METODE BERCERITA ANAK USIA DINI

Ada suatu ungkapan ”Seorang Guru yang tidak bisa bercerita, ibarat orang yang hidup tanpa kepala”. Betapa tidak, bagi para pengasuh anak-anak (guru, tutor) keahian bercerita merupakan salah satu kemampuan yang wajib dikuasai. Melalui metode bercerita inilah para pengasuh mampu menularkan pengetahuan dan menanamkan nilai budi pekerti luhur secara efektif, dan anak-anak menerimanya dengan senang hati. Pada saat ini begitu banyak cerita yang tersebar, namun masih jarang tulisan dari para praktisi ahli cerita , yang mampu mengarahkan secara khusus untuk ditujukan kepada anak-anak usia dini, sehingga penceritaan yang disampaikan kurang mengena. Apalagi model cerita yang secara khusus didasarkan pada material kurikulum pengajaran di TPA/KB/RA/BA/TK yang berlaku. Padahal panduan praktis semacam ini sangat dibutuhkan oleh tenaga pendidik di seluruh Nusantara. Pada umumnya mereka masih terbatas pengetahuannya tentang metode bercerita. Tulisan ini kami susun dengan maksud agar menjadi salah satu bahan pengayaan ketrampilan mendidik anak, bagi para pendidik anak usia dini dalam kegiatan kepengasuhan yang mereka lakukan . PENDAHULUAN Di Inggris konon pernah diadakan penyebaran angket kepada orang-orang dewasa. Kepada mereka ditanyakan pada saat apa mereka benar-benar merasa bahagia di masa kanak-kanak dulu. Jawaban mereka : “Pada saat orang tua mereka membacakan buku atau Cerita” Apabila pertanyaan yang sama diajukan kepada orang-orang dewasa di Indonesia, kiranya jawaban tak akan jauh berbeda. Bahkan, khusus mengenai cerita, sampai orang dewasapun masih tetap menggemarinya. Tengoklah obrolan kita juga akan semakin ‘renyah’ bila kita saling bercerita dengan penuh semangat. Cerita memang ‘gurih’. Semua orang tak pandang usia, menyukainya. Bercerita adalah metode komunikasi universal yang sangat berpengaruh kepada jiwa manusia. Bahkan dalam teks kitab sucipun banyak berisi cerita-cerita. Tuhan mendidik jiwa manusia menuju keimanan dan kebersihan rohani, dengan mengajak manusia berfikir dan merenung, menghayati dan meresapi pesan-pesan moral yang terdapat dalam kitab suci, Beliau mengetahui akan jiwa manusia, mengetuk hati manusia antara lain dengan cerita-cerita. Karena metode ini sangat efektif untuk mempengaruhi jiwa anak-anak. Mengapa metode cerita ini efektif ? jawabannya tidak sulit. Pertama, cerita pada umumnya lebih berkesan daripada nasehat murni, sehingga pada umumnya cerita terekam jauh lebih kuat dalam memori manusia. Ceritacerita yang kita dengar dimasa kecil masih bisa kita ingat secara utuh selama berpuluh-puluh tahun kemudian. Kedua, melalui cerita manuasi diajar untuk mengambil hikmah tanpa merasa digurui. Memang harus diakui, sering kali hati kita tidak merasa nyaman bila harus diceramahi dengan segerobak nasehat yang berkepanjangan. Pengertian Cerita, Dongeng dan Metode Bercerita Cerita adalah rangkaian peristiwa yang disampaikan, baik berasal dari kejadian nyata (non fiksi) ataupun tidak nyata (fiksi). Kata Dongeng berarti cerita rekaan/tidak nyata/fiksi, seperti: fabel (binatang dan benda mati), sage (cerita petualangan), hikayat (cerita rakyat), legenda (asal usul), mythe (dewadewi, peri, roh halus), ephos (cerita besar; Mahabharata, Ramayana, saur sepuh, tutr tinular). Jadi kesimpulannya adalah “Dongeng adalah cerita, namun cerita belum tentu dongeng”. Metode Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan anatara bercerita dengan metode penyampaian cerita lain adalah lebih menonjol aspek teknis penceritaan lainnya. Sebagaimana phantomin yang lebih menonjolkan gerak dan mimik, operet yang lebih menonjolkan musik dan nyanyian, puisi dan deklamasi yang lebih menonjolkan syair, sandiwara yang lebih menonjol pada permainan peran oleh para pelakunya, atau monolog (teater tunggal) yang mengoptimalkan semuanya. Jadi tegasnya metode bercerita lebih menonjolkan penuturan lisan materi cerita dibandingkan aspek

Sarana Hiburan dan penarik perhatian 8. Suasana (situasi dan kondisi) Suasana disesuaikan dengan acara/peristiwa yang sedang atau akan berlangsung. seperti: Persahabatan si Pintar dan si Pikun. orang jahat. misalnya lagu. Bagi anak-anak. Usia 4-8 tahun. Contoh.sst… b. akan berbeda jenis dan materi ceritanya. anak nakal tersesat di hutan rimba. apabila tingkat konsentrasi dan daya tangkap anak dirangsang oleh penampilan pencerita yang sangat baik. pendidik harus memahami terlebih dahulu tentang cerita apa yang hendak disampaikannya. Perjalanan ke planet Biru.teknis yang lainnya. hal-hal yang menarik. Menggugah minat baca 9. seperti acara kegiatan keagamaan. Jadi selaras materi cerita dengan acara yang diselenggarakan. yaitu: 1. waktu cerita hingga 25 menit Namun tidak menutup kemungkinan waktu bercerita menjadi lebih panjang. Robot pintar. seperti: Si wortel. anak sholeh dan lain-lain. tepuk tenang. anak-anak menyukai dongeng petualangan fantastis rasional (sage). misalnya. Menyalurkan dan mengembangkan emosi 5. Karni Juara menyanyi dan sebagainya 2. Sarana membangun watak mulia BERCERITA UNTUK ANAK USIA DINI Sebelum bercerita. berbeda pada setiap tingkat usia. Mengkondisikan anak : Tertib merupakan prasyarat tercapainya tujuan bercerita. Agar dapat bercerita dengan tepat. anak-anak menyukai dongeng jenaka. Sampai usia 4 tahun. olah gerak. atraktif. rentang konsentrasi dan daya tangkap anak. tentu saja disesuaikan dengan karakteristik anak-anak usia dini. Pendidikan imajinasi/fantasi 4. ulang tahun. Manfaat Cerita Menurut para ahli pendidikan bercerita kepada anak-anak memiliki beberapa fungsi yang amat penting. baik dalam olah vokal. Pada usia 4-8 tahun. pisah sambut anak didik. seperti. Pendidik dituntut untuk memperkaya diri dengan materi cerita yang disesuaikan dengan suasana. pendidik harus mempertimbangkan materi ceritanya.. Media penyampai pesan/nilai mora dan agama yang efektif 3. pengenalan profesi. bahasa dan komunikasi serta ekspresi. kambing Gunung dan Kambing Gibas. program sosial dan lain-lain. komunikatif dan humoris. aneh. Usia 8-12 tahun. waktu cerita hingga 7 menit b. kemampuan bahasa. Teknik Bercerita: Pendidik perlu mengasah keterampilannya dalam bercerita. dan sebagainya. maka para ahli dongeng menyimpulkan sebagai berikut. musik. bukan satu atau beberapa cerita untuk segala suasana. Waktu Penyajian Dengan mempertimbangkan daya pikir. 3. PRAKTEK BERCERITA 1.Membangun kedekatan emosional antara pendidik dengan anak 2. Jika aku (tepuk 3x) sudah duduk (tepuk 3x) maka aku (tepuk 3x) harus tenang (tepuk 3x) sst…sst. Suasana tertib harus diciptakan sebelum dan selama anak-anak mendengarkan cerita. waktu cerita hingga 10 -15 menit c. peluncuran produk. Pemilihan Tema dan judul yang tepat Bagaimana cara memilih tema cerita yang tepat berdasarkan usia anak? Seorang pakar psikologi pendidikan bernama Charles Buhler mengatakan bahwa anak hidup dalam alam khayal. permainan. Aneka tepuk: seperti tepuk satu-dua. hari besar nasional. a. Diantaranya dengan cara-cara sebagai berikut: a. anak menyukai dongeng fabel dan horor. Secara garis besar unsur-unsur penyajian cerita yang harus dikombinasikan secara proporsional adalah sebagai berikut : (1) Narasi (2) Dialog (3) Ekspresi (terutama mimik muka) (4) Visualisasi gerak/Peragaan (acting) (5) Ilustrasi suara. b.Memberikan dan memperkaya pengalaman batin 7. Anak-anak menyukai hal-hal yang fantastis. a. Pemilihan cerita antara lain ditentukan oleh : 1. baik suara lazim maupun suara tak lazim (6) Media/alat peraga (bila ada) (7) Teknis ilustrasi lainnya. Anak yang rakus dan sebagainya c. Seorang pencerita harus pandai-pandai mengembangkan berbagai unsur penyajian cerita sehingga terjadi harmoni yang tepat. Tomat yang Hebat. sampai ada usia 4 tahun. Pada usia 8-12 tahun. Membantu proses peniruan perbuatan baik tokoh dalam cerita 6. . Anak ayam yang Manja. tokoh pahlawan/hero dan kisah tentang kecerdikan. cerita nenek sihir. raksasa yang menyeramkan dan sebagainya. 2. yang membuat imajinasinya “menari-nari”.

menangis. berteriakteriak dan lain-lain. Kalimat ini diucapkan sebelum cerita disampaikan. Tata tertib cerita. tidak boleh menebak/komentari cerita. Pijakan (setting) waktu. e. yang ketiga seorang guru yang bernama Umar. ataupun selama berlangsungnya cerita. maka membutuhkan teknik yang memiliki unsur penarik perhatian yang kuat. atau ambillah sebuah lagu yang popular. tentu saja diberikan kepada anak-anak yang sudah akrab dengan kita. kemudian seolah-olah mengambil kunci dari saku.! Selama cerita. kemudian terdampar di tepi pantai…?” c. Pendidik mengajak anak-anak untuk mengikrarkan janji selama mendengar cerita.Simulasi kunci mulut: Pendidik mengajak anak-anak memasukkan tangannya ke dalam saku.. Janji untuk berubah. “Di pinggir pantai. contoh “Mulai hari ini. aku anak rajin dan taat kepada guru!” d. i. Potongan cerita: “Pernahkah kalian mendengar. kemudian mengunci mulut dengan kunci tersebut. misalnya. 4. secara umum anak-anak menyukai hadiah. ada 4 orang tokoh penting…yang pertama adalah seorang anak yang jago main karate. Doa khusus memohon terhindar dari memiliki kebiasaan buruk seperti tokoh yang jahat. Teknik membuka Cerita ”Kesan pertama begitu menggoda selanjutnya …. Ibu telah siapkan sebuah cerita yang sangat menarik…” dan seterusnya. Teknik ini cukup efektif untuk menenangkan anak. g. “Lomba duduk tenang”.HA. meskipun harus menahan diri untuk tidak bermain dan berbicara. gembira.” “Di sebuah Pesantren…” dan lain-lain.HA”. seringkali teknik ini menimbulkan kelucuan tersendiri. badannya tinggi besar dan bila tertawa. Munculkan Tokoh dan Visualisasi “ dalam cerita kali ini. dimulai cerita…(kalimat ini dinyanyikan). suara bedug. Hal ini mengingatkan pula betapa pentingnya membuka suatu cerita dengan sesuatu cara yang menggugah. tidak boleh berjalan-jalan. yang kedua adalah seorang ketua gerombolan penjahat yang bernama Somad. h. Siapkan hadiah!. binatang kesayangan. Pijakan (setting) tempat “Di sebuah desa yang makmur…”. Kalimat yang mengingatkan kita pada salah satu produk yang diiklankan. Ikrar. Sinopsis (ringkasan cerita).HA. Kami berjanji 1. balon yang seolaholah ada di tangan dan diberikan kepada anak. layaknya iklan sinetron “Cerita bu Guru hari ini adalah cerita tentang “seorang anak kecil pemberani.. Pernyataan kesiapan : “Anak-anak. Mengapa harus menggugah minat? Karena membuka cerita merupakan saat yang sangat menentukan. contoh: Ikrar.” “Di tengah Hutan…” “Ada sebuah kerajaan yang bernama . c. Menutup Cerita dan Evaluasi a. hari ini. kemudian gantilah syairnya dengan kalimat pembuka sebuah cerita. Nyanyian yang selaras dengan tema. Menyatakan ikrar untuk berubah menjadi lebih baik. HA. sebelum bercerita pendidik menyampaikan aturan selama mendengarkan cerita. kisah tentang seorang anak yang terjebak di tengah banjir?. Akan mendengarkan cerita dengan baik f. Akan duduk rapi dan tenang 2.. Somad memiliki golok yang sangat besar.terserah anda”. Ekspresi emosi: Adegan orang marah. Tanya jawab seputar nama tokoh dan perbuatan mereka yang harus dicontoh maupun ditinggalkan. d. 3. tidak boleh mengobrol dan mengganggu kawannya dengan berteriak dan memukul meja.. suara ledakan. Apabila cara pengucapannya dengan bersungguh-sungguh. f. dan agar diberi kemampuan untuk dapat meniru kebaikan tokoh yang baik. Bisa saja kita memberikan hadiah imajinatif seperti makanan. tembakan dan lain-lain. Suara tak Lazim atau ”Boom” ! : Pendidik dapat memulai cerita dengan memunculkan berbagai macam suara seperti. Hadiah men dorong untuk anak-anak untuk mendapatkannya. b. maka anak-anak pun akan melakukannya dengan sungguh-sungguh pula. Musik & Nyanyian “Di sebuah negeri angkara murka.. Hal ini dilakukan untuk mencegah anak-anak agar tidak melakukan aktifitas yang mengganggu jalannya cerita e. Aku tak akan malas lagi. wajahnya cerah dan menyenangkan…dan seterusnya.. b.. baik . ia tak takut dengan siapapun…namanya Adiba. diantaranya dapat dilakukan dengan: a. lalu kunci di masukkan kembali ke dalam saku c. suara aneka binatang. yang bertempur melawan raja gagah perkasa perkasa ditengah perang yang besar” (kisah nabi Daud) mari kita dengarkan bersama-sama ! d.iiih mengerikan karena sangat keras”…HA. “Jaman dahulu kala…” “Jaman pemerintahan raja mataram …” ”Tahun 2045 terjadi sebuah tabrakan komet…” “Pada suatu malam…” “Suatu hari…” dan lain-lain.

cerita yang engkau inginkan akan Ibu sampaikan nanti”. Selain itu. Setelah selesai mendengar cerita. Itulah sebabnya. Anak gelisah. penanganan: sampaikan kepada anak tersebut bahwa kita dan teman-temannya terganggu. pendidik disarankan untuk lebih variatif dalam bercerita. Pananganan: pendidik lebih variatif mengajak tepuk tangan maupun yel-yel. pendidik harus segera tanggap dan melakukan tindakan tertentu untuk mengembalikan keadaan. c. jadi penanganannya bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta kreativitas pendidik. keterampilan teknis bercerita hanya dapat dikembangkan melalui latihan dan pengalaman praktek bercerita. tentu membutuhkan persiapan yang matang. Penanganan: Pendidik lebih dekat secara fisik dan lebih sering melakukan kontak mata dengan hangat. kemampuan dalam bercerita agar dapat memunculkan berbagai unsur diatas. Penanganan: Pendidik lebih mendekat secara fisik dan lebih sering melakukan kontak mata dengan hangat. kemudian cerita diringkas untuk mempercepat penyelesaiannya Suasana cerita sangat ditentukan oleh ketrampilan bercerita pendidik dan hubungan emosional yang baik antara pendidik dengan anak-anak. Yang lebih penting dari itu adalah keberanian dan ketekunan dalam mencobanya secara langsung. Yang jelas. Penanganan: Ubah urutan cerita atau kreasikan alur cerita b. Sedangkan bercerita dengan alat peraga tersebut dibedakan menjadi peraga langsung (membawa contoh langsung:kucing dsb) maupun peraga tidak langsung (boneka. gambar seri. gambar. Ada tamu. Anak menangis. 6. Ibu makin sayang jika adik duduk lebih tenang” f. papan flanel. Adapun kasus-kasus yang paling sering terjadi adalah: a. wayang dsb).SELAMAT BERCERITA! Sumber : http://kakbimo. Akhirnya…. Sebagai sebuah keterampilan. Anak mencari kekuasaan. Anak menunjukkan ke tidak puasan. hanya dapat dikuasai dengan pengalaman dan latihan-latihan yang tekun.com/ . panggung boneka. 5. d. Anak mencari perhatian. Penanganan: Katakanlah ”Hari ini ceritanya adalah ini. e. Menggambar salah satu adegan dalam cerita.berasal dari lagu nasional.sehingga kegiatan bercerita tidak menjemukan. Anak protes minta ganti cerita. Penanganan: Mintalah orang tua atau pengasuh lainnya membawa keluar. Media dan Alat bercerita Berdasarkan cara penyajiannya. latihan-latihan tertentu yang rutin sangat dibutuhkan. slide. Penanganan: Pendidik membisikkan ke telinga anak tersebut dengan hangat ”Adik anak baik. i. j. g. Penanganan: Pendidik mengulangi dengan sungguh-sungguh tata tertib kelas. namun tunggu setelah selesai cerita k. kemudian mengalihkan perhatiannya kepada aktivitas bersama seperti tepuk tangan dan penyanyi yang mendukung penceritaan. dari kondisi yang buruk kepada kondisi yang lebih baik (tertib). dan tersaji secara padu.wordpress. adakalanya mendongeng secara langsung. popular maupun tradisional e. Penanganan: Berikan isyarat tangan kepada tamu agar menunggu. penguasaannya tidak cukup hanya dengan memahami ilmunya secara teoritik saja. bercerita dapat disampaikan dengan alat peraga maupun tanpa alat peraga (dirrect story). h. Agar bercerita lebih menarik dan tidak membosankan. membacakan cerita dan sebagainya. Anak-anak kurang kompak. Bercerita memang salah satu bagian dari keterampilan mengajar. PENUTUP Untuk dapat menguasai aspek-aspek keterampilan teknis dari penyajian cerita diatas. Anak menebak cerita. Beberapa kasus di atas hanyalah sebagian contoh yang sering muncul saat seorang pendidik bercerita. Anak berkelahi. Penanganan Keadaan Darurat Apabila saat bercerita terjadi keadaan yang mengganggu jalannya cerita. kemudian mintalah anak tersebut untuk tidak mengulanginya. teknik ini sangat baik untuk mengukur daya tangkap dan imajinasi anak. Penanganan: Pisahkan posisi duduk mereka jangan terpancing untuk menyelesaikan masalahnya. Kurang taat pada aturan atau tata tertib.

