Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

MANAJEMEN K3 BAB I PEMIKIRAN SETIAP KECELAKAAN PASTI ADA SEBABNYA

1. SEBELUM ADANYA TEORI HEINRICH Menurut Dan Petersen (1971) bahwa sebelum tahun 1991 tentang keselamatan kerja dalam industri hamper tidak diperhatikan. Pekerja tidak dilindungi dengan hukum. Tidak ada santunan kecelakaan bagi pekerja. Bila terjadi kecelakaan, perusahaan menganggap bahwa kecelakaan itu: disebabkan oleh kesalahan tenaga kerja itu sendiri. Disebabkan teman sekerja sehingga ia (pekerja) mengalami kecelakaan. Tanggungan pekerja, karena mengapa di perusahaan merassasudah membayar maka resiko kecelakaan menjadi tanggungan pekerja. karena pekerja mengalami kelalaian, sehingga terjadi kecelakaan.

Baru pada tahun 1908 di New York, merupakan konpensasi pertama bagi pekerja yang mengalami kecelakaan. Kemudian setelah tahun 1911, menurut Dan Petersen (1971) bahwa pekerja mendapat konpensasi Penyakit Akibat Kerja (PAK) bila disebabkan tekanan panas (atmosfer) dan harusnya panas dalam industri diberi pelindung (safety). Dengan demikian tenaga kerja mulai mendapatkan perlindungan secara hokum. Namun demikian angka kematian akibat kecelakaan kerja di Amerika Serikat pada tahun 1912 sekitar 18.000 hingga 21000 jiwa dan tahun1933 sejumlah

Orang terpaku padapengambilan salah satu domino yang seolah-olah menanggulangi penyebab utama kecelakaan. edisi pertama dalam buku industrial Accident Prevention. Gejala Penyebab langsung (praktek dibawah standar) IV. Bird Peterson mengadakan modifikasi dari teori Domino Heinrich denganmenggunakan teori manajemen. BIRD PETERSEN Beliau merupakan salah seorang Amerika yang mengatakan bahwa dalam penerapan teori Henrich terdapat kesalahan prinsipil. yang intinya sebagai berikut ( M. biaya dan kualitas produksi.14500 jiwa (Dan Peterson 1971) 2. Sulaksmono. Frank E. yakni kondisi atas perbuatan tak aman. Manajemen Kurang kontrol II. Kerugian Gangguan (tubuh maupun harta benda) .W Henrich (dan Peterson. Kontak Peristiwa (kondisi dibawah standar) V. Sumber Penyebab utama III. 1997): I. 1971) ia menulis bahwa metode yang paling bernilai dalam pencegahan kecelakaan adalah analog dengan metode yang dibutuhkan untuk pengendalian mutu. TEORI FRANK E. oleh H. Pemikirannya pada saat itu tidak menitik beratkan berapa santunan yang layak diberikan kepada pekerja agar kecelakaan dapat dikurangi. 3. TEORI HEINRICH Pada tahun 1931. Tetapi mereka lupa untuk menelusuri sumber yang mengakibatkan kecelakaan.

peralatan dan manusia. praktek dan kondisi di bawah standart merupakan penyebab terjadinya suatu kecelakaan dan merupakan gejala penyebab utama terjadinya akibat kesalahan manajemen. Kecelakaan kerja pada perinsipnya dapat dicegah dan pencegahan kecelakaan ini menurut bannett NBS (1995) merupakan tanggung jawab para manajer ini. 30 kecelakaan harta benda dan 600 kejadian lainnya yang hamper celaka. Kecelakaan terjadi tanpa disangka-sangka dalam sekejap mata. bahwa setiap kecelakaan berat akan disertai 10 kecelakanan ringan. Sulaksmono dan yang tersirat dalam UU No.Usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya berhasil apabila dimulai dari memperbaiki manajemen tentang keselamata dan kesehatan kerja. PENCEGAHAN KECELAKAAN . BAB III MUNGKINKAH KECELAKAAN DAPAT DICEGAH KECELAKAAN Kecelakaan menurut M. Disebutkan pula. mandor kepala dan juga kepala urusan tetapi menurut M. yakni. bahaya. penyeila. dan setiap kejadian menurut bannett NBS (1995) terdapat 4 faktor bergerak dalam satu kesatuan berantai. Kemudian. 1 tahun 1970 pasal 10. lingkungan.bahwa tanggung jawab pencegahan kecelakaan selain pihak perusahaan juga karyawan dan pemerintahan. Sulaksmono (1997) adalah sutau kejadian tak terduga dan dikehendaki yang mengacaukan proses suatu aktivitas yang telah teratur.

