P. 1
spinal cord injury

spinal cord injury

|Views: 128|Likes:
Published by Leen Nda Ndung

More info:

Published by: Leen Nda Ndung on Apr 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/11/2013

pdf

text

original

BAB II PEMBAHASAN Kasus : Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Spinal Cord Injury Tn.

Cassilas 32 Tahun datang ke RS dengan keluhan tangan dan kaki sulit digerakkan, klien adalah seorang goal keeper club sepakbola terkenal. Saat membaca tim-nya dua hari yang lalu klien jatuh dengan bertumpu pada kepala. Hasil px lab : WBC=15.10 3, Hb=14mg%, AT=200.000, TD klien 120/85 mmHg, Nadi 70 x/menit, RR=18x/menit dan suhu 37,30C. Saat ini klien mendapat tx : metal prednisolon, dan direncanakan MRI 1. Uraikan perbedaan medulla spinalis dan vertebrata Perbedaan antara medulla spinalis dan vertebra dapat dilihat dari berbagai sisi diantaranya dapat dilihat pada table di bawah ini. Perbedaan Fungsi Medulla spinalis sebagai pusat saraf (mengintegrasikan sinyal sensoris yang dating danmengaktifkan respon motorik secara langsung tanpa campur tangan otak serta sebagai pusat perantara antara saraf tepid an otak Medulla spinalis tumbuh lebih lambat dari vertebra Vertebra menopang tubuh manusia dalam posisi t egak, yang secara mekanik sebenarnya melawan pengaruh gravitasi agar tubuh secara seimbang tetap tegak.

Pertumbu han

Vertrebra melebihi kecepatan pertumbuhan medulla spinalis. Vertrebra tumbuh sekitar 25 cm lebih panjangdari medulla spinalis. Perbedaan panjang ini menyebabkan konus medularis ( bagian paling kaudal dari medullaspinalis yang berbentuk krucut dari terutama terdiri atas segmen-segmen sacral medullaspinalis) dan cauda equine ( kumpulan radiks nervus lumbaris bagian kaudal dan

diameter struktur ini biasanya sekitar ukuran jari kelingking. Kolumna ini terdiri dari vertebra-vertebra yang dipisahkan diskus fibrokartilago intervertebral. yang terbentuk dari dua pedikel dan lamina. Vertebra. Jumlahnya 32-34. 7 tulang vertebra serviks . membungkus rongga saraf dan menjadi lintasan medulla spinalis Sebuah prosesus spinosa menonjol dari lamina kea rah posterior dan inferior untuk tempat perlekatan otot Prosesus transversa menjorok kea rah lateral Prosesus pengartikulasi inferior dan prosesus pengartikulasi superior menangga faset untuk berartikulasi dengan vertebra atas dan vertebtra bawah dalam CSF) . 2. Kolumna vertebra menyangga berat tubuh dan melindungi medulla spinalis. Umumnya 33 buah. Berapa vertebrata yang dimiliki oleh manusia dan berapa medulla spinallis yang dimiliki manusia a. Walaupun diameter medulla spinalis bervariasi. menandai sisi keluar saraf spinal besar yang mensuplai lengan dan tungkai 31 pasang saraf spinal keluar dari area urutan korda melalui foramina invertebral Struktur internal terdiri dari sebuah inti substansi abu-abu yang diselubungi substansi putih. Panjang rata-rata 42 cm Dua pembesaran.Medulla spinalis berbentuk silinder berongga agak pipih.radiksnervus sakralis yang mengapung Struktur Lengkung saraf (vertebra). pembesaran lumbal dan serviks.

dan kulit kepala. serta dada. Saraf Medulla Spinalis. a. b.- 12 vertebra toraks 5 vertebra lumbal 5 vertebra sacrum yang menyatu menjadi sacrum 3-5 tulang koksigeal yang menyatu menjadi tulang koksiks b. 3. Pleksus brakial . yang merupakan awal saraf interkostal. yang menginervasi diafragma. di bawah setiap vertebra toraks 5 pasang saraf lumbal 5 pasang saraf sacral 1 pasang saraf koksigeus (Saraf lumbal. C4) dan sebagian C5. Uraikan organ-organ yang diinervasi oleh masing-masing segmen medulla spinalis Pleksus merupakan jarring-jaring serabut saraf yang terbentuk dari ramus ventral seluruh saraf spinal. leher. kecuali T1 dan T11. sacral dan koksigeus berasal dari kauda ekuina) Ke. Pleksus serviks Terbentuk dari ramus ventral keempat saraf servik pertama (C1. yaitu : 8 pasang saraf servikal. Saraf ini menginervasi otot leher. satu di atas dan satu di bawah setiap vertebra servikalis 12 pasang saraf toraks. terdiri dari 31 pasang. Saraf terpenting yang berawal pada pleksus ini adalah saraf frenik.31 pasang saraf spinal keluar melalui foramina (foramen) intervertebralis diantara vertebra yang letaknya berdekatan. C3. C2.

L3. d. dengan bantuan T12. Saraf terbesar adalah saraf femoral. C6. dan regia perineal. dan saraf toraks pertama T1. Pleksus Koksiks Terbentuk dari ramus ventral S5 dan saraf spinal koksiks. Saraf dari pleksus brakial mensuplai lengan atas dan beberapa otot pada leher dan bahu. C7. Uraikan definisi trauma medulla spinallis . c. paha. dan genitalia eksterna. bokong. Pleksus sacral Terbentuk dari ramus ventral saraf sacral. bersin. L2. dan S3 serta kontribusi dari L4. dengan kontribusi dari ramus S4. Tindakan refleks merupakan gerakan motorik involunter atau respon sekretorik yg diperlihatkan jaringan terhadap stimulus sensorik. 1999) Medulla spinalis mengendalikan berbagai aktivitas refleks dalam tubuh. Pleksus ini merupakan awal saraf koksisks yang mensuplai regia koksiks. dan S4. L5. seperti refleks menarik diri. S1 S2. 4. yang mensuplai otot fleksor paha dan kulit pada paha anterior. dan L4. batuk dan mengedip (Sue hinchliff. dan tungkai bawah. saraf terbesar adalah saraf skiatik e. Saraf dari pleksus ini menginervasi anggota gerak bawah. bagian ini mentransmisikan impuls ke dan dari otak melalui traktus asenden dan desenden 5.Terbentuk dari ramus ventral saraf serviks C5. Uraikan definisi reflex dan peran medulla spinalis dalam reflex manusia Refleks merupakan kejadian involunter dan tidak dapat dikendalikan oleh kemauan. dengan melibatkan C4 dan T2. C8. regia panggul. Saraf dari pleksus ini menginervasi kulit dan otot dinding abdomen. Pleksus lumbal Terbentuk dari ramus saraf lumbal L1.

Trauma medulla spinalis diklasifikasikan sebagai komplet : kehilangan sensasi fungsi motorik volunter total dan tidak komplet : campuran kehilangan sensasi dan fungsi motorik volunter (Marilynn E. paraplegia. Cidera medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis (Brunner & Suddarth. b. 2008:298). kejatuhan benda keras. hemiplegia. kecelakaan lain seperti jatuh dari pohon atau bangunan. Pada tahap ini lidah menunjukkan kelumpuhan pada sisi kontralateral. Pada tahap pertama hemiparesis karena lesi kontralateral sesisi. 2001) 6. 7. Hemiplegia : Kerusakan pada seluruh korteks piramidalis sesisi menimbulkan kelumpuhan UMN (Upper Motor Neuron) pada belahan tubuh sisi kontralateral.338). Uraikan penyebab trauma medulla spinalis Penyebab trauma medulla spinalis akibat trauma langsung yang mengenai tulang belakang dan melampaui batas kemampuan tulang belakang dalam melindungi saraf-saraf yang berada di dalamnya. luka tembak. tetraplagia ? bagaimana pemeriksaan kekuatan otot untuk masing-masing kondisi tersebut? a. kecelakaan olahraga. Hemiparase adalah manifestasi dari penyakit yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak atau stroke. luka tusuk. cerebri media terjadi kelumpuhan pada bagian bawah wajah sisi kontralateral. Apa yang dimaksud dengan hemiparase. lidah belahan kontralateral. paraparese. Doenges. dan otot-otot leher sisi kontralateral c. otot-otot wajah yang berada di atas fisura palpebrale masih dapat digerakkan secara wajar. Pada penyumbatan cabang kortikal a.(Arif Muttaqin. Paraparese : Kelemahan tonus otot pada ekstrimitas bawah .1999. Hemiparese : Kelemahan sebagian anggota tubuh dan lebih ringan daripada hemiplegic. kecelakaan industry. tetraparase. Trauma tersebut meliputi kecelakaan lalu lintas.