1. Artinya dalam mengenalkan nilai kultural maupun ideologis kepada anak dan murid mereka. Artinya dalam mengenalkan suatu nilai kultural atau ideologis masih dengan komunikasi satu arah melalui tokoh utamanya tanpa adanya tantangan yang muncul dari tokoh antagonis (Riyadi. 2006). 12-14 Agustus 2008 para orang tua. Di samping itu juga. yang umumnya digunakan untuk melapor. anekdot. Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 2 dari 11 Batu. Genre laporan. atau eksemplum. rekon. baik melalui orang tua di rumah maupun guru di sekolah sering tidak menghiraukan tehnik dan metode berceritanya (Santosa dkk. Artikel ini akan memberikan paparan bagaimana scaffolding dalam bercerita baik secara lisan maupun tulis mampu memberikan siswa atau anak ikut masuk di dalam proses pengenalan nilai-nilai ideologis secara lebih demokratis. tehnik bercerita dua arah yang melibatkan scaffolding termasuk di dalamnya prinsip-prinsip percakapan seperti turn-taking. ada beberapa yang tidak menggunakan orientasi secara jelas. Artikel ini membahas bagaimana scaffolding dan prinsip-prinsip percakapan dapat membantu memperkenalkan dan sekaligus mengasuh nilai-nilai kultural dan ideologis di dalam bercerita. 2007). Djatmika & Fitria. Di dalam buku cerita umumnya ada tiga jenis nilai kultural dan ideologis yang diperkenalkan. Cerita anak ini umumnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga genres. dan resolusi. biasanya terdiri dari definisi dan detil deskripsi. yang pada umumnya ibu. dengan pentahapan orientasi. Djatmika & Fitria.Scaffolding dalam Bercerita sebagai Metode Pengenalan Nilai-nilai Ideologiskepada Siswa* Bercerita sering ditengarai sebagai kegiatan diskursif yang sudah lazim baik di rumah maupun di dunia pendidikan. yaitu naratif. yang terdiri dari berbagai macam nilai-nilai sosial yang lebih detil. Genre rekon mempunyai struktur orientasi dan detil kejadian. nilai sosial lingkungan. rekon dan laporan. ada beberapa saja yang menggunakan evaluasi sebelum resolusi. Demikian halnya cara bercerita yang dilakukan oleh para orang tua dan guru TK dalam bercerita kepada anak dan muridnya umumnya masih satu arah. 2006. dan nilai sosial sekolah . Riyadi Santosa. yang dapat mengenalkan nilai-nilai kultural maupun ideologis secara dua arah (Riyadi. Umumnya kegiatan bercerita baik yang bersifat tertulis melalui buku cerita maupun lisan. dan guru TK. minimal pairs. umumnya. Artinya. Kebiasaan seperti ini sebetulnya kurang atau bahkan tidak mendidik siswa atau anak dasar-dasar demokratis yang pada saat ini sangat diperlukan dalam proses sosial di masyarakat kita. Mereka umumnya lebih mementingkan tercapainya plot atau memberikan nilai-nilai kultural atau ideologis di dalam cerita itu implisit di dalam plot atau melalui struktur koda di dalam akhir ceritanya.Pendahuluan Bercerita umumnya masih kita pandang sebagai kegiatan rutin yang digunakan untuk mengenalkan plot suatu cerita yang ber-genre narasi. Genre naratif merupakan genre yang dominan. 2007). . Deskripsi Buku Cerita dan Cara Bercerita Seperti yang kita ketahui bahwa buku cerita anak yang diterbitkan di Indonesia ini umumnya mempunyai cirri-ciri sebagai berikut. komplikasi. isi cerita untuk anak-anak yang ditulis di negara kita inti masih bersifat satu sisi. masih juga belum menggunakan cara atau tehnik bercerita yang benar. 2. yang meliputi nilai sosial rumah.

dan diakhiri dengan penutup. Djatmika & Fitria. Scaffolding sudah ada sedikit. pertanyaan-diam (anggukan/gelengan kepala) atau jawaban tak sesuai. Overall organization atau struktur bercerita umumnya terdiri dari tiga tahap: pengenalan cerita. seperti pertanyaan. yang pada dasarnya masih termasuk pertanyaanjawaban. dan keagamaan. sedangkan cerita yang berhaluan protagonist kanan adalah cerita-cerita yang menggunakan penyajian dua sisi. Akan tetapi masih belum maksimal. Dengan demikian. Yang terakhir. Pola turn-taking dalam bercerita yang ada pada umumnya masih didominasi oleh guru atau orang tua. Nah di dalam penutup inilah umumnya percakapan antara guru dan murid. Kemudian. Sementara itu cara bercerita orang tua dan guru TK yang sering dilakukan umumnya mempunyai cirri-ciri sebagai berikut. tetapi sangat jarang yaitu pernyataan persetujuan/penolakan. yaitu yang Riyadi Santosa. serta untuk membangun cerita. penutup berupa tanya jawab mengenai nilai moral cerita atau ringkasan cerita. sampai dengan akhir cerita (tanya-jawab). Inti cerita dalam umumnya terdapat tiga genre. atau antara orang tua dan anak terjadi. Buku cerita yang berhaluan dua sisi ini masih jarang (Riyadi. Hal ini disebabkan penutup ini dapat muncul scaffolding yang melibatkan turn-taking dan adjacency pairs. dan rekon. Kemudian diikuti dengan pernyataan tak selesai pelengkapan pernyataan. Walaupun ada. scaffolding tidak bisa menyelesaikan permasalahan pemahaman nilai dan penyelesaian alur cerita. Selain itu melihat pola adjacency-pair dan turn-taking yang ada di dalam bentuk dan cara bercerita ini dapat dikatakan bahwa sebenarnya pencerita masih belum memahami benar mengenai konsep-konsep scaffolding yang sangat membantu dalam pemerolehan bahasa termasuk di dalamnya nilai-nilai ideologis dan sangat membantu dalam membentuk pola interaksi yang demokratis yang mempunyai turn-taking yang lebih terdistribusi dan adjacency-pairs yang bervariasi. 12-14 Agustus 2008 dominan adalah pencerita dan pendengar yang baik adalah pendengar yang diam mendengarkan. Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 4 dari 11 Batu. beberapa menggunakan eksemplum.Riyadi Santosa. inti cerita. pengulangan. Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 3 dari 11 Batu. inti cerita. Buku cerita yang berhaluan antagonis kanan adalah cerita-cerita yang menggunakan penyajian satu sisi. Kemudian tema cerita bervariasi mulai dari cerita fabel. kelas sosial dan tingkat pendidikan tidak dapat . atau tema cerita yang akan dilakukan. Pola adjacency-pair yang digunakan ini masih terbatas. Kemungkinan besar ketidakmaksimalan scaffolding ini disebabkan tidak mengertinya peran scaffolding untuk memahami nilai-nilai ideologis yang ada. yaitu naratif (dominan). ternyata. yaitu antagonis kanan dan protagonis kanan. walaupun ada beberapa guru dan orang tua yang mendistribusikan pola turn-taking-nya untuk membangun cerita secara bersama-sama mulai dari pengenalan. karena pernyataan tak lengkapnya diakhiri dengan intonasi meninggi. Di dalam penutup inilah sebetulnya kesempatan untuk mengembangkan cerita menjadi sarana pengenalan ideologi atau nilai-nilai kultural dan genre cerita dengan baik dapat dikembangkan. Yang paling dominan ialah pertanyaan-jawaban. walaupun percakapan juga terjadi di pengenalan cerita dan inti cerita. umum. 2006). Pengenalan cerita digunakan untuk mengantarkan murid atau anak untuk mengenalkan tokoh. karena mengikuti model bercerita jaman dulu. 12-14 Agustus 2008 Kemudian ada dua macam ideologi di dalam buku cerita anak.

1996). Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 6 dari 11 Batu. 1991. 12-14 Agustus 2008 yang termasuk kelas bawah tetapi secara tidak sadar sudah mengenalkan pola turntaking terdistribusi dan adjacency pair bervariasi. 12-14 Agustus 2008 Model scaffolding yang bersifat vertical ini penutur asli berusaha membantu pembelajar Bahasa Inggris dalam menyusun struktur sintaksisnya secara vertical dengan memberikan mengulang broken dan menambah upside down konstituen pelengkapnya untuk membentuk struktur sintaksis yang lengkap. Bahkan Varonis dan Gass (1985) menyatakan interaksi antara non-native dengan non-native-pun dapat menimbulkan negotiation of meaning. Ada rumah tangga dan sekolah Riyadi Santosa. Kemudian menurut Sato scaffolding membantu untuk terjadinya language acquisition (pemerolehan bahasa) (dalam ibid. Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 5 dari 11 Batu.90). hal. hal. yang secara umum direalisasikan ke dalam pola turn-taking dan adjacency pairs. hal. dalam membantu anak mereka di dalam berbahasa dengan bahasa ibu mereka (mother tongue) (Larsen-Freeman and Long. Rothery in Hasan and Williams.131. Misalnya: T: this broken H: broken T: broken This /az/ broken H: Upside down T: upside down this broken upside down broken ( Larsen-Freeman & Long. untuk merujuk bahasa atau perilaku yang digunakan oleh para orang tua. hal. penutur asli bekerja sama dengan pembelajar dengan cara menuntun dan membantu pembelajar untuk menyelesaikan wacana. Bahkan para guru harus mengetahui sistem kebahasaan. Pembahasan Istilah scaffolding ini digunakan oleh para ahli Applied Linguistics. Di dalam interaksi tersebut. 3. Hal ini disebabkan bahwa scaffolding memberikan akses pembelajar untuk mengenal dan sekaligus mempraktekan unit-unit kebahasaan yang hilang.). 1996. Sebaliknya ada rumah tangga dan sekolah kelas atas yang penceritaannya masih mendominasi cerita dengan komunikasi one-way/ satu arah saja.131) mengatakan bahwa scaffolding juga sangat membantu untuk membangun bagian-bagian yang hilang di dalam percakapan. seperti yang terjadi di dalam percakapan antara Takahiro dan native speaker di atas. dengan pola komunikasi dua arah. jika di dalam percakapannya terjadi scaffolding. 70) Riyadi Santosa. hubungan . jarang dipakai. ideologis) melalui bahasa.menunjukkan adanya perbedaan pola interaksinya. Selanjutnya Meisel (dalam ibid. yang mereka sebut dengan collaborative discourse . di dalam teori literasinya (Literacy) menyatakan bahwa scaffolding sangat penting di dalam pembelajaran bahasa atau belajar sesuatu (termasuk nilai-nilai cultural. khususnya para ahli Language Acquisition. khususnya ibu. Kemudian Rothery (dalam Hasan & Williams. atau yang belum dikenal sekalipun. 1991. Di dalam Larsen-Freeman & Long (1991) digambarkan bahwa scaffolding merupakan bantuan kebahasaan yang digunakan untuk membangun percakapan bersama antara penutur asli Bahasa Inggris (H) dan pembelajar bahasa kedua Takahiro (T).

I break it all up Ibu: Where did you find? Anak: In the laundry. apa sih sombong? Murid : Sombong itu malas malas Guru : O malas ya. Pola turn-taking dan adjacency pair tertentu akan menentukan kemunculan scaffolding dalam alur bercerita. Berikut ini adalah sebagian dari hasil percakapan anatara guru dan murid di dalam bercerita. Go in the water yang mestinya past tense. I found it in the laundry Di dalam penggalan percakapan di atas Ibu menemukan bahwa sang anak masih menggunakan kata break dalam present tense. Guru : Nah sebelum Bu Wahyu cerita. Mummy and Hal Ayah: Was it cold in the water? Anak: Yeah!! Di dalam percakapan antara ayah dan anak ini terjadi dua macam scaffolding. dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntun pembentukan pengurutan kejadian secara temporal (lihat pertanyaan-pertanyaan yang bercetak miring). I find a moth. 12-14 Agustus 2008 melalui pola turn-taking dan adjacency pair di dalam wacana. 100). Apa sih sombong? Murid : Nggak tau Guru : Belum tahu. Contoh berikutnya: Ayah: What have you been doing to day? Anak: All sorts of things. Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 8 dari 11 Batu. Para guru atau orang tua bertanya dan berkomentar Riyadi Santosa.antara teks dan konteks untuk dapat memberikan scaffolding yang efektif. hal. scaffolding akan kelihatan Riyadi Santosa. Kemudian ia melanjutkan bahwa scaffolding digunakan untuk membangun suatu jenis teks tertentu / genre sebagai suatu joint construction ( membangun teks secara bersama-sama). 12-14 Agustus 2008 sedemikian rupa mengenai pengetahuan dan pengalaman yang sama untuk membangun teks tersebut (ibid. run around. Misalnya: Anak: I break a moth. Kedua sang ayah membantu sang anak untuk membenarkan tense nya: Erm. Guru : Si Jantan yang Sombong Apa? Si Jantan Yang Sombong . run around. Apa? Murid : Si Jantan yang Sombong. Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 7 dari 11 Batu. Seperti yang terlihat di dalam contoh di atas. with Mummy. karena jawabnya hanya Yeahh!! . Go in the water. Ayah: Did you find strawa and cups and things (as usual)? Anak: Yes (pause) not cups. Ayah: Where did you go? Anak: On the beach. Dan pertanyaan ini berhasil membantu anak untuk membetulkan bahasanya sendiri I found in the laundry . . Yang pertama sang ayah membantu anak untuk menyusun wacananya mengenai kegiatannya pada hari itu. Kemudian sang ibu membantu sang anak untuk menemukan yang benar dengan bertanya dalam past tense Where did you find? . Baik nanti setelah cerita anak-anak akan tahu apa sih . Akan tetapi dalam hal ini sang ayah kurang berhasil. yang mestinya past tense. Ayah: What else did you do? Anak: Erm.

jahat. 2007) Secara terstruktur pola turn-taking sudah terdistribusi dengan baik. Guru : O sombong itu males katanya Lynn. ya. Murid : (semua anak bertepuk tangan) Guru : Ok.. mas Reza sama mas . Ruru anak yang ? Murid : Pemalas. Guru : Teman-teman. Silahkan duduk. Ok.. Ada juga struktur pola turn-taking dan adjacency pair yang membentuk scaffolding untuk membantu membangun struktur teks. suka menolong. Guru : Menolong siapa? Murid : rajin bekerja . Riyadi Santosa. masih belum bertanya sambil memberikan clues atau sinyal-sinyal yang bisa menuntun murid untuk memahami kata sombong . sombong itu boong.sombong itu. Ustadz Anang tadi cerita tentang apa teman-teman? Murid : Rusa Guru : Rusa namanya siapa? Murid : Ruru.. Ruru sama Sasa. Guru : Ya. Ruru tadi. Ada yang lain yang mau ngomong? Murid : Sombong itu sombong. . Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 9 dari 11 Batu. Sombong. dkk. 12-14 Agustus 2008 Mestinya ketika murid sudah menjawab Sombong pas punya rumahe tingkat dicritak-critake orang-orang . Akan tetapi mungkin belum disadari dengan baik sehingga pertanyaan tidak urut menurut alur cerita secara temporal dan akhirnya alur ceritanya belum selesai scaffolding sudah diakhiri. Sasa. Apa sih sombong itu? Murid : Boong Guru : Boong ya? Apa? Kalau menurut Dustin. yang jawab silahkan duduk yang manis. Sasa? Murid : baik. Akan tetapi jika dilihat pola pertanyaan guru masih bersifat bertanya saja. sombong. sekarang tepuk satu tepuk satu. Apa lagi Apa Michael? Menurut Michael apa itu sombong? Murid : (Rita menjawab) jahat Guru : O kalau menurut Rita. guru harus menggiring (scaffold) dengan memberikan clues atau pujian seperti Bagus Michael untuk menunjukkan jawabannya sudah benar atau mendekati benar. Apa tadi? Murid : Sombong pas punya rumahe tingkat dicritak-critake orang-orang Guru : O pas punya rumah dicritak-critake orang-orang katanya sombong. dan pola adjacency pair-nya juga bervariasi. akhirnya kenapa teman-teman? Murid : (Diam) Guru : Mas Rafi? Murid : (diam) Guru : Ok. bisa makan Murid dan Guru: tertawa (Riyadi. jahat. nakal.paman gajah. Guru : Pemalas. Hal ini terbukti sampai akhir rentetan scaffolding di atas murid masih belum bisa menjawab kata sombong dengan baik.Habiburrahman juga. sehingga jawaban anak-anak lainnya tidak ngelantur. Kalau menurut Michael? Murid : sombong itu e kalo nggak ngga .males. yaitu alur cerita ringkas. Misalnya perhatikan percakapan di akhir cerita oleh guru dan murid di salah satu TK di Surakarta.

dan rsolusinya secara singkat dan mengulangi lagi scaffoldingnya sekali lagi supaya lebih jelas plotnya. akan terjadi dialog. 12-14 Agustus 2008 orientasi..? Murid : baik Guru : minta maaf.go.pusatbahasa. ya sudah dulu cerita ustadz Anang (Riyadi. 2007) Mestinya guru harus membantu anak untuk mengenali ceritanya dengan Riyadi Santosa.id . Guru : Ruru kenapa? Ruru akhirnya. Dengan demikian nilai-nilai kultural akan diterima secara lebih dialogis. OK. 4. Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 10 dari 11 Batu. ku at. atau konflik antara antagonis dan protagonis di dalam scaffolding akan memunculkan pola turn-taking dan adjacency pairs yang bervariatif. Pertama scaffolding dapat membantu anak untuk mengenal nilai-nilai kultural dan genre cerita dengan baik. Apalagi jika ceritanya dikenalkan secara dua sisi. Penutup Berdasarkan gambaran hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa scaffolding mempunyai dua manfaat. Dengan scaffolding yang terus menerus anak dapat menemukan nilai-nilai kultural atau ideologis dan genre cerita secara sendiri. komplikasi. distribusi turn-taking yang seimbang dan terus menerus serta pola adjacency pairs yang bervariasi itu sendiri lama-kelamaan juga akan mengilhami nilai-nilai demokratis. sehingga anak mempunyai kesan dan memahami plot dengan baik.Guru : ya menolong paman gajah terus kenapa? Murid : Paman gajahnya se hat. diskusi. melalui turn-taking yang terdistribusi dan pola adjacency pairs yang bervariasi. dkk. Pertama turn-taking yang terdistribusi dan pola adjacency pairs yang bervariasi menyiratkan pemberian hak untuk berbicara dan sekaligus kewajiban untuk mendengarkan. Kemudian. Sumber:http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful