada sendi lutut. Nonunion Trauma Pada Mekanisme Ekstensor Lutut Trauma apparatus kuadriseps akan menimbulkan robekan atau fraktur pada patella. Osteoarthritis patelomoral. Dengan foto rontgen dapat ditemukan fraktur dan jenis fraktur patela.Pada pemeriksaan didapatkan adanya cekungan dan penderita tidak dapat melalukan ekstensi anggota gerak bawah. Komplikasi : 1. Pada keadaan ini dapat terjadi robekan pada kutub atas patella. kutub bawah pada perlengketan dengan tuberositas tibia. Fraktur kutub bawah dengan fragmen kecil yang komunitif dilakukan eksisi dan rekonstruksi kembali ligament patella. Fisioterapi dapat segera dilakukan setelah operasi. Pada robekan disertai fraktur patella.

Penyebabnya oleh kedangkalan lekukan interkondiler femur. Robekan ligament kontralateral medial dan kruasiatum anterior dapat disertai dengan robekan meniscus medialis dan disebut Trias O’Donoghue. Dislokasi akut. Robekan tidak total (strain) Robekan pada ligamen medial Robekan pada ligament medial lebih sering ditemukan. Robekan pada ligament krusiatum semata-mata 4. Pengobatan dilakukan reposisi sebaiknya dipertahankan dengan gips silinder selama 6 minggu. Urutan robekan pada ligament tergantung beratnya trauma. sering terjadi pada wanita dewasa muda. 14 . letak patella yang tinggi dan kecil. yaitu : 1. Gambaran klinis pada dislokasi akut adalah sendi lutut tidak dapat di ekstensikan. lebih jarang ditemukan dan biasanya terjadi pada anak-anak. 2. Penyebab utama adalah pemendekan otot kuadriseps terutama komponen vastus lateralis karena fibrosis setelah injeksi muskulus kuadrisep. pada ligament krusiatum anterior. Dislokasi rekuren. biasanya terjadi pada saat lutut dalam posisi fleksi atau semi fleksi dan patella bergeser kearah lateral dari kondilus femur. Pengobatan dengan operasi. Reposisi dapat terjadi secara spontan atau dilakukan secara manual. Robekan Ligament Pada Lutut Robekan ligament pada lutut biasanya terjadi pada atlet dan olahragawan. Dislokasi habitual. dapat menimbulkan masalah gawat berupa kecacatan disertai ketidakmampuan untuk berolahraga secara professional. dan genu valgum 3. Trauma ligamen pada lutut dibagi dalam empat kelompok. Robekan pada ligamen medial (dengan atau tanpa robekan ligament krusiatum) 2. pada ligament kontralateral medial. Robekan pada ligament lateral (dengan atau tanpa robekan ligament krusiatum) 3. Robekan terjadi sewaktu tibia mengalami abduksi pada femur disertai trauma rotasi.Dislokasi Patela Dislokasi patella biasanya ke arah lateral. terjadi apabila trauma berlanjut dengan tibia rotasi ke arah eksterna. berupa : 1. yaitu : robekan pada selaput sendi bagian superficial.

Gejala ini disebut drawer 15 . Tungkai bawah dipegang di bagian proksimal tibia dan ditarik kedepan atau didorong ke belakang. Ada dua cara pengobatan. Apabila pergerakan ke depan bebas. Pada foto AP mungkin ditemukan avulse disertai fragmen kecil tulang. Pemeriksaan ligament krusiatum dilakukan dengan penderita dalam posisi berbaring terlentang. Pada tindakan operatif dilakukan apabila terdapat robekan yang besar dengan penjahitan pada ligament yang robek. Robekan pada ligament lateral Robekan pada ligament lateral lebih jarang ditemukan dan terjadi akibat abduksi tibia terhadap femur (strain varus) Robekan pada ligament krusiatum Robekan ligament krusiatum anterior dapat bersama-sama dengan robekan ligament kolateral medial. maka terdapat robekan pada ligament krusiatum anterior adan apabila pergerakan ke belakang bebas maka terdapat robekan pada ligament krusiatum posterior. Pemeriksaan artroskopi dapat menentukan kelainan-kelainan yang terjadi. Untuk menentukan stabilitas sendi dapat dilakukan tes drawer dan tes menurut Lachman. robekan ligament krusiatum posterior terjadi akibat pergerakan hebat bagian proksimal tibia ke belakang femur. Bergesernya bagian proksimal medial dari tibia terhadap femur menunjukkan robekan pada ligament medial saja. Lutut fleksi kira-kira 900.Pembengkakan pada lutut disertai efusi pada sendi lutut. Apabila pergeseran lebih hebat maka mungkin terjadi juga robekan pada ligament krusiatum. Nyeri tekan bagian medial pada daerah ligament medial terutama bagian proksimal yang melekat pada femur. Hal ini terjadi karena pergerakan bagian proksimal tibia terhadap femur ke depan secara keras atau terjadi karena lutut dalam keadaan hiperekstensi. Konservatif dilakukan bila robekan tidak hebat (tidak total) dapat dilakukan aspirasi lutut dan pemasangan gips silinder. Dalam keadaan normal ligament kruasiatum anterior (insersinya di bagian depan tibia) mencegah pergerakan tibia ke depan terhadap femur sedangkan ligament krusiatum posterior ( insersinya di bagian belakang tibia) mencegah pergerakan tibia ke belakang. Pemeriksaan radiologis dilakukan di bawah pembiusan dengan foto AP dan foto stress AP. yaitu konservatif dan operatif.

Pengobatan dilakukan dengan pemakaian gips silinder selama 20 minggu. Robekan terjadi apabila ada trauma rotasi dimana lutut dalam posisi semi fleksi atau fleksi. robekan meniscus medialis lebih sering terjadi daripada robekan meniscus lateralis. Meniscus hampir tidak mempunyai vaskularisasi sehingga apabila terdapat robekan biasanya tidak disertai dengan hemartrosis. penderita mengeluh lebih sakit tetapi pemeriksaan artroskopi dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis. Strain pada ligament medial lebih sering terjadi daripada ligament lateral karena trauma abduksi. Operasi dapat secara terbuka atau dengan mempergunakan alat artroskopi. terutama pemain sepak bola. Pembengkakan biasanya terjadi setelah 24 jam. tetapi cairan yang terjadi adalah reaksi terhadap trauma (inflamasi). Robekan tanduk posterior. Pada anamnesis ditemukan adanya riwayat trauma abduksi atau adduksi disertai nyeri pada ligamen terkena. Robekan pada meniscus biasanya menurut garis longitudinal sepanjang meniscus yang diklasifikasikan menjadi 3 yaitu : Bucket-handle. Dengan pemeriksaan stress. Terdapat nyeri pada daerah sela sendi dimana terjadi robekan. robekan tanduk anterior. Mungkin dapat terjadi locking yaitu lutut tiba-tiba tidak dapat diekstensikan karena adanya bagian meniscus yang terjebak dalam ruang sendi. Instabilitas sendi dapat ditunjukkan dengan menggerakan bagian proksimal tibia ke depan dengan lutut dalam psisi fleksi 10-200 ( tes menurut Lachman) Pengobatan pada robekan ligament krusiatum anterior dengan cara operasi dan rekonstruksi kembali biasanya kurang memuaskan. Meniscus terdiri atas meniscus medialis dan meniscus lateralis. Robekan Meniskus Robekan meniscus (tulang rawan semilunar) sering ditemukan pada atlet. Pada 16 . Strain ligament medial dan lateral Strain terjadi bila trauma yang ada tidak cukup kuat untuk menyebabkan suatu robekan total pada ligament ini.sign. kebanyakan mengenai usia di bawah 45 tahun. Pengobatan pada robekan ligament krusiatum posterior dapat dilakukan rekonstruksi dari ligament sendiri atau dengan operasi lain yang memberikan stabilitas pada sendi. Pada anamnesis terdapat riwayat trauma dan pembengkakan pada lutut tidak terjadi segera setelah trauma.

trauma pada ligament krusiatum. Tes grinding menurut Apley. Tes-tes seperti ini sebaiknya dilakukan hanya oleh tenaga yang sudah terlatih dan profesional secara baik.pemeriksaan ditemukan atrofi otot kuadriseps. sedangkan gerakan varus adalah gerakan ke sisi dalam/tengah (medial) dari sendi yang terjadi secara mendadak. kista meniscus. fraktur spina tibia. dislokasi patella rekuren. synovial kondromatosis. dan atlet professional. meniscus discoid (meniscus yang tebal secara bawaan). nyeri terus menerus. Dengan alat artroskopi dapat dilakukan penjahitan meniscus atau pengeluaran sebagian meniscus (partial menisectomy) dengan pemulihan rehabilitasi yang cepat. nyeri tekan pada daerah robekan meniscus medial atau lateral. osteoarthritis lutut. Adapun beberapa tes pemeriksaan pada cedera lutut adalah : 1. Pemeriksaan untuk menentukan adanya robekan pada meniscus. adanya cairan dalam sendi. karena pengeluaran meniscus akan mempercepat terjadinya osteoarthritis di kemudian hari. Robekan pada meniscus sebaiknya dilakukan penjahitan tanpa membuang meniscus apabila masih dapat dipertahankan. Adapun indikasi untuk dilakukan operasi meniscus yaitu : locking yang terus berulang-ulang dan tindakan operasi dapat memberikan jalan keluar. Lutut yang cedera dan lutut yang tidak cedera dites dan dikontraskan atau dibedakan untuk menentukan suatu perbedaan dalam tingkat stabilitasnya. kondromalasia patella. Pemeriksaan pada Cedera Lutut Luka akut dan kronis pada lutut dapat mengakibatkan ketidakstabilan sendi. Tes Tekanan Valgus dan Varus Gerakan valgus adalah gerakan ke sisi luar/samping (lateral). 17 . yaitu tes Mc Murray.4. Diagnosis banding yaitu : benda asing dalam ruang sendi. dan artroskpoi. tes distraksi dan dengan pemeriksaan tambahan seperti artrografi. 2. osteokondritis disekan. Tes tekanan valgus dan varus dimaksudkan untuk melihat kelemahan kompleks kestabilan lateral dan medial. Disarankan bahwa lutut yang terluka diperiksa stabilitasnya secepat mungkin setelah cedera. khususnya serabut ligament collateral.

Pada sudut fleksi 30 derajat ligamen medial kolateral (MCL) adalah terpisah. Pada fleksi 30 derajat LCL adalah terpisah. 18 . sedangkan pemeriksa mengambil posisi badan dan pegangan kebalikan dari pemeriksaan tekanan valgus. Pelaksanaan Tes Tekanan Varus Posisi penderita berbaring telentang dengan kaki diluruskan. Pelaksanaan Tes Tekanan Valgus Pelaksanaan tes ini yaitu penderita berbaring telentang dengan kaki diluruskan. pemeriksa memegang pergelangan kaki secara kuat dengan menggunakan satu tangan. sambil meletakkan tangan yang lain pada kepala tulang fibula. Tungkai bawah akan dinetralkan dengan tidak adanya rotasi internal dan eksternal . Dengan lutut diekstensikan penuh maka ligamen lateral kolateral (ligamentum lateral collaterale/LCL) dan kapsula posterolateral telah terselesaikan. Tes tekanan valgus dan varus a. b. Pengujian tes ekstensi penuh ligamen medial kolateral (medial collateral laterale/MCL) dan kapsula posteromedial. tekanan valgus diterapkan dengan lutut yang di ekstensikan secara penuh pada 0 derajat dan pada fleksi 30 derajat. Periksa dan lakukan tes ke samping lateral dengan daya varus pada lutut dan diekstensikan penuh.Gambar 7. Untuk menilai bagian medial. kemudian lakukan dengan fleksi 30 derajat. Pemeriksa kemudian dengan kekuatan yang terukur menggerakkan lutut untuk membuka ke sisi samping sebelah luar.

dan tes Drawer fleksi-rotasi. Adapun penjelasan beberapa macam tes untuk menentukan integritas ligamen cruciate adalah seperti di bawah ini : a. Tes Drawer Anterior Cara kerja tes drawer anterior adalah penderita berbaring pada meja pelatihan dengan tungkai yang cedera di fleksikan. ligamen cruciate anterior. rilekskan sebelum tes dilaksanakan sebagai tata urutan kerja. Jari-jari pemeriksa diletakkan pada ruang atau tempat popliteal dari tungkai yang terfleksi. tes Jerk. Tes Drawer Anterior Bila ditemukan tulang tibia ke arah depan dari bawah tulang femur. Gambar 8. sementara pemeriksa menghadap ke bagian depan tungkai penderita yang cedera. Jari-jari lainnya dari pemeriksa terletak pada tendo hamstring. atau kemungkinan ligamen bagian medial collateral mungkin terdapat 19 . tes pivot-shift. untuk memastikan itu semua. tes Drawer Lachman. kemudian putar bagian atas tungkai dan sesegera mungkin di bawah sendi lutut dengan kedua tangan.2. Jika tanda atau gejala Drawer anterior yang positif terjadi. Diantaranya ada tes Drawer Anterior . maka tes sebaiknya diulang dengan tungkai yang diputar secara internal 20 derajat dan diputar secara eksternal 15 derajat. Tes Anterior Cruciate Ligament Disebutkan bahwa banyak tes yang digunakan untuk menentukan integritas dari ligamen cruciate. Penggeseran dari tulang tibia ke depan pada saat tungkai diputar secara eksternal adalah suatu indikasi bahwa bagian posteromedial dari kapsul sendi. dengan ibu jari pada garis sendi medial dan lateral. maka diartikan tanda Drawer anterior yang positif.

robekan. Gambar 9. tetapi mengetesnya lebih nyaman pada sudut 15 derajat. dan tangan yang lain memegang bagian proksimal dari tulang tibia. kemudian usahakan untuk digerakkan ke arah anterior. tes Drawer lachman merupakan tes pilihan oleh karena adanya tes Drawer lachman pada fleksi 90 derajat. Kontraksi tersebut menyebabkan kekuatan pensetabilan lutut sekunder cenderung untuk menutupi ekstensi yang nyata dari cedera. hal ini dikarenakan tes tersebut tidak memaksa lutut kedalam posisi yang menyakitkan (sangat nyeri) pada sudut 90 derajat.) Tes Drawer Lachman Dalam beberapa tahun terakhir. dengan tungkai diputar secara eksternal. 20 . Satu tangan dari pemeriksaan mestabilkan tungkai bawah dengan memegang bagian akhir atau ujung distal dari tungkai atas. Tes Drawer Lachman Tes Drawer lachman dilaksanakan dengan meletakkan lutut pada posisi fleksi kira-kira dalam sudut 30 derajat. b. Alasan lain dibalik popularitas tes ini adalah bahwa tes ini mengurangi kontraksi dari otot hamstring. Gerakan ketika tungkai dirotasikan ke arah internal diindikasikan bahwa ligamen cruciate anterior dan kapsul posterolateral mungkin terdapat robekan.

Gambar 10. Tes Anterior drawer dan Tes Lachman c. Tes Pivot-Shifts 21 . Tes Pivotshift paling sering digunakan dalam kondisi kronis dan merupakan tes sensitif pada saat ligamen cruciate bagian depan telah robek. tangan yang satunya memegang pergelangan kaki penderita tersebut. Cara pemeriksaannya adalah penderita berbaring telentang. Tes Pivot-shift Tes Pivot-shift dirancang untuk menentukan ketidakstabilan putaran anterolateral. salah satu tangan pemeriksa ditekan pada bagian kepala dari tulang fibula. Gambar 11.