Servikal Penderita cedera pada tingkat C1 biasanya disertai dengan cedera yang terjadi bersamaan. dan e. Paralesis ini biasanya disebabkan oleh cedera medulla spinalis. Bagaimana manifestasi klinis trauma medulla spinallis pada organ-organ tubuh manusia? Uraikan berdadasarkan segmen yang mengalami cedera Manifestasi klinis pada trauma medulla spinalis a.d. Fungsi motoris dengan menilai : Besar dan bentuk otot. termasuk cedera arteri vertebralis. defekasi. : Kelumpuhan yang diakibatkan oleh lesi yang mengenai lumbal torakal atau bagian sacral medulla spinalis dengan disfungsi ekstrimitas bawah. terutama di daerah vertebra servikalis kelima sampai ketujuh. Tetraplegia : Paralesis seluruh empat ekstremitas dan batang tubuh. tonus otot dan kekuatan otot ekstremitas (skala 0 – 5) 1) 0 = tidak ada gerakan 2) 1 = kontraksi otot minimal terasa tanpa menimbulkan gerak 3) 2 = otot dapat bergerak bila gaya berat dihilangkan 4) 3 = gerakan otot dapat melawan gaya berat tapi tidak bisa thd tahanan pemeriksa 5) 4 = gerakan otot dg tahanan ringan pemeriksa dan dapat melawan gaya berat 6) 5 = gerakan otot dg tahanan maksimal pemeriksa Pada pemeriksaan kekuatan otot digunakan skala dari 0-5. Paraplegia berkemih. 8. Pasien-pasien ini memiliki sedikit . Tetraparase : Kelemahan tonus otot melibatkan salah satu segmen servikal medulla spinalis dengan disfungsi kedua lengan dan kedua kaki f. Untuk pemeriksaan kekuatan otot menggunakan “skala low vat” Penilaian status motorik dilakukan dengan melihat : 1.

sehingga penderita dapat berjalan denngan bantuan tongkat. gangguan stabilitas tubuh. sehingga penderita sedikit banyak masih dapat menegakkan kepakla. sehingga bergantung pada ventilator. pengaturan suhu. Lumbal L1 sampai L5 mungkin masih dapat mengendalikan tungkainya dengan sempurna bergantung pada tingkat cederanya. Penderita pada tingkat C4 mengalami kapasitas ventilasi yang tidak normal karena pusat pernapsan terletak terutama pada tingkat ini sehingga penderita tidak bisa mengendalikan voluntary terhadap ventilasi.atau tidak memiliki control motorik pada kepala. penderita dapat mengendalikan panggul. . Torakal T2 sampi T12 tetap dapat mengendalikan anggota gerak atas dengan sempurna T1 : gangguang fungsi tangan T1-T8 : gangguan fungsi pengendalian otot abdominal. leher. C6 pengendalian pergelangan tangan masih dapat dipertahankan sebagian C7 penderita dapat melakukan ekstensi siku dengan sempurna. pergelangan kaki dan kai. Penderita pada tingkat C2 dan C3 masih dapt mengendalikan lehernya. dan kadang-kadang dapat sedikit mengendalikan siku. bahu. diafragma.T9-T12 : kehilangan parsial fungsi otot abdominal dan batang tubuh c. C5 dapat mengendalikan kepala. dan dapat menegndalikan sebgian jari tanngan C8 sampai T1 dapat mengendalikan jari tanngannya dengan cukup baik b. Persarafan otot-otot pernapasan tambahan sebagian masih dapat dipertahan kan sehingga penderita akan tetap bergantung pada ventilator tetapi kadang-kadang mampu tidak memakai ventilator untuk beberapa saat. fleksi pergelangan tangan. lutut. L1-L2 : gangguan ejakulasi dan gerakan pinggul .

fungsi motoris hilang sama sekali. fungsi motoris dan sensoris hilang sama sekali di bawah level lesi.- L3 : gangguan ekstensi lutut. gangguan defekasi dan berkemih Apa yang dimaksud injury frankel A. D. sistem saluran kemih dan anus. C.S2-S4 : gangguan ereksi penis Gangguan motorik kerusakan medula spinalis sacral menyebabkan gangguan miksi & defekasi tanpa para parese. Penurunan fungsi pernapasan Lumbal : Paraplegi Sakral : Disfungsi ekstremitas bawah.S1 : gangguan gerakan kaki . Kegagalan Penapasan akut Torakal : Paraplegia. • • • • 9. sensoris masih tersisa di bawah level lesi. Frankel A = Complete. fungsi motris dan sensoris masih terpelihara tetapi tidak fungsional. Cedera pada segmen lumbal dan sakral dapat mengganggu pengendalian tungkai. Frankel C = Incomplete. Frankel B = Incomplete. Selain itu gangguan fungsi sensoris dan motoris. . L4 : gangguan gerakan kaki L5 : gangguan fleksi lutut Gangguan motorik yaitu kerusakan medula spinalis thorakal sampai dengan lumbal memberikan gejala paraparese d. Sacral S1 sampai s5 penderita dapat cukup mengendalikan kaki tetapi mengalami disfungsi kandung kemih dan usus. B. cedera vertebra dapat berakibat lain seperti spastisitas atau atrofi otot Secara singkat manifestasi akibat cedera yaitu sebagai berikut.S2-S3 : gangguan gangguan aktivitas kandung kemih dan usus . Cervical : Quadriplegia.E ? Injury Franklel yaitu menyatakan klasifikasi derajat kerusakan medulla spinalis yaitu sebagai berikut. .

jatuh. dengan kepala dan leher dalam posisi netral. atau trauma langsung pada kepala dan leher harus dipertimbangkan mengalami cedera medulla spinalis sampai bukti cedera ini disingkirkan. Memindahkan pasien. Sebaiknya pasien dirujuk ke cedera spinalis regional atau pusat trauma karena personel multidisiplin dan pelayanan pendukung dituntut untuk menghadapiu perubahan dekstruktif yang terjadi pada beberapa jam pertama setelah cedera. • Di tempat kecelakaan. untuk mencegah cedera komplet • Salah satu anggota tim harus mengontrol kepala pasien untuk mencegah fleksi. korban harus dimobilisasi pada papan spinal (punggung).Frankel D = Incomplete. 10. cedera olahraga kontak. Selama pengobatan di departemen kedaruratan dan radiologi. fungsi sensoris dan motorisnya normal tanpa deficit neurologisnya. pasien dipertahankan di atas papan pemindahan. Adanya gerakan memuntir dapat merusak medulla spinalis ireversibel yang menyebabkan fragmen tulang vertebra terputus. fungsi sensorik dan motorik masih terpelihara dan fungsional. Pemindahan pasien ke tempat tidur menunjukkan masalah perawat yang pasti . Frankel E = Normal. patah atau memotong medulla komplet. Bagaimana tranportasi dan penanganan awal trauma medulla spinallis? Apa justifikasi pemberian metal prednisoloon? Korban kecelakaan berkendara. rotasi atau ekstensi kepala • Tangan ditempatkan pada kedua sisi dekat telinga untuk mempertahankan traksi dan kesejajaran sementara papan spinal atau imobilisasi servikal di pasang • Paling sedikit empat pasang harus mengangkat korban dengan hati-hati ke atas papan untuk memindahkan ke rumah sakit.

stabilisasi leher. mencegah komplikasi atau respiratorik dan thrombosis vena-vena profunda Terapi metil prednisolon bereperan dalam mengurangi cedera sekunder dan telah disetujui oleh FDA AS untuk mengobati ceder medulla spinalis pada tahun 1990. Selain itu.• Pasien harus selalu dipertahankan dalam posisi ekstensi. (KMB vol. Imobilisasi (neck collar dan long spine board) untuk mempertahankan tekanan darah. Tidak ada bagian tubuh yang terpuntir atau tertekuk. Diyakin bahwa metil prednisolon menekan respon peradangan pada lokasi cedera sehingga mengurangi pembentukan edema. pasien dapat dipindahkan ke tempat tidur biasa tanpa bahaya.B. pernapasan. X-Ray Spinal : Menetukan lokasi dan jenis cedera tulang (fraktur atau dislokasi) . yang biasanya dari kepala dan dada.E) 2. mencegah syok 3. Pemantauan EKG kontinu merupakan indikasi karena bradikardi dan assistole umum terjadi pada cedera medulla spinalis. Selanjutnya. Jika Stryker atau kerangka pembalik lain tidak tersedia. Uraikan pemeriksaan penunjang pada pasien dengan trauma medulla spinallis? Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah dengan sinar-x (sinar-x pada spinal servikal lateral dan pemindaian CT). 3 fokus utama penangan awal cedera spinalis. jika tidak boleh pasien dibiarkan mengambil posisi duduk. 3) a. metilprednisolon menghambat pembentukan radikal bebasyang berperan dalam cedera sekunder karena mampu mengurangi dinding sel dan berperan lebih lnjut dalam edema dan iskemia medulla 11. suatu riset dilakukan untuk cedera lain karena trauma spinal sering bersamaan dengan cedera lain.C. pertahankan usaha bernapas (A.D. Pasien harus ditempatkan di atas sebuah Stryker atau kerangka pembalik lain ketika merencanakan pemindahan ke tempat tidur. pasien harus ditempatkan di atas matras padat dengan papan tempat tidur di bawahnya. yaitu : 1. jika sudah terbukti bahwa itu bukan cedera medulla.

g. . Pemeriksaan fungsi paru : Mengukur volume inspirasi maksimal khususnya pada : Mengetahui keadaan paru (contohnya perubahan pasien dengan trauma servikal bagian bawah atau pada trauma torakal dengan gangguan pada saraf frenikus/ototinterkostal. edema dan kompresi : Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kalan vertebral) jika faktor patologisnya tidak jelas atau dicurigai adanya dilusi pada ruang subarachnoid medulla spinalis (biasanya tidak akan dilakukan setelah mengalami luka penetrasi) e. mengevaluasi gangguan structural : Untuk mengidentifikasi kerusakan saraf spinal. AGD : Menunjukkan kefektifan pertukaran gas dan upaya ventilasi 12. Mielografi : Untuk menentukan tempat luka/jejas. Corwin. dan biaya medis yang besar adalah beberapa komplikasi psikososial.b. infeksi ginjal dan saluran kemih. Hiperrefleksia otonom ditandai dengan tekanan darah yang tinggi disertai bradikardi serta berkeringat dan kemerahan pada kulit wajah dan torso bagian atas. 2007:249) : Apabila kerusakan dan pembengkakan disekitar medulla spinalis terletak di spina servikal (ke bawah sampai sekitar C5). Depresi. stress pada kleuarga dan pernikahan. pernapsan dapat terhenti karena kompresi saraf prenikus yang terletak antara C3 dan C5 dan mengontrol gerakan diafragma. dan atrofi otot terjadi. Foto rontgent toraks diafragma. kerusakan kulit dan perkembangan dekubitus. MRI d. Biasanya. CT-scan c. Cedera medulla spinalis yang berat sebenarnya memepngaruhi semua system tubuh sampai beberapa derajat. Uraikan komplikasi trauma medulla spinallis Komplikasi yang dapat timbul dari trauma medulla spinalis (Elizabeth J. kehilanngan pendapatan. atelektasis) f.

pernafasan dapat berhenti . kongesti nasal. Penderita akan mengalami bradikardia atau setidak-tidaknya gagal untuk menjadi takhikardia sebagai respon dari hipovolemia. bradikardia dan hipertensi. napas pendek. 2006) adalah: 1. 3. keringat banyak. Trombus Vena Profunda (TPV/PVT) adalah komplikasi umum dari imobilitas dan umumnya pada pasien cedera medulla spinalis. Pasien PVT berisiko mengalami embolisme pulmonal (EP) suatu komplikasi yang mengancam hidup. piloereksi. Tekanan darah turun.. dan local pada tempat pin). dan bagian dari tubuh dibawah tingkat lesi medulla spinalis. cemas. 2. Syok spinal merupakan depresi tiba-tiba aktivitas reflex pada medulla spinalis (arefrexia) di bawah tingkat cedera. keringat banyak. terjadi penumpukan darah dan sebagai konsekuensinya terjadi hipotensi sebagai akibat kehilangan cardiac sympatik tone. kongesti nasal. pernapasan dan local pada tempat pin) dan juga dapat terjadi konstipasi . komplikasi lain yang terjadi meliputi dekubitus dan infeksi (infeksi urinarius. dan hipertensi). Dalam kondisi ini otot-otot yang dipersarafi bagian segman medulla yang ada dibawah tingkat lesi menjadi paralisis komplet dan flaksid dan reflek-refleksnya tidak ada. pneumonia) dan hiperefleksia autonomic (dikarakteristikan oleh sakit kepala berdenyut. infeksi (Infeksi urinarius.pernapasan. komplikasi lain yaitu berupa dekubitus. piloereksi. beberapa komplikasi tambahan yaitu : • Komplikasi lainnya selain komplikasi pernapasan (gagal napas . dan nilai gas darah abnormal (Peningkatan PCO2 dan penurunan PO2). Manifestasi EP meliputi nyeri dada pleuritis. Syok neurogenik merupakan hasil dari kerusakan jalur simpatik pada medulla spinalis yang dikaitkan dengan cedera medulla spinalis yang umumnya dikaitkan sebagai syok spinal. Kondisi mengakibatkan kehilangan tonus vasomotor dan kehilangan persarafan simpatis pada jantung.  Apabila kerusakan dan pembengkakan disekitar medulla spinalis terletak di spina servikal (ke bawah sampai sekitar C5). bradikardia. Hiperefleksia autonomik (dikarakteristikkan oleh sakit kepala berdenyut.Komplikasi yang dapat timbul (Price. Menurut Brunner dan Sudarth. Keadaan ini menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah visceral serta ektremitas bawah. A Sylvia.

yang terletak antara C3 dan C5 dan mengontrol gerakan diafragma. dan atrofi otot terjadi. stress pada keluarga dan pernikahan. Hipoksia. menurunnya sensasi dan kesulitan ejakulasi. goose flesh. individu yang mengalami transeksi di C2 atau lebih tinggi selalu meninggi akibat henti nafas. kerusakan kulit dan perkembangan dekubitus. sakit kepala berat. Biasanya. dan biaya medis yang besar adalah beberapa komplikasi psikososial.  Cedera medulla spinalis yang berat sebenarnya mempengaruhi semua system tubuh sampai beberapa derajat. berkeringat banyak. pernafasan dapat berhenti karena kompresi saraf frenikus.karena kompresi saraf frenikus. infeksi ginjal dan saluran kemih.  Dahulu. kemajuan modalitas terapi yang terbaru dan respon layanan penyelamatan kedaruratan yang lebih baik menimbulkan harapan hidup pada banyak individu yang mengalami transeksi medulla spinalis yang tinggi. serta berkeringat dan kemerahan pada kulit wajah dan torso bagian atas.  Apabila kerusakan dan pembengkakan disekitar medulla spinalis terletak di spina servikal (ke bawah sampai sekitar C5). yang terletak antara C3 dan C5 dan mengontrol gerakan diafragma. • Autonomic Dysreflexia Terjadi adanya lesi diatas T6 dan Cervical Bradikardia. nasal stuffness • Fungsi Seksual Impotensi. Walaupun hal ini masih terjadi pada banyak individu. Depresi.  Hiperrefleksia otonom ditandai dengan tekanan darah yang tinggi disertai bradikardia (frekuensi jantung rendah). hipertensi paroksimal. . pada wanita kenikmatan seksual berubah Komplikasi lain trauma medulla spinalis meliputi: • • Neurogenik shock. kehilangan pendapatan.

Uraikan intervensi berdasarkan NIC untuk diagnose yang mungkin muncul Terlampir . Uraikan tujuan dan criteria hasil yang SMART berdasarkan NOC untuk semua diagnose yang mungkin muncul Terlampir 16. Buatlah pathway dan munculkan berbagai respons manusia dalam bentuk diagnose keperawatan yang muncul dari patofisiologi manifestasi klinis trauma medulla spinalis 15. Uraikan research apa yang sedang dikembangkan pada perawatan pasien dengan trauma medulla spinallis 14.• • • • • • • • • Gangguan paru-paru Instabilitas spinal Orthostatic Hipotensi Ileus Paralitik Infeksi saluran kemih Kontraktur Dekubitus Inkontinensia blader Konstipasi 13.

Cedera Medulla Spinalis. Jakarta: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia .( Patofisiologi konsep klinis proses proses penyakit Sylvia a price dan Lorraine m wilsson) . Umi.Dapus : Buku Pengantar Asuhan Keperawatan Dgn Gangguan Sistem Persarafan Oleh Arif Muttaqin Dapus : Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula. 2009. Oleh Ethel Slonane (Patofisiologi konsep klinis proses proses penyakit Sylvia a price dan Lorraine m wilsson) Asyiyah.

Ethel. 2004.Sloane. Anatomi dan Fisiologi. Jakarta: EGC .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->