konstruksi. P#K dan pemeriksaan kesehatan. Perencanaan. yakni    Aspek perangkat keras (peralatan. supervisi medis. Memberikan pendidikan kepada tenaga kerja atau karyawan tentang kecelakaan dan keselamatan kerja.Menurut BannettNBS (1995) bahwa teknik pencegahan kecelakaan harus didekati dengan dua aspek. perawatan dan pemeliharaan. pagar pengaman. Olishiski (1985) bahwa aktivitas pencegahan kecelakaan dalam keselamatan kerja professional dapat dilakukan dengan beberapa hal berikut:  Memperkecil kejadian yang membahayakan dengan mesin. setengah resmi atau tidak resmi mengenai masalah syarat-syarat keselamatansesuai intruksi peralatan industri dan alat pelindung diri (APD). pencegahan ledakan dan peralatan lainnya. Standarisasi yang ditetapkan secara resmi. Memberikan alat pengaman agar tidak membahayakan sumber daya yang ada dalam perusahaan tersebut. pengujian dan cara kerja peralatan industri. pengawasan. misalnya tentang bahan-bahan yang berbahaya. mesin. dsb) Aspek perangkat lunak (manusia dan segala unsure yang berkaitan) Menurut Julian B. letak. tugas-tugas pengusaha dan buruh. kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dapat dicegah dengan 12 hal berikut:     Peraturan Perundangan. latihan.    . Pengawasan. pengujian APD. cara kerja. perlengkapan. yaitu ketentuan-ketentuan yang diwajibkan mengenai kondisi kerja pada umumnya. Memberikan alat pelindung diri tertentu terhadap tenaga kerja yang berada pada area yang membahayakan Menurut Suma’mur (1996). material dan struktur perencanaan. agar ketentuan UU wajib dipatuhi Penelitian bersifat tekhnik.

 Riset medis. prosedur dan suber daya yang di butuhkan bagi pengembangan penerapan. yaitu insentif financial untuk meningkatkan pencegahan kecelakaan. kegiatan perencanaan. terutama meliputi tentang pola-pola kewajiban yang mengakibatkan kecelakaan. meliputi penelitian tentang pola-pola kewajiban yang mengakibatkan kecelakaan. pencapaian pengkajian dan pemeliharaan . Usaha keselamatan pada tingkat perusahaan FAKTOR PENCEGAH KECELAKAAN Dari uraian beberapa pakar diatas bahwa kecelakaan kerja dapat dicegah. Penelitian psikologis. tanggung jawab pelaksanaan. untuk menetapkan jenis-jenis kecelakaan yang terjadi Pendidikan Latihan-latihan Penggairahan. SISTEM MANAJEMEN K-3 DI LINGKUNGAN KERJA Ini adalah bagian dari system amanajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi. Penelitian secara statistic. pada intinya perlu memperhatikan 4 faktor yakni factor:            Lingkungan Manusia Peralatan Bahaya (hal-hal yang membahayakan) BAB IV SISTEM MANAJEMEN K-3 DAN LINGKUNGAN KERJA 1. pendekatan lain agar bersikap yang selamat Asuransi.

Hal itu harus dapat diidentifikasikan dan di control  Prinsip III manajer harus memperhatikan pengadaan alat pengaman ditiap bagian yang difungsikan oleh perusahaan. 2. pengorganisasian dan harus selalu dikonntrol . kondisi yang membahayakan dan kejadian kurang baik (accident) semua itu merupakan beberapa gejala kesalahan dalam suatu sistem manajemen  Prinsip II kita harus dapat meramalkan secara pasti sekumpulan tanda-tanda yang kurang baik. DASAR-DASAR KONTROL KERUGIAN   Prinsip I tindakan yang membahayakan. efisien dan produktif. MANAJEMEN KONTROL KERUGIAN Pendekatan manajemen secara professional tidak akan efektif apabila tidak memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:  Manajer harus memperhatikan adanya alat pelindung dan kesehatan(beberapa problem seperti ini 85% dapat dikontrol oleh pihak manajemen)  manajer berpengaruh terhadap peluang perusahaan untuk mendapatkan keuntungan menejemen control kerugian akan menguntungkan seluruh strategi operasional manajemen 3. Guna tercapainya tempat kerja dan lingkungan kerja yang aman.kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja. Secara langsung manajemen mangatur adanya Saftey yang baik pada saat perencanaan.

2. yakni: 1. Ada 2 jalan kagare hal ini dapat berfungsi. harus diketahui alat pelindung apa yang paling efektif digunakan sesuai paparan yang ada. UPAYA-UPAYA PENGENDALIAN:          Subtitusi bahan-bahan kimia yang bahaya Proses isolasi Pemasangan local exhauster Vertilasi umum Pemakaian alat pelindung diri Ketatarumahtanggaan perusahaan Pengadaan fasilitas saniter Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja dan berkala Penyelenggaraan latihan/penyuluhan keapada semua karyawan dan pengusaha Kotrol administrasi  . Prinsip IV kunci yang efektif pengaturan kebutuhan performen alat pelindung adalah manajemen harus memiliki prosedur yang jelas dan terukur. BAB V PENGENDALIAN K-3 A.  Prinsip V alat pelindung yang baik adalah tepat guna pada tempatnya dan ketika digunakan tidak rusak serta tidak menimbulkan kejadian yang kurang baik. harus diketahui apa penyebab utama seandainya di tempat tersebut terjadi sesuatu yang tidak baik.

Pekerja tidak mau memakai dengan alasan        Tidak sadar/tidak menerti Panas Sesask Tidak enak dipakai Tidak enak dipandang Berat Mengganggu pekerjaan . MASALAH UMUM APD  Tidak semua APD melalui pengujian labotoris sehingga tidak diketahui derajat perlindungannya Tidak nyaman dan kadang-kadang membuat si pemakai sulit bekerja APD dapat menciptakan bahaya baru Perlindungan yang diberikan APD sulit untuk dimonitor Kewajiban pemeliharaan APD dialihkan dari pihakl manajemen ke pekerja Efekctivitas APD sering tergantung “ GOOD FIT “ pada pekerja Kepercayaan pada APD akan menghabat pengembangan kontrol teknologi yang baru       D. MASALAH PEMAKAIAN APD: 1.B. HIRARKI PENGENDALIAN:      Eliminasi Subtitusi Pengendalian rekaysa Pengendalian administratif Alat pelindung diri C.

PELATIHAN DAN PENDIDIKAN Meliputi bentuk dan ditujukan pada siapa  Masalah personil dengan APD. kebersihan Pekerja yang pelaksanaan pekerjaan khusus dan harus selalu memakai APD Anggota safety comitte (P2K3). supervisor Ahli Hiperkes dan KK. pemeliharaan. pengenalan APD. safety afficer. Tidak disediakan oleh perusahaan     Ketidakmengertian Pura-pura tidak mengerti Alasan bahaya Dianggap sia-sia 3. penggunaan yang benar dan batasan seleksi bentuk: IN – HOUSE TRAINING Tanggung jawab pemeliharaan APD pemakaian. Pengadaan oleh perusahaan   Tidak sesuai dengan bahaya yang ada Asal beli (terutama memilih yang murah) E. bentuk formal: setingkat Universitas      F.   Tidak sesuai dengan bahaya yang ada Tidak ada sangsi Atasan juga tidak memakai 2. MASALAH RESPIRATOR      Penutup muka yang buruk Sumbatan kerusakan/cacat pada filter Pemeliharaan yang tidak baik Tali pengikat longgar/lepas Tidak nyaman .

    Psikologis dan kecemasan Meningkatkan beban kerja pada jantung dan hati Menghirup kembali udara yang dihembuskan Kesulitan komunikasi G. MASALAH ALAT PELINDUNG MATA       Dapat membatasi pandangan Timbul kabut. noda dan goresan kecil Tidak dapat melihat serusakan secara visual Beberapa kaca mata pengaman memungkinkan benda masuk dari samping . MASALAH SARUNG TANGAN      Mungin dapat menangkap bahan kimia Mengurangi kepekaan tangan dan jari Kebocoran dari lubang yang tidak diketahui Mungkin menyebabkan dermatitis (keringat yang berlebihan) Bahan kimia tertentu I. MASALAH ALAT PELINDUNG TELINGA        Resiko infeksi Kesulitan komunikasi Merasa terisolasi Sakit kepala karena jepitan terlalu kuat Tidak nyaman Menguranggi kemampuan menduga jarak Iritasi kulit H.

cara kerja suatu alat. MANAJEMEN RESIKO Adalah suatu proses manajemen dengan maksud meminimalkan resiko atau bahkan untuk menghindarinya sama sekali. Bahaya Adalah sifat dari suatu bahan. Resiko Adalah suatu kondisi dimana terdapat kemungkinan akan timbulnya kecelakaan atau penyakit akibat kerja oleh karena adanya suatu bahaya. cara melakukan suatu pekerjaan dan lingkungan kerja yang dapat menimbulkan kerusakan harta benda. Penerapan manajemen resiko:      Komitmen Identifikasi bahaya Penilaian resiko Pengendalian resiko Pemantauan dan evaluasi . penyakit akibat kerja atau bahkan hilang nyawa manusia.J.