dan akhirnya menghasilkan sekali lagi palpable shift atau “clunk”.) Tes Jerk Cara pelaksanaan Tes Jerk merupakan petunjuk sebaliknya dari pivot-shift. akan disubluksasikan dalam posisi ini. d. Jika tidak cukup ligamen cruciate sebelah anterior sebagai gerakan ke dalam ekstensi tibia akan disubluksasi pada fleksi kira-kira 20 derajat. Tungkai atas kemudian difleksikan dengan sudut 30 derajat dari pinggul.) Tes Drawer Fleksi-rotasi Tes ini dilakukan dengan cara tungkai bawah diayunkan dengan lutut difleksikan antara 15 dan 30 derajat.Untuk memulainya. lutut digerakkan dari posisi fleksi ke dalam ekstensi dengan tibia sebelah lateral tetap dalam penurunan posisi. Lutut difleksikan pada sudut 20 – 40 derajat tibia sebelah lateral tetap akan berkurang dengan sendirinya. Pada sudut 15 derajat. Jika ligamen cruciate bagian anterior robek. 22 . tungkai bawah diputar secara internal dan lutut diekstensikan secara penuh. saat itu lutut juga difleksikan dan daya valgus diterapkan oleh tangan bagian atas pemeriksa. tibia disubluksasikan ke arah anterior dengan femur dirotasikan ke arah eksternal. maka tibia sebelah lateral tanpa ada kemajuan . Lutut difleksikan ke sudut 30 derajat dan tibia diturunkan ke arah posterior dan kemudian femur dirotasikan ke arah internal. Tes Jerk e. Posisi dari lutut diidentifikasi sebagai penerimaan tes pivot-shift. ini berakibat menghasilkan palpable shift atau “clunk”. Gambar 12.

3. dan tes “Sag” Posterior. Gambar 13.) Tes Drawer Posterior Tes ini dibentuk dengan lutut difleksikan pada sudut 90 derajat dan kaki dalam keadaan netral. kerusakan pada ligamen cruciate posterior dan ketidakstabilan 23 . Tes Ligamen Cruciate Sebelah Posterior Tes pada ketidakstabilan ligamen cruciate sebelah posterior dapat dikerjakan dengan beberapa cara diantaranya termasuk tes Drawer Posterior. Bila terdapat Drawer posterior positif maka dapat diindikasikan terjadi kerusakan pada cruciate posterior. Daya digunakan ke dalam arah posterior pada proksimal tibia tanpa ada perubahan. Tes Drawer Posterior b.) Tes Recurvatum Rotasi Eksternal Penderita tidur telentang di meja pelatihan kemudian pemeriksa memegang jari-jari kaki dan angkat tungkai dari meja. tes recurvatum rotasi eksternal. Adapun pelaksanaannya adalah sebagai berikut di bawah ini : a. Longgarnya posterior dan rotasi eksternal dari tibia mengindikasikan posteropateral .

Tes Kompresi Apley dan Tes Distraksi Apley. Tes Recurvatum Rotasi Eksternal c. tibia akan terlihats longgar pada sisi posterior ketika dibandingkan terhadap eksterimitas jika cruciate sebelah posterior mengalami kerusakan. Adapun cara penatalaksanaan tes-tes tersebut adalah sebagai berikut ini : 24 . Tes-tes Meniscus Pada umumnya.) Tes “Sag” Posterior Posisi penderita telentang di atas meja pelatihan.Gambar 14. Tes Sag Posterior 4. untuk menentukan meniscus yang robek para pemeriksa sering mengalami kesulitan. Amati sisi lateral pada sebelah samping cedera. kedua lutut di fleksikan pada sudut 90 derajat. Terdapat tiga macam tes yang paling umum digunakan yaitu Tes McMurray. Gambar 15.

Jika rasa nyeri timbul. tungkai bawah segera diaplikasikan dengan tekanan ke bawah. dengan tungkai yang cedera difleksikan secara penuh. Pemeriksa meletakkan salah satu tangan pada kaki (telapak kaki) dengan tangan yang satunya diatas ujung lutut.a. Tercatat bahwa terdapat robekan meniscus sebelah medial sewaktu dengan rotasi eksternal dan robekan meniscus lateral dengan rotasi internal tungkai bawah. Meniscus sebelah medial yang robek dapat dideteksi pada saat tungkai bawah diputar secara eksternal sedangkan rotasi internal memberikan deteksi dari lateral yang robek. Cara kerjanya adalah penderita diletakkan menghadap ke atas di atas meja. Pada saat hal ini terjadi atau dilakukan. Tungkai tersebut kemudian diputar kembali dan seterusnya. Gambar 16. 25 . tangan pada lutut merasa ada respon bunyi “klik”. Tes McMurray b. Pergelangan tangan melakukan gerakan seperti menuliskan lingkaran kecil dan menarik tungkai ke dalam posisi ekstensi.) Tes Kompresi Apley Tes Kompresi Apley dilakukan dengan posisi penderita berbaring menghadap kebawah (tengkurap) dan tungkai bawah difleksikan sampai 90 derajat. maka cedera meniscus terjadi.) Tes Meniscal McMurray Tes McMurray digunakan untuk menentukan kehadiran badan atau tubuh yang lepas atau longgar pada lutut. jari-jari menyentuh garis sendi sebelah medial. Sementara tungkai atas distabilkan.

Gambar 17. Tes Distraksi Apley Pada posisi yang sama dengan tes kompresi apley. Jika meniscus robek. maka rasa nyeri akan terjadi. Jika kapsul atau ligamen terpengaruh. Maneuver ini membedakan robekan pada ligamen kolateral dari robeknya kapsul dan meniscus. Gambar 18. Tes Distraksi Apley 26 . Tes Kompresi Apley c. maka tidak ada rasa nyeri yang terjadi dari traksi dan rotasi. pemeriksa menggunakan traksi pada tungkai saat menggerakkannya kembali dan seterusnya .

Untuk menentukan integritas dari ligamen cruciate dapat dilakukan dengan menggunakan tes Drawer pada fleksi 90 derajat . Sedangkan untuk ketidakstabilan ligamen cruciate sebelah posterior Dapat dikerjakan dengan tes Drawer posterior. tes pivot-shift. dan tes Drawer fleksi-rotasi. tes kompresi apley dan tes distraksi apley. Lutut yang cedera dan lutut yang tidak cedera dites dan dikontraskan atau dibedakan untuk menentukan suatu perbedaan dalam tingkat stabilitasnya.BAB III KESIMPULAN Luka akut dan kronis pada lutut dapat mengakibatkan ketidakstabilan sendi. khususnya serabut ligamen colateral yaitu dengan tes tekanan valgus dan varus. 27 . dan tes“Sag” Posterior. tes Drawer Lachman. Tes untuk menentukan kelemahan kompleks kestabilan lateral dan medial. lutut yang terluka diperiksa stabilitasnya secepat mungkin setelah cedera dan dilakukan hanya oleh tenaga yang sudah terlatih dan profesional secara baik. tes Jerk. Adapun untuk menentukan meniscus yang robek dapat menggunakan tes McMurray. tes recurvatum rotasi eksternal.

Chapter 43 Knee Injuries by Miller. Sports Medicine. Wiley Blackwell. Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi. 2007.Fractures of the Patella and Injuries to the Extensor Mechanism. 2006. 2006. Azar. Skinner. The McGraw-Hill Companies Duckworth. Blundell. Bab 14 Trauma Penerbit Yasif Watampone. R. R. Chapter 4.. F. Rasjad. James. M. 11th ed. Chairuddin. Chapter 22. Bucholz. Lippincott Williams & Wilkins Harry B.. Fourth Edition. Heckman.. Beaty. Rockwood & Green's Fractures in Adults. Edisi ke 3.DAFTAR PUSTAKA Canale. T. 6th Edition. s.D. Jakarta.. Mosby Elsevier.. H . Campbell's Operative Orthopaedics. 4th edition. Current Diagnosis & Treatment in Orthopedics.. 1995 28 . The Knee and Lower leg. Lecture Notes Orthopedics and Fractures..M. Court Charles. 2007. C. Netter . Chapter 49 . Ciba Medical Educations & Publications . M. Hal 441-448 Frank. Interactive Atlas of Human Anatomy . J.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.