1. Arti Agama Agama adalah sebuah realitas yang senantiasa meliputi manusia.

Agama muncul dalam kehidupan manusia. Agama muncul dalam kehidupan manusia dalam berbagai dimensi dan sejarah nya. Maka memang tidak mudah mendifinisikan agama. Termasuk mengelompokkan seseorang apakah ia terlibat dalan suatu agama atau tidak. Mungkin seseorang dianggap termasuk pengikut agama tetapi ia mengingkarinya. Mungkin sebaliknya seorang mengaku memeluk sebuah agama, padahal sesungguhnya sebagian besar pemeluk agama tersebut mengingkarinya. Oxford student dictionary (1978) mendefinisikan agama (religion) dengan “the belife in existance of supranatural ruling power, the creator and the controller of the universe”, yaitu suatu kepercayaan akan keberadaan suatu kekuatan pengatur supranatural yang menciptakan dan mengendalikan alam semesta. Agama (religion) dalam pengertian paling umum diartikan sebagai sistem orientasi dan objek pengabdian. Dalam pengertian ini semua orang adalah makhluk religius, karena tak seorang pun dapat hidup tanpa suatu sisitem yang mengatur dan tetap dalam kondisi sehat. Kebudayaan yang berkembang di tengah manusia adalah produk dari tingkah laku keberagamaan manusia. Dalam bahasa Alquran “din” diartikan sebagai agama. Kata din yang berasal dari bahasa arab dyn mempunyai banyak arti pokok, yaitu (1) keberhutangan, (2) kepatuhan, (3) kekuasaan bijaksana, dan (4) kecenderungan alami atau tendensi. Dalam keadaan seseorang mendapatkan dirinya berhutang kesimpulanya ialah bahwa orang itu menundukkan dirinya dalam arti menyerah dan patuh kepada hukum dan peraturan yang mengatur hutang. Demikian juga dalam artian yang terbatas kepada yang berpiutang. Sebuah agama biasanya melingkupi tiga persoalan pokok, yaitu: 1. Keyakinan (credial), yaitu keyakinan akan adanya sesuatu kekuatan supranatural yang diyakini mengatur dan mencipta alam. 2. Peribadatan (ritual), yaitu tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan kekuatan supranatural tersebut sebagai konsekuensi atau pengakuan dan ketundukannya. 3. Sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya atau alam semesta yang dikaitkan dengan keyakinan tersebut.

2. Fitrah terhadap agama Kenyataan ditemukannya berbagai macam agama dalam masyarakat sejak dahulu hingga kini membuktikan bahwa hidup di bawah sistem keyakinan adalah tabiat yang merata pada manusia. Tabiat ini telah ada sejak manusia lahir sehinggga tak ada pertentangan sedikit pun dari seseorang yang tumbuh dewasa dalam sebuah sitem kehidupan. Agama-agama yang berbeda tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat tersebut. Susunan jagat raya yang demikian mengagumkan telah menggiring manusia kepada keberadaan Sang Pencipta yang Maha sempurna. Pendapat bahwa kemunculan alam ini sebagai sebuah proses kebetulan sangat tidak memuaskan hati manusia dari masa ke masa. Bahkan teori-teori tentang peluang tidak dapat menjawab proses-proses penciptaan pada makhluk bersel satu sekalipun yang merupakan bagian

pada akhirnya memerlukan tahannus karena jiwanya tak dapat menerima aturan hidup yang dikembangkan masyarakat Quraisy di Mekkah yang mengaku masih menyembah ibrahim. Demikian pula Nabi Muhammad saw. Paham materialisme yang menganggap materi sebagai hakikat yang abadi di alam ini justru tidak mendapat tempat di dunia modern. Penyimpangan dari sebuah ajaran agama dalam sejarah kehidupan manusia dapat diketahui pada akhirnya oleh pemenuhan kepuasan berpikir manusia yang hidup kemudian. Dimensi pahala dan dosa serta hari pembalasan terdapat pada hampir semua agama di dunia ini. Agama adalah suatu bentuk sitem tersebut yang kehadirannya berlangsung sejak lama di berbagai sudut bumi dengan bentuk yang berbeda-beda. Watak-watak yang ada pada seluruh unsur alam ini baik yang mati maupun yang lebih mengagumkan lagi. Tetapi bagi ilmu alam. Pencarian Manusia Terhadap Agama Akal yang sempurna akan senatiasa menurut kepuasan berpikir.yang amat kecil dalam penciptaannya. Keteratuaran alam dan sejarah bangsa-bangsa masa . Keteraturan seluruh elemen alam ini membangkitkan kesadaran bahwa manusia pun memerlukan keteraturan tersebut. dikisahkan sangat tidak puas menyaksikan bagaimana manusia mempertuhankan benda-benda mati di alam semesta seperti matahari. Bertrand Russel menyatakan teori Relativitas telah menjebol pengertian tradisioanal mengenai substansi lebih dahsyat dari argumen filosofi mana pun. Sebongkah materi tidak lagi merupakan sebuah benda tetap dengan keadaan yang bermacam-macam tetapi merupakan suatu sistem peristiwa yang saling berhubungan. Nabi Ibrahim a. burung-burung mengudara dengan ringannya dan mengembara ke berbagai belahan dunia menempuh jarak puluhan ribu kilometer. relativitas pandangan tersebut tak dapat dibenarkan. pergerakan planet-planet mengelilingi matahari. Proses terjadinya hujan. 3. Kekhasan watak manusia memunculakn dimensi yang berbeda pada hukum-hukumnya. Oleh karena itu pencarian manusia terhadap kebenaran agama tidak pernah lepas dari muka bumi. Dimensi ini secara luas diterima manusia bahkan dalam cara berfikir modern sekalipun. sudah pula hilang sama sekali. Keberadaan Sang Pencipta lebih mendatangkan rasa tentram pada intelek manusia. Penyimpangan atas hukum alam menyebabkan kehancuran fisik dan penyimpangan pada hukum manusia yang dapat menyebabkan kehancuran fisik dan juga sosial. Oleh karena itu penyembahan manusia kepada pencipta adalah suatu bagian dari karakteristik penciptaan itu sendiri sebagaimana ketundukan satelit mengorbit pada planetnya. bulan dan bintang.s. keunikan lebah menata masyarakatnya dan lain-lain sebagainya seakan-akan mencerminkan sikap ketundukan kepada hukum universal yang diletakkan Sang Pencipta di alam raya ini. Materi bagi pengertian sehari-hari adalah sesuatu yang bertahan dalam waktu dan bergerak dalam ruang. Yang semula dianggap sikap padat dari benda-benda sudah tidak ada lagi dan juga sifat-sifat yang menyebabkan materi di mata seorang materialistik nampak lebih nyata daripada kilasan pikiran. Seiring dengan sifat-sifat mendasar pada diri manusia itu Alquran dalam sebagian besar ayatayatnya menantang kamampuan berpikir manusia untuk menemukan kebenaran yang sejati sebagaimana yang dibawa dalam ajaran islam. Penerimaan manusia pada sebuah sistem aturan hidup terus berlangsung dari msa ke masa.

Jika ada orang menyatakan bahwa “semua agam itu sama”. Seseorang mengerti ajaran agamanya akan dengam mudah mempertahankannya dari upaya-upaya pengacauan orang lain. Konsistensi Keagamaan Manusia diciptakan dengan hati nurani yang sepenuhnya mampu mengatakan realitas secara benar dan apa adanya. Di antara langkah-langkahnya adalah : a.lalu menjadi objek yang dianjurkan untuk dipikirkan. Namun manusia juga memiliki keterampilan kejiwaan lain yang dapat menutupi apa-apa yang terlintas dalam hati nuraninya. yaitu sifat berpura-pura. baik itu marupakan sebuah kemajuan dan kemunduran. terjadilah perpindahan (transformasi) agama dalam kehidupan manusia. maka hampir dipastikan bahwa ia sebenarnya tak mengenali agam itu satu persatu. Perbandingan ajaran antar berbagai agama pun diketengahkan Alquran dalam rangka mengokohkan pengambilan pendapat manusia. Akibat adanya proses berfikir ini. Padahal masyarakat itu adalah kumpulan pribadi-pribadi. Ketenangan adalah modal dasar dalam upaya mengarungi kehidupan pribadi. Sikap konsisten seseorang terhadap agamanya terletak pada pengakuan hati nuraninya terhadap agama yang dipeluknya. Meskipun demikian seseorang berpura-pura hanya dalam situasi tertentu yang sifatnya temporal dan aksidental. Mengapa suatu ajaran diajarkan. Ia juga menyiarkan ajaran agamanya dengan baik dan bergairah. Pengenalan Seseorang harus mengenal dengan jelas agama yang dipeluknya sehingga bisa membedakan dengan agama yang lain. maka niscaya ia akan memasuki dunia yang lebih memuaskan akal dan jiwanya itu. Masyarakat yang tenang. Pengertian Ajaran agama yang dipeluk pasti memiliki landasan yang kuat = tempat dari mana seharusnya kita memandang. apa yang akan terjadi jika manusia meninggalkan ajaran tersebut dan lain-lainnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya akan mengantarkan kita kepada sebuah pengertian. Tiada keberpura-puraan yang permanen dan esensial. Hal ini dapat dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pokok dan cabang yang terdapat dalam sebuah agama. apa faedahnya untuk kehidupan pribadi dan masyarakat. Tatkala seorang merasa gelisah dengan jalan yang dilaluinya kemudian ia “menemukan” sebuah pencerahan. Penghayatan Penghayatan terhadap suatu ajaran agama . c. Konsistensi ini akan membekas pada seluruh aspek kehidupannya membentuk sebuah pandangan hidup. bangsa yang cerah sesungguhnya lahir dari keputusan para anggotanya dalam memilih jalan kehidupan. Namun membentuk sikap konsistensi juga bukan perkara mudah. b. 